Anda di halaman 1dari 20

Laporan Pendahuluan Decomp Cordis

Ditulis pada Kamis, 10 Maret 2016 17:04 WIB oleh damian dalam katergori Keperawatan tag
Keperawatan, Jantung, KMB

http://fales.co/blog/laporan-pendahuluan-decomp-cordis.html

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

      Bab ini membahas tentang konsep pemenuhan kebutuhan aktivitas, konsep medis serta
asuhan keperawatan penyakit gagal jantung.

2.1Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Kebutuhan Dasar Manusia

Kebutuhan dasar manusia merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh manusia dalam
mempertahankan keseimbangan fisiologis maupuan
psikologis, yang tentunya bertujuan untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatan. Kebutuhan dasar
manusia menurut Abraham Maslow (1970) dalam teori Hirarki menyatakan, bahwa setiap manusia
memiliki lima kebutuhan dasar yaitu kebutuhan menyatakan bahwa setiap manusia memiliki lima
kebutuhan dasar yaitu kebutuhan fisiologis, keamanan, cinta, harga diri, dan aktualisasi diri (Potter dan
Patricia, 2005 dalam Hidayat, 2006).

Oleh karena itu kebutuhan pada manusia harus dipenuhi sebelum kebutuhan lainnya. Kebutuhan dasar
manusia seperti makan, air, keamanan dan cinta merupakan hal yang penting bagi manusia.Dalam
mengaplikasikan kebutuhan dasar manusia tersebut dapat digunakan untuk memahami hubungan antara
kebutuhan dasar manusia dalam mengaplikasikan ilmu keperawatan di dunia kesehatan. Walaupun setiap
orang mempunyai sifat yang berbeda-beda kebutuhan yang unik, setiap orang mempunyai kebutuhan
dasar manusia yang sama. Besarnya kebutuhan dasar yang terpenuhi menentukan tingkat kesehatan dan
posisi pada rentang sehat-sakit (Potter dan Patricia, 1997 dalam Hidayat,2006).

Kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow (Potter dan Perry, 1997 dalam Hidayat , 2006)
terdiri dari :

1)Â Â Â Â Â Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan paling dasar, yaitu seperti oksigen, cairan
(minuman), nutrisi (makanan), keseimbangan suhu tubuh, eliminasi, tempat tinggal, istirahat, aktivitasÂ
dan tidur, serta kebutuhan seksual.

2)Â Â Kebutuhan rasa aman dan perlindungan dibagi menjadi pelindungan fisik dan perlindungan
psikologis.

(a)Â Â Â Â Â Perlindungan fisik meliputi perlindungan atas ancaman terhadap tubuh atau hidup.
Ancaman tersebut dapat berupa penyakit, kecelakaan, bahaya dari lingkungan, dan sebagainya.

(b)Â Â Â Â Perlindungan psikologis, yaitu perlindungan atas ancaman dari pengalaman yang baru dan
asing. Misalnya, kekhawatiran yang dialami seseorang ketika masuk sekolah pertama kali karena merasa
terancam oleh keharusan untuk berinteraksi dengan orang lain, dan sebagainya.

3)Â Â Â Â Â Â Â Kebutuhan rasa cinta serta rasa memiliki dan dimiliki, antara lain memberi dan
menerima kasih sayang, mendapatkan kehangatan keluarga, memiliki sahabat, diterima oleh kelompok
sosial, dan sebagainya.

4)Â Â Â Â Â Â Â Kebutuhan akan harga diri maupun perasaan dihargai oleh orang lain. Kebutuhan ini
terkait dengan keinginan untuk mendapatkan kekuatan, meraih prestasi, rasa percaya diri, dan
kemerdekaan diri. Selain itu, orang juga memerlukan pengakuan dari orang lain.

5)Â Â Â Â Â Â Â Kebutuhan aktualisasi diri, merupakan kebutuhan tertinggi dalam hierarki Maslow,
berupa kebutuhan untuk berkontribusi pada orang lain/lingkungan serta mencapai potensi diri
sepenuhnya.
Kebutuhan manusia menurut teori Abraham Maslow pemenuhan kebutuhan aktivitas ini termasuk dalam
kebutuhan fisiologis. Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan paling dasar pada manusia seperti
makan, minum, BAB, BAK, istirahat, dan tidur (Asmadi, 2009).

2.2Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Konsep Pemenuhan Kebutuhan Aktivitas

2.2.1Â Â Â Â Â Â Â Pengertian

Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan
pengeluaran energi. Aktivitas fisik yang tidak ada (kurangnya aktivitas fisik) merupakan faktor risiko
independen untuk penyakit kronis, dan secara keseluruhan diperkirakan menyebabkan kematian secara
global (WHO, 2010).

Mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak bebas, mudah, teratur, mempunyai tujuan
memenuhi kebutuhan hidup sehat, dan penting untuk kemandirian (Barbara Kozier, 1995).Sebaliknya
keadaan imobilisasi adalah suatu pembatasan gerak atau keterbatasan fisik dari anggota badan dan
tubuh itu sendiri dalam berputar, duduk dan berjalan (Susan J. Garrison, 2004). Pada klien gagal jantung
biasanya akan mengalami masalah mobilisasi yaitu intoleransi aktivitas.

Imobilisasi adalah ketidakmampuan untuk bergerak bebas yang disebabkan oleh kondisi dimana gerakan
terganggu atau dibatasi secara terapeutik (Potter dan Perry, 2006). Dalam hubungannya dengan
perawatan klien, maka imobilisasi adalah keadaan dimana klien berbaring lama di tempat tidur (Asmadi,
2008).

2.2.2Â Â Â Â Â Â Â Tujuan Mobilisasi

1)Â Â Memenuhi kebutuhan dasar manusia

2)Â Â Mencegah terjadinya trauma

3)Â Â Mempertahankan tingkat kesehatan

4)  Mempertahankan interaksi sosial dan peran sehari – hari

5)Â Â Mencegah hilangnya kemampuan fungsi tubuh.

2.2.3       Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Mobilisasi Pada Klien Gagal Jantung

1. Tirah baring

Klien gagal jantung diharapkan untuk menjalani terapi tirah baring atau imobilisasi akan mengurangi atau
bahkan tidak melakukan aktivitas fisik sehubungan dengan adanya program pengobatan terhadap dirinya.
Oleh karena itu klien dibatasi terhadap aktivitas.

1. Dyspnoe

Klien dengan gagal jantung sering disertai dengan dispnoe yang terjadi ketika melakukan aktivitas dan
akan berkurang jika digunakan untuk istirahat.

1. Kelemahan umum

Penurunan cardiac output merupakan masalah dari gagal jantung yang menyebabkan kemampuan
metabolisme tubuh untuk menghasilkan ATP menurun sehingga tubuh mengalami kemampuan aktivitas.

Â
Â

2.2.4Â Â Â Â Â Â Â Karakteristik Gangguan Mobilitas Fisik

Menurut Wilkinson (2006), batasan karakteristik pada gangguan mobilitas fisik:

1) Subyektif

1. a) Ketidaknyamanan atau dipsnea yang membutuhkan pengerahan tenaga.


2. b) Melaporkan kelemahan atau keletihan secara verbal.

