Anda di halaman 1dari 139

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

GEOLOGI DAERAH BUNGGAWAI KECAMATAN ANGGERAJA


KABUPATEN ENREKANG PROVINSI SULAWESI SELATAN

LAPORAN PEMETAAN

NAMA : BAGUS FIRMANSYAH


NIM : D611 12 009

GOWA
2017
KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

GEOLOGI DAERAH BUNGGAWAI KECAMATAN ANGGERAJA


KABUPATEN ENREKANG PROVINSI SULAWESI SELATAN

LAPORAN PEMETAAN

NAMA : BAGUS FIRMANSYAH


NIM : D611 12 009

GOWA
2017

i
KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

GEOLOGI DAERAH BUNGGAWAI KECAMATAN ANGGERAJA


KABUPATEN ENREKANG PROVINSI SULAWESI SELATAN

LAPORAN PEMETAAN

Diajukan sebagai salah satu syarat akademik untuk memperoleh gelar sarjana
pada kurikulum strata satu (S1) pada Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik
Universitas Hasanuddin

NAMA : BAGUS FIRMANSYAH


NIM : D611 12 009

GOWA
2017

ii
GEOLOGI DAERAH BUNGGAWAI KECAMATAN ANGGERAJA
KABUPATEN ENREKANG PROVINSI SULAWESI SELATAN

LAPORAN PEMETAAN

Gowa, November 2017

Disetujui oleh Penyusun,


Pembimbing,

Dr. Eng. Adi Maulana, ST., M.Phil Bagus Firmansyah


NIP. 19800428 200501 1 001 NIM. D611 12 009

iii
SARI

Secara administratif daerah penelitian termasuk dalam daerah Bunggawai


Kecamatan Angeraja Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan. Secara
geografis daerah ini terletak pada 119°45’00’’- 119°49’00’’ Bujur Timur (BT) dan
03°20’00” - 03°24’00’’ Lintang Selatan (LS).
Maksud dari penelitian ini untuk melakukan pemetaan geologi permukaan
secara detail pada peta sekala 1 : 25.000 terhadap aspek geomorfologi, stratigrafi,
struktur geologi, sejarah geologi, dan aspek bahan galian dengan tujuan untuk
membuat peta geologi yang dirancang berdasarkan akumulasi seluruh data yang
dikumpulkan di lapangan dan intepretasi berdasarkan teori pendukung yang disadur
dari berbagai literatur geologi.
Geomorfologi daerah penelitian secara morfografi dan morfogenesa terdiri
atas satuan geomorfologi pegunungan denudasional dan satuan geomorfologi
pegunungan karst. Berdasarkan proses geomorfologi yang terjadi di daerah ini
maka stadia daerah penelitian adalah stadia muda menjelang dewasa.
Berdasarkan litostratigrafi tidak resmi, stratigrafi daerah penelitian dibagi
menjadi tiga 3 satuan batuan berdasar fasies dan dari urutan muda hingga tua yaitu
Satuan intrusi basal porfiri, Satuan batupasir, dan Satuan batugamping.
Struktur geologi daerah penelitian terdiri dari kekar sistematik, lipatan
antiklin, sesar berupa sesar sesar turun Marena dan sesar turun Dale.
Bahan galian pada daerah penelitian masih tergolong dalam golongan bahan
galian batuan berupa batugamping.

Kata Kunci : Struktural, Denudasional, Basal Porfiri, Batupasir, Batugamping.

iv
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang. Segala

puji bagi Allah, Pemilik semesta alam, yang Maha Mengetahui lagi Pemilik segala ilmu di

alam raya ini. Puji dan syukur tiada hentinya penulis ucapkan karena atas berkat rahmat

dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan laporan pemetaan geologi yang berjudul

Geologi Daerah Bunggawai Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang Provinsi

Sulawesi Selatan.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan

yang setinggi-tingginya kepada:

1. Bapak Dr. Eng. Adi Maulana, ST., M.Phil selaku dosen Pembimbing

Penulis yang telah membimbing dan mengarahkan dalam penyelesaian

pemetaan ini.

2. Kedua Orang tua penulis yaitu Ayahanda Supratman T. Lumpeng, S.T dan

Ibunda Dwi Andriati, S.Pd yang telah memberikan dukungan moral dan

material.

3. Bapak Dr. -Eng. Asri Jaya HS, S.T, M.T sebagai Ketua Departemen Tenik

Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.

v
4. Ibu Dr. Ir. Rohaya Langkoke, MT. selaku Penasehat Akademik yang telah

banyak memberikan masukan saran selama mengenyam pendidikan di

Departemen Teknik Geologi.

5. Bapak Ir. J a m a l, MT. sebagai Koordinator Matakuliah Pemetaan Geologi

pada Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.

6. Seluruh Bapak dan Ibu dosen serta Staf Departemen Teknik Geologi

Universitas Hasanuddin

7. Terkhusus kepada kanda Alwakia, S.T beserta keluarga, Kanda Arsyat,

S.T., Kanda Herwin Kamaruddin, S.T., kanda Hamrin Ilhami, S.T, saudari

Aprila Parma, saudari Algiyul B.P., saudari Nurul Qadriana A., dan saudari

Yanti Iskandar.

8. Rekan-rekan mahasiswa Teknik Geologi UNHAS, khususnya angkatan

2012 (EVEREST) atas dukungan dan bantuannya selama ini.

9. Rekan-rekan anggota Satuan Komando Lapangan Badan Eksekutif

Himpunan Mahasiswa Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin

(SKL BE-HMG FT-UH)

10. Sahabat-sahabat penulis yang selalu mendukung setiap langkah penulis dan

mendukung dalam penyelesaian laporan ini.

11. Pemerintah daerah dan masyarakat setempat atas izin dan bantuan yang

telah diberikan selama penulis mengadakan penelitian.

12. Semua pihak yang tak dapat penulis sebutkan satu persatu.

vi
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh

karena itu penulis mengharapkan saran yang membangun dari pembaca demi

kesempurnaan laporan ini.

Akhir kata, semoga laporan ini dapat bermanfaat untuk penulis dan orang

lain serta mendapat ridha dari Allah.

Gowa, September 2017

Penulis

vii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL .................................................................................... i

HALAMAN TUJUAN ................................................................................. ii

HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................... iii

SARI .............................................................................................................. iv

KATA PENGANTAR .................................................................................. v

DAFTAR ISI ................................................................................................. viii

DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………….. xi

DAFTAR TABEL ........................................................................................ xv

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................ 1
1.2 Maksud dan Tujuan ................................................................... 2
1.3 Batasan Masalah ....................................................................... 2
1.4 Letak, Luas dan Kesampaian Daerah ........................................ 2
1.5 Metode dan Tahapan Penelitian ................................................. 4
1.5.1 Metode Penelitian ...................................................................... 4
1.5.2 Tahapan Penelitian .................................................................... 4
1.5.2.1 Tahap Persiapan ......................................................................... 4
1.5.2.2 Tahap Pengambilan Data ........................................................... 5
1.5.2.3 Tahap Pengolahan Data ............................................................. 7
1.5.2.4 Tahap Analisis dan Interpretasi Data ......................................... 10
1.5.2.5 Tahap Penyusunan dan Presentasi Laporan ............................... 13
1.6 Alat dan Bahan ........................................................................... 15
1.7 Peneliti Terdahulu ..................................................................... 16

BAB II GEOMORFOLOGI
2.1 Geomorfologi Regional ............................................................. 17
2.2 Geomorfologi Daerah Penelitian ............................................... 18
2.2.1 Satuan Geomorfologi ................................................................. 19
2.2.1.1 Satuan Geomorfologi Pegunungan Denudasional ..................... 21
2.2.1.2 Satuan Geomorfologi Pegunungan Karst ................................... 28
2.2.2 Sungai ........................................................................................ 32
2.2.2.1 Jenis Sungai ............................................................................... 33
2.2.2.2 Pola Aliran Sungai .................................................................... 35
2.2.2.3 Tipe Genetik Sungai .................................................................. 37
2.2.2.4 Stadia Sungai ............................................................................. 38

viii
2.2.3 Stadia Daerah Penelitian ........................................................... 42

BAB III STRATIGRAFI


3.1 Stratigrafi Regional ................................................................... 44
3.2 Stratigrafi Daerah Penelitian ..................................................... 47
3.2.1 Satuan Batugamping .................................................................. 48
3.2.1.1 Dasar Penamaan ........................................................................ 48
3.2.1.2 Penyebaran dan Ketebalan ........................................................ 49
3.2.1.3 Ciri Litologi ................................................................................ 49
3.2.1.4 Lingkungan Pembentukan dan Umur ........................................ 52
3.2.1.5 Hubungan Stratigrafi .................................................................. 55
3.2.2 Satuan Batupasir......................................................................... 55
3.2.2.1 Dasar Penamaan ........................................................................ 56
3.2.2.2 Penyebaran dan Ketebalan ........................................................ 56
3.2.2.3 Ciri Litologi ................................................................................ 57
3.2.2.4 Lingkungan Pengendapan dan Umur ......................................... 62
3.2.2.5 Hubungan Stratigrafi ................................................................. 65
3.2.3 Satuan Intrusi Basal Porfiri ........................................................ 66
3.2.3.1 Dasar Penamaan ........................................................................ 66
3.2.3.2 Penyebaran dan Ketebalan ........................................................ 67
3.2.3.3 Ciri Litologi ................................................................................ 67
3.2.3.4 Lingkungan Pengendapan dan Umur ......................................... 69
3.2.3.5 Hubungan Stratigrafi ................................................................. 70

BAB IV STRUKTUR GEOLOGI


4.1 Struktur Geologi Regional ........................................................ 71
4.2 Struktur Geologi Daerah Penelitian ........................................... 74
4.2.1 Struktur Lipatan ......................................................................... 75
4.2.2 Struktur Kekar ........................................................................... 77
4.2.3 Struktur Sesar ............................................................................. 81
4.2.3.1 Sesar Turun Marena ................................................................... 82
4.3 Mekanisme Struktur Geologi Daerah Penelitian ........................ 83

BAB V SEJARAH GEOLOGI ............................................................. 86

BAB VI BAHAN GALIAN


6.1 Keberadaan Potensi Bahan Galian di Daerah Penelitian .......... 88
6.2 Pemanfaatan Bahan Galian di Daerah Penelitian ...................... 90
6.2.1 Batugamping ............................................................................. 91

BAB VII PENUTUP


7.1 Kesimpulan ................................................................................. 94
7.2 Saran ................................................................................................. 95

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 96

ix
LAMPIRAN :

1. Deskripsi Petrografi
2. Deskripsi Fosil Foram Kecil
3. Deskripsi Fosil Foram Besar

LAMPIRAN LEPAS :

1. Peta Stasiun Pengamatan Geologi


2. Peta Geomorfologi
3. Peta Pola Aliran Sungai
4. Peta Kerangka Struktur Geologi
5. Peta Geologi
6. Peta Bahan Bahan Galian
7. Kolom Stratigrafi Daerah Penelitian
8. Kolom Stratigrafi

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
1.1 Peta Tunjuk Lokasi Daerah Penelitian ............................................. 3

1.2 Diagram Alir dan Metode Tahapan Penelitian ................................ 14

2.1 Peta Geomorfologi Tiga Dimensi daerah penelitian ........................ 19

2.2 Satuan Geomorfologi Pegunungan Denudasional dan satuan


Geomorfologi Pegunungan Karst pada stasiun 68 difoto kearah
N2700E ............................................................................................ 22

2.3 Pelapukan kimia yang menunjukkan perubahan warna pada


litologi Batupasir pada stasiun 73 difoto ke arah N42°E. ................ 23

2.4 Pelapukan kimia berupa yang menunjukkan pelapukan spheroidal


weathering pada litologi Batupasir pada stasiun 32 difoto ke arah
N276°E. ........................................................................................... 24

2.5 Pelapukan biologi pada litologi Batulempung pada stasiun 83


difoto ke arah N37°E ...................................................................... 24

2.6 Pelapukan pada litologi Batupasir pada stasiun 11 difoto ke arah


N53°E .............................................................................................. 25

2.7 Pelapukan pada litologi Batupasir pada stasiun 11 difoto ke arah


N53°E .............................................................................................. 26

2.8 Gully erosion pada litologi Batugamping pada stasiun 42 di desa


Lembong difoto ke arah N105°E .................................................... 26

2.9 Point bar pada litologi Basal Porfiri pada stasiun 19 di desa
Singkih difoto ke arah N345°E ........................................................ 27

2.10 Peta citra 3D dari Spheroidal whitering, Pelapukan biologi, debris


slide, Gully erosion dan point bar ................................................... 27

2.11 Satuan Geomorfologi Pegunungan Karst pada stasiun 02 pada desa


Loko difoto kearah N1260E ............................................................. 28

2.12 Pepino Hill pada stasiun 28 pada desa Dengen difoto kearah
N2720E ............................................................................................ 29

xi
2.13 Terra Rosa pada stasiun 34 pada desa Malimongan difoto kearah
N1930E ............................................................................................. 30

2.14 Travertin pada stasiun 3 pada desa Lokko difoto kearah N3460E .. 30

2.15 Lapies pada stasiun 35 diifoto dengan arah N302 0E dijumpai di


hamper semua permukaan batugamping pada daerh penelitian....... 31

2.16 Gua Pallasi stasiun 41 pada desa Dale difoto kearah N360E ........... 32

2.17 Peta citra 3D dari Pephino Hills, Terra Rosa, Travertin dan Gua
Pallasi .............................................................................................. 32

2.18 Salu Mataalo merupakan sungai permanen pada stasiun 53 dengan


arah aliran N 176oE, di Foto ke arah N183oE ................................. 34

2.19 Salu Dengen merupakan sungai Periodik pada stasiun 50 dengan


arah aliran N 152oE, di Foto ke arah N 163oE ................................ 35

2.20 Anak sungai Mataalo merupakan sungai episodik pada stasiun 51


dengan arah aliran N119oE, di Foto ke arah N123oE ...................... 35

2.21 Pola aliran sungai parallel yang berkembang pada daerah


penelitian .......................................................................................... 37

2.22 Aliran sungai yang searah dengan kemiringan perlapisan pada


litologi Batugamping pada stasiun 47 pada sungai Dengen di Foto
ke arah N289oE ................................................................................ 38

2.23 Profil lembah sungai “V” pada anak sungai Malimongan stasiun
33 difoto ke arah N102oE ................................................................. 40

2.24 Profil lembah sungai berbentuk “V-U” dijumpai pada sungai


Bunu, stasiun 51 difoto ke arah N 123oE ........................................ 40

2.25 Profil lembah sungai berbentuk “U” dijumpai pada sungai


Mataalo, stasiun 75 difoto ke arah N 193oE .................................... 41

2.26 Peta Citra 3D Posisi sungai daerah penelitian ................................. 41

3.1 Peta Lokasi daerah penelitian pada Peta Geologi lembar Majene
dan Palopo bagian Barat ................................................................. 46

3.2 Peta 3D Geologi daerah penelitian .................................................. 47

3.3 Singkapan Batugamping pada stasiun 37 daerah barat daya


Malimongan dengan arah foto N 3240E. ........................................ 50

xii
3.4 Kenampakan mikroskopis Grainstone pada stasiun 37 dengan kode
sayatan BF 37 BG, yang terdiri dari grain berupa foraminifera
besar (3J), mud berupa kalsite (1A), difoto dengan perbesaran
50X. ................................................................................................ 51

3.5 Singkapan Batupasir Karbonatan pada stasiun 14 daerah barat


Buttu Mataran dengan arah foto N460E. ........................................ 52

3.6 Kenampakan mikroskopis Quartzwacke pada stasiun 14 dengan


kode sayatan BF 14 BP, yang terdiri dari mineral kuarsa (6I) dan
material lempung (4C), difoto dengan perbesaran 50X. ................. 52

3.7 Kandungan fosil pada sayatan tipis satuan batugamping stasiun 66


dan 69. ............................................................................................ 54

3.8 Peta 3D Geologi Lokasi anggota satuan Batugamping. .................. 55

3.9 Singkapan Batupasir kuarsa pada stasiun 73 daerah timur Mampu


dengan arah foto N420E ................................................................. 58

3.10 Kenampakan mikroskopis Quartz Wacke pada stasiun 73 dengan


kode sayatan BF 73 BP,yang terdiri dari Kuarsa (1B) dan mineral
Opaq (1H), difoto dengan perbesaran 50X. .................................... 58

3.11 Singkapan Batupasir Karbonatan pada stasiun 77 Sangeran dengan


arah foto N2720E. ........................................................................... 59

3.12 Kenampakan mikroskopis Lithic Wacke pada stasiun 73 dengan


kode sayatan BF 77 BP,yang terdiri Kuarsa (4B), Orthoklas (1D),
mineral Opaq (2E) dan Material Lempung (3A), difoto dengan
perbesaran 50X ................................................................................ 60

3.13 Singkapan Batulempung Karbonatan pada stasiun 64 Timur


Manggungu dengan arah foto N70E. ............................................... 61

3.14 Kenampakan mikroskopis Mudrock yang pada stasiun 64 dengan


kode sayatan BF 64 BP, yang memperlihatkan Kuarsa (6I), dan
Material Lempung (4C), difoto dengan perbesaran 50X ................ 61

3.15 Peta 3D Geologi lokasi anggota satuan Batupasir. .......................... 62

3.16 kandungan fosil bentonik satuan batupasir .................................... 63

3.17 kandungan fosil plantonik satuan batupasir .................................... 65

3.18 Singkapan basal porfiri pada stasiun 16 daerah barat daya


Malimongan dengan arah foto N3560E. .......................................... 68

xiii
3.19 Kenampakan mikroskopis Porfiri Basalt pada stasiun 16 dengan
kode sayatan BF 66 BB, yang memperlihatkan Plagioklas (1A),
Piroksin (G1), Mineral Opak (3C), Massa Dasar Gelas (6F) dan
Mikrokristalin (4J), difoto dengan perbesaran 50X. ....................... 69

3.20 Peta 3D Geologi lokasi anggota satuan intrusi basal porfiri. .......... 69

4.1 Peta geologi Sulawesi dan tatanan tektoniknya (Hall & Wilson,
2000) ............................................................................................... 73

4.2 Peta garis struktur geologi dan kedudukan batuan yang


menunjukan adanya kedudukan yang saling membelakangi sebagai
indikasi lipatan antiklin. .................................................................. 76

4.3 Rekonstruksi lipatan pada derah penelitian dengan sayatan geologi


A-B menggunakan interpolasi Higgins (1962). ............................... 77

4.4 Kekar sistematis pada litologi Batupasir pada stasiun 73 difoto ke


arah N 42oE ..................................................................................... 79

4.5 Proyeksi stereografi berdasarkan data kekar pada litologi batupasir


pada stasiun 73 di daerah Barat Mampu. ........................................ 80

4.6 Breksi sesar pada litologi batugamping stasiun 27 difoto ke arah


N183oE ............................................................................................ 83

4.7 Mekanisme terjadinya sesar berdasarkan Model Reidel dalam


Mc.Clay (1987) ............................................................................... 84

4.8 Mekanisme pembentukan struktur geologi daerah penelitian,


menunjukkan gaya kompresi yang berarah Barat laut – Tenggara. . 85

6.1 Potensi bahan galian Batugamping pada stasiun 40 daerah Dale,


difoto ke arah N306°E dan N30°E .................................................. 92

6.2 Peta 3D Citra lokasi potensi bahan galian daerah penelitian .......... 93

xiv
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1.1 Klasifikasi Wentworth (1922).......................................................... 8

1.2 Klasifikasi Fenton (1940) ................................................................ 9

1.3 Klasifikasi Dunham (1962) .............................................................. 11

1.4 Klasifikasi WTG (1982) .................................................................. 11

1.5 Klasifikasi R. B Travis (1955) ......................................................... 12

3.1 Penentuan lingkungan pengendapan Satuan batugamping dengan


menggunakan klasifikasi lingkungan pengendapan oleh
Boltovskoy and Wright (1976). ...................................................... 54

3.2 Penentuan umur Satuan batugamping dengan menggunakan


klasifikasi huruf Foraminifera besar di Indonesia (P. Bauman,
1971). .............................................................................................. 55

3.3 Penentuan lingkungan pengendapan Satuan batupasir dengan


menggunakan klasifikasi lingkungan pengendapan oleh
Boltovskoy and Wright (1976). ...................................................... 63

3.4 Penentuan umur Satuan batupasir dengan menggunakan Range


Chart Miosen Foraminifera Kecil. .................................................. 64

4.1 Data pengukuran kekar pada batupasir pada stasiun 73 ................. 79

xv
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ilmu geologi sebagai ilmu dan teknologi semakin dirasakan peranannya -

seiring perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan yang mampu menciptakan

berbagai fasilitas demi kenyamanan, kemudahan dan kualitas hidup manusia, oleh

karena itu pengembangan sumber daya alam dan pengembangan kualitas sumber

daya manusia harus terus ditingkatkan. Dalam hal ini geologi sebagai ilmu

pengetahuan dan teknologi sangat diperlukan sebagai dasar untuk mengolah dan

memanfaatkan sumber daya alam.

