Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tablet adalah suatu sediaan padat baik yang mengandung maupun tidak

mengandung bahan-bahan tambahan seperti lubricant, disintegrant, diluents atau

zat pengisi, dan zat-zat tambahan yang lainnya. Ada beberapa macam tablet

berdasarkan proses pengerjaannya, yaitu : Tablet dengan Proses Granulasi Basah

(* Wet Granulation ), Tablet dengan proses Granulasi Kering ( Dry Granulation,

dan juga dengan Direct Compress ( Kempa Langsung ). Seluruh macam tablet

tersebut memiliki karakteristik trsendiri. Dan juga memiliki syarat-syarat tersendiri

dalam pembuatannya. Tablet merupakan sediaan yang paling diminati karena

mudah untuk dikonsumsi dan mudah dalam pengemasan serta penyimpananya. Dan

juga tablet merupakan sediaan yang dapat diproduksi langsung dalam jumlah besar.

Oleh karena itu Tablet sangat banyak di konsumsi. Dan bahan-bahan obat lebih

banyak yang dibuat dalam bentuk tablet. Namun, selain keunggulan tablet tersebut,

adapula kekurangan tablet yang lainnya, seperti, lamanya diabsorbsi dalam tubuh

dibandingkan dengan sediaan obat yang lainnya. Namun, walaupun dengan

berbagai kekurangannya, tablet masih tetap menjadi sediaan yang paling banyak

dikonsumsi dan diproduksi.

Dalam pembuatan tablet, berbagai bahan dapat digunakan. Tergantung dari

formulasi tablet yang diinginkan. Dalam hal ini, kita berbicara tentang tablet yang

disalut ( Tablet Salut ) . Tablet ini memiliki karakteruistik tertentu yang

mengharuskan tablet tersebut harus di salut. Berbagai syarat bahan yang dibutuhkan

untuk dilakukan penyalutan. Dan berbagai alasan mengapa suatu tablet harus
dilakukan penyalutan,. Ada beberapa macam tablet salut yang akan di bahas dalam

makalah ini. Begitu pula berbagai teknik-teknik penyalutan yang akan dibahas di

dalam makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan tablet salut ?

2. Apa saja jenis-jenis tablet salut?

3. Apa keuntungan dan kerugian sediaan tablet salut?

4. Metode apa saja yang digunakan dalam pembuatan tablet salut?

5. Masalah apa saja yang ada dalam pembuatan tablet salut?

6. Alat apa saja yang digunakan pada pembuatan tablet salut?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui dan memahami definisi tablet salut!

2. Mengetahui pembagian tablet salut!

3. Mengetahui keuntungan dan kerugian sediaan tablet salut!

4. Mengetahui metode-metode penyalutan!

5. Mengetahui masalah-masalah dalam tablet salut!

6. Mengenali alat-alat yang digunakan dalam penyalutan!


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan

pengisi. Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet cetak

dan tablet kempa. Tablet inti adalah tablet inti yang khusus untuk disalut, dibuat

secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya

rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat

tambahan.

Tablet mengalami penyalutan untuk berbagai alasan, antara lain melindungi

zat aktif dari udara, lembap atau cahaya, menutupi rasa dan bau yang tidak enak

serta membuat penampilan tablet yang lebih baik dan menarik. Pembuatan tablet

salut membutuhkan waktu yang panjang dan energi lebih besar serta biaya yang

lebih mahal, banyak alasan yang menyebabkan penyalutan menjadi sangat penting

dan tidak dapat dihindari (Siregar, 2010).

