Anda di halaman 1dari 4

PEMBINAAN KELUARGA SAKINAH

1. Upaya Pembinaan
Untuk mewujudkan Keluarga Sakinah serta syarat syarat yang harus diperhatikan
oleh orang yang akan menikah sehingga meereka dapat mewujudkan keluarga sakinah.
Sebelumnya perlu dipahami terlebih dahulu pengertian perkawinan menurut Islam. Dalam
pasal 2 Kompilasi Hukum Islam dikatakan, perkawinan menurut hukum Islam adalah
pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mitsaqan ghalidzan untuk mentaati perintah
Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah. Dari keterangan ini kita dapat mengetahui
bahwa perkawinan dalam Islam bukan semata-mata memenuhi kebutuhan seksual seperti
yang dipahami oleh Burgerlijk Wetboek, tetapi mempunyai dimensi penganbdian kepada
Allah. Karena berdimensi Ibadah, maka kebutuhan akan terhadap peraturan perundang-
undangan sangat diperlukan. Disinilah pembicaraan tentang bagaimana mewujudkan
Keluarga Sakinah menjadi sangat penting.
Mengacu pada pasal 4 dan 5 Kompilasi Hukum Islam secara garis besar ada dua
syarat yang harus dipenuhi, Yaitu : (1) Syarat-syarat keagamaan, ( syariat); dan (2) syarat-
syarat administratif Kenegaraan. Yang dimaksud syarat keagamaan adalah segala
ketentuan yang harus dipenuhi oleh calon pengantin berdasarkan ajaran Islam. Menurut
pasal 4 Kompilasi Hukum Islam dinyatakan, perkawinan adalah sah apabila dilakukan
menurut hukum Islam sesuai dengan pasal 2 ayat 1 Undang-Undang No 1 tahun 1974.
Bunyi Pasal tersebut adalah : Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum
masin-masing agamanya dan kepercayaannya itu.
Adapun syarat-syarat administrasi kenegaraan berkaitan dengan pemenuhan
pencatatan peristiwa nikah menurut ketentuan yang tertuang dalam Pasal 5 Kompilasi
Hukum Islam ayat (1) dan (2) yang menyatakan : (1) agar terjamin ketertiban perkawinan
bagi masyarakat Islam setiap perkawinan harus dicatat; (2) Pencatatan perkawinan
tersebut pada ayat (1), dilakukan oleh Pegawai Pencatat Nikah sebagaimana yang diatur
dalam Undang-undang No. 22 Tahun 1946 jo Undang-undang No. 32 Tahun 1954.
Ketentuan ini mempertegas apa yang tercantum dalam Pasal 2 ayat (2) UU no. 1 tahun
1974 tentang Perkawinan yang menyatakan : Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut
peraturan perundang-ndangan yang berlaku.
Perkawinan harus dicatat. Menurut Pasal 5 ayati 1 Inpres No. 1 Tahun 1991
tentang Kompilasi Hukum Islam, Pencatatan itu dimaksudkan dalam rangka ketertiban
perkawinan bagi masyarakat. Ketetiban itu berkaitan pula dengan terjaminnya kepastian
hukum dalam masyarakat dan melindungi kaum perempuan dari tindakan aniaya kaum
suami yang tidak bertanggung jawab.
Pandangan Islam tentang memilih jodoh untuk dinikahi : empat alasan seseorang
(perempuan atau laki-laki ) dinikahi : (1) alasan keturunan; (2) kekayaan: (3) alasan rupa;
dan (4) alasan agama.
Dalam Islam, salah satu alasan seorang laki-laki menikahi seorang perempuan atau
perempuan menerima pinangan seorang laki-laki. Tetapi Islam menekankan faktor agama
sebagai alasan utama seseorang melangsungkan pernikahan, bukan tiga faktor lainnya.

Mengapa agama ?
Karena agama lebih abadi dan kekal. Menurut Pasal 1 Kompilasi Hukum Islam,
perkawinan ialaha Ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai
suami siteri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekall berdasrkan
keTuhanan Yang Maha Esa. Dengan agama yang baik diharapkan perilaku seseorang baik
pula, sehingga dapat mendukung apa yang
Disinggung oleh Pasal 1 Kompilasi Hukum Islam itu.

Selain masalah legalitas agama dan hukum negara, yang harus diperhitungkan
untuk mewujudkan keluarga sakinah adalah menciptakan hubungan yang baik atau
hubungan yang harmonis antara suami isteri.