Pada saat ini aspek yang paling berperan dalam kelangsungan pembangunan

daerah adalah sumber daya alam non hayati (sumber daya mineral dan energi),

dimana di Indonesia sumber daya alam non hayati ini masih merupakan

penyumbang terbesar bagi peningkatan pembangunan daerah dan kemajuan

perekonomian daerah. Oleh sebab itu penelitian–penelitian yang menyangkut

sumber daya alam ini harus ditingkatkan, baik untuk eksplorasi maupun

inventarisasi.

Di Sulawesi Selatan penelitian–penelitian yang menyangkut sumber daya

alam ini telah banyak dilakukan oleh para peneliti, tapi umumnya masih dalam

lingkup yang regional. Untuk penyediaan data-data yang lebih detail dalam sekala

lokal, perlu dilakukan penelitian geologi di setiap daerah. Atas dasar itulah penulis

tertarik untuk melakukan penelitian pada daerah Bunggawai dan sekitarnya


2

Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan untuk

menampilkan data-data dengan skala lokal, yang mencakup beberapa aspek telitian

geologi (geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi,dan bahan galian) guna

mengetahui proses pembentukan tatanan geologi dan sejarah pembentukan dari

daerah penelitian.

1.2 Maksud dan Tujuan

Penelitian geologi yang dilakukan dimaksudkan untuk melakukan pemetaan geologi

permukaan guna mendapatkan data-data dan informasi geologi dengan menggunakan peta

berskala 1 : 25.000.

Adapun tujuan penelitian geologi ini adalah untuk mengetahui kondisi geologi

daerah penelitian yang meliputi aspek-aspek geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi,

sejarah geologi, dan potensi bahan galian pada Daerah Bunggawai dan sekitarnya

Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan.

1.3 Batasan Masalah

Penelitian geologi ini dilakukan dengan membatasi masalah pada penelitian geologi

permukaan yang berdasarkan aspek- aspek geologi dan terpetakan pada sekala 1 : 25.000.

Aspek- aspek geologi tersebut mencakup geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi,

sejarah geologi, dan potensi bahan galian pada daerah penelitian.

1.4 Letak, Luas dan Kesampaian Daerah

Secara administratif daerah penelitian termasuk dalam daerah Bunggawai

Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan (Gambar 1.1).

Secara geografis daerah ini terletak pada 119o45’00” - 119o49’00” Bujur Timur dan
3

0320’00” - 0324’00” Lintang Selatan. Daerah ini terpetakan dalam Peta Rupa Bumi

Indonesia Skala 1 : 50.000 Lembar Belajen 2012 – 62 Edisi 1 tahun 1991, terbitan Badan

Kordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal).

Daerah penelitian mencakup wilayah 4’ x 4’ dengan luas sekitar ±54,6 km2. Untuk

menuju daerah penelitian dapat dicapai dengan menggunakan jalur darat berupa kendaraan

roda dua ataupun roda empat. Jarak tempuh dari kota Makassar ke lokasi penelitian sekitar

250 km dengan waktu tempuh sekitar tujuh (7) jam perjalanan dengan menggunakan

sepeda motor dari Kota Makassar.

Gambar 1.1 Peta Tunjuk Lokasi Penelitian


4

1.5 Metode dan Tahapan Penelitian

1.5.1 Metode Penelitian

Maksud dan tujuan dari penelitian akan tercapai jika tahapan dan metode penelitian

dilakukan secara terencana dan sistematis sehingga penelitian dapat berjalan sesuai dengan

apa yang diinginkan dan memberikan hasil yang maksimal. Secara garis besar metode dan

tahapan penelitian dapat dilihat pada diagram alir (Gambar 1.2).

Metode yang digunakan dalam penelitian lapangan adalah metode orientasi lapangan

dan pemetaan geologi permukaan dengan cara pengamatan yaitu melihat secara langsung

di lapangan dan di laboratorium.

1.5.2 Tahapan Penelitian

Untuk melakukan penelitian yang sistematis dan terencana maka metode penelitian

secara umum dibagi dalam enam tahapan yaitu tahap persiapan, tahap pemerolehan data,

pengolahan data, analisis dan interpretasi data, tahap penyusunan dan presentasi laporan.

Secara rinci keenam tahapan tersebut adalah sebagai berikut :

1.5.2.1. Tahap Persiapan

Tahap persiapan yang dilakukan sebelum penelitian lapangan terdiri dari :

1. Pengurusan administrasi, meliputi pembuatan proposal penelitian guna

mendapat surat izin legalitas penelitian, terdiri atas pengurusan perizinan kepada

pihak Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin,

Pemerintahan Provinsi melalui sub bagian BKPMD Provinsi Sulawesi Selatan,


5

Pemerintah Daerah melalui sub bagian Kesbang Kabupaten Enrekang, dan

Pemerintah Daerah Tingkat Kecamatan Anggeraja.

2. Studi pustaka, bertujuan untuk mengetahui kondisi – kondisi geologi daerah penelitian

dari literatur ataupun tulisan – tulisan ilmiah yang berisi tentang hasil penelitian

terdahulu, termasuk interpretasi awal dari peta topografi untuk mendapatkan gambaran

tentang kondisi geologi daerah penelitian.

3. Persiapan perlengkapan lapangan meliputi pengadaan peta dasar, persiapan peralatan

lapangan dan rencana kerja. Peta yang digunakan pada penelitian ini adalah peta

dengan skala 1 : 25.000 dimana jarak antar stasiun pengamatan geologi lebih kurang

berjarak 250 meter di lapangan atau sama dengan 1 cm di peta. Pembuatan lintasan

pengambilan data diusahakan tegak lurus jurus lapisan batuan, dengan harapan agar

jenis litologi yang dijumpai tidak sama. Kedudukan batuan diukur dengan

menggunakan kompas brunton, pengambilan contoh batuan dilakukan dengan

menggunakan palu geologi.

1.5.2.2. Tahap Pengambilan Data

Sebelum melakukan pemetaan detail, terlebih dahulu dilakukan orientasi lapangan.

Kemudian pengambilan data lapangan dengan menggunakan peta topografi skala 1 :

25.000 dengan aspek penelitian mencakup geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi,

sejarah geologi serta potensi bahan galian daerah penelitian. Kegiatan pemerolehan data

terdiri atas pemetaan pendahuluan, pemetaan detail dan pengecekan ulang. Hal ini

dimaksudkan untuk mendapatkan data lapangan secara deskriptif dan sistematis.

1. Pemetaan Pendahuluan, yaitu pemetaan dengan melakukan orientasi lapangan

untuk mengetahui kondisi lapangan pada daerah penelitian, serta lintasan yang
6

akan dilalui untuk mendapatkan data yang akurat dengan memanfaatkan waktu

seefisien mungkin.

2. Pemetaan Detail, yaitu pemetaan dengan melakukan pengamatan dan

pengambilan data langsung di lokasi penelitian, yang meliputi :

a. Pengamatan dan pengambilan data serta penentuan lokasi pada peta dasar

sekala 1 : 25.000 yang disesuaikan dengan kondisi medan dan kondisi

singkapan.

b. Pengamatan dan pengukuran terhadap aspek-aspek geomorfologi seperti:

relief (bentuk puncak, bentuk lembah dan keadaan lereng), pelapukan (jenis

dan tingkat pelapukan), soil (warna, jenis dan tebal soil), erosi (jenis dan

tingkat erosi), gerakan tanah, sungai (jenis sungai, arah aliran, bentuk

penampang dan pola aliran sungai serta pengendapan yang terjadi), tutupan

dan tataguna lahan.

c. Pengamatan unsur-unsur geologi untuk penentuan stratigrafi daerah

penelitian, antara lain meliputi kondisi fisik singkapan batuan yang diamati

langsung di lapangan dan hubungannya terhadap batuan lain di sekitarnya,

dan pengambilan contoh batuan yang dapat mewakili tiap satuan untuk

analisis petrografi dan mikropaleontologi.

d. Pengamatan dan pengukuran terhadap unsur-unsur struktur geologi yang

meliputi kedudukan batuan, kekar, dan lain-lain.

e. Pengamatan potensi bahan galian yang terdapat di daerah penelitian, serta

data pendukung lainnya seperti keberadaan bahan galian, jenis dan

pemanfaatan bahan galian.


7

f. Pengambilan data dokumentasi, berupa foto dan sketsa lapangan.

1.5.2.3. Tahap Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan untuk mengolah data-data yang diperoleh di lapangan

untuk analisis dan interpretasi lebih lanjut dan lebih spesifik tentang kondisi geologi yang

mencakup aspek geomorfologi, stratigrafi, dan struktur geologi pada daerah penelitian.

Tahap pengolahan dan analisis data geologi terdiri dari :

1. Pengolahan data geomorfologi, antara lain :

 Relief, meliputi beda tinggi rata-rata, bentuk lembah, bentuk puncak,

keadaan lereng.

 Tingkat pelapukan, jenis pelapukan, jenis material, jenis erosi, tipe erosi.

 Soil, meliputi jenis soil, warna, ketebalan.

 Sungai, meliputi arah aliran sungai, kedudukan batuan di sungai, profil

sungai, gradien sungai, dan endapan sungai.

2. Pengolahan data stratigrafi, antara lain :

 Deskripsi batuan, meliputi warna, tekstur, struktur, komposisi mineral, jenis

batuan, dan nama batuan. Penamaan batuan secara megaskopis dengan

menggunakan klasifikasi Wenworth (1922) untuk batuan sedimen dan

klasifikasi Fenton (1940) untuk batuan beku.


8

Tabel 1.1 Klasifikasi Wenworth (1922)


UKURAN NAMA BATUAN

(mm) NAMA BUTIR MEMBUNDAR MENYUDUT

(rounded) (angular)

KONGLOMERAT BREKSI
BONGKAH
BONGKAH BONGKAH
256
KONGLOMERAT BREKSI

BREKSI ROMBAKAN
BERANGKAL
KERIKIL (gravel) BERANGKAL BERANGKAL
64
KONGLOMERAT BREKSI
KERAKAL
KERAKAL KERAKAL
4
KONGLOMERAT BREKSI
BUTIRAN
BUTIRAN BUTIRAN
2
PASIR SANGAT
BATUPASIR SANGAT KASAR
KASAR
1

PASIR KASAR BATUPASIR KASAR

1/2
PASIR (sand)

PASIR SEDANG BATUPASIR SEDANG

1/4

PASIR HALUS BATUPASIR HALUS

1/8
PASIR SANGAT
PATUPASIR SANGAT HALUS
HALUS
1/16
LANAU
BATULANAU
LUMPUR (mud)

(silt)
1/256
LEMPUNG
BATULEMPUNG / SERPIH (shale)
(clay)
9

Tabel 1.2 Klasifikasi Fenton (1940)

 Koreksi dip diperoleh dari pembuatan sayatan A-B pada peta geologi

melalui rumus, sebagai berikut :

Tan α = tan dip x sin β

Keterangan :

Tan a : Koreksi dip


Sin β : Sudut terkecil yang diperoleh dari garis sayatan dan strike batuan
(Bearing)
 Penampang geologi diperoleh dari pembuatan garis sayatan A-B yang

mewakili satuan batuan

 Ketebalan diperoleh dari nilai koreksi dip yang di plot dalam penampang

geologi melalui rumus, sebagai berikut :

t = Panjang batas litologi pada penampang x skala peta

Keterangan :

t : ketebalan (m)
Sekala peta (1 : 25.000)
3. Pengolahan data struktur, antara lain :
10

 Pengolahan data kekar dengan menggunakan metode stereonet.

4. Pengolahan data bahan galian, antara lain :

 Jenis dan keterdapatan bahan galian di daerah penelitian.

1.5.2.4. Tahap Analisis dan Interpretasi Data

Data-data dari lapangan selanjutnya diolah untuk analisis dan interpretasi lebih lanjut

mencakup aspek geomorfologi, aspek stratigrafi dan aspek struktur geologi. Pengerjaan

analisa data lapangan tersebut mencakup :

1. Analisa geomorfologi, meliputi tipe morfologi, jenis gerakan tanah, jenis sungai, pola

aliran sungai, tipe genetik sungai, stadia sungai. Data ini digunakan untuk analisa

terhadap pembagian satuan geomorfologi serta stadia daerah penelitian.

2. Analisa stratigrafi, pengolahan data ini bertujuan untuk pembagian satuan batuan,

pembuatan kolom stratigrafi tak terskalakan serta penentuan lingkungan

pembentukan satuan batuan tersebut.

Analisa stratigrafi terdiri dari :

 Analisa petrografi dimaksudkan untuk melihat kenampakan mikroskopis sayatan tipis

batuan yang bertujuan untuk mengetahui secara terperinci tekstur dan komposisi

mineral penyusun batuan sekaligus memastikan penamaan batuan sehingga dapat

membantu dalam menafsirkan genesa batuan tersebut. Penamaan batuan secara

mikroskopis menggunakan klasifikasi Dunham (1962) dan WTG (1982) untuk batuan

sedimen, serta Travis (1955) untuk batuan beku..


11

Tabel 1.3 Klasifikasi Dunham (Dunham, 1962)

Tabel 1.4 Klasifikasi WTG 1982 (Pettijohn, 1975)


12

Tabel 1.5 Klasifikasi R. B Travis (Travis, 1955)

 Analisa mikropaleontologi dilakukan untuk mengetahui kandungan fosil pada batuan

sehingga dapat dilakukan penafsiran umur relatif batuan dan lingkungan

pengendapannya.

3. Analisa struktur geologi, meliputi identifikasi ciri – ciri struktur geologi, hasil

pengolahan data kekar dan kedudukan batuan. Data ini digunakan untuk

mengidentifikasi jenis struktur dan mekanisme pembentukan struktur geologi yang ada

pada daerah penelitian.

4. Analisa bahan galian, pengolahan data ini bertujuan untuk menentukan potensi bahan

galian.
13

1.5.2.5. Tahap Penyusunan dan Presentasi Laporan

Hasil akhir dari penyusunan laporan ini berupa peta geologi meliputi aspek

geomorfologi, stratigrafi, dan struktur geologi pada daerah penelitian.

1. Peta geomorfologi, memuat informasi geomorfologi hasil dari pengolahan, analisis

dan interpretasi data berdasarkan pendekatan morfografi dan morfogenesa. Ada pula

peta pola aliran dan tipe genetik sungai yang dibuat berdasarkan interpretasi dari data

sungai yang ada.

2. Kolom stratigrafi, interpretasi yang dilakukan merupakan kompilasi dari data-data

dalam kolom stratigrafi yang terdiri dari formasi, satuan, tebal, deskripsi litologi,

lingkungan pembentukan dan pengendapan hingga dapat menjelaskan urutan

pembentukan satuan batuan.

3. Peta struktur geologi, interpretasi yang dilakukan merupakan hasil dari penciri primer

dan sekunder dari data lapangan hingga bisa menggambarkan

mekanisme struktur yang terjadi di daerah penelitian.

4. Peta bahan galian, memuat informasi mengenai bahan galian dan keterdapatannya di

daerah penelitian.

5. Peta geologi merupakan interpretasi akhir, yaitu data yang telah diinterpretasi pada

peta geomorfologi, kolom stratigrafi dan peta struktur geologi dijadikan acuan dalam

penarikan kesimpulan mengenai kondisi geologi daerah penelitian.

Tahap ini merupakan tahap akhir dari kegiatan penelitian. Selama penyusunan

laporan dilakukan pengoreksian dan pengecekan ulang terhadap semua data dan hasil

analisa yang kemudian dituangkan menjadi suatu laporan ilmiah yang memuat semua data

lapangan, hasil analisa dan interpretasi secara sistematik berupa uraian deskriptif maupun

gambar/ foto dan peta dan dipresentasikan dalam bentuk ujian seminar pemetaan.
14

Gambar 1.2 Diagram Alir Metode dan Tahapan Penelitian


15

1.5 Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang akan digunakan selama kegiatan penelitian ini terbagi dalam

dua kategori yakni alat yang digunakan pada saat di lapangan dan alat yang digunakan pada

saat analisa laboratorium:

Alat yang digunakan pada saat di lapangan adalah sebagai berikut:

1. Peta Topografi bersekala 1 : 25.000 yang merupakan hasil perbesaran dari peta

rupa bumi sekala 1 : 50.000 terbitan Bakosurtanal Edisi I tahun 1991.

2. Global Positioning System (GPS tipe Garmin Etrex 10)

3. Laptop

4. Kompas geologi tipe brunton

5. Palu geologi

6. Loupe dengan pembesaran 10 x

7. Buku catatan lapangan

8. Kamera digital 16 MP

9. Larutan HCl ( 0,1 M )

10. Pita Meter/Roll Meter

11. Komparator

12. Kantung sampel

13. Alat tulis menulis

14. Busur

15. Penggaris

16. Clipboard

17. Ransel lapangan

18. Perlengkapan pribadi


16

Sedangkan alat dan bahan yang akan digunakan selama analisis laboratorium

adalah sebagai berikut :

1. Mikroskop binokuler untuk analisis fosil

2. Mikroskop polarisasi untuk analisis petrografi

3. Ayakan (Mesh 100)

4. Sayatan tipis batuan

5. Alat tulis-menulis dan gambar

6. Tabel Michael Levy

7. Album Mineral Optik

8. Foto sayatan tipis

9. Kamera digital 12 MP

10. Literatur

1.6 Peneliti Terdahulu

Ada beberapa ahli geologi telah melakukan penelitian geologi di daerah ini baik

secara lokal maupun regional. Hasil penelitian geologi yang dijadikan acuan dalam

penelitian ini antara lain :

1. Van Bemmelen (1949), yang meneliti tentang evolusi Zaman Tersier dan

Kwarter Sulawesi bagian Selatan dan membahas potensi bahan galian yang

ada di Sulawesi .

2. Sukamto dan Simanjuntak (1983), meneliti tentang perkembangan daerah

Sulawesi dan sekitarnya yang ditinjau dari aspek geomorfologi

3. Djuri, Sudjatmiko, S. Bachri dan Sukido (1998) yang meneliti tentang

Geologi Lembar Majene dan Bagian Barat Lembar Palopo, Sulawesi Selatan.
17

BAB II
GEOMORFOLOGI

Pada hakekatnya geomorfologi dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang roman

muka bumi beserta aspek-aspek yang mempengaruhinya. Kata Geomorfologi

(Geomorphology) berasal bahasa Yunani, yang terdiri dari tiga kata yaitu: Geos

(erath/bumi), morphos (shape/bentuk), logos (knowledge atau ilmu pengetahuan).

Berdasarkan dari kata-kata tersebut, maka pengertian geomorfologi merupakan

pengetahuan tentang bentuk-bentuk permukaan bumi.

Dalam mendiskripsi dan menafsirkan bentuk-bentuk bentangalam (landform atau

landscapes) ada tiga faktor yang diperhatikan dalam mempelajari geomorfologi, yaitu:

struktur, proses dan stadia. Ketiga faktor tersebut merupakan satu kesatuan dalam

mempelajari geomorfologi (Lobeck, 1939, terjemahan Djauhari Noor,2010:1).

2.1 Geomorfologi Regional

Geomorfologi regional daerah penelitian termasuk dalam Peta Geologi

Lembar Majene dan Bagian Barat Lembar Palopo, Sulawesi pada koordinat

118o45’00” – 120o30’00” Bujur Timur dan 3o00’00” – 4o00’00” Lintang Selatan

yang meliputi daerah Pare–Pare, Sidrap, Wajo, Pinrang, Enrekang, Luwu, Palopo

dan Tana Toraja, yang termasuk dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan serta

Majene, Polmas dan Mamasa, yang termasuk dalam wilayah Provinsi Sulawesi

Barat. Lembar peta geologi ini berbatasan dengan Lembar Mamuju di bagian utara,

Lembar Pangkajene dan Watampone Bagian Barat di bagian selatan, Selat

Makassar di bagian barat dan Teluk Bone di bagian timur (Djuri dan Sudjatmiko,

1974 ; Djuri dkk, 1998). Daerah penelitian juga termasuk dalam wilayah Peta
18

Geologi Lembar Belajen, Sulawesi dengan koordinat 119o45’00” – 119o49’00”

Bujur Timur dan 3o20’00” – 3o24’00” Lintang Selatan meliputi daerah Sidrap,

Enrekang dan Pinrang yang termasuk dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan

(Sukido dkk, 1997 dalam Djuri dkk, 1998).

Sukido dkk, 1997 dalam Djuri dkk, 1998 membagi satuan geomorfologi

daerah penelitian yang terdiri dari dataran rendah (plain area), perbukitan

bergelombang (rolling hills) dan pegunungan (mountainous). Daerah dataran

rendah menempati bagian barat yang memanjang hingga bagian tenggara daerah

penelitian. Sedangkan daerah perbukitan bergelombang umumnya menempati

bagian tengah dan timur daerah penelitian, serta sedikit dibagian selatan. Daerah

pegunungan menyusun bagian utara hingga timur laut daerah penelitian.

Sebagian pegunungan ini terbentuk oleh batuan gunung api dengan ketinggian

rata-rata 1500 m dari permukaan laut ke arah timur rangkaian pegunungan ini relatif

menyempit dan lebih rendah dengan morfologi bergelombang lemah sampai kuat. Di

bagian pesisir timur yang berbatasan dengan Teluk Bone merupakan dataran rendah, secara

umum disusun oleh alluvium.

