Anda di halaman 1dari 4

Kesultanan Bacan dan Jalan Kelautan

Donny Gahral Adian

IMAJINASI banyak orang tentang negeri bernama Bacan, sejak empat tahun
terakhir, dijembatani oleh histeria batu mulia bernilai-jual puluhan, bahkan
ratusan juta rupiah. Demam batu akik yang secara ganjil justru merajalela di kurun
digital ini, membuat banyak orang tak bisa menahan diri untuk tidak
membincangkan seluk-beluk dunia perbatuan. Dan, dalam setiap perbincangan
yang selalu disertai dengan aksi unjuk-jari itu, Batu Bacan telah menjadi benda
yang tak mungkin diabaikan. Betapa tidak? Apapun jenis batu akik yang telah
diperlihatkan, akan segera tenggelam dalam perbincangan, bila Batu Bacan sudah
muncul ke permukaan. Para penggila batu akik berlomba-lomba, saling berebut,
bahkan saling sikut, untuk dapat memiliki Batu Bacan.
Namun, Bacan tentulah tak sekadar dunia batu mulia yang kini memang
sedang digemari. Tak pula sesederhana persaingan dalam bursa penjualan batu
akik. Bacan adalah sebuah gugusan kepulauan, yang dalam catatan sejarah dikenal
sebagai salah satu kesultanan besar di Maluku Utara, selain Ternate, Tidore,
Jailolo, dan Loloda. Silsilah linguistik “Bacan” merujuk pada bahasa Arab;
Bayyan, yang berarti “pengetahuan.” Seiring dengan perkembangan zaman, yang
disertai akulturasi dengan kebudayaan asing, Bayyan mengalami perubahan
ungkapan menjadi Bacan.
Wilayah Bacan terdiri dari pulau-pulau dihubungkan oleh lautan. Pada
paruh awal abad ke-18, Bacan sudah ramai oleh lalu lintas perdagangan, hingga
Sultan Nasaruddin yang berkuasa pada masa itu mengangkat seorang Pandu Laut,
guna mengatur dan memandu kapal-kapal niaga asing (Cina, Arab, Spanyol,
Belanda) yang merapat di areal pelabuhan. Pada masa itu pula, kesultanan Bacan
membentuk (Bea Cukai) di daerah pelabuhan, untuk kepentingan ekonomi
kesultanan. Pandu Laut pertama bernama Molodjunga, yang diberi gaji sebesar 5
Real, dengan tugas antara lain; memandu keluar-masuk kapal ke pelabuhan dan
memasang lampu tiang dalam areal pelabuhan sebagai rambu-rambu laut.
Bacan memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah-ruah. Di masa
lalu, Belanda pernah menjulukinya the sleeping giant (raksasa yang sedang tidur).
Walaupun pada zaman Kesultanan, Belanda sudah membuat kontrak kerjasama
eksploitasi, namun baru sebagian kecil yang diolah untuk kemudian dijadikan
komoditas ekspor. Masih banyak cadangan sumber daya alam di bumi Bacan,
seperti, mangan, bauksit, nikel, baja, minyak bumi, biji besi, tembaga, emas, dan
batu mulia.
Selain itu, Bacan juga memiliki kekayaan hutan yang tak ternilai
harganya, seperti: damar, rotan, kayu dan lain-lain. Damar Mata Kucing (Salong

