Anda di halaman 1dari 7

PEDOMAN PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN TBC

DI PUSKESMAS JAJAG KECAMATAN GAMBIRAN KABUPATEN


BANYUWANGI

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dari hasil kajian eksternal yang dilakukan telah terlaporkan
banyak kemajuan program yang nyata seperti misalnya jumlah
layanan BTA TB pada penderita batuk bertambah secara nyata.
Demikian jumlah layanan konseling pre test dan pasca konseling.
BTA TB merupakan pintu masuk yang terpenting pada layanan
pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan. Test BTA dan
konseling TB akan mendorong seseorang atau penderita untuk
mengambil langkah pencegahan penularan TBC. Selanjutnya test BTA
akan memberikan kesempatan untuk mendapatkan layanan
pencegahan termasuk pencegahan penularan dari penderita ke
keluarga maupun orang di sekitarnya.Dan merupakan komponen
penting untuk intervensi pengobatan TBC sebagai salah satu upaya
pencegahan seperti pengobatan dini pada penderita TB, sehingga
peningkatan cakupan test BTA pada penderita batuk lebih dari 3
minggu sangat diperlukan.
Pengetahuan akan pentingnya pengobatan TBC juga diperlukan
untuk memulai pengobatan , namun sampai saat ini masih terlihat
kesenjangan yang tinggi antara jumlah penderita batuk yang di BTA
dengan jumlah jumlah penderita TBC BTA Positif. Masih banyak
penderita batuk yang belum terdiagnosis atau mengetahui bahwa
dirinya terinfeksi TBC. Mereka datang ke layanan kesehatan setelah
timbul gejala dan menjadi simptomatik.
Disamping penemuan tes BTA hal yang harus dilakukan dalam
upaya pencegahan TBC adalah dengan memberikan pengetahuan
tentang penyakit TBC terutama pada masyarakat setempat.
Tata nilai pencegahan dan penanggulangan TBC di Puskesmas
Jajag yaitu: S E T I A. S= Secrining E = Edukasi T = Temukan I =
tidak ada deskrIminasi A= pemberdAyaan masyarakat.

B. Tujuan
Menurunkan angka penderita TBC di wilayah Puskesmas Jajag bersama
lintas program dan sektor terkait.

C. Sasaran
Sasaran dari pedoman ini adalah semua pemangku kepentingan terkait
untuk bekerjasama dalam pelaksanaan Program Pencegahan dan
penanggulangan TBC di Puskesmas Jajag.
D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pelaksanaan pencegahan dan penanggulangan penyakit
TBC di Puskesmas Jajag mencakup :
1. Scrining faktor resiko HIV/AIDS pada pasien yang berkunjung ke
layanan Puskesmas dan Pasangan Calon Pengantin yang melakukan
Tes Kesehatan di Puskesmas Jajag.
2. Konseling dan Tes HIV/AIDS melalui KTS ( Konseling dan Tes Sukarela )
3. Konseling dan Tes HIV/ AIDS melalui TIPK ( Tes atas Inisiatif Petugas
Kesehatan)
4. Pemberian informasi tentang penyakit TBC

E. Batasan Operasional
1. Scrining faktor resiko HIV/AIDS pada pasien yang berkunjung ke
layanan Puskesmas Jajag dan Pasangan Calon Pengantin yang
melakukan Tes Kesehatan di Puskesmas Jajag.
 Secring faktor resiko dilakukan oleh petugas kesehatan yang ada
dilayanan kesehatan.
 30% dari pasien yang berkunjung ke layanan Puskesmas Jajag
diberikan pertanyaan perilaku yang bisa beresiko tertular HIV/AIDS.
 Pasangan Calon Pengantin yang melakukan Tes Kesehatan di
Puskesmas Jajag diberikan pertanyaan perilaku yang bisa beresiko
tertular HIV/AIDS.
2.Konseling dan Tes HIV/AIDS melalui KTS ( Konseling dan Tes Sukarela )
 Konseling dilakukan oleh Konselor
 Pasien yang datang ke Konseling HIV dan ingin mengetahui status
HIVnya
 Rujukan pasien yang memiliki faktor resiko tertular HIV/AIDS dari
petugas kesehatan atau kader kesehatan
3.Konseling dan Tes HIV/ AIDS melalui TIPK ( Tes atas Inisiatif Petugas
Kesehatan)
 Konseling dan Tes bisa dilakukan oleh petugas kesehatan
 Pasien dengan Infeksi Oportunitis yaitu pasien dengan IMS ( Infeksi
Menular Seksual ),pasien dengan TB ( Tubercolosis), pasien dengan
Diare Kronis dll.
 Ibu hamil trisemester 1
4.Pemberian informasi tentang HIV/AIDS
 Melalui lifleat
 Penyuluhan langung ke Sekolah
 Pelatihan Duta HIV/AIDS
BAB II
STANDAR KETENAGAAN
A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia
Kualifikasi Sumber Daya manusia dalam program pencegahan dan
penangulangan penyakit TBC adalah sebagai berikut :
1. Konselor HIV/AIDS yang telah mendapatkan pelatihan konselor sebagai petugas
pelaksana konseling KTS
2. Petugas kesehatan : Dokter umum, dokter gigi,Perawat, Perawat gigi,bidan , sebagai
petugas secrining faktor resiko
3. Petugas kesehatan : Dokter umum, perawat, bidan sebagai petugas pelaksana TIPK
4. Semua petugas kesehatan dan Kader Kesehatan yang memiliki pengetahuan tentang
TBC sebagai petugas pelaksana penyampain informasi tentang TBC
5. Petugas laboratorium yang telah mendapatkan pelatihan tentang penatalaksanaan Tes
BTA TB sebagai petugas pelaksana Tes BTA TB.

