Anda di halaman 1dari 32

RADIOGRAPH BASED DISCUSSION

Pneumoperitoneum

Untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu


Syarat Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Radiologi
di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang

Oleh :

Doddy Tisna A 01983605

Jundi Azmi N 012116426

Yanuar Yudi H 30101206751

Pembimbing :
dr. Bambang Satoto, Sp. Rad (K)

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN RADIOLOGI

RUMAH SAKIT ISLAM SULTAN AGUNG

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG

2017

i
LEMBAR PENGESAHAN

RADIOGRAPH BASED DISCUSSION

Diajukan guna melengkapi tugas kepaniteraan klinik bagian ilmu radiologi


Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung

Nama :

Doddy Tisna A 01983605

Jundi Azmi N 012116426

Yanuar Yudi H 30101206751

Judul : Pneumoperitoneum

Bagian : Ilmu Radiologi

Fakultas : Kedokteran Unissula

Pembimbing : dr. Bambang Satoto, Sp. Rad (K)

Telah diajukan dan disahkan


Semarang, Februari 201
Pembimbing,

dr. Bambang Satoto, Sp. Rad (K)

ii
BAB I

PENDAHULUAN

Pneumoperitoneum merupakan keadaan adanya udara bebas dalam kavum

peritoneum. Hal ini bisa disebabkan perforasi organ berongga abdomen akibat

trauma tumpul abdomen. Pencitraan radiologi yang digunakan untuk mendeteksi

pneumoperitoneum meliputi foto polos abdomen, USG, MRI, CT scan yang dapat

juga dilakukan dengan kontras. Foto polos abdomen menjadi pencitraan utama pada

akut abdomen, termasuk pada perforasi viskus abdomen. Gambaran radiologi foto

polos tergantung posisi, di mana posisi terbaik adalah posisi lateral dekubitus kiri

yang menunjukkan gambaran radiolusen antara batas lateral kanan dari hepar dan

permukaan peritoneum.1

Pemeriksaan CT Scan merupakan kriteria standar pencitraan

pneumoperitoneum, namun mahal. Pada pencitraan MRI pneumoperitoneum

terlihat sebagai area dengan intensitas rendah pada semua potongan gambar. Pada

pencitraan USG pneumoperitoneum tampak sebagai daerah linier peningkatan

ekogenisitas dengan artifak reverberasi atau distal ring down. USG tidak

dipertimbangkan sebagai pemeriksaan definitive untuk menyingkirkan

pneumoperitoneum. 1

3
4

1.2. Batasan Masalah


Referat ini akan membahas tentang Pneumoperitoneum khususnya dari segi
gambaran radiologis.

1.3. Tujuan Penulisan

1.3.1. Tujuan Umum


Mengetahui tentang Pneumoperitoneum dari definisi, etiologi, manifestasi klinis,
penegakan diagnosa, dan pengobatannya.

1.3.2. Tujuan Khusus


Mengetahui gambaran radiologis pada Pneumoperitoneum

1.4. Metode Penulisan


Metode penulisan referat ini adalah tinjauan kepustakaan yang merujuk
pada berbagai literatur.
5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Pneumoperitoneum

Pneumoperitoneum adalah adanya udara bebas dalam ruang peritoneum

yang biasanya terkait dengan perforasi dari usus kecil. Namun, setiap viskus

berlubang dapat menyebabkan terjadinya pneumoperitoneum. Penyebab paling

umum dari pneumoperitoneum adalah perforasi saluran pencernaan yaitu lebih dari

90%. Perforasi dari lambung atau duodenum yang disebabkan oleh ulkus peptikum

dianggap penyebab paling umum dari pneumoperitoneum. Pneumoperitoneum juga

dapat diakibatkan karena pecahnya divertikular atau trauma abdomen. Ini biasanya

muncul dengan tanda-tanda dan gejala peritonitis, dan adanya gas subphrenic dalam

