Anda di halaman 1dari 17

DASAR ILMU NUTRISI & PAKAN HEWAN

“Kandungan nutrisi pada pakan hewan eksotik (Trenggiling)”

Oleh :
Merysal Magdalena Salo 1409010043
Putri Florensia Ludji Pau 1409010048

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat dan
tuntunanNya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun
isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan,
petunjuk maupun pedoman bagi pembaca khususnya tentang nutrisi pakan pada hewan eksotik
“trenggiling”.

Makalah ini merupakan salah satu prasyarat dari mata kuliah dasar ilmu nutrisi dan pakan
hewan. Tak lupa juga kami berterima kasih kepada dosen khusus mata kuliah dasar ilmu nutrisi
dan pakan hewan, yang telah membimbing kami untuk dapat menyelesaikan makalah ini dengan
baik. Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga
kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki
sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-
masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Kupang, November 2015


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Trenggiling adalah hewan khas Asia. Di Indonesia, trenggiling hidup di Jawa, Sumatera,
dan Kalimantan. Trenggiling memang suka hidup di hutan tropis. Trenggiling adalah hewan
berkaki empat yang tidak punya gigi. Trenggiling (Manis javanica) merupakan hewan mamalia
Indonesia yang termasuk famili Manidae. Adanya pembukaan hutan untuk daerah pemukiman
dan lahan pertanian, perburuan liar, serta perdagangan yang tidak terkontrol, menyebabkan
terancamnya keberadaan trenggiling di habitat aslinya. Penelitian ini menggunakan satu ekor
trenggiling jantan yang berasal dari Sukabumi, Jawa Barat, dengan bobot badan awal 3,536 kg.
Tujuan penelitian adalah untuk menentukan konsumsi dan daya cerna trenggiling terhadap
pemberian pakan kroto, tahu, dan rayap serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan trenggiling.
Pengukuran kecernaan pakan pada trenggiling dilakukan secara in vivo dengan metode koleksi
feses total. Pada makalah ini akan dibahas secara detail bagaimana kandungan nutrisi pada pakan
hewan eksotik khususnya tenggiling.

1.2. Tujuan :
 Mengidentifikasi manajemen, jenis serta kandungan nutrisi pada pakan trenggiling
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Sekilas tentang trenggiling

Taksonomi :

Kerajaan : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Mammalia

Ordo : Pholidota

Famili : Manidae

Genus : Manis

Spesies : M. javanica

Trenggiling merupakan salah satu bintang unik dan khas. Hewan langka yang salah satu
spesiesnya, Manis javanica, hidup di Indonesia ini mempunyai ciri khas dengan tubuhnya yang
dilindungi sisik dari keratin. Namun bukan sekedar kulitnya yang bersisik saja yang kemudian
menasbihkan trenggiling sebagai binatang yang unik. Masih terdapat sederetan fakta-fakta unik
lainnya terkait dengan trenggiling.

Trenggiling merupakan sekelompok hewan mamalia dari family Manidae. Semula


keseluruhan trenggiling dikelompokkan dalam satu genus yaitu Manis. Namun seiring
perkembangan, sekarang trenggiling dikelompokkan dalam empat genus yaitu Manis (sebanyak
4 spesies), Smutsia (2 spesies), Phataginus, dan Uromanis (masing-masing 1 spesies). Dalam
bahasa Inggris trenggiling dikenal sebagai pangilon.
10 Fakta Unik Trenggiling

 Terdapat 8 spesies trenggiling di dunia. 4 spesies di Afrika dan 4 spesies di Asia.


