Anda di halaman 1dari 20

1

Tahun 2015
JURNAL EKONOMI DAN BISNIS
KAJIAN PELAKSANAAN ALOKASI DANAN DESA DI KABUPATEN KUTAI
KARTANEGARA
Oleh: HERU SUPRAPTO, herusuprapto@unikarta.ac.id
ABSTRAC
Study of the implementation of the Village Fund Allocation (ADD) in Kutai Kartanegara
Regency is an analysis using yurisis normative approach. The purpose of this study was to Know
and analyze the successful implementation of ADD and analyze the impact of ADD to the
improvement of public infrastructure, employment and empowerment of communities and
village institutions . The results showed that the Quality of Planning , Implementation, Control
Activities, Accountability Reporting is good and Respondents from LPM is not a good
understanding of the regulations or policies associated with ADD and ADD are indicators of
success can not be measured.

Key word : APBDesa, ADD, Village

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. Pada Pasal 68
Ayat (1) huruf c, bahwa Alokasi Dana Desa (ADD) bagian dari dana perimbangan keuangan
pusat dan daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota untuk Desa paling sedikit 10%, ADD
merupakan salah satu dari sumber pendapatan desa. Dalam penjelasan pada pasal tersebut bahwa
Yang dimaksud dengan bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah" adalah terdiri
dari dana bagi hasil pajak dan sumberdaya alam ditambah dana alokasi umum setelah dikurang
belanja pegawai.
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menindaklanjuti ketentuan perundang-undangan
yang ada, maka tahun 2007 diterbitkan Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 2007 tentang
Keuangan Desa, sebagai tindak lanjut dari Peraturan Daerah tersebut lahirlah Peraturan Bupati
Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Alokasi Dana Desa dan Peraturan Bupati Nomor 11 Pedoman
Pengalolaan Keuangan Desa. Belum genab satu tahun kedua Peraturan Bupati tersebut
digantikan dengan Perbu Nomor 73 Tahun 2008 Tentang Alokasi Dana Desa dan Peratuan
Bupati Nomor 72 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa. Pada gilirannya pada tahun
2012 Peraturan Bupati Nomor 72 tahun 2008 dan Nomor 73 tahun 2008 tersebut diubah melalui
Perbup Peraturan Bupati 122 Tahun 2012 Tentang Perubahan Peraturan Bupati Nomor 72
Tahun 2008 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa sedangkan Alokasi Danan Desa
diubah menjadi Peraturan Bupati Nomor 121 Tentang Perubahan Perbup Nomor 73 Tahun 2008
Tentang Alokasi Dana Desa.
Pemberian ADD merupakan wujud dari pemenuhan hak desa untuk menyelenggarakan
otonominya agar tumbuh dan berkembang mengikuti pertumbuhan dari desa itu sendiri berdasar
keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli, demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat. Hal ini
karena desa mempunyai hak untuk memperoleh bagi hasil pajak daerah dan retribusi daerah
kabupaten, dan bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima
2

pemerintahan desa dalam melaksanakan pelayanan pemerintahan, pembangunan dan


kemasyarakatan sesuai kewenangannya.
Tujuan ADD sebagaimana diatur dalam Peraturan Bupati Nomor 73 Tahun 2008
sebagaimana telah diubah melalui Perbup No 121 Tahun 2012, Pasal 3 adalah :
a. menanggulangi kemiskinan dan mengurangi kesenjangan;
b. meningkatkan perencanaan dan penganggaran pembangunan di tingkat desa dan
pemberdayaan masyarakat;
c. meningkatkan pembangunan infrastruktur perdesaan;
d. meningkatkan pengamalan nilai-nilai keagamaan, sosial budaya dalam rangka
mewujudkan peningkatan sosial;
e. meningkatkan ketentraman dan ketertiban masyarakat;
f. meningkatkan pelayanan pada masyarakat desa dalam rangka pengembangan kegiatan
sosial dan ekonomi masyarakat;
g. mendorong peningkatan keswadayaan dan gotong royong masyarakat;
h. meningkatkan pendapatan desa dan masyarakat desa melalui Badan Usaha Milik Desa
(BUMDes).
Selanjutnya guna menilai keberhasilan ADD di tingkat Desa, dalam Pasal 11 Perbup
Nomor 73 Tahun 2008 tersebut Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai indikator
keberhasilan pelaksanaan ADD antara lain :
a. menurunnya jumlah keluarga miskin;
b. menurunnya jumlah anak putus sekolah;
c. menurunnya jumlah balita gizi buruk;
d. menurunnya jumlah kematian bayi dan ibu melahirkan;
e. peningkatan pembangunan infrastruktur perdesaan;
f. peningkatan pendapatan desa;
g. peningkatan pendapatan masyarakat desa.
h. peningkatan penyerapan tenaga kerja lokal pada kegiatan pembangunan desa;
i. peningkatan jumlah kelompok masyarakat yang berpartisipasi dalam musrenbang desa dan
pelaksanaan pembangunan desa;
j. peningkatan swadaya dan partisipasi masyarakat;
k. peningkatan pengamalan nilai-nilai keagamaan;
l. peningkatan kualitas pelayanan kantor desa;
m. peningkatan ketertiban masyarakat;
Adapun ADD dialokasikan dalam APBD Kabupaten Kutai kartanegara setiap tahunnya
mengalami peningkatan sebagaimana disampaikan dalam Tabel 1.
Tabel 1. Alokasi ADD dan Jumlah Desa di Kabupaten Kutai Kartanegara
2014 2013 2012 2011 2010 2009 2008
ADD (Milyar Rp) 390.29 400.63 232.21 223.72 177.66 390.00 168.05
Bantuan Utk Gaji Aparatur Desa 95.04 92.70 50.69 46.94 45.71 na na
Jumlah Transfer ke Desa 193 193 185 185 185 185 185
Sumber: APBD Berbagai Tahun
Mengingat besaran ADD yang disalurkan kepada desa nilainya cukup besar, maka
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara perlu untuk mengevaluasi efektivitas pengalokasian,
pengelolaan dan penggunaan ADD. Pada fase berikutnya juga perlu dikaji secara mendalam
apakah ADD memiliki dampak yang signifikan terhadap peningkatan prasarana umum,
penyerapan tenaga kerja di desa serta terhadap pemberdayaan masyarakat dan perkembangan
kelembagaan desa di Kabupaten Kutai Kartanegara.
3

1.2. Tujuan Penelitian


a. Mengetahui dan menganalisis tingkat keberhasilan pelaksanaan ADD
b. menganalisis dampak ADD terhadap peningkatan prasarana umum, penyerapan tenaga
kerja serta pemberdayaan masyarakat dan kelembagaan desa.

1.3. Metode Pendekatan


Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan
yurisis normative, yaitu analisis didasarkan pada peraturan perundang-undangan, sedangkan
metode analisis menggunakan metode deskriptif. Metode deskriptif adalah suatu metode dalam
meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran
ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang.
Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau suatu
lukisan sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar
fenomena yang diselidiki (Moh. Nazir, 2005: 54).
Dalam kegiatan kajian ini jenis penelitian deskriptif yang digunakan adalah metode survei.
Metode survei adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-
gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual, tentang kondisi
implementasi Alokasi Dana Desa di Kabupaten Kutai Kartanegara.
Penyajian data hasil penelitian ditampilkan penilaian rerata score (score rata-rata) dan
prosentase digunakan untuk jenis pertanyaan tertutup, interprestasi penilaian rerata digunakan
untuk memotret gambaran umum dari keseluruhan jawaban responden atas satu indikator dan
satu set variabel serta kelompok responden.
Selanjutnya analisis juga dilakukan untuk melihat keeratan hubungan antar variable yang
digunakan pada variable yang digunakan untuk mengetahui persepsi baik dari Aparatur Desa,
BPD maupun LPM. Analisis ini menggunakan analisisi correlation dengan bantuan program
SPSS.

1.4. Pendekatan Teori


1.4.1. Desa dan Pemerintah Desa
Sebagaimana terdapat dalam ketentuan umum UU No 6 Tahun 2014 disebutkan bahwa,
Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa,
adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk
mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan
prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam
system pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pemerintah Desa adalah Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dibantu perangkat
Desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa.
Badan Permusyawaratan Desa atau yang disebut dengan nama lain adalah lembaga yang
melaksanakan fungsi pemerintahan yang anggotanya merupakan wakil dari penduduk Desa
berdasarkan keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara demokratis.