radiograf dada tegak adalah temuan radiologis yang paling umum. Dalam

kebanyakan kasus, pneumoperitoneum memerlukan eksplorasi bedah mendesak

dan intervensi dengan segera. 1,3

Gambaran radiologi dari pneumoperitoneum penting karena kadang kadang

jumlah udara bebas dalam rongga peritoneal yang sedikit sering terlewatkan dan

bisa menyebabkan kematian.2

Cara terbaik untuk mendiagnosis udara bebas adalah dengan cara pencitraan

radiograf dada tegak. Udara akan terlihat tepat di bawah hemidiaphragma, sela

antara diafragma dan hati. Jika sebuah ereksi film tidak dapat dilakukan, maka

pasien ditempatkan di sisi kanan posisi dekubitus dan udara dapat dilihat sela antara

hati dan dinding perut. Radiografi polos, jika benar dilakukan, dapat mendiagnosa
6

jumlah yang sangat kecil dari udara bebas. Computed tomography bahkan lebih

sensitif dalam diagnosis pneumoperitoneum. CT dianggap sebagai standar kriteria

dalam penilaian pneumoperitoneum. CT dapat memvisualisasikan jumlah sekecil 5

cm³ udara atau gas. 3

Gambar 1: gambaran pneumoperitoneum dengan plain film

2.2 Anatomi Rongga Peritoneum

Rongga peritoneum besar tetapi dibagi ke beberapa kompartemen Dinding

perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks 6

Peritoneum adalah mesoderm lamina lateralis yang tetap bersifat epitelial.

Pada permulaan, mesoderm merupakan dinding dari sepasang rongga yaitu coelom.

Di antara kedua rongga terdapat entoderm yang merupakan dinding enteron.

Enteron didaerah abdomen menjadi usus. Kedua rongga mesoderm, dorsal dan

ventral usus saling mendekat, sehingga mesoderm tersebut kemudian menjadi

peritonium. 5

Lapisan peritonium dibagi menjadi 3, yaitu: 5


7

1. Lembaran yang menutupi dinding usus, disebut lamina visceralis (tunika

serosa).

2. Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina

parietalis.

3. Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis.

Pada tempat-tempat peritoneum viscerale dan mesenterium dorsale

mendekati peritoneum dorsale, terjadi perlekatan. Tetapi, tidak semua tempat

terjadi perlekatan. Akibat perlekatan ini, ada bagian-bagian usus yang tidak

mempunyai alat-alat penggantung lagi, dan sekarang terletak disebelah dorsal

peritonium sehingga disebut retroperitoneal. Bagian-bagian yang masih

mempunyai alat penggantung terletak di dalam rongga yang dindingnya dibentuk

oleh peritoneum parietale, disebut terletak intraperitoneal. Rongga tersebut disebut

cavum peritonei dengan demikian: 5

1. Duodenum terletak retroperitoneal;

2. Jejenum dan ileum terletak intraperitoneal dengan alat penggantung

mesenterium;

3. Colon ascendens dan colon descendens terletak retroperitoneal;

4. Colon transversum terletak intraperitoneal dan mempunyai alat

penggantung disebut mesocolon transversum;

5. Colon sigmoideum terletak intraperitoneal dengan alat penggatung

mesosigmoideum; cecum terletak intraperitoneal;

6. Processus vermiformis terletak intraperitoneal dengan alat penggantung

mesenterium.
8

2.3 Etiologi Pneumoperitoneum

Ada banyak penyebab untuk pneumoperitoneum dan bervariasi tergantung

pada usia. Pada neonatus, penyebab yang paling mungkin adalah perforasi lambung

sekunder enterocolitis necrotizing atau obstruksi usus.. Selain itu, mungkin ada

penyebab iatrogenik, seperti perforasi dari tabung nasogastrik atau dari ventilasi

mekanis.7,8

Pada bayi yang lebih tua dan anak-anak, penyebabnya banyak dan mungkin

termasuk: trauma tumpul dengan pecahnya viskus berongga, trauma penetrasi,

perforasi saluran pencernaan (dari ulkus lambung atau duodenum, ulkus stres,

kolitis ulserativa dengan megakolon toksik, Crohns penyakit, obstruksi usus),

pengobatan steroid, infeksi pada peritoneum dengan organisme gas membentuk

atau pecahnya abses, atau mungkin karena masalah dada seperti

pneumomediastinum.8

Penyebab utama terjadinya pneumoperitoneum adalah: 2,4

1. Ruptur viskus berongga (yaitu perforasi ulkus peptikum, necrotizing

enterocolitis, megakolon toksik, penyakit usus inflamasi)

