Anda di halaman 1dari 169

GAMBARAN MANAJEMEN DAN SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN DI

GEDUNG FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAKARTA
TAHUN 2014

Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM)

OLEH :
ARIF KURNIAWAN
NIM : 107101001772

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1435 H/2014 M
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

Skripsi, 14 Juli 2014

Arif Kurniawan, NIM : 107101001772


Gambaran Manajemen dan Sistem Proteksi Kebakaran di Gedung Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Jakarta Tahun 2014
(xvi+ 129 halaman, 22 tabel, 3 bagan, 9 gambar)

ABSTRAK
Kebakaran yang terjadi di Jakarta mulai Januari sampai dengan 27 Desember 2012
mencapai angka 1.008 kejadian, Gedung Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
(FKIK) Universitas Islam Negeri Jakarta merupakan instansi pendidikan dimana di
dalamnya mempunyai resiko terjadinya kebakaran.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran manejemen dan sistem
proteksi kebakaran di gedung FKIK. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode deskriptif kuantitatif dengan desain studi kasus, yaitu membandingkan dengan
Permen PU No.26/PRT/M/2008, Permen PU No.10/PRT/M/2009, dan SNI (Standar
Nasional Indonesia), serta standart international yaitu NFPA (1995). Penelitian ini
menggunakan data primer dengan instrumen observasi lapangan dan dokumentasi.
Berdasarkan hasil penilaian yang telah dilakukan, manajemen proteksi kebakaran
yang belum semua terpenuhi adalah prosedur tanggap darurat, organisasi proteksi
kebakaran, dan sumber daya manusia. Rata-rata proteksi aktif di gedung FKIK cukup
baik artinya terpasang tapi ada beberapa sarana proteksi aktif yang belum terpasang dan
ada yang tidak sesuai dengan peraturan perundangan (74,4%). Dan rata-rata sarana
penyelamat jiwa di gedung FKIK adalah cukup artinya terpasang tapi ada beberapa
sarana penyelamat jiwa yang belum terpasang dan ada yang tidak sesuai dengan
peraturan perundangan (76,25%).
Untuk itu diperlukan pengadaan dan perbaikan bagi manajemen dan sistem
proteksi kebakaran yang belum memenuhi persyaratan, serta dilakukannya pemeliharaan
terhadap sistem yang telah tersedia.

Kata kunci : Manajemen Proteksi Kebakaran, FKIK.


Daftar Bacaan : 32 (1987 - 2012)

ii
SYARIF HIDAYATULLAH STATE ISLAMIC UNIVERSITY JAKARTA
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE
PUBLIC HEALTH STUDY

Paper, 14 Juli 2014

Arif Kurniawan, NIM : 107101001772


Preview of Management and Fire Protection Systems at The Faculty of Medicine
and Health Sciences UIN Jakarta 2014
(xvi + 129 pages, 22 tables, 3 charts, 9 pictures)

ABSTRACT
Fires in Jakarta from January to December 27, 2012 reached 1,008 occurrences.
Faculty of Medicine and Health Sciences State IslamicUniversity Jakarta is an education
institute which has a risk of fire.
This study aims to describe management and fire protection systems in Faculty
of Medicine and Health Sciences building. The research used descriptive quantitative
method with case study design, which compares with regulation of minister PU
No.26/PRT/M/2008, regulation of minister PU No.10/PRT/M/2009, and SNI
(Indonesian National Standard), and international standards NFPA (1995). This study
uses primary data with field observations and documentation instruments.
The results of the study is the management of fire protection which not fulfilled
are emergency procedures, fire protection organizations, and human resources. Active
protection in the building overall is good but there are some active protection that has
not been installed and are not in accordance with the laws and regulations (74.4%). And
the average of life-saving tool in the building had been good but there are some life-
saving tool that has not been installed and are not in accordance with the laws and
reglations (76,25%).
It required the procurement and improvementof management and fire protection
system which has not fulfilled the regulations, and maintain the available systems.

Keyword : Fire Protection Management, FKIK


References : 32 (1987-2012)

iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Arif Kurniawan


Tempat/Tanggal Lahir : Sukosari, 04 Juli 1989
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Alamat : Jl. Kramat IV No.24 Kwitang Jakarta Pusat
No. Telepon : 085664617244 / 081314712299
Email : kurniawanarif_47@yahoo.com
Facebook : kurniawan arif

PENDIDIKAN FORMAL
1. SDN 2 Sukosari Way Kanan, Lampung Lulus Tahun 2001
2. MTs Darul A’mal Kota Metro Lampung, Lulus Tahun 2004
3. MA Darul A’mal Kota Metro Lampung, Lulus Tahun 2007
4. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2014

PENDIDIKAN NON FORMAL


Madrasah Diniyah Salafiyah, Darul A’mal Kota Metro

PENGALAMAN ORGANISASI
1. 2007-2008 : Staf Kementerian Kemahasiswaan BEMJ KESMAS
2. 2008-2009 : Menteri Kemahasiswaan BEMJ KESMAS
3. 2008-2009 : Sekretaris Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia FKIK
4. 2009-2010 : Ketua Umum Community of Santry Scholar (CSS MoRA) I UIN JKT
5. 2009-2010 : Pengurus Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia
6. 2010-2011 : Ketua Umum Community of Santry Scholar (CSS MoRA) II UIN JKT
7. 2011-2013 : Ketua Umum Community of Santry Scholar (CSS MoRA) Nasional.
8. 2011-2013 : Sekretaris Lembaga Anti Narkoba PP IPNU
9. 2013-2015 : Direktur Student Crisis Centre PP IPNU

Jakarta, Juli 2014

Arif Kurniawan

vi
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih dan

Maha Penyayang, yang telah memberi kekuatan kepada penulis, sehingga penulis dapat

menyelesaikan Laporan Magang ini. Shalawat dan salam senantiasa penulis curahkan

kepada Rosul tercinta, Nabi Muhammad saw yang telah membawa kebenaran yaitu

Islam dan telah menjadi suri tauladan bagi umatnya.

Skripsi ini disusun dalam rangka sebagai persyaratan memperoleh gelar Sarjana

Kesehatan Masyarakat (SKM) pada Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Selama penyusunan Skripsi ini, penulis selalu mendapat motivasi, bantuan dan

dukungan selama melaksanakan penyusunan Skripsi ini. Penulis sangat berterima kasih

kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan laporan ini,

diantaranya :

1. Kedua orang tua penulis. Abah Alm. Kasiyono semoga selalu dalam Rahmat

Allah S.W.T dan ibu Tukilah. Terima kasih untuk semua hal yang sudah

diberikan, yang juga senantiasa mendoakan setiap langkah yang penulis kerjakan

demi kesuksesan penulis.

2. Prof.Dr (hc). dr. M. K. Tajudin, Sp.And selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan

Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Ibu Febrianti, SP, MSi selaku Ketua program studi Kesehatan Masyarakat.

vii
4. Ibu Riastuti Kusumawardani SKM, M.KM selaku Dosen Pembimbing I, terima

kasih penulis ucapkan atas waktunya, semua arahan, inspirasi, dan masukkan

serta kebaikan dalam bimbingannya kepada penulis selama penyusunan skripsi

ini.

5. Ibu Minsarnawati Tahangnacca, SKM, M.Kes selaku Dosen Pembimbing II,

terima kasih penulis ucapkan atas waktunya, semua arahan, masukan, bimbingan,

inspirasi, serta kebaikan dalam bimbingannya kepada penulis selama penyusunan

skripsi.

6. dr Ainun Naimmah Kurniawan, terima kasih atas segala motivasi, kesabaran, dan

meluangkan waktu untuk mendapingi penulis, serta selalu mendoakan agar

Skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

7. Teman-Teman Kelas K3, Gizi, Kesmas A serta OPUS. Semoga kita dapat

menjadi bagian terdepan dalam mengembangkan profesi Kesehatan Masyarakat

berbasis islami dan bermanfaat bagi orang banyak, amin.

8. Rekan-rekan mahasiswa dan segenap pihak yag telah berperan aktif membantu

Penulis dalam menyelesaikan laporan ini yang tidak dapat penulis sebutkan

dalam laporan ini.

Akhir kata, kesempurnaan hanya milik Allah SWT dan kesalahannya datangnya dari

Penulis selaku manusia yang dhaif, sehingga saran dan kritik dari pembaca sangat

Penulis harapkan demi terciptanya perbaikan di masa yang akan

datang.

Jakarta, Juli 2014

Penulis

viii
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang …............................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................................. 4
1.3 Pertanyaan Penelitian ......................................................................................... 5
1.4 Tujuan Penelitian……………………………………………………………… 6
1.4.1 Tujuan Umum.................................................................................................. 6
1.4.2 Tujuan Khusus ……………………………………………………………… 6
1.5 Manfaat Penelitian ............................................................................................. 6
1.5.1 Bagi mahasiswa............................................................................................... 6
1.5.2 Bagi FKIK…….…………………………...................................................... 7
1.6. Ruang Lingkup ................................................................................................. 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Kebakaran……………...................................................................................... 8
2.1.1 Definisi Kebakaran …..……………………………………………………. 8
2.1.2 Teori Segitiga Api………………………. ………………………………… 9
2.1.3 Klasifikasi Kebakaran……………………………………………………… 10
2.1.4 Sebab-Sebab Terjadinya Kebakaran……………………………………….. 12
2.1.5 Bahaya-Bahaya Kebakaran………………………………………………… 14
2.1.6 Penanggulangan Kebakaran………………………………………………... 16
2.2 Manajemen Proteksi Kebakaran Gedung…………………………………….. 18
2.2.1 Prosedur Tanggap Darurat Kebakaran……………………………………… 19
2.2.2 Organisasi Proteksi Kebakaran Bangunan Gedung………………………… 19
2.2.3 Sumber Daya Manusia dalam Manajemen Penanggulangan Kebakaran…… 22
2.3 Sarana Proteksi Kebakaran Aktif…………………………………………….. 22
2.3.1 Alat Pemadam Api Ringan (APAR)………………………………………… 23
2.3.2 Hidran………………………………………………………………………... 24
2.3.3 Alarm Kebakaran……………………………………………………………. 27
2.3.4 Sprinkler Otomatis…………………………………………………………. 29
2.3.5 Sistem Deteksi………………………………………………………………. 32
2.4 Sarana Penyelamat Jiwa………………………………………………………. 33
2.4.1 Pintu Darurat………………………………………………………………… 34
2.4.2 Tangga Darurat……………………………………………………………… 34
2.4.3 Tanda Petunjuk Arah………………………………………………………… 36
2.4.4 Tempat Berhimpun…………………………………………………………... 36
2.5 Kerangka Teori………………………………………………………………… 37

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL


3.1 Kerangka Konsep……………………………………………………………… 38
3.2 Definisi Operasional…………………………………………………………… 41

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN


4.1 Desain Penelitian ……………………………………………………………… 48
ix
4.2 Waktu dan Lokasi Penelitian …………………………………………………. 49
4.3 Pengumpulan Data...…………………………………………………………... 49
4.3.1 Sumber Data…… …………………………………………………………… 49
4.3.2 Instrumen Penelitian ………………………………………………………… 49
4.4 Pengolahan Data ……………………………………………………………… 50
4.5 Analisa Data…………………………………………………………………… 51
4.6 Populasi dan Sampel…………………………………………………………… 52

BAB V HASIL
5.1 Prosedur Tanggap Darurat Kebakaran di Gedung FKIK …………………….. 53
5.2 Organisasi Proteksi Kebakaran di Gedung FKIK………… …………………. 59
5.3 Sumber Daya Manusia…………………………..…………………………….. 62
5.4 Rata-Rata Kesesuaian Manajemen Penanggulangan Kebakaran di Gedung
64
FKIK …………………………………………………………………………..
5.5 Sarana Proteksi Aktif Kebakaran di Gedung FKIK ………………………….. 65
5.5.1 Alat Pemadam Api Ringan (APAR)………………….……………………... 65
5.5.2 Hidran…………………………………………….………………………….. 70
5.5.3 AlarmKebakaran…………………………………………………………….. 74
5.5.4 Sprinkler……………………………………….……………………………. 76
5.5.5 Detektor Kebakaran ………………………………………………………… 80
5.6 Rata-Rata Kesesuaian Sarana Proteksi Aktif di Gedung FKIK ……………… 83
5.7 Sarana Penyelamat Jiwa di Gedung FKIK…………………………………… 84
5.7.1 Pintu Darurat di Gedung FKIK…………………………………………….. 84
5.7.2 Tangga Darurat di Gedung FKIK………………………………………….. 87
5.7.3 Petunjuk Arah Jalan Keluar di Gedung FKIK……………………………… 90
5.7.4 Tempat Berhimpun di Gedung FKIK……………………………………… 92
5.8 Rata-Rata Kesesuaian Sarana Penyelamat Jiwa di Gedung FKIK…………… 94

BAB VI PEMBAHASAN
6.1 Keterbatasan Penelitian ………………………………………………………. 95
6.2 Prosedur Tanggap Darurat kebakaran di gedung FKIK……………………… 95
6.3 Organisasi Proteksi Kebakaran Di Gedung FKIK ……………….................... 101
6.4 Sumber Daya Manusia di Gedung FKIK…………………………………….. 112
6.5 Sistem Proteksi Aktif Kebakaran di Gedung FKIK………………………….. 113
6.5.1 Alat Pemadam Api Ringan (APAR)……………………………………….. 113
6.5.2 Hidran………………………………………………………………………. 114
6.5.3 AlarmKebakaran……………………………………………………………. 116
6.5.4 Sprinkler…………………………………………………………………….. 117
6.5.5 Detektor Kebakaran………………………………………………………… 119
6.6 Sarana Penyelamat Jiwa di Gedung FKIK…………………………………… 121
6.6.1 Pintu Darurat di Gedung FKIK……………………………………………. 121
6.6.2 Tangga Darurat di Gedung FKIK…………………………………………. 123
6.6.3 Petunjuk Arah Jalan Keluar di Gedung FKIK……………………………… 125
x
6.6.4 Tempat Berhimpun di Gedung FKIK………………………………………. 126

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN


7.1 Simpulan……………………………………………………………………… 128
7.2 Saran………………………………………………………………..………… 129

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xi
DAFTAR TABEL

Nomor Tabel Halaman

2.1 Jenis APAR dan Kelas Kebakaran…………………….. 24

2.2 Penyedian Hidran Berdasarkan Luas Lantai dan 27

Klasifikasi Bangunan........................................................

2.3 Persyaratan Perancangan Alarm Kebakaran Menurut 28

Jenis, Jumlah lantai, dan Luas Lantai……………..........

2.4 Kapasitas Minimum Reservoir………............................ 30

2.5 Syarat Tekanan Air dan Kapasitas Aliran Pompa pada 31


Komponen Pemipaan……………………………...........
2.6 Pemilihan Jenis Detektor sesuai dengan Fungsi 33

Ruangannya……………………………………..............

4.1 Tingkat Penilaian Audit Kebakaran yang Dilakukan 50

Oleh Saptaria et al………………………….....................

5.1 Kesesuaian Prosedur Tanggap Darurat di Fakultas 54

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) dengan Permen

PU No.20/PRT/M/2009……………................................

5.2 Kesesuaian Organisasi Proteksi Kebakaran di Fakultas 59

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) dengan Permen

PU No.20/PRT/M/2009……………………………........

xii
5.3 Kesesuain Sumber Daya Manusia di FKIK dengan 63

Permen PU No.20/PRT/M/2009.......................................

5.4 Rata-rata kesesuaian Manajemen Penanggulangan 64

Kebakaran Di Gedung Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan (FKIK) UIN Jakarta……………....................

5.5 Kesesuaian APAR di FKIK dengan Permen PU No. 66

26/PRT/M/2009................................................................

5.6 Kesesuaian Hidran di FKIK dengan SNI 03-3985- 72

2000……………

5.7 Kesesuaian Alarm Kebakaran di FKIK dengan SNI 03- 75

3985-2000…………………..

5.8 Kesesuaian Sprinkler di FKIK dengan SNI 03-3989- 77

2000..................................................................................

5.9 Kesesuaian Detektor Kebakaran di FKIK dengan SNI 81

03-3985-2000....................................................................

5.10 Rata-Rata Kesesuaian Sarana Proteksi Aktif di Gedung 83

FKIK.................................................................................

5.11 Kesesuain Pintu Darurat di FKIK dengan Permen PU 85

No.26/PRT/M/2008..........................................................

xiii
5.12 Kesesuain Tangga Darurat di FKIK dengan Permen PU 88

No.26/PRT/M/2008…………..........................................

5.13 Kesesuaian Tanda Petunjuk Arah Evakuasi Di FKIK 91

Dengan Permen PU No.26/PRT/M/2008..........................

5.14 Kesesuai Tempat Berhimpun Di FKIK Dengan NFPA 93

101....................................................................................

5.15 Rata-Rata Kesesuaian Sarana Penyelamat Jiwa Di 94

Gedung FKIK...................................................................

xiv
DAFTAR BAGAN

No. Bagan Halaman


2.1 Struktur Tim Penanggulangan Kebakaran……………………………...... 21
2.2 Bagan Kerangka Teori……………………………………………............. 37
3.1 Bagan Kerangka Konsep.............................................................................. 40

xv
DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Halaman


5.1 Alat Pemadam Api Ringan di gedung FKIK……………………………... 66
5.2 Hidran Gedung……………………………………………......................... 71
5.3 Hidran Halaman........................................................................................... 72
5.4 Sprinkler Otomatis....................................................................................... 77
5.5 Detektor Asap.............................................................................................. 81
5.6 Pintu Darurat................................................................................................ 84
5.7 Tangga Darurat............................................................................................ 87
5.8 Tanda Petunjuk Arah Jalan Keluar.............................................................. 90
5.9 Tempat Berhimpun...................................................................................... 93

xvi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kebakaran adalah suatu proses oksidasi yang cepat, reaksi eksotermis

dimana bagian dari energy yang dilepaskan menyokong proses tersebut (mehaffey,

1997). Sedangkan menurut Standar Nasional Indonesia nomor 03-3985-2000,

kebakaran adalah suatu fenomena yang terjadi ketika suatu bahan mencapai

temperatur kritis dan bereaksi secara kimia dengan oksigen yang menghasilkan

panas, nyala api, cahaya, asap, uap air, karbon monoksida atau produk dan efek

lainnya. Kebakaran dapat terjadi dimana saja baik dihutan, perkotaan, pemukiman

maupun digedung perkantoran. Masalah kebakaran masih banyak terjadi di sekitar

kita. Hal ini menunjukkan betapa perlunya kewaspadaan pencegahan terhadap

kebakaran perlu lebih ditingkatkan (Suma’mur, 1994).

Pada awal abad ke-21, jumlah populasi dunia adalah sebesar 630 juta jiwa,

dimana sebanyak 7-8 juta jiwa dilaporkan pernah mengalami kejadian kebakaran

dan 5-8 juta jiwa kecelakaan akibat kebakaran. Sementara itu populasi manusia di

Eropa pada awal abad ke-21 adalah sebanyak 700.000.000 jiwa dimana sekitar 2

juta jiwa mengalami kematian akibat kebakaran dan sekitar 2-5 juta jiwa

mengalami kecelakaan akibat kebakaran (Brushlinsky et al.2006).

Karter (2009) melaporkan jumlah kejadian kebakaran di Amerika Serikat

pada tahun 2009 sebanyak 1.348.500. Di Inggris pada tahun 2009 sampai dengan

1
2

tahun 2010 peristiwa kebakaran mencapai 242.000 kasus (Departement for

communities and local government: London, 2010). Di New Zealand, pada tahun

2009 sampai dengan 2010 terjadi 69.579 kejadian kebakaran dengan jumlah

kebakaran diperkotaan sebanyak 53.940 dan dipedesaan sebanyak 15.639 (New

Zealand Fire Service, 2010).

Kebakaran disebabkan oleh berbagai faktor, namun secara umum faktor-

faktor yang menyebabkan kebakaran yaitu faktor manusia dan faktor teknis

(Ramli,2010). Untuk kasus kebakaran di Indonesia sekitar 62,8% disebabkan oleh

listrik atau adanya hubungan pendek arus listrik. Penataan ruang dan minimnya

prasarana penanggulangan bencana kebakaran juga berkontribusi terhadap

timbulnya kebakaran, khususnya kebakaran kawasan industri dan permukiman

(Nugroho,2010).

Kerugian yang ditimbulkan oleh kebakaran antara lain kerugian jiwa,

kerugian materi, menurunnya produktivitas, gangguan bisnis, dan kerugian sosial

(Ramli, 2010). Pada tahun 2010, dari 1.331.500 kejadian kebakaran di Amerika

Serikat yang telah disebutkan diatas, jumlah kerugian yang ditimbulkan antara lain

kematian 3.120 jiwa, 17.720 injury, dan kerugian langsung karena rusaknya properti

sebesar 11.593.000.000 dolar (Karter, 2011).

Kebakaran yang terjadi di Jakarta mulai Januari sampai dengan 27 Desember

2012 mencapai angka 1.008 kejadian. Kebakaran ini terjadi di lima wilayah, yaitu

Jakarta Timur, Barat, Selatan, Utara, dan Pusat. Penyebab kebakaran paling besar

diakibatkan oleh korsleting listrik sebanyak 663 kali. Sedangkan kompor menjadi

penyebab kebakaran di 88 kejadian. Kemudian penyebab lainnya adalah rokok


3

sebanyak 46 kali, lampu 1 kali, dan dengan penyebab lain-lain seperti anak main

petasan, sampah, atau obat nyamuk. Dari 1.008 kebakaran tersebut, diperkirakan

total kerugian mencapai Rp 290.304.480.000. Total tersebut hanya perkiraan

kebakaran sampai tanggal 27 Desember 2012 (Rohmah,2012).

Melihat kasus diatas menunjukkan bahwa potensi kebakaran dapat timbul

baik dari dalam gedung seperti korsleting listrik, kompor ataupun merokok,

sedangkan yang dari luar gedung adalah kebakaran dapat bermula dari semak

meluas dengan cepat hingga sampai ke gedung. Data diatas menunjukkan bahwa

kerugian yang diakibatkan dari bahaya kebakaran tidak sedikit, baik korban jiwa

atau korban secara finansial. Disinilah pentingnya ilmu Kesehatan dan Keselamatan

Kerja dalam bidang pencegahan dan penanggulan kebakaran, agar kerugian-

kerugian ini tidak terjadi.

Kerugian akibat kecelakaan di kategorikan atas kerugian langsung (direct

cost) dan kerugian tidak langsung (indirect cost). Kerugian langsung adalah

kerugian akibat kecelakaan yang langsung dirasakan dan membawa dampak

terhadap perusahaan seperti biaya pengobatan dan kompensasi korban kebakaran,

dan kerusakan sarana produksi. Disamping kerugian langsung (direct cost),

kecelakaan juga menimbulkan kerugian tidak langsung (indirect cost) antara lain

kerugian jam kerja, jika terjadi kecelakaan kebakaran kegiatan pasti akan terhenti

sementara untuk membantu korban yang cedera, kerugian jam kerja yang hilang

akibat kecelakaan kebakaran jumlahnya cukup besar yang dapat mempengaruhi

produktivitas. Selain itu ada juga kerugian produksi, kerugian sosial, dan kerugian

citra dan kepercayaan konsumen (Ramli.2010).


4

Gedung Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam

Negeri Jakarta merupakan instansi pendidikan dimana di dalamnya terdapat ruang-

ruang perkuliahan, ruang dosen, perpustakaan dan laboratorium yang semuanya ini

mempunyai resiko terjadinya kebakaran. Di dalam gedung ini banyak faktor-faktor

yang dapat menyebabkan terjadinya bahaya kebakaran, diantaranya adalah buku-

buku di dalam perpustakaan, arsip-arsip dosen, bahan kimia di dalam laboratorium,

instalasi listrik di setiap ruang gedung, yang mana semua ini sangat memungkinkan

dapat terjadinya kebakaran.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kabag Tata Usaha FKIK tahun 2013,

beliau menerangkan bahwa FKIK sudah memiliki sarana proteksi aktif dan sarana

penyelamat jiwa, akan tetapi belum pernah dilakukan pengecekan kembali akan

fungsi-fungsi dari keduanya. Selain itu FKIK belum memiliki organisasi tanggap

darurat dan prosedur tanggap darurat yang diberlakukan. Dengan resiko sebesar ini

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) tidak memiliki prosedur tanggap

darurat yang di pahami oleh semua civitas akademika FKIK, sehingga besar

kemungkinan apabila terjadi bahaya kebakaran, tidak ada prosedur penyelamatan

yang efektif dan efisien. Oleh karena itu penulis tertarik mengambil judul penelitian

mengenai “Gambaran manajemen dan sistem proteksi Kebakaran di Gedung

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Jakarta”.

1.2 Rumusan Masalah

Bencana kebakaran cenderung meningkat setiap tahun, banyaknya kasus

kebakaran yang terjadi di tempat kerja dan di perkotaan menunjukkan bahwa


5

kebakaran adalah masalah serius bagi kehidupan manusia, khususnya bagi civitas

akademika Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan Universitas Islam Negeri

Jakarta. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kabag Tata Usaha FKIK tahun 2013,

beliau menerangkan bahwa FKIK sudah memiliki sarana proteksi aktif dan sarana

penyelamat jiwa, akan tetapi belum pernah dilakukan pengecekan kembali akan

fungsi-fungsi dari keduanya. Selain itu FKIK belum memiliki organisasi tanggap

darurat dan prosedur tanggap darurat yang diberlakukan. Berdasarkan hal tersebut

penulis tertarik untuk mengangkat masalah yaitu : Gambaran manajemen dan sistem

proteksi kebakaran di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam

Negeri Jakarta.

1.3 Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana prosedur tanggap darurat kebakaran yang terdapat di gedung FKIK

UIN Jakarta ?

2. Bagaimana organisasi proteksi kebakaran di gedung FKIK UIN Jakarta?

3. Bagaimana Sumber Daya Manusia dalam manajemen penanggulangan

kebakaran?

4. Bagaimana sarana proteksi aktif kebakaran di gedung FKIK UIN Jakarta,

meliputi Alarm, Hidran, Detector, Sprinkler, dan APAR?

5. Bagaimana sarana penyelamatan jiwa saat terjadi kebakaran digedung FKIK

UIN Jakarta, meliputi pintu darurat, tangga darurat, tempat berhimpun, dan

petunjuk arah jalan keluar ?


6

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan umum

Mengetahui manajemen dan sistem proteksi kebakaran aktif di gedung

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Jakarta.

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui prosedur tanggap darurat kebakaran di gedung FKIK UIN

Jakarta

2. Mengetahui organisasi proteksi kebakaran di gedung FKIK UIN Jakarta.

3. Mengetahui Sumber daya manusia dalam manajemen penanggulangan

kebakarn di gedung FKIK

4. Mengetahui kelengkapan sarana proteksi aktif seperti: Alarm, Hidran,

Detektor, Sprinkler, APAR di gedung FKIK UIN Jakarta.