1.4.2. Kedudukan Desa


Pengaturan tentang kedudukan Desa, menjadikan Desa tidak ditempatkan sepenuhnya
sebagai subordinasi pemerintahan kabupaten/kota. Perubahan kedudukan Desa dari UU No.
22/1999, UU No. 32/2004 dan UU No 6/2014 bertujuan agar Desa bukan lagi obyek
pembangunan tetapi menjadi subyek pembangunan. Konstruksi pemerintahan desa yang dianut
4

dalam UU Desa adalah konstruksi gabungan. Penjelasan Umum UU Desa menyebutkan secara
tegas: “Dengan konstruksi menggabungkan fungsi self-governing community dengan local self
government, diharapkan kesatuan masyarakat hukum adat yang selama ini merupakan bagian
dari wilayah desa ditata sedemikian rupa menjadi desa dan desa adat”. Ringkasnya, asas
rekognisi dan subsidiaritas telah mengubah pendekatan kontrol/pengendalian negara terhadap
Desa dan menempatkan Desa sebagai subyek pembangunan.

1.4.3. Kewenangan Desa


UU Pemerintahan Daerah yang lama (UU No. 32/2004) pada Pasal 206 hanyalah membagi
kewenangan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan desa. Berdasarkan ketentuan ini
dapat dilihat bahwa titik berat UU No. 32/2004 tidak secara spesifik memberikan perhatian
kepada kewenangan desa, tetapi lebih memberikan titik tekan pada pembagian urusan
pemerintahan saja. Sedangkan pembagian urusan pemerintahan yang berlaku saat ini, dan
relasinya dengan kewenangan desa, dapat dilihat dalam UU No. 23/2014 tentang Pemerintahan
Daerah yang menyatakan bahwa urusan pemerintah dibagi menjadi tiga yakni urusan absolut,
urusan konkuren dan urusan pemerintahan umum. Urusan absolut adalah urusan yang hanya
menjadi kewenangan Pemerintah Pusat; urusan konkuren adalah urusan pemerintah pusat yang
dapat dilimpahkan kepada Pemerintah Daerah; dan urusan pemerintahan umum adalah urusan
yang dijalankan kewenangannya oleh Presiden. Dalam pembagian urusan ini, Desa dapat
menjalankan urusan konkuren yang dijalankan oleh Pemerintah Daerah berdasarkan peraturan
gubernur jika yang memberikan tugas adalah pemerintah provinsi dan peraturan bupati/walikota
jika yang memberikan tugas adalah pemerintah kabupaten/kota.
Sebagaimana diatur dalam Pasal 19 UU No 6 Tahun 2014 Tentang Desa, Kewenangan
Desa meliputi:
a. kewenangan berdasarkan hak asal usul;
b. kewenangan lokal berskala Desa;
c. kewenangan yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah
d. Provinsi, atau Pemerintah Kabupaten/Kota; dan
e. kewenangan lain yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi, atau
Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Yang dimaksud dengan “hak asal usul” adalah hak yang merupakan warisan yang masih
hidup dan prakarsa Desa atau prakarsa masyarakat Desa sesuai dengan perkembangan kehidupan
masyarakat, antara lain system organisasi masyarakat adat, kelembagaan, pranata dan hukum
adat, tanah kas Desa, serta kesepakatan dalam kehidupan masyarakat Desa. Kewenangan
berdasarkan hak asal usul Desa adat meliputi:
a. penataan sistem organisasi dan kelembagaan masyarakat adat;
b. pranata hukum adat;
c. pemilikan hak tradisional;
d. pengelolaan tanah kas Desa adat;
e. pengelolaan tanah ulayat;
f. kesepakatan dalam kehidupan masyarakat Desa adat;
g. pengisian jabatan kepala Desa adat dan perangkat Desa adat; dan
h. masa jabatan kepala Desa adat. (Pasal 3 Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal, Dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2015)

Yang dimaksud dengan “kewenangan lokal berskala Desa” adalah kewenangan untuk
mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat Desa yang telah dijalankan oleh Desa atau
mampu dan efektif dijalankan oleh Desa atau yang muncul karena perkembangan Desa dan
5

prakarsa masyarakat Desa, antara lain tambatan perahu, pasar Desa, tempat pemandian umum,
saluran irigasi, sanitasi lingkungan, pos pelayanan terpadu, sanggar seni dan belajar, serta
perpustakaan Desa, embung Desa, dan jalan Desa. Kewenangan lokal berskala Desa meliputi:
a. bidang pemerintahan Desa,
b. pembangunan Desa;
c. kemasyarakatan Desa; dan
d. pemberdayaan masyarakat Desa (Pasal 7 Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal, Dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2015)
1.4.4. Keuangan Desa
Sebelum terbitnya UU No 6 Tahun 2014, keuangan desa diatur melalui PP No 72 Tahun
2005 dan Pedoman pengelolaan keuangan desa diatur melalui Permendagri No 37 Tahun 2007.
Berdasarkan ketentuan umum no 1, Permendagri no37 tahun 2007, Keuangan Desa adalah
semua hak dan kewajiban dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan desa yang dapat dinilai
dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan
kewajiban desa tersebut.
Berdasarkan Pasal 77 PP NP 72 Tahun 2005, Pedoman Pengelolaan Keuanga Desa diatur
melalui Peraturan Bulati/Walokota. Dengan mempedomani Permendagri No 37 Tahun 2007,
Kabupaten Kutai Kartanegara menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 16 tahun 2007 tentang
Keuangan Desa dan Peraturan Bupati Nomor 11 tahun 2008 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Desa. Dalam perkembangannnya, Perbup no11 tahun 2008 hanya berumur 1 tahun
dan digantikan dengan Perbup No 72 Tahun 2008. Selanjutnya pada tahun 2012 diterbitkan
Perbup Nomor 122 sebagai perbaikan dari Perbup sebelumnya, yaitu dengan penambahan antara
lain Kode Program dan Kegiatan.
Pada UU No 6 Tahun 2014, Pasal 71 Ayat (1) Keuangan Desa adalah semua hak dan
kewajiban Desa yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu berupa uang dan barang
yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban Desa, definisi ini sama dengan
Permendagri Nomor 37 Tahun 2007 dengan perbedaan istilah kekayaan diubah menjadi barang.
Ayat (2) Hak dan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menimbulkan pendapatan,
belanja, pembiayaan, dan pengelolaan Keuangan Desa.
Lingkup Keuangan Desa dibahas di pasal 71 UU No 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Pasal ini
membatasinya dengan semua hak dan kewajiban yang menimbulkan pendapatan, belanja,
pembiayaan, dan pengelolaan keuangan Desa.
Jika merujuk pada beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang
keuangan, yaitu UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No. 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah, UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara dan UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara, maka tidak ada bab yang secara khusus mengatur tentang Keuangan Desa.
Pengaturan hanya sampai di tingkat kabupaten/kota dan Desa dianggap bagian dari
kabupaten/kota
Pasal lain terkait hal ini adalah pasar 73 UU No 6 Tahun 2014 Tentang Desa yang
mengatur tentang struktur APB Desa yang terdiri dari pendapatan, belanja, dan pembiayaan
Desa. Rancangan APB Desa diajukan oleh Kepala Desa dan kemudian dimusyawarahkan
dengan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan hasilnya ditetapkan dalam bentuk Peraturan
Desa.
Sebagai aturan pelaksanaan UU No 6 Tahun 2014 adalah PP No 43 Tahun 2014
sebagaimana terlah direvisi dengan PP No 47 Tahun 2015, namun sebelumnya telah disusun
Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa.
Dengan dasar Permendagri No 113 Tahun 2014 tersebut Pemerintah kabupaten Kutai
Kartanegara menerbitkan Peraturan Bupati Nomor 35 Tahun 2015 tentang Pedoman Pengelolaan
6

Keuanan Desa. Terkait dengan penelitian ini kajian ADD merupakan kajian implementasi ADD
sebelum terbitnya Perbup No 35 Tahun 2015, karena implementasi Perbup tersebut baru
dilaksanakan tahun 2015 sehingga belum dapat dilakukan evaluasi.

