Anda di halaman 1dari 22

SHOLAT JAMA’

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam peperangan Tabuk, apabila


hendak berangkat sebelum tergelincir matahari, maka beliau mengakhirkan Dzuhur
hingga beliau mengumpulkannya dengan Ashar, lalu beliau melakukan dua shalat itu
sekalian. Dan apabila beliau hendak berangkat setelah tergelincir matahari, maka
beliau menyegerakan Ashar bersama Dzuhur dan melakukan shalat Dzuhur dan Ashar
sekalian. Kemudian beliau berjalan. Dan apabila beliau hendak berangkat sebelum
Maghrib maka beliau mengakhirkan Maghrib sehingga mengerjakan bersama Isya’,
dan apabila beliau berangkat setelah Maghrib maka beliau menyegerakan Isya’ dan
melakukan shalat Isya’ bersama Maghrib“. Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud
(1220), At-Tirmidzi (2/438) Ad-Daruquthni (151), Al-Baihaqi (3/165) dan Ahmad (5/241-
242), mereka semua memperolehnya dari jalur Qutaibah bin Sa’id : ” Telah bercerita
kepadaku Al-Laits bin Sa’ad dari Yazid bin Abi Habib dari Abi Thufail Amir bin Watsilah
dari Mu’adz bin Jabal, secara marfu. Dalam hal ini Abu Dawud berkomentar :”Tidak ada
yang meriwayatkan hadits ini kecuali Qutaibah saja”.

Syaikh Al Albani menilai : “Dia adalah tsiqah dan tepat. Maka tidak mengapa meskipun dia
sendirian dalam meriwayatkan hadits ini dari Al-Laits selain darinya. Inilah yang benar,
semua perawinya tsiqah. Yakni para perawi Asy-Syaikhain. Juga telah dinilai shahih oleh
Ibnul Qayyim dan lainnya. Namun Al-Hakim dan lainnya menganggapnya ada ‘illat yang
tidak baik, seperti yang telah saya jelaskan dalam Irwa ‘Al-Ghalil (571). Di sana saya
menyebutkan mutabi’ (hadits yang mengikuti) kepada Qutaibah dan beberapa syahid (hadits
pendukung) yang memastikan keshahihannya.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Malik (I/143/2) dari jalur lain yang berasal dari Abi
Thufail dengan redaksi, “Sesungguhnya mereka keluar bersama Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam pada tahun Tabuk. Maka adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengumpulkan antara Dzuhur dan Ashar serta Magrib dan Isya. Abu Thufail
berkata : ‘Kemudian beliau mengakhirkan (jama’ takhir) shalat pada suatu hari. Lalu
beliau keluar dan shalat Dzuhur dan Ashar sekalian. Kemudian beliau masuk (datang).
Kemudian keluar dan shalat Maghrib serta Isya sekalian“.

Dan dari jalur Malik telah dikeluarkan oleh Imam Muslim (7/60) dan Abu Dawud (1206),
An-Nasa’i (juz I, hal 98), Ad-Darimi (juz I, hal 356), Ath-Thahawi (I/95), Al-Baihaqi
(3/162), Ahmad (5/237) dan dalam riwayat Muslim (2/162) dan lainnya dari jalur lain :

“Kemudian saya berkata : ‘Apa maksudnya demikian ?” Dia berkata : Maksudnya agar tidak
memberatkan umatnya”.

Kandungan Hukumnya

Dalam hadits ini terdapat beberapa masalah.

 Boleh mengumpulkan dua shalat pada waktu bepergian walaupun pada tempat selain
Arafah dan Muzdalifah ; demikian pendapat jumhurul ulama. Berbeda dengan
mazdhab Hanafiyah. Mereka menakwilkannya dengan ‘jama’ shuwari’ yakni
mengakhirkan Dzhuhur sampai mendekati waktu Ashar demikian pula Maghrib dan
Isya’. pendapat ini telah dibantah oleh jumhurul ulama dari berbagai segi. Pertama :
Pendapat ini jelas menyalahi pengertian jama’ secara dhahir. Kedua : Tujuan
disyariatkan jama’ adalah untuk mempermudah dan menghindarkan kesulitan, seperti
yang telah dijelaskan oleh riwayat Muslim. Sedangkan jama’ dalam pengertian
‘shuwari’ masih mengandung kesulitan. Ketiga : Sebagian hadits tentang jama’ jelas
menyalahkan pendapat mereka itu. Seperti hadits Anas bin Malik yang berbunyi.
“Mengakhirkan Dzuhur sehingga masuk awal Ashar, kemudian dia menjama’
(mengumpulkan) keduanya”. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (2/151) dan
lainnya. Keempat : Bahkan pendapat itu juga bertentangan dengan pengertian jama
taqdim sebagaimana dijelaskan oleh hadits Mu’adz berikut ini. “Dan apabila dia
berangkat setelah tergelincir matahari, maka dia akan menyegerakan Ashar kepada
Dzuhur”. Dan sesungguhnya hadits-hadits yang serupa ini adalah banyak,
sebagaimana telah disinggung.

 Sesungguhnya soal jama’ (mengumpulkan dua shalat) disamping boleh jama takhir,
boleh juga jama taqdim. Ini dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Um (I/67),
disamping oleh Imam Ahmad dan Ishaq, sebagaimana dikatakan oleh At-Tarmidzi
(2/441).

 Sesungguhnya diperbolehkan jama’ pada waktu turunnya (dari kendaraan)


sebagaimana diperbolehkan manakala berlangsung perjalanan. Imam Syafi’i dalam
Al-Um, setelah meriwayatkan hadits ini dari jalur Malik, mengatakan : “Ini
menunjukkan bahwa dia sedang turun bukan sedang jalan. Karena kata ‘dakhala’ dan
‘kharaja’ (masuk dan keluar) adalah tidak lain bahwa dia sedang turun. Maka bagi
seorang musafir boleh menjama’ pada saat turun dan pada saat berjalan’.

Syaikh Al Albani berpendapat : Dengan nash ini maka tidaklah perlu menghiraukan kata
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma’ad (1/189) menuturkan : “Bukanlah petunjuk
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melakukan jama’ sambil naik kendaraan dalam
perjalanannya, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang, dan tidak juga jama’
itu harus pada waktu dia turun“.

Nampaknya banyak kaum muslimin yang terkecoh oleh kata-kata Ibnul Qayyim ini. Oleh
karenanya mestilah ingat kembali.

Adalah janggal bila Ibnul Qayyim tidak memahi nash yang ada dalam Al-Muwatha’, Shahih
Muslim dan lain-lain ini. Akan tetapi keheranan tersebut akan hilang manakala kita ingat
bahwa dia menulis kitab Az-Zad itu, adalah pada waktu dimana dia jauh dari kitab-kitab lain,
yakni dia dalam perjalanan, sebagai seorang musafir. Inilah sebabnya mengapa dalam kitab
tersebut disamping kesalahan itu, banyak juga kesalahan yang lain. Dan mengenai hal ini
telah saya jelaskan dalam At-Ta’liqat Al-Jiyad ‘Ala Zadil Ma’ad.

Yang membuat pendapat ini tetap janggal adalah bahwa gurunya, yakni Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah, telah menjelaskan dalam sebuah bukunya, berbeda dengan apa yang dikatakan
oleh Ibnul Qayyim. Mengapa hal itu tidak diketahui oleh Ibnul Qayyim padahal dia orang
yang paling mengenal Ibnu Taimiyah dengan segala pendapatnya.? Setelah menuturkan
hadits itu, Syaikhul Islam dalam Majmu’atur Rasail wal-Masa’il (2/26-27) mengatakan :
“Pengertian jama’ itu ada tiga tingkatan : Manakala sambil berjalan maka pada waktu yang
pertama.

Sedangkan bila turun maka pada waktu yang kedua. Inilah jama’ sebagaimana disebutkan
dalam Ash-Shahihain dari hadits Anas dan Ibnu Umar. Itu menyerupai jama’ di Muzdalifah.
Adapun manakala di waktu yang kedua baik dengan berjalan maupun dengan kendaraan,
maka di-jama’ pada waktu yang pertama. Ini menyerupai jama’ di Arafah. Sungguh hal ini
telah diriwayatkan dalam As-Sunnan (yakni hadits Mu’adz ini). Adapun manakala turun pada
waktu keduanya, maka dalam hal ini tidak aku ketahui hadits ini menunjukkan bahwa beliau
Nabi turun di kemahnya dalam bepergian itu. Dan bahwa beliau mengakhirkan Dzuhur
kemudian keluar lalu shalat Dzuhur dan Ashar sekalian.

Kemudian beliau masuk ke tempatnya, lalu keluar lagi dan melakukan shalat Maghrib dan
Isya’ sekalian. Sesungguhnya kala ‘ad-dukhul’ (masuk) dan ‘khuruj’ (keluar), hanyalah ada
di rumah (kemah saja). Sedangkan orang yang berjalan tidak akan dikatakan masuk atau
keluar. Tetapi turun atau naik.

“Dan Tabuk adalah akhir peperangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Beliau sesudah itu,
tidak pernah bepergian kecuali ketika haji Wada’. Tidak ada kasus jama’ darinya kecuali di
Arafah dan Muzdalifah. Adapun di Mina, maka tidak ada seorangpun yang menukil bahwa
beliau pernah menjama’ di sana.

