Anda di halaman 1dari 245

PENGEMBANGAN LKS BERBASIS PENDEKATAN PEMODELAN

MATEMATIKA PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DI


SMAN 18 PALEMBANG

Skripsi Oleh

Nadiah

Nomor Induk Mahasiswa 06111008011

Program Studi Pendidikan Matematika

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

INDRALAYA

2015
Halaman Persembahan

Alhamdulillahi robbil ‘alamin. Segala puji dan syukur bagi ALLAH SWT atas
segala karunia-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan penulisan skripsi ini .
Sebuah kebahagiaan yang tak ternilai atas terselesainya penulisan skripsi ini,
selayaknya semacam ”Manusia Sempurna” menginginkan berbagi kebahagiaan
dan kebanggaan dengan sekitarnya karya ini ku persembahkan untuk:

 Kedua orang tua mama dan aba . Terima kasih atas segala pengorbanan,
do’a, dan kasih sayang yang tiada henti.

 Kakakku Haniah, Mudrik, Naufa dan Syaukat terima kasih telah menjadi
kakak yang hebat dan menyemangatiku dan terima kasih atas
dukungannya selama ini.

Motto :

“Where there is a wil lthere is a way”

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah
selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang
lain. (Q.S Al-Insyirah 6-7)
UCAPAN TERIMA KASIH

Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar
sarjana (S1) pada Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Pendidikan
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan, Universitas Sriwijaya.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Darmawijoyo, M.Si dan
Dra. Nyimas Aisyah M.Pd sebagai pembimbing dalam pembuatan skripsi ini.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Prof. Sofendi, M.A, Ph.D, Dekan
FKIP Unsri, dan Dr. Ismet M.Si ketua Jurusan Pendidikan MIPA, Dra. Cecil
Hitrimartin Ketua Program Studi Pendidikan Matematika yang telah memberikan
kemudahan dalam pengurusan administrasi penulisan skripsi ini.
Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Dr. Budi Santoso, M.Si , dan
Dr. Ely Susanti, M.Pd anggota penguji yang telah memberikan sejumlah saran
untuk perbaikan skripsi ini.
Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada seluruh dosen Program Studi
Pendidikan Matematika yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan bimbingan
selama mengikuti perkuliahan. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Budi
Mulyono, S.Pd, M.Sc, Dr. Yusuf Hartono, Meryansumayeka S.Pd, M.Sc, dan
Dalimah S.Pd selaku validator dalam pengembangan LKS yang telah penulis
lakukan.
Selanjutnya penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Dinas
Pendidikan Pemuda dan Olahraga (DISDIKPORA), kepada sekolah, guru-guru
serta siswa- siswi kelas X SMA Negeri 18 Palembang, teman-teman seperjuangan
HIMMA 2011 serta semua pihak yang telah memberikan bantuan sehingga skripsi
ini dapat diselesaikan.
Mudah-mudahan skripsi ini dapat bermanfaat untuk pengajaran bidang
studi pendidikan matematika dan pengembangan pada bidang lainnya.
Indralaya, Juni 2014
Penulis,

Nadiah
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………. iii
DAFTAR TABEL……………………………………………………………….. v
DAFTAR GAMBAR……………………………………………………………. vi
DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………………. vii
ABSTRAK……………………………………………………………………... viii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang…………………………………………………..................... 1


1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………………. 4
1.3 Tujuan Penelitian……………………………………………………………. 4
1.4 Manfaat Penelitian…………………………………………………………… 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pendekatan pemodelan Matematika………………………………………… 5


2.2 LKS………………………………………………………………………… 8
2.3 Sistem Persamaan Linear di Kurikulum 2013…………………………….... 13
2.4 LKS berbasis Pendekatan pemodelan Matematika Pada Materi Sistem
Persaman
Linear………………………………………………………………………. 19

2.5 Kriteria Produk …………………………………………………………….. 20


BAB III METODELOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian ……………………………………………………………. 24


3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian …………………………………................... 24
3.3 Subjek Penelitian…………………………………………………………… 24
3.4 Tahap Penelitian …………………………………………………………… 24
3.5 Teknik Pengumpulan Data ………………………………………………… 28
3.6 Teknik Analisis Data ………………………………………………………. 30
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil ……………………………………………………………………….. 33

4.2 Pembahasan ……………………………………………………………….. 55

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan ………………………………………………………………… 66
5.2 Saran ………………………………………………………………………. 67
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………….. 68
LAMPIRAN …………………………………………………………………… 75
DAFTAR TABEL

1. Karakterisitik LKS berbasis Pendekatan Pemodelan Matematika… 20


2. Saran dan Keputusan Revisi……………………………………….. 29
3. Kategori Skor Observasi small Group …………………………… 31
4. Skor Skala Likert………………………………………………….. 32
5. Kategori Hasil Angket…………………………………………..… 32
6. Jadwal Kegiatan Penelitian………………………………………... 34
7. Validator Expert review…………………………………………... 36
8. Komentar Tahap Expert Review…………………………………... 36
9. Hasil Revisi Expert Review……………………………………..… 38
10. Komentar Tahap One-to-one………………………………...……. 39
11. Hasil Revisi tahap One-to-one………………………………..…… 41
12. Komentar Tahap Small Group…………………………………..… 43
13. Hasil Revisi Small Group………………………………………..… 44
14. Hasil Penilaian Pengamatan Sikap Dalam Proses Pembelajaran (Kerja
Kelompok)………………………………………………………….. 51
15. Hasil Analisis Angket……...……………………………………….. 52
DAFTAR GAMBAR

1. Skema Pemodelan matematika ……………………………………… 6


2. Proses Pemodelan Matematika………………………………………. 7
3. Alur Desain Pemodelan Model ADDIE …………………………….. 25
4. Bagan Formative Evaluation …………………………………………..… 27
5. Guru Memulai Proses Pembelajaran………………………………… 45
6. Siswa Kelas X.2 Berdiskusi dalam Kelompok ……………………… 46
7. Perwakilan Kelompok Siswa Melakukan Persentasi………………… 46
8. Siswa Kelas X.3 Melakukan Diskusi Kelompok …………………… 48
9. Persentasi Siswa……………………………………………………… 48
10. Siswa Menemukan Variabel dan Persamaan………………………… 58
11. Perkiraan Jawaban Siswa…………………………………………….. 59
12. Jawaban Siswa Pada Saat Field Test ……………………………….. 60
13. Kesalahan Siswa Pada Field Test ……………………………….…… 64
Daftar Lampiran

