Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUSHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN TUMOR RECKTI

Disusun untuk memenuhi tugas profesi

Departemen Bedah Ruang 19 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Oleh:

IFA KARIMATUN NISAK

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS KADIRI

TAHUN 2018
UNIVERSITAS KADIRI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
STATUS TER AKREDITASI BAN-PT
Program Studi : 1. Ners, 2. Ilmu Keperawatan (S.1), 3. Kebidanan (D.III), Bidan Pendidik (D.IV)
Sekretariat : Jl. Selomangleng No. 1 Kediri Telp. (0354) 775074/771846, Fax (0354) 775074

LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL KASUS
Asuhan Keperawatan Pada Tn. B PDengan Tumor Recti Di Ruang 19
RSUD Dr. Saiful Anwar Malang Tahun 2018

TANGGAL PENGAMBILAN KASUS


22-01-2018

MAHASISWA

IFA KARIMATUN NISAK


NPM. 17640705

PEMBIMBING INSTITUSI PEMBIMBING KLINIK / CI

…………………………………….. ……………………………………
LAPORAN PENDAHULUAN

TUMOR RECTI

A. Definisi Tumor Recti


Tumor adalah pertumbuhan sel-sel tubuh yang abnormal. Sel merupakan unit
terkecil yang menyusun jaringan tubuh manusia. Masing-masing sel mengandung gen
yang berfungsi untuk menentukan pertumbuhan, perkembangan, atau perbaikan yang
terjadi dalam tubuh.
Tumor terbagi menjadi 2 kategori, yaitu tumor jinak dan tumor ganas.
Tumor jinak hanya tumbuh pada satu bagian tubuh dan tidak menyebar atau
menyerang bagian lain. Sementara tumor ganas atau yang sering disebut kanker adalah
tumor yang dapat menyerang jaringan di sekitarnya, masuk ke pembuluh darah, dan
menyebar ke bagian tubuh yang lain. Tumor jinak tidak akan tumbuh lagi setelah
diangkat, sedangkan tumor ganas memiliki kemungkinan untuk kambuh.
Tumor Recti merupakan salah satu dari keganasan pada kolon dan rektum yang
khusus menyerang bagian Recti yang terjadi akibat gangguan proliferasi sel epitel yang
tidak terkendali(Kurniadi, 2012).

