Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM 4

MULIVIBRATOR BISTABIL
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Elektronika Telekomunikasi

Disusun Oleh :
Kelompok 2
TT – 2C
Dhea Fiky Fatcahtur Rizky (04 / 1631130063)
Dio Alif Alfarizi Indrawan (05 / 1631130101)
Kristanti Monica Oktaviani (09 / 1631130035)
Pambudi Ahmad M (17 / 1631130102)
Robby Juniansyah Arifandi (18 / 1631130033)
Valdi Yona Ramada (21 / 1631130061)

PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2018
Jl. Soekarno Hatta 9 Malang 65141
Telp. (0341)404424-404425 Fax. (0341)404420
www.polinema.ac.id
4.1 TUJUAN :

- Menghubungkan serta mempelajari pengoprasian multivibrator bistabil

- Menghubungkan serta mempelajari pengoprasian multivibrator monostabil

- Menghitung frekuensi dan duty cycle dari multivibrator bistabil dan monostabil

4.2 LANDASAN TEORI

Multivibrator Monostabil adalah suatu rangkaian elektronika yang pada waktu


tertentu hanya mempunyai satu dari dua tingkat tegangan keluaran, kecuali masa
transisi. Peralihan (switching) diantara kedua tingkat tegangan keluaran tersebut,
terjadi secara cepat. Dua keadaan tingkat tegangan keluaran multivibrator tersebut,
yakni stabil dan quasistable. Disebut stabil apabila rangkaian multivibrator tidak akan
mengubah tingkat tegangan keluaran ke tingkat lain jika tidak ada pemicu (trigger)
dari luar rangkaian, sedangkan quasistable yaitu apabila rangkaian multivibrator
membentuk pulsa tegangan keluaran sebelum terjadi peralihan tingkat keluaran ke
tingkat lainnya tanpa satupun pemicu dari luar.
Multivibrator bistable dan monostable adalah rangkaian penggerak,
membutuhkan pulsa input karena multivibrator bistable dan monostable berubah
kondisi. Astable bergerak bebas dan tidak memerlukan pulsa trigger untuk
mengakibatkan berubah.
Ada 2 desain untuk multivibrator transistor. Rangkaian ditunjukkan oleh
gambar 4.1. Sema multivibrator mempunyai 2 transistor. Tipe bistable dan astable
dikopling feedback. Keduanya dikopling osilator RC.

Gambar 4.1 kopel kolektor astabil multivibrator


Pewaktu Flip Flop
Satu siklus disebut periode begitu juga pada rangkaian lain. Periode tersebut
tediri dari waktu berhenti (t1) dan waktu menyala (t2). Sehingga satu periode multivibrasi
yang stabil sama dengan :
T= t1-t2
Waktu diambil dari 0,69 waktu tetap untuk jaringan atau rangkaian RC sebagai dasar
tegangan penyalaan. Jadi
t = 0,69. RC
Jika kedua bagian dari rangkaian memiliki nilai yang sama pada R dan C maka t1 dan t2 akan
bernilai sama dan setiap transistor akan menahan banyaknya waktu yang sama pula. Jika R1
dan R2 = 47 KΩ dan c1 dan c2 sama dengan 0,05 µF maka
t =0,69.47.103 .0,05 . 10−6
= 1,62 . 10−3 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
Jadi periode T menghasilkan
T = t1+t2
= (1,62.10−3 + 1,62 10−3 ) 𝑠
= 3,24 . 10−3 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
Jika flip flop menggunakan 3,24 ms untuk menghasilkan satu gelombang persegi,
frekuensinya adalah :
1
f=𝑇

= 1/ 3,24 . 10−3
= 309 Hz
Ketika bentuk gelombang berupa simetri, hal ini dikenal dengan 50% duty cycle. Duty cycle
tersebut setiap 50% merupakan periode T. Terkadang hal ini lebih diinginkan agar memiliki
output sama dengan duty cycle lain. Bentuk gelombang yang tidak simetris diperlihatkan
pada gambar 4.2. Hal ini dapat diselesaikan dengan mengubah nilai rangkaian RC pada satu
setengah multivibrator, sebagai contoh jika diketahui waktu
t = 0,69 . RC
untuk satu setengah rangkaiannya lima kali lebih besar dari yang lain, duty cycle nya akan
diperlihatkan pada gambar 4.2. Meskipun outputnya bekerja lima kali lebih lama atau mati
lima kali lebih lama tergantung pada transistor yang terpasang pada rangkaian output.
Anggap saat itu satu transistor pada posisi ON dan yang lain OFF. Keadaan ini merupakan
output kebalikan yang disebut komplemen. Jika output duty cycle 50%, outputnya memiliki
nilai yang sama tetapi dengan polaritas yang berkebalikan. Jika menginginkan 25% dari duty
cycle maka duty cyle akan menjadi 75% yang disebabkan kesalahan output dari transistor
yang tidak benar. Umumnya digunakan untuk flip flop monostabil dan bistabil sebagai
pelengkap output.

