Anda di halaman 1dari 9

Islam, Terorisme, dan Tesis Just War

Muchammad Chasif Ascha (1112113000058)

Terorisme Jihadis, seakan menjadi musuh nyata dari keberadaan dunia Barat
di pergolakan dunia ini, sesuatu yang dikatakan sebagai musuh, pastilah sangat
dibenci, dihujat, dan berusaha dienyahkan. Sama seperti itu, keberadaan teroris yang
membawa embel-embel Islam pun dianggap demikian.

Embel-embel Islam yang digunakan sebagai jalan ideologi terorisme melawan


Barat pun berdampak bagi nama agama Islam itu sendiri. Pandangan Barat tentang
Islam bukan berubah drastis memang, ditilik dari sejarahnya memang Islam sedari
dulu sering berbenturan dengan Barat, Islam sebagai ancaman itu sudah “biasa”.
Mulai dari Islam berekspedisi pada Perang Tabuk pada zaman Rasulullah untuk
mengahadapi Romawi. Atau, kalau menurut kaum Yahudi, pergesekan Islam dengan
Yahudi di Jazirah Arab pun sudah menjadi awal mulanya.

Sampai kemudian perang melawan ekspansi Islam di semenanjung Iberia


(Spanyol dan Portugal), yang mencoba menembus daratan Eropa lebih dalam lewat
pegunungan Pyrennes, tapi digagalkan di Kota Tours oleh pasukan Kerajaan Frank.
Kemudian tak lupa pula kita diingatkan Perang Salib yang melegenda itu. Sampai
kemudian di masa modern ini, setelah perang dunia, banyak percikan-percikan
kobaran pertentangan dengan dunia Barat, yang pada waktu itu memang lebih dari sisi
nasionalisme, yang berbarengan dengan propaganda pembaharuan yang dicanangkan
Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al Afghani pada masa sebelumnya, atau dalam
bahasanya Esposito sebagai bagian dari revivalisme Islam.

Islam kemudian dihadapkan musuh mereka, kaum Yahudi Israel, yang


merebut tanah Palestina, kemarahan umat muslim tidaklah bisa dihindari, sehingga
terjadi perang antara Israel dengan negara-negara Arab, yang dimotori oleh Mesir.
Pertikaian itupun berlanjut hingga kini, tak ada yang tau kapan berakhir. Dan itu telah
membentuk watak sebagian muslim menjadi “militan”. Yang menjadi sorotan
Godfrey Jansen bahwa stereotip yang dicamkan pada Islam pada Barat selama masa
itu adalah “seteorotip lama yang setelah berabad-abad tidur dan kini muncul
kembali”.1 Ini menunjukkan bahwa kebencian terhadap Islam sebenarnya sudah lama
adanya, dan di dunia modern ini, pun mencuat kembali.

Mulai semenjak Revolusi Iran pada 1979, umat Islam dinilai telah mempunyai
kekuatan dalam pertentangannya dengan Barat, yang kala itu dimotori Amerika
Serikat (AS). Benih-benih cap Islam sebagai Terorisme telah muncul, perlawanan
rakyat menghadapi Syah Iran yang disokong Barat benar-benar membuat mata dunia
Barat terbelalak, bahwa Islam merupakan suatu ancaman yang serius, sebagai
kekuatan ideologi yang bisa digunakan untuk melawan Barat.

Hingga terjadi apa yang dikenal sebagai 9/11, yang menyebabkan 1.006
korban, dimana Al Qaeda sebagai kekuatan kuat yang muncul dalam barisan depan
“perjuangan jihad” terorisme yang mengatasnamakan Islam sedemikian dapat
menghempaskan AS. Inila yang disebut babak baru, atau disebut Zakiyuddin
Baidhawy sebagai momentum awal terjadinya kekerasan politik yang lebih besar di
awal abad 21. Tidak hanya dia yang berpendapat seperti itu, para pengamat dan
cendekia pun memang menilai Pengeboman dua menara World Trade Center (WTC)
itu sebagai ancaman serius bagi dunia Barat, Amerika Serikat khususnya. Zakiyuddin
sendiri menilai serangan itu sebagai serangan teroris masa depan. 2 Inilah yang
dipersepsikan sebagai pembenaran terhadap prediksi Samul Huntington tentang
benturan peradaban dalam bukunya The Clash of Civilitation.

