Anda di halaman 1dari 112

R

ISSN : 2086 – 809X


-------------------------------------------------
------------------------------------------------

R
Volume 4 Issue 2 November 2015

EPERTORIUM
Jurnal Ilmiah Hukum
Kenotariatan
-------------------------------------------------------------------------

Program Studi Magister Kenotariatan Pengurus Daerah Ikatan Notaris Indonesia (INI)
Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Kota Palembang
Volume Issue Halaman Palembang ISSN:
REPERTORIUM
4 2 113 – 217 November 2015 2086-809X
Volume 4 Issue 2, November 2015
-------------------------------------------------
-------------------------------------------------
-----

R
EPERTORIUM
Jurnal Ilmiah Hukum
Kenotariatan
-------------------------------------------------
-------------------------------------------------
-------
Volume Issue Halaman Palembang ISSN:
REPERTORIUM
4 2 113 – 217 November 2015 2086-809X

Progr am Studi Magister Kenotariatan Pengurus Daerah


Ikatan Notaris Indonesia (INI)
Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Kota Palembang
DEWAN REDAKSI

REPERTORIUM
Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan
ISSN: 2086-809X

Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya


dan
Pengurus Daerah Ikatan Notaris Indonesia (INI) Kota Palembang
Ikatan Alumni (IKA) Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universiats Sriwijaya

Keputusan Dekan FH Universitas Sriwijaya Nomor: 001/SK-FH/2009 Tanggal: 11 Januari 2010

Pembina:
Prof. Amzulian Rifai, S.H., LLM., Ph.D. (Dekan FH Universitas Sriwijaya).

Penanggung Jawab Umum:


Saut P. Panjaitan, S.H., M.Hum. (Ketua P.S. M.Kn FH Universitas Sriwijaya).

Ketua Penyunting:
Dr. Muhammad Syaifuddin, S.H., M.Hum.

Sekretaris Penyunting:
Mada Apriandi Zuhir, S.H., MCL.

Penyunting Ahli:
Prof. Dr. Joni Emirzon, S.H., M.Hum. (Koordinator/FH Universitas Sriwijaya).
Prof. Dr. Sri Rezeki Hartono, S.H.(Mitra Bestari/FH Universitas Diponegoro).
Prof. Dr. Veronica Komalawati, S.H., M.H. (Mitra Bestari/FH Universitas Padjadjaran).
Prof. Dr. Sugito, S.H., M.H. (Mitra Bestari/FH Universitas Gadjah Mada).
Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., M.H. (Mitra Bestari/FH Universitas Sumatera Utara).

Penyunting Pelaksana:
Dr. Happy Warsito, S.H., M.Sc., H. Amrullah Arpan, S.H., S.U., Dr. Firman Muntaqo, S.H., M.Hum.,
Notaris H. Kms. Abdullah Hamid, S.H., Sp.N., M.H.,
Notaris H. Achmad Syarifudin, S.H., Sp.N., Notaris Herman Andriansyah, S.H., Sp.N.

Administrasi dan Sirkulasi:


Tri Cahya Putri, S.Kom.
Widi Widodo

Redaksi/Tata Usaha:
Kampus FH Unsri Palembang, Telp./Fax. 0711-352034,
e-mail: repertorium_mkn_fhunsri_@yahoo.co.id, Mobile: 0819.333.99726.
website :http.www.notariat.fh.unsri.ac.id

REPERTORIUM Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan , diterbitkan oleh Program Studi Magister
Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun, pada bulan Mei dan Oktober,
sebagai media komunikasi dan pengembangan ilmu. Redaksi menerima naskah artikel laporan penelitian dan
artikel konseptual yang harus relevan dengan visi dan misi redaksi serta mengacu kepada Pedoman Sistematika
dan Teknis Penulisan yang telah ditentukan. Redaksi berhak mengubah naskah sepanjang tidak mengubah
substansi isinya.

ii
PENGANTAR REDAKSI

Puji dan syukur kepada Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa, karena berkat ridho-
Nya jualah Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan “Repertorium” Volume 4 Issue 2,
November 2015 ini telah dapat diterbitkan sesuai dengan harapan segenap
civitas akademica Program Studi Masgister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sriwijaya, Pengurus Ikatan Mahasiswa Program Studi Magister
Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya dan Pengurus Wilayah Ikatan
Notaris Indonesia Suamtera Selatan.

Penamaan berkala, kelembagaan penerbit, penyuntingan, penampilan, gaya


penulisan, substansi isi, keberkalaan dan kewajiban pasca terbit telah diupayakan
sesuai dengan Pedoman Akreditasi Berkala Ilmiah yang diterbitkan oleh
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Republik
Indonesia dan dinyatakan berlaku sejak 2 Oktober 2009 berdasarkan Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2009.

Artikel ilmiah yang dimuat dalam Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan Repertorium
ini, diklasifikasikan dan dikelompokkan berdasarkan topik dengan memperhatikan
kepentingan pengembangan ilmu dan praktik hukum kenotariatan pada
khususnya serta ilmu dan praktik hukum bisnis pada umumnya. Artikel Topik
Utama menampilkan artikel-artikel hasil konversi Tesis mahasiswa Program Studi
Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya.

Akhirnya, Redaksi Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan “Repertorium”


menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam penerbitan Volume keempat ini. Tidak lupa pula, Redaksi
mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca yang
budiman guna meningkatkan kualitas Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan
“Repertorium” ini untuk volume berikutnya. Selamat membaca.

iv
DAFTAR ISI

DEWAN REDAKSI.......................................................................................................................….ii
PENGANTAR REDAKSI.................................................................................................................iii
DAFTAR ISI......................................................................................................................................iv

1. Akibat Hukum Wasiat Yang Berisi Penunjukan Ahli Waris Dan Hibah Wasiat Menurut Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata
Adi Putra Pratama , Muhammad Syaifuddin, Amrullah Arpan, Elmadiantini 1

2. Kewenangan Peradilan Mengadili Terhadap Sengketa Akta Pejabat Pembuat Akta Tanah Dan
Balik Nama Pada Sertipikat Berdasarkan Hibah Hak Atas Tanah Yang Cacat Hukum
Deasy Willyza , Muhammad Syaifuddin, Amrullah Arpan, Herman Adriansyah 11

3. Kedudukan Hukum Surat Pengakuan Hak (Sph) Atas Tanah Sebagai Bukti Awal Proses
Pendaftaran Tanah
Suhardi 27

4. Kedudukan Dan Tanggung Jawab Hukum Pihak Sub Kontraktor Pada Perjanjian Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah
Mitha Miranda Sari , Muhammad Syaifuddin, Saut P.Panjaitan, Herman Adriansyah 50

5. Analisis Terhadap Pengertian Orang Lain Pemangku Jabatan Notaris Dalam Ketentuan Pasal 3
Ayat (3) Kode Etik Notaris Kaitannya Dengan Kewajiban Notaris Dalam Pasal 16 Ayat (1) Huruf
(A) Undang-Undang Jabatan Notaris
Ferika Pramitha Mulyani , M. Sayfuddin, Amrullah Arpan 68

6. Penerapan Sanksi Administratif Kepada Notaris Oleh Majelis Pengawas Wilayah (Mpw)
Menurut Undang Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Undang Undang Nomor
30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris
M. Hafiz Tafdhil 77

7. Persetujuan Majelis Kehormatan Notaris Untuk Pengambilan Fotokopi Minuta Akta Dan
Pemanggilan Notaris Dalam Rangka Proses Peradilan.
Nanda Ika Puspita 91

PEDOMAN SISTEMATIKA DAN TEKNIK PENULISAN 103

v
AKIBAT HUKUM WASIAT YANG BERISI PENUNJUKAN AHLI WARIS DAN
HIBAH WASIAT MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUIM PERDATA1

Oleh :

ADI PUTRA PRATAMA2, MUHAMMAD SYAIFUDDIN, AMRULLAH ARPAN,


ELMADIANTINI

Abstract : Thesis entitled as a “RESULT OF LAW THAT WILL CONTAIN THE


APPOINTMENT AND GRAND TESTAMENTARY HEIR ACCORDING TO THE
BOOK OF THE CIVIL LAW”. Discuss issues of legal issues that result of law that will
contain the appointment and grant testamentary heir according to the book of the civil
law; in heritance right to the heirs by statutory (ab intestato) and testament which
contains appointment heirs (erfstelling) according to the laws of civil law. Theoretical
basis used in this study is the theory of the rule of law, rights theory and theory of legal
protection. This type of research uses type of normative legal research using regulatory
approach and conceptual approach. Materials research in this thesis the primary law,
secondary and tertiary, which is processed at the level of technical level, the level of
teleological and systematic level of internal. Material analysis carried out by method of
interpretation of law contruction. Based method of deductive logic to think that we can
conclude about testamentary appointment and grant testamentary heirs and logical
qonsecuences according to the book of civil law by looking article 954 and 957 of the
book. However, due to legal provisions regarding the appointment of a will that
contains a grant heirs and testament in the book of the law of civil law. The next
concept of the ideal law which must be applied by a public official or for a notary
clarity and legal certainly. On the rights of heirs either by statute (ab intestato) or by
the law of will and grants means that in the future there is no problem or dispute after
heiress dies.
KeyWords: Heiress, Wealth, Heir, Grant Will , Will Containt The Appointment
(erfstelling), Grant Testamentary (legaat)
A. Pendahuluan Undang Hukum Perdata dalam garis
1. Latar Belakang lurus, baik ke atas maupun ke bawah
Menurut Kitab Undang-Undang dari pewaris. LP baru dapat dituntut jika
Hukum Perdata, ahli waris dijamin bagian mutlak itu berkurang sebagai
dengan adanya legitieme portie (bagian akibat adanya tindakan dari pewaris
mutlak). Pihak yang berhak atas
legitieme portie (LP) di sebut
legitimaris. Legitimaris adalah ahli
waris yang menurut Kitab Undang-
1
Artikel ini adalah ringkasan Tesis yang berjudul “Akibat Hukum Wasiat Yang
Berisi Penunjukan Ahli Waris Dan Hibah Wasiat Menurut Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata” , yang ditulis oleh Adi Putra Pratama, S.H dengan Pembimbing
Utama Dr. Muhammad Syaifuddin, S.H., M.Hum, Pembimbing Pendamping H.
Amrullah Arpan, S.H., S.U dan Pembimbing Tamu Hj. Elmadiantini, S.H.,
Sp.N., pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas
Sriwijaya.
2
Penulis adalah mahasiswa Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sriwijaya, Palembang.

113
sebelum meninggal dunia.3 Ahli waris pemilik harta dikemudian hari. Dan
dapat menuntut haknya atas dasar LP, guna mencegah akibat yang merugikan
apabila hak-haknya itu telah dikurangi itu, Kitab Undang-Undang Hukum
atau dilanggar oleh pewaris melalui Perdata menetapkan kelompok ahli
tindakannya selagi hidup. Tindakannya waris yang mempunyai hak mutlak atas
ini dalam bentuk surat wasiat yang harta kekayaan yang tidak dapat
isinya menghilangkan atau mengurangi ditiadakan oleh pewaris yang disebut
hak dari ahli waris atas harta warisan “legitieme portie”. Artinya, bagian dari
yang akan diterimanya. harta kekayaan yang tidak bisa
dialihkan hak miliknya oleh pewaris
Dalam pengertiannya hukum dengan menggunakan sarana hukum
waris adalah hukum yang mengatur hibah ataupun dengan surat wasiat.5
tentang peralihan harta kekayaan yang Wasiat (testament) berdasarkan
ditinggalkan seseorang yang meninggal isinya, wasiat dibedakan menjadi dua,
dunia serta akibatnya bagi para ahli yaitu:6
warisnya. Pewarisan itu timbul karena
adanya kematian yang terjadi pada 1) Wasiat yang berisi penunjukan
anggota keluarga, misalnya ayah, ibu, ahli waris (Erfstelling
istri, suami, anak atau saudara.4 2) Hibah Wasiat atau Legaat
Peristiwa kematian pewaris yang Masyarakat di Indonesia
menjadi penyebab timbulnya peralihan khususnya, yang tunduk dengan hukum
harta kekayaan pewaris kepada ahli waris menurut Kitab Undang-Undang
waris dan objek dari pewarisannya Hukum Perdata sampai sekarang, masih
adalah harta yang telah ditinggalkan banyak yang awam dalam hal aturan
oleh pewaris. Jika dirumuskan, maka membuat surat wasiat sehingga
terjadilah sengketa atau permasalahan
pewarisan merupakan peristiwa hukum setelah pewaris meninggal dunia.
yang mengatur tentang beralihnya
warisan dari peristiwa karena kematian 2. Rumusan Masalah
pewaris kepada ahli waris yang mewaris Berdasarkan latar belakang
atau seseorang yang ditunjuk menjadi masalah yang telah diuraikan terlebih
ahli waris dengan wasiat. dahulu, maka permasalahan yang dikaji
Pewaris sebagai pemilik dalam penelitian tesis ini, adalah :
1. Apakah akibat hukum wasiat yang
harta adalah mempunyai hak mutlak
berisi penunjukan ahli waris
untuk mengatur apa saja yang
(erfstelling) dan hibah wasiat
dikehendaki atas hartanya. Akan tetapi
yang dikhawatirkan adalah pelaksanaan 5
Anisitus Amanat. 2000.
hak kebebasan itu yang akan membawa Membagi Warisan Berdasarakan
kerugian kepada pihak yang Pasal-Pasal Hukum Perdata BW.
berkepentingan, terutama ahli waris Jakarta. PT Raja Grafindo Persada.
3
Effendi Perangin. 2008. hlm. 51.
Hukum Waris. Jakarta. PT Raja 6
Effendi Perangin.Op. Cit. hlm.
Grafindo Persada. hlm. 77.
4
Ibid. hlm. 3. 78.

114
(legaat) menurut Kitab Undang- c. Ada sejumlah harta kekayaan
Undang Hukum Perdata ? yang di tinggalkan pewaris.
2. Bagaimana hak atas harta warisan ….
2. Harta Kekayaan
ahli waris berdasarkan undang-
Objek dari pewarisan
undang (ab intestato) dan wasiat
adalah harta kekayaan yang
yang berisi penunjukan ahli waris ditinggalkan oleh almarhum.
(erfstelling) menurut Kitab Adapun kekayaan yang
Undang-Undang Hukum Perdata? dimaksud adalah sejumlah harta
kekayaan yang ditinggalkan
B. Kerangka Konseptual seseorang yang meninggal dunia
1. Pewaris baik dalam bentuk harta benda
Pewaris adalah orang sampai dengan hutang-piutang.9
yang meninggal dunia baik itu Pasal 833 Kitab Undang-
laki-laki ataupun perempuan Undang Hukum Perdata
yang telah meninggalkan didalamnya diatur tentang harta
benda peninggalan.
sejumlah harta peninggalan
ataupun harta kekayaan yang 3. Ahli Waris
dimilikinya yang akan Ahli waris adalah orang-
diturunkan atau diberikan orang yang mempunyai hak
kepada segenap ahli waris nya.7 untuk mendapatkan bagian dari
Didalam Pasal 830 Kitab harta peninggalan dan harta
Undang-Undang Hukum Perdata kekayaan orang yang telah
menyebutkan, “Pewarisan hanya meninggal dunia. Ada dua
kelompok orang yang layak
berlangsung karena kematian”.
untuk disebut sebagai ahli
Pada dasarnya proses beralihnya waris.10 Kelompok yang pertama
pewarisan, terjadi karena adalah orang yang oleh hukum
kematian oleh karena itu atau Kitab Undang-Undang
pewarisan baru akan terjadi jika Hukum Perdata telah ditentukan
terpenuhi 3 syarat, yaitu:8 sebagai ahli waris (diatur
didalam Pasal 832, 822, 852a,
a. Ada seseorang yang meninggal 853, 854, 858 jo. Pasal 861
dunia. Kitab Undang-Undang Hukum
b. Ada orang yang masih hidup Perdata) dan kelompok yang
sebagai ahli waris yang kedua ahli waris berdasarkan
akan..menerima warisan pada perbuatan hukum yaitu dengan
saat pewaris meninggal dunia. menggunakan surat wasiat atau
hibah.
7

Mohd. Idris Ramulyo. 1993.
4. Wasiat
Beberapa Masalah Pelaksanaan
hukum Kewarisan Perdata Barat (BW).
9
Jakarta. Sinar Grafika. hlm. 21. Anisitus Amanat. Op. Cit. hlm.
8 9.
Sudarsono. 1990. Hukum 10
Mohd. Idris Ramulyo.Op.Cit.
Waris dan Sistem Bilateral. Jakarta.
Rinika Cipta. hlm. 11. hlm. 21

115
Wasiat adalah suatu akta sepertiganya. Penerima wasiat
yang berisi pernyataan erfstelling ini mempunyai
seseorang tentang apa yang kedudukan hukum yang sama
dikehendakinya serta olehnya
dengan ahli waris ab intestato
dapat dicabut kembali dan
pelaksanaanya dapat di lakukan yang mewaris dilihat dari
setelah ia meninggal dunia.11 golongan berapakah ahli waris
Pada Pasal 875 Kitab Undang- yang ada. Seperti yang termuat
Undang Hukum Perdata didalam Pasal 954 Kitab
didalamya diatur tentang surat Undang-Undang Hukum
wasiat. Perdata.
…………….
5. Hibah 7. Hibah Wasiat
Hibah adalah suatu Hibah wasiat atau legaat
persetujuan dengan mana adalah suatu penetapan wasiat
penghibah diwaktu hidupnya
yang khusus, dengan mana si
dengan cuma-cuma dan dengan
tidak dapat ditarik kembali, yang mewariskan kepada
menyerahkan sesuatu benda seorang atau lebih memberikan
guna keperluan penerima hibah barang-barang tertentu dari harta
yang menerima penyerahan itu. peninggalannya seperti misalnya
Kitab Undang-Undang Hukum segala bentuk barang-barangnya
Perdata tidak mengakui lain-lain yang bergerak ataupun tidak
hibah selain hibah diatara orang-
bergerak atau memberikan hak
orang yang masih hidup.12 Pada
Pasal 1666 Kitab Undang- pakai hasil atas seluruh atau
Undang Hukum Perdata sebagian harta peninggalannya
didalamnya diatur tentang hibah. dan jumlah yang diberikan tidak
boleh melebihi 1/3 (sepertiga)
6. Wasiat Yang Berisi dari keseluruhan harta
Penunjukan Ahli Waris peninggalan pewaris. 13
Pada
Wasiat Yang Berisi Pasal 957 Kitab Undang-
Penunjukan Ahli Waris Undang Hukum Perdata di
(erfstelling) adalah suatu wasiat dalamnya diatur tentang hibah
dengan mana pewaris wasiat.
mewasiatkan, kepada seorang
atau lebih, memberikan harta 8. Notaris
kekayaan yang akan Menurut Kamus Besar
ditinggalkannya apabila pewaris Bahasa Indonesia14, Notaris
meninggal dunia baik
13
seluruhnya maupun sebagian Ibid. hlm. 60.
14
seperti misalnya, setengahnya, Tim Penyususn Kamus Pusat
11 Pembinaan dan Pengembangan
Effendi Perangin. Op. Cit.
Bahasa. 1990. Kamus Besar Bahasa
hlm. 78.
12 Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka. hlm.
Mohd Idris Ramulyo. Op. Cit.
hlm. 56. 618.

116
mempunyai arti orang yang dalam penelitian ini dilakukan
mendapat kuasa dari pemerintah pengolahan dengan cara mengadakan
berdasarkan penunjukan dalam sistematisasi terhadap bahan-bahan
hal ini adalah Departemen yang ada. Selanjutnya, dianalisis dengan
Hukum dan Hak Asasi Manusia mempergunakan penafsiran hukum
untuk mengesahkan dan secara teleologis dan fungsional yang
menyaksikan berbagai surat kemudian ditarik kesimpulan
perjanjian, surat wasiat, akta, mempergunakan metode deduktif.
dan sebagainya.
Dalam Pasal 1 angka (1) D. Temuan Dan Hasil
Undang-Undang No 30 tahun 1. Akibat Hukum Wasiat Yang
2004 tentang Jabatan Notaris Berisi Penunjukan Ahli Waris
disebutkan bahwa notaris adalah (Erfstelling) Menurut Kitab
pejabat yang berwenang untuk
Undang-Undang Hukum Perdata
membuat akta otentik dan
kewenangan lainnya Wasiat (testament) berdasarkan
sebagaimana dimaksud dalam isinya dapat berupa wasiat yang berisi
undang-undang ini. penunjukan ahli waris (erfstelling).
Wasiat ini maksudnya adalah wasiat
9. Akta Otentik dimana orang yang mewasiatkan
memberikan seluruh atau sebagian dari
Yang dimaksud dengan
harta kekayaannya kepada seorang atau
akta otentik adalah suatu akta
lebih yang bukan ahli waris nya pada
yang dibuat dalam bentuk yang
saat pewaris meninggal dunia.16 Seperti
ditentukan oleh undang-undang
yang termuat dalam Pasal 954 Kitab
dibuat oleh dan atau dihadapan
Undang-Undang Hukum Perdata yang
pegawai-pegawai umum yang
berbunyi: “Wasiat pengangkatan waris
berkuasa untuk itu, ditempat
adalah suatu wasiat, dengan mana si
dimana akta dibuat. Hal ini
yang mewasiatkan, kepada seorang atau
sesuai dengan yang tercantum
lebih, memberikan harta kekayaan yang
dalam Pasal 1868 Kitab
akan ditinggalkannya apabila ia
Undang-Undang Hukum Perdata
meninggal dunia baik seluruhnya
maupun sebagian seperti misalnya,
C. Metode Penelitian
setengahnya, sepertiganya”.
Penelitian yang akan dilakukan
merupakan tipe penelitian hukum Orang yang ditunjuk dalam
normatif. Penelitian hukum normatif wasiat erfstelling dinamakan
adalah penelitian hukum yang dilakukan testamentaire erfgenaam, yaitu ahli
dengan cara meneliti bahan pustaka atau waris menurut wasiat yang mana
meneliti dari bahan-bahan hukum, kedudukannya sama hal nya dengan
seperti penelitian terhadap asas-asas seorang ahli waris menurut undang-
hukum, hukum positif, aturan-aturan undang atau ahli waris ab intestato,
hukum, dan kaedah-kaedah hukum.15 orang tersebut akan memperoleh segala
Bahan-bahan hukum yang diperoleh
15
Soerjono Soekanto dan Sri 13.
16
Mamudji. 2010. Penelitian Hukum Titik Triwulan Tutik. 2010.
Normatif Suatu Tinjauan Singkat. Hukum Perdata Dalam Sistem Hukum
Jakarta. PT Raja Grafindo Persada. hlm Nasional. Jakarta. Kencana. hlm. 270.

117
hak dan kewajiban dari pewaris yang ditinggalkannya apabila pewaris
telah meninggal dunia (onderalgemene meninggal dunia, baik seluruhnya
titel).17 maupun sebagian seperti misalnya
Singkatnya wasiat erfstelling setengahnya atau sepertiganya.19
adalah seseorang yang ditunjuk oleh Dalam wasiat erfstelling
pewaris untuk menerima seluruh harta terkadang pewaris hanya menunjuk
atau sebagian tertentu dari warisan seorang sebagai ahli waris atau satu-
misalnya seperdua, sepertiga dan satunya ahli waris, ini artinya
sebagainya (Pasal 954 Kitab Undang- mengandung maksud bahwa pewaris
Undang Hukum Perdata).18.Orang yang secara diam-diam mencabut hak ahli
menerima atau mendapat wasiat waris ab intestato akan tetapi hak
erfstelling ini mempunyai kedudukan legitieme portie tidak bisa di cabut
yang sama sebagai ahli waris ab berdasarkan wasiat. Namun hak
intestato yang mana orang ini tidak legitieme portie itu menjadi ikut
hanya mendapat hak-hak atas harta tercabut bila pewaris ab intestato tidak
peninggalan pewaris, akan tetapi orang mengajukan tuntutan ke Pengadilan
itu juga mempunyai kewajiban- Negeri. Dalam hukum waris
kewajiban misalnya sampai dengan berdasarkan Kitab Undang-Undang
membayar hutang-hutang pewaris. Hukum Perdata, seorang ahli waris
Wasiat yang termasuk dalam hanya berhak menerima bagian dalam
kategori erfstelling, apabila harta yang harta warisan apabila ahli waris tersebut
diberikan pewaris kepada penerima meminta dan menuntutnya.20
wasiat tersebut tidak pasti jumlah atau
jenisnya. Wasiat jenis erfstelling ini Jadi disini penulis berpendapat,
merupakan wasiat yang berisi setiap ahli waris ab intestato khususnya
pemberian harta peninggalan yang bisa baru dapat menikmati keuntungan dari
berjumlah setengah, sepertiga dan harta peninggalan pewaris apabila ahli
seterusnya dari harta peninggalan yang waris tersebut mengakui dan
mana ahli waris dengan wasiat menggunakan haknya untuk menuntut
erfstelling ini akan mengikuti harta peninggalan dari pewaris akan
kedudukan atau tempat bersama ahli tetapi jika tidak maka harta pewaris
waris dari golongan berapa yang tidak akan jatuh dan beralih kepadanya.
mewaris. Definisi erfstelling ini terdapat Kemudian bisa saja apabila harta
di dalam rumusan Pasal 954 Kitab peninggalan pewaris tidak ada yang
Undang-Undang Hukum Perdata yang mengakui maka akan jatuh kepada ahli
mengatakan bahwa wasiat waris dengan wasiat jika pewaris
pengangkatan waris adalah suatu wasiat membuat wasiat. Namun, apabila tidak
dengan mana pewaris yang ada seorang pun yang mengakui maka
mewasiatkan kepada seorang atau lebih harta peninggalan tersebut akan
memberikan harta kekayaan yang akan diserahkan di Balai Harta Peninggalan.

17
.Mohd. Idris Ramulyo. Op. Cit. 2. Akibat Hukum Hibah Wasiat
(legaat) Menurut Kitab Undang-
hlm. 52.
18
Undang Hukum Perdata
<http://mkn-
unsri.blogspot.com/2010/10/02/maca
19
Mohd. Idris Ramulyo. Op. Cit.
m-macam-bentuk-wasiat-html>
hlm. 54.
20
diakses pada 1 April 2014. Ibid.

118
Hibah sebagaimana disebutkan kepadanya dari sekalian ahli waris.
dalam Pasal 1666 Kitab Undang- Pelaksanaannya baru dapat dilakukan
undang Hukum Perdata yaitu, “Sesuatu setelah pewaris meninggal dunia. Hibah
persetujuan dengan mana si penghibah wasiat ini harus lebih dahulu
di waktu hidupnya, dengan cuma-cuma diselesaikan atau dikeluarkan bagiannya
dan dengan tidak dapat ditarik kembali, agar tidak mengganggu jumlah harta
menyerahkan suatu benda guna peninggalan yang akan diterima oleh
keperluan si penerima hibah yang para ahli waris nantinya dan jumlahnya
menerima penyerahan itu.” tidak boleh melebihi 1/3 (sepertiga) dari
Selama harta yang telah diterima jumlah harta peninggalan,22 Adapun
dari hibah tersebut nilainya tidak yang dapat diberikan dalam suatu
melanggar hak mutlak ahli waris ab legaat dapat berupa:23
intestato, penerima hibah tidak a. Satu atau beberapa benda
berkewajiban untuk mengembalikan tertentu
harta tersebut kepada ahli waris b. Seluruh benda dari satu macam
ab..intestato...Dengan kata lain, atau jenis, misalnya seluruh
penerima hibah wajib mengembalikan
benda yang bergerak
seluruh harta yang telah diterimanya
c. Hak “vurchtgebruik” atas
dari hibah apabila melanggar hak
legitieme portie dari ahli waris ab sebagian atau seluruh warisan
intestato.21 d. Sesuatu hak lain terhadap harta
Selain terdapat hibah didalam warisan (boedel), misalnya hak
kitab Undang-Undang Hukum Perdata untuk memberi satu atau
maka terdapat juga hibah wasiat atau beberapa tertentu dari boedel.24
legaat yang ada didalam pada Pasal 957 Pengertian legaat atau hibah
di jelaskan bahwa: “Hibah wasiat wasiat ada didalam rumusan pasal 957
adalah suatu penetapan khusus, dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,
mana si yang mewariskan kepada dikatakan bahwa hibah wasiat adalah
seorang atau lebih memberikan suatu penetapan yang khusus, dengan
beberapa barang-barangnya dari suatu mana pewaris memberikan wasiat
jenis tertentu, seperti misalnya, segala kepada seorang atau lebih memberikan
barang-barangnya yang bergerak atau beberapa barang atau harta kekayaannya
tak bergerak, atau memberikan hak dari jenis tertentu, seperti misalnya
pakai hasil atas seluruh atau sebagian memberikan barang bergerak atau
harta peninggalannya”. semua barang tidak bergerak atau
memberikan hak pakai hasil atau
Orang yang menerima suatu seluruh atau sebagian harta
legaat, dinamakan legaataris, orang peninggalannya.
yang menerima legaat ini bukanlah ahli
waris. Karena orang tersebut tidak
menggantikan pewaris yang meninggal 22
Titik Triwulan Tutik. Op. Cit.
dalam hak-hak dan kewajiban- hlm. 270.
kewajiban (terutama membayar hutang- 23
Ibid.
hutang). Ia hanya berhak untuk
24
menuntut penyerahan benda atau R. Subekti, 1984. Pokok-
pelaksanaan hak yang diberikan Pokok Hukum Perdata. Jakarta.
21 Intermasa. hlm. 107.
Anistus Amanat. Op. Cit. hlm.
53.

119
E. Penutup hibah wasiat (legaat) hanya
1. Kesimpulan berhak melakukan penuntutan
a) Akibat hukum wasiat yang penyerahan benda atau
berisi penunjukan ahli waris pelaksanaan hak yang telah
(erfstelling) menurut Kitab diberikan kepadanya setelah
Undang-Undang Hukum pewaris meninggal dunia.
Perdata adalah seseorang yang Hibah wasiat ini baru dapat
bukan ahli waris diangkat dilaksanakan dengan syarat
menjadi ahli waris dengan jumlahnya tidak boleh melebihi
menggunakan wasiat yang telah 1/3 (sepertiga) dari harta
dibuat oleh pewaris dan peninggalan pewaris. Penerima
didalam wasiat ini pewaris juga legaat tidak menggantikan hak
dapat mewasiatkan yang isinya dan kewajiban pewaris seperti
memberikan seluruh atau sekalian ahli waris yang
sebagian dari harta mewaris.
peninggalannya (seperti b) Hak atas harta warisan ahli
setengah, sepertiga dan waris berdasarkan undang-
seterusnya) kepada penerima undang (ab intestato) menurut
wasiat. Dengan syarat tidak Kitab Undang-Undang Hukum
menggangu bagian mutlak Perdata adalah jika pewaris
(legitieme portie) dari ahli meninggal dunia maka yang
waris ab intestato. Dalam berhak atas harta peninggalan
wasiat ini, penerima wasiat pewaris adalah para ahli waris
erfstelling mempunyai berdasarkan undang-undang
kedudukan yang sama dengan atau ab intestato yang mewaris.
ahli waris menurut undang- Mengenai porsi pembagian
undang atau ahli waris ab harta warisan bagi ahli waris ab
intestato yang mewaris dan intestato telah di atur dalam
akan memperoleh segala hak undang-undang mulai dari
dan kewajiban dari pewaris golongan satu sampai dengan
yang telah meninggal dunia, golongan empat. Hak atas harta
baik menerima harta warisan ahli waris berdasarkan
peninggalan sampai dengan wasiat yang berisi penunjukan
membayar hutang-hutang ahli waris atau erfstelling
pewaris. Akibat hukum hibah adalah ahli waris yang diangkat
wasiat atau legaat adalah dengan menggunakan wasiat
seseorang yang bukan ahli erfstelling ini memiliki
waris berhak menerima harta kedudukan hukum yang sama
peninggalan pewaris seperti ahli waris ab intestato
dikarenakan adanya wasiat yang mewaris dan memiliki
yang berisi hibah yang dibuat porsi pembagian harta
oleh pewaris, disini penerima peninggalan yang akan

120
diterimanya dengan sengketa antara ahli waris
memperhatikan dan mengikuti dikemudian hari setelah
dari golongan berapakah ahli pewaris meninggal dunia.
waris ab intestato yang mewaris
tersebut yang ada.
2. Saran
a) Demi tercapainya kepastian dan
ketertiban hukum khususnya
dalam hal wasiat, maka notaris
harus benar-benar
memperhatikan terhadap
keinginan dan kemampuan
hukum dari pewaris didalam
menyampaikan kehendak
terakhirnya yang akan dibuat
dalam akta wasiat karena
Notaris memiliki kewenangan
untuk memberikan saran dan
masukan hukum yang jelas
kepada penghadap bagaimana
kekuatan dan kerugian dari
pembuatan wasiat penunjukan
sebagai ahli waris dan hibah
wasiat.
b) Notaris harus menyelidiki
secara teliti dan seksama
identitas pewaris serta tingkah
laku penghadap selama
menghadap notaris. Agar dapat
mengetahui kebenaran tentang
harta yang akan diwasiatkan
oleh pewasiat adalah benar-
benar milik pewasiat dan bukan
milik orang lain. Dan ada
baiknya sebelum
menandatangani akta wasiat
penunjukan ahli waris
(erfstelling) ataupun hibah
wasiat (legaat) telah diketahui
oleh para ahli waris yang
lainnya. Untuk menghindari
terjadinya permasalahan atau

121
Kewarisan Perdata Barat (BW).
DAFTAR PUSTAKA Jakarta. Sinar Grafika.
R. Subekti, 1984. Pokok-Pokok Hukum
PERATURAN PERUNDANG- Perdata. Jakarta. Intermasa.
UNDANGAN Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji.
2010. Penelitian Hukum
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Normatif Suatu Tinjauan
(Burgerlijke Wetboek) di Singkat. Jakarta. PT Raja
terjemahkan oleh R. Subekti dan Grafindo Persada.
R. Tjitrosudibio. 1992. Jakarta. Sudarsono. 1990. Hukum Waris dan
Sistem Bilateral. Jakarta. Rinika
PT Pradnya Paramita.
Cipta.
Titik Triwulan Tutik. 2010. Hukum
Perdata Dalam Sistem Hukum
Undang-Undang No 30 tahun 2004
Nasional. Jakarta. Kencana.
tentang Jabatan Notaris.
KAMUS
BUKU-BUKU
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan
Anisitus Amanat. 2000. Membagi
dan Pengembangan Bahasa.
Warisan Berdasarakan Pasal-
1990. Kamus Besar Bahasa
Pasal Hukum Perdata BW.
Indonesia. Jakarta. Balai
Jakarta. PT Raja Grafindo
Pustaka.
Persada.
Effendi Perangin. 2008. Hukum Waris.
INTERNET
Jakarta. PT Raja Grafindo
<http://mkn-
Persada.
unsri.blogspot.com/2010/10/02/
Mohd. Idris Ramulyo. 1993. Beberapa
macam-macam-bentuk-wasiat-
Masalah Pelaksanaan hukum
html>.

122
KEWENANGAN PERADILAN MENGADILI TERHADAP SENGKETA AKTA
PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH DAN BALIK NAMA PADA SERTIPIKAT
BERDASARKAN HIBAH HAK ATAS TANAH YANG CACAT HUKUM25

Oleh :
26
DEASY WILLYZA , MUHAMMAD SYAIFUDDIN, AMRULLAH ARPAN,
HERMAN ADRIANSYAH

Abstract : The Background of the writing is the result of Palembang District Court
No.62/PDT.G/2010/PN PLG juncto High Court verdict Palembang
101/PDT/2011/PT.PLG Number, Object lawsuit is Grant Deed No. 623/2009 dated July
30, 2009 which made before a Land Deed Official TA, SH. The decision of the judges in
a lawsuit in state court can not be accepted and the decision of the judge also rejected
the appeal in its entirety , a lawsuit can not be accepted because of the competence of
courts to sue the Land Deed Officer and Head of the Land Office should at the State
Administrative Court is not in Judicial Affairs , while the Grant Deed to cancel Judicial
Affairs is the authority for Deed Land Deed Official beschikking not the result of a
decision , but based on the wishes of the parties ( Partij acte ) contractual and to cancel
the certificate that has been turned over the name of the authority of the State
Administrative Court . Legal sanctions for Land Deed Official TA , SH which has made
the Deed of Grant No. 623/2009 dated July 30, 2009 which can be legally flawed
administrative sanctions and dismissal with no respect from his post by the National
Land Agency of the Republic of Indonesia , after a court ruling have permanent legal
force . While the legal sanctions for the Head of the Land Office had registered under
the name of the Certificate of Property No. 910/24 downstream Village by the Deed of
Grant No. 623/2009 which is a legal disability for severe disciplinary offense which is
the Head of the Land Office for Civil Servants, the sanction under Article 7 figure 4
Government Regulation No. 53 of 2010 Concerning Civil Service Discipline, demotion
level may be lower for 3 (three) years, in order to decrease the transfer of lower level
positions, exemption from office, dismissal with respect not by his own request as
Employee Civil, and dismissal with no respect as a civil servant.

