Anda di halaman 1dari 28

BAGIAN PSIKIATRI REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN AGUSTUS 2017


UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

REFERAT: RETARDASI MENTAL (F70-F79)

DISUSUN OLEH:
Erza Alifianda
111 2016 2167

RESIDEN PEMBIMBING:
dr. Ahyani Muslimin

SUPERVISOR PEMBIMBING:
dr. Nurindah Kadir, M.Kes, Sp.KJ

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2017
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa:

Nama : Erza Alifianda

Stambuk : 111 2016 2167

Judul Referat : Retardasi Mental (F70-F79)

Laporan Kasus : Skizofrenia Paranoid (F20.0)

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu

Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia Makassar.

Makassar, Agustus 2017

Supervisor Pembimbing, Residen Pembimbing,

dr. Nurindah Kadir, M.Kes, Sp.KJ dr. Ahyani Muslimin

2
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Retardasi mental (RM) adalah suatu gangguan heterogen yang terdiri
dari fungsi intelektual yang dibawah rata-rata dan gangguan dalam
keterampilan adaptif yang ditemukan sebelum orang berusia 18 tahun.
Gangguan dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, dan psikososial.
Selama dekade terakhir, semakin dikenal faktor biologis, termasuk kelainan
kromosom kecil, sindrom genetika dan intoksikasi timbal subklinis dan
berbagai pemaparan toksin pranatal pada orang dengan retardasi mental
ringan (sampai 85 persen dari populasi retardasi mental).1
Insidensi retardasi mental sulit dihitung karena kesulitan mengenali
onsetnya. Prevalensi retardasi mental pada suatu waktu diperkirakan adalah
kira-kira 1 persen dari populasi. Pada banyak kasus, retardasi mungkin laten
selama waktu yang panjang sebelum keterbatasan seseorang diketahui atau
karena adaptasi baik. Prevalensi untuk RM ringan 0,37-0,59% sedangkan
untuk RM sedang, berat dan sangat berat adalah 0,3-0,4%.2 Insidensi
tertinggi adalah pada anak usia sekolah, dengan puncak usia 10 sampai 14
tahun. Retardasi mental 1,5 kali lebih sering pada laki-laki dibandingkan
dengan wanita. Pada lanjut usia, prevalensi lebih sedikit karena mereka
dengan retardasi mental yang berat atau sangat berat memiliki angka
mortalitas yang tinggi yang disebabkan dari penyulit gangguan fisik yang
menyertai.1
Retardasi mental merupakan masalah dunia dengan implikasi yang
besar terutama bagi negara berkembang. Diperkirakan angka kejadian
retardasi mental berat sekitar 0,3% dari seluruh populasi dan hampir 3%
mempunyai IQ dibawah 70. Sebagai sumber daya manusia tentunya mereka
tidak bisa dimanfaatkan karena 0,1% dari anak-anak ini memerlukan
perawatan, bimbingan serta pengawasan sepanjang hidupnya.3 Sehingga
retardasi mental masih merupakan dilema, sumber kecemasan bagi keluarga

3
dan masyarakat. Demikian pula dengan diagnosis, pengobatan dan
pencegahannya masih merupakan masalah yang tidak kecil.1,2

Anak tumbuh dan berkembang di bawah asuhan orang tua untuk


beradaptasi dengan lingkungan, mengenal dunia sekitarnya, dan pola
pergaulan hidup di lingkungan. Anak dengan retardasi mental memerlukan
dukungan keluarga, teru- tama pola asuh orang tua yang akan sangat
memengaruhi perilaku, pembentukan kepriba- dian dewasa, dan harga diri
(self-esteem) anak di kemudian hari. Terdapat empat macam pola asuh
12
orang tua, yaitu:

a. Tipe A atau Authoritative (demokratis). Pola asuh yang


menganjurkan orang tua memberikan kebebasan kepada anak untuk
memilih dan melakukan suatu tindakan de- ngan batas dan tanggung jawab
yang jelas, sehingga dapat membantu mereka untuk mengaktualisasikan diri
sebagai makhluk sosial yang dapat bekerja dan bermasyarakat dengan baik.

b. Tipe B atau Authoritarian (otoriter). Pola asuh yang mana orang


tua cenderung memberikan perintah, tidak memberi kesempatan anak untuk
bertanya, dan tidak memberi penjelasan mengenai tugas yang diberikan
kepada anak. 


c. Tipe C atau Permissive (permisif). Pola asuh yang sangat longgar


dan terlalu bebas, orang tua tidak mengharuskan anaknya untuk mematuhi
aturan-aturan sosial, serta memberi kebebasan penuh kepada anak untuk
memilih kegiatan dan mengambil keputusan tanpa kontrol dari orang tua. 


d. Tipe D, pola asuh yang tidak konsisten dan campuran. Pola asuh
ini terbagi menjadi dua, yaitu pola asuh neglectful dan indulgent. Pola asuh
neglectful, yang mana orang tua sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak.
Pola asuh indulgent, yang mana orang tua sangat terlibat dalam kehidupan

4
anak, na- mun hanya memberikan kontrol dan tuntutan yang sangat minim.
Pada tipe ini anak cen- derung kurang memiliki kompetensi sosial dan
kontrol diri. 


Adapun keempat pola asuh di atas dibagi men- jadi dua kategori,
yaitu pola asuh yang diharap- kan (non-exposure) umumnya menerapkan
pola asuh tipe A (demokratis); sedangkan pola asuh yang tidak diharapkan
(exposure) cenderung menerapkan pola asuh tipe B (otoriter), tipe C
(permisif), dan tipe D (campuran).