1.4.4.1. Pendapatan Desa


Jika kita cermati, roh UU No 6 Tahun 2014 adalah Money follow function adalah prinsip
yang dapat menjelaskan posisi dari keuangan desa ini. Undang-Undang Desa telah menegaskan
pengakuan negara atas Desa melalui asas rekognisi dan subsidiaritas yang mengakibatkan
adanya pengakuan atas kewenangan berdasarkan hak asal usul dan kewenangan skala lokal desa.
Pemberian kewenangan ini harus diikuti dengan penyerahan sumber daya kepada Desa agar
kewenangan yang dimiliki dapat dilaksanakan dengan baik. Atas dasar inilah Desa memiliki
sumber- sumber pendapatan Desa sebagai hak Desa yang selanjutnya harus dikelola dengan
sebaik-baiknya untuk melaksanakan kewajiban Desa yang tercermin dari isi Anggaran
Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes).
Dalam PP 72 Tahun 2005 Pasal 68 Ayat (1) Sumber pendapatan desa terdiri atas :
a. pendapatan asli desa, terdiri dari hasil usaha desa, hasil kekayaan desa, hasil swadaya dan
partisipasi, hasil gotong royong, dan lain-lain pendapatan asli desa yang sah;
b. bagi hasil pajak daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 10% (sepuluh per seratus) untuk desa
dan dari retribusi Kabupaten/Kota sebagian diperuntukkan bagi desa;
c. bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota
untuk Desa paling sedikit 10% (sepuluh per seratus), yang pembagiannya untuk setiap Desa
secara proporsional yang merupakan alokasi dana desa;
d. bantuan keuangan dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota
dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan;
e. hibah dan sumbangan dari pihak ketiga yang tidak mengikat.

Berbeda dengan PP No 72 Tahun 2005, pada UU No 6 Th 2014 Pasal 72, Pendapatan Desa
bersumber dari:
a. pendapatan asli Desa terdiri atas hasil usaha, hasil aset, swadaya dan partisipasi, gotong
royong, dan lain-lain pendapatan asli Desa;
b. Alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
c. bagian dari hasil pajak daerah dan retribusi daerah Kabupaten/ Kota;
d. Alokasi Dana Desa yang merupakan bagian dari dana perimbangan yang diterima
Kabupaten/Kota;
e. bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi dan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota;
f. hibah dan sumbangan yang tidak mengikat dari pihak ketiga; dan
g. lain-lain pendapatan Desa yang sah.

Sumber pendapatan Desa diatur pada Pasal 72 UU No 6 Th 2014. Melalui ketentuan ini
Desa berhak untuk mendapatkan 10% dari dana perimbangan yang diterima Kabupaten/Kota
dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah setelah dikurangi Dana Alokasi Khusus,
disamping sumber-sumber pendapatan lain. Dalam UU No 6 Tahun 2014 ini terdapat
pendapatan yang bersumber dari APBN, yang selanjutnya diatur melalui PP No 60 Tahun 2014
tentang Dana Desa Yang bersumber dari APBN yang kemudian diubah melalui PP No 22 Tahun
2015

1.4.4.2. ADD Kutai Kartanegara


7

Dalam penelitian ini yang menjadi focus adalah Alokasi Dana Desa (ADD), meskipun
ADD merupakan bagian dari sumber pendapatan namun karena merupakan pendapatan utama
Pemerintah Desa yang setiap tahun dianggarkan oleh Kabupaten, maka menjadi hal yang penting
pada bagian ini megkhususkan basah terkait ADD.
Sebagaimana disampaikan dalam BAB I, bahwa Kabupaten Kutai Kartanegara sejak tahun
2008 telah menerapkan kebijakan ADD sebagai amanah PP No 72 Tahun 2005 Tentang Desa.
Tentu pelaksanaan ADD tidak luput dari banyak masalah. Salah satu masalah yang muncul
adalah keterpisahan antara perencanaan daerah dengan kebutuhan local dan perencanaan Desa.
Ketika ide ADD mulai digulirkan umumnya birokrasi kabupaten, terutama dinas-dinas teknis
yang mengendalikan kebijakan dan anggaran pembangunan sektoral, melakukan resistensi yang
keras, bukan karena visi jangka panjang, tetapi karena mereka merasakan bakal kehilangan
sebagian kapling.
Keenganan secara psikologis dinas-dinas teknis ini tampaknya masih berlanjut ketika
ADD dilancarkan. Dengan berlindung pada ADD, atau karena Desa telah memiliki dana
tersendiri, dinas-dinas teknis justru menjauh dan kurang responsif pada kebutuhan Desa. Di sisi
lain, masalah juga muncul di Desa, terutama masalah lemahnya akuntabilitas pemerintah Desa
dalam mengelola ADD.
Meskipun banyak masalah dan distorsi yang muncul, ADD di kabupaten Kutai
Kartanegara, tetap memberikan banyak pelajaran berharga yang kedepan mengarah pada
penguatan kemandirian Desa. Pertama, pengalaman ADD telah mendorong rekonstruksi
terhadap makna dan format transfer dana dari pemerintah supra Desa ke Desa. Kedua, ADD
telah mendorong efisiensi penyelenggaraan layanan publik, kesesuaian program dengan
kebutuhan lokal, sekaligus juga meningkatkan kepemilikan lokal. Ketiga, ADD sangat relevan
dengan salah satu tujuan besar desentralisasi, yakni membawa perencanaan daerah lebih dekat
kepada masyarakat lokal.
Terlepas pada kondisi sebagaimana dijelaskan diatas di Kabupaten Kutai Kartanegara
menunjukkan bahwa ADD semakin membuat perencanaan Desa lebih bermakna dan dinamis.
Secara kelembagaan ADD telah membawa perubahan pada aspek perencanaan daerah, yakni
munculnya pola perencanaan Desa. Dampaknya, pola ini semakin mendekatkan perencanaan
pembangunan kepada masyarakat Desa, dan sebaliknya, masyarakat Desa mempunyai akses
yang lebih dekat pada pusat perencanaan.

1.4.4.3. Belanja Desa


Pasal 74 UU No 6 Tahun 2014 menyebutkan bahwa Belanja Desa diprioritaskan untuk
memenuhi kebutuhan pembangunan yang disepakati dalam Musyawarah Desa dan sesuai
dengan prioritas Pemerintah Kabupaten/Kota, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Pusat. Di
dalam penjelasan, disebutkan bahwa kebutuhan pembangunan meliputi, tetapi tidak terbatas
pada kebutuhan primer, pelayanan dasar, lingkungan, dan kegiatan pemberdayaan masyarakat
Desa. Maksud dari “tidak terbatas” adalah kebutuhan pembangunan di luar pelayanan dasar yang
dibutuhkan masyarakat Desa. Sedangkan maksud dari “kebutuhan primer” adalah kebutuhan
pangan, sandang, dan papan dan maksud dari “pelayanan dasar” adalah antara lain pendidikan,
kesehatan, dan infrastruktur dasar. Selain itu, di dalam belanja Desa dapat dialokasikan insentif
kepada rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW) .
Selanjutnya Pada Pasal 74 diatur bahwa : Belanja Desa diprioritaskan untuk memenuhi
kebutuhan pembangunan yang disepakati dalam Musyawarah Desa dan sesuai dengan prioritas
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah. Kebutuhan
pembangunan meliputi, tetapi tidak terbatas pada kebutuhan primer, pelayanan dasar,
lingkungan, dan kegiatan pemberdayaan masyarakat Desa.

1.4.4.4. Penatausahaan Keuangan Desa


8

Pasal 75 UU No 6 Tahun 2014 menjelaskan bahwa Kepala Desa adalah pemegang


kekuasaan pengelolaan Keuangan Desa dan dalam pelaksanaannya Kepala Desa menguasakan
sebagian kekuasaannya kepada perangkat Desa. Pasal 75 ayat (5) memandatkan disusunnya
Peraturan Pemerintah untuk mengatur lebih lanjut mengenai keuangan Desa. Dalam hal ini
Pemerintha Kabupaten Kutai Kartanegara mengatur melaln 2015 Tentang Pedoman Pengalolaan
Keuangan Desa.

1.5. Badan Permusyawarata Desa


Badan Permusyawaratan Desa (BPD) adalah salah satu organ yang menyelenggarakan
fungsi pemerintahan desa. Organ ini adalah penyelenggara musyawarah desa. Pasal 1 angka 4
UU No 6 Th 2015 Tentang Desa menyebutkan BPD atau yang disebut dengan nama lain adalah
lembaga yang melaksanakan fungsi pemerintahan yang anggotanya merupakan wakil dari
penduduk desa berdasarkan keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara demokratis. Materi
mengenai BPD yang diatur dalam UU ini meliputi fungsi, keanggotaan, hak dan kewajiban,
larangan, dan mekanisme pengambilan keputusan. Aspek lain yang diatur UU Desa adalah
keanggotaan BPD, meliputi persyaratan anggota, jumlah, dan pimpinan. Prinsip utama yang
dianut UU ini adalah anggota BPD berasal dari penduduk Desa bersangkutan. Dalam Pasal 55
Badan Permusyawaratan Desa mempunyai fungsi: membahas dan menyepakati Rancangan
Peraturan Desa bersama Kepala Desa.