 Lidah trenggiling lebih panjang dari badan trenggiling tersebut.
 Seekor trenggiling dapat mengkonsumsi 70 juta semut per tahun.
 Trenggiling tidak memiliki gigi. Mereka mengunyah dengan kerikil & duri keratin
terletak di dalam perutnya.
 trenggiling menutup telinga dan hidung mereka untuk menjaga agar tidak dimasuki
serangga dari luar.
 Trenggiling menandai wilayah mereka dengan air kencing, tinja dan sekresi yang
bercanpur dengan kelenjar khusus.
 Bayi Trenggiling dibawa di punggung dan ekor ibu mereka.
 Berat sisik trenggiling mencapai 20% dari total berat tubuh mereka.
 Sisik trenggiling terbuat dari keratin seperti kuku manusia.
 Puluhan ribu trenggiling liar dibunuh setiap tahun untuk diperdagangkan sisik dan
dagingnya.

2.2. Jenis-jenis Trenggiling di Dunia

Di dunia terdapat delapan spesies trenggiling yang dikelompokkan dalam empat genus.
Sebanyak 4 spesies diantaranya hidup di Asia sedangkan 4 spesies sisanya hidup di Afrika. Dari
kedelapan spesies tersebut, satu jenis hidup di Indonesia yaitu spesies trenggiling yang bernama
ilmiah Manis javanica atau dikenal dengan Sunda Pangolin. Kedelapan spesies trenggiling
tersebut adalah:
 Manis crassicaudata (Thick-tailed Pangolin); hidup di Bangladesh, India, Pakistan, dan
Sri Lanka. Status konservasi Near Threatened.

 Manis culionensis (Philippine Pangolin); hidup di Filipina. Status konservasi Near


Threatened.
 Manis javanica (Sunda Pangolin); hidup di Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia,
Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Status konservasi
Endangered.

 Manis pentadactyla (Chinese Pangolin); hidup di Bangladesh, Bhutan, China, Hong


Kong, India, Laos, Myanmar, Nepal, Taiwan, China, Thailand, dan Vietnam. Status
konservasi Endangered.
 Phataginus tricuspis (sinonim: Manis tricuspis; White-bellied Pangolin); Hidup di
Angola, Benin, Kamerun, Afrika Tengah, Kongo, Equatorial Guinea, Gabon, Ghana,
Kenya, Liberia, Nigeria, Rwanda, Sierra Leone, Sudan, Tanzania, Togo, Uganda, dan
Zambia. Status konservasi Near Threatened.

 Smutsia gigantea (sinonim: Manis gigantea; Giant Ground Pangolin); hidup di Rwanda.
Status konservasi Near Threatened.
 Smutsia temminckii (sinonim: Manis temminckii; Temminck’s Ground Pangolin). Hidup
di Angola, Botswana, Afrika Tengah, Chad, Ethiopia, Kenya, Malawi, Mozamb,
Namibia, Afrika Selatan, Sudan, Swaziland, Tanzania, Uganda, Zambia, dan Zimbabwe.
Status konservasi Last Concern.

 Uromanis tetradactyla (sinonim: Manis tetradactyla; Black-bellied Pangolin). Hidup di


Kamerun, Kongo, Equatorial Guinea, Gabon, Ghana, Liberia, Nigeria, dan Sierra Leone.
Status konservasi Last Concern.
2.3. Ciri khas trenggiling

Trenggiling termasuk satwa nocturnal yakni aktif mencari makan pada malam hari.
Umumnya ditemukan hidup soliter (sendiri), meskipun kadangkala ditemukan hidup
berpasangan (Medway 1969). Trenggiling tidak banyak melakukan aktivitas pada siang hari.
Biasanya, pergerakan mereka sangat perlahan kecuali jika dalam keadaan terancam dan dapat
bergerak cepat dengan bantuan ekornya dan membentuk bola untuk melindungi tubuh. Ekor
tersebut juga digunakan untuk membantu memanjat pohon (Heath 1992) Sebagai satwa yang
aktif pada malam hari, maka trenggiling biasanya tidur sepanjang hari dalam lubang-lubang yang
dibuat sendiri di tanah atau berada pada cabang dan batang di atas pohon, dan pada malam hari
mulai keluar dari lubangnya untuk mencari mangsanya berupa semut atau rayap (Breen 2003).