5. Mengetahui kelengkapan sarana penyelamat jiwa seperti: pintu darurat,

tangga darurat, tempat berhimpun, petunjuk arah jalan keluar di gedung

FKIK UIN Jakarta.

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Manfaat bagi Mahasiswa

1. Sebagai sarana untuk meningkatkan wawasan penulis mengenai

keilmuwan K3 khususnya masalah pencegahan penanggulangan

kebakaran digedung.

2. Membandingkan dan menerapkan ilmu yang didapat pada saat dibangku

kuliah dengan fakta dilapangan.


7

1.5.2 Manfaat bagi civitas akademika FKIK UIN Jakarta

1. Dapat digunakan sebagai bahan informasi dan bahan masukan pada

managemen FKIK-UIN Jakarta terkait mengenai sitem pencegahan dan

penanggulangan kebakaran yang baik dan sesuai dengan standar yang

berlaku

2. Mengevaluasi kembali mengenai sistem pencegahan dan penanggulangan

kebakaran di gedung FKIK UIN Jakarta

1.6 Ruang Lingkup

Melihat manajemen dan sarana proteksi kebakaran di gedung FKIK yang

kurang memadai dan belum pernah diadakan penelitian sebelumnya mengenai

manajemen, sarana proteksi aktif, dan sarana penyelamat jiwa. Penelitian ini

bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pemenuhan pada manajemen

penanggulangan bahaya kebakaran meliputi prosedur tanggap darurat, organisasi

proteksi kebakaran, dan sumber daya manusia. Dan juga pemenuhan terhadap

sarana proteksi aktif yang meliputi : Alarm kebakaran, Detector, Sprinkler,

APAR, dan Hidran serta sarana penyelamat jiwa yang meliputi : jalan keluar,

pintu darurat, tangga darurat, dan tempat berhimpun. Penelitian ini dilakukan

dengan melakukan observasi secara langsung terhadap sarana proteksi

berdasarkan Permen PU No.26/PRT/M/2008, Permen PU No.20 PRT/M/2009,

dan Standar Nasional Indonesia (SNI). Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan

menggunakan pendekatan observasional dengan jenis penelitian deskriptif.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kebakaran

2.1.1 Definisi Kebakaran

Menurut Soehatman Ramli pada tahun 2010, kebakaran adalah api yang

tidak terkendali artinya diluar kemampuan dan keinginan manusia.

Menurut Standar Nasional Indonesia, kebakaran adalah sebuah fenomena

yang terjadi ketika suatu bahan mencapai temperatur kritis dan bereaksi secara

kimia dengan oksigen (sebagai contoh) yang menghasilkan panas, nyala api,

cahaya, asap, uap air, karbon monoksida, karbon dioksida, atau produk dan

efek lainya.

Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 26/PRT/M/2008

tentang persyaratan teknis sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung

dan lingkungan, bahaya kebakaran adalah bahaya yang diakibatkan oleh

adanya ancaman potensial dan derajat terkena pancaran api sejak dari awal

terjadi kebakaran hingga penjalaran api, asap dan gas yang ditimbulkan.

Menurut Zaini (1998), kebakaran yaitu reaksi kimia yang berlangsung

cepat serta memancarkan panas dan sinar. Kebakaran menurut Perda DKI

Jakarta (1992) adalah suatu nyala api, baik kecil atau besar pada tempat yang

tidak kita hendaki, merugikan dan pada umumnya sukar dikendalikan.

8
9

Sedangkan menurut Basri (1998), yang dimaksud dengan kebakaran

adalah suatu hal yang sangat tidak diinginkan. Kebakaran dapat merupakan

penderitaan dan malapetaka, khususnya terhadap mereka yang mengalami

kebakaran.

2.1.2 Teori Segitiga Api

Menurut Polis Asuransi Kebakaran Indonesia (PSKI), terjadinya

kebakaran memerlukan tiga unsur :

1. Adanya bahan yang mudah terbakar

2. Adanya cukup oksigen sebagai oksidator

3. Adanya suhu yang cukup tinggi dari bahan yang mudah terbakar

(panas)

Konsep model segitiga api tersebut dapat dikembangkan dengan

menambahkan satu unsur baru yaitu reaksi kimia. Dan selanjutnya model

segitiga ini dikenal dengan konsep bidang empat api (tetrahedron).

Didalam peristiwa terjadinya api/kebakaran terdapat tiga elemen

yang memegang peranan penting yaitu adanya bahan bakar, zat

pengoksidasi/oksigen dan suatu sumber nyala/panas. Kebakaran adalah


10

suatu reaksi oksidasi eksotermis yang berlangsung dengan cepat dari suatu

bahan bakar yang disertai dengan timbulnya api/penyalaan. Bahan bakar

dapat berupa bahan padat, cair, dan uap/gas. Pada bahan bakar yang

menyala, sebenarnya bukan unsur itu sendiri yang terbakar, melainkan

gas/uap yang dikeluarkan (Depnaker,1987).

Apabila bahan bakar, zat pengoksidasi, dan sumber nyala berada

secara bersama-sam pada kondisi tertentu, maka kebakaran dapat terjadi,

hal ini berarti kebakaran tidak akan terjadi jika:

a. Tidak ada bahan bakar atau bahan bakar tersebut tidak dalam jumlah

yang cukup.

b. Tidak ada zat pengoksidasi/oksigen atau zat pengoksidasi tidak dalam

jumlah yang cukup.

c. Sumber nyala tidak cukup kuat untuk menyebabkan kebakaran.

2.1.3 Klasifikasi Kebakaran

Klasifikasi kebakaran adalah penggolongan atau pembagian kebakaran

berdasarkan jenis bahan bakarnya. Dengan adanya klasifikasi tersebut akan

lebih mudah, lebih cepat dan lebih tepat pemilihan media pemadaman yang

dipergunakan untuk memadamkan kebakaran. Di Indonesia menganut

klasifikasi yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan

Transmigrasi No.Per.04/Men/1980 yang menurut jenisnya adalah :


11

1. Kelas A

Bahan padat selain logam yang kebanyakan tidak dapat terbakar

dengan sendirinya, kebakaran kelas ini adalah akibat panas yang datang dari

luar, molekul-molekul benda padat terurai dan membentuk gas dan gas inilah

yang terbakar. Hasil kebakaran ini menimbulkan panas dan selanjutnya

mengurai lebih banyak molekul-molekul dan menimbulkan gas yang akan

terbakar.

Sifat utama dari kebakaran benda padat ini adalah bahan bakarnya

tidak mengalir dan sanggup menyimpan panas yang banyak sekali dalam

bentuk bara. Media pemadam yang cocok adalah dengan dry chemical

sedangkan media pemadaman yang efektif adalah air.

2. Kelas B

Seperti bahan cairan dan gas tidak dapat terbakar dengan sendirinya.

Diatas cairan pada umumnya terdapat gas, dan gas ini yang dapat terbakar.

Pada bahan bakar cair ini suatu bunga api sanggup mencetuskan api yang

akan menimbulkan kebakaran.

Sifat cairan ini adalah mudah mengalir dan menyalakan api ketempat

lain. Contohnya : solar, minyak tanah, dan bensin. Media pemadaman untuk

bahan jenis cair adalah sejenis busa (foam), sedangkan jenis gas adalah

bahan jenis tepung kimia kering (dry chemical), gas halon, dan gas CO2.

3. Kelas C

Kebakaran pada kawat listrik yang bertegangan, yang sebenarnya kelas

C ini tidak lain dari kebakaran kelas A dan B atau kombinasi dimana ada
12

aliran listrik, kalau aliran diputuskan maka akan berubah apakah kebakaran

kelas A atau B. Kelas C perlu diperhatikan dalam memilih jenis media

pemadam yaitu yang tidak menghantarkan listrik untuk melindungi orang

yang memadamkan kebakaran dari aliran listrik.

Media pemadamnya adalah bahan jenis kering (dry chemical), gas

halon gas CO2, dry powder.

4. Kelas D

Kebakaran logam seperti magnesium, titanium, uranium, sodium,

latium, dan potassium. Proses dari kebakaran kelas ini harus melaui tahapan

yaitu pemanasan awal yang tinggi dan menimbulkan temperatur yang sangat

tinggi pula. Pada kebakaran logam ini perlu dengan alat/media khusus untuk

memadamkannya atau dengan jenis dry chemical multi purpose.

2.1.4 Sebab-sebab Terjadinya Kebakaran

Kebakaran disebabkan oleh berbagai faktor, namun secara umum dapat

dikelompokkan sebagai berikut :

a) Faktor manusia

Sebagian kebakaran disebabkan oleh faktor manusia yang kurang

perduli terhadap keselamatan dan bahaya kebakaran.

b) Faktor teknis

Kebakaran juga dapat disebabkan oleh faktor teknis, khususnya

kondisi tidak aman dan membahayakan (Ramli,2010).


13

Ada tiga faktor penyebab terjadinya kebakaran yaitu faktor manusia,

faktor teknis, dan faktor alam (Depnaker, 1987 )

1. Manusia sebagai faktor penyebab kebakaran, antara lain :

a. Faktor pekerja.

1) Tidak mau tahu atau kurang mengetahui prinsip dasar pencegahan

kebakaran.

2) Pemakaian tenaga listrik yang berlebihan, melebihi kapasitas yang

telah ditentukan.

3) Menempatkan barang atau menyusun barang yang mudah terbakar

tanpa menghiraukan norma-norma pencegahan kebakaran.

4) Kurang memiliki rasa tanggung jawab dan disiplin.

5) Adanya unsur kesengajaan.

b. Faktor pengelola

1) Sikap pengelola yang tidak memperhatikan keselamatan kerja.

2) Kurangnya pengawasan terhadap kegiatan pekerja

3) Sistem dan prosedur kerja tidak diterapkan dengan baik terutama

dalam kegiatan penentuan bahaya dan penerangan bahaya

4) Tidak adanya standar atau kode yang dapat diandalkan

5) Sistem penanggulangan bahaya kebakaran baik sistem tekanan

udara dan instalasi pemadam kebakaran tidak diawasi dengan baik


14

2. Faktor teknis

a. Melalui proses fisik/mekanis seperti timbulnya panas akibat kenaikan

suhu atau timbulnya bunga api terbuka.

b. Melalui proses kimia yaitu terjadinya suatu pengangkutan,

penyimpanan, penanganan bahan/barang kimia berbahaya tanpa

memperhatikan petunjuk yang telah ada.

c. Melalui tenaga listrik karena hubungan arus pendek sehingga

menimbulkan panas atau bunga api dan dapat menyalakan atau

membakar komponen lain.

2.1.5 Bahaya-bahaya Kebakaran

Peristiwa kebakaran menurut Depnaker (1987) adalah suatu kejadian

yang sangat merugikan yang dapat berupa korban manusia, kerugian harta

benda, dampak ekonomi ataupun dampak sosial. Kebakaran yang terjadi

sering mengakibatkan kecelakaan yang berkelanjutan, hal ini disebabkan pada

peristiwa kebakaran yang dihasilkan asap, panas, nyala, dan gas-gas beracun

yang menyebar kesegala arah dan tempat.

Sedangkan menurut Suma’mur (1981) peristiwa kebakaran adalah suatu

reaksi yang hebat dari zat yang mudah terbakar dengan zat asam. Reaksi

kimia yang terjadi bersifat mengeluarkan panas. Pada beberapa zat, reaksi-

reaksi tersebut mungkin terjadi pada suhu udara biasa. Namun pada umumnya

reaksi tersebut berlangsung sangat lambat dan panas yang ditimbulkannya

hilang ke sekeliling.
15

Adapun bahaya-bahaya kebakaran diantaranya sebagai berikut :

a) Asap

Asap adalah suatu partikel-partikel zat karbon ukurannya dari 0,5

mikron, sebagai hasil dari suatu pembakaran tak sempurna dari bahan-

bahan yang mengandung unsur karbon.

Asap dapat mencapai temperatur antara 1000°F-1200°F, oleh efek

pemanasan menyebabkan asap naik dan membentuk seperti gumpalan

awan kemudian berpencar keseluruh ruangan. Bahaya asap bagi manusia

adalah mungkin menyebabkan iritasi terhadap mata, selaput lendir pada

hidung, dan tenggorokan.

b) Panas

Panas adalah suatu bentuk energi yang pada temperatur 300°F

dikatakan sebagai temperatur tertinggi dimana manusia dapat bertahan

hanya dalam waktu yang singkat. Akibat terpapar panas yang tinggi

menyebabkan manusia menderita kehabisan tenaga, kehilangan cairan

tubuh, terbakar atau luka bakar pada pernafasan, dan mematikan kerja

jantung.

c) Nyala

Nyala dapat timbul pada proses pembakaran sempurna dan

membentuk cahaya yang berkilauan.


16

d) Gas-gas beracun

Pada peristiwa kebakaran banyak gas-gas yang dihasilkan yang

berasal dari bahan-bahan terbakar (khususnya bahan-bahan kimia).

Beberapa macam gas yang sering dihasilkan dalam proses terjadinya

kebakaran adalah gas CO, SO2, H2S, NH3, HCN, C3H4O, gas dari

pembakaran plastik, dan gas yang dihasilkan dari bahan seperti kayu,

tekstil dan kertas. Selain itu masih ada bahan kimia lain yang

menghasilkan gas-gas beracun. Oleh karena itu pada peristiwa kebakaran

tidak jarang korban yang timbul akibat terkurung gas-gas beracun

tersebut.

2.1.6 Penanggulangan Kebakaran

Penanggulangan kebakaran adalah suatu upaya untuk mencegah

timbulnya kebakaran dengan berbagai upaya pengenalan setiap wujud energi,

pengadaan sarana proteksi kebakaran, dan sarana penyelamatan serta

pembentukan organisasi tanggap darurat untuk memberantas kebakaran

(Kepmenaker RI No.Kep.186/MEN/1999).

Sedangkan menurut Suma’mur (1981), penanggulangan kebakaran

merupakan semua tindakan yang berhubungan dengan pencegahan,

pengamatan, dan pemadaman kebakaran dan meliputi perlindungan jiwa dan

keselamatan manusia serta perlindungan harta kekayaan.

Lima prinsip pokok penanggulangan kebakaran dan pengurangan korban

kebakaran :
17

1. Pencegahan kecelakaan sebagai akibat kecelakaan atau keadaan panik

2. Pembuatan bangunan yang tahan api

3. Pengawasan yang teratur dan berkala

4. Penemuan kebakaran pada tingkat awal pemadamannya

5. Pengendalian kerusakan untuk membatasi kerusakan sebagai akibat dan

tindakan pemadamannya

Menurut Depnaker tahun (1987), pada modul-modul prinsip penanggulangan

kebakaran, secara umum dasar dari pemadaman bertujuan agar nyala atau

kobaran api dapat dipadamkan dengan segera, sehingga dampak yang merugikan

dan korban jatuh dapat dihindarkan. Oleh karena itu usaha pemadaman api harus

memerlukan teknik yang tepat serta didukung oleh sistem tanggap darurat yang

baik agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Teori pemadaman api terdiri dari beberapa cara, yaitu :

a. Pemadaman dengan cara pendinginan (cooling)

Salah satu cara yang umum untuk memadamkan kebakaran adalah

dengan cara pendinginan atau menurunkan temperatur bahan bakar sampai

tidak dapat menimbulkan gas untuk pembakaran. Air adalah salah satu

media pemadaman yang baik untuk menyerap panas. Oleh karena itu media

air tidak dianjurkan untuk memadamkan kebaran dari cairan mudah terbakar

dengan flash point dibawah 100°F (37°C).


18

b. Pemadaman dengan cara pengurangan oksigen (smothering)

Dapat membatasi atau mengurangi oksigen dalam proses pembakaran api

akan dapat padam. Salah satu contoh adalah memindahkan minyak yang

terbakar di penggorengan dengan menutupi kuali.

c. Pemadaman dengan cara pengambilan atau pemindahan bahan bakar

(starvation)

Pemindahan bahan bakar yang efektif, akan tetapi tidak terlalu

berhasil dalam prakteknya karena sulit.

d. Pemadaman dengan cara pemutusan rantai reaksi kimia (builing combustion

chain reaction)

Merupakan cara terakhir untuk memadamkan api yaitu dengan

mencegah terjadinya rantai reaksi kimia di dalam proses pembakaran.

Contohnya adalah APAR (Alat Pemadam Api Ringan).

2.2 Manajemen Proteksi Kebakaran Gedung

Menurut peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20/PRT/M/2009

tentang pedoman teknis manajemen proteksi kebakaran diperkotaan, manajemen

proteksi kebakaran gedung adalah bagian dari manajemen bangunan untuk

mengupayakan kesiapan pemilik dan pengguna bangunan gedung dalam

pelaksanaan kegiatan pencegahan dan penanggulangan kebakaran pada bangunan.

Setiap pemilik / pengguna bangunan gedung wajib melaksanakan kegiatan

pengelolaan resiko kebakaran meliputi kegiatan bersiap diri, memitigasi, merespon


19

dan pemulihan akibat kebakaran. Selain itu setiap pemilik/pengguna gedung juga

harus memanfaatkan bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang ditetapkan dalam

izin mendirikan bangunan gedung termasuk pengelolaan risiko kebakaran melalui

kegiatan pemeliharaan, perawatan, dan pemeriksaan secara berkala sistem proteksi

kebakaran serta penyiapan personil terlatih dalam pengendalian kebakaran

(Kementerian Pekerjaan Umum RI, 2009)

2.2.1 Prosedur Tanggap Darurat Kebakaran

Prosedur tanggap darurat kebakaran mencakup kegiatan pembentukan tim

perencanaan, penyusunan analisis risiko bangunan gedung terhadap bahaya

kebakaran, pembuatan dan pelaksanaan rencana pengaman keakaran (fire

safety plan), dan rencana tindak darurat kebakaran (fire emergency plan)

(Kementerian PU, 2009).

Komponen pokok rencana pengamanan kebakran mencakup rencana

pemeliharaan sistem proteksi kebakaran, rencana ketatgrahaan yang baik

(good housekeeping plan) dan rencana tindakan darurat kebakaran (fire

emergency plan) (Kementerian PU, 2009).

2.2.2 Organisasi Proteksi Kebakaran Bangunan Gedung

Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20/PRT/M/2009

unsur pokok organisasi penanggulangan kebakaran bangunan gedung terdiri

dari penanggung jawab, personil komunikasi, pemadam kebakaran,


20

penyelamat/paramedic, ahli teknik, pemegang peran kebakaran lantai, dan

keamanan.

a. Kewajiban pemilik/pengguna gedung

Pemilik/pengelola gedung bangunan wajib melaksanakan

manajemenpenanggulangan kebakaran dengan membentuk organisasi

penanggulangan kebakaran yang modelnya dapat berupa Tim

Penanggulangan Kebakaran (TPK) yang akan mengimplementasikan

rencana pengamanan kebakaran (fire safety plan) dan rencana tindakan

darurat kebakaran (fire emergency plan) (Kementerian PU, 2009).

Besar kecilnya struktur organisasi penanggulangan kebakaran

tergantung pada klasifikasi risiko bangunan gedung terhadap bahaya

kebakaran, tapak, dan fasilitas yang tersedia pada bangunan. Bila terdapat

unit bangunan lebih dari satu, maka setiap unit bangunan gedung

mempunyai Tim Penanggulangan Kebakaran (TPK) masing-masing dan

dipimpin oleh koordinator Tim penanggulangan kebakaran unit bangunan

gedung (Kementerian PU, 2009)

Berikut ini adalah model struktur organisasi penanggulangan

kebakaran bangunan gedung menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum

Nomor 20/PRT/M/2009.
21

PEMILIK/PENGELOLA/
PEMIMPIN SATLASKAR

PENANGGUNG
JAWAB TPK (PJ-TPK)

KOOR TPK UNIT KOOR TPK UNIT KOOR TPK UNIT


BANGUNAN BANGUNAN BANGUNAN
Bagan 2.1 bagian penanggung jawab Tim Penanggulangan Kebakaran (TPK)
Sumber :Kementerian PU, 2009

b. Struktur Organisasi Tim Penanggulangan Kebakaran

Struktu Tim Penanggulangan Kebakaran (TPK) antara lain terdiri dari :

1) Penanggung jawab Tm Penanggulangan Kebakaran (TPK)

2) Kepala bagian teknik pemeliharaan, membawahi :

a) Operator ruang monitor dan komunikasi

b) Operator lif

c) Operator listrik dan genset

d) Operator AC dan ventilasi

e) Operator pompa

3) Kepala bagian keamanan, membawahi :

a) Tim Pemadam Api (TPA)

b) Tim Penyelamat Kebakaran (TPK)

c) Tim Pengamanan
22

2.2.3 Sumber Daya Manusia Dalam Manajemen Penanggulangan Kebakaran

Menurut Permen PU No. 20/PRT/M/2009, untuk mencapai hasil kerja

yang efektif dan efisien harus didukung oleh tenaga-tenaga yang mempunyai

dasar pengetahuan, pengalamaan dan keahlian dibidang proteksi kebakaran,

meliputi :

a. Keahlian di bidang pengamanan kebakaran (fire safety)

b. Keahlian dalam bidang penyelamatan darurat (P3K dan medical darurat)

c. Keahlian di bidang manajemen

Kualifikasi masing-masing jabatan dalam manajemenpenanggulangan

kebakaran harus mempertimbangkan kompetensi keahlian diatas, fungsi

bangunan gedung, klasifikasi risiko bangunan gedung terhadap kebakaran,

situasi dan kondisi infrastruktur sekeliling bangunan gedung. Sumber daya

manusia yang berada dalam manajemen secara berkala harus dilatih dan

ditingkatkan kemampuannya (Kementerian PU, 2009).

2.3 Sarana Proteksi Kebakaran Aktif

Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.26/PRT/M/2008, sistem

proteksi kebakaran aktif adalah sistem proteksi kebakaran yang secara lengkap

terdiri atas sistem pendeteksian kebakaran baik manual atau otomatis. Sarana

proteksi kebakaran aktif terdiri dari Alarm, Hidran, Detektor, Sprinkler, dan

APAR.
23

2.3.1 Alat Pemadam Api Ringan (APAR)

Menurut Soehatman Ramli (2010), Alat Pemadam Api Ringan

(APAR) adalah alat pemadam yang bisa diangkut, diangkat, dan

dioperasikan oleh satu orang.

Menurut Perda NO. 3 tahun 1992 adalah suatu alat untuk

memadamkan kebakaran. Persyaratan teknis Alat Pemadam Api Ringan

(APAR) meliputi :

a. Setiap alat pemadam api ringan dipasang pada posisi yang mudah

dilihat, dicapai, diambil, serta dilengkapi dengan pemberian tanda

pemasangan.

b. Setiap alat pemadam api ringan harus siap pakai.

c. Tabung tidak boleh berkarat

d. Dilengkapi cara-cara penggunaan yang memuat urutan singkat dan jelas

tentang cara penggunaan alat.

e. Belum lewat masa berlakunya

f. Warna tabung mudah terlihat

g. Pemasangan alat pemadam api ringan ditentukan sebagai berikut :

1) Dipasang pada dinding dengan penguatan dan dalam lemari kaca

serta dapat digunakan dengan mudah pada saat diperlukan

2) Dipasang pada ketinggiaan 120 cm dari permukaan lantai, kecuali

CO2 dan bubuk kimia kering 15 cm dari alas APAR ke permukaan

lantai.
24

Menurut Zaini (1998), faktor yang menjadi dasar dalam memilih APAR

sebagai berikut:

1. Memilih APAR sesuai dengan kelas kebakaran yang akan dipadamkan

2. Harus memperhatikan keparahan yang mungkin terjadi

3. APAR disesuaikan dengan pekerjaannya.

4. Memperhatikan kondisi daerah yang dilindungi.

Santoso (2004) membagi jenis APAR dan kelas kebakarannya menjadi empat
yaitu :

Tabel 2.1
Jenis APAR dan Kelas Kebakaran
Kelas Bahan yang terbakar APAR
A Kayu, kertas, teks, plastic, busa, Tepung kimia serba
Styrofoam, file guna, air, CO2
B Bahan bakar minyak oil, aspal, Tepung kimia biasa, CO2
cat, alcohol, elpiji
C Pembangkit listrik Tepung kimia biasa
D Logam,magnesium,titanium, Tepung kimia khusus
alumunium logam

Sumber: Santoso,2004

2.3.2 Hidran

Hidran adalah suatu sistem pemadam kebakaran tetap yang menggunakan

media pemadam air bertekanan yang dialirkan melalui pipa-pipa dan selang

kebakaran (Depnaker,1987). Hidran biasanya dilengkapi dengan selang (fire

hose) yang disambungkan dengan kepala selang (nozzle) yang tersimpan

didalam suatu kotak baja dengan cat warna merah. Untuk menghubungkan

selang dengan kepala selang, digunakan alat yang disebut dengan kopling
25

yang dimiliki oleh dinas pemadam kebakaran setempat sehingga bisa

disambung ketempat-tempat yang jauh.

Menurut Kepmen PU No.10/KPTS/2000 bab 5 bagian 3 tentang sistem

pemadam kebakaran manual, setiap bangunan harus memiliki 2 jenis hidran

yaitu hidran gedung dan hidran halaman.

Berdasarkan SNI-1745-1989 Bab 2 bagian 10 mengenai perletakan

hidran, kotak hidran harus mudah dilihat, mudah dicapai, tidak terhalang

oleh benda lain. Kotak hidran dicat warna merah dan di tengah-tengah kotak

Hidran diberi tulisan “HIDRAN” dengan warna putih, tinggi tulisan

minimum 10 cm.

Berdasarkan jenis penempatannya, hidran terbagi menjadi dua, yaitu:

1. Hidran gedung

Hidran gedung adalah hidran yang terletak di dalam gedung dan

sistem serta peralatannya disediakan serta dipasang dalam bangunan

gedung tersebut.

2. Hidran halaman

Hidran halaman adalah hidran yang terletak diluar bangunan,

sedangkan instalasi dan peralatannya disediakan serta dipasang di

lingkungan tersebut.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam hidran yaitu :

a. Persyaratan teknis

1) Sumber persediaan air harus diperhitungkan minimum untuk

pemakaian selama 30 menit


26

2) Pompa kebakaran dan peralatan listrik lainnya harus mempunyai

aliran listrik tersendiri dari sumber daya listrik darurat.

3) Selang kebakaran dengan diameter maksimum 1,5 inci harus

terbuat dari bahan yang tahan panas, panjang maksimum selang

harus 30 meter.