Mereka hanya menukilkan bahwa beliau memang mengqashar di sana. Ini menunjukkan
bahwa beliau dalam suatu bepergian terkadang menjama’ dan terkadang tidak. Bahkan yang
lebih sering adalah bahwa beliau tidak men-jama’ . Hal ini menunjukkan bahwa beliau tidak
menjama’. Dan juga menunjukkan bahwa jama’ bukan menjadi sunah Safar sebagaimana
qashar, tetapi dilakukan hanya bila diperlukan saja, baik dalam bepergian maupun sewaktu
tidak dalam bepergian supaya tidak memberatkan umatnya. Maka seorang musafir bilamana
memerlukan jama’ maka lakukan saja, baik pada waktu kedua atau pertama, baik ia turun
untuknya atau untuk keperluan lain seperti tidur dan istirahat pada waktu Dzuhur dan waktu
Isya’. Kemudian dia turun pada waktu Dzuhur dan waktu Isya. Dia turun pada waktu Dzuhur
karena lelah dan mengantuk serta lapar sehingga memerlukan istirahat, tidur dan makan. Dia
boleh mengakhirkan Dzuhur kepada waktu Ashar kemudian menjama’ taqdim Isya dengan
Maghrib lalu sesudah itu bisa tidur agar bisa bangun di tengah malam dalam bepergiannya.

Maka menurut hadits ini dan lainnya adalah diperbolehkan men-jama’. Adapun bagi orang
yang singgah beberapa hari di suatu kampong atau kota, maka meskipun ia boleh
mengqashar, karena dia musafir, namun tidak diperkenankan men-jama’. Ia seperti halnya
tidak boleh shalat di atas kendaraan, tidak boleh shalat dengan tayamum dan tidak boleh
makan bangkai.

Hal-hal seperti ini hanya diperbolehkan sewaktu diperlukan saja. Lain halnya dengan soal
qashar. sesungguhnya ia memang menjadi sunnah dalam shalat perjalanan”.

Menjama’ Dua Sholat Dalam Perjalanan

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Ali Bassam berpendapat sebagai berikut :

Diperbolehkan baginya manjama’ shalat Zhuhur dengan Ashar dalam salah satu waktu di
antara keduanya, menjama’ shalat Maghrib dengan Isya’ dalam salah satu waktu di antara
keduanya. Semua ini merupakan keluwesan syariat yang dibawa Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam dan kemudahannya, yang berarti merupakan karunia dari Allah, agar tidak
ada keberatan dalam agama.
“Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah menjama antara Zhuhur dan Ashar jika berada dalam
perjalanan, juga menjama antara Maghrib dan Isya” [Ini lafazh Al-Bukhary dan bukan
Muslim, seperti yang dikatakan Abdul haq yang menghimpun Ash-Shahihain. Ibnu Daqiq Al-
Id juga mengingatkan hal ini. Mushannif mengaitkan takhrij hadits ini kepada keduanya,
karena melihat asal hadits sebagaimana kebiasaan para ahli hadits, karena Muslim mentakhrij
dari riwayat Ibnu Abbas tentang jama’ antara dua shalat, tanpa mempertimbangkan
lafazhnya. Inilah yang telah disepakati bersama. Menurut Ash-Shan’any. Al-Bukhary tidak
metakhrijnya kecuali berupa catatan. Hanya saja dia menggunakan bentuk kalimat yang pasti]

Makna Hadits

Di antara kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika mengadakan perjalanan,


apalagi di tengah perjalanan, maka beliau menjama’ antara shalat Zhuhur dan Ashar, entah
taqdim entah ta’khir. Beliau juga menjama antara Maghrib dan Isya, entah taqdim entah
ta’khir, tergantung mana yang lebih memungkinkan untuk dikerjakan dan dengan siapa beliau
mengadakan perjalanan. Yang pasti, perjalanan ini menjadi sebab jama’ dan shalat pada salah
satu waktu di antara dua waktunya karena waktu itu merupakan waktu bagi kedua shalat.

Perbedaan Pendapat Di Kalangan Ulama

Para ulama saling berbeda pendapat tentang jama’ ini. Mayoritas shahabat dan tabi’in
memperbolehkan jama’, baik taqdim maupun ta’khir. Ini juga merupakan pendapat Asy-
Syafi’i, Ahmad dan Ats-Tsaury. Mereka berhujjah dengan hadits-hadits Ibnu Abbas dan Ibnu
Umar, begitu pula hadits Mu’adz, bahwa jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
berangkat sebelum matahari condong, maka beliau menjama shalat Zhuhur dan Ashar
pada waktu shalat Ashar. Beliau mengerjakan keduanya secara bersamaan. Tapi jika
beliau berangkat sesudah matahari condong, maka beliau shalat Zhuhur dengan Ashar,
lalu berangkat. Jika beliau berangkat sebelum Maghrib, maka belaiu menunda shalat
Maghrib dan mengerjakannya bersama shalat Isya. Jika beliau berangkat sesudah
masuk waktu Maghrib, maka beliau mengerjakan shalat Isya bersama shalat Maghrib.
[Diriwayatkan Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidizy]

Sebagian Imam menshahihkan hadits ini. Sementara yang lain mempermasalahakannya. Asal
hadits ini ada dalam riwayat Muslim tanpa menyebutkan jama taqdim.

Sementara Abu Hanifah dan dua rekannya. Al-Hasan dan An-Nakha’y tidak
memperbolehkan jama’. Mereka menakwil hadits-hadits tentang jama’, bahwa itu
merupakan jama’ imajiner. Gambarannya, menurut pendapat mereka, beliau mengakhirkan
shalat Zhuhur hingga akhir waktunya lalu mengerjakannya, dan setelah itu mengerjakan
shalat Ashar pada awal waktunya. Begitu pula untuk shalat Maghrib dan Isya.

Tentu saja ini tidak mengenai dan bertentangan dengan pengertian lafazh jama’, yang artinya
menjadikan dua shalat di salah satu waktu di antara dua waktunya, yang juga ditentang
ketetapan jama’ taqdim, sehingga menafikan cara penakwilan seperti itu. Al-Khaththaby dan
Ibnu Abdil Barr menyatakan jama’ sebagai rukhshah. Mengerjakan dua shalat, yang pertama
pada akhir waktunya dan yang kedua pada awal waktunya, justru berat dan sulit. Sebab
orang-orang yang khusus pun sulit mencari ketetapan waktunya. Lalu bagaimana dengan
orang-orang awam ?
Ibnu Hazm dan salah satu riwayat dari Malik menyatakan, yang boleh dilakukan ialah
jama’ ta’khir dan tidak jama’ taqdim. Mereka menanggapi hadits-hadits yang dikatakan
sebagian ulama, yang dipermasalahkan.

Mereka juga saling berbeda pendapat tentang hukum jama’. Asy-Syafi’i, Ahmad dan
jumhur berpendapat, perjalanan merupakan sebab jama’ taqdim dan ta’khir. Ini juga
merupakan salah satu riwayat dari Malik. Pendapat Malik dalam riwayat yang masyhur
darinya, pengkhususan darinya, pengkhususan jama’ pada waktu dibutuhkan saja,
yaitu jika sedang mengadakan perjalanan. Ini juga merupakan pilihan pendapat
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang dikuatkan oleh Ibnul Qayyim. Menurut Al-Bajy,
ketidaksukaan Malik terhadap jama’, karena khawatir jama’ inmi dilakukan orang yang
sebenarnya tidak mendapat kesulitan. Adapun pembolehannya jika mengadakan perjalanan,
didasarkan kepada hadits Ibnu Umar.

Abu Hanifah tidak memperbolehkan jama’ kecuali di Arafah dan Muzdalifah, karena
untuk keperluan manasik haji dan bukan karena perjalanan.

Jumhur berhujjah dengan hadits-hadits yang menyebutkan jama’ secara mutlak tanpa ada
batasan perjalanan, ketika singgah atau ketika mengadakan perjalanan. Begitu pula yang
disebutkan di dalam Al-Muwaththa’ dari Muadz bin Jabal, bahwa pada Perang Tabuk
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat, kemudian keluar shalat
Zhuhur dan Ashar bersama-sama, kemudian masuk dan keluar lagi untuk shalat Maghrib dan
Isya’. Menurut Ibnu Abdil Barr, isnad hadits ini kuat. Asy-Syafi’y menyebutkannya di dalam
Al-Umm. Menurut Ibnu Abdul Barr dan Al-Bajy, keluar dan masuknya Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan bahwa beliau sedang singgah dan tidak sedang
dalam perjalanan. Ini merupakan penolakan secara tegas terhadap orang yang menyatakan
bahwa beliau tidak menjama’ kecuali ketika mengadakan perjalanan.

Dalil Al-Imam Malik, Syaikhul Islam dan Ibnul Qayyim ialah hadits Ibnu Umar, bahwa jika
beliau mengadakan perjalan, maka beliau menjama’ Maghrib dan Isya’, seraya berkata : “Jika
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadakan perjalanan, maka beliau menjama
keduanya”.

Tapi menurut jumhur, tambahan bukti dalam beberapa hadits yang lain layak untuk diterima.
Bagaimanapun juga, bepergian mendatangkan banyak kesulitan, baik ketika singgah maupun
ketika dalam perjalanan. Rukhshah jama’ tidak dibuat melainkan untuk memberikan
kemudahan didalamnya.

Ibnul Qayyim di dalam Al-Hadyu, menjadikan hadits Mu’adz dan sejenisnya termasuk dalil-
dalilnya, bahwa rukhshah jama’ tidak ditetapkan melainkan ketika mengadakan perjalanan
(bukan ketika singgah). Adapun pendapat Abu Hanifah tertolak oleh berbagai hadits yang
shahih dan jelas maknanya.

