Anda di halaman 1dari 29

Filosofi dan Sejarah

Jasa Pelayanan Rumah Sakit


Tri Muhammad Hani, dr., MARS

08121919677 (SMS/TELP/WA)
mashani77 mashani77 http://www.mashani77.net
Perjalanan Waktu
Sebelum Era BLU / BLUD
 Istilah yang umum adalah JASA MEDIK atau disingkat
JASMED  sering disingkat “JM”
 Karena ada kata-kata “MEDIK”  Identik dengan
DOKTER  Diklaim oleh dokter bahwa JASMED adalah
HANYA hak nya para DOKTER
 Perawat, paramedis lain dan pegawai administrasi 
TIDAK BERHAK mendapatkan JASMED
Istilah JASMED Mulai Bergeser

 Istilah mulai bergeser dari JASMED  Jasa


Pelayanan (JASPEL)
 Penerima JASPEL  Dokter, Paramedis dan Pegawai
Administrasi (sebagian)
 Pegawai PNS yang bekerja di RS Pemerintah (RSUP
/ RSUD)  mendapat cibiran dari pegawai lain di
beda Departemen / SKPD  “sama-sama PNS kok
beda, khan sudah dapat gaji” dll
 Masih debatable  Apakah benar JASPEL itu HAK nya
pegawai ? Jangan-jangan itu menjadi pendapatan
“ILEGAL”  Ada pemeriksaan  temuan  Harus
mengembalikan
 JASPEL berkembang menjadi JASPEL Langsung dan
JASPEL Tidak Langsung (Bakul)
 Perdebatan masih terjadi  PNS diluar RSUP / RSUD
masih ada kesan rada “sirik” dan merasa tidak “fair” 
Tidak ada dasar hukumnya PNS dapat “dobel”
Era BLU / BLUD
 Pemberian JASPEL mulai ada dasar hukumnya  bahasanya masih sumir 
karena istilah yang muncul BUKAN jaspel  tapi INSENTIF
 Ada dimana istilah INSENTIF tersebut ?
1. Permendagri 61 Th 2007 Pasal 50 Ayat (1) : “ Pejabat Pengelola,
Dewan Pengawas dan Pegawai BLU DAPAT diberikan REMUNERASI
berdasarkan tingkat tanggungjawab dan tuntutan profesionalisme yang
diperlukan “