Tekanan fisik dan mental yang dialami orang tua ketika merawat
anaknya yang menderita retar- dasi mental ringan dapat menyebabkan
mereka menutup diri dari pekerjaan dan kesehariannya. Oleh karena itu,
penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pola asuh serta psikopatologi
(gejala kejiwaan) orang tua dalam mengasuh anaknya yang menderita
retardasi mental ringan.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. DEFINISI
Keterbelakangan mental atau lazim disebut retardasi mental (RM)
adalah suatu keadaan dengan intelegensia yang kurang (subnormal) sejak
masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak-anak). Biasanya
terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi
gejala utama ialah intelegensi yang terbelakang. Retardasi mental disebut
juga oligofrenia (oligo = kurang atau sedikit danfren = jiwa) atau tuna
mental. Keadaan tersebut ditandai dengan fungsi kecerdasan umum yang
berada dibawah rata-rata dan disertai dengan berkurangnya kemampuan
untuk menyesuaikan diri atau berprilaku adaptif.2
Menurut Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa edisi ke-
III (PPDGJ III) adalah suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti
atau tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh hendaya keterampilan
selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada semua tingkat
intelegensia yaitu kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial.3
Menurut American Association Mental Retardation (AAMR) 2002
adalah suatu disabilitas yang ditandai dengan suatu limitasi/keterbatasan
yang bermakna baik dalam fungsi intelektual maupun prilaku adaptif yang
diekspresikan dalam keterampilan konseptual, social dan praktis.
The American Association on Intellectual and Developmental
Disabilities (AAIDD) mendefinisikan retardasi mental sebagai keterbatasan
dalam fungsi intelektual dan perilaku adaptif. 5

2. ETIOLOGI
a. Kelainan kromosom
i. Sindrom Down

6
Sindrom down adalah kondisi yang disebabkan oleh adanya
kelebihan kromosom pada pasangan ke-21 dan ditandai dengan
retardasi mental serta anomali fisik yang beragam.1 Untuk seorang
ibu usia pertengahan (> 32 tahun), resiko memiliki anak dengan
sindroma Down adalah kira-kira 1 dalam 100 kelahiran. Retardasi
mental adalah cirri yang menumpang pada sindrom Down. Sebagian
besar pasien berada dlam kelompok retardasi sedang sampai berat.,
hanya sebagian kecil yang memiliki IQ di atas 50. Diagnosis
sindrom Down relative mudah pada anak yang lebih besar tetapi
seringkali sukar pada neonates. Tanda yang paling penting pada
neonates adalah hipotonia umum, fisura palpebra yang oblik, kulit
leher yang berlebihan, tengkorak yang kecil dan datar, tulang pipi
yang tinggi, dan lidah yang menonjol. Dapat dilihat juga tangan tebal
dan lebar, dengan garis transversal tunggal pada telapak tangan, dan
jari kelingking pendek dan melengkung ke dalam.

(google.com)
Gambar 1. Karakteristik Sindroma Down

ii. Sindrom Fragile X


Sindrom fragile X merupakan bentuk retardasi mental yang
diwariskan dan disebabkan oleh mutasi gen pada kromosom X.1

7
Diyakini terjadi pada kira-kira 1 tiap 1000 kelahiran laki-laki dan
2000 kelahiran perempuan. Derajat retardasi mental terentang dari
ringan sampai berat. Ciri perilakunya adalah tingginya angka
gangguan defisit atensi/hiperaktivitas, ganguan belajar, dan
gangguan perkembangan pervasive seperti gangguan akuisitik.
Defisit dalam fungsi bahasa adalah pembicaraan yang cepat dan
perseveratif dengan kelainan dalam mengkombinasikan kata-kata
membentuk frasa dan kalimat.

iii. Sindrom Prader-Willi


Kelianan ini akibat dari penghilangan kecil pada kromosom
15, biasanya terjadi secara sporadic. Prevalensinya kurang dari 1
dalam 10000. Orang dengan sindrom ini menunjukkan perilaku
makan yang kompulsif dan sering kali obesitas, retardasi mental,
hipogonadisme, perawakan pendek, hipotonia, dan tangan dan kaki
yang kecil. Anak –anak dengan sindrom ini seringkali memiliki
perilaku oposisional yang menyimpang.1

(google.com)
Gambar 2. Karakteristik Sindrom Prader-Willi

iv. Sindrom tangisan kucing (cat-cry [cri-du-chat] syndrome)

8
Anak-anak dengan sindrom tangisa kucing kehilangan bagian
dari kromosom 5. Mereka mengalami retardasi mental berat dan
menunjukkan banyak stigmata yang seringkali disertai dengan
penyimpangan kromosom, seperti mikrosefali, telinga yang letaknya
rendah, fisura palpebra oblik, hipertelorisme, dan mikrognatia.
Tangisan seperti kucing yang khas (disebabkan oleh kelainan laring)
yang memberikan nama sindrom secara bertahap berubah dan
menghilang dengan bertambahnya usia.1

b. Faktor Prenatal
Beberapa kasus retardasi mental disebabkan oleh infeksi dan
penyalahgunaan obat selama ibu mengandung. Infeksi yang biasanya
terjadi adalah Rubella, yang dapat menyebabkan kerusakan otak.
Penyakit ibu juga dapat menyebabkan retardasi mental, seperti sifilis,
cytomegalovirus, dan herpes genital. Obat-obatan yang digunakan ibu
selama kehamilan dapat mempengaruhi bayi melalui plasenta. Sebagian
dapat menyebabkan cacat fisik dan retardasi mental yang parah. Anak-
anak yang ibunya minum alkohol selama kehamilan sering lahir dengan
sindrom fetal dan merupakan kasus paling nyata sebagai penyebab
retardasi mental. Komplikasi kelahiran, seperti kekurangan oksigen atau
cedera kepala, infeksi otak, seperti encephalitis dan meningitis, terkena
racun, seperti cat yang mengandung timah sangat berpotensi
menyebabkan retardasi mental.

