Anda di halaman 1dari 730

EKONOMI POLITIK INTERNASIONAL

Dinna Wisnu

Rows Collection
2018

1
Dinna Wisnu Halaman 2

KATA PENGANTAR

Buku ini merupakan kumpulan opininya Dinna Wisnu yang dikumpulkan


mulai dari tahun 2012-2017 dari berbagai surat kabar nasional. Beragam
sudut pandang beliau yang tertuang disini sangatlah menarik terutama bagi
mereka yang tengah bergelut di bidang hubungan internasional dan
ekonomi-politik.
Singkat kata semoga buku ini bermanfaat.

Rows Collection
Dinna Wisnu Halaman 3

DAFTAR ISI
HAM bagi Negara Muslim - SINDO, 22 Februari 2012
Diplomasi Sawit - SINDO, 29 Februari 2012
Asia’s Rising Economies and the Space to Grow, Distribute - JAKARTA POST, 29
Februari 2012
Jangan Takut - SINDO, 7 Maret 2012
Perang Dingin Iran-AS - SINDO, 14 Maret 2012
Antara BBM dan BLT? - SINDO, 21 Maret 2012
Perlu untuk ASEAN 2012 - SINDO, 28 Maret 2012
Refleksi atas Myanmar - SINDO, 04 April 2012
Tantangan Pelayanan Kesehatan - SINDO, 11 April 2012
Menjaga Hutan ASEAN - SINDO, 18 April 2012
Bertindaklah, Jangan Galau! - SINDO, 25 April 2012
Payung Pelindung dalam Ekonomi Pasar - SINDO, 26 April 2012
Memaknai Protes Pekerja - SINDO, 02 Mei 2012
Prancis, Sosialisme, dan Kita - SINDO, 09 Mei 2012
MP3EI dan Diplomasi Pangan - SINDO, 23 Mei 2012
Suriah, Senjata, dan Krisis - SINDO, 6 Juni 2012
Apa Artinya Berkecukupan? - SINDO, 13 Juni 2012
Dialog Tanpa Makna - SINDO, 20 Juni 2012
Diambang Kegagalan? - SINDO, 27 Juni 2012
Kepemimpinan sebagai Aset - SINDO, 04 Juli 2012
Penting Pilihan Warga - SINDO, 11 Juli 2012
Banyak Tapi Tak Berkembang - SINDO, 18 Juli 2012
Belajar dari Korea Selatan - SINDO, 25 Juli 2012
Rem di Laut China Selatan - SINDO, 01 Agustus 2012
Mengelola Kerentanan Konflik - SINDO, 08 Agustus 2012
Pemimpin dan Power - SINDO, 15 Agustus 2012
Menyambut Pemilu AS - SINDO, 29 Agustus 2012
Terjepit antara AS dan China? SINDO , 05 September 2012
China dalam Benak Kita - SINDO, 12 September 2012
Indonesia yang Waras - SINDO, 19 September 2012
HAM Indonesia di Mata Dunia - SINDO, 26 September 2012
Momentum Membangun Kepercayaan - SINDO, 03 Oktober 2012
Suriah dan Revolusi Arab - SINDO, 10 Oktober 2012
Kuat Karena Mau - SINDO, 31 Oktober 2012
Tradisi Pemilu AS - SINDO, 07 November 2012
Memanfaatkan Faktor Obama - KOMPAS, 09 November 2012
Pesona Bali Democracy Forum - SINDO, 14 November 2012
Penentu Kemudi di Asia - SINDO, 21 November 2012
Bising Itu Perlu - SINDO, 28 November 2012
Memenangi Perdamaian - SINDO, 05 Desember 2012
Protokol - SINDO, 12 Desember 2012
Ekonomi Tumbuh, tapi…? - SINDO, 19 Desember 2012
Optimisme Baru - SINDO, 02 Januari 2013
Arah, Tujuan, dan Manusianya - SINDO, 09 Januari 2013
Dinna Wisnu Halaman 4

Konversi Kapital - SINDO, 16 Januari 2013


The Second Chance - SINDO, 23 Januari 2013
Indonesia, WEF, dan WTO - SINDO, 30 Januari 2013
Jebakan Kuota Impor - SINDO, 06 Februari 2013
Mendewasakan Demokrasi - SINDO, 13 Februari 2013
Menangani Outsourcing - SINDO, 20 Februari 2013
Mengamati India - SINDO, 27 Februari 2013
Perempuan Abad 21 - SINDO, 06 Maret 2013
Ujian bagi Indonesia 2013 - SINDO, 20 Maret 2013
Kesehatan dan Daya Tarik Bisnis - SINDO, 27 Maret 2013
New Perspective for Food Security - JAKARTA POST, 20 Maret 2013
Semangat (Baru) Antikorupsi - SINDO, 03 April 2013
Menjadikan Diri sebagai Teladan - SINDO, 10 April 2013
Nasionalisme Baru - SINDO, 17 April 2013
Menghancurkan Kekerasan - SINDO, 24 April 2013
Bijak dan Utuh bagi Buruh - SINDO, 01 Mei 2013
Lagi, BBM vs BLT - SINDO, 15 Mei 2013
Menakar Toleransi Beragama - SINDO, 29 Mei 2013
Upaya Mendamaikan Israel-Palestina - SINDO, 05 Juni 2013
Menjinakkan Istanbul - SINDO, 12 Juni 2013
Jejak Perdamaian di Timur Tengah - SINDO, 19 Juni 2013
Solusi Polusi Asap - SINDO, 26 Juni 2013
Quo Vadis Militer Mesir? - SINDO, 03 Juli 2013
Mana Diplomasi Energinya? - SINDO, 17 Juli 2013
Pemilu Kamboja, Indonesia dan ASEAN - SINDO, 31 Juli 2013
Kemerdekaan dan Warna Diplomasi - SINDO, 14 Agustus 2013
Middle Income Trap - SINDO, 21 Agustus 2013
License to War - SINDO, 04 September 2013
Kedaulatan - SINDO, 11 September 2013
Bantuan Sosial dan Kemiskinan - SINDO, 18 September 2013
Sesat Arah Mobil Murah - SINDO, 25 September 2013
Sawit, Layu sebelum Berkembang - SINDO, 02 Oktober 2013
APEC 2013 dan Prioritas Indonesia - KOMPAS, 04 Oktober 2013
Beda Tipis Kepercayaan dan Ketidakpercayaan - SINDO, 09 Oktober 2013
Diplomasi Olahraga - SINDO, 16 Oktober 2013
Riil Dinasti Politik - SINDO, 23 Oktober 2013
Jaringan Politik Kekerabatan - KOMPAS, 29 Oktober 2013
Mencari Strategi Pengupahan - SINDO, 30 Oktober 2013
Menjembatani Kewirausahaan dan UKM - SINDO, 06 November 2013
Gempar Penyadapan Australia - SINDO, 20 November 2013
Tugas Besar Sawit Indonesia - SINDO, 04 Desember 2013
Untung Rugi Paket Bali WTO - SINDO, 11 Desember 2013
Solidaritas Politik Anti-Apartheid - SINDO, 18 Desember 2013
Ketika Terjadi Kerugian Subsidi - SINDO, 08 Januari 2014
Mesir Memutuskan - SINDO, 15 Januari 2014
Pasang-Surut Solusi Lingkungan - SINDO, 22 Januari 2014
Suriah dan Nasibnya di Jenewa II - SINDO, 29 Januari 2014
Dinna Wisnu Halaman 5

Drama Corby - SINDO, 12 Februari 2014


Singa, Garuda, dan Kanguru - SINDO, 19 Februari 2014
Ekonomi Alternatif - SINDO, 26 Februari 2014
Krisis Semenanjung Crimea - SINDO, 05 Maret 2014
Politik Luar Negeri dalam Pemilu - SINDO, 12 Maret 2014
Perihal Sanksi untuk Rusia - SINDO, 19 Maret 2014
Mengurangi Golput dalam Pemilu - 02 April 2014
Mari Nyoblos di TPS - SINDO, 09 April 2014
Memperbaiki Tata Kelola Pemilu - SINDO, 16 April 2014
Pendidikan dan Daya Saing - SINDO, 23 April 2014
Mendorong Perdamaian Israel-Palestina - SINDO, 30 April 2014
Belajar dari Taiwan - SINDO, 07 Mei 2014
Shadow Economy di Ukraina - SINDO, 14 Mei 2014
Yordania dan Pengungsi - SINDO, 28 Mei 2014
Menyikapi Kampanye Negatif - KOMPAS, 04 Juni 2014
Antara Kesejahteraan dan Pasar - SINDO, 18 Juni 2014
Pendidikan Pemilih lewat Debat - SINDO, 25 Juni 2014
Teknologi dan Politik - SINDO, 02 Juli 2014
Pemilu dan Pekerjaan Rumah - SINDO, 09 Juli 2014
Gaza & Perdamaian - SINDO, 16 Juli 2014
Menatap Indonesia Baru - SINDO, 23 Juli 2014
Menghitung Hari di Gaza - KOMPAS, 05 Agustus 2014
Transisi Kabinet dan Politik - SINDO, 06 Agustus 2014
Adu Sanksi Ekonomi - SINDO, 20 Agustus 2014
Pejabat Publik dan Sistem Politik - SINDO, 27 Agustus 2014
Kelahiran Indonesia Sehat - SINDO, 03 September 2014
Kita dan Referendum Skotlandia - SINDO, 17 September 2014
Menanti Era Baru Diplomasi - SINDO, 24 September 2014
Negosiasi Rendah Karbon - SINDO, 01 Oktober 2014
Tamu Negara dan Prioritas - SINDO, 22 Oktober 2014
Legitimasi dan Peradaban - SINDO, 05 November 2014
Kekurangan Pidato Presiden Jokowi di APEC - SINDO, 12 November 2014
Membangun Kesejahteraan di Perbatasan - MEDIA INDONESIA, 18 November 2014
Dampak Politik dari Kemajuan Teknologi Energi - SINDO, 19 November 2014
Diplomasi Sawit Jokowi - SINDO, 26 November 2014
Geopolitik Baru - SINDO, 03 Desember 2014
Membirokrasikan Revolusi Mental - SINDO, 10 Desember 2014
Penelitian dan Peneliti - SINDO, 17 Desember 2014
Normalisasi Hubungan Kuba-AS - SINDO, 24 Desember 2014
AirAsia dan Kerja Sama Internasional - SINDO, 31 Desember 2014
Normalisasi Hubungan Kuba-AS - SINDO, 24 Desember 2014
AirAsia dan Kerja Sama Internasional - SINDO, 31 Desember 2014
Tanggung Jawab BBM Murah - SINDO, 07 Januari 2015
Hukuman Mati dalam Konteks Internasional - SINDO, 21 Januari 2015
Bukan Sekadar Oknum - SINDO, 28 Januari 2015
Kunjungan ke Malaysia dan Poros Maritim - SINDO, 04 Februari 2015
Korea Utara dan KAA - SINDO, 11 Februari 2015
Dinna Wisnu Halaman 6

Abolisionist atau Retentionist - SINDO, 18 Februari 2015


Gaya Diplomasi - SINDO, 25 Februari 2015
Provokasi Netanyahu - SINDO, 11 Maret 2015
Politik Bantuan China-Afrika - SINDO, 18 Maret 2015
Refleksi Strategi Lee Kuan Yew - KOMPAS, 24 Maret 2015
Ketegasan Lee Kuan Yew - SINDO, 25 Maret 2015
Ironi Perdamaian Timur Tengah - SINDO, 01 April 2015
Refleksi Konflik di Timur Tengah - SINDO, 08 April 2015
Mengenang KAA 1955 - SINDO, 15 April 2015
Semangat Bandung - SINDO, 22 April 2015
Perjalanan Diplomasi Kita - SINDO, 29 April 2015
Normalisasi AS-Kuba - SINDO, 06 Mei 2015
Versi Lain Poros Maritim - SINDO, 13 Mei 2015
Relasi Indonesia-Australia Pasca Hukuman Mati - DETIKNEWS, 06 Mei 2015
Rumitnya Masalah Rohingya - SINDO, 20 Mei 2015
Menyelamatkan Rohingya - SINDO, 27 Mei 2015
Sepak Bola dan Tata Kelola Dunia - SINDO, 03 Juni 2015
Pendidikan dan Pasar Tenaga Kerja - SINDO, 10 Juni 2015
Yang Tua yang Telantar? - SINDO, 17 Juni 2015
Krisis Yunani dan Politik Populis - SINDO, 24 Juni 2015
Yunani dan Referendum - SINDO, 01 Juli 2015
Arti Kunjungan Cameron - SINDO, 29 Juli 2015
Pilkada dan Akuntabilitas - SINDO, 05 Agustus 2015
Dana Pensiun China dan Krisis Ekonomi - SINDO, 26 Agustus 2015
Pidato Sebagai Diplomasi Publik, SINDO, 30 September 2015
Menangani Bencana Asap, SINDO, 14 Oktober 2015
Menakar Harapan pada India, SINDO, 04 November 2015
Polemik Pelobi, SINDO, 11 November 2015
Membingkis Pesan untuk G-20, SINDO, 18 November 2015
Indonesia-Australia, SINDO, 25 November 2015
Menteri Penghubung dan Masalah Investasi, SINDO, 02 Desember 2015
Pilkada dan Trauma Demokrasi, SINDO, 09 Desember 2015
Pekerjaan dan Kerja, SINDO, 16 Desember 2015
Mengelola Transportasi di 2016, SINDO, 23 Desember 2015
Dana Ketahanan Energi, SINDO, 30 Desember 2015
Konflik Tak Bertepi: Arab Saudi vs Iran, SINDO, 06 Januari 2016
MEA dan Pembangunan Sosial, SINDO, 13 Januari 2016
Setelah Embargo Iran Dicabut, SINDO, 20 Januari 2016
Menanti Solusi di Suriah, SINDO, 03 Februari 2016
Dinamika HAM di Asia Tenggara, SINDO, 10 Februari 2016
OKI dan Kemerdekaan Palestina, SINDO, 09 Maret 2016
Gerakan Anti Korupsi dan HAM, SINDO, 16 Maret 2016
Transportasi Berbagi vs Transportasi Umum, SINDO, 23 Maret 2016
China dan Antisipasinya, SINDO, 30 Maret 2016
Optimis atau Skeptis: Sidang AICHR di Jakarta, SINDO, 06 April 2016
Jerman dan Sekolah Kejuruan, SINDO, 20 April 2016
Penjara dan Pengampunan, SINDO, 27 April 2016
Dinna Wisnu Halaman 7

Yuyun, SINDO, 04 Mei 2016


Demokrasi Pasca-Reformasi, SINDO, 11 Mei 2016
Apa Kabar TPP dan RCEP? SINDO, 18 Mei 2016
Amerika Vietnam, SINDO, 25 Mei 2016
Duterte, SINDO, 08 Juni 2016
Analisis-Brexit dan China, SINDO, 22 Juni 2016
Brexit dan Konsekuensinya, MEDIA INDONESIA, 27 Juni 2016
Lagi, Penyanderaan di Filipina, SINDO, 29 Juni 2016
Nasib TPP dan Capres AS, KOMPAS, 07 November 2016
Menyambut Presiden Baru AS, SINDO, 09 November 2016
Trump adalah Kita, SINDO, 16 November 2016
Gerak Cepat, SINDO, 23 November 2016
Castro, SINDO, 30 November 2016
Uni Eropa di Persimpangan Jalan, SINDO, 07 Desember 2016
Opsi Pendekatan Isu Rohingya, SINDO, 14 Desember 2016
Makna Kembalinya Aleppo, SINDO, 21 Desember 2016
Adu Cepat Laju Infrastruktur di 2017, SINDO, 04 Januari 2017
Menyikapi Trumponomics, SINDO, 11 Januari 2017
Resolusi 2334, SINDO, 18 Januari 2017
Pembatasan Migrasi ke AS, SINDO, 01 Februari 2017
Trump dan Polisi Dunia, KOMPAS, 20 Januari 2017
Henry Kissinger, SINDO, 25 Januari 2017
Geliat Anti globalisasi dalam Pemilu Eropa, 08 Februari 2017
Penuhi Hak Para Disabilitas, KOMPAS, 11 Februari 2017
HAM Dalam Era Ekonomi Digital, SINDO, 22 Februari 2017
Tantangan Transisi Arab Saudi, SINDO, 01 Maret 2017
IORA, SINDO, 08 Maret 2017
Kemelut Inggris di Brexit, SINDO, 15 Maret 2017
Agar Ikan Membawa Berkah, SINDO, 29 Maret 2017
Keberagaman dan Persatuan, SINDO, 19 April 2017
Di Balik Kunjungan Mike Pence, KOMPAS, 21 April 2017
Le Pen dan Bumerang Politik SARA di Prancis, SINDO, 03 Mei 2017
Macron dan Tantangan Kualitas Demokrasi, SINDO, 10 Mei 2017
Religi dan Politik Internasional, SINDO, 17 Mei 2017
Indonesia, Brexit, dan EU, SINDO, 24 Mei 2017
”Pancasila dan Generasi Milenial”, SINDO, 31 Mei 2017
AS dan Kesepakatan Paris, SINDO, 07 Juni 2017
Ada Apa dengan Qatar? SINDO, 14 Juni 2017
Target Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak, SINDO, 08 Oktober 2014
Perang dan Damai, SINDO, 18 Oktober 2017
Nasib Kesepakatan Nuklir Iran, KOMPAS, 20 Oktober 2017
Rekomendasi Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia, SINDO, 25 Oktober 2017 & 01
November 2017
Drama di Saudi, SINDO, 08 November 2017
Mencari Juru Damai di Yerusalem, SINDO, 13 Desember 2017
Perang Proxy di Lebanon, SINDO, 22 November 2017 & 06 Desember 2017
Masa Depan Palestina di Tangan Kuartet, SINDO, 20 Desember 2017
Dinna Wisnu Halaman 8

HAM bagi Negara Muslim


Pekan ini Indonesia menjadi tuan rumah bagi pertemuan 18 komisioner
Komisi Hak Asasi Manusia Independen dan Permanen dari negara-negara
anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Di Jakarta, dengan fasilitas dari Kementerian Luar Negeri RI, mereka
berdialog dengan para diplomat dan masyarakat sipil Indonesia. Keaktifan
Pemerintah Indonesia dalam menjembatani pengembangan advokasi hak
asasi manusia (HAM) di OKI untuk dekat dengan masyarakat sipil di
Indonesia patut diacungi jempol. Indonesia bahkan memilih seorang
perempuan dan aktivis masyarakat sipil untuk menjadi komisioner di OKI,
yakni Dr Siti Ruhaini. Berdasarkan dialog pihakpihak yang memantau
perkembangan OKI dan perlindungan HAM, termasuk Human Rights
Watch Group, Komisi HAM OKI ini memang masih perlu dikawal dan
didukung.
Meskipun mereka punya rencana aksi untuk 10 tahun ke depan,lembaga
ini belum bisa menerima pelaporan pelanggaran HAM.Mandat komisi ini
terbatas sebagai lembaga konsultasi dan pelaksana penelitian kebijakan.
Karena itu kesigapan Pemerintah Indonesia dalam menanggapi kebutuhan
Komisi HAM OKI dapat memberi nilai tambah lebih bagi daya tawar
Indonesia dalam pergaulan internasional. Pertama, di antara negaranegara
Islam ini belum ada instrumen pendukung kerja Komisi HAM. Meskipun
posisi sekretariat sedang diperebutkan Arab Saudi dan Iran, kita tahu,
tugas para komisioner tidak bisa hanya didukung kantor yang memadai.
Dukungan masyarakat sipil, pusat informasi, dan suasana kondusif bagi
pertukaran pikiran yang nyaman sangatlah menentukan kinerja komisi ini.
Citra Indonesia sebagai negara demokratis dalam pergaulan negara-negara
berpenduduk muslim merupakan aset berharga untuk mendukung kerja
Komisi HAM OKI. Akan sangat baik bila Indonesia dapat mengawal agar
korupsi informasi itu tidak sampai menghambat kerja Komisi HAM
OKI.Posisi sekretariat di negara yang relatif terbuka terhadap peranan
masyarakat sipil akan sangat membantu. Langkah ini akan menambah
kepercayaan dunia terhadap peranan positif Indonesia di dalam OKI.
Kedua, sebagaimana tertuang dalam 10 Program Aksi OKI, negara-negara
OKI sebenarnya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Islam adalah
agama yang toleran, moderat, dan ingin menjauhkan warga muslim dari
kegiatan berbasis sudut pandang yang sempit dan ekstrem.Fanatisme jelas-
jelas ditolak dalam kesepakatan antarnegara OKI.Yang ingin
dikedepankan adalah nilai-nilai luhur tentang Islam serta dialog
antarperadaban yang berbeda sudut pandang. Kalaupun ada perbedaan,
Dinna Wisnu Halaman 9

mereka menggarisbawahi upaya mencari persamaan yang mendukung rasa


saling hormat dan percaya.
Kesepakatan antarnegara OKI tersebut sesungguhnya sejalan dengan sudut
pandang Indonesia selama ini. Ketika profil Indonesia dikenal sebagai
negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia justru
mengedepankan kesejukan, dialog, dan diplomasi. Kenyataan bahwa
Negara-negara OKI menekankan pada hal yang sama, setidaknya dalam
dokumen resmi mereka, menunjukkan perjuangan Indonesia di antara
mereka sesungguhnya membuahkan hasil juga. Bila Indonesia dapat terus
menularkan sudut pandang yang sejuk ini, bukan mustahil posisi tawar
Indonesia di antara negara OKI dan negaranegara lain di dunia akan
meningkat pula.
Ketiga, dorongan untuk menekankan wajah Islam yang cinta damai dan
dialog sangat perlu ditopang oleh Komisi HAM. Terbentuknya Komisi
HAM di Astana, Kazakstan, pada akhir Juni 2011,yang anggotanya terdiri
atas 60% diplomat dan 40% akademisi serta aktivis masyarakat sipil,masih
memerlukan dukungan terusmenerus dari negara yang lebih
berpengalaman. Kritik bahwa Indonesia pun masih perlu berbenah diri
dalam hal perlindungan HAM tidak perlu menyurutkan langkah kita untuk
membantu negara lain yang sedang bergulat akan pemahaman pelaksanaan
perlindungan HAM.
Sampai saat ini, Komnas HAM,Komnas Perempuan, dan Komnas Anak di
Indonesia sudah berada dalam tahapan yang lebih maju karena sudah
melayani pengaduan masya-rakat dan melakukan advokasi aktif yang
relatif sistematis.Pengalaman membangun mekanisme kerja,berjejaring
sosial,dan jatuh bangun demi meyakinkan pemerintah sangatlah berharga
untuk dibagikan. Fakta bahwa OKI membuka diri untuk mendorong
perempuan dan masyarakat sipil ikut serta dalam Komisi HAM perlu
dihargai sebagai modal dialog yang lebih intens dengan pejabat
pemerintahan negara-negara OKI dan dengan anggota masyarakat.
Mandat riset dan konsultasi dapat dioptimalkan bila ada terobosan berani
untuk mengajak masyarakat sipil memperkuat Komisi HAM OKI.
Tercatat ada 4 negara yang punya komisioner perempuan di OKI,yakni
Indonesia,Malaysia, Sudan, dan Afghanistan. Ada setidaknya 7 negara
yang menempatkan penggiat masyarakat sipil dan akademisi dalam
Komisi HAM OKI, yakni Indonesia, Malaysia, Turki,Arab Saudi,
Maroko,Palestina,dan Uganda. Keempat, perjuangan masyarakat sipil di
Indonesia perlu diinformasikan juga kepada masyarakat di negara-negara
OKI.
Perlindungan terhadap HAM tidak akan terjadi secara instan. Ia
membutuhkan penjiwaan terhadap solidaritas terhadap masyarakat yang
Dinna Wisnu Halaman 10

kebetulan berada dalam posisi minoritas, miskin, tidak berpendidikan


ataupun berada di jalur sesat. Jika ditangani dengan baik, pembahasan soal
HAM di OKI berpotensi mempererat hubungan dan meningkatkan daya
tawar Indonesia di mata negara OKI.
Kebuntuan yang bersumber dari tafsir ajaran agama dan kesulitan mencari
cara untuk meyakinkan kelompok agama yang ekstrem untuk mau bekerja
sama demi HAM dapat dicarikan solusinya bila para komisioner HAM
OKI ditarik dalam kerangka dialog yang menyegarkan dan merangsang
intelektualitas. Artinya, di mata kelompok-kelompok ekstrem di
Indonesia, justru tak ada alasan untuk bermain lagi di tafsir
agama.Kenyataannya komisioner di negara- negara Islam lain pun sepakat
dengan satu tafsir.
Selain itu, jejaring yang baik dengan para diplomat dan aktivis HAM OKI
dapat menjadi pintu masuk bagi perbaikan kerja sama ekonomi Indonesia
dengan negara- negara Timur Tengah.Tentu kita tidak pernah tahu kapan
titik balik dukungan bagi isu HAM akan terwujud. Ini bukan pekerjaan
yang bisa selesai dalam satu malam. Dalam hal ini konsistensi dalam
memberikan perhatian pada HAM perlu terus didorong. Semoga
komitmen internasional melalui OKI ini akan mendorong pula penegakan
dan perlindungan HAM yang lebih baik di Tanah Air.
Sumber: SINDO, 22 Februari 2012
Dinna Wisnu Halaman 11

Diplomasi Sawit
Kekuatan diplomasi yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh Indonesia
adalah kelapa sawit. Saat ini Indonesia penyumbang nomor 1 pasokan sawit
dunia. Negara lain membutuhkan suplai minyak sawit karena selain harganya
lebih terjangkau, pasokannya pun bisa lebih cepat ditingkatkan dengan luas
lahan lebih kecil. Karena itu, diplomasi Indonesia perlu dikembangkan agar
negara lain menerima produk minyak sawit Indonesia, punya kemudahan
akses untuk membeli minyak sawit Indonesia, dan punya jaminan kerja sama
yang menguntungkan dalam perkebunan-perkebunan sawit asing yang
beroperasi di Indonesia. Penerimaan terhadap sawit Indonesia sangat terkait
dengan standar ramah lingkungan.
Meski sejumlah negara besar seperti China dan India lebih peduli kuantitas
pasokan minyak sawit, kita tidak dapat mengabaikan kebijakan lingkungan
terhadap pasar CPO ke Eropa dan Amerika. Pengurangan sekecil apa pun
akan memengaruhi harga CPO di pasar dunia dan merugikan kita. Selain itu,
industri hilir yang menyerap CPO masih didominasi Eropa dan Amerika,
misalnya Unilever, McDonald, Nestle, dan Burger King.
Karena perusahaan-perusahaan tersebut mengikuti kebijakan di kantor
pusatnya, tidak mustahil bisa terjadi tuntutan terhadap misalnya McDonald di
Indonesia bila ditemukan pelanggaran aturan hukum di sana. Bayangkan
berapa ribu restoran siap saji yang sebetulnya tergantung dari kebijakan
diplomasi kelapa sawit kita.
Selain itu, sawit punya masa depan cerah sebagai pemasok kebutuhan energi
terbarukan: biodiesel. Uni Eropa telah mewajibkan penggunaan 20%
biofueldi seluruh Eropa pada tahun 2020.Di atas kertas,sebetulnya minyak
nabati Indonesia dapat masuk ke dalam pasar biofuel tersebut, tetapi Eropa
tentu memperhatikan kepentingan produksi minyak nabati dalam negeri
sendiri. Untuk melindungi kepentingan tersebut, sejumlah kriteria ditetapkan.
Eropa menetapkan, mereka hanya mau membeli minyak sawit yang
tesertifikasi ramah lingkungan, yakni sesuai standar RSPO (Roundtable on
Sustainable Palm Oil). AS mengumumkan penolakannya atas minyak sawit
yang tidak ramah lingkungan untuk biodiesel. Bagi kita, kriteria itu perlu
dipandang sebagai tantangan dan bukan sekadar kebijakan proteksi yang
menghambat.
Untuk itu, para diplomat Indonesia perlu lebih mengenal pergulatan para
produsen sawit dan aktivis lingkungan hidup di Tanah Air.Komunikasi yang
lancar dengan para praktisi sawit merupakan suatu keharusan. Pada saat ini
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) justru belum masuk dalam lingkar
komunikasi dengan produsen sawit. Diplomat juga perlu membina saling
pengertian dengan aktivis lingkungan ketimbang menjauhi mereka.
Dinna Wisnu Halaman 12

Diplomasi tidak hanya mengandalkan keterampilan negosiasi, tetapi juga


pemahaman persoalan secara teliti. Dalam kelapa sawit, beberapa soal yang
sering diungkapkan baik oleh perkebunan maupun aktivis lingkungan hidup,
antara lain, pertama, pengaturan izin dan lokasi penggunaan lahan untuk
sawit. Di mata dunia, rapor Indonesia dalam bidang ini masih merah. Kedua,
dalam konteks pasar Eropa dan Amerika, pengelolaan sawit di Indonesia
dinilai belum sesuai dengan standar ramah lingkungan.Padahal pada saat
yang sama, pasokan sawit perlu diserap oleh pasar.
Jika Eropa dan Amerika menolak pasokan dari Indonesia, perlu dipikirkan
pasar lain sambil perkebunan memperbaiki standar pengelolaannya. Para
produsen sawit di Indonesia juga mengemukakan, mereka kalah dibandingkan
Malaysia, misalnya, dalam hal dukungan pemerintah atas produksi,
pemasaran, dan dukungan harga. Ironisnya,Malaysia relatif tergantung pada
Indonesia juga karena mereka punya lahan yang cukup besar di Indonesia.
Maka ketika minyak sawit ditekan oleh negaranegara Barat, mereka pun
berharap dapat memadu kekuatan untuk menggugat dan menyanggah
tudingan tersebut. Di sinilah kepiawaian diplomat Indonesia dibutuhkan.
Kelapa sawit adalah tanaman keras yang berusia puluhan tahun. Sawit baru
bisa berproduksi setelah ditanam 3–4 tahun.
Artinya, sambil para pengusaha sawit dan kementerian lain berbenah diri,para
diplomat perlu punya langkah strategis untuk memajukan kepercayaan dunia
atas minyak sawit Indonesia. Keramahan terhadap lingkungan, selain
diperjuangkan melalui keikutsertaan dalam sertifikasi RSPO, kini juga sedang
dikembangkan ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil), yakni sertifikasi
wajib dari Pemerintah Indonesia bagi semua perkebunan sawit yang
beroperasi di Indonesia.
Selain membuktikan secara ilmiah, diplomat Indonesia perlu mempersiapkan
strategi untuk meyakinkan Eropa dan Amerika agar mengakui ISPO. Selain
itu, perlu dipikirkan mekanisme swap aga rnegara- negara lain tidak ragu
membeli minyak sawit Indonesia. Selain itu, diplomat Indonesia tak bisa lagi
menutup mata akan pentingnya menegosiasikan kondisi tenaga kerja dalam
perusahaan-perusahaan asing, apalagi yang beroperasi di Tanah Air seperti di
kebun sawit.
Saat ini sejumlah perusahaan asing masih selalu berpatokan pada upah
minimum belaka. Di sini pemerintah perlu tanggap agar tenaga kerja
Indonesia pun bisa menikmati manisnya sawit.
Sumber: SINDO, 29 Februari 2012
Dinna Wisnu Halaman 13

Asia’s Rising Economies and the


Space to Grow, Distribute
It is nice to “grow up”. Indeed, that is the very feeling that should come
with economic growth. Busy streets, people working in high-rise offices,
decent houses and healthcare, children with quality education and lively
markets are a few indicators of economic growth going right.
Yet, not everyone is happy. Other countries that have developed for over a
century had earlier complained.
In international forums, the rising economies are urged to share their
growth with ailing Europe and the USA. Numerous “strategic” and
“comprehensive” partnerships and forums emerged.
If one looks closer, only few of these partnerships between the “rising”
and “ailing” economies are developed on an equal footing.
The heading may be about transfer of technology or promotion of
education, but barely any local universities or research institutes obtain
any genuine upgrade of knowledge.
If one is lucky, a few students or faculty members may be given a few
days visiting abroad for projects to hold international conferences or serve
as visiting professors to teach a few credit hours. But that’s about it.
When it comes to economic cooperation, non-tariff barriers become the
new trend. The usually pro-liberal market World Trade Organization
(WTO) allows this.
The biggest barrier lately has been focused on “green” requirements. One
must calculate carbon emissions in business, pass certification
requirements and count how much biodiversity is conserved in plantations
and forests.
Young foreign scholars with little knowledge about socioeconomic or
political history come to villages to write reports on whether these
economies are green enough or not for their governments to support.
Among the elite, diplomats are pulled-out from reality. The variety of
international forums has mushroomed. Their frequency has more than
doubled in the past decade.
Discussions among heads of state and ministers are intensified and have
become so intense that any immediate detrimental consequences to their
Dinna Wisnu Halaman 14

citizens are considered normal. The obvious examples are the free trade
agreements.
These agreements are signed long before there is any clarity on how to
improve infrastructure and other trade facilities and long before any step-
by-step domestic reform on agricultural, industrial or mining policies.
Any statesman, or even businessman, would know that provision of
infrastructure, trade facilities or other common goods cannot be started or
left alone to the private sector.
After all, this is the responsibility of the government. No wonder once the
agreements materialize there are more protests than support. Policies
become harder to reform because insecurity is higher.
Don’t get me wrong. I agree that we must create more partnerships
between developed and rising economies to save the earth and prevent
climate change while promoting free trade. Yet, the steps taken thus far
have been wrong.
The diplomatic steps taken do not solve the problems. If the pattern
continues, we are going to witness a serious eruption of anger,
disappointment and protests from communities around the world. Not just
in the rising economies, but also in developed economies.
Why? Because governments that are detached from society cannot solve
society’s problems. With more summits and high-profile talks, more hours
are taken away from handling domestic problems.
Too many handshakes and photo-opts have lured leaders to be “rock-stars”
on the world stage. International forums can negotiate terms, but what
makes a difference is the implementation of the agreements domestically.
Economic growth is different from wealth accumulation and distribution
of wealth. What makes any government a hero is when wealth is
distributed to as much of the population as possible.
If one wants to be honest, what every human being needs is food,
healthcare, housing, education, decent jobs, lifestyle and some refreshing
time.
Growth alone cannot deliver these needs to citizens. Even if the
government is very responsive, the time lag between economic growth and
distribution of wealth is significant.
Let me take the example of Indonesia, India or China. These countries
may be rising economies, with increasingly obvious modern living
facilities.
Dinna Wisnu Halaman 15

Yet, a large number of their population still lives below, or just slightly
above, the minimum standard. When people go to malls, buy cars or talk
on cell phones, this should not be misunderstood as wealth.
Traditional markets are mostly gone. The big whole-sale air-conditioned
shopping centers promise discounts and cheaper products than small
traders. People buy cars or motorcycles because they can’t afford houses
that are close to their offices.
There are not any decent modes of reliable public transportation. In
addition, if one wants to earn decent wages, he or she must be mobile and
ready on call, which means that private cars or motorcycles are imperative
capital goods.
Cell phones are widely used because they facilitate the demand for cheap
mobility, and, of course, a little bit of lifestyle. Their savings and quality
of living, however, are far from wealthy.
Speaking of business, cities in Asia may be busy, but there are also serious
traffic jams everywhere. In rural areas, many streets are unpaved. There
are forums to encourage investors to come in, but the investors’
complaints remain the same. They feel that the government is not doing
enough to protect and promote their business. Foreign investors and
businesses need certainty of profit in their own time frames.
These investors forget that through international forums the government
has prioritized them much more than opening business access to local
people or build bridges and streets.
Thus, let us keep perspectives in proportion. The rising economies need
space to grow wealth and distribute it to the widest possible population in
their territories.
Foreign investors and businesses have the door opened and have given
room to grow in the economies that actually belong to other nations, hence
they share the responsibility to distribute wealth in the community they
operate. Minimum wage is designed to protect workers, not to peg low
wage rates. “Green” requirements were initiated for sustainable
development, not to curb growth.
No growth will be sustained if the people where the business is operating
are marginalized by businesses and government officials. Let us put things
back where it should be.
Sumber: JAKARTA POST, 29 Februari 2012
Dinna Wisnu Halaman 16

Jangan Takut
”Jangan Takut. China itu seperti panda, besar tetapi lembut”. Pernyataan
tersebut terus diulang oleh Liu Quan, charge d’affaires atau pejabat
sementara duta besar dari Kedutaan Besar Republik Rakyat China
(Kedubes RRC) dalam forum diskusi 1 Maret 2012 di Universitas
Indonesia.
Berbeda dengan pejabat terdahulu, Ibu Duta Besar Zhang Qiyue yang
lemah lembut dan hampir selalu memosisikan diri sebagai pendengar, Liu
Quan punya nada bicara yang lebih tegas, suara keras, dan raut wajah yang
sangat ekspresif. Apakah perubahan kepemimpinan di Kedubes RRC
menandakan pula perubahan pendekatan terhadap Indonesia,saya pikir kita
dapat melihatnya pada hari-hari mendatang.
Namun, pesan Liu Quan sangat jelas dengan gaya bicaranya tersebut. Ia
ingin agar hadirin yakin bahwa China tidak perlu ditakuti oleh Indonesia
dan bahwa Indonesia sebenarnya lebih “besar” dibandingkan China. Saya
melihat keuletan China dalam membuka hubungan yang akrab dengan
Indonesia sebagai suatu karakter.
China memang gigih. Secara konsisten dalam kurun waktu 10 tahun ini,
para pejabat China selalu menyuarakan,negeri itu hadir di Asia sebagai
kekuatan yang menginginkan kerja sama dan membawa keuntungan besar
bagi kawasan ini. Ketika Perdana Menteri China Wen Jiabao berkunjung
ke Jakarta pada April 2011,pesan utamanya bangsa Indonesia dapat
memegang kata-katanya yakni Pemerintah China tidak akan berpaling dan
berkhianat dari janji-janji untuk bersama-sama tumbuh sebagai suatu
kawasan yang dinamis pertumbuhan ekonominya.
PM Jiabao tampaknya memahami benar keragu-raguan adalah karakter
kepemimpinan Indonesia saat ini dan keragu- raguan itu mudah menular
pada publik. Sebab itu, PM Jiabao perlu menyampaikan pesan dalam
bahasa yang terang dan jelas. Pesan Liu Quan selayaknya menjadi bahan
refleksi bagi bangsa ini.
Meskipun Indonesia berpenduduk besar,punya pertumbuhan ekonomi
tinggi dan dinamis, serta punya beragam fasilitas mutakhir, politik luar
negeri Indonesia terlalu berhati-hati. Awalnya saya pikir hanya saya
sebagai orang Indonesia yang berpandangan demikian. Sejumlah diplomat
dan duta besar negara sahabat ternyata menyampaikan pandangan serupa.
Ada suatu harapan besar dari negara-negara lain agar Indonesia lebih
berani dan tegas dalam menyuarakan posisinya.
Dinna Wisnu Halaman 17

Misalnya saja menyangkut hubungan kerja sama dengan


China.Sebenarnya negara lain dapat membaca bahwa ratarata masyarakat
Indonesia masih berpandangan negatif terhadap kedekatan dengan
China.Tetapi, apakah Indonesia setuju pada pendekatan China dalam
bermitra? Apakah Indonesia punya syaratsyarat dalam bermitra? Apakah
ada langkah konkret untuk membangun rasa percaya antarnegara?
Belum ada kejelasan. Ketika menghadapi kritik dari publik,yang muncul
justru sikap mendua yakni mengkritik China. Padahal bukankah suatu
kerja sama selalu diawali oleh kesepakatan dari pihak Indonesia juga?
Sebenarnya dalam diplomasi sangatlah dimungkinkan untuk menyuarakan
ketidaksetujuan terhadap kebijakan negara lain, bahkan ketika kebijakan
tersebut bersifat domestik.
Di sinilah terjadi tawar-menawar dan negosiasi. Namun, ada satu bekal
utama yang diperlukan para diplomat yang bernegosiasi tersebut. Mereka
membutuhkan kejelasan arah politik luar negeri dan kepentingan nasional,
serta komitmen domestik yang dapat diandalkan sebagai daya tawar dalam
negosiasi. Bekal utama ini yang absen dalam pengambilan kebijakan luar
negeri Indonesia.
Ketika berhadapan dengan China, yang oleh publik notabene masih
dicurigai punya motif-motif politik dan ekonomi yang berpotensi
merugikan bangsa Indonesia,muncul pertanyaan. Bagaimana caranya
memperlakukan China sebagai teman? Teman yang seperti apa? Bukankah
kecurigaan bukan berarti menganggap China sebagai musuh? Atau ketika
diplomat diarahkan untuk mencari keseimbangan dalam hubungan dengan
China, di manakah patokan keseimbangan yang tepat? Menjaga hubungan
yang dinamis dengan China adalah pekerjaan relatif mudah.
Kita bisa menambah kegiatan atau kerangka kerja sama.Tetapi,
kedinamisan hubungan tadi memerlukan arah yakni jenis hubungan apa
yang sedang ingin dipupuk bersama China. Ada yang berpendapat, sedang
terjadi quiet diplomacy atau diplomasi di belakang layar dengan China.
Artinya, ketidakjelasan posisi Indonesia adalah suatu strategi demi
membantu negosiasi. Bila posisi Indonesia tidak terbaca oleh negara lain,
arah negosiasi masih bisa disetir sesuai kemauan.
Argumen tersebut menarik, tetapi ada satu hal yang sebenarnya kurang
tepat dalam logika argumen tersebut. Quiet diplomacy memerlukan target
jelas, apalagi karena Indonesia bukan dalam posisi lemah dalam
bernegosiasi dengan China. Indonesia punya posisi daya tawar yang besar,
baik di tingkat kawasan maupun di tingkat global.
Kebesaran populasi Indonesia, posisi geopolitik yang strategis, dan citra
sebagai negara yang cinta damai dan tidak bermotivasi mencari kekuasaan
Dinna Wisnu Halaman 18

belaka dalam percaturan politik global adalah daya tawar yang luar biasa.
Daya tawar inilah yang mendorong China untuk meyakinkan Indonesia
agar tidak takut dan ragu dalam menerima China sebagai mitra utama di
kawasan Asia.
China bisa membaca, sesungguhnya tak ada negara lain di kawasan Asia
Tenggara yang relatif bisa dipercaya dan bisa diandalkan dalam menopang
pertumbuhan ekonominya selain Indonesia. China butuh tumbuh. Dengan
populasi 1,3 miliar jiwa, mereka butuh mesin pertumbuhan ekonomi yang
sangat besar. Mereka butuh pasar yang besar dan haus terhadap produk-
produk mereka. Mereka mencari tanah untuk bercocok tanam demi
memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya.
Mereka mencari proyek untuk menghidupi BUMN mereka. Indonesia bisa
memberikan itu semua. Mereka juga butuh saluran dana agar surplus
mereka tidak menimbulkan panas ekonomi yang terlalu tinggi di dalam
negeri. Wajar jika kemudian muncul skemaskema pinjaman dan investasi
dari China ke Indonesia. Karena itu, mari kita lebih mawas diri.
Pendapatan per kapita Indonesia memang masih lebih rendah
dibandingkan China, tetapi fakta bahwa China sangat mengharapkan
uluran tangan Indonesia untuk menghidupkan perekonomiannya patut
disikapi sebagai modal negosiasi dan kepercayaan diri yang besar. Sudah
saatnya pemimpin negeri ini terbuka dan tegas akan arah kebijakan luar
negeri Indonesia serta mengembangkan kerja sama luar negeri yang
membangun kepercayaan publik akan arah kebijakan luar negeri yang
tepat.Apalagi karena China begitu gigih mendekati Indonesia.
Sumber: SINDO, 7 Maret 2012
Dinna Wisnu Halaman 19

Perang Dingin Iran-AS


Apakah Iran sungguh punya senjata nuklir dan membahayakan dunia? Saya
pikir tidak berlebihan bila mengatakan, pertanyaan ini belum punya jawaban
memuaskan atau final bagi semua pihak.
Rata-rata publik masih menebak- nebak bagaimana kondisi riilnya. Bagi yang
pro-Iran, jawabannya bisa definitif “tidak” atau “tidak mungkin”, tetapi bagi
yang awam politik di Timur Tengah, ada ruang untuk mengatakan “belum
tahu”. Bagi saya, ketegangan yang belakangan terjadi antara Iran dan
Amerika Serikat (AS) merupakan bahan refleksi menarik. Pertama, telah
terjadi perang dingin baru yang berkembang dalam politik internasional.
Indonesia harus waspada dan bisa menyikapinya dengan bijak.
Kedua, tersedia peluang bagus bagi Indonesia dalam hal kekuatan diplomasi,
tetapi belum dimanfaatkan optimal. Pertama,soal perang dingin baru dalam
politik internasional. Ketegangan antara Iran dan AS, yang juga diramaikan
ketidakjelasan posisi politik China dan Rusia, sesungguhnya merupakan tanda
perbedaan pendapat yang cukup tajam antarnegara besar di dunia. Perbedaan
pendapat ini mencakup cara berpikir, cara melihat, cara merasakan, dan cara
bertindak ketika menghadapi suatu fenomena.
Fenomena itu adalah kepemilikan program dan fasilitas pengayaan uranium
Iran. Informasi mengenai Iran maupun AS samasama telah melalui proses
framing atau pembentukan persepsi tertentu. Artinya, pembaca akan sangat
mudah dipengaruhi pemilihan kata-kata serta sudut pandang tertentu dari
suatu berita. Misalnya, ketika kita membaca media-media terbitan AS, tanpa
disadari ada penekanan pada sudut pandang para pengambil keputusan di AS
atas Iran sehingga muncul pembahasan, Iran sedang melakukan permainan
“adu nyali” (chicken game) atau bahwa penting bagi semua pihak untuk
menjauhkan senjata nuklir dari tangan para mulah yang otoriter.
Sulit menemukan sisi pembuktian tentang niat Iran yang sesungguhnya dalam
artikel-artikel tersebut. Apakah jumlah fasilitas pengayaan uranium, ilmuwan
atau kepemilikan reaktor heavy water di sana berarti Iran sedang
mengembangkan senjata nuklir? Bukankah kepemilikan atas komponen dan
bahan baku senjata nuklir belum tentu berarti kepemilikan akan senjata
nuklir? Di pihak lain, ketika berhadapan dengan berita-berita dari Iran, yang
muncul adalah pernyataan-pernyataan defensif dari para petinggi di republik
itu. Ada pula pernyataan, mereka tidak takut bila sampai diserang AS.
Ketika kedua sudut pandang itu dibaca orang-orang awam, yang muncul
kesan bahwa Iran adalah pembangkang yang gemar dan siap perang. Istilah
yang dipakai di media-media AS adalah defiant dan belligerent. Ketika pihak
pro-Iran menjawab tuduhan tersebut “kekanak-kanakan” atau “tidak
berdasar”, hal itu tidak mengurangi kesan Iran memang perlu diwaspadai.
Dinna Wisnu Halaman 20

Inilah perang dingin di mana informasi, persepsi, dan perilaku publik dibatasi
dan dipengaruhi agar jangan sampai berita yang riil justru bocor ke publik.
Sebenarnya perang macam ini bukan hal baru bagi Indonesia.
Generasi yang pernah hidup di zaman perang dingin antara AS dan Uni
Soviet masih ada dan bisa menceritakan seluk-beluk serta kerepotan hidup di
zaman itu. Dibandingkan Uni Soviet, Iran memang belum seberapa karena
dia merupakan pendatang baru dalam hal mendorong agenda ideologi ke
tataran dunia global. Namun terlepas dari itu semua, Indonesia sebaiknya
tidak terjebak dalam dikotomi “percaya pada Iran atau pada AS”. Indonesia
sebagai negara besar yang juga berpenduduk mayoritas muslim selayaknya
bisa lebih bijak dengan cara bisa melihat gambar besar dan tidak lupa pada
kepentingan nasional Indonesia.
Misalnya, Indonesia dikenal sebagai salah satu pendukung NPT (non-
proliferation treaty) yang patuh. Kesepakatan internasional itu
menggarisbawahi bahwa perlucutan senjata dan penghindaran terhadap
pengembangbiakan (proliferasi) senjata nuklir adalah suatu etika bersama
yang patut dijaga walaupun di sisi lain diakui, semua negara di dunia punya
hak untuk mengembangkan teknologi nuklir secara damai.
Satu hal yang layaknya dikenali Indonesia adalah, NPT memiliki daya
diplomasi tinggi untuk mencairkan suasana perang dingin yang sedang
berkembang. Ini poin saya yang kedua. Kenyataannya memang belum ada
negara dunia mana pun yang punya kecukupan energi, padahal di pihak lain,
ketidakcukupan tersebut kerap dijadikan penekan oleh negara lain. Contohnya
Rusia yang bisa menghentikan pasokan gas ke Eropa atau AS dan China yang
kebingungan mencari sumber kecukupan energi bagi penduduknya. Indonesia
pun harus diakui sedang mengalami problem serupa.
Maka, daripada terjebak dalam dikotomi ada atau tidak senjata nuklir di Iran,
mengapa tidak mengampanyekan kerja sama pengembangan teknologi nuklir
untuk keperluan pembangkit tenaga listrik dan energi? Tentu butuh
keberanian untuk menghadapi tekanan pihakpihak yang tidak setuju di dalam
negeri sendiri atau dari pihak pengusaha minyak, tetapi realitasnya,
kecukupan energi merupakan kebutuhan semua negara untuk bertumbuh
secara ekonomi. Melalui ini, Iran bisa dilibatkan dalam dialog konstruktif
tanpa Indonesia mengorbankan ideologi bangsa ini, yakni Pancasila.
Di sinilah kepiawaian para diplomat Indonesia dituntut agar perang dingin
tidak memenjarakan Indonesia dalam ketidakberdayaan. Pernyataan-
pernyataan pimpinan negara dan diplomat Indonesia pun perlu mencerminkan
kepiawaian itu. Inilah esensi politik luar negeri bebas aktif; bisa mencari arah
baru yang mencerahkan bagi semua pihak, bebas dari tekanan negara lain,
dan aktif memperjuangkan kemaslahatan umat manusia.
Sumber: SINDO, 14 Maret 2012
Dinna Wisnu Halaman 21

Antara BBM dan BLT?


”Harus punya hatilah, punya empati, jangan segala hal dipolitikkan.
Tidak baik. Rakyat akan terhina kalau dilihat kaca mata politik, rakyat
harus dibantu. Kita jangan menina-bobokan mereka lagi yang tidak tepat
menerima subsidi,” ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam
pembekalan petinggi Partai Demokrat di Cikeas pada 18 Maret 2012.
Itulah respons beliau menanggapi kritik atas kebijakan Bantuan Langsung
Tunai (BLT) yang dikucurkan untuk mengimbangi dampak kenaikan
harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Berulangkalisaya renungkan
pernyataan Presiden SBY tadi dan dua hal muncul.
Pertama, suka tidak suka, setiap tahun pikiran kita masih dibebani dengan
dilema antara menaikkan atau tidak harga BBM bersubsidi. Sesudah itu,
pemerintah meminta kita berpikir tentang apakah insentif atas kenaikan
harga bensin premium tadi terhitung sebanding dengan nilai subsidi yang
dicabut. Mengapa rakyat diminta berhitung dan merasa bersalah jika tidak
berkorban dengan bersedia membayar lebih ongkos transpor sehari-
harinya?
Kedua, kerangka bicara Presiden SBY menyiratkan subsidi adalah
kewajaran.Hanya saja kemudian beliau protes karena ada
ketidaksepakatan cara pandang tentang siapa yang perlu disubsidi pada
suatu masa dan apa bentuk subsidinya. Apakah dilema yang disampaikan
Presiden ini tulus atau pencitraan belaka? Saya mendengar sendiri dari
sejumlah perwakilan negara sahabat bahwa urusan kenaikan harga BBM
bersubsidi ini sebenarnya tidak perlu dan melelahkan.
Di negara lain, urusan itu cuma urusan kecil di dapur pemerintah.
Mengapa? Siapa pun tahu, harga minyak bumi memang tidak stabil.
Lantaran merupakan barang langka dan rata-rata negara masih
mengandalkan minyak bumi sebagai pembangkit energi dan bahan bakar,
kecenderungan harga minyak bumi tidak akan turun. Itu sebabnya negara
lain sudah repot-repot berinvestasi dan saling sikut untuk memenangi
tender pengeboran minyak di segenap pelosok bumi.
Hungaria, negara kecil di Eropa Timur itu, sekarang sedang gencar
mengampanyekan perlunya berhemat sumber daya alam, termasuk minyak
bumi. Hungaria merasa perlu berbagi pengalaman pahit hidup sebagai
negara yang royal dengan sumber daya alamnya dan sekarang cuma bisa
menjadi negara transit yang mengalami ketergantungan politik kepada
negaranegara pemasok energinya. Jadi,sedih rasanya bila mendengar
setiap tahun pembicaraan kita tidak pernah beranjak dari hal yang itu-itu
saja.
Dinna Wisnu Halaman 22

Kalau kenaikan harga BBM bersubsidi ini dikaitkan dengan nasib rakyat
penerima BLT, maka Presiden SBY salah kaprah.Yang berteriak bukan
cuma rakyat miskin yang nantinya bisa menikmati BLT sebagai
kompensasi, tapi juga mereka yang bekerja dan para pengatur rumah
tangga.Yang mengalami tekanan akibat kenaikan harga BBM termasuk
juga penduduk berpenghasilan di atas garis kemiskinan,termasuk mereka
yang punya kendaraan pribadi dan punya rumah, tetapi tidak bisa
dikatakan hidup mewah.
Artinya, jika yang disoroti adalah aspek siapa yang berhak menerima
subsidi, yang muncul justru resistensi.Apalagi subsidi di mana pun dan
kapan pun selalu memunculkan kontroversi.Bukan karena penduduk tidak
punya empati atau jahat,tetapi justru karena orang melihat ada masalah
lain yang lebih besar sehingga muncul kebutuhan untuk memberi subsidi.
Problem subsidi dan kenaikan harga BBM ini sangat erat kaitannya
dengan ketahanan energi dan posisi diplomasi suatu negara terhadap
negara-negara lain, khususnya yang punya pasokan energi besar atau yang
gerak-geriknya ikut memengaruhi harga minyak dunia. Apakah pekerjaan
rumah menjamin ketahanan energi ini sudah dikerjakan secara serius di
Indonesia? Apakah diplomasi Indonesia menunjang upaya itu? Dari segi
diplomasi ke negara- negara penghasil minyak bumi, misalnya.
Indonesia tergolong masih mudah terombang- ambing di antara tekanan
politik negara yang saling berseteru.Ketika AS bersitegang dengan Iran,
justru yang dipertentangkan adalah soal benar tidaknya Iran dalam
kepemilikan senjata nuklir. Kepentingan Indonesia untuk membentuk
wacana damai agar hargaminyak bumi terjaga baru sebatas sepucuk surat
dari Presiden SBY kepada Sekretaris Jenderal PBB.
Tidak ada pendekatan khusus kepada Iran ataupun AS atas kepentingan
Indonesia tersebut. Ketika AS menekan Irak dan terang-terangan meraup
keuntungan dari penguasaan atas ladang-ladang minyak di sana, Indonesia
memilih pasif. Terhadap AS pun Indonesia tidak memberi perhatian
khusus pada dialog untuk meminimalkan tekanan harga minyak bumi
akibat invasi AS ke Irak.
Solusi dicari di dalam negeri saja dengan bersitegang dengan parlemen
dan rakyat. Mengenai pembangunan sumber energi terbarukan,ada banyak
tawaran kerja sama yang masuk dari Eropa seperti Spanyol dan Amerika
Latin seperti Brasil yang sudah lebih terdepan dalam hal pengembangan
alat-alat pendukung energi terbarukan.Namun tawaran kerja sama itu
terbentur keterbatasan dana dan komitmen politik Pemerintah Indonesia
untuk memfasilitasi pengusaha dan warga Indonesia yang ingin
mengembangkan tawaran kerja sama itu.
Dinna Wisnu Halaman 23

Para pengusaha di bidang itu mengaku kesulitan menekan biaya siluman


yang muncul akibat ketidakselarasan aturan antara pemerintah pusat dan
daerah. China sangat aktif mengeksplorasi ladang-ladang minyak di
seluruh dunia agar punya konsesi baru. Tapi China berkomitmen tinggi
untuk mengembangkan energi terbarukan.
Tahun 2011, China mencanangkan tak kurang dari USD1,54 triliun dalam
kurun waktu 15 tahun ke depan untuk proyek energi terbarukan dalam
bentuk investasi pemerintah untuk kendaraan, lembaga keuangan,serta
kebijakan keuangan dan pajak. Ada sejumlah BUMN China yang
melakukan investasi besarbesaran untuk mengonservasi energi,menekan
polusi,dan mengembangkan proyek-proyek swasta baru.
Angka ini lebih dari 100 kali lipat penghematan BBM di Indonesia! Jadi,
keluhan pemerintah dan nantinya DPR atas kenaikan harga bensin
premium hendaknya tidak menyita perhatian secara berlebihan.Ada
pekerjaan rumah lebih besar, yakni pembenahan ketahanan energi melalui
diplomasi yang lebih proaktif, berani, dan tanggap terhadap tawaran dan
perkembangan di sekeliling.
Selayaknya kita bertanya, mengapa dana hasil berhemat subsidi tadi tidak
diarahkan ke proyek konkret yang membuat harga bahan bakar lebih
terjangkau?
Sumber: SINDO, 21 Maret 2012
Dinna Wisnu Halaman 24

Perlu untuk ASEAN 2012


Kalau kita sejenak keluar dari rutinitas berita-berita di dalam negeri, akan
kelihatan ada banyak negara yang saat ini sedang mengamat-amati
Indonesia, terutama atas kegiatannya di ASEAN.
Perkumpulan 10 negara se-Asia Tenggara ini telah menjadi branding yang
lekat dengan politik luar negeri Indonesia. Di mana ada ASEAN, negara
lain pasti bertanya di mana Indonesia? Bila mereka ingin bekerja sama
melalui ASEAN, mereka pasti meminta pendapat para pengamat serta
pengambil kebijakan di Indonesia. Tahun lalu, ketika Indonesia menjadi
ketua, ASEAN telah mengeksplorasi dan membuka berbagai bentuk kerja
sama, antara lain dengan Uni Eropa, India, dan Rusia.
Dengan China, kesepakatan untuk perdagangan bebas yang ditandatangani
pada 2005 kembali dipertegas. Tahun lalu saja Perdana Menteri China
Wen Jiabao sampai mengunjungi Indonesia tiga kali sambil mampir ke
Malaysia dan Brunei Darussalam. Hal ini demi menunjukkan kepada
ASEAN bahwa China serius untuk menjalani kerja sama yang samasama
menguntungkan bagi China maupun ASEAN.
Selain itu,di bidang keamanan, ada Brasil yang menjadi negara Amerika
Latin pertama yang menandatangani Treaty of Amity and Cooperation,
nota kerja sama perdamaian di kawasan ASEAN.Target Brasil adalah
terbukanya ruang kerja sama dengan negara-negara di kawasan ini. Jadi
ujung-ujungnya ekonomi juga. Pada bulan November 2011, Jepang dan
ASEAN menyepakati rencana aksi untuk menerapkan deklarasi bersama
untuk memperkuat kemitraan strategis ASEAN-Jepang agar sama-sama
sejahtera.
Tahun ini, beragam jenis kerja sama dan rencana aksi tersebut perlu
terealisasi dalam bentuk kegiatan. Harapannya, pada 2015,hasilnya akan
terasa konkret bagi warga negara biasa, baik itu di dalam negara anggota
ASEAN maupun di dalam negara mitra. Harapan Menteri Luar Negeri
Indonesia: ASEAN menjadi people-centered association (asosiasi yang
fokus kegiatannya pada manfaat bagi penduduknya).
Yang pasti, ini merupakan tugas yang menantang bagi siapa pun di dalam
posisi ketua ASEAN. Dunia secara umum masih didera problem
pertumbuhan ekonomi yang rendah, utang yang berlebihan, pengangguran
yang tinggi (terutama di antara orang muda), populasi penduduk yang
menua, pelayanan kesehatan yang mahal, serta berkurangnya sumber daya
alam dan bahan bakar fosil.
Dinna Wisnu Halaman 25

Problem-problem itu justru tidak dialami di kawasan ASEAN sehingga


dari kawasan inilah diharapkan ada pertumbuhan ekonomi yang bisa
menarik negara-negara lain dari keterpurukan ekonomi. Bila dikelola
dengan baik, ASEAN akan menjadi kekuatan luar biasa dari Selatan.
Keketuaan Kamboja akan menentukan nada suara kebersamaan bagi
ASEAN sebagai suatu kesatuan bangsa di kawasan Asia Tenggara.
Bukan hal yang mustahil karena Kamboja terkenal sebagai bangsa yang
berani mengambil terobosan-terobosan baru, sama seperti tetangga mereka
Vietnam. Yang penting, Kamboja harus berpikir outside the box alias
berpikir kreatif di luar kebiasaan. Suasana dinamis dari ASEAN harus
dijaga sambil terus menjaga aura positif agar para mitra kerja sama dari
negara lain tetap berdatangan.
Dalam tahapan ini, kebijaksanaan dalam memanfaatkan keterbatasan
waktu dan tenaga akan sangat menentukan hasil akhir dari jumlah kegiatan
ASEAN yang jumlahnya mencapai ratusan per tahun. Kuncinya adalah
dengan membuat lompatan-lompatan perubahan agar kebijakan domestik
di negara-negara anggota ASEAN segera selaras dengan rencana-rencana
besar ASEAN sebagai suatu komunitas.
Misalnya saja terkait kebijakan menjaga pasokan pangan di ASEAN,
melindungi hutan, menciptakan langit bersama (sehingga penerbangan
antar-ASEAN bebas keluar masuk), meningkatkan konektivitas antar
negara anggota ASEAN,menciptakan jalur gas dan air trans-ASEAN, serta
membuka jalur perdagangan bebas dengan Uni Eropa. Bukanlah suatu
rahasia bahwa rencana-rencana ini baru indah di atas kertas.
Para mitra kerja sama justru harap-harap cemas kapan proyek-proyek ini
dapat segera terealisasi. Masalahnya sebagai berikut. Kebijakan pertanian
sangatlah beragam di ASEAN dan di sebagian besar negara anggota,
menteri pertanian bukanlah pemberi pengaruh utama dalam kabinet.
Manajemen hutan masih penuh perdebatan dan tergolong sulit untuk
dipecahkan karena melibatkan bisnis-bisnis besar dan pembagian
wewenang dengan pemerintah daerah.
Kebijakan langit bersama terbentur klaim-klaim wilayah di ASEAN di
mana ada keengganan untuk membahas soal itu.Konektivitas di ASEAN
membutuhkan konsesi lahan dan dana besar dari pemerintah agar investasi
asing dapat terlaksana. Sulit karena masih ada perdebatan tentang tata
guna lahan dan keterbatasan kemampuan fiskal dari negara-negara yang
membutuhkan konektivitas itu.
Lagipula, problemnya tidak di darat saja, tetapi juga di laut dan di
wilayah-wilayah terpencil seperti wilayah timur Indonesia. Demikian pula
halnya dengan pembuatan jalur gas dan air trans-ASEAN. Belum jelas
Dinna Wisnu Halaman 26

bagaimana dan siapa yang dapat mengurus pengelolaan air dan gas di
seluruh negara ASEAN. Padahal, suka atau tidak, mitra-mitra ASEAN
ingin hasil cepat.
Kritik mereka cukup tegas, yakni bahwa cara-cara ASEAN dianggap
terlalu berbeda dari kebiasaan di belahan dunia lain. Karena serbalewat
konsensus, keputusan diambil melalui diskusi dan dialog yang berlarut-
larut. Pada 2012, tidak mustahil akan ada tawaran untuk memecah
kerangka-kerangka kerja sama yang ada menjadi porsi-porsi kecil agar
negara yang sudah siap saja yang bisa mengambil kerja sama.Yang lain
menyusul. Konsekuensinya tentu kepada sentralitas ASEAN.
Semakin sering ada negara yang ditinggalkan, berarti ASEAN tidak
sentral dalam kerangka-kerangka kerja sama yang ada. ASEAN melemah
di hadapan tekanan mitra kerja. Di sini Ketua ASEAN dan sekretariatnya
perlu lebih tegas dalam melakukan pengarusutamaan visi ASEAN ke
dalam pembuatan kebijakan di antara negaranegara anggota ASEAN.
Karena itu, diperlukan keterlibatan publik yang lebih luas dalam
penentuan dan pelaksanaan agenda-agenda ASEAN.
Wali kota, pebisnis, asosiasi, kaum muda, perempuan, universitas,semua
perlu mendapatkan kejelasan dalam peranan mereka membangun
Komunitas ASEAN. Di situ, ASEAN perlu bekerja sama dengan
universitas dan lembaga pendidikan untuk menyelenggarakan pertemuan-
pertemuan berskala kecil yang menarik perhatian kalangan yang lebih
variatif.Kerja sama semacam ini akan membantu Kamboja sebagai ketua
sambil mempercepat dikenalnya ASEAN oleh seluruh lapisan masyarakat.
Mudah-mudahan cara seperti ini akan lebih cepat pula menolong seluruh
elemen masyarakat di kawasan Asia Tenggara untuk berpikir dan
bertindak sebagai bagian dari suatu komunitas bersama. Akankah
Indonesia membuat terobosan baru demi mendorong pelaksanaan beragam
komitmen dan inisiatif kerja sama yang sudah dibangunnya tahun lalu?
Bulan April ini akan mulai marak beragam kegiatan mengenai
implementasi kerja sama ASEAN dengan negara-negara mitra. Semoga
hasilnya bukan sekadar jabat tangan, tetapi kegiatan yang manfaatnya
langsung bisa dirasakan publik.
Sumber: SINDO, 28 Maret 2012
Dinna Wisnu Halaman 27

Refleksi atas Myanmar


Siapa tak kenal dengan Aung San Suu Kyi? Wanita asal Myanmar atau
Burma ini adalah pemenang Nobel Perdamaian 1991 yang dikenal luas
sebagai pejuang demokrasi.
Selama lebih dari 19 tahun dia diberi status pembangkang politik oleh
pemerintah junta militer di negerinya dan karenanya dijatuhi hukuman
tahanan rumah dan diputus dari hubungan dengan anggota keluarganya.
Dua hari lalu partai yang dipimpinnya, National League Democracy
(NLD), meraih mayoritas suara dari 10% suara di parlemen yang
diperebutkan dalam pemilu sela. Dunia bertanya-tanya apakah makna
kemenangan ini? Dari segi angka, kemenangan NLD dalam pemilu sela
kali ini tidak berarti kemulusan jalan menuju “Myanmar-1”. Jumlah kursi
yang diperebutkan dalam pemilu sela ini sangatlah kecil.
Aung San Suu Kyi baru akan menjadi anggota parlemen, berhadapan
dengan tokoh- tokoh militer. Sampai saat ini pun belum ada tanda-tanda
bahwa junta militer di Myanmar akan pulang ke barak. Hal yang menarik
justru kerendahan hati Suu Kyi dalam mengikuti prosedur pemilu, meski
dia punya banyak pendukung dan pada 1990 bersama NLD telah meraup
suara mayoritas untuk memperebutkan seluruh kursi di parlemen.
Dia juga tegar memperjuangkan demokrasi secara bertahap, meskipun di
bawah tekanan politik yang sangat besar. Ia mau ikut aturan yang
diberikan pemerintah, meski para pendukungnya kerap keberatan.
Kesehatan wanita berusia 66 tahun ini pun terbilang jatuh bangun. Dalam
persiapan pemilu kali ini saja dia sempat sakit.Namun dengan mantap dia
menginspirasi publik bahwa sejak bebas dari tahanan rumah dia tetap
berkomitmen tinggi untuk menjamah langsung kehidupan penduduk
Myanmar.
Ia melakoni perjalanan ribuan kilometer untuk berkampanye bagi
partainya, meski partai berkuasa, Union Solidarity and Development
Party, tak henti-hentinya melakukan tekanan politik maupun psikologis
padanya. Aung San Suu Kyi justru dengan mantap berkata, “Kami
berharap agar orang-orang berpartisipasi dalam proses demokrasi.” Di sisi
lain, pengalaman Myanmar ini memunculkan refleksi khusus tentang
negara-negara tetangga di Asia Tenggara yang sedang berjuang
menjalankan demokrasi.
ASEAN punya Bali Democracy Forum, yakni forum tukar pendapat dan
pengalaman tentang perjalanan demokrasi di negara-negara Asia-Pasifik
yang waktu pembentukannya pada 2008 diharapkan mampu
mengidentifikasi praktik-praktik terbaik dalam berdemokrasi agar bisa
Dinna Wisnu Halaman 28

diterapkan di kawasan ini. Indonesia termasuk yang menjunjung tinggi


forum ini. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan
pembentukan Institute for Peace and Democracy sebagai hasil kerja sama
dengan Universitas Udayana di Bali untuk mendukung langkah Bali
Democracy Forum. Apa hasilnya?
Tiap bulan Desember terselenggara forum tukar pendapat itu. Sudah
empat kali forum itu terselenggara. Tetapi hasil konkretnya harus diakui
masih jauh dari harapan. Di tataran diplomasi, forum itu memang
menggalang perhatian pada isu-isu penerapan prinsip berdemokrasi. Untuk
Myanmar, forum itu menjadi inspirasi bahwa ASEAN pun peduli akan
terlaksananya pemilu yang jujur dan adil di sana.Tetapi perlu diakui
bahwa forum itu belum berhasil menggalang dukungan bagi pelaksanaan
demokrasi yang lebih luas di negara-negara ASEAN lain.
Dalam pertemuan yang digagas oleh Program Kemitraan United Nations
Development Programme (UNDP) dan Kementerian Bappenas bulan lalu,
muncul suatu kenyataan bahwa demokrasi masih dimaknai berbeda-beda
di kawasan Asia. Di Vietnam, Kamboja, bahkan China, tidak ada kosakata
demokrasi seperti yang dipahami oleh konteks politik modern saat ini.
Demokrasi dalam benak mereka lebih mirip dengan konsep demokrasi
terpimpin di mana seorang kepala negara memainkan peranan sentral
dalam mengarahkan pencapaian demokrasi (seperti terlaksananya
pelayanan publik yang bermutu dan kesejahteraan yang meluas).
Jadi soal ada tidaknya sistem multipartai, kebebasan pers, kebebasan
berpendapat dan berserikat, atau perlindungan terhadap hak asasi manusia
tidak masuk dalam agenda prioritas. Mereka lebih mengutamakan
sosialisasi label demokrasi sebagai alat untuk mendatangkan kesejahteraan
dan meningkatkan partisipasi politik dalam mendukung pemerintah.
Dalam konteks berdemokrasi, pihak pemimpin yang berkuasa di negara-
negara tersebut memang melibatkan partisipasi masyarakat yang cukup
luas, khususnya dari kalangan akademisi dan penggiat isu-isu sosial.
Namun,pada saat yang sama, individu dan kelompok yang terlibat tadi
seperti punya self-censorship (sensor otomatis) untuk tidak mengutak-atik
minat pemerintah untuk lebih mengakui keberadaan mereka sebagai
pembentuk opini publik. Mereka justru waswas jika mereka tidak patuh
dan tidak bisa bekerja sama dengan pemerintah, maka ruang
“berdemokrasi” tadi justru akan tergerus. Prinsip seperti ini sesungguhnya
mirip juga dengan yang dijalankan oleh Singapura ataupun Malaysia. Jadi,
sistem multipartai seperti yang dijalankan Indonesia serta Filipina adalah
bentuk kerepotan politik yang ujungnya justru dianggap tidak
menghasilkan buah yang diharapkan.
Dinna Wisnu Halaman 29

Gerak-gerik Aung San Suu Kyi menjadi indikator menarik tentang


batasan-batasan berdemokrasi yang saat ini bisa diterima di Asia. Kalau
kita gandengkan dengan tren model pengelolaan ekonomi terkini, yakni
state led capitalism, di mana negara memainkan peranan penting dalam
mengarahkan dan menuntun kapitalisme, pemahaman demokrasi di Asia
tadi menemukan jodohnya. Mereka memilih untuk mengerahkan energi
dan perhatian pada proses pengambilan kebijakan yang efisien dengan
hasil yang efektif dan terjamin, termasuk bagi para investor dan sektor
swasta.
Di sisi lain, ASEAN sesungguhnya sudah sepakat untuk memberikan hak-
hak sosial,politik, maupun ekonomi yang seutuhmungkinkepadawarganya.
Visi ASEAN 2020 dengan tiga pilarnya sudah menggarisbawahi itu. Jadi,
sebenarnya tidak ada ruang lagi untuk memperdebatkan apakah sistem
multipartai atau kebebasan berpendapat atau berserikat serta perlindungan
hak asasi manusia perlu dijalankan dan merupakan bagian dari praktik
demokrasi yang akan diterapkan di ASEAN.Jawaban seharusnya: “ya.” Di
sinilah peranan Indonesia menjadi sangat sentral untuk meyakinkan
tetanggatetangganya bahwa demokrasi tidak akan mengorbankan nasib
penduduk, apalagi yang sudah berpartisipasi aktif menjaga rambu-rambu
demokrasi.
Untuk itu, Indonesia pun perlu berbenah diri agar roda pemerintahan yang
efektif dan menyejahterakan rakyat dapat dijalankan, meskipun parlemen
dan pemerintah saling berbeda pendapat. Roda birokrasi yang profesional
dan andal wajib ada. Pemilahan itu perlu diangkat dalam forum diplomasi.
Dan sudah selayaknya Indonesia bergegas membenahi birokrasinya juga
agar kegiatan memperkenalkan demokrasi di tataran diplomasi tidak
berhenti di bibir saja.
Sumber: SINDO, 04 April 2012
Dinna Wisnu Halaman 30

Tantangan Pelayanan Kesehatan


Sejak 2004 telah disepakati oleh pimpinan negara- negara ASEAN bahwa
integrasi pelayanan sektor kesehatan merupakan prioritas integrasi menuju
komunitas ekonomi ASEAN. Artinya bahwa ke depan ada agenda bagi 10
negara-negara Asia Tenggara untuk melakukan harmonisasi dalam hal (1)
standar pelayanan kesehatan, (2) kebijakan terhadap perusahaan farmasi,
(3) standar manajemen industri bisnis di sektor kesehatan (yang mayoritas
merupakan industri kecil dan mikro), (4) model tata kelola oleh pejabat
berwenang, serta (5) standar keamanan produk- produk farmasinya
(termasuk untuk produk herbal).
Harmonisasi tersebut berarti dua hal. Pertama, keahlian yang dimiliki
Indonesia akan berhadapan dengan keahlian serupa dari negara-negara
tetangga. Para pelaku dunia kesehatan, baik itu pengusaha farmasi, dokter,
perawat, rumah sakit, maupun pembuat jamu akan dinilai kualitasnya oleh
konsumen di kawasan Asia Tenggara.Kompetisinya justru bukan di
tataran domestik, melainkan di tingkat regional.
Kedua, masyarakat Indonesia harus sudah bisa memanfaatkan pelayanan
kesehatan secara optimal. Idealnya dengan akses asuransi kesehatan yang
menyeluruh bagi semua warga negara. Jika tidak, penduduk Indonesia
akan termangu saja sementara penduduk negara lain di ASEAN
menikmati akses asuransi kesehatan yang memadai. Apakah Indonesia
sudah siap? Pertama, dari segi keahlian, standar mutu pelayanan dari
rumah sakit, apotek, sampai keamanan produk obat dan layanan masih
perlu ditingkatkan.
Hal ini tentu dimaksudkan tidak hanya di kota-kota besar, tetapi juga di
pelosok-pelosok Tanah Air. Kita bahkan belum bicara tentang standar
kenyamanan dalam mengakses pelayanan kesehatan (kenyamanan
fasilitas, antrean, digitalisasi data, dan lainnya), termasuk pelayanan yang
bebas rasa sakit. Kompetitor kita adalah Singapura, Malaysia, dan Brunei
Darussalam. Filipina dan Thailand termasuk yang gigih mengejar
ketertinggalan mereka di bidang ini.
Kedua, ketika menyoroti cakupan penduduk yang menikmati asuransi
kesehatan, akan jelas tergambar betapa menyedihkan kondisi Indonesia.
Katakanlah seluruh pegawai negeri, Polri, dan TNI punya asuransi
kesehatan,maka jumlahnya sekitar 6 juta orang. Ditambah dengan pegawai
swasta yang ikut program asuransi kesehatan Jamsostek, katakanlah 15
juta orang dan yang ikut program swasta 20 juta orang, maka total hanya
sekitar 56 juta orang yang punya akses jaminan kesehatan.
Dinna Wisnu Halaman 31

Wakil Menteri Kesehatan Prof Dr Ali Ghufron Mukti lebih optimistis. Ia


menghitung ada sekitar 117 juta penduduk Indonesia yang punya akses
asuransi kesehatan, termasuk 76 juta penduduk yang menerima kartu
Jamkesmas. Catatannya tentu bahwa para penerima kartu Jamkesmas ini
bersifat temporer saja. Kartu ini hanya berlaku jika ada alokasi dana yang
memadai dari pemerintah pusat.
Artinya, lebih dari separuh penduduk Indonesia belum punya akses
jaminan kesehatan. Kita bisa belajar dari pengalaman Amerika
Serikat,yang relatif lebih kaya dan besar dibandingkan Indonesia. Amerika
Serikat sekarang sedang pusing karena sistem jaminan kesehatannya
terancam ambruk akibat harga pelayanan kesehatan yang sangat mahal,
padahal jumlah orang yang tidak punya asuransi kesehatan makin banyak.
Amerika Serikat berangkat dari sudut pandang bahwa negara hanya fokus
memikirkan yang miskin.
Mereka yang dianggap tidak miskin diutamakan untuk punya pilihan
sendiri dalam membeli asuransi kesehatan pribadi. Problemnya,ketika
perekonomian negara secara makro memburuk,jumlah orang yang tidak
sanggup membeli asuransi kesehatan otomatis bertambah. Padahal negara
terpaksa mengetatkan anggaran belanja di bidang kesejahteraan.
Akibatnya, sistem jaminan kesehatannya menjadi tidak sehat lantaran
jumlah yang mengklaim sakit menjadi lebih banyak daripada yang
membayar iuran.
Pada waktu yang sama, perusahaan-perusahaan asuransi memainkan harga
premi dan cakupan tunjangan karena persaingan antarmereka pun
meningkat pada saat krisis. Negara juga tak punya kendali atas harga
pelayanan kesehatan yang ditetapkan oleh dokter dan harga obat. Harga
pendidikan kedokteran juga telanjur membubung tinggi. Akibatnya, ketika
negara mewajibkan pembelian asuransi agar sistemnya rasio yang
membayar iuran dan pengklaim sehat lagi (yakni lewat program
Obamacare), yang muncul adalah protes yang meluas.
Presiden Obama yang demikian gigih mengawal reformasi sistem jaminan
kesehatan sekarang terpaksa tertekan terus. Popularitasnya menurun terus
hingga di bawah 50%. Padahal prestasi Obama untuk meningkatkan
pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan pekerjaan pada masa
resesi di Amerika Serikat tergolong baik. Itu semua sirna, tenggelam
dalam protes massa yang bersumber dari kesalahan pemerintah yang sejak
awal tidak punya kendali atas harga pelayanan kesehatan dan tidak
menjamin akses pelayanan kesehatan bagi seluruh warganya.
Kini, ketika hal itu mau diperbaiki, buntutnya sudah terlalu panjang dan
rumit untuk dibenahi. Apakah Indonesia mau membiarkan problem
semacam ini merongrong di dalam negeri? Saat ini harga pelayanan
Dinna Wisnu Halaman 32

kesehatan secara umum tergolong mahal dan meningkat terus. Yang sakit
harus merogoh kocek paling tidak 80% dari harga pelayanan kesehatan.
Untuk penerima kartu Jamkesmas atau kartu Askes, bahkan tidak ada
jaminan akan dilayani jika mereka tidak membayarkan uang muka ke
rumah sakit tempatnya berobat.
Sudah ada sejumlah kasus getir di mana akhirnya pasien meninggal tanpa
ditemui dokter meskipun ia sudah mengantre di ruang tunggu rumah sakit.
Kalaupun pemerintah menambah jumlah kartu Jamkesmas, kapasitas
tempat tidur di rumah sakit dan jumlah dokter yang bisa menangani
kasuskasus penyakit tidaklah memadai. Ada daerah-daerah tertentu yang
tidak punya fasilitas kesehatan yang memadai.
Di Jakarta saja kasus-kasus penyakit berat akhirnya menumpuk
pelayanannya di RS Cipto Mangunkusumo. Tambahan lagi, jika di
Amerika Serikat ada Partai Demokrat dan Presiden Obama yang berani
memperjuangkan inisiatif reformasi itu secara matimatian, siapakah di
Indonesia ini yang terbuka mendorong perubahan itu di antara kalangan
eksekutif? Tidak jelas pembagian kewenangannya untuk membenahi hal-
hal yang tadi disebut di atas karena jelas itu bukan hanya pekerjaan rumah
Kementerian Kesehatan.
Suka ataupun tidak negara bertanggung jawab atas derajat kesehatan
penduduknya. Ketika rata-rata penduduknya kekurangan gizi, tidak
sanggup membayar biaya kesehatan, atau meninggal tanpa sempat
merasakan perawatan medis, indikator pelayanan publik khususnya bidang
kesehatan di negara tersebut akan disorot oleh negara lain. Pertumbuhan
ekonomi yang menjanjikan atau pendapatan per kapita yang tinggi akan
sia-sia jika banyak penduduk yang tidak sanggup menikmati pelayanan
kesehatan yang layak.
Jika Indonesia tidak ingin telanjur babak belur memperbaiki sistem
jaminan kesehatannya padahal dari tatanan regional “dipaksa pula” untuk
menyesuaikan diri dengan standar regional, pekerjaan rumah itu harus
dikerjakan dari sekarang.
Sumber: SINDO, 11 April 2012
Dinna Wisnu Halaman 33

Menjaga Hutan ASEAN


Penebangan hutan secara sembarangan, pengalihan fungsi lahan yang
tidak sesuai dengan rencana tata guna wilayah, keterlibatan mafia serta
ketidakberdayaan negara ketika berhadapan dengan perusahaan besar yang
ingin memperluas lahan usaha adalah “lagu lama”.
Jika ditilik ke belakang, bahkan sejak awal 1980-an telah diidentifikasi
kadar keseriusan problem ini.Tidak hanya Indonesia yang berteriak soal
ini. Negara tetangga di ASEAN yang terbilang kaya akan hutan seperti
Filipina dan Malaysia juga menghadapi masalah serupa. Baru-baru ini
Malaysia dipusingkan dengan laporan penebangan hutan di kawasan
Sarawak meningkat pesat.
Tingkat penebangan hutan di Sarawak 3,5 kali lebih pesat dibandingkan di
seluruh negara Asia.Kepulauan Filipina dulu semuanya merupakan hutan
dan hutannya sekarang cuma tersisa 35%. Jadi, skala hilangnya hutan dan
fungsi-fungsi penunjang lingkungan hidup sangat memprihatinkan. Di
Amerika Latin dan Afrika pun penggundulan hutan merupakan masalah
serius.
Menurut illegal-logging.info, di Nigeria dan Ghana hanya tersisa 10%
hutan dan di Honduras tinggal separuh. Harus disadari hilangnya hutan ini
terjadi bersamaan dengan upaya mengejar pertumbuhan ekonomi dan
pembangunan di negara-negara ini. Dengan membuka hutan, diharapkan
ada lahan pekerjaan yang tersedia bagi penduduk setempat, ada
masyarakat dan pebisnis yang mengecap untung, ada pemerintah daerah
yang menerima retribusi dari perdagangan dan pengolahan hasil hutan, ada
pabrik-pabrik pengolahan hasil hutan yang terbentuk sehingga terciptalah
pembangunan.
Yang tidak diperhitungkan adalah skala keuntungan yang jauh lebih besar
jika pengelolaan hutan tadi tidak dilaporkan kepada Negara dan jika hasil-
hasil hutan tadi diselundupkan. Dalam penelitian yang saya lakukan
bersama rekan- rekan Universitas Indonesia (2010), ada oknum militer dan
dinas kehutanan yang diuntungkan juga dari bisnis hitam ini. Yang
dihadapi di sini adalah masalah multidimensional. Pertama, pengelolaan
hutan yang salah.
Kedua, lemahnya penegakan hukum. Ketiga, menggiurkannya bisnis
hitam di bidang ini. Keempat, terjadinya kejahatan lintas batas negara dan
yang secara khusus ingin saya bahas kali ini adalah lemahnya skema kerja
sama antarnegara, khususnya di ASEAN, untuk mengatasi masalah itu.
Pada 13 Agustus 1981 di Jakarta, pernah terbentuk konsensus antarnegara
Dinna Wisnu Halaman 34

ASEAN (di tataran menteri ekonomi) untuk membuat kebijakan


kehutanan bersama se-ASEAN.
Beberapa di antaranya disepakati adanya upaya bersama menjaga sumber
daya hutan, melakukan reboisasi, serta mengembangkan program, strategi,
dan rencana penggunaan lahan hutan yang ramah lingkungan, tetapi punya
nilai sosial ekonomi yang tinggi. Pada 1993, ada kesepakatan di tingkat
menteri untuk memadukan pengelolaan pangan, pertanian,dan kehutanan
demi menjaga pasokan pangan di kawasan ini, mendukung perdagangan
intra-ASEAN, mendorong pengembangan dan transfer teknologi,
mengembangkan komunitas desa, melibatkan sektor swasta dan investor,
mengelola sumber daya alam, serta memperkuat kerja sama ASEAN
dalam mengatasi masalah regional. Hal ini ditegaskan lagi dalam
pertemuan tingkat tinggi di Kuala Lumpur pada 15 Desember 1997. Dari
sana,terbentuklah Rencana Aksi Strategis untuk kerja sama ASEAN
dibidang pangan, pertanian, dan kehutanan (1999–2004 dan 2005–2010).
Waktu itu dibentuklah kelompok kerja yang memantau kegiatan di
ASEAN, bahkan terbentuk pula ASEAN Australia Development
Cooperation Programme.
Tiap Rencana Aksi selalu didukung rekomendasi dan kesepakatan ulang
antarmenteri. Pada 6 Oktober 2011, muncul pernyataan pers dari temu
menteri ASEAN tentang pengelolaan hutan dan pertanian yang terpadu di
ASEAN. Ironisnya, sampai sekarang pun, meskipun sudah didukung
perjanjian yang demikian banyaknya, negara-negara ASEAN belum bisa
keluar dari kemelut problem hutan yang begitu pelik.
Berikut ini kenyataan yang luput dari penanganan di ASEAN. Pertama,
pemberantasan dan pembatasan pembalakan hutan menyangkut wewenang
internal tiap negara ASEAN; bahkan dalam banyak kasus menyangkut
wewenang pemerintah daerah.Dengan prinsip nonintervensi, ASEAN sulit
bergerak menegakkan komitmen itu, apalagi hal ini terkait pembersihan
sistem dari oknum busuk.
Kedua, skema-skema ASEAN masih terbatas pada inisiatif
mengembangkan sistem kerja bersama untuk mengelola hutan.Tidak ada
upaya membahas pengembangan bisnis bersama dari produk-produk hasil
hutan. Padahal, sudah bukan rahasia lagi bahwa penebangan hutan adalah
bisnis yang paling cepat mendatangkan untung dengan investasi yang
sangat minim. Apalagi setelah menebang hutan, lahannya masih bisa
dipakai untuk mendatangkan untung lain yang relatif cepat, yakni jika
ditanami kelapa sawit.
Kita tidak mungkin menahan naluri kapitalisme dengan imbauan moral.
Sadarilah bahwa pembukaan hutan tidak menjamin lapangan kerja yang
Dinna Wisnu Halaman 35

layak.Diplomasi di sektor ini sebaiknya tidak terpaku pada pengelolaan


kawasan hutan, tapi juga mengangkat pengembangan bisnis dari hasil-
hasil hutan. Harus ada upaya bersama untuk membangun sentrasentra
usaha dan unit bisnis yang meningkatkan nilai tambah produk hutan.
Misalnya dengan membangun pabrik kertas, pabrik mebel, pabrik sabun,
pabrik kosmetik dan produk-produk turunan sawit lainnya, yang punya
standar tinggi di ASEAN, ditopang lembaga penelitian yang
mempekerjakan peneliti dari berbagai negara di ASEAN dan dikelola
seperti model franchise di kawasan ASEAN. Kita harus mulai lebih berani
berpikir bahwa ASEAN memang satu.
Asal ada pembagian tugas tentang keahliankeahlian yang menopang usaha
bersama tersebut, semua negara di ASEAN pasti puas. Ketiga, penanganan
hutan ini tidak bisa hanya melibatkan satu atau dua saja. Semua menteri
yang relevan harus diundang untuk terlibat. Bahkan, perlu dipikirkan
mekanisme dialog antar pemerintah daerah di ASEAN. Kenyataannya,
dalam hal peningkatan pertumbuhan ekonomi, ada pemilik wewenang
yang cenderung membangkang.
Maka, ajaklah mereka dan berilah ruang supaya dalam perjalanan
pengharmonisan kebijakan tidak menjadi penghambat. Contoh konkretnya
adalah ketika berbicara tentang konsep perdagangan karbon dan green
economy. Sampai sekarang pemerintah daerah menganggap kedua hal
tersebut isapan jempol belaka dan mereka tak punya bahan untuk
menghadapi penduduk yang akan kehilangan pekerjaan dan penghasilan
bagus bila pembalakan diberantas dan perusahaan atau oknum pemerintah
yang nakal ditindak tegas.
Sumber: SINDO, 18 April 2012
Dinna Wisnu Halaman 36

Bertindaklah, Jangan Galau!


Sudah menjadi buah bibir di mana-mana, perekonomian Indonesia akan terus
tumbuh tinggi dalam tahun-tahun mendatang. Kementerian Keuangan sangat
optimistis produk domestik bruto (PDB) di Indonesia akan mencapai USD1
triliun dalam waktu kurang dari tiga tahun. Ibarat sebuah bola, posisi Indonesia
sedang di puncak sehingga kemana pun ia menggelinding, akumulasi kekayaan
akan terjadi relatif mudah meskipun perekonomian dunia melambat. Karena
itulah Indonesia laksana magnet yang menarik untuk diajak bekerja sama.
Yang baru saja mengusulkan kerja sama dengan Indonesia adalah organisasi
negara-negara kaya dunia, yakni OECD (Organization for Economic
Cooperation and Development). Lembaga tersebut menawarkan kerja sama
kepada pemerintah dan sektor usaha di Indonesia melalui penguatan kerja sama
B to B (business to business) dengan bingkai BIAC (Business and Industry
Advisory Committee). Setidaknya ada dua hal menarik dari paket kerja sama
tersebut. Pertama,di satu sisi Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang
sedang didekati OECD, tetapi Indonesia termasuk yang merespons tawaran itu
dengan baik.
Bulan Mei 2007, keputusan tingkat menteri di OECD menetapkan akan
dikembangkan kerja sama lebih dekat dan kuat dengan Indonesia, Brasil, China,
India, dan Afrika Selatan. Kegiatan yang akan didorong adalah penguatan
keterlibatan bisnis dan perwakilan pemerintah dari negara-negara tersebut dalam
acara-acara dan penelitian di OECD. Dari pengakuan para utusan OECD, sulit
sekali menembus Brasil, China, dan India. Afrika Selatan relatif baik, menurut
mereka.Indonesia merespons positif. Kedua, pintu masuk dari kerja sama dengan
Indonesia adalah karut-marutnya pengelolaan ekonomi di Indonesia.
OECD menyoroti meskipun prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia baik,masih
ada pertanyaan besar: apakah pertumbuhan ekonomi tersebut berkelanjutan?
Apakah bisa dijaga untuk selalu tinggi mengingat di Indonesia ada cukup banyak
peraturan yang menyulitkan gerak langkah pebisnis? Istilah mereka ada bottle
neck policy. Hal ini diutarakan meskipun OECD di awal bulan ini baru saja
menaikkan peringkat ekonomi Indonesia ke level 3 (dari skala 0–7) sehingga bisa
sejajar dengan Thailand,Uruguay,Afrika Selatan, Rusia, India, Brasil, dan Peru.
Kita perlu kembali pada hakikat OECD. Lembaga ini mengusung misi sebagai
wadah kerja sama yang menguntungkan bagi negara-negara berpaham ekonomi
pasar bebas dan demokrasi.Wajar saja bila China, India, dan Brasil kemudian
memilih menolak OECD. Aliran ideologi mereka dalam mengelola ekonomi
berbeda dengan aliran OECD. China, India, dan Brasil mengedepankan peranan
negara dalam mengelola ekonomi pasar dan bukannya melepaskan tata kelolanya
kepada bisnis. Tapi Indonesia belum sampai pada keputusan seperti itu.
Secara historis, Indonesia tidak punya keterikatan ideologis pada model
pengelolaan ekonomi pasar tertentu.Model industri substitusi impor semasa Orde
Baru mengamini ajaran untuk berhati-hati atas ketergantungan ekonomi pada
Dinna Wisnu Halaman 37

negara-negara Barat, tetapi di sisi lain menjadi alat untuk menarik lebih banyak
investor masuk ke Indonesia. Dalam konteks kekinian di mana sesungguhnya
sedang terjadi perdebatan serius di tataran politisi global tentang model arsitektur
ekonomi yang dianggap lebih baik untuk mengatasi krisis dan kesenjangan sosial
ekonomi, sesungguhnya Indonesia sedang didesak untuk berpihak.
Bukan berpihak karena anti Negara-negara yang tidak sepaham, tetapi berpihak
karena punya prinsip bahwa cara itulah yang lebih menguntungkan bagi
Indonesia. Di sini Indonesia terlihat galau dan kegalauan ini disebabkan banyak
pejabat yang terpilih dari tingkat pusat hingga daerah disandera para bandar yang
membiayai kampanye mereka.Media massa mencatat seminggu lalu dari tahun
2004 hingga 2012,174 kepala daerah terindikasi korupsi. Bagi yang pragmatis,
terutama para teknokrat, sudah dalam tahap tidak peduli atau lelah untuk
mengurusi kebijakan domestik. Mereka akhirnya memilih untuk lebih bicara di
tingkat nasional dan internasional.
Alasannya sedapat mungkin Indonesia terlibat dalam tiap pengambilan keputusan
penting di dunia. Di G-20, OECD, ASEAN, ASEAN Plus, APEC, dan lain-lain
semua diikutinya. Repotnya, kegiatan seperti itu sesungguhnya justru membuka
ruang kritik seperti tadi muncul di OECD, yakni bahwa pemerintah terlihat tidak
fokus berupaya menyelesaikan problem-problem domestik yang menghimpit
pebisnis.Sebaiknya pemerintah segera menyadari bahwa pebisnis sebenarnya
ragu-ragu akan niat baik pemerintah. Yang dibutuhkan pebisnis adalah
keberanian dari pemerintah untuk menentukan cara yang koheren dalam
menghadapi berbagai tawaran kerja sama dari luar negeri.
Bukan untuk menerima semuanya. Bagi pebisnis, keikutsertaan dalam semua
proses pengambilan kebijakan sesungguhnya membingungkan.Buat mereka,
tugas utama adalah menghidupkan usahanya. Sayang sekali, kepemimpinan masa
kini justru melimpahkan kepusingan politik itu kepada kalangan bisnis.
Akibatnya, Indonesia terus saja jalan di tempat, padahal mitranya banyak,
dananya ada, dan orang-orang yang terlibat pun pandai-pandai. Jadi,
sesungguhnya momen masa kini memberi peluang yang bagus sekali kepada
Indonesia untuk melompat setinggi-tingginya menjadi lebih baik.
Lebih baik tidak hanya dari segi meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi
juga untuk menentukan arah arsitektur tata kelola ekonomi dunia. Apakah kita
meyakini bahwa model yang dikembangkan Brasil, China, India lebih cocok
untuk visi misi Indonesia? Atau model yang dikembangkan negara-negara
Baratlah yang lebih cocok? Mari menjawab itu. Janganlah kita galau. Bersihkan
birokrasi dari korupsi dan tentukanlah arah politik pembangunan kita dengan
ketegasan dan kepemimpinan yang kuat.
Sumber: SINDO, 25 April 2012
Dinna Wisnu Halaman 38

Payung Pelindung dalam Ekonomi Pasar


Sampai saat ini tak dapat disangkal bahwa arah perekonomian Indonesia
cenderung berupaya untuk makin merapat dan menyatu dengan
perekonomian global. Para wakil negara sahabat yang bertandang ke
Jakarta pun berulang kali menegaskan bahwa preferensi mereka adalah
untuk bekerja sama dengan Indonesia membangun kawasan perdagangan
bebas dengan mobilitas yang tinggi antarnegara di bidang barang, jasa,
uang, dan manusianya. Bahkan negara yang garis ideologinya sosialis pun,
seperti China, mendesak hal yang sama. Integrasi ekonomi pasar memang
tak terhindarkan.Apa yang perlu disiapkan?
Sejak krisis finansial Asia 1998 dan belajar dari krisis ekonomi di
Amerika Serikat dan Eropa, makin jelas bahwa nasib suatu bangsa dan
penduduknya tidak hanya ditentukan oleh ada tidaknya pasokan tenaga
kerja yang berpendidikan, terampil, dan produktif atau ada tidaknya
investasi asing yang masuk ke suatu negara atau ada tidaknya fasilitas
pendukung perekonomian, tetapi harus ada faktor penjamin bahwa tenaga
kerja yang ada punya daya beli yang memadai karena dari sanalah mereka
membantu perputaran ekonomi lewat pola konsumsinya.
Selain itu, pengusaha dan investor perlu dipelihara agar punya kepastian
usaha, tidak mudah khawatir dan kabur membawa dana serta usahanya ke
luar negeri dan mau mempekerjakan penduduk di negara itu.Baik sektor
usaha maupun pekerja harus merasa aman dan terpelihara sehingga usaha
mereka sebesar- besarnya terpusat di negara itu dengan memanfaatkan
dana dan sumber daya yang ada secara terarah, bersih dan akuntabel.
Kebersamaan Menanggung Risiko
Kasus-kasus kegagalan ekonomi di negara lain menunjukkan bahwa
integrasi ekonomi pasar membutuhkan pengaman khusus bagi para pelaku
pasar, baik pengusaha maupun pekerja. Pengaman itu bukan semata
berbentuk bantuan, tetapi juga berbentuk sistem yang menjaga terciptanya
mekanisme bangkit ketika terpuruk. Sistem itu adalah sistem jaminan
sosial yang akuntabel, bisa diandalkan, bersih dari korupsi, tersedia bagi
seluruh rakyat, dan tidak mengabaikan siklus jatuh bangunnya sistem
ekonomi pasar.
Sistem ini menjaga agar risiko yang sifatnya manusiawi seperti
sakit,punya anak, kecelakaan kerja, pensiun, bahkan meninggal, tidak
ditanggung sendirian oleh individu warga negara. Kebersamaan
menghadapi ketidakpastian kemampuan menghadapi risiko hidup itulah
yang dapat dimanfaatkan pula untuk menopang perekonomian, yakni
dengan memberi kepastian hubungan industrial dan biaya produksi kepada
Dinna Wisnu Halaman 39

pengusaha, mendorong investasi pada keterampilan yang lebih baik karena


daya beli ditunjang oleh kemampuan memenuhi kebutuhan manusiawi
tadi.
Dan ada dana publik yang terkumpul dalam jumlah besar untuk
mendorong investasi negara kepada sektor-sektor yang strategis bagi
bangsa. Dengan kebersamaan ini, harga obat dan pelayanan kesehatan
dapat dikendalikan karena negara punya daya tawar yang tinggi kepada
industri obat dan rumah sakit. Negara pun tidak perlu lagi berpura-pura
memberikan pelayanan kepada yang miskin, padahal dana yang
disediakan bagi pelayan kesehatan dalam tugas tersebut sama sekali jauh
dari angka layak.
Contohnya, dana yang disediakan pemerintah untuk pelayanan bersalin
hanya Rp1,2 juta untuk bedah Caesar dan Rp350.000 untuk persalinan
normal. Bayangkan bagaimana kelayakan pelayanan yang akan diberikan
dengan dana yang jauh dari normal. Dalam ekonomi pasar yang
terintegrasi, mustahil bagi negara untuk menjadi pahlawan yang sanggup
memelihara pertumbuhan ekonomi dengan membesar-besarkan sistem
bantuan sosial, proyek ekonomi tambal sulam, dan tata kelola ekonomi
yang korup dan tidak dipercaya masyarakat. Sekarang saja jumlah orang
miskin di Indonesia, kalau mau jujur, ada lebih dari separuh jumlah
penduduk Indonesia.
Standar hidup Rp212.000 per bulan yang dijadikan patokan garis
kemiskinan mencatat 31 juta orang, padahal ada sekitar 147 jutaan orang
lain yang hidup mendekati garis kemiskinan. Pendapatan mereka tidak
lebih dari Rp313.000 per bulan. Untuk itu dibutuhkan cara yang sistematis
dan di luar kebiasaan untuk memperbaiki kondisi ini. Sekarang justru
masyarakat dibuat pusing dengan inflasi berlapis akibat ketidakpastian
akan kenaikan harga BBM dan subsidinya. Sebelum harga BBM naik,
harga barang konsumsi sudah naik lebih dahulu, bahkan bisa lebih tinggi
daripada selisih kenaikan harga bahan bakar. Dampaknya bagi rakyat jelas
sangat menekan.
Saat ini saja, orang-orang asing berkata bahwa pelayanan kesehatan di
Indonesia sama mahalnya seperti di Malaysia, padahal daya beli
masyarakat sangat rendah. Mereka tidak bisa membayangkan sakit keras
tanpa asuransi di Indonesia. Jadi bayangkan nasib rata-rata orang
Indonesia yang tiba-tiba sakit.Yang berani ke rumah sakit berisiko jatuh
miskin dan selebihnya hanya bisa gigit jari.Tanpa sistem jaminan
sosialyangterpadu,kejadian ini akan menggurita dan menjadi beban sosial
politik yang tidak sehat.
Dinna Wisnu Halaman 40

Sistem Jaminan Sosial


Indonesia sudah punya Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional
No 40/2004 yang menjamin standar dan portabilitas segala manfaat dan
pelayanan jaminan sosial. Selain itu ada Undang-Undang Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial No 24/2011 yang mengarahkan
transformasi badan hukum penyelenggara jaminan sosial. Untuk urusan
kesehatan,ditargetkan beroperasi pada 1 Januari 2014 dan untuk urusan
ketenagakerjaan (kecelakaan kerja, jaminan hari tua, kematian) beroperasi
paling lambat 1 Juli 2015.
Kedua UU itu masih membutuhkan turunan-turunan kebijakan agar semua
pihak pelaksana punya landasan hukum dan alat untuk memberi pelayanan
optimal. Masih ada pekerjaan rumah untuk alokasi dana bagi yang
dikategorikan miskin, pendataan penduduk yang akurat, sistem
komunikasi dan pelayanan yang terpadu dan didukung teknologi
informatika, serta kerja sama dengan lembaga-lembaga pelayanan
kesehatan.
Menjelang Pemilu 2014 dan mengantisipasi perilaku politisi pascapemilu,
kita harus lebih waspada untuk mengawal proses transisi ini agar sistem
jaminan sosial yang terbentuk sungguh menjadi payung pengaman bagi
masyarakat dan bukannya pengaman bagi politisi belaka.
Sumber: SINDO, 26 April 2012
Dinna Wisnu Halaman 41

Memaknai Protes Pekerja


Setiap kali Hari Buruh berlalu, tiap kali pula kita diingatkan akan sejumlah
pekerjaan rumah yang tersisa dalam mengayomi pekerja di Tanah Air.
Namun, tahun ini selayaknya kita paham bahwa protes para pekerja adalah
protes kita bersama akan sistem ekonomi yang belum menjembatani
perbaikan nasib rata-rata penduduk Indonesia, bahkan penduduk dunia.
Dalam laporan Global Employment Trend 2012 dari International Labor
Organization digambarkan betapa seluruh dunia perlu prihatin karena
meskipun secara umum akan terjadi pertumbuhan ekonomi, bahkan untuk
kawasan Asia tergolong tinggi yakni di kisaran 6% per tahun,ketersediaan
lapangan pekerjaan yang layak akan makin terbatas. Sekarang saja di
seluruh dunia telah terjadi kekurangan sekitar 200 juta lapangan kerja.
Karena tahun ini pertumbuhan ekonomi melambat, akan dibutuhkan
tambahan lebih dari 400 juta lapangan kerja baru dalam 10 tahun
mendatang sehingga total dibutuhkan 600 juta lapangan pekerjaan. Jika
hal itu tidak dipenuhi, ratusan juta pekerja ini akan hidup tidak layak atau
jatuh di bawah garis kemiskinan. Mereka yang muda, yakni berusia 15-24
tahun, punya peluang lebih tinggi untuk menganggur dan bekerja dalam
kondisi tidak layak (yakni suasana kerja tidak aman, upah rendah, jam
kerja tidak layak, dan tanpa tunjangan sosial).
Bagi yang sekarang bekerja, tidak tertutup kemungkinan bahwa dalam
waktu-waktu ke depan mereka akan kehilangan pekerjaan, minimal dari
pekerjaan tetap menjadi bekerja paruh waktu, atau berdasarkan kontrak-
kontrak jangka pendek. Sementara itu, pemerintah, pengusaha, dan pekerja
perlu mengambil kesempatan dari krisis ekonomi yang terjadi di Eropa
dan Amerika.
Demografi penduduk Indonesia yang mirip dengan struktur penduduk
Jepang pada 1970-an adalah investasi langka yang tidak dimiliki oleh
negaranegara lain.Pemerintah harus konsekuen melakukan penegakan
hukum (law enforcement) dan pengawasan ketenagakerjaan berdasarkan
undang-undang yang berlaku hingga ke tingkat kabupaten. Pengawasan
ketenagakerjaan harus memastikan bahwa seluruh administrasi
ketenagakerjaan dijalankan dengan konsisten.Kepastian itu hanya dapat
dilakukan apabila tenaga-tenaga pengawas dari Dinas Ketenagakerjaan
ditambah.
Merujuk data Menteri Ketenagakerjaan pada 2010, ada 2.384 orang yang
bertugas untuk menangani sekitar 216.547 perusahaan. Jumlah ini tentu
jauh dari cukup. Kementerian juga perlu merevisi peraturan
ketenagakerjaan yang tidak lagi sesuai dengan situasi yang berkembang
Dinna Wisnu Halaman 42

misalnya Peraturan Menteri No 17 Tahun 2005 tentang survei upah. Ada


beberapa indikator dalam survei itu yang tidak lagi manusiawi.
Serikat buruh dan pekerja juga perlu fokus untuk kembali mengorganisasi
diri mereka dalam satu kesatuan.Tersebarnya kekuatan ini menyulitkan
konsolidasi arah gerakan buruh di masa depan.Terlepas apa pun platform
ideologisnya, fakta menunjukkan bahwa buruh yang terkonsolidasi dalam
satu kesatuan akan lebih mudah terlibat dalam pengambilan keputusan
politik di tingkat nasional.
Pemerintah dan pengusaha juga lebih mudah untuk menghitung biaya
ekonomi-politik yang ditimbulkan dari negosiasinya dengan serikat buruh.
Sementara pengusaha juga tidak bisa menutup diri dari tuntutan para
pekerja di perusahaannya. Seperti dilansir APINDO, perusahaan yang
mampu khususnya yang berskala usaha besar sepantasnya secara sadar
memberikan penghidupan yang layak kepada para pekerjanya. Manusia
yang tidak diperlakukan manusiawi akan sulit memberikan kerja sama
yang baik dan optimal, padahal dunia bisnis adalah dunia kerja sama.
Himpitan hidup yang dihadapi pekerja akan berimbas juga pada daya beli
pekerja dan publik sehingga akhirnya dunia usaha pun akan ikut
merasakan tekanan tersebut. Kebijakan yang lebih keras tentang korupsi
juga harus menjadi fokus pemerintah Presiden SBY saat ini. Riset hasil
Lembaga Penelitian, Pengkajian, dan Pengembangan Ekonomi Kamar
Dagang dan Industri Indonesia (LP3E Kadin) menyebutkan biaya siluman
yang ditanggung pengusaha adalah beban yang pada akhirnya akan
mendarat juga di pundak pekerja.
Menurut Kadin, ada 15 instansi dan lembaga yang terbebani dengan biaya
tinggi, suap-menyuap, atau biaya siluman. Biaya siluman seperti itu
besarnya mencapai 25% dari biaya produksi. Angka ini jauh lebih besar
dari persentase biaya upah pekerja yang besarnya hanya 20% dari biaya
produksi. Biro Pusat Statistik menilai bahwa porsi bagi pekerja idealnya
40%. Meningkatkan porsi alokasi dana bagi pekerja akan dapat
meningkatkan output produksi, sedangkan mempertahankan biaya korupsi
justru semakin melemahkan kompetisi.
Pemerintah juga perlu kreatif dalam membuka lapangan pekerjaan.
Sebagai contoh, dalam kaitannya dengan perubahan iklim, negara-negara
Eropa dan Amerika telah menetapkan bahwa penggunaan bahan bakar
harus melibatkan 20-40% penggunaan bahan bakar biofuel. Kebijakan ini
telah menciptakan inisiatif pekerjaan di sektor perkebunan nabati atau
green technology. Ada insentif yang diberikan pemerintah pula untuk
mendorong kebijakan tersebut.
Dinna Wisnu Halaman 43