Trenggiling dapat berjalan dengan cepat, terkadang terlihat mengangkat kedua kaki
depannya yang bertumpu pada kaki belakang untuk membaui sesuatu di udara. trenggiling juga
diketahui dapat berenang, memiliki kebiasaan memanjat yang baik dengan menggunakan kaki
dan ekornya untuk berpegangan pada kulit dan cabang pohon. Seluruh aktivitas dan perilaku
trenggiling di habitatnya mengarahkan pada aktivitas mencari makan sedangkan aktivitas makan
dilakukan agar trenggiling mampu berkembang biak (reproduksi dan breeding) (Dickman dan
Richer 2001).
2.4. Pakan trenggiling

Pakan utama trenggiling adalah semut (Ordo Hymenoptera) dan rayap (Ordo Isoptera) dan
semut merah tanah diketahui adalah pakan yang disukai (Heryatin 1983 dalam Sari 2007).
Sementara itu, pada trenggiling China (Manis pentadactyla) jenis rayap yang disukai adalah
rayap tanah (Coptotermes formosanus), dan rayap kayu kering (Macrotermes barneyi). (Wu et. al
2005)

Trenggiling diketahui sangat kuat dalam menggali lubang terutama untuk mendapatkan
semut dan rayap dengan menggunakan indera penciumannya. Sebelum menemukan mangsa,
trenggiling biasanya membaui daerah yang diduga merupakan tempat bersarangnya mangsa
kemudian menggali sarang yang ada di bawah permukaan tanah maupun di atas pohon dengan
menggunakan cakar dari kaki depan hingga semut dan rayap keluar . Untuk menggantikan fungsi
gigi, lalu ia akan memakan kerikil untuk melumatkan makanannya, karena lambung trenggiling
telah dilapisi oleh epitel pipih berlapis banyak dan mengalami keratinisasi cukup tebal. Epitel
yang mengandung keratin ini akan melakukan adaptasi terhadap jenis makanan keras. Gesekan
mekanik antara rangka semut atau rayap yang dimakan dapat diminimalisir dengan adanya
keratin tersebut.
2.4.1. Pengembangan Pakan Trenggiling di Penangkaran

Selain semut, di penangkaran trenggiling juga diketahui mengonsumsi kroto (Oecophylla


smaragdina). Kroto biasa diartikan sebagai campuran pupa dan larva semut rangrang yang dijual
atau dimanfaatkan sebagai pakan burung berkicau dan umpan memancing. Kandungan protein
kroto basah (telur dan larva semut rangrang) tergolong tinggi yakni mencapai 47,8% (Paimin dan
Paimin 2002 dalam Sari 2005).

Dipenangkaran, pakan berupa telur semut atau kroto yang dicampur dengan dedak dan
tepung jagung. Satu ekor trenggiling dewasa menghabiskan sebanyak 1 Kg. Pakan tidak
langsung yang diberikan berupa semangka dan berbagai jenis buah-buahan lain yang dapat
mendatangkan semut merah sehingga dapat dimakan langsung oleh trenggiling seperti di habitat
alaminya (Bismark 2009). Banyak para penangkar trenggiling yang tidak dapat melakukan
penangkaran satwa ini dengan baik karena trenggiling sulit beradaptasi terhadap jenis pakan
yang tersedia di penangkaran sehingga pengelolaan trenggiling di penangkaran sulit
dipertahankan (Yang et al. 2007).

Perilaku minum pada trenggiling tidak jauh berbeda dengan cara memperoleh mangsanya.
Trenggiling mengeluarkan lidahnya dan memasukkannya kembali dengan cepat ketika minum
(Nowak 1999). Menurut Nisa (2005) makanan yang dicerna di dalam lambung sepenuhnya
dilakukan hingga menjadi halus dengan bantuan kerikil atau butiran pasir yang tertelan. Tempat-
tempat mencari makan berada di sekitar rumput, pohon-pohon dan semak-semak, di bawah
serasah, di pohon atau ranting dan cabang yang jatuh, tunggul mati, dan dalam sarang rayap (Wu
et. al 2005).