Keywords: the Judicial Authority of judging, registration of transfer of rights of


Evidence, Sanctions Law Land Deed Officer and Head of the Land Office
A. Pendahuluan beralih dari seseorang kepada orang
1. Latar Belakang lain. Pemindahan adalah perbuatan
Hak atas tanah dapat diperoleh hukum yang sengaja dilakukan
melalui peralihan hak atas tanah, dengan tujuan agar hak atas tanah
salah satunya dengan cara hibah. berpindah dari yang mengalihkan
Pemindahan hak atas tanah kepada yang menerima pengalihan.
menyebabkan hak atas tanah Hibah adalah pemberian yang
25
Artikel ini adalah ringkasan Tesis yang berjudul “Kewenangan Peradilan Mengadili Terhadap
Sengketa Akta Pejabat Pembuat Akta Tanah Dan Balik Nama Pada Sertipikat Berdasarkan Hibah Hak
Atas Tanah Yang Cacat Hukum”, yang ditulis oleh DEASY WILLYZA dengan pembimbing Dr.
Muhammad Syaifuddin, S.H., M.Hum, H. Amrullah Arpan, S.H., S.U, dan Herman Adriansyah,
S.H., Sp.N., M.H, pada Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sriwijaya.
26
Penulis adalah Mahasiswi Magister Kenotariatan Universitas Sriwijaya, Palembang.

123
dilakukan oleh seseorang kepada menurut hukum. Apabila dalam
pihak lain yang dilakukan ketika rentang waktu kurang lebih satu
masih hidup dan pelaksanaan bulan terhitung sejak dicatatnya
pemegang hak atas tanah yang
pembagiannya biasanya dilakukan
baru, tidak ada masalah atau
pada waktu penghibah masih hambatan-hambatan maka benar-
hidup.27 benar proses pensertifikatan tanah
itu telah selesai.
Setiap perjanjian yang Walaupun telah terdapat
bermaksud memindahkan hak atas berbagai ketentuan perundang-
tanah, memberikan sesuatu hak undangan yang telah mengatur
baru atas tanah, menggadaikan tentang kewenangan Pejabat
tanah atau meminjam uang dengan Pembuat Akta Tanah, permasalahan
hak atas tanah sebagai tanggungan hukum yang berkaitan dengan
harus dibuktikan dengan suatu akta kewenangan Pejabat Pembuat Akta
yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Tanah sering terjadi. Pada
Akta Tanah (PPAT). 28 umumnya sengketa yang terjadi
Pejabat Pembuat Akta Tanah, dalam penerbitan sertifikat
adalah merupakan "pejabat umum" dikarenakan adanya hal-hal yang
yang diberikan kewenangan digolongkan sebagai data yang
membuat "akta otentik " untuk tidak benar oleh pihak tertentu
perbuatan hukum tertentu sehingga diajukan gugatan atas
mengenai hak atas tanah dan Hak dasar cacat hukum. Dalam hal akta
Milik atas Satuan Rumah Susun itu dibuat oleh dan dihadapan
yang terletak di wilayah kerjanya29. Pejabat Pembuat Akta Tanah maka
Setelah diterbitkannya akta yang akan dipersoalkan adalah
oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah adanya kecacatan yuridis yang
maka pemegang hak atas tanah mengakibatkan terjadinya
harus segera mendaftarkan ketidakabsahan pada sertifikat yang
tanahnya ke Kantor Pertanahan dibuat oleh Badan Pertanahan
setempat guna dilakukan Nasional, mengingat diterbitkannya
pendaftaran balik nama pada sertifikat diawali dengan
sertipikat. pembuatan akta oleh Pejabat
Setelah urusan balik nama Pembuat Akta Tanah.
selesai maka segera Badan Cacat yuridis dapat mungkin
Pertanahan Nasional akan terjadi karena faktor sengaja
menerbitkan sertifikat dan ataupun tidak sengaja. Dalam hal
pemegang sertifikat yang baru Pejabat Pembuat Akta Tanah telah
tersebut akan dicatat sebagai mengetahui adanya ketidaksesuaian
pemegang hak yang baru serta sah antara dokumen dengan fakta tetapi
27
Eman Suparman. 2011. Hukum masih juga dilanjutkan pembuatan
Waris Indonesia Dalam Perspektif Islam, Adat aktanya, maka yang demikian ini
dan BW. Bandung : Refika Aditama. Hlm 81. dikatakan sengaja. Tetapi jika
28
A.P. Parlindungan. 2009.
karena Pejabat Pembuat Akta Tanah
Pendaftaran Tanah Di Indonesia. Bandung:
Mandar Maju. hlm 170. kurang hati-hati atau kurang teliti
29
Berdasarkan Pasal 1 angka 24. pada saat membaca atau memeriksa
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia dokumen-dokumen yang diajukan
Nomor 24 Tahun 1997. Tentang Pendaftaran oleh pemohon akta sehingga ketika
Tanah.

124
akta selesai dibuat terlihat adanya dari Istri kedua Nyonya Mu (masih
ketidaktepatan itu, maka masih hidup) memperoleh 5 (lima) orang
dapat dikatakan tidak sengaja. Hal anak. JS beserta ahli waris
ini memang berkaitan erat dengan meminta bantuan kepada ZH yang
kemampuan dan kecakapan Pejabat juga ahli waris dari Almarhum
Pembuat Akta Tanah itu sendiri H. SHN dengan surat kuasa
dalam menterjemahkan peristiwa dibawah tangan untuk mengurus,
hukum yang dihadapinya. menjual, menandatangani Akta Jual
Tesis ini dilatarbelakangi oleh Beli ruko, tanah, bedeng, tempat
isi putusan Pengadilan Negeri tinggal orang tua ahli waris
Palembang Nomor : tersebut, obyek kuasa ini adalah
62/Pdt.G/2010/PN.PLG tanggal 10 tanah Sertipikat Hak Milik Nomor
Mei 2010 dan Putusan Pengadilan 910/Kelurahan 24 Ilir atas nama H.
Tinggi Palembang SHN Atas dasar surat kuasa
No.101/PDT/2011/PT.PLG tanggal tersebut ZH menghadap Pejabat
29 September 2011, duduk Pembuat Akta Tanah TA, S.H.
perkaranya sebagai berikut : untuk dibuatkan Akta Hibah.
a. JS, selanjutnya disebut sebagai Meskipun tanpa kehadiran dan
Penggugat; tandatangan seluruh ahli waris (14
b. ZH, selanjutnya disebut sebagai orang), Pejabat Pembuat Akta
Tergugat I; Tanah TA membuat Akta Hibah
c. Notaris / PPAT TA, SH, Nomor 623/2009 tanggal 30 Juli
2009 atas nama ZH, surat kuasa
selanjutnya disebut sebagai
dibawah tangannya adalah untuk
Tergugat II; melakukan pengurusan dalam
d. Notaris / PPAT AS, SH, bentuk mengurus, menjual dan
selanjutnya disebut sebagai menandatangani jual beli tanah dan
Tergugat III; bangunan Sertipikat Hak Milik
e. Notaris / PPAT SHN, SH, Nomor 910/Kelurahan 24 Ilir akan
selanjutnya disebut sebagai tetapi Pejabat Pembuat Akta Tanah
Tergugat IV; TA, SH membuat Akta Hibah
f. PT. Bank M, Cabang Nomor 623/2009 tanggal 30 Juli
Palembang, selanjutnya disebut 2009, ZH bertindak selaku pemberi
hibah dan selaku juga penerima
sebagai Tergugat V;
hibah, kemudian ZH menjual tanah
g. Kepala Kantor Pertanahan Kota
dan bangunan tersebut kepada AS,
Palembang, selanjutnya disebut SH dengan Akta Jual Beli yang
sebagai Tergugat VI; dibuat dihadapan Notaris/Pejabat
Dengan Isu hukumnya sebagai Pembuat Akta Tanah HM, SH
berikut : JS mewakili 13 (tigabelas) dengan jual beli ini maka AS, SH
ahli waris dari Almarhum H. SHN menjadi pemilik tanah dan
yang meninggal pada tanggal bangunan tersebut (sudah dibalik
18 Desember 2002, pada masa nama ke atas nama AS, SH).
hidupnya H. SHN memiliki istri 2 Perbuatan ZH baru diketahui
(dua) orang, Istri Pertama ahli waris H.SHN ketika petugas
Almarhumah Hj. Kh meninggal Bank M memeriksa dilapangan
pada tahun 1993 dengan agunan Sertipikat Hak Milik
meninggalkan 7 (tujuh) orang anak, Nomor 910/Kelurahan 24 Ilir

125
tanggal 24 Desember 1997, atas ketidakjelasan lembaga pengadilan
dasar itu ahli waris menggugat ZH untuk membatalkan akta hibah dan
dan lainnya seperti disebut diatas. balik nama pada sertipikat yang
Putusan Pengadilan Negeri mana gugatannya yaitu di
Nomor 62/Pdt.G/2010/PN.PLG Pengadilan Negeri serta kesalahan
menyatakan bahwa penggugat penggugat menggugat Pejabat
dalam gugatannya tidak Pembuat Akta Tanah dan Kepala
menjelaskan perbuatan Tergugat I Kantor Pertanahan di Pengadilan
(ZH) dalam pembuatan Akta Hibah Negeri.
Nomor 623/2009, penggugat hanya Mencermati isi putusan
menyebutkan sebagai dasarnya Pengadilan Negeri Palembang
bahwa ahli waris tidak Nomor : 62/Pdt.G/2010/PN.PLG
menandatangani, dengan demikian tanggal 1 Mei 2010 dan Putusan
menurut Pengadilan Negeri gugatan Pengadilan Tinggi Palembang
menjadi kabur atau tidak jelas Nomor 101/PDT/2011/PT.PLG
(obscuur libel) karena itu harus tertanggal 29 September 2011,
dinyatakan tidak dapat diterima, maka penulis berpendapat bahwa
atas putusan ini penggugat tidak dapat diterima dan ditolaknya
mengajukan banding Pengadilan gugatan Penggugat disebabkan
Tinggi dalam putusan Nomor karena gugatan Penggugat
101/PDT/2001/PT.PLG melanggar yurisdiksi (kompetensi)
membatalkan putusan Pengadilan absolut pengadilan. Kompetensi
Negeri yaitu menolak gugatan absolut berkaitan dengan
pembanding (ZH) untuk kewenangan badan pengadilan
seluruhnya. dalam memeriksa jenis perkara
Tanah itu dijaminkan AS tertentu secara mutlak tidak dapat
pada Bank M dengan Akta diperiksa oleh badan pengadilan
Pemberian Hak Tanggungan lain sesuai dengan ketentuan
(APHT) Nomor 888/2010, dari perundang-undangan yang berlaku.
kasus ini yang dipersengketakan Penulis berpendapat bahwa gugatan
sebenarnya adalah Akta Hibah penggugat tidak dapat diterima
Nomor 623/2009 tertanggal 30 Juli karena sengketa yang disebabkan
2009 karena yang dipermasalahkan oleh Sertipikat Hak Milik Nomor
itu akta yang dibuat oleh Pejabat 910/Kelurahan 24 Ilir tanggal 24
Pembuat Akta Tanah sebagai Desember Tahun 1997 termasuk
pejabat publik yang kemudian Balik Nama pada Sertipikat yang
menjadi dasar hukum bagi Badan didaftarkan di dalamnya merupakan
Pertanahan Nasional untuk kewenangan Peradilan Tata Usaha
melakukan balik nama pada Negara. Hal ini disebabkan karena
sertipikat (dimana Kepala Kantor sertipikat termasuk balik nama di
Pertanahan itu juga pejabat Tata dalamnya dibuat oleh Kepala
Usaha Negara), maka timbul Kantor Pertanahan yang merupakan
permasalahan penggugat tidak Pejabat Tata Usaha Negara. Hal ini
menjelaskan mengapa akta hibah sesuai dengan ketentuan Pasal 1
tersebut cacat hukum, yang mana ayat 3 Undang-undang Nomor 5
akta hibah tersebut menjadi dasar Tahun 1986 :
untuk pendaftaran balik nama di “Keputusan Tata Negara adalah
Kantor Pertanahan, kemudian suatu penetapan tertulis yang

126
dikeluarkan oleh Badan atau a. Kewenangan mutlak atau
Pejabat Tata Usaha Negara yang absolute competentie
berisi tindakan hukum Tata Usaha (Kompetensi Absolut)
Negara yang berdasarkan
peraturan perundang-undangan Kewenangan mutlak adalah
wewenang badan pengadilan
yang berlaku, yang bersifat dalam memeriksa jenis perkara
konkret, individual dan final yang tertentu yang secara mutlak tidak
menimbulkan akibat hukum bagi dapat diperiksa oleh badan
seseorang atau badan hukum pengadilan lain, baik dalam
perdata.” lingkungan pengadilan yang
sama (pengadilan negeri dengan
2. Rumusan Masalah pengadilan tinggi) maupun
Berdasarkan uraian di atas dalam lingkungan peradilan
maka rumusan masalah adalah yang lain (pengadilan negeri
dengan pengadilan agama).
sebagai berikut :
b. Kewenangan relatif atau
1. Bagaimanakah kekuatan
relative competentie
pembuktian pengalihan hak atas (Kompetensi Relatif)
tanah berdasarkan akta hibah dan Kewenangan relatif, yaitu
balik namanya cacat hukum? mengatur tentang pembagian
2. Peradilan manakah yang kekuasaan mengadili antar
berwenang mengadili sengketa pengadilan yang serupa atau
penerbitan sertipikat hak atas sejenis untuk memiliki
tanah dan balik nama berdasarkan kewenangan menerima,
memeriksa, mengadili dan
Akta Hibah yang cacat hukum?
menyelesaikan perkara yang
3. Bagaimanakah sanksi hukum
diajukan kepadanya.
terhadap Pejabat Pembuat Akta 2. Sengketa
Tanah yang membuat akta hibah Sengketa dalam kamus
yang cacat hukum, maupun sanksi Bahasa Indonesia adalah
hukum terhadap Kepala Kantor pertentangan atau konflik.
Pertanahan yang mendaftarkan Konflik berarti adanya oposisi
balik nama berdasarkan Akta atau pertentangan antara orang-
orang, kelompok-kelompok, atau
Hibah yang cacat hukum?
organisasi-organisasi terhadap
satu obyek permasalahan.
B. Kerangka Konseptual
Pengertian sengketa pertanahan
Penelitian ini menggunakan dirumuskan dalam Pasal 1
kerangka konseptual sebagai Peraturan Menteri Negara
berikut : Agraria/Kepala Badan
1. Kewenangan Mengadili Pertanahan Nasional Nomor 1
Kewenangan mengadili tahun 1999 tentang Tata Cara
dalam hukum acara perdata Penanganan Sengketa
dikenal 2 (dua) macam Pertanahan, selanjutnya disebut
kewenangan, yaitu30 : PMNA/KBPN 1/1999,
yaitu :
30
Muhammad Nur Rasaid. 1996.
Hukum Acara Perdata. Bukit Tinggi : Sinar Grafika. Hlm 34.

127
“Perbedaan pendapat Adalah akta yang dibuat
antara pihak yang dihadapan Pejabat Pembuat Akta
berkepentingan mengenai Tanah, yang berisi uraian atau
keabsahan suatu hak, pemberian keterangan, pernyataan para
hak atas tanah, pendaftaran hak pihak yang diberikan atau yang
atas tanah, termasuk peralihan diceritakan di hadapan Pejabat
dan penerbitan tanda bukti Pembuat Akta Tanah. Para pihak
haknya serta pihak yang berkeinginan agar uraian atau
berkepentingan yang merasa keterangannya dituangkan ke
mempunyai hubungan hukum dalam bentuk akta Pejabat
dan pihak lain yang Pembuat Akta Tanah32.
berkepentingan terpengaruh 6. Pejabat Pembuat Akta Tanah
oleh status hukum tanah Pejabat Pembuat Akta Tanah,
tersebut.” selanjutnya disebut PPAT, adalah
pejabat umum yang berwenang
3. Akta Otentik
untuk membuat akta Otentik
Menurut Pasal 1868 Kitab
Undang-undang Hukum Perdata mengenai perbuatan hukum
”Suatu akta otentik ialah suatu tertentu mengenai hak atas tanah
akta yang dibuat dalam bentuk atau Hak Milik Atas satuan
yang ditentukan undang- undang Rumah Susun.33
oleh atau dihadapan pejabat
umum yang berwenang untuk itu 7. Kepala Kantor Pertanahan
di tempat akta itu dibuat." Pemimpin yang bertugas
memimpin Badan Pertanahan
Nasional dalam menjalankan
4. Akta Pejabat (ambtelijke acte) tugas dan fungsi Badan
Adalah akta yang dibuat oleh Pertanahan Nasional.
Pejabat dalam prakteknya 8. Balik Nama
disebut Akta Relaas atau Berita adalah permohonan pendaftaran
perubahan nama pemegang
Acara yang berisi berupa uraian
suatu hak karena peralihan hak
Pejabat Pembuat Akta Tanah atas tanah, dari nama pemegang
yang dilihat dan disaksikan hak yang lama beralih menjadi
Pejabat Pembuat Akta Tanah nama pemegang hak yang baru
sendiri atas permintaan para yang diajukan oleh yang
pihak, agar tindakan atau berkepentingan. Pendaftaran
perbuatan para pihak yang balik nama tersebut kemudian
dicatat dalam buku tanah dan
dilakukan dituangkan ke dalam sertipikat yang bersangkutan
bentuk akta Pejabat Pembuat pada kolom yang telah
Akta Tanah31. disediakan untuk perubahan data
5. Akta Para Pihak (partij acte) dengan dibubuhi tanda tangan
Kepala Kantor Pertanahan atau
pejabat yang ditunjuk dan Cap
31
Amzulian Rifai, Happy Warsito, dan Dinas Kantor Pertanahan. Dalam
Herman Adriansyah. 2011-2012. Reading Material :
Teori Dan Praktek Profesi PPAT (Pejabat Pembuat 32
Akta Tanah), Program Studi Magister Kenotariatan Ibid. Hlm 81
33
Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. Hlm 80 A.P. Parlindungan. Op. Cit. hlm 177

128
daftar-daftar lainnya nama yang yang berperkara ialah memberi
lama dicoret dan diganti dengan bahan-bahan bukti yang
nama yang baru dari pemegang diperlukan oleh hakim.
haknya.

1.1. Kekuatan Pembuktian


9. Cacat Hukum
Pengalihan Hak Atas Tanah
Cacat hukum dapat diartikan
Berdasarkan Akta Hibah Yang
suatu perjanjian, kebijakan atau
prosedur yang tidak sesuai Cacat Hukum
dengan hukum yang berlaku, Dalam Akta Hibah Nomor
sehingga dikatakan cacat secara 623/2009 tertanggal 30 Juli
hukum. 2009, yang menjadi dasar
gugatan Penggugat JS di
C. Metode Penelitian Pengadilan Negeri Palembang
Jenis penelitian yang Nomor 62/Pdt.G/2010/PN.PLG
digunakan adalah penelitian hukum adalah mengandung cacat
normatif, maksudnya adalah hukum karena :
penelitian ini merupakan penelitian 1. Cacat Hukum
yang mengambarkan, menelaah, menurut Pembuktian Formal:
menjelaskan serta menganalisis Yang menghadap hanya ZH
permasalahan mengenai sebagai pemegang Surat Kuasa
kewenangan mengadili sengketa Waris dibawah tangan,
Akta Pejabat Pembuat Akta Tanah sedangkan para ahli waris tidak
dan Balik Nama Pada Sertipikat pernah menghadap Pejabat
yang berkaitan dengan Hibah atas Pembuat Akta Tanah TA, SH.
Tanah. 2. Cacat Hukum
menurut Pembuktian Materil :
D. Temuan Dan Analisa a. Dasar dari pembuatan akta hibah
1. Kekuatan Pembuktian adalah Surat Kuasa Waris yang
Pengalihan Hak Atas Tanah dibuat dibawah tangan
Yang Akta Hibah Dan Balik tertanggal 07 November 2007.
Namanya Cacat Hukum b. Dalam Surat Kuasa Waris
Pada umumnya tanggal 7 November 2007 tidak
pembuktian diperlukan jika ada ketentuan untuk
terjadinya sengketa di memberikan kuasa untuk
pengadilan atau dimuka hakim. melakukan hibah.
Yang mana hakim bertugas c. ZH selaku pemberi Hibah dan
menyelidiki apakah hubungan dia juga sebagai penerima hibah
hukum yang menjadi perkara d. Ahli waris hanya memberikan
itu, benar-benar ada atau tidak. kuasa untuk mengurus, menjual
Hubungan hukum inilah yang dan menandatangani akta jual
harus terbukti dimuka hakim beli bukan sebagai kuasa untuk
dan tugas kedua belah pihak hibah.

129
e. Nyonya Mu adalah istri kedua Dengan demikian, akta
Almarhum Tuan HSN yang hibah nomor 623/2009
masih hidup, namun Nyonya Mu tertanggal 30 Juli 2009, secara
tidak dimasukkan didalam yuridis mengandung cacat
golongan ahli waris. hukum atau tidak sah, maka akta
3. Cacat Hukum karena tidak hibah tersebut dapat dibatalkan
memenuhi Syarat Subyektif atau dengan kata lain dapat
Perjanjian : dimintakan pembatalannya
Tidak terpenuhinya unsur kepada Hakim di Pengadilan
sepakat dalam hal ini cacat Negeri, karena tidak
kehendak (wilsgebreke), artinya
mengandung unsur yuridis
dalam proses pembuatan Akta
hibah terdapat keadaan yang sebagaimana terdapat dalam
tidak normal, dalam arti Pasal 1320 Kitab Undang-
mengandung unsur-unsur undang Hukum Perdata.
kekeliruan/kesesatan (dwaling),
kekerasan / paksaan 1.2. Kekuatan Pembuktian Balik
(berdreiging, dwang), dan Nama Pada Sertipikat
penipuan (bedrog) dalam proses Berdasarkan Akta Hibah Yang
terjadinya kesepakatan yang Cacat Hukum
dilakukan oleh satu atau lebih Sebagaimana pelaksanaan
pihak yang membuat perjanjian
Peraturan Pemerintah Nomor 24
sebagaimana yang diatur dalam
pasal 1322 sampai dengan 1328 Tahun 2007 tentang Pendaftaran
Kitab Undang-undang Hukum Tanah, bahwa sebelum
Perdata.34 Akta Hibah Nomor melaksanakan proses balik
623/2009 tertanggal 30 Juli 2009 nama, Pejabat Pembuat Akta
dibuat berdasarkan Surat Kuasa Tanah wajib terlebih dahulu
Waris tertanggal 7 November melakukan pemeriksaan pada
2007 yang isinya sama sekali
Kantor Pertanahan mengenai
tidak memberikan kewenangan
kepada penerima kuasa untuk kesesuaian sertipikat hak atas
melakukan hibah. Cacat tanah yang bersangkutan dengan
kehendak yang dimaksud adalah daftar-daftar yang ada di kantor
bahwa proses hibah tersebut Pertanahan setempat dengan
tidak dilakukan sebagaimana memperlihatkan sertipikat asli.
mestinya, yaitu penghibah Kegunaan pengecekan
bukanlah pewaris yang tersebut adalah untuk mencegah
sesungguhnya yaitu H. SHN
lahirnya akta Pejabat Pembuat
yang telah meninggal dunia, ZH
yang selaku penerima surat Akta Tanah yang cacat hukum
kuasa untuk mengurus, menjual dan untuk menyesuaikan
dan menandatangani akta jual sertipikat dengan buku tanah.
beli atas objek gugatan. Sertipikat merupakan alat
pembuktian yang kuat, yang
34 terdiri atas salinan buku tanah,
Muhammad Syaifuddin. 2012. Hukum
Kontrak. Bandung : CV. Mandar Maju. hlm. 117. yang mana buku tanah tersebut

130
memuat data yuridis dan data dari Surat Kuasa Waris tersebut
fisik mengenai tanah yang untuk mengurus, menjual dan
bersangkutan, yaitu mengenai menandatangani akta jual beli
status tanah, nama pemegang bukan untuk balik nama juga
hak, dan hak-hak lain yang bukan untuk hibah.
membebaninya. b. Balik Nama yang kedua dari ahli
Ketidakcermatan Kantor waris 15 (limabelas) orang
Pertanahan dalam menerbitkan kepada ZH, tidak dilakukan
sertipikat yang berasal dari hibah pengecekan lagi, dan pada
yang cacat hukum seringkali tanggal yang sama pada balik
terjadi karena tidak meneliti nama yang pertama yaitu tanggal
apakah hibah tersebut sah atau 05-08-2009 (lima Agustus
tidak yang dibuat oleh Pejabat duaribu sembilan), ZH terdaftar
Pembuat Akta Tanah. dan tercatat dalam sertipikat,
Sehingga kekuatan yang mana alas hak dari
pembuktian dari balik nama peralihan tersebut adalah Akta
sebagaimana di dalam Sertipikat Hibah Nomor 623/2009 yang
Hak Milik Nomor dibuat di hadapan
910/Kelurahan 24 Ilir yang Notaris/Pejabat Pembuat Akta
diterbitkan oleh Kepala Kantor Tanah TA.
Pertanahan Kotamadya c. Nyonya Mu adalah istri kedua
Palembang, adalah sebagai Almarhum Tuan HSN, namun
berikut : Nyonya Mu tidak dimasukkan
1. Cacat Hukum Berdasarkan didalam golongan ahli waris,
Kekuatan Pembuktian Formil sedangkan Nyonya Mu masih
a. Balik Nama yang pertama dari hidup dan ia berhak
Almarhum HSN kepada seluruh mendapatkan pembagian
ahli waris 15 (limabelas) orang, peninggalan harta waris dari
berdasarkan Surat Keterangan Almarhum suaminya.
Waris, tertanggal 07 November
2007. Balik nama atau
b. Balik Nama yang kedua dari ahli peralihan hak seperti inilah yang
waris 15 (limabelas) orang menimbulkan sengketa dan
kepada ZH berdasarkan Akta merugikan banyak pihak. Kepala
Hibah Nomor 623/2009 Kantor Pertanahan harus
tertanggal 30 Juli 2009, yang bertanggungjawab atas
merupakan akta hibah yang ketidaktelitian pekerjaannya,
cacat hukum. karena :
2. Cacat Hukum Berdasarkan 1. Surat Keterangan Waris yang
Kekuatan Pembuktian Materil menjadi alas hak untuk balik
a. Surat Keterangan Waris dibawah nama pada sertipikat adalah
tangan, tertanggal 07 keinginan ahli waris untuk
November 2007, yang mana isi mengurus, menjualkan dan

131
menandatangani Akta Jual Beli Palembang Nomor
tanah dan bangunan atas 101/PDT/2011/PT.PLG
sertipikat tersebut bukan untuk tertanggal 29 September 2011,
balik nama pada sertipikat di maka penulis berpendapat
kantor pertanahan. bahwa tidak dapat diterima dan
2. Balik nama pada sertipikat yang ditolaknya gugatan Penggugat
kedua dari limabelas ahli waris disebabkan karena gugatan
kepada ZH tidak dilakukan Penggugat melanggar
pengecekan lagi, apakah tanah yurisdiksi (kompetensi) absolut
tersebut aman ataukah tidak pengadilan. Kompetensi
untuk dibalik nama, apakah absolut berkaitan dengan
bermasalah ataukah tidak kewenangan badan pengadilan
terhadap seluruh ahli waris dalam memeriksa jenis perkara
dikemudian hari. tertentu secara mutlak tidak
3. Balik Nama dari seluruh ahli dapat diperiksa oleh badan
waris kepada ZH, dengan alas pengadilan lain sesuai dengan
hak Akta Hibah Nomor ketentuan perundang-undangan
623/2009 yang dibuat oleh yang berlaku. Penulis
Pejabat Pembuat Akta Tanah berpendapat bahwa gugatan
TA, yang mana alas hak akta penggugat tidak dapat diterima
hibah tersebut adalah surat karena sengketa yang
keterangan waris yang sama disebabkan oleh Sertipikat Hak
yaitu tertanggal 07 November Milik Nomor 910 / Kelurahan
2009 yang mana isi surat 24 Ilir tanggal 24 Desember
keterangan waris tersebut tidak Tahun 1997 termasuk Balik
mencantumkan keinginan untuk Nama Pada Sertipikat yang
hibah, namun untuk menjual, didaftarkan di dalamnya
mengurus dan menandatangani merupakan kewenangan
Akta Jual Beli dihadapan Pejabat Peradilan Tata Usaha Negara.
yang berwenang. Hal ini disebabkan karena
sertipikat termasuk balik nama
2. Peradilan Yang Berwenang
di dalamnya dibuat oleh
Mengadili Sengketa
Kepala Kantor Pertanahan
Penerbitan Sertipikat Hak
yang merupakan Pejabat Tata
Atas Tanah Dan Balik Nama
Usaha Negara.
Berdasarkan Akta Hibah
Selain itu penulis
Yang Cacat Hukum
berpendapat, seharusnya yang
Mencermati isi putusan
menjadi objek perkara adalah
Pengadilan Negeri Palembang
Sertipikat Hak Milik Nomor
Nomor :
910 / Kelurahan 24 Ilir tanggal
62/Pdt.G/2010/PN.PLG
24 Desember Tahun 1997
tanggal 1 Februari 2011 dan
termasuk Balik Nama pada
Putusan Pengadilan Tinggi

132
sertipikat yang didaftarkan di Milik Nomor 910/Kelurahan
dalamnya dan Akta Hibah 24 Ilir, penggugat dapat
Nomor 623/2009 yang dibuat menggugatnya pada
oleh Pejabat Pembuat Akta Pengadilan Tata Usaha Negara,
Tanah yang tidak didasarkan karena Pejabat Pembuat Akta
pada kesepakatan ahli waris Tanah diangkat oleh
dengan Sertipikat Hak Milik Pemerintah dan sebagai pejabat
Nomor 910/Kelurahan 24 Ilir, umum atau pejabat publik yang
yang mana pembuatan akta masuk dalam struktural
hibah tersebut tidak berdasar, organisasi pemerintah dengan
karena ahli waris hanya masalah pertanahan.
memberikan kuasa kepada ZH Sedangkan Kepala Kantor
untuk mengurus, menjual dan Pertanahan merupakan Pejabat
menandatangani Akta Jual Beli Tata Usaha Negara yang
tanah bangunan dari Sertipikat membidangi masalah
Hak Milik Nomor pertanahan.
910/Kelurahan 24 Ilir, namun Sehingga peradilan yang
oleh ZH surat kuasa ahli waris berkompetensi atau yang
tersebut dibuat sebagai alas hak mempunyai wewenang
untuk akta hibah nomor mengadili apabila terjadi
623/2009 tertanggal 30 Juli sengketa antara Pejabat
2009 yang dibuat dihadapan Pembuat Akta Tanah dengan
Pejabat Pembuat Akta Tanah Pihak yang dirugikan atas
TA. perbuatan Pejabat Pembuat
Sedangkan untuk Akta Tanah dan akta-aktanya.
membatalkan atas Permasalahan ini timbul karena
ketidakabsahan atas balik nama Pejabat Pembuat Akta Tanah
pada sertifikat hak milik nomor diangkat oleh Pemerintah dan
910/kelurahan 24 ilir, dapat sebagai pejabat umum atau
digugat pada peradilan tata pejabat publik yang masuk
usaha negara karena balik dalam struktural organisasi
nama tersebut merupakan hasil pemerintah dengan masalah
keputusan sepihak (beschiking) pertanahan. Jadi dapat
dari Kepala Kantor Pertanahan dikatakan bahwa Pejabat
yang merupakan Pejabat Tata Pembuat Akta Tanah
Usaha Negara. merupakan Pejabat Tata Usaha
Pejabat Pembuat Akta Negara, maka dapat
Tanah yang membuat akta disimpulkan bahwa apabila
hibah nomor 623/2009 dan terjadi sengketa antara para
Kepala Kantor Pertanahan pihak yang termasuk dalam
dengan mendaftarkan balik akta yang dibuat oleh Pejabat
nama pada Sertipikat Hak Pembuat Akta Tanah maka

133
Pejabat Pembuat Akta Tanah Dengan demikian unsur-unsur
bukan merupakan Pejabat Tata sanksi, yaitu35 :
Usaha Negara dan masuk a. Sebagai alat kekuasaan.
b. Bersifat hukum publik.
dalam wewenang peradilan
c. Digunakan oleh penguasa.
perdata karena sebelumnya d. Sebagai reaksi terhadap
telah terdapat kesepakatan ketidakpatuhan.
antara para pihak dihadapan Terhadap Pejabat Pembuat
Pejabat Pembuat Akta Tanah Akta Tanah yang mendapatkan
tersebut. Namun apabila yang sanksi hukum atas kesalahannya
mengajukan gugatan adalah maka yang berwenang untuk
pihak ketiga yang tidak memberikan sanksi adalah
termasuk dalam akta yang Kepala Kantor Pertanahan,
dibuat oleh Pejabat Pembuat sedangkan pemberian sanksi di
Akta Tanah dan merasa dalam organisasi keanggotaan
dirugikan oleh akta Pejabat Ikatan Pejabat Pembuat Akta
Pembuat Akta Tanah tersebut Tanah adalah Majelis
maka pihak ketiga tersebut atau Kehormatan Wilayah dan
pihak yang dirugikan atas Majelis Kehormatan Pusat
dibuatnya akta oleh Pejabat merupakan alat perlengkapan
Pembuat Akta Tanah maka organisasi yang berwenang
dapat mengajukan gugatan ke melakukan pemeriksaan atas
Pengadilan Tata Usaha Negara. pelanggaran Kode Etik dan
menjatuhkan sanksi kepada
3. Sanksi Hukum Terhadap
pelanggarnya sesuai dengan
Pejabat Pembuat Akta Tanah
kewenangan masing-masing.
Yang Membuat Akta Hibah Sedangkan bagi Kepala
Yang Cacat Hukum Dan Kantor Pertanahan atas sanksi
Sanksi Hukum Terhadap yang diberikan kepadanya
Kepala Kantor Pertanahan merupakan wewenang dari Tim
Yang Mendaftarkan Balik Audit Internal Badan
Nama Pada Sertipikat Pertanahan Nasional dan juga
Berdasarkan Akta Hibah oleh Badan Inspektorat untuk
Yang Cacat Hukum memberikan sanksi
Menurut Philipus M. administratif sesuai perundang-
Hadjon, sanksi merupakan alat
undangan yang berlaku.
kekuasaan yang bersifat hukum
Sanksi hukum bagi
publik yang digunakan oleh
penguasa sebagai reaksi Pejabat Pembuat Akta Tanah
terhadap ketidakpatuhan pada TA, SH, yang telah membuat
norma hukum administrasi. Akta Hibah yang cacat hukum
35
Habib Adjie. 2009. Sanksi Perdata
dan Administratif Terhadap Notaris Sebagai
Pejabat Publik. Bandung : Refika Aditama. Hlm
89.