2) Objektif

1. a) Denyut jantung atau tekanan darah tidak normal sebagai respon terhadap aktivitas.
2. b) Perubahan elektrokardiogram (EKG) selama aktivitas yang menunjukkan aritmia atau iskemia.

2.2.5       Faktor yang Berhubungan Gangguan Mobilitas Fisik

Menurut Wilkinson (2006), batasan karakteristik pada gangguan mobilitas fisik adalah:

1)Â Â Tirah baring atau imobilisasi

Klien yang menjalani tirah baring atau imobilisasi akan mengurangi atau bahkan tidak melakukan aktivitas
fisik sehubungan dengan adanya program pengobatan terhadap dirinya. Oleh karena itu klien akan
mengalami gangguan terhadap mobilisasi.

2)Â Â Nyeri kronis

Klien yang mengalami nyeri mengalami kekhawatiran, jika bergerak akan membuat nyeri yang dialaminya
semakin bertambah parah.

3)Â Â Kelemahan umum

Dalam melakukan aktivitas dibutuhkan energi, ketika klien mengalami kelemahan maka klien juga akan
mengurangi aktivitas bahkan tidak melakukan aktivitas

4)Â Â Ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen

Bila aktivitas klien meningkat maka kebutuhan tubuh akan oksigen meningkat. Jika kebutuhan oksigen
tidak terpenuhi maka tubuh akan mengalami gangguan terhadap aktivitas/mobilisasi.

5)Â Â Gaya hidup monoton

Gaya hidup yang monoton menyebabkan beberapa bagian tubuh menjadi imobil karena jarang digunakan

2.3Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Konsep ICCU

2.3.1Â Â Â Â Â Â Â Pengertian ICCU

ICCU (Intensive Care Coronary Unit) adalah ruangan di rumah sakit yang dikhususkandalam perawatan
klien dengan gangguan jantung, serangan jantung, unstable angina, disritmia, dan beberapa keadaan
jantung lain yang mmbutuhkan observasi dan penanganan ketat. Fasilitas utama yang harus ada di ICCU
adalah telemetri, yang memonitor secara terus-menerus irama jantung dan memberikan informasi
perubahan kondisi jantung (Wikipedia.org).

Menurut SOP Pelayanan ICCU RSUD dr Soedono Madiun (2013), ICCU adalah suatu bentuk
perawatan khusus dengan pemantauan terus menerus, perawat yang telah dididik khusus, dilengkapi
dengan DC Shock, pacu jantung sementara dan obat – obatan lengkap.

2.3.2Â Â Â Â Â Â Â Indikasi Klien Masuk ICCU

1. Penyakit jantung koroner akut / AMI


2. Nyeri dada atau disangka penyakit jantung koroner akut.
3. Shock Cardiogenic
4. Aritmia ganas / malignant
5. Tamphonade jantung
6. Infeksi jantung / corditis
7. Post operasi bedah jantung
8. Decompensasi Cordis Berat / NYHA Derajat IV

2.3.3       Persiapan Alat Dan Obat : Oleh Perawat

1. Bed side / tempat tidur telah disiapkan di dalam pintu masuk unit rawat jantung
2. Bed side monitor sistim 3 elektrode on, lengkap dengan asesorisnya, seperti : manset dan kabel
tensimeter, saturasi oksigen, elektrode dan 3 buah plat elektroda.
3. Emergency trolly dekatkan ke klien yang telah dilengkapi dengan obat – obat emergensi, cairan
serta alat – alat seperti : terapi oksigen, defibrilator, resusitator,  iv kateter, iv line.
4. EKG protable atau automatis.
5. Syring pump
6. Format catatan medik dan keperawatan

2.3.4Â Â Â Â Â Â Â Perawatan Klien Di ICCU

1. Nilai respon klien, meliputi kesadaran, pernapasan, denyut jantung dalam waktu 10 – 20 detik.
Bila stabil segera dipindahkan ke tempat tidur unit rawat jantung.
2. Klien didorong ke bedside monitor yang telah disiapkan.
3. Beri tahu tentang tujuan dan manfaat pemasangan alat – alat unit rawat jantung .
4. Pasang monitor, pilih grafik R yang tinggi, ukur tekanan darah dan denyut jantung.
5. Pasang oksigen sesuai program
6. Serah terima dengan perawat pengantar klien tentang kelengkapan catatan medik dan
keperawatan, pengobatan yang telah diberikan serta tindakan atau hasil – hasil pemeriksaan.
7. Pasang / pertahankan infus emergency
8. Rekam EKG serial 12 – 15 lead.
9. Memberikan pengobatan sesuai program medik dengan atau tanpa syring pump.
10. Melaksanakan tindakan khusus dan atau pemeriksaan khusus sesuai program
11. Melaksanakan pengkajian dasar keperawatan
12. Melaksanakan pendokumentasian

2.4Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Konsep Dasar Gagal Jantung


2.4.1Â Â Â Â Â Â Â Pengertian

Gagal jantung adalah suatu ketidak mampuan jantung untuk memompakan ke seluruh tubuh sesuai
dengan kebutuhan (Nurhidayat, 2011).

Gagal jantung terjadi ketika jantung tidak mampu memompa darah yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan oksigen dan nutrien tubuh (Corwin, 2009).

Menurut Baradero (2008), gagal jantung, sering juga disebut dengan dekompensasi kordis, insufisiensi
jantung, atau inkompeten jantung, adalah keadaan ketika jantung tidak mampu memompa darah ke
seluruh tubuh untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Gagal jantung dibagi atas gagal jantung akut yang
timbulnya sangat cepat sebagai akibat dari serangan infark miokard, ditandai dengan sinkop, syok, henti
jantung, dan kematian tiba-tiba dan gagal jantung kronis berkembang secara perlahan dan disertai
dengan tanda-tanda yang ringan karena jantung dapat mengadakan kompensasi.

Menurut Price (1992), gagal jantung adalah keadaan patofisiologis di mana jantung sebagai pompa tidak
mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan. Ciri-ciri yang penting dari definisi ini
adalah pertama, definisi gagal adalah relatif terhadap kebutuhan metabolik tubuh, dan kedua, penekanan
arti gagal ditujukan pada fungsi pompa jantung secara keseluruhan.

Gagal jantung atau cardiac failure adalah semua keadaan yang memperlihatkan pengurangan fungsi
kemampuan jantung memompa darah secara memadai ke seluruh bagian sistem pembuluh darah arteri di
dalam tubuh.Pada keadaan-keadaan tertentu, dapat dijumpai kegagalan jantung yang disertai atau tanpa
disertai gejala subjektif (Masud, 1989).

Gagal jantung adalah suatu sindrom klinik yang disebabkan oleh suatu kelainan jantung dan dapat
dikenali dari respon hemodinamik, renal, neural, dan hormonal (Joewono, 2003).

2.4.2       Faktor – Faktor yang Memengaruhi Pompa Jantung

Menurut Price (2002), gangguan fungsi mekanis jantung dan metode-metode bantuan sirkulasi ditinjau
dari efek-efeknya terhadap tiga penentu utama dari fungsi miokardium: beban awal (preload),
kontraktilitas, dan beban akhir (afterload).

