Anda di halaman 1dari 10

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PERITONITISDI RUANG 12
RSUD dr. SAIFUL ANWAR MALANG

Oleh:
Alim Nur Hakim
Diyah Purwanti
Khuswatun Khasanah
Yayuk Indrawati

INSTALASI RAWAT INAP II


RSUD dr. SAIFUL ANWAR MALANG
2017
SAP (SATUAN ACARA PENYULUHAN)
PERITONITIS

Pokok bahasan : Peritonitis


Sasaran : Keluarga pasien peritonitis dengan post operasi laparotomi
Tempat : Ruang 12
Hari / tanggal : Kamis, 23 November 2017
Alokasi Waktu: 20 menit (13.00-13.20 WIB)
Penyuluh : Mahasiswa Stikes hafshawaty Zainul Hasan Genggong

A. Tujuan Instruksional
Tujuan Umum :
Setelah mengikuti penyuluhan selama 20 menit, peserta dapat memahami
tentang konsep peritonitis dan cara penanganannya.
Tujuan Khusus :
Setelah mengikuti penyuluhan selama 20 menit peserta mampu :
1. Peserta mengetahui pengertianperitonitis
2. Peserta mengetahui klasifikasi peritonitis
3. Peserta mengetahui penyebab peritonitis
4. Peserta mengetahui tanda dan gejala peritonitis
5. Peserta mengetahui komplikasi peritonitis
6. Peserta mampu melakukan perawatan luka pasien post op laparotomy
B. Sub Pokok Bahasan
1. Pengertian peritonitis
2. Klasifikasi peritonitis
3. Penyebab peritonitis
4. Tanda dan gejala peritonitis
5. Komplikasi peritonitis
6. Perawatan luka post operasi laparotomi
C. Kegiatan Penyuluhan
Tahap Waktu Kegiatan Penyuluh Kegiatan Pasien Metode Media
Pendahuluan 3 menit 1. Mengucapkan salam 1. Menjawab salam Ceramah
2. Memperkenalkan diri 2. Memperhatikan dengan
3. Menjelaskan sub topik yang akan dibahas
baik
4. Menjelaskan maksud, tujuan, dan kontrak
3. Mendengarkan dengan
waktu
seksama
Penyajian 12 1. Menjelaskan pengertian peritonitis 1. Mendengar dengan seksama Ceramah powerpoint
2. Menjelaskan klasifikasi peritonitis 2. Memperhatikan dengan dan tanya
menit
3. Menjelaskan penyebab peritonitis
baik jawab
4. Menjelaskantanda dan gejala peritonitis
3. Bertanya
5. Menjelaskan komplikasi peritonitis
6. Perawatan luka post operasi laparotomi
Penutup 5 menit 1. Memberikan kesempatan peserta untuk 1. Bertanya jika ada yang Ceramah dan
bertanya belum mengerti tanya jawab
2. Memberikan pertanyaan kepada peserta 2. Menjawab pertanyaan
3. Menyimpulkan kegiatan penyuluhan 3. Mendengar dengan seksama
4. Mengucapkan salam penutup 4. Menjawab salam penutup
D. Evaluasi:
1. Evaluasi Terstruktur
a. Meminta perizinan kepada kepala ruang dan petugas ruang tunggu untuk
mengadakan penyuluhan
b. Meminta keluarga yang ada di ruang tunggu untuk mengikuti proses
penyuluhan.
c. Penyuluh menyiapkan SAP, materi dan media pembelajaran berupa power
point
2. Evaluasi Proses
Peserta terlihat antusias dan kooperatif. Proses penyuluhan berjalan lancer dan
dalam keadaan kondusif.
3. Evaluasi Hasil
Pelaksanaan pre dan post test terlaksana dengan baik. Peserta dapat menjawab
pertanyaan yang diberikan oleh penyuluh. Peserta mampu menguasai 90% materi
tentang konsepperitonitis serta penanganannya.
E. Materi
(Terlampir)
F. Daftar Pustaka
1. Brunner, Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtanmedikalbedah, edisi 8 vol.3. EGC.
Jakarta
2. Carpenito, LJ. 2001. BukuSakuDiagnosaKeperawatanedisi6 . Jakarta: EGC
3. Doengoes, M.E., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.
4. IrchamMachfoedz, 2007. PertolonganPertama di Rumah, di TempatKerja, atau di
Perjalanan. Yogyakarta: Fitramaya
5. Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second
Edition. New Jersey: Upper Saddle River
6. Mansjoer, A dkk. 2007. KapitaSelektaKedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius
7. McCloskey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second
Edition. New Jersey: Upper Saddle River
8. Santosa, Budi. 2007. PanduanDiagnosaKeperawatan NANDA 2005-2006.
Jakarta: Prima Medika
9. Smeltzer, S.C., 2001, Buku Ajar KeperawatanMedikalBedah, EGC, Jakarta.

