Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Indonesia dewasa ini telah mengalami perubahan pola penyakit yaitu dari

penyakit infeksi ke penyakit tidak menular (PTM) termasuk penyakit degeneratif

yang merupakan fakor utama masalah morbiditas dan mortalitas. Transisi

epidemiologi ini disebabkan perubahan sosial ekonomi, lingkungan, dan gaya hidup

yang tidak sehat.Perubahan tersebut dapat menyebabkan penyakit berbahaya seperti

pada system kardiovaskuler,seperti congestive heart failure (CHF). Gagal jantung

kongestif adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

Gagal jantung kongestif adalah kumpulan gejala klinis akibat kelainan struktural

ataupun fungsional jantung yang menyebabkan gangguan kemampuan pengisian

ventrikel dan ejeksi darah ke seluruh tubuh (AHA, 2014).

Menurut World Health Organization (WHO), penyakit kardiovaskular akan

menjadi penyebab terbanyak kasus kematian di seluruh dunia. Di Indonesia,

penyakit gagal jantung kongestif telah menjadi pembunuh nomor satu. Prevalensi

penyakit jantung di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Menurut

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun (2013), provinsi dengan prevalensi

penyakit jantung koroner pada umur ≥ 15 tahun menurut diagnosis dokter ialah

Provinsi Nusa Tenggara Timur (4,4%). Kemudian disusul oleh Sulawesi Tengah

(3,8%) dan Sulawesi Selatan (2,9%). Sedangkan prevalensi terendah terdapat di

Provinsi Riau (0,3%), Lampung (0,4%), Jambi (0,5%), dan Banten (0,2%)

1
2

American Heart Association (AHA) dalam tahun 2013 gagal jantung diderita

oleh hampir 5,7 juta orang Amerika pada semua usia dan merupakan penyebab dari

hospitalisasi lebih banyak dari segala jenis kanker. Tingkat hospitalisasi ulang

selama 6 bulan setelah kepulangan pasien juga tinggi, yaitu 50%.Pada UPTD

puskesmas Pamoan tahun 2012, penyakit jantung selalu menempati posisi lima

besar penyakit yang ada di ruangan. Rata-rata persentase penderita penyakit jantung

di ruangan adalah 10,41% dari seluruh pasien yang ada (Buku indikator mutu

ruangan UPTD Puskesmas Pamotan, 2016).

Gagal jantung dikenal dalam beberapa istilah yaitu gagal jantung kiri, kanan,

dan kombinasi atau kongestif.Gagal jantung kiri terdapat bendungan paru,

hipotensi, dan vasokontriksi perifer yang mengakibatkan penurunan perfusi

jaringan.Gagal jantung kanan ditandai dengan adanya edema perifer, asites dan

peningkatan tekanan vena jugularis.Gagal jantung kongestif adalah gabungan dari

kedua gambaran tersebut (Fachrun nisa (2015: 1094)).

CHF menimbulkan berbagai gejala klinis diantaranya; dipsnea, ortopnea,

pernapasan Cheyne-Stokes, Paroxysmal Nocturnal Dyspnea (PND), asites, piting

edema, berat badan meningkat, dan gejala yang paling sering dijumpai adalah sesak

nafas pada malam hari, yang mungkin muncul tiba-tiba dan menyebabkan penderita

terbangun (Fachrunnisa (2015: 1095)). Munculnya berbagai gejala klinis pada

pasien gagal jantung tersebut akan menimbulkan masalah keperawatan dan

mengganggu kebutuhan dasar manusia salah satudi antaranya seperti adanya nyeri

dada pada aktivitas, dyspnea pada istirahat atau aktivitas, letargi,gangguan tidur dan

kecemasan.
3

Kecemasan adalah hal yang normal di dalam kehidupan karena kecemasan

sangat dibutuhkan sebagai pertanda akan bahaya yang mengancam. Namun ketika

kecemasan terjadi terus-menerus, tidak rasional dan intensitasnya meningkat, maka

kecemasan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan disebut sebagai gangguan

kecemasan,bahkan pada beberapa penelitian menunjukkan bahwa gangguan

kecemasan juga merupakan suatu komorbiditas (Luana, et al., 2012).

