Anda di halaman 1dari 115

RUNTUHNYA KERAJAAN MAJAPAHIT Tahun 1389-

1518 M

A. Latar Belakang

Sebenarnya kerajaan majapahit muncul setelah karajaan


singusari mengalami kehancuran, karena akibat dari serangan
karajaan Daha. Raja singusari pada waktu itu adalah raja
kartanegara sedangkan patihnya adalah Raden Wijaya.Setelah
pertarungan kedua belah pihak kerajaan Singusari akhirnya
musnah pada tahun 1292[1].Sedangkan Raden W ijaya mundur
kearah utara dan mendapatkan perlindungan dari kerajaan
Madura.Kemudian raden Wijaya mengatur strategi untuk
membalas kerajaan Daha atas kematian martua beliau yaitu raja
kartanegara dan dari sinilah terbentuklah kerajaan majapahit.

Dengan kerajaan Majapahit yang disahkan oleh Raden Wijaya


dengan gelar sebagai Prabu Kertajasa Jayawardana selapas dari
kehancuran kerajaan Kendiri yang dimusnahakan oleh pasukan
dari china (Tiongkok) oleh Dinasti Ming yang ingin menyerang
Prabu Kertanegara namun dapat dipengarui oleh pemerintah
Majapahit untuk menyerang Kendiri dan akhirnya kerajaan kendiri
di musnahkan. Setelah itu Majapahit berkembang dan muncul
sebagai kuasa besar di Asia Tenggara.Mengikut pandangan
sarjarah Majapahit mengalami tiga situasi pemerintahan.Pertama
adalah zaman permulaan kedua adalah zaman kegemilangan
dan yang terakhir adalah zaman kemerosotan.

Zaman kegemilangan adalah semasa Majapahit diperintah oleh


Hayam W uruk[2].Dia merupakan anak dari Puteri
Djajawisnuwardani dengan Kertawardana. Sebelum kelahiran dia,
lahir seorang anak lagi yang akan menjadi nadi kegemilangan
Majapahit yaitu Mangkubumi Gajah Mada yang memainkan
peranan penting dalam keagungan kerajaan Majapahit. Hayam
Wuruk yang mengunakan gelaran Rajasanegara merupakan
pemerintahan yang keempat Majapahit yang bermula pada tahun
1328-1389 M.

Zaman pemerintahan Hayam W uruk yang dibantu oleh


Mangkabuminya Patih Gajah Mada mengalami puncak
kegemilangan dimana seluruh kawasan nusantara di bawah
naungan kerajaan Majapahit. Dengan bantuan kebijaksanaan
dan sumpah Mangkabuminya yang dikenali sebagai sumpah
palapa, dimana majapahit dapat menyatukan seluruh kerajaan di
Nusantara termasuk Pahang, Palembang, dan Temasik. Namun
baliau telah meninggal dunia semasa Majapahit diambang
kemegahan, yaitu pada tahun 1363.

Setelah kehilang perdana menteri yang bijaksana maka politik


kerjaan mengalami perubahan karena jabatan yang dipegang
mangkabumi tidak mampu menanganinya.Selanjutnya jabatan
yang dipegang olehnya dibagikan kepada beberapa adipati untuk
diperintah.Setelah itu mulai lemah kerajaan Majapahit walaupun
tidak lagi menyeluruh namun, sudah mulai ada kepincangan
politik.Dan pada tahun 1389 M merupakan titik tolak kemerosotan
kerajaan Majapahit apabila Prabu Rajasanegara (Hayam W uruk)
telah meninggal dunia.Disini keadaan digambarkan keruntuhan
seratus tahun yang tidak dapat membangun lagi.Kemangkatan
Hayam W uruk menjadikan kekuasan Majapahit semangkin tidak
terkendali akibat bermulanya perebutan tahta kerajaan dan
kepincangan politik. Setelah kemangkatan dua tokoh yang agung
dalam kegemilangan kerajaan Majapahit yakni Mangkabuminya
yang merangkap perdana menteri majapahit Gajah Mada 1364 M
dan Hayam Wuruk 1389 M maka era selepas ini dinamakan
sebagai zaman kemerosotan majapahit yang akhirnya membawa
keruntuhan kerajaan Majapahit.

B. Rumusan Masalah

Bagaimanupun adanya penyebab kerajaan Majapahit mengalami


kemorosotan itu dikarenakan adanya beberapa fakor, diantaranya
keadaan para pengganti hayam W uruh tidak dapat mengemban
jabatannya. Tidak lain adanya perebutan kekuasan oleh para
keuruna Hayam Wuruk dan mengakibatkan perang saudara serta
adanya perlawan dari daerah kekuasaannya.

BAB II
PEMBAHASAN

a. Penyebab Keruntuhan Kerajaan Majapahit

Selepas kemangkatan Hayam W uruk pada tahun 1389 M, maka


pemerintahan kerajaan pengganti selanjutnya. Penganti tahta
kerajaan sesudah Hayam W uruk adalah Wirakramawardani yang
memerintah dari tahun 1389-1429 M merupakan menantu Hayam
Wuruk.Pada pemerintahan Wirakramawardani politik kerajaan
mulai merosot akibat ketidakpuasan hati dari saudara keturunan
Rajasanegara yang membawa kelemahan kerajaan Majapahit[3].
Perang saudara mula meletus akibat Virabumi tidak tunduk
terhadap penguasa Majapahit. Perang tercetus, ini
mengakibatkan kepincangan politik Majapahit dan menyebabkan
daerah kawasan majapahit memecahkan diri.Hal ini dibuktikan
dengan pembebasan Palembang dari kekuasaan majapahit.Serta
kemunculan Melaka pada kurun ke 15 M. Hal ini menunjukan
kelemahan raja Majapahit menyebabkan banyak negeri tidak lagi
mengiktiraf kerajaan majapahit dan mencoba untuk membuat
kerajaan sendiri[4].

Akibat daripada perang saudara diantara Virabumi dan


Wirakramawardani menyebabkan Virabumi terbunuh pada tahun
1406 M dan kota Varabumi ditawan. Namun perang tersebut
menyebebkan kematian pegawai China. Hal ini menyebabkan
hubungan dengan kerajaan china mulai renggang, walaupun hati
maharaja cina dapat diredakan dengan meminta ganti rugi yang
dibayar oleh Wikramawardani untuk menebus kematian pegawai
cina dalam perang tersebut.Namun Cina menjaga
perhubunganya dengan negeri di timur.Pada tahun 1429 M raja
Wikramawardani meninggal dunia dan pemerintahan diwariskan
kepada anaknya yaitu Ratu Suhita (1429-1447 M).

Pada pemerintah Ratu Suhita terjadi satu pemberontakan yang


dipimpin oleh Bhre Daha.Ini menunjukan lemahnya pemerintah
yang mengakibatkan pemberontakan untuk mengulingkan
kerajaan.Selepas kematian Ratu Suhita pada tahun 1447 M tahta
kerajaan dipegang oleh Raja Kertavijaya yang merupakan
saudara laki-laki Ratu Suhita. Ekonomi kerajaan Majapahit
semangkin lemah akibat kelemahan pemerintah Majapahit sendiri
kerana, banyak daerah yang dulunya menjadi nadi ekonomi
majapahit mulai tidak berhubungan dengan kota Majapahit seperti
kalimantan timur dan pelembang.

Setelah pemerintahan Raja Kertavijaya kerajaan Majapahit


diperintah oleh Seri Radjasawardana pada tahun 1451-1453 M,
namun selepas kematian tiada warisan yang memerintah
kerajaan Majapahit dan menyebabkan Majapahit tidak punya
pemimpin. Dicatatkan bahwa ketika tahun 1453-1456 M
Majapahit tidak mempunyai Raja.Sehingga kemunculan Hiang
Purwawisjesa.Namun pada masa pemerintahan Hiang
Purwawisjesa Majapahit memindahkan pusat pemerintahan ke
Tumapil.Hiang Purwawisjesa memerintah selama sepuluh tahun
(1465-1466).

Setelah itu kerajaan Majapahit diperintah oleh beberapa orang


raja sehingga, tiga orang raja terakhir yang memimpin tahta
kerajaan Majapahit yaitu Bera Widjaja yang berkuasa di
Majapahit yang dikenal sebagai Prabu Adipati Udara dan Prabu
Maharadja Adipati Unus. Pemerintahan pusat semankin lemah
apabila ketenteraan Majapahit mulai lumpuh kerana tidak mampu
menepis serangan dari luar lagi, ini menunjukkan betapa
lemahnya raja ketika memerintah Majapahit. Perkara ini
dibuktikan semasa serangan yang dilakukan oleh demak dalam
era pemerintahan Bera Wijaya tidak mampu untuk menepis
serangan tersebut yang menyebabkan kota Majapahit di
diruntuhkan.

Sehubungan dengan itu juga, kelemahan raja-raja Majapahit yang


terakhir yakni Bira W ijaya adalah tidak mampu mengawal
perairan di selat Melaka. Pemerintah Majapahit ketika itu jelas
kelihatan runtuh dan terpaksa membuat perjanjian dengan
Melaka.Perjanjian yang di lakukan pada tahun 1518 M adalah
peristiwa penting kerana terpaksa melakukan satu perjanjian
dengan Melaka. hal ini menunjukan kemerosotan Majapahit
apabila melakukan perjanjian dengan pemerintah yang dulunya
dibewah kekuasaan Majapahit. Sebelum Negara Majapahit
lenyap di Nusantara juga merupakan akibat serangan dari
Demak.Peristiwa ini jelas menunjukan bahwa setelah zaman
keemasan era pemerintahan Hayam Wuruk maka pemerintah
kerajaan menjadi yang lemah, tidak bijaksana dalam menangani
permasalahan politik yang menyebabkan kerajaan mejapahit
kehilangan kewibawaan sehingga pemerintah terakhir sebelum
dimusnahkann oleh kerajaan Demak.Akhirnya kerajaan Majapahit
jatuh dan tidak dapat dibentuk lagi.

b. Keadaan Setelah Gajah Mada dan Hayam W uruk

Kematian gajah mada pada tahun 1364 M adalah titik tolak


kemerosotan politik di pusat pemerintahan Majapahit.Sebelum
beliau meninggal dunia keadaan Majapahit yang begitu gemilang
kerana Majapahit diambang kejayaan.Namun setelah beliau
meninggal, maka jabatan beliau tidak ada yang mampu memikul
dan terpaksa diserahkan kepada beberapa adipati, ini
mengambarkan tiada yang mampu menlanjutkan kedudukan
Gajah Madah.Kematian beliau menyedihkan Prabu Hayam W uruk
sebelum wafat kerana tiada yang mampu mengantikan
kebijaksanaanya. Hal ini menyebabkan jabatan Gajah Mada
dipimpin oleh empat orang adipati kerajaan, yaitu Warda Menteri
(menteri sapuh), Bernama Pu Tading, Tumenggug
(mantjanegera) Pu Nala, Menteri Anom Patih dan Perdana
Menteri.

Perkara ini mengambarkan bahwa setelah kemangkatan Gajah


Madah, politik kerajaan Majapahit mengalami perubahan yang
begitu besar.Majapahit terpaksa berusaha mencari yang terbaik
untuk mengantikan jabatan yang ditinggalkan oleh Gajah Mada
dan kesan dari kejadian tersebut maka bermulalah kemerosotan
Majapahit walaupun tidak lagi nyata hingga kemangkatan Prabu
Hayam W uruk.

Dalam keadaan Majapahit yang menghampiri kemerosotan,


akhirnya bermula setelah kematian Hayam Wuruk pada 1389 M
setelah dua puluh lima tahun kematian Gaja Madah. Kematiannya
membawa kemerosotan Majapahit setelah tahta kerajaan beliau
DIwariskan kepada menantunya yakni Wikramawardana.Hal ini
mengakibatkan bibit-bibit pergolakan politik bermula walaupun
pada permulaanya tidak berlaku.Sehingga timbul persoalan siapa
yang berhak menguasai tahta kerajaan dari anak silirnya
Wirabumi.

c. Pergolakan Politik dan Perang Saudara

Faktor lain yang membawa kemerosotan kerajaan majapahit


adalah disebabkan oleh perang saudara yang terjadi sesudah
kematian Hayam W uruk. Perang saudara yang dikenal sebagai
perang Paregreg itu akibat daripada persoalan warisan
pemerintahan yang lebih layak memimpin kerajaan
Majapahit.[5]Perang saudara terjadi akibat dari keinginan untuk
menduduki tahta kerajaan. Pada masa Hayam W uruk masih
hidup, dia telah mewasiatkan bahwa sesudah beliau wafat tahta
kerajaan akan diteruskan oleh menantunya yakni
Wirakramawardana suami dari puteri Kasumawardani. Namun
Hayam W uruk juga meningalkan warisan dari selirnya yang
bernama Raja Wirabumi yang ditempatkan disebelah timur Jawa.
Maka wujud dua keluarga dari keturunan yang sama. Hal ini
menyebabkan berlaku pergolakan politik diantara kuasa pusat
yang diperintah oleh W irakramawardana dan kuasa peringkat
daerah yang diperintah oleh W irabumi dan akhirnya terjadi
perang saudara.[6]

Wirabumi tidak patuh terhadap kerajaan pusat kerana


Wirakramawardana hanyalah menantu Hayam W uruk, sedangkan
Wirabumi adalah anak dari selir dari Prabu Hayam Huruk.Ini
merupakan awal W irabumi tidak tunduk kepada kerajaan yang
berpusat di Majapahit.Maka setelah pergolakan diantara dua
keluarga maka, terjadilah perang saudara pada tahun 1404-1406
M yang dikenal sebagai perang Paregreg.

Akibat perang saudara mengakibatakan saling menjatuhkan


antara saudara satu dengan yang lainnya.Keadaan ini terbukti
pada Ratu Suhita menaiki tahta kerajaan Majapahit pada tahun
1429M. Pemerintahannya berat sebelah karena golongan yang
dulu melawan Wirabumi.Hal ini menunjukandendam dikalangan
keluarga pemerintah kerajaan yang mengakibatkan pemerintahan
pusat tidak lagi aman.

d. Berdirinya Pecahan Kerajaan Mejapahit

Munculnya Kerajaan Demak yang dipimpin oleh Raden Fatah


telah mengalahkan pertahanan Majapahit, banyak faktor yang
membawa kemenangan Demak terhadap Majapahit. Faktor-faktor
yang mempengarui terhadap kemenangan Demak adalah
disebabkan oleh, fungsi Demak dapat mengusai perdagangan di
dua pelabuhan utama yaitu pelabuhan Japara dan
Gerisik.Dengan menguasai pelabuhan, Demak dapat menguasai
kawasan dataran penanaman padi yang terbentang luas di
kawasan tersebut.Kekuasan kerajaan Demak diteruskan oleh
Raden Fateh yakni Pati Yunus dia tidak memerintah lama lalu
digantikan oleh saudaranya yaitu Teranggana.Pada
pemarintahan Teranggana Demak diambang kegemilangan dan
telah mengunakan gelaran sultan.

Kemunculan Demak sebagai kerajaan islam di tanah Jawa


menyebabkan Majapahit semakin terhimpit dalam situasinya yang
semakin dalam. Majapahit tidak mampu mempertahankan
kewibawaanya dari semua serangan luar.Pada pemerintahan raja
terakhir Majapahit, yakni Raja Udara pada tahun 1518 M
Majapahit diserang oleh Dipati Yunus yang berkuasa di Demak
yang meruntuhkan pusat kerajaan Majapahit. Perkara ini
menunjukan Majapahit tidak lagi berdaya untuk mempertahankan
kerajaanya walaupun di serang kerajaan kecil yang tidak
mempunyai pasukan yang banyak, ini mengambarkan
kemerosotan Majapahit yang tidak mampu lagi.[7]

Selain itu, juga diakibatkan munculnya Melaka pada tahun 1400


M. juga karena faktor kemerosotan dan keruntuhan kerajaan
Majapahit. Melaka yang disahkan oleh raja Palembang yaitu
Paramiswara merupakan anak Sang Aji yang telah
membebaskan diri dari lingkungan kerajaan Majapahit setelah dia
berkeyakinan akan dapat mewujudkan kerajaan Sriwijaya. Mulai
kelihatan kemerosotannya, dia merupakan wakil kerajaan
Majapahit untuk memerintah Palembang disamping itu dia adalah
menantu Hayam W uruk.Paramiswara yang telah melepaskan diri
dari kekuasaan Majapahit dengan melakukan penyucian diri yang
dikenal sebagai abheseka.Melalui penyucian tersebut
Paramiswara telah mengelarkan dirinya sebagai Sri Tri Buana
yang membawa makna Maharaja Tiga Buana. Dengan itu
Majapahit menyerang paramiswara ketika di Palembang, lalu
melarikan diri ke Temasik (pulau Singgapura) untuk mendapatkan
perlindungan dari pemerintah temasik yang merupakan wakil
kerajaan Ayudhya di Thailand. Namun beliau akhirnya berpindah
ke Muar dimanadia mendapatserangan dari tentera Ayudhya
karena beliau telah membunuh pemerintah Temasik ketika
menjadi wakil kerjaan Majapahit. Sehingga sampai ke muara di
Bertam lalu mendirikan kerajaan disana.

Setelah beberapa lama akhirnya Melaka muncul sebagai satu


kerajaan yang unggul di selat Melaka dan terkenal sebagai pusat
perdagang.Kerajaan Malaka mengukuhkan diri dengan
bekerjasama terhadap kerajan Cina, hal ini menyebabkan tidak
ada kerajaan lain yang berani menyerang Melaka ketika itu
termasuklah Majapahit. Kunjungan wakil Maharaja Yung-Lo ke
Melaka pada tahun 1404 M mengukuhkan kedudukan
Melaka.Perkara ini menandakan bahwa kerajaan Majapahit telah
hilang pengaruh di selat Melaka dalam kegiatan
perdagangan.Melaka yang terkenal dengan pelabuhan
enterpotnya menyebabkan ekonomi Majapahit sudah menurun
kerana pelabuhan yang dibawahi kekuasan Majapahit tidak lagi
menjadi perhatian oleh para pedagang kerana pelabuhan di
bawah Kerajaan Melaka.
BAB III

KESIMPULAN

Kelemahan pemerintahan raja-raja sesudah Hayam W uruk pada


1369 M merupakan faktor utama membawa kepada kemerosotan
dan keruntuhan kerajaan majapahit. Kelemahan pemerintahan
untuk mengembangkan dan mempertahankan kerajaan Majapahit
menyebabkan keluasan kerajaan majapahit semangkin
mengecil.Perkara ini menandakan Majapahit tinggal namanya
saja. Majapahit yang tinggal nama keagungannya, setelah
seratus tahun selepas Hayam Wuruk kerajaan Majapahit tidak
pernah lagi mengembangkan kerajaannya namun sebaliknya,
yaitu kerajaan terus jatuh sehingga kehancurnya takluk ditangan
Demak. Melalui kelemahan pemerintah Majapahit menyebabkan
wilayah-wilayah kekuasaan majapahit membebaskan diri dan
yang lebih menyedihkan lagi, ketika wilayah bawahan Majapahit
sendiri yang memusnahnya bukan dari kerajaan luar seperti
Thailan.Perkara ini menunjukan betapa rapuhnya kerajaan
Majapahit setelah mencapai zaman keemasanya.