1. Surat Pengajuan Usul Judul Skripsi …………………………………… 74


2. Surat Keputusan Penunjukkan Pembimbing Skripsi ………………….. 75
3. Izin Penelitian dari Dekan FKIP Unsri ……………………………….. 76
4. Izin Penelitian dari Diknas Kota Palembang …………………………. 77
5. Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian dari SMAN 18 Palembang 78
6. Prototype ……………………………………………………………… 79
7. Prototype 1 ……………………………………………………..……. 117
8. Prototype 2 …………………………………………………..……… 162
9. Prototype 3 ………………………………………………..………… 206
10. Komentar Validator Expert Review ………………….…………… 246
11. Komentar Siswa Pada Tahap One-to-one ………………………… 247
12. Komentar Siswa Pada Tahap Small group ……………………….. 248
13. Lembar Observasi Small group …………………………………… 249
14. Hasil Observasi small group ……………………………………… 250
15. Lembar Observasi Field Test ……………………………………… 255
16. Transkrip Wawancara ……………………………………………… 256
17. Angket ……………………………………………………………… 260
18. Data Hasil Angket …………………………………………………. 261
19. Dokumentasi ……………………………………………………….. 262
20. Kartu Bimbingan Skripsi…………………………………………… 265
PENGEMBANGAN LKS BERBASIS PENDEKATAN PEMODELAN
MATEMATIKA PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DI
SMAN 18 PALEMBANG
ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan LKS berbasis pendekatan


pemodelan matematika yang valid dan praktis serta memiliki efek potensial.
Metode penelitian pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
model ADDIE ( Analysis, Design, Development, Implementation, and
Evaluation). Teknik Pengumpulan data dilakukan dengan walkthrough, observasi,
wawancara dan angket. Hasil penelitian ini diperoleh empat LKS berbasis
pendekatan pemodelan matematika yang valid dan praktis serta memiliki efek
potensial. Bedasarkan pengembangan LKS yang telah dikembangkan diketahui
ciri khas dari LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika yang
dikembangkan oleh peneliti adalah : (1). LKS berbasis pendekatan pemodelan
matematika yang peneliti kembangkan membantu siswa dalam menentukan
variabel dan model matematika masalah kehidupan sehari-hari pada materi sistem
persamaan linear. (2) LKS yang peneliti kembangkan membantu siswa dalam
mngerjakan soal cerita sistem persamaan linear secara sistematis.
Kata kunci : LKS, Pendekatan Pemodelan Matematika

Skripsi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UNSRI 2015

Nama : Nadiah

NIM : 06111008011

Dosen Pembimbing : 1. Dr. Darmawijoyo M.Si


2. Dra. Nyimas Aisyah M.Pd
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu materi pada kelas X SMA adalah sistem persamaan linear. Materi
sistem persamaan linear mengajak siswa untuk dapat menuliskan variabel,
membuat simbol aljabar sebagai bentuk representasi dan menganalisis situasi
matematika, dapat membangun pengetahuan matematika melalui masalah dunia
nyata dan pemecahan masalah, serta dapat menggunakan bahasa matematika
untuk mengekspresikan ide (NCTM, 2000). Di dalam buku cetak siswa kelas X,
materi ini adalah materi yang penting, karena merupakan materi prasyarat untuk
melanjutkan ke materi matriks dan program linear (Kemendikbud,2013).
Kurikulum 2013 dalam kompetensi inti (KI), di dalam KI keempat terdapat dua
kompetensi dasar yang memuat materi sistem persamaan linear yang
diintegrasikan dalam dunia nyata. Materi sistem persamaan linear juga terdapat
dalam penilaian PISA (Programme For International Student Assesment ) juga
terdapat materi sistem persamaan linear yang masuk dalam konten change and
relationship. PISA menghendaki siswa untuk dapat mengidentifikasikan dan
mengerti aturan permainan matematika dalam dunia nyata ( OECD, 2003).
menteri pendidikan Muh. Nuh, soal UN (Ujian Nasional) dalam koran Kompas
(2014) dimana UN mengacu pada Programme For International Student
Assesment ( PISA).
Pendekatan yang dapat mengajarkan siswa untuk dapat mengubah masalah
kehidupan nyata ke dalam bentuk matematika adalah pemodelan matematika.
Menurut Ang (2001) Mathematical modelling is a process of representing real
world problems in mathematical terms in an attempt to find solutions to the
problems, maksudnya pemodelan matematika adalah proses mengubah atau
mewakili masalah dalam dunia nyata ke dalam bentuk matematika dalam upaya
untuk menemukan solusi dari suatu masalah. Pemodelan adalah penyambung
matematika dan dunia nyata (CAMPOS, 2007). Menurut Abraham (2000),
2

sekolah yang mengajarkan matematika secara tradisional telah mengabaikan


banyak keterampilan yang menantang dan menarik yang terdapat dalam
matematika, pembelajaran melalui pemodelan mengajarkan siswa tentang
pemecahan masalah matematika yang sebenarnya, pemodelan menyajikan
masalah dalam tindakan, bukan hanya sebagai suatu rumus yang dituliskan di
papan tulis.
Hasil penelitian M.Bracke dan A.Geiger (2011:532), pemodelan dunia nyata
dapat diintegrasikan ke seluruh materi dalam pembelajaran matematika, termasuk
materi sistem persamaan linear. Menurut Blum dan Niss (1991), pemodelan
matematika berguna untuk: membantu siswa untuk lebih baik memahami dunia,
mendukung pembelajaran matematika (motivasi, konsep, formasi,kemampuan
untuk mengerti,menahan), berkontribusi dalam pengembangan bermacam-macam
kompetensi matematika dan cara berpikir yang tepat, serta berkontribusi untuk
menjelaskan gambar matematika. Pemodelan matematika menyadarkan siswa
mengapa matematika berada di urutan pertama melalui konteks kehidupan.
Pemodelan menyiapkan siswa untuk menjadi penduduk yang bertanggung jawab
dan berpartisipasi di dalam perkembangan sosial mengandalkan kompetensi
pemodelan. Melalui pemodelan, matematika menjadi lebih berarti bagi siswa
(Blum: 2003). Hasil penelitian Lee (2006) yang melibatkan siswa SMA,
menunjukkan bahwa aktivitas pemodelan berhasil membantu siswa meningkatkan
kemampuan pemecahan masalah.
Salah satu bahan ajar yang dapat mengajarkan siswa menggunakan pemodelan
matematika adalah melalui LKS (Lembar Kerja Siswa). LKS merupakan salah
satu sarana yang dalam proses pembelajaran dapat membantu dan mempermudah
kegiatan pembelajaran sehingga pembelajaan yang terjadi mampu menggiring
siswa untuk menemukan konsep yang bisa digunakannya dalam menyelesaikan
masalah secara sistematis (Depdiknas,2008). Hasil penelitian Amalia (2011),
menunjukkan bahwa pembelajaran matematika menggunakan LKS yang valid
lebih efektif dibanding dengan pembelajaran tanpa LKS. Namun kenyataannya
LKS yang digunakan siswa, terkadang tidak sesuai dengan kompetensi yang akan
3