MATERI PERITONITIS

Latar Belakang
Peritonitis adalah inflamasi peritoneum lapisan membrane serosa rongga abdomen
dan meliputi visera merupakan penyakit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut
maupun kronis/ kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada
palpasi, defans muscular, dan tanda-tanda umum inflamasi. Pasien dengan peritonitis dapat
mengalami gejala akut, penyakit ringan dan terbatas, atau penyakit beratatau sistemik
dengan syok sepsis.
Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab primer (peritonitis spontan), sekunder
(berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral), atau penyebab tersier
(infeksirekurenataupersistensesudahterapiawal yang adekuat). Infeksipada abdomen di
kelompok kan menjadi peritonitis infeksi (umum) danabses abdomen (local infeksi
peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang
mendasarinya.
Penyebab peritonitis adalah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit
hati kronik. Penyebab lain peritonitis sekunder adalah perforasi apendisitis, perforasi ulkus
peptikum dan duodenum, perforasi kolon akibat diverdikulitis, volvulus dan kanker, dan
strangulasi kolon ascendens.

1. Pengertian peritonitis

Peritonitis adalah peradangan peritoneum, suatu membran yang melapisi


rongga abdomen (Corwin, 2000).
Peritonitis adalah inflamasi rongga peritoneal dapat berupa primer atau
sekunder, akut atau kronis dan diakibatkan oleh kontaminasi kapasita peritoneal
oleh bakteri atau kimia (marylinn E,doenges, 1999 hal:513)
Peritonitis adalah inflamasi peritoneum lapisan membrane serosa rongga
abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi
dalam bentuk akut maupun kronis / kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri
tekan dan nyeri lepas pada palpasi, defans muscular, dan tanda-tanda umum
inflamasi.
Peritonitis adalah peradangan pada peritonitis yang merupakan pembungkus
visera dalam rongga perut. Peritonitis adalah suatu respon inflamasi atau supuratif
dari peritoneum yang disebabkan oleh iritasi kimiawi atau invasi bakteri.
2. Penyebab