Zuhairi Misrawi mengatakan bahwa Al-Qaeda dalam mendesain


terbentuknya terorisme gobal, dengan disertai ambisi besar terhadap kekuasaan, yang
mendorong munculnya aksi terorisme.3 Lanjutnya, bila mereka yang dikategorikan
musuh telah dibumihanguskan, Al-Qaeda akan menyebut diri sebagai penguasa
absolut. Namun hal yang kita pikirkan adalah apakah ambisi itu sepertinya mungkin
terwujud? Kelihatannya tidak, ambisi kekuasaan dalam sistem internasional denngan
perlawanan dengan dunia global amatlah sulit terwujud. Terorisme “Jihad” hanyalah
ancaman untuk bentuk sekadar “balas dendam”, semacam gertakan sambal yang
mematikan, atau agar musuh tidak melakukan hal yang tidak disukai dari teroris.
Apalagi teror itu tidak didukung oleh sebagian umat Islam, malah bertentangan,
1
Godfrey Jansen, Islam Militan, Bandung: Pustaka, 1980, hal. 4.
2
Zakiyuddin Baidhawy, Ambivalensi Agama, Konflik & Nirkekerasan, Yogyakarta: LESFI, 2002, hal
180.
3
Zuhairi Misrawi, Pandangan Muslim Moderat: Toleransi, Terorisme, dan Oase Perdamaian, Jakarta:
Kompas, 2010, hal. 81.
sehingga ambisi kekuasaan pada dunia global, atau mungkin sekadar dalam lingkup
regional, semisal timur tengah, hanyalah isapan jempol.

Bermula dari serangan mematikan itu, masyarakat internasional segera


memalingkan perhatiannya terhadap isu tersebut. Apa yang dipikirkan masyarakat
internasional terhadap terorisme, khususnya pada Al-Qaeda, adalah sebuah musuh
nyata yang harus segera dilenyapkan. Hal ini seperti yang diungkapkan
Hendropriyono dimana masyarakat internasional terpanggil untul turut serta
memikirkan bagamana caranya agar dapat menghancurkan Al-Qaeda.4 Apalagi
ditambah dengan gencarnya propaganda Amerika Serikat dalam pernyataan kontranya
terhadap Al-Qaeda, pengganti Uni Soviet sebagai musuh utama semenjak runtuhnya
negara komunis itu pun segera didapat.

Al-Qaeda segera menjadi simbol perlawanan terorisme global. sebagian


masyarakat masyarakat internasional mempunyai sudut pandang yang sama, tiap
negara segera memperkuat pertahanan, terutama sebagai antisipasi kejutan-kejutan
aksi teroris.5 Al-Qaeda menjadi acuan bagi teroris-teroris lokal, seperti Jama’ah
Islamiyyah di Indonesia. Secara tidak langsung, nama Islam di dunia Barat pun ikut
terjerumus dalam steorotip-steorotip negatif yang menyebar di Barat. Islam menjadi
sasaran empuk bagi hujatan-hujatan keras. Memang disinyalir ada hubungan antara
kelompok teroris lokal dengan Al-Qaeda, mengingat Al-Qaeda menjadi organisasi
dengan jaringan multinasional yang terhubung dengan gerakan serupa di beberapa
negara, dan diperkirakan mempunyai anggota sekitar 5000 sampai 12.000 anggota di
dalam sekurang-kurangnya 24 faksi yang berbeda.6

Osama bin Laden pun dengan tindakannya menyeru dan membujuk umat
Islam di seluruh dunia agar siap melakukan perjuangan yang berkelanjutan.7 Di mata
Barat, dari tindakan itu seakan-akan Osama menjadi wakil agama Islam, yang
menyeru kepada umat Muslim di dunia. Hal itu lantas menjadi tidak ada alasan untuk
tidak memusuhi Islam.