dicapai siswa, dan bahasa yang digunakan kurang efektif dan efisien
(Komariah,2014).
Penelitian pengembangan LKS sebelumnya pernah dilakukan oleh Komariah
(2014) yang mengembangkan LKS berbasis pemecahan masalah pada materi
persamaan dan pertidaksamaan linear di SMA yang valid dan praktis serta 70,7%
siswa memiliki potensi kemampuan pemecahan masalah setelah menggunakan
LKS, dan Hadrotul (2013) mengembangkan LKS pemecahan masalah pada
materi luas dan keliling lingkaran menghasilkan LKS yang valid dan praktis dan
memiliki efek potensial.
Berdasarkan pengamatan peneliti di SMAN 18 Palembang, pada pembelajaran
sistem persamaan linear sudah menggunakan LKS. LKS yang digunakan adalah
LKS yang dibuat oleh guru mata pelajaran sendiri. LKS ini memuat soal-soal
dengan meminta siswa mengisi isian singkat dari penjabaran jawaban soal yang
belum lengkap di LKS, LKS tersebut bukan merupakan LKS yang memuat soal
untuk melatih kemampuan pemecahan masalah. Selain itu, pada saat pembelajaran
siswa masih sering bertanya-tanya dan kurang paham maksud dari LKS yang
diberikan oleh guru.
Hasil penelitian Wayan (2002) mengatakan bahwa siswa mengalami kesulitan
dalam menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan sistem persamaan linier.
Menurut Abdurrahman (2013) siswa kurang mampu dalam menyelesaikan
masalah mengerjakan soal cerita dari materi sistem persamaan linear merupakan
hal yang tidak mudah karena siswa tidak terbiasa memecahkan masalah yang
sistematis.
Menurut Arya dan Marisyah (2012), salah satu penyebab lemahya
kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita sistem persamaan linear
adalah ketidakmampuan siswa menerjemahkan kalimat soal ke dalam kalimat
(model) matematika. Kemampuan siswa menerjemahkan soal ke dalam model
matematika adalah penting, karena melalui penerjemahan ke dalam matematika
siswa baru mampu menyelesaikan masalah.
Pada penilaian internasional PISA yang menghendaki masalah kehidupan
sehari-hari nilai siswa Indonesia pada materi sistem persamaan linear pada konten
4

change and relationship hanya memperoleh skor rata-rata 323, dan hanya berhasil
menempati peringkat 64 dari 65 negara peserta (OECD,2013).
Sehubungan latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk mengembangkan
LKS berbasis pendekatan pemodelan matemaika di SMAN 18 Palembang
khususnya pada materi sistem persaman linear dengan judul “Pengembangan
LKS Berbasis Pendekatan Pemodelan Matematika Pada Materi Sistem
Persamaan Linear di SMAN 18 Palembang”.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
1.Bagaimana karakteristik LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika
pada materi sistem persamaan linear di SMAN 18 Palembang yang valid dan
praktis ?
2.Bagaimana efek potensial LKS berbasis pendekatan pemodelan Matematika
pada materi sistem persamaan linear di SMAN 18 Palembang ?
1.3 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan LKS berbasis pendekatan
pemodelan matematika pada materi sistem persamaan linear di SMA Negeri 18
Palembang yang valid dan praktis serta memiliki efek potensial.

1.4 Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
1. Guru, sebagai bahan masukan untuk dapat mengembangkan dan menggunakan
LKS yang valid yang praktis untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam
membuat pemodelan dan pemecahan masalah
2. Siswa, sebagai sumber belajar dan latihan dalam mengerjakan soal pemodelan
matematika .
3. Peneliti lain, sebagai bahan untuk meneliti LKS pada materi lainnya
5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian dan Proses Pemodelan Matematika


2.1.1 Pengertian Pemodelan Matematika
Pembelajaran pemodelan matematika atau mathematical modeling adalah
salah satu pendekatan pembelajaran aktif (Doosti dan Astiani, 2009). Di dalam
pendekatan pembelajaran aktif, siswa (learner) membangun sendiri
pemahamannya akan suatu konsep Dari beberapa jenis pembelajaran kreatif yang
dikenalkan di perkembangan terkini, pembelajaran yang paling memberdayakan
siswa adalah pemodelan matematika (White, 2001). Menurut Barbosa dalam
Boosti dan Alireza (2009), pemodelan matematika adalah pembelajaran
lingkungan dimana siswa diminta untuk menyelidiki dan atau meneliti, dengan
cara matematika, situasi yang muncul dari area ilmu pengetahuan lainnya.
Pertanyaan tersebut akan diselesaikan melalui merumuskan atau memahami
masalah, memadukan pengetahuan matematika, pemodelan dan refleksi. Menurut
Ang (2001) pemodelan matematika adalah proses yang mewakili masalah dunia
nyata dalam istilah matematika dalam upaya untuk mencari solusi terhadap
masalah-masalah dunia nyata. Sedangkan menurut Dym dan Ivey dalam Sukarno
dan Dwi (2013) permodelan matematika penyusunan suatu deskripsi dari
beberapa perilaku dunia nyata (fenomena-fenomena alam) ke dalam bagian-
bagian matematika yang disebut dunia matematika (mathematical world).
Pemodelan matematika telah menarik perhatian pendidik matematika sebagai
sebuah cara yang mungkin untuk lebih mempersiapkan siswa untuk masalah yang
kompleks dari masyarakat modern dan kegiatan matematika dipraktekkan dalam
penelitian ilmiah dan profesi yang berkaitan dengan matematika. Kesenjangan
yang ada antara matematika diajarkan di sekolah dan matematika yang digunakan
dalam kehidupan nyata diperluas dengan pendekatan tradisional pemecahan
masalah. Pemodelan matematika bergerak fokus dari hasil prosedur pemecahan
masalah dan dari perhitungan untuk hubungan antar variabel masalah.
(Papageorgiou,2009).
6

Pemodelan matematika merupakan representasi kehidupan nyata ke dalam


bentuk matematika yang berguna dalam hal pemecahan masalah kehidupan nyata
melalui matematika untuk mengatasi kesenjangan antara matematika dan
kehidupan nyata . Menurut Lovit (2008) permodelan matematika ditandai oleh
dua ciri utama, yaitu (1) pemodelan bermula dan berakhir dengan dunia nyata , (2)
pemodelan membentuk suatu siklus.

