Anda di halaman 1dari 10

Sejarah Berdirinya Dinasti Bani Umayah

Perkembangan Islam pada masa Bani Umayyah

DISUSUN OLEH :
KELAS X-4 KELOMPOK IV

 Armi Jofi
 Anisa Nurmala
 Sesar Gunawan

MAN 3 SUMBAWA
TAHUN PELAJARAN
2017-2018
I. Sejarah Berdirinya Dinasti Bani Umayah

A. Latar Belakang Berdirinya Dinasti Bani Umayah


Pengertian kata Bani menurut bahasa berarti anak, anak cucu atau keturunan. Dengan
demikian yang dimaksud Bani Umayah adalah anak, anak cucu atau keturunan Bani Umayah
bin Abdu Syams dari satu keluarga. Kata Dinasti berarti keturunan raja-raja yang memerintah
dan semuanya berasal dari satu keturunan. Dengan demikian, Dinasti Umayah adalah
keturunan raja-raja yang memerintah yang berasal dari Bani Umayah.
Adapun istilah lain yang sering digunakan adalah kata Daulah, yang berarti
kekuasaan, pemerintahan, atau negara. Dengan kata lain, Daulah Bani Umayah adalah negara
yang diperintah oleh Dinasti Umayah yang raja-rajanya berasal dari Bani Umayah.
Dinasti Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 41H/661
M di Damaskus dan berlangsung hingga pada tahun 132 H/750 M. Muawiyah bin Abu
Shofyan adalah seorang politisi handal di mana pengalaman politiknya sebagai Gubernur
Syam pada zaman Khalifah Ustman bin Affan cukup mengantarkan dirinya mampu
mengambil alih kekusaan dari genggaman keluarga Ali Bin Abi Thalib. Tepatnya setelah
Hasan bin Ali menyerahkan kursi kekhalifahan secara resmi kepada Muawiyah bin Abu
Sofyan dalam peristiwa Ammul Jama’ah.
Oleh karena itu Muawiyah bin Abu Sofyan dinyatakan sebagai pendiri Dinasti Bani
Umayah. Dilihat dari sejarahnya Bani Umayah memang begitu kental dengan kekuasaannya,
terutama pada masa zaman jahiliyah. Dalam setiap persaingan, ternyata Bani Umayah selalu
lebih unggul dibandingkan keluarga Bani Hasyim. Hal ini disebabkan Bani Umayah memiliki
unsur-unsur sebagai berikut:
1. Umayah berasal dari keturunan keluarga bangsawan
2. Umayah memiliki harta yang cukup
3. Umayah memiliki 10 anak yang terhormat dan menjadi pemimpin di masyarakat, di
antaranya Harb, Sufyan, dan Abu Sufyan.
Sebagaimana yang disebut-sebut dalam sejarah, bahwa Abu Sofyan merupakan
pemimpin pasukan Quraisy melawan Nabi Muhammad SAW pada Perang Badar Kubra.
Keluarga Bani Umayah masuk Islam ketika terjadi Fathul Makkah pada tahun ke-8
H. Abu Sofyan diberi kehormatan untuk mengumumkan pengamanan Nabi SAW, yang salah
satunya adalah barang siapa masuk ke dalam rumahnya maka amanlah dia, masuk kedalam
Masjidil Haram dan rumahnya Nabi SAW maka dia juga akan merasa aman. Dengan ini
banyak kaum dari kalangan Bani Umayah yang berduyun-duyun untuk masuk Islam dan
menyebarkan Islam keberbagai wilayah.

B. Silsilah Keluarga Bani Umayah


Secara geneologis (garis keturunan) Muawiyah bin Abi Sofyan bertemu dengan
silsilah keluarga Nabi Muhammad SAW pada Abdul Manaf. Keluarga Nabi Muhammad
SAW dikenal dengan sebutan Bani Hasyim, sedangkan keluarga Umayah disebut dengan
Bani Umayyah.
Berikut ini adalah silsilah Bani Umayyah, yang menunjukkan hubungan kekerabatan
antara Keluarga Bani Umayah dengan Bani Hasyim (keluarga Nabi Muhammad SAW.)

