Anda di halaman 1dari 9

1.

Pendahuluan

Prinsip minimally invasive telah semakin berkembang pada ilmu restoratif


sehingga penghilangan jaringan gigi yang sehat dapat dilakukan seminimal mungkin
setelah pembuangan karies. Hal ini telah menimbulkan ketertarikan pada konsep
minimally invasive pada gigi dengan lesi karies yang mendekati pulpa, namun vitalitas
pulpa masih harus dipertahankan.
Konsep dan prinsip perawatan lesi karies dalam masih dalam perdebatan.
Kesulitan dalam memperkirakan status jaringan pulpa di bawah lesi karies yang dalam
menyulitkan dalam menentukan diagnosis vitalitas pulpa yang tepat. Alternatif
prosedur selain pencabutan dan perawatan saluran akar adalah kaping pulpa, di mana
suatu medikamen ditempatkan langsung pada pulpa yang terbuka (direct pulp capping)
atau suatu sealer diletakkan di atas residu karies (indirect pulp capping) untuk
mempertahankan vitalitas pulpa. Follow-up selama 6 – 8 minggu dilakukan untuk
memberi waktu pada remineralisasi dasar kavitas (Karim dkk., 2014).
Data klinis dan ilmiah mengindikasikan lesi karies dalam diekskavasi
sebagian dan dilakukan kaping pulpa indirek. Salah satu motivasi utama dalam
melakukan ekskavasi karies sebagian dan kaping pulpa indirek adalah memastikan
prioritas perawatan gigi dari lesi karies, sehingga jumlah bakteri berkurang dan
menghentikan berjalannya lesi. Filosofinya adalah dengan menutup dentin yang
terdemineralisasi sebagian dan menghentikan proses perusakan oleh karies. Setelah
pemeriksaan status pulpa, periapikal, dan kemampuan gigi untuk dapat direstorasi,
penghilangan karies dilakukan. Dasar kavitas diberi bahan dan kemudian ditinggalkan
selama 12 minggu untuk kemudian evaluasi vitalitas pulpanya (Heymann dkk., 2013).
Kesulitan teknik ini adalah menentukan sampai titik mana ekskavasi dihentikan,
adanya ruang di bawah bahan restorasi yang merupakan hasil dari remineralisasi (di
mana dentin berkaries mengering dan kehilangan volume). Komplikasi lain adalah
kegagalan restorasi dan reaktivasi lesi yang ada secara cepat (Ingle, 2008).

1
2. Definisi Indirect Pulp Capping

Kaping pulpa indirek didefinisikan sebagai prosedur yang dilakukan pada gigi
dengan karies yang dalam mendekati pulpa (Garg dan Garg, 2014). Ingle (2008)
mendefinisikan kaping pulpa indirek sebagai prosedur di mana material ditempatkan
pada bagian tipis dari sisa dentin karies yang, apabila dihilangkan, dapat membuka
pulpa pada gigi permanen imatur. Teknik ini menunjukkan kesuksesan pada gigi tanpa
simtom dan patosis pada gambaran radiograf.

Gambar 1. Gigi dengan lesi karies yang dalam dan dilakukan kaping pulpa
indirek.

Pada gigi dengan karies yang dalam, dentin yang terinfeksi dihilangkan. Pada
gigi asimtomatik dengan lesi yang dalam (dimana ekskavasi dentin lunak secara
menyeluruh diantisipasi agar pulpa tidak terbuka), dentin affected dekat kamar pulpa
ditinggalkan (Heymann dkk., 2013). Dentin terdemineralisasi yang diberikan suatu
bahan medikasi di atasnya akan mengalami remineralisasi. Restorasi dengan seal yang
baik juga dibutuhkan untuk mempertahankan dentin yang bebas karies dan kondisi
pulpa tanpa perubahan patologis (Sherwood, 2010).
Pemimkiran ini berdasarkan proses dekalsifikasi dentin yang mendahului
invasi bakteri sehingga infeksi pada pulpa tidak terjadi. Pulpa bisa saja terinflamasi,
namun inflamasi bersifat reversible apabila penyebab (karies) yang didisinfeksi atau
dihilangkan dan akan mengalami penyembuhan seiring berjalannya waktu. Untuk
menentukan status pulpa, kriteria yang harus ada adalah tidak ada kelainan pada pulpa

2
secara radiografis, tidak ada riwayat nyeri spontan, tidak ada nyeri perkusi, tidak ada
nyeri saat mastikasi, dan tidak ada derajat kegoyahan (Ingle, 2009; Fagundes dkk.,
2009).