Faidah Hadits

Pertama,

Seperti yang disebutkan pengarang tentang jama’ karena perjalanan, maka disana ada
beberapa alasan selain perjalanan yang memperbolehkan jama’, di antaranya hujan. Al-
Bukhary meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjama’ Maghrib
dan Isya’ pada suatu malam ketika turun hujan. Jama’ ini dikhususkan untuk Maghrib dan
Isya’, bukan untuk Zhuhur dan Ashar. Namun ulama lain membolehkannya juga, di
antaranya Al-Imam Ahmad dan rekan-rekannya.

Begitu pula alasan sakit. Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah menjama’ Zhuhur dan Ashar, Maghrib dan Isya’ bukan karena takut dan hujan.
Dalam riwayat lain disebutkan, bukan karena takut dan perjalanan. Tidak ada sebab lain
kecuali sakit. Banyak ulama yang memperbolehkannya, di antaranya Malik, Ahmad, Ishaq
dan Al-Hasan. Ini juga merupakan pendapat segolongan ulama dari madzhab Syafi’y, seperti
Al-Khaththaby dan ini juga merupakan pilihan An-Nawawy di dalam Shahih Muslim. Ibnu
Taimiyah menyebutkan bahwa Al-Imam Ahmad menetapkan pembolehan jama’ bagi orang
yang terluka dan karena kesibukan, yang didasarkan kepada hadits yang diriwayatkan tentang
masalah ini. Ada pula yang menetapkan pembolehan jama’ bagi wanita istihadhah, karena
istihadhah termasuk penyakit.

Kedua,

Batasan perjalanan yang menyebabkan pembolehan jama’ diperselisihkan para ulama. Asy-
Syafi’i dan Ahmad menetapkan lama perjalanan selama dua hari hingga ke tujuan,
atau sejauh enam belas farskah [Satu farskah sama dengan empat mil. Satu mil sama
dengan satu setengah kilometer. Enam belas farsakh sama dengan enam puluh emapt mil,
atau sama denan sembilan puluh enam kilometer]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menetapkan pilihan bahwa apa pun yang disebut
dengan perjalanan, pendek atau jauh, diperbolehkan jama’ didalamnya. Jadi tidak
diukur dengan jarak tertentu. Menurut pendapatnya, di dalam nash Al-Kitab dan As-Sunnah
tidak disebutkan perbedaan antara jarak dekat dengan jarak jauh. Siapa yang membuat
perbedaan antara jarak dekat dan jarak jauh, berarti dia memisahkan apa yang sudah
dihimpun Allah, dengan sebagian pemisahan dan pembagian yang tidak ada dasarnya.
Pendapat Syaikhul Islam ini sama dengan pendapat golongan Zhahiriyah, yang juga didukung
pengarang Al-Mughny.

Ibnul Qayyim menyatakan di dalam Al-Hadyu, tentang riwayat yang membatasi


perjalanan sehari, dua hari atau tiga hari, maka itu bukan riwayat yang shahih.

Ketiga,

Menurut jumhur ulama, meninggalkan jama’ lebih utama daripada jama’, kecuali dalam dua
jama’, di Arafah dan Muzdalifah, karena disana ada kemaslahatan.

Kesimpulan Hadits

 Boleh menjama shalat Zhuhur dengan Ashar, shalat Maghrib denan Isya’
 Keumuman hadits menimbulkan pengertian tentang diperbolehkannya jama’ taqdim
dan ta’khir antara dua shalat. Beberapa dalil menunjukkan hal ini seperti yang sudah
disebutkan di atas.
 Menurut zhahirnya dikhususkan saat mengadakan perjalanan. Diatas telah disebutkan
perbedaan pendapat di kalangan ulama dan dalil dari masing-masing pihak. Menurut
Ibnu Daqiq Al-Id, hadits ini menunjukkan jama’ jika dalam perjalan. Sekiranya tidak
ada hadits-hadits lain yang menyebutkan jama’ tidak seperti gambaran ini, tentu dalil
ini mengharuskan jama’ dalam kondisi yang lain. Diperbolehkannya jama’ di dalam
hadits ini berkaitan dengan suatu sifat yang tidak mungkin diabaikan begitu saja. Jika
jama’ dibenarkan ketika singgah, maka pengamalannya lebih baik, karena adanya
dalil lain tentang pembolehannya diluar gambaran ini, yaitu dalam perjalanan.
Tegaknya dalil ini menunjukkan pengabaian pengungkapan sifat ini semata. Dalil ini
tentu tidak dapat dianggap bertentangan dengan pengertian di dalam hadits ini, karena
pembuktian pembolehan apa yang disampaikan di dalam gambaran ini secara khusus,
jauh lebih kuat.
 Hadits ini dan juga hadits-hadits lainnya menunjukkan bahwa jama’ dikhususkan
untuk shalat Zhuhur dengan Ashar, Mgahrib dengan Isya, sedangkan Subuh tidak
dapat dijama’ dengan shalat lainnya.

Hukum Menjama’ Sholat Ashar dengan Sholat Jum’at

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan sebagai berikut :

Tidak boleh menjama (menggabungkan) shalat Ashar dengan shalat Jum’at ketika
diperbolehkan menjama antara shalat Ashar dan Dzuhur (karena ada alasan syar’i,
seperti perjalanan,-red) . Seandainya seseorang yang sedang melakukan perjalanan
jauh melintasi suatu daerah, lalu dia melakukan shalat Jum’at bersama kaum
muslimin disana, maka (dia) tidak boleh menjama Ashar dengan shalat Jum’at.

Seandainya ada seorang yang menderita penyakit sehingga diperbolehkan untuk menjama
shalat, (lalu ia) menghadiri shalat dan mengerjakan shalat Jum’at, maka dia tidak boleh
menjama shalat Ashar dengan shalat Jum’at. Dalilnya ialah firman Allah Subhanahu wa
Ta’ala “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas
orang-orang yang beriman” [An-Nisaa : 103]

Maksudnya, (ialah) sudah ditentukan waktunya. Sebagian dari waktu-waktu ini sudah
dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala secara global dalam firmanNya “Dirikanlah
shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula
shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh Malaikat)” [Al-Israa :
78]

Jika ada yang mengatakan, apakah tidak boleh mengqiyaskan jama shalat Ashar ke Jum’at
dengan menjama shalat Ashar ke Dzuhur?

Jawabnya adalah tidak boleh, karena beberapa sebab :

 Tidak ada qiyas dalam masalah ibadah.


 Shalat Jum’at merupakan shalat tersendiri, memiliki lebih dari 20 hukum (ketentuan-
ketentuan) tersendiri yang berbeda dengan shalat Dzuhur. Perbedaan seperti ini
menyebabkannya tidak bisa disamakan (diqiyaskan) ke shalat yang lainnya.
 Qiyas seperti (dalam pertanyaan diatas, -pent) ini bertentangan dengan dhahir sunnah.
Dalam shahih Muslim, dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjama Maghrib dengan Isya di Madinah dalam
kondisi aman dan tidak hujan.

Pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah juga turun hujan yang
menimbulkan kesulitan, akan tetapi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjama shalat
Ashar dengan Jum’at, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan lainnya dari
sahabat Anas bin Malik, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminta hujan
pada hari Jum’at saat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas mimbar. Sebelum beliau
turun dari mimbar, hujan turun dan mengalir dari jenggotnya. Ini tidak akan terjadi, kecuali
disebabkan oleh hujan yang bisa dijadikan alasan untuk menjama shalat, seandainya boleh
menjama Ashar dengan shalat Jum’at. Sahabat Anas bin Malik mengatakan, pada hari Jum’at
berikutnya, seseorang datang dan berkata : “Wahai, Rasulullah. Harta benda sudah tenggelam
dan bangunan hancur, maka berdo’alah kepada Allah agar memberhentikan hujan dari kami”.

Kondisi seperti ini, (tentunya) memperbolehkan untuk menjama, jika seandainya boleh
menjama ‘ shalat Ashar dengan shalat Jum’at.

Jika ada yang mengatakan “Mana dalil yang melarang menjama shalat Ashar dengan shalat
Dzuhur?”

Pertanyaan seperti ini tidak tepat, karena hukum asal beribadah adalah terlarang, kecuali ada
dalil (yang merubah hukum asal ini menjadi wajib atau sunat, -pent). Maka orang yang
melarang pelaksanaan ibadah kepada Allah dengan suatu amalan fisik atau hati, tidak dituntut
untuk mendatangkan dalil. Akan tetapi, yang dituntut untuk mendatangkan dalil ialah orang
yang melakukan ibadah tersebut, berdasarkan firman Allah yang mengingkari orang-orang
yang beribadah kepadanya tanpa dasar syar’I “Apakah mereka mempunyai sembahan-
sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan
Allah” [Asy-Syuura : 21]

Dan firmanNya “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah
Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu” [Al-
Maidah : 3]

Berdasarkan ini, jika ada yang menanyakan, “Mana dalil larangan menjama shalat Ashar
dengan shalat Jum’at?” (Maka) kita mengembalikan pertanyaan “Mana dalil yang
memperbolehkannya ? Karena hukum asal shalat Ashar dikerjakan pada waktunya. Ketika
ada faktor yang memperbolehkan untuk menjama shalat Ashar, hukum asal ini bisa diselisihi,
(maka yang) selain itu tetap pada hukum asalnya, yaitu tidak boleh diajukan dari waktunya.

Jika ada yang mengatakan, “Bagaimana pendapatmu jika dia berniat shalat Dzuhur ketika
shalat Jum’at agar bisa menjama?”