4) Harus disediakan kopling penyambung yang sama dengan kopling

dari unit pemadam kebakaran.

b. Pemasangan hidran kebakaran

1) Pipa pemancar harus sudah terpasang pada selang kebakaran

2) Hidran gedung yang menggunakan pipa tegak 6 inci (15 cm) harus

dilengkapi dengan kopling pengeluaran yang berdiameter 2,5 inci

(6,25 cm), minimal debit air 380 liter/menit, kotak hidran gedung

harus mudah dibuka, dilihat, dijangkau dan tidak terhalang oleh

benda lain.

3) Hidran halaman, harus disambung dengan pipa induk dengan

ukuran diameternya minimum 6 inci (15cm), debit air hidran 250

galon/menit atau 1,125 liter/menit untuk setiap kopling, hidran

halaman yang memiliki dua kopling pengeluaran harus

menggunakan katup pembuka yang diameter minimum 4 inci

(10cm), dan yang mempunyai tiga kopling pengeluaran harus

menggunakan pembuka berdiameter 6 inci (15 cm), kotak hidran

halaman harus mudah dibuka, mudah dilihat, mudah dijangkau,

dan tidak terhalang oleh benda lain.


27

Tabel 2.2
Penyediaan Hidran Berdasarkan Luas Lantai dan Klasifikasi
Bangunan
Klasifikasi bangunan Jumlah lantai Jumlah dan luas lantai
A 1 lantai 1 buah per 1000 m2
B 2 lantai 1 buah per 1000 m2
C 4 lantai 1 buah per 1000 m2
D 8 lantai 1 buah per 800 m2
E >8 lantai 1 buah per 200 m2
Sumber: Kepmen PU NO.10 tahun 2000

2.3.3 Alarm kebakaran

Alarm kebakaran menurut Permenaker No 02/Men/1983 adalah

komponen dari sistem yang memberikan isyarat atau tanda adanya suatu

kebakaran yang dapat berupa:

a) Alarm kebakaran yang memberikan tanda atau isyarat berupa bunyi

khusus (audible alarm)

b) Alarm kebakaran yang memberikan tanda atau isyarat yang tertangkap

oleh pandangan mata secara jelas (visible alarm)

Komponen alarm kebakaran gedung yang dirangkai dengan instalasi

kabel yaitu :

a. Titik panggil manual (manual call box)

Adalah alat yang bekerja secara manual untuk mengaktifan isyarat

adanya kebakaran yang dapat berupa :

1) Titik panggil manual secara manual (full down)

2) Titik panggil manual secara tombol tekan (push bottom)


28

b. Panel indikator kebakaran

Berfungsi untuk mengendalikan bekerjanya sistem yang terletak

diruang operator.

c. Alat deteksi kebakaran (fire detektor)

Adalah alat yang fungsinya mendeteksi secara dini adanya suatu

kebakaran awal.

Berdasarkan Perda DKI Jakarta No. 3 tahun 1992, ketentuan untuk alarm

kebakaran adalah sebagai berikut:

a) Alat pemadam dan alat perlengkapan lainnya harus ditempatkan pada

tempat yang mudah dicapai dan ditandai dengan jelas, sehingga mudah

dilihat dan digunakan oleh setiap orang pada saat diperlukan (pasal 24

ayat 2).

b) Instalasi alarm kebakaran harus selalu dalam kondisi baik dan siap pakai

(pasal 29 ayat 2).

Tabel 2.3
Persyaratan Perancangan Alarm Kebakaran Menurut Jenis, Jumlah Lantai, dan
Luas Lantai
Klasifikasi Jenis Bangunan Jumlah Lantai Jumlah Luas Tipe Alarm
Bangunan Minimum Tiap
Lantai
A Hotel 1 185 Manual
2-4 l.a.b Otomatis
>4 l.a.b Otomatis
Pertokoan & 1 185 Manual
pasar 2-4 l.a.b Otomatis
>4 l.a.b Otomatis
Perkantoran 1 185 Manual
2-4 l.a.b Otomatis
>4 l.a.b Otomatis
Rumah sakit & 1 l.a.b Manual
perawatan 2-4 l.a.b Otomatis
29

>4 l.a.b Otomatis


Bangunan industri 1 l.a.b Manual
2-4 l.a.b Otomatis
>4 l.a.b Otomatis
Tempat hiburan 1 l.a.b Manual
museum 2-4 l.a.b Otomatis
>4 l.a.b Otomatis
B Perumahan 1 i.d i.d
bertingkat 2-4 375 manual
>4 l.a.b otomatis
Asrama 1 i.d I,d
2-4 l.a.b Manual
>4 l.a.b Otomatis
Sekolah 1 i.d i.d
2-4 375 manual
>4 l.a.b otomatis
Tempat ibadah 1 i.d I,d
2-4 375 Manual
>4 l.a.b Otomatis
Sumber Perda DKI Jakarta No.3 tahun 1992
Keterangan : i.d = tidak dipersyaratkan l.a.b =tidak ada batas luas.

2.3.4 Sprinkler Otomatis

Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 26/PRT/M/2008

tentang persyaratan teknis sistem proteksi kebakaran, sprinkler adalah alat

pemancar air untuk pemadam kebakaran yang mempunyai tudung berbentuk

deflector pada ujung mulut pancarnya, sehingga air dapat memancar ke

semua arah secara merata (Kementerian Pekerjaan Umum,2008).

Menurut SNI 03-3989 tahun 2000 sprinkler otomatis adalah alat

pemancar untuk pemadaman kebakaran yang mempunyai tundung berbentuk

deflector pada ujung mulut pancarnya, sehingga air dapat memancar

kesemua arah secara merata. Sedangkan yang dimaksud dengan sprinkler

otomatis menurut Perda No.3 tahun 1992 adalah suatu sistem pemancar air
30

yang bekerja secara otomatis jika temperatur ruangan mencapai suhu

tertentu.

Instalasi sistem sprinkler terdiri atas beberapa komponen yaitu :

a) Komponen persediaan air/ reservoir, untuk sistem sprinkler cadangan air

dalam reservoir harus mampu menyediakan air untuk pompa beroperasi

dengan kapasitas penuh selama 1 jam. Untuk menentukan ukuran

kapasitas minimum penampang air (dalam m3) tergantung jenis dan

golongan bahaya kebakaran dari suatu bangunan. Kapasitas minimum

reservoir dapat dilihat pada tabel 2.4

Tabel 2.4
Kapasitas minimum reservoir

Jenis kebakaran Kapasitas minimum reservoir


Bahaya kebakaran ringan 9 m3
Bahaya kebakaran sedang 12m3
kel I
Bahaya kebakaran sedang 22m3
kel II
Bahaya kebakaran sedang 33m3
kel III
Bahaya kebakaran berat 69-290 m3
Sumber : SNI 03-3989 tahun 2000

b) Komponen pemompaan, pada dasarnya komponen pemompaan pada

sprinkler sama dengan pemompaan sistem hidran yang terdiri dari pompa

listrik, pompa diesel, dan pompa jockey.

c) Komponen pemipaan, pemipaan mulai dari gate valve untuk pipa catu

dalam ruang pompa sampai dengan pemipaan pada pipa-pipa cabang

dimana terdapat atau terpasang alarm control valve. Pada komponen


31

pemipaan yang harus diperhatikan adalah tekanan air pada pipa dan

kapasitas aliran pompa seperti dalam tabel 2.5.

Tabel 2.5
Syarat tekanan air dan kapasitas aliran pompa pada komponen
pemipaan
Jenis kebakaran Tekanan air Kapasitas aliran
Bahaya kebakaran 10 bar 300 liter/menit
ringan
Bahaya kebakaran 12 bar 375 liter/menit
sedang kel I
Bahaya kebakaran 14 bar 725 liter/menit
sedang kel II
Bahaya kebakaran 16 bar 1100 liter/menit
sedang kel III
Bahaya kebakaran berat 22 bar 2300-9650 liter/menit

Persyaratan untuk sprinkler otomatis menurut SNI 03-3989 tahun 2000

sebagai berikut :

a. Jarak maksimal antar sprinkler untuk bangunan bahaya kebakaran sedang

4-5 meter.

b. Terdapat sambungan kembar dinas kebakaran dengan ukuran 2,5 inci

c. Bentuk kopling sambungan sama dengan dinas pemadam kebakaran

d. Sumber daya sprinkler minimal berasal dari dua sumber

e. Kapasitas tanki/reservoir untuk bangunan bahaya sedang 12 m3

f. Kapasitas aliran pompa 375 liter/menit

g. Tekanan air pada kepala sprinkler 10 bar

h. Pemipaan sprinkler dicat warna merah kecuali kepala sprinkler


32

2.3.5 Sistem deteksi

Menurut SNI 03-6574 tahun 2000 yang dimaksud dengan sistem deteksi

adalah alat yang berfungsi mendeteksi secara dini adanya suatu kebakaran

awal yang terdiri dari :

a. Detector asap yaitu : detector yang bekerja berdasarkan terjadinya

akumulasi asap dalam jumlah tertentu. Detector asap (smoke) dapat

mendeteksi kebakaran jauh lebih cepat dari detector panas. Persyaratan

untuk detector asap yaitu :

1) Dipasang pada jarak lebih dari 15 meter antara AC dengan

detector sedangkan antara exhaush dengan detector dipasang

pada jarak kurang dari 15 meter

2) Untuk ruangan dengan luas 92 m2 dengan ketinggian langit-

langit 3 meter harus dipasang 1 buah alat detector.

3) Jarak detector pada ruangan efek kurang dari 12 m dengan suhu

ruangan kurang dari dari 38°C

b. Detector panas yaitu : detector yang bekerja berdasarkan pengaruh panas

(temperatur) tertentu pengindraan panas. Persyaratan untuk detector

panas yaitu :

1) Dipasang pada jarak lebih dari 15 meter antara AC dengan

detector sedangkan antara exhaush dengan detector dipasang

pada jarak kurang dari 15 m

2) Untuk ruangan dengan luas 46 m2 dengan ketinggian langit-

langit 3 m harus dipasang 1 buah alat detector.


33

3) Jarak detector pada ruangan sirkulasi kurang dari 10 m.

Tabel 2.6
Pemilihan Jenis Detector Sesuai Dengan Fungsi Ruangannya
Jenis Fungsi ruangan
detector
Asap Ruang peralatan kontrol bangunan,ruangan resepsionis, ruang tamu,
ruang mesin, ruang lift, ruang pompa, ruang AC, tangga, koridor, lobi,
aula, perpustakaan dan gudang
Gas Ruang transformator/diesel, ruang yang berisi bahan yang mudah
menimbulkan gas yang mudah terbakar
Nyala api Gudang material yang mudah terbakar, ruang kontrol instalasi peralatan
vital
Sumber : SNI 03-6574 tahun 2000

2.4 Sarana Penyelamat Jiwa

Menurut peraturan menteri pekerjaan umum No.26/PRT/M/2008, setiap

bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana jalan keluar yang dapat

digunakan oleh penghuni bangunan gedung, sehingga memiliki waktu yang cukup

untuk menyelamatkan diri dengan aman tanpa terhambat hal-hal yang diakibatkan

oleh keadaan darurat. Tujuan dibentuknya sarana penyelamatan jiwa adalah untuk

mencegah terjadinya kecelakaan atau luka pada waktu melakukan evakuasi pada

saat keadaan darurat terjadi.

Elemen-elemen yang harus terdapat dalam sarana penyelamatan jiwa adalah :

tangga kebakaran, pintu darurat, dan tanda petunjuk arah (kementerian Pekerjaan

Umum, 2008).
34

2.4.1 Pintu darurat

Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.26/PRT/M/2008, setiap

pintu pada sarana jalan keluar harus dari jenis engsel sisi atau pintu ayun,

pintu harus dirancang dan dipasang sehingga mampu berayun dari posisi

manapun hingga mencapai posisi terbuka penuh.

Menurut SNI 03-1746 tahun 2000, penempatan pintu darurat harus

diatur sedemikian rupa sehingga dimana saja penghuni dapat menjangkau

pintu keluar (exit) tidak melebihi jarak yang telah ditetapkan. Jumlah pintu

darurat minimal 2 buah pada setiap lantai yang mempunyai penghuni

kurang dari 60, dan dilengkapi dengan tanda atau sinyal yang bertuliskan

keluar menghadap ke koridor, mudah dicapai dan dapat mengeluarkan

seluruh penghuni dalam waktu 2,5 menit.

Pintu darurat harus dilengkapi dengan tanda keluar / exit dengan warna

tulisan hijau di atas putih tembus cahaya dan di bagian belakang tanda

tersebut dipasang dua buah lampu pijar yang selalu menyala

(Depnaker,1987).

2.4.2 Tangga darurat

Tangga darurat adalah tangga yang direncanakan khusus untuk

penyelamatan bila terjadi kebakaran, tangga terlindung baru yang melayani

tiga lantai/lebih ataupun tangga terlindung yang sudah ada melayani lima

lantai atau lebih. Tangga kebakaran ini harus disediakan dengan tanda

pengenal khusus di dalam ruang terlindung pada setiap bordes lantai.


35

Penandaan tersebut harus menunjukkan tingkat lantai, akhir teratas dan

terbawah dari ruang tangga terlindung (kementerian Pekerjaan Umum,2008).

Tangga yaitu alat tersendiri / bagian dari suatu bangunan untuk turun

atau naik dari satu daratan kedaratan lain (Sumam’mur, 1996). Sedangkan

menurut SNI 03-1735 tahun 2000 tangga darurat adalah tangga yang

direncanakan khusus untuk penyelamatan bila terjadi kebakaran pada

koridor tiap jalan keluar menuju tangga darurat dilengkapi dengan pintu

darurat yang tahan api (lebih kurang 2 jam) dan panic bar sebagai

pegangannya sehingga mudah dibuka dari sebelah tangga (luar) untuk

mencegah masuknya asap kedalam tangga darurat.

Menurut SNI 1728 tahun 1989, tiap tangga darurat dilengkapi dengan

kipas penekan/pendorong udara yang dipasang diatap (top) udara pendorong

akan keluar melalui grill di setiap lantai yang terdapat di dinding tangga

darurat dekat pintu darurat. Rambu-rambu keluar (exit sign) di tiap lantai

dilengkapi tenaga batrai darurat yang sewaktu-waktu diperlukan bila terjadi

pemadaman. Bordes antar tangga minimal 8 dan maksimal 18 hal ini karena

bila tangga kurang dari 8 akan menyebabkan kemiringan tangga menjadi

curam dan bila lebih dari 18 tangga akan menjadi landai sehingga

melelahkan saat naik maupun turun.

Berdasarkan SNI 03-1746 tahun 1989, tangga kebakaran tidak dibatasi

dengan dinding, tidak untuk menyimpan barang, terawat dengan baik dan

bersih tidak digunakan untuk jalan pipa atau cerobong AC, ruang sirkulasi
36

berhubungan langsung dengan pintu kebakaran, tidak boleh berbentuk

tangga spiral.

2.4.3 Tanda petunjuk arah

Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.26/PRT/M/2008, selain

dari pintu exit utama di bagian luar bangunan gedung yang jelas dan nyata

harus diberi tanda dengan sebuah tanda yang disetujui yang mudah terlihat

dari setiap arah akses exit.

2.4.4 Tempat Berhimpun

Menurut SNI 03-6571 tahun 2001 tempat berhimpun adalah daerah

pada bangunan yang dipisahkan dari ruang lain dari penghalang asap

kebakaran dimana lingkungan yang dapat dipertahankan dijaga untuk jangka

waktu selama daerah tersebut masih dibutuhkan untuk dihuni pada saat

kebakaran.

Sedangkan menurut SNI 03-1746 tahun 2000 yang dimaksud dengan

daerah tempat berlindung adalah suatu tempat berlindung yang

pencapaiannya memenuhi persyaratan rute sesuai ketentuan yang berlaku.

Menurut Perda No 3 tahun 1992 tempat berkumpul harus dapat

menampung jumlah penghuni lantai tersebut dengan ketentuan luas minimal

0,3 m2 per orang.


37

2.5 Kerangka Teori

Berdasarkan telaah kepustakaan dari berbagai sumber, kerangka teori dapat

dilihat pada Bagan 2.2 dibawah ini :

MANAJEMEN DAN SISTEM PROTEKSI


KEBAKARAN

Manajemen proteksi Sistem proteksi Sarana penyelamat


kebakaran kebakaran aktif jiwa
1. Prosedur 1. Alarm 1. Pintu darurat
tanggap darurat 2. Hidran 2. Tangga darurat
2. Organisasi 3. Detektor 3. Petunjuk arah
proteksi 4. Sprinkler 4. Tempat
kebakaran 5. APAR berhimpun
3. Sumber daya
manusia

Sumber : Permen PU No.20/PRT/M/2009, Permen PU No.26/PRT/M/2008, SNI 03-


3985-2000. Dan NFPA 101 (1995)
BAB III

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep

Menurut peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20/PRT/M/2009

tentang pedoman teknis manajemen proteksi kebakaran diperkotaan, Setiap pemilik

/pengguna bangunan gedung wajib melaksanakan kegiatan pengelolaan resiko

kebakaran meliputi kegiatan bersiap diri, memitigasi, merespon dan pemulihan

akibat kebakaran. Selain itu setiap pemilik/pengguna gedung juga harus

memanfaatkan bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang ditetapkan dalam izin

mendirikan bangunan gedung termasuk pengelolaan risiko kebakaran melalui

kegiatan pemeliharaan, perawatan, dan pemeriksaan secara berkala sistem proteksi

kebakaran serta penyiapan personil terlatih dalam pengendalian kebakaran.

Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.26/PRT/M/2008, sistem

proteksi kebakaran aktif adalah sistem proteksi kebakaran yang secara lengkap

terdiri atas sistem pendeteksian kebakaran baik manual atau otomatis. Sarana

proteksi kebakaran aktif terdiri dari Alarm, Hidran, Detektor, Sprinkler, dan

APAR. Selain itu setiap bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana jalan

keluar yang dapat digunakan oleh penghuni bangunan gedung, sehingga memiliki

waktu yang cukup untuk menyelamatkan diri dengan aman tanpa terhambat hal-

hal yang diakibatkan oleh keadaan darurat.

38
39

Berdasarkan peraturan diatas, maka penelitian ini menentukan bahwa

variabel prosedur tanggap darurat, organisasi proteksi kebakaran, sumber daya

manusia, sarana proteksi aktif, dan sarana penyelamat jiwa masuk di dalam

manajemen dan sistem proteksi kebakaran. Selanjutnya variabel diatas yang berada

di gedung FKIK dibandingkan dengan peraturan yang berlaku dan dengan

melakukan penilaian berdasarkan tabel tingkat penilaian audit kebakaran yang

dilakukan oleh Saptaria et al (2005), setelah dilakukan penilaian maka selanjutnya

diambil kesimpulan dari peneilitian ini yaitu tingkat ketersediaan dan keefektifan

manajemen proteksi kebakaran, sarana proteksi aktif dan sarana penyelamat jiwa

dalam penanggulangan kebakaran berdasarkan peraturan yang berlaku.


40

Prosedur tanggap darurat


kebakaran

Organisasi proteksi
kebakaran

Sumber daya manusia Manajemen dan sistem proteksi


kebakaran

Sarana proteksi aktif

Sarana penyelamat jiwa

Bagan 3.1 kerangka konsep


3.2 Definisi Operasional

N Istilah Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur
o Operasional
1 Prosedur Segala kegiatan Observasi dan Checklist Presentase Ordinal
tanggap yang mencakup dokumentasi
darurat kegiatan 1) Baik : apabila seluruh
pembentukan elemen yang dianalisis memiliki
tim tingkat kesesuaian antara >80%-
perencanaan, 100%
penyusunan 2) Cukup : apabila seluruh
analisis risiko elemen yang dianalisis memiliki
bangunan tingkat kesesuaian antra 60%-
gedung 80%
terhadap 3) Kurang : apabila seluruh
bahaya elemen yang dianalisis memiliki
kebakaran, tingkat kesesuaian <60%
pembuatan dan Sumber : puslitbang pemukiman tahun
pelaksanaan 2005
rencana
pengaman
keakaran (fire
safety plan)

41
2 Organisasi Suatu kesatuan Observasi dan Checklist Presentase Ordinal
proteksi orang yang dokumentasi
kebakaran terdiri atas 1) Baik : apabila seluruh
bagian-bagian elemen yang dianalisis memiliki
dan memeiliki tingkat kesesuaian antara >80%-
tugas, 100%
wewenang, dan 2) Cukup : apabila seluruh
tanggung elemen yang dianalisis memiliki
jawab yang tingkat kesesuaian antra 60%-
dibentuk dalam 80%
upaya 3) Kurang : apabila seluruh
menanggulangi elemen yang dianalisis memiliki
kebakaran tingkat kesesuaian <60%
Sumber : puslitbang pemukiman tahun
2005
3 Sumber Orang yang Observasi dan Checklist Presentase
daya bertugas dalam dokumentasi
manusia manajemen 1) Baik : apabila seluruh
penanggulanga elemen yang dianalisis memiliki
n kebakaran tingkat kesesuaian antara >80%-
mempunyai 100%
dasar 2) Cukup : apabila seluruh
pengetahuan, elemen yang dianalisis memiliki
pengalaman,da tingkat kesesuaian antra 60%-
n keahlian 80%
dalam bidang 3) Kurang : apabila seluruh
proteksi elemen yang dianalisis memiliki
kebakaran tingkat kesesuaian <60%

Sumber : puslitbang pemukiman tahun


2005

42
4 APAR Alat pemadam Observasi dan Checklist Presentase Ordinal
yang bisa dokumentasi
diangkut, 1) Baik : apabila seluruh
diangkat, dan elemen yang dianalisis
dioperasikan memiliki tingkat kesesuaian
oleh satu orang antara >80%-100%
2) Cukup : apabila seluruh
elemen yang dianalisis
memiliki tingkat kesesuaian
antra 60%-80%
3) Kurang : apabila seluruh
elemen yang dianalisis
memiliki tingkat kesesuaian
<60%

Sumber : puslitbang
pemukiman tahun 2005

5 Hidran Suatu sistem Observasi dan Checklist Presentase Ordinal


pemadam dokumentasi
kebakaran tetap 1) Baik : apabila seluruh
yang elemen yang dianalisis memiliki
menggunakan tingkat kesesuaian antara >80%-
media 100%
pemadam air 2) Cukup : apabila seluruh
bertekanan elemen yang dianalisis memiliki
yang dialirkan tingkat kesesuaian antra 60%-
melalui pipa- 80%
pipa dan selang 3) Kurang : apabila seluruh
kebakaran elemen yang dianalisis memiliki
tingkat kesesuaian <60%

Sumber : puslitbang
pemukiman tahun 2005

43
6 Alarm suatu cara Observasi dan Checklist, Presentase Ordinal
Kebakaran untuk memberi dokumentasi
peringatan dini 1) Baik : apabila seluruh
kepada elemen yang dianalisis memiliki
penghuni tingkat kesesuaian antara >80%-
gedung atau 100%
petugas yang 2) Cukup : apabila seluruh
ditunjuk elemen yang dianalisis memiliki
tentang adanya tingkat kesesuaian antra 60%-
kejadian 80%
kebakaran 3) Kurang : apabila seluruh
disuatu bagian elemen yang dianalisis memiliki
gedung tingkat kesesuaian <60%
Sumber : puslitbang pemukiman
tahun 2005

7 Sprinkler Alat pemancar Observasi dan Checklist, Presentase Ordinal


otomatis air untuk dokumentasi
pemadam 1) Baik : apabila seluruh
kebakaran yang elemen yang dianalisis memiliki
mempunyai tingkat kesesuaian antara >80%-
tudung yang 100%
berbentuk 2) Cukup : apabila seluruh
deflector pada elemen yang dianalisis memiliki
ujung mulut tingkat kesesuaian antra 60%-
pancarnya, 80%
sehingga air 3) Kurang : apabila seluruh
dapat elemen yang dianalisis memiliki
memancar tingkat kesesuaian <60%
kesemua arah Sumber : puslitbang pemukiman
secara merata tahun 2005

44
8 Detektor Alat yang Observasi dan Checklist, Presentase tingkat pemenuhan Ordinal
kebakaran berfungsi dokumentasi meteran
mendeteksi 1) Baik : apabila seluruh
secara dini elemen yang dianalisis memiliki
adanya suatu tingkat kesesuaian antara >80%-
kebakaran awal 100%
2) Cukup : apabila seluruh
elemen yang dianalisis memiliki
tingkat kesesuaian antra 60%-
80%
3) Kurang : apabila seluruh
elemen yang dianalisis memiliki
tingkat kesesuaian <60%
Sumber : puslitbang pemukiman
tahun 2005
9 Tangga Tangga yang Observasi dan Checklist, Presentase tingkat pemenuhan Ordinal
kebakaran direncanakan dokumentasi meteran,
khusus untuk 1) Baik : apabila seluruh
penyelamatan elemen yang dianalisis memiliki
bila terjadi tingkat kesesuaian antara >80%-
kebakaran; 100%
2) Cukup : apabila seluruh
elemen yang dianalisis memiliki
tingkat kesesuaian antra 60%-
80%
3) Kurang : apabila seluruh
elemen yang dianalisis memiliki
tingkat kesesuaian <60%
Sumber : puslitbang pemukiman
tahun 2005

45
10 Tempat Daerah pada Observasi dan Checklist, Presentase tingkat pemenuhan Ordinal
berhimpun bangunan yang dokumentasi meteran
dipisahkan dari 1) Baik : apabila seluruh
ruang lain dari elemen yang dianalisis memiliki
penghalang tingkat kesesuaian antara >80%-
asap kebakaran 100%
dimana 2) Cukup : apabila seluruh
lingkungan elemen yang dianalisis memiliki
yang dapat tingkat kesesuaian antra 60%-
dipertahankan 80%
dijaga untuk 3) Kurang : apabila seluruh
jangka waktu elemen yang dianalisis memiliki
selama daerah tingkat kesesuaian <60%
tersebut masih Sumber : puslitbang pemukiman
dibutuhkan tahun 2005
untuk dihuni
pada saat
kebakaran
11 Pintu Pintu-pintu Observasi dan Checklist, Presentase tingkat pemenuhan Ordinal
darurat yang langsung dokumentasi meteran
menuju tangga 1) Baik : apabila seluruh
dan hanya elemen yang dianalisis memiliki
digunakan tingkat kesesuaian antara >80%-
apabila terjadi 100%
kebakaran 2) Cukup : apabila seluruh
elemen yang dianalisis memiliki
tingkat kesesuaian antra 60%-
80%
3) Kurang : apabila seluruh
elemen yang dianalisis memiliki
tingkat kesesuaian <60%
Sumber : puslitbang pemukiman
tahun 2005

46
12 Petunjuk sebuah tanda Observasi dan Checklist Presentase tingkat pemenuhan Ordinal
arah yang disetujui dokumentasi
pemilik 1) Baik : apabila seluruh
gedung yang elemen yang dianalisis memiliki
mudah tingkat kesesuaian antara >80%-
terlihat dari 100%
setiap arah 2) Cukup : apabila seluruh
akses keluar elemen yang dianalisis memiliki
gedung tingkat kesesuaian antra 60%-
80%
3) Kurang : apabila seluruh
elemen yang dianalisis memiliki
tingkat kesesuaian <60%
Sumber : puslitbang pemukiman
tahun 2005

47
BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif

kuantitatif dengan desain studi kasus, yaitu hasil penelitian yang kemudian diolah

dan dianalisis untuk diambil kesimpulannya, artinya penelitian yang dilakukan

adalah penelitian yang menekankan analisisnya pada data-data numeric (angka),

dengan menggunakan metode penelitian ini akan diketahui hubungan yang

signifikan antara variabel yang diteliti, sehingga menghasilkan kesimpulan yang

akan memperjelas gambaran mengenai objek yang diteliti.