2.4.2. Manajemen Pakan

Aspek pakan harus mendapat perhatian secara serius karena pakan pada dasarnya
merupakan faktor pembatas (limiting factor) bagi kelangsungan hidup dan perkembangbiakan
serta produksi suatu organisme termasuk trenggiling. Makanan dalam sistem pemeliharaan satwa
di penangkaran bahkan menempati komponen biaya produksi terbesar mencapai 60-70% dari
seluruh biaya produksi (pemeliharaan).

Terkait dengan manajemen pakan, maka hal terpenting yang harus diperhatikan mencakup
jenis pakan dan jumlah konsumsi serta kualitas gizi pakan. Jenis pakan yang disediakan selain
disesuaikan dengan habit (kebiasaan) dan preferensi (tingkat kesukaan). Secara teknis untuk
trenggiling di penangkaran dapat juga dikembangkan pakan buatan, yang terpenting memenuhi
persyaratan sesuai kebutuhan dan tahap perkembangan trenggiling. Di penangkaran pakan yang
diberikan berupa kroto (telur semut). Selain itu secara teknis untuk menarik semut sebagai pakan
maka di dalam kandang disediakan buah-buahan segar sebagai pemancing (umpan) seperti
pepaya, pisang dan semangka).

Mengingat biaya pakan merupakan komponen biaya yang besar, maka percobaan untuk
mengetahui tingkat konsumsi dan peferensi pakan terus dilakukan termasuk usaha pemberian
pola menu pakan yang berbeda dengan kebiasaannya di alam, dengan tujuan mempertinggi
efisiensi teknis bioligis untuk mendapatkan makanan yang memberikan pengaruh biologis
terbaik bagi pertumbuhan dan perkembangbiakan trenggiling sekaligus secara efisiensi teknis
ekonomis merupakan makanan yang murah.

Sebagai contoh dalam percobaan pemberian pakan trenggiling di penangkaran UD Multi


Jaya Abadi, yang tersusun dari kroto dan dedak dengan komposisi yang berbeda (Pakai 1 terdiri
kroto 50 gram dan dedak 100 gram; Pakan 2 terdiri kroto 80 gram dan dedak 70 gram). Hal
prcobaan menunjukkan kedua jenis pakan tersebut ternyata memberikan pengaruh yang tidak
berbeda dalam hal jumlah konsumsi pakan, namun dari segi tingkat kesukaan (preferensi atau
palatabilitas) ternyata pakan dengan komposisi kroto 80 gram lebih disukai daripada pakan
dengan kandungan kroto 50 %. Hal ini menunjukkan bahwa secara alamiah trenggiling sebagai
pemakan semut cenderung memilih makan sesuai kebiasaannya (habit). Prinsip ini secara teknis
dapat dijadikan acuan didalam menyusun pakan trenggiling di penangkaran.

2.4.3. Jadwal pemberian pakan

Pemberian pakan di penangkaran dilakukan pada malam hari yakni pukul 18.00−19.00
WIB yang disesuaikan dengan waktu aktivitas trenggiling mencari makan pada malam hari
(nocturnal animal) (Medway 1969), pengelola tetap memberikan pakan yang disesuaikan dengan
kondisi dan aktivitas trenggiling. Apabila trenggiling masih terlihat istirahat (tidur) atau belum
menunjukkan perilaku memanjat dan berjalan, maka pemberian pakan belum dilakukan. Hal ini
dilakukan dengan tujuan agar pakan yang diberikan benar-benar segera dapat dimakan
trenggiling sehingga menjadi efektif dan efisien. Pengalaman menunjukkan bahwa apabila pakan
yang telah diberikan tidak segera dimakan, karena trenggiling masih tidur dan belum
beraktivitas, maka pakan tersebut menjadi cepat basi, tidak dimakan dan dapat menjadi sumber
berkembangnya bibit penyakit.