Upaya mewujudkan harmonisasi hubungan suami isteri dapat dicapai antara lain
melalui:

1. Adanya Saling Pengertian


Diantara suami isteri hendaknya saling memahami dan mengerti tentang keadaan
masing-masing, baik secara fisik maupun mental. Perlu dikatahui bahwa suami isteri
sebagai manusia, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Masing-
masing sebelumnya tidak salnig mengenal, bertemu setelah sama-sama dewasa. Perlu
diketahui pula bahwa keduanya sebagai manusia, tidak saja berbeda jenis tetapi
masing-masinh juga memiliki perbedaan sikap, tingkah laku dan mungkin perbedaan
pandangan.

2. Saling Menerima Kenyataan


Suami isteri hendaknya sadar bahwa jodoh, rezeki dan mati ada dalam kekuasaan
Allah, tidak dapat dirumuskan seecara matematis. Namun kepada kita manusia
diperintahkan untuk melakukan ikhtiar. Hasilnya barulah merupakan suatu kenyataan
yang harus kita terima, termasuk keadaan suami isteri kita masing-masing, kita terima
secara tulus ikhlas.
3. Saling Melakukan Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri dalam keluarga berarti setiap anggota keluarga berusaha untuk saling
mengisi kekurangan yang ada pada diri masing-masing serta mau menerima dan mau
mengakui kelebihan yang ada pada orang lain dalam lingkungan keluarga.
Kemampuan penyesuaian diri oleh masing-masing anggota keluarga mempunyai
dampak yang positif, baik bagi pembinaan keluarga maupun masyarakat dan bangsa.

4. Memupuk Rasa Cinta


Setiap pasangan suami isteri menginginkan hidup bahagia. Kebahagiaan hidup adalah
bersifat relatif sesuai dengan cita rasa dan keperluannya. Namun begitu setiap orang
berpendapat sama bahwa kebahagiaan adalah segala sesuatu yang dapat mendatangkan
ketenteraman, kemanan dan kedamaian serta segala sesuatu yang bersifat pemenuhan
keperluan mental spritual manusia. Untuk dapat mencapai kebahagiaan keluarga,
hendaknya antara suami isteri senantiasa berusaha memupuk rasa cinta dengan cara
saling menyayangi, kasih mengasihi, hormat menghormati serta saling harga
menghargai dan penuh keterbukaan.

5. Melaksanakan Asas Musyawarah


Dalam kehidupan berkeluarga, sikap bermusyawarah terutama antara suami isteri,
merupakan sesuatu yang perlu diterapkan. Hal tersebut sesuai dengan prinsip bahwa
tidak masalah yang tidakdapat dipecahkan selama prinsip musyawarah diamalkan.
Dalam hal ini sifat terbuka, lapanh dada, jujur, mau menerima dan memberi serta sikap
tidak mau menang sendiri. Sikap suka bemusyawarah dalam keluarga dapat
menumbuhkan rasa memiliki dan rasa tanggungjawab diantara para anggota keluarga
dalam menyelesaikan dan memecahkan masalah masalah yang timbul.

6. Suka Memaafkan
Diantara suami isteri harus ada sikap kesediaan untuk saling memaafkan atas kesalahan
masing-masing. Hal ini penting karena tidak jarang soal yang kecil dan sepele dapat
menjadi sebab terganggunya hubungan suami isteri yang tidak jarang dapat menjurus
kepada perselisihan yang berkepanjangan.

7. Berperan serta Untuk Kemajuan Bersama


Masing-masing suami isteri harus berusaha saling membantu pada setiap usaha untuk
kemajuan bersama yang pada ada gilirannya akan menjadi kebahagiaan keluarga.

Selain ketujuh aspek diatas, dalam rangka membangun Keluarga Sakinah kita tidak
hanya membina hubungan yang harmonis antara suami isteri, tetapi juga harus
memperhatikan hubungan yang harmonis dengan pihak-pihak lain seperti hubungan
antar anggota keluarga dan lingkungan.

3. Kiat Membina Ruma Tangga Sakinah


Kiat-kiat membangun rumah tangga yang sakinah antara lain sbb :
1. Menghiasi rumah tangga dengan nilai agama (suami isteri harus beragama,
karena agama merupakan tolok ukur dalam menjalankan kehidupan
berumah tangga)
2. Menyisihkan waktu untuk kebersamaan, karena jalinan hubungan batin
sangat diperlukan bagi pasangan suami isteri.
3. Menciptakan komunikasi yang baik, karena dengan komunkasi yang baik
segala problem dan unek-unek dapat dikeluarkan sehingga dapat dicarikan
jalan pemecahannya.
4. Menumbuhkan rasa saling menghargai, karena suaaaaami isteri yang
merasa hilang harga dirinya atau tidak dihargai hidupnya merasa tertekan
dan terisolasi.
5. Mewujudkan keutuhan, ini artinya pihak masing-masing suami isteri harus
siap mengantisipasi beragam problem keluarga dengan fikiran jernih,
mental sehat dan mampu menahan emosi, saling memaafkan, bersabar,
introspeksi diri, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.