Tablet bersalut adalah tablet yang disalut dengan zat penyalut yang cocok

untuk maksud dan tujuan tertentu. Tablet salut film adalah tablet kempa yang

disalut dengan salut tipis, berwarna atau tidak dari bahan polimer yang larut dalam

air yang hancur cepat di dalam saluran cerna (Depkes RI, 1979).
2.2 Jenis tablet salut

2.2.1 Jenis - jenis penyalutan tablet

Penyalutan tablet dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

1. Tablet bersalut gula (sugar coating)

Tablet ini sering disebut dragee. Penyalutan dilakukan dengan

larutan gula dalam panci untuk penyalutan dan panci untuk

mengkilapkan tablet diputar dengan motor penggerak yang dilengkapi

dengan alat pengisap dan sistem penhembus dengan udara panas

(blower). Proses pembuatan tablet bersalut gula adalah sebagai berikut:

a. Subcoating (penyalutan dasar), yaitu proses pemberian larutan dasar

dan pemberian serbuk salut apabila sebagian tablet kering

b. Smoothing (pelicinan), yaitu proses pembasahan ganti berganti

dengan sirop pelicin dan pengeringan dari salut tablet menjadi bulat

dan licin.

c. Coloring (pewarnaan), dilakukan dengan memberi zat warna yang

dicampurkan pada sirop pelicin.

d. Finishing, yaitu proses pengeringan salut sirop yang terakhir dengan

cara perlahan-lahan sehingga memperoleh hasil akhir yang licin.

e. Polishing (pengilapan), dilakukan dengan menggunakan lapis tipis

lilin yang licin (Aulton,1988).


Contohnya :

1. Pahezon

2. Arcalion

3. Neurobion

2. Tablet bersalut kempa (press coating)

Tablet inti yang sudah jadi mengalami proses seperti berikut, yaitu

granul halus dan kering dikempa di sekitar tablet inti, sering disebut

tablet dalam tablet (Aulton, 1988).

3. Tablet bersalut selaput (film coating)

Ialah tablet yang dilapisi lapisan selaput tipis dengan zat penyalut

yang dikenakan atau disemprotkan pada tablet. Sebagai zat penyalut

digunakan Na CMC, Asetatftalat selulosa,Hidroksi etil selulosa dengan

bermacam-macam perbandingan dalam campuran PEG dan

Polivinilpirolidon dalam pelarut alkohol atau terdispersi dalam

Isopropanol dengan tambahan Span dan Tween (Aulton, 1988).

Contohnya :

a. DMP

b. Mucohexin
4. Tablet bersalut enterik (enteric coating)

Adalah tablet yang disalut dengan zat penyalut yang relatif tidak

larut dalam asam lambung, tetapi larut dalam usus halus. Penyalutan

enterik dimaksudkan :

a. Agar obat tidak mengiritasi perut

b. Dikehendaki agar obat berkhasiat dalam usus seperti antelmintika

c. Menghindari obat menjadi inaktif dalam cairan lambung, yaitu karena

pH rendah atau dirusak enzim digestif dalam perut. Sebagai bahan salut

enterik adalah campuran serbuk lilin karnauba atau asam stearat dan

serabut tumbuh-tumbuhan dari agar-agar atau kulit pohon elm. Bila

tablet ditelan, serabut tersebut akan menghisap air, mengembang dan

terjadi proses penghancuran. Dengan mengatur ratio serabut tumbuh-

tumbuhan dan mengubah tebalnya salut, waktu hancur yang diperlukan

dapat dikontrol (Aulton, 1988).

Contohnya :

a. Voltaren 50 mg

b. Enzymfort

c. Dansera
2.3 Perbedaan tablet salut gula dan salut film

Perbedaannya dengan salut gula adalah tablet salut gula merupakan tablet

kempa yang disalut dengan beberapa lapis lapisan gula baik berwarna maupun

tidak. Supaya dapat menahan bantingan selama proses penyalutan tablet inti

harus memiliki resistensi dan kekerasan yang cukup di dalam panci penyalut

yang berputar terus menerus selama proses berlangsung. Kekerasan yang

cukup juga akan berperanan memperlambat penyalut pada waktu dilakukan

penyalutan dan sebaiknya permukaan tablet berbentuk. Bentuk tablet inti yang

ideal untuk disalut ialah: sferis, elip, bikonvek bulat ataubikonvekoval. Tinggi

antara permukaan tablet sedapat mungkin agak rendah. Pada bentuk ini sesudah

dibasahi dengan cairan penyalut, kemungkinan hanya terjadi lengketan pada

satu titik tertentu saja dari sisi tablet dan perlekatan ini hanya akan berlangsung

