Anda di halaman 1dari 11
TUGAS MATA KULIAH AGAMA ISLAM MAKALAH dan PRESENTASI Disusun Oleh Levina Lailani Suprapto 15308013 Huliska Bilgis 15308020 ipta Indah Oktaviana 15308025 Vika Febiani 15308039 JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2010 pro-kontra yang terjadi agar masyarakat dapat terbantu dalam mengambil keputusan dan mengurangi terjadinya pernikahan siri, Apabila sosialisasi agak sulit dapat dilakukan dengan terjunnya berbagai pakar yang memahami detail hukum dan seluk-beluk nikah siti ini untuk berdiskusi langsung dengan masyarakat. DAFTAR PUSTAKA a. Artikel “Rancangan Undang-Undang Materil oleh Peradilan Agama Bidang Perkawinan” b. Google.com keyword : definisi nikab siti ¢. Buku Agama Islam Sekolah Menengah Atas kelas XII DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 11 Latar Belakang 1.2 Tujuan 1.3 Manfaat BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Nikah Siri 2.2 Landasan Hukum Terkait Catatan Pe! BAB III ANALISIS 3.1 Nikah Siri Menurut Hukum Negara 3.2 Nikah Siti Menurut Islam 3.3 Pendapat Berbagai Narasumber Mengenai Nikah Siri 3.4 Hal-Hal Positif yang Didapat dari Penyiaran Pernikahan BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan 4.2 Saran BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, statistik kejadian nikah siri meningkat berlalunya waktu, Terutama pasea beredarnya berbagai pemberitaan di seluruh jenis media (audio, visual dan audiovisual) akan nikah siri yang dilakukan tidak hanya 1-2 selebritis namun segelintir orang dengan tingkat pemberitaan tinggi sehingga menyebabkan proses conditioning terjadi di masyarakat Konsumen berita. Proses conditioning sendiri adalah proses adaptasi_yang dilakukan oleh masyarakat akan berbagai budaya baru yang terjadi namun akibat pemberitaan yang berulang-ulang budaya tersebut semakin cepat dapat diterima oleh masyarakat dan dijadikan bagian dau yudaya masyarakat itu sendi Berbagai pemberitaan tersebut lah (spesifikasi : pemberitaan pernikahan siri yang dilakukan oleh selebritis) yang melatarbelakangi penulis dan tim penyusun untuk memilih topik “Nikah Siri ‘mata kuliah Agama dan Etika Islam, Terlepas dari berbagai pemberitaan akan “Pernikahan sebagai topik yang diangkat dalam pembuatan makalah dan presentasi Siri” yang terjadi, masih banyak mahasiswa yang salah mengartikan nikah siri dan tidak mengerti baik-buruknya jenis pernikahan ini, Hal itu juga termasuk salah satu faktor yang melatar belakangi diangkatnya topik “Pernikahan Siri” ini kami angkat, Besar harapan penulis dan tim penyusun agar makalah ini dapat dimanfuatkan sebaik- baiknya sebagai literatur atau sumber pencarian informasi terkait topik pemikahan siri, Maka dati itu, kami tim penyusun berusaha sebaik-baiknya untuk mengumpulkan berbagai informasi dari berbagai sumber dan narasumber untuk dimasukkan ke dalam makalah ini agar kelak dapat kan sebagai referensi oleh pihak-pihak yang membutuhkan. 1.2 Tujuan Tujuan tim penyusun menulis dan menyusun makalah ini a, Mahasiswa dan masyarakat lainnya (pembaca makalah dan audiens presentasi) memahami berbagai definisi akan nikah siri b, Mahusiswa dan audiens lain mengerti dan mengetahui landasan hukum terkait nikah siri ik ditinjau dari sudut pandang Islam dan pembahasan berbagai rancangan undang-undang . Mahasiswa dan audiens lain mengetahui dampak positif dan dampak negatif dari nikah sini 4. Mahasiswa dan audiens lain dapat mengeluarkan berbagai pendapatnya terkait nikah siri dan berdiskusi satu sama lain ¢, Memenuhi salah satu syarat atau tugas Agama dan Etika Islam 1.3 Manfaat a. Dengan penjelasan yang detail dan berbagai kajian akan negatif-positifnya nikah siti audiens akan dapat mengerti babwa nikab siri lebih banyak