C. Nama-nama Khalifah Dinasti Bani Umayah


Nama-nama kholifah Bani Umayah yang berkuasa selama kurang lebih 91 tahun,
terdiri dari empat belas khalifah, yaitu:
1. Muawiyah bin Abi Sofyan (41-60 H/661-680 M)
2. Yazid bin Muawiyah (60-64 H/680-683 M)
3. Muawiyah bin Yazid (64-64H/683-683 M)
4. Marwan bin Hakam (64-65 H/683-685 M)
5. Abdul Malik bin Marwan (65-86 H/685-705 M)
6. Al-Walid bin Abdul Malik (86-96 H/705-715 M)
7. Sulaiman bin Abdul Malik (96-99 H/715-716 M)
8. Umar bin Abdul Aziz (99-101 H/716-720 M)
9. Yazid bin Abdul Malik (101-105 H/720-724 M)
10. Hisyam bin Abdul Malik (105-125 H/ 724-743 M)
11. Walid bin Yazid (125-126 H/743-744 M)
12. Yazid bin Walid (126-127 H/744-744 M)
13. Ibrahim bin Walid (127-127 H/ 744-745 M)
14. Marwan bin Muhammad (127-132 H/745-750 M)
Di antara 14 orang khalifah Bani Umayah yang berkuasa selama lebih kurang 90
tahun, terdapat beberapa orang khalifah yang dianggap berhasil dalam menjalankan roda
pemerintahan. Adapun nama-nama khalifah Bani Umayah yang menonjol karena
prestasinya adalah:
1. Khalifah Muawiyah bin Abu Sofyan
2. Khalifah Abdul Malik bin Marwan
3. Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik
4. Khalifah Umar bin Abdul Aziz
5. Khalifah Hisyam bin Abdul Malik

D. Biografi Muawiyah bin Abu Sofyan


Muawiyah bin Abu Sofyan dilahirkan sekitar 15 tahun sebelum hijriah, dan masuk
Islam pada saat penaklukkan kota Makkah bersama-sama penduduk kota Mekkah lainnya.
Setelah masuk Islam, Nabi Muhammad mengangkatnya sebagai anggota siding dari penulis
wahyu.
Dalam perjalanan sejarah hidupnya, ia diangkat sebagai gubernur Syam pada masa
Khalifah Utsman bin Affan. Dari sinilah karier politik Muawiyah bin Abu Sofyan di mulai.
Setelah kemenangannya dalam peristiwa “Tahkim Daumatul Jandal” dan proses perdamaian
yang dilakukan Hasan bin Ali dalam peristiwa “Ammul Jama’ah” mengantarkan Muawiyah
bin Abu Sofyan menjadi khalifah dalam pemerintahan Islam.
Adapun langkah pertama yang dilakukannya adalah memindahkan ibu kota
pemerintahan Islam dari Madinah ke kota Damaskus di wilayah Suriah. Disamping itu ia juga
mengatur tentara dengan cara baru dengan meniru aturan yang ditetapkan oleh tentara di
Bizantium, membangun administrasi pemerintahan dan juga menetapkan aturan kiriman pos.
Muawiyah meninggal Dunia dalam usia 80 tahun dan dimakamkan di Damaskus di
pemakaman Bab Al-Shagier.
Sistem kepemimpinan yang dibangun oleh Muawiyah bin Abi Sofyan adalah
menggunakan sistem kerajaan, atau Monarchi Absolute yaitu sistem pemerintahan yang
mewariskan kekuasaan secara turun temurun. Terbukti Mu’awiyah bin Abi Sofyan
mengangkat Yazid bin Muawiyah (anak kandung Muawiyah) untuk menjadi putra mahkota,
atas saran Mughiroh bin Syu’bah agar terhindar dari pergolakan politik intern umat Islam.
Gaya kepemimpinan yang digunakan oleh Muawiyah bin Abi Sofyan sangat bertolak
belakang dengan sistem kepemimpinan pada masa Khulafaurrosyidin. Pada masa ini sistem
kepemerintahan yang digunakan adalah sistem demokrasi, yaitu sistem pemerintahan yang
berazaskan musyawarah dalam mengambil keputusan dan pemilihan pemimpin dilakukan
oleh rakyat.
Selain perubahan sistem pemerintahan juga terdapat sistem perubahan yang lain,
seperti Baitul Mal. Pada masa Khulafaurrosidin Baitul Mal ini berfungsi sebagai harta
kekayaan rakyat, dimana setiap warga negara memiliki hak yang sama terhadap harta
tersebut. Akan tetapi berbeda dengan masa Muawiyah yang mana Baitul Mal ini beralih
kedudukan menjadi harta kekayaan keluarga raja.
Diantara kebijakan yang dilakukan oleh Muawiyah dalam masa pemerintahannya,
adalah :
1. Pembentukan Diwanul Hijabah, yaitu sebuah lembaga yang bertugas memberikan
pengawalan kepada kholifah
2. Pembentukan departemen pencatatan atau Diwanul Khatam, yaitu lembaga yang bertugas
untuk mencatat semua peraturan yang dikeluarkan oleh kholifah di dalam berita acara
pemerintahan
3. Pembentukan Dinas pos atau Diwanul Barid,yaitu departemen pos dan transportasi, yang
bertugas menjaga pos-pos perjalanan dan menyediakan kuda sebagai alat transportasi.
4. Pembentukan Shohibul Kharraj (pemungut pajak)
Selain hal-hal yang disebutkan di atas, masih banyak lagi usaha-usaha yang dilakukan
oleh Muawiyah bin Abu Sofyan selama pemerintahannya.