c. Faktor Perinatal
Beberapa bukti menunjukkan bahwa bayi premature dan bayi
dengan berat badan lahir rendah berada dalam resiko tinggi mengalami
gangguan neurologis dan intelektual yang bermanifestasi selama tahun-
tahun sekolahnya. Bayi yang menderita pendarahan intrakranial atau

9
tanda-tanda iskemia serebral terutama rentan terhadap kelainan kognitif.
Derajat gangguan perkembangan saraf biasanya berhubungan dengan
beratnya perdarahan intrakranial.

d. Gangguan Didapat pada Masa Anak-anak


Kadang-kadang status perkembangan seorang anak dapat berubah
secara dramatik akibat penyakit atau trauma fisik tertentu. Secara
retrospektif, kadang-kadang sulit untuk memastikan gambaran
kemajuan perkembangan anak secara lengkap sebelum terjadinya
gangguan, tetapi efek merugikan pada perkembangan atau keterampilan
anak tampak setelah gangguan. Beberapa penyebab yang didapat pada
masa anak-anak antara lain :
 Infeksi.
Infeksi yang paling serius mempengaruhi interitas serebral adalah
ensefalitis dan meningitis.
 Trauma kepala
Penyebab cedera kepala yang terkenal pada anak-anak yag
menyebabkan kecacatan mental, termasuk kejang, adalah
kecelakaan kendaraan bermotor. Tetapi, lebih banyak cedera kepala
yang disebabkan oleh kecelakaan di rumah tangga, seperti terjatuh
dari tangga. Penyiksaan anak juga suatu penyebab cedera kepala.

e. Faktor Lingkungan dan Sosiokultural


Suatu bentuk retardasi mental dipengaruhi oleh lingkungan
dengan sosioekonomi rendah. Faktor-faktor psikososial, seperti
lingkungan rumah atau sosial yang miskin, yaitu yang memberi
stimulasi intelektual, penelantaran atau kekerasan dari orang tua, dapat
menjadi penyebab atau memberi kontribusi dalam perkembangan
retardasi mental pada anak-anak. TIdak ada penyebab biologis yang
telah dikenali pada kasus tersebut.

10
Anak-anak dalam keluarga yag miskin dan kekurangan secara
sosiokultural adalah sasaran dari kondisi merugikan perkembangan dan
secara potensial patogenik. Lingkungan prenatal diganggu oleh
perawatan medis yang buruk dan gizi maternal yang buruk. Kehamilan
remaja sering disertai dengan penyulit obstetric, prematuritas, dan berat
badan lahir rendah. Perawatan medis setelah kelahiran buruk, malnutrisi,
pemaparan dengan zat toksin tertentu seperti timbale dan trauma fisik
adalah serig terjadi. Ketidakstabilan keluarga, sering pindah, dan
pengasuh yang berganti-ganti tetapi tidak adekuat sering terjadi. Selain
itu, ibu dalam keluarga tersebut sering berpendidikan rendah dan tidak
siap memberikan stimulasi yang sesuai bagi anak-anaknya.
Masalah lain yang tidak terpecahkan adalah pengaruh ganguan
mental parental yang parah. Gangguan tersebut dapat menganggu
pengasuhan dan stimulasi anak dan aspek lain dari lingkungan mereka,
dengan demikian menempatkan anak pada resiko perkembangan. Anak-
anak dari orang tua dengan gagguan mood dan skizofrenia diketahui
berada dalam resiko mengalami gangguan tersebut dan gangguan yang
berhubungan. Penelitian terakhrir menunjukkan tingginya prevalensi
gangguan keterampialan motorik dan gangguan perkembangan lainnya
tetapi tidak selalu disertai retardasi mental.

3. DIAGNOSIS
Menurut pedoman diagnostik PPDGJ III intelegensia bukan
merupakan karakteristik yang berdiri sendiri, melainkan harus dinilai
berdasarkan sejumlah besar ketrampilan khusus yang berbeda. Meskipun
ada kecenderungan umum bahwa semua ketrampilan ini akan berkembang
ke tingkat yang serupa pada setiap individu, tetapi ada ketimpangan
(discrepancy) yang luas, terutama pada penyandang RM. Orang yang
demikian mungkin memperlihatkan hendaya berat dalam satu bidang

11
tertentu (misalnya bahasa) atau mungkin mempunyai suatu area ketrampilan
tertentu yang lebih tinggi (misalnya tugas visuospasial sederhana) pada RM
berat. Keadaan ini akan menimbulkan kesluitan dalam menentukan kriteria
diagnostik dimana seorang penyandang RM harus diklasifikasikan.
Penilaian tingkat kecerdasan harus berdasarkan semua informasi yang
tersedia, termasuk temuan klinis, perilaku adaptif (yang dinilai dalam kaitan
dengan latar belakang budayanya), dan hasil tes psikometrik.
Untuk diagnosis pasti, harus ada penurunan tingkat kecerdasan yang
meningkatkan berkurangnya kemampuan adaptasi terhadap tuntutan dari
lingkungan sosial biasa sehari – hari. Gangguan jiwa dan fisik yang
menyertai retardasi mental mempunyai pengaruh besar pada gambaran
klinis dan penggunaan dari semua keterampilannya. Oleh karena itu
kategori diagnostik yang dipilih harus berdasarkan penilaian kemampuan
global dan bukan atas suatu hendaya atau ketrampilan khusus. Tingkat IQ
yang ditetapkan hanya merupakan petunjuk dan seharusnya tidak ditetapkan
secara kaku dalam memandang keabsahan permasalahan lintas budaya.3
Kriteria diagnostik untuk RM menurut DSM IV – TR adalah sebagai berikut
:
1. Fungsi intelektual dibawah rata – rata (IQ 70 atau kurang) yang telah
diperiksa secara individual.