Jawab, jika seorang imam shalat Jum’at di suatu daerah, berniat shalat Dzuhur dengan shalat
Jum’atnya, maka tidak syak lagi (demikian) ini merupakan perbuatan haram, dan shalatnya
batal. Karena bagi mereka, shalat Jum’at itu wajib. Jika ia mengalihkan shalat Jum’at ke
shalat Dzuhur, berarti mereka berpaling dari perintah-perintah Allah kepada sesuatu yang
tidak diperintahkan, sehingga berdasarkan hadits di atas, (maka) amalnya batal dan tertolak.

Sedangkan jika yang berniat melaksanakan shalat Jum’at dengan niat Dzuhur adalah -seorang
musafir (misalnya) yang bermakmum kepada orang yang wajib melaksanakannya, maka
perbuatan musafir ini juga tidak sah. Karena, ketika dia menghadiri shalat Jum’at, berarti dia
wajib melakukannya. Orang yang terkena kewajiban shalat Jum’at namun dia melaksanakan
shalat Dzuhur sebelum imam salam dari shalat Jum’at, maka shalat Dzuhurnya tidak sah.

Sumber :
 Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah Wa Syaiun Min Fiqhiha Wa Fawaaidiha, edisi
Indonesia Silsilah Hadits Shahih dan Sekelumit Kandungan Hukumnya, karya Syaikh
Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan CV. Pustaka Mantiq, hal. 362-372.

 257 Tanya Jawab Fatwa-fatwa Al-Utsaimin, oleh Syaikh Muhammad Al-Shalih Al-
‘Utsaimin, terbitan Gema Risalah Press, hal 133-134.

 Kitab Taisirul-Allam Syarh Umdatul Ahkam, Edisi Indonesia Syarah Hadits Pilihan
Bukhari Muslim, Pengarang Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Ali
Bassam, Penerbit Darul Fallah

 Majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun IX/1426H/2005. Diambil dari Fatawa Syaikh


Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.

 http://www.almanhaj.or.id

JAMA'.
Menjama' shalat adalah mengabungkan antara dua shalat (Dhuhur dan Ashar atau Maghrib dan
'Isya') dan dikerjakan dalam waktu salah satunya. Boleh seseorang melakukan jama'taqdim dan
jama'ta'khir.[19]

Jama' taqdim adalah menggabungkan dua shalat dan dikerjakan dalam waktu shalat pertama, yaitu;
Dhuhur dan Ashar dikerjakan dalam waktu Dhuhur, Maghrib dan 'Isya' dikerjakan dalam waktu
Maghrib. Jama' taqdim harus dilakukan secara berurutan sebagaimana urutan shalat dan tidak boleh
terbalik.

Adapun jama' ta'khir adalah menggabungkan dua shalat dan dikerjakan dalam waktu shalat kedua,
yaitu; Dhuhur dan Ashar dikerjakan dalam waktu Ashar, Maghrib dan 'Isya'dikerjakan dalam waktu,
Isya', Jama' ta'khir boleh dilakukan secara berurutan dan boleh pula tidak berurutan akan tetapi
yang afdhal adalah dilakukan secara berurutan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah
shallallahuhu alaihi wa'ala alihi wasallam.[20]

Menjama' shalat boleh dilakukan oleh siapa saja yang memerlukannya - baik musafir atau bukan-
dan tidak boleh dilakukan terus menerus tanpa udzur, jadi dilakukan ketika diperlukan saja.[21]

Termasuk udzur yang membolehkan seseorang untuk menjama' shalatnya dalah musafir ketika
masih dalan perjalanan dan belum sampai di tempat tujuan[22] , turunnya hujan [23] , dan orang
sakit.[24]

Berkata Imam Nawawi rahimahullah:Sebagian imam (ulama) berpendapat bahwa seorang yang
mukim boleh menjama' shalatnya apabila di perlukan asalkan tidak di jadikan sebagai
kebiasaan."[25]

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi
wasallam menjama antara dhuhur dengan ashar dan antara maghrib dengan isya' di Madinah tanpa
sebab takut dan safar (dalam riwayat lain; tanpa sebab takut dan hujan). Ketika ditanyakan hal itu
kepada Ibnu Abbas radhiallahu anhuma beliau menjawab: Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala
alihi wasallam tidak ingin memberatkan ummatnya.[26]
MENJAMA'JUM'AT DENGAN ASHAR.
Tidak diperbolehkan menjama' (menggabung) antara shalat Jum'at dan shalat Ashar dengan alasan
apapun baik musafir, orang sakit, turun hujan atau ada keperluan dll-, walaupun dia adalah orang
yang di perbolehkan menjama' antara Dhuhur dan Ashar.

Hal ini di sebabkan tidak adanya dalil tentang menjama' antara Jum'at dan Ashar, dan yang ada
adalah menjama' antara Dhuhur dan Ashar dan antara Maghrib dan Isya'. Jum'at tidak bisa
diqiyaskan dengan Dhuhur karena sangat banyak perbedaan antara keduanya. Ibadah harus dengan
dasar dan dalil, apabila ada yang mengatakan boleh maka silahkan dia menyebutkan dasar dan
dalilnya dan dia tidak akan mendapatkannya karena tidak ada satu dalilpun dalam hal ini.

Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam bersabda: Barang siapa membuat perkara baru
dalam urusan kami ini (dalam agama) yang bukan dari padanya (tidak berdasar) maka tertolak.[27]

Dalam riwayat lain: Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah kami (tidak ada
ajarannya) maka amalannya tertolak.[28]

Jadi kembali kepada hukum asal, yaitu wajib mendirikan shalat pada waktunya masing-masing
kecuali apabila ada dalil yang membolehkan untuk menjama' (menggabungnya) dengan shalat
lain.[29]

JAMA' DAN SEKALIGUS QASHAR.


Tidak ada kelaziman antara jama' dan qashar. Musafir di sunnahkan mengqashar shalat dan tidak
harus menjama', yang afdhal bagi musafir yang telah menyelesaikan perjalanannya dan telah sampai
di tujuannya adalah mengqashar saja tanpa menjama' sebagaimana dilakukan Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam ketika berada di Mina pada waktu haji wada', yaitu beliau hanya mengqashar saja
tanpa menjama,[30] dan beliau shallallahu alaihi wa'ala alihi wa sallam pernah melakukan
jama'sekaligus qashar pada waktu perang Tabuk.[31] Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi
wasallam selalu melakukan jama' sekaligus qashar apabila dalam perjalanan dan belum sampai
tujuan.[32] Jadi Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam sedikit sekali menjama' shalatnya
karena beliau shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam melakukannya ketika diperlukan saja.[33]

MUSAFIR SHALAT DI BELAKANG MUKIM.


Shalat berjama'ah adalah wajib bagi orang mukim ataupun musafir, apabila seorang musafir shalat di
belakang imam yang mukim maka dia mengikuti shalat imam tersebut yaitu empat rakaat, namun
apabila dia shalat bersama-sama musafir maka shalatnya di qashar (dua raka'at). Hal ini di dasarkan
atas riwayat sahih dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma. Berkata Musa bin Salamah: Suatu ketika
kami di Makkah (musafir) bersama Ibnu Abbas, lalu aku bertanya: Kami melakukan shalat empat
raka'at apabila bersama kamu (penduduk Mekkah), dan apabila kami kembali ke tempat kami
(bersama-sama musafir) maka kami shalat dua raka'at ? Ibnu Abbas radhiallahu anhuma menjawab:
Itu adalah sunnahnya Abul Qasim (Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi wasalla”[34]

MUSAFIR MENJADI IMAM ORANG MUKIM.


Apabila musafir dijadikan sebagai imam orang-orang mukim dan dia mengqashar shalatnya maka
hendaklah orang-orang yang mukim meneruskan shalat mereka sampai selesai (empat raka'at),
namun agar tidak terjadi kebingungan hendaklah imam yang musafir memberi tahu makmumnya
bahwa dia shalat qashar dan hendaklah mereka (makmum yang mukim) meneruskan shalat mereka
sendiri-sendiri dan tidak mengikuti salam setelah dia (imam) salam dari dua raka'at. Hal ini pernah di
lakukan Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam ketika berada di Makkah (musafir) dan
menjadi imam penduduk Mekkah, beliau shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam berkata:
Sempurnakanlah shalatmu (empat raka’at) wahai penduduk Mekkah ! Karena kami adalah
musafir.[35] Beliau shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam shalat dua-dua (qashar) dan mereka
meneruskan sampai empat raka'at setelah beliau salam.[36]

Apabila imam yang musafir tersebut khawatir membingungkan makmumnya dan dia shalat empat
raka'at (tidak mengqashar) maka tidaklah mengapa karena hukum qashar adalah sunnah
mu'akkadah dan bukan wajib.[37]

SHALAT JUM'AT BAGI MUSAFIR.


Kebanyakan ulama berpendapat bahwa tidak ada shalat Jum'at bagi usafir, namun apabila musafir
tersebut tinggal di suatu daerah yang diadakan shalat Jum'at maka wajib atasnya untuk mengikuti
shalat um'at bersama mereka. Ini adalah pendapat imam Malik, imam Syafi'i, Ats-Tsauriy, Ishaq, Abu
Tsaur, dll.[38]

Dalilnya adalah bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam apabila safar
(bepergian) tidak shalat Jum'at dalam safarnya, juga ketika Haji Wada' Beliau shallallahu alaihi wa'ala
alihi wasallam tidak melaksanakan shalat Jum'at dan menggantinya dengan shalat Dhuhur yang
dijama' (digabung) dengan Ashar[39]. Demikian pula para Khulafa Ar-Rasyidun (empat khalifah)
radhiallahu anhum dan para sahabat lainnya radhiallahu anhum serta orang-orang yang setelah
mereka apabila safar tidak shalat Jum'at dan menggantinya dengan Dhuhur.[40]

Dari Al-Hasan Al-Basri, dari Abdur Rahman bin Samurah berkata: Aku tinggal bersama dia (Al-Hasan
Al-Basri) di Kabul selama dua tahun mengqashar shalat dan tidak shalat Jum'at"

Sahabat Anas radhiallahu anhu tinggal di Naisabur selama satu atau dua tahun, beliau tidak
melaksanakan shalat Jum'at.