4
A.M. Hendropriyono, Terorisme: Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam, Jakarta: Kompas, 2009, hal.
194.
5
Zuhairi Misrawi, Op. Cit, hal. 79.
6
James M. Lutz dan Brenda J. Lutz, Global Terorism, New York: Routledge, 2004, hal. 83.
7
A.M. Hendropriyono, Op. Cit, hal, 196.
Barat pada kasus yang dikemukakan Esposito, dalam pengetahuan mereka
terhadap umat Muslim, tidak berasal dari pengalaman langsung, tetapi lewat citraan
media dalam berita utama yang menggemparkan, 9/11, dan serangan teroris global
lainnya.8 Jadi yang Barat ketahui tentang Islam memang sudut pandang subyektif,
lewat media yang sudah pasti tidak akan memberikan gambar yang sebenarnya, atau
minimal tidak sempurna, dan diperparah lagi dengan kejadian terorisme yang
menghenyakkan masyarakat Barat, sehingga seolah-olah mereka harus berhati-hati
jika berurusan dengan Muslim lainnya, yang sama sekali tidak terlibat dengan
kejadian terorisme itu.

Kejadian ini jelas mengganggu upaya kesalingpahaman yang selama itu


digiatkan oleh Barat dan Islam.9 Minoritas Muslim pun merasa terancam. Namun hal
itulah yang secara tidak langsung menjadi gebrakan untuk mengkampanyekan Islam
sebagai agama yang moderat, cinta kasih sayang terhadap sesama. Kampanye itu
dijalankan dengan cara seperti dialog-dialog, mengadakan konferensi, acara sosial,
dan semacamnya.

Apa yang membuat terorisme semakin marak akhir-akhir ini? Tentu tidak
lepas dari penyebaran paham fundamentalis yang menyebar tidak hanya ke dunia
Islam, tetapi dalam cakupan minoritas Muslim di Barat juga. Tahun 1979, seperti
yang diatas telah sedikit diulas, ada dua peristiwa penting yang berkaitan tentang
(oleh Barat disebut) kebangkitan Islam, yaitu Revolusi Iran, dan Invansi Uni Soviet di
Afghanistan. Revolusi Iran menggulingkan Syah Iran yang memiliki watak Barat,
dipelopori oleh fundamentalis Syiah yang dimotori oleh pemimpin spiritual mereka,
Ayatullah Khomeini. Ketakutan barat atas kejadian ini adalah ketakutan bahwa
fundamentalisme Islam radikal, akan menyebar bagai api melalap, dibarengi juga
dengan imbauan Ayatullah Khomeini untuk menyebarkan Islam revolusioner ke
negara-negara Muslim lainnya, terutama pada kawasan Timur Tengah saat itu.10

Sedangkan akibat Invansi Uni Soviet di Afghanistan tahun itu juga, segeralah
terbentuk suatu gerakan perlawanan yaitu laskar Mujahidin, yang pemikirannya
fundamentalis. Ironisnya, laskar Mujahidin, yang kemudian mencuatkan nama Osama
8
John L. Esposito, Masa Depan Islam: Antara Tantangan Kemajemukan dan Benturan Dengan Barat,
Jakarta: Mizan, 2010, hal. 93
9
M. Hilaly Basya, David K. Alka, Amerika Perangi Teroris, Bukan Islam, Jakarta: Center for
Moderate Moslem (CMM), 2004, hal. 8.
10
John L. Esposito, Op. Cit, hal. 99.
bin Laden, ketika itu disuplai dan didanai oleh AS, musuhnya besarnya di kemudian
hari nanti. Ini adalah implikasi dari perang dingin yang digencarkan oleh kedua
negara adidaya tersebut. Dari dua peristwa tersebut, dapat kita lihat, masalah
terorisme, baik dari kalangan Syiah maupun Sunni, keduanya mempunyai ciri yang
sama, fundamentalis. Dan juga tak lupa, bahwa kader dari Akademi Militer Mujahidin
(AMM) yang ditempa di negara yang kala itu berkecamuk perang itulah yang
memunculkan nama-nama “sesepuh” terorisme di Indonesia dewasa ini.

