Anda di halaman 1dari 14

Laporan Tetap Satuan Proses II

Ekstraksi Kafein dari Teh

Disusun oleh:

Kelompok I
Nama Anggota:
1. Anggik Pratama (061330400289)
2. Astri Handayani (061330400290)
3. Bella Anggraini (061330400291)
4. Deka Pitaloka (061330400293)
5. Diah Lestari (061330400294)
6. Dorie Kartika (061330400295)
Kelas: 4.KA

Dosen Pembimbing: Hilwatullisan, S.T., M.T

Politeknik Negeri Sriwijaya


2015
EKTRAKSI KAFEIN DARI TEH

I. Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah:
1. Mendapatkan kafein dari daun teh dengan cara ektraksi menggunakan
pelarut air dan kloroform.
2. Menentukan kadar kafein dari daun teh.

II. Dasar Teori

Ektraksi dapat dilakukan pada daun teh agar dapat menentukan kadar
kafeinnya. Ekstraksi sendiri adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan
pembagian sebuah zat terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat tercampur untuk
mengambil zat terlarut tersebut dari satu pelarut ke pelarut yang lain. Dalam
melakukan ekstraksi bisa dilakukan dengan tiga metode dasar pada ektraksi cair
yaitu ekstraksi bertahap (batch), ekstraksi kontinyu, dan ekstraksi counter current.
Dalam ekstraksi sering menggunakan hukum distribusi Nersnt dalam
analisisnya. Hukum Distribusi Nernst ini menyatakan bahwa solut akan
mendistribusikan diri di antara dua pelarut yang tidak saling bercampur, sehingga
setelah kesetimbangan distribusi tercapai, perbandingan konsentrasi solut di dalam
kedua fasa pelarut pada suhu konstan akan merupakan suatu tetapan, yang disebut
koefisien distribusi (KD), jika di dalam kedua fasa pelarut tidak terjadi reaksi-
reaksi apapun. Aplikasi ektraksi dalam industri seperti ektraksi phenol dari larutan
coal tar. Selain itu, ektraksi digunakan sebagai operasi komplementer.
Kafein merupakan jenis alkaloid yang secara alamiah terdapat dalam biji
kopi, daun teh, daun mete, biji kola, biji coklat, dan beberapa minuman penyegar.
Kafein memiliki berat molekul 194,19 gr/gmol dengan rumus kimia C8H10N8O2
dan pH 6,9 (larutan kafein 1% dalam air). Secara ilmiah, efek langsung dari kafein
terhadap kesehatan sebetulnya tidak ada, tetapi yang ada adalah efek tak
langsungnya seperti menstimulasi pernafasan dan jantung, serta memberikan efek
samping berupa rasa gelisah (neuroses), tidak dapat tidur (insomnia), dan denyut
jantung tak beraturan (tachycardia) (Hermanto, 2007).
Banyak senyawa nitrogen dalam tumbuhan mengandung atom nitrogen
basa dan karena itu dapat diekstrak dari dalam bahan tumbuhan itu dengan asam
encer. Senyawa ini disebut alkaloid yang artinya mirip alkali. Setelah ektraksi,
alkaloid bebas dapat diperoleh dengan pengolahan lanjutan dengan basa dalam air
(Khopkar, 2010).
Alkaloid adalah basa organik yang mengandung amina sekunder, tersier
atau siklik. Diperkirakan ada 5500 alkaloid telah diketahui, dan alkaloid
merupakan golongan senyawa metabolit sekunder terbesar dari tanaman, Tidak
ada satupun definisi yang memuaskan tentang alkaloid, tetapi alkaloid umumnya
mencakup senyawasenyawa bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom
nitrogen, biasanya sebagai bagian dari sistem siklik. Secara kimia, alkaloid adalah
golongan yang sangat heterogen berkisar dari senyawa-senyawa yang sederhana
seperti coniiene sampai ke struktur pentasiklik strychnine. Banyak alkaloid adalah
terpenoid di alam dan beberapa adalah steroid. Lainnya adalah senyawa-senyawa
aromatik, contohnya colchicine (Utami, 2008).
Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan
pembagian sebuah zat terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat tercampur untuk
mengambil zat terlarut tersebut dari satu pelarut ke pelarut yang lain. Seringkali
campuran bahan padat dan cair (misalnya bahan alami) tidak dapat atau sukar
sekali dipisahkan dengan metode pemisahan mekanis atau termis yang telah
dibicarakan. Misalnya saja, karena komponennya saling bercampur secara sangat
erat, peka terhadap panas, beda sifat-sifat fisiknya terlalu kecil, atau tersedia
dalam konsentrasi yang terlalu rendah (Suparni, 2009).
Pada sistem heterogen, reaksi berlangsung antara dua fase atau lebih. Jadi
pada sistem heterogen dapat dijumpai reaksi antara padat dan gas, atau antara
padat dan cairan. Cara yang paling mudah untuk menyelesaikan persoalan pada
sistem heterogen adalah menganggap komponen-komponen dalam reaksi bereaksi
pada fase yang sama.
Kesetimbangan heterogen ditandai dengan adanya beberapa fase. Antara
lain fase kesetimbangan fisika dan kesetimbangan kimia. Kesetimbangan
heterogen dapat dipelajari dengan 3 cara :
a. Dengan mempelajari tetapan kesetimbangannya, cara ini digunakan untuk
kesetimbangan kimia yang berisi gas.
b. Dengan hukum distribusi Nersnt, untuk kesetimbangan suatu zat dalam 2
pelarut.
c. Dengan hukum fase, untuk kesetimbangan yang umum.