menimbulkan hal negatif dan pada akhimya dapat dijadikan pencegahan akan terjadinya nikah siti b, Membantu berbagai kalangan untuk menyamakan pikiran akan tidak baiknya pernikahan siti terutama untuk latar belakang non-kekurangan biaya ¢. Membantu mensosialisasikan apa sebenarnya nikah siri itu dan tindakan apa yang dapat kita lakukan untuk mengurangi angka terjadinya nikah sir 4. Menambah angka audiens atau masyarakat yang memahami berbagai fakta, pro dan kontra terkait pernikahan siri dan hukum-hukum yang terkait nikah sir BABII LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Nikah Siri Pernikahan siri sering diartikan oleh masyarakat umum dengan : Pertama; pernikahan tanpa wali, Pernikahan semacam ini dilakukan secara rahasia (siri) dikarenakan pihak wali perempuan tidak setuju; atau karena menganggap absah pemikahan tanpa wali; atau hanya karena ingin memuaskan nafsu syahwat belaka tanpa mengindahkan lagi ketentuan-ketentuan syariat; Kedua, pemikahan yang sah secara agama namun tidak dicatatkan dalam lembaga peneatatan negara, Banyak faktor yang menyebabkan seseorang tidak meneatatkan pemikahannya di lembaga pencatatan sipil negara. Ada yang karena faktor biaya, alias tidak mampu membayar administrasi pencatatan; ada pula yang disebabkan Karena takut ketahuan melanggar aturan yang melarang pegawai negeri nikah lebih dari satu; dan lain sebagainya. Ketiga, pemikahan yang dirahasiakan karena_pertimbangan-pertimbangan tertentu; misalnya karena takut mendapatkan stigma negatif dari masyarakat yang terlanjur menganggap tabu pemikahan siri; atau karena pertimbangan-pertimbangan rumit yang memaksa seseorang untuk merahasiakan pemikahannys 2.2 Landasan Terkait Catatan Pernikahan Pertama, pada dasarnya, fingsi pencatatan pernikahan pada lembaga pencatatan sipil adalah agar sescorang memiliki alat bukti (bayyinah) untuk membuktikan babwa dirinya benar-benar telah melakukan pernikahan dengan orang tain, Sebab, salah bukti_yang dianggap absah sebagai bukti syar’iy (bayyinah syar'iyyah) adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh negara. Ketika pemikahan dicatatkan pada lembaga pencatatan sipil, orang telah memiliki sebuah dokumen resmi yang bisa ia dijadikan sebagai syyinah) di hadapan majelis peradilan, ketika ada sengketa yang berkaitan dengan pernikahan, maupun sengketa yang lahir akibat pernikahan, seperti waris, hak asuh anak, perceraian, nafkah, dan lain sebagainya Kedua, pada era keemasan Islam, di mana sistem pencatatan telah berkembang deng: pesat dan maju, tidak pemah kita jumpai satupun pemerintahan Islam yang mempidanakan orang-orang yang melakukan pernikahan yang tidak dicatatkan pada lemba an resmi negara, a per Ketiga, dalam khazanah peradilan Islam, memang benar, negara berhak menjatuhkan sanksi mukhalafat kepada orang yang melakukan tindakanmukhalafat. Pasalnya, negara (alam hal ini seorang Khalifah dan orang yang diangkatnya) mempunyai hak untuk menetapkan aturan-aturan tertentu untuk mengatur urusan-urusan rakyat yang belum ditetapkan ketentuan dan tata cara pengaturannya olch syariat; seperti urusan lalu lintas, pembangunan rumah, eksplorasi, dan lain sebagainya. Keempat, jika pemikahan siri dilakukan karena faktor biaya; maka pada kasus semacam. ini negara tidak boleh mempidanakan dan menjatuhkan sanksi mukhalafat kepada pelakunya. Kelima, pada dasamya, Nabi saw telah mendorong umatnya untuk menyebarluaskan pemikahan dengan menyelenggarakan walimani! ‘ursy.Anjuran untuk melakukan walimah, walaupun tidak sampai bethukum wajib akan tetapi nabi sangat menganjurkan (sunnah muakkadah). BAB I] PEMBAHASAN 3.1 Nikah Siri Menurut Hukum Negara RUU Nikah Siri atau Rancangan Undang-Undang Hukum Materil oleh Peradilan