Factor-faktor lain yang menyebabkan keruntuhan Majapahit


seperti pergolakan politik dan perang saudara. Malalui peperang
sesama pemerintah menyebabkan wujudnya kerajaan baru,
kerana dibalik kesibukan dalam perang saudara, kerajaan
majapahit memberi ruang kepada daerah bawahannya untuk
mengukuhkan kedudukanya dan ini dibuktikan dengan
pembebasan Palembang dari kekuasaan majapahit. Pemerintah
Palembang ketika itu Paramiswara telah berkeyakinan untuk
menbebaskan diri kerana Majapahit tidak lagi berkuasa atas
kerajaan Palembang.Sehingga cita-citanya tercapai setelah
perpindahannya ke Melaka pada abad ke 15 M. Islam yang
dibawa masuk oleh pedagang dari luar menjadikan agama Hindu
mulai pudar dari kalangan penduduk setempat. Perkembangan
islam yang tidak mampu disekat oleh pemerintah Majapahit
menyababkan agama Hindu hilang di bumi Jawa.

Disamping perubahan dasar luar, hubungan dengan Cina juga


menjadi penyebab kemorosotan majapahit. Kerajaan Cina telah
mengakui Melaka sebagai satu penguasa di selat Melaka dan
memberi perlindungan politik di Asia Tenggara. Maka dengan itu
perhatian kerajaan Cina terhadap majapahit tidak diperkenankan
oleh maharaja Cina karena sudah Melaka menjadi pusat enterpot
di Asia Tenggara.Perkara ini jelas menunjukan faktor dalam yang
di dukung oleh faktor luar yang menyebabkan kemerosotan dan
keruntuhan kerajaan majapahit yang berakhir pada tahun 1526 M.
Rahasia "Sabdo Palon & Noyo Genggong"

Suatu hari, Darmo Gandhul bertanya kepada Ki Kalamwadi


demikian, “Awal mulanya bagaimana sehingga orang Jawa
meninggalkan agama Buddha dan masuk agama Islam ?” Ki
Kalamwadi lantas bercerita, “Hal ini perlu diketahui, supaya orang
yang tidak tahu bisa mengerti.” Pada jaman dahulu negara
Majapahit itu namanya negara Majalengka. Adapun nama
Majapahit itu, hanya untuk pasemon, tetapi yang belum tahu
riwayatnya menganggap bahwa nama Majapahit itu memang
sudah namanya sejak semula. Raja Majalengka yang terakhir
bernama Prabu Brawijaya. W aktu itu sang Prabu sedang susah
hati. Sang Prabu kawin dengan Putri Cempa, padahal Putri
Cempa tadi beragama Islam. Kalau sedang berkasih-kasihan, ia
selalu bercerita kepada sang raja tentang keluhuran agama
Islam. Setiap bertemu selalu memuji agama Islam sehingga
menyebabkan Sang Prabu terpikat dengan agama Islam. Sang
Prabu Brawijaya memiliki seorang putra dari istrinya Putri Cina,
anak tersebut lahir di di Palembang dan diberi nama Raden
Patah. Menurut aturan leluhur dari ayahandanya yang beragama
Jawa Buddha, putra raja yang lahir si gunung, namanya adalah
Bambang. Jika menurut alur ibu, sesebutannya adalah Kaotiang.
Adapun jika orang Arab sebutannya adalah Sayid atau Sarib. Lalu
sang Prabu meminta pertimbang sang Patih, menurut sang Patih
maka putra sang Prabu tersebut dinamai Bambang, akan tetapi
karena ibunya Cina, lebih baik disebut Babah artinya lahir di
negara lain.

Negeri Majalengka, pada suatu hari Prabu Brawijaya sedang


dihadap Patih serta para madya bala. Patih memberi laporan
bahwa baru saja menerima surat dari Tumenggung Kertasana. Isi
surat memberi tahu bahwa negeri Kertasan sungainya kering.
Sungai yang dari Kediri alirannya menyimpang ke timur.
Sebagian surat tadi bunyinya begini, “Disebelah barat laut Kediri,
beberapa dusun-dusun rusak. Semua itu terkena sabda ulama
dari Arab, namanya Sunan Bonang. Mendengar kata Patih
tersebut, Sang Prabu sangat marah. Patih kemudian diutus ke
Kertasana, memeriksa keadaan senuanya, penduduk dan hasil
bumi yang diterjang air bah ? Serta diperintahkan memanggil
Sunan Bonang. Sang Prabu kemudian memerintahkan kepada
Patih, orang Arab yang di tanah Jawa diusir pergi, karena
membuat kerepotan negara, hanya di Demak dan Ampelgading
yang boleh melestarikan agamanya. Selain dua tempat
diperintahkan kembali ke negerinya. Jika tidak mau pergi
diperintahkan untuk dibunuh, jawab Patih, ” Gusti ! benar perintah
Paduka itu, karena ulama Giripura sudah tiga tahun juga tidak
menghadap dan tidak mengirim upetti. Mungkin maksudnya
hendak menjadi raja sendiri, tidak merasa makan minum di tanah
Jawa. Berarti santri Giri hendak melebihi wibawa Paduka.
Namanya Sunan Ainul Yakin, itu nama dalam bahasa Arab,
artinya Sunan itu budi, Ainal itu makrifat, Yakin itu tahu sendiri.
Jadi maknanya tahu dengan pasti. Dalam bahasa Jawa sama
dengan kata Prabu Satmata. Itu nama luhur yang hanya dimiliki
Yang Maha Kuasa, maha melihat. Di dunia tidak ada duanya
nama Prabu Satmata, kecuali hanya Batara Wisnu ketika bertahta
di negeri Medang Kasapta.

Mendengar kata Patih, kemudian Sang Prabu memerintahkan


untuk memerangi Giri. Orang di Giri geger, tidak kuat
menanggulangi amukan prajurit Majapahit. Sunan Giri lari ke
Bonang, mencari bantuan kekuatan. Setelah mendapat bantuan ,
kemudian perang lagi musuh orang Majalengka. Perang ramai
sekali, waktu itu tanah Jawa sudah hampir separo yang masuk
agama Islam, orang-orang pesisir utara sudah beragama Islam.
Adapun yang di selatan masih tetap memakai agama Buddha.

Sunan Bonang sudah mengakui kesalahanya, tidak menghadap


ke Majalengka. Maka kemudian pergi dengan Sunan Giri ke
Demak. Sesampainya di Demak, kemudian memanggil Adipati
Demak, diajak menyerang Majalengka. Kata Sunan Bonang
kepada Adipati Demak, ” Ketahuilah, sekarang sudah saatnya
Kraton Majalengka hancur, umurnya sudah seratus tiga tahun”.
Dari penglihatan gaibku yang kuat menjadi raja tanah Jawa,
menggantikan tahta raja hanya kamu. Karena itu hancurkan
Kraton Majalengka, tetapi dengan cara halus, jangan sampai
kelihatan. Menghadaplah besok Garebeg Maulud, tetapi siapkan
senjata perang, nanti kalau semua sudah berkumpul, para sunan
dan para bupati dan prajuritnya yang sudah Islam, pasti menurut
kepada kamu. Adipati Demak berkata, “Saya takut menyerang
negeri Majalengka, karena memusuhi ayah dan rajaku. Apa
balasan saya kecuali kesetiaan. Sunan Bonang berkata lagi,
“Meskipun musuh ayah dan raja, tidak ada jeleknya, karena itu
orang kafir. Kalau membunuh orang kafir Buda kawak, kamu
akan mendapatkan ganjaran surga. Sunan Bonang yang sudah
dipuji orang sealam semesta, keturunan rasul pemimpin orang
Islam semua. Kamu musuh ayah raja, meskipun dosa sekali,
hanya dengan satu orang, lagi pula raja kafir. Tetapi bila ayahmu
kalah, orang setanah Jawa Islam semua. Yang demikian itu,
seberapa pahalamu nanti di hadapan Allah, lipat berkali-kali.
Sebenarnya ayahmu itu sia-sia kepada kamu. Buktinya kamu
diberi nama Babah, tahu artinya Babah ? Babah itu artinya jorok
sekali yaitu saja mati saja hidup, benih Jawa dibawa putri Cina,
maka ibumu diberikan kepada Arya Damar, Bupati Palembang,
manusia keturunan raksasa. Itu memutuskan tali kasih namanya.
Ayahandamu pikirnya tetap tidak baik, maka kuanjurkan balaslah
dengan halus, artinya jangan sampai ketahuan. Dalam bathin
Sunan Bonang berkata, “Sesaplah darahnya, remuklah
tulangnya.”

Singkat cerita, tidak lama kemudian para Sunan dan para Bupati
sudah berdatangan semua. Kemudian mereka bermusyawarah
untuk memperbesar masjid. Setelah jadi, kemudian mereka
melakukan shalat berjamaah di Masjid. Setelah selesai shalat
kemudian mereka menutup pintu. Semua orang diberitahu oleh
Sunan Bonang, bahwa adipati Demak akan menjadi raja Jawa.
Untuk itu Majapahit harus ditaklukkan. Mereka semua terbujuk
oleh Sunan Bonang yang sangat piawai berbicara itu. Para sunan
dan para Bupati sudah mufakat semua, hanya satu yang tidak
sepakat, yaitu Seh Siti Jenar, Sunan Bonang marah, maka Seh
Siti Jenar dibunuh. Adapun yang diperintahkan membunuh
adalah Sunan Giri. Seh Siti Jenar dipenggal kepalanya hingga
tewas. Sebelum Seh Siti Jenar tewas, ia meninggalkan suara,
“Ingat-ingat ulama Giri, kamu tidak kubalas di akhirat, tetapi
kubalas di dunia saja. Kelak apabila ada raja Jawa bersama
orang tua, saat itulah lehermu akan kupenggal.”

Sang Prabu Brawijaya mendengar laporan Patih sangat terkejut,


berdiri mematung seperti tugu. Mengapa putranya dan para
ulama datang hendak merusak negara. Sang patih juga tidak
habis mengerti, karena tidak masuk akal orang diberi kebaikan
kok membalas kejahatan. Semestinya mereka membalas
kebaikan juga, Ki patih tak habis berpikir.

Singkat cerita, setelah pasukan Majapahit dipukul mundur oleh


pasukan yang dipimpin adipati Demak Raden Patah yang juga
Putra Prabu Brawijaya, para ulama dan para bupati, kemudian
perjalanan Prabu Brawijaya sampai di Blambangan, karena
merasa lelah kemudian berhenti dipinggir mata air. W aktu itu
pikiran Sang Prabu benar-benar gelap. Yang dihadapannya
hanya dua abdi dalem, yaitu Noyo Genggong dan Sabdo Palon.
Kedua abdi tadi tidak pernah bercanda, dan memikirkan peristiwa
yang baru saja terjadi. Sabdo Palon ? Sabda artinya kata-kata,
Palon kayu pengancing kandang. Naya artinya pandangan,
Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi bicara hamba itu,
bisa untuk pedoman orang tanah Jawa, langgeng selamanya.

Tidak lama kemudian Sunan Kalijaga berhasil ketemu dengan


sang Prabu diperjalanan, lalu Sunan Kalijaga bersujud
menyembah di kaki Sang Prabu. Sang Prabu kemudian bertanya
kepada Sunan Kalijaga, “Sahid ! Kamu datang ada apa ? Apa
perlunya mengikuti aku ?” Sunan Kalijaga berkata, “Hamba diutus
paduka untuk mencari dan menghaturkan sembah sujud kepada
paduka di manapun bertemu. Beliau memohon ampun atas
kekhilafannya sampai lancang berani merebut tahta paduka,
karena terlena oleh darah mudanya yang tidak tahu tata krama
ingin menduduki tahta memerintahkan negeri, disembah para
bupati. Sang Prabu Brawijaya bersabda, ” Aku sudah dengar
kata-katamu, sahid ! Tetapi tidak aku gagas ! Aku sudah muak
bicara dengan santri ! Mereka bicara dngan mata tujuh, lamis
semua, maka blero matanya ! Menunduk di muka tetapi memukul
di belakang. Kata-katanya hanya manis di bibir, batinnya meraup
pasir ditaburkan ke mata, agar buta mataku ini. Setelah
mendengar sabda Prabu demikian, Sunan Kalijaga merasa
bersalah karena ikut menyerang Majapahit. Ia menarik nafas
dalam dan sangat menyesal. Sang Prabu Brawijaya berkata,
“Sekarang aku akan ke pulau Bali, bertemu dengan yayi Prabu
Dewa Agung di Klungkung. Aku akan beri tahu tingkah Si Raden
Patah, menyia-nyiakan orang tua tanpa dosa, dan hendak
kuminta menggalang para raja sekitar Jawa untuk mengambil
kembali tahta Majapahit. Sunan Kalijaga sangat prihatin, ia
berkata dalam hati, “Tidak salah dengan dugaan Nyai Ageng
Ampelgading, bahwa Eyang Bungkuk masih gagah
mengangkangi negara, tidak tahu diri, kulit kisut punggung
wungkuk. Jika beliau dibiarkan sampai menyeberang ke Pulau
Bali, pasti akan ada perang besar dan pasukan Demak pasti
tidakkalah karena dalam posisi salah, memusuhi raja dan bapa,
ketiga pemberi anugrah. Sudah pasti orang Jawa yang belum
Islam akan membela raja tua, bersiaga mengangkat senjata.
Pasti akan kalah orang islam tertumpas dalam peperangan.
Mendengar kemarahan sang Prabu yang tak tertahankan, Sunan
Kalijaga merasa tidak bisa meredakan lagi, maka kemudian
beliau menyembah kaki sang Prabu sambil menyerahkan senjata
kerisnya dengan berkata, apabila sang Prabu tidak bersedia
mengikuti sarannya, maka ia mohon agar dibunuh saja, karena
akan malu mengetahui peristiwa menjijikan ini. Sang Prabu
mengeluh kepada Sunan Kalijaga, “Coba pikirkan Sahid !
Alangkah sedih hatiku, orang sudah tua renta, lemah tak berdaya
kok akan direndam dalam air”. Suanan Kalijaga memendam
senyum dan berkata, “Mustahil jika demikian, besok hamba yang
tanggung, hamba yakin tidak akan tega putra paduka
memperlakukan sia-sia kepada paduka. Akan halnya masalah
agama hanya terserah sekehendak paduka, namun lebih baik jika
paduka berkenan berganti syariat Rasul, dan mengucapkan asma
Allah. Akan tetapi jika paduka tidak berkenan itu tidak masalah,
toh hanya soal agama. Pedoman orang Islam itu syahadat,
meskipun salat dingklak-dingkluk jika belum paham syahadat itu
juga tetap kafir namanya.

Akhirnya setelah Sunan Kalijaga berkata banyak-banyak sampai


Prabu Brawijaya berkenan pindah agama Islam, setelah itu minta
potong rambut kepada Sunan Kalijaga, akan tetapi rambutnya
tidak mempan dipotong, Sunan Kalijaga lantas berkata, Sang
Prabu dimohon Islam Lahir bathin, karena apabila hanya lahir
saja, rambutnya tidak mempan digunting. Sang Prabu kemudian
berkata kalau sudah lahir bathin, maka rambutnya bisa dipotong.
Sang Prabu setelah potong rambut kemudian berkata kepada
Sabdo Palon dan Noyo Genggong, “Kamu berdua keberi tahu
mulai hari ini aku meninggalkan agama Buddha dan memeluk
agama Islam. Aku sudah menyebut nama Allah yang sejati. Kalau
kalian mau, kalian berdua kuajak pindah agama Rasul dan
meninggalkan agama Buddha. Lalu Sado Palon berkata sedih, ”
Hamba ini Ratu Dang Hyang yang menjaga tanah Jawa, siapa
yang bertahta, mejdi asuhan hamba. Mulai dari leluhur paduka
dahulu, sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri,
terun-temurun sampai sekarang. Hamba mengasuh penurun raja-
raja Jawa. Hamba jika tidur sampai 200 tahun. Selama hamba
tidur selalu ada peperangan saudara musuh saudara, yang nakal
membunuh manusia bangsanya sendiri. Sampai sekarang ini
umur hamba sudah 2.000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-
raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, sejak pertama
menepati agama Buddha. Baru paduka yang berani
meninggalkan pedoman luhur Jawa. Kalau hanya ikut-ikutan akan
membuat celaka muksa paduka kelak, kata Wikuutama disambut
halilintar bersahutan. Prabu Brawijaya disindir oleh Dewata
karena mau masuk agama Islam, yaitu dengan perwujudan
keadaan di dunia ditambah tiga hal : (1) rumput Jawan, (2) padi
Randanunut, dan (3) padi Mriyi. Sang Prabu bertanya,
“Bagaimana niatmu, mau apa tidak meninggalkan agama Buddha
masuk agama Rasul, lalu menyebut Nabi Muhammad Rasulallah
dan nama Allah yang sejati !”. Sabdo Palon berkata sedih, ”
Paduka masukllah sendiri, hamba tidak tega melihat watak sia-
sia, seperti manusia Arab itu, menginjak-nginjak hukum,
menginjak-nginjak tatanan. Jika hamba pindah agama, pasti akan
celaka muksa hamba kelak. Yang mengatakan mulia itu kan
orang Arab dan orang Islam semua, memuji diri sendiri. Kalau
hamba mengatakan kurang ajar, memuji kebaikan tetangga
mencelakai diri sendiri. Hamba suka agama lama menyebutkan
Dewa Yang Maha Lebih. Sang Prabu berkata lagi, “Aku akan
kembali kepada yang suwung, kekosongan ketika aku belum
maujud apa-apa, demikianlah tujuan kematianku kelak”. “Itu
matinya manusia tak berguna, tidak punya iman dan ilmu, ketika
hidup seperti hewan, hanya makan minum dan tidur. Demikian itu
hanya bisa gemuk kaya daging. Penting minum dan kencing saja,
hilang makna hidup dalam mati”. Sang prabu berkata,”Aku akan
muksa dengan ragaku”. Sabdo Palon tersenyum, ” Kalau orang
Islam terang tidak bisa muksa, tidak mampu meringkas makan
badannya, gemuk kebanyakkan daging. Manusia mati muksa itu
celaka, karena mati tetapi tidak meninggalkan jasad. Sang Prabu,
” Keinginanku kembali ke akhirat, masuk surga menghadap Yang
Maha Kuasa”. Sabdo Palon berkata, “Akhirat, surga, sudah
paduka bawa kemana-mana, dunia manusia itu sudah menguasai
alam kecil dalam besar. Paduka akan pergi ke akhirat mana, nanti
tersesat lho ! Bila mau hamba ingatkan jangan sampai paduka
mendapatkan kemelaratan seperti pengalidan negara. Jika salah
menjawab tentu dihukum, ditangkap, dipaksa kerja berat dan
tanpa menerima upah. Masuk akhirat Nusa Srenggi. Nusa artinya
Manusia, Sreng artinya berat sekali, Enggi artinya kerja. Jadi
maknanya manusia dipaksa bekerja untuk Ratu Nusa Srenggi,
Apa tidak celaka ! Paduka jangan sampai pulang akhirat, jangan
sampai masuk surga, malah tersesat, banyak binatang
mengganggu, semua tidur berselimut tanah, hidupnya bekerja
dengan paksaan, paduka jangan sampai menghadap Gusti Allah,
karena Gusti Allah itu tidak berwujud tidak berbentuk. W ujudnya
hanya asma, meliputi dunia dan akhirat, paduka belum kenal,
kenalnya hanya seperti kenalnya cahaya bintang dan rembulan.
Saya tidak tahan dekat apalagi paduka, Kangjeng Nabi musa toh
tidak tahan melihat Gusti Allah, maka Allah tidak kelihatan hanya
Dzatnya yang meliputi semua mahluk. Paduka bibit ruhani bukan
malaikat, manusia raganya berasal dari nutfah menghadap Hyang
Lata wal Hujwa, jika sudah lama minta yang baru tidak bolak-
balik, itulah hidup-mati.