2. Faktor iatrogenik (yaitu pembedahan perut terakhir, trauma abdomen,

perforasi endoskopi, dialisis peritoneal, paracentesis)

3. Infeksi rongga peritoneum dengan organisme membentuk gas dan atau

pecahnya abses yang berdekatan

4. Pneumatosis intestinalis

Tabel1: Penyebab pneumoperitoneum 2,4


9

A.Pneumoperitoneum dengan - Perforated viskus

peritonitis - Necrotizing enterocolitis

- Infark usus

- Cedera perut

B.Pneumoperitoneum tanpa 1. Thoracic

peritonitis - Ventilasi tekanan positif

- Pneumomediastinum/pneumotoraks

- Penyakit saluran napas obstruktif

kronik

- Asma

2. Abdomen

- Pasca laparotomi

- Pneumatosis cystoides coli/ intestinalis

- Divertikulosis jejunum

- Endoskopi

- Paracentesis/peritoneal dialisis /

laparoskopi

- Transplantasi sumsum tulang

3. Female pelvis

-Instrumentasi

(mishysterosalpingography,Uji Rubin)
10

- Pemeriksaan panggul (esp. post-

partum)

- Post-partum

- Oro-genital intercourse

- Vagina douching

- Senggama

2.4 Manifestasi Klinis.

Manifestasi klinis tergantung pada penyebab pneumoperitoneum. Penyebab

yang ringan biasanya gejalanya asimtomatik, tetapi pasien mungkin mengalami

nyeri perut samar akibat perforasi viskus perut, tergantung pada perkembangan

selanjutnya bisa berupa peritonitis.. Tanda dan gejala berbagai penyebab perforasi

peritoneum mungkin seperti kaku perut, tidak ada bising usus, nyeri epigastrium

atau jatuh pada kondisi shock yang parah. 9

2.5 Diagnosis

Temuan gas bebas intraperitoneal biasanya diasosiasikan dengan perforasi

dari viskus berongga dan membutuhkan intervensi bedah dengan segera. Riwayat

menyeluruh dan pemeriksaan fisik tetap yang paling penting dalam menegakkan

diagnosa pneumoperitoneum. Jadi operasi yang tidak perlu dapat dihindari. 10


11

2.6 Pencitraan

2.6.1 Gambaran Foto Polos Radiologis

Teknik radiografi yang optimal penting pada kecurigaan preforasi abdomen.

Paling tidak diambil 2 radiografi, meliputi radiografi abdomen posisi supine dan

foto dada posisi erect atau left lateral dekubitus. Udara bebas walaupun dalam

jumlah yang sedikit dapat terdeteksi pada foto polos. Pasien tetap berada pada posisi

tersebut selama 5-10 menit sebelum foto diambil. 3,9,11

Gambar 2. Foto abdomen posisi supine, foto dada posisi erect dan left lateral dekubitus (LLD)

Pada foto polos abdomen atau foto dada posisi tegak, terdapat gambaran

udara (radiolusen) berupa daerah berbentuk bulan sabit (semilunar shadow)


12

diantara diafragma kanan dan hepar atau diafragma kiri dan lien (rujuk gambar 4).

Juga bisa tampak area lusen bentuk oval (perihepatik) di anterior hepar (rujuk

gambar 6). Pada posisi lateral dekubitus kiri, didapatkan radiolusen antara batas

lateral kanan dari hepar dan permukaan peritoneum. Pada posisi lateral dekubitus

kanan, tampak triangular sign seperti segitiga (triangular) seperti di gambar 5 yang

kecil-kecil dan berjumlah banyak karena pada posisi miring udara cenderung

bergerak ke atas sehingga udara mengisi ruang-ruang di antara incisura dan dinding

abdomen lateral. Pada proyeksi abdomen supine, berbagai gambaran radiologi

dapat terlihat yang meliputi falciform ligament sign dan Rigler`s sign.3,11

Proyeksi yang paling baik adalah lateral dekubitus kiri,rujuk gambar 3

dimana udara bebas dapat terlihat antara batas lateral kanan dari hati dan permukaan

peritoneum dan dapat digunakan untuk setiap pasien yang sangat sakit. 11

Gambar 3. Posisi Lateral dekunitus kiri. Terdapat udara bebas diantara dinding abdomen dengan
hepar (white arrow). Ada cairan bebas di rongga peritoneum (black arrow).(1)
13