2. Permendagri 61 Th 2007 Pasal 50 Ayat (2) : “ Remunerasi merupakan


IMBALAN KERJA yang dapat berbentuk gaji, tunjangan tetap, honorarium,
INSENTIF, bonus atas prestasi, pesangon dan atau pensiun “
PP 23 / 2005 dan Permendagri 61/2007
 Istilah JASPEL masih multitafsir  sebagian mendefinisikan
INSENTIF adalah JASA PELAYANAN
 Belum ada aturan hukum EXPLISIT secara statement yang
menyatakan bahwa “INSENTIF adalah JASA PELAYANAN” atau
“JASA PELAYANAN itu adalah INSENTIF”
 Nomenklatur REMUNERASI sudah muncul  di sektor kesehatan
masih gamang dan belum jelas aturan, pedoman dan teknis nya.
 Sektor lain malah sudah melaksanakan REMUNERASI  Kemenkeu
dan POLRI
Era Pasca UU RS (UU 44 Th 2009)
 Akhirnya dasar hukum JASPEL muncul  UU 44 Th 2009 Pasal 30
(Hak Rumah Sakit) Ayat (1) huruf b : “ Menerima imbalan JASA
PELAYANAN, serta menentukan REMUNERASI, insentif, dan
penghargaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan ”
 Sejak UU RS terbit  secara legal formal, pemberian JASA
PELAYANAN sudah SAH dan memiliki dasar hukum pemberiannya
 Remunerasi BELUM berkembang  Instansi Pemerintah Pusat sudah
memulai
 Kemenkes menerbitkan Kepmenkes 625 Th 2010  Pedoman
Penyusunan Sistem Remunerasi pegawai BLU Rumah Sakit
UU RS Nomor 44 Th 2009
 Kemenkes menerbitkan Kepmenkes 625 Th 2010  Pedoman
Penyusunan Sistem Remunerasi pegawai BLU Rumah Sakit
 Judulnya REMUNERASI lho  bukan JASPEL
 KMK Nomor 625 Tahun 2010  Komponen Remunerasi adalah :
P1, P2, P3
 P2  Pay for Performance  Disebut INSENTIF  Tunai dalam
bentuk Pendapatan Langsung  bersumber dari JASA
PELAYANAN
 Kesimpulan : JASPEL identik dengan INSENTIF dan merupakan salah
satu KOMPONEN dalam REMUNERASI (Komponen P2)  clear
KMK 625 / 2010 Pedoman Remunerasi
 Selesai masalah ?  BELUM
 KMK hanya mengikat RS Vertikal (RSUP)  BLU, bukan BLUD  RSUD BOLEH
mengikuti, BOLEH TIDAK
 Instrumen hukum tentang REMUNERASI bagi RS Daerah sebetulnya BELUM ADA 
Namun  Lex Specialist Derogat Lex Generalis
 Beberapa RS Daerah  melakukan “modifikasi” dan “kreativitas” dalam
pembagian insentif atau Jaspel
 Jika RS Vertikal (RSUP) Jelas WAJIB mengikuti KMK 625  P2 ditentukan dengan
nilai IKU dan IKI  RS Daerah belum banyak yang mengikuti perhitungan IKU
dan IKI  Lebih banyak yang tetap menggunakan patron  JASA LANGSUNG
dan JASA TIDAK LANGSUNG  Sah sepanjang ditetapkan oleh pejabat yang
berwenang  dan TIDAK bertentangan dengan peraturan hukum yang lebih tinggi
Era Pocket Payment System (PPS)
 Baru mau mulai menghitung JASPEL berdasarkan komponen-komponen
Jasa Pelayanan dalam tarif RS  Sudah terjadi pergeseran pola
pembiayaan kesehatan  dari Fee For Services (FFS) menjadi  Pocket
Payment System (PPS)
 Ingat lagi sejarah :
1. JPKMM / ASKESKIN (2005 - 2007 )  Pembayaran dengan Tarif
Per Diagnosa
2. JAMKESMAS (2008 - 2009)  Pembayaran dengan INA DRG
3. JAMKESMAS (2010 – 2013)  Pembayaran dengan INA CBGs
4. BPJSK (2014 – sekarang)  Pembayaran dengan INA CBGs
 Tarif RS  Fee For Services  Berdasarkan Biaya Satuan (Unit Cost) 
Biaya Sarana Ditambah Jasa Pelayanan  TARIF (PMK 85 Th 2015)
 Artinya bahwa JASA PELAYANAN pun dihitung secara Fee For Services
(FFS)
 Merumuskan JASPEL dari tarif FFS relatif LEBIH MUDAH karena
melewati beberapa fase/tahap yang harus dilakukan pada tarif paket
(PPS).
 Merumuskan JASPEL pada tarif PPS  memerlukan langkah-langkah
awal tambahan  Ada tahap Split Price, Price Proportion dll.
 Munculah istilah PROPORSI, KONVERSI, RELATIVE VALUE UNIT (RVU) dan
sebagainya
PMK 85 / 2015 Pola Tarif RS Nasional
Dilema Jajaran Direksi RS
 RS yang bekerjasama dengan BPJSK  Pembayaran klaim model PPS
 Tarif RS yang disusun masih berdasar Unit Cost PER JENIS LAYANAN
 Belum ada pedoman/aturan/juknis baku bagaimana “MENGKONVERSI” PPS
menjadi FFS sehingga besaran JASPEL dapat dihitung dan kemudian
dibagikan
 Direksi RS menghadapi dilema dan galau  Tidak dibagikan  resiko 
karena JASPEL pasca UU RS adalah HAK  dokter akan resign 
Kemungkinan diikuti oleh pegawai lainnya  resiko di demo oleh pegawai
juga
 Mau dibagikan  Bagaimana caranya ?  Manlak/Juknis/Pedoman TIDAK
ADA
Variasi Metode Pembagian JASPEL Era PPS
 Karena tidak adanya Pedoman/Juknis/Panduan cara “menyulap”
tarif PPS menjadi FFS  ditambah dengan tuntutan bahwa JASPEL
WAJIB diberikan  akhirnya ada banyak metode dan variasi yang
diambil oleh RS
 RS Privat (RS Swasta) ada yang tetap menggunakan perhitungan
Jaspel dari tarif RS yang FFS  Mengabaikan besar tarif klaim yang
PPS
 RS Pemerintah juga masih ada yang tetap menggunakan perhitungan
Jaspel dari tarif RS  Mengabaikan kemungkinan SURPLUS atau
DEFISIT
 Sebagian RS Privat melakukan penghitungan ulang Jaspel dari tarif
RS lalu menetapkan sendiri besaran JASPEL dari tarif klaim yang PPS
secara tetap (Flat) per diagnosa
 Sebagian RS Pemerintah melakukan KONVERSI dari tarif PPS (dari
tarif klaim) menjadi tarif FFS RS yang berlaku
 Mulai berkembang metode FIXED-PROPORTIONAL yang diambil
proporsi Jasa Pelayanan langsung dari besaran tarif klaim yang PPS
 Ada produk hukum yang menjadi dasarnya  PMK No. 28 Tahun
2014 tentang Manlak Program JKN dan PMK No. 85 Tahun 2015
tentang Pola Tarif RS Nasional
 Konversi atau Proporsi ini bagi RS Pemerintah HARUS dilakukan  resiko
terjadinya defisit (Nilai Klaim Tarif PPS LEBIH KECIL dibanding dengan
TOTAL TARIF RS)  Menggerus BIAYA OPERASIONAL
 Bagi RS Privat sebetulnya LEBIH HARUS lagi  resiko menggerus BIAYA
OPERASIONAL dan BIAYA INVESTASI (Ada anggapan kalau RS
Pemerintah  Biaya Investasi menjadi tanggungjawab Pemerintah (Pusat
dan Daerah)
 Tapi memang sebagian besar RS Privat menerapkan kebijakan Single
Salary untuk pegawai NON DOKTER  hanya mendapat gaji dan
tunjangan saja sekali dalam sebulan  JASPEL relatif “HANYA” milik
Dokter saja  Sebagian RS Privat menerapkan Guarante Fee selain Jaspel
Filosofi Dan Prinsip Dasar
Filosofi Jaspel Vs Filosofi Remunerasi
 Jasa Pelayanan (Jaspel) adalah identik dengan Insentif
dan merupakan salah satu komponen dalam Remunerasi
 P2 (Pay For Performance)
 Sebelum UU RS terbit  Dasar Jaspel (Insentif) adalah
KEBIJAKAN dan BUKAN HAK (seperti gaji, tunjangan
dll)
 Setelah UU RS terbit  Jaspel (Insentif) adalah HAK 
bukan sekedar KEBIJAKAN (boleh diberikan, boleh
tidak)
Filosofi Remunerasi Versi KMK 625 Th 2010

