Anda di halaman 1dari 12

e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha

Jurusan Akuntansi Program S1(Vol: 7 No: 1 Tahun 2017)

PENGARUH BUDAYA ORGANISASI, PROACTIVE FRAUD AUDIT,


DAN WHISTLEBLOWING TERHADAP PENCEGAHAN KECURANGAN
DALAM PENGELOLAAN DANA BOS
(Studi Empiris Pada sekolah-sekolah di Kabupaten Buleleng)
1
I Made Indra Dwi Putra Suastawan,
1
Edy Sujana, 2 Ni Luh Gede Erni Sulindawati

Jurusan Akuntansi Program S1


Universitas Pendidikang Ganesha
Singaraja, Indonesia

e-mail: {indradwiputra27@gmail.com, edysudjana_bali@yahoo.com


esulind@gmail.com}@undiksha.ac.id

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh budaya organisasi, proactive fraud
audit, dan whistleblowing terhadap pecegahan kecurangan (fraud) dalam pengelolaan dana
BOS. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang dalam pengumpulan data
penelitian menggunakan instrumen kuesioner. Penelitian ini dilakukan pada sekolah –
sekolah penerima dana BOS yang ada di kabupaten Buleleng. Populasi sebanyak 663
kepala sekolah. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini random sampling. Sampel
yang digunakan dalam penelitain ini adalah kepala sekolah atau bendahara yang
bertanggungjawab dalam pengelolaan dana BOS dengan jumlah responden sebanyak 87
orang. Teknik analisis data yang menggunakan analisis regresi linear berganda dengan
menggunakan program SPSS 20.0 for Windows.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Budaya organisasi berpengaruh positif
signifikan terhadap pencegahan kecurangan (fraud) dalam pengelolaan dana BOS, (2)
proactive fraud audit berpengaruh positif signifikan terhadap pencegahan kecurangan (fraud)
dalam pengelolaan dana BOS, (3) whistleblowing berpengaruh positif signifikan terhadap
pencegahan kecurangan (fraud) dalam pengelolaan dana BOS, dan (4) budaya organisasi,
proactive fraud audit dan whistleblowing secara simultan berpengaruh terhadap pencegahan
kecurangan (fraud) dalam pengelolaan dana BOS.

Kata kunci: budaya organisasi, proactive fraud audit, whistleblowing, dan BOS
Abstract
This research aimed at knowing the effect of organization culture, proactive fraud audit,
and whistleblowing toward the prevention of fraud in managing the school operating fund.
This research used qualitative approach in which in collecting the data it used questionnaire
instrument. The research was held in the schools receiving the school operating fund in
Buleleng Regency. The populations were 663 headmasters. The technique of collecting the
sample in this research was random sampling. The sample used in this research were the
headmasters and treasures who are responsible for managing the school operating fund with
the total respondents 87 people. The technique in analyzing the data was analysis of multiple
linear regression by using a program SPSS 20.0 for Windows.
The result of this research showed that (1) the organization culture had significant
positive effect toward the prevention of fraud in managing the school operating fund, (2) the
proactive fraud audit had significant positive effect toward the prevention of fraud in
managing the school operating fund, (3) the whistleblowing had significant positive effect
toward the prevention of fraud in managing the school operating fund, and (4) the
organization culture, proactive fraud audit, and whistleblowing simultaneously had significant
positive effect toward the prevention of fraud in managing the school operating fund.

Key word: organization culture, proactive fraud audit, whistleblowing, and school operating
fund
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1(Vol: 7 No: 1 Tahun 2017)

PENDAHULUAN
Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk masing-masing siswa, namun pada
merupakan upaya Kementerian Pendidikan kenyataannya tidak dipergunakan
dan Kebudayaan dalam menunjang dana sebagaimana mestinya. Permasalahan
pendidikan bagi siswa di tingkat Sekolah mengenai penyelewengan penggunaan
Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
(SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). ini sering terjadi dikarenakan minimnya
Bantuan Operasioal Sekolah (BOS) mulai partisipasi dan transparansi publik dalam
diterapkan sejak Juli 2005 yang mana pengelolaannya setelah dana tersebut cair
merupakan program pemerintah yang pada sampai di pihak sekolah.
dasarnya digunakan untuk penyediaan Pengelolaan dana BOS selama ini
pendanaan biaya operasi nonpersonalia mutlak dalam kendali kepala sekolah yang
bagi satuan pendidikan dasar sebagai peranan warga sekolah sangat minim atau
pelaksanaan wajib belajar 12 tahun. bahkan tanpa keterlibatan warga sekolah
Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sama sekali dalam memonitor peruntukan
didistribusikan ke masing-masing sekolah dana BOS tersebut. seperti contohnya
setiap tiga bulan atau dalam periode peranan orangtua murid, komite sekolah,
triwulan oleh pemerintah. Namun, pada guru, dan masyarakat sekitar sekolah yang
kenyataannya pendistribusian dana seharusnya turut serta mengawasi
Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak bagaimana transparansi dari pihak sekolah
sesuai dengan periode yang telah di untuk kontribusi anggaran dana BOS untuk
tentukan oleh pemerintah, karena dalam masing-masing siswa. Hal ini dikarenakan
pendistribusiannya sering terjadi partisipasi warga sekolah dibatasi hanya
keterlambatan. Keterlambatan dalam urusan pembayaran uang sekolah.
pendistribusian disebabkan oleh beberapa Diluar urusan tersebut, warga sekolah tidak
faktor, seperti keterlambatan diperkenankan ikut campur. Pemahaman
pendistribusian dari pemerintah pusat dan pihak sekolah dan dinas pendidikan atas
lamanya keluar surat pengantar pencairan partisipasi publik ini perlu diluruskan.
dana oleh tim manajer BOS di masing- Partisipasi publik merupakan syarat mutlak
masing daerah. untuk menekan kebocoran dana
Selain pendistribusian dana Bantuan pendidikan. Partisipasi publik harus
Operasional Sekolah (BOS) yang sering senantiasa dimunculkan, bahkan
mengalami permasalahan, permasalahan dilembagakan, sampai pada tingkat
lain juga muncul terkait dengan pengambilan keputusan kebijakan strategis
penggunaan dana Bantuan Operasional sekolah. Minimnya partisipasi publik dalam
Sekolah (BOS) yang sudah cair sampai di mengawasi pengelolaan dana BOS di
pihak sekolah, hal ini terkait dengan sekolah menimbulkan banyaknya muncul
penyelewangan dana Bantuan Operasional kasus kecurangan dalam pengelolaannya.
Sekolah (BOS) yang telah dialokasikan

Tabel 1. Kasus penyelewengan dana BOS


No Tahun Kasus Jumlah kerugian
1. 2015 Tindak korupsi terhadap dana BOS yang dilakukan oleh Rp. 496,17 juta.
kepala SMPN 1 Nusa Penida, dan Bendahara.
2 2016 Peyelewengan dana BOS yang di lakuan oleh kepala Rp. 187,62 juta.
SDN 6 Pedungan Denpasar.