Gambar 4. Gambaran linier (anterior subhepatic space air ) (2)

Gambar 5. Foto posterior subhepatic space air (Morrison’s pouch, gambaran triangular )

Gambar 6. Foto anterior ke permukaan ventral dari hepar (4)


14

Tanda peritoneum pada foto polos diklasifikasikan menjadi pneumoperitoneum

kecil dan pneumoperitoneum dalam jumlah besar yang berkaitan dengan lebih dari

1000 ml udara bebas. Gambaran pneumoperitoneum dengan udara dalam jumlah

besar antara lain:

1) Football sign, rujuk gambar 7 yang biasanya menggambarkan

pengumpulan udara di dalam kantung dalam jumlah besar sehingga udara

tampak membungkus seluruh kavum abdomen, mengelilingi ligamen

falsiformis sehingga memberi jejak seperti bola sepak.2,3,11

Gambar 7. Football sign (6)

2) Gas-relief sign, Rigler sign, dan double wall sign yang memvisualisasikan

dinding terluar lingkaran usus disebabkan udara di luar lingkaran usus dan

udara normal intralumen. 2,3,11


15

Gambar 8. Rigler sign

3) Urachus merupakan refleksi peritoneal vestigial yang biasanya tidak

terlihat pada foto polos abdomen. Urachus memiliki opasitas yang sama

dengan struktur jaringan lunak intraabdomen lainnya, tapi ketika terjadi

pneumoperitoneum, udara tampak melapisi urachus. Urachus tampak

seperti garis tipis linier di tengah bagian bawah abdomen yang berjalam

dari kubah vesika urinaria ke arah kepala. Dasar urachus tampak sedikit

lebih tebal daripada apeks. 2,3,11

Gambar 9. Gambaran urachus


16

4) Ligamen umbilical lateral yang mengandung pembuluh darah epigastrik

inferior dapat terlihat sebagai huruf V terbalik di daerah pelvis sebagai

akibat pneumoperitoneum dalam jumlah banyak. 2,3,11

5) Telltale triangle sign menggambarkan daerah segitiga udara diantara 2

lingkaran usus dengan dinding abdomen. 2,3,11

Gambar 10. Telltale triangle sign

6) Udara skrotal dapat terlihat akibat ekstensi intraskrotal peritoneal (melalui

prosesus vaginalis yang paten). 2,3,11

7) The Sign Cupola mengacu pada akumulasi udara di bawah tendon sentral
diafragma2,3,11

Gambar 11. The Sign Cupola


17

8) Udara di dalam sakus lesser dapat terlihat, terutama jika perforasi dinding

posterior abdomen. 2,3,11

Gambar 12. cupola sign (white arrows) and a lesser sac gas sign (black arrows).

9) Tanda obstruksi usus besar parsial dengan perforasi divertikulum sigmoid

dapat terjadi yang berkaitan dengan tanda pneumoperitoneum2,3,11

Udara bebas intraperitoneal tidak terlihat pada sekitar 20-30% yang lebih

disebabkan karena standardisasi yang rendah dan teknik yang tidak adekuat. Foto

polos abdomen menjadi pencitraan utama pada akut abdomen, termasuk pada

perforasi viskus abdomen. Udara sesedikit 1 ml dapat dideteksi dengan foto polos,

baik foto torak posisi berdiri atau foto abdomen posisi left lateral decubitus. 3