selama periode waktu relative singkat karena segera terlepas lagi pada waktu

terjadi gerakan panci penyalut. Kelebihan salut film dibanding dengan salut

gula ialah lebih tahan terhadap kerusakan akibat goresan, bahan yang

dibutuhkan lebih sedikit dan waktu pembuatannya lebih sedikit (Ansel, 1989).

a. Tablet salut biasa / salut gula (dragee), disalut dengan gula dari suspensi

dalam air mengandung serbuk yang tidak larut, seperti pati, ka lsiu m

karbonat, talk, atau titanium dioksida yang disuspensikan dengan gom

akasia atau gelatin.

b. Tablet salut selaput (film-coated tablet), disalut dengan hidroksi propil metil

selulosa, metil selulosa, hidroksipropil selulosa,Na CMC, dan campuran

selulosa asetat ftalat dengan PEG yang tidak mengandung air atau

mengandung air.
2.4 Keuntungan dan Kerugian Tablet Salut

 Keuntungan tablet salut :

a. Menghindari penguraian obat di lambung,

b. Efek lebih cepat daripada obat yang ditelan,

c. First pass efek metabolism dapat dihindari

d. Menghidari rasa mual akibat menelan obat

e. Lebih stabil Make Money

 Kekurangan dari tablet salut yaitu:

a. Ukuran dan bobot dari tablet salut jadi mengakibatkan peningkatan

biaya pengemasan dan pengiriman

b. Kerapuhan dari penyalut dapat mengakibatkan rentannya tablet

terhadap kerusakan yang mungkin terjadi jika salah ditangani

c. Penyampaian mutu ekstrik yang tinggi seringkali membutuhkan jasa

operator penyalut yang dengan keterampilan menyalut yang tinggi

d. Pengkilapan akhir yang dicapai dengan suatu tahap pemolesan dapat

membuat pencetakan menjafi sulit

e. Kerumitan prosedur, formulasi, dan proses membuat otomisasi lebih

sulit
2.5 Bahan yang digunakan sebagai lapisan penyalut tablet

Suatu bahan penyalut lapisan tipis yang ideal harus mempunyai sifat-sifat

sebagai berikut :

a. Larut dalam pelarut yang digunakan untuk persiapan penyalutan.

b. Larut dalam keadaan tertentu yang dimaksud, misalnya kelarutan yang

mudah dalam air, lambat larut dalam air atau kelarutan yang tergantung

pada pH (lapisan enterik).

c. Kemampuan untuk menghasilkan produk yang tampak anggun.

d. Stabilitas dalam keadaan panas, cahaya, kelembapan, udara dan substrat

yang akan disalut. Sifat-sifat lapisan tipis harus tidak berubah dengan

berlalunya waktu.

e. Tidak memiliki warna, rasa ataupun bau.

f. Serasi dengan aditif larutan penyalut pada umumnya.

g. Tidak toksis, tidak mempunyai kegiatan farmakologis dan mudah dipakai

ke partikel atau tablet.

h. Tahan retakan dan dilengkapi dengan pelindung obat terhadap

kelembapan, cahaya dan bau bila perlu.

i. Tidak ada jembatan ataupun pengisian permukaan tablet yang tidak ditatah

oleh bahan pembentuk lapisan.

j. Prosedur pencetakan huruf/tanda/merk mudah dilakukan pada peralatan

berkecepatan tinggi (Saifullah, 2007).