3 2016 Seorang guru SDN Pulasaren diduga melakukan tindak Rp. 227 juta.
pidana korupsi terhadap dana BOS.
(Sumber : Data diolah, 2016)
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1(Vol: 7 No: 1 Tahun 2017)

Untuk mengatasi permasalahan pengelolaan dana yang mungkin dilakukan


tersebut maka salah satu upaya yang beberapa pihak. Salah satu cara yang
diperlukan untuk meminimalisir dapat mencegah terjadinya kecurangan
penyelewengan dari penggunaan dana adalah dengan melakukan Whistleblowing.
BOS, disamping optimalisasi dari partisipasi Whistleblowing disini merupakan pelaporan
publik, suatu bentuk antisipasi untuk yang dilakukan oleh anggota organisasi
mencegah kasus serupa terjadi sangat (aktif maupun non-aktif) mengenai
diperlukan. Upaya antisipasi dapat berupa pelanggaran, tindakan illegal atau tindakan
upaya audit serta penanaman budaya tidak bermoral kepada pihak di dalam
berorganisasi yang baik oleh pihak terkait maupun di luar organisasi. Hal ini sejalan
yang mengelola dana BOS. Salah satu dengan pernyataan yang di ungkapkan oleh
upaya audit untuk antisipasi dalam Hwang et. al.,(2008: 505) whistleblowing
mencegah kecurangan yaitu proactive fraud adalah pengungkapan yang dilakukan oleh
audit. Menurut Sudarmo, Sawardi dan anggota organisasi (mantan karyawan atau
Yulianto (2008) menyatakan jika Fraud karyawan) secara illegal, praktek-praktek
audit merupakan audit yang dilaksanakan tidak bermoral atau tidak sah dibawah
terhadap tindakan kecurangan (Fraud). kendali pemberi kerja mereka, kepada
Selanjutnya proactive Fraud audit orang atau pihak lain yang mampu
mengarah pada proses audit yang bersifat mempengaruhi tindakan mereka.
proactive dimana auditor secara aktif
mengumpulkan informasi dan melakukan Selain upaya audit yang bersifat
analisis terhadap informasi yang telah preventif, upaya pengungkapan terhadap
dikumpulkan untuk menemukan pelaku kecurangan oleh pihak-pihak yang
kemungkinan adanya tindak kecurangan mengetahui pelanggaran juga mampu
dan kejahatan sebelum tindakan audit meminimalisir adanya penyelewengan dana
investigatif dilakukan. BOS. Namun Pengungkapan harus
dilakukan dengan iktikad baik dan bukan
Proactive Fraud audit merupakan merupakan suatu keluhan pribadi atas
suatu tindakan preventif dapat menemukan suatu kebijakan perusahaan tertentu
kemungkinan adanya kecurangan dan ataupun didasari kehendak buruk/fitnah.
kejahatan secara lebih dini sebelum kondisi (KNKG, 2008). Upaya pengungkapan ini
tersebut berkembang menjadi kecurangan dikenal dengan whistleblowing. Menurut
atau kejahatan yang lebih besar. Menelaah Staley dan Lan dalam Akmal (2012)
penggunaan disiplin ilmu Fraud audit ini mengatakan bahwa whistleblowing adalah
digunakan untuk mencegah penyimpangan cara yang tepat untuk mencegah dan
yang sifatnya dapat merugikan keuangan menghalangi kecurangan, kerugian, dan
Negara di lingkungan auditor pemerintah, penyalahgunaan. Peters dan Branch (1972)
maka guna meminimalisir penyelewengan mendefinisikan whistleblowing sebagai
dari penggunaan dana Bantuan pengungkapan oleh seseorang mengenai
Operasional Sekolah (BOS). Pihak suatu informasi yang diyakini mengandung
pengawas yang berwenang dalam pelanggaran hukum, peraturan, pedoman
penanganan pengelolaan dana BOS atau praktis atau pernyataan profesional, atau
seluruh pihak yang berkepentingan dirasa berkaitan dengan kesalahan prosedur,
perlu menerapan proactive Fraud audit agar korupsi, penyalahgunaan wewenang, atau
dana BOS ini digunakan sebagaimana membahayakan publik dan keselamatan
mestinya dan kasus penyelewengan dana tempat bekerja (Vinten, 2000).
serupa seperti diatas dapat diminimalisir. Hal lain yang dianggap berperan
penting dalam pencegahan fraud yaitu,
Disamping itu, selain antisipasi budaya organisasi. Budaya organisasi
melalui cara mengaudit penggunaan dana dapat diartikan sebagai suatu sistem
BOS, pengungkapan mengenai pihak-pihak penyebaran kepercayaan dan nilai-nilai
yang bermain tidak jujur dalam pengelolaan yang berkembang dalam suatu organisasi
dana tersebut juga diperlukan untuk dan mengarahkan perilaku anggota-
mengungkapkan penyelewengan dalam anggotanya. Budaya organisasi dapat
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1(Vol: 7 No: 1 Tahun 2017)