Sang Prabu bertanya, “Dimana Tuhan yang Sejati ?”. Sabdo


Palon berkata, “Tidak jauh tidak dekat, Paduka bayangannya,
paduka wujud sifat suksma, sejatinya tunggal budi, hawa, dan
badan. Tiga-tiganya itu satu, tidak terpisahkan, tetapi juga tidak
berkumpul. Paduka itu raja mulia tentu tidak akan khilaf kepada
kata-kata hamba ini”. “Apa kamu tidak mau masuk agama Islam
?” Sabdo Palon berkata sedih, “Ikut agama lama, kepada agama
baru tidak !! Kenapa Paduka berganti agama tidak bertanya
hamba ? Apakah Paduka lupa nama hamba Sabdo Palon !
“Bagimana ini, aku sudah terlanjur masuk agama Islam, sudah
disaksikan Sahid, aku tidak boleh kembali kepada agama Buddha
lagi, aku malu apabila ditertawakan bumi dan langit “. “Iya sudah,
silakan Paduka jalani sendiri, hamba tidak ikut-ikutan, kata Sabdo
Palon kepada Prabu Brawijaya.

Sang Prabu mendengar kata-kata Sabdo Palon dalam batin


merasa sangat menyesal karena telah memeluk agama Islam dan
meninggalkan agama Buddha. Lama beliau tidak berkata,
kemudian ia menjelaskan bahwa masuknya agama Islam itu
karena terpikat kata Putri Cempa, yang mengatakan bahwa
agama Islam itu kelak apabila mati, masuk surga yang melebihi
surganya orang kafir. Sado Palon berkata sambil meludah, ”
Sejak jaman kuno,bila laki-laki menurut perempuan, pasti
sengsara, karena perempuan itu utamanya wadah, tidak
berwewenang memulai kehendak”. Sabdo Palon banyak-banyak
mencaci kepada Sang Prabu. Sabdo Palon berkata bahwa dirinya
akan memisahkan diri dengan beliau. Ketika ditanya perginya
akan kemana ? Ia menjawab tidak pergi, tetapi tidak berada
disitu, hanya menepati yang namanya Semar, artinya meliputi
sekalian wujud, anglela kalingan padang. Sang Prabu
bersumpah, besok apabila ada orang Jawa tua berpengetahuan,
yaitulah yang akan diasuh Sabdo Palon. Orang Jawa akan diajari
tahu benar salah. Sang Prabu hendak merangkul Sabdo Palon
dan Noyo Genggong, tetapi dua orang tadi kemudian musnah.

Sang Prabu menyesal dan meneteskan air matanya, kemudian


berkata kepada Sunan Kalijaga, “Besuk negara Blambangan
gantilah dengan nama negara Banyuwangi agar menjadi
pertanda kembalinya Sabdi Palon ke Tanah Jawa membawa
asuhannya. Adapun kini Sabdo Palon masih dalam alam gaib.

Sejak jaman kuno belum pernah ada kerajaan besar seperti


Majapahit hancur dengan disengat tawon serta digerogotin tikus
saja, dan bubarkan orang sekerejaan hanya dengan karena
disantet demit. Hancurnya Majapahit suaranya menggelegar,
terdengar sampai ke negara mana-mana. Kehancurannya
tersebut karena diserang oleh anaknya sendiri dibantu yaitu wali
delapan atau sunan delapan yang disujudi orang Jawa.
Sembilannya Adipati Demak, mereka semua memberontak
dengan licik.
Ramalan Sabdo Palon & Noyo Genggong

1. Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad


tentang negara Mojopahit. W aktu itu Sang Prabu Brawijaya
mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh
Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.

2. Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya:


“Sabda Palon sekarang saya sudah menjadi Islam.
Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah
agama suci dan baik.”

3. Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam


Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se
tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja
di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.

4. Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya.


Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun
saya akan mengganti agama Budha lagi (maksudnya Kawruh
Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa.

5. Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan.


Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati
saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat
tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung
Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.
6. Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap.
Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan
agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu
sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus
bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.

7. Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun:


Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai
sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar,
dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang
meninggal dunia.

8. Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu


sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia
ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa
sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.

9. Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak.


Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi
banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi.
Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian
juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.

10. Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang


menyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah
kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak
moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tapi siang hari
banyak begal.

11. Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari


makan. Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan
menahan keroncongannya perut. Hal tersebut berjalan disusul
datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar
merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah
meninggal dunia.

12. Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati.


Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga
pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga
bila dilihat persis lautan pasang.

13. Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan


kanan kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir
sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut
dengan gemuruh suaranya.

14. Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap


ke kanan serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan.
Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi
habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal
sedikitpun.
15. Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya
manusia. Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang
menyeret manusia ke dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh
di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak
yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.

16. Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang


sebentar tidak tampak lagi diriya. Kembali ke alamnya. Prabu
Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara.
Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun bagaimana lagi,
segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin diubahnya
lagi
MITOS SABDO PALON DAN NOYO GENGGONG : INI
JAWABANNYA !

Telah banyak bersliweran kabar, informasi, cerita legenda dan


hikayat tentang keberadaan abdi dalem Kraton MAJAPAHIT
(WILWATIKTA) yang bernama SABDO PALON dan NAYA
GENGGONG. Dari yang bersifat sangat halus hingga yang berisi
SUMPAH SERAPAH yang bersangkutan di era runtuhnya
MAJAPAHIT. Belum lagi terbitnya saduran buku-buku baik
berupa ajaran atau ramalan yang mengatas namakan dua abdi
ini, tetapi semuanya tidak dapat menunjukkan rujukan asli dari
sumber ceritanya.

Mengingat seringnya timbul pertanyaan mengenai hal ini di group


dan forum W ILWATIKTA (MAJAPAHIT), maka saya berinisiatif
untuk menjelaskannya secara tertulis seperti ini agar bila
pertanyaan yang sama muncul, rekan-rekan dapat mereferensi
jawabannya dari catatan ini. Hal ini didasarkan pada pengalaman
pribadi saya, baik ketika menerima ajaran adat maupun ketika
saya berkunjung ke beberapa lokasi peninggalan W ILWATIKTA /
MAJAPAHIT (di Jawa Timur dan Jawa Tengah).

Sesungguhnya penokohan abdi dalem yang bernama SABDO


PALON dan NOYO GENGGONG itu adalah nyata dan ada
(bukan bersifat ghaib atau klenik). Akan tetapi masyarakat luas
telah tercuci otaknya dengan pola berpikir mistis telah
menganggap tokoh ini adalah sejenis mahluk ghaib berjenjang
dewata dan mempunyai umur yang abadi. Dan semuanya
bertolak belakang dengan penjelasan apa yang saya terima
selama ini, hal itu tidak lepas dari kebiasaan saya untuk
mendebat (dalam batasan santun) kepada petunjuk leluhur yang
saya anggap tidak bisa saya pahami lewat akal pikiran maupun
hati nurani. Sehingga para leluhur yang memberi petunjuk
berkenan menjelaskan secara lebih terinci guna memberi
pemahaman akal dan nurani saya.

SABDO PALON dan NOYO GENGGONG belum dikenal dimasa


pemerintahan raja pertama SANGRAMA W IJAYA yang
berabhiseka SRI KERTARAJASA JAYAWARDHANA maupun
raja kedua DYAH JAYANEGARA yang berabhiseka SRI
SUNDARAPANDYADEW A ADHISWARA, di masa itu abdi dalem
yang melekat pada keluarga raja adalah Sang SAPU ANGIN dan
Sang SAPU JAGAD. Dalam konteks ini nama sesungguhnya dari
abdi raja tersebut bukanlah itu, gelar tersebut lebih dekat pada
sifat perilaku sang abdi. SAPU JAGAD berkonotasi SAPU = yang
membersihkan / yang mengatasi dan JAGAD = masalah-masalah
yang bersifat keduniawian, jadi Sang SAPU JAGAD adalah
seorang abdi yang piawai dalam ilmu keduniawian dan
kanuragan. Sedangkan SAPU ANGIN berkonotasi SAPU = yang
membersihkan / yang mengatasi dan ANGIN = masalah-masalah
yang bersifat spiritual / kebathinan, jadi Sang SAPU ANGIN
adalah seorang abdi yang piawai dalam hal keagamaan dan
spiritual / kebathinan. Begitu abdi ini menduduki jabatan tersebut,
maka nama pribadinya akan ditinggalkan dan memakai gelar
barunya sebagai SANG SAPU ANGIN dan SANG SAPU JAGAD.
Hal ini dapat anda buktikan bila mengunjungi SITIHINGGIL
MAJAPAHIT, di belakang posisi raja (SRI KERTARAJASA
JAYAWARDHANA dan istri-istrinya) ada bangunan makam SANG
SAPU ANGIN dan SANG SAPU JAGAD. Demikian pula lokasi
Candi BAJANG RATU tempat abu jenazah SRI
SUNDARAPANDYADEW A ADHISWARA (DYAH JAYANEGARA)
di kompleks candi juga di temui model makam sejenis.

SABDO PALON dan NOYO GENGGONG secara eksplisit baru


dikenal pada era pemerintahan raja ke-3 : Prabhu Stri / Rani
DYAH TRIBHUWANA W IJAYATUNGGADEWI MAHARAJASA
yang berabhiseka SRI TRIBHUW ANATUNGGADEWI
MAHARAJASA JAYAW ISNUWARDHANI. Hal ini atas masukan
dari Maha Rsi MAUDARA sebagai Mahapatih Dalam Pura, yang
merubah karakter sebelumnya menjadi SABDO PALON dan
NOYO GENGGONG. Alasannya adalah ketika pemerintahan raja
ke-2 banyak terjadi pemberontakan akibat adanya HASUTAN dari
orang-orang di dekat raja, sehingga diputuskan untuk membuat
mekanisme steril dan memberi pendampingan berupa tokoh yang
mampu memberikan pertimbangan obyektif kepada raja.
Sedangkan masalah keamanan raja dan keluarganya diserahkan
penuh kepada DHARMAPUTRA dan BHAYANGKARA (semacam
paspampres dan pasukan khusus pelindung kotaraja / ibukota).

Sama dengan konsep SANG SAPU ANGIN dan SANG SAPU


JAGAD, SABDO PALON dan NOYO GENGGONG bukanlah
nama asli dari sang abdi tetapi gelar yanf diberikan abdi sesuai
karakter tugas yang diembannya. SABDO PALON berkonotasi
SABDO = seseorang yang memberikan masukan / ajaran dan
PALON = kebenaran yang bergema dalam ruang semesta, jadi
SABDO PALON = Seseorang abdi yang berani menyuarakan
kebenaran kepada raja dan berani menanggung akibatnya (di
murkai raja dll). NAYA GENGGONG berkonotasi NAYA = nayaka
atau seseorang abdi raja dan GENGGONG = mengulang-ulang
suara, jadi NAYA GENGGONG = Seseorang abdi yang berani
mengingatkan raja secara berulang-ulang tentang kebenarandan
berani menanggung akibatnya (di murkai raja dll). SABDO
PALON bereaksi sebagai abdi yang memberikan pertimbangan
sebelum raja mengambil tindakan, sedangkan NAYA
GENGGONG adalah abdi yang memberikan teguran apabila raja
melakukan kekeliruan dalam berperilaku.
Yang luar biasa dari konsep ini adalah SABDO PALON dan
NAYA GENGGONG diambil dari abdi yang BUTA HURUF tetapi
mempunyai pemahaman yang mendalam atas tugasnya sebagai
pihak yang jadi pertimbangan raja. Alasannya : dengan
kondisinya yang buta huruf, akan memperkecil pengaruh dari
pihak luar dalam penyampaian pertimbangan ke raja, juga
menjadi pertimbangan spiritual bagi raja ..... bahwa ada
seseorang biasa (bukan bangsawan) dan buta huruf ptla yang
berani menegur raja ..... dan teguran itu membawa suara
KEBENARAN, jelas abdi ini adalah mahluk yang mendapat
pencerahan dari Tuhan (kata hati sang raja). Maka unsur tertiggi
dari dua abdi ini adalah kejujuran, keluguan dan pemahaman
yang mendalam atas HUKUM KEBENARAN SEMESTA. Itulah
kepangkatan abdi dalem yang terdekat dengan Raja
WILWATIKTA (Majapahit) : SABDO PALON dan NAYA
GENGGONG.

SABDO PALON dan NAYA GENGGONG yang pertama kali ada


adalah di era kepemimpinan SRI TRIBHUWANATUNGGADEW I
MAHARAJASA JAYAW ISNUWARDHANI. Bisa dibuktikan di
petilasan beliau di desa Panggih - Trowulan, disana selain
petilasan Maha Rsi MAUDARA juga akan anda temukan
petilasan (sekarang dibentuk model makam) dari dua abdi kinasih
: SABDO PALON dan NAYA GENGGONG ini. Karena ini konsep
struktural kenegaraan di era itu, hal yang sama juga di warisi oleh
raja-raja berikutnya di Majapahit, itulah sebabnya banyak sekali
tersebar petilasan yang berkonotasi SABDO PALON dan NAYA
GENGGONG. Karena sejumlah beberapa era raja di Majapahit,
sebanyak itu pula SABDO PALON dan NAYA GENGGONG ada.

Bila didekati secara spiritual, ada pertanyaan : Bisa tidak


diasumsikan bahwa SABDO PALON dan NAYA GENGGONG
adalah mahluk superior pilihan Tuhan guna menjadi pangemban
Raja Majapahit ??? Jawabannya adalah BISA DIANGGAP
DEMIKIAN, alasannya : JUJUR, MEMAHAMI HUKUM SEMESTA,
TEGUH MENYUARAKAN KEBENARAN, PANDAI WALAUPUN
BUTA HURUF, BERASAL DARI RAKYAT KEBANYAKAN, TIDAK
SILAU HARTA BENDA MAUPUN JABATAN MESKIPUN DEKAT
PENGAMBIL KEPUTUSAN ..... jelas hanya mahluk pilihan yang
mampu menduduki derajat ini. Tapi kalau didekati secara MISTIS,
bahwa SABDO PALON dan NAYA GENGGONG adalah tokoh
sekaliber SEMAR atau Kanjeng Gusti Ratu Ayu KENCANASARI
...... Jawaban saya TIDAK seperti itu kedudukannya dalam tata
krama keghaiban ..... malah bisa-bisa orang yang mendapat
pangkat SABDO PALON dan NAYA GENGGONG itu bisa
disusupi kekuatan spiritual SEMAR atau Kanjeng Gusti Ratu Ayu
KENCANASARI.
Sekarang saya akan membicarakan hal yang sedikit rumit,
khususnya era keruntuhan Majapahit pada masa pemerintahan :
SRI GIRINDRAW ARDHANA. Dibanyak buku yang beredar pada
saat ini, tergambar seakan-akan SABDO PALON dan NAYA
GENGGONG ketika berpisah / memisahkan diri dengan
momongannya / sang Raja mengeluarkan SUMPAH SERAPAH,
yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat sebagai : Buku
SABDO PALON dan NAYA GENGGONG NAGIH JANJI dan
dikenal pula sebagai JANGKA SABDO PALON dan NAYA
GENGGONG.

Saya telah berupaya secara tata lahir maupun tata bathin mencari
benang merah karya tulis tersebut dengan kenyataan yang ada.
Tetapi berkali-kali mengalami jalan buntu guna menemukan
referensi nyatanya, malah cenderung mengarah bahwa karya
tersebut dilahirkan di era MATARAM ISLAM oleh salah satu
pujangga kratonnya. Yang agak unik ternyata banyak terjadi
kemiripan dengan kasus pustaka raja JANGKA SRI AJI
JAYABAYA yang muncul ditengah masyarakat tidak dalam
bentuk penuh (cuplikan) yang disadur dalam judul JANGKA
JAYABAYA MUSSASAR dan beberapa lagi yang menggunakan
nama Islam dibelakangnya, padahal kita semua tahu sang
Prabhu beragama Hindu-Budha. Dan lagi-lagi mengarah ke
pujangga MATARAM ISLAM yang melakukan pensadurannya.
Lepas dari apa yang menjadi motivasinya (apakah bernilai positif
ataukah negatif bagi ketokohan SABDO PALON dan NAYA
GENGGONG), saya merasa ini karya tulis sadur dari JANGKA
JAYABAYA yang dikombinasikan dengan perasaan terluka
sebagian masyarakat Jawa atas pertikaian ISLAM dan HINDU
yang terjadi saat itu.

Mari saya tunjukkan LOGIKA nya, SABDO PALON dan NAYA


GENGGONG adalah abdi yang dibuat oleh sistem pemerintahan
dengan mengutamakan asas kejujuran dan nilai kebenaran
semesta guna mendampingi seorang Raja Majapahit. Dimana di
dalam wisudanya mereka berjanji akan senantiasa JUJUR dan
TEGUH MENYUARAKAN KEBENARAN BAGI RAJA, DAN AKAN
MENGABDI SEUMUR HIDUPNYA GUNA KEJAYAAN
NUSANTARA. Maka ketika kejadian mereka menegur raja
dengan KERAS atas hal-hal yang dianggap melanggar pranata
..... saya masih bisa terima secara logika, tetapi ketika mereka
menyumpah serapah semesta raya yang dapat menimbulkan
bencana bagi nusantara ..... nah yang ini saya tidak sependapat /
tidak bisa saya terima secara logika. Karena jatidiri mereka telah
lebih dari sekedar siap untuk berkorban demi sang raja dan
nusantara raya, terus kenapa menghancurkannya dengan
sumpah atas perjuangan yang mereka bangun dan pengorbanan
para SABDO PALON dan NAYA GENGGONG sebelumnya ???
Disinilah saya mengajak anda semua untuk berpikir panjang dan
ber-bersih hati guna memahami kebenaran yang sejati. Ketika
diceritakan SABDO PALON dan NAYA GENGGONG mengambil
jalannya sendiri dan berpisah dengan raja ..... ini juga hal yang
tidak cocok dengan konteks sumpah jabatannya. Setelah
mengalami proses perenungan dan mengunjungi lokasi petilasan
yang ada khususnya di lereng GUNUNG LAWU, SAYA SECARA
PRIBADI MEMPUNYAI PENDAPAT, BAHWA SABDO PALON
dan NAYA GENGGONG TIDAK PERNAH BERPISAH DENGAN
SRI GIRINDRAW ARDHANA HINGGA AKHIR HAYATNYA.
Banyak jejak kebersamaan para beliau dalam pengungsian di
tlatah kekuasaan BHRE MATARAM (sepupu sepuh sang raja),
dari PENGGING, PANTAI DI PESISIR SELATAN GUNUNG
KIDUL, WONOGIRI, LERENG LAWU dan PUNCAK LAWU.
Justru pertimbangan dari SABDO PALON dan NAYA
GENGGONG lah yang menurut saya mampu menenangkan sang
Raja dari gundahnya pikiran, dan memutuskan menjadi
Panembahan di Gunung Lawu. SABDO PALON dan NAYA
GENGGONG juga yang membimbing proses pelepasan ego raja
dan mensucikannya menjadi pertapa di sepanjang lereng hingga
puncak Lawu. Kedua tokoh ini justru menjadi kunci bagi sang
Raja mencapai pemahaman tertingginya atas kebenaran semesta
yang diwedhar di Candi SUKUH dan Candi CETHO, sehingga
ketika pencerahan itu terjadi ...... dua abdi ini yang pertama kali
menyembah kepada SRI GIRINDRAWARDHANA dengan
memanggilnya sebagai PANEMBAHAN AGUNG. (ada baiknya
bagi anda yang juga pelaku spiritual untuk menjejaki kembali /
napak tilas perjalanan tersebut ..... setelah itu simpulkan sendiri,
apakah saat itu SABDO PALON dan NAYA GENGGONG
berpisah ataukah masih tetap bersama-sama dengan
momongannya)
MAJAPAHIT, KERAJAAN HINDU ATAU ISLAM?
LIHAT FAKTANYA!