2. Kekurangan atau gangguan dalam perilaku adaptif (sama dengan


kekurangan individu untuk memenuhi tuntutan standar perilaku sesuai
dengan usianya dari lingkungan budayanya) dalam sedikitnya 2 hal,
yaitu komunikasi, self-care, kehidupan rumah-tangga, ketrampilan
sosial/interpersonal, menggunakan sarana komunitas, mengarahkan diri
sendiri, ketrampilan akademis fungsional, pekerjaan, waktu senggang,
kesehatan dan keamanan

3. Awitan terjadi sebelum usia 18 tahun


Kode diagnostik dan derajat RM menurut DSM IV – TR adalah sebagai
berikut :4

12
317 Retardasi mental ringan, IQ 50 – 55 sampai 70
318 Retardasi mental sedang, IQ 35 – 40 sampai 50 – 55
318.1 Retardasi mental berat, IQ 20 – 25 sampai 35 – 40
318.2 Retardasi mental sangat berat, IQ dibawah 20 atau 25

Diagnosis retardasi mental membutuhkan pula tes intelijensia individual


dan tes kemampuan fungsi adaptif. The Bayley Scales of Infant Development
(BSID-II) merupakan skala penilaian intelejensi yang paling umum dipakai, skala
ini menilai kemampuan bahasa, kemampuan pemecahan masalah, perilaku,
kemampuam motorik halus, dan kemampuan motorik kasar pada anak usia 1
bulan – 3 tahun, dari skala tersebut akan diperoleh hasil berupa mental
developmental index (MDI) dan skor psikomotor developmental index (PDI,
sebuah pengukuran kompetensi motorik).13 Tes ini dapat membedakan anak
dengan retardasi mental berat dan anak normal, namun tes ini tidak terlalu
bermanfaat untuk membedakan anak normal dengan anak yang mengalami
retardasi mental ringan. Tes psikologis yang paling umum digunakan untuk anak
> 3 tahun adalah Wechsler scales. The Wechsler Preschool and Primary Scale of
Intelligence-revised (WPPSI-III) digunakan untuk anak usia mental 2,5 – 7,3
tahun. The Wechlser Intelligence Scale for Children-4th edition (WISC-IV)
digunakan untuk anak dengan usia mental diatas 6 tahun. Kedua skala tersebut
terdiri dari beberapa subtest dalam area verbal dan keterampilan. Meskipun anak
dengan retardasi mental memiliki skor dibawah rata-rata pada seluruh subscale
scores, namun kadang mereka memiliki skor rata-rata pada satu atau lebih area
keterampilan.13
Tes perilaku adaptif yang paling umum digunakan adalah Vineland
Adaptive Behavior Scale yang melibatkan wawancara dengan orangtua atau guru
dan menilai perilaku adaptif dalam 4 domain utama: komunikasi, keterampilan
hidup sehari-hari, sosialisasi dan kemampuan motorik. Bisanya terdapat hubungan
antara skor intelijensia dan skor adaptif. Kemampuan adaptif dasar (makan,
berpakaian, hygiene) lebih mudah diperbaiki dibandingkan dengan skor IQ.13

13
Fungsi intelektual dapat diketahui dengan tes fungsi kecerdasan
dan hasilnya dinyatakan sebagai suatu taraf kecerdasan atau IQ.Dapat
dihitung dengan :4

IQ = MA/CA x 100%
MA = Mental Age, umur mental yang didapat dari hasil tes
CA = Chronological Age, umur yang didapat berdasarkan perhitungan
tanggal lahir

Diagnosis retardasi mental dapat dibuat setelah riwayat penyakit,


pemeriksaan intelektual yang baku, dan pengukuran fungsi adaptif
menyatakan bahwa perilaku anak sekarang adalah secara bermakna di
bawah tingkat yang diharapakan. Diagnosis sendiri tidak menyebutkan
penyebab ataupun prognosisnya. Suatu riwayat psikiatrik adalah
berguna untuk mendapatkan gambaran longitudinal perkembangan
fungsi anak, dan pemeriksaan stigma fisik, kelainan neurologis, dan tes
laboratorium dapat digunakan untuk memastikan penyebab dan
prognosis.6
a. Riwayat Penyakit
Riwayat penyakit paling sering didapatkan dari orang tua
atau pengasuh, dengan perhatian khusus pada kehamilan ibu,
persalinan, dan kelahiran. Terdapat riwayat keluarga retardasi
mental, hubungan darah pada orangtua, dan gangguan herediter.
Juga dapat menilai latar belakang sosiokultural pasien, iklim
emosional di rumah, dan fungsi intelektual pasien.1

