Anda di halaman 1dari 30

BUKU PANDUAN & FORMAT PENILAIAN PRAKERIN

SMK TERPADU BHAKTI INDONESIA

A. Deskripsi Mata Ajar


Mata kuliah menguraikan tentang konsep keperawatan dasar yang, meliputi kebutuhan
bio, psiko, sosio, spiritual termasuk kebutuhan personal hygiene, eliminasi, aktifitas
istirahat dan tidur, rasa aman dan nyaman. Penerapan proses keperawatan dilaksanakan
berdasarkan kebutuhan dasar tersebut, serta menguraikan juga tentang kondisi gangguan
serta upaya untuk memenuhinya dalam penerapan asuhan keperawatan dengan
menggunakan pendekatan proses keperawatan. Asuhan keperawatan yang dipelajari pada
mata kuliah ini adalah asuhan keperawatnn pada pasien dengan gangguan kebutuhan
oksigen, cairan, nutrisi, psikososial, kasus terminal, menjelang ajat, serta perawatan luka
dan pemberian obat-obatan, Aktifitas berajar meliputi kuliah,diskusi, penugasan,
demonstrasi dan simulasi dikelas dan praktikum dilaboratorium institusi.

B. Tujuan Umum
Memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk mendemonstrasikan pelaksanaan
tindakan asuhan keperawatan pada klien yang mengalami gangguan pada pemenuhan
kebutuhan dasar.

C. Tujuan Khusus
Mahasiswa diharapkan dapat mempraktekan ketrampilan :
1. Gangguan kebutuhan oksigen (Menghitung pernapasan, Memposisikan klien fowler
dan semifowler, Mengumpulkan sputum untuk pemeriksaan, Memberikan oksigen
nasal kaul, Melatih napas dalam, Melatih batuk efektif)
2. Gangguan kebutuhan cairan (Mengukur tekanan darah, Menghitung nadi,
Pemeriksaan rumple-lead, Memberi minum peroral, Mengumpulkan urine untuk
pemeriksaan, Memasang kondom, Menghitung keseimbangan cairan, Merawat luka
infus, Mengganti cairan infus, Melepas infus, Memonitor tetesan infus, Merawat
kateter urine)
3. Gangguan kebutuhan nutrisi (Mengukur Antropometri, Menghitung indeks masa
tubuh, Memberikan makan peroral)
4. Gangguan kebutuhan eliminasi (Membantu klien eliminasi BAK/BAB diatas tempat
tidur, Memasang diapers/popok)
5. Gangguan kebutuhan aktivitas (Menerima klien baru, Memindahkan klien,
Memposisikan klien, Melatih berjalan, Memandikan klien, Merawat gigi dan mulut,
Merawat rambut)
6. Gangguan keseimbangan suhu tubuh (Mengukur suhu tubuh, Memberikan kompres)
7. Gangguan aman nyaman (Memebersihkan lingkungan klien, Backrub, Mencuci
tangan, Menggunakan APD)
8. Jenis, manfaat dan cara penggunaan alat kesehatan yang sering digunakan dalam
pelaksanaan asuhan keperawatan
9. Penyimpanan dan pemeliharaan alat (Membersihkan dan menyimpan alat, Prinsip
aseptic dan antiseptik pada penggunaan alat kesehatan).

D. Ketrampilan yang dipelajari


1. Menghitung pernapasan
2. Memberikan oksigen nasal kaul
3. Mengukur Tanda-tanda Vital
a. Mengukur tekanan darah
b. Menghitung nadi
c. Mengitung Pernapasan
d. Mengukur Suhu tubuh

4. Memberi minum peroral


5. Mengumpulkan urine untuk pemeriksaan
6. Menghitung keseimbangan cairan
7. Merawat luka infus
8. Mengganti cairan infus
9. Melepas infus
10. Memonitor tetesan infus
11. Merawat kateter urine
E. Mengukur berat badan, tinggi Tata Tertib
1. Kehadiran praktikum 100%
2. Berpakaian rapi dan sopan (tidak memakai sandal, kaos oblong, baju ketat, anting-
anting dan rambut gondrong
3. Mengenakan jas laboratorium
4. Mengganti apabila menghilangkan, merusak alat laboratorium
5. Mahasiswa menyiapkan alat sehari sebelum pelaksanaan perasat
12. Mahasiswa wajib memiliki modul praktikumbadan, lingkar lengan atas, lingkar paha
13. Membantu klien eliminasi BAK/BAB diatas tempat tidur
14. Memasang diapers/popok
15. Menerima Pasien Baru baru
16. Memindahkan klien dari tempat tidur ke kursi
17. Memindahkan klien dari tempat tidur ke tempat tidur lain
18. Memposisikan klien : posisi fowler, semi fowler, lithotomi, dorsal recumbent, sim
(miring kanan/kiri), trendelenberg, supinasi, ponasi

19. Memandikan klien diatas tempat tidur


20. Oral Hygiene: menyikat gigi, merawat mulut dan gigi pada klien yang tidak sadar
21. Merawat rambut
22. Menggunakan APD : barak Scott, sarung tangan, penutup kepala, All
23. Memberikan obat parenteral (intrakutan, subkutan, intramusculer, intravena)

F. Pelaksanaan Praktikum
Sesuai jadwal

G. Metode Evaluasi
1. Sikap dan penampilan : 10%
2. Kehadiran : 10%
3. Pretes : 10%
Ujian Praktek Intensif Pr

Tata Tertib Sekolah

1. Kehadiran praktikum 100%


2. Apabilah siswa melanggar sesuai yang diatas maka siswa harus mengikuti sbb:
a) Alpa harus satu hari : 3 hari shift
b) Ijin Satu hari : 1 hari shift
c) Sakit satu hari disertai surat keterangan dari dokter : 1 hari

3. Berpakaian rapi dan sopan (tidak memakai sandal, kaos oblong, baju ketat, anting-
anting dan rambut gondrong
4. Mengenakan jas laboratorium
5. Mengganti apabila menghilangkan, merusak alat laboratorium
6. Mahasiswa menyiapkan alat sehari sebelum pelaksanaan perasat
7. Mahasiswa wajib memiliki modul praktikum
PENGUKURAN TANDA-TANDA VITAL

1. Tekanan Darah
Darah yang mengalir dan menyurut dalam sistem arteri seperti gerakan gelombang,
menyebabkan dua tekanan darah : tekanan sistolik dan diastolik. Tekanan sistolik adalah
tekanan darah pada puncak gelombang, pada saat ventrikel kiri kontraksi. Inilah yang
pertama dicatat dalam pengukuran tekanan darah. Tekanan diastolik adalah tekananantara
dua kontraksi ventrikuler, saat jantung pada fase istirahat.