1.6. Lembaga Kemasyarakatan


Lembaga kemasyarakatan adalah lembaga yang dibentuk masyarakat dengan prinsip-
prinsip kesukarelaan, kemandirian dan keragaman. Karakteristiknya terdiri dari lembaga
kemasyarakatan yang berbasis: kewilayahan, keagamaan, profesi, kebudayaan (termasuk adat
istiadat), kepemudaan, gender, dan interest group/kepentingan. Lembaga kemasyarakatan dan
Lembaga Adat erat kaitannya dengan modal sosial, untuk terciptanya tata kelola desa
demokratis, transparan, partisipatif dan efektif. Modal sosial yang kuat juga menjadi prasyarat
bagi tercapainya Desa mandiri.
Modal sosial diartikan sebagai norma dan aturan yang mengikat warga masyarakat yang
berada di dalam, dan mengatur pola perilaku warganya, juga unsur kepercayaan (trust) dan
jaringan (networking) antara warga masyarakat ataupun kelompok masyarakat. Norma dan
aturan yang ada juga mengatur perilaku individu baik dalam perilaku ke dalam (internal
kelompok) maupun perilaku keluar (ekseternal, hubungan dengan kelompok masyarakat yang
lain).
Lembaga-lembaga kemasyarakatan yang modern diperkenalkan kepada masyarakat Desa
sejak UU No. 5/1979 dengan nama yang seragam dan korporatis di seluruh Desa seperti:
Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK),
Karang Taruna, Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), Dasawisma, Rukun Tetangga (RT) dan
Rukun Warga (RW). Padahal jauh sebelumnya, setiap desa memiliki lembaga-lembaga lokal
yang tumbuh dari masyarakat. Di era reformasi, pengaturan kelembagaan masyarakat tidak lagi
bersifat seragam, meski tetap membuat standar seperti Lembaga Pemberdayaan Masyarakat
Desa (LPMD) dan PKK.
Berbagai lembaga kemasyarakatan di desa berfungsi sebagai wadah organisasi
kepentingan masyarakat setempat, termasuk untuk kepentingan ketahanan sosial (social security)
masyarakat, dan menyokong daya tahan ekonomi warga (economic survival). RT tetap menjadi
lembaga kemasyarakatan yang menonjol, dengan tetap menjalankan fungsi kemasyarakatan dan
juga fungsi administrasi pemerintahan. Rukun Tetangga (RT) juga menjadi benteng keamanan
dan ketertiban maupun tradisi sistem keamanan lingkungan, untuk menghimpun berbagai bentuk
dana dari masyarakat dalam rangka kepentingan simpanan dana sosial maupun untuk gotong-
royong.
9

Rumusan pengaturan sebagaimana dimaksud oleh UU Desa tertuang pada Bab XII:
Lembaga Kemasyarakatan Desa dan Lembaga Adat Desa. UU No 6 Tahun 2014, Pasal 94 Ayat
(1) Desa mendayagunakan lembaga kemasyarakatan Desa yang ada dalam membantu
pelaksanaan fungsi penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan pembangunan Desa,
pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa. Ayat (2) Lembaga
kemasyarakatan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan wadah partisipasi
masyarakat Desa sebagai mitra Pemerintah Desa. Ayat (3) Lembaga kemasyarakatan Desa
bertugas melakukan pemberdayaan masyarakat Desa, ikut serta merencanakan dan
melaksanakan pembangunan, serta meningkatkan pelayanan masyarakat Desa. Ayat (4)
Pelaksanaan program dan kegiatan yang bersumber dari Pemerintah, Pemerintah Daerah
Provinsi, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, dan lembaga non-Pemerintah wajib
memberdayakan dan mendayagunakan lembaga kemasyarakatan yang sudah ada di Desa.

II. Bahan Metode Penelitian


2.1.Teknik pengumpulan data
Data sekunder diperoleh dengan teknik studi kepustakaan serta wawancara mendalam dan
terarah (indepth and guided interview) kepada para pimpinan SKPD di Kabupaten Kutai
Kartanegara yang berwenang mengurusi masalah ADD serta kepada para tokoh masyarakat dan
tokoh akademik yang memiliki pengalaman dan kompetensi dalam masalah ADD di Kabupaten
Kutai Kartanegara. Studi kepustakaan dan wawancara dilakukan dengan mengacu kepada
instrumen pengumpulan data sekunder/kuesioner yang telah disusun.
Adapun data primer dikumpulkan melalui teknik survai lapangan kepada responden
penelitian dengan menggunakan instrumen kuesioner. Data primer dikumpulkan dengan
mengacu kepada instrumen pengumpulan data primer/ kuesioner yang telah disusun. Data yang
telah diperoleh tersebut (baik data sekunder maupun data primer) selanjutnya diolah dan
dianalisis untuk menjawab tujuan penelitian yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya.

2.2. Populasi dan Sampel


Atas dasar pertimbangan praktis maupun ekonomis (waktu, tenaga dan biaya yang
tersedia), penelitian ini tidak dilakukan terhadap populasi (seluruh desa yang ada di Kabupaten
Kutai Kartanegara) namun terhadap beberapa desa yang terpilih sebagai sampel penelitian.
Sampel penelitian ditentukan dengan teknik pengambilan sampel secara bertingkat non acak
(multistage non random sampling). Secara teknis, penelitian dilakukan pada seluruh kecamatan
di Kabupaten Kutai Kartanegara yang memiliki desa, sesuai dengan substansi penelitian ini.
Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki 18 kecamatan, namun ada 2 kecamatan yang tidak
memiliki desa (hanya membawahi kelurahan).
Dengan keterbatasan waktu dan biaya penelitian ini dilakukan di 9 kecamatan. Selanjutnya
pada setiap kecamatan dipilih 2 desa, yaitu 1 desa yang tergolong sebagai ‘urban village’ yakni
desa yang berlokasi dekat dengan wilayah ibu kota kecamatan, serta 1 desa yang tergolong
sebagai ‘rural village’ yakni desa yang masuk dalam kategori terisolir. Dengan demikian secara
total terdapat 18 desa yang menjadi sampel penelitian. Pada setiap desa yang telah terpilih
sebagai sampel, selanjutnya ditentukan responden penelitian yang akan menjadi sampel subjek
penelitian dengan menggunakan teknik judgement sampling.

Adapun responden penelitian pada setiap desa adalah pengurus lembaga kemasyarakatan desa,
yaitu sebagai berikut:
1. Aparatur Desa (3 Orang : Kepala Desa, Sekretaris Desa, Kepala Urusan)
2. Pengurus BPD (2 Orang).
3. Pengurus LPM (4 orang).
10

Dengan demikian pada setiap desa yang terpilih sebagai sampel terdapat 9 orang
responden yang merupakan representasi masyarakat penerima ADD. Dengan demikian secara
total untuk seluruh wilayah penelitian di Kabupaten Kutai Kartanegara ditargetkan sebanyak 162
orang responden. Adapun Desa - Desa yang dijadikan sampel adalah sebagai berikut :

Tabel 2. Distribusi Desa Sampel


No Kecamatan No Desa Aprt Desa BPD LPM Jlh
Tenggarong 1 Tanjung Batu 3 2 4 9
1
Seberang 2 Bukit Pariaman 3 2 4 9
3 Teluk Bingkai 3 2 4 9
2 Kenohan
4 Kahala 3 2 4 9
5 Sidomulyo 3 2 4 9
3 Anggana
6 Anggana 3 2 4 9
7 Salo Cella 3 2 4 9
4 Muara Badak
8 Badak Baru 3 2 4 9
9 Tani Bhakti 3 2 4 9
5 Loa Janan
10 Tani Harapan 3 2 4 9
11 Perangat Baru 3 2 4 9
6 Marang kayu Perangat 3 2 4 9
12 Selatan
13 Rempanga 3 2 4 9
7 Loa Kulu
14 Sumber Sari 3 2 4 9
15 Sari Nadi 3 2 4 9
8 Kota Bangun
16 Kota Bangun I 3 2 4 9
17 Lebak Cilong 3 2 4 9
9 Muara Wis
18 Sebemban 3 2 4 9
Total 54 36 72 162

2.3. Analisa Data


Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode
deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set
kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang.
Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau suatu
lukisan sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar
fenomena yang diselidiki (Moh. Nazir, 2005: 54).
Dalam kegiatan kajian ini jenis penelitian deskriptif yang digunakan adalah metode survei.
Metode survei adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-
gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual, tentang kondisi
implementasi Alokasi Dana Desa di Kabupaten Kutai Kartanegara.
Penyajian data hasil penelitian ditampilkan penilaian rerata score (score rata-rata) dan
prosentase digunakan untuk jenis pertanyaan tertutup, interprestasi penilaian rerata digunakan
untuk memotret gambaran umum dari keseluruhan jawaban responden atas satu indikator dan
satu set variabel serta kelompok responden.
Selanjutnya analisis juga dilakukan untuk melihat keeratan hubungan antar variable yang
digunakan pada variable yang digunakan untuk mengetahui persepsi baik dari Aparatur Desa,
BPD maupun LPM. Analisis ini menggunakan analisisi correlation dengan bantuan program
SPSS.