Kita belum punya inisiatif semacam itu. Indonesia di lain pihak banyak
mengekspor kekayaan alam ke luar negeri tanpa menguatkan industri
pengolahan yang sesungguhnya memberikan nilai lebih pada upah,
ekspor,dan tentu menciptakan lapangan pekerjaan. Para pengusaha lebih
memilih mengolah secara minim, mengekspor produk mentah tersebut,
walaupun akhirnya harus meng-impor lagi produkproduk jadi dari negara
lain.
Ini pemborosan devisa yang sekaligus mencekik leher ekonomi negeri ini.
Jadi, menyikapi Hari Buruh 2012 ini,seluruh pihak yang terlibat dalam
hubungan industrial perlu memiliki visi dan misi yang sama dalam
memandang Indonesia 30 tahun ke depan.
Ekonomi Indonesia harus punya paradigma dalam memandang kerja sama
antarpihak dan berani melakukan terobosan untuk menciptakan kegiatan
industri pengolahan, lapangan kerja dan usaha yang patuh undangundang,
berteknologi mutakhir, mengikuti trend green, dan berorientasi menambah
nilai ekspor serta lapangan kerja yang layak bagi bangsa Indonesia.
Sumber: SINDO, 02 Mei 2012
Dinna Wisnu Halaman 44

Prancis, Sosialisme, dan Kita


Di Prancis baru saja terpilih presiden baru bernama Francois Hollande dari
garis politik kiri yang Sosialis. Terpilihnya Hollande tidak serta merta
disambut meriah oleh jagat Eropa karena garis politik yang diusung
Hollande dianggap tidak sejalan dengan garis politik kanan yang selama
ini memimpin upaya untuk mengeluarkan Eropa dari krisis ekonomi
berkepanjangan.
Belum juga resmi dilantik, Hollande sudah diklaim akan mengalami masa
bulan madu yang sangat pendek.Ia ditekan untuk bergegas mengeluarkan
jurus penyelamatannya bagi Prancis dan Eropa. Presiden Amerika Serikat
bahkan langsung mengontak Hollande, menegaskan (untuk menjaga)
aliansi abadi antara AS dan Prancis, serta berharap ada terobosan baru
bagi tata kelola arsitektur ekonomi dunia dalam pertemuan negaranegara
kaya G-8 di Camp David, Maryland AS pada 18-19 Mei dan di KTT
Trans-Atlantik NATO di Chicago pada 20-21 Mei.
Respons umum pasar juga menunjukkan kehati-hatian dan kecenderungan
untuk tidak memberi banyak angin pada Hollande. Apakah pelajaran
berharga yang dapat dipetik dari kemenangan Francois Hollande dan sikap
publik terhadap kemenangantersebut? Pertama, pada akhirnya suatu
negara akan mencari selamat bagi diri sendiri dahulu sebelum menolong
yang lain.
Prancis sebagai negara nomor dua terkaya di Eropa, dengan produk
domestik bruto terbesar nomor lima di dunia, sesungguhnya bisa saja
mengambil langkah-langkah berani untuk “menyelamatkan” Uni Eropa.
Selama ini sudah ada kerja sama dengan negara terkaya nomor satu di
Eropa yakni Jerman, untuk bersama- sama mencari jalan keluar bagi
kemelut di Eropa dengan doktrin “Merkozy” (Merkel-Sarkozy).
Namun, pada akhirnya Prancis menyadari juga bahwa fitur penduduk
mereka tidak bisa diselamatkan dengan cara-cara yang terlampau “kanan”.
Karakter manusia Prancis itu khas. Di satu sisi mereka modern, disegani,
mewah, tetapi di lain pihak kegiatan ekonomi mereka tak luput dari
kegiatan ekonomi tradisional dan industri kreatif.
Di sana sektor pertanian memainkan peranan sangat penting dalam
pertumbuhan ekonomi khususnya yang bersumber dari peternakan,
bertanam gandum, gula beet, jagung, barley, kentang, serta buah-buahan
termasuk anggur. Sektor perdagangan mereka dikenal dengan produk-
produk manufaktur dan industri kreatif yang menghasilkan barangbarang
mewah kelas dunia, yang tiap tahun mendatangkan jutaan turis ke negara
itu.
Dinna Wisnu Halaman 45

Sektor-sektor yang menghidupi perekonomian di Prancis bukanlah sektor-


sektor produksi berskala besar yang ditopang mesin. Penopang ekonomi di
sana justru manusia, petani, peternak, bahkan desainer produk-produk
mewah. Artinya bahwa ketika perekonomian hendak diperbaiki
kinerjanya, negara perlu mempertimbangkan bahwa target masyarakat
Prancis pada umumnya bukanlah untuk menjadi superkaya, melainkan
untuk hidup nikmat dalam harmoni dengan alam sekeliling.
Ritme kerja yang dicari bukanlah yang serbasibuk dan lembur. Mereka
butuh kebijakan ekonomi yang menjaga harmoni tersebut dan bukan
memupuk kompetisi. Masyarakat model ini peduli akan paket jaminan
sosialnya dan bukan ingin menghapuskannya. Garis kebijakan Hollande
yang lebih ke “kiri” secara tradisi membangkitkan harapan untuk kembali
pada asas kebersamaan tersebut.
Pemilu di Prancis ini menjadi contoh betapa pada akhirnya suatu negara
harus berani mengambil sikap untuk berbeda pandangan, bahkan ketika
harus berseberangan kebijakan dengan negara tetangga yang sudah
dipersatukan dalam Uni Eropa bertahun-tahun. Ketika garis kebijakan
regional tidak cocok untuk masyarakat lokal, pilihan lokallah yang akan
“naik”.
Kedua, kemenangan tipis yang diperoleh Hollande atas Sarkozy
mengisyaratkan bahwa basis dukungan bagi Hollande pun tidak
sepenuhnya solid.Karena itu, besar kemungkinan Hollande akan memilih
kebijakan yang aman dan tidak mengundang kontroversi dari publik di
Prancis. Apalagi gaya kepemimpinan Hollande tergolong santun dan
kompromis.Tidak akan mengherankan bila Hollande akan cenderung
mencari cara lihai untuk menghindari konfrontasi dan situasi mendesak.
Tugas Hollande adalah termasuk untuk menjaga hubungan dengan
Jerman,Amerika Serikat, negara-negara Timur Tengah, serta dengan
mitra-mitra Uni Eropa. Selama ini Prancis memilih untuk bermain di zona
aman bersama Amerika Serikat walaupun cukup berani juga menyokong
negara-negara mantan jajahannya di Timur Tengah.
Ke depan kebijakan luar negeri Prancis akan menjadi sorotan. Negara-
negara mitra akan mendesak Hollande untuk menentukan arah kerja sama
antarmereka. Namun, jika Hollande konsisten dengan agenda penyelesaian
problem ekonomi di dalam negeri, kita akan menyaksikan politik luar
negeri yang lebih berorientasi ke dalam. Artinya bahwa pilihan penduduk
terhadap seorang presiden akan sangat menentukan arah hubungan dengan
negaranegara mitra dan posisi negara itu di mata dunia.
Semakin besar kontribusi ekonomi negara pada pertumbuhan ekonomi dunia,
semakin besar pula desakan dunia untuk menentukan sikap atas hubungan di
Dinna Wisnu Halaman 46

antara mereka. Dalam kasus ini Prancis dan Jerman adalah tulang punggung
perekonomian Uni Eropa sehingga kebijakan Hollande ditunggu-tunggu.
Desakan serupa juga bermunculan terhadap Indonesia dan akan makin tajam
menjelang pemilu.
Indonesia adalah tulang punggung kerja sama regional di kawasan ASEAN. Jadi,
pilihan bangsa ini atas pemimpinnya akan menentukan pula arah hubungan
dengan negara- negara mitra. Ketiga, segala aliran “isme” yang diperdebatkan
dalam upaya mencari jalan keluar kemelut ekonomi masa kini sesungguhnya
sudah ketinggalan zaman.
Meskipun Hollande mengusung aliran politik “kiri” yang notabene dekat dengan
aliranSosialisme, kita tidak bisa otomatis mengatakan bahwa sosialisme yang
diusung tersebut sama dengan sosialisme yang diusung oleh Prancis 20 atau 30
tahun lalu. Tidak berlebihan juga bila dikatakan bahwa pilihan publik kepada
Hollande belum tentu karena loyalitas pada model ideologi “kiri”, melainkan
karena protes terhadap cara-cara yang dipilih lawan politik Hollande.
Sesungguhnya ruang imajinasi kita terhadap solusi baru yang akan ditawarkan
Hollande akan sangat terbatas bila kita berangkat dari asumsi akan aliran
Sosialisme belaka.Praktik investasi dan perdagangan global, termasuk hubungan
antara pemerintah dengan dunia bisnis, telah banyak berubah dalam kurun waktu
beberapa tahun belakangan ini.
Pilihan masyarakat Prancis yang jatuh pada Hollande perlu kita maknai sebagai
desakan untuk perubahan pengelolaan sosial politik dan ekonomi agar krisis yang
kini membelit Eropa dapat usai. Bicara soal bersikap, kita harus berani tampil di
antara ragam hubungan antara negara dan kaum kapitalis (pemilik modal) di
berbagai negara dunia.
Kenyataannya, kaum kapitalis sudah sangat menggurita sehingga logika untuk
putus hubungan dengan mereka (seperti disarankan oleh aliran “kiri”) merupakan
idealisme kosong saja. Mari kita coba bicara tentang model investasi,
perdagangan, dan pengembangan sumber daya manusia yang memberdayakan
sebanyak- banyaknya warga negara dan tidak semata-mata menangguk untung
besar bagi pemilik modal.
Tentu repot karena dalam dunia kapitalisme segala cara bisa dianggap halal demi
memperbesar keuntungan. Namun, karena kapitalisme tak bisa berjalan tanpa
ditopang oleh tenaga kerja yang kompeten dan negara yang memfasilitasi, kita
perlu berani menawarkan model-model kerja sama yang menguntungkan dengan
para pemilik modal. Semoga Hollande membuka peluang lebih luas bagi dialog
tersebut di tataran pemimpin dunia.
Sumber: SINDO, 09 Mei 2012
Dinna Wisnu Halaman 47

MP3EI dan Diplomasi Pangan


Bulan ini MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan
Ekonomi Indonesia) alias rumusan penggerak roda perekonomian nasional
yang menjadi andalan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
genap berusia satu tahun. Melalui program ini, pemerintah menargetkan
pertumbuhan ekonomi yang pesat bagi Indonesia sehingga pada 2025
diharapkan tercapai target pendapatan per kapita USD14.250–15.500 dengan
nilai total perekonomian berkisar USD4,0 triliun–4,5 triliun. Saat ini nilai
total perekonomian Indonesia ada di kisaran USD770 miliar dengan
pendapatan per kapita di kisaran USD3.000. Target-target tersebut digenjot
melalui skema yang melibatkan mitra swasta.
Ada 22 jenis kegiatan yang dibidik, mulai dari pertanian, infrastruktur hingga
pertambangan. Wilayah Indonesia bagian timur dan Sumatera termasuk yang
sangat dipacu pertumbuhannya. Misalnya membangun bandara di Lombok,
menetapkan areal seluas 1.200 hektare di Lombok bagian selatan sebagai
Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Nasional, membangun jalan dan
pelabuhan trans-Maluku,serta membangun jalan tol dan jalur kereta api di
Sumatera.
Saya ingin membahas MP3EI dalam hal perbaikan ketersediaan pangan.
Dalam cetak biru MP3EI, arah yang dituju adalah ketahanan pangan. Dalam
arti, Indonesia akan memanfaatkan keunggulannya untuk meningkatkan daya
tawar dalam percaturan politik global terkait pangan, yakni dalam hal jumlah
penduduk, jumlah orang muda, surplus jumlah penduduk berusia produktif,
letak geografis yang strategis, ketergantungan dunia pada arus pelayaran yang
melewati Indonesia, serta pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi.
Indonesia diharapkan berperan di tataran regional maupun internasional untuk
menjadi lumbung pangan (dan air). Implisit di dalam target tersebut adalah
keinginan melakukan swasembada walaupun arahnya bukan menutup diri,
melainkan sebagai penyedia pasokan pangan bagi dunia. Sejauh mata
memandang, langkah ke sana belum optimal digarap. Pertama karena
pendekatan diplomasi yang ada belum mengarah pada penciptaan gerakan
tanam bersama di lahan bumi yang jumlahnya makin terbatas.
Lahan diperlakukan seolaholah komoditas yang tak ada habisnya. Jika semua
negara dibebaskan untuk secara swadaya melakukan pengelolaan lahan secara
eksklusif, dalam kurun waktu 20 tahun mendatang sudah akan bermunculan
negaranegara yang lebih miskin dari sekarang. Saat ini sejumlah negara
seperti China, India,AS secara agresif mencari lahan- lahan subur di seluruh
dunia untuk bercocok tanam dan beternak.
Hasilnya langsung diboyong ke negara masing-masing; penduduk setempat
yang bercocok tanam dan beternak hanya bisa gigit jari. Kecenderungan
Dinna Wisnu Halaman 48

saling rebut lahan ini tidak bisa distop dengan skema-skema kerja sama
internasional yang ada sekarang karena yang sekarang digarap adalah kerja
sama perdagangan, pembuatan lumbung bersama,larangan proteksi, dan
sejenisnya.
Semuanya tidak menyentuh esensi pangan sebagai barang publik (public
goods). Karena lahan dan air adalah hak semua umat manusia, sebenarnya
penggunaan barang tersebut oleh pihak lain tidak bisa dilarang (non-
excludable) dan tidak boleh mengurangi kenikmatan pihak lain ketika
menggunakan barang tersebut (non-rivalry). Artinya, perlu ada skema kerja
sama multilateral dan regional yang mengarah pada penggunaan bersama
lahan dan air untuk pertanian.
Biaya diatur terjangkau karena pemerintah melakukan subsidi melalui skema
kerja sama dengan negara lain. Ada pula mekanisme untuk menggentarkan
negara lain untuk sekadar numpang enak (free rider) meskipun tentu perlu
ada harga khusus bagi negara-negara yang memang kurang mampu. Artinya
bahwa diplomasi perlu dibedakan pendekatannya untuk penyediaan produk
pangan primer atau mentah. Beras, tebu, buah-buahan, sayur-mayur, gandum,
biji-bijian, misalnya, adalah produk pangan primer yang menjadi hak semua
orang di bumi.
Teknologi untuk mengelola kecukupan panen produk ini sebenarnya tidak
bisa dipagari dengan hak paten karena pada akhirnya ini menyangkut
kecukupan panen bagi sesama manusia. MP3EI perlu memikirkan
konsekuensi dari kebutuhan diplomasi produk primer pertanian ini seperti
mekanisme menjaga tata ruang dan wilayah dan kontrak pemanfaatan lahan
oleh pihak asing. Ini tidak boleh salah langkah dan jelas bukan semata soal
penyediaan infrastruktur fisik seperti fokus MP3EI sekarang.
Kedua, diplomasi perlu mengakomodasi masa depan agrobisnis yang cerah
dan menggiurkan. Agrobisnis adalah usaha untuk meningkatkan nilai jual
produk-produk pertanian melalui pengolahan dan pengembangan forward
linkages (bisnis terkait yang berkembang karena ada agrobisnis, misalnya
bisnis kargo, pembuatan kemasan, asuransi). Saat ini agrobisnis cenderung
dikonotasikan kuno sehingga ditinggalkan oleh generasi muda.
Padahal negara-negara yang populasinya menua tidak punya cukup sumber
daya manusia untuk mengolah lahan pertanian. Ke depan, agrobisnis adalah
sektor usaha yang sangat menjanjikan. Maklum, permintaan akan produk
pangan pasti meningkat terus seiring bertambahnya populasi dunia. Jadi,
ketersediaan pangan sangat bergantung pada kemampuan mengolah produk
pangan primer menjadi ragam produk yang sehat, tahan disimpan, bergengsi
atau praktis kemasannya, dan bisa dinikmati penduduk dunia di mana pun.
Karenanya ruang agrobisnis perlu digenjot dan bukannya dicekik dengan
aturan-aturan nonproteksi atau antisubsidi. Pengembangan agrobisnis
Dinna Wisnu Halaman 49

membutuhkan investasi besar, terutama di bidang penelitian dan


pengembangan (R&D).
Saat ini satu investasi bidang R&D untuk produk pangan umumnya baru
menghasilkan profit setelah 15 tahun. Bayangkan bila beban ini harus
ditanggung oleh sektor swasta saja. Proyek MP3EI perlu memfasilitasi
pengembangan R&D ini, lengkap dengan jejaring sektor swasta yang siap
mengembangkan hasil-hasil penelitian menjadi produk-produk pangan
bernilai jual tinggi.
Ketiga, Kementerian Negara Lingkungan Hidup serta instansi terkait bidang
pelestarian lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan (sustainable
development) perlu memperbaiki cara komunikasinya agar bisa dipahami dan
diterima pelaku agrobisnis dan rakyat biasa. Penantang kita adalah negara
seperti Brasil yang sudah menerapkan 100% praktik pertanian dan
perkebunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan hidup.
Standar mereka diakui secara internasional, bahkan oleh Eropa dan Amerika
Serikat. Kalau Indonesia masih sekadar defensif ketika dikritik bahwa praktik
pertanian atau perkebunannya tidak ramah lingkungan, kita justru akan
kehilangan respek dari dunia internasional. Karena fitur Kementerian Negara
Lingkungan Hidup memang belum memungkinkannya untuk punya ”kaki
tangan” sampai ke tingkat komunitas dan kabupaten/kota, pemerintah pusat
perlu membuat jembatan melalui instansi pemerintah lain yang punya ”kaki
tangan”.
Ke depan, pertanian dan perkebunan wajib dikelola secara modern.Dalam
banyak hal, arahnya adalah intensifikasi modal. Jadi dibutuhkan pembinaan
intensif agar petani (besar maupun kecil) tidak mengambil jalan pintas yang
tidak ramah lingkungan. MP3EI belum punya roh pembaruan sampai ke arah
sana.Padahal masuknya pihakpihak baru ke daerah yang jauh dari
pengawasan pemerintah pusat akan berisiko tinggi disalahgunakan, apalagi
praktik ramah lingkungan tadi belum mengakar. Arah pandang diplomasi
pangan kita perlu lebih jauh ke depan.
Taruhan kita adalah diri kita sendiri di masa tua dan generasi anak kita.Bila
MP3EI tidak kita manfaatkan secara optimal untuk mengubah cara pandang
dunia, swasta, dan komunitas, hasilnya pun tidak akan optimal.
Sumber: SINDO, 23 Mei 2012
Dinna Wisnu Halaman 50

Suriah, Senjata, dan Krisis


Kondisi Suriah makin memprihatinkan. Tragedi Houla minggu lalu, yang
mengakibatkan lebih dari 100 orang tewas termasuk anak-anak dan
ratusan lainnya luka-luka, menandai betapa berdarahnya kondisi
pengelolaan negara di negeri berpenduduk 22,5 juta orang itu.
Sejak krisis kepemimpinan bergolak di Suriah akhir tahun lalu,
diperkirakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 10.000 jiwa tewas
dan ribuan lainnya luka-luka. Namun, yang lebih ironis adalah respons
dunia internasional terhadap kejadian yang berkembang di Suriah, baik itu
dari negara Barat, negara tetangga atau bahkan Indonesia. Hal ini
menunjukkan krisis serius pada perkembangan politik luar negeri negara-
negara di dunia.
Penjelasannya sebagai berikut. Bashar Hafez al-Assad adalah Presiden
Suriah yang merupakan anak dari tokoh negeri itu, Hafez al-Assad, yang
dikagumi di antero Timur Tengah. Namun zaman berubah. Cara-cara
memimpin yang menutup partisipasi publik dalam politik dan menolak
kritik dianggap usang di sana, tetapi Bashar tidak siap dengan perubahan
zaman. Ia malah mengangkat senjata atas warganya. Bashar justru
bersikeras bahwa ada upaya-upaya asing untuk memojokkan rezimnya.
Pada 3 Juni lalu, sang presiden tidak malu-malu menyatakan niatnya untuk
terus menggunakan tindak kekerasan untuk menekan kelompok-kelompok
antipemerintah yang ditudingnya berkonspirasi dengan Negara-negara
asing. Bashar lupa bahwa bahkan ketika ada infiltrasi asing di negaranya,
nasib warga negaranya tetap nomor satu. Pertarungan terhadap
kolonialisme tidak bisa dengan mengorbankan warga negaranya sendiri!
Perang antarnegara pun ada etikanya, apalagi terhadap masyarakat sipil
yang warga negaranya sendiri. Memburu manusia untuk dibunuh, apalagi
secara sistematis, adalah pelanggaran berat atas hak asasi manusia.
Singkatnya, Bashar ketakutan kehilangan kontrol atas negerinya dan
mungkin tidak tahu cara lain selain cara-cara kekerasan. Ironisnya dunia
tidak punya mekanisme untuk menghilangkan rasa ketakutan itu. Tiap hari
berita yang muncul justru menyudutkan Al-Assad dan Suriah.
Perhatikanlah bahwa ujung dari tiap respons dunia internasional adalah:
senjata dan perang. Perdana Menteri Turki mengecam Bashar sebagai
diktator dan mengaku sulit mencapai perdamaian di Suriah selama Bashar
mempertahankan pendekatan itu.
Turki, Arab Saudi, dan Qatar menyatakan dukungan untuk
mempersenjatai pemberontak anti-Damaskus di wilayah Suriah. Pada 4
Maret, Menteri Luar Negeri Turki berjanji memasok senjata bagi
Dinna Wisnu Halaman 51

pemberontak Suriah. Pilihannya: minggir atau perang. Dari Amerika


Serikat (AS), Center of Foreign Relations (CFR) yang merupakan
thinktank berpengaruh bagi kebijakan luar negeri AS menyatakan lewat
Steward Patrick, direkturnya, bahwa Presiden Barack Obama dalam posisi
dilema karena mekanisme Dewan Keamanan (DK) PBB tidak berfungsi.
Terbukti bahwa Rusia dan China melakukan veto untuk aksi bersama
mengecam. Bagi CFR, Presiden AS perlu memikirkan untuk membentuk
kekuatan multilateral di luar PBB yang punya legitimasi melakukan
intervensi atas dasar perlindungan terhadap kemanusiaan seperti dulu
pernah dilakukan NATO yang melakukan serangan atas Kosovo tahun
1999 di masa Slobodan Milosevic. Jadi, lagi-lagi cara masuk yang
dipikirkan adalah serangan militer. Sayang, cara intervensi atas
ketidakadilan di negara lain selalu berbentuk serangan militer.
Bahkan R2P (Right to Protect) yang baru-baru ini diadopsi PBB pun
demikian.Tujuan R2P adalah agar komunitas internasional dapat
menggunakan hubungan diplomatik dan kerja sama kemanusiaannya
melalui DK PBB untuk melakukan aksi bersama demi
melindungimanusiadarigenosida, perang, penyerangan terhadap ras dan
kejahatan kemanusiaan lainnya.Tapi,bentuknya adalah force, adu
kekuatan, yang ujungnya senjata lagi. China dan Rusia tidak melakukan
veto karena kepentingan manusiawi.
Yang mereka khawatirkan adalah risiko penggulingan kekuasaan seperti
penggulingan Khadafi di Libya. Mereka menyaksikan bahwa R2P yang
dipakai di kasus Libya berujung pada intervensi politik dalam negeri.
Mereka tak mau ini terjadi di negerinya. Di belakang itu semua, Rusia
adalah salah satu pemasok senjata terbesar bagi Suriah. China adalah
importir ketiga produk senjata dari Suriah. Demikian data dari Komisi
Eropa. Jadi, ujungnya senjata lagi. Jadi, tidak berlebihan bila dikatakan
bahwa lembaga perdamaian dalam politik global dalam posisi kritis. Ada
dorongan sangat kuat untuk mengakhiri segala sesuatu dengan senjata.
Apakah ini upaya sistematis untuk meningkatkan industri persenjataan?
Atau proliferasi senjata memang menjadi norma politik luar negeri yang
dihalalkan pada abad ini? Ke manakah prinsip mencari kerja sama melalui
cara-cara damai? Apa pun alasannya, bentuk diplomasi yang dibutuhkan
pun tidak bisa seperti dulu. Indonesia, misalnya, sejauh ini sudah berupaya
mengecam, mengimbau, menuntut rezim Bashar al-Assad untuk
menghentikan kekerasan, bahkan dengan tegas mengatakan tidak akan
ikut mengusir Duta Besar Suriah dari Indonesia demi menjaga hubungan
baik dengan Suriah.
Indonesia bahkan ikut dalam tim peninjau PBB yang terdiri atas 16
perwira dari kepolisian atau TNI. Namun, lagi-lagi cara yang dipilih masih
Dinna Wisnu Halaman 52

berbau militer. Sejarah sebenarnya telah memberi pelajaran, siapa pun


yang berusaha mengangkat senjata demi masuk ke negara lain akan
berhadapan dengan tembok proteksi yang lebih tebal, tinggi, dan
memakan banyak jiwa. Perhatikan betapa tebalnya Tembok China,
misalnya, karena upaya membendung serangan militer dari wilayah
sekitar.
Ingatlah betapa tinggi tarif proteksi dari AS ketika mereka merasa
terancam akan merkantilisme yang didukung militer di awal abad ke-19.
Baru-baru ini kita lihat betapa berdarah-darahnya Afghanistan, Irak, dan
Libya bila pendekatan militer yang kita ambil meskipun dasarnya
kemanusiaan sekalipun. Kemanusiaan bergantung pada diplomasi yang
sejuk, dengan dialog dan pemahaman yang sama akan pentingnya satu
nyawa. Kecaman tidak bisa kita arahkan pada pemimpin tertentu karena
tidak menyelesaikan masalah.
Justru kita perlu perkuat mekanisme PBB, regional termasuk Liga Arab,
ASEAN, dan forum seperti G-20, untuk bergerak mengubah cara pandang
dunia yang militeristik. Bangunlah mekanisme seperti forum rekonsiliasi,
pembukaan bantuan kemanusiaan yang berujung pada rekonsiliasi pihak-
pihak yang bertikai, serta kerja sama pengembangan cara-cara damai
dalam menghadapi kritik publik.
Sayangnya Indonesia belum punya kredibilitas untuk mendorong hal ini
karena negara-negara lain dapat membaca betapa abai pemerintah kita
terhadap perlindungan atas kelompok minoritas, betapa terkikisnya rasa
toleransi terhadap perbedaan, dihalalkannya cara-cara mengancam dan
teror bila tidak ada kesepakatan, dan masalah hak asasi manusia tidak
mendapat perhatian serius.
Preman-preman bersenjata dengan bebas dapat menakut-nakuti polisi,
bahkan Presiden. Inilah kesulitan diplomat Indonesia. Padahal kalau
masalah itu teratasi, Indonesia dapat memainkan peranan penting dalam
dunia yang sedang berubah cepat ini dan mengalami krisis.
Sumber: SINDO, 6 Juni 2012
Dinna Wisnu Halaman 53

Apa Artinya Berkecukupan?


Semua negara pasti menghendaki pertumbuhan ekonomi yang tinggi,
stabil, mempekerjakan banyak warga negara, dan mendatangkan
kemakmuran. Dalam upaya tersebut, ada satu kelompok masyarakat yang
didorong terus untuk “berkembang biak” yakni kelas menengah.
Sebelum bicara lebih jauh, mungkin kita perlu menyamakan persepsi
tentang siapa yang disebut kelas menengah karena studi tentang kelas
telah sedemikian jauh berkembang. Dari pemikiran klasik, sosiolog
kenamaan Max Weber memaknai kelas menengah sebagai sebuah kategori
menurut orientasi subjektifnya seperti cara berpikir, motivasi,
kedudukannya dalam masyarakat, pola belanjanya, dan sebagainya.
Sementara dalam definisi Marx, kelas lebih dilihat dari sejauh mana
mereka menguasai atau tidak alat produksi. Bila mereka menguasai alat
produksi, dimasukkan sebagai kelas kapitalis, sementara bila tidak,
dikategorikan sebagai kelas pekerja. Konsep kelas pun berkembang sesuai
dengan perkembangan kapitalisme.Kepemilikan alat produksi menjadi
semakin abu-abu ketika kelas pekerja dianggap dapat memiliki alat
produksi misalnya ketika mereka membeli saham perusahaannya seperti di
negara-negara kesejahteraan.
Sementara status kelas menengah juga bukan sebuah status subjektif
permanen karena krisis dapat membuat seorang direktur bank jatuh miskin
dan menjadi kelas pekerja dengan bekerja sebagai sopir taksi. Demi
memotret dinamika kelompok di dalam masyarakat, saya menggunakan
teori yang memandang kelas menengah sebagai yang punya keahlian,
keterampilan, ide, kapital dan daya beli,serta daya dorong untuk suatu
perubahan. Jadi, kelas menengah selalu digambarkan punya peranan
sangat penting; tidak hanya dalam menentukan arah pertumbuhan
ekonomi,tetapi juga menentukan besaran peranan negara dalam kehidupan
sosial politik,penegakan demokrasi, dan sebenarnya juga terkait
penghargaan atas hak asasi manusia.
Kelas menengah juga diimpikan dapat mencipta generasi baru bagi
bangsa, terutama yang lebih punya daya saing serta tahan banting dalam
perkembangan di masa-masa mendatang. Namun, realita masa kini
menunjukkan tidak semua kelas menengah punya daya saing, kekuatan
banting, dan daya dorong untuk perubahan.
Yang perlu diwaspadai adalah karena kelemahan itu akan memenjarakan
negara dalam ketidakberdayaan berkepanjangan ketika berhadapan dengan
kekuatan ekonomi dari negara-negara lain, apalagi karena tren ekonomi
masa kini cenderung memburuk. Bagaimana bisa demikian?
Dinna Wisnu Halaman 54

Pertama, karena sejumlah studi yang berkembang, terutama yang


dilakukan untuk menganalisis negara-negara berkembang termasuk yang
baru-baru ini dilakukan oleh World Bank, mengambil margin bawah yang
lebih rendah dalam klasifikasi kelas menengah. Umumnya, seseorang baru
bisa dianggap sebagai kelas menengah bila ia mampu menghabiskan
antara USD10- 100 per hari.
Di sini orang yang menghabiskan USD2 per hari pun dianggap sudah
masuk kelas menengah. Artinya secara studi,kita perlu lebih hatihati
dalam menarik kesimpulan tentang kekuatan dan karakter kelas menengah
di rata-rata negara berkembang termasuk Indonesia.
Kedua, karena kelas menengah di Asia dibesarkan dengan sistem kredit
yang diberikan perbankan, tetapi belum ada pelembagaan yang kuat bagi
daya beli kelas menengah itu. Rata-rata negara berkembang di Asia belum
cukup ditopang oleh sistem jaminan sosial yang terpadu sehingga ketika
mereka tibatiba sakit, mengurus anggota keluarga yang sakit, atau
mengalami kecelakaan kerja serta kematian, mereka berisiko jatuh miskin.
Karena rata-rata pergerakan naik dari kelas bawah ke kelas menengah
tergolong lambat, kerentanan kelas menengah untuk jatuh miskin akan
memperbesar pula beban negara dalam kondisi ekonomi global yang tak
menentu.
Ketiga, karena kelas menengah belum masuk dalam kategori penghasilan
minimal USD10 per hari, sebenarnya mereka belum punya cukup
kemampuan untuk menggerakkan perubahan. Mereka masih berkutat pada
kesenangan membeli ini dan itu, termasuk yang sifatnya sesaat dan sebatas
menguntungkan diri sendiri.
Belum terpikirkan dalam benak mereka untuk meluncurkan ide-ide segar
yang mendorong perubahan, meningkatkan daya saing, atau menjaga
keragaman dalam demokrasi. Karena itu,hasil survei Kompas minggu lalu
tentang gaya hidup kelas menengah Indonesia yang semata senang dengan
ornamen kemewahan, gaya hidup konsumtif, tidak mau ambil pusing, dan
cenderung mencari aman bagi diri sendiri dengan berlindung di balik
ideologi yang diamini mayoritas orang (tidak berani tampil beda) menjadi
catatan penting bagi kita semua.
Meskipun di situ dikenali ada dua kelompok kelas menengah di Indonesia,
yakni menengah bawah dan menengah atas. Di mana, yang menengah
bawah cenderung bekerja delapan jam saja dalam sehari. Dan yang
menengah atas cenderung bekerja lembur lebih dari 10 jam per
hari.Namun, secara umum perilaku mereka sama.Mereka kritis, terutama
dalam celoteh di jejaring sosial, tetapi enggan bertindak secara konkret
dalam mendorong perubahan.
Dinna Wisnu Halaman 55

Artinya bahwa kelas menengah di Indonesia baru sampai di tahapan


menjadi konsumen belaka. Itu pun mereka rentan diombang-ambingkan
kekuatan ekonomi pasar global. Mereka bertopang semata pada
penghasilan rutin, tanpa perlindungan sistem jaminan sosial, sehingga
daya beli mereka pun rentan terhadap gejolak pasar. Kelas menengah di
Indonesia perlu paham positioning nya di tataran global.
Saat ini, menurut data OECD, ada 1,8 miliar manusia yang masuk dalam
kategori kelas menengah yang sesungguhnya, dengan konsentrasi jumlah
di Asia sebanyak 525 juta,Eropa 664 juta, dan Amerika Utara 328 juta.
Daya beli yang saat ini terkuat adalah di Asia,tetapi saat ini hal itu hanya
dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Negara di
kawasan lain berlomba-lomba memanfaatkan kelas menengah di Asia
sebagai pasar dan konsumen.
Tak heran bila mereka rapuh karena sekadar menikmati pertumbuhan
ekonomi, bukan ikut berproduksi atau memperbaiki system ekonomi dan
politik yang jelas-jelas sedang di titik krisis, sehingga dengan mentalitas
ini mereka dikhawatirkan akan tergerus oleh pasar dan oligarki kekuasaan.
Kecukupan dalam hal ekonomi perlu dimanfaatkan oleh manusia yang ada
di kelas menengah untuk sebaik mungkin membangun sistem
berkelanjutan dalam kehidupan bernegara.
Dalam komunitas di rumah, tempat kerja, sekolah, kita harus berani
melawan arus yang menggerogoti persatuan bangsa dan Bhineka Tunggal
Ika. Sistem yang korup, serbatidak toleran terhadap perbedaan, dan
mencari untung sendiri adalah sistem yang rapuh dan sakit. Sistem
semacam itu adalah cikal bakal dari negara yang gagal.
Jika Indonesia, sebagai bagian dari Asia, gagal mendorong pembangunan
sistem baru yang berkelanjutan, premis yang berkembang saat ini tentang
rapuhnya kelas menengah di Asia akan menjadi kenyataan penuh.
Mustahil mengharapkan Indonesia jaya bila kelas menengah di dalam
negerinya melempem dan tidak punya antusiasme visi ke depan. Dari
pihak negara, jejaring kelas menengah perlu difasilitasi untuk mendorong
penguatan praktik-praktik dan kelembagaan demokrasi.
Bukan sekadar keterbukaan berpendapat yang dijamin, melainkan juga
pelembagaan cara berpikir ilmiah berbasis data keilmuan karena dengan
cara itu kaum kelas menengah terlatih untuk menerima perbedaan,
mengupayakan kemajuan, dan berpartisipasi dalam politik. Cara itu juga
memupuk kreativitas dan daya saing di tengah kompetisi yang makin
tajam di dunia.
Sumber: SINDO, 13 Juni 2012
Dinna Wisnu Halaman 56

Dialog Tanpa Makna


Sejak pertengahan minggu lalu,di Rio de Janeiro, Brasil berkumpul ribuan
delegasi dari seluruh dunia, termasuk 7.000 perwakilan perusahaan,
puluhan ribu aktivis dan ratusan pimpinan negara, untuk memperingati 20
tahun United Nations Conference on Environment and Development
(UNCED) atau yang lebih dikenal dengan nama KTT Bumi (The Earth
Summit), yang dulu pernah diselenggarakan di kota yang sama tahun
1992. KTT Rio+20 bermaksud menggugah para pemimpin dunia akan
lambannya respons (bahkan kemunduran) untuk menata ulang cara-cara
efektif menjaga keanekaragaman hayati, keseimbangan ekosistem, dan
memperlambat perubahan iklim di bumi. Sayangnya, forum raksasa
seperti Rio+20 sulit mencapai titik konsensus.
Ketika sejumlah kementerian dan organisasi berkumpul di kampus
pascasarjana Universitas Paramadina untuk mengantisipasi kondisi dalam
forum tersebut dan menyusun strategi, sudah terbayang di benak yang
hadir bahwa forum ini akan sarat warna-warni masalah.
Sangat kompleks, di mana delegasi dari masing-masing negara cenderung
tidak satu suara dalam menyampai kan pendapatnya. Perwakilan korporasi
dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) adalah tokoh terpisah yang lebih
sering berseberangan pendapat dengan pemerintahnya. Per 19 Juni,
kabarnya tak lebih dari 38% topik dalam rancangan pernyataan bersama
yang terbahas, padahal pembahasan sudah berlangsung berhari-hari.
Ada satu titik yang memperoleh pembahasan terus menerus yakni konsep
Ekonomi Hijau (Green Economy). Belum ada kesepakatan tentang
kebijakan yang perlu didorong di seluruh negara, apalagi yang terkait
dengan target-target pembangunan milenium yang menyasar perbaikan
standar hidup manusiawi. Ujung-ujungnya kembali kepada perdagangan
karbon dan standarstandar label hijau untuk produk-produk yang
dihasilkan negara-negara berkembang. Masing-masing negara
bersembunyi di balik klausul “common but differentiated responsibilities”,
yakni kesamaan tujuan dengan tanggung jawab yang berbeda (antara
negara maju dan berkembang).
Dari tahun ke tahun, diplomasi di bidang lingkungan hidup selalu
tersandera pada halhal yang sama. Pertama, berseberangannya ide
pembangunan dengan korporasi-korporasi besar yang transnasional.
Kedua, kerentanan perekonomian global dan nasional yang harus
ditanggung oleh negara. Ketiga, pelaku perlindungan ekosistem,
keanekaragaman hayati, pertanian, serta perkebunan di negara-negara
berkembang (lembaga, individu maupun komunitas) yang sifatnya mikro,
Dinna Wisnu Halaman 57

swadaya, dan serba paspasan atau bahkan berkekurangan dalam


mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Titik kerentanan dalam perekonomian global seakan menjadi titik temu
bagi ketiga sudut pandang tersebut. Padahal, akar kerentanannya jelas jauh
berbeda. Bagi korporasi global, penyelamat mereka dari kerentanan adalah
dana-dana segar dari pemerintah, pasar baru bagi produk-produk mereka,
dan dukungan dari pemerintah dalam segi regulasi atau jaminan. Bagi
negara, penyelamat mereka adalah investasi asing dari korporasi-korporasi
besar, kenaikan volume ekspor, kekuatan nilai mata uang karena
kepercayaan pasar internasional, dan masyarakat yang tidak banyak
menghabiskan dana sosial (alias bisa serba swadaya, atau punya inisiatif
kewirausahaan).
Apa ujungnya bagi lembaga, individu atau komunitas mikro yang serba
swadaya dan paspasan di negara berkembang? Dapat dibayangkan bahwa
mereka lagi-lagi harus sendirian dalam memperjuangkan kepentingannya
di hadapan negara dan korporasi besar. Dari hari ke hari, karena agrobisnis
dan eksploitasi sumber daya alam adalah bisnis yang sangat
menguntungkan, persaingan di sana semakin ketat. Buat negara, skala
besar yang ditawarkan perusahaan besar sangat menggiurkan karena
menjanjikan buah-buah instan.
Dari ilustrasi di atas dapat dibayangkan kesulitan komunikasi terkait
diplomasi lingkungan hidup. Ujung-ujungnya cuma lahir kesepakatan
normatif dan dapat dibayangkan bahwa selebihnya diserahkan kepada
mekanisme pasar (lagi). Negara seperti Indonesia sesungguhnya dapat
berperan besar dalam mengubah cara pandang dunia terhadap
pembangunan berbasis ekonomi hijau yang berkelanjutan.
Seorang rekan yang lama bergulat di bidang perlindungan lingkungan
hidup dan pernah menjadi satu-satunya atase bidang lingkungan hidup
bagi Indonesia mengatakan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman
hayati nomor satu di dunia, bila ditotal seluruh keanekaragaman di darat
dan di laut. Artinya, Indonesia sesungguhnya punya potensi daya tawar
yang tinggi dalam negosiasi internasional.
Namun, pemerintah Indonesia belum punya cukup kepercayaan diri untuk
menarik benang merah kepentingan nasional Indonesia dalam segala
bentuk forum diplomasi lingkungan hidup internasional yang ada. Dari
waktu ke waktu, pihak-pihak yang berangkat ke luar negeri, bahkan dari
instansi pemerintah pun, selalu tak bisa menjawab tentang apa
kepentingan Indonesia yang akan diperjuangkan. Paling sering terucap
adalah kata-kata “yang penting, Indonesia tampil, ikut, bicara….”.
Dinna Wisnu Halaman 58

Pejabat negara yang berangkat malah protes pada aktivis LSM karena tidak
kompak, sementara perwakilan korporasi lokal merasa tak pernah diajak bicara
oleh pemerintah. Apa gunanya ikut dialog internasional bila tak ada kesepakatan
ide perubahan, yang akan ditularkan pada negara lain dengan kompak oleh ragam
orang Indonesia yang berangkat ke forum-forum internasional? Sama saja
dengan dialog tanpa makna!
Pekerjaan rumah terbesar bagi Indonesia adalah menggariskan turunan dari visi
perlindungan keanekaragaman hayati, pertumbuhan ekonomi, dan pemerataan
kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Kalau pemerintah Indonesia menyerahkan
segala sesuatunya pada mekanisme pasar dan bergantung pada korporasi besar
untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi (termasuk juga penciptaan lapangan
pekerjaan), maka hasilnya dapat dipastikan pincang.
Ekonomi pasar hanya dapat hidup bila masyarakatnya berkembang pula menjadi
masyarakat ekonomi pasar (market society). Tidak hanya mereka punya daya beli
yang cukup, standar hidup yang cukup untuk menghidupi pasar, tetapi juga
punya jaminan untuk tidak sendirian ketika menghadapi fluktuasi pasar. Ketika
gagal menyediakan hal-hal ini, beban yang harus ditanggung pemerintah dalam
jangka panjang akan membesar.
Masyarakat yang terpinggirkan dalam ekonomi pasar tak akan mampu menopang
perekonomian negara, sehingga negara harus berutang ke luar negeri dan hidup
dari rasa kasihan negara-negara lain saja. Setidaknya ada dua hal yang wajib
segera dikerjakan pemerintah. Pertama, menyusun visi diplomasi bidang green
economy ini, lengkap dengan dimensi pertumbuhan ekonomi dan pemerataannya
bagi rakyat Indonesia. Visi ini wajib disusun bersama beragam lapisan dan
kelompok masyarakat, termasuk korporasi lokal besar dan kecil dan aktivis LSM.
Bangunlah kerangka pandang yang sama sehingga di mana pun orang Indonesia
berada dan apa pun profesinya, mereka mengedepankan cara-cara yang sama
untuk merawat bumi Indonesia. Kedua, mengedepankan kegiatan seperti
penguatan sinergi kerja sama antara korporasi lokal dan masyarakat lokal,
penguatan kapasitas dan insentif bagi komunitas, serta reputasi lembaga dan
korporasi lokal perlu diangkat.
Kerja sama dengan korporasi asing raksasa yang sifatnya sudah transnasional
perlu dirumuskan dalam wujud transfer teknologi, penguatan riset, dan
pengembangan teknologi yang bisa diakses masyarakat luas, serta pengembangan
supply-chain lintas negara yang lebih efisien. Jadi, sebenarnya ada cara-cara
memperkuat ekonomi dengan tetap menggunakan mekanisme pasar, tetapi
dengan mengikutsertakan lebih banyak orang. Pasar tak mungkin hidup tanpa
komunitas yang hidup.
Sumber: SINDO, 20 Juni 2012
Dinna Wisnu Halaman 59

Diambang Kegagalan?
Apakah Indonesia di ambang kegagalan sebagai suatu negara? Wacana ini
mengemuka seiring publikasi Indeks Negara Gagal dari The Fund for
Peace yang menempatkan Indonesia di peringkat ke-63 dari 177 negara.
Cukup buruk. Dalam kategori yang sama dengan Indonesia ada Iran,
Malawi, Kamboja, Lebanon, Laos, Filipina, Fiji, dan Tanzania. Kondisi
terburuk 2012 ada di Somalia dan Kongo. Hasil studi tersebut spontan
mengundang emosi dari sejumlah pihak. Sekretaris Kabinet Dipo Alam
mengatakan bahwa Indonesia mungkin punya kekurangan dalam hal
efektivitas tata kelola pemerintahan, tetapi terlalu jauh jika disimpulkan
sebagai negara gagal. Ia menyayangkan pernyataan sejumlah orang
Indonesia yang sepakat dengan temuan The Fund for Peace karena tidak
berpihak pada Indonesia.
Ciri Negara Gagal
Negara gagal (failed states) adalah terminologi dalam studi ilmu politik
yang mendeskripsikan suatu kondisi di mana negara sebagai penanggung
jawab dan pengelola suatu bangsa dan wilayah yang berdaulat tidak
mampu memenuhi prinsip keadaban, kemanusiaan, ketertiban, dan
kesejahteraan bagi warga negaranya hingga negeri itu terperangkap dalam
kekerasan yang berkepanjangan. Robert Rotberg (2003) dalam bukunya,
When States Fail, menyatakan bahwa negara dianggap gagal bila
terperangkap dalam konflik dan kekerasan internal berkepanjangan dan
pemerintahnya kehilangan legitimasi atau pengakuan dari warganya
sebagai pemimpin sah di negeri itu.
Gagal perlu dibedakan dengan lemah. Negara masih bisa dijalankan oleh
pemerintahan yang lemah karena menurut Robert Kaplan (2012),
kebanyakan negara saat ini toh tak sanggup memenuhi tugasnya untuk
melayani kepentingan publik dan terperangkap dalam korupsi dan
ketamakan segelintir orang. Dalam teori, negara yang lemah justru
dibutuhkan untuk memperkuat demokrasi karena pelembagaan
ketidakpastian adalah karakter utama demokrasi yang khas (Przeworski
1991). Bedanya, dalam ketidakpastian demokrasi tetap ada koridor
ketertiban umum, perlindungan hak asasi manusia, kelompok minoritas,
dan kepastian hukum.
Dalam studi yang pernah ada, kegagalan suatu negara biasanya berpangkal
pada model pengelolaan bangsa yang belum modern di mana perbedaan
pendapat, konflik, dan kejahatan tidak diselesaikan dengan cara-cara
hukum, tapi dengan kekuatan otot dan senjata. Lebih parah lagi bila
negara bergeming menyaksikan warga saling baku hantam demi “mencari
Dinna Wisnu Halaman 60

jalan keluar”. Kekerasan, menurut Rotberg, tidak harus menjadi indikasi


negara gagal karena negara bisa saja memagari diri dengan segala macam
ancaman, teror, dan kebrutalan sehingga warga tak punya kapasitas untuk
melawan negara. Ini mengingatkan saya pada negara seperti Korea Utara.
Warga tidak punya medium untuk melakukan perubahan karena jalur
perubahan sudah diputus oleh pihak berkuasa. Dalam konteks lain, negara
gagal akan tega “menghisap darah” dari warga negaranya, termasuk
melarikan dana publik, memburu, membunuh, membiarkannya kelaparan,
atau melakukan genosida.
Keterbatasan Penelitian
Kembali pada studi yang dilakukan The Fund for Peace, ada 12 indikator
sosial politik dan ekonomi yang dipakai dan kemudian diturunkan menjadi
puluhan indikator pengenal ciri kegagalan suatu negara. Indikator itu
ibarat sebuah jaring yang dilemparkan ke lautan informasi. Hasil
tangkapannya kemudian diberi skor dan diolah menggunakan teknik
content analysis. Hasilnya dicek ulang dengan menyandingkan skor
tersebut dengan kondisi kualitatif terkini di negara itu, dilengkapi dengan
pertimbangan pengamat.
Jadi, penelitian ini mencakup pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan
analisis mendalam. Ini keunggulan studi ini, apalagi sumber data yang
diambil ratusan jenis jumlahnya. Namun, seperti umumnya suatu
penelitian, ada keterbatasan yang perlu dicatat oleh pembaca. Pertama,
indikator turunan dari ke-12 indikator yang diyakini sebagai pertanda
negara gagal sesungguhnya tidak satu jenis.
Ada tanda-tanda kegagalan negara yang: 1) sifatnya belum tentu
terhindarkan (given) (contoh: musibah epidemi penyakit atau kekeringan),
2) merupakan hasil dari suatu tindakan (seperti tingkat malnutrisi,
pembunuhan massal, ketergantungan pada dana asing), 3) menunjukkan
model penanganan masalah oleh pemimpin negara (seperti penggunaan
kekerasan oleh aparat negara, brutalitas polisi), dan 4) tren pertumbuhan
masalah / hal-hal baik (seperti bertambahnya kelas menengah, dan
konsentrasi kekayaan). Keempat jenis tanda ini tidak bisa dianggap
sepenuhnya refleksi ketidakmampuan negara.
Content analysis tidak bisa mengenali perbedaan karakter dari keempat
jenis klasifikasi indikator ini; semua dianggap sama dan ditotal saja. Jadi,
bila sejumlah komponen punya skor tinggi, otomatis totalnya pun tinggi.
Hanya, analisis macam ini membantu membandingkan lintas negara
karena skor yang diperoleh hanya akan terlihat tinggi atau rendah bila
disandingkan dengan skor negara lain. Akibatnya, jenis analisis ini perlu
Dinna Wisnu Halaman 61

dipahami dalam posisi bersandingan dengan data dari negara lain; tidak
boleh diartikan terpisah dari data negara lain yang dihitung di situ.
Kedua, karena data ini membidik peringkat bagi negara di seluruh dunia,
tak terelakkan munculnya anomali. Ada sejumlah negara yang memenuhi
indikator kegagalan, namun angkanya baru terlihat buruk bila
dibandingkan dengan kelompok negara yang serupa atau lintas waktu di
masa lampau. Negara-negara Eropa pascakrisis finansial 2008 misalnya
sebenarnya bisa dikategorikan negara gagal pada 2012 karena dalam
sejumlah kasus terjadi kebangkrutan ekonomi yang membuahkan banyak
kegagalan ketertiban umum dan pelayanan publik di tingkat komunitas.
Jadi, para pejabat dan publik yang merespons studi The Fund for Peace
harusnya tidak terjerat emosi. Suatu penelitian sebaiknya dilihat dalam
proporsinya untuk menyajikan informasi pembanding terbaru. Tidak
pernah ada kata terlalu dini untuk memublikasikan suatu hasil studi karena
tujuan studi adalah memprovokasi wacana.
Profil Indonesia
Bagi Indonesia, skor terburuk adalah tekanan demografis yang
komponennya terdiri atas 21 indikator turunan; mulai dari jumlah kasus
HIV/AIDS, kemampuan mengendalikan penyakit, epidemi penyakit,
bencana kekeringan, dan malnutrisi. Skor untuk indikator ini sebenarnya
sama dengan skor Kamboja, Filipina, Papua Nugini, dan Bolivia. Skor
terbaik Indonesia adalah untuk kemiskinan dan penurunan ekonomi, yang
setara dengan kondisi di Vietnam, Ghana, dan Romania.
Jika dibandingkan dengan negara ASEAN, kondisi di Thailand dan
Malaysia lebih baik karena jumlah kemiskinan yang lebih rendah dan
jumlah warga yang meninggalkan negeri itu jauh lebih sedikit
dibandingkan di Indonesia. Skor itu menutup kekurangan poin dalam
perlindungan HAM atau keterbelahan elite. China ada di tujuh peringkat
lebih baik dari Indonesia. Namun, sebenarnya China punya nilai buruk
dalam tekanan demografi, perlindungan HAM, penanganan keluhan
warga, dan pembangunan yang tidak merata.
Skor China terkatrol karena poin bagus dalam perbaikan kemiskinan,
bersatunya aparat pemerintahan di bawah komando negara, dan rendahnya
pengungsi. Semoga studi ini membuat Indonesia mawas diri. Pada
akhirnya segala yang dilakukan di tataran domestik diukur pula oleh
negara-negara lain sebagai wujud konkret keberpihakan negara pada
warga, keadaban, dan kesejahteraan.
Sumber : SINDO, 27 Juni 2012
Dinna Wisnu Halaman 62

Kepemimpinan sebagai Aset


Krisis keuangan dunia tampaknya masih jauh dari jalan keluar. Para
pemimpin di Eropa dan Amerika Serikat (AS) masih harus bekerja lebih
keras dan melakukan negosiasi untuk menyepakati jalan keluar apa yang
harus diambil bersama.
Jalan keluar bersama itu perlu digarisbawahi karena mereka sadar dalam
sistem ekonomi pasar yang saling bergantung antara satu negara dengan
negara lain, perubahan tidak dapat dilakukan secara sendiri- sendiri.
Dalam merumuskan dan menawarkan solusi itu kepada negara lain,
seorang pemimpin pemerintahan harus memiliki karakter yang kuat. Ia
tidak hanya fasih bicara soal politik, tetapi juga isu ekonomi.
Jalan keluar yang mereka tawarkan tidak boleh membuat kepentingan
politik dalam negeri dikorbankan. Dalam konteks itu, kita bisa
memasukkan karakter dan ideologi seorang pemimpin negara sebagai
sebuah variabel dalam memprediksi perkembangan ekonomi-politik dunia
ke depan. Bagi para pelaku pasar modal, variabel ini adalah informasi
penting untuk melakukan analisis teknis. Salah satu contoh terakhir yang
menarik adalah dinamika politik di AS dalam satu minggu terakhir.
Elite partai politik di parlemen dan pimpinan eksekutif, Presiden Obama,
menunggu-nunggu jawaban dari Mahkamah Agung tentang tunjangan
kesehatan bagi orang miskin yang akan memengaruhi pula kebijakan
pajak bagi warga kaya di AS.Keputusan itu akan memengaruhi pula
kebijakan diplomasi AS kepada mitra-mitranya di luar negeri. Bagi
Indonesia dan ASEAN, AS adalah mitra penting. AS juga penting bagi
China.
Hingga saat ini, ekspor China ke AS sangat besar sehingga AS mengalami
defisit USD295 miliar tahun 2011.Hubungan dagang antara AS dan China
memengaruhi pula ekonomi ASEAN dan Indonesia karena China adalah
tujuan ekspor utama ASEAN. Karena itu,memburuknya ekonomi AS akan
memengaruhi China dan selanjutnya juga menekan ekspor Indonesia dan
ASEAN.
Kondisi AS
Perekonomian AS memang relatif mengalami perbaikan setelah sejumlah
perusahaan besar suprime mortgage mengumumkan kebangkrutan tahun
2007. Program bailout yang menggelontorkan dana pemerintah ratusan
miliar dolar ke perusahaan swasta AS mulai menumbuhkan lapangan kerja
2,5% (Department of Labor, April/Mei 2012). Meski demikian, krisis AS
Dinna Wisnu Halaman 63

masih terus membayangi. Pertumbuhan ekonomi kurang dari 2% yang


telah diusahakan Obama belum cukup menurunkan angka pengangguran.
Kuartal saat ini mencatat jumlah pengangguran terbuka di AS mencapai
8,2%, lebih tinggi dari kuartal sebelumnya. Dari angka tersebut, 50%-nya
adalah orang yang menganggur lebih dari 6 bulan, terburuk sejak Great
Depression 1930 (Associated Press 29/6/12). Tingginya pengangguran
menyebabkan tagihan tunjangan pengangguran pun meroket. Oleh sebab
itu tidak mengejutkan bila Organisasi Ekonomi Negara-Negara Maju
(OECD) melaporkan bahwa kemiskinan di AS tergolong kronis. Ada
banyak hal menarik dari bagaimana politisi di AS menyelesaikan krisis
internalnya. Akan terlihat bagaimana kontrasnya dinamika politik praktis
di kalangan elite politisi antara AS dan Indonesia.
Pertama, seluruh lini di AS sudah bergerak dan menempatkan pencarian
solusi sebagai prioritas. Pertempuran ide di sana demikian sengit dan
saling lontar kritik tidak dibatasi.Artinya, ketegangan politik bukanlah
sesuatu yang dihindari oleh orang AS, tetapi justru dipupuk karena
dipercaya akan mengarah pada solusi terbaik.
Di Indonesia, kita belum terbiasa dengan sikap seperti itu. Meskipun
tanda-tanda resesi global sangatlah jelas, para politikus, anggota parlemen,
dan yudisialnya sibuk sendiri dan mudah terseret pada isu fraksi internal
partai seperti SBY vs Anas, Ical vs JK, dst. Terlalu banyak energi yang
dibuang percuma.
Kedua, dinamika politik di AS menunjukkan sistem ekonomi pasar liberal
yang selama ini trademark bagi AS bukanlah suatu sistem yang
statis.Sistem itu juga menjadi sasaran kritik sayap-sayap politik di sana.
Secara prinsip, baik Partai Republik maupun Demokrat menyetujui
keunggulan mekanisme pasar bebas, spesialisasi dan daya saing dalam
produksi,serta kemampuan mempertahankan kepercayaan investor.
Namun, prioritas mereka berbeda dalam mencari solusi dari
ketidaksempurnaan pasar. Salah satu contoh yang menarik adalah
perdebatan mengenai pintu mana yang akan dipilih untuk keluar dari
krisis. Partai Republik bersikukuh untuk mengurangi pajak untuk
golongan kaya.Pajak yang menurun akan mendorong orang kaya
menginvestasikan uangnya untuk membuka lapangan pekerjaan baru.
Sekelompok Republikan malah mengusulkan untuk mengurangi atau
bahkan meniadakan upah minimum regional. Di Florida, anggota Kongres
dari Partai Republik mengusulkan pemotongan upah minimum hingga
50%, dari USD4,65 per jam menjadi USD2,13 per jam; sementara di
Arizona diusulkan turun ke kisaran USD3 per jam.
Dinna Wisnu Halaman 64

Wacana Partai Republik itu ditolak mentah-mentah oleh Partai Demokrat


karena pajak rendah bagi kalangan kaya terbukti tidak menciptakan
lapangan pekerjaan, melainkan mendorong orang kaya untuk kabur ke luar
negeri. Mereka percaya perbaikan ekonomi bergantung pada peningkatan
daya beli masyarakat. Apalagi generasi muda mencari pekerjaan dengan
upah memadai atau memilih menganggur saja.
Ketiga, Obama sebagai presiden memiliki determinasi dan kepercayaan
diri yang penuh untuk melakukan perubahan meski harus melawan arus
politik yang terus melakukan tekanan dan mengurangi elektabilitasnya. Ia
harus berhadapan tidak hanya dengan lawan politik di Partai Republik,
tetapi juga anggota partai sendiri.
Di sinilah karakter kuat kepemimpinan seorang Obama. Dalam kondisi
terburuk sejak Great Depression ini, Obama berhasil mendorong
perubahan yang disetujui Mahkamah Agung. Kita dapat menyimpulkan
dari keputusan Mahkamah Agung itu bahwa AS di bawah kepemimpinan
Obama masih memercayai belanja publik adalah salah jalan untuk keluar
dari krisis. Obama dan publik AS tetap tidak menolak sistem ekonomi
pasar, tetapi mereka hanya berbeda di soal prioritas.
Perdebatan soal prioritas ini yang lantas menjadi konsumsi publik dan
secara tidak langsung juga menjadi pendidikan politik untuk para
pendukungnya. Dari sisi kepemimpinan, Obama memberikan pelajaran
seberapa pun buruk tekanan ekonomi dan politik yang dihadapi, seorang
presiden tidak boleh galau untuk menentukan prioritas kebijakan dan
program yang memiliki dampak untuk orang banyak.
Sementara bagi para pengusaha dan diplomat, karakter pemimpin seperti
itu penting agar keputusan yang dipersiapkan bisa berjalan dan mendapat
dukungan dari pejabat dan publik. Seseorang yang berada di pucuk
pimpinan harus menjadikan kepemimpinannya sebagai sebuah aset atau
modal bagi orang lain dan bukan menjadi masalah.
Sumber: SINDO, 04 Juli 2012
Dinna Wisnu Halaman 65

Penting Pilihan Warga


Hari ini adalah momen penting bagi warga DKI Jakarta. Hari ini digelar
penentuan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta untuk periode
kepemimpinan 2012–2017 melalui pemilihan umum secara langsung.
Proses pemilihan umum kali ini menarik untuk dicatat sebagai bagian dari
sejarah pemilihan kepala daerah (pilkada) dan sebagai bagian dari
perkembangan demokrasi di Indonesia. Bukan hanya penduduk Jakarta atau
Indonesia yang menunggu- nunggu hasilnya, negara-negara lain pun
memantau kondisi yang berkembang di sini. Mengapa? Pemilihan umum
adalah pergelaran demokrasi.
Dalam demokrasi, yang dilihat bukan semata hasil akhir siapa yang menang
dan siapa yang kalah, tetapi juga proses menuju tahap akhir penentuan
pemenang, termasuk siapa-siapa yang maju dalam pemilu tersebut. Jika
proses pilkada menorehkan kecurangan,kekerasan,atau ketidaktransparanan
dalam proses, proses pemilu di tingkat nasional pun sulit diyakini berjalan
jujur dan adil.
Council of Foreign Relations (think tank pembisik kebijakan luar negeri AS)
menegaskan bahwa pilkada adalah indikator perkembangan demokrasi yang
riil, refleksi dari kemampuan partai dan petugas pemilu di tingkat daerah
dalam menjalankan prinsip-prinsip demokrasi. Bukan rahasia bahwa
demokrasi di Indonesia sedang dipantau ketat oleh negara-negara lain di
dunia.
Pasalnya,demokrasi merupakan instrumen politik yang selama ini
dimanfaatkan oleh Indonesia untuk membangun hubungan dengan banyak
negara, termasuk untuk mengundang investasi asing,memperkuat kerangka
kerja sama regional, dan memperkuat posisi dalam diplomasi internasional.
Hasil pantauan The Fund for Peace tentang Indeks Negara Gagal beberapa
minggu lalu seperti mengukuhkan pandangan negara-negara lain bahwa
perkembangan politik domestik di Indonesia perlu dipantau dengan cermat.
Dalam sejumlah pembicaraan dengan rekan-rekan asing bahkan muncul
kecurigaan, diplomat Indonesia memang lihai dalam memberi pencitraan
positif tentang Indonesia sehingga mereka menganggap perlu untuk
memantau praktik riil demokrasi supaya keaslian wujud politik domestik
Indonesia juga tertangkap.
Dalam konteks itu,sah rasanya untuk mengingatkan, demokrasi yang sehat
adalah yang dibangun atas dasar penegakan hukum (rule of law) dan
perlindungan atas hak berpendapat, memilih, dan berasosiasi. Inilah fondasi
tata kelola pemerintah yang selama ini dicari-cari untuk membangun
kesejahteraan yang berkelanjutan bagi seluruh warga negara.
Dinna Wisnu Halaman 66

Di mata internasional, partisipasi politik dari publik yang merasa nyaman,


puas, dan terlindungi adalah jaminan bagi hubungan kerja sama yang baik
pula dengan negara-negara lain. Dalam demokrasi yang sehat, pemenang
pemilu akan punya legitimasi tinggi sehingga kerja sama dengan Negara lain
pun punya dasar legitimasi yang tinggi.
Nah,kembali pada pilkada. Selama ini, berita-berita yang berkembang tentang
pilkada belumlah yang terbaik. Kita masih ingat pada 2010 International
Crisis Group melaporkan kecenderungan kekerasan dan kurangnya
profesionalisme dalam penyelenggaraan pilkada. Dalam rekomendasinya,
disarankan, konfrontasi yang terjadi di tingkat komunitas sebenarnya dapat
dihindari dengan aturan main yang jelas, diterapkan dengan tegas, dan
melalui perbaikan manajemen pemilu oleh lembaga-lembaga negara yang
bertugas menjalankan mandat mengawal pilkada. Pada masa itu, Komisi
Pemilu Daerah dinilai kurang profesional, tidak mengantisipasi berbagai hal,
lamban, kurang transparan, bahkan berpihak dan berkecenderungan korup
sehingga menimbulkan keresahan masyarakat akan hasil akhir pilkada. Tahun
ini, catatan media tentang pilkada relatif sama.
Biaya kampanye dinilai terlalu mahal, Komisi Pemilihan Umum bahkan
dituntut oleh para calon karena merilis daftar pemilih yang bermasalah,
sementara kecenderungan politik uang dan korupsi juga memprihatinkan.
Kompas (9/5/12) merilis bahwa sedikitnya 173 kepala daerah yang dipilih
secara langsung dalam pilkada (37% dari total kepala daerah) tersangkut
kasus korupsi, mulai dari politik uang sampai penyalahgunaan dana APBD
demi mengembalikan “modal”saat kampanye.
Harapan pada Jakarta
Terlepas dari apa nanti hasil pilkada hari ini, DKI Jakarta telah memberi
harapan baru pada demokrasi di negeri ini. Sejumlah pengamat asing
memberi perhatian lebih pada pilkada di DKI Jakarta karena ada pasangan
cagub dan cawagub dari jalur independen, yaitu mereka yang tidak
dicalonkan oleh partai, melainkan naik karena pengumpulan dukungan KTP
dan dana secara swadaya. Jakarta ibarat kompas yang bisa dijadikan pijakan
politik daerah-daerah di seluruh Indonesia.
Tim Bunnel dan Michelle Ann Miller dari National University of Singapore
bahkan memandang Jakarta sebagai sumber debat politik tidak hanya di
tingkat nasional, tetapi juga global karena di sana transformasi dan politik
perkotaan menjadi pegangan dan pijakan bagi para politikus. Yang sah atau
lolos di tingkat ini berarti akan lolos juga dianggap sah di tingkat nasional.
Jalur perseorangan (jalur independen) memberikan sebuah optimisme di
kalangan pengamat Indonesia. Mereka yang semula melihat perkembangan
demokrasi secara pesimistis karena menguatnya paham-paham sektarian kini
punya alasan untuk lebih optimistis. Hal itu tampak dari pemberitaan-
pemberitaan media elektronik dan media massa di Singapura, misalnya. Jalur
Dinna Wisnu Halaman 67

perseorangan muncul sebagai fenomena yang mengisi kerangka analisis


geopolitik di ASEAN.
Meskipun jalur perseorangan sudah ada dan berhasil menguasai kursi
kekuasaan di beberapa daerah, seperti baru-baru ini menang di Kupang, fakta
itu belum memberikan dampak yang besar secara nasional. Berbeda rasanya
ketika jalur perseorangan muncul di Jakarta. Para analis hubungan
internasional yang dulu sempat pesimistis bahwa politik elektoral Indonesia
akan didominasi kekuatan yang menjual isu nasionalisme dan agama
mendapati alternatif lain di tingkat massa.
Dalam praktik berdemokrasi, kemunculan calon independen adalah hal yang
wajar, terutama bila partai-partai politik yang ada tidak memberikan rasa
keterwakilan kepada warganya. Jika di suatu negara ada apatisme pemilih
atau ada pemilih yang tidak punya kesetiaan pada partai tertentu (alias swing
voters), maka bibit calon independen pasti akan muncul. Meski demikian,
calon independen juga tidak dapat menjadi permanen karena mereka lahir
dari sebuah momentum, bukan pengorganisasian atau pembangunan jaringan
yang memerlukan waktu dan dana banyak. Contoh, tahun lalu, di Beijing,
China, puluhan orang mencoba mengajukan calon independen di luar Partai
Komunis China.
Ada sebuah momentum antibirokrasi partai yang menginspirasi orang untuk
melakukan pilihan lain dari yang tersedia. Jadi, apa pun hasilnya dari pilkada
Jakarta hari ini, ada kontribusi positif yang ditangkap oleh pihak asing atas
proses yang berlangsung. Para pendukung pihak independen menjadi
semacam bukti bahwa ada gerakan massa yang paham akan nilai-nilai
demokrasi yang sebaiknya dijaga dan dikembangkan dalam partaipartai
politik.
Ini gerakan protes yang tertata dan dalam koridor konstitusi. Secara umum
sebenarnya boleh dikatakan gerakan ini mirip dengan gerakan reformasi
mahasiswa tahun 1998. Sebuah pilihan baru dibuat oleh warga sebagai
antitesis dari pilihan-pilihan yang tersedia. Semoga memang ada alasan bagi
negara lain untuk lebih optimistis terhadap perkembangan demokrasi di
Indonesia.
Sumber: SINDO, 11 Juli 2012
Dinna Wisnu Halaman 68

Banyak Tapi Tak Berkembang


Di seluruh dunia kita menyaksikan bertambahnya tokoh-tokoh perempuan
dalam posisi-posisi tertinggi di dunia politik.Informasi dari CNN
(28/6/12),saat ini dari 179 kepala pemerintahan ada 14 posisi yang dijabat
oleh perempuan. Negara-negara yang pemerintahnya sedang dipimpin
oleh perempuan adalah Argentina, Australia, Bangladesh, Brasil, Kosta
Rika, Denmark, Jerman, Islandia, Jamaika, Liberia, Malawi, Swiss,
Thailand, serta Trinidad dan Tobago. Lima di antara mereka menjabat
juga sebagai kepala negara. Sejumlah kepala pemerintahan dan kepala
negara ini memimpin masa-masa sulit di negara dan kawasannya.
Misalnya saja Kanselir Angela Merkel yang merupakan tokoh terpandang
dalam penanganan krisis ekonomi di Eropa, Perdana Menteri Yingluck
Shinawatra yang meredakan ketegangan internal di Thailand, serta
Presiden Joyce Banda yang menyelamatkan kerusakan hubungan
internasional akibat kelalaian Presiden sebelumnya di Malawi. Untuk
posisi di kabinet, di seluruh dunia saat ini cuma 14 negara yang sama
sekali tidak punya anggota kabinet perempuan. Kebanyakan dari negara
ini adalah negara-negara kecil seperti Vanuatu atau Belize, tapi juga ada
tetangga dan negara kawan yang kita kenal seperti Singapura, Brunei
Darussalam, dan Arab Saudi.
Yang menarik adalah kabinet di Prancis di bawah pemerintahan Presiden
Francois Hollande, separuh anggota kabinetnya adalah perempuan. Untuk
posisi di parlemen, cuma 7 negara yang sama sekali tidak punya anggota
parlemen perempuan, yakni Saudi, Kuwait, Qatar, Kepulauan Solomon,
Nauro, Palau, dan Federasi Mikronesia. Rata-rata jumlah perempuan di
parlemen di dunia tahun 2011, menurut Guardian (22/6/12), adalah 19,5%,
jadi ada kenaikan 0,5% dibandingkan tahun 2010.
Dalam hubungan internasional, perkembangan ini menumbuhkan harapan
akan nuansa baru dalam hubungan antarnegara karena sejak 1950-an
sebenarnya sudah terbangun suatu jaringan global untuk mengangkat
harkat perempuan dalam politik. Naiknya politisi perempuan diharapkan
dapat menyuarakan dan mengedepankan sejumlah agenda pemerintahan
yang selama ini terbengkalai, termasuk hal-hal yang terkait dengan
pemerataan kesempatan dan hak bagi warga negara.
Dalam isu-isu sulit seperti krisis ekonomi, perang, dan ketegangan
antarnegara serta kekerasan, para politikus perempuan diharapkan punya
daya ubah dalam pendekatan solusi yang selama ini didominasi konsep
power. Kenyataannya, jalur reformasi dalam berpolitik lebih rumit
daripada logika perubahan dalam teori-teori selama ini. Meskipun jumlah
Dinna Wisnu Halaman 69

perempuan hampir sama dengan laki-laki, hanya terpaut beberapa puluh


juta orang di seluruh dunia, tak berarti bahwa ide-ide perubahan itu dapat
berkembang dengan baik.
Hal ini dialami di seluruh dunia. Pada 1990-an, diyakini oleh teori bahwa
pemenuhan critical mass (jumlah massa yang cukup untuk melakukan
perubahan) akan lebih mudah mendorong perubahan dalam cara-cara
berpolitik. Itu sebabnya berbagai kampanye merebak untuk menjamin hak
sementara menambah jumlah politisi perempuan di parlemen (dikenal
sebagai affirmative action). Sistem pemilu di berbagai negara dievaluasi
agar lebih ramah bagi perempuan, termasuk dengan dipromosikannya
sistem pemilu proporsional dengan daftar tertutup dan konsep zipper
(selang-seling antara laki-laki dan perempuan dalam daftar nominasi
caleg).
Namun, selama bertahun-tahun tidak ada tren peningkatan yang signifikan
dalam hal pemenuhan critical mass perempuan yang berpolitik. Mencari
perempuan bermutu yang mau berpolitik praktis seperti layaknya mencari
jarum di tumpukan jerami. Keluhan ini bahkan dirasakan di Amerika
Serikat. Itu sebabnya kemudian menguat keyakinan jika ada tokoh-tokoh
perempuan yang naik sebagai pimpinan eksekutif, entah itu sebagai
presiden atau perdana menteri, maka lebih banyak inspirasi bagi
perempuan untuk menjadi bagian dari perubahan politik. Kenyataannya
tidak juga.
Bahkan agenda-agenda penting yang lekat dengan pemenuhan hak bagi
warga negara seperti pemerataan hasil-hasil pembangunan, perlindungan
tenaga kerja, danperbaikan skor Millennium Development Goals
terpinggirkan oleh isu lain seperti penanganan krisis ekonomi, bahkan
perang. Di sini kita semua perlu mawas diri. Kenyataannya, sistem bisa
dipromosikan dan didorong untuk diterima, tetapi pelaksanaan dan
keberlangsungannya membutuhkan lebih dari sekadar sistem pemilu atau
terpilihnya perempuan di pucuk pimpinan.
Perlu diingat lagi perjuangan memperluas kepemimpinan politik bagi
perempuan bukan semata-mata untuk menambah jumlah politisi
perempuan atau memberi kepercayaan diri pada perempuan. Agenda lebih
besar yang diusung dalam politik gender adalah pembukaan jalan yang
lebih mulus bagi ide-ide pemerataan kesempatan dan hak bagi seluruh
warga negara, perlindungan warga negara dari berbagai bentuk kekerasan,
serta perbaikan kualitas hidup karena pengakuan akan keragaman identitas
dan preferensi sosial yang berbeda-beda.
Artinya perjuangan yang dibangun di sini membidik perubahan cara pikir
yang serba-ingin membesarkan pertumbuhan ekonomi atau berkonfrontasi
dengan yang tidak sepaham. Ketika ketimpangan sosial ekonomi meluas,
Dinna Wisnu Halaman 70

kekerasan muncul, dan keragaman identitas serta preferensi ditekan, para


perempuan yang pertama-tama akan menjadi korbannya. Mereka akan
berpusing-pusing mengelola keuangan rumah tangga, tertekan karena
menyaksikan kekerasan, dan menyaksikan anak-anak mereka tumbuh
menjadi orang yang tidak paham makna toleransi.
Tentu dapat dipahami kesadaran tersebut harus ditunjang oleh kondisi
sosial ekonomi dan, ternyata, faktor psikologis serta keberanian
perempuan juga. Sebab realitasnya di mana-mana saat ini,bahkan di
Amerika Serikat sekalipun, perempuan masih masuk dalam golongan
masyarakat yang terdiskriminasi. Dalam survei di Washington DC seperti
dirilis the National Journal (13/7/12), 50% responden mengaku mengalami
diskriminasi seksual di tempat kerjanya, bahkan di antara responden
berusia di atas 60 tahun, pengalaman itu dirasakan oleh 71% responden.
Di dunia politik, seperti diungkapkan oleh beberapa rekan perempuan
yang juga politisi di negara-negara lain, diskriminasi seksual kerap
digunakan untuk memojokkan politisi perempuan. Dan bagi publik, cerita-
cerita macam ini adalah skandal menggiurkan bagi pers. Artinya gerakan
global bagi perbaikan partisipasi perempuan dalam politik praktis bukan
sekadar mengubah sistem pemilu. Ada sistem-sistem lain yang juga perlu
menunjang seperti sistem partai politik, sistem tata kelola parlemen,
sistem rekrutmen politisi, bahkan sistem pemantauan etika politisi. Sistem-
sistem ini perlu dihidupkan oleh roh perubahan yang tadi disebutkan di
awal.
Meskipun jumlah perempuan yang berpolitik praktis ikut menentukan
nuansa politik, ide dan tujuan akhirnya bukanlah di situ.Justru harus
dipupuk sistem yang membuka pertanggungjawaban politik dari partai
maupun parlemen agar semua kalangan (termasuk perempuan) punya
kemudahan dan dukungan untuk mendorong ide-ide perubahan. Pada
akhirnya, apalah artinya politik jika bukan untuk memperbaiki kekurangan
dari sistem yang selama ini berjalan?
Sumber: SINDO, 18 Juli 2012
Dinna Wisnu Halaman 71

Belajar dari Korea Selatan


Tidak ada negara yang bisa hidup sendiri meskipun ia kaya. Dalam
membangun diperlukan keserasian antara prinsip-prinsip pertumbuhan
ekonomi dengan orientasi sosial politik dalam pergaulan global. Dialog ini
harus dibuka demi pencarian jati diri sebagai bangsa yang tidak pernah
berhenti. Contoh yang dapat kita lirik adalah Korea Selatan (Korsel). Siapa di
antara kita yang belum kenal dengan produk dan jaringan usaha dari Korsel?
Ada Lotte (perusahaan permen karet yang sekarang merupakan salah satu
perusahaan terbesar bidang makanan dan pusat perbelanjaan), Samsung,
Hyundai- KIA, LG Electronics, SK, dan lain-lain.
Dari 500 perusahaan multinasional terkaya di dunia versi majalah Fortune
(23/7/12), 13 di antaranya adalah milik Korsel dengan total nilai pendapatan
lebih dari USD703 miliar. Jumlah ini melebihi jumlah perusahaan
multinasional kaya dari Australia, Brasil, Kanada, India, Rusia, dan sejumlah
negara lain di Eropa,Asia dan Timur Tengah. Kita tahu juga kehadiran
jaringan konglomerat Korsel makin menggurita di Indonesia.
Dalam media The Hankyoreh (2/7/12) dibahas total aset 100 perusahaan
konglomerat di Korsel pada akhir tahun 2011 hampir sama nilainya dengan
seluruh aset yang dimiliki pemerintah Korsel, yakni mencapai USD1,27
triliun. Aset terbesar dipegang oleh empat grup: Samsung, Hyundai Motors,
SK, dan LG. Lotte ada di posisi kelima.
Dengan posisi ekonominya yang baik dan kuat, mereka terus bertanya
siapakah Korsel di mata dunia? Apakah Korsel dipandang dengan hormat
oleh negara-negara yang dianggapnya penting? Apakah segala perusahaan
besar yang membawa bendera Korsel ke berbagai penjuru dunia punya
kesesuaian tujuan dengan nasionalisme Korsel?
Apakah kekayaan bangsa Korsel menghadirkan rasa aman dalam pergaulan
internasional? Ketika beberapa hari lalu pengamat bidang ilmu politik dan
diplomasi dari sejumlah negara seperti Indonesia, India, Australia, Rusia,
Amerika Serikat, dan China (termasuk saya satu-satunya mewakili Indonesia)
hadir di Seoul, jawaban dari rentetan pertanyaan tersebut belum dirasa
mantap.
Sebagai suatu bangsa yang termasuk sangat homogen dari latar belakang
suku, agama maupun bahasa, Korsel merasa masih ada hal yang membuat diri
mereka belum lengkap sebagai sebuah bangsa. Mereka merasa China tumbuh
arogan dan tidak sungguh memperhitungkan Korsel sebagai negara berdaulat.
Apalagi karena selama ini China dianggap relatif masih ”merawat” Korea
Utara (Korut) yang dirasa sebagai musuh dalam selimut bagi masyarakat
Korsel.
Dinna Wisnu Halaman 72

China memang terangterangan mengecam tindakan Korsel yang menekan


para pelarian dari Korut dan berjanji akan membuka pintu lebarlebar bagi
pelarian dari Korut dan tak berminat menghukum Korut secara politik
ataupun ekonomi karena alasan tidak manusiawi.Walhasil ada ilmuwan yang
menyimpulkan China semata ingin melakukan aneksasi terhadap Korsel;
secara perlahan melakukan ekspansi ekonomi sambil mendiskreditkan pilihan
politik Korsel.
Di sisi lain, sejumlah ilmuwan melihat Korsel di mata AS hanya sebagai
bumper menghadapi ekspansi China di wilayah Asia Timur.Ada yang kecewa
kepada AS karena di belakang Korsel, AS ternyata mengirimkan utusan ke
Korut untuk menjanjikan uang tunai pada rezim Kim Jong-un bila tidak
melakukan uji coba nuklir atau gerakan lain yang akan mendiskreditkan
Presiden Barack Obama di masa pemilu ini. Mereka berpendapat kejadian itu
adalah momentum bagi Korsel untuk berani bersikap beda terhadap AS.
Meski demikian, pandangan tersebut goyah ketika terkuak bahwa Jepang
sepenuhnya loyal dan mendukung kebijakan AS. Dalam berdiplomasi, Korsel
melihat juga sikap negara tetangga di Asia Timur bila ingin bersikap tegas ke
AS. Sikap Jepang yang mendukung AS bulat-bulat baik dalam kebijakan
ekonomi, politik (termasuk untuk soal Korut) maupun militer (termasuk soal
penanganan senjata nuklir) membuat Korsel kehilangan percaya diri.
Jepang bahkan mengungkapkan kesiapannya dalam waktu kurang dari dua
bulan dapat mempersenjatai dirinya dengan nuklir yang tidak hanya dapat
membuat Korut bungkam, tetapi juga Korsel. Walhasil, tak hanya merasa
tidak dianggap, Korsel pun merasa tidak aman dalam lingkar tetangganya di
Asia Timur.
Diplomasi dalam Pembangunan
Observasi tadi meyakinkan saya bahwa pembangunan suatu negara
membutuhkan kekuatan diplomasi yang andal, yakni agar kemajuan ekonomi
yang diraih dapat diterjemahkan sebagai peningkatan rasa hormat dari
negaranegara yang kita anggap penting. Dalam pergaulan internasional,
Korsel dan bahkan Indonesia dapat dikategorikan sebagai middle power,
yakni negara-negara yang kekuatan politik, ekonomi, dan militernya berada di
tengah-tengah; tidak sebesar negara besar (major/great powers) dan tidak
sekecil negara kecil (smaller powers).
Menurut Jeffrey Robertson dari Department of Parliamentary Service di
Australia, negara berstatus middle power mengalami pergulatan kompleks
karena statusnya dalam hubungan internasional. Di satu sisi mereka
menikmati pujian karena pertumbuhan ekonominya, bahkan kerap diundang
dalam berbagai forum global yang hanya mengikutsertakan segelintir elite
dari negara-negara terpilih (misalnya G-20), tetapi di sisi lain mereka galau
karena punya tambahan tanggung jawab.
Dinna Wisnu Halaman 73

Ada peran sebagai good international citizen (warga dunia internasional yang
baik) yang dituntut dari middle power. Di sini, negara dituntut untuk punya
lingkar komitmen dan pengaruh sosial politik yang dapat dirasakan negara-
negara lain. Korsel berupaya menjadi anggota Komite Bantuan Pembangunan
dari OECD (organisasi kerja sama ekonomi dan pembangunan dari negara-
negara ekonomi maju), menjadi tuan rumah forum petinggi Aid Effectiveness
2011, dan meningkatkan komitmen dalam pemenuhan standar hak asasi
manusia.
Tapi Korsel belum punya lingkar pengaruh yang sifatnya lebih luas daripada
sekadar jaringan bisnis. Tidak ada negara lain di Asia ataupun dunia yang
bisa diklaim sebagai negara yang mendapatkan pengaruh dan inspirasi
kebijakan dari Korsel. Secara politik, Korsel juga telanjur dicap sebagai
sekutu loyal AS dan kenyataannya masih ada saja orang Korsel yang
menganggap status tersebut sebagai keniscayaan yang tak terbantahkan.
Walhasil, diplomasi yang dikembangkan Korsel selalu dikaitkan dengan
muara kepentingan AS saja.
Berbeda dengan Korsel, Indonesia justru punya lingkar pengaruh di ASEAN.
Indonesia juga ditunggu karena dulu dikenal berani bersikap beda dari
negara-negara besar. Dari analisis kawasan, Indonesia dianggap mampu
mengelola hubungan antarnegara di Asia Tenggara. Meski demikian, saat ini
Indonesia dianggap belum cukup punya kekuatan riil untuk berhadapan
dengan negara besar.
Kekuatan pasar, pertumbuhan ekonomi Indonesia dan kawasan, jumlah
penduduk yang besar perlu dilengkapi dengan terus-menerus menguatkan
identitas baik sebagai negara maupun perwakilan kawasan Asia Tenggara
yang berdaulat. Korsel memberi pelajaran, sambil memperbesar kapasitas
ekonomi, kita perlu juga menggali ideologi menghadapi situasi yang terus
berubah. Indonesia perlu lebih serius mengarahkan semua sektor usaha untuk
menuju penguatan diri yang meningkatkan respek dari bangsa lain.
Segala usaha, mikro sekalipun, harus difasilitasi agar dapat memanfaatkan
jejaring pengaruh diplomasi yang selama ini dibangun di ASEAN. Dunia
usaha Indonesia harus punya visi mendorong jati diri bangsa dan bukannya
sekadar mengekor cara berbisnis di negara lain atau bangga jika warga
Indonesia sekadar dapat pekerjaan. Kita perlu membulatkan langkah untuk
menata sektor usaha agar punya karakter dan memanfaatkan jejaring politik
yang dibangun melalui diplomasi di ASEAN.
Sumber: SINDO, 25 Juli 2012
Dinna Wisnu Halaman 74

Rem di Laut China Selatan


Ketegangan di Laut China Selatan (LCS) bukan di mulut saja. Minggu
lalu, China telah menunjuk pejabat militer untuk menjaga garnisun (pos
militer) baru di Pulau Yongxing (Woody Island) yang berada di
Kepulauan Paracel. Secara bergilir pejabat militer dan sipil ditempatkan di
pulau itu demi mempertahankan klaim China atas kedaulatan wilayahnya.
Taiwan, Vietnam, dan Filipina tak kalah galak. Presiden Filipina Benigno
Aquino III marah besar atas kegiatan China tadi. Ia mengajak parlemen
Filipina untuk teguh menjaga wilayah kedaulatan dan merencanakan untuk
membeli helikopter penyerang. Vietnam tak kalah geram, ribuan orang
berdemo menentang arogansi China di area yang mereka anggap wilayah
kekuasaan Vietnam.
Taiwan pasca terpilihnya kembali Presiden Ma Ying-Jeou menegaskan
akan pantang mundur terhadap China, apalagi melihat gelagat garis keras
yang dipilih China. Amerika Serikat yang memang bukan pemain
langsung dalam ketegangan kawasan ini sudah bersiap diri menghadapi
China; mereka menganggap konflik ini sebagai wujud berhadapannya dua
kekuatan besar dunia (yakni China dan AS) dalam hal penjagaan wilayah
kekuasaan.
Ketika sejumlah pengamat diundang dialog dengan tim dari Dewan
Pertimbangan Presiden (Wantimpres) awal Juli lalu, ketegangan di LCS
belum dianggap mendesak atau diantisipasi sebagai sumber konflik
terbuka. Alasannya yang muncul barulah sebatas ancaman-ancaman,
bahwa tidak pada tempatnya membandingkan kekuatan senjata China
dengan Vietnam, Filipina atau Taiwan dan bahwa klaim dari negara-
negara tersebut sebenarnya tidak punya dasar hukum yang kuat.
Dalam perjanjian internasional, pengaturan hak atas pengelolaan perairan
haruslah didasarkan pada pulau atau batas darat terluar. Padahal dalam
kasus LCS, yang diperebutkan lebih soal pemanfaatan perairan dan dasar
laut di bawahnya; padahal semuanya diukur dari karang-karang kecil yang
sebenarnya bisa saja tenggelam bila terjadi pemanasan global. Klaim
China pun sebenarnya tidak kuat hukum karena dibuat atas dasar sejarah
saja.
Diplomat Indonesia mengaku sengaja tidak menanggapi isu LCS dari
sudut pandang hukum karena nanti malah merendahkan kita. Namun
sudah ada kesadaran di antara para pengambil kebijakan, termasuk pelaku
diplomasi dari Kementerian Luar Negeri RI, bahwa LCS sarat muatan
politik. Ketika politik bermain, tak penting lagi ukuran-ukuran kekuatan
Dinna Wisnu Halaman 75

yang riil. Retorika saja mempan untuk meningkatkan ketegangan,


mengikis rasa percaya, dan memancing gerakan ofensif.
Logikanya, negara-negara ini akan punya rem alami, yakni konsekuensi
ekonomi yang buruk bila di kawasan perairan yang sangat strategis ini
sampai terjadi baku tembak. Namun skenario rem ini bukanlah suatu hal
yang otomatis. Bila rem ini tidak diberi ruang yang cukup dan diinjak
jauh-jauh hari, yang terjadi justru percepatan menuju konflik terbuka atau
keterlambatan untuk bertindak mencegah konflik terbuka.
Sensitivitas akan waktu, tempat, dan aktor yang bisa diajak bekerja sama
adalah halhal penting yang perlu dipahami secara utuh dalam menghadapi
konflik politis lintas negara semacam ini. Karena itu, Indonesia perlu
mengambil langkah sebagai berikut.
Pertama, memetakan faksi-faksi politik di negara masing-masing dan
kaitannya dengan dinamika politik domestiknya. Tiap faksi di tiap negara
punya agenda luar negeri dan pilihan sikap terhadap pilihan politik negara
lain. Ketika politik domestik memerlukan angin segar, maka tanggapan
dan formulasi opini publik atas ancaman eksternal menjadi potensi pilihan.
Di sini Indonesia perlu jeli membaca peta faksi-faksi politik di negara-
negara Asia. Faksi yang punya kegelisahan tinggi dan cenderung ofensif
perlu segera diajak berdialog untuk mengatur langkah sikap politik luar
negeri kita yang lebih jitu.
Perhitungan waktu dan siapa yang diajak bicara memiliki dampak politik
yang nyata. Sejumlah laporan mengatakan kelompok militer hawkish
(garis keras) sedang mencari pamor di Angkatan Bersenjata China. Bukan
cuma negara lain yang dibuat geleng-geleng kepala; bahkan para pakar
politik di negara itu pun ikut geleng-geleng karena aksi yang mereka
anggap ceroboh. Namun, China sedang berkembang pesat dalam hal
jumlah dan jenis aktor politik. Partai Komunis China tidak bisa dikatakan
satu suara lagi dalam banyak hal.
Di Taiwan, Partai Progresif Demokratik meminta Kementerian Luar
Negeri dan Dewan Pertahanan untuk menunjukkan keberaniannya
mengunjungi pulau-pulau yang disengketakan Taiwan di LCS dan
meskipun hal ini ditolak oleh Partai Kuomintang karena dianggap akan
memperpanas suasana, usulan tersebut lolos di komisi legislatif. Ini baru
gambaran kecil kondisi faksi politik yang ada. Untuk itu, para pelaku
second-track diplomacy, yakni para pengamat politik dan akademisi, perlu
diberdayakan untuk melakukan pemetaan tersebut. Di Asia Timur,
kegiatan para akademisi sudah menyatu dengan kegiatan para pelaku first-
track diplomacy. Di sini belumlah demikian.
Dinna Wisnu Halaman 76

Kedua, Indonesia dapat mengintensifkan dialog dengan negara-negara


“kecil” yang bersengketa di LCS. Saat ini Taiwan, Vietnam, dan Filipina
maju berhadapan sendiri-sendiri terhadap China. Masing-masing merasa
wajib menjaga kedaulatan wilayahnya, padahal sebenarnya yang mereka
jaga adalah gengsi masing-masing agar tidak dianggap kecil atau tiada
oleh negara-negara yang lebih “besar”.
Sementara itu, China geram karena merasa “dikeroyok”, apalagi oleh
negara-negara yang menurut mereka kecil. Kompetisi di dalam Partai
Komunis China memaksa faksi yang berkuasa sekarang untuk mengubah
sikap lunaknya menjadi keras agar dapat mempertahankan dan meraup
dukungan internal politik berkaitan dengan suksesi kepemimpinan di
dalam Partai Komunis. Di sini Indonesia perlu membuat strategi menjalin
komunikasi dengan “negara-negara kecil” agar penyelesaian LCS dapat
berjalan proporsional tanpa perlu menciptakan spekulasi politik
internasional.
Ketiga, yang terpenting adalah merumuskan sikap politik Indonesia
terhadap AS dan China. Indonesia dapat berbicara kepada kedua negara
itu tidak hanya dalam kapasitas pribadi, tetapi juga perwakilan ASEAN.
China dan AS-lah yang perlu direngkuh oleh Indonesia agar mereka lebih
“maklum” pada psikologi kedaulatan dari negara-negara kecil yang
masing-masing sedang meningkatkan kapasitas menjadi middle power.
China dan AS perlu menyadari perlunya respek pada pilihan kebijakan
luar negeri dari negara-negara yang paling kecil sekalipun.
Keempat, Indonesia perlu mengonsolidasikan diri agar layak dipandang
dunia sebagai negara yang punya kredibilitas dalam mencari solusi
nonmiliter dalam ketegangan Asia Timur. Setidaknya ada dua nilai yang
dihargai dari Indonesia, yakni perhatian pada wajah manusia-manusia
yang hak asasinya akan terenggut dalam perang serta keberanian untuk
mengatakan “tidak” pada kekuatan besar.
Dalam hal penegakan hak asasi manusia, masih ada keraguan untuk
mendengar Indonesia karena di dalam negeri pun masih banyak kritik
seputar perlindungan HAM atau diplomasi yang jauh dari kebutuhan
masyarakat awam. Sementara dalam hal keberanian berkata “tidak”,
Indonesia masih dalam posisi menunggu, padahal dalam tiap penantian,
pasti ada konsekuensi negatifnya juga.
Semoga tulisan ini membuat Indonesia lebih siap bersikap.
Sumber: SINDO, 01 Agustus 2012
Dinna Wisnu Halaman 77

Mengelola Kerentanan Konflik


Asia Tenggara dan Asia Timur adalah kawasan rentan konflik. Sejarah kelam
berupa kolonialisme, perbedaan ideologi, bahkan bentrokan berdarah yang
terjadi antarnegara di kawasan ini menciptakan “jarak” dalam hubungan kerja
sama.
Ada yang tidak mau terlalu akrab dalam berhubungan meskipun tidak ingin
terlalu “jauh”.Dalam perkembangan kompetisi ekonomi, termasuk perebutan
sumber daya alam dan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi lainnya,
muncul kekhawatiran bahwa rasa saling curiga dan keinginan ofensif adalah
naluri yang membesar di kawasan ini. Ketegangan yang disoroti dunia antara
lain konflik pengelolaan laut dan kepemilikan pulau di Laut China Selatan.
Ada juga Korea Utara yang meluncurkan uji coba nuklir, Korea Selatan yang
ingin segera menghentikan “kegilaan” Korea Utara dengan mempercepat
penyatuan Korea, China yang menembaki kapal nelayan Vietnam dan
Indonesia, peningkatan postur angkatan laut dan militer China, dan
penempatan pasukan militer AS di Darwin, Australia,untuk menjamin rasa
aman negara-negara yang berharap pada lindungan AS. Robert Kaplan, guru
besar ilmu hubungan internasional dari AS, mengatakan di Foreign Policy
bahwa masa depan konflik dunia adalah di laut di kawasan Asia.
Ia menyoroti potensi konflik besar di Laut China Selatan yang dapat menyeret
dukungan atau bentrokan antarnegara lain di luar kawasan itu. Jika tidak
ditangani dengan baik, tidak mustahil perang dunia bisa dimulai dari kawasan
ini. Paul Wolfowitz, mantan Duta Besar AS untuk Indonesia yang pernah
menjadi orang kedua di Pentagon AS, mengatakan dalam momen ulang tahun
ASEAN beberapa tahun lalu, kalau lembaga kerja sama ASEAN tidak ada,
bentrokan antarnegara di kawasan ini akan lebih mengerikan dibandingkan
ketegangan-ketegangan yang selama ini muncul.
Dalam studi hubungan internasional, konflik adalah hal yang diakui selalu
ada dalam hubungan antarnegara.Tidak semua konflik buruk dan perlu
dihindari karena ada konflik yang justru menumbuhkan perbaikan hubungan.
Misalnya saja persaingan ekonomi yang disinyalir mempertinggi kemiskinan
di negara yang “kalah” yang sebenarnya dapat diarahkan untuk memacu
munculnya kerangka kerja sama dengan mitra dari negara lain atau malah
menjadi alasan untuk membuka kerja sama ekonomi yang saling melengkapi
dengan negara pesaing.
Simon Fisher et al (2000) menggambarkan konflik itu seperti layaknya
pohon. Dalam konflik, ada penyebab-penyebab yang sifatnya laten dan
biasanya menyangkut keinginan domestik negara-negara yang bertikai. Jadi
belum tentu penyebab konflik itu dari hubungan antarnegara. Misalnya, ada
negara yang pemimpinnya ingin menunjukkan sifat tegasnya karena selama
Dinna Wisnu Halaman 78

ini ia dituding lemah, ada negara yang ingin mandiri dan punya jati diri baru,
ada negara yang sedang mencari solusi dari pembangunan ekonominya yang
tidak berimbang di dalam negeri, dan lain-lain.
Ini ibarat akar dari konflik. Penting tetapi sulit dijangkau oleh politik luar
negeri, apalagi ranah ini terhitung merupakan prerogatif negara lain yang
secara de jure dilarang untuk diintervensi. Kemudian, ada pokok konflik,
ibaratnya batang dari pohon konflik. Inilah jantung konflik yang bisa diolah
dengan cara-cara diplomatik. Misalnya, perebutan wilayah pengelolaan laut
atau keinginan untuk menguasai negara lain atau menjadi penguasa yang
berpengaruh di suatu kawasan.
Keinginan-keinginan ini yang perlu diarahkan agar tidak menimbulkan
“cabang-cabang” konflik yang meresahkan. Misalnya, jangan sampai jantung
konflik tadi menumbuhkan perlombaan (proliferasi) senjata,menantang
negara lain untuk memperkuat kemampuan senjata nuklirnya, atau memicu
negara lain untuk melakukan serangan pertama yang membahayakan
masyarakat sipil. Pada akhirnya, tiap negara seperti layaknya tubuh manusia.
Masing-masing punya mekanisme kerja yang berbeda, cara pikir dan
bereproduksi yang berbeda-beda.
Ada negara yang dipicu sedikit saja dengan mudahnya memuntahkan rasa
marah dalam bentuk agresi senjata. Sementara ada negara lain yang berulang
kali ditekan pun lebih memilih untukbernegosiasi dan berdialog. Ada faktor
ego, sejarah, bahkan kekhasan kepribadian pucuk pimpinan negara yang ikut
memengaruhi respons negara dalam menghadapi perkembangan di
sekelilingnya. Hanya ada suatu garis tipis antara menggunakan kekuatan
senjata (force) dengan menggunakan kekuatan diplomasi.
Keduanya menggarisbawahi penggunaan power untuk berhadapan dengan
“lawan”, yakni menggunakan kemampuan membuat pihak lawan menyerah
dan melakukan yang kita kehendaki. Power boleh dipupuk agar negara lain
segan kepada kita, memang demikian naluri dalam hubungan internasional.
Kepemilikan senjata membantu agar negara lain berpikir seratus kali lipat
untuk “sembarangan” pada kita.
Hanya saja, penggunaan power dalam bentuk senjata memerlukan
kebijaksanaan untuk memilah tahapan-tahapan penggunaan senjata. Robert
Art (2005) membedakan antara penggunaan senjata untuk defense
(pertahanan, pembelaan), deterrence (penangkalan, penggentaran),
compellence (memaksa agar tidak terjadi hal yang lebih buruk), dan
swaggering (menyombongkan diri/kekuatan). Jika untuk defense, tujuannya
adalah untuk menghalau serangan dan mengurangi kerusakan pada diri
sendiri jika sampai diserang; kekuatan senjata diarahkan kepada si penyerang,
bukan kepada populasi tak bersenjata.
Dalam postur defensive ini, bisa saja negara melakukan penyerangan pertama
(first strike), tetapi hanya bila kemungkinan serangannya tinggi. Dalam posisi
Dinna Wisnu Halaman 79

deterrence, power digunakan secara pasif untuk mengancam adanya


pembalasan yang lebih kejam bila sampai negara lain berani melakukan first
strike. Compellence adalah penggunaan power secara aktif melalui
pengerahan senjata, “turun” ke medan laga demi menghentikan lawan atau
mencegah lawan melakukan hal yang lebih buruk.
Compellence ini rumit karena kalau lawan salah paham, yang terjadi justru
perang terbuka yang lebih besar dan bukannya keinginan lawan untuk menahan
diri. Sementara itu swaggering biasanya dipilih oleh pemimpin negara-negara
yang mengutamakan ego pribadi dan kurang berpikir panjang. Dalam konteks
yang tepat, swaggering membuat negara lain kagum, tetapi dalam konteks yang
salah, swaggering membuat negara lain salah paham. Dalam konteks Asia
Tenggara dan Asia Timur, naluri curiga dan naluri untuk menggunakan senjata
tersebut diberi rem.
ASEAN terus mempromosikan ada cara-cara lain untuk membuat negara lain
“berubah”; ada wujud power yang tidak melulu soal senjata. Dalam penggunaan
senjata secara terbuka, ang mengemuka adalah brute force alias penggunaan
senjata secara telanjang dan kasar. Di sini yang dibidik adalah kekuatan lawan
(enemy’s strength). Padahal lebih menguntungkan bila kita mengedepankan cara-
cara mengelola kepentingan lawan (enemy’s interest) sehingga bukan adu senjata
yang menjadi risiko terburuk dari benturan yang ada.
ASEAN menjembatani ini dengan membentuk ASEAN Political Security
Community di mana anggota komunitas, termasuk juga anggota ASEAN Plus
Three (China, Jepang, dan Korea Selatan) serta para penanda tangan Treaty of
Amity and Cooperation (sudah lebih dari 25 negara, termasuk AS, Brasil,
China, India, Australia, dan baru-baru ini Uni Eropa), berjanji untuk
mengedepankan nilai dan norma bersama yang menjaga kekompakan,
perdamaian, kestabilan, dan kerja sama baik di kawasan Asia.
Dengan Piagam ASEAN, ada ruang kelembagaan yang memperkuat janji-janji
tersebut agar bisa lebih kokoh dan mengikat.Selain itu, ada deklarasi perilaku dan
sejumlah upaya membangun kesepakatan dalam tiap pertemuan tingkat menteri
maupun kepala negara untuk mengingatkan dan mencari langkah konkret yang
bisa diterima semua negara demi perdamaian di kawasan ini. Praktik ini memang
bukan praktik yang pernah ditemukan di kawasan lain di dunia. Biasanya,
ketidaksepakatan antarnegara berujung pada pembentukan aliansi atau kegiatan
kontra-intelijen yang bergerak untuk melakukan pengeroposan dari dalam. Di
sinilah tantangan besar bagi ASEAN karena mitra-mitra penandatangan kerja
sama keamanan dan politik di kawasan ini sebenarnya belum punya kerangka
pikir konsensus yang berani mengambil risiko untuk tidak mengangkat senjata
untuk menjaga kehormatan bangsanya. Kembali pada metafora “pohon konflik”
tadi, negara lain perlu diajak untuk dapat memilah konflik dan melihat risiko dari
penggunaan senjata.
Sumber: SINDO, 08 Agustus 2012
Dinna Wisnu Halaman 80

Pemimpin dan Power


Siapa pun paham menjadi pemimpin bukan tugas buat sembarang orang.
Orang bilang harus ada bakat, keahlian bicara, kemampuan
menerjemahkan visi dalam tindakan bagi anak buahnya, dan sebagainya.
Ternyata bukan hanya di budaya Indonesia, di berbagai tempat pun orang
cenderung mengagung-agungkan seorang pemimpin. Namun risikonya,
ketika terjadi error dalam jalannya suatu negara, yang dituding biang
kerok selalu pemimpin. Buat saya, membaca literatur tentang pemimpin
selalu menarik. Dari waktu ke waktu, selalu saja ada orang yang berusaha
menggambarkan sisi kepemimpinan seseorang.
Dalam kampanye menjelang pemilu, misalnya, kepemimpinan ini menjadi
komoditas politik yang begitu seksi. Seorang penulis atau konsultan bisa
dibayar miliaran rupiah untuk menunjukkan “sisi-sisi kepemimpinan”
seseorang yang ingin muncul sebagai tokoh. Ketika seorang pejabat
meninggal, bila dianggap masih “laku” bagi audiens yang masih hidup,
pasti lahirlah segala bentuk upaya memunculkan ketokohan si pejabat itu.
Segala kegiatan menjual sisi kepemimpinan ini kerap kita sebut
“pencitraan”. Ada satu buku menarik tentang seni memimpin, yakni karya
Joseph Nye, Jr berjudul The Powers to Lead (2008). Sebagai ilmuwan
senior di bidang politik dan hubungan internasional, Joseph Nye
menyajikan berbagai personifikasi tentang pemimpin dengan segala
karakternya yang luar biasa. Hal ini menunjukkan betapa dahaganya
manusia akan sosok “serbabisa” sang pemimpin.
Satu hal kritis yang disajikan Joseph Nye adalah cerita tentang
kepemimpinan Winston Churchill, tokoh dari partai Konservatif di
Inggris, pernah menjabat sebagai perdana menteri, yang kini dikenang
sebagai salah satu tokoh terhebat sepanjang sejarah abad ke-20. Bagi
orang yang hidup sekarang, Churchill yang kita kenal adalah Churchill
yang hebat. Kehebatan itu didokumentasikan dalam website yang khusus
didedikasikan untuk Churchill.
Di sana dapat ditemukan sejumlah kutipan pernyataan Churchill yang
dianggap heroik. Misalnya, “Saya akan katakan kepada House (DPR),
seperti juga saya katakan kepada siapa pun yang bergabung dengan
pemerintahan ini, bahwa saya tidak menawarkan hal lain selain darah,
kesusahpayahan, air mata, dan keringat. Kita menghadapi problem tersulit
… jika kau tanya apa kebijakan kita, saya katakan untuk melakukan
perang dengan segala keberanian, dengan segala kekuatan yang dapat
diberikan Tuhan, untuk melawan segala bentuk tirani yang tidak bisa
digambarkan kekelaman dan kekejamannya kepada manusia.”
Dinna Wisnu Halaman 81

Pidato ini disampaikannya sebagai perdana menteri pada 13 Mei 1940.