Fundamentalis, atau dalam lingkup Muslim Sunni lebih dikenal kedekatannya


dengan gerakan Salafi, atau Wahabi, yang menisbatkan namanya pada Muhammad
ibn Abd Al-Wahhab, tokoh ulama’ pemikir utama paham itu. Memang, seperti yang
diungkapkan Esposito, Wahabi, yang merujuk pada teologi ultrakonservatif, puritan,
absolutis yang dilandaskan pada pandangan tanpa kompromi dan terpolarisasi tentang
dunia, berperan sebagai akar dari gerakan terorisme.11

Apa-apa yang beda dengan Wahabi, walaupun itu Islam, dianggap kafir.
Dapat kita lihat, walaupun disatukan dengan kata “fundamentalisme”, perbedaan
Sunni-Syiah menyebabkan Arab Saudi, pusatnya gerakan Wahabi, dan Iran, sangat
kontra sekali. walaupun juga Al-Qaeda, yang disimbolkan sebagai terorisme masa
kini dan Iran, dengan semangat Revolusi 1979-nya, mempunyai musuh utama yang
sama, Amerika Serikat, terlepas dari strategi diplomatik Presiden Rowhani yang kini
mulai melunak dengan AS.

Jika merujuk pada sebab terjadinya terorisme yang salah satunya menyebutkan
karena repression and discrimination, seperti yang diungkapkan James M. Lutz dan
12
Brenda J. Lutz, maka kita dapat melihat apa yang dilakukan para Teroris “Islam”
ini melakukan hal yang menurutnya sebuah jihad dengan alasan ini. Dakwaan
penindasan yang dilakukan Barat dan tentunya terkhusus pada Amerika Serikat,
terhadap apa yang dilakukannya terhadap dunia Islam.

Seperti yang Esposito ungkapkan, ini merupakan bentuk anti-Amerikanisme


dan anti-Barat yang mengemuka secara global dan memiliki akar mendalam yang
terbentuk selama beberapa dekade dan bersemi berkat para ideolog seperti Sayyid
Quthb dari Mesir dan Abdullah Al-Azzam dari Palestina, dan tak hanya pada tingkat

11
Ibid, hal. 124.
12
James M. Lutz dan Brenda J. Lutz, Op. Cit, hal. 16.
tokoh lokal yang tidak mempunyai jabatan, tetapi juga terinspirasi dari perlawanan
terhadap AS yang dilakukan oleh pemimpin politik seperti Ayatullah Khomeini,
Muammar Qaddafi, dan Saddam Hussein, dan tentu saja dari pimpinan Al-Qaeda,
Osama bin Laden dan Ayman Al-Zawahiri.13

Teroris seperti Al-Qaeda menawarkan perlawanan dalam bentuk baru,


perlawanan yang lebih “modern”, mungkin jika pemimpin politik seperti yang telah
disebutkan diatas lebih mengedepankan perlawanan dengan jalur diplomasi, yang
lebih formal, maka Al-Qaeda dan teroris semacamnya telah menempuh jalur yang
lebih ekstrim, dengan perlawanan secara langung yang menghancurkan. Tetapi,
manusia tak bersalah lah yang menjadi korbannya. Terkecuali dalam kasus
pembajakan Lockerbie yang disinyalir dilakukan dengan perintah Qaddafi.

Terorisme yang mengglobal, dari benua Amerika di barat sana, Afrika, di


tengah pergolakan Sunni-Syiah Irak, Afghanistan, Pakistan, sampai di timur,
Indonesia. Apa yang mereka sebut sebagai melawan Barat, hanya membuahkan
korban-korban tak berdosa, bahkan seorang Muslim dapat menjadi obyek keganasan
bom berdaya ledak tak terkira. Itulah Islam? Tidak. Jelas tidak.