b. Wawancara Psikiatrik

14
Dua faktor yang sangat penting saat jika mewawancarai
pasien adalah sikap pewawancara dan cara berkomunikasi dengan
pasien. Kemampuan verbal pasien, termasuk bahasa reseptif dan
ekspresif, harus dinilai sesegera mungkin dengan mengobservasi
komunikasi verbal dan nonverbal antara pengasuh dan pasien dan
dari riwayat penyakit. Sangat membantu jika memeriksa pasien
dan pengasuhnya bersama-sama. Jika pasien menggunakan
bahasa isyarat, pengasuh dapat sebagai penerjemah.
Orang terertardasi mengalami kegagalan seumur hidup
dalam berbagai bidang, dan mereka mungkin mengalami
kecemasan sebelum menjumpai pewawancara. Pewawancara dan
pengasuh harus berusaha untuk memberikan pasien suatu
penjelasan yang jelas, suportif, dan konkret tentang proses
diagnostik, terutama pasein dengan bahasa reseptif yang
memadai. Dukungan dan pujian harus diberikan dalam bahasa
yang sesuai dengan usia dan pengertian pasien.
Pengendalian pasien terhadap pola motilitas harus
dipastikan, dan bukti klinis adanya distraktibilitas dan distorsi
dalam persepsi dan daya ingat harus diperiksa. Pemakaian bahasa,
tes realitas, dan kemampuan menggali dan pengalaman penting
untuk dicatat. Sifat dan maturitas pertahanan pasien
(menundukkan diri sendiri menggunakan penghindaran, represi,
penyangkalan, introyeksi, da isolasi) harus diamati. Potensi
sublimasi, toleransi frustasi, dan pengendalian impuls (terutama
terhadap dorongan motorik, agresif, dan seksual) harus dinilai.
Juga penting adalah citra diri dan peranannya dalam
perkembangan keyakinan diri, dan juga penilaian keuletan,
ketetapan hati, keingintahuan, dan kemauan menggali hal yang
tidak diketahui.6,7
Pada umumnya pemeriksaan psikiatrik pasien yang
teretardasi harus mengungkapkan bagaimana pasien mengalami

15
stadium perkembangan. Dalam hal kegagalan atau regresi, juga
dapat mengembangkan sifat kepribadian yang memungkinkan
perencanaan logis dari penatalaksanaan dan pendekatan
pengobatan. 7

c. Pemeriksaan Fisik
Berbagai bagian tubuh memiliki karakteristik tertentu yang
sering ditemukan pada orang retardasi mental dan memiliki
penyebab prenatal. Sebagai contoh, konfigurasi dan ukuran
kepala memberikan petunjuk terhadap berbagai kondisi seperti
mikrosefali, hidrosefalus, dan sindroma Down. Wajah pasien
mungkin memiliki beberapa stigmata retardasi mental yang
sangat mempermudah diagnosis. Tanda fasial tersebut adalah
hipertelorisme, tulang hidung yang datar, alis mata yang
menonjol, lipatan epikantus, opasitas kornea, perubahan retina
yag letaknya rendah atau bentuknya aneh, lidah yang menonjol,
dan gangguan gigi geligi. Lingkaran kepala harus diukur sebagai
bagian dari pemeriksaan klinis. Warna dan tekstur kulit dan
rambut, palatum dengan lengkung yang tinggi, ukuran kelenjar
tiroid, dan ukuran anak dan batang tubuh dan ekstremitasnya
adalah bidang lain yang digali.,7

d. Pemeriksaan Neurologis
Gangguan sensorik sering terjadi pada orang retardasi
mental, sebagai contoh sampai 10 persen orang retardasi mental
mengalami gangguan pendengaran empat kali lebih tinggi
dibandingkan orang normal. Gangguan sensorik dapat berupa
gangguan pendengaran dan gangguan visual. Gangguan
pendengaran terentang dari ketulian kortikal sampai deficit
pendengaran yang ringan. Gangguan visual dapat terentang dari

16
kebutaan sampai gangguan konsep ruang, pengenalan rancangan,
dan konsep citra tubuh.
Gangguan dalam bidang motorik dimanifestasikan oleh
kelainan pada tonus otot (spastisitas atau hipotonia), refleks
(hiperefleksia), dan gerakan involunter (koreoatetosis). Derajat
kecacatan lebih kecil ditemukan dalam kelambanan dan
koordinasi yang buruk.

e. Tes Laboratorium
Tes laboratorium yang digunakan pada kasus retardasi
mental adalah pemeriksaan urin dan darah untuk mencari
gangguan metabolik. Penentuan kariotipe dalam laboratorium
genetic diindikasikan bila dicurigai adanya gangguan kromosom.
Amniosintesis, di mana sejumlah kecil cairan amniotic
diambil dari ruang amnion secara transabdominal antara usia
kehamilan 14 dan 16 minggu, telah berguna dalam diagnosis
berbagai kelainan kromosom bayi, terutama Sindroma Down.
Amniosintesis dianjukan untuk semua wanita hamil berusia di
atas 35 tahun.8
Pengambilan sampel vili korionik (CVS; chorionic villi
sampling) adalah teknik skrining yang baru untuk menentukan
kelainan janin. Cara ini dilakukan pada usia kehamilan 8 dan 10
minggu. Hasilnya tersedia dalam waktu singkat (beberapa jam
atau hari), dan jika kehamilan adalah abnormal, keputusan untuk
mengakhiri kehamilan dapat dilakukan dalam trimester pertama.
Prosedur memiliki resiko keguguran antara 2 dan 5 persen. 1,8

f. Pemeriksaan Psikologis
Tes psikologis, dilakukan oleh ahli psikologis yang berpengalaman,
adalah bagian standar dari pemeriksaan untuk retardasi mental.
Pemeriksaan psikologis dilakukan untuk menilai kemampuan

17
perceptual, motorik, linguistik, dan kognititf. Informasi tentang factor
motivasional, emosional, dan interpersonal juga penting. 1,8

4. KLASIFIKASI
Menurut PPDGJ-III retardasi mental dibagi menjadi :5, 9, 11
F70 Retardasi Mental Ringan
Populasi terbelakang mental berada pada kategori agak
terbelakang. Skor kecerdasan intelektual mereka (IQ) berkisar antara 50-
75, dan mereka sering memperoleh keterampilan akademis sampai tingkat
6 kelas. Mereka bisa menjadi cukup mandiri dan dalam beberapa kasus
hidup mandiri, dengan dukungan masyarakat dan sosial. Pemahaman dan
penggunaan bahasa cenderung terlambat pada berbagai tingkat, dan
masalah kemampuan berbicara yang mempengaruhi perkembangan
kemandirian dapat menetap sampai dewasa. Walaupun mengalami
keterlambatan dalam kemampuan bahasa, tapi sebagian besar dapat
mencapai kemampuan bicara untuk keperluan sehari – hari. Kebanyakan
juga dapat mandiri penuh dalam merawat diri sendiri dan mencapai
ketrampilan praktis dan ketrampilan rumah tangga, walaupun tingkat
perkembangannya agak lambat daripada normal.
Etiologi organik hanya dapat diidentifikasikan pada sebagian kecil
penderita. Keadaan lain yang menyertai, seperti autisme, gangguan
perkembangan lain, epilepsi, gangguan tingkah laku, atau disabilitas fisik
dapat ditemukan dalam berbagai proporsi. Bila terdapat gangguan
demikian, maka harus diberi kode diagnosis tersendiri.

