Anda di halaman 1dari 16

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mollusca adalah hewan lunak dan tidak memiliki ruas. Tubuh hewan ini
triploblastik, bilateral simetris, umumnya memiliki mantel yang dapat
menghasilkan bahan cangkok berupa kalsium karbonat. Cangkok tersebut
berfungsi sebagai rumah (rangka luar) yang terbuat dari zat kapur misalnya
siput sawah dan bekicot. Namun ada pula mollusca yang tidak memiliki
cangkok , seperti cumi-cumi , sotong, gurita atau siput telanjang. Mollusca
memiliki struktur berotot yang disebut kaki yang bentuk dan fungsinya berbeda
untuk setiap kelasnya. Mollusca hidup secara heterotrof dengan memakan
ganggang, ikan, udang, ataupun sisa-sisa organisme. Habitatnya diair tawar,
dilaut dan didarat. Beberapa juga ada yang hidup sebagai parasit (maskoeri,
1992).
Mollusca memiliki alat pencernaan yang sempurna , mulai dari mulut
yang mempunyai radula (lidah parut) sampai dengan anus terbuka didaerah
rongga mantel. Di samping itu juga terdapat kelenjar pencernaan yang sudah
berkembang baik. Peredaran darah terbuka ini terjadi pada semua kelas
Mollusca kecuali kelas Cephalopoda. Pernapasan dilakukan dengan
menggunakan insang atau “paru-paru”, mantel atau oleh bagian epidermis. Alat
ekskresi berupa ginjal. System saraf terdiri dari tiga pasang ganglion yaitu
ganglion cerebral, ganglion visceral dan ganglion pedal, yang ketiganya
dihubungkan oleh tali-tali saraf longitudinal. Alat reproduksi umumnya terpisah
atau bersatu dan pembuahan internal atau eksternal.
Reproduksi umumnya mollusca menguntungkan bagi manusia, namun
ada pula yang merugikan. Peran mollusca yang menguntungkan adalah sebagai
berikut: sumber makanan berprotein tinggi, misalnya tiram batu, kerang, kerang
hijau, bekicot; perhiasan misalnya tiram mutiara. Adapun yang melatar belakangi
dilakukannya praktikum kali ini adalah untuk mengamati morfologi dan anatomi
dari spesies-spesies yang mewakili mollusca, mendeskripsikan dan menyusun
klasifikasinya.

B. Tujuan
1. Mempelajari struktur dan sistem tubuh bekicot (achantina fulica), siput
sawah (pila ampulacea), cumi-cumi (loligo pealii).
2. Mempelajari hubungan antara struktur dan fungsi pada tubuh bekicot
(achantina fulica), siput sawah (pila ampulacea), cumi-cumi (loligo pealii).

C. Manfaat
Mahasiswa dapat :
1. Mengetahuii struktur dan sistem tubuh bekicot (achantina fulica), siput
sawah (pila ampulacea), cumi-cumi (loligo pealii).
2. Mengetahui hubungan antara struktur dan fungsi pada tubuh bekicot
(achantina fulica), siput sawah (pila ampulacea), cumi-cumi (loligo pealii).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Mollusca (dalam bahasa latin, molluscus = lunak) merupakan hewan yang