134
adalah termasuk pelanggaran setingkat lebih rendah,
berat yang secara sengaja pembebasan dari jabatan,
memberikan keterangan yang pemberhentian dengan hormat
tidak benar didalam Akta tidak atas permintaan sendiri
Hibah Nomor 623/2009 sebagai Pegawai Negeri Sipil,
Tertanggal 30 Juli 2009 yang dan pemberhentian tidak
mengakibatkan terjadinya dengan hormat sebagai
sengketa atau konflik Pegawai Negeri Sipil.
pertanahan sehingga
merugikan banyak pihak, E. Penutup
Berdasarkan hasil penelitian dan
sehingga dapat dikenakan
pembahasan yang diuraikan diatas,
sanksi pemberhentian dengan
maka dapat ditarik kesimpulan dan
tidak hormat dari jabatannya
saran-saran sebagai berikut :
oleh Kepala Badan Pertanahan
Nasional Republik Indonesia,
setelah ada putusan pengadilan 1. Kesimpulan
yang telah berkekuatan hukum 1.1. Kekuatan pembuktian
tetap. Namun kesemuanya pengalihan hak atas tanah yang
berpulang lagi kepada akta hibah dan balik nama pada
kebijaksanaan Majelis sertipikatnya cacat hukum
Kehormatan Ikatan Pejabat adalah dapat dibatalkan, untuk
Pembuat Akta Tanah. Akta Hibah Nomor 623/2009
Sedangkan sanksi hukum dapat dimintakan pembatalannya
bagi Kepala Kantor Pertanahan kepada Hakim di Pengadilan
yang telah mendaftarkan balik Negeri, sedangkan Balik Nama
nama pada Sertipikat Hak pada Sertipikat Hak Milik
Milik Nomor 910/Kelurahan Nomor 910/Kelurahan 24 Ilir
24 Ilir berdasarkan Akta Hibah dapat dimintakan pembatalannya
Nomor 623/2009 yang cacat kepada Hakim di Pengadilan
hukum merupakan pelanggaran Tata Usaha Negara, akibat tidak
disiplin berat bagi Kepala terpenuhinya syarat formil dan
Kantor Pertanahan yang materiil akta otentik dan syarat
merupakan Pegawai Negeri subyektif sahnya suatu
Sipil, sanksinya menurut Pasal perjanjian, serta tidak
7 angka 4 Peraturan terpenuhinya syarat formil dan
Pemerintah Nomor 53 Tahun materil untuk balik nama pada
2010 Tentang Disiplin Pegawai sertipikat.
Negeri Sipil, dapat berupa 1.2. Peradilan yang berwenang
penurunan pangkat setingkat mengadili sengketa yang timbul
lebih rendah selama 3 (tiga) akibat Balik Nama pada
tahun, pemindahan dalam sertipikat hak atas tanah
rangka penurunan jabatan berdasarkan Akta Hibah yang

135
cacat hukum, merupakan merupakan pelanggaran disiplin
kewenangan Pengadilan Tata berat bagi Kepala Kantor
Usaha Negara karena Sertipikat Pertanahan yang merupakan
dan Balik Nama adalah Pegawai Negeri Sipil, sanksinya
Keputusan Tata Usaha Negara menurut Pasal 7 angka 4
yang bersifat konkrit, individual Peraturan Pemerintah Nomor 53
dan final, sedangkan Tahun 2010 Tentang Disiplin
membatalkan Akta Hibah yang Pegawai Negeri Sipil, dapat
cacat hukum dapat dibatalkan di berupa penurunan pangkat
Pengadilan Negeri karena Akta setingkat lebih rendah selama 3
Pejabat Pembuat Akta Tanah (tiga) tahun, pemindahan dalam
adalah akta otentik yang dibuat rangka penurunan jabatan
atas kehendak para pihak (partij setingkat lebih rendah,
acte) yang bersifat kontraktual. pembebasan dari jabatan,
1.3. Sanksi hukum bagi Pejabat pemberhentian dengan hormat
Pembuat Akta Tanah TA, SH tidak atas permintaan sendiri
yang telah membuat Akta Hibah sebagai Pegawai Negeri Sipil,
Nomor 623/2009 Tertanggal 30 dan pemberhentian tidak dengan
Juli 2009 yang cacat hukum hormat sebagai Pegawai Negeri
adalah merupakan perbuatan Sipil.
pelanggaran berat yang secara
sengaja memberikan keterangan 2. Saran
yang tidak benar didalam Akta 2.1. Akta Pejabat Pembuat Akta
Hibah Nomor 623/2009 Tanah adalah akta otentik yang
Tertanggal 30 Juli 2009 yang mempunyai kekuatan
mengakibatkan terjadinya pembuktian yang sempurna, agar
sengketa atau konflik pertanahan Pejabat Pembuat Akta Tanah
sehingga merugikan banyak dalam membuat akta harus
pihak, sanksinya berupa sesuai dengan Undang-undang
pemberhentian dengan tidak maupun peraturan-peraturan
hormat dari jabatannya oleh yang berlaku agar Akta Otentik
Kepala Badan Pertanahan tersebut tidak menjadi kekuatan
Nasional Republik Indonesia, Akta dibawah Tangan, bahkan
setelah ada putusan pengadilan terancam dibatalkan, dan bagi
yang telah berkekuatan hukum Kepala Kantor Pertanahan dalam
tetap. Sedangkan sanksi hukum menjalankan tugas yang baik
bagi Kepala Kantor Pertanahan harus sesuai dengan undang-
yang telah mendaftarkan balik undang, peraturan yang berlaku
nama pada Sertipikat Hak Milik dan sesuai dengan asas-asas
Nomor 910/Kelurahan 24 Ilir umum pemerintahan yang baik
berdasarkan Akta Hibah Nomor yaitu asas yang menjunjung
623/2009 yang cacat hukum tinggi norma kesusilaan,

136
kepatutan dan aturan hukum,
agar tindakan mendaftarkan
balik nama tanpa mengecek alas
hak yang menjadi dasar balik
nama pada sertipikat tidak
terulang lagi.
2.2. Agar kuasa hukum maupun
masyarakat apabila menghadapi
kasus yang serupa seperti
didalam kasus ini hendaknya
mempelajari dahulu kompetensi
absolut dan kompetensi relatif
dari pokok materi gugatannya,
agar tidak salah mengugat yang
mengakibatkan gugatan tidak DAFTAR PUSTAKA
diterima maupun gugatan
ditolak. Eman Suparman. 2011. Hukum
2.3. Dalam menjalankan tugasnya Waris Indonesia Dalam Perspektif
yang sangat mulia Pejabat Islam, Adat dan BW. Bandung : Refika
Aditama.
Pembuat Akta Tanah dan Kepala A.P. Parlindungan. 2009. Pendaftaran
Kantor Pertanahan agar Tanah Di Indonesia. Bandung: Mandar Maju.
mematuhi aturan hukum yang
Muhammad Nur Rasaid. 1996. Hukum
berlaku karena konsekuensi dari Acara Perdata. Bukit Tinggi : Sinar Grafika.
pekerjaannya tersebut Pejabat Amzulian Rifai, Happy Warsito, dan
Herman Adriansyah. 2011-2012. Reading Material :
Pembuat Akta Tanah maupun Teori Dan Praktek Profesi PPAT (Pejabat Pembuat
Akta Tanah), Program Studi Magister Kenotariatan
Kepala Kantor Pertanahan dapat Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya
dikenakan sanksi hukum.
A.P. Parlindungan. Op. Cit. hlm 177
Muhammad Syaifuddin. 2012. Hukum
Kontrak. Bandung : CV. Mandar Maju.

Habib Adjie. 2009. Sanksi Perdata dan


Administratif Terhadap Notaris Sebagai Pejabat
Publik. Bandung : Refika Aditama.

Peraturan Perundang-undangan

Peraturan Pemerintah Republik


Indonesia Nomor 24 Tahun 1997. Tentang
Pendaftaran Tanah.

137
“KEDUDUKAN HUKUM SURAT PENGAKUAN HAK (SPH) ATAS TANAH
SEBAGAI BUKTI AWAL PROSES PENDAFTARAN TANAH”

Oleh :

Suhardi

Abstract : This thesis examines the legal standing of acknowledgement letter of right to
land as a right base to process a land registration that it has purpose to review and
analyze the aspect of legal standing of acknowledgement letter of right to land in a
system of valid agrarian law, rather related to the publishing authority, arrangement of
society, function in process of land registration, analysis of legal power of the
acknowledgement letter of right to land in land dispute and powerof authentication in
formal and material. By using a normative legal research can be put forward that it
meets with the legal standing of the acknowledgement letter of right to land that one of
right of bases in process of land registration (certification) and legal power of
authentication of the acknowledgement letter of right to land in land dispute represents
an under-hand proof and therefore in land dispute must be seen the other proof as
witness, admission, suspicion and oath, sp that in material, the obtained truth is not
only formal legal truth. On the basis, this research recommends, related to the legal
standing and the power of authentication of the acknowledgement letter of right to land
that the National of Agency (BPN) keeps on making the massive certification in order to
it can be stepped up becoming certificate of right to landand in settlement of land
dispute to give prority in way and mechanism to engage in deliberation by relying on
mechanism of formal legal settlement.

Keywords : Acknowledgement letter of right to land, Under-hand Documents,


Certificate of Proprietary Right

139
A. Pendahuluan tradisional hanya mengakui
Surat Pengakuan Hak ( SPH kepemilikan dan hak atas tanah
), atau disebut dengan nama lain di secara turun-temurun dan yang
berbagai daerah di Indonesia, pada secara nyata dikuasai oleh
kenyataannya masih ada dan seseorang, tanpa perlu
berlangsung dalam lalu lintas mempertanyakan keabsahan
hukum pertanahan. Pengakuan legalitas surat atau sertifikat hak
terhadap SPH menjadikan SPH atas tanah tersebut. Dalam praktik
sebagai salah satu dasar untuk Pemerintahan Desa membuat Leter
menjadi alas hak kepemilikan atas C, berupa tanda bukti yang
tanah.36 Pemberian dan penerbitan berisikan catatan pada Kantor
SPH dalam praktik pemerintahan di Desa / Kelurahan, yang dijadikan
Indonesia, didasarkan pada dasar untuk penarikan pajak.
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Pencatatan dalam Later C sangat
Tahun 1953 tentang Penguasaan tidak lengkap terkait dengan luas
Tanah-Tanah Negara, yang dan batas-batas tanah. Atas dasar
memberikan kewenangan pembayaran pajak yang dilakukan
penguasaan atas tanah Negara keluarlah Girik sebagai tanda bukti
kepada Kementerian Dalam Negeri. pembayaran pajak atas tanah.39
Atas dasar hal tersebut, maka Yang dapat dikonversi menjadi hak
terhadap tanah-tanah yang dikuasai milik atas tanah berdasarkan
oleh Negara dapat diberikan Peraturan Menteri Pertanian dan
penetapan peruntukannya kepada Agraria (PMPA) Nomor 2 Tahun
masyarakat. Dalam praktik 1962 dan Surat Keputusan Menteri
penerbitan SPH, hal tersebut Dalam Negeri (SKMDN) Nomor :
dikeluarkan oleh Pemerintah Desa SK. 26/DDA/1970 tentang
cq. Kepala Desa.37 Penyelenggaraan Konversi Hak-
Demikian pula terhadap Hak Atas Tanah Indonesia.40
tanah-tanah adat, dimana Dengan adanya Undang-
masyarakat yang memulai Undang Pokok Agraria yang
membuka tanah untuk diusahakan ditindak lanjuti dengan adanya
dikuasai, yang kemudian ditandai Peraturan Pemerintah Nomor 10
dengan penerbitan surat atas tanah Tahun 1961 yang kemudian diganti
dalam bentuk apapun.38 dengan Peraturan Pemerintah
Demikian pula dengan Nomor 24 Tahun 1997 tentang
kepemilikan Leter C di Pulau Jawa,
dimana masyarakat secara 39
Efendi Perangin, Hukum Agraria Di Indonesia
(Suatu Telaah Dari Sudut Pandang Praktisi
36
Aslan Noor, Konsep Hak Milik Atas Tanah Hukum), Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada,
Bagi Bangsa Indonesia, Bandung, Mandar 1994, hlm 181
Maju, 2006, hlm 61-70 40
Konversi adalah perubahan hak atas tanah
37
Wawancara dengan Sekretaris Daerah menurut peraturan hukum sebelum berlakunya
Kabupaten Muara Enim, 12 November 2013 UUPA, disesuaikan dengan hak-hak atas tanah
38
Aslan Noor, Op.Cit, hlm 65-66 menurut UUPA

140
Pendaftaran Tanah, tidak mampu 1993, Nomor : SE-15/PJ.G/1993,
lagi diterbitkan hak-hak yang tentang Larangan Penerbitan
tunduk kepada Kitab Undang- Girik/Petuk D/Kekitir/Keterangan
Undang Hukum Perdata ataupun Objek Pajak (KP.PBB II), saat ini
hak adat. Mengingat hukum adat dibeberapa wilayah Jakarta pada
setempat kecuali menerangkan Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan
bahwa hak-hak tersebut merupakan Bangunan, sudah ditiadakannya
hak adat. Mengingat pentingnya mutasi girik, hal ini disebabkan
pendaftaran hak milik atas tanah karena banyaknya timbul
adat sebagai bukti kepemilikan hak permasalahan yang ada di
atas tanah secara sah sesuai dengan masyarakat karena dengan bukti
Pasal 23, Pasal 32, dan Pasal 38 kepemilikan berupa girik
Undang-Undang Pokok Agraria, menimbulkan tumpang tindih dan
maka diberikan suatu kewajiban kerancuan atau ketidakpastian
untuk mendaftarkan tanah adat mengenai obyek tanahnya.43 Maka
khususnya hak milik Adat.41 peran serta buku kutipan Letter C
Pasal 19 UUPA sangat dominan untuk menjadi
mengharuskan pemerintah untuk acuan atau dasar alat bukti yang
mengadakan pendaftaran tanah di dianggap masyarakat sebagai alat
seluruh wilayah Republik bukti kepemilikan tanah.44 Sebagai
Indonesia, dikarenakan masih contoh, dalam hal seorang warga
minimnya pengetahuan, kesadaran yang akan mengurus sertifikat,
masyarakat tentang bukti padahal surat tanahnya baru berupa
kepemilikan tanah. Mereka girik, maka yang dilakukan Kepala
menganggap tanah milik adat Desa atau Kelurahan adalah dengan
dengan kepemilikan berupa girik, berpedoman pada keadaan fisik
dan Kutipan Leter C yang berada di tanah, penguasaan, dan bukti
Kelurahan atau Desa merupakan pembayaran pajak. Seorang Kepala
bukti kepemilikan yang sah. Juga Desa atau Kelurahan akan
masih terjadinya peralihan hak mencocokkan girik tersebut pada
seperti jual beli, hibah, kewarisan Kutipan Letter C pada Kelurahan.
ataupun akta-akta yang belum Sedangkan pengajuan hak atas
didaftarkan sudah terjadi peralihan tanah untuk yang pertama kali
hak yang dasar perolehannya dari adalah harus ada Riwayat Tanah
girik dan masih terjadinya mutasi (yang dikutip dari Letter C) serta
girik yang didasarkan oleh akta- Surat Keterangan Tidak Dalam
akta, tanpa didaftarkan di Kantor Sengketa yang diketahui oleh
Pertanahan.42 Kepala Desa atau Kelurahan.
Berdasarkan Surat Direktur Dengan dipenuhinya dokumen alat
Jenderal Pajak, tanggal 27 Maret bukti tersebut seorang warga dapat
41
Efendi Perangin, Op.Cit, 43
Ibid
42
Aslan Noor, Op.Cit 44
Ibid

141
mengajukan permohonan atas dengan luas berlebihan yang
kepemilikan tanah tersebut untuk ditentukan oleh peraturan
memperoleh hak atas tanah pada perundang-undangan.
Badan Pertanahan yang disebut Pengakuan hak milik atas
Sertifikat.45 tanah yang dituangkan ke dalam
Pembahasan mengenai bentuk sertifikat merupakan tanda
pengakuan hak milik atas tanah bukti hak atas tanah berdasarkan
disertai dengan sertifikat tanah Pasal 19 ayat (2) UUPA dan Pasal
sangatlah penting setidak-tidaknya 31 Peraturan Pemerintah Nomor 24
karena :46 Tahun 1997,47 dalam rangka
1. Sertifikat hak atas tanah penyelenggaraan pendaftaran tanah.
memberikan kepastian hukum Sertifikat tanah membuktikan
atas kepemilikan tanah bagi bahwa pemegang hak mempunyai
pihak yang namanya tercantum suatu hak atas bidang tanah
dalam sertifikat. Karena tertentu. Sertifikat tanah merupakan
penerbitan sertifikat dapat salinan buku tanah dan didalamnya
mencegah sengketa tanah. Dan terdapat gambar situasi dan surat
kepemilikan sertifikat akan ukur serta memuat data fisik dan
memberikan perasaan tenang data yuridis sesuai dengan data
dan tentram karena dilindungi yang ada dalam surat ukur dan
dari tindakan sewenang-wenang buku tanah hak yang bersangkutan.
yang dilakukan oleh siapapun. Data fisik48 mencakup keterangan
2. Dengan kepemilikan sertifikat mengenai letak, batas, dan luas
hak atas tanah, pemilik tanah tanah. Data yuridis49 mencakup
dapat melakukan perbuatan keterangan mengenai status hukum
hukum apa saja sepanjang tidak bidang tanah, pemegang haknya
bertentangan dengan undang- dan hak pihak lain serta beban-
undang, ketertiban umum dan beban lain yang membebaninya.
kesusilaan. Selain itu, sertifikat Data fisik dan data yuridis dalam
tanah memiliki nilai ekonomis Buku Tanah diuraikan dalam
seperti disewakan, jaminan bentuk daftar, sedangkan data fisik
hutang, atau sebagai saham. dalam Surat Ukur disajikan dalam
3. Pemberian sertifikat hak atas peta dan uraian. Untuk sertifikat
tanah dimaksudkan untuk
47
mencegah pemilikan tanah Pasal 31 ayat (1) Peraturan Pemerintah
Nomor 24 Tahun 1997 menentukan bahwa
45
Ibid, Demikian pula wawancara dengan Sertifikat Hak Atas Tanah diterbitkan untuk
Sekretaris Daerah Kabupaten Muara Enim, 12 pemegang hak yang bersangkutan, sesuai
November 2013 dengan data fisik dan data yuridis yang telah
46
Pasal 19 UUPA, Dimana dengan ketentuan didaftar dalam buku tanah
pendaftaran hak atas tanah maka akan 48
Peraturan Menteri Agraria / Kepal Badan
diperoleh alat bukti hukum yang kuat menurut Pertanahan (BPN) Nomor 9 Tahun 1999 tentang
sistem UUPA dan Peraturan Pemerintah Nomor Tata Cara Pemberian dan Pembatalan Hak Atas
24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah Tanah Negara dan Hak Pengelolaan
(Pasal 1 Jo Pasal 3) 49
Ibid

142
tanah yang belum dilengkapi besarnya beban yang ditanggung
dengan Surat Ukur disebut oleh UUPA untuk mengentaskan
sertifikat sementara. Fungsi gambar ketidakpastian hukum mengenai
situasi pada sertifikat sementara hak-hak atas tanah bagi para
terbatas pada penunjukan objek hak pemilik tanah di Indonesia.52
yang didaftar, bukan bukti data Berdasarkan hal tersebut,
fisik. Sedangkan buku Letter C maka keberadaan SPH kiranya
sebagai satu poin penting dalam perlu dilihat secara jernih sebagai
persyaratan pengurusan sertifikat suatu alas hak dalam pendaftaran
jika yang dimiliki sebagai bukti tanah, disamping tentunya untuk
awal kepemilikan hak atas tanah itu melihat kekuatan pembuktiannya
hanya berupa girik, ketitir, atau dalam sengketa pertanahan.
petuk.50 Berdasarkan atas latar
Hingga Tahun 2011, belakang yang telah penulis uraikan
menurut Badan Pertanahan diatas, ada beberapa permasalahan
Nasional, jumlah bidang-bidang yang akan penulis bahas dalam
tanah di wilayah Negara Kesatuan penulisan tesis ini, yaitu :
Republik Indonesia saat tidak 1. Bagaimana kedudukan hukum
kurang dari 80 juta bidang. Apabila SPH atas tanah sebagai bukti
mempertimbangkan pokok-pokok awal dalam proses pendaftaran
tujuan dari UUPA, jelas bahwa tanah ?
semestinya terhadap 80 juta bidang 2. Bagaimana kekuatan hukum
tanah tersebut, telah dapat diberikan SPH atas tanah dalam
kepastian hukumnya bagi para pembuktian sengketa pertanahan
pemilik bidang tanah yang ?
bersangkutan. Namun, kenyataan
yang ada tidaklah demikian, sebab B. Kerangka Konseptual
pencapaian dari pendaftaran tanah
yang dilakukan hingga saat baru 1. SPH Sebagai Alas Hak
berkisar 30 juta sertifikat bidang Dalam Proses Pendaftaran
tanah.51 Hak Atas Tanah
Dengan demikian masih Pokok-pokok pikiran yang
jauh lebih banyak bidang-bidang tercantum di dalam Pasal 33
tanah di wilayah Indonesia ini yang menekankan bahwa bumi, air
belum memiliki kepastian hukum, dan kekayaan alam yang
termasuk persoalan mengenai SPH terkandung di dalamnya adalah
yang terjadi di masyarakat, ini karunia Tuhan Yang Maha Esa
menunjukkan bahwa betapa kepada seluruh rakyat Indonesia,
merupakan pokok-pokok
50
Aslan Noor, Op.Cit, hlm 69 kemakmuran rakyat yang
51
Badan Pertanahan Nasional, Jaminan
UUPA Bagi Keberhasilan Pendayagunaan
dikuasai oleh Negara dan
Tanah, (Jakarta, Biro Hukum dan Humas
BPN, 2010), hal. 4. 52
Aslan Noor, Op.Cit

143
ditujukan untuk mencapai berasal dari hak adat.53 Namun
sebesar-besarnya kemakmuran lebih kurang 36 tahun setelah
rakyat Indonesia. Berdasarkan berlakunya Peraturan
pasal tersebut di atas, maka Pemerintah Nomor 10 Tahun
Negara dianggap bukan sebagai 1961, ternyata upaya pemerintah
pemilik tanah dalam suatu dalam memberikan jaminan
wilayah Negara, tetapi kepastian hukum atas tanah
kewenangan Negara untuk belum optimal, sehingga
menguasai tanah tersebut pemerintah merasa perlu untuk
semata-mata kepentingan menyempurnakan dan
masyarakat banyak. Negara menggantikan dengan suatu
mengatur dan menata hubungan peraturan baru melalui Peraturan
antara warga dan tanah, Pemerintah Nomor 24 Tahun
termasuk hubungan hukumnya. 1997 yang berlaku tanggal 8
Untuk memberikan suatu Oktober 1997 tentang
bentuk jaminan kepastian hukum Pendaftaran Tanah. Peraturan
atas kepemilikan tanah bagi Pemerintah Nomor 24 Tahun
seseorang, maka perlu dilakukan 1997 merupakan realisasi
pendaftaran hak atas tanah, yang Pemerintah dalam melakukan
diatur dalam Pasal 19 Undang- penyederhanaan pola
Undang Pokok Agraria. Oleh pendaftaran tanah di Indonesia.54
karena itu, untuk pelaksanaan Tujuan pembentukan Peraturan
pendaftaran tanah sebagaimana Pemerintah Nomor 24 Tahun
maksud Pasal 19 ayat (1) 1997 adalah :
Undang-Undang Pokok Agraria a. Untuk memberikan kepastian
(UUPA), maka pada awalnya hukum dan perlindungan
Pemerintah mengeluarkan kepada pemegang hak atas
Peraturan Pemerintah Nomor 10 suatu bidang tanah, satuan
Tahun 1961 tentang Pendaftaran rumah susun dan hak-hak lain
Tanah (selanjutnya disebut yang terdaftar agar mudah
dengan Peraturan Pemerintah dapat membuktikan dirinya
Nomor 10 Tahun 1961). sebagai pemegang hak yang
Peraturan Pemerintah bersangkutan.
Nomor 10 Tahun 1961 tersebut b. Untuk menyediakan informasi
membuka sejarah baru dalam kepada pihak yang
hukum agraria. Sebab, untuk berkepentingan agar mudah
pertama kali Indonesia dapat memperoleh data yang
mempunyai suatu lembaga yang diperlukan dalam mengadakan
secara khusus mengatur tentang perbuatan hukum.
pelaksanaan pendaftaran tanah, 53
A.P. Parlindungan. Komentar Atas Undang-
terutama pendaftaran tanah yang Undang Pokok Agraria. Bandung, Mandar
Maju, 2002, hlm. 218
54
Ibid, hlm 225.

144
c. Untuk menyelenggarakan catur yang bersangkutan selama 20
tertib pertanahan. (dua puluh) tahun atau lebih
Pemberian hak atas tanah secara berturut-turut oleh
seperti dimaksud dapat pemohon pendaftaran dan
dilakukan melalui pengakuan pendahulu-pendahulunya,
hak maupun penegasan hak, dengan syarat :56
terutama untuk bekas hak milik a. Penguasaan tersebut
adat. dilakukan dengan itikad baik
M. Yamin Lubis dan Abd. dan secara terbuka oleh yang
Rahman Lubis55 menyatakan bersangkutan sebagai yang
bahwa pengakuan dan berhak atas tanah, serta
penegasan hak tersebut diperkuat oleh kesaksian
merupakan bagian dari kegiatan orang yang dapat dipercaya;
konversi hak atas tanah atau b. Penguasaan tersebut baik
pembuktian hak lama, namun sebelum maupun selama
hanya untuk bekas Hak Milik pengumuman sebagaimana
Adat, sedangkan untuk bekas dimaksud dalam Pasal 26
Hak-Hak Barat setelah tanggal tidak dipermasalahkan oleh
24 September 1980 (sesuai masyarakat hukum adat atau
Keputusan Presiden Nomor 32 desa/kelurahan yang
Tahun 1979), tidak dapat lagi bersangkutan ataupun pihak
dilaksanakan konversi atasnya, lainnya.
kendati masih ditemukan adanya Dalam penjelasan ayat ini
bukti-bukti lama dan hanya disebutkan bahwa ketentuan ini
dapat dilakukan melalui memberi jalan keluar apabila
pemberian hak atas tanah. Pihak pemegang hak tidak dapat
yang menguasai tanah tersebut menyediakan bukti kepemilikan
diharuskan mengajukan sebagaimana dimaksud ayat (1),
permohonan baru ke Kantor baik yang berupa bukti tertulis
Pertanahan untuk memproses maupun bentuk lain yang dapat
haknya kembali. dipercaya. Terhadap hal
Pasal 24 ayat (2) Peraturan demikian pembukuan hak dapat
Pemerintah Nomor 24 Tahun dilakukan tidak berdasarkan
1997 diatur bahwa dalam hal bukti kepemilikan, akan tetapi
tidak atau tidak lagi tersedia berdasarkan bukti penguasaan
secara lengkap alat-alat fisik yang telah dilakukan oleh
pembuktian sebagaimana pemohon dan pendahulunya.
dimaksud pada ayat (1), Khusus terhadap
pembukuan hak dapat dilakukan penegasan hak, jika dicermati
berdasarkan kenyataan bahwa Peraturan Pemerintah
penguasaan fisik bidang tanah Nomor 24 Tahun 1997 tidak
55
Ibid 56
Ibid

145
menyebutkan tentang adanya seperti SKT atas tanah, SPH atas
penegasan hak tersebut sebagai tanah, dan sebagainya.
bagian dari konversi hak atas Seseorang dapat dikatakan
tanah. Namun dalam praktek mempunyai hak atas tanah atau
selama ini, terdapat kegiatan mendapatkan penetapan hak atas
penegasan hak atas tanah dalam tanah maka harus dapat
hal :57 dibuktikan terlebih dahulu
a. Terdapat bukti-bukti hak lama adanya dasar penguasaan
namun hak lama tersebut seseorang dalam menguasai,
dipegang oleh orang lain atau menggunakan dan
bukan lagi atas nama orang memanfaatkan tanah, yang tidak
yang tercantum dalam surat- ditentang oleh pihak manapun
surat tersebut, dalam hal ini dan dapat diterima menjadi bukti
sudah beralih kepada orang awal untuk pengajuan hak
lain. kepemilikannya.58
b. Terdapat bukti-bukti hak Dalam hal adanya
lama, namun ada kekurangan persyaratan bahwa pemberian /
dari segi riwayat penguasaan penetapan hak atas tanah harus
tanahnya. dibuktikan terlebih dahulu
Terhadap proses penegasan dengan adanya dasar penguasaan
hak atas tanah ini, selain harus yang menunjukkan adanya
dilakukan pengukuran, juga hubungan hukum dengan tanah
dilakukan penelitian data yuridis tersebut. Setelah ada dasar
dan data fisik oleh Panitia A penguasaan dimaksud maka
(bukan lagi oleh Kepala Kantor selanjutnya dapat saja
Pertanahan) dan diterbitkan surat diformalkan hak tersebut dengan
keputusan penegasan haknya. penetapan Pemerintah. Apabila
Selain itu ada juga hubungan hukum tersebut
penetapan hak yang terlebih ditunjukkan dengan bukti-bukti
dahulu harus dibuktikan adanya tertulis yang pernah dikeluarkan
hubungan hukum antara orang oleh pejabat yang berwenang
dengan tanahnya yang pada daerah yang sudah
merupakan bukti penguasaan bersentuhan dengan administrasi
atas tanahnya (hak keperdataan), dan yurisdiksi hukum
baik yang diterbitkan oleh pertanahan seperti pada
pejabat yang berwenang maupun masyarakat di daerah Swapraja /
pernyataan yang dibuat sendiri Kotapraja maupun bukti-bukti
oleh orang yang menguasai tidak tertulis pada daerah-daerah
tanah tersebut apabila sejak awal yang realitas sosial budayanya
dialah yang pertama tunduk pada ketentuan Hukum
mengerjakan tanah tersebut, Adat setempat dan status
57
Ibid, hlm. 228 58
M. Yamin Lubis dan Abd Rahim Lubis ,Op.Cit

146
tanahnya maish ditemukan Hak hal penting dalam mengatur lalu
Ulayat dan Hak Milik Adat, lintas hukum di bidang
dalam hal ini dilakukan pertanahan. 59

pendaftaran tanahnya dengan Penguasaan tersebut dapat


proses konversi dan juga sebagai permulaan adanya
pengakuan/penegasan hak. hak, bahkan ada yang menyebut
Namun untuk daerah- penguasaan tanah sudah
daerah yang tidak pernah merupakan suatu “hak”. Kata
dilakukan administrasi “penguasaan” menunjukkan
pertanahan dan juga pada adanya suatu hubungan hukum
daerah-daerah yang status antara tanah dengan yang
hukum tanahnya tidak diakui mempunyainya.60 Artinya ada
lagi sebagai tanah adat atau sesuatu hal yang mengikat antara
dapat dikatakan status tanah di orang dengan tanah tersebut,
daerah tersebut merupakan tanah ikatan tersebut ditunjukkan
yang dikuasai langsung oleh dengan suatu tanda / bukti
Negara, maka kegiatan bahwa tanah tersebut telah
administrasi dalam rangka dikuasainya. Tanda/bukti
pelaksanaan pendaftaran tanah tersebut bisa berbentuk
dilakukan dengan cara penguasaan fisik maupun bisa
penetapan Pemerintah melalui berbentuk pemilikan surat-surat
pemberian / penetapan hak. tertulis (bukti yuridis).61
Sekalipun di daerah Bukti penguasaan tanah
tersebut belum bersentuhan dalam bentuk pemilikan surat-
dengan kegiatan administrasi surat tertulis tersebut dapat saja
pertanahan di masa lalu sehingga dalam bentuk keputusan dari
tidak ditemukan bukti-bukti hak pejabat di masa laluyang
lama sebagaimana yang berwenang memberikan hak
ditentukan secara limitatif dalam penguasaan kepada subyek hak
Penjelasan Pasal 24 ayat (1) untuk menguasai tanah
Peraturan Pemerintah Nomor 24 dimaksud dan dapat juga dalam
Tahun 1997 dan Pasal 60 ayat bentuk akta otentik yang
(1) Peraturan Menteri Negara diterbitkan oleh pejabat umum
Agraria / Kepala BPN Nomor 3 yang menunjukkan tanah
Tahun 1997, namun dalam tersebut diperolehnya akibat
penetapan / pemberian hak atas adanya perbuatan hukum berupa
tanah Negara tersebut, bukti perjanjian pemindahan/
penguasaan atas tanah tetap peralihan hak. Bila dikatakan
mendapatkan tempat dalam 59
Ibid
rangka memformalkan haknya, 60
Badan Pertanahan Nasional. Hak-Hak Atas
sebab penguasaan atas tanah Tanah Dalam Hukum Tanah Nasional,
(hak keperdataan) merupakan Jakarta, 2002, hlm. 8
61
Ibid

147
perolehan hak atas tanah, maka atau diberikannya hak atas
tersirat adanya perbuatan hukum tanah, dengan perkataan lain
yang dilakukan oleh subyek hak penguasaan tanah secara fisik
atas obyek tanahnya.62 merupakan salah satu faktor
Menurut Boedi Harsono, utama dalam rangka pemberian
hubungan penguasaan dapat hak atas tanahnya. Berdasarkan
dipergunakan dalam arti yuridis ketentuan Pasal 24 Peraturan
maupun fisik.63 Penguasaan Pemerintah Nomor 24 Tahun
dalam arti yuridis maksudnya 1997 tentang Pendaftaran Tanah,
hubungan tersebut ditunjukkan dapat dijelaskan bahwa
dengan adanya penguasaan sekalipun tidak ada alat bukti
tanahnya secara hukum. Apabila penguasaan secara yuridis,
telah ada bukti penguasaan namun apabila dalam kenyataan
tanahnya secara hukum bidang tanah tersebut telah
(biasanya dalam bentuk surat- dikuasai secara fisik, maka dapat
surat tertulis), maka hubungan dilegitimasi / diformalkan
tanah dengan obyek tanahnya haknya melalui
sendiri telah dilandasi dengan penetapan/pemberian haknya
suatu hak. Sedangkan kepada yang bersangkutan.64
penguasaan tanah dalam arti Terhadap penguasaan
fisik menunjukkan adanya tanah yang dibuktikan dengan
hubungan langsung antara tanah alat bukti secara tertulis dapat
dengan yang empunya tanah disebut juga alas hak. Alas hak
tersebut, misalnya didiami diartikan sebagai bukti
dengan mendirikan rumah penguasaan atas tanah secara
tinggal atau ditanami dengan yuridis dapat berupa alat-alat
tanaman produktif untuk tanah buktiyang menetapkan atau
pertanian. menerangkan adanya hubungan
Penguasaan tanah dapat hukum antara tanah dengan yang
merupakan permulaan adanya mempunyai tanah, dapat juga
berupa riwayat pemilikan tanah
62
Bandingkan pengertian perolehan tanah yang pernah diterbitkan oleh
hak atas tanah sebagaimana yang
dikembangkan oleh Pasal 1 angka 2 Undang- pejabat Pemerintah sebelumnya
Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea maupun bukti pengakuan dari
Perolehan Hak Tanah dan atau Bangunan pejabat yang berwenang. Alas
yakni perbuatan atau peristiwa hukum yang
mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah
hak secara yuridis ini biasanya
dan atau bangunan oleh orang pribadi atau dituangkan dalam bentuk tertulis
badan, seperti jual beli, tukar-menukar, dengan suatu surat keputusan,
hibah, wasiat, hibah wasiat, pewarisan, dan
surat keterangan, surat
lain-lain, yang pemindahan haknya
dilakukan dengan pembuatan akta menurut pernyataan, surat pengakuan,
cara yang diatur undang-undang.
63
Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia,
Jakarta : Penerbit Djambatan, 1994, hlm. 19 64
Ibid

148
akta otentik maupun surat di tanah, seperti kikitir, girik, atau
bawah tangan dan lain-lain.65 leter C. dalam hal girik
Berdasarkan ketentuan misalnya, sebelum lahirnya
Peraturan Pemerintah Nomor 24 UUPA, girik masih diakui
Tahun 1997 dan Peraturan sebagai tanda bukti hak atas
Menteri Negara Agraria/Kepala tanah, tetapi setelah UUPA lahir
BPN Nomor 3 Tahun 1997, alas dan PP No. 10 Tahun 1961
hak tersebut diberi istilah data sebagaimana telah dirubah
yuridis, yakni keterangan dengan PP No. 24 Tahun 1997
mengenai status hukum bidang tentang Pendaftaran Tanah,
tanah, pemegang haknya, dan hanya sertifikat hak atas tanah
pihak lain serta beban-beban lain yang diakui sebagai bukti
yang membebaninya. kepemilikan hak atas tanah.
Dengan uraian yang Sekalipun demikian, selain
dikemukakan, menjadi jelas sertifikat hak atas tanah,
keberadaan hukum SPH atas nampaknya tanda hak lain-pun
tanah yang dalam praktik dan masih ada yang berlaku, yakni
aturan hukum yang berlaku Girik atau kikitir. Umumnya
dapat dijadikan alas hak untuk masyarakat masih berkeyakinan
memperoleh hak atas tanah. bahwa girik adalah sebagai tanda
2. SPH Atas Tanah Sebagai bukti hak atas tanah, tidak
Alat Bukti Dalam mempermasalahkan apakah girik
Sengketa Pertanahan itu produk sebelum tahun 1960
Dalam kenyataan di atau-pun sesudahnya dan
masyarakat banyak terjadi bagaimana status hukumnya.
sengketa pertanahan, baik antar Girik yang sebenarnya
sesama anggota masyarakat adalah surat pajak hasil
maupun antar anggota bumi/verponding, sebelum
masyarakat dengan perusahaan- diberlakukannya UUPA memang
perusahaan besar. Hal tersebut merupakan bukti kepemilikan
tidak jarang menimbulkan hak atas tanah, tetapi setelah
dampak persoalan yang multi- berlakunya UUPA, girik bukan
dimensional. Namun demikian, lagi sebagai bukti hak atas tanah,
secara hokum keberadaan SPH namun hanya berupa surat
atas tanah tetap menjadi hal keterangan objek atas tanah, dan
penting dalam pembuktian terakhir dengan adanya UU No.
penyelesaian sengketa 12 Tahun 1985 tentang Pajak
pertanahan dimaksud. Bumi dan Bangunan (PBB)
Kondisi di atas tampak yang dikenal sebagai girik
juga berlaku pula untuk bukti adalah DKOP/KP.PBB 4.1.
permulaan penguasaan hak atas Apabila ditelusuri lebih
65
jauh sebelum lahirnya UUPA,
Ibid

