Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Polyester Staple Fiber


Polyester Staple Fiber, adalah serat sintetik yang terbuat dari hasil
polimerisasi etilen glikol dengan asam tereptalat melalui proses polimerisasi
kondensasi. Hasil polimerisasi berupa chip atapun polimer leleh, yang
kemudian di lakukan proses spinning untuk membentuk fiber. Pembentukan
fiber dilakukan dengan temperatur di atas titik leleh polyester, dengan bantuan
gear pump yang menentukan ukuran fiber yang keluar melalui spinneret.
Spinneret disini akan menentukan cross section atau bentuk dari fiber yang
diinginkan, seperti bulat, segitiga, dan lain-lain. Selanjutnya ribuan helai serat
panjang ini disatukan dan ditarik serta diletakkan di dalam keranjang
penampung (can). Serat-serat dari bebarapa can kemudian ditarik bersamaan
sehingga didapatkan serat dengan ketebalan tertentu yang biasanya dinyatakan
dengan satuan denier.
Pada proses peregangan ini fiber diberikan finish oil yang berfungsi
mengurangi elektro statik yang terjadi pada saat serat polyester diproses pada
mesin-mesin pemintalan berikutnya. Setelah melalui proses peregangan
selanjutnya masuk ke proses crimping. Diproses crimping, serat polyester
diberi finish oil kembali dengan cara disemprotkan menggunakan spray dan
dijepit oleh doctor plate yang bertujuan agar serat polyester yang berbentuk
lurus berubah bentuk menjadi keriting agar menyerupai bentuk dari kapas
alam.

4
5

Gambar 2.1 Diagram alir fiber line

Kemudian serat tadi dipotong potong menggunakan rotary cutter dengan


panjang sesuai dengan keperluan, misalnya 38 mm, 44 mm, 51 mm dan lain
sebagainya. Pada saat proses pemotongan serat diberikan hembusan angin agar
serat-serat yang telah terpotong pendek-pendek dapat terurai satu sama lain.
Serat yang telah selesai dipotong dikemas pada mesin balling press dengan
standar berat sekitar 350 kg per bal. Serat polyester merupakan bahan baku
bagi pabrik pemintalan (spinning) yang membuat benang pintal. Di pabrik
pemintalan serat polyester biasanya diproses untuk produk benang pintal
polyester 100% atau cempuran dengan serat alam atau serat sintetik lainnya.
Misalnya katun, rayon, rami, flax, acrilik dan lain sebagainya.
6

Gambar 2.2 Diagram alir cutter dan balling press process

2.2 Mesin Cutter Hollow


Mesin Cutter Hollow adalah salah satu mesin yang berada didalam proses
fiber line. Mesin ini berfungsi memotong serat-serat tow hingga ukuran yg
sangat kecil yg sebelumnya serat tersebut berbentuk memanjang hingga
potong-potongan kecil seperti kapas yang cara kerjanya menggunakan rotor
cutter hollow yang berputar menggunakan motor sebagai alat penggerak.

Gambar 2.3 Mesin Cutter Hollow


7

2.3 Komponen Mesin


Berikut adalah komponen-komponen mesin Cutter Hollow :
2.3.1 Cutter
Cutter ialah sebuah komponen berbentuk persegi panjang dengan ukuran
40 mm seperti pisau yang terdapat pada mesin cutter hollow yg berfungsi
sebagai alat pemotong tow secara rata dengan menggerakan rotor cutter hollow
menggunakan motor sebagai alat penggerak.

Gambar 2.4 Cutter Hollow


2.3.2 Rotor
Sebuah komponen yang berada pada mesin Cutter Hollow yg berfungsi
sebagai dudukan cutter yang berputar searah jarum jam. Rotor ini mempunyai
diameter 350 mm yg ukurannya cukup besar.