menjadi instrumen keunggulan kompetitif karyawan maupun untuk kepentingan orang


yang utama, yaitu bila budaya organisasi lain. Dihubungkan dengan permasalahan
mendukung strategi organisasi. Robbins kecurangan, salah satu faktor yang bisa
(2002) mendefinisikan budaya organisasi mencegah kecurangan menurut Arens
sebagai suatu sistem makna bersama yang (441:2008) adalah budaya yang jujur dan
dianut oleh anggota-anggota yang etika yang tinggi. Kecurangan dapat
membedakan organisasi tersebut dengan dicegah dengan meningkatkan budaya
organisasi lain. Schein (1985) organisasi yang dapat dilakukan dengan
mendefinisikan budaya organisasi sebagai mengimplementasikan prinsip-prinsip Good
pola asumsi dasar yang ditemukan atau Corparate Governance. Perbankan
dikembangkan oleh suatu kelompok orang bertanggung jawab untuk menerapkan
selagi mereka belajar untuk menyelesaikan budaya yang baik dalam perusahaan agar
problem-problem, menyesuaikan diri tindakan kecurangan bisa diminimalkan.
dengan lingkungan eksternal, dan Budaya organisasi yang baik dalam suatu
berintegrasi dengan lingkungan internal. instansi dipercaya mampu meminimalisir
Dihubungkan dengan permasalahan kemungkinan fraud untuk terjadi.
kecurangan, salah satu faktor yang bisa Hasil penelitian yang dilakukan oleh
mencegah kecurangan menurut Arens Anita dan Zelmiyanti pada tahun 2015
(441:2008) adalah budaya yang jujur dan menunjukkan jika budaya organisasi
etika yang tinggi. Tunggal (2010:231) berpengaruh signifikan positif terhadap
menyatakan bahwa kecurangan dapat pencegahan kecurangan di BPR Sumatera
dicegah dengan meningkatkan budaya Barat ini dikarenakan penendalian internal
organisasi yang dapat dilakukan dengan yang diterapkan cukup bagus sehinga
mengimplementasikan prinsip-prinsip Good mampu mencegah terjadinya kecurangan.
Corparate Governance. Perbankan Berdasarkan uraian tersebut, diduga
bertanggung jawab untuk menerapkan terdapat hubungan positif signifikan antara
budaya yang baik dalam perusahaan agar budaya organisasi terhadap pencegahan
tindakan kecurangan bisa diminimalkan. kecurangan (fraud) dalam pengelolaan
Penelitian ini dilakukan disekolah- dana BOS. Sehingga hipotesis yang
sekolah SD/MI, SMP/MTS, dan SMA/SMK dirumuskan sebagai berikut:
di Kabupaten Buleleng yang menerima H1: Budaya Organisasi berpengaruh
Bantuan Operasional Sekolah (BOS) terhadap pencegahan kecurangan
sebagai objek penelitian. Alasan mengapa (Fraud) dalam pengelolaan dana
peneliti mengambil objek tersebut karena di BOS.
Kabupaten Buleleng memiliki jumlah
sekolah terbanyak di Bali dengan 663 Pengaruh Proactive Fraud audit
sekolah dan peneliti ingin menetahui terhadap pencegahan kecurangan
bagaimana sekolah-sekolah di Kabupaten (Fraud) dalam pengelolaan dana BOS
Buleleng dalam melakukan pengelolaan Minimnya upaya audit sebagai
Bantuan Dana Operasional Sekolah (BOS), tindakan preventif guna mencegah terjadi
dimana seperti penjelasan di atas sering kecurangan dianggap sebagai salah satu
terjadi kecurangan dalam pengelolaan dana faktor yang menyebabkan kecurangan atau
BOS. (fraud) masih marak terjadi. Audit yang
mampu melacak rekam jejak suatu instansi
Pengaruh Budaya Organisasi atau perusahaan dalam pengelolaan dana
terhadap pencegahan kecurangan yang ada dapat menunjukkan sedini
(Fraud) dalam pengelolaan dana BOS mungkin apabila ada kemungkinan
Budaya organisasi merupakan norma- terjadinya tindakan kecurangan. Proactive
norma, nilai, asumsi, kepercayaan, fraud audit mengarah pada proses audit
kebiasaan yang dibuat dalam suatu yang bersifat proactive dimana auditor
organisasi dan disetujui oleh semua secara aktif mengumpulkan informasi dan
anggota organisasi sebagai pedoman atau melakukan analisis terhadap informasi yang
acuan dalam organisasi dalam melakukan telah dikumpulkan untuk menemukan
aktivitasnya baik yang diperuntukkan bagi kemungkinan adanya tindak kecurangan
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1(Vol: 7 No: 1 Tahun 2017)

dan kejahatan sebelum tindakan audit whistleblowing. Sistem ini merupakan


investigatif dilakukan. Upaya ini merupakan wadah atau saluran bagi whistleblower
suatu pendekatan proactive yang sangat untuk mengungkap dan melaporkan tindak
signifikan untuk mendeteksi adanya kecurangan. Upaya ini dilakukan bertujuan
kecurangan keuangan, seperti yang telah untuk mendeteksi, meminimalisir dan
dinyatakan sebelumnya yaitu melalui kemudian menghilangkan kecurangan atau
catatan dan informasi, hubungan analitis penipuan yang dilakukan pihak internal
dan kesadaran perlakuan kecurangan serta organisasi. Menurut Mark Zimbelman
usaha penyembunyian. (2006: 114), program whistleblowing yang
Hasil penelitian yang dilakukan oleh baik dapat menjadi alat yang sangat efektif
Hermiyetti pada tahun 2008 menunjukkan dalam mendeteksi dan mencegah
jika variabel lingkungan pengendalian, kecurangan.
penilaian resiko, kegiatan pengendalian, Penelitian yang di lakukan oleh
informasi dan komunikasi serta Titaheluw (2011) yang berjudul Pengaruh
pemantauan merupakan pengendalian penerapan sistem Whistleblowing terhadap
internal dalam rumah sakit yang pencegahan Fraud pada PT. Telkom, Tbk,
mempunyai peranan sangat penting dalam hasil penelitiannya menunjukkan bahwa
hal mencegah kecurangan (Fraud) sistem Whistleblowing merupakan salah
pengadaan barang. Selain itu, penelitian satu cara yang dapat digunakan untuk
Purwitasari pada tahun 2013 juga mencegah terjadinya kecurangan (Fraud).
menunjukkan bahwa, pengendalian Penelitian yang dilakuan oleh Naomi (2015)
internal dan komitmen organisasi yang berjudul Penerapan Whistleblowing
berpengaruh secara sinifikan dalam System dan dampaknya terhadap Fraud,
pencegahan Fraud pengadaan barang, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa
dimana apabila keduanya diterapkan terjadinya penurunan jumlah kecurangan
dengan baik dengan menekankan pada yang terjadi pada PT. Telekomunikasi
keefektifan penendalian internal dan Indonesia dan pertamina setelah
kekuatan pada lingkungan pengendalian dilakukannya Whistleblowing System.
dan menanamkan rasa komitmen penuh Selain itu, penelitiaan yang dilakukan oleh
terhadap organisasi, maka hal tersebut Irvandly Pratama Libramawan pada tahun
dapat mencegah kemungkinan terjadinya 2014 juga menunjukkan jika penerapan
tindak kecurangan. whistleblowing system berpengaruh secara
Berdasarkan uraian tersebut, diduga signifikan terhadap pencegahan
terdapat hubungan positif signifikan antara kecurangan.
proactive fraud audit terhadap pencegahan Berdasarkan uraian tersebut, diduga
kecurangan (fraud) dalam pengelolaan terdapat hubungan positif signifikan antara
dana BOS. Sehingga hipotesis yang whistleblowing terhadap pencegahan
dirumuskan sebagai berikut: kecurangan (fraud) dalam pegelolaan dana
H2: Proactive Fraud audit berpengaruh BOS. Sehingga hipotesis yang dirumuskan
terhadap pencegahan kecurangan sebagai berikut:
(Fraud) dalam pengelolaan dana BOS. H3: Whistleblowing berpengaruh terhadap
pencegahan kecurangan (Fraud)
Pengaruh whistleblowing terhadap dalam pengelolaan dana BOS.
pencegahan kecurangan (Fraud) dalam
pengelolaan dana BOS Pengaruh Budaya Organisasi,
Salah satu upaya yang dapat Proactive Fraud Audit, dan
mencegah terjadinya kecurangan adalah Whistleblowing Terhadap Pencegahan
dengan melakukan pelaporan yang Kecurangan Dalam Pengelolaan Dana
dilakukan oleh anggota organisasi (aktif BOS
maupun non-aktif) mengenai pelanggaran, Pencegahan kecurangan dapat terjadi
tindakan illegal atau tindakan tidak bermoral apabila proactive fraud audit berjalan
kepada pihak di dalam maupun di luar secara efektif. Proactive fraud audit yang
organisasi atau dikenal dengan upaya berjalan secara efektif dapat menutup
peluang kepada seseorang untuk
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1(Vol: 7 No: 1 Tahun 2017)