Bahan Penyalut yang sering digunakan dapat dibedakan menjadi beberapa

macam, diantaranya :

a. Bahan Nonenterik, contoh :

 Hidroksipropil metil selulosa,

 Metil hidroksietilselulosa,

 Etilselulosa,

 Hidroksipropilselulosa,

 Povidon,

 Natrium karboksimetilselulosa,

 Polietilen glikol (Saifullah, 2007).

b. Bahan Enterik

Bahan penyalut enterik dari pil dan tablet yang dicetak sdah dikenal lebih

dari satu abad yang lalu. Beberapa alasan penting untuk bahan penyalut enterik

adalah sebagai berikut :

 Untuk melindungi obat-obat yang tidak tahan asam terhadap cairan

lambung, misalnya enzim-enzim dan beberapa antibiotik tertentu.

 Untuk mencegah nyeri pada lambung atau mual karena iritasi dari suatu

bahan obat, misalnya Natrium salisilat.

 Untuk melepaskan obat agar didapat efek local di dalam uus, seperti

antiseptik usus dapat melepaskan bentuk obatnya hanya di usus dan

menghindari penyerapan sistemik dalam lambung.

 Untuk melepaskan obat-obat yang diserap secara optimal di dalam usus

halus sebagai penyerapan utamanya.


 Untuk memberikan suatu komponen yang penglepasannya ditunda sebagai

aksi ulang dari tablet (Saifullah, 2007).

Suatu bahan penyalut enterik yang baik harus memilki sifat-sifat berikut :

 Tahan terhadap cairan lambung

 Rentan terhadap cairan usus dan permeable terhadap cairan usus

 Dapat bercampur dengan sebagian besar komponen larutan penyalut dan

bahan dasar obat

 Stabil dalam bentuk tunggalnya atau di dalam larutan penyalut. Lapisan tipis

ini tidak mudah berubah dalam penyimpanan

 Membentuk lapisan tipis (terus-menerus)

 Tidak toksik

 Biayanya murah

 Mudah dipakai tanpa harus menggunakan alat khusus

 Dapat dengan mudah dicetak, atau lapisan tipis dapat digunakan pada tablet

yang tidak ditatah (Saifullah, 2007).

Pemeriksaan waktu hancur tablet yang disalut enterik, menurut United

State Pharmacopeia (USP), mengharuskan tablet tahan terhadap pengadukan

dalam larutan pemeriksaan cairan lambung buatan pada temperatu 37 ± 2 o C

(tanpa lempengan). Setelah satu jam terpapar dalam cairan lambung batan

tersebut, tablet tidak memperhatikan bukti adanya daya hancur, keretakan atau

kerapuhan. Kemudian ditambahkan suatu lempengan pada setiap tabung dan

pemeriksaan dilanjutkan dengan menggunakan cairan usus buatan yang


dipertahankan pada temperatur 37 ± 2oC sebagai cairan pencelup, untuk satu

metode pemeriksaan selama 2 jam atau dalam batas waktu yang tertera dalam

monografinya. Jika seluruh tablet sudah hancur, pemeriksaan tablet sudah

selesai. Bila 1 atau 2 tablet tidak hancur secara sempurna, pemeriksaan diulangi

dengan menggunakan 12 tablet tambahan. Pemeriksaan daya hancur tablet

dinyatakan selesai bila 16 dari 18 tablet dapat dihancurkan (Swarbrick & James,

1991).