2.2 Geomorfologi Daerah Penelitian

Geomorfologi daerah penelitian membahas mengenai kondisi geomorfologi

daerah Bunggawai dan sekitarnya Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang Provinsi

Sulawesi Selatan, kondisi ini meliputi pembagian satuan geomorfologi, analisis sungai,

berupa jenis sungai, pola aliran sungai, klasifikasi sungai, tipe genetik sungai, serta stadia

sungai yang terdapat pada daerah penelitian yang akhirnya dapat diketahui stadia daerah

penelitian. Pembahasan mengenai geomorfologi daerah penelitian ini berdasarkan atas

kondisi geologi yang dijumpai di lapangan, interpretasi peta topografi, studi literatur yang
19

mengacu pada teori dari beberapa ahli yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu

kesimpulan mengenai stadia daerah penelitian.

Gambar 2.1 Peta Geomorfologi Tiga Dimensi daerah penelitian

2.2.1 Satuan Geomorfologi

Geomorfologi banyak didefinisikan oleh para ahli geomorfologi dalam

bukunya. Menurut A.K. Lobeck (1939), geomorfologi didefinisikan sebagai studi

tentang bentuk lahan. Geomorfologi juga didefinisikan sebagai ilmu tentang bentuk

lahan (Thornbury, 1969). Sedangkan menurut Van Zuidam (1985), geomorfologi

didefinisikan sebagai studi yang mendeskripsi bentuk lahan dan proses serta

mencari hubungan antara bentuk lahan dan proses dalam susunan keruangannya.

Adapula pendapat dari Djauhari (2001) bahwa bentang alam (landscape) itu sendiri

merupakan panorama alam yang disusun oleh elemen–elemen geomorfologi yang


20

lebih luas. Sedangkan bentuk lahan (landforms) adalah kompleks fisik permukaan

ataupun dekat permukaan suatu daratan yang dipengaruhi oleh kegiatan manusia.

Pembentukan geomorfologi dari suatu daerah merupakan hasil akhir dari

proses geomorfologi yang disebabkan oleh gaya endogen dan eksogen.

Geomorfologi tersebut mempunyai bentuk yang bervariasi dan dapat

diklasifikasikan berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor

tersebut meliputi proses, stadia, jenis litologi serta pengaruh struktur geologi atau

tektonik yang bekerja.

Pembagian satuan geomorfologi serta analisis kondisi geomorfologi pada

daerah penelitian digunakan beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan

suatu geomorfologi. Faktor tersebut adalah proses-proses geomorfologi, stadia dan

jenis batuan penyusun daerah tersebut, serta struktur geologi (Thornbury, 1969).

Salah satu proses geomorfologi adalah pelapukan. Pelapukan adalah proses

berubahnya batuan menjadi tanah (soil) baik oleh proses fisik atau mekanik

(disintegrasi) maupun oleh proses kimia (decomposition).

Pengelompokan morfologi menjadi satuan-satuan geomorfologi daerah

penelitian dilakukan melalui dua pendekatan yaitu morfogenesa dan morfografi.

Pendekatan morfogenesa (genetik) yaitu berdasarkan asal-usul pembentukan yang

dikontrol oleh proses eksogen, proses endogen serta proses ekstra terrestrial

(Thornbury,1969). Proses endogen ini meliputi vulkanisme, pembentukan

pegunungan lipatan, patahan yang cenderung untuk bersifat membangun (bersifat

konstruktif), sedangkan proses eksogen meliputi erosi, abrasi, gerakan tanah,

pelapukan (kimia, fisika, biologi), serta campur tangan manusia yang cenderung
21

bersifat merusak (bersifat destruktif).

Pendekatan morfografi (bentuk) yaitu pengelompokkan bentangalam yang

didasarkan pada bentuk permukaan bumi yang tampak di lapangan berupa topografi

pedataran, bergelombang miring, bergelombang landai, perbukitan dan pegunungan.

Adapun aspek aspek ini perlu memperhatikan parameter dari setiap topografi seperti bentuk

puncak, bentuk lembah dan bentuk lereng (Van Zuidam, 1985).

Berdasarkan pendekatan tersebut maka daerah Bunggawai dan sekitarnya

Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan dapat dibagi

menjadi dua satuan geomorfologi yaitu :

1. Satuan Geomorfologi Pegunungan Denudasional

2. Satuan Geomorfologi Pegunungan Karst

2.2.1.1 Satuan Geomorfologi Pegunungan Denudasional

Satuan geomorfologi ini menempati wilayah dengan luas sekitar 36.61 km2

atau sekitar 59.72 % dari luas keseluruhan daerah penelitian. Penyebaran satuan ini

menempati bagian Timur, Tengah dan Barat daerah penelitian yang memanjang

dari Timur Laut hingga ke Tenggara dan memanjang dari Barat Laut hingga ke

Barat Daya, meliputi desa Tooleh, Dedekan, Tobanga, Kalimbua, Tumonga,

Sangeran, Dengen, Mampu, Malimongan, Bunu, Lembong, Marena, Bunggawai,

Sosok, Belalang, Manggugu, Salulecu, Paroppo, Kampungbaru dan Singkih. Pada

bagian Barat Laut hingga ke Barat Daya terdiri dari puncak Buttu Poccon dan Buttu

Purusan.
22

Gambar 2.2 Satuan Geomorfologi Denudasional dan satuan Geomorfologi


Karst pada stasiun 68 difoto kearah N270 0E

Satuan geomorfologi ini berada pada ketinggian antara 375-1360 meter diatas

permukaan laut dengan kemiringan lereng yang relatif terjal dengan beda tinggi ± 985

meter. Kenampakan topografi dari satuan ini memberikan gambaran pola kontur yang

relatif renggang, ditandai dengan bentuk puncak yang tumpul, bentuk lereng landai sebagai

akibat dari proses denudasional. Satuan geomorfologi yang tersusun oleh litologi

batugamping, batulempung karbonatan, batupasir karbonatan, batupasir kuarsa dan basal

porfiri. Proses geomorfologi yang mengontrol di daerah ini berupa pelapukan, erosi,

gerakan tanah dan sedimentasi. Berdasarkan karakteristik dan proses geomorfologi yang

dominan bekerja maka satuan geomorfologi ini merupakan satuan geomorfologi

pegunungan denudasional.
23

Gambar 2.3 Pelapukan kimia yang menunjukkan perubahan warna pada


litologi Batupasir pada stasiun 73 difoto ke arah N42°E.

Air mempunyai peran utama dalam pelapukan kimiawi sedangkan peran

utama dalam reaksi-reaksi kimia sebagai medium yang mentransportasikan unsur-

unsur yang ada di atmosfir langsung ke mineral-mineral pada batuan dimana reaksi

dapat berlangsung. Air juga memindahkan hasil pelapukan sehingga tersingkap

sebagai batuan segar. Kecepatan dan derajat pelapukan kimia sangat dipengaruhi

oleh curah hujan. Proses pelapukan kimia kadang-kadang diikuti juga oleh

pelapukan mekanik. Proses ini dapat terjadi pada batuan yang telah mengalami

rekahan yang teratur dan pelapukan kimia terjadi melalui rekahan tersebut.

Fragmen batuan yang mengalami pelapukan akan terlepas dari batuan induknya

melalui bidang yang membundar (spherical). Di lokasi penelitian dijumpai

spheroidal weathering pada Batulempung (Gambar 2.4) sekitar 75 cm dari stasiun

32.
24

Gambar 2.4 Pelapukan kimia berupa yang menunjukkan pelapukan


spheroidal weathering pada litologi Batupasir pada stasiun 32
difoto ke arah N276°E.

Pelapukan biologi juga ditemukan pada litologi Batulempung di daerah Kalimbua

ditandai dengan adanya pertumbuhan akar pohon atau aktivitas organisme lainnya melalui

bidang-bidang lemah batuan dan memberikan tekanan yang pada akhirnya batuan akan

mengalami disintegrasi (Gambar 2.5).

Gambar 2.5 Pelapukan biologi pada litologi Batulempung pada stasiun 83


difoto ke arah N37°E.
25

Tingkat pelapukan pada daerah penelitian relatif sedang sampai tinggi, yang dapat

dilihat dari ketebalan soil sekitar 1 - 2,4 meter (Gambar 2.6). Jenis soil secara umum

merupakan jenis residual soil yang terbentuk dari hasil lapukan batuan yang ada

dibawahnya.

Gambar 2.6 Pelapukan pada litologi Batupasir pada stasiun 11 difoto ke arah
N53°E.

Kondisi geomorfologi yang relatif terjal menyebabkan banyak dijumpai

bidang/alur gully erosion yang berperan juga sebagai bidang rayapan, dimana material

lepas yang terkikis oleh air hujan, terangkut dan terakumulasi kemudian melewati alur-alur

erosi sehingga memungkinkan potensi gerakan tanah lebih tinggi. Pada Gambar 2.7

dibawah, menunjukkan gerakan tanah yang teridentifikasi sebagai debris slide yaitu

gerakan tanah melalui bidang gelincir dengan material yang bergerak tersusun atas material

tak terkonsolidasi yang terdiri dari tanah, material berukuran pasir hingga kerakal.
26

Gambar 2.7 Debris slide pada litologi Batupasir di anak sungai Dengen pada
stasiun 31 difoto ke arah N105°E.

Jenis erosi yang berkembang pada daerah penelitian berupa erosi saluran

(gully erosion). Gully erosion merupakan erosi berbentuk saluran dengan ukuran

lebar lebih dari 1 meter hingga beberapa meter (Djauhari,2010), berada sekitar 15

meter dari stasiun 42 (Gambar 2.8).

Gambar 2.8 Gully erosion pada litologi Batugamping pada stasiun 42 di desa
Lembong difoto ke arah N105°E.
27

Proses sedimentasi yang ada pada satuan morfologi ini berupa endapan

sungai seperti point bar (Gambar 2.9). Material penyusun point bar yaitu bongkah-

brangkal.

Gambar 2.9 Point bar pada litologi Basal Porfiri pada stasiun 19 di desa
Singkih difoto ke arah N345°E.

Gambar 2.10 Peta citra 3D dari Spheroidal whitering, Pelapukan biologi,


debris slide, Gully erosion dan point bar.
28

2.2.1.1 Satuan Geomorfologi Karst

Satuan geomorfologi ini menempati wilayah dengan luas sekitar 21.95 km2

atau sekitar 40.28 % dari luas keseluruhan daerah penelitian. Penyebaran satuan ini

menempati bagian Utara, sebagian Tengah dan Selatan daerah penelitian yang

memanjang dari Utara hingga ke Selatan, meliputi desa Karangka dan Lokko. Pada

bagian Utara hingga ke Selatan terdiri dari puncak Buttu Pekalobean, Buttu Sipate,

Buttu Mattaran dan Buttu Batutedena.

Gambar 2.11 Satuan Geomorfologi Karst pada stasiun 02 pada desa Loko difoto
kearah N1260E

Satuan geomorfologi ini berada pada ketinggian antara 700-1645 meter diatas

permukaan laut dengan kemiringan lereng yang relatif terjal dengan beda tinggi ± 945

meter. Kenampakan topografi dari satuan ini memberikan gambaran pola kontur yang

relatif rapat, ditandai dengan bentuk puncak yang lancip, bentuk lereng terjal sebagai akibat

dari proses pelarutan batugamping yang dominan. Satuan geomorfologi yang tersusun oleh

litologi batugamping. Karst adalah istilah pada area batugamping yang memiliki suatu
29

topografi dengan ciri khas yang dipengaruhi pelarutan dari permukaan hingga ke bawah

permukaan (Thonbury,1969:316). Proses geomorfologi yang mengontrol di daerah ini

berupa pelarutan oleh air meteorit dan sirkulasi air bawah permukaan. Berdasarkan

karakteristik dan proses geomorfologi yang dominan bekerja maka satuan geomorfologi

ini merupakan satuan geomorfologi pegunungan karst.

Beberapa penciri dari proses geomormologi Karst yaitu Pepino Hill atau Tebing-

Tebing Kerucut. Morfologi Pepino Hill adalah bentangalam perbukitan yang tersusun dari

batugamping yang berbentuk kerucut batugamping (Djauhari 2010:66).

Gambar 2.12 Pepino Hill pada stasiun 28 pada desa Dengen difoto kearah
N2720E

Pada daerah penelitian dijumpai Terra Rosa. Terra Rosa yaitu residu hasil

pelarutan permukaan umumnya berwarna merah, soil berukuran lempung yang kadang

mengisi bukaan rekahan batugamping (Thonbury, 1969:319). Terra Rosa dijumpai pada

stasiun 34 desa Malimongan (Gambar 2.13).


30

Gambar 2.13 Terra Rosa pada stasiun 34 pada desa Malimongan difoto kearah
N1930E

Proses geomorfologi karst yang dijumpai di daerah penelitian lainnya berupa

Travertine, yaitu endapan karbonatan hasil pelarutan yang diindikasikan sebagai hasil

pelarutan batugamping. Travertine dijumpai pada stasiun 3 di desa Lokko (Gambar 2.14).

Gambar 2.14 Travertin pada stasiun 3 pada desa Lokko difoto kearah N3460E

Pelarutan pada geomorfologi dapat membentuk lubang-lubang kecil yang disebut

lapies. Lapies menurut Thonbury (1969:319) yaitu relief permukaan batugamping yang
31

tidak tertutupi terra rossa dan menunjukan adanya goresa, bintik-bintik, beralur dan keras.

Lapies banyak dijumpai pada daerah penelitian, hamper secara keseluruhan batugamping

pada daerah penelitian memiliki lapies. (Gambar 2.15)

Gambar 2.15 Lapies pada stasiun 35 diifoto dengan arah N3020E dijumpai di
hamper semua permukaan batugamping pada daerh penelitian.

Proses Geomorfologi yang lainnya yaitu dijumpai adanya Gua yang bernama Gua

Pallasi. Gua adalah karakterisk karst yang paling indah dan menarik. Gua sebagian besar

terbentuk akibat akumulasi kalsium karbonat yang terbentuk pada langit-langit, dinding

dan lantai gua (Thonbury, 1969:335) . Gua Pallasi dijumpai pada stasiun 41 di desa Dale

dengan lebar pintu sekitar 45 cm (Gambar 2.16).


32

Gambar 2.16 Gua Pallasi stasiun 41 pada desa Dale difoto kearah N36 0E

Gambar 2.17 Peta citra 3D dari Pephino Hills, Terra Rosa, Travertin dan
Gua Pallasi

2.2.2 Sungai

Sungai adalah tempat air mengalir secara alamiah membentuk suatu pola

dan jalur tertentu di permukaan (Thornbury,1969). Sungai yang mengalir pada

daerah penelitian yaitu Sungai Mataalo, Sungai Sangeran, Sungai Matano, Sungai
33

Bunu, Sungai Bunggawai, Sungai Sosok, Sungai Belalang, Sungai Lembong,

Sungai Malimongan, Sungai Tumongga, Sungai Dengen, Sungai Kampungbaru

dan Sungai Paropo. Pembahasan tentang sungai pada daerah penelitian meliputi

pembahasan tentang klasifikasi sungai yang didasarkan pada kandungan air yang

mengalir pada tubuh sungai sepanjang waktu. Pola aliran sungai dikontrol oleh

beberapa faktor seperti kemiringan lereng, kontrol struktur, vegetasi dan kondisi

iklim. Tipe genetik menjelaskan tentang hubungan arah aliran sungai dan

kedudukan batuan. Dari hasil pembahasan di atas maka pada akhirnya dapat

dilakukan penentuan stadia sungai daerah penelitian.

2.2.2.1 Jenis Sungai

Berdasarkan sifat alirannya maka aliran sungai pada daerah penelitian

termasuk dalam aliran air yang mengalir di permukaan bumi membentuk sungai.

Berdasarkan kandungan air pada tubuh sungai (Thornbury,1969) maka jenis sungai

dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

❖ Sungai normal (permanen), merupakan sungai yang volume airnya

sepanjang tahun selalu normal.

❖ Sungai periodik, merupakan sungai yang kandungan airnya tergantung

pada musim, dimana pada musim hujan debit alirannya menjadi besar dan

pada musim kemarau debit alirannya menjadi kecil.

❖ Sungai episodik, merupakan sungai yang hanya dialiri air pada musim

hujan, tetapi pada musim kemarau sungainya menjadi kering.


34

Berdasarkan debit air pada tubuh sungai (kuantitas air sungai), maka jenis

sungai pada daerah penelitian dapat diklasifikasikan menjadi sungai permanen,

sungai periodik dan sungai episodik. Sungai permanen berkembang pada sungai

utama yaitu sungai Mataalo (Gambar 2.18), sedangkan sungai periodik berkembang

pada sungai Dengen (Gambar 2.19) dan sungai episodik berkembang pada sungai

Bunu (Gambar 2.20). Jenis sungai permanen membuat keberadaan sungai ini sangat

penting bagi masyarakat setempat, karena digunakan sebagai sumber air untuk

kehidupan sehari-hari.

Gambar 2.18 Salu Mataalo merupakan sungai permanen pada stasiun


53 dengan arah aliran N 176oE, di Foto ke arah N183oE
35

Gambar 2.19 Salu Dengen merupakan sungai Periodik pada stasiun 50


dengan arah aliran N 152oE, di Foto ke arah N 163oE

Gambar 2.20 Anak sungai Mataalo merupakan sungai episodik pada


stasiun 51 dengan arah aliran N119oE, di Foto ke arah
N123oE.

2.2.2.2 Pola Aliran Sungai

Pola aliran sungai (drainage pattern) merupakan penggabungan dari

beberapa individu sungai yang saling berhubungan membentuk suatu pola dalam
36

kesatuan ruang (Thornbury, 1969). Perkembangan pola aliran sungai yang ada pada

daerah penelitian dikontrol oleh beberapa faktor, seperti kemiringan lereng, kontrol

struktur, dan stadia geomorfologi dari suatu cekungan pola aliran sungai, vegetasi

dan kondisi iklim.

Berdasarkan kenampakan lapangan dan interpretasi peta topografi, maka

pola aliran sungai daerah penelitian termasuk dalam pola aliran dasar (basic

pattern) yaitu pola aliran yang mempunyai karakteristik khas yang bisa dibedakan

dengan pola aliran lainnya (A.D Howard, 1967 dalam van Zuidam, 1985).

Berdasarkan hal tersebut maka pada daerah penelitian termasuk dalam jenis pola

paralel. Pola aliran paralel dibentuk dari aliran cabang – cabang sungai yang sejajar

atau paralel pada bentang alam yang memanjang serta mencerminkan kemiringan

lereng yang cukup besar.

Pola aliran tersebut berkembang pada daerah penelitian secara dominan.

Induk sungai yang mengontrol pola aliran pada daerah penelitian yaitu sungai

Mataalo. Penyebaran anak sungainya dari arah barat laut ke arah tenggarah daerah

penelitian. (Gambar 2.21).


37

Gambar 2.21 Pola aliran sungai parallel yang berkembang pada daerah penelitian

2.2.2.3 Tipe Genetik Sungai

Tipe genetik sungai merupakan salah satu jenis sungai yang didasarkan atas

genesanya yang merupakan hubungan antara arah aliran sungai dan terhadap

kedudukan batuan (Thornbury, 1969).

Secara umum tipe genetik sungai yang terdapat pada daerah penelitian

terdiri atas :

a. Tipe Genetik Sungai Subsekuen


38

Tipe genetik sungai Subsekuen merupakan tipe genetik sungai yang arah

aliran sungainya mengalir tegak lurus arah dengan kemiringan perlapisan batuan

(dip). Tipe genetik ini dijumpai pada anak sungai Dengen pada litologi

Batugamping di stasiun 47 (Gambar 2.22).

Gambar 2.22 Aliran sungai yang searah dengan kemiringan perlapisan


pada litologi Batugamping pada stasiun 47 pada sungai
Dengen di Foto ke arah N289oE.

2.2.2.4 Stadia Sungai

Penentuan stadia sungai daerah penelitian didasarkan atas kenampakan

lapangan berupa profil lembah sungai, pola saluran sungai, jenis erosi yang bekerja

dan proses sedimentasi di beberapa tempat di sepanjang sungai. A.K Lobeck (1939)

membagi stadia sungai kedalam tiga jenis yaitu sungai muda (young river), dewasa

(mature river), dan tua (old age river).

Sungai muda (young river) memiliki karakteristik dimana dinding-dinding

sungainya berupa bebatuan, dengan dinding yang sempit dan curam, terkadang

dijumpai air terjun, aliran air yang deras, dan biasa pula dijumpai potholes yaitu
39

lubang-lubang yang dalam dan berbentuk bundar pada dasar sungai yang

disebabkan oleh batuan yang terbawa dan terputar-putar oleh arus sungai. Selain

itu, pada sungai muda (young river) proses erosi masih berlangsung dengan kuat

karena kecepatan dan volume air yang besar dan deras yang mampu mengangkut

material-material sedimen dan diwaktu yang sama terjadi pengikisan pada saluran

sungai tersebut. Karakteristik sungai dewasa (mature river) biasanya sudah tidak

ditemukan adanya air terjun, arus air relatif sedang, dan erosi yang bekerja relatif

seimbang antara erosi vertikal dan lateral, dan sudah dijumpai sedimentasi

setempat-setempat, serta dijumpai pula adanya dataran banjir. Sedangkan sungai

tua (old age river) memiliki karakteristik berupa arus sungai lemah yang disertai

dengan sedimentasi, erosi lateral mendominasi, dijumpai adanya oxbow lake atau

danau tapal kuda (A.K Lobeck, 1939 hal.161).