Joseph Nye mencatat bahwa pada 1936 di kubu Partai Konservatif tempat
Churchill bernaung pernah dinyatakan bahwa orang-orang di partainya
mungkin senang mendengar pidato Churchill, tetapi bukan berarti mereka
mau menjalankan saran dan ide-idenya. Nye dan sejumlah sejarawan
menyatakan Churchill tidak akan menjadi tokoh besar bila Adolf Hitler
dari Jerman tidak melakukan invasi ke Prancis pada Mei 1940.
Baik Churchill maupun Adolf Hitler dipandang sebagai tokoh transformasi
dalam Perang Dunia II karena sama-sama melakukan hal-hal yang jauh di
luar kebiasaan dan sangat berisiko pada masanya. Kebetulan keduanya
berbenturan, maka efek heroiknya lebih kental sehingga mereka berdua
menjadi pemimpin yang tidak sekadar eventful (menjadi tokoh sesaat),
melainkan transformasional (menjadi tokoh penggubah yang layak dicatat
sepanjang masa).
Kisah seperti di atas memang menggiurkan. Dunia penuh dengan cerita-
cerita kepahlawanan seperti itu. Mulai dari Lenin yang mengangkat
senjata dan memimpin Revolusi Bolsheviks di Rusia hingga Nelson
Mandela yang berjuang dari penjara di Afrika Selatan. Siapa pun yang
pernah merasakan tampuk kepemimpinan pasti punya ambisi untuk
menjadi tokoh transformasional: menelurkan gagasan-gagasan inovatif,
berani, tampil sebagai tokoh yang mendobrak kebiasaan- kebiasaan lama.
Ada ambisi untuk memiliki power. Satu hal yang tak boleh dilupakan
tentang power, yakni bahwa power bersifat relasional. Wujud power tidak
bisa dipisahkan dari penerimaan kelompok manusia lain di masa itu.
Dalam konteks hubungan internasional, power (dari pemimpin suatu
negara) harus diakui, diterima, dijunjung oleh sesama power lain (yakni
milik pemimpin negara lain) karena pada akhirnya tidak ada satu pun
power yang lebih berdaulat dibandingkan yang lain; semua negara terlepas
dari besaran penduduk atau kekuatan ekonominya adalah sama di mata
etika hubungan diplomatik. Terlebih lagi, dalam masyarakat modern saat
ini, power adalah produk kolektif kerja organisasi dan bukan semata
kewibawaan pribadi.
Di zaman kerajaan atau feodal, pengakuan kepemimpinan seseorang oleh
masyarakat dilihat dari trahnya atau garis keturunan. Model semacam itu
cocok dan lestari karena ekonominya masih self-subsistence dan tidak
bergantung dengan kerajaan lain. Ketika sistem ekonomi dunia sudah
berubah dan saling bergantung, acceptance–nya dinilai tidak hanya di satu
negara, tetapi juga di negara tetangga lainnya.
Demikian pula sebaliknya. Pemimpin seperti Hosni Mubarak (mantan
Presiden Mesir), Moamar Khadafi (tokoh Libya), Saddam Hussein
Dinna Wisnu Halaman 82

(mantan Presiden Irak), George W Bush (mantan Presiden AS), atau


Soekarno (tokoh revolusi Indonesia) adalah orang-orang yang
kontroversial pada masanya. Masing-masing mempunyai masa di mana
ide-ide mereka berhasil menggalang dukungan dari negara-negara lain.
Ketika negara-negara lain menerima kepemimpinan mereka, penokohan
mereka dalam hubungan internasional hidup terus. Ketika mereka
dianggap “kelainan” dan bagian dari cacat sejarah, maka mereka
dicampakkan dalam catatan kelam sejarah dunia. Artinya pemimpin tak
bisa mengandalkan kekuatan pribadinya sendiri dalam mengatasi masalah.
Ia hidup mengelola kontradiksi yang ada di bawah kekuasaannya.
Dalam mengelola ia perlu memiliki dan menguasai sumber dari mana
power-nya berasal. Power dapat bersumber dari pengelolaan dan
penguasaan sektor-sektor ekonomi, media, militer, atau kekuatan
organisasi politik di tengah masyarakat. Pada hubungan internasional,
power juga dapat diperoleh dari membangun koalisi atau aliansi seperti
Gerakan Non-Blok, ASEAN, Mercosur.
Menumpuk senjata dan menciptakan teknologi militer termaju adalah juga
cara yang dapat dipilih untuk membangun power di kawasan, tetapi tidak
selamanya itu berlaku ke semua negara. Negara seperti Kosta Rika,
Andora, atau Monako tidak memiliki standing army, tetapi bergantung
kepada negara lain untuk pertahanannya.
Di sinilah saya selalu terngiang pesan dari William Liddle, guru saya di
Ohio State University, bahwa pemimpin tidak hanya perlu punya virtue
(kebajikan, keluhuran budi), tetapi juga punya fortuna (peruntungan yang
bagus). Dalam politik, kedua hal ini berbenturan karena seorang pemimpin
juga diharapkan pandai menciptakan opportunity yang menguntungkan
peruntungan dirinya. Terlepas dari kontroversinya, hal ini kerap dipahami
orang sebagai peluang untuk memelintir kesempatan.
Sumber: SINDO, 15 Agustus 2012
Dinna Wisnu Halaman 83

Menyambut Pemilu AS
Pemilu adalah pesta demokrasi. Di negara penganut demokrasi terbesar
nomor dua di dunia, yakni Amerika Serikat (AS), pesta untuk menentukan
kepala negara periode 2012–2016 sudah berjalan tak kurang dari 12 bulan.
Setelah berbulan-bulan menjalani tahapan primaries (pengumpulan
dukungan bagi para calon di negara-negara bagian), rapat-rapat kaukus
partai untuk mencari kesepakatan siapa calon-calon yang akan
diunggulkan untuk tampil di Konvensi Partai, lalu digelar Konvensi Partai,
dan akhirnya pemilu. Minggu ini Partai Republik menggelar Konvensi di
Kota Tampa, Florida. Minggu depan giliran Partai Demokrat
menyelenggarakan Konvensi di Kota Charlotte, North Carolina.
Apa saja yang perlu dipahami khalayak Indonesia tentang pesta di AS itu?
Pertama, Indonesia perlu memahami bahwa kondisi ekonomi di dalam
negeri AS sedang sangat buruk, sehingga fokus masyarakat adalah melulu
terkait perbaikan ekonomi. Peter Hart dan Neil Newhouse, masing-masing
adalah konsultan strategi pemilu sekaligus presiden di dua perusahaan
polling yang mendampingi kubu partai Demokrat dan Republik,
mengungkapkan pada audiens di america di Jakarta bahwa para pemilih di
AS sangat khawatir pada perkembangan krisis ekonomi (di dalam dan di
luar negeri).
Bagi mereka, calon presiden periode mendatang harus bisa memperbaiki
kondisi ekonomi warga AS. Artinya, kesulitan ekonomi di AS adalah
komoditas politik yang menggiurkan. Bayangkan, satu iklan bertema
kekecewaan seorang ibu pada Presiden Barack Obama, dibeli seharga
USD25 juta (Rp237,7 miliar) untuk tayang di pelbagai stasiun televisi.
Menurut Paul Blumenthal dari Huffington Post, ini merupakan pembelian
iklan termahal dalam kampanye 2012. Iklan tersebut didanai oleh
kelompok nonprofit yang dimotori oleh seorang tokoh yang dikenal
beraliran sangat konservatif yakni Karl Rove. Dalam iklan itu, sang tokoh
fiksi mengaku mendukung Obama pada tahun 2008, tetapi kini beralih
mendukung Partai Republik karena kedua anak dewasanya menganggur
dan kini terpaksa tinggal serumah dengannya.
Ironisnya, jika kondisi ekonomi AS memang demikian buruknya,
mengapa terdapat dana ratusan juta dolar yang dihabiskan selama masa
kampanye? Rasio penggunaan dana adalah 2:1 untuk kampanye negatif, di
mana ratusan juta dolar dihabiskan sebagai upaya menjelek-jelekkan calon
dari kubu lain. Apa hasilnya? Sampai 10 minggu menjelang pemilu,
publik tetap tidak punya kejelasan siapa yang harus dipilih.
Dinna Wisnu Halaman 84

Jika Anda kebetulan tinggal di negara-negara bagian yang rata-rata


pemilihnya bukanlah penganut setia satu partai, misalnya di Ohio, North
Carolina, Florida, Iowa, Colorado, Virginia, maka Anda pasti dibombardir
dengan segala iklan politik hampir 24 jam sehari. Kabarnya, dengan dana
kampanye yang membengkak itu, warga sampai muak menonton TV
karena disuguhi lebih dari 40 iklan per hari, dan mayoritas merupakan
kampanye negatif.
Padahal jika negara bagian merupakan basis pendukung partai tertentu,
bisa jadi tidak ada satu pun iklan pemilu di TV Anda! Dengan intensitas
dana yang tercurah demikian besar dan waktu pemungutan suara yang
semakin dekat, partai politik justru makin diuji untuk bersikap tepat
(politically correct). Pertanyaan-pertanyaan yang menggantung di benak
para pemilih di antaranya; Siapa yang lebih bisa diandalkan untuk
memperjuangkan hak saya?
Siapa yang dianggap lebih peduli pada kebutuhan saya? Siapa yang bisa
menjadi harapan saya untuk memperbaiki kondisi AS? Bagi kita di
Indonesia, pertanyaan- pertanyaan dari pemilih di AS memiliki implikasi
yang cukup serius.Ketika ratarata warga negara melihat dengan perspektif
pesimis terhadap kondisi perekonomian, saatnya kita lebih jeli mengolah
informasi tentang ragam pilihan yang tersisa bagi kepala negara jika
terpilih nanti.
Pada tahun ini, AS diperkirakan mengalami defisit tertinggi sejak Presiden
Obama terpilih yakni sekitar USD1,3 triliun, walaupun jumlah tersebut
lebih rendah daripada masa kepemimpinan George W Bush. Selain
bermanuver dalam kebijakan moneter, tak bisa disangkal bahwa siapa pun
yang terpilih menjadi presiden pada November 2012 harus bisa menambah
pemasukan bagi anggaran negara.
Jika tidak melalui utang maka dengan menaikkan pajak. Lawrence
Summers, pakar ekonomi internasional yang juga menteri keuangan masa
Presiden Bill Clinton dan Direktur Dewan Ekonomi Nasional era Presiden
Obama (sampai November 2010), mengatakan bahwa siapa pun yang
menjadi presiden, jumlah pengeluaran pemerintah federal AS (pemerintah
pusat) pasti membengkak. Mengapa?
Besarnya jumlah penduduk AS yang menua menuntut pembayaran hak
atas jaminan sosial, jaminan kesehatan, serta bantuan kesehatan bagi yang
kurang mampu. Selain itu, karena ada prediksi bahwa nilai suku bunga
akan terus meningkat akibat krisis global, padahal utang luar negeri AS
besar, maka cadangan devisa harus diperbesar untuk mengantisipasi masa
jatuh tempo.
Dinna Wisnu Halaman 85

Tambahan lagi, jika perekonomian memburuk dan inflasi terus meningkat


maka lebih banyak masyarakat yang akan berteriak akibat krisis. Mustahil
pemerintah berdiam diri, apalagi memilih untuk menarik diri dan tidak
membantu rakyat yang membutuhkan. Artinya, terlepas dari apa pun yang
dikampanyekan kepada warganya, presiden AS yang nantinya terpilih
harus mencari akal untuk mencari sumber dana asing yang tidak berwujud
utang, tetapi berwujud dana segar atau lapangan pekerjaan.
Dalam sejarah, AS bukanlah sasaran investasi asing yang menarik. Negara
lain cenderung enggan menanamkan modal di AS. Jadi, satu-satunya jalan
adalah membuka lapangan pekerjaan sebesar-besarnya bagi warga,
sehingga ada ruang untuk menyedot dana segar bagi perekonomian AS.
Salah satu cara yang selama ini cenderung populer dipilih oleh para
pengambil kebijakan di AS adalah dengan meningkatkan tensi militer di
luar negeri, atau melakukan invasi.
Dengan ketegangan militer, ada lapangan pekerjaan yang terbuka lebar
bagi warga negara AS dan dianggap wajar oleh negara-negara lain; mulai
dari menghidupi industri perlengkapan militer sampai kegiatan
berselubung motif nonprofit ke negara-negara konflik. Kalau hal itu
dianggap terlalu berburuk sangka, kita perlu menelaah apakah presiden
terpilih berani untuk berkonfrontasi langsung dengan warga negaranya.
Misalnya dengan melakukan reformasi pajak atau pengetatan ikat
pinggang secara besar-besaran? Belum ada tanda-tanda bahwa baik
Obama dari Partai Demokrat maupun Mitt Romney dari Partai Republik
berani melakukan konfrontasi macam itu. Pasalnya, kedua partai politik
selama ini sama-sama abai dalam melakukan pembenahan hubungan
dengan konglomerat dan kalangan bisnis lainnya.
Meskipun tidak diakui, ada relasi bak patron-klien antara politisi dan
pebisnis di AS yang mengorbankan peluang penciptaan lapangan kerja
bagi warga negara. Namun, wallahualam, tidak ada yang mustahil.
Sumber: SINDO, 29 Agustus 2012
Dinna Wisnu Halaman 86

Terjepit antara AS dan China?


Satu persatu pejabat tinggi sejumlah negara bertandang ke Indonesia.
Dalam diplomasi, kunjungan pejabat tinggi setaraf menteri, perdana
menteri dan presiden menandai sejumlah kemungkinan.
Pertama, ada agenda penting yang hanya bisa disampaikan dan
dibicarakan langsung antarpejabat tinggi, entah karena kerahasiaan,
sensitivitas, ingin mengikat komitmen, atau menembus batas-batas
maupun kebuntuan yang sebelumnya sulit dilalui oleh korps diplomatik.
Kedua, karena ada kondisi kritis yang menuntut penjelasan langsung dari
pejabat tinggi.
Dalam hubungan diplomatik, kondisi kritis ditandai dengan meningkatnya
pernyataan- pernyataan bernuansa ancaman, ketegangan, dan kecurigaan
yang bila tidak ditangani dengan baik maka dapat menimbulkan salah
paham yang berujung fatal. Ketiga, karena ada kebutuhan untuk
membangun kondisi psikologis atau aura tertentu bagi pemerintah.
Biasanya kritik dari media massa atau momen pemilu kerap ditanggapi
melalui kegiatan kunjungan pejabat tinggi seperti itu.
Salah satu seri kunjungan yang menarik adalah timbal balik kunjungan
pejabat dari Amerika Serikat dan China ke Indonesia. Perdana Menteri
China Wen Jiabao mengunjungi Indonesia tiap tahun sejak 2010.Pada
2010, agenda besar yang diangkat adalah ASEAN, negosiasi ulang soal
permintaan penurunan tarif impor hingga nol bagi 228 pos kerja sama
perdagangan antarnegara, dan tentu saja peningkatan kerja sama ekonomi.
Tahun 2011 Wen datang lagi; menegaskan pada Indonesia dan ASEAN
bahwa China berniat baik untuk tumbuh bersama-sama dengan negara di
kawasan ini. Kunjungan dari China tersebut bergantian dengan kedatangan
tamu-tamu agung dari AS seperti Presiden Barack Obama dan Menteri
Luar Negeri Hillary Clinton.Karena kunjungan tersebut,kerangka kerja
sama antara Indonesia-China dan Indonesia-AS samasama diperkuat.
Wujudnya mulai urusan pendidikan, kerja sama ekonomi hingga militer.
Baik kepada China maupun AS,Indonesia sama-sama antusias menyambut
baik berbagai tawaran kerja sama yang ada. Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono bahkan menanggapi dengan melakukan kunjungan kerja ke
Beijing dan menerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Tsinghua.
Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa juga mengundang kehadiran
Menteri Luar Negeri China bulan lalu untuk menghadiri Komite Kerja
Sama antara pemerintah China-Indonesia untuk hubungan bilateral kedua
negara.
Dinna Wisnu Halaman 87

Sebagai imbal balik, Menteri Luar Negeri China Yang Jiechi mengusulkan
agar Presiden RI menemui Presiden Hu Jin Tao di sela-sela Konferensi
Tingkat Tinggi APEC di Vladivostok Rusia awal September ini. Untuk
AS, Indonesia menjanjikan kerja sama militer dan sosial politik yang lebih
kuat.Indonesia juga menanggapi positif peringatan AS akan bahaya
terorisme.
Kita masih ingat bahwa segala kegiatan saling kunjung tersebut terjadi
dalam momen di mana China dipersepsikan oleh AS sebagai ”rising star”,
bintang yang sedang bersinar, tetapi melupakan tanggung jawabnya untuk
menjaga perdamaian di kawasan. Kasus ancaman dari China kepada para
tetangga di Laut China Selatan seakan menegaskan tudingan tersebut. Di
sisi lain, China merasa label yang disematkan padanya tidaklah tepat.
China adalah negara besar yang sedang berbenah diri dan tidak berniat
buruk. Berbeda dengan AS, China memilih untuk tidak secara langsung
menuding atau mengkritik AS. China memilih untuk mendekati satu
persatu negara di kawasan Asia (terakhir hingga ke India dan Sri Lanka),
menawarkan kerja sama militer dan ekonomi serta mengucurkan dana-
dana investasi dalam jumlah yang signifikan.
Lebih dari itu, sejarah emosional dengan negara-negara tetangga di Asia
juga diangkat. Faktor kesamaan kekayaan budaya, misalnya, kerap
membuat gembira orang Indonesia yang mendengar pidato pejabat China.
Di sisi lain, pemerintah China pun menggiatkan memori masyarakat akan
keterkaitan peradaban antara Indonesia-China. Baru-baru ini ada
permintaan agar 1.000 orang dari China bisa melakukan napak tilas ke
Semarang untuk melacak perjalanan Laksamana Cheng Ho,dari perairan
sungai Banjir Kanal Barat sampai Kelenteng Sam Poo Khong.
AS tidak tinggal diam. Kubu partai Demokrat maupun Republikan sama-
sama mengutarakan pentingnya kawasan Asia dalam agenda luar negeri
AS dan betapa strategisnya peranan Indonesia di sana.Misalnya Pentagon
yang menyatakan bahwa hingga 2020, ada 60% angkatan laut AS yang
ditempatkan di kawasan Asia-Pasifik dan bahwa akan ada penempatan
sistem anti-misil nuklir yang ditempatkan di Asia Timur.
Sejauh ini sudah 2.500 personel angkatan laut AS yang ditempatkan di
kawasan ini. Bukan hanya dengan Indonesia, AS sudah menggaet India,
Taiwan dan juga negara lain di Asia Selatan untuk membangun kerja sama
militer dengannya. Jadi, tidak dapat disangkal bahwa Indonesia berada di
antara dua kubu kekuatan yang sedang berusaha mencari dukungan dan
saling membentuk persepsi. Berita baiknya adalah bahwa Indonesia
mendapat tempat istimewa di hati AS maupun China.
Dinna Wisnu Halaman 88

Catatannya adalah agar Indonesia memanfaatkan kesempatan ini untuk


menunjukkan kekuatan Indonesia untuk berpikir independen dan berani bersikap
tegas terhadap kekuatan-kekuatan yang sekadar mencari sekutu. Contoh pusaran
AS-China yang harus disikapi Indonesia adalah kasus penyelesaian konflik di
Laut China Selatan. AS tak ingin kemudahannya melakukan bisnis lewat
kawasan ini terganggu sementara China pun merasa bahwa ada kepentingannya
yang terusik bila bisnis dilakukan seperti biasanya.
Belum lagi, China punya kegeraman sendiri karena sejarah Laut China Selatan
yang menurut mereka harus kembali ke pangkuannya. Faktor sejarah dan
psikologis macam ini menuntut Indonesia agar memainkan peranan lebih aktif
untuk menegaskan kepada AS maupun China bahwa cara-cara militer, segala
wujud ancaman dan penggentaran melalui military build-up (penambahan
penempatan pasukan dan teknologi militer) di kawasan Laut China Selatan
bukanlah cara-cara yang bijak untuk mencari penyelesaian damai.
Dialog dan diplomasi dapat dengan mudah terputus jika kedua belah pihak
mengumbar pernyataan-pernyataan tajam satu terhadap yang lain. Lebih dari
pernyataan damai seperti Declaration of Conduct, secara bertahap Indonesia
perlu menorehkan sejarah baru dalam konteks pembangunan mekanisme dan
mudah-mudahan hukum internasional baru terkait pengelolaan laut bebas yang
belum masuk dalam wilayah Zona Ekonomi Eksklusif, termasuk pengelolaan
batas wilayah laut.
Dulu Indonesia adalah kontributor penting dalam penciptaan aturan batas teritori
di laut. Ini trademark Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia.Tokoh
diplomasi seperti Ir Djuanda, Mochtar Kusumaatmadja, dan Hasjim Djalal
memainkan peranan penting dan berjasa bagi negara-negara maritim dunia
karena Deklarasi Djuanda, UNCLOS, juga karena keaktifannya di International
Seabead Authority.
Kini saatnya Indonesia menghidupkan lagi keunggulan diplomasinya dalam
meredam ketegangan antara kubu-kubu kekuatan dunia, terutama yang
menyangkut diplomasi di perairan/laut. Terhadap China, Indonesia perlu
memperkuat kerangka penyelesaian masalah lewat ASEAN Plus. Ini merupakan
kerja berat karena ketegangan yang selama ini berkembang di Laut China Selatan
telah mengoyak rasa saling percaya dalam ASEAN.
Sesudah melakukan rangkaian shuttle diplomacy, Indonesia perlu mencari
instrumen baru untuk membangkitkan kepercayaan diri ASEAN ketika
berhadapan dengan China dan AS. Jangan sampai psikologis sebagai gabungan
negara yang kebanyakan terdiri dari negara kecil ini terganggu hanya karena
mulut manis ataupun ancaman negara besar. Inilah saatnya bagi Indonesia untuk
bersinar dalam dunia diplomasi.
Sumber: SINDO , 05 September 2012
Dinna Wisnu Halaman 89

China dalam Benak Kita


Artikel ini saya tulis menjelang keberangkatan saya menuju Beijing
selama beberapa hari ke depan. Seperti warga Jakarta lain, saya datang
lebih awal dari jadwal keberangkatan. Hal itu bukan karena saya
superdisiplin, tetapi selain karena khawatir terjebak macet, pesawat yang
nanti saya tumpangi ternyata full.
Walhasil, sebagai penumpang kelas ekonomi saya perlu buru-buru check-
in supaya bisa memilih lokasi duduk yang nyaman. Terlepas dari
kesibukan persiapan keberangkatan, ada rasa ingin tahu yang besar dalam
kunjungan ini. Selama ini saya banyak menulis tentang China, tetapi baru
kali ini saya mendapat kesempatan diundang langsung untuk mengunjungi
negara yang Jumat lalu baru mengumumkan dimulainya 60 proyek
infrastruktur baru dengan nilai USD157 miliar di China.
Suatu dana yang besar untuk kondisi ekonomi dunia yang sedang
melambat ini dan membuat mata uang negara tertentu naik karena
berharap kebutuhan baja yang akan meningkat. Selain itu, inilah Negeri
Tirai Bambu yang selama berabad-abad dikenal luas karena peradabannya
yang dahsyat. Lihatlah Tembok China dan kuil-kuil di sana. Belum lagi
kepercayaan, model pemerintahan, serta kulinernya.
Untuk kita di masa kini, China sangatlah penting karena pertumbuhan
ekonominya yang pesat disinyalir menyedot kekayaan ekonomi negara-
negara lain dan sikap-sikap politik para pejabatnya dianggap agresif dan
cari untung sendiri. Semua yang pernah berkunjung ke kota-kota besar di
China selalu bilang “Hebat, infrastrukturnya baru, jalan-jalannya bagus,
dan tempat belanjanya nyaman.”
Wow, mengingat bahwa negara ini harus mengurus lebih dari 1,3 miliar
jiwa penduduk dan di awal 2000-an pun dikenal karena tingkat
kemiskinan yang tinggi dan kesenjangan ekonomi yang besar antarwarga
negaranya, maka saya bersyukur dapat kesempatan menengok langsung
kondisi masyarakat di China.
Karena kunjungan saya nanti akan disambut oleh Wakil Menteri Luar
Negeri China dan dijamu oleh Duta Besar Indonesia di China, tentu ada
harapan besar bahwa pengalaman ini, khususnya dialog seputar
peningkatan kerja sama bilateral Indonesia-China, akan memberi
informasi baru kepada saya sebagai peneliti. Dalam sudut pandang
empirisisme, pengalaman adalah sumber informasi yang memperkaya
produksi ilmu pengetahuan.
Dinna Wisnu Halaman 90

Untuk membuat perjalanan saya menarik, saya bertanya kepada orang-


orang yang kebetulan saya temui tentang apa yang ingin mereka ketahui
tentang China. Ternyata pertanyaan yang muncul, antara lain, seperti apa
sebenarnya kondisi kehidupan di China? Apakah mereka hidup mewah?
Rupanya masih ada saja yang berpandangan bahwa orang-orang China,
termasuk juga keturunan China di Indonesia, selalu lebih mampu secara
ekonomi dibandingkan orang Indonesia asli.
Ada pula yang menanyakan apakah kondisi ekonomi di sana sebaik yang
diceritakan dalam puja-puji analisis ekonomi dunia? Apakah benar China
siap menjadi negara adidaya? Apakah memang menguntungkan bagi
Indonesia untuk mempererat kerja sama ekonomi dengan China? Saya
hampir yakin, pertanyaan- pertanyaan di atas akan sulit saya jawab secara
memuaskan dengan hanya satu kali kunjungan ke China, apalagi hanya ke
ibu kotanya.
Hal yang menarik bahwa meski secara formal, konstitusi mereka adalah
sosialis-komunis, tetapi kebijakan ekonominya saat ini adalah berintegrasi
dengan pasar kapitalisme internasional. Sebuah keadaan yang bertolak
belakang, misalnya, dengan Bolivia (negara di Amerika Selatan) yang
secara formal tidak menyatakan diri sosialis-komunis, tetapi membatasi
dirinya dengan ekonomi pasar.
Karena prinsip integrasinya dengan pasar kapitalis internasional, Beijing
telah mempersolek diri seperti layaknya kota-kota besar lain di dunia yang
memilih berintegrasi dengan ekonomi pasar kapitalisme. Akhir bulan lalu
perusahaan waralaba ayam goreng KFC yang sudah beroperasi di China
selama 25 tahun mengumumkan pembukaan cabangnya yang ke-300 di
Beijing. Suatu perkembangan pesat untuk perusahaan waralaba macam itu.
Tidak hanya KFC, McDonald’s juga naik daun. Lembaga riset, China
Market Research, merilis laporan bahwa menu di restoran cepat saji
McDonald’s sedang populer di China karena dianggap lebih sehat
dibandingkan makanan produksi dalam negeri. McDonald’s tentu senang
saja dan memanfaatkan ini dengan memajang foto segar buah dan sayur
sebagai bagian dari iklan produk-produknya.
Sebaliknya, di Bolivia, waralaba McDonald’s harus menutup cabang
terakhirnya setelah beberapa tahun berjuang mendapatkan pelanggan.
Alasan yang dikemukakan karena masyarakat Bolivia lebih tertarik untuk
memakan makanan rumah mereka sendiri ketimbang beli makanan siap
saji. Artinya, urusan makanan di atas meja juga adalah persoalan politik
dan ideologi.
Meski keragaman makanan di China akan mirip dengan di Indonesia,
tangan ideologi negaralah yang pada akhirnya menentukan apakah meja
Dinna Wisnu Halaman 91

makan di rumah lebih didominasi oleh produk lokal atau impor. Karena itu
saya membuat survei kecil yang saya sebarkan pada lingkar jejaring sosial
di sekeliling saya. Saya ingin tahu bagaimana persepsi orang Indonesia
yang terdidik tentang China, dan apa dasarnya mereka mengatakan itu
semua? Dalam waktu sepekan ada 36 orang yang menjawab.
Mereka adalah golongan terdidik di Indonesia, 10 orang lulusan S-1, 18
orang lulusan S- 2 dan 10 orang lulusan S-3. Ada yang kuliah di luar
negeri (15 orang), tetapi lebih banyak yang lulusan dalam negeri (24
orang). Ada yang dosen, aktivis, pengusaha, dan pegawai. Separuh dari
total responden berusia antara 35-39 tahun, sisanya merata jumlahnya
antara yang berusia 25-34 tahun dan 40-49 tahun.
Jumlah yang lumayan untuk bahan eksplorasi lebih lanjut. Ada 3 dari 10
responden tersebut ternyata menaruh China sebagai prioritas negara yang
ingin mereka kunjungi jika mereka kebetulan punya uang USD3.000.
Angka USD3.000 adalah biaya rata-rata belanja turis asing di Indonesia
ditambah dengan harga tiket pesawat. Satu dari 10 responden memberi
angka tinggi untuk Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat.
Dalam ranking, China muncul di urutan 1 dan 3 dari negara yang paling
ingin dikunjungi para responden tadi. Artinya, keinginan tahu kelompok
terdidik Indonesia tentang China cukup tinggi. Yang mereka cari adalah
jenis wisata tertentu, keragaman wisata, lalu barulah harga hemat,
popularitas tempat wisata, serta ada tidaknya kerabat di negara tujuan itu.
Jika ke China, yang pertama-tama dicari oleh mayoritas responden adalah
tempat berwarisan budaya tertentu.
Sisanya mencari lokasi di China yang punya tempat wisata alam,
merupakan kota kecil yang tenang, atau justru kota yang penuh keramaian.
Namun, rupanya pilihan berkunjung tadi belum berbanding lurus dengan
kenyamanan batin ketika menitipkan sesuatu yang berharga seperti anak.
Mayoritas responden mengaku antusias jika anaknya menerima beasiswa
untuk melanjutkan studi ke China, sisanya terbagi rata antara yang sangat
antusias dan biasa-biasa saja.
Tetapi lucunya, jika beasiswa itu dibolehkan memilih antara
menyekolahkan anak di China atau di negara lain, mayoritas responden
memilih untuk mengirimkan anak-anaknya ke negara Barat saja. Amerika
Serikat ada di posisi favorit, diikuti Jerman, Inggris, Australia. Hanya satu
atau dua orang yang memilih untuk mengirimkan anaknya bersekolah di
China; angka ini bahkan lebih rendah daripada orang yang ingin
mengirimkan anaknya ke Singapura.
Padahal, kita tahu China sempat dibanding-bandingkan dengan Amerika
Serikat karena kemampuannya mencetak jumlah lulusan doktor (level S-
Dinna Wisnu Halaman 92

3) yang sangat besar dalam waktu cepat. Sejumlah universitas di China


juga aktif mengundang mahasiswa dari negara-negara lain untuk berkuliah
ke sana atau bahkan mengundang para dosen untuk melakukan penelitian
berbayar di sana.
Apakah karena universitas di China relatif belum punya nama besar? Atau
ada faktor pertimbangan lain seperti biaya kuliah atau hambatan bahasa?
Dari survei kecil-kecilan saya tadi, ada alasan untuk mengeksplorasi lebih
dalam tentang faktor “nama besar universitas” dan “nama besar negara”
sebagai alasan mengapa sektor pendidikan di suatu negara bisa
berkembang dan diterima oleh orang tua dan calon siswa di negara-negara
lain.
Hal ini penting karena ternyata faktor harga uang sekolah/kuliah,
keterbatasan bahasa, atau kondisi keseharian di suatu negara tidak
dianggap vital dalam menentukan pilihan “menitipkan masa depan anak”.
Faktor “masa depan dunia” justru dipilih oleh 3 dari 10 responden sebagai
penentu utama pilihan mereka. Berarti cukup besar juga jumlah orang
Indonesia yang meyakini bahwa masa depan dunia tergantung juga pada
kedekatan dengan China, ya?
Apa dasar pertimbangan para terdidik Indonesia ini? Ternyata 7 dari 10
orang yang saya wawancarai itu belum pernah sekalipun menginjakkan
kaki di China. Sisanya sudah pernah, setidaknya satu kali pergi ke China.
Mereka semata mengandalkan informasi yang diterima dari media cetak
atau televisi. Wow, ternyata peranan media massa cukup kuat dalam
membentuk persepsi terhadap negara lain.
Di sini saya belum bisa menarik suatu kesimpulan solid tentang China
ataupun hubungan bilateralnya dengan Indonesia. Saat ini saya hanya bisa
berjanji untuk memberi Anda oleh-oleh informasi dan analisis yang lebih
dalam tentang China dan potensi hubungannya di masa depan dengan
Indonesia dan negara-negara kawasan. Sampai jumpa dalam tulisan
berikutnya!
Sumber: SINDO, 12 September 2012
Dinna Wisnu Halaman 93

Indonesia yang Waras


Kementerian Luar Negeri RI memberi perhatian besar pada ASEAN.
Memang itu bukan berita baru karena selama ini Indonesia adalah penjaga
perkembangan ASEAN yang setia, mengawal segala forum, skema kerja
sama, dan kelembagaannya.
Yang menarik, dalam suatu pertemuan dengan pejabat senior suatu negara
besar ada pernyataan bahwa dibandingkan dengan negara-negara ASEAN
lain, Indonesia adalah yang paling waras dan sadar. Istilah mereka: sober.
Heran juga, apa yang dimaksud dengan waras? Mengapa komentar itu
muncul? Satu komponen penting dalam diplomasi adalah rasa percaya
(trust) dan rasa yakin (confidence).
Ada banyak studi tentang diplomasi yang menyoroti tentang strategi,
lembaga, model kerja sama atau bentuk-bentuk kesepakatan, tetapi pada
akhirnya diplomasi sangat bergantung pada apa yang dirasakan, dilihat,
dan dipahami oleh orang-orang yang berangkat ke meja perundingan atau
berdialog di ruang rapat. Jadi, suasana pertemuan dan siapa yang bicara
akan ikut memengaruhi hasil dari tiap pertemuan. Namun, kita juga tahu
bahwa diplomasi mengutamakan proses. Hampir tidak ada hubungan
antarnegara yang tidak dibangun secara bertahap.
Dengan begitu, kalaupun kesan yang muncul dari suatu pertemuan
cenderung negatif, tidak akan negara itu otomatis memutus hubungan atau
mengajak perang. Memutuskan hubungan belum ada yang semena-mena,
pasti ada prosesnya. Tugas para diplomat adalah memperjuangkan
kelangsungan komunikasi antarpihak dalam pergaulan internasional itu.
Hubungan yang paling pahit sekalipun selalu diupayakan agar terhindar
dari ketiadaan kontak. Dalam konteks ASEAN, proses membangun
reputasi itu berjalan berpuluh tahun lamanya.
Apakah rasa percaya dan rasa yakin antarnegara ASEAN ini menguat?
Kejadian gagalnya negara-negara ASEAN mencapai kesepakatan joint
communiqué tentang Laut China Selatan terus dikutip oleh berbagai pihak
sebagai bukti bahwa kekompakan antarnegara ASEAN ini masih lemah.
Saya pikir pendapat seperti itu kurang tepat karena orangorang dari
negara-negara di kawasan Asia punya kebiasaan dan karakter yang
khusus. Keragaman budaya, sejarah, latar belakang antarnegara di
kawasan Asia sangatlah tinggi.
Berbeda dengan Eropa atau Amerika Latin, di mana hampir semua orang
di kawasan itu, kecuali imigran dari luar kawasan, pasti punya sejarah
keluarga yang sama atau dekat (karena terjadi perkawinan lintas batas
negara), di Asia belum tentu satu sama lain saling kenal. Bukan satu kali
Dinna Wisnu Halaman 94

saja, saya dengar orang Asia mengatakan bahwa mereka merasa lebih
akrab dan percaya terhadap orang-orang kulit putih daripada dengan
sesama orang Asia. Aneh, ya? Sebenarnya bukan ASEANnya yang
dipersalahkan, melainkan pengembangan rasa percaya dan yakin tadi yang
harus diperkuat.
Jika diamati, hampir semua negara di kawasan ASEAN merasa lebih dekat
dengan negara-negara non-ASEAN. Beberapa bahkan merasa bahwa
identitasnya lebih lekat dengan bangsa non-ASEAN. Misalnya Filipina
yang dekat dengan AS, Jepang, dan Taiwan yang bergantung pada AS
juga. Korea Selatan yang mulai ingin keluar dari pengaruh AS, tetapi
kenyataannya masih cari aman dalam kepak sayap AS. Malaysia dan
Singapura lebih sering berpikir seperti mantan penjajahnya Inggris. Ada
negara-negara IndoChina yang lebih merasa dekat dengan daratan
Tiongkok.
Cuma Indonesia yang selalu berusaha untuk tidak dianggap dekat dengan
negara mana pun. Seorang teman mengatakan bahwa inilah makna dari
”waras” tadi. Dalam satu sisi, Indonesia boleh dianggap ”waras” bagi
negara lain karena artinya Indonesia selalu berusaha berayun agar tidak
berpihak dan jangan sampai menyakiti hati bangsa lain. Tapi, apakah
kemudian Indonesia ”waras” bagi bangsanya sendiri? Kembali ke soal
perasaan saling percaya dan yakin tadi.
Pada satu titik kita akan dipaksa untuk mengambil sikap yang berpihak;
mungkin bisa diakali agar kita tidak perlu menunjukkan keberpihakan
pada negara tertentu tetapi berpihak pada model kebijakan atau perilaku
tertentu. Di Asia Pasifik, ketegasan itu berulangkali diminta oleh China
pada Indonesia. Di belakang layar, para pejabat China rajin berkunjung ke
Indonesia. Dengan pesan yang tunggal, mereka terus menyuarakan
keinginannya agar Indonesia membantu China agar dipercaya di kawasan
ini dan agar Indonesia serta negara-negara di kawasan Asia tidak termakan
mulut manis AS.
Saya dapat melihat bahwa ada sejumlah pejabat Kementerian Luar Negeri
RI yang mulai gerah dengan perkembangan ini. Fokus pada ASEAN
dirasakan kurang konkret dalam mendukung kepentingan Indonesia.
ASEAN selama ini seakan diajak oleh Indonesia untuk sama-sama
menjadi ”massa mengambang” dalam rivalitas apa pun di luar sana.
ASEAN diajak menahan diri. ASEAN diminta satu pandangan. ASEAN
diharapkan menjadi kekuatan independen yang memotori dinamika
kawasan Asia; bukan menjadi gabungan negara pengekor negara lain.
Padahal jelas-jelas negara-negara anggota di ASEAN punya
kecenderungan untuk lebih merasa selamat ketika dekat dengan patron
seperti AS, China, atau Eropa. Payahnya, negara seperti Filipina misalnya
Dinna Wisnu Halaman 95

dengan bebasnya berteriak menarik-narik AS untuk menggebuk China di


kawasan yang dilewati negara-negara ASEAN, padahal jelasjelas aturan
ASEAN menabukan hal seperti itu. Sulit untuk menyangkal bahwa
sebenarnya ada hal-hal yang bisa diperbaiki oleh Kementerian Luar
Negeri untuk menghindari rasa tidak nyaman antarnegara ASEAN tadi.
Dalam perdebatan soal pembagian anggaran di DPR misalnya,
kementerian lain bersikukuh untuk menambah anggaran belanjanya atau
setidaknya menolak pemotongan. Kementerian Luar Negeri justru
tidakmampu menyerap dana yang mereka miliki sehingga akhirnya harus
menerima pemotongan anggaran hingga 37%! Hal ini ironis karena
sebenarnya ada banyak sekali posisi duta besar, wakil duta besar, dan
berbagai jabatan penting bidang ekonomi dan politik di kantor-kantor
perwakilan di luar negeri yang kosong bertahun-tahun.
Kabarnya, ada lebih dari 30 posisi duta besar yang kosong. Tidak ada yang
menyangkal juga bahwa sejumlah besar staf di Kementerian Luar Negeri
cenderung bersifat pasif. Sejumlah duta besar di negara-negara penting
justru diduduki oleh orang-orang yang tidak asertif. Sementara di tempat-
tempat lain, ada duta besar yang asertif, memesona negara tempatnya
tinggal, tetapi tidak dilengkapi staf yang memadai sehingga akhirnya duta
besar ini lebih mirip agen negara tempatnya tinggal ketimbang pembela
kepentingan Indonesia.
Pada akhirnya jargon: ”Thousand Friends Zero Enemy (Seribu Kawan
Tanpa Musuh)” yang diulang-ulang oleh Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono tinggal jargon belaka karena segala keinginan menjadi kawan
bagi negara lain justru seperti kurang bahan bakar. Sekali lagi, diplomasi
adalah proses.
Dalam proses itu, sangat dibutuhkan individu-individu diplomat yang
andal, siaga, dan cukup dalam jumlah maupun kompetensi untuk
menjalankan visi politik luar negeri Indonesia. Jangan sampai pada suatu
titik kita dianggap pembual atau bahkan tidak waras karena hal-hal yang
sebenarnya bisa dihindari.
Sumber: SINDO, 19 September 2012
Dinna Wisnu Halaman 96

HAM Indonesia di Mata Dunia


Indonesia kembali terpilih menjadi salah satu anggota Dewan Hak Asasi
Manusia (Human Rights Council) di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Kali ini untuk periode 2011-2014. Artinya, sudah tiga kali berturut-turut
Indonesia menjabat sebagai anggota Dewan HAM PBB. Lebih hebat lagi,
Indonesia termasuk salah satu pendiri Dewan HAM tersebut. Dewan
HAM adalah lembaga antarpemerintah di PBB yang bertanggung jawab
memperkuat pemahaman dan perlindungan HAM di seluruh dunia,
menanggapi situasi-situasi pelanggaran HAM dan mengeluarkan
rekomendasi solusi.
Dewan ini terdiri dari 47 negara anggota yang dipilih melalui mekanisme
kesepakatan seluruh negara anggota Majelis Umum PBB. Dasar
pembentukannya disahkan pada 15 Maret 2006 melalui Resolusi
60/251.Cara kerjanya dengan melakukan rangkaian diskusi kelompok
(working groups) oleh perwakilan negara yang hasilnya dibawa ke negara
masing-masing, dibahas ulang,dan dikembalikan lagi dalam pembahasan
kelompok sebelum menghasilkan suatu laporan berkala yang dilengkapi
rekomendasi.
Tahun ini laporan berkala dari Dewan HAM di bulan Mei 2012 secara
khusus menyoroti praktik perlindungan HAM di Indonesia. Penilaiannya
kurang menggembirakan. Disebutkan di sana, meski Indonesia punya
komitmen dan instrumen-instrumen untuk mendorong dan melindungi
HAM,mekanisme untuk pelaksanaannya tidak memadai.Kepolisian masih
dituding melakukan pelanggaran HAM karena melakukan penyiksaan atau
tindakan kekerasan yang berlebihan.
Aktivitas politik yang damai seperti demonstrasi, termasuk oleh
pendukung HAM dan peliputan berita oleh jurnalis, justru mengalami
kriminalisasi, intimidasi, serangan fisik. Di sisi lain, mereka juga mencatat
bahwa masih ada hambatan pelaksanaan hak-hak seksual dan reproduktif
bagi perempuan. Yang tentu saja menghebohkan adalah catatan mereka
tentang lemahnya perlindungan terhadap kelompok minoritas keagamaan.
Mereka mencatat kejadian penyerangan terhadap komunitas Ahmadiyah,
perusakan dan penutupan gereja secara paksa, bahkan penolakan Wali
Kota Bogor untuk mematuhi keputusan Mahkamah Konstitusi agar
membuka kembali Gereja Kristen Taman Yasmin. Saran mereka:
Pemerintah Indonesia perlu melakukan amandemen atau mencabut aturan-
aturan perundang-undangan yang membatasi kebebasan beragama,
termasuk UU Penodaan Agama 1965, Keputusan bersama dua menteri
Dinna Wisnu Halaman 97

tentang pembangunan tempat ibadah tahun 2006 dan keputusan bersama


menteri tentang Ahmadiyah 2008.
Jawabannya, tentu saja bisa dibayangkan, Indonesia menolak rekomendasi
tersebut. Dasar penolakannya terutama karena soal kedaulatan. Selain itu,
Indonesia merasa sudah menerjemahkan prinsip-prinsip HAM dalam
aturan-aturan tersebut. Apalagi karena Mahkamah Konstitusi pernah
mengeluarkan keputusan pada 2010 bahwa UU Penodaan Agama tidak
melanggar konstitusi. Apa makna semua ini? Pertama, PBB memang
merupakan lembaga internasional tempat negara-negara untuk saling
mengingatkan satu sama lain.
Setelah rekomendasi dari Dewan HAM atau dewan-dewan anakan PBB
yang lain, negara yang diberi catatan khusus wajib menjawab. Format
penyampaiannya ditentukan. Selebihnya terserah negara tersebut. Idealnya
ada kerja sama di antara negara tersebut dan Dewan di PBB untuk
mengatur langkah memperbaiki situasi domestiknya; tetapi kalaupun
negara tersebut memutuskan untuk menyelesaikan dengan caranya sendiri,
maka PBB hanya bisa memantau dan melakukan protes lanjutan bila
hasilnya dianggap belum sesuai atau memburuk.
Kedua, pembahasan soal HAM memang membuat pusing kepala banyak
pihak. Tidak hanya Indonesia yang dibikin pusing, negara-negara lain pun
demikian. Pasalnya, sejumlah prinsip HAM memang memerlukan turunan
yang lebih konkret dalam wujud kebijakan, padahal pemaknaan filosofis
dan manajemen dari suatu prinsip bisa berbeda-beda di tiap negara.
Misalnya saja di Indonesia.
Ketika bicara soal penodaan agama atau pendirian tempat ibadah, masih
lekat di benak rata-rata pengambil keputusan bahwa jika tidak hati-hati
maka Indonesia akan chaos, akan kacau balau, kehilangan ketertiban
umum. Ada asumsi bahwa masyarakat cenderung tidak bertanggung jawab
sehingga harus dibendung dan dicegah sejak dini. Soal hak selalu
dikaitkan dengan tanggung jawab.Entah mengapa justru rasa percaya akan
kemampuan warga Indonesia menjaga toleransi tidak dipupuk, padahal
kedewasaan dalam bernegara tidak muncul dalam semalam.
Justru biasanya karena proses belajar masyarakat akan menciptakan
mekanisme damai yang langgeng. Sebagian kebiasaan ”atur mengatur” ini
memang merupakan peninggalan Orde Baru. Padahal dalam prinsip
penegakan HAM, belum tentu semakin banyak aturan justru semakin baik.
Aturan yang mengekang kebebasan individu justru dianggap melanggar
HAM. Jadi, usulan Presiden SBY agar PBB mengeluarkan protokol
tentang anti-penistaan agama sebagai pegangan negara-negara dunia
ketika mengatur tentang tindakan anti-penistaan agama adalah turunan
penegakan HAM yang belum tentu dimaknai positif.
Dinna Wisnu Halaman 98

Bagi negara lain, hal ini belum tentu bisa diterima dengan baik. Agama
tidak selalu dianggap merupakan wilayah hukum yang perlu diatur oleh
negara. Bahkan di Eropa, misalnya, politisi yang mengangkat soal agama
atau ketuhanan dalam politik justru akan kehilangan dukungan pemilih.
Lagipula, apakah definisi dari agama itu sendiri? Apa bedanya dengan
keyakinan (faith)? Biasanya interpretasi ajaran agama merupakan domain
lembaga-lembaga agama dalam satu agama; bukannya domain negara.
Ketiga, Pemerintah Indonesia sudah memilih ”merek” tertentu dalam
pergaulan internasional dan secara tidak langsung itu berarti mengikat diri
untuk punya kredibilitas dalam janji-janji yang diusung dalam ”merk”
tersebut. Istilahnya dalam dunia internasional: postur. Postur yang dipilih
Indonesia adalah sebagai ”negara demokrasi terbesar nomor tiga di
dunia”, ”negara dengan populasi penduduk muslim terbesar di dunia” dan
”penegak HAM”, serta ”jembatan dan pencari solusi”. Artinya bahwa
praktik-praktik yang dilakukan di balik terali kedaulatan negara Indonesia
pun (atau dilakukan di dalam negeri) harus rela dipantau oleh negara-
negara lain.
Mereka punya rasa ingin tahu yang besar dan itu hak mereka untuk
menilai kita.Jadi,ketika ada warga Indonesia mengeluh tentang praktik
perlindungan HAM di dalam negeri, suaranya pasti terdengar juga di luar
sana. Problemnya, di Indonesia saat ini hampir semua harus dipolitisasi.
Akibatnya terjadi ketidakpastian yang berkepanjangan dalam penyelesaian
hal-hal yang sebenarnya bisa dibuat lebih sederhana dengan aturan dan
mekanisme hukum yang jelas. Komnas HAM, misalnya, atau
komisikomisi lain penegak HAM, belum bisa sepenuhnya beroperasi
karena wibawa politiknya lemah.
Mereka masih bergantung pada dukungan segelintir elite politik. Aturan-
aturan birokrasi yang ada pun tak disadari telah mengurangi kemampuan
Komnas untuk bergerak lebih lincah dan percaya diri. Rekomendasi
mereka juga kerap dianggap angin lalu belaka. Lambat laun Indonesia
memang harus lebih sigap berbenah diri di dalam negeri. Penyelesaian
kasus-kasus HAM dan pelanggaran hak kelompok-kelompok minoritas
atau yang selama ini termarginalkan adalah suatu kewajiban. Tak mungkin
kita pasang merek penegak HAM kalau di dalam negeri sendiri
mentalitasnya belum sejalan dengan logika penegakan prinsip-prinsip
HAM.
Sumber: SINDO, 26 September 2012
Dinna Wisnu Halaman 99

Momentum Membangun Kepercayaan


Hari ini diperkirakan lebih dari 1 juta buruh yang tergabung dalam berbagai
serikat pekerja di 15 kabupaten/kota di seluruh Indonesia menyerukan mogok
nasional. Gelombang unjuk rasa pekerja ini menambah warna dalam gejolak
sosial yang terjadi pada pekan-pekan terakhir di berbagai belahan dunia mulai
dari Yunani, Inggris, India, hingga China.
Dengan fundamental ekonomi dunia yang belum pulih, juga ketidakpastian
situasi politik di Timur Tengah yang terus bergejolak, makin terasa saja
imbas tekanan ekonomi global pada kaum pekerja. Unjuk rasa yang dilakukan
serikat buruh dan pekerja ini harus dilihat dari tiga hal.Pertama, unjuk rasa ini
merupakan salah satu bentuk koreksi sosial atas kelambanan pemerintah
dalam memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Saat ini pemerintah selalu membanggakan pertumbuhan ekonomi di atas 6%
atau terbesar kedua setelah China, tetapi buruh dan pekerja yang menjadi
tulang punggung produksi ekonomi justru belum menikmati pertumbuhan
ekonomi tersebut. Selain standar upah yang rata-rata masih di bawah standar
kebutuhan hidup layak, pekerja juga masih terluntalunta akibat ketiadaan
kepastian kerja (job security).
Meskipun Undang-Undang Ketenagakerjaan mengharamkan perusahaan
untuk merekrut pekerja atas dasar kontrak yang berkepanjangan,
kenyataannya justru praktik ini umum terjadi. Dalam menyusun strategi
pertumbuhan ekonomi, pemerintah terpaku pada peningkatan jumlah
lapangan kerja dan belum pada upaya menjaga kualitas kelayakan kerja
(decent work).
Upaya melakukan formalisasi tenaga kerja,demi menarik pekerja kontrak ke
ranah pekerjaan tetap, juga belum dikerjakan secara serius. Kedua, unjuk rasa
ini perlu dimaknai oleh para investor sebagai ruang dialog dalam negara yang
demokratis. Isu utama yang diusung buruh adalah: penolakan atas
outsourcing (alih daya) dan upah murah, serta desakan agar sistem jaminan
sosial nasional segera diterapkan sesuai janji undang-undang, lengkap dengan
bantuan iuran bagi pekerja dengan upah di bawah upah minimum.
Alih daya yang ditolak buruh adalah alih daya tenaga kerja, bukan
pekerjaannya. Mereka mendesak agar para pekerja yang terpaksa bekerja di
perusahaan outsourcing, seperti di perusahaan penyalur tenaga kerja,
diperlakukan sebagai pegawai tetap di situ meskipun status mereka di
perusahaan penggunanya cuma kontrak. Dengan demikian, ketidakpastian
tunjangan dan jenjang upah mereka dapat teratasi.
Secara tidak langsung unjuk rasa ini menyodorkan konteks sosial bagi
beragam angka dan analisis statistik yang diajukan lembaga analis asing.
Dalam laporan OECD 2012 disebut, perekonomian Indonesia belum efisien,
Dinna Wisnu Halaman 100

tenaga kerjanya belum produktif, serta pajak dan pungutan bagi dunia usaha
memberatkan. Demo buruh mengajak kita semua untuk melihat tidak
efisiennya perekonomian sebagaimana digambarkan oleh analis asing amat
dirasakan imbasnya oleh pekerja yakni melalui upah murah, tanpa kepastian
kerja, ataupun jaminan sosial. Artinya, saran-saran OECD untuk perbaikan
ekonomi sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Kritik mereka mirip dengan
yang dikatakan oleh lembaga keuangan internasional lain, yang sebagian
bahkan sudah diakui oleh pemerintah Indonesia. Indonesia tentu saja perlu
“langsing” (tidak keberatan pajak ataupun aturan birokratis yang kaku), lebih
efisien (meniadakan biaya-biaya yang memberatkan, baik untuk pekerja,
pengusaha, maupun sektor usaha mikro dan kecil), dan lebih gesit (tanggap
mengantisipasi perkembangan ekonomi politik dunia).
Namun, yang tak kalah penting dari analisis macam itu adalah aspek
kebijakan sosialnya. Prinsip dari kebijakan sosial adalah menjaga keteraturan
sosial di masyarakat. Pekerja harus dilihat sebagai manusia; bukan sekadar
angka-angka. Soal pekerja, OECD mencatat standar upah minimum di
Indonesia relatif terlalu tinggi dibandingkan rata-rata upah minimum di
seluruh dunia.
Kabarnya, upah di Indonesia setara dengan 65% rata-rata upah pekerja
didunia meskipun situasinya bervariasi lintas provinsi. Hal ini disimpulkan
sebagai memberatkan pengusaha dan memperkecil insentif untuk mendorong
gerakan formalisasi pekerja, dari pekerja informal (tanpa kontrak tetap, tanpa
tunjangan sosial) menjadi pekerja formal (pegawai tetap dengan tunjangan
sosial). Analisis tersebut perlu dikritisi.
Pertama, karena di situ upah pekerja Indonesia dibandingkan dengan upah di
India, China, Brasil, Meksiko, Korea Selatan,bahkan dengan Inggris,
Amerika Serikat, dan kumpulan negara-negara maju OECD. Upah seharusnya
dibandingkan dengan standar hidup minimum di dalam negara. Upah
minimum adalah ukuran minim bagi seseorang untuk hidup layak dengan
punya cukup ruang untuk mengembangkan produktivitas diri dan anggota
keluarga yang ditanggungnya. Jadi, kalaupun dibandingkan dengan negara-
negara lain, harus ada penghitungan keseimbangan upah di masing-masing
negara dengan standar hidup minimum masing-masing.
Kedua, upah pekerja kerap dikaitkan dengan produktivitas, padahal
pendorong produktivitas terdiri atas banyak variabel. Produktivitas seseorang
bergantung upah pekerja, tingkat inflasi (yang memengaruhi harga bahan-
bahan kebutuhan pokok), ongkos transpor ke tempat kerja setiap hari, biaya
pendidikan lanjutan, kualitas transportasi umum, bahkan insentif dari
tempatnya bekerja (misalnya janji kenaikan jenjang kepangkatan,
disekolahkan lagi, dan lain-lain). Artinya, produktivitas yang rendah tidak
bisa hanya dikaitkan ke upah.Tidak etis bila upah diutak-atik atas nama
perbaikan produktivitas bila faktor-faktor lain penentu produktivitas tidak
diperbaiki.
Dinna Wisnu Halaman 101

Ketiga, insentif bagi pengusaha untuk melakukan formalisasi hubungan


dengan pekerjanya tidak hanya ditentukan oleh faktor upah pekerja. OECD
pun mengakui pengusaha perlu diberi kemudahan prosedur dalam
pembayaran pajak, kepastian hukum untuk menindak perusahaan yang
menggelapkan pajak, tingkat pajak yang masuk akal dan tanpa biaya siluman,
ketersediaan infrastruktur sehingga mereka tak perlu secara swadaya
mengeluarkan dana untuk sarana dan prasarana yang akhirnya dipakai oleh
publik juga dan sebagainya. Artinya, formalisasi hubungan pekerja
sebenarnya harus dikembalikan lagi pada hubungan yang profesional dan
efisien antara pengusaha dan pemerintah. Kalau pemerintah meminta ihwal
itu diurus oleh pekerja dan pengusaha saja, risiko gagal dalam melakukan
usaha di Indonesia yang tetap justru akan tinggi. Makanya aneh juga,
mengapa bukan faktor “risiko gagal” dalam melakukan investasi di Indonesia
atau di negara lain yang dihitung oleh para ekonom OECD, melainkan malah
upah pekerja.
Kembali ke demo pekerja. Andaikan mekanisme tripartit nasional––alias
duduk bersama antara perwakilan pekerja, pengusaha, dan pemerintah––
berjalan, tak perlu ada pengorbanan pekerja untuk turun ke jalan atau
pengusaha kehilangan waktu berproduksi. Bisa dicek, rata-rata kebijakan
publik saat ini cenderung bertele-tele pembahasannya di tataran lembaga
eksekutif, bahkan terjadi saling lempar tanggung jawab antarkementerian,
juga menguras energi dan dana ketika dibahas di DPR, dan buntutnya pekerja
dan publik hanya mendapat ruang “sosialisasi”.
Para pekerja menolak “ketinggalan kereta” seperti itu. Demonstrasi pekerja
sebenarnya perlu dimaknai positif oleh para pengusaha karena pekerja dan
pengusaha perlu mengusahakan agar penyelesaian segala sesuatu yang terkait
kelayakan hidup pekerja dan kelancaran usaha tidak semata-mata diserahkan
kepada mekanisme bipartit (alias diisolasi sebagai problem kecil di tingkat
perusahaan saja).
Soal ketidakcukupan infrastruktur misalnya atau ketidakmampuan pekerja
mengontrol waktu dan biaya untuk pergi ke tempat kerja ini tak bisa
diselesaikan di tingkat perusahaan. Demikian pula biaya pendidikan,
kesehatan, pengadaan air bersih yang lebih banyak diswastakan sehingga
upah pekerja dan dana pengusaha harus tercecer demi mendanai ini. Jadi
tidak elok bila kemudian pekerja dan pengusaha malah gontok-gontokan
karena sebenarnya hal ini karena pemerintah abai terhadap pekerjaan
rumahnya. Mari semua pihak agar lebih mawas diri melihat kegigihan para
pekerja untuk terus turun ke jalan. Mereka memberi tanda sistem yang
berjalan sekarang tidak bisa dipertahankan karena terus-menerus menekankan
solusi di tataran individu pekerja atau perusahaan. Maukah pemerintah
memanfaatkan momentum ini demi membangun kepercayaan masyarakat?
Sumber: SINDO, 03 Oktober 2012
Dinna Wisnu Halaman 102

Suriah dan Revolusi Arab


Ngeri rasanya mengamati perkembangan yang terjadi di Timur Tengah.
Arab Spring atau Revolusi Arab yang pecah pada 18 Desember 2010
memakan banyak korban jiwa. Di Suriah sampai saat ini diperkirakan
korban jiwa tewas mencapai 20.000-40.000 jiwa. Korban tewas di Libya
15.000- 30.000 jiwa,di Mesir 800 jiwa,di Tunisia 223-338 jiwa,di Bahrain
24 jiwa,di Yaman 112 jiwa,Maroko dan Oman masing-masing 6 jiwa.
Selain itu, negara-negara tetangga mereka seperti Turki dan Irak juga kena
imbasnya. Kelompok-kelompok separatis dan teroris mengambil
kesempatan dalam kesempitan hingga terjadi baku tembak yang
menewaskan ratusan orang, termasuk kaum sipil dan anak-anak.
Jika ditotal angka tertingginya, jumlah hilangnya 75.000-an jiwa adalah
angka kematian fantastis dalam waktu relatif singkat. Ironisnya, semua ini
justru membuat sesama negara Timur Tengah bertegar hati. Masing-
masing kelompok mencari pembenaran atas serangan yang mereka
lakukan. Media massa pun punya kecenderungan menengok ke ”luar”:
mencari-cari siapa negara besar yang bisa dimintai pertanggungjawaban
atas semua ini atau ditarik-tarik untuk mencari solusi.
Sudah saatnya kita semua melihat permasalahan yang terjadi di Timur
Tengah secara lebih lengkap dan objektif. Yang terjadi di Suriah dan
akhirnya merembet ke Turki adalah bahan refleksi atas kondisi umum di
Timur Tengah. Sebelumnya tak ada yang mengira Suriah bisa menjadi
tempat paling berdarah dalam konflik antar kelompok kepentingan di
Timur Tengah.Negeri berpenduduk 22 juta jiwa ini termasuk yang
berkinerja ekonomi baik; keluar dengan selamat dari krisis ekonomi global
2008, terlihat cukup stabil dari segi politik di bawah kepemimpinan dinasti
keluarga Assad.
Menurut Bassam Haddad (2010), ilmuwan tamu dari Carnegie
Endownment for International Peace di Beirut, pertumbuhan produk
domestik bruto Suriah meningkat cukup konsisten, 3,9% pada 2010 dan
4,2% pada 2011. Pendapatan negara diharapkan meningkat terus sejalan
dengan meningkatnya pemasukan dari turisme dan berjalannya kerja sama
pengembangan infrastruktur dan perdagangan dengan Turki dan Uni
Eropa,juga kerja sama AS-Suriah. Artinya negara ini punya potensi baik
untuk berkembang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan Timur
Tengah.
Ternyata itu tidak cukup sebagai dasar keberadaan negara berdaulat.
Problemnya tidak hanya di tataran domestik, tetapi juga di kawasan Timur
Tengah. Di tataran domestik, kestabilan politik yang selama ini dimiliki
Dinna Wisnu Halaman 103

Suriah ternyata semu belaka. Dasar tatanan politik yang ada adalah aturan
dalam kondisi darurat dan ketiadaan ruang untuk berbeda pendapat dengan
pihak penguasa. Caracara seperti ini memang dengan cepat menciptakan
tatanan politik, tetapi karena tidak normal, dalam jangka panjang sangat
menguras energi dan berisiko sangat tinggi bagi mereka yang
berseberangan pandangan dengan pimpinan negara.
Pintu masuk bagi Hafez al- Assad, ayah dari Presiden Suriah sekarang
Bashar al-Assad, untuk berkuasa adalah kudeta militer dan UU Darurat
serta kemampuannya menyingkirkan lawan politiknya di Partai
Baath.Hafez selalu terpilih dalam referendum tujuh tahunan, dengan
margin kemenangan selalu 99,99%. Tiap hasil referendum diumumkan,
rakyat Suriah berpesta-pora turun ke jalan mengelu-elukan Hafez yang
dijuluki ”Singa Padang Gurun”.
Padahal jumlah orang yang tersingkir dan mati karena menghalangi jalan
mulus Hafez menuju kekuasaan ada puluhan ribu jumlahnya. Ketika ia
mengganti konstitusi Suriah, menghapuskan klausul bahwa seorang
presiden Suriah wajib beragama Islam, muncul protes keras dari kalangan
Muslim yang merupakan mayoritas di Suriah. Hafez tak segan
menggunakan cara-cara represif untuk membungkam protes, termasuk
dengan menahan 40 orang pejabat Sunni yang ditudingnya berkomplot
melawannya.
Hafez akhirnya menambahkan klausul tersebut demi menyenangkan
kelompok Sunni yang merupakan mayoritas. Hafez adalah muslim
Alawite. Cara-cara keras macam ini pula yang dicontoh oleh Bashar al-
Assad. Kepemimpinan Hafez al- Assad juga ditopang oleh
kemampuannya meyakinkan pemimpin negara-negara Arab untuk
mendukung ide ”Suriah Raya” dengan aliansi politik dan militer bersama
Lebanon, Yordania, dan Palestina. Hafez menggalang kerja sama antar
negara Arab demi memperkuat gerakan anti-Israel. Cara yang diambil
Hafez sarat strategi militer, maklum ia seorang militer.
Dia tak segan-segan menambah anggaran besar untuk menambah
kapasitas militernya dan membantu mendanai bahkan mempersenjatai
kelompok-kelompok militan, bahkan oposisi di negara-negara
tetangganya, demi memperkuat posisi dan cita-citanya sebagai penguasa
negeri-negeri Arab. Cara ini makin menarik bagi Hafez setelah ternyata
Irak digempur dan dilucuti asetnya oleh AS pada 1990-an, Yordania
berdamai dengan Israel, dan YasserArafat dari PLO sepakat
menandatangani perjanjian damai dengan Israel, meskipun gerakan
Intifada kemudian kehilangan kekuasaan di wilayah yang disengketakan
Palestina dengan Israel.
Dinna Wisnu Halaman 104

Cara Hafez mendukung kelompok-kelompok militan di negara lain ditiru pula


oleh Bashar al-Assad. Kalau diperhatikan, cara-cara yang diambil oleh Hafez dan
Bashar al-Assad tidak berbeda dengan cara-cara yang digunakan oleh negara-
negara lain di kawasan Timur Tengah. Nyaris tidak ada rem untuk kegiatan
saling dukung kelompok- kelompok yang sealiran, meskipun mereka adalah
warga dari negara lain.Liga Arab yang diikuti 22 negara tidak menyentuh sumber
ketidakpastian hubungan antarnegara di sana. Liga Arab akhirnya lebih sebagai
wadah dialog kerja sama ekonomi, sosial, maupun budaya.
Urusan politik dan militer tetap mengedepankan prinsip aliansi dan kerja sama
militer dengan kelompok-kelompok yang dianggap sealiran saja. Walhasil, bisa
kita lihat sendiri, betapa rentan akhirnya kondisi Timur Tengah. Tak
mengherankan jika negara-negara Barat kemudian bisa keluar masuk sesuka hati
di kawasan ini, karena memang peluangnya terbuka lebar.
Sesama negara Timur Tengah belum tumbuh kesadaran untuk tidak saling
mengganggu stabilitas negara lain, apalagi dengan membentuk aliansi dan
dukungan finansial bagikelompokdinegaralain; dan belum ada kesadaran untuk
membangun kepercayaan satu sama lain atas dasar kesamaan sejarah sebagai
negara-negara yang garis-garis batasnya merupakan bentukan Perang Dunia II.
Saat ini, yang terpenting adalah kesadaran dari negaranegara yang masih punya
kedaulatan atas kelompok-kelompok di negaranya seperti Turki, Iran, Mesir,
Palestina, Yordania, Arab Saudi untuk menahan diri dan duduk bersama sebagai
negara-negara satu kawasan untuk membangun kesepakatan bersama. Proses
transisi apa pun yang dialami oleh satu negara hendaknya tidak diperburuk oleh
provokasi apa pun dari kelompok- kelompok di negara berdaulat ini. Segala
wujud aliansi militer dan politik hendaknya dikaji ulang dalam kerangka
mencegah berjatuhannya korban jiwa.
Jelas bahwa Turki tak akan sanggup mengatasi problem ini sendirian.
Kemampuan ekonomi mereka untuk menampung parapengungsi Suriah saja,
misalnya, sangat terbatas. Seperti tadi dijabarkan, selama ini model pengelolaan
sosial di negara-negara Arab memang sangat mengandalkan energi berwujud
kekuatan militer dan finansial dari penguasa, sehingga ketika energi itu menipis,
kekacauan tinggal menunggu waktu saja.
Maka, terlepas dari apakah Revolusi Arab itu akan mengarah pada demokratisasi
atau sebaliknya, pertama-tama semua pihak perlu menjamin agar tak lagi jatuh
korban jiwa di sana.
Sumber: SINDO, 10 Oktober 2012
Dinna Wisnu Halaman 105

Kuat Karena Mau


Belum lama ini saya berkesempatan melakukan perjalanan dinas ke
Bangkok, Thailand, selama 7 hari. Di sana saya berinteraksi dengan para
wakil masyarakat dan pejabat pemerintah dari 10 negara anggota ASEAN.
Dialog yang terjadi antarkami sangat menarik karena rupanya bahan
pembicaraan antarkami yang cukup sering muncul adalah keseharian kami
masing-masing sebagai warga negara. Kami saling membandingkan
pengalaman pribadi mulai dari musim buah yang sama, kesulitan air kala
kemarau, pembangunan pusat-pusat perbelanjaan, sampai urusan
kurangnya infrastruktur jalan yang menyebabkan kemacetan di berbagai
kota di ASEAN. Dalam ragam interaksi tersebut, ada satu hal yang tak
bisa saya mungkiri.
Ada suatu kebanggaan dari diri saya maupun kawan-kawan saya tersebut
bahwa kita semua dipersatukan dalam wadah ASEAN. Ketika kami saling
berbagi cerita tentang tantangan dan peluang di negara masing-masing
dalam melakukan reformasi, khususnya untuk menyediakan sistem
perlindungan sosial bagi seluruh warga negara. Ada perasaan nyaman
bahwa tantangan dan peluang yang serupa juga dialami negara-negara
ASEAN lain. Ada kawan-kawan untuk berbagi dan untuk saling belajar
tanpa saling berprasangka. Jika sesama warga ASEAN memang tertarik
untuk saling belajar satu sama lain dan merasa sebagai bagian dari satu
komunitas, apa jaminannya bahwa negara-negara anggota ASEAN akan
berkomitmen untuk terus bersama?
Untuk itu saya melakukan refleksi tentang keberadaan ASEAN sebagai
badan kerja sama regional. Apa yang membedakan ASEAN dari
perkumpulan serupa di belahan dunia lain? Kita pernah mendengar istilah
regionalisme, yakni kumpulan negara yang memutuskan untuk
membangun kebersamaan karena alasan kesamaan sejarah, nilai-nilai
tertentu, tujuan atau kombinasi dari hal-hal ini. Idenya bisa untuk
menciptakan identitas bersama, memperkuat kerja sama ekonomi atau
kerja sama lainnya.
Dalam regionalisme, biasanya ada sejenis proteksionisme atau
pengecualian yang menguntungkan negaranegara anggota dan secara
umum merugikan Negara-negara non-anggota. Dalam perkembangannya,
regionalisme ada yang berkembang ke arah regionalisme terbuka, yaitu
kumpulan tersebut sepakat untuk menggandeng negara non-anggota untuk
masuk dalam kerangka kerja sama mereka. Biasanya kegiatan seperti ini
sekadar strategi saja untuk menjaga akses pasar atau investasi ke negara-
negara lain yang dianggap penting.
Dinna Wisnu Halaman 106

Regionalisme bisa dikatakan alternatif untuk menghadang globalisasi


pasar yang deras. ASEAN berbeda logika sama sekali dengan
regionalisme yang umum ditemukan di muka bumi ini.Ya,negara-negara
ASEAN punya nilai-nilai, tujuan, dan mimpi bersama, tetapi sebagian
besar dari kondisi mereka (baik yang kini maupun dalam sejarah) justru
sangat bertolak belakang dan sarat kecurigaan atau pengalaman tidak
mengenakkan.
Waktu ASEAN didirikan, idenya justru belum untuk membangun identitas
bersama sebagai satu kesatuan yang solid layaknya model Uni Eropa,
melainkan untuk mengurangi dan mencegah memburuknya ketegangan
antar negara anggota. Waktu dideklarasikan di Bangkok, 8 Agustus 1967,
ASEAN cuma punya 5 anggota: Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura,
dan Thailand. Lima menteri luar negeri dari negara-negara itu sepakat
mengikat janji pertemanan, saling berupaya dan berkorban demi
terciptanya perdamaian, kebebasan, dan kesejahteraan di kawasan ini.
Sungguh, kata yang dipilih adalah pertemanan (friendship), saling
berupaya (joint efforts), dan pengorbanan (sacrifices). Para pemimpin
negara ASEAN itu sepakat untuk meredam berbagai ketegangan yang
waktu itu terjadi antara Indonesia, Filipina, dan Malaysia. Ketika ASEAN
sepakat untuk memperluas keanggotaan sampai ke negara-negara
Indochina, mereka menyadari bahwa ada benturan ideologi dan kebiasaan
dengan Negara-negara di dataran itu. Apalagi karena negara-negara di
subkawasan Mekong Raya itu dikenal sering terlibat ketegangan satu sama
lain. Sebentar damai, sebentar tegang.
Artinya bahwa ASEAN memang didirikan atas fondasi keinginan untuk
meredam ketegangan antarnegara yang saling berbagi perbatasan dan
berbeda kebiasaan di kawasan Asia Tenggara. Maka tak mengherankan,
ASEAN pertama-tama berupaya memperkuat instrumen untuk
membangun rasa saling percaya antaranggota dan negara-negara lain yang
berkepentingan terhadap negara anggota.
Pada 27 November 1971 terbentuklah ZOPFAN (Zona Perdamaian,
Kebebasan dan Netralitas) yang intinya mendeklarasikan tanggung jawab
bersama dari negaranegara anggota untuk menciptakan kestabilan di
kawasan dan menolak segala bentuk intervensi asing dalam ragam
bentuknya di kawasan ini. Ini suatu komitmen besar dan berani. Apalagi
karena ASEAN sebenarnya tidak menolak atau mengubur kemungkinan
bahwa negara-negara anggota membangun aliansi militer dengan negara
superpower.
Tapi memang ASEAN tegas menolak penggunaan aliansi tersebut di
kawasan ASEAN. Walhasil, ASEAN kemudian berupaya mengikat pula
negara-negara mitra kerja sama dari tiap negara ASEAN, yakni melalui
Dinna Wisnu Halaman 107

Traktat Pertemanan dan Kerja Sama (Treaty of Amity and Cooperation)


yang dideklarasikan di Bali tahun 1974. Ada janji di situ bahwa kalaupun
sampai terjadi pertengkaran antarnegara anggota ataupun di kawasan ini,
seluruh anggota perjanjian TAC sepakat untuk segera menyelesaikan
ketegangan dengan cara yang paling efektif dan efisien (hemat biaya).
Dengan instrumen ini, ASEAN mengikat komitmen dari negara-negara
besar seperti Amerika Serikat, India, China, Rusia, Australia, bahkan
perkumpulan kawasan lain seperti Uni Eropa. Selain itu masih ada forum
dialog soal politik keamanan bertajuk ASEAN Regional Forum (ARF)
sejak 1994. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah membangun rasa
saling percaya antaranggota dan mitra ASEAN serta menjadi forum untuk
membangun diplomasi preventif di kawasan. Lalu pada 2008, ada
komitmen juga untuk menjadikan keputusan ASEAN sebagai mengikat.
Artinya secara hukum, ASEAN kini punya kekuatan untuk membuat
anggota dan mitra kerja samanya patuh pada perjanjian. Para pengurus
ASEAN pun punya tanggung jawab untuk menegakkan akuntabilitas dan
melaporkan pencapaian konkret dari ragam kegiatan mereka. Jadi bisa
dilihat bahwa kekuatan ASEAN sebenarnya ditopang oleh 4 komitmen
besar: komitmen pertemanan atas dasar non-intervensi, komitmen
membangun rasa saling percaya satu sama lain untuk mencari
penyelesaian masalah secara efektif dan efisien, komitmen untuk
memanfaatkan ASEAN demi memperkuat kerja sama dengan anggota dan
nonanggota, serta komitmen akuntabilitas terhadap anggota.
Bagi kita orang-orang awam, ASEAN adalah tempat bernaung agar rasa
saling percaya antarnegara anggota semakin kuat. Kepercayaan orang Asia
lebih emosional ketimbang masyarakat Eropa atau Amerika. Sifat ini
adalah kelebihan dan kekurangan sekaligus. Oleh sebab itu, menjaga
kawasan di ASEAN sebetulnya lebih mudah. Selama tiap negara anggota
tidak menyinggung perasaan negara anggota lain, selama itu pula kawasan
ASEAN yang damai dapat terjaga.
Kegiatan-kegiatan yang mendorong negara-negara anggota untuk dapat
saling melihat masalah sosial/kawasan dari kacamata atau perspektif di
luar dirinya akan membantu mewujudkan emosi dan empati yang positif di
kawasan.
Sumber: SINDO, 31 Oktober 2012
Dinna Wisnu Halaman 108

Tradisi Pemilu AS
Hari ini warga negara Amerika Serikat (AS) melaksanakan pemilu
presiden. Inilah saat yang ditunggu- tunggu banyak warga AS, bukan
hanya karena hasil dari kampanye yang sudah berlangsung lebih dari 1
tahun akan diumumkan,tetapi akhirnya warga AS bisa segera kembali
hidup “normal” tanpa dihantui iklan-iklan politik dan telepon para relawan
yang meminta mereka segera datang ke bilik suara untuk memilih.
Pemilu presiden di AS memang memakan waktu sangat lama dan biaya
yang sangat besar. Masa kampanye yang intensif berlangsung biasanya 1
tahun sebelum hari pemungutan suara. Karena sistem pemilu yang
menganut prinsip first past the post (partai yang lebih dahulu mencapai
angka terbanyak dari jumlah electoral college di satu negara bagian,
mereka memenangi pemilu di situ), maka negara-negara bagian yang
mayoritas didiami loyalis partai tertentu dianggap sebagai basis dari partai
itu.
Negara bagian New York, New Mexico, Maine misalnya dikenal sebagai
basis Partai Demokrat, sementara negara bagian Utah, Georgia, Texas, dan
West Virginia dikenal sebagai basis partai Republikan. Electoral college
adalah satuan unit pilih di tiap negara bagian yang bertugas mewakili
suara masyarakat dalam pemilu. Total ada 538 electoral college di AS.
Pembagian per negara bagian sesuai dengan sebaran jumlah penduduk.
Seperti apa situasi di AS pada saat pemungutan suara berlangsung?
Pada hari pemilu biasanya tidak ada yang terlalu istimewa. Hari pemilu
selalu jatuh pada Selasa pertama di bulan November, paling cepat tanggal
2 November dan paling lambat 8 November tiap empat tahun. Hari
pemungutan suara ditetapkan pemerintah sebagai hari libur.Waktu
berjalan sangat cepat pada saat-saat pemungutan suara. Umumnya telepon
berdering-dering mengingatkan masyarakat untuk ke bilik suara.Ada
relawan yang bolakbalik menjemputwargatertentu ke lokasi pemungutan
suara. Masyarakat terpaku di depan TV untuk memantau hasil
penghitungan cepat (quick count).
Yang menarik sebenarnya adalah masa-masa menjelang hari pemungutan
suara. Ada gairah dan semangat besar untuk mengikuti tiap gerak-gerik
capres dan cawapres. Tidak ada satu pun kegiatan yang luput dari
perhatian massa. Warga bahkan membangun inisiatif berkumpul sambil
makan-makan atau pesta barbeque untuk menggalang dukungan dan
membahas posisi terkini para capres dan cawapres. Para aktivis partai
politik aktif menanggapi perkembangan kelompok- kelompok macam itu,
yang biasanya diliput media massa.
Dinna Wisnu Halaman 109

Paling seru adalah kalau Anda tinggal di wilayah swing states, yakni
negara bagian yang secara tradisi mayoritas warganya bisa berpindah
loyalitas dari partai satu ke lainnya disaat-saat akhir menjelang
pemungutan suara. Biasanya hal ini terjadi karena beda tipis saja antara
jumlah pendukung Partai Demokrat dan Republikan. Negara bagian yang
dikenal sebagai swing states adalah Ohio, Florida,Virginia, North
Carolina, Pennsylvania, Wisconsin, Michigan, Nevada, New Hampshire,
dan Colorado. Negara-negara bagian swing ini adalah penentu hasil
pemilu (battle ground states).
Karena nasib calon presiden tergantung dari negara-negara bagian ini,
mayoritas dana dan waktu pemilu akan dicurahkan di tempat-tempat ini.
Analis media kampanye Kantor Media sebagaimana dikutip Washington
Post (28/10) mencatat bahwa sejak April 2012 ada 187.000 kali iklan
politik yang diputar di Ohio, seharga hampir USD120 juta, artinya bahwa
orang harus sabar mendengarkan 779 iklan per hari.TV, radio, bah-kan
telepon tak hentihenti memutar iklan kampanye.
Jumlah ini jelas jauh lebih banyak daripada masa-masa saya tinggal di
Ohio, padahal dulu pun rasanya sudah ter-lalu banyak iklan politik yang
harus saya tonton atau dengar setiap hari. Kali ini negara bagian yang
sangat disorot sebagai penentu kemenangan capres adalah Ohio dan
Florida. Bayangkan suasananya tinggal di negara-negara bagianitu. Dari
pengalaman,karena meluapnya perhatian politisi kepada negara bagian
swing, masyarakat setempat malah cenderung enggan untuk sering-sering
menonton TV. Mereka juga malas mengangkat telepon karena biasanya
“diabsen” oleh para relawan tentang siapa yang akan kita pilih dan
diceramahi kalau pilihan kita belum sejalur dengan pilihan mereka.
Suasana psikologisnya sama seperti ketika di Indonesia,Anda harus
menerima telepon dari orang yang menawarkan kartu kredit. Kalau radio,
kita terpaksa mendengarkan karena haus hiburan juga.Tapi yang paling
menarik adalah forum-forum diskusi masyarakat tadi. Khusus tentang
suasana di Ohio, karena saya pernah tinggal di sana 6 tahun,suasananya
memang sangat mendebarkan. Di kota besar seperti Columbus yang mana
mayoritas penduduknya adalah kelas menengah terdidik dan mahasiswa
dari The Ohio State University, perbincangan di kafe dan wilayah kampus
sangat kaya perdebatan.
Kelompok pendukung Partai Demokrat maupun Republikan relatif sama
kuatnya. Tapi sedikit keluar ke arah pegunungan Apalachia di mana ada
Ohio University dan ke arah Timur Laut ada Kota Cleveland yang banyak
pabrik manufaktur, dukungan masyarakat condong ke arah Partai
Demokrat.Ke arah Barat Laut, yakni Toledo dan Defiance, mayoritas
condong ke Republikan. Karena peta politik yang demikian terbelah, kalau
Dinna Wisnu Halaman 110

mau melihat para capres dan cawapres dari dekat, rajin-rajinlah ikut
kegiatan pemilu di Ohio. Tahun ini, Romney telah mengadakan 27 acara
di Ohio, total 12 hari di sana.
Cawapres-nya, Paul Ryan, mengadakan 19 acara dalam 12 hari. Sementara
itu Presiden Obama dan Wapres Biden sudah membuat masing-masing 10
acara dalam 6 hari kunjungan. Hasilnya,sampai 2 hari yang lalu posisi
Republikan dan Demokrat sama kuat. Kalau sudah begini, para relawan
makin giat mendorong orang untuk segera ke bilik suara sebelum the D-
Day, apalagi kalau suara mereka menguntungkan kubu masingmasing. Di
AS, dimungkinkan adanya pemungutan suara dini (early voting)
khususnya bagi warga negara AS yang tinggal di luar negeri, termasuk
personel militer.
Sejumlah negara bagian bahkan mengizinkan surat suara dikirimkan lewat
pos (biasanya di negara bagian yang penduduknya tinggal jauh dari kota-
kota besar) seperti Oregon dan Washington. Ada banyak cara untuk
memprediksi siapa yang akan keluar sebagai pemenang dalam
pemilu.Tapi kalau kita merasakan sendiri suasana pemilu di sana, biasanya
kita cukup punya firasat siapa yang akan tampil sebagai pemenang.
Khususnya ketika kita berkesempatan bertatap muka dengan capres dan
cawapres.
Contohnya pada Pemilu 2004 ketika Presiden George Walker Bush
ditantang Senator John Kerry. Waktu itu ada rasa kurang senang kepada
Presiden Bush yang berkembang, terutama karena Presiden Bush dianggap
kurang bijaksana dan serampangan dalam memerangi Irak dan
Afghanistan, khususnya karena mengirimkan para pemuda AS ke medan
perang yang brutal tanpa hasil yang jelas bagi penciptaan rasa damai di
AS. Kebanyakan analisis mengarah pada Bush sebagai underdog (tokoh
yang tidak populis).
Namun ketika debat capres digelar, lebih-lebih lagi ketika warga
berkesempatan untuk menyaksikan sendiri bagaimana Bush dan Kerry
berdialog dengan pemilih, nyaris tak ada keraguan bahwa Bush lebih
punya karisma sebagai capres daripada Kerry. Ada kepercayaan diri dan
kemantapan mengambil keputusan dalam diri Bush yang membuat pemilih
di negara bagian swingseperti Ohio berbondong-bondong memilih Bush.
Kebetulan sekali momen yang dibangun Bush juga tepat: ia membuat
gerakan “pita kuning” yang disematkan di banyak pohon dan tiang-tiang
listrik sebagai penghormatan kepada personel militer AS yang
ditempatkan di Timur Tengah.
Justru muncul kebanggaan bahwa anggota keluarga dan kawankawan
mereka sesama warga AS bisa ambil bagian dalam misi penting di Timur
Tengah. Waktu Pemilu 2008,karisma yang lebih besar terpancar dari
Dinna Wisnu Halaman 111

Presiden Obama dibandingkan dari Senator John McCain. Obama bisa


membalikkan wacana publik pada agenda penyatuan pandangan
orangorang AS untuk tidak terus berseberangan dalam pengambilan
kebijakan publik,apalagi karena ancaman krisis ekonomi begitu nyata di
depan mata.
Upaya McCain membangun semangat patriotisme kalah dengan itu semua
karena masyarakat justru sedang menyadari bahwa kantong mereka
terancam kosong. Ternyata memang Obama yang memenangi pemilu.
Dalam Pemilu 2012,karisma yang lebih besar dapat dirasakan memancar
dari Presiden Barack Obama.Mungkin ia tak sepopuler dulu, tetapi momen
masih terlihat berpihak kepada Obama.Misalnya bencana alam Sandy
yang menyapu negaranegara pantai Timur memberi kesempatan kepada
Obama untuk menampilkan kecekatan pemerintah federal dalam
memberikan dukungan materiil maupun moril bagi para korban.
Sosok Romney yang memesona dalam hal kelihaian mengelola aset
keuangan kelihatan kalah pamor mengingat bahwa ternyata beliau kurang
fasih dalam hal pengelolaan politik internasional. Pembawaan diri Obama
yang tenang dan mantap kelihatannya akan menjadi pegangan bagi warga
AS untuk melalui masa-masa sulit saat ini. Tapi, tentu saja hanya Tuhan
yang tahu hasil akhirnya. Kita lihat saja hasilnya.
Sumber: SINDO, 07 November 2012
Dinna Wisnu Halaman 112

Memanfaatkan Faktor Obama


Selamat Presiden Barack Obama. Dalam 49 hari, Anda harus selesaikan
problem defisit fiskal 600 miliar dollar atau Amerika Serikat akan ambruk
lagi dalam resesi”. Demikian tulis John Schoen dalam NBC News segera
setelah pengumuman kemenangan Obama atas Mitt Romney.
Partai Komunis China mengirim ucapan selamat, tetapi di sisi lain muncul
pernyataan bahwa siapa pun pemimpin di AS tetap harus tahu bahwa
China sudah menentukan pilihan untuk bergeming atas desakan-desakan
AS. Para komentator dari China menegaskan, suka atau tidak, AS harus
bisa menerima kehadiran China sebagai kekuatan adidaya baru di dunia.
Di Timur Tengah, para pengamat dari Iran lebih banyak prihatin. Iran
bersiap untuk menghadapi Obama yang lebih tegas, tetapi tidak melihat
alasan bagi Iran untuk duduk dalam meja perundingan dengan AS terkait
apa pun. Reaksi-reaksi di atas menggambarkan beratnya tugas Presiden
Obama. Dengan segala tekanan yang demikian besar, apa posisi yang akan
diajukan Indonesia kepada AS?
Indonesia-AS
Melalui payung kerja sama bilateral Indonesia-AS, The US-Indonesia
Comprehensive Partnership, sudah tergaris sejumlah program kemitraan.
Misalnya, dalam hal investasi di bidang infrastruktur, AS sudah berjanji
mengucurkan dana maksimal 5 miliar dollar AS, termasuk untuk 13 sektor
di Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia
(MP3EI) dan pembangunan empat pabrik etanol kerja sama Pertamina dan
Cenalese Corporation.
Ada juga 5 juta dollar AS untuk kemitraan di bidang pendidikan, lengkap
dengan rangkaian rencana untuk menyentuh 32 lembaga pendidikan di
Indonesia. Juga pembangunan pusat perubahan iklim dan proyek-proyek
pengembangan energi terbarukan. Tahun lalu dan awal tahun ini, AS
sudah mendanai berbagai kunjungan pejabat Indonesia untuk
pengembangan kemitraan perdagangan dan kewirausahaan. Artinya, jalur
kerja sama Indonesia-AS sudah terbangun dan dibayar uang mukanya.
Pertanyaannya, apakah semua ini semata proyek di mata pejabat negara
kita? Apakah ada nilai tambah yang bisa diinjeksi sehingga proyek-proyek
itu menguntungkan Indonesia? Kepentingan Indonesia dan AS jelas
berbeda. Indonesia dalam 5-10 tahun ini punya tugas membenahi segala
sistem aturan, pengawasan dan jejaring kemitraan antara ragam instansi
pemerintah (pusat ataupun daerah) dan lembaga-lembaga pendidikan serta
kemasyarakatan. Tentu bukan sekadar untuk beres-beres, Indonesia
Dinna Wisnu Halaman 113

berkepentingan untuk melicinkan jalan menuju pemantapan status negeri


ini sebagai negara besar yang mantap demokrasinya, damai, dan sejahtera
masyarakatnya.
Kalau kemitraan dengan AS cuma jadi proyek belaka, ini pemborosan
peluang. Tidak sekali dalam 100 tahun muncul peluang kemitraan yang
demikian lengkap dan saling berkaitan. Bayangkan potensinya jika
berbarengan dengan kemitraan itu pemerintah mengucurkan dana dan
perhatian juga untuk mengembangkan energi terbarukan. Juga mengatur
koordinasi dengan aktor-aktor di dalam negeri dengan segala ketegasan
dan kejelasan arah.
Tak hanya problem pembengkakan subsidi BBM bisa diatasi secara
bertahap, akan terjadi pula proses transfer pengetahuan yang melibatkan
banyak pihak. Uni Eropa dan sejumlah negara di Amerika Selatan niscaya
akan lebih tertarik untuk ikut berinvestasi di Indonesia. Mereka sudah
menjajakan berbagai ”dagangan” teknologi terbarukan ke Tanah Air,
tetapi masih kesulitan merealiasikan ide-idenya.
Jika pemerintah membenahi sistem kemitraan tripartit antara asosiasi
pengusaha, serikat pekerja, dan pemerintah sambil memperluas jejaring
kerja sama perdagangan, investasi, dan industrialisasi dengan AS serta
negara-negara lain yang disegani AS, secara bertahap para pekerja dan
sektor usaha Indonesia disiapkan untuk bertransformasi jadi sayap-sayap
usaha yang tangguh.
Jika pemerintah tidak mengedepankan politik dalam penentuan upah dan
produktivitas buruh serta perusahaan, dan lebih serius menerapkan serta
memantau ukuran-ukuran ekonomi di situ, pupus pula segala kecaman
antara Apindo dan serikat buruh yang selama ini sering dijadikan alasan
bagi perusahaan asing untuk lebih menekan Indonesia. Bukankah Duta
Besar AS mengakui bahwa pada dasarnya pengusaha AS betah beroperasi
di Indonesia.
Menjadi mitra artinya menjadi kawan yang sejajar. Berarti Indonesia tidak
boleh cuma menadahkan tangan dalam kerja sama dengan AS. Jangan
lupa, AS sedang membutuhkan dukungan Indonesia untuk memuluskan
agenda-agendanya di Asia. Kalau Indonesia berkomitmen menegakkan
politik luar negeri yang bebas aktif, ruang pandang Indonesia harus luas
dan jauh. Contohnya dalam konteks ASEAN. Kalau Indonesia mau dan ini
terbukti sudah terlaksana, perdagangan antarnegara di kawasan ASEAN
dapat diintensifkan. Keuntungannya bisa dirasakan sekarang, Indonesia
tidak lagi terlalu bergantung pada surplus perdagangan dengan China,
Jepang, atau AS. Meskipun perekonomian AS dan Uni Eropa seret, kita
masih bisa menggenjot pertumbuhan.
Dinna Wisnu Halaman 114

Harus Cekatan
Ke depan kita harus siap dengan konsekuensi pilihan AS dan negara-
negara tetangga. Misalnya di ASEAN, program lumbung bersama belum
menunjukkan kemajuan berarti, proteksi produk pertanian makin tinggi,
padahal perubahan iklim dan kebijakan pertanian setiap negara jelas
mengikis stok pangan dan menimbulkan inflasi harga pangan. Dalam hal
energi fosil, jelas Indonesia harus berani menegosiasikan ulang dengan
cara yang elegan berbagai skema penjualan gas, batubara, dan minyak
bumi karena kebutuhan domestik jelas harus meningkat untuk revitalisasi
industri. Di bidang manufaktur, karena Obama akan ”menghukum”
perusahaan AS yang mengekspor pekerjaan ke luar negeri, maka kita
harus siap jika terjadi relokasi dari perusahaan besar, seperti Nike dan
Adidas. Soal ketenagakerjaan kita pun perlu mengantisipasi migrasi
pekerja dari negara lain.
Waktu terus berganti dan pergantian itu bergulir dengan makin cepat. Kita
melihat sendiri bahwa semakin maju demokrasi, makin tinggi pula
harapan masyarakat pada pemimpinnya dan semakin pendek jangka waktu
yang diberikan untuk membenahi kemelut yang dialami masyarakat.
Beragam urusan mikro di tataran individu dan keluarga, seperti upah,
potongan pajak, dan punya asuransi kesehatan atau tidak pun seperti kita
saksikan di AS, bisa di-blow-up hingga Obama menghabiskan dana
kampanye 645 juta dollar AS. Ini rekor tertinggi dana kampanye
sepanjang sejarah AS.
Jadi, mari semua menyikapi hari ini sebagai hari baru dengan kecekatan
baru pula. Dengan demikian, ketika besok China, Iran, Suriah, atau negara
di belahan dunia lain mengaduk lagi konstelasi politik ekonomi dunia, kita
sudah punya instrumen yang lebih baik untuk melindungi kepentingan
Indonesia. Faktor Obama akan kedaluwarsa dalam waktu sangat dekat.
Sumber: KOMPAS, 09 November 2012
Dinna Wisnu Halaman 115

Pesona Bali Democracy Forum


Sebanyak 11 kepala negara dan ratusan delegasi dari 80 negara baru saja
pulang dari Nusa Dua Bali untuk menghadiri perhelatan tahunan Bali
Democracy Forum (BDF).Ini tahun kelima di mana Indonesia menjadi
tuan rumah dengan tamu-tamu penting yang sedemikian banyak.
Bali menjadi layaknya New York baru, tempat markas besar Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) berdiri. Saya yakin Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) sangatbanggadenganpertemuan ini. Bukan main-main,
hadir di sana wakil hampir segala bangsa di muka bumi, bahkan mereka
yang tidak saling bicara pun hadir di sana seperti sekutu Amerika Serikat
(AS) mulai dari Australia, Korea Selatan, dan Turki hingga yang anti-AS
seperti Iran dan Kuba.
Wakil 10 negara ASEAN hadir, juga China, Jepang, Korea Selatan yang
sedang punya banyak pekerjaan rumah untuk membenahi kestabilan
kawasan. Sudah tentu, mengingat segala kerepotan mengurus perhelatan
akbar macam ini, kita layak bertanya: Apa signifikansi dari BDF bagi
dunia dan bagi Indonesia? BDF adalah inisiatif Indonesia segera setelah
ASEAN resmi mengadopsi konstitusi bersama yang dikenal sebagai
ASEAN Charter pada Desember 2008.
Dalam ASEAN Charter semua negara ASEAN sepakat untuk
menghapuskan kebijakan nonintervensi yang selama ini menjadi ciri khas
ASEAN. Artinya bahwa sah-sah saja bila antara anggota ASEAN saling
mendorong agenda tertentu agar kebijakan dalam negeri suatu negara
berubah.Ada kesepakatan untuk melembagakan peranan sentral
Sekretariat ASEAN dalam mendorong perubahanperubahan yang
diperlukan agar Komunitas ASEAN tercapai pada 2020 sesuai tiga pilar
yang disepakati: politik keamanan,ekonomi,dan sosial budaya.
Ada pula kesepakatan bahwa semua negara ASEAN akan
mempromosikan nilainilai demokrasi dan hak asasi manusia (HAM).
ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR)
dibentuk sebagai realisasi komitmen ASEAN pada perlindungan HAM.
Indonesia ingin selangkah lebih maju dari ASEAN.Segera setelah
deklarasi ASEAN Charter, mantan Menteri Luar Negeri RI Hassan
Wirajuda dan Presiden SBY membentuk Peace and Democracy Institute
yang berbasis di Bali dan bekerja sama dengan Universitas Udayana untuk
prasarananya.
Idenya agar institut ini menjadi wadah untuk melaksanakan ide, gagasan,
ataupun program- program yang telah ditetapkan oleh BDF dalam bentuk
pengkajian,pertemuan para tokoh politik dan demokrasi,penelitian, dialog,
Dinna Wisnu Halaman 116

seminar, roadshow, dan publikasi di bidang politik dan demokrasi. Terus


terang, sesungguhnya institut tadi baru bisa sungguh optimal kalau
Indonesia menjadi pelopor penerapan nilai-nilai demokrasi secara
konsekuen.
Dalam tataran diplomasi memang Indonesia belum punya tandingan dalam
menjadi negara muslim terbesar di dunia yang menjalankan praktik
demokrasi (meskipun baru sebatas demokrasi prosedural dan belum
substantif). Kita boleh berbangga bahwa pengembangan demokrasi kita
didukung oleh puluhan lembaga swadaya masyarakat lokal, kegiatan
penelitian di lembaga-lembaga penelitian dan universitas yang kerap
bermitra dengan lembaga-lembaga asing, serta media massa yang relatif
bebas.
Tapi, lebih dari tataran diplomasi, sesungguhnya masyarakat dunia masih
menunggu-nunggu realisasi dari model kejituan pengambilan kebijakan
atas dasar nilai-nilai demokrasi di mana masyarakat luas bisa ambil bagian
tanpa kondisi harus menjadi blunder atau politisinya kalang kabut karena
takut diprotes masyarakatnya. Misalnya saja soal perlindungan terhadap
warga negara, khususnya kelompok minoritas.
Eksplisit tertanam dalam nilai-nilai demokrasi adalah perlindungan tegas
terhadap kelompok minoritas, bahkan ketika mereka sangat berseberangan
sekalipun dengan pendapat kelompok mayoritas. Pantang bagi pemimpin
atau partai di negara demokrasi untuk mengeluarkan pernyataan yang
membakar kebencian, apalagi sampai ikut-ikutan mendorong
“penghukuman massa” terhadap kelompok yang berseberangan aliran.
Perbedaan pendapat harus diselesaikan lewat dialog publik, kampanye
yang meyakinkan, dan lewat pemilu damai. Kalau mau berkaca, kita sudah
lihat buktinya pada Romney, sang capres dari Partai Republikan yang baru
saja dikalahkan Presiden Barack Obama dalam pemilu di AS. Dalam
konteks AS, kelompok minoritas yang mereka bahas adalah kaum muslim.
Publik di AS secara umum memang masih banyak yang fobia terhadap
Islam,khususnya muslim yang berasal dari Timur Tengah.
Dalam benak mereka, Islam dekat asosiasinya dengan kegiatan terorisme
yang semata militan, ingin menghancurkan AS,dan sulit diajak berdialog.
Romney meyakini betul stereotyping macam itu terhadap kelompok
minoritas Islam di AS atau penganut muslim pada umumnya. Untuk itu,
Mitt Romney menolak membangun masjid di Ground Zero karena masjid
itu dianggap berpotensi sebagai pusat kegiatan merekrut teroris global dan
propaganda anti-AS.
Terhadap Suriah, ia memandang bahwa tempat ini menjadi magnet bagi
kaum ekstremis dan memacu destabilitas kawasan. Untuk itu,Romney
Dinna Wisnu Halaman 117

menyimpulkan bahwa AS perlu mencari kelompok yang sejalan dengan


AS, lalu mendanai dan mempersenjatai mereka. Ia juga meneriakkan
perlunya keberanian dalam menghadapi Iran dengan bersiap melakukan
aksi militer ke sana. Apa daya,pendapat Romney tadi ternyata hanya
populer di kalangan kulit putih. Padahal suara orang kulit putih bukan
satu-satunya sumber suara mayoritas di masa kini.
Analisis William Liddle menunjukkan bahwa dalam pemilu 2012 Obama
meraih hanya 39% suara orang putih (terkecil sepanjang sejarah), tetapi
93% suara kaum Amerika-Afrika, 71% suara Latin,dan 73% Amerika-
Asia digondolnya. Ia juga meraih dukungan 60% suara pemilih muda dan
55% suara perempuan. Jumlah pemilih dari kelompok minoritas
bertambah terus. Romney dan Partai Republikan belum tanggap pada
perubahan ini, padahal Romney berlatar belakang kelompok minoritas dari
agama Kristen Mormon.
Kembali pada Indonesia. Sudahkah Indonesia memahami makna yang
sesungguhnya dari demokrasi? Sudahkah Indonesia meyakini betul bahwa
demokrasi memang sistem politik yang membantu menghidupkan dan
menjaga kebhinnekaan di Tanah Air? Sebenarnya tak ada alasan untuk
ragu. Negara-negara lain bahkan menaruh harapan pada Indonesia dengan
terus menanggapi positif ajakan untuk ke BDF.
Karena Indonesia memilih branding alias citra sebagai negara
berpenduduk muslim terbesar yang demokratis, Indonesia punya pekerjaan
rumah serius untuk menghayati akar perdamaian dalam agama Islam.
Seperti kata almarhum Nurcholish Madjid, seseorang bisa menjadi
muslim, warga Indonesia sekaligus bergaya hidup modern. Artinya
menjadi muslim yang taat, atau umat agama lain yang taat, tidak berarti
mengorbankan identitas keindonesiaannya.
Mari kita sama-sama percaya diri akan potensi bangsa ini sebagai
pendorong nilai-nilai demokrasi yang menghargai hak-hak asasi manusia.
Kita buktikan kepercayaan bangsa lain di BDF. Karena jika tidak, secara
tidak langsung kita membiarkan BDF menjadi proyek jangka pendek
Kementerian Luar Negeri dan Presiden SBY belaka.
Sumber: SINDO, 14 November 2012
Dinna Wisnu Halaman 118