1. Beban Awal

Beban awal adalah derajat peregangan serabut miokardium pada akhir pengisian ventrikel atau diastolic.
Meningkatnya beban awal, sampai titik tertentu, memperbanyak tumpang tindih antara filament-filamen
aktin dan myosin: meningkatkan kekuatan kontraksi dan curah jantung. Hubungan ini dinyatakan dengan
hukum Starling: yaitu peregangan serabut-serabut miokardium selama diastole akan meningkatkan
kekuatan kontraksi pada sistol. Beban awal meningkat dengan bertambahnya volume diastolic ventrikel,
misalnya pada retensi cairan dan penurunan beban awal terjadi pada diuresis.

1. Kontraktilitas

Kontraktilitas, yaitu penentu kedua dari fungsi miokardium, menunjukkan perubahan-perubahan dalam
kekuatan kontraksi atau keadaan inotropic yang terjadi bukan karena perubahan-perubahan dalam
panjang serabut. Pemberian obat inotropic positif seperti katekolamin atau digoksin, akan meningkatkan
kontraktilitas otot-otot jantung.

1. Beban akhir

Beban akhir adalah besarnya tegangan dinding ventrikel yang harus dicapai untuk mengejeksi darah
sewaktu sistolik. Menurut Hukum Laplace, ada tiga variable yang memengaruhi tegangan dinding, ukuran
atau radius intraventrikel, tekanan sistolik ventrikel, dan tebal dinding.

Faktor-faktor yang meningkatkan tekanan ventrikel selama sistolik (seperti vasokontriksi arteria yang
meningkatkan tahanan terhadap ejeksi ventrikel) atau meningkatnya radius ventrikel (seperti pada retensi
cairan) akan meningkatkan beban akhir. Jantung yang gagal terutama peka terhadap peningkatan beban
akibat peningkatan beban akhir, karena terbatasnya cadangan jantung. Pengurangan beban akhir dapat
dicapai dengan intervensi seperti pemberian vasodilator. Menurut hokum Laplace, hipertropi ventrikel
sebagai konsekuensi lain dari gagal jantung, juga menurunkan beban akhir. Bertambahnya masa otot
juga meningkatkan kerja ejeksi.

2.4.3Â Â Â Â Â Â Â Etiologi

Menurut Baradero (2008), penyebab gagal jantung dibagi atas dua kelompok, yaitu:

1. Gangguan yang langsung merusak jantung, seperti infark miokardium, miokarditis, fibrosis
miokardium, dan aneurisma ventricular.
2. Gangguan yang menyebabkan kelebihan kelebihan beban ventrikel. Kelebihan beban ventrikel
dibagi atas:
3. Preload adalah volume darah ventrikel pada akhir diastole. Kontraksi jantung menjadi kurang efektif
apabila volume ventrikel sudah melampaui batasnya. Meningkatnya preload dapat diakibatkan oleh
regusgitasi aorta atau mitral, terlalu cepat pemberian cairan infus terutama pada klien lansia dana
anak kecil.
4. Afterload adalah kekuatan yang harus dikeluarkan jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh
(system sirkulasi). Meningkatnya afterload dapat diakibatkan oleh stenosis aorta, stenosis pulmonal,
hipertensi sistemik, dan hipertensi pulmonal. Penyakit jantung hipertensif adalah perubahan pada
jantung sebagai akibat dari hipertensi yang berlangsung terus-menerus dan meningkatkan afterload.
Jantung membesar sebagai kompensasi terhadap beban pada jantung. Apabila hipertensi tidak
teratasi, kegagalan jantung dapat terjadi.

Menurut Nurhidayat (2011), penyebab gagal jatung dapat di bagi menjadi beberapa penyebab, yaitu:

    2.4.3.1     Kelainan Mekanis

1. Peningkatan beban tekanan (resistensi) pembuluh darah.


2. Sentral (stenosis aorta).
3. Perifer (hipertensi sistemik).
4. Peningkatan beban volume (regurgitasi katup, peningkatan beban awal).
5. Obstruksi terhadap ventrikel (stenosis mitralis atau trikuspidalis)
6. Tamponade pericardium
7. Restruksi endokardium atau miokardium
8. Aneurisma ventrikel
9. Dis-sinergi ventrikel

    2.4.3.2     Kelainan Miokardium

1. Primer
2. Kardiomiopati
3. Miokarditis
4. Kelainan metabolik
5. Toksisitas (alkohol, kobalt)
6. Preskardia
7. Kelainan dis-dinamik sekunder (sekunder terhadap kelainan mekanik)
8. Kekurangan O2
9. Kelainan metabolik
10. Inflamasi
11. Penyakit sistemik
12. Penyakit paru obstruksi menahun (PPOM)
13. Berubahnya irama jantung atau urutan konduksi
14. Henti jantung
15. Fibrilasi
16. Takikardia atau bradikardia yang berat
17. Asinkroni listrik, gangguan konduksi

2.4.4Â Â Â Â Â Â Â Tanda dan Gejala

Menurut Nurhidayat (2010), tanda dan gejala gagal jantung secara keseluruhan sangat bergantung pada
etiologinya. Namun dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Ortopnea, yaitu sesak saat berbaring.


2. Dyspnea On Effort (DOE), yaitu sesak bila melakukan aktivitas.
3. Paroxymal Nocturnal Dyspnea (PND), yaitu sesak nafas tiba-tiba pada malam hari disertai batuk.
4. Berdebar-debar.
5. Lekas lelah.
6. Batu-batuk.

      2.4.4.1    Gambaran klinis gagal jantung kiri


1. Sesak nafas dyspnea on effort, paroxymal nocturnal dyspnea.
2. Pernapasan cheyne stokes.
3. Batuk.
4. Sianosis.
5. Suara sesak.
6. Ronchi basah, halus, tidak nyaring di daerah basal paru hydrothorak.
7. Kelainan jantung seperti pembesaran jantung, irama gallop, tachycardia.
8. BMR mungkin naik
9. Kelainan pada foto rontgen

      2.4.4.2         Gambaran klinis gagal jantung kanan

1. Edema pretibial, edema presakral, asites dan hydrothorax.


2. Tekanan vena jugularis meningkat (hepato jugular refluks).
3. Gangguan gastro intestinal, anorexia, mual muntah, rasa kembung di epigastrium.
4. Nyeri tekan mungkin didapati gangguan fungsi hati tetapi perbandingan albumin dan globulin tetap,
splenomegaly, hepatomegaly.
5. Gangguan ginjal, albuminuria, silinder hialin, glandular, kadar ureum meninggi (60-100%), oligouria,
nocturia.
6. Hiponatremia, hypokalemia, hipoklorimia

2.4.5Â Â Â Â Â Â Â Klasifikasi

Gejala gagal jantung dapat terjadi dalam berbagai derajat beratnya penyakit. Pada IMA (infark miokard
akut) gangguan jantung telah dengan mudah dan bermanfaat diklasifikasikan oleh Killip dengan empat
kelas: I, tidak ada kegagalan, II, kegagalan ringan sampai sedang, III, edema pulmonal akut, dan IV, syok
kardiogenik (Hudak dan Gallo, 1997).

Menurut Joewono (2003), gagal jantung diklasifikasikan berdasarkan beratnya keluhan dan kapasitas
latihan. Klasifikasi yang sering digunakan adalah sebagai berikut :

1. Kelas I

Penderita penyakit jantung tanpa limitasi aktivitas fisik. Aktivitas fisik sehari-hari tidak menimbulkan
dyspnoe atau kelelahan.