Menurut Sugiono (2005) memberikan pendapat mengenai metode deskriptif

sebagai berikut :

Metode Deskriptif adalah metode yang digunakan untuk menggambarkan atau

menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat

kesimpulan yang lebih luas.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa metode deskriptif

dapat menggambarkan perbandingan manajamen dan sistem proteksi kebakaran di

gedung FKIK dengan peraturan yang berlaku yaitu dengan Standar Nasional

Indonesia, Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 20/PRT/M/2009 tentang

pedoman teknis manajemen proteksi kebakaran di perkotaan, Peraturan Menteri

48
49

Pekerjaan Umum No. 26/PRT/M/2008 tentang persyaratan teknis sistem proteksi

kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan.

4.2 Waktu dan Lokasi Penelitian

Waktu penelitian dilakukan pada bulan Februari sampai April 2014, Penelitian

ini dilakukan di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri

Jakarta.

4.3 Pengumpulan Data

4.3.1 Sumber Data

Dalam penelitian ini sumber data adalah data primer, karena data yang

diambil langsung dari lapangan melalui metode kuantitatif. Data primer dalam

penelitian ini berupa organisasi proteksi kebakaran, prosedur tanggap darurat,

sumber daya manusia, sarana proteksi aktif, dan sarana penyelamat jiwa.

4.3.2 Instrumen Penelitian

Menurut Sugiono (2005) teknik pengumpulan data dibagi menjadi tiga,

yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Cara pengumpulan data dalam

penelitian ini melalui observasi secara langsung, yaitu melakukan

pengamatan secara langsung di lokasi untuk memperoleh data yang

diperlukan dan dengan melakukan dokumentasi. Selain itu peneliti juga

melakukan wawancara untuk memperkuat hasil penelitian. Instrumentasi

yang digunakan dalam penelitian ini adalah : meteran, kamera digital, dan

lembar checklist.
50

4.4 Pengolahan Data

Pengolahan data untuk penelitian ini dilakukan dengan :

1. Mengumpulkan hasil observasi dan dokumentasi

2. Melakukan perbandingan antara peraturan perundang-undangan dengan hasil

observasi dengan cara melakukan teknik scoring data terhadap hasil observasi

dengan ketentuan nilai scoring berdasarkan rata-rata nilai sebagai berikut :

a) ≥ rata-rata maka tingkat pemenuhan = baik

b) ≤ rata-rata maka tingkat pemenuhan = kurang baik

3. Menarik kesimpulan berdasarkan tabel tingkat penilaian audit kebakaran yang

dilakukan oleh Saptaria et al (2005) adalah pada tabel 4.1 :

Tabel 4.1

Tingkat Penilaian Audit Kebakaran yang Dilakukan Oleh Saptaria et al

Nilai Kesesuaian Keandalan

>80- 100 Sesuai persyaratan Baik (B)

60-80 Terpasang tetapi ada sebagian Cukup (C)

kecil instalasi yang tidak sesuai

persyaratan

<60 Tidak sesuai sama sekali Kurang (K)

Sumber: Pustlitbang pemukiman tahun 2005


51

4.5 Analisa Data

Dalam penelitian ini analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif

dengan metode studi kasus, yaitu mengungkapkan suatu masalah dan keadaan

sebagaimana adanya, sehingga hanya merupakan penyingkapan fakta (Warsito,

1992: 10). Penelitian ini merupakan analisis univariat, yang menggambarkan dan

membandingkan manajemen dan sistem proteksi aktif di gedung Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan terhadap Permen PU No.26/PRT/M/2008, Permen

PU No.10/PRT/M/2009, dan SNI (Standar Nasional Indonesia).

Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang diperoleh

melalui observasi dan dokumentasi, kemudian dideskripsikan dengan cara

menggunakan analisis persentase. Untuk menghitung persentase kesesuaian gedung

FKIK dengan peraturan yang ada. Penulis menggunakan rumus tabel tingkat

penilaian audit kebakaran yang dilakukan oleh Saptaria et al (2005), adalah sebagai

berikut :

Nilai Kesesuaian Keandalan

>80- 100 Sesuai persyaratan Baik (B)

60-80 Terpasang tetapi ada sebagian Cukup (C)

kecil instalasi yang tidak sesuai

persyaratan

<60 Tidak sesuai sama sekali Kurang (K)

Sumber: Pustlitbang pemukiman tahun 2005


52

Setelah elemen manajemen dan sistem proteksi kebakaran dibandingkan dengan

peraturan-peraturan tersebut, dilakukan penilaian dalam bentuk keterangan, yaitu

sesuai bila item yang dilihat pada masing-masing elemen memenuhi semua item

pada peraturan-peraturan pembanding, kurang sesuai bila sebagian elemen program

memenuhi semua item pada peraturan-peraturan pembanding, tidak sesuai bila

semua elemen program yang diteliti tidak memenuhi semua item pada peraturan-

peraturan pembanding.

4.6 Populasi dan Sampel

Populasi pada penelitian ini adalah manajemen dan sistem proteksi kebakaran di

seluruh gedung FKIK yang meliputi prosedur tanggap darurat, organisasi proteksi

kebakaran, sumber daya manusia, sistem proteksi aktif, dan sarana penyelamat jiwa.

Dalam penelitian ini tidak terdapat sampel, hal ini dikarenakan peneliti

melakukan penelitian pada seluruh gedung FKIK dan tidak melakukan sampling.
BAB V

HASIL PENELITIAN

5.1 Prosedur Tanggap Darurat kebakaran di gedung Fakultas Kedokteran dan

Ilmu Kesehatan (FKIK)

Prosedur tanggap darurat kebakaran di gedung FKIK belum ada, alasanya

dikarenakan tidak pernah terjadi kebakaran. Prosedur tanggap darurat kebakaran

dianggap tidak terlalu penting mengingat aktifitas di gedung FKIK jauh dari

aktifitas yang menimbulkan api. Hal ini dibuktikan dengan hasil observasi yaitu

tidak adanya struktur organisasi dalam penanggulangan bahaya kebakaran,

prosedur tanggap darurat kebakaran, dan sumber daya manusia dalam

penanggulangan kebakaran.

Berikut ini adalah hasil checklist mengenai prosedur tanggap darurat dalam

upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran di gedung FKIK yang

dibandingkan dengan Permen PU No.20/PRT/M/2009.

53
54

Tabel 5.1
kesesuaian prosedur tanggap darurat di Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan (FKIK) dengan Permen PU No.20/PRT/M/2009
No Kondisi Aktual Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Sesuai/tidak
No.20/PRT/M/2009 sesuai
1 Tidak terdapat tim Terdapat tim perencanaan pengamanan Tidak sesuai

perencanaan kebakaran

pengamanan kebakaran

2 Tidak terdapat rencana Terdapat rencana pemeliharaan sistem Tidak sesuai

pemeliharaan proteksi kebakaran dalam rencana

pengamanan kebakaran

3 Tidak terdapat rencana Terdapat rencana ketatagrahaan yang Tidak sesuai

ketatagrahaan baik (good housekeeping plan) dalam

rencana pengamanan kebakaran

4 Tidak terdapat rencana Terdapat rencana tindakan darurat Tidak sesuai

tindakan darurat kebakaran (fire emergency plan) dalam

kebakaran rencana pengamanan kebakaran

5 Tidak terdapat Terdapat prosedur inspeksi, uji coba, dan Tidak sesuai

prosedur inspeksi, uji pemeliharaan sistem proteksi kebakaran.

coba, dan pemeliharaan

6 Tidak terdapat jadual Terdapat jadual inspeksi, uji coba, dan Tidak sesuai

inspeksi, uji coba, dan pemeliharaan setiap sistem proteksi

pemeliharaan setiap kebakaran

sistem proteksi

kebakaran
55

No Kondisi Aktual Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Sesuai/tidak


No.20/PRT/M/2009 sesuai
7 Tidak terdapat Terdapat prosedur tatagraha dan Tidak sesuai

prosedur tatagraha dan pemberian izin terhadap pekerjaan yang

pemberian izin menggunakan panas (hot work)

8 Tidak ada perencanaan Perencanaan tindakan darurat kebakaran Tidak sesuai

tindakan darurat menjelaskan dengan rinci tentang

rangkaian tindakan (prosedur) yang harus

dilakakukan oleh penanggung jawab dan

pengguna bangunan dalam setiap

keadaan darurat

9 Tidak ada perencanaan Perencanaan tindakan darurat kebakaran Tidak sesuai

tindakan darurat memuat informasi tentang daftar panggil

keadaan darurat (emergency call) dari

semua personil yang harus dilibatkan

dalam merespon keadaan darurat setiap

waktu

10 Tidak ada perencanaan Perencanaan tindakan darurat kebakaran Tidak sesuai

tindakan darurat memuat informasi tentang denah lantai

yang berisi:

a) Alarm kebakaran dan titik

panggil manual

b) Jalan keluar

c) Rute evakuasi
56

No Kondisi Aktual Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Sesuai/tidak


No.20/PRT/M/2009 sesuai
11 Tidak ada aturan Evakuasi rencana pengamanan terhadap Tidak sesuai

tentang evakuasi kebakaran melibatkan seluruh tingkatan

terhadap kebakaran manajemen korporat

12 Tidak ada pelatihan Diadakan pelatihan tanggap darurat bagi Tidak sesuai

tanggap darurat bagi mahasiswa

mahasiswa

13 Tidak ada pelatihan Pelatihan mahasiswa diarahkan pada Tidak sesuai

tanggap darurat bagi peran dan tanggung jawab individu

mahasiswa

14 Tidak ada pelatihan Pelatihan mahasiswa diarahkan pada Tidak sesuai

tanggap darurat bagi informasi tentang ancaman, bahaya dan

mahasiswa tindakan protektif

15 Tidak ada pelatihan Pelatihan mahasiswa diarahkan kepada Tidak sesuai

tanggap darurat bagi prosedur pemberitahuaan, peringatan dan

mahasiswa komunikasi

16 Tidak ada pelatihan Pelatihan mahasiswa diarahkan kepada Tidak sesuai

tanggap darurat bagi prosedur tanggap darurat

mahasiswa

17 Tidak ada pelatihan Pelatihan mahasiswa diarahkan kepada Tidak sesuai

tanggap darurat bagi prosedur evakuasi, penampungan dan

mahasiswa akuntabilitas
57

No Kondisi Aktual Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Sesuai/tidak


No.20/PRT/M/2009 sesuai
18 Tidak ada pelatihan Pelatihan mahasiswa diarahkan kepada Tidak sesuai

tanggap darurat bagi pemberitahuan lokasi tempat peralatan

mahasiswa yang biasa digunakan dalam keadaan

darurat dan penggunaannya

19 Tidak ada pelatihan Pelatihan mahasiswa diarahkan kepada Tidak sesuai

tanggap darurat bagi prosedur penghentian darurat

mahasiswa peralatan(emergency shutdown prosedur)

20 Tidak ada kebijakan Rencana pengamanan kebakaran Tidak sesuai

pengkajian terhadap dievaluaasi dan dikaji sedikitnya sekali

rencana pengamanan dalam setahun

kebakaran

21 Tidak ada audit sistem Dilakukan audit sistem proteksi Tidak sesuai

proteksi kebakaran kebakaran yang terdiri dari audit

keselamatan sekilas, audit awal, dan

audit lengkap

22 Tidak ada audit sistem Audit keselamatan sekilas dilakukan Tidak sesuai

proteksi kebakaran setiap enam bulan sekali oleh para

operator/teknisi yang berpengalamaan.

23 Tidak ada audit sistem Audit awal dilakukan setiap satu tahun Tidak sesuai

proteksi kebakaran sekali


58

No Kondisi Aktual Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Sesuai/tidak


No.20/PRT/M/2009 sesuai

24 Tidak ada audit sistem Audit lengkap dilakukan setiap lima Tidak sesuai

proteksi kebakaran tahun sekali oleh konsultan ahli yang

ditunjuk

25 Tidak ada sosialisasi Dilakukan sosialisasi pentingnya proteksi Tidak sesuai

pentingnya proteksi kebakaran.

kebakaran

Dari 25 persyaratan mengenai prosedur tanggap darurat kebakaran menurut

Permen PU No.20/PRT/M/2009, seluruhnya tidak terpenuhi. Hal ini disebabkan

gedung FKIK tidak memiliki prosedur tanggap darurat kebakaran. Gedung FKIK

mendapat nilai 0%, skor tersebut dari hasil penjumlahan data mengenai prosedur

tanggap darurat yang sesuai dibandingkan dengan jumlah keseluruhan data.

Menurut penilaian berdasarkan tabel tingkat penilaian audit tentang kebakaran yang

dilakukan saptaria et al (2005), maka dapat ditarik kesimpulan tingkat kesesuainnya

adalah tidak sesuai dengan Permen PU No.20/PRT/M/2009.

5.2 Organisasi Proteksi Kebakaran Di Gedung FKIK

Gedung FKIK sampai saat ini belum mempunyai organisasi proteksi

kebakaran, organisasi proteksi kebakaran seharusnya terdiri dari karyawan dan

mahasiswa yang berada didalam gedung FKIK. Organisasi proteksi kebakaran di

FKIK belum terwujud dikarenakan belum adanya perhatian dari pembuat kebijakan,
59

dalam hal ini adalah Dekanat FKIK. Meskipun kebakaran belum pernah terjadi di

gedung FKIK bukan berarti kita mengabaikan adanya organisasi proteksi

kebakaran, karena organisasi inilah yang nantinya akan bekerja sesuai job

deskription nya dalam menangani kejadian kebakaran.

Berikut ini adalah hasil checklist mengenai organisasi proteksi kebakaran

digedung FKIK yang dibandingkan dengan Permen PU No.20/PRT/M/2009 tentang

pedoman teknis manajemen proteksi kebakaran diperkotaan.

Tabel 5.2
kesesuaian Organisasi Proteksi Kebakaran di Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan (FKIK) dengan Permen PU No.20/PRT/M/2009
No Kondisi Aktual Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Sesuai/tidak
No.20/PRT/M/2009 sesuai
1 Tidak terdapat Tim Pengelola bangunan gedung membentuk tim Tidak sesuai

penanggulangan penanggulangan kebakaran

kebakaran

2 Tidak terdapat tim Setiap unit bangunan gedung memiliki tim Tidak sesuai

penanggulangan penanggulangan kebakaran masing-masing

kebakaran

3 Tidak terdapat Terdapat penanggung jawab yang Tidak sesuai

struktur tim membawahi seluruh pimpinan tim

penanggulangan penanggulangan kebakaran setiap unit

kebakaran bangunan gedung


60

No Kondisi Aktual Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Sesuai/tidak


No.20/PRT/M/2009 sesuai

4 Tidak terdapat Terdapat coordinator tim penanggulangan Tidak sesuai

struktur tim kebakaran unit bangunan yang membawahi

penanggulangan kepala bagian teknik pemeliharaan dan

kebakaran kepala bagian keamanan

5 Tidak terdapat Terdapat kepala bagian teknik pemeliharaan Tidak sesuai

struktur tim pada struktur organisasi tim penanggulang

penanggulangan kebakaran

kebakaran

6 Tidak terdapat Terdapat kepala bagian keamanan pada Tidak sesuai

struktur tim struktur organisasi tim penanggulangan

penanggulangan kebakaran

kebakaran

7 Tidak terdapat Terdapat operator komunikasi Tidak sesuai

operator

komunikasi

8 Tidak terdapat Kepala bagian teknik pemeliharaan Tidak sesuai

struktur tim damkar membawahi operator listrik dan genset

9 Tidak terdapat Kepala bagian teknik pemeliharaan Tidak sesuai

struktur tim membawahi operator pompa

penanggulangan

kebakaran
61

No Kondisi Aktual Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Sesuai/tidak


No.20/PRT/M/2009 sesuai
10 Tidak terdapat Kepala bagian keamanan membawahi tim Tidak sesuai

struktur tim pemadam api

penanggulangan

kebakaran

11 Tidak terdapat Kepala bagian keamanan membawahi tim Tidak sesuai

struktur tim pemadam api

penanggulangan

kebakaran

12 Tidak terdapat tim Terdapat tim penyelamat kebakaran Tidak sesuai

penyelamat

kebakaran

Dari 12 persyaratan mengenai organisasi penanggulangan kebakaran menurut

Permen PU No.20/PRT/M/2009, seluruhnya tidak terpenuhi. Hal ini disebabkan

gedung FKIK tidak memiliki struktur tim penanggulangan kebakaran. Gedung

FKIK mendapat nilai 0%, skor tersebut dari hasil penjumlahan data mengenai

organisasi proteksi kebakaran yang sesuai dibandingkan dengan jumlah keseluruhan

data. Menurut penilaian berdasarkan tabel tingkat penilaian audit tentang kebakaran

yang dilakukan saptaria et al (2005), maka dapat ditarik kesimpulan tingkat

kesesuainnya adalah tidak sesuai dengan Permen PU No.20/PRT/M/2009.


62

5.3 Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia dalam penanggulangan kebakaran di gedung Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) ada keamanan, office boy, karyawan,

mahasiswa dan dosen, akan tetapi belum dibentuk menjadi sebuah tim, oleh karena

itu penulis mencoba memberikan usulan dibuatnya Tim penanggulangan bahaya

kebakaran yang disebut tim Organisasi Penanggulangan Kebakaran (OPK) sebagai

perencana dan pengawas terlaksananya program-program penanggulangan

kebakaran. Sumber daya manusia ini diberikan pelatihan-pelatihan untuk

menghadapi dan menanggulangi kejadian kebakaran.

Berikut ini adalah tabel kesesuaian sumber daya manusia yang diikut

sertakan dalam upaya pencegahan kebakaran digedung FKIK dengan peraturan

Menteri Pekerjaan Umum NO. 20/PRT/M/2009.


63

Tabel 5.3
kesesuain sumber daya manusia di FKIK dengan Permen PU
No.20/PRT/M/2009

No Kondisi Aktual Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Sesuai/tidak


No.20/PRT/M/2009 sesuai
1 Belum adanya Sumber daya manusia dalam Tidak sesuai

Tim untuk manajemen penanggulangan

penanggulangan kebakaran mempunyai dasar

bahaya kebakaran, pengetahuan, pengalaman, dan

sehingga keahlian dibidang kebakaran

kompetensi ini

tidak tercapai

2 Tidak adanya tim Sumber daya manusia dalam Tidak sesuai

penanggulangan manajemen penanggulangan

kebakaran kebakaran mempunyai dasar

menyebabkan pengetahuan, pengalaman, dan

tidak keahlian dibidang penyelamatan

dilaksakannya

training

3 Tidak pernah Diadakan pelatihan dan peningkatan Tidak sesuai

dilakukan kemampuan secara berkala bagi

pelatihan sumber daya manusia yang berada

penanggulangan dalam manajemen penanggulangan

kebakaran. kebakaran
64

Dari 3 persyaratan mengenai sumber daya manusia menurut Permen PU

No.20/PRT/M/2009, seluruhnya tidak terpenuhi. Hal ini disebabkan gedung FKIK

tidak memiliki sumber daya manusia yang khusus untuk menangani bahaya

kebakaran. Gedung FKIK mendapat nilai 0%, skor tersebut dari hasil penjumlahan

data mengenai sumber daya manusia yang sesuai dibandingkan dengan jumlah

keseluruhan data. Menurut penilaian berdasarkan tabel tingkat penilaian audit

tentang kebakaran yang dilakukan saptaria et al (2005), maka dapat ditarik

kesimpulan tingkat kesesuainnya adalah tidak sesuai dengan Permen PU

No.20/PRT/M/2009.

5.4 Rata-rata kesesuaian Manajemen Penanggulangan Kebakaran Di Gedung

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Jakarta

Tabel 5.4
Rata-rata kesesuaian Manajemen Penanggulangan Kebakaran Di Gedung
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Jakarta

No Manajemen Penanggulangan Kebakaran Nilai Skoring


1 Prosedur tanggap darurat di Gedung FKIK 0%

2 Organisasi Proteksi Kebakaran Di Gedung 0%

FKIK

3 Sumber Daya Manusia 0%

Rata-rata 0%

Maka berdasarkan tabel 4.1 rata-rata kesesuaian Manajemen

Penanggulangan Kebakaran di gedung FKIK yaitu 0% artinya tidak sesuai

sama sekali dengan peraturan perundangan.


65

5.5 Sarana Proteksi Aktif Kebakaran Di Gedung Fakultas Kedokteran Dan Ilmu

Kesehatan (FKIK)

Sarana proteksi aktif di gedung FKIK terdiri dari APAR, Hidran, Alarm

kebakaran, Sprinkler otomatis, dan detektor kebakaran

5.5.1 Alat Pemadam Api Ringan (APAR)

Alat Pemadam Api Ringan (APAR) digedung FKIK ada 20 buah,

disetiap lantai terdapat empat APAR, APAR yang pertama diletakkan

didekat tangga sayap kanan gedung FKIK, APAR kedua diletakkan didekat

pintu masuk sayap kanan gedung FKIK, APAR yang ketiga diletakkan

didekat kamar mandi, dan APAR yang keempat diletakkan di ujung sayap

kiri gedung FKIK, pada lima lantai gedung FKIK peletakan APAR nya sama

disetiap lantainya. Menurut hasil wawancara peletakan APAR disamakan

agar para pengguna gedung dapat dengan mudah mengingat posisi APAR,

selain itu posisi-posisi yang telah ditentukan terlihat jelas dan tidak terhalang

oleh benda yang lainnya.

Berikut adalah keterangan Alat Pemadam Api Ringan di gedung FKIK

1. Jenis APAR : Dry chemical

2. Nama manufaktur : CV. Muda Karya Jaya

3. Penempatan APAR : APAR ditempatkan di sisi-sisi jalan

4. Jarak antar APAR : 15 m

5. Jarak dengan lantai : 1,2 m

6. Masa berlaku APAR : 10 desember 2013 - 10 desember 2014


66

Berikut adalah APAR di gedung FKIK

Gambar 5.1 Alat Pemadam Api Ringan di gedung FKIK


Berikut ini adalah tabel kesesuaian APAR digedung FKIK dengan

peraturan Menteri Pekerjaan Umum NO. 26/PRT/M/2009.

Tabel 5.5
Kesesuaian APAR di FKIK dengan permen PU No. 26/PRT/M/2009

No Kondisi Aktual Permen PU Sesuai/


No.26/PRT/M/2009 tidak
sesuai
1 Tersedia Alat Tersedia Alat Pemadam Api Sesuai

Pemadam Api Ringan

2 Terdapat klasifikasi Terdapat klasifikasi APAR Sesuai

APAR yang terdiri yang terdiri dari huruf yang

dari huruf yang menunjukkan kelas api

menunjukkan kelas dimana alat pemadam api

api dimana alat terbukti efektif

pemadam api terbukti

efektif
67

No Kondisi Aktual Permen PU Sesuai/


No.26/PRT/M/2009 tidak
sesuai
3 APAR diletakkan APAR diletakkan ditempat Sesuai

disetiap sudut yang menyolok mata yang

bangunan dan di jalur mana alat tersebut mudah

tangga dijangkau dan siap dipakai

4 APAR tidak APAR tampak jelas dan Sesuai

terhalangi dan jelas tidak dihalangi

5 APAR kokoh APAR selain jenis APAR Sesuai

digantungannya beroda dipasang kokoh pada

penggantung atau

manufaktur, atau pengikat

yang terdaftar dan disetujui

untuk tujuan tersebut

6 Jarak APAR dan Jarak antara APAR dan Sesuai

Lantai 40 cm lantai ≥ 10 cm

7 Instruksi Instruksi pengoperasian Sesuai

pengoperasian harus ditempatkan pada

diletakkan dibagian bagian depan dari APAR

depan dan harus terlihat jelas


68

No Kondisi Aktual Permen PU Sesuai/


No.26/PRT/M/2009 tidak
sesuai
8 Label diletakkan Label sistem identifikasi Sesuai

dibagian samping bahan berbahaya, label

APAR pemeliharaan enam tahun,

label uji hidrostastik atau

label lain harus tidak boleh

ditempatkan dibagian depan

dari APAR atau

ditempelkan pada bagian

depan APAR

9 Terdapat label yang APAR harus mempunyai Sesuai

memuat keterangan label yang ditempelkan

manufaktur dan agent untuk memberikan

informasi nama manufaktur

atau nama agennya, alamat

surat dan no telefon

10 APAR diinspeksi APAR diinspeksi secara Sesuai

secara manual atau manual atau dimonitor

dimonitor secara secara elektronik

elektronik
69

No Kondisi Aktual Permen PU Sesuai/


No.26/PRT/M/2009 tidak
sesuai
11 Tidak dilakukan APAR diinspeksi pada Tidak

inspeksi setiap interval waktu kira- sesuai

kira 30 hari

12 Arsip terkait APAR Arsip dari semua APAR Sesuai

disimpan yang diperiksa (termasuk

tindakan korektif yang

dilakukan) disimpan.

13 Dilakukan Dilakukan pemeliharaan Sesuai

pemeliharaan pada terhadap APAR pada jangka

jangka waktu 1 tahun waktu ≤ 1 tahun

14 Terdapat label yang Setiap APAR mempunyai Sesuai

menunjukkan bulan kartu atau label yang

dan tahun dilekatkan dengan kokoh

pemeliharaan yang menunjukkan bulan

dan tahun dilakukannya

pemeliharaan

15 Terdapat identifikasi Pada label pemeliharaan Sesuai

petugas terdapat identifikasi petugas


70

Dari 15 persyaratan mengenai APAR menurut Permen PU No.

26/PRT/M/2009, sebanyak 14 persyaratan yang terpenuhi dan mendapatkan

scoring 93%. Skor tersebut dari hasil penjumlahan data mengenai APAR

yang sesuai dibandingkan dengan jumlah keseluruhan data. Menurut

penilaian berdasarkan tabel tingkat penilaian audit tentang kebakaran yang

dilakukan saptaria et al (2005), maka dapat ditarik kesimpulan tingkat

kesesuainnya adalah baik sesuai persyaratan dengan Permen PU No.