bertubuh lunak. Tubuhnya lunak dilindungi oleh cangkang, meskipun ada juga yang
tidak bercangkang. Hewan ini tergolong triploblastik selomata. Ukuran dan bentuk
Mollusca sangat bervariasi. Misalnya siput yang panjangnya hanya beberapa
milimeter dengan bentuk bulat telur. Namun ada yang dengan bentuk torpedo
bersayap yang panjangnya lebih dari 18 m seperti cum-cumi raksasa. Mollusca hidup
secara heterotrof dengan memakan ganggang, udang, ikan ataupun sisa-sisa
organisme. Habitatnya di air tawar, di laut dan didarat. Beberapa juga ada yang hidup
sebagai parasit. Reproduksi umumnya Mollusca menguntungkan bagi manusia,
namun ada pula yang merugikan (Adun, 2011)
Filum Mollusca merupakan salah satu anggota hewan invetebrata. Anggota
filum ini antara lain remis, tiram, cumi-cumi, octopus, dan siput. Berdasarkan
kelimpahan spesiesnya Mollusca memiliki kelimpahan spesies terbesar di samping
arthropoda. Ciri umum yang dimiliki Mollusca adalah, tubuhnya bersimetris
bilateral, tidak bersegmen, kecuali Monoplacopora, memiliki kepala yang jelas
dengan organ reseptor kepala yang bersifat khusus. Pada permukaan ventral dinding
tubuh terdapat kaki berotot yang secara umum digunakan untuk begerak, dinding
tubuh sebelah dorsal meluas menjadisatu pasang atau sepasang lipatan yaitu mantel
atau pallium. Fungsi mantel adalah mensekresikan cangkang dan melingkupi rongga
mantel yang di dalamnya berisi insang (Erlinda, 2014).
Mollusca merupakan filum terbesar dari kingdom animalia. Mollusca
dibedakan menurut tipe kaki, posisi kaki, dan tipe cangkang, yaitu Gastropoda,
Pelecypoda, dan Cephalopoda. Yang pertama yaitu, Gastropoda (dalam bahasa latin,
gaster =perut, podos=kaki) adalah kelompok hewan yang menggunakan perut sebagai
alat gerak atau kakinya. Misalnya, siput air (Lymnaea sp.), remis (Corbicula
javanica), dan bekicot (Achatia fulica). Hewan ini memiliki ciri khas berkaki lebar
dan pipih pada bagian ventrel tubuhnya. Gastropoda bergerak lambat menggunakan
kakinya. Gastropoda darat terdiri dari sepasang tentakel panjang dan sepasang
tentakel pendek. Pada ujung tentakel panjang terdapat mata yang berfungsi untuk
mengetahui gelap dan terang. Sedangkan pada tentakel pendek berfungsi sebagai alat
peraba dan pembau. Gastropoda akuatik bernapas dengan insang, sedangkan
Gastropoda darat bernapas menggunakan rongga mantel (Brotowidjojo, 1989).
Reproduksi umumnya mollusca menguntungkan bagi manusia, namun ada
pula yang merugikan. Peran mollusca yang menguntungkan adalah sebagai berikut -
Sumber makanan berprotein tinggi, misalnya tiram batu Aemaeba sp., kerang
Anadara sp., kerang hijau Mytilus viridis, Tridacna sp., sotong Sepia sp. cumi-cumi
(Loligo sp), remis (Corbicula javanica), dan bekicot (Achatina fulica). Perhiasan,
misalnya tiram mutiara (Pinctada margaritifera).Adapun yang melatarbelakangi
dilakuaknnya prakrikum ini adalah untuk mengamati morfologi dan anatomi dari
spesies-spesies yang mewakili mollusca serta mendeskripsikan dan menyusun
klasifikasinya (Jasin, 1992).
Mollusca memiliki alat pencernaan yang sempurna , mulai dari mulut yang
mempunyai radula (lidah parut) sampai dengan anus terbuka didaerah rongga
mantel.Di samping itu juga terdapat kelenjar pencernaan yang sudah berkembang
baik. Peredaran darah terbuka ini terjadi pada semua kelas Mollusca kecuali kelas
Cephalopoda.(Kusnadi, 2005)
Pernapasan dilakukan dengan menggunakan insang atau “paru-paru”, mantel
atau oleh bagian epidermis.Alat ekskresi berupa ginjal. System saraf terdiri dari tiga
pasang ganglion yaitu ganglion cerebral, ganglion visceral dan ganglion pedal, yang
ketiganya dihubungkan oleh tali-tali saraf longitudinal. Alat reproduksi umumnya
terpisah atau bersatu dan pembuahan internal atau eksternal.(Zahirotul, 2015)
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 29 April 2017, pukul
15.00-17.00 WITA bertempat di Laboratorium Biologi Jurusan Pendidikan
Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar.