Tidak jarang, pasien dengan akut abdomen dan dicurigai mengalami perforasi

tidak menunjukkan udara bebas pada foto polos abdomen. Diagnosis banding

biasanya meliputi kolesistitis akut, pankreatitis, dan perforasi ulkus. Sebagai

tambahan pemeriksaan, sekitar 50 ml kontras terlarut air diberikan secara oral atau

lewat NGT pada pasien dengan posisi berbaring miring ke kanan


18

2.6.2 CT (Computed Tomography) Scan

CT merupakan kriteria standar untuk mendeteksi pneumoperitoneum, yang

lebih sensitif dibanding foto polos abdomen. Namun, CT tidak selalu dibutuhkan

jika dicurigai pneumoperitoneum dan lebih mahal dan memiliki efek radiasi yang

besar. CT berguna untuk mengidentifikasi bahkan sejumlah kecil udara

intraluminal, terutama ketika temuan foto polos abdomen tidak spesifik. CT kurang

terpengaruh oleh posisi pasien dan teknik yang digunakan. Namun, CT tidak selalu

dapat menbedakan antara pneumoperitoneum yang disebabkan oleh kondisi

benigna atau kondisi lain yang membutuhkan operasi segera. Pneumoperitoneum

dengan udara di anterior kadang sulit dibedakan dengan udara pada usus yang

dilatasi. Sebagai tambahan, dengan CT sulit untuk melokalisasi perforasi, adanya

udara bebas pada peritoneum merupakan temuan nonspesifik. Hal ini dapat

disebabkan oleh perforasi usus, paska operasi, atau dialisis peritoneal. 3

Pada posisi supine, udara yang terletak di anterior dapat dibedakan dengan

udara di dalam usus. Jika ada perforasi, cairan inflamasi yang bocor juga dapat

diamati di dalam peritoneum. Penyebab perforasi kadang dapat didiagnosis. 3

Pada CT dan radiologi konvensional, kontras oral digunakan untuk

mengopasitaskan lumen GIT dan memperlihatkan adanya kebocoran. Pemeriksaan

kontras dapat mendeteksi adanya kebocoran kontras melalui diniding usus yang

mengalami perforasi; namun, dengan adanya ulkus duodenum perforasi dengan

cepat ditutupi oleh omentum sehingga bisa tidak terjadi ekstravasasi kontras. 3,7
19

Gambar 13. Appearance of free air in CT abdomen,

Gambar 14. Udara bebas pada CT scan.

2.6.3 Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Pneumoperitoneum dapat terlihat sebagai area dengan intensitas rendah

pada gambar semua potongan. Pneumoperitoneum dapat secara tidak sengaja

ditemukan dengan MRI, karena MRI bukan modalitas pencitraan pertama. Adanya

peristaltis usus dapat mengaburkan dinding abdomen. 3


20

2.6.4 USG

Pada pencitraan USG, pneumoperitoneum tampak sebagai daerah linier

peningkatan ekogenisitas dengan artifak reverberasi atau distal ring down.

Pengumpulan udara terlokalisir berkaitan dengan perforasi usus dapat dideteksi,

terutama jika berdekatan dengan abnormalitas lainnya, seperti penebalan dinding

usus. Dibandingkan dengan foto polos abdomen, ultrasonografi memiliki

keuntungan dalam mendeteksi kelainan lain, seperti cairan bebas intraabdomen dan

massa inflamasi. 3

USG tersedia hampir di semua center, lebih tidak mahal dibanding CT, dan

bernilai terutama pada pasien dimana radiasi menjadi masalah seperti pada anak-

anak, wanita hamil, dan usia reproduktif. Namun, USG sangat tergantung pada

kepandaian operator, dan terbatas penggunaannya pada orang obesitas dan yang

memiliki udara intra abdomen dalam jumlah besar. USG tidak dipertimbangkan

sebagai pemeriksaan definitif untuk menyingkirkan pneumoperitoneum. 3

Gambaran yang dapat mengimitasi pneumoperitoneum meliputi bayangan

sebuah costa, artifak ring-down dari paru yang terisi udara, dan udara kolon anterior

yang interposisi terhadap liver. Udara di kuadran kanan atas dapat keliru dengan

kolesistitis emfisematosa, kalsifikasi mural, kalsifikasi vesika fellea, vesika fellea

porselen, adenomiosis, udara di dalam abses, tumor, udara bilier, atau udara di

dalam vena porta. Udara intraperitoneal sering sulit dideteksi daripada udara di

lokasi abnormal karena udara intralumen di sekitar. Namun, bahkan sejumlah kecil

udara bebas dapat dideteksi secara anterior atau anterolateral diantara dinding
21

abdomen dan dekat liver, dimana lingkaran usus biasanya tidak ditemukan. Sulit

untuk membedakan udara ekstralumen dengan udara intramural atau intraluminal.


