Anda di halaman 1dari 8

Tugas kmb 2

Jenis robekan pada kepala Zulfikar


Mekanisme terjadinya memar pada dan seni bahu
Memar pada dada dan sendi bahu terjadi karena adanya trauma yang
menyebabkan terjadinya ektravasasi (kebocoran) di sekitar jaringan.
Memar terdapat di bawah kulit,. Darah mengalami kebocoran dengan
cara berdifusi dan menyebar sepanjang jaringan.
Struktur anatomi dan patofisiologi tulang humerus

Anatomi Humerus dan Jaringan Sekitarnya


Humerus (arm bone) merupakan tulang terpanjang dan terbesar dari
ekstremitas superior. Tulang tersebut bersendi pada bagian proksimal dengan
skapula dan pada bagian distal bersendi pada siku lengan dengan dua tulang, ulna
dan radius.3
Ujung proksimal humerus memiliki bentuk kepala bulat (caput humeri) yang
bersendi dengan kavitas glenoidalis dari scapula untuk membentuk articulatio
gleno-humeri. Pada bagian distal dari caput humeri terdapat collum anatomicum
yang terlihat sebagai sebuah lekukan oblik. Tuberculum majus merupakan sebuah
proyeksi lateral pada bagian distal dari collum anatomicum. Tuberculum majus
merupakan penanda tulang bagian paling lateral yang teraba pada regio bahu.
Antara tuberculum majus dan tuberculum minus terdapat sebuah lekukan yang
disebut sebagai sulcus intertubercularis. Collum chirurgicum merupakan suatu
penyempitan humerus pada bagian distal dari kedua tuberculum, dimana caput
humeri perlahan berubah menjadi corpus humeri. Bagian tersebut dinamakan
collum chirurgicum karena fraktur sering terjadi pada bagian ini.3
Corpus humeri merupakan bagian humerus yang berbentuk seperti silinder
pada ujung proksimalnya, tetapi berubah secara perlahan menjadi berbentuk
segitiga hingga akhirnya menipis dan melebar pada ujung distalnya. Pada bagian
lateralnya, yakni di pertengahan corpus humeri, terdapat daerah berbentuk huruf
V dan kasar yang disebut sebagai tuberositas deltoidea. Daerah ini berperan
sebagai titik perlekatan tendon musculus deltoideus.3
Beberapa bagian yang khas merupakan penanda yang terletak pada bagian
distal dari humerus. Capitulum humeri merupakan suatu struktur seperti
tombol bundar pada sisi lateral humerus, yang bersendi dengan caput radii.
Fossa radialis merupakan suatu depresi anterior di atas capitulum humeri,
yang bersendi dengan caput radii ketika lengan difleksikan. Trochlea
humeri, yang berada pada sisi medial dari capitulum humeri, bersendi
dengan ulna. Fossa coronoidea merupakan suatu depresi anterior yang
menerima processus coronoideus ulna ketika lengan difleksikan. Fossa
olecrani merupakan suatu depresi posterior yang besar yang menerima
olecranon ulna ketika lengan diekstensikan. Epicondylus medialis dan
epicondylus lateralis merupakan suatu proyeksi kasar pada sisi medial dan
lateral dari ujung distal humerus, tempat kebanyakan tendon otot-otot
lengan menempel. Nervus ulnaris, suatu saraf yang dapat membuat
seseorang merasa sangat nyeri ketika siku lengannya terbentur, dapat
dipalpasi menggunakan jari tangan pada permukaan kulit di atas area
posterior dari epicondylus medialis.3
https://www.scribd.com/doc/103711488/Fraktur-Humerus
Jaringan yang ikut rusak saat tulang menonjol
Capitulum humeri merupakan suatu struktur seperti tombol bundar pada
sisi lateral humerus, yang bersendi dengan caput radii. Fossa radialis
merupakan suatu depresi anterior di atas capitulum humeri, yang bersendi
dengan caput radii ketika lengan difleksikan. Trochlea humeri, yang
berada pada sisi medial dari capitulum humeri, bersendi dengan ulna.
Fossa coronoidea merupakan suatu depresi anterior yang menerima
processus coronoideus ulna ketika lengan difleksikan. Fossa olecrani
merupakan suatu depresi posterior yang besar yang menerima olecranon
ulna ketika lengan diekstensikan. Epicondylus medialis dan epicondylus
lateralis merupakan suatu proyeksi kasar pada sisi medial dan lateral dari
ujung distal humerus, tempat kebanyakan tendon otot-otot lengan
menempel. Nervus ulnaris, suatu saraf yang dapat membuat seseorang
merasa sangat nyeri ketika siku lengannya terbentur, dapat dipalpasi
menggunakan jari tangan pada permukaan kulit di atas area posterior dari
epicondylus medialis.3
Jelaskan definisi close fraktur humerus
Mekanisme trauma pada orang dewasa tua biasa dihubungkan
dengan kerapuhan tulang (osteoporosis). Pada pasien dewasa muda, fraktur ini
dapat terjadi karena high-energy trauma, contohnya kecelakaan lalu lintas
sepeda motor. Mekanisme yang jarang terjadi antara lain peningkatan abduksi
bahu, trauma langsung, kejang, proses patologis: malignansi.
Gejala klinis pada fraktur ini adalah nyeri, bengkak, nyeri tekan,
nyeri pada saat digerakkan, dan dapat teraba krepitasi. Ekimosis dapat terlihat
dinding dada dan pinggang setelah terjadi cedera. Hal ini harus dibedakan
dengan cedera toraks.
Menurut Neer, proksimal humerus dibentuk oleh 4 segmen tulang:
1. Caput/kepala humerus
2. Tuberkulum mayor
3. Tuberkulum minor
4. Diafisis atau shaft