B. Anatomi dan fisiologi


Secara anatomis, rektum berada setinggi vertebrae sakrum ke-3 sampai ke garis
anorektal. Secara fungsional dan endoskopis, rektum dibagi menjadi bagian ampula dan
spinchter. Bagian spinchter disebut juga annulus hemoroidalis, dikelilingi oleh muskulus
levator ani dan fascia coli dari fascia supra ani. Bagian ampula terbentang dari vertebra
sakrum ke-3 sampai diafragma pelvis pada insersio muskulus levator ani. Panjang rektum
berkisar antara 10-15 cm dengan keliling 15 cm pada bagian rectosigmoid junction, dan
35 cm pada bagian yang terluas yaitu ampula. Pada manusia, dinding rektum terdiri dari 4
lapisan, yaitu mukosa, submukosa, muskularis (sirkuler dan longitudinal), serta lapisan
serosa.
Gambar 2. Vaskularisasi Arteri pada Rektum
Vaskularisasi daerah anorektum berasal dari arteri hemoroidalis superior, media,
dan inferior. Arteri hemoroidalis superior (arteri rektalis superior) merupakan kelanjutan
dari arteri mesentrika inferior, arteri ini memiliki 2 cabang yaitu dekstra dan sinistra.
Arteri hemoroidalis media (arteri rektalis media) merupakan cabang dari arteri iliaka
interna, dan arteri hemoroidalis inferior (arteri rektalis inferior) merupakan cabang dari
arteri pudenda interna.
Vena hemoroidalis superior berasal dari pleksus hemoroidalis interna dan berjalan
ke arah kranial ke dalam vena mesenterika inferior untuk selanjutnya melalui vena
lienalis dan menuju vena porta. Vena ini tidak memiliki katup, sehingga tekanan dalam
rongga perut atau intraabdominal sangat menentukan tekanan di dalam vena tersebut. Hal
inilah yang dapat menjelaskan terjadinya hemoroid interna pada pasien-pasien dengan
kebiasaan sulit buang air besar dan sering mengejan. Vena hemoroidalis inferior
mengalirkan darah ke vena pudenda interna, untuk kemudian melalui vena iliaka interna
dan menuju sistem vena kava.
Rektum (Bahasa Latin: regere, “meluruskan, mengatur”) adalah sebuah ruangan
yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Organ
ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses. Biasanya rektum ini kosong
karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon
desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang
air besar (BAB). Mengembangnya dinding rektum karena penumpukan material di dalam
rektum akan memicu sistem saraf yang menimbulkan keinginan untuk melakukan
defekasi. Jika defekasi tidak terjadi, sering kali material akan dikembalikan ke usus besar,
di mana penyerapan air akan kembali dilakukan. Jika defekasi tidak terjadi untuk periode
yang lama, konstipasi dan pengerasan feses akan terjadi.
Proses defekasi diawali oleh terjadi refleks defekasi akibat ujung – ujung serabut
saraf rectum terangsang ketika dinding rectum teregang oleh massa feses. Sensasi rectum
ini berperan penting pada mekanisme continence dan juga sensasi pengisian rectum
merupakan bagian integral penting pada defekasi normal. Hal ini dapat digambarkan
sebagai berikut : pada saat volume kolon sigmoid menjadi besar, serabut saraf akan
memicu kontraksi dengan mengosongkan isinya ke dalam rectum. Studi statistika tentang
fisiologi rectum ini mendeskripsikan tiga tipe dari kontraksi rectum yaitu : (1) Simple
contraction yang terjadi sebanyak 5 – 10 siklus/menit ; (2) Slower contractions sebanyak
3 siklus/menit dengan amplitudo diatas 100 cmH2O ; dan (3) Slow Propagated
Contractions dengan frekuensi amplitudo tinggi. Distensi dari rectum menstimulasi
reseptor regang pada dinding rectum, lantai pelvis dan kanalis analis. Bila feses
memasuki rektum, distensi dinding rectum mengirim signal aferent yang menyebar
melalui pleksus mienterikus yang merangsang terjadinya gelombang peristaltik pada
kolon desenden, kolon sigmoid dan rectum sehingga feses terdorong ke anus. Setelah
gelombang peristaltik mencapai anus, sfingter ani interna mengalami relaksasi oleh
adanya sinyal yang menghambat dari pleksus mienterikus; dan sfingter ani eksterna pada
saat tersebut mengalami relaksasi secara volunter,terjadilah defekasi.Pada permulaan
defekasi, terjadi peningkatan tekanan intraabdominal oleh kontraksi otot–otot kuadratus
lumborum, muskulus rectus abdominis, muskulus obliqus interna dan eksterna, muskulus
transversus abdominis dan diafraghma.
Muskulus puborektalis yang mengelilingi anorectal junction kemudian akan
relaksasi sehingga sudut anorektal akan menjadi lurus. Perlu diingat bahwa area anorektal
membuat sudut 900 antara ampulla rekti dan kanalis analis sehingga akan tertutup. Jadi
pada saat lurus, sudut ini akan meningkat sekitar 1300 – 1400 sehingga kanalis analis
akan menjadi lurus dan feses akan dievakuasi. Muskulus sfingter ani eksterna kemudian
akan berkonstriksi dan memanjang ke kanalis analis. Defekasi dapat dihambat oleh
kontraksi sfingter ani eksterna yang berada di bawah pengaruh kesadaran ( volunteer ).
Bila defekasi ditahan, sfingter ani interna akan tertutup, rectum akan mengadakan
relaksasi untuk mengakomodasi feses yang terdapat di dalamnya. Mekanisme volunter
dari proses defekasi ini nampaknya diatur oleh susunan saraf pusat. Setelah proses
evakuasi feses selesai, terjadi Closing Reflexes. Muskulus sfingter ani interna dan
muskulus puborektalis akan berkontraksi dan sudut anorektal akan kembali ke posisi
sebelumnya. Ini memungkinkan muskulus sfingter ani interna untuk memulihkan tonus
ototnya dan menutup kanalis analis.

C. Etiologi
Hingga saat ini, penyebab tumbuhnya tumor masih belum diketahui secara pasti.
D. Faktor Resiko
1. Polip di usus (Colorectal polyps): Polip adalah pertumbuhan pada dinding dalam
kolon atau rektum, dan sering terjadi pada orang berusia 50 tahun ke atas. Sebagian
besar polip bersifat jinak (bukan kanker), tapi beberapa polip (adenoma) dapat
menjadi kanker.
2. Colitis Ulcerativa atau penyakit Crohn: Orang dengan kondisi yang menyebabkan
peradangan pada kolon (misalnya colitis ulcerativa atau penyakit Crohn) selama
bertahun-tahun memiliki risiko yang lebih besar
3. Riwayat kanker pribadi: Orang yang sudah pernah terkena kanker colorectal dapat
terkena kanker colorectal untuk kedua kalinya. Selain itu, wanita dengan riwayat
kanker di indung telur, uterus (endometrium) atau payudara mempunyai tingkat
risiko yang lebih tinggi untuk terkena kanker colorectal.
4. Riwayat kanker colorectal pada keluarga: Jika Anda mempunyai riwayat kanker
colorectal pada keluarga, maka kemungkinan Anda terkena penyakit ini lebih besar,
khususnya jika saudara Anda terkena kanker pada usia muda.
5. Faktor gaya hidup: Orang yang merokok, atau menjalani pola makan yang tinggi
lemak dan sedikit buah-buahan dan sayuran memiliki tingkat risiko yang lebih besar
terkena tumor dan kanker colorectal.
6. Usia di atas 50: Tumor dan kanker colorectal biasa terjadi pada mereka yang
berusia lebih tua. Lebih dari 90 persen orang yang menderita penyakit ini didiagnosis
setelah usia 50 tahun ke atas.