149
secara yuridis formal, girik yang mutlak, karena pihak
benar-benar diakui sebagai tanda manapun yang merasa berhak
bukti hak atas tanah. Hal ini juga atas tanah tersebut dapat
dipertegas dengan Putusan mengajukan keberatan, tetapi
Mahkamah Agung RI Nomor lembaga peradilan dalam
34/K/Sip/1960, tanggal 19 pengambilan keputusan
Februari 1960 yang menyatakan seharusnya tidak
bahwa surat petuk/girik (bukti mempertimbangkan keberadaan
penerimaan PBB) bukan tanda girik semata, tetapi juga bukti
bukti hak atas tanah, kecuali lainnya yang menunjukkan
sebagai keterangan objek tanah / adanya kepemilikan atau
bangunan dan sebagai bukti hubungan hukum secara perdata
pajak atas tanah / bangunan.66 antara tanah yang disengketakan
Menurut AP. dengan orang atau badan
Parlindungan 67
terlalu banyak hukum.68 Keberadaan girik harus
masalah yang ditimbulkan dari dilakukan uji materil.
penilaian terhadap tanah adat Permasalahannya sekarang,
seperti girik, letter c, petuk, instansi yang berwenang atau
grant sultan dan sejenis hak yang yang dapat menunjukkan letak
berasal dari hak-hak adat. dan batas tanah yang dimaksud
Pengadilan direpotkan dengan dalam girik sudah tidak ada lagi.
perkara-perkara tanah yang Pembuktian hak lama
seharusnya telah dikonversi. berdasarkan Pasal 24 dan 25 PP
Tanah-tanah adat seharusnya No. 24 Tahun 1997 tentang
sudah dikonversi dan tunduk Pendaftaran Tanah disebutkan
pada ketentuan UUPA, karena bahwa pembuktian hak lama
pemerintah tidak mungkin lagi yang berasal dari konversi hak
mengeluarkan bukti-bukti hak lama dibuktikan dengan alat
atas tanah yang tunduk pada bukti tertulis dan keterangan
sistem hukum yang lama. saksi dan/atau pernyataan
Sehingga dengan demikian girik, pemohon yang kebenarannya
letter C, dan tanah-tanah hak dianggap cukup untuk mendaftar
adat lainnya tidak dapat lagi oleh Panitia Ajudikasi untuk
dijadikan bukti kepemilikan. pendaftaran sistematik atau
Walaupun sistem Kepala Kantor Pertanahan untuk
pendaftaran tanah menganut pendaftaran sporadis. Penilaian
sistem stelsel negatif, dalam arti tersebut didapat atas dasar
sertifikat hak atas tanah bukan pengumpulan dan penelitian data
merupakan bukti hak atas tanah yuridis mengenai bidang tanah
66
Binatar Sinaga. Keberadaan Girik Sebagai bersangkutan oleh Panitia
Surat Tanah, dimuat dalam Harian Umum Ajudikasi dalam Pendaftaran
KOMPAS, 24 September 1992.
67
A.P. Parlindungan, Op.Cit 68
Ibid

150
Tanah secara sistematik atau terbuka oleh yang bersangkutan
oleh Kepala Kantor Pertanahan sebagai yang berhak atas tanah,
dalam pendaftaran tanah secara serta diperkuat oleh kesaksian
sporadik. Atas dasar alat bukti orang yang dapat dipercaya serta
dan berita acara pengesahan, hak penguasaan tersebut tidak
atas tanah yang data fisik dan dipermasalahkan oleh
data yuridisnya sudah lengkap masyarakat hukum adat atau
dan tidak ada sengketa, desa/kelurahan yang
dilakukan pembukuan dalam bersangkutan ataupun pihak
buku tanah dan diterbitkan lainnya.70
sertifikat hak atas tanah. Data Dengan demikian pihak
Yuridis adalah keterangan manapun yang mengklaim
mengenai status hukum bidang memiliki suatu hak atas tanah
tanah dan satuan rumah susun harus dapat membuktikan
yang didaftar, pemegang haknya haknya atau membuktikan
dan hak pihak lain serta beban- adanya hubungan hukum
beban lain yang membebaninya kepemilikan antara tanah dengan
(Pasal 1 angka (7) PP No. 24 pihak yang bersangkutan,
Tahun 1997. Sedangkan data apabila belum ada sertifikat hak
fisik adalah keterangan atas tanah, maka girik atau
mengenai letak, batas dan luas apapun namanya hanya dapat
bidang tanah dan satuan rumah digunakan sebagai bukti
susun yang didaftar, termasuk permulaan adanya hubungan
keterangan mengenai adanya hukum tersebut yang kemudian
bangunan atau bagian bangunan diperkuat dengan data fisik yang
di atasnya (Pasal 1 angka (6) PP dapat menjelaskan atau
No. 24 Tahun 1997).69 menggambarkan letak, batas,
Berdasarkan penjelasan di luas bidang dan bukti
atas, seharusnya pembuktian penguasaan atas tanah secara
kepemilikan hak atas tanah berturut-turut selama 20 (dua
dengan dasar bukti girik saja puluh) tahun, apabila tidak ada
tidak cukup, tetapi juga harus terdapat data yuridis maupun
dibuktikan dengan data fisik dan data fisik atas tanah tersebut.71
data yuridis lainnya serta Kondisi demikian penting
penguasaan fisik tanah oleh yang untuk dipahami dalam
bersangkutan secara berturut- hubungannya dengan
turut atau terus-menerus selama pembuktian SPH atas tanah
20 (dua puluh) tahun atau lebih. dalam sengketa pertanahan,
Dengan catatan bahwa karena dapat menyangkut tidak
penguasaan tersebut dilakukan saja aspek yuridisnya / berkaitan
atas dasar itikad baik dan secara
70
Ibid
69
Binatar Sinaga, Op.Cit 71
Ibid

151
dengan aspek administrasi pendekatan perundang-
hukum pemerintahan maupun undangan, karena akan diteliti
aspek nilai kekuatan hukum berbagai aturan hukum
pembuktian secara formal) dan formal yang menjadi fokus
dapat pula menyangkut aspek utama dan menjadi sentral
materilnya (berkaitan dengan suatu penelitian. Pendekatan
penguasaan atas tanah secara ini digunakan untuk mengkaji
terus-menerus). permasalahan hukum yang
terkait dengan Undang-
C. Metode Penelitian Undang Nomor 5 Tahun 1960
1. Jenis Penelitian tentang Peraturan Dasar
Pendekatan dalam rencana Pokok-Pokok Agraria dan
penelitian ini dilakukan dengan Peraturan Pelaksanaannya
metode penelitian hukum normatif, yaitu Peraturan Pemerintah
dengan penekanan dari norma- Nomor 24 Tahun 1997
norma hukum dengan mengkaji tentang Pendaftaran Tanah
peraturan perundang-undangan, serta Peraturan-Peraturan
bahan pustaka, serta sumber bahan lainnya.
hukum yang ada.72
Dalam pengkajian ilmu b. Pendekatan Analitis
hukum normatif, langkah atau Penelitian menggunakan
kegiatan melakukan analisis pendekatan hukum analitis
mempunyai sifat yang spesifik dan terhadap bahan hukum agar
kekhususannya yang dilihat apakah dapat mengetahui makna
syarat normatif dari hukum itu yang terkandung di dalam
sudah terpenuhi atau belum sesuai peraturan perundang-
dengan ketentuan dan bangunan undangan serta menganalisis
hukum itu sendiri. istilah yang digunakan dalam
peraturan perundang-
undangan secara konseptual,
2. Pendekatan Penelitian sekaligus mengetahui
Penelitian ini penerapannya dalam praktek
menggunakan metode dan putusan-putusan hukum.73
pendekatan dalam ilmu hukum, Pendekatan ini digunakan
yaitu : untuk mengkaji istilah dan
a. Pendekatan Perundang- makna yang terkandung di
undangan dalam Undang-Undang
Suatu penelitian hukum Nomor 5 Tahun 1960 tentang
normatif wajib menggunakan Peraturan Dasar Pokok-
Pokok Agraria serta semua
72
Johnny Ibrahim. 2005. Teori dan Metode peraturan pelaksana yang
Penelitian Nomorrmatif. Malang :
Bayumedia Publishing, hal. 241. 73
Ibid. hlm. 267

152
digunakan dalam penelitian b. Bahan Hukum Sekunder
ini, sehingga mencegah Bahan hukum sekunder
terjadinya perbedaan adalah bahan-bahan yang
interpretasi ataupun salah isinya memberikan
dalam menafsirkan penjelasan mengenai bahan
permasalahan hukum yang hukum primer, seperti buku-
akan dikaji dalam penelitian buku teks ilmiah yang ditulis
ini. para ahli hukum yang
3. Jenis dan Sumber Bahan- berpengaruh, hasil-hasil
Bahan Penelitian penelitian, dan ketentuan lain
Jenis dan sumber bahan- yang memiliki keterkaitan
bahan hukum yang digunakan secara langsung dengan objek
dalam tesis ini adalah sebagai kajian penelitian.74
berikut : c. Bahan Hukum Tersier
a. Bahan Hukum Primer Bahan hukum tersier adalah
Bahan Hukum Primer adalah bahan hukum penunjang yang
bahan-bahan yang isinya memberikan petunjuk dan
mengikat karena dikeluarkan penjelasan terhadap bahan
oleh pemerintah yang hukum primer dan bahan
sumbernya telah diatur dan hukum sekunder seperti
bersifat mengikat atau Koran, Majalah atau Jurnal,
fakultatif, seperti peraturan Internet, Kamus Hukum,
perundang-undangan, Kamus Bahasa Indonesia dan
yurisprudensi, peraturan sumber-sumber hukum
pemerintah, dan peraturan- lainnya yang terkait. Juga
peraturan pelaksana, dalam dapat berupa jurnal ilmu
penulisan terdiri dari : hukum, laporan penelitian
1. Norma dasar atau Kaidah ilmu hukum, artikel ilmiah
dasar yaitu Pancasila dan hukum dan bahan seminar,
Undang-Undang Dasar dan sebagainya yang ada
1945; relevansi dengan tema
2. Undang-Undang Nomor 5 penelitian ini.
Tahun 1960 tentang 4. Teknik Pengumpulan dan
Peraturan Dasar Pokok- Pengolahan Bahan-Bahan
Pokok Agraria; Penelitian
3. Peraturan Pemerintah
Nomor 24 Tahun 1997, Metode Penelitian yang
Tentang Pendaftaran digunakan dalam penelitian ini
Tanah; akan diteliti bahan hukum
4. Peraturan Perundang- sekunder, yang diperoleh dari
undangan terkait lainnya.
74
Soerjono Soekanto. 2008. Pengantar
Penelitian Hukum. Jakarta : UI-Press. hal. 52.

153
studi kepustakaan (Library menyeluruh penguraian hasil
Research), dengan cara penelitian pustaka (bahan-bahan
membaca, menelaah serta hukum) dan merupakan suatu
menganalisa buku-buku, kesatuan yang dihubungkan
literatur-literatur, dan peraturan secara sistematis sehingga akan
perundang-undangan yang dapat diperolehnya jawaban-
berhubungan dengan penulisan jawaban atas permasalahan
penelitian ini untuk hukum yang menjadi objek
mendapatkan bahan-bahan yang kajian penulisan penelitian ini.
bersifat teoritis ilmiah sebagai
petunjuk dalam menguraikan D. Temuan dan Analitis
pendalaman pembahasan
terhadap masalah yang dihadapi. Pemilikan tanah merupakan
5. Analisis Bahan-Bahan hak asasi dari setiap warga Negara
Penelitian dan Pengambilan Indonesia yang diatur dalam UUD
Kesimpulan 1945, khususnya Pasal 28H yang
menyebutkan bahwa setiap orang
Didalam penyusunan berhak mempunyai hak milik
penelitian ini, bahan-bahan pribadi dan hak milik tersebut tidak
hukum diperoleh akan diolah, boleh diambil alih secara sewenang-
dianalisa, dan disimpulkan wenang oleh siapapun. Negara
dengan menggunakan metode menjamin hak warga negaranya
induktif dan metode deduktif. untuk memiliki suatu hak milik
Metode adalah suatu tipe pribadi termasuk tanah. Penjaminan
pemikiran yang dipergunakan ini lahir atas dasar hak menguasai
dalam penelitian atau sebagai Negara yang dianut dalam Pasal 2
suatu teknik yang umum bagi Undang-Undang Nomor 5 Tahun
ilmu pengetahuan untuk 1960 tentang Peraturan Dasar
melaksanakan suatu prosedur.75 Pokok-Pokok Agraria. Dalam pasal
Metode induktif adalah tersebut ditentukan bahwa bumi, air
suatu cara untuk menarik dan ruang angkasa termasuk
kesimpulan dari hal-hal khusus kekayaan alam yang terkandung di
ke hal yang umum, sedangkan dalamnya pada tingkatan tertinggi
metode deduktif adalah cara dikuasai oleh Negara.
menarik kesimpulan dari hal-hal Hak menguasai Negara ini
umum yang ke hal yang memberi wewenang kepada Negara
khusus.76 yang diantaranya adalah untuk
Metode pendekatan secara mengatur dan menyelenggarakan
kualitatif bermanfaat untuk peruntukan, penggunaan,
melakukan analisis data secara persediaan dan pemeliharaan bumi,
air dan ruang angkasa tersebut;
75
Soerjono Soekanto. Op Cit. Hal. 5 menentukan dan mengatur
76
Ibid. Hal. 5

154
hubungan-hubungan hukum antara menjamin kepastian hukum
orang dengan bumi, air dan ruang mengenai orang yang menjadi
angkasa; dan menentukan serta pemegang hak atas tanah, kepastian
mengatur hubungan-hubungan hukum mengenai lokasi dari tanah,
hukum antara orang-orang dan batas serta luas suatu bidang tanah,
perbuatan-perbuatan hukum yang dan kepastian hukum mengenai hak
mengenai bumi, air dan ruang atas tanah miliknya. Dengan
angkasa.77 kepastian hukum tersebut dapat
Sebagai konsekuensi diberikan perlindungan hukum
pengakuan Negara terhadap hak kepada orang yang tercantum
atas tanah yang dimiliki oleh orang namanya dalam sertifikat terhadap
atau badan hukum, maka Negara gangguan pihak lain serta
berkewajiban memberikan jaminan menghindari sengketa dengan pihak
kepastian hukum terhadap hak atas lain.78
tanah tersebut, sehingga setiap Perlindungan hukum yang
orang atau badan hukum yang diberikan kepada setiap pemegang
memiliki hak tersebut dapat hak atas tanah merupakan
mempertahankan haknya. Untuk konsekuensi terhadap pendaftaran
memberikan perlindungan dan tanah yang melahirkan sertifikat.
jaminan kepastian hukum tersebut, Untuk itu setiap orang atau badan
Pemerintah mengadakan hukum wajib menghormati hak atas
pendaftaran tanah. Pendaftaran tanah tersebut. Sebagai suatu hak
tanah dimaksudkan untuk yang dilindungi oleh konstitusi,
memberikan kepastian dan maka penggunaan dan pemanfaatan
perlindungan hukum akan hak atas tanah milik orang atau badan
tanah. Produk akhir pendaftaran hukum lain, wajib dilakukan sesuai
tanah adalah sertifikat hak atas dengan peraturan perundang-
tanah. Sertifikat hak atas tanah undangan yang berlaku, yang pada
memiliki fungsi utama, yaitu dasarnya tidak boleh dilakukan
sebagai alat pembuktian yang kuat, secara sewenang-wenang79.
tidak mutlak. Pendaftaran tanah Secara hukum, tanah-tanah
dimaksudkan untuk menjamin belum bersertifikat itu tidak dapat
kepastian hukum bagi pemilik hak dikatakan sebagai hak milik dari
atas tanah (Pasal 19 ayat (1) UUPA orang yang menguasainya. Tanah
jo Pasal 3 Peraturan Pemerintah No. tersebut akan menjadi hak milik
24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran jika telah memiliki sertifikat hak
Tanah). milik (atau sertifikat hak guna
Sertifikat berfungsi sebagai bangunan untuk tanah dengan hak
alat pembuktian yang kuat di guna bangunan/SHM/HGB).
dalambukti pemilikan. Sertifikat 78
Adrian Sutedi. Kekuatan Hukum Berlakunya
Sertifikat Sebagai Tanda Bukti Hak Atas Tanah.
77
Lihat Undang-Undang Pokok Agraria Pasal 2 Jakarta, Bina Cipta, 2006, hlm. 23
ayat (2) 79
Ibid

155
Orang yang menguasai 2. Pernyataan mengenai riwayat
tanah belum bersertifikat tersebut tanah tersebut atau proses
hanya menguasai tanahnya. peralihannya secara historis.
Dokumen-dokumen pada orang 3. Pernyataan luas tanah dan
yang menguasai tanah itu menyebutkan para pemilik tanah
merupakan dokumen sebagai bukti yang berbatasan dengantanah
kepemilikan. tersebut.
Untuk meningkatkan 4. Pernyataan bahwa tanah tersebut
statusnya dari penguasaan menjadi tidak terlibat dalam sengketa.
kepemilikan, jalan harus ditempuh 5. Pernyataan bahwa tanah tersebut
adalah sertifikasi, yaitu dengan tidak sedang dijaminkan.
mengajukan permohonan hak milik 6. Pernyataan bahwa tanah tersebut
atas tanah ke Kantor Pertanahan tidak sedang dalam peralihan
setempat. Dengan dikeluarkannya hak.
sertifikat hak milik atas tanah, 7. Peta dan gambar tanah tersebut
tanah tersebut telah sah menjadi beserta luasnya dan batas-
milik si pemegang hak, bukan lagi batasnya sebagai lampiran.
hak menguasai. 8. Tanda tangan para pemilik tanah
Dalam memeriksa tanah yang berbatasan dengan tanah
belum bersertifikat tersebut adalah tersebut sebagai saksi.
benar dikuasai oleh pihak yang 9. Tanda tangan Lurah/Kepala
mengklaimnya. Hal pertama perlu Desa dan Camat sebagai pihak
diperiksa adalah Surat Pengakuan yang mengetahui.
Hak (SPH) yang dikeluarkan oleh Dalam kenyataan yang ada,
Kantor Kepala Desa/Lurah. tidak jarang alas hak berupa SPH
Beberapa daerah memiliki Atas Tanah ini menimbulkan
penyebutan yang berbeda-beda masalah di kemudian hari. Salah
untuk SPH semacam ini. Misalnya, satunya adalah munculnya dua
Surat Pernyataan Hak atau Surat pihak yang mengaku sebagai
Kepemilikan Hak atas Tanah. pemilik atas tanah yang telah
Apapun penamaannya, pastikan didaftarkan tersebut. Bahkan tidak
dokumen tersebut memiliki unsur- jarang terjadi dalam proyek yang
unsur berikut ini :80 dilakukan oleh Kantor Pertanahan,
1. Pernyataan dari pihak yang 1 (satu) bidang tanah dikuasai oleh
menguasai tanah, bahwa tanah dua orang yang berbeda dengan
tersebut berada dalam alas hak yang berbeda tetapi
kekuasaannya dan tidak ditandatangani oleh Kepala
bertentangan dengan hak pihak Kelurahan/Kepala Desa yang sama
lain atas tanah tersebut. sehingga proses penerbitan menjadi
terhambat. Dari uraian di atas
terlihat bahwa SPH Atas Tanah
80
sebagai alas hak dalam penerbitan
Dadang Sukandar. Legalakses.com.

156
sertifikat khususnya sertifikat hak berasal dari tanah Negara atau
milik tidak lepas dari berbagai tanah hak pengelolaan;
masalah. b. Asli akta PPAT yang memuat
Pendaftaran tanah pada pemberian hak oleh
hakikatnya bertujuan untuk pemegang hak milik kepada
memberikan kepastian hak kepada penerima hak yang
pemilik tanah. Terbitnya sertifikat bersangkutan untuk hak guna
merupakan pemberi rasa aman bangunan dan hak pakai atas
kepada pemilik tanah akan haknya tanah hak milik;
pada tanah tersebut.81 Dalam rangka c. Hak pengelolaan dibuktikan
memberikan kepastian hukum dengan penetapan pemberian
kepada para pemegang hak atas hak oleh pejabat yang
tanah maka sertifikat tanah berwenang;
berfungsi sebagai pembuktian yang d. Tanah wakaf yang dibuktikan
kuat. Sertifikat tanah merupakan dengan akta ikrar wakaf;
tanda bukti yang berlaku sebagai e. Hak milik atas satuan rumah
alat pembuktian yang kuat susun yang dibuktikan
mengenai data fisik dan data yuridis dengan akta pemisahan;
yang termuat di dalamnya f. Pemberian Hak Tanggungan
sepanjang data tersebut sesuai dibuktikan dengan akta
dengan data yang terdapat di dalam pemberian Hak Tanggungan.
surat ukur dan buku tanah yang
bersangkutan.82 2. Pembuktian hak lama
Salah satu masalah yang berdasarkan Pasal 24 PP No. 24
berkaitan erat dengan kepastian Tahun 1997 yaitu :
hukum dalam pendaftaran tanah a. Untuk keperluan pendaftaran
adalah masalah pembuktian. Dalam tanah, hak atas tanah yang
pendaftaran tanah dikenal 2 (dua) berasal dari konversi hak-hak
pendaftaran hak yaitu :83 lama dibuktikan dengan alat
1. Hak atas tanah baru. Pembuktian bukti mengenai adanya hak
hak atas tanah baru dilakukan tersebut berupa alat bukti
dengan : tertulis, keterangan sanksi dan
a. Penetapan pemberian hak dari atau pernyataan yang
pejabat yang berwenang bersangkutan yang kadar
memberikan hak yang kebenarannya dianggap cukup
bersangkutan menurut untuk mendaftar hak, pemegang
ketentuan yang berlaku hak dan pihak lain yang
apabila pemberian hak membebaninya.
81
b. Dalam hal tidak atau tidak lagi
Ibid
82
Ibid tersedia secara lengkap alat
83
Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Hak- pembuktian maka pembuktian
Hak Atas Tanah. Jakarta, Kencana Prenada dapat dilakukan berdasarkan
Media Group, 2008, hlm. 33-78

157
penataannya penguasaan fisik baik ke peradilan umum atau
tanah yang bersangkutan selama menggugat Kepala Badan
20 tahun atau lebih secara Pertanahan Nasional ke
berturut-turut oleh pemohon Pengadilan Tata Usaha Negara.
pendaftaran dan pendahulu- Adanya gugatan ke pengadilan
pendahulunya. umum atau Pengadilan Tata
Usaha Negara, dikarenakan
Dalam pandangan Florianus sertifikat mempunyai dua sisi,
SP. Sangun84, pendaftaran tanah yaitu sisi keperdataan dan sisi
untuk pertama kali dapat dilakukan yang merupakan bentuk
dengan cara sistematik (memasang keputusan yang bersifat
tanda-tanda batas, berada di lokasi, penetapan (beschiking) yang
menunjukkan batas kepada panitia diterbitkan oleh Kepala Kantor
ajudikasi, menunjukkan bukti atau Pertanahan sebagai pejabat tata
penguasaan tanah, dan memenuhi usaha Negara.85
persyaratan lain) serta secara Sesuai dengan maksud
sporadis (dilakukan dengan dan tujuan Undang-Undang
permohonan perseorangan atau Pokok Agraria, khususnya
massal). mengenai usaha-usaha
Berdasarkan uraian yang meletakkan dasar-dasar dalam
dikemukakan, maka SPH Atas rangka mengadakan kepastian
Tanah dapat dijadikan alas hak bagi hukum atas tanah sebagaimana
pendaftaran tanah, dengan diatur dalam Pasal 19, 23, 32
persyaratan : dan 38 yang menghendaki agar
a. Diterbitkan oleh pejabat pemerintah menyelenggarakan
Pemerintah yang berwenang; Pendaftaran Tanah yang bersifat
b. Jelas batas-batasnya; “rechts kadaster” dengan asas
c. Jelas asal-usulnya; bahwa penguasaan saja terhadap
d. Tidak ada sengketa (baik secara suatu bidang tanah belum
formal maupun material). merupakan jaminan bahwa
Meskipun telah orang tersebut berhak atas
mendapatkan pengakuan dalam tanahnya (nemo plus yuris).
UUPA, sertifikat hak atas tanah Dari hal-hal tersebut di
belum menjamin kepastian atas, maka bukan suatu hal yang
pemilikannya karena dalam mustahil, terbuka kemungkinan
peraturan perundang-undangan timbulnya perselisihan/
memberi peluang kepada pihak
lain yang merasa memiliki tanah
dapat menggugat pihak yang 85
Rosmadi Murod. Administrasi Pertanahan
namanya tercantum dalam Pelaksanaannya Dalam Praktik. Bandung,
sertifikat secara keperdataan, Mandar Maju, 1977, hlm. 46. Adrian Sutedi,
Sertifikat Hak Atas Tanah. Jakarta, Sinar
84
Florianus SP. Sangun, Op.Cit, hlm. 23-25 Grafika, 2012, hlm. 33

158
persengketaan hak baik materiil kewajiban melainkan sudah
maupun secara formal.86 merupakan kebutuhan teknis bagi
Beberapa ketentuan aparatnya yang memerlukan
peraturan yang dapat digunakan penanganan secara sungguh-
sebagai landasan operasional sungguh melalui cara-cara, prosedur
dari fungsi penyelesaian dan pola yang konsisten.
sengketa hukum atas tanah yaitu
antara lain Peraturan Pemerintah E. Penutup
No. 10 Tahun 1961 (LN. Tahun 1. Kesimpulan
1961 No. 28) Pasal 29 dan 1. Kedudukan hukum SPH Atas
Peraturan Menteri Dalam Negeri Tanah dapat merupakan salah
No. 6 Tahun 1972 (Pasal 12 dan satu yang dijadikan alas hak
14) serta Surat Keputusan dalam proses pendaftaran tanah
Menteri Dalam Negeri No. 72 (sertifikasi).
Tahun 1981 jo No. 133 Tahun 2. Kekuatan hukum pembuktian
1978. SPH Atas Tanah dalam sengketa
Di samping terdapat pertanahan merupakan alat bukti
beberapa petunjuk teknis tertulis di bawah tangan
mengenai penanganan sengketa (onderhands). Oleh karenanya,
antara lain beberapa Surat dalam sengketa pertanahan harus
Edaran Direktur Jenderal juga dilihat alat bukti lainnya
Agraria tanggal 4 Juli 1968 No. seperti saksi, pengakuan,
DDA8/4/7/1968 ditegaskan persangkaan, dan sumpah.
kembali melalui Surat Edaran Sehingga secara material,
tanggal 14 Oktober 1981 No. kebenaran yang diperoleh tidak
Btu.10/271/10/81 mengenai hanya kebenaran hukum secara
penanganan perkara di formal sesuatu.
pengadilan dan Surat Edaran
tanggal 21 Maret 1974 No.
BA.3/219/3/74 mengenai 2. Saran-Saran
kebijaksanaan terhadap proses 1. Agar supaya diadakan sertifikasi
penelitian, permohonan dan massal oleh BPN secara terus-
gugatan terhadap surat menerus supaya SPH Atas Tanah
keputusan pemberian hak. dapat ditingkatkan menjadi
Dari hal-hal tersebut di atas, sertifikat hak atas tanah.
maka penyelesaian sengketa hukum 2. Agar dalam penyelesaian
yang merupakan sebagian dari sengketa pertanahan lebih
tugas-tugas yang harus dipikul oleh mengutamakan jalan dan
BPN, bukan hanya sekedar mekanisme musyawarah, dengan
mengandalkan mekanisme
86
Rosmadi Murod. Penyelesaian Sengketa penyelesaian hukum secara
Hukum Atas Tanah. Bandung, Alumni, 1991, formal.
hlm. 15

159
Harsono, Budi. 1994. Hukum Agraria
Indonesia. Jakarta, Penerbit
Djambatan.

Ibrahim, Johnny. 2005. Teori dan


Metode Penelitian Hukum
Normatif, Malang,
Bayumedia Publishing.

Lubis, M. Yamin dan Lubis, Abd.


Rahman. 2010. Hukum
Pendaftaran Tanah (Edisi
Revisi). Bandung, Mandar
Maju.

Murod, Rusmadi. 1991. Penyelesaian


Sengketa Hukum Atas
Tanah. Bandung, Alumni.

Murod, Rusmadi. 1977. Administrasi


Pertanahan Pelaksanaannya
DAFTAR PUSTAKA Dalam Praktik. Bandung,
Mandar Maju.
Badan Pertanahan Nasional (anonim).
2002. Hak-Hak Atas Tanah Mulyadi, Kartini dan Widjaja,
Dalam Hukum Tanah Gunawan. 2008. Hak-Hak
Nasional. Jakarta, Biro Atas Tanah. Jakarta, Kencana
Hukum dan Humas. Prenada Media Group.

Badan Pertanahan Nasional (anonim). Nasution, Lutfi. I. 2002. Menuju


2010. Jaminan UUPA Bagi Keadilan Agraria 70 Tahun
Keberhasilan Gunawan Wiradi. Bandung,
Pendayagunaan Tanah, Alumni.
Jakarta, Biro Hukum dan
Humas. Nata Menggala, Hasan Basri, dan
Sartijo. 2005. Pembatalan
Effendi, Bachtiar. 1993. Pendaftaran dan Kebatalan Hak Atas
Tanah Di Indonesia Dan Tanah. Yogyakarta, Tuju
Peraturan Pelaksanaannya. Jogya Pustaka.
Bandung, Alumni.

160
Parlindungan, A.P. 1994. Pendaftaran
Tanah di Indonesia.
Bandung, Mandar Maju.

Parlindungan, A.P. 2002. Komentar


Atas Undang-Undang Pokok
Agraria. Bandung, Mandar
Maju.

Pudjosewojo, Kusumadi. 1971. Asas-


Asas Hukum Adat. Bandung,
Alumni.

Sangsun, Florianus. SP. 2007. Tata


Cara Mengurus Sertifikat
Tanah. Jakarta, Visi Media.

Soekanto, Soerjono. 2008. Pengantar


Penelitian Hukum. Jakarta,
UI.Press.

Subekti, R. 1991. Hukum Pembuktian.


Jakarta, P.T. Pradnya
Paramita.

Sutadi, Adrian. 2006. Kekuatan


Hukum Sertifikat Sebagai
Tanda Bukti Hak Atas
Tanah. Jakarta, Bina Cipta.

Sutadi, Adrian. 2012. Sertifikat Hak


Atas Tanah. Jakarta, Sinar
Grafika.

Suwardjono, Maria. SW. 1996.


Kebijakan Pertanahan
Antara Regulasi dan
Implementasi. Jakarta,
Penerbit Buku KOMPAS.

161
KEDUDUKAN DAN TANGGUNG JAWAB HUKUM PIHAK
SUB KONTRAKTOR PADA PERJANJIAN PENGADAAN BARANG/JASA
PEMERINTAH87

Oleh:
88
MITHA MIRANDA SARI , MUHAMMAD SYAIFUDDIN, SAUT P.PANJAITAN,
HERMAN ADRIANSYAH

Abstract: "Legal Status and Responsibilities of Sub Contractors Party on the


Agreement Procurement of Government Goods / Services" analyze legal problems
/issues namely, the Law considerations of the main contractors and sub-contractors to
make sub contract procurement of goods / services of the government, the legal
relationship between sub-contractors and main contractors with the government, the
legal responsibilities of the sub-contractors in getting the default by the sub-contractor,
the sub contractor procurement of government goods / services is not made as notarized
,there are differences in the regulation of sub-contract in Article 87 paragraph (3) of
Presidential Regulation No. 70 of 2012 prohibited while Article 24 paragraph (1) of
Law The Act No. 18 year 1999 on Construction Services allow for the sub contract.
The theory framework in this study consisted of Grand Theory: Theory of Equitable
Legal Certainty, legal liability theory. Middle Range Theory: Theory of Public
Contracts Characteristically (Publiekrechtelijk overeenkomst), the theory as a Notary
Public Officials. Applied Theory: Principles consensual, the freedom to make contracts,
strength of binding contracts, goodwill, balance, habits, indemnities, timeliness, force
majeure, dispute resolution, the principle of the goods / services of the government. The
Research methods using type hermeneutic research paradigm. The research approach
using Normative Approach, Statue approach, legal Philosophy approach, conceptual
approach, legal Historical approach, Sociolegal approach.. The technique of taking
conclusions with Deductive method so that it is concluded that the legal considerations
around contractors and sub contractors to make sub contract In Clause of Article 8
paragraph (1) in agreement with the main contractor the goods / services of the
government, and special expertise for achievement, and the non-legal considerations is
cost efficiency. Judgements are binding relationship and The Legal Responsibilities to
the main contractor and sub-contractors only, not to the government. It is suggested the
agreement the sub-contract made as notarized by a notary public official authorized to
guarantee legal certainty and fairness to the parties, so as not to violate Article 87
paragraph (3) Presidential Regulation No. 70 Year 2012 on Procurement of
Government Goods/Services that the Deed made is the Partnership Act Consortium

87
Artikel ini adalah ringkasan Tesis yang berjudul “Kedudukan Dan Tanggung Jawab Hukum Pihak Sub
Kontraktor Pada Perjanjian Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah”, yang ditulis oleh MITHA
MIRANDA SARI, dengan pembimbing Dr. Muhammad Syaifuddin,SH.,M.Hum, Dr. Saut
P.Panjaitan.SH.,M.Hum dan Herman Adriansyah,S.H., Sp.N., M.H, pada Program Studi Magister
Kenotariatan Universitas Sriwijaya.
88
Penulis adalah Mahasiswi Magister Kenotariatan Universitas Sriwijaya, Palembang.

162
Agreement for Joint Operation (KSO) is set out in Chapter III Instruction to
Participants Procurement (IKPP) in the Annex to Regulation Agency Chief
Procurement Policy/government Services No. 6 of 2012 on the Technical Guidelines
Presidential Regulation No. 70 Year 2012 on Procurement of Government
Goods/Services.

Keywords: Legal Status, Legal Responsibilities, Sub Contract, Procurement of


Government Goods / Services

A. Pendahuluan dan pihak pengguna membayar


1. Latar Belakang berdasarkan harga yang telah
Sejarah Lahirnya Pengadaan disepakati kepada pihak penyedia
barang dan jasa dimulai dari adanya barang/jasa89.
transaksi pembelian/penjualan Pengadaan Barang/Jasa pada
barang secara langsung (tunai), hakikatnya merupakan upaya pihak
kemudian berkembang ke arah pengguna untuk mendapatkan atau
pembelian berjangka waktu mewujudkan barang/jasa yang
pembayaran, dengan membuat diinginkannya dengan dilakukan
dokumen pertanggung jawaban atas dasar pemikiran yang logis dan
(pembeli dan penjual), dan pada sistematis (the system of thought),
akhirnya melalui pengadaan dan sehingga masing-masing pihak
proses pelelangan. Dalam harus tunduk pada etika serta
prosesnya, pengadaan barang dan norma/peraturan yang berlaku
jasa melibatkan beberapa pihak terkait proses pengadaan
terkait, sehingga perlu ada etika, 90
barang/jasa .
norma, dan prinsip pengadaan Pengadaan Barang/Jasa
barang dan jasa untuk dapat pemerintah melibatkan beberapa
mengatur atau yang dijadikan dasar pihak, yaitu Pihak Pembeli atau
penetapan kebijakan pengadaan Pengguna dan Pihak Penjual atau
barang dan jasa. Metode dalam Penyedia Barang dan jasa, Pembeli
jual beli pengadaan barang jasa atau Pengguna Barang dan jasa
adalah dengan cara tawar menawar adalah pihak yang membutuhkan
secara langsung antara pihak barang dan jasa, pihak pengguna
pembeli (pengguna) dengan pihak dalam pelaksanaan pengadaan
penjual (penyedia). Apabila dalam
89
proses tawar menawar telah tercapai Adrian Sutedi. 2012. Aspek Hukum
Pengadaan barang & jasa dan berbagai
kesepakatan harga, maka permasalahannya. Jakarta: Sinar Grafika,
dilanjutkan dengan transaksi jual hlm.1.
90
beli, yaitu pihak penyedia Soekarno
Malongsoeso.1986.Syarat-Umum
barang/jasa menyerahkan Untuk pelaksanaan Bangunan yang di
barang/jasa kepada pihak pengguna lelangkan. Jakarta:Cv.
Rajawali.hlm.61.