III. Hasi Dan Pembahasan


3.1. Kualitas Perencanaan ADD
11

Untuk mengetahui kualitas perencanaan yang diukur melalui persepsi responden dari 3
kelompok responden ditampilkan dalam dua bagian, yang pertama ditampilkan hasil secara
umum, yaitu rerata atas seluruh atribut kualitas perencanaan dari masing-masing responden
berdasarkan kelompok, kedua akan ditampilkan kualitas perencanaan berdasarkan
atribut/indicator dari 3 kelompok responden.
Tabel 3. Persepsi Kualitas Perencanaan
Kriteria Apr Desa BPD LPM
Sangat Baik 7 14.29% 5 17.24% 16 23.88%
Baik 32 65.31% 18 62.07% 32 47.76%
Cukup Baik 10 20.41% 6 20.69% 19 28.36%
Tidak Baik 0 0.00% 0 0.00% 0 0.00%
Sangat Tidak Baik 0 0.00% 0 0.00% 0 0.00%
Jlh Responden 49 29 67
Sumber : Data Primer Diolah November 2015
Secara umum tanggapan responden terhadap kualitas perencanaan penggunaan Alokasi
Dana Desa (ADD) ditanggapi oleh masing-masing kelompok responden menun-jukkan hasil
yang serupa meskipun besaranya tidak sama. Bahwa kualitas perencanaan ADD ditanggapi oleh
seluruh kelompok res-ponden dominan menjawab Baik, berikutnya Cukup Baik dan Ketiga
Sangat Baik, tidak ada satupun responden yang tidak baik dan sangat tidak baik, sebagaimana
ditunjukkan oleh Tabel 3. Selanjutnya masih kaitan dengan Kualitas Perencanaan, analisis
dilakukan dengan melihat tanggapan responden terhadap atribut indikator Kualitas Perencanaan
jika dilihat dari retata jawaban, bahwa ke 8 atribut kualitas perencanaan secar umum telah
dipersepsikan baik oleh seluruh kelompok responden.

3.2. Pelaksanaan ADD


Pelaksanaan ADD tidak bisa dipisahkan dari pelaksanaan APBDesa, karena pendapatan
didominasi oleh ADD, maka pelaksanaan APBDesa diidentikaan dengan pelaksanaan ADD.
ADD di Kabupaten Kutai kartanegara dalam perjalanannya diatur Perbup No 12 Tahun 2008,
kemudian digantikan dengan Perbup No 71 Tahun 2008 dan tahun 2012 diubah menjadi Perbup
nomor 121 Tentang ADD.
Tabel 4. Persepsi Pelaksanaan ADD
Aparatur Desa BPD LPM
Sangat Baik 2 4% 2 7% 11 16%
Baik 34 69% 17 59% 35 52%
Cukup Baik 13 27% 8 28% 20 30%
Tidak Baik 0 0% 2 7% 1 1%
Sangat Tdk Baik 0 0% 0 0% 0 0%
49 29 67
Sumber: Hasil Penelitian 2015
Pelaksanaan ADD secara umum dipersepsikan baik, namun yang menjadi masalah adalah
jawaban pernyataan Tidak Baik oleh BPD dan LPM. Meskipun presentasinya hanya 7% dan 1%
sebagaimana Tabel 4, namun hal ini perlu mendapat perhatian. Pelaksanaan ADD yang tidak
baik memiliki potensi penyalahgunaan yang dapat mengarah pada permasalahan hukum.
Berkaitan dengan hal tersebut pelaksana kegiatan perlu untuk memperhatikan kesesuaian dengan
dokumen perencanaan. Bahwa khusus pelaksanaan kegiatan yang berbentuk fisik melalui
mekanisme pengadaan swakelola padat karya dilaksanakan oleh LPM, masih memerlukan
penguatan dalam berbagai aspek pelaksanaan kegiatan.
12

3.3. Pengendalian Kegiatan


Pengendalian kegiatan dilaksankan oleh Panitia Pelaksana Kegiatan untuk swakelola padat
karya dan oleh aparatur pemerintah desa untuk swakelola pemerintah desa, namun demikian
penanggungjawab akhir adalah kepala desa selaku pemegang kekuasaan pengalolaan keuangan
desa. Pengendalian kegiaan merupakan tindakan untuk memastikan suatu kegiatan berjalan
sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Tabel 5. Persepsi Pengendalian Kegiatan
Apt Desa BPD LPM
Sangat Baik 7 14% 5 17% 8 12%
Baik 27 55% 20 69% 40 60%
Cukup Baik 14 29% 4 14% 18 27%
Tidak Baik 1 2% 0 0% 1 1%
Sangat Tdk Baik 0 0% 0 0% 0 0%
49 29 67
Sumber: Hasil Penelitian 2015
Hasil penelitian sebagaimana ditampilkan dalam Tabel 5, persepsi dari ketiga kelompok
responden secara umum menyatakan Baik, meski terdapat tanggapan yang tidak baik dari
aparatur desa dan LPM masing-masing sebesar 2% dan 1%. Demikian seluruh atribut
pengendalian kegitan secara keseluruhan juga ditanggapi baik oleh seluruh responden.
Pengendalian kegiatan adalah suatu prosedur yang dilakukan oleh elemen pelaksana kegiatan
untuk menjamin kegiaan berjalan sebagaimana yang telah ditetapkan dengan tidak melanggar
azas pelaksanaan kegiatan, seperti transparan, akurat dan akuntabel.

3.4. Pertanggungjawaban Pelaporan


Periode akhuntansi keuangan desa adalah 1 Januari sampai 31 Desember. Setelah
pelaksanaan APBDesaa, maka keseluruhan aktifitas transaksi yang dirangkum ke APBDes
dilaporkan ke Masyarakat dan BPD, terhait dengan hal ini penelitian terkain dengan
perganggunjawaban dan pelaporan, untuk mengetahui sejauh mana Kepala Desa selaku
pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan menyampaikan laporan pertanggunjawaban
APBDesa ke BPD dan ke Masyarakat.
Dalam Tabel 6. menunjukkan bahwa pertanggunjawaban pelaporan diukur melalui 2
indikator. Untuk respnden kelompok Aparatur Desa dan LPM memberikan penilaian diatas
BPD. Persepsi Tidak Baik dan Sangat Tidak Baik diberikan oleh BPD terhadap kedua indicator
terebut, disisi lain responden kelompok AParatur Pemerintah Desa memberikan penilaian yang
lebih tinggi dibanding kelompok lain, hal ini menjadi wajar karena aparatur desalah yang
menyusun laporan pertanggunjawabab APBDesa ke BPD dan masyarakat.
Tabel 6. Tanggapan Indikator Pertanggunjawaban Pelaporan
Unsur Rsp Rerata Kriteria STB TB CB B SB
Score Score
1 Penyampaian Laporan Apr Desa 3.74 Baik 0.00% 0.00% 31.91% 61.70% 6.38%
Pertanggungjawaban BPD 3.66 Baik 0.00% 6.90% 31.03% 51.72% 10.34%
APBDesa LPM 3.83 Baik 0.00% 0.00% 31.82% 53.03% 15.15%
2 Penyampaian Laporan Apr Desa 3.70 Baik 0.00% 0.00% 36.17% 57.45% 6.38%
Pertanggungjawaban BPD 3.31 Baik 3.45% 13.79% 34.48% 44.83% 3.45%
APBDesa Kepada LPM 3.69 Baik 0.00% 2.99% 35.82% 50.75% 10.45%
13

Masyarakat
0.58% 3.95% 33.54% 53.25% 8.69%
Sumber: Hasil Penelitian 2015
Sebagaimana juga ditampilkan dalam Gambar 6 diatas bahwa kedua indicator
memperoleh penilaian yang dominan Baik, maka hal ini perlu dipertahankan. Terhadap penilaian
BPD yang Tidak Baik dan Sangat tidak baik, mengindikasikan bahwa terdapat hubungan yang
kurang baik antara BPD dan Aparatur Desa meskipun rendah. Hubungan kelembagaan BPD dan
Aparatur Desa adalah BPD sebagai mitra pemerintah desa dalam menjalankan roda
pemerintahan dan pembangunan. Hubungan ini bukan hubungan politik namun sama-sama
selaku penyelenggara pemerintahan desa dengan kedudukan yang berbeda. Harmonisasi antara
BPD dan Aparatur Pemerintah Desa menjadi mutlak untuk mencapai keberhasilan
penyelenggaraan pemerintahan desa.