E. Patofisiologi
Pada mukosa rektum yang normal, sel-sel epitelnya akan mengalami regenerasi
setiap 6 hari. Pada keadaan patologis seperti adenoma terjadi perubahan genetik yang
mengganggu proses differensiasi dan maturasi dari sel-sel tersebut yang dimulai dengan
inaktivasi gen adenomatous polyposis coli (APC) yang menyebabkan terjadinya replikasi
tak terkontrol. Peningkatan jumlah sel akibat replikasi tak terkontrol tersebut akan
menyebabkan terjadinya mutasi yang akan mengaktivasi K- ras onkogen dan mutasi gen
p53, hal ini akan mencegah terjadinya apoptosis dan memperpanjang hidup sel.
Kanker kolon dan rectum terutama (95%) adenokarsinoma (muncul dari lapisan
epitel usus) dimulai sebagai polip jinak tetapi dapat menjadi ganas dan menyusup serta
merusak jaringan normal serta meluas ke dalam struktur sekitarnya. Sel kanker dapat
terlepas dari tumor primer dan menyebar ke dalam tubuh yang lain (paling sering ke hati).
F. Klasifikasi
Metode pentahapan yang dapat digunakan secara luas adalah klasifikasi Duke:(Brunner
& Suddarth, 2002)
Keteranagan:
T N M Dukes

Kelas A : Tumor
Stage 0 Tis N0 M0
dibatasi pada mukosa
dan submukosa
Stage I T1 N0 M0 A

Kelas B : Penetrasi
T2 N0 M0
melalui dinding usus

Stage II T3 N0 M0 B
Kelas C : invasi kedalam
T4 N0 M0 sistem limfe yang
mengalir regional

Stage III Any T N1 M0 C


Kelas D : metastase
Any T N2, N3 M0 regional tahap lanjut
dan penyebaran yang
luas
Stage IV Any T Any N M1 D

TNMstaging digunakan berdasarkan perjalanan penyakit kanker melalui tiga


parameter yaitu tumor size(T) atau ukuran tumor, lymph node (N) atau kelenjar getah
bening regional dan absence of metastasis(M) atau penyebaran jauh (Otto, 2003).
a) T (Tumor Primer : ukuran, luas dan kedalaman)
TX : tumor primer tidak dapat dikaji
T0 : tidak ada bukti tumor primer
Tis : karsinoma in-situ
T1, T2, T3, T4 : dari T1 sampai T4 tumor primer semakin besar dan semakin
jauh infiltrasi di jaringan dan alat yang berdekatan.
b) N (Metastasis Nodus : luas, dan lokasi kelenjar getah bening regional yang terkena)
NX : kelenjar getah bening regional tidak dapat dikaji
N0 : tidak ada metastasis kelenjar getah bening regional
N1,N2,N3 : menunjukkan banyaknya kelenjar getah bening yang terlibat, dan ada
atau tidaknya infiltrasi di alat dan struktur yang berdekatan.
c) M (Metastasis : tidak ada atau ada penyebaran jauh penyakit)
MX : penyakit jauh tidak dapat dikaji
M0 : tidak ada penyebaran jauh dari penyakit
M1 : penyebaran penyakit jauh
Pada perkembangan selanjutnya, The American Joint Committee on Cancer
(AJCC)memperkenalkan TNM staging system, yang menempatkan kanker menjadi
satu dalam 4 stadium (Stadium I-IV) (Anderson, 2006).

1. Stadium 0

Pada stadium 0, kanker ditemukan hanya pada bagian paling dalam rectum, yaitu
pada mukosa saja.Disebut juga carcinoma in situ.

2. Stadium I

Pada stadium I, kanker telah menyebar menembus mukosa sampai lapisan


muskularis dan melibatkan bagian dalam dinding rektum tapi tidak menyebar
kebagian terluar dinding rektum ataupun keluar dari rektum. Disebut juga Dukes A
rectal cancer.

3. Stadium II

Pada stadium II, kanker telah menyebar keluar rektum kejaringan terdekat namun
tidak menyebar ke limfonodi.Disebut juga Dukes B rectal cancer.

4. Stadium III

Pada stadium III, kanker telah menyebar ke limfonodi terdekat, tapi tidak menyebar
kebagian tubuh lainnya.Disebut juga Dukes C rectal cancer.