2.6 Bahan-Bahan yang Harus Disalut

Tablet memiliki banyak bahan-bahan penambah ( Excipients ) yang

digunakan dalam memformulasikanya. Namun,beberapa bahan memiliki

karakteristik-karakteristik tertentu yang mengharuskan tablet dengn bahan

tersebut harus dilapisi dengan bahan penyalut. Adapun bahan-bahan yang

harus disalut adalah : a. Bahan-bahan yang pahit. Sehingga apabila bahan ini

disalut maka akan menutupi rasa pahit dari bahan tadi. Sehingga akan lebih

mudah dikonsumsi. b. Bahan yang rapuh. Penyalutan akan menutupi bahan

yang membuat tablet rapuh. Sehingga akan menghindarkan tablet dari

penampilan yang kurang baik seperti Mottling dll. c. Bahan yang dapat

mengiritasi lambung. Dengan penyalut, maka bahan ini tidak akan dipecah di

lambung, tetapi akan dipecah di usus. Sehingga tidak akan mengiritasi

lambung lagi. d. Bahan-bahan yang di inaktifkan oleh asam lambung. Dengan

penyalutan, bahan ini akan dilindungi dari asam lambung yang akan merusak

bahan tersebut. Jadi, jika tablet mengandung bahan-bahan yang ada di atas,

maka seharusnya tablet tersebut harus di berikan penyalutan sehingga akan

memaksimalkan kerja tablet di dalam tubuh.


2.7 Tahap-tahap penyalutan tablet

Proses pembuatan tablet salut dikerjakan secara bertahap yaitu

sealing, subcoating, coloring, dan polishing.

1. SEALING

Tahap ini bertujuan untuk menutup tablet inti dan pengaruh air yang

dipakai untuk proses penyalutan. Bahn yag digunakan : shellac bebas arsen

dan cellulose acetat phtalat.

2. SUBCOATINC.

Fungsinya adalah untuk menutup bagian tepi tablet sehingga tablet tidak

bcrsudut Selain itu dapat pula berguna untuk mcningkatkan ikatan antara

sealcoat dengan sugarcoat. Bahan subcoating terdiri dari : subcoating

solution dan subcoating powder

3. SMOOTHING

Tahap ini bertujuan untuk melicinkan permukaan tablet yang telah selesai

disubcoat. Balian yang dipakai sirup gula.

4. COLORING

Tahap ini bertujuaji memberi wama tablet salut sesuai warna yang

dikehendaki. Pewarnaan dapat dilakukan dcngan berbagai cara, antara lain

dengan mcnggunakan satu macam kadar zal warna, Caranya adalah

dengan menambahkan terleblh dahulu larutan pewarna dengan kadar

rendah lalu naik dengan kadar tcrtenlu uniuk kcmndlan kcmbali

ditambahkan larutan dengan kadar yang rendah.


Macam warna yang digunakan dihagi dalam dua golongan: yang larut dan

yang tidak larut air. Pewarnaan dengan zat warna yang tidak larut dalam

air akan lebih cepat daripada apabila digunakan zat wama yang larut.

5. FINISHING

Bertujuan untuk membuat permukaan tablet salut menjadi licin setelah

selesai pewarnaan.

6. POLISHING

Tahap ini adalah tahap yang terakhir, dengan tujuan untuk menjadikan

permukaan tablet salut menjadi mengkilap dan indah. Bahan yang dipakai

yaitu cera carnauba atau PEG dalam pelarut klorofrom.

2.8 Peralatan dalam penyalutan tablet

a. Panci salut

Panci salut merupakan dasar dari setiap proses salut kecuali penyalutan

yang mengandalkan alat pemrosesan lapisan zat alir (fluid-bed processing

equipment). Panci bertindak sebagai wadah untuk bets produk yang akan

disalut, dan merupakan sarana untuk membuat produk yang disalut dalam

gerakan kontinu diseluruh proses sehingga mempermudah distribusi cairan

penyalut yang seragam. Sepanjang 3o tahun terakhir ini, desain panci salut

telah mengalami beberapa perubahan besar. Teknologi penyalutan telah maju

dan tuntutan untuk pemenuhan persyaratan praktik manufaktur yang baik

telah meningkat. Lamination dan Coating Pan Kaveri Metallising & Counting

Fully Automatic Counting & Filling Machine


b. Alat Penyemprotan Salut (Top Spray Granulator)