melakukan tindakan kecurangan. Ketika sangat setuju, (4) setuju, (3) kurang setuju,
proactive fraud audit dapat dijalankan (2) tidak setuju dan (1) sangat tidak setuju.
dengan baik, peluang untuk melakukan Butir pernyataan kuesioner untuk budaya
kecurangan termasuk pada penngelolaan organisasi di ukur dengan instrumen yang
dana BOS akan semakin kecil, karena di kembangkan oleh pratiwi (2012). Variabel
seorang yang akan melakukan kecurangan proactive fraud audit diukur dengan
akan berpikir dua kali untuk melakukan instrumen yang dikembangkan oleh
kecurangan dengan dilakukannya audit tuanakotta (2009). Pengukuran variabel
secara proaktif. Suatu kecurangan pada whistleblowing menggunakan instrumen
instansi atau lembaga terjadi karena yang dikembangkan oleh reginaldi (2014).
kurangnya pengawasan yang dilakukan Variabel pencegahan kecurangan dalam
pihak internal atau eksternal dengan pengelolaan dana BOS diukur dengan
demikian peluang untuk melakukan instrumen yang dikembangkan solikhatun
kecurangan akan semakin tinggi. Maka dari (2016) mengenai jenis-jenis kecurangan
itu audit yang dilakukan secara proaktif menurut Association of Certified Fraud
akan meningkatkan pencegahan Examinations (ACFE) yang terdiri dari
kecurangan. kecurangan laporan keuangan,
Sehingga hipotesis yang digunakan penyalahgunaan aset dan korupsi.
sebagai berikut: Data yang telah terkumpul terlebih
H4: Budaya Organisasi, Proactive fraud dahulu di uji kualitas data yang dalam
audit, dan Whistleblowing penelitian ini meliputi pengujian validitas
berpengaruh terhadap pencegahan dan pengujian reliabilitas. Sebelum data
kecurangan (Fraud) dalam dianalisis lebih lanjut dengan analisis linear
pengelolaan dana BOS. berganda, terlebih dahulu data akan diuji
asumsi klasik yaitu uji normalitas, uji
METODE multikolinearitas,dan uji heteroskedastisitas.
Penelitian ini menggunakan Uji hipotesis menggunakan analisis regresi
pendekatan kuantitatif, dimana berganda yang digunakan untuk melihat
pengumpulan data dilakukan melalui pengaruh beberapa variabel independen
kuesioner dan akan dianalisis terhadap variabel dependen.
menggunakan bantuan program SPSS.
Berdasarkan sumbernya, penelitian ini HASIL DAN PEMBAHASAN
menggunakan dua jenis data yaitu data HASIL
primer yang bersumber dari jawaban Responden penelitian ini adalah
responden yang dikumpulkan oleh peneliti kepala sekolah atau bendahara BOS pada
serta data sekunder berupa data atau sekolah-sekolah di Kabupaten Buleleng.
informasi yang diperoleh secara tidak Jumlah kuesioner yang disebar dalam
langsung dari objek penelitian mengenai penelitian ini adalah sebanyak 87 buah
gambaran umum lokasi penelitian, jumlah yang merupakan sampel pada penelitian
dan nama sekolah. ini, kuesioner yang kembali adalah sebanyak
Populasi dalam penelitian ini adalah 87 kuesioner sehingga disini seluruh
sekolah-sekolah di Kabupaten Buleleng. kuesioner kembali. Syarat minimum suatu
Sementara responden penelitian adalah kuesioner dikatan valid adalah jika korelasi
kepala sekolah dan bendahara BOS. antara butir dengan skor totalnya positif dan
Teknik pengambilan sampel dalam lebih besar dari Rtabel (Rhitung >0,2108). Hasil
penelitian ini menggunakan teknik random dari uji instrumen validitas diperoleh bahwa
sampling dengan Jumlah responden nilai Pearson Correlation untuk setiap butir
sebanyak 87 orang. pernyataan lebih besar dari 0,2108
Data didapat dari hasil pengisian sehingga dapat dinyatakan valid. Hasil dari
kuisioner dianalisis secara statistik. Skala uji instrumen realibilitas yang diperoleh
yang digunakan dalam penyusunan untuk variabel Budya organisasi adalah
kuesioner penelitian ini adalah skala likert. 0,801 untuk proactive fraud audit 0,819
Setiap pertanyaan pada kuisioner akan untuk variabel whistleblowing 0,79 serta
disediakan lima alternatif jawaban yaitu (5)
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1(Vol: 7 No: 1 Tahun 2017)