Semua karyawan puskesmas wajib berpartisipasi dalam kegiatan pengendalian


penyakit TBC mulai di Kepala Puskesmas, Penanggung jawab UKP, Penanggung jawab
UKM, dan seluruh karyawan. Penanggung jawab Pengendalian Penyakit TBC merupakan
koordinator dalam penyelenggaraan kegiatan Pengendalian Penyakit TBC di Puskesmas
Jajag.
Dalam upaya Pengendalian Penyakit TBC perlu melibatkan sektor terkait yaitu:
Camat, PKK, penanggung jawab P2, dan sektor terkait lainnya dengan kesepakatan peran
masing-masing dalam Pengendalian Penyakit TBC.

B. Distribusi Ketenagaan
Konselor dan Petugas Laboratorium terjadwal di Puskesmas induk saja.Petugas
Kesehatan yang melakukan secring faktor resiko,TIPK atau Pemberian informasi
informasi tentang TBC ada di Puskesmas Induk , Pustu Purwodadi, Pustu Wringinagung.

C. Jadwal Kegiatan.
Jadwal pelaksanaan kegiatan Pengendalian Penyakit TBC disepakati dan disusun bersama
dengan lintas program terkait dalam pertemuan lokakarya mini lintas sektor tiap tiga
bulan sekali
BAB III
STANDAR FASILITAS
A. Denah Ruang:
Koordinasi pelaksanaan kegiatan TBC dilakukan oleh Koordinator TBC yang menempati
ruang pertemuan dari gedung Puskesmas Jajag.
Sedangkan koseling TBC menempati ruang konseling dari gedung Puskesmas Jajag.

B. Standar Fasilitas
1. Pedoman Nasional managemen TBC : 1 buah
2. Pedoman pelaksanaan konseling dan tes BTA dilayanan Kesehatan
2. Buku pegangan Koordinator TB : 1 buah
3. Reagen pemeriksaan TBC,
4. Form koseling TBC
5. Leaflet tentang TBC

BAB IV
TATALAKSANA PELAYANAN
1.Scrining faktor resiko TB pada pasien batuk yang berkunjung ke
layanan Puskesmas Jajag
melakukan Tes Kesehatan di Puskesmas Jajag.
 Pasien datang ke layanan di Puskesmas Jajag : Poli Umum, Poli KIA,
Poli KB,Poli Gigi di berikan pertanyaan 12 Faktor Resiko.Pertanyaan
yang ditanyakan:
1.