2. Denyut Nadi
Denyut nadi dapat dibedakan menjadi denyut nadi apikal dan perifer. Denyut nadi apikal
adalah denyut yang dirasakan pada daerah apeks jantung. Denyut perifer adalah denyut
yang dirasakan pada perifer tubuh seperti leher, pergelangn dan kaki. Pada klien yang
sehat, laju denyut perifer sama dengan denyut jantung. Perubahan kesehatan klien dapat
memperlemah denyut perifer dan membuatnya sulit untuk dideteksi. Sehingga pengkajian
denyut perifer merupakan suatu komponen penting dalam pengkajian kesehatan
menyeluruh. Beberapa arteri yang bisa digunakan sebagai lokasi menghitung denyut nadi
antara lain :
a. Arteri rasialis di pergelangan tangan
b. Arteri brankialis di siku bagian dalam
c. Arteri karotis di leher
d. Arteri temporalis di pelipis
e. Arteri femoralis di lipatan paha (selangkangan)
f. Arteri dorsalis di kaki
g. Arteri frontalis di Bun-ubun (bayi)

Lokasi denyut perifer yang paling umum digunakan adalah denyut radial. Palpasi denyut
radial dilakukan dengan meletakan dua atau tiga ujung jari pada pergelangan anterior
sepanjang tulang radius. Jika denyut teratur, hitunglah denyut selama 30 detik lalu hasilnya di
kali 2. Jika denyut tidak teratur, kaji denyut, perhatikan empat hal yaitu: laju, ritme, kekuatan
dan elastisitas arteri.
a. Laju denyut kurang 60 kali permenit disebut Bradikardi (dapat dijumpai pada atlet
yang sehat dan terlatih). Denyut yang melebihi 100 kali permenit disebut Takikardi,
dapat juga dijumpai pada klien sehat yang cemas atau baru selesai berolahraga
b. Ritme denyut nadi reltif konstan dan interval diantara dua denyut teratur pada orang
sehat
c. Mengkaji kekuatan denyut nadi dilakukan dengan memeriksa tekanan yang
dikeluarkan sebelum denyut dirasakan
d. Elastisitas arteri dikaji dengan melakukan palpasi sepanjang arteri radius dengan arah
dari proksimal ke distal. Arteri yang normal teraba halus, lurus dan lunak

3. Pernafasan
Kajilah laju pernafasan klien dengan menghitung jumlah nafas selama 30 detik, dan
hasilnya kalikan dengan dua. Jika pemeriksa mendeteksi ketidakteraturan atau kesulitan
bernafas, hitung nafas selama 1 menit penuh. Perhatikan : laju pernafasan pada beberapa
klien dapat meningkat jika mereka sadar bahwa nafas mereka sedang dihitung Untuk itu
tetaplah pertahankan posisi atau postur saat menghitung denyut radial pada saat
menghitung pernafasan.

4. Suhu Tubuh
Suhu tubuh merupakan indikator untuk menilai keseimbangan antara pembentukan dan
pengeluaran panas. Suhu permukaan tubuh (suhu kulit, jaringan sub kutan dan lemak)
berfluktuasi sesuai respon terhadap faktor lingkungan sehingga tidak ajeg (unreliable)
untuk pemantauan status kesehatan klien .Oleh karena itu lebih tepat mengukur suhu inti
atau jaringan tubuh bagian dalam seperti thorax dan rongga abdomen karena suhunya
relatif konstan (± 370). Sampai saat ini, suhu inti tubuh diukur biasanya dengan
termometer air raksa. Perawat lebih menyukai menggunakan termometer elektronik yang
memberikan pengukuran lebih akurat hanya dalam waktu 2-60 detik. Pengukuran suhu inti
tubuh inti dapat dilakukan dengan empat cara yaitu oral, rektal, dan aksila

Untuk pengukuran suhu tergantung suhu yang diinginkan, baik itu aksila, rektal, maupun
oral dengan prosedur asing-masing :
1) Pemeriksaan Suhu Oral
a. Jelaskan prosedur pada klien.
b. Cuci tangan
c. Gunakan sarung tangan
d. Atur posisi klien.
e. Tentukan letak bawah lidah.
f. Turunkan suhu termometer dibawah 340C – 350C.
g. Letakkan termometer di bawah lidah sejajar dengan gusi.
h. Anjurkan mulut dikatupkan selama 3 menit.
i. Angkat termaometer dan baca hasilnya.
j. Catat hasil.
k. Bersihkan termometer dengan kertas tisu.
l. Cuci dengan air sabun, desinfektan dan bilas dengan air bersih, dan keringkan.
m. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.

2) Pemeriksaan Suhu rektal


a. Jelaskan prosedur pada klien.
b. Cuci tangan
c. Gunakan sarung tangan
d. Atur posisi klien.
e. Tentukan termometer dan atur pada nilai nol lalu oleskan vaselin jelly
f. Letakkan telapak tangan pada pada sisi glutea klien dan masukkan termometer
kedalam rektal jangan sampai berubah tempatnya dan ukur suhu.
g. Setelah 3-5 menit angkat termaometer dan baca hasilnya.
h. Catat hasil.
i. Bersihkan termometer dengan kertas tisu.
j. Cuci dengan air sabun, desinfektan dan bilas dengan air bersih, dan keringkan.
k. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.

3) Pemeriksaan suhu aksila


a. Jelaskan prosedur pada klien.
b. Cuci tangan
c. Gunakan sarung tangan
d. Atur posisi klien.
e. Tentukan letak aksila dan bersihkan daerah aksila dengan menggunakan tisu.
f. Letkkan termometer pada daerah aksila dan lengan klien fleksi diatas dada.
g. Setelah 3-10 menit angkat termometer dan baca hasilnya.
h. Catat hasil.
i. Bersihkan termometer dengan kertas tisu.
j. Cuci dengan air sabun, desinfektan dan bilas dengan air bersih, dan keringkan.
k. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.

Tujuan :
Tanda-tanda vital meliputi suhu tubuh, denyut nadi, pernafasan dan tekanan darah.
Mengukur tanda-tanda vital bertujuan untuk memperoleh data dasar, mendeteksi atau
memantau perubahan klien dan memantau klien yang berisiko untuk perubahan kesehatan.

Alat dan Bahan :


1. Stetoskop
2. Tensimeter
3. Arloji (jam) atau stop-watch
4. Termometer (Aksila)
5. Kom kecil
6. Larutan sabun
7. Cairan desinfektan (Alkohol 90%)
8. Air bersih
2
Prosedur Tindakan Pengukuran TTV
NO ASPEK PENILAIAN Ya Tidak
FASE PRAINTERAKSI
1. Mengidentifikasi kebutuhan/indikasi klien
2. Mencuci tangan
3. Menyiapkan alat
FASE ORIENTASI
4. Mengucapkan salam & memperkenalkan diri
5. Menjelaskan tujuan prosedur
6. Menanyakan persetujuan klien untuk dilakukan tindakan
FASE KERJA
7. Memasang tirai/penutup
8. Mengatur posisi klien semifowler/supine
9. Mencuci tangan
10. Memakai sarung tangan
11. Membersihkan aksila yang lebih jauh dengan tissue, pasang
termometer dan letakkan tangan klien menyilang di atas dada
12. Menggulung lengan baju bagian atas pada lengan yang akan dilakukan
pengukuran tekanan darah
13. Melakukan palpasi arteri brachialis, memasang manset 2.5 cm diatas
arteri brachialis
14. Meletakkan diafragma stetoskop diatas arteri brachialis
15. Memompa manset sampai tekanan 30 mmHg diatas titik dimana
denyut tidak terdengar
16. Membuka katup dan membiarkan air raksa turun secara perlahan,
tentukan tekanan sistolik dan diastolik
17. Menghitung nadi selama satu menit penuh
18. Menghitung pernafasan selama satu menit penuh
19. Mengangkat termometer lalu membaca hasilnya
20. Mencuci termometer dengan air sabun, desinfektan dari arah pangkal
keujung termometer (reservoir), kemudian dengan air bersih dari
ujung ke pangkal
21. Mengeringkan termometer dan menurunkan suhunya
FASE TERMINASI
22. Merapikan klien dan alat
23. Melepaskan sarung tangan dan mencuci tangan
24. Mengevaluasi respon klien
25. Mengucapkan salam
TOTAL
PEMBERIAN TERAPI OKSIGEN DENGAN KANULE