Dalam kebanyakan pengoperasian panci salut modern, salah satu

penekanan utama adalah penyedian cara untuk menerapkan cairan penyalut

secara mekanik guna menghindari teknik manual seperti prosedur sendok

tuang. Walaupun ada kesamaan dalam persyaratan untuk penerapan cairan

penyalut secara mekanik antara proses penyalutan gula penyalutan selaput,

terdapat juga perbedaan-perbedaan tertentu yang hampir pasti mempengaruhi

pemilihan peralatan yang sesuai. Cairan penyalut gula biasanya mengandung

padatan lebih dari 70 % sehingga dapat menjadi sangat kental. Ini sangat

berbeda dengan cairan salut selaput yang jarang mengandung lebih 20 %

bahan yang tidak menguap (yang khususnya berada dalam kisaran 5-15%).

Peralatan penyalutan memerlukan rancangan yang sederhana saja yang

memungkinkan cairan penyalut mengalir pada permukaan produk yang

sedang berjatuhan. Sebaliknya cairan penyalut selaput (tanpa perkecualian)

perlu diterapkan dalam keadaan teratomisasi halus dan secara seragam

didistribusikan lintas permukaan produk yang sedang disalut. Penerapan

mekanik dihubungkan dengan setiap metode pemasukan dan penyalut lintas

permukaan produk yang sedang disalut menggunakan cara salut cara manual

sendok tuang.
c. Panci Berlubang (Perforated Pan System)

Meskipun banyak kemajuan dari alat penyalut lapisan zat alir (fluid-bed

coating equiment), telah muncul suatu penemuan baru, yakni panci salut

berlubang, yang merupakan rancangan pilihan dalam kebanyakan penerapan

salut selaput (kecuali untuk penyalutan selaput pada serbuk dan partikulat

lainnya). Walaupun terdapat banyak desain khusus dari tipe alat ini , dasar

dari alat tersebut ialah memungkinkan udara dimasukan kepanci dan udara

ditarik melalui produk yang sedang disalut dan akhirnya dilepaskan. Secara

khas panci salut ini terdiri dari panci agak bersiku-siku dilengkapi dengan

buffles pencampur yang berputar pada sumbu horizontal didalam kabinet

tertutup. Alat yang termasuk panci berlubang ini dalam perdagangan antara

lain sistem Accela-Cota dan sistem Hi-Coater. Udara pengering masuk

kedalam drum, dilewatkan melalui lapisan tablet, dan dihembuskan

(dikeluarkan) melalui drum.

Seperti dijelaskan sebelumnya, tablet di buat dengan jalan mengempa

campuran zat aktiv dan eksipien, baik yang dibuat menjadi granul terlebih

dahulu maupun tidak, pada mesin pencetak tablet. Secara umum komponen

dasar mesin pencetak tablet adalah sebagai berikut :

 Hopper, tempat untuk menyimpan granul dan yang mengalirkan granul untuk

di kempa

 Die, tempat granul akan di cetak, menentukan ukuran dan bentuk tablet

 Punch atas, alat untuk mengempa granul yang telah brada di die

 Punch bawah, alat untuk mengeluarkan tablet yang tlah di cetak.


2.9 Masalah dalam pembuatan tablet salut

Masalah yang Timbul dalam Penyalutan

1. Pengupilan (picking) adalah pelepasan fragmen lapis tipis penyalut dari

permukaan tablet yang disalut.

Penyebabnya adalah :

 Pengeringan yang tidak cukup baik

 Penyemprotan yang dilakukan berlebihan

Pencegahannya :

 Dengan menurunkan kecepatan penyemprotan

 Meningkatkan suhu pengeringan, menurunkan konsentrasi larutan

penyalut

 Penambahan gula lebih dari 10% dari bobot polimer dalam larutan.

2. Keretakan, terlihat selama penyalutan atau penyimpanan tablet yang sudah

disalut.

Penyebabnya adalah :

 Tegangan di dalam lapisan penyalut lebih besar dari rentang dan adhesi

dari larutan penyalut.