Jika kita mendengar kata sejarah, tentunya ingat pelajaran SMP


atau SMA zaman kita sekolah yang bikin kita ngantuk..

Tapi jangan beranjak dulu, dibawah ini ada sejarah unik dan ganjil
yang merupakan salah satu peninggalan sejarah terbesar
Indonesia. Kerajaan Majapahit namanya, sejarah dan Fakta unik
apakah itu?

Yuk kita telaah sama-sama:

Seorang sejarawan pernah berujar bahwa sejarah itu adalah versi


atau sudut pandang orang yang membuatnya. Versi ini sangat
tergantung dengan niat atau motivasisi pembuatnya. Barangkali
ini pula yang terjadi dengan Majapahit, sebuah kerajaan maha
besar masa lampau yang pernah ada di negara yang kini disebut
Indonesia.

Kekuasaannya membentang luas hingga mencakup sebagian


besar negara yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara. Namun
demikian, ada sesuatu yang ‘terasa aneh’ menyangkut kerajaan
yang puing-puing peninggalan kebesaran masa lalunya masih
dapat ditemukan di kawasan Trowulan – Mojokerto ini.
Sejak memasuki Sekolah Dasar, kita sudah disuguhi pemahaman
bahwa Majapahit adalah sebuah kerajaan Hindu terbesar yang
pernah ada dalam sejarah masa lalu kepulauan Nusantra yang
kini dkenal Indonesia. Inilah sesuatu yang terasa aneh tersebut.
Pemahaman sejarah tersebut seakan melupakan beragam bukti
arkeologis, sosiologis dan antropologis yang berkaitan dengan
Majapahit yang jika dicerna dan dipahami secara ‘jujur ’ akan
mengungkapkan fakta yang mengejutkan tentang Majapahit
sekaligus juga mematahkan pemahaman yang sudah
berkembang selama ini dalam khazanah sejarah masyarakat
Nusantara.

‘Kegelisahan ’ semacam inilah yang mungkin memotivasi Tim


Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan
Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah
Yogyakarta untuk melakukan kajian ulang terhadap sejarah
Majapahit. Setelah sekian lama berkutat dengan beragam fakta –
data arkeologis, sosiologis dan antropolis, maka Tim kemudian
menerbitkannya dalam sebuah buku awal berjudul ‘Kesultanan
Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi ’.

Buku ini hingga saat ini masih diterbitkan terbatas, terutama


menyongsong Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di
Yogyakarta beberapa waktu yang lalu. Sejarah Majapahit yang
dikenal selama ini di kalangan masyarakat adalah sejarah yang
disesuaikan untuk kepentingan penjajah (Belanda) yang ingin
terus bercokol di kepulauan Nusantara. Akibatnya, sejarah masa
lampau yang berkaitan dengan kawasan ini dibuat untuk
kepentingan tersebut. Hal ini dapat pula dianalogikan dengan
sejarah mengenai PKI. Sejarah berkaitan dengan partai komunis
ini yang dibuat dimasa Orde Baru tentu berbeda dengan sejarah
PKI yang dibuat di era Orde Lama dan bahkan era reformasi saat
ini.

Hal ini karena berkaitan dengan kepentingan masing-masing


dalam membuat sejarah tersebut. Dalam konteks Majapahit,
Belanda berkepentingan untuk menguasai Nusantara yang
mayoritas penduduknya adalah muslim. Untuk itu, diciptakanlah
pemahaman bahwa Majapahit yang menjadi kebanggaan
masyarakat Indonesia adalah kerajaan Hindu dan Islam masuk ke
Nusantara belakangan dengan mendobrak tatanan yang sudah
berkembang

dan ada dalam masyarakat. Apa yang diungkapkan oleh buku ini
tentu memiliki bukti berupa fakta dan data yang selama ini
tersembunyi atau sengaja disembunyikan. Beberapa fakta dan
data yang menguatkan kdyakinan bahwa kerajaan Majpahit
sesungguhnya adalah kerajaan Islam atau Kesultanan Majapahit
adalah sebagai berikut:
1. Ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang
bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’

Koin semacam ini dapat ditemukan dalam Museum Majapahit di


kawasan Trowulan Mojokerto Jawa Timur. Koin adalah alat
pembayaran resmi yang berlaku di sebuah wilayah kerajaan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sangat tidak mungkin
sebuah kerajaan Hindu memiliki alat pembayaran resmi berupa
koin emas bertuliskan kata-kata Tauhid.

2. Pada batu nisan Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang selama ini
dikenal sebagai Wali pertama dalam sistem W ali Songo yang
menyebarkan Islam di Tanah Jawa terdapat tulisan yang
menyatakan bahwa beliau adalah Qadhi atau hakim agama Islam
kerajaan Majapahit.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Agama Islam adalah


agama resmi yang dianut oleh Majapahit karena memiliki Qadhi
yang dalam sebuah kerajaan berperan sebagai hakim agama dan
penasehat bidang agama bagi sebuah kesultanan atau kerajaan
Islam.

3. Pada lambang Majapahit yang berupa delapan sinar matahari


terdapat beberapa tulisan Arab, yaitu shifat, asma, ma’rifat,
Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat. Kata-kata yang
beraksara Arab ini terdapat di antara sinar-sinar matahari yang
ada pada lambang Majapahit ini.

Untuk lebih mendekatkan pemahaman mengenai lambang


Majapahit ini, maka dapat dilihat pada logo Universitas Gadjah
Mada (UGM) Yogyakarta, atau dapat pula dilihat pada logo yang
digunakan Muhammadiyah. Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa Majapahit sesungguhnya adalah Kerajaan Islam atau
Kesultanan Islam karena menggunakan logo resmi yang
memakai simbol-simbol Islam.

4. Pendiri Majapahit, Raden W ijaya, adalah seorang muslim. Hal


ini karena Raden Wijaya merupakan cucu dari Raja Sunda, Prabu
Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam Pasundan
yang mengajarkan hidup prihatin layaknya ajaran-ajaran sufi,
sedangkan neneknya adalah seorang muslimah, keturunan dari
penguasa Sriwijaya. Meskipun bergelar Kertarajasa
Jayawardhana yang sangat bernuasa Hindu karena
menggunakan bahasa Sanskerta, tetapi bukan lantas menjadi
justifikasi bahwa beliau adalah seorang penganut Hindu.

Bahasa Sanskerta di masa lalu lazim digunakan untuk memberi


penghormatan yang tinggi kepada seseorang, apalagi seorang
raja. Gelar seperti inipun hingga saat ini masih digunakan oleh
para raja muslim Jawa, seperti Hamengku Buwono dan Paku
Alam Yogyakarta serta Paku Buwono di Solo. Di samping itu,
Gajah Mada yang menjadi Patih Majapahit yang sangat terkenal
terutama karena Sumpah Palapanya ternyata adalah seorang
muslim.

Hal ini karena nama aslinya adalah Gaj Ahmada, seorang ulama
Islam yang mengabdikan kemampuannya dengan menjadi Patih
di Kerajaan Majapahit. Hanya saja, untuk lebih memudahkan
penyebutan yang biasanya berlaku dalam masyarakat Jawa,
maka digunakan Gajahmada saja.

Dengan demikian, penulisan Gajah Mada yang benar adalah


Gajahmada dan bukan ‘Gajah Mada’. Pada nisan makam
Gajahmada di Mojokerto pun terdapat tulisan ‘LaIlaha Illallah
Muhammad Rasulullah’ yang menunjukkan bahwa Patih yang
biasa dikenal masyarakat sebagai Syeikh Mada setelah
pengunduran dirinya sebagai Patih Majapatih ini adalah seorang
muslim.

5. Jika fakta-fakta di atas masih berkaitan dengan internal


Majapahit, maka fakta-fakta berikut berhubungan dengan sejarah
dunia secara global. Sebagaimana diketahui bahwa 1253M,
tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan menyerbu
Baghdad. Akibatnya, Timur Tengah berada dalam situasi yang
berkecamuk dan terjebak dalam kondisi konflik yang tidak
menentu. Dampak selanjutnya adalah terjadinya perpindahan
besar- besaran kaum muslim dari TimurTengah, terutama para
keturunan Nabi yang biasa dikenal dengan‘Allawiyah. Kelompok
ini sebagian besar menuju kawasan Nuswantara(Nusantara) yang
memang dikenal memiliki tempat-tempat yang eksotis dan kaya
dengan sumberdaya alam dan kemudian menetap dan beranak
pinak di tempat ini.

Dari keturunan pada pendatang inilah sebagian besar penguasa


beragam kerajaan Nusantara berasal, tanpa terkecuali Majapahit.
Inilah beberapa bukti dari fakta dan data yang mengungkapkan
bahwa sesungguhnya Majapahit adalah Kesultanan Islam yang
berkuasa di sebagian besar kawasan yang kini dikenal sebagai
Asia Tenggara ini.

Sekali lagi terbukti bahwa sejarah itu adalah versi, tergantung


untuk apa sejarah itu dibuat dan tentunya terkandung di
dalamnya beragam kepentingan.

Bisa saja sejarah lahirnya Si Ucok kronologisnya begini menurut


saya dengan sudut pandang saya sendiri tentunya, namun akan
lain halnya menurut orang lain dengan sudut pandangnya sendiri.

Kalau begitu sejarah bisa dimanipulasi dong? jujur, bisa saya


katakan ‘iya’.
MAJAPAHIT ADALAH (BUKAN) KESULTANAN
ISLAM

Melihat tulisan di sini, di sini, di sini, dan di situs-situs lain,


termasuk dalam forum forum-forum internet, menjadi motif saya
untuk menulis tulisan ini sebagai sikap saya atas inti tulisan
tersebut yang menyatakan bahwa Majapahit merupakan kerajaan
Islam di Indonesia yang bernama Kesultanan Majapahit.

Saya akan mengulas hal-hal yang dijadikan dasar oleh pihak


yang menyatakan Majapahit merupakan kerajaan Islam.

Pertama, mengenai ditemukan atau adanya koin-koin emas


Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad
Rasulullah’

Koin Dengan Lafaz Kalimat Tauhid

Ulasan saya:

Pada tahun 2009, Tim Evaluasi Neo Pusat Informasi Majapahit


(Neo PIM) menemukan peninggalan-peninggalan kerajaan
Majapahit di situs Trowulan yang salah satunya adalah ribuan
mata uang kuno dari Tiongkok. Mata uang tersebut bertuliskan
huruf Tiongkok, dan jumlahnya sekitar 60 ribu keping.
Apakah ini menandakan bahwa Majapahit adalah kerajaan yang
beragama Konghucu, Taoisme, atau agama apapun yang berasal
dari Tiongkok?

Atau, apakah Majapahit merupakan kerajaan bawahan (vassal)


dari Kekaisaran Tiongkok?

Tentu saja bukan.

Peninggalan berupa uang koin Tiongkok yang ditemukan di


wilayah kerajaan Majapahit pertanda adanya hubungan dagang
dengan negeri Tiongkok. Para pedagang dari Tiongkok kerap
membawa mata uang negerinya yang terbuat dari emas, perak
atau perunggu untuk dibawa ke Majapahit. Hal ini wajar saja
mengingat pada zaman tersebut emas, perak, atau perunggu
merupakan alat pembayaran yang lazim digunakan dimana saja.
Yang membedakan nilainya adalah berat dari emas/perak itu
sendiri. Majapahit sendiri mengeluarkan uang lokal yang disebut
dengan Gobog.

Koin Tiongkok Pada Zaman Majapahit

Penemuan koin emas yang bertuliskan kalimat tauhid dengan


huruf Arab pun menandakan para pedagang dari Timur Tengah
telah menjalin hubungan dagang dengan para pedagang
nusantara, khususnya Majapahit. Terlalu tergesa-gesa bila
menyimpulkan Majapahit adalah Kerajaan Islam karena
ditemukannya koin emas berlafazkan “La Ilaha Illallah
Muhammad Rasulullah”.

Penduduk lokal Majapahit mungkin sudah ada yang memeluk


Islam yang disebarkan para pedagang/ulama yang datang dari
Timur Tengah, tapi tidak dapat disimpulkan bahwa kerajaan
Majapahit adalah kerajaan/kesultanan Islam.

Kedua, mengenai penemuan pada batu nisan Syeikh Maulana


Malik Ibrahim yang selama ini dikenal sebagai Wali pertama
dalam sistem W ali Songo yang menyebarkan Islam di Tanah
Jawa terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah
hakim agama Islam kerajaan Majapahit.

Ulasan saya:

Pada nisan makam Syeikh Maulana Malik Ibrahim atau Syeikh


Maghribi atau Sunan Gresik, terdapat inskripsi yaitu surat al-
Baqarah ayat 225 (ayat Kursi), surat Ali Imran ayat 185, surat al-
Rahman ayat 26-27, dan surat al-Taubah ayat 21-22 serta tulisan
dalam bahasa Arab yang artinya:

Ini adalah makam almarhum seorang yang dapat diharapkan


mendapat pengampunan Allah dan yang mengharapkan kepada
rahmat Tuhannya Yang Maha Luhur, guru para pangeran dan
sebagai tongkat sekalian para Sultan dan Menteri, siraman bagi
kaum fakir dan miskin. Yang berbahagia dan syahid penguasa
dan urusan agama: Malik Ibrahim yang terkenal dengan
kebaikannya(dalam terjemahan lain disebut: terkenal dengan
Kakek Bantal-red). Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-
Nya dan semoga menempatkannya di surga. Ia wafat pada hari
Senin 12 Rabi’ul Awwal 822 Hijriah.

Tidak ada dalam inskripsi tersebut yang menyatakan bahwa


beliau adalah hakim agama Islam di kerajaan Majapahit.
Terjemahan Sultan dan Menteri dalam inskripsi tersebut menurut
Macchi Suhadi yang mengacu pada pendapat Usman bin Yatim
bin Abdul Halim Nasir ditujukan untuk Sultan Samudera Pasai,
karena menurutnya nisan Maulana Malik Ibrahim berasal dari
Pasai karena memiliki kemiripan dengan nisan makam sultan-
sultan dari Samudera Pasai. Tjandrasasmita (1983:283) malah
berpendapat bahwa kuat dugaan bahwa sultan dan menteri yang
berduka dengan meninggalnya Maulana Malik Ibrahim itu berasal
dari Gujarat dan Samudera pasai, yang mengirimkan jirat dan
nisan beserta pertulisannya tersebut, sebagai tanda hormat
kepadanya.

Kalau memang perkataan Sultan dan Menteri itu merujuk kepada


Majapahit, mengapa di peninggalan Majapahit seperti di candi-
candi, tidak menggunakan huruf Arab?

Batu nisan yang ada di makam Maulana Malik Ibrahim jelas


dibuat oleh orang/pihak yang mengenal beliau. Yang jelas,
inskripsi tersebut menceritakan bahwa yang dimakamkan
bukanlah orang sembarangan. Maulana Malik Ibrahim selain
dikenal sebagai ulama, beliau juga terkenal sebagai pedagang,
dan ahli pengobatan. Kalau memang ada para bangsawan/raja
Majapahit yang mengenal beliau, atau bahkan menganut agama
Islam karena beliau, bukan berarti menandakan bahwa kerajaan
Majapahit merupakan Kerajaan Islam. Lebih-lebih bila tulisan
dalam nisan Maulana Malik Ibrahim dianggap sebagai bukti
bahwa beliau adalah menteri dari Majapahit.

Pertanyaan saya adalah, kalau Maulana Malik Ibrahim memang


benar seorang menteri di Majapahit, terus kenapa?

Kita bandingkan dengan negeri Tiongkok.

Mengapa tidak ada yang menarik kesimpulan yang menyatakan


bahwa kekaisaran Tiongkok pada masa lalu adalah negara
Islam? Padahal kekaisaran Tiongkok memiliki Laksamana Cheng
Ho, seorang muslim asli Tiongkok, pemimpin armada laut dalam
ekspedisi pelayaran Tiongkok, juga merupakan kasim di negeri
itu.

Ketiga, perihal lambang Majapahit yang berupa delapan sinar


matahari terdapat beberapa tulisan Arab, yaitu shifat, asma,
ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat.

Ulasan saya:
Dibawah ini adalah gambar yang dianggap bukti bahwa pada
lambang Majapahit terdapat tulisan Arab:

Bandingkan dengan gambar yang ini yang juga gambar lambang


Majapahit:

Pada gambar pertama, seolah-olah huruf arab tersebut


merupakan huruf yang benar-benar tercetak pada artefak Surya
Majapahit. Menurut saya, huruf Arab yang diberi penekanan pada
gambar tersebut tidak lebih merupakan persepsi yang dipaksakan
oleh pihak yang menganggap Majapahit merupakan kerajaan
Islam. Hal ini tidak dapat diterima begitu saja sebagai bukti bahwa
Majapahit merupakan kerajaan Islam.

Ini seperti foto tentang misteri monster danau Loch Ness.

Foto di samping ada yang menganggap sebagai foto


penampakan makhluk misterius yang ada di danau Loch Ness,
dan ada yang menganggap sebagai foto biasa yang menganggap
hal itu mungkin saja batu atau kayu yang ada di danau tersebut.
Akibat foto ini, sudah banyak uang yang dikeluarkan untuk
ekspedisi mengungkap misteri makhluk misterius danau Loch
Ness karena meyakini kalau foto tersebut benar-benar
merupakan penampakan dari monster yang ada di danau
tersebut.

Tetapi…

Pada tahun 1994, misteri tentang foto tersebut terungkap. Foto


tersebut adalah rekayasa. Foto itu adalah foto mainan kapal
selam yang di atasnya ditempel mainan ular naga laut (bentuk
leher memanjang). Selama 60 tahun foto tersebut dipercaya
sebagai bukti keberadaan monster danau Loch Ness.