2.1.2 Proses Permodelan Matematika


Model matematika dapat dianggap sebagai penyederhanaan dari sebuah
masalah dunia nyata yang kompleks menjadi bentuk matematika. Masalah
matematika ini kemudian dapat diselesaikan dengan menggunakan teknik apapun
yang dikenal untuk mendapatkan solusi matematis. Solusi ini kemudian
diinterpretasikan dan diterjemahkan ke dalam bentuk nyata ( real world solution)
(Keng,2001) .Skema sederhana dari proses pemodelan matematika adalah sebagai
berikut.

Gambar 2.1 Skema Pemodelan Matematika


7

Penjelasan skema diatas adalah sebagai berikut.

1.Dimulai dari masalah dunia nyata


2.Siswa merumuskan masalah dunia nyata ke dalam masalah matematika
3.Melalui bentuk masalah matematika yang sudah diperoleh siswa mendapatkan
solusi dari bentuk matematika
4.Siswa diminta untuk menginterpertasikan solusi matematis ke dalam solusi
masalah dunia nyata yang menjadi jawaban atas masalah masalah dunia nyata
yang diberikan.

Berikut ini adalah bagan langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah


dunia nyata melalui pemodelan matematika yang disebut dengan proses
pemodelan.

Gambar 2.2: Proses Permodelan Matematika


8

Penjelasan dari langkah-langkah diatas adalah sebagai berikut :

1. Langkah Ke- 1 :Memahami Masalah


Proses dimulai dengan masalah dunia nyata dan diharapkan untuk
menemukan solusi dunia nyata untuk masalah ini. Ini mungkin sulit dicapai
secara langsung di dunia nyata. Dengan demikian kita membuat upaya untuk
memahami masalah, dan kemudian menggambarkannya dalam istilah
matematika.

2. Langkah Ke-2 : Membuat Asumsi


Selanjutnya, kita mengembangkan kerangka dasar untuk model. Di sini,
asumsi tentang model mungkin perlu dilakukan untuk menjaga masalah mudah
dikerjakan dan sederhana sehingga kita mampu menyelesaikan model
menggunakan metode yang dikenal.

3. Langkah Ke-3 : Merumuskan Persamaan


Berdasarkan asumsi tersebut, selanjutnya membangun sebuah model, yang
bisa menjadi persamaan tunggal, atau satu set persamaan, atau seperangkat
aturan atau hanya sebuah algoritma yang mengatur bagaimana nilai-nilai
variabel dapat ditemukan atau ditugaskan. Ini adalah tahap yang paling penting
di mana satu biasanya akan membenarkan perumusan model berdasarkan mana
fisik yang nyata dari variabel dalam masalah. Sangat sering, formulasi model
tahap yang paling menantang bagi siswa (dan guru) karena membutuhkan
pemikiran yang cukup tinggi, pengetahuan antar-disiplin ilmu dan pengalaman
permodelan.
9

4. Langkah Ke-4 : Menyelesaikan persamaan


Setelah model dibangun, tahap berikutnya menemukan cara untuk
memecahkan model, menggunakan berbagai teknik matematika dan alat-alat.
Sangat sering, kecuali model sangat sederhana, semacam teknologi komputasi
atau alat akan diperlukan. Selain itu, juga sering terjadi bahwa akan ada
berbagai cara untuk memecahkan masalah yang sama, hal ini membuat
pengalaman permodelan matematika sangat kaya. Langkah ini menjelaskan
proses yang digunakan oleh para siswa ketika menerapkan prosedur untuk
mencari solusi data yang diberikan .

5. Langkah Ke-5 : Menginterpretasikan penyelesaian


Setelah mendapatkan solusi, siswa diarahkan kembali ke masalah. Siswa
kemudian menginterpretasikan hasil atau solusi dari model dalam konteks
masalah dunia nyata.

6. Langkah Ke-6 : Memverifikasi Model


Dalam langkah ini kekuatan dan kelemahan dari model yang dibahas.
membuat upaya untuk membandingkan solusi Model dan data yang
dikumpulkan atau dikenal. Kadang-kadang, model ingin diperbaiki dengan
meninjau kembali dan merevisi asumsi.

7. Langkah Ke-7 : Melaporkan , menjelaskan, memprediksi


Bagian ini adalah bagian yang paling berharga dari proses permodelan,
sebagai siswa perlu pengalaman dalam menggunakan bahasa untuk
mengekspresikanide-ide matematika. Hal ini di sini bahwa kita merenungkan
kualitas pemikiran siswa . Ini harus mencakup dokumentasi kemajuan siswa
melalui tahapan siklus serta prediksi akhir mereka dan jawaban .Struktur proses
pemodelan memberikan baik pengorganisasian perangkat untuk laporan
mereka .
10