Pengertian
Pemberian oksigen adalah pemberian oksigen melalui hidung dengan menggunakan
kanule nasal. Kanule nasal merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen
kontinu dengan aliran 1-6 L/mnt.
Keuntungan : Pemberian O2 stabil dengan volume tidal dan laju pernafasan teratur,
mudah memasukkan kanul disbanding kateter, klien bebas makan, bergerak, berbicara, lebih
mudah ditolerir klien dan nyaman.
Kerugian : Tidak dapat memberikan konsentrasi O2 lebih dari 44%, suplai O2
berkurang bila klien bernafas lewat mulut, mudah lepas karena kedalam kanul hanya 1 cm,
mengiritasi selaput lendir.

Tujuan
Tujuan pemberian oksigen adalah untuk mempertahankan dan memenuhi kebutuhan oksigen

Indikasi :
Klien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen (memperbaiki terjadinya hipoksemia
dan menurunkan stimulus yang dapat meningkatkan kardiak output)

Alat dan Bahan :


1. Tabung Oksigen
2. Humidifier dengan air steril di dalamnya
3. Kanule nasal
4. Pita/Plaster jika untuk memastikan kanule ditempatnya
5. Kain kasa untuk melapisi selang di atas tulang pipi

Gambar. Selang Oksigen Kanul Gambar. Humidifier

Gambar. Pemasangan Selang Oksigen Kanul


Prosedur Tindakan Pemberian Terapi Oksigen dengan Kanule
NO ASPEK PENILAIAN Ya Tidak
FASE PRAINTERAKSI
1. kebutuhan/indikasi klien
2. tangan
3. alat
FASE ORIENTASI
4. salam & memperkenalkan diri
5. tujuan prosedur tindakan
6. persetujuan klien untuk dilakukan tindakan
FASE KERJA
7. privasi
8. posisi yang nyaman (semi fowler atau semi fowler)
9. prosedur pada klien dan keluarga
10. Memastikan volume air steril dalam tabung pelembab sesuai ketentuan
11. Menghubungkanselangdarikanulanasalketabung pelembab/humidifier
12. Memeriksa apakah oksigen keluar dari kanuIa
13. Memasang kanula/outlet pada hidung klien
14. Meletakkan kanule di atas wajah klien dengan kanule/outlet masuk
hidung dan selang mengelilingi kepala atau menyelipkannya pada daun
telinga. Beberapa model mempunyai pengikat dibawah dagu.
15. Jika kanule tidak pada tempatnya, plester pada sisi wajah, selipkan kasa
di bawah selang pada tulang pipi untuk mencegah iritasi
16. Menetapkan kadar oksigen sesuai program medik.*
17. Menganjurkan klien untuk bernapas melalui hidung dengan mulut
tertutup
18. Mengkaji respon langsung klien terhadap oksigen, seperti warna
pernafasan,ketidaknyamanandansebagainya.Memberi dorongan/support
ketika diputuskan pemakaian kanule.
FASE TERMINASI
19. Merapikan klien dan alat
20. Mencuci tangan
21. Mengevaluasi respon klien
22. Mengucapkan salam
23. Mendokumentasikan prosedur dalam catatan klien: waktu pemberian,
aliran kecepatan oksigen, rute pemberian, dan respons klien
TOTAL

Catatan :
Kewaspadaan Observasi apakah:
a. Kanula tersumbat atau terlipat
b. Tabung pelembab/humidifier kurang cukup terisi air
c. Volume Oksigen mencukupi/tidak
9
MEMPOSISIKAN KLIEN

Pengertian
Memposisikan klien adalah memberikan/mengubah posisi klien sesuai dengan posisi yang
diinginkan/protap yang ada.

Tujuan
1. Memberi kenyamanan pada klien
2. Prosedural tindakan
3. Terapi/pengobatan

Macam-macam posisi :
1. Posisi Fowler
Posisi fowler adalah posisi setengah duduk atau duduk, dimana bagian kepala tempat
tidur lebih tinggi atau dinaikkan. Posisi ini dilakukan untuk mempertahankan
kenyamanan dan memfasilitasi fungsi pernapasan klien. Posisi fowler merupakan posisi
bed dimana kepala dan dada dinaikkan setinggi 45-900 tanpa fleksi lutut.

Tujuan
1) Mengurangi komplikasi akibat immobilisasi.
2) Meningkatkan rasa nyaman
3) Meningkatkan dorongan pada diafragma sehingga meningkatnya ekspansi dada dan
ventilasi paru
4) Mengurangi kemungkinan tekanan pada tubuh akibat posisi yang menetap

Indikasi
1) Pada klien yang mengalami gangguan pernapasan
2) Pada klien yang mengalami mobilisasi

Alat dan bahan :


1) Tempat tidur khusus
2) Selimut
3) Bantal kecil
4) Gulungan handuk
5) Bantalan kaki
6) Sarung tangan (bila diperlukan)
Cara kerja :
1) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
2) Cuci tangan dengan menggunakan sarung tangan bila diperlukan. Menurunkan
transmisi mikroorganisme.
3) Minta klien untuk memfleksikan lutut sebelum kepala dinaikkan. Mencegah klien
melorot kebawah pada saat kepala dianaikkan.
4) Naikkan kepala bed 450 sampai 900 sesuai kebutuhan. (semi fowler 15-450, fowler
tinggi 900)
5) Letakkan bantal kecil dibawah punggung pada kurva lumbal jika ada celah disana.
Bantal akan mencegah kurva lumbal dan mencegah terjadinya fleksi lumbal.
6) Letakkan bantal kecil dibawah kepala klien. Bantal akan menyangnya kurva cervikal
dari columna vertebra. Sebagai alternatif kepala klien dapat diletakkan diatas kasur
tanpa bantal. Terlalu banyak bantal dibawah kepala akan menyebabkan fleksi
kontraktur dari leher.
7) Letakkan bantal dibawah kaki, mulai dari lutut sampai tumit. Memberikan landasan
yang, lembut dan fleksibel, mencegah ketidaknyamanan akibat dari adanya hiper
ekstensi lutut, membantu klien supaya tidak melorot ke bawah.
8) Pastikan tidak ada pada area popliteal dan lulut dalam keadaan fleksi. Mencegah
terjadinya kerusakan pada persyarafan dan dinding vena. Fleksi lutut membantu
supaya klien tidak melorot kebawah.
9) Letakkan bantal atau gulungan handuk dibawah paha klien. Bila ekstremitas bawah
klien mengalami paralisa atau tidak mampu mengontrol ekstremitas bawah, gunakan
gulungan trokhanter selain tambahan bantal dibawah panggulnya. Mencegah
hiperekstensi dari lutut dan oklusi arteri popliteal yang disebabkan oleh tekanan dari
berat badan. Gulungan trokhanter mencegah eksternal rotasi dari pinggul.
10) Topang telapak kaki dengan menggunakan footboart. Mencegah plantar fleksi.
11) Letakkan bantal untuk menopang kedua lengan dan tangan, bila klien memiliki
kelemahan pada kedua lengan tersebut. Mencegah dislokasi bahu kebawah karena
tarikan gravitasi dari lengan yang tidak disangga, meningkatkan sirkulasi dengan
mencegah pengumpulan darah dalam vena, menurunkan edema pada lengan dan
tangan, mencegah kontraktur fleksi pergelangan tangan.
12) Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
13) Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan

2. Posisi Semi Fowler


Semi fowler adalah sikap dalam posisi setengah duduk 15-45 derajat

Tujuan
1) Mobilisasi
2) Memerikan perasaan lega pada klien sesak nafas
3) Memudahkan perawatan misalnya memberikan makan
Cara/prosedur
Sama seperti posisi fowler, hanya berbeda pada sudut pengangkatanya saja yaitu 15-450

3. Posisi Lithotomi
Posisi berbaring telentang dengan mengangkat kedua kaki dan menariknya ke atas
bagian perut. Posisi ini dilakukan untuk memeriksa genitalia pada proses persalinan, dan
memasang alat kontrasepsi.

Indikasi
1) Untuk ibu hamil
2) Untuk persalinan
3) Untuk wanita yang ingin memasang alat kontrasepsi

Alat dan Bahan


1) Tempat tidur khusus
2) Selimut

Cara Kerja
1) Klien dalam keadaan berbaring telentang, kemudian angkat kedua paha dan tarik ke
arah perut
2) Tungkai bawah membentuk sudut 90 derajat terhadap paha
3) Letakkan bagian lutut/kaki pada tempat tidur khusus untuk posisi lithotomic
4) Pasang selimut

4. Posisi Dorsal Recumbent


Pada posisi ini klien berbaring terlentang dengan kedua lutut flexi (ditarik atau
direnggangkan) diatas tempat tidur. Posisi ini dilakukan untuk merawat dan memeriksa
genetalia serta pada proses persalinan.
Tujuan
Meningkatkan kenyamanan klien, terutama dengan ketegangan punggung belakang.

Indikasi
1) Klien yang akan melakukan perawatan dan pemeriksaan genetalia
2) Untuk persalinan

Alat dan Bahan


1) Tempat tidur
2) Selimut

Cara Kerja
1) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
2) Klien dalam keadaan berbaring telentang
3) Pakaian bawah di buka
4) Tekuk lutut dan di renggangkan
5) Pasang selimut untuk menutupi area genitalia

5. Posisi Sim (Miring Kanan/Kiri)


Posisi sim adalah posisi miring ke kanan atau ke kiri, posisi ini dilakukan untuk memberi
kenyamanan dan memberikan obat melalui anus (supositoria).

Tujuan
1) Mengurangi penekanan pada tulang secrum dan trochanter mayor otot pinggang
2) Meningkatkan drainage dari mulut klien dan mencegah aspirasi
3) Memasukkan obat supositoria
4) Mencegah dekubitus

Indikasi
1) Untuk klien yang akan di huknah
2) Untuk klien yang akan diberikan obat melalui anus
31
Alat dan Bahan
1) Tempat tidur khusus
2) Selimut

Prosedur Kerja
1) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
2) Klien dalam keadaan berbaring, kemudian miringkan ke kiri dengan posisi badan
setengan telungkup dan kaki kiri lurus lutut. Paha kanan ditekuk diarahkan ke dada.
3) Tangan kiri diatas kepala atau dibelakang punggung dan tangan kanan diatas tempat
tidur.
4) Bila klien miring ke kanan dengan posisi badan setengan telungkup dan kaki kanan
lurus, lutut dan paha kiri ditekuk diarahakan ke dada.
5) Tangan kanan diatas kepala atau dibelakang punggung dan tangan kiri diatas tempat
tidur.

6. Posisi Trendelenberg
Pada posisi ini klien berbaring di tempat tidur dengan bagian kepala lebih rendah
daripada bagian kaki. Posisi ini dilakukan untuk melancarkan peredaran darah ke otak.

Indikasi
1) Klien dengan pembedahan pada daerah perut
2) Klien shock
3) Klien hipotensi.

Alat dan Bahan


1) Tempat tidur khusus
2) Selimut

Cara Kerja
1) Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan
2) Posisikan klien berbaring telentang, kemudian angkat bantal dibawah kepala
3) Memasang balok pada kedua kaki tempat tidur, di bagian kaki klien atau menaikkan
pada bagian kaki bila ada tempat tidur yang bias diatur.
4) Merapikan klien
5) Perhatikan keadaan umum klien selama bekerja
7. Posisi Supinasi
Posisi terlentang adalah posisi dimana klien berbaring terlentang dengan kepala dan bahu
sedikit elevasi menggunakan bantal. Posisi telentang dengan klien menyandarkan
punggungnya agar dasar tubuh sama dengan kesejajaran berdiri yang baik.

Tujuan
Meningkatkan kenyamanan klien dan memfasilitasi penyembuhan terutama pada klien
pembedahan atau dalam proses anestesi tertentu, untuk mengatasi masalah yang timbul
akibat pemberian posisi pronasi yang tidak tepat.

Indikasi
1) Klien dengan tindakan post anestesi atau penbedahan tertentu
2) Klien dengan kondisi sangat lemah atau koma.

Alat dan Bahan


1) Tempat tidur
2) Bantal angin
3) Gulungan handuk
4) Footboard
5) Sarung tangan (bila diperlukan)

Prosedur Kerja
1) Cuci tangan dengan menggunakan sarung tangan bila diperlukan. Menurunkan
mikroorganisme.
2) Baringkan klien terlentang mendatar ditengah tempat tidur. Menyiapkan klien untuk
posisi yang tepat.
3) Letakkan bantal dibawah kepala, leher dan bahu klien. Mempertahankan body
alignment yang benar dan mencegah kontraktur fleksi pada vertebra cervical.
4) Letakkan bantal kecil dibawah punggung pada kurva lumbal, jika ada celah disana.
Bantal akan menyangga kurva lumbal dan mencegah terjadinya fleksi lumbal.
5) Letakkan bantal dibawah kaki mulai dari lutut sampai tumit. Memberikan landasan
yang lebar, lembut dan fleksibel, mencegah ketidaknyamanan dari adanya
hiperektensi lutut dan tekanan pada tumit.
6) Topang telapak kaki klien dengan menggunakan footboard. Mempertahankan
telapak kaki dorsofleksi, mengurangi resiko foot-droop.
7) Jika klien tidak sadar atau mengalami paralise pada ekstremitas atas, maka
elevasikan tangan dan lengan bawah (bukan lengan atas) dengan menggunakan
bantal. Posisi ini mencegah terjadinya edema dan memberikan kenyamanan. Bantal
tidak diberikan pada lengan atas karena dapat menyebabkan fleksi bahu.
8) Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
9) Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan

8. Posisi Ponasi
Posisi pronasi (posisi telungkup) adalah posisi dimana klien berbaring diatas abdomen
dengan kepala menoleh kesamping.