Secara umum, sungai-sungai yang mengalir pada daerah penelitian

memiliki profil lembah sungai berbentuk “V”, “V-U” dan “U”. Profil lembah

sungai “V” (Gambar 2.23) pada anak sungai Malimongan stasiun 33 difoto ke arah

N102oE dengan penampang yang curam dan relatif sempit dan pola saluran yang

berkelok-kelok. Jenis erosi yang berkembang pada profil ini yaitu erosi vertical

yang dominan mengikis dasar sungai.

selanjutnya profil lembah sungai berbentuk “V-U” dijumpai pada sungai

Bunu, stasiun 51 difoto ke arah N 123oE (Gambar 2.24) dengan pola sungai yang

relatif lurus dan kadang berkelok. Jenis erosi yang berkembang pada profil ini yaitu

erosi vertical dan horizontal yang seimbang mengikis dasar sungai dan lereng-

lereng tebing sungai.


40

Sedangkan profil lembah sungai berbentuk “U” dijumpai pada sungai

Mataalo, stasiun 75 difoto ke arah N 193oE (Gambar 2.25) dengan pola sungai yang

relatif lurus. Jenis erosi yang berkembang pada profil ini yaitu erosi horizontal yang

dominan mengikis lereng-lereng tebing sungai.

Gambar 2.23 Profil lembah sungai “V” pada anak sungai Malimongan
stasiun 33 difoto ke arah N102oE.

Gambar 2.24 Profil lembah sungai berbentuk “V-U” dijumpai pada


sungai Bunu, stasiun 51 difoto ke arah N 123oE
41

Gambar 2.25 Profil lembah sungai berbentuk “U” dijumpai pada


sungai Mataalo, stasiun 75 difoto ke arah N 193oE.

Gambar 2.26 Peta Citra 3D Posisi sungai daerah penelitian.


42

2.2.3 Stadia Daerah Penelitian

Menurut Thornbury (1969) penentuan stadia suatu daerah harus

memperlihatkan hasil kerja proses-proses geomorfologi yang diamati pada bentuk-

bentuk permukaan bumi yang dihasilkan dan didasarkan pada siklus erosi dan

pelapukan yang bekerja pada suatu daerah mulai saat terangkatnya hingga pada

terjadinya perataan bentangalam. Sedangkan menurut Van zuidam (1985), dalam

penentuan stadia suatu daerah aspek yang digunakan disebut morfokronologi

dimana penentuan umur relatif suatu daerah dilakukan dengan melihat

perkembangan dari proses geomorfologi yaitu morfografi di lapangan dan analisis

morfometri sebagai pembandingnya.

Pada daerah penelitian proses erosi terjadi secara lateral dan vertikal yang

menyebabkan terjadinya proses pengikisan lembah-lembah sungai yang

menghasilkan profil sungai. Selain proses erosi juga terjadi proses sedimentasi yang

megendapkan material – material yang berukuran bongkah sampai pasir kerikil.

Kedua proses tersebut dijumpai di daerah penelitian dan membentuk morfologi

pegunungan.

Proses erosi pada daerah penelitian dapat dilihat dari bentuk penampang

melintang dari lembah sungainya, yang memperlihatkan bentuk profil menyerupai

huruf “V” dan “U”, pada daerah penelitian.

Analisis morfogenesa daerah penelitian secara umum diidentifikasi oleh

adanya proses-proses geologi eksogen Gully erosition, Spheroidal Whitering,

Debris Slide dan pelapukan Biologi pada satuan geomorfologi denudasional dan
43

Pelarutan batuan karbonat pada geomorfologi Karst yang menghasilkan Pephino

Hills, Terra Rosa, endapan Travertin dan Gua. Jenis erosi yang terjadi pada satuan

morfologi tersebut berupa erosi lateral dan erosi vertikal yang bekerja bersama-

sama membentuk morfologi tersebut.

Proses sedimentasi material ditandai dengan adanya endapan-endapan

material-material di sepanjang sungai membentuk point bar. Jenis sungainya

berupa permanen dan periodik, penampang sungai pada berbentuk “V” dan “U”.

Pada daerah penelitian dijumpai pola saluran yang lurus dan sebagian berkelok.

Tingkat pelapukan pada daerah penelitian mengalami lapuk tinggi hingga

membentuk tanah residual. Jenis pelapukan yang terjadi adalah pelapukan kimia

dan biologi. Vegetasi relatif sedang sampai tinggi dengan tata guna lahan

perkebunan dan pemukiman.

Berdasarkan paremeter analisis morfografi dan morfogenesa pada daerah

penelitian serta analisis terhadap dominasi dari persentase penyebaran karakteristik atau

ciri-ciri bentukan alam yang dijumpai di lapangan maka stadia daerah penelitian mengarah

pada stadia muda menjelang dewasa.


44

BAB III
STRATIGRAFI

3.1 Stratigrafi Regional

Stratigrafi regional daerah penelitian menurut Djuri dan Sudjatmiko, S. Bachri dan

Sukido (1998) pada Peta Geologi Lembar Majene dan Palopo bagian Barat yang sesuai

dengan daerah penelitian yaitu sebagai berikut :

Tml : Formasi Loka ; (Tertiary Miocene Loka) terdiri dari batupasir andesitan
batulanau, konglomeerat dan breksi. Berlapis hingga masif terutama sebagai endapan darat
hingga delta dan laut dangkal. Fosil foraminifera menunjukkan umur Miosen Tengah -
Miosen Akhir. Tebalnya mencapai ratusan meter.

Tomd : Formasi Date; (Tertiary Oligocene Miocene Date) terdiri dari Napal

diselingi batulanau gampingan dan batupasir gampingan; tebal endapan mencapai 500-

1000 m; kandungan foraminifera menunjukkan umur Oligosen Tengah - Miosen Tengah

dengan lingkungan pengendapan laut dangkal. Di Lembar Mamuju (Ratman dan

Atmawinata. 1993) formasi ini disebut Formasi Rio.

Tomm : Formasi Makale; (Tertiary Oligocene Miocene Makale) terdiri dari

Batugamping terumbu, terbentuk di laut dangkal. Umurnya diduga Miosen Awal - Miosen

Tengah.

Tets : Formasi Toraja; (Tertiary Eocene Toraja Shalel) terdiri dari Serpih

coklat kemerahan, serpih napalan kelabu, batugamping, batupasir kuarsa,

konglomerat, batugamping, dan setempat batubara. Tebal formasi diduga tidak

kurang dan 1000 m. Fosil foraminifera besar pada batugamping menunjukkan umur

Eosen - Miosen (Budiman, 1981. dalam Simandjuntak, drr., 1993). Sedang


45

Lingkungan pengendapannya laut dangkal. Formasi ini menindih tidak selaras

Formasi Latimojong dan ditindih tidak selaras oleh Batuan Gunungapi Lamasi.

Tmps : Formasi Sekala; (Tertiary Miocene Piroclastic Sekala) terdiri dari

Batupasir, konglomerat, serpih, tuf, sisipan lava andesit – basalan,; mengandung

foraminifera berumur Miosen Tengah – Pliosen dengan lingkungan pengendapan laut

dangkal; tebalnya sekitar 500 m. Di Lembar Mamuju (Ratman dan Atmawinata, 1993)

formasi ini juga disusun oleh batupasir hijau, napal dan lava bantal, dan sebagian batuan

bercirikan endapan turbidit.


46

Gambar 3.1 Peta Lokasi daerah penelitian pada Peta Geologi lembar Majene
dan Palopo bagian Barat.
47

3.2 Stratigrafi Daerah Penelitian

Pengelompokan dan penamaan satuan batuan pada daerah penelitian didasarkan

pada litostratigrafi tidak resmi yang bersendikan pada ciri litologi, dominasi batuan,

keseragaman gejala litologi, hubungan stratigrafi antara batuan yang satu dengan batuan

yang lain, serta hubungan tektonik batuan, sehingga dapat disebandingkan baik secara

vertikal maupun lateral (Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996), dan dapat dipetakan dalam

sekala 1 : 25.000.

Secara umum litologi penyusun daerah penelitian merupakan batuan beku

dan batuan sedimen. Berdasarkan litostratografi tidak resmi, maka pada daerah

penelitian dijumpai 3 (tiga) satuan batuan yang diurutkan dari muda ke tua, yaitu :

1. Satuan intrusi basal porfiri

2. Satuan batupasir

3. Satuan batugamping

Gambar 3.2 Peta 3D Geologi daerah penelitian


48

Pembahasan dan uraian dari urutan satuan stratigrafi daerah penelitian dari

tua ke muda adalah sebagai berikut :

3.2.1 Satuan Batugamping

Pembahasan satuan batugamping pada daerah penelitian meliputi

penjelasan mengenai dasar penamaan, penyebaran dan ketebalan, ciri litologi yang

mencakup karakteristik batuan pada pengamatan secara megaskopis dan

mikroskopis, umur dan lingkungan pengendapan, serta hubungan stratigrafi dengan

satuan batuan pada daerah penelitian.

3.2.1.1 Dasar Penamaan

Dasar penamaan satuan batuan ini berdasarkan pada litostratigrafi tidak

resmi yang bersendikan pada ciri fisik dan penyebaran yang mendominasi pada

satuan batuan ini secara lateral serta dapat terpetakan dalam peta skala 1:25.000.

Penamaan batuan dari penyusun satuan batuan ini terdiri atas dua cara yaitu

pengamatan batuan secara megaskopis dan secara mikroskopis. Pengamatan secara

megaskopis ditentukan secara langsung di lapangan terhadap sifat fisik dan

komposisi mineralnya dengan menggunakan klasifikasi batuan sedimen menurut

Wentworth (1922), dalam Boggs (1987) sebagai dasar penamaan. Pengamatan

secara mikroskopis yaitu menggunakan alat bantu mikroskop polarisasi untuk

menentukan jenis dan nama batuan secara lebih rinci dengan melihat sifat-sifat

optik komponen penyusun batuan yang kemudian penamaannya menggunakan

klasifikasi batuan karbonat menurut Dunham (1962).


49

Penamaan satuan batuan ini didasarkan atas dominasi litologi yang

menyusunnya yakni batugamping, maka satuan batuan ini dinamakan satuan

Batugamping.

3.2.1.2 Penyebaran dan ketebalan

Satuan ini menempati luas sekitar 83.07% dari luas keseluruhan daerah

penelitian atau sekitar 45.46 km2. Satuan ini tersebar pada bagian utara, tengah,

selatan, barat dan timur daerah penelitian mulai daerah Kerangka, Sangeran,

Malimongan, Marena, Bunggawai, Belalang, Paroppo, Salulecu dan Loko.

Kedudukan batuan secara umum berarah relatif tenggara – barat laut N16oE/46o

(pada stasiun 56). Ketebalan dari satuan ini pada lokasi penelitian ditentukan

berdasarkan hasil dari perhitungan ketebalan pada penampang geologi A – B yang

berarah barat – timur dengan mengukur batas bawah dan batas atas lapisan pada

penampang geologi, sehingga diperoleh ketebalan satuan batugamping sebesar

978 m (lihat peta geologi).

3.2.1.3 Ciri Litologi

Litologi yang menyusun satuan ini yaitu batugamping dan batupasir

karbonatan. Secara megaskopis, pada daerah penelitian dijumpai batugamping

dalam keadaan segar memperlihatkan ciri fisik berwarna putih buram sedangkan

dalam kondisi lapuk berwarna abu-abu kehitaman. Batugamping ini memiliki

tekstur bioklastik dengan struktur tidak berlapis, komposisi kimia karbonat, yang
50

tersusun oleh fosil dan mineral karbonat. Berdasarkan ciri fisiknya nama batuan ini

adalah Batugamping (Gambar 3.3).

Kenampakan mikroskopis dari litologi Batugamping dengan nomor sayatan

BF.37.BG secara umum memiliki warna absorbsi kuning kecoklatan, warna

interferensi coklat kehitaman, tekstur bioklastik, komposisi material terdiri dari

grain (sekeletel grain) dan mud. Grain berupa foraminifera besar yaitu

Nephrolepina veracruziana (Vaughan and Cole), Bristeinolla Macrostoma

Yankovskaya and Mikhalevich, Nodosarella tuberosa (Gumbel) dan

Ampletoproductina carnatoliutra Patterson dan mud mineral berupa karbonat yaitu

kalsit. Berdasarkan hasil analisis petrografis dan dengan melihat karakteristik serta

persentase dari komposisi material penyusun batuan, maka batuan ini dinamakan

Grainstone (Dunham, 1962).

Gambar 3.3 Singkapan Batugamping pada stasiun 37 daerah barat daya


Malimongan dengan arah foto N 3240E.
51

Gambar 3.4 Kenampakan mikroskopis Grainstone pada stasiun 37 dengan kode


sayatan BF 37 BG, yang terdiri dari grain berupa foraminifera
besar (3J), mud berupa kalsite (1A), difoto dengan perbesaran
50X.

Batupasir karbonatan secara megaskopis, dalam keadaan segar

memperlihatkan ciri fisik berwarna abu-abu kecoklatan sedangkan dalam kondisi

lapuk berwarna coklat. Batuan ini memiliki tekstur klastik dengan struktur berlapis,

komposisi kimia karbonat, ukuran butir pasir halus. Berdasarkan ciri fisiknya nama

batuan ini adalah Batupasir karbonatan (Gambar 3.5).

Kenampakan mikroskopis dari litologi Batupasir Karbonatan dengan nomor

sayatan BF.14.BP secara umum memiliki warna absorbsi kuning kecoklatan, warna

interferensi abu-abu kehitaman, tekstur klastik, komposisi material terdiri dari

kuarsa dan material lempung. Kuarsa memiliki warna absorbsi kuning transparan,

warna interferensi maksimum putih kabu-abuan, relief rendah, tidak memiliki

belahan, intensitas rendah, sudut gelapan 12º, jenis gelapan bergelombang, ukuran

<0.02 – 0.05 mm dan material lempung berupa karbonat yaitu kalsit yang hadir

merata mengisi pori-pori batuan. Berdasarkan hasil analisis petrografis dan dengan

melihat karakteristik serta persentase dari komposisi material penyusun batuan,

maka batuan ini dinamakan Quartzwacke (Pettijhon, 1975).


52

Gambar 3.5 Singkapan Batupasir Karbonatan pada stasiun 14 daerah barat


Buttu Mataran dengan arah foto N460E.

Gambar 3.6 Kenampakan mikroskopis Quartzwacke pada stasiun 14 dengan


kode sayatan BF 14 BP, yang terdiri dari mineral kuarsa (6I) dan
material lempung (4C), difoto dengan perbesaran 50X.

3.2.1.4 Lingkungan Pengendapan dan Umur

Penentuan lingkungan pengendapan dan umur satuan batugamping pada

daerah penelitian ditentukan berdasarkan pada ciri-ciri fisik litologi dan posisi

stratigrafi yang bersendikan pada kesebandingan dengan umur relatif batuan secara

regional. Hal ini dilakukan setelah melakukan preparasi mikropaleontologi pada

batugamping sebanyak empat kali namun tidak menunjukkan adanya kenampakan

fosil mikro, namun terlihat pada sayatan petrografis berupa fosil makro. Data
53

lapangan yang mendukung yaitu komposisi kimia batugamping pada daerah

penelitian yaitu karbonatan.

Penentuan lingkungan pengendapan satuan batugamping ini menggunakan

klasifikasi lingkungan pengendapan oleh Boltovskoy dan Wright (1976) pada fosil

Nephrolepina veracruziana (Vaughan and Cole), Bristeinolla Macrostoma

Yankovskaya and Mikhalevich, Nodosarella tuberosa (Gumbel) dan

Ampletoproductina carnatoliutra Patterson, Helicolepidina spiralis (Tobler) dan

Nephrolepina tobleri (H. Douville.), yaitu pada lingkungan inner neritic (shelf)

zone atau pada kedalaman 0-35 m (Tabel 3.1).

Tabel 3.1 Penentuan lingkungan pengendapan Satuan batugamping dengan menggunakan


klasifikasi lingkungan pengendapan oleh Boltovskoy and Wright (1976).
Neritik (Shelf) Zone Bathyal Zone
Intertial Zone Upper & Abyssal Zone Kandungan Fosil
Inner Middle Outer Lower
Middle
Nodosarella sp.
Quinqeloculina sp.
0-30 30 - 100 100 - 130 130 - 1000 1000 - 3000 3000 - 5000 Kedalaman Laut (m)

Berdasarkan karakteristik litologi satuan ini termasuk dalam laut dangkal

Carbonate ramps merupakan lingkungan pengendapan dengan kharakteristik dan

proses yang mirip dengan shelf pada batuan sedimen silisiklastik, yaitu berupa

material karbonat berukuran pasir, dan mud yang diproduksi pada wilayah transisi

kearah laut dan membentuk granstone – mudstone dengan struktur sedimen yang

hampir sama (Wright & Burchette ,1996, Imran, 2012:64)

Penentuan umur dari satuan batugamping di daerah penelitian

menggunakan umur relatif berdasarkan posisi stratigrafi dan kandungan fosil yang

terkandung dalam batuan. Pada pengamatan petrografis dijumpai kandungan fosil


54

foraminifera besar berupa Nephrolepina veracruziana (Vaughan and Cole),

Bristeinolla Macrostoma Yankovskaya and Mikhalevich, Nodosarella tuberosa

(Gumbel), Ampletoproductina carnatoliutra Patterson, Helicolepidina spiralis

(Tobler) dan Nephrolepina tobleri (H. Douville.). Berdasarkan kandungan fosil

yang dijumpai pada pengamatan petrografis, maka umur dari satuan batugamping

pada daerah penelitian adalah Eosen Akhir (Late Eosen) yaitu pada zona Tb (Tabel

3.2).

Tabel 3.2 Penentuan umur Satuan batugamping dengan menggunakan klasifikasi huruf
Foraminifera besar di Indonesia (P. Bauman, 1971).
BATUGAMPING
EOSEN PLIOSEN MIOSEN PLISTOSEN SPECIES
Early

Early
Late

Late

Recent

Ta Tb Tc Td Tg Th LETTER STAGES
e 1-3

e 4-5

f 1-2

f3

Discocylina javana
Discocyclina disposa
Discocyclina omphala

Gambar 3.7 kandungan fosil pada sayatan tipis satuan batugamping stasiun 66
dan 69.

Berdasarkan kandungan fosil foraminifera besar pada satuan batugamping

stasiun 37 dan 62, maka satuan batugamping pada daerah penelitian dapat
55

dikorelasikan dengan Formasi Toraja yang diketahui berumur Eosen Akhir yang

terbentuk pada lingkungan laut dangkal.

Gambar 3.8 Peta 3D Geologi Lokasi anggota satuan Batugamping

3.2.1.5 Hubungan Stratigrafi

Penentuan hubungan stratigrafi antara satuan batugamping pada daerah

penelitian didasarkan pada ciri fisik, umur, dan kenampakan kontak litologi di

lapangan. Untuk itu hubungan stratigrafi antara satuan batugamping dengan satuan

yang berada dibawahnya tidak diketahui, sedangkan hubungan satuan batugamping

dengan satuan yang berada diatasnya berupa satuan batupasir yaitu

ketidakselarasan dan satuan intrusi basal porfiri yaitu kontak intrusi.

3.2.2 Satuan Batupasir

Pembahasan satuan Batupasir pada daerah penelitian meliputi penjelasan

mengenai dasar penamaan, penyebaran dan ketebalan, ciri litologi yang mencakup
56

karakteristik batuan pada pengamatan secara megaskopis dan mikroskopis, umur

dan lingkungan pengendapan, serta hubungan stratigrafi dengan satuan batuan pada

daerah penelitian.

3.2.2.1 Dasar Penamaan

Dasar penamaan satuan batuan ini berdasarkan pada litostratigrafi tidak

resmi yang bersendikan pada ciri fisik dan penyebaran yang mendominasi pada

satuan batuan ini secara lateral serta dapat terpetakan dalam peta skala 1:25.000.

Penamaan batuan dari penyusun satuan batuan ini terdiri atas dua cara yaitu

pengamatan batuan secara megaskopis dan secara mikroskopis. Pengamatan secara

megaskopis ditentukan secara langsung di lapangan terhadap sifat fisik dan

komposisi mineralnya dengan menggunakan klasifikasi batuan sedimen menurut

Wentworth (1922), dalam Boggs (1987) sebagai dasar penamaan. Pengamatan

secara mikroskopis yaitu menggunakan alat bantu mikroskop polarisasi untuk

menentukan jenis dan nama batuan secara lebih rinci dengan melihat sifat-sifat

optik komponen penyusun batuan yang kemudian penamaannya menggunakan

klasifikasi batuan sedimen menurut Pettijhon (1975).

Penamaan satuan batuan ini didasarkan atas dominasi litologi yang

menyusunnya yakni batupasir, maka satuan batuan ini dinamakan satuan batupasir.

3.2.2.2 Penyebaran dan ketebalan

Satuan ini menempati luas sekitar 10.5% dari luas keseluruhan daerah

penelitian atau sekitar 5.72 km2. Satuan ini tersebar pada bagian tenggara daerah

penelitian di daerah Manguggu. Kedudukan batuan secara umum berarah relatif


57

tenggara – barat laut N24oE/32o (pada stasiun 73). Ketebalan dari satuan ini pada

lokasi penelitian ditentukan berdasarkan hasil dari perhitungan ketebalan pada

penampang geologi A – B yang berarah barat – timur dengan mengukur batas

bawah dan batas atas lapisan pada penampang geologi, sehingga diperoleh

ketebalan satuan batupasir sebesar 595 m (lihat peta geologi).