Hukum distribusi adalah suatu metode yang digunakan untuk menentukan


aktivitas zat terlarut dalam satu pelarut jika aktivitas zat terlarut dalam pelarut lain
diketahui, asalkan kedua pelarut tidak tercampur sempurna satu sama lain. Faktor-
faktor yang mempengaruhi koefisien distribusi diantaranya:
1. Temperatur yang digunakan. Semakin tinggi suhu maka reaksi semakin cepat
sehingga volume titrasi menjadi kecil, akibatnya berpengaruh terhadap nilai
k.
2. Jenis pelarut. Apabila pelarut yang digunakan adalah zat yang mudah
menguap maka akan sangat mempengaruhi volume titrasi, akibatnya
berpengaruh pada perhitungan nilai k.
3. Jenis terlarut. Apabila zat akan dilarutkan adalah zat yang mudah menguap
atau higroskopis, maka akan mempengaruhi normalitas (konsentrasi zat
tersebut), akibatnya mempengaruhi harga k.
4. Konsentrasi. Makin besar konsentrasi zat terlarut makin besar pula harga k.
Harga K berubah dengan naiknya konsentrasi dan temperatur. Harga k
tergantung jenis pelarutnya dan zat terlarut. Menurut Walter Nersnt, hukum
diatas hanya berlaku bila zat terlarut tidak mengalami disosiasi atau asosiasi,
hukum di atas hanya berlaku untuk komponen yang sama.