1. Pay for Position (P1)  Basic Salary (Gaji, Tunjangan Tetap,


Honorarium)  Filosofi nya adalah ke arah SAFETY 
TIDAK dipengaruhi oleh pendapatan RS.
2. Pay for Performance (P2)  Insentif (Jasa Pelayanan) 
Filosofinya adalah ke arah MOTIVATION  Dipengaruhi
oleh pendapatan RS.
3. Pay for People (P3)  Merit (Bonus)  Filosofinya ke arah
REWARD  Dipengaruhi oleh Kebijakan (Diskresi) Direksi.
Prinsip Dasar Jasa Pelayanan (Insentif)
 Fee For Services  Diberikan atas PELAYANAN yang telah
diberikan
 No Work No Pay  Kontribusi Pendapatan  Jumlah berbanding
lurus dengan usaha  Kritaslisasi Keringat
 Fee For Performance  Jumlah berbanding lurus dengan KINERJA
 Individual work to Team Work  Terjadi pergeseran paradigma dari
anggapan hasil kerja perorangan menjadi hasil kerja tim (Ingat
pergeseran paradigma JASMED ke JASPEL)
 Fair is Not Equal  Adil bukanlah sama rata, tapi berdasarkan
proporsi dan kontribusi
 Soft Skill is Bigger Than Hard Skill  Otak lebih mahal dari Otot
Kesimpulan

1. Istilah Jasmed sudah berkembang menjadi Jaspel 


Penerimanya bukan hanya dokter  tapi seluruh pegawai
dalam sebuah tim kerja (Team Work)
2. Dasar pemberian Jaspel sudah berkembang dari sekedar
KEBIJAKAN menjadi sebuah HAK (UU RS Th 2009)
3. Jaspel merupakan bagian dari Sistem Remunerasi pada
komponen P2 (Pay For Performance)
4. Menghitung dan mendistribusikan Jaspel mengalami
tantangan berat dengan adanya pergeseran metode FFS ke
PPS
What Next ?
Pertanyaan Besar nya adalah :
Metode apa yang paling tepat dalam pembagian Jaspel di RS setelah
era PPS ? Apakah Sesuai Tarif RS ? Flat ? Konversi ? Proporsi ?
Clue :
 Tidak ada metode yang sempurna dan memuaskan semua pihak
 Selalu ada pihak yang merasa puas dan merasa tidak puas
 Membagi “rupiah” selalu membuat gaduh RS
Ini tantangannya.... Selamat berhitung
Sekian dan
Terimakasih

08121919677 (SMS/TELP/WA)
mashani77 mashani77 http://www.mashani77.net