Penentu Kemudi di Asia


Minggu ini adalah minggu besar di Asia Timur dan Asia Tenggara, karena
di kawasan ini terlaksana perhelatan besar bernama Konferensi Tingkat
Tinggi Asia Timur 2012 (East Asian Summit/EAS 2012). Sejak Senin
sore, delegasi yang terdiri atas kepala-kepala negara serta menteri luar
negeri berkumpul dan saling berpidato mengutarakan harapannya pada
EAS.Tuan rumah tahun ini adalah Kamboja. EAS adalah forum tahunan
yang terbentuk sejak 2005 bagi 18 negara,yakni 10 negara anggota
ASEAN (Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, Brunei
Darussalam, Kamboja, Laos, Myanmar, Vietnam) dan 8 negara dengan
kerangka kerja sama khusus di ASEAN yakni China, India,Jepang,Korea
Selatan, Australia, Selandia Baru, Rusia, dan Amerika Serikat (AS).
Melalui forum EAS, ASEAN berupaya merangkul sebanyak-banyaknya
mitra strategis di dunia dan menunjukkan giginya dalam “menyetir”
agenda-agenda politik internasional, terutama yang menyangkut nasib
negara-negara di kawasan Asia. Tahun ini Rusia dan AS pertama kali ikut
dalam EAS. Sama seperti halnya pertemuan-pertemuan tingkat tinggi
lainnya, EAS tidak hanya menarik karena apa yang diungkapkan dalam
pertemuan resmi, tetapi juga apa yang dilakukan para pimpinan delegasi
menjelang acara atau di sela-sela acara.
Diplomat selalu berkata bahwa tahap-tahap negosiasi dimulai justru di luar
ruang sidang. Yang cukup heboh adalah Presiden Barack Obama dari AS.
Sebelum berangkat ke kawasan Asia, dia sudah mengeluarkan pernyataan
bahwa AS ingin menegaskan lagi pentingnya posisi Asia dalam agenda
luar negeri AS saat ini. Istilah Obama: AS sedang melakukan pivot
(melibatkan diri lagi dalam porsi yang cukup besar di kawasan ini).
Setibanya di Asia, dia melakukan kunjungan pertama kali ke Myanmar;
negara yang pernah diembargo secara ekonomi oleh AS dan menjadi
target kritik keras dunia.
Myanmar adalah negara yang sampai sekarang masih dikuasai oleh junta
militer, dikenal punya kecenderungan untuk lebih pro ke China dalam hal
politik luar negeri. Di sana Obama difoto sedang merangkul hangat tokoh
demokrasi dan Hak Asasi Manusia Aung San Suu Kyi yang bertahun-
tahun menjadi tahanan politik junta militer. Obama memilih untuk
berkunjung ke Rangoon, bekas ibu kota yang juga lokasi dari universitas
besar dan pergerakan demokrasi, dan bukan ke Naypyidaw, ibu kota
tempat junta militer berkuasa.
Tapi dengan diplomatis Obama memilih menyebut nama Myanmar, nama
yang diberikan oleh junta militer pada negeri itu, dan bukan Burma yang
Dinna Wisnu Halaman 119

merupakan nama kolonial. Dari Rangoon di Myanmar Obama


menyuarakan tiga hal. Pertama, Myanmar bukan lagi negara rendahan di
Asia, karena AS sudah menerimanya dengan tangan terbuka. Kedua,
bahwa AS menghargai negaranegara yang mengembangkan demokrasi
dan perlindungan HAM. Itu sebabnya AS cukup keras terhadap Perdana
Menteri Kamboja Hun Sen karena negeri itu dianggap belum ramah
HAM. Ketiga, bahwa orang-orang AS perlu menyadari bahwa masa depan
AS tidak lagi ada di “Barat”, tetapi justru di “Timur” yakni Asia.
Tentu saja, AS apalagi Obama sebenarnya bukan perhatian utama EAS.
Dan, bukan cuma AS yang sedang mengelus-elus ego Asia. Rusia yang
diwakili oleh Menteri Luar Negeri Lavrov menegaskan komitmen
kehadiran Rusia di Asia. Rusia bangga dengan sejumlah inisiatif kerja
sama perdagangan bebas di kawasan Asia serta investasinya membuka
jalur gas dari Rusia ke China. Jepang, Korea Selatan, dan China
mendorong ASEAN untuk memperkuat kerja sama sesama negara Asia.
Apa reaksi Asia? Dengan melebarkan keanggotaan dan melibatkan AS
dan Rusia, negara-negara Asia sedang berusaha untuk bersama-sama
mencari titik keseimbangan baru dalam tatanan politik global, di mana
Asia memainkan peranan yang lebih penting dibandingkan di masa-masa
lalu. Ini bukan hal mudah. Bukan rahasia bahwa di dalam Asia sendiri
masih ada kegamangan tentang siapa yang memegang kemudi di Asia.
Indonesia misalnya. Kita tahu persis bahwa yang seharusnya memegang
kemudi di Asia adalah ASEAN, dan bahwa Indonesia sebagai negara
besar pencetus dan pembina ASEAN bisa menegaskan pentingnya
ASEAN sebagai pusat kegiatan negara di kawasan Asia Tenggara sampai
ke kawasan Pasifik. Namun,kita masih bingung menghadapi Filipina yang
sekarang sebentar- sebentar selalu berteriak minta tolong ke AS atau
Kamboja yang lebih akrab dengan China.
Ketegangan kedua negara ini tergambar ketika Perdana Menteri Kamboja
menyimpulkan hasil pidatopidato yang masuk tentang kesepakatan
ASEAN untuk bergerak bersama dalam menjaga keutuhan ASEAN.
Presiden Filipina justru melakukan interupsi dengan mengatakan bahwa
keutuhan ASEAN tidak bisa dinyatakan sebagai konsensus karena bagi
Filipina, ASEAN bukanlah satu-satunya jalur kerja sama yang dapat
mendorong pencapaian kepentingan nasional Filipina. Wah…repot ya.
Sebenarnya dua hal saja perlu diingat. Pertama, bahwa EAS dilahirkan dan
dibuat rutin karena ada keyakinan bahwa masalah-masalah di kawasan ini
perlu diselesaikan dengan cara duduk bersama, saling melontarkan
wacana, dan dilanjutkan dengan pencarian solusi melalui pendekatan
personal ke para kepala negara. Kedua, EAS lahir karena cita-cita
menempatkan ASEAN sebagai pengemudi bagi nasibnya sendiri di antara
Dinna Wisnu Halaman 120

tarik-menarik kepentingan negara-negara besar dan syukur-syukur ikut


menentukan tatanan hubungan internasional masa ini dan mendatang.
Dalam kerangka ASEAN pasca-Deklarasi ASEAN 2008, sebenarnya
relatif tidak ada yang “abu-abu” lagi dalam aturan ASEAN. ASEAN
menolak intervensi asing dalam wujud apa pun di kawasan ini. Masalah di
kawasan ini harus diselesaikan dengan cara yang disepakati oleh semua
negara di ASEAN, dengan cara damai yang efisien. ASEAN bahkan telah
mengembangkan sejumlah inisiatif agar berdikari dan berdaya pikat dalam
pergaulan internasional.
Dan bila ada anggota yang melenceng dari prinsip itu, dia bisa ditegur
langsung. Artinya, ayolah tegas pada negara-negara ASEAN yang masih
menomorduakan ASEAN dalam politik luar negerinya. Selanjutnya,
Indonesia perlu berani ikut menaruh agenda dalam dialog EAS. Tidak
semata mengambil isuisu yang memang sudah diagendakan penting bagi
Asia seperti penyelesaian Laut China Selatan. Toh, detail penyelesaian
tidak akan diputuskan di forum ini.
Justru gunakanlah momen saling berwacana antarkepala negara untuk
menegur Rusia yang mengklaim sudah menginvestasikan ini-itu di
ASEAN, tapi sebenarnya itu terkonsentrasi di China dan negara-negara
yang pro-China. Indonesia juga bisa mengambil pengalaman rumitnya
membangun kerja sama riil masa kini dengan Rusia karena haluan
prioritas kedua negara belum sejalan. Kepada AS, kita perlu menegur
sikap AS ke negara-negara Timur Tengah dalam hal perlindungan HAM
dan demokrasi. ASEAN perlu mempertimbangkan apakah sikap AS di
Timur Tengah adalah sebuah standar ganda dalam penegakan HAM atau
memang demikianlah konsistensi AS dalam berpolitik.
Kita bisa katakan pada AS bahwa Indonesia menghargai segala ungkapan
perhatian AS bagi Asia dan kita mencermati juga konsistensi AS dalam
penerapan prinsip-prinsip HAM dan demokrasi di belahan dunia lain.
Terlepas dari bagaimana hasilnya nanti, pertemuan-pertemuan tingkat
tinggi apa pun harusnya memberikan manfaat bagi kita masyarakat awam
yang jauh dari politik. Mungkin ini persoalan komunikasi, tetapi
pemerintahan SBY belum dapat menjelaskan kepada publik apa manfaat
dari pertemuan tersebut untuk persoalan-persoalan yang kita hadapi.
Contoh mengenai TKI yang diperkosa, isu TKI on Sale, masalah
perdagangan antarnegara, alih daya, dan seterusnya. Seandainya belum
ada bukti, minimal ada penjelasan secara lisan. Dengan demikian, kita bisa
tahu apakah pemerintah Indonesia menjadi kemudi di dalam ASEAN atau
hanya “sopir tembak”.
Sumber: SINDO, 21 November 2012
Dinna Wisnu Halaman 121

Bising Itu Perlu


Apa yang dirasakan seorang politisi ketika terpilih dengan suara mayoritas
menjadi pucuk pimpinan suatu negara? Pertama-tama tentu bangga, lega,
dan sangat bahagia. Jika proses pemilu cukup alot dan menegangkan,
bukan mustahil perasaan bangga dan bahagia tersebut terasa sangat
meluap-luap. Namun, tak banyak orang yang menyadari bahwa politisi
tersebut pasti juga diliputi perasaan galau, khawatir, bahkan mungkin
takut.Pemilu adalah awal dari perjalanan berdemokrasi dan bukannya
jaminan akan praktik demokrasi yang dipuja-puja masyarakat. Berhadapan
dengan negara yang baru saja meniti jalan berdemokratisasi, seperti Mesir,
kita perlu menyisir hal-hal pokok yang menggambarkan dan menentukan
arah politik negara tersebut.
Apakah mereka di jalur yang benar menuju demokrasi atau justru
mengalami kemunduran? Indonesia sudah mencanangkan diri sebagai
pelopor demokrasi di negara muslim, bahkan berkomitmen
mempromosikan nilai-nilai dan prinsip demokrasi lewat Bali Democracy
Forum. Maka kita tidak bisa menutup mata dari kejadian yang sedang
digumuli Mesir.
Ketika Muhamad Mursi, seorang tokoh Ikhwanul Muslimin di Mesir,
terpilih dengan suara mayoritas (51,7% suara) dalam pemilu 23 Juni 2012,
semua mata dunia memantau reaksi masyarakat Mesir atas kemenangan
tersebut. Secara umum, reaksi yang muncul adalah rasa tak percaya. Mursi
adalah orang kuat di Ikhwanul Muslimin, bahkan satu-satunya kandidat
dari Partai Freedom and Justice yang diusung Ikhwanul Muslimin tersebut
setelah pesaingnya, Khairat El-Shater, didiskualifikasi.
Sebagai tokoh di Ikhwanul Muslimin, ada keragu-raguan bahwa Mursi
akan bisa merangkul semua elemen masyarakat di Mesir. Maklum,
Ikhwanul Muslimin dikenal sebagai promotor penggunaan prinsip dan
simbol Islam dalam kehidupan berpolitik dan sangat anti-Israel. Selain itu,
pendukung partai tersebut adalah Partai Nour yang ultrakonservatif dan
kelompok-kelompok lain yang dikenal tegas bergaris Islam.
Keragu-raguan tersebut tercermin dalam pernyataan seorang pakar
sosiologi politik Said Sadek dari American University di Kairo, Mesir.
Menanggapi pidato Mursi ketika terpilih, yakni bahwa Mesir memasuki
era baru dan bahwa semua elemen masyarakat akan dilindungi oleh Mursi,
Sadek menunjuk bendera Ikhwanul Muslimin di mana gambar pedang
jelas terlihat. “Saya rasa pedang yang mereka miliki itu tidak untuk main-
main”.
Dinna Wisnu Halaman 122

Di pihak lain, ada pula pemberitaan bahwa Muhamad Mursi bukanlah


seseorang yang berkarisma. Artinya, janji melindungi semua pihak
tersebut bisa jadi hanya janji belaka bila sang pemberi janji dianggap
kurang berkarisma. Keragu-raguan masyarakat Mesir akan niat baik dan
kemampuan Mursi seolah mendapatkan konfirmasi ketika persis lima
bulan setelah terpilih, yakni 22 November 2012, Mursi mengeluarkan
dekrit.
Dekrit tersebut menyatakan bahwa segala keputusan yang diambil
presiden tidak bisa dipatahkan oleh lembaga yudisial, sampai terbentuk
konstitusi yang baru di Mesir. Reaksi masyarakat langsung membeludak.
Alun-alun Kota Kairo dipadati ribuan penduduk yang memprotes
keputusan Mursi. Dia dicap sebagai diktator baru. Ketegangan belum juga
reda hingga tulisan ini dibuat.
Bahkan, Rabu ini ada rencana ribuan massa akan turun ke jalan dari
berbagai titik dan berkumpul di alun-alun Kairo. Banyak sekolah dan
tempat kerja memilih libur untuk mendukung aksi protes tersebut. Apa
tanggapan Presiden Mursi? Dia tetap pada pendiriannya. Yang perlu
dicermati dari kejadian di Mesir ini adalah hal-hal berikut.
Pertama, demokrasi membutuhkan bibit-bibit kepemimpinan yang sejuk
dalam menghadapi ragam tekanan dan keberagaman pendapat. Seorang
demokrat sejati akan tanggap dan tidak canggung berhadapan dengan aksi
protes, meskipun itu dari kelompok minoritas ataupun diikuti puluhan ribu
massa. Seorang tokoh demokrasi menghayati makna “berbeda pendapat”,
termasuk bahwa demokrasi memang mengedepankan ketidakpastian
dalam hasil akhir segala proses politik. Yang penting bukan hasil akhir,
apalagi hasil cepat, melainkan proses yang mengedepankan saling hormat
dan dialog.
Kedua, demokrasi membutuhkan sistem untuk berdialog antarkelompok
yang berseberangan pendapat. Artinya bahwa seorang pemimpin negara
demokrasi, apalagi seorang pemimpin perdana dari suatu demokrasi, harus
punya komitmen untuk membangun lembaga-lembaga penyokong
demokrasi, termasuk aturan main, kode etik, dan penegakan hukumnya.
Pantang bagi seorang demokrat untuk mengedepankan “keakuan” diri
dalam memimpin, karena demokrasi hanya bisa terwujud melalui sistem
yang memagari proses-proses dialog yang bising. Dekrit Mursi adalah
simbol “keakuan” tadi.
Ketiga, ambisi seorang politisi yang bernaluri demokrat adalah untuk
mengajukan program-program nasional, yang bisa menarik perhatian
massa dan pada akhirnya mendorong popularitas dirinya sebagai politisi.
Jadi, jika seseorang semata ingin menarik perhatian massa dan
Dinna Wisnu Halaman 123

mendapatkan popularitas tapi tanpa kejelasan program yang bisa


dipertanggungjawabkan, maka dia bukan seorang demokrat.
Berdasarkan tiga indikator di atas, tampak bahwa Presiden Muhamad
Mursi ternyata punya kegamangan berdemokrasi yang sangat besar.
Bahkan sebelum ada “pertempuran” pendapat antarpartai dan faksifaksi
politik, sebelum parlemen terbentuk, dia sudah memutuskan untuk
menutup wacana politik sama sekali. Bekal dukungan masyarakat yang
sebenarnya cuma 51,7% saat pemilu, diartikan Mursi sebagai dukungan
absolut bagi dirinya.
Dia lupa bahwa dalam demokrasi selalu harus ada kompromi politik
dengan lawan-lawan politik. Bahkan ketika Mursi berpendapat bahwa
suatu kebijakan yang diusung lawan politiknya berpotensi merusak Mesir,
dia harus bisa berlapang dada mendengarkan argumen oposisi. Di
sejumlah media massa, Mursi dikabarkan sedang mencoba
mengedepankan dialog dengan pihak-pihak yang memprotes dekrit.
Sayangnya, karena Mursi sudah menetapkan untuk tidak bergeming sama
sekali soal keputusannya di dekrit, dia justru tidak nampak sebagai
seorang demokrat yang bijak. Dengan demikian, ruang bagi Indonesia
untuk “masuk” ke Mesir sebenarnya terbuka lebar. Bukan untuk masuk
dalam arti intervensi, tentunya, melainkan masuk untuk menjadi sumber
inspirasi dan penyemangat.
Kegelisahan seorang Mursi perlu diredam. Dia perlu diyakinkan bahwa
mimpi akan demokrasi yang sedang bergejolak di benak masyarakat
Mesir, tidak bisa dilawan dengan sebuah dekrit. Belum terlambat bagi
Mursi untuk mengembalikan suasana Mesir pada semangat kebersamaan
yang membawa negeri itu ke luar dari kekacauan pada masa Husni
Mubarak. Katakan pada Mursi bahwa ada beda antara kebisingan
demokrasi dan ketidakstabilan politik. Kebisingan justru diperlukan dalam
demokrasi.
Sumber: SINDO, 28 November 2012
Dinna Wisnu Halaman 124

Memenangi Perdamaian
Bayangkan suatu negeri yang selama berpuluh-puluh tahun hidup dalam
ketidakpastian dan kekerasan. Tiap hari warganya seakan tawanan di
negeri sendiri. Menuju sekolah, pasar, atau tempat kerja, harus melalui
pagar-pagar tinggi dan pasukan bersenjata.
Kala kondisi politik di kalangan elite memanas, warga harus tegar
mendengar suara dentuman bom dan desing pesawat tempur yang
menggetarkan jantung. Syukur-syukur anggota keluarga selamat.Kalaupun
tidak,semua wajib untuk tabah dan ikhlas. Banyak hal terjadi di luar
kendali. Nyawa seperti tidak ada harganya. Bahkan menyaksikan kematian
yang mengenaskan bukan lagi dianggap tragedi, justru dibiasakan.
Bagi kita di Indonesia, kisah seperti itu seperti buku lama zaman
perjuangan kemerdekaan dulu. Tapi tidak untuk Palestina dan Israel.
Sampai hari ini, kedua negara ini terus hidup dalam ketidakpastian karena
rasa curiga, takut, dan marah yang sangat besar antara yang satu dan yang
lainnya. Jika yang satu mendapat tepuk tangan dari dunia, yang lain
berpanas hati.
Demikian pula sebaliknya. Tanpa disadari, masingmasing pihak terus
mengabadikan perseteruan di antara mereka. Karena perseteruan
antarmereka sangat dalam, dunia pun ikut jadi pemandu sorak, berpihak
pada yang satu dan mengecam yang lain. Tak heran bila kemudian ada
kepentingan-kepentingan eksternal yang menempel pada perseteruan
tersebut.
Kejadian minggu lalu, di mana Majelis Umum Perserikatan Bangsa (PBB)
melakukan penghitungan suara dan dengan hasil mayoritas mendukung
Palestina menjadi negara pengamat nonanggota, adalah momentum
penting bagi relasi Palestina-Israel. Di sisi lain, hal ini juga momen
refleksi bagi perbaikan relasi antar warga Palestina sendiri. Dengan status
baru di PBB tersebut, Palestina ”naik kelas” dalam pergaulan negara
dunia.
Mereka punya hak bicara dalam sidang Majelis Umum dan secara politis
lebih diperhitungkan daripada posisi sebelumnya, yang sekadar entitas
pengamat sekelas lembaga swadaya masyarakat. Dengan hak bicara dan
hak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan terkait hal-hal prosedural
di PBB, Palestina berkesempatan membuka wacana global yang segar dari
Timur Tengah. Ada pula harapan agar Palestina bisa menjadi titik balik
hubungan antar negara yang lebih sejuk di TimurTengah.
Dinna Wisnu Halaman 125

Memang jalan ke sana tidaklah sederhana. Israel dan sejumlah


pendukungnya mengecam gerakan penetrasi Palestina ke PBB, dan
berjanji bahwa ini bukan awal dari suatu negara Palestina merdeka.
Sejumlah pengamat mengatakan bahwa kondisi di lapangan di Palestina
belum tentu berubah. Sekarang mungkin mereka bersorak-sorai mengelu-
elukan Presiden Mahmoud Abbas, tetapi gerakan masyarakat seperti
Hamas belum tentu mau mengakui kepemimpinan Abbas.
Ada hal-hal prinsipil yang menjadi pemberat langkah Palestina menjadi
negara merdeka. Namun, segala sesuatu yang dianggap berat tentu perlu
diletakkan dalam proporsi yang tepat. Keberhasilan Mahmoud Abbas
menembus ”pagar tinggi” di Majelis Umum PBB, sebenarnya merupakan
sinyal untuk sejumlah hal penting. Pertama, bahwa suara mayoritas di
dunia mendukung jalur diplomasi dan damai.
PBB sebagai simbol penting dari cara-cara damai untuk duduk bersama-
sama dalam mencari penyelesaian atas tantangan dunia, memberi peluang
yang sangat baik bagi Palestina untuk dapat diterima oleh negara-negara
dunia. Meskipun sampai saat ini Palestina masih terbentur masalah veto
dari negara pendukung Israel, kita sama-sama tahu bahwa hak veto itu
sudah dikritik habishabisan oleh negara-negara lain.
Publik juga paham bahwa PBB perlu penyegaran dalam bentuk reformasi
Dewan Keamanan bila ingin lebih relevan dalam menjadi penyejuk
hubungan antarnegara di dunia. Artinya, konsistensi Palestina mendorong
cara-cara diplomasi dan damai justru akan mendorong gerakan perubahan
yang damai pula. Kedua, baik di Palestina maupun Israel sesungguhnya
ada kelompok-kelompok masyarakat yang pragmatis. Mereka lelah
dengan segala ketidakpastian politik yang berimbas buruk pada kondisi
ekonomi di Palestina ataupun Israel.
Dalam sejumlah kejadian dapat dilihat bahwa warga yang menjadi korban
kekerasan militer dirawat bersebelahan, meskipun yang satu
berkebangsaan Israel dan yang lain Palestina. Tak ada sedikitpun
kebencian dalam raut muka keduanya ketika harus berdampingan seperti
itu. Warga Israel pun tidak terdiri atas satu suara yang tunggal terhadap
Palestina. Israel di dalam negeri adalah sebuah negara dengan politik
demokrasi yang sangat dinamis.
Mereka memilih pemimpin berdasarkan kebutuhan saat itu. Jika mereka
merasa relatif aman, mereka akan memilih partai yang lebih condong
centrist (garis tengah) atau kiri. Jika mereka resah, partai garis kanan yang
”keras bicaranya” dan ”tegas bertindak” akan dipilihnya. Tapi jangan lupa,
partai di Israel tidak bisa murni di haluan kiri ataupun kanan.
Dinna Wisnu Halaman 126

Mereka wajib memenangkan suara mayoritas masyarakat di ”tengah”, jadi


sebenarnya cara kekerasan yang mereka ambil bukanlah harga mati.
Memang dalam banyak hal Israel tak ingin melepas satu inci pun tanah di
Jalur Gaza ataupun Tepi Barat. Namun, kita juga tahu bahwa persoalan
pembagian perbatasan tidak harus mengorbankan warga sipil di ujung
kematian.
Dalam era masa kini, dengan diakuinya hak Palestina di PBB, sebenarnya
politisi perlu mawas diri dengan mengakui bahwa ada cara-cara pragmatis
menyelesaikan sengketa Palestina dan Israel yang nyaman bagi
masyarakat yang awam politik, misalnya melalui pengelolaan bersama.
Ketiga, naiknya status Palestina mensyaratkan konsolidasi internal antara
Fatah dan Hamas yang lebih kuat lagi di masa depan.
Cara-cara yang diambil Hamas untuk menunjukkan kapasitas dan power-
nya, baik terhadap Israel maupun terhadap masyarakat Palestina sendiri,
dikagumi beberapa pihak, tetapi tampaknya lebih banyak mendatangkan
ketidaksimpatian pada Palestina. Pemerhati hak asasi manusia menyoroti
cara-cara Hamas mengendalikan Jalur Gaza yang tidak sejalan dengan
kecenderungan pemerintahan yang demokratis di dunia.
Kalaupun seluruh masyarakat Palestina sepakat dengan cara Hamas
mengelola pemerintahan, kecil kemungkinannya bahwa negara-negara lain
yang menghargai pluralitas dalam kehidupan bernegara akan mendukung
cara-cara yang diambil Hamas. Jangan lupa, Palestina terdiri atas dua
kelompok etnis: Yahudi dan Arab. Dan, tidak semua warga Arab
menyetujui ideology Hamas.
Dalam konteks politik abad ke-21, Palestina masih saja ibarat pusaran air
laut yang menarik seluruh energi dan perhatian bangsa-bangsa di dunia.
Saat ini pengaruh dominan terhadap Palestina dan Israel datang dari
Amerika dan Eropa. Situasi ini perlu diimbangi dengan peran politik
negara-negara yang saat ini menikmati pertumbuhan ekonomi seperti
India, Indonesia, Brasil, atau China, apalagi mereka relatif independen
dari pengaruh kekuatan Barat.
Sebagai negara-negara yang pernah merasakan penindasan saat
kolonialisme dan sekarang naik menjadi negara yang kuat ekonominya,
ada bekal untuk bisa memahami proses perundingan perdamaian
Palestina-Israel secara lebih baik ketimbang Amerika dan Eropa.
Sumber: SINDO, 05 Desember 2012
Dinna Wisnu Halaman 127

Protokol
Pada suatu kesempatan saya bertemu sejumlah senior dari Kementerian
Luar Negeri RI. Rata-rata dari mereka pernah menjabat posisi-posisi
penting di kantor-kantor perwakilan Indonesia di luar negeri, termasuk di
antaranya sebagai duta besar.
Diskusi mengalir dan sampai pada momen berbagi pengalaman tentang
manis dan pahitnya membangun kerja sama dengan negara-negara mitra.
Contoh kecilnya soal protokol terkait kunjungan resmi kenegaraan. Pada
September 2012, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyambut
Perdana Menteri Thailand yang baru Yingluck Shinawatra. Upacara
penyambutannya sangat lengkap, bahkan dengan dentuman meriam,
upacara mengecek barisan, serta siaran pers bersama.
Media mengutip acara ini sebagai kunjungan kenegaraan. Para diplomat
senior di Indonesia rupanya pening mendengar ini semua. Saat diskusi
muncul kritik bahwa upacara tersebut tidak tepat. Dalam tata protokol
diplomasi di seluruh dunia, suatu kunjungan oleh pejabat tinggi negara
tidak bisa disamakan dengan kunjungan kenegaraan. Istilah kunjungan
kenegaraan hanya bisa disematkan pada kunjungan resmi oleh kepala
negara, jadi tidak bisa di level perdana menteri.
Dalam kunjungan kenegaraan ada tahapan-tahapan protokol lengkap yang
harus dilalui, mulai dari penyambutan di bandara, sambutan resmi dan
upacara bendera di Istana Negara, dentuman meriam, peletakan karangan
bunga di taman makam pahlawan, serta kunjungan-kunjungan resmi dan
makan malam. Artinya bahwa kunjungan kenegaraan tidak bisa beberapa
jam saja, apalagi disambung dengan kunjungan ke negara lain. Padahal
persis itulah yang dilakukan Perdana Menteri Yingluck waktu itu.
Selain itu, jumlah penyambut dari Indonesia juga harus disesuaikan
dengan jumlah tamu. Jika jumlah penyambut dari Indonesia jauh lebih
banyak dari jumlah tamu, apalagi level senioritasnya setingkat menteri dan
menteri koordinator, pesan diplomatik yang tertangkap akan keliru.
Kekeliruan ini dilakukan oleh Indonesia. Dari Indonesia ada deretan
menteri senior, sedangkan dari Thailand hanya tiga orang termasuk
Perdana Menteri Yingluck. Singkat kata, mata saya lebih terbuka akan
aspek-aspek sensitif dalam dunia diplomasi.
Protokol merupakan kesepakatan internasional yang wajib dijalankan
semua pihak yang melakukan kerja sama internasional sebagai wakil
resmi negara. Protokol adalah sebuah seni. Protokol meracik aspek-aspek
politik, etika, tradisi, budaya, game theory, kepentingan, dan yang tidak
kurang adalah rasa dan kepekaan. Secara filosofis, protokol mengirim
Dinna Wisnu Halaman 128

pesan hormat kepada tamu, bahkan sampai ke ranah upaya persuasi agar
dialog antarnegara semakin baik dan agar hubungan antarnegara semakin
mesra.
Dengan demikian, kepala negara tersebut umumnya akan memilih waktu
kunjung yang tepat misalnya bertepatan dengan perayaan sekian tahun
hubungan diplomatik, atau karena kondisi di kawasan tertentu memburuk
sehingga diperlukan “angin segar”, atau ada harapan akan kerja sama
yang lebih baik karena situasi internasional yang lebih kondusif antardua
negara.Tak heran jika kemudian dalam kunjungan kenegaraan kepala
negara tidak hanya saling bersalaman atau berfoto bersama dengan latar
belakang bendera, tetapi mereka juga berpidato yang inspiratif, mengutip
sejarah kerja sama,atau menunjukkan kepekaan akan tradisi dan adat
istiadat setempat. Artinya bahwa protokol tadi boleh juga disesuaikan
dengan adat setempat.Misalnya terkait pengalaman diplomat yang pernah
ditempatkan di Timur Tengah dan Amerika Selatan. Di sana jamuan
makan malam menjadi acara rutin dan serius yang perlu dihadiri. Namun,
makan malam dilakukan sebagai puncak dan penutup acara. Artinya
masakan baru keluar sangat larut malam, bahkan dini hari dan dengan
menu yang di luar kebiasaan orang Indonesia.
Tetapi, prinsip dasar jamuan makan dan penghargaan terhadap delegasi
Indonesia tetap dijunjung sehingga mau tidak mau Indonesia perlu
menyesuaikan diri. Walaupun tentu bisa dibayangkan bahwa secara
manusiawi sulit juga berpikir tajam di jam kerja yang tidak normal. Di
Tanah Air generasi muda diplomat kita justru luput menghargai esensi
dasar dari protokol diplomasi. Keluputan yang paling penting mungkin
adalah rasa dan kepekaan. Salah satu faktor penyebabnya mungkin karena
urusan luar negeri sekarang tidak lagi dianggap semata ranah wewenang
Kementerian Luar Negeri.
Berbagai kementerian sibuk dengan agenda masing-masing dan
mengontak langsung perwakilan negara lain. Ketika mereka ingin
agendanya “gol”, mereka langsung saja melaju ke Istana Negara. Istana
Negara pun memilih jalur cepat. Segala urusan dengan pihak asing
dianggap perlu diurus Presiden. Menteri Luar Negeri dan stafnya kerap
hanya gigit jari. Padahal kita lihat sendiri tadi, jangankan soal keselarasan
sejarah kerja sama dengan negara-negara itu, dari segi protokolnya saja
keliru.
Perlu dipahami bahwa diplomasi adalah wujud terbaik dari hubungan
internasional. Pengembangan hubungan baik tersebut paling efektif
dikembangkan melalui diplomasi bilateral (diplomasi antardua negara).
Diplomasi bilateral yang buruk berisiko tinggi mendatangkan perang
misalnya pengalaman kegagalan diplomasi sejumlah negara pada 1913
Dinna Wisnu Halaman 129

dan 1944 yang berujung pada Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia
Kedua.
Karena itu, pada sisi yang ekstrem, Mahbubani dalam Asia the New
Hemisphere mengatakan bahwa diplomasi seharusnya tidak perlu approval
atau disapproval karena tujuan dari diplomasi adalah membangun
hubungan untuk perdamaian antarsemua pihak. Bila tidak ada diplomasi,
tidak akan ada perdamaian. Itu sebabnya diplomasi bilateral menjadi roh
dari banyak macam interaksi antarnegara. Komunikasi, kerja sama,
bahkan ketegangan antarnegara terbukti perlu untuk selalu dibawa pada
diplomasi dua negara.
Karena hubungan antarnegara tidak luput dari kesalahpahaman, kepatuhan
terhadap aturan protokol menjadi perlu. Tetapi, sebenarnya ada hal
penting lain yang perlu kita pahami terkait protokol diplomasi bilateral
tadi. Diplomasi selalu melibatkan negosiasi dan dalam negosiasi pasti
terjadi tawar-menawar.Artinya bahwa tiap kontak yang terjadi antarpihak
yang sedang bernegosiasi akan menjadi bagian dari upaya mencari hasil
negosiasi yang optimal.Sekali kita keliru memberi “sinyal”, rumitlah
upaya kita untuk mengambil hasil terbaik.
Pihak yang perlu kita hargai dan kita pertajam terus kemampuannya dalam
bidang mencari titik optimal hasil negosiasi dari hubungan berbagai
negara tak lain adalah Kementerian Luar Negeri RI. Struktur internal di
Kementerian Luar Negeri cukup membingungkan.Dulu mereka punya
Direktorat Jenderal Hubungan Ekonomi Luar Negeri dan Direktorat
Jenderal Hubungan Politik Luar Negeri sehingga relatif jelas siapa yang
harus dihubungi oleh kementerian lain, pemerintah daerah, dan media jika
mereka butuh acuan atau arahan.
Sekarang direktorat di Kementerian Luar Negeri berdasarkan kawasan,
padahal dalam tiap kawasan pasti ada urusan politik dan ekonomi.Selain
itu, rotasi pejabat di Kementerian Luar Negeri juga relatif cepat yakni 3-4
tahun. Alih-alih mendekatkan diri pada Kementerian Luar Negeri, masing-
masing kementerian mencari cara lain untuk mengembangkan kerja sama
dengan asing. Akibatnya terjadi ketimpangan di sana-sini. Apa pun yang
terjadi, Kementerian Luar Negeri tetap perlu menjadi penanggung jawab
segala bentuk kerja sama dengan pihak asing.
Untuk itu, mari kita benahi penerapan ihwal sederhana yang sebenarnya
prinsip penting dalam menjaga relasi kita dengan negara-negara lain.
Penyesuaian terhadap aturan protokol boleh dilakukan selama hal itu tidak
menyebabkan salah persepsi dan membantu daya tawar kita dalam
memperjuangkan kepentingan nasional.
Sumber: SINDO, 12 Desember 2012
Dinna Wisnu Halaman 130

Ekonomi Tumbuh, tapi…?


Tujuan akhir dari setiap pembangunan adalah memberikan kehidupan
yang lebih baik bagi warganya. Salah satu indikator kehidupan yang baik
adalah kesehatan. Semakin sehat penduduk sebuah negara, semakin
produktif kerjanya. Semakin besar dan berkualitas output produksinya,
semakin tinggilah pendapatan yang diterima warganya. Semakin besar
pendapatan, semakin tinggi daya belinya. Para ekonom berasumsi bahwa
daya beli tersebut mampu membuat mereka bahagia karena dengan
pendapatan yang besar mereka dapat memiliki akses ke pendidikan,
hiburan, rekreasi, makanan yang sehat, bergizi, dan seterusnya.Kendati
demikian, gambaran ideal itu tidak sepenuhnya menjelma menjadi
kenyataan di beberapa negara berkembang.
Kesehatan masih menjadi barang mewah, bahkan bagi kita di Indonesia.
PBB telah meramalkan pada 2025 jumlah penduduk di dunia akan
mencapai lebih dari 8 miliar orang. Sebagian besar pertumbuhan
penduduk itu akan terjadi dinegara-negara berkembang. Jumlahnya
diperkirakan mencapai 90% dari total perkiraan jumlah penduduk saat itu.
Sebesar 85% dari jumlah itu kemungkinan akan berada di Asia-Afrika.
Prediksi pertumbuhan itu menimbulkan kekhawatiran karena masalah
HIV/AIDS muncul di sana.
Apabila kecepatan epidemik AIDS tidak dikontrol, pertumbuhan ekonomi
yang belakangan dimotori oleh negara-negara berkembang akan terkikis
dalam waktu singkat. Selama ini masyarakat dan pemerintah masih
cenderung melihat masalah HIV/AIDS ini sebagai masalah sosial saja.
Padahal, penanggulangan HIV/AIDS ini cukup rumit dan berpangkal pada
kesenjangan ekonomi yang buruk.
Dari penelusuran saya ke sejumlah penelitian terkini,ada indikasi bahwa
menjamurnya sektor informal juga menyumbang pada percepatan jumlah
penderita HIV/AIDS. Kelihatannya, penanganan HIV/AIDS ini akan lebih
rumit dari penanganan proliferasi nuklir. Tahun 2012 secara umum adalah
tahun yang cukup baik bagi Indonesia. Di tengah kemelut ekonomi yang
membelit Eropa dan Amerika Serikat, Indonesia mengukuhkan
pertumbuhan ekonomi di kisaran 6%.
Ini angka yang relatif baik dibandingkan India, misalnya, yang akhir tahun
lalu membukukan pertumbuhan hingga 8%, namun kini merosot ke
kisaran 5% saja. Salah satu sektor yang berkembang pesat adalah bisnis
perdagangan, hotel, dan restoran. Perhatikanlah bahwa pertumbuhan di
sektor ini dipengaruhi oleh gaya hidup masyarakat Indonesia.
Dinna Wisnu Halaman 131

Seiring dengan peningkatan penghasilan, meluasnya teknologi informasi


dan komunikasi, ada lebih banyak orang Indonesia yang sanggup untuk
lebih sering makan di restoran, menginap di hotel (termasuk untuk semata
menghabiskan akhir pekan atau ketika ditinggal pembantu saat Lebaran),
dan berwisata. Untuk mengisi waktu atau melepas penat pada akhir pekan,
tak sedikit penduduk Indonesia yang memilih untuk berbelanja entah itu di
pasar atau di mal.
Pertumbuhan ekonomi di sektor-sektor tadi menghidupkan orang-orang
yang mengais hidup di sektor ekonomi informal, yakni mereka yang
memutar modal dan keterampilan yang terbatas demi menyambung hidup
dengan berdagang, menawarkan jasa sebagai sopir,menyewakan mobil,
melatih berenang, berselancar atau menyelam di laut, menjadi
bartender,menjaga parkir valet di bar dan restoran, atau menawarkan jasa
sebagai penyalur tenaga kerja.
Di satu sisi hal ini boleh dikatakan positif karena menciptakan lapangan
kerja dan memberi penghidupan.Tapi di sisi lain, kita perlu waspada.
Sejumlah orang yang sebenarnya tergolong mampu secara ekonomi ikut
memanfaatkan pertumbuhan sektor informal ini dan menyuburkan praktik
bisnis tanpa pencatatan ke negara. Misalnya dengan mendorong
outsourcing supaya pasokan barang yang masuk ke tokonya bisa lebih
murah, menolak merekrut pekerja dengan status full-time walaupun secara
praktik pekerja tersebut selalu mangkal di situ, atau menekan upah.
Kelompok orang berduit macam ini termasuk yang dibenci juga oleh
pebisnis resmi karena mereka merusak standar upah, kesehatan dan
keselamatan kerja, serta melanggar aturan-aturan ketenagakerjaan. Salah
satu kerentanan yang sangat serius yang perlu menjadi perhatian bersama
akibat kebobrokan pengelolaan pertumbuhan sektor informal di tengah-
tengah pertumbuhan ekonomi adalah meluasnya kasus infeksi HIV/AIDS
dengan angka yang tinggi di Indonesia.
Antara Januari sampai Maret 2012, jadi hanya dalam kurun waktu tiga
bulan, telah terjadi 5.991 kasus baru orang-orang yang melaporkan terkena
infeksi virus HIV. Bandingkan angka ini dengan total jumlah kasus HIV
sepanjang 2006 yang jumlahnya 7.195 kasus atau pada 2007 yang
berjumlah 6.048 kasus. Artinya bahwa telah terjadi percepatan kasus
infeksi HIV yang memprihatinkan.
Kasus AIDS tertinggi, menurut laporan Menteri Kesehatan pada Mei
2012, terjadi pada kaum wirausaha (3.481 kasus), ibu rumah tangga (2.998
kasus), orang upahan non-profesional (2.882 kasus), petani / peternak /
nelayan (1.051 kasus), buruh kasar (1.002 kasus), anak sekolah dan
mahasiswa (885 kasus), serta pekerja seks (702 kasus). Artinya bahwa
sektor informal adalah korban AIDS tertinggi.
Dinna Wisnu Halaman 132

Ada dua studi yang cukup komprehensif pernah dilakukan Badan Pusat
Statistik bekerja sama dengan UNDP, UNAIDS, juga oleh ILO pada 2010
yang menunjukkan infeksi HIV dan AIDS telah menyebabkan kerentanan
ekonomi yang sangat tinggi kepada individu terinfeksi dan keluarganya.
Perawatan yang dibutuhkan akan menguras biaya setidaknya lima kali
lipat biaya kesehatan keluarga sehat sehingga pengeluaran untuk urusan
seperti pendidikan akan berkurang drastis.
Selain itu, infeksi HIV/AIDS juga akan menimbulkan pengangguran
karena biasanya yang terinfeksi adalah penduduk usia produktif dan
HIV/AIDS menurunkan daya tahan tubuh.Jika kesehatan penderita
semakin buruk, anggota keluarga dengan usia produktif lain juga ikut
menganggur karena terpaksa merawat penderita. Perhatikanlah juga bahwa
kasus-kasus terbaru HIV/AIDS muncul tertinggi jumlahnya di Bali, Jawa
Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, dan Kepulauan Riau.
Dari segi proporsi jumlah orang terinfeksi HIV/AIDS per 100.000
penduduk, Papua punya persentase terbesar, diikuti oleh Bali, DKI
Jakarta, Kalimantan Barat, Kepulauan Riau, Papua Barat, dan Yogyakarta.
Daerah-daerah ini adalah daerah yang tinggi penganggurannya, tapi tinggi
pertumbuhan ekonominya sehingga sangat rentan menjadi titik
menjamurnya kegiatan sektor informal.Sebagian lain adalah daerah-daerah
pertumbuhan ekonomi baru di mana masyarakatnya belum punya cukup
informasi tentang banyak hal, rendah keterampilannya, rendah modal dan
rentan ikut-ikutan saja. Artinya bahwa kita sungguh perlu memperlakukan
masalah penanggulangan HIV/AIDS ini secara lebih serius, bahkan
menempatkan ini dalam prioritas tinggi. Indonesia yang selama ini
menepuk dada karena bisa tumbuh melalui kegiatan ekonomi informal,
kini perlu lebih waspada pada bahaya lain yang sudah di depan pintu.
Sumber: SINDO, 19 Desember 2012
Dinna Wisnu Halaman 133

Optimisme Baru
Selamat Tahun Baru! Di awal tahun ini, saya ingin berbagi cerita tentang
perjumpaan saya dengan seorang kawan baik, perempuan Indonesia
berprofesi akuntan yang sudah lama menetap di Amerika Serikat.
Sebagaimana layaknya pertemuan seorang kawan lama, apalagi karena dia
sudah saya anggap seperti adik sendiri, perbincangan antar kami mengalir
sangat lancar. Ia menanyakan apa saja perkembangan politik ekonomi
Indonesia dan apa saja yang sedang dikembangkan di Tanah Air. Satu
pertanyaan yang sangat menggelitik dari dia. Apa yang harus kita kerjakan
pada 2013, terutama para orang muda Indonesia?
Pertanyaan macam itu yang sebenarnya perlu didiskusikan secara berkala
di antara praktisi dan pemikir di Indonesia.Negeri ini termasuk negeri
berpopulasi penduduk usia muda. Rugi besar bila kita mengabaikan
potensi mereka. Apalagi tahun 2013 adalah tahun yang sangat menentukan
bagi kelangsungan pertumbuhan ekonomi dan daya saing Indonesia dalam
percaturan politik ekonomi global. Ini tahun di mana kita perlu bergerak
cepat melengkapi kekurangan dan kelemahan supaya tepat 1 Januari 2014
segala instrumen bagi Indonesia sebagai negara maju sudah siap pakai.
Gerak cepat diperlukan karena tahun ini negara-negara Barat masih akan
disibukkan oleh pergulatan membangun “jembatan penyelamat” bagi
perekonomian mereka yang kembang-kempis. Dari segi regulasi, mereka
butuh waktu untuk sampai pada satu kesepakatan politik internal. Namun,
jangan kita lengah. Penduduk di negara-negara tersebut termasuk cepat
beradaptasi. Dengan bekal pendidikan, keterampilan, mentalitas serta
kebiasaan hidup (habitus) kompetitif dalam kehidupan yang serba
individualistis, mereka akan menciptakan caracara baru untuk menyalip
Indonesia, China, India, Brasil.
Mereka sudah punya instrumennya seperti sistem perbankan yang maju,
sistem logistik dan mekanisme bisnis hulu-hilir yang lengkap dan satu
atap, serta cara berpikir yang sistematis dan berstandar internasional.
Jangan heran, mereka pasti lebih agresif melakukan penetrasi ke
Indonesia. Sektor swasta di belahan dunia Barat tidak akan tinggal diam
menunggu pemerintahnya tiba pada kesepakatan politik. Negara-negara
berkembang seperti Indonesia akan makin merasakan tekanan ekonomi
pasar global. Bukan tekanan secaraabstrak,tetapi riil karena sosok tekanan
itu bisa dilihat langsung di Tanah Air.
Pasokan barang dan jasa dari berbagai negara di seluruh dunia akan
dengan mudah ditemui di Indonesia, mulai dari barang pecah belah dari
Turki, sepatu dan tekstil dari China, teknologi ramah lingkungan dari
Dinna Wisnu Halaman 134

Spanyol hingga jasa layanan teknologi informasi dari India dan masih
banyak lagi. Di kala penduduk di belahan dunia lain mengetatkan ikat
pinggang dan mengurangi porsi belanja, penduduk Indonesia justru sedang
hobi (dan mampu) berbelanja.Wajar jika negara-negara lain ingin agar
orang Indonesia berbelanja produk dan jasa buatan mereka.
Yang repot tentu para produsen lokal. Jika harga dan mutu barang serta
jasa mereka tidak dianggap keren atau mewah oleh konsumen, kalah
sainglah dia. Jika tak ada gebrakan insentif untuk orang Indonesia
membeli produk dan jasa lokal, akhirnya kita akan sibuk mengisi pundi-
pundi uang negara lain saja. Namun, saya kemudian diingatkan oleh
keunikan hubungan antarorang Indonesia dan rata-rata orang Asia.
Misalnya hubungan saya dengan kawan tadi. Kami sama sekali tidak
punya ikatan darah dan kami bertemu dalam usia dewasa. Kebetulan kami
“klik” dan nyaman berdiskusi sehingga meskipun sudah hidup berjauhan,
kami saling ingat.
Ketika bertemu,tanpa direncanakan, kami saling bertukar hadiah. Di situ
saya terhenyak karena meskipun ia sudah lebih dari 18 tahun hidup dan
bekerja di AS, kultur Indonesia masih melekat erat dalam dirinya.
Rupanya tiap kali melihat barang unik (dan tidak murah lho), ia terpikir
untuk membelikan itu untuk saya dan anak saya. Kata “kamu seperti
saudara sendiri” dimaknai sungguh-sungguh dengan memberikan yang
terbaik. Penuh perhatian dan tulus. Hubungan semacam itu tidak pernah
saya rasakan dalam budaya Barat.Bahkan antarkeluarga sedarah pun ritual
bertukar hadiah di antara mereka lebih sering karena alasan praktis saja.
Hadiah pun diberikan karena alasan harga dan bukan karena ikatan
sentimental dengan pihak yang menerima hadiah. Ini unik. Orang
Indonesia di mana pun mereka berada sebenarnya loyal satu dan lainnya.
Artinya ada ikatan emosional yang bisa dimanfaatkan untuk memperkuat
jaringan penguatan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan teknologi bangsa
ini. Tidak selalu dengan pendidikan formal, tetapi dengan berbagi
pengalaman. Bayangkan dahsyatnya bila tiap orang Indonesia bergegas
menyerap ilmu dari segala penjuru bumi dan menyalurkannya untuk
membangun kekuatan sosial ekonomi.
Tak sulit pasti karena rata-rata orang Indonesia sebenarnya sangat lihai
mengambil hati orang. Alih teknologi akan selalu mahal jika kita
menunggu saja. Mereka yang bersekolah, bekerja atau menetap di luar
negeri adalah modal kita untuk menyerap informasi dan keahlian
sebanyak-banyaknya dari negara-negara lain. Hal ini pernah terjadi di
India pada era 1980–1990-an di mana banyak anak muda cerdas tak
kembali ke India setelah menyelesaikan tugas belajar di Eropa dan
Amerika.
Dinna Wisnu Halaman 135

Namun ternyata sejauh-jauhnya mereka pergi, ikatan terhadap tanah leluhur


lebih kuat tarikannya ketimbang materi ekonomi. Saat ini India dikenal
sebagai sebuah negeri outsourcing, khususnya di bidang teknologi informasi.
Sekaranglah kesempatan untuk menyelami para pesaing kita, apalagi pihak
Barat tak segan membuka diri di kala ekonomi mereka sulit seperti ini.
Bangsa Indonesia perlu bersyukur bahwa dibandingkan dengan negara-negara
lain, kita termasuk bangsa yang berhasil melewati sejumlah krisis ekonomi
global. Melewati krisis ekonomi sekaligus politik di tahun 1998, kita makin
menyadari sistem dan pemimpin seperti apa yang dibutuhkan negeri ini.
Gerakan reformasi telah melapangkan jalan bagi tokoh-tokoh politik muda.
Sejumlah pemikir dan kaum intelektual yang beriktikad baik berhasil
mendapatkan akses politik dan karier baik di kementerian.
Politisi busuk pun dengan lebih mudah dikenali. Korupsi tampaknya akan
tetap menjadi fokus perhatian di tahun ini. Meskipun ada yang apatis atau
kecewa dengan banyaknya kasus korupsi yang terungkap, saya melihat itu
semua sebagai hal positif yang perlu diapresiasi karena penegak hukum mulai
unjuk gigi memburu para politikusbirokrat yang telah menggerogoti uang
rakyat. Bila tidak positif,mustahil kiranya para investor tetap memercayakan
uangnya untuk diinvestasikan di Indonesia.
Kita tak boleh lupa akan naluri tulus individu Indonesia yang senang berada
dalam kebersamaan.Kita perlu yakin bahwa individu yang baik akan terus
berjuang mengasah keterampilan untuk menangani kecurangan, korupsi,dan
kekerasan. Kita buka kesempatan seluas-luasnya bagi orang baik untuk
berperan dalam kehidupan publik di Tanah Air. Satu lagi hal yang
menggembirakan adalah bahwa ideologi partai politik mulai terkuak dan tidak
lagi sembunyi di bawah bayang-bayang sektarian.
Partai politik tidak lagi sibuk berlomba-lomba mewacanakan isu nasionalisme
versus agama, tetapi mulai mengangkat isu-isu yang berkaitan dengan
kewarganegaraan, termasuk untuk hidup bebas korupsi.Tentu saja di sejumlah
daerah masih ada saja orang yang mudah termakan isu sektarian, tetapi kita
perlu yakin bahwa kecerdasan politik masyarakat dan partai politik akan
makin berkembang. Percayalah, bangsa ini punya kemampuan beradaptasi
dan kerja sama yang baik.
Para pemimpin dan politisi negeri ini perlu memupuk dan memfasilitasi
kemampuan warga ini dengan sebaik-baiknya. Jangan serahkan
pengembangan sumber daya manusia pada pasar. Jangan biarkan orang muda
yang peduli cuma jadi penonton dan komentator. Buatlah mereka menjadi
bagian dari langkah strategis yang terencana sehingga tahun peluang ini
membuahkan hasil sebaik-baiknya.
Sumber: SINDO, 02 Januari 2013
Dinna Wisnu Halaman 136

Arah, Tujuan, dan Manusianya


Pada 4 Januari 2013, Menteri Luar Negeri (Menlu) Marty Natalegawa
menyampaikan pidato awal tahun sebagai bagian dari tradisi di
Kementerian Luar Negeri (Kemlu). Bagi Anda yang belum sempat
mendengar pidato tersebut, dengan mudah Anda dapat memperolehnya di
internet. Pidato tahun ini cukup menarik untuk ditelusuri, khususnya
dibandingkan dengan sejumlah pidato Menlu dalam kurun waktu lima
tahun ini. Tampak jelas bahwa ada nuansa percaya diri yang makin kental
dari Kemlu bahwa Indonesia bisa didengar dan ditunggu oleh bangsa-
bangsa lain untuk melahirkan inisiatif-inisiatif yang segar bagi percaturan
politik dunia yang sedang karut-marut.
Seperti dikatakan Menlu: “… sepanjang tahun 2012 (politik luar negeri
Indonesia) tanpa henti telah bekerja keras untuk memelihara stabilitas
dan keamanan di kawasan dari berbagai ancaman … menciptakan suatu
tatanan di kawasan … penguatan norma-norma dan prinsip hubungan
baik antarnegara ….”
Ya, saya sepakat bahwa Indonesia memang dicari dan digugu oleh negara-
negara lain. Indonesia terbukti bisa melakukan terobosan diplomasi yang
menyejukkan. Kepercayaan diri itu adalah bekal penting untuk
mengarungi ketidakpastian politik dan ekonomi di tahun 2013.
Tahun ini Indonesia setidaknya akan menemui tantangan dalam hal
penguatan demokrasi di dalam negeri, demokratisasi di sejumlah negara
ASEAN, penguatan mekanisme damai dan sentralitas ASEAN dalam hati
para negara anggota, upaya mengatasi ketegangan di Laut China Selatan
dan Asia Timur, serta setumpuk masalah perlambatan ekonomi global dan
aksi kekerasan di sejumlah belahan dunia lain seperti Timur Tengah,
Afrika, serta di dalam negeri.
Kepercayaan diri membantu Indonesia untuk berani menyatakan pendapat,
bahkan menyumbang dana untuk kegiatan yang dianggapnya benar.
Contohnya saja minggu ini Menlu Natalegawa bertandang ke Myanmar
untuk menyaksikan sendiri kondisi di negara bagian Rakhine yang telah
membuat geger karena rusuh dan memakan korban jiwa dan
meminggirkan sejumlah manusia, khususnya kelompok muslim Rohingya.
Oleh Pemerintah RI, Menlu bahkan dibekali uang USD1 juta untuk
kegiatan kemanusiaan di sana. Kepercayaan diri semacam itu sejalan
dengan niat Indonesia untuk secara konkret menjadi bagian dari solusi.
Hal-hal seperti ini yang ditunggu. Secara tidak langsung, keaktifan
Indonesia yang mengedepankan objektivitas informasi dan meminimalkan
Dinna Wisnu Halaman 137

spekulasi adalah contoh kegiatan yang membuat negara anggota ASEAN


merasa bahwa solidaritas ASEAN itu bukan isapan jempol.
Salah satu tantangan politik luar negeri kawasan Asia di 2012 adalah
membuat negaranegara anggota ASEAN, khususnya masyarakat awam,
merasakan kegunaan dan sentralitas ASEAN. Bahwa bantuan yang cepat
dan tanggap tidak datang dari AS, China, Jepang atau mana pun, tetapi
justru dari Indonesia. Ada satu pendekatan yang beda dari Menlu
Natalegawa kali ini.
Di satu sisi bukan hal baru bahwa ia mengedepankan idenya untuk selalu
menjadi kekuatan penyeimbang dalam persaingan kekuasaan di tatanan
regional maupun global. Istilah yang ia pilih adalah “dynamic
equilibrium”. Istilah tersebut buat saya terlalu abstrak. Mudahnya,
menurut saya, prinsip itu sejenis dengan “calculative pragmatism” alias
pragmatisme yang dihitung betul, tidak berkutat di urusan perdebatan
ideologi atau wacana, melainkan langsung memanfaatkan kesempatan
yang ada di depan mata walaupun dengan perhitungan yang matang.
Contohnya, seperti disebutkan dalam pidato, dengan memperluas
kemitraan non-tradisional di Benua Afrika dan Asia agar pertumbuhan
ekonomi meningkat dan tercipta ketahanan pangan. Jika di tahun 2009-
2012 cara yang dikedepankan Menlu Natalegawa untuk menjalankan
pragmatisme adalah dengan memanfaatkan peluangpeluang multilateral
seperti G- 20, WTO, PBB, dan OIC (Organisasi Kerja Sama Negara-
Negara Islam), dalam pidato kali ini cara yang dipilih adalah penguatan
kerja sama bilateral.
Ini perubahan cara yang menarik. Apalagi ada upaya sejumlah rekan di
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kemlu untuk membuat buku panduan
praktik diplomasi bilateral yang mestinya tidak lama lagi akan launching.
Artinya memang pragmatisme itu diarahkan pada penentuan nasib secara
riil. Forum multilateral biasanya lebih efektif untuk membangun wacana
dan kerangka berpikir.
Yang bisa melahirkan action memang diplomasi bilateral. Hanya saja,
perlu dicatat juga hal-hal berikut. Pertama, diplomasi bilateral
membutuhkan kedalaman hubungan dengan negara mitra. Artinya
penguatan strategi diplomasi bilateral mustahil bila tidak dilengkapi
dengan jajaran duta besar dan staf kedutaan, konsulat jenderal serta
kementerian luar negeri yang andal. Padahal kita tahu, sampai akhir tahun
2012, masih ada puluhan posisi strategis yang kosong, dirangkap-rangkap,
atau bahkan dipegang oleh duta besar “kosmetis”. Ini istilah saya untuk
duta besar yang semata terpilih karena alasan sopan santun memberi
jabatan kepada seseorang.
Dinna Wisnu Halaman 138

Kedua, diplomasi bilateral tidak bisa mengesampingkan multi-track


diplomacy. Artinya tetap saja harus ada sejumlah pendekatan yang
dilakukan paralel di berbagai level, baik dilevel kepala negara, diplomat
maupun kelompok ahli dan perwakilan pegiat masyarakat (civil society).
Menlu masih perlu membenahi model-model multi-track diplomacy yang
ada supaya punya kecukupan dana operasional, diarahkan pada kegiatan
terpadu, dan jeli dalam melibatkan pihak-pihak pendorong kerja sama.
Ketiga, diplomasi bilateral memerlukan sentralitas Kemlu dalam inisiatif
kegiatan dan pelaksanaan kerja sama dengan negara-negara lain.
Mengapa? Karena diplomasi bilateral melibatkan protokol dan seringkali
menyangkut pendekatan khas yang berbeda-beda untuk tiap negara mitra.
Salah pendekatan bisa berujung pada ketegangan hubungan diplomatik.
Jadi bayangkan repotnya bila kementerian-kementerian lain di Indonesia
abai untuk selalu melibatkan dan mendengarkan arahan Kemlu dalam
berkegiatan dengan negara mitra.
Jika pola komunikasi antarkementerian masih dibelenggu oleh birokrasi
yang egosektoral, pendekatan diplomasi bilateral ini bisa menjadi
bumerang bagi Kemlu di mana mereka sekadar repot sana sini menjadi
pemadam masalah, padahal sumber masalahnya justru di dalam negeri.
Tapi perlu diingat juga bahwa tidak semua hal bisa kita tarik ke
pragmatisme atau upaya pencarian ekuilibrium.
Dalam hal negosiasi, kita pun perlu setia padahal hal ideologis yang
menjadi karakter bangsa ini. Misalnya, kita harus tetap pada pendirian kita
untuk tidak 100% mengarah pada liberalisme ekonomi, menjunjung
demokrasi, antikorupsi, antiterorisme, anti-sektarian, serta kepastian
hukum bagi perlindungan HAM. Dynamic equilibrium tidak hanya
menyangkut kelincahan kita secara horizontal (yakni dalam menyikapi
polarisme atau dikotomi dalam politik global), tetapi juga vertikal (yakni
dalam penyikapan ideologis).
Arah kebijakan luar negeri sudah disuarakan. Tujuannya pun sudah
ditetapkan. Sekarang tinggal bagaimana para manusianya menyelaraskan
langkah agar tujuan itu tercapai dengan hasil optimal.
Dinna Wisnu, Co-Founder & Direktur Pascasarjana Bidang Diplomasi,
Universitas Paramadina
SINDO, 09 Januari 2013
Dinna Wisnu Halaman 139

Konversi Kapital
Ketika Menteri Luar Negeri Dr Marty Natalegawa menegaskan bahwa
salah satu fokus kebijakan luar negeri Indonesia pada 2013adalah menjadi
bagian dari solusi bagi permasalahan-permasalahan di dunia dan
menghadirkan perdamaian,terbetik pertanyaan.
Bagaimana caranya? Apa saja ihwal yang bisa dilakukan Indonesia saat
ini? Jika kita tengok di Asia Tenggara,dalam konteks ASEAN, ada cukup
banyak “ladang pekerjaan” bagi Indonesia untuk tampil sebagai pendamai
dan bagian dari solusi. Misalnya soal sengketa sumber daya alam dan
batas teritori laut di Laut China Selatan, ketegangan antara Kamboja dan
Thailand, tersingkirnya kelompok minoritas tertentu di Myanmar, dan
jangan lupa,ketegangan antarsaudara serumpun Malaysia dan Indonesia.
Semuanya cukup rumit untuk diselesaikan. Sebagian dari masalah tersebut
adalah masalah-masalah lama yang sudah berpuluh-puluh tahun
terpendam tanpa penyelesaian dan kini mencuat ke luar. Rumit karena
sebenarnya akar masalahnya ada di dalam negeri masing-masing. Ada
problem penerimaan terhadap kelompok etnik tertentu, pemerintah yang
merasa tidak nyaman dengan partisipasi publik dalam politik, lemahnya
penegakan hukum di dalam negeri, dan lain-lain masalah yang sebenarnya
memang bukan urusan bagi negara lain.
Masalah etnis Rohingya misalnya sebenarnya sulit bagi Indonesia untuk
sungguh menjadi penengah karena masyarakat lokal dan pemerintah
Myanmar cenderung tak mau ambil pusing. Sang tokoh pemenang Nobel
Perdamaian Aung San Suu Kyi bahkan memilih untuk wait and see.
Kenyataannya masyarakat di sekitar sana menolak kehadiran kelompok
etnis tersebut dan mereka secara ekonomi memang sangat miskin.
Bantuan-bantuan kemanusiaan semata akan menguap bila akar
masalahnya tak terselesaikan dan disepakati oleh masyarakat setempat.
Dalam suatu perbincangan terpisah dengan dua rekan asing sesama warga
Asia Tenggara, di mana masing-masing relatif muda usia dan merupakan
orang-orang kepercayaan pemimpin tertinggi di dua negara, jawaban dari
pertanyaan tadi ternyata sangat jelas. Tidak ada keraguan, tidak ada
kebimbangan. Di mata mereka, Indonesia dapat diandalkan oleh banyak
negara di Asia untuk menciptakan perdamaian atas dasar kerja sama yang
tulus.
Mereka juga yakin, Indonesia berpotensi menjadi penghadir pembaruan
dalam dunia diplomasi dan hubungan internasional. Harapan tersebut
sebenarnya harapan di dalam hati saya, namun mendengarnya dari orang
lain tak ubahnya diberi angin segar kala udara terasa pengap.Tak mungkin
Dinna Wisnu Halaman 140

Indonesia diberi kepercayaan yang demikian besar bila tidak ada potensi
yang sungguhan, bukan? Mari kita cek. Indonesia memang negara yang
sangat ingin dilekatkan dengan cita-cita perdamaian.
Dalam pembukaan UUD 1945, negara ini diharapkan untuk bisa
menghadirkan kesejahteraan, keadilan, dan perdamaian ke seluruh pelosok
bumi. Yang menarik di sini adalah perspektif penghadiran kesejahteraan,
keadilan, dan perdamaian dalam UUD 1945 tersebut yakni bukan dalam
konteks Indonesia sebagai ratu adil bagi negara-negara lain, atau
penyelamat dunia, melainkan sebagai penjaga,pengawal, pendukung, dan
pendorong perdamaian.
Kesejahteraan, keadilan, dan perdamaian dianggap sebagai hak seluruh
bangsa sehingga Indonesia semata menghantar negara-negara lain pada
fitrahnya. Ini hal unik. Saya yakin di antara negara-negara berpenduduk
terbesar di dunia, apalagi di antara negara yang pertumbuhan ekonominya
tertinggi di dunia (pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini terpesat nomor
dua di dunia setelah China), hanya Indonesia yang menekankan pada
distribusi dan pemerataan kesejahteraan, keadilan, dan perdamaian.
Contohnya dalam pernyataan baru-baru ini, Indonesia akan memajukan
satu tema tentang pentingnya membangun infrastruktur dalam pertemuan
APEC tahun ini. Sungguh suatu keunikan yang patut diapresiasi. Ketika
negara-negara lain menempatkan prioritas setinggi-tingginya pada
akumulasi kekayaan dan kekuasaan, Indonesia justru menempatkan hal
lain dalam prioritas politik internasionalnya. Naif? Saya pikir tidak juga
karena negara tidak semua negara bisa punya status politik yang demikian
dikenalnya oleh negara-negara lain.
Indonesia tengah membangun sebuah capital symbolic, bila diizinkan
menggunakan istilah Pierre Bourdieu (filsuf dan sosiolog Prancis) secara
longgar. Sebuah negara akan mampu memimpin dunia tidak hanya dengan
kapital ekonomi, tetapi juga perlu menguasai capital symbolic di mana
legitimasi kepemimpinan diakui bukan karena tekanan, melainkan negara
lain setuju dan sepakat dengan ide yang kita lontarkan. Agar bisa
mendapatkan legitimasi sebagai negara pendamai, setidaknya ada empat
faktor yang dibutuhkan. Pertama, reputasi.
Dalam politik dunia, gerak-gerik tiap bangsa dianalisis berdasarkan
catatan atas kepatuhan mereka terhadap perjanjian, norma, dan protokol-
protokol yang disepakati di tataran regional dan multilateral. Jumlah
konvensi internasional yang ditandatangani mungkin tidak berhubungan
langsung dengan demokrasi. Namun, semakin banyak konvensi yang
diadopsi menunjukkan keinginan untuk mengupayakan perdamaian.
Dinna Wisnu Halaman 141

Ambil contoh dalam soal Konvensi Perburuhan di mana Indonesia adalah


salah satu negara di ASEAN yang telah mengadopsi seluruh Core Labour
Standard. Singapura sebagai negara yang ekonominya tinggi belum
menandatangani Konvensi No 87 tentang Kebebasan Berserikat hingga
saat ini, sementara kita sudah meratifikasinya sejak lama. Negara yang
pendamai akan tetap setia pada nilainilai idealisme meskipun sulit dan
besar tantangannya.
Kepatuhan tersebut akan dengan mudah ditangkap oleh negaranegara lain.
Kedua, konektivitas pada mereka yang menentukan keputusan-keputusan
strategis di tingkat global. Tidak ada yang bisa menghadirkan perdamaian
dan solusi sendirian, bukan? Pihak yang paling skeptis dan mengganggu
pun harus bisa direngkuh supaya tidak destruktif. Untuk itu, trust alias rasa
percaya dari berbagai pihak adalah modal penting untuk membangun
kepercayaan dari berbagai pihak dan menjadi penghubung antara pihak
yang satu dan yang lain.
Dalam kasus Myanmar, Indonesia dan negara anggota ASEAN berupaya
tidak mengikuti aksi pemberian sanksi ekonomi yang diterapkan oleh
Eropa atau Amerika karena menyadari bahwa transisi demokrasi di Asia
Tenggara harus dimulai inisiatifnya dari negara itu sendiri. Pengalaman
kudeta berkali-kali memberikan pelajaran di mana pencangkokan sistem
politik yang baru dan instan tidak akan membawa perubahan yang lebih
baik dari keadaan sebelumnya.
Ketiga, kegigihan dan keberanian untuk secara terbuka melakukan
pembaruan segera (jadi tidak semata menanamkan sesuatu yang setelah
bertahun lagi baru terasakan manfaatnya). Hampir semua orang ingin hasil
yang instan, apalagi karena perdamaian membutuhkan modal rasa percaya
yang besar. Untuk itu, sinyal apa pun yang menegaskan kegigihan dan
keberanian adalah pangkal berkembangnya kerja sama yang baik dari
berbagai pihak. Indonesia dalam hal ini kerap dipuji karena kegiatan
diplomasi tanpa henti yang sifatnya justru quiet alias diam-diam.
Rata-rata diplomat Indonesia paham betul bahwa banyak hal penting
justru bisa ditembus tanpa gembar-gembor di media dan forum terbuka.
Untuk inilah kita dipuji. Keempat, dukungan dari politik lokal.Tidak ada
politik global maupun regional yang sukses bila pihak-pihak yang terlibat
dalam politik lokal tidaklah sejalan dalam kata dan karsa. Profesor ilmu
politik yang kebetulan juga dosen saya dulu, William Liddle, mengatakan
bahwa seburuk-buruknya tampilan pengambilan kebijakan di Indonesia
sebenarnya komunikasi politik di Indonesia telah mampu membawa
konsolidasi demokrasi berjalan maju.
Dalam banyak aspek Indonesia jauh lebih baik dalam menjaga nilai-nilai
demokrasi dan kesadaran itu cukup meluas hingga ke kalangan
Dinna Wisnu Halaman 142

masyarakat biasa. Empat hal di atas adalah modal minimal yang Indonesia
telah miliki dan saya yakin masih banyak modal-modal lain yang tidak
dapat disebutkan satu persatu. Banyak modal yang dapat kita
identifikasi,namun yang lebih penting adalah tugas untuk melakukan
konversi terhadap modal-modal tersebut menjadi sesuatu yang lebih tinggi
nilainya yaitu mendapatkan pengakuan yang lebih luas dari publik.
Hal ini yang dilakukan negara-negara maju yang sekarang memimpin
dunia. Mereka tidak hanya menguasai modal ekonomi, tetapi juga sosial
dan budaya dengan kreativitas dan penemuan-penemuan. Kebebasan dan
demokrasi adalah syarat modal-modal itu dapat dikonversi oleh seluruh
warga negara dengan segala kreativitasnya. Bila negara tidak menjamin
demokrasi dan kebebasan, niscaya modal-modal itu akan terinflasi oleh
zaman dan kita akan selalu tertinggal dan terbelakang.
Sumber: SINDO, 16 Januari 2013
Dinna Wisnu Halaman 143

The Second Chance


The second chance, alias kesempatan kedua, merupakan hal istimewa.
Idiom ini lekat dengan suatu rasa lega dan bahagia bahwa suatu masa
kritis telah terlampaui dan masih tersedia kesempatan untuk berkiprah atau
memperbaiki diri.
Secara normatif, tiap manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua.
Tetapi dalam politik, tidak semua politisi bisa memperoleh kesempatan
kedua. Saat ini ada sejumlah politisi yang baru saja beruntung
mendapatkan kesempatan kedua, yakni Presiden Barack Obama di
Amerika Serikat dan Perdana Menteri Shinzo Abe di Jepang. Selain itu, di
Korea Selatan ada Presiden Park Geunhye, perempuan pertama yang
terpilih memimpin Negeri Ginseng yang selama ini dikenal sangat macho.
Ini memang kesempatan Geunhye yang pertama sebagai presiden, tetapi
ini adalah kesempatan kedua bagi keluarga Park memimpin Korea Selatan.
Geunhye adalah anak dari Presiden Park Chung-hee, jenderal yang
peranannya dianggap kontroversial di Korea karena naik sebagai presiden
melalui kudeta dan ditembak mati oleh pengawalnya, tetapi dikenal juga
sebagai pendorong industrialisasi di Negeri Ginseng itu. Meskipun punya
kesempatan kedua, ketiga politisi ini sama-sama punya masa tugas yang
relatif sangat pendek.
Presiden Barack Obama tidak bisa dipilih lagi karena konstitusi AS
membatasi kepemimpinan seseorang sebagai presiden dua kali periode
saja (empat tahun per periode). Artinya bahwa segala kerumitan di dalam
dan luar negeri yang dialami AS harus selesai dalam waktu kurang dari
empat tahun, karena tahun terakhir biasanya sudah disibukkan dengan
persiapan pemilu. Di Korea Selatan, seorang presiden hanya bisa berkuasa
satu kali periode, yakni empat tahun. Sementara di Jepang, nasib seorang
perdana menteri (PM) bergantung pada dukungan anggota parlemen.
Dalam kurun waktu 23 tahun, sudah terjadi 18 kali pergantian perdana
menteri di Jepang. Artinya, PM Abe punya waktu yang sangat singkat
untuk membuktikan dirinya. Dalam politik, jika waktu berkarya terbatas
maka opsinya ada dua: ikut arus mayoritas dan bergegas melahirkan
kebijakan dan proyek yang mudah terjangkau supaya hasilnya cepat
dilihat publik, atau melawan arus mayoritas dan bergegas mendesakkan
kebijakan baru agar muncul legacy (peninggalan) yang berkesan bagi
generasi selanjutnya.
Satu kesamaan yang terjadi ketika seorang politisi bergegas berupaya
menciptakan legacy adalah tantangan dari lawan politik. Dalam banyak
kasus, tantangan dari lawan politik ini bisa sangat mengganggu sehingga
Dinna Wisnu Halaman 144

melumpuhkan sejumlah inisiatif. Dalam konteks demokrasi, hal macam ini


jamak karena siapapun berhak untuk berkata tidak dan memilih untuk
berseberangan arah kebijakan dengan sang kepala pemerintahan.
Itu sebabnya kemudian kita kenal istilah ”kutukan kepemimpinan kedua”
(the second term curse), dimana langkah kepala pemerintahan dihadang
oleh skandal atau kontroversi yang dilakukan atau mendukung posisi
lawan politiknya. Kita masih ingat betul betapa Presiden AS Bill Clinton
terseok-seok menghadapi skandal Monica Lewinsky-nya yang nyaris
membuatnya ”dipecat” (mengalami impeachment) atau Presiden AS
Richard Nixon dengan skandal Watergatenya yang mengakibatkan ia
mundur dari kursi kepresidenan.
Kesempatan kedua juga berpotensi hancur karena kontroversi dalam
hubungan luar negeri. Di satu sisi, strategi ”menciptakan musuh bersama”
memang cara paling cepat menggalang dukungan publik di dalam negeri
agar sejumlah agenda dan inisiatif politik lebih mulus jalannya. Namun
jika ternyata negara lain bangkit menyerang strategi tersebut, apalagi bila
strategi tersebut dipandang agresif oleh negara lain, tidak mustahil rusak
juga kesempatan kedua tersebut.
Kita lihat contohnya ketika Presiden AS Ronald Reagan menghadapi
krisis Iran Contra, dan George W Bush direpotkan dengan pertumpahan
darah yang seakan tanpa ujung di Irak dan Afghanistan dan mengurangi
respek negara lain terhadap reputasi AS dalam hal penegakan nilai-nilai
demokrasi dan hak asasi manusia. Oleh karena itu, pidato pengambilan
sumpah Presiden AS Barack Obama menarik untuk disimak. Di luar
dugaan, Presiden Obama memilih untuk kalem, tenang, dan tidak
menyudutkan lawanlawan politiknya, baik di dalam maupun di luar
negeri.
Bahkan, ia tidak menyebutkan sama sekali kesulitan dia selama ini untuk
menggolkan inisiatifnya. Obama menggarisbawahi saja bahwa inilah
saatnya bagi Amerika untuk bangkit dan mengakhiri segala krisis yang
melilit negeri itu. Obama memilih untuk mengingatkan warga AS akan
kebesaran demokrasi yang diimani oleh AS; termasuk sejarah demokrasi
dan esensi dari tanggungjawab bersama dalam menjadikan demokrasi
dengan berbagai perbedaan pendapat sebagai berkat dan bukannya
kutukan.
Ia menyoroti bahwa tiap manusia di AS berhak atas hal-hal yang sama,
mulai dari jaminan sosial hingga kesempatan kerja, karena itulah esensi
perjuangan para pendahulu namun semua itu hanya bisa terlaksana bila
terjadi pergerakan bersama (collective action). Secara implisit dapat
diartikan bahwa kemakmuran dan kemapanan yang diidamkan tiap warga
negara menghendaki kerja keras masing-masing orang, sekaligus kerja
Dinna Wisnu Halaman 145

kolektif untuk menciptakan suasana yang menjamin bahwa tak ada yang
terpinggirkan dalam sistem pemerintahan dan legislasi negeri tersebut.
Ketika membandingkan pidato Obama ini dengan pidato-pidato PM
Shinzo Abe dan Presiden Geun-hye yang menekankan soal perlunya
membangun aliansi melawan dominasi negara tertentu atau demi
memperjuangkan kedaulatan negara, muncul kesadaran dalam diri saya.
Dimana Obama adalah politisi tulen yang sungguh paham esensi menjadi
negarawan dalam konteks demokrasi dan politik global yang menghendaki
rasa percaya.
Ia lihai menghadapi lawan politiknya, sekaligus tegas berpegang pada
idealisme yang bersandar pada nilai-nilai luhur pendiri bangsanya. Di luar
negeri, kita bisa lihat betapa Obama berusaha keras untuk menahan diri
dalam menghadapi berbagai letupan-letupan emosi dari China,
Jepang,Korea Selatan, serta sejumlah negara di Timur Tengah dan Afrika.
Bagi yang menghayati psikologi para diplomat, tindakan Obama untuk
menahan diri tadi tergolong luar biasa karena biasanya strategi
menghadapi ”aksi” adalah dengan ”bereaksi” supaya tidak kehilangan
muka di hadapan lawan politik di dalam dan luar negeri.
Tetapi Obama tak kelihatan khawatir sama sekali soal kehilangan muka di
hadapan negara lain. Pidato Obama kemarin menunjukkan kepercayaan
diri yang luar biasa bahwa AS akan tetap tampil sebagai figur pemimpin
dalam pergaulan internasional. Kuncinya satu: penghayatan akan nilai
demokrasi yang mengakui perbedaan pendapat, persamaan kesempatan
bagi siapapun, dan perlindungan bagi perbedaan pendapat agar tetap
disuarakan dengan damai.
Untuk itu hubungan antarnegara di Asia Pasifik akan sangat menarik
dalam empat tahun ke depan, apalagi menyusul deklarasi AS tahun lalu
untuk ”lebih hadir” di Asia-Pasifik. Jika Obama meneruskan
kepandaiannya bermanuver, tidak mustahil secara halus AS bisa
memenangkan dukungan luas untuk ”lebih hadir” di kawasan ini, apalagi
pada prinsipnya saya lihat tak ada satu pun negara di Asia-Pasifik yang
menolak sepenuhnya kehadiran tersebut.
Buat kita, penting untuk belajar bagaimana Obama mempertahankan
”kehadirannya” selama empat tahun ke depan di dunia saat ekonomi
mereka dalam krisis. Inilah era persaingan pengaruh bukan melalui otot
dan senjata, melainkan melalui diplomasi yang andal. Siap?
Sumber: SINDO, 23 Januari 2013
Dinna Wisnu Halaman 146

Indonesia, WEF, dan WTO


The Jakarta Post (28/1) memberitakan bahwa sejumlah negara mendukung
agenda yang diusulkan Indonesia dalam pertemuan tingkat tinggi APEC
(Asia-Pacific Economic Cooperation) di Bali pada bulan Oktober 2013
mendatang. Ini menurut Menteri Perdagangan Gita Wirjawan yang
menceritakan hasil dari pertemuan informal atas inisiatif Indonesia di sela-
sela pertemuan World Economic Forum (WEF) di Davos. Dalam berita itu
dikabarkan juga mantan Menteri Perdagangan yang sekarang menjabat
sebagai menteri pariwisata dan ekonomi kreatif, Mari Elka Pangestu,
sedang diusung sebagai calon pimpinan World Trade Organization
(WTO).
Dalam kesempatan yang berbeda, Kepala Badan Koordinasi Penanaman
Modal Dr Chatib Basri mengklaim Indonesia sebagai salah satu negara
favorit tujuan investasi yang menarik perhatian banyak pihak selama
pertemuan WEF. Dengan membaca berita tersebut, kita dapat merasakan
optimisme yang merekah dari para pejabat Indonesia, khususnya mereka
yang bergerak di lini perdagangan internasional.
Betul, dunia ini tak sabar untuk segera keluar dari kegelisahan akibat
lambannya pertumbuhan ekonomi dan beragam ketidakpastian politik
yang menyertai di sebagian besar negara dunia.Pertemuan tak kurang dari
600 investor dan pebisnis dari berbagai belahan negara, yang didampingi
juga oleh pejabat-pejabat negaranya, adalah forum pendongkrak semangat
untuk keluar dari krisis.
Siapa yang mereka lirik? Tentu negara-negara yang daya belinya
meningkat, populasinya relatif besar, dan politiknya relatif stabil atau bisa
diandalkan sebagai mitra kerja sama bisnis yang menguntungkan.
Indonesia, seperti selalu saya katakan sejak tahun lalu, adalah bak gadis
belia yang baru terlihat pamornya meskipun dalam sejumlah publikasi
WEF Indonesia justru terkesan “kurang cantik” karena tingkat daya saing
yang rendah, merosot, dan sebagainya.
Toh, apa pun kritik orang, siapa pun yang pernah berbisnis dan bekerja di
Indonesia hampir selalu betah. Ada trik menaklukkan hati bangsa ini yang
ternyata mudah ditemukan bangsa lain. Untuk itu, antusiasme Gita
Wirjawan, Mari Pangestu, dan Chatib Basri perlu ditempatkan dalam
proporsi yang tepat. Di satu sisi saya menyambut baik peluang bagi
Indonesia untuk tampil di forum-forum bergengsi dunia.
Di sisi lain, kita perlu paham juga kepemimpinan di forum dunia punya
implikasi di bidang ekonomi maupun sosial, apalagi karena dalam budaya
Indonesia, personalitas seorang tokoh adalah tumpuan harapan publik.
Dinna Wisnu Halaman 147

Maksud saya begini. WEF adalah forum besar yang idenya adalah
mempertemukan tokoh-tokoh (elite) di bidang bisnis, politik, dan
segelintir di bidang sosial agar kondisi dunia yang kerap senjang antara
kemajuan di bidang ekonomi dan sosial dapat diperbaiki.
Dalam istilah Prof Klaus Schwab, sang penggagas WEF yang
mengembangkan forum ini menjadi makin bergengsi sejak tahun 1971,
inilah tempatnya ide, visi, serta kesempatan berkembang bertemu. Tak
tanggung-tanggung, dengan bekal kemahirannya mengelola jejaring sosial,
politik, serta kepakarannya di bidang bisnis dan tentu kemujurannya, Prof
Schwab menjadikan pertemuan ini sebagai rutinitas, lengkap dengan
yayasan yang menampung social entrepreneurship dan mempertemukan
young global leaders (pemimpin muda berpotensi).
Gita Wirjawan dan Chatib Basri adalah contoh segelintir orang muda
Indonesia yang masuk dalam lingkar pergaulan WEF ini. Dalam dunia
diplomasi, pertemuan macam WEF dikenal sebagai side meetings,
pertemuan sampingan yang sifatnya lebih banyak informal daripada
protokoler. Para undangan hadir sebagai individu meskipun sebagian besar
dari mereka adalah orang-orang berduit dan berpengaruh, bahkan dengan
syarat tertentu misalnya dengan aset kekayaan perusahaan lebih dari
sekian miliar dolar, berpengaruh di negerinya, dan sebagainya.
Fungsi dari pertemuan ini adalah mencairkan suasana formal yang
biasanya ada di pertemuan antarkepala negara dan bisnis, misalnya di
APEC. Banyak ide, usul, bahkan curhat (berbagi perasaan) terjadi dalam
forum macam ini. Tak mengherankan, biasanya deal bisnis bahkan kerja
sama bilateral memang berawal dari pertemuan macam ini. Jadi wajar bila
para menteri kita begitu antusias ketika menerima tanggapan positif dan
perhatian di WEF.
Namun perlu dicatat kedekatan personal dalam forum-forum tersebut akan
diuji oleh reputasi negara, termasuk praktik tata kelola pemerintahan di
segala level dan hubungan mereka dengan aktor non-negara. Ketika tiap
person ini pulang ke perusahaan, kementerian, dan kota masing-masing,
terjadilah reality check. Timbang-timbang terjadilah. Jika “sang broker”
yang berangkat ke WEF sangat didengar oleh orang nomor satu, tidak
mustahil perjanjian bisa terwujud. Tapi itu pun bukan garansi kerja sama
yang mulus.
Di lapangan, senyum dan keakraban para elite ini tidak akan terasa. Para
direktur dan manajer akan bergulat dengan realitas pembuatan kontrak,
penghitungan biaya, rekrutmen staf, dan lain-lain yang tidak seindah
senyuman di forum. Masih terkait dengan kedekatan personal, rata-rata orang
Indonesia sangat mencari dan memuja tokoh-tokoh politik yang mendapatkan
Dinna Wisnu Halaman 148

penghargaan dan jabatan penting di luar negeri. Biasanya itu menjadi modal
legitimasi untuk naik jabatan dalam jenjang politik di dalam negeri.
Selain itu, publik juga menggantungkan harapan sangat tinggi kepada mereka.
Padahal, di negara-negara lain, jabatan-jabatan macam itu justru tidak
personal. Tidak ada beban berlebih dari publik kepada pejabat yang naik
karena sistem di negeri itu sudah berjalan sendiri–– tidak tergantung pada
person. Misalnya di WTO. Seorang direktur jenderal di WTO berfungsi
sebagai pengawas fungsi-fungsi administratif di lembaga itu.
Ada sekitar 700 staf yang perlu diurus. Urusan kebijakan justru kecil saja
peranannya. Memang sang dirjen akan pergi mewakili WTO ke sejumlah
pertemuan, tapi ia lebih sebagai juru bicara, manajer, dan pemberi nasihat.
Bayangkan waktu yang tersisa untuk menilik kondisi di dalam negeri
misalnya atau memperhatikan kebutuhan negeri sendiri. Sulit sekali! Kritik
terbesar bagi WTO saat ini adalah karena mereka dianggap tidak mampu
mendorong negosiasi perdagangan yang terkait dengan produk pertanian,
produk green (terkait prinsip sustainable development yang ramah
lingkungan), dan produk berhak cipta.
Kepercayaan publik kepada WTO sedang sangat rendah. Memang terjadi
penurunan tarif dalam beberapa produk, tetapi dalam realitas Uni Eropa,
China, bahkan Amerika Serikat, misalnya, menegakkan hambatan nontarif
yang merepotkan dan mahal bagi negara lain. Soal subsidi, misalnya, masih
tidak ada jalan tengah mengapa negara-negara berkembang haram
menerapkan subsidi, sementara hal itu dianggap wajar di negara maju.
Artinya, ke depan, tantangan dalam jangka pendek adalah menembus
kebuntuan itu. Kementerian Luar Negeri mencanangkan bahwa pendekatan
yang diprioritaskan adalah pendekatan bilateral, karena itu yang dianggap
lebih efektif ketimbang pencarian solusi di tingkat multilateral seperti di
WTO ataupun APEC.
Jelas, ini berseberangan dengan visi kementerian perdagangan, pariwisata dan
investasi yang tetap mendorong ke arah multilateral. Perlu diingat persoalan
liberalisasi perdagangan ataupun proteksionisme di Indonesia tidak bisa
diselesaikan di meja perundingan.
Dalam rangkaian pertemuan antarkementerian terkait ketahanan pangan,
energi, alih teknologi, infrastruktur, kehutanan, dan lain-lain, problem
terbesar Indonesia adalah manajemen makro yang tidak merespons kebutuhan
di tataran mikro, kuatnya mafia oknum yang membelokkan kebijakan
menjadi tambang uang pribadi, problem ketidakberdayaan petani dan pekerja,
dan lain-lain. Para tokoh kita sebaiknya berbagi tugas juga, tidak hanya
“keluar”, tetapi membenahi kesiapan Indonesia di dalam.
Sumber: SINDO, 30 Januari 2013
Dinna Wisnu Halaman 149

Jebakan Kuota Impor


Perhatian kita sedang tersita pada temuan KPK akan indikasi suap
terhadap Luthfi Hasan Ishaaq yang waktu itu menjabat sebagai presiden
Partai Keadilan Sejahtera serta kemungkinan keterlibatan Menteri
Pertanian Suswono yang kebetulan berasal dari partai politik yang sama.
Luthfi dan Suswono diindikasikan terlibat dalam pusaran impor daging
sapi yang sarat kongkalikong. Dugaan modusnya adalah perusahaan yang
ingin mendapatkan izin impor sengaja mendekat pada oknum ini agar
diberikan jatah kuota impor sekian ton. Sebagai imbalan disediakanlah
komisi.
Jika berbagai pihak menyoroti aspek kriminalitas dan penyalahgunaan
wewenang dari kasus itu, saya mengajak pembaca untuk melihat aspek
pasar perdagangan liberal dari hal itu. Kuota impor sesungguhnya
termasuk praktik yang diharamkan oleh organisasi pengatur perdagangan
dunia World Trade Organization (WTO). Dalam beragam kerja sama
perdagangan internasional, apalagi yang bertajuk “perdagangan bebas”
(free trade) mekanisme penerapan kuota impor termasuk yang dihindari.
Di antara negara-negara ASEAN pun praktik penetapan kuota impor ini
dilarang. Kuota impor adalah mekanisme pembatasan kuantitas barang
dari luar negeri yang akan dijual di dalam negeri. Dalam teori mekanisme
ini melindungi produsen produk tersebut (misalnya petani atau peternak)
di dalam negeri. Dengan membatasi jumlah produk impor yang beredar di
dalam negeri, harga beli dari produsen lokal diharapkan bisa dijaga karena
jumlah suplai barang tidak mengganggu keseimbangan harga.
Untuk kepentingan produsen atau rakyat di dalam negeri, sebuah negara
melakukan kebijakan proteksionis melalui kuota impor terhadap sebuah
produk. Dalam praktiknya, mekanisme kuota impor kurang disukai di
dunia internasional karena dianggap sebagai praktik diskriminasi bagi
produk negara lain. Dikatakan diskriminasi karena di hampir semua
negara, penetapan kuota impor biasanya bukan sekadar penetapan
kuantitas barang, melainkan juga disertai dengan serangkaian prasyarat
kualitas barang. Misalnya syarat agar produk impor memenuhi syarat
kesehatan, keselamatan, dan keamanan lingkungan hidup, dan agar produk
impor melalui tahapan karantina. Artinya, kualifikasi lolos dan tidak suatu
barang sangat bergantung pertimbangan pejabat negara yang mengurus hal
itu dan standarnya belum tentu dianggap adil oleh negara lain.
Penentuannya dianggap sepihak. Persoalan kuota impor ini memang
sangat problematik karena sejatinya tidak boleh ada double-standard
kecuali diperbolehkan atas dasar kondisi-kondisi tertentu yang biasanya
Dinna Wisnu Halaman 150

sudah ditetapkan seperti bencana alam, faktor iklim, dan faktor-faktor


force majoure lainnya.
Indonesia sebagai negara yang menerima prinsip-prinsip pasar bebas, (dan
sedang mengajukan calon sebagai dirjen WTO), tentu harus konsisten
dalam merumuskan prinsip perdagangannya di tingkat internasional. Bila
kita termasuk yang menentang praktik kuota di tingkat internasional, tentu
harus dilakukan juga di dalam negeri. Sebaliknya, bila kita mendukung
kuota, kita juga harus mendukungnya di tingkat internasional. Meskipun
dilarang, ada saja negara yang menerapkan kebijakan ini dengan alihalih
melindungi produk yang sangat sensitif (alias menyangkut hajat hidup
banyak produsen dan pemberi kerja di negeri itu).
China menerapkan kuota impor untuk produk pertaniannya, termasuk
beras dan biji-bijian. Kini Indonesia sedang diadukan Amerika Serikat
(AS) ke WTO karena mengurangi kuota impor daging sapi dari AS dalam
jumlah yang sangat signifikan. Idealnya, kuota impor hanya boleh
dijadikan instrumen pengurang impor jika dipadukan dengan instrumen
penerapan tarif. Misalnya saja Filipina yang baru-baru ini melakukan
negosiasi penambahan kuota impor dengan sejumlah negara di ASEAN
karena keputusannya untuk melindungi petani beras dengan
mempertahankan tarif impor yang tinggi selama lima tahun ke depan. Jadi,
tariflah yang melindungi petani lokal, sementara kuota dipakai untuk
menjamin agar petani di negara lain tidak kehilangan pasar. Dalam
perdagangan liberal sebenarnya sudah ada pemahaman bahwa tidak semua
produk bisa diperdagangkan secara bebas tanpa hambatan karena
realitanya negara perlu menomorsatukan perlindungan terhadap produsen
lokal. Untuk itu, instrumen yang diizinkan adalah tarif serta perpaduan
antara tarif dan kuota impor.
Tarif memastikan bahwa produk impor tertentu akan kena bea sehingga
barang lokal diharapkan akan tetap lebih dicari konsumen. Di sisi lain,
tarif diharapkan dapat mendongkrak pemasukan pemerintah secara lebih
terbuka. Kuota impor tidak disarankan karena selain memicu protes (dan
mematikan hajat hidup) produsen di negara lain, kuota juga dapat
mendorong penggelapan barang dan praktik penyuapan. Di Indonesia
kasus suap impor daging sapi mengungkap kenyataan kita termasuk yang
tidak konsisten dengan prinsip-prinsip kesepakatan internasional. Kita
memilih jalan pintas yang dikecam negara lain,sekaligus merugikan
konsumen di negeri sendiri.
Sejak tahun lalu muncul Peraturan Menteri Pertanian Nomor
60/Permentan/ OT.140/9/2012 dan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor
60/2012 yang mencanangkan per Januari 2013 sampai Juni 2013, ada 13
jenis holtikultura (kentang, kubis, wortel, cabai, nanas, melon, pisang,
Dinna Wisnu Halaman 151

mangga, pepaya, durian, bunga krisan, bunga anggrek, dan bunga


heliconia) dan daging sapi yang dibatasi impornya. Alih-alih mendorong
swasembada, mengurangi defisit neraca perdagangan, dan mengurangi
ketergantungan pada impor, justru kita bisa lihat sendiri bahwa di
lapangan justru harga barang-barang tersebut meroket sangat tinggi. Harga
sayur-mayur dan buah di pasar tradisional melonjak, sementara produk
lokal kualitasnya masih rendah dan terbatas. Sudah saatnya pemerintah
dan masyarakat Indonesia memahami bahwa produksi barang, apalagi
produk pangan,sangatlah seperti siklus. Jika ada satu komponen produksi
yang rusak, busuk, atau terlampau mahal, ujung-ujungnya konsumen juga
yang dirugikan.
Di Indonesia untaian produksi produk pangan masih jauh dari
keterpaduan. Petani harus berjuang sendiri dalam memilih dan
memproduksi hasil pertanian yang punya nilai jual tinggi.Bibit,
lahan,pupuk,teknologi pertanian serta perkebunan, infrastruktur (irigasi,
jalan, pusat pengolahan dasar), bahkan sistem logistik dari kebun sampai
pasar harus diperjuangkan sendiri. Tak heran, yang kemudian lebih
berkembang adalah bisnis perdagangan. Karena sistem pencatatan barang
di Indonesia masih serba manual, ada banyak hal yang akhirnya mudah
dikembangkan menjadi kongkalikong. Apalagi, birokrasi di Indonesia
makin lihai saja menguangkan berbagai kebijakan pemerintah menjadi
proyek yang memperkaya diri sendiri.
Kasus kuota sapi ini sebetulnya membuka atau melanggengkan praktik
korupsi atas nama rakyat. Dengan dalih melindungi konsumen dari harga
yang tinggi dan menciptakan keseimbangan harga, kuota impor dalam
sistem governance yang lemah justru menjadi sumber korupsi dan
menguntungkan pihak-pihak tertentu. Keadilan berhenti di tingkat elite
dan tidak terdistribusi dan tidak bisa dinikmati oleh rakyat dalam bentuk
harga daging sapi yang murah. Ayolah kita berhenti membodohi
masyarakat dan diri sendiri.
Selama kerangka pikir kita cuma terpaku pada kalkulasi aliran impor dan
ekspor, apalagi yang melanggengkan praktik kongkalikong, selama itupula
kita akan terus terpuruk. Pembatasan impor akan sia-sia bila tidak
dibarengi dengan peningkatan ekspor. Hajat hidup bangsa ini tidak semata
bergantung pada kecukupan pasokan barang, tetapi juga pada kemampuan
bangsa ini untuk berproduksi dan mengisi kekurangan produksi di negara-
negara lain.
Sumber: SINDO, 06 Februari 2013
Dinna Wisnu Halaman 152

Mendewasakan Demokrasi
Pada suatu pagi saat matahari belum lagi menampakkan cahayanya, saya
menyempatkan berjalan ke pasar tradisional yang tidak jauh dari rumah.
Bapak penjual sayur langganan saya menyapa hangat. Dia berceloteh
tentang acara TV yang ditontonnya semalam. Menarik bahwa ia kini rela
untuk tidak tidur demi menonton sejumlah acara berita dan debat di TV
terkait politik. Maklum jam kerja dia sebagai pedagang sayur dimulai pada
tengah malam. Dari TV, ia memuaskan rasa ingin tahu tentang politisi dan
partai, mengapa harga daging sapi mahal, dan lain-lain.
Saya tersenyum. Kebiasaan bapak ini untuk menonton berita dan talkshow
politik juga membuatnya ingin berdiskusi politik dengan saya karena ia
pernah memergoki saya muncul di TV sebagai pengamat politik ekonomi.
Kejadian tadi relevan untuk diangkat dalam analisis hari ini karena
kegelisahan yang dialami pedagang tadi pasti dapat dirasakan bapak dan
ibu juga. Maklum, makin ramai saja berita di media massa seputar kolusi,
korupsi, dan gonjang-ganjing politik dalam tubuh partai politik.Bagi
sebagian orang,ada rasa kecewa.
Seperti pedagang sayur tadi, ia menceritakan kekesalannya karena partai
yang ia pilih dalam pemilu lalu ternyata (dalam bahasa dia) telah
berkhianat terhadap rakyat. Ia menyayangkan perilaku politisi yang
semata ingin menumpuk harta dan melanggar hukum, padahal para
pemilihnya masih banyak yang hidup miskin atau serba paspasan. Ada
buku menarik, karya Larry Diamond (2008) berjudul The Spirit of
Democracy. Buku itu menceritakan jatuh bangunnya berbagai negara di
seluruh penjuru dunia ketika menjalankan demokrasi.
Tidak ada proses demokrasi yang mudah atau sekali jadi.Berikut cerita
dari buku tersebut. India misalnya, negara Asia yang termasuk negara
demokrasi tertua di benua Asia ini, pernah mengalami keterpurukan dalam
praktik demokrasinya. Sebagian dari Anda masih ingat tokoh perempuan
India bernama Indira Gandhi, putri dari tokoh revolusi Jawaharlal Nehru
yang sangat akrab dengan Presiden Soekarno.
Pada Juni 1975, Perdana Menteri Indira Gandhi merespons keputusan
Mahkamah Tinggi India yang membatalkan pemilihannya sebagai anggota
parlemen dan menskors dia sebagai politisi selama enam tahun. Alih-alih
menerima dengan lapang dada, Indira memutuskan untuk menghentikan
demokrasi konstitusional yang dibangun ayahnya selama 30 tahun. Ia
menuding telah terjadi konspirasi untuk mengganggu jalannya
pembangunan ekonomi dan tatanan kestabilan politik. Indira
mengumandangkan kondisi darurat dan memberlakukan dekrit.
Dinna Wisnu Halaman 153

Penduduk dibuat merasa tercekam dan ketakutan. Rangkaian penangkapan,


sensor, dan penangkapan terjadi setelah itu. Indira termasuk dihormati dalam
sejarah India, tetapi ia akhirnya dibunuh pada 31 Oktober 1984 karena ihwal
yang dianggap sangat menyinggung sekelompok masyarakat India. Filipina,
negara tetangga dekat, juga sempat tak kalah terpuruk. Presiden Gloria
Macapagal-Arroyo, mantan presiden yang kini mendekam di tahanan, adalah
anak presiden pertama Filipina. Ia seorang ekonom, teknokrat, punya suami
pengusaha.
Filipina seakan kejatuhan durian utuh ketika ia terpilih sebagai presiden.
Namun,rupanya ia kesal sekali ketika sejumlah ide-ide reformasinya diblok
terus oleh parlemen. Pada Mei 2004 ia berupaya untuk bisa maju lagi sebagai
presiden dan dengan sangat bersemangat menghadapi lawan politik yang
dianggap underdog, Fernando Poe Jr. Gloria menangguk dukungan lewat
membagi-bagikan uang kepada pemilih dengan segala cara yang muncul di
benaknya, termasuk membagi-bagikan asuransi kesehatan gratis bagi rakyat
miskin.
Sejumlah kekerasan politik terdeteksi juga selama masa itu, ada setidaknya
150 nyawa wartawan yang melayang selama liputan kampanye pemilu.
Penghitungan suara dihantui tudingan kecurangan penghitungan suara.
Meskipun akhirnya Gloria terpilih lagi, dan ironisnya Fernando Poe Jr
meninggal karena stroke beberapa bulan kemudian, kekuasaan Gloria
terguncang karena beredarnya rekaman suara Gloria yang mengindikasikan
bahwa beliau menyalahgunakan kekuasaannya demi mengintervensi
penghitungan suara. Walhasil, kepercayaan publik terhadap Gloria rontok.
Tak satu pun teriakan Gloria sesudah itu yang digubris publik sampai
akhirnya ia dituntut karena sejumlah tuduhan korupsi dan penyalahgunaan
kekuasaan. Roh Moo Hyun di Korea Selatan mengalami ironisme serupa.
Prestasinya sampai naik sebagai politisi sungguh luar biasa. Apalagi ia datang
dari keluarga miskin. Banyak hal dilakukannya secara autodidak. Ia dikenal
sebagai aktivis pembela HAM. Ia menang sebagai presiden dengan margin
suara tipis, namun popularitasnya sangat tinggi. Buntutnya, ia disingkirkan
melalui impeachment (pemakzulan) oleh parlemen.
Hal ini belum pernah terjadi di Korea Selatan. Roh berusaha untuk berbeda
dari presiden sebelumnya, Kim Dae Jung, dengan berani keluar dari pakem-
pakem lembaga demokrasi. Misalnya, ia berencana memindahkan ibu kota
dari Seoul,membatasi sirkulasi media massa yang dinilai beraliran
konservatif, dan melakukan referendum. Selama memimpin, Roh dikenal
selalu berseberangan dengan Partai Konservatif Grand National Party.
Kemelut tersebut berujung dengan terbentuknya faksi-faksi politik di tubuh
partainya yang mencoba mengganjal pemakzulan Roh. Toh, manuver-
manuver tadi gagal. Roh dituding menerima suap dan menjadi bulan-bulanan
media massa. Pascapemakzulan, Roh mengakhiri hidupnya secara tragis
Dinna Wisnu Halaman 154

dengan bunuh diri melompat dari tebing pada 23 Mei 2009. Kisah ketiga
tokoh tadi menarik karena semuanya samasama sempat dianggap sebagai
”sang harapan” bagi negerinya.
Tapi, mereka terpeleset hancur karena tak sanggup menahan diri untuk tidak
melawan arus demokrasi di negaranya. Diamond mengingatkan bahwa sekali
suatu negara berdemokrasi, ada spirit (roh) yang telanjur hidup dalam hati
dan benak masyarakat. Roh itu antara lain adalah roh penerimaan terhadap
keberagaman dalam masyarakat (pluralisme). Amartya Sen mengutip bahwa
agama Hindu di India punya toleransi yang luar biasa karena antargolongan di
agama tersebut bisa bebas saling beradu argumen.
Selain itu, Diamond juga mengutip Sydney Hook, seorang filsuf politik, yang
mengatakan bahwa demokrasi hidup karena ”rasa tidak percaya yang cerdas
pada pemimpin, rasa skeptis yang keras kepala, tetapi tidak buta….terhadap
apa pun (atau siapa pun) yang berupaya sekadar memperluas kekuasaan.”
Dari sini saya makin yakin demokrasi di Indonesia sesungguhnya sedang
tumbuh lebih dewasa. Memang dari segi distribusi ekonomi, Indonesia belum
punya pencapaian luar biasa untuk memperluas kesempatan pendidikan atau
menutup kesenjangan ekonomi antar kelompok masyarakat.
Ihwal ini yang selalu dikritisi oleh sejumlah pengamat sebagai hambatan bagi
Indonesia berdemokrasi. Tetapi, kita jangan lupa bahwa pendewasaan
demokrasi tidak selalu lewat jalur formal. Sang penjual sayur yang saya
ceritakan tadi mendewasakan dirinya dengan merelakan diri tidak tidur demi
mencari informasi seputar politik. Ia yang tidak pernah bicara politik kini
tahu apa itu sistem pemilu dan apa indikasi korupsi.Ini semua bekal yang baik
bagi pendewasaan demokrasi.
Selain itu, jangan lupa, walaupun politik aliran hidup di negeri ini, roh bangsa
ini adalah roh kerukunan antaragama dan antaretnis. Negara ini menghormati
hari besar semua agama dan kepercayaan. Tidak ada negara lain yang
semeriah itu memberi hari libur pada warganya. Para politisi di Indonesia
semoga mawas diri dengan berkaca dari pengalaman jatuhbangun demokrasi
di negara lain. Siapa pun dia, dari partai mana pun, atau di jabatan apa pun,
hendaknya ikut menjadi dewasa dengan proses demokrasi di negeri ini.
Skeptisnya masyarakat, ketidakpercayaan pada pemimpin, tudingan ini dan
itu,bahkan oposisi yang kejam, adalah bumbu penguat demokrasi. Dari situ
para pemilih memilah siapa yang berhak diberi kepercayaan dalam lima tahun
mendatang sebagai pemimpin negeri ini. Kita semua sedang membangun
mutu demokrasi.
SINDO, 13 Februari 2013
Dinna Wisnu Halaman 155

Menangani Outsourcing
Menjelang 1 Mei 2013 di mana Hari Buruh akan dirayakan lagi secara
besar-besaran oleh kalangan serikat pekerja, kita sudah mulai melihat dan
masih akan menyaksikan rangkaian demonstrasi pekerja di tempat-tempat
strategis di Ibu Kota. Salah satunya dikabarkan akan dilakukan akhir bulan
ini. Isu yang diusung adalah kebutuhan hidup layak,upah,jaminan sosial,
serta penghapusan outsourcing. Secara khusus, saya ingin mengupas
permasalahan outsourcing, terutama dari sudut komparatif yang lebih
makro. Harapan saya, hal ini bisa membantu melihat isu tersebut secara
lebih holistis dan jernih.
Outsourcing adalah istilah teknis bagi perusahaan yang memutuskan untuk
melakukan subkontrak bagi fungsifungsi tertentu dalam perusahaan itu.
Outsourcing maksudnya adalah “outside resourcing”, jadi perusahaan
mendapatkan sumber daya dari luar (Troaca & Bodislav 2012). Dalam
banyak kasus, istilah ini dicampuradukkan dengan praktik offshoring,
yakni pencarian penyedia fungsi yang disubkontrakkan tadi di luar negeri.
Memang, karena negara kita sudah membuka diri seluasluasnya untuk
masuknya investasi dan modal asing,belum lagi teknologi informasi dan
komunikasi sudah demikian pesatnya, maka kegiatan offshoring tadi
meluas juga di Indonesia. Contohnya PT Tae Kwang Industri Indonesia
(PT TII) yang memegang merek sepatu Nike, sedang membangun pabrik
berkapasitas 15.000 pegawai di tiga desa di Subang, Jawa Barat.
Ada juga Foxconn yang merakit barang elektronik dan hardware penting
untuk perusahaan besar seperti Apple, yang berencana membuka pabrik
baru di Indonesia demi mengurangi biaya produk dan mendekat pada
konsumen. Ini semua adalah offshoring yang merupakan bagian dari
outsourcing bagi pemilik merek, baik untuk merakit maupun menembus
pasar baru. Sesungguhnya outsourcing dan offshoring adalah komponen
tak terpisahkan dari bisnis dan perekonomian modern abad ke-21.
Perusahaan raksasa yang telah berhasil membangun merek dan mesin-
mesin yang memungkinkan economy of scale akan terus berupaya
memperluas bisnisnya ke negara-negara baru. Karena perkembangan
teknologi dan komunikasi berjalan pesat, konsumen latah ingin membeli
produk-produk yang mencerminkan gaya hidup modern. Permintaan
meningkat, harga cepat meroket.
Alhasil, harga produk perlu ditekan serendah mungkin dengan pasokan
yang cukup tapi berbiaya relatif murah, apalagi karena ada saja
perusahaan lain yang sekadar ingin meniru teknologi yang ada. Kalau
konsumen sedikit saja merasa bahwa merek tidak menentukan gengsi,
Dinna Wisnu Halaman 156

habislah pangsa pasar produk tersebut, tergerus perusahaan peniru.