Keempat, pendapat yang menyatakan pendiri Majapahit, Raden


Wijaya, adalah seorang muslim. Hal ini karena Raden W ijaya
merupakan cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang
sekaligus juga ulama Islam Pasundan.

Ulasan saya:

Saya sungguh tidak tahu atas dasar apa ada pendapat yang
menyatakan bahwa pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah
seorang muslim dan Prabu Guru Dharmasiksa adalah seorang
ulama Islam. Hingga kini, saya belum menemukan sumber
otentik, bahkan cerita rakyat sekalipun yang menyatakan Raden
Wijaya serta Prabu Guru Dharmasiksa adalah seseorang yang
menganut agama Islam.
Lepas dari itu, Raden Wijaya dipercaya merupakan anak dari
Dyah Lembu Tal. Beberapa sumber memiliki redaksi yang
berbeda tentang Dyah Lembu Tal, yaitu:

a. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, Lembu Tal


atau Dyah Singamurti adalah putri dari Mahisa Campaka, putra
Mahisa W onga Teleng, putra Ken Arok, pendiri Kerajaan
Singhasari.

Lembu Tal menikah dengan Rakeyan Jayadarma, putra Prabu


Guru Darmasiksa raja Kerajaan Sunda-Galuh yang memerintah
tahun 1175-1297. Dari perkawinan itu lahir Raden Wijaya.

b. Menurut Negarakertagama, Dyah Lembu Tal adalah seorang


laki-laki, anak dari Narasinghamurti.

Keterangan dalam Negarakertagama diperkuat oleh prasasti


Balawi yang diterbitkan oleh Raden Wijaya sendiri pada tahun
1305 M. Dalam prasasti itu Raden Wijaya mengaku sebagai
anggota asli Wangsa Rajasa, yaitu dinasti yang menurut
Pararaton didirikan oleh Ken Arok, penguasa pertama Kerajaan
Singhasari.

Jadi, keterangan tentang Raden Wijaya yang merupakan cucu


dari Dharmasiksa sendiri masih perlu diteliti. Mungkin saja Raden
Wijaya memang cucu Dharmasiksa seperti yang tercantum dalam
Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara. Raden Wijaya dibawa
pergi oleh Lembu Tal dari Sunda dan akhirnya menetap kembali
di Singasari. Untuk meyakinkan legitimasinya di Majapahit, Raden
Wijaya menggunakan silsilah yang ia buat dari garis keturunan
Singasari. Sebagaimana raja-raja Mataram Islam yang
menggunakan silsilah hingga ke Nabi Adam untuk memperkuat
legitimasinya. Atau malah, Raden Wijaya sama sekali tidak
memiliki darah Sunda? Ini merupakan kajian yang masih harus
diteliti kebenarannya.

Adapun Prabu Guru Dharmasiksa sendiri memang terkenal akan


ajarannya yaitu Amanat Galunggung yang intinya merupakan
amanat yang bersifat pegangan hidup, amanat tentang perilaku
negatif, dan amanat tentang perilaku positif. Tidak ada
redaksional yang mengarah kepada kesimpulan bahwa
Dharmasiksa adalah seorang muslim. Amanat Galunggung
sendiri dipercaya merupakan khazanah lokal budaya Sunda yang
berasal dari agama Sunda Wiwitan (agama Sunda Kuno).

Mengenai Gajah Mada sendiri, ada yang mengatakan kalau itu


adalah gelar. Pada masa itu, memang lazim digunakan nama-
nama hewan sebagai gelar seperti Prabu Gajah Agung, Lembu
Agung, Lembu Tal, Gajah Kulon, Kebo Anabrang, dan lain-lain.
Belum dapat dipastikan apakah Gajah Mada benar-benar nama
asli atau bukan. Hanya saja, kesimpulan bahwa Gajah Mada
adalah Gaj Ahmada sungguh sangat lucu. Apakah arti Gaj itu?
Lalu, mengapa dengan mudahnya memenggal nama Gajah Mada
menjadi Gaj Ahmada? Mengapa tidak Ga Jahmada, Gajahma
Da? Atau G.Ajah Mada?

Adapun mengenai gelar pada Raden Wijaya yang bukan


justifikasi bahwa dia adalah seorang Hindu, masih bisa saya
terima. Tapi, bila harus membandingkan Kertarajasa
Jayawardhana (gelar Raden Wijaya) dengan Sultan
Hamengkubuwono, itu jelas berbeda.

Bisa saja seorang muslim memakai gelar dengan Bahasa


Sanskerta seperti Kertarajasa Jayawardhana, tetapi tidak bagi
non muslim yang menggunakan gelar Sultan. Sultan adalah gelar
identitas kekuasaan dan keagamaan, sama seperti Paus pada
agama Katholik dan Tahta Suci Vatikan. Kesultanan merupakan
bentuk pemerintahan khas Islam, seperti pada Banten, Aceh,
Ternate, dan yang lainnya. Pada masa sekarang, mungkin seperti
Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Brunei Darussalam
contohnya. Bila sang Sultan sudah tidak Islam, maka Kesultanan
pun berubah menjadi, Kekaisaran Brunei, atau Republik
Ngayogyakarto.

Untuk menjelaskan bahwa Sultan adalah suatu gelar identitas,


saya ajukan pertanyaan sederhana.
Sultan Henry XIV dengan Paus Yazid III. Menurut anda, manakah
di antara mereka yang seorang muslim?

Kelima, tentang keturunan Arab yang banyak menjadi penguasa


di Nusantara.

Ulasan saya:

Memang ada kerajaan di Nusantara yang didirikan oleh seorang


keturunan Arab Islam, contohnya adalah Kesultanan Perlak di
Aceh (840-1292). Tetapi, saya bertanya singkat saja:

Siapakah pendiri Majapahit?

Sudah tentu Raden Wijaya yang berasal dari Nusantara sendiri


(kalau tidak Jawa, ya Sunda. Lihat ulasan keempat di atas).

Di luar kelima hal yang dianggap sebagai bukti di atas, ada yang
berpendapat seperti ini:

“jika Majapahit adalah kerajaan besar yang beragam Buddha atau


Hindu, harusnya sampai saat ini agama terbesar di nusantara ini
tentunya Buddha dan Hindu. karena yang namanya keyakinan itu
pasti mengakar kuat. Tapi kenyataannya agama terbesar sampai
saat ini dari sejak nusantara sampai sekarang adalah Islam.

Ini pararel dengan kenyataan bahwa Muhammadiyah atau


Nahdlatul Ulama yang masih eksis berdiri sampai sekarang
walapun sudah 60 tahun. dan itu baru organisasi, bukan sebuah
kerajaan besar. Apalagi tentunya jika dibandingkan dengan
kerajaan sebesar Majapahit. tentunya itu akan mewarisi
ideologi/agama yang kuat. kenapa tidak Buddha atau Hindu yang
besar? Melainkan Islam?”

Menurut saya pendapat di atas menafikan fakta sejarah yaitu


munculnya kerajaan-kerajaan Islam di seluruh Indonesia, dari
Aceh hingga Maluku, baik sezaman dengan Majapahit, maupun
setelah Majapahit runtuh. Tentu hal ini, berpengaruh pada
cepatnya penyebaran Islam di Indonesia. Perlu diketahui, saat
Majapahit runtuh, tidak ada kerajaan non-Islam (Hindu-Buddha) di
Indonesia yang pengaruhnya sebesar atau melebihi Majapahit.

Kita ambil contoh negara India. Sebelum Republik India resmi


berdiri, India pernah berada dalam pemerintahan Mughal, suatu
pemerintahan Islam dari abad 16 hingga 19. Peninggalannya
yang terkenal adalah Taj Mahal, bangunan bercorak Islam yang
menjadi kebanggaan masyarakat India. Tapi kini, nyatanya India
adalah negara dengan populasi Hindu terbanyak di dunia.

Menurut saya, pendapat yang menyatakan bahwa Islam


berkembang sejak zaman Majapahit itu mungkin saja benar,
tetapi kesimpulan bahwa Majapahit merupakan Kesultanan Islam
adalah kesimpulan yang terburu-buru dan perlu diteliti lagi
kebenarannya
Arkeolog dan ahli naskah tanggapi klaim Majapahit
sebagai kerajaan Islam

Sebuah hasil kajian yang menyimpulkan Kerajaan Majapahit


merupakan Kesultanan Islam dipertanyakan oleh arkeolog
senior dan ahli naskah kuno, karena dianggap tidak
berdasarkan bukti-bukti yang kuat.

Mereka kemudian mengusulkan agar kajian itu dibahas bersama


para ahli di bidangnya sehingga dapat diketahui kelebihan dan
kekurangannya.
Hasil kajian sebenarnya sudah dibukukan dengan judul Majapahit,
Kerajaan Islam: Fakta Mengejutkan, pada 2010 lalu namun
belakangan kembali menjadi sorotan di media sosial setelah
seseorang mengutip keterangan dari buku tersebut.

Secara garis besar, kutipan itu menyebutkan bahwa Majapahit


merupakan Kesultanan Islam dan Maha Patih kerajaan itu, Gadjah
Mada, memiliki nama asli Gaj Ahmada dan beragama Islam.

Namun arkeolog senior Mundardjito -yang pernah melakukan


penelitian di situs peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan, Jawa
Timur- mengatakan klaim itu tidak memiliki bukti-bukti ilmiah yang
kuat.
"Kok semuanya jadi di-Islam-Islamkan. Padahal, candi-candinya,
reliefnya, semuanya enggak (Islam)," kata Mundardjito kepada BBC
Indonesia, Minggu (18/06) sore.

Menurutnya, secara stastitik, jumlah cagar budaya yang berupa


bangunan dan arca -yang tersebar luas di kawasan yang diyakini
merupakan peninggalan kerajaan Majapahit- semuanya bersifat
Hindu-Buddha.

"Benda-benda tidak bergerak itu tersebar sampai ke daerah Malang


dan sebagainya, dan bangunannya jumlahnya ratusan, dan
bentuknya bukan masjid, tapi (bersifat) Hindu-Buddha," jelas
Mundardjito.

Adanya benda-benda cagar budaya itu, lanjutnya, merupakan bukti


yang tidak bisa dibantah. Sebaliknya, bukti-bukti tulisan atau cerita
lisan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

"Kalau benda itu wujudnya ada, itu 'kan bukti. Tapi kalau, misalnya,
(tulisan) di koran, itu 'kan tertulis. Dan itu bisa saja dipakai untuk
analisa untuk kepentingan macam-macam," katanya lebih lanjut.
Mundardjito juga mengkritik klaim penulis buku tersebut yang -antara
lain- mendasarkan kesimpulannya berdasarkan temuan koin
Majapahit bertuliskan La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah.
"Mata uang yang Islam itu cuma kecil, dan itu (benda) bergerak. Bisa
dibawa siapa saja. Mata uang Cina juga banyak (ditemukan di situs
Trowulan), ribuan jumlahnya," katanya.

Mundardjito mengakui memang ada temuan makam-makam Islam di


beberapa tempat di situs Trowulan, tetapi tidak berarti kerajaan
Majapahit adalah Kesultanan Islam, seperti diklaim penulis buku
tersebut.

"Makam-makam itu memang makam Islam, tetapi jumlahnya tidak


banyak dan baru muncul setelah tahun-tahun berikutnya," jelasnya.

Karena itulah, demikian Mundardjito, temuan sejarah baru harus


memiliki bukti yang sahih, relevan, serta dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Apa tanggapan penulis buku?

Hari Minggu (18/06), BBC Indonesia telah menghubungi penulis


buku tersebut, Herman Sinung Janutama, melalui laman
Facebooknya, tetapi belum ditanggapi.
Buku Majapahit, Kerajaan Islam: Fakta Mengejutkan (2010) disusun
dan diterbitkan Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP)
Pengurus Daerah Muhammadiyah, Kota Yogyakarta.
Namun demikian, dalam wawancara dengan Tirto.id (Minggu,
18/06), Herman secara garis besar mengatakan bahwa kesimpulan
Majapahit adalah Kerajaan Islam didasarkan riset pada cerita lisan
dan rujukan pada manuskrip kuno.
"Bagi orang Jawa yang masih menjalankan tradisi, Majapahit tidak
pernah bukan Islam," katanya kepada Tirto.id.
Dia juga menyebut bahwa bukunya didasarkan kritik metodologi
terhadap studi sejarah mainstream atau arus utama, yaitu dengan
merambah manuskrip yang jarang menjadi referensi kajian soal
Majapahit.

Herman kemudian mengaku dirinya menerapkan cara pandang


berbeda dari para filolog dan sejarawan modern dalam pembacaan
manuskrip Jawa.

Tentang sosok Gadjah Mada, Herman mengklaim bahwa sang Maha


Patih Majapahit adalah penganut Islam, dengan berdasarkan catatan
silsilahnya.

Namun demikian, dalam komentarnya yang dikutip laman Facebook


milik Wakil Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta,
Ashad Kusuma Djaya, sang penulis mengaku dirinya tidak pernah
menyebut Gadjah Mada dengan sebutan Gaj Ahmada.
Kepada Tirto.id, Ketua Tim Kajian Kesultanan Majapahit, Ryanto Tri
Nugroho, juga mengatakan pihaknya mengklaim memiliki dasar kuat
walau metode riset dan kesimpulannya berkebalikan dengan studi
sejarah dan antropologi mainstream.
Kritikan dari ahli naskah kuno

Dihubungi secara terpisah, ahli filologi atau naskah kuno dari


Universitas Gadjah Mada, Irawan Djoko Nugroho, mengatakan sejak
awal mengkritik kehadiran buku karya Herman Sinung Janutama
tersebut.

Irawan menyebut bahwa Herman menggunakan data Jawa baru


untuk melihat sejarah Jawa kuno.
"Kalau data Jawa kuno, kita orientasinya ke
sumber Pararaton, Negara Kertagama, kemudian prasasti-prasasti.
Nah, ketiga data tersebut menunjukkan bahwa Majapahit itu Hindu,
bukan Islam," kata Irawan kepada BBC Indonesia.

Dia menduga, Herman menggunakan data dan sumber baru yang


disebutnya tidak merujuk kepada data-data yang lama.

"Dalam kajian filologi, teks baru tidak dapat merevisi teks lama.
Namun teks lama dapat merevisi teks baru, karena dimungkinkan
dalam teks baru timbul penambahan-pemabhana dari para penyalin,"
papar Irawan.
Irawan -penulis buku Majapahit Peradaban Maritim - juga
menganggap Herman Sinung tidak menggunakan data sejarah
resmi, yaitu yang sudah diakui oleh standar penulisan sejarah di
Indonesia.
"Penulisan sejarah di Indonesia standarnya kan, pertama, data-data
prasasti, kemudian data-data kakawin, data-data sejarah pendukung
lainnya, kemudian didukung data-data dari Cina, kemudian data-data
dari Arab," jelasnya.

Semua data itu, lanjutnya, menyebut bahwa Majapahit bukanlah


kerajaan Islam. "Bahkan, data dari Arab sendiri menyatakan ketika
orang Arab datang ke Majapahit, itu mengatakan bahwa Raja
Majapahit masih orang kafir. Jadi bukan Muslim," tambahnya.

Bagaimanapun agar tim penulis buku tersebut diharapkan


menjelaskan hasil kajiannya di depan para ahli di bidang tersebut.

"Minta saja orangnya untuk bicara di depan para ahlinya," kata


Mundardjito.

Usulan itu juga didukung oleh Irawan. "Intinya, kita bukan untuk
saling menjatuhkan, tapi untuk saling belajar."
MENCARI JEJAK ISLAM MASA SILAM DI
TROWULAN

Perjalanan “Roadshow Peradaban Islam”, yang penulis


(Susiyanto) jalani mendampingi DR. Adian Husaini, MA
merupakan bagian darh rangkaian dakwah dalam memberikan
informasi secara luas terhadap masyarakat Islam terkait dengan
paham-paham menyimpang dari Barat. Perjalanan tersebut
dimulai pada 29 April dan rencananya akan berlangsung hingga 9
Mei 2009. Dalam Roadshow ini turut mendampingi beliau adalah
penulis (Susiyanto), M. Muslih (bagian dokumentasi), dan Pak
Muslim (driver). Sebenarnya roadshow ini merupakan rangkaian
dari kegiatan tasyakuran dan orasi ilmiah atas diraihnya program
Doktor oleh Dr. Adian Husaini, MA dari International Institute of
Islamic Thought and Civilization (ISTAC) di Malaysia. Dalam
roadshow ini kami telah mengunjungi sejumlah kota di Pulau
Jawa. Mulai dari Ponorogo, Surakarta, Yogyakarta, Surabaya,
Jember, Malang. Gresik, Semarang, dan selanjutnya Bandung.

Di sela-sela perjalanan dakwah, kami menyempatkan diri


mengunjungi situs-situs bersejarah. Salah satunya adalah wilayah
Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur yang menyimpan sejumlah
peninggalan yang diindikasikan sebagai warisan Majapahit dan
Islam. Tepat pada 6 Mei 2009 sekitar pukul 10.00 WIB kami tiba
di situs Candi Wringin Lawang. Situs yang kami kunjungi
selanjutnya adalah Museum Trowulan yang berfungsi sebagai
Pusat Informasi Majapahit dan makam Tralaya. Tulisan ini akan
mengungkapkan perjalanan yang kami lakukan terkhusus dalam
penelusuran jejak Majapahit tersebut.

GAPURA WRINGIN LAWANG

Situs Majapahit yang pertama kami kunjungi adalah situs Gapura


Wringin Lawang. Bangunan ini memiliki bentuk candi bentar
(terbelah dua) yang terbuat dari batu bata. Pondasinya berbentuk
persegi panjang dengan ukuran 11,5 x 13 m. Dengan tinggi
bangunan sekitar 15, 5 m dan menghadap Timur-Barat dengan
azimuth 2790. Jarak antara kedua belahan candi adalah 3,5 m.
Menurut informasi yang penulis dapatkan candi ini pernah
mengalami pemugaran dalam beberapa kali tahun anggaran.

Diperkirakan bagunan ini memiliki fungsi sebagai sebuah pintu


gerbang dari suatu kompleks. Namun kompleks apa yang
dimaksud tersebut, sampai hari ini masih sukar dipastikan.

KOLAM SEGARAN

Dalam perjalanan antara Gapura Wringin Lawang menuju


Museum Trowulan kami melewati situ (kolam atau danau) kuno
buatan yang biasa disebut Kolam Segaran. Bentuk kolam ini
adalah persegi panjang dengan tepian yang terbuat dari batu-
bata, ciri khas bangunan pada zaman Majapahit. Kolam tersebut
berukuran 375 x 125 m. seadangkan tinggi dinding kolam 3, 16 m
dengan lebar 1,6 m. Sangat mungkin kolam inilah yang
diceritakan sebagai telaga dalam Negarakertagama Pupuh 7: 5.3.