Ibnul Mundzir -rahimahullah menyebutkan bahwa ini adalah Ijma' (kesepakatan para ulama') yang
berdasarkan hadis sahih dalam hal ini sehingga tidak di perbolehkan menyelisihinya.[41]

Wallahu A'lam dan Semoga Bermanfaat.

[Disalin dari tulisan yang disusun oleh Abdullah Shaleh Al-Hadrami, beliau adalah salah seorang
ustadz yang berdomisili dan banyak memberi pengajaran di kota Malang, Jawa Timur]
_______
Footnote
[1]. Lihat Tafsir Ath-Thabari 4/244, Mu'jamul Washit hal 738.
[2]. Lihat Al-Mughni, Ibnu Qudamah 3/104 dan Al-Majmu' Syarah Muhadzdzab 4/165.
[3]. HR. Muslim, Abu Dawud dll. Lihat Al-jami'li Ahkamil Qur'an, Al- Qurthubi 5/226-227.
[4]. HR. Muslim, Ibnu Majah, Abu Dawud dll.
[5]. HR. Ibnu Majah dan An-Nasa'i dll dengan sanad sahih. Lihat sahih Ibnu Majah 871 dan Zaadul
Ma'ad, Ibnul Qayim 1/467
[6]. HR. Bukhari dan Muslim dll. Lihat Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnati wal Kitabil Aziz, Abdul Adhim bin
Badawi Al-Khalafi 138.
[7]. HR. Bukhari dan Muslim.
[8]. Lihat Al-Muhalla, Ibnu Hazm 21/5, Zaadul Ma'ad, Ibnul Qayyim
1/481, Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq 1/307-308, As-Shalah, Prof.Dr. Abdullah Ath-Thayyar 160-161,
Al-Wajiz, Abdul Adhim Al-Khalafi 138 dll.
[9]. Lihat Majmu'Fatawa Syaikh Utsaimin 15/265.
[10]. Al-Wajiz, Abdul ¡¥Adhim Al-Khalafi 138
[11]. HR. Bukhari, Muslim dll.
[12]. HR. Imam Ahmad dll dengan sanad sahih.
[13] HR. Bukhari dll
[14]. Riwayat Al-Baihaqi dll dengan sanad sahih
[15]. Lihat Majmu' Fatawa Syaikh Utsaimin jilid 15, Irwa'ul Ghalil Syaikh Al-Albani jilid 3, Fiqhus
Sunnah 1/309-312.
[16]. HR. Bukhari dan Muslim.
[17]. HR. Bukhari. Lihat Zaadul Ma'ad, Ibnul Qayyim 1/315-316, 473-475, Fiqhus Sunah 1/312-313,
Taudhihul Ahkam, Al-Bassam 2/223-229. Majmu' Fatawa Syaikh Utsaimin 15/254.
[18].Kitab Ad-Dakwah, Bin Baz, lihat As-Shalah, Prof.Dr. Abdullah Ath-Thayyar 308.
[19]. Lihat Fiqhus Sunnah 1/313-317.
[20]. Lihat Fatawa Muhimmah, Syaikh Bin Baz 93-94, Kitab As-Shalah, Prof.Dr. Abdullah Ath-Thayyar
177.
[21]. Lihat Taudhihul Ahkam, Al-Bassam 2/308-310 dan Fiqhus Sunnah 1/316-317.
[22]. HR. Bukhari dan Muslim
[23]. HR. Muslim, Inbu Majah dll.
[24]. Taudhihul Ahkam, Al-Bassam 2/310, Al-Wajiz, Abdul Adhim bin Badawi Al-Khalafi 139-141,
Fiqhus Sunnah 1/313-317
[25]. Lihat syarh Muslim, imam Nawawi 5/219 dan Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil Aziz 141.
[26]. HR. Muslim dll. Lihat Sahihul Jami¡¦ 1070.
[27]. HR. Bukhari 2697 dan Muslim 1718.
[28]. HR. Muslim.
[29]. Lihat Majmu' Fatawa Syaikh Utsaimin 15/ 369-378
[30]. Lihat Sifat haji Nabi shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam karya Al-Albani.
[31]. HR. Muslim. Lihat Taudhihul Ahkam, Al-Bassam 2/308-309.
[32]. As-Shalah, Prof.Dr. Abdullah Ath-Thayyar 181. Pendapat ini adalah merupakan fatwa para
ulama termasuk syaikh Abdul Aziz bin Baz.
[33]. Lihat Taudhihul Ahkam, Al-Bassam 2/ 308.
[34]. Riwayat Imam Ahmad dengan sanad sahih. Lihat Irwa'ul Ghalil no
571 dan Tamamul Minnah, Syaikh Al-Albani 317
[35]. HR. Abu Dawud..
[36]. Lihat Al-Majmu' Syarah Muhadzdzab 4/178 dan Majmu' Fatawa Syaikh Utsaimin 15/269
[37]. Lihat Taudhihul Ahkam, Syaikh Abdullah bin Abdir Rahman Al- Bassam 2/294-295
[38]. Lihat Al-Mughni, Ibnu Qudamah 3/216, Al-Majmu'Syarh Muhadzdzab, Imam Nawawi 4/247-
248, lihat pula Majmu'Fatawa Syaikh Utsaimin 15/370.
[39].Lihat Hajjatun Nabi shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam Kama Rawaaha Anhu Jabir -
radhiallahu anhu, Karya Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani hal 73.
[40]. Lihat Al-Mughni, Ibnu Qudamah 3/216.
[41]. Lihat Al-Mughni, Ibnu Qudamah 3/216

PENGERTIAN SHOLAT JAMA'


Shalat yang digabungkan, yaitu mengumpulkan dua shalat fardhu yang dilaksanakan
dalam satu waktu. Misalnya, shalat dzuhur dan Ashar dikerjakan pada waktu Dzuhur atau
pada waktu Ashar. Shalat Maghrib dan Isya’ dilaksanakan pada waktu Maghrib atau pada
waktu Isya’.

Sedangkan Subuh tetap pada waktunya dan tidak boleh digabungkan dengan shalat lain.
Shalat Jama' ini boleh dilaksankan karena bebrapa alasan (halangan) berikut ini :
a. Dalam perjalanan yang bukan untuk maksiat
b. Apabila turun hujan lebat
c. Karena sakit dan takut
d. Jarak yang ditempuh cukup jauh, yakni kurang lebihnya 81 km. (begitulah yang disepakati
oleh sebagian Imam Madzhab sebagaimana disebutkan dalam kitab AL-Fikih, Ala al
Madzhabhib al Arba’ah, sebagaimana pendapat para ulama madzhab Maliki, Syafi’i dan
Hambali.)

Tetapi sebagian ulama lagi berpendapat bahwa jarak perjalanan (musafir) itu sekurang-
kurangnya dua hari perjalanan kaki atau dua marhalah, yaitu 16 (enam belas) Farsah, sama
dengan 138 (seratus tiga puluh delapan) km.

Menjama’ shalat boleh dilakukan oleh siapa saja yang memerlukannya, baik musafir atau
bukan dan tidak boleh dilakukan terus menerus tanpa udzur, jadi dilakukan ketika diperlukan
saja. (lihat Taudhihul Ahkam, Al Bassam 2/308-310 dan Fiqhus Sunnah 1/316-317).

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa qashar shalat hanya disebabkan oleh safar
(bepergian) dan tidak diperbolehkan bagi orang yang tidak safar. Adapun jama’ shalat
disebabkan adanya keperluan dan uzur. Apabila seseorang membutuhkannya (adanya suatu
keperluan) maka dibolehkan baginya melakukan jama’ shalat dalam suatu perjalanan jarak
jauh maupun dekat, demikian pula jama’ shalat juga disebabkan hujan atau sejenisnya, juga
bagi seorang yang sedang sakit atau sejenisnya atau sebab-sebab lainnya karena tujuan dari
itu semua adalah mengangkat kesulitan yang dihadapi umatnya.” (Majmu’ al Fatawa juz
XXII hal 293)

Termasuk udzur yang membolehkan seseorang untuk menjama’ shalatnya adalah musafir
ketika masih dalam perjalanan dan belum sampai di tempat tujuan (HR. Bukhari,
Muslim), turunnya hujan (HR. Muslim, Ibnu Majah dll), dan orang sakit. (Taudhihul Ahkam,
Al Bassam 2/310, Al Wajiz, Abdul Adhim bin Badawi Al Khalafi 139-141, Fiqhus Sunnah
1/313-317).

Berkata Imam Nawawi Rahimahullah : ”Sebagian Imam (ulama) berpendapat bahwa seorang
yang mukim boleh menjama’ shalatnya apabila diperlukan asalkan tidak dijadikan sebagai
kebiasaan.” (lihat Syarah Muslim, imam Nawawi 5/219 dan Al Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal
Kitabil Aziz 141).

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma berkata, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
Wassalam menjama’ antara Dhuhur dengan Ashar dan antara Maghrib dengan Isya’ di
Madinah tanpa sebab takut dan safar (dalam riwayat lain; tanpa sebab takut dan hujan).
Ketika ditanya hal itu kepada Ibnu Abbas beliau menjawab : ”Bahwa Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wassalam tidak ingin memberatkan umatnya.” (HR.Muslim dll. Lihat Sahihul Jami’
1070).