Salah satu dampak dari penyakit jantung adalah masalah psikososial. Dalam

artikel “Proposed Subspecialty Combines Psychiatry, Cardiology” Deborah

Brauser (2013) mengungkapkan perlunya subspesialisasi yang menggabungkan

psikiatri dan kardiologi karena tingginya angka kasus psikososial pada penderita

penyakit jantung. Dalam artikel yang sama, Halaris menyebutkan bahwa 40-60%

pasien dengan penyakit jantung memiliki depresi klinis. Senada dengan Halaris,

Yohannes, Wilgoss, Baldwin, dan Connoly juga mengungkapkan bahwa angka

prevalensi depresi dan ansietas tinggi pada kasus penyakit jantung kronis, yaitu 10-

60% untuk depresi dan 11-45% untuk ansietas. Pada klien rawat jalan dengan

penyakit jantung, prevalensi ansietas mencapai 18-35%.

Dengan melihat tingginya angka prevalensi penyakit jantung yang dirawat di

ruang melati UPTD Puskesmas Pamotan yang mencapai rata-rata 15 pasien

perbulan dari total 50 pasien rawat inap, serta besarnya pengaruh ansietas terhadap

kesembuhan klien, mahasiswa memilih kasus penyakit jantung kongestif disertai

ansietas untuk dilaporkan sebagai studi kasus dalam laporan praktik ini.

1.2.Rumusan Masalah

Bagaimana Asuhan Keperawatan Pada Pasien Congestive Heart Failure (CHF)

Dengan Ansietas Di UPTD Puskesmas Pamotan Kabupaten Malang?


4

1.3.Tujuan

1.3.1. Tujuan umum


Memberikan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Congestive Heart

Failure (CHF) Dengan Ansietas Di UPTD Puskesmas Pamotan Kabupaten

Malang

1.3.2. Tujuan khusus

1. Melakukan pengkajian Pada Pasien Congestive Heart Failure

(CHF) Dengan Ansietas Di UPTD Puskesmas Pamotan Kabupaten

Malang.

2. Menyusun Diagnosa sesuai dengan prioritas masalah Pada Pasien

Congestive Heart Failure (CHF) Dengan Ansietas Di UPTD

Puskesmas Pamotan Kabupaten Malang

3. Merencanakan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Congestive

Heart Failure (CHF) Dengan Ansietas Di UPTD Puskesmas Pamotan

Kabupaten Malang

4. Melakukan tindakan Pada Pasien Congestive Heart Failure (CHF)

Dengan Ansietas Di UPTD Puskesmas Pamotan Kabupaten Malang

5. Mengevaluasi Asuhan Keperawatan Pada Pasien Congestive Heart

Failure (CHF) Dengan Ansietas Di UPTD Puskesmas Pamotan

Kabupaten Malang
5

1.4. Manfaat

1.4.1. Mangfaat Teoritis

Meningkatkan pengetahuan dan wawasan serta dapat

diaplikasikan sebagai acuan atau data dasar untuk study kasus selanjutnya

tantang congesti heart failure (CHF) disertai dengan ansietas.

1.4.2. Mangfaat Praktis

1. Bagi pasien

Mendapat asuhan keperawatan sesuai SOP secara professional

untuk dijadikan sebagai sumber acuan dalam kegiatan membantu klien

dalam meningkatkan dan pemulihan klien melalui tindakan

pemenuhan kebutuhan pasien secara komprehensif dan

berkeseimbanngan.

2. Bagi Peneliti

Diharapkan peneliti dapat memperluas ilmu pengetahuan dan

menambah wawasan tentang Pasien Congestive Heart Failure (CHF)

disertai dengan Ansietas.

3. Bagi Institusi Pendidikan

Diharapkan dapat menambah pustaka perpustakaan STIKes

Kendedes Malang dan sebagai sarana belajar mahasiswa STIKes

Kendedes Malang.

4. Bagi Puskesmas

Menjadikan wawasan dan pengetahuan perawat dalam

mengaplikasikan intervensi yang sesuia untuk pasien congestive heart

failure (CHF) dengan masalah keperawatan ansietas secara lebih tepat


6

dan sesuai dalam instansi kesehatan lebih tepatnya UPTD

PUSKESMAS PAMOTAN.

5. Bagi Perawat

Diharapkan dapat menambah refrensi dalam melakukan asuhan

keperawatan khususnya pada pasien dengan Congestive Heart Failure

(CHF) disertai Ansietas.