0,790 untuk variabel pencegahan nilai tolerance lebih besar dari 0,1 dan nilai
kecurangan dalam pengelolaan dana BOS. VIF kurang dari 10 sehingga dapat
Karena seluruh variabel mempunyai nilai disimpulkan tidak terjadi multikolinearitas.
Cronbach’s Alpha > 0,70 maka data Hasil uji heteroskedastisitas diperoleh
dinyatakan reliabel. nilai signifikansi untuk variabel budaya
Hasil pengujian normalitas data organisasi sebesar 0,367 variabel proactive
menunjukkan bahwa nilai Asymp. Sig 0,121 fraud audit 0,880. Untuk variabel
lebih besar dari tingkat alpha atau tingkat whistleblowing memiliki nilai signifikansi
kesalahan yang telah ditetapkan yaitu 0,05 0,550 Nilai signifikansi untuk masing-
artinya data dalam penelitian ini telah masing variabel lebih besar dari alpha 5%
berdistribusi normal. Hasil uji (α > 0,05) sehingga dapat dinyatakan
multikolonearitas menunjukkan nilai model regresi terbebas dari masalah
tolerance dan VIF untuk variabel budaya heterokedastisitas.
organisasi adalah 0,801 dan 1,572, Pengujian hipotesis yang dilakukan
variabel proactive fraud audit, memiliki nilai dalam penelitian ini menggunakan analisis
tolerance dan VIF yaitu 0,819 dan 8,079. regresi linear berganda yang dihitung
Untuk variabel whistleblowing mempunyai dengan menggunakan program SPSS versi
nilai tolerance dan VIF masing-masing 20.00, yang disajikan pada tabel 2 berikut
0,794 dan 8,348 Semua variabel memiliki ini:

Tabel 2. Hasil Analisis Regresi Linear berganda

Unstandardized
Coefficients T Sig.
Model B Std.Error
(Constant) 85,740 1,764 48,604 0,000
Budaya Organisasi 0,075 0,026 2,860 0,005
Proactive Fraud Audit 0,400 0,058 6,884 0,000
Whistleblowing 0,618 0,064 9,716 0,000
Sig F 0,000
Adjusted R Square 0,966
(Sumber: Data diolah, 2017)

Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui (X2), whistleblowing (X3) sama


seberapa besar pengaruh budaya dengan nol, maka variabel dependen
organisasi, proactive fraud audit dan pencegahan kecurangan pengelolaan
whistleblowing terhadap pencegahan dana BOS (Y) adalah sebesar 85,740.
kecurangan dalam pengelolaan dana BOS. 2. Nilai koefisien β1 = 0,075X1
Adapun persamaan regresi linear berganda menunjukkan bahwa bahwa terdapat
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: pengaruh positif antara variabel
Y = 85,740 + 0,075X1 +0,400X2 + 0,618X3 budaya organisasi (X1) terhadap
+ ei pencegahan kecurangan pengelolaan
Dimana: dana BOS (Y) sebesar 0,075. Hal ini
Y =Pencegahan Kecuragan Dalam berarti apabila variabel independen
Pengelolaan Dana BOS budaya organisasi (X1) naik sebesar 1
X1 = Budaya Organisasi satuan dengan asumsi bahwa
X2 = Proactive Fraud Audit variabel bebas lainnya konstan, maka
X3 = Whistleblowing variabel pencegahan kecurangan
e = Standard error pengelolaan dana BOS (Y) akan
1. Nilai konstan sebesar 85,740 mengalami peningkatan sebesar
menyatakan bahwa apabila terjadi 0,075 satuan.
variabel independen budaya 3. Nilai koefisien β2 = 0,400X2
organisasi (X1), proactive fraud audit menunjukkan bahwa bahwa terdapat
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1(Vol: 7 No: 1 Tahun 2017)

pengaruh positif antara variabel 0,000<0,05 maka H0 ditolak dan H4 diterima.