F71 Retardasi Mental Sedang


Sekitar 10% populasi terbelakang mental dianggap sebagai
retardasi moderat. Individu terbelakang sedang memiliki skor kecerdasan
(IQ) mulai dari 35-55. Mereka bisa melaksanakan pekerjaan dan tugas
perawatan mandiri dengan pengawasan moderat. Mereka biasanya
memperoleh keterampilan komunikasi di masa kanak-kanak dan mampu

18
hidup dan berfungsi dengan baik di dalam masyarakat atau di rumah
kelompok yang diawasi. Umumnya ada profil kesenjangan dari
kemampuan, beberapa dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dalam
ketrampilan visuo-spasial daripada tugas – tugas yang tergantung pada
bahasa, sedangkan yang lainnya sangat canggung namun dapat
mengadakan interaksi sosial dan percakapan sederhana.
Tingkat perkembangan bahasa bervariasi, ada yang dapat
mengikuti percakapan sederhana, sedangkan yang lain hanya dapat
berkomunikasi seadanya untuk kebutuhan dasar mereka.
Suatu etiologi organik dapat diidentifikasikan pada kebanyakan
penyandang retardasi mental sedang. Autisme masa kanak atau gangguan
perkembangan pervasif lainnya terdapat pada sebagian kecil kasus, dan
mempunyai pengaruh besar pada gambaran klinis dan tipe
penatalaksanaan yang dibutuhkan. Epilepsi, disabilitas neurologik dan
fisik juga lazim ditemukan meskipun kebanyakan penyandang retardasi
mental sedang mampu berjalan tanpa bantuan.
Kadang – kadang didapatkan gangguan jiwa lain, tetapi karena
tingkat perkembangan bahasanya yang terbatas sehingga sulit menegakkan
diagnosis dan harus tergantung dari informasi yang diperoleh dari orang
lain yang mengenalnya. Setiap gangguan penyerta harus diberi kode
diagnosis tersendiri.

F72 Retardasi Mental Berat


IQ biasanya berada dalam rentang 20 – 34. Pada umumnya mirip
dengan retardasi mental sedang dalam hal :
- Gambaran klinis
- Terdapatnya etiologi organik
- Kondisi yang menyertainya
- Tingkat prestasi yang rendah
- Kebanyakan penyandang retardasi mental berat menderita
gangguan motorik yang mencolok atau defisit lain yang

19
menyertainya, menunjukkan adanya kerusakan atau penyimpangan
perkembangan yang bermakna secara klinis dari susunan saraf
pusat.

F73 Retardasi Mental Sangat Berat


Hanya 1-2% populasi terbelakang mental tergolong sangat
terbelakang. Individu yang terbelakang terbelakang memiliki skor
kecerdasan intelektual (IQ) di bawah 20-25. Mereka mungkin bisa
mengembangkan keterampilan perawatan diri dan komunikasi dasar yang
sesuai untuk dukungan dan pelatihan. Keterlambatan mereka sering
disebabkan oleh kelainan neurologis yang menyertainya. Kebutuhan yang
sangat terbelakang membutuhkan tingkat struktur dan pengawasan yang
tinggi. American Association on Mental Retardation (AAMR) telah
mengembangkan sistem klasifikasi diagnostik lain yang diterima secara
luas untuk keterbelakangan mental. Sistem klasifikasi AAMR berfokus
pada kemampuan individu yang terbelakang dan bukan pada keterbatasan.
Kategori menggambarkan tingkat dukungan yang dibutuhkan. Ada
dukungan intermiten, dukungan terbatas, dukungan penuh, dan dukungan
yang meluas.
Pemahaman dan penggunaan bahasa terbatas, hanya mengerti
perintah dasar dan mengajukan permohonan sederhana. Keterampilan
visuospasial yang paling dasar dan sederhana tentang memilih dan
mencocokkan mungkin dapat dicapainya dan dengan pengawasan dan
petunjuk yang tepat, penderita mungkin dapat sedikit ikut melakukan
tugas praktis dan rumah tangga.
Suatu etiologi organik dapat diidentifikasi pada sebagian besar
kasus. Biasanya ada disabilitas neurologik dan fisik lain yang berat yang
mempengaruhi mobilitas, seperti epilepsi dan hendaya daya lihat dan daya
dengar. Sering ada gangguan perkembangan pervasif dalam bentuk sangat
berat khususnya autisme yang tidak khas (atypical autism) terutam pada
penderita yang dapat bergerak.

20
F78 Retardasi Mental Lainnya
Kategori ini hanya digunakan bila penilaian dari tingkat retardasi
mental dengan memakai prosedur biasa sangat sulit atau tidak mungkin
dilakukan karena adanya gangguan sensorik atau fisik, misalnya buta,
bisu, tuli dan penderita yang perilakunya terganggu berat atau fisiknya
tidak mampu.

F79 Retardasi Mental YTT


Jelas terdapat retardasi mental, tetapi tidak ada informasi yang
cukup untuk menggolongkannya dalam salah satu kategori tersebut diatas.