Pencegahannya :

 Penambahan plasticizer lebih dari 20% berat HPMC

 Menggunakan HPMC viskositas tinggi

 Memperbaiki kerapuhan tablet inti


3. Pembentukan jembatan, hal ini terjadi karena pengaruh adhesi pada

permukaan tablet yang bergaris atau ada huruf logo yang terletak pada

permukaan. Pencegahan dengan penambahan PEG 6000 dalam jumlah 20-

30% dari berat HPMC.

4. Burik (molting) : cacat dimana warna tidak terkontribusi secara homogen

pada permukaan tablet. Pencegahannya dengan mendispersikan zat warna

secara homogen dalam larutan penyalut.

5. Pengelupasan (orange peel) merupakan tahap lanjut dari tahap pengupilan.

Penyebab :

 Formula larutan penyalut yang tidak sesuai

 Operasi penyalutan yang tidak baik

 Terjadi penetesan larutan dari alat penyemprot

Pencegahan :

 Menurunkan konsentrasi polimer

 Menurunkan kecepatan penyemprotan

6. Variasi warna antar tablet hal ini terjadi karena variasi antar tablet dari

sejumlah tablet yang disalut.

Pencegahan :

 Pengaturan formulasi larutan penyalut

 Digunakan penyalutan dengan prinsip ”fluidized bed” (Aulton, 1988).


2.10 Evaluasi sediaan tablet salut

1. Kontrol keseragaman bobol tablet

Bandingkan dengan persyaratan menurut Farmakope Indonesia

2. Kontrol kekerasan tablet

Sebuah tablet diletakkan pada ujung alat dengan posisi vertical. Tekan alat

sampai tablet pecah/hancur. Skala yang terbaca pada saat tablet pccali/hancur

menunjukkan kekerasan tablet dalam satuan kg. Lakukan percobaan

Sebanyak 5 kali dan hiltung harga puratanya.

3. Kontrol kerapuhan

Sejumlah 20 tablel dibebas debukan dengan aspirator, Timbang kemudian

masukkan ke dalam friabilator abrasive tester pengujian dilakukan selama 4

menit atau sebanyak seratus putaran. Keluarkan tablet dari alat, bebas

dcbukan lagi dan timbang. Kerapuhan tablet dinyatakan dalam : selisih berat

tablet sebclum dan sesudah pengujian dibagi berat mula-mula dikalikan

100%. Percobaan diulangi 3 kali dan hitung harga putaranya

4. Kontrol waktu hancur tablet

Enam buah tablet dimasukkan kedalam alat uji waklu hancur. Setiap tabung

diisi satu tablet, kemudran dimasukkan ke dalarn penannggas air dengan

temperature sebesar 3Ketinggian permukaan air sama dengan posisi lubang

ayakan pada bagian bawah alat pada saat tabung naik dalam kedudukan

tertinggi. Jalankan alat sampai semua fraksi pecahan tablet lewat ayakan yang

terletak pada bagian bawah alat. Catat waktu yang diperlukan sebagai waktu

hancur tablet. Percobaan diulangi 3 kali, hiltung harga puratanya.


2.11 Faktor yang mempengaruhi mutu tablet selaput

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi efisiensi pembuatan tablet salut

dan kualitas bentuk tablet salut, yaitu :

1. Kecepatan penguapan pelarut

Kecepatan penguapan pelarut mempengaruhi langsung kualitas tablet

salut dan waktu yang diperlukan untuk membuat tablet salut. Oleh Karena

pentingnya proses penyalutan dalam waktu yang minimum, meningkatnya

kecepatan penguapan pelarut menurunkan waktu yang tersedia untuk

polimer-polimer berinteraksi. Oleh karena itu, jika kecepatan penguapan

terlalu cepat, alat-alat mekanis film akan dirusak karena langsung merusak

pada interaksi polimer. Tekanan uap pelarut dan suhu mempengaruhi

kecepatan penguapan pelarut. Oleh karena itu, suhu yang rendah biasa

digunakan untuk larutan salut.