26/PRT/M/2009

5.5.2 Hidran

Hidran di gedung FKIK ditempatkan baik didalam gedung maupun

diluar gedung. Jumlah hidran didalam gedung berjumlah 15 hidran, yang

masing-masing setiap lantai terdapat tiga hidran. Hidran yang pertama

diletakkan di dekat tangga disayap kanan gedung FKIK, hidran yang kedua

diletakkan didekat pintu masuk sayap kanan gedung FKIK, dan hidran

yang ketiga diletakkan didekat kamar mandi. Letak hidran ini sama disetiap

lantainya yang mana gedung FKIK memiliki lima lantai. Peletakan hidran

ini diharapkan dapat memudahkan proses pemadaman kebakaran disetiap

lantainya, dan hidran diletakkan ditempat terbuka agar mudah dijangkau

siapa saja yang berada di lantai tersebut. Berikut ini adalah gambar hidran

dalam gedung
71

Gambar 5.2 Hidran gedung

Sedangkan hidran diluar gedung terdapat empat hidran yang mana

hidran ini diletakkan disepanjang jalur akses mobil pemadam kebakaran.

Jarak penempatan hidran dengan sepanjang akses mobil pemadam

kebakaran ≤ 50 m. Tipe hidran yang digunakan untuk hidran halaman dan

hidran gedung sama, yaitu tipe hidran ruangan. Kotak hidran dicat merah

dan tidak terkunci, hal diatas dilakukan agar apabila terjadi kebakaran, para

pengguna gedung dapat dengan mudah menemukan kotak hidran dan

membukanya, selain itu hidran diletakkan di akses jalan mobil berfungsi

untuk menyambungkan antara selang hidran dengan mobil pemadam

kebakaran.

Hidran halaman ditempatkan di sisi-sisi jalur/jalan disekitar

gedung. Hidran halaman bertekanan 4 kg/cm3 atau 55 psi.. berikut ini

adalah gambar hidran halaman di gedung FKIK.


72

Gambar 5.3 Hidran halaman

Dari empat hidran halaman yang ada di gedung FKIK, hanya satu yang

memiliki selang kebakaran dan nozel, tiga yang lainnya hanya terdapat kotak

hidran tanpa isi selang dan nozel didalamnya. Selang hidran dan nozel sengaja

disimpan agar tidak hilang.

Berikut ini adalah tabel kesesuaian Hidran di gedung FKIK dengan SNI

03-3985-2000

Tabel 5.6
kesesuaian Hidran di FKIK dengan SNI 03-3985-2000

No Kondisi Aktual SNI 03-3985-2000 Sesuai/tidak


sesuai
1 Lemari hidran Lemari hidran hanya Sesuai

berisi slang digunakan untuk

kebakaran, nozel, menempatkan peralatan

dan kran penutup kebakaran


73

No Kondisi Aktual SNI 03-3985-2000 Sesuai/tidak


sesuai
2 Lemari hidran Setiap lemari hidran dicat Sesuai

berwarna merah dengan warna yang menyolok

menyolok mata

3 Sambungan slang Sambungan selang dan kotak Sesuai

dan kotak hidran hidran tidak boleh terhalang

tidak terhalang

4 Slang kebakaran Slang kebakaran dilekatkan Sesuai

dilekatkan dan dan siap digunakan

siap digunakan

5 Terdapat nozel Terdapat nozel Sesuai

6 Terdapat hidran Terdapat hidran halaman Sesuai

halaman

7 Hidran halaman Hidran halaman diletakkan Sesuai

diletakkan disepanjang jalur akses mobil

disepanjang jalur pemadam kebakaran

akses mobil

pemadam

kebakaran
74

No Kondisi Aktual SNI 03-3985-2000 Sesuai/tidak


sesuai
8 Jarak hidran Jarak hidran dengan Sesuai

dengan sepanjang sepanjang akses mobil

akses mobil pemadam kebakaran ≤ 50

pemadam meter dari hidran

kebakaran ≤ 50

meter dari hidran

9 Hidran halaman Hidran halaman bertekanan Sesuai

bertekanan 3,79 3,5 bar

bar

Dari Sembilan persyaratan mengenai Hidran menurut SNI 03-3985-

2000 , seluruh persyaratan telah terpenuhi dan mendapatkan skor 100%.

skor tersebut dari hasil penjumlahan data mengenai Hidran yang sesuai

dibandingkan dengan jumlah keseluruhan data. Menurut penilaian

berdasarkan tabel tingkat penilaian audit tentang kebakaran yang dilakukan

saptaria et al (2005), maka dapat ditarik kesimpulan tingkat kesesuainnya

adalah baik atau sesuai dengan standar nasional Indonesia.

5.5.3 Alarm Kebakaran

Alarm kebakaran di gedung FKIK berupa sirine kebakaran yang

terhubung keseluruh ruangan, alarm berasal dari buzzer pada titik panggil

manual yang terletak diruang administrasi lantai 1, apabila terjadi bahaya


75

kebakaran staf yang bertugas tinggal menekan buzzer pada titik panggil

manual, maka sirine akan terdengar ke seluruh ruangan. selain itu FKIK

menggunakan fire alarm yang berada disetiap hidran yang terpasang

didalam gedung. Hal ini dilakukan agar apabila terjadi bahaya kebakaran

seluruh penghuni gedung FKIK dapat mendengarkan suara sirine

kebakaran dan dapat dengan cepat melakukan evakuasi.

Berikut ini adalah tabel kesesuaian alarm kebakaran di FKIK dengan

SNI 03-3985-2000

Tabel 5.7
kesesuaian alarm kebakaran di FKIK dengan SNI 03-3985-2000

No Kondisi Aktual SNI 03-3985-2000 Sesuai/tidak


sesuai
1 Alarm Terdapat alarm kebakaran sesuai

Kebakaran

terdapat pada

titik panggil

manual dan

hidran

2 Suara alarm Sinyal suara alarm kebakaran Tidak sesuai

sama dengan berbeda dari sinyal suara yang

suara alarm dipakai untuk penggunaan lain

lainnya
76

Dari dua persyaratan mengenai alarm kebakaran menurut SNI 03-

3985-2000 hanya terpenuhi satu, seharusnya suara Alarm kebakaran

dibedakan dengan suara alarm yang lainnya. Alarm Kebakaran di FKIK

mendapatkan nilai 50%. Skor tersebut dari hasil penjumlahan data mengenai

alarm kebakaran yang sesuai dibandingkan dengan jumlah keseluruhan data.

Menurut penilaian berdasarkan tabel tingkat penilaian audit tentang

kebakaran yang dilakukan saptaria et al (2005), maka dapat ditarik

kesimpulan tingkat kesesuainnya adalah tidak sesuai dengan standar nasional

Indonesia.

5.5.4 Sprinkler

Didalam gedung FKIK terdapat sprinkler otomatik, setiap sistem

sprinkler otomatik harus dilengkapi dengan sekurang-kurangnya satu jenis

sistem penyediaan air yang bekerja secar otomatis, bertekanan dan

berkapasitas cukup serta dapat diandalkan setiap saat. FKIK memiliki sistem

penyediaan air yang bekerja secara otomatis, hal ini dikuatkan dengan hasil

observasi bahwa terdapat sistem penyediaan air yang terletak di dekat parkir

kendaraan motor.

Sprinkler di FKIK berjarak ± 2m dengan sprinkler yang lainnya,

penentuan jarak ini agar air yang dikeluarkan melalui sprinkler dapat

menyebar ke segala arah dan dapat memadamkan api. Air yang digunakan

disistem sprinkler tidak mengandung bahan kimia yang dapat

mengakibatkan korosi dan sistem penyediaan air harus dibawah penguasaan


77

pemilik gedung, hal ini dikuatkan oleh hasil observasi bahwasanya air yang

digunakan dalam sistem sprinkler merupakan air biasa yang tidak

mengandung bahan kimia. Walaupun belum pernah terjadi kebakaran,

sprinkler ini berfungsi dengan baik.

Berikut adalah gambar dari sistem sprinkler di gedung FKIK

Gambar 5.4 Sprinkler otomatis

Berikut ini adalah tabel kesesuaian sprinkler di FKIK dengan SNI 03-

3989-2000

Tabel 5.8
kesesuaian sprinkler di FKIK dengan SNI 03-3989-2000

No Kondisi Aktual SNI 03-3989-2000 Sesuai/tidak


sesuai
1 Terpasang Terpasang sprinkler otomatik Sesuai

sprinkler otomatik
78

No Kondisi Aktual SNI 03-3989-2000 Sesuai/tidak


sesuai
2 Sprinkler tidak Sprinkler tidak diberi Sesuai

diberi ornament, ornament, cat, atau diberi

cat, atau diberi pelapisan

pelapisan

3 Air yang Air yang digunakan tidak Sesuai

digunakan tidak mengandung bahan kimia yang

mengandung dapat mengakibatkan korosi

bahan kimia

4 Air yang Air yang digunakan tidak Sesuai

digunakan tidak mengandung serat atau bahan

mengandung serat lain yang dapat mengganggu

bekerjanya sprinkler

5 Tersedia sisitem Setiap sistem sprinkler Sesuai

penyediaan air otomatis harus dilengkapi

dengan sekurang-kurangnya

satu jenis sistem penyediaan

air yang bekerja secara

otomatis, bertekanan dan

berkapasitas cukup, serta dapat

diandalkan setiap saat


79

No Kondisi Aktual SNI 03-3989-2000 Sesuai/tidak


sesuai
6 Sistem Sistem penyediaan air harus Sesuai

penyediaan dibawah penguasaan pemilik

didalam gedung

manajemen FKIK

7 Tersedia Harus disediakan sebuah Sesuai

sambungan sambungan yang

disistem sprinkler memungkinkan petugas

pemadam kebakaran

memompakan air kedalam

sistem sprinkler

8 Jarak antar Jarak minimum antara dua Sesuai

sprinkler 2 m kepala sprinkler ≤ 2 m

9 Kepala sprinkler Kepala sprinkler yang Sesuai

tahan korosi terpasang merupakan kepala

sprinkler yang tahan korosi

10 Tidak terdapat Kotak penyimpanan kepala Tidak sesuai

kepala sprinkler sprinkler cadangan dan kunci

cadangan kepala sprinkler ruangan

ditempatkan diruangan ≤ 38°C


80

No Kondisi Aktual SNI 03-3989-2000 Sesuai/tidak


sesuai
11 Tidak terdapat Jumlah persediaan kepala Tidak sesuai

kepala sprinkler sprinkler cadangan ≥36

cadangan

12 Tidak terdapat Sprinkler cadangan sesuai baik Tidak sesuai

sprinkler tipe maupun temperature rating

cadangan dengan semua sprinkler yang

telah dipasang

13 Tidak tersedia Tersedia sebuah kunci khusus Tidak sesuai

kunci khusus untuk sprinkler

Dari 13 persyaratan mengenai sprinkler kebakaran menurut SNI 03-

3989-2000, sebanyak 9 persyaratan yang terpenuhi dan mendapatkan nilai

scoring 69%. Skor tersebut dari hasil penjumlahan data mengenai sprinkler

yang sesuai dibandingkan dengan jumlah keseluruhan data. Menurut penilaian

berdasarkan tabel tingkat penilaian audit tentang kebakaran yang dilakukan

saptaria et al (2005), maka dapat ditarik kesimpulan tingkat kesesuainnya

adalah cukup atau terpasang tetapi ada sebagian yang tidak sesuai persyaratan

dengan standar nasional Indonesia.

5.5.5 Detektor kebakaran

Digedung FKIK terdapat detektor kebakaran yang terpasang diseluruh

ruangan, setiap detektor yang terpasang berjarak ± 3m dengan detektor yang


81

lainnya, detektor kebakaran digedung FKIK berjarak ± 4m dari lantai,

penentuan jarak ini dimaksudkan agar dapat dijangkau untuk pemeliharaan

dan untuk pengujian secara periodik. detektor kebakaran yang terdapat

digedung FKIK adalah detektor asap. Penentuan jenis detektor ini dipilih agar

dapat mendeteksi kebakaran secara dini, maksudnya sebelum terjadinya api,

ketika keluar asap maka sudah dapat diketahui bahwa terdapat kebakaran

dititik tersebut. walaupun belum pernah terjadi kebakaran sistem detektor

kebakaran ini berfungsi dengan baik.

Berikut adalah gambar detector asap di FKIK

Gambar 5.5 detektor asap

Berikut ini adalah tabel kesesuaian detektor kebakaran di FKIK dengan

SNI 03-3985-2000
82

Tabel 5.9
kesesuaian detektor kebakaran di FKIK dengan SNI 03-3985-2000

No Kondisi Aktual SNI 03-3985-2000 Sesuai/tidak


sesuai
1 Terdapat detector Terdapat detector kebakaran Sesuai

kebakaran yang yang terpasang diseluruh

terpasang ruangan

diseluruh ruangan

2 Detector dapat Setiap detector yang dipasang Sesuai

dijangkau dapat dijangkau untuk

pemeliharaan dan untuk

pengujian secara periodic

3 Detector Detector diproteksi terhadap Sesuai

ditempatkan di kemungkinan rusak karena

tempat yang tidak gangguan mekanis

mudah terkena

gangguan mekanis

4 Tidak dilakukan Dilakukan inspeksi, pengujian Tidak sesuai

inspeksi dan pemeliharaan

5 Tidak dilakukan Rekaman hasil dari semua Tidak sesuai

inspeksi, sehingga inspeksi, pengujian, dan

tidak ada rekaman pemeliharaan, harus disimpan

untuk jangka waktu 5 tahun


83

Dari lima persyaratan mengenai Detektor kebakaran menurut SNI 03-

3985-2000 , sebanyak tiga persyaratan yang terpenuhi dan mendapatkan nilai

scoring 60%. Skor tersebut dari hasil penjumlahan data mengenai detektor

yang sesuai dibandingkan dengan jumlah keseluruhan data.. Menurut

penilaian berdasarkan tabel tingkat penilaian audit tentang kebakaran yang

dilakukan saptaria et al (2005), maka dapat ditarik kesimpulan tingkat

kesesuainnya adalah cukup atau terpasang tetapi ada sebagian yang tidak

sesuai persyaratan dengan standar nasional Indonesia.

5.6 Rata-rata kesesuaian sarana proteksi aktif di gedung FKIK

Tabel 5.10
Rata-Rata Kesesuaian Sarana Proteksi Aktif Di Gedung FKIK
No Sarana Proteksi Aktif Nilai Skoring
1 APAR 93%
2 Hidran 100%
3 Alarm kebakaran 50%
4 Sprinkler 69%
5 Detektor kebakaran 60%
Rata-rata 74,4%

Maka berdasarkan tabel 4.1 rata-rata kesesuaian sarana proteksi aktif di


gedung FKIK yaitu 74,4% adalah cukup baik artinya terpasang tapi ada beberapa
sarana proteksi aktif yang belum terpasang dan ada yang tidak sesuai dengan
peraturan perundangan.
84

5.7 Sarana Penyelamat Jiwa di Gedung Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Sarana penyelamat jiwa yang terdapat di FKIK terdiri dari pintu darurat,

tangga darurat, petunjuk arah jalan keluar, dan tempat berhimpun.

5.7.1 Pintu darurat di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK)

Pintu darurat di gedung FKIK berjenis engsel sisi atau pintu ayun, jenis

engsel sisi atau pintu ayun dipilih agar pintu mampu berayun dari posisi

manapun sehingga mencapai posisi terbuka penuh. Pintu darurat di FKIK

tersambung oleh jalur jalan keluar sehingga memudahkan dalam proses

evakuasi apabila terjadi bahaya kebakaran.

Pintu darurat di FKIK berjumlah delapan pintu yang masing-masing

lima pintu dilantai satu yang terletak di sayap kanan gedung, sayap kiri

gedung dan tiga dibagian tengah gedung FKIK, dilatai dua terdapat dua pintu

darurat satu di tengah didekat ruang auditorium FKIK dan satu lagi disayap

sebelah kanan gedung, dan terakhir terdapat satu pintu darurat di lantai tiga

dekat ruang dosen kesehatan masyarakat.

Pintu darurat selalu dikunci setiap sore hari, dan ada beberapa pintu

yang sengaja dikunci, pintu dikunci setiap sore hari agar gedung FKIK tetap

terjaga aman, dan satu pintu di lantai dua disayap kanan gedung sengaja

dikunci karena pintu itu jarang digunakan.

Berikut adalah gambar pintu darurat di gedung FKIK.


85

Gambar 5.6 Pintu Darurat FKIK

Berikut ini adalah tabel kesesuain pintu darurat di FKIK dengan

Permen PU No.26/PRT/M/2008

Tabel 5.11
Kesesuain Pintu Darurat Di FKIK Dengan Permen PU No.26/PRT/M/2008

No Kondisi Aktual Permen PU No.26/PRT/M/2008 Sesuai/tidak


sesuai
1 Jenis pintu darurat Pintu pada sarana jalan keluar Sesuai

adalah jenis engsel harus berjenis engsel sisi atau

atau pintu ayun pintu ayun

2 Pintu darurat Pintu dipasang dan dirancang Sesuai

mampu berayun sehingga mampu berayun dari

dari posisi posisi manapun hingga mencapai

manapun hingga posisi terbuka penuh

mencapai posisi

membuka penuh
86

No Kondisi Aktual Permen PU No.26/PRT/M/2008 Sesuai/tidak


sesuai
3 Pintu darurat Pintu darurat membuka kearah Sesuai

membuka kearah jalur jalan keluar

jalan keluar

4 Pintu darurat ada Pintu darurat tidak membutuhkan Tidak sesuai

beberapa yang sebuah anak kunci, alat atau

sengaja dikunci pengetahuan khusus atau upaya

tindakan untuk membukanya dari

dalam bangunan gedung

5 Grendel pintu Grendel pintu darurat Sesuai

darurat ditempatkan 87-120 cm diatas

ditempatkan lantai

100cm diatas

lantai

6 Pintu darurat Pintu darurat tidak dalam kondisi Sesuai

selalu dalam terbuka setiap saat

posisi tertutup

7 Pintu darurat tidak Pintu darurat menutup sendiri Tidak sesuai

menutu secara atau menutup otomatis.

otomatis
87

Dari 7 persyaratan mengenai Pintu Darurat menurut Permen PU

No.26/PRT/M/2008, sebanyak 5 persyaratan yang terpenuhi dan mendapatkan

nilai scoring 71%. Skor tersebut dari hasil penjumlahan data mengenai pintu

darurat yang sesuai dibandingkan dengan jumlah keseluruhan data. Menurut

penilaian berdasarkan tabel tingkat penilaian audit tentang kebakaran yang

dilakukan saptaria et al (2005), maka dapat ditarik kesimpulan tingkat

kesesuainnya adalah cukup baik yang artinya terpasang tetapi ada sebagian

kecil instalasi yang tidak sesuai persyaratan dengan Permen PU

No.26/PRT/M/2008

5.7.2 Tangga Darurat di gedung FKIK

Gedung FKIK memiliki tangga darurat sebanyak empat tangga

darurat, dua didalam gedung yaitu dibagian tengah gedung dan disayap kanan

gedung yang menghubungkan lantai satu sampai lantai lima, dan dua diluar

gedung yaitu berada dilantai dua dekat dengan ruang auditorium FKIK dan

satu lagi terdapat dibagian luar sayap kanan gedung.

Tangga darurat di gedung FKIK memiliki bordes diatas 8 yang

berjumlah 10-11 bordes, jumlah bordes ini sengaja dibuat 10-11 bordes karena

jika jumlah bordes terlalu banyak maka dapat menyebabkan kelelahan, dan

apabila bordes terlalu sedikit, tangga darurat akan menjadi curam.


88

Berikut adalah gambar tangga darurat di gedung FKIK.

Gambar 5.7 Tangga Darurat di Gedung FKIK

Berikut ini adalah tabel kesesuain tangga darurat di FKIK dengan Permen

PU No.26/PRT/M/2008

Tabel 5.12
Kesesuain Tangga Darurat Di FKIK Dengan Permen PU No.26/PRT/M/2008

No Kondisi Aktual Permen PU No.26/PRT/M/2008 Sesuai/tidak


sesuai
1 Terdapat tanda Tangga kebakaran ini harus Sesuai

arah evakuasi disediakan dengan tanda pengenal

menuju tangga khusus

darurat

2 Tidak terdapat Penandaan tersebut harus Tidak sesuai

penanda tingkat menunjukkan tingkat lantai

lantai
89

No Kondisi Aktual Permen PU No.26/PRT/M/2008 Sesuai/tidak


sesuai
3 Bordes antar Bordes antar tangga minimal 8 dan Sesuai

tangga diatas 8 maksimal 18

4 Tangga tidak tangga kebakaran tidak dibatasi Sesuai

dibatasi dengan dengan dinding

dinding

5 Ruang kosong Ruang kosong dibawah tangga Sesuai

dibawah tangga tidak untuk menyimpan barang

tidak digunakan

untuk

menyimpan

barang

6 Tangga utama tidak boleh berbentuk tangga spiral Sesuai

tidak berbentuk sebagai tangga utama

spiral

Dari 6 persyaratan mengenai Tangga Darurat menurut Permen PU

No.26/PRT/M/2008, sebanyak 5 persyaratan yang terpenuhi dan mendapatkan

nilai scoring 83%. Skor tersebut dari hasil penjumlahan data mengenai tangga

darurat yang sesuai dibandingkan dengan jumlah keseluruhan data. Menurut

penilaian berdasarkan tabel tingkat penilaian audit tentang kebakaran yang

dilakukan saptaria et al (2005), maka dapat ditarik kesimpulan tingkat


90

kesesuainnya adalah baik yang artinya sesuai persyaratan Permen PU

No.26/PRT/M/2008

5.7.3 Petunjuk arah jalan keluar di Gedung FKIK

Tanda petunjuk arah jalan keluar di gedung FKIK dipasang sepanjang sisi

jalan keluar dan dipintu keluar serta di pintu-pintu darurat, pemasangan ini

dimaksudkan agar arah jalan keluar dapat terbaca dengan jelas dan penghuni

gedung dapat mengetahui jalan keluar.

Tanda petunjuk arah dengan iluminasi eksternal dan internal dapat dibaca

pada kedua mode pencahayaan normal atau darurat, yang dimaksud mode

normal dan darurat yaitu pencahayaan normal seperti biasa terbaca dengan

bantuan cahaya, dan mode pencahayaan darurat apabila dalam keadaan

darurat dan tidak ada cahaya yang menerangi ruangan, maka tanda arah jalan

keluar harus bisa terbaca pada kondisi seperti ini.

Berikut adalah gambar tanda petunjuk arah jalan keluar di gedung FKIK.

Gambar 5.8 tanda petunjuk arah jalan keluar


91

Berikut ini adalah tabel kesesuaian tanda petunjuk arah evakuasi di FKIK

dengan permen PU No.26/PRT/M/2008

Tabel 5.13
Kesesuaian Tanda Petunjuk Arah Evakuasi Di FKIK Dengan Permen PU
No.26/PRT/M/2008

No Kondisi Aktual Permen PU No. 26/M/2008 Sesuai/tidak


sesuai
1 Terdapat Terdapat tanda petunjuk arah pada Sesuai

petunjuk arah sarana jalan keluar

jalan keluar

2 Warna petunjuk Warna petunjuk arah nyata dan Tidak Sesuai

jalan keluar hijau kontras berwarna hijau dan putih

dan merah

3 Terdapat Pada setiap lokasi ditempatkan Sesuai

indicator menuju tanda arah dengan indicator arah

tangga darurat

4 Tanda arah dapat Tanda arah dapat dibaca pada Sesuai

dibaca pada kedua mode pencahayaan normal

kedua mode dan darurat

5 Tanda petunjuk Tanda petunjuk arah terbaca Sesuai

arah terbaca ‘EXIT’ atau kata lain yang tepat

EXIT berukuran ≥ 10cm


92

No Kondisi Aktual Permen PU No. 26/M/2008 Sesuai/tidak


sesuai
6 Lebar huruf pada Lebar huruf pada kata ‘EXIT’ ≥ 5 Sesuai

kata EXIT ≥ 5cm cm, kecuali huruf ‘I’

7 Spasi ≥ 1 cm Spasi minimum antara huruf pada Sesuai

kata ‘EXIT’ ≥ 1 cm

Dari 7 persyaratan mengenai tanda petunjuk arah menurut Permen PU

No.26/PRT/M/2008, sebanyak 6 persyaratan yang terpenuhi dan mendapatkan

scoring 85%. Skor tersebut dari hasil penjumlahan data mengenai petunjuk

arah yang sesuai dibandingkan dengan jumlah keseluruhan data. Menurut

penilaian berdasarkan tabel tingkat penilaian audit tentang kebakaran yang

dilakukan saptaria et al (2005), maka dapat ditarik kesimpulan tingkat

kesesuainnya adalah baik yang artinya sesuai persyaratan Permen PU

No.26/PRT/M/2008

5.7.4 Tempat Berhimpun di Gedung FKIK

Tempat berhimpun di gedung FKIK berada pada satu titik, tempat

berhimpun tersebut terletak di dekat gerbang masuk kampus/ berada

dihalaman utama gedung FKIK. Tempat berhimpun sudah memiliki petunjuk

tempat berhimpun yang berada disisi lapangan / halaman gedung.


93

Halaman utama FKIK dipilih menjadi tempat berhimpun dikarenakan

halaman memiliki luas yang dapat menampung seluruh pengguna gedung,

selain itu halaman utama FKIK dapat diakses dari berbagai arah,baik dari

tangga darurat di sayap kanan gedung, maupun tangga darurat yang berada

ditengah gedung.

Berikuta adalah gambar tempat berhimpun digedung FKIK.

Gambar 5.9 tempat berhimpun di gedung FKIK


Berikut ini adalah tabel kesesuai tempat berhimpun di FKIK dengan

NFPA 101 (1995)

Tabel 5.14
Kesesuai Tempat Berhimpun Di FKIK Dengan NFPA 101

No Kondisi Aktual NFPA 101 Sesuai/tidak


sesuai
1 Terdapat tempat Tersedia tempat berhimpun Sesuai

berhimpun setelah evakuasi

2 Terdapat petunjuk Tersedia petunjuk tempat Tidak sesuai

meeting point, berhimpun

3 Tempat berhimpun Luas tempat berhimpun sesuai, Sesuai

sangat luas. minimal 0,3 m/orang


94

Dari 3 persyaratan mengenai tempat berhimpun menurut NFPA 101,

sebanyak 2 persyaratan yang terpenuhi dan mendapatkan nilai scoring 66%.

Nilai scoring tersebut dari hasil penjumlahan data mengenai tempat berhimpun

yang sesuai dibandingkan dengan jumlah keseluruhan data. Menurut penilaian

berdasarkan tabel tingkat penilaian audit tentang kebakaran yang dilakukan

saptaria et al (2005), maka dapat ditarik kesimpulan tingkat kesesuainnya adalah

terpasang tetapi ada sebagian kecil instalasi yang tidak sesuai persyaratan NFPA

101 (1995).