3.2.2.3 Ciri Litologi

Litologi yang menyusun satuan ini yaitu batupasir kuarsa, batupasir

karbonatan dan batulempung karbonatan. Secara megaskopis, pada daerah

penelitian dijumpai batupasir kuarsa dalam keadaan segar memperlihatkan ciri fisik

berwarna coklat muda sedangkan dalam kondisi lapuk berwarna abu-abu. Batupasir

ini memiliki tekstur klastik dengan struktur berlapis, komposisi kimia silika, yang

tersusun oleh mineral kuarsa dan material pasir, ukuran butir pasir. Berdasarkan ciri

fisiknya nama batuan ini adalah batupasir kuarsa (Gambar 3.9).

Kenampakan mikroskopis dari litologi Batupasir kuarsa dengan nomor

sayatan BF.73.BP secara umum memiliki warna absorbsi kuning kecoklatan, warna

interferensi abu-abu kehitaman, tekstur klastik, komposisi material terdiri dari

kuarsa dan mineral opaq. Kuarsa memiliki warna absorbsi transparan, bentuk

angular-subrounded, relief rendah, intensitas lemah, pleokroisme tidak ada, ukuran

mineral 0.15-0.5 mm, warna interferensi putih keabuan-abuan, gelapan

bergelombang. Mineral Opaq memiliki warna absorbsi orange kecoklatan, warna

interferensi abu-abu kehitaman, relief rendah, intensitas lemah, bentuk anhedral,

ukuran < 0.02 mm. Berdasarkan hasil analisis petrografis dan dengan melihat
58

karakteristik serta persentase dari komposisi material penyusun batuan, maka

batuan ini dinamakan Quartz Wacke (Pettijhon, 1975).

Gambar 3.9 Singkapan Batupasir kuarsa pada stasiun 73 daerah timur Mampu
dengan arah foto N420E.

Gambar 3.10 Kenampakan mikroskopis Quartz Wacke pada stasiun 73 dengan


kode sayatan BF 73 BP,yang terdiri dari Kuarsa (1B) dan mineral
Opaq (1H), difoto dengan perbesaran 50X.

Batupasir karbonatan dalam keadaan segar memperlihatkan ciri fisik

berwarna segar kuning sedangkan dalam kondisi lapuk berwarna hitam. batupasir

ini memiliki tekstur bioklastik dengan struktur tidak berlapis, komposisi kimia

karbonat, yang tersusun oleh material berukuran pasir. Berdasarkan ciri fisiknya

nama batuan ini adalah batupasir karbonatan (Gambar 3.11).


59

Kenampakan mikroskopis dari litologi Batupasir karbonat dengan nomor sayatan

BF.77.BP secara umum memiliki warna absorbsi kuning kecoklatan, warna interferensi

abu-abu kehitaman, tekstur klastik, komposisi material terdiri dari kuarsa, orthoklas,

Mineral Opaq dan Material Lempung. Kuarsa memiliki warna absorbsi transparan, bentuk

angular-subrounded, relief rendah, intensitas lemah, pleokroisme tidak ada, ukuran

mineral 0.15-0.5 mm, warna interferensi putih keabuan-abuan, gelapan bergelombang.

Ortoklas pada nikol sejajar tidak berwarna, bentuk euhedral – subhedral , relief rendah,

intensitas lemah, pleokriosme monokroik, ukuran mineral 0.1 – 0.25 mm, WI abu – abu

hingga putih, sudut gelapan 100, gelapan miring. Mineral Opaq memiliki warna absorbsi

orange kecoklatan, warna interferensi abu-abu kehitaman, relief rendah, intensitas lemah,

bentuk anhedral, ukuran < 0.02 mm. Material Lempung pada nikol sejajar tidak kuning

kecoklatan, bentuk kristalin, relief sedang, intensitas sedang, warna interferensi abu-abu

kecoklatan, berukuran <0.02 mm, berupa mineral kalsit (karbonat), hadir merata dalam

sayatan dan mengisi pori-pori pada batuan. Berdasarkan hasil analisis petrografis dan

dengan melihat karakteristik serta persentase dari komposisi material penyusun batuan,

maka batuan ini dinamakan Lithic Wacke (Pettijhon, 1975).

Gambar 3.11 Singkapan Batupasir Karbonatan pada stasiun 77 Sangeran


dengan arah foto N2720E.
60

Gambar 3.12 Kenampakan mikroskopis Lithic Wacke pada stasiun 77 dengan


kode sayatan BF 77 BP,yang terdiri Kuarsa (4B), Orthoklas (1D),
mineral Opaq (2E) dan Material Lempung (3A), difoto dengan
perbesaran 50X..

Batulempung karbonatan dalam keadaan segar memperlihatkan ciri fisik

berwarna segar abu-abu sedangkan dalam kondisi lapuk berwarna coklat.

Batulempung karbonatan ini memiliki tekstur klastik dengan struktur berlapis,

komposisi kimia karbonat, yang tersusun oleh material berukuran lempung.

Berdasarkan ciri fisiknya nama batuan ini adalah batulempung karbonatan (Gambar

3.13).

Kenampakan mikroskopis dari litologi Batupasir karbonat dengan nomor sayatan

BF.64.BP secara umum memiliki warna absorbsi kuning kecoklatan, warna interferensi

abu-abu kehitaman, tekstur klastik, komposisi material terdiri dari kuarsa, dan Material

Lempung. Kuarsa memiliki warna absorbsi kuning transparan, warna interferensi

maksimum putih kabu-abuan, relief rendah, tidak memiliki belahan, intensitas rendah,

sudut gelapan 12º, jenis gelapan bergelombang, ukuran <0.02 – 0.05 mm.Material

Lempung pada nikol sejajar tidak kuning kecoklatan, bentuk kristalin, relief sedang,

intensitas sedang, warna interferensi abu-abu kecoklatan, berukuran <0.02 mm, berupa

mineral kalsit (karbonat), hadir merata dalam sayatan dan mengisi pori-pori pada batuan.

Berdasarkan hasil analisis petrografis dan dengan melihat karakteristik serta persentase dari
61

komposisi material penyusun batuan, maka batuan ini dinamakan Mudrock (Pettijhon,

1975).

Gambar 3.13 Singkapan Batulempung Karbonatan pada stasiun 64 Timur


Manggungu dengan arah foto N70E.

Gambar 3.14 Kenampakan mikroskopis Mudrock yang pada stasiun 64 dengan


kode sayatan BF 64 BP, memperlihatkan Kuarsa (6I), dan
Material Lempung (4C), difoto dengan perbesaran 50X.
62

Gambar 3.15 Peta 3D Geologi lokasi anggota satuan Batupasir.

3.2.2.4 Lingkungan Pengendapan dan Umur

Penentuan lingkungan pengendapan dan umur satuan batupasir pada daerah

penelitian ditentukan berdasarkan pada ciri-ciri fisik litologi dan posisi stratigrafi

yang bersendikan pada kesebandingan dengan umur relatif batuan secara regional.

Hal ini dilakukan setelah melakukan preparasi mikropaleontologi pada batupasir

menunjukkan adanya kenampakan fosil mikro pada stasiun 66 dan 69.

Penentuan lingkungan pengendapan satuan batupasir ini menggunakan

klasifikasi lingkungan pengendapan oleh Boltovskoy dan Wright (1976) pada fosil

Nephrolepina veracruziana (Vaughan and Cole), Cibicides nucleatus (Seguenza),

Bulimina sp., Pseudoglandulina conica (Nevgeboren), yaitu pada lingkungan

middle neritic (shelf) zone atau pada kedalaman 30-100 m (Tabel 3.3).

Berdasarkan karakteristik litologi satuan ini termasuk dalam transisi intertidal.

Intertidal merupakan wilayah yang berada dalam pengaruh air laut yaitu wilayah antara
63

surut laut dan pasang laut. Wilayah intertidal tersebut akan menghasilkan endapan-endapan

yang sangat dikontrol oleh pasang surut air laut. Wilayah yang mengarah ke laut lepas dan

selalu tergenangi air laut adalah lingkungan pengendapan laut. Walaupun batuan karbonat

sangat umum dijumpai dalam bentuk endapan-endapan laut, namun penting juga diketahui

lingkungan pengendapan darat tersebut. (Scholle, dkk., 1983, Imran, 2012:61).

Berdasarkan kandungan fosil dan karakteristik litologi pada satuan batupasir, maka

lingkungan pengendapan satuan ini yaitu laut dangkal sampai transisi.

Tabel 3.3 Penentuan lingkungan pengendapan Satuan batupasir dengan menggunakan


klasifikasi lingkungan pengendapan oleh Boltovskoy and Wright (1976).
Neritik (Shelf) Zone Bathyal Zone
Intertial Zone Abyssal Zone Kandungan Fosil
Inner Middle Outer Upper & Middle Lower
Robulus sp.
Cibicides sp.
Bulimina sp.
Pseudoglandulina sp.
0-30 30 - 100 100 - 130 130 - 1000 1000 - 3000 3000 - 5000 Kedalaman Laut (m)

Gambar 3.16 Kandungan fosil bentonik satuan


batupasir

Penentuan umur dari satuan batupasir di daerah penelitian menggunakan

umur relatif berdasarkan posisi stratigrafi dan kandungan fosil yang terkandung

dalam batuan. Pada pengamatan fosil mikropaleontologi dijumpai fosil


64

foraminifera kecil pada stasiun 66 dan 69, yaitu Globorotalia archeomenardii

BOLLI, Orbulina universa D'ORBIGNY, Globigerina venezuelama HEDBERG,

Globorotalia nana BOLLI, Globoquadrina altispira (CUSHMAN and JARVIS),

Globorotalia obesa BOLLI, Globorotalia peripheroronda BLOW and BANNER,

Berdasarkan kandungan fosil yang dijumpai, maka umur dari satuan batupasir pada

daerah penelitian adalah Miosen Awal bagian Akhir sampai Miosen Tengah bagian

Awal yaitu pada zona N.8 - N.9 (Tabel 3.4).

Tabel 3.4 Penentuan umur Satuan batupasir dengan menggunakan Range Chart
Miosen Foraminifera Kecil.

QUATERNARY
M I O C E N E
OLIGOCENE

PLIO CENE FO SIL

LO WER MIDDLE UPPER

Globorotalia archeomenardii BOLLI


Orbulina universa D'ORBIGNY
Globigerina venezuelama HEDBERG
Globoquadrina altispira (CUSHMAN and JARVIS)
Globorotalia obesa BOLLI
Globorotalia peripheroronda BLOW and BANNER
N.20
N.2 (= P.21)

N.3 (= P.22)
(= P.19/20)

N.21 and
N.10

N.11

N.12

N.13

N.14

N.15

N.16

N.17

N.18

N.19

N.23
N.22
N.1

N.4

N.5

N.6

N.7

N.8

N.9
65

Gambar 3.17 kandungan fosil plantonik satuan batupasir

Berdasarkan kandungan fosil foraminifera kecil pada satuan batupasir

stasiun 66 dan 69, maka satuan batupasir pada daerah penelitian dapat dikorelasikan

dengan Formasi Date yang diketahui berumur Miosen Awal bagian Akhir sampai

Miosen Tengah bagian Awal yang terbentuk pada lingkungan laut dangkal.

3.2.2.5 Hubungan Stratigrafi

Penentuan hubungan stratigrafi antara satuan batupasir pada daerah

penelitian didasarkan pada ciri fisik, umur, dan kenampakan kontak litologi di

lapangan. Untuk itu hubungan stratigrafi antara satuan batupasir dengan satuan

yang berada dibawahnya yaitu satuan batugamping merupakan hubungan

ketidakselarasan, sedangkan hubungan satuan batupasir dengan satuan yang berada

diatasnya yaitu satuan instrusi basal porfiri yaitu yaitu kontak intrusi.
66

3.2.3 Satuan Intrusi Basal Porfiri

Pembahasan satuan Intrusi basal porfiri pada daerah penelitian meliputi

penjelasan mengenai dasar penamaan, penyebaran dan ketebalan, ciri litologi yang

mencakup karakteristik batuan pada pengamatan secara megaskopis dan

mikroskopis, umur dan lingkungan pembentukan, serta hubungan stratigrafi dengan

satuan batuan pada daerah penelitian.

3.2.3.1 Dasar Penamaan

Dasar penamaan satuan batuan ini berdasarkan pada litostratigrafi tidak

resmi yang bersandikan pada ciri fisik dan penyebaran yang mendominasi pada

satuan batuan ini secara lateral serta dapat terpetakan dalam peta skala 1:25.000.

Penamaan batuan dari penyusun satuan batuan ini terdiri atas dua cara yaitu

pengamatan batuan secara megaskopis dan secara mikroskopis. Pengamatan secara

megaskopis ditentukan secara langsung di lapangan terhadap sifat fisik dan

komposisi mineralnya dengan menggunakan klasifikasi batuan beku menurut

Fenton (1940) sebagai dasar penamaan. Pengamatan secara mikroskopis yaitu

menggunakan alat bantu mikroskop polarisasi untuk menentukan jenis dan nama

batuan secara lebih rinci dengan melihat sifat-sifat optik komponen penyusun

batuan yang kemudian penamaannya menggunakan klasifikasi batuan beku

menurut Travis (1955).

Penamaan satuan batuan ini didasarkan atas dominasi litologi yang

menyusunnya yakni basal porfiri, maka satuan batuan ini dinamakan satuan intrusi

basal porfiri.
67

3.2.3.2 Penyebaran dan ketebalan

Satuan ini menempati luas sekitar 6.43% dari luas keseluruhan daerah

penelitian atau sekitar 3.52 km2. Satuan ini tersebar setempat-setempat pada bagian

barat daya dan barat laut daerah penelitian di daerah Kampungbaru dan selatan

Lokko. Ketebalan dari satuan ini pada lokasi penelitian ditentukan berdasarkan

hasil dari perhitungan ketebalan selisih batas ketinggian tertinggi dan batas

ketinggian terendah satuan intrusi basal porfiri pada daerah penelitian, sehingga

diperoleh ketebalan satuan intrusi basal porfiri sebesar 575 m (lihat peta geologi).

3.2.3.3 Ciri Litologi

Litologi yang menyusun satuan ini yaitu basal porfiri. Secara megaskopis,

pada daerah penelitian dijumpai basal porfiri dalam keadaan segar memperlihatkan

ciri fisik berwarna abu-abu sedangkan dalam kondisi lapuk berwarna coklat

kemerahan. intrusi basal porfiri ini memiliki tekstur Kristanilitas hipokristalin,

granularitas porfiro afanitik, relasi inequigranular, struktur masif, komposisi

mineral piroksi (augite dan hyperstane), plagioklas (labradorite), mineral opaq dan

mineral gelas. Berdasarkan ciri fisiknya nama batuan ini adalah basal porfiri.

(Gambar 3.18).

Kenampakan mikroskopis dari litologi basal porfiri dengan nomor sayatan

BF.16.BB secara umum sayatan batuan beku ini berwarna putih kecoklatan pada nikol

sejajar, abu-abu kehitaman pada nikol silang, memiliki tekstur kristalinitas hipokristalin,

granularitas porfiroafanitik, bentuk subhedral-anhedral, relasi inequigranular. Komposisi

mineral terdiri dari Plagioklas, Piroksin, Mineral Opak, dan Massa dasar. Plagioklas

memiliki warna absorbsi transparan – putih kecoklatan, warna interferensi putih keabu-
68

abuan, pleokroisme monokroik, intensitas rendah, relief lemah, bentuk euhedral-subhedral,

belahan satu arah, pecahan rata, ukuran mineral mm, sudut gelapan 37°, jenis gelapan

miring, jenis kembaran albit berdasarkan sudut gelapannya mineral ini termasuk jenis

plagioklas labradorite. Piroksin memiliki warna absorbsi coklat muda, warna interferensi

coklat kemerahan, pleokroisme dwiokroik, intensitas tinggi, relief kuat, bentuk subhedral

- anhedral, belahan satu arah, pecahan tidak rata, sudut gelapan 42°, jenis gelapan miring,

ukuran mineral 0.04 – 0.6 mm, jenis piroksin Hypersten. Mineral Opaq memiliki warna

pada nikol silang dan nikol sejajar hitam, bentuk subhedral – euhdral, ukuran 0.02 – 0.4

mm. Massa dasar gelas memiliki warna absorbsi putih kecoklatan dengan warna

interferensi abu-abu. Mikrokristalin memiliki warna absorbsi Putih kecoklatan, warna

interferensi abu-abu kehitaman, bentuk anhedral, ukuran < 0.02 mm. Berdasarkan hasil

analisis petrografis dan dengan melihat karakteristik serta persentase dari komposisi

material penyusun batuan, maka batuan ini dinamakan Porfiri Basalt (Travis, 1955).

Gambar 3.18 Singkapan basal porfiri pada stasiun 16 daerah barat daya
Malimongan dengan arah foto N3560E.
69

Gambar 3.19 Kenampakan mikroskopis Porfiri Basalt pada stasiun 16 dengan


kode sayatan BF 66 BB, yang memperlihatkan Plagioklas (1A),
Piroksin (G1), Mineral Opak (3C), Massa Dasar Gelas (6F) dan
Mikrokristalin (4J), difoto dengan perbesaran 50X.

Gambar 3.19 Peta 3D Geologi lokasi anggota satuan intrusi basal porfiri.

3.2.3.4 Lingkungan Pembentukan dan Umur

Penentuan lingkungan pembentukan dan umur dari satuan intrusi basal porfiri

ditentukan berdasarkan pada ciri fisik litologi, posisi stratigrafi, data-data lapangan dan

prinsip kesebandingan terhadap stratigrafi regional daerah penelitian dari hasil peneliti

terdahulu dengan berlandaskan pada dominasi dan kesamaan ciri fisik litologi yang
70

dijumpai maupun pengamatan petrografis, serta perbandingan terhadap lokasi tipe formasi

yang disebandingkan.

Penentuan lingkungan pembentukan dari satuan ini ditentukan berdasarkan ciri fisik,

tekstur, struktur dan komposisi mineralnya. Kenampakan lapangan, satuan intrusi basal

porfiri berupa mineral penyusun batuan yang dapat dikenali hampir secara keseluruhan

secara megaskopis, terdiri dari plagioklas dan piroksin. Sehingga dapat disimpulkan

sebagai batuan dengan tekstur porfiro afanitik dan hipokristalin serta berstruktur masif

dengan warna gelap. Secara petrografis, terlihat kenampakan mineral penyusun batuan

yang secara umum terkristalisasi secara baik dan menghasilkan tekstur kristalinitas

hipokristalin, granularitas porfiro afanitik, dan relasi inequigranular. Berdasarkan ciri fisik

lapangan dan petrografis tersebut, dapat disimpulkan bahwa satuan ini merupakan batuan

yang terbentuk di darat (batuan beku intrusif).

Penentuan umur satuan didasarkan pada kesebandingan dengan stratigrafi regional

daerah penelitian dengan kesaman ciri fisik batuan di daerah penelitian. Berdasarkan

kesebandingan, satuan intrusi basal porfiri termasuk pada Formasi Sekala (Tmps) yang

berumur Miosen Tengah.

3.2.3.5 Hubungan Stratigrafi

Penentuan hubungan stratigrafi antara satuan intrusi basal porfiri pada

daerah penelitian didasarkan pada ciri fisik, umur, dan kenampakan kontak litologi

di lapangan. Untuk itu hubungan stratigrafi antara satuan intrusi basal porfiri

dengan satuan yang berada dibawahnya yaitu satuan batugamping dan satuan

batupasir merupakan hubungan kontak intrusi, sedangkan hubungan satuan intrusi

basal porfiri dengan satuan yang berada diatasnya tidak diketahui.


71

BAB IV
STRUKTUR GEOLOGI

4.1 Struktur Geologi Regional

Sulawesi dan sekitarnya merupakan daerah yang kompleks karena

merupakan tempat pertemuan tiga lempeng besar yaitu; lempeng Indo-Australia

yang bergerak ke arah utara, lempeng Pasifik yang bergerak ke arah barat dan

lempeng Eurasia yang bergerak ke arah selatan-tenggara serta lempeng yang lebih

kecil yaitu lempeng Filipina (Sompotan, 2012).

Pergerakan lempeng-lempeng tersebut mengakibatkan terbentuknya

struktur perlipatan dan pensesaran antara lain sesar mendatar mengiri Palu-Koro

yang memisahkan Laut Sulawesi dan Selat Makassar dan diperkirakan masih aktif

sampai sekarang dan telah bergeser sejauh 750 kilometer (Tjia dan Zakaria,1973

dalam Djuri, dkk., 1998).

Menurut Sukamto (1975) dalam Hall dan Wilson (2000) Sulawesi dibagi

menjadi beberapa provinsi tektonik, dari barat ke timur ; Busur Pluton-Vulkanik

Sulawesi Barat, Lajur Metamorphic Sulawesi Tengah, Ofiolit Sulawesi Timur dan

Mikro-kontinen Banggai Sula dan Buton - Tukang Besi (Gambar 4.1).