 Apabila dari hasil pertanyaan tersebut terdapat 1 jawaban ya,pasien


ditawarkan untuk melakukan tes HIV/AIDS.
 Bila pasien setuju untuk tes HIV.Pasien di rujuk ke konselor HIV di
klinik KTS dengan menyertakan hasil secrining faktor resiko.
 Dari klinik KTS pasein dikonseling HIV setelah pasien tandatangan
persetujuan Tes HIV. Pasien diarahkan ke laboratorium.
 Di laboratorium pasien diambil darahnya untuk tes HIV
 Hasil Tes HIV di serahkan ke konselor oleh petugas laboratorium.
 Hasil tes disampaikan ke pasien oleh konselor.
 Bila pasien menolak untuk tes HIV.Pasien di minta untuk
meninggalkan nomer telpon yang bisa dihubungi untuk memotivasi
pasien agar mau tes HIV untuk lain waktu.
2.Konseling dan Tes HIV/AIDS melalui KTS ( Konseling dan Tes Sukarela )
 Pasein datang ke Puskesmas dengan tujuan ingin mengetahui status
HIVnya atau pasien dengan ada faktor resiko yang dirujuk oleh
petugas kesehatan atau kader kesehatan harus daftar dulu ke loket
pendaftaran Puskesmas.
 Setelah dari Loket pasein ke klinik KTS untuk diberikan konseling
HIV.
 Dari hasil konseling bila pasien ada faktor resiko,pasein
menandatangani persetujuan tes kemudian pasien diarahkan untuk
tes ke laboratorium.
 Di laboratorium pasein diambil darahnya untuk Tes HIV.
 Hasil Tes HIV di serahkan ke konselor oleh petugas laboratorium.
 Hasil tes disampaikan ke pasien oleh konselor.

3.Konseling dan Tes HIV/ AIDS melalui TIPK ( Tes atas Inisiatif Petugas
Kesehatan)
 Pasein datang ke poli umum dengan TBC, IMS, Diare kronik,dan
penyakit IO yang lain petugas kesehatan menyarakan kepada pasien
untuk tes HIV.
 Paseien setuju dan menandatangani persetujuan, pasien diarahkan
ke labarotorium untuk tes HIV.
 Di laboratorium pasien diambil darahnya untuk tes HIV
 Hasil Tes HIV di serahkan ke petugas kesehatan yang menyarankan
tes HIV oleh petugas laboratorium.
 Bila hasil non reaktif pasein diberikan saran untuk mempertahankan
hasil yang non reaktif dengan menghindari prilaku yang bisa
menularkan HIV/AIDS.
 Bila hasil Reaktif pasien diberi informasi bahwa hasil reaktif tersebut
harus diketahui oleh dokter dan konselor untuk kepentingan
pengobatan.

4.Pemberian informasi tentang HIV/AIDS


 Lieflet di berikan pada pengunjung di Puskesmas, Posyandu,di
sekolah atau di tempat2 umum.
 Penyuluhan tentang HIV/AIDS langkah – langkah sesuai SAP
 Pelatihan DUTA HIV/AIDS langkah- langkah tertuang pada KAK
DUTA HIV/AIDS.
BAB V
LOGISTIK

Kebutuhan dana dan logistik untuk pelaksanaan kegiatan pengendalian penyakit HIV AIDS.
Direncanakan dalam pertemuan lokakarya mini lintas sektor sesuai dengan tahapan kegiatan
yang akan dilaksanakan.

BAB VI
KESELAMATAN SASARAN
Dalam perencanaan sampai dengan pelaksanaan kegiatan pengendalian penyakit HIV AIDS
perlu diperhatikan keselamatan sasaran dengan melakukan identifikasi risiko terhadap segala
kemungkinan yang dapat terjadi pada saat pelaksanaan kegiatan. Upaya pencegahan risiko
terhadap sasaran harus dilakukan untuk tiap-tiap kegiatan yang akan dilaksanakan

BAB VII
KESELAMATAN KERJA
Dalam perencanaan sampai dengan pelaksanaan kegiatan pengendalian penyakit HIV AIDS
perlu diperhatikan keselamatan kerja karyawan puskesmas dan lintas sektor terkait dengan
melakukan identifikasi resiko terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi pada saat
pelaksanaan kegiatan. Upaya pencegahan risiko terhadap harus dilakukan untuk tiap-tiap
kegiatan yang akan dilaksanakan

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU
Kinerja pelaksanaan pengendalian penyakit HIV AIDS dimonitor dan dievaluasi
dengan menggunakan indikator sebagai berikut:
 Penatalaksanaan layanan konseling dan test
 Perangkat jaminan mutu bagi konselor atau petugas kesehatan terlatih
konseling HIV
 Jaminan mutu teknis laboratorium
 Survey kepuasan klien
 Pencatatan dan dokumentasi layanan
BAB IX
PENUTUP
Pedoman ini sebagai acuan bagi karyawan puskesmas dan lintas sektor terkait
dalam pelaksanaan pengendalian penyakit HIV AIDS dengan tetap memperhatikan
prinsip proses pembelajaran dan manfaat.

Keberhasilan kegiatan pengendalian penyakit HIV AIDS tergantung pada komitmen


yang kuat dari semua pihak terkait dalam upaya meningkatkan kemandirian
masyarakat dan peran serta aktif masyarakat dalam bidang kesehatan.