Persaingan sangat ketat.
Risiko yang kemudian perlu diambil adalah mendirikan pabrik di negara yang
dekat dengan konsumen atau mengundang pabrik tertentu untuk menyuplai
jasa tertentu bagi perusahaan tersebut. Studi yang ada tidak satu suara dalam
hal prediksi tren outsourcing dan offshoring. The Economist (11/5/2012)
menyatakan bahwa praktik ini akan melemah. Sejumlah merek besar di
bidang software, elektronik, dan telekomunikasi, kini menemukan “tenaga
kerja” di dalam negeri.
Dengan harga yang lebih murah daripada harga tenaga kerja di negara
berkembang, orang-orang ini bisa melayani konsumen dengan bahasa ibu
masing-masing. Mereka menyebut fenomena ini sebagai unsourcing, di mana
perusahaan membentuk komunitas-komunitas online untuk melayani
kebutuhan konsumen.
Kabarnya perusahaan bisa memotong biaya hingga 50% karena ini. The
Economist juga menyebutkan kekhawatiran perusahaan terhadap ongkos
tersembunyi dari outsourcing. Misalnya perusahaan media BSkyB yang
terjebak tuntutan hukum dan harus menghadapi peradilan negara berkembang
yang dianggap lamban dan tidak jelas,atau ketika Boeing, perusahaan
pembuat pesawat terbesar di Amerika Serikat, harus menghadapi kasus
keterlambatan pengantaran komponen pesawat karena perusahaan yang
disubkontrakkan ternyata menyubkontrakkan lagi ke perusahaan lain.
Namun, kita juga perlu ingat bahwa outsourcing dan offshoring adalah
praktik yang terbukti menghasilkan laba besar bagi perusahaan, terutama
ketika perekonomian di negara induk melemah. Lagi pula, sejumlah
pekerjaan dari perusahaan di negara maju harus dilakukan oleh orang-orang
yang berketerampilan tinggi, sehingga sebenarnya sulit untuk dioper ke
perusahaan lain di negara berkembang. Selain itu, untuk mengurangi risiko
outsourcing, perusahaan kemudian memilih cara untuk melakukan kontrak-
kontrak kecil jangka pendek yang lebih rileks dalam hal hukum (The
Economist 30/7/11). Data dari Gartner (2011) menyatakan bahwa pasar
outsourcing masih akan berkembang 4% per tahun.
Yang perlu dipahami adalah bahwa offshoring outsourcing terjadi karena
perusahaan mencari tenaga-tenaga spesialis untuk menghasilkan barang
setengah jadi (intermediate goods) atau barang jadi (final goods). Artinya,
outsourcing sebenarnya tidak semata mencari tenaga kerja murah.
Di negara berkembang, outsourcing bahkan sering kali terjadi karena
perusahaan-perusahaan lokal cuma punya kemampuan memoles atau merakit
barang setengah jadi dari negara lain. Teknologinya tetap pinjam dari negara
lain. Akibatnya, ketika pemerintah menerapkan tarif impor bagi barang
setengah jadi, yang akan ditekan bukanlah jumlah impornya, atau biaya
urusan logistik, melainkan upah pekerja.
Dinna Wisnu Halaman 157

Di negara mana pun, tenaga kerja tidak terampil punya nilai tawar yang lebih
rendah dibandingkan pekerja yang terampil. Itu sebabnya Afrika Selatan,
misalnya, kini fokus memperkuat tenaga aktuaris mereka untuk menjawab
kebutuhan industri asuransi, atau Turki yang memperkuat jajaran tenaga kerja
yang fasih berbicara bahasa Jerman. Itulah strategi mereka untuk mengikat
modal yang masuk dari perusahaan asing di Eropa.
Di Indonesia, kita bisa lihat bahwa problem outsourcing sebenarnya berputar
pada pusaran yang sama. Perusahaan lokal tidak menambah kemampuan
sebagai industri berbasis teknologi dengan paten industri karya anak
bangsa.Tenaga kerja kita pun masih harus berswadaya penuh untuk
meningkatkan kapasitas dan produktivitasnya.
Rata-rata kantor tidak punya (atau kalaupun punya sangat kecil nominalnya)
biaya pengembangan sumber daya manusia.Balai-balai latihan kerja yang
dikembangkan pemerintah pun terbatas dengan pembekalan keterampilan
yang biasa-biasa saja. Tidak ada grand strategy atau rencana jangka panjang
tentang daya saing tenaga kerja kita. Padahal, kita tahu persaingan
antarnegara berkembang adalah suatu keniscayaan.
Bahkan kini pasar outsourcing yang biasanya dirajai oleh India dan Filipina,
kini mulai direbut oleh tenaga kerja Thailand, yang selain berpendidikan
tinggi juga serius memperkuat kemampuan bahasa Inggrisnya. Kalau kita
bertopang pada kemampuan buruh, siklus outsourcing itu akan berkembang
menjadi lingkaran setan.
Di negeri ini ada UU Ketenagakerjaan yang mengharamkan sistem kontrak
jangka pendek yang lebih dari 3 tahun. Tapi karena pekerja butuh pekerjaan,
perusahaan lokal bergantung pada pemodal besar dari negara maju dan
perusahaan pemodal ingin memperkecil risiko outsourcing, terjadilah
pelanggaran terhadap UU Ketenagakerjaan secara terus menerus tetapi sulit
ditindak. Pekerja pasrah saja dipekerjakan sebagai pekerja musiman
(misalnya di sektor tekstil). Gerakan buruh juga sebenarnya melemah.
Gerakan turun ke jalan semata upaya akhir mereka untuk membela diri, itu
pun karena sudah terlanjur bernasib buruk. Negosiasi prakejadian lebih sulit
dilakukan. Ayolah kita keluar dari lingkaran nasib buruk bagi pekerja di
negeri ini. Selama tenaga kerja semata dianggap buruh dan bukannya mitra
bagi bangsa untuk maju dan tangguh dalam persaingan global, maka selama
itu pula kita akan berteriak-teriak di pusaran masalah yang sama.
Sumber: SINDO, 20 Februari 2013
Dinna Wisnu Halaman 158

Mengamati India
Pagi itu masih gelap, baru pukul 2.30, ketika saya dan dua rekan dari
Institut Pertanian Bogor tiba di bandar udara internasional Indira Gandhi
di New Delhi, India. Bandara itu begitu luas, megah, dan modern.
Desain dan fasilitasnya tak kalah dengan bandara sekelasnya di Asia. Di
sana sini dipajang tulisan yang membanggakan bandara ini sebagai
bandara terbaik nomor dua di Asia. Menurut data, bandara ini melayani
sekitar 16,5 juta penumpang per tahun. Sebenarnya ini jumlah yang relatif
kecil dibandingkan Bandara Soekarno- Hatta yang melayani 22 juta
penumpang per tahun, atau Changi di Singapura yang melayani 44 juta
penumpang per tahun.
Dengan fasilitas yang ada, India sebenarnya bisa melayani jumlah
penumpang yang jauh lebih besar. Meskipun pertumbuhan ekonomi India
termasuk yang cukup pesat dalam kurun waktu sepuluh tahun ini, belum
banyak orang yang menganggap negeri ini sebagai tempat wisata,
berbisnis, atau meneruskan pendidikan tinggi. Mungkin karena itu pula,
volume pengunjung dari luar negeri belum terlihat memadati bandara itu.
Undangan yang sampai ke meja saya dan rekan-rekan saya tadi
dilatarbelakangi oleh semangat pemerintah dan masyarakat India untuk
keluar dari citra lama negeri ini yakni yang kerap digambarkan seperti
gajah gemuk yang bergerak sangat lamban. Suasana di bandara tadi
menggambarkan langkah perubahan itu. Lamban? Maklumlah, karena
dalam sejarah, India memang bukan negara yang terbiasa untuk membuka
diri seluas-luasnya pada pengaruh asing.
Dari segi ideologi, memang kini ada ragam ideologi yang hidup dalam
partai-partai politik yang bertarung dalam pemilu di sana, dari yang
sosialis (seperti partai Congress) sampai yang belakangan ini sangat
gencar mempromosikan ide liberalisasi ekonomi (yakni partai BJP alias
Bharatiya Janata Party). Tapi, realitanya ada nilai-nilai sosial yang mereka
pegang kuat sampai sekarang yakni ketaatan pada tradisi agama dan adat
serta juga ajaran Gandhi dan Nehru yang mengutamakan kesederhanaan
dan kemanusiaan.
Berjalan di New Delhi yang katanya sudah termasuk paling modern
dibandingkan kotakota lain di India, hampir tak terlihat dominasi mal atau
pusat perbelanjaan berlogo perusahaan asing. Yang ada adalah kumpulan
pedagang kaki lima, rangkaian toko yang relatif besar di bangunan tua,
atau rangkaian toko kecil di bangunan baru yang baru setengah jadi di
pinggir jalan yang berdebu karena telah berbulan-bulan belum usai jua
pembangunannya.
Dinna Wisnu Halaman 159

Di sana berkembang juga gerai makanan siap saji seperti McDonald atau
KFC walau pada awal 1990-an meluas protes keras atas kehadiran
perusahaan asing macam ini. Menu gerai mereka pun disesuaikan dengan
diet non-daging sapi dan kegemaran masyarakat India pada bumbu kari.
Namun, keseharian masyarakat India bukanlah pelahap makanan ala Barat
macam itu. Menyusul krisis ekonomi 2008,saat ini rata-rata masyarakat
India merasakan penurunan daya beli akibat mata uangnya yang melemah.
Yang pertama-tama mereka “potong” adalah kebiasaan jajan di restoran.
Dari segi penampilan, rata-rata masyarakat hidup dengan sangat
sederhana. Boleh dikatakan, India sangat apa adanya. Di perempatan jalan
utama, dapat kita saksikan para tunawisma yang tidur beralas kasur lusuh
serta tali-tali jemuran yang memanfaatkan tonggak hiasan kota. Menurut
pejabat yang saya tanyakan, Pemerintah India memang terganggu dengan
pemandangan macam itu.
Karena belum bisa memberi solusi yang permanen untuk masalah
kemiskinan, biarlah si miskin memanfaatkan fasilitas umum yang ada saja.
Selain itu, nyaris tidak saya temui orang-orang yang berpenampilan
glamor dalam keseharian di sana. Semua berpakaian serupa dan bersahaja.
Rata-rata kendaraan yang hilir mudik adalah bus, taksi, bajai, dan
kendaraan- kendaraan pribadi yang rata-rata ber-cc kecil. Bayangkan, sulit
bagi mereka untuk saling kebut-kebutan bukan? Kalaupun mereka saling
kebut, suasananya sungguh mirip yang sering kita saksikan di pentas
Bollywood.
Mereka saling sodok, bahkan bertabrakan, tapi selesai mengangkat bahu,
berlalulah semua itu. Jalanan yang paling ramai pun ternyata tidak sampai
macet total pada jam-jam sibuk. Masyarakat berbondong memadati kereta
api yang memang menjangkau berbagai wilayah dan kota di pelosok India.
Yang menarik, kesederhanaan tersebut berpadu dengan otak yang cerdas
dan rasa ingin tahu yang besar pada ilmu.
Tempat paling menarik di India ternyata adalah toko buku. Dalam ruang
yang sempit, berjejer buku-buku terkini dengan ragam topik dari berbagai
penjuru dunia. Buku-buku terbitan asing yang ditulis oleh ekonom atau
tokoh ternama, yang biasanya hardcover dan mahal, di India bisa
didapatkan dalam bentuk softcover dengan ukuran lebih kecil dan jenis
kertas yang lebih murah. Harganya pun hanya sepertiga harga aslinya.
Semuanya sah karena rupanya ada kerja sama antara penerbitan di India
dan para penerbit asing agar distribusi ke pasar India tetap dipegang
penerbitan lokal. Serunya, para penjaga toko buku ternyata rajin membaca
deretan buku-buku itu! Beda betul suasananya dengan toko buku di
Indonesia. Saya kaitkan ini dengan agenda kedatangan saya ke India.
Dinna Wisnu Halaman 160

Dalam bidang luar negeri, tahun ini merupakan tahun kelima mereka
mensponsori Delhi Dialog, yakni forum diplomasi track 1.5 yang
melibatkan dialog antarpejabat negara di bidang luar negeri dan kerja
sama regional (ASEAN) dengan para akademisi dan peneliti dalam
membahas isuisu strategis bagi pengembangan kerja sama India dengan
ASEAN. Media massa berjejal di baris belakang, mengabadikan tiap
perkembangan dan dari berbagai sudut.
Jadi, yang istimewa di sini adalah bahwa tahun ini, India makin
menunjukkan keseriusannya untuk menembus lapisan-lapisan
“pertahanan” Asia Tenggara. Rata-rata penduduk Asia Tenggara boleh
dikatakan masih memandang sebelah mata pada India, dan India mau
mengubah itu semua. Kepada masyarakatnya, Pemerintah India pun
menegaskan bahwa jalur perekonomian dan kerja sama industri (termasuk
agrobisnis dan energi) yang strategis adalah dengan Asia Tenggara.
Itu sebabnya mereka mendesak universitas-universitas mereka untuk
membuka diri pada mahasiswa dari Asia Tenggara. Pemerintah India
bahkan menyodorkan paket-paket beasiswa untuk menarik universitas di
India maupun ASEAN. Singkat kata, jika pada 2011 saya pernah menulis
di koran SINDO bahwa India ingin semakin dekat pada ASEAN. Dalam
kurun waktu relatif singkat, mereka membuktikan kegigihan niatnya itu.
Pada 20- 21 Desember 2012, India berhasil mengumpulkan kepala kepala
pemerintahan ASEAN untuk menandatangani Kerangka Kerja Sama
Strategis. Tahun ini mereka masuk ke jantung permasalahan. Kepentingan
mereka adalah ketahanan pangan, pasar energi, perluasan konektivitas
Asia Tenggara dengan daratan India lewat Indo-China dan kerja sama
maritim serta pembukaan pelabuhan-pelabuhan di sisi Timur India.
Jepang segera menanggapi hal ini dengan menawarkan bantuan dan ide
pembangunan jalan raya serta jalur kereta api yang menjangkau pelosok
India. Di mana posisi Indonesia dalam hal ini? India paham betul bahwa
mereka sudah punya cukup modal untuk merambah pasar baru di Asia
Tenggara. Saya pun yakin mereka bisa berhasil karena niat pemerintah
dan para akademisi di sana cukup bulat dan terpadu. Kompetensinya pun
ada. Justru ada kegamangan karena Pemerintah Indonesia masih terlihat
wait and see.
Sumber: SINDO, 27 Februari 2013
Dinna Wisnu Halaman 161

Perempuan Abad 21
Tak terasa kita hampir memasuki tahun ke-40 sejak Perserikatan Bangsa-
Bangsa (PBB) mencanangkan Dekade untuk Perempuan di tahun 1975.
Sungguh waktu yang tidak singkat untuk ide yang waktu itu dianggap
revolusioner. Waktu itu, Majelis Umum PBB mencanangkan tiga dasar
untuk mengarahkan kegiatankegiatan PBB agar tidak lupa pada dimensi
perempuan, yakni untuk memenuhi kesetaraan gender. Kemudian
menghapus diskriminasi atas dasar gender, serta mengikutsertakan
perempuan secara penuh dalam pembangunan.
Selain itu, meningkatkan kontribusi perempuan bagi penguatan
perdamaian dunia, dan mencapai target-target mini-mum agar perempuan
memiliki akses yang sama dengan laki-laki dalam hal mendapatkan
peluang pendidikan, bekerja, berpolitik, mendapatkan layanan kesehatan,
gizi serta program keluarga berencana. Alasan pemberian fokus pada
perempuan tidaklah dimaksudkan untuk mengecilkan perhatian terhadap
lakilaki.
Arahnya untuk mempertajam lensa pandang masyarakat dan pembuat
kebijakan agar masalah-masalah yang sehari-hari dialami oleh perempuan
tidak serta-merta dipandang sebagai kodrati (yakni wajar dialami karena
faktor biologis yang melekat) atau tidak terhindarkan. Misalnya saja soal
kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan terhadap anak-anak
perempuan, mutilasi alat kelamin perempuan, pembatasan ruang gerak
bagi perempuan untuk mencari nafkah, mengaktualisasikan diri,
berpendapat, berorganisasi bahkan berpolitik.
Langkah besar yang sangat bermanfaat sejak pencanangan program PBB
tersebut adalah kegiatan pemotretan perkembangan (maupun kemunduran)
kondisi perempuan di segala lini di seluruh negara dunia melalui
pemilahan data yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga PBB. Artinya
bahwa segala data politik, ekonomi, sosial, serta budaya selalu mencatat
kondisi laki-laki maupun perempuan.
Seluruh data statistik di dunia kini mengikuti pola itu. Di tataran global,
lembagalembaga PBB secara konsekuen mengampanyekan kesetaraan hak
antara laki-laki dan perempuan sebagai bagian dari pemenuhan hak asasi
manusia, serta mendorong agendaagenda pembangunan dan politik yang
bersifat inklusif (mengikutsertakan segala kalangan). Ada lembaga khusus
yang mendukung agenda perbaikan kondisi bagi perempuan, yakni UN
Women (dulunya UNIFEM).
Selain itu, tiap lembaga bentukan PBB selalu mengikutsertakan komponen
kesetaraan gender dalam kegiatannya. Sejak tahun 1991, PBB secara
Dinna Wisnu Halaman 162

berkala menerbitkan The World’s Women (WW) untuk memotret tren dan
statistik perempuan dalam ragam dimensi kehidupan. Membandingkan
TheWorld’s Women tahun 1991 dan 2010, dapat disimpulkan bahwa
secara makro dan secara umum telah terjadi perbaikan kondisi perempuan.
Pada tahun 1991, telah berkembang wacana pengintegrasian peranan
perempuan dalam pembangunan ekonomi serta kegiatan politik, namun
praktiknya masih jauh dari harapan.
Meskipun perempuan mulai mendapatkan akses pendidikan, kesehatan
dan pekerjaan, jumlah dan standar kualitasnya masih jauh dari harapan.
Kalaupun pemerintah melibatkan perempuan dalam agenda pembangunan,
yang terjadi adalah pemberian peran berdasarkan asumsi atas apa yang
sebaiknya dilakukan perempuan. Artinya, perempuan masih ditempatkan
dalam kotak-kotak yang dianggap layak oleh pemerintah (yakni sebagai
pendamping laki-laki). Selain itu, belum ada perhatian khusus pada
kategorisasi dalam perempuan, misalnya perempuan miskin, perempuan
yang bekerja di sektor pertanian, buruh anak perempuan, dll. Urusan
politik, tetap hampir tak terjamah oleh perempuan, khususnya di negara-
negara berkembang. Dalam WW 2010, perempuan mengalami kemajuan
peran yang luar biasa. Sejumlah besar perempuan secara terbuka
menyatakan diri bekerja, bahkan dalam profesi yang biasanya didominasi
laki-laki dan menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga.
Meskipun tetap ada gunjingan sosial, sejumlah besar perempuan memilih
untuk menunda menikah (bahkan hingga usia 30 pada kelompok
masyarakat tertentu). Dalam krisis ekonomi global 2008 yang memaksa
sebagian besar pekerja untuk kehilangan pekerjaan, justru terdata bahwa
lebih banyak lakilaki yang kehilangan pekerjaan dibandingkan perempuan.
Partisipasi perempuan dalam ekonomi termasuk stabil. Problemnya,
perempuan punya jam kerja yang jauh lebih lama daripada laki-laki
dengan tingkat upah dan wewenang yang relatif jauh di bawah laki-laki.
Jumlah perempuan yang mendapatkan pendidikan universitas meningkat
pesat. Pemerintah di berbagai belahan dunia juga tidak asing lagi dengan
program- program sosial yang secara khusus menyasar perempuan,
misalnya program kredit mikro, program perbaikan mutu kesehatan bagi
ibu dan anak, program sekolah. Namun, kita juga tahu bahwa perempuan
masih mengalami kerentanan yang tinggi ketika berhadapan dengan
kekuasaan politik, tradisi, dan pelecehan seksual. Jumlah perempuan yang
terlibat dan lolos seleksi politik tetap rendah. Perempuan yang terjun ke
dunia politik mendapatkan kritik dan sorotan yang lebih tajam
dibandingkan laki-laki, apalagi jika status sosial ekonomi atau pengalaman
mereka dianggap kurang superior.
Dinna Wisnu Halaman 163

Berhadapan dengan kebiasaan dalam masyarakat yang terbungkus oleh


tradisi (baik itu agama maupun budaya), perempuan kerap mengalami
kesulitan menjelaskan mengapa mereka layak dipilih sebagai wakil rakyat.
Di sejumlah negara, perempuan bahkan mengalami intimidasi, termasuk
yang sifatnya seksual, padahal dasarnya semata perebutan pengaruh dalam
masyarakat, perusahaan, bahkan keluarga.
Sejumlah negara dikritik habishabisan karena dianggap tidak melindungi
perempuan di tempat-tempat publik dan tidak memberikan efek jera pada
laki-laki yang melecehkan perempuan (dan anak perempuan) secara
seksual. Namun, ada saja pihak-pihak yang menganggap pelecehan
seksual sebagai sesuatu yang tidak serius. Baru-baru ini seorang anggota
Kongres dari Partai Republiken di AS, Todd Akin, dikecam karena
mengatakan bahwa korban perkosaan biasanya tidak akan hamil karena
badannya mengalami trauma berat dan akan otomatis ”menutup diri”.
Di Indonesia, kita ingat calon hakim agung Daming Sanusi yang dikecam
karena menjawab bahwa hukuman mati bagi pemerkosa harus dipikir-pikir
karena yang diperkosa dan memerkosa sama-sama menikmati.
Menghadapi tahun Pemilu 2014 di Indonesia, catatan di atas tadi kiranya
perlu mendapatkan perhatian khusus. Perbaikan perekonomian negara-
negara dunia sebenarnya terkait dengan perbaikan mutu perlindungan dan
akses kesempatan yang baik dan sama bagi laki-laki dan perempuan.
Kita sudah lihat buktinya ketika ada perbaikan layanan di bidang
kesehatan, akses pendidikan dan bekerja, perempuan terbukti memberikan
kontribusi yang positif bagi perekonomian negara, termasuk ketika
perekonomian global terpukul dan melambat. Perempuan pun sudah lebih
berani untuk bersikap, maju sebagai subyek, misalnya dengan membuat
acara dialog untuk mendebat calon pemimpinnya (seperti kasus pilgub
Jakarta), menentukan sendiri kapan ia akan menikah, menunda
pernikahan, bahkan mengajukan perceraian.
Perempuan juga mengambil inisiatif untuk membuka jalan perlindungan
bagi kaumnya, baik lewat pembentukan forum di tingkat regional
(misalnya dalam ASEAN Intergovernmental Commission on Human
Rights), nasional (seperti Komnas Perempuan), dan komunitas. Namun,
ada problem-problem struktural yang masih memenjarakan laki-laki dan
perempuan dalam relasinya satu dengan yang lain.
Keinginan memperoleh kesenangan dan memenangkan pengaruh, jabatan,
upah, gaya hidup tinggi masih kerap diwujudkan dalam bentuk pelecehan
seksual (baik secara lisan maupun fisik). Ini juga yang menghambat
partisipasi perempuan dalam politik. Tidak banyak perempuan yang
didukung oleh keluarga dan komunitasnya untuk total berkarier dalam
dunia politik karena suasana dan lingkungannya masih memojokkan
Dinna Wisnu Halaman 164

perempuan. Sayangnya, perempuan yang punya kesempatan memegang


wewenang justru terpenjara oleh kebiasaan meremehkan perempuan lain.
Di sinilah kita harus memutus lingkaran setan ini. Tradisi budaya di
Indonesia sebenarnya sangat beragam dan banyak, di antaranya
menempatkan perempuan sebagai pengambil kebijakan yang dihormati
(Kathryn Robinson, 2009). Jadi, ini bukan hal asing bagi Indonesia. Mari
kita dorong kesempatan seluas-luasnya bagi perempuan untuk
mengaktualisasikan diri, termasuk dalam dunia politik.
Sumber: SINDO, 06 Maret 2013
Dinna Wisnu Halaman 165

Ujian bagi Indonesia 2013


Dalam penanggalan tahun China, sekarang adalah tahun ular. Ciri ular
adalah kemampuan berganti kulit. Pergantian kulit ditafsirkan oleh banyak
ahli fengsui sebagai tanda berubahnya zaman atau situasi. Beberapa ahli
bahkan memberikan serentetan bukti peristiwa-peristiwa yang mengubah
dunia beberapa puluh tahun seperti Great Depression tahun 1929,
Penyerangan Pearl Harbor, Tianamen, hingga peristiwa 9/11 yang
merobohkan Twin Tower di New York. Terlepas kebetulan atau tidak,
beberapa peristiwa yang terjadi awal tahun ini mungkin mengonfirmasi
ramalan tersebut.
Ada lebih banyak tanda tanya dan kegelisahan daripada jawaban dan
kepastian, pertanda bahwa kejadian pengubah dinamika dunia sudah di
depan mata. Eropa makin panas karena Uni Eropa gagal mendorong solusi
bersama mengatasi krisis, sementara yang ikut dalam skema penyelamatan
ekonomi di sana semakin merasakan tekanan besar berupa pemotongan
pajak yang tinggi demi mendapatkan dana talangan yang konon akan
menyelamatkan ekonomi mereka.
Di AS utang Paman Sam membengkak terus karena politisinya tak urung
sampai pada kesepakatan tentang solusi jangka pendek dalam kesulitan
fiskal dan moneter yang dialami negeri itu. Para pebisnisnya memilih
“jalan aman” dengan terus beroperasi di luar negeri. Di Amerika Latin
sedang terjadi sejumlah tahap transisi karena perubahan kepemimpinan
negara (Venezuela), masa pemilu (Brasil), dan ketidakpastian ekonomi
(Argentina, Kuba, dan Kolombia).
Di Afrika dan Timur Tengah berkembang sejumlah kericuhan politik dan
ekonomi yang mengarah pada politik kekerasan dan perang saudara
(Kenya, Zimbabwe, Suriah, Mesir, dan Irak). Dengan begitu, sejumlah
negara di sekitar kawasan itu mengaku sangat resah dengan keputusan
politik negara tetangganya (seperti yang dirasakan warga Namibia dan
Turki). PBB tak bergigi, demikian pula WTO.
Hal positif dari kericuhan itu adalah momen bagi Asia mendefinisikan
sikapnya. Bila kita kembali ke teori-teori klasik seperti Teori
Ketergantungan atau Teori Sistem Dunia, ada pesimisme bahwa Asia sulit
naik kelas dari negara pinggiran (periphery) atau semipinggiran (semi-
periphery) menjadi negara inti (core) atau negara pusat yang maju. Para
analisis dan komentator biasanya menggunakan teori tersebut untuk
menjustifikasi kelemahan atau kekurangan Asia sebagai sesuatu yang by
design dari negara-negara core.
Dinna Wisnu Halaman 166

Asia ditakdirkan tak pernah naik kelas, begitulah kira-kira kesimpulannya.


Kesimpulan itu yang kini sedang diuji. Dengan kondisi ekonomi yang
dimilikinya saat ini, akan ke manakah Asia dalam percaturan politik
global? Tatanan dunia macam apa yang didorong oleh negara-negara di
Asia? Tahun berganti tahun ternyata pertumbuhan Asia berujung pada
keresahan.
Kita lihat ada sengketa wilayah di Laut China Selatan, ketegangan di
Kepulauan Senkaku/ Diayou, di Sabah, di Myanmar, dan di perbatasan
Kamboja dan Thailand yang membuat negara-negara di luar sana
bertanya-tanya, apakah ASEAN bisa diandalkan untuk menyelesaikan
masalah internal, regional, dan global? Harus diakui bahwa cara
penyelesaian masalah di ASEAN memang berbeda dari di negara-negara
Barat.
Di Barat penyelesaian dicari dengan mengedepankan rasio akal dan
melembagakan solusi. Mereka membuka perundingan-perundingan untuk
meletakkan agenda bersama dan memformalkan proses dialog yang
berkembang dalam side-meetings (rapat-rapat tambahan). Di ASEAN cara
tersebut tidak efektif. Jalan yang selama ini efektif untuk ASEAN adalah
membuka forum-forum besar yang sifatnya mendeklarasikan niat-niat baik
bersama dan mengajak sebanyak- banyaknya mitra wicara.
Namun, praktik pelaksanaan niat baik tersebut harus dikawal lagi melalui
proses yang (ternyata) sulit untuk dilembagakan. Pendekatan personal
memang lebih mengemuka. Sejumlah konflik tidak diselesaikan dengan
cara-cara biasa (bahkan tidak merujuk ke penyelesaian kasus konflik lain
yang pernah terjadi di kawasan ini). Contoh terkini adalah kasus konflik
perbatasan antara Kamboja dan Thailand, di mana Indonesia menawarkan
diri untuk menjembatani kerja sama dan sempat bolak-balik melakukan
shuttle diplomacy, tetapi ternyata justru ditolak kehadirannya (terutama
oleh Thailand).
Problemnya bukan karena Indonesia tidak mampu, tetapi lebih karena ada
sesuatu yang ingin dijaga oleh Thailand dalam relasinya dengan Indonesia
sehingga jalan keluar untuk konflik tersebut justru muncul dari Kamboja.
Demikian pula kasus Kesultanan Sulu (Filipina) dan Sabah (Malaysia) di
mana Malaysia memilih menutup diri dari liputan apa pun seputar kasus
ini.
Protes dari luar ditanggapi dengan singkat bahwa tak ada satu pun pihak,
bahkan wartawan Malaysia, yang boleh masuk ke wilayah sengketa.
Kasus klaim kesultanan Sulu juga menunjukkan bahwa ada saja ihwal
historis yang tidak diketahui oleh generasi muda ASEAN masa kini,
namun bisa tiba-tiba meletup keluar. Solusi-solusi di atas terbukti efektif
untuk jangka pendek karena ASEAN mengutamakan nama baik bagi
Dinna Wisnu Halaman 167

negara anggota dan ASEAN itu sendiri, tetapi apakah efektif untuk jangka
panjang itu pun masih tanda tanya.
ASEAN digunjingkan tak bergigi karena mengandalkan pada strategi ‘’AS
pivot to Asia” sebagai alat berjaga-jaga seandainya China memutuskan
untuk melakukan serangan dan mengusik ketenteraman di kawasan ini.
Sejauh ini belum ada negara ASEAN yang serius mengembangkan
kekuatan militer demi kesiapan menghadapi serangan kejutan. Sejumlah
pengamat di AS memandang negara-negara anggota ASEAN semata
“numpang enak” (free-ride), gratisan mendapatkan proteksi dari uang hasil
pajak warga negara AS.
Tak ada analis asing yang percaya akan efektivitas strategi damai atau
nonmiliter yang disebut-sebut ASEAN dalam menyikapi agresi asing. Ini
ujian bagi Indonesia, baik sebagai negara berdaulat di kawasan ASEAN
maupun sebagai penyokong ASEAN. Kekuatan dan kesiapan individu
negara ASEAN menjadi sorotan politik global saat ini. Cara kita
menyikapi konflik di sekitar kita dan di dalam negeri menjadi ukurannya.
Terhadap China, Indonesia berada dalam posisi sangat rentan bila negeri
tirai bambu itu memutuskan untuk terus melontarkan pernyataan-
pernyataan provokatif terhadap AS, Jepang, Korea Selatan, atau bahkan
Filipina. Memang sudah ada pendekatan bilateral yang intensif antara
Indonesia-China untuk meredam China, tetapi pernyataan Presiden Xi
Jinping di China memastikan bahwa China berbulat tekad membangun diri
sebagai kekuatan ekonomi yang mapan di kawasan ini.
Tidak mustahil, visi China dibangun jauh ke depan untuk membangun
independensi ekonomi dan politik. Tambahan lagi, kondisi di dalam negeri
China memungkinkan perkembangan teknologi, infrastruktur, dan
pendidikan yang pesat. Insentif bagi warga negaranya disiapkan dengan
baik antara lain dengan memutuskan bahwa perekonomian negeri itu akan
ditopang oleh lapangan kerja yang mengandalkan produk bernilai tambah
tinggi. Artinya, Indonesia tak bisa menekan China hanya dengan imbauan
normatif. Sementara itu India bergerak cepat memperkuat jaringan
infrastruktur darat maupun laut. Seperti China dan Jepang, India bergerak
cepat memperkuat kerja sama maritim dengan sejumlah negara di Asia,
bahkan sampai jauh ke Australia. Soal perdagangan bebas, India tidak
enggan ikut.
Mereka bangga pada kesiapan sumber daya manusia dan dunia
pendidikannya dalam menghadapi era persaingan ekonomi yang ketat.
Pemerintah India cukup all-out mendorong kegiatan pendidikan,
pembangunan lapangan kerja, dan pengentasan kemiskinan. Dalam tiap
dialog kerja sama dengan India, ASEAN dan Indonesia justru tampil pasif.
Kita berhati-hati dalam membuka diri terhadap India, tapi dalam kerangka
Dinna Wisnu Halaman 168

ASEAN telah kita tanda tangani kesepakatan perdagangan bebas dengan


mereka dan kita abai pada pengembangan sektor maritim.
Artinya Indonesia harus sungguh mawas diri. Segala limpahan proyek dan
investasi dari asing, terutama dari mereka yang menghindari China dan
konflik di Semenanjung Korea, bukanlah jaminan akan kesejahteraan
masyarakat. Dalam kerangka kekuatan kawasan, Indonesia belum
dianggap sebagai pemain global yang konkret, yang bisa “walk to walk,
not just talk to talk” (bisa menjalankan omongannya). ASEAN adalah
payung perlindungan kita saat ini, tapi payung itu pun harus membuktikan
keampuhannya pada 2013 ini.
Sumber: SINDO, 20 Maret 2013
Dinna Wisnu Halaman 169

Kesehatan dan Daya Tarik Bisnis


Selama berpuluh-puluh tahun sejak Indonesia merdeka, negeri ini lebih
dikenal orang sebagai negara berkembang yang butuh perbaikan sana sini.
Karena masyarakatnya belum sejahtera, belum sehat, belum cukup
berpendidikan, dan belum dianggap punya akses pada standar kehidupan
yang layak dan mutakhir. Indonesia kerap membanggakan diri sebagai
“suara dari negara berkembang” dan “salah satu model terbaik dari
negara berkembang”. Perlahan status “berkembang” itu berkurang
faedahnya. Tepatnya setelah China didaulat “bangkit”, India dianggap
mengikuti dan dibicarakan era baru dalam tata kelola ekonomi politik
global.
Sejumlah pengamat mengklaim bahwa sekarang adalah saat bagi Asia
untuk menentukan arah percaturan ekonomi politik global. Lebih tegas
lagi, sejumlah pengamat di Amerika Serikat (AS) menegur Asia karena
segan dan malu-malu mengambil kemudi tatanan keamanan global. Suka
ataupun tidak, siapa pun yang pertumbuhan ekonominya masih positif di
era ekonomi global yang melamban, termasuk Indonesia, diminta untuk
ambil tanggung jawab dalam mendorong perekonomian dunia.
Cara pikir tadi harus kita ingat betul dalam menyikapi ragam proposal
kerja sama dan forum penting yang digelar di Tanah Air sepanjang tahun
2013. Salah satunya yang nanti terjadi di bulan Oktober, yakni Pertemuan
Tingkat Tinggi para pemimpin bisnis dan negara anggota APEC (Asia-
Pacific Economic Cooperation). Secara seremoni, pasti acara itu akan
semarak gebyarnya, tapi apakah kita paham betul apa yang dicari para
anggota APEC? Untuk itu saya sengaja menyoroti satu dimensi negeri ini
yang sebenarnya merupakan daya tarik besar bagi banyak negara untuk
ikut “heboh” di APEC.
Dimensi itu adalah kesehatan. Negara-negara anggota APEC telah sepakat
dalam pertemuan tahun lalu di St. Petersburg (Rusia) untuk meningkatkan
investasi di sektor layanan kesehatan (health care). Rusia bahkan
menyarankan Indonesia yang tahun ini mengetuai APEC agar agenda
perbaikan layanan kesehatan menjadi fokus kepemimpinan di 2013. Arah
yang dibidik adalah perbaikan layanan kesehatan untuk sepanjang tahapan
hidup manusia (dari dalam kandungan sampai meninggal dunia), termasuk
juga penanganan terhadap penyakit-penyakit tidak menular yang
menurunkan kualitas hidup manusia.
Perkembangan ini menarik karena biasanya isu kesehatan adalah urusan
dalam negeri, dan setinggi-tingginya diangkat ke forum internasional
maka biasanya masuk ke ranah pengembangan harkat hidup manusia.
Dinna Wisnu Halaman 170

Artinya aspek dialognya biasanya sosial. Kali ini aspek dialognya


ekonomi. Para pebisnis kelas kakap berkumpul untuk menelusuri
perkembangan layanan kesehatan rakyat di Asia, termasuk di Indonesia.
Artinya, peluang bisnis di sektor layanan kesehatan akan naik daun
dengan pesat. Khusus untuk Indonesia, berikut indikatornya.
Pertama, jumlah kelas menengah di Indonesia terus meningkat dengan
percepatan yang cukup tinggi. Jumlah orang berduit serta jumlah orang-
orang yang punya gaya hidup “belanja-belanja belanja” terus bertambah.
Bank Dunia mencatat jumlah orang dengan kemampuan belanja USD2–20
per hari ada sekitar 56% dari total penduduk, atau sekitar 134 juta jiwa.
Pemerintah pernah mengeluarkan pernyataan populasi kelas menengah ini
bertambah 8–9 juta per tahun. Sungguh angka yang fantastis. Ini ladang
uang yang subur bagi pebisnis; hanya perlu dicari apa saja hal-hal yang
bisa membangkitkan semangat konsumtif penduduk di Indonesia.
Di satu sisi, gaya hidup gemar belanja umumnya muncul di negara-negara
yang penduduknya banyak “orang kaya baru”. Penduduknya masih
menikmati perasaan puas karena bisa membeli ini dan itu. Perhatikanlah di
negara-negara yang sudah lama mapan perekonomiannya, justru
masyarakatnya lebih senang berhemat. Di Finlandia, misalnya, meskipun
hampir tiap penduduknya sanggup membeli mobil sekelas Mercedes-Benz
atau Jaguar, mereka memilih kendaraan kecil yang hemat bahan bakar.
Penampilan orang-orangnya pun hampir tak bisa dibedakan antara yang
miliuner dan yang orang biasa.
Mereka sangat khawatir akan kemungkinan krisis, apalagi jika ada kabar
perekonomian global terganggu atau melambat. Sangat berbeda
suasananya di Indonesia. Suasana krisis pun tak menyurutkan langkah
orang untuk berbelanja; asalkan (tentu saja) marketing produknya tepat.
Kedua, kelas menengah adalah kelompok orang-orang yang biasanya lebih
terdidik dan hati-hati. Jangan salah artikan hati-hati dengan hemat ya,
karena sikap hati-hati dapat berarti kemauan membeli produk apapun yang
dianggap mencegah kemungkinan terburuk bagi diri atau keluarganya.
Contohnya asuransi dan pemeriksaan kesehatan (check up). Meskipun
dalam studi ilmu politik, kelas menengah kerap digambarkan sebagai
pembangun solidaritas, solidaritas itu tidak muncul secara otomatis. Yang
alamiah adalah sifat individualistis dari kelas menengah; mereka lebih
peduli pada urusan keluarga dan dirinya, atau kepentingan kelompoknya.
Mereka tak enggan mengekspresikan sikap pragmatis dalam pengambilan
keputusan.
Celakanya, ketika satu orang atau kelompok di kelas menengah
mengekspresikan pragmatisme tertentu, dengan cepat tren itu menular
kepada kelompok lain dan belum tentu untuk kemudian membangun kerja
Dinna Wisnu Halaman 171

sama kolektif demi perbaikan bersama. Dengan demikian, kelas menengah


adalah target pasar yang menggiurkan karena mereka dengan relatif
mudah dapat “dibentuk” untuk menjadi agen pemasaran bagi kelompok
dan produk tertentu. Kampanye tentang penyakit tertentu, perlunya
asuransi, vitamin, check-up dini perlu disadari juga sebagai alat marketing.
Siapa cepat, siapa canggih, siapa ampuh membangkitkan kesadaran (atau
ketakutan), dan siapa punya jaringan, maka ia menang dalam persaingan
ekonomi. Negara-negara APEC berburu kesempatan ini. Prinsip APEC
untuk “menurunkan tarif dan hambatan serendah-rendahnya agar terjadi
perdagangan bebas antarnegara anggota” adalah harga mati yang menjaga
peluang berburu tadi. Ketiga, Indonesia sedang membenahi sistem
jaminan sosial nasionalnya.
Pemerintah didorong-dorong untuk meningkatkan komitmennya (oleh
pemerhati, pelaku bisnis, donor, akademisi) untuk menambah anggaran
agar bertambah pula jumlah orang miskin yang dibayarkan preminya
lewat BPJS Kesehatan (yang nanti resmi berlaku 1 Januari 2014).
Meskipun para pendorong tadi sebenarnya berbeda- beda motif, ujung-
ujungnya pebisnis di sektor layanan kesehatan (termasuk rumah sakit,
perusahaan obat, alatalat kesehatan, asuransi swasta dan para praktisi
kesehatan) akan diuntungkan juga oleh kebijakan ini.
Betapa tidak? Sistem jaminan sosial nasional akan menjamin layanan
penyembuhan sampai tuntas untuk segala penyakit termasuk yang kronis.
Artinya ada peluang bagi pengusaha yang membuka dan menambah
tempat tidur di bangsal rumah sakit kelas III. Ada jaminan aliran dana bagi
RS yang melayani hampir sepertiga penduduk Indonesia (yang notabene
berpenghasilan di bawah garis kemiskinan). Sementara itu, sepertiga
penduduk Indonesia yang lain adalah kelas menengah atas yang punya
uang lebih untuk pilih-pilih asuransi tambahan agar mereka bisa naik
kelasVIPdalamlayananjaminan kesehatan nasional.
Maklum, dalam skema jamkes mendatang, standar upah tertinggi pun
hanya akan mendapatkan kelas I. Singkat kata, kita harus sadar betul
makin tinggi perekonomian kita berkibar, makin tinggi pula “angin pasar”
yang meniup ke arah kita. Karena mekanisme pasarlah yang memberi
napas kehidupan bagi dunia bisnis, maka kita harus pandai-pandai untuk
peka pada arah pasar. Kita tak bisa lagi berteriak-teriak antipasar dan
menyetop pasar dengan cara-cara kasar karena masyarakat kita sendiri pun
sudah merupakan pengikut aliran pasar.
Di sinilah pemerintah harus jeli melihat kesempatan untuk mengatur agar
negara tetap bisa berkata “tidak!” demi menjaga pilar-pilar harkat
martabat bangsa. Misalnya: ketika ribuan perusahaan mendekati para
pejabat kita, apa mekanismenya agar tak terjadi praktik kolusi, korupsi dan
Dinna Wisnu Halaman 172

monopoli? Ketika pasar layanan kesehatan kita buka pada pihak asing, apa
jaminannya bahwa sistem jaminan sosial kita tidak tergerus oleh
membubungnya biaya layanan kesehatan?
Ketika negara menetapkan standar bantuan sosial per kapita, apakah ada
mekanisme verifikasi layanan yang diberikan oleh RS, dokter dan perawat
adalah sesuai standar etika dan prosedur profesional? Ada banyak
pekerjaan rumah dan kita harus bergegas. Jangan takut, justru kita perlu
lebih semangat menangani tantangan terbaru abad Asia ini.
Sumber: SINDO, 27 Maret 2013
Dinna Wisnu Halaman 173

New Perspective for Food Security


Food security is a strategic issue for countries in ASEAN but its
achievement gets harder from year-to-year. According to the International
Fund for Agricultural Development, 53 percent of Southeast Asia’s 600
million population lives in poverty with an income of less than US$2 per
day, while 18 percent of them earn less than $1.25 per day.
With continuously rising food prices and unpredictable food supply, these
poor certainly do not earn enough to meet a sufficient daily nutrition
intake. This puts Southeast Asia second only to sub-Saharan Africa in
terms of poverty levels.
In terms of malnutrition, according to the World Food Program of the
United Nations, only in Singapore, Malaysia and Brunei Darussalam is
less than 5 percent of the population malnourished. Indonesia is at
medium-low with 5-14 percent of its population suffering malnutrition.
The Philippines, Vietnam and Thailand record 15-24 percent malnutrition
with 25-34 percent malnutrition in Laos and Cambodia. All are poor
indicators of food security in the region particularly considering that
socioeconomic inequality remains a serious problem here.
Not long ago ASEAN adopted the Framework Action Plan on Rural
Development and Poverty Eradication 2011-2015 as the basis for various
ASEAN Senior Official Meetings in preparation for the ASEAN
Economic Community. The goal is to address the above-mentioned
concerns.
This is yet another effort to enhance previous initiatives, such as the
ASEAN Emergency Rice Reserve (AERR) agreed in 1979, the study team
funded by Japan International Cooperation Agency in 2001 which
assessed why AERR was not successful in collecting the minimum rice
reserve, the Series of Technical Meetings on Rice Reserves in 2002 which
later endorsed the Pilot Project of East Asia Rice Reserve System for three
years prior to the establishment of the East Asia Rice Reserve System
which then evolved into the ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve
(APTERR).
Then there was the East Asia Emergency Rice Reserve to support rice
trading between country members, and the ASEAN Food Security
Information System (AFSIS) developed together with the Food and
Agriculture Organization, for the exchange of information on agricultural
and food commodities.
Dinna Wisnu Halaman 174

Will the framework of action plan be any different in enhancing food


security in ASEAN? The biggest question one should ask is whether the
food security problem in ASEAN is caused by lack of supply of grains
(particularly rice). Would pooling rice for emergency times solve the
problem of food insecurity or a mere simple non-interventionist way of
making leaders of the nations in the region feel assured that they won’t be
held accountable for not doing enough on the issue?
People in Southeast Asia are blessed with a diversity of food. Studies on
food security across the globe suggest that looking at food security by
emphasizing food supply is outdated.
A study by Randy Stringer in Australia (2000) shows that there is actually
enough food to feed the world. If proximity to food is key to getting food,
think about how Southeast Asia is blessed with fertile soil, rains, tropical
weather, ponds, seas, a richness in culinary skills and large numbers of
people working as farmers and fishermen.
Even if the problem is with supply, we can’t look at it from the
perspective of boosting production alone. There must be an issue of
choice, which is made at the level of individual farmers or fishermen,
agribusinesses and entrepreneurs, local governments and central
governments. Other studies also suggest that consumers often shape the
state of food security.
However, with the scale of poverty in Southeast Asia, it is hard to imagine
that the problem is with consumers being picky about food. Sure there are
people in the region who are influenced by diet, modern lifestyles and
personal preferences in food, but there has not been any collective action
to shape demand for certain commodities.
It is time that governments in the region started looking at food security
from a new perspective. Food security is not purely about supply and
demand but also about paths to providing supply of food and ending the
mismatch in approaches when handling producers, businesses and
consumers.
Cooperation across governments in the region should shift from collecting
the output from producers and emphasizing trade, to enabling
communities. Certain countries with less capacity to produce may need
support in the food trade, but the food trade itself cannot be as fulfilling
when producers and agribusiness handle problems in their own
(individual) ways.
In supplying food, we should internalize in our minds that farmers and
fishermen in Southeast Asia are communities that think, act, learn in
traditional ways, not just because many of them are still under-educated
Dinna Wisnu Halaman 175

but because they value such community-based living. They have survived
for generations because they work as groups of people who care for one
another. Machines are barely used not only because farmers and fishermen
are clusters of poor people, but also because they jeopardize employment
for family members and neighbors.
After all, governments in general have yet to develop employment
programs in rural areas. Governments may provide subsidized fertilizers
and seeds, but farmers have trouble obtaining them. Consequently, even if
the national governments call for the production of certain commodities,
farmers and fishermen will have trouble meeting them because their tools,
knowledge and networks are very limited.
Businesses come between farmers and fishermen, consumers and
governments. They want the shortest way to get raw materials and with
the least cost. Unfortunately in most places across ASEAN, logistics is
still a big issue. Roads are bad or absent, with heavy traffic congestion,
and there are long queues at ports. On top of this, local farmers cannot yet
produce reliable volumes and quality of raw materials for agribusiness.
Producers of fruit compote (dodol) in Indonesia, for instance, complain
that they may pay for 10 fruits but not all meet the requirement for
compote production.
The solution proposed by businesses is imports or import quotas. The
problem with this is that it does not solve the problem at the producer
level. Imports do not encourage local production and do not guarantee
stability of price either. When prices rise, producers are not the happy ones
because the benefits go to traders rather than themselves. Worse, with the
high cost of food, producers are among the poor experiencing food
insecurity. The problems of business are also not solved by imports or
import quotas.
Farmers and fishermen should be seen as groups of employers and
employees with precious adaptive skills and connections to nature. When
facilitated with an array of tools and networks, supported by science and
governments who care, they will provide longer-term solutions to food
security.
In the meantime, entrepreneurs and businesses in the food sector should be
encouraged to work within the frame of community development with
producers. Businesses should be facilitated to develop “the conveyor-belt”
of production starting from the farm.
In short, food security is an urgent issue, but we cannot handle it with
emergency policies. Our viewpoint should be far into the future. Food
security is not just about food on the table, but also about securing
Dinna Wisnu Halaman 176

employment on the farms, ensuring that work as farmers and fishermen is


attractive to the younger generations.
If governments cannot guarantee full employment for all citizens, then the
least they can do is to ensure that all ASEAN citizens have the options to
keep their current jobs on the farms, seas and coastal areas and as
agribusiness entrepreneurs.
Sumber: JAKARTA POST, 20 Maret 2013
Dinna Wisnu Halaman 177

Semangat (Baru) Antikorupsi


Siapa yang mendukung korupsi? Saya yakin kita semua mengecam
korupsi. Tapi apakah kita menolak korupsi dalam hidup kita sehari-hari?
Apakah gaya hidup dan cara pikir kita sudah terbebas dari pola-pola
koruptif? Hampir 15 tahun lalu, ketika ramai-ramai mahasiswa dan massa
di Indonesia turun ke jalan menolak sistem politik otoriter dari Rezim
Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto, ada satu jargon yang terus
bergema keras: Kami anti-KKN (korupsi, kolusi, nepotisme)! Demikian
bencinya kita pada korupsi, sehingga jargon tersebut terus diulang-ulang
dalam segala momen. Sejak saat itu, perjuangan demi perjuangan sebagai
suatu bangsa yang ingin terbebas dari KKN telah kita lalui.
Ini saatnya kita merefleksikan pencapaian kita sebagai suatu bangsa dalam
hal memberantas korupsi. Sumber refleksi kali ini adalah pengalaman
yang saya peroleh kemarin. Saya berkesempatan mengawal diskusi
internasional di Jakarta di mana ada tiga narasumber dari Vietnam,
Kamboja, dan Myanmar yang berbagi pengalaman tentang perjuangan
negerinya dalam memberantas korupsi.
Ketiga negara ini adalah “saudara- saudara muda” kita di ASEAN. Mereka
adalah pendatang baru yang sedang bergulat dengan banyak persoalan
domestik di tengah upaya ASEAN menjembatani kesenjangan antara
mereka dengan negara anggota ASEAN 6 (Thailand, Filipina, Indonesia,
Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam).
Ada catatan menarik dari diskusi tersebut. Pertama, terkait kesadaran akan
bentuk-bentuk korupsi. Bagi negara yang baru saja mengumandangkan
antikorupsi, hambatan besar dalam pemberantasan korupsi adalah
rendahnya kesadaran masyarakat akan ragam sikap dan kegiatan yang
memupuk korupsi. Kelihatannya sepele, tapi “kesadaran” tadi sungguh
modal besar bagi suatu negara menghapus praktik-praktik korupsi.
Contohnya demikian. Korupsi tidak terbatas pada “praktik suap,
mengambil uang rakyat, menyalahgunakan fasilitas publik yang dibayar
dari pajak, tidak optimal bekerja atau memperjuangkan kebutuhan rakyat
padahal digaji dari pajak rakyat”, tetapi juga termasuk: pengambilan
keputusan yang menyangkut hajat hidup banyak orang secara
semenamena, menggunakan anggaran belanja secara semena-mena tanpa
melibatkan pemangku kepentingan, membayar supaya bisa menjadi
pegawai (entah itu pegawai negeri atau swasta), memberikan ragam
fasilitas supaya prosesnya dipercepat/ diistimewakan, menyalahi izin
membangun rumah/ gedung, memberi hadiah pada dosen supaya lulus,
dan lain sebagainya.
Dinna Wisnu Halaman 178

Artinya, korupsi tidak terbatas pada penyalahgunaan dana publik atau


jabatan publik, tetapi juga penyalahgunaan dana dan jabatan di segala
tingkatan dan sektor. Korupsi dan antikorupsi menyangkut gaya hidup dan
cara pikir dari warga masyarakat. Aturan dan regulasi hampir selalu tidak
memadai, karena korupsi menyangkut “kebiasaan melanggar hukum”.
Di Vietnam, Kamboja, dan Myanmar, aturan antikorupsi bisa dikatakan
beragam. Bahkan mereka pun masing-masing punya komisi antikorupsi
dan Myanmar punya Komisi Ombudsman tempat rakyat mengadu pada
presiden. Kenyataannya itu semua tak cukup. Bahkan ketika aturannya
sudah dibuat, individu yang koruptif akan selalu berusaha membodohi
aturan dan sistem. Artinya, antikorupsi menghendaki kesadaran akan
etika, kemauan mencegah dan menjauhi korupsi, serta membantu negara
untuk memperkecil kemungkinan korupsi di segala lini. Itu sebabnya para
pengambil kebijakan perlu peka pada kebutuhan di lapangan dan
mengusulkan rancangan undang- undang tertentu bukan karena suatu isu
sedang ada sponsor (pendana)-nya, tetapi hendaknya karena RUU itu
membantu memperkuat akuntabilitas pejabat publik di sektor X, Y, atau Z.
Kedua, terkait kemauan masyarakat dan pemerintah untuk meninggalkan
praktik-praktik koruptif.
Ketika masyarakatnya bertekad untuk secara kolektif menolak korupsi dan
apa pun yang melanggengkan korupsi, maka pemerintah pun pasti
mengekor. Pengalaman membuktikan politisi dan birokrat tidak selalu bisa
diandalkan sebagai pemimpin antikorupsi yang bersih dan akuntabel.
Indonesia punya pengalaman panjang soal ini, bukan? Vietnam, Kamboja,
dan Myanmar juga sangat hati-hati pada pernyataanpolitisidanpejabat,
apalagi mereka punya sejarah kelam tentang politik berdarah-darah di
negerinya masing-masing.
Semakin banyak masyarakat yang mendukung antikorupsi, apalagi orang-
orang mudanya, maka semakin kuat pula gerakan antikorupsi. Cara-cara
membangkitkan kemauan bersama ini perlu terus digalang. Pengalaman
Indonesia dalam mengumpulkan koin untuk Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK), menguatkan peranan LSM (seperti Indonesia Corruption
Watch), media massa, serta gerakan menggelar dukungan antikorupsi via
Facebook dan Twitter dalam kasus cicak vs buaya adalah contoh-contoh
yang dianggap inovatif dalam membangkitkan dukungan antikorupsi.
Gerakan macam ini perlu diciptakan untuk berbagai rupa potensi korupsi
di segala sektor, termasuk juga di sektor pendidikan, layanan kesehatan,
dan bisnis. Ketiga, penguatan sistem. Korupsi muncul ketika sistem lemah
atau tidak berfungsi dengan baik. Orang yang kesal dan putus asa
menunggu lewat jalur sistem, kemudian memilih jalan-jalan pintas. Jadi,
Dinna Wisnu Halaman 179

manajemen yang lebih baik di segala lini adalah kunci penguatan


antikorupsi.
Sistem juga perlu mengutamakan layanan pada pengguna. Ketika penjaga
sistem abai pada pemberian layanan yang nyaman, apalagi dengan
desakan hidup yang berat bagi kebanyakan orang (entah dari segi
keterbatasan waktu, dana, kemampuan), maka lagi-lagi sulit muncul
kesadaran untuk berjalan dalam sistem dan bukannya membodohi sistem.
Contohnya soal pembuatan izin.
Ketika informasi tentang proses, dokumen yang dibutuhkan dan harga
tidak dipublikasikan dengan baik, maka muncul calo. Lain lagi soal halhal
yang rutin, misalnya seperti yang harus dilalui oleh pebisnis, pencari kerja,
pasien. Hal rutin sebenarnya sangat mudah ditemukan “best practice”-nya,
alias mudah dicari model-model paling efektif dan cepat melayani mereka
semua.
Jika ada keluhan, wajib ada cara-cara cepat mendata masukan dari mereka.
Jika semua dikerjakan secara manual, padahal besaran masalah dan jumlah
penggunanya besar, otomatis yang terjadi adalah frustrasi yang berujung
pada korupsi. Ayo bergegas beranjak pada sistem teknologi informasi
yang bisa diakses di mana pun oleh siapa pun setiap waktu, apalagi karena
mobilitas penduduk Indonesia akan terus meningkat.
Berangkat dari tiga poin tadi, Indonesia perlu bersyukur karena relatif
punya pencapaian dibandingkan saudara-saudara di Vietnam, Myanmar,
dan Kamboja. Kita sudah punya sejumlah fondasi dan contoh-contoh baik
untuk menggerakkan masyarakat Indonesia yang ternyata tidak berhati
batu dalam memerangi korupsi.
Di tingkat internasional, sudah ada dukungan dari PBB berupa Konvensi
PBB Menentang Korupsi (United Nations Convention against Corruption)
dan di ASEAN sudah terbentuk sejumlah inisiatif memperluas jaringan
antikorupsi. Sekarang silakan lanjutkan dengan lebih semangat!
Sumber: SINDO, 03 April 2013
Dinna Wisnu Halaman 180

Menjadikan Diri sebagai Teladan


Negara mana yang sangat penting untuk dikenali oleh Indonesia? Apakah
negara terkaya di dunia? Negara yang terkuat militernya? Atau justru
negaranegara yang kita kagumi? Melalui pertanyaan itu, saya mengajak
untuk mengubah cara pandang kita dengan tidak lagi mengarahkan
pandangan ke negara-negara “besar”, tetapi justru ke negara-negara yang
mau meneladani Indonesia. Kesimpulan tersebut berangkat dari kearifan
lokal leluhur yang mengatakan bahwa ketika kita beranjak dewasa maka
saudara kita adalah mereka yang ada di sekitar kita, termasuk para
tetangga.
Dalam kehidupan bernegara, pesan tersebut sebenarnya relevan untuk
diingat. Ketika hubungan dengan negara tetangga baik, niscaya damai juga
kehidupan kita. Tetapi ketika tetangga menjadi musuh, kepentingan kita
pun akan tersendat. Untuk Indonesia, “saudara” terdekat kita salah satunya
adalah Malaysia. Tidak hanya karena kita berbagi perbatasan darat dan
laut yang cukup panjang, sebagian orang Indonesia berasal dari rumpun
ras yang sama dengan penduduk Malaysia.
Artinya kebiasaan, bahasa, kuliner, bahkan cara pikir antara kita serupa.
Selain itu, sejumlah penduduk Malaysia adalah keturunan orang-orang
Indonesia yang memutuskan untuk menetap di negeri jiran, artinya mereka
adalah diaspora Indonesia di Malaysia. Contoh terbesarnya adalah Perdana
Menteri Malaysia Najib Razak yang berkuasa saat ini. Ia memiliki darah
bangsawan Makassar dari Sultan Hasanuddin, sultan Makassar terakhir di
Gowa.
Salah satu bukti kecil bahwa Nusantara jauh lebih besar wilayah Indonesia
sekarang ini. Jadi, kita boleh saling berbeda pendapat, bahkan saling sakit
hati, tetapi kedekatan fisik dan historis antarbangsa adalah takdir yang tak
bisa dipungkiri. Lebih menarik lagi karena saat ini Malaysia sedang
bergumul dengan “masalah” yang pernah ditangani Indonesia dengan
baik, yakni menjalani pemilu demokratis. Pemilu secara formal-prosedur
memang bukan hal asing di Malaysia.
Mereka sudah berkali- kali melakukan pemilu. Namun, yang istimewa
pada pemilu mendatang adalah karena kali ini publik dapat merasakan
ketidakpastian akan siapa yang akan memenangi pemilu itu. Koalisi partai
berkuasa, Barisan Nasional, ataupun koalisi partai oposisi, Pakatan
Rakyat, samasama mengklaim akan menang. Desas-desus yang beredar
justru bahwa Barisan Nasional yang telah berkuasa puluhan tahun merasa
kurang percaya diri.
Dinna Wisnu Halaman 181

Hal ini ditandai dengan periode parlemen sekarang ini yang berjalan 11
bulan lebih lama daripada parlemen-parlemen sebelumnya. Perbincangan
yang beredar bukan lagi tentang apakah kelompok oposisi yang digawangi
mantan Deputi Perdana Menteri Anwar Ibrahim akan mengalahkan
popularitas kelompok berkuasa, melainkan tentang bagaimana kelompok
berkuasa mau berbesar hati bila kehilangan kursi mayoritas di parlemen.
Perlu diketahui sistem pemilu di Malaysia menganut sistem multipartai
dengan prinsip first-past-the-post. Artinya partai dengan suara terbanyak
akan memiliki hak istimewa untuk mencalonkan perdana menteri. Di
sinilah titik kegelisahan politisi dan publik di Malaysia. Pihak oposisi
memang makin keras gaungnya, tetapi mereka tidak tergabung dalam satu
koalisi yang solid. Koalisi Pakatan Rakyat bersifat longgar, sekadar untuk
mempersatukan suara menjelang pemilu.
Apakah mereka akan tetap kompak pasca pemilu, itu masih tanda tanya
besar. Ini mirip dengan pengalaman Indonesia membentuk Poros Tengah.
Cara itu terbukti ampuh menggerakkan sejumlah partai untuk memadukan
langkah dan hal ini dicontoh pula di Malaysia. Bedanya dengan Indonesia,
koalisi oposisi di Malaysia terdiri atas kelompok-kelompok yang
sesungguhnya sangat berseberangan dalam ideologi.
Koalisi Pakatan Rakyat terdiri atas Partai Keadilan Rakyat yang dipimpin
oleh Anwar Ibrahim, Partai Islam Pan-Malaysia, dan Partai Aksi
Demokrasi yang berideologi sosialis dan didukung oleh sejumlah pemilih
keturunan China. Masing- masing sebenarnya sulit disatukan misinya
karena garis ideologinya jelas berbeda-beda.
Dalam manifesto politiknya, koalisi ini menggugat model kepemimpinan
Barisan Nasional yang elitis, terpaku pada kebijakan atas dasar ras, dan
terpusat pada pembangunan di Semenanjung Malaya (dan melupakan
wilayah Sabah dan Serawak). Bagi yang sudah pernah ke Malaysia, Anda
akan bisa merasakan betul mengapa koalisi Pakatan Rakyat mengangkat
fokus tersebut.
Kebijakan apa pun cenderung dibuat hanya oleh elit politik dan
melibatkan pembagian jatah antara ras Melayu, India, China. Politik
segregasi yang dipelajari dari pemerintahan kolonial Kerajaan Inggris.
Yang mendapatkan keutamaan selalu kelompok Melayu. Daerah Sabah
dan Serawak terbilang tertinggal, baik dari segi infrastruktur, kualitas
hidup, maupun akses politik. Tanpa desakan untuk berubah di bidang-
bidang ini, maka kelompok oposisi akan terus kerdil.
Di sisi lain, pihak pemerintah terus menerus menekankan pada perlunya
kesinambungan dalam pemerintahan. Menghadapi kritik soal kualitas
hidup, pemerintah merespons dengan janji menurunkan harga mobil,
Dinna Wisnu Halaman 182

menurunkan pajak, dan meningkatkan subsidi. Menghadapi kritik seputar


elitisme, pemerintah mengajak masyarakat sipil untuk ikut memantau
pemilu, bahkan tak segan mengundang lima negara untuk memantau
pemilu 2013 (yakni Indonesia, Thailand, Filipina, Kamboja, dan
Myanmar).
Artinya kelompok Barisan Nasional menyadari kebutuhan untuk berubah,
namun lebih senang berubah dalam langkahlangkah kecil. Dalam beberapa
tahun terakhir, pemerintahan dianggap lalai dalam menangani kerusuhan
antaretnis dan umat beragama. Banyak pihak menduga pengabaian itu
sebagai cara untuk mengambil dukungan dari kelompok mayoritas muslim
dan mengurangi kekuatan partai Islam oposisi.
Bagi Indonesia, seluruh perkembangan di Malaysia ini penting dicermati.
Bila saudara serumpun kita itu mulai membuka diri untuk demokrasi
seperti halnya yang terjadi di Myanmar, perubahan itu baik untuk kerja
sama kawasan ke depan. Malaysia mungkin perlu menyadari bahwa
demokrasi yang bebas, jujur, dan adil telah menjadi tren dan diadopsi oleh
saudara-saudara lain di ASEAN meski tidak sebebas yang dibayangkan.
Malaysia yang paham nilai-nilai demokrasi pastilah lebih baik untuk
Indonesia dan ASEAN ketimbang yang tertutup dan kaku. Indikator
sederhana untuk Malaysia yang lebih demokratis adalah apabila Malaysia
lebih membuka diri bagi dunia pers yang lebih independen dan
menjunjung kebebasan berpendapat dan berkelompok bagi warga
Malaysia. Dengan pers yang independen dan kelompok-kelompok
masyarakat sipil, lebih luas pula peluang mendiskusikan hal-hal seputar
perlindungan hak dan kerjasama berbasis prinsip partisipasi secara terbuka
dan berimbang.
Karena prosesnya boleh gaduh dan terbuka untuk publik, mudah-mudahan
sejumlah urusan kerja sama ekonomi dan sosial-budaya antarsaudara
serumpun ini bisa lebih mudah mendapatkan titik temu. Apakah hal ini
bisa didorong oleh Indonesia? Tentu bisa, dan mungkin tidak menggurui
seperti kebiasaan negara-negara Barat. Kita dapat melakukannya dengan
semakin mendewasakan diri dalam demokrasi dan hubungannya dengan
pertumbuhan ekonomi kita.
Kita dapat memberi contoh prinsip pertumbuhan ekonomi dulu, baru
demokrasi, tidak lagi cocok dengan perkembangan zaman saat ini. Karena
keinginan mereka untuk bersaing dengan Indonesia cukup tinggi, hal-hal
yang dianggap terbukti memperkuat kinerja dan dukungan bagi Indonesia
dipastikan akan diadopsi juga oleh mereka. Konfrontasi yang terjadi
selama ini antara Indonesia dan Malaysia harus diletakkan dalam konteks
hubungan dua negara yang memiliki toleransi demokrasi yang berbeda.
Dinna Wisnu Halaman 183

Dengan demikian, kita dapat memahami tindakan-tindakan Malaysia yang


provokatif selama ini sebagai cerminan dari dinamika politik dalam
negerinya yang masih tertutup dan anti terhadap kritik. Sebaliknya,
Indonesia perlu menyadari potensi Malaysia sebagai mitra strategis dalam
pengembangan infrastruktur (listrik, jalan, air) dan hutan untuk kawasan
Kalimantan dan Indonesia bagian timur.
Kita berbagi sungai dan perbatasan darat yang besar di sana, dan
karenanya masyarakat setempat terbilang akrab. Jika sampai pecah
keributan di sana, tentu kerugiannya lebih besar daripada keuntungannya.
Dari segi konektivitas, kita perlu mengembangkan kerjasama maritim
yang lebih baik di Laut China Selatan dengan mengembangkan kerja sama
di pantai-pantai sekitar kawasan itu. Kekayaan laut di sana perlu diarahkan
sebagai perekat hubungan dan bukannya pemisah antara kedua negara
serumpun ini.
Sumber: SINDO, 10 April 2013
Dinna Wisnu Halaman 184

Nasionalisme Baru
Apa yang ada dalam benak kita ketika melihat peta dunia? Bagaimana kita
melihat Indonesia dalam peta itu? Kemarin saya ajukan pertanyaan
tersebut kepada angkatan XXXI Program Sekolah Staf Pimpinan Bank
Indonesia.
Para peserta pendidikan tersebut adalah staf senior di bank sentral yang
nantinya akan diangkat menjadi direktur dan petinggi di Bank Indonesia.
Menanggapi pertanyaan di atas, mereka mengemukakan sejumlah
pandangan yang menarik untuk dibahas di sini. Pertama-tama reaksinya
cenderung defensif. Indonesia dilihat berhadap-hadapan dengan negara-
negara lain yang saling berseteru dalam hal batas wilayah dan saling
mempersoalkan kedaulatan politik maupun ekonominya.
Kedua, sejumlah besar peserta langsung menyoroti keberadaan China dan
India serta pentingnya Indonesia menjaga kedaulatan ekonomi kita,
bahkan diusulkan agar Indonesia punya independensi politik dan ekonomi
dari negara-negara lain. Selain itu, kata “kompetisi”, “daya saing”, dan
“keunggulan komparatif’’ bermunculan di sana-sini dalam komentar-
komentar praktisi ekonomi ini. Tak bisa disangkal, ada nasionalisme yang
kental dalam pemikiran para pejabat tersebut.
Nasionalisme memang penting dalam strategi politik internasional, tetapi
nasionalisme yang berwujud apa? Saya kemudian mengajak peserta
mengamati kondisi ekonomi global yang sedang resesi. Saya sajikan
sejumlah data tentang tingkat pengangguran di Eropa dan Amerika yang
masih lebih tinggi daripada angka sebelum krisis 2007, tingkat
pengangguran di kalangan orang muda berusia 15–24 tahun yang jauh di
atas rata-rata pengangguran di usia yang lebih tua, dan betapa terkikisnya
daya beli masyarakat di negara-negara itu. Karena perekonomian di
banyak negara mengandalkan daya konsumsi masyarakat, faktor-faktor
tadi sangat memukul perekonomian.
Ketika terjadi inflasi dan harga barang-barang kebutuhan pokok (termasuk
bahan bakar dan cicilan rumah) melonjak, habislah kemampuan
masyarakat untuk membeli dan menabung. Di titik itulah dunia perbankan
dan akhirnya negara akan merasakan dampak buruk dan rumit dari resesi
ekonomi. Apa dampak riil dari kondisi ini bagi Indonesia? Yang paling
jelas adalah nilai ekspor ke negara-negara tersebut otomatis merosot
sehingga sebagian pendapatan negara terkikis.
Sejumlah studi menunjukkan konsumen di Amerika dan Eropa
menerapkan perilaku hemat dan akan terus mengetatkan ikat pinggang
karena hatihati terhadap dampak krisis ini pada 15–20 tahun mendatang.
Dinna Wisnu Halaman 185

Artinya, perilaku hemat ini bersifat jangka (cukup) panjang. Tingkat


kesadaran mereka akan krisis ekonomi sudah demikian tinggi sehingga
masyarakat menghitung dampak jangka panjang resesi terhadap kehidupan
pribadi masingmasing dan karena itu mengurangi konsumsinya
semaksimal mungkin.
Repotnya, kita tahu persis, konsumen yang hemat adalah bencana bagi
produsen yang ingin menghidupi bisnisnya dan bencana bagi negara yang
ingin menciptakan lapangan kerja. Negara yang memproduksi barang-
barang non-durable, seperti Indonesia, pasti merasakan pukulannya.
Dampak negatif lain adalah kenaikan harga komoditas yang berujung pada
inflasi dan penurunan daya beli masyarakat. Di Eropa dan AS, upah tak
naik (bahkan turun), padahal harga komoditas naik.
Ini resep jitu untuk memunculkan protes luas dari masyarakat. Hal yang
sama tinggal menunggu waktu saja untuk terjadi pula di Indonesia, apalagi
karena negara belum punya mekanisme mengontrol harga komoditas.
Pertanyaannya, apakah krisis yang sedang kita hadapi akan melalui siklus
yang sama seperti krisis-krisis sepanjang abad ini? Ada dua depresi besar
di abad ini, yakni pada tahun 1873–1896 dan 1929–1934. Melihat
perkembangan masa kini, sesungguhnya ada sejumlah hal penting yang
membedakan krisis kita sekarang dengan krisis 79 dan 140 tahun lalu.
Pertama, dalam krisis kali ini tidak terjadi konsentrasi pertumbuhan
ekonomi pada satu negara atau bahkan satu benua saja. Negara-negara di
Asia, Afrika, dan Amerika Latin tumbuh bersama sebagai pusatpusat
perekonomian yang dinamis. Ini berbeda dengan dulu saat AS muncul
sebagai alternatif tunggal bagi hegemoni Inggris. Tak hanya itu, kini
negara-negara di tiga kawasan ini bergulat dengan isu-isu domestik politik
sambil mengembangkan pergaulan yang aktif dan keragaman cara
pandang tiap negara dalam berpolitik sangatlah tinggi.
Artinya, proses negosiasi demi pengembangan lapangan pekerjaan dan
peningkatan kerja sama ekonomi lain belum tentu dalam pola yang linear.
Kedua, negara-negara Barat boleh pongah karena meskipun dilanda krisis,
PDB mereka tetap jauh di atas rata-rata PDB negara-negara Asia, Afrika,
dan Amerika Latin, tetapi ini hanya fenomena sementara. Eropa dan AS
adalah negara yang menua. Penuaan ini otomatis mengikis produktivitas
dan jumlah populasi sehingga PDB pun dengan cepat akan terkejar oleh
negaranegara berkembang ini.
Ketiga, para pengambil kebijakan di AS belum sepakat tentang strategi
pertahanan dan perlindungan atas status hegemoni negeri itu dalam politik
internasional. Sisi yang masih dominan adalah kebijakan untuk all out
melindungi kepentingan segenap sekutu AS di mana pun mereka berada
dan dengan tanpa mengurangi basis-basis militer AS di seluruh dunia.
Dinna Wisnu Halaman 186

Dengan kata lain, AS memilih untuk tetap internasionalis meskipun telah


mengalami resesi dan terbilang relatif cukup aktif di sana-sini.
Ini berbeda dengan sejarah krisis zaman dulu saat AS justru memilih
untuk menarik diri dari pergaulan internasional. Dalam kondisi ini, kita
sesungguhnya punya peluang untuk lebih berani bergerak mencari posisi
terbaik bagi bangsa. Tatanan politik internasional jelas-jelas sedang
mencari bentuk baru sehingga kita pun tak boleh terpaku pada caracara
lama penanganan krisis. Contoh cara kuno dalam penanganan krisis adalah
dengan mengandalkan kemampuan negara memberi subsidi atau
membagi-bagikan “bantuan” gratis di sana-sini.
Cara ini tidak cocok lagi untuk zaman sekarang karena selain cara ini
menuntut penggunaan pajak, hibah atau utang, daya beli ratarata
masyarakat kelas menengah Indonesia pun belum cukup punya ruang
untuk menopang pajak yang lebih tinggi atau dibebani utang negara.
Apakah kita kemudian harus menggenjot persaingan dengan negara-
negara lain atau bahkan menutup diri dari pergaulan internasional dan
meningkatkan proteksi agar daya beli kita terkatrol? Itulah gunanya kita
memandangi peta dunia.
Sadarilah bahwa dunia tidaklah seluas daun kelor. Indonesia memang
bukan negara terkaya di dunia atau paling ditakuti, tetapi Indonesia
dikenal sebagai negara yang peduli dan aktif memperjuangkan perdamaian
dunia. Citra ini adalah aset yang luar biasa untuk mengembangkan banyak
kerja sama dan modal untuk bersikap lebih asertif kepada negara-negara
lain tanpa takut akan dimusuhi. Dengan posisi Indonesia yang sangat
strategis, kita wajib mengedepankan kebijakan luar negeri yang asertif
sekaligus sejuk. Hal ini hanya mungkin dilakukan bila kita mampu melihat
jauh ke horizon masa depan.
Jangan tutup kerja sama yang ada, tetapi lengkapilah dengan kerja sama
baru dengan negara-negara yang mau belajar dari kita seperti negara-
negara nun jauh di Afrika. Jika kerja sama ekonomi terlalu berisiko,
masuklah dulu lewat pintu kerja sama pertukaran pelajar, pengembangan
sister city, atau dialog di tataran partai politik, perempuan, dan kaum
muda. Afrika adalah kawasan yang kaya sumber daya alam, dinamis
sumber daya manusianya, bertumbuh kelas menengahnya, dan punya
gejolak keinginan untuk menghasilkan produk-produk dengan merek
terkenal.
Inilah poros baru pertumbuhan masa depan yang perlu kita kenali secepat
mungkin. Terhadap China dan India, yang memang aktor penting abad ini,
kita perlu ajak mereka untuk memaknai “persaingan antarnegara” dalam
kacamata yang lebih positif. Janganlah kita “tertular” virus panik
serbaingin bersaing dengan meladeni adu teknologi militer atau mengotak-
Dinna Wisnu Halaman 187

ngotakkan negara dalam persekutuan tertentu dengan China, India,


ataupun AS. Kita justru perlu berlatih mengedepankan cara-cara elok
meredam persaingan dan memupuk kerja sama.
Daerah-daerah perbatasan yang disengketakan perlu diusulkan untuk
dikelola bersama-sama sambil memperbaiki kualitas hidup masyarakat
yang hidup di sekitar sana. Sumber daya alam yang kerap hanya dikeruk
dan dibawa ke luar negeri perlu diminta untuk dikelola di dalam negeri
sambil mengembangkan model kemitraan baru yang berorientasi produksi.
Gejolak orang muda Indonesia yang sebenarnya kaya ide dan bersemangat
untuk berwirausaha perlu dijembatani dengan memperkuat program
pertukaran ide dan penelitian bersama antarorang muda. Inilah
nasionalisme baru yang perlu dipupuk.
Sumber: SINDO, 17 April 2013
Dinna Wisnu Halaman 188

Menghancurkan Kekerasan
Ledakan bom dalam lomba maraton di Boston, Amerika Serikat (AS)
merupakan catatan bahwa penggunaan kekerasan dalam mengutarakan
kehendak menjadi tantangan bersama bangsa-bangsa abad ini. Catatan itu
makin panjang dan memakan korban sangat banyak dalam waktu singkat
sehingga muncullah pertanyaan-pertanyaan ini. Mengapa ada orang-orang
yang begitu benci pada sesuatu/seseorang sehingga rela mengorbankan
nyawa ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang yang tidak ia kenal?
Mengapa ada individu yang terdorong mengobarkan semangat dendam
dan penggunaan kekerasan, bahkan bangga menjadi model dan panutan
dalam kelompoknya karena cara-cara tersebut? Mengapa ada orang-orang
muda yang tak kenal kompromi pada sesama, bahkan sampai bersikukuh
menyakiti diri sendiri, anggota keluarga, dan rekanrekan terdekatnya?
Setidaknya ada tiga catatan penting soal kekerasan abad ini.
Pertama, kekerasan akan diikuti oleh kekerasan berikutnya. Padahal apa
pun bisa dijadikan alasan untuk mengedepankan kekerasan. Ironisnya,
kekerasan bagian dari dua sisi watak manusia dan komunitas manusia.
Ketika kekerasan yang terus diasah, sisi kelemahlembutan, keikhlasan,
dan pengampunan akan makin mati rasa, tak peduli berapa tinggi
pendidikan kita.
Kedua, ada nuansa baru dalam kekerasan abad ini yakni penggunaan
simbolisme lintas batas negara yang mengusik emosi masyarakat yang
mendengar, melihat, dan memahaminya. Belum ada kesepakatan
internasional dan modelmodel penyelesaiannya. Pada abad 20 perang
terbuka antarnegara memang mengemuka sehingga muncul kebencian
dengan negara tertentu, tetapi pihak yang terlibat baku tembak
terkonsentrasi pada kelompok militer yang doktrin dan etikanya dipahami
dan diakui secara internasional.
Pada abad 21 ini perang justru terjadi antarmasyarakat sipil bersenjata dan
belum tentu lintas negara, melainkan lebih sering terjadi di dalam negara
dan antarkomunitas. Artinya, ada catatan tambahan permasalahan
kekerasan belum tentu bisa dicarikan di tingkat internasional, tapi harus
dikembangkan juga di tingkat nasional.
Ketiga, pelaku kekerasan bergerak ke arah mereka yang berusia muda dan
remaja. Hal ini patut diwaspadai dan segera dicarikan solusi. Orang muda
apalagiremaja terbilanglabildan rentan akan ihwal emosional sehingga
jumlah dan besaran kekerasan berpotensi lebih sulit terprediksi dan
mengerikan.
Dinna Wisnu Halaman 189

Berangkat dari ketiga poin tadi, kita perlu tenang menghadapi masalah ini,
tetapi juga sadar akan urgensi untuk segera menemukan formula
penghancur kekerasan dalam masyarakat abad ini. Ilustrasinya seperti ini.
Ketika bom meledak di lomba maraton Boston, berita yang spontan
muncul di media massa adalah “serangan terorisme” dan kaitannya dengan
Islam dan ras/bangsa tertentu.
Modus operandi peristiwa itu rupanya langsung identik dengan ingatan
orang akan aneka serangan terorisme. Tapi dengan cepat stereotyping itu
dicoba dibantah. Koran Washington Post merilis artikel berjudul “Please
Don’t Be a Muslim: Boston Marathon Blast Draw Condemnation and
Dread in Muslim World” (15/4/13).
Dalam artikel tersebut digambarkan respons warga Libya yang menulis
dalam Twitternya: “Please Don’t Be a Muslim” untuk menggambarkan
harapan semoga pelaku pemboman itu bukanlah pemeluk agama Islam.
Perasaan yang sama juga diungkapkan kawan muslim di Indonesia. Pesan
yang dikemukakan di sana adalah bahwa umat muslim pun antiterorisme.
Dalam dua hari ini, sayangnya, muncul berita bahwa dua kakak beradik
pelaku pemboman adalah penganut Islam dan simpatik pada ulama Rusia
Abdel Al-Hamid Al-Juhani yang dilaporkan telah mengkhotbahkan ajaran
radikal yang biasanya diserukan Al-Qaeda. Al-Juhani adalah ideologi
penting bagi Al-Qaeda di Chechnya dan Kaukasus, demikian info
sebagaimana dikutip dari harian Daily Beast.
Ketika berita seperti ini dirilis, kita juga dapat membaca respons dari ibu
kedua remaja berdarah Chechnya ini yang teguh meyakini penangkapan
dan kematian Dzhokhar dan Tamerlan adalah rekayasa FBI. Seperti dapat
dibayangkan, dialog selanjutnya seputar pemboman itu kembali ke titik
awal yakni kebingungan tentang mengapa kejadian seperti ini sampai
terjadi.
Kalaupun benar kedua remaja ini pelaku pemboman, kaum muslim tentu
keberatan bila perilaku prokekerasan tadi dikaitkan dengan Islam.
Sungguhpun tak ada tudingan langsung ke arah agama, sensitivitas itu
mengemuka pula. Orang tua menolak bertanggung jawab atas perilaku
anaknya. Sepemahaman mereka, sang anak berbudi baik dan punya
pergaulan yang baik pula. Sejumlah pengamat di AS juga merasa
kejahatan ini terjadi karena AS belum cukup “tegas” pada terorisme. Ada
pula yang mengomentari kebijakan prosenjata di AS yang memungkinkan
anak-anak mengakses senjata dan merakit senjata pemusnah massal.
Belajar dari Dominique Moisi, seorang penasihat senior di French Institute
of International Affairs di Paris yang menulis buku The Geopolitics of
Emotion (2009), kita perlu masuk ke dalam tataran emosi masyarakat
Dinna Wisnu Halaman 190

masa kini. Moisi menyoroti tiga kultur yakni kultur ketakutan (fear),
kultur pengharapan (hope), dan kultur penghinaan (humiliation).
Ketiganya terkait erat dengan rasa percaya diri yang diyakini Moisi
menjadi penentu bagaimana bangsa-bangsa dan masyarakat menghadapi
beragam tantangan yang dihadapi dan bagaimana mereka saling berelasi
satu dengan yang lainnya. Kaitan tiga emosi tersebut digambarkan sebagai
berikut. Ketika ada pengharapan, seseorang akan berkata: “Saya mau
melakukannya, saya bisa dan saya pasti melakukannya”.
Dengan penghinaan, yang muncul: “Saya tidak akan bisa melakukan itu”
dan pada satu titik berubah menjadi: “Saya akan coba hancurkan kamu
saja karena toh saya tak bisa bergabung denganmu”. Sementara rasa takut
memunculkan pernyataan: “Oh, Tuhanku dunia demikian berbahaya,
bagaimana cara saya melindungi diri?”
Dalam masyarakat tiga kultur tadi tumbuh. Kultur pengharapan
seharusnya diutamakan agar rasa percaya diri semakin kuat dan dirasakan
sampai ke segala lini dalam masyarakat. Sepatutnya dipupuk rasa maklum
dan budaya konstruktif agar siapa pun dapat merasa nyaman untuk tumbuh
sebagai manusia berakal budi dan berkehendak bebas.
Sayangnya, meskipun sejumlah negara “naik daun” karena
perekonomiannya yang kuat atau gaya hidupnya trendi, ada kantong-
kantong masyarakat yang tidak merasakan kenyamanan yang sama
sehingga rasa percaya diri mereka pun minim. Mereka terasing dalam
komunitas yang membesarkan mereka.
Dalam pengamatan saya, masyarakat yang relatif tenteram adalah
cerminan dari tata kelola hubungan yang efektif dan menyejukkan. Tata
kelola itu disebut governance atau pemerintahan. Sebagai anggota
masyarakat, kehidupan kita dikelola oleh banyak tingkatan, mulai dari
tatanan rumah tangga, komunitas, dusun/desa, kelurahan, kecamatan,
kabupaten/ kota, negara, regional, dan internasional.
Ketika kekerasan merajalela, artinya ada tata kelola hubungan yang
kurang efektif dan meresahkan masyarakat. Jika orang muda sampai
menjadi pelaku kekerasan berskala korban besar, tingkat pengelolaan
hubungan dalam masyarakat sudah demikian buruknya sehingga yang
muda tak lagi dapat memilah pengharapan dari ketakutan dan rasa terhina.
Untuk itu, akan jauh lebih efektif bila, karena kejadian bom Boston, kita
tergerak untuk merefleksikan tata kelola hubungan dalam komunitas kita
masing-masing. Apakah kita merasa percaya diri (confident) bahwa kita
bagian dari solusi? Apakah kita punya keyakinan besar bahwa cara-cara
yang bertahap dalam menyelesaikan masalah adalah investasi terbaik
untuk masa depan bangsa?
Dinna Wisnu Halaman 191

Apakah kita percaya kemajuan sekecil apa pun dalam dialog dengan
mereka yang berbeda pandangan adalah hal yang patut dihargai?
Kalaupun belum, apa yang bisa kita lakukan untuk mengembangkan itu
semua? Di tataran global, kejadian bom Boston hendaknya mengingatkan
kita akan pentingnya tata dunia baru yang mengedepankan penguatan
percaya diri dari warga masyarakat, rasa berdaya, dan rasa sebagai bagian
dari sesuatu yang ikut mereka ciptakan.
Jika kepala negara berkumpul, menteri menandatangani kerja sama, apa
hasil konkretnya bagi penguatan percaya diri masyarakat? Dalam dunia
modern masa kini, rasa percaya diri, berdaya, dan sebagai bagian yang
dihargai dalam masyarakat ternyata barang “mahal”. Tidak semua orang
bisa merasakan itu, termasuk yang terdidik atau kaya sekalipun.
Padahal dengan kecepatan teknologi informasi, siapa pun bisa mendengar
dan melihat siapa pun bicara keras atas nama agama, ideologi, kritik pada
lawan politik, kritik pada negara tanpa peduli akan dampak jangka
panjangnya pada penonton; terutama bagi mereka yang “di bawah umur”,
merasa terhina dan tak percaya diri. Indonesia bisa belajar dari ini semua.
Masyarakat boleh makin terdidik dan kaya. Tetapi, kalau mereka tak
merasa berdaya, terhina, dan tak percaya diri, yang mengemuka justru
kekerasan. Apakah kita menyapa orang-orang di sekeliling kita dengan
tulus? Apakah kita mengizinkan mereka tumbuh bersama kita? Apakah
mereka merasa berdaya bersama kita?
Di AS perasaan seperti itu barang langka. Masing-masing individu tumbuh
terisolasi dengan kesibukan masingmasing dan lingkar pergaulan yang
sangat terbatas sehingga kehangatan sebagai komunitas sungguh nyaris tak
ada. Bibit kekerasan ada dalam diri kita masing-masing dan karena itu kita
perlu selalu diingatkan untuk mengembangkan bibit kelemahlembutan,
keikhlasan, dan pengampunan.
Dalam bermasyarakat kita perlu sadar betul tak ada relasi yang mulus dan
sempurna sepanjang masa; hanya kelemahlembutan, keikhlasan, dan
pengampunan yang bisa memperbaiki tatanan masyarakat.
Sumber: SINDO, 24 April 2013
Dinna Wisnu Halaman 192

Bijak dan Utuh bagi Buruh


Tahun ini genap 15 tahun kaum pekerja dan serikat buruh bisa dengan relatif
bebas menyuarakan pendapat, berserikat, berkumpul, serta merayakan Hari
Buruh Internasional. Meski Pemerintah Indonesia pernah mengesahkan
Undang- Undang Kerja Nomor 12/1948 yang menyatakan 1 Mei sebagai hari
buruh dan hari libur, pada praktiknya kebebasan merayakan solidaritas
antarpekerja pernah dibungkam dalam waktu yang cukup lama. Tuntutan
buruh dipandang identik dengan garis ideologi komunis dan dianggap semata
sebagai beban bagi perekonomian yang berorientasi ke luar (outward-
oriented).
Atas dasar itulah gerakan buruh dipandang perlu untuk dikendalikan. Sampai
tahun 1998, hanya ada 1 serikat buruh yang diakui di negeri ini, yakni Serikat
Pekerja Seluruh Indonesia dan tradisi perayaan Hari Buruh pun dilarang. Kini
tak kurang dari 60 serikat buruh telah terbentuk, dengan beragam orientasi
ideologi dan politik. Di tataran perusahaan dan organisasi, praktik berserikat
pun bukan hal asing.
Pekerja kerap menggunakan mekanisme tawar-menawar secara kolektif
(collective bargaining) dengan manajemen perusahaan. Apa makna kesadaran
berserikat dan peluang tawar menawar secara kolektif ini bagi Indonesia di
masa mendatang? Tahun ini kita perlu melihat 15 tahun ke depan. Bagi kita
yang mengalami ingar-bingarnya masa krisis politik dan ekonomi 1998, tentu
bisa merasakan betapa cepat waktu berlalu. Dulu kita bisa katakan kita
sedang belajar dan mencari formula yang tepat.
Ke depan, kita sudah harus bergerak berdasarkan strategi yang jitu untuk
tujuan yang jelas. Pada 2030 bangsa Indonesia termasuk jajaran bangsa yang
akan menua dengan cepat. Artinya, beban ekonomi yang harus ditanggung
satu orang pekerja akan jauh lebih besar daripada yang ditanggungnya hari
ini. Jika ragam jenis penyakit dan fasilitas kesehatan belum memadai, maka
beban bagi satu orang pekerja akan membesar pula.
Apalagi bila perekonomian kita masih mengandalkan daya beli konsumen
sebagai pendorong roda pertumbuhan ekonomi sementara perusahaan-
perusahaan memilih “bermain” di tataran upah saja dalam mencari, merekrut,
dan mempertahankan tenaga kerjanya. Padahal, pada 2030 itu pula negara-
negara tetangga di Asia telah menginvestasikan ratusan juta dolar untuk
pengembangan pendidikan, sistem jaminan sosial, sistem kesehatan nasional,
perbaikan model pengupahan nasional, serta pengembangan strategi industri.
China, India, dan Thailand adalah tiga negara yang dengan cepat mengadopsi
beragam kebijakan untuk perbaikan nasib para pekerjanya. Dengan merekalah
kita perlu mengukur keberanian. Kita juga perlu melihat ke tetangga kita di
Afrika dan Australia, yang terus memacu diri untuk bangkit mengembangkan
Dinna Wisnu Halaman 193

perekonomian dan menolak terpuruk dengan produktivitas sumber daya


manusia yang rendah.
Ketersediaan lapangan pekerjaan yang sesuai jumlah pencari kerja, jenis
keahlian, dan cocok dengan kemajuan zaman adalah target yang patut kita
kejar. Namun, bukan berarti ketersediaan lapangan pekerjaan adalah tujuan
akhir dari perjuangan kita. Esensi dari segala perjuangan di Hari Buruh
Internasional adalah pengakuan dan pencapaian harkat dan martabat pekerja
dalam sistem ekonomi masa kini (apa pun bentuk sistem perekonomian yang
dipilih negara dan para politisinya).
Betul, Hari Buruh Internasional berfungsi mengingatkan kita semua bahwa
pemajuan harkat dan martabat bangsa perlu dimulai dengan efektivitas
pemanfaatan sumber daya manusia. Dalam perjalanan bangsa ini, melalui
krisis demi krisis ekonomi, kita bisa belajar bahwa efektivitas pemanfaatan
sumber daya manusia tidaklah sama dengan eksploitasi tenaga kerja. Kita
justru diingatkan bangsa Indonesia berhasil bangkit dari ragam krisis ekonomi
karena berbagai faktor.
Di antaranya, para penduduk Indonesia yang berusia produktif punya daya
lenting yang tinggi. Lalu, mereka tak henti menciptakan lapangan pekerjaan
(meskipun berskala mikro). Selain itu, mereka tak gentar mencari peluang
sampai ke luar negeri (meskipun risikonya disiksa dan dilecehkan karena
perlindungan tenaga kerja yang belum memadai). Dan masyarakat Indonesia
juga gigih meningkatkan keterampilan dan pengetahuan (meskipun dengan
segala keterbatasan dana).
Kita memang kritis terhadap pemerintah, bahkan makin tajam dalam
mengartikulasikan kehendak, tetapi sesungguhnya kita punya daya maklum yang
luar biasa pada pemerintah. Dengan program pemerintah yang compang-camping
pun bangsa kita tidak mengendurkan totalitasnya dalam berproduksi. Hari ini
hendaknya kita menyadari rekan-rekan kita yang punya upah di bawah tingkat
kelayakan hidup pun tetap menjalani tugas-tugas yang diberikan oleh
majikannya. Mereka tetap menghasilkan produk dan jasa yang kita beli, kita
pakai, dan secara langsung maupun tidak langsung membantu menjaga dan
meningkatkan produktivitas kita yang beruntung punya upah lebih baik. Mereka
adalah buruh di pabrik pembuat produk konsumen dan penyedia jasa bagi
industri tertentu, para juru tulis dan petugas administrasi, tukang bersih-bersih,
serta pembantu rumah tangga.
Kesadaran berserikat, berkumpul, mengeluarkan pendapat, dan melakukan tawar-
menawar secara kolektif sebagai pekerja dengan majikan adalah aset yang sangat
berharga bagi bangsa ini. Setidaknya ada dua alasan untuk itu. Pertama, negara
kita memilih model ekonomi terbuka; di mana segala perusahaan asing dapat
dengan relatif mudah beroperasi dan merekrut pekerja Indonesia. Bayangkan bila
dengan kondisi ini pekerja kita tak paham akan haknya untuk bernegosiasi
dengan pemberi kerja; tentu negeri ini mengalami rugi besar.
Dinna Wisnu Halaman 194

Kedua, negara kita belum punya kapasitas modal, teknologi dan kemampuan
manajemen risiko yang tinggi untuk sejumlah besar lini industri yang sebenarnya
bisa merekrut banyak pekerja. Misalnya untuk industri minyak dan gas, industri
pengolahan produk-produk pertanian, dan industri listrik berbasis nonbahan
bakar fosil.
Dalam kondisi ini, kita “terpaksa” bekerja sama dengan pihak-pihak asing,
sehingga lagi-lagi kita akan rugi besar bila para pekerja kita semata tunduk dan
tidak bisa mengartikulasikan kebutuhannya. Di sisi lain, tentu ada pihak-pihak
yang menyuarakan bahwa pekerja yang protes dan gemar menuntut ini itu adalah
hambatan bagi investasi asing dan berkembangnya industri lokal.
Ya, mogok kerja pasti mengganggu jalannya produksi. Tetapi kita pun tahu
bahwa Indonesia jauh lebih beruntung dibandingkan Korea Selatan yang
frekuensi dan skala mogok nasionalnya jauh lebih banyak dan besar. Toh Korea
Selatan tetap menarik investasi asing. Betul, kunci dari penanganan tuntutan
pekerja dan buruh adalah investasi sumber daya manusia yang terukur.
Korea Selatan punya itu dan kita belum. Keuntungan perusahaan selayaknya
dibagikan secara proporsional antara pajak, keuntungan bagi pemilik usaha dan
pemegang saham, serta bagi pekerja. Upah saja tidak bisa menjadi ukuran
insentif bagi pekerja. Yang kita hadapi adalah manusia, dengan segala potensi
dan kompleksitasnya.
Dalam perayaan Hari Buruh Internasional ke-15 sejak era reformasi ini mari kita
sadari kekayaan terbesar dari bangsa ini adalah jumlah tenaga kerja usia
produktif, yang punya kesadaran akan hak sebagai pekerja yang relatif baik, dan
daya tahan menghadapi krisis yang patut dipuji. Hari ini, potensi mereka belum
cukup diasah dan fasilitasi pengembangan kreativitas mereka belum optimal.
Kita belum menjadikan Indonesia sebagai surga bagi investor dalam mencari
tenaga kerja terampil dan terdidik. Kita masih terbelit sistem pendidikan yang
mahal, keterbatasan akses mendapatkan pendidikan bermutu tinggi, sistem
ekonomi biaya tinggi yang membuat para pengusaha ber-”sumbu-pendek” pada
tuntutan pekerja, dan lemahnya penetapan strategi pembangunan yang jernih,
terukur, dan mudah dikembangkan sebagai panduan langkah bagi penduduknya.
Dalam jeratan itu semua, serikat buruh pun dengan mudah terjebak dalam politik-
politik jangka pendek yang membingungkan bagi para pengamat dan para
pekerja sendiri. Hari ini semoga menjadi awal yang baru dalam memaknai
gerakan buruh. Semoga kita semua menjadi berani untuk mengambil langkah
yang bijak dan utuh demi pemajuan harkat dan martabat bangsa Indonesia.
Sumber: SINDO, 01 Mei 2013
Dinna Wisnu Halaman 195

Lagi, BBM vs BLT


Tahun lalu, tepatnya 21 Maret 2012, saya pernah menulis di kolom ini
seputar polemik melepas subsidi bahan bakar minyak (BBM) dengan
kebijakan bagi-bagi Bantuan Langsung Tunai (BLT). Tak terasa satu
tahun berlalu dan hari ini kita lagi-lagi berkutat pada masalah yang sama.
Minggu lalu dipastikan pada pertengahan tahun 2013 harga bahan bakar
premium dan solar akan dinaikkan. Karena pengurangan subsidi BBM ini
dianggap pemerintah akan memberatkan masyarakat miskin, pemerintah
mengumumkan mereka telah menyiapkan empat program kompensasi.
Yakni, program Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) yang
prinsipnya sama dengan BLT berupa penyerahan dana tunai Rp150.000
per bulan bagi keluarga yang dianggap layak, Program Raskin (pembagian
beras murah bagi rakyat miskin), Program Keluarga Harapan (pembagian
dana tunai untuk kebutuhan cek kesehatan bagi perempuan hamil dan
anakanaknya, juga dana tunai untuk subsidi biaya sekolah SD-SMP bagi
ibu yang punya anak usia 0–18 tahun), dan program bantuan siswa miskin.
Dialog seputar BBM dan BLT yang berlangsung sampai hari ini masih
berkutat pada upaya menambah jumlah peserta penerima dana
kompensasi.
Bukan mustahil sebatas itu pula parlemen kita nanti akan bertanya jawab
pada pemerintah pekan ini, padahal seharusnya isi dialog kita lebih
berbobot lagi. Keempat program yang diusulkan pemerintah tersebut
adalah bagian dari model targeting dalam pemberian jaminan sosial.
Targeting di sini artinya “memberi dengan membidik langsung ke pusat
masalah”.
Dalam kosakata jaminan sosial yang diakui di seluruh dunia, program-
program yang sifatnya targeting adalah program-program yang dikawal
dengan ketat oleh pelaksana kebijakan. Ada pendamping yang mengawasi
pengantaran dana, ada hitungan persis tentang periode waktu saat
seseorang berhak menerima bantuan dan kapan ia dianggap “lulus”.
Dalam program targeting, penerima bantuan harus memenuhi sejumlah
syarat yang kasatmata dapat diukur supaya kemungkinan salah sasaran
dapat dihindari.
Program targeting juga berhitung bahwa dengan menyalurkan dana segar
kepada individu tertentu pada suatu periode, sejumlah dimensi kehidupan
individu tersebut akan berubah menjadi lebih bermutu sehingga dampak
positifnya bisa dirasakan oleh komunitas tempat para penerima bantuan ini
tinggal.
Dinna Wisnu Halaman 196

Contoh ideal dari program targeting adalah pemberian bantuan tunai bagi
ibu hamil usia di bawah 18 tahun yang putus sekolah. Mudah bagi
masyarakat untuk menilai apakah seseorang berhak atau tidak atas bantuan
macam itu karena buktinya kasatmata. Ukuran keterlibatan pemerintah
pun relatif jelas, misalnya memberikan bantuan cek kesehatan, konsultasi
gizi-pengobatan anak dan masa nifas, serta menyekolahkan si ibu sampai
lulus SMA.
Berapa tahun dan berapa biayanya bisa terukur. Pendamping program ini
pun dapat dengan jelas memantau pelaksanaan program dengan mudah.
Jika si ibu remaja ini didampingi dengan tekun, tidak hanya si ibu tetap
berpendidikan sehingga berpotensi lebih baik sebagai tenaga kerja, tetapi
kesehatan ibu dan bayinya juga terjaga. Sekarang bandingkanlah dengan
program targeting yang dikembangkan pemerintah selama ini.
Keempat program yang diumumkan pemerintah tadi bermaksud menyasar
keluarga dan individu yang tergolong sangat miskin. PKH membidik 40%
perempuan dari keluargatermiskindiIndonesia, sementara program yang
lain tidak menetapkan kriteria yang spesifik selain bahwa anak, individu
atau keluarga miskin berhak menerima bantuan tunai tersebut.
Tapi, apakah kita bisa melihat secara kasatmata siapa yang paling berhak
menerima bantuan tersebut di seluruh Indonesia? Kenyataannya sulit
karena program-program kita menyasar masyarakat “termiskin” dan
ukuran termiskin itu sendiri kompleks dimensi-dimensinya. Khusus untuk
PKH, Kementerian Sosial memakai data PPLS dari Badan Pusat Statistik,
tapi data itu pun tidak imun kritik. Kemiskinan dalam PPLS merupakan
indeks kompleks yang elemennya antara lain soal status kepemilikan aset,
besar rumah, jenis dinding, jenis penerangan dalam rumah, jenis atap,
jenis kecacatan atau penyakit yang ditanggung keluarga, dan sebagainya.
Di satu sisi, ada problem di tataran miskin vs rentan. Ada orang yang
rumahnya berdinding bata/batako dan atapnya genteng, tetapi karena
ventilasi buruk dan lingkungan sekitarnya hampir tidak berjarak dan tidak
punya sanitasi baik, keluarga yang tinggal di rumah itu sangat rentan.
Apakah mereka tidak berhak atas bantuan tunai tersebut? Bagaimana
dengan yang sama sekali tidak punya rumah, tinggal di kolong jembatan,
di stasiun atau panti asuhan dan tempat penampungan anak-anak telantar?
Mereka tidak terdaftar di PPLS ini.
Kemudian soal ke mana dana-dana keempat program tadi jatuh. Kita bisa
lihat dari waktu ke waktu program PKH, raskin, BSM, dan BLSM jatuh di
provinsi, kota/kabupaten, dan desa yang itu-itu juga, yakni yang tak jauh
dari Pulau Jawa atau dekat dengan kota-kota besar di Pulau Sulawesi dan
Sumatera. Penduduk di pulau-pulau terdepan atau di pegunungan terpencil
justru tak mendapatkan bantuan ini. Mungkin ada argumen bahwa dampak
Dinna Wisnu Halaman 197

kenaikan BBM akan paling terasa di daerah perkotaan dan sekitarnya


sehingga logis bila dana kompensasi dibagikan ke daerah-daerah tersebut.
Sekarang pertanyaannya, problem apa yang sesungguhnya mau
diselesaikan oleh pemerintah dengan mengurangi subsidi BBM?
Kemiskinan masyarakat? Kerentanan masyarakat akibat inflasi yang
muncul menyusul kenaikan harga BBM? Mencegah penambahan utang
akibat subsidi BBM? Menjaga popularitas politisi tertentu? Atau
memperbaiki ketahanan energi di Indonesia? Mari kita dengan jernih
melihat masalah BBM vs BLT ini.
Aliran dana yang tidak menuju pada sektor-sektor produktif, yang hasilnya
tidak bisa diukur dalam periode jangka pendek, sama saja dengan
membuang-buang uang. Dalam konteks negara berkembang, problem
penanggulangan kemiskinan adalah masalah yang rumit jika solusi kita
selalu jangka pendek. Jumlah orang yang miskin jelas jauh lebih banyak
daripada yang tidak miskin. Kemiskinan punya wajah yang heterogen:
tidak bisa dilihat sebagai satu kumpulan manusia dengan solusi keluar dari
kemiskinan yang sama.
Artinya, kita sungguh harus memikirkan: orang miskin yang mana yang
menurut pemerintah patut diberi dana segar selama periode tertentu
melalui dana pengalihan subsidi BBM ini? Orang miskin mana yang jika
menerima dana segar tertentu bisa menghidupkan perekonomian di
komunitasnya? Kalau kita tengok pada semangat UUD 1945, juga halhal
yang disuarakan oleh para pendiri bangsa, politisi dan pengamat yang
memberi pendapat selama amendemen UUD 1945, yang dijunjung tinggi
oleh Indonesia adalah harkat dan martabat manusia.
Kita sepakat dalam UUD 1945 bahwa jangan sampai ada satu pun orang
Indonesia yang merasa dianaktirikan karena ia cacat, sakit-sakitan, lansia,
yatim piatu, tak berpendidikan ataupun miskin. Negara memfasilitasi
kebutuhan mereka, tetapi tiap individu dan komunitasnya juga punya
tanggung jawab untuk membangun kesejahteraan bagi komunitasnya. Jadi
semangatnya bukan negara menjadi penyantun tetap bagi masyarakat.
Dengan demikian, mari kita keluar dari kemelut polemik potong subsidi vs
kasih kompensasi tunai ini. Yang penting bukan berapa orang yang akan
menerima dana kompensasi dan berapa rupiah, tetapi siapa yang patut
menerimanya? Apakah pemerintah bisa mengukur dan memantau dampak
jangka pendek dari pemberian dana segar tersebut? Jika tidak, mengapa
tidak dialihkan saja untuk pembangunan infrastruktur dan transportasi
umum? Toh masyarakat miskin di daerah terpencil masih direpotkan oleh
ketiadaan fasilitasfasilitas semacam itu.
Jangan lupa pula, sudah saatnya kita juga berpikir tentang peralihan pada
energi terbarukan. Pelajaran sangat berharga dari negara-negara lain
Dinna Wisnu Halaman 198

adalah bahwa model targeting tidak bisa dilakukan terus-menerus, apalagi


jika hasilnya tidak bisa dilihat dalam jangka pendek. Model targeting
selalu akan memberatkan anggaran negara, apalagi kalau jumlah orang
yang tidak mampu banyak.
Cara terbaik mengurangi ketergantungan pada subsidi BBM adalah
dengan memberi instrumen dan fasilitas untuk dipakai dan dikembangkan
masyarakat agar lebih hemat BBM, tetapi tetap produktif dan berprestasi.
Betul kata orang tua dulu: berilah kailnya dan bukan ikannya. Di sini saya
tambahkan: bolehlah kita memberi ikan, tetapi kepada orang yang
kemudian tahu ke mana ia harus mencari dan membudidayakan ikan
berikutnya.
Sumber: SINDO, 15 Mei 2013
Dinna Wisnu Halaman 199