Teknik ekstraksi, tiga metode dasar pada ektraksi cair adalah : ekstraksi
bertahap (batch), ekstraksi kontinyu, dan ekstraksi counter current. Ekstraksi
bertahap merupakan cara yang paing sederhana. Caranya cukup dengan
menambahkan pelarut pengektraksi yang tidak bercampur dengan pelarut semula
kemudian dilakukan pengocokan sehingga terjadi kesetimbangan konsentrasi zat
yang akan diekstraksi pada kedua lapisan. Setelah ini tercapai, lapisan didiamkan
dan dipisahkan. Metode ini sering digunakan untuk pemisahan analitik.
Kesempurnaan ektraksi akan tergantung pada banyaknya ektraksi yang dilakukan.
Hasil yang baik diperoleh jika jumlah ektraksi yang dilakukan berulang kali
dengan jumlah pelarut sedikit-sedikit. Ektraksi bertahap baik digunakan jika
perbandingan distribusi besar. Alat yang biasa digunakan pada ekstraksi bertahap
adalah corong pemisah (Day, 2002).
Ekstraksi adalah proses penarikan suatu zat dengan pelarut. Ekstraksi
menyangkut distribusi suatu zat terlarut (solut) diantara dua fasa cair yang tidak
saling bercampur. Teknik ekstraksi sangat berguna untuk pemisahan secara cepat
dan bersih, baik untuk zat organik atau anorganik, untuk analisis makro maupun
mikro. Selain untuk kepentingan analisis kimia, ekstraksi juga banyak digunakan
untuk pekerjaan preparatif dalam bidang kimia organik, biokimia, dan anorganik
di laboratorium. Alat yang digunakan berupa corong pisah (paling sederhana), alat
ekstraksi soxhlet, sampai yang paling rumit berupa alat counter current craig.
Secara umum, ekstraksi adalah proses penarikan suatu zat terlarut dari larutannya
di dalam air oleh suatu pelarut lain yang tidak bercampur dengan air. Tujuan
ekstraksi ialah memisahkan suatu komponen dari campurannya dengan
menggunakan pelarut. Proses ekstraksi dengan pelarut digunakan untuk
memisahkan dan isolasi bahan-bahan dari campurannya yang terjadi di alam,
untuk isolasi bahan-bahan yang tidak larut dari larutan dan menghilangkan
pengotor yang larut dari campuran. Berdasarkan hal di atas, maka prinsip dasar
ekstraksi ialah pemisahan suatu zat berdasarkan perbandingan distribusi zat yang
terlarut dalam dua pelarut yang tidak saling melarutkan. Perbandingan distribusi
ini disebut koefisien distribusi (K).
Ekstraksi digolongkan menjadi dua macam ekstraksi yaitu:
a) Ekstraksi jangka pendek atau disebut juga proses pengocokan
Hampir dalam semua reaksi organik, dalam proses pemurniannya selalui
melalui proses ekstraksi (penarikan senyawa cair yang akan dimurnikan dari
pelarut air oleh pelarut organik dengan cara mengocoknya dalam corong pisah).
Pelarut organik yang biasa dipakai untuk melarutkan senyawa organik / ekstraksi
ialah eter. Hal ini dikarenakan eter merupakan pelarut yang memiliki sifat inert,
mudah melarutkan senyawa-senyawa organik, dan titik didihnya rendah sehingga
mudah untuk dipisahkan kembali dengan cara destilasi sederhana. Cara ekstraksi
ini biasa dipergunakan dalam :
 Pembuatan ester, untuk memisahkan ester dari pencampurnya.
 Pembuatan anilin, nitrobenzen, kloroform, dan preparat organik cair
lainnya.Bahan yang akan dipisahkan dalam suatu campuran akan terdistribusi
diantara pencampurnya dan pelarutnya membentuk dua fasa/lapisan. Dengan
demikian ekstraksi jangka pendek merupakan proses pengocokan yang
dilakukan dengan menggunakan corong pisah, setelah dikocok dengan kuat
dengan mencampurkan pelarut yang lebih baik bila didiamkan larutan akan
membentuk dua lapisan. Cara melakukan ekstraksi jangka pendek
(pengocokan) menggunakan corong pisah:
2). Ekstraksi jangka panjang
Ekstraksi jangka panjang biasa dilakukan untuk memisahkan bahan alam
yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan atau hewan. Senyawa organik yang
terdapat dalam bahan alam seperti kafein dari daun teh dapat diambil dengan cara
ekstraksi jangka panjang dengan menggunakan suatu alat ekstraksi yang disebut
alat soxhlet (Nurul, 2011).
Teknik ekstraksi, tiga metode dasar pada ektraksi cair adalah : ekstraksi
bertahap (batch), ekstraksi kontinyu, dan ekstraksi counter current. Ekstraksi
bertahap merupakan cara yang paing sederhana. Caranya cukup dengan
menambahkan pelarut pengektraksi yang tidak bercampur dengan pelarut semula
kemudian dilakukan pengocokan sehingga terjadi kesetimbangan konsentrasi zat
yang akan diekstraksi pada kedua lapisan. Setelah ini tercapai, lapisan didiamkan
dan dipisahkan. Metode ini sering digunakan untuk pemisahan analitik.
Kesempurnaan ektraksi akan tergantung pada banyaknya ektraksi yang dilakukan.
Hasil yang baik diperoleh jika jumlah ektraksi yang dilakukan berulang kali
dengan jumlah pelarut sedikit-sedikit. Ektraksi bertahap baik digunakan jika
perbandingan distribusi besar. Alat yang biasa digunakan pada ekstraksi bertahap
adalah corong pemisah (Day, 2002).
III. Alat dan Bahan yang Digunakan