3.5. Kapasitas Aparatur Desa


Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesi.
Pemerintah Desa adalah Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dibantu perangkat
Desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa. Selanjutnya Kepala Desa adalah
pemegang kekuasaan pengalola keuangan dan asset. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini
memperoleh gambaran mengenai kapasitas aparatur desa berdasarkan penilaian atau persepsi
dari Aparatur Desa Sendiri.
Tabel 7. menggambarkan kapasitas aparatur desa dalam mengalola ADD atau keuangan
desa secara umum, dimana jawaban baik mencapai 55% dan cukup baik mencapai 43%. Angka
tersebut menggambarkan bahwa kapasitas aparatur desa dalam mengelola APBDesa atau
keuangan desa perlu ditingkatkan.

Tabel 7. Tanggapan Kapasitas Aparatur Desa

Sangat Baik 1 2%
Baik 27 55%
Cukup Baik 21 43%
Tidak Baik 0 0%
Sangan Tdk Baik 0 0%
Jlh 49 100%
Sumber: Hasil Penelitian 2015
3.6. Kapasitas BPD
Ketentuan umum UU No 6 Tahun 2014, Badan Permusyawaratan Desa atau yang disebut
dengan nama lain adalah lembaga yang melaksanakan fungsi pemerintahan yang anggotanya
merupakan wakil dari penduduk Desa berdasarkan keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara
demokratis. Selanjutnya Pasal 55 UU No 6 Tahun 2014, bahwa Badan Permusyawaratan Desa
mempunyai fungsi: a. membahas dan menyepakati Rancangan Peraturan Desa bersama Kepala
Desa; b. menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat Desa; dan c. melakukan
pengawasan kinerja Kepala Desa. Mencermati hal tersebut diatas fungsi BPD demikian strategis,
untuk menjalankan fungsi tersebut tentu diperlukan seorang yang memiliki kompeten dan
kapasitas dalam menduduki jabatan BPD.

Tabel 8. Kapasitas BPD


Kriteria Jlh %
Sangat Baik 2 7%
14

Baik 18 62%
Cukup Baik 7 24%
Tidak Baik 2 7%
Sangat Tdk Baik 0 0%
29
Sumber: Hasil Penelitian 2015
Berkaitan dengan hal ini penelitian ini menggambarkan bahwa kapasitas BPD dinyatakan
secara umum adalah Baik. Kapasitas BPD sebagaimanan terdapat pada Tabel 8, menunjukkan
bahwa 62% responden menyatakan Baik, berikutnya Cukup Baik sebesar 24%, sedangkan
Sangat Baik dan Tidak Baik masing-msing 7%
Secara umum kapasitas BPD adalah baik, tentu saja yang perlu mendapat perhatian adalah
yang masuk kategori Tidak Baik. Dari unsur apa saja yang menyebabkan kapasitas BPD Tidak
Baik atau Baik dapat dilihat dari Tabel 8. Tanggapan kapasitas Tidak Baik atas atribut
Pemerataan pemahaman BPD terkait dengan regulasi ADD, yakni sebesar 6,90%.
Hal-hal yang menyebabkan tidak merata pemahaman BPD tidak dikaji dalam penelitian
ini, namun beberapa hal yang dapat dikaji lebih lanjut adalah bahwa persyaratan menjadi
anggota BPD tidak boleh dari aparatur desa, dalam praktek di Kutai Kartanegara ada yang
sambil bekerja di perusahaan, hingga PNS, artinya jabatan BPD bukan merupakan pekerjaan
utama, hal ini berbeda dengan Aparatur Pemerintah Desa, sehingga seringkali menjadi BPD
hanya profesi sambilan, hal ini yang memungkinkan tidak meratanya kapasitas BPD dalam
memahami regulasi ADD

3.7. Kapasitas LPM


Sama halnya Aparatur Desa dan BPD, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) juga
penting untuk memiliki kapasitas pemahaman terhadap regulasi ADD dan APBDesa. Dalam
Tabel 3.16 dan Gambar 3.32. menunjukkan bahwa secara umum kapasitas LPM adalah baik.
Tabel 9. Kapasitas LPM

Atribut Kapasitas Rerata Kriteria Kriteria Atribut


No
LPM Score Score STB TB CB B SB
1 Kemampuan LPM 3.51 Baik 0.00% 5.97% 41.79% 47.76% 4.48%
dalam memahami
regulasi terkait
dengan ADD dan
APBDesa
2 Pemerataan 3.63 Baik 0.00% 4.48% 34.33% 55.22% 5.97%
pemahaman LPM
dalam memahami
Regulasi terkait
dengan ADD dan
APBDesa
0.00% 5.22% 38.06% 51.49% 5.22%
Sumber: Hasil Penelitian 2015
Namun demikian terhadap kedua atribut tersebut terdapat jawaban Tidak Baik terhadap
dua atribut yaitu kemampuan LPM dalam memahami regulasi sebesar 5.97% dan atribut
pemerataan pemahaman LPM sebesar 4,48%. Lembaga kemasyarakatan Desa merupakan
15

wadah partisipasi masyarakat Desa sebagai mitra Pemerintah Desa. Dalam Peraturan Bupati
Kutai Kartaneara Nomor 121 dan 122 tahun 2012 peranan Lembaga kemasyarakaan sebagai
pelaksana kegiatan Swakelola Padat karya seharusnya memahami dengan baik ketentuan/
regulasi terkait denan ADD dan APBDesa. Kapasitas yang Cukup Baik tentu saja masih kurang,
LPM harus mempunyai kapasitas yang Baik atau Sangat Baik terhadap regulasi tentang ADD
maupun APBDesa.
Dalam Pasal 94 UU No 6 Tahun 2014, bahwa Lembaga kemasyarakatan Desa bertugas
melakukan pemberdayaan masyarakat Desa, ikut serta merencanakan dan melaksanakan
pembangunan, serta meningkatkan pelayanan masyarakat Desa. Sejalan dengan hal tersebut
peranan Lembaga Kemasyarakatan yang begitu penting harus dibarengi dengan pemahaman
regulasi yang terkait. Peranan pemerintah kabupaten diperlukan untuk dapat mendorong
peningkatan kapasitas lembaga kemasyarakatan.