Dan terorisme “Islam” yang mengandalkan kebencian terhadap Barat pun kini
samar dengan motivasi dendam, dan perjuangan separatis. Seperti yang terjadi di
Rusia, pengeboman di Moskow dan Volgograd akhir-akhir ini merupakan contoh
yang mutakhir dari pengeboman yang telah ada jauh sebelumnya. Pengeboman itu
diduga kuat berasal dari Militan Kaukasia Utara, yang mencakup Chechnya dan
Dagestan.14 Begitu juga dengan kejadian di China, penabrakan mobil di Tiananmen
dan begitu pula konflik di Xinjiang pun tak bisa lepas dari kenyataan bahwa minoritas
Uyghur di China mendapat perlakuan yang mendiskriminasi. Apakah motif itu lebih
mengerucut pada “pemberontakan” semata apakah perjuangan Jihad juga? Perlu
pengkajian mendalam.

Dari situ kita dapat melihat, terorisme jika dikaitkan dengan tesis Just War,
yang merupakan dasar dari justifikasi perang, maka akan tampak kesalahan yang
dilakukan oleh para teroris. Just war merupakan teori normatif yang menjelaskan

13
John L. Esposito, Op. Cit, hal. 111.
14
Koran Republika, Selasa, 31 Desember 2013, hal. 20.
perihal bagaimana negara harus bertindak di dalam melancarkan aksi perang. Perang
hanya bisa dilakukan berdasarkan beberapa kriteria yang telah ditentukan.15

Teori ini terdiri dari jus ad bellum dan jus in bello. Jus ad bellum atau alasan
untuk melakukan perang, tergantung pada empat faktor. Pertama adalah just cause,
negara tersebut melancarkan perang karena mengalami serangan agresi dari negara
lain. Kekuatan bersenjata digunakan hanya untuk melakukan defense atau dalam
rangka mempertahankan diri dari serangan negara lain. 16 Serangan teroris yang
dilakukan secara brutal itu apakah memang suatu bentuk pertahanan dari serangan
lain? Mereka lah yang tiba-tiba membuat kerusuhan dan yang diserang adalah
penduduk sipil yang sangat tak pantas diserang dengan alasan “pertahanan”.
Walaupun mereka penduduk AS misalnya.

Kedua, yaitu legitimate authority. Artinya, keputusan untuk melakukan perang


harus dihasilkan dari kekuasaan yang sah dalam negara. Perang dilancarkan demi
tujuan negara, bukan atas kepentingan individu.17 Dilihat dari prasyarat ini saja
terorisme mutlak sama sekali tidak mewakili sebuah negara, pun terorisme hanya
melakukan untuk tujuan kelompok saja. Ketiga, penggunaan kekuatan bersenjata
hanyalah opsi jika memang ada provokasi yang proporsional (proportionality).18
Terorisme melancarkan gerak-geriknya di bawah tanah, secara bersembunyi, malahan
terorisme lah yang melakukan provokasi dengan membuat suatu video yang
dimaksudkan pada musuhnya dengan segala ancamannya.

Keempat, harus terdapat keyakinan akan mendapatkan kesuksesan melalui


jalan perang, jangan sampai terjadi kesia-siaan dalam mengorbankan nyawa dan
lainnya (probability of success).19 Yang hanya dilakukan para teroris hanyalah
jatuhnya korban sipil yang sia-sia, dan tak akan menang jika hanya melakukan suatu
teror yang malah akan mendatangkan kebencian di semua pihak, termasuk umat Islam
itu sendiri.

15
Irmawan Effendi, Cluster Bomb dan Teori Just War : Perlindungan Sipil dalam Kondisi Perang,
Jurnal Institut Ilmu Sosial dan Politik, volume IX, no.1, Januari-Juni 2010, hal. 20. dapat dilihat secara
online, dalam http://www.iisip.ac.id/content/cluster-bombs-dan-teori-just-war-perlindungan-sipil-
dalam-kondisi-perang
16
Ibid, hal. 21.
17
Ibid.
18
Ibid.
19
Ibid.
Terakhir, perang merupakan pilihan terakhir. Opsi perdamaian melalui jalan
diplomatik adalah prioritas dalam penyelesaian konflik. Penggunaan perang harus
diupayakan ditunda hingga terdapat alasan yang tepat untuk menggunakannya sebagai
solusi terakhir (last resort).20 Teroris tak mengenal kata damai. Apa yang
diperjuangkannya hanya mati “syahid”.