Menakar Toleransi Beragama


Satu info yang menimbulkan polemik tajam minggu lalu adalah undangan
pemberian penghargaan World Statesman Award (Penghargaan Negarawan
Dunia) dari sebuah yayasan di Amerika Serikat bernama Appeal of
Conscience untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Adapun
dasar utama kontroversi ini adalah karena penghargaan tersebut salah satunya
didasarkan atas pengakuan bahwa Presiden SBY dianggap telah mendukung
kebebasan beragama. Tokoh sekaliber Romo Franz Magniz-Suseno SJ sampai
mengirim surat untuk mengekspresikan kekecewaannya, di mana Presiden
SBY dianggap telah menutup mata pada realita di lapangan yang masih jauh
dari kebebasan beragama dan perlindungan hak asasi manusia (HAM).
Karena masih banyak korban kekerasan atas nama agama yang belum jelas
nasibnya dan tersingkir dari rumahnya sampai saat ini. Pada saat yang sama,
di sejumlah media lain dibahas hasil pantauan International Religious
Freedom Report 2012 (IPR 2012) di AS dan The State of the World’s Human
Rights dari Amnesty International yang keduanya masih memberi rapor
merah dalam hal toleransi beragama dan perlindungan HAM di Indonesia.
Menteri Luar Negeri AS John Kerry di Washington DC mengutip laporan
IPR 2012 dengan menegaskan bahwa sebuah pemerintahan yang melanggar
hak warga dalam kebebasan beragama sama saja dengan mengancam
stabilitas negara.
Selain itu, masih segar dalam ingatan kita bahwa Indonesia juga mendapatkan
rapor merah dalam sidang empat tahunan Evaluasi Periodic Universal (UPR)
Dewan HAM PBB di bulan Juli 2012. Artinya, sesungguhnya penolakan dari
sejumlah kalangan atas penghargaan tadi cukup berdasar. Sayangnya dari sisi
Presiden SBY, polemik ini dianggap wajar karena siapa pun boleh berbeda
pendapat dalam demokrasi. Pihak istana luput melihat satu hal yang memang
sangat mengganjal dalam justifikasi tadi, yakni bahwa takaran kebebasan
beragama oleh Yayasan Appeal of Conscience dibuat secara relatif, padahal
prinsip kebebasan beragama dan perlindungan HAM sesungguhnya
mengedepankan pengalaman individu.
Pengalaman individu tentang toleransi bukan sekadar bebas untuk melakukan
aktivitas ibadah tetapi yang lebih penting adalah bebas dari rasa perasaan
takut untuk menjalankan ibadah itu sendiri. Tidak ada satu pun yang dapat
menciptakan perasaan bebas dari rasa takut itu selain negara, karena negara
adalah institusi yang memiliki seluruh perangkat dan otoritas untuk
menciptakan itu. Artinya pernyataan pihak istana tadi telah mengabaikan
perasaan keadilan yang seharusnya dijamin oleh seorang negarawan kaliber
dunia. Maksud saya begini.
Kebebasan beragama dan perlindungan HAM adalah isu internasional yang
dianggap pokok dan sangat penting dalam dekade ini. Pencapaian suatu
Dinna Wisnu Halaman 200

negara dalam bidang ekonomi saja dianggap tidak mewakili gambaran yang
utuh dari suatu masyarakat yang maju. Jika ada anggota masyarakat dalam
negara tersebut yang masih merasa ketakutan dan dikucilkan karena
kepercayaan yang dianutnya, dan masih ada bukti di mana anggota
masyarakat diadili dengan semena-mena di luar rasa keadilan hukum dan
haknya sebagai warga negara, maka negara tersebut belum punya rapor baik
dalam hal kebebasan beragama dan perlindungan HAM.
Artinya dalam konteks kekinian, nilai satu orang jiwa sangatlah bernilai,
sehingga negara dan pemerintahan tidak bisa abai dalam menciptakan rasa
keadilan bagi satu orang ini. Demikianlah prinsip kebebasan beragama dan
perlindungan HAM yang diakui secara universal saat ini. Karena begitu
pentingnya nilai satu jiwa tadi, muncul sejumlah inisiatif multilateral dalam
ranah politik internasional untuk melakukan pemantauan atas kemajuan
kebebasan beragama dan perlindungan HAM di negara-negara dunia.
Memang ada ranking, karena pencapaian perlu juga dimotivasi melalui
perbandingan dengan pencapaian negara-negara tetangga. Ranking
antarnegara tadi sesungguhnya dapat membantu analisis yang lebih
mendalam tentang kaitan sejumlah variabel sosial ekonomi dengan variabel
politik, budaya, dan sebagainya. Dengan demikian ranking antarnegara tidak
dapat dijadikan justifikasi atau pembenaran bahwa karena ranking suatu
negara “masih lebih baik” dibandingkan negara lain maka kepala negaranya
layak diberi penghargaan.
Esensi politik internasional seputar kebebasan beragama dan perlindungan
HAM tetaplah sama: nyawa dan pengalaman satu orang saja adalah indikator
kondisi kebebasan beragama dan perlindungan HAM yang tak boleh
diabaikan. Apakah pernyataan Presiden menjamin kebebasan beragama dan
meminta aparat keamanan melindungi kebebasan beragama adalah wujud
komitmen negara pada kebebasan beragama? Tunggu dulu. Karena kebebasan
beragama bukanlah wacana tetapi fakta yang wajib dipantau di lapangan.
Minggu lalu di Makassar, berkumpul sekitar 100 delegasi dari 35 negara se-
Asia-Pasifik tergabung dalam CAPDI (Centrist Asia Pacific Democrats
International), yakni suatu wadah pertemuan informal sebagai jembatan
antarkelompok untuk menumbuhkan dorongan berdialog secara konstruktif
atas dasar cara pandang sentris (dalam arti tidak ekstremis dan selalu
mengupayakan cara-cara tengah yang diterima berbagai pihak sebagai win-
win solution), prinsip-prinsip demokrasi yang inklusif dan menimbulkan rasa
keadilan, serta menghormati martabat manusia.
Dalam ragam topik yang dibahas, forum itu membahas juga seputar
kebebasan beragama. Kesepakatannya adalah agama adalah dasar bagi
pengembangan dimensi spiritual dalam masyarakat, yang selayaknya
mendorong pemerintahan agar lebih bermoral dan etis. Dari sini dapat dilihat
di Asia-Pasifik diakui bahwa keberhasilan perwujudan kebebasan beragama
Dinna Wisnu Halaman 201

adalah hasil kerja kolektif yang perlu dirawat oleh masyarakat dengan segala
elemennya, termasuk partai politik, anggota parlemen, lembaga masyarakat
sipil, universitas, pemerintah, serta media massa.
Agama adalah bagian dari sebuah aktivitas spiritualisme di mana
spiritualisme sendiri secara sederhana dapat jabarkan sebagai sebuah mode of
practice untuk mencari nilai-nilai yang lebih agung dan besar dari manusia
serta dapat dipakai untuk memaknai arti kehidupan sehari-hari. Kalau mau
jujur, aktivitas spiritualisme lebih banyak dari jumlah agama yang diresmikan
di Indonesia.
Agama bukanlah dasar untuk saling menegakkan kebenaran dalam lingkar
pendukungnya. Agama justru merupakan dasar untuk saling menegakkan
spiritualitas yang menumbuhkan kebutuhan akan relasi yang bermoral dan
etis antarpemeluk spiritualitas dalam masyarakat tersebut. Kita lihat ada
lingkaran relasi yang perlu saling menguatkan dalam mewujudkan kebebasan
beragama. Masyarakat mendorong kondisi politik supaya nilai-nilai
spiritualitas yang mempersatukan, yang tumbuh dan dikembangkan oleh para
aktivis politik, media massa, universitas, dan pemerintah.
Sementara di sisi lain, pemerintah mendorong penegakan hukum dan keadilan
yang berpijak pada nilai-nilai spiritualitas masyarakat yang menyejukkan tadi.
Jadi, kini kita justru perlu sangat sadar bahwa kebebasan beragama pada
dasarnya hanya bisa diukur melalui pengalaman dan pandangan masing-
masing individu di negeri ini, yakni tentang apakah kita merasakan
keberagaman agama dan keyakinan sebagai suatu kebutuhan yang esensial
dalam kehidupan sehari-hari.
Toleransi tidak cukup diukur dari banyaknya perintah presiden kepada para
menteri atau aparat keamanan tetapi berapa output yang tercipta dari
pernyataan itu. Ukuran yang lebih penting lagi adalah apakah cara negara
dalam memandang toleransi tidak lagi sebatas mengukur kebebasan dari
dikotomi mayoritas-minoritas, tetapi telah memiliki cara pikir yang meyakini
bahwa toleransi adalah bagian tak terpisahkan untuk membangun sebuah
bangsa yang kuat.
Jika masih banyak di antara kita yang menganggap keberagaman agama dan
keyakinan sebagai kebutuhan sekunder, jiwa dan semangat kebebasan
beragama dan perlindungan HAM belum meraja dalam bangsa Indonesia.
Sungguh tidak etis dan layak bila kita mengaku lebih dari apa yang kita
miliki. Kita perlu lebih rendah hati untuk dapat berbenah diri. Lagi pula,
bukankah gelar negarawan harusnya disematkan oleh rakyat negeri itu
sendiri?
Sumber: SINDO, 29 Mei 2013
Dinna Wisnu Halaman 202

Upaya Mendamaikan Israel-Palestina


Salah satu berita yang ramai dibicarakan dalam politik internasional minggu
ini adalah inisiatif Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry untuk
menghidupkan lagi upaya perdamaian antara Israel dan Palestina.
Di satu sisi, berita ini mengindikasikan meskipun di satu sisi AS
mendengungkan “US pivot to Asia” (alias fokus perhatian AS yang membesar
pada Asia) ternyata dalam hati perhatian AS tetaplah ke Timur Tengah. Tapi,
bukan itu yang akan menjadi fokus bahasan saya minggu ini. Saya akan
mengulas situasi terkini di Israel dan Palestina serta dampaknya bagi upaya
John Kerry ini.
Yang membedakan dalam upaya perdamaian Israel-Palestina kali ini adalah
usulan untuk berangkat dari titik awal kesepakatan akan berdirinya dua
negara yang hidup berdampingan secara damai dengan keamanan yang
terjamin. Istilahnya, two-state solution. Ini dianggap sebagai titik win-win,
artinya tak ada satu pihak yang akan merasa dirugikan atau kalah; semua bisa
menang. Dengan tawaran ini, Palestina secara tidak langsung sudah diakui
oleh AS sebagai negara yang siap untuk dianggap berdaulat.
Sayangnya, situasi di lapangan tidak seindah dan semudah yang tergambar di
media massa sehingga tawaran two-state solution tadi ditanggapi dingin oleh
Palestina. Kebetulan minggu lalu saya berkesempatan berkunjung ke Israel
dan sempat bertemu pula dengan pihak otoritas Palestina. Beruntung, saya
berkesempatan berdialog dengan warga biasa dan melihat dengan mata kepala
sendiri kehidupan masyarakat Israel dan Palestina.
Di situ tampak jelas bahwa tawaran damai John Kerry sesungguhnya
samasama dipandang sebelah mata oleh Israel maupun Palestina; bukan
karena mereka tak ingin berdamai, melainkan karena kedua belah pihak
sama-sama terpenjara rasa tidak aman dan ketakutan yang sebagian
bersumber dari persaingan bisnis. Pertama-tama terkait permukimanYahudi.
Kitatahubahwa sejumlah upaya perdamaian sebelumnya terpaksa kandas
karena tak ada kesepakatan atas status permukiman Yahudi.
Israel bersikukuh untuk mempertahankan permukimanpermukiman mereka.
Sementara Palestina bersikeras menyatakan perlakuan Israel membangun
permukiman merupakan hambatan terbesar dialog perdamaian di kawasan ini.
Kini saya paham mengapa isu permukiman Yahudi sangat kritis direspons
Israel dan Palestina. Awalnya saya membayangkan permukiman Yahudi
adalah tempat tinggal khusus bagi keturunan Yahudi, warga negara Israel,
yang dilingkari pagar beton tinggi dan warganya selalu hidup dalam
ketakutan dengan lingkungan yang cenderung kumuh.
Gambaran tersebut ternyata keliru. Pembangunan permukiman Yahudi tak
ubahnya pembangunan real-estate atau kompleks perumahan. Ada kompleks
Dinna Wisnu Halaman 203

perumahan mewah (bahkan ada yang supermewah) dan ada pula yang biasa
dengan rumah tipe RSS atau RSSS. Satu kompleks biasanya cukup besar
sehingga bisa dianggap satu kelurahan atau desa. Ada yang murni dihuni
orang Yahudi, tetapi ada juga yang dihuni keturunan Arab dan Afrika yang
bekerja di Israel dan sebagian sudah menjadi warga negara Israel.
Tidak ada tembok-tembok beton tinggi; justru lebih banyak pagar-pagar
kawat yang tembus pandang. Pagar tersebut berjarak sekitar 2-3 meter saja
dari rumah-rumah permukiman. Di perbatasan Israel-Lebanon, pagar tersebut
dibuat berlapis. Satu di sisi kiri jalan sehingga kendaraan militer Israel masih
bisa berpatroli di jalan. Di sisi kanan jalan adalah pagar sisi terluar yang
langsung berbatasan dengan Lebanon.
Pagar kawat tadi dialiri sensor; sehingga siapa pun yang mendekat ke situ
akan terdeteksi oleh penjaga militer Israel yang dalam hitungan detik akan
langsung menghampiri tempat yang disentuh. Permukiman yang paling
sederhana pun disubsidi pemerintah Israel dengan berbagai fasilitas sehingga
tak kalah nyaman dengan permukiman mewah. Jadi yang diributkan ketika
menyangkut pembangunan permukiman Yahudi sebenarnya lebih terkait
pemberian izin pemerintah Israel pada developer real-estate yang memilih
untuk membangun di lokasilokasi strategis yang seringkali sangat indah
pemandangannya atau subur tanahnya.
Sejumlah permukiman didiami oleh orang-orang kaya dari Amerika, Inggris,
Australia, yang ingin punya rumah di Tanah Suci; dan mereka belum tentu
menetap di situ. Seperti kebiasaan orang kaya di Indonesia, mereka senang
membeli rumah-rumah mewah di daerah perbukitan dengan pemandangan
cantik, tetapi hanya didiami ketika sedang berwisata. Dengan begitu, soal
permukiman menyangkut bisnis.
Para developer ini tak mau pusing soal apakah lahan itu “halal” (dibangun di
atas wilayah Israel) atau sebenarnya menyodok tanah Palestina. Para
developer ini cenderung tidak bisa menahan diri melihat potensi sejumlah
lahan “tidur” apalagi di daerah perbatasan. Permintaan akan perumahan
sedang tinggi di Israel; maklum jumlah penduduk meningkat terus. Bagi
pemerintah Israel, bisnis permukiman ini jelas menggiurkan. Secara politik
permukiman ini menjawab kebutuhan masyarakat akan perumahan.
Pembangunan perumahan mewah secara tidak langsung mendukung
penggalangan dukungan dana dari para keturunan Yahudi kaya dan para turis.
Secara sosial permukiman ini menjawab kebutuhan masyarakat Israel akan
permukiman nyaman di wilayah yang bergengsi. Tak heran sejumlah tokoh
Israel bersikukuh mempertahankan permukiman ini. Bagi pemerintah
Palestina, tak heran bila bisnis permukiman ini memancing emosi. Logika
bisnis tentu sulit ditekan oleh desakan politik, bukan?
Apalagi desakan itu berasal dari politisi negara lain. Jadi ketika Israel bicara
tentang tukar guling wilayah permukiman (swap), naluri bisnis pula yang
Dinna Wisnu Halaman 204

sesungguhnya mengemuka dari pimpinan Palestina. Mereka tak hanya


berebut lahan, tetapi juga berebut akses ke tempat-tempat strategis dan atas
lahan yang subur. Betlehem misalnya salah satu tempat wisata terkenal
tempat kelahiran Nabi Isa atau Yesus yang secara de jure berada di bawah
otoritas Palestina, tetapi mereka mengeluh bahwa wilayah yang relatif lebih
subur di Betlehem Barat justru dikuasai Israel.
Secara umum Betlehem adalah kota kecil di pegunungan yang cenderung
tandus sehingga persoalan kekeringan menjadi isu penting di sana. Palestina
merasa tak puas diberi otoritas atas pengelolaan kota yang notabene selalu
penuh turis ini karena peningkatan bisnis di sana juga bergantung
ketersediaan air. Bayangkan bila persaingan bisnis antara Israel dan Palestina
ini tidak diwarnai pula kecurigaan politik, inisiatif John Kerry akan lebih
mudah dilaksanakan.
Repotnya, baik Israel maupun Palestina sama-sama negara yang dikelola atas
prinsip-prinsip militer. Faksifaksi di dalam pemerintahan Israel maupun
dalam otoritas Palestina sama-sama terdiri atas kelompok-kelompok yang
sebenarnya menghalalkan penggunaan senjata dan kekerasan untuk
mempertahankan posisi masing-masing. Kampanye politik antarfaksi di
masing-masing negara ini sama-sama mengerikan.
Di sisi Palestina dan masyarakat Arab, mereka tak segan mengutuk dan
mengumandangkan kebencian (bahkan pembunuhan) atas keturunan Yahudi.
Di sisi Israel, mereka tak henti mengobarkan semangat untuk menentang
mati-matian segala upaya atau gerakan yang dianggap mengancam nyawa
keturunan Yahudi. Israel juga menghalalkan pembunuhan atas teroris.
Anak-anak kecil di Israel maupun Palestina sudah diajarkan ihwal ini sejak
usia dini. Akhirnya tak heran, suasana yang berkembang di Israel maupun
Palestina adalah saling mengutuk, saling curiga, dan saling benci. Ke mana
pun kami bertanya tentang makna perdamaian bagi mereka, tak dapat kami
temukan perasaan damai dalam pernyataan mereka. Ihwal yang sesungguhnya
sederhana menjadi makin rumit ketika faksi-faksi di sana merujuk pada ajaran
agama dan janji-janji kitab suci.
Singkat kata, dari kondisi riil di lapangan dapat disimpulkan bahwa inisiatif
damai dari John Kerry belum menyentuh kebutuhan riil penduduk Israel
maupun Palestina. Jika damai tidak datang dari hati masing-masing, apa pun
pesan damai yang dikampanyekan pihak-pihak luar tak akan ada artinya,
apalagi kepentingan politik berkait pula dengan urusan bisnis. Harus ada
terobosan lain yang memutus lingkaran setan dari perasaan serba ketakutan
dari Israel maupun Palestina.
Sumber: KORAN SINDO, 05 Juni 2013
Dinna Wisnu Halaman 205

Menjinakkan Istanbul
Minggu ini kita dikejutkan oleh berita seputar keresahan politik di Turki
akibat protes besar-besaran yang masih belum berakhir di Alun-alun
Taksim Square, Istanbul. Puluhan ribu demonstran dari berbagai kalangan
berbulat tekad menginap di Taksim Square dan menolak menyerah kepada
tekanan ratusan polisi yang memaksa mereka untuk membubarkan diri.
Mediamemberitakan, protes itu muncul akibat rencana pemerintah
menggusur area tersebut dan menggantikannya dengan replika bangunan
bermodel barak zaman Ottoman dan pusat perbelanjaan yang disinyalir
hanya akan menguntungkan kroni Perdana Menteri Recep Tayyip
Erdogan.
Apakah keresahan tersebut perlu diwaspadai sebagai awal dari sesuatu
yang mengguncang stabilitas pemerintahan Turki? Kejadian protes sebesar
ini memang mengejutkan karena sejumlah hal. Pertama, selama ini
Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan dikenal luas sebagai pendukung
demokrasi. Pendukungnya pun besar jumlahnya. Dalam Pemilu 2011 lalu
Partai AKP (Justice and Development Party) yang dipimpin Erdogan
menang telak, merebut 326 kursi dari total 550 kursi di parlemen.
Sebanyak 87% penduduk di Turki ikut serta dalam pemilu tersebut dan ini
kali ketiga Erdogan memenangi pemilu dan terpilih sebagai perdana
menteri Turki. Kedua, popularitas Erdogan disinyalir masih sangat kuat.
Dengan kericuhan di Taksim Square pun, jajak pendapat menunjukkan
53% pemilih masih berniat mempercayakan pemilihan presiden pada
Partai AKP pada 2014.
Partai AKP yang berakar pada nilai-nilai islami selama ini dianggap
berhasil membawa pertumbuhan ekonomi yang kuat di Turki dan sukses
mengawal negara itu dalam lautan ketidakpastian politik luar negeri di
Timur Tengah. Ketiga, Turki selama ini “diandalkan” negara-negara Barat
sebagai wilayah buffer (penyangga) di Timur Tengah menyusul rangkaian
revolusi di sejumlah negara di kawasan tersebut.
Artinya seharusnya tidak ada tekanan eksternal yang menginginkan
revolusi yang mengganggu stabilitas politik di Turki. Perdana Menteri
Erdogan pun begitu percaya diri, kepemimpinannya kali ini akan
menguntungkan negara-negara Timur Tengah di sekeliling Turki seperti
Lebanon, Suriah, Palestina, dan bahkan Bosnia. Keempat, di antara
negaranegara TimurTengahdannegara yang dipimpin partai beraliran
Islam, Turki dikenal luas sebagai negara yang patut dijadikan model relasi
harmonis antarkelompok yang berbeda kepentingan di Turki.
Dinna Wisnu Halaman 206

Karena alasan tersebut, tak heran jika Erdogan tersinggung jika negaranya
diramalkan akan mengalami revolusi politik sebagaimana dialami
negaranegara Timur Tengah lainnya. Ia merasa masih di atas angin. Desau
angin panas dari protes besar di Taksim Square, yang kabarnya sudah
menyebar ke puluhan kota lain di Turki, dianggap Erdogan sebagai semata
kontes popularitas dan uji coba atas kemampuan pemerintah untuk tegas
pada demonstran.
Sejumlah analis menyimpulkan, kondisi di Turki belum mengarah pada
upaya konkret untuk melakukan penyingkiran Erdogan dari tampuk
kekuasaan. Demonstrasi besar itu dianggap sebagai protes saja; suatu
upaya mengingatkan perdana menteri agar tidak besar kepala dan lebih
peduli pada suara rakyat. Tak ada gerakan politik dari oposisi ataupun
kelompok militer yang mengarah pada penyingkiran Erdogan.
Di sisi lain, saya melihat, catatan tadi belum lengkap. Seseorang yang
terpilih berulang-ulang dan tidak punya lawan politik yang menyaingi
popularitasnya, meskipun hidup dalam sistem demokrasi, berisiko untuk
menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan diri sendiri atau
kepentingan partisan. Sejumlah media massa di Turki mencatat
kecenderungan Erdogan untuk bersikap otoriter.
Indikatornya adalah pilihan-pilihan diksi kalimat yang terkesan arogan dan
tanpa kompromi. Dalam menghadapi demonstran di Taksim Square,
Erdogan menuding para demonstran sebagai looters (penjarah). Dia pun
sesumbar bahwa kesabaran ada batasnya, bahkan Erdogan menantang para
pendukungnya untuk melakukan kontrademonstrasi. Cara-cara yang
disuarakan Erdogan sungguh jauh dari kesan seorang negarawan yang
cinta damai dan demokrasi.
Kita tahu persis, demonstran punya perilaku psikologis sebagai suatu
kerumunan; jika ditantang dengan kalimatkalimat pembakar semangat,
gelora euforianya pun makin menggelegak. Bukankah itu sama halnya
dengan menuangkan bensin ke tengah api yang membara? Tambahan lagi,
saya melihat, Turki tidak bisa dikatakan sepenuhnya imun dari
kemungkinan gejolak revolusi seperti di negara-negara lain di Timur
Tengah.
Gejolak revolusi Arab (dikenal dengan istilah Arab Spring) punya benang
merah yang sama yakni kemarahan rakyat yang memuncak kepada
pemimpinnegara masing-masing yang dianggap menangguk untung demi
diri dan kelompok sendiri, sambil mengorbankan kepentingan rakyat
banyak. Di sini bukan fakta yang penting untuk diwaspadai, tetapi persepsi
yang berkembang dalam masyarakat.
Dinna Wisnu Halaman 207

Solidaritas dari orang-orang yang merasa terzalimi sangatlah patut


diwaspadai karena ini bisa berkembang pada keinginan untuk merusak
tatanan sosial politik yang selama ini dianggap melanggengkan tekanan
tadi. Ada baiknya kita memutar ulang kejadian protes besar di Alun-alun
Tahrir di Mesir. Selama berpuluh-puluh tahun Mesir dianggap sebagai
pusat peradaban yang dibanggakan banyak suku bangsa; serupa dengan
Turki. Kekuasaan Presiden Hosni Mubarak bagai tak tergoyahkan.
Dia berhasil menekan pengaruh sejumlah kelompok-kelompok oposisi
dengan cara memberikan sejumlah peluang politik (sekadar agar mereka
senang), tetapi membatasi gerak-gerik mereka agar jangan mengancam
legitimasi kepemimpinannya. Tetapi, pada satu titik muncul momentum
yang membuat segala lini di Mesir bersepakat untuk muak terhadap Hosni
Mubarak dan memintanya lengser.
Setelah 18 hari berdemonstrasi, akhirnya kerumunan masyarakat di Alun-
alun Tahrir meneriakkah “Irhal, Irhal, Ya Mubarak!” (Pergi, Pergi, Wahai
Mubarak!) dan kurang dari 24 jam kemudian Hosni Mubarak
mengeluarkan pernyataan yang dibacakan Wakil Presiden Omar Sulaiman
bahwa ia mundur. Apakah para demonstran mengantisipasi setelah itu
kekuasaan Mesir diserahkan pada dewan militer yang tidak demokratis?
Tidak.
Apakah kemudian mereka berpikir akan konsekuensi lanjutan dari pemilu
yang memenangkan Mohamad Mursi sebagai presiden? Tidak.
Masyarakat yangberkerumun karena alasan ketidakadilan tidak bisa
dianggap angin lalu. Euforiarevolu sidiTimurTengah terbukti mudah
menular ke negara-negara tetangga karena model pengelolaan ekonomi
dan politik di negara-negara itu mirip-mirip, sementara modal
sosialyangberkembangdiantara masyarakatnya pun mirip. Dari segi
ekonomi, sumber-sumber devisa negara dikuasai oleh segelintir kecil
pengusaha yang biasanya dekat dengan pucuk kekuasaan. Artinya ada
potensi kecemburuan sosial pada yang merasa terpinggirkan. Dalam era
globalisasi negara-negara ini sama-sama membuka diri terhadap
datangnya investasi asing untuk masuk secara relatif bebas.
Akibatnya yang bisa memanfaatkan kesempatan ekonomi tersebut akan
semakin kaya, tetapi yang tak sanggup (termasuk karena masuk dalam
kategori miskin atau tersingkirkan secara politik) akan semakin
termarginalkan. Selain itu, meskipun pusatpusat penelitian dan pendidikan
berkembang pesat di negaranegara Timur Tengah, kebebasan pers dan
kebebasan berorganisasi atau mengemukakan pendapat juga sangatlah
terbatas.
Kelompok-kelompok masyarakat sipil tidak bebas berkembang. Padahal
sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan meluasnya penggunaan
Dinna Wisnu Halaman 208

teknologi informasi, kelompok masyarakat terdidik punya kebutuhan


untuk menyuarakan aspirasinya. Tidak hanya lewat pemilu, tetapi juga
lewat unjuk rasa dan kegiatan kemasyarakatan yang dianggap “halal” oleh
pemerintahnya.
Artinya kalaupun Perdana Menteri Erdogan tidak tersingkir karena protes
di Taksim Square, pemerintahan Erdogan dan Partai AKP tidak bisa
menganggap perkembangan di Turki sebagai “business as usual”.
Keberhasilan masyarakat untuk melakukan demonstrasi sedemikian lama
di pusat kota adalah bekal pengalaman untuk menekan pemerintah yang
dianggap tidak peduli pada suara rakyat. Karena kondisi politik secara
umum di Timur Tengah masih sangat rentan gejolak, menyusul
pembentukan banyak faksi-faksi politik di seantero Timur Tengah yang
rela bergerilya demi memenangkan kekuasaan, Istanbul perlu segera
dijinakkan. Pertemuan yang kabarnya dijadwalkan Erdogan dengan
sejumlah demonstran pada hari ini semoga mengingat betul betapa
tipisnya batas antara kepercayaan masyarakat dan rasa muak.
Sumber: SINDO, 12 Juni 2013
Dinna Wisnu Halaman 209

Jejak Perdamaian di Timur Tengah


Apa makna ”perdamaian” di Timur Tengah? Pertanyaan itu muncul tiap
kali saya mulai mengarahkan perhatian pada kawasan ini. Jangan-jangan
kita menggunakan kata yang sama, ”damai”, tapi esensinya berbeda
sehingga sesungguhnya jalan pikiran kita terkait solusi berbeda. Ketika
Irak di bawah kepemimpinan Presiden Saddam Hussein memutuskan
untuk melakukan invasi ke Iran pada September 1980, Irak menjadikan
momen itu sebagai masa perang yang panjang hingga delapan tahun.
Tujuanutamanya adalahmeraihdominasi kekuasaan dan pengaruh di
kawasan.
Dengan cara itu, Irak ingin menyudahi rangkaian rasa resah dan
kekhawatiran yang mereka alami karena Revolusi Iran 1979 dianggap
akan menghidupkan gerakan antipemerintah dari kelompok Islam Syiah di
Irak. Penyerangan itu dianggap dapat menonjolkan kemampuan Irak
dalam mempertahankan kedaulatannya atas wilayah perbatasan air antara
kedua negara. Karena waktu itu Irak-lah yang lebih menguasai jalur
perairan Shat Al- Arab yang berasal dari Sungai Efrat dan Tigris, dan
itulah satu-satunya akses perairan untuk masuk Irak.
Penyerbuan itu juga dinilai bertujuan untuk mempertahankan kedaulatan
Irak atas wilayah Khuzestan di mana kaum pemberontak Kurdish hidup
dan dipersenjatai oleh Iran, padahal wilayah tersebut sangat kaya minyak
bumi. Irak dan Iran memang musuh bebuyutan. Mereka sulit didamaikan
karena visi politik dalam negeri dan luar negerinya adalah untuk saling
menjatuhkan. Perdamaian antara mereka seakan hanya bisa dijaga ketika
ada keseimbangan kekuatan antara kelompok Islam Syiah dan Sunni.
Masalah keyakinan tak dapat dilepaskan di sini karena ini menyangkut
pertentangan antaretnis, antaraagama yang dibawa oleh kaum Arab dan
kaum Persia. Pilihan keyakinan, identitas, dan pilihan politik melebur
menjadi satu identitas dan memperdalam keruhnya upaya perdamaian di
Timur Tengah. Di sisi lain, ada Israel yang memantau ketegangan antar
etnis dan agama tadi dengan cermat. Dalam banyak kesempatan, para
pemimpin Israel mengaku terpaku pada upaya mengendalikan Iran karena
Iran-lah musuh besar Israel di Timur Tengah.
Gerakan apa pun di Timur Tengah yang mengisyaratkan simpati pada Iran
akan diwaspadai. Keprihatinan besar mereka pascapecahnya Revolusi
Arab 2008 yang menyebar ke seantero Timur Tengah adalah bahwa akan
berkembang pula kelompok-kelompok militan yang simpati atau sealiran
dengan Iran. Tokoh Israel yang baru saja diangkat oleh Perdana Menteri
Dinna Wisnu Halaman 210

Netanyahu sebagai kepala delegasi perdamaian Israel-Palestina, yakni


Tzipi Livni.
Dia adalah seorang wanita, menteri kehakiman dan mantan menteri luar
negeri serta ketua Partai Kadima, partai terbesar di parlemen Israel yang
gagal membentuk koalisi untuk mencegah Netanyahu terpilih sebagai
perdana menteri. Livni menyatakan perdamaian di Timur Tengah hanya
bisa dimulai jika pemilu tidak melibatkan kelompok- kelompok radikal
(menurut definisi Israel) dan punya niat untuk menyukseskan demokrasi.
Ia menyatakan hal itu karena kekhawatiran bahwa pemilu di Mesir,
Palestina, atau yang sedang didorong-dorong untuk terlaksana juga di
Suriah (melalui pertemuan Geneva) justru berakhir dengan terpilihnya
kelompok-kelompok anti- Israel yang tidak segan-segan menembakkan
misil dan roket ke wilayah mereka. Artinya, ada komponen ”gaya
berpolitik” yang sedang ditimbang-timbang di Timur Tengah. Israel
menangkap esensi tersebut dan waspada pada konsekuensi terburuk dari
praktik demokrasi yang menurut batasan mereka setengah hati.
Dalam sejarah negara-negara Arab, memang wajar jika muncul rasa
kekhawatiran tersebut karena kawasan ini selalu dipusingkan dengan
upaya saling memengaruhi dan mendominasi. Selama berabad-abad,
upaya pertarungan pengaruh dan dominasi dijalankan lewat upaya saling
”mengislamkan”. Gerakan Wahabi yang dominan di Arab Saudi,
misalnya, berawal dari dialog-dialog damai untuk menggalang dukungan
atas ide ”pemurnian” Islam dengan mengajak kelompok Islam lain untuk
kembali pada ajaran dasar Alquran.
Ketika gerakan itu memilih bersikap keras, kelompok lain menjadi merasa
terancam dan mulai menggalang dukungan perlawanan. Di kawasan ini,
demokrasi baru dipandang sebagai dasar legitimasi bagi kelompok-
kelompok yang pandai berkampanye dan merebut hati rakyat. Demokrasi
memang belum cukup kuat di kebanyakan negaranegara Timur Tengah
karena pilar-pilar demokrasinya masih berproses. Misalnya terkait
kebebasan pers, kebebasan berkumpul dan membentuk kelompok-
kelompok masyarakat sipil, serta penghormatan pada hak asasi manusia,
termasuk hak individu untuk hidup sesuai keyakinan masing-masing
asalkan tidak mengancam nyawa individu yang hidup dengan keyakinan
lain.
Dari sisi Palestina, perdamaian hanya punya satu esensi yakni agar mereka
merdeka, bebas menentukan nasibnya di tanah yang disepakati untuk
dibagi antara Israel-Palestina pada 1967. Antikolonialisme adalah dasar
perjuangan mereka. Di sisi lain, faksi-faksi politik yang tumbuh di dalam
Palestina merasa lebih percaya diri bila punya asosiasi kuat dengan faksi-
faksi politik sejenis di negara-negara lain yang juga membantu mereka
Dinna Wisnu Halaman 211

memberikan bantuan keuangan kepada faksi politik tertentu di dalam


negeri agar tetap hidup.
Sisi tersebut yang menjadi sasaran tembak lawan-lawan politik mereka
dengan menuduh bahwa kemandirian dalam gerakan antikolonialisme
terkompromikan dan akhirnya selalu mengaitkan gerakan tersebut dengan
kepentingan di luar gerakan. Hal-hal seperti ini lantas membuat para
lawan atau kawan politik mereka memandang Palestina (atau sejumlah
tokoh tertentu di sana) sebelah mata saja. Kecurigaan yang terus menerus
membuat hidup pandangan bahwa gerakan kemerdekaan di sana
diuntungkan dari ”proses perdamaian”- nya dan bukan oleh ”perdamaian”
itu sendiri karena adanya anggaran perdamaian yang menghidupi
pemerintah dan kelompok-kelompok politik di situ.
Semua hal ini menunjukkan perdamaian yang berkembang di pandangan
sejumlah pihak di Timur Tengah belumlah sejalan dengan perdamaian
seperti yang kita impikan. Dalam konstitusi dan kebijakan luar negeri
Indonesia, perdamaian diartikan sebagai upaya untuk menciptakan
kesejahteraan dan keadilan sosial, bebas dari pengaruh kolonialisme,
termasuk juga kebebasan dari terkungkungnya cara pikir kita akibat
perseteruan kekuatan-kekuatan besar di kawasan.
Debat konstitusi di awal kemerdekaan Indonesia benarbenar menempatkan
kepentingan bangsa di atas semua golongan agama, suku dan ras. Negara
yang dibayangkan oleh para pendiri negara tidak cuma negara yang bebas
dari dominasi kolonialisme, tetapi bebas dan menggunakan kebebasan itu
untuk membangun diri sesuai hak asasinya sebagai manusia; dan tidak
hanya untuk kita sendiri, tetapi juga dunia. Ini sebuah pengalaman
bernegara yang berharga; yang belum bisa diimajinasikan di Timur
Tengah.
Artinya, kita sebagai bangsa justru perlu menghargai keluhuran makna
perdamaian yang berkembang di negeri kita, dan menempatkannya dalam
proporsi yang tepat ketika berhadapan dengan desakan-desakan untuk
berpihak dari negara-negara Timur Tengah. Penghargaan kita pada nilai
luhur bangsa ini akan diuji dengan serangkaian aksi-aksi konflik yang
melanda Timur Tengah.
Menyusul pengiriman bantuan militer oleh AS untuk pihak oposisi Suriah,
terpilihnya Hassan Rohani sebagai presiden di Iran, pengiriman 4.000
tentara Iran oleh Ayatollah Khamenei di Iran untuk membantu kubu
Bashar Al-Assad di Suriah, putusnya hubungan diplomatik Mesir dengan
Suriah, upaya-upaya dialog untuk mencari solusi bagi Suriah di Geneva,
dan desakan untuk berpihak dalam mencari solusi damai Israel-Palestina,
Indonesia akan dituntut untuk bersikap dan mengirimkan sinyal dukungan
Dinna Wisnu Halaman 212

yang tepat. Di sinilah nilai-nilai perdamaian yang kita junjung tinggi harus
diingat-ingat dan digarisbawahi.
Perdamaian yang didasarkan pada upaya untuk mendominasi kelompok
lain, apalagi dengan menghalalkan cara-cara kekerasan, adalah
perdamaian yang semu. Jika dialog antarkelompok di Timur Tengah masih
sarat dengan propaganda-retorika, maka hasil dialog pun akan semu.
Jika pemimpin yang menentukan kebijakan luar negeri ternyata dimotivasi
oleh keinginan memperpanjang kekuasaan dan kekayaan pribadi, maka
kepemimpinan mereka pun semu. Di sinilah kita perlu pandai-pandai
membaca situasi di Timur Tengah.
Sumber: SINDO, 19 Juni 2013
Dinna Wisnu Halaman 213

Solusi Polusi Asap


Bagi yang pernah merasakan tidak nyamannya bernapas dalam udara
bercampur asap polusi, apalagi polusi karena barang terbakar (disebut
haze), mereka akan paham mengapa Singapura dan Malaysia menetapkan
keadaan darurat di negerinya minggu lalu dan minggu ini.
Di tataran individu, mata terasa pedih, napas sesak, pandangan terbatas,
bahkan bagi yang usia lanjut, hamil atau anak-anak akan berisiko tinggi
terganggu kesehatannya. Di tataran negara, gangguan tadi menunda
sejumlah kegiatan ekonomi yang artinya pemasukan negara tercekat juga.
Tentu bisa dipahami ketika kemudian Singapura dan Malaysia bersikukuh
meminta Indonesia mencari jalan keluar yang tuntas bagi masalah ini.
Yang mengganjal di benak saya adalah bahwa diskusi soal polusi asap ini
sebenarnya seperti lagu lama yang terus diputar sehingga cenderung
membosankan daripada memberi angin segar. Ketika saya telusuri apa saja
hal-hal yang sudah pernah dibahas antara Indonesia dengan negara-negara
tetangganya mengenai haze, ternyata hampir semua aspek sudah pernah
dibahas. Usia pembahasan pun hampir memasuki 20 tahun! Jadi, apa yang
membuat solusi atas masalah haze ini terkesan “jalan di tempat”? Pertama-
tama mari kita lihat perspektif atas solusi yang diusulkan.
Karena Singapura yang paling getol menekan Indonesia, mari kita tinjau
perspektif mereka. Singapura merasa paling dirugikan oleh proses
pencarian solusi yang menurut mereka terlalu lamban. Di dalam negeri,
pemerintah Singapura diolok-olok oleh sejumlah kalangan karena
dianggap terlalu lembek kepada Indonesia, padahal jelas kerugian materiil
yang dialami Singapura terbilang besar. Menurut Pemerintah Singapura,
Pemerintah Indonesia bisa berbuat jauh lebih banyak dengan jauh lebih
cepat. Dengan teknologi satelitnya yang canggih, Singapura merasa bahwa
kebakaran hutan dapat dengan mudah terdeteksi dan dihentikan sedini
mungkin. Mereka mengutip hasil kerja sama Indonesia-Singapura di
Muaro Jambi yang berhasil mendeteksi titik api sehingga daerah tersebut
bebas dari kebakaran meskipun cuaca kering.
Studi dari Helena Varkkey dari Universiti Utara Malaysia mencatat jejak
upaya-upaya Singapura untuk mendesakkan sejumlah solusi hazeini
kepada Indonesia, ASEAN, bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Tidak bisa disangkal, Singapura ingin ada tekanan yang lebih besar dan
sistematis dari negara-negara kawasan dan dunia kepada Indonesia untuk
tidak mengecilkan masalah hazeini.
Di ASEAN, Singapura mendesakkan sejumlah agenda dialog di tingkat
menteri lingkungan hidup dan menteri luar negeri sehingga dihasilkan
Dinna Wisnu Halaman 214

Kuala Lumpur Accord on Environment and Development 19 Juni 1990,


ASEAN Cooperation Plan on Transboundary Pollution 1995, Regional
Haze Action Plan 1997, dan Hanoi Plan of Action yang mendesakkan agar
Action Plan tadi bisa terlaksana paling lambat tahun 2001, serta lahirnya
Agreement on Transboundary Haze Pollution.
Secara umum tujuan dari semua kesepakatan tadi adalah mulia. Intinya
bahwa negaranegara yang menandatangani kerangka kerja sama tersebut
berjanji untuk melakukan harmonisasi upaya-upaya pencegahan dan
pengurangan dampak negatif dari haze. Kesepakatan Transboundary Haze
Pollution mengarah pada pembentukan ASEAN Center yang fungsinya
memfasilitasi kerja sama dalam mengendalikan dampak haze, termasuk
untuk menerima laporan dari national monitoring center (pusat
pemantauan nasional) di tiap negara seputar titik api dan kemungkinan
bentuk penanganan yang diusulkan negara pengirim asap.
Kenyataannya Pemerintah Indonesia sampai sekarang belum mau
menandatangani Kesepakatan Transboundary Haze Pollution tadi.
Menuding bahwa Pemerintah Indonesia tidak kompeten atau keras kepala
bukanlah solusi. Menekan Pemerintah Indonesia lebih keras dengan
pernyataan yang tidak diplomatis pun justru akan kontraproduktif.
Kenyataannya Indonesia sebenarnya peduli pada masalah haze ini.
Kepedulian ini bukan semata karena tekanan negara-negara tetangga,
tetapi karena Indonesia merasa membutuhkan solusi demi kepentingan
domestik sendiri.
Di Indonesia, perkebunan sawit yang kerap dituding sebagai sumber
masalah haze adalah penghasil devisa negara nonmigas yang signifikan.
Dengan besaran lahan dan kecocokan tanah, Indonesia adalah produsen
minyak sawit terbesar di dunia. Penghasilan Indonesia selama 5 tahun
terakhir meningkat pesat karena pesanan dari China dan Pakistan terus
meningkat.
Momen menjelang hari raya adalah kegembiraan bagi produsen sawit
karena permintaan akan minyak goreng, kue-kue, dan kosmetik melonjak
sehingga kuantitas penjualan minyak sawit pun meningkat. Jadi, bisnis
penanaman kelapa sawit adalah bisnis yang menguntungkan. Karena
keuntungan tersebut, Pemerintah Indonesia menganggap perlu untuk
menetralkan kritik-kritik tajam yang selama ini sering sekali terarah pada
produsen sawit.
Kementerian Pertanian dan Kementerian Perkebunan, didukung juga oleh
Dewan Sawit Nasional dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia,
menyepakati bahwa perlu ada penegakan hukum yang konsisten akan
standar-standar perkebunan sawit yang ramah lingkungan dan
berkelanjutan (sustainable). Ada paket aturan ISPO (Indonesia Sustainable
Dinna Wisnu Halaman 215

Palm Oil) yang wajib dipatuhi semua petani dan pengusaha sawit yang
beroperasi di Indonesia dan ada paket aturan RSPO (Rountable of
Sustainable Palm Oil) yang sifatnya sukarela, tetapi standarnya diakui
secara internasional.
Praktik membakar hutan untuk membuka lahan diharamkan oleh ISPO
maupun RSPO. Para petani sawit mandiri pun sangat sering mendengar
aturan-aturan tersebut walaupun memang penegakannya belum semudah
membalikkan telapak tangan. Menyadari kesulitan meredam naluri
pembukaan “ladang bisnis” dengan cara bertanam sawit, Pemerintah
Indonesia memilih untuk memperpanjang moratorium pembukaan lahan
bagi keperluan perkebunan sawit, khususnya di lahan gambut.
Artinya Pemerintah Indonesia sudah berupaya membangun mekanisme
penegakan standar perkebunan sawit. Untuk mengurangi tudingan “cari
untung” dan demi mengakomodasi kepentingan otonomi daerah,
pemerintah pusat membagi-bagi jatah mengeluarkan izin pembukaan
lahan sawit. Untuk luas lahan kurang dari 25.000 hektare, bupati yang
mengeluarkan izin pengolahan lahan, sementara untuk lahan 25.000–
50.000 hektare, gubernur yang mengeluarkan izin.
Untuk ukuran lahan lebih besar dari 50.000 hektare dibutuhkan izin dari
pemerintah pusat. Artinya, mengikat pemerintah pusat dengan
kesepakatan di tingkat ASEAN tidak berarti mengikat pemerintah daerah
karena pembagian otonomi tadi. Dengan demikian jika Singapura atau
ASEAN ingin mencari solusi permanen untuk masalah haze ini, perlu
dicari jalan keluar yang sejalan dengan insentif yang dibutuhkan
pemerintah dan pelaku usaha sawit di Indonesia.
Percuma jika berputar-putar pada wacana “tanggung jawab negara” karena
implementasi peraturan apa pun terkait sawit terletak di banyak tangan.
Secara teoretis mungkin betul apa pun yang terjadi negara harus bisa
bertanggung jawab atas apa pun yang dilakukan perusahaan dan individu
yang beroperasi di negaranya, tetapi dalam praktiknya negara tidak bisa
dianggap dewa pengatur segala yang kemudian layak diberi hukuman
(penalty) ketika ada warganya yang melanggar hukum.
Jangan lupa banyak juga dari pemilik lahan sawit adalah perusahaan-
perusahaan asing, termasuk dari Malaysia. Singapura pun tak bisa cuci
tangan dengan menempatkan diri mereka semata sebagai korban karena
sejumlah perusahaan sawit terbesar yang beroperasi di Indonesia
melakukan listing di bursa saham Singapura. Artinya Singapura
diuntungkan juga oleh pajak dan kegiatan perdagangan mereka yang
“mampir” di Singapura. Kita harus kembalikan segala hal pada
proporsinya.
Dinna Wisnu Halaman 216

Mengelola lahan sawit di wilayah seluas Indonesia bukanlah hal yang


sederhana, apalagi jika ada konsekuensi hukum yang harus dihadapi
Indonesia ketika menandatangani perjanjian Transboundary Haze
Pollution. Karena sektor sawit menyangkut hajat hidup banyak orang,
Pemerintah Indonesia harus berpikir panjang sebelum mengikat diri pada
aturan regional yang berisiko pada praktik dunia usaha di sektor
perkebunan. Satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah bisnis sawit
sangat ditentukan oleh harga pasaran sawit.
Sampai saat ini tidak ada insentif harga bagi petani dan pebisnis sawit
yang menerapkan kebijakan “bebas dari membakar hutan”. Tidak ada
harga premium bagi produk sawit yang ditanam dan diolah dengan ramah
lingkungan. Harganya sama saja dengan yang tidak ramah lingkungan.
Jika negara-negara ASEAN bisa memikirkan cara memberi insentif pada
pengusaha sawit, baik yang besar maupun yang kecil, ada nuansa dialog
seputar haze yang mudah-mudahan lebih produktif.
Sumber: SINDO, 26 Juni 2013
Dinna Wisnu Halaman 217

Quo Vadis Militer Mesir?


Genap satu tahun sejak terpilih sebagai presiden Mesir, Muhammad Mursi
yang awalnya dielu-elukan publik dan dititipi harapan oleh negara-negara
lain untuk membawa angin segar di Timur Tengah, kini harus menghadapi
penghakiman publik yang dramatis. Nasibnya sebagai pemimpin negara
dan politisi berada di ujung tanduk. Dari tempat yang sama di mana Hosni
Mubarak dipaksa mundur oleh kerumunan massa yang berdemo selama 18
hari, Mursi kini didesak untuk mundur karena dianggap gagal menjadi
pemimpin bagi Mesir dengan segala ”warna-warninya” karena selama ini
dipandang cuma menyuarakan kepentingan kelompoknya.
Gerakan itu menamakan dirinya ”Tamarod” (Arabic for Rebellion) yang
mengklaim sudah mengumpulkan 22 juta tanda tangan seantero Mesir
yang menyatakan mosi tidak percaya terhadap Mursi. Adapun jumlah
penduduk Mesir adalah 85,2 juta jiwa. Api desakan publik tadi seakan
disiram bensin ketika Menteri Pertahanan Mesir mengeluarkan ultimatum
atas nama pihak militer Mesir bahwa Presiden Mursi hanya punya waktu 2
x 24 jam untuk menyelesaikan kericuhan yang ada, mencari jalan keluar
dengan cara berbagi kekuasaan dengan kelompok oposisi, atau pihak
militer akan mengambil alih kekuasaan sesuai dengan peta jalan
pengembangan Mesir ”yang seharusnya”.
Tekanan tersebut tentu menyesakkan bagi kubu Presiden Mursi karena
setidaknya 6 orang menteri sudah menyatakan undur diri, termasuk
menteri luar negeri. Artinya bahwa karier Mursi sebagai presiden hampir
mati dan jalur komunikasi dari kabinetnya pada pihak di luar negeri pun
terancam terputus, apalagi dengan kemunduran menteri luar negeri tadi.
Sungguh perkembangan yang ironis.
Pada 10 Desember 2012 majalah Time memuat profil Muhammad Mursi
di sampul depan dan menyebutnya sebagai The Most Important Man in
The Middle East (orang paling penting di Timur Tengah). Kini, semua
mata mengarah kepada Mursi. Apakah Mursi akan mengeluarkan lagi
gaya kepemimpinan defensif yang justru dipandang publik sebagai
menghalangi demokrasi serta menindas kelompok oposisi dan nasionalis-
sekuler seperti ketika publik mengkritik keputusan Mursi untuk
mendapatkan kekuasaan tak terbatas dalam mengambil keputusan dan
tanpa diawasi lembaga yudisial? Atau Mursi justru akan mencari model
pembagian kekuasaan antarkekuatan politik di Mesir?
Nasi sudah menjadi bubur. Jika pihak militer sudah mengindikasikan
hilangnya kepercayaan kepada Mursi, seperti yang kini terjadi, apalagi
dengan sengaja pihak militer pamer akan putusnya komunikasi antara
Dinna Wisnu Halaman 218

pihak militer dengan Mursi (termasuk bahwa Mursi tidak tahu bahwa akan
ada skuadron helikopter yang berputar-putar di Alun-alun Tahrir untuk
menyemangati pihak oposisi), maka kecil kemungkinan Mursi masih
punya kesempatan untuk berkuasa dengan tenang.
Di sini ada pelajaran menarik bagi Indonesia. Mursi selama ini menolak
untuk bernegosiasi dengan pihak oposisi. Baginya ketika menang pemilu,
ia punya hak untuk memilih cara dalam memimpin dan mengambil
keputusan. Kepemimpinan dalam benaknya adalah pengambilan
keputusan penuh supaya jelas pula tanggung jawabnya jatuh kepada siapa.
Singkat kata, ”demokrasi” di benak Mursi semata berupa voting, pemilu,
dan pengambilan suara untuk mengukur siapa yang lebih populer dan
”kuat” dibandingkan kelompok yang lain. Apakah kita pernah mendengar
Mursi bicara tentang apa itu demokrasi dalam konteks Mesir yang terdiri
atas berbagai kelompok kepentingan? Belum. Bandingkan kondisi itu
dengan Indonesia dan di sinilah kita perlu bersyukur dan memperkuat
nilai-nilai luhur bangsa yang sudah ada.
Di Indonesia, kita punya sejarah panjang berdebat tentang apa itu
keindonesiaan dan apa itu idealisme sebagai suatu negara yang terdiri atas
berbagai kelompok, termasuk kelompok-kelompok minoritas yang kalau
disandingkan suaranya dalam pemilu pasti akan selalu kalah dari segi
jumlah. Ide-ide berdemokrasi tumbuh karena masyarakat sipil punya
ragam gagasan, pengetahuan, idealisme, dan ruang berpolitik tidak
didominasi satu dua pandangan saja.
Gagasan dan praktik demokrasi kita dibangun melalui perjuangan para
aktivis prodemokrasi yang memperjuangkan hak-hak sipil dan politik.
Kita punya sejarah kelompok orangorang yang pernah dipenjara atau
ditangkap karena mendiskusikan model-model alternatif kepemimpinan
atau karena bicara soal hak dan perlindungan hak. Dari sana kita bisa
melihat apa posisi para pemimpin Indonesia. Meskipun masih jauh dari
gambaran demokrasi yang kita idealkan, kelompokkelompok masyarakat
sipil di Indonesia relatif lebih hidup dan beragam dibandingkan di Mesir.
Gagasan demokrasi di masyarakat mampu mencegah perang saudara
dalam masa transisi demokrasi. Gagasan demokrasi di Mesir terjadi
semata akibat protes dari publik karena para patron mereka, yakni
kelompok-kelompok elite, tidak bisa bekerja sama satu dengan yang
lainnya dan dampak negatifnya terasa sampai ke akar rumput. Pihak
militer di Mesir ternyata juga bukan kelompok yang innocent (tak punya
andil) dalam kericuhan di Mesir.
Sejumlah tulisan menunjukkan kelompok militer di Mesir punya taruhan
yang besar tiap kali ada pemimpin baru di negeri itu, yakni karena 5–40%
Dinna Wisnu Halaman 219

perekonomian di Mesir dikelola dan dimiliki oleh militer. Urusan impor


bahan baku untuk industri, konstruksi, produksi, bahkan bisnis real estat
dipegang oleh orang-orang militer.
Trias Kuncahyono bahkan mencatat pola yang menarik, yakni bahwa
Mursi berusaha menjaga kekuasaannya supaya tidak diusik kelompok
militer dengan cara menyingkirkan Kepala Angkatan Bersenjata Hussein
Tantawi, digantikan dengan Abdel Fattah al-Sisi yang dengan sigapnya
langsung melengserkan lebih dari 200 perwira militer dari jabatan di
pemerintahan. Hal itu membuatnya menjadi perwira militer paling senior
di antara perwira lainnya.
Apakah kemudian penyudutan Mursi di Alun-alun Tahrir kali ini
mengindikasikan pengkhianatan dari Sisi? Yang pasti bagi Sisi dan
perwira militer lainnya, konflik antara nasionalis-sekuler dan Ikwanul
Muslimin yang terjadi saat ini adalah pengalaman politik pertama mereka
setelah melengserkan perwira-perwira tua.
Mereka harus memutuskan apakah akan melanjutkan Mesir yang
nasionalis-sekuler atau mengikuti garis politik Mursi yang didukung
Ikwanul Muslimin. Keadaannya sangat genting buat mereka ketimbang
saat krisis Mubarak. Saat ini mereka memegang otoritas untuk
memutuskan, sementara pada waktu yang lalu mereka tergantung dari
keputusan para perwira tua. Kita dan masyarakat Mesir mungkin juga
tidak tahu apa langkah selanjutnya dari militer untuk mengakhiri krisis
politik di Mesir.
Mesir percaya militer adalah penjaga kestabilan demokrasi. Apakah
militer akan mendukung garis politik Mursi atau mendukung nasionalis
sekuler? Nasib kelangsungan transisi demokrasi di Mesir kini di tangan
militer. Sayangnya, keterbatasan pengalaman dalam soal ide dan praktik
demokrasi di Mesir akan membatasi pula opsi-opsi solusi yang demokratis
dan tanpa melibatkan campur tangan militer.
Sumber: SINDO, 03 Juli 2013
Dinna Wisnu Halaman 220

Mana Diplomasi Energinya?


Sudah sering kita mendengar pernyataan bahwa Indonesia adalah negeri
yang kaya raya. Sayangnya, keterbatasan Indonesia dalam menyediakan
suplai energi yang cukup dan berkesinambungan bagi warganya
menunjukkan bahwa pujian tadi semata upaya meredam kegelisahan diri.
Sengaja saya angkat soal ketahanan energi karena setelah diperhatikan,
faktor ini sangat penting dalam sejumlah asumsi pertumbuhan ekonomi
yang kerap membuat kita ge-er (gede rasa). Perhatikanlah data berikut ini.
Pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi 7-8% hingga
2025; bahkan Indonesia diyakini akan menjadi negara berkekuatan
ekonomi 10 besar dunia.
Laporan Price Water House Cooper bertajuk World in 2050 mengatakan
bahwa tujuh negara dunia akan mengambil alih peranan G-7 (kelompok
negara maju yang selama ini selalu menentukan agenda politik ekonomi
global) yakni China, India, Vietnam, Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, dan
Afrika Selatan.
Negara seperti Nigeria, Turki, Rusia, Meksiko pun diprediksi akan
menjadi lebih kaya dibandingkan Jerman atau Inggris. Laporan ini
mendasarkan prediksinya pada kemampuan negara-negara ini dalam
menjaga dan meningkatkan tingkat pertumbuhan PDB dengan ditopang
oleh pertumbuhan jumlah populasi usia kerja, peningkatan modal manusia
berpendidikan (human capital), pertumbuhan stok modal fisik, dan
pertumbuhan total faktor produktivitas yang ditopang kemajuan teknologi.
Cermatilah dasar laporan di atas. Pertumbuhan ekonomi suatu negara
sangat ditentukan tiga hal utama yakni keterampilan dan keahlian tenaga
kerjanya, pertumbuhan modal fisik (seperti ragam infrastruktur), serta total
produktivitas yang tidak terlepas dari peranan penguasaan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Apakah tiga hal tersebut cukup untuk
mendorong pertumbuhan ekonomi?
Tentu tidak cukup karena implisit dalam pengembangan tiga hal tersebut
adalah kecukupan pasokan energi. Bisakah Anda bayangkan gedung
pencakar langit, sekolah, pusat penelitian tanpa pasokan listrik yang
memadai? Bisakah Anda bayangkan bisnis dan sektor usaha tumbuh di
wilayah tanpa pasokan listrik yang konsisten?
Kita bisa bayangkan agrobisnis di daerah-daerah terpencil pun pasti gagal
jika kekurangan listrik karena artinya proses pembuatan es untuk
pendingin dan pabrik-pabrik pengolahan akan gagal operasi dan akibatnya
komoditas pertanian akan turun kualitas atau sia-sia.
Dinna Wisnu Halaman 221

Untuk menjadi negara yang perekonomiannya tumbuh pesat, semua


tenaga kerjamuda diasumsikan memberi kontribusi pada perekonomian
dengan segala keahlian, kreativitas, penguasaan pengetahuan dan
teknologi, serta tentu ditopang oleh kecukupan energi. Negara tanpa
kecukupan energi dijamin akan langsung merosot kinerja ekonominya.
Biasanya ricuh pula politik domestiknya. Contohnya Liberia yang dulu
dikenal sebagai salah satu negara Sub-Sahara terkaya. Sejak 1992 negara
itu lebih sering mati lampu karena perang saudara menghancurkan
pembangkit listrik tenaga air dan sampai sekarang tidak diperbaiki. Irak
yang dulunya disegani di Timur Tengah karena kaya minyak bumi kini tak
ubahnya negara pesakitan sejak Amerika Serikat (AS) menghancurkan
pusat-pusat eksplorasi minyak di sana.
Jangankan bicara berbisnis yang wajar, dengan suhu udara yang sangat
panas di Irak, siapa yang tahan duduk lama bekerja di pabrik, perusahaan
atau bahkan bersekolah? Meskipun ada bantuan dari Turki, sampai
sekarang kemampuan Irak memasok energi tetap jauh di bawah kapasitas
sebelum perang.
Tesis Lina Nursanty, mahasiswa di program studi saya, menyimpulkan
Indonesia belum punya ketahanan energi yang memadai untuk kebutuhan
hingga 2025 meskipun identifikasi masalah ini sebenarnya sudah ada sejak
2003. Dari segi suplai minyak bumi, Indonesia sudah defisit sejak 2004
dan penyebabnya kurangnya investasi dan kegiatan eksplorasi minyak
bumi.
Indonesia malah mengekspor gas bumi dan batu bara ke negara lain,
padahal kebutuhan pasokan untuk industri dan pembangkit listrik di dalam
negeri saja tidak terpenuhi. Jenis batu bara yang diproduksi di Indonesia
bahkan jenis yang relatif ramah lingkungan karena nilai kalori dan daya
bakarnya yang tinggi dengan kadar arang sulfur rendah. Selain itu, tidak
ada inovasi baru dalam hal teknologi pembangkit tenaga listrik berbasis
bahan bakar nonfosil.
Pengembangan pengetahuan di bidang pembangkit listrik tenaga nuklir
dan tenaga arus laut masih terbelakang. Pemerintah juga masih kurang
perhatian pada perluasan penggunaan pembangkit listrik tenaga surya,
tenaga biomass, ataupun biodiesel. Jadi jangankan bicara tentang
kebijakan luar negeri terkait penguatan ketahanan energi. Istilah diplomasi
energi pun masih asing di telinga kita, padahal bagi negara-negara lain,
diplomasi energi adalah kata kunci dalam kebijakan luar negerinya.
Contohnya China. Negeri ini punya visi memenangkan kompetisi
perebutan sumber energi. Sebesar 69% pembangkit listrik di China
memang masih berbasis fosil. China berupaya membangun jalur kereta api
sepanjang Indo-China, bahkan jalur lintas Sumatera, agar lancar pasokan
Dinna Wisnu Halaman 222

batu bara dari Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Mereka mendorong


pembangunan jalur listrik tegangan tinggi di Indo-China dan sepanjang
semenanjung Malaya (sampai ke Indonesia).
China juga menyiapkan skema ekspor listrik dari Yunnan dan Guangxi ke
Asia Tenggara, membangun pipa gas dari Irkutsk di Asia Tengah,
mengeksplorasi ladang gas alam di Siberia Timur, dan memperbesar
investasi serta pinjaman bagi negaranegara Afrika agar punya akses ke
ladang-ladang minyak di benua tersebut. Tapi, China pun dikenal agresif
mengembangkan pembangkit listrik tenaga air, tenaga angin, tenaga
nuklir, bahkan biodiesel.
Strategi serupa dikembangkan juga oleh India, Vietnam, Arab Saudi, Uni
Emirat Arab, bahkan AS. Mereka aktif mencari sumber minyak dan gas
bumi sambil mempelajari dan membangun sentra pembangkit energi
alternatif. Indonesia tak akan punya waktu lagi untuk berdiam diri.
Prediksi 2050 dari PWC di atas menyiratkan bahwa peluang Indonesia
untuk tumbuh hanya sampai 2050.
Lewat dari itu, lewatlah juga peluang untuk tinggal landas sebagai negara
maju. Perihal perhatian pada pembangunan sumber energi alternatif ini
bukan main-main. Bahayanya sudah di depan mata. Misalnya saja Apple
baru-baru ini diminta menjelaskan asal usul timah yang dipakai untuk
produknya yang dicurigai berasal dari Indonesia.
Jika benar sumber timahnya dari Indonesia, komponen Apple akan
diklaim tidak ramah lingkungan sehingga entah Apple akan menekan
perusahaan tambang di Indonesia untuk patuh aturan ramah lingkungan
atau malah bisa dijadikan alasan untuk putus kontrak sama sekali dengan
Indonesia. Kita tahu persis kampanye serupa masih menjadi momok bagi
sektor kelapa sawit dan pulp kertas di Indonesia.
Sektor garmen dan apparel bahkan gugur dalam kompetisi global karena
terbukti mencemari sumber-sumber air dengan bahan-bahan berbahaya
dan mempekerjakan tenaga kerja dengan standar perburuhan yang buruk.
Jadi, ayolah bergerak memberi perhatian pada diplomasi energi dan
penguatan kebijakan di bidang energi.
Sumber: SINDO, 17 Juli 2013
Dinna Wisnu Halaman 223

Pemilu Kamboja, Indonesia dan ASEAN


Penduduk Kamboja adalah saudara yang perlu kita rengkuh menuju
Komunitas ASEAN 2015 dan visi ASEAN 2020, yakni visi menuju
masyarakat bersama yang saling asih dan asuh dalam mencapai
kemakmuran dan kesejahteraan sosial.
Dengan posisinya di Indochina dan status ekonomi yang relatif sangat
miskin, Kamboja mencari mitra dan patron kerja sama yang bisa
membimbingnya ke posisi lebih terhormat dalam politik global. Di sana-
sini investasi besar yang terlihat di negeri ini adalah dari China. Alasannya
praktis saja, kebetulan secara ideologi mereka pernah sejalan dan negara
ini masih terlalu miskin dan penduduknya kecil untuk bisa dianggap cukup
menarik bagi investor asing lain untuk masuk.
Ini yang sedang berusaha diubah oleh Kamboja. Di antara negara-negara
ASEAN, Pemimpin Kamboja, yaitu Perdana Menteri Hun Sen, termasuk
pemimpin yang paling lama memerintah pada dekade terakhir ini di luar
Kesultanan Brunei. Ia terpilih menjadi perdana menteri pada 1985 atau
kurang lebih 28 tahun lalu. Ia juga adalah salah satu dari pemimpin yang
merasakan kejamnya masamasa Perang Dingin yang ditandai dengan
kompetisi politik antara Sosialisme dan Kapitalisme.
Para pemimpin negara lain yang pernah hidup di masa itu seperti
Soeharto, Mahathir Mohammad, Fidel Ramos, atau Lee Kuan Yew telah
lama mundur dari kancah politik formal. Hal ini membuat Hun Sen
sebagai pemimpin paling senior bersama dengan Sultan Hassanal Bolkiah
di negara-negara ASEAN. Dengan predikat tersebut, tidak heran apabila
pemilihan umum di Kamboja menjadi perhatian banyak pihak.
Masyarakat internasional menanti apakah pemilu di Kamboja akan
memenuhi indikator-indikator demokrasi yang ditandai dengan
pelaksanaan pemilu yang bebas dan adil atau justru sebaliknya. Harapan
itu sebetulnya juga adalah harapan Hun Sen. Dalam zaman yang berubah,
legitimasi politiknya baik di dalam negeri atau di luar negeri sangat
ditentukan oleh proses dan hasil pemilu. Pemilu adalah investasi yang
harus ia lakukan untuk mendapatkan insentif dari berbagai pihak untuk
melanjutkan kepemimpinannya.
Dalam konteks saat ini, di mana kebergantungan satu negara relatif tidak
lagi terkait secara ideologis dengan negara lain dan kenyataan bahwa
semua negara terintegrasi dalam sistem pasar, maka investasi dalam
pemilu adalah sebuah keharusan. Acemoglu dan Robinson dalam teorinya
tentang transisi politik yang mengacu pada pengalaman negara-negara
Dinna Wisnu Halaman 224

Eropa Utara dan Latin Amerika, menyimpulkan investasi pemilu bersifat


irreversible atau tidak dapat kembali lagi ke keadaan yang lama.
Situasi di Mesir sedikitnya mengonfirmasi teori itu bahwa ketika militer
melakukan kudeta, maka jalan lain yang harus ditawarkannya adalah
mengulangi lagi pemilihan umum. Kondisi serupa juga terjadi pada saat
militer melakukan kudeta pada kekuasaan Thaksin pada 2006. Elite militer
yang melakukan kudeta menawarkan kembali pemilihan umum dan harus
menerima hasil bahwa Yingluck Shinawatra, adiknya, menjadi perdana
menteri Thailand. Temuan serupa juga didapatkan oleh Mario Chacon
yang menganalisis transisi demokrasi negara-negara dari tahun 1972
hingga 2008.
Ia menyimpulkan pemilu di dalam sebuah rezim yang dianggap tidak
demokratis akan cenderung membuat elite rezim itu untuk bersikap lebih
toleran terhadap demokrasi di masa mendatang. Karena pemilu adalah
sebuah Sunk Costatau irreversible dalam istilah Acemoglu. Untuk itulah,
pemerintah Kamboja melakukan ”investasi” berisiko tinggi dalam pemilu
28 Juli 2013. Partai pendukung Hun Sen yaitu CPP, menempuh jalur
demokrasi terbuka untuk validasi kepemimpinannya lima tahun ke depan.
Pemilu ini diawasi oleh 291 pemantau asing dari hampir seluruh negara
dunia termasuk Azerbaijan, Hungaria, Turki, Amerika Serikat, Indonesia,
Vietnam, China, Filipina, Korea Selatan, Jepang, dan masih banyak lagi.
Media asing bebas berkeliaran di segala sudut. CPP realistis melihat
situasi zaman sekarang sehingga melakukan redistribusi aset politik
dengan mengundang Sam Rainsy untuk berkampanye bagi partainya
CNRP.
Kelompok oposisi terlihat sangat antusias. CNRP tidak menyia- nyiakan
kesempatan mendapatkan ”panggung politik” dengan kehadiran Sam
Rainsy. Meskipun hanya punya waktu 10 hari untuk berkampanye dan
belum punya kesempatan mencalonkan diri sebagai anggota legislatif
karena pendaftaran caleg sudah lama berlalu, Sam Rainsy yang sangat
fasih berbahasa Inggris ini telah memesona media asing. Ke mana pun ia
pergi selalu dibuntuti media asing, bahkan sampai ada yang ikut satu
mobil dengannya.
Gaung kampanye partai politik oposisi yang lain langsung lenyap di balik
ramainya sorak-sorai pendukung Rainsy. Situasi kampanye pendukung
Rainsy jauh lebih ekspresif dibandingkan kampanye partai lain. Tetapi di
sisi lain, bahkan pihak Sam Rainsy pun (yang tergolong terdepan di antara
kelompok oposisi) sampai petang menjelang pemilu, pun pesimistis bisa
menang dalam pemilu ini. Konsentrasi kampanye mereka adalah untuk
mengkritik segala bentuk intimidasi dan kecurangan yang disinyalir
dilakukan dan direncanakan secara sistematis oleh CPP.
Dinna Wisnu Halaman 225

Tak ada pembicaraan soal apa program CNRP pascapemilu, atau bahkan
apakah ada kemungkinan mereka mau berkoalisi membentuk kabinet
bersama jika ternyata CNRP memenangkan kursi tambahan di parlemen.
Perlu diketahui sistem pemilu di Kamboja adalah perwakilan proporsional.
Artinya kemungkinan penambahan kursi bagi partai yang lebih kecil pun
sangat dimungkinkan, karena kursi dibagikan secara proporsional sesuai
peroleh suara di daerah pemilihan. CNRP terus menepis kemungkinan
berpeluang menang. Hasilnya ternyata di luar dugaan kelompok oposisi.
Dengan penghitungan suara yang terbuka, disaksikan publik yang bebas
merekam prosesnya dengan telepon seluler, CNRP menang cukup telak di
sejumlah daerah pemilihan. Sementara partai-partai oposisi lain hampir
tidak ada yang memilih. Artinya telah terjadi polarisasi dukungan hanya
pada dua partai, yakni CPP dan CNRP. Inilah yang membedakan kondisi
Kamboja dengan Pemilu 1999 di Indonesia.
Indonesia ”direpotkan” oleh urusan multipartai dan koalisi antarpartai,
sementara di Kamboja hal tersebut bukan isu. Untuk itu, prospek tata
kelola pemerintahan pascapemilu Juli 2013 di Kamboja sangat ditentukan
oleh kedewasaan para pemimpin partai dalam menjaga iklim demokrasi
pascapemilu. Semogamerekamencari penyelesaian lewat jalur legislasi
yang mengayomi semua aliran politik yang ada dan menghindari
penggunaan kekerasan dalam wujud apa pun dalam berpolitik.
Pemilu di Kamboja adalah sebuah investasi politik yang sangat berharga
bagi negara yang pernah mengalami masa suram Perang Dingin. Siapa
pun pemenangnya dalam pemilu, tidak akan dapat lagi menggunakan cara-
cara represi atau intimidasi seperti yang terjadi pada dekade lalu karena
hal itu merugikan mereka. Pengalaman negara lain juga membuktikan
pemilu membuat elite menjadi semakin toleran terhadap demokrasi.
Tugas Indonesia dan ASEAN adalah meyakinkan dan menjaga bagaimana
agar para pemimpin yang terpilih tidak terprovokasi pihak-pihak luar yang
mencoba intervensi dalam proses transisi menuju masyarakat Kamboja
yang lebih demokratis. Ini bagian dari pencapaian cita-cita bersama dalam
komunitas ASEAN.
Sumber: SINDO, 31 Juli 2013
Dinna Wisnu Halaman 226

Kemerdekaan dan Warna Diplomasi


Ada artikel berjudul “Can India Become A Great Power?”
(“Apakah India Bisa Menjadi Kekuatan Besar?”) yang ditulis
oleh majalah The Economist pada Maret 2013. Inti tulisan
tersebut adalah dibandingkan dengan China atau Amerika
Serikat (AS), India dipandang belum mampu menjadi kekuatan
dunia yang besar karena fokus dan orientasi perhatian para
pembuat kebijakan di sana masih ke dalam negeri dan belum ke
luar negeri. Para pelaku kebijakan luar negeri pun dianggap
belum kompak.
Jadi, meskipun India punya kekuatan citra baik di bidang
demokrasi, sumber daya manusia yang cerdas dan tersebar di
berbagai penjuru dunia, Angkatan Laut yang disegani bahkan
dianggap setara kualifikasinya dengan yang dimiliki NATO,
bahkan anggaran pertahanan yang terus meningkat dan
diprediksi menjadi terbesar nomor empat di dunia pada 2020,
negeri ini belum dianggap serius sebagai kekuatan dunia.
Yang mengejutkan di sini bukan perihal India-nya, tetapi
pandangan Economist yang mencerminkan pandangan umum
analis Eropa dan AS yang mengkritik kelemahan dari daya
gentar India karena orientasi kebijakannya yang dianggap
“terlalu domestik” dan perilaku politisinya yang secara umum
dianggap semata mengejar kepentingan negeri sendiri dalam
jangka pendek.
Pandangan itu sebetulnya juga naif karena dalam alam
demokrasi liberal dan ekonomi pasar yang kompetitif,
kepentingan domestik menentukan kebijakan nondomestik.
Dalam isu lingkungan misalnya, AS belum menandatangani
Protokol Kyoto sebagai tanda komitmen untuk mengurangi
emisi karbon yang mencemari dunia atau dalam bidang
ketenagakerjaan, AS termasuk 22 negara anggota ILO yang
tidak meratifikasi Konvensi No 87 dan 98 tentang Kebebasan
Berserikat dan Berunding. Ini karena orientasi AS yang
domestik tadi.
Dinna Wisnu Halaman 227

Masalahnya kemudian apakah dengan demikian kita perlu


mengabaikan nilai-nilai kebijakan universal seperti hak asasi
manusia (HAM), komitmen kepada demokrasi, perlindungan
ekologi, dan nilai-nilai luhur lain hanya karena negara-negara
yang menyebut dirinya demokratis tidak berpartisipasi dalam
kesepakatan internasional? Atau kita lebih fokus pada nilai-nilai
yang lebih menguntungkan kepentingan nasional saja?
Jawabannya tentu tidak dapat hitam atau putih, namun yang
pasti tidak akan sebuah negara sukarela mengorbankan
kepentingan nasionalnya bila tidak memperoleh manfaat atas
pengorbanan itu.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana negara tersebut
mendefinisikan kepentingan nasional dan tempatnya dalam
pergaulan internasional. Bagaimana mengukur manfaatnya,
apaukurannya, menyusun prioritas, melaksanakan,
mengawasinya, dan mengevaluasinya bukanlah persoalan yang
mudah. Akan cukup sulit dengan ruang yang terbatas ini untuk
menjawab pertanyaan tersebut, tetapi dengan memperhatikan
praktik-praktik di lapangan kita dapat menyimpulkannya.
Ambil contoh tentang pertahanan.
Bagi yang sehari-harinya berkutat di bidang pertahanan
keamanan, keluhan mereka adalah seputar kurangnya daya
gentar (deterrence) Indonesia terhadap negara-negara lain,
bahkan terhadap negara-negara yang dari segi jumlah
penduduknya relatif kecil seperti Singapura dan Malaysia.
Kabarnya, ketika para personel saling membandingkan
peralatan alat utama sistem pertahanan (alutsista), Indonesia
sempat kecil hati.
Kini TNI sedang gembira karena Presiden SBY telah
mengumumkan komitmen untuk meningkatkan anggaran
pertahanan hingga Rp150 triliun antara tahun 2010-2014.
Indonesia asyik berbelanja pesawat tempur, air lifter, artileri,
tank, dan lain-lain. Pertanyaannya, apakah investasi kekuatan
pertahanan tadi dalam era globalisasi dan perdamaian masa kini
lebih bermanfaat?
Dinna Wisnu Halaman 228

Bila tujuannya menggentarkan negara lain, bukankah investasi


menggalang kontraintelejen dengan memanfaatkan diaspora
warga negara kita di luar negeri sebagai “agen intelijen” politik
dan ekonomi seperti yang dilakukan China jauh lebih bernilai?
Dunia, sepertiyangdiucapkan Mahmud Abbas, lebih
mengharapkan diplomasi persuasi dan dialog ketimbang
ultimatum dan ancaman. Dari segi jumlah kantor perwakilan di
luar negeri, Indonesia terbilang cukup baik.
Kita punya 131 kantor perwakilan yang terdiri atas 95 kedutaan besar, 3
perutusan tetap untuk PBB di New York dan Jenewa, serta perutusan tetap
untuk ASEAN di Jakarta, 30 kantor konsulat jenderal, dan 3 kantor
konsulat Republik Indonesia. Selain itu, Indonesia juga mengangkat 64
konsul kehormatan (yakni warga negara asing yang diangkat membantu
pengurusan visa dan fasilitasi perdagangan di negara sahabat).
Artinya modal Indonesia untuk menggalang dukungan dalam keputusan-
keputusan bilateral, regional, maupun multilateral cukup baik karena
negara kita menempatkan kantor-kantor perwakilan bahkan di negara-
negara kecil seperti Oman, Azerbaijan, Ekuador, dan Kepulauan Fiji.
Meski demikian, modal itu juga akan sia-sia bila tidak ada strategi
diplomasinya yang tegas dan jelas menguntungkan kepentingan nasional
kita.
Ambil contoh hasil kunjungan Dita Sari ke Malaysia tahun lalu yang
membandingkan antara 70 home staff dan 250 local staff yang bertugas
menangani lebih dari 2,2 juta TKI dengan 5.825 orang PNS untuk
melayani 1.040.000 jiwa di Gorontalo atau 15.700 PNS yang melayani 1,1
juta penduduk Kabupaten Klaten. Keadaan itu juga akan tambah
menyedihkan bila kita membandingkan misalnya jumlah diplomat dan
tugas yang diemban antara Kedutaan Besar Indonesia dan Kedutaan Besar
Singapura di Malaysia.
Indonesia yang memiliki kepentingan ekonomi sangat besar di Malaysia
karena besarnya jumlah TKI yang bekerja di sana hanya memiliki tiga
orang diplomat yang bekerja untuk berbagai macam fungsi dari ekonomi
hingga kebudayaan. Sementara Singapura menempatkan delapan diplomat
dan semua bertugas untuk diplomasi politik. Apa yang terjadi di Malaysia
mungkin terjadi pula di negara lain di mana perwakilan kita ditempatkan.
Warna diplomasi Indonesia dapat dilihat melalui fakta di lapangan dan
sejarah.
Dalam sejarah kita menemukan bahwa Indonesia mampu bekerja dan
berdiplomasi dengan piawai bersama negara-negara berkembang lain
Dinna Wisnu Halaman 229

dalam gerakan nonblok untuk melindungi kepentingan nasional kita


sebagai negara yang baru merdeka. Politik bebas aktif diterjemahkan
sebagai tuntutan untuk bebas dari tekanan politik negaranegara besar dan
aktif mendukung pembebasan negaranegara lain dari kolonialisme. Negara
kita disegani karena nilai-nilai dan kegigihan para diplomatnya.
Di saat kita merefleksikan 68 tahun Indonesia merdeka, perlu kita
bertanya tentang apa warna diplomasi Indonesia saat ini dan padamasa
mendatang. Mengapa Indonesia gagal mendorong agenda nasional untuk
memasukkan produk kelapa sawit sebagai produk ramah lingkungan di
APEC? Mengapa Eropa enggan menandatangani MOU tentang ekspor
kayu yang sudah disertifikasi oleh Indonesia?
Mengapa ihwal yang kita kerjakan belum mendapat apresiasi dari
masyarakat global, tetapi pada saat yang sama Indonesia masih kerap
diberi perlakuan “karpet merah” dalam forumforum regional dan
multilateral seperti ASEAN dan G-20? Warna apa yang dilihat oleh
negaranegara lain terhadap Indonesia? Pada akhirnya harus ada pesan jelas
ke dalam dan luar negeri tentang agenda kepentingan nasional Indonesia
yang menjadi prioritas dalam dekadedekade mendatang.
Semua lini pelaksana kebijakan luar negeri, di kementrian mana pun dia
termasuk yang ditempatkan di luar negeri, patut menjelaskan mengapa
kelembagaan, pendanaan, pengaturan personel dilakukan sedemikian rupa,
dan mempertanggungjawabkannya kepada rakyat. Kerapian manajemen
itu akan menjadi indikator kekuatan diplomasi Indonesia pada tahun-tahun
mendatang.
Sumber: SINDO, 14 Agustus 2013
Dinna Wisnu Halaman 230

Middle Income Trap


Seminggu setelah ulasan tentang warna diplomasi dalam konteks refleksi
kemerdekaan, banyak yang terjadi dengan cepat di Indonesia. Diawali
dengan pidato kenegaraan presiden, terjadi pembahasan seputar
melemahnya nilai tukar rupiah dan jebloknya pasar saham, lalu muncullah
wacana pembahasan tentang middle income trap (jebakan pendapatan
menengah). Dalam nota RAPBN tahun 2014, yang adalah Rancangan
Anggaran Belanja Negara terakhir pada masa pemerintahan Presiden
SBY, disebutkan bahwa postur RAPBN 2014 lebih siap dan antisipatif
yakni dengan belanja modal dan infrastruktur yang terus meningkat, agar
Indonesia terhindar dari middle income trap.
Benarkah RAPBN ini memadai untuk tujuan tersebut? Middle income trap
adalah istilah yang menggambarkan situasi di mana negara-negara yang
berpenghasilan relatif tinggi dan dipandang menjanjikan karena catatan
pertumbuhan ekonominya yang baik (sehingga disebut berpenghasilan
menengah), ternyata gagal bertransisi menuju penghasilan yang lebih
tinggi lagi. Adapun yang disebut negara berpenghasilan tinggi adalah jika
pendapatan per kapita warganya menembus angka USD20.000. Penyebab
dari situasi ini beragam, tetapi intinya situasi ini akan terjadi bila negara
salah strategi dan penduduknya terlena. Sederhananya demikian.
Jika taraf hidup penduduk di suatu negara membaik, fakta itu akan
tecermin dalam pendapatan per kapita dan daya beli. Karena pendapatan
per kapita meningkat, daya beli meningkat pula, sehingga kecenderungan
konsumsi akan tinggi. Dalam kondisi ideal, peningkatan daya beli tadi
akan mendorong penguatan industri sehingga ekspor produk-produk
dalam negeri meningkat dan devisa bertambah, lalu lapangan kerja tercipta
karena perekonomian yang dinamis tadi.
Tapi dari kasus di banyak negara, pendapatan per kapita yang meningkat
bisa juga berujung pada kesenjangan ekonomi yang tinggi dalam
masyarakat dan kemiskinan yang merebak di mana-mana. Selain itu,
dengan meningkatnya taraf hidup, muncul tuntutan kenaikan upah
sehingga daya saing produk melemah, padahal belum ada lapangan
pekerjaan untuk sektor yang lebih layak diberi upah tinggi (standar gaji
pekerja terampil). Brasil, India, Afrika Selatan dibahas di mana-mana
sebagai contoh negara yang sulit keluar dari jebakan ini. Untuk kasus
Indonesia, kita patut cermat pada titik kerentanan saat ini.
Yang punya uang cenderung berlomba-lomba berbelanja. Daya konsumtif
masyarakat begitu tinggi, padahal kemampuan produksi kita rendah
sehingga kita beli produk-produk asing. Tak heran negara-negara lain
Dinna Wisnu Halaman 231

berebut dan mendesak terus untuk masuk pasar domestik. ”Syukurlah” ada
kenaikan inflasi, sehingga mudah-mudahan berkembang pemikiran bahwa
berbelanja saja tidak akan memperbaiki taraf hidup bila tidak ada jaminan
apakah pekerjaan dan level gaji yang sekarang akan bertahan atau
meningkat di waktu-waktu mendatang.
Repotnya, nafsu menjamin kesejahteraan di masa-masa mendatang tidak
punya saluran yang memadai dalam tata kelola pemerintahan, selain lewat
jalur-jalur kongkalikong yang rentan perburuan rente. Kita lihat masih
banyak kasus korupsi yang melibatkan pejabat dan kepala daerah, padahal
dana proyek ditujukan untuk pembangunan. Tak heran kondisi
infrastruktur di Indonesia sangat memprihatinkan. Artinya tidak ada
jaminan bahwa dana infrastruktur yang ditingkatkan akan membuahkan
hasil konkret jika fenomena perburuan rentenya tidak dilibas.
Bayangkan, karena sibuk berburu rente, pejabat kita sibuk
membandingkan daya saing kita dengan Vietnam dan Myanmar, padahal
jelas kita harusnya sudah lebih baik dari segi kualitas produksi. Di sini kita
perlu mencermati strategi belanja pemerintah, karena para pekerja yang
berketerampilan rendah hampir selalu tertekan oleh persaingan pasar
terbuka. Jika pemerintah memilih untuk lebih banyak belanja untuk
kebutuhan pegawai negeri, departemen, dan orang-orang yang direkrut
oleh proyek pemerintah, maka belanja tambahan dalam RAPBN 2014
tidak akan banyak bermanfaat untuk mendongkrak daya saing swasta.
Selain itu, kita juga tahu bahwa masih ada masalah klasik penyerapan
anggaran pemerintah yang cuma di kisaran 48% sampai akhir Juli,
sehingga apalah artinya dana ditambah jika waktu untuk berkreasi dengan
dana yang ada sangat terbatas. Kita juga tahu bahwa dana DAK hanya
habis untuk membayar gaji pegawai pemerintah daerah saja. Jadi, di mana
ruang fiskal bagi pembangunan di daerah? Secara politis, kita juga harus
sensitif pada tahun politik 2014.
Dalam middle income trap, akan ditemukan fenomena adanya orang-orang
yang menangguk untung lebih besar dari pertumbuhan ekonomi dengan
tingkat usaha yang minim. Mereka yang minim bekerja tetapi besar
penghasilan ini disebut sebagai pemungut/pemburu rente. Para
pemungut/pemburu rente ini tak segan bersekongkol dengan birokrat dan
politisi untuk memenangkan kompetisi bisnis. Walaupun tangkapan KPK
bertambah dan berkualitas (dari segi kedudukan pejabat yang ditangkap),
kita tahu bahwa praktik curang tersebut belum surut.
Jika praktik pungut dan buru rente ini berlanjut, persaingan pun bukan lagi
murni atas nama daya saing bisnis, melainkan persaingan patronase
politik. Negara yang tiap lini bisnisnya tersangkut persaingan patronase ini
akan sulit mengembangkan daya saing di tingkat global. Ukuran-ukuran
Dinna Wisnu Halaman 232

kebijakan publik di negara macam itu otomatis akan bias pada


kepentingan pejabat tertentu, dan bukannya mencerminkan daya saing
yang sesungguhnya dari industri di negara itu.
Jadi, meskipun pemerintahan SBY dapat mengidentifikasi ancaman
middle income trap, permasalahan utama terkait perburuan rente dan
kurangnya investasi yang mengarah pada peningkatan produksi dan
produktivitas penduduk justru belum tersentuh secara khusus. Bayangkan
bahwa di sejumlah pedesaan, dana dari pusat terus mengucur, bahkan
dengan dana-dana pinjaman proyek pembangunan dari lembaga donor,
tetapi karena produktivitas masyarakatnya tidak diperbaiki, maka dari
tahun ke tahun desa-desa tersebut tetap miskin dan menadahkan tangan
saja.
Pengusaha sektor mikro dan kecil yang jumlahnya mayoritas
dibandingkan pengusaha skala besar tetap harus bergulat dengan dampak
kenaikan BBM, suku bunga naik, dan inflasi. Tak ada efek yang signifikan
bagi perekonomian makro bila pemerintah sebatas membuatkan ruang
pameran pengusaha sektor mikro dan kecil seperti dilakukan oleh Kadin
atau kantor-kantor perwakilan di luar negeri, karena riil penguatan bisnis
justru belum tersentuh.
Bangsa Indonesia sedang berada di saat-saat yang sangat menentukan; jika
kita membiarkan ketidakberesan tata kelola ekonomi, segala pertanda
kemakmuran yang menjulang di sudut-sudut Tanah Air akan bersifat
sesaat saja. Jika ingin maju, sudah saatnya kita menerima kenyataan
bahwa kita tidak mungkin bisa bebas dari middle income trap tanpa ada
inovasi dan persaingan berbasis kompetensi (dan bukannya atas basis
rente). Kita harus yakin bahwa pesaing kita adalah negara sekaliber Korea
Selatan, Jepang, dan AS.
Sumber: KORAN SINDO, 21 Agustus 2013
Dinna Wisnu Halaman 233

License to War
Seminggu lalu dunia terkejut menyaksikan tayangan yang mengerikan
tentang anak-anak di Suriah yang sekarat karena menghirup bom kimia.
Pasukan oposisi langsung menuduh bahwa pasukan pemerintah adalah
dalang dari serangan itu.
Mereka menuntut agar Amerika Serikat (AS) menggenapi janjinya untuk
menyerang Suriah apabila ditemukan senjata kimia digunakan oleh
pemerintah Bashar al-Assad. Pemerintah al-Assad tentu saja langsung
menolak tuduhan tersebut. Suriah tidak sendiri, Rusia juga ikut
membantah bahwa rezim Assad menggunakan senjata kimia dan
menantang AS untuk membuktikannya. Konflik yang berkecamuk di
Suriah adalah kasus yang penting di Timur Tengah.
Sejak Arab Spring yang menumbangkan sejumlah pemimpin negara,
Suriah tetap bergeming di bawah kepimpinan Bashar al-Assad. Situasi ini
mengingatkan kita ketika AS dan sekutunya mendorong intervensi militer
terbatas untuk menggulingkan rezim Khadafi di Libya. Pada saat itu,
Rusia dan China juga memberikan veto walaupun pada akhirnya mereka
menyetujui. Apakah skenario itu akan juga berlaku kepada Suriah saat ini?
Dari sisi geopolitik, Suriah dan Libya memiliki perbedaan yang sangat
signifikan.
Suriah dapat dikatakan sebagai wilayah perantara yang terhubung dengan
kepentingan politik Iran. Suriah juga bertetangga dengan Israel, di mana
Dataran Tinggi Golan yang dianggap sebagai bagian wilayah Suriah
berada di bawah penguasaan Israel. Suriah juga membantu kelompok-
kelompok bersenjata di Palestina untuk melakukan perlawanan terhadap
Israel. Oleh sebab itu, bagi AS dan Israel, mendukung penggulingan rezim
Al-Assad menjadi tonggak politik penting untuk menata kawasan sesuai
dengan kepentingan politik mereka.
Tidak heran Suriah mendapat dukungan penuh dari Iran dan Lebanon.
Satu alasan yang lebih penting lagi adalah dasar untuk memulai sebuah
intervensi atau peperangan. Dalam Just War Theory ada dua prinsip yang
harus dipenuhi, yaitu Jus ad Bellum (hak untuk pergi perang) dan jus in
bello (hak pelaksana di dalam perang). Hak untuk pergi perang harus
disertai dengan bukti permulaan yang cukup (just cause) untuk
mengatakan bahwa bukti itu mengancam kepada pihak yang lain.
Dalam banyak kasus internvensi militer yang dilakukan AS dan sekutu-
sekutunya kepada negara lain, bukti yang mengancam itu adalah termasuk
kepemilikan atau kemampuan (baik sumber daya, pengetahuan,
manajemen, dst) dari satu pihak untuk melakukan hal-hal yang akan
Dinna Wisnu Halaman 234

membahayakan keamanan dalam negeri AS dan sekutu-sekutunya.