1
Temang) yang terkenal di dunia hingga kini, pada masa pemerintahan Sultan
Sadek (1860-1889), pernah menjadi sumber pendapatan utama daerah Bacan.
Sumber daya alam dan tingkat kesuburan tanah Bacan inilah yang kemudian
mengundang Mr M.E.F. ELOUT dari Deli Serdang, untuk datang ke Bacan dan
kemudian berhasil membuka perkebunan besar. Menurut catatan sejarah,
onderneming tembakau yang terkenal itu melakukan kunjungan ke kesultanan
Bacan, dari 8 Juni 1880 sampai tanggal 27 Nopember 1880. Elout bertekad untuk
menjadikan Bacan sebagai Deli Kedua. Pada 1 Juli 1881, ia menandatangani
kontrak panjang (75 tahun) dengan Sultan Sadek, guna mengolah semua jenis
mineral, hasil hutan (terutama Damar), dan membuka perkebunan karet, kopi,
coklat, serta kelapa. Selain itu Elout juga mendirikan perusahaan bernama: Batjan
Achipel Maatschapij, untuk pengangkutan hasil-hasil produksi dari Bacan.
Sebelum kedatangan Elout, pada tahun 1852, pernah pula seorang insinyur
pertambangan melakukan eksplorasi tambang Batu Bara dan Emas di daerah
Poang. Namun, karena tenaga kerja tidak memadai, eksplorasi tersebut tidak
dilanjutkan. Eksplorasi kembali dilanjutkan oleh MD Duivenbode dengan
kontrak selama 3 tahun pada 1857, di zaman Sultan Hayatuddin Kornabe
(ayahanda Sultan Sadek). Suldan Hayatuddin (1826-1858) pernah mengatakan,
Bacan dapat dibangun dari sumber daya alamnya, hanya bila dibantu oleh
industri-industri maju di Eropa. Elout berhasil membuka onderneming kopi,
cokelat di Barangka Dolong, kelapa di Panamboang, dan karet di Amasing,
sekaligus dengan pabrik pengolahannya.
Namun, onderneming yang pernah menjadi sumber pendapatan kesultanan
Bacan pada masa keemasannya, kini terbengkalai tak terurus, bahkan tanahnya
sudah dibagi-bagi kepada orang lain. Perkebunan karet berikut pabriknya sudah
dikuasai oleh segelintir orang, dan pabriknya sudah menjadi besi tua. Perkebunan
kopi (robusta dan liberia) sudah menjadi milik orang lain, dan pabrik
pengolahannya juga sudah menjadi besi tua.
Damar yang pernah menjadi primadona di Bacan dan pada tahun 1911
produksinya mencapai 7680 ton, kini sudah habis ditebang oleh perusahaan
pemegang HPH tanpa penanaman kembali. Pada masa Sultan Usman Syah (1900
-1935) seluruh rakyat diwajibkan menanam kelapa tanpa kecuali, bibitnya
diperoleh dengan cuma-cuma dari Sultan. Dan, Bacan kemudian menjadi daerah
penghasil Kopra terbesar di Maluku.
Menurut pengamatan sejumlah sejarawan, kesultanan Bacan adalah salah
satu poros maritim di kawasan timur Nusantara yang masih bertahan setelah
ratusan tahun kejatuhan Majapahit. Aktivitas perniagaan hasil-hasil bumi
sebagaimana diuraikan di atas, tentu tidak bisa dipisahkan dari lautan yang
mengelilinginya, dan karena itu para pemimpinnya, dari generasi ke generasi telah
menggunakan sistem ekonomi berbasis kelautan.
Tak hanya menata dan mengatur lalu-lintas perdagangan di kawasan
pesisir, kesultanan Bacan juga memiliki armada laut (Pancala dan Pancawala)
yang tangguh, hingga dapat melakukan ekspansi kekuasaan sampai ke Waigama,
Salawati, Misol (Pulau-pulau Raja Ampat) dan sebagian besar Irian, terus ke utara
sampai ke Mindanau (Filipina Selatan), dan Pulau Luzon. Di wilayah Barat,