II. Perkembangan Islam pada masa Bani Umayyah

1. Peta daerah perkembangan islam


Bersamaan dengan meninggalnya khalifah Ali bin Abu Thalib maka hilang sudah
sistem pemerintahan khalifah yang bersifat demokratis. Bentuk pemerintahan berganti
menjadi dinasti (kerajaan). Sejak dulu Mu’awwiyah sangat berambisi untuk duduk di kursi
kekuasaan. Oleh karena itu, ia melakukan segala cara, dengan siasat dan tipu muslihat yang
licik. Kedudukannya sebagai khalifah tidak berdasarkan musyawarah dan kesepakatan kaum
muslimin.
Selama dinasti ini berkuasa, banyak kemajuan yang dicapai, khususnya dalam bidang
penaklukan daerah danperluasan wilayah. Untuk perluasan wilayah barat dikirimlah
putranya sendiri, yazid bin Mu’awwiyah ke daerah Byzantium, sedangkan ke wilayah Timur
dikirim panglima Muhallab bin Abi Sufrah. Selain itu, masih banyak panglima-panglima lain
yang ditugaskan oleh muawiyyah untuk mengadakan perluasan ke wilayah Afrika.
Selama kekuasaan dinasti bani umayyah, terdapat banyak perkembangan dan
kemajuan yang dialami umat islam. Daerah kekuasaan semakin luas dan persoalan
pemerintahan dan persoalan hidup pun semakin kompleks. Muawiyyah sangat berambisi
untuk menakhlukkan Bizantium dengan symbol kekuatannya terdapat di kota konstatinopel.
Ada tiga hal yang mendorong muawiyyah malakukan hal tersebut, yaitu sebagai berikut
a) Byzantium merupakan basis kekuatan Kristen ortodoks yang di anggap akan berbahaya bagi
perkembangan islam.
b) Orang-orang bizantium suka mengadakan penyerangan terhadap kaum muslimin.
c) Bizantium memiliki kekayaan yang amat melimpah ruah.
Di laut Tengah armada laut Islam berhadapan dengan armda Byzantium. Dalam suatu
baku tembak diperairan Lychia pasukan Islam berhasil menghancurkan armada Byzantium.
Didaratan Afrikan Utara pasukan Islam yang telah berhasil menduduki Mesir di
zaman Umar, dilanjutkan terus ole Khalifah Al-Walid (705-715 M) dari Bani Umayah.
Dibawah Amir Maghribi, Musa berhasil menaklukan kota lama Kartago, untuk seterusnya
memasuki daerah suku-suku bangsa Berber di Maghribi.
Setelah menguasai Afrika Utara pada tahun 710 M Amir Musa memerintahkan Thariq
bin Zihad untuk menyeberang ke Tanjung Iberia didaratan Spanyol sebelah barat. Begitu
seluruh pasukan mendarat didaratan Iberia Spanyol Thariq membakar semu perahu yang
telah menyeberangkan mereka ke tujuan. Tindakan itu dimaksudkan agar tidak ada pilihan
bagi pasukan Islam, kecuali maju untuk menyongsong hari baru, yaitu kemenangan.
Pada tahun 717-718 M operasi dilanjutkan dengan kepemimpinan Al-Hurr bin Abdul
Rahman Al-Tsagafi, sebagai pengganti ketiga dari Amir Musa. Gerakan itu menuju Spanyol
Utara setslah menaklukan Saragosa. Langkah-langkah perluasan aderah itu terjadi di masa
Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M).
Peta kekhalifahan Umayah meliputi kawasan yang amat luas. Disebelah barat
berbatasan dengan Teluk Biskaye di Eropa dan Maghribi di Afrika Utara. Disebelah timur
berbatasan dengan Danau Aral, batas Tiongkok dan Lemabah Indus di India. Belum lagi
dikawasan seluruh jazirah Arab.
Sepanjang sejarah, dinasti bani umayyah telah banyak memberikan andil besar
terhadap perkembangan dan kemajuan peradaban islam. Ilmu pengetahuan dapat berkembang
dengan baik, begitu pula kebudayaannya. Di antara kebudayaan islam yang berkembang
pada masa itu, antara lain seni sastra, seni ukir, seni suara,seni arsitektur, dan sebagainya.
Pada masa ini telah banyak didirikan bangunan-bangunan yang megah dan indah, seperti
masjid-masjid, rumah-rumah, perkantoran, istana para raja.