Tujuan
1) Memberikan ekstensi maksimal pada sendi lutut dan pinggang
2) Mencegah fleksi dan kontraktur pada pinggang dan lutut.
3) Memberikan drainase pada mulut sehingga berguna bagi klien post operasi mulut
atau tenggorokan.

Indikasi
1) Klien yang menjalani bedah mulut dan kerongkongan
2) Klien dengan pemeriksaan pada daerah bokong atau punggung.

Alat dan Bahan


1) Tempat tidur
2) Bantal angin
3) Gulungan handuk
4) Sarung tangan (bila diperlukan)

Prosedur Kerja
1) Cuci tangan dengan menggunakan sarung tangan bila diperlukan. Menurunkan
transmisi mikroorganisme.
2) Baringkan klien terlentang mendatar di tempat tidur. Menyiapkan klien untuk posisi
yang tepat.
3) Gulingkan klien dengan lengan diposisikan dekat dengan tubuhnya dengan siku
lurus dan tangan diatas pahanya. Posisikan tengkurap ditengah tempat tidur yang
datar. Memberikan posisi pada klien sehingga kelurusan tubuh dapat dipertahankan.
4) Putar kepala klien ke salah satu sisi dan sokong dengan bantal. Bila banyak drainase
dari mulut, mungkin pemberian bantal dikontra indikasikan. Menurunkan fleksi atau
hiperektensi vertebra cervical.
5) Letakkan bantal kecil dibawah abdomen pada area antara diafragma (atau payudara
pada wanita) dan illiac crest. Hal ini mengurangi tekanan pada payudara pada
beberapa klien wanita, menurunkan hiperekstensi vertebra lumbal, dan memperbaiki
pernafasan dengan menurunkan tekanan diafragma karena kasur.
6) Letakkan bantal dibawah kaki, mulai lutut sampai dengan tumit. Mengurangi plantar
fleksi, memberikan fleksi lutut sehingga memberikan kenyamanan dan mencegah
tekanan yang berlebihan pada patella.
7) Jika klien tidak sadar atau mengalami paralisa pada ekstremitas atas, maka
elevasikan tangan dan lengan bawah (bukan lengan atas) dengan menggunakan
bantal. Posisi ini akan mencegah terjadinya edema dan memberikan kenyamanan
serta mencegah tekanan yang berlebihan pada patella.
8) Jika klien tidak sadar atau mengalami paralisa pada ekstremitas atas, maka
elevasikan tangan dan lengan bawah (bukan lengan atas) dengan menggunakan
bantal. Posisi ini akan mencegah terjadinya edema dan memberikan kenyamanan.
Bantal tidak diletakkan dibawah lengan atas karena dapat menyebabkan terjadinya
fleksi bahu.
9) Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan
10) Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan
Prosedur Tindakan Memposisikan Klien
NO ASPEK PENILAIAN Ya Tidak
FASE PRAINTERAKSI
1. 1Mengidentifikasi kebutuhan/indikasi klien
2. 2Mencuci tangan
3. 3Menyiapkan alat
FASE ORIENTASI
4. 4Mengucapkan salam & memperkenalkan diri
5. 5Menjelaskan tujuan prosedur tindakan
6. 6Menanyakan persetujuan klien untuk dilakukan tindakan
FASE KERJA
7. 7Menjaga privasi (menutup sampiran)
Posisi Fowler dan Semi Fowler
8. 8Menggunakan sarung tangan bila diperlukan
9. 9Minta klien untuk memfleksikan lutut sebelum kepala dinaikkan
10. 10Naikkan kepala bed 450 sampai 900 sesuai kebutuhan (semi fowler 15-
450, fowler tinggi 900)
11. 11Letakkan bantal kecil dibawah punggung pada kurva lumbal jika ada
celah Diana
12. 12Letakkan bantal kecil dibawah kepala klien. Sebagai alternatif kepala
klien dapat diletakkan diatas kasur tanpa bantal
13. 13Letakkan bantal dibawah kaki, mulai dari lutut sampai tumit
14. Pastikan tidak ada pada area popliteal dan lulut dalam keadaan fleksi
15. Letakkan bantal atau gulungan handuk dibawah paha klien
16. Topang telapak kaki dengan menggunakan footboart
17. Letakkan bantal untuk menopang kedua lengan dan tangan, bila klien
memiliki kelemahan pada kedua lengan tersebut
Posisi Litothomi
18. Memposisikan klien dalam keadaan berbaring telentang
19. Angkat kedua paha dan tarik ke arah perut
20. Tungkai bawah membentuk sudut 90 derajat terhadap paha
21. Letakkan bagian lutut/kaki pada tempat tidur khusus untuk posisi
Lithotomic
22. Pasang selimut
Posisi Dorsal Recumbent
23. Klien dalam keadaan berbaring terlentang
24. Pakaian bawah di buka
25. Tekuk lutut dan di renggangkan
26. Pasang selimut untuk menutupi area genitalia
Posisi Sim
27. Klien dalam keadaan berbaring
28. Miringkan ke kiri dengan posisi badan setengan telungkup dan kaki kiri
lurus lutut (Bila klien miring ke kanan dengan posisi badan setengan
telungkup dan kaki kanan lurus)
29. Lutut dan paha kanan ditekuk diarahkan ke dada ( bila miring ke kanan
lutut dan paha kiri ditekuk diarahakan ke dada)
30. Tangan kiri diatas kepala atau dibelakang punggung dan tangan kanan
diatas tempat tidur (bila miring ke kanan tangan kanan diatas kepala atau
dibelakang punggung dan tangan kiri diatas tempat tidur) Posisi
Trendelenberg
31. Posisikan klien berbaring telentang
32. Angkat bantalan yang menyangga kepala klien
33. Memasang balok pada kedua kaki tempat tidur, di bagian kaki klien atau
menaikkan pada bagian kaki bila ada tempat tidur yang bias diatur Posisi
Supinasi
34. Baringkan klien terlentang mendatar ditengah tempat tidur
35. Letakkan bantal dibawah kepala, leher dan bahu klien
36. Letakkan bantal kecil dibawah punggung pada kurva lumbal, jika ada
celah Diana
37. Letakkan bantal dibawah kaki mulai dari lutut sampai tumit
38. Topang telapak kaki klien dengan menggunakan footboard
Posisi Ponasi
39. Baringkan klien terlentang mendatar di tempat tidur
40. Gulingkan klien dengan lengan diposisikan dekat dengan tubuhnya
dengan siku lurus dan tangan diatas pahanya. Posisikan tengkurap
ditengah tempat tidur yang datar
41. Putar kepala klien ke salah satu sisi dan sokong dengan bantal
42. Letakkan bantal kecil dibawah abdomen pada area antara diafragma (atau
payudara pada wanita) dan illiac crest
43. Letakkan bantal dibawah kaki, mulai lutut sampai dengan tumit
FASE TERMINASI
44. Merapikan klien dan alat
45. Mengevaluasi respon klien
46. Melakukan kontrak kegiatan selanjutnya
47. Mengucapkan salam
48. Mencuci tangan
49. Mendokumentasikan prosedur dalam catatan klien
TOTAL

35
MEMANDIKAN KLIEN DI TEMPAT TIDUR

Pengertian
Tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien yang tidak mampu mandi secara sendiri
dengan cara memandikan di tempat tidur.