2
ekspansi kekuasaan Bacan sampai sampai ke Seram, Senana, pulau-pulau Nusa
Tenggara, Mandar, Majene, Bugis, dan Manggarai.
Untuk memperkuat basis pertahanan laut, guna mengamankan jalur
perniagaan laut dan menghadang ancaman terhadap kedaulatan kesultanan, Sultan
Zainal Abidin (1280-1345), mengangkat seorang Malesi (Panglima Perang) dan
menempatkan armadanya di wilayah-wilayah taklukan. Sultan menamai
komandan armada lautnya dengan “Tuaping,” yang bertugas menyusun strategi
perang di laut. Pada masa itu, pertahanan maritim kesultanan Bacan memiliki
empat Tuaping, antara lain: (1) Tuaping Nusa, yang berpusat di Lata-lata, dan
bertugas menjaga perairan bagian barat dan utara, (2) Tuaping Sambaki, yang
berpusat di Pulau Batu Sombo, dan bertugas menjaga perairan sekitar Selat Doro
Kusu (Patensi) di bagian timur, termasuk selat Halmahera, (3) Tuaping Mandioli,
berpusat di Pulau Bawi, dan bertugas menjaga perairan bagian selatan, yang
meliputi Mandioli Luar, Selat Bacan, dan Pulau Parapotang, (4) Tuaping
Sungebodol, berpusat di Pulau Wiring, dan bertugas menjaga perairan sekitar selat
Sambaki sampai ke Nusa Lintang (Toduku). Kedua pintu masuk dari Nusa
Lintang dan Pulau Wiring dijaga ketat, karena merupakan pintu gerbang menuju
kesultanan Bacan. Setiap Tuaping memiliki 30 Pancala (armada) dengan 1 buah
Pancawala (Kapal Komando).
Membangun kota-kota pelabuhan tidak cukup dengan pedang dan meriam.
Diperlukan pengetahuan, kemampuan merencanakan, kecakapan mengatur,
ketangguhan memimpin, dan keberanian bertindak. Mengurus pedagang dan
pelaut dari seluruh penjuru dunia dengan adat-kebiasaan, bahasa, perangai dan
perilaku tentu bukan hal yang mudah. Diperlukan pula pengetahuan yang
memadai tentang sistem pelayaran, arah angin, teknologi maritim, adat kebiasaan
dan bahasa, dari semua kalangan, baik yang singgah maupun yang menetap.
Pendeknya, kekuasaan politik dan pertumbuhan perdagangan bertumpu pada
pengetahuan dan organisasi. Demikian kutipan pidato kebudayaan sejarahwan
Hilmal Farid berjudul “Arus Balik Kebudayaan; Sejarah sebagai Kritik” (Jakarta,
2014).
Poros kekuatan maritim inilah yang kemudian mengalami kelunturan
seiring dengan penetrasi kekuatan ekonomi VOC. Menurut catatan Hilmal, ketika
VOC melancarkan operasi hongitochten (pelayaran keliling) yang merusak
perkebunan lada dan pala untuk menjamin monopoli dagang mereka di kawasan
Maluku, yang diserang bukan hanya tanaman dan kehidupan ekonomi, tapi juga
kebudayaan yang memungkinkan orang Maluku bertahan hidup mandiri sebagai
komunitas maritim. Perkembangan serupa dapat kita lihat hari ini di banyak
tempat di mana penggusuran tanah oleh pertambangan dan perkebunan terjadi
secara massif. Ribuan komunitas adat, komunitas tani, komunitas yang
menyambung hidup dari hasil hutan, tidak saja kehilangan tanah, tapi kehilangan
keseluruhan cara hidup, kehilangan kebudayaan.
Barangkali inilah yang di masa kini membuat kita merasa terasing dari
kesadaran maritim, meski dalam hidup keseharian kita tidak bisa memunggungi
laut. Poros ekonomi maritim yang sedang menjadi perhatian pemerintah republik
Indonesia di bawah pimpinan Joko Widodo, agaknya tidak cukup dengan
membangun infrastruktur guna mendukung jalur-jalur distribusi barang melalui

3
laut, tapi membutuhkan strategi kebudayaan baru untuk mengembalikan
kebudayaan maritim dengan segala macam kearifan serta nilai-nilai yang di masa
lalu menjadi tiang penyangga kemandirian masyarakatnya. Jejak sejarah yang
ditinggalkan oleh masa gemilang kesultanan Bacan, tak pelak lagi, perlu
disingkap kembali, hingga kita dapat memperoleh pengetahuan tentang bagaimana
cara memperlakukan laut, menata kehidupan sosial yang diperantarai laut,
membangun kedaulatan ekonomi berbasis kelautan, dan mencapai kemakmuran
dan kesejahteraan dengan kebudayaan maritim.

Donny Gahral Adian


Dosen Filsafat, Universitas Indonesia

Kepustakaan

Djamal Kamarullah Syah, Bacan dalam Sejarah, Jakarta; Sinar Harapan, 2007

Hilmar Farid, Arus Balik Kebudayaan; Sejarah sebagai Kritik, teks Pidato
Kebudayaan, Jakarta, 2014

Katopo E. NUKU, Perjuangan Kemerdekaan di Maluku Utara, Cet II, Jakarta;


Sinar Harapan, 1984.

W.Ph. Coolhaas, Kroniek van het Rijk Batjan, 1924.