Penyebab terjadinya fraktur humerus


Etiologi
Kebanyakan fraktur dapat saja terjadi karena kegagalan tulang humerus
menahan tekanan terutama tekanan membengkok, memutar, dan tarikan.2
Trauma dapat bersifat2:
1. Langsung
Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi
fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat kominutif
dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan.
2. Tidak langsung
Trauma tidak langsung terjadi apabila trauma dihantarkan ke daerah yang
lebih jauh dari daerah fraktur.
Tekanan pada tulang dapat berupa2:
1. Tekanan berputar yang menyebabkan fraktur bersifat oblik atau spiral
2. Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal
3. Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur impaksi,
dislokasi, atau fraktur dislokasi
4. Kompresi vertikal yang dapat menyebabkan fraktur kominutif atau memecah
5. Trauma oleh karena remuk
Trauma karena tarikan pada ligament atau tendon akan menarik sebagian
tulang.
Tanda Pasti
Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
Pada fraktur test laboratorium yang perlu diketahui : Hemoglobin, hematokrit
sering rendah akibat perdarahan, laju endap darah (LED) meningkat bila
kerusakan jaringan lunak sangat luas. Pada masa penyembuhan Ca dan P
mengikat di dalam darah.
2. Radiologi
Pada rontgen dapat dilihat gambaran fraktur (tempat fraktur, garis fraktur
(transversa,spiral atau kominutif) dan pergeseran lainnya dapat terbaca jelas).
Radiografi humerus AP dan lateral harus dilakukan. Sendi bahu dan siku
harus terlihat dalam foto. Radiografi humerus kontralateral dapat membantu
pada perencanaan preoperative. Kemungkinan fraktur patologis harus
diingat. CT-scan, bone-scan dan MRI jarang diindikasikan, kecuali
pada kasus dengan kemungkinan fraktur patologis. Venogram/anterogram
menggambarkan arus
https://www.scribd.com/document/346795807/Bab-1-5-Fraktur-
Humerusvascularisasi. CT scan untuk mendeteksi struktur fraktur yang lebih
kompleksj.
Tanda tidak pasti
Menurut Smeltzer & Bare (2002) tanda dan gejala dari fraktur humerus,
yaitu:
1. Nyeri
Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang
diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk
bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar
fragmen tulang.
2. Deformitas
Pergeseran fragmen pada fraktur menyebakan deformitas (terlihat
maupun terasa), deformitas dapat diketahui dengan membandingkan
ekstremitas yang normal.
3. Krepitus
Saat ekstremitas diperiksa, terasa adanya derik tulang dinamakan
krepitus yang terasa akibat gesekan antara fragmen satu dengan
lainnya.
4. Pembengkakan dan perubahan warna.
Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi
pembengkakan dan perubahan warna lokal yang mengikuti fraktur.
Tanda ini baru terjadi setelah beberapa jam atau beberapa hari setelah
cidera.
Diagnosa Keperawatan
1. Risiko infeksi
Ds:-
Do :- terdapat luka robek di kepala sepanjang 3cm dan berdarah
2. Nyeri Akut berhubungan agen cidera fisik
DS: - nyeri hebat
Do :
3. Hambatan mobilitas fisik
Ds : tangan tidak bisa di gerakan
Do: Bengak, sertatampak tulang humerus menonjol
4. Kerusakan integritas kulit
Ds :
Do :Memar memar pada sendi bahu dan dada
5. Ansietas
Ds:
Do : adanya benturan yang keras
Penatalaksanaan