B. Alat dan Bahan


a. Alat
Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah :
1. Papan Bedah : 1 buah
2. Alat Bedah : 1 set
b. Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah :
 Bekicot (Achatina fulica)
 Siput Sawah (Pila ampullacea)
 Cumi-cumi (Loligo peali)

C. Prosedur Kerja
1. Meletakkan spesies (Bekicot, Siput Sawah dan Cumi-cumi) yang ingin
diamati ke dalam papan seksi
2. Selanjutnya amati Bekicot, Siput Sawah dan Cumi-cumi tersebut secara
seksama
3. Kemudian dibedakan bagian-bagian tubuhnya secara morfologi dan
Anatominya
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
a. Achatina fulica
Gambar Morfologi Keterangan
1. Outer lip
2. Operculum closing
3. Body whorl
4. Spire
5. apex

Gambar Anatomi Keterangan


1. Jantung
2. Kaki perut
3. Lubang ekskresi
4. Anus
5. Tembolok
6. Gigi radula
7. Mulut
8. Mata
9. Penis
10. Vagina
11. Paru-paru
12. Kelenjar pencernaan
13. Cangkang
14. Usus
15. Gonad
16. Perut
17. Mantel
18. Ginjal

b. Pila ampulacea
Gambar Morfologi Keterangan
1. Mulut
2. Kaki perut
3. Cangkang
4. Mata

Gambar Anatomi Keterangan


1. Kaki perut
2. Lambung
3. Mulut
4. Mata
5. Gonad
6. Mantel
7. Cangkang
8. Hati
c. Loligo peali
Gambar Morfologi Keterangan
1. Sirip
2. Mata
3. Lengan
4. Mulut
5. Tentakel
6. corong