3.8. Hubungan Antar Variabel


Hubungan antar variabel diukur melalui nilai korelasi. Dalam analisas nilai korelasi
merupakan perhitungan untuk mengetahui kapasitas responden dan aspek kebijakan masing-
masing dikorelasikan dengan Pelaksanaan ADD, Pengendalian Kegiatan, Pertanggunjawaban.
3.8.1. Analisa Korelasi antar Variabel Untuk Responden Aparatur Desa
Hubungan Kapasitas Aparatur Desa dengan Kualitas Perencanaan, Pelaksanaan ADD,
Pengendalian Kegiatan, Pertanggunjawaban ditampilkan dalam tabel 3.20. Dalam tabel tersebut
korelasi kapasitas aparatur desa yang memiliki korelasi yang sedang dengan pertanggunjawaban
keuangan dan kualitas perencanaan, sedangkan dengan kualitas perencanaan, pelaksanaan ADD,
pengendalian kegiatan tidak memiliki korelasi. Makna korelasi adalah keeratan hubungan, dalam
hal ini nampak bahwa kualitas perencanaan berhubungan dengan kapasitas aparatur desa,
demikian juga dengan pertanggunjawaban ADD, hal ini menunjukan bahwa aparatur desa hanya
lebih memiliki peran dalam perencanaan dan pertanggunjawaban, sedangkan pelaksanaan dan
pengendalian kegiatan tidak memiliki hubungan.
Tabel 10. Hubungan Antar Variabel Untuk Responden Aparatur Desa
Korelasi Kualitas Pelaksanaan Pengendalian Pertanggung
Perencanaan Kegiatan jawaban
Kapasitas Aparatur Desa 0.505 0.365 0.112 0.435
Sig 0 0.005 0.221 0.001
Kriteria Sedang Rendah Sangat rendah Sedang

Aspek Kebijakan 0.186 0.398 0.592 0.424


Sig 0.1 0.002 0 0.001
Kriteria Sangat Rendah Sedang Sedang
rendah
Sumber: Hasil Penelitian 2015
Selanjutnya aspek kebijakan sebagaimana dipersepsikan oleh aparatur pemerintah desa,
dikorelasikan dengan dengan Pelaksanaan ADD, Pengendalian Kegiatan, Pertanggunjawaban.
Dari tabel 10 nampak bahwa Aspek kebijakan hanya berkorelasi terhadap pengendalian kegiatan
dan pertanggunjawaban. Hal yang menjadi diskusi adalah bahwa kebijakan yang disusun
pemerintah kabupaten tidak memiliki korelasi yang signifikan terhadap kualitas perencanaan
ADD, kondisi ini menunjukkan lemahnya kebijakan ADD untuk menjadi pedoman perencanaan
pelaksanaan ADD. Demikian pula terhadap Pelaksanaan ADD mengalami kondisi yang serupa.
16

3.8.2. Analisa Korelasi Antar Variabel Untuk Responden BPD


Hasil dari persepsi kapasitas BPD menunjukkan memiliki hubungan yang kuat dengan
kualitas perencanaan dan pengendalian kegiatan, selanjutnya memiliki hubungan yang sedang
terhadap pelaksanaan kegiatan dan pertanggunjawaban ADD. Hasil penelitian ini dapat
dipahami bahwa peranan BPD lebih banyak pada perancanaan ADD pada saat persetujuan
APBDesa dan terkait deng fungsi Pengawasan dalam hal ini pengendalian kegiatan yang
bersumber dari ADD.
Tabel 11. Hubungan Antar Variabel Untuk Responden BPD
Kualitas Pengendalian Pertang-
Korelasi Pelaksanaan
Perencanaan Kegiatan gunjawaban
Kapasitas BPD 0.605 0.459 0.688 0.565
Sig 0 0.006 0 0.001
Kriteria Kuat Sedang Kuat Sedang

Aspek Kebijakan 0.617 0.529 0.508 0.659


Sig 0 0.002 0.002 0
Kriteria Kuat Sedang Sedang Kuat
Sumber: Hasil Penelitian 2015
Pada variable aspek kebijakan yang dipersepsikan BPD, memiliki hubungan yang kuat
dengan kualitas perencanaan dan pertanggunjawaban ADD, selanjutnya memiliki hubungan
yang sedang terhadap pelaksanaan kegiatan dan pengendalian kegiatan. Hal yang dapat
didiskusikan adalah bahwa kebijakan yang disusun oleh Pemerinah Kabupaten Kutai
Kartanegara telah memiliki hubungan yang baik terhadap aspek kualitas perencanaan,
pelaksanaan kegaitan, pengendalian kegaitan dan pertanggunjawaban ADD.

3.8.3. Analisa Korelasi antar Variabel Untuk Responden LPM


Tabel 12. menunjukkan hubungan antara variable yang telah dipersepsikan oleh LPM,
Kapasitas memiliki hubungan 4 variabel secara signifikan, namun hanya variable pengendalian
kegiatan yang miliki hubungan yang kuat, sedang untuk variable lainnya memiliki hubungan
yang sedang.
Tabel 12. Hubungan Antar Variabel Untuk Responden LPM
Kualitas Pengendalian Pertang-
Korelasi Pelaksanaan
Perencanaan Kegiatan gunjawaban
Kapasitas LPM 0.527 0.542 0.618 0.552
Sig 0.00 0.00 0.00 0.00
Kriteria Sedang Sedang Kuat Sedang
Sumber: Hasil Penelitian 2015
Pada Variabel Aspek Kebijakan, Jumlah Responden dari Unsur LPM tidak mencukupi untuk
dianalisa, hal ini karena LPM tidak memahami atau tdk mengetahui pertanyaan yg terdapat
dalam Aspek Kebijakan.
3.8.4. ADD dan Kemiskinan
Hasil perhitungan nilai Corelasi sebesar - 0,069 dengan tingkat Signifikan 0,441 atau
44,1%. Hal ini berarti hubungan ADD dengan Penduduk Miskin tidak signifikan atau tidak
berarti. Ditegaskan dalam Peraturan Bupati tentang ADD bahwa salah satu tujuan ADD adalah
untuk menanggulangi kemiskinan.
17

Tabel 13. Hubungan ADD Dengan Penduduk Miskin

Tahun Pdd Miskin Alokasi ADD & Bankeu


2008 48,160.00 168.050
2009 42,480.00 390.000
2010 54,700.00 223.370
2011 46,800.00 270.660
2012 51,000.00 282.900
2013 51,758.00 493.330
2014 50,085.00 485.330
Sumber :Pdd Miskin :Disdukcapil
ADD : Bappemas
Dari hasil penelitian ini tidak terdapat hubungan antara keduanya, dimungkinkan karena
terdapat program penanggulangan kemiskinan lain dari Pemerintah Kabupaten Kutai
Kartanegara seperti Bedah Rumah maka ADD tidak Nampak memiliki hubungan, karena
kegiatan ADD yang terintegrasi dengan APBDesa secara langsung mempengaruhi secara
langsung jumlah penduduk miskin, hal ini dapat dimaknai bahwa ADD merupakan variabel
antara sebelum dapat mengurangi penduduk miskin, meskipun ini perlu penelitian lebih lanjut.
Catatan dalam analisa ini jumlah penduduk miskin total kabupaten dan alokasi ADD adalah data
alokasi tahunan.

3.9. ADD Dan Penyerapan Tenaga Kerja


Tabel 14. Hubungan ADD dan Penyerapan Tenaga Kerja
Jlh Tenaga
Desa Kerja dlm ADD 2014
Kegaitan ADD
1 Tanjung Batu, Tgr. Seberang 29 1,495,021,966.00
2 Bukit Pariaman, Tgr. Seberang 59 2,647,221,230.00
3 Teluk Bingkai, Kec. Kenohan - -
4 Kahala, Kec. Kenohan 29 1,890,838,151.00
5 Sidomulyo, Kec. Anggana 42 2,017,278,054.00
6 Anggana, Kec. Anggana 7 1,806,177,854.00
7 Salo Cella, Kec. Muara Badak - -
8 Badak Baru, Kec. Muara Badak 26 3,001,514,037.00
9 Tani Bhakti, Kec. Loa Janan 105 1,730,744,725.00
10 Tani Harapan, Kec. Loa Janan 74 1,587,868,890.00
11 Perangat Baru, Kec. Marang Kayu 57 1,851,543,501.00
12 Perangat Selatan, Kec. Marangkayu 28 1,988,766,536.00
13 Rempanga, Kec. Loa Kulu 1,945,323,805.00
14 Sumber Sari, Kec. Loa Kulu 21 1,823,932,409.00
15 Sari Nadi, Kec. Kota Bangun 1,812,957,936.00
16 Kota Bangun I, Kec. Kota Bangun 55 1,649,638,650.00
17 Lebak Cilong, Kec. Muara Wis 1,797,138,910.00
18 Sebemban, Kec. Muara Wis 75 1,753,650,128.00
Sumber: Hasil Penelitian 2015
Hubungan antara ADD dengan penyerapan tenaga kerja selaku pelaksana kegiatan yang
bersumber dari ADD dalam analisa diperoleh nilai Corelasi sebesar - 0,021 tingkat Signifikan
18

sebesar 0,255 atau 25,5% atau Tidak Signifikan. Hasil perhitungan tersebut Nampak tidak
signifikan, dalam hal ini khusus untuk data penyerapan tenaga kerja responden tidak dapat
menunjukkan daftar tenaga kerja yang terlibat dalam kegiatan ADD, responden hanya
menyampaikan perkiraan atau asumsi yang belum tentu mendekati kebenaran. Oleh karena itu
hasil penelitian yang menghubungakan antara ADD dengan penyerapan tenaga kerja tidak dapat
dijadikan sebagai hasil yang akurat, namun dapat dijadikan referansi untuk penelitian yang
mengkhususkan terkait dengan ketenagakerjaan dalam program ADD.