1. Fraktur proksimal humeri9,12


Pada fraktur impaksi tidak diperlukan tindakan reposisi. Lengan yang cedera
diistirahatkan dengan memakai gendongan (sling) selama 6 minggu. Selama
waktu itu penderita dilatih untuk menggerakkan sendi bahu berputar sambil
membongkokkan badan meniru gerakan bandul (pendulum exercise). Hal ini
dimaksudkan untuk mencegah kekakuan sendi.
Pada penderita dewasa bila terjadi dislokasi abduksi dilakukan reposisi dan
dimobilisasi dengan gips spica, posisi lengan dalam abduksi (shoulder spica)

Rencana tindakan
1. Resiko infeksi
Tindakan non farmakologis
Perlindungan infeksi
Monitor adanya tanda dan gejala infeksi sistemik dan local
Monitor kerentanan terhadap infeksi
Tingkatkan asupan nutrisi yang cukup
Anjurkan pasien untuk beristirahat
Ajarkan keluarkan pasien untuk mencegah terjadinya infeksi
Pemberian Antibiotik
2. Nyeri behubungan dengan agen cidera fisik
Tindakan Non farmakaologis
Manajemen Nyeri
Lakukukan pengkajian nyeri secara komperhensif
Observasi adanya petumjuknon verbaldari reaksiketidaknyamanan
Gali pengalaman pasien mengenai nyeri
Ajarkan pasien mengenai prinsip-prinsip manajemen nyei
Kendalikan faktorlingkungan yang dapat memicu reaksi
ketidaknyamanan
Ajarkan teknik non farmakologis seperti distraksi relaksasi
Tindakan farmakologis
Pemberian obat
Analgesic
3. Hamabatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan musculoskeletal
Tindakan non farmakologis
Penigkatan latihan: latihan kekuatan
Dapatkan persetujuan medis untuk memulai program latihan
Demonstrasikan sikap tubuhyang baik pada saat talihan
Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain seperti ahli terapis
Penatalaksanaan Farmakologis
4. Kerusakan integritas kulit
Tondakan non farmakologis
Pengecekan kulit
Periksa kulit terkait adanya kemerahan ,bengakak dan kehanagatan
pada kulit
Monitor infeksi terutama pada daerah sekitar odem
Monitor kulit untuk adanya ruam
Perawatan luka
Bersikan area luka dengan larutan salin dengan tepat
Berikan balutan yang sesuai dengan luka
Pertahankan teknik balutan steril ketika melakukan perawatan luka
Anjarkan pasien mengenai cara mengenali tanda tanda infeksi.
Tindakan farmakologi
5. Ansietas
Tindakan non Farmakologis
 Pengurangan kecemasan
Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
Nyatakan dengan jelas mengenai harapan dari perilaku klien
Dorong keluarga untuk mendampingi pasien
Bantu klien mengidentifikasi situasi yang memicukecemasan
Kaji ytanda verbal Dan non verbal adanya kecemasan.
6. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan Gangguan fungsi tubuh
Pentalaksannan non farmakologis
 Penigkatan citra tubuh
Tentukan harapan citra diri pasien di dasarkan padatahap
perkembangan
Gunakan bimbingan antisipasif terkaitperubahan yang dialami
Monitor frekuensi pasien dalam mengkritisi diri sendiri
Bantu klien meningkatkan tindakan tindakan yang dapat
meningkatkan citra tubuh pasien
Identifikasi dampak dari keterbatasan pasien