3

Gambar 15. Pneumoperitoneum pada USG

2.7 Tatalaksana dan Prognosis

Prinsip tatalaksana dan prognosis tergantung dari penyebab

utamanya. Ketika seorang pasien memiliki pneumoperitoneum, langkah

pertama dalam pengobatan adalah mencari tahu mengapa, dalam rangka

untuk mengembangkan pendekatan pengobatan yang tepat. Ini mungkin

membutuhkan tes diagnostik tambahan bersama dengan wawancara pasien.

Dalam beberapa kasus, pengobatan konservatif adalah program yang paling

masuk akal, dengan dokter menunggu dan melihat pendekatan untuk

melihat apakah tubuh pasien mampu menghilangkan gas sendiri. Jika

pneumoperitoneum adalah komplikasi dari infeksi, maka operasi untuk

memperbaiki masalah ini diperlukan secepat mungkin. Perforasi dan infeksi

dengan cepat dapat menyebabkan kematian dengan segera. 12


22

2.8 Diferensial Diagnosis


2
Diagnosis banding Pneumoperitoneum

 Syndrome Chilaiditi

 Abscess Subphrenic

 Linear atelectasis pada dasar par

Chilaiditi sindrom

Interposisi dari usus (berhimpitnya usus dan hepar) antara hepar dan

hemidiaphragm (kanan) hingga menyebabkan terlihat adanya udara yang berada di

subphrenik, padahal itu adalah udara yang ada dalam usus besar , ditandai dengan

terlihatnya haustra. Choliditis tidak memiliki makna diagnostik. 2,8

Gambar 17. Chilaiditi sindrom


23

Subphrenic abses

Abses Subphrenik adalah dilokalisirnya pengumpulan nanah, biasanya di


bawah kanan atau kiri hemi-diaphragm, terdapat akumulasi cairan yang terinfeksi
antara diafragma, hepar dan limpa. 2,8

Perbedaan gambaran udara pada abses subphrenik dan pneumoperitoneum


adalah pada foto lateral dekubitus ; akan terlihat udara terkumpul dalam suatu
kantong abses dan ada air fluid level. (Ditambahkan dari penjelasan pakar-Pen)

Atelektasis Linear di Dasar Paru

Atelektasis adalah runtuhnya sebagian atau penutupan alveoli sehingga

pertukaran gas berkurang atau tidak ada. 2,8

Gambar 18. Linear atelektasis


24

Gambar 18. Linear atelektasis di dasar paru-paru


25

BAB III

LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Penderita

Nama : Tn. S

Usia : 63 tahun

Jenis kelamin : Laki – laki

Alamat : Sendangmulyo, Sarang, Rembang

Agama : Islam

Status : Menikah

Suku bangsa : Jawa (WNI)

Ruangan : Baitussalam 2

3.2 Anamnesis (Alloanamnesis)

Seorang pasien laki – laki usia 63 tahun bersama pengantar datang dengan ke

IGD RSI Sultan Agung Semarang, mengeluh perut sebah dan tidak enak.

Riwayat Penyakit Dahulu

Tidak ada data.

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada data.

Riwayat Sosial Ekonomi

Biaya ditanggung oleh BPJS.

25
26

3.3 Pemeriksaan Fisik

Kesadaran : GCS E4V5M6

Keadaan umum : Tampak sakit berat

Tekanan darah : 130/90 mmHg

Nadi : 104 x/menit regular

Pernapasan : 20 x/menit

Suhu : 36,7oc

3.4 Pemeriksaan Penunjang

Gambar 3.1. foto Polos Abdomen

26
27

Pembacaan Hasil Abdomen 2 posisi ( non kontras)

 Pre peritoneal fat line, psoas line dan kontur ginjal tak jelas

 Tampak dilatasi dan distensi usus halus dengan gambaran coil spring

 Tak tampak gambaran udara pada colon dan rektum

 Tampak multiple air fluid level pendek

 Tampak gambaran free air

3.5 Kesan

 Ileus obstruktif letak tinggi

 Pneumoperitoneum

3.6 Diagnosis

Pneumoperitoneum dan ilieus obtruktif letak tinggi

27
28

BAB IV

PEMBAHASAN

Pneumoperitoneum adalah adanya udara bebas dalam ruang peritoneum yang

biasanya terkait dengan perforasi dari usus kecil.