5. PENATALAKSANAAN
Retardasi mental berhubungan dengan beberapa gangguan
heterogen dan berbagai faktor psikososial. Terapi yang terbaik untuk
retardasi mental adalah pencegahan primer, sekunder, dan tersier.1
A. Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan tindakan yang dilakukan
untuk menghilangkan atau menurunkan kondisi yang
menyebabkan perkembangan gangguan yang disertai dengan
retardasi mental. Tindakan tersebut termasuk :
 Pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan dan
kesadaran masyarakat umum tentang retardasi mental.
 Usaha terus-menerus dari professional bidang kesehatan
untuk menjaga dan memperbaharui kebijaksanaan
kesehatan masyarakat.
 Aturan untuk memberikan pelayanan kesehatan maternal
dan anak yang optimal.
 Eradikasi gangguan yang diketahui disertai dengan
kerusakan system saraf pusat.

21
Konseling keluarga dan genetik membantu menurunkan
insidensi retardasi mental dalam keluarga dengan riwayat
gangguan genetic yang berhubungan dengan retardasi mental.
Untuk anak-anak dan ibu dengan sosioekonomi rendah, pelayanan
medis prenatal dan perinatal yang sesuai dan berbagai program
pelengakap dan bantuan pelayanan social dapat menolong
menekan komplikasi medis dan psikososial.

B. Pencegahan Sekunder dan Tersier


Jika suatu gangguan yang disertai dengan retardasi mental
telah dikenali, gangguan harus diobati untuk mempersingkat
perjalanan penyakit (pencegahan sekunder) dan untuk menekan
sekuele atau kecacatan yang terjadi setelahnya (pencegahan
tersier).
Gangguan metabolik dan endokrin herediter, seperti PKU
dan hipotiroidisme, dapat diobati dalam stadium awal dengan
control diet atau dengan terapi penggantian hormone.
Anak retardasi mental seringkali memiliki kesulitan
emosional dan perilaku yang memerlukan terapi psikiatrik.
Kemampuan kognitif dan sosial yang terbatas yang dimiliki anak
tersebut memerlukan modalitas terapi psikiatrik yang dimodifikasi
berdasarkan tingkat kecerdasan anak.
a. Pendidikan untuk anak
Lingkungan pendidikan untuk anak-anak dengan
retardasi mental harus termasuk program yang lengkap yang
menjawab latihan keterampilan adaptif, latihan keterampilan
sosial, dan latihan kejujuran. Perhatian khusus harus
dipusatkan pada komunikasi dan usaha untuk meningkatkan
kualitas hidup. Terapi kelompok seringkali merupakan format
yang berhasil dimana anak-anak dengan retardasi mental dapat

22
belajar dan mempraktekkan situasi hidup nyata dan
mendapatkan umpan balik yang mendukung.

b. Terapi perilaku, kognitif, dan psikodinamika


Kesulitan dalam beradaptasi di antara orang retardasi
mental adalah luas dan sangat bervariasi sehingga sejumlah
intervensi sendiri atau dalam kombinasi mungkin berguna.
Terapi perilaku telah digunakan selama bertahun-tahun
untuk membentuk dan meningkatkan perilaku sosial dan untuk
mengendalikan dan menekan perilaku agresif dan destruksi
pasien. Dorongan positif untuk perilaku yang diharapkan dan
memulai hukuman (seperti mencabut hak istimewa) untuk
perilaku yang tidak diinginkan telah banyak menolong.
Terapi kognitif seperti menghilangkan keyakinan palsu
dan latihan relaksasi dengan instruksi dari diri sendiri, juga
telah dianjurkan untuk pasien retardasi mental yang mampu
mengikuti instruksi pasien.
Terapi psikodinamika telah digunakan pada pasien
retardasi mental dan keluarganya untuk menurunkan konflik
tentang harapan yang menyebabkan kecemasan, kekerasan,
dan depresi yang menetap.

c. Pendidikan keluarga
Satu bidang yang penting dalam pendidikan keluarga
dari pasien dengan retardasi mental adalah tentang cara
meningkatkan kompetensi dan harga diri sambil
mempertahnkan harapan yang realistic untuk pasien. Keluarga
seringkali merasa sulit untuk menyeimbangkan antara
mendorong kemandirian dan memberikan lingkungan yang
mengasuh dan suportif bagi anak retardasi mental, yang

23
kemungkinan mengalami suatu tingkat penolakan dan
kegagalan di luar konteks keluarga.
Orang tua mungkin mendapatkan manfaat dari
konseling yang terus-menerus datau terpai keluarga. Orang tua
harus diberikan kesempatan untuk mengekspresikan perasaan
bersalah, putus asa, kesedihan, penyangkalan yang terus-
menerus timbul, dan kemarahan tentang gangguan dan masa
depan anak. Dokter psikiatrik harus siap untuk memberikan
semua informasi medis dasar dan terakhir tentang penyebab,
terapi, dan bidang lain yang berhubungan (seperti latihan
khusus dan perbaikna defek sensorik).

d. Intervensi farmakologis
Pendekatan farmakologis dalam terpai gangguan
mental komorbid pada pasien retardasi mental adalah banyak
kesamaannya seperti untuk pasien yang tidak mengalami
retardasi mental. Semakin banyak data yang mendukung
pemakaian berbagai medikasi untuk pasien dengan gangguan
mental yang tidak retardasi mental. Beberapa penelitian telah
memusatkan perhatian pada pemakaian medikasi untuk
sindrom perilaku berikut ini yang sering terjadi di antara
retardasi mental:
 Agresi dan perilaku melukai diri sendiri
o Beberapa bukti dari penelitian telah menyatakan bahwa
lithium (Eskalith) berguna dalam menurunkan agresi
dan perilaku melukai diri sendiri.
o Antagonis narkotik seperti naltrexone (Trexan) telah
dilaporkan menurunkan perilaku melukai diri sendiri
pada pasien retardasi mental yang juga memenuhi
kriteria diagnostik untuk gangguan austik infantile.
Satu hipotesis yang diajukan sebagai mekanisme kerja