Shalat jama' dapat dilaksanakan dengan 2 (dua) cara :


1. Jama' Taqdim (Jama' yang didahulukan) yaitu menjama' 2 (dua) shalat dan
melaksanakannya pada waktu shalat yang pertama. Misalnya shalat Dzuhur dan Ashar
dilaksanakan pada waktu Dzuhur atau shalat Maghrib dan Isya’ dilaksanakan pada waktu
Maghrib.

Syarat Sah Jama' Taqdim ialah:


a. Berniat menjama' shalat kedua pada shalat pertama
b. Mendahulukan shalat pertama, baru disusul shalat kedua
c. Berurutan, artinya tidak diselingi dengan perbuatan atau perkataan lain, kecuali duduk,
iqomat atau sesuatu keperluan yang sangat penting

2. Jama' Ta’khir (Jamak yang diakhirkan), yaitu menjamak 2 (dua) shalat dan
melaksanakannya pada waktu shalat yang kedua. Misalnya, shalat Dzuhur dan Ashar
dilaksanakan pada waktu Ashar atau shalat Maghrib dan shalat Isya’ dilaksanakan pada
waktu shalat Isya’.

Syarat Sah Jama' Ta’khir ialah:


a. Niat (melafazhkan pada shalat pertama) yaitu : ”Aku ta’khirkan shalat Dzuhurku diwaktu
Ashar.”
b. Berurutan, artinya tidak diselingi dengan perbuatan atau perkataan lain, kecuali duduk,
iqomat atau sesuatu keperluan yang sangat penting.

NOTE :
Dalam Jama' ta’khir tidak disyaratkan mendahulukan shalat pertama atau shalat kedua.
Misalnya shalat Dzuhur dan Ashar boleh mendahulukan Ashar baru Dzuhur atau
sebaliknya. Muadz bin Jabal menerangkan bahwasanya Nabi SAW dipeperangan
Tabuk, apabila telah tergelincir matahari sebelum beliau berangkat, beliau kumpulkan antara
Dzuhur dan Ashar dan apabila beliau ta’khirkan shalat Ashar. Dalam shalat Maghrib begitu
juga, jika terbenam matahari sebelum berangkat, Nabi SAWmengumpulkan Maghrib dengan
Isya’ jika beliau berangkat sebelum terbenam matahari beliau ta’khirkan Maghrib sehingga
beliau singgah (berhenti) untuk Isya’ kemudian beliau menjama'kan antara keduanya.

HUKUM MENJAMA’ SHOLAT JUM’AT DENGAN ASHAR


Tidak diperbolehkan menjama’ antara shalat Jum’at dengan shalat Ashar dengan alasan
apapun baik musafir, orang sakit, turun hujan atau ada keperluan lain. Walaupun dia adalah
orang yang diperbolehkan menjama’ antara Dhuhur dengan Ashar.

Hal ini disebabkan tidak adanya dalil tentang menjama’ antara Jum’at dan Ashar, dan yang
ada adalah menjama’ antara Dhuhur dan Ashar dan antara Maghrib dan Isya’. Jum’at tidak
bisa diqiyaskan dengan Dhuhur karena sangat banyak perbedaan antara keduanya. Ibadah
harus dengan dasar dan dalil, apabila ada yang mengatakan boleh maka silahkan dia
menyebutkan dasar dan dalilnya dan dia tidak akan mendapatkannya karena tidak ada satu
dalilpun dalam hal ini.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : “Barangsiapa membuat perkara baru


dalam urusan kami ini (dalam agama) yang bukan dari padanya (tidak berdasar) maka
tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain : “Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah kami
(tidak ada ajarannya) maka amalannya tertolak.” (HR.Muslim).

Jadi kembali pada hukum asal, yaitu wajib mendirikan shalat pada waktunya masing-masing
kecuali apabila ada dalil yang membolehkan untuk menjama’ dengan shalat lain.(Lihat
Majmu’ Fatawa Syaihk Utsaimin 15/369-378)

MUSAFIR SHALAT DIBELAKANG MUKIM


Shalat berjama’ah adalah wajib bagi orang mukim ataupun musafir, apabila seorang musafir
shalat dibelakang imam yang mukim maka dia mengikuti shalat imam tersebut yaitu 4
raka’at, namun apabila ia shalat bersama-sama musafir maka shalatnya di qashar (dua
raka’at). Hal ini didasarkan atas riwayat yang shahih dari Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma.
Berkata Musa bin Salamah : Suatu ketika kami di Makkah (musafir) bersama Ibnu Abbas,
lalu aku bertanya :”Kami melakukan shalat 4 raka’at apabila bersama kamu (penduduk
Makkah), dan apabila kami kembali ke tempat kami (bersama-sama musafir) maka kami
shalat dua raka’at?” Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma menjawab: “Itu adalah sunnahnya
Abul Qasim (Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam).” (Riwayat Imam Ahmad dengan
sanad shahih. Lihat Irwa’ul Ghalil no 571 dan Tamamul Minnah, Syaikh AL ALbani 317).

MUSAFIR MENJADI IMAM MUKIM


Apabila musafir dijadikan sebagai imam orang-orang mukim dan dia meng-qashar shalatnya
maka hendaklah orang-orang yang mukim meneruskan shalat mereka sampai selesai (4
raka’at), namun agar tidak terjadi kebingungan hendaklah imam yang musafir memberi tahu
makmumnya bahwa dia shalat qashar dan hendaklah mereka (makmum yang mukim)
meneruskan shalat mereka sendiri-sendiri dan tidak mengikuti salam setelah dia (imam)
salam dari dua raka’at. Hal ini pernah dilakukan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam
ketika berada di Makkah (musafir) dan menjadi imam penduduk Makkah, beliau Shalallahu
‘Alaihi Wassalam berkata : “Sempurnakanlah shalatmu (4 raka’at) wahai penduduk Makkah!
Karena kami adalah musafir.” (HR. Abu Dawud). Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam
shalat dua-dua (qashar) dan mereka meneruskan sampai empat raka’at setelah beliau
salam. (lihat Al Majmu Syarah Muhadzdzab 4/178 dan Majmu’ Fatawa Syaikh Utsaimin
15/269).

Apabila imam yang musafir tersebut khawatir membingungkan makmumnya dan dia shalat 4
raka’at (tidak meng-qashar) maka tidaklah mengapa karena hukum qashar adalah sunnah
mu’akkadah dan bukan wajib. (lihat Taudhihul Ahkam, Syaikh Abdullah bin Abdir Rahman
Al Bassam 2/294-295).

SHALAT JUM’AT BAGI MUSAFIR


Kebanyakan ulama berpendapat bahwa tidak ada shalat jum’at bagi musafir, namun apabila
musafir tersebut tinggal disuatu daerah yang diadakan shalat Jum’at maka wajib atasnya
untuk mengikuti shalat Jum’at bersama mereka. Ini adalah pendapat imam Malik, imam
Syafi’i, Ats Tsauriy, Ishaq, Abu Tsaur, dll. (lihat AL Mughni, Ibnu Qudamah 3/216, Al
Majmu’ Syar Muhadzdzab, Imam Nawawi 4/247-248, lihat pula Majmu’ Fatawa Syaikh
Utsaimin 15/370).

Dalilnya adalah bahwasanya Nabi Muhammad SAW apabila safar (bepergian) tidak shalat
jum’at dalam safarnya, juga ketika haji wada’, beliau SAW tidak melaksanakan shalat Jum’at
dan menggantinya dengan shalat Dhuhur yang dijama’ dengan Ashar. (lihat Hajjatun Nabi
SAW Kama Rawaaha Anhu Jabir, karya Syaikh Muhammad Nasiruddin Al Albani hal
73). Demikian pula para Khulafaur Rasyidin (4 khalifah) Radhiallahu Anhum dan para
sahabat lainnya serta orang-orang yang setelah mereka, apabila safar tidak shalat Jum’at dan
menggantinya dengan Dhuhur. (lihat Al Mughni, Ibnu Qudamah 3/216).

Dari Al Hasan Al Basri, dari Abdur Rahman bin Samurah berkata : “Aku tinggal bersama dia
(Al Hasan Al Basri) di Kabul selama dua tahun meng-qashar shalat dan tidak shalat Jum’at.”

Sahabat Anas Radhiallahu Anhu tinggal di Naisabur selama satu atau dua tahun, beliau tidak
melaksanakan shalat Jum’at.
Ibnul Mundzir Rahimahullahu menyebutkan bahwa ini adalah Ijma’ (kesepakatan para
ulama) yang berdasar hadist shahih dalam hal ini sehingga tidak diperbolehkan
menyelisihinya. (lihat Al Mughni, Ibnu Qudamah 3/216).