2.2 Lembar Kerja Siswa (LKS)

Di dalam Depdiknas (2008) dinyatakan bahwa LKS atau student worksheet


adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik.
Lembar kerja siswa biasanya berupa petunjuk dan langkah-langkah untuk
menyelesaikan suatu tugas. Suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kerja
siswa harus jelas KD yang akan dicapainya.Keuntungan adanya lembar kerja
siswa bagi guru, yaitu memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran, bagi
siswa akan belajar secara mandiri dan belajar memahami dan menjalankan suatu
tugas tertulis.
Menurut Haritsah dan Dian (2013) LKS merupakan salah satu bahan ajar
yang berupa lembaran kertas yang berisi informasi maupun soal-soal (pernyataan-
pernyataan) yang harus dijawab oleh peserta didik. Sedangkan menurut Indrianto
(1998) LKS adalah lembar kerja siswa yang berisi pedoman bagi siswa untuk
melakukan kegiatan yang mencerminkan keterampilan proses. Agar siswa
memperoleh pengetahuan atau keterampilan yang perlu dikuasainya. LKS
merupakan salah satu alternative pembelajaran yang tepat bagi peserta didk
karena LKS membantu peserta didik untuk menambah informasi tentang konsep
yang dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis ( Suyitno, 1997).
Maka penulis menyimpulkan bahwa Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah salah
satu bagian bagian dari bahan ajar yang mendukukung Rencana Pelaksaan
Pembelajaran (RPP) yang menjadi bimbingan guru dalam pembelajaran dalam
mengajak siswa aktif secara tertulis menyampaikan argumen yang dimilikinya
melalui pertanyaan yang sistematis dan menuntut siswa untuk memahami materi.
Tujuan penggunaan LKS dalam proses mengajar menurut Yusuf adalah
sebagai berikut.
a. Memberi pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang perlu dimiliki oleh
peserta didik.
b. Mengecek tingkat pemahan peserta didik terhadap materi yang telah disajikan.
c. Mengembangkan dan menerapkan materi pembelajaran yang sulit disampaikan
secara lisan.
11

Sedangkan manfaat dari penggunaan LKS dalam proses pembelejaran


menurut Suyitno (1997: 40) adalah sebagai berikut.
a. Mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran
b. Membantu siswa dalam memahami konsep
c. Melatih siswa dalam menerapkan dan mengembangkan keterampilan proses
d. Sebagai pedoman guru dan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran
e. Membantu siswa memperoleh pemahaman tentang materi yang dipelajari
melalui kegiatan belajar.
f. Membantu siswa untuk mrnbah informasi tentang konsep yang dipelajari
melalui kegiatan belajar secara sistematis.
Ada dua jenis LKS yang biasa digunakan dalam pembelajaran di sekolah,
yaitu sebagai berikut.

1. Lembar kerja siswa berstruktur


Lembar kerja siswa berstruktur memuat informasi, contoh, dan
tugas-tugas. LKS ini dirancang untuk membimbing siswa dalam satu
program kerja atau mata pelajaran, dengan sedikit atau sama sekali tanpa
bantuan guru untuk mencapai sasaran pembelajaran. Pada LKS telah
disusun petunjuk dan pengarahannya, LKS ini tidak dapat menggantikan
peran guru dalam kelas. Guru tetap mengawasi kelas, memberi semangat
dan dorongan belajar dan memberi bimbingan pada setiap siswa (Indrianto,
1998).
2. Lembar kerja siswa tak berstruktur
Lembar kerja siswa tak berstruktur adalah lembaran yang berisi
sarana untuk materi pembelajaran, sebagai alat bantu kegiatan peserta didik
yang dipakai untuk menyampaikan pelajaran. LKS merupakan alat bantu
mengajar yang dapat dipakai untuk mempercepat pembelajaran, memberi
dorongan belajar pada tiap individu, berisi sedikit petunjuk, tertulis atau
lisan untuk mengarahkan kerja pada siswa.
12

Langkah-langkah menyusun LKS adalah sebagai berikut :


a. Analisis kurikulum
Analisis kurikulum dimaksukan untuk menentukan materi-materi mana yang
memerlukan bahan ajar LKS. Biasanya dalam menetukan materi dianalisis dengan
cara melihat materi pokok dan pengalaman belajar dari materi yang akan
diajarkan, kemudian kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa.
b. Menyusun peta kebutuhan LKS
Peta kebutuhan LKS sangat diperlukan guna mengetahui jumlah LKS yang
harus ditulis dan sekuensi atau urutan LKS-nya jugadapat dilihat. Sekuensi LKS
ini sangat diperlukan dalam menentukan prioritas penulisan. Diawali dengan
analisis kurikulum dan analisis sumber belajar.
c. Menentukan judul-judul LKS
Judul LKS ditentukan atas dasar KI-KI, materi-materi pokok, atau pengalaman
belajar yang terdapat dalam kurikulum. Satu KI dapat disajikan sebagai judul
modul apabila kompetensi itu tidak terlalu besar, sedangkan besarnya KDI dapat
dideteksi antara lain dengan cara apabila diuraikan ke dalam materi pokok (MP)
mendapat maksimal 4 MP, maka kompetensi menjadi lebih dari 4 MP dan ini
perlu dipikirkan kembali apakah perlu dipecah misalnya menajdi 2 judul LKS.
d. Penulisan LKS
Penulisan LKS dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut
1. Perumusan KD yang harus dikuasai
Rumusan KD pada suatu LKS langsung diturunkan dari dokumen standar
isi.
2. Menentukan alat penilaian
Penilaian dilakukan terhadap proses kerja dan hasil kerja peserta didik.
Karena pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah kompetensi, dimana
penilaiannya didasarkan pada penugasan kompetensi, maka alat penilaian yang
cocok adalah dengan pendekatan penilaian acuan patokan (PAP) atau Criteria
Rederenced Assesment. Dengan demikian guru dapat menilainya melaui proses
dan hasil kerjanya.
3. Penyusunan materi
13

Materi LKS sangat bergantung pada KI yang akan dicapai. Materi LKS
dapar berupa informasi pendukung, yaitu gambaran umum atau ruang lingkup
subtansi yang akan dipelajari. Materi dapat diambil dari berbagai sumber
seperti buku, majalah internet, jurnal hasil penelitian. Agar pemahaman siswa
terhadap materi lebih kuat, maka dapat saja di dalam LKS ditunjukkan
referensi yang digunakan agar siswa belajar lebih jauh tentang materi itu.
Adapun struktur dari LKS secara umum adalah sebagai berikut.
a. Judul
b. Petunjuk belajar
c. Kompetensi yang akan dicapai
d. Informasi pendukung
e. Tugas-tugas dan langkah kerja
f. Penilaian

Pada penelitian ini, peneliti akan mengembangkan jenis LKS permodelan


matematika yang berstruktur yang memuat langkah-langkah permodelan
matematika yang bertujuan untuk membantuk siswa aktif dalam kelas untuk dapat
memahami alur soal cerita dan dapat menyelesaikan masalah yang diberikan,
dengan komponen LKS, yaitu judul LKS, mata pelajaran, semester, tujuan yang
ingin dicapai dan langkah-langkah kerja yang merupakan langkah permodelan
matematika.