5.8 Rata-rata kesesuaian sarana penyelamat jiwa di gedung FKIK

Tabel 5.15
Rata-Rata Kesesuaian Sarana Penyelamat Jiwa Di Gedung FKIK

No Sarana Penyelamat Jiwa Nilai Skoring


1 Pintu Darurat 71%
2 Tangga Darurat 83%
3 Tempat Berhimpun 66%
4 Petunjuk Arah 85%
Rata-rata 76,25%

Maka berdasarkan tabel 4.1 rata-rata kesesuaian sarana penyelamat jiwa di


gedung FKIK yaitu 76,25%, adalah cukup artinya terpasang tapi ada beberapa
sarana penyelamat jiwa yang belum terpasang dan ada yang tidak sesuai dengan
peraturan perundangan.
BAB VI

PEMBAHASAN

6.1 Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan cara menilai manajemen dan sistem proteksi

kebakaran dengan Permen PU No.26/PRT/M/2008, Permen PU

No.20/PRT/M/2009, Standar Nasional Indonesia, dan Standar Internasional yaitu

NFPA (1995), akan tetapi hanya mengacu pada beberapa elemen saja, hal ini

disebabkan karena terdapat beberapa element yang tidak bisa dibandingkan karena

tidak adanya informasi mengenai elemen tersebut, selain itu keterbatasan waktu dan

biaya penelitian juga menjadi keterbatasan dalam penelitian ini.

6.2 Prosedur Tanggap Darurat kebakaran di gedung Fakultas Kedokteran dan

Ilmu Kesehatan (FKIK)

Dari 25 persyaratan mengenai prosedur tanggap darurat kebakaran menurut

Permen PU No.20/PRT/M/2009, seluruhnya tidak terpenuhi. Hal ini disebabkan

gedung FKIK tidak memiliki prosedur tanggap darurat kebakaran. Gedung FKIK

mendapat nilai 0%, skor tersebut dari hasil penjumlahan data mengenai prosedur

tanggap darurat yang sesuai dibandingkan dengan jumlah keseluruhan data.

Menurut penilaian berdasarkan tabel tingkat penilaian audit tentang kebakaran yang

95
96

dilakukan saptaria et al (2005), maka dapat ditarik kesimpulan tingkat kesesuainnya

adalah tidak sesuai dengan Permen PU No.20/PRT/M/2009

Menurut Permen PU No.20/PRT/M/2009 Prosedur tanggap darurat kebakaran

mencakup kegiatan pembentukan tim perencanaan, penyusunan analisis risiko

bangunan gedung terhadap bahaya kebakaran, pembuatan dan pelaksanaan rencana

pengaman keakaran (fire safety plan), dan rencana tindak darurat kebakaran (fire

emergency plan).

Prosedur tanggap darurat kebakaran di gedung FKIK belum ada, alasanya

dikarenakan tidak pernah terjadi kebakaran. Prosedur tanggap darurat kebakaran

dianggap tidak terlalu penting mengingat aktifitas di gedung FKIK jauh dari

aktifitas yang menimbulkan api. Hal ini dibuktikan dengan hasil observasi yaitu

tidak adanya struktur organisasi dalam penanggulangan bahaya kebakaran, prosedur

tanggap darurat kebakaran, dan sumber daya manusia dalam penanggulangan

kebakaran.

Dikarenakan belum adanya prosedur tanggap darurat kebakaran di gedung

FKIK, penulis mencoba untuk membuat prosedur tanggap darurat kebakaran

digedung FKIK yang nantinya dapat menjadi usulan dan diimplementasikan dalam

sistem tanggap darurat kebakaran di gedung FKIK.

Prosedur tanggap darurat kebakaran digedung FKIK antara lain:

a. Prosedur mengenai hal-hal yang harus dilakukan jika terjadi kebakaran


97

1) Tekan tombol bahaya kebakaran yang terdekat dengan area terjadinya

bahaya kebakaran sampai lampu merah berkedip-kedip

2) Lakukan pemadaman api segera dengan alat yang sudah tersedia disekitar

tempat kejadian dengan kekuatan yang ada sambil menunggu bantuan

datang

3) Berikan informasi yang berbunyi “sedang terjadi kebakaran di area……,

harap tim pemadam bertindak segera

4) Berikan informasi sekali lagi

5) Melakukan pengamanan seperlunya ditempat kejadian dan minta bantuan

ke instansi luar

6) Periksa persedian air untuk boks hidran dan lain-lain untuk kelancaran

hidran

7) Apabila api semakin besar dan tidak padam :

a) Berikan informasi sekali lagi melalui mic dan isi beritanya tergantung

situasi yang sedang terjadi.

b) Bila perlu meminta bantuan dari pihak luar (pemadam kebakaran kota)

8) Apabila api sudah padam monitoring dan mencari informasi mengenai

sebab terjadinya kebakaran.

Prosedur yang harus dilakukan apabila terjadi kebakaran kepada

seluruh civitas akademika tersebut disampaikan pada saat pelatihan

tanggap darurat dan dipasang pada papan informasi disetiap bangunan

gedung yang ada di FKIK.


98

b. Prosedur evakuasi

1) Bila situasi kebakaran tidak terkendali dan membahayakan keselamatan

pengguna gedung, maka lakukan tindakan untuk evakuasi

2) Tindakan evakuasi diputuskan oleh ketua organisasi penanggulangan

kebakaran (OPK), berdasarkan laporan situasi dan kondisi dari petugas

pemadam lapangan

3) Evakuasi dipimpin oleh atasan masing-masing seksi dengan cara sebagai

berikut:

a) Keluar melalui pintu darurat dan berkumpul ditempat yang telah

ditentukan (assembly point)

b) Atasan memastikan tidak ada anggota yang tertinggal dilokasi

kebakaran dengan cara menghitung ulang anggotanya.

c. Pelatihan tanggap darurat bagi pengguna gedung

Pelatihan tanggap darurat bagi seluruh pengguna gedung diadakan setiap 3

bulan sekali. Pengguna gedung yang diikutsertakan setiap pelatihan harus

berbeda-beda, dengan target selama satu tahun seluruh pengguna gedung

mendapatkan satu kali pelatihan. Pelatihan fire drill yang diberikan yaitu

pelatihan pemadaman api dengan menggunakan karung basah, Alat Pemadam

Api Ringan (APAR), dan hidran.

d. Inspeksi dan pemeriksaan sistem proteksi kebakaran.

1) Pompa hidran
99

Inspeksi dan pemeriksaan dilakukan minimal satu kali dalam dua minggu

oleh komandan gedung, komandan lantai,dan komandan pemadam

kebakaran. Poin-poin yang harus diperiksa antara lain:

a) Kondisi diesel hidran selalu mudah dihidupkan

b) Kondisi peralatan diesel harus baik

c) Kondisi bahan bakar harus selalu penuh

2) Box hydrant

Inspeksi minimal dua kali dalam satu tahun. Poin-poin yang harus diperiksa

antara lain :

a) Stop kran : tidak bocor dan mudah dibuka

b) Hose : kopling dan seal bagus (tidak bocor)

c) Nozzle : tidak rusak, kopling dan seal bagus (tidak bocor)

d) Water blow setiap box hydrant

3) Alat Pemadam Api Ringan (APAR)

Alat Pemadam Api Ringan (APAR) harus di inspeksi minimal satu kali

selama enam bulan. Poin-poin yang harus diperiksa adalah :

a) Segel

b) Tekanan dalam tabung (untuk yang dilengkapi pressure gauge)

c) Berat tabung dan kecocokan dengan nilai yang tertera pada tabung

(untuk APAR CO2)

d) Cartridge

e. Audit sistem proteksi kebakaran

Audit dan pemeriksaan sistem proteksi kebakaran terdiri dari :


100

1) Audit keselamatan sekilas

Audit keselamatan sekilas dilakukan oleh Organisasi Penanggulangan

Kebakaran (OPK) minimal satu kali selama satu minggu. Inspeksi yang

dilakukan adalah inspeksi kondisi fisik Alat Pemadam Api Ringan (APAR)

dan hidran.

2) Audit awal

Audit awal dilakukan setiap enam bulan sekali oleh vendor Alat Pemadam

Api Ringan (APAR) dan hidran.

3) Audit lengkap

Audit lengkap dilakukan oleh pihak eksternal minimal satu tahun sekali.

Dalam audit ini tidak hanya sistem proteksi kebakaran saja yang diperiksa,

akan tetapi seluruh aspek kesehatan dan keselamatan kerja.

Menurut kementerian Pekerjaan Umum (2009) Setiap pemilik / pengguna

bangunan gedung wajib melaksanakan kegiatan pengelolaan resiko kebakaran

meliputi kegiatan bersiap diri, merespon dan pemulihan akibat kebakaran. Selain itu

setiap pemilik/pengguna gedung juga harus memanfaatkan bangunan gedung sesuai

dengan fungsi yang ditetapkan dalam izin mendirikan bangunan gedung termasuk

pengelolaan risiko kebakaran melalui kegiatan pemeliharaan, perawatan, dan

pemeriksaan secara berkala sistem proteksi kebakaran serta penyiapan personil

terlatih dalam pengendalian kebakaran.

Seharusnya gedung FKIK memiliki prosedur tanggap darurat yang

didalamnya terdapat tim perencanaan, penyusunan analisis risiko bangunan gedung


101

terhadap bahaya kebakaran, pembuatan dan pelaksanaan rencana pengaman

kebakaran (fire safety plan), dan rencana tindak darurat kebakaran (fire emergency

plan). Prosedur tanggap darurat ini penting untuk diketahui dan dipahami oleh

seluruh pengguna gedung, karena prosedur inilah yang nantinya dapat memberikan

keselamatan dan jalan keluar dari bahaya kebakaran. Selain itu apabila prosedur

tanggap darurat dilakukan dengan baik, maka dapat mencegah terjadinya bahaya

kebakaran.

6.3 Organisasi Proteksi Kebakaran Di Gedung FKIK

Dari 12 persyaratan mengenai organisasi penanggulangan kebakaran menurut

Permen PU No.20/PRT/M/2009, seluruhnya tidak terpenuhi. Hal ini disebabkan

civitas akademika FKIK tidak memiliki struktur tim penanggulangan kebakaran.

Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20/PRT/M/2009 unsur pokok

organisasi penanggulangan kebakaran bangunan gedung terdiri dari penanggung

jawab, personil komunikasi, pemadam kebakaran, penyelamat/paramedic, ahli

teknik, pemegang peran kebakaran lantai, dan keamanan.

Gedung FKIK mendapat nilai 0%, skor tersebut dari hasil penjumlahan data

mengenai organisasi proteksi kebakaran yang sesuai dibandingkan dengan jumlah

keseluruhan data. Menurut penilaian berdasarkan tabel tingkat penilaian audit

tentang kebakaran yang dilakukan saptaria et al (2005), maka dapat ditarik

kesimpulan tingkat kesesuainnya adalah tidak sesuai dengan Permen PU

No.20/PRT/M/2009.
102

Gedung FKIK sampai saat ini belum mempunyai organisasi proteksi kebakaran,

organisasi proteksi kebakaran sebaiknya terdiri dari karyawan dan mahasiswa yang

berada didalam gedung FKIK. Organisasi proteksi kebakaran di FKIK belum

terwujud dikarenakan belum adanya perhatian dari pembuat kebijakan, dalam hal ini

adalah Dekanat FKIK. Meskipun kebakaran belum pernah terjadi di gedung FKIK

bukan berarti kita mengabaikan adanya organisasi proteksi kebakaran, karena

organisasi inilah yang nantinya akan bekerja sesuai job deskription nya dalam

menangani kejadian kebakaran. Apabila tidak terdapat organisasi proteksi

kebakaran disebuah gedung, maka apabila terjadi bahaya kebakaran, api dapat

dengan cepat membakar seluruh gedung dan menimbulkan kerugian baik material,

social, dan kehilangan jiwa.

Dikarenakan belum adanya organisasi proteksi kabakaran di FKIK, maka

penulis mencoba memberikan usulan yaitu dalam pelaksanaannya organisasi

proteksi kebakaran bangunan dibuat oleh penanggung jawab bangunan tersebut

dengan diawasi oleh Dekan FKIK. Setiap pengguna gedung yang tergabung didalam

organisasi proteksi kebakaran memiliki tugas dan tanggung jawabnya masing-

masing. Berikut ini adalah tugas dan tanggung jawab tim proteksi kebakaran di

gedung FKIK :

1. Penanggung jawab :

a. Bertanggung jawab terhadap segala kegiatan organisasi proteksi

kebakaran (OPK), dalam hal ini adalah pemimpin tertinggi di

gedung FKIK yaitu Dekan/wakil Dekan.


103

b. Memantau dan mengawasi jalannya OPK

c. Mengkoordinasikan tiap-tiap anggota OPK untuk menjalankan

tugasnya

d. Dalam keadaan darurat harus berada dipusat pengendalian

(PUSDAL)

e. Bersama ketua Tim OPK membentuk Tim rehabilitasi paska

keadaan darurat

2. Ketua OPK

a. Melaksanakan upaya untuk meningkatkan kesiagaan seluruh

penghuni gedung dalam menghadapi keadaan darurat, ketua

OPK sebaiknya dijabat oleh Kabag Tata Usaha yang selalu

stand by di gedung FKIK.

b. Mengkoordinasikan kepada komandan gedung

c. Berkoordinasi dengan lembaga internal dan lembaga eksternal

d. Memastikan prosedur penanganan keadaan darurat ini dipatuhi

dan dilaksanakan oleh setiap personil termasuk penghuni

gedung

e. Memberikan instruksi dalam setiap tindakan darurat

f. Melakukan koordinasi dengan instansi terkait seperti Dinas

Kebakaran, Polisi, Tim SAR dan lain-lain

g. Melaporkan status keadaan darurat kepada unsure pimpinan

h. Menyatakan kondisi keadaan darurat sesuai dengan kategori

keadaan darurat
104

i. Mengkoordinir dan memimpin kegiatan pengendalian dan

penanggulangan keadaan darurat

j. Menyiapkan regu pemadam kebakaran, evakuasi dan

penyelamatan

3. Wakil

a. Membantu tugas-tugas ketua OPK dalam menentukan langkah-

langkah pelaksanaan penanggulangan keadaan darurat, wakil

ketua OPK sebaiknya dijabat oleh kepala sekuriti yang mampu

menggerakkan seluruh sekuriti yang berada di gedung FKIK.

b. Bertindak sebagai ketua tim OPK apabila ketua bersangkutan

berhalangan

c. Membantu mengkoordinir dan memimpin kegiatan

pengendalian dan penanggulangan keadaan darurat

d. Bertanggung jawab langsung terhadap teknis pelaksanaan

operasi Pengendalian & Penanggulangan Keadaan Darurat

4. Komandan Gedung

a. Mengkoordinir pelaksanaan evakuasi penghuni gedung dan

mengatur penugasan regu bantuan pemadam kebakaran dan

penyelamat lantai yang terbakar. Komandan gedung sebaiknya

dijabat oleh Ketua BEMF FKIK. Ketua BEMF dipilih karena

memiliki garis komando dengan ketua BEMJ.

b. Berkoordinasi dengan Tim OPK


105

c. Memberikan saran teknis kepada ketua tim

d. Menyelenggarakan administrasi sistem pencatatan/pendataan :

daftar abseni penghuni lantai, daftar korban, daftar dokumen

penting, daftar barang berharga

5. Komandan Lantai

a. Mengkoordinir upaya penanggulangan Keadaan Darurat dan

mengkondisikan agar penghuni lantai/ gedung tetap tenang dan

tidak panic. Komandan lantai sebaiknya dijabat oleh Ketua

BEMJ Kesmas.

b. Melaporkan ke PUSDAL (Pusat Pengendalian) atau Fire station

Pemda (Eksternal)

c. Apabila kebakaran tidak teratasi laporkan kepada Ketua Tim

OPK untuk minta bantuan Eksternal

d. Memecahkan break Glass untuk mengaktifkan Fire Alarm local

e. Mengkoordinir pelaksanaan Evakuasi dan Penyelamatan

f. Bertanggung jawab kepada Ketua Tim OPK

g. Memimpin langsung pelaksanan Latihan Kesiagaan dalam

menghadapi Keadaan Darurat

h. Koordinasi dengan komandan lantai di atas maupun di

bawahnya serta tim yang lain yang tergabung dalam OPK

i. Menghimpun dan menyerahkan daftar absensi evakuasi korban

(bila ada) dan barang berharga fakultas

j.
106

6. Bantuan eksternal

a. Memberikan bantuan pada saat terjadi Keadaan Darurat,

bantuan eksternal terdiri dari : Dinkes, Polri, RS, SAR,

PEMDA, dan Dinas Kebakaran.

b. Sebagai Rujukan bantuan kesehatan pada saat terjadi Keadaan

Darurat (rumah sakit)

c. Mendata Jumlah SDM yang ada di semua wilayah kampus

d. Menginformasikan kepada masyarakat mengenai resiko

Keadaan Darurat yang mungkin terjadi di kampus II

7. Bantuan internal

a. Tim Security

a) Mengkoordinir operasi sistem pengamanan Keadaan

Darurat

b) Memberikan saran Teknis kepada Ketua Tim

c) Koordinasi dengan anggota Tim yang lain

d) Koordinasi dengan aparat keamanan dari Instansi

pemerintah

e) Membantu kelancaran pelaksanaan operasi

penanggulangan Keadaan Darurat

b. Tim Bantuan Medis

a) Pertolongan ditempat

b) Pengangkutan korban
107

c) Pertolongan lanjutan/pengiriman korban ke

Poliklinik/Rumah Sakit

d) Pencatatan Identitas korban

e) Koordinasi dengan anggota Tim OPK yang terkait

f) Memberikan saran teknis kepada Ketua Tim OPK

c. Tim Bantuan Operasi Teknis

a) Penyediaan air pemadam kebakaran

b) Penyediaan Emergengy Power Supply

c) Memberikan saran teknis kepada Ketua Tim OPK

d) Koordinasi dengan anggota Tim OPK terkait

e) Pemeliharan/penyempurnaan sarana Penanggulangan

Keadaan Darurat agar selalu dalam keadaan/kondisi

SIAP PAKAI

d. Tim TI (Teknologi Informasi)

a) Menyediakan semua fasilitas sarana komunikasi

b) Menyediakan saran komunikasi di PUSDAL ( telepon,

sound system, dan lain lain )

c) Memelihara sarana komunikasi agar selalu dalam

kondisi siap pakai

d) Koordinasi dengan anggota Tim OPK yang terkait

lainnya

e) Memberikan saran teknis kepada Ketua Tim OPK

e. Tim Humas
108

a) Mengkoordinir pelaksanaan liputan mengenai :

 Kejadian

 Usaha penanggulangan

 Pemanfaatan sumber daya

 Perkembangan situasi/kondisi Keadaan Darurat

b) Melayani wawancara terkait dengan kejadian kepada

pers

c) Mengatur pelaksanan wawancara Pers bila dianggap

perlu

d) Melaksanakan fungsi sebagai pusat informasi dan

pembuatan dokumentasi peristiwa Keadaan Darurat

e) Koordinasi dengan anggota Tim OPK yang terkait

lainnya

f) Koordinasi dengan unsur media masa

g) Memberikan saran teknis kepada Ketua Tim OPK

f. Tim Logistik

a) Mengkoordinir tugas tugas pelayanan kebutuhan sarana

penanggulangan Keadaan Darurat meliputi :

b) Penyediaan fasilitas Penanggulangan Keadaan Darurat

di PUSDAL

c) Penyediaan konsumsi, transportasi, bahan/material yang

dibutuhkan berkaitan dengan Keadaan Darurat

d) Memberikan saran teknis kepada Ketua Tim


109

e) Koordinasi dengan anggota Tim OPK terkait

8. Komandan Regu Evakuasi

a. Memimpin langsung evakuasi dilantai yang bersangkutan

b. Melaksanakan latihan – latihan evakuasi bagi anggotanya

c. Bertanggung jawab kepada Komandan lantai

d. Komandan regu evakuasi di ketuai oleh ketua BEMJ Farmasi

9. Anggota Regu Evakuasi

a. Mengatur pelaksanaan Evakuasi disetiap lantai sesuai komando

Komandan Regu lantai

b. Melaksanakan koordinasi antar sesama anggota untuk membina

kekompakan regu Evakuasi

10. Komandan Regu Pemadam Kebakaran

a. Memimpin langsung operasi penanggulangan Kebakaran yang

terjadi dilantai yang bersangkutan

b. Melaksanakan latihan–latihan pemadam kebakaran untuk

meningkatkan keahlian dalam penanggulan pemadam

Kebakaran bagi anggotanya

c. Bertanggung jawab kepada Komandan lantai

d. Komandan regu pemadam kebakaran diketuai oleh Ketua BEMJ

Keperawatan.

11. Anggota Regu Pemadam Kebakaran

a. Mengoperasikan langsung peralatan Pemadam Kebakaran

sesuai dengan jenis Keadaan Darurat Kebakaran yang terjadi


110

b. Melaksanakan koordinasi dengan sesama anggota untuk

membina/ menjalin kerjasama kekompakan antar regu

c. Melaksanakan latihan – latihan sesuai komando Komandan

Regu

12. Komandan Regu Penyelamat

a. Memimpin langsung operasi penyelamatan asset perusahaan

yang berada dilantai untuk menghindari terjadinya kerugian

yang lebih besar

b. Melaksanakan latihan–latihan penyelamatan untuk

meningkatkan kewaspadaan bagi anggotanya

c. Komandan Regu penyelamatan di ketuai oleh ketua BEMJ

Kedokteran.

13. Anggota Regu Penyelamat

a. Melaksanakan operasi penyelamatanasset persh yang berada

dilantai, terutama dokumen penting/rahasia atau dokumen

penting lainnya atas komando Komandan Regu Penyelamat

b. Melaksanakan koordinasi antar anggota penyelamat untuk

menjalin kekompakan regu

14. Ketua Kelas Masing-Masing Prodi

a. Mencatat mahasiswa yang menjadi tanggung jawabnya

b. Apabila ada karyawan/mahasiswa yang terluka, harap segara

melapor kepada First Aider atau Petugas Medis untuk

mendapatkan pengobatan
111

c. Mengadakan apel checking jumlah Penghuni guna meyakinkan

bahwa tidak ada yang tertinggal di gedung/area kerja

d. Menghitung dan mengevaluasi jumlah korban (sakit/luka,

pingsan, meninggal) .

e. Memeriksa ruangan kantor bila kemungkinan ada personil yang

masih tertinggal.

f. Bila ternyata ada yang masih tertinggal didalam ruangan, segera

lapor ke tim pemadam selanjutnya laporkan kepada ketua.

g. Menghitung berapa jumlah korban (sakit, pingsan, meninggal)

dan berusaha mengevakuasikan korban melalui lift kebakaran,

tangga darurat atau mobil tangga Dinas Kebakaran

h. Tim Pemadam, Tim Penyelamatan, Tim Evakuasi, Humas serta

OPK

15. PUSDAL (Pusat Pengendalian)

Bisa di Pos security atau disesuaikan dengan situasi, ditentukan oleh

komandan Gedung

16. Civitas Akademika

Siap siaga membantu tugas regu pemadam kebakaran, regu evakuasi,

regu penyelamat, sesuai dengan kebutuhan atas komando komandan

lantai
112

6.4 Sumber Daya Manusia

Dari 3 persyaratan mengenai sumber daya manusia menurut Permen PU

No.20/PRT/M/2009, seluruhnya tidak terpenuhi. Hal ini disebabkan gedung FKIK

tidak memiliki sumber daya manusia yang khusus untuk menangani bahaya

kebakaran. Menurut Permen PU No. 20/PRT/M/2009, untuk mencapai hasil kerja

yang efektif dan efisien harus didukung oleh tenaga-tenaga yang mempunyai dasar

pengetahuan, pengalamaan dan keahlian dibidang proteksi kebakaran. Gedung

FKIK mendapat nilai 0%, skor tersebut dari hasil penjumlahan data mengenai

sumber daya manusia yang sesuai dibandingkan dengan jumlah keseluruhan data.

Menurut penilaian berdasarkan tabel tingkat penilaian audit tentang kebakaran

yang dilakukan saptaria et al (2005), maka dapat ditarik kesimpulan tingkat

kesesuainnya adalah tidak sesuai dengan Permen PU No.20/PRT/M/2009.

Sumber daya manusia dalam penanggulangan kebakaran di gedung Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) ada keamanan, office boy, karyawan,

mahasiswa dan dosen, akan tetapi belum dibentuk menjadi sebuah tim, oleh karena

itu penulis mencoba memberikan usulan dibuatnya Tim penanggulangan bahaya

kebakaran yang disebut tim Organisasi Penanggulangan Kebakaran (OPK) sebagai

perencana dan pengawas terlaksananya program-program penanggulangan

kebakaran. Sumber daya manusia ini diberikan pelatihan-pelatihan untuk

menghadapi dan menanggulangi kejadian kebakaran.


113

Hal ini perlu diperbaiki dan segera mungkin membuat Tim Penanggulangan

bahaya kebakaran di gedung FKIK, agar ketika terjadi kebakaran, sumber daya

manusia sudah siap melakukan langkah-langkah penanggulangan bahaya

kebakaran dan dapat mengurangi kerugian material dan dapat menyelamatkan

penghuni gedung. prosedur tanggap darurat dan organisasi proteksi kebakaran

tidak dapat berjalan dengan baik apabila tidak terdapat sumber daya manusia yang

mempunyai pemahaman terhadap penanggulangan bahaya kebakaran.

6.5 Sistem Proteksi Aktif Kebakaran Di Gedung Fakultas Kedokteran Dan Ilmu

Kesehatan (FKIK)

Sistem proteksi aktif di gedung FKIK terdiri dari APAR, Hidran, Alarm

kebakaran, Sprinkler, dan Detektor kebakaran.

6.5.1 APAR (Alat Pemadam Api Ringan)

Dari 15 persyaratan mengenai APAR menurut Permen PU No.

26/PRT/M/2009,sebanyak 14 persyaratan yang terpenuhi dan mendapatkan

skor 93%. Syarat ini juga sesuai dengan pendapat Soehatman Ramli

(2010), Alat Pemadam Api Ringan (APAR) adalah alat pemadam yang bisa

diangkut, diangkat, dan dioperasikan oleh satu orang. Sedangkan dalam

pemilihan APAR, hal yang menjadi pertimbangan adalah APAR yang

tersedia sesuai dengan jenis resiko kebakaran yang akan dipadamkan

(santoso,2002).
114

Terdapat satu syarat yang tidak terpenuhi yaitu APAR harus diinspeksi

setiap 30 hari sekali, sedangkan di FKIK tidak dilakukan inspeksi setiap 30

hari sekali. Skor 93% tersebut dari hasil penjumlahan data mengenai

APAR yang sesuai dibandingkan dengan jumlah keseluruhan data.