163
adalah pihak yang meminta atau informal92. Untuk melaksanakan
memberi tugas kepada pihak prinsip Good Governance and
penyedia untuk memasok atau Clean Government, Maka
membuat barang atau melaksanakan Pemerintah harus melaksanakan
pekerjaan tertentu, dalam hal prinsip-prinsip Akuntabilitas dan
pengadaan barang/jasa pemerintah, pengelolaan sumber daya secara
pengguna barang/jasa merupakan efisien, serta mewujudkan dengan
suatu lembaga/organisasi antara lain tindakan dan peraturan yang baik,
: Instansi Pemerintah (Pemerintah dan tidak berpihak (independen),
Pusat, Pemerintah Provinsi, serta menjamin terjadinya interaksi
Pemerintah Kabupaten, dan ekonomi dan social antara
Pemerintah Kota), Badan Usaha Masyarakat dan para pihak terkait
(BUMN,BUMD). Sedangkan pihak (stakeholders) secara adil/Fairness,
Penyedia barang/Jasa pemerintah transparan, professional, dan
antara lain Perusahaan Kontraktor akuntabel.
(PT, CV, Firma)91 Pada Kontrak Pengadaan
masa pemerintahan presiden Susilo Barang/Jasa pemerintah dibuat
Bambang Yudhoyono Peraturan dalam Kontrak Baku (Standard
Presiden (PerPres) Nomor 70 Tahun Contract). “Kedudukan” satu pihak
2012 Tentang perubahan kedua atas yang “lebih dominan” untuk
Peraturan Presiden Nomor 54 memperoleh lebih banyak
Tahun 2010 tentang Pengadaan keuntungan daripada pihak lainnya
Barang/Jasa Pemerintah sebagai dalam kontrak disebut dengan
perubahan Keputusan Presiden kontrak baku atau klausul baku,
Nomor 80 Tahun 2003 yang dinilai kontrak baku (standard contract) itu
sudah tidak memadai lagi. bersifat “take it or leave it”), dalam
Peraturan Presiden Nomor arti hanya ada dua pilihan, yaitu
70 Tahun 2012 dilatarbelakangi oleh sepakat membuat kontrak atau tidak
Tujuan Negara dan Cita-Cita tata sepakat membuat kontrak93.
pemerintahan yang baik dan bersih Berdasarkan hasil random
(Good Governance and Clean sampling Pra Penelitian, Kontrak
Government). Good Governance pengadaan barang/jasa pemerintah
and Clean Government adalah diambil sample dari beberapa
seluruh aspek yang terkait dengan Responden (Informan) Perusahaan
kontrol dan pengawasan terhadap Kontraktor dengan Instansi/Dinas
kekuasaan yang dimiliki Pemerintah terkait Provinsi Sumatera Selatan,
dalam menjalankan fungsinya 92
Adrian Sutedi. Op.Cit.hlm.11.
melalui institusi formal dan 93
Muhammad Syaifuddin.
2012. Hukum Kontrak ,Memahami
Kontrak dalam Persepektif Filsafat,
91
Djumialdji. 1996. Hukum Teori, Dogmatik,dan Praktik
Bangunan Dasar-Dasar Hukum Hukum(Seri Pengayaan Hukum
Dalam dan Proyek dan Sumber Daya Perikatan) Bandung : CV. Mandar
Manusia. Jakarta: Rhineka Cipta. Maju hlm.216.

164
sebagai Kontraktor Utama (Main masing-masing tahapan pekerjaan
kontraktor), responden dari konstruksi. Penjelasan Pasal 24
Perusahaan kontraktor tersebut ayat (1) menyebutkan,
dalam kontrak selaku perusahaan pengikutsertaan subpenyedia jasa
kontraktor biasanya juga dibatasi oleh adanya tuntutan
bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang memerlukan
pengadaan material yang akan keahlian khusus dan ditempuh
digunakan, selain itu perusahaan melalui mekanisme subkontrak.
harus menyediakan tenaga-tenaga Pada Peraturan presiden
kerja untuk melaksankan proyek No. 70 Tahun 2012 yang
tersebut. tercantum pada pasal 87 ayat 3
Perusahaan kontraktor berbunyi “ Penyedia Barang/Jasa
dalam menjalankan tugasnya juga dilarang mengalihkan pelaksanaan
harus menyediakan peralatan- pekerjaan utama berdasarkan
peralatan sendiri yang diperlukan Kontrak, dengan melakukan
untuk menangani proyek yang subkontrak kepada pihak lain,
dibebankan kepadanya, oleh karena kecuali sebagian pekerjaan utama
itu, dalam menjalankan kepada Penyedia Barang/Jasa
pekerjaannya perusahaan spesialis”, pasal tersebut mengatur
kontraktor biasanya membagi bahwa pengalihan untuk Sub
pekerjaannya dengan perusahaan Kontrak kepada Sub Kontraktor
kontraktor lain yang mempunyai dilarang untuk pekerjaan utama
keahlian yang diperlukan untuk kecuali sebagian pekerjaan utama
menyelesaikan suatu pekerjaan kepada sub kontraktor penyedia
yang tidak dikuasai oleh kontraktor barang/jasa spesialis, tetapi dalam
utama. Perusahaan yang peraturan presiden tersebut tidak
menjalankan pekerjaan kontraktor diatur secara jelas yang dimaksud
dari kontraktor lainnya biasa “Pekerjaan utama dan bukan
disebut sub kontraktor. pekerjaan utama”.
Undang-Undang Nomor 18 Akan tetapi Pada
Tahun 1999 Tentang Jasa Kenyataan Praktik (Das Sein)
Konstruksi tidak mengenal istilah Pelaksanaan Pengadaan
Pekerjaan Utama. UU Jasa Barang/Jasa Pemerintah tidak
Konstruksi hanya mengenal sejalan dengan Hukum dan Aturan
“penyedia jasa dan subpenyedia yang berlaku (Das Sollen),
jasa” diatur dalam pasal 24 UU beberapa Main Kontraktor
Jasa Konstruksi. Pasal ini melakukan Sub Kontrak kepada
menyebutkan bahwa penyedia jasa Pihak Sub Kontraktor, ketika Main
dalam penyelenggaraan pekerjaan Kontrak telah dibuat dan
konstruksi dapat menggunakan ditandatangani antara Pihak
subpenyedia jasa yang mempunyai Pengguna Barang Jasa yaitu
keahlian khusus sesuai dengan Instansi/Dinas Pemerintah Provinsi

165
dan Penyedia Barang/Jasa yaitu penyedia barang/jasa jika terjadi
Perusahaan Kontraktor sebagai wanprestasi sedangkan untuk pihak
Main Kontraktor. pertama sebagai pengguna
Begitu juga Fakta yang barang/jasa jika wanprestasi tidak
terjadi beberapa isi klausul pasal- akan dikenakan sanksi, secara jelas
pasal pada kontrak pengadaan pada Peraturan Presiden Nomor 70
barang/jasa pemerintah tidak sesuai Tahun 2012 tentang pengadaan
dengan Undang-Undang Nomor 18 barang/jasa pasal 118 angka 7
Tahun 1999 dan Peraturan Presiden mengenai sanksi mengatur juga
Nomor 54 Tahun 2010 Tentang sanksi untuk pengguna jasa, tidak
Pengadaaan Barang/Jasa hanya penyedia jasa,
Pemerintah, yang telah mengalami Kesetaraan yang dimaksud
perubahan pada Tanggal 1 Agustus terejawantahkan dalam pasal 2
2012 dengan Peraturan Presiden Undang- Undang Nomor 18 tahun
Nomor 70 Tahun 2012 Tentang 1999 tentang Jasa Konstruksi
Pengadaan Barang/ Jasa dinyatakan bahwa asas yang
Pemerintah, pada pasal 86 ayat (4) melandasi pengaturan jasa
hanya kontrak yang bernilai Rp konstruksi adalah antara lain asas
100.000.000.000,- (seratus miliar keadilan dan keseimbangan, selain
rupiah) yang hanya dilakukan itu dalam pasal 3b Undang-Undang
setelah memperoleh pendapat ahli Nomor 18 Tahun 1999, dinyatakan
Hukum Kontrak , Sehingga untuk bahwa salah satu tujuan pengaturan
Kontrak dibawah nilai tersebut jasa konstruksi adalah “untuk
tidak menggunakan ahli Hukum menjamin kesetaraan kedudukan
Kontrak, tetapi hanya pejabat antara pengguna jasa dan penyedia
Pengguna Barang/ jasa dalam hal jasa dalam hak dan kewajiban,
ini PA/KPA/PPK. serta meningkatkan kepatuhan
Ketidak Adilan kepada ketentuan perundang-
(UnFairness) persamaan undangan yang berlaku”, pada
kedudukan para pihak dalam Peraturan Presiden Nomor 70
Kontrak Pengadaan barang/jasa Tahun 2012 tentang pengadaan
pemerintah tertuang dalam Main barang/jasa pasal 118 angka 7
Kontrak Pengadaan barang/jasa mengenai sanksi mengatur juga
pemerintah, pada klausul pasal 20 sanksi untuk pengguna jasa, tidak
main kontrak/surat perjanjian hanya penyedia jasa,
antara responden Perusahaan Main Dari fakta hukum tersebut
Kontraktor Palembang dan sub kontrak lebih melindungi
Instansi/Dinas Pemerintah kepentingan pihak pembuat
Provinsi Sumatera Selatan hanya kontrak dalam hal ini main
menyatakan sanksi untuk pihak kontraktor dibandingkan dengan
kedua yaitu perusahaan sub kontraktor dalam sub kontrak
pemborong/kontraktor sebagai pengadaan barang/jasa pemerintah,

166
karena secara tidak langsung main
kontraktor merasa bertindak selaku 2. Rumusan Masalah
mewakili pemerintah sebagai pihak Berdasarkan uraian di
atas maka rumusan masalah
pemberi kerja (bouwheer)
adalah sebagai berikut :
pengguna barang/jasa terhadap sub
kontraktor, dan Sub Kontrak 1. Apakah pertimbangan Hukum
tersebut juga biasanya dibuat dalam pihak Main Kontraktor dan Sub
Kontrak Baku (Standard Contract), Kontraktor membuat Sub
yang tidak dibuat di hadapan Kontrak Pengadaan Barang/Jasa
Notaris yang berwenang. Hal Pemerintah ?
tersebut terjadi karena adanya 2. Bagaimana Hubungan Hukum
pembiaran “disengaja ataupun antara Sub Kontraktor dan Main
tidak disengaja” dari pihak Kontraktor dengan Pemerintah ?
Pemerintah Provinsi sebagai 3. Bagaimana Tanggung Jawab
pengguna barang/ jasa pemerintah Hukum Sub Kontraktor tentang
terhadap main kontraktor yang terjadinya wanprestasi oleh Sub
telah melakukan sub kontrak Kontraktor ?
kepada sub kontraktor terhadap 4. Mengapa Sub Kontrak
pemberlakuan dan penafsiran Pengadaan Barang/Jasa
aturan pada pasal 87 ayat 3 Perpres Pemerintah tidak dibuat di
Nomor 70 Tahun 2012, tentang hadapan Notaris, padahal Notaris
pelarangan sub kontrak. mempunyai wewenang
Kontrak pengadaan berdasarkan Undang-Undang
barang/jasa Pemerintah merupakan Nomor 30 Tahun 2004 untuk
Hukum perdata yang berlandaskan menjamin kepastian hukum dan
peraturan-peraturan dalam Hukum keadilan bagi para pihak (main
Administrasi Negara, bagi kontraktor dan sub kontraktor) ?
Masyarakat Awam masih banyak 5. Mengapa terdapat perbedaan
yang melakukan penandatangan pengaturan tentang Sub Kontrak
kontrak tanpa mengetahui dalam Perjanjian Pengadaan
konsekuensi bahwa tanda tangan Barang/Jasa Pemerintah pada
kontrak termasuk dalam wilayah Pasal 87 ayat (3) Peraturan
hukum. Kesalahan pada pembuatan Presiden Nomor 70 Tahun 2012
kontrak yang tidak sesuai dengan dilarang, sedangkan Pasal 24
Undang-Undang serta Kurangnya ayat (1) Undang-Undang Nomor
Pemahaman atas pengertian klausul 18 Tahun 1999 Tentang Jasa
pasal-pasal dalam Kontrak dapat Konstruksi memperbolehkan
menimbulkan tuntutan yang adanya Sub Kontrak oleh Sub
berakibat Kontrak dapat dibatalkan Penyedia dalam Perjanjian
atau Batal demi Hukum94.
Kontrak diluar KUHPerdata. Jakarta :
94
H.Salim Rajawali press, hlm.145.
HS..2006.Perkembangan Hukum

167
Pengadaan Barang/Jasa kewenangan yang dimilikinya, kecuali
Pemerintah ? dilarang oleh undang-undang
b. Teori Notaris sebagai Pejabat
B. Kerangka teori Publik
1. Grand Theory Dalam Wet op het Notarisambt
a. Teori Kepastian Hukum yang yang mulai berlaku tanggal 3 April
Berkeadilan 1999, Pasal 1 huruf a disebutkan bahwa
kepastian hukum tersebut “Notaris:de ambtenaar”, Notaris tidak
terdapat dalam Undang-Undang Nomor lagi disebut sebagai Openbaar
18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi Ambtenaar sebagaimana tercantum
dan Perpres Nomor 70 Tahun 2012 dalam Pasal 1 Wet op het Notarisambt
tentang pengadaan barang jasa, dan yang lama (diundangkan Juli 1842,Stb
Keadilan yang seharusnya akan 20). Tidak dirumuskan lagi Notaris
diwujudkan dalam Praktek Pelaksanaan sebagai Openbaar Ambtenaar
main kontrak/sub kontrak pengadaan
barang jasa pemerintah, oleh karena itu 3. Applied Theory
kepastian hukum yang diciptakan a. Asas Hukum Kontrak dari sisi
haruslah baik, agar dapat terciptanya Konstruksi Hukum Kontrak
keadilan antara para pihak yang b.Asas Konsensualitas
membuat kontrak pengadaan c. Asas Kebebasan Membuat Kontrak
barang/jasa pemerintah. d. Asas Kekuatan Mengikat Kontrak
b. Teori Tanggung Jawab Hukum e. Asas Keseimbangan
Tanggung Jawab Hukum f. Asas Itikad Baik
berdasarkan kesalahan (liability based
on fault) adalah tanggung jawab hukum C. Metode Penelitian
yang dipakai untuk sub kontraktor Tipe Penelitian ini menggunakan
tentang terjadinya wanprestasi dalam “paradigma hermeneutik”95, istilah
perjanjian sub kontrak pengadaan hermeneutik muncul pertama kali
barang/jasa pemerintah antara main pada karya seorang teolog Jerman
kontraktor dan sub kontraktor.
95
Selain paradigma
2. Middle Range Theory hermeneutik yang dianut oleh legal
hermeneutist,dalam ilmu hukum juga
a. Teori Kontrak Bersifat Kepublikan terdapat paradigm positivistic yang
(Publiekrechtelijk Overeenkomst) dianut oleh para legal positivist dan
paradigm empirik yang dianut oleh
Kontrak bersifat kepublikan
para social constructivist.Cermati,
timbul karena adanya kesepakatan dari Soetandyo, Wignyosoebroto.2003.
dua pihak atau lebih, yang satu atau dikutip dari Tesis Mahani. 2009.”
Penjualan Obyek Hak Tanggungan di
kedua pihak tersebut adalah badan Bawah Tangan dalam Rangka Eksekusi
hukum publik yang berwenang Hak Tanggungan pada Bank
membuat kontrak di bidang hukum BUMN/BUMD Di Kota Palembang
“Tesis, tidak
privat dan melaksanakan semua hak dan Diterbitkan.Palembang:Program studi
Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sriwijaya.hlm.51.

168
bernama Johann Konrad Danhauer Pelelangan Umum meliputi
(1603-1666) berjudul Hermeneutica tahapan sebagai berikut :
sacra, sive methodus 1) Pengumuman dan atau
Eksponendarums Sacrarum undangan prakualifikasi
Litterarum, yang tujuannya ialah selambat-lambatnya 7
memperoleh kebenaran dengan cara (tujuh) hari kerja;
menafsirkan teks berdasarkan 2) Pendaftaran dan
konteks yang sedang berlangsung, pengambilan Dokumen
secara sintetik dengan memadukan Kualifikasi dimulai sejak
pendapat yang berlawanan secara tanggal pengumuman
dialektik96 sampai dengan 1 (satu) hari
kerja sebelum batas akhir
Adapun hasil penelitian ini pemasukan Dokumen
dapat menjadi masukan dan Kualifikasi;
informasi apakah sub kontrak 3) Pembuktian Kualifikasi
pengadaan barang/jasa pemerintah 4) Penetapan Hasil Kualifikasi
masih dalam kontrak publik ataukah yang lulus tahap awal
termasuk dalam kontrak meliputi Izin
privat/perdata yang sesuai dengan Usaha,SPT/PPh atau PPN
kewenangan Notaris dalam Undang- sekurang-kurangnya 3 (tiga)
Undang Nomor 30 Tahun 2004. bulan terakhir dll;
5) Pengumuman hasil
D. Temuan Dan Analisis kualifikasi peserta yang lulus
1. Pertimbangan Hukum
pada tahap awal;
Pihak Main Konraktor Dan Sub
6) Sanggahan Kualifikasi
Kontraktor Membuat Sub
dilakukan selama 5 (lima)
Kontrak Pengadaan
hari kerja setelah
Barang/Jasa Pemerintah
pengumuman hasil
Dalam Proses Pengadaan
pemenang kualifikasi;
Barang/Jasa Pemerintah
7) Undangan kepada peserta
dilakukan dengan berbagai
yang lulus pada tahap awal
macam metode antara lain :
disampaikan 1 (satu) hari
Metode Pelelangan Umum.
kerja setelah selesainya masa
Pelelangan Terbatas, Pelelangan
sanggahan;
Sederhana, Penunjukkan
8) Pengambilan Dokumen
Langsung, Kontes atau
Pemilihan penyedia
Sayembara, adapun metode
barang/jasa;
9) Pemberian Penjelasan
96
(Aanwijzing) dilaksanakan
Mudjia Rahardjo. 2006.”
Hermeneutika:Para Tokoh dan
paling cepat 3 (tiga) hari
Gagasannya”.Jurnal Pendidikan sejak tanggal undangan
Penabur,No.05 Tahun IV/Desember : pelelangan;
63

169
10) Pemasukkan Dokumen barang/jasa kepada para
Penawaran dimulai 1 (satu) peserta selambat-lambatnya
hari kerja setelah pemberian 2 (dua) hari kerja setelah
penjelasan (Aanwijzing); diterimanya surat penetapan
11) Penyampaian dan penyedia barang/jasa dari
Pembukaan Dokumen pejabat yang berwenang;
Penawaran terdiri dari sistem 16) Sanggahan terhadap hasil
sampul I yang berisi data pengumuman selama 5
administrasi dan teknis dan (lima) hari kerja setelah
sistem sampul II yang berisi pengumuman pemenang dan
data harga penawaran yang masa sanggahan banding
akan dibuka setelah lulus selama 5 (lima) hari kerja
dalam sistem sampul I setelah menerima jawaban
12) Evaluasi Dokumen sanggahan;
Penawaran 17) Surat Penunjukan Penyedia
13) Pembuatan Berita Acara Barang/Jasa (SPPBJ)
Hasil Pelelangan memuat diterbitkan paling lambat 6
seluruh hasil evaluasi, hasil hari kerja setelah
pelaksanaan pelelangan, pengumuman penetapan
termasuk cara penilaian, pemenang pelelangan, atau
rumus-rumus yang paling lambat 2 (dua) hari
digunakan, sampai dengan kerja setelah adanya jawaban
penetapan urutan sanggahan banding dari
pemenangnya berupa daftar Menteri/Pimpinan
peserta pelelangan yang Lembaga/Kepala Daerah97,
dimulai dari harga Surat Penunjukan Penyedia
penawaran terendah, BAHP Barang/Jasa (SPPBJ)
bersifat rahasia sampai merupakan syarat bagi Pihak
dengan saat penandatangan Penyedia Barang/Jasa
kontrak; mendapatkan Bank Garansi
14) Penetapan Pemenang dari pihak Bank yang
selambat-lambatnya 5 (lima) ditunjuk oleh pihak
hari kerja untuk penetapan Pengguna Barang/Jasa,
oleh pengguna barang/jasa dengan Persyaratan Pihak
dan 14 (empat belas) hari Penyedia Barang/Jasa harus
kerja untuk penetapan oleh menyerahkan Jaminan
Menteri/Gubernur/Bupati/W Anggunan senilai 5% dari
alikota dan Direktur Utama Nilai Proyek yang
BUMN/BUMD;
15) Pengumuman Pemenang 97
Peraturan Presiden Nomor 70
diberitahukan oleh Tahun 2012,Tentang Pengadaan
Panitia/Pejabat pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Pasal 60 Ayat
(1) Huruf k.

170
dimenangkan kepada Pihak efektif kontrak terhitung sejak
Bank yang ditunjuk. tanggal penandatangan kontrak.
18) Kontrak Ditandatangani Seringkali setelah main kontrak
oleh para Pihak setelah antara pengguna barang/jasa dan
Penyedia Barang/Jasa penyedia barang/jasa ditandatangani,
menyerahkan Jaminan minimal 1 Bulan setelah Main Kontrak
Pelaksanaan/Bank Garansi menandatangani main kontrak, pihak
dari Bank yang ditunjuk main kontraktor selaku penyedia
kepada Pihak Pengguna barang jasa membuat sub kontrak
Barang/Jasa paling lambat kepada pihak sub kontraktor untuk
14 (empat belas) hari kerja disubkan pekerjaan-pekerjaan yang
terhitung sejak timbul dari main kontrak tersebut 99.
diterbitkannya SPPBJ98, Yang dimaksud dengan sub kontraktor
setelah kontrak adalah pihak ketiga yang dilibatkan
ditandatangani kedua belah oleh pihak kontraktor utama untuk
pihak, maka paling lambat 7 melaksankan kewajiban-kewajiban
hari kerja Pihak Pengguna tertentu yang terbit dari kontrak
Barang/Jasa akan konstruksi antara pihak kontraktor
menyerahkan Surat Perintah utama dengan yang memborongkan
Mulai Kerja (SPMK) diikuti pekerjaan yang mana dilakukan oleh
Berita Acara Serah Terima sub kontraktor untuk dan atas nama
Lapangan, setelah Uang pihak kontraktor utama100
Muka tahap awal diserahkan Sub kontrak yang dilakukan
kepada Pihak Penyedia antara pihak main kontraktor dan sub
Barang/Jasa melalui Bank kontraktor dilaksanakan dengan
yang Ditunjuk oleh beberapa pertimbangan hukum antara
Pengguna Barang/Jasa. lain, Klausul Pasal 8 ayat (1) pada
Setelah Kontrak Pengadaan perjanjian main kontraktor dengan
Barang/Jasa pemerintah pihak pengguna barang/jasa yang
ditandatangani oleh kedua belah memberikan kesempatan bekerjasama
pihak antara Pengguna barang/jasa dengan pengusaha golongan ekonomi
yaitu PPK/Pejabat Kuasa Pengguna lemah setempat antara lain supplier
Anggaran dan Pihak penyedia material atau jasa lainnya, dan hal
barang/jasa yaitu Direktur dalam tersebut diketahui oleh pihak pengguna
Perusahaan Main Kontraktor barang/jasa yaitu PPK/KPA walaupun
tersebut dan diketahui oleh Pejabat 99
Wawancara dengan Bpk.Tommy
Pengguna Anggaran yang selaku Direktur salah satu PT main kontraktor
berwenang dalam Kontrak yang pernah melakukan kontrak pengadaan
Pengadaan barang/jasa pemerintah barang/jasa di lingkungan Dinas Pekerjaan
Umum Provinsi Sumsel, tanggal 07 Mei 2012
tersebut, maka biasanya tanggal sampai dengan 3 Novembet 2012
100
Munir Fuady. 1998. Kontrak
pemborongan Mega Proyek, Bandung: PT.
98
Ibid.Pasal 86 ayat (3) Cipta Aditya Bakti.hlm.21.

171
tidak secara tertulis, karena tidak ada dengan main kontraktor, sekalipun
aturan khusus dalam main kontrak syarat dan ketentuan yang terdapat
tersebut yang menjelasakan kategori dalam kontrak utama (main contract)
perusahaan mana yang termasuk dalam harus diberlakukan pada sub kontrak,
perusahaan ekonomi lemah yang karena dari sisi Hukum perikatan,
diperbolehkan, sehingga sering sub antara kontrak pokok/utama dengan
kontraktor tersebut dianggap yang sub kontrak terpisah101
termasuk dalam golongan ekonomi
lemah sebagai alasan pembenaran, 3. Tanggung Jawab Hukum Sub
selain itu yang menjadi pertimbangan Kontraktor Tentang Terjadinya
hukum pihak main kontraktor Wanprestasi Oleh Sub
melakukan sub kontrak karena produk Kontraktor
fabrikasi khusus atau keahlian khusus Teori Tanggung Jawab Hukum
yang tidak dimiliki oleh pihak main mengartikan bahwa Tanggung Jawab
kontraktor untuk menghasilkan adalah suatu Kondisi yang
kualitas yang baik sesuai dengan yang mewajibkan seseorang harus
diperjanjikan dalam main kontrak, menanggung sesuatu jika terjadi hal
sehingga memerlukan sub kontraktor yang tidak dikehendaki, orang
untuk pencapaian prestasi dalam hal tersebut boleh disalahkan,
ruang lingkup yang diperjanjikan. diperkarakan, dituntut dan
102
sebagainya
2. Hubungan Hukum Antara Menurt Shidarta Prinsip Tanggung
Sub Kontraktor Dan Main Jawab dalam Hukum dapat dibedakan,
Kontraktor Dengan Pemerintah yaitu :
Asas kekuatan mengikat atau 1.Prinsip tanggung jawab berdasarkan
disebut juga asas pacta sunt servanda. kesalahan (liability based on fault)
Asas kekuatan mengikat dapat 2.Prinsip praduga untuk selalu
disimpulkan pada pasal 1338 bertanggung jawab (Presumption of
KUHPerdata dan 1340 KUHperdata liability)
yang menyebutkan bahwa 3.Prinsip praduga untuk tidak selalu
“Persetujuan-persetujuan hanya bertanggug jawab (Presumption of
berlaku antara pihak-pihak yang nonliability)
membuatnya” 4.Prinsip tanggung jawab mutlak (Strict
Hubungan hukum dalam kontrak liability)
pengadaan barang/jasa terjadi antara 5.Prinsip tanggug jawab dengan
pengguna barang/jasa dengan pembatasan (limitation of liability).
penyedia barang/jasa. Hanya Kedua 101
Y.Sogar Simamora.2012.Hukum
pihak inilah yang secara hukum saling Kontrak.Kontrak Pengadaaan Barang dan
terikat pada kontrak. Dengan adanya Jasa Pemerintah di Indonesia. Surabaya :
sub kontrak, sub kontraktor tidak Laksbang Justitia Surabaya dan Kantor
Hukum “WINS & Partners”. Hlm.257.
berhubungan langsung dengan 102
Peter Salim dan yenny
pengguna barang/jasa melainkan Salim.Kamus Bahasa Indonesia
Kontemporer. hlm 1538

172
Prinsip Privity sebagaimana dibuat dan ditandatangani oleh
Nampak dari Pasal 1340 ayat (2) PPK/KPA yang berwenang sebagai
KUHPerdata “Persetujuan-Persetujuan Pejabat Pemerintah/Negara (pejabat
itu tidak dapat membawa rugi kepada publik), dan tidak mengatur Main
pihak-pihak ketiga…..” , hal tersebut kontrak pengadaan barang/jasa
membawa implikasi bahwa pengguna pemerintah dibuat oleh dan dihadapan
barang/jasa tidak dapat secara langsung Notaris.
menuntut kepada sub kontraktor apabila Kesengajaan pihak main
terjadi wanprestasi yang dilakukan sub kontraktor dan sub kontraktor tidak
kontraktor, sekalipun terjadinya sub membuat sub kontrak dihadapan
kontrak itu atas persetujuan pengguna Notaris karena aturan dalam Perpres
barang/jasa, demikian juga berlaku tentang Pengadaan Barang/Jasa
sebaliknya bahwa pihak sub kontraktor Pemerintah tentang Pelarangan Sub
tidak dapat secara langsung menuntut Kontrak tersebut tidak jelas dan masih
pihak pengguna barang/jasa dalam wilayah “grey zone” (zona abu-
(pemerintah) melainkan pihak main abu), begitupun terhadap pihak PPK
kontraktor sebagai pihak dalam sub dan KPA, walaupun mereka tahu
kontrak tersebut. melakukan sub kontrak PPK tidak
Oleh karena itu tanggung jawab mau memberikan persetujuan tertulis
Sub kontraktor apabila terjadi dan tidak juga melarang melakukan
wanprestasi hanya kepada main sub kontrak alasan yang PPK katakan
kontraktor dalam sub kontrak, tetapi yang penting “proyek” ini
tidak kepada pihak pengguna diselesaikan tepat waktu dan sesuai
barang/jasa dalam hal ini PPK/KPA dengan BESTEK nya dan mereka
(pemerintah), sedangkan pihak main melimpahkan tanggung jawab penuh
kontraktor bertanggung jawab penuh terhadap main kontraktor selaku pihak
terhadap pengguna barang/jasa main kontraktor walau mereka
(pemerintah) jika terjadi wanprestasi mengetahui sub kontraktor tersebut”103
dalam pelaksanaan prestasi yang Dilarangnya sub kontrak
diperjanjikan dalam main kontrak sebagaimana tercantum Pada Peraturan
pengadaan barang/jasa pemerintah Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang
tersebut. Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
dalam pasal 87 ayat 3 berbunyi “
4. Alasan-Alasan Sub Kontrak Penyedia Barang/Jasa dilarang
Pengadaan Barang/Jasa mengalihkan pelaksanaan pekerjaan
Pemerintah Tidak Dibuat Di utama berdasarkan Kontrak, dengan
Hadapan Notaris
Pada Pasal 50 Jo Pasal 86 Perpres 103
Wawancara dengan Bpk.Wani
Nomor 70 Tahun 2012 tentang selaku Direktur salah satu PT main kontraktor
yang pernah melakukan kontrak pengadaan
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah barang/jasa di lingkungan Dinas Pekerjaan
mengatur bahwa Main Kontrak Umum Provinsi Sumsel, tanggal 21 februari
Perjanjian pengadaan barang/jasa 2013.

173
melakukan subkontrak kepada pihak bertujuan memberikan peluang bagi
lain, kecuali sebagian pekerjaan utama subpenyedia jasa yang mempunyai
kepada Penyedia Barang/Jasa keahlian spesifik melalui mekanisme
spesialis”, pasal tersebut mengatur keterkaitan dengan penyedia jasa
bahwa pengalihan untuk Sub Kontrak Pada Peraturan presiden No. 70
kepada Sub Kontraktor dilarang untuk Tahun 2012 yang tercantum pada
pekerjaan utama, tetapi Dibolehkan pasal 87 ayat (3) berbunyi “ Penyedia
untuk sebagian pekerjaan utama kepada Barang/Jasa dilarang mengalihkan
sub kontraktor penyedia barang/jasa pelaksanaan pekerjaan utama
spesialis, tetapi dalam peraturan berdasarkan Kontrak, dengan
presiden tersebut tidak diatur secara melakukan subkontrak kepada pihak
jelas yang dimaksud “Pekerjaan utama lain, kecuali sebagian pekerjaan
dan bukan pekerjaan utama”. utama kepada Penyedia Barang/Jasa
5. Perbedaan Pengaturan spesialis”,
Hukum Tentang Sub Kontrak Berdasarkan Pasal 87 ayat (3)
Dalam Perjanjian Pengadaan Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun
Barang/Jasa Pemerintah 2012 tentang pengadaan Barang/Jasa
Undang-Undang Nomor 18 maka mengandung pengertian bahwa :
Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi a. Penyedia Barang/Jasa
tidak mengenal istilah Pekerjaan Utama. disebut Main Kontraktor;
UU Jasa Konstruksi hanya mengenal b. Main Kontraktor Dilarang
“penyedia jasa dan subpenyedia jasa” mengalihkan Pekerjaan
diatur dalam Pasal 24 ayat (1) UU Jasa Utama berdasarkan Main
Konstruksi. Pasal ini menyebutkan Kontrak;
bahwa “Penyedia jasa dalam c. Main Kontraktor Dilarang
penyelenggaraan pekerjaan konstruksi melakukan Sub Kontrak
dapat menggunakan subpenyedia jasa untuk pelaksanaan pekerjaan
yang mempunyai keahlian khusus utama;
sesuai dengan masing-masing tahapan d. Diperbolehkan Sub Kontrak
pekerjaan konstruksi”. untuk sebagian pekerjaan
Penjelasan Pasal 24 ayat (1) utama kepada penyedia
menyebutkan, pengikutsertaan barang/jasa (sub kontraktor)
subpenyedia jasa dibatasi oleh adanya spesialis.
tuntutan pekerjaan yang memerlukan e. Sub Kontrak sebagian
keahlian khusus dan ditempuh melalui pekerjaan utama kepada sub
mekanisme subkontrak, dengan tidak kontraktor harus melalui
mengurangi tanggung jawab penyedia persetujuan pengguna
jasa terhadap seluruh hasil barang/jasa (PPK)
pekerjaannya. Bagian Pekerjaan yang f. Sub Kontrak untuk sebagian
akan dilaksanakan sub penyedia jasa pekerjaan utama bagi
harus mendapat persetujuan pengguna Penyedia jasa Golongan
jasa. Pengikutsertaan subpenyedia jasa Ekonomi Lemah.