Menurut Sompotan (2012) berdasarkan struktur litotektonik, Sulawesi dan

pulau-pulau sekitarnya dibagi menjadi empat, yaitu ; Mandala barat (West & North

Sulawesi Volcano-Plutonic Arc) sebagai jalur magmatik yang merupakan bagian

ujung timur Paparan Sunda, Mandala tengah (Central Sulawesi Metamorphic Belt)

berupa batuan malihan yang ditumpangi batuan bancuh sebagai bagian dari blok

Australia, Mandala timur (East Sulawesi Ophiolite Belt) berupa ofiolit yang
72

merupakan segmen dari kerak samudera berimbrikasi dan batuan sedimen berumur

Trias-Miosen dan yang keempat adalah Fragmen Benua Banggai-Sula-Tukang

Besi, kepulauan paling timur dan tenggara Sulawesi yang merupakan pecahan

benua yang berpindah ke arah barat karena sesar strike-slip fault dari New Guinea.

Daerah penelitian terpetakan dalam Lembar Majene dan bagian barat

palopo yang termasuk dalam Mandala Geologi Sulawesi Barat (Sukamto, 1975

dalam Djuri, 1998). Mandala ini dicirikan oleh batuan sedimen laut dalam berumur

Kapur – Paleogen yang kemudian berkembang menjadi batuan gunungapi bawah

laut dan akhirnya gunungapi darat di akhir Tersier. Batuan terobosan granitan

berumur Miosen – Pliosen juga mencirikan mandala ini. Sejarah tektoniknya dapat

diuraikan mulai dari zaman Kapur, yaitu saat Mandala Geologi Sulawesi Timur

bergerak ke Barat mengikuti gerakan tunjaman landai ke barat di bagian timur

Mandala Sulawesi Barat. Penunjaman ini berlangsung hingga hingga Miosen

Tengah, saat kedua mandala tersebut bersatu pada akhir Miosen Tengah sampai

Pliosen terjadi pengendapan sedimen molase secara tak selaras di atas seluruh

mandala geologi di Sulawesi, serta terjadi terobosan batuan granitan di Mandala

Geologi Sulawesi Barat (Djuri, dkk., 1998).

Menurut Sompotan (2012) selama proses penunjaman terjadi pula

pengangkatan di seluruh daerah Sulawesi yang terjadi sejak Miosen Tengah,

membentuk sesar turun (block faulting) di berbagai tempat membentuk cekungan-

cekungan berbentuk graben. Saat Pliosen, seluruh area didominasi oleh block

faulting dan sesar utama seperti sesar Palu-Koro tetap aktif. Peristiwa tektonik

menghasilkan cekungan laut dangkal dan sempit di beberapa tempat dan beberapa
73

cekungan darat terisolasi. Batuan klastik kasar terendapkan di cekungan-cekungan

ini dan membentuk Molase.

Gambar 4.1 Peta geologi Sulawesi dan tatanan tektoniknya (Hall & Wilson,
2000)

Pada Plio-Pliosen seluruh daerah Sulawesi terdeformasi. Di daerah

pemetaan deformasi ini diduga telah mengakibatkan terbentuknya lipatan dengan

sumbu berarah barat laut – tenggara, serta sesar naik dengan bidang sesar miring ke

timur. Setelah itu seluruh daerah Sulawesi terangkat dan membentuk bentang alam

seperti sekarang ini (Sukamto, 1975 dalam Djuri, dkk., 1998).

Arah gerak sesar Palu-koro memperlihatkan kesamaan gerak dengan jalur


74

sesar Matano dan jalur sesar Sorong dan pola sesar sungkupnya memperlihatkan

arah sesar yang konsekuen terhadap Mandala Banggai-Sula. Hal ini

memperlihatkan bahwa terdapat pemampatan mendatar yang disebabkan oleh

Mandala Banggai-Sula yang bergerak ke arah barat, kemudian akibat lempeng Asia

yang bergerak dari arah Baratlaut menyebabkan terbentuknya jalur penunjaman

Sulawesi Utara sehingga pergerakan dari sesar Palu-Koro makin aktif

(Simandjuntak, 1986 dalam Djuri, dkk., 1998).

4.2 Struktur Geologi Daerah Penelitian

Pembahasan tentang struktur geologi daerah penelitian menjelaskan tentang

pola struktur geologi, identifikasi jenis struktur, umur dari struktur yang

dihubungkan dengan stratigrafi daerah penelitian dan interpretasi mekanisme gaya

yang menyebabkan terjadinya struktur pada daerah penelitian. Penentuan struktur

geologi didasarkan pada data yang diperoleh berupa data yang bersifat primer

maupun sekunder dan interpretasi pada peta topografi daerah penelitian.

Berdasarkan pengamatan di lapangan maka diperoleh data penciri struktur

geologi seperti breksi sesar, struktur lipatan dan data kekar. Struktur geologi yang

berkembang pada daerah penelitian berdasarkan penciri struktur yang dijumpai di

lapangan adalah :

1. Struktur Lipatan

2. Struktur kekar

3. Struktur sesar
75

4.2.1 Struktur Lipatan

Lipatan adalah suatu bentuk dari satuan yang terjadi pada batuan sedimen,

batuan metamorf serta batuan-batuan gunungapi yang ditunjukkan dengan suatu

bentuk pelengkungan yang bergelombang (Billings, 1968). Lipatan merupakan

suatu bentuk distorsi dari volume material yang ditunjukan dalam bentuk

pelengkungan atau sekumpulan lengkungan pada suatu unsur garis dan bidang

(Hansen, 1971 dalam Ragan, 2009).

Bentuk pelengkungan yang terjadi pada suatu benda atau material tersebut

disebabkan oleh dua mekanisme menurut Asikin (1979), yaitu buckling dan

bending.

- Buckling (melipat) adalah perlipatan yang disebabkan gaya tekanan yang

arahnya sejajar permukaan lempeng.

- Bending (pelengkungan) adalah pelengkungan yang arah gayanya tegak lurus

permukaan lempeng.

Gejala struktur lipatan pada suatu daerah penelitian dapat dikenali dengan

melihat variasi kedudukan dan foliasi batuan, kemudian direkonstruksi dengan

menggunakan penampang sayatan untuk melihat kondisi perlipatan (Billings,

1968). Hal ini dilakukan untuk mengenali jenis lipatan yang berkembang pada

daerah penelitian dengan melakukan korelasi antara kedudukan batuan yang satu

dengan kedudukan batuan yang lain sehingga dapat diketahui hubungan antara

perlapisan batuan dan jenis lipatannya. Berdasarkan hasil pengamatan dan


76

pengukuran yang dilakukan di lapangan maka dapat diintepretasikan bahwa

struktur lipatan yang terdapat pada daerah penelitian berupa lipatan antiklin.

Lipatan di daerah penelitian di interpretasi dari adanya perlapisan batuan

yang saling membelakangi. Kedudukan di timur lokasi penelitian umumnya

memiliki arah dip ke tenggara, sedangkan kedudukan di barat lokasi penelitian

umumnya memiliki arah dip ke barat laut.

Gambar 4.2 Peta garis struktur geologi dan kedudukan batuan yang
menunjukan adanya kedudukan yang saling membelakangi
sebagai indikasi lipatan antiklin.

Rekonstruksi lipatan pada daerah penelitian menggunakan interpolasi

metode Higgins (1962) dalam Ragan (2009:420). Metode ini menentukan


77

bentuk lipatan berdasarkan posisi kedudukan-kedudukan batuan yang

dijumpai di lapangan pada penampang.

Gambar 4.3 Rekonstruksi lipatan pada derah penelitian dengan sayatan geologi
A-B menggunakan interpolasi Higgins (1962).

4.2.2 Struktur Kekar

Kekar merupakan rekahan pada batuan dimana tidak ada atau sedikit sekali

mengalami pergeseran (Billings, 1968). Penentuan jenis kekar pada daerah penelitian

didasarkan pada bentuk dan genetikanya. Kekar yang dijumpai di lapangan diidentifikasi

dengan melakukan pengukuran terhadap kedudukan kekar, posisi kekar pada batuan, serta

pengambilan foto kenampakan kekar tersebut.

Berdasarkan bentuknya, klasifikasi kekar Menurut Asikin (1979), terdiri

dari kekar sistematik dan tidak sistematik, adalah :

1. Kekar Sistematik yaitu kekar yang umumnya selalu dijumpai dalam bentuk

pasangan. Tiap pasangannya ditandai oleh arahnya yang serba sejajar atau

hampir sejajar jika dilihat dari kenampakan di atas permukaan.


78

2. Kekar Tidak Sistematik yaitu kekar yang tidak teratur susunannya, dan biasanya

tidak memotong kekar yang lainnya dan permukaannya selalu lengkung dan

berakhir pada bidang perlapisan.

Pengelompokan kekar berdasarkan genetiknya terdiri atas :

1. Compression Joints atau Kekar Gerus yaitu kekar yang diakibatkan oleh adanya

tekanan biasanya dikenal juga dengan shear joint.

2. Extention Joints atau kekar tarik merupakan kekar yang diakibatkan oleh

tarikan, terbagi atas dua jenis yaitu:

 Extension joints yaitu kekar yang disebabkan oleh tarikan / pemekaran.

 Release Joints yaitu kekar yang disebabkan karena berhentinya gaya

bekerja.

Berdasarkan bentuknya di lapangan, kekar yang dijumpai pada daerah

penelitian berupa kekar sistematik karena menunjukkan kenampakan yang relatif

teratur dan memotong kekar yang lainnya. Kekar sistematik pada daerah penelitian

dijumpai pada litologi batupasir di daerah Timur Mampu pada stasiun 73 (Gambar

4.4). Kekar ini secara genetik merupakan kekar gerus atau shear joint.
79

Gambar 4.4 Kekar sistematis pada litologi Batupasir pada stasiun 73 difoto ke
arah N 42oE

Untuk menentukan arah tegasan utama yang bekerja dan mengontrol

struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian maka dilakukan

pengambilan data kekar berupa pengukuran kedudukan sebanyak 50 kali pada

stasiun 73 (tabel 4.1). Pengambilan sampel kekar sebanyak ini dilakukan agar data

kekar yang telah diukur dapat mewakili singkapan yang dijumpai. Semakin banyak

pasangan kekar yang diukur, maka akan semakin mewakili populasi kekar pada

setiap singkapan. Setelah itu, dilakukan analisis data kekar menggunakan aplikasi

dips. Adapun hasil analisa data kekar tersebut sebagai berikut.

Tabel 4.1 Data pengukuran kekar pada batupasir pada stasiun 73


Strike Dip Strike Dip Strike Dip
N0 N0 N0
(N…'E) (…') (N…'E) (…') (N…'E) (…')
1 101 44 19 326 51 37 20 43
2 71 45 20 166 39 38 54 50
3 277 57 21 95 80 39 333 74
4 305 50 22 94 84 40 7 67
5 327 76 23 75 23 41 357 83
6 305 55 24 70 90 42 53 67
7 80 69 25 298 60 43 316 57
8 282 57 26 285 38 44 284 51
80

9 282 57 27 326 67 45 315 53


10 292 71 28 348 72 46 301 56
11 330 30 29 301 74 47 335 58
12 102 77 30 339 49 48 335 72
13 325 68 31 356 67 49 337 58
14 312 78 32 322 41 50 272 47
15 348 72 33 303 72
16 320 76 34 312 39
17 285 70 35 315 54
18 330 75 36 319 58

Hasil pengukuran kekar pada litologi batupasir pada stasiun 73 diperoleh

kedudukan umum kekar yang berarah relatif barat laut - tenggara (N315°E – N 1350E),

kemiringan bidang kekar berkisar antara 59 °-61°, panjang kekar 2,3 meter, spasi kekar (1-

23 cm), bukaan kekar (0,1-2 cm), tingkat pelapukan tinggi, dengan permukaan yang licin.

Kemudian dilakukan analisa dengan menggunakan aplikasi Dips untuk menentukan arah

tegasannya. Hasil analisa data dengan menggunakan proyeksi dips diperoleh tegasan utama

maksimum (σ1) N 315°E/570, tegasan utama menengah (2) N65°E/62° dan tegasan utama

minimum (3) N185°E/45° (Gambar 4.5).

Gambar 4.5 Proyeksi stereografi berdasarkan data kekar pada litologi batupasir
pada stasiun 73 di daerah Barat Mampu
81

4.2.3 Struktur Sesar

Sesar atau patahan adalah suatu bidang rekahan atau zona rekahan yang

telah mengalami pergeseran (Ragan, 2009). Pergeseran yang terjadi menyebabkan

adanya perpindahan bagian-bagian dari blok-blok yang berhadapan sepanjang

bidang patahan tersebut. Berdasarkan teori kekandasan batuan, bahwa batuan akan

pecah bila melampaui batas plastisnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa

terjadinya struktur sesar akibat berlanjutnya gaya kompresi yang membentuk

struktur geologi sebelumnya.

Sedangkan menurut Sukendar Azikin (1979), sesar atau fault merupakan

rekahan pada batuan yang telah mengalami pergeseran sehingga terjadi

perpindahan antara bagian yang saling berhadapan, dengan arah yang sejajar

dengan bidang patahan.

Anderson 1951 dalam Mc. Clay, 1987, membuat klasifikasi sesar

berdasarkan pada pola tegasan utama sebagai penyebab terbentuknya sesar.

Berdasarkan pola tegasannya ada 3 (tiga) jenis sesar, yaitu sesar naik (thrust fault),

sesar normal (normal fault) dan sesar mendatar (wrench fault).

1. Normal fault, jika tegasan utama atau tegasan maksimum (σ1) posisinya

vertikal.

2. Wrench fault, jika tegasan menengah atau intermediate (σ2) posisinya vertikal.

3. Thrust fault, jika tegasan minimum (σ3) posisinya vertikal.

Penentuan struktur sesar yang berkembang di daerah penelitian berdasarkan

pada data-data yang dijumpai di lapangan baik yang bersifat primer maupun

sekunder berupa perubahan kedudukan batuan, pergeseran batas litologi, breksi


82

sesar, arah breksiasi, serta interpretasi pada peta topografi berupa pelurusan kontur,

kelokan sungai secara tiba-tiba, arah pelurusan topografi serta perbandingan

kerapatan kontur. Data yang didapatkan dilapangan kemudian dipadukan dengan

hasil interpretasi peta topografi dan hasil analisis arah tegasan utama yang bekerja

di daerah penelitian dengan menggunakan proyeksi stereonet. Selain itu identifikasi

struktur tetap mengacu terhadap setting tektonik regional daerah penelitian.

Berdasarkan hal tersebut, maka struktur sesar yang berkembang pada daerah

penelitian adalah sesar naik, Untuk mempermudah pembahasan maka sesar ini

diberi nama belakang berdasarkan nama geografis daerah yang dilalui sesar

tersebut.

4.2.3.1 Sesar Turun Marena

Sesar Turun Marena memanjang dari utara timur laut hingga ke selatan.

Penentuan struktur sesar yang berkembang pada daerah penelitian didasarkan pada

keterdapatan data-data primer dan data-sekunder sebagai penunjang, yaitu :

1. Breksi sesar yang dijumpai pada sekitar stasiun 27 pada litologi

batugamping (Gambar 4.5).

2. Perubahan kedudukan batuan pada litologi batugamping stasiun 54 dan 34.

3. Kontur yang rapat di daerah dekat sesar.

Dijumpai pula kekar di stasiun 73 pada litologi batupasir dengan arah relatif

tegasan utama barat laut - tenggara. Berdasarkan hal tersebut dan pengolahan data

kekar, maka diinterpretasikan terdapat sesar naik. Sesar naik ini melewati daerah

Marena sehingga dinamakan sesar mendatar Marena. Sesar Turun Marena ini
83

menempati satuan batugamping, sehingga dapat disimpulkan sesar ini terbentuk

setelah batugamping terbentuk.

Gambar 4.6 Breksi sesar pada litologi batugamping stasiun 27 difoto ke arah
N183oE

4.3 Mekanisme Struktur Geologi Daerah Penelitian

Mekanisme pembentukan struktur geologi pada daerah penelitian

didasarkan pada pendekatan teori Reidel (dalam McClay 1987) yang merupakan

modifikasi dari teori Harding 1974 (gambar 4.9) serta penggabungan dengan data

hasil analisis kekar dan penciri sesar yang dijumpai di lapangan. Pembentukan

struktur geologi pada daerah penelitian sangat erat hubungannya dengan struktur

regional. Gaya yang bekerja pada pembentukan struktur secara regional

mengakibatkan gaya imbas yang menghasilkan arah gaya secara lokal sehingga

menyebabkan terbentuknya struktur geologi pada daerah penelitian. Berdasarkan

hal tersebut maka dapat diketahui bahwa mekanisme pembentukan struktur geologi

yang terdapat pada daerah penelitian terjadi dalam dua periode. Adapun

penjelasannya akan diuraikan sebagai berikut.


84

Gambar 4.7 Mekanisme terjadinya sesar berdasarkan


Model Reidel dalam Mc.Clay (1987)

Pada tahapan pertama, pada Miosen Tengah setelah terbentuknya satuan

intrusi basal porfiri, dimana aktivitas tektonik yang berlangsung pada kala ini

mengakibatkan adanya suatu hasil gaya kompresi yang berarah barat laut – tenggara

menghasilkan tegasan utama maksimum (σ1) yang berarah N 315oE, yang

menyebabkan batuan pada daerah penelitian mengalami deformasi membentuk

lipatan antiklin.

Kemudian pada tahap kedua terjadi gaya extension menyebabkan block

batuan saling menjauh melewati batas elastisitas batuan yang berada pada daerah

penelitian dan mengakibatkan batuan tersebut mengalami fase deformasi plastis

sehingga batuan akan mengalami patahan membentuk sesar Turun Marena.

Penentuan umur struktur geologi daerah penelitian ditentukan secara

relatif melalui pendekatan umur satuan batuan termuda yang dilewati. Struktur
85

sesar Turun Marena yang melewati satuan batugamping sehingga dapat

disimpulkan bahwa umur relatif dari sesar Turun Marena post Miosen Tengah.

Gambar 4.8 Mekanisme pembentukan struktur geologi daerah penelitian,


menunjukkan gaya kompresi yang berarah Barat laut –
Tenggara.
86

BAB V
SEJARAH GEOLOGI

Sejarah geologi daerah penelitian dimulai pada kala Eosen Akhir pada

lingkungan laut dangkal, dimana pada kala tersebut terbentuk terumbu-terumbu

koral yang disertai dengan pengendapan material-material karbonat yang berasal

dari cangkang-cangkang organisme laut dangkal yang secara berangsur-angsur

terendapkan membentuk batugamping. Selama proses pengendapan berlangsung,

terjadi pula keseimbangan antara proses pengendapan dan penurunan dasar

cekungan sehingga dijumpai batuan yang lebih tebal. Pada saat terjadi pengendapan

material karbonatan, terjadi pula pengendapan material berukuran pasir membentuk

batupasir dan pengendapan material karbonat berukuran pasir secara bersamaan

membentuk batupasir karbonatan. Proses ini berakhir pada kala yang sama yaitu

Eosen Akhir.

Memasuki kala Miosen Awal bagian Akhir pada lingkungan transisi dimana

terjadi pengendapan material sedimen darat berukuran pasir membentuk Satuan

Batupasir kuarsa. Selama proses pengendapan berlangsung, terjadi pula proses

pengendapan dan penurunan dasar cekungan sehingga dijumpai batuan yang lebih

tebal. Proses penurunan dasar cekungan berlangsung lebih cepat dari proses

pengendapan sehingga merubah lingkungan pengendapan menjadi laut dangkal.

Pada kala yang sama terjadi pula pengendapan material karbonatan berukuran pasir

membentuk batupasir karbonatan. Selanjutnya terjadi pengendapan material

karbonat berukuran lempung membentuk batupasir karbontan. Proses pegendapan

ini berakhir pada kala yang sama Miosen Tengah bagian Awal.
87

Pada kala Miosen Tengah terjadi proses pengangkatan dasar cekungan

sehingga lingkungan daerah penelitian menjadi darat. Pada kala yang sama terjadi

proses intrusi oleh magma basa yang mengintrusi batuan yang lebih tua diatasnya

sehingga membentuk satuan intrusi basal porfiri.

Pada kala Post Miosen Tengah setelah terbentuk satuan intrusi basal porfiri,

terjadi aktivitas tektonik sehingga mengalami deformasi berupa gaya kompresi

yang merubah arah dip yang saling membelakangi membentuk lipatan sinklin.

Kemudian terbentuk gaya extension sehingga menyebabkan block batuan yang

saling menjauhan melampaui batas elastisitas batuan yang berada pada daerah

penelitian dan mengakibatkan batuan tersebut mengalami fase deformasi plastis

sehingga batuan akan mengalami patahan membentuk sesar Turun Marena.

Setelah terjadi proses deformasi tersebut, kemudian berlangsung proses-

proses geologi muda berupa proses erosi, pelapukan dan sedimentasi. Proses inilah

yang kemudian mengontrol pembentukan bentangalam pada daerah penelitian

dimana proses-proses tersebut masih berlangsung hingga sekarang.


88

BAB VI
BAHAN GALIAN

Undang-Undang Dasar 1945 pada pasal 33 ayat 3 berbunyi “Bumi dan air dan

kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan

dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Kekayaan alam yang

dimaksudkan adalah sumber daya mineral yang salah satunya adalah bahan galian.