1. Kelas II

Penderita penyakit jantung disertai sedikit limitasi dari aktivitas fisik. Saat istirahat tidak ada keluhan.
Aktivitas sehari-hari menimbulkan dyspnoe atau kelelahan.

1. Kelas III

Penderita penyakit jantung disertai limitasi aktivitas fisik yang nyata. Saat istirahat tidak ada keluhan.
Aktivitas fisik yang lebih ringan dari aktivitas sehari-hari sudah menimbulkan dyspnoe atau kelelahan.

1. Kelas IV

Penderita penyakit jantung yang tak mampu melakukan setiap aktivitas fisik tanpa menimbulkan
kelelahan. Gejala-gejala gagal jantung bahkan mungkin sudah nampak saat istirahat. Setiap aktivitas fisik
akan menambah beratnya keluhan.

Menurut Baradero (2008), gagal jantung dapat diklasifikasikan atau dikategorikan menjadi:
1. Gagal curah rendah versus curah tinggi. Apabila curah jantung adalah normal atau lebih dari
normal, tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan metabolic tubuh, kegagalan jantung ini disebut gagal
curah tinggi. Termasuk dalam penyebab gagal curah tinggi adalah hipertiroidisme, anemia, dan
penyakit Paget. Apabila curah jantung turun di bawah normal, keadaan ini disebut gagal curah
rendah yang diakibatkan oleh hipertensi arterisklerosis, infark miokard, dan gangguan katup-katup
jantung.
2. Gagal jantung kiri versus kanan. Karena ventrikel kiri sering dan sangat dipengaruhi oleh
aterosklerosis coroner dan hipertensi, maka seringkali jantung kiri lebih dulu mengalami kegagalan
daripada jantung kanan. Kegagalan ventrikel kiri biasanya ditandai dengan edema dan kongsti
pulmonal kegagalan ventrikel kanan menimbulkan kongesti vena (kongesti vena sistemik) dan
edema perifer.

2.4.6Â Â Â Â Â Â Â Patofisiologi

Patofisiologi gagal jantung dapat dibagi menjadi dua komponen: (1) gagal miokardium (myocardium
failure) yang ditandai dengan menurunnya kontraktilitas. (2) respon sistemik terhadap menurunnya fungsi
miokardium, (a) meningkatnya aktivitas system simpatetik, (b) aktivitas sistem
renin-angiotensin-aldosteron dan stimulasi pelepasan vasopressin, (c) vasokonstriksi arteria renalis.

Gangguang fisiologis gagal jantung adalah komples, tetapi pada semua gagal jantung terdapat gangguan
pada kemampuan jantung sebagai pompa dan ini tergantung pada bermacam-macam faktor yang saling
terkait. Menurunnya kontraktilitas miokardium memegang peran sentral pada gagal jantung, akan tetapi
kontraktilitas miokard sukar untuk diukur (Djuwono, 2003).

    2.4.6.1     Mekanisme Dasar

Ada tiga mekanisme kompensasi yang dapat membuat jantung yang sudah lemah sanggup untuk
memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, yaitu takikardia, dilatasi ventrikel, dan hipertrofi miokardium yang
kesemuanya bertujuan untuk meningkatkan curah jantung.

1. Takikardia

Jantung berupaya mempertahankan kardiak output dengan meningkatkan denyut jantung. Akan tetapi,
dengan makin cepatnya denyut jantung, makin pendek pula diastole sehingga ventrikel tidak dapat
mengisi cukup darah yang mengakibatkan curah jantung berkurang.

1. Dilatasi ventrikel

Dengan meningkatnya pengembalian darah vena ke dalam jantung, ventrikel berdialatasi dan
memompadarah dengan kontraksi yang lebih kuat (hokum Starling mengatakan: makin kencangnya
otot-otot jantung, makin kuat kontraksinya). Mekanisme ini juga menambah curah jantung.

1. Hipertrofi miokardium

Hipertrofi adalah penambahan diameter serabut-serabut otot jantung (miokardium). Pembesaran otot-otot
jantung dapat membuat kontraksi jantung lebih kuat dan membuat curah jantung meningkat kerugian
yang paling besar dari mekanisme kompensasi ini adalah arteria koronaria tidak dapat memberi cukup
suplai darah pada otot-otot jantung yang menebal sehingga menimbulkan hipoksia pada otot-otot dan
akhirnya miokardium tidak efektif lagi.

 2.4.6.2  Respon Kompensatorik

Menurut Price (2000), sebagai respon terhadap gagal jantung, ada tiga mekanisme primer yang dapat
dilihat: (1) meningkatnya aktivitas adrenegik simpatik, (2) meningkatnya beban awal akibat aktivitas
system RAA (renin-angiotensin-aldosteron), dan (3) hipertrofi ventrikel. Ketiga respon kompensatorik ini
mencerminkan usaha untuk mempertahankan curah jantung.
1. Peningkatan aktivitas adrenergik simpatik

Menurunnya curah sekuncup pada gagal jantung akan membangkitkan respon simpatik kompensatorik.
Meningkatnya aktivitas adrenergic simpatik merangsang pengeluaran katekolamin dari saraf-saraf
adrenergik jantung dan medulla adrenal. Denyut jantung dan kekuatan kontraksi akan meningkat untuk
menambah curah jantung. Juga terjadi vasokontriksi arteria perifer untuk menstabilkan tekanan arteria
dan redistribusi volume darah dengan mengurangi aliran darah ke organ-organ yang rendah
metabolismenya, seperti kulit dan ginjal, agar perfusi ke jantung dan ginjal dapat dipertahankan.
Venokontriksi akan meningkatkan alir balik vena ke sisi kanan jantung, untuk selanjutnya menambah
kekuatan kontraksi sesuai dengan hukum Starling.

1. Peningkatan beban awal melaui aktivasi sistem RAA

Aktivasi sistem RAA menyebabkan retensi natrium dan air oleh ginjal, meningkatkan volume ventrikel dan
regangan serabut miokardium. Peningkatan beban awal ini akan menambah kontraktilitas miokardium
sesuai dengan Hukum Starling.

Penurunan curah jantung akan memulai peristiwa sebagai berikut: (1) penurunan aliran darah ginjal dan
akhirnya laju filtrasi glomerulus ikut turun, (2) pelepasan renin dari aparatus justaglomerulus, (3) interaksi
renin dengan angiotensinogen dalam darah untuk menghasilkan angiotensin I, (4) konversi angiotensi I
menjadi angiotensi II, (5) perangsangan sekresi aldosteron dari kelenjar adrenal, dan (6) retensi natrium
dan air pada tubulus distal dan duktus coligens. Angiotensi II juga menyebabkan vasokntriksi yang ikut
meningkatkan tekanan darah (Rahardja, 2010).

Pada gagal jantung yang berat, gabungan kongesti vena sistemik dan menurunnya perfusi hati akan
mengganggu metabolisme aldosteron di hati, sehingga kadarnya akan meningkat dalam darah. Kadar
hormon anti diuretik juga akan meningkat pada gagal jantung yang berat, yang selanjutnya akan
meningkatkan absorbsi air pada duktus coligens.