Menurut penilaian berdasarkan tabel tingkat penilaian audit tentang

kebakaran yang dilakukan saptaria et al (2005), maka dapat ditarik

kesimpulan tingkat kesesuainnya adalah baik sesuai persyaratan dengan

Permen PU No. 26/PRT/M/2009.

APAR berfungsi untuk memadamkan nyala api yang berskala kecil dan

baru terjadi kebakaran, hal ini dimaksudkan untuk memadamkan api secara

dini dan agar nyala api tidak meluas ke area sekitar terjadinya kebakaran.

6.5.2 Hidran

Hidran adalah suatu sistem pemadam kebakaran tetap yang

menggunakan media pemadam air bertekanan yang dialirkan melalui pipa-

pipa dan selang kebakaran (Depnaker,1987). Hidran di FKIK dilengkapi

dengan selang (fire hose) yang disambungkan dengan kepala selang

(nozzle) yang tersimpan didalam suatu kotak baja dengan cat warna merah.

Untuk menghubungkan selang dengan kepala selang, digunakan alat yang

disebut dengan kopling yang dimiliki oleh dinas pemadam kebakaran

setempat sehingga bisa disambung ketempat-tempat yang jauh.


115

Dari Sembilan persyaratan mengenai Hidran menurut SNI 03-3985-

2000, seluruh persyaratan telah terpenuhi dan mendapatkan skor 100%.

Skor tersebut dari hasil penjumlahan data mengenai Hidran yang sesuai

dibandingkan dengan jumlah keseluruhan data. Menurut penilaian

berdasarkan tabel tingkat penilaian audit tentang kebakaran yang dilakukan

saptaria et al (2005), maka dapat ditarik kesimpulan tingkat kesesuainnya

adalah baik atau sesuai dengan standar nasional Indonesia.

Syarat diatas juga sesuai dengan SNI-1745-1989 Bab 2 bagian 10

mengenai perletakan hidran, kotak hidran harus mudah dilihat, mudah

dicapai, tidak terhalang oleh benda lain. Kotak hidran dicat warna merah

dan di tengah-tengah kotak Hidran diberi tulisan “HIDRAN” dengan warna

putih, tinggi tulisan minimum 10 cm.

Gedung FKIK memiliki dua jenis hidran, yaitu hidran didalam gedung

dan hidran halaman, hal ini sudah sesuai dengan Kepmen PU

No.10/KPTS/2000 bab 5 bagian 3 tentang sistem pemadam kebakaran

manual, setiap bangunan harus memiliki 2 jenis hidran yaitu hidran gedung

dan hidran halaman. Hidran sangat berfungsi untuk memadamkan nyala api

yang besar, dan fungsinya untuk menyambungkan sistem pemadam

kebakaran di gedung dengan sistem yang terdapat pada mobil dinas

pemadam kebakaran.
116

6.5.3 Alarm Kebakaran

Alarm kebakaran menurut Permenaker No 02/Men/1983 adalah

komponen dari sistem yang memberikan isyarat atau tanda adanya suatu

kebakaran yang dapat berupa:

a) Alarm kebakaran yang memberikan tanda atau isyarat berupa bunyi

khusus (audible alarm)

b) Alarm kebakaran yang memberikan tanda atau isyarat yang tertangkap

oleh pandangan mata secara jelas (visible alarm)

Alarm kebakaran di gedung FKIK berupa sirine kebakaran yang

terhubung keseluruh ruangan, alarm berasal dari buzzer pada titik panggil

manual yang terletak diruang administrasi lantai 1. Fungsi sirene sama

dengan bel, namun jenis suara yang dikeluarkan berupa sirene. Sirene

mengeluarkan suara yang lebih keras sehingga sesuai digunakan di tempat

kerja yang luas (Ramli, 2010).

Dari dua persyaratan mengenai alarm kebakaran menurut SNI 03-

3985-2000 hanya terpenuhi satu, yaitu terdapat alarm kebakaran di sebuah

gedung, dan syarat yang tidak terpenuhi adalah suara alarm kebakaran di

FKIK sama dengan suara alarm apabila terjadi keadaan kegawat daruratan

yang lain, sehingga penghuni bangunan tidak dapat mengetahui keadaan

gawat darurat apa yang sedang terjadi. Seharusnya suara Alarm kebakaran

dibedakan dengan suara alarm yang lainnya.


117

Alarm Kebakaran di FKIK mendapatkan nilai 50%. Skor tersebut dari

hasil penjumlahan data mengenai alarm kebakaran yang sesuai

dibandingkan dengan jumlah keseluruhan data. Menurut penilaian

berdasarkan tabel tingkat penilaian audit tentang kebakaran yang dilakukan

saptaria et al (2005), maka dapat ditarik kesimpulan tingkat kesesuainnya

adalah tidak sesuai dengan standar nasional Indonesia.

6.5.4 Sprinkler

Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 26/PRT/M/2008

tentang persyaratan teknis sistem proteksi kebakaran, sprinkler adalah alat

pemancar air untuk pemadam kebakaran yang mempunyai tudung

berbentuk deflector pada ujung mulut pancarnya, sehingga air dapat

memancar ke semua arah secara merata.

Dari 13 persyaratan mengenai sprinkler kebakaran menurut SNI 03-

3989-2000, sebanyak 9 persyaratan yang terpenuhi yaitu :

a) Terpasang sprinkler otomatis

b) Sprinkler tidak diberi ornament, cat, atau diberi pelapis

c) Air yang digunakan tidak mengandung bahan kimia yang dapat

mengakibatkan korosi

d) Air yang digunakan tidak mengandung serat atau bahan lain yang dapat

mengganggu bekerjanya sprinkler


118

e) Setiap sistem sprinkler otomatis dilengkapi dengan sekurang-kurangnya

satu jenis sistem penyediaan air yang bekerja secara otomatis,

bertekanan dan berkapasitas cukup, serta dapat diandalkan setiap saat

f) Sistem penyediaan air didalam manajemen FKIK

g) Tersedia sambungan di sistem sprinkler

h) Jarak minimum antara dua kepala sprinkler ≤ 2 m

i) Kepala sprinkler yang terpasang merupakan kepala sprinkler yang tahan

korosi

Sprinkler di gedung FKIK mendapatkan nilai scoring 69%. Skor

tersebut dari hasil penjumlahan data mengenai sprinkler yang sesuai

dibandingkan dengan jumlah keseluruhan data. Menurut penilaian

berdasarkan tabel tingkat penilaian audit tentang kebakaran yang dilakukan

saptaria et al (2005), maka dapat ditarik kesimpulan tingkat kesesuainnya

adalah cukup atau terpasang tetapi ada sebagian yang tidak sesuai

persyaratan dengan standar nasional Indonesia.

Adapun syarat yang tidak sesuai dengan SNI 03-3989-2000 adalah :

a) Tidak terdapat kepala sprinkler cadangan, seharusnya sprinkler harus

memiliki kepala cadangan, hal ini dimaksudkan agar apabila terjadi

kerusakan disalah satu kepala sprinkler, maka dapat dengan cepat

diganti dengan kepala sprinkler cadangan.


119

b) Jumlah kepala cadangan sprinkler kurang dari 36 buah, sedangkan

menurut SNI 03-3989-2000 jumlah kepala cadangan sprinkler harus

diatas 36 buah, mengingat jarak sprinkler satu dengan yang lainnya

berjarak 2 meter, maka kepala cadangan sprinkler harus tersedia dalam

jumlah yang banyak.

c) Disyaratkan kepala cadangan sprinkler harus sesuai dengan jenis

sprinkler yang digunakan, karena di FKIK tidak memiliki kepala

cadangan sprinkler,maka syarat ini tidak dapat terpenuhi.

d) Tidak terdapat kunci khusus untuk memperbaiki sprinkler, seharusnya

setiap gedung harus memiliki kunci khusus untuk memperbaiki

sprinkler.

6.5.5 Detektor kebakaran

Menurut SNI 03-6574 tahun 2000 yang dimaksud dengan sistem

deteksi adalah alat yang berfungsi mendeteksi secara dini adanya suatu

kebakaran.

Digedung FKIK terdapat detektor kebakaran yang terpasang diseluruh

ruangan, setiap detektor yang terpasang berjarak ± 3m dengan detektor

yang lainnya, detektor kebakaran di gedung FKIK berjarak ± 4m dari

lantai, penentuan jarak ini dimaksudkan agar dapat dijangkau untuk

pemeliharaan dan untuk pengujian secara periodik. Detektor kebakaran

yang terdapat digedung FKIK adalah detektor asap.


120

Dari lima persyaratan mengenai Detektor kebakaran menurut SNI 03-

3985-2000, sebanyak tiga persyaratan yang terpenuhi yaitu : Terdapat

detektor kebakaran yang terpasang diseluruh ruangan, Setiap detektor yang

dipasang dapat dijangkau untuk pemeliharaan dan untuk pengujian secara

periodik, dan detektor ditempatkan di tempat yang tidak mudah terkena

gangguan mekanis.

Detektor kebakaran mendapatkan nilai scoring 60%. Skor tersebut

dari hasil penjumlahan data mengenai detektor kebakaran yang sesuai

dibandingkan dengan jumlah keseluruhan data.. Menurut penilaian

berdasarkan tabel tingkat penilaian audit tentang kebakaran yang dilakukan

saptaria et al (2005), maka dapat ditarik kesimpulan tingkat kesesuainnya

adalah cukup atau terpasang tetapi ada sebagian yang tidak sesuai

persyaratan dengan standar nasional Indonesia.

Adapaun syarat detektor kebakaran menurut SNI 03-3985-2000 yang

belum terdapat di FKIK adalah tidak adanya inspeksi, pengujian, dan

pemeliharaan terhadap detektor kebakaran, selain itu FKIK tidak memiliki

rekaman hasil inspeksi, pengujian, dan pemeliharaan. Rekaman ini tidak

ada karena tidak adanya proses inspeksi, pengujian, dan pemeliharaan.

Sebaiknya pihak civitas akademika FKIK segera melakukan inspeksi,

pengujian, serta pemeliharaan, disamping untuk memenuhi persyaratan

standar yang berlaku hal ini sangat penting untuk segera dilakukan, karena
121

bagus dan tidaknya detector kebakaran sangat bergantung dengan inspeksi,

pengujian, serta pemeliharaan.

6.6 Sarana Penyelamat Jiwa di Gedung Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

(FKIK)

Sarana penyelamat jiwa yang terdapat di FKIK terdiri dari pintu darurat, tangga

darurat, tempat berhimpun, dan petunjuk arah jalan keluar.

6.6.1 Pintu Darurat

Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.26/PRT/M/2008, setiap

pintu pada sarana jalan keluar harus dari jenis engsel sisi atau pintu ayun,

pintu harus dirancang dan dipasang sehingga mampu berayun dari posisi

manapun hingga mencapai posisi terbuka penuh.

Pintu darurat di gedung FKIK berjenis engsel sisi atau pintu ayun, pintu

ini dipasang dan dirancang sehingga mampu berayun dari posisi manapun

sehingga mencapai posisi terbuka penuh. Pintu darurat di FKIK tersambung

oleh jalur jalan keluar sehingga memudahkan dalam proses evakuasi apabila

terjadi bahaya kebakaran.

Pintu darurat di FKIK berjumlah delapan pintu yang masing-masing

lima pintu dilantai satu yang terletak di sayap kanan gedung, sayap kiri

gedung dan tiga dibagian tengah gedung FKIK, di lantai dua terdapat dua

pintu darurat satu di tengah didekat ruang auditorium FKIK dan satu lagi

disayap sebelah kanan gedung, dan terakhir terdapat satu pintu darurat di
122

lantai tiga dekat ruang dosen kesehatan masyarakat. Hal ini sesuai dengan SNI

03-1746 tahun 2000, yang berbunyi Jumlah pintu darurat minimal 2 buah pada

setiap lantai yang mempunyai penghuni kurang dari 60.

Dari 7 persyaratan mengenai Pintu Darurat menurut Permen PU

No.26/PRT/M/2008, sebanyak 5 persyaratan yang terpenuhi yaitu : Jenis

pintu darurat adalah jenis engsel atau pintu ayun, Pintu darurat mampu

berayun dari posisi manapun hingga mencapai posisi membuka penuh, Pintu

darurat membuka kearah jalan keluar, Grendel pintu darurat ditempatkan

100cm diatas lantai, dan pintu darurat selalu dalam posisi tertutup.

Pintu darurat di gedung FKIK mendapatkan skor 71%. Skor 71%

tersebut diperoleh dari hasil penjumlahan data mengenai pintu darurat yang

sesuai dibandingkan dengan jumlah keseluruhan data. Menurut penilaian

berdasarkan tabel tingkat penilaian audit tentang kebakaran yang dilakukan

saptaria et al (2005), maka dapat ditarik kesimpulan tingkat kesesuainnya

adalah cukup baik yang artinya terpasang tetapi ada sebagian kecil instalasi

yang tidak sesuai persyaratan dengan Permen PU No.26/PRT/M/2008.

Dua persyaratan yang belum terpenuhi yaitu adalah pintu darurat yang

sengaja dikunci, dengan alasan untuk menjaga keamanan gedung, hal ini tidak

sesuai dengan Permen PU No.26/PRT/M/2008 tentang pintu darurat yang

berbunyi Pintu darurat tidak membutuhkan sebuah anak kunci, alat atau

pengetahuan khusus atau upaya tindakan untuk membukanya dari dalam


123

bangunan gedung. Persyaratan yang lainnya yang tidak terpenuhi adalah pintu

darurat tidak dapat menutup secara otomatis, menurut penelitian fajar (2010)

pintu darurat harus dapat menutup secara otomatis, sehingga dapat

menghalangi masuknya asap.

6.6.2 Tangga Darurat

Menurut suma‟mur (1996) tangga darurat yaitu alat tersendiri atau bagian

dari suatu bangunan untuk naik atau turun dari suatu daratan ke daratan yang

lain. Sedangkan menurut SNI 03-1735 tahun 2000 tangga darurat adalah

tangga yang direncanakan khusus untuk penyelamatan bila terjadi kebakaran

pada koridor tiap jalan keluar menuju tangga darurat dilengkapi dengan pintu

darurat yang tahan api (lebih kurang 2 jam) dan panic bar sebagai

pegangannya sehingga mudah dibuka dari sebelah tangga (luar) untuk

mencegah masuknya asap kedalam tangga darurat.

Gedung FKIK memiliki tangga darurat sebanyak empat tangga darurat,

dua didalam gedung, dan dua diluar gedung. Tangga darurat didalam gedung

terletak disisi kanan gedung FKIK dan satu lagi terletak ditengah-tengah

gedung FKIK, sedangkan tangga darurat diluar gedung juga terletak di sisi

kanan gedung dan ditengah bagian luar gedung.

Dari 6 persyaratan mengenai Tangga Darurat menurut Permen PU

No.26/PRT/M/2008, sebanyak 5 persyaratan yang terpenuhi yaitu : Terdapat

tanda arah evakuasi menuju tangga darurat, Bordes antar tangga diatas 8,
124

Tangga tidak dibatasi dengan dinding, Ruang kosong dibawah tangga tidak

digunakan untuk menyimpan barang, Tangga utama tidak berbentuk spiral.

Syarat di atas sudah sesuai dengan SNI 03-1746 tahun 1989, tangga

kebakaran tidak dibatasi dengan dinding, tidak untuk menyimpan barang,

terawat dengan baik dan bersih tidak digunakan untuk jalan pipa atau

cerobong AC, ruang sirkulasi berhubungan langsung dengan pintu kebakaran,

tidak boleh berbentuk tangga spiral.

Menurut SNI 1728 tahun 1989, Bordes antar tangga minimal 8 dan

maksimal 18 hal ini karena bila tangga kurang dari 8 akan menyebabkan

kemiringan tangga menjadi curam dan bila lebih dari 18 tangga akan menjadi

landai sehingga melelahkan saat naik maupun turun. Tangga darurat di

gedung FKIK memiliki bordes diatas 8 yaitu berjumlah 11 bordes, hal ini juga

sesuai dengan Permen PU No.26/PRT/M/2008 yang berbunyi bordes antar

tangga minimal 8 dan maksimal 18.

Tangga darurat di FKIK mendapatkan skor 83%. Skor tersebut dari hasil

penjumlahan data mengenai tangga darurat yang sesuai dibandingkan dengan

jumlah keseluruhan data. Menurut penilaian berdasarkan tabel tingkat

penilaian audit tentang kebakaran yang dilakukan saptaria et al (2005), maka

dapat ditarik kesimpulan tingkat kesesuainnya adalah baik yang artinya sesuai

persyaratan Permen PU No.26/PRT/M/2008.

Satu syarat yang tidak terpenuhi yaitu tidak ada penanda setiap lantainya,

penanda ini berfunsi untuk mengetahui posisi lantai disetiap bangunan

gedung. Seharusnya gedung FKIK memberikan penanda disetiap lantainya


125

agar para pengguna gedung dapat mengetahui posisi keberadaan lantai pada

saat terjadi bahaya kebakaran.

6.6.3 Petunjuk Arah Jalan Keluar

Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.26/PRT/M/2008, selain

dari pintu exit utama di bagian luar bangunan gedung yang jelas dan nyata

harus diberi tanda dengan sebuah tanda yang disetujui yang mudah terlihat

dari setiap arah akses exit.

Tanda petunjuk arah jalan keluar di gedung FKIK dipasang sepanjang sisi

jalan keluar dan dipintu keluar serta di pintu-pintu darurat. Ukuran dan bentuk

tanda petunjuk arah jalan keluar menggunakan standar Permen PU

No.26/PRT/M/2008. Fungsi tanda petunjuk arah jalan keluar adalah untuk

membantu pengguna gedung untuk menunjukkan arah jalan keluar, baik

dalam keadaan normal maupun dalam keadan gawat darurat, tandan petunjuk

arah jalan keluar harus dapat dibaca pada kedua mode pencahayaan normal

atau darurat, tanda petunjuk arah terbaca „EXIT‟ yang berukuran 10cm.

Dari 7 persyaratan mengenai tanda petunjuk arah menurut Permen PU

No.26/PRT/M/2008, sebanyak 6 persyaratan yang terpenuhi yaitu : Terdapat

petunjuk arah jalan keluar, Terdapat indikator menuju tangga darurat, Tanda

arah dapat dibaca pada kedua mode, Tanda petunjuk arah terbaca EXIT, Lebar

huruf pada kata EXIT ≥ 5cm, dan Spasi minimum antar huruf pada kata EXIT

≥ 1 cm.
126

Petunjuk arah jalan keluar mendapatkan skor 85%. Skor tersebut dari

hasil penjumlahan data mengenai petunjuk arah yang sesuai dibandingkan

dengan jumlah keseluruhan data. Menurut penilaian berdasarkan tabel tingkat

penilaian audit tentang kebakaran yang dilakukan saptaria et al (2005), maka

dapat ditarik kesimpulan tingkat kesesuainnya adalah baik yang artinya sesuai

persyaratan Permen PU No.26/PRT/M/2008

Adapun syarat yang tidak terpenuhi adalah warna tanda petunjuk arah

jalan keluar berwarna hijau dan merah, seharusnya menurut perda DKI Jakarta

No.3 tahun 1992 tanda petunjuk arah jalan keluar berwarna dasar putih

dengan tulisan hijau atau berwarna dasar hijau dengan tulisan putih.

6.6.4 Tempat Berhimpun

Menurut SNI 03-6571 tahun 2001 tempat berhimpun adalah daerah pada

bangunan yang dipisahkan dari ruang lain dari penghalang asap kebakaran

dimana lingkungan yang dapat dipertahankan dijaga untuk jangka waktu

selama daerah tersebut masih dibutuhkan untuk dihuni pada saat kebakaran

Jumlah tempat berhimpun di gedung FKIK ada dua buah, tempat

berhimpun tersebut terletak di dekat gerbang masuk kampus/ berada

dihalaman utama gedung FKIK. Kedua tempat berhimpun sudah memiliki

petunjuk tempat berhimpun yang berada disisi lapangan / halaman gedung.

Dari 3 persyaratan mengenai tempat berhimpun menurut NFPA 101 tahun

1995, sebanyak 2 persyaratan yang terpenuhi yaitu: Tersedia tempat


127

berhimpun setelah evakuasi, Luas tempat berhimpun sesuai, minimal 0,3

m/orang. Tempat berhimpun di FKIK mendapatkan SKOR 66%. Skor

tersebut dari hasil penjumlahan data mengenai tempat berhimpun yang sesuai

dibandingkan dengan jumlah keseluruhan data. Menurut penilaian

berdasarkan tabel tingkat penilaian audit tentang kebakaran yang dilakukan

saptaria et al (2005), maka dapat ditarik kesimpulan tingkat kesesuainnya

adalah terpasang tetapi ada sebagian kecil instalasi yang tidak sesuai

persyaratan NFPA 101 (1995).

Syarat yang tidak sesuai adalah gedung FKIK memiliki petunjuk tempat

berhimpun yang bertuliskan meeting point, seharusnya tulisan yang benar

adalah assembling point.


BAB VII

SIMPULAN DAN SARAN

7.1 Simpulan

1. Gedung FKIK tidak memiliki Prosedur tanggap darurat kebakaran dan tidak
sesuai sama sekali dengan Permen PU No.20/PRT/M/2009.

2. Gedung FKIK tidak memiliki Organisasi proteksi kebakaran dan tidak sesuai
sama sekali dengan Permen PU No.20/PRT/M/2009.

3. Gedung FKIK tidak memiliki sumber daya manusia dalam manajemen


penanggulangan kebakaran dan tidak sesuai sama sekali dengan Permen PU
No.20/PRT/M/2009.

4. Sistem proteksi aktif di gedung FKIK terdiri dari APAR, Hidran, Alarm
kebakaran, Sprinkler, dan Detektor kebakaran.
a) Tingkat kesesuaian Alat Pemadam Api Ringan (APAR) baik sesuai
persyaratan.
b) Tingkat kesesuaian Hidran baik sesuai persyaratan.
c) Tingkat kesesuaian Alarm Kebakaran tidak sesuai.
d) Tingkat kesesuaian Sprinkler cukup yaitu terpasang tetapi ada sebagian
kecil instalasi yang tidak sesuai persyaratan.
e) Tingkat kesesuaian Detektor kebakaran cukup yaitu terpasang tetapi ada
sebagian kecil instalasi yang tidak sesuai persyaratan.

5. Sarana penyelamat jiwa yang terdapat di FKIK terdiri dari pintu darurat, tangga
darurat, petunjuk arah jalan keluar, dan tempat berhimpun.

128
129

a) Tingkat kesesuaian Pintu Darurat cukup yaitu terpasang tetapi ada


sebagian kecil instalasi yang tidak sesuai persyaratan.
b) Tingkat kesesuaian tangga darurat baik sesuai persyaratan.
c) Tingkat kesesuaian tanda petunjuk arah baik sesuai persyaratan.
d) Tingkat kesesuaian tempat berhimpun cukup yaitu terpasang tetapi ada
sebagian kecil instalasi yang tidak sesuai persyaratan.

7.2 Saran

1. Sebaiknya pengelola gedung FKIK segera membuat prosedur tanggap darurat


kebakaran.

2. Sebaiknya pengelola gedung FKIK segera membuat organisasi tanggap darurat


kebakaran, agar apabila terjadi kebakaran dapat ditangani dengan efektif dan
efisien, selain itu juga organisasi tanggap darurat dapat mencegah terjadinya
kebakaran melalui perawatan secara berkesinambungan terhadap sistem proteksi
kebakaran.

3. Untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dalam mencegah


terjadinya bahaya kebakaran di FKIK, sebaiknya Diadakan pelatihan
penanggulangan bahaya kebakaran, minimal pada saat penerimaan mahasiswa
baru, hal ini dimaksudkan agar setiap penghuni gedung mempunyai pemahaman
terhadap penanggulangan bahaya kebakaran.

4. Sistem proteksi aktif digedung FKIK


a) Sinyal suara alarm kebakaran sebaiknya harus dibedakan dari sinyal suara
yang dipakai untuk penggunaan lain.
130

b) Hidran sudah sesuai dengan standar yaitu SNI 03-3985-2000, sebaiknya


dilakukan perawatan secara terus menerus, agar ketika digunakan tidak
terjadi masalah.
c) Sebaiknya detektor kebakaran di inspeksi dan rekaman hasil inspeksi
disimpan.
d) Kotak penyimpanan kepala sprinkler cadangan dan kunci kepala sprinkler
ruangan sebaiknya ditempatkan diruangan ≤ 38°C, Jumlah persediaan
kepala sprinkler cadangan harus lebih dari 36 buah, dan diadakannya
sprinkler cadangan, dan disediakan kunci khusus.
e) APAR Sebaiknya di inspeksi pada interval 30 hari.

5. Sarana penyelamat jiwa di FKIK


a) Sebaiknya pintu darurat tidak dikunci, sehingga memudahkan proses
evakuasi apabila terjadi kebakaran dan pintu darurat sebaiknya dapat
menutup secara otomatis.
b) Sebaiknya tangga darurat diberi penanda yang menunjukkan posisi lantai
disetiap lantai.
c) Sebaiknya warna petunjuk arah jalan keluar diubah menjadi warna dasar
berwarna hijau dan tulisan berwarna putih agar dapat terlihat dalam
pencahayaan normal dan dalam pencahayaan keadaan darurat.
d) Sebaiknya tulisan meeting point dirubah menjadi assembling point.
DAFTAR PUSTAKA

Badan Standar Nasional Indonesia. 2000. SNI 03-1745-2000 Tentang Tata Cara
Perencanaan Dan Pemasangan Sistem Pipa Tegak Dan Slang Untuk
Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah Dan Gedung. Jakarta:
Badan Standar Nasional Indonesia

Badan Standar Nasional Indonesia. 2000. SNI 03-3985-2000 Tentang Tata Cara
Perencanaan, Pemasangan, dan Pengujian Sistem Deteksi Dan Alarm
Kebakaran Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung.
Jakarta : Badan Standar Nasional Indonesia

Badan Standar Nasional Indonesia. 2000. SNI 03-3989-2000 Tentang Tata Cara
Perencanaan, Pemasangan Sistem Sprinkler Otomotik Untuk Pencegahan
Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung. Jakarta : Badan Standar Nasional
Indonesia

Basuki , achmad. Mencermati standar pengamanan gedung untuk antisipasi bahaya


kebakaran, (accesed 8/02/2013). Available
www.http://achmadbasuki.files.wordpress.com/2008/07.

Bimbingan teknis pencegahan kebakaran, (accesed 8/02/2013). Available


www.http:ciptakarya.pu.go.id/2006/01/19

Brushlinsky, N. N, et al. 2006. World fire statistic, report No.10 diunduh dari
http://ec.europa.eu/consumers/cons_safe/presentation/21-02/ctif.pdf. (accesed
23/02/2013).