Pneumoperitoneum dideteksi dengan pemeriksaan radiologis foto polos

abdomen, CT scan, MRI, dan ultrasonografi. Pada foto polos abdomen,

pneumoperitoneum paling baik terlihat dengan posisi lateral dekubitus kiri yang

menunjukkan gambaran radiolusen antara batas lateral kanan dari hepar dan permukaan

peritoneum. CT scan merupakan kriteria standar untuk mendeteksi pneumoperitoneum,

namun tidak selalu dibutuhkan jika dicurigai pneumoperitoneum dan lebih mahal serta

memiliki efek radiasi yang besar. Dengan MRI, pneumoperitoneum terlihat sebagai

area dengan hipointens pada semua potongan. Dengan USG, pneumoperitoneum. USG

sangat tergantung pada kepandaian operator, dan terbatas penggunaannya pada orang

obesitas dan yang memiliki udara intra abdomen dalam jumlah besar. USG tidak

dipertimbangkan sebagai pemeriksaan definitif untuk menyingkirkan

pneumoperitoneum. Foto polos abdomen menjadi pencitraan utama pada akut

abdomen, termasuk pada perforasi viskus abdomen, walaupun pencitraan standar

adalah dengan CT scan. Pada pasien dalam kasus ini tampak pada foto radiologi polos

abdomen 1 posisi LLD view dengan hasil :

o Pre peritoneal fat line, psoas line dan kontur ginjal tak jelas

o Tampak dilatasi dan distensi usus halus dengan gambaran coil spring

o Tak tampak gambaran udara pada colon dan rektum

o Tampak multiple air fluid level pendek

o Tampak gambaran free air

28
29

Pada foto radiologi mengindikasikan kesan pneumoreitoneum

29
30

BAB V

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil foto Polos Abdomen, pasien dalam kasus ini didapatkan

diagnosis Pneumoperitoneum dan ilieus obtruktif letak tinggi

30
31

DAFTAR PUSTAKA

1. Breen ME, Dorfman M, Chan SB: Pneumoperitoneum without peritonitis: a case report.

Am J Emerg Med 2008, 26:841. e1-2

2. Abdominal X-rays made easy. 2nd edition, James D. Begg Churchill Livingstone,

Elsevier, 2006

3. http://emedicine.medscape.com Ali Nawaz Khan, MBBS, FRCS, FRCP,

FRCR Consultant Radiologist and Honorary Professor, North Manchester General

Hospital Pennine Acute NHS Trust, UK

4. Barry D. Daly,' J. Ashley Guthrie' and Neville F. Couse2 Departments of 'Radiology and

2Surgery, St James's University Hospital, Beckett Street,Leeds LS9 7TF, UK

5. Arif Mansjoer, A., Suprohaita, Wardhani, W.I., dkk. (2000). Kapita selekta kedokteran

jilid 2 edisi ketiga (pp 240-252). Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

6. Dan L. Longo, Anthony S. Fauci, Dennis L. Kasper, Stephen L. Hauser, J. Larry

Jameson, Joseph Loscalzo, Eds. 2008. Harrison’s Principle of Internal Medicine 17th

Edition. USA : The McGraw-Hill Companies.

7. http://www.meddean.luc.edu/lumen/MedEd/Radio/curriculum/Surgery/pneumoperitoneu

m.htm

8. Dr Yuranga Weerakkody and Dr Jeremy Jones et al.

http://radiopaedia.org/articles/pneumoperitoneum

9. Dr Phillip Silberberg. 2006. Pneumoperitoneum. Kosair Children's Hospital Hospital,

Radiologist, Kosair Children's Hospital, Kentucky, USA.

10. K. Derveaux, F Penninckx, department of abdominal surgery, Gasthuisberg university

clinics , catholic university leuven belgia, 2007

11. http://www.wikiradiography.com/page/Pneumoperitoneum

31
32

12. Journal of Medical Case Reports 2011, 5:86 doi:10.1186/1752-1947-5-86. 2011

Pitiakoudis et al; licensee BioMed Central Ltd

32