proactive fraud audit (X2) terhadap Hal ini menunjukkan bahwa budaya
pencegahan kecurangan pengelolaan organisasi, proactive fraud audit dan
dana BOS (Y) sebesar 0,400. Hal ini whistleblowing berpengaruh terhadap
berarti apabila variabel independen pencegahan kecurangan dalam
proactive fraud audit (X2) naik pengelolaan dana BOS pada sekolah-
sebesar 1 satuan dengan asumsi sekolah di Kabupaten Buleleng.
bahwa variabel bebas lainnya Berdasarkan tabel 1, dapat dilihat nilai
konstan, maka variabel pencegahan hasil uji adjusted R Square sebesar 0,966.
kecurangan pengelolaan dana BOS Hal ini berarti variabel independen yaitu
(Y) akan mengalami peningkatan budaya organisasi, proactive fraud audit
sebesar 0,400 satuan. dan whistleblowing dapat menerangkan
4. Nilai koefisien β3 = 0,618X3 variabel dependen yaitu pencegahan
menunjukkan bahwa bahwa terdapat kecurangan dalam pengelolaan dana BOS
pengaruh positif antara variabel sebesar 96,6% sisanya sebesar 0,34%
whistleblowing (X3) terhadap diterangkan oleh variabel lain yang tidak
pencegahan kecurangan pengelolaan dimasukkan dalam model regresi pada
dana BOS (Y) sebesar 0,618 Hal ini penelitian ini.
berarti apabila variabel independen
whistleblowing (X3) naik sebesar 1 PEMBAHASAN
satuan dengan asumsi bahwa Pengaruh Budaya Organisasi terhadap
variabel bebas lainnya konstan, maka Pencegahan Kecurangan Dalam
variabel pencegahan kecurangan Pengelolaan Dana BOS
pengelolaan dana BOS (Y) akan Berdasarkan hasil analisis statistik
mengalami peningkatan sebesar ditemukan variabel budaya organisasi (X1)
0,600 satuan. memiliki tingkat signifikasi sebesar 0,005 <
Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui 0,05 dan memiliki koefisien positif sebesar
nilai signifikansi masing-masing variabel. 0,075. Selain itu, budaya organisasi (X1)
Untuk mengetahui arah hubungan variabel memiliki thitung lebih besar dari ttabel, yaitu
independen terhadap variabel dependen, sebesar 2,860 > 0,2108 maka H0 ditolak
dapat diketahui melalui koefisien regresi dan H1 diterima. Hal ini berarti bahwa
dari masing-masing variabel independen. budaya organisasi (X1) berpengaruh positif
Nilai signifikansi X1 (budaya organisasi) signifikan terhadap pencegahan
sebesar 0,005<0,05 dan memiliki koefisien kecurangan dalam pengelolaan dana BOS.
positif sebesar 0,075 maka H0 ditolak dan Nilai positif menunjukkan pengaruh yang
H1 diterima. Ini berarti efektivitas searah artinya semakin tinggi budaya
pengendalian internal berpengaruh positif organisasi maka semakin tinggi
signifikan terhadap pencegahan pencegahan kecurangan dalam
kecurangan dalam pengelolaan dana BOS. pengelolaan dana BOS yang mungkin
Nilai signifikansi X2 (ketaatan aturan terjadi pada sekolah-sekolah di Kabupaten
akuntansi) sebesar 0,000<0,05 dan Buleleng.
memiliki koefisien positif sebesar 0,400 Dengan demikian dapat dikatakan
maka H0 ditolak dan H2 diterima. Ini berarti bahwa budaya organisasi yang baik sangat
ketaatan aturan akuntansi berpengaruh penting dalam mencegah tindakan
positif signifikan terhadap pencegahan kecurangan. Tindakan pencegahan dapat
kecurangan dalam pengelolaan dana BOS. diterapkan melalui budaya kerja yang
Nilai signifikansi X3 (komitmen organisasi) dikembangkan dengan baik, dimana
sebesar 0,000<0,05 dan memiliki koefisien budaya tersebut akan menghasilkan nilai-
positif sebesar 0,618 maka H0 ditolak dan nilai fundamental organisasi yang baik
H3 diterima. Ini berarti berpengaruh positif seperti menjunjung tinggi kejujuran dan
signifikan terhadap kecenderungan integritas penghargaan dan kualitas kerja
kecurangan (fraud) akuntansi. serta pelayanan yang prima dan
Berdasarkan tabel 1, hasil penghormatan atas keterbukaan dan
menunjukkan bahwa nilai sig adalah transparansi. Sehingga dengan memiliki
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1(Vol: 7 No: 1 Tahun 2017)

budaya organisasi yang baik, maka melakukan analisis terhadap informasi yang
pencegahan kecurangan (fraud) dalam telah dikumpulkan untuk menemukan
pengelolaan dana BOS akan semakin kemungkinan adanya tindak kecurangan
tinggi. dan kejahatan sebelum tindakan audit
Hasil penelitian ini sejalan dengn investigatif dilakukan sehingga
hasil penelitian yang dikemukakan oleh kemungkinan adanya kecurangan dapat
Zelmiyanti dan Anita (2015) yang dideteksi secara lebih dini. Sehingga dapat
menyatakan bahwa Budaya organisasi dikatakan jika audit yang bersifat proaktif
berpengaruh signifikan positif terhadap dilakukan secara berkala, maka pengelola
pencegahan kecurangan di BPR Sumatera dana BOS akan berpikir berulang kali untuk
Barat ini dikarenakan pengendalian internal melakukan tindakan kecurangan (fraud).
yang diterapkan cukup bagus sehinga
mampu mencegah terjadinya kecurangan. Hasil penelitian ini sejalan dengan
Hal ini berarti budaya organisasi memiliki hasil penelitian yang dilakukan oleh
pengaruh positif signifikan atau searah Hermiyetti pada tahun 2008 menunjukkan
dengan pencegahan kecurangan dalam jika variabel lingkungan pengendalian,
pengelolaan dana BOS. Hal ini berarti, penilaian resiko, kegiatan pengendalian,
semakin tinggi tingkat budaya organisasi informasi dan komunikasi serta
pada pada sekolah- sekolah penerima dana pemantauan merupakan pengendalian
BOS di kabupaten Buleleng, maka semakin internal dalam rumah sakit yang
tinggi tingkat pencegahan kecurangan mempunyai peranan sangat penting dalam
dalam pengelolaan dana BOS. Begitu juga hal mencegah kecurangan (Fraud)
sebaliknya, semakin rendah tingkat budaya pengadaan barang. Selain itu, penelitian
organisasi maka tingkat pencegahan Purwitasari pada tahun 2013 juga
kecurangan semakin rendah. menunjukkan hasil sejalan dimana
pengendalian internal dan komitmen
Pengaruh Proactive Fraud Audit organisasi berpengaruh secara sinifikan
Terhadap Pencegahan Kecurangan dalam pencegahan Fraud pengadaan
Dalam Pengelolaan Dana BOS. barang, dimana apabila keduanya
Berdasarkan hasil analisis statistik diterapkan dengan baik dengan
ditemukan bahwa variabel proactive fraud menekankan pada keefektifan penendalian
audit (X2) memiliki tingkat signifikasi internal dan kekuatan pada lingkungan
sebesar 0,000 < 0,05 dan memiliki koefisien pengendalian dan menanamkan rasa
positif sebesar 0,400. Selain itu, proactive komitmen penuh terhadap organisasi, maka
fraud audit (X2) memiliki thitung lebih besar hal tersebut dapat mencegah kemungkinan
dari ttabel yaitu sebesar 6,884 > 0,2108 maka terjadinya tindak kecurangan. Penelitian ini
H0 ditolak dan H2 diterima. Hal ini berarti juga mendukung penelitian Sempana
bahwa proactive fraud audit (X2) (2015) dimana hasil penelitian tersebut
berpengaruh positif signifikan terhadap menunjukkan bahwa audit internal dan
pencegahan kecurangan dalam pengendalian intern berpengaruh terhadap
pengelolaan dana BOS. Nilai positif pencegahan kecurangan yang di lakukan
menunjukkan pengaruh yang searah artinya pada pemerintah di kabupaten Bandung.
semakin tinggi tingkat proactive fraud audit dimana audit internal dan pengendalian
maka semakin tinggi pencegahan intern yang baik akan meningkatkan
kecurangan dalam pengelolaan dana BOS pencegahan kecurangan. Hal ini berarti
di sekolah-sekolah yang berada di proactive fraud audit berpengaruh positif
Kabupaten Buleleng. signifikan terhadap pencegahan
kecurangan (fraud) dalam pengelolaan
Dapat dikatakan jika proactive fraud dana BOS. Hal ini berarti semakin tinggi
audit merupakan upaya pencegahan yang tingkat upaya proactive fraud audit yang
mampu meminimalisir adanya tindakan dilakukan sekolah-sekolah penerima dana
kecurangan. Hal ini dikarenakan auditor BOS di kabupaten Buleleng maka semakin
secara aktif mengumpulkan informasi dan tinggi tingkat pencegahan kecurangan
(fraud) dalam pengelolaan dana BOS.
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1(Vol: 7 No: 1 Tahun 2017)