2.4.4. Kandungan nutrisi pada pakan trenggiling

Trenggiling sudah dikenal luas sebagai komponen penting dalam TCM (Traditional
Chinese Medicine) yang memberikan manfaat baik untuk pengobatan. Meski belum ada
penelitian medis yang mendukungnya, tetapi banyak orang meyakini bahwa daging trenggiling
dapat mengatasi: penyakit jantung, stroke, paru-paru, kencing manis, darah tinggi, haid tidak
teratur, serta kesehatan kulit. Bagian binatang ini yang dapat dimanfaatkan adalah: daging, sisik,
empedu, serta lidahnya.
2.5. Jenis kandang, konstruksi, kapasitas, dan fasilitas kandang

Penyediaan habitat buatan sebagai tempat hidup di penangkaran trenggiling menjadi salah
satu prasyarat penting yang harus dipersiapkan sebelum pengembangan penangkaran. Habitat
buatan tersebut yakni berupa kandang dan berbagai komponen pendukung dalam kandang seperti
lubang sebagai tempat berlindung (cover) dan istirahat. Penyediaan kandang sedapat mungkin
mempertimbangkan kebiasaan (habit) trenggiling di alam.

Pada lokasi penangkaran jenis kandang yang dikembangkan seringkali dibedakan secara
khusus menurut fungsi atau tujuannya/penggunaannya, yakni (a) kandang adapatasi untuk
keperluan proses adaptasi, (b) kandang reproduksi untuk kepentingan perkembangbiakan, dan (c)
kandang pembesaran anak untuk keperluan proses pemeliharaan dan pembesaran anak.
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Ditinjau dari perilaku dan aktivitas hariannya di penangkaran, diketahui bahwa trenggiling
memiliki peluang dan prospektif untuk dikembangbiakan di penangkaran. Secara alami
trenggiling termasuk satwa yang aktif pada malam hari (nocturnal), namun dalam pemeliharaan
di penangkaran diketahui bahwa trenggiling mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan
dan system. pemeliharaan sehingga ada kecenderungan dapat berubah menjadi satwa yang aktif
pada siang hari (diurnal). Dalam usaha pengembangan penangkaran trenggiling, maka ada
beberapa aspek teknis penangkaran yang harus mendapat perhatian, yakni aspek perkandangan,
pakan dan pengelolaan kesehatan dan pngendalian penyakit dan manajemen pengembangbiakan
(breeding dan reproduksi).Dalam makalah ini lebih di bahas apa saja kandungan nutrisi pada
pakan trenggiling yang sangat mendukung pengembangan penangkaran trenggiling.

3.2. Saran

Dengan adanya makalah ini semoga dapat menambaha wawasan setiap pembaca tentang
pakan hewan eksotik “trenggiling”.
DAFTAR PUSTAKA

 Heath ME dan Vanderlip SL. 2005. Biology, husbandry, and veterinary care of captive
Chinese pangolins (Manis pentadactyla) [abstract]. Zoo biology, 7(4):293-Hertanto,
editor. 2010.
 http://megapolitan.kompas.com/read/2010/04/17/21594696/Sejuta.Kilo.Daging.Trenggili
ng.Dijual [11 Mei 2010]
 Zainuddin H. 2008. Satwa jelmaan setan itu kini jadi barang dagangan.
 http://balithut-aeknauli.org/2013/10/03/sekilas-tentang-trenggiling/
 http://m.kidnesia.com/Kidnesia2014/Dari-Nesi/Sekitar-Kita/Pengetahuan-
Umum/Trenggiling-Si-Bola-Bersisik