5. Stadium IV

Pada stadium IV, kanker telah menyebar kebagian lain tubuh seperti hati, paru, atau
ovarium. Disebut juga Dukes D rectal cancer
G. Gambaran Klinis
Kebanyakan orang asimtomatis dalam jangka waktu lama dan mencari bantuan
kesehatan hanya bila mereka menemukan perubahan pada kebiasaan defekasi atau
perdarahan rectal (Brunner & Suddarth, 2002).
Gejala sangat ditentukan oleh lokasi kanker, tahap penyakit, dan fungsi segmen
usus tempat kanker berlokasi. Gejala yang paling menonjol adalah(Brunner & Suddarth,
2002):
1) Perubahan kebiasaan defekasi
2) Pasase darah dalam feses adalah gejala paling umum kedua
3) Gejala anemi tanpa diketahui penyebabnya
4) Anoreksia
5) Penurunan berat badan tanpa alasan
6) Keletihan
7) Mual dan muntah-muntah
8) Usus besar terasa tidak kososng seluruhnya setelah BAB
9) Feses menjadi lebih sempit (seperti pita)
10) Perut sering terasa kembung atau keram perut
11) Gejala yang dihubungkan dengan lesi rectal adalah: evakuasi feses yang tidak
lengkap setelah defekasi, konstipasi dan diare bergantian (umumnya konstipasi),
serta feses berdarah.
Pertumbuhan pada sigmoid atau rectum dapat mengenai radiks saraf, pembuluh
limfe, atau vena menimbulkan gejala gejala pada tungkai atau perineum, hemoroid, nyeri
pinggang bagian bawah, keinginan defekasi, atau sering berkemih dapat timbul sebagai
akibat tekanan pada alat-alat tersebut.

Semua karsinoma kolorektal dapat menyebabkan ulserasi, perdarahan, obstruksi


bila membesar atau invasi menembus dinding usus dan kelenjar-kelenjar
regional.Kadang-kadang bisa terjadi perforasi dan menimbulkan abses dalam
peritoneum.Keluhan dan gejala sangat tergantung dari besarnya tumor.

Tumor pada Recti dan kolon asendens dapat tumbuh sampai besar sebelum
menimbulkan tanda-tanda obstruksi karena lumennya lebih besar daripada kolon
desendens dan juga karena dindingnya lebih mudah melebar.Perdarahan biasanya sedikit
atau tersamar. Bila karsinoma Recti menembus ke daerah ileum akan terjadi obstruksi
usus halus dengan pelebaran bagian proksimal dan timbul nausea atau vomitus. Harus
dibedakan dengan karsinoma pada kolon desendens yang lebih cepat menimbulkan
obstruksi sehingga terjadi obstipasi.

Pertimbangan gerontologi, insiden karsinoma kolon dan rectum meningkat sesuai


usia. Kanker ini biasanya ganas pada lansia, gejala sering tersembunyi yaitu: keletihan
hampir selalu ada akibat anemia defisiensi besi primer, nyeri abdomen, obstruksi,
tenesmus, dan perdarahan rectal.

H. Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang dan Pemeriksaan Fisik


Untuk menegakkan diagnosa yang tepat diperlukan (Sudjatmiko, 2010):
i. Anamnesis yang teliti, meliputi:
a) Perubahan pola/kebiasaan defekasi baik berupa diare maupun konstipasi (change
of bowel habit)
b) Frekuensi, konsistensi tinja
c) Perdarahan per anus
d) Tenesmus
e) Nyeri perut : kolik, menetap
f) Penurunan berat badan
g) Faktor predisposisi:
 Riwayat kanker dalam keluarga
 Riwayat polip usus
 Riwayat kolitis ulserosa
 Riwayat kanker pada organ lain (payudara/ovarium)
 Uretero-sigmoidostomi
 Kebiasaan makan (tinggi lemak rendah serat)
ii. Pemeriksaan fisik dengan perhatian pada:
a) Status gizi
b) Anemia
c) Benjolan/massa di abdomen
d) Nyeri tekan
e) Pembesaran kelenjar limfe
f) Pembesaran hati/limpa
g) Colok rectum (rectal toucher) ditemukan darah dan lendir, tonus sfingter ani
keras/lembek, mukosa kasar, kaku biasanya dapat digeser, ampula rectum
kolaps/kembung terisi feses atau tumor yang dapat teraba atau tidak.
iii. Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang
i. Pemeriksaan laboratorium
a) Test darah samar: terkadang kanker atau polip mengeluarkan darah, dan
FOBT dapat mendeteksi jumlah darah yang sangat sedikit dalam kotoran.
Karena tes ini hanya mendeteksi darah, tes-tes lain dibutuhkan untuk
menemukan sumber darah tersebut. Kondisi jinak (seperti hemoroid) juga
bisa menyebabkan darah dalam kototran.
b) Carcino embryonic antigen (CEA): pada eksisi tumor komplet kadar CEA
yang meningkat harus kembali ke normal dalam 48 jam, peningkatan CEA
pada tanggal selanjutnya menunjukan kekambuhan
ii. Digital rectal examination (DRE)
Dapat digunakan sebagai pemeriksaan skrining awal.Kurang lebih 75%
karsinoma rektum dapat dipalpasi pada pemeriksaan rectal. Pemeriksaan digital
akan mengenali tumor yang terletak sekitar 10 cm dari rektum, tumor akan
teraba keras dan menggaung.
iii. Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan yang dianjurkan sebagai pemeriksaan rutin sebelum dilakukan
pemeriksaan lain. Pada pemeriksaan ini akan tampak filling defect biasanya
sepanjang 5-6cm berbentuk anular atau apple core. Dinding usus tampak rigid
dan gambaran mukosa rusak.