2. Keadaan budaya masyarakat di sekitar wilayah kekuasaan Bani Umayyah


Ketika bani umayyah berkuasa, tapal batas negara yang dapat memisahkan antara
negara islam dan kafir segera dibuat, sehingga jelaskan batas-batas wilayah kekuasaan
mereka. Masuknya kekuataan islam ke berbagai wilayah yang ditaklukkannya, sangat
berpengaruh terhadap perkembangan kehidupan sosial budaya masyarakatnya, sebab islam
tidak mematikan kreatifitas masyarakat, bahkan sebaliknya. Islam mendorong umatnya untuk
senantiasa mengembangkan potensi dan kemampuan yang dimiliki, sepanjang segala upaya
kreatif itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran islam.

3. Kemajuan-kemajuan yang dicapai Bani Umayyah


Pada masa pemerintahan Bani Umayyah tepatnya pada masa kekuasaan Abdul Malik
ibn Marwan, banyak terjadi perubahan dan perkembangan, baik dibidang kenegaraan,
ekonomi, ilmu pengetahuan dan bidang-bidang lainnya. Seperti kenegaraan, dibentuk
organisasi-organisasi yang diatur secara rapi. Organisasi-organisasi kenegaraan tersebut
meliputi :
a. An-Nizham Asy-Siyasiy, yaitu organisasi politik yang diubah dari sistem demokrasi menjadi
sistem monarki, terdiri atas Al-Kitabah (sekretaris) dan Al-Hijabah (pengawal khalifah).
b. An-Nizham Al-Idariy, yaitu organisasi yang mengurus bidang tata usaha kenegaraan.
c. An-Nizham Al-Maliy, yaitu organisasi yang mengurusi bidang keungan negara.
d. An-Nizham Al-Harbiy, yaitu organisasi pertahanan dengan tugas mempertahankan negara
atau wilayah dan mengadakan ekspansi daerah kekuasaan Islam.
e. An-Nizham Al-Qadhiy, yaitu organisasi yang bergerak dibidang kehakiman dan pengadilan.
Munculnya istilah-istilah administrasi kenegaraan tersebut setelah mengalami
perubahan bahasa dari bahasa Yunani dan Pahlawi menjadi bahasa Arab yang masuk Islam
untuk menyempurnakan pengetahuan mereka tentang keislaman, dituntut untuk pandai
berbahasa Arab.
Abdul Malik juga mengubah mata uang yang dipakai didaerah-daerah yang dikuasai
Islam. Sebelumnya mata uang yang berlaku adalah mata uang Bizantium dan persia, seperti
Denarius menjadi Dinar dan Diram atau Drachme menjadi Dirham.
Dibidang pembangunan, mesjid-mesjid pertama diluar semenanjung Arabia didirikan.
Katedral St. John di Damaskus diubah menjadi masjid. Di Al-Qudsi (Jerusalem), Abdul
Malik membangun masjid Al-Aqsha dan monumen terbaik yang bernama Qubbah As-Sakhr
(Dome of the Rock).
Sepanjang perjalanan kekuasaannya, dinasti Umayyah telah banyak membuat
kemajuan dalam berbagaibidang. Pembangunan berjalan pesat, baik dalam segi dakwah
maupun pembangunan material. Diantara kemajuan-kemajuan yang dicapai pada masa itu
antara lain:
1) Prestasi-prestasi Besar
a. Bidang administrator pemerintahan
Prestasi pertama yang diperoleh bani umayah terdapat dalam bidang demokrasi
pemerintahan. Tradisi melakuakn pencacahan jiwa penduduk dan system pengiriman surat