Perbedaan Pandangan antara Sunni dan Syi'ah


Menurut Sunni

Pendapat dari Empat Mazhab Sunni:

1. Pendapat Mazhab Hanafi


o Hanafi meyakini bahwa pelaksanaan men-jama' salat tidaklah memiliki
kekuatan hukum, baik dalam perjalanan ataupun tidak, dengan segala macam
masalah kecuali dalam dua kasus-Hari Arafah dan pada saat malam
Muzdalifah dalam berbagai kondisi tertentu.
2. Pendapat Mazhab Syafi'i
o Syafi'i meyakini diperbolehkannya pelaksanaan men-jama' salat bagi para
musafir perjalanan jauh (safar) dan saat hujan serta salju dalam kondisi
tertentu. Bagi mereka, pelaksanaan men-jama' salat seharusnya tidak
diperbolehkan dalam keadaan gelap, berangin, takut atau sakit.
3. Pendapat Mazhab Maliki
o Maliki menganggap alasan untuk melaksanakan men-jama' salat sebagai
berikut: sakit, hujan, berlumpur, keadaan gelap pada akhir bulan purnama dan
pada Hari Arafah serta Malam Muzdalifah untuk yang sedang melaksanakan
haji dalam kondisi tertentu.
4. Pendapat Mazhab Hambali
o Hambali memperbolehkan pelaksanaan men-jama' salat saat Hari Arafah dan
Malam Muzdalifah dan bagi para musafir, pasien-pasien, ibu menyusui,
wanita dengan haid berlebihan, orang yang terus-menerus buang air kecil,
orang yang tidak dapat membersihkan dirinya sendiri, orang yang tidak dapat
membedakan waktu, dan orang yang takut kehilangan barang kepemilikannya,
kesehatannya atau reputasinya dan juga dalam kondisi hujan, salju, dingin,
berawan dan berlumpur. Mereka juga menyebutkan beberapa kondisi lainnya.

Pendapat Perawi Hadits lainnya

1. Pendapat Ibnu Syabramah


o Ibnu Syabramah memperbolehkan pelaksanaan men-jama' salat karena
beberapa alasan dan bahkan tanpa kondisi khusus selama hal tersebut tidak
berubah menjadi suatu kebiasaan.
2. Pendapat Ibnu Mundzir dan Ibnu Sirin
o Ibnu Mundzir dan Ibnu Sirin, menurut Qaffal, memperbolehkan pelaksanaan
men-jama' salat dalam segala kondisi tanpa syarat apapun.

Dalil yang memperkuat adalah:


Dari Muadz bin Jabal: “Bahwa Rasulullah SAW pada saat perang Tabuk, jika
matahari telah condong dan belum berangkat maka menjama’ salat antara Dzuhur
dan Asar. Dan jika sudah dalam perjalanan sebelum matahari condong, maka
mengakhirkan salat dzuhur sampai berhenti untuk salat Asar. Dan pada waktu salat
Maghrib sama juga, jika matahari telah tenggelam sebelum berangkat maka
menjama’ antara Maghrib dan ‘Isya. Tetapi jika sudah berangkat sebelum matahari
matahari tenggelam maka mengakhirkan waktu salat Maghrib sampai berhenti untuk
salat ‘Isya, kemudian menjama’ keduanya.” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Menurut Syi'ah

Mazhab Syi'ah seperti Dua Belas Imam berpendapat bahwa setiap orang walaupun tidak
dalam perjalanan jauh, berdiam di rumahnya, tidak berada dalam keadaan sakit, dapat
menjama' salat, baik jama' taqdim maupun jama' ta'khir. Dalil yang memperkuat hal tersebut
adalah:

Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan
(dirikanlah pula salat) subuh. Sesungguhnya salat subuh itu disaksikan (oleh
malaikat). (QS. al-Israa' [17]:78)

Dalil-dalil lain yang memperkuat hal ini ada dalam Ringkasan Shahih Muslim, Kitab Salat
Musafir, Bab 6: Menjamak Dua Salat ketika Bermukim (Di Rumah, Tidak Bepergian);

Ibnu Abbas r.a. berkata, "Rasulullah pernah menjama' salat Dzuhur dan salat Ashar,
dan menjama' Maghrib dan Isya di Madinah bukan karena khauf (sedang berperang)
dan bukan karena hujan."
Menurut hadits Waki', dia berkata, "Aku tanyakan kepada Ibnu Abbas, 'Mengapa dia
melakukan hal itu?" Ibnu Abbas menjawab, 'Agar dia tidak menyulitkan umatnya.'"
Menurut hadits Mu'awiyah, ditanyakan kepada Ibnu Abbas, "Apa maksud Nabi
berbuat demikian?" Dia menjawab, "Dia bermaksud tidak menyulitkan umatnya."
(Muslim 2/152)[4]

Referensi
1. ^ KBBI Daring
2. ^ a b Kateglo: Jamak takdim
3. ^ a b Shvoong.com Sholat Jamak
4. ^ (Indonesia) AL-ALBANI, M. Nashiruddin. Ringkasan Shahih Muslim. Gema
Insani: Jakarta. ISBN 979-561-967-5

Kandungan Hukumnya
Dalam hadits ini terdapat beberapa masalah.

1. Boleh mengumpulkan dua shalat pada waktu bepergian walaupun pada


tempat selain Arafah dan Muzdalifah ; demikian pendapat jumhurul ulama.
Berbeda dengan mazdhab Hanafiyah. Mereka menakwilkannya dengan 'jama'
shuwari' yakni mengakhirkan Dzhuhur sampai mendekati waktu Ashar demikian
pula Maghrib dan Isya'. pendapat ini telah dibantah oleh jumhurul ulama dari
berbagai segi.

Pertama : Pendapat ini jelas menyalahi pengertian jama' secara dhahir.

Kedua : Tujuan disyariatkan jama' adalah untuk mempermudah dan menghindarkan


kesulitan, seperti yang telah dijelaskan oleh riwayat Muslim. Sedangkan
jama' dalam pengertian 'shuwari' masih mengandung kesulitan.

Ketiga : Sebagian hadits tentang jama' jelas menyalahkan pendapat mereka


itu. Seperti hadits Anas bin Malik yang berbunyi.
"Mengakhirkan Dzuhur sehingga masuk awal Ashar, kemudian dia menjama'
(mengumpulkan) keduanya".
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (2/151) dan lainya.

Keempat : Bahkan pendapat itu juga bertentangan dengan pengertian jama


taqdim sebagaimana dijelaskan oleh hadits Mu'adz berikut ini.
"Dan apabila dia berangkat setelah tergelincir matahari, maka dia akan
menyegerakan Ashar kepada Dzuhur".
Dan sesungguhnya hadits-hadits yang serupa ini adalah banyak, sebagaimana
telah disinggung.

2. Sesungguhnya soal jama' (mengumpulkan dua shalat) disamping boleh jama


takhir, boleh juga jama taqdim. Ini dikatakan oleh Imam Asy-Syafi'i dalam
Al-Um (I/67), disamping oleh Imam Ahmad dan Ishaq, sebagaimana dikatakan
oleh At-Tarmidzi (2/441).

3. Sesungguhnya diperbolehkan jama' pada waktu turunnya (dari kendaraan)


sebagaimana diperbolehkan manakala berlangsung perjalanan. Imam Syafi'i
dalam Al-Um, setelah meriwayatkan hadits ini dari jalur Malik, mengatakan :
"Ini menunjukkan bahwa dia sedang turun bukan sedang jalan. Karena kata
'dakhala' dan 'kharaja' (masuk dan keluar) adalah tidak lain bahwa dia
sedang turun. Maka bagi seorang musafir boleh menjama' pada saat turun dan
pada saat berjalan'.

Saya berpendapat : Dengan nash ini maka tidaklah perlu menghiraukan kata
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma'ad (1/189) menuturkan : "Bukanlah
petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, melakukan jama' sambil naik
kendaraan dalam perjalanannya, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan
orang, dan tidak juga jama' itu harus pada waktu dia turun".

Nampaknya banyak kaum muslimin yang terkecoh oleh kata-kata Ibnul Qayyim
ini. Oleh karenanya mestilah ingat kembali.

Adalah janggal bila Ibnul Qayyim tidak memahi nash yang ada dalam
Al-Muwatha', Shahih Muslim dan lain-lain ini. Akan tetapi keheranan tersebut
akan hilang manakala kita ingat bahwa dia menulis kitab Az-Zad itu, adalah
pada waktu dimana dia jauh dari kitab-kitab lain, yakni dia dalam
perjalanan, sebagai seorang musafir. Inilah sebabnya mengapa dalam kitab
tersebut disamping kesalahan itu, banyak juga kesalahan yang lain. Dan
mengenai hal ini telah saya jelaskan dalam At-Ta'liqat Al-Jiyad 'Ala Zadil
Ma'ad.

Yang membuat pendapat ini tetap janggal adalah bahwa gurunya, yakni Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah, telah menjelaskan dalam sebuah bukunya, berbeda dengan
apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim. Mengapa hal itu tidak diketahui oleh
Ibnul Qayyim padahal dia orang yang paling mengenal Ibnu Taimiyah dengan
segala pendapatnya.? Setelah menuturkan hadits itu, Syaikhul Islam dalam
Majmu'atur Rasail wal-Masa'il (2/26-27) mengatakan : "Pengertian jama' itu
ada tiga tingkatan : Manakala sambil berjalan maka pada waktu yang pertama.
Sedangkan bila turun maka pada waktu yang kedua. Inilah jama' sebagaimana
disebutkan dalam Ash-Shahihain dari hadits Anas dan Ibnu Umar. Itu
menyerupai jama' di Muzdalifah. Adapun manakala di waktu yang kedua baik
dengan berjalan maupun dengan kendaraan, maka di-jama' pada waktu yang
pertama. Ini menyerupai jama' di Arafah. Sungguh hal ini telah diriwayatkan
dalam As-Sunnan (yakni hadits Mu'adz ini). Adapun manakala turun pada waktu
keduanya, maka dalam hal ini tidak aku ketahui hadits ini menunjukkan bahwa
beliau Nabi turun di kemahnya dalam bepergian itu. Dan bahwa beliau
mengakhirkan Dzuhur kemudian keluar lalu shalat Dzuhur dan Ashar sekalian.
Kemudian beliau masuk ke tempatnya, lalu keluar lagi dan melakukan shalat
Maghrib dan Isya' sekalian. Sesungguhnya kala 'ad-dukhul' (masuk) dan
'khuruj' (keluar), hanyalah ada di rumah (kemah saja). Sedangkan orang yang
berjalan tidak akan dikatakan masuk atau keluar. Tetapi turun atau naik.