Bahan galian merupakan salah satu sumberdaya alam yang sangat potensial

mencakup di dalamnya adalah segala jenis sumber daya alam yang dapat

memberikan manfaat bagi seluruh rakyat. Bahan galian didefinisikan sebagai bahan

yang dijumpai di alam baik berupa unsur kimia, mineral, bijih ataupun segala

macam batuan, termasuk bahan galian yang berbentuk padat (misalnya emas, perak,

dan lain-lain), berbentuk cair (misalnya minyak bumi, yodium dan lain-lain),

maupun yang berbentuk gas (misalnya gas alam) (Sukandarrumidi, 1999). Bahan

galian yang terdapat di alam ditemukan dalam bentuk penyebaran yang tidak

merata, hal ini sangat tergantung pada jenis batuan tempat terdapatnya jenis bahan

galian tersebut, serta proses dan aktivitas geologi yang mempengaruhi

pembentukannya.

Penggolongan bahan galian diatur dalam Undang-undang republik

Indonesia Nomor 4 tahun 2009 pada bab VI pasal 34 tentang usaha pertambangan.

Dalam pasal tersebut usaha pertambangan dibagi menjadi 3 ayat, yaitu :

1. Usaha pertambangan dikelompokkan atas :

a. Pertambangan mineral, dan

b. Pertambangan batubara.
89

2. Pertambangan mineral sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a digolongkan

atas :

a. Pertambangan mineral radioaktif,

b. Pertambangan mineral logam,

c. Pertambangan mineral bukan logam dan

d. Pertambangan batuan.

3. Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan suatu komoditas tambang ke dalam

suatu golongan pertambangan mineral sebagaimana dimaksud pada ayat (2)

diatur dengan peraturan pemerintah.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2010 tentang

pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara pada bab I

ketentuan umum pasal 2 ayat 2 mengelompokkan bahan galian ke dalam 5 (lima)

golongan komoditas tambang, yaitu :

a. mineral radioaktif meliputi radium, rhodium, uranium, monasit, dan bahan

galian radioaktif lainnya;

b. mineral logam meliputi litium, berilium, magnesium,kalium, kalsium,

emas, tembaga, perak, timbal, seng,timah, nikel, mangan, platina, bismut,

molibdenum, bauksit, air raksa, wolfram, titanium, barit, vanadium,kromit,

antimoni, kobalt, tantalum, cadmium, galium, indium, yitrium, magnetit,

besi, galena, alumina, niobium, zirkonium, ilmenit, krom, erbium, yterbium,

dysprosium, thorium, cesium, lanthanum, niobium, neodymium, hafnium,

scandium, aluminium, palladium, osmium, ruthenium, iridium, selenium,

telluride, stronium, germanium, dan zenotin;


90

c. mineral bukan logam meliputi intan, korundum, grafit, arsen, pasir kuarsa,

fluorspar, kriolit, yodium, brom, klor, belerang, fosfat, halit, asbes, talk,

mika, magnesit, yarosit, oker, fluorit, ball clay, fire clay, zeolit, kaolin,

feldspar, bentonit, gipsum, dolomit, kalsit, rijang, pirofilit, kuarsit, zirkon,

wolastonit, tawas, batu kuarsa, perlit, garam batu, clay, dan batu gamping

untuk semen;

d. batuan meliputi pumice, tras, toseki, obsidian, marmer, perlit, tanah

diatome, tanah serap (fullers earth), slate, granit, granodiorit, andesit, gabro,

peridotit, basalt, trakhit, leusit, tanah liat, tanah urug, batu apung, opal,

kalsedon, chert, kristal kuarsa, jasper, krisoprase, kayu terkersikan, gamet,

giok, agat, diorit, topas, batu gunung quarry besar, kerikil galian dari bukit,

kerikil sungai, batu kali, kerikil sungai ayak tanpa pasir, pasir urug, pasir

pasang, kerikil berpasir alami (sirtu), bahan timbunan pilihan (tanah),

urukan tanah setempat, tanah merah (laterit), batu gamping, onik, pasir laut,

dan pasir yang tidak mengandung unsur mineral logam atau unsur mineral

bukan logam dalam jumlah yang berarti ditinjau dari segi ekonomi

pertambangan; dan

e. batubara meliputi bitumen padat, batuan aspal, batubara, dan gambut.

6.1 Keberadaan Potensi Bahan Galian di Daerah Penelitian

Berdasarkan UU Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009, bab VI pasal 34

tentang usaha pertambangan, maka dapat diindikasikan bahan galian pada daerah

penelitian termasuk dalam ayat (2) yaitu pertambangan batuan. Dan berdasarkan

PP Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2010 tentang pelaksanaan kegiatan usaha


91

pertambangan mineral dan batubara pada bab I ketentuan umum pasal 2 ayat 2,

maka bahan galian pada daerah penelitian termasuk dalam point yaitu golongan

komoditas tambang batuan.

Keberadaan bahan galian pada daerah penelitian tidak terlepas dari jenis

litologi penyusunnya serta aktivitas geologi yang berlangsung di daerah penelitian.

Kedua hal tersebut sangat mempengaruhi proses pembentukan, penyebaran, jumlah

atau volume serta mutu bahan galian tersebut.

Pemetaan bahan galian daerah penelitian didasarkan atas beberapa faktor

yaitu keterjangkauan lokasi oleh sarana transportasi, ketersediaan bahan galian

dalam jumlah yang cukup untuk dikelola dan pemanfaatannya oleh penduduk

setempat. Bahan galian yang dijumpai pada daerah penelitian yaitu bahan galian

Batugamping. Keterdapatan Batugamping ini pada daerah penelitian dijumpai pada

sekitar daerah Desa Dale.

6.2 Pemanfaatan Bahan Galian di Daerah Penelitian

Untuk mengetahui pemanfaatan dari bahan galian pada suatu daerah maka

diperlukan informasi mengenai bahan galian di daerah penelitian seperti lokasi

keterdapatan, genesa, asosiasi litologi penyusun bahan galian tersebut, karakteristik

fisik serta keterdapatan bahan galian tersebut apakah ekonomis untuk dikelola atau

tidak.

6.2.1 Batugamping

Penyebaran indikasi bahan galian Batugamping terletak pada sebelah utara,

tengah, selatan, barat dan timur daerah penelitian dengan luas wilayah ±83.07%
92

dari seluruh luas daerah penelitian yaitu sekitar 45.46 km2. Tubuh batuan

batugamping yang terdapat pada daerah penelitian pada umumnya dijumpai dalam

bentuk bukit dan beberapa berupa bongkah-bongkah.

Gambar 6.1 Potensi bahan galian Batugamping pada stasiun 40 daerah Dale,
difoto ke arah N306°E dan N30°E

Genesa pembentukan Batugamping yaitu terbentuk melalui proses

sedimentasi baik secara mekanik dan kimiawi dari organisme di laut yang

mengandung mineral karbonat misalnya koral dan alga. Batugamping pada daerah

penelitian terdiri atas batugamping klastik dan nonklastik dengan ciri fisik

kenampakan segar secara umum berwarna abu-abu dan pada keadaan lapuk

berwarna coklat kehitaman, tekstur bioklastik, komposisi kimia karbonat, struktur

tidak berlapis, memiliki tingkat kekerasan yang tinggi dan masif. Untuk keperluan

komersil, bahan galian ini berpotensi untuk digunakan sebagai bahan bangunan,

terutama untuk dijadikan sebagai pondasi rumah.

Kesampaian daerah untuk bahan galian batugamping pada daerah penelitian

yaitu ± 200 m dari jalan lokal dan dapat dilalui oleh kendaraan roda dua dan roda

empat. Berdasarkan dimensi serta penyebaran dari bahan galian ini maka bahan
93

galian ini ekonomis untuk ditambang karena secara kuantitatif penyebarannya

sangat luas.

Gambar 6.2 Peta 3D Citra lokasi potensi bahan galian daerah penelitian
94

BAB VII
PENUTUP

7.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada daerah Bunggawai dan

sekitarnya, maka dapat diketahui kondisi geologi daerah penelitian secara umum

adalah sebagai berikut :

1. Daerah penelitian tersusun oleh dua satuan geomorfologi yaitu satuan

geomorfologi Denudasional dan satuan geomorfologi Karst. Jenis sungai yang

berkembang adalah sungai permanen, periodik dan episodik , sedangkan secara

genetik berupa sungai subsekuen, dengan pola aliran berupa pola aliran paralel.

Stadia daerah adalah muda menjelang dewasa.

2. Stratigrafi daerah penelitian tersusun atas tiga satuan batuan, dari yang termuda

ke yang tertua yaitu :

- Satuan intrusi basal porfiri

- Satuan batupasir

- Satuan batugamping

3. Struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian adalah kekar

sistematik, lipatan sinklin, sesar Turun Marena dengan arah relatif tegasan utama

Tenggara - barat laut.

4. Indikasi bahan galian pada daerah penelitian berupa batugamping.


95

7.2 Saran

Daerah penelitian memiliki potensi bahan galian yang ekonomis sehingga

penulis menyarankan sebaiknya ditunjang oleh sarana dan prasarana yang baik

seperti aspek keterjangkauan yang baik pula dalam hal ini perbaikan jalan menuju

daerah Dale dan lokasi-lokasi penambangan. Saran ini ditujukan untuk pihak terkait

dalam hal ini pemerintah setempat dan pihak perusahaan yang melakukan kegiatan

penambangan di sekitar daerah penelitian.


96

DAFTAR PUSTAKA

Asikin, Sukendar., 1979. Dasar-Dasar Geologi Struktur. Jurusan Teknik Geologi


Institut Teknologi Bandung, Bandung.

Bakosurtanal., 1991. Peta Rupa Bumi Lembar Belajen nomor 2012-62,


Cibinong, Bogor.

Basuki, W., 2010. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 4 tahun 2009
Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara, Counsellor at law
(ABNR), Jakarta.
Bauman P., 1971. Summaries of Lectures in Larger Foraminifera. Lemigas,
Jakarta, Indonesia.

Billings, M. P., 1968. Structural Geology, Second edition, Prentice of India


Private Limited, New Delhi.

Boggs, Sam.,1987. Principles of Sedimentology and Stratigraphy – Fourth


Edition. Pearson Education. Inc: New Jersey.

Djauhari., 2010. Geomorfologi, Program Studi Teknik Geologi-Fakultas Teknik


Universitas Pakuan, Bogor.

Djauhari., 2011, Geologi untuk Perencanaan, Edisi Pertama. Graha Ilmu,


Yogyakarta

Djuri dan Sudjatmiko, S.Bachri dan Sukido., 1998. Peta Geologi Lembar Majene
dan Bagian Barat Lembar Palopo. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Geologi, Bandung.

Dunham, R.J., 1962. Classification of Carbonate Rocks According to Depositional


Textures, Amer.Assn. Pet. Geol. Mem. No: 1, pp 108-121.

Endarto, Danang., 2005. Pengantar Geologi Dasar, Lembaga Pengembangan


Pendidikan (LPP) UNS, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia.

Graha, S.D., 1985. Batuan dan Mineral. Bandung, Indonesia.

Hall, R., Wilson, M.E.J., 2000. Neogen Sutures in Eastern Indonesia. SE Asia
Reserach Group, Department of geology, Royal Halloway University of
London, Egham, Surrey TW20 0EX, UK. Journal of Asian Earth Sciences
18 (2000) 781-808
97

Higgins, C.G., 1962. Reconstruction of flexure folds by concentric arc method.


Am. Assoc. Petrol. Geol. Bull. 46, 1737 – 1739.

Ikatan Ahli Geologi Indonesia., 1996. Sandi Stratigrafi Indonesia. Bidang


Geologi dan Sumber Daya Mineral. Jakarta. Indonesia.

Imran, A. M., 2012; Geologi batuan karbonat dan Pemanfaatannya, Universitas


Hasanuddin, Makassar

Keer, P.F.,1958. Optical Mineralogy, Mc Graw – Hill Book Co.Inc.,New York.

Lobeck, A.K., 1939. Geomorphology An Intruduction to the Study of


Landscapes, McGraw-Hill Book Company, Inc New York and London

McClay, K. R.., 1987. The Mapping of Geological Structures, University of


London, John Wiley & Sons Ltd, Chichester, England.

Pettijohn, F., 1956, Sedimentary Rocks, Second Edition, Oxford & IBH Publishing
Co., Calcuta – New Delhi
Ragan, D. M., 2009. Structural Geology : An Introduction to Geometrical
Techniques, Fourth Edition, Cambridge.

Scholle, P. A., Bebout, D. G. and Moore, C. H., eds., (1983); Carbonate


Depositional Environments: Tulsa, OK, American Association of
Petroleum Geologists Memoir 33, 708 p.

Sompotan, A.F., 2012. Struktur Geologi Sulawesi. Perpustakaan Sains Kebumian


Institut Teknologi Bandung.Bandung

Sukandarrumidi., 1999. Bahan Galian Industri, Gajah Mada University Press,


Bulaksumur, Yogyakarta.

Thornburry, William. D., 1969. Principles of Geomorphology, Second edition,


John Willey & Sons, Inc, New York, USA.

Travis, R. B., 1955, Classification of Rocks, Volume 50, Number 1, Quarterly of


The Colorado School of Mines, U. S. A.

Van Zuidam, R. A., 1985. Aerial Photo-Interpretation in Terrain Analysis and


Geomorphologic Mapping, Smith Publisher – The Hague, Enschede,
Netherlands.

Vlerk, Van Der., 1931. Stratigraphy Of Caenozoic Of The East Indies Based On
Foraminifera, Netherlands.
98

Wright, V.P. & Burchette, T.P. (1996): Shallow-water carbonate environment. -


In: Reading, H.G (ed.): Sedimentary environments: Processes, facies
and stratigraphy. Third edition, 325-394, (Blackwell)

, 2010, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun


2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral
dan Batubara, Pemerintah Republik Indonesia.
LAMPIRAN
DESKRIPSI
PETROGRAFI
No. Stasiun : BF. 06. BG (ST 06) Satuan : Batugamping
Lokasi : Utara Salulecu Nama Batuan : Packstone (Dunham, 1962)
Tipe Batuan : Sedimen Karbonatan
Tipe Struktur : Tidak Berlapis
Klasifikasi : Dunham, 1962
Mikroskopis :
Sayatan batuan sedimen karbonat ini berwarna kuning kecoklatan pada kenampakan nikol
sejajar, coklat kehitaman pada nikol silang. Tekstur batuan bioklastik, komposisi material terdiri dari grain (sekeletel
grain) dan mud. Grain berupa foraminifera besar dan foraminifera kecil, dan mud berupa mineral karbonat (kalsite),
berukuran <0.02 – 1.16 mm.
Deskripsi Mineralogi
Komposisi Mineral Jumlah Keterangan Mineral Optik
(%)
Pada nikol sejajar berwarna coklat muda dan nikol silang berwarna coklat tua,
 Grain (2G) 58 bentuk sebagian pecah (skeletal) grain. Grain terdiri foraminifera besar,
berukuran 0.08 – 1.16 mm.
Pada nikol sejajar tidak berwarna, bentuk kristalin, relief sedang, intensitas
sedang, warna interferensi abu-abu kecoklatan, berukuran <0.02 – 0.4 mm,
 Mud (3C) 42
berupa mineral kalsit (karbonat), hadir merata dalam sayatan dan mengisi
pori-pori pada batuan.
Foto

A B C D E F G H I J A B C D E F G H I J

1 1 1

2 2 2

3 3 3

4 4 4

5 5 5

6 6 6
II – Nikol X – Nikol
Perbesaran Lensa Objektif 5 x, lensa Okuler 10 x. Total perbesaran 50 x
No. Stasiun : BF. 09. BG (ST 09) Satuan : Batugamping
Lokasi : Utara Timur laut Kacoe Nama Batuan : Packstone (Dunham, 1962)
Tipe Batuan : Sedimen Karbonatan
Tipe Struktur : Tidak Berlapis
Klasifikasi : Dunham, 1962
Mikroskopis :
Sayatan batuan sedimen karbonat ini berwarna kuning kecoklatan pada kenampakan nikol
sejajar, coklat kehitaman pada nikol silang. Tekstur batuan bioklastik, komposisi material terdiri dari grain (sekeletel
grain) dan mud. Grain berupa foraminifera besar dan foraminifera kecil, dan mud berupa mineral karbonat (kalsite),
berukuran <0.02 – 1.02 mm.
Deskripsi Mineralogi

Komposisi Mineral Jumlah Keterangan Mineral Optik

(%)

Pada nikol sejajar berwarna coklat muda dan nikol silang berwarna coklat tua,
62 bentuk sebagian pecah (skeletal) grain. Grain terdiri foraminifera besar,
 Grain (1F)
berukuran 0.04 – 1.02 mm.

Pada nikol sejajar tidak berwarna, bentuk kristalin, relief sedang, intensitas
sedang, warna interferensi abu-abu kecoklatan, berukuran <0.02 – 0.3 mm,
38
 Mud (3C) berupa mineral kalsit (karbonat), hadir merata dalam sayatan dan mengisi
pori-pori pada batuan.

Foto

A B C D E F G H I J A B C D E F G H I J

1 1 1

2 2 2

3 3 3

4 4 4

5 5 5

6 6 6
II – Nikol X – Nikol
Perbesaran Lensa Objektif 5 x, lensa Okuler 10 x. Total perbesaran 50 x
No. Stasiun : BF. 14. BP (ST 14) Satuan : Batugamping
Lokasi : Barat Buttu Mataran Nama Batuan : Quartzwacke (Pettijhon, 1975)
Tipe Batuan : Sedimen Karbonatan
Tipe Struktur : Berlapis
Klasifikasi : Pettijhon, 1975
Mikroskopis :
Sayatan batuan sedimen Karbonatan ini berwarna kuning kecoklatan pada kenampakan nikol
sejajar, abu-abu kehitaman pada nikol silang. Tekstur batuan klastik, bentuk butiran subrounded sampai rounded.
komposisi material terdiri dari kuarsa dan material lempung berukuran <0.02 – 0.05 mm.
Deskripsi Mineralogi
Komposisi Mineral Jumlah Keterangan Mineral Optik
(%)
Warna absorbsi kuning transparan, warna interferensi maksimum putih kabu-
 Kuarsa (6I) 28 abuan, relief rendah, tidak memiliki belahan, intensitas rendah, sudut gelapan
12º, jenis gelapan bergelombang, ukuran <0.02 – 0.05 mm.
Pada nikol sejajar tidak kuning kecoklatan, bentuk kristalin, relief sedang,
 Material
intensitas sedang, warna interferensi abu-abu kecoklatan, berukuran <0.02
Lempung 72
mm, berupa mineral kalsit (karbonat), hadir merata dalam sayatan dan
(4C)
mengisi pori-pori pada batuan.
Foto

A B C D E F G H I J A B C D E F G H I J

1 1 1

2 2 2

3 3 3

4 4 4

5 5 5

6 6 6
II – Nikol X – Nikol
Perbesaran Lensa Objektif 5 x, lensa Okuler 10 x. Total perbesaran 50 x
No. Stasiun : BF. 36. BG (ST 36) Satuan : Batugamping
Lokasi : Barat Malimongan Nama Batuan : Packstone (Dunham, 1962)
Tipe Batuan : Sedimen Karbonatan
Tipe Struktur : Tidak Berlapis
Klasifikasi : Dunham, 1962
Mikroskopis :
Sayatan batuan sedimen karbonat ini berwarna kuning kecoklatan pada kenampakan nikol
sejajar, coklat kehitaman pada nikol silang. Tekstur batuan bioklastik, komposisi material terdiri dari grain (sekeletel
grain) dan mud. Grain berupa foraminifera besar dan foraminifera kecil, dan mud berupa mineral karbonat (kalsite),
berukuran <0.02 – 0.3 mm.
Deskripsi Mineralogi
Komposisi Mineral Jumlah Keterangan Mineral Optik
(%)
Pada nikol sejajar berwarna coklat muda dan nikol silang berwarna coklat tua,
 Grain (3F) 42 bentuk sebagian pecah (skeletal) grain. Grain terdiri foraminifera besar,
berukuran 0.08 – 0.3 mm.
Pada nikol sejajar tidak berwarna, bentuk kristalin, relief sedang, intensitas
sedang, warna interferensi abu-abu kecoklatan, berukuran <0.02 mm, berupa
 Mud (1J) 58
mineral kalsit (karbonat), hadir merata dalam sayatan dan mengisi pori-pori
pada batuan.
Foto