1. Hipertrofi Ventrikel

Respon kompensatorik terakhir pada gagal jantung adalah hipertrofi miokardium atau bertambahnya tebal
dinding jantung. Hipertrofi meningkatkan jumlah sarkomer dalam sel-sel miokardium; tergantung dari jenis
beban hemodinamik yang mengakibatkan gagal jantung, sarkomer dapat bertambah secara paralel atau
serial. Sebagai contoh, suatu beban tekanan yang ditimbulkan stenosis aorta akan disertai pertambahan
tebal dinding tanpa menambah ukuran ruang dalam. Respon miokardium terhadap beban volume, seperti
pada regusgitasi aorta, ditandai dengan dilatasi dan bertambahnya tebal dinding. Kombinasi ini diduga
merupakan akibat dari bertambahnya jumlah sarkomer yang tersusun secara serial.

1. Efek-efek negatif dari repson kompensatorik

Awalnya respon kompensatorik dari sirkulasi menguntungkan, namun pada akhirnya dapat menimbulkan
berbagai gejala, meningkatkan kerja jantung dan memperburuk tingkat gagal jantung. Retensi cairan yang
dimaksudkan untuk meningkatkan kekuatan kontraktilitas, kini mengakibatkan bendungan paru-paru dan
vena sistemik, dan edema. Vasokontriksi arteria dan resdistribusi aliran darah mengganggu perfusi
jaringan pada anyaman vaskular yang terkena dan menimbulkan tanda serta gejala misalnya
berkurangnya jumlah kemih yang dikeluarkan, dan kelemahan tubuh. Vasokontriksi arteria juga
meningkatkan beban akhir dengan memperbesar retensi terhadap ejeksi ventrikel, beban akhir juga
meningkat karena dilatasi tuang-ruang jantung. Akibatnya, kerja jantung dan kebutuhan miokardium akan
oksigen (MVO2) juga meningkat. Hipertrofi miokardium dan perangsangan simpatik lebih lanjut akan
meningkatkan kebutuhan MVO2. Jika peningkatan MOV2 ini tidak dapat dipenuhi dengan meningkatkan
suplai, maka akan terjadi iskemia miokardium dan gangguan miokardium lainnya. Akhir dari peristiwa
yang saling berkaitan ini adalah beban miokardium yang tinggi dan berulangnya gagal jantung secara
terus menerus.

2.4.7Â Â Â Â Â Â Â Diagnosis

Menurut Doengoes (2000), diagnosis gagal jantung dapat ditegakkan dengan menggunakan kriteria:

1. Electrocardiogram (ECG)

Hipertrofi atrial atau ventrikuler, penyimpangan aksis, iskemia, dan kerusakan pola mungkin terlihat.
Disritmia, misal takikardia, fibrilasi atrial, mungkin sering terdapat KVP (kontraksi ventrikuler prematur).
Kenaikan segmen ST/t persisten 6 minggu atau lebih setelah infark miokard menunjukkan adanya
aneurisme ventrikuler (dapat menyebabkan gagal/disfungsi jantung).
1. Sonogram (ekogram, ekokardiogram dopple)

Dapat menunjukkan dimensi pembesaran bilik, perubahan dalam fungsi/struktur katup, atau area
penurunan kontraktilitas ventrikular.

1. Skan jantung (Multigated acquisition[MUGA])

Tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan gerakan dinding jantung.

1. Kateterisasi jantung

Tekanan abnormal merupakan indikasi dan membantu membedakan gagal jantung sisi kanan versus sisi
kiri, dan stenosis katup atau insufisiensi. Juga mengkaji patensi arteri koroner. Zat kontral disuntikkan ke
dalam ventrikel menunjukkan ukuran abnormal dan ejeksi fraksi/perubahan kontraktilitas.

1. Rontgen dada

Dapat menunjukkan adanya kardiomegali, bayangan mencerminkan dilatasi/hipertrofi bilik, atau


perubahan dalam pembuluh darah mencerminkan peningkatan tekanan pulmonal. Kontur abnormal,
misal, bulging pada perbatasan jantung kiri, dapat menunjukkan aneurisme ventrikel.

1. Enzim hepar

Meningkat dalam gagal atau kongesti hepar.

1. Electrolit

Mungkin berubah karena perpindahan cairan atau penurunan fungsi ginjal, terapi diuretik.

1. Oksimetri nadi

Saturasi oksigen mungkin rendah, terutama jika gagal jantung kiri akut memperburuk PPOM atau gagal
jantung kiri kronis.

1. Analisa Gas Darah

Gagal ventrikel kiri ditandai dengan alkalosis respiratorik ringan (dini) atau hipoksemia dengan
peningkatan PCO2 akhir.

1. Kreatinin

Peningkatan BUN (Blood Ureum Nitrogen) menandai penurunan fungsi ginjal.

1. Albumin/transferrin serum

Mungkin menurun akibat penurunan masukan protein atau penurunan sintesis dalam hepar yang
mengalami kongesti.

1. Hitung Sel Darah

Mungkin menemukan anemia, polysitemia, atau perubahan kepekatan menandakan retensi air mungkin
meningkat, menunjukkan infark akut.
Â

2.4.8Â Â Â Â Â Â Â Pemeriksaan Penunjang

Menurut Doengoes (2000), Corwin (2009) dan Brunner & Suddarth (2002), pemeriksaan penunjang yang
digunakan untuk mendiagnosa infark miokard yaitu:

1. a) Kecepatan sedimentasi

Mungkin meningkat, menandakan reaksi inflamasi akut.

1. b) Pemeriksaan Tiroid

Peningkatan aktivitas tiroid menunjukkan hiperaktivitas tiroid sebagai faktor pencetus gagal jantung.

2.4.9Â Â Â Â Â Â Â Penatalaksanaan

Panduan penanganan gagal jantung:

1. Pembatasan aktivitas fisik


2. Hentikan olah raga dan kerja yang berat
3. Hentikan kerja purna waktu (lembur) atau aktivitas yang setara, mulai terapkan adanya fase istirahat
siang.
4. Terbatas dalam rumah
5. Terbatas pada tempat tidur, kursi
6. Pembatasan asupan natrium
7. Singkirkan botol garam dapur di meja makan (Na = 1.6 – 2.6 gr)
8. Jangan memberi garam sewaktu memasak, dan singkirkan botol garam di meja makan (Na = 1.2
– 1.8 gr)
9. Laksanakan A + B dan diet rendah natrium (Na = 0.2 – 1.0 gr)

1. Glikosida digitalis
2. Dosis rumah biasa
3. Dosis yang ditoleransi maksimal
4. Diuretik
5. Diuretik sedang (seperti tiazid)
6. Diuretik simpai (seperti furosemit)
7. Diuretik simpai dan diuretik tubulus distal (hemat kalium)
8. Diuretik simpai + tiazid + diuretik tuulus distal
9. Vasodilator
10. Kaptopril, enalapril, atau kombinasi dari hidralazin dan ISDN
11. Intensifikasi regimen vasodilator oral
12. Nitroprusid intravena
13. Agen inotropik lain: dopamin, dobutamin, amrinon
14. Tindakan khusus
15. Pertimbangkan transplantasi jantung
16. Dialisis
17. Sirkulasi yang dibantu, pompa balon intra aorta (IABP), alat bantu ventrikel kiri (LVAD), jantung
buatan.