Contohnya Iran. AS menganggap Iran dengan segala kemampuan dan
kepandaiannya dalam mengelola bahan materi nuklir sebagai sebuah
ancaman.
Dalam kasus Suriah, AS menetapkan penggunaan senjata kimia adalah
bukti yang cukup untuk melakukan intervensi. Tenggat itu diputuskan
karena dunia tahu ada tujuh negara di dunia yang tidak menjadi anggota
Chemical Weapon Convention (CWC) 1997, sehingga tidak memiliki
kewajiban untuk menghancurkan atau memberitahu senjata kimia mereka,
dan tiga negara itu ada di Timur Tengah yaitu Israel, Suriah, dan Mesir.
Walaupun Suriah terikat dengan Protokol PBB untuk tidak menggunakan
senjata kimia, hanya CWC yang memiliki mandat konkret untuk
membatasi senjata tersebut.
Oleh sebab itu, ketika terjadi penggunaan senjata kimia di tiga provinsi di
Suriah pada awal Agustus, tuduhan langsung mengarah kepada rezim al-
Assad. Keengganan Suriah untuk menjadi anggota konvensi membuatnya
tersudut, karena asumsi bahwa semua negara yang memiliki senjata kimia
tidak mungkin tidak diketahui penyimpanan atau penggunaannya oleh
Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons. Suriah sendiri
berdalih ia tidak mau menjadi anggota karena Israel sendiri melakukan hal
yang sama dan juga karena Israel punya senjata serupa.
Ditemukannya penggunaan senjata kimia sebagai tenggat keadaan
melakukan intervensi ke Suriah adalah keadaan yang cukup untuk
memenuhi unsur just cause. Serangan itu hanya akan melemahkan
kemampuan rezim al-Assad untuk menggunakan penggunaan senjata
kimia. Dalam kata-katanya sendiri, Obama mengatakan bahwa
intervensinya adalah untuk “hold the Assad regime accountable for their
use of chemical weapons, deter this kind of behaviour and degrade their
capacity to carry it out”.
Meski demikian, dalam kasus Suriah, sekutu-sekutu tradisional Amerika
tidak satu suara. Inggris sudah menyatakan tidak akan ikut menyerang dan
hanya akan menawarkan solusi diplomatik. Inggris mengatakan harus ada
bukti-bukti konkret untuk memulai intervensi dan bukti itu bergantung
pada hasil pengesahan di Dewan Keamanan PBB. Mereka bahkan
mengatakan, walaupun benar-benar ditemukan senjata kimia, mereka tidak
akan ikut bergabung menyerang Suriah.
Hal yang menarik, proses mengambil keputusan untuk menolak bergabung
lewat voting di parlemen juga di luar kebiasaan. Dalam sistim politik
Inggris, perdana menteri tidak harus meminta persetujuan parlemen untuk
turun perang. Selain memenuhi unsur just cause, sebuah perang juga harus
memenuhi unsur keberhasilan. Perang harus dapat membawa keberhasilan
Dinna Wisnu Halaman 235

untuk menyelesaikan masalah dan tidak memperburuk suasana. Jerman


adalah salah satu sekutu AS yang meragukan keberhasilan intervensi
militer dalam konflik.
Dalam kasus Libya, misalnya, Jerman mengatakan bahwa hasil dari
intervensi itu tidak dapat diramalkan, sehingga mereka tidak ingin terlibat.
Pendapat yang sama juga berlaku kepada Suriah. Tambahan lagi, Jerman
memasuki masa pemilu sehingga para kandidat menjauhi aktivitas politik
yang berisiko bagi kemenangan mereka. Banyak negara yang meragukan
bahwa intervensi di Suriah akan membawa kebaikan selain perang yang
berlarut-larut. Suriah adalah negara dengan campuran budaya, suku,
hubungan sosial, dan politik aliran.
Para analis pesimistis bahwa akan ada satu kepemimpinan kuat yang dapat
mengikat multietnis di Suriah untuk bersatu; setidaknya tidak dalam
kondisi seperti sekarang. Di sisi lain, barisan oposisi penentang rezim Al-
Assad juga terdiri atas ratusan bahkan ribuan kelompok kecil bersenjata
yang memiliki otonomi dari kelompok lain, bahkan ada dari kelompok
tersebut yang punya pimpinan di luar Suriah.
Dunia sebetulnya sudah memberikan batasan-batasan soal perang atau
intervensi militer, baik dari segi etika maupun praktis. Intervensi militer
apa pun pasti akan membawa dampak yang negatif, karena tidak tertutup
adanya collateral damage atau dampak tidak diinginkan bagi komunitas
sipil.
Memang dunia tidak pernah melarang sebuah perang terjadi, yang ada
hanyalah pengaturan bagaimana melindungi hak dari pihak-pihak yang
terlibat atau tidak terlibat dalam perang. Kita mungkin hanya dapat bisa
berharap bahwa intervensi militer di Suriah tidak terjadi dan semua negara
dapat mengutamakan dialog untuk menyelesaikan masalah dan perbedaan
perspektif.
Sumber: SINDO, 04 September 2013
Dinna Wisnu Halaman 236

Kedaulatan
Apa makna kedaulatan dalam konteks kekinian? Dulu kita bicara soal
kedaulatan karena negara dianggap punya wewenang sekaligus tanggung
jawab atas kehidupan penduduk dan segala hal yang terjadi di wilayah
negara tersebut.
Kita bicara kedaulatan karena diyakini bahwa tiap negeri punya jalan
hidup yang justru akan runyam jika diintervensi pihak-pihak asing. Dalam
perjuangan Indonesia mendapatkan pengakuan atas kedaulatan
wilayahnya, kita mendesak bahwa tatanan negeri ini adalah ranah
kebijakan anak bangsa, hasil dari kerja bersama sebagai bangsa, dan
bangsa lain perlu memandang segala sesuatu di Indonesia dengan utuh
sebagai satu bangsa. Kejadian sepanjang tiga minggu terakhir di dunia
internasional mempertanyakan satu aspek dari pengakuan kedaulatan dari
negara lain.
Yakni apakah pemerintah negara lain hanya bisa diam saja bila suatu
negara lain dianggap gagal menjamin rasa keadilan dan kemanusiaan bagi
penduduknya? Jika Dewan Keamanan (DK) PBB tidak bisa mengambil
keputusan, apa yang bisa dilakukan? AS mendesak kita untuk menjawab
pertanyaan di atas. Dalam dua minggu terakhir para diplomat kita“dikejar-
kejar” oleh diplomat-diplomat dari AS yang meminta kesediaan Indonesia
mendukung rencana penyerangan ke Suriah. Inti dari permintaan mereka
adalah tak mungkin Indonesia rela melihat kekejaman kemanusiaan yang
menggunakan senjata kimia.
Apalagi Indonesia pernah menyatakan pelaku kekejaman macam itu harus
bertanggung jawab atas perilakunya. Kebetulan waktu itu menjelang
Konferensi G-20 di St Petersburg, Rusia, dan AS berkepentingan
menggalang dukungan di sana karena gagal mendapatkan dukungan dari
DK PBB. Pada akhirnya cuma Arab Saudi, Turki, dan Prancis yang
betulbetul all out menjadi koalisi AS dalam menyerang Suriah.
Kabarnya ada 9 negara anggota G-20 yang menyetujui penandatanganan
pernyataan bersama untuk meminta respons internasional yang keras
walaupun lagi-lagi tidak jelas wujud respons tersebut seperti apa selain
bahwa cara militer sama sekali bukan preferensi mereka. Ini menunjukkan
bahwa dunia secara umum belum punya solusi menghadapi kasus serupa
Suriah walaupun kita tahu bahwa ini bukan kali pertama ada kejadian
macam ini. Irak, Libya, dan Afghanistan adalah contoh terdahulu.
Satu hal yang jelas terangkat dalam kejadian selama 1 dekade ini adalah
bahwa kedaulatan bukan semata urusan menentukan patok batas wilayah
perbatasan atau penjagaan wilayah perbatasan dengan kekuatan militer
Dinna Wisnu Halaman 237

penuh, tetapi juga menyangkut kekuatan diplomasi dan kelihaian dalam


membangun hubungan dengan kekuatan politik global. Yang runyam
dalam kasus-kasus invasi belakangan ini adalah karena para diplomat
negara-negara yang menjadi “sasaran tembak” kalah suara dan taktik
terhadap negaranegara besar, hilang pengaruh di kawasan, dan pemimpin
di negaranya reaktif menggunakan cara-cara kekerasan atas alasan self-
defense (bela diri).
DK-PBB tidak bisa diandalkan untuk membela kedaulatan suatu negara
karena basis kegiatan mereka adalah memadamkan masalah bila sampai
terjadi intervensi militer dari suatu negara ke negara lain atau dalam
menjaga kesepakatan perdamaian yang sudah terwujud sebagai hasil
negosiasi antarkelompok yang bertikai. Jadi dalam kasus bahwa inisitatif
intervensi militer datang dari negara sekelas AS atau negara-negara
anggota tetap DK PBB lainnya (Prancis, China, Rusia, dan Inggris),
tangan DK PBB pun terkunci.
Sudah pernah ada upaya reformasi aturan main di DK PBB ini, tetapi terus
saja menghadapi jalan buntu. Memang disayangkan bahwa Sekjen PBB
ataupun Majelis Umum PBB sampai saat ini belum punya terobosan apa
pun menyangkut problem internal negara atas pelanggaran prinsip
kemanusiaan yang dilakukan rezim berkuasa dan dalam kondisi internal
yang terpecah- belah. Dalam kasus Suriah, jelas terlihat bahwa Arab Saudi
dan Turki konsisten sebagai pihak yang gigih ingin menggulingkan rezim
Bashar al-Assad, dengan cara apa pun.
Di sini kita saksikan Arab Saudi dan Turki bahkan menggunakan strategi
counter intelligence dengan menanamkan kelompok-kelompok pendukung
agenda Arab Saudi dan Turki di dalam tubuh Suriah. Tidak ada rasa tabu
di antara negara kawasan ini untuk melakukan pengeroposan dari dalam
macam itu. Ini ancaman kedaulatan yang paling riil dan sesungguhnya
harus bisa terbaca dari jauh hari. Dalam konteks Indonesia, kita pun harus
waspada terhadap model pengeroposan kedaulatan macam tadi.
Pasalnya, dalam hubungan internasional ada teori mengenai tananan dunia
internasional yang patut menjadi perhatian, yakni bahwa perdamaian
bukanlah satu konsep yang sifatnya satu dimensi dan tidak bisa hanya
diartikan sebagai ketiadaan konflik (Johann Galtung 1967). Bagi sejumlah
negara dunia, perdamaian sifatnya terbatas, yakni bagi dirinya dan sekutu-
sekutunya saja.
Perdamaian bagi negara macam itu hanya akan tercapai jika negara-negara
yang dianggap ancaman mengalami kekacauan yang cukup besar.
Indonesia adalah negara yang sedang meniti reputasi yang lebih baik di
tataran internasional. Walhasil terpaan angin pun akan semakin kuat.
Bahwa kita “dikejar-kejar” AS untuk mendukung agendanya adalah
Dinna Wisnu Halaman 238

contoh ujian yang kita hadapi dan di belakang layar bukan cuma AS yang
menekan kita, tetapi juga para sekutunya. Di sini kita perlu jeli membaca
peta aliansi di tingkat global dan mengunci kemungkinan pengeroposan
dari dalam.
Seperti juga terjadi di negara-negara lain, pengeroposan kedaulatan
biasanya dimulai karena munculnya gerakan-gerakan yang menyuarakan
ketidakpuasan terhadap model tata kelola pemerintahan tertentu. Godaan
tersebut besar dalam konteks demokrasi, apalagi jika pengelolaan ekonomi
kita gagal menjembatani kebutuhan si kaya dan si miskin.
Jauh lebih mudah bagi orang yang putus asa untuk tergoda dengan cara
“main hakim sendiri” yang diputuskan tanpa perlu kompromi, tanpa
dialog, tanpa kerja sama dengan pihak-pihak yang berseberangan
pendapat. Jika cara-cara yang disuarakan keluar dari konstitusi,
menghalalkan kekerasan dan mengizinkan perusakan tenun kebangsaan
yang selama ini menjaga harmoni di tataran individu masyarakat, serta
mendesak keluarnya aturan-aturan yang justru menimbulkan rasa was-was
dan tidak aman, maka itu pertanda hadirnya bibit pengeroposan kedaulatan
di dalam negeri.
Jika bibit itu terbaca oleh pihak asing dan buruknya lagi dimanfaatkan
oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab di dalam negeri untuk
menggalang dana dari negara lain, tak ada artinya segala upaya kita
memperkuat militer atau mengedepankan diplomasi. Kita harus ingat ada
pihak-pihak yang mengartikan perdamaian dalam arti terbatas tadi.
Sumber: SINDO, 11 September 2013
Dinna Wisnu Halaman 239

Bantuan Sosial dan Kemiskinan


Apa yang ingin kau beli dengan uang Rp150.000? Ini pertanyaan buat
rumah tangga miskin penerima BLSM (bantuan langsung sementara untuk
masyarakat). Bulan ini akan turun dana tahap kedua untuk program
BLSM. Sesuai kesepakatan DPR dengan pemerintah, besaran dana untuk
BLSM disepakati Rp9,32 triliun untuk jangka waktu empat bulan dan
ditujukan untuk 15,5 juta rumah tangga miskin di Indonesia. Penerima
BLSM ditetapkan merupakan 25% penduduk termiskin di Indonesia. Buat
rumah tangga miskin, tidak disangkal, dana berapapun pasti bermanfaat
untuk menambah penghasilan.
Ada yang menggunakannya untuk menyambung uang makan, untuk
membeli pakaian, untuk membeli buku sekolah, untuk berobat, untuk
transpor ke tempat kerja, atau bahkan diberitakan ada yang menggunakan
dana tersebut untuk membeli kipas angin supaya bisa tidur nyenyak
dengan tidak berkeringat dan terbebas dari gigitan nyamuk. Namun,
apakah dana tersebut meningkatkan kebebasan dari orang miskin untuk
punya kebebasan memilih dalam hidup?
Amartya Sen, seorang ekonom terkenal dari India penerima hadiah Nobel
Perdamaian bidang ekonomi, pernah bergumul dengan pertanyaan seputar
solusi pengentasan kemiskinan. Latar belakang Sen di bidang ekonomi
mengondisikan Sen untuk menghargai mekanisme ekonomi pasar sebagai
bagian dari solusi pengentasan kemiskinan. Dia paham orang harus
bekerja untuk bisa makan, dan karenanya ia bergulat dengan temuannya
bahwa penyelesaian kemiskinan adalah kemakmuran, dan kemakmuran
tecermin dari peningkatan pendapatan.
Sungguh no brainer ya? Orang awam pun paham bahwa peningkatan
pendapatan akan menghindarkan seseorang dari kemiskinan. Masalahnya,
Amartya Sen dibesarkan dalam kultur India yang tersekat-sekat dalam
kasta-kasta. Dalam praktik di masyarakat, kasta tidak cuma empat atau
lima tingkat, tetapi ada ratusan. Di kalangan masyarakat menengah bawah,
hak atas jenis-jenis pekerjaan ditentukan oleh kasta.
Mereka yang merupakan kelompok minoritas, misalnya kelompok muslim
di India, akan sangat tersingkir karena mereka boleh saja mau bekerja dan
mau dibayar murah; tetapi kalau dengan bekerja di situ ia dianggap
mengambil ”jatah” kelompok mayoritas dengan kasta tertentu, maka ia
bisa dibunuh. Sen sudah menyaksikan sendiri aksi keji antarorang miskin
ini. Dari sana Amartya Sen kemudian melihat esensi dari kemiskinan,
yakni terbatasnya kebebasan untuk memilih dalam hidup.
Dinna Wisnu Halaman 240

Dalam kemiskinan, seseorang tidak bisa pilah pilih pekerjaan, makanan,


pakaian, atau apa pun. Hidup orang miskin didikte oleh penguasa di
lingkar hidupnya. Orang miskin tak punya ruang untuk berkata tidak, ia
semata objek dari kebijakan yang ada. Orang miskin juga sangat
bergantung dari perilaku masyarakat sekitarnya.
Di sinilah Sen tersentak karena kemiskinan ternyata bukan semata soal
nominal uang di tangan. Kalaupun uang ada di tangan, seseorang tetaplah
miskin bila tak punya pilihan untuk memanfaatkan uang di tangannya dan
bila masyarakat tempatnya hidup tidak mengizinkannya untuk menjalani
pilihan hidupnya. Jadi, kemakmuran tidak selalu berarti kelimpahan uang,
tetapi juga kelimpahan peluang untuk menjalani hidup secara bebas sesuai
pilihan pribadi.
Refleksi Amartya Sen tersebut meneguhkan pandangan saya bahwa
pengentasan kemiskinan tidak harus bertopang pada besaran dana yang
luar biasa. Pengentasan kemiskinan adalah suatu proses, sesuatu yang bisa
dikembangkan secara bertahap, bahkan dengan dana yang terbatas
sekalipun. Prinsipnya adalah desain untuk berbagi; berbagi kebebasan tadi.
Untuk konteks Indonesia, kita beruntung karena segmentasi dalam
masyarakat kita tidak setajam dan sekejam di India.
Namun, kita harus akui kemiskinan memang menciptakan
ketidakberdayaan yang melumpuhkan. Ini yang harus kita perangi. Dasar
filosofi ”memberi ruang gerak pada orang miskin” ala Amartya Sen
dipakai pula oleh pemerintah Indonesia dalam konteks pemberian bantuan
sosial. BLSM dipakai untuk mengurangi tekanan ekonomi dalam keluarga
miskin karena kenaikan BBM.
Ada pula bantuan sosial berupa Jamkesmas, Program Keluarga Harapan,
Program Bantuan Operasional Sekolah, Beras untuk Keluarga Miskin,
Bantuan Siswa Miskin, PNPM, KUR, dan tak sedikit lagi ragam bantuan
sosial yang diusung dan dikelola oleh pemerintah daerah. Pertanyaannya,
jika pemerintah memang menghayati cara pandang Amartya Sen, fokus
pemberian dana bantuan sosial seharusnya dihitung betul dampak jangka
panjangnya.
Seharusnya ada evaluasi yang komprehensif tentang efek dari
penggelontoran dana ke program-program tersebut ke titik-titik
konsentrasi kemiskinan. Apa buktinya program bantuan sosial itu
meningkatkan mutu hidup orang miskin? Lebih lanjut, apakah orang-
orang yang hidup di sekitar orang miskin berubah sikap karena program
tersebut, sehingga tunjangan dari pemerintah punya efek mengangkat
harkat hidup orang miskin?
Dinna Wisnu Halaman 241

Apakah ada sistem yang menjamin orang miskin tetap bisa memilih,
misalnya mau sekolah di mana atau mau bekerja di mana? Pertanyaan ini
yang sulit dijawab karena pemerintah tidak menggarap evaluasi tersebut.
TNP2K (Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan) yang
mengelola dana BLSM justru hanya sibuk dengan penghantaran dana
BLSM itu; bukan pada efeknya maupun desain besarnya sebagai
instrumen pengentasan kemiskinan.
Seorang rekan yang aktif sebagai peneliti di TNP2K secara blak-blakan
mengatakan bahwa TNP2K sebenarnya ”keberatan nama”, karena mandat
mereka sebenarnya terbatas pada membantu koordinasi dan pelaksanaan
program-program pengentasan kemiskinan yang tersebar di sejumlah
kementerian. Bukankah ini runyam? Jelas-jelas problem kemiskinan di
Indonesia bersifat struktural dan kronis.
Ini bukan isu baru. Dari krisis ke krisis, kita memang bisa menjaga
pertumbuhan ekonomi tetap positif; tetapi sebaran kemiskinan di
Indonesia tidak berubah, bahkan semakin dalam di sejumlah propinsi dan
daerah penyangga perkotaan. Kita juga bisa melihat dari koefisien ini yang
semakin menunjukan kesenjangan pendapatan orang kaya dan miskin.
Hari ini 38% penerima upah di Indonesia bekerja tanpa kontrak, sementara
54% dari angkatan kerja di Indonesia bekerja di sektor informal (yang
umumnya dalam skala bisnis mikro atau kecil).
Artinya setiap saat ada guncangan ekonomi, ada risiko gelombang
pengangguran dan peningkatan jumlah orang miskin secara drastis. Risiko
ini semakin besar dengan semakin terintegrasi ekonomi kita dalam pasar,
baik di ASEAN maupun bilateral dengan negaranegara lain. Indonesia tak
bisa menutup mata pada kenyataan program bantuan sosial perlu
diselaraskan dengan kebijakan pembangunan ekonomi dan sosial. Ia tidak
bisa diandalkan sendiri untuk menyelesaikan masalah kemiskinan yang
struktural dan kronis.
Pemerintah memiliki banyak badan pemantau birokrasi dalam upaya
menanggulangi kemiskinan, seperti TNP2K dan UKP4. Namun, masalah
utamanya bukan cuma di sisi efektifitas birokrasi, melainkan lemahnya
visi dan misi strategis untuk menanggulangi kemiskinan itu sendiri.
Sumber: SINDO, 18 September 2013
Dinna Wisnu Halaman 242

Sesat Arah Mobil Murah


Satu lagi kebijakan pemerintah SBY yang lahir cepat: mobil murah.
Kebijakan ini diklaim sebagai pengimbang kebutuhan masyarakat akan
fasilitas transportasi yang murah, kebutuhan global akan mobil yang
ramah lingkungan (alias LCGC, low cost green car), sambil berlomba
meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan menargetkan ekspor mobil
murah ini ke negara-negara tetangga, bahkan ke benua lain.
Produsen mobil langsung meluncurkan produk perdana LCGC, bahkan
ikut berpameran di Kemayoran Jakarta, antara lain Toyota Agya, Daihatsu
Ayla, Honda Brio Satya, Datsun GO, dan belakangan Suzuki Karimun
Wagon R. Apakah betul kebijakan tersebut akan menguntungkan
Indonesia? Pertama-tama mari kita cek apakah mobil murah ini ramah
lingkungan. Sebenarnya tidak satu pun mobil itu yang berteknologi baru
ramah lingkungan.
Mereka tetap menenggak bensin dari minyak bumi, bukan biofuel,
elektrik, atau jenis hibrida. Ukuran cc mobil saja yang diperkecil.
Polusinya sama, bahkan akan meningkat jika makin banyak mobil turun
ke jalan. Ketergantungan Indonesia pada impor minyak bumi juga sama.
Apakah akan menguntungkan dari segi ekonomi? Dalam jangka pendek,
kepentingan Indonesia adalah memperbaiki neraca berjalan dan neraca
perdagangan yang terus defisit.
Ada kabar bahwa pemerintah akan memastikan mobil murah ini tidak
pakai BBM bersubsidi sehingga tidak memberatkan pemerintah. Lho,
bukankah yang perlu dicermati adalah peningkatan impor BBM-nya
karena itu yang melemahkan neraca perdagangan Indonesia dan membuat
rupiah terpuruk? Budi Hikmat dari Bahana TCW (BI, 23/9/13)
menghitung bahwa untuk tiap 1% kenaikan penjualan mobil (mobil apa
pun yang masih doyan bensin), kenaikan defisit neraca minyak bumi akan
naik 0,64%.
Tambahan lagi, mobil-mobil itu masih menggunakan 60% komponen dari
luar negeri. Maklum, jumlah pabrik komponen di dalam negeri baru 70
buah. Artinya sampai pabrik-pabrik itu berdiri, kita masih akan rajin
mengimpor. Di sisi lain, mobil murah ini bertentangan dengan diplomasi
Indonesia yang selama ini berkomitmen untuk mengedepankan prinsip
pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan.
Kita masih ingat Presiden SBY pada bulan November 2007
mengumandangkan Rencana Aksi Nasional untuk mengatasi perubahan
iklim. Di tahun 2009, Presiden SBY mengumumkan Indonesia dengan
sukarela menerapkan target pengurangan emisi gas rumah kaca 26% di
Dinna Wisnu Halaman 243

tahun 2020, bahkan bisa berkurang 41% jika dibantu dana internasional.
Di tahun 2010, Indonesia memperkenalkan roadmap sektoral untuk
memandu perencanaan pengurangan emisi karbon.
Presiden SBY bahkan menjadi anggota dalam panel ahli pembangunan
berkelanjutan di PBB di mana beliau mengulangi lagi komitmen untuk
mengadopsi teknologi rendah karbon. Artinya, dalam jangka panjang,
produksi mobil murah ala Indonesia justru tidak sinkron dengan tujuan
Indonesia membangun kekuatan sebagai negara yang punya daya saing
dalam pergaulan ekonomi masa depan.
Kita harus tahu bahwa ke depan, persaingan global mengarah lebih tajam
pada ekonomi hijau dengan penggunaan sumber energi yang lebih efisien.
Kita harus siap ditekan dunia Barat karena negara-negara Asia- Pasifik
terhitung menggunakan 3 kali jumlah sumber daya untuk memproduksi
satu unit pendapatan negara (PDB) sehingga kita pasti didesak untuk lebih
efisien.
Untuk konteks Indonesia, program ini mengonfirmasi bahwa betul
orientasi pemerintahan SBY adalah semata untuk meningkatkan
pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek. Bisa jadi inilah efek negatif
dari tahun politik menjelang pemilu. Artinya produksi mobil murah ini
sama sekali tidak ada kaitannya dengan konsep green economy yang
dikumandangkan selama ini.
Produksi ini malah bertentangan dengan ide awal dari pengurangan
subsidi BBM yang bertujuan untuk mengurangi pemakaian bahan bakar
fosil dan mendorong orang untuk menggunakan energi alternatif. Mobil
murah ini bahkan tidak mengakomodasi gagasan pengalihan bahan bakar
minyak ke gas seperti yang pernah dikampanyekan dulu atau biofuel tahun
2010–2011. Konsep green economy seharusnya jauh lebih luas daripada
sekadar membangun mobil ramah lingkungan (ala Toyota-Prius yang
berteknologi hibrida itu).
Green economy adalah pilihan politik dan ekonomi untuk memulai
pembangunan berkelanjutan yang rendah karbon. Jikalau perluasan
penggunaan mobil ramah lingkungan akan disebarkan, konsep
perluasannya harus merupakan kesatuan sosial dengan masyarakat yang
sadar akan lingkungan. Percuma seluruh penduduk kota memakai
kendaraan hibrida bila jalanan tetap macet dan pengemudinya ugal-ugalan
tidak sadar lingkungan.
Membangun masyarakat itu tidak dapat dilakukan dalam waktu semalam.
Pemerintah akan berhadapan dengan pilihan: apakah memanfaatkan
keuntungan yang sementara ini ada di pasar dan mengabaikan kemajuan
upaya pembangunan yang ramah lingkungan atau menunda mengambil
Dinna Wisnu Halaman 244

keuntungan sesaat karena mulai membangun infrastruktur ekonomi dan


sosial yang ramah lingkungan?
Dukungan pemerintah untuk mobil murah tampaknya menunjukkan
pilihan ada pada yang pertama. Pemerintah menyadari dengan
dikuranginya subsidi bahan bakar premium, ada pasar baru kendaraan
yang tercipta. Mereka yang mengisi pasar itu adalah kelompok kelas
menengah yang tak mampu membeli oktan tinggi seperti pertamax dalam
volume besar (untuk mobil ber-cc lebih besar), ditambah dengan pembeli
baru dari kelompok pengendara sepeda motor yang memiliki pendapatan
lebih.
Pasar itu terbentuk juga karena dari sisi demografi, kelas menengah
Indonesia semakin gemuk dan secara teoretis ketika pendapatan per kapita
kita tembus USD3.000, konsumsi untuk barang mewah seperti mobil akan
meningkat. Dalam pendekatan pembangunan berkelanjutan, isu yang
utama dalam transportasi adalah bagaimana mengontrol emisi yang
ditimbulkan. Di Brasil, tidak ada industri green car, tetapi mereka
mengharuskan bahan bakar fosil yang digunakan dicampur dengan etanol.
Komposisi etanol dalam bahan bakar fosil dalam sejarahnya adalah 22%
hingga 25%. Mesin mobil di sana harus dimodifikasi secara khusus agar
tidak berkarat ketika mengonsumsi bahan bakar campuran etanol.
Kebijakan ini ditempuh untuk mengurangi ketergantungan dengan bahan
bakar fosil. Etanol telah mengurangi 40% ketergantungan Brasil terhadap
bensin dan ikut mendukung industri agroindustri yang menyuplai etanol
dengan tenaga kerja formal yang berjumlah jutaan.
Kebijakan ini sudah dirintis sejak 1976. Oleh sebab itu, Brasil dikenal
sebagai the world’s first sustainable biofuels economy dan pelopor industri
biofuel dunia. Setidaknya ada tiga konsekuensi dari kebijakan mobil
murah ini. Pertama, perjuangan meloloskan produk kelapa sawit yang
merupakan sumber devisa nonmigas terbesar Indonesia akan terganggu,
bahkan gugur karena di dalam negeri tidak ada perhatian pada
pengembangan biofuel.
Nafsu pemerintah membuat biofuel hanya ada ketika harga minyak tinggi,
tapi dilupakan ketika harga minyak turun. Kedua, perjuangan
menghidupkan motivasi akademisi dan intelektual untuk menciptakan
teknologi bebas emisi akan kerdil karena tetap tidak ada perhatian konkret
untuk menghidupkan karya cipta anak bangsa.
Ketiga, biaya perbaikan lingkungan, baik secara sosial dalam bentuk
kemacetan, polusi maupun keruwetan tata kelola penggunaan energi, akan
semakin besar. Dimasamendatang, desakan untuk mengontrol emisi
Dinna Wisnu Halaman 245

karbon akan terus ditekan, kalaupun tidak oleh negara, maka oleh
masyarakat dan organisasi sipil.
Tekanan ini bisa berpotensi mendesak pemerintah untuk memasukkan
biaya perbaikan lingkungan dalam pajak bahan bakar minyak seperti pajak
7% yang berlaku di Inggris atau HGV eco-tax di Prancis. Kita harus juga
melihat bagaimana politik lingkungan di negara-negara tujuan ekspor
mobil murah ini. Apakah mereka juga akan menerima mobil murah dari
Indonesia yang tidak ramah lingkungan?
Artinya, konsumen mungkin membeli mobil murah pada saat ini, tetapi
selanjutnya mobil itu tidak bisa dipakai karena bahan bakar yang semakin
mahal karena pajak lingkungan. Keputusan menerima risiko-risiko tadi
akan berakhir di tangan Presiden SBY. Seharusnya pemerintah
memberikan jawaban dengan transportasi murah, sebagaimana
digaungkan oleh roadmap green economy, bukan mobil murah. Solusi atas
segala dilema harus dicari bersama dengan masyarakat dan tidak
melemparkannya hanya kepada pemilik industri automotif.
Sumber: SINDO, 25 September 2013
Dinna Wisnu Halaman 246

Sawit, Layu sebelum Berkembang


Beberapa bulan menjelang konferensi APEC yang dibuka kemarin,
pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah jauh-jauh hari
berteriak akan memperjuangkan kelapa sawit untuk dimasukkan ke dalam
APEC’s Environmental Good List.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa bahkan mengatakan akan berjuang
untuk isu kelapa sawit di forum APEC. Ini soal perang dagang, demikian
ungkapnya. Semangat dan retorika yang berapi-api ini semakin membara
ketika upaya Indonesia memasukkan produk tersebut sebagai produk
ramah lingkungan di Rusia gagal total. Pemerintah melemparkan
kegagalan ini pada kampanye negatif atau kampanye hitam terhadap
produk-produk kelapa sawit. Nyatanya, retorika itu pun kandas sebelum
APEC dimulai (bisnis.co.id 1/10/13).
Pemerintah SBY tidak mampu meyakinkan bahwa kelapa sawit adalah
produk agrikultur yang ramah lingkungan kepada 21 negara anggota
APEC dalam pertemuan pendahuluan para pejabat senior yang
berlangsung di Jakarta, Medan, dan Surabaya. Indonesia menerima alasan
negara-negara lain bahwa upaya untuk mendesak kelapa sawit sebagai
produk ramah lingkungan akan mendorong negara-negara lain untuk
memasukkan produk ramah lingkungan mereka ke dalam agenda dan
mengakibatkan agenda terlalu panjang dan lama.
Strategi lain yang akan dipakai pemerintahan Presiden SBY adalah dengan
mengajukan kriteria baru dalam APEC’s Environmental Good List, yaitu
bahwa produk ramah lingkungan harus mampu berkontribusi terhadap
pertumbuhan berkelanjutan, pembangunan perdesaan, dan pengurangan
kemiskinan. Strategi ini dianggap sesuai dengan target umum pertemuan
Bali yang menyepakati sebuah inisiatif untuk mendukung produk-produk
yang berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan, pembangunan
perdesaan, dan penanggulangan kemiskinan.
Dengan menambahkan kriteria baru, jalan untuk memasukkan kelapa
sawit diharapkan sedikit terbuka. Kegagalan ini tentu berdampak besar
karena dengan demikian upaya untuk memasukkan kelapa sawit di dalam
WTO sebagai produk ramah lingkungan juga terhambat. Produk-produk
ramah lingkungan dalam pasar sangat signifikan karena negara-negara
APEC menyumbang hampir 60% produk-produk ramah lingkungan.
Produk-produk tersebut terutama adalah teknologiterbarukandanramah
lingkungan, teknologi limbah cair, teknologi alat kontrol pencemaran,
teknologi penghancur limbah berbahaya, dan peralatan pemantau
keramahan lingkungan.
Dinna Wisnu Halaman 247

Siapakah negara-negara yang berperan besar dalam menghasilkan


produkproduk tersebut? Di antara mereka adalah Amerika, China, Korea
Selatan, Jepang, Taiwan, Singapura, dan Meksiko. Produk-produk mereka
akan menerima keuntungan dalam penetrasinya ke pasar negara anggota
APEC karena negara-negara APEC tidak boleh mengenakan pajak lebih
besar dari 5% terhadap produk-produk yang masuk dalam daftar itu mulai
31 Desember 2015. Saat ini kawasan negara-negara APEC
memberlakukan tarif, sebagai contoh 35% untuk teknologi energi
terbarukan.
Pada akhir 2015, tarif itu harus berkurang menjadi maksimal 5%.
Bayangkan kalau masuk ke dalam daftar tersebut, kelapa sawit dapat lebih
bersaing dengan produk sejenis dari kedelai atau rape seed (canola).
Kegagalan berulang kali untuk memasukkan kelapa sawit sebagai produk
ramah lingkungan dalam forum-forum internasional sewajarnya
mendorong SBY dan para pembantunya untuk berpikir dan
mengidentifikasi kekurangan apa yang telah membuat upaya itu tidak
berhasil. Hingga saat ini, alasan yang selalu dikumandangkan untuk
menjelaskan kegagalan itu adalah adanya kampanye negatif dari Negara-
negara Eropa atau Amerika yang bekerja sama dengan LSM baik di dalam
maupun di luar negeri. Semestinya pemerintahan SBY perlu menyadari
bahwa melemparkan kesalahan kepada orang lain tidak membantu apa pun
dalam diplomasi perdagangan sawit kita.
Pemerintahan SBY perlu memperbaiki masalah-masalah internal yang
memang bawaan dari produk kelapa sawit. Hal yang paling penting adalah
keikutsertaan dan dukungan pemerintah mendorong sertifikasi produk
kelapa sawit yang lestari. Saat ini ada dua lembaga sertifikasi kelapa sawit
yang berperan menghalalkan produk kelapa sawit sebagai bagian dari
proses produksi yang ramah lingkungan.
Dua lembaga itu adalah Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) dan
Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Selain itu, ada lembaga baru yang
memiliki standar jauh melebihi RSPO dan ISPO, yaitu Palm Oil
Innovation Group (POIG) yang secara khusus fokus untuk mengurangi
deforestasi dan pencemaran karbon emisi. Selain ISPO yang bersifat wajib
dan lebih banyak melibatkan pemerintah, RSPO dan POIG dimotori multi-
stakeholder yang keanggotaannya tidak wajib terdiri atas para grower,
akademisi, NGO, peritel, dan individu.
Dalam rantai produksi kapitalisme, lembaga-lembaga sertifikasi itu
berfungsi sebagai pengatur pasar swasta yang nonnegara. Mereka
menggunakan standar teknis dan sosial internasional untuk memverifikasi
pemenuhan produk atas kriteria tertentu yang menjadi tuntutan pengguna,
khususnya konsumen. Lembaga sertifikasi ini meliputi semua sektor dari
Dinna Wisnu Halaman 248

kehutanan, tekstil, garmen, udang, kedelai hingga kelapa sawit. Para


pengusaha harus mengeluarkan investasi yang besar untuk bisa
mendapatkan sertifikasi dari lembaga-lembaga tersebut dan tentu akan
memarginalisasi para pengusaha kecil yang tidak memiliki kecukupan
modal.
Dalam konteks kepala sawit, Pemerintah Indonesia tidak terlalu menyukai
keberadaan lembaga sertifikasi ini. Beberapa tahun lalu, pemerintah
terkesan mendukung aksi mobilisasi massa yang menolak keberadaan
beberapa LSM lingkungan seperti Greenpeace karena dianggap
melancarkan kampanye negatif terhadap kelapa sawit. Pemerintah pun
mendukung Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) untuk
mundur dari RSPO dengan alasan kriteria yang diputuskan selalu
merugikan pengusaha sawit Indonesia.
Secara formal, mereka menyatakan kemundurannya lebih untuk fokus
membangun ISPO. Lembaga sertifikasi internasional seperti RSPO sangat
berpengaruh kepada pasar. Pada 2015, Uni Eropa sudah menyatakan
komitmen akan menggunakan 100% sustainable palm oil yang diimpor
dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Mereka akan
menolak produk-produk yang tidak tesertifikasi. Arti 100% itu bukan
cuma CPO, tetapi juga produk turunannya seperti kosmetik, sabun, odol,
minyak goreng hingga obat-obatan.
Sebab itu, anggota RSPO tidak hanya para pengusaha perkebunan, tetapi
juga pengusaha obat dan perbankan yang memberikan pinjaman modal
bisnis ke usaha yang terkait dengan kelapa sawit. Bila pemerintah ingin
memasukkan kelapa sawit sebagai produk ramah lingkungan, pertempuran
seharusnya diawali di lembaga-lembaga sertifikasi ini. Pemerintah harus
mulai mendorong kajian atau penelitian yang tidak hanya meliputi sisi
lingkungan atau ekonomi, tetapi juga meliputi etika, filsafat, dan politik.
Sesumbar tentang kuatnya kampanye negatif terhadap sektor kelapa sawit
tanpa membangun pemikiran atau ide-ide alternatif sama halnya dengan
menegakkan benang basah. Misalnya keinginan untuk memasukkan
hubungan kelapa sawit dan penghapusan kemiskinan sebagai kriteria baru
dalam APEC Environmental Good List sebetulnya sudah tercakup
dalamprinsipdankriteria RSPO.
Masalahnya, kita belum pernah bisa membuktikan hal itu secara ilmiah
karena kurangnya penelitian dan kajian yang meliputi segala aspek dari
sisi lingkungan hingga filosofinya.
Sumber: SINDO, 02 Oktober 2013
Dinna Wisnu Halaman 249

APEC 2013 dan Prioritas Indonesia


Satu lagi perhelatan akbar diadakan di Pulau Dewata: APEC. Pertemuan
wakil- wakil negara dan pebisnis besar dari 21 negara di Asia Pasifik ini
mengangkat tema ”Resilient Asia-Pacific, Engine for Growth”. Acara ini
digadang-gadang karena kawasan ini adalah konsentrasi pusat
pertumbuhan ekonomi dunia, salah satu kawasan yang anggotanya masih
tumbuh di tengah resesi global, dan arena lebih dari 55 persen kegiatan
ekonomi terjadi di kawasan ini.
Namun, sebenarnya tidak ada yang berubah dari APEC. Inilah forum
sukarela bagi negara-negara kawasan yang ingin dapat kemudahan masuk
ke pasar negara lain, memarkir uang dengan harapan jaminan keuntungan
sebesar-besarnya. Juga kesempatan bagi pakar dan praktisi mereka
membuka ladang pekerjaan di negara-negara yang daya belinya
bertumbuh. Wajar bahwa jargon growth alias pertumbuhan diulang-ulang
dalam forum ini. Sebab, tanpa kerelaan negara-negara anggota membuka
segala kemudahan itu, indikator pertumbuhan ekonomi mereka sulit
tumbuh karena pasar domestiknya terbatas atau sedang lesu.
Perlu diwaspadai
Hal yang perlu diwaspadai adalah—karena dalam mencari pertumbuhan
tadi—negara-negara anggota APEC mengedepankan penurunan hambatan
tarif secepat-cepatnya dan sampai sekecil-kecilnya. Padahal rata-rata dari
mereka menerapkan hambatan nontarif dan mencari peluang
menghidupkan perekonomiannya sendiri, seperti dengan menjual
teknologi dan jasanya. Ambil contoh Rusia. Alasan mereka masuk APEC
adalah menjamin kelancaran pasokan pangan dan mendukung konsep blue
economy. Padahal, mereka menerapkan syarat standar mutu dan keamanan
makanan sambil menawarkan teknologinya, termasuk untuk pengawasan
kelautan seperti radar dan sistem navigasi.
AS mengaku ingin menurunkan tarif barang masuk ke AS, tetapi kalaupun
tarif mereka direndahkan, daya beli masyarakat AS sedang rendah, standar
mutu untuk produk asing sangat tinggi, dan mereka mendesakkan
teknologi konservasi lingkungan untuk ”membantu” produk kita.
Negara kota seperti Hongkong, Singapura, juga Taiwan dan Brunei pun
getol minta penurunan tarif karena mereka memang hidup dari berdagang
dan menyediakan jasa, termasuk layanan logistik. Tak dimungkiri, negara-
negara kecil tersebut pandai bersilat lidah dan kebijakan supaya ekspor
dari negara-negara besar mampir dulu ke mereka sebelum diteruskan ke
negara lain. Tujuannya jelas: pencatatan devisa masuk juga ke buku
perdagangan mereka.
Dinna Wisnu Halaman 250

Secara prinsip, keterlibatan di APEC tak bisa dihindari karena Indonesia


perlu menekan negara-negara lain untuk menurunkan segala bentuk
hambatan kerja sama ekonomi. Akan tetapi, keuntungan hanya bisa diraup
jika pemerintah lebih siap menghadapi tekanan kala negosiasi, industri di
Indonesia hidup dan terorganisasi dengan baik, para investor kita mau
agresif masuk mencari peluang ke negara-negara lain, dan para konsumen
di Indonesia jeli. Kombinasi ini semua yang lemah.
Adapun yang kita hadapi saat ini adalah AS, sekutunya, serta negara-
negara kota yang kompak mendesakkan Kawasan Perdagangan Bebas
Asia Pasifik (FTAAP) yang intinya tak jauh dari Trans Pacific
Partnership. Mereka ingin garansi agar perusahaan asing dijamin
keuntungannya oleh pemerintah dan bahwa tak ada sektor yang
dikecualikan untuk diturunkan tarifnya. Di sisi lain, negara-negara APEC
adalah penyumbang 60 persen produk ramah lingkungan, meskipun kita
tahu bahwa spesialis produk jenis ini baru terbatas pada AS, China, Korea
Selatan, Jepang, Taiwan, Singapura, dan Meksiko.
Kepentingan utama Indonesia adalah memastikan kesepakatan informal
dengan APEC ini tidak menyudutkan produk-produk ekspor andalan
Indonesia, membantu investor Indonesia mendapat kemudahan berbisnis
di negara anggota APEC, dan memperkuat kinerja industri mikro, kecil,
dan menengah dalam persaingan yang mengedepankan standar mutu dan
produksi massal demi harga murah. Harus disadari, prinsip standardisasi
produk, peningkatan skala ekonomi, dan pemberian hak paten adalah hal
utama yang harus dikejar untuk produk UKM. Selama ini tidak ada
pembinaan pemerintah yang berarti untuk memformalisasi kegiatan
ekonomi UKM: rata-rata UKM pakai sistem gali lubang tutup lubang dan
tak punya keahlian produksi massal karena kurang modal.
Selain itu, kita perlu waspadai konsekuensi negosiasi pada sektor industri
minyak sawit dan karet. Sektor ini diminta pemerintah untuk diakui
sebagai sudah berstandar ramah lingkungan, padahal kenyataannya
separuh dari produsen di sektor ini adalah petani rakyat dengan skala
produksi dan modal yang kecil. Jangankan pencatatan pemenuhan mutu,
untuk pestisida dan alat-alat pertanian pun masih seadanya. Secara realistis
sulit kita minta pengakuan ramah lingkungan yang menyeluruh untuk dua
produk tersebut, kecuali lembaga sertifikasi kita menjamin jangkauannya
sampai ke petani terkecil sekalipun.
Negosiator harus jeli
Selain itu, perlu diperhatikan implikasi negosiasi APEC pada daya saing
produk gas alam, batubara, logistik (termasuk jasa pelabuhan,
penerbangan, dan konektivitas antarpulau dan antar-kawasan), teknologi
informasi, pendidikan, jasa kesehatan, industri kreatif, industri makanan
Dinna Wisnu Halaman 251

dan minuman, properti, perbankan, pariwisata, semen, dan petrokimia.


Inilah sektor yang cukup diandalkan di Indonesia, tapi belum kuat untuk
bersaing bebas.
Pengembangan teknologi informasi, pendidikan, dan logistik belum
terpadu dengan perkembangan industri besar. Birokrat kita belum bisa
membangun sistem terpadu yang serba tercatat secara online dan rutin
memanfaatkan hasil penelitian lembaga pendidikan. Sementara itu, daya
beli konsumen yang meningkat justru sudah dimanfaatkan oleh investor
dan operator asing.
Artinya, para negosiator APEC harus lebih jeli karena beban kita adalah
banyaknya pekerjaan rumah kementerian yang tidak dikerjakan dengan
baik. Padahal swasta Indonesia masih sangat bergantung pada arahan dan
subsidi pemerintah. Melepas swasta kita kepada mekanisme pasar yang
diminta APEC sama saja bunuh diri, apalagi birokrat yang mendampingi
tidak menguasai medan. Paling yang bisa diperjuangkan adalah bahwa
negara-negara yang mau mengimpor barang dan jasa dari Indonesia akan
menerima insentif pengaturan logistik yang murah dan efisien. Biarkan ini
menjadi pecut bagi BUMN dan kementerian terkait untuk merapikan
sistem logistik dan meningkatkan daya saing produk Indonesia.
Sumber: KOMPAS, 04 Oktober 2013
Dinna Wisnu Halaman 252

Beda Tipis Kepercayaan dan Ketidakpercayaan


Minggu ini dan beberapa minggu ke depan topik korupsi tampaknya akan
terus mengemuka dalam diskusi publik. Fokusnya pada Mahkamah
Konstitusi (MK) dan para hakimnya yang ternyata tidak imun korupsi.
Suasananya mirip dengan kejadian “cicak vs buaya” beberapa tahun lalu
yang melibatkan beberapa pejabat tinggi di kepolisian, pengusaha, dan
pengacara yang melakukan persekongkolan untuk melakukan tindakan
penyuapan. Yang menarik adalah perasaan masyarakat dan sejumlah elite
yang merasa sangat terpukul dan dikhianati. Mantan Ketua MK Jimmly
Asshidiqie menuntut hukuman seberat-beratnya untuk Ketua MK Akil
Mochtar yang tertangkap basah menerima suap, yaitu hukuman mati.
Adnan Buyung dan beberapa tokoh meminta delapan hakim tersisa untuk
mengundurkan diri agar kehormatan MK dapat kembali lagi di mata
publik. Hal yang tidak kalah menarik adalah reaksi cepat Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) yang segera menggelar rapat dan
mengeluarkan sejumlah rekomendasi. Mengingat bahwa ini tahun politik,
reaksi SBY tersebut di luar dugaan.
Tertangkapnya Akil Mochtar yang waktu itu menjabat sebagai ketua MK
dan “bumbu” informasi seputar temuan dan dugaan yang menjerat Akil
seolah-olah menempatkan negara inimenujukiamat karenakorupsi. Para
pengamat politik mengkhawatirkan bakal akan ada kekacauan nasional
karena ketidakpercayaan publik terhadap MK dalam menyelesaikan
perselisihan pilkada. Maklum, untuk tahun ini saja, ada 138 pilkada yang
telah berlangsung dan 111 di antaranya disengketakan dan masuk ke MK.
Kekhawatiran itu dapat diterima.
Namun kita perlu menggunakan momentum ini untuk bergerak lebih jauh
lagi mendiskusikan hal-hal yang bersifat fundamental dan prinsipil
ketimbang hal-hal yang sifatnya teknis. Sebelum kita bicara tentang
apakah perlu atau tidak perlu perppu untuk mengawasi MK atau siapa
yang punya wewenang untuk mengawasi MK, kita perlu bertanya apakah
upaya untuk mengembalikan kepercayaan kepada MK telah membuat
negatif elemen ketidakpercayaan sebagai sesuatu yang tidak boleh ada.
Ketidakpercayaan publik terhadap institusi negara adalah juga bagian dari
demokrasi. Jika tidak ada ketidakpercayaan, perjuangan untuk
melengserkan Presiden Soeharto dari singgasana Orde Baru tidak akan
terjadi. Ketidakpercayaan terhadap partai politik adalah faktor yang
mendorong masyarakat untuk menguatkan diri melalui organisasi-
organisasi masyarakat sipil dan melakukan pemberdayaan politik.
Dinna Wisnu Halaman 253

Ketidakpercayaan itu yang juga mendorong masyarakat untuk membela


KPK turun ke jalan pada saat kasus “cicak vs buaya”. Ketidakpercayaan
terhadap lembaga publik pada akhirnya akan membersihkan lembaga-
lembaga negara dan mencapai titik di mana kepercayaan dan
ketidakpercayaan relatif berjalan seimbang. Tidak ada kepercayaan dan
ketidakpercayaan yang penuh 100%.
Kepercayaan yang total kepada negara dapat mengundang fasisme,
sementara ketidakpercayaan yang total terhadap negara dapat
menimbulkan civil disobedience (pembangkangan sipil). Keseimbangan
antara kepercayaan dan ketidakpercayaan kepada lembaga negara
bukanlah sebuah keadaan yang permanen. Amerika Serikat (AS) yang
telah kuat sistem peradilannya dan sangat menjunjung tinggi liberalisme
pun tidak kebal dengan godaan-godaan korupsi atau pelanggaran etika.
Contohnya kasus hubungan asmara antara Presiden Bill Clinton dan
Monica Lewinsky yang sempat menimbulkan kegemparan nasional, kasus
sengketa pilpres antara George Bush Jr dengan Al-Gore di MK yang
masih menyisakan kecurigaan akan adanya kecurangan dalam
penghitungan suara, bahkan ada beberapa hakim federal di sana yang
terlibat skandal penyuapan, seks, atau korupsi seperti Thomas Porteous
dan Samuel B Kent. Kasus serupa bahkan lebih banyak ditemukan di
kalangan pejabat eksekutif dan legislatif di AS.
Artinya, kita harus ingat bahwa kasus korupsi ini harus membuat kita
berdiskusi akan gagasan tata kelola republik ini, apakah para pejabat kita
punya mentalitas kongkalikong dan pemeras. Upaya mengembalikan
kesakralan dan kepercayaan kepada MK jangan pula dipisahkan dari fakta
bahwa penyuapan terhadap pejabat publik dilakukan setiap hari di tengah
masyarakat, mulai dari pembuatan KTP, proses menyekolahkan anak, calo
CPNS, pembuatan SIM, biaya siluman dalam praktik usaha, bahkan untuk
pemakaman jenazah.
Istilah kegiatan ini di kalangan aktivis antikorupsi adalah petty bribery.
Istilah ini dikritik karena menyepelekan signifikansinya secara politik dan
ekonomi. Bohórquez dan Devrim dari lembaga Transparency International
mengatakan bahwa praktik penyuapan yang sulit dihindari rakyat kecil
kepada pejabat publik punya nilai agregat sangat besar. Pembayaran yang
dilakukan masyarakat untuk mendapatkan akses pelayanan publik sangat
memengaruhi standar kehidupan masyarakat kecil.
Jumlah yang dibayarkan dapat sangat besar dilihat dari persentase
pendapatan mereka per hari. Praktik petty bribery ini erat kaitannya
dengan tata kelola sistem ekonomi dan politik yang sangat korup. Para
pejabat publik di tingkat bawah mengutip bayaran dari rakyat, lalu kutipan
itu dikutip lagi oleh pejabat di atasnya dan seterusnya hingga puncak
Dinna Wisnu Halaman 254

jabatan yang paling tinggi. Sistem korup ini juga yang menjadi jembatan
atau tangga para pejabat publik menjalani kariernya sampai akhirnya
menduduki posisi yang paling tinggi.
Eksperimen lelang jabatan yang dilakukan Jokowi-Ahok dan kemudian
diikuti lembagalembaga lain adalah upaya untuk menahan laju para
pejabat karier yang korup. Upaya ini harus diapresiasi dengan memberikan
perlindungan kepada pejabat baik yang menang lelang supaya mereka
terbebas dari konspirasi jahat yang hendak menggagalkannya. Cara ini
adalah contoh jalan agar antara rasa percaya dan tidak percaya kepada
institusi negara tetap seimbang sehingga pelayanan publik ke masyarakat
dapat berjalan.
Tugas untuk menduplikasinya atau membuatnya menjadi massal ke
seluruh provinsi dan institusi tidak dapat dilakukan oleh hanya dengan
mengganti seorang gubernur, presiden, ketua KPK atau ketua MK. Secara
politik, partai pun punya kewajiban karena mereka yang diberi akses dan
wewenang untuk melakukan perubahan kebijakan publik dengan desakan
dari masyarakat sipil.
Sumber: KORAN SINDO, 09 Oktober 2013
Dinna Wisnu Halaman 255

Diplomasi Olahraga
Saya bukan penggemar sepak bola, bahkan siswa sekolah dasar akan lebih
tahu aturan pertandingan sepak bola dibandingkan saya. Namun
mendengar gemuruh sorak-sorai tetangga yang menyaksikan pertandingan
antara Indonesia dan Korea Selatan di Kualifikasi Piala Asia U-19
mendorong saya untuk beralih ke channel TV yang menayangkan
pertandingan tersebut. Saya setuju dengan pendapat para tuips bahwa
pertandingan malam itu lebih berbobot dibandingkan dengan pertandingan
sepak bola tim Indonesia yang pernah saya saksikan. Penonton seperti
mendapat energi dan harapan baru tentang Indonesia.
Setelah sekian lama terpuruk, masyarakat cenderung takut untuk berharap
akan prestasi sepak bola. Tambahan lagi segala skandal dan kisruh
persepakbolaan yang masih saja belum selesai. Keadaan macam ini sangat
berbanding lurus dengan kondisi politik yang juga sarat skandal, praktik
kecurangan, bahkan korupsi. Bisa disimpulkan kekisruhan di lapangan
sepak bola adalah cerminan dari kekisruhan di lapangan politik.
Tak mengherankan, banyak pihak yang berharap pemain Indonesia muda
yang tergabung dalam Garuda Jaya dijauhkan dari tangan-tangan politik
dan pasar yang mencoba menunggangi keberhasilan tim tersebut.
Masyarakat menganggap kemurnian pemain muda itu dari politik dan
pasar adalah faktor yang membawa kemenangan dalam setiap
pertandingan. Politik dan godaan bintang iklan dianggap sebagai sumber
masalah prestasi sepak bola. Namun, politik dan olahraga sesungguhnya
bisa saling mengisi dan menguntungkan negara.
Keberhasilan tim olahraga dapat menjadi alat untuk membangun imej atau
citra sebuah rezim dan suatu bangsa. Di Argentina, sepakbola
menjadisalahsatucara untuk mendorong rasa cinta Tanah Air di bawah
pemerintahan Juan Peron. Sejumlah pengamat mengatakan cara itu sangat
penting karena Argentina di masa itu didominasi para imigran yang datang
dari Spanyol, Inggris, dan Eropa. Rezim saat itu bahkan membuat film
dengan judul Pelota de trapoyang menceritakan seorang pemain sepak
bola yang memilih mati gagal jantung di lapangan ketika bertanding
melawan Brasil di final Copa America daripada beristirahat di rumah.
Dalam kenyataannya, Argentina memang menjuarai Copa America
beberapa kali dan selalu masuk tiga besar. Secara politik, dampaknya
adalah sokongan yang kuat terhadap rezim Peron yang mampu memimpin
Argentina selama tiga periode. Argentina juga merebut kembali harga diri
mereka melalui sepak bola setelah kalah perang dengan Inggris pada saat
Dinna Wisnu Halaman 256

Perang Falklands/Malvinas pada 1983. Pemain yang paling berjasa untuk


mengembalikan harga diri negara tidak lain adalah Diego Maradona.
Maradona membawa tim nasional Argentina memenangi eventPiala Dunia
untuk kedua kalinya di tahun 1986. Maradona hingga kini masih sangat
dihormati para pencinta sepak bola, khususnya di Argentina. Bahkan para
penggemarnya mendirikan Maradonian Church dengan pengikut yang
diperkirakan mencapai 100.000 orang dari berbagai negara. Banyak pula
orang yang kemudian berharap Lionel Messi akan menggantikan
Maradona sebagai legenda sepak bola di Argentina, sayangnya Messi
dianggap lebih Catalan ketimbang Argentina.
Messi tidak pernah main di liga lokal Argentina kecuali saat masuk
sekolah bola di umur 8 tahun. Messi dan Maradona memang memiliki
keterampilan yang sama, tetapi pilihan politik dan karakternya sangat
kontras. Messi dianggap sebagai ”anak manis” ketimbang Maradona yang
”pemberontak”. Semakin Maradona memberontak, semakin ia dicintai
penggemarnya di Argentina. Walaupun tidak (belum) menjadi legenda di
Argentina, Messi telah banyak berjasa membangun imej Catalonia sebagai
sebuah negara olahraga melalui FC Barcelona.
Catalonia adalah sebuah wilayah otonomi khusus di Spanyol yang
memiliki pemerintahan sendiri. Ia seperti negara di dalam negara, tetapi
tidak punya kuasa untuk melakukan diplomasi luar negeri. Beberapa kali
survei diadakan untuk mengukur keinginan untuk memisahkan diri dari
Spanyol dan hasilnya sebanyak 40–50% penduduk setuju agar Catalonia
berdiri sendiri. Catalonia melakukan soft-power diplomacy untuk
memperoleh pengakuan politik internasional melalui olah raga.
Soft-power sebagai konsep dikembangkan Joseph Nye untuk membantu
pengambil keputusan di Amerika dalam memahami peranan yang
mungkin dikembangkan mengingat keterbatasan penggunaan hard-power
yang muncul pasca- Perang Dingin. Soft-power didefinisikan sebagai
kemampuan persuasi di mana satu pihak dengan cara damai meyakinkan
pihak lain untuk melakukan apa yang diinginkannya. Intinya, soft-power
mengedepankan kekuatan ide-ide normatif, citra positif dari suatu negara,
yang pada akhirnya membuat negara lain tertarik untuk melakukan kerja
sama atau melakukan apa yang diminta pada negara lain.
Dalam dunia diplomasi, ada studi-studi yang memantau keampuhan tim
olahraga dalam mengambil hati negara lain (Gregory Payne 2009, Nygard
dan Gates 2013), bahkan hal itu juga berlaku untuk negara yang paling
sulit seperti Korea Utara. Bayangkan kelebihan yang dimiliki Indonesia
jika persepakbolaan dan tim olahraga kita yang lain jaya. Ini cara yang
sangat ampuh memperkenalkan Indonesia karena rata-rata organisasi
olahraga internasional hanya mengakui keanggotaan berdasarkan negara.
Dinna Wisnu Halaman 257

Hal itu yang tidak bisa dilakukan oleh Catalonia yang ingin
menginternasionalisasi diri dengan memperkuat FC Barcelona sebagai
duta utama Catalonia. Meskipun secara statistik 2/3 dari penduduknya
rajin berolahraga dan sangat ingin memiliki tim olahraga nasional sendiri
yang terpisah dari Spanyol, mereka tak bisa mencapai keinginan tersebut
karena alasan persyaratan organisasi olahraga internasional tadi. Namun,
Barca tetap menjadi simbol nasionalisme dan identitas negara Catalonia.
Perjalanan pertandingan persahabatan Barca ke beberapa negara Asia
bertujuan mempromosikan turisme di Catalan dan terbukti 50% turis yang
datang ke Spanyol menghabiskan waktunya di Catalonia. Olahraga adalah
alat persuasi yang terbukti cukup ampuh untuk membangun kepercayaan
dan dialog yang buntu. Contohnya Amerika dan China yang pernah
melakukan ping pong diplomacytahun 1971 atau negara-negara yang
berebut menyelenggarakan Olimpiade.
Catatannya adalah bahwa olahraga adalah alat untuk memperkenalkan
keunggulan normatif suatu negara dan bangsa. Jadi, ketika prestasi
olahraga Indonesia unggul, citra positif apa yang akan tertangkap oleh
bangsa lain? Jika yang tertangkap justru citra negatif, kontribusi dari
prestasi itu sangatlah terbatas. Apakah para pemimpin politik Indonesia
mau membangun ranah olahraga kita dengan serius?
Apakah para pemimpin politik Indonesia siap memproyeksikan citra
positif politik Indonesia yang beretika dan profesional ketika nama baik
Indonesia melambung di dunia olahraga? Semoga politisi kita insaf untuk
tidak sekadar ”memetik” keberhasilan dan mau mulai ”menanam” dengan
tekun.
Sumber: SINDO, 16 Oktober 2013
Dinna Wisnu Halaman 258

Riil Dinasti Politik


Minggu lalu saya dan Faisal Basri, pengamat ekonomi kenamaan dan guru
saya, berkunjung ke Bangkok, Thailand, untuk menghadiri workshop yang
diselenggarakan Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik
(UNESCAP). Ada cerita menarik tentang diskusi UNESCAP, tetapi kali
ini saya ingin berbagi oleh-oleh dari kegiatan menelusuri jalan dan pusat
keramaian di Bangkok, kota yang pada 1970–1980-an menjadi salah satu
pusat perkulakan utama untuk pedagang di Tanah Air. Yang paling
menarik bagi kami berdua adalah bagaimana pusat-pusat perdagangan dan
turisme ditata untuk berpihak kepada rakyat kecil dan bukannya kepada
perusahaan franchise asing. Hanya sejumlah kecil mal menjual produk
bermerek sekelas Louis Vuitton dan McDonald.
Kebanyakan mal ber- AC justru berisi pedagang lokal yang menjual
produk buatan Thailand. Ada mal yang tutup pukul 19.00 karena setelah
itu para pedagang kaki lima di depan mal mendadak lebih ramai. Tak
mengherankan, produk produsen kecil di sana terdongkrak ke pasar
internasional! Kami juga mencermati betapa cerdasnya ide pembuatan
Asiatique Night Market di pinggir Sungai Chao Phraya, kagumpada
keterpaduan rencana pemerintah untuk menjadikan Bangkok sebagai
tempat liburan yang ramah untuk keluarga, bahkan keluarga berkantong
paspasan sekalipun.
Pemerintah menyubsidi para turis untuk menikmati keindahan Chao
Phraya dengan perahu motor sederhana berkapasitas 50-an orang yang
gratis. Singkat kata, perkembangan kota ini mengagumkan mengingat
badai politik yang belum sepenuhnya berlalu antara kelompok masyarakat
yang didukung militer dan kelompok yang didukung keluarga Thaksin.
Kelompok Kaus Kuning (yang didukung militer) kadang-kadang masih
berunjuk rasa di Kota Bangkok untuk menuntut mundur sang Perdana
Menteri Yingluck Shinawarta yang adalah adik kandung Thaksin
Shinawatra.
Thaksin adalah Perdana Menteri Thailand tahun 2001 yang dipreteli
kekuasaannya oleh militer seusai memberikan pidato di markas PBB tahun
2006. Kini Yingluck mampu meletakkan Thailand di peringkat ke-38
negara kompetitif di dunia dalam waktu 3 tahun (2010–2013).
Perkembangan ekonomi Thailand dan dominasi kekuasaan keluarga
Shinawatra membuat saya teringat tentang istilah “dinasti politik” yang
mendadak ramai dibicarakan di Tanah Air. Istilah ini menjadi marak
ketika Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, adik Ratu Atut Chosiyah,
Gubernur Banten, tertangkap KPK untuk kasus suap Ketua Mahkamah
Konstitusi(MK) Akil Mochtar.
Dinna Wisnu Halaman 259

Dari sana terungkap ada sekitar 56 kepala daerah di seluruh Indonesia


yang melakukan praktik politik dinasti. Demikian info dari Menteri Dalam
Negeri Gamawan Fauzi. Ujung dari pembahasan di media adalah
pemikiran untuk membatasi keterlibatan anggota keluarga dalam politik
dan untuk mengembalikan lagi fungsi DPRD dalam memilih kepala
daerah sehingga kepala daerah tidak lagi dipilih langsung. Mari kita cek
penggunaan istilah dinasti politik dan apakah dinasti politik itu baik atau
buruk bagi demokrasi dan pembangunan negeri.
Istilah dinasti politik atau politik dinasti dimengerti sebagai praktik
membangun kekuasaan yang menggurita oleh sejumlah orang yang masih
memiliki kaitan kekerabatan. Dalam kasus Atut, istilah tadi bahkan
distempel konotasi buruk, yakni kekuasaan kekerabatan yang cenderung
koruptif dan melambatkan pencapaian kesejahteraan masyarakat. Secara
riil, dampak dinasti politik sangat tergantung dari konteks sejarah negara
masing-masing dan relasi sosial yang berkembang bersamaan dengan
tumbuhnya dinasti politik.
Ambil contoh keluarga besar Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang tradisi
turun-temurun dalam keluarganya adalah untuk bersentuhan dengan
urusan moral sosial dan keagamaan serta tak sedikit pula anggota keluarga
mereka yang berpolitik walaupun terkadang tidak terelakkan saling
berbeda pandangan. Mungkin masih banyak lagi keluarga besar di negeri
ini yang terlibat politik karena habitus, karena nilai-nilai yang ditanamkan
dalam keluarga sejak kecil, sebagaimana didefinisikan Bourdieu.
Saya melihat dinasti politik adalah sisa dari praktik politik Orde Baru.
Richard Robison dalam karyanya Indonesia: The Rise of Capital (1986)
menjelaskan tentang proses pembentukan modal kapitalisme di Indonesia
dan kelas-kelas yang mengiringinya. Berbeda dengan perkembangan
kapitalisme di Eropa, kapitalisme di Indonesia tumbuh karena dicangkok
melalui proses penjajahan Pemerintah Hindia Belanda. Sistem tanam
paksa menjadi awal masuknya Indonesia dalam siklus sistem kapitalisme
global.
Kelas borjuasi di Indonesia tumbuh bukan karena hasil keringat sendiri,
melainkan karena pembagian lisensi kekuasaan oleh negara. Pada masa Orde
Baru, praktik tersebut berkembang lebih mendalam dan luas menyusul
penguasaan politik oleh kaum militer dan ditumpas habisnya gerakan kiri dan
ditekannya kelompok nasionalis. Kapitalis domestik tidak hanya menikmati
uang dan jabatan negara, tetapi juga mendapatkan perlindungan politik dalam
menghadapi pesaing maupun protes yang muncul dari masyarakat (seperti
gerakan buruh dan petani).
Orde Baru menciptakan sebuah negara patrimonial, negara yang didasarkan
atas loyalitas pada power yang bersumber dalam tokoh politik tertentu. Dalam
Dinna Wisnu Halaman 260

birokrasi sipil maupun militer, lahirlah eliteelite baru yang umumnya berbasis
kekerabatan dan pertemanan hingga saat ini. Para pejabat birokrasi mungkin
saja mengikuti seleksi, tetapi kehadiran dukungan dari kerabat di jabatan
tinggi tertentu tentu punya nilai lebih. Bayangkan saja Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY), jika ia tidak menikahi putri Jenderal Sarwo
Edhie Wibowo yang adalah pejabat militer Orde Baru, nasibnya tentu akan
berbeda.
Sama halnya dengan Mayor Infanteri Agus Yudhoyono yang belum tentu
menerima penghargaan alumnus muda berbakat dari Nanyang Technological
University Singapura jika ia hanya perwira biasa dan bukan anak dari pejabat
yang dianggap bisa berpengaruh di kawasan. Apalagi ketika kerabat Sarwo
Edhi Wibowo/ Yudhoyono bersatu dengan kerabat Hatta Rajasa. Dalam
perjalanannya, elite Orde Baru ada juga yang “jatuh”, tetapi tidak sedikit yang
mampu bertahan. Gerakan Reformasi 1998 telah mendorong liberalisasi dan
mengurangi peran negara dalam ekonomi.
Infrastruktur demokrasi modern telah dirancang, misalnya dengan melakukan
pemisahan kekuasaan ala trias politika (yudikatif, legislatif, dan eksekutif),
melakukan desentralisasi kekuasaan, memisahkan kekuasaan moneter dan
fiskal, mengundang modal swasta asing untuk meningkatkan persaingan di
dalam negeri, dll. Meski demikian pembangunan infrastruktur politik baru itu
tidak sepenuhnya menghapus praktik politik ala Orde Baru. Reformasi telah
memindahkan kekuasaan yang dulu terpusat menjadi lebih terdistribusi di
antara kekuasaan trias politika. Istilah yang popular saat ini adalah politik
oligarki, yaitu pemusatan kekuasaan pada segelintir anggota DPR, eksekutif,
dan yudikatif yang saling kongkalikong.
Karena kondisi itu, dibutuhkan koordinasi atau kerja sama dengan jaringan
yang dibentuk pada masa Orde Baru atau jaringan baru yang timbul seiiring
dengan banyaknya pemain baru lewat partai-partai. Kasus dinasti Ratu Atut
perlu diletakkan dalam konteks ini dan dinasti Ratu Atut bukanlah satu-
satunya jaringan yang kita kenal. Kita pernah mendengar misalnya keluarga
Cendana sebagai bagian dari jaringan keluarga, jaringan organisasi
mahasiswa (HMI, CGMI), jaringan etnis (Jawa, Makassar, Chinese), jaringan
militer, dan jaringan-jaringan lain yang bermain di tingkat lokal. Jaringan
tersebut yang mengelola hubungan bisnis dan politik dalam bentuk oligarki.
Membuat peraturan untuk membatasi keterlibatan anggota keluarga dalam
politik mungkin dapat memuaskan rasa kekecewaan kita, tetapi belum
menjamin oligarki itu hilang. Satu-satunya cara adalah dengan terus-menerus
mendukung penguatan demokrasi dan mengorganisasi diri sebagai anggota
masyarakat sipil untuk terus mengawasi jalannya pemerintahan yang ada.
Sumber: SINDO, 23 Oktober 2013
Dinna Wisnu Halaman 261

Jaringan Politik Kekerabatan


Menjelang Pemilu 2014, lagi-lagi polemik politik kekerabatan, yang
dipopulerkan dengan istilah politik dinasti, muncul ke permukaan. Kasus
dinasti keluarga Atut dari Banten menjadi momok yang mendorong
sejumlah pihak untuk menetapkan pembatasan syarat jabatan untuk kepala
daerah melalui RUU Pilkada.
Coba kita letakkan polemik itu dalam proporsinya. Politik kekerabatan
sesungguhnya dipraktikkan di banyak negara, tidak hanya di negara
berkembang, tetapi juga di negara maju. Di Amerika Serikat, kita kenal
dinasti Kennedy dan George Bush. Sebelum itu, ada juga John Adams
(presiden kedua AS) yang putranya, John Quincy Adams, menjadi
presiden keenam AS.
Ada pula Franklin Delano Roosevelt (presiden ke-32 AS) yang adalah
sepupu Theodore Roosevelt (presiden ke-26 AS). Roosevelt sendiri
dikatakan memiliki hubungan kekerabatan dengan 11 presiden: 5
berdasarkan hubungan darah dan 6 lain karena pernikahan.
Dinasti Politik dan Partai
Asia mungkin surganya dinasti politik di mana banyak kepala
pemerintahan punya hubungan kekerabatan dengan pemimpin
sebelumnya. Di ASEAN, kita temukan itu di Singapura (keluarga Lee), di
Malaysia (keluarga Razak), di Thailand (keluarga Shinawatra), di Filipina
(keluarga Marcos dan Aquino), serta di Indonesia (keluarga Soekarno).
Selain istilah dinasti politik, ada pula istilah dinasti partai. Istilah ini
merujuk pada partai-partai yang dibangun dengan mengandalkan
ketokohan atau nama yang sudah cukup dikenal. Istilah ini sering dipakai
dalam menganalisis situasi politik di India dan negara-negara di Asia
Selatan. Contohnya: Partai Kongres di India yang sangat mengandalkan
nama Gandhi untuk menjalankan partainya. Partai ini menempatkan
beberapa keluarga Gandhi sebagai pemimpin partai dan juga perdana
menteri. Tidak hanya Partai Kongres, ada 12 dari 62 partai lain yang
tersebar di beberapa negara bagian India menganut partai dinasti.
Di Pakistan ada People’s Party yang dipimpin keluarga Bhutto. Sesaat
setelah Benazir Bhutto terbunuh, partai memutuskan bahwa penggantinya
adalah anak tunggalnya, yakni Bilawal Bhutto Zardari. Namun, karena
belum cukup umur dan belum tamat sekolah, sang ayah, Asif Ali Zardari,
menjadi co-chairman dan menjalankan keputusan partai sehari-hari hingga
sang anak cukup umur.
Dinna Wisnu Halaman 262

Contoh-contoh itu menggambarkan betapa jamaknya kekuasaan politik


yang diwarnai hubungan kekeluargaan atau kekerabatan. Namun, kita tak
bisa lantas mengatakan keluarga itu melakukan politik dinasti atau dinasti
politik. Berkuasanya keluarga Bush dari Partai Republik adalah melalui
sebuah proses seleksi partai ketat. Walaupun Bush Jr dianggap tidak
punya kewibawaan atau kecerdasan seperti ayahnya, ternyata ia berhasil
lolos seleksi partai dan bahkan berkuasa selama dua periode.
Dalam kasus dinasti partai di India, Pradeep Chhibber (2011) mengatakan
dua hal yang memengaruhi sebuah partai berubah menjadi partai dinasti.
Pertama adalah ketika partai tidak memiliki dukungan organisasi massa
independen yang mampu memobilisasi suara atau tidak memiliki prosedur
demokratis di dalam partai. Partai yang tidak punya organisasi massa
umumnya mengandalkan ketokohan sebagai brand name dan menunjuk
pengurus partai atas dasar kekuasaan yang dimilikinya itu.
Kedua adalah ketika keuangan partai bersifat ilegal dan dikuasai secara
sentralistik oleh pemimpin partai. Dalam kondisi seperti itu, transaksi
politik yang terjadi akan menciptakan defisit keterwakilan partai atas suara
masyarakat yang memilihnya.
Kasusnya beda dengan di Filipina, karena dinasti politik di sana
berkembang dan bertahan akibat langgengnya sistem patron dari segelintir
keluarga kaya yang pernah dihadiahi tanah oleh penjajah Spanyol. Pada
masa itu, Spanyol menggunakan metode bagi lahan untuk menciptakan
loyalitas kepada pimpinan yang dicangkok oleh Spanyol sambil
melakukan konsolidasi horizontal dari tiap tuan tanah yang dilindungi oleh
Spanyol tadi.
Karena tidak pernah ada terobosan land reform (reformasi kepemilikan
lahan), maka kekuasaan para tuan tanah berakumulasi terus dan mereka
kemudian mendirikan partai-partai politik. Partai politik di Filipina sangat
rentan didikte oleh segelintir keluarga dan sering kali antarkeluarga
bekerja sama untuk memenangi kekuasaan. Filipina memang meloloskan
UU Antidinasti Politik, tetapi keefektifan UU tersebut dipertanyakan
karena struktur masyarakatnya tak berubah.
Politik Dinasti di Indonesia
Di Indonesia, politik kekerabatan dapat ditelusuri dari zaman Orde Baru
dan Reformasi. Periode Orde Baru ditandai hadirnya patrimonial state, di
mana negara berperan besar melahirkan kepentingan bisnis tertentu
dengan memanfaatkan fasilitas negara termasuk akses terhadap modal.
Pengorganisasian ala kongkalikong ini dapat dilakukan oleh berbagai
jaringan yang juga mewakili kekuatan politik. Misalnya lewat jaringan
Dinna Wisnu Halaman 263

keluarga, jaringan militer, jaringan Golkar (sebelum menjadi partai),


jaringan himpunan kemahasiswaan, jaringan keagamaan, dan lain-lain.
Pada periode Reformasi, liberalisasi ekonomi dan demokrasi telah
mengurangi peran pemerintah pusat, tetapi tercipta sentra-sentra
kekuasaan baru yang lebih tersebar dengan jaringan yang semakin
beragam, tetapi sulit ditembus masyarakat awam. Sejumlah pengamat
menyebut tren ini sebagai oligarchic state karena jejaring kekuasaan ini
berhasil mengakali mekanisme kompetisi yang fair.
Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa jaringan politik kekerabatan tidak
akan hancur hanya karena suatu UU. Kita harus memperhatikan faktor
sosiologis dan historis, apalagi karena akan ada saja jaringan lain yang
siap menggantikan dinasti yang tersingkir. Satu hal yang mampu
memberikan jaminan akan kompetisi yang fairdalam politik (maupun
bisnis) adalah jika birokrasi yang menggawangi proses seleksi politik
(maupun ekonomi) bersikap profesional, transparan, dan akuntabel.
Saat ini KPK sudah berhasil membongkar beberapa jaringan yang
berusaha menggembosi wibawa negara, tetapi hal ini harus terus
dilanjutkan untuk membongkar semua jaringan yang berpotensi
memenjarakan Indonesia dalam pola oligarki.
Sumber: KOMPAS, 29 Oktober 2013
Dinna Wisnu Halaman 264

Mencari Strategi Pengupahan


Kemarin dan hari ini serikat-serikat buruh akan melakukan unjuk rasa
untuk menuntut perbaikan kesejahteraan. Serikat buruh di beberapa
wilayah seperti di Kawasan Berikat Nusantara Cakung sudah melakukan
”aksi pemanasan” menjelang aksi besar tanggal 31 Oktober nanti.
Tuntutan mereka antara lain kenaikan upah minimum 50% atau Rp3,7 juta
untuk mereka yang bekerja di Jakarta, penghapusan outsourcing, dan
pelaksanaan jaminan sosial. Permintaan mereka sama dengan tuntutan-
tuntutan yang pernah diajukan beberapa tahun lalu. Meskipun beberapa
serikat buruh lain menyatakan tidak akan mengikuti aksi unjuk rasa ini,
dampak yang ditimbulkan dari aksi ini tetap signifikan.
Banyak pihak yang mendukung, tetapi juga banyak yang menolak aksi
unjuk rasa ini. Pihak yang mendukung mengatakan bahwa tuntutan buruh
sudah sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan. Harga-harga barang
pokok seperti makanan telah naik sangat signifikan. Makanan yang sehari-
hari dianggap sebagai makanan rakyat seperti tempe dan tahu tidak lagi
sama kualitasnya seperti setahun lalu.
Harga daging sudah seperti barang mewah, demikian pula cabai, bawang
putih, bawang merah, dan bumbu dasar lainnya. Kenaikan itu juga diikuti
dengan kenaikan ongkos transportasi yang ikut membebani pengeluaran
para buruh, tidak hanya buruh kerah biru di kawasan industri, tetapi juga
buruh kerah putih yang bekerja di jantung kota-kota besar.
Mereka yang menolak mengatakan bahwa aksi unjuk rasa ini terlalu
berlebihan. Tuntutan kenaikan upah buruh sebesar 50% dianggap terlalu
berlebihan di mana banyak kelas buruh lain yang masih menerima upah di
bawah tuntutan tersebut. Para pengusaha juga mengatakan serikat buruh
tidak realistis melihat kenyataan ekonomi yang sedang kembang kempis
karena krisis ekonomi di dunia belum berakhir.
Sejumlah pasar tujuan ekspor produk-produk seperti pakaian, sepatu,
apparel, dan produk manufaktur lain belum pulih dari krisis. Atau di
negara tujuan mereka juga harus bersaing dengan produk dari China,
Vietnam, Kamboja, dan negara-negara yang menawarkan barang lebih
murah. Mereka yang menolak dan mendukung sebetulnya telah
mengatakan hal yang sama berulang kali di tahun-tahun sebelumnya.
Bagi saya hal itu menjadi indikator bahwa tidak terjadi perubahan
struktural yang berarti di dalam hubungan industrial ketenagakerjaan di
Indonesia. Pengusaha dan buruh terus menghadapi masalah makro dan
Dinna Wisnu Halaman 265

mikro yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan memenuhi atau


menolak tuntutan kenaikan upah dan perbaikan kesejahteraan.
Tidak terjadi dialog atau komunikasi tentang dasar-dasar hubungan
industrial yang kokoh antara pengusaha, buruh, dan negara. Contohnya
adalah rumusan tentang masalah pengupahan. Rumusanpengupahanpada
saat ini secara sederhana adalah upah pokok dan tunjangan. Penentuan
upah pokok akan diputuskan melalui survei konsumsi di pasar-pasar
rakyat melalui komponen hidup layak.
Dari komponen itu akan lahir sebuah pengeluaran total seorang buruh
yang lajang untuk menjadi dasar negosiasi di Dewan Pengupahan yang
terdiri atas perwakilan pemerintah, buruh, dan pengusaha di tingkat
nasional atau daerah. Dengan kata lain, survei hidup layak tidak lantas
menjadi upah minimum karena masih perlu dinegosiasikan.
Hal ini mencerminkan bahwa upah dalam sejarahnya selalu merupakan
keputusan politik dari ketiga belah pihak: pengusaha, pemerintah, dan
buruh. Bila tidak ada lagi dasar kepercayaan di antara tiap pihak, sudah
pasti tidak akan keluar keputusan politik tentang upah. Proses politik ini
membutuhkan biaya yang tinggi mulai dari survei hingga aksi unjuk rasa
bila terjadi ketidaksepakatan politik di antara ketiga pihak.
Saya membayangkan apabila setiap akhir tahun terjadi aksi unjuk rasa,
kerugiannya mungkin jauh lebih banyak dari pengeluaran kampanye para
kandidat presiden setiap lima tahun sekali. Upah sebagai keputusan politik
adalah kenyataan yang berlaku di setiap negara. Upah bukan semata-mata
lahir dari perhitungan rasional ekonomi.
Setiap negara memiliki strategi pengupahannya untuk para pekerja sesuai
dengan kebijakan ekonomi dalam dan luar negeri mereka dalam
menghadapi kompetisi di pasar bebas. Tidak ada satu cetak biru atau
template yang bisa berlaku secara umum di setiap negara karena setiap
negara memiliki kelebihan dan kekurangan. Kita dapat mengambil contoh
tentang kebijakan upah minimum Amerika yang menetapkan upah
minimum serendahrendahnya, tetapi dipatok pada indeks harga konsumen.
Mereka mengambil strategi itu agar pasar tenaga kerja dalam negeri dapat
lebih kompetitif dan menarik investasi-investasi yang lari dari Amerika
menuju negara-negara yang memiliki upah lebih rendah daripada upah
buruh di Amerika dan agar pemerintah federal maupun negara bagian
punya patokan ketika merekrut pegawai temporer.
Amerika tidak peduli terjadi kesenjangan upah antara pekerja yang
memiliki ketrampilan tinggi dengan pekerja yang berketrampilan rendah
selama investor bisa melihat bahwa mereka dapat jauh lebih untung
menanamkan modalnya di Amerika ketimbang di luar negeri. Profesor
Dinna Wisnu Halaman 266

Berkeley dan mantan Menteri Perburuhan Amerika Robert Reich


mengatakan total kekayaan dari 400 orang terkaya di AS tetap lebih tinggi
dibandingkan total kekayaan 150 juta orang Amerika.
CNN mengatakan 1% orang kaya Amerika yang berpendapatan
USD380.000 atau lebih memiliki rata-rata pertumbuhan pendapatan 33%
dalam 20 tahun terakhir. Hal ini berakibat juga pada kesenjangan
pendidikan, kualitas makanan, dan sebagainya. Strategi yang berbeda
dilakukan negara-negara yang tergabung di Uni Eropa.
Negara-negara Uni Eropa bersepakat untuk menjaga agar tidak ada
kesenjangan upah bagi pekerja terampil dan tidak terampil. Orang kaya
dipajaki setinggitingginya, sementara upah minimum ditetapkan di atas
standar garis kemiskinan. Pajak yang tinggi ini kemudian digunakan untuk
terus meningkatkan kualitas jaminan sosial bagi warga mereka.
Tujuan dari strategi tidak lepas dari fokus utama negara Eropa untuk
mengandalkan sumber daya manusia mereka sebagai pelopor dalam
inovasi teknologi dan pengetahuan. Inovasi teknologi tidak dapat
dilakukan apabila akses pendidikan dan kesejahteraan terbatas atau hanya
bisa dinikmati orang-orang kaya. Akses ini harus terbuka kepada setiap
warga.
Hal ini menyebabkan kasus-kasus relokasi industri yang padat teknologi di
Eropa sangat rendah. Apabila mereka harus melakukan relokasi, biasanya
tetap di wilayah Eropa dan tidak akan sampai ke Asia atau Afrika. Untuk
Indonesia, wajib dipahami politik pengupahan kita yang masih fokus pada
upah rendah sudah ketinggalan zaman. Pada dasarnya upah saja tidak akan
cukup untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja karena harga komoditas
dan layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan juga meningkat terus.
Selain itu persaingan dunia usaha makin ketat di bidang yang
membutuhkan ketrampilan khusus. Artinya, perlu ada transisi dari politik
upah murah pada pemberian insentif bagi pekerja yang mau
menginvestasikan waktu dan tenaga untuk mendukung pengembangan
industri berteknologi tinggi. Tak perlu takut investor kabur karena iklim
usaha tidak semata ditentukan oleh upah buruh, justru pemerintah wajib
memperbaiki faktor pendukung usaha yang lain seperti infrastruktur,
kepastian hukum, birokrasi, dan biaya logistik yang kompetitif.
Sumber: SINDO, 30 Oktober 2013
Dinna Wisnu Halaman 267

Menjembatani Kewirausahaan dan UKM


Beberapa hari lalu Wakil Presiden Boediono mengumumkan paket
kebijakan kemudahan berusaha yang akan dilaksanakan dan dipantau oleh
UKP4 (Unit Kerja Presiden Bidang Pengendalian dan Pengawasan
Pembangunan), Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi, serta BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal).
Paket ini secara bertahap sedang dikerjakan dan diharapkan selesai pada
bulan Februari 2014. Kadin (Kamar Dagang dan Industri) menyambut
baik paket itu sebagai angin segar pendorong semangat kewirausahaan.
Bicara soal semangat kewirausahaan, saya teringat pada kesepakatan yang
dibuat anggota APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation) pada bulan
September 2013 di Bali. Dari sana tampak isu kewirausahaan dan UKM
akan menjadi fokus diskusi dan kebijakan negara-negara Asia-Pasifik
dalam tahun-tahun mendatang.
Pada 5 September 2014, China akan menjadi tuan rumah pertemuan
menteri-menteri UKM se-Asia-Pasifik dengan subtema: pengembangan
kapasitas inovasi bagi UKM, pengembangan suasana kondusif bagi
inovasi oleh UKM, dan peningkatan jumlah UKM melalui inovasi. Seiring
dengan itu, Amerika Serikat dan Australia akan mengembangkan
rangkaian workshop sejak awal tahun 2014 untuk membahas tantangan
UKM untuk masuk ke rantai produksi global.
Dari Indonesia sendiri diajukan perhatian bagi UKM dalam (a)
kewirausahaan dan inovasi, (b) akses keuangan, (c) akses ke pasar
internasional menggunakan teknologi informasi, dan (d) partisipasi
perempuan serta orang muda dalam berusaha. Di Indonesia, penanganan
kewirausahaan dan UKM tergolong lamban. Delegasi Indonesia di APEC
bahkan mengaku “tertinggal” dalam hal persiapan negosiasi di APEC
karena data-data seputar UKM di Indonesia sangat sedikit, tidak jelas
metodologinya, dan lebih banyak yang sifatnya komentar-komentar saja.
Padahal, delegasi dari negara-negara lain berbekal riset yang lengkap. Ada
salah kaprah dalam benak rata-rata orang Indonesia mengenai penanganan
kewirausahaan dan UKM. Rata-rata melihat UKM sekadar sebagai
kelompok usaha yang perlu diberi perhatian khusus dan dibantu, apalagi
kalau dibicarakan dalam konteks internasional, yang ada lebih banyak
mindernya. Lebih jauh, kita bahkan cenderung mengasihani UKM
sehingga ketika kita bicara soal kebijakan terhadap UKM, arah wacananya
berputar pada soal pemberian uang yang sifatnya tak ubahnya donasi,
penyelenggaraan pameran, dan pemberlakuan sejumlah pengecualian.
Dinna Wisnu Halaman 268

Kita perlu hati-hati betul supaya tidak kalah langkah dengan negara-
negara lain dalam hal penanganan wirausaha dan UKM. Di Uni Eropa
(UE), berdasarkan data dari European Commission 2005, dorongan untuk
berwirausaha di sana ratarata 30% dengan sekitar 40 dari 1.000 orang di
Eropa bekerja di UKM sehingga UKM menyumbang tak kurang dari 67%
lapangan kerja dengan rata-rata nilai tambah (value added) 57,9%. Dalam
perdagangan antarnegara anggota UE, UKM menyumbang 2,9% total
produk.
Jerman yang saat ini ekonominya paling kuat di Eropa ternyata 99,5%
perusahaannya terdiri atas UKM dan mempekerjakan lebih dari 60%
tenaga kerja! Di Asia, kita bisa tengok Korea Selatan. Dari data Small and
Medium Business Administration (pengelola UKM di sana), pada tahun
2011, 99,9% dari perusahaan yang dibentuk orang Korea Selatan adalah
UKM. Jumlah ini meningkat terus dibandingkan tahuntahun sebelumnya
dan saat ini menyumbang 86,9% lapangan kerja.
Di China, UKM menyumbang lebih dari 60% pendapatan negara, bahkan
investasi mereka untuk aset tidak bergerak kini lebih besar daripada aset
yang dimiliki BUMN. UKM di China dikenal gesit karena melaju dengan
mengembangkan UKM berorientasi teknologi dan membuka ruang usaha
di pusat keuangan seperti Beijing dan Shenzhen. Ini baru sekelumit contoh
tentang betapa kita memandang remeh UKM, padahal di negara-negara
lain UKM-lah yang membawa kejayaan ekonomi di banyak negara besar.
Kuncinya satu: pembinaan yang tepat dan menyeluruh, termasuk agar
segenap kegiatan dan transaksi mereka tercatat. Pembinaan yang tepat
membutuhkan, pertama-tama, pengelola yang kredibel dan terus
beradaptasi dengan waktu; tak henti menyerap pelajaran dari pelaku UKM
di Tanah Air dan berbagai penjuru dunia. Jika pengelolanya setara dengan
kementerian, ada tantangan dalam hal adaptasi karena stafnya biasanya
banyak, tetapi merupakan pegawai negeri yang cenderung cepat
menciptakan zona aman bagi diri sendiri.
Di Korea Selatan, urusan UKM pernah dikelola Kementerian
Perdagangan, Industri dan Energi sebelum akhirnya “dikeluarkan” sebagai
badan terpisah yang punya kantorkantor dinas di provinsi. Konstruksi
kantor Small and Medium Business Administration di Korea Selatan tadi
diselaraskan dengan gerak dirjen-dirjen di Kantor Bappenas Korea.
Kedua, program untuk UKM harus sensitif pada kelompok UKM yang
punya inovasi berdaya jual tinggi sehingga kelompok ini harus dibantu
dengan program paten dan sertifikasi (agar produknya diakui bermutu di
tingkat internasional).
Di Malaysia, ada program 1- InnoCERT untuk mendorong UKM di sana
masuk ke industri high-tech yang terdepan dalam hal inovasi. Bukan cuma
Dinna Wisnu Halaman 269

dana yang digelontorkan, tetapi juga pendampingan dalam pengembangan


inovasi, proses,dan model bisnis. Ketiga, UKM membutuhkan
pendampingan penelitian. UKM punya kelebihan dalam hal kepekaan dan
fleksibilitas dalam mengubah bentuk atau jenis produk sesuai dengan
permintaan pasar, bahkan mereka bisa menciptakan pasar baru jika punya
akses untuk melakukan survei pasar dan memengaruhi gaya hidup
konsumennya.
Untuk itu mereka perlu dibantu dalam eksperimen dan pembuatan sistem
produksi massal, termasukjugateknikmarketing. Di sini perlunya UKM
didekatkan dengan perguruan tinggi dan sekolah kejuruan. Keempat,
UKM membutuhkan jaminan hukum akan keberpihakan pemerintah.
Korea Selatan termasuk yang cukup maju dalam hal ragam jaminan
hukum yang secara khusus dirancang untuk melindungi UKM. Bagi
mereka, UKM adalah cikal bakal konglomerasi sehingga perlu dilindungi
sampai kuat bertarung sendiri dalam sistem pasar.
Untuk itu, mereka punya UU yang mendukung pembelian produk UKM
oleh pemerintah dan membantu komputerisasi (sistem automatisasi) di
UKM, UU yang membantu survei kebutuhan SDM di UKM termasuk
untuk kerjasama dengan universitas, UU yang mendukung kelompok
berkebutuhan khusus (cacat) untuk membuat UKM, dan masih banyak
lagi.
Singkatnya, langkah pemerintah yang dicanangkan Wapres untuk
menyederhanakan proses perizinan usaha, memberikan pelayanan 1 pintu,
membuat sistem pelaporan pajak secara online, mempermudah tata cara
balik nama kepemilikan tanah, pendirian bangunan, penyambungan
layanan air minum dan telepon, kemudahan fasilitas kredit, memang patut
diapresiasi. Tapi ini baru awal. Harus ada sistem yang lebih berpihak lagi
pada UKM dan khusus dirancang untuk membesarkan UKM dan
membuatnya menjadi usaha resmi dan tercatat.
Sumber: SINDO, 06 November 2013
Dinna Wisnu Halaman 270

Gempar Penyadapan Australia


Dua hari lalu Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Marty Natalegawa
menggelar konferensi pers perihal sikap pemerintah atas berita
penyadapan terhadap Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ibu
Negara Ani Yudhoyono, dan sejumlah pejabat negara lain. Dalam
pernyataannya, Menlu mengatakan penyadapan tersebut merupakan
pelanggaran atas kedaulatan, privasi, dan hak asasi manusia yang
mengganggu hubungan strategis di antara kedua negara. Bahkan Menlu
menyebut tindakan penyadapan tersebut sebagai tindakan tidak bersahabat
(unfriendly act). Saat itu saya tidak tergoda untuk langsung bereaksi.
Pertama-tama karena Presiden SBY biasanya punya keinginan yang belum
tentu sesuai dengan kebijakan yang diambil menterinya.
Kita masih ingat betapa ironis ketika Marty menolak meminta maaf
kepada Singapura atas bencana asap yang melanda negeri tetangga
tersebut, lalu tak lama kemudian Presiden SBY justru meminta maaf
kepada Singapura dan menegur menterinya. Di dalam negeri pun Presiden
SBY memilih menyangkal keputusan yang sudah diambil menterinya,
misalnya mengenai program mobil murah dan daftar investasi negatif.
Namun, ketika tak lama kemudian media mengumumkan ada perintah
pemanggilan Duta Besar Indonesia di Australia untuk kembali ke Tanah
Air dalam jangka waktu yang belum ditentukan, saya merasa perlu
mendiskusikan hal ini. Dalam hubungan internasional, pemanggilan
seorang duta besar adalah tanda ada eskalasi sikap tegas Indonesia kepada
Australia. Level pertama sikap tegas dalam kasus macam ini adalah
mengajukan protes keras. Level kedua adalah memanggil pulang duta
besarnya dan memanggil duta besar negara sahabat yang ditempatkan di
negara tersebut untuk dimintai keterangan.
Level ketiga adalah menarik pejabat-pejabat di kedutaan besar negara
sahabat. Level keempat adalah penutupan hubungan diplomatik. Saat ini,
Kementerian Luar Negeri Indonesia memutuskan untuk memanggil
pulang Duta Besar Nadjib Riphat Kesoema dari Australia dan telah
memanggil Duta Besar Australia di Indonesia untuk dimintai keterangan.
Apakah Australia serius menanggapi hal ini? Pernyataan yang dikutip
media massa menunjukkan bahwa pihak Australia menangkap ketegasan
sikap Indonesia.
Duta Besar Australia di Indonesia Greg Moriarty mengakui hubungan
Indonesia-Australia berada dalam titik rendah seiring perkembangan ini.
Tapi, lebih dari itu, saat ini sebenarnya menjadi momen yang baik untuk
mengevaluasi cara pandang kita terhadap Australia sebagai negara
Dinna Wisnu Halaman 271

tetangga. Di situlah ada kemungkinan bahwa pemerintah punya niat untuk


lebih tegas pada Australia. Patut diketahui, kegiatan sadap-menyadap ini
bukan hal asing, khususnya bagi Amerika Serikat (AS) dan para
sekutunya, termasuk Australia, Kanada, Selandia Baru, dan Inggris.
Karena kelima negara ini saling berbagi data intelijen. Jadi jangan heran
jika nanti kita akan dihadapkan pada argumen penyadapan dianggap
sebagai kewajaran dan kebutuhan dalam pengumpulan data intelijen.
Jangankan kegiatan kepala negara dan diplomat di negaranegara lain,
kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun terungkap telah disadap.
Der Spiegel (26/8/13) mengungkapkan kontraktor yang merancang ruang
di lantai 31 tempat 28 negara anggota Uni Eropa berkumpul merumuskan
kebijakan adalah perusahaan yang seluruh pekerjanya para anggota
National Security Agency (NSA) AS.
Kabarnya yang disadap tidak hanya telepon dan pembicaraan, tetapi juga
jaringan komputer yang disiapkan untuk terhubung langsung dengan
kantor pusat NSA di bawah sandi ”Apalachee”. Yang menarik, ternyata
China sudah bisa membobol saluran video-conference dari ruangan itu dan
hal itu diketahui AS. Artinya, ada isu yang lebih besardaripada
sekadarAustralia tidak memercayai Indonesia. Ketika Indonesia sudah
menarik duta besarnya, kita perlu tahu langkah selanjutnya yang ditunggu
dari Australia.
Apakah kita berharap Australia akan meminta maaf dan insaf? Penarikan
duta besar saja tak akan mendesak Australia untuk melakukan hal itu.
Pasalnya Australia hanyalah bagian dari jejaring internasional yang
bertindak berdasarkan logika ancaman dan tantangan. Lebihlebih lagi
ternyata negara lain yang bukan sekutu AS pun sudah menerapkan cara-
cara yang sama dalam menggali informasi. Misalnya saja China dan
Brasil. Gugatan pelanggaran kedaulatan memang penting, tetapi
menggugat soal itu saja tidak akan menyelesaikan masalah.
Kecuali jika masalah ini dibawa ke tataran multilateral di mana negara-
negara dunia sepakat untuk mengharamkan cara-cara pengumpulan data
intelijen yang sedemikian. Hanya saja, dapat dipastikan sejumlah negara
akan enggan menyepakati larangan seperti itu karena negara-negara yang
melakukan pengumpulan data lewat penyadapan punya cara pikir yang
berbeda tentang dunia. Mereka tidak lagi melihat dunia sebagai tempat
yang cukup teratur untuk bisa bernegosiasi dengan cara-cara damai (alias
berdiplomasi).
Tidak ada lagi kesabaran untuk secara bertahap mengadakan dialog dan
kerja sama dalam membangun rasa percaya (confidence building). Yang
ada dalam peta mereka adalah dampak terburuk bila lengah dan keliru
“membaca” niat negara lain. Toleransi mereka akan kekeliruan tadi pun
Dinna Wisnu Halaman 272

menurun. Cara pandangtersebutsangat kontras dengan jargon thousand


friends zero enemy (seribu teman dan nol musuh) di mana Indonesia justru
ingin mengedepankan prinsip pertemanan sebagai dasar untuk negosiasi
yang lebih menguntungkan kepentingan nasional.
Karena prinsip itu, standar ancaman telah kita turunkan serendah-
rendahnya sehingga tak akan mudah bagi Indonesia mengapresiasi
ketakutan dan kekhawatiran salah langkah yang dirasakan Australia dan
kawan-kawannya. Di sinilah politik luar negeri kita diuji. Apakah
Indonesia bisa menegaskan bahwa cara pandang Australia dan
kawankawannya itu keliru? Bagaimana Indonesia bisa meyakinkan
negara-negara tersebut bahwa meskipun kawan dan lawan sulit dipilah
dalam pergaulan internasional masa kini, melakukan penyadapan justru
mengecilkan peranan diplomasi?
Sungguh dibutuhkan kegigihan untuk meluruskan cara pandang negara-
negara dunia bahwa filosofi politik luar negeri Indonesia yang
mengedepankan rasa hormat, bahkan kepada negara yang terkecil
sekalipun, adalah bekal yang tak boleh dibuang dalam membangun tata
kelola global (global governance) yang efektif. Lebih dari itu, jika jargon
thousand friends zero enemy tidak membantu Indonesia untuk
mempromosikan prinsipprinsip politik luar negeri yang dipercaya
Indonesia sebagai harga mati dalam hubungan internasional, jargon
tersebut perlu diubah.
Sumber: SINDO, 20 November 2013
Dinna Wisnu Halaman 273

Tugas Besar Sawit Indonesia


Minggu lalu pengusaha kelapa sawit Indonesia telah mengadakan
konferensi kesembilan. Setelah absen dalam delapan konferensi
sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan para
menteri terkait datang membuka dan menghadiri konferensi tersebut.
Dalam kesempatan itu, Presiden SBY menyatakan mendukung upaya para
pelaku usaha kelapa sawit Indonesia untuk dapat menembus pasar
internasional. Ia telah memerintahkan agar para menteri terkait duduk dan
mencari jalan keluar dari masalah yang melilit perdagangan kelapa sawit.
Selama ini, para pelaku usaha dan pemerintah merasa bahwa pasar
internasional telah membatasi produk kelapa sawit dan turunannya baik
dengan cara menggunakan hambatan tarif maupun nontarif. Pada bulan
lalu, Komisi Eropa mengenakan tarif bea masuk sebesar 8% sebagai
bagian dari kebijakan antidumping mereka atas produk biodiesel
Indonesia.
Produk kelapa sawit Indonesia juga masih dikaitkan dengan masalah
deforestasi dan pembakaran hutan dalam kampanye-kampanye lingkungan
hidup. Dalam konferensi RSPO di Medan yang lalu, beberapa organisasi
lingkungan hidup bahkan menyatakan sertifikasi menjadi tiket bagi
pengusaha kelapa sawit di Indonesia untuk menggunduli hutan Indonesia.
Selain masalah tersebut, industri kelapa sawit di dalam negeri juga tidak
sepi masalah.
Para pelaku usaha perkebunan mulai dari pengusaha besar, petani plasma
atau petani swadaya mempertanyakan kebijakan pajak ekspor kelapa sawit
yang tinggi. Pemerintah ingin agar pajak yang tinggi itu mendorong para
pelaku usaha perkebunan kelapa sawit dapat meningkatkan nilai tambah
dengan membangun industri hilirisasi dan tidak hanya mengekspor
minyak sawit mentah. Menurut pelaku usaha, mereka setuju dengan
hilirisasi, tetapi margin keuntungan yang diperoleh dengan membangun
pabrik hilirisasi itu tidak tinggi.
Keuntungan yang terbatas itu dianggap tidak sebanding dengan risiko
usaha yang besar seperti kenaikan harga yang dipengaruhi inflasi, upah
tenaga kerja, dan persaingan dengan produk-produk hilirisasi yang sudah
ada maupun yang dihasilkan. Pemerintah sendiri mengatakan telah
memiliki kerangka kerja jangka panjang untuk mendorong minyak kelapa
sawit sebagai komoditas prioritas.
Di dalam Masterplan Perluasan dan Pengembangan Ekonomi Indonesia
(MP3EI), pemerintah mengatakan telah menyusun rencana pembangunan
jangka panjang industri kelapa sawit Indonesia yang menfokuskan
Dinna Wisnu Halaman 274

pembangunan di empat wilayah: Dumai, Sei Mangkai, Kalimantan Barat,


dan Kalimantan Timur. Empat wilayah ini akan menjadi backbone industri
perkebunan kelapa sawit dan produk turunannya. Di wilayahwilayah itu
akan dibangun pelabuhan-pelabuhan yang dibutuhkan agar minyak sawit
mentah (CPO) yang telah diolah dapat terjaga kualitasnya.
Namun, untuk membuat rancana itu berjalan baik, pemerintah harus
melaksanakan pekerjaan rumah yang sangat penting, yaitu memutuskan
rencana tata ruang dan tata wilayah (RTRW) yang menjadi rujukan untuk
melakukan investasi. Ketidakjelasan pengaturan dan fungsi wilayah ini
yang sering kali menjadi sumber konflik di lapangan. Pada umumnya
konflik yang terjadi adalah antara perusahaan perkebunan dengan
masyarakat lokal. Di beberapa lokasi, kerap terjadi izin perkebunan kelapa
sawit tumpang tindih dengan izin pertambangan yang membuat konflik
semakin dalam di tengah masyarakat.
Dalam kebijakan biodiesel, pada saat pemerintah menaikan harga BBM
beberapa tahun lalu, pemerintah segera menyatakan akan menggalakkan
penggunaan biodiesel sebagai alternatif bahan bakar fosil. Pernyataan
tersebut menggairahkan para pengusaha kelapa sawit, tetapi sayangnya
harga biodiesel yang ditetapkan pemerintah tidak kompetitif sehingga
tidak sedikit para pengusaha yang kemudian memilih untuk
mengekspornya saja.
Belum lagi kebijakan pemerintah di sektor lain seperti di bidang
transportasi tidak mendukung ke arah penggalakan penggunaan biodiesel.
Misalnya masih dicanangkan proyek mobil murah berbasis bahan bakar
fosil dan subsidi BBM masih tinggi. Banyak masalah di dalam industri
perkebunan kelapa sawit yang tak akan habis diuraikan dalam ruang yang
terbatas ini. Hal yang membuatnya menarik adalah keterkaitan satu
masalah dengan masalah lain.
Misalnya tentang isu deforestasi, konflik sosial, dan lingkungan yang tidak
akan menjadi amunisi bagi kampanye negatif apabila Pemerintah
Indonesia benar-benar menyelesaikan masalah RTRW beberapa tahun lalu
sehingga terdapat kepastian hukum. Kita juga masih menunggu bagaimana
ISPO dapat menyelesaikan tugas sesuai dengan mandat yang
ditetapkannya sendiri. Bahwa akhir tahun 2014 seluruh pelaku usaha
perkebunan kelapa sawit telah mendapat sertifikasi.
Sementara sampai saat ini jumlah tenaga auditor masih sedikit, prinsip dan
kriteria untuk petani plasma ataupun petani swadaya juga belum
ditetapkan dengan jelas. Kita juga harus bersikap bijaksana bahwa
hambatan-hambatan pasar minyak kelapa sawit di luar negeri juga
sebagian disebabkan banyak pekerjaan rumah di dalam negeri yang tidak
diselesaikankan dengan baik. Koordinasi antardepartemen yang terkait
Dinna Wisnu Halaman 275

dengan masalah perkebunan sawit mulai dari Kementerian Pertanian,


Lingkungan Hidup hingga Kementerian Dalam Negeri belum
menunjukkan kekompakan.
Rasa pesimistis ini ditambah dengan fakta bahwa pemerintahan SBY
tinggal 11 bulan lagi di mana seluruh menteri sudah tidak lagi fokus pada
tugasnya selain memikirkan kemenangan partai politiknya. Meski
demikian, masalah di kelapa sawit tidak akan menunggu kita
menyelesaikan pekerjaan rumah yang kita telantarkan. Menjelang 2015
seluruh negara anggota Eropa telah menyatakan hanya akan menerima
CPO yang memiliki sertifikasi sustainable dan pasar CPO di China
diprediksi mengecil seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi
China.
Dibandingkan dengan produk minyak nabati lain, minyak sawit masih
tersandera citra buruk soal lingkungan hidup dan nilai kesehatan yang di-
anggap masih jauh di bawah minyak nabati lain. Tak mengherankan
bahkan di China dan India pun pembelian minyak sawit tetap jauh di
bawah porsi pembelian mereka untuk minyak lain seperti kedelai dan
canola. Indonesia punya kepentingan untuk menjaga agar produk CPO
tetap dapat diserap pasar secara optimal supaya para pekerja di sektor
perkebunan termasuk para petani rakyat tidak telantar.
Contohnya dengan memfasilitasi strategi marketing berbasis riset soal
keunggulan produk sawit Indonesia, memberi insentif yang realistis (dan
tak selalu harus dalam bentuk tunai) untuk hilirisasi, serta melakukan
swap perdagangan yang lebih agresif tetapi cantik agar produk CPO
jangan sampai sia-sia tak terserap di dalam negeri. Dari sisi minyak sawit
sebagai sumber energi alternatif, Indonesia punya kepentingan untuk
mendorong ini sebagai tiket bebas dari impor BBM yang memberatkan
neraca perdagangan.
Pemerintah dan para pelaku usaha harus mencari cara bagaimana agar
biodiesel tidak jauh lebih mahal dari impor BBM. Anak-anak bangsa di
universitas dapat digerakkan untuk mengembangkan teknologi biodiesel
entah untuk alat transportasi massal atau mesinmesin pertanian. Konyol
jika Indonesia menyerah di tengah persaingan dagang dan marketing yang
ketat karena sejauh mata memandang Indonesia punya keunggulan
komparatif dalam hal penanaman sawit. Di Indonesialah tersedia lahan
dan iklim yang cocok untuk sawit. Tinggal kita putuskan, apakah memang
sawit kita jadikan andalan dalam perkembangan sosial ekonomi di negeri
ini?
Sumber: KORAN SINDO, 04 Desember 2013
Dinna Wisnu Halaman 276

Untung Rugi Paket Bali WTO


Kita mungkin tidak akan menjadi sakit atau miskin apabila gagal
mendapatkan gadget (peranti) terbaru atau apabila harga gadget itu terlalu
mahal. Namun, bayangkan bila beras, kedelai, atau gandum hilang di
pasaran atau terlalu mahal untuk dibeli oleh masyarakat miskin atau
bahkan kelas menengah. Hilangnya pasokan pangan ini bukan mustahil.
Ini menjadi keprihatinan politik dari banyak negara, khususnya negara-
negara miskin dan berkembang. Apabila sebuah negara tidak menyiapkan
strategi untuk mengatasi persoalan pangan di masa mendatang, bisa jadi
akan timbul kekacauan di dalam negeri.
Kira-kira demikianlah posisi politik India dalam pertemuan tingkat
menteri World Trade Organization (WTO) yang berlangsung di Bali lalu.
Banyak pihak di dalam negeri yang merasa Indonesia harus mengikuti
India dan mendukung politik negara itu untuk mempertahankan subsidi
demi menjamin keamanan pangan bagi penduduknya yang besar.
Saat ini penduduk India berjumlah lebih dari 1,23 miliar orang, negara
terbesar kedua di dunia setelah China yang saat ini berpenduduk 1,3
miliar. Pertumbuhan penduduk India adalah 1,3% per tahun atau sekitar 15
juta orang setiap tahunnya. Angka ini lebih besar dibandingkan China
yang hanya 0,5% per tahun atau Indonesia yang tumbuh 1,2% per tahun.
Pertumbuhan penduduk tersebut tentu membutuhkan pasokan makanan
dan ruang yang juga semakin besar dari tahun ke tahun.
Masalahnya, banyak petani yang merasa bahwa menanam tanaman pangan
seperti padi tidak lagi menguntungkan. Lahan-lahan pangan yang telah
berpuluh tahun ditanami semakin berkurang kesuburannya sehingga
memerlukan pasokan pupuk yang jauh lebih banyak daripada tanah-tanah
yang belum pernah ditanami. Hal ini menimbulkan biaya pembelian pupuk
juga meningkat. Biaya yang tinggi itu tidak dapat ditutupi dengan harga
jual komoditas karena pasar dalam negeri dibanjiri oleh produk pertanian
luar negeri yang lebih murah. Murahnya harga produkproduk tersebut
terutama berasal dari negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika.
Negara-negara tersebut telah menggelontorkan subsidi kepada para
petaninya agar produksi pangan tetap berjalan.
Subsidi itu berbentuk pembelian komoditas langsung oleh pemerintah atau
berupa subsidi biaya produksi seperti pupuk, pestisida dan sebagainya.
Perusahaan- perusahaan agrikultur juga menikmati subsidi ini sehingga
mereka dapat mengontrol harga di pasar. Negaranegara berkembang tidak
mampu memberikan subsidi sebesar yang diberikan negara maju tadi pada
petaninya, sehingga mereka protes.
Dinna Wisnu Halaman 277

Persoalannya, dalam negosiasi WTO kemarin strategi subsidi negara maju


tersebut dilirik olehIndia. Beberapa negara, baik negara maju maupun
berkembang yang bergabung di koalisi G-33, menganggap bahwa subsidi
macam itu akan merusak pasar. Mereka tidak terlalu percaya bahwa
cadangan pangan India tidak akan disalahgunakan untuk tujuan lain,
misalnya dijualkepasar negara lain.
Hal ini akan membuat produk-produk pangan dari negara lain tidak dapat
berkompetisi dengan produk India. Seperti halnya negara maju, India juga
dapat mengontrol harga pasar. Oleh sebab itu, ada dua ketakutan utama
yang bisa terjadi. Pertama adalah terjadinya food insecuritykarena
fluktuasi harga pangan yang tak menentu, padahal tren umumnya adalah
harga yang semakin tinggi karena permintaan terus meningkat.
Kedua adalah livelihood insecurity dari produsen pangan karena tingginya
biaya produksi dan ketidakpastian suplai. Kita dapat ambil contoh
misalnya dengan produk pangan beras. Dalam statistik FAO, Indonesia
adalah produsen dan konsumen beras terbesar ketiga pada 2011. Meski
demikian, Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) ada 51.000 ton
beras yang diimpor pada bulan September atau senilai USD27 juta atau
Rp306,2 miliar.
Jumlah itu lebih tinggi dari impor beras tercatat 36.000 ton atau USD19,1
juta pada bulan Agustus. Jika diakumulasi selama 9 bulan (Januari-
September), impor sudah mencapai 353.485 ton atau USD183,3 juta.
Beras yang kita impor terutama dari Vietnam, dengan volume pada bulan
September 18.000 ton atau USD11,1 juta, India dengan laporan 24.000 ton
atau USD9,5 juta, Thailand dengan 5.297 ton atau USD4,1 juta, Pakistan
sebesar 1.500 ton atau USD550.000 dan negara lainnya sebesar 953 ton
atau USD1,67 juta.
Negara-negara tersebut adalah lima negara pengekspor beras terbesar
dunia. Sebaliknya, Indonesia adalah negara pengimpor beras terbesar
nomor satu di dunia. Ada banyak faktor yang menyebabkan kita
mengalami defisit beras. Sebab utamanya adalah karena pertumbuhan luas
lahan padi kita tidak dapat mengejar tingkat pertumbuhan konsumsi akibat
semakin bertambahnya jumlah penduduk. Lahan sawah kita justru
semakin menurun dari 7,9 juta hektare menjadi 7,3 juta hektare.
Konversi lahan untuk fungsi non-pertanian juga merupakan rutinitas yang
menggerus suplai pangan. Janji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY) untuk menyiapkan 15 juta hektare lahan menguap entah ke mana.
Selain itu, para petani tertarik mengonversi lahannya untuk jenis tanaman
lain yang lebih kompetitif harganya di pasar.
Dinna Wisnu Halaman 278

Di sisi lain, Indonesia tidak lagi punya Bulog yang dapat membeli harga
beras petani dengan harga wajar, sehingga gairah untuk menanam padi
tidak terjaga. Bulog saat ini malah berfungsi sebagai agen pengimpor
beras dengan tujuan agar harga beras tidak terlalu mahal di tingkat
konsumen. Jelas hal ini bukan solusi untuk petani atau peningkatan suplai
beras di dalam negeri.
Dengan keadaan di atas, bagaimanakah sebaiknya sikap kita terhadap
Paket Bali? Mendukung atau menolak? Saya pikir jawabannya tergantung
dari strategi kita ke depan. Bila kita mendukung peran negara yang lebih
besar dengan cara memberikan subsidi, maka penting untuk segera
mengurangi pengeluaran- pengeluaran lain yang tidak memiliki dampak
langsung pada ketahanan pangan.
Misalnya kita perlu mengurangi subsidi bahan bakar energi seperti listrik
untuk kelas menengah atau bahan bakar minyak yang telah membuat
defisit neraca perdagangan kita. Peran Bulog sebagai stabilisator harga
pangan mungkin juga perlu dikembalikan lagi sehingga petani tidak
beralih ke komoditas lain yang menjanjikan harga jual lebih layak untuk
mereka.
Namun, bila kita lebih mendukung pasar sebagai jalan agar penduduk kita
dapat mengakses bahan pangan yang murah, terlepas dari mana produk itu
kita beli, dan agar petani kita dapat bersaing dengan produk pangan sejenis
dari negara-negara lain, maka kita juga punya tanggung jawab untuk
meningkatkan kapasitas keahlian dan manajemen petani dan pengusaha di
sektor agrobisnis di Indonesia.
Pemerintah juga harus mengalokasikan dana yang besar untuk mendorong
penelitian dan mekanisasi di bidang pertanian agar dapat menghasilkan
produk-produk pertanian dengan standar mutu dan kesehatan yang layak.
Tak lupa juga, kita perlu paham ke depan petani memang sudah tidak bisa
lagi beroperasi dengan cara-cara tradisional yang selama ini masih
dipraktikkan di Indonesia. Akan ada standar traceability yang ramai
dibicarakan di WTO, artinya produk beras Indonesia harus bisa dilacak
sumber bibit dan mekanisme penanaman serta panennya, termasuk agar
bibitnya berasal dari bibit yang sudah tersertifikasi. Dengan sertifikasi
bibit, artinya petani tak bisa lagi menanam beras dari sumber yang tidak
jelas. Singkat kata, dunia ketahanan pangan di tahun-tahun mendatang
mendesak Indonesia untuk segera memutuskan apa strategi ketahanan
pangan kita: mau diserahkan pada mekanisme pasar saja, atau negara mau
tegas melakukan intervensi?
Sumber: SINDO, 11 Desember 2013
Dinna Wisnu Halaman 279

Solidaritas Politik Anti-Apartheid


Dalam minggu ini jenazah Nelson Mandela dimakamkan di kampung
halamannya. Seorang kepala suku di sana menggambarkan Mandela
sebagai pohon besar yang telah tumbang. Perumpamaan itu tepat kerena
Nelson Mandela telah menjadi inspirasi bagi gerakan antiapartheid di
Afrika Selatan dalam memperjuangkan kesetaraan dan kesamaan
kesempatan dalam urusan politik dan ekonomi.
Ketokohan Nelson Mandela dan perjuangan politik anti-apartheid tetap
menjadi sebuah narasi politik yang baik, khususnya dalam konteks politik
luar negeri Indonesia. Terlebih lagi dengan memperingati apa yang terjadi
dalam masa perjuangan politik zaman Mandela, kita dapat juga menarik
pelajaran tentang bagaimana mengintepretasikan perkembangan politik
luar negeri Indonesia saat ini. Politik segregrasi di Afrika Selatan hampir
mirip dengan politik pemisahan kelas di Indonesia.
Di Afrika tingkat golongan masyarakat dibagi antara kulit putih, kulit
hitam, kulit berwarna, dan India. Sementara di Indonesia pemerintah
Hindia Belanda menggolongkannya menjadi bangsa Eropa, China, Arab,
dan pribumi. Tujuan pengaturan dan pemisahaan ini adalah untuk
membatasi dan memantau agar kelompok-kelompok tersebut tidak
mengancam kedudukan penguasa yang berkulit putih atau berasal dari
Eropa. Kebijakan pemisahan masyarakat berdasarkan ras dan warna kulit
itu telah mendapat kecaman dari banyak negara.
Hal ini tidak lepas dari suasana politik pada saat itu di mana banyak
anggota PBB adalah negaranegara yang baru memerdekakan dirinya dari
kolonialisme seperti Indonesia. Perasaan-perasaan solidaritas sebagai
bangsa yang dijajah oleh bangsa Barat mendorong banyak negara yang
baru merdeka untuk turut aktif dalam mengecam politik segregasi warna
kulit di Afrika Selatan. Ada sedikitnya 18 buah resolusi yang dihasilkan
PBB tentang penentangannya terhadap kebijakan apartheid di Afrika
Selatan.
Resolusi pertama yang dikeluarkan PBB adalah Resolusi 395 yang
menyatakan kebijakan pemisahan segregrasi warna kulit adalah kebijakan
politik yang mengacu pada doktrin diskriminasi rasial. Resolusi lainnya
kemudian mengatur pembatasan tentang perdagangan senjata, embargo
ekonomi, dan sanksi-sanksi pembatasan perdagangan dengan tujuan
mengisolasi pemerintahan apartheid Afrika Selatan; harapannya agar
mereka mau mengubah kebijakan. Meskipun banyak resolusi yang telah
dikeluarkan PBB sejak 1950, pemerintahan Afrika Selatan pada saat itu
tetap bertahan.
Dinna Wisnu Halaman 280

Salah satu penyebabnya karena ada dukungan kuat dari negara-negara


Barat seperti Amerika dan Inggris. Dukungan itu tidak lepas dari konteks
Perang Dingin antara blok komunis yang dipimpin Uni Soviet dan blok
kapitalis dengan Amerika Serikat sebagai panglimanya. Amerika
mengkhawatirkan bahwa perjuangan antiapartheid akan disalahgunakan
oleh blok komunis untuk memperkuat basis mereka. Kebetulan pada masa
itu, pada 1975 hingga 1990, terjadi perang saudara di Angola setelah
kemerdekaannya. Angola adalah negara tetangga yang berada di sebelah
barat daya Afrika Selatan.
Amerika Serikat, Afrika Selatan, dan Zaire mendukung dua kekuatan
militer, yaitu National Liberation Front of Angola (FNLA) dan the
National Union for the Total Independence of Angola (UNITA). Kuba
mengirimkan ribuan tentaranya untuk mendukung People’s Movement for
the Liberation of Angola (MPLA). Selain Angola, Namibia juga tengah
berjuang melepaskan diri dari penjajahan Afrika Selatan. Kuba juga
membantu South West Africa People’s Organization baik dalam militer,
ekonomi maupun bantuan sosial menghadapi rezim apartheid Afrika
Selatan.
Basis-basis perjuangan tersebut yang kemudian menjadi salah satu tempat
latihan bagi sayap militer African National Congress (ANC) untuk
melawan rezim apartheid. Hubungan antara ANC dan Kuba sendiri telah
dibangun pada saat para pemimpin ANC mengadakan perjalanan ke
negara-negara Barat pada 1960-an. Mereka mendapat jaminan Kuba akan
membantu ANC tidak hanya dalam militer, tetapi juga dalam hal bantuan
sosial seperti pengiriman dokter-dokter.
Selain Kuba, ANC juga mendapat dukungan dari Muammar Gaddafi dari
Libya dan Yasser Arafat dari Palestine Liberation Organization.
Hubungan-hubungan tersebut yang membuat rezim apartheid memperoleh
dukungan dari beberapa negara Barat. Presiden AS Ronald Reagan
kemudian memperkenalkan kebijakan Constructive Enggagement dalam
soal rezim apartheid Afrika Selatan. Ia berpendapat mengubah politik
dalam negeri dapat dilakukan dengan kerja sama yang baik dan tidak
harus selalu menggunakan cara-cara yang keras.
Rezim apartheid meyakinkan AS bahwa membantu ANC adalah juga
membantu gerakan komunis dalam menguasai Benua Afrika, tetapi rezim
itu sepakat bahwa cara yang ditawarkan Reagan punya potensi mencapai
tujuan rezim. Tak mengherankan, rezim apartheid menguatkan relasinya
dengan Israel. Politik luar negeri rezim apartheid Afrika Selatan dengan
Israel sebetulnya telah berkembang sejak 1950-an.
Pada saat itu Perdana Menteri DF Malan mengatakan ia memiliki
kepentingan di Timur Tengah karena kawasan tersebut adalah pintu di
Dinna Wisnu Halaman 281

mana musuh akan masuk ke Afrika. Musuh yang ia maksud adalah Mesir
di bawah Gamal Abdul-Naser yang memiliki komitmen ideologis untuk
membantu negara-negara Arab dan Afrika untuk bebas dari belenggu
penjajahan. Meski demikian, tekanan terhadap rezim apartheid tidak
sepenuhnya tergantung kepada beberapa negara Barat.
Sejak 1985 banyak tekanan multilateral yang dilancarkan negaranegara
yang bersimpati terhadap perjuangan pembebasan di Afrika Selatan.
Misalnya negara-negara Commonwealth yang memiliki kaitan sejarah
membentuk eminent persons untuk menginvestigasi situasi di Afrika
Selatan. Walaupun laporan investigasinya ditolak Kerajaan Inggris,
mereka tetap merekomendasikan pemerintahan Afrika Selatan tidak siap
untuk melakukan negosiasi dan menganjurkan untuk menerapkan sanksi.
Pada tahun yang sama, Masyarakat Uni-Eropa juga mengadopsi kebijakan
terpadu untuk yang pertama kali tentang Afrika Selatan yang
merekomendasikan embargo senjata, minyak, dan peralatan keamanaan
yang sensitif ke Afrika Selatan. Mereka juga menghentikan impor besi dan
baja dari Afrika Selatan setahun kemudian walaupun tidak berhasil
menyepakati penghentian impor batu bara dan produk-produk pertanian
karena oposisi dari Jerman dan Inggris. Kita juga tidak bisa melupakan
peran dari negara-negara nonblok yang terus melakukan tekanan lewat
PBB.
Faktor yang juga tidak kalah penting adalah dukungan masyarakat sipil
yang luas terhadap perjuangan anti-apartheid. Perjuangan masyarakat sipil
itu melewati batas-batas negara dan mereka melakukan tekanan kepada
pemerintah masingmasing untuk bertindak. Walaupun AS dan Inggris
secara formal mendukung baik terbuka atau diam-diam kepada rezim
apartheid Afrika Selatan, masyarakat sipil di sana gencar melakukan lobi,
boikot, dan demonstrasi untuk menentang.
Di Inggris ada sebuah organisasi Boycott Movement yang menyerukan
masyarakat Inggris untuk memboikot produk-produk dari Afrika Selatan.
Demikian pula gerakan-gerakan masyarakat sipil di daratan Eropa.
Pengalaman perjuangan anti-apartheid memberi kita pelajaran dalam
diplomasi bahwa perjuangan tentang nilai-nilai tertentu sangat baik
apabila memperoleh dukungan dari negara-negara maju, tetapi tidak boleh
juga surut semangat kita apabila mereka tidak memberikan dukungan dan
bahkan melawan apa yang kita perjuangkan. Membangun hubungan baik
dan komunikasi aktif dengan negara-negara lain dan khususnya dengan
masyarakat sipil menjadi bagian dari diplomasi luar negeri yang efektif
dalam menciptakan perdamian.
Sumber: SINDO, 18 Desember 2013
Dinna Wisnu Halaman 282

Ketika Terjadi Kerugian Subsidi


Sebuah iklan layanan masyarakat yang dimodali Bank Indonesia muncul
beberapa minggu lalu di hampir seluruh televisi nasional dan disiarkan di
jam-jam penting (prime time). Iklan layanan tersebut menganjurkan agar
masyarakat tidak perlu panik menghadapi kenaikan hargaharga komoditas.
Salah satu cara yang diusulkan dalam iklan tersebut adalah mengubah
kebiasaan dalam mengonsumsi barang komoditas. Misalnya apabila kita
ingin mengonsumsi protein, namun harga daging sapi mahal, kita mencari
sumber protein yang lebih murah seperti tempe, ikan, dan lainnya. Dengan
cara demikian, konsumen dapat “mengalahkan pasar” dan tetap
mendapatkan apa yang diinginkan. Yang repot adalah ketika barang yang
lebih murah ternyata disubsidi pemerintah. Contohnya kasus kelangkaan
gas yang terjadi minggu ini.
Karena kebutuhan gas tetap, padahal gaji tidak naik dan kenaikan harga
gas elpiji 12 kg lebih dari 50% bahkan di sejumlah daerah yang jauh dari
Ibu Kota bisa lebih dari 100%, masyarakat mengejar gas elpiji 3 kg. Jika
konsisten dengan iklan layanan masyarakat di atas, pemerintah berharap
masyarakat akan beralih menggunakan kayu bakar atau minyak tanah.
Problemnya, penggunaan barang substitusi sebenarnya menyangkut gaya
hidup dan ketersediaan alternatif. Saat ini masyarakat sudah terbiasa, dan
dulunya pemerintah juga yang membiasakan, agar masyarakat memasak
dengan elpiji.
Ternyata kebiasaan baru ini menjadi pengantar pasar untuk masuk,
mengatur, dan mendikte cara hidup kita. Kita tak bisa lepas dari gas,
padahal pasokan elpiji kita ternyata belum konsisten. Yang juga ironis
adalah Indonesia sudah 15 tahun pada Era Reformasi dan ketika memasuki
era ini kita pernah bertekad untuk memerangi korupsi, kolusi, dan
nepotisme yang menggerogoti pengelolaan negara ini, termasuk BUMN
(badan usaha milik negara). Kita masih ingat betapa BUMN lebih lekat
konotasinya dengan pelayanan bagi kepentingan bisnis konglomerat
tertentu.
Kita geram bahwa BUMN sekadar menjadi mesin anjungan tunai mandiri
bagi pejabat, selalu kalah saing bahkan dengan BUMN negara lain.
Pertamina pernah terpenjara dalam kungkungan setan tersebut, rugi besar.
Atas dasar pertimbangan itu dan agar kompetisi usaha menjadi sehat,
beberapa sektor seperti minyak, gas, batu bara, mineral, atau
telekomunikasi mulai dibuka untuk modal-modal asing. Selain karena
tujuan agar sektor-sektor itu dikelola oleh perusahaan yang lebih
Dinna Wisnu Halaman 283

kompetitif, negara transisi demokrasi saat itu juga membutuhkan modal


asing untuk menutupi utang-utangnya kepada Bank Dunia dan IMF.
BUMN pun ditegaskan untuk mencari laba dan diwanti-wanti agar tidak
merugi seperti pada Orde Baru. Beberapa BUMN pun kemudian
melakukan transformasi menjadi perusahaan publik. Beberapa diantaranya
mencatatkan saham mereka di Bursa Efek Indonesia seperti PT Garuda,
PT Wika, Jasa Marga, Telkom, dan lainnya. Ini berimbas pada
perusahaan- perusahaan daerah. Contoh yang paling nyata adalah
privatisasi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang dulu terpusat dan
sekarang mulai terdesentralisasi di bawah kewenangan pemerintah daerah
masing-masing.
Masalahnya, tidak seluruh komoditas dan sektor dapat diperlakukan sama.
Ada komoditas tertentu yang tetap memerlukan campur tangan negara
agar dapat dinikmati hasilnya oleh masyarakat seperti listrik, air, dan gas.
Sektor transportasi udara tidak memiliki masalah serius ketika
diliberalisasi karena akan membuka investor untuk membangun maskapai
yang dapat menyaingi PT Garuda. PT Garuda mau tidak mau harus
melakukan perbaikan manajemen agar dapat memberikan pelayanan
maksimal dan tidak ditinggal penumpang.