Sebaliknya, semakin rendah tingkat upaya Whistleblowing System. Selain itu,


proactive fraud audit maka semakin rendah penelitiaan yang dilakukan oleh Irvandly
tingkat pencegahan kecurangan (fraud) Pratama Libramawan pada tahun 2014
dalam pengelolaan dana BOS. juga menunjukkan jika penerapan
whistleblowing system berpengaruh secara
Pengaruh Whistleblowing Terhadap signifikan terhadap pencegahan
Pencegahan Kecurangan Dalam kecurangan. Hal ini berarti whistleblowing
Pengelolaan Dana BOS memiliki pengaruh positif signifikan
Berdasarkan hasil analisis statistik terhadap pencegahan kecurangan (fraud)
variabel whistleblowing (X3) memiliki tingkat dalam pengelolaan dana BOS di sekolah-
signifikan sebesar 0,000 < 0,05 dan sekolah yang ada di kabupaten Buleleng.
memiliki koefisien positif sebesar 0,618. Hal ini berarti semakin tinggi upaya
Selain itu, whistleblowing (X3) memiliki thitung penerapan sistem whistleblowing maka
lebih besar dari ttabel yaitu sebesar 9,716 > semakin tinggi tingkat pencegahan
0,2108 maka H0 ditolak dan H3 diterima. Hal kecurangan (fraud) dalam pengelolaan
ini berarti bahwa whistleblowing (X3) dana BOS. Sebaliknya, semakin rendah
berpengaruh positif signifikan terhadap upaya penerapan whistleblowing maka
pencegahan kecurangan dalam semakin rendah tingkat pencegahan
pengelolaan dana BOS. Nilai positif kecurangan (fraud) terhadap pengelolaan
menunjukkan pengaruh yang searah artinya dana BOS.
whistleblowing yang tinggi dapat
meningkatkan terjadinya pencegahan Pengaruh Budaya Organisasi, Proactive
kecurangan dalam pengelolaan dana BOS Fraud Audit, dan Whistleblowing
pada sekolah-sekolah di Kabupaten Terhadap Pencegahan Kecurangan
Buleleng. Dalam Pengelolaan Dana BOS
Dengan demikian dapat dikatakan jika Berdasarkan hasil uji F dapat dilihat
whistleblowing merupakan cara yang tepat Fhitung > Ftabel yaitu 804,816 > 2,71. Dengan
untuk mencegah dan menghalangi signifikansi untuk masing-masing variabel
kecurangan, kerugian, dan yang lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,000. Hal ini
penyalahgunaan. Melalui upaya berarti, terdapat pengaruh yang signifikan
whistleblowing, maka pencegahan secara bersama-sama (simultan) antara
kecurangan (fraud), dalam hal ini budaya organisasi, proactive fraud audit
pencegahan kecurangan (fraud) dalam dan whistleblowing terhadap pencegahan
pengelolaan dana BOS dapat ditingkatkan. kecurangan dalam pengelolaan dana BOS.
Hal ini dikarenakan, jika dalam sekolah ada Hasil ini didukung dengan hasil
pihak yang bertindak sebagai whistleblower pengujian secara parsial variabel budaya
dan melaporkan apabila terindikasi di suatu organisasi, proactive fraud audit dan
sekolah penerima dana BOS terjadi whistleblowing yang menyatakan bahwa
tindakan yang mengarah ke korupsi atau secara parsial variabel tersebut
kecurangan lainnya, maka tindakan berpengaruh signifikan positif terhadap
kecurangan (fraud) dapat dicegah dan pencegahan kecurangan dalam
diusut secepat mungkin. pengelolaan dana BOS. Hal ini berarti,
semakin tinggi budaya organisasi , semakin
Hasil penelitian ini sejalan dengan tinggi proactive fraud audit, dan semakin
hasil penelitian yang dikemukakan oleh tinggi whistleblowing maka akan semakin
Titaheluw (2011) yang menunjukkan bahwa tinggi pula tingkat pencegahan kecurangan
sistem Whistleblowing merupakan salah dalam pengelolaan dana BOS yang terjadi.
satu cara yang dapat digunakan untuk
mencegah terjadinya kecurangan (Fraud). SIMPULAN DAN SARAN
Penelitian yang dilakuan oleh Naomi (2015) Simpulan
juga menunjukkan hasil bahwa terjadinya Berdasarkan hasil analisis dan
penurunan jumlah kecurangan yang terjadi pembahasan mengenai pengaruh budaya
pada PT. Telekomunikasi Indonesia dan organisasi, proactive fraud audit dan
pertamina setelah dilakukannya whistleblowing terhadap pencegahan
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1(Vol: 7 No: 1 Tahun 2017)