Tirah baring. Tujuan untama dari tirah baring adalah mengistirahatkan klien; dengan demikian, melalui
inaktivitas, kebutuhan pemompaan jantung diturunkan. Tirah baring terutama dilakukan pada gagal
jantung tahap akut dan sulit disembuhkan. Selain untuk menurukan seluruh kebutuhan kerja pada
jantung, tirah baring membantu dalam menurunkan beban kerja dengan menurunkan volume
intravascular melalui induksi diuresis berbaring (Hudak dan Gallo, 1997).

Terapi digitalis. Terapi digitalis adalah pengobatan utama untuk kegagalan jantung kongestif karena
sangat efektif untuk memperbaiki fungsi miokardium, obat ini memperkuat kontraksi otot-otot jantung.
Dengan demikian curah jantung dapat meningkat dan suplai darah pada ginjal juga membaik. Digitalis
juga dapat mengurangi kecepatan denyut jantung sehingga ventrikel sempat berelaksasi dan mengisi
darah yang cukup. Digitalis diberikan dalam dosis tinggi dalam waktu yang singkat (digitalizing atau
loading). Klien harus diamati dengan ketat terhadap tanda-tanda toksisitas digitalis.

Terapi diuretik. Terapi diuretic bukan pengganti dari terapi digitalis. Terapi digitalis mempunyai efek
langsung pada miokardium. Diuretik diberikan hanya apabila tanda-tanda kegagalan jantung tidak
membaik setelah digitalis dan pengurangan natrium diberikan. Tujuan terapi diuretik adalah mengurangi
beban jantung dengan mengurangi volume cairan yang berlebihan, dan dapat mengurangi preload. Dalam
pemberian diuretik perlu diperhatikan pemberian kalium tambahan.

Obat-obat lain. Vasodilator diberikan untuk mengurangi afterload dengan mengurangi tahanan terhadap
pengosongan ventrikel. Obat-obatan yang sering dipakai:

1. Apresoline, Minipres
2. Penyekat saluran kalium karena mempunyai efek vasodilatasi, seperti Nifedipin.
3. Kaptropil adalah obat antihipertensif yang juga mempunyai efek vasodilatasi serta dapat menekan
keluarnya aldosterone.

2.4.10Â Â Â Komplikasi

Beberapa komplikasi yang terjadi akibat gagal jantung.

1. Syok kardiogenik

Syok kardiogenik ditandai dengan gangguan fungsi ventrikel kiri yang mengakibatkan gangguan fungsi
ventrikel kiri yaitu mengakibatkan gangguan berat pada perfusi jaringan dan penghantaran oksigen ke
jaringan yang khas pada syok kardiogenik yang disebabkan oleh infark miokardium akut adalah hilangnya
40% atau lebih jaringan otot pada ventrikel kiri dan nekrosis fokal di seluruh ventrikel karena
ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen miokardium.

1. Edema paru

Edema paru terjadi dengan cara yang sama seperti edema yang terjadi di bagian tubuh yang lain. Faktor
apapun yang menyebabkan cairan interstisial paru meningkat dari batas negatif menjadi batas posistif.

Penyebab kelainan paru paling umum adalah:

1. Gagal jantung sisi kiri (penyakit katup mitral) dengan akibat peningkatan tekanan kapiler paru dan
membanjiri ruang interstisial dan alveoli.
2. Kerusakan pada membrane kapiler paru yang disebabkan oleh infeksi seperti pnemunia atau
terhirupnya bahan-bahan yang berbahaya seperti gas klorin atau gas sulfur dioksida. Masing-masing
menyebabkan kebocoran protein plasma dan cairan secara cepat keluar dari kapiler.

2.4.11Â Â Â Pencegahan

Sedapat mungkin mengurangi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penyakit arteri koroner,
terutama yang dapat dirubah oleh penderita:

1)Â Â Â Â Â Â Â Berhenti merokok

Rokok mengandung nikotin yang mempunyai efek inotropik sehingga selalu merangsang syaraf simpatif.
Klien yang berhenti merokok akan menurunkan angka kematian dan infark dalam 1 tahun pertama.
dengan obat.

Obesitas dapat meningkatkan kemungkinan kolestrol meningkat, yang mengakibatkan


arteriosklerosis.Klien sebaiknya menurunkan berat badan untuk mencapai dan atau mempertahankan
berat badan yang optimal.

3)Â Â Â Â Â Â Â Mengendalikan tekanan darah

Peningkatan tekanan darah sistemik meningkatkan resistensi terhadap pemompaan darah dari ventrikel
kiri, sebagai akibatnya terjadi hipertropi ventrikel untuk meningkatkan kekuatan kontraksi.Kebutuhan
oksigen oleh miokardium akan meningkat akibat hipertrofi ventrikel, hal ini mengakibatkan peningkatan
beban kerja jantung. Oleh sebab itu klien IMA diharapkan untuk mengendalikan tekanan darah.

4)Â Â Â Â Â Â Â Melakukan olah raga secara teratur.

Arteriosklerosis dapat disebabkan oleh pola makan yang salah dan aktivitas yang minimum. Dengan
melakukan aktivitas olahraga yang teratur diharapkan kemungkinan terjadinya arteriosklerosis akan
berkurang.

2.5Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

Proses keperawatan adalah suatu metode yang terorganisasi dan sistematis dalam pemberian asuhan
keperawatan kepada klien, yang berfokus pada respons manusia, baik sebagai individu, keluarga,
maupun masyarakat karena adanya gangguan kesehatan aktual maupun potensial (Asmadi, 2008).

Proses keperawatan terdiri atas lima tahap yang berurutan dan saling berhubungan, yaitu pengkajian,
diagnosis, perencanaan, implementasi dan evaluasi (Iyet et al., 1996) (Nursalam, 2009).

Asuhan keperawatan diberikan dalam upaya memenuhi kebutuhan klien. Menurut Maslow, ada lima
kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan fisiologis meliputi oksigen, cairan, nutrisi, kebutuhan rasa
aman dan perlindungan, kebutuhan rasa cinta dan saling memiliki, kebutuhan akan harga diri dan
kebutuhan aktualisasi diri. Tujuan asuhan keperawatan menurut Kozier (1996) yaitu :

1)Â Â Â Â Â Membantu individu untuk mandiri

2)Â Â Â Â Â Mengajak individu atau masyarakat berpartisipasi dalam bidang kesehatan

3)Â Â Â Â Â Membantu individu mengembangkan potensi untuk memelihara kesehatan secara optimal
agar tidak tergantung pada orang lain dalam memelihara kesehatannya

4)Â Â Â Â Â Membantu individu memperoleh derajat kesehatan yang optimal

2.6Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Pengkajian

Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses pengumpulan data
yang sistematis dari berbagai sumber untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (
Iyet et al., 1996 dalam Nursalam, 2009).

2.6.1Â Â Â Â Â Â Â Identitas Umum


kelamin, ras, agama, kewarganegaraan (Muscari, 2005).

2.6.2Â Â Â Â Â Â Â Riwayat Perawatan

1)Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Keluhan utama

a)Alasan MRS / keluhan saat MRS

Pada umumnya klien mengatakan, sesak , berdebar-debar, lekas lelah, dan, batu-batuk.

1. b) Keluhan saat pengkajian

Keluhan yang paling dirasakan klien saat pengkajian dilakukan. Bisanya ditemukan, perasaan lemas,
sesak, berdebar-debar, mungkin nyeri dan kecemasan.