Bila ditinjau dari penyebabnya, infeksi peritonitis terbagi atas penyebab


primer (peritonitis spontan), sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada
organviseral), atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi
awal yang adekuat). Secara umum, infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi
peritonitis infektif (umum) dan abses abdomen (lokal).
Infeksi peritonitis relatif sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari
penyakit yang mendasarinya. Penyebab utama peritonitis ialah spontaneous
bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. SBP terjadi bukan
karena infeksi intraabdomen, namun biasanya terjadi pada pasien dengan asites
akibat penyakit hati kronik. Kira - kira 10-30% pasien dengan sirosis hepatis
dengan ascites akan berkembang menjadi peritonitis bakterial.
Peritonitis primer disebabkan oleh penyebaran infeksi dari darah dan
kelenjar getah bening ke peritoneum. Jenis jarang peritonitis - kurang dari 1% dari
semua kasus peritonitis primer.
Jenis yang lebih umum dari peritonitis, yang disebut peritonitis sekunder,
disebabkan infeksi ketika datang ke peritoneum dari gastrointestinal atau saluran
bilier. Kedua kasus peritonitis sangat serius dan dapat mengancam kehidupan jika
tidak dirawat dengan cepat.
Penyebab peritonitis sekunder paling sering adalah perforasi appendicitis,
perforasi gaster dan penyakit ulkus duodenale, perforasi kolon (paling sering kolon
sigmoid) akibat divertikulitis, volvulus, kanker serta strangulasi kolon asenden
(usus halus).
Penyebab iatrogenik umumnya bersal dari trauma saluran cerna bagian atas
termasuk pankreas, saluran empedu dan kolon juga dapat terjadi dari trauma
endoskopi. Jahitan operasi yang bocor (dehisensi) merupakan penyebab tersering
terjadinya peritonitis. Sesudah operasi, abdomen efektif untuk etiologi non infeksi,
insiden peritonitis sekunder (akibat pecahnya jahitan operasi seharunsnya kurang
dari 2 %. Operasi untuk penyakit inflamasi (misalnya apendisitis, diventikulitis,
kolesistitis) tanpa perforasi beresiko kurang dari 10% terjadi peritonitis sekunder
dan abses peritoneal. Resiko terjadinya peritonitis sekunder dan abses makin tinggi
dengan adanya terlibatan duodenum, pancreas perforasi kolon, kontaminasi
peritoneal, syok perioperatif, dan transfusi yang pasif.
Peritonitis umum disebabkan oleh kuman yang sangat patogen dan
merupakan penyakit berat. Suhu meningkat menjadi tinggi, Nadi cepat dan kecil,
perut kembung dan nyeri, ada defense musculaire, muka penderita yang mula-mula
kemerahan menjadi pucat, mata cekung, kulit muka dingin.

3.Tanda dan Gejala Peritonitis

Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam


tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia, tatikardi, dehidrasi hingga
menjadi hipotensi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum
maximum ditempat tertentu sebagai sumber infeksi. Dinding perut akan terasa
tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari
palpasinya yang menyakinkan atau tegang karena iritasi peritoneum. Pada wanita
dilakukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic
inflammatoru disease. Pemeriksaan-pemeriksaan klinis ini bisa jadi positif palsu
pada penderita dalam keadaan imunosupresi (misalnya diabetes berat, penggunaan
steroid, pascatransplantasi, atau HIV), penderita dengan penurunan kesadaran
(misalnya trauma cranial, ensefalopati toksik, syok sepsis, atau penggunaan
analgesic), penderita dengan paraplegia dan penderita geriatric.
Tanda gejala yang lain juga terjadi :
1. Nyeri seluruh perut spontan maupun pada palpasi
2. Demam menggigil
3. Perut gembung tapi kadang-kadang ada di arrhea
4. Muntah
5. Pasien gelisah, mata cekung
6. Pembengkakan dan nyeri di perut
7. Demam dan menggigil
8. Kehilangan nafsu makan
9. Haus
10. Mual dan muntah
11. Urin terbatas
12. Bisa terdapat pembentukan abses.
13. Sebelum mati ada delirium dan coma

4. Komplikasi
Menurut Chushieri komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut
sekunder, dimana komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut,
yaitu :

a. Komplikasi dini

1. Septikemia dan syok septic

2. Syok hipovolemik

3. Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan kegagalan
multi system

4. Abses residual intraperitoneal

5. Portal Pyemia (misal abses hepar)

b. Komplikasi lanjut

1. Adhesi
2. Obstruksi intestinal rekuren

5. Penatalakanaan

Penatalaksanaan pada peritonitis adalah sebagai berikut :

1. Penggantian cairan, koloid dan elektrolit merupakan focus utama dari


penatalaksanaan medik.
2. Analgesik untuk nyeri, antiemetik untuk mual dan muntah.
3. Intubasi dan penghisap usus untuk menghilangkan distensi abdomen.
4. Terapi oksigen dengan nasal kanul atau masker untuk memperbaiki fungsi
ventilasi.
5. Kadang dilakukan intubasi jalan napas dan bantuan ventilator juga diperlukan.
6. Therapi antibiotik masif (sepsis merupakan penyebab kematian utama).
7. Tujuan utama tindakan bedah adalah untuk membuang materi penginfeksi dan
diarahkan pada eksisi, reseksi, perbaikan, dan drainase.
8. Pada sepsis yang luas perlu dibuat diversi fekal.