kecurangan dalam pengelolaan dana BOS 1. Pengembangan kuesioner yang


dengan perilaku pada sekolah-sekolah di disesuaikan dengan bahasa yang
Kabupaten Buleleng, maka dapat ditarik mudah dipahami oleh responden
kesimpulan sebagai berikut: untuk dapat digunakan dalam
1. Budaya organisasi berpengaruh penelitian selanjutnya.
signifikan positif terhadap 2. Mengingat pentingnya budaya
pencegahan kecurangan dalam organisasi, proactive fraud audit,
pengelolaan dana BOS pada sekolah- dan whistleblowing yang pada
sekolah di Kabupaten Buleleng. Hal akhirnya akan berimplikasi pada
ini berarti semakin tinggi budaya ketercapaian dalam menerapkan
organisasi, maka semakin tinggi sistem pemerintahan yang baik dan
pencegahan kecurangan dalam benar, maka pihak sekolah-sekolah
pengelolaan dana BOS. di Kabupaten Buleleng hendaknya
2. Proactive Fraud Audit secara parsial lebih memberikan perhatian
berpengaruh signifikan positif terhadap pengelolaan dana BOS,
terhadap pencegahan kecurangan agar berjalan lebih transparan,
dalam pengelolaan dana BOS pada professional dan efisien dan
sekolah-sekolah di Kabupaten menjalankan tindakan dilandasi
Buleleng. Hal ini berarti semakin dengan nilai moral dan kesadaran
tinggi tingkat proactive fraud audit akan tanggungjawabnya.
maka semakin tinggi pencegahan 3. Penelitian selanjutnya diharapkan
kecurangan dalam pengelolaan dana dapat meneliti mengenai variabel-
BOS yang terjadi. variabel lain yang mempengaruhi
3. Whistleblowing berpengaruh pencegahan kecurangan dalam
signifikan positif terhadap pengelolaan dana BOS pada
pencegahan kecurangan dalam sekolah-sekolah di Kabupaten
pengelolaan dana BOS pada sekolah- Buleleng dan diharapkan untuk
sekolah di Kabupaten Buleleng. Hal penelitian selanjutnya dapat
ini berarti semakin tinggi tingkat menambah jumlah sampel dari
Whistleblowing, maka pencegahan penelitian.
kecurangan dalam pengelolaan dana
BOS akan semakin tinggi.
4. Secara simultan dapat diketahui DAFTAR PUSTAKA
bahwa Budaya Organisasi, Proactive Andrean, Artana, dan Haris. 2014.
Fraud Audit, dan Whistleblowing Efektifitas pengelolaan dana
berpengaruh signifikan terhadap Bantuan Operasional Sekolah
pencegahan kecurangan dalam (BOS) pada sekolah dasar di
pengelolaan dana BOS pada sekolah- kecamatan sukasada. Jurnal
sekolah di Kabupaten Buleleng. Hal Eksekutif, Vol. 4, No. 1, hal: 1-11
ini berarti untuk meminimalisisasi
pencegahan kecurangan dalam Antara Bali. 2016. Kepala SMP N 1 Nusa
pengelolaan dana BOS maka perlu Penida dihukum 18 bulan penjara
ditingkatkan Budaya Organisasi, karena korupsi dana Bos.[Online].
Proactive Fraud Audit, dan Tersedia di: Antarabali.com,
Whistleblowing. [Diakses 10 Juni 2016]

Arens A. Alvin, Ellder J. Ronal & Beasley


Saran Mark s. 2008. Auditing dan Jasa
Penelitian ini memiliki berbagai assurance Pendekatan Terintegrasi.
keterbatasan, oleh karena itu berikut Jakarta:Erlangga.
merupakan saran yang dikemukakan dalam
kaitannya dengan keterbatasan penelitian Bali Tribune. 2016. Kepala Sdn 6 Pedungan
ini. selewengkan dana Bos. [Online]
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1(Vol: 7 No: 1 Tahun 2017)

Tersedia di: balitribune.co.id, ------------, 2010. Peraturan Pemerintah


[Diakses 10 Juni 2016] Nomor 17 Tahun 2010. Tentang
Pengelolaan dan Penyelengaraan
Hwang, Dennis dkk. 2008. Confucian Pendidikan. Yogyakarta : Pustaka
Culture and Whistle-blowing by Timur
Profesional Accountants: an
exploratory study. Manajerial Sekretariat 3pK. 2007. Modul
Auditing Journal, Vol. 23, No. 5, hal: Whistleblowing System. Jakarta:
504-526 Kementerian Negara
Pendayagunaan Aparatur Negara.
Irvandly Pratana Libramawan. 2014.
Pengaruh Penerapan Solikhatun,ismi. 2016. Analisis pengelolaan
Whistleblowing System Terhadap dana Bantuan operasional sekolah
Pencegahan Kecurangan. Skripsi. (bos) studi pada smk negeri 1
Universitas Widyatama. yogyakarta. Skripsi. Universitas
Negeri Yogyakarta.
KNKG. 2008. Pedoman Sistem Pelaporan
Pelanggaran - SPP (Whistleblowing Sugiyono, 2006. Statistika untuk Penelitian.
System – WBS). Jakarta: KNKG. Bandung: Alfabeta.

LPSK. 2011. Memahami Whistleblower. ------------, 2011. Statistika untuk Penelitian.


Jakarta: LPSK Bandung: Alfabeta.

Pratiwi, Riska. 2012. Pengaruh budaya ------------, 2012. Metode Penelitian Bisnis.
organisasi terhadap kinerja pegawai Bandung: Alfabeta.
pada kantor pelayanan kekayaan
negara dan lelang Makassar. Sujarweni, Wiratna V dan Poly Endrayanto.
Skripsi. Universitas Hasanuddin Statistika untuk Penelitian.
Makasar. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Radar Cirebon. 2016. Selewengkan dana Sunyoto, Suyanto 2011. Analisis regresi
Bos 3 guru di kota Cirebon ditahan. untuk uji hipotesis, Yogyakarta:
[Online] Tersedia di: Caps.
Radarcirebon.com [Diakses pada 10
juni 2016] Tunggal, Amin Wijaja. 2010. Dasar-dasar
Audit Internal Pedoman Untuk
Reginaldi, 2014. Analisis pengaruh Auditor Baru. Jakarta: Harvarindo.
remunerasi mutasi whistleblowing
system, motivasi dan kepuasan Wilopo. 2006. Analisis Faktor-Faktor yang
kerja, dengan komitmen organisasi Berpengaruh Terhadap
sebagai variabel moderasi studi Kecendrungan Kecurangan
kasus pada kantor pelayaan pajak Akuntansi: Studi pada Perusahaan
pratama lubuk pakam. Tesis. Publik dan BUMN Indonesia.
Universitas Sumatera Utara. Padang: SNA

Republik Indonesia, 2012. Peraturan Mentri Zelmiyanti dan anita, 2015. Pengaruh
Pendidikan dan Kebudayaan Budaya Organisasi Dan Peran
Republik Indonesia Nomor 76 Auditor Internal Terhadap
Tahun 2012, tentang Petunjuk Pencegahan Kecurangan Dengan
Teknis Pengunaan dan Pelaksanaan Sistem Pengendalian
Pertangungjawaban Keuangan dana Internal Sebagai Variabel
Bantuan Operasional Sekolah Intervening, Jurnal Politektik Caltex
Tahun 2013. Jakarta Riau. Vol. 8, No. 1, hal: 67-76