24
terapi naltrexone adalah bahwa obat mempengaruhi
pelepasan opioid endogen yang dianggap berhubungan
dengan melukai diri sendiri.
o Carbamazepine (Tegretol) dan valproic acid
(Depakene) adalah medikasi yang juga bermanfaat
pada beberapa kasus perilaku melukai diri sendiri.
 Gerakan motorik stereotipik
Medikasi antipsikotik, seperti haloperidol (Haldol) dan
chlorpromazine (Thorazine), menurunkan perilaku stimulasi
diri yang berulang pada pasien retardasi mental, terapi
medikasi tersebut tidak meningkatkan perilaku adaptif.
Beberapa anak dan orang dewasa (sampai sepertiga) dengan
retardasi mental menghadapi resiko tinggi mengalami
tardive dyskinesia dengan pemakaian kontinu medikasi
antipsikotik.
 Perilaku kemarahan eksplosif
Penhambat-β, seperti propranolol dan buspirone
(BuSpar), telah dilaporkan menyebabkan penurunan
kemarahan ekspolasif di antara pasien dengan retardasi
mental dan gangguan autistik. Penelitian sistematik
diperlukan sebelum obat dapat ditetapkan sebagai manjur.

 Gangguan defisit atensi/hiperaktivitas


Penelitian terapi methylphenidate pada pasien retardasi
mental ringan dengan gangguan defisit atensi/hiperaktivitas
telah menunjukkan perbaikan bermakna dalam kemampuan
mempertahankan perhatian dan menyelesaikan tugas.
Penelitian terapi metylphenidate tida menunjukkan bukti
adanya perbaikan jangka panjang dalam keterampilan sosial
atau belajar.

25
BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan dalam refarat ini disimpulkan bahwa


retardasi mental merupakan suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti
atau tidak lengkap, terutama ditandai oleh hendaya keterampilan selama masa
perkembangan, sehingga berpengaruh pada semua tingkat intelegensia yaitu
kemampuan kognitif, bahasa, motrik, dan sosial yang dapat didiagnosis
berdasarkan :
1. Fungsi intelektual dibawah rata-rata (IQ 70 atau kurang) yang telah
diperiksa secara individual.
2. Kekurangan atau gangguan dalam perilaku adaptif (sama dengan
kekurangan individu untuk memenuhi tuntutan standar perilaku sesuai
dengan usianya dari lingkungan budayanya) dalam sedikitnya 2 hal, yaitu
komunikasi, self-care, kehidupan rumah-tangga, keterampilan,
sosial/interpersonal, menggunakan sarana komunitas, mengarahkan diri
sendiri, keterampilan akademis fungsional, pekerjaan, waktu senggang,
kesehatan dan keamanan.
3. Awitan terjadi sebelum usia 18 tahun.
Berdasarkan Panduan Pedoman Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDGJ) III,
retardasi mental diklasifikasikan menjadi retardasi mental ringan, retardasi mental
sedang, retardasi mental berat, retardasi mental sangat berat, retardasi mental
lainnya, dan retardasi mental yang tidak tergolongkan. Untuk penatalaksanaannya
dibagi menjadi pencegahan primer, pencegahan sekunder, pencegahan tersier.

26
DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA: Retardasi Mental. Sinopsis Psikiatri Ilmu
Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis, Binarupa Aksara, Jakarta, 2010

2. Pujiadi, dkk. Pedoman Pelayanan Medis Ilmu Kesehatan Anak edisi II. Ikatan
Dokter Anak Indonesia.Jakarta.2011

3. Suzanne M, dkk. Are different soil metals near the homes of pregnant woment
assosiated with mild and severe intellectual disability in children? 2014

4. International Journal of Scientific and Research Publications, Adjustment


problems of Educable Mentally Retarded. Dr. Bharati ROY ; Volume 2, Issue
6, June 2012 1 ISSN 2250-3153.

5. Schalock RL, Borthwick-Duffy SA, Bradley M, editors. Intellectual disability:


definition, classification, and systems of supports, 11th ed. Washington:
American Association on Intellectual and Developmental Disabilities; 2010.

6. Elvira SD, Hadisukanto G. Retardasi Mental. Buku Ajar Psikiatri, Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 2010

7. Louis SC;Geoffrey MR; Handyaastuti S,dkk, Intelectual developmental


disorder: towards a new name, definition and framework for “mental
retardation/intelectual disability” 2011

8. Julian N.Trollor, dkk. Intellectual disability health content within medical


curiculum: an audit of what our future doctors are taught.2016

9. Elvira, Sylvia, Gitayanti H. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta; Badan Penerbit


FKUI. 2010.

10. Jenny Fairthhorne, dkk. Early Mortality and primary cause of death in mothers
of children with intellectual disabilityor autism spectrum disorder: A
retropective cohort study. 2014.

27
11. International Journal of Learning & Development ISSN 2164-4063 2012, Vol.
2, No. 5

12. Damianus Journal of Medicine; CHARACTERISTICS OF PARENTING AND


PARENT PSYCHOPATHOLOGY OF CHILD WITH MILD MENTAL
RETARDATION. Maya, Daniel, Surilena. Vol.13 hlm. 74-83. No.2 Juni 2014

13. Goldson Edward, Reynolds Ann. Child Development & Behavior. In : Hay
WW, Levin MJ, Sondheimer JM, Deterding RR, editors. Current Diagnosis &
Treatment Pediatrics. 20th ed. New York: McGraw-Hill Companies; 2011. p.
99-103.

28