Tujuan
1. Menjaga kebersihan tubuh,
2. Mengurangi infeksi akibat kulit kotor,
3. Memperlancar sistem peredaran darah
4. Menambah kenyamanan klien.

Alat dan Bahan


1. Baskom mandi dua buah, masing-masing berisi air dingin dan air hangat
2. Pakaian pengganti
3. Kain penutup
4. Handuk besar
5. Handuk kecil untuk mengeringkan badan
6. Sarung tangan pengusap/waslap
7. Handscoen bersih
8. Tempat untuk pakain kotor
9. Sampiran
10. Sabun.

Prosedur Tindakan Memandikan Klien Diatas Tempat Tidur


NO ASPEK YANG DINILAI Ya Tidak
FASE PRAINTERAKSI
1. 1Mengidentifikasi kebutuhan/indikasi klien
2. 2Mencuci tangan
3. 3Menyiapkan alat
FASE ORIENTASI
4. 4Mengucapkan salam & memperkenalkan diri
5. 5Menjelaskan tujuan prosedur tindakan
6. 6Menanyakan persetujuan klien untuk dilakukan tindakan
FASE KERJA
7. Tinggikan tempat tidur jika perlu
8. Tutup pintu dan sampiran, memakai handscoen
9. Ganti selimut dengan selimut mandi
10. Tanggalkan baju klien
11. Cuci bagian muka, telinga, leher
12. Letakkan handuk dibawah kepala klien
13. Bersihkan mata dari cantus dalam ke cantus luar menggunakan
waslap, dan tidak diberi sabun penggunaan sabun muka disesuaikan
dengan kebiasaan klien, kemudian dibilas dan dikeringkan
14. Bersihkan daun telinga menggunakan waslap dan sabun
15. Bersihkan leher menggunakan waslap dan sabun
16. Cuci lengan klien: letakkan handuk dibawah lengan klien yang jauh
dari perawat dan meninggikan lengan dengan cara memegang bagian
siku, kemudian mencuci lengan dari pergelangan tangan ke ketiak,
bilas dengan air bersih lalu dikeringkan. Ulangi lagi untuk tangan
yang lain
17. Mencuci dada dan perut klien: Miringkan klien kearah membelakangi
perawat, lalu letakkan handuk besar melintang di bawah punggung
klien. Kembalikan klien pada posisi supine turunkan selimut mandi
hingga batas atas pubis, cuci dada hingga perut menggunakan waslap
dan sabun bilas dada dan perut dengan air bersih, stlh selesai
dikeringkan.
18. Mencuci punggung : Miringkan klien membelakangi perawat, cuci
dengan sabun, bilas dan keringkan punggung sampai pantat. Massage
punggung dapat dilakukan pada tahap ini.
19. Oleskan lotion atau baby oil pada bagian-bagian penonjolan tulang.
Jika terdapat luka decubitus, oleskan antiseptik.
20. Mencuci kaki: Membuka selimut mandi 1 sisi kaki (mulai dari bagian
kaki yang terjauh dari perawat), letakkan handuk dibawah kaki yang
akan dicuci, cuci dengan sabun, bilas dan keringkan. Cuci kaki yang
satu dengan cara yang sama.
21. Mencuci genitalia : Buka selimut mandi hingga didaerah pubis, atur
klien pada posisi litotomi, cuci organ genital dengan sabun, bilas
dengan air bersih dan keringkan, kembalikan pada posisi supinasi
22. Bantu klien memakai baju bersih
FASE TERMINASI
23. Merapikan klien dan alat
24. Mengevaluasi respon klien
25. Mengucapkan salam
26. Mencuci tangan
27. Mendokumentasikan prosedur dalam catatan klien
TOTAL
MENGGANTI PAKAIAN KLIEN DIATAS TEMPAT TIDUR

Pengertian
Mengganti pakaian klien yaitu merupakan tindakan mengganti pakaian kotor klien dengan
pakaian yang bersih.

Tujuan
1. Menjaga kebersihan dan kenyamanan klien
2. Untuk meningkatkan gambaran diri & harga diri klien dengan menciptakan susana yang
bersih, rapi & nyaman
3. Untuk mengontrol penyebab mikroorganisme

Alat dan Bahan


1. Pakaian bersih

Prosedur Tindakan Mengganti Pakaian Klien di atas Tempat Tidur


NO ASPEK YANG DINILAI Ya Tidak
FASE PRAINTERAKSI
1. 1Mengidentifikasi kebutuhan/indikasi klien
2. 2Mencuci tangan
3. 3Menyiapkan alat
FASE ORIENTASI
4. 4Mengucapkan salam & memperkenalkan diri
5. 5Menjelaskan tujuan prosedur tindakan
6. 6Menanyakan persetujuan klien untuk dilakukan tindakan
FASE KERJA
7. 7Menjaga privasi (menutup sampiran)
8. 8Mengenakan sarung tangan bersih
9. Membuka pakaian klien yang kotor dengan melepas salah satu lengan
baju
10. 10Memiringkan klien ke arah lengan yang belum terlepas
11. Menggulung baju yang kotor hingga bawah punggung klien
12. 9Memasukkan salah satu lengan baju ke tangan klien dan gulung sisi
yang lain hingga punggung klien
13. 13Miringkan klien ke arah sebaliknya (arah lengan yang telah
terpasang pakaian bersih)
14. 14Lepaskan dan angkat pakaian yang kotor, lalu letakan di tempat
linen kotor
15. 15Masukkan sisi lengan pakaian yang bersih
16. 17Mengembalikan klien ke posisi yang nyaman
17. 18Merapikan pakaian klien
FASE TERMINASI
18. 22Merapikan klien dan alat
19. 23Mengevaluasi respon klien
20. 24Mengucapkan salam
21. 25Mencuci tangan
TOTAL
ORAL HYGIENE
Mulut yang sehat meliputi kebersihanya, kenyamanan dan kelembabanya. Perawatan mulut
bertujuan untuk mencegah mulut dari penyakit dan kerusakan gigi. Klien yang dirawat lama
dirumah sakit jarang sekali mendapat perawatan kebersihan mulut yang optimal. Idealnya
klien merawt mulut secara rutin setiap kali sesudah makan, mandi dan bangun tidur.

Namun tidak semua klien mampu untuk melakukan perawatan mulut pada saat dia berada
dirumah sakit, sehingga ada klien yang harus dibantu dalam perawatan mulut. Perawatan
mulut diperlukan pada klien yang mendapatkan oksigenasi dan Naso Gastrik Tube (NGT),
demikian juga pada klien yang lama tidak menggunakan mulut. Pada klien yang tidak mampu
melakukan perawatan mulut secara mandiri inilah yang harus amendapatkan bantuan dari
perawat untuk merawat mulutnya. Pada kondisi ini klien menggunakan mulut untuk bernafas
dan tidak memakan apapun dengan mulutnya, sehingga bakteri, sisa-sisa dari mukosa dan
sekresi lain berkumpul dimulut, gigi dan bibir.