2.3 Sistem Persamaan Linear di Kurikulum 2013


Persamaan adalah kalimat terbuka yang mengandung hubungan (relasi) sama
dengan. Persamaan linear adalah suatu persamaan yang pangkat tertinggi dari
variabelnya adalah satu atau berderajat satu. Sistem persamaan linear adalah
gabungan dua atau lebih persamaan linear yang saling berkaitan satu dengan
lainnya. Sistem persamaan dua variabel adalah gabungan dua atau lebih
persamaan linear dimana persamaan tersebut mengandung dua variabel.

Sistem persamaan linear dua variabel salah satu materi yang dipelajari dari
cabang ilmu aljabar yang dipelajari di sekolah menengah Atas (SMA). Di dalam
14

kurikulum 2013 materi ini dipelajari di kelas X semester ganjil. Berikut adalah
silabus kelas X SMA yang memuat sistem persamaan linear .

KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR


3.Memahami, menerapkan, 3.3 Mendekrisipkan konsep system
menganalisis pengetahuan persamaan linear dau variabel dan tiga
faktual, konseptual, procedural variabel serta pertidaksamaan linear
berdasarkan rasa ingin tahunya dua variabel dan mampu menerapkna
tentang ilmu pengetahuan, berbagai strategi yang efektif dalam
teknologi seni dan budaya, dan menentukan himpunan penyelesaian
humaniora dengan wawasan serta memeriksa kebenaran jawaban
kemanuasian, kebangsaan, dalam pemecahan masalah
kenegaraan, dan peradaban terkait matematika.
penyebab fenomena kejadian,
serta menerapkan pengetahuan
procedural pada bidang kajian
yang spesifik sesuai dengan bakat
dan minatnya untuk memecahkan
masalah
4. Mengolah, menalar, dan menyaji 4.3 Membuat model matematika berupa
dalam ranah konkret dan ranah persamaan dan pertidaksamaan linear
abstrak terkait denga dua variabel yang melibatkan nilai
pengembangan dari yang mutlak dari situasi nyata dan
dipelajarinya di sekolah secara matematika, serta menentukan jawaban
mandiri, dan mampu dan menganalisi model sekaligusnya
menggunakan metoda sesuai jawabannya.
kaidah keilmuan. 4.4 Menggunakan SPLDV,SPLTV dan
system pertidaksamaan linear dua
variabel(SPtLDV) untuk menyajikan
masalah konstektual dan menjelaskan
makna tiap besaran secara lisan
maupun tulisan.
4.5 Membuat model matematika berupa
SPLDV , SPLTV, SpPtDV dari situasi
nyata dan matematika, serta
menentukan jawab dan menganalisi
model sekaligus jawabnya
15

Bentuk umum sistem persamaan linear dua variabel x dan y adalah sebagai
berikut :
𝑎1 𝑥 + 𝑏1 𝑦 = 𝑐1 …………………………(persamaan 1)
𝑎2 𝑥 + 𝑏2 𝑦 = 𝑐2 …………………………(persamaan2)
Keterangan :
𝑎1 , 𝑏1 , 𝑎2 , 𝑏2 =koefisien
𝑥, 𝑦 =variabel
𝑐 =konstanta
Sistem persamaan liniear dua variabel dapat diselesaikan dengan beberapa
cara, antara lain :
 Metode subtitusi
Langkah-langkah menyelesaikan persamaan dengan menggunkakan metode
subtitusi adalah sebagai berikut.
1. Tulis salah satu persamaan menjadu 𝑦 = ⋯ atau 𝑥 = ⋯
2. Subtitusikan ke persamaan lainnya, kemudian selesaikan
3. Subtitusikan nilai yang diperoleh pada langkah (2) untuk mendapatkan
nilai variabel yang lain.
 Metode eliminasi
Langkah-langkah menyelesaikan persamaan dengan menggunakan metode
eliminasi adalah sebagai berikut.
1. Perhatikan koefisien x (atau y). Jika sama, kurangi persamaan yang satu
oleh persamaan yang lain. Jika angkanya sama tetapi tandanya berbeda ,
jumlahkan kedua persamaan itu.
2. Jika koefisiennya berbeda, samakan koefisiennya dengan mengalihkan
kedua persamaan dengan bilangan yang sesuai, kemudian jumlahkan
atau kurangkan seperti pada langkah (1).
 Metode Eliminasi-Substitusi
Dengan metode eliminasi-substitusi nilai variabel pertama dicari dengan
metode eliminasi sedangkan nilai variabel kedua diperoleh dengan metode
substitusi.
 Metode Grafik
16

Dengan metode grafik yang menjadi penyelesainnya adalah titik potong


dari persamaan yang ada.
Banyaknya penerapan dari persamaan linear dalam kehidupan sehari-hari
menguatkan bahwa materi ini penting bagi siswa. Untuk mengerjakan soal dari
materi persamaan linear dua variabel dibutuhkan kemampuan pemecahan masalah
yang baik yang dibutuhkan suatu pembelajaran yang mengaktifkan siswa.
Pemodelan matematika sebagai pendekatan pembelajaran aktif cocok untuk
diterapkan di kelas.

Hasil penelitian M.Bracke dan A.Geiger (2011:532), pemodelan dunia nyata


dapat diintegrasikan ke seluruh materi dalam pembelajaran matematika, termasuk
materi sistem persamaan linear. Zbiek dan Corner di dalam Stillman dan Galbraith
(2011:689), menyoroti beberapa tujuan yang dicapai ketika bekerja dengan
pemodelan matematika, contoh menyiapkan siswa untuk bekerja secara
professional denga pemodelan, memotivasi siswa dengan menunjukkan aplikasi
ide matematika di dunia nyata dan menyediakan kesempatan siswa untuk
mengintegrasikan matematika dengan ilmu pengetahuan lain.

Berikut adalah contoh permasalahan dunia nyata yang diselesaikan dengan


langkah-langkah pemodelan matematika.

Kayis berencana untuk mendaki gunung dempo, kayis berjalan dengan


kecepatan rata-rata 1,5 km/jam. Ketika menuruni bukit tersebut ia berjalan tiga
kali lebih cepat, Waktu diperlukan untuk melakukan perjalanan bolak-balik
dari kaki bukit ke puncak gunung dan kembali ke kaki gunung 6 jam. Jika
Kayis ingin sampai dipuncak gunung tepat pukul 12.00 WIB. Pukul berapakah
Kayis harus memulai pendakiannya?
17

Jawab :

Memahami Masalah

Kayis berjalan dengan kecepatan rata-rata 1,5 km/jam

Ketika turun kecepatan menjadi 3 kali lipat

Waktu bolak balik 6 jam

Waktu kayis berangkat agar sampai puncak tepat pukul 12.00 WIB ?