2. Perubahan volume udara

Perubahan volume udara akan langsung mempengaruhi kecepatan

mengalirnya larutan salut dan juga merubah pola tanpa ruang penyalutan.

3. Kelembaban khusus

Hal ini penting untuk mengontrol kelembaban tertentu dalam

menghangatkan udara dan karenanya di dalam ruang salut untuk

memastikan bahwa kualitas penyalutan tablet dioptimalkan. Jika

kelembaban relatif di ruang penyalutan tinggi, pendinginan evaporatif oleh

pelarut mungkin terjadi. Ini pada gilirannya akan menurunkan suhu udara

di bawah titik embun, sehingga kondensasi air pada permukaan tablet. Ini

akan mengganggu proses penyalutan, mengakibatkan adhesi kekurangan


lapisan hidrofobik ke permukaan tablet dan ketidaksempurnaan visual

dalam lapisan terbentuk. Oleh karena itu, kontrol dari kelembaban relatif

dalam proses pelapisan diperlukan. Kehadiran kelembaban dalam ruang

penyalutan mungkin berguna dalam menghilangkan listrik statis yang

mungkin terjadi setelah proses penyalutan telah selesai.

4. Lama dan kecepatan semprotan salut

Kecepatan semprotan dikontrol dalam proses penyalutan dan dipilih

sesuai dengan kelarutan lapisan pelarut dalam volume udara dan viskositas.

Di Selain itu, penting untuk memastikan integritas tetesan (yaitu

meminimalkan tetesan agregasi) selama proses tersebut. Perlu dicatat

bahwa tingkat semprotan yang berlebihan akan menghasilkan lapisan yang

menunjukkan kurangnya adhesi pada permukaan tablet. Biasanya proses

penyalutan akan melibatkan bahan-bahan pelapisan. Oleh karena itu salah

satu metode ketebalan lapisan pada tablet dapat dimodifikasi adalah untuk

meningkatkan waktu yang dihabiskan dalam ruang penyalutan. Atau,

konsentrasi bahan pelapis dapat ditingkatkan dalam lapisan solusi.

Viskositas larutan harus diperhatikan untuk memastikan bahwa viskositas

meningkat tidak membahayakan atomisasi proses, dan secara khusus

ukuran tetesan.
DAFTAR PUSTAKA

1) Anief.Moh.2008.Ilmu meracik Obat.Yogyakarta:Gajah Mada University

press

2) Drs.H.Syamsuni,Apt.2005.Farmasetika Dasar dan Hitungan

Farmasi.Jakarta:EGC

3) King, R. E., (1984),”Dispending Of Medication, Ninth Edition”, Mack

Publishing Company, Philadelphia.

4) Martindale, (1989),”The Extra Pharmacopeia, 29th Edition”, The

Pharmaceutical Press, London.

5) Siregar, Charles. 2008. Tekhnologi Farmasi Sediaan Tablet. Jakarta: EGC

6) Syamsuni,A.2007.Ilmu Resep.Jakarta:Buku Kedokteran EGC

7) Davies, P, 2001, Oral Solid Dosage Form, in Pharmaceutical

Preformulation and Formulation, Gibson M (editor), CRC Press

8) Lieberman HA, Lachman, Schwartz, 1989, Pharmaceutical Dosage Form:

Tablet, Volume 1 and 2, Marcel Dekker, New York

9) Marshall and Rudnic, 1990, Tablet Dosage Form, in Modern

Pharmaceutics, Banker G.S, Rhodes C.T (Editors), 2nd Edition, Marcel

Dekker, New York.

10) Alderborn B, 2002, Tablet and Compaction, in Pharmaceutics: The Science

of Dosage Form Design, Aulton M.E (Editor), 2nd edition,, Harcourt

Publisher, London.

Anda mungkin juga menyukai