Gambar 2.5 Rotor Cutter Hollow


8

2.3.3 Motor Listrik


Motor listrik adalah alat untuk mengubah energi listrik menjadi energi
mekanik. Alat yang berfungsi sebaliknya, mengubah energi mekanik menjadi
energi listrik disebut generator atau dinamo. Motor listrik dapat ditemukan pada
peralatan rumah tangga seperti kipas angin, mesin cuci, pompa air dan penyedot
debu. Pada motor listrik tenaga listrik diubah menjadi tenaga mekanik. Perubahan
ini dilakukan dengan mengubah tenaga listrik menjadi magnet yang disebut
sebagai elektro magnit. Sebagaimana kita ketahui bahwa : kutub-kutub dari
magnet yang senama akan tolak-menolak dan kutub-kutub tidak senama, tarik-
menarik. Maka kita dapat memperoleh gerakan jika kita menempatkan sebuah
magnet pada sebuah poros yang dapat berputar, dan magnet yang lain pada suatu
kedudukan yang tetap.

Gambar 2.6 Motor Listrik


2.3.3 Gearbox
Gearbox atau transmisi adalah salah satu komponen utama motor yang
disebut sebagai sistem pemindah tenaga, transmisi berfungsi untuk memindahkan
dan mengubah tenaga dari motor yang berputar, yang digunakan untuk memutar
spindel mesin maupun melakukan gerakan feeding. [1]
9

Gambar 2.7 gearbox


2.3.4 Bearing
Bearing dalam Bahasa Indonesia berarti bantalan. Dalam ilmu
mekanika bearing adalah sebuah elemen mesin yang berfungsi untuk membatasi
gerak relatif antara dua atau lebih komponen mesin agar selalu bergerak pada arah
yang diinginkan. Bearing menjaga poros (shaft) agar selalu berputar terhadap
sumbu porosnya, atau juga menjaga suatu komponen yang bergerak linier agar
selalu berada pada jalurnya.

1. Bearing yang digunakan :


Ada beberapa macam bearing yang sering digunakan pada komponen-
komponen mesin, diantaranya :
Ball bearing
Ball bearing merupakan bearing yang paling umum dan tak hanya digunakan
untuk automotive equipment. Biasanya komponen ini digunakan pada mesin dan
alat-alat rumah tangga.
Bearing ini punya kinerja sederhana tapi gerak putarnya efektif. Sehingga menjadi
bearing yang paling banyak dipakai karena bisa mewakili baik beban putar (radial
load) ataupun beban tekan dari samping (thrust load). Meski punya kemampuan
bagus, tetapi usahakan untuk dipakai pada beban yang tidak terlalu berat. [2]
10

Gambar 2.8 type ball bearing

2. Spesifikasi bearing yang digunakan :


1.2 Tabel spesifikasi bearing
Spesifikasi Keterangan
Type bearing Ball Bearing
Merk FAG
Made in Germany
Code bearing 21308-E1

2.3.5 Belt
Sabuk adalah bahan fleksibel yang melingkar tanpa ujung, yang digunakan
untuk menghubungkan secara mekanis dua poros yang berputar. Sabuk
digunakan sebagai sumber penggerak, penyalur daya yang efisien atau untuk
memantau pergerakan relatif. Sabuk dilingkarkan pada katrol. Dalam sistem dua
katrol, sabuk dapat mengendalikan katrol secara normal pada satu arah atau
menyilang. [3]
11

Gambar 2.9 Belt

2.4 Sistem Kerja Mesin Cutter Hollow

Sistem kerja pada Mesin cutter hollow ini ialah pada saat benang ditarik
melalui roll menuju cutter dengan cara tow dililit pada cutter yg sudah siap
untuk memotong tow sampai tow tersebut menuju dryer yang dipasanaskan
kembali agar tow tidak cepat mengkerut pada saat dipacking pada mesin balling
press

2.5 Pemeliharaan
2.5.1 Defenisi Pemeliharaan
Pemeliharaan (Maintenance) merupakan kombinasi dari setiap tindakan
yang dilakukan untuk menjaga suatu barang atau mesin, untuk
memperbaikinya sampai suatu kondisi yang bisa diterima.