2)Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Riwayat penyakit sekarang

    Riwayat penyakit sekarang dikembangkan dari keluhan utama dengan PQRST yaitu:

1. a) P (Paliatif) : yaitu faktor yang memperberat dan meringankan keluhan utama, apa yang dilakukan
saat keluhan dirasakan.

Pada klien dengan gagal jantung, keluhan akan berkurang jika digunakan untuk istirahat.

1. b) Q (Quantity) : yaitu seberapa berat gangguan yang dirasakan klien, bagaimana gejala yang
dirasakan, dan perkembangan apakah menjadi lebih berat atau lebih ringan pada saat dikaji.

Klien biasanya mengeluhkan sesak, lelah, dan tak bertenaga.

1. c) R (Regio) : yaitu dimana tempat terjadinya gangguan, apakah mengalami penyebaran atau tidak.

Pada pemeriksaan jantung biasanya ditemukan adanya kardiomegali, iktus kordis nampak dengan jelas.

1. d) S (Skala) : yaitu tingkat ketergantuang klien.

Tabel 2.1 Penggolongan Tingkat Aktivitas Klien

Tingkat aktivitas Kategori


Tingkat 0
Mampu merawat diri sendiri secara penuh

Tingkat 1
Memerlukan penggunaan alat

Tingkat 2
Memerlukan bantuan atau pengawasan orang lain

Tingkat 3
Memerlukan bantuan, pengawasan orang lain dan
peralatan

Sangat tergantung dan tidak dapat melakukan atau


berpartisipasi dalam perawatan
Tingkat 4

1. e) T (Timing) : yaitu kapan keluhan mulai dirasakan, apakah terjadi mendadak/bertahap, berapa
lama keluhan dirasakan saat kambuh.

Pada gagal jantung keluhan akan berkurang jika digunakan untuk beristirahat.

3)Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Riwayat kesehatan sebelumnya

Riwayat penyakit yang pernah diderita sebelumnya baik ringan maupun berat, dirawat di rumah sakit atau
tidak, pernahkah menjalani operasi, apakah ada alergi (makanan, obat, polutan), bagaimana kebiasaan
dan gaya hidup klien selama ini, penggunaan tembakau, obat dan kafein.

Pada klien gagal jantung biasanya pernah menderita gangguan jantung sebelumnya, seperti HT dan IMA.

4)Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Riwayat kesehatan keluarga

  Riwayat penyakit kronis, keturunan atau menular yang pernah diderita oleh keluarga atau generasi
sebelumnya. Riwayat keluarga juga memberikan informasi tentang struktur keluarga, interaksi dan fungsi
yang mungkin berguna dalam merencanakan asuhan.

Pada gagal jantung riwayat penyakit keluarga yang cukup berpengaruh adalah HT.

5)Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Riwayat lingkungan

Riwayat lingkungan memberikan data tentang lingkungan rumah klien dan segala sistem pendukung yang
anggota keluarga atau klien dapat gunakan. Riwayat lingkungan misalnya mengidentifikasi pemajanan
polutan yang dapat mempengaruhi kesehatan, tingkat kriminalitas yang tinggi dan sumber yang dapat
membantu klien kembali ke dalam komunitas.

6)Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Riwayat psikososial

Riwayat psikososial yang lengkap menunjukkan siapa sistem pendukung klien, termasuk pasangan,
anak-anak, anggota keluarga lain atau teman dekat. Riwayat psikososial termasuk informasi tentang
cara-cara yang biasanya klien dan keluarga gunakan untuk mengatasi stress.

7)Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Riwayat spiritual


Berisi keyakinan klien mengenai kehidupan, sumber klien untuk pemandu dalam menjalani keyakinan
klien dan hubungan yanng mereka miliki dengan anggota keluarga dalam menjalani kepercayaan klien.
Ritual dan praktik keagamaan perlu dikaji.

2.6.3Â Â Â Â Â Â Â Pola Fungsi Kesehatan

Menurut Gordon (1994), pola fungsi kesehatan sehari-hari yang perlu dikaji meliputi 10 komponen yaitu :

(1)Â Â Â Â Â Â Â Â Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan

(2)Â Â Â Â Â Â Â Â Pola aktivitas dan personal hygiene

(3)Â Â Â Â Â Â Â Â Pola nutrisi / cairan dan metabolisme

(4)Â Â Â Â Â Â Â Â Pola tidur dan istirahat

(5)Â Â Â Â Â Â Â Â Pola eliminasi

(6)Â Â Â Â Â Â Â Â Pola kognitif dan sensori persepsi

(7)Â Â Â Â Â Â Â Â Pola peran, hubungan dan interaksi sosial

(8)Â Â Â Â Â Â Â Â Pola persepsi diri dan toleransi terhadap stress

(9)Â Â Â Â Â Â Â Â Pola seksualitas dan reproduksi

(10)Â Â Â Â Pola keyakinan nilai

2.6.4Â Â Â Â Â Â Â Pemeriksaan Fisik

1)Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Tanda-tanda vital

Suhu, nadi, pernafasan,tekanan darah.

2)Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Sistem respirasi

Sistem pernapasan berkaitan dengan sistem kardiovascular sehingga merupakan poin penting untuk
dikaji. Pengkajian terutama pada:

1. a) Batuk: kaji jenis (produktif/non produktif), sputum, adakah darah.


2. b) Sesak : kaji mulai kapan, perubahan posisi/oksigen memberikan pengaruh tidak.
3. c) Pernapasan : kaji frekuensi, kedalaman nafas, cuping hidung, penggunaan otot bantu
pernapasan, kesimetrisan pergerakan napas kanan/kiri, lokasi focal fremitus, adakah cyanosis,
penggunaan oksigen, auskultasi wheezing, ronchi, stridor.

3)Â Â Â Â Â Sistem kardiovasculer

Kaji bentuk precordium biasanya mengalami penggembungan, menandakan adanya kardiomegali, denyut
terlihat pada apek jantung. Denyutan apeks biasanya pada ruang sela iga kelima, garis midklavikular
(area mitral). Bisa terdapat beberapa variasi, di antaranya:
1. a) Menghilang, bisa terjadi pada obesitas, hiperinflasi, efusi pleura.
2. b) Tergeser: kardiomegali, pneumotoraks
3. c) Tapping (menyentak): stenosis mitral.
4. d) Ganda: hipertrofi ventrikel.
5. e) Heaving (sangat kuat dan stabil): kelebihan tekanan (hipertensi), stenosis aorta
6. f) Parasternal heave: hipertrofi ventrikel kanan

Bunyi S1 yang kencang dapat menandakan adanya stenosis katup AV serta ada pemendekan interval
PR. Jika lembut, dapat dicurigai adanya regurgitasi mitral , PR yang panjang serta gagal jantung. Suara
S3 yang dapat terdengar karena pengisian cepat ventrikel pada orang muda atau penderita gagal jantung
pada klien lebih dari 30 tahun.

4)Â Â Â Â Â Sistem neurosensori

Gangguan keseimbangan elektrolit yang menyertai gagal jantung, dapat menyebabkan terjadinya kejang.

5)Â Â Â Â Â Sistem muskuloskeletal

Terjadi penurunan kekuatan otot karena penurunan suplai oksigen darah.

6)Â Â Â Â Â Sistem pencernaan

Mungkin terjadi peningkatan bising usus karena pemberian pencahar.