3. Bahan-bahan Indirect Pulp Capping


Menurut Garg dan Garg (2014), bahan kaping pulpa yang ideal memenuhi
syarat sebagai berikut:
a. Mempertahankan vitalitas pulpa
b. Bakterisida atau bakteriostat
c. Memiliki seal terhadap bakteri
d. Mampu menstimulasi pembentukan dentin reparatif
e. Radiopak
f. Mampu menahan tekanan di bawah restorasi

Bahan-bahan yang digunakan pada kaping pulpa indirek adalah:


a. Seng oksida eugenol (Zinc oxide eugenol/ZOE)
Seng oksida eugenol memiliki pH 6,6-8, bakteriostatik, dan memiliki efek
dalam mengurangi rasa nyeri pada pulpa dengan kavitas yang dalam
(Manappallil, 2010). Ketika seng oksida eugenol diaplikasikan dalam kavitas
kedalaman dentin, sebagian kecil eugenol berdifusi melalui dentin ke dalam
kamar pulpa (Markowitz dkk., 1992). Seng oksida eugenol menghasilkan
sedikit dentin reparatif, dan pada beberapa kasus mengakibatkan inflamasi
kronis (Aljandan dkk., 2002). Seng oksida eugenol juga menunjukkan adanya
kebocoran interfasial dan pelepasan eugenol dalam konsentrasi tinggi bersifat
sitotoksik (Asma dkk., 2014).

b. Semen ionomer kaca


Semen ionomer kaca menunjukkan biokompatibilitas yang baik di jaringan
sekat pulpa dan memiliki seal yang baik terhadap bakteri (Asma dkk., 2014)

3
karena dapat berikatan dengan baik terhadap gigi sehingga menccegah
masuknya bahan toksik ke pulpa (Hilton, 2009). Semen ionomer kaca (Fuji IX,
GC) sebagai bahan kaping pulpa indirek menunjukkan seal yang baik untuk
menghentikan proses perusakan (Heymann dkk., 2013). Semen ionomer kaca
modifikasi resin juga dilaporkan dapat digunakan sebagai bahan kaping pulpa,
namun dapat mengakibatkan inflamasi kronis pada pulpa 300 hari setelah
aplikasi karena onomer yang dilepaskan (Aljandan dkk., 2012).

c. Kalsium hidroksida
Kalsium hidroksida merupakan material pilihan untuk kaping pulpa karena
memiliki tingkat iritasi yang rendah terhadap pulpa yang terkena trauma
(Aljandan dkk., 2012). Kalsium hidroksida memiliki pH yang tingi (9-11) yang
berfungsi sebagai antibakteri dan kemampuannya untuk membentuk jaringan
keras. Karena sifat basa inilah enzim fosfatase teraktivasi dan meningkatkan
pelepasan fosfat organik dari darah. Mekanisme pembentukan jaringan keras
akibat bertambahnya ion kalsium asal darah pada area penyembuhan, netralisir
asam laktat yang diproduksi osteoklas untuk menghentikan demineralisasi, dan
meningkatnya aksi alkalin fosfatase (Garg dan Garg, 2014). Kalsium
hidroksida memiliki kekurangan, yaitu adanya tunner defects dan porus, kurang
adesif, larut, dan kemampuan seal yang rendah (Akhlaghi dan Abbasali, 2015).

Gambar 2. Salah satu bentuk sediaan kalsium hidroksida.

4
Gambar 3. Mekanisme aksi kalsium hidroksid sebagai bahan kaping pulpa

d. Mineral Trioxide Agregate (MTA)


Radiopaque Portland cement atau yang dikenal sebagai Mineral Trioxide
Agregate merupakan material teraputik kalsium silikat yang diperkenalkan
pertama kali sebagai grey cement. MTA menunjukkan aktivitas konduksi
calcified-tissue, memfasilitasi diferensiasi sel stem mesenkim dan mineralisasi
(Gandolfi dkk., 2012). MTA memiliki biokompatibilitas yang superior dan
kemampuan dalam mempertahankan integritas pulpa yang tinggi, serta
produksi dentinal bridge yang lebih tebal dan padat secara cepat (Akhlaghi dan
Abbasali, 2015). Kekurangan MTA adalah setting time yang lama, handling
yang susah, dan warnanya yang putih (Aljandan dkk., 2012).