a) Foto Kolorektal: dengan barium enema dan kontras ganda


b) Ultra Sonografi: identifikasi metastase dan menilai reseklabilitas
c) Intra venous pyelograply (IVP) : menilai infiltrate ke system urinary
d) Thoraks foto: menilai adanya metastase paru
iv. Endoskopi dan biopsy
a) Protoskopi: deteksi kelainan 8-10 cm dari anus (polip rekti, hemorrhoid,
karsinoma rectum)
b) Sigmoidoskopi: mencapai 20-25 cm dari anus, untuk diagnistik dan
kauterisasi.
c) Kolonoskopi: dapat mencapai sakrum.
v. Ultrasonografi
Uraian tentang prosedur diagostik dijelaskan lebih lanjut dalam fokus pengkajian
keperawatan.
vi. MRI
MRI lebih spesifik untuk tumor pada hepar daripada CT scan dan sering
digunakan pada klarifikasi lesi yang tak teridentifikasi dengan menggunakan CT
scan. Karena sensifitasnya yang lebih tinggi daripada CT scan, MRI
dipergunakan untuk mengidentifikasikan metastasis ke hepar.

I. Penatalaksanaan
Berbagai jenis terapi tersedia untuk pasien kanker rektal.Beberapa adalah terapi standar
dan beberapa lagi masih diuji dalam penelitian klinis. Tiga terapi standar untuk kanker
rektal yang sering digunakan antara lain:
1. Pembedahan
Pembedahan merupakan terapi yang paling lazim digunakan terutama untuk stadium
I dan II kanker rektal, bahkan pada pasien suspek dalam stadium III juga dilakukan
pembedahan.Meskipun begitu, karena kemajuan ilmu dalam metode penentuan
stadium kanker, banyak pasien kanker rektal dilakukan pre-surgical
treatment dengan radiasi dan kemoterapi.Penggunaan kemoterapi sebelum
pembedahan dikenal sebagai neoadjuvant chemotherapy, dan pada kanker
rektal, neoadjuvant chemotherapy digunakan terutama pada stadium II dan III.Pada
pasien lainnya yang hanya dilakukan pembedahan, meskipun sebagian besar jaringan
kanker sudah diangkat saat operasi, beberapa pasien masih membutuhkan kemoterapi
atau radiasi setelah pembedahan untuk membunuh sel kanker yang tertinggal
(Anderson, 2006).
Tipe pembedahan tergantung pada lokasi dan ukuran tumor. Prosedur pembedahan
pilihan adalah sebagai berikut (Doughty & Jackson, 1993 dalam Brunner &
Suddarth, 2002):
a) Reseksi segmental dengan anastomosis (pengangkatan tumor dan porsi usus
pada sisi pertumbuhan pembuluh darah, dan nodus limfatik)
b) Reseksi abdominoperineal dengan kolostomi sigmoid permanen (pengangkatan
tumor dan prosi sigmoid dan semua rectum serta sfingkter anal)
c) Kolostomi sementara diikuti reanastomosis reseksi segmental dan anastomisis
serta reanastomosis lanjut dari kolostomi (memungkinkan dekompresi usus awal
dan persiapan usus sebelum reseksi)
d) Kolostomi permanen atau ileostomi (untuk menyembuhkan lesi obstruksi yang
tidak dapat direseksi)
Berkenaan dengan teknik perbaikan melalui pembedahan, kolostomi
dilakukan pada kurang dari sepertiga pasien kanker kolorektal.Kolostomi adalah
pembuatan lubang (stoma) pada kolon secara bedah.Stoma ini dapat berfungsi
sebagai diversi sementara atau permanen.Ini memungkinkan drainase atau
evakuasi ini kolon keluar tubuh.Konsistensi drainase dihubungkan dengan
penempatan kolostomi, yang ditentukan oleh lokasi tumor dan luasnya invasi
jaringan sekitar (Brunner & Suddarth, 2002).