Jus in bello bukanlah kriteria untuk mencegah terjadinya perang tetapi untuk
membatasi kerusakan dan kehancuran akibat perang. Poin inilah yang memunculkan
perbedaan antara combatant dan non-combatant atau masyarakat sipil. Masyarakat
sipil bukanlah ditempatkan sebagai objek dari peperangan.21 Inilah yang menjadi
senjata pamungkas penolakan segala kegiatan Terorisme yang hanya membuat
ketakutan dan kehancuran kepada para sipil non-combantant. Menilik kasus WTC,
JW. Marriot, bom Bali, dan lainnya, jelaslah kenyataan ini.

Terorisme bukanlah cerminan Islam sesungguhnya, karena Islam adalah


moderat. Kaum Islam moderat, dalam ruang lingkup Indonesi, seperti yang ditampung
dalam Nahdlatul Ulama’ dan Muhammadiyah, harus mempunyai peran agar tidak
semakin banyak kaum Muslim direkrut menjadi teroris, dan minimalnya
membendung kaum fundamentalis dari penyebarnya. Zuhairi menganalisis apa yang
harus ditempuh adalah dengan pendekatan kultural.22 Lebih lanjut dia mengatakan
pendekatan kultural itu dengan memanfaatkan NU dan Muhammadiyah sebagai
organisasi yang telah lama melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia, dengan
strategi dakwah kultural.

Dakwah kultural yang dikedepankan adalah dengan mengajak umat


membangun perdamaian, etos kerja, dan keadilan sosial.23 Perdamaian adalah kunci
dari segala sesuatu yang menyangkut solusi untuk terorisme. Perdamaian bukan hanya
dicanangkan semata, melainkan diupayakan secara nyata dengan usaha dialog-dialog
dan semisalnya sebagai harapan adanya saling kesepahaman antara umat beragama.
harapannya aplikasi tidak hanya dilakukan di dalam negeri saja, tetapi pada ruang
lingkup internasional, untuk lebih mengenalkan ajaran Islam yang sesungguhnya,
rahmatan lil ‘alamin.

20
Ibid.
21
Ibid.
22
Zuhairi Misrawi, Op. Cit, hal. 91.
23
Ibid
Daftar Pustaka

Buku
Baidhawy, Zakiyuddin, 2002, Ambivalensi Agama, Konflik & Nirkekerasan,
Yogyakarta: LESFI.
Basya, M. Hilaly, dan David K. Alka, 2004, Amerika Perangi Teroris, Bukan Islam,
Jakarta: Center for Moderate Moslem (CMM).
Esposito, John L., 2010, Masa Depan Islam: Antara Tantangan Kemajemukan dan
Benturan Dengan Barat, Jakarta: Mizan.
Hendropriyono, A.M., 2009, Terorisme: Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam,
Jakarta: Kompas.

Jansen, Godfrey, 1980, Islam Militan, Bandung: Pustaka, 1980.

Lutz, James M., dan Brenda J. Lutz, 2004, Global Terorism, New York: Routledge.

Misrawi, Zuhairi, 2010, Pandangan Muslim Moderat: Toleransi, Terorisme, dan


Oase Perdamaian, Jakarta: Kompas.

Koran

Koran Republika, Selasa, 31 Desember 2013.

Jurnal Online

Effendi, Irmawan, Cluster Bomb dan Teori Just War : Perlindungan Sipil dalam
Kondisi Perang, Jurnal Institut Ilmu Sosial dan Politik, volume IX, no.1,
Januari-Juni 2010, dapat dilihat secara online, dalam
http://www.iisip.ac.id/content/cluster-bombs-dan-teori-just-war-perlindungan-
sipil-dalam-kondisi-perang