Department for communities and local government: London. 2010. Fire statistic
monitor, april 2009 to march 2010, issue No 03/10 diunduh di
http://www.communities.gov.uk./documents/statistic/pdf/1693248.pdf. (accesed
23/02/2013).

Departemen tenaga kerja-UNDP-ILO.1987. Bahan Training Keselamatan Kerja


Penanggulangan Kebakaran. Jakarta : Binawas Depnaker

Dinas Kebakaran DKI Jakarta (accesed 2/5/2013). Available


http://www.jakartafire.com/2004/8/3.

Fire Prevention and protection program, 1998. Jurusan keselamatan dan kesehatan kerja.
Fakultas Kesehatan Masyarakat UI.
ILO. 1991. Dasar-Dasar Keselamatan Kerja Bidang Kimia Dan Pengendalian Bahaya
Besar. Geneva. International Labour

Karter, Michael J. 2010. Fire loss in the united states during 2009. Diunduh dari
http://www.nfpa.org/assets/files/PDF/fireloss2009.pdf. (accesed 12/02/2013)

Karter, Michael J. 2011. Fire loss in the united states during 2009. Diunduh dari
http://www.nfpa.org/assets/files/PDF/os.fireloss2009.pdf. (accesed 12/02/2013)

Mehaffey, James R. dan Joel L. Bert. 1997. Fire Protection, NIOSH Instructional
Module. Ohio: U.S Departemen Health and Human Service. Diunduh dari
http://www.cdc.gov./niosh/docs/2004-101/pcfs/firepro.pdf. (accesed 17/03/2013)

Menteri Negara Pekerjaan umum. Keputusan Menteri No.10/KPTS/2000 tentang


ketentuan persyaratan teknis pengamanan terhadap bahaya kebakaran pada
bangunan gedung dan lingkungan. Jakarta, 2000

Menteri Negara Pekerjaan Umum. Keputusan Menteri No.11/ KPTS/2000 tentang


ketentuan teknis manajemen penanggulangan kebakaran diperkotaan,
Jakarta,2000.

National Fire Protection Association. 1995. NFPA 101, Life Safety Codes. USA:
National Fire Protection Association

New Zealand fire service. 2010. Emergency incident statistic 2010-2011. Diunduh dari
http://www.fire.org.nz/about-Us/facts-and-figures/documents/stats-09-10.pdf.
(accesed 02/032013)

Nugroho, sutopo purwo. 2010. Karakteristik bencana gagal teknologi di Indonesia.


Jurnal dialog penanggulangan bencana vol.1 No.1 diunduh dari
http://www.bnpb.go.id/userfiles/file/jurnal/jurnal%202/04-
%20karakteristik%20bencana%20gagal%20teknologi%20di%20indonesia.pdf.
(accesed 5/03/2013)

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.26/PRT/M/2008 Tentang Persyaratan Teknis


Sistem Proteksi Kebakaran Pada Bangunan Gedung Dan Lingkungan. Jakarta,
2008

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.20/PRT/M/2009 Tentang Pedoman teknis


manajemen proteksi kebakaran di perkotaan. Jakarta, 2008

Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per 04/Men/1980 tentang syarat-syarat


pemasangan dan pemeliharaan APAR. Jakarta. 1980.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja NO. Per 02/Men/1983 tentang Instalasi Alarm
Kebakaran Otomatik. Jakarta. 1983.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per 04/Men/1988 tentang Berlakunya SNI-225-
1987 (PUIL 1987) di Tempat Kerja. Jakarta. 1988.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia No. Per.05/Men/1996. Tentang


Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja. Departemen Tenaga
Kerja Dan Transmigrasi Republik Indonesia.

Peraturan Daerah DKI Jakarta No.3 tahun 1992 tentang Penanggulangan Bahaya
Kebakaran Dalam Wilayah DKI Jakarta. Jakarta. 1992.

Praptono Kartoatmodjo. Teknik pemadaman kebakaran II. Jakarta : PT. Bina Aman
Santosa. 1989.

Prapto Kartoatmodjo. Pencegahan Dan Penanggulangan Kebakaran Pada Bangunan-


Bangunan. Jakarta : PT. Bina Aman Santosa. 1989

Ramli, Soehatman. 2010. Petunjuk praktis manajemen kebakaran (fire management).


Jakarta: Dian Rakyat

Rohmah. 2012. Kebakaran di Jakarta .


http://megapolitan.kompas.com/read/2012/12/28/02232122/selama.2012.kebakar
an.di.jakarta

Sanjaya, Farrah aldilla. 2008. Gambaran Sarana Proteksi Kebakaran di PT. Astra
International Tbk-Nissan Diesel Sales Operation tahun 2008. UIN. Jakarta

Sikich, Geary.W, All Hazard Crisis Management Planing. Indiana. USA.1996

Soedharto , Gatot. Pencegahan Dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran, Jakarta.

Suma’mur, PK. 1981. Keselamatan kerja dan pencegahan kecelakaan. PT. Toko Gunug
Agung. Jakarta. Hal 51-106.
Tabel kesesuaian Organisasi Proteksi Kebakaran di Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan (FKIK) dengan Permen PU No.20/PRT/M/2009

No Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Sesuai/tidak Kondisi Aktual


No.20/PRT/M/2009 sesuai
1 Pengelola bangunan gedung membentuk Tidak sesuai Tidak terdapat Tim
tim penanggulangan kebakaran penanggulangan
kebakaran
2 Setiap unit bangunan gedung memiliki Tidak sesuai Tidak terdapat tim
tim penanggulangan kebakaran masing- penanggulangan
masing kebakaran disetiap
gedung
3 Terdapat penanggung jawab yang Tidak sesuai Tidak terdapat struktur
membawahi seluruh pimpinan tim tim penanggulangan
penanggulangan kebakaran setiap unit kebakaran
bangunan gedung
4 Terdapat coordinator tim Tidak sesuai Tidak terdapat struktur
penanggulangan kebakaran unit tim penanggulangan
bangunan yang membawahi kepala kebakaran
bagian teknik pemeliharaan dan kepala
bagian keamanan
5 Terdapat kepala bagian teknik Tidak sesuai Tidak terdapat struktur
pemeliharaan pada struktur organisasi tim penanggulangan
tim penanggulang kebakaran kebakaran
6 Terdapat kepala bagian keamanan pada Tidak sesuai Tidak terdapat struktur
struktur organisasi tim penanggulangan tim penanggulangan
kebakaran kebakaran
7 Terdapat operator komunikasi Tidak sesuai Tidak terdapat
operator komunikasi
8 Kepala bagian teknik pemeliharaan Tidak sesuai Tidak terdapat struktur
membawahi operator listrik dan genset tim damkar
NO Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Sesuai/tidak Kondisi Aktual
No.20/PRT/M/2009 sesuai
9 Kepala bagian teknik pemeliharaan Tidak sesuai Tidak terdapat struktur
membawahi operator pompa tim penanggulangan
kebakaran
10 Kepala bagian keamanan membawahi Tidak sesuai Tidak terdapat struktur
tim pemadam api tim penanggulangan
kebakaran
11 Kepala bagian keamanan membawahi Tidak sesuai Tidak terdapat struktur
tim pemadam api tim penanggulangan
kebakaran
12 Terdapat tim penyelamat kebakaran Tidak sesuai Tidak terdapat tim
penyelamat kebakaran
Tabel kesesuaian prosedur tanggap darurat kebakaran di Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan (FKIK) dengan Permen PU No.20/PRT/M/2009

No Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Sesuai/tidak Kondisi Aktual


No.20/PRT/M/2009 sesuai
1 Terdapat tim perencanaan pengamanan Tidak sesuai Tidak terdapat tim
kebakaran perencanaan
pengamanan
kebakaran
2 Terdapat rencana pemeliharaan sistem Tidak sesuai Tidak terdapat rencana
proteksi kebakaran dalam rencana pemeliharaan
pengamanan kebakaran
3 Terdapat rencana ketatagrahaan yang baik Tidak sesuai Tidak terdapat rencana
(good housekeeping plan) dalam rencana ketatagrahaan
pengamanan kebakaran
4 Terdapat rencana tindakan darurat Tidak sesuai Tidak terdapat rencana
kebakaran (fire emergency plan) dalam tindakan darurat
rencana pengamanan kebakaran kebakaran

5 Terdapat prosedur inspeksi, uji coba, dan Tidak sesuai Tidak terdapat
pemeliharaan sistem proteksi kebakaran. prosedur inspeksi, uji
coba, dan
pemeliharaan
6 Terdapat jadual inspeksi, uji coba, dan Tidak sesuai Tidak terdapat jadual
pemeliharaan setiap sistem proteksi inspeksi, uji coba, dan
kebakaran pemeliharaan setiap
sistem proteksi
kebakaran
7 Terdapat prosedur tatagraha dan Tidak sesuai Tidak terdapat
pemberian izin terhadap pekerjaan yang prosedur tatagraha dan
menggunakan panas (hot work) pemberian izin
No Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Sesuai/tidak Kondisi Aktual
No.20/PRT/M/2009 sesuai
8 Perencanaan tindakan darurat kebakaran Tidak sesuai Tidak ada perencanaan
menjelaskan dengan rinci tentang tindakan darurat
rangkaian tindakan (prosedur) yang harus
dilakakukan oleh penanggung jawab dan
pengguna bangunan dalam setiap keadaan
darurat
9 Perencanaan tindakan darurat kebakaran Tidak sesuai Tidak ada perencanaan
memuat informasi tentang daftar panggil tindakan darurat
keadaan darurat (emergency call) dari
semua personil yang harus dilibatkan
dalam merespon keadaan darurat setiap
waktu
10 Perencanaan tindakan darurat kebakaran Tidak sesuai Tidak ada perencanaan
memuat informasi tentang denah lantai tindakan darurat
yang berisi:
a) Alarm kebakaran dan titik
panggil manual
b) Jalan keluar
c) Rute evakuasi
11 Evakuasi rencana pengamanan terhadap Tidak sesuai Tidak ada aturan
kebakaran melibatkan seluruh tingkatan tentang evakuasi
manajemen korporat terhadap kebakaran
12 Diadakan pelatihan tanggap darurat bagi Tidak sesuai Tidak ada pelatihan
mahasiswa tanggap darurat bagi
mahasiswa
13 Pelatihan mahasiswa diarahkan pada Tidak sesuai Tidak ada pelatihan
peran dan tanggung jawab individu tanggap darurat bagi
mahasiswa
14 Pelatihan mahasiswa diarahkan pada Tidak sesuai Tidak ada pelatihan
informasi tentang ancaman, bahaya dan tanggap darurat bagi
tindakan protektif mahasiswa
No Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Sesuai/tidak Kondisi Aktual
No.20/PRT/M/2009 sesuai
15 Pelatihan mahasiswa diarahkan kepada Tidak sesuai Tidak ada pelatihan
prosedur pemberitahuaan, peringatan dan tanggap darurat bagi
komunikasi mahasiswa
16 Pelatihan mahasiswa diarahkan kepada Tidak sesuai Tidak ada pelatihan
prosedur tanggap darurat tanggap darurat bagi
mahasiswa
17 Pelatihan mahasiswa diarahkan kepada Tidak sesuai Tidak ada pelatihan
prosedur evakuasi, penampungan dan tanggap darurat bagi
akuntabilitas mahasiswa
18 Pelatihan mahasiswa diarahkan kepada Tidak sesuai Tidak ada pelatihan
pemberitahuan lokasi tempat peralatan tanggap darurat bagi
yang biasa digunakan dalam keadaan mahasiswa
darurat dan penggunaannya
19 Pelatihan mahasiswa diarahkan kepada Tidak sesuai Tidak ada pelatihan
prosedur penghentian darurat tanggap darurat bagi
peralatan(emergency shutdown prosedur) mahasiswa
20 Rencana pengamanan kebakaran Tidak sesuai Tidak ada kebijakan
dievaluaasi dan dikaji sedikitnya sekali pengkajian terhadap
dalam setahun rencana pengamanan
kebakaran

21 Dilakukan audit sistem proteksi Tidak sesuai Tidak ada audit sistem
kebakaran yang terdiri dari audit proteksi kebakaran
keselamatan sekilas, audit awal, dan audit
lengkap

22 Audit keselamatan sekilas dilakukan Tidak sesuai Tidak ada audit sistem
setiap enam bulan sekali oleh para proteksi kebakaran
operator/teknisi yang berpengalamaan.
No Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Sesuai/tidak Kondisi Aktual
No.20/PRT/M/2009 sesuai
23 audit awal dilakukan setiap satu tahun Tidak sesuai Tidak ada audit sistem
sekali proteksi kebakaran
24 Audit lengkap dilakukan setiap lima Tidak sesuai Tidak ada audit sistem
tahun sekali oleh konsultan ahli yang proteksi kebakaran
ditunjuk
25 Dilakukan sosialisasi pentingnya proteksi Tidak sesuai Tidak ada sosialisasi
kebakaran. pentingnya proteksi
kebakaran
Tabel kesesuain sumber daya manusia di FKIK dengan Permen PU No.20/PRT/M/2009

No Permen PU No.20/PRT/M/2009 Sesuai/tidak Kondisi Aktual


sesuai
1 Sumber daya manusia dalam Tidak sesuai Belum adanya Tim
manajemen penanggulangan untuk penanggulangan
kebakaran mempunyai dasar bahaya kebakaran,
pengetahuan, pengalaman, dan sehingga kompetensi ini
keahlian dibidang pengamanan tidak tercapai
kebakaran
2 Sumber daya manusia dalam Tidak sesuai Tidak adanya tim
manajemen penanggulangan penanggulangan
kebakaran mempunyai dasar kebakaran menyebabkan
pengetahuan, pengalaman, dan tidak dilaksakannya
keahlian dibidang penyelamatan training tentang
darurat penyelamatan darurat
3 Diadakan pelatihan dan Tidak sesuai Tidak pernah dilakukan
peningkatan kemampuan secara pelatihan
berkala bagi sumber daya manusia penanggulangan
yang berada dalam manajemen kebakaran.
penanggulangan kebakaran
Tabel kesesuaianAPAR di FKIK dengan permen PU No. 26/PRT/M/2009

No Permen PU Sesuai/tidak Kondisi Aktual


No.26/PRT/M/2009 sesuai
1 Tersedia Alat Pemadam Api Sesuai Tersedia Alat
Ringan Pemadam Api Ringan
2 Terdapat klasifikasi APAR yang Sesuai Terdapat klasifikasi
terdiri dari huruf yang APAR yang terdiri
menunjukkan kelas api dimana dari huruf yang
alat pemadam api terbukti menunjukkan kelas
efektif api dimana alat
pemadam api terbukti
efektif
3 APAR diletakkan ditempat yang Sesuai APAR diletakkan
menyolok mata yang mana alat disetiap sudut
tersebut mudah dijangkau dan bangunan dan di jalur
siap dipakai tangga
4 APAR tampak jelas dan tidak Sesuai APAR tidak
dihalangi terhalangi dan jelas
5 APAR selain jenis APAR Sesuai APAR kokoh
beroda dipasang kokoh pada digantungannya
penggantung atau manufaktur,
atau pengikat yang terdaftar dan
disetujui untuk tujuan tersebut

6 Jarak antara APAR dan lantai ≥ Sesuai Jarak APAR dan


10 cm Lantai 40 cm
7 Instruksi pengoperasian harus Sesuai Instruksi
ditempatkan pada bagian depan pengoperasian
dari APAR dan harus terlihat diletakkan dibagian
jelas depan
Permen PU Sesuai/tidak Kondisi Aktual
No No.26/PRT/M/2009 sesuai
8 Label sistem identifikasi bahan Sesuai Label diletakkan
berbahaya, label pemeliharaan dibagian samping
enam tahun, label uji APAR
hidrostastik atau label lain harus
tidak boleh ditempatkan
dibagian depan dari APAR atau
ditempelkan pada bagian depan
APAR

9 APAR harus mempunyai label Sesuai Terdapat label yang


yang ditempelkan untuk memuat keterangan
memberikan informasi nama manufaktur dan agent
manufaktur atau nama agennya,
alamat surat dan no telefon
10 APAR diinspeksi secara manual Sesuai APAR diinspeksi
atau dimonitor secara elektronik secara manual atau
dimonitor secara
elektronik
11 APAR diinspeksi pada setiap Tidak sesuai Tidak dilakukan
interval waktu kira-kira 30 hari inspeksi
12 Arsip dari semua APAR yang Sesuai Arsip terkait APAR
diperiksa (termasuk tindakan disimpan
korektif yang dilakukan)
disimpan.
13 Dilakukan pemeliharaan Sesuai Dilakukan
terhadap APAR pada jangka pemeliharaan pada
waktu ≤ 1 tahun jangka waktu 1 tahun
Permen PU Sesuai/tidak Kondisi aktual
No No.26/PRT/M/2009 sesuai

14 Setiap APAR mempunyai kartu Sesuai Terdapat label yang


atau label yang dilekatkan menunjukkan bulan
dengan kokoh yang dan tahun
menunjukkan bulan dan tahun pemeliharaan
dilakukannya pemeliharaan
15 Pada label pemeliharaan Sesuai Terdapat identifikasi
terdapat identifikasi petugas petugas
yang melakukan pemeliharaan
Tabel kesesuaian Hidran di FKIK dengan SNI 03-3985-2000

No SNI 03-3985-2000 Sesuai/tidak Kondisi Aktual


sesuai
1 Lemari hidran hanya digunakan Sesuai Lemari hidran berisi
untuk menempatkan peralatan slang kebakaran,
kebakaran nozel, dan kran
penutup
2 Setiap lemari hidran dicat Sesuai Lemari hidran
dengan warna yang menyolok berwarna merah
mata menyolok
3 Sambungan selang dan kotak Sesuai Sambungan slang dan
hidran tidak boleh terhalang kotak hidran tidak
terhalang
4 Slang kebakaran dilekatkan dan Sesuai Slang kebakaran
siap digunakan dilekatkan dan siap
digunakan
5 Terdapat nozel Sesuai Terdapat nozel
6 Terdapat hidran halaman Sesuai Terdapat hidran
halaman
7 Hidran halaman diletakkan Sesuai Hidran halaman
disepanjang jalur akses mobil diletakkan
pemadam kebakaran disepanjang jalur
akses mobil pemadam
kebakaran
8 Jarak hidran dengan sepanjang Sesuai Jarak hidran dengan
akses mobil pemadam sepanjang akses mobil
kebakaran ≤ 50 meter dari pemadam kebakaran ≤
hidran 50 meter dari hidran
9 Hidran halaman bertekanan 3,5 Sesuai Hidran halaman
bar bertekanan 3,79 bar
Tabel kesesuaian alarm kebakaran di FKIK dengan SNI 03-3985-2000

No SNI 03-3985-2000 Sesuai/tidak Kondisi Aktual


sesuai
1 Terdapat alarm kebakaran sesuai Alarm Kebakaran
terdapat pada titik
panggil manual dan
hidran
2 Sinyal suara alarm kebakaran Tidak sesuai Suara alarm sama
berbeda dari sinyal suara yang dengan suara alarm
dipakai untuk penggunaan lain lainnya
Tabel kesesuaian sprinkler di FKIK dengan SNI 03-3989-2000

No SNI 03-3989-2000 Sesuai/tidak Tidak Sesuai


sesuai
1 Terpasang sprinkler otomatik Sesuai Terpasang sprinkler
otomatik
2 Sprinkler tidak diberi ornament, Sesuai Sprinkler tidak diberi
cat, atau diberi pelapisan ornament, cat, atau
diberi pelapisan
3 Air yang digunakan tidak Sesuai Air yang digunakan
mengandung bahan kimia yang tidak mengandung
dapat mengakibatkan korosi bahan kimia
4 Air yang digunakan tidak Sesuai Air yang digunakan
mengandung serat atau bahan tidak mengandung
lain yang dapat mengganggu serat
bekerjanya sprinkler
5 Setiap sistem sprinkler otomatis Sesuai Tersedia sisitem
harus dilengkapi dengan penyediaan air
sekurang-kurangnya satu jenis
sistem penyediaan air yang
bekerja secara otomatis,
bertekanan dan berkapasitas
cukup, serta dapat diandalkan
setiap saat
6 Sistem penyediaan air harus Sesuai Sistem penyediaan
dibawah penguasaan pemilik didalam manajemen
gedung FKIK
7 Harus disediakan sebuah Sesuai Tersedia sambungan
sambungan yang disistem sprinkler
memungkinkan petugas
pemadam kebakaran
memompakan air kedalam
sistem sprinkler
8 Jarak minimum antara dua Sesuai Jarak antar sprinkler 2
kepala sprinkler ≤ 2 m m
9 Kepala sprinkler yang terpasang Sesuai Kepala sprinkler tahan
merupakan kepala sprinkler korosi
yang tahan korosi

10 Kotak penyimpanan kepala Tidak sesuai Tidak terdapat kepala


sprinkler cadangan dan kunci sprinkler cadangan
kepala sprinkler ruangan
ditempatkan diruangan ≤ 38°C
11 Jumlah persediaan kepala Tidak sesuai Tidak terdapat kepala
sprinkler cadangan ≥36 sprinkler cadangan

12 Sprinkler cadangan sesuai baik Tidak sesuai Tidak terdapat


tipe maupun temperature rating sprinkler cadangan
dengan semua sprinkler yang
telah dipasang
13 Tersedia sebuah kunci khusus Tidak sesuai Tidak tersedia kunci
untuk sprinkler khusus
Tabel kesesuaian detektor kebakaran di FKIK dengan SNI 03-3985-2000

No SNI 03-3985-2000 Sesuai/tidak Kondisi Aktual


sesuai
1 Terdapat detector kebakaran Sesuai Terdapat detector
yang terpasang diseluruh kebakaran yang
ruangan terpasang diseluruh
ruangan
2 Setiap detector yang dipasang Sesuai Detector dapat
dapat dijangkau untuk dijangkau
pemeliharaan dan untuk
pengujian secara periodic
3 Detector diproteksi terhadap Sesuai Detector ditempatkan
kemungkinan rusak karena di tempat yang tidak
gangguan mekanis mudah terkena
gangguan mekanis
4 Dilakukan inspeksi, pengujian Tidak sesuai Tidak dilakukan
dan pemeliharaan inspeksi
5 Rekaman hasil dari semua Tidak sesuai Tidak dilakukan
inspeksi, pengujian, dan inspeksi, sehingga
pemeliharaan, harus disimpan tidak ada rekaman
untuk jangka waktu 5 tahun
untuk pengecekan oleh instansi
yang berwenang
Tabel kesesuain pintu darurat di FKIK dengan Permen PU No.26/PRT/M/2008

No Permen PU No.26/PRT/M/2008 Sesuai/tidak Kondisi Aktual


sesuai
1 Pintu pada sarana jalan keluar Sesuai Jenis pintu darurat
harus berjenis engsel sisi atau adalah jenis engsel atau
pintu ayun pintu ayun
2 Pintu dipasang dan dirancang Sesuai Pintu darurat mampu
sehingga mampu berayun dari berayun dari posisi
posisi manapun hingga mencapai manapun hingga
posisi terbuka penuh mencapai posisi
membuka penuh
3 Pintu darurat membuka kearah Sesuai Pintu darurat membuka
jalur jalan keluar kearah jalan keluar
4 Pintu darurat tidak membutuhkan Tidak sesuai Pintu darurat ada
sebuah anak kunci, alat atau beberapa yang sengaja
pengetahuan khusus atau upaya dikunci
tindakan untuk membukanya dari
dalam bangunan gedung
5 Grendel pintu darurat Sesuai Grendel pintu darurat
ditempatkan 87-120 cm diatas ditempatkan 100cm
lantai diatas lantai
6 Pintu darurat tidak dalam kondisi Sesuai Pintu darurat selalu
terbuka setiap saat dalam posisi tertutup
7 Pintu darurat menutup sendiri Tidak sesuai Pintu darurat tidak
atau menutup otomatis. menutu secara otomatis
Tabel kesesuain tangga darurat di FKIK dengan Permen PU No.26/PRT/M/2008

No Permen PU No.26/PRT/M/2008 Sesuai/tidak Kondisi Aktual


sesuai
1 Tangga kebakaran ini harus Sesuai Terdapat tanda arah
disediakan dengan tanda pengenal evakuasi menuju
khusus tangga darurat
2 Penandaan tersebut harus Tidak sesuai Tidak terdapat penanda
menunjukkan tingkat lantai tingkat lantai
3 Bordes antar tangga minimal 8 Sesuai Bordes antar tangga
dan maksimal 18 diatas 8
4 tangga kebakaran tidak dibatasi Sesuai Tangga tidak dibatasi
dengan dinding dengan dinding
5 Ruang kosong dibawah tangga Sesuai Ruang kosong dibawah
tidak untuk menyimpan barang tangga tidak digunakan
untuk menyimpan
barang
6 tidak boleh berbentuk tangga Sesuai Tangga utama tidak
spiral sebagai tangga utama berbentuk spiral
Tabel kesesuaian tanda petunjuk arah evakuasi di FKIK dengan permen PU
No.26/PRT/M/2008

No Peraturan Menteri Pekerjaan Sesuai/tidak Kondisi Aktual


Umum No. 26/M/2008 sesuai
1 Terdapat tanda petunjuk arah Sesuai Terdapat petunjuk arah
pada sarana jalan keluar jalan keluar
2 Warna petunjuk arah nyata dan Tidak sesuai Warna petunjuk jalan
kontras keluar hijau dan merah
3 Pada setiap lokasi ditempatkan Sesuai Terdapat indicator
tanda arah dengan indicator arah menuju tangga darurat

4 Tanda arah dapat dibaca pada Sesuai Tanda arah dapat dibaca
kedua mode pencahayaan normal pada kedua mode
dan darurat
5 Setiap tanda arah diilluminasi Sesuai Tanda arah diilluminasi
terus menerus
6 Tanda petunjuk arah terbaca Sesuai Tanda petunjuk arah
‘EXIT’ atau kata lain yang tepat terbaca EXIT
berukuran ≥ 10cm
7 Lebar huruf pada kata ‘EXIT’ ≥ Sesuai Lebar huruf pada kata
5 cm, kecuali huruf ‘I’ EXIT ≥ 5cm
8 Spasi minimum antara huruf Sesuai Spasi ≥ 1 cm
pada kata ‘EXIT’ ≥ 1 cm
Tabel kesesuai tempat berhimpun di FKIK dengan NFPA 101

No NFPA 101 Sesuai/tidak Kondisi Aktual


1 Tersedia tempat berhimpun Sesuai Terdapat tempat
setelah evakuasi berhimpun
2 Tersedia petunjuk tempat Tidak sesuai Terdapat petunjuk
berhimpun tempat berhimpun
meeting poin
3 Luas tempat berhimpun sesuai, Sesuai Tempat berhimpun
minimal 0,3 m/orang sangat luas.