Prosedur pelaksanaan reseksi dan kolostomi (Brunner & Suddarth, 2002):

Jahitan
oeritoneum

Kolostomi

Tumor
rektum

1. sebelum pembedahan 2. Selama pembedahan, sigmoid diangkat dan dibuatkan


kolostomi. Usus distal telah didiseksi bebas pada titik
dibawah peritoneum pelvis bawah, yang djahit diatas
ujung tertututp dari sigmoid distal dan rektum

Kolostomi

Drein perineal Luka perineal yang sembuh

3. Reseksi perineal mencakup pengangkatan 4. Hasil akhir setelah penyembuhan dengan


rectum dan porsi bebas dari sigmoid kolostomi permanen.
bawah, drein perineal diinsersi.

2. Radiasi
Sebagai mana telah disebutkan, untuk banyak kasus stadium II dan III lanjut, radiasi
dapat menyusutkan ukuran tumor sebelum dilakukan pembedahan. Peran lain
radioterapi adalah sebagai sebagai terapi tambahan untuk pembedahan pada kasus
tumor lokal yang sudah diangkat melaui pembedahan, dan untuk penanganan kasus
metastasis jauh tertentu. Terutama ketika digunakan dalam kombinasi dengan
kemoterapi, radiasi yang digunakan setelah pembedahan menunjukkan telah
menurunkan risiko kekambuhan lokal di pelvis sebesar 46% dan angka kematian
sebesar 29%. Pada penanganan metastasis jauh, radiasi telah berguna mengurangi
efek lokal dari metastasis tersebut, misalnya pada otak.Radioterapi umumnya
digunakan sebagai terapi paliatif pada pasien yang memiliki tumor lokal
yang unresectable(Mansjoer, 2000).
3. Kemoterapi
Adjuvant chemotherapy (menangani pasien yang tidak terbukti memiliki penyakit
residual tapi beresiko tinggi mengalami kekambuhan), dipertimbangkan pada pasien
dimana tumornya menembus sangat dalam atau tumor lokal yang bergerombol
(Stadium II lanjut dan Stadium III).Terapi standarnya ialah dengan fluorouracil, (5-
FU) dikombinasikan dengan leucovorin dalam jangka waktu enam sampai dua belas
bulan.5-FU merupakan anti metabolit dan leucovorin memperbaiki respon.Agen
lainnya, levamisole (meningkatkan sistem imun, dapat menjadi substitusi bagi
leucovorin).Protokol ini menurunkan angka kekambuhan kira-kira 15% dan
menurunkan angka kematian kira-kira sebesar 10% (Mansjoer, 2000).

J. Komplikasi
Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan obstruksi usus parsial atau
lengkap.Pertumbuhan dan ulserasi juga dapat menyerang pembuluh darah sekitar rectum
yang menyebabkan hemoragi.Perforasi dapat terjadi dan mengakibatkan pembentukan
abses.Peritonitis dan atau sepsis dapat menimbulkan syok (Brunner & Suddarth, 2002).
Asuhan keperawatan

A. Pengkajian
Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji
adalah:
1) Aktivitas/istirahat:
Gejala:
 Kelemahan, kelelahan/keletihan
 Perubahan pola istirahat/tidur malam hari; adanya faktor-faktor yang
mempengaruhi tidur misalnya nyeri, ansietas dan berkeringat malam hari.
 Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan, tingkat stres
tinggi.
2) Sirkulasi:
Gejala:
 Palpitasi, nyeri dada pada aktivitas
Tanda:
 Dapat terjadi perubahan denyut nadi dan tekanan darah.
3) Integritas ego:
Gejala:
 Faktor stres (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stres
(merokok, minum alkohol, menunda pengobatan, keyakinan religius/spiritual)
 Masalah terhadap perubahan penampilan (alopesia, lesi cacat, pembedahan)
 Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak
bermakna, rasa bersalah, kehilangan kontrol, depresi.
Tanda:
 Menyangkal, menarik diri, marah.
4) Eliminasi:
Gejala:
 Perubahan pola defekasi, darah pada feses, nyeri pada defekasi
Tanda:
 Perubahan bising usus, distensi abdomen
 Teraba massa pada abdomen kuadran kanan bawah
5) Makanan/cairan:
Gejala:
 Riwayat kebiasaan diet buruk (rendah serat, tinggi lemak, pemakaian zat aditif
dan bahan pengawet)
 Anoreksia, mual, muntah
 toleransi makanan
Tanda:
 Penurunan berat badan, berkurangnya massa otot
6) Nyeri/ketidaknyamanan:
Gejala:
 Gejala nyeri bervariasi dari tidak ada, ringan sampai berat tergantung proses
penyakit
7) Keamanan:
Gejala:
 Komplikasi pembedahan dan atau efek sitostika.
Tanda:
 Demam, lekopenia, trombositopenia, anemia
8) Interaksi sosial
Gejala:
 Lemahnya sistem pendukung (keluarga, kerabat, lingkungan)
 Masalah perubahan peran sosial yang berhubungan dengan perubahan status
kesehatan.
9) Penyuluhan/pembelajaran:
 Riwayat kanker dalam keluarga
 Masalah metastase penyakit dan gejala-gejalanya
 Kebutuhan terapi pembedahan, radiasi dan sitostatika.
 Masalah pemenuhan kebutuhan/aktivitas sehari-hari