Membuat Asumsi

𝑣𝑛𝑎𝑖𝑘 = 1,5 𝑘𝑚/𝑗𝑎𝑚

𝑣𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛 = 3𝑣𝑛𝑎𝑖𝑘 = 4,5 𝑘𝑚/𝑗𝑎𝑚

𝑡𝑏𝑜𝑙𝑎𝑘 −𝑏𝑎𝑙𝑖𝑘 = 𝑡𝑛𝑎𝑖𝑘 + 𝑡𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛 = 6 𝑗𝑎𝑚

𝑠𝑛𝑎𝑖𝑘 = 𝑠𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛

Membuat Persamaan

𝑠𝑛𝑎𝑖𝑘 = 𝑣𝑛𝑎𝑖𝑘 . 𝑡𝑛𝑎𝑖𝑘

1,5𝑘𝑚
𝑠𝑛𝑎𝑖𝑘 = . 𝑡𝑛𝑎𝑖𝑘 … . . (1)
𝑗𝑎𝑚

𝑠𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛 = 𝑣𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛 . 𝑡𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛

4,5𝑘𝑚
𝑠𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛 = . (6 − 𝑡𝑛𝑎𝑖𝑘 ) … . . (2)
𝑗𝑎𝑚

Menyelesaikan Persamaan

𝑠𝑛𝑎𝑖𝑘 = 𝑠𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛

1,5𝑘𝑚 4,5𝑘𝑚
. 𝑡𝑛𝑎𝑖𝑘 = . (6 − 𝑡𝑛𝑎𝑖𝑘 )
𝑗𝑎𝑚 𝑗𝑎𝑚
18

1,5𝑘𝑚
. 𝑡𝑛𝑎𝑖𝑘 = 27 − 4,5 . 𝑡𝑛𝑎𝑖𝑘
𝑗𝑎𝑚

27
𝑡𝑛𝑎𝑖𝑘 = = 4,5 𝑗𝑎𝑚
6

Mengintepretasikan Penyelesaian

Waktu yang diperlukan oleh Kayis untuk naik adalah 4,5 jam.

Sehingga agar ia sampai puncak pukul 12.00, maka :

12.00- 4,5 = 8.30

Memverifikasi Model

𝑠𝑛𝑎𝑖𝑘 = 𝑠𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛

1,5𝑘𝑚 4,5𝑘𝑚
. 𝑡𝑛𝑎𝑖𝑘 = . (6 − 𝑡𝑛𝑎𝑖𝑘 )
𝑗𝑎𝑚 𝑗𝑎𝑚

1,5𝑘𝑚 4,5𝑘𝑚
. 𝑡𝑛𝑎𝑖𝑘 = . 6 − 𝑡𝑛𝑎𝑖𝑘
𝑗𝑎𝑚 𝑗𝑎𝑚

1,5𝑘𝑚 4,5𝑘𝑚
.4,5 = 1,5
𝑗𝑎𝑚 𝑗𝑎𝑚

6,5 𝑘𝑚 = 6,5 𝑘𝑚

Melaporkan , menjelaskan, memprediksi


Jadi Kayis harus keluar rumah pukul 7.30 WIB agar ia dapat
sampai dipuncak bukit pukul 12.00 WIB.
19

2.4 LKS berbasis Pendekatan Pemodelan Matematika pada Materi Sistem


Persamaan Linear

LKS dapat mendidik siswa untuk menjadi aktif, mandiri, berani, mampu
berkomunikasi melalui tulisan, bertanggung jawab dan berani mengambil
keputusan. LKS juga dapat digunakan dalam proses pembelajaran matematika
pada kurikulum 2013, karena pembelajaran matematika pada kurikulum 2013
menuntut guru untuk secara professional merancang pembelajaran efektif dan
bermakna, salah satu prosedur yang harus dilakukan guru untuk membuat
pembelajaran efektif dan bermakna adalah mengaktifkan siswa (Mulyasa,2013
:101).
Lampiran IV Permendikbud juga menyebutkan bahwa pembelajaran yang
terjadi menuntut guru untuk mendorong siswa aktif dalam proses pembelajaran,
dan pembelajaran yang berlangsung menggunakan pendekatan saintifik yang
terdiri dari 5M, mengamati, menanya, mengumpulkan informasi (mengeksplor),
mengasosiasikan, dan mengkomunikasikan.
Pada tahap mengamati yaitu mengamati permasalahan ada pada LKS
berbasis pendekatan pemodelan matematika, karena soal permodelan matematika
yang berupa permasalahan dalam kehidupan sehari-hari, tahap mengeksplorasi
yaitu saat siswa mengeksplor kemampuannya dan mencari informasi dalam soal
untuk dapat memecahkan masalah, tahap menanya saat siswa bertanya dan
berdiskusi dalam kelompoknya, tahap mengasosiasi yaitu saat siswa bernalar
untuk mencari penyelesaian dari LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika
yang sebelumnya tidak diketahui penyelesaiannya dan tahap mengkomunikasikan
pada saat siswa diskusi kelas dengan menyampaikan hasil kerja kelompoknya.
Lembar kerja siswa pada penelitian ini adalah LKS yang berorientasi pada
pembelajaran pemodelan matematika pada materi sistem persamaan linear dua
variabel yang identik dengan masalah dunia nyata (real world) yang disajikan
dalam bentuk pertanyaan sistematis untuk membantu siswa melatih kemampuan
proses merumuskan suatu masalah tanpa disadari oleh siswa, khususnya pada
materi sistem persamaan linear dua variabel.
20

LKS ini memiliki karakteristik sendiri dan berbeda dengan LKS yang
beredar di sekolah selama ini. Berikut adalah kelebihan LKS berbasis pendekatan
pemodelan matematika.
Tabel 2.1 Karakterisitik LKS Berbasis Pendekatan Pemodelan Matematika
No. Aspek LKS Berbasis pendekatan pemodelan
matematika
1. Materi Disajikan dalam pemberian masalah nyata
(soal) yang dapat membantu siswa merasa
dekat
2. Isi Menekankan pada kemampuan siswa
menelaah maksud soal, sesuai dengan
kejadian nyata yang ada di sekitarnya sebagai
pengantar pemahaman siswa
3. Tampilan Disajikan dalam lembaran kertas yang lebih
menarik dan gambar-gambar sesuai dengan
soal.