meyurat yang teratur. Sistem perpajakan di organisasikan dengan sangat baik, karena
merupakan sumberpendanaan paing besar dari kekhalifahan yang makin rumit.
b. Perluasan Daerah
 Gerakan ke Timur
Kearah timur sampai ke sungai Ammu Darya dari sana gerakan mereka sampai kedaerah-
daerah degan berbahasa Turki, dan bahasa Persia. Pada tahun 723 M pasukan muslim
berhasil pula memasuki kawasan India.
 Gerakan ke utara
Gerakan keutara terutama dalam menundukkan konstantinopel ibu kota Romawi Timur.
 Gerakan ke Eropa
Di daratan Afrika Utara pasukan Islam yang telah berhasil menduduki Mesir di zaman Umar,
dilanjutkan terus oleh Khalifah Al Walid dari bani Umayah. Di bawah Amir Maghribi, Musa
berhasil menaklukan kota lama Kartago, untuk seterusnya memasuki daerah suku bangsa
Berber di Maghribi. Kartago merupakan bekas kota indah di zaman Romawi dengan
bangunan indah diperbukitan pantai Libia menghadap ke Laut Tengah.
c. Kemajuan dibidang ilmu pengetahuan
Pada masa kekuasaan bani umayah, ilmu pengetahuan berkembang pesat, baik bersumber Al-
Qur’an maupun yang bersumber dari akal manusia. Ilmu-ilmu yang berkembang itu
diantaranya:
1) Ilmu Tafsir Al-Qur’an
2) Ilmu Hadits Aatau Ulumul Hadits
3) Ilmu Qiraatil Qur’an
4) Ilmu Tata Bahasa
5) Ilmu Kimia yang berasal dari orang Yunani
6) Ilmu kedokteran
7) Ilmu seni, bauk arsitektur maupun yang lainnya
8) Ilmu Sejarah
d. Kemajuan dibidang pemerintahan
Dibidang pemerintahan, bani umayah telah membentuk berbagai lembaga Negara beserta
peraturan perundangannya,seperti pencatatan korp pegawai pemerintah, pembentukan
pemerintah pusat dan daerah yang tidak hanya smpai tingkat provinsi melainkan sampai
kedistrik-distrik, pembentukan lembaga pengadilan lembaga pertahanan dan keamanan
Negara.
e. Kemajuan dibidang ekonomi
Dibidang ekonomi mereka menggalinya dari berbagai sector, seperti pertanian, perdagangan,
dan industri. Karena itu, pemerintah mampu membiayai pembangunan gedung-gedung nan
megah, pembangunan sarana dan prasarana untuk umum secara lengkap.
f. Kemajuan dibidang dakwah
Dakwah umat islam tidak hanya berkembang di jazirah Arabia saja, mereka telah sampai ke
Tiongkok, India, denua Afrika dan Eropa. Mereka berdakwah melalui berbagai jalur seperti
jalur pendidikan, sosial budaya, dan dengan menulis buku-buku agama. Khalifah Umar bin
Abdul Aziz membangun mesjid Nabawi menjadi lebih indah, megah, dan luas, berkat
bantuan arsitek yang dikirim dari Romawi. Begitu pula Khalifah Walid bin Abul Malik
sempat membangun mesjid Damaskus menjadi indah dan megah. Mesjid itu dibangunnya
bersamaan dengan pembangunan kota Damaskus. Mesjid Agung Damaskus bukti kemegahan
Dinasti Umayah.
g. Kemajuan dibidang seni budaya
Berbagai bidang ilmu seni juga turut berkembang pada masa itu, seperti seni arsitektur, seni
lukis, seni sastra, dan sebagainya.