A B C D E F G H I J A B C D E F G H I J

1 1 1

2 2 2

3 3 3

4 4 4

5 5 5

6 6 6
II – Nikol X – Nikol
Perbesaran Lensa Objektif 5 x, lensa Okuler 10 x. Total perbesaran 50 x
No. Stasiun : BF. 37. BG (ST 37) Satuan : Batugamping
Lokasi : Barat Daya Malimongan Nama Batuan : Grainstone (Dunham, 1962)
Tipe Batuan : Sedimen Karbonatan
Tipe Struktur : Berlapis
Klasifikasi : Dunham, 1962
Mikroskopis :
Sayatan batuan sedimen karbonat ini berwarna kuning kecoklatan pada kenampakan nikol
sejajar, coklat kehitaman pada nikol silang. Tekstur batuan bioklastik, komposisi material terdiri dari grain (sekeletel
grain) dan mud. Grain berupa foraminifera besar dan foraminifera kecil, dan mud berupa mineral karbonat (kalsite),
berukuran <0.02 – 1.3 mm.
Deskripsi Mineralogi
Komposisi Mineral Jumlah Keterangan Mineral Optik
(%)
Pada nikol sejajar berwarna coklat muda dan nikol silang berwarna coklat tua,
bentuk sebagian pecah (skeletal) grain. Grain terdiri foraminifera besar yaitu
 Grain (3J) 72 Nephrolepina veracruziana (Vaughan and Cole), Bristeinolla Macrostoma
Yankovskaya and Mikhalevich, Nodosarella tuberosa (Gumbel) dan
Ampletoproductina carnatoliutra Patterson), berukuran 0.08 – 1.3 mm.
Pada nikol sejajar tidak berwarna, bentuk kristalin, relief sedang, intensitas
sedang, warna interferensi abu-abu kecoklatan, berukuran <0.02 mm, berupa
 Mud (1A) 28
mineral kalsit (karbonat), hadir merata dalam sayatan dan mengisi pori-pori
pada batuan.
Foto

A B C D E F G H I J A B C D E F G H I J

1 1 1

2 2 2

3 3 3

4 4 4

5 5 5

6 6 6
II – Nikol X – Nikol
Perbesaran Lensa Objektif 5 x, lensa Okuler 10 x. Total perbesaran 50 x
No. Stasiun : BF. 29. BG (ST 29) Satuan : Batugamping
Lokasi : Tenggara Tumongga Nama Batuan : Grainstone (Dunham, 1962)
Tipe Batuan : Sedimen Karbonatan
Tipe Struktur : Berlapis
Klasifikasi : Dunham, 1962
Mikroskopis :
Sayatan batuan sedimen karbonat ini berwarna kuning kecoklatan pada kenampakan nikol
sejajar, coklat kehitaman pada nikol silang. Tekstur batuan bioklastik, komposisi material terdiri dari grain (sekeletel
grain) dan mud. Grain berupa foraminifera besar dan foraminifera kecil, dan mud berupa mineral karbonat (kalsite),
berukuran <0.02 – 0.92 mm.
Deskripsi Mineralogi
Komposisi Mineral Jumlah Keterangan Mineral Optik
(%)
Pada nikol sejajar berwarna coklat muda dan nikol silang berwarna coklat tua,
 Grain (4F) 63 bentuk sebagian pecah (skeletal) grain. Grain terdiri foraminifera besar,
berukuran 0.03 – 0.92 mm.
Pada nikol sejajar tidak berwarna, bentuk kristalin, relief sedang, intensitas
sedang, warna interferensi abu-abu kecoklatan, berukuran <0.02 mm, berupa
 Mud (4B) 37
mineral kalsit (karbonat), hadir merata dalam sayatan dan mengisi pori-pori
pada batuan.
Foto

A B C D E F G H I J A B C D E F G H I J

1 1 1

2 2 2

3 3 3

4 4 4

5 5 5

6 6 6
II – Nikol X – Nikol
Perbesaran Lensa Objektif 5 x, lensa Okuler 10 x. Total perbesaran 50 x
No. Stasiun : BF. 64. BP (ST 64) Satuan : Batupasir
Lokasi : Timur Manggungu Nama Batuan : Mudrock (Pettijhon, 1975)
Tipe Batuan : Sedimen Karbonatan
Tipe Struktur : Berlapis
Klasifikasi : Pettijhon, 1975
Mikroskopis :
Sayatan batuan sedimen Karbonatan ini berwarna kuning kecoklatan pada kenampakan nikol
sejajar, abu-abu kehitaman pada nikol silang. Tekstur batuan klastik, bentuk butiran subrounded sampai rounded.
komposisi material terdiri dari kuarsa dan material lempung berukuran <0.02 – 0.05 mm.
Deskripsi Mineralogi
Komposisi Mineral Jumlah Keterangan Mineral Optik
(%)
Warna absorbsi kuning transparan, warna interferensi maksimum putih kabu-
 Kuarsa (6I) 12 abuan, relief rendah, tidak memiliki belahan, intensitas rendah, sudut gelapan
12º, jenis gelapan bergelombang, ukuran <0.02 – 0.05 mm.
Pada nikol sejajar tidak kuning kecoklatan, bentuk kristalin, relief sedang,
 Material
intensitas sedang, warna interferensi abu-abu kecoklatan, berukuran <0.02
Lempung 82
mm, berupa mineral kalsit (karbonat), hadir merata dalam sayatan dan
(4C)
mengisi pori-pori pada batuan.
Foto

A B C D E F G H I J A B C D E F G H I J

1 1 1

2 2 2

3 3 3

4 4 4

5 5 5

6 6 6
II – Nikol X – Nikol
Perbesaran Lensa Objektif 5 x, lensa Okuler 10 x. Total perbesaran 50 x
No. Stasiun : BF. 77. BP (ST 77) Satuan : Batupasir
Lokasi : Sanggeran Nama Batuan : Litchic Wacke (Pettijhon, 1975)
Tipe Batuan : Sedimen Klastik
Tipe Struktur : Tidak Berlapis
Klasifikasi : Pettijhon, 1975
Mikroskopis :
Sayatan batuan ini berwarna kuning kecoklatan pada nikol sejajar, abu-abu kehitaman pada
nikol silang, memiliki tekstur klastik, ukuran butir <0.02 – 0.15 mm, bentuk butir subangular –angular, sortasi
sedang, komposisi mineral berupa mineral kuarsa, orthoklas, mineral opak dan material lempung
Deskripsi Mineralogi
Komposisi Mineral Jumlah Keterangan Mineral Optik
(%)
Warna absorbsi transparan, bentuk angular-subrounded, relief rendah,
 Kuarsa (4B) 52 intensitas lemah, pleokroisme tidak ada, ukuran mineral 0.15-0.5 mm,
warna interferensi putih keabuan-abuan, gelapan bergelombang
Nikol sejajar tidak berwarna, bentuk euhedral – subhedral , relief rendah,
 Orthoklas (1D) 13 intensitas lemah, pleokriosme monokroik, ukuran mineral 0.1 – 0.25 mm,
WI abu – abu hingga putih, sudut gelapan 100, gelapan miring.
 Mineral Opak Warna absorbsi orange kecoklatan, warna interferensi abu-abu kehitaman,
11
(2E) relief rendah, intensitas lemah, bentuk anhedral, ukuran < 0.02 mm.
Pada nikol sejajar tidak kuning kecoklatan, bentuk kristalin, relief sedang,
 Material intensitas sedang, warna interferensi abu-abu kecoklatan, berukuran <0.02
24
lempung (3A) mm, berupa mineral kalsit (karbonat), hadir merata dalam sayatan dan
mengisi pori-pori pada batuan.
Foto

A B C D E F G H I J A B C D E F G H I J

1 1 1

2 2 2

3 3 3

4 4 4

5 5 5

6 6 6
II – Nikol X – Nikol
Perbesaran Lensa Objektif 5 x, lensa Okuler 10 x. Total perbesaran 50 x
No. Stasiun : BF. 71. BP (ST 71) Satuan : Batupasir
Lokasi : Utara Timur Laut Manggungu Nama Batuan : Mudrock (Pettijhon, 1975)
Tipe Batuan : Sedimen Karbonatan
Tipe Struktur : Tidak Berlapis
Klasifikasi : Pettijhon, 1975
Mikroskopis :
Sayatan batuan sedimen Karbonatan ini berwarna kuning kecoklatan pada kenampakan nikol
sejajar, abu-abu kehitaman pada nikol silang. Tekstur batuan klastik, bentuk butiran subrounded sampai rounded.
komposisi material terdiri dari kuarsa dan material lempung berukuran <0.02 – 0.03 mm.
Deskripsi Mineralogi
Komposisi Mineral Jumlah Keterangan Mineral Optik
(%)
Warna absorbsi kuning transparan, warna interferensi maksimum putih kabu-
 Kuarsa (3A) 11 abuan, relief rendah, tidak memiliki belahan, intensitas rendah, sudut gelapan
14º, jenis gelapan bergelombang, ukuran <0.02 – 0.03 mm.
 Material Pada nikol sejajar tidak kuning kecoklatan, bentuk kristalin, relief sedang,
Lempung 83 intensitas sedang, warna interferensi abu-abu kecoklatan, berukuran <0.02
(2E) mm, berupa mineral kalsit (karbonat).
Foto

A B C D E F G H I J A B C D E F G H I J

1 1 1

2 2 2

3 3 3

4 4 4

5 5 5

6 6 6
II – Nikol X – Nikol
Perbesaran Lensa Objektif 5 x, lensa Okuler 10 x. Total perbesaran 50 x
No. Stasiun : BF. 73. BP (ST 73) Satuan : Batupasir
Lokasi : Timur Mampu Nama Batuan : Quartz Wacke (Pettijhon, 1975)
Tipe Batuan : Sedimen Klastik
Tipe Struktur : Tidak Berlapis
Klasifikasi : Pettijhon, 1975
Mikroskopis :
Sayatan batuan ini berwarna kuning kecoklatan pada nikol sejajar, abu-abu kehitaman pada
nikol silang, memiliki tekstur klastik, ukuran butir <0.02 – 0.5 mm, bentuk butir subangular –angular, sortasi sedang,
komposisi mineral berupa mineral kuarsa,dan mineral opak.
Deskripsi Mineralogi
Komposisi Mineral Jumlah Keterangan Mineral Optik
(%)
Warna absorbsi transparan, bentuk angular-subrounded, relief rendah,
 Kuarsa (1B) 82 intensitas lemah, pleokroisme tidak ada, ukuran mineral 0.15-0.5 mm,
warna interferensi putih keabuan-abuan, gelapan bergelombang
 Mineral Opak Warna absorbsi orange kecoklatan, warna interferensi abu-abu kehitaman,
18
(1H) relief rendah, intensitas lemah, bentuk anhedral, ukuran < 0.02 mm.
Foto

A B C D E F G H I J A B C D E F G H I J

1 1 1

2 2 2

3 3 3

4 4 4

5 5 5

6 6 6
II – Nikol X – Nikol
Perbesaran Lensa Objektif 5 x, lensa Okuler 10 x. Total perbesaran 50 x
No. Stasiun : BF. 62. BG (ST 62) Satuan : Batugamping
Lokasi : Barat Daya Malimongan Nama Batuan : Grainstone (Dunham, 1962)
Tipe Batuan : Sedimen Karbonatan
Tipe Struktur : Tidak Berlapis
Klasifikasi : Dunham, 1962
Mikroskopis :
Sayatan batuan sedimen karbonat ini berwarna kuning kecoklatan pada kenampakan nikol
sejajar, coklat kehitaman pada nikol silang. Tekstur batuan bioklastik, komposisi material terdiri dari grain (sekeletel
grain) dan mud. Grain berupa foraminifera besar dan foraminifera kecil, dan mud berupa mineral karbonat (kalsite),
berukuran <0.02 – 1.16 mm.
Deskripsi Mineralogi
Komposisi Mineral Jumlah Keterangan Mineral Optik
(%)
Pada nikol sejajar berwarna coklat muda dan nikol silang berwarna coklat tua,
bentuk sebagian pecah (skeletal) grain. Grain terdiri foraminifera besar yaitu
 Grain (3J) 76
Helicolepidina spiralis (Tobler) dan Nephrolepina tobleri (H. Douville.),
berukuran 0.08 – 1.16 mm.
Pada nikol sejajar tidak berwarna, bentuk kristalin, relief sedang, intensitas
sedang, warna interferensi abu-abu kecoklatan, berukuran <0.02 mm, berupa
 Mud (1A) 24
mineral kalsit (karbonat), hadir merata dalam sayatan dan mengisi pori-pori
pada batuan.
Foto

A B C D E F G H I J A B C D E F G H I J

1 1 1

2 2 2

3 3 3

4 4 4

5 5 5

6 6 6
II – Nikol X – Nikol
Perbesaran Lensa Objektif 5 x, lensa Okuler 10 x. Total perbesaran 50 x
No. Stasiun : BF. 16. BB (ST 16) Satuan : Basal Porfiri
Lokasi : Barat Daya Malimongan Nama Batuan : Porfiri Basalt (Travis, 1955)
Tipe Batuan : Batuan Beku
Tipe Struktur : Masif
Klasifikasi : Travis, 1955
Mikroskopis :
Sayatan batuan beku ini berwarna putih kecoklatan pada nikol sejajar, abu-abu kehitaman pada
nikol silang, memiliki tekstur kristalinitas hipokristalin, granularitas porfiroafanitik, bentuk subhedral-anhedral,
relasi inequigranular. Komposisi mineral terdiri dari Plagioklas, Piroksin, Mineral Opak, dan Massa dasar.
Deskripsi Mineralogi
Komposisi Mineral Jumlah Keterangan Mineral Optik
(%)
Warna absorbsi transparan – putih kecoklatan, warna interferensi putih
keabu-abuan, pleokroisme monokroik, intensitas rendah, relief lemah, bentuk
 Plagioklas
47 euhedral-subhedral, belahan satu arah, pecahan rata, ukuran mineral mm,
(1A)
sudut gelapan 37°, jenis gelapan miring,jenis kembaran albit berdasarkan
sudut gelapannya mineral ini termasuk jenis plagioklas labradorite.
Warna absorbsi coklat muda, warna interferensi coklat kemerahan,
pleokroisme dwiokroik, intensitas tinggi, relief kuat, bentuk subhedral -
 Piroksin (G1)
19 anhedral, belahan satu arah, pecahan tidak rata, sudut gelapan 42°, jenis
gelapan miring, ukuran mineral 0.04 – 0.6 mm, jenis piroksin Hypersten
 Mineral Warna pada nikol silang dan nikol sejajar hitam, bentuk subhedral – euhdral,
Opak (3C) 4 ukuran 0.02 – 0.4 mm.

Massa Dasar Gelas 6 Warna absorbsi putih kecoklatan dengan warna interferensi abu-abu
(6F)
Warna absorbsi Putih kecoklatan, warna interferensi abu-abu kehitaman,
Mikrokristalin (4J) 24 bentuk anhedral, ukuran < 0.02 mm

Foto
A B C D E F G H I J A B C D E F G H I J

1 1 1

2 2 2

3 3 3

4 4 4

5 5 5

6 6 6
II – Nikol X – Nikol
Perbesaran Lensa Objektif 5 x, lensa Okuler 10 x. Total perbesaran 50 x
No. Stasiun : BF. 4. BB (ST 4) Satuan : Basal Porfiri
Lokasi : Selatan Loko Nama Batuan : Porfiri Basalt (Travis, 1955)
Tipe Batuan : Batuan Beku
Tipe Struktur : Masif
Klasifikasi : Travis, 1955
Mikroskopis :
Sayatan batuan beku ini berwarna kuning kecoklatan pada nikol sejajar, abu-abu kehitaman
pada nikol silang, memiliki tekstur kristalinitas hipokristalin, granularitas porfiroafanitik, bentuk subhedral-anhedral,
relasi inequigranular. Komposisi mineral terdiri dari Plagioklas, Piroksin, Mineral Opak, dan Massa dasar.
Deskripsi Mineralogi
Komposisi Mineral Jumlah Keterangan Mineral Optik
(%)
Warna absorbsi transparan – kuning kecoklatan, warna interferensi putih
keabu-abuan, pleokroisme monokroik, intensitas rendah, relief lemah, bentuk
Plagioklas 41 euhedral-subhedral, belahan satu arah, pecahan rata, ukuran mineral 0.02 –
(1B) 0.7 mm, sudut gelapan 40°, jenis gelapan miring, jenis kembaran albit,
berdasarkan sudut gelapannya mineral ini termasuk jenis plagioklas
Labradorite ( An 88 ).
Warna absorbsi coklat kehijauan, warna interferensi kemerahan, pleokroisme
dwikroik, intensitas tinggi, relief rendah, bentuk subhedral - anhedral,
Piroksin
belahan satu arah, pecahan tidak rata, sudut gelapan 43°, jenis gelapan miring,
(3C)
14 ukuran mineral 0.02 – 0.3 mm, jenis piroksin Augit.

Mineral
6 Warna pada nikol silang dan nikol sejajar hitam, bentuk subhedral – euhdral,
Opak (1A)
ukuran 0.02 – 0.4 mm.
Massa Dasar:
Warna absorbsi kuning kecoklatan, warna interferensi abu-abu kehitaman, ,
Mikrolit
23 bentuk anhedral, ukuran < 0.02 mm.
plagioklas (2D)
16 Warna absorbsi putiih kecoklatan dengan warna interferensi abu-abu
Gelas (6D)
Foto

A B C D E F G H I J A B C D E F G H I J

1 1 1

2 2 2

3 3 3

4 4 4

5 5 5

6 6 6
II – Nikol X – Nikol
Perbesaran Lensa Objektif 5 x, lensa Okuler 10 x. Total perbesaran 50 x
DESKRIPSI FOSIL
FORAMANIFERA
KECIL
No. Stasiun : 66
Litologi : Batupasir
Filum : Protozoa
Ordo : Sarcodina
Kelas : Foraminifera
Family : Globigerinanidae
Genus : Globigerina
Spesies : Globigerina venezuelama HEDBERG
Umur : N.2 – N.19
Lingkungan Pengendapan :

No. Stasiun : 66
Litologi : Batupasir
Filum : Protozoa
Ordo : Sarcodina
Kelas : Foraminifera
Family : Globorotalianidae
Genus : Globorotalia
Spesies : Globorotalia archeomenardii BOLLI
Umur : N.8 –N.9
Lingkungan Pengendapan :
No. Stasiun : 66
Litologi : Batupasir
Filum : Protozoa
Ordo : Sarcodina
Kelas : Foraminifera
Family : Buliinanidae
Genus : Bulimina
Spesies : Bulimina sp.
Umur :
Lingkungan Pengendapan : Inner-Middle Neritik Zone, Upper and Middle
Bathyal zone

No. Stasiun : 66
Litologi : Batupasir
Filum : Protozoa
Ordo : Sarcodina
Kelas : Foraminifera
Family : Cibicidesidae
Genus : Cibicides
Spesies : Cibicides sp.
Umur :
Lingkungan Pengendapan : Inner-Middle Neritik Zone
No. Stasiun : 66
Litologi : Batupasir
Filum : Protozoa
Ordo : Sarcodina
Kelas : Foraminifera
Family : Pseudoglandulinanidae
Genus : Pseudoglandulina
Spesies : Pseudoglandulina sp.
Umur :
Lingkungan Pengendapan : Upper and Middle Bathyal zone

No. Stasiun : 66
Litologi : Batupasir
Filum : Protozoa
Ordo : Sarcodina
Kelas : Foraminifera
Family : Robulusidae
Genus : Robulus
Spesies : Robulus sp.
Umur :
Lingkungan Pengendapan : Middle-outer Neritik Zone, Upper Bathyal
zone
No. Stasiun : 69
Litologi : Batulempung
Filum : Protozoa
Ordo : Sarcodina
Kelas : Foraminifera
Family : Globigerinanidae
Genus : Globigerina
Spesies : Globigerina venezuelama HEDBERG
Umur : N.2 – N.19
Lingkungan Pengendapan :

No. Stasiun : 69
Litologi : Batulempung
Filum : Protozoa
Ordo : Sarcodina
Kelas : Foraminifera
Family : Globorotalianidae
Genus : Globorotalia
Spesies : Globorotalia obesa BOLLI
Umur : N.8 – N.23
Lingkungan Pengendapan :
No. Stasiun : 69
Litologi : Batulempung
Filum : Protozoa
Ordo : Sarcodina
Kelas : Foraminifera
Family : Globorotalianidae
Genus : Globorotalia
Spesies : Globorotalia peripheroronda BLOW and
BANNER
Umur : N.5 – N.9
Lingkungan Pengendapan :

No. Stasiun : 37
Litologi : Batugamping
Filum : Protozoa
Ordo : Sarcodina
Kelas : Foraminifera
Family : Quinqeloculinanidae
Genus : Quinqeloculina
Spesies : Quinqeloculina sp.
Umur :
Lingkungan Pengendapan : Inner Neritic (Shelf) Zone
No. Stasiun : 37
Litologi : Batugamping
Filum : Protozoa
Ordo : Sarcodina
Kelas : Foraminifera
Family : Nodosarellanidae
Genus : Nodosarella
Spesies : Nodosarella sp.
Umur :
Lingkungan Pengendapan : Inner Neritic (Shelf) Zone
DESKRIPSI FOSIL
FORAMANIFERA
BESAR
No. Stasiun : 37
Litologi : Batugamping
Filum : Protozoa
Ordo : Sarcodina
Kelas : Foraminifera
Family : Discocylinanidae
Genus : Discocylina
Spesies : Discocylina javana
Umur : Eosen Akhir (Tb)
Lingkungan :
Pengendapan

No. Stasiun : 62
Litologi : Batugamping
Filum : Protozoa
Ordo : Sarcodina
Kelas : Foraminifera
Family : Discocyclinanidae
Genus : Discocyclina
Spesies : Discocyclina disposa
Umur : Eosen Akhir (Tb)
Lingkungan Pengendapan :
No. Stasiun : 62
Litologi : Batugamping
Filum : Protozoa
Ordo : Sarcodina
Kelas : Foraminifera
Family : Discocyclinanidae
Genus : Discocyclina
Spesies : Discocyclina omphala
Umur : Eosen Akhir (Ta-Tb)
Lingkungan Pengendapan :