174
Kontrak Penyedia dan
awal karena Pengguna
Matrik Perbedaan Pengaturan Sub Tidak ada Barang/Jasa
Kontrak antara Undang-Undang Nomor batasan
18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi pekerjaan
dan Peraturan Presiden Nomor 70 Utama dan
Tahun 2012 Tentang Pengadaan Khusus
Barang/Jasa Pemerintah 4.Tanggu Bertanggun Tidak
Materi UU PerPres ng Jawab g Jawab Bertanggung
Pengatu No.18/1999 No.70/2012 Moril secara Moril Jawab secara
ran Penggun karena Moril
1.Pengat Memperbole Melarang Sub a berdasarkan terhadap Sub
uran Sub hkan Sub Kontrak barang/J Izin Kontrak yang
Kontrak Kontrak dan Untuk asa Pengguna tidak diatur
Tidak ada Pekerjaan Barang/Jasa pada Main
Batasan Sub Utama yang tentang Kontrak awal
Kontraktor dibatasi kedudukan
Untuk dengan Sub Kontrak
Keahlian Sebagian
Khusus Pekerjaan
Utama untuk E. Penutup
Sub 1. Kesimpulan
Kontraktor 1. Pertimbangan Hukum pihak
Yang Main Kontraktor dan Sub
mempunyai Kontraktor membuat Sub
Keahlian Kontrak Pengadaan Barang/Jasa
Spesialis Pemerintah adalah karena Pada
2.Spesifi Sub Sub Kontrak Klausul Pasal 8 ayat (1) pada
kasi Sub Penyedia bagi Penyedia perjanjian main kontraktor
Kontrak Jasa yang Jasa Spesialis dengan pihak pengguna
mempunyai dan Golongan barang/jasa pemerintah yang
Keahlian Ekonomi memberikan kesempatan
Khusus saja Lemah bekerjasama dengan pengusaha
3.Proses Sub Kontrak Sub Kontrak golongan ekonomi lemah, yang
Sub dapat tidak dapat juga menjadi pertimbangan
Kontrak dilakukan dilakukan/dil hukum pihak main kontraktor
kapan saja arang apabila melakukan sub kontrak karena
walau Tidak Tidak Diatur produk fabrikasi khusus atau
Diatur dalam Main keahlian khusus yang tidak
didalam Kontrak awal dimiliki oleh pihak main
Main antara kontraktor untuk menghasilkan

175
kualitas yang baik sesuai dengan 4. Sub Kontrak Pengadaan
yang diperjanjikan dalam main Barang/Jasa Pemerintah tidak
kontrak, Pertimbangan Non dibuat di hadapan Notaris yang
Hukum pihak main kontraktor mempunyai wewenang
melakukan sub kontrak kepada berdasarkan Undang-Undang
sub kontraktor adalah efisiensi Nomor 30 Tahun 2004 tentang
biaya yang lebih rendah dengan Jabatan Notaris untuk menjamin
melakukan sub kontrak. kepastian hukum dan keadilan
2. Hubungan Hukum bagi para pihak, karena belum
(rechtsverhouding) antara Sub jelasnya aturan mengenai
Kontraktor dan Main Kontraktor larangan dalam sub kontrak
dengan Pemerintah adalah yang diatur dalam Pasal 87 ayat
Hubungan Hukum Kontraktual (3) Perpres Nomor 70 Tahun
antara Main Kontraktor sebagai 2012 tentang Pengadaan
pihak penyedia barang/jasa dan barang/jasa. Dan Pasal 50 Jo
Sub Kontraktor yang dituangkan Pasal 86 Perpres Nomor 70
dalam perjanjian sub kontrak Tahun 2012 hanya mengatur
tidak mengikat (verbinden) Kontrak Pengadaan Barang/Jasa
terhadap pihak pengguna dibuat oleh dan dihadapan
barang/jasa Pemerintah yakni PPK/KPA dan bukan Notaris.
PPK/KPA, tetapi hubungan 5. Perbedaan pengaturan sub
hukum (rechtsverhouding) kontrak pada perjanjian
hanya mengikat (verbinden) pengadaan barang/jasa
bagi main kontraktor dan sub pemerintah adalah bahwa Pada
kontraktor saja. Pasal 87 ayat (3) Peraturan
3. Tanggung Jawab Hukum Sub Presiden Nomor 70 Tahun 2012
Kontraktor tentang terjadinya bahwa Sub Kontrak Dilarang
wanprestasi oleh Sub Kontraktor untuk seluruh pekerjaan utama
adalah hanya kepada main tetapi diperbolehkan untuk
kontraktor dalam sub kontrak, sebagian pekerjaan utama, bagi
tetapi tidak kepada pihak sub kontraktor yang mempunyai
pengguna barang/jasa dalam hal keahlian khusus/spesialis
ini PPK/KPA (pemerintah), maupun sub kontraktor yang
sedangkan pihak main masuk dalam kategori usaha
kontraktor bertanggaung jawab ekonomi lemah atau Usaha
penuh terhadap pengguna Kecil yang diatur dalam
barang/jasa (pemerintah) jika Undang-Undang Republik
terjadi wanprestasi dalam Indonesia Nomor 20 Tahun 2008
pelaksanaan prestasi yang tentang Usaha Mikro, Kecil,
diperjanjikan dalam main dan, Menengah yang mendapat
kontrak pengadaan barang/jasa persetujuan terlebih dahulu dari
pemerintah PPK/KPA sedangkan pada Pasal

176
24 ayat (1) Undang-Undang 3. Harus ada Lembaga Independen
Nomor 18 Tahun 1999 Tentang yang menilai kelayakan setiap
Jasa Konstruksi bahwa sub Perusahaan yang mengikuti
kontrak diperbolehkan hanya Lelang Pengadaan Barang/Jasa
sepanjang adanya tuntutan Pemerintah dari Tahap awal
pekerjaan yang memerlukan sampai dengan Tahap Penentuan
keahlian khusus dan harus Pemenang Lelang Pengadaan
mendapat persetujuan pengguna Barang/Jasa Pemerintah dan
barang/jasa. tidak hanya pihak pemerintah
2. Saran yang menilai, hal ini untuk
1. Agar Para Pihak sub kontraktor menghindari praktek
maupun main kontraktor tidak penyalahgunaan kewenangan
menyalahi dan melanggar aturan (Deteournement De Pouvoir)
mengenai sub kontrak pada yang dimiliki oleh Pemerintah
Pasal 87 ayat (3) Nomor 70 dalam mencapai Tujuan
Tahun 2013, maka seharusnya Pengadaan Barang/ Jasa.
dari Tahap awal akan diadakan 4. Jalan keluar bagi para pihak
nya Proyek Pengadaan yang ingin mengadakan sub
Barang/Jasa Pemerintah kontrak tetapi tidak
ditentukan secara jelas dan tegas diperbolehkan atau tidak diatur
apakah proyek tersebut dapat secara tegas oleh PPK/KPA
dilakukan sub kontrak atau tidak dalam Tahap awal Proyek
dan jenis pekerjaan apa saja pengadaan barang/jasa
yang dapat disub kontrakkan pemerintah adalah dengan Akta
yang juga diatur secara jelas dan Konsorsium Perjanjian
terperinci sampai dengan Tahap Kemitraan untuk Kerjasama
dibuatnya kesepakatan main Operasi (KSO) yang diatur
Kontrak/Perjanjian antara dalam BAB III Instruksi Kepada
Pengguna barang/jasa Peserta Pengadaan (IKPP) pada
Pemerintah dan penyedia Lampiran Peraturan Kepala
barang/jasa pemerintah Lembaga Kebijakan Pengadaan
2. Sub kontraktor dan Main Barang/Jasa Pemerintah Nomor
Kontrak dibuat harus terlebih 6 Tahun 2012 tentang Petunjuk
dahulu mendapat persetujuan Teknis Peraturan Presiden
tertulis dari PPK/KPA sebagai Nomor 70 Tahun 2012 tentang
pihak pengguna barang/jasa Perubahan kedua atas Peraturan
pemerintah dalam perjanjian Presiden Nomor 54 tahun 2010
utama/main kontrak agar Tentang Pengadaan Barang/Jasa
mempunyai Hubungan Hukum Pemerintah yang mengatur
(rechtsverhouding dan Tanggung bahwa Perjanjian/Akta
Jawab Hukum yang Jelas antara Konsorsium para pihak harus
Para Pihak. dibuat dihadapan Notaris

177
sebagai Pejabat Publik yang Hukum Dalam dan
berwenang, dan dibutuhkan Proyek dan Sumber
peran aktif pemerintah dalam hal Daya Manusia. Jakarta:
ini panitia maupun PPK/KPA Rhineka Cipta.
yang mensosialisasikan hal
tersebut kepada para peserta H,Salim,HS. 2005. Hukum
lelang mulai dari tahap awal Kontrak Teori dan
lelang pengadaan barang/jasa Praktek. Jakarta: Sinar
pemerintah akan dilaksanakan. Grafika.
5. Undang-Undang Nomor 18
Tahun 1999 tentang Jasa Fuady, Munir 1998. Kontrak
Konstruksi harus segera di pemborongan Mega
Amandemen karena sudah tidak Proyek, Bandung: PT.
sesuai lagi dengan kondisi Cipta Aditya Bakti
Pengadaan Barang/Jasa saat ini,
Peraturan Presiden Nomor 70 Mudjia Rahardjo. 2006.
Tahun 2012 tentang perubahan “Hermeneutik : Para
kedua atas Peraturan Presiden Tokoh dan Gagasannya”
Nomor 54 Tahun 2010 tentang Jurnal Pendidikan
Pengadaan Barang/Jasa Penabur No.05 Tahun
Pemerintah yang pada IV/Desember
kenyataannya tidak banyak
berbeda, harus dirubah karena Malongsoeso, Soekarno.
beberapa Pasal-Pasal yang diatur 1986.Syarat Umum
didalamnya yang lebih Untuk Bangunan Yang
mementingkan kepentingan Dilelangkan.Jakarta:Rhi
Pemerintah dan bertentangan neka Cipta.
dengan Tujuan Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah yang Syaifuddin, Muhammad. 2012.
berpondasi pada Good Hukum Kontrak,
Governance dan Clean Memahami Kontrak
Government, Dalam Perspektif
Filsafat, Teori,
Dogmatik, dan Praktik
Hukum(Seri Pengayaan
Hukum
Daftar Pustaka Perikatan).Bandung :
CV Mandar Maju.
A. Buku
Sutedi, Adrian. 2012. Aspek
Djumialdji. 1996. Hukum Hukum Pengadaan
Bangunan Dasar-Dasar barang & Jasa dan

178
berbagai
permasalahannya.
Jakarta : Sinar Grafika

Yohanes, Sogar Simamora. 2009.


Hukum Perjanjian &
Prinsip Hukum Kontrak
Pengadaan Barang/Jasa
Oleh Pemerintah.
Yogyakarta: Laksbang
Pressindo.

B. Peraturan Perundang-
Undangan

Kitab Undang-Undang Hukum


Perdata

Undang-Undang Nomor 18 Tahun


1999 Tentang Jasa
Konstruksi

Undang-Undang Nomor 30 Tahun


2004 Tentang Jabatan
Notaris

Peraturan Presiden Republik


Indonesia Nomor 70
Tahun 2012 Tentang
Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah atas
Perubahan Kedua
Peraturan Presiden
Republik Indonesia
Nomor 54 Tahun 2010
Tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah,
sebagai pengganti
Keputusan presiden
Nomor 80 Tahun 2003

179
ANALISIS TERHADAP PENGERTIAN ORANG LAIN
PEMANGKU JABATAN NOTARIS DALAM KETENTUAN PASAL 3 AYAT (3)
KODE ETIK NOTARIS KAITANNYA DENGAN KEWAJIBAN NOTARIS DALAM
PASAL 16 AYAT (1) HURUF (a) UNDANG-UNDANG JABATAN NOTARIS104

Oleh :
FERIKA PRAMITHA MULYANI105, M. SAYFUDDIN, AMRULLAH ARPAN

Abstract : A law must contain a clear and complete formulation to avoid


various interpretations. In relation to Article 3 Paragraph (3) of the Code
of conduct of the Notary with Article 82 No. 30 of 2004 concerning the
Notary as amended by Act No. 2 of 2014, states that the Notary shall
take shelter in an organization that Indonesian Notaries Association
(I.N.I). The Code of Conduct is a moral code. The Legal issues in this
thesis, namely the provisions of the Code of conduct of the Notary
mentions the word of another person who hold and run up the position of
public Notary. This means that another person besides the public Notary
who can hold the position of Public Notary. Whoever the another person,
what criteria of another person and what sanctions that may be imposed
on such another person when making a mistake and violate the Code of
Conduct and Law of Public Notary, and how when the same material is
set out in the Code of Conduct as a norm of conduct and UUJN as legal
norms, then what kind of the norm, whether included in the ethical
norms, legal norms or both that norms of ethics and legal norms. This
type of research of this thesis is a normative legal research, which forms
the legal research conducted by examining the law material of
secondary data by the method of approach to philosophy, law and
conceptual approaches, and techniques concluding with the deductive
method. Based on the research results can be concluded another person
referred to in the Code of Conduct is the Substitute of Public Notary and
Interim Public Notary also applies to it all the provisions applicable to the
Notary. Another person can also be checked and sentenced for the
violations and mistakes he was done.
Keywords: the Public Notary, Another Person, the Code of conduct

104
Artikel ini merupakan ringkasan Tesis yang berjudul : Analisis Terhadap
Pengertian Orang Lain Pemangku Jabatan Notaris Dalam Ketentuan Pasal 3 Ayat (3)
Kode Etik Notaris Kaitannya dengan Kewajiban Notaris dalam Pasal 16 Ayat (1) Huruf
(a) Undang-Undang Jabatan Notaris. Ditulis oleh Ferika Pramitha Mulyani, SH.
Pembimbing I : Dr. M. Syaifuddin, SH., M.Hum., Pembimbing II : H. Amrullah Arpan SH.,
SU., Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sriwijaya Palembang.
105
Penulis adalah Mahasiswa Magister Kenotariatan Universitas Sriwijaya
Palembang Angkatan 2012.

180
A. Pendahuluan tersebut, terkait pemikiran tentang
1. Latar Belakang perbedaan antara norma hukum
Isu hukum yang Penulis angkat dengan norma etik, dimana Penulis
dalam penelitian tesis tersebut yaitu melihat adanya unsur kesamaan isi
mengkaji ketentuan dalam Kode Etik antara ketentuan dalam Pasal 3 Ayat
Notaris dimana terdapat frasa Notaris (3) Kode Etik dengan ketentuan
dan orang lain yang memangku dan dalam Pasal 16 Ayat (1) huruf (a)
menjalankan Jabatan Notaris, UUJN. Bila materi yang sama diatur
sebagaimana disebutkan dalam Pasal dalam Kode Etik sebagai norma etik
3 Ayat (3) Kode Etik Notaris yang dan UUJN sebagai norma hukum,
mengatur mengenai kewajiban lalu bagaimana jenis norma tersebut,
Notaris. Notaris sebagai Pejabat apakah termasuk dalam norma etik,
Umum yang diangkat dan disumpah norma hukum atau kedua-duanya
oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi yaitu norma etik dan norma hukum,
Manusia Republik Indonesia, pada oleh karena itu perlu ada kejelasan
praktiknya dilakukan Oleh Kepala antar norma tersebut. Karena untuk
Kantor Wilayah Kementerian Hukum menentukan kekuatan mengikat
dan Hak Asasi Manusia Republik norma tersebut dan pengaturan serta
Indonesia. Untuk dapat menjabat kewajiban yang harus diikuti
sebagai Notaris, seseorang harus terhadap norma tersebut.107
melalui tahapan jenjang pendidikan, Berdasarkan uraian isu hukum yang
dimulai dari Strata 1 yaitu Sarjana Penulis temukan sebagaimana
Hukum, dilanjutkan dengan jenjang tersebut di atas, Penulis tertarik untuk
Pendidikan Strata 2, saat ini disebut melakukan penelitian tesis dengan
Magister Kenotariatan, kemudian kajian “ANALISIS TERHADAP
mendaftarkan diri sebagai Anggota PENGERTIAN ORANG LAIN
Ikatan Notaris Indonesia Luar Biasa, PEMANGKU JABATAN
mengikuti Tes Kode Etik dan terakhir NOTARIS DALAM KETENTUAN
mengikuti pelatihan dan ujian Sistem PASAL 3 AYAT (3) KODE ETIK
Administrasi Badan Hukum.106 NOTARIS KAITANNYA
Sehubungan dengan apa yang
DENGAN KEWAJIBAN
Penulis teliti dalam penelitian tesis
NOTARIS DALAM PASAL 16
106
AYAT (1) HURUF (a) UNDANG-
Ferika Pramitha Mulyani, 2014,
Analisis Terhadap Pengertian Orang UNDANG JABATAN NOTARIS”.
Lain Pemangku Jabatan Notaris Dalam 2. Rumusan Masalah
Ketentuan Pasal 3 Ayat (3) Kode Etik Adapun rumusan permasalahan, yaitu
Notaris Kaitannya dengan Kewajiban :
Notaris Dalam Pasal 16 Ayat (1) Huruf
(a) Undang-Undang Jabatan Notaris
(Tesis Magister Kenotariatan Universitas
107
Sriwijaya, Palembang, 2014) hlm. 4 Ibid. hlm. 7

181
1) Bagaimana keterkaitan Kode Etik tercabutnya hak seseorang atau
Notaris dengan Undang-Undang terbebaninnya seseorang atas suatu
Nomor 30 tahun 2004 tentang kewajiban.109
Jabatan Notaris sebagaimana
2. Pengawasan Notaris
diubah dengan Undang-Undang
Pengawasan terhadap Notaris
Nomor 2 tahun 2014 ? diharapkan agar para Notaris dalam
2) Bagaimana tafsir pengertian menjalankan tugas jabatannya dapat
orang lain yang memangku dan selalu dan lebih meningkatkan
menjalankan Jabatan Notaris kualitas pelayanan kepada
dalam Ketentuan Pasal 3 Ayat (3) masyarakat yang membutuhkan
Kode Etik Notaris ? bantuan jasa Notaris. Fungsi
3) Bagaimana lingkup orang lain preventif dilakukan oleh Negara
sebagai subjek pelanggaran Kode sebagai pemberi wewenang yang
dilimpahkan pada instansi
Etik Notaris dapat diperiksa atau
pemerintah disebut Majelis
disidangkan oleh Dewan Pengawas Notaris. Fungsi represif
Kehormatan Notaris ? dilakukan oleh organisasi profesi
jabatan Notaris dengan acuan
B. Kerangka Konseptual kepada Undang-Undang jabatan
1. Notaris Notaris dan Kode Etik Notaris
Pasal 1 angka 1 UUJN, disebut Dewan Kehormatan
disebutkan Notaris sebagai pejabat Notaris, berdasarkan ketentuan
umum yang berwenang untuk Pasal 66 A disebut Majelis
membuat akta autentik dan Kehormatan Notaris. 110
kewenangan lainnya. Artinya
Notaris memliki tugas sebagai C. Metode Penelitian
pejabat umum dan memiliki Jenis penelitian ini adalah
wewenang untuk membuat akta penelitian hukum normatif yang
autentik serta kewenangan lainnya dilakukan dengan cara meneiliti
yang diatur oleh UUJN. 108 Notaris bahan hukum pustaka data
merupakan profesi hukum. Notaris sekunder. 111
Meliputi penelitian
merupakan profesi mulia (nobile
terhadap asas-asas hukum, kaidah-
officium), dikarenakan sangat erat
hubungannya dengan kemanusiaan. 109
Ibid. hlm. 25.
Akta yang dibuat oleh Notaris dapat 110
Wiratni Ahmadi. Kode Etik
menjadi alas hukum atas status Notaris.Wacana Paramita. hlm. 29.
harta benda, hak dan kewajiban Notaris dan Staf Pengajar Luar Biasa
seseorang. Kekeliruan atas akta pada Fakultas Hukum dan Program
Pasca Sarjana Universitas Padajaran.
Notaris dapat menyebabkan
Disampaikan pada pembekalan Ujian
Kode Etik Ikatan Notaris Indonesia.
108 111
Abdul Ghofur Anshori. 2009. Soejono Soekanto. 1985.
Lembaga Kenotariatan Indonesia Penelitian Hukum Normatif Suatu
Perspektif Hukum dan Etika. Yogyakarta Tinjauan Singkat. Jakarta : PT. Raja
: UII Press. hlm. 14. Grafindo Persada. Hlm 14.

182
kaidah hukum, doktrin serta tersebut sebagai pelanggaran
Perundang-Undangan yang norma hukum, namun
berkaitan dengan frasa “orang lain” pelanggaran tersebut tetap
dalam Kode Etik Notaris dan dikatakan sebagai
Kewajiban Notaris sebagaimana pelanggaran norma etik.
diatur dalam Pasal 3 Ayat (3) Kode
Etik dan Pasal 16 Ayat (1) huruf (a) 2. Orang Lain Pemangku Jabatan
Undang-Undang Jabatan Notaris. Notaris Dalam Ketentuan Pasal
Penarikan kesimpulan dengan 3 Ayat (3) Kode Etik Notaris
Pengertian orang lain
metode deduktif yang bersifat umum
berdasarkan hasil penelitian tesis
menjadi kesimpulan yang bersifat
tersebut yaitu sama dengan
khusus.
Notaris Pengganti dan Pejabat
D. Temuan dan Analisa Sementara Notaris, merupakan
1. Keterkaitan Kode Etik Notaris karyawan Notaris yang telah
Dengan Undang-Undang berpengalaman mendampingi
Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Notaris dalam praktek, dan
Jabatan Notaris Sebagaimana memiliki kriteria berpendidi-kan
Diubah Dengan Undang- cukup (Sarjana Hukum), amanah,
Undang 2 Tahun 2014 jujur, dapat dipercaya, bertaqwa,
Keterkaitan Kode Etik dan telah bekerja selama
Notaris dengan Undang-Undang 2 (dua) tahun di Kantor Notaris
Nomor 30 Tahun 2004 tentang yang akan digantikkannya.
Jabatan Notaris sebagaimana Pejabat Sementara Notaris ,
telah diubah dengan Undang- Pasal 1 Angka (2) UUJN, yaitu :
Undang Nomor 2 Tahun 2014, seorang yang untuk sementara
memiliki 2 (dua) perspektif menjabat sebagai Notaris untuk
(sudut pandang), yaitu : menjalankan jabatan Notaris yang
(1) Kedudukan kode etik sebagai meninggal dunia, diberhentikan,
norma etik bukan norma atau diberhentikan sementara.
hukum, sehingga pelanggaran Sedangkan Notaris Pengganti,
terhadap norma etik juga Pasal 1 Angka (3) UUJN, yaitu :
secara tidak langsung dapat seorang yang untuk sementara
dikatakan sebagai diangkat sebagai Notaris untuk
pelanggaran norma hukum menggantikan Notaris yang
dengan dasar melanggar Pasal sedang cuti, sakit, atau untuk
82 UUJN. sementara berhalangan
(2) Pelanggaran terhadap Kode
Etik Notaris tidak serta merta
menjadikan pelanggaran

183
menjalankan jabatannya sebagai 2. Akta tidak dibacakan oleh
Notaris.112 Notaris, tidak
Adapun Kriteria orang lain ditandatangani di hadapan
yang memangku dan menjalankan Notaris.
jabatan Notaris, yaitu : 3. Notaris membuat akta diluar
1. Warga Negara Indonesia (Setia wilayah jabatannya.
kepada Pancasila dan Undang- Dalam menjalankan
Undang Dasar Negara jabatannya, Pertanggung
Republik Indonesia Tahun jawaban Notaris, Notaris
1945;); Pengganti, dan Pejabat
2. Sarjana Hukum; Sementara Notaris dapat
3. Bertaqwa kepada Tuhan Yang diminta sepanjang mereka
Maha Esa; masing berwenang dalam
4. Sehat Jasmani, rohani/jiwa; melaksanakan tugas jabatan
5. berumur minimal 27 (duapuluh sebagai Notaris, atau
kesalahan-kesalahan yang
tujuh) tahun;;
dilakukan dalam menjalankan
6. Tidak pernah terlibat dalam
tugas jabatan sebagai Notaris
tindakan kriminal; dan sanksi-sanksi yang dapat
7. Telah bekerja selama 2 (dua) dikenakan terhadap Notaris
tahun pada Kantor Notaris yang dapat dijatuhkan sepanjang
akan digantikkanya. Notaris, Notaris Pengganti dan
3. Lingkup Orang Lain Sebagai Pejabat Sementara Notaris
Subjek Pelanggaran Kode Etik masih berwenang untuk
Yang Dapat Diperiksa atau melaksanakan tugas jabatan
Disidangkan Oleh Majelis sebagai Notaris.
Sanksi sebagai bentuk
Kehormatan Notaris
Pertanggung Jawaban Notaris,
Dikatakan lingkup
dapat dibagi menjadi 3 (tiga)
pelanggaran terhadap Kode Etik aspek tanggung gugat, yaitu :
Notaris dan UUJN yang dapat 1. Aspek Tanggung Gugat
dilakukan oleh orang lain yang Keperdataan
memangku dan menjalankan Sanksi keperdataan
jabatan Notaris, hal tersebut adalah sanksi yang diijatuhkan
melanggar ketentuan Pasal 16 terhadap kesalahan yang terjadi
Ayat (1) UUJN yaitu : karena wan prestasi, atau
1. Akta dibuat tanpa dihadiri perbuatan melanggar hukum
onrechtmatige daad, sanksi ini
oleh saksi-saksi;
berupa penggantian biaya ganti
rugi dan bunga merupakan
112
Undang-Undang Nomor 2 akibat yang akan diterima
Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Notaris dari gugatan para
UndangUndang Nomor 30 Tahun 2004 penghadap apabila akta
Tentang Jabatan Notaris

184
bersangkutan hanya yang berada dalam tatanan
mempunyai pembuktian hukum perdata. Pada
sebagai akta di bawah tangan. praktiknya dapat dikatakan,
113
Notaris membuat akta atas
2. Aspek Tanggung Gugat permintaan dari para pihak
Administratif yang menghadap, tanpa ada
Dalam UUJN di atur permintaan, Notaris tidak akan
bahwa ketika Notaris dalam membuat akta apapun, dan
menjalankan tugas dan Notaris membuat akta yang
jabatannya terbukti melakukan dimaksud berdasarkan alat
pelanggaran, Notaris dapat bukti, keterangan atau
dikenai atau dijatuhi sanksi pernyataan penghadap yang
berupa sanksi perdata dan dinyatakan, diterangkan atau
sanksi administrasi. diperlihatkan kepada Notaris.
Penjatuhan sanksi- Setelah memperoleh seluruh
sanksi administratif dilakukan kelengkapan dokumen berikut
hanya apabila Notaris terbukti keterangan yang diperlukan
telah melanggar ketentuan dalam suatu akta, Lebih lanjut
pasal-pasal tertentu Habib Adjie, menyatakan,
sebagaimana diatur dalam Notaris mengkonstantir secara
Pasal 85 UUJN. sanksi lahiriah, formal dan materiil
administratif sebagaimana di dalam bentuk akta Notaris
atur dalam UUJN tersebut, dengan tetap berpijak pada
dapat dikatakan terdiri dari 5 aturan hukum, tata cara atau
(lima) jenis sanksi, yaitu : prosedur pembuatan akta dan
1) Teguran lisan; aturan hukum yang berkaitan
dengan tindakan hukum yang
2) Teguran tertulis;
bersangkutan yang dituangkan
3) Pemberhentian ke dalam akta.114
sementara; Sanksi yang dapat
4) Pemberhentian dengan dikenakan dalam Kode Etik
hormat; Notaris hanya berupa sanksi
5) Pemberhentian tidak moral. Terkait dengan judul
hormat. penelitian tesis tersebut yang
fokus penelitian terhadap
orang lain yang memangku
dan menjalankan jabatan
3. Aspek Tanggung Gugat Pidana Notaris, yang dalam hal ini
Ruang lingkup tugas adalah Notaris Pengganti dan
pelaksanaan jabatan Notaris Pejabat Sementara Notaris,
dalam membuat alat bukti yang
114
diinginkan oleh para pihak atas Philpus M. Hadjon. Dalam Habib
suatu tindakan hukum tertentu Adjie. 2013. Sanksi Perdata dan
Administrasif Terhadap Notaris Sebagai
Pejabat Publik. Surabaya : Refika
113
Ibid. hlm.194 Aditama. hlm.207

185
sanksi moral seperti itu juga 2) Tafsir pengertian orang lain
dapat dikenakan. Namun, yang memangku dan
sanksi moral kenyataannya saat menjalankan jabatan Notaris
ini belum ada pengaturan
dalam ketentuan Kode Etik
secara rinci mengenai
pelanggaran kode etik yang Notaris adalah Notaris
mungkin akan dilakukan oleh Pengganti dan Pejabat
orang lain tersebut selain Sementara Notaris, dengan
Notaris. kriteria sebagaimana diatur
dalam Pasal 33 UUJN, yaitu :
E. Penutup Bertaqwa kepada Tuhan Yang
1. Kesimpulan
Maha Esa; Setia kepada
Berdasarkan hasil penelitian dan
Pancasila dan Undang-Undang
pembahasan permasalahan, dapat
Dasar Negara Republik
disimpulkan, yaitu sebagai berikut
Indonesia Tahun 1945; Sarjana
:
1) Keterkaitan Kode Etik Notaris hukum; Sehat Jasmani yang
dengan Undang-Undang dibuktikan dengan surat
Nomor 30 Tahun 2004 tentang keterangan sehat dari dokter
Jabatan Notaris sebagaimana rumah sakit pemetintah atau
telah diubah dengan Undang- rumah sakit swasta; Sehat
Undang Nomor 2 Tahun 2014, rohani/jiwa yang dibuktikan
memiliki 2 (dua) perspektif dengan surat keterangan sehat
(sudut pandang), yaitu : dari psikiater rumah sakit
a. Kedudukan kode etik pemerintah atau swasta;
sebagai norma etik bukan Berumur paling sedikit 27
norma hukum, sehingga (duapuluh tujuh) tahun; Tidak
pelanggaran terhadap norma pernah terlibat dalam tindakan
etik juga secara tidak kriminal yang dinyatakan
langsung dapat dikatakan dengan surat keterangan dari
sebagai pelanggaran norma Kepolisian Negara Republik
hukum dengan dasar Indonesia; dan Telah bekerja
melanggar Pasal 82 UUJN. selama 2 (dua) tahun pada
b. Pelanggaran terhadap Kode Kantor Notaris yang akan
Etik Notaris tidak serta digantikannya.
merta menjadikan 3) Lingkup orang lain sebagai
pelanggaran tersebut sebagai subjek pelanggaran Kode Etik
pelanggaran norma hukum, Notaris dapat
namun pelanggaran tersebut diperiksa/disidangkan oleh
tetap dikatakan sebagai Majelis Kehormatan Notaris
pelanggaran norma etik. yaitu hanya sebatas pada apa

186
Notaris Pengganti dan Pejabat
Sementara Notaris lakukan
pada saat menjabat sebagai
Notaris. Terhadap pelanggaran
yang dapat dilakukan yaitu
sama dengan pelanggaran yang
dapat dilakukan oleh Notaris
sebagaimana diatur dalam
Pasal 65 UUJN.
2. Saran
1) Dibuat Peraturan Menteri
sebagaimana telah diamanatkan
dalam ketentuan Pasal 82 Ayat
(5) UUJN.
2) Memberikan penjelasan lebih
rinci (detail) terkait
penggunaan frasa orang lain
dalam Kode Etik Notaris,
sehingga tidak terjadi multi
tafsir, dan memperjelas sanksi-
sanksi yang dapat dikenakan
kepada Notaris Pengganti dan
Pejabat Sementara Notaris bila
melakukan pelanggaran
terhadap Kode Etik Notaris.
3) Didalam anggaran dasar
Organisasi Ikatan Notaris
Indonesia, mempertegas
keberadaan Pasal 82 UUJN,
merupakan dasar pembentukan
dan eksistensi Kode Etik
Notaris, bukan sebagai norma
hukum melainkan norma etik.

187
DAFTAR PUSTAKA Notaris Dalam Ketentuan
Pasal 3 Ayat (3) Kode Etik
A. BUKU Notaris Kaitannya Dengan
Adjie. Habib. 2013.Cetakan Ketiga. Pasal 16 Ayat (1) Huruf (a)
Sanksi Perdata dan Undang-Undang Jabatan
Administrasi Terhadap Notaris. (Tesis Magister
Notaris Sebagai Pejabat Kenotariatan Universitas
Publik. Bandung : Sriwijaya Palembang)
PT. Refika Aditama.
Ahmadi. Wiranti. (Notaris dan Staf
Pengajar Luar Biasa pada
Fakultas Hukum dan
Program Pasca Sarjana
Universitas Padjajaran).
Ghofur. Abdul Anshori. 2009.
Lembaga Kenotariatan
Indonesia Perspektif
Hukum dan Etika.
Yogyakarta : UUI Press.
Soekanto. Soejono. 1985. Penelitian
Hukum Normatif Suatu
Tinjauan Singkat. Jakarta :
PT. Raja Grafindo Persada.

B. UNDANG-UNDANG
Undang-Undang Nomor 30 Tahun
2004 tentang Jabatan
Notaris.
Undang-Undang Nomor 2 Tahun
2014 tentang Perubahan atas
Undang-Undang Nomor 30
Tahun 2004 tentang Jabatan
Notaris.
Undang-Undang Nomor 12 Tahun
2011 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-
Undangan.
C. LAIN-LAIN
Kode Etik Notaris yang disahka di
Bandung pada tanggal 28
Januari 2005.
Pramitha. Ferika Mulyani. 2014.
Analisis Terhadap Orang
Lain Pemangku Jabatan

188
PENERAPAN SANKSI ADMINISTRATIF KEPADA NOTARIS
OLEH MAJELIS PENGAWAS WILAYAH (MPW)
MENURUT UNDANG UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG
PERUBAHAN UNDANG UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004
TENTANG JABATAN NOTARIS

Oleh :

M. HAFIZ TAFDHIL

ABSTRACT: Notary is running his occupation there is conducted collision


because the collision of Notary can be fallen by sanction. One of sanction to
Notary is fallout of administrative sanction. Administrative sanction fallout
to notary represent duty notary supervisor ceremony. One of them is the
Regional Supervisor Ceremony (MPW), sanction fallout to notary so that the
notary don’t act improperly and remain to obey order. Regional Supervisor
Ceremony (MPW0 becoming problem here is how sanction fallout to notary
conducting collision of pursuant to number law 2 years 2014 about notary.
To reply this problem is hence conducted by a research conducted by Yuridis
normative.
Process administrative sanction fallout, what is the form of sanction
and exhortation written, and also the layoff is regional duty Regional
Supervisor Cerremony (MPW). On the basis of above conclusion, suggested
that by of clear order existence about sanction fallout to notary conducting
collision.

Keyword : Notary, Regional Supervisor Ceremony (MPW), Sanction

A.Pendahuluan ataupun perbuatan hukum


1. Latar Belakang seperti jual beli, sewa menyewa
Kebutuhan terhadap dan sebagainya. Mereka
bidang kenotariatan pada masa membutuhkan figur Notaris
sekarang ini sangatlah penting, yang keterangan-keterangannya
ketika masyarakat akan dapat diandalkan, dipercaya, dan
melakukan perjanjian-perjanjian tanda tangannya serta segelnya

189
(capnya) memberikan jaminan Seiring dengan penjelasan
dan bukti kuat seorang ahli yang UUJN 2014 diterangkan
tidak memihak serta menjadi pentingnya profesi Notaris,
penasehat hukum yang tidak ada yakni terkait dengan pembuatan
cacatnya (onkreukbaar atau akta otentik. Pembuatan akta
unimpeachable). 115 otentik diharuskan oleh
Dengan adanya Notaris peraturan perundang–undangan
di setiap daerah, pemerintah dan dalam rangka kepastian,
masyarakat khususnya, ketertiban dan perlindungan
mempunyai harapan kepada hukum. Selain otentik yang
Notaris supaya jasa yang dibuat dihadapan Notaris,
diberikan oleh Notaris benar- diharuskan oleh peraturan
benar berkualitas serta dapat perundang–undangan, tetapi
diandalkan dalam perkembangan juga karena dikehendaki oleh
hukum nasional. pihak yang berkepentingan
Dalam menjalankan untuk memastikan hak dan
tugas dan jabatanya Notaris kewajiban para pihak demi
tunduk dan patuh kepada kepastian, ketertiban, dan
peraturan dan Undang Undang perlindungan hukum bagi pihak
yang berlaku yaitu Undang – yang berkepentingan sekaligus
undang Nomor 2 tahun 2014 masyarakat keseluruhan. 117
(selanjutnya di sebut UUJN Fungsi Notaris sebagai
2014) yang mengandung Pejabat Umum, merupakan
berbagai macam terobosan pelaksanaaan dari ketentuan
positif bagi kenotariatan di yang diatur dalam Pasal 1868
Indonesia dibandingkan dengan Kitab Undang-Undang Hukum
Undang Undang sebelumnya. Perdata (KUHPerdata) yang
Berbagai hal berkaitan menyebutkan bahwa :
dengan peningkatan kualitas “Suatu akta otentik
profesionalisme Notaris adalah suatu akta yang dibuat
Indonesia ditekankan, misalnya dalam bentuk ditentukan oleh
tentang pendidikan, undang-undang dibuat oleh atau
pengangkatan dan dihadapan pejabat
pemberhentian Notaris, wadah umum yang berwenang
tunggal Notaris, pembinaan dan untuk itu, ditempat dimana akta
pengawasan Notaris. Tanpa itu dibuat”
keempat elemen ini akan sulit 2. Permasalahan
untuk berbicara kualitas.116
115
Than Thong Kie. 2007. Studi Notariat dan Gramedia Pustaka Utama,hlm.120.
117
Serba-Serbi Praktek Notaris. Jakarta: Ichtiar Baru Abdul Ghopur Ansori. 2009. Lembaga
Van Hoe, hlm.1449. Kenotariatan Indonesia Perspektif Hukum dan
116
Pengurus Pusat Ikatan Notaris Indonesia. Etika. UI Press. Yogyakarta:Universitas
2008. Jadi Diri Notaris Indonesia. Jakarta: PT. Indonesia,hlm.15.