2.5.2 Tujuan Pemeliharaan


a. Untuk memperpanjang usia penggunaan aset (mesin).
b. Untuk menjamin kemampuan optimum peralatan yang dipasang
untuk produksi atau jasa dan mendapatkan laba investasi (return on
invesment) maksimun yang memungkinkan.
12

c. Untuk menjamin kesiapan operasional dari seluruh peralatan yang


diperlukan dalam keadaan darurat setiap waktu, misalnya unit
cadangan, unit pemadam kebaran, dan sebagainya

2.5.3 Klasifiikasi Pemeliharaan


a. Pemeliharaan Terencana
Pemeliharan terencana (planned maintenance) merupakan pemeliharaan
yang diorganisasi dan dilakukan dengan pemikiran ke masa depan,
pengendalian dan pencatatan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan
sebelumnya.

b. Pemeliharaan Pencegahan
Pemeliharaan pencegahan (Preventive Maintenance) merupakan
pemeliharan yang dilakukan pada selang waktu yang ditentukan sebelumnya,
atau terhadap kriteria lain yang diuraikan, dan dimaksudkan untuk mengurangi
kemungkinan bagian – bagian lain tidak memenuhi kondisi yang bisa diterima.
c. Pemeliharan Korektif
Pemeliharan korektif (Corrective Maintenance) merupakan pemeliharaan
yang dilakukan unutk memperbaiki suatu bagian mesin (termasuk penyetelan
dan reparasi) yang telah terhenti untuk memenuhi suatu kondisi yang bisa
diterima.

d. Pemeliharaan Tidak Terencana


Pemeliharaan tidak terencana (unplanned maintenance) merupakan
pemeliharaan yang dilaksanakan untuk rencana yang tidak direncakan
sebelumnya.

e. Pemeliharaan Darurat
Pemeliharaan darurat (Emergency Maintenance) merupakan pemeliharaan
yang perlu segera dilakukan untuk mencegah akibat yang serius.
13

Pemeliharaan

Pemeliharaan Pemeliharaan Tak


Terencana Terencana

Pemeliharaan Pemeliharaan Pemeliharaan


Pencegahan Korektif Darurat

Gambar 2.10 Klasifikasi pemeliharaan

2.5.4 Kegiatan Pemeliharaan


Terdapat beberapa kegiatan yang diharuskan dalam kegiatan
pemeliharaan untuk mencapai tujuan yang telah direncakan. Kegiatan utama
pemeliharaan dibagi menjadi tiga, yaitu :

a. Pembersihan (Cleaning)
Pembersihan merupakan salah satu bagian dari perawatan. Kegiatan ini
merupakan hal yang paling tetapi memiliki peranan penting. Karena dengan
kebersihan mesin dan areanya, tujuan preventive maintenance telah tercapai
yang salah satunya yaitu menjaga keselamatan.

b. Pemeriksaan (Inspection)
Kegiatan pemeriksaan mempunyai tujuan apakah suatu mesin mempunyai
keadaan sesuai standar atau masih dalam toleransi yang diizinkan. Kegiatan ini
mencakup cek kondisi, fungsi dan geometri mesin / accuracy test / kalibrasi.
14

c. Pelumasan (Lubricating)
Pelumasan dan pemeliharaan sangat penting untuk operasi yang pasti dan
umur operasi bantalan gelinding yang lama.

a. Fungsi dari pelumasan


a. Mempermudah pergerakan bagian mesin yang saling bergesekan.
b. Mengurangi panas yang terjadi karena gesekan.
c. Mengurangi koefisiensi gerak permukaan komponen.
b. Hubungan beban kerja, jenis bantalan dan pemilihan pelumasan
a. Beban besar + putaran tinggi → bantalan luncur → pelumasan cair
b. Beban besar + putaran rendah → bantalan gelinding → pelumasan
grease
c. Beban ringan + putaran tinggi → bantaslan luncur/gelinding →
pelumasan cair
d. Beban ringan + putaran rendah → bantalan gelinding → pelumasan
grease [4]