Gambar Anatomi Keterangan


1. Lambung
2. Kantung tinta
3. Esophagus
4. Corong
5. Mata
6. Lengan
7. Tentakel
8. Mulut
9. Jantung sistematik
10. Jantung insang
11. Ovarium
B. Pembahasan
a. Achatina fulica
1. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Kelas : Gastropoda
Ordo : Pulmonata
Famili : Achanitidae
Genus : Achatina
Spesies : Achatina fulica (Jasin, 1992)
2. Morfologi
Tubuh terdiri atas kepala, leher dan kaki dan masa jerohan, pada
kepalanya terdapat ua tentakel yaitu sepasang berukurang pendek
terletak di anterior dan mengandung saraf pembau serta sepasanfg kedua
lebih pangjang mengandung mata. Mulut achanita terletak dibagian
anterior kepala diventral tentakel tepat dibawah terdapat lubang yang
berhubungan dengan kelenjar mukosa kaki (pedal).
3. Anatomi
Alat pencernaan terdiri atas mulut, masa bukal, esophagus,
kelenjar ludah tombolok, lambung kelenjar, pencernaan, usus rectum,
dan anus dan kelenjar ludah yang terletak dikanan kiri tembolok.
Esophagus bermuara ke dalam tembolok serta terdapat ureter yang
merupakan saluran dari ginjal terletak disis sepangjang rectum dan
bermuara dekat anus (Jasin, 1992).
4. Sistem organ
 Sistem pencernaan
Alat pencernaan pada hewan ini meliputi rongga mulut, eshophgus,
kelenjar ludah, krop lambung, kelenjar pencernaan usus rectum dan
anus (Jasin, 1992).
 Sistem ekskresi
Alat ekskresi berupa sebuah ginjal yang terletak dekat jantung. Hasil
ekskresi dikeluarkan ke dalam rongga mantel.
 Sistem Syaraf
 Sistem saraf terdiri atas tiga buah ganglion utama yakni ganglion otak
(ganglion cerebral); ganglion visceral / ganglion organ-organ dalam;
ganglion kaki (pedal).
 Ketiga ganglion utama ini dihubungkan oleh tali saraf longitudinal
 sedangkan tali saraf longitudinal ini dihubungkan oleh saraf transversal
ke seluruh bagian tubuh.
 Didalam ganglion pedal terdapat statosit (statocyst) yang berfungsi
sebagai alat keseimbangan.
 Sistem Transportasi
Sistem peredaran darah adalah sistem peredaran darah terbuka. Jantung
terdiri dari serambi dan bilik (ventrikel) yang terletak dalam rongga tubuh.
 Sistem pernapasan
Bekicot yang hidup di air bernapas dengan insang. Sedangkan yang hidup
di darat tidak memiliki insang.Pertukaran udara mollusca dilakukan di
rongga mantel berpembuluh darah yang berfungsi sebagai paru-paru
 Sistem reproduksi
Bekicot bereproduksi secara seksual dan masing-masing organ seksual
saling terpisah pada individu lain.Fertilisasi dilakukan secara internal dan
eksternal untuk menghasilkan telur. Telur berkembang menjadi larva dan
berkembang lagi menjadi individu dewasa.
5. Habitat
Hewan ini dapat hidup didarat khususnya daerah daerah lembab dan
berair.
6. Manfaat
Selain pakan ternak bekicot merupakan sumber protein hewani yang bermutu
tinggi karena mengandung asam-asam amino esensial yang lengkap.
Masyarakat yang menggemari makanan dari bahan baku bekicot (sate bekicot,
keripik bekicot ) adalah masyarakat Kediri. Disamping itu bekicot juga kerap
dipakai dalam pengobatan tradisional, karena ekstrak daging bekicot dan
lendirnya sangat bermanfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit
seperti abortus, sakit waktu menstruasi, radang selaput mata, sakit gigi, gatal-
gatal, jantung dan lain-lain. Sedangkan kulit bekicot sangat mujarab untuk
penyakit tumor. Sejenis obat yang dikenal berasal dari kulit bekicot,
dinamakan Maulie., yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit seperti
kekejangan, jantung suka berdebar, tidak bisa tidur/insomania, leher
membengkak dan penyakit kaum wanita termasuk keputihan.
b. Pila ampullacea
1. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Kelas : Gastropoda
Ordo : Mesogastropoda
Famili : Ampullaridae
Genus : Pila
Spesies : Pila ampullacea
2. Morfologi
Siput sawah memiliki ciri umum seperti gastropoda pada umumnya yaitu
memiliki tubuh yang terbagi menjadi tiga bagian besar yaitu kepala, kaki
dan perut. Tubuh dapat dijulurkan keluar dari cangkang, tetapi apabila
keong ini diganggu, keseluruhan badan hewan ini akan masuk ke dalam
cangkangnya dan mulut dari cangkang tersebut akan tertutup rapat oleh
operculum
3. Anatomi
Ciri utama Siput sawah adalah memiliki cangkang bulat asimetris terpilin
dan mengerucut dengan letak puncak pada bagian dorsal serta berwarna
kekuning-kuningan da nada juga yang kehitam hitaman. Pada saat masih