B. Diagnosa Keperawatan
 Nyeri kronis
 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
 Diare
 Konstipasi
D. INTERVENSI KEPERAWATAN

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Nyeri Kronis berhubungan NOC: NIC :


dengan ketidakmampuan fisik- Pain Manajemen
psikososial kronis (metastase  Comfort level
 Pain control - Monitor kepuasan pasien terhadap
kanker, injuri neurologis,
 Pain level manajemen nyeri
artritis) Setelah dilakukan tindakan - Tingkatkan istirahat dan tidur yang
keperawatan selama …. adekuat
nyeri kronis pasien - Kelola anti analgetik ...........
- Jelaskan pada pasien penyebab nyeri
DS: berkurang dengan kriteria
- Lakukan tehnik nonfarmakologis
hasil:
- Kelelahan (relaksasi, masase punggung)
- Takut untuk injuri ulang  Tidak ada gangguan
DO: tidur
 Tidak ada gangguan
- Atropi otot konsentrasi
- Gangguan aktifitas  Tidak ada gangguan
- Anoreksia hubungan interpersonal
- Perubahan pola tidur  Tidak ada ekspresi
- Respon simpatis (suhu menahan nyeri dan
dingin, perubahan posisi ungkapan secara verbal
tubuh , hipersensitif,  Tidak ada tegangan otot
perubahan berat badan)

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Ketidakseimbangan nutrisi NOC:  Kaji adanya alergi makanan


kurang dari kebutuhan tubuh  Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
a. Nutritional status: menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
Berhubungan dengan : Adequacy of nutrient dibutuhkan pasien
b. Nutritional Status : food  Yakinkan diet yang dimakan mengandung
Ketidakmampuan untuk and Fluid Intake tinggi serat untuk mencegah konstipasi
memasukkan atau mencerna c. Weight Control  Ajarkan pasien bagaimana membuat
nutrisi oleh karena faktor Setelah dilakukan tindakan catatan makanan harian.
biologis, psikologis atau keperawatan  Monitor adanya penurunan BB dan gula
selama….nutrisi kurang darah
ekonomi.
teratasi dengan indikator:  Monitor lingkungan selama makan
 Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak
DS:
 Albumin serum selama jam makan
- Nyeri abdomen  Pre albumin serum  Monitor turgor kulit
- Muntah  Hematokrit  Monitor kekeringan, rambut kusam, total
- Kejang perut  Hemoglobin protein, Hb dan kadar Ht
- Rasa penuh tiba-tiba  Total iron binding  Monitor mual dan muntah
setelah makan capacity  Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan
 Jumlah limfosit jaringan konjungtiva
 Monitor intake nuntrisi
DO:  Informasikan pada klien dan keluarga
tentang manfaat nutrisi
- Diare  Kolaborasi dengan dokter tentang
- Rontok rambut yang kebutuhan suplemen makanan seperti
berlebih NGT/ TPN sehingga intake cairan yang
- Kurang nafsu makan adekuat dapat dipertahankan.
- Bising usus berlebih  Atur posisi semi fowler atau fowler tinggi
- Konjungtiva pucat selama makan
- Denyut nadi lemah  Kelola pemberan anti emetik:.....
 Anjurkan banyak minum
 Pertahankan terapi IV line
 Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik
papila lidah dan cavitas oval

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Diare berhubungan dengan NOC: NIC :


Diare Management
- psikologis: stress dan  Bowl Elimination
cemas tinggi  Fluid Balance - Kelola pemeriksaan kultur sensitivitas
- Situasional: efek dari  Hidration feses
medikasi, kontaminasi,  Electrolit and Acid Base - Evaluasi pengobatan yang berefek
penyalah gunaan Balance samping gastrointestinal
laksatif, penyalah Setelah dilakukan tindakan - Evaluasi jenis intake makanan
gunaan alkohol, keperawatan selama …. - Monitor kulit sekitar perianal terhadap
radiasi, toksin, diare pasien teratasi dengan adanya iritasi dan ulserasi
makanan per NGT - Ajarkan pada keluarga penggunaan
kriteria hasil:
- Fisiologis: proses obat anti diare
infeksi, inflamasi,  Tidak ada diare - Instruksikan pada pasien dan keluarga
iritasi, malabsorbsi,  Feses tidak ada darah untuk mencatat warna, volume,
parasit dan mukus frekuensi dan konsistensi feses
 Nyeri perut tidak ada - Ajarkan pada pasien tehnik
 Pola BAB normal pengurangan stress jika perlu
DS: - Kolaburasi jika tanda dan gejala diare
 Elektrolit normal
 Asam basa normal menetap
- Nyeri perut - Monitor hasil Lab (elektrolit dan
 Hidrasi baik (membran
- Urgensi leukosit)
mukosa lembab, tidak
- Kejang perut - Monitor turgor kulit, mukosa oral
panas, vital sign normal,
DO: sebagai indikator dehidrasi
hematokrit dan urin
output dalam batas - Konsultasi dengan ahli gizi untuk diet
- Lebih dari 3 x BAB perhari yang tepat
- Bising usus hiperaktif normaL
Diagnosa Keperawatan/ Masalah Rencana keperawatan
Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Konstipasi berhubungan dengan NOC: NIC :