Agama Bidang Perkawinan yang akan memidanakan pernikahan tanpa dokumen resmi atau yang biasa disebut sebagai nikah sir, ki cengah memicu kontroversi ditengah-tengah masyarakat, Pasal 143 Rancangan Undang-Undang Pasal 143 RUU yang hanya diperuntukkan bagi pemeluk Islam ini menggariskan, setiap orang yang dengan sengaja melangsungkan perkawinan tidak di hadapan pejabat pencatat nikah dipidana dengan ancaman hukuman bervariasi, mulai dari enam bulan hingga tiga tahun dan denda mulai dari Rp6 juta hingga Rp12 juta. Selain kawin siridraf RUU juga menyinggung kawin mutah atau kawin kontrak, Pasal 144 Rancangan Undang-Undang Pasal 144 menyebut, setiap orang yang melakukan perkawinan mutah dihukum penjara selama~ lamanya 3 talmn dan perkawinannya batal karena hukum. RUU itu juga mengatur soal perkawinan campur (antardua orang yang berbeda kewarganegaraan). Pasal 142 ayat 3 menyebutkan, ealon suami yang berkewarga negaraan asing harus membayar uang jaminan kepada calon istri melalui bank syariah sebesar RpS00 juta. 3.2 Nikah Siri Menurut Islam ‘Adapun mengenai fakta pertama, yakni pernikahan tanpa wali; sesungguhnya Islam telah melarang scorang wanita menikah tanpa wali.Ketentuan semacam ini didasarkan pada sebuah hadits yang dituturkan dari sahabat Abu Musa ra; bahwasanya Rasulullah saw bersabda; Bateey “Tidak sah suatu pernikahan tanpa seorang wali." (HR yang lima kecuali Imam An Nasaaiy, lihat, Imam Asy Syankani, Nailul Authar VI: 230 hadits ke 2648] Berdasarkan dalalah al-igtidla’, kata “laa” pada hadits menunjukkan pengertian ‘tidak sah’, bukan sekedar ‘tidak sempurna’ sebagaimana pendapat sebagian abli fikih. Makna semacam ini dipertegas dan diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw pemnah bersabda: aly ald, hy al SLY al Lely co ty canal ys Lal “Wanita mana pun yang menikah ianpa mendapat izin walinya, maka pernikahannya batil pemikahannya batil: pernikahannya batil”. {HR yang lima kecuali Imam An Nasaaiy. Lihat, Imam Asy Syaukaniy, Nailul Authar VI: 230 hadits ke 2649]. ‘Abu Hurayrah ra juga meriwayatkan sebuah hadits, bahwasanya Rasulullah saw bersabde Vic AD AAD Dadi BVA Mal pl FY 'Seorang wanita tidak boteh menikahkan wanita lainnya, Seorang wanita juga tidak berhak menikahkan divinya sendiri. Sebab, sesungguhnya wanita pezina ius adalah (seorang wanita) yang menikahkan dirinya sendiri”. (HR Ibn Majah dan Ad Daruquthniy. Lihat, Imam Asy Syaukaniy, Nailul Authar VI: 231 hadits ke 2649) Berdasarkan hadits-hadits di atas dapatiah disimpulkan bahwa pernikahan tanpa wali adalah pemikahan patil. Pelakunya telah melakukan maksiyat kepada Allah swt, dan berhak mendapatkan sanksi di dunia, Hanya saja, syariat belum menetapkan bentuk dan kadar sanksi bagi orang-orang yang terlibat dalam pernikahan tanpa wali. Oleh karena itu, kasus pernikahan tanpa wali dimasukkan ke dalam bab ta’zir, dan keputusan mengenai bentuk dan kadar sanksinya diserahkan sepenuhnya kepada seorang gaily (hakim). Seorang hakim boleh menetapkan sanksi penjara, pengasingan, dan lain sebagainya kepada pelaku pemikahan tanpa wali. Nikah Tanpa Dicatatkan Pada Lembaga Pencatatan Si Adapun faktapemikahan siri kedua, yakni pernikahan yang sah menurut ketentuan syariat namun tidak dicatatkan pada lembaga pencatatan sipil; sesungguhnya ada dua hukum yang hat (1) hukum pernikahannya; dan dikaji berbeda; yakni (2) hukum tidak mencatatkan pernikahan di lembaga pencatatan negara Dari aspek pernikehannya, nikah siri tetap sah menurut ketentua tidak boleh dianggap melakukan tindak kemaksiyatan, sehingga berhak dijatuhi sanksi hukum. iat, dan pelakunya Pasalnya, suatu perbuatan baru dianggap kemaksiyatan dan berhak dijatuhi sanksi di dunia dan di akherat, Ketika perbuatan