3.1 Alat yang Digunakan


Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
1. Gelas beker 100 ml
2. Gelas arloji
3. Gelas ukur 10 ml, 100 ml
4. Bunsen
5. Hot plate
6. Pipet volume 25 ml
7. Neraca analitik
8. Kertas saring
9. Asbes (kasa)
10. Statif dan klem
11. Separator Funnel

3.2 Bahan yang Digunakan


Bahan yang di gunakan dalam percobaan ini adalah:

1. Teh kering 10 gram


2. CaCO3
3. Kloroform
4. Aquades

IV. Prosedur Percobaan


1. Daun teh kering ditimbang 10 gram yang sudah di tumbuk kering.
2. Daun teh kering dimasukkan ke dalam gelas beker dan ditambahkan 100
ml aquadest.
3. 5 gr CaCO3 ditambahkan dan kemudian dididihkan.
4. Larutan disaring dengan kertas saring dan filtrat dipisahkan dari
endapannya.
5. Filtrat dipanaskan sampai 1/3 volume dan kemudian didinginkan.
6. Larutan dimasukkan ke dalam separator funnel dan ditambahkan 15 ml
kloroform kemudian dikocok.
7. Larutan bawah dan atas dipanaskan pada separator funnel dan larutan
bawah dimasukkan ke dalam gelas beker.
8. 5 ml kloroform ditambahkan pada larutan atas yang ada di separator funnel
lalu dikocok.
9. Lapisan atas dimasukkan pada gelas beker dan dilakukan evaporasi sampai
kering.
10. Menimbang crude kafein.
V. Data Pengamatan

No. Perlakuan Pengamatan


1. 10 gram teh bubuk ditimbang dan Larutan berwarna cokelat pekat
dimasukkan ke dalam gelas kimia dan beraroma teh
kemudian ditambahkan 100 ml
aquadest
2. 5 gram CaCO3 ditambahkan dan Warna larutan cokelat seperti teh
dididihkan di atas hot plate susu, terdapat endapan putih
3. Campuran disaring menggunakan Filtrat terpisah dari endapan yaitu
corong Buchner dan filtrat dipisahkan CaCO3 yang bercampur dengan
dari endapannya bubuk teh. Filtrat berwarna hitam
kecokelatan dan volume yang
didapatkan sebanyak 29 ml.
4. Filtrat dipanaskan hingga volumenya Air menguap, cairan berwarna
tersisa menjadi 1/3 volume awal cokelat kehitaman dan volume
menjadi 5 ml.
5. Cairan yang didapatkan dituangkan ke Terbentuk dua lapisan dengan
dalam separator funnel dan 15 ml lapisan atas berwarna cokelat pekat
kloroform ditambahkan kemudian dan lapisan bawah berwarna
dikocok kecokelatan
6. Lapisan atas dan lapisan bawah Lapisan atas dan lapisan bawah
dipisahkan, lapisan bawah terpisah dengan lapisan atas tetap
dimasukkan ke dalam gelas kimia di separator funnel
7. Lapisan atas ditambahkan 2 ml Terbentuk dua lapisan dengan
kloroform lapisan atas berwarna hitam dan
lapisan bawah berwarna cokelat
8. Lapisan atas dan lapisan bawah Lapisan atas dan lapisan bawah
dipisahkan, lapisan atas ditambang di terpisah
gelas kimia yang baru
9. Lapisan atas dipanaskan sampai Terbentuk kerak atau crude yang
cairannya menguap seluruhnya mengandung kafein dengan berat
0,2 gram

VI. Perhitungan

 Massa beaker gelas kosong = 127,4 gram


 Massa beaker gelas + crude cafein = 127,4 gram
 Massa crude cafein = (Massa beaker gelas + crude
cafein) – (Massa beaker gelas
kosong)
= 127,6 gram – 127,4gram
= 0,2 gram
Kadar kafein dalam 10 gram bubuk teh kering:
0,2 𝑔𝑟𝑎𝑚
% crude cafein = x 100 %
10 𝑔𝑟𝑎𝑚

= 0,02 x 100 %
=2%
Kadar kafein dalam 10 gram bubuk teh kering adalah 2 %.
VII. Analisa Percobaan