"Dan Tabuk adalah akhir peperangan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.


Beliau sesudah itu, tidak pernah bepergian kecuali ketika haji Wada'. Tidak
ada kasus jama' darinya kecuali di Arafah dan Muzdalifah. Adapun di Mina,
maka tidak ada seorangpun yang menukil bahwa beliau pernah menjama' di sana.
Mereka hanya menukilkan bahwa beliau memang mengqashar di sana. Ini
menunjukkan bahwa beliau dalam suatu bepergian terkadang menjama' dan
terkadang tidak. Bahkan yang lebih sering adalah bahwa beliau tidak
men-jama' . Hal ini menunjukkan bahwa beliau tidak menjama'. Dan juga
menunjukkan bahwa jama' bukan menjadi sunah Safar sebagaimana qashar, tetapi
dilakukan hanya bila diperlukan saja, baik dalam bepergian maupun sewaktu
tidak dalam bepergian supaya tidak memberatkan umatnya. Maka seorang musafir
bilamana memerlukan jama' maka lakukan saja, baik pada waktu kedua atau
pertama, baik ia turun untuknya atau untuk keperluan lain seperti tidur dan
istirahat pada waktu Dzuhur dan waktu Isya'. Kemudian dia turun pada waktu
Dzuhur dan waktu Isya. Dia turun pada waktu Dzuhur karena lelah dan
mengantuk serta lapar sehingga memerlukan istirahat, tidur dan makan. Dia
boleh mengakhirkan Dzuhur kepada waktu Ashar kemudian menjama' taqdim Isya
dengan Maghrib lalu sesudah itu bisa tidur agar bisa bangun di tengah malam
dalam bepergiannya. Maka menurut hadits ini dan lainnya adalah diperbolehkan
men-jama'. Adapun bagi orang yang singgah beberapa hari di suatu kampung
atau kota, maka meskipun ia boleh mengqashar, karena dia musafir, namun
tidak diperkenankan men-jama'. Ia seperti halnya tidak boleh shalat di atas
kendaraan, tidak boleh shalat dengan tayamum dan tidak boleh makan bangkai.
Hal-hal seperti ini hanya diperbolehkan sewaktu diperlukan saja. Lain halnya
dengan soal qashar. sesungguhnya ia memang menjadi sunnah dalam shalat
perjalanan".

Shalat Jama’ lebih umum dari shalat Qashar, karena mengqashar shalat hanya boleh
dilakukan oleh orang yang sedang bepergian (musafir). Sedangkan menjama’ shalat
bukan saja hanya untuk orang musafir, tetapi boleh juga dilakukan orang yang
sedang sakit, atau karena hujan lebat atau banjir yang menyulitkan seorang muslim
untuk bolak- balik ke masjid. dalam keadaan demikian kita dibolehkan menjama’
shalat. Ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim,
bahwasanya Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjama’ shalat Dhuhur
dengan Ashar dan shalat Maghrib dengan Isya’ di Madinah. Imam Muslim
menambahkan, “Bukan karena takut, hujan dan musafir”.

Imam Nawawi dalam kitabnya Syarah Muslim,V/215, dalam mengomentari hadits ini
mengatakan, “Mayoritas ulama membolehkan menjama’ shalat bagi mereka yang
tidak musafir bila ada kebutuhan yang sangat mendesak, dengan catatan tidak
menjadikan yang demikian sebagai tradisi (kebiasaan). Pendapat demikian juga
dikatakan oleh Ibnu Sirin, Asyhab, juga Ishaq Almarwazi dan Ibnu Munzir,
berdasarkan perkataan Ibnu Abbas ketika mendengarkan hadist Nabi di atas, “Beliau
tidak ingin memberatkan umatnya, sehingga beliau tidak menjelaskan alasan
menjama’ shalatnya, apakah karena sakit atau musafir”.

Dari sini para sahabat memahami bahwa rasa takut dan hujan bisa menjadi udzur
untuk seseorang boleh menjama’ shalatnya, seperti seorang yang sedang musafir.
Dan menjama’ shalat karena sebab hujan adalah terkenal di zaman Nabi. Itulah
sebabnya dalam hadist di atas hujan dijadikan sebab yang membolehkan untuk
menjama’, (Al Albaniy,Irwa’, III/40).

Adapun batas jarak orang dikatakan musafir terdapat perbedaan di kalangan para
ulama. Bahkan Ibnu Munzir mengatakan ada dua puluh pendapat. Yang paling kuat
adalah tidak ada batasan jarak, selama mereka dinamakan musafir menurut
kebiasaan maka ia boleh menjama’ dan mengqashar shalatnya. Karena kalau ada
ketentuan jarak yang pasti, Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mesti
menjelaskannya kepada kita, (AlMuhalla, 21/5).

Seorang musafir baru boleh memulai melaksanakan shalat jama’ dan Qashar apabila
ia telah keluar dari kampung atau kota tempat tinggalnya. Ibnu Munzir mengatakan,
“Saya tidak mengetahui Nabi menjama’ dan mengqashar shalatnya dalam musafir
kecuali setelah keluar dari Madinah”. Dan Anas menambahkan, Saya shalat Dhuhur
bersama Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah empat rakaat dan di
Dzulhulaifah (sekarang Bir Ali berada di luar Madinah) dua rakaat,(HR: Bukhari
Muslim).

Seorang yang menjama’ shalatnya karena musafir tidak mesti harus mengqashar
shalatnya begitu juga sebaliknya. Karena boleh saja ia mengqashar shalatnya dengan
tidak menjama’nya. Seperti melakukan shalat Dzuhur 2 rakaat diwaktunya dan
shalat Ashar 2 rakaat di waktu Ashar. Dan seperti ini lebih afdhal bagi mereka yang
musafir namun bukan dalam perjalanan. Seperti seorang yang berasal dari Surabaya
bepergian ke Sulawesi, selama ia di sana ia boleh mengqashar shalatnya dengan tidak
menjama’nya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ketika berada di Mina.
Walaupun demikian boleh-boleh saja dia menjama’ dan mengqashar shalatnya ketika
ia musafir seperti yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika
berada di Tabuk. Tetapi ketika dalam perjalanan lebih afdhal menjama’ dan
mengqashar shalat, karena yang demikian lebih ringan dan seperti yang dilakukan
oleh Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Menurut Jumhur (mayoritas) ulama’ seorang musafir yang sudah menentukan lama
musafirnya lebih dari empat hari maka ia tidak boleh mengqashar shalatnya. Tetapi
kalau waktunya empat hari atau kurang maka ia boleh mengqasharnya. Seperti yang
dilakukan oleh Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika haji Wada’. Beliau
tinggal selama 4 hari di Mekkah dengan menjama’ dan mengqashar shalatnya.
Adapun seseorang yang belum menentukan berapa hari dia musafir, atau belum jelas
kapan dia bisa kembali ke rumahnya maka dibolehkan menjama’ dan mengqashar
shalatnya. Inilah yang dipegang oleh mayoritas ulama berdasarkan apa yang
dilakukan oleh Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika penaklukkan kota
Mekkah beliau tinggal sampai sembilan belas hari atau ketika perang tabuk sampai
dua puluh hari beliau mengqashar shalatnya (HR: Abu Daud). Ini disebabkan karena
ketidaktahuan kapan musafirnya berakhir. Sehingga seorang yang mengalami
ketidakpastian jumlah hari dia musafir boleh saja menjama’ dan mengqashar
shalatnya (Fiqhussunah I/241).

Bagi orang yang melaksanakan jama’ Taqdim diharuskan untuk melaksanakan


langsung shalat kedua setelah selesai dari shalat pertama. Berbeda dengan jama’
ta’khir tidak mesti Muwalah (langsung berturut-turut). Karena waktu shalat kedua
dilaksanakan pada waktunya. Seperti orang yang melaksanakan shalat Dhuhur
diwaktu Ashar, setelah selesai melakukan shalat Dhuhur boleh saja dia istirahat dulu
kemudian dilanjutkan dengan shalat Ashar. Walaupun demikian melakukannya
dengan cara berturut –turut lebih afdhal karena itulah yang dilakukan oleh Rasululloh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Seorang musafir boleh berjamaah dengan Imam yang muqim (tidak musafir). Begitu
juga ia boleh menjadi imam bagi makmum yang muqim. Kalau dia menjadi makmum
pada imam yang muqim, maka ia harus mengikuti imam dengan melakukan shalat
Itmam (tidak mengqashar). Tetapi kalau dia menjadi Imam maka boleh saja
mengqashar shalatnya, dan makmum menyempurnakan rakaat shalatnya setelah
imammya salam.

Dan sunah bagi musafir untuk tidak melakukan shalat sunah rawatib (shalat sunah
sesudah dan sebelum shalat wajib), Kecuali shalat witir dan Tahajjud, karena
Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu melakukannya baik dalam keadaan
musafir atau muqim. Dan begitu juga shalat- shalat sunah yang ada penyebabnya
seperti shalat Tahiyatul Masjid, shalat gerhana, dan shalat janazah. Wallahu a’lam
bis Shawaab.

(Sumber Rujukan: Fatawa As-Sholat, Asy-Syaikh Al Imam Abdul Aziz bin Baz dan Al-
Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wal kitab Al-Aziz, Abdul Adhim bin Badawi Al-Khalafi )