tersebut terkategori “mengerjakan yang haram” dan “meninggalkan yang wajib”. Seseorang baru absah dinyatakan melakukan kemaksiyatan ketika ia telah mengerjakan perbuatan yang haram, atau meninggalkan kewajiban yang telah ditetapkan oleh sya Begity pula orang yang meninggalkan atau mengerjakan perbuatan-perbuatan yang berhukum sunnah, mubah, dan makruh, maka orang tersebut tidak boleh dinyatakan telah melakukan kemaksiyatan; sehingga behak mendapatkan sanksi di dunia maupun di akherat. Untuk itu, seorang gadliy tidak boleh menjatuhkan sanksi kepada orang-orang yang meninggalkan perbuatan sunnah, dan mubah; atau mengerjakan perbuatan mubah atau makruh. Sescorang baru berhak dijatuhi sanksi hukum di dunia ketika orang tersebut; pertama, meninggalkan kewajiban, seperti meninggalkan sholat, jihad, dan lain sebagainya; kedua, mengerjakan tindak haram, seperti minum khamer dan mencaci Rasul saw, dan lain sebagainya; ketiga, melanggar aturan-aturan administrasi negara, seperti melanggar peraturan lalu lintas, perijinan mendirikan bangunan, dan aturan-aturan lain yang telah ditetapkan oleh negara. Berdasarkan keterangan dapat disimpulkan; pernikahan yang tidak dicatatkan di lembaga pencatatan negara tidak boleh dianggap sebag tindakan kriminal sehingga pelakunya berhak mendapatkan dosa dan sanksi di dunia, Pasalnya, pemikahan yang ia lakukan telah memenuhi rukun-rukun pemikahan yang digariskan oleh Allah swt. Adapun rukun-rukun pemikahan adalah sebagai berikut; ()w (2) dua orang saksi, dan (3) ijab gabul. Jika tiga hal ini telah dipenuhi, maka pernikahan seseorang dianggap sah secara syatiat walaupun tidak dicatatkan dalam pencatatan sipil. 3.3 Hal-Hal Positif yang Didapat dari Penyiaran Pernikahan (1) untuk mencegah munculnya fitnah di tengah-tengah masyarakat; (2) memudahkan masyarakat untuk memberikan kesaksiannya, jika kelak ada persoalan- persoalan yang menyangkut kedua mempelai; (3) memudahkan untuk mengidentifikasi apakah seseorang sudah menikah atau belum. Hal semacam ini tentunya berbeda dengan pernikahan yang tidak disiarkan, atau dirahasiakan (siri). Selain akan menyebabkan munculnya fitnah; misalnya jika perempuan yang dinikahi siti hamil, maka akan muncul dugaan-dugaan negatif dari masyarakat terhadap perempuan tersebut; pemikahan siri juga akan menyulitkan pelakunya ketika dimintai persaksian mengenai pernikahannya. Jika ia tidak memiliki dokumen resmi, maka dalam semua kasus yang, saksi pernikahan tentunya akan sangat menyulitkan dirinya, Atas dasar itu, anjuran untuk meneatatkan pernikahan membutubkan persaksian, ia harus menghadirkan sak: inya; dan hal di lembaga pencatatan negara menjadi relevan, demi mewujudkan kemudahan-kemudahan bagi suami isteri dan masyarakat serta untuk mencegah adanya fitnah, 3.4 Bahaya Terselubung Surat Nikah Walaupun pencatatan pemnikahan bisa memberikan implikasi-implikasi positif bagi masyarakat, hanya saja keberadaan surat nikah acapkali juga membuka ruang bagi munculnya praktek-praktek menyimpang di tengah masyarakat. Lebih-lebih lagi, pengetahuan masyarakat ‘tentang aturan-aturan Islam dalam hal pernikahan, talak, dan hukum-bukum ijtimaa’iy sangatlah rendah, bahwa mayoritas tidak mengetahui sama sekali.Diantara prakick-praktek menyimpang dengan mengatasnamakan surat nikah adalah; Pertama, ada seorang suami mentalak isterinya sebanyak tiga kali, namun tidak melaporkan kas ‘s perceraiannya kepada pengadilan agama, sehingga keduanya masih memegang surat nikah, Ketika ter} engketa waris atau anak, atau sengketa-sengketa lain, salah satu pihak mengklaim masih memiliki ikatan pernikahan yang sah, dengan menyodorkan bukti surat nikah, Padahal, keduanya secara syar’iy benar-benar sudah tidak lagi menjadi suami