Daun teh kering ditambahkan dengan CaCO3 dengan tujuan untuk


membantu pendesakkan kafein dalam daun teh sehingga melarut dalam air atau
dengan kata lain untuk mengikat bahan-bahan yang tekandung dalam teh.
Mendididihkan larutan dimaksudkan untuk memisahkan kafein dan zat-zat lain
dalam teh karena CaCO3 larut dalam keadaan panas. Filtrat yang didapat dari
penyaringan dipanaskan hingga 1/3 volume awalnya agar kandungan yang lain
dari the tersebut hilang dan yang tersisa hanya kafein. Proses pemanasan ini
sangat berperan dalam mendukung difusivitas yaitu masuknya pelarut air
menembus bahan padat daun teh dan melarutkan kafein dari daun karena
perbedaan konsentrasi yang besar antara pelarut dan bahan. Difusivitas ini
memerlukan perbedaan temperatur dan tekanan yang signifikan yang diperoleh
melalui pendidihan larutan. Hasilnya adalah sari daun teh di atasnya, sedangkan
CaCO3 menjadi endapan putih di dasar larutan sehingga tidak mengganggu larutan
yang diinginkan.
Penggunaan kloroform sebagai pelarut kedua adalah karena kloroform
tidak bercampur dengan air dan mudah menguap sehingga pada akhir percobaan
dapat terpisah dengan ekstrak kafein. Kloroform juga berfungsi sebagai pengikat
kotoran (pembersih) larutan agar lebih murni. Pada saat larutan berada di dalam
corong pemisah ini terlihat bahwa air dan kloroform yang kerapatannya lebih
tinggi tidak dapat bercampur. Air berada pada bagian atas, sedangkan kloroform
yang kerapatannya lebih tinggi berada dibawahnya. Pada tahap ini, kafein akan
diikat oleh air sebagai pelarut organik., sehingga pada saat pemisahan
menggunakan corong pisah, bagian bawah dibuang sedangkan bagian atas yang
diambil untuk analisa. Setelahnya dilakukan penambahan 5 ml kloroform dan
dilanjutkan pemanasan ini adalah untuk menguapkan zat tersebut yaitu kloroform
yang dapat dilihat saat pengoperasian keluar uap dan bau yang menyengat. Dari
perhitungan didapatkan kadar kafein di dalam teh yaitu 2%, sedangkan pada
literatur disebutkan bahwa kadar kafein dalam teh berkisar 2-4%.
Ekstraksi kafein dari daun teh bertujuan untuk mengetahui pengaruh air
dan kloroform sebagai pelarut terhadap kafein dalam teh dan mengetahui kadar
kafein dalam teh. Pada percobaan, penambahan CaCO3 agar membantu mendesak
kafein dalam daun teh sehingga larut dalam air dan mengikat bahan-bahan yang
terkandung dalam teh.
Pemanasan bertujuan agar mempercepat reaksi pemisahan antara kafein
dengan daun teh. Dalam proses pemanasan, CaCO3 membentuk endapan berwarna
putih didasar gelas beker. Endapan berasal dari zat-zat lain selain kafein dalam teh
yang diikat CaCO3. Pemanasan ini juga bertujuan menguraikan CaCO3 menjadi
kapur tohor dan karbon dioksida. Penyaringan larutan bertujuan untuk
memisahkan filtrat kafein dengan endapan. Filtrat kafein yang telah dipisahkan
harus dipanaskan lagi agar menguapkan kandungan air dalam filtrat, sehingga
konsentrasi kafein semakin pekat dan kandungan bahan-bahan lainnya hilang.
Kafein tidak ikut menguap pada saat pemanasan karena titik didih kafein yang
tinggi yaitu 326ºC. Pemanasan ini yang menyebabkan volume larutan tinggal
volumenya. Sisa larutan inilah yang dimasukan dalam separator funnel.
Menuang larutan ke dalam separator funnel saat larutan berada pada suhu kamar,
karena jika terlalu dingin, larutan akan mengendap yang disebabkan oleh berat
molekul kafein yang besar dan tekanannya juga besar.
Penambahan kloroform dalam separator funnel bertujuan untuk mengikat
kafein dari larutan agar kafein benar-benar terpisah dari zat-zat lain dalam larutan.
Kafein terikat dengan kloroform karena kloroform adalah zat non polar yang
dapat terikat oleh zat non polar yaitu kafein sendiri. Pada saat penambahan
kloroform, menggunakan hukum distribusi Nersnt. Kloroform menjadi solute
yang mendistribusikan diri diantara kafein dan zat pelarut teh. Pengocokan
separator funnel yang berisi larutan dan kloroform agar kloroform dapat
terdistribusi dengan cepat dan keduanya tercampur sempurna. Dibukanya kran
pada saat pengocokan agar mengeluarkan gas didalamnya, karena jika tidak
dikeluarkan dapat memberikan tekanan pada tutup separator funnel dan dapat
menyebabkan tutup terbuka sendirinya.
Larutan yang telah dikocok dalam separator funnel terbagi menjadi 3
lapisan. Lapisan atas berwarna cokelat tua yang mengandung zat sisa, lapisan
tengah berwarna coklat muda adalah kafein yang masih bercampur dengan zat sisa
sedangkan lapisan bawah yang berwarna bening adalah larutan kafein.
Terbentuknya 3 lapisan ini disebakan massa jenis. Semakin kecil massa jenis
maka akan berada di lapisan paling atas. Larutan kafein dikeluarkan ke dalam
gelas beker agar kafein terpisah dari zat-zat lainnya. Larutan atas ditambah
kloroform agar kafein yang masih tertinggal di nlarutan dapat terpisah secara
sempurna. Sehingga, kafein terikat dengan kloroform dan dapat dikeluarkan ke
gelas beker.
Kafein yang telah dipisahkan, dievaporasi agar menguapkan kloroform
yang masih terdapat pada kafein. Kloroform menguap saat evaporasi karena sifat
kloroform yang mudah menguap. Evaporasi menyisakan crude kafein. Crude
kafein yang didapat adalah 0,089 gram. Sehingga dari perhitungan kadar
kafeinnya dalah 1,06%. Kadar ini lebih kecil dari kadar kafein dalam teh secara
teoritis yaitu 2%-5%. Ini disebabkan teh yang digunakan bukan teh murni. Tetapi
sudah tercampur dengan zat lain oleh produsen. Bisa juga disebabkan kafein tidak
terlarut sempurna.