5
e. Theracal LC
Komposisi material ini adalah kalsium silikat modifikasi resin dengan aktivasi
sinar yang mengandung 45 wt% mineral, 10 wt% komponen radiopak, 5 wt%
thickening agent (silica), dan 45% resin (monomer hidrofobik: UDMA, Bis-
GMA, TEGDMA; dan komponen hidrofilik HEMA). Theracal memiliki
kemampuan sealing yang baik. Theracal mampu melepaskan ion kalsium dan
hidroksil selama 28 hari. Resin dari Theracal mampu melakukan pelepasan ion
Ca dan OH dalam kondisi basah (pada pulpa dan/atau dentin) dan mampu
berinteraksi dengan bagian hidrofilik dentin (Gandolfi dkk., 2012).

Gambar 5. Sediaan Theracal LC (Bisco).

Pembentukan dan pelepasan kalsium hidroksida sangat kecil. Theracal LC


mengakibatkan respon inflamasi yang lebih berat daripada MTA dan material
ini tidak menstimulasi mineralisasi (Kobayashi dkk., 2016).

f. Biodentine
Biodentine merupakan semen bioaktif dengan sifat mekanis seperti dentin
(Asma dkk., 2014). Sediaannya berupa bubuk (trikalsium silikat, calcium
oxxide, calcium carbonate, zirconium oxide, iron oxide) dan cairan (air,
polimer, dan kalsium klorida). Biodentine memiliki setting time lebih cepat
dibandingkan dengan MTA atau semen kalsium silikat lainnya (Nicholson dan
Zarnecka, 2016).

6
Gambar 6. Sediaan Biodentine (Septodont).

Biodentine menunjukkan kemampuan pembentukan dentinal bridge yang sama


dengan MTA dan tanpa respon inflamasi pulpa. Pembentukan odontoblast-like
cells terlihat dalam waktu 6 minggu (Komabayashi dkk., 2016).

g. Ledermix cement
Semen Ledermix merupakan bahan hard-setting dengan sediaan bubuk (seng
oksid 47,2%, kalsium hidroksid 33,4%) dan cairan (eugenol 85%). Ketika
bubuk dan cairan dicampur, semen merupakan seng oksid yang mengandung
triamcinolone, demeclocycline, dan kalsium hidroksida sebagai bahan aktif.
Demeclocycline HCL (2%) bertindak sebagai antibakteri. Triamcinolone
acetonide (0,67%) dalam semen Ledermix berfungsi sebagai pereda nyeri dan
anti inflamasi (Karim dkk., 2014). Anti inflamasi steroid akan meregulasi
progenitor asal sel-sel pulpa untuk membentuk odontoblast-like cells yang akan
mengadakan dentinogenesis reparatif (Aljandan dkk., 2012).

7
Gambar . Sediaan semen Ledermix (bubuk dan cairan) dan pasta.

Triamcinolone dilepaskan sebanyak 70% sampai akhir hari pertama, sisanya


dilepaskan pada akhir hari ketiga. Setelah itu bahan aktif semen yang tersisa
berupa seng oksida eugenol dan kalsium hidroksida. Status vitalitas pulpa
dikontrol selama 3-6 bulan (Karim dkk., 2014).

8
Daftar Pustaka

Ingle JI, Bakland LK., Baumgartner JC. 2008. Ingle’s Endodontics 6. BC Decker.
Ontario

Manappallil JJ. 2010. Basic Dental Materials. 3rd edition. Jaypee Brothers. New Delhi

Ingle JI. 2009. PDQ Endodontics. 2nd edition. PMPH-USA. Connecticut

Markowitz K., Moynihan M., Liu M., Kim SC. 1992. Biologic properties of eugenol
and zinc oxide eugenol: a clinically oriented view. Oral Surgery, Oral
Medicine, Oral Pathology, 73 (6): 729-737

Sherwood IA. 2010. Essentials of Operative