MUSEUM TROWULAN

Banyak informasi yang bisa diakses melalui museum ini terkait


keberadaan Majapahit. Akan tetapi sebenarnya cukup sedikit
untuk dapat digunakan dalam merekonstruksi sejarah majapahit
apalagi krolonogi kebesarannya. Museum ini bany`k menyimpan
barang-barang seperti gerabah, terakota, pecahan celengan,
jaladwara, lingga-yoni, prasasti, patung, dan sebagainya. Patung
Airlangga yang digambarakan sebagai perwujudan Wisnu
(avatar) yang mengendarai garuda juga dapat ditemui di sini.

Termasuk di dalam koleksi museum ini adalah se bentuk pecahan


keramik wajah manusia yang selama ini dikenal dalam buku-buku
sejarah kita diindikasi sebagai wajah Gajah Mada. Jelas,
sebenarnya sulit dipastikan bahwa wajah gemuk dan terkesan
teguh tegap tersebut sukar dipastikan sebagai wajah sang
mahapatih terkenal Majapahit. Museum Trowulan juga tidak
memberikan keterangan apa pun terkait pecahan gerabah
tersebut. Padahal sejumlah gerabah yang lain selalu diiringi
dengan catatan tertulis yang mencukupi. Beberapa ilmuwan
bahkan mengungkapkan bahwa wajah dalam gerabah tersebut
merupakan pecahan dari celengan (tabungan berbentuk hewan
atau manusia) yang banyak ditemukan dalam penggalian di
Trowulan. Jadi bukan wajah Gajah Mada sebagaimana sering
diklaim dalam buku Sejarah di Indonesia. Sedangkan keberadaan
tokoh Gajah Mada sendiri, sebenarnya kurang menyakinkan
sebab hanya didasarkan kepada beberapa cerita babad yang
oleh sejarawan sering ditolak sebagai sumber sejarah.

MAKAM TRALAYA

Perjalanan selanjutnya kami lanjutkan ke situs makam Tralaya.


Tepatnya di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan
Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Di situs ini terdapat petilasan
walisanga dan makam Sunan Ngundung (Maulana Utsman Haji)
yaitu ayah dari Sunan Kudus (Ja’far Shadiq). Pada bagian lain
kompleks ini kami juga menemukan kompleks pemakaman kuno
yang berasal dari jaman Majapahit. Terdiri dari 7 (tujuh) buah
makam. Manariknya dalam batu nisannya hampir serupa terdapat
lambang ”Sinar Majapahit” sek aligus kalimat tauhid berbunyi
”Laa ilaha ilallah” pada sisi sebaliknya.

Ketujuh makam tersebut sering dihubungkan dengan legenda


tentang beberapa abdi dan punggawa Majapahit yang telah
memeluk agama Islam yaituPangeran Natasurya, Patih
Natakusuma, Gajah Permada, Sabda Palon, Naya Genggong,
Mbah Poloputri, dan Emban Kinasih. Kesemuanya adalah muslim
yang mengabdi di istana Majapahit. DR. L.C. Damais
menyebutkan bahwa makam tersebut memiliki angka tahun
antara 1368-1611 M. Versi lain menyebutkan bahwa salah satu
makam tersebut diketahui sebagai hastana dari seorang yang
bernama Zainuddin. Versi penelitian lain meyebutkan bahwa
salah satu makam tersebut adalah kuburan dari Puteri Kencana
Wungu dan Dewi Anjasmara. Keduanya adalah puteri –puteri
Majapahit yang telah menganut Islam. Walaupun terdapat
sejumlah versi tentang nama jenazah yang dikuburkan namun
tidak diragukan bahwa ketujuh makam tersebut adalah makam
dari penganut agama Islam dari era Majapahit.

Perlu diketahui bahwa keberadaan makam Tralaya merupakan


salah satu bukti tentang keberadaan komunittas muslim di dalam
kota Majapahit. Bahkan dalam Kidung Sunda digambarkan
bahwa pada era Perang Bubat diceritakan tentang keberadaan
Masjid Agung di Majapahit. Kisah tentang Perang Bubat tersebut
adalah peristiwa dimana raja sunda menyerahkan putrinya
kepada raja Hayam W uruk sebagai istri namun berakhir tr`gis
dengan terbunuhnya sang Raja Sunda dan Puterinya akibat
politik dominatif dan hegemonik yang dilakukan Gajah Mada.

Dalam Kidung Sunda disebutkan bahwa maharaja Sunda yang


mengantarkan mempelai mengutus 4 orang duta dan diiringi
pengawalan 300 orang punggawa sementara sisa pasukannya
menunggu di gelanggang Bubat. Utusan tersebut masuk ke ibu
kota Majapahit dan berjalan ke arah selatan sampai Masjid Agung
yang terletak di Palawiyan, selanjutnya berjalan ke arah timur dan
selatan ke arah Kepatihan. Sedangkan pasukan Majapahit
berjalan ke masjid Agung menantikan utusan Sunda. Namun
keberadaan Masjid agung tersebut belum dapat ditemukan
kembali sebagaimana sebagian besar situs-situs Majapahit
lainnya. Dalam kitab Ying Yai Shing Lan karya dokumentasi Ma
Huan (sekretaris Laksamana Cheng Ho), disebutkan bahwa
sudah terdapat komunitas muslim di ibu kota Majapahit
TEORI MASUKNYA ISLAM KE NUSANTARA

Meskipun persoalan ini bukan hal baru, namun mendiskusikannya


kembali akan selalu memberi manfaat, mengingat
perkembangan ilmu pengetahuan yang tidak pernah mengenal
titik terminasi. Kemungkinan sejarah selalu terbuka untuk
ditulis ulang didasarkan pada beberapa hal, di antaranya
adalah ditemukannya data baru, berkembangnya teori dan
metodologi yang membuka peluang dilakukannya interpretasi
baru (reinterpretasi), dan sudut pandang kajian yang berbeda.

Mempelajari Islam di Indonesia secara historis. Ciri kajian historis


adalah meletakkan objek peristiwa yang dikaji dalam ruang
waktu yang temporaltiasnya ditetapkan. Dengan kajian seperti
itu akan tergambarkan perjalanan suatu peristiwa sejarah secara
prosesual. Dalam hal ini, Islam di Indonesia (Islam in Indonesia)
atau Islam Indonesia (Indonesia Islam, indonesische Islam)
menjadi objek yang dikaji.

Perlu sekilas dikomentari mengenai kemungkinan munculnya


varian peristilahan: Islam Indonesia (Indonesia Islam/Islam of
Indonesia, indonesische Islam), Islam di Indonesia (Islam in
Indonesia), orang Islam di Indonesia (Indonesian muslim). Variasi
frase-frase tersebut membawa konsekuensi tersendiri. Islam
Indonesia mengandung arti Islam ala Indonesia, Islam bergaya
Indonesia, atau Islam lokal Indonesia. Islam di Indonesia
artinya Islam yang hidup, tumbuh dan berkembang di
Indonesia. Orang Islam di Indonesia artinya adalah orang
Islam – dengan berbagai dimensi kehdi upan yang melekat
pada orang Islam itu (sosial, ekonomi, politik, budaya dan
sebagainya -- dengan beragam tampilannya yang ada di
Indonesia.

Peristilahan-peristilahan tersebut akan berhadapan vis a vis


dengan dengan nilai-nilai normatif Islam itu sendiri. Bukankah
Islam itu mestinya hanya satu versi, versi Nabi

Muhammad saw. Dimana pun Islam berada, ya... Islam


sebagaimana diturunkan Allo h kepada Nabi Muhammad saw.
melalui Malaikat Jibril.

Mengkaji sejarah masuknya Islam ke Indonesia bisa mengacu


pada lima pertanyaan pokok sejarah yang dikenal dengan rumus
5 W 1 H, yaitu: where, when, who, what, why, how (dimana,
kapan, siapa, apa, mengapa, dan bagaimana). Berdasarkan
pada pertanyaan-pertanyaan inilah makalah ini akan disusun.

Where

Pertanyaan where ini mengacu pada tempat, yakni dari


kota/negara mana agama Islam yang disebarkan di Nusantara
itu berasal serta di tempat mana di Nusantara yang pertama
kali dimasuki Islam. Mengenai persoalan tempat asal
datangnya Islam ini terdapat banyak pendapat, yaitu:

1. Anak Benua India

Sarjana pertama yang mengemukakan pendapat ini adalah


Pijnappel dari Universitas Leiden (GJW. Drewes, 1968: 439-440).
Dia mengitkan asal-muasal Islam di Nusantara dengan wilayah
Gujarat dan Malabar. Menurut dia, orang-orang Arab bermadzhab
Syafi’i berimigrasi dan menetap di wilayah India, kemudian orang-
orang India yang membawa Islam ke Nusantara. Pendapat ini
kemudian dikembangkan oleh Snouck Hurgronje (1924: 7). Ia
berpendapat bahwa begitu Islam berpijak kokoh di beberapa kota
pelabuhan Anak Benua India, banyak di antara muslim India
bertindak sebagai pedagang perantara dalam perdagangan
Timur Tengan dengan Nusantara. Mereka datang ke
Nusantara sebagai para penyebar Islam pertama. Baru kemudian
disusul oleh orang-orang Arab yang melanjutkan penyebaran
Islam di Nusantara.

Moquette (19, seorang sarjana Belanda lainnya, berpendapat


bahwa tempat asal Islam di Nusantara adalah Gujarat. Ia
mendasarkan pendapatnya ini pada peninggalan artefak berupa
batu nisan yang ada di Pasai, kawasan utara Sumatera, terutama
yang bertanggal

17 Dzulhijjah 831 H atau 27 September 1428 M. Batu nisan yang


ia amati memiliki kemiripan dengan batu nisan lain yang
ditemukan di makam Maulana Malik Ibrahim (wafat 822/1419) di
Gresik, Jawa Timur. Kedua jenis batu nisan itu ternyata memiliki
bentuk yang sama dengan batu nisan yang ada di Cambay,
Gujarat, India. Berdasarkan hal tersebut, Moquette berkesimpulan
bahwa batu nisan di Gujarat diperuntukkan bukan hanya bagi
kepentingan lokal, tapi juga diimpor ke kawasan lain, termasuk
Sumatera dan Jawa. Selanjutnya, dengan mengimpor batu
nisan dari Gujarat, orang-orang Nusantara juga mengambil
Islam dari sana.

Pendapat Moquette tersebut mendapat dukungan dari para


sarjana lain seperti: Kern, Winstedt, Bousquet, Vlekke, Gonda,
Schrieke, dan Hall. Mereka ini sependapat dengan Moquette,
dalam hal Gujarat sebagai tempat datangnya Islam di Nusantara,
tentu saja dengan beberapa tambahan.

2. Bengal

Kesimpulan Moquette ditentang oleh Fatimi. Ia berpendapat


bahwa mengaitkan seluruh batu nisan yang ada di Pasai,
termasuk batu nisan Maulana Malik al-Saleh, dengan Gujarat
adalah keliru. Menurut penelitiannya, bentuk dan gaya batu nisan
Malik al- Saleh berbeda sepenuhnya dengan batu nisan yang
terdapat di Gujarat dan batu-batu nisan lain yang ditemukan
Nusantara. Fatimi berpendapat bentuk dan gaya batu nisan itu
justru mirip dengan batu nisan yang terdapat di Bengal. Oleh
karenanya, seluruh batu nisan itu hampir dipastikan berasal dari
Bengal. Dalam kaitan dengan data artefak ini, Fatimi mengkritik
para ahli yang mengabaikan batu nisan Siti Fatimah bertanggal

475/1082 yang ditemukan di Leran, Jawa Timur.

Teori bahwa Islam di Nusantara berasal dari Bengal bisa


dipersoalkan lebih lanjut termasuk berkenaan dengan adanya
perbedaan madzhab yang dianut kaum muslim Nusantara
(Syafi’i) dan mazhab yang dipegang oleh kaum muslimin Bengal
(Hanafi).

3. Pantai Coromandel

Pendapat bahwa Gujarat sebagai tempat asal Islam di


Nusantara mempunya i kelemahan-kelemahan tertentu.
Kelemahan itu ditemukan oleh Marrison. Ia berpendapat bahwa
meskipun batu-batu nisan yang ditemukan di tempat-tempat
tertentu di Nusantara boleh jadi berasal dari Gujarat, atau dari
Bengal, itu tidak lantas berarti Islam juga datang berasal dari
tempat batu nisan itu diproduksi. Marrison mematahkan teori
Gujarat ini dengan menunjuk pada kenyataan bahwa pada
masa Islamisasi Samudera Pasai, yang raja pertamanya wafat
tahun 698/1297, Gujarat masih merupakan kerajaan Hindu. Baru
setahun kemudai n (699/1298) Cambay, Gujarat ditaklukkan
kekuasaan muslim. Jika Gujarat adalah pusat Islam, yang dari
tempat itu para penyebar Islam datang ke Nusantara, maka
pastilah Islam telah mapan dan berkembang di Gujarat sebelum
kematian Malik al-Saleh, yakni sebelum tahun 698/1297. Marrison
selanjutnya mencatat, meski lasykar muslim menyerang
Gujarat beberapa kali – masing-masing tahun 415/1024,
574/1178, dan 595/1197 – raja Hindu di sana mampu
mempertahankan kekuasaannya hingga 698/1297.
mempertimbangkan semua iin, Marrison mengemukakan
pendapatnya bahwa Islam di Nusantara bukan berasal dari
Gujarat, melainkan dibawa oleh para penyebar Muslim dari pantai
Coromandel pada akhir abad ke-13.

4. Arab

Teori yang dikemukakan oleh Marrison mendukung pendapat


yang disampaikan oleh Arnold yang menulis jauh sebelum
Marrison. Arnold berpendapat bahwa Islam dibawa ke Nusantara
antara lain juga dari Coromandel dan Malabar. Pendapatnya ini
didasarkan pada persamaan madzhab fiqh di antara kedua
wilayah tersebut. Mayoritas muslim di Nusantara adalah pengikut
madzhab Syafi’i, yang juga cukup dominan di wilayah
Coromandel dan Malabar. Menurut Arnold, para pedagang
dari Coromandel dan Malabar mempunyai peranan penting
dalam perdagangan antara India dan Nusantara. Sejumlah besar
pedagang ini mendatangi pelabuhan-pelabuhan dagang dunia
Melayu- Indonesia dimana mereka ternyata tidak hanya terlibat
dalam perdagangan, tetapi juga dalam penyebaran Islam.

Akan tetapi, menurut Arnold, Coromandel dan Malabar bukan


satu-satunya tempat asal Islam dibawa, tetapi juga dari Arabia.
Dalam pandangannya, para pedagang Arab juga menyebarkan
Islam ketika mereka dominan dalam perdagangan Barat-Timur
sejak abad awal Hijriah atau abad ke-7 dan ke-8 Masehi. Asumsi
bahwa pedagang Arab turut serta dalam penyebaran Islam
mempertimbangkan fakta yang disebutkan sumber-sumber
Cina, bahwa menjelang akhir perempat abad ketiga abad ke-7
seorang pedagang Arab menjadi pemimpin sebuah pemukiman
Arab Muslim di pesisir pantai Sumatera. Sebagian orang-
orang Arab ini dilaporkan melakukan perkawinan dengan wanita
lokal, sehingga membentuk nekleus sebuah komunitas Muslim
yang terdiri dari orang-orang Arab pendatang dan penduduk lokal.
Menurut Arnold, anggota-anggota komunitas Muslim ini juga
melakukan kegiatan-kehiatan penyebaran Islam.

Pendapat bahwa Islam juga dibawa langsung oleh orang Arab


diakui oleh Crawfurd, walaupun ia menyarankan bahwa interaksi
penduduk Nusantara dengan kaum muslim yang berasal dari
pantai timur India juga merupakan faktor penting dalam
penyebaran Islam di Nusantara.

5. Dari Mesir dan Hadhramaut

Keijzer memandang Islam di Nusantara berasal dari Mesir.


Pendapatnya ini didasarkan pada pertimbangan kesamaan
kepemelukan penduduk Muslim di kedua wilayah kepada
madzhab Syafi’i. „Teori Arab“ ini juga dianut oleh Niemann da de
Hollander dengan sedikit catatan. Mereka bukan dari Mesir,
melainkan dari Hadhramaut.

Sebagian ahli Indonesia setuju dengan teori Arab ini.


Dalam seminar yang diselenggarakan pada 1969 dan 1978
tentang kedatangan Islam ke Indoneisa disimpulkan bahwa
Islam ke Indonesia langsung dari Arab, tidak dari India; bukan
pada abad ke-12 atau ke-13, melainkan pada abad pertama
hijrah atau abad ke-7 Masehi.
Who

Di antara para penyebar pertama Islam di Jawa adalah


Maulana Malik Ibrahim. Ia dilaporkan mengislamkan
kebanyakan wilayah pesisir utara Jawa, dan bahkan beberapa
kali mencoba membujuk raja Hindu-Buddha Majapahit,
Wikramawardhana (berkuasa 788-833/1386-1429) agar masuk
Islam. Akan tetapi, hanya setelah kedatangan Raden Rahmat,
putera seorang dai Arab di Campa, Islam memperoleh
momentum di istana Majapahit. Ia digambarkan mempunyai
peran menentukan dalam islamisasi Pulau Jawa dan dipandang
sebagai pemimpin para wali sanga dengan gelar Sunan Ampel,
karena di Ampel ia mendirikan sebuah pusat keilmuan Islam.
Pada saat keruntuhan Majapahit, terdapat seorang Arab lain,
Syekh Nur al-Din Ibrahim bin Maulana Izrai,lyang kemudian
lebih dikenal dengan julukan Sunan Gunung Jati. Ia kemudian
memapankan diri di Kesultanan Cirebon. Seorang sayyid terkenal
lainnya di Jawa adalah Maulana Ishak yang dikirim Sultan Pasai
utnuk mencoba mengajak penduduk Blambangan, Jawa Timur,
masuk Islam.

Dari uraian di atas, maka dapat diambil empat tema pokok.


Pertama, Islam dibawa lengsung dari Arab; kedua, Islam
dipekrenalkan oleh para guru dan pneyiar “profesional”,
yakni mereka yang memang khusus bermaksud menyebarkan
Islam; ketiga, yang mula-mula masuk Islam adalah para
penguasa; dan keempat, kebanyakan para penyebar Islam ini
datang ke Nusantara pada abd ke-12 dan ke-13. Mengenai tema
yang terakhir ini mungkin benar bahwa Islam sudah
diperkenalkan ke dan ada di Nusantara pada abad-abad
pertama hijriah, sebagaimana dikemukakan oleh Arnold, tetapi
hanyalah setelah abad ke ke-12 pengaruh Islam kelihatan lebih
nyata. Karena itu, proses Islamisasi nampaknya mengalami
akselerasi antara abad ke-12 dan ke-16.

Kebanyakan sarjana Barat berpendapat bahwa para


penyebar petrama Islam di Nusantara adalah para pedagang
Muslim yang menyebarkan Islam sembari melakukan
perdagangan di wilayah ini. Elaborasi lebih lanjut dari teori ini
adalah bahwa para pedagang muslim tersebut melakukan
perkawinan dengan wanita setempat. Dengan pembentukan
keluarga muslim ini maka nukleus komunitas-komunitas muslim
pun tercipta, yang pada gilirannya memainkan andil besar
dalam penyebaran Islam.