190
Berdasarkan latar 1. Manfaat Teoritis
belakang yang telah diuraikan di Hasil penelitian ini
atas maka, permasalahan yang diharapkan dapat memberikan
diteliti dalam tesis ini adalah: sumbangan dalam bidang ilmu
1. Bagaimanakah penerapan pengetahuan hukum
penjatuhan sanksi kenotariatan, khususnya
administratif kepada Notaris pengertian tentang sanksi
oleh Majelis Pengawas administratif terhadap Notaris,
Wilayah (MPW) menurut penjatuhan sanksi administratif
Undang Undang Nomor 2 kepada Notaris oleh Majelis
Tahun 2014 tentang Jabatan Pengawas Wilayah (MPW)
Notaris ? menurut UUJN 2014, serta
2. Bagaiman upaya hukum bagi upaya hukum bagi Notaris
Notaris yang dijatuhi sanksi yang dijatuhi sanksi
administratif oleh Majelis administratif oleh Majelis
Pengawas Wilayah (MPW)? Pengawas Wialayah (MPW).
2. Manfaat Praktis
3. Tujuan dan Manfaat a. Majelis Pengawas
Penelitian Wilayah
a. Tujuan Penelitian Hasil penelitian ini
Dari permasalahan- diharapkan dapat
permasalahan diatas maka memberikan sumbangan
tujuan penelitian adalah: bagi Majelis Pengawas
1. Untuk menganalisis tentang Wilayah (MPW) dalam
penerapan sanksi mengawasi Notaris dengan
administratif kepada Notaris demikian dalam
oleh Majelis Pengawas menjalankan jabatan dan
Wilayah (MPW) menurut tugasnya sesuai dengan
Undang-Undang Nomor 2 peraturan hukum yang
tahun 2014 tentang jabatan berlaku.
Notaris. b. Notaris
2. Untuk menganalisis tentang Hasil penelitian ini
upaya hukum bagi Notaris diharapkan dapat menjadi
yang dijatuhi sanksi bahan yang bermanfaat bagi
administratif oleh Majelis Notaris untuk mengkoreksi
Pengawas Wilayah (MPW). diri atas kesalahan atau
b. Manfaat Penelitian kekurangan yang dilakukan
Beranjak dari tujuan sebagai pejabat umum untuk
penelitian sebagaimana tersebut lebih berhati-hati, teliti,
di atas maka penelitian ini akan cermat, serta bertanggung
memberikan manfaat/kontribusi jawab dalam membuat akta
sebagai berikut: Notaris.

191
4. Kerangka Teori b. Teori Jabatan
Dalam penulisan penelitian Jabatan yaitu tugas atau
ini digunakan 4 teori yang pekerjaan dalam pemerintahan
menunjang pembahasan tentang atau organisasi.120 Sedangkan
penerapan sanksi administratif menurut E.Utrecht 121 bahwa:
kepada Notaris oleh MPW yaitu: “Jabatan (ambt) ialah suatu
a. Teori Sanksi lingkungan pekerjaan tetap
Menurut Philipus M. (kring van vaste
118
Hadjon sanksi merupakan alat werkzaamheden) yang diadakan
kekuasaan yang bersifat hukum dan dilakukan guna kepentingan
publik yang digunakan oleh Negara (kepentingan umum).”
penguasa sebagai reaksi Selanjutnya dikemukakan pula
terhadap ketidakpatuhan pada bahwa yang dimaksud dengan
norma hukum administrasi. “lingkungan pekerjaan tetap”
Dengan demikian unsur-unsur ialah:
sanksi, yaitu: “ suatu lingkungan pekerjaan
i. Sebagai alat kekuasaan. yang sebanyak-banyaknya dapat
ii. Bersifat hukum publik. dinyatakan dengan tepat-teliti
iii. Digunakan oleh penguasa (zoveel mogelijk nauwkeurig
iv. sebagai reaksi terhadap omsschreven) dan yang bersifat
ketidak patuhan. “duurzam” (tidak dapat diubah
Sanksi-sanksi merupakan begitu saja).122
bagian penutup yang penting c. Teori Pengawasan
dalam hukum119 dan tiap aturan Dalam setiap organisasi
hukum yang berlaku di terutama dalam organisasi
Indonesia. Pembebanan sanksi pemerintahan fungsi
di Indonesia tidak hanya pengawasan adalah sangat
terdapat dalam bentuk undang- penting karena pengawasan
undang. tetap bisa dalam bentuk adalah suatu usaha untuk
peraturan lain, seperti keputusan menjamin adanya keselarasan
menteri ataupun bentuk lain antara penyelenggara tugas
dibawah undang-undang. pemerintahan di lapangan dan
pimpinan pemerintahan
118
Philipus H. Hadjon. 1996. Penegakan (pengambil kebijakan) dan
Hukum Administrasi dalam Kaitannya untuk menjamin kelancaran,
dengan Ketentuan Pasal 20 ayat (3) dan (4)
tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan
pokok pengelolaan lingkungan hidup. 120
E. Utrecht menggunakan istilah wewenang
Surabaya: fakultas Hukum Universitas dengan kompetensi.ibid.hlm.159.
Airlangga, No.1 Tahun XI, Januari-Februari 121
E. Utrecht. 1963. Pengantar Hukum
1996.hlm.1. Administrasi Indonesia. Jakarta:Penerbit dan
119
Philipus M. Hadjon, dkk. 2012. Pengantar Balai Buku Ichtiar,hlm.213.
Administrasi Indonesia (introduction To The 122
E. Utrecht. 1963. Pengantar Hukum
Indonesia Administrative Law). Administrasi Indonesia. Jakarta:Penerbit dan
Yogyakarta:Gadjah Mada Uiversitas,hlm.245. Balai Buku Ichtiar,hlm.213.

192
penyelenggaraan pemerintahan Administrasi
secara berdaya guna dan berhasil Sebagai teori pendukung
guna123. adalah Teori Penegakan Hukum
Pengertian dasar dari Administrasi, menurut pendapat
pengawasan adalah segala usaha Soerjono Soekanto, secara
atau kegiatan untuk mengetahui konsepsional, Inti dan arti
dan menilai kenyataan yang penegakkan hukum terletak pada
sebenarnya tentang pelaksanaan kegiatan menyerasikan
tugas atau kegiatan apakah hubungan nilai-nilai yang
sesuai dengan yang semestinya terjabarkan di dalam kaidah-
atau tidak.124 kaidah yang mantap dan
Pengawasan adalah salah mengejawantah dan sikap tindak
satu fungsi dasar manajemen sebagai rangkaian penjabaran
disebut “Controlling” yang nilai tahap akhir, untuk
mempunyai 2 (dua) makna, menciptakan, memelihara dan
yaitu pengawasan dan mempertahankan kedamaian
126
pengendalian. pergaulan hidup.
Pengawasan dalam hal ini 5. Gagasan Istilah
adalah pengawasan dalam arti a. Sanksi Administratif
sempit, yaitu segala usaha atau konseptual
kegiatan untuk mengetahui dan
Menurut Habib Adjie,
menilai kenyataan yang
Sanksi adnimistratif Notaris
sebenarnya tentang pelaksanaan
yaitu sanksi terhadap Notaris
tugas atau pekerjaan, apakah
dalam melaksanakan tugas
sesuai dengan semestinya atau
jabatannya tidak melakukan
tidak, sedangkan pengendalian
serangkaian tindakan tertib
pengertiannya lebih forcefull
pelaksanaan tugas jabatan kerja
dari pada pengawasan, yaitu
Notaris yang harus dilakukan
sebagai segala usaha atau
untuk kepentingan Notaris
kegiatan untuk menjamin dan
sendiri,127 yang berupa teguran
mengarahkan agar pelaksanaan
lisan, teguran tertulis,
tugas atau pekerjaan berjalan
Pemberhentian sementara,
sesuai dengan yang
125 Pemberhentian dengan hormat,
semestinya.
Pemberhentian tidak hormat.
d. Teori Penegakan Hukum
Operasional
Sanksi administratif
123
Viktor M. Situmorang dan Cormentyna
adalah konsekuensi administratif
Sitangga. 1993. Hukum Adminmistrasi
Pemerintahan di Daerah. Jakarta: Sinar yang di terima oleh Notaris, dari
Grafika,hlm.233.
126
Soerjono Soekanto. 2002. Faktor-faktor
124
Ibid.hlm.63. yang memperngaruhi Penegakan Hukum.
125
Sujamto. 2007. Aspek-Aspek Pengawasan Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,hlm.3.
di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika,hlm.53. 127
Habib Adjie Sanksi. Op.Cit.hlm.92.

193
MPW berdasarkan rekomendasi mengacu kepada norma-norma
MPD yang berkaitan hukum yang terdapat dalam
pelanggaran dalam menjalankan peraturan perundang-undangan.
tugas dan jabatanya sebagai Hal ini sejalan dengan pendapat
seorang Notaris.. Ronald Dworkin, yang
b. Majelis Pengawas Wilayah menyebutkan metode penelitian
Konseptual hukum normatif sebagai
penelitian doktrinal (doctrinal
Majelis Pengawas
research), yaitu suatu penelitian
Wilayah adalah satu-satunya yang
yang menganalisa, baik hukum
berwenang untuk melakukan
sebagai law is it written in the
pengawasan, pemeriksaan dan
book, maupun hukum sebagai
menjatuhkan sanksi terhadap
law as it is deceded by use judge
Notaris, yang dibentuk dan
through judicial process.128
berkedudukan di ibu kota provinsi,
Kemudian penelitian ini
tugas Majelis Pengawas Wilayah
akan bertumpu pada data
diatur dalam Pasal 67 UUJN
sekunder, yaitu bahan pustaka
2014, Peraturan Menteri Hukum
yang merupakan data dasar di
dan Hak Asasi Manusia Republik
dalam penelitian, terdiri dari
Indonesia Nomor M.02.PR.08.10
surat-surat pribadi, buku-buku
Tahun 2004, dan Keputusan
harian, buku-buku, sampel
Menteri Hukum dan Hak Asasi
dengan dokumen-dokumen
Manusia Republik Indonesia
resmi yang dikeluarkan oleh
Nomor M.39-PW.07.10 Tahun
Pemerintah.129 Dokumen resmi
2004.
terdiri dari Undang-Undang
Operasional
Nomor 2 Tahun 2014 tentang
Majelis Pengawas
Jabatan Notaris, Peraturan
Wilayah adalah perpanjangan
Menteri Hukum dan Hak Asasi
tangan pemerintah yaitu
Manusia Republik Indonesia
Depkumham yang mempunyai
Nomor M.02.PR.08.10 Tahun
tugas dan wewenang dalam
2004 Tentang tata cara
pembinaan dan pengawasan
pengangkatan anggota,
terhadap Notaris, yang di bentuk
pemberhentian anggota, susunan
dengan komposisi perwakilan
organisasi, tata kerja, dan tata
pemerintah (dalam hal ini Dep
cara pemeriksaan majelis
Hukum & HAM), Notaris dan
akademisi yang ruang lingkup 128
Viktor M. Situmorang dan Cormentyna
kerjanya adalah provinsi.
Sitanggang. 2013. Hukum Administrasi
6. Metode Penelitian Penelitian Hukum Dan Hasil Penulisan
a. Tipe Penelitian Penelitian Pada Makalah Akreditasi Fakultas
Penelitian ini dilakukan Hukum Universitas Sumatera Utara,hlm.1.1.
129
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. 1995.
dengan menggunakan tipe Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan
normatif, yaitu penelitian yang Singkat. Jakarta: CV. Rajawali,hlm.28.

194
pengawas notaris, Keputusan undangan berkaitan
Menteri Hukum dan Hak Asasi dengan permasalahan
Manusia Republik Indonesia yaitu Undang-Undang
Nomor M.39-PW.07.10. Tahun Nomor 2 Tahun 2014
2004 tentang Pedoman tentang Jabatan Notaris,
Pelaksanaan Tugas Majelis Putusan-Putusan
Pengawas Notaris. Menteri, Peraturan
Pemerintah Surat
b. Pendekatan Penelitian Edaran, dll.
Dalam Penelitian ini digunakan b. Bahan Hukum Sekunder
dua metode pendekatan Yaitu bahan-bahan yang
penelitian dalam ilmu hukum erat hubungannya
yaitu: dengan Bahan hukum
a. Pendekatan perundang- primer dan dapat
undangan (Statue approach) membantu menganalisa
Pendekatan yang dilakukan bahan hukum primer.
dengan mengidentifikasi, Penelitian yang
serta membahas peraturan, dilakukan dengan
perundang-undangan yang mempelajari dan
berlaku dan berkaitan dengan menganalisa secara
permasalahan yang dibahas, sistematis buku-buku
yaitu Undang-Undang Nomor yang membahas tentang
2 tahun 2014 tentang Jabatan sanksi administratif
Notaris dan peraturan Notaris dan peraturan-
pelaksanaannya. peraturan lainnya yang
b. Pendekatan Konseptual berhubungan dengan
(Conseptual approach) materi yang dibahas
Pendekatan konseptual adalah dalam tesis ini dan
menelaah konsep-konsep selanjutnya menganalisa
yang digunakan berkaitan masalah-masalah yang
sanksi administratif Notaris, dihadapi untuk
oleh Majelis Pengawas menghimpun data
Notaris (MPN) sesuai dengan sekunder. Pengumpulan
Undang-Undang Jabatan studi pustaka pada
Notaris (UUJN). penelitian ini
c. Bahan Hukum Penelitian menggunakan bahan
1. Bahan Hukum hukum primer dan bahan
a. Bahan Hukum Primer hukum sekunder.130
Bahan hukum Primer
yang digunakan didalam
penelitian ini adalah 130
Soemitro dan Roni Hanitijo. 1992.
Peraturan perundang- Metodelogi Penelitian Hukum. Bandung:
Ghalia Indonesia,hlm.34.

195
c. Bahan Hukum Tersier
Yaitu bahan hukum B.Temuan dan Analisis
untuk memberikan 1. Penerapan Penjatuhan Sanksi
penjelasan dan petunjuk Administratif Kepada Notaris
terhadap bahan hukum Penting bagi Notaris
primer dan sekunder, bertanggung jawab dalam
seperti kamus, menjalankan tugas dan jabatannya,
ensiklopedia, dan lain- seperti menurut Hans Kelsen dalam
lain. bukunya membagi
d. Teknik Pengumpulan pertanggungjawaban menjadi empat
Bahan Penelitian macam yaitu:
Bahan hukum yang a. Pertanggungjawaban individu
dipergunakan adalah bahan yaitu seorang individu
hukum primer maupun sekunder bertanggungjawab terhadap
dikumpulkan kemudian pelanggaran yang
diidentifikasi guna menganalisa dilakukannya sendiri.
permasalahan yang dibahas, b. Pertanggungjawaban kolektif
serta menggunakan penelitian berarti bahwa seorang individu
kepustakaan, peraturan bertanggungjawab atas suatu
perundang-undangan maupun pelanggaran yang dilakukan
literatur-literatur yang berkaitan oleh orang lain.
dengan permasalahan. c. Pertanggungjawaban
e. Teknik Analisis Bahan berdasarkan kesalahan yang
Penelitian berarti bahwa seorang individu
Analisis terhadap data bertanggungjawab atas
yang dikumpulkan dan bahan- pelanggaran yang dilakukannya
bahan hukum yaitu Undang- karena sengaja dan diperkirakan
Undang Nomor 2 tahun 2014 dengan tujuan menimbulkan
dan peraturan-peraturan Menteri kerugian.
dan penelitian kepustakaan.
f. Teknik Penarikan
Kesimpulan
Penarikan kesimpulan
dalam penelitian ini menggunakan
metode berpikir deduktif yaitu cara
berpikir dalam penarikan
kesimpulan yang ditarik dari
sesuatu yang sifatnya umum yang
sudah dibuktikan benar dan
kesimpulan itu ditujukan untuk
sesuatu yang sifatnya khusus.

196
d. Pertanggungjawaban mutlak yang kehormatan, martabat dan tanggung
berarti bahwa seorang individu jawab saya sebagai Notaris”.133
bertanggungjawab atas Tanggung jawab Notaris
pelanggaran yang dilakukannya dalam menjalankan jabatannya harus
karena tidak sengaja dan tidak memperhatikan dan tunduk pada
diperkirakan.131 Undang-Undang Nomor 2 Tahun
Sedangkan menurut 2014 perubahan atas Undang-Undang
Fockema Andreae, frase bertanggung Nomor 30 Tahun 2004 tentang
jawab diartikan sebagai terikat, Jabatan Notaris (UUJN) dan Kode
sehingga tanggung jawab Etik Notaris yang merupakan
aansprakelijk dalam pengertian peraturan yang berlaku bagi pedoman
hukum berarti keterikatan,132 moral profesi Notaris yang
kaitannya dengan istilah berwenang. Kewenangan Notaris
pertanggungjawaban, Undang Undang sebagai penjabaran dari Pasal 1 angka
Jabatan Notaris menggunakan istilah 1 UUJN terdapat dalam Pasal 15
tanggung jawab. Hal ini dapat dilihat UUJN.134
dalam ketentuan Pasal 65 dan Pasal 4 1) Notaris berwenang membuat Akta
ayat (2) UUJN, disamping itu juga Otentik mengenai semua perbuatan,
dapat dilihat dalam ketentuan Pasal perjanjian, dan ketetapan yang
UUJN menentukan bahwa, Notaris, diharuskan oleh peraturan
Notaris Pengganti, Notaris Pengganti perundangundangan dan/atau yang
Khusus dan Pejabat Sementara dikehendaki oleh yang
Notaris bertanggung jawab atas setiap berkepentingan untuk dinyatakan
akta yang dibuatnya meskipun dalam akta otentik, menjamin
protokol Notaris telah diserahkan atau kepastian tanggal pembuatan akta,
dipindahkan kepada pihak penyimpan menyimpan akta, memberikan
protokol Notaris. Hal senada juga grosse, salinan dan kutipan akta,
dapat ditemukan di dalam ketentuan semuanya itu sepanjang pembuatan
akta-akta itu tidak juga ditugaskan
Pasal 4 ayat (2), yang selengkapnya
atau dikecualikan kepada pejabat lain
dirumuskan: “Bahwa saya akan
atau orang lain yang ditetapkan oleh
menjaga sikap, tingkah laku saya dan
Undang-Undang.
akan menjalankan kewajiban saya
2) Notaris berwenang pula:
sesuai dengan kode etik profesi, a) Mengesahkan tanda tangan dan
menetapkan kepastian tanggal

131 133
Saifurrachman dan Habib Adjie.
Hans Kelsen, 2006. Terjemahan
Raisul Mutaqien. Hlm. 140. Teori Hukum Op.Cit., hlm. 15
Murni. Nuansa dan Nusamedia. Bandung 134
Liliana Tedjosaputro, 2003. Etika
132
Lihat Fockema Andreae, 1983. Profesi dan Profesi Hukum. Hlm. 93. Aneka
Kamus istilah hukum Ilmu. Semarang
surat di bawah tangan dengan nasehat/penyuluhan hukum dan
mendaftar dalam buku khusus; penjelasan mengenai Undang-Undang
b) Membukukan surat-surat di terutama yang berkaitan dengan isi
bawah tangan dengan mendaftar dari akta yang dibuat para pihak di
dalam buku khusus; hadapan Notaris.
c) Membuat kopi dari asli surat-
2.Wewenang Majelis Pengawas
surat di bawah tangan berupa
Wilayah (MPW) Dalam Penjatuhan
salinan yang memuat uraian
Sanksi Administrasi
sebagaimana ditulis dan
Majelis Pengawas Wilayah
digambarkan dalam surat yang
selanjutnya disebut (MPW) adalah
bersangkutan;
d) Melakukan pengesahan salah satu lembaga yang berwenang
kecocokan fotokopi dengan surat melakukan pengawasan, pemeriksaan
aslinya; dan pemberian Sanksi Notaris. Kata
e) Memberikan penyuluhan hukum lembaga dalam praktek memiliki
sehubungan dengan pembuatan banyak makna atau maksud sebagai
akta; padanan kata, lembaga juga
a. Membuat akta yang dimaksudkan mempunyai makna kata
berkaitan dengan yang sama dengan installation dalam
pertanahan; atau bahasa inggris.136 lembaga dalam
b. Membuat akta risalah lelang. terminologi hukum bisa diartikan
Selain kewenangan sebagal paranata atau organisasi,137
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam pengertian organisasi yang
dan ayat (2), Notaris mempunyai dihubungkan dengan tujuannya,
kewenangan lain yang diatur dalam kemudian dapat dibedakan antara
Peraturan Perundang-undangan.Dari lembaga pengawas yaitu lembaga
Pasal tersebut dapat disimpulkan yang bertujuan pembentukannya
bahwa kewenangan Notaris selain berkaitan dengan kepentingan orang
untuk membuat Akta otentik juga banyak/umum, dan lembaga privat
ditugaskan untuk melakukan yang dibentuk untuk tujuan untuk
pendaftaran dan mengesahkan kepentingan kalangan terbatas saja.
(waarmerken dan legaliseren)135 Kelembagaan MPW adalah
surat-surat/akta-akta yang dibuat di merupakan lembaga pengawasan
bawah tangan serta memberikan lanjutan dari lembaga Majelis
135
Waarmerking, yaitu Pengawas Daerah (MPD). MPW
membukukan surat-surat di bawah tangan sebagai badan yang berkedudukan di
dengan mendaftar dalambuku khusus,
sedangkan Legalisasi adalah mengesahkan
tanda tangan dan menetapkan kepastian 136
Hadi Podo Jose. 2005. Kamus Inggris –
tanggal surat di bawah tangan dengan
mendaftar dalam buku khusus, (bedakan Indonesia. Jakarta:Gramedia Utama,hal.308.
137
antara legalisasi dengan pengesahan Kamus Hukum. 2008. Citra Umbara,Bandung,
kecocokan fotocopi dengan surat aslinya) 2008, hal 106
ibu kota Provinsi sangat diharapkan Kewenangan dan kewajiban
memberi kontribusi atas tercapainya MPW yang bersifat Internal, yaitu
suatu kepastian hukum maupun yang berkenaan atau berhubungan
perlindungan hukum serta penjatuhan sebagai berikut:
Sanksi administratif terhadap Notaris. - Penerimaan laporan masyarakat
Oleh karena itu MPW sebagai yang ditindak lanjuti dengan
institusi perlu melengkapi struktur penyelenggaraan sidang untuk
organisasi dalam menunjang memeriksa adanya pelanggaran
aktifitasnya. administratif atau pelanggaran
Kewenangan dan kewajiban jabatan Notaris.
MPW secara eksternal, yaitu yang - Memberikan kewenangan
berkenaan atau berhubungan sebagai terhadap Majelis Pemeriksa Pusat
berikut: dan Wilayah untuk memutuskan
- Menyelenggarakan sidang untuk sanksi administratif.
memeriksa laporan dan Adapun Struktur
mengambil keputusan atas laporan Organisasi dari MPW ini
dan masyarakat yang disampaikan dijabarkan dalam pasal 72 UUJN
melalui MPW; 2014 dalarn bentuk adanya
- Memanggil Notaris Ketua dan Wakil Ketua yang
terlapor untuk dilakukan dipilih dari dan oleh anggota
pemeriksaan; MPW dibantu oleh seorang
- Memberikan cuti izin lebih sekretaris atau lebih yang
dari 6 (enam) bulan sampai ditunjuk dalam rapat MPW.
dengan satu tahun; Dalam pelaksanaannya MPW
- Memeriksa dan memutus akan memegang jabatannya
atas keputusan Majelis Pengawas selama 3 (tiga) tahun dan dapat
Daerah (MPD) yang memberikan, diangkat kembali.
Sanksi berupa teguran lisan dan C.Penutup
teguran tertulis; 1. Kesimpulan
- Mengusulkan pemberian 1. Penerapan Penjatuhan sanksi
Sanksi terhadap Notaris kepada administratif kepada Notaris oleh
Majelis Pengawas Pusat Majelis Pengawas Wilayah
selanjutnya disebut (MPP) berupa: (MPW) menurut Undang Undang
pemberhentian sementara serta Nomor 2 Tahun 2014 (UUJN
pemberhentian dengan tidak 2014), merupakan bentuk
hormat; pertanggung jawaban Notaris
- Membuat berita acara atas terhadap UUJN 2014, peraturan-
setiap keputusan pengaturan peraturan yang ada dalam
sanksi. kaitannya dengan profesi Notaris
dan sekaligus menjadi dasar sanksi, hanya saja dibagi secara
petunjuk pelaksanaan dan berjenjang berdasarkan wewenang
petutunjuk teknis bagi Notaris di pengawasan dan beratnya
Indonesia dalam menjalankan pelanggaran yang Notaris
tugas dan jabatanya. Regulasi lakukan. Tingkatan Pengawasan
mengenai penjatuhan Sanksi dibuat bertingkat sesuai dengan
Notaris di Indonesia yang cakupan daerah dan wilayah
berbentuk teguran dan Sanksi pengawasan, sedangkan
teguran tertulis adalah penjatuhan Sanksi di sesuaikan
kewenangan MPW. Sanksi ini juga dengan jenis pelanggaran
memiliki mekanisme harus yang dilakuakn dengan tujuan
dengan rekomendasi Majelis menjaga kredibilitas dan integritas
Pengawas Daerah (MPD) setelah Notaris di Masyarakat. Semua
diadakan pemeriksaan terhadap bentuk Sanksi tersebut dapat
pelapor, terlapor dan pihak ketiga. diajukan keberatan kepada
Setelah MPD mendapatkan instansi yang menjatuhkan sanksi
kesimpulan terhadap tersebut dan jika tidak puas dapat
pemeriksaannya barulah mengajukan banding kepada
direkomendasikan kepada MPW instansi yang lebih tinggi yakni
untuk diberikan sanksi Majelis Pengawas Wilayah
administratif, maka dari itu (MPW) dan terus MPP, jika semua
Penjatuhan Sanksi administratif prosedur ini sudah dipenuhi tetap
oleh MPW merupakan bagian tidak memuaskan Notaris yang
penting dan tidak terpisahkan dari bersangkutan, maka Notaris dapat
proses pengawasan terhadap mengajukan tuntutanya terhadap
Notaris yang di lakukan oleh MPP kepada Pengadilan Tata
Negara. Usaha Negara (PTUN) untuk
2. Upaya hukum bagi Notaris yang menggugat putusan MPP tersebut.
terkena sanksi administratif oleh
MPW adalah, Notaris dapat 2. Saran
mengajukan banding kepada 1. Sebaiknya penerapan penjatuhan
instansi Majelis Pengawas yang Sanksi Administratif kepada
lebih tinggi jika putusan pengawas Notaris oleh MPW diberikan
tetap tidak memuaskan Notaris kewenangan yang lebih besar dari
yang bersangkutan. sekadar peringatan tertulis agar
Dalam tataran yang ideal, menimbulkan efek jera bagi
bahwa seharusnya semua jenjang notaris yang melakukan
Majelis Pengawas mempunyai pelanggaran dan menimbulkan
wewenang untuk menjatuhkan kerugian bagi masyarakat yang
menggunakan jasanya. Adjie. Habib. 2011. Majelis Pengawas
2. Hendaknya perlu di buat aturan Notaris Sebagai Pejabat Tata
secara jelas dan terinci tentang Usaha Negara. PT. Refika Aditama.
tata beracara Majelis Pengawas Bandung.
Notaris, batasan jenis pelanggaran
dan sanksi apa yang di berikan Adjie. Habib. 20013. Sanksi Perdata dan
kepada Notaris yang melakukan Administratif Terhadap Notaris
pelanggaran agar dalam aplikasi Sebagai Pejabat Pubilk. PT. Refika
UUJN tersebut tidak Aditama. Bandung.
menimbulkan tafsir yang berbeda.
3. Hendaknya perlu di muat juga di Adjie. Habib. 2009. Sekilas Dunia
dalam UUJN atau aturan di Notaris & PPAT Indonaia.
bawahnya mengenai mekanisme CV.Mandar Maju. Bandung.
banding secara jelas dan terinci
bagi Notaris yang dijatuhi Sanksi Ansori. Abdul Ghofur. 2009, Lembaga
administratif untuk menjamin Kenotariatan Indonesia Perspektif
kepastian dan kesetaraan hukum. Hukum dan Etika. Cetakan
Pertama. Yogyakarta.

Hadjon. Philipus M. 2008, Pengantar


Hukum Administrasi Indonesia.
Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta

Ikatan Notaris Indonesia, Pengurus Pusat.


2008, Jati Diri Notaris Indonesia.
PT. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.

Jose. Hadi podo, 2005, Kamus Inggris-


Indonesia, Gramedia Utama Kamus
Hukum, 2008 Citra Umbara,
Bandung.

Kansa. C.ST. dan Cristine, 2002, Pokok-


Pokok Badan Hukum, Pustaka Sinar
Harapan, Jakarta.
DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Hukum dan. Hak Asasi
Manusia, Arsip Kantor Wilayah
Sumatera Selatan per Keadaan
bulan Maret 2011.

Kchar, S.H. A, 1983. Notaris Dalam


Praktek Hukum. Alumni. Bandung.

Latolung Paulus effendi, 1983,


Perbandingan Hukum Administratif dan
Sistem Peradilan Administrasi, Citra
Aditya, Bandung.
PERSETUJUAN MAJELIS KEHORMATAN NOTARIS UNTUK
PENGAMBILAN FOTOKOPI MINUTA AKTA DAN PEMANGGILAN
NOTARIS DALAM RANGKA PROSES PERADILAN
Oleh :
NANDA IKA PUSPITA

Abstrak: Berdasarkan Pasal 66 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang


Jabatan Notaris sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014,
bahwa untuk kepentingan proses peradilan, penyidik, penuntut umum, atau hakim
dengan persetujuan Majelis Kehormatan Notaris berwenang mengambil fotokopi minuta
akta dan pemanggilan Notaris. Sehubungan dengan kewenangan tersebut yang jadi
permasalahan adalah bagaimana bentuk pengaturan persetujuan pengambilan fotokopi
Minuta Akta dan pemanggilan Notaris oleh Majelis Kehormatan Notaris untuk
menghadirkan Notaris pada proses peradilan dan bagaimana tindak lanjut proses
peradilan dalam hal Majelis Kehormatan Notaris menolak memberikan persetujuan
pengambilan fotokopi Minuta Akta dan pemanggilan Notaris dalam rangka proses
peradilan. Penelitian hukum normatif dengan metode pendekatan pendekatan
perundang-undangan, pendekatan konseptual, pendekatan historis dan pendekatan
kasus.
Penelitian menunjukkan bahwa, pertama jika penyidik ingin melakukan
pemeriksaan terhadap Notaris sesuai dengan prosedur yang diamanatkan Undang-
Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris, tentu saja tidak dapat dilakukan
karena Majelis Kehormatan Notaris belum terbentuk. Selama peraturan pelaksanaan
Majelis Kehormatan Notaris belum terbentuk, penyidik hanya akan mendasarkan
prosedur pemeriksaan pada ketentuan Hukum Acara Pidana (KUHAP). Kedua, Dalam
hal Majelis Kehormatan Notaris menolak memberikan Persetujuan karena Notaris tidak
menyaksikan, melihat dan mendengar atau mengalami sendiri pembuatan akta yang
dijadikan dasar dugaan tindak pidana. Proses peradilan tetap berlanjut hanya saja
penolakan tersebut tidak serta merta dikatakan bahwa Notaris tidak mau bekerjasama
tetapi melainkan Notaris mempunyai kewajiban untuk menyimpan dan merahasiakan
minuta akta.
Untuk saat ini selama Majelis Kehormatan Notaris belum terbentuk, penyidik
dapat langsung memanggil Notaris. Dalam hal Majelis Kehormatan Notaris menolak
memberikan Persetujuan karena, Notaris tidak ada dasar dugaan tindak pidana. Proses
peradilan tetap berlanjut. Pemerintah harus segera mengeluarkan Peraturan Pelaksana
mengenai pembentukan Majelis Kehormatan Notaris. Notaris dapat melindungi dirinya
yang terpenting harus terdapat dalam jiwa Notaris itu sendiri yaitu Jujur, Bekerja
dengan ilmu yang kita miliki, dan Bekerja dengan baik.

Kata Kunci : Majelis Kehormatan Notaris, Persetujuan Pemanggilan Notaris, Peradilan.


A. Pendahuluan pengawasan atas Notaris di tingkat
1. Latar belakang kabupaten atau kota. Kewenangan
Majelis Pengawas Daerah tersebut kemudian hapus dengan adanya
adalah Majelis Pengawas yang dibentuk Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor
oleh Menteri dalam rangka menjalankan 49/PUU-X/2012 yang dalam amar
kewenangannya melaksanakan

203
putusannya memutus yang mengatur pengambilan Fotokopi
menghapus frasa “dengan persetujuan Minuta Akta dan Pemanggilan Notaris.
Majelis Pengawas Daerah” yang Sehingga sangat sulit bagi Majelis
terkandung dalam Pasal 66 ayat (1) Kehormatan Notaris (MKN) untuk
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 menjalankan tugasnya kelak yang diatur
tentang Jabatan Notaris karena berdasarkan Peraturan Menteri. Hal ini
bertentangan dengan Konstitusi Negara diperlukan agar ada kepastian Hukum,
Indonesia. dan tidak tumpang tindih dalam
Setelah diundangkannya pelaksanaannya.138
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014
tentang Perubahan atas Undang-Undang 2. Permasalahan
Nomor 30 Tahun 2004 tentang Undang-  Bagaimana bentuk persetujuan
Undang Jabatan Notaris, hilangnya pengambilan fotokopi Minuta
wewenang Majelis Pengawas Daerah Akta dan pemanggilan Notaris
namun muncul lembaga baru yaitu
oleh Majelis Kehormatan
Majelis Kehormatan Notaris, didasari
oleh Pasal 66 dan Pasal 66A Notaris untuk menghadirkan
sebagaimana Perubahan Undang- Notaris pada proses peradilan?
Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang  Bagaimana tindak lanjut proses
Jabatan Notaris. Peran penting lembaga peradilan dalam hal Majelis
baru ini adalah “menggantikan” peran Kehormatan Notaris menolak
yang telah dilakukan oleh Majelis memberikan persetujuan
Pengawas Daerah dalam memberikan
pengambilan fotokopi Minuta
persetujuan dalam proses peradilan.
Kehadiran lembaga baru yang Akta dan pemanggilan Notaris
bernama Majelis Kehormatan Notaris dalam rangka proses peradilan?
dapat dilihat di dalam ketentuan Pasal
66 ayat 1 Undang-Undang Nomor 2 3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
tahun 2014 tentang perubahan atas  Tujuan
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Adapun tujuan penelitian ini
tentang Jabatan Notaris yang adalah:
menyatakan, Untuk kepentingan proses
peradilan, penyidik, penuntut umum, a. Untuk mengetahui bentuk
atau hakim dengan persetujuan Majelis persetujuan dari Majelis
Kehormatan Notaris berwenang Kehormatan Notaris untuk
Mengambil fotokopi Minuta Akta menghadirkan Notaris pada
dan/atau surat-surat yang dilekatkan proses Peradilan.
pada Minuta Akta atau Protokol Notaris
b. Untuk mengetahui tindak
dalam penyimpanan Notaris; dan
Memanggil Notaris untuk hadir dalam lanjut proses peradilan dalam
pemeriksaan yang berkaitan dengan hal Majelis Kehormatan
Akta atau Protokol Notaris yang berada
dalam penyimpanan Notaris.
Pelaksanaan dari Pasal 66 ayat 138
Syafran Sofyan. 2013. “Catatan
(1) Undang-Undang Nomor 2 tahun Perubahan UU Jabatan Notaris Nomor 30 tahun
2014 tentunya memerlukan peraturan 2004 (Peraturan Menteri Sangat
Mendesak)”.http://mediaNotaris.com/catatan_peruba
pelaksanaan lebih lanjut dan sampai han
saat ini belum ada Peraturan Menteri uu_jabatan_Notaris_nomor_tahun_berita352.html.
diakses pada tanggal 12 Januari 2014.