Pengobatan

Antibiotika memegang peranan yang sangat penting dalam pengobatan


infeksi. Adanya antibiotika sangat merubah prognosa infeksi puerperalis dan
pengobatan dengan obat-obat lain merupakan usaha yang terpenting.

Dalam memilih satu antibiotik untuk mengobati infeksi, terutama infeksi


yang berat harus menyandarkan diri atas hasil test sensitivitas dari kuman
penyebab. Tapi sambil menunggu hasil test tersebut sebaiknya segera memberi dulu
salah satu antibiotik supaya tidak membuang waktu dalam keadaan yang begitu
gawat.

Pada saat yang sekarang peniciline G atau peniciline setengah syntesis


(ampisilin) merupakan pilihan yang paling tepat karena peniciline bersifat
baktericide (bukan bakteriostatis) dan bersifat atoxis. Sebaiknya diberikan
peniciline G sebanyak 5 juta S tiap 4 jam jadi 20 juta S setiap hari. Dapat diberikan
sebagai iv atau infus pendek selama 5-10 menit.

Dapat juga diberikan ampiciilin 3-4 gr mula-mula iv atau im. Staphylococ


yang peniciline resisten, tahan terhadap penicilin karena mengeluarkan penicilinase
ialah oxacilin, dicloxacilin dan melbiciline.Di samping pemberian antibiotic dalam
pengobatannya masih diperlukan tindakan khusus untuk mempercepat
penyembuhan infeksi tersebut.Karena peritonitis berpotensi mengancam kehidupan.
Penderita disarankan mendapat perawatan di rumah sakit.

Secara jelas, penatalaksanaan pada peritonitis yaitu ;

1. Bila peritonitismeluas dan pembedahan dikontraindikasikan karena syok dan


kegagalan sirkulasi, maka cairan oral dihindari dan diberikan cairan vena yang
berupa infuse NaCl atau Ringer Laktat untuk mengganti elektrolit dan kehilangan
protein. Lakukan nasogastric suction melalui hidung ke dalam usus untuk
mengurangi tekanan dalam usus.
2. Berikan antibiotika sehingga bebas panas selama 24 jam:
a.Ampisilin 2g IV, kemudian 1g setiap 6 jam, ditambah gantamisin 5 mg/kg berat
badan IV dosis tunggal/hari dan metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam
b. Antibiotik harus diberikan dalam dosis yang tinggi untuk menghilangkan
gembung perut di beri Abot Miller tube.

3. Pasien biasanya diberi sedative untuk menghilangkan rasa nyeri. Minuman dan
makanan per os baru di berikan setelah ada platus.
4. Bila infeksi mulai reda dan kondisi pasien membaik, drainase bedah dan perbaikan
dapat diupayakan.
5. Pembedahan atau laparotomi mungkin dilakukan untuk mencegah peritonitis. Bila
perforasi tidak dicegah, intervensi pembedahan mayor adalah insisi dan drainase
terhadap abses.

Hampir semua penyebab peritonitis memerlukan tindakan pembedahan


(laparotomi eksplorasi). Pertimbangan dilakukan pembedahan :
a. Pada pemeriksaan fisik didapatkan defan smuskuler yang meluas, nyeri
tekan terutama jika meluas, distensi perut, massa yang nyeri, tanda
perdarahan (syok, anemia progresif), tanda sepsis (panastinggi,
leukositosis), dan tanda iskemia (intoksikasi, memburuknya pasien saat
ditangani).
b. Pada pemeriksaan radiology didapatkan pneumo peritoneum, distensi usus,
extravasasi bahan kontras, tumor, danoklusi vena atau arteri mesenterika.
c. Pemeriksaan endoskopi didapatkan perforasi saluran cerna dan perdarahan
saluran cerna yang tidak teratasi.
d. Pemeriksaan laboratorium.

Pembedahan dilakukan bertujuan untuk :

a. Mengeliminasisumberinfeksi.
b. Mengurangikontaminasibakteripadacavum peritoneal
c. Pencegahaninfeksi intra abdomen berkelanjutan.