hidup tinggi cangkang dapat mencapai 100 mm. cangkang dilengkapi
dengan operculum (penutup) yang berwarna coklat kehitaman, berbentuk
bulat telur dan coklat kekuningan serta mengkilat pada bagian dalamnya
Kaki lebar, berbentuk segitiga dan mengecil pada bagian belakang.
4. Habitat
Siput sawah banyak ditemukan di sawah-sawah dan kolam perairan
tawar. Populasi siput sawah hingga saat ini sulit dikendalikan, sifatnya
yang merupakan herbivore sering dianggap hama bagi tanaman padi di
sawah-sawah tempat hidupnya. Siput sawah dengan pertumbuhan
populasi yang relative cepat cukup mengganggu aspek pertanian dan
perikanan di Indonesia.
c. Loligo peali
1. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Kelas : Chepalopoda
Ordo : Tethoidea
Famili : Loliginidae
Genus : Loligo
Spesies : Loligo pealii (Mukayat, 1989: 67)
2. Morfologi
Cumi-cumi memiliki bentuk tubuh panjang, langsing dan bagian
belakang meruncing (rhomboidal). Terdiri atas kepala, leher dan
badan. Kepala memiliki dua mata besar dan tidak berkelopak, Leher
pendek dan badan berbentuk tabung mempunyai sirip di setiap
sisinya. Pada kepala terdapat 8 tangan dan 2 tentakel panjang yang
ujungnya terdapat batil isap. Di posterior kepala terdapat sifon atau
corong berotot yang berfungsi sebagai kemudi. Di bagian perut,
terdapat cairan tinta berwarna hitam yang mengandung pigmen
melanin. Pada anterior badan terdapat endoskeleton yang berbentuk
pen atau bulu. Endoskeleton tersebut (cangkang) terletak di dalam
rongga mantel berwarna putih transparan, tipis dan terbuat dari
bahan kitin. Mantel berwarna putih dengan bintik-bintik merah ungu
sampai kehitaman dan diselubungi selaput tipis berlendir
3. Anatomi
Sedangkan secara anatomi, terdapat beberapa organ seperti sifon,
katup sifon, cangkang (endoskeleton), telur, oviduk, articulating
ridge, kantung tinta, integument, alat pencernaan cumi-cumi terdiri
atas mulut, esofagus, lambung, usus, rektum dan anus. Sistem
pencernaan dilengkapi kelenjar pencernaan yaitu kelenjar ludah,
hati, dan pankreas. Sistem pembuluh darah cumi-cumi adalah sistem
pembuluh darah tertutup. Hewan ini bernafas dengan insang yang
terdapat di rongga mantel. Ekskresi dilakukan dengan ginjal berupa
nefridium yang terletak di sebelah jantung. Reproduksi terjadi secara
seksual dengan fertilisasi internal. Alat reproduksinya terpisah,
masing-masing dengan gonad yang terletak dekat ujung rongga
mantel. Sistem saraf terdiri atas tiga pasang ganglion. Indera sensoris
dilengkapi dengan dua stasista dan alat pembau.
4. Habitat
Cumi-cumi berhabitat di laut. Kemungkinan hidup di air dalam
selama musim dingin, tetapi terkadang dia memasuki air dangkal
untuk menetaskan telurnya.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas maka dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu:
 Pada kelas gastropoda yaitu bekicot dan siput bernapas dengn paru-paru
karena hidupnya di darat, Pada kelas pulmonata antara siput dan bekicot
memiliki cangkang dan organ dalam yang hampir sama, namun terdapat
perbedaan yaitu pada siput terdapat operculum yang berfungsi untuk
melindungi tubuhnya sedangkan pada bekicot tidak ada
 Organisme yang termasuk dalam phylum Mollusca adalah cumi-cumi
memiliki bentuk tubuh panjang, langsing dan bagian belakang meruncing
(rhomboidal).Terdiri atas kepala, leher dan badan.Kepala memiliki dua mata
besar dan tidak berkelopak, Leher pendek dan badan berbentuk tabung
mempunyai sirip di setiap sisinya.
 Hewan mollusca yang hidup di laut cangkangnya lebih keras karena
mengandung banyak zat kapur sedangkan yang hidup di darat tidak terlalu
keras.
B. Saran
Adapun saran untuk praktikum ini yaitu agar praktikan lebih aktif dan teliti
dalam mengamati morfologi dan anatomi tubuh dari spesies yang diamati agar
mendapatkan hasil pengamatan yang maksimal.
DAFTAR PUSTAKA

Brotowidjojo, Mukayat Djarubito. 1989. Zoologi Dasar. Jakarta : Erlangga.


Erlinda, lia. Dkk. 2014. Struktur Komunitas Gastropoda Di Danau Sipogas
Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Riau : universitas pasir pengaraian.
Jasin, Maskoeri. 1992. Zoologi Invertebrata. Surabaya : Sinar Wijaya.
Kusnadi, Dkk. 2005. Biologi. Jakarta : PT Piranti darma kalokatama.
Rusyana, Adun. 2011. Zoologi Invertebrata. Bandung : ALFABETA.
Ula, zahirotul. 2015. Keanekaragaman Organisme Hewan dan Tumbuhan. Jember :
Universitas Jember