Gambar 4.2 bentuk gelombang digital


IC Multivibrator Monostabil
Meskipun output dari IC multivibrator monostabil sama seperti output dari
rangkaian pada umumnya, kita tidak dapat mengetahui rangkaian IC Monostabil hanya dari
input dan outputnya. Gambar 4.3 menggambarkan tipe rangkaian di dalam IC Monostabil
secara garis besar dan simbol skematiknya
Gambar 4.3 IC Monostabil 74121

Gambar 4.4 Blok Diagram IC 74121


Untuk membuat kapasitor dan resistor dalam IC dibutuhkan biaya yang mahal. Selain
itu, akan memakan banyak tempat pada lembar silikon. Namun kpasitor dan resistor ini akan
digunakan sebagai komponen waktu eksternal pada flip flop monostabil seperti gambar 4.5
Sedangkan untuk resistansi internal hanya dapat digunakan sebagai pewaktu jika memiliki
harga resistansi yang kecil. Untuk pemakaian dalam jangka waktu yang lama, hanya mungkin
menggunakan R dan C eksternal.
Gambar 4.5 R-C tw chart
Gambar 4.5 menunjukkan grafik hubungan antara R,C dan lebar pulsa output. Pada
grafik ditunjukkan bahwa komponen monostabil selalu memiliki spesifikasi tertentu. Ini
memudahkan kita dalam mendesain flip flop monostabil yang mampu menghasilkan lebar
pulsa output sesuai dengan keinginan. Contoh : sebuah kapasitor 1000 Pf dan sebuah resistor
30 KΩ dapat menghasilkan pulsa output 20µs. Dengan rumus, kita dapat membuktikan hal
ini
Tw = 0,69 . C. R
= 0,69 . 1000 . 1012 . 30 . 103
= 20,7 µs

Gambar 4.6 Tabel Fungsi Monostabil 7412

6.1 PROSEDUR PRAKTIKUM


A. Multivibrator Monostabil
1. Hubungkan rangkaian seperti gambar berikut ini :

Gambar 4.7 Rangkaian multivibrator monostabil 74121


Jika input berlogika rendah (0) harus terhubung ke ground. Untuk kaki IC yang tidak
digunakan sebaiknya di ground lalu terhubung dengan Vcc 5 V.
2. Bandingkan terhadap tabel fungsi keluaran 74121 yang di perlihatkan pada data
book.
3. Dengan menggunakan metode dual trace osiloskop, amati masukan sinyal pada B
dan keluaran sinyal pada Q, gambar bentuk gelombangnya. Jika A1 berlogika
tinggi apa yang terjadi pada keluaran Q ? Apa yang terjadi jika sebaliknya?
4. Gunakan osiloskop untuk mencari twukur 74121 (Lengkapi tabel 6.1).
5. Rubah Rext menjadi 22 KΩ. Gambar bentuk sinyal pada input dan output.
(lengkapi tabel 7.1 pada twukur)
6. Gunakan R-C-tw diagram, seperti pada gambar 6.5 (lengkapi tabel 6.1 pada
twcharted)
7. Hitung twcalculated pada tabel 7.1 dengan tw = 0,69 CR.
8. Set masukan gelombang kotak ke A1 (pin 3) dan gunakan tabel fungsi 6.2 untuk
mencari keluaran A2 dan B serta Q
MULTIVIBRATOR BISTABIL

1. Susun rangkaian seperti pada gambar 4.8 amati output Q dan gambar bentuk
gelombangnya.
2. Hubungkan Probe A pada output Qdan Probe B pada output Qnot. Amati serta
jelaskan gambar tersebut.
3. Hubungkan RD1 ke ground dan SD1 ke Vcc, amati keluaran yang terjadi? Jika
sebaliknya, RD1 dan SD1 ke ground serta keduanya ke Vcc.
4. Lepas hubungan ke J1. Apa yang terjadi pada Q, jelaskan?
Gambar 4.8 Multivibrator Bistabil I
5. Susun rangkaian seperti gambar 4.9. jika output high, reset IC 7476oleh RD1=0 dan
kemudian hubungkan ke posisi high lagi.