5.5 PENUTUP

5.5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari percobaan ini adalah:
1. Crude kafein yang didapat dari percobaan ini berbentuk endapan berwarna
putih kehijau-hijauan.
2. Dari berat crude kafein sebesar 0,089 gram didapatkan persentase kadar
kafein dalam daun teh sampel adalah 1,06%.
 Dari 7,5 gram daun teh didapat berat Crude Kafein : 0,089 gram
 Crude kafein berbentuk seperti endapan berwarna putih kehijau-hijauan yang
mengendap.
 Kadar kafein yang didapat dari perhitungan adalah 1,06%

5.5.2 Saran
Saran untuk percobaan ini adalah ekstraksi sebaiknya digunakan
menggunakan daun teh yang murni, sehingga hasil akhir yang didapat bisa sesuai
dengan data teoritis.

Percobaan ini bertujuan untuk mendapatkan kafein dari teh kering dan untuk
menentukan kadar kafein dari daun teh. Kafein merupakan alkaloid yang
mengandung nitrogen dan memiliki properti basa amina organik. Kafein dapat
larut dalam pelarut organik seperti CaCO3 dan dalam air. Kafein juga dapat terikat
oleh senyawa non polar seperti kloroform. Kloroform dapat memisahkan kafein
dari zat lain di dalam teh. Pemisahan kafein dari teh dilakukan dengan cara
ekstraksi. Ekstraksi adalah mengambil suatu zat terlarut dari dalam larutan air
oleh suatu pelarut yang tak dapat campur dengan air sehingga dapat dipisahkan.
Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan metode ekstraksi bertahap
(batch) dan prinsip hukum distribusi dimana zat yang di ekstraksi di larutkan
dalam dua pelarut yang tidak saling larut sehingga zat yang terekstraksi akan
mendistribusikan dirinya terhadap ke dua pelarut itu dan memiliki kecondongan
tertentu untuk lebih terdistribusi kedalam pelarut yang memiliki kesamaan sifat
seperti sama-sama polar dan sejenisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kandungan kafein dari daun teh yang dianalisa tidak sesuai dengan kandungan
kafein dalam teh yang seharusnya, pada percobaan ini didapat kadar kafein
sebesar 1,06% saja yang semestinya kandungan kafeinnya hanya berkisar antara
2-5% saja.