3.10. Desa Yang Memiliki BUMDesa


Dalam penelitian ini juga terdapat isian tentang keberadaan BUMDesa, hal ini dipandang
penting karena salah satu cara untuk mengetahui keberhasilah ADD adalah kemandirian
keuangan desa, sedangkan BUMDesa yang telah berhasil usahanya dapat memberikan
kontributi Pendapatan Asli Desa (PADes).
Tabel 15. BUMdesa

1 2 3 4 5 6
Kecamatan Anggana Muara Loa Kota Muara Wis Muara Wis
Badak Janan Bangun
Desa Anggana Badak Tani Kota Lebak Sebemban
Baru, Harapan, Bangun I, Cilong,
Nama Alamanda Karya Harapan Jaya Keham -
BUMDes Sejahtera Abadi Mandiri
Bidang Simpan Jasa Sarang Saprodi Perkebunan Mesin
Usaha Pinjam Walet Giling
Padi
Perdagangan Sembako Kebun (Baru
Sawit Berjalan)
Jasa Industri Rumah
Rumah Sewa
Tangga
Sewa Kios
Keuntungan - - - - - -
Sumber: Hasil Penelitian 2015
Dari 18 Desa Sampel, hanya 6 Desa yang memiliki BUMDesa, dari 6 BUMDesa pun
aparatur desa belum dapat menampilkan kondisi keuangan khususnya memberikan informasi
terkait dengan keuntungan BUMDesa. Hal ini menunjukkan bahwa program ADD belum
mampu mendorong kemandirian keuangan desa, kondisi ini perlu mendapatkan perhatian yang
lebih serius bagi pemerintah untuk mendorong terbentuknya BUMDesa yang sehat dan memiliki
masa depan yang baik.

IV. Kesimpulan
4.1. Kesimpulan
4.1.1. Evaluasi Program ADD
Evaluasi Program Alokasi Dana Desa Di kabupaten kutai kartanegara menunjukkan
bahwa :
19

a. Kualitas Perencanaan, Pelaksanaan, Pengendalian Kegiatan, Pertanggunjawaban Pelaporan


secara umum ditanggapi oleh Aparatur Pemerintah Desa, BPD dan LPM adalah baik.
b. Responden dari LPM tidak memahami dengan baik regulasi atau kebijakan terkait dengan
ADD, sehingga tidak memberikan tanggapan terhadap atribut pada aspek regulasi.
c. Terdapat indicator keberhasilan ADD tidak dapat yang terukur yatu: 1) meningkatkan
pengamalan nilai-nilai keagamaan, sosial budaya dalam rangka mewujudkan peningkatan
sosial; 2) meningkatkan ketentraman dan ketertiban masyarakat; 3) meningkatkan pelayanan
pada masyarakat desa dalam rangka pengembangan kegiatan sosial dan ekonomi
masyarakat; 4) mendorong peningkatan keswadayaan dan gotong royong masyarakat,
tingkat keberhasilannya ke empat indikator tidak dapat terukur dengan akurat.

d. Dari analisa korelasi diperoleh hasil bahwa :


1. Bahwa ADD tidak berhubungan penurunan Penduduk Miskin
2. Bahwa ADD dapat meningkatkan meningkatkan perencanaan dan penganggaran
pembangunan di tingkat desa dan pemberdayaan masyarakat
3. Bahwa ADD tidak berhubungan dengan Penyerapan Tenaga Kerja Lokal
4. Bahwa ADD belum mampu mendorong tebentuknya BUMDesa secara signifikan

4.1.2. Evaluasi Hubungan Variabel (Korelasi)


4.1.2.1. Kapasitas Aparatur Desa memiliki keeratan hubungan yang :
a. sedang terhadap kualitas perencanaan;
b. rendah terhadap Pelaksanaan Kegiatan;
c. Tidak berhubungan dengan Pengendalian Kegiatan dan
d. rendah dengan Pertanggunjawaban dan Pelaporan

1.1.2.2. Aspek Kebijakan, yang dipersepsikan Aparatur Desa memiliki keeratan hubungan yang:
a. Tidak memiliki keeratan hubungan terhadap kualitas perencanaan;
b. rendah terhadap Pelaksanaan Kegiatan;
c. Sedang berhubungan dengan Pengendalian Kegiatan dan
d. Sedang dengan Pertanggunjawaban dan Pelaporan

1.1.2.3. Kapasitas BPD memiliki hubungan yang :


a. Kuat terhadap kualitas perencanaan;
b. Sedang terhadap Pelaksanaan Kegiatan;
c. Kuat berhubungan dengan Pengendalian Kegiatan dan
d. Sedang dengan Pertanggunjawaban dan Pelaporan

1.1.2.4. Aspek kebijakan yg dipersepsikan oleh BPD memiliki hubungan yang :


a. Kuat terhadap kualitas perencanaan;
b. Sedang terhadap Pelaksanaan Kegiatan;
c. Sedang berhubungan dengan Pengendalian Kegiatan dan
d. Kuat dengan Pertanggunjawaban dan Pelaporan

1.1.2.5. Kapasitas LPM di persepsikan memiliki hubungan yang :


a. Sedang terhadap kualitas perencanaan;
b. Sedang terhadap Pelaksanaan Kegiatan;
c. Kuat berhubungan dengan Pengendalian Kegiatan dan
d. Sedang dengan Pertanggunjawaban dan Pelaporan

1.2. Rekomendasi
20

1. Diperlukan peningkatan kualitas Aparatur Desa, BPD dan LPM guna dapat meningkatkan
kualitas perencanaan, pelaksanaan kegiatan, pengendalian kegiatan dan pertanggunjawaban
keuangan khususnya yang bersumber dari ADD
2. Perlu penguatan kapasitas SDM khususnya untuk LPM dalam memahami regulasi terkait
dengan ADD.
3. Pengaturan Kebijakan terkait dengan ADD Hendaknya memberikan tolok ukur keberhasilan
yang jelas dan dapat dipertanggunjawabkan.
4. Dengan berlakunya UU No 4 Th 2014 Tentang Desa, sumber keuangan Desa semakin kuat
khususnya dengan adanya Dana Desa Dari Pusat. Oleh karena itu diperlukan perbaikan
regulasi yang mengatur tentang :
a. Mekanisme Perencanaan Pembangunan Desa
b. Tata Kelola Keuangan.
c. Tata cara pengadaan Barang dan Jasa

DAFTAR PUSTAKA
Anotasi Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa, Pusat Telaah dan Informasi Regional
(PATTIRO), Jakarta, 21 Agustus 2015;

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintah Daerah;


Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara;
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah;
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa;
Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa;
Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 Tentang Pelaksanaan UU No 6 Tahun 2014
Tentang Desa, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 47
Tahun 2015;
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa sebagaimana telah diubah
melalui PP No 22 Tahun 2015;
Peraturan Menteri Dalam Negeri No 37 Tahun 2007 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Desa’
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa;
Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara Nomor 16 tahun 2007 tentang Keuangan Desa;
Peraturan Bupati Nomor 11 tahun 2008 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa;
Peraturan Bupati Kutai Kartanegara Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Alokasi Dana Desa;
Peraturan Bupati Kabupaten Kutai Kartanegara Nomor 71 Tahun 2008 Tentang Alokasi Dana
Desa;
Peraturan Bupati Kabupaten Kutai Kartanegara No 72 Tahun 2008 Tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Desa;
Peraturan Bupati Kabupaten Kutai Kartanegara Nomor 121 Tahun 2012 Tentang Alokasi Dana
Desa;
Peraturan Bupati Kabupaten Kutai Kartanegara Nomor 12ahun 2012 Tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Desa;
Peraturan Bupati Kutai Kartanegara Nomor 35 Tahun 2015 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Desa;
Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 140/640/SJ Tahun 2005 tanggal 22 Maret 2005
tentang Pedoman Alokasi Dana Desa dari Pemerintah Kabupaten/Kota kepada
Pemerintah Desa.
MOH. NAZIR, Metodologi Penelitian, Ghalia Indonesia, 2005, Bogor.