Gambar 4.9 Multivibrator Bistabil II


6. Mengacu pada table fungsi IC 7476 . apa yang terjadi jika input clock dihubungkan
ke ground?
7. Dengan kondisi Q high dan low, tapi high, hubungkan input clock ke ground. Apa
yang terjadi pada keluarannya?

4.4 Data Hasil Percobaan

Tabel 4.1 Pengukuran Multivibrator Monostabil


LANGKAH Tw ukur Tw charted Tw calculated
( osc T= on) Tw = 0,69 RC
3,4,6,7 184 µs 150 µs 153 µs
R= 3,3 KΩ
4,6,7 1,28 ms 0,1 ms 0,107 ms
R= 22 KΩ
Tabel 4.2 Monostabil 74121

input clock outputs Q’ Gambar praktikum


𝐴1′ A2’ B Q
L X H L H

Gambar 4.10 sinyal clock (kuning) dan sinyal output


(biru)
X L H L H

Gambar 4.11 sinyal clock (kuning) dan sinyal output


(biru)
X X L L H

Gambar 4.12 sinyal clock (kuning) dan sinyal output


(biru)
H H X L H

gambar 4.13 sinyal clock (kuning) dan sinyal


output (biru)
Tabel 4.3 Pengukuran Mulivibrator bistabil

Prosedur Parameter Hasil Keterangan


9 Gambar sinyal Q dan 1. Q
clock F= 401,1 Hz
V= 5V
2. Clock input
F=401.9Hz
V= 232 mVpp
10 Gambar sinyal Q dan 1. Q
Qnot F= 402,1 Hz
V= 480 mVpp
2. Clock input
F= 402,1 Hz
V= 3,20 Vpp
11 Keluaran Q jika: 1. RD=L dan SD=H
RD=L, SD=H F= 399,4 Hz
RD=H, SD=L V= 184 mVpp
RD=L, SD=L 2. RD=H dan SD=L
RD=H, SD=H F= 100 Hz
V= 240 mVpp
3. RD=L dan SD=L
F= 399,4 Hz
V= 240 mVpp
4. RD=H dan SD=H
F= 400 Hz
V= 800 mVpp
12 Keluaran Q, jika J di F= 400 Hz
lepas (J=x) V= 120 mVpp
13 Reset IC 7476(RD=0 L = Q FREK = 399,7 Hz
kemudian RD=H) V = 264 mVpp
H = Q FREK = 400 Hz
V = 174 mVpp

14 Keluaran Q jika: 1. RD=L, SD=H Ket: J=H,K=L


CLK=L V= 0,125 V (L)
RD=L, SD=H 2. RD=H, SD=L
RD=H, SD=L V= 4 V (L)
RD=L, SD=L 3. RD=L, SD=L
RD=H, SD=H V= 4 V (H)
4. RD=H, SD=H
V= 0,1 V (H)
15 Q=H dan J=L, K=H, V= 4 V
CKL=L
4.5 Gambar Sinyal

Gambar hasil simulasi pada multisim


1. Saat RD = L dan SD = L output Q = HIGH

2. Saat RD = L dan SD = H output Q = LOW


3. Saat RD = H dan SD = L output Q = HIGH

4. Saat RD = H dan SD = H output Q = LOW


Tabel 4.5 Hasil gambar Pengukuran Multivibrator bistabil

Prosedure Parameter Gambar


9 Gambar sinyal Q dan clock

10 Gambar sinyal Q dan Qnot

11 RD=L, SD=H

RD=H, SD=L
RD=L, SD=L

RD=H, SD=H

12 Keluaran Q, jika J di lepas (J=x)

13 Reset IC 7476(RD=0 kemudian


RD=H)
14 RD=L, SD=H OUTPUT LOW

RD=H, SD=L OUTPUT HIGH

RD=L, SD=L OUTPUT HIGH

RD=H, SD=H OUTPUT LOW


15 Q=H dan J=L, K=H, CKL=L

4.6 Analisa Pembahasan

Percobaan pada multivibrator dibagi menjadi 2 yaitu monostabil dan bistabil, bahwa
masing-masing percobaan memiliki analisanya masing, yaitu:

1. Monostabil
Bahwa pada table 4.2 tersebut semakin tinggi resistansinya maka hasil TW ukur akan
semakin tinggi begiru pula pada TW charted dikarenakan dalam menentukkan
nilainya dilihat dari diagram R-C-TW chart seperti pada gambar 4.6. dan untuk
mengukur TW Calculate menggunakan rumus TW = 0,69RC.dan pada percobaan
monostabil yang menggunakan IC 74121 dan tabel kebenarannya dapat dilihat pada
gambar 4.7.
2. Bistabil
Pada percobaan bistabil terdapat 2 rangkaian yang nantinya akan digunakan, dapat
dapat dilihat pada gambar 4.9 dan 4.10 serta percobaan ini memiliki procedure
percobaan sebanyak 6 percobaan (procedure 9 -15) dapat dilihat pada table 4.3. dari
hasil percobaan dapat di analisa, yaitu :
A. Prosedure 9 memiliki parameter Q dan clock dari hasil gambar sinyalnya nilai
frekuensi Q lebih kecil dari nilai frekuensi clocknya, sedangkan nilai tegangan Q
lebh besar dari nilai tegangan pada clocknya.
B. Prosedure 10 mimiliki parameter Q dan Q not dari hasil praktikum (gambar
sinyalnya) bahwa Niliai FQ=FQnot dan nilai VQ<VQnot dikarenakan keluaran
output Q dan Qnot saling terbalik.
C. Prosedure 11 ini adalah menganalisa hasil percobaan keluaran dari Q dengan 4
macam kondisi parameter(clock=H),yaitu: (RD=L, SD=H),( RD=H, SD=L),(
RD=L, SD=L),( RD=H, SD=H). dari 4 kondisi tersebut bahwa hasil dari
pengukurannya memiliki frekuensi yang sama yang berbeda hanyalah
tegangannya saja (berbeda sedikit) dan nilai tegangan tertinggi berada pada
kondisi RD=H, SD=L dan hasilnya dapat dilihat pada table 4.3.
D. Prosedure 12 ini memiliki kondisi parameter Keluaran Q, jika J di lepas (J=x),
dan hasil dari pengukuran (hasil gambar gelombang) bahwa yang membedakan
adalah hanya frekuensinya nilai Fin<Fout.
E. Prosedure 13 mimiliki parameter Reset IC 7476(RD=0 kemudian RD=H), dalam
pengukuran procedure 13 -15 menggunakan multimeter, dari hasil percobaan
procedure 13, bahwa kondisi dalam keadaan tersebut maka hasilnya/ kondisinya
dalam keadaan HGH.
F. Prosedure 14 imemiliki 4 kondisi sama seperti pada procedure 11, bahwa hasil
dari percobaannya dapat dilihat pada table 4.6
Tabel 4.6 hasil percobaan procedure 14
Parameter Kondisi Output
RD=L, SD=H LOW
RD=H, SD=L LOW
RD=L, SD=L HIGH
RD=H, SD=H HIGH

G. Prosedure 15 memiliki parameter Q=H dan J=L, K=H, CKL=L, bahwa hasilnya
pada procedure 15 adalah kondisinya high karena memiliki tegangang output
sebesar 4,8 V.

4.7 Kesimpulan

Bahwa pada table 4.2 tersebut semakin tinggi resistansinya maka hasil TW ukur akan
semakin tinggi begiru pula pada TW charted dikarenakan dalam menentukkan nilainya dilihat
dari diagram R-C-TW chart seperti pada gambar 4.6. Pada rangkaian multivibrator ketika kita
memasukan input low pada A1 not dan don’t care pada A2 not, maka pada clock B high dan
output Q adalah low dan Q not high.dan jika kita memasukan input high pada A1 not dan high
pada A2 not, maka pada clock B don’t care dan output Q adalah low dan Q not high dan pada
table pengukuran nilai tw nya jika resistornya bernilai 3,3KΩ maka hasil perhitungan nilai tw
nya adalah 190µS dan jika kita mengganti resistornya dengan nilai 2,2KΩ maka hasil
perhitungan nilai tw nya adalah 1,24mS.

Anda mungkin juga menyukai