Manajemen konstipasi
o Fungsi:kelemahan otot  Bowl Elimination
abdominal, Aktivitas fisik tidak  Hidration - Identifikasi faktor-faktor yang
mencukupi Setelah dilakukan menyebabkan konstipasi
o Perilaku defekasi tidak teratur tindakan keperawatan - Monitor tanda-tanda ruptur
o Perubahan lingkungan selama …. konstipasi bowel/peritonitis
o Toileting tidak adekuat: posisi - Jelaskan penyebab dan rasionalisasi
pasien teratasi dengan
defekasi, privasi tindakan pada pasien
o Psikologis: depresi, stress kriteria hasil: - Konsultasikan dengan dokter tentang
emosi, gangguan mental peningkatan dan penurunan bising
 Pola BAB dalam batas
o Farmakologi: antasid, usus
normal
antikolinergis, antikonvulsan, - Kolaburasi jika ada tanda dan gejala
 Feses lunak
antidepresan, kalsium konstipasi yang menetap
 Cairan dan serat
karbonat,diuretik, besi, - Jelaskan pada pasien manfaat diet
adekuat
overdosis laksatif, NSAID, (cairan dan serat) terhadap eliminasi
 Aktivitas adekuat
opiat, sedatif. - Jelaskan pada klien konsekuensi
 Hidrasi adekuat
o Mekanis: ketidakseimbangan menggunakan laxative dalam waktu
elektrolit, hemoroid, gangguan yang lama
neurologis, obesitas, obstruksi - Kolaburasi dengan ahli gizi diet tinggi
pasca bedah, abses rektum, serat dan cairan
tumor - Dorong peningkatan aktivitas yang
o Fisiologis: perubahan pola optimal
makan dan jenis makanan, - Sediakan privacy dan keamanan selama
penurunan motilitas BAB
gastrointestnal, dehidrasi,
intake serat dan cairan kurang,
perilaku makan yang buruk
DS:

- Nyeri perut
- Ketegangan perut
- Anoreksia
- Perasaan tekanan pada rektum
- Nyeri kepala
- Peningkatan tekanan
abdominal
- Mual
- Defekasi dengan nyeri
DO:

- Feses dengan darah segar


- Perubahan pola BAB
- Feses berwarna gelap
- Penurunan frekuensi BAB
- Penurunan volume feses
- Distensi abdomen
- Feses keras
- Bising usus hipo/hiperaktif
- Teraba massa abdomen atau
rektal
- Perkusi tumpul
- Sering flatus
- Muntah
DAFTAR PUSTAKA

American Cancer Society. 2006. Cancer Facts and Figures 2006. Atlanta: American Cancer
Society Inc.

Anderson. 2006. A Patient’s Guide to Rectal Cancer. MD Anderson Cancer Center.


University of Texas.

Basavanthappa, B.T. 2003. Medical Surgical Nursing. New Delhi : Jaypee. 111-134.

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah.Vol. 2. Jakarta:EGC

Dochtermen, J. et al. 2004. Nursing Interventions Classification (NIC). Fourth Edition.


USA:Mosby Elsevier.

Doenges at al. 2000.Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3. Jakarta: EGC.

Herdman, T.H. 2012. Nanda International : Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi
2012-2014.Jakarta:EGC.

Ignatavicius, D.D. et al. 2006, Medical Surgical Nursing, A Nursing Process Approach, 2nd
edition, W.B. Saunders Company, Philadelphia.

LeMone, P. et al. 2008.Medical-Surgical Nursing: Critical Thinking in Client Care. Volume


2

Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Media
Aesculapius.

Otto, S. E. 2003.Buku Saku Keperawatan Oncologi. Jakarta : EGC. 1-123

Price & Wilson. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 4.
Jakarta:EGC.

Samsuhidajat, R. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.

Soeparman & Waspadji (1990), Ilmu Penyakit Dalam, Jld.II, Jakarta: BP FKUI.

Sudjatmiko. 2012. Kolon-Rektum dan Anus. Laboratorium Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga.

University IOWA. 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC). Fourth Edition. Mosby
Elsevier.