Selanjutnya dikatakan, sebagian pedagang ini melakukan


melakukan perkawinan dengan keluarga bangsawan lokal
sehingga memungkinkan mereka atau keturunan mereka pada
akhirnya mencapai kekuasaan politik yang dapat digunakan
untuk penyebaran Islam.
Why (motif)

Van Leur (1955: 72, 110-6) percaya bahwa motif ekonomi dan
politik sangat penting dalam masuk Islamnya penduduk
Nusantara. Dalam pendapatnya, para penguasa pribumi yang
ingin meningkatkan kegiatan-kegiatan perdagangan di wilayah
kekuasaan mereka menerima Islam. Dengan begitu mereka
mendapatkan dukungan para pedagang muslim yang menguasai
sumber-sumber ekonomi. Sebaliknya, para penguasa memberi
perlindungan dan konsesi-konsesi dagang kepada para
pedagang muslim. Dengan konversi mereka kepada Islam, para
penguasa pribumi di Nusantara dapat berpartisipasi secara lebih
ekstensif dan menguntungkan dalam perdagangan internasional
yang mencakup wilayah sejak Laut Merah ke Laut Cina.
Lebih jauh, dengan itu dapat mengabsahkan dan memperkuat
kekuasaan mereka, sehingga mampu menangkis jaringan-
jaringan kekuasaan Majapahit.

Schrieke (1955: 232-7) tidak percaya bahwa perkawinan antara


para pedagang dengan para keluarga bangsawan menghasilkan
konversi kepada Islam dalam jumlah besar. Ia pun menolak
bahwa kaum pribumi pada umumnya termotivasi masuk Islam
karena penguasa mereka telah memeluk Islam. Menurutnya
adalah ancaman Kristen yang mendorong penduduk Nusantara
untuk masuk Islam dalam jumlah besar. Menurut dia, penyebaran
dan ekspansi Islam merupakan hasil dari semacam pertarungan
antara Islam dan Kristen untuk mendapatan penganut-penganut
baru di kawasan ini.

A.H. Johns (1961: 10-23) berpendapat bahwa para sufi


pengembara yang terutama melakukan penyiaran Islam di
kawasan ini. Para sufi ini berhasil mengislamkan jumlah besar
penduduk Nusantara. Faktor utama keberhasilan konversi adalah
kemampuan para sufi menyajikan Islam dalam kemasan yang
menarik, khususnya dengan menekankan kesesuaian dengan
Islam atau kontinuitas, ketimbang perubahan dalam kepercayaan
dan praktik keagamaan lokal. Johns berpendapat bahwa banyak
sumber lokal mengaitkan pengenalan Islam ke kawasan ini
dengan guru-guru pengembara dengan karakteristik sufi yang
kental.

Berkat otoritas karismatik dan kekuatan magis mereka, sebagian


guru sufi dapat mengawini putri-putri bangsawan Nusantara
dan memberikan kepada anak-anak mereka gengsi darah
bangsawan dan sekaligus aura keilahian atau karisma
keagamaan. Konsekuensi dari hal tersebut adalah Islam tidak
dapat dan tidak menancapkan akarnya di kalangan penduduk
negara-negara Nusantara atau mengislamkan para penguasa
mereka sampai Islam disiarkan di Nusantara sampai abad ke-13.
Teori sufi ini disokong oleh Fatimi (1963: 94-8), misalnya, yang
memberikan argumen tambahan. Ia antara lain menunjuk
kepada sukses yang sama dari kaum sufi dalam mengislamkan
jumlah besar penduduk Anak Benua India pada periode yang
sama.

Mengapa gelombang sufi pengembara ini baru aktif


sejak abad ke-13? Johns berpendapat bahwa tarekat sufi tidak
menjadi ciri cukup dominan dalam perkembangan dunia muslim
sampai jatuhnya Baghdad ke tangan lasykar Mongol pada
656/1258. Ia mencatat bahwa setelah kejatuhan kekhalifahan
Baghdad, kaum sufi memainkan peran kian penting dalam
memelihara keutuhan dunia Islam dengan menghadapi tantangan
kecenderungan pengepingan kawasan-kawasan kekhalifahan ke
dalam wilayah-wilayah linguistik Arab, Persia, dan Turki.
Adalah pada masa-masa ini tarekat sufi secara bertahap
menjadi institusi yang stabil dan disiplin, dan mengembangkan
afiliasi dengan kelompok-kelompok dagang dan kerajinan tangan,
yang turut membentuk masyarakat urban (HAR. Gibb, 1955: 130).

Afiliasi ini memungkinkan para guru dan murid sufi memperoleh


sarana pendukung untuk melakukan perjalanan dari pusat-pusat
dunia Islam ke wilayah-wilayah periferi, membawa keimanan dan
ajaran Islam melintasi berbagai batas bahasa, dan dengan
demikian mempercepat proses ekspansiIslam. Dengan latar
belakang semacam inilah maka sumber-sumber lokal memberi
informasi tentang kedatangan berbagai syaikh, sayyid,
makdum, guru dan semacamnya dari Timur Tengah atau tempat-
tempat lain ke wilayah-wilayah mereka.

Teori sufi ini berhasil membuat korelasi antara peristiwa-


peristiwa politik dan gelombang konversi kepada Islam.
Meski peristiwa-peristiwa poliltik merefleksikan hanya secara
tidak langsung pertumbuhan massal masyarakat muslim, orang
tak dapat mengabaikan mereka, karena semua itu
mempengaruhi perjalanan masyarakat– masyarakat muslim di
bagian-bagian lain dunia muslim. Teori ini juga berhasil
membuat korelasi penting antara konversi dengan
pembentukan dan perkembangan institusi-institusi Islam yang
akhirnya membentuk dan menciptakan ciri khas masyarakat
tertentu sehingga ia benar-benar dapat disebut sebagai
masyarakat muslim. Yang terpenting diantara institusi-institusi
ini adalah madrasah, tarekat sufi, dan kelompok-kelompok
dagang dan kerajinan tangan.
Sejarah Kerajaan Majapahit

Secara harfiah kerajaan Majapahit adalah suatu kerajaan yang


pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M dan
berpusat di pulau Jawa bagian timur tepatnya di daerah Tarik,
Sidoarjo, Jawa Timur. Kerajaan ini pernah menguasai sebagian
besar pulau Jawa, Madura, Bali, dan banyak wilayah lain di
Nusantara.

1. Asal-usul Kerajaan Majapahit

Sesudah Singasari mengusir Sriwijaya dari Jawa secara


keseluruhan pada tahun 1290, Kubilai Khan dari Cina tertarik
pada kekuasaan Majapahit yang meningkat. Namun pada tahun
1293, seorang pemberontak dari Kediri bernama Jayakatwang
sudah membunuh Kertanegara. Kertarajasa atau Raden Wijaya,
yaitu anak menantu Kertanegara, kemudian bersekutu dengan
orang Mongol untuk melawan Jayakatwang. Setelah
Jayakatwang meninggal ia menyuruh pasukan mongol untuk
kembali dengan cara paksa. Pada tahun 1923 itu pula, Raden
Wijaya membangun sebuah kerajaan yang kemudian ia beri
nama ”Majapahit”.

2. Letak Kerajaan Majapahit

Pada tahun 1293 Raden Wijaya membangun Keraton Majapahit


pada sekitar daerah Tarik, Sidoarjo (Tawa Timur)
Pada tahun 1350 Kerajaan Majapahit Dipindahkan ke daerah
Trowulan, pada masa Raja Hayam Wuruk

3. Sumber Sejarah Majapahit

Dari sumber sejarah Majapahit dapat disimpulkan menjadi dua


sumber yaitu Kitab Sastra dan Kronik Cina

Dari Kitab Sastra

a. Kitab Pararaton

menceritakan tentang raja-raja Singosari juga menjelaskan


tentang raja-raja Majapahit

b. Prasasti Butak

Mengisahkan peristiwa keruntuhan Singasari dan perjuangan


Raden Wijaya untuk mendirikan Majapahit.

c. Kitab Kutaramanawa

Berisikan tentang aturan hukum di Majapahit.

d. Kitab Negarakertagama
Kitab ini ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 yang
menjelaskan tentang keadaan kota Majapahit, daerah jajahannya
dan perjalanan Hayam Wuruk mengelilingi daerah kekuasaannya.

e. Kitab Usaha Jawa,dll menjelaskan tentang penaklukan pulau


Bali oleh Gajah Mada dan Arya Damar.

Dari Kronik Cina

a. Buku Ying Yai

Menceritakan tentang keadaan masyarakat dan kota Majapahit


tahun 1418 b. Masa Dinasty Ming Menceritakan tentang stuktur
dan filsafat Majapahit pada tahun 1368-1643 c. Berita Portugis
(1518) Yang menceritakan tentang budaya Majapahit.

4. Raja-Raja Majapahit

- Raden Wijaya

- Jayanegara

- Tribuwana Tunggadewi

- Hayam Wuruk
- Ratu Kusumawardani

- Dewi Suhita

- Bhre Tumapel

- Bhre Kahuripan, dll.

Raden Wijaya

Raden Wijaya adalah raja pertama yang memimpin Majapahit,


bergelar Kertarajasa Jaya Wardana, ia memimpin Majapahit
dari tahun 1293-1309 M. Beliau menikah dengan ke empat
puteri Kertanegara yaitu: Dyah Dewi Tribuwaneswari (permaisuri),
Dyah Dewi Narendraduhita, Dyah Dewi Prajnaparamita, dan
Dyah Dewi Gayatri. Langkah Raden Wijaya mengawini putri-putri
Kertanegara diduga berlatar belakang politik, agar tidak terjadi
perebutan kekuasaan.

Jayanegara

Setelah Raden Wijaya meninggal, tahta digantikan oleh


Jayanegara atau Kala Gemet pada tahun 1309, beliau
merupakan raja yang lemah, sehingga banyak terjadi
pemberontakan. Pada saat ini Gajah Mada memegang jabatan
sebagai Kepala Bhayangkari.
Beberapa pemberontakan yang terjadi yaitu:

- Pemberontakan Ronggolawe, dapat diatasi

- Pemberontakan Lembu Sora, dapat dipadamkan.

- Pemberontakan Nambi, dapat diatasi

- Pemberontakan Kuti pada tahun 1319, yang kemudian


dapat diatasi berkat jasa Gajah Mada dan atas jasanya tersebut
Gajah Mada diangkat sebagai Patih Kahuripan. Pada tahun 1321
Gajah Mada diangkat menjadi Patih Daha.

Raja Jayanegara pada tahun 1328 meninggal dunia karena


dibunuh Tanca (dokter istana). Gajah Mada turun tangan untuk
membunuh Tanca. Pada masa awal ini memang terjadi banyak
pergolakan.

Tribuwana Tunggadewi

Karena Jayanegara tidak mempunyai putra, tahta seharusnya


jatuh ketangan Gayatri. Karena Gayatri memilih menjadi Biksuni,
maka Tribuwanatunggadewi putrinya ditunjuk sebagai wakil dan
diangkat menjadi raja ketiga bergelar Tribuwanatunggadewi
Jayawisnuwardani pada tahun 1328.

Pada zaman kekuasannya, Gajah Mada diangkat sebagai patih


Majapahit. Pada saat pelantikan ia mengucapkan sebuah sumpah
yang kemudian dikenal dengan nama “Sumpah Palapa”. Ini
adalah awal permulaan zaman keemasan Majapahit. Namun
pada tahun 1350 Gayatri wafat, maka Tribuwana tunggadewi
yang merupakan wakil ibunya segera turun tahta,
menyerahkan tahtanya kepada putranya yaitu Hayam Wuruk.

Hayam W uruk

Di bawah pemerintahan Hayam W uruk pada tahun 1350-1387,


Majapahit mencapai zaman keemasannya. Cita-cita Gajah Mada
yang diucapkan lewat Sumpah Palapa, yang disebut pula sebagai
Wawasan Nusantara II dapat tercapai. Wilayah Majapahit, hampir
sama dengan wilayah Republik Indonesia, maka Majapahit
disebut sebagai Negara Maritim Nasional II. Berikut ini adalah
peta kekuasaan Majapahit.

Ratu Kusumawardani

Kusumawardani merupakan putri Hayam Wuruk yang


kemudian diangkat menjadi raja pada tahun 1389-1429 M. Pada
masa pemerintahannya terjadi perang saudara antara
Wirabhumi melawan Wikramawardhana yang disebut
“perang Paregreg”. Yang kemudian berakhir dengan terbunuhnya
Wirabhumi.
Sedangkan raja-raja yang lain tidak terlalu dijelaskan secara detil
pada sumber-sumber sejarah Majapahit, karena raja-raja yang
lain tidak terlalu penting kedudukannya di Kerajaan Majapahit.
Raja-raja itu meliputi :

- Dewi Suhita (1429-1447 M)

- Bhre Tumapel (1447-1451 M)

- Bhre Kahuripan (1451-1453 M)

- Purwawisesa (1457-1467 M)

- Pandan Salas (1467-1478 M)

5. Keruntuhan Majapahit

Runtuhnya Kerajaan Majapahit disebabkan oleh beberapa faktor.


Faktor-faktor itu meliputi :

a. Faktor Politik

Dalam negeri, kesatuan Majapahit itu berkat kekuatan Gajah


Mada, tetapi setelah Gajah Mada Meninggal, banyak daerah
Cina yang otonom tak membayar pajak dan meninggalkan
Majapahit.
b. Faktor Ekonomi

Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, sudah mulai
berdirinya kerajaan-Kerajaan yang bercorak agama islam. Karena
itu, para pengikut Majapahit sudah mulai meninggalkan
Majapahit sedikit demi sedikit untuk berpindah ke kerajaan Islam
tersebut.

c. Faktor Agama

Perbedaan ideologi, Penyebaran Islam di Asia Tenggara, melalui


jalur perdagangan yang lebih dulu terpengaruh adalah bandar,
maka bandar Majapahit beragama Islam, tetapi Majapahit masih
Hindu. Para Bandar pun menentang Majapahit dan meninggalkan
Majapahit.

d. Faktor perselisihan

- Sebelum Majapahit runtuh terjadi perang saudara (perang


paregreg) pada tahun 1405-1406 antara Wirabhumi melawan
Wikramawardhana. Yang akhirnya Wirabhumi meninggal dunia.

- Terjadi pergantian raja yang dipertengkarkan pada tahun


1450-an.

- Pemberontakan besar yang dilancarkan oleh seorang


bangsawan pada tahun 1468.
6. Peninggalan Majapahit

Ketika Majapahit mengalami keruntuhan, majapahit


meninggalkan beberapa peninggalan. Peninggalan-peninggalan
itu di kelompokan menjadi 2 macam, yaitu :

- Bangunan Candi-candi

- Karya sastra

Salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit yang sampai ke kita


adalah Candi. Candi berasal dari kata ”Candhika grha” atau
”Candigrha” yang berarti rumah untuk dewi candi. Berikut ini
adalah beberapa satu contoh candi :

1) Candi Tikus : Candi Tikus terletak di dukuh Dinuk, Desa


Temon, Kec. Trowulan.

2) Candi Sukuh : Candi ini terletak di Desa Berjo,Kec.


Ngargoyoso, Kab.Karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini
berfungsi sebagai tempat pemujaan.

3) Candi Surawana : Candi ini terletak di Desa Canggu,


Kec.Plemah, Kab.Kediri. bangunan ini terbuat dari bahan batu
andhesit.
4) Candi Brahu : Candi ini terletak di dukuh Jambu Mente, Desa
Bejijong, Kec.Trowulan. Candi ini diperkirakan dibangun pada
abad ke 15 M. Dan candi ini berfungsi sebagai tempat pemujaan.

5) Candi Minakjingga : Candi Minakjingga terletak di dukuh


Unggahan, Desa Temon, Kec. Trowulan. Candi ini disebut pula
”Sanggar Pamelengan”. Fungsi dari candi ini adalah sebagai
tempat pemujaan.

6) Candi Rimbi : Candi Rimbi terletak di Desa Pulosari,


Kec. Bareng, Kab.Jombang. Candi ini merupakan
peninggalanKerajaan Majapahit yang di bangun sekitar abad ke
14.

7) Candi Kontes : Candi ini terletak di Desa Kontes, Kec.


Gandusari, Kab. Blitar.

Candi Kontes dibangun pada tahun 1300 dan 1301.

8) Candi Kedaton

9) Candi Jago : Candi ini berupa sebuah makam


seseorang yang bernamaRangg awuni yang terletak di desa
Tumpang dekat Malang.
10)Candi Penataran

11)Candi Jedong, dll.

7. Karya Sastra

Saat Majapahit runtuh, Majapahit tidak hanya Meninggalkan


budaya materi yang berupa candi-candi tetapi Majapahit juga
meninggalkan peninggalan yang berupa karya–karya sastra.
Karya Sastra itu meliputi :

1. Negarakertagama

Kitab ini ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 yang
menjelaskan tentang keadaan kota Majapahit, daerah jajahannya
dan perjalanan Hayam Wuruk mengelilingi daerah kekuasaannya.

2. Pararaton

menceritakan tentang raja-raja Singosari juga menjelaskan


tentang raja-raja Majapahit.

3. Sutasoma

Kitab ini ditulis oleh Mpu Tantular. Kitab ini berisikan tulisan
Bhineka Tunggal Ika yang kemudian dijadikan sebagai semboyan
Bangsa Indonesia.
4. Lubdakha, dll.

Peninggalan Majapahit

Candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang pertama adalah


Candi Sukuh. Candi ini terletak di Desa Berjo, Kecamatan
Ngargoyoso, Karanganyar-Jawa Tengah. Berbeda dengan candi-
candi peninggalan kerajaan Majapahit lainnya, Candi Sukuh
dianggap memiliki bentuk yang tidak lazim. Di sekitar reruntuhan
bangunan ini banyak ditemukan objek Lingga dan
Yoni yang menjadi perlambang seksualitas.

2. Candi Cetho

Candi Cetho terletak di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan


Jenawi, Karanganyar- Jawa Tengah. Salah satu candi
peninggalan Kerajaan Majapahit ini diperkirakan berasal dari
masa akhir keruntuhan kerajaan Majapahit sebelum menjelang
keruntuhannya atau tepatnya sekitar abad ke 15 Masehi. Candi
ini ditemukan pada

3. Candi Pari

Candi Pari adalah candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang


terletak Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Sidoarjo - Jawa
Timur. Candi yang diperkirakan dibangun pada masa
pemerintahan Prabu Hayam W uruk (1350-1389 M) ini terletak
sekitar 2 km arah Barat Laut semburan pusat lumpur
panas Lapindo Brantas.

4. Candi Jabung

Candi Jabung terletak di Desa Jabung, Kecamatan Paiton,


Probolinggo-Jawa Timur. Meski hanya terbuat dari susunan batu
bata merah, bangunan candi ini nyatanya dapat bertahan lintas
zaman. Saat lawatannya keliling Jawa Timur di tahun 1359, Raja
Hayam W uruk diperkirakan pernah menyinggahi candi
peninggalan Kerajaan Majapahit ini.