Tujuan
1. Menjaga kebersihan mulut
2. Meningkatkan nafsu makan

Alat dan Bahan


1. Tongue spatel
2. NaCl 0,9%
3. Kom kecil
4. Lidi kapas
5. Boraks Gliserin
6. Sikat gigi dan pasta gigi
7. Bengkok besar
8. Perlak
9. Gelas berisi air
10. Deppers
11. Alas perlak
12. Pinset/klem
13. Tisu
14. Handscoen bersih

Prosedur Tindakan Oral Hygiene (Memelihara Kebersihan Mulut)


NO ASPEK YANG DINILAI Ya Tidak
FASE PRAINTERAKSI
1. Mengidentifikasi kebutuhan/indikasi klien
2. Mencuci tangan
3. Menyiapkan alat
FASE ORIENTASI
4. Mengucapkan salam & memperkenalkan diri
5. Menjelaskan tujuan prosedur tindakan
6. Menanyakan persetujuan klien untuk dilakukan tindakan
FASE KERJA
7. Menjaga privasi (menutup sampiran), memakai handscoen
8. Atur posisi klien dengan cara miringkan kepala klien dan bentangkan
perlak serta alasnya dibawah dagu
9. Letakkan bengkok besar didekat pipi klien
10. Berikan air kepada klien untuk berkumur, tampung air bekas kumur-
kumur pada bengkok.
11. Berikan sikat gigi yang telah dibubuhi pasta gigi secukupnya. Berikan
kesempatan kepada klien untuk menyikat giginya sampai bersih. Jika
telah selesai berikan air bersih untuk berkumur kembali.
12. Letakkan sikat gigi pada gelas yang telah kosong (lanjutkan ke langkah
no 17) Pada klien dengan penurunan kesadaran (tidak mampu menggosok
gigi) :
13. Buka mulut klien, tangan kiri menekan lidah klien dengan tongue
spatel/sudip lidah, kemudian tangan kanan menjepit deppers dengan
pinset , lalu dicelupkan kedalam NaCl dan diperas sedikit
14. Bersihkan rongga mulut seluruhnya sampai bersih mulai dari langit-
langit, gigi bagian dalam ke bagian luar, gusi, lidah
15. Apabila klien mengalami stomatitis oleskan boraks gliserin pada bagian
yang sakit dengan menggunakan lidi kapas
16. Bersihkan bibir dengan deppers yang telah dicelupkan kedalam NaCl
17. Oleskan boraks gliserin secukupnya pada bibir menggunakan lidi kapas
18. Angkat bengkok yang berisi, deppers, lidi kapas, tisu dan pinset yang
kotor
19. Bersihkan daerah sekitar mulut dengan tisu
20. Angkat perlak dan alasnya dan letakkan di rak
FASE TERMINASI
21. Merapikan klien dan alat
22. Mengevaluasi respon klien
23. Mengucapkan salam
24. Mencuci tangan
25. Mendokumentasikan prosedur dalam catatan klien
TOTAL
MERAWAT RAMBUT
Pengertian
Merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien yang tidak mampu memenuhi
kebutuhan untuk mencuci dan menyisir rambut.

Tujuan
1. Menghilangkan mikroorganisme kulit kepala
2. Menambah rasa nyaman
3. Membasmi kutu atau ketombe yang melekat pada kulit
4. Memperlancar sistem peredaran darah di bawah kulit

Alat dan Bahan


1. Handuk
2. Perlak atau pengalas
3. Baskom berisi air hangat
4. Shampo atau sabun dalam tempatnya
5. Kasa dan kapas
6. Sisir
7. Bengkok
8. Gayung
9. Ember kosong

Prosedur Tindakan Perawatan Rambut


NILAI
NO ASPEK YANG DINILAI
0 1 2
FASE PRAINTERAKSI
1. Mengidentifikasi kebutuhan/indikasi klien
2. Mencuci tangan
3. Menyiapkan alat
FASE ORIENTASI
4. Mengucapkan salam & memperkenalkan diri
5. Menjelaskan tujuan prosedur tindakan
6. Menanyakan persetujuan klien untuk dilakukan tindakan
FASE KERJA
7. Menjaga privasi klien
8. Memakai celemek dan handscoen
9. Menyiapkan klien: Menutup badan klien dengan selimut mandi
10. Mengatur posisi klien secara diagonal menyilang tempat tidur
11. Mengangkat bantal dari kepala klien
12. Meletakkan perlak dan handuk dibawah kepala klien
13. Memasang plastik talang dari bawah kepala, kesamping bawah menuju
ember. Meletakkan ember diatas kain pel
14. Menutup dada dengan handuk sampai leher
15. Menutup mata klien dengan kassa lembap dan lubang telinga dengan kapas
16. Menuangkan air pelan-pelan dari pangkal sampai ke seluruh rambut
17. Memberi shampo sampai ke seluruh rambut
18. Memijit kulit kepala dan menggosok sampai berbusa
19. Memutar kepala pada sisi yang lain agar semua kulit kepala bersih, dan
menambah air bila perlu
20. Menuangkan air hangat secukupnya diatas rambut untuk membilas rambut
dan kulit kepala
21. Menggesek rambut diatara jari-jari untuk emamstikan bahwa rambut benar-
benar bersih
22. Memperhatikan kelelahan klien
23. Melepas talang
24. Mengeringkan rambut, telinga, leher dan wajah dengan handuk
25. Membungkus kepala dengan handuk
26. Jika handuk dibawah kepala klien basah/lembab, diganti dengan yang kering
27. Melepas perlak dan selimut mandi
28. Membantu klien duduk jika memungkinkan
29. Menyisir rambut, mengeringkan rambut dengan alat pengering rambut (Jika
ada)
30. Memasang kembali selimut dan membantu klien ke posisi yang nyaman
FASE TERMINASI
31. Merapikan klien dan alat
32. Evaluasi respon klien terhadap tindakan
33. Cuci tangan
34. Dokumentasikan intervensi yang telah dilakukan, termasuk shampo, keadaan
rambut, kulit kepala serta reaksi klien
TOTAL
MEMBANTU PASIEN BAK

Pengertian
Membantu pasien BAK yaitu membantu pasien buang air kecil menggunakan urinal yang
diterapkan pada pasien yang tidak mampu buang air kecil sendiri di kamar mandi.

Tujuan
1. Untuk pemantauan pola eliminasi
2. Pengambilan urine untuk pemeriksaan

Alat dan Bahan


1. Urinal
2. Pengalas
3. Tisu
4. Botol berisi air hangat

Prosedur Tindakan Membantu Pasien BAK di Atas Tempat Tidur


NILAI
NO ASPEK YANG DINILAI
0 1 2
FASE PRAINTERAKSI
1. Mengidentifikasi kebutuhan/indikasi klien
2. Mencuci tangan
3. Menyiapkan alat
FASE ORIENTASI
4. Mengucapkan salam & memperkenalkan diri
5. Menjelaskan tujuan prosedur tindakan
6. Menanyakan persetujuan klien untuk dilakukan tindakan
FASE KERJA
7. Menjaga privasi klien
8. Memakai sarung tangan
9. Memasang pelak dibawah bokong klien
10. Melepaskan pakaian bawah klien
11. Mengatur isi pasien (dosa rekumben), tergantung kenyamanan klien
12. Memasang urinal di bawah gluteal/pinggul atau di antara kedua paha
13. Menganjurkan klien untuk berkemih
14. Menyiram genitalia (penis) klien dengan air hangat
15. Mengeringkan genitalia dengan tisu
16. Memasang kembali pakaian bawah klien
FASE TERMINASI
17. Merapikan klien dan alat
18. Mengevaluasi respon klien terhadap tindakan
19. Memberi salam
20. Mencuci tangan
21. Mendokumentasikan hasil kegiatan
TOTAL
MEMBANTU PASIEN BAB
Pengertian
Membantu pasien BAB yaitu membantu pasien buang air besar menggunakan pispot yang
dilakukan pada pasien yang tidak mampu buang air besar di toilet. Pasien dibantu
menggunakan pispot (penampung untuk buang air besar di tempat tidur.