204
Notaris menolak memberikan
persetujuan. 4. Kerangka Konseptual
 Manfaat  Teori Kewenangan
Adapun manfaat yang didapat dari Kewenangan merupakan
penelitian ini adalah: suatu tindakan Hukum yang
diatur dan diberikan kepada
a. Secara Teoritik suatu jabatan berdasarkan
Memberikan masukan peraturan Perndang-Undangan
yang berlaku yang mengatur
pemikiran dalam rangka
jabatan yang bersangkutan.139
meningkatkan perkembangan Wewenang melakukan
Ilmu Kenotariatan, khususnya pengawasan dan pemeriksaan
kewenangan Majelis terhadap Notaris adalah Menteri
Kehormatan Notaris Pasal 66 Hukum dan Hak Asasi Manusia
ayat (1) setelah berlakunya yang dalam pelaksanaanya
Undang-Undang Nomor 2 Menteri membentuk Majelis
Pengawas Notaris. Menteri
tahun 2014 tentang Jabatan
sebagai kepala Departemen
Notaris, supaya dapat Hukum dan Hak Asasi Manusia
mengefektifkan fungsi mempunyai tugas membantu
pengawasan yang diembannya. Presiden dalam
b. Secara Praktis menyelenggarakan sebagian
1. Menambah Ilmu dan urusan pemerintah di bidang
mengembangkan Ilmu Hukum dan hak asasi manusia.
Dengan demikian kewenangan
Hukum secara umum dan
pengawasan terhadap Notaris
penerapan ketentuan ada pada pemerintah, sehingga
Perundang-Undangan berkaitan dengan cara
tentang Hukum pemerintah memperoleh
Kenotariatan, khususnya wewenang pengawasan
140
dalam hal yang berkaitan tersebut. Ada 2 (dua) cara
utama untuk memperoleh
dengan pemeriksaan
wewenang pemerintah yaitu
Notaris. atribusi dan delegasi.
2. Sebagai bahan informasi
dan bahan kajian bagi  Teori Kepastian Hukum
Majelis Kehormatan Notaris Kepastian Hukum
dalam menerapkan sendiri, secara historis
kewenangan yang diberikan merupakan tema yang muncul
Undang-Undang Nomor 2 semenjak gagasan tentang
Tahun 2014 tentang pemisahan kekuasaan
Perubahan Atas Undang- dinyatakan oleh Montesquieu,
Undang Nomor 30 Tahun
139
2004 tentang Jabatan Habib Adjie. Hukum Notaris Indonesia
Tafsir Tematik Terhadap Undang-Undang Nomor 30
Notaris serta instansi terkait Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris.. Hlm. 77
140
sehubungan dengan Habib Adjie. Sanksi Perdata &
Administrasi Terhadap Notaris Sebagai Pejabat
kewenangan tersebut. Publik. Hlm. 131.

205
bahwa dengan adanya pihak-pihak yang
pemisahan kekuasaan maka berkepentingan terutama bagi
tugas penciptaan Undang- Notaris serta pihak yang
Undang itu di tangan pembentuk dirugikan.
Undang-Undang, sedangkan
hakim (peradilan) hanya  Teori Pengawasan
bertugas menyuarakan isi Pengertian mengenai
Pengawasan dapat dilihat dari
Undang-Undang saja. 141
berbagai macam sumber,
Adapun pendapat para
diantaranya, yaitu Menurut P.
pakar ilmu Hukum terhadap Nicolai Menurut P Nicolai,
kepastian Hukum, yaitu menurut pengawasan merupakan langkah
Sudikno Mertokusumo preventif untuk memaksakan
berpendapat bahwa tanpa kepatuhan.142
kepastian Hukum orang tidak Pasal 1 angka 1
tahu apa yang harus peraturan Menteri Hukum dan
Hak Asasi Manusia Republik
diperbuatnya dan akhirnya
Indonesia Nomor
timbul keresahan. Tetapi terlalu M.02.PR.08.10 Tahun 2004,
menitikberatkan kepada menegaskan yang di maksud
kepastian Hukum, terlalu ketat dengan pengawasan adalah
menaati peraturan, Hukum kegiatan yang bersifat preventif
akibatnya kaku dan akan dan kuratif termasuk kegiatan
menimbulkan rasa tidak adil. pembinaan yang dilakukan oleh
Majelis Pengawas terhadap
Majelis pengawas Notaris dalam
Notaris.
Undang-Undang Nomor 30 Pengawasan yang
tahun 2004 di lakukan oleh dilakukan oleh majelis tidak
Majelis Pengawas Daerah hanya pelaksanaan tugas jabatan
(MPD) tapi, setelah keluar Notaris agar sesuai dengan
Undang-Undang Nomor 2 tahun ketentuan UUJN. Tapi juga
2014 tentang Jabatan Notaris Kode Etik Notaris dan tindak
tunduk atau perilaku kehidupan
berubah menjadi Majelis Notaris yang dapat mencederai
Kehormatan Notaris (MKN) keluhuran martabat jabatan
dalam memeriksa dan adanya Notaris dalam pengawasan
dugaan pelanggaran yang majelis pengawas (pasal 67 ayat
dilakukan oleh Notaris harus (5) UUJN), hal ini menunjukkan
memperhatikan peraturan sangat luas ruang lingkup
pengawasan yang dilakukan
Hukum yang menjadi dasar
oleh majelis pengawas.
kewenangan Notaris, sehingga
keputusan yang diambil  Teori Jabatan
memberi kepastian Hukum Jabatan dalam arti
dalam penerapan Hukum bagi sebagai Ambt merupakan fungsi,
141
Muhammad Erwin dan Amrullah Arfan.
142
2008. Filsafat Hukum Mencari Hakikat Hukum. Ridwan HR. 2002. Hukum Administrasi
Palembang: Universitas Sriwijaya. Hlm.99. Negara. Jakarta: Rajawali Press. Hlm. 311.

206
tugas, wilayah kerja pemerintah Hukum, dan kaedah-kaedah
pada umumnya atau badan Hukum. 145

perlengkapan pada khususnya. Penelitian hukum ini dilakukan


Istilah atau sebutan jabatan dengan mencari konsep-konsep,
merupakan suatu istilah yang di
teori-teori, serta pendapat-pendapat
pergunakan sebagai fungsi atau
tugas ataupun wilayah kerja yang relevan dengan pokok
dalam pemerintah. permasalahan dengan menggunakan
Menurut E.Utrecht bahwa : pendekatan perundang-undangan
“Jabatan (ambt) ialah (Statute Approach) dan pendekatan
suatu lingkungan konseptual (Conceptual Approach).
pekerjaan tetap (kring Penelitian ini menggunakan bahan
van vaste
hukum primer, yang meliputi
werkzaamheden) yang
diadakan dan dilakukan peraturan perundang-undangan,
guna kepentingan serta ketentuan perundang-undang
Negara (kepentingan yang terkait lainnya, dan bahan
umum).”143 hukum sekunder yang diperoleh
Jabatan merupakan melalui studi kepustakaan. Setelah
subjek Hukum (person), yakni itu diolah dan dianalisis dengan
pendukung hak dan kewajiban
kualitatif sebagai suatu penjelasan
(suatu personifikasi). Oleh
Hukum Tata Negara kekuasaan yang logis dan sistematis dengan
tidak diberikan kepada pejabat menunjukkan cara berpikir deduktif-
(orang), tetapi diberikan kepada induktif yang bertujuan
jabatan (lingkungan pekerjaan). menghasilkan temuan-temuan
Sebagai subjek Hukum yaitu hukum baru yang menjadi dasar
badan Hukum, maka jabatan itu untuk mengambil kesimpulan dan
dapat menjamin kontinuitet hak
saran.146
dan kewajiban. Pejabat (yang
menduduki jabatan) selalu
B. Temuan dan Analisis
berganti-ganti, sedangankan
jabatan terus-menerus
1. Persetujuan dari Majelis
(continue).144
Kehormatan Notaris untuk
5. Metode Penelitian Hukum Menghadirkan Notaris pada
Penelitian ini merupakan Proses Peradilan.
Penelitian Normatif, yang Sejak diundangkannya
menganalisis suatu keberlakuan Undang-Undang Nomor 2 Tahun
Hukum yang dilakukan dengan 2014 yang merupakan
meneliti bahan-bahan Hukum,
145
seperti penelitian terhadap asas-asas H.P. Panggabean. 2012. Hukum
Pembuktian, teori Praktik dan Yurisprudensi
Hukum, Hukum positif, aturan Indonesia. Bandung: cet. 1 alumni. Hlm.18.
146
Muhammad Syaifuddin, 2009, Menggagas
143
Hukum Humanistis-Komersial (Upaya Perlindungan
Habib Adjie. Sanksi Perdata & Hukum Hak Masyarakat Kurang dan Tidak Mampu
Administrasi Terhadap Notaris Sebagai Pejabat atas Pelayanan Kesehatan Rumah sakit Swasta Bahan
Publik. Op.Cit. Hlm. 17. Hukum Perseroan Terbatas), Malang: Bayumedia
144
Ibid. Hlm.17. Publishing, Hlm. 60.

207
perubahan dari Undang-Undang pemberhentian, struktur
Nomor 30 Tahun 2004 tentang organisasi dan tata
Jabatan Notaris pada tanggal 15 pengangkatan dan anggaran
Januari 2014, Pasal 66 ayat (1) Majelis Kehormatan Notaris
Undang-Undang Jabatan Notaris diatur dengan Peraturan
dimasukkannya kembali sebuah Menteri.
institusi baru yaitu Majelis Mengingat peraturan
Kehormatan Notaris (MKN) Menteri yang merupakan
yang berwenang memberikan petunjuk pelaksanaan Pasal 66A
izin terhadap pengambilan tentang tugas dan fungsi, syarat
fotokopi minuta akta dan dan tata cara pengangkatan dan
pemanggilan Notaris Bunyi pemberhentian, struktur
perubahan Pasal 66 Undang- Organisasi dan tata kerja dan
Undang Jabatan Notaris menjadi anggaran Majelis Kehormatan
Untuk Kepentingan Proses Notaris belum di bentuk, maka
Peradilan, Penyidik,penuntut kita dapat melihat wewenang
Umum, Atau Hakim Dengan dan tugas yang hampir sama
Persetujuan Majelis Kehormatan dengan Majelis Kehormatan
Notaris Berwenang mengambil Notaris yaitu Majelis
fotokopi Minuta Akta dan/atau Kehormatan Dokter yang terdiri
surat-surat yang dilekatkan pada dari Majelis Kehormatan Etika
Minuta Akta atau Protokol Kedokteran (MKEK) dan
Notaris dalam penyimpanan Majelis Kehormatan Disiplin
Notaris dan memanggil Notaris Kedokteran (MKDK).
untuk hadir dalam pemeriksaan Dalam hal seorang
yang berkaitan dengan akta yang dokter diduga melakukan
dibuatnya atau Protokol Notaris pelanggaran etika kedokteran
yang berada dalam penyimpanan tanpa melanggar Norma Hukum,
Notaris. maka ia akan dipanggil dan
Namun, terdapat disidang oleh Majelis
beberapa Pasal dalam Undang- Kehormatan Etik Kedokteran
Undang Nomor 2 Tahun 2014 (MKEK) Ikatan Dokter
tentang Jabatan Notaris yang Indonesia untuk dimintai
memerlukan peraturan pertanggung jawaban etik dan
pelaksana, yaitu Pasal 66A disiplin profesinya. Etika
Undang-Undang Nomor 2 Tahun Berbeda dengan Hukum, di
2014 tentang Jabatan Notaris dalam praktek kedokteran
yang secara tegas menyebutkan terdapat aspek etik dan aspek
bahwa ketentuan lebih lanjut hukum yang sangat luas, yang
mengenai tugas dan fungsi, sering tumpang-tindih. Bahkan
syarat dan tata cara di dalam praktek kedokteran,
pengangkatan dan aspek etik seringkali tidak dapat

208
dipisahkan dari aspek Kedokteran Indonesia Menerima
hukumnya, oleh karena pengaduan, memeriksa dan
banyaknya norma etik yang memutuskan kasus pelanggaran
telah diangkat menjadi norma disiplin dokter yang diajukan
hukum, atau sebaliknya norma menyusun pedoman dan tatacara
hukum yang mengandung nilai- penanganan kasus pelanggaran
nilai etika. 147 Dengan demikian disiplin dokter. Dalam hal
pelanggaran standar profesi Majelis Kehormatan Disiplin
dapat dinilai sebagai Kedokteran Indonesia dalam
pelanggaran etik dan juga sidangnya menemukan adanya
sekaligus pelanggaran hukum. pelanggaran etika, maka Majelis
Dalam melakukan Kehormatan Disiplin
pemeriksaannya, Majelis Kedokteran Indonesia akan
berwenang memperoleh meneruskan kasus tersebut
Keterangan, baik lisan maupun kepada Majelis Kehormatan
tertulis (affidavit), langsung dari Etika Kedokteran.
pihak-pihak terkait (pengadu, Belum terbentuknya
teradu, pihak lain yang terkait) aturan menteri tersebut
dan para ahli di bidangnya yang menimbulkan kebingungan
dibutuhkan. Putusan Majelis prosedur apabila ada Notaris
Kehormatan Etik Kedokteran yang tersangkut kasus pidana,
tidak ditujukan untuk dan akan dilakukan pengambilan
kepentingan peradilan, tidak fotokopi minuta akta atau
dapat dipergunakan sebagai pemanggilan untuk dilakukan
bukti di pengadilan, kecuali atas pemeriksaan terhadapnya, baik
perintah pengadilan dalam bagi penyidik maupun bagi
bentuk permintaan keterangan Notaris yang bersangkutan.
ahli. Sedangkan Majelis Sehingga, Belum terbentuknya
Kehomatan Disiplin Kedokteran Majelis Kehormatan Notaris
Indonesia adalah Lembaga yang sebagai lembaga baru yang
yang berwenang untuk berwenang memberikan izin
menentukan ada dan tidaknya pemeriksaan Notaris dalam
kesalahan yang dilakukan oleh Pasal 66 Undang-Undang
dokter dalam penerapan disiplin Nomor 2 Tahun 2014 tentang
ilmu kedokteran dan Jabatan Notaris.
menetapkan sanksi. Tugas Jika penyidik ingin
Majelis Kehormatan Disiplin melakukan pemeriksaan
terhadap Notaris sesuai dengan
147
Humaryanto, Majelis Kehormatan Etika prosedur yang diamanatkan
Kedokteran, dalam Penanganan Pelanggaran Etika
Kedokteran. http://Tugas Majelis Kehormatan Etik Undang-Undang Nomor 2 Tahun
Kedokteran dan Majelis Kehormatan Disiplin 2014 tentang Jabatan Notaris,
Kedokteran Indonesia - hukumonline.com.htm.
Tanggal 30 Oktober 2015. tentu saja tidak bisa dilakukan

209
karena Majelis Kehormatan tidak memberikan persetujuan
Notaris sebagai lembaga yang pemeriksaan atau menolak, maka
berwenang dalam hal ini pun pihak Majelis Kehormatan Notaris
masih belum terbentuk. harus memberikan klarifikasi
Berdasarkan hal tersebut, maka dengan alasan yang sesuai dengan
selama petunjuk pelaksanaan Hukum dan ketentuan peraturan
pembentukan Majelis Perundang-Undangan. Disinilah
Kehormatan Notaris belum nantinya diprediksi akan terjadi adu
terbentuk, penyidik hanya akan argumentasi antara penyidik dengan
mendasarkan prosedur Majelis Kehormatan Notaris, karena
pemeriksaan pada ketentuan masing-masing akan membela
Hukum Acara Pidana (KUHAP) kepentingannya. Untuk mengatasi
tentang prosedur pemanggilan hal ini diharapkan masing-masing
dan penyitaan barang bukti pihak untuk saling memahami dan
sebagaimana diatur dalam Pasal mengerti tugas dan kewajiban
112 ayat 2 Hukum Acara Pidana masing-masing pihak demi
(KUHAP). Jika memang ada terselenggaranya proses penyidikan
Notaris yang perlu dimintai ini secara profesional, jujur, tidak
keterangan dalam penyidikan, memihak dan tidak arogansi.149
penyidik akan langsung Sebelum melanjutkan
memberikan surat pemanggilan penyelidikan, penyidik akan
kepada Notaris yang mengirimkan suatu permintaan
bersangkutan, tanpa perlu izin persetujuan pemeriksaan kepada
dari lembaga manapun.148 Majelis Kehormatan Notaris.
Selanjutnya Majelis Kehormatan
2. Tindak Lanjut Proses Peradilan Notaris akan melakukan rapat
dalam Hal Majelis Kehormatan terlebih dahulu dan memanggil
Notaris Menolak Memberikan Notaris tersebut untuk didengar
Persetujuan Pengambilan Minuta keterangannya sebelum
Akta dan Pemanggilan Notaris. memutuskan apakah permintaan
Apabila Majelis Kehormatan dari pihak kepolisian tersebut dapat
Notaris memberikan persetujuan, disetujui atau tidak.150 Dalam hal
maka penyidik akan melanjutkan Majelis Kehormatan Notaris
dengan melakukan pemeriksaan menolak memberikan Persetujuan
sesuai dengan waktu yang telah 149
Zulkarnain Adinegara. “Mekanisme
ditentukan oleh penyidik. Namun Penyidikan Terhadap Notaris Yang Diduga
apabila Majelis Kehormatan Notaris Melakukan Tindak Pidana”
http://www.notariesdigest.com/notariesdigest. tanggal
148
Johno Supriyanto. 2015. “Peran Majelis 22 Agustus 2015,
150
Pengawas Wilayah Notaris dalam Melaksanakan Herman Andriansyah. 2015. “Kewajiban
Pengawasan dan Pembinaan Kepada Notaris”. Notaris dalam Menjaga Kerahasiaan Akta dalam
Makalah disajikan dalam Sosialisasi Undang-Undang Kaitannya dengan Hak Ingkar Notaris”. Makalah
Jabatan Notaris seminar diselenggarakan di disajikan dalam Sosialisasi Undang-Undang Jabatan
Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Notaris seminar diselenggarakan di Kementrian
Kantor Wilayah Sumatra Selatan. Palembang, 13 Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Kantor Wilayah
Agustus 2015. Sumatra Selatan. Palembang, 13 Agustus 2015.

210
maka proses peradilan tetap Menurut Habib Adjie151 Jika
berlanjut hanya saja penolakan Notaris di panggil oleh Penyidik,
tersebut tidak serta merta dikatakan maka Notaris berkewajiban untuk
bahwa Notaris tidak mau menjelaskan terlebih dahulu kepada
bekerjasama tetapi melainkan penyidik, bahwa berdasarkan
Notaris mempunyai kewajiban Undang-Undang Jabatan Notaris,
untuk menyimpan dan merahasiakan Notaris berkewajiban ingkar, dan
minuta akta. Disisi lain ketiadaan kemudian Notaris membuat surat
persetujuan Majelis Kehormatan pernyataan yang isinya bahwa
Notaris dapat dipandang oleh pihak Notaris menggunakan Kewajiban
penyidik sebagai tindakan tidak Ingkar dan surat tersebut diserahkan
kooperatif dalam proses peradilan. kepada Penyidik. Perlindungan
Notaris bisa saja menolak terhadap Notaris terdapat pada
memberikan minuta aktanya dalam dirinya sendiri yaitu Kewajiban
proses peradilan. Namun penolakan Ingkar yang tetap melekat pada diri
ini tidak serta merta dikatakan Notaris sampai kapanpun. Selain
bahwa Notaris tidak mau Kewajiban Ingkar Notaris dapat
bekerjasama dan membantu proses melindungi dirinya yang terpenting
peradilan, melainkan Notaris hanya harus terdapat dalam jiwa Notaris
melaksanakan Pasal 16 ayat (1) itu sendiri yaitu Jujur, Bekerja
Undang-Undang Jabatan Notaris dengan ilmu yang kita miliki, dan
huruf b, yang menentukan bahwa Bekerja dengan baik .
Notaris wajib menyimpan minuta
akta yang berdasarkan Pasal 1 angka C. Penutup
13 Undang-Undang Jabatan Notaris  Kesimpulan
1. Dalam Proses Peradilan
Nomor 2 tahun 2014 merupakan
Penyidik, Penuntut Umum,
arsip Negara. Dalam hal Majelis
maupun Hakim dapat
Kehormatan Notaris belum
memanggil dan mengambil
terbentuk pada dasarnya Notaris
fotokopi minuta akta dengan
mempunyai cara lain sebagai bentuk
izin dari Majelis Kehormatan
perlindungan Hukum dalam
Notaris. Dalam hal Majelis
menjalankan tugas jabatannya
Kehormatan Notaris belum
berdasarkan Undang-Undang
terbentuk, Pemanggilan Notaris
Jabatan Notaris dan Undang-
dapat melihat norma yang ada di
Undang yang lain, yaitu pada
Majelis Kehormatan Disiplin
jabatan Notaris telah ada melekat
Kedokteran Indonesia yaitu
yaitu kewajiban ingkar. Bahwa
Notaris mempunyai Kewajiban/hak 151
Habib Adjie. Bedah Buku “Penafsiran
Ingkar bukan untuk kepentingan diri Tematik Hukum Notaris Indonesia Berdasarkan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun
Notaris, tapi untuk kepentingan 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang
kepentingan para pihak yang telah Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris”.
Tanggal 19 Mei 2015. Pukul 14.15. Hotel Fave
mempercayakan kepada Notaris.

211
dalam bentuk tertulis. Selama organisasi, tata kerja, dan
petunjuk pelaksanaan anggaran Majelis Kehormatan
pembentukan Majelis Notaris. Hal ini dimaksudkan
Kehormatan Notaris belum agar dapat memberikan
terbentuk, penyidik hanya akan perlindungan hukum dan
mendasarkan prosedur kepastian Hukum wewenang
pemeriksaan pada ketentuan memberikan persetujuan.
Hukum Acara Pidana (KUHAP). 2. Perlu kerjasama yang baik
2. Dalam hal Majelis Kehormatan antara Penegak Hukum dan
Notaris menolak memberikan Notaris dengan tetap melindungi
Persetujuan karena, Notaris kepentingan para penghadap,
tidak menyaksikan, melihat dan dan menjaga kehormatan jabatan
mendengar atau mengalami Notaris. Notaris perlu bekerja
sendiri pembuatan akta yang dengan Jujur, Bekerja dengan
dijadikan dasar dugaan tindak ilmu yang kita milik, dan
pidana. Sehingga Proses Bekerja dengan baik.
peradilan tetap berlanjut, hanya
saja jika terjadi penolakan
tersebut tidak serta merta
dikatakan bahwa Notaris tidak
mau bekerjasama tetapi
melainkan Notaris mempunyai
kewajiban untuk menyimpan
dan merahasiakan minuta akta.
Dengan demikian tidak ada
kesan arogan, tidak kooperatif,
dan adanya konfirmasi penilaian
terhadap pemanggilan tersebut.

 Saran
1. Belum terbentuknya Majelis
Kehormatan Notaris tidak
menghilangkan kewajiban
Notaris untuk menjaga
DAFTAR PUSTAKA
kerahasiaan akta yang dibuat
 BUKU
Notaris. Dengan demikian,
Pemerintah harus segera
Ajie Habib. 2009. Hukum Notaris
mengeluarkan Peraturan Menteri
Indonesia (Tafsir Tematik
mengenai tugas dan fungsi,
Terhadap Undang-Undang
syarat dan tata cara
Jabatan Nomor 30 Tahun 2004
pengangkatan dan
pemberhentian, struktur

212
Tentang Jabatan Notaris. Cetakan
2. Bandung: PT. Refika Aditama.  PERUNDANG-UNDANGAN
Undang-Undang Dasar Negara
___________. 2013. Sanksi Perdata & Republik Indonesia Tahun 1945.
Administrasi Terhadap Notaris
Staatblad Tahun 1847 Nomor 23
Sebagai Pejabat Publik..
Tentang Kitab Undang-Undang Hukum
Bandung: PT.Refika Aditama.
Perdata (KUHPerdata).

___________.2015. Penafsiran Tematik Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946


Hukum Notaris Indonesia Tentang Kitab Undang-Undang
berdasarkan Undang-Undang Hukum Pidana (KUHPidana).
Nomor 2 Tahun 2014 Tentang
Perubahan atas Undang-Undang Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981
Nomor 30 Tahun 2004. Bandung: Tentang Undang-Undang Hukum
PT. Refika Aditama. Acara Pidana (KUHAP).

Erwin, Muhammad dan Amrullah Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014


Arfan. 2008. Filsafat hukum tentang Perubahan atas Undang-
mencari hakikat hukum, Undang Nomor 30 Tahun 2004
Palembang: Universitas tentang Jabatan Notaris Lembaran
Sriwijaya. Pengantar Hukum Negara Republik Indonesia
Pajak Ed. Revisi 8. Jakarta: Tahun 2014 Nomor 3, Tambahan
Rajawali Pers. Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014, Nomor 4432.
HR Ridwan. 2002. Hukum Administrasi
Putusan Mahkamah Konstitusi, dengan
Negara. Jakarta: Rajawali Press.
Putusannya No.49/PUU-X/2012
tanggal 23 Maret 2013, telah
Panggabean H.P. 2012. Hukum
mengabulkan permohonan Uji
Pembuktian, teori praktik dan
Materiil (judicial review)
yurisprudensi Indonesia. Cetakan
terhadap Pasal 66 ayat (1)
Pertama. Bandung: Alumni.
Undang-Undang Nomor 30
Tahun 2004 tentang Jabatan
Syaifuddin, Muhammad. 2009.
Notaris.
Menggagas Hukum Humanistis-
Komersial (Upaya Perlindungan  MAKALAH
Hukum Hak Masyarakat Kurang Herman Andriansyah. 2015.
dan Tidak Mampu atas Pelayanan “Kewajiban Notaris dalam
Kesehatan Rumah sakit Swasta Menjaga Kerahasiaan Akta dalam
Bahan Hukum Perseroan Kaitannya dengan Hak Ingkar
Terbatas), Malang. Bayumedia Notaris”. Makalah disajikan
Publishing. dalam Sosialisasi Undang-
Undang Jabatan Notaris seminar

213
diselenggarakan di Kementrian Humaryanto, Majelis Kehormatan Etika
Hukum dan Hak Asasi Manusia Kedokteran, dalam Penanganan
RI Kantor Wilayah Sumatra Pelanggaran Etika Kedokteran.
Selatan. Palembang, 13 Agustus http://Tugas Majelis Kehormatan
2015. Etik Kedokteran dan Majelis
Johno Supriyanto. 2015. “Peran Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran
Pengawas Wilayah Notaris dalam Indonesia - hukumonline.com.htm.
Melaksanakan Pengawasan dan Tanggal 30 Oktober 2015.
Pembinaan Kepada Notaris”.
Makalah disajikan dalam
Sosialisasi Undang-Undang
Jabatan Notaris seminar
diselenggarakan di Kementrian
Hukum dan Hak Asasi Manusia
RI Kantor Wilayah Sumatra
Selatan. Palembang, 13 Agustus
2015.

 INTERNET
Kamus Besar Bahasa Indonesia.
http://kbbi.web.id

Syafran Sofyan. Catatan Perubahan


UU Jabatan Notaris Nomor 30
tahun 2004 (Peraturan Menteri
Sangat Mendesak),
http://medianotaris.com/catatan_perubah
an_uu_jabatan_notaris_nomor_tah
un_berita352.html. diakses
tanggal 12 Januari 2014. Pukul
10.00 WIB.

Zulkarnain Adinegara Mekanisme


Penyidikan terhadap Notaris
yang diduga melakukan Tindak
Pidana, http://notariesdigest.com.
diakses tanggal 15 januari 2015.
Pukul 10.00 WIB.

214
PEDOMAN SISTEMATIKA DAN TEKNIK PENULISAN

Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan “Repertorium”, yang diterbitkan oleh Program


Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya bekerja sama
dengan Pengurus Wilayah Ikatan Notaris Indonesia Sumatera Selatan, menerima
sumbangan artikel ilmiah untuk dimuat dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Artikel harus orisinal, tidak mengandung unsur-unsur plagiasi, dan kaya akan
gagasan berdasarkan temuan-temuan yang dianalisis pada lapisan filsafat hukum,
teori hukum dan dogmatik hukum, yang bermuara pada kepentingan praktik hukum
di bidang kenotariatan pada khususnya dan hukum bisnis pada umumnya.
2. Artikel belum pernah diterbitkan dalam media lain.
3. Lebih dianjurkan kepada penyumbang artikel untuk membaca Jurnal Ilmiah Hukum
Kenotariatan “Repertorium” minimal 2 terbitan terakhir dan wajib membaca
Pedoman Sistematika dan Teknis Penulisan pada Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan
“Repertorium”.
4. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris dengan standar kaidah-kaidah
bahasa yang baik dan benar.
5. Artikel diketik dengan MS Words, huruf Times New Roman, font 12, spasi rangkap di
atas kertas kwarto (A4) sepanjang 20 s.d. 25 halaman.
6. Setiap artikel harus disertai abstrak dalam bahasa Inggris dan Indonesia (masing-
masing maksimal 200 kata) dan kata kunci dalam Bahasa Indonesia dan Inggris
(masing-masing maksimal 5 kata).
7. Artikel dapat merupakan artikel konseptual maupun artikel hasil penelitian hukum di
bidang kenotariatan pada khususnya atau hukum bisnis pada umumnya.
8. Artikel konseptual ditulis dengan sistematika, sebagai berikut:
a. Judul (maksimal 20 kata dalam Bahasa Indonesia dan 15 kata dalam Bahasa
Inggris).
b. Nama Penulis (ditulis tanpa gelar akademik). Penulis artikel harap mencantumkan
bio data singkat termasuk status pekerjaan/jabatan atau asal instansi serta alamat
e-mail, untuk memudahkan korespondesi dengan ilmuwan lainnya, dan
dicantumkan sebagaimana lampiran pada naskah artikel.
c. Abstrak (berisi uraian singkat latar belakang masalah, metode kajian, kesimpulan
dan saran, tidak lebih dari 200 kata dan hanya satu paragraf).
d. Kata kunci (tidak lebih dari 5 kata).
e. Pendahuluan (berisi uraian latar belakang masalah, rumusan masalah, dan
kerangka pemikiran hukum).
f. Pembahasan (langsung dibuat subjudul dan sub-sub judul sesuai dengan rumusan
masalah yang dibahas).
g. Penutup, yang terdiri dari kesimpulan dan saran.
h. Daftar Pustaka.
9. Artikel hasil penelitian ditulis dengan sistematika sebagai berikut:
a. Judul (sama dengan ketentuan pada judul artikel konseptual).
b. Nama Peneliti (sama dengan ketentuan pada penulis artikel konseptual).
c. Abstrak (berisi uraian singkat latar belakang masalah, metode penelitian,
kesimpulan dan saran, tidak lebih dari 200 kata dan hanya satu paragraf).
d. Kata kunci (tidak lebih dari 5 kata).
e. Pendahuluan (berisi uraian latar belakang masalah dan rumusan masalah).
f. Kerangka Teori dan Konseptual (menguraikan secara singkat teori-teori hukum
dan konsep-konsep hukum yang digunakan dalam penelitian).

215
g. Metode Penelitian (berisi kalimat singkat metode penelitian hukum yang
digunakan dalam penelitian).
h. Temuan dan Analisis (langsung dibuat subjudul dan sub-subjudul sesuai dengan
rumusan masalah yang dibahas).
i. Penutup, yang terdiri dari kesimpulan dan saran/rekomendasi.
j. Daftar Pustaka.
10. Uraian artikel ditulis secara sistematis dan tersusun menurut huruf dan/atau nomor.
Hindari uraian artikel dengan susunan kalimat yang mengalir.
11. Penulisan judul artikel, judul bagian, subjudul dan sub-subjudul dengan ketentuan,
sebagai berikut:
a. Judul artikel ditulis dengan huruf besar semua, tebal, di bagian atas tengah
artikel.
b. Judul bagian Pendahuluan, Kerangka Teori dan Konseptual, Metode Penelitian,
Temuan dan Analisis, Penutup (yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran atau
Rekomendasi) dan Daftar Pustaka ditulis dengan huruf besar untuk huruf
pertama saja sedangkan huruf berikutnya kecil, tebal, bernomor, rata tepi kiri.
c. Subjudul ditulis dengan huruf besar untuk huruf pertama saja sedangkan huruf
berikutnya kecil, tebal, bernomor, rata tepi kiri. d. Sub-sub judul ditulis dengan
huruf besar untuk huruf pertama saja sedangkan huruf berikutnya kecil, tebal,
rata tepi kiri.
12. Penulisan kutipan menggunakan footnote (catatan kaki) dengan tata cara penulisan
sebagai berikut:
a. Buku, dimulai nama penulis (diikuti titik), tahun terbit (diikuti titik), judul buku
(cetak miring, diikuti titik), tempat terbit (diikuti titik dua), penerbit (diikuti
titik), halaman (disingkat hlm.) yang dikutip.
b. Disertasi, Tesis, Skripsi, dan Hasil Penelitian lainnya, dimulai nama penulis
(diikuti titik), tahun (diikuti titik), judul disertasi, tesis, skripsi, dan hasil
penelitian lainnya (diberikan tanda petik, diikuti titik), tulisan disertasi, tesis,
skripsi, atau hasil penelitian lainnya (dicetak miring, diikuti titik), nama
perguruan tinggi (diikuti titik), tempat perguruan tinggi (diikuti titik), dan
halaman (disingkat hlm.) yang dikutip.
c. Makalah, dimulai nama penulis (diikuti titik), tahun (diikuti titik), judul makalah
(diberikan tanda petik, diikuti titik), tulisan makalah (dicetak miring, diikuti
titik), nama forum/semi- nar (diikuti titik), tempat, tanggal/bulan (diikuti titik),
dan halaman (disingkat hlm.) yang dikutip.
d. Artikel suatu Jurnal, dimulai nama penulis (diikuti titik), tahun (diikuti titik),
judul artikel (berikan tanda petik, diikuti titik), nama jurnal (cetak miring, diikuti
titik) volume, nomor, bulan (diikuti titik), halaman (disingkat hlm.) yang dikutip.
e. Artikel bersumber dari internet, dimulai nama penulis (diikuti titik), judul tulisan
(diberikan tanda petik, diikuti titik), tulisan artikel (cetak miring, diikuti titik)),
alamat website (tulis lengkap, diikuti titik), tanggal diakses.
f. Berita (news) yang penulisnya tidak diketahui yang bersumber dari internet,
dimulai sebutan anomim (diikuti titik), judul tulisan (diberikan tanda petik,
diikuti titik), tulisan berita (cetak miring, diikuti titik), alamat website (tulis
lengkap, diikuti titik), tanggal diakses.
g. Artikel bersumber dari surat khabar, dimulai nama penulis (diikuti titik), tahun
(diikuti titik), judul tulisan (diberikan tanda petik, diikuti titik), tulisan artikel
(cetak miring, diikuti titik), tulisan artikel (cetak miring, diikuti titik), nama surat
kabar (cetak miring, diikuti titik), hari, tanggal/bulan/tahun (diikuti titik),
halaman (disingkat hlm.) yang dikutip. h. Berita yang penulisnya tidak diketahui
216
yang bersumber dari surat khabar, dimulai sebutan anonim (diikuti titik), judul
tulisan (diberikan tanda petik, diikuti titik), tulisan berita (cetak miring, diikuti
titik), nama surat kabar (cetak miring, diikuti titik), hari, tanggal (diikuti titik),
halaman (disingkat hlm.) yang dikutip.
13. Daftar pustaka hendaknya dirujuk dari edisi terbaru, yang disusun secara
alphabetis dengan tata cara penulisan seperti angka 11 di atas, tetapi nama penulis
dibalik yang diantarai oleh tanda koma, serta tidak menggunakan halaman yang
dikutip.
14. Artikel dalam bentuk hard copy (print out) rangkap 2, dan soft copy (compaq disc)
dapat diserahkan langsung atau dikirim ke alamat redaksi/tata usaha Jurnal Ilmiah
Hukum Kenotariatan “Repertorium”, dengan dilampiri biodata secukupnya.
Pengiriman artikel dalam bentuk file juga dapat dilakukan melalui e-mail ke
alamat: repertorium.notariat_fhunsri@yahoo.co.id
15. Semua naskah artikel akan ditelaah oleh penyunting ahli/mitra bestari (reviewers)
dan penyunting pelaksana yang ditujuk oleh Ketua Penyunting sesuai dengan
kompetensi keilmuan hukumnya masing-masing. Penulis artikel diberikan
kesempatan untuk melakukan perbaikan (revisi) naskah artikel berdasarkan
saran/rekomendasi dari penyunting ahli/mitra bestari (reviewers) dan penyunting
pelaksana. Kepastian pemuatan atau penolakan naskah artikel akan diberitahukan
kepada penulis naskah artikel.
16. Naskah artikel yang telah memenuhi ketentuan dapat dikirimkan ke alamat:
Redaksi/Tata Usaha Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan “Repertorium”, Kampus
Notariat FH Unsri Palembang, Jalan Srijaya Negara, Bukit Besar, Palembang,
Telp. 0711-352034, Faks. 0711-350125, e-mail:
repertorium.notariat_fhunsri@yahoo.co.id, Contact Person : Saut P. Panjaitan
(HP. 081933399726) dan Antonius Suhadi AR (HP. 081532505732).

217