Penumpang memiliki banyak pilihan maskapai lain untuk terbang selain


Garuda sehingga mereka bisa diuntungkan dari segi pilihan harga tiket
atau mutu pelayanan yang diberikan. Pendekatan tersebut tidak berjalan
baik di sektor seperti listrik atau air. Di Indonesia harga listrik telah
ditetapkan oleh pemerintah seperti harga bensin atau gas karena dianggap
berpengaruh terhadap hajat hidup orang banyak dan perekonomian
nasional. Harga jual listrik PLN kepada konsumen lebih rendah dari biaya
produksinya.
Sebagai catatan, menurut audit BadanPemeriksa Keuangan (BPK) tahun
2010, ongkos produksi atau biaya pokok penjualan PLN sebesar
Rp1.089/kWh sementara harga jual kepada konsumen adalah Rp693/kWh.
Dengan demikian, pemerintah memberikan subsidi listrik Rp1.089 –
693/kWh= Rp 396/ kWh. Hal yang sama juga terjadi pada gas elpiji 12
Kg. Harga pokok perolehan mencapai Rp10.785 per kg, sedangkan harga
yang dinikmati masyarakat sebesar Rp5.850 per kg. Selisih tersebut yang
kemudian harus ditanggung Pertamina.
(Namun, saya belum tahu, apakah kerugian itu ditalangi pemerintah
seperti yang terjadi di PLN atau tidak) Hal yang sama juga terjadi pada
sektor perusahaan air minum di daerahdaerah. Dengan harga jual yang
ditetapkan rendah, sulit sekali untuk menemukan investoryang mau
menanamkan modal di sektor-sektor tersebut. Perlu waktu yang lama bagi
Dinna Wisnu Halaman 284

investor di ketenagalistrikan untukbalikmodal, padahalnaluri para investor


untuk segera dapat menikmati keuntungan. Ini belum ditambah dengan
masalah terbatasnya pasokan atau input produksi seperti gas atau batu bara
yang sudah telanjur dijual kepada pihak asing untuk kontrak jangka
panjang sehingga pembangkit listrik menjadi sangat bergantung pada
bahan bakar fosil atau minyak yang harganya terus meninggi dan
menggunakan kurs dolar.
Sebab itu, jangan heran apabila daerah yang terjangkau listrik di Indonesia
hanya mencapai 78%. Indonesia tertinggal jauh bahkan dari Vietnam yang
sudah mencapai 97,6%, sementara Singapura 100%, Malaysia 99,4%, atau
Filipina 89,7%. Gambaran serupa juga terjadi dalam penyediaan gas elpiji.
Karena setiap sektor atau komoditas memiliki beban politik dan ekonomi
yang tidak sama, pemerintah dalam hal ini BPK perlu lebih bijak dalam
menafsirkan kerugian yang ditimbulkan antara BUMN yang menyediakan
layanan dasar (essential services) seperti listrik, air, dan gas dengan
BUMN di sektor komunikasi, konstruksi, hotel, dan lainnya.
Rakyat harus dapat dengan mudah dan murah mengakses listrik, air bersih,
dan sumber energi lain agar mereka dapat mengakses pelayanan yang lain.
Tanpa listrik murah, anakanak keluarga miskin tidak dapat membaca di
malam hari sehingga pendidikan terbengkalai, demikian pula pasokan ke
air bersih melalui pompa akan terganggu sehingga ada risiko sanitasi dan
kesehatan.
Tentu kita juga perlu kritis agar pengecualian kerugian dari BUMN yang
melayani hajat hidup orang banyak tidak menjadi pembenaran atas
ketidakberesan kebijakan dan koordinasi di pemerintah. Contoh yang
paling relevan misalnya pembangunan infrastruktur yang lamban dan
belum terlihat hasilnya sampai saat ini. Kita patut bertanya, mengapa
pembangunan infrastruktur seperti kilang minyak, jalur pipa gas, atau
jalan raya yang sebetulnya dapat mengurangi subsidi pemerintah terhadap
ongkos produksi BUMN tidak ada kemajuan?
Sumber: SINDO, 08 Januari 2014
Dinna Wisnu Halaman 285

Mesir Memutuskan
Dalam minggu ini, Mesir akan mengamendemen Konstitusi untuk yang
ketiga kali. Ironis bahwa amendemen ini terjadi setelah pemerintahan yang
berkuasa sebelumnya dilengserkan. Amendemen pertama dilakukan
setelah rakyat melengserkan Hosni Mubarak sebagai presiden di tahun
2011. Amendemen itu sebetulnya mengambil bentuk Constitutional
Declaration yang membekukan Konstitusi 1971. Deklarasi itu tidak secara
langsung mengamendemen Konstitusi sebelumnya secara spesifik, namun
membekukan dan memberlakukan deklarasi sebagai dasar hukum selama
konstitusi lama dibekukan.
Deklarasi itu adalah bagian penting dari transisi sistem demokratis di
Mesir, karena mereka memisahkan dengan tegas kekuasaan eksekutif,
yudikatif, dan legislatif. Menurut beberapa diplomat yang saya temui,
salah satu sumber rujukan deklarasi ini adalah Undang-Undang Dasar
1945 yang telah diamendemen oleh parlemen pada 1998. Deklarasi itu
terutama membuka jalan bagi pemilihan umum yang diikuti oleh semua
partai, termasuk Muslim Brotherhood yang dikategorikan sebagai
organisasi terlarang selama pemerintahan Hosni Mubarak.
Perubahan Konstitusi yang akan direferendum pada minggu ini akan
menjadi tonggak penting bagi demokrasi di Mesir, khususnya dari
kelompok angkatan bersenjata yang saat ini berkuasa. Jenderal Abdel
Fattah el-Sisi, yang sebelumnya tidak memberikan komentar apa pun
tentang kemungkinan menjadi presiden, mulai membuka diri akan peluang
dirinya mencalonkan diri sebagai presiden.
Dalam kutipan dari kantor berita negara pada Sabtu lalu, dalam
percakapan di lingkungan pejabat militer, ia mengatakan bila rakyat Mesir
memberikan dukungan penuh pada draf Konstitusi 2013 untuk lolos dalam
referendum minggu ini, maka itu dapat disimpulkan menjadi mandat
baginya untuk mencalonkan diri menjadi presiden. Pihak militer berharap
sedikitnya 70% dari rakyat Mesir yang memiliki hak suara dapat datang ke
lebih dari 30.000 kotak suara untuk memberikan keputusannya.
Dalam referendum di tahun 2012 di bawah kekuasaan rezim Mursi,
penduduk yang datang memberikan suara hanya 32,9% dari 51 juta orang
yang mempunyai hak untuk memberikan suara. Dari jumlah itu, 63,8%
menyatakan mendukung perubahan Konstitusi yang diusulkan oleh Mursi.
Jumlah orang yang datang memberikan suara di tahun 2012 itu menjadi
dasar bagi oposisi untuk menggulingkan rezim Mursi. Rezim militer tidak
ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Dinna Wisnu Halaman 286

Harapan mereka mungkin akan terwujud karena menurut survei Egyptian


Centre for Public Opinion Research (Basirah) terhadap 2.068 orang di
bulan Desember, 76% pemilih akan datang memberikan suara di mana
74% dari mereka akan memberikan dukungan untuk Konstitusi 2013 yang
baru. Partisipasi besar dari pemilih akan memengaruhi politik dalam
negeri. Apabila jumlah pemilih yang datang besar, dapat dipastikan rezim
militer segera menentukan tanggal untuk pemilihan presiden di mana
Jenderal el-Sisi akan mencalonkan diri. Sebaliknya, bila jumlah pemilih
yang datang rendah, penetapan tanggal pemilihan parlemen akan lebih
didahulukan agar ada waktu bagi militer untuk mempersiapkan strategi
pencalonan presiden.
Hingga saat ini, waktu dan urutan pemilihan presiden dan parlemen belum
ditetapkan. Referendum ini juga penting bagi kelangsungan rezim militer
dalam konteks pergaulan internasional. Setelah Mursi digulingkan dalam
sebuah kudeta militer, mitra tradisional seperti Amerika dan Eropa telah
memutuskan untuk memberikan bantuan pembangunan dan militer kepada
rezim militer yang telah menggulingkan Mursi. Perekonomian Mesir saat
ini bergantung pada bantuan dana konsorsium Kuwait, Arab Saudi, dan
Uni Emirat Arab yang memberi bantuan USD13,9 miliar.
Dari segi isi, Konstitusi yang akan direferendumkan pada minggu ini
memiliki banyak hal yang bertolak belakang dari isi Konstitusi 2012 yang
saat ini dibekukan. Draf Konstitusi 2013 ini secara umum kembali
meletakkan militer sebagai bagian dalam proses politik negara, meskipun
ada beberapa hak perempuan, minoritas, kesehatan atau pendidikan yang
dianggap ada perbaikan. Draf Konstitusi baru juga memiliki affirmative
policy bagi kelompok-kelompok minoritas dan pekerja untuk
mendapatkan kursi di parlemen dalam periode pertama Konstitusi ini
diberlakukan.
Sementara itu, aturan yang paling keras adalah pelarangan menggunakan
agama sebagai dasar aktivitas politik partai. Konstitusi yang baru ini jelas-
jelas menambah tekanan kepada Freedom and Justice Party yang
didirikan oleh Muslim Brotherhood yang telah dilarang keberadaannya.
Partai yang menggunakan dasar agama, khususnya agama Islam,
sebetulnya bukan hanya PKK, melainkan juga ada Partai Salafi yang
sebelumnya adalah koalisi dari PKK. Partai Salafi sendiri menerima
Konstitusi tersebut karena menguntungkan posisi mereka juga sebagai
partai yang memiliki dukungan muslim terbesar di Mesir.
Konstitusi baru juga menghilangkan doktrin Sunni sebagai sumber
interpretasi hukum syariah. Interpretasi tetap akan merujuk pada sumber-
sumber tertulis agama, namun akan dilakukan dandiputuskan oleh
Mahkamah Konstitusi. Perubahan penting lainnya adalah peranan
Dinna Wisnu Halaman 287

angkatan bersenjata dalam pemerintahan. Misalnya kedudukan menteri


pertahanan sebagai panglima angkatan bersenjata.
Dalam Konstitusi tahun 2012, menteri pertahanan selaku panglima
angkatan bersenjata dipilih langsung oleh presiden, sementara pada draf
Konstitusi 2013 ada pasal transisi di mana penetapan menteri pertahanan
harus mendapat persetujuan dari Mahkamah Militer (Supreme Council of
Armed Forces) dan berlaku selama dua periode kepresidenan seandainya
Konstitusi 2013 disetujui oleh rakyat. Militer juga akan dilibatkan dalam
penyusunan anggaran pertahanan dan keamanan di mana dalam Konstitusi
2012, angkatan bersenjata hanya menjadi mitra dalam konsultasi tentang
anggaran belanja militer.
Dalam Konstitusi 2012, penduduk sipil dapat diajukan ke pengadilan
militer bila mereka mengganggu fasilitas-fasilitas militer. Namun dalam
Konstitusi 2013, gangguan mengenai fasilitas ini didefinisikan lebih detail,
luas, dan kemungkinan bebas interpretasinya atau karet. Misalnya
kejahatan konspirasi atau melawan petugas yang sedang melakukan tugas
mereka. Hal ini dapat masuk dalam semua tindakan demonstrasi baik yang
bersifat politik maupun ekonomi seperti unjuk rasa serikat buruh atau
kelompok hak asasi manusia.
Perubahan-perubahan itu, khususnya yang terkait dengan kembalinya
militer, juga menjadi dasar bagi kelompok-kelompok lain selain Muslim
Brotherhood yang ikut mengampanyekan penolakan terhadap Konstitusi
yang baru. Pihak luar negeri juga merasa waswas dengan kembalinya
militer dalam politik, karena rasa pesimistis bahwa itu akan membawa
kestabilan politik jangka panjang. Beberapa pihak memandang bahwa
rezim militer dan Muslim Brotherhood adalah dua sosok yang sama
karena menggunakan kekerasan dan ancaman untuk menentang lawan-
lawan politik mereka.
Dunia sangat menanti hasil dari referendum ini, karena Mesir dalam
sejarah adalah negara yang juga aktif berperan dalam perdamaian di Timur
Tengah. Sebagai salah satu sahabat lama dari Mesir, Indonesia hanya bisa
berharap yang terbaik dari proses referendum di Mesir.
Sumber: SINDO, 15 Januari 2014
Dinna Wisnu Halaman 288

Pasang-Surut Solusi Lingkungan


Minggu ini penduduk di Jakarta, Manado, Bekasi, Tangerang, dan
beberapa daerah lain mengalami penderitaan karena bencana banjir yang
telah memorak-porandakan harta benda dan kehidupan. Kita dapat
dibayangkan berapa kerugian yang mereka alami; tidak hanya dari segi
finansial tetapi juga waktu, tenaga bahkan kesehatan. Kondisi mereka
mungkin akan bertambah buruk sejalan curah hujan yang masih terus
tinggi dan sulitnya mendapatkan air bersih serta sarana kebersihan. Ada
ancaman serangan penyakit bagi para korban banjir. Di berbagai belahan
dunia lain ada bentuk bencana lain.
Ada bencana hawa superdingin di Amerika Serikat (AS) yang mencapai
minus 50 derajat Celsius, atau sebaliknya bencana hawa panas di Australia
yang dapat mencapai suhu 49 derajat Celsius. Patutlah kita bertanya,
apakah ada yang salah dengan cara kita merawat bumi ini? Apakah
kejadian yang terjadi belakangan ini benar-benar faktor alam yang tak ada
hubungannya dengan tangan manusia? Atau bila kita campur tangan,
apakah suasananya akan lebih baik?
Atau sebaliknya, bencana tersebut justru terjadi karena faktor manusia
yang semakin dominan atas alam dan telah mengubah tradisi atau
kebiasaan alam yang telah berlangsung selama ribuan abad. Para ahli
lingkungan yang tergabung dalam panel para ahli lingkungan telah
memperingatkan, suhu bumi yang kini menghangat 2 derajat Celsius dari
tahun-tahun sebelumnya akan menimbulkan dampak lingkungan yang
sangat serius, antara lain tidak stabilnya siklus cuaca, perubahan cuaca
yang terjadi tiba-tiba, curah hujan yang lebat, kekeringan.
Suhu bumi yang menghangat 2 derajat Celsius sama halnya dengan jumlah
emisi karbon yang berjumlah 1 triliun ton karbon ke udara. Dalam sejarah,
bumi membutuhkan waktu 250 tahun untuk menghasilkan emisi hanya
setengah dari 1 triliun ton karbon, namun kita manusia yang hidup setelah
Revolusi Industri, hanya membutuhkan 30 tahun untuk mencapai batas
tersebut (trillionthton.org).
Masalah ini yang menjadi pokok pembicaraan dalam diplomasi perubahan
iklim yang diadakan setiap tahun secara bergilir di setiap negara. Masing-
masing negara saling menuding dan melindungi diri sendiri tentang siapa
yang bersalah atas keadaan tersebut. Siapa yang harus bertanggung jawab
membersihkan polusi tersebut? Siapa yang harus menyumbangkan dana
lebih besar untuk perbaikan lingkungan?
Apakah negara-negara maju yang sudah memulai mengotori udara dunia
lewat cerobong-cerobong asappabrik-pabrik mereka ketika Revolusi
Dinna Wisnu Halaman 289

Industri terjadi, ataukah negara-negara berkembang yang saat ini tengah


mengupayakan pengentasan kemiskinan dengan menggalakkan
industrialisasi di segala sektor termasuk di sektor kehutanan? Pada saat
ini, negara yang menyumbangkan emisi karbon terbanyak menurut PBL
Netherland Environmental Agency adalah China.
Sekarang total emisi global di dunia (2012) adalah 34,5 miliar ton karbon
dioksida. Sebanyak 55% dari total emisi tersebut disumbangkan oleh
China dan negaranegara berkembang lainnya. Emisi China sendiri lebih
besar (29%) dibandingkan jumlah emisi seluruh negara-negara
berkembang. Apakah dengan demikian China dapat disalahkan dan
menanggung beban yang lebih besar daripada negara yang
menyumbangkan emisi terkecil?
Apa yang terjadi sesungguhnya menurut PBB adalah outsourcing emisi
dari negara-negara maju seperti Eropa dan AS ke China? Masyarakat
Eropa dan AS menikmati murahnya produk elektronik seperti handphone,
tablet, tekstil, sepatu, dan barang-barang manufaktur lain. Besarnya
tekanan konsumsi tersebut mendorong pembangkit- pembangkit listrik di
China untuk kehausan energi karena pabrik-pabrik di China bekerja 24
jam terus-menerus tanpa henti.
Konsumsi energi ini kemudian mendorong eksploitasi bahan bakar fosil
seperti minyak bumi dan mineral seperti batu bara di berbagai negara yang
memiliki sumber daya tersebut, termasuk Indonesia. Pada akhirnya,
masalah ini menjadi semakin rumit karena setiap negara memiliki
kepentingan pembangunan yang harus dipertahankan. Tingginya emisi
China dibandingkan dengan negara-negara maju juga tidak berarti bahwa
negara maju berhasil mengurangi emisi.
Beberapa pihak menyanggah dengan menyampaikan argumen, bahwa krisis
ekonomi di wilayah tersebut yang lebih menjadi faktor dominan rendahnya
emisi dan bukan karena komitmen mereka pada kelestarian lingkungan. Dari
kenyataan di atas, kita dapat melihat bahwa jalan keluar perubahan iklim
tidak hanya dapat diselesaikan melalui rekayasa teknik lingkungan tetapi
melibatkan faktor-faktor lain seperti budaya, sosial, dan ekonomi masing-
masing negara.
Masalah ini sebetulnya telah dibahas dan bahkan negaranegara bersedia
mengikat diri dalam sebuah kesepakatan yang disebut Protokol Kyoto. Dalam
protokol itu sendiri telah diakui beban yang paling berat adalah negara-negara
maju yang telah menyumbangkan emisi selama 150 tahun sejak Revolusi
Industri mendorong pertumbuhan ekonomi mereka. Para pihak yang
menandatangani protokol ini sepakat bahwa tingkah laku manusia adalah
penyebab utama terjadinya perubahan iklim.
Dinna Wisnu Halaman 290

Kesepakatan atau pengertian ini penting karena menjadi dasar untuk


mendirikan argumen dan aturan-aturan lain yang mengikat negara maju untuk
mengurangi emisi. Sebagai satusatunya kesepakatan internasional dalam
mengurangi emisi karbon, nasib Protokol Kyoto pun hingga saat ini tidak
jelas. Hanya 37 negara maju dan anggota Uni Eropa yang sepakat untuk
mendukung komitmen-komitmen dalam protokol tersebut.
Namun sayangnya, negara tersebut bukan bagian dari negara yang
menghasilkan emisi karbon terbesar. Negara-negara maju penyumbang emisi
karbon terbanyak seperti AS dan Kanada enggan dan bahkan keluar
kesepakatan. Tindakan tersebut yang kemudian memprovokasi negara-negara
lain untuk mengikuti jejak mereka dan membuat buntunya negosiasi
penanganan perubahan iklim.
Ada negara seperti Selandia Baru dan Jepang yang tetap berada di dalam
kesepakatan Kyoto, namun tidak memiliki komitmen untuk mengurangi
emisi. Alasan negara penyumbang emisi terbesar untuk tidak ikut
berkomitmen mengurangi emisi adalah karena kondisi perekonomian yang
lesu. Mereka khawatir apabila memiliki komitmen menurunkan emisi maka
perekonomian mereka akan semakin ambruk. China yang menolak Protokol
Kyoto pun menjadi memiliki legitimasi atas posisinya untuk perlu repot-repot
pusing memikirkan emisi. Tidak heran apabila emisi karbon di masa depan
akan semakin meningkat dan akan memengaruhi cuaca yang menyebabkan
perubahan iklim dan bencana alam.
Fakta-fakta tersebut memberikan kita pemahaman di balik pasang-surutnya
negosiasi untuk mencari jalan keluar bagi lingkungan kita, setiap negara,
khususnya negara-negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi atau
pendapatan per kapita yang besar, melihat masalah dan penyelesaian
lingkungan dari untung-rugi sistem ekonomi pasar.
Dalam diplomasi yang mengedepankan logika kompetisi, solusi atas masalah
lingkungan mustahil dapat dicapai karena setiap negara tersandera oleh
pemikiran tersebut. Oleh sebab itu, solusi atas perubahan iklim dan
menghindarkan bencana alam yang lebih parah mungkin membutuhkan
paradigma ekonomi yang lebih berpusat kepada manusia dan komunitas, yang
tidak terlalu memuja persaingan ekonomi pasar yang orientasinya liberal.
Saya berharap pemimpin Indonesia di masa depan tidak hanya berlomba-
lomba mencari pujian karena menyatakan dirinya sebagai yang paling
”green” di antara negara lain, tetapi juga dapat mengembangkan pemikiran
dan praktik ekonomi yang lebih ramah lingkungan dan berpusat pada manusia
dan komunitas.
Sumber: SINDO, 22 Januari 2014
Dinna Wisnu Halaman 291

Suriah dan Nasibnya di Jenewa II


Memang sulit melihat sisi positif dari ke-kacauan di Suriah saat ini. Satu
hal yang patut disyukuri adalah sampai saat ini tidak terjadi invasi militer
sepihak ke Suriah oleh Barat yang sebenarnya sudah sangat gemas ingin
“menyelesaikan” kekacauan di sana. Meskipun senjata bertebaran di
Suriah dan tidak dapat dimungkiri ada kelompok kelompok yang
mendapatkan bantuan asing untuk bertahan sebagai oposisi, hal lain yang
patut dipuji adalah semua pihak yang bersengketa di Suriah bersepakat
untuk menahan penggunaan kekerasan militer demi memasuki Suriah
baru. Semoga memang tidak akan terjadi karena intervensi militer apa pun
pasti akan membawa dampak yang negatifkarenatidaktertutupadanya
collateral damage atau dampak tidak diinginkan bagi komunitas sipil.
Hanya saja, kekacauan politik dalam negeri di Suriah telah menimbulkan
perang saudara yang memakan korban begitu banyak dan sampai saat ini
tidak jelas seperti apa wujud “Suriah Baru”. Sejak Maret 2011 tercatat tak
kurang dari 130.000 orang tewas dan jutaan warga kehilangan tempat
tinggal. Yang jelas dari semua ini hanyalah dua hal poinnya: rezim Bashar
al-Assad tidak mau turun dan ada ratusan kelompok oposisi yang bahkan
saling tidak ingin bicara.
Pihak Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) melalui inisiatif Utusan
Perdamaian untuk Suriah Kofi Annan memutuskan untuk “bergerak”
mencari solusi dengan cara membangun kesepakatan bertahap dengan
pihak- pihak yang bertikai, mendudukkan mereka bersama demi
membangun pemerintahan transisi berbasis konstitusi yang disepakati
seluruh pihak di Suriah. Pertemuan pertama yang dikenal sebagai
Konferensi Jenewa I itu terlaksana pada 30 Juni 2012 di Jenewa.
Meskipun pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan yang disebut
communique, detail dari kesepakatan tersebut masih laksana api dalam
sekam. Maksudnya: oke, akan ada pemerintahan transisi, tetapi karena
pihak oposisi di Suriah plus pihak Barat dan negara-negara Timur Tengah
(seperti Turki dan Arab Saudi) mendesak agar pemerintahan transisi
tersebut tidak mengikutsertakan kelompok Bashar al-Assad, perjalanan ke
Konferensi Jenewa II menjadi terseok-seok.
Tentu saja para diplomat yang terlibat dalam Konferensi Jenewa II akan
berjuang keras agar konferensi tersebut berhasil, minimal agar terjadi
gencatan senjata di tingkat lokal sehingga bantuan kemanusiaan dapat
lebih mudah menjangkau jutaan masyarakat Suriah yang
membutuhkannya. Namun selama para politikus yang terlibat di sana
merasa tidak akan mendapatkan “keuntungan” kelompok, kebuntuan
Dinna Wisnu Halaman 292

adalah keniscayaan. Betul, yang sangat ironis dari kondisi di Suriah ini
adalah pihak-pihak yang terlibat dalam Konferensi Jenewa II tidak datang
karena ingin menciptakan Suriah yang berdaulat, tetapi karena mereka
ingin berkuasa di Suriah meskipun basis dukungan mereka kecil dan tidak
ada bukti mereka mampu mempersatukan Suriah yang sudah porak-
poranda dan saling benci dari segi politik dan kesukuan.
Dengan dalamnya konflik dan pihak-pihak asing yang terlibat, kita perlu
mempertanyakan apakah konflik di Suriah masuk dalam kategori konflik
pembebasan dari negara kolonial? Konflik aliran Sunni dan Syiah?
Gerakan bersenjata untuk membentuk masyarakat demokratik di Suriah?
Pertaruhan politik kekuasaan dua negara pascaperang dingin antara
Amerika dan Rusia?Atau sekadar pasar menyerap produksi senjata negara-
negara maju? Di sini kita bisa membandingkan kondisi di Suriah dengan
perjuangan kemerdekaan pada umumnya dan negara-negara Timur
Tengah pascainvasi seperti Irak, Libya atau Afghanistan.
Dalam sejarah transisi politik, baik perjuangan pembebasan, kudeta
militer, terorisme ataupun kolonialisasi, tidak ada hal yang tidak ideologis.
Setiap konflik selalu mewakili ideologi tertentu. Pada tahun 1945-1950-
an, hampir seluruh negara ketiga yang mendapatkan kemerdekaannya
telah mengalami konflik dengan negara-negara Eropa dan Amerika.
Negara-negara yang merdeka itu memiliki identitas nasionalisme yang
sangat kuat. Di dalam periode waktu 1960-an–1980-an, konflik yang
terjadi terutama terkait dengan perseteruan antara perang dingin ideologi
kiri dan kanan.
Keterlibatan Amerika dan Uni Soviet dalam setiap konflik negara mana
pun tidak bisa dilepaskan dalam konteks tersebut. Menjelang abad ke-21
ini, konflik yang terjadi lebih diwarnai konflik sektarian yang melibatkan
paham-paham aliran agama yang berbeda. Gambaran di atas mungkin
sebuah penyederhanaan terhadap situasi yang lebih kompleks, tetapi yang
ingin saya tekankan adalah apa pun jenis konflik yang terjadi dan siapa
pun pihak-pihak yang terlibat akan selalu diawali sebuah pembentukan
kesadaran ideologis tertentu yang berlangsung tidak dalam semalam.
Pembentukan kesadaran untuk menentang sesuatu atau meyakini sesuatu
tidak terjadi tiba-tiba. Kesadaran tersebut mensyaratkan adanya sebuah
organisasi yang solid, pemimpin yang karismatik, massa yang terdidik
dengan ideologi tersebut, dan teori-teori perjuangan yang mereka yakini
harus dijalankan untuk mewujudkan apa yang mereka impikan. Tanpa
syarat minimal tersebut, mustahil sebuah pergerakan akan memiliki
stamina yang cukup untuk melakukan perlawanan yang memerlukan
waktu panjang. Tampaknya hal itu yang terjadi di Suriah saat ini.
Dinna Wisnu Halaman 293

Ironisnya kelompok prodemokrasi di Suriah yang lahir dari Arab Springs


bukanlah sebuah kelompok ideologis yang memiliki syarat minimal
tersebut. Kekosongan itu yang justru kemudian diisi kelompok-kelompok
yang memiliki syarat-syarat minimal tersebut seperti Front Al-Nusra dan
ISIL yang berafiliasi ke Al- Qaeda, kelompok Hisbullah yang memiliki
afiliasi ke Iran, dan tentu tidak lupa Amerika, Rusia, China, Inggris, dan
negara- negara dengan ekonomi terkuat yang juga tidak ingin kehilangan
pengaruh di kawasan Timur Tengah. Dari pandangan tersebut, saya
melihat bahwa nasib Suriah bukan satu-satunya yang dipertaruhkan dalam
Konferensi Jenewa II.
Perang saudara di Suriah adalah proxy war alias perang tidak langsung
antara aktor-aktor non-state dan state dalam mengamankan
kepentingannya. Namun, bila kita melihat menguatnya kekuatan Al-Qaeda
di Timur Tengah yang memengaruhi Irak, Afghanistan, Libya, dan negara-
negara lain yang sedang bergejolak, tugas besar kekuatan Barat adalah
untuk mampu meyakinkan Bashar al-Assad bahwa bila ia turun dari kursi
kekuasaan, akan berkurang pula kekuatan Al-Qaeda di Suriah. Bila tidak,
konflik Suriah akan terus terjadi dan memakan lebih banyak korban.
Sumber: SINDO, 29 Januari 2014
Dinna Wisnu Halaman 294

Drama Corby
Schapelle Corby adalah terpidana kasus narkoba asal Australia yang
tertangkap di Bali sembilan tahun lalu dan baru saja menerima
pembebasan bersyarat dari Pemerintah Indonesia. Dalam syarat tersebut,
Corby wajib menunjukkan perilaku baik, rutin melapor ke aparat
berwenang, dan tidak boleh meninggalkan Indonesia sampai 2017. Di
Indonesia, reaksi kecewa terhadap putusan pemerintah lebih kental
daripada yang mendukung. Intinya, pemberian pengurangan hukuman
bagi terpidana kasus narkoba adalah preseden buruk bagi penegakan
hukum.
Dari pengamatan saya secara langsung dari media-media di Australia, ada
sisi lain yang menarik untuk dicermati yakni sisi reaksi dari media dan
industri hiburan di Australia. Selama bertahun-tahun kasus Corby
memberi materi hiburan yang tinggi bagi publik di Australia, bahkan
selama berhari-hari menjelang penandatanganan surat pembebasan
bersyarat dari Pemerintah Indonesia sejumlah media melakukan liputan
live. Mereka menempatkan puluhan staf di berbagai titik agar dapat
memperoleh gambar dan berita eksklusif tentang kejadian menit per menit
menjelang dilepas Corby. Beberapa pernyataan yang berulang disebut oleh
reporter antara lain: apakah Indonesia akan menunda pemberian
pembebasan bersyarat? Apakah sistem penandatanganan surat
pembebasan bersyarat tidak bisa dibuat lebih efisien?
Mengapa para aparat penjara dan kepolisian tidak bisa mengatur suasana
peliputan media supaya lebih manusiawi untuk Corby? Mengapa sampai
terjadi dorong-mendorong? Segala drama itu dibingkai lebih seru dengan
diputarkan ulang film berjudul Schapelle Corby yang sebenarnya
menghilangkan banyak sisi riil dari tuntutan hukum atas Corby.
Lagi-lagi kritik yang terasa dalam film itu adalah seputar para petugas
bandara yang tidak menunjukkan rasa kasihan kepada perempuan muda
yang di film itu digambarkan tak bersalah, petugas penjara yang minta
disuap, dan suasana penjara yang sangat kotor dan tidak manusiawi.
Artinya, kejadian pelanggaran hukum sekelas Corby menjadi teleskopbagi
masyarakat Australia untuk melihat suasana dan menilai kemampuan
aparat Indonesia. Apakah gambaran tersebut akurat, itu soal lain.
Yang dibutuhkan dalam kondisi seperti itu, apalagi ketika dunia hiburan
merasa menemukan objek baru, adalah spekulasi dan berita-berita yang
tidak utuh. Model liputan live memberi ruang yang lebih luas untuk
spekulasi tersebut karena para reporter tidak harus bicara tentang
Dinna Wisnu Halaman 295

dokumentasi yang utuh dari tuntutan hukum yang menjerat Corby. Yang
tampak di layar saja yang dikomentari habis-habisan.
Kejadian ini semoga mengingatkan kita pada relasi bilateral Indonesia-
Australia, juga relasi bilateral Indonesia dan Malaysia atau Singapura yang
tergolong mudah terseret emosi. Satu liputan media bisa menyulut
perasaan tersinggung yang berbuntut panjang. Eksploitasi kasus oleh
media masing-masing negara telah memprovokasi dan menyediakan
panggung bagi para politisi untuk memberi komentar yang terlihat
berlebihan.
Di titik ini mungkin politisi dapat lebih bijak untuk tidak sekadar
memberikan pendapat yang populis tanpa mempertimbangkan dampak
politisnya terhadap hubungan kedua negara. Di sinilah diperlukan
pengamatan berjarak dari ragam stimulus yang menyulut emosi tersebut.
Orang Indonesia harus percaya bahwa para aparat pemerintahnya punya
profesionalitas yang cukup untuk mengenali mana kejahatan dan mana
yang bukan.
Kita juga harus mempertimbangkan faktor-faktor yang dapat menyulut
relasi buruk dengan negara tetangga. Dalam situasi emosional seperti yang
dialami masyarakat Australia dalam kasus Corby ini, tindakan Pemerintah
Indonesia untuk tampil tenang dan profesional sudah baik. Pada akhirnya
semua harus dikembalikan pada porsinya; urusan hukum ditangani dengan
cara hukum. Yang patut disayangkan adalahPemerintah Indonesia justru
luput melihat jaringan masalah yang lebih besar terkait penyelundupan
narkoba ke lokasi-lokasi pariwisata di Indonesia.
Pemberitaan di Australia memberi indikasi bahwa sindikat perdagangan
narkoba adalah masalah serius juga di Negeri Kanguru itu. Keluarga dan
temanteman Corby bahkan termasuk yang tertangkap tangan mengedarkan
narkoba. Indonesia juga luput membedakan apakah tekanan dari Australia
untuk pembebasan Corby sebagai tekanan dari keluarga Corby atau
tekanan dari Pemerintah Australia.
Tampaknya kita cenderung menyamaratakan walau kenyataannya
Pemerintah Australia pun sangat berhati-hati dalam mencampuri urusan
ini karena mayoritas kasus tangkap tangan urusan narkoba seperti Corby
memang terbukti melibatkan jaringan penjahat. Tidak akan ada jaminan
pada masa depan bahwa hubungan Indonesia dan Australia akan tenang
dan harmonis hanya karena Corby dibebaskan lebih cepat dan bersyarat
oleh Pemerintah Indonesia.
Secara sosial dan budaya dan dalam keseharian, Australia lebih
mengasosiasikan dirinya dengan masyarakat Barat yang cenderung
terbuka dan to the point dalam menyampaikan pendapat. Memang tahun
Dinna Wisnu Halaman 296

lalu dalam dokumen hubungan luar negerinya disampaikan bahwa


Australia adalah bagian dari Asia dan dalam kurun waktu kurang dari 15
tahun lebih dari 50% penduduk Australia justru berdarah Asia atau
dibesarkan di Asia, cara berpikir dan berpendapat mereka tidak (belum?)
bisa dikatakan sama dengan cara-cara Asia atau ASEAN.
Orientasi mereka adalah untuk bicara apa adanya, bahkan bicara sambil
berpikir. Perbedaan budaya dan politik ini potensi-potensi yang dapat
membuat hubungan Indonesia dan Australia turun-naik. Namun di sisi
lain, ini juga peluang yang baik karena masih ada ruang-ruang dialog di
antara masyarakat sipil kedua negara yang bisa dijajaki.
Kasus Corby atau kasus pengungsi adalah contoh-contoh di mana
masyarakat Australia pada umumnya masih melihat Indonesia sebagai
negara yang sedang melakukan transisi politik dan ekonomi menuju
masyarakat yang lebih demokratis dan maju.
Kerja sama yang baik, terutama di bidang ilmu pengetahuan, akan saling
membantu masyarakat sipil di kedua belah pihak untuk dapat memberikan
tekanan-tekanan yang tepat bagi pemerintahan yang berkuasa agar adil
dan proporsional dalam menanggapi isu-isu sosial ekonomi maupun
politik yang berkembang.
Sumber: SINDO, 12 Februari 2014
Dinna Wisnu Halaman 297

Singa, Garuda, dan Kanguru


Dalam sebulan terakhir ini berita diplomasi kita kian menarik dan menjadi
banyak perhatian masyarakat internasional, khususnya terkait dengan
hubungan dengan negara tetangga, Singapura dan Australia. Di Singapura,
masalah pemberian nama KRI Usman Harun menjadi berita utama dalam
beberapa hari dan menjadi perbincangan di dalam negeri.
Bahkan berita PM Singapura yang meng-unfriend-kan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi trendingdi Twitter baik di Indonesia
maupun Singapura. Pekan lalu Pemerintah Australia juga menjadi panas
hati dan kepala ketika Pemerintah Indonesia mengizinkan iringiringan
kapal perang dan kapal selam China melewati selat yang berdekatan
dengan Pulau Christmas, salah satu pulau terluar dari Australia. Australia
mencurigai ada hal tersembunyi yang sedang dilakukan antara China dan
Indonesia terkait perjalanan tersebut.
Karena, menurut Australia, jalur yang diambil tidak wajar dan lebih jauh
dalam ukuran jarak ketimbang jalur lain. Masalah-masalah tersebut
tampak semakin terakumulasi. Belum reda emosi, rasa gelisah dan kesal
yang berkembang antara Indonesia dan Australia setelah terungkap
kejadian penyadapan dan intersepsi data pembicaraan sejumlah pejabat
negara di Indonesia, termasuk Presiden SBY dan Ibu Negara, telah muncul
masalah lain. Dalam kasus hubungan dengan Singapura, selain masalah
penamaan kapal perang, ada masalah lain seperti asap akibat kebakaran
menutupi total wilayah Singapura, masalah pelarangan ekspor pasir dari
Indonesia yang ternyata telah membuat perbatasan Singapura maju 12 km
dari original base line di tahun 1973 dan beberapa masalah lain. Dari sudut
pandang Indonesia, kedua negara tetangga kita tampak jelas menunjukkan
sikap yang kurang bersahabat. Meski demikian, dibandingkan dengan
hubungan Indonesia- Australia, hubungan dengan Singapura belum
sampai pada tahap penarikan duta besar. Walaupun hubungan terasa
panas, komunikasi antara dua negara berjalan baik.
Hal ini mungkin karena tidak ada alternatif lain bagi Singapura kecuali
melakukan komunikasi intensif karena posisi Indonesia yang secara
geografis lebih dekat dan lebih memiliki risiko terhadap keamanan negara
tersebut daripada posisi Indonesia dengan Australia. Dengan Australia,
jarak kita lebih jauh dan itu membuat mereka memiliki jarak dengan
Indonesia. Walaupun dalam sejarahnya, Australia tidak akan dapat
membuat langkah politik apa pun bila tidak ada izin dari Amerika karena
pihak yang lebih berkepentingan untuk ber-hubungan baik dengan
Indonesia adalah Amerika dalam rangka keseimbangan kekuatan regional.
Dinna Wisnu Halaman 298

Dalam pergaulan saya dengan para diplomat dan akademisi dari kedua
negara, saya melihat ada beberapa hal menarik dari cara pandang mereka
terhadap Indonesia dan sebaliknya bagaimana cara kita melihat hubungan
negara tersebut. Kebetulan pula selama sebulan ini saya berkesempatan
menjadi peneliti tamu di Australian National University di Canberra, ibu
kota Australia. Hal yang menarik, menurut saya, adalah bagaimana
konstruksi tentang Indonesia dibangun oleh dua negara.
Di Australia hampir tidak ada satu hari berlalu tanpa berita tentang apa
yang terjadi di Indonesia. Istilahnya jarum jatuh di Indonesia pasti
terdengar suaranya sampai Australia, mulai dari hal sepele seperti turis
yang meninggal karena alergi makan ikan di Bali sampai soal pencari
suaka dan berita tentang persiapan pemilu di Indonesia. Seperti yang saya
sampaikan dalam kolom ini pekan lalu, citra Indonesia sebagai negara
yang korup, penduduknya yang miskin dan para pemimpinnya yang haus
kekuasaan adalah citra yang ditanamkan lewat media massa setiap
harinya.
Di kalangan warga Singapura, atau minimal para diplomat negara tersebut
yang berinteraksi dengan saya, mereka mengakui Indonesia adalah sebuah
negara besar dan kuat walaupun tidak secara langsung diucapkan. Ada
rasa kekhawatiran setiap hari tentang apa yang akan dilakukan oleh
Indonesia terhadap Singapura. Mereka mungkin sudah menghitung
selemah-lemahnya militer Indonesia karena peralatan perang yang
ketinggalan zaman, Singapura akan sulit untuk bertahan sendiri apabila
terjadi konflik bersenjata. Konstruksi itu perlu juga kita lihat dari situasi
internal ekonomi dan politik di masingmasing negara yang tengah
mendapat sorotan.
Ekonomi Singapura yang sangat erat dengan pasar internasional belum
pulih dengan total karena pertumbuhan ekonomi di Amerika dan Eropa
juga belum menjanjikan. Jumlah penduduk imigran di Singapura semakin
banyak dan beberapa waktu lalu ada sebuah kerusuhan rasial di Orchard
yang sangat jarang terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Australia
sebenarnya sedang dalam posisi lemah karena nilai kompetitif mereka
dianggap rendah oleh sejumlah perusahaan besar. Misalnya Toyota yang
baru saja mengumumkan akan menutup pabriknya pada 2017 sehingga
50.000 orang akan kehilangan pekerjaan.
Coca-Cola dan anak perusahaannya, SPC Admona, yang keuntungannya
terus menurun sehingga minta dana talangan dari pemerintah, bahkan
Qantas Airlines mulai kembang kempis. Saya hanya ingin mengatakan
sikap-sikap yang tampaknya tidak bersahabat dari kedua negara tersebut
dapat terkait dengan upaya politik dalam negeri mereka untuk
mendapatkan simpati, terutama ketika berada di dalam tekanan ekonomi
Dinna Wisnu Halaman 299

dan politik. Mereka tetap membutuhkan dukungan politik dari warganya


untuk dapat membuat kebijakan-kebijakan yang mungkin akan memiliki
konsekuensi keras di dalam negerinya sendiri.
Dengan kita mencoba memahami hal tersebut, kita mungkin bisa mengatur
seberapa besar volume tekanan kita dalam diplomasi dan politik.
Terkadang ada masalah yang perlu menuntut sikap tegas dan keras seperti
kasus pencari suaka, tetapi kadang-kadang kita perlu bersikap santai untuk
masalah lain. Intinya, apa pun yang dilakukan oleh para pemimpin politik
dari kedua negara tersebut, jangan sampai mengurangi keyakinan akan
fakta bahwa secara geopolitik, hubungan baik kedua negara, mau tidak
mau harus diupayakan.
Apabila tidak, tidak akan ada yang diuntungkan dari pecahnya hubungan
yang telah dibangun dengan hati-hati di masa lalu. Artinya daripada
politisi berkoar-koar dan melontarkan ucapan mengancam yang sekadar
mempertajam ketegangan, lebih baik membangun politik yang makin
santun, tidak korup, terpuji, dan beretika. Hanya dengan itu Indonesia
terbantu menjadi negara yang terhormat dan disegani.
Sumber: SINDO, 19 Februari 2014
Dinna Wisnu Halaman 300

Ekonomi Alternatif
Hari Selasa kemarin saya mendapat tugas untuk menjadi salah satu panelis
untuk acara debat partai politik tentang platform ekonomi dan politik
untuk Pemilu 2014. Acara tersebut dibuat sebagai sarana informasi bagi
pemilih dalam menentukan pilihan partai mereka. Hal yang membuat saya
berpikir bukanlah acara tersebut, tetapi kemacetan yang ditimbulkan aksi
damai serikat pekerja di Jalan Sudirman Jakarta. Menurut berita, aksi
unjuk rasa itu diikuti oleh sebanyak-banyaknya 10.000 buruh. Jumlah itu
belum ditambah dengan petugas pengaman yang berjumlah 6.180 orang
dari berbagai unsur antara lain kepolisian, TNI, bahkan Pemerintah
Daerah DKI.
Aksi itu adalah bagian dari peringatan hari jadi sebuah serikat buruh
sekaligus peluang menyampaikan tuntutan-tuntutan seperti penolakan
kebijakan upah murah, perbaikan BPJS Kesehatan, pencabutan Instruksi
Presiden No 9/2013 tentang Kebijakan Penetapan Upah Minimum dalam
Rangka Keberlangsungan Usaha dan Peningkatan Pekerja, revisi
Permenakertrans No 13/2012, dan penghapusan sistem kerja
kontrak/outsourcing. Bagi para pegawai yang bekerja di sepanjang jalan
Sudirman dan Thamrin, tuntutan tersebut pasti tidak asing.
Dalam setiap aksi demonstrasi pekerja, tuntutan tersebut selalu
dikumandangkan. Terpicu oleh aksi tersebut, saya kembali teringat tentang
sebuah konsep atau kerangka berpikir bernama Social and Solidarity
Economy yang saat ini sedang didorong oleh United Nation Research
Institute for Social Change. Konsep tersebut adalah gabungan dua
kerangka berpikir, yakni solidarity economy dan social economy yang
berkembang di beberapa negara. Pendekatan social economy adalah
pendekatan atau analisis ekonomi yang kelahirannya tidak terpisahkan dari
analisis ekonomi klasik.
Banyak interpretasi tentang pendekatan social economy, di antaranya yang
menyatakan tindakan ekonomi masyarakat tidak terlepas dari konteks
sejarah, politik, dan sosial masyarakat tempatnya berkembang. Misalnya
Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang dalam masa
pemerintahan Orde Baru terinspirasi dari teori modernisasi masyarakat
Barat pada akhirnya tidak dapat berjalan optimal. Ini karena ada
hubungan-hubungan sosial di antara individu dan masyarakat yang masih
kental dengan hubungan sosial agrikultur, perdesaan atau cara pandang
feodal.
Sebuah kenyataan yang lantas disebut dengan dualisme ekonomi oleh
Geertz. Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan ekonomi klasik yang
Dinna Wisnu Halaman 301

menganggap tindakan ekonomi secara ekstrem mengikuti logika supply


and demand. Manusia dalam ekonomi klasik adalah homo economicus,
yaitu manusia akan bertindak secara rasional untuk memenuhi
kebutuhannya. Tidak ada etika, moral, adat atau hal sosial lain yang akan
memengaruhi cara pikirnya secara signifikan. Karena itu pendekatan
social economy memedulikan hal-hal yang sangat terkait dengan sifat
sosial seorang manusia dan komunitasnya.
Mereka tertarik untuk menyelidiki berkembangnya model-model ekonomi
koperasi, lembaga keuangan adat, koperasi mikro dan modelmodel
ekonomi lain di luar sektor privat yang dikuasai investor swasta atau
sektor publik yang dikuasai negara. Karenanya ada yang menyebutnya
sebagai the third-sector atau sektor ketiga. Di dalam konteks perdagangan
ekonomi dunia yang semakin liberal dan bebas, pendekatan ekonomi
sosial ini menjadi sangat relevan untuk dikaji karena muncul model-model
ekonomi baru yang tidak hanya dalam bentuk koperasi atau lembaga
ekonomi mikro seperti masa lalu.
Contohnya, dalam konteks hubungan industrial perburuhan, ada model
kerja sama ekonomi yang dilakukan Mondragon Cooperative Corporation,
yaitu sebuah federasi koperasi yang dibentuk para pekerja di wilayah
Basque, Spanyol, pada 1956. Produk pertamanya adalah parafin (bahan
bakar gas yang dibekukan), tetapi saat ini telah berkembang hingga
mencakup sektor keuangan, industri, ritel, dan sumber daya. Jumlah
pegawainya mencapai 80.321 orang.
Di tahun 2012, salah satu cabang mereka, Fagor Electrodom Èsticos,
menghadapi masalah keuangan akibat resesi di Spanyol. Pada saat itu,
para pekerja yang diuntungkan dari krisis, yaitu pekerja di sektor panel
surya, menyadari dan setuju untuk secara sukarela mengurangi upah
mereka sebesar 7,5%. Pengurangan itu adalah salah satu bentuk subsidi
mereka terhadap pekerja lain di Fagor ElectrodomÈsticos agar tidak
mendapat pengurangan upah lebih dari 7,5%. Selain mereka ada pula
jaringan supply-chain tekstil yang dikoordinasi koperasi Fio Nobre dan
koperasi Coop Acai.
Koperasi-koperasi tersebut adalah koperasi yang dijalankan para pekerja
yang mengambil alih pabrik-pabrik tekstil yang bangkrut. Ada pula
kemudian model ekonomi yang disebut dengan Community Currencies.
Sistem ini mengembangkan alat tukar yang nilainya lebih mahal apabila
diukur dari kacamata ekonom liberal, tetapi secara sosial dibutuhkan untuk
membantu komunitas bersangkutan. Misalnya ketika menetapkan harga
kopi.
Harga kopi yang dibayar dengan alat tukar komunitas itu mungkin relatif
lebih mahal daripada harga kopi biasa, tetapi secara sosial memiliki nilai
Dinna Wisnu Halaman 302

lebih karena kopi yang ditanam berasal dari proses produksi yang
mempertahankan keanekaragaman hayati. Model-model ekonomi tersebut
adalah contoh bagaimana masyarakat atau komunitas sebetulnya dapat
mempertahankan diri dengan apa yang mereka miliki sendiri. Perlawanan
terhadap pasar bebas atau kapitalisme neoliberal dapat dilakukan tidak
hanya dengan jalan menolak melalui aksi unjuk rasa di jalan raya, tetapi
juga dapat dilakukan dengan langkah konkret membangun ekonomi
komunitas.
Hal ini berbeda dengan yang kita saksikan di Indonesia. Selama ini
masyarakat secara tidak sadar mendasarkan perjuangan mereka atas analis
ekonomi klasik atau liberal yang sebenarnya telah memarginalkan mereka.
Misalnya ketika menyetujui perluasan program Bantuan Langsung Tunai
(BLT) demi menyelesaikan masalah kemiskinan atau terus bicara semata soal
kenaikan upah. Memang sejumlah penelitian telah menunjukkan program
bantuan sosial, baik yang diberikan pemerintah daerah atau pemerintah pusat,
telah mengurangi angka kemiskinan.
Namun apakah angka kemiskinan tersebut akan semakin turun bila bantuan
sosial dihilangkan? Saya meyakini jawabannya tidak karena yang terjadi
adalah pelembagaan akan ketidakberdayaan. Proses partisipasi dan
pemberdayaan komunitas semestinya memberikan pemahaman kepada
masyarakat yang termarginalisasi tentang apa yang membuat mereka menjadi
miskin, sulit mendapat akses air bersih, dan sebagainya. Pemahaman atau
nilai-nilai baru tersebut yang akan mengikat mereka sebagai komunitas untuk
tetap bersama walaupun program bantuan sosial itu selesai atau tidak
dilanjutkan.
Dalam laporan Bank Dunia, Tim Nasional Percepatan Pengentasan
Kemiskinan atau laporan departemen terkait memang diperlihatkan bahwa
telah tumbuh sikap kepercayaan, kebersamaan, solidaritas atau gotong royong
dari program-program bantuan sosial yang selama ini dikucurkan. Tapi tidak
dilaporkan apakah masyarakat memiliki pemahaman tentang nilai-nilai baru
seputar hal-hal yang selama ini membuat mereka termarginalisasi. Proses atau
nilai-nilai itu yang pada umumnya akan melahirkan model-model ekonomi
yang mandiri.
Segala kelompok masyarakat, baik yang berasal dari kategori sektoral seperti
buruh, petani, pekerja informal maupun dari sektor wilayah di tiap kabupaten
atau kelurahan, penting untuk menggali dan mencari nilai-nilai sosial
ekonomi yang baru itu. Dengan cara inilah masyarakat dapat tetap bertahan
dalam kepungan ekonomi pasar.
Sumber: SINDO, 26 Februari 2014
Dinna Wisnu Halaman 303

Krisis Semenanjung Crimea


Dalam beberapa hari belakangan ini Ukraina menjadi pusat perhatian
dunia karena aksi pendudukan yang dilakukan Rusia di Wilayah Otonomi
Khusus Crimea (WOK Crimea) yang secara formal menjadi bagian dari
wilayah Ukraina. Media massa menyatakan hal itu adalah aksi militer
yang melanggar kedaulatan wilayah Ukraina. Namun, menurut saya,
masalahnya tidaklah sesederhana itu dan tidak hitam dan putih seperti itu.
Adapun mengenai isu wilayah WOK Crimea, sejarah Uni Soviet dan
Rusia, sejarah negara Ukraina, kesepakatan nuklir tahun 1997, dan sejarah
identitas sosial-budaya antara Crimea dan Ukraina ikut memengaruhi
eskalasi politik di wilayah tersebut.
Kita perlu melihat intervensi Rusia di WOK Crimea dalam kaitannya
dengan sejarah hubungan politik Rusia dengan Ukraina. Kita perlu
memisahkan masalah konflik internal antarberbagai fraksi yang terjadi di
WOK Crimea dan konflik politik yang terjadi di dalam sistem politik
Ukraina itu sendiri. Seperti sejarah perjalanan politik negarabangsa
lainnya, kita mungkin tidak akan dapat menemukan sebuah interpretasi
tunggal yang dapat dianggap sebagai interpretasi sejarah yang paling
benar di antara interpretasi lainnya.
Selalu akan ada bukti-bukti baru yang dihadirkan banyak pihak dan
mengingat terbatasnya ruang di kolom ini, saya hanya mencoba
menyampaikan bukti-bukti dari sumber yang dapat diterima secara ilmiah.
Masalah yang terjadi di Ukraina menjadi perhatian dunia karena di negara
ini pernah terdapat ribuan nuclear warheads (hulu ledak nuklir) yang
jumlahnya terbesar ketiga setelah Amerika Serikat (AS) dan Rusia.
Untuk mengamankan senjata-senjata nuklir itu, tiga negara yang berkuasa,
yaitu Amerika, Rusia dan Inggris, menandatangani kesepakatan Budapest
pada 1994 yang isinya adalah jaminan akan kedaulatan wilayah Ukraina
dari segala ancaman yang mungkin akan diterima Ukraina. Jaminan
tersebut adalah bagian penting dalam proses negosiasi pelucutan senjata
nuklir yang telah dimulai sejak runtuhnya Uni Soviet pada 1990-an.
Dengan kesepakatan tersebut, Ukraina kemudian menyerahkan senjata-
senjata nuklirnya untuk dimusnahkan. Kejadian itu yang kemudian
menjadi dasar bagi AS dan Eropa untuk mengutuk aksi pendudukan
pasukan tanpa identitas di WOK Crimea dalam beberapa hari belakangan
ini. Banyak pihak yang menyatakan aksi pendudukan itu jelas-jelas
dilakukan militer Rusia walaupun aksi itu sendiri belum diakui secara
formal oleh Rusia karena Presiden Vladimir Putin perlu mendapat
Dinna Wisnu Halaman 304

persetujuan dari parlemen untuk mengizinkan aksi militer kepada pihak


lain.
Dorongan AS dan Eropa untuk mengutuk aksi pendudukan ini juga tidak
lepas dari kesepakatan antara NATO dan Ukraina pada 1997 yang
menjamin Ukraina untuk mendapat bantuan konsultasi apabila kedaulatan
mereka terancam. Karena itu, Presiden Barack Obama di AS saat ini
mendapat tekanan yang kuat dari oposisi Partai Republik. Mereka
meminta Obama melaksanakan perjanjian yang telah dibuat bersama
dengan Ukraina.
Ukraina memang bukan anggota NATO, tetapi kerja sama militer di antara
mereka sangat kuat. Perihal aksi pendudukan oleh tentara yang diduga
berasal dari Rusia di WOK Crimea, hal itu tidak lepas dari konflik dan
kepentingan politik yang panjang di Ukraina dan hubungannya dengan
Crimea itu sendiri. Crimea adalah sebuah wilayah otonom yang dihuni
penduduk yang mayoritas memiliki keturunan dan berbahasa Rusia.
Luas wilayah Crimea lebih kecil dari Provinsi Lampung, tetapi sedikit
lebih luas dari Kota Bengkulu. Mayoritas etnik di sana adalah Rusia
(58,3%), Ukraina (24,3%), dan Crimean Tartar (12%). Keturunan Crimea
Tartar adalah kelompok minoritas yang pernah diusir sebagai hukuman
kolektif oleh Joseph Stalin pada masa Uni Soviet karena kerja sama
mereka dengan tentara Nazi pada 1944.
Kelompok ini kemudian datang kembali pada 1980-an dan memperoleh
pengakuan politiknya dengan dialokasikannya perwakilan mereka dalam
parlemen di tahun 1994. Sejak bubarnya Uni Soviet pada 1990-an,
kelompok-kelompok masyarakat di WOK Crimea tarik menarik dalam
pilihan antara bergabung dengan Rusia, tetap bersama dengan Ukraina
atau berdiri sendiri. Tarik-menarik itu tidak lepas dari sejarah di mana
Crimea yang dulunya bagian provinsi dari Russian Soviet Federal
Socialist Republic diserahkan kepada Ukraina atas dasar simbol
persahabatan oleh Kruschev pada 1954. Di saat Uni Soviet runtuh, Crimea
juga ikut mengalami pergolakan di mana tuntutan untuk merdeka telah
menjadi sumber konflik antara Ukraina dan Rusia.
Tarik-menarik ini akhirnya diselesaikan dengan deklarasi untuk tetap
menjadi bagian dari Ukraina dan menghilangkan pernyataan sebagai
negara merdeka yang sebelumnya telah diucapkan. Pernyataan ini
kemudian diikuti dengan pembagian kekuasaan dan operasional antara
Ukraina dan Soviet atas Pangkalan Laut Hitam yang dulunya dikuasai Uni
Soviet. Meski demikian, tuntutan untuk bergabung dengan Rusia tetap
tidak dapat hilang dalam pertikaian antara kelompok politik di WOK
Crimea yang secara langsung dipertajam dengan konflik politik yang
terjadi dalam sistem politik Ukraina sendiri.
Dinna Wisnu Halaman 305

Pada saat Parlemen Ukraina memecat Presiden Victor Yanukovych


(karena perintahnya untuk mengatasi aksi demonstrasi menentang
penolakannya untuk bergabung dengan Uni Eropa) secara represif, yang
kemudian diikuti dengan keputusan Parlemen Ukraina untuk menjadikan
bahasa Rusia sebagai bahasa kedua negara, Putin merasa kepentingan
mereka atas WOK Crimea telah terancam.
Dengan kondisi demografi Crimea yang didominasi keturunan Rusia dan
tuntutan politik di dalam wilayah itu sendiri, Putin tidak segan melakukan
aksi pendudukan. Putin meminta parlemen Rusia menyetujui rencananya
untuk segera mengirimkan pasukan secara formal ke perbatasan Crimea.
Skenario yang mungkin terjadi ke depan tetap bermuara pada tiga isu yang
selalu menjadi sumber konflik.
Bergabung dengan Rusia, tetap bersatu dengan Ukraina atau berdiri
merdeka. Pilihan ketiga tampaknya akan lebih realistis bagi Rusia karena
sejarah politik dan sosial Crimea cukup bagi mereka untuk
memperjuangkan hak self-determination, khususnya di tengah protes
negara-negara Eropa dan AS.
Crimea Merdeka setidak-setidaknya tak akan membuat negara itu
bergabung dengan kekuatan Barat dan ini lebih cocok dengan kondisi
demografi dan kecenderungan politik setempat yang pro-Rusia. Implikasi
dari kejadian di Crimea dan Ukraina adalah ketidakseragaman sikap di
Uni Eropa itu. Sebagian besar anggota Uni Eropa merasa Rusia telah
melanggar kedaulatan Ukraina, tetapi mereka tidak setuju adanya
penetapan sanksi ekonomi dan isolasi kepada Rusia seperti yang diusulkan
AS. Uni Eropa khususnya Prancis, Jerman, Italia, dan Spanyol lebih
menyukai solusi diplomatik dibandingkan dengan anggota Uni Eropa yang
berasal dari Eropa Timur. Isolasi ekonomi dan sanksi tentu akan
memberatkan negara-negara Eropa seperti Spanyol dan Prancis yang
tengah mengalami krisis. Apalagi Jerman yang 40% impor gas dan
energinya berasal dari Rusia.
Bagi kita di Indonesia, krisis di Semenanjung Crimea mengingatkan akan
kondisi domestik bahwa suatu negara-bangsa tak bisa sepenuhnya lepas
dari pengaruh eksternal, apalagi jika secara historis dan demografis ada
ikatan batin dengan penduduk atau pemerintahan di belahan wilayah lain
di dunia. Kita mungkin tergerak untuk mengutuk Rusia, tetapi di sisi lain
penduduk Crimea punya hak juga untuk menolak perluasan kekuatan
militer AS dan Eropa di wilayahnya. Artinya bila Crimea memutuskan
untuk merdeka pun hal itu merupakan hak mereka dan tidak boleh
diintervensi.
Sumber: SINDO, 05 Maret 2014
Dinna Wisnu Halaman 306

Politik Luar Negeri dalam Pemilu


Dalam beberapa pekan terakhir ini situasi politik internasional yang
melibatkan berbagai negara semakin panas. Di Asia, konflik Laut China
Selatan masih bersifat laten dan mengkhawatirkan karena satu pemicu saja
dapat membuat enam negara akan bersitegang.
Di Eropa, kasus referendum di Crimea untuk bergabung atau tidak dengan
Rusia telah menempatkan negaranegara yang tergantung dengan Rusia
seperti Jerman dan Inggris dalam posisi yang tidak nyaman berhadapan
dengan Amerika Serikat yang tidak mengendurkan sikapnya untuk
mengkritik tindakan Rusia di Ukraina. Iklim panas di Timur Tengah juga
semakin panas seiring dengan penarikan duta besar negara Arab Saudi dan
Mesir dari Qatar. Penarikan duta besar ini tampak cocok dengan siklus
alam yang berubah dari Arab Spring menjadi Arab Summer.
Seperti halnya konflik-konflik yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir,
konflik yang baru lahir akan membutuhkan proses penyelesaian yang tidak
cepat. Terlebih lagi dengan krisis ekonomi dunia, maka penyelesaian
konflik juga akan bergantung pada perbaikan ekonomi dunia. Ambil
contoh kasus Ukraina yang beberapa hari terakhir ini adalah buah dari
ketidakberesan manajemen pemerintahan setelah berakhirnya era Uni
Soviet. Korupsi, tidak produktifnya masyarakat, ketergantungan bantuan
ekonomi, dan faktor-faktor perubahan demografi yang tidak diantisipasi
telah membuat politik dalam negeri negara itu menjadi tidak stabil.
Penduduk Ukraina dari tahun ke tahun semakin berkurang. Puncak jumlah
penduduk adalah tahun 1994. Saat itu jumlah mereka adalah 52 juta,
kemudian turun dan semakin turun drastis menjadi 45,8 juta pada 2012.
Sektor ekonomi tidak dapat bergerak karena kurangnya tenaga kerja yang
terampil. Hal ini yang kemudian juga mengembalikan lagi kenangan-
kenangan akan teraturnya hidup mereka pada saat masih bergabung
dengan Uni Soviet.
Dalam konteks krisis ekonomi berkepanjangan yang berpeluang
menciptakan ketidakstabilan politik baik di dalam negeri maupun dalam
hubungan antara negara, presiden Indonesia yang baru dan partai politik
penguasa yang akan terpilih di tahun 2014 tidak akan memiliki waktu
yang panjang untuk mencerna dan merumuskan kebijakan politik luar
negeri. Secara sederhana, tugas pemimpin baru itu adalah mencegah
timbulnya konflikkonflik baru dan menyelesaikan konflik-konflik yang
telah terjadi atau minimal mencegah pemburukan situasi.
Masalahnya, rumusan kebijakan luar negeri sangat terkait dengan
kepentingan ekonomipolitik dalam negeri kita sendiri dan salah satu
Dinna Wisnu Halaman 307

agenda populis selama ini disuarakan para kandidat atau calon presiden
adalah mengedepankan ”ekonomi kerakyatan”, ”nasionalisasi sektor
ekonomi yang menguasai hajat hidup orang banyak”, dan slogan-slogan
populis lain yang telah memunculkan rasa khawatir dari pemerintah-
pemerintah negara lain di mana perusahaan-perusahaan mereka telah
menginvestasi ribuan miliar dolar AS di Indonesia.
Terlebih lagi dalam 10 tahun terakhir ini, sektor-sektor yang tidak
mengandalkan nilai tambah seperti batu bara, minyak, bauksit, dan
sebagainya justru menjadi kontributor utama perekonomian Indonesia dan
bukannya dari sektor riil. Dengan kata lain, kontrak ekonomi kita terhadap
pihak luar lebih kuat ketimbang kemandirian kita. Apabila kita ingin
mengoreksi ”kebijakan yang tidak tepat” di masa lalu dengan negara-
negara lain, kita harus siap dengan konsekuensi yang timbul dari tindakan
tersebut atau apabila salah satu pihak melakukan wanprestasi.
Selain konflik bilateral yang mungkin terjadi karena masalah ekonomi,
konflik politik regional seperti di Laut China Selatan atau konflik ekonomi
dalam forum-forum ekonomi dunia seperti APEC, G-20 , ASEAN atau
WTO , konflik dunia seperti yang terjadi di Timur Tengah atau Ukraina
akan menuntut Indonesia untuk aktif dalam proses penyelesaian. Di sini
posisi Indonesia diamat-amati betul oleh negara lain: ke mana kita
cenderung berpihak? Dalam pemilu di negara-negara tertentu seperti AS
atau anggota Uni Eropa, arah kebijakan politik luar negeri seorang calon
presiden akan ikut menentukan besaran jumlah suara yang diperoleh
dalam pemilu.
Namun, ”untungnya” hal tersebut tidak berlaku bagi calon presiden di
Indonesia. Meskipun para pemilih Indonesia cukup kritis tentang dominasi
ekonomi dan hegemoni politik asing di dalam negeri, mereka cenderung
tidak terlalu ambil pusing dengan kebijakan politik luar negeri bakal calon
presiden yang akan dipilihnya. Meski demikian, hal ini bukan sepenuhnya
kesalahan para pemilih dan bukan berarti bakal calon itu dapat tenang-
tenang saja. Sekali lagi situasi global tidak memungkinkan adanya ruang
wait and see,apalagi sekadar jadi penonton saja.
Bahkan negara-negara tetangga sangat menanti langkah konkret Indonesia
segera setelah pemilu berakhir karena pada 2015 sudah langsung
dijalankan integrasi masyarakat ekonomi ASEAN. Di sinilah kritik saya
kepada para calon presiden di Indonesia: mereka abai mendidik para
pemilihnya tentang peranan penting Indonesia di tingkat global. Strategi
”yang penting menang dulu” dan mengabaikan pendidikan politik global
kepada pemilih mungkin akan bisa menjadi bumerang ketika mereka
berkuasa. Para pemimpin dunia yang mencoba melawan arus dominan
politik dan ekonomi dunia untuk kepentingan politik-ekonomi dalam
Dinna Wisnu Halaman 308

negeri mereka masing-masing, baik yang berasal dari sayap kanan maupun
kiri, tetap akan tergantung dengan konstituen mereka untuk mendukung
kebijakan itu. Idealnya, sejak saat ini hingga saat pencoblosan nanti, para
calon presiden dan partai politik dapat mulai menggalang dukungan dari
akar rumput untuk kebijakan politik luar negerinya. Bagi saya sendiri
tujuannya praktis saja, yaitu untuk menciptakan kestabilan politik akibat
kebijakan yang populis/tidak populis yang akan diambil nanti. Kita perlu
melihat kasus Thailand sebagai contoh yang terdekat.
Dari perbincangan dengan sejumlah wakil dari 12 partai politik yang akan
bertarung dalam Pemilu 2014, saya menyaksikan hanya sedikit individu
calon legislatif yang dapat melihat gambaran makro hubungan Indonesia
dalam peta strategis dunia; selebihnya menanggap semua itu bisa
dilakukan ”sambil jalan”. Sungguh memprihatinkan karena demi
Indonesia yang mampu lepas landas dibutuhkan pemimpin yang teruji
dalam berbagai jenjang politik, baik di tingkat daerah, nasional maupun
internasional. Kepiawaian seorang pemimpin seharusnya tidak berhenti
pada meyakinkan pemilih untuk mendukungnya, tetapi juga meyakinkan
pemimpin negara-negara lain untuk mendukung agenda-agenda yang
diusung oleh Indonesia, termasuk ketika agenda tersebut dianggap
berseberangan dengan kepentingan negara lain tadi. Kita harus ingat
bahwa sejarah telah membuktikan bahwa di balik pemimpin yang hebat
berdiri rakyat yang siap berjuang untuk mempertahankan keyakinannya.
Sumber: SINDO, 12 Maret 2014
Dinna Wisnu Halaman 309

Perihal Sanksi untuk Rusia


Dua minggu lalu, ketika pecah ketegangan politik di Crimea, saya
menganalisis akan terjadi referendum dengan tiga pilihan: bergabung
dengan Rusia, merdeka sebagai negara bebas, atau tetap berada di bawah
wilayah Ukraina. Saya lalu meramalkan referendum di Crimea akan lebih
memilih posisi merdeka sebagai negara bebas. Namun pada kenyataannya,
referendum yang terjadi pada hari Minggu lalu hanya memiliki dua opsi:
bergabung dengan Rusia atau dengan Ukraina. Belum ada keputusan
resmi, tetapi hasil referendumnya sudah dapat diperkirakan berupa
keputusan bergabung kembali dengan Rusia.
Amerika Serikat (AS) serta negara-negara Eropa menolak hasil
referendum itu dan menyatakan referendum tersebut ilegal. Meskipun
Rusia bergeming bahwa referendum itu sah di mata hukum internasional,
AS dan Eropa menyatakan sebaliknya dengan alasan referendum itu
dilakukan di bawah tekanan militer Rusia yang telah berada di sana. Tidak
ada suasana kebebasan dalam memilih. Itu adalah batas minimum untuk
menentukan apakah sebuah referendum itu sah atau tidak. AS bahkan
memiliki bukti bahwa sebagian besar dari kertas suara sudah ditandai.
Bukti yang disampaikan misalnya untuk Kota Sevastopol, dengan melihat
jumlah suara dan total penduduk, 123% menyatakan setuju untuk
bergabung. Angka itu menunjukkan anomali yang dianggap sebagai
sebuah kecurangan. Faktor itulah yang membedakan referendum di
Crimea dengan yang pernah terjadi di Kosovo ketika wilayah itu
memerdekakan diri dari Serbia, satu peristiwa politik serupa yang selalu
disampaikan Rusia sebagai pembelaan.
Bagi Rusia dan pemerintahan baru Crimea, referendum itu sendiri menjadi
sebuah batu loncatan atau legitimasi mereka untuk bertindak lebih jauh.
Dengan kata lain keterpisahan Crimea dari Ukraina adalah syarat de jure
yang minimum untuk melakukan tindakantindakan lain seperti
menasionalisasi bangunan atau perusahaan-perusahaan yang ada di
Crimea, mengambil alih kekuasaan militer dan kepolisian, mengambil alih
perjanjianperjanjian antara Crimea dan Ukraina.
Namun keterpisahan Crimea masih akan menyisakan persoalan yang tidak
dapat diselesaikan dalam satu atau dua bulan. Ambil contoh tentang
pasokan listrik, air, dan makanan di Crimea. Hingga saat ini, sebagian
besar pasokan listrik dan air disalurkan melalu sebuah wilayah yang
dikuasai Ukraina. Tidak ada jalan yang mudah untuk warga Crimea
mendapatkan pasokan tersebut kecuali melalui daratan Ukraina.
Dinna Wisnu Halaman 310

Hal ini juga yang ternyata menjadi faktor ekonomis penyerahan Crimea
kepada Ukraina pada 1954 oleh Nikita Khrushchev, Presiden Uni Soviet
masa itu. Selain karena alasan ideologis, penyerahan itu juga disebabkan
Uni Soviet merasa lebih murah menyerahkan persoalan Crimea kepada
Ukraina daripada membangun infrastruktur utilitas (kebutuhan-kebutuhan
dasar).
Walaupun tampaknya Ukraina memiliki daya tawar untuk melancarkan
perang ekonomi terhadap Crimea dengan memutuskan aliran energi dan
makanan di lapangan, Rusia tetap punya daya tawar yang lebih besar
karena sebagian besar energi, khususnya gas, yang dikonsumsi warga
Ukraina berasal dari Rusia. Peta saling ketergantungan itu sudah berbeda
dengan apa yang terjadi pada 1954.
Bukan itu saja, sebagian besar infrastruktur gas yang melewati dan
dinikmati oleh warga Ukraina adalah infrastruktur yang digunakan untuk
pasokan gas di sebagian besar wilayah Eropa. Fakta-fakta tersebut
menunjukkan potensi munculnya Perang Dunia III dari kasus Crimea akan
kecil. Saat ini, negara-negara dunia telah saling bergantung satu dengan
yang lain khususnya dalam soal penyediaan pasokan energi. Sistem pasar
telah menyatukan kebutuhan dan sekaligus kelebihan masing-masing
terhadap negara lain.
Gas, sebagai contoh, adalah produk energi yang berbeda dengan bahan
bakar minyak. Bahan bakar minyak atau batu bara dapat dipaketkan dalam
tanker atau alat transportasi lain, sementara bahan bakar gas yang selama
ini dinikmati masyarakat di Eropa dan AS dikirim melalui infrastruktur
pipa yang fixed dan terlampau mahal apabila diganti dengan infrastruktur
lain seperti kapal tanker. Fakta tersebut juga yang mungkin dapat
menjelaskan mengapa sanksi yang diberikan kepada Rusia adalah kepada
individu-individu yang dianggap terlibat dalam referendum di Crimea dan
bukan pada seluruh wilayah.
Presiden AS Barack Obama melalui Executive Order memberikan sanksi
pembekuan aset tujuh orang yang dianggap terlibat dalam referendum.
Mereka antara lain pemimpin separatis Sergey Aksyonov dan Vladimir
Konstantinov, mantan Ukrainian presidential chief of staff Viktor
Medvedchuk, dan mantan Presiden Ukraina Viktor Yanukovych. Selain
itu ada Vladislav Surkov dan Sergey Glazyev yang bekerja sebagai staf
ahli/penasihat untuk Presiden Rusia Vladimir Putin.
Putin sendiri tidak terkena sanksi. Sanksi individu itu adalah langkah
politik yang harus diambil pihak Barat untuk memenuhi tekanan-tekanan
politik di dalam negeri mereka masingmasing serta menunjukkan sikap
keseriusan dan ketegasan. Dapat dibayangkan betapa sulitnya memberikan
sanksi ekonomi dan politik yang cukup menekan Rusia, tetapi tidak
Dinna Wisnu Halaman 311

merugikan diri sendiri (backfire). Kalau pihak Barat mau mengganggu


pendapatan ekspor Rusia, sanksi ekonomi dan politik harus mampu
mengganggu perdagangan energi.
Padahal jika hal itu dijalankan, Eropa harus siap juga menanggung risiko
25% pasokan energinya dari Rusia terganggu. Eropa, dengan demikian,
harus memastikan dahulu pasokan energi mereka tidak akan bermasalah
jika memberi sanksi lebih jauh kepada Rusia. Sanksi itu mungkin relatif
lebih mudah untuk dilakukan apabila rencana Eropa untuk mencari
alternatif sumber energi melalui Nabucco Pipeline dapat terealisasi pada
tahun ini.
Nabucco Pipeline adalah rencana besar Eropa untuk melepaskan
ketergantungan energi dari Rusia dengan membangun jaringan pipa dari
Caspian Sea langsung ke Eropa, dari Turki- Bulgaria-Romania, Hongaria
menuju Austria. Namun rencana itu sendiri batal karena produsen gas di
Azerbaijan memiliki rencana lain. Dari sini dapat kita simpulkan cara-cara
koersif lebih sulit dilaksanakan pada era sekarang dibandingkan pada
masa-masa lalu.
Faktor praktis seperti konektivitas antarnegara dan penduduk sampai
faktor politis seperti perlunya dukungan politik untuk memberi sanksi
yang lebih besar menunjukkan bahwa ada tingkat saling ketergantungan
yang tidak bisa diabaikan, bahkan oleh negara besar dan maju sekalipun.
Sumber: SINDO, 19 Maret 2014
Dinna Wisnu Halaman 312

Mengurangi Golput dalam Pemilu


Golongan putih atau golput adalah istilah yang populer dikampanyekan pada
saat pemerintahan Orde Baru. Istilah ini terutama dipopulerkan oleh gerakan
mahasiswa kepada masyarakat untuk tidak terlibat dalam pemilihan politik
yang diselenggarakan di bawah pemerintahan Orde Baru karena ketiga partai
yang terlibat pemilu saat itu––Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, dan
Partai Demokrasi Indonesia–– adalah partai boneka dari kepentingan
Soeharto sebagai presiden. Meski demikian, angka golput dalam masa itu
ternyata lebih rendah daripada angka golput di masa kini.Angka golput paling
tinggi di masa rezim Orde Baru terjadi pada tahun 1999. Menurut data
Komisi Pemilihan Umum (KPU), pada tahun itu 10,2% penduduk yang
tercatat sebagai pemilih tidak menggunakan haknya. Kegembiraan
masyarakat akan ruang politik yang lebih terbuka dan demokratis
pascakeruntuhan rezim Orde Baru dan mundurnya Soeharto dari kursi
kepresidenan tidak lantas membuat partisipasi masyarakat dalam pemilu naik.
Kebebasan untuk menyatakan pendapat dan menjamin warganya untuk bebas
mengidentifikasi diri dengan afiliasi politik mana pun ternyata tak mampu
mendorong warga untuk menggunakan hak suaranya untuk memilih
pemimpin yang menentukan hidup mereka dalam lima tahun ke depan. Angka
golput di Indonesia justru bertambah dua kali lipat dalam pemilu legislatif
dan pemilu presiden pada tahun 2004, yaitu 23% dan 21%. Angka ini terus
naik di dalam pemilu legislatif dan pemilu presiden pada 2009, yaitu 29% dan
29,1%. Bahkan hal ini terjadi juga dalam pilkada.
Angka golput juga tidak menurun dalam beberapa pemilihan umum kepala
daerah yang terjadi di dalam tiga tahun terakhir. Banyak pihak yang
menyatakan peningkatan angka golput dari tahun ke tahun disebabkan
kualitas partai dan calon legislator atau calon presiden yang tidak baik.
Keadaan tersebut membuat warga tidak antusias untuk memberikan suaranya.
Namun apa kemudian penjelasannya jika kita melihat Pemilihan Gubernur
(Pilgub) DKI Jakarta pada 2012? Pilgub Jakarta tak dapat disangkal
merupakan salah satu proses pemilihan kepala daerah yang paling berkualitas
karena menyajikan tokoh-tokoh nasional dengan jam terbang politik yang
baik dan dengan program-program pembangunan Jakarta yang cukup jelas
dikomunikasikan, tetapi angka golput ternyata tidak menurun, bahkan di atas
angka rata-rata nasional. KPU Jakarta mencatat bahwa dalam pemilihan
Gubernur DKI putaran pertama, angka golput mencapai 36,3% dan dalam
putaran kedua mencapai 33,2%. Kondisi serupa terjadi dalam pemilihan
kepala daerah di Jawa Barat pada 2013. Masyarakat Jawa Barat yang tidak
menggunakan hak pilihnya tercatat 36,15% atau 11,8 juta orang. Angka ini
jauh lebih tinggi daripada pemilihan sebelumnya di tahun 2008 yang ”hanya”
mencapai 32,6%. Gambaran yang lebih ironis bahkan terjadi dalam pemilihan
Dinna Wisnu Halaman 313

kepala daerah di Jawa Timur di mana perolehan pemenang pertama, pasangan


KarSa, mencapai 47,2% tetapi di peringkat kedua ada golput sebanyak 41%!
Merujuk pada gambaran dan data di atas, muncul wacana untuk mewajibkan
warga menggunakan hak pilihnya. Beberapa KPU daerah bahkan telah
menginterpretasikan Pasal 292 dan 308 dalam UU No 8 Tahun 2012 sebagai
dasar untuk menindak pidana mereka yang menyebabkan pihak lain
kehilangan hak pilihnya, termasuk dengan ikut golput. Walaupun KPU pusat
belum memutuskan untuk mendiskusikan pasal itu lebih dalam, wacana untuk
mewajibkan warga memilih sudah berkembang. Di sini saya ingin menarik
fenomena golput ini dalam konteks demokrasi di tingkat global.
Kewajiban untuk menggunakan hak pilih dengan paksaan bukanlah barang
asing dalam alam demokrasi. Di dunia ada 31 negara yang mewajibkan warga
negaranya untuk datang tempat pemilihan suara. Menurut Elliott Frankal
(2005), Belgia adalah salah satu negara yang telah lama menerapkan
kebijakan ini sejak tahun 1892 untuk laki-laki dan 1949 untuk perempuan.
Ada denda ringan, tetapi bila sudah setidaknya 4 kali tidak ikut pemilu ia
akan kehilangan hak suara selama 10 tahun kemudian dan dipersulit dalam
mendapatkan pekerjaan di sektor publik.
Beberapa negara bahkan memberikan sanksi tegas bila warganegaranya tidak
dapat membuktikan bahwa dia telah berpartisipasi dalam pemilu, seperti
misalnya denda dan penjara di Australia, sulit membuat paspor dan surat izin
mengemudi di Yunani, dilarang mengambil gaji dari Bank di Bolivia atau
bagi si miskin di Peru akan kesulitan mendapat bantuan sosial. Sejauh mana
kewajiban dan sanksi macam itu dapat meningkatkan partisipasi dan kualitas
demokrasi masih diperdebatkan. Jika kita menilik data IDEA, di Eropa sulit
dikatakan ada efek positifnya karena sepanjang tahun tren keikutsertaan
dalam pemilu terus menurun.
Tapi kalau kita lihat data dari Amerika Selatan, keikutsertaan pemilih dalam
pemilu tergolong stabil dan termasuk di atas rata-rata global. Di sisi lain,
Amerika Serikat yang tidak menerapkan sanksi golput mengalami penurunan
keikutsertaan pemilih yang mencengangkan. Hal ini terlepas dari insentif
seperti pengadaan pemilu di hari libur, political canvassing (alias ajakan dari
pintu ke pintu untuk ikut memilih pada hari pemilu), bahkan pilihan memilih
dini (alias absentee voting). Tentu saja lain padang lain belalang, lain lubuk
lain ikannya.
Kasus golput di Indonesia perlu dipelajari dengan lebih sistematis sebelum
kita dapat mengambil simpulan tegas tentang alasan mengapa para pemilih
enggan menggunakan hak pilihnya. Namun dalam ruang wacana saat ini,
perlu kiranya dilontarkan di sini sejumlah pandangan dan temuan yang
berkembang selama ini terkait golput. Ada dua hal yang berbeda bila bicara
tentang ”pengajak golput” dan ”individu yang golput”. Ajakan golput
mengindikasikan suatu gerakan yang sistematis ingin menjegal atau
Dinna Wisnu Halaman 314

menghambat pemilu; ini wajib dibereskan oleh pihak berwenang. Tapi bila
tidak ditemukan hal yang sistematis, perlu dipertimbangkan faktor-faktor
berikut ini.
Pertama, dorongan memilih tidak hanya ditentukan oleh satu dimensi
kemauan untuk memilih, tetapi ada juga dimensi pengetahuan tentang apa itu
pemilu, siapa yang dipilih, dan apa konsekuensi dari pilihan pemilih. Faktor
edukasi, persuasi, pendidikan pemilih, bahkan harapan bahwa satu suara pun
ikut menentukan hasil pemilu menjadi penting untuk diperhatikan. Apakah
halhal itu cukup tersedia? Kedua, dorongan memilih ditentukan juga oleh
kemudahan dalam menjalani hak pilih tersebut.
Faktor keterjangkauan TPS serta bantuan bagi yang sakit/ hamil/lanjut usia
menjadi faktor yang perlu dijembatani. Ketiga, kelompok pemilih muda
punya perilaku pemilih yang cenderung tidak bisa disamaratakan dengan
perilaku pemilih terdahulu. Dalam sejumlah studi mereka punya
kecenderungan untuk lebih kritis dan tak mustahil pula apatis. Artinya
perilaku mereka bukan disebabkan keengganan atau ketidakmampuan
memilih seperti kategori 1 dan 2 yang disebutkan di atas, tetapi justru karena
mereka ingin menunjukkan warna berbeda untuk generasi pemilih yang baru.
Itu sebabnya sejumlah besar partai politik di dunia selalu memberi tempat
khusus bagi para pemilih muda untuk aktif dalam kegiatan partai dan
pengumpulan suara karena hanya orang muda yang bisa memberi persuasi
meyakinkan pada pemuda lainnya. Di Amerika Serikat, para pemilih muda
disinyalir skeptis memilih karena sistem pemilu dan sistem partai politik yang
tidak memungkinkan ada perubahan berarti dalam pembuatan kebijakan,
terlepas betapapun indahnya janji politik selama kampanye. Padahal dalam
demokrasi, kestabilan sistem pemilu dan sistem partai bukanlah indikasi
buruk dari berjalannya demokrasi.
Pada akhirnya, kita juga perlu menempatkan pemilu dalam porsinya sebagai
ruang bagi masyarakat menggunakan hak pilih. Hak adalah hak sehingga ia
tidak bisa dengan semena-mena dicabut hanya karena alasan-alasan yang
belum tentu tepat terbaca oleh negara. Untuk itulah para ilmuwan bidang
sosial dan politik di negara yang ingin menguatkan demokrasinya, seperti
Indonesia, perlu mengalokasikan lebih banyak waktu untuk mempelajari
perilaku pemilih di negerinya. Tidak ada resep jitu yang tunggal bagi seluruh
demokrasi sehingga ini isyarat bagi Indonesia untuk secara bertahap
memperbaiki layanan bagi pemilih beserta aturan pemilu dan cara komunikasi
soal pemilu. Lebih baik tidak tergesa-gesa menghukum warganegara karena
hal itu justru bisa jadi bumerang bagi demokrasi.
Sumber: SINDO, 02 April 2014
Dinna Wisnu Halaman 315

Mari Nyoblos di TPS


Selamat bagi Anda yang telah datang ke tempat pemungutan suara (TPS)
dan menggunakan hak pilih Anda dalam pemilu kali ini. Bagi Anda yang
belum, mungkin apa yang saya sampaikan dalam tulisan ini dapat
menggugah Anda untuk datang ke TPS dan menggunakan hak pilih Anda.
Minggu lalu saya membahas beberapa negara yang mewajibkan warganya
untuk datang ke TPSdan menggunakan hak pilihnya. Terlepas dari ragam
alasan pribadi untuk apatis terhadap dampak pemilu dan golput (tidak
memilih), saya menggarisbawahi perlunya dorongan bagi masyarakat
untuk menggunakan ”hak pilihnya”.
Dalam demokrasi, baik partai, pemerintah maupun warga masyarakat ikut
menentukan mutu demokrasi. Dalam akhir tulisan itu saya memberikan
masukan bahwa partai politik, pemerintah, bahkan warga masyarakat perlu
menyelenggarakan pendidikan politik yang lebihbaikagarwarganegara
yang lain mau menggunakan hak pilihnya meskipun pada akhirnya Anda
sebagai warga negaralah yang memutuskan untuk berpartisipasi atau tidak
dalam pemilihan umum. pandangan tersebut adalah kualitas demokrasi itu
sendiri menjadi taruhannya.
Jason Brenan (2012) dalam diskusinya soal etika politik mengatakan
bahwa ketika seorang warga negara menggunakan hak pilihnya, ia harus
sungguh yakin percaya atas dasar yang kuat (justifiedly) bahwa calon
wakil rakyat atau partai yang dipilihnya akan membawa kebaikan
bersama. Artinya tidak cukup hanya percaya saja, tetapi ia harus memiliki
dasar yang kuat atas kepercayaannya itu.
Sama seperti ketika ada orang tua yang percaya bahwa morfin dapat
digunakan untuk menyembuhkan sakit kelainan jantung pada anaknya, ia
tidak sekadar punya niat baik untuk menyembuhkan anaknya, tetapi juga
memiliki dasar yang pengetahuan dan informasi yang kuat bahwa morfin
itu relatif aman untuk dipilih sebagai alat pengobatan. Artinya, dalam
konteks pemilu, seseorang yang tidak punya dasar yang kuat untuk tidak
menggunakan hak pilihnya, tetapi bersikeras untuk tidak ke TPS, akan
bermasalah dalam etika politik.
Perdebatan tentang memilih atau tidak memilih masih terus berlangsung
hingga saat ini dari sudut etik, moral, politik, filsafat, dan bahkan
ekonomi. Banyak teori yang muncul untuk menjelaskan dan memprediksi
perilaku pemilih dalam pemilu seperti rational choice theory, game
theory, paradox of voting, theory of voting ethics, consistency theory.
Setiap orang atau kelompok akan memiliki dasar argumentasinya untuk
menggunakan atau tidak menggunakan haknya. Tapi, sekali lagi, asumsi
Dinna Wisnu Halaman 316

dasar dari segala teori tersebut adalah bahwa pemilih bertindak karena
paham betul akan situasinya (informed). Yang repot adalah kalau ternyata
asumsi tersebut keliru.
Bagi negara-negara yang mewajibkan warganya untuk datang ke TPS,
pertimbangan mereka sederhana dan ekonomis. Salah satunya adalah
untuk mengurangi biaya kampanye yang besar dari kandidat atau partai.
Partai atau kandidat tidak perlu memikirkan bagaimana caranya agar
pemilih datang ke TPS karena itu sudah kewajiban negara. Hal yang perlu
mereka lakukan adalah fokus berkompetisi menawarkan program-program
kerjanya kepada para pemilih. Dengan demikian, money politics pun bisa
dihindari. Mereka berpendapat kalau negara boleh mewajibkan warganya
untuk bayar pajak, mengapa tidak bisa mewajibkan pemilih untuk datang
ke TPS?
Studi lain yang perlu disebutkan di sini adalah perihal kaitan antara hasil
kebijakan yang lahir dari pemilu yang gagal diikuti oleh orang-orang yang
punya kepentingan langsung dalam isu-isu yang diusung dalam kebijakan.
Misalnya kebijakan terkait penanganan kemiskinan atau program
pemerataan sistem jaminan kesehatan.
Di Amerika Serikat, Martin Gilens (2012) dalam buku terbarunya
Affluence & Influence, yang terkenal karena membahas kesenjangan
ekonomi akibat perilaku dalam pemilu, mengatakan bahwa memang tidak
bisa disalahkan sepenuhnya bahwa ada banyak orang miskin yang tidak
ikut pemilu, tetapi karena itulah hasil kebijakan di bidang penanganan
kemiskinan cenderung menyimpang dari kebutuhan orang miskin.
Hal ini tidak terjadi ketika ada keinginan melahirkan kebijakan tertentu
yang melindungi kepentingan orang kaya karena orang kaya di Amerika
Serikat cenderung memilih dan pilihan mereka konsisten dengan
kebutuhannya. Argumen serupa diangkat pula oleh Ryo Arwatari (2006)
yang mengatakan jumlah orang yang memilih dalam pemilu di negara-
negara industri semakin rendah dari tahun ke tahun. Penelitiannya di AS
dan Inggris menyebutkan sejak tahun 1920 hingga 2005 terjadi penurunan
partisipasi pemilu yang signifikan. Jumlah orang yang mencoblos tertinggi
terjadi di tahun 1960-an. Apa dampaknya terhadap perekonomian?
Dalam konteks kebijakan, yang lahir adalah kebijakan yang pro terhadap
kepentingan kelas menengah karena merekalah yang ikut pemilu,
sementara biaya sosial yang akhirnya harus ditanggung kalangan miskin
menjadi tinggi. Jadi, meskipun program partai politik belum secara terang
dan gamblang dikomunikasikan sebagaimana idealnya dalam demokrasi
yang matang, kita harus siap bahwa dengan kita tidak berpihak dalam
pemilu kali ini, efeknya akan kita rasakan langsung dalam kebijakan-
kebijakan lima tahun ke depan. Waktu tidak dapat diputar ulang;
Dinna Wisnu Halaman 317

menggugurkan hasil pemilu punya risiko politik yang jauh lebih besar
daripada mengubah medan politik melalui pemilu.
Itu sebabnya pilihan kita untuk datang mencoblos ke TPS adalah bekal
perbaikan bangsa yang patut dilakukan segenap masyarakat. Apabila Anda
belum menemukan caleg atau partai yang sesuai 100% dengan pilihan
rasionalitas Anda saat ini, memilih caleg atau partai yang relatif dekat
dengan pilihan rasionalitas Anda saat ini akan membuka peluang
kemungkinan lebih besar bahwa harapan Anda akan muncul dalam pemilu
selanjutnya.
Sumber: SINDO, 09 April 2014
Dinna Wisnu Halaman 318

Memperbaiki Tata Kelola Pemilu


Pesta demokrasi telah usai minggu lalu. Hasil hitung cepat beberapa
lembaga menyampaikan kesimpulan yang sama bahwa lima terbesar partai
peraih suara terbanyak adalah PDIP, Golkar, Gerindra, Demokrat, dan
PKB. Partai-partai lain memiliki perolehan