Tujuan
1. Untuk pemantauan pola eliminasi
2. Pemeriksaan diagnostik

Alat dan Bahan


1. Pispot (2 buah)
2. Pengalas
3. Tisu
4. Air bersih dalam tempatnya (botol)
5. Sarung tangan

Prosedur Tindakan Membantu Pasien BAB di Atas Tempat Tidur


NILAI
NO ASPEK YANG DINILAI
0 1 2
FASE PRAINTERAKSI
1. Mengidentifikasi kebutuhan/indikasi klien
2. Mencuci tangan
3. Menyiapkan alat
FASE ORIENTASI
4. Mengucapkan salam & memperkenalkan diri
5. Menjelaskan tujuan prosedur tindakan
6. Menanyakan persetujuan klien untuk dilakukan tindakan
FASE KERJA
7. Menjaga privasi klien
8. Memakai sarung tangan
9. Memasang pelak dibawah bokong klien
10. Melepaskan pakaian bawah klien
11. Menempatkan pispot di antara pengalas dan gluteal dengan posisi lubang
pispot tepat di bawah rektum
12. Menanyakan kepada klien apakah sudah meras nyaman, bila belum atur
kembali posisi pispot sesuai dengan kebutuhan
13. Menganjurkan klien untuk BAB pada pispot yang disediakan
14. Setelah selesai, singkirkan pispot yang kotor dan ganti dengan pispo yang
bersih.
15. Menyiram anus klien dengan air hingga bersih dan dikeringkan dengan tisu
FASE TERMINASI
16. Merapikan klien dan alat
17. Mengevaluasi respon klien terhadap tindakan
18. Memberi salam
19. Mencuci tangan
20. Mendokumentasikan hasil kegiatan
TOTAL
KEBERSIHAN LINGKUNGAN KLIEN

Pengertian
Kebersihan lingkungan klien adalah keberkahan area sekitar klien berada, baik itu di
dalam ruangan maupun di luar ruangan. Kebersihan yang dimaksud di sini yaitu yang berada
disekitar klien atau yang ditempati klien, seperti tempat tidur klien.
Kebersihan lingkungan klien, khususnya tempat tidur akan memberikan kenyamanan bagi
klien. Jika klien merasa nyaman, klien akan dapat tidur tanpa gangguan sehingga membantu
dalam proses penyembuhan. Tempat tidur klien perlu dirancang untuk memenuhi keamanan,
kenyamanan, dan kemampuan adaptasi untuk mengubah posisi.
Tujuan
1. Membersihkan lingkungan klien
2. Memberikan kenyamanan bagi klien

Alat dan Bahan


1. Tempat tidur, kasur dan bantal
2. Laken
3. Stik laken
4. Sarung bantal
5. Pelak
6. Selimut

Ada beberapa prosedur tindakan yang harus diketahui terkait dengan kebersihan
lingkungan dan kenyamanan klien, yaitu :
1. Menyiapkan tempat tidur
2. Merapikan tempat tidur dengan klien di atasnya
3. Mengganti alat tenun dengan klien di atasnya

1. Cara Menyiapkan Tempat Tidur


Prosedur Kerja :
a. Cuci tangan
b. Pasang laken dengan garis lipatan tepat di tengah kasur/tempat tidur
c. Atur sisi kedua samping laken atau tempat tidur dengan sudur 90 0,
kemudianmasukkan ke bawah kasur. Jika laken tidak sesuai ukurannya maka
masukkanlah bagian kepala lebih banyak dari pada bagian kaki.
d. Pasang pelak, kemudian stik laken di tengah tempat tidur, masukkan kedua
ujungnya di bawah kasur
e. Lipat selimut menjadi empat secara terbalik, lalu pasang di bagian bawah.
Masukkan ujung selimut ke bawah kasur
f. Pasang sarung bantal, letakan dengan rapi di bagian atas tempat tidur
g. Cuci tangan

2. Cara Merapikan Tempat Tidur dengan Klien di Atasnya


Prosedur Kerja :
a. Cuci tangan
b. Rapikan tempat tidur sebelah kanan dengan cara sebagai berikut :
1) Miringkan klien ke kiri
2) Gulung stik laken hingga batas punggung klien
3) Bersihkan dan rapikan laken
4) Pasang kembali dengan rapih stik laken
c.Rapikan tempat tidur sebelah kiri dengan cara sebagai berikut :
1) Miringkan klien ke kanan
2) Rapikan dengan cara yang sama seperti sebelah kanan
3) Susun bantal dan baringkan klien pada posisi yang tepat
4) Pasang selimut
5) Cuci tangan

3. Cara Mengganti Alat Tenun dengan Klien di Atasnya


Prosedur Kerja :
a. Cuci tangan
b. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan kepada klien
c. Tutup sampiran
d. Mengenakan sarung tangan bersih
e. Pindahkan barang-barang/perlengkapan milik klien dari atas tempat tidur jika ada
f. Bantu klien memiringkan tubuh (menjauhi perawat)
g. Gulung laken, pelak, dan stik laken ke arah punggung klien dengan bagian kotor
berada dalam gulungan
h. Pasang alat tenun bersih setengah bagian dengan sisanya tergulung di belakang
punggung klien
i. Bantu klien untuk membalik posisi ke hadapan perawat dengan melewati gulungan
alat tenun tersebut (melewati gulungan linen bersih)
j. Angkat semua gulungan kotor, lalu letakan dalam ember atau tempat linen kotor
k. Buka gulungan alat tenun yang bersih dan rapikan (masukan sisa-sisa linen pada
sisi tempat tidur ke bawah kasur
l. Kembalikan klien ke posisi yang nyaman Pasang selimut bersih
m. Lepaskan bantal dengan hati-hati sambil menyangga kepala klien
n. Lepaskan sarung bantal yang kotor dan ganti dengan yang bersih Susun bantal dan
bantu klien tidur dengan posisi yang nyaman
o. Rapikan peralatan dan cuci tangan

Prinsip-Prinsip Mengganti Alat Tenun

(1) Menggunakan prinsip asepsis dengan menjaga alat tenun lama agar jauh dari badan
perawat ( tidak menempel pada seragam)
(2) Jangan mengibaskan alat tenun lama, karena hal ini dapat menyebarkan
mikroorganisme lewat udara
(3) Linen (alat tenun) lama jangan diletakan dilantai untuk menjegah penyebaran infeksi
(4) Ketika mengganti alat tenun, gunakan prinsip body mechanics
(5) Jaga privasi, kenyamanan dan keamanan dari klien
(6) Bila klien kurang kooperatif gunakan rails