7)Â Â Â Â Â Sistem genito-urinaria

       Dapat terjadi penurunan produksi urin karena penurunan GFR (Glomerular Filtration Rate
). Kaji apakah terpasang kateter.

2.7Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan menurut North American Nursing Diagnosis Association (NANDA) adalah
keputusan klinik mengenai respons individu (klien dan masyarakat) tentang masalah kesehatan aktual
atau potensial sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan
sesuai dengan kewenangan perawat (Nursalam, 2009:59).

Menurut Baradero (2008), diagnose keperawatan yang terdapat pada klien gagal jantung yaitu:

1. Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan kurang ventilasi, perfusi


2. Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan kurangnya volume sekuncup, syok
kardiogenik, insufisiensi katup, hipertensi.
3. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan suplai oksigen tidak mencukupi kebutuhan tubuh.

Menurut Carpenito (2001:330) diagnosa keperawatan utama yang terdapat pada klien gagal jantung
adalah: Gangguan pemenuhan terkait dengan kebutuhan Activity Daily Living (perawatan diri)
berhubungan dengan kelemahan otot sekunder akibat penurunan curah jantung.

Batasan karakteristik

1. a) Kurangnya kemampuan untuk makan sendiri


2. b) Kurangnya kemampuan untuk mandi sendiri
3. c) Kurangnya kemampuan untuk mengenakan pakaian sendiri
4. d) Kurangnya kemampuan untuk ke kamar mandi

2.8Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Perencanaan Tindakan keperawatan


Berikut ini intervensi keperawatan menurut Carpenito (2001) :

Diagnosa keperawatan : Gangguan pemenuhan kebutuhan Activity Daily Living (aktivitas sehari-hari)
yaitu.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama lima kali 24 jam, kebutuhan ADL klien dapat
terpenuhi dengan bantuan keluarga.

Kriteria Hasil :

1. Klien mampu mengidentifikasi, batasan kemandiriannya, peningkatan kemandiriannya, dan efek


samping dari keterbatasan/pembatasan aktivitasnya.
2. Klien tidak mengalami peningkatan stress fisik maupun emosi
3. Klien mampu meningkatkan kemandiriannya secara bertahap
4. Keluarga klien mampu membantu/memenuhi kebutuhan aktivitas klien
5. Tanda-tanda vital dalam batas normal (Tekanan darah 120/80 mmHg, Nadi 80-100 kali/menit,
Pernapasan 16-22 kali/menit, suhu 36,5-37,5 oC)

Intervensi:

1. Pertahankan tirah baring

R/ tirah baring bertujuan untuk mengurangi kebutuhan klien akan energi

1. Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas

R/ pembatasan bertujuan untuk mengurangi beban kerja jantung

1. Ajarkan klien atau tenaga kesehatan lain tentang teknik ambulasi

R/ teknik ambulasi mengurangi resiko dari terapi pembatasan aktivitas (tirah baring)

1. Eksplorasi peningkatan kemampuan/toleransi klien terhdapa aktivitas

R/ mengetahui peningkatan toleransi klien pada aktivitas

1. Dampingi dan bantu klien saat mobilisasi dan bantu penuhi kebutuhan ADL klien.

R/ memenuhi kebutuhan aktivitas harian klien

1. Berikan alat bantu jika klien memerlukan.

R/ misalnya memberikan pispot saat klien ingin BAB, mengurangi beban kerja klien.

1. Ajarkan klien bagaimana merubah posisi dan berikan bantuan jika diperlukan

R/ merubah posisi agar klien merasa nyaman


1. Monitor klien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan

R/ mengetahui adanya kelelahan yang dapat memicu bertambah beratnya keluhan

1. Monitor respon kardiovaskuler terhadap aktivitas

R/ mengetahui perkembangan terapi.

1. Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat klien

R/ istirahat yang cukup dapat mengurangi tingkat kelelahan

2.9Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Implementasi

Implementasi adalah pelaksanaan dari rencana intervensi untuk mencapai tujuan yang spesifik (Lyer et
al., 1996 dalam buku Nursalam, 2009:127).

Menurut Asmadi (2008:178), implementasi tindakan keperawatan dibedakan menjadi 3 kategori:

1)Â Â Independent, yaitu suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh perawat tanpa petunjuk dari dokter atau
tenaga kesehatan lainnya.

2)Â Â Interdependent, yaitu suatu kegiatan yang memerlukan kerja sama dari tenaga kesehatan lain
(misal: ahli gizi, fisioterapi, dan dokter)

3)Â Â Dependent, berhubungan dengan pelaksanaan rencana tindakan medis/instruksi dari tenaga medis

2.10Â Â Â Â Â Â Â Â Â Evaluasi

Perumusan evaluasi meliputi 4 komponen yang dikenal dengan istilah SOAP, yakni subjektif (data berupa
keluhan klien), objektif (data hasil pemeriksaan), analisis data (pembanding data dengan teori), dan
perencanaan (Asmadi, 2008).

Format evaluasi SOAP :

SOAP adalah akronim untuk data subjektif, data objektif, pengkajian (assessment), dan perencanaan (
planning).Format SOAP diawali dengan catatan medis yang berorientasi pada masalah, tetapi
penggunaannya meningkat dalam banyak tipe pencatatan. Akronim SOAPIE dan SOAPIER mengacu
pada format yang juga terdiri dari implementasi, evaluasi, dan revisi (Kozier, 2010).

Menurut Hidayat (2002), evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP meupun
SOAPIER, format tersebut meliputi :

S Â Â : Subjektif. Merupakan data perkembangan keadaan yang didasarkan pada apa yang dirasakan,
dikeluhkan, dan dikemukakan klien. Klien mampu melakukan ktivitas kehidupn sehri-hari dn menghemat
energi.

O : Objektif. Merupakan data perkembangan yang bisa diamati dan diukur oleh perawat atau tim
kesehatan lain. Klien tampak tenang melakukan aktivitas kembali dan kedaan tanda-tanda vital.

A : Assasment. Kedua jenis data tersebut, baik subjektif maupun objektif dinilai dan di analisis, apakah
berkembang ke arah perbaikan atau kemunduran. Hasil analisis dapat menguraikan sampai dimana
masalah yang ada dapat di atasi atau adakah perkembangan masalah yang baru menimbulkan diagnosa
keperawatan baru.
PÂ Â : Planning. Rencana penanganan klien dalam hal ini didasarkan pada hasil analisis di atas yang
berisi melanjutkan rencana sebelumnya apabila keadaan atau masalah klien belum teratasi dan membuat
rencana baru bila rencana awal tidak efektif.

Menurut Asmadi (2009), hasil evaluasi yang terkait dengan pencapaian tujuan keperawatan ada 3:

1)Â Â Â Â Â Tujuan tercapai jika klien menunjukkan perubahan sesuai dengan standar yang telah
ditentukan.

2)Â Â Â Â Â Tujuan tercapai sebagian atau klien masih dalam proses pencapaian tujuan, jika klien
menunjukkan perubahan pada sebagian kriteria yang telah ditetapkan.

3)Â Â Â Â Â Tujuan tidak tercapai jika klien hanya menunjukkan sedikit perubahan dan tidak ada
kemajuan sama sekali serta dapat timbul masalah baru (Asmadi, 2008:197).