5. Gapura Wringin Lawang

Gapura Wringin Lawang terletak di Desa Jatipasar, Kecamatan


Trowulan, Mojokerto- Jawa Timur. Terbuat dari bata merah,
bangunan yang tingginya 15,5 meter ini diperkirakan dibangun di
abad ke 14 Masehi. Gaya arsitektunya yang mirip dengan candi
Bentar, membuat banyak ahli yang berspekulasi dan menyebut
jika bangunan ini merupakan pintu gerbang untuk memasuki
kediaman Mahapatih Gajah Mada.

6. Gapura Bajang Ratu

Gapura Bajang Ratu terletak di Desa Temon, Kecamatan


Trowulan, Mojokerto-Jawa Timur. Diperkirakan, bangunan
peninggalan Kerajaan Majapahit ini dibangun pada abad ke-14
Masehi. Dalam kitab Negarakertagama, gapura ini disebutkan
berfungsi sebagai pintu masuk ke dalam sebuah bangunan suci
yang memperingati wafatnya Raja Jayanegara.

Candi Brahu Candi Brahu adalah salah satu candi peninggalan


Kerajaan Majapahit yang terletak di kawasan situs arkeologi
Trowulan, tepatnya berada di Dukuh Jambu Mente, Desa
Bejijong, Kecamatan Trowulan, Mojokerto-Jawa Timur. Dalam
prasasti yang dibuat Mpu Sendok disebut bahwa Candi Brahu
berfungsi sebagai tempat pembakaran jenazah raja-raja
Majapahit.

8. Candi Tikus

Candi Tikus Sama seperti Candi Brahu, Candi Tikus juga terletak
di ini terletak di situs arkeologi Trowulan, tepatnya berada di
Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan,
Mojokerto-Jawa Timur. Candi peninggalan sejarah Kerajaan
Majapahit ini dinamai candi tikus karena diawal penemuannya,
warga melihat bangunan ini menjadi sarang bagi tikus-tikus liar.

Candi Surawana terletak di Desa Canggu, Kecamatan Pare,


Kediri-Jawa Timur. Tepatnya berada sekitar 25 km timur laut Kota
Kediri. Candi yang sesungguhnya bernama Candi
Wishnubhawanapura ini dibangun di abad 14 Masehi.
Pembangunannya ditujukan untuk memuliakan Bhre Wengker.
Bhre Wengker adalah seorang raja dari Kerajaan Wengker –
kerajaan yang berada di bawah kekuasaan Majapahit
Menelusuri Rancang Bangun Perahu Pada Masa
Kerajaan Majapahit

Sangat menarik untuk melakukan kajian tentang budaya bahari


dan perahu- perahu yang digunakan oleh masyarakat Jawa pada
masa Kerajaan Mapapahit, . hal ini mengingat bahwa kerajaan ini
dipercaya memiliki wilayah yang demikian luas di Kepulauan
Nusantara. Perahu- perahu dan armada laut yang memadai tentu
sangat dibutuhkan untuk menjamin transportasi jalur laut yang
lancar dan aman, untuk menjaga stabilitas ekonomi dan
politiknya.

Permasalahan pertama adalah sampai sejauh ini tidak ditemukan


gambaran yang konkrit tentang bentuk- bentuk perahu yang lazim
digunakan pada era itu, baik pada tulisan- tulisan sastra kuno,
prasasti, maupun pahatan- pahatan di dinding candi.

Berbeda dengan masa Mataram Kuno, yang berkaitan dengan


kerajaan bahari Sriwijaya di Sumatra, peradaban ini yang
setidaknya meninggalkan jejak bentuk- bentuk perahu- perahu
mereka di Jawa pada pahatan relief candi Borobudur, sementara
Majapahit yang bisa jadi lebih bersifat agraris seperti membisu
dalam hal budaya baharinya. Masa Majapahit tidak meninggalkan
bentuk dan gambaran yang jelas tentang perahu- perahunya
Permasalahan kedua adalah menentukan pada satu kurun waktu
pada masa Majapahit, di mana akan dilakukan penelitian tentang
budaya baharinya dan dicari bentuk – bentuk perahu yang
digunakannya, mengingat bahwa kerajaan ini mempunyai rentang
waktu dari pertama berdiri sampai benar- benar runtuh sekitar
225 tahun. Satu jangka waktu yang cukup bagi satu teknologi
perkapalan untuk berevolusi.

Penulisan ini dimaksudkan sebagai bahan diskusi awal dan studi


pendahuluan untuk masuk lebih dalam pada penelitian tentang
bentuk – bentuk perahu dan teknologi bahari yang dipakai pada
masa Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit didirikan oleh Wijaya, pada tahun 1293 di


satu tempat yang disebutkan sebagai “Hutan Orang Trik”. Pada
masa sekarang ini ada satu desa yang bernama Tarik, di
Sidoarjo. Apakah tempat ini berkaitan dengan “ Hutan Orang
Trik”, yang dibangun oleh W ijaya, belum dapat ditentukan lebih
lanjut.

Masa keemasan Kerajaan Majapahit terjadi pada pemerintahan


Rajasanagara – Hayam W uruk tahun 1350 -1389. Pemahaman
masa kini tentang seputar masa keemasan Majapahit ini,
bersandar kepada uraian di dalam Kakawin Desawarnnana –
Negarakretagama - oleh Prapanca. Saat itu, Politik pemerintahan
negara Majapahit dapat dikatakan sepenuhnya ada di tangan
Patih Amangku Bhumi Gajah Mada [Muljana, 2005].

Masa akhir Majapahit tidak bisa dilihat dengan benar- benar jelas.
Berita- berita orang Eropa, masih menuliskan tentang keberadaan
Kerajaan Majapahit sampai tahun 1518. Pemberitaan dari tahun
1518 oleh Duarte Barbosa, menceritakan tentang penguasa
Mapapahit yang bernama Patih Udara. Antonio Pigafetta, pada
tahun 1522 menulis tentang masa akhir Majapahit dengan
Rajanya yang bernama Pati Unus [Djafar, 2012]. Kita pahami
bahwa Pati Unus yang meninggal tahun 1521, adalah penguasa
Demak tahun 1518- 1521 menggantikan Raden Patah. Dua berita
itu mengindikasikan terjadi perubahan kekuasaan dari Majapahit
ke Demak pada sekitar tahun 1518 sampai 1521.

Rentang waktu Kerajaan Majapahit dari pertamakali didirikan


sampai benar- benar runtuh adalah sekitar 225 tahun.

Gambar 1. Wijaya - Kertarajasa Jayawardhana di patungkan


sebagai Harihara,

dari Candi Simping – Sumberjati - Blitar – Tersimpan di Museum


Nasional Jakarta. Foto : Samodra
Mahapatih Gajah Mada, sebagaimana disebutkan dalam
Pararaton, mengucapkan janji untuk memperluas wilayah
Majapahit , yang dikenal sebagai Sumpah Amukti Palapa.

“ Ia Gajah Mada,Patih Amangkubumi, akan amukti palapa;


Kecuali telah menaklukan

Nusantara.

Saya akan amukti palapa, sampai mengalahkan Gurun, Seran,


Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang,
Tumasik, sampai itu tercapai saya akan amukti palapa.

…Bersatu setelah menaklukan Dompo, Sunda, maka ia Gajah


Mada mukti palapa.”

Menurut Negarakretagama pupuh 13 dan 14 [Muljana, 2005],


wilayah Majapahit meliputi wilayah di Kepulauan Nusantara dan
di Semenanjung Melayu. Di sebelah timur Pulau Jawa disebutkan
wilayah terjauh adalah; Maluku, Seram dan Timor. Di
Semenanjung Melayu disebutkan meliputi; Langkasuka, Kelantan,
Tringgano, Paka, Muara Dungun, Tumasik, Klang, Kedah, Jerai.

Meski bukti- bukti adanya Pemerintahan Majapahit tidak selalu


dapat diperoleh pada tempat- tempat yang disebutkan itu,
Negarakretagama dengan tegas menyebut wilayah tersebut
sebagai bagian dari Majapahit dan membedakannya dengan
Wilayah Negara Sahabat. Setidak-tidaknya dapat dipahami
bahwa telah terdapat ide tentang kesatuan wilayah pada
Kepulauan Nusantara pada masa itu.

Gambar 2. Surya Majapahit, Simbol Kerajaan Majapahit dari


Candi Rimbi – Wonosalam

Tersimpan di Museum Trowulan. Foto : Samodra

Jawa adalah sebuah pulau yang terletak di antara gugusan pulau-


pulau di Nusantara. Menilik lokasi geografisnya, pemahaman
akan teknologi perahu dan teknik pelayaran bagi orang Jawa
dapat dikatakan sebuah keniscayaan. Pelayaran dan jalur
transportasi laut adalah urat nadi kehidupan yang berpengaruh
secara langsung bagi hajat hidup bangsa- bangsa yang bermukim
di kepulauan.

Tidak banyak bisa diketahui tentang perahu Jawa pada masa


silam. Meski banyak disebut dalam penuturan naskah- naskah
kuno, Gambaran tentang tentang perahu Jawa masih tetap
samar- samar.
Deskripsi visual yang paling jernih tentang perahu Jawa pada
masa lampau bisa dilihat di panel- panel relief Candi Borobudur
dan Candi Penataran

Perahu Candi Borobudur

Borobudur adalah sebuah candi atau Monumen Buddha terbesar


di dunia yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh para penganut agama
Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi. Tidak ditemukan
bukti tertulis yang menjelaskan siapakah yang membangun
Borobudur dan apa kegunaannya. Diperkirakan Borobudur
dibangun sekitar tahun 800 masehi pada masa puncak kejayaan
wangsa Syailendra di Jawa Tengah, yang dipengaruhi
Kemaharajaan Sriwijaya. Ada sebelas pahatan perahu berbagai
ukuran di Candi Borobudur.

Perahu- perahu Borobudur ini tidak tampak mirip dengan perahu


di Indonesia saat ini, akan tetapi secara umum dapat dikatakan
menyerupai perahu Kora- Kora [ Horridge,

1986]
Gambar 3. Perahu Candi Borobudur - Panel Pahatan Relief Candi
– In Situ. Foto : Samodra

Panel pahatan menunjukkan sebuah perahu yang berlayar di


lautan. Perahu terlihat menggunakan cadik, berlayar tiang ganda
dan memiliki tiang layar tiga kaki (Tripod). Perahu memiliki bentuk
yang simetri antara haluan dan buritan.

Perahu menggunakan Kemudi Dayung (Lateral Rudders) di


bagian buritan yang tampak terlihat sedang dikendalikan oleh
awaknya.

Awak perahu digambarkan sibuk dengan layar terkembang.


Sebuah layar di haluan

(Spritsail) terlihat sedang berkembang dengan seorang awak


sedang menanganinya.

Gambar 4. Perahu Candi Borobudur - Panel Pahatan Relief Candi


– In Situ. Foto: Samodra
Panel pahatan juga menunjukkan sebuah perahu yang berlayar di
lautan. Perahu berlayar tiang tunggal dan memiliki tiang layar
berkaki tiga (Tripod). Bentuk perahu terlihat berbeda dengan
perahu pada gambar 3.

Cadik tidak teridentifikasi dengan jelas, kecuali melalui seorang


awak perahu yang agaknya berdiri di samping perahu, bertumpu
pada cadiknya.

Gambar ikan besar di haluan perahu, tampaknya


mengindikasikan bahwa perahu sedang berlayar di laut lepas.

Juru mudi tampak mengendalikan perahunya di bagian buritan.

Perahu digambarkan sedang berlayar kemungkinan tidak jauh


dari bandar. Sebuah perahu kecil terlihat di haluannya.

Gambar 6. Perahu Candi Borobudur - Panel Pahatan Relief Candi


– In Situ. Foto : Samodra

Perahu tidak bercadik dan memiliki atap pelindung cuaca.


Sebuah Kemudi Dayung terlihat di buritannya. Kemungkinan
perahu ini sedang menyusuri sungai atau danau.

Candi Palah atau lebih dikenal dengan nama Candi Penataran


adalah sebuah gugusan candi bersifat keagamaan Hindu Siwa
yang terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten
Blitar, Jawa Timur. Candi terbesar di Jawa Timur ini terletak di
lereng barat daya Gunung Kelud, di sebelah utara Blitar, pada
ketinggian 450 meter di atas permukaan laut. Diperkirakan candi
ini awal dibangun pada masa Raja Srengga dari Kerajaan Kadiri
sekitar tahun 1200 Masehi .

Gambar 7. Perahu Candi Penataran- Panel Pahatan Relief Candi


– In Situ. Foto : Samodra

Gambar di atas banyak di deskripsikan sebagai sebuah perahu


yang memperlihatkan struktur yang masih kabur dan perlu
diidentifikasi lebih lanjut.

Gambar 8. Perahu Candi Penataran- Panel Pahatan Relief Candi


– In Situ. Foto: Samodra

Gambar perahu ini menunjukkan sebuah perahu kecil,


kemungkinan perahu nelayan yang tampaknya sedang di dayung
di Danau atau di Sungai.

Gambar 9. Perahu Candi Penataran- Panel Pahatan Relief Candi


– In Situ. Foto : Samodra

Perahu Candi Borobudur. Layar Persegi dan Tiang Layar Kaki


Tiga (Tripod). Bentuk Perahu tersebut dikatakan mendekati
bentuk perahu Kora- Kora – Seperti Gambar 10. Di bawah ini
Gambar 10. Model Perahu Kora- Kora dari Sulawesi –

No. A4752 Weber Collection – Tropenmuseum, Amsterdam


[Horride, 1986]

Gambar 11. Perahu Pencalang, Banyuwangi 1830 [Paris, 1992]

Pada perahu pencalang yang dijumpai di Banyuwangi tahun


1830an, tampak terlihat hiasan pucuk tiang layar dan tiang layar
kaki tiga yang masih menyerupai perahu Candi Borobudur.
Sementara perahu pencalang pada gambar 12. di bawah memiliki
layar yang masih membawa ciri layar perahu Borobudur.
Demikian juga sistem kemudinya.

Gambar 12. Perahu Pencalang dari abad pertengahan ke XIX.


Model dari Museum Ethnology, Leiden

[Horridge, 1986]

Sebagai negara besar di Kepulauan Nusantara, bandar- bandar


Majapahit tentu ramai dengan perdagangan yang melewati jalur
laut. Perahu- perahu niaga akan sibuk berlalu- lalang.

Pelabuhan- pelabuhan penting pada masa Majapahit diantaranya


adalah: Gresik; Sidhayu; Tuban, Surabhaya, Pasuruhan dan
Canggu. Bukti- bukti keberadaan pelabuhan -pelabuhan niaga
tersebut disebutkan dalam berbagai prasasti, Kitab- kitab kuno
dan berita- berita yang ditulis para musafir.

Namun, keberadaan pelabuhan- pelabuhan tersebut tidak serta-


merta disertai dengan deskripsi yang gambling tentang perahu-
perahu pada masa itu, yang dipakai untuk berniaga di pelabuhan-
pelabuhan tersebut.

Indikasi samar- samar tentang jenis perahu yang dipakai orang


Majapahit dapat diambil dari Kidung Sunda [Berg, 1927]. Semua
Naskah Kidung berasal dari Bali namun tidak dapat dipastikan
apakah ditulis di Bali atau di Jawa. Pengarang tidak diketahui,
kemungkinan ditulis sesudah tahun 1540.

Meskipun Kidung Sunda adalah sepenuhnya karya Sastra yang


tidak bisa dijadikan pegangan sejarah, tetapi, kisah yang
diceritakannya kemungkinan berasal dari fakta sejarah.

Pupuh I

Madhu tiba di tanah Sunda setelah berlayar selama enam hari


kemudian menghadap raja Sunda. Sang raja senang, putrinya
dipilih raja Majapahit yang ternama tersebut. Tetapi putri Sunda
sendiri tidak banyak berkomentar.
Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja
Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama
kemudian mereka bertolak dari Sunda disertai banyak sekali
iringan. Mereka berlayar dengan 200 perahu besar dengan
banyak perahu- perahu kecil yang menyertai Jumlah keseluruhan
perahu- perahu tersebut setidaknya 2000 buah

Namun sebelum rombongan bangsawan Sunda ini naik ke


perahu, mereka melihat ada pertanda buruk. Perahu yang dinaiki
Raja, Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “Jung Tatar, yang
semenjak Perang W ijaya secara umum memang banyak dipakai.”
(bait 1. 43a.)

Penyebutan Jung Tatar pada kidung ini, mengindikasikan bahwa


ada jenis Jung Lain atau setidaknya perahu jenis lain yang secara
politik dan psikologis tidak mengingatkan orang pada konflik di
awal berdirinya Kerajaan Majapahit

Jung Jawa Pada Akhir Masa Kerajaan Majapahit

Dari beberapa naskah, didapat sedikit penjelasan tentang bentuk


dari Jung Jawa. Catatan paling utama di dapat dari orang- orang
Portugis yang secara langsung terlibat konflik dengan Pasukan
Ekspesidi dari jawa pada tahun 1511.

Gaspar Correia, menceritakan tentang pertempuran antara


sebuah Jung Jawa melawan kapal- kapal Portugis. Kapal Flor de
la Mar berjenis Nau atau Carrack, yang disebutkan dalam
deskripsi Gaspar Correia terlibat langsung dalam konflik tersebut
dapat menjadi acuan dasar.

Gambar 13. Kapal Portugis Flor de la Mar .Gambar dari W ikipedia

Kapal Flor De La Mar

Nama Kapal : Flor de la Mar

Galangan : Galangan Kapal Lisbon, Portugis

Masa Aktif : Tahun 1502 sampai tahun 1511

Penjelasan : Tenggelam karena badai di


perairan Sumatra Klas / Jenis : Nau atau Carrack,
dengan tiga tiang layar Displasemen : 400 tons

Ukuran Utama : Panjang 36 meter, Lebar 8 meter,


Tinggi tidak tercatat

Deskripsi Jung Jawa

Jung Jawa dideskripsikan oleh Gaspar Correia, sebagai berbeda


dengan kapal – kapal Portugis, dengan ukuran sangat tinggi dan
sangat lebar bila dibandingkan dengan kapal Flor De La Mar.
Lambung Jung Jawa terdiri dari empat lapis papan dengan dua
Kemudi Dayung

(Lateral Rudder) di kiri dan kanan perahu

Detil lebih lanjut tentang Jung Jawa ini tidak didapat dengan jelas.

Penutup

Sejauh ini dari data yang ada dapat dilihat bahwa jejak Perahu
Borobudur masih terlihat pada Perahu Pencalang Jawa sampai
sekitar awal abad ke XIX. Jejak tersebut masih terlihat pada
Bentuk Layar dan pada Tiang Layarnya, serta pada sistem
kemudi lateralnya. Dengan demikian patut diduga bahwa pada
masa Majapahit bentuk- bentuk ini tentu secara umum masih
banyak dijumpai.

Sampai saat ini belum ditemukan bukti bahwa bentuk lambung


Perahu Borobudur, masih dipakai sampai masa Majapahit.

Pada masa Majapahit, setidaknya pada periode akhir, terdapat


jenis perahu yang disebut dengan Jung Jawa.

Untuk menentukan bentuk dari Jung Jawa pada masa akhir


Majapahit ini diperlukan penelitian lebih lanjut.

Anda mungkin juga menyukai