Berdasarkan tabel tersebut, terlihat bahwa karakteristik LKS berbasis


pendekatan pemodelan matematika adalah menggunakan masalah dunia nyata,
membantu siswa memahami alur cerita untuk mendapatkan penyelesaian,
disajikan dalam bentuk yang menarik. LKS ini juga diharapkan dapat diterima
dengan baik oleh siswa dan guru dalam proses pembelajaran matematika.

2.5 Kriteria Produk

Desain produk dalam penelitian ini dikatakan sebagai prototipe. Prototyping


terdiri dari empat siklus yaitu prototipe, prototipe pertama, prototipe kedua dan
prototipe ketiga sebagai prototipe akhir (produk). Pada penelitian ini, media
pembelajaran yang telah dibuat di validasi oleh validator berdasarkan tiga
karakteristik yaitu isi, konstruk, bahasa. Cara ini dikenal dengan teknik
triangulasi.

Triangulasi adalah suatu teknik validasi data yang memanfaatkan sesuatu


yang lain di luar itu (validator) untuk keperluan pengecekan dan sebagai
21

pembanding/dasar merevisi instrumen. Pada penelitian ini, LKS divalidasi oleh


validator berdasarkan aspek isi, penyajian (konstruk), dan bahasa.

1. Validasi Isi
Validasi ini untuk LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika meliputi :
 Kejelasan Kompetensi Dasar
 Keluasan dan Kedalaman materi
 Ketepatan urutan penyajian
 Ketepatan evaluasi

2. Validasi Konstruk
Validasi konstruk untuk LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika
meliputi :
 Kejelasan petunjuk belajar
 Interaktifitas
 Memuat soal-soal yang disesuaiakan dengan kemampuan siswa
 Kejelasan umpan balik

3. Validasi Bahasa
Validasi bahasa untuk media pembelajaran interaktif meliputi :
 Ketepatan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
 Menggunakan bahasa yang sederhana dan muda dipahami

LKS yang berkualitas harus memenuhi tiga kriteria yaitu valid, praktis dan
efektif (Akker,1999) .

 Aspek valid dikaitkan dengan dua hal yaitu :


1. Apakah perangkat pembelajaran yang dikembangkan didasarkan pada
rasional teoritik yang kuat.
2. Apakah terdapat konsisten internal
 Aspek praktis hanya dapat dipenuhi jika :
1. Para ahli dan praktisi menyatakan bahwa apa yang dikembangkan dapat
diterapkan.
22

2. Kenyataan yang menunjukkan bahwa apa yang dikembangkan tersebut


dapat diterapkan.
 Aspek efektif, Akker memberikan parameter :
1. Ahli dan praktisi berdasarkan pengalamannya menyatakan bahwa
perangkat pembelajaran tersebut efektif .
2. Secara operasional perangkat pembelajaran tersebut memberikan hasil
sesuai yang diharapkan.

Pada penelitian ini akan digunakan metode pengembangan bahan ajar model
ADDIE dan menggunakan tahap evaluasi formatif Tessmer. Tessmer (Zulkardi,
2006) secara eksplisit mendefinisikan evaluasi formatif sebagai pertimbangan
(mengenai kekuatan dan kelemahan bahan ajar dalam tahap perkembangan)
dengan tujuan meninjau ulang/merevisi bahan ajar untuk meningkatkan efektivitas
dan daya tarik. Adapun tahapan dalam evaluasi formatif, yaitu :

1. Expert review : ahli meninjau bahan ajar dengan atau tanpa evaluator
2. One to one : satu pelajr dalan satu waktu meninjau bahan ajar dengan evaluator
dan memberikan komentarnya
3. Small group : evaluator mencobakan bahan ajar dengan sekelompok pelajar dan
mencatat penampilan dan komentar
4. Field test : evaluator mengamati bahan ajar yang diujicobakan dalam situasi
yang real dengan sekolompok peserta didik.
Berdasarkan uraian tersebut, peneliti ingin mengembangkan LKS berbasis
pendekatan pemodelan matematika yang sesuai dengan karakteristik dan prinsip
pengembangan bahan ajar dan memenuhi kriteria sebagai berikut.
a. Kevalidan dari LKS didapat dari semua saran, komentar dan masukan dari
pakar (tahap expert review) dan tester (one-to-one).
b. Kepraktisan LKS dapat dilihat dari hasil pengamatan dan komentar siswa
pada uji coba small group. Kepraktisan berarti mudah digunakan dan dapat
diberikan kepada semua siswa.
23

c. Keefektifan dilihat dari efek potensial. Efek potensial dapat dilihat dari
hasil observasi, wawancara dan angket yang diberikan kepada siswa
setelah belajar menggunakan LKS yang telah dikembangkan peneliti.

Oleh karena itu, pada penelitian ini kriteria produk meliputi tiga hal yaitu,
Pertama, validasi oleh ahli dan praktisi berisikan validasi isi, konstruk, dan
bahasa. Kedua, kepraktisan yang berarti LKS tersebut dapat diterapkan sesuai
dengan yang direncanakan dan mudah digunakan oleh siswa. Ketiga, keefektifan
yang dilihat dari hasil observasi, wawancara dan angket .
24

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan model ADDIE


( Analysis, Design, Development, Implementation and Evaluation).

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Pengembangan ini akan dilaksanakan di SMA Negeri 18 Palembang semester


genap tahun ajaran 2014 /2015.

3.3 Subjek Penelitian

Subjek pengembangan ini adalah LKS berbasis pendekatan pemodelan


matematika pada materi sistem persamaan linear dua variabel di kelas X SMA
dengan responden siswa kelas X SMA Negeri 18 Palembang.

3.4 Tahap Penelitian

Prosedur penelitian yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada


model ADDIE ( Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation).
Model ADDIE begitu sederhana dan sistematik sehingga sangat sesuai dengan
karakteristik pengembangan bahan ajar (Maribe, 2002), khususnya LKS pada
mata pelajaran matematika. Selain itu, evaluasi dalam model ADDIE dilakukan
dalam setiap tahapan sehingga penelitian ini diharapkan akan menghasilkan
produk terbaik. Model ADDIE terdiri dari lima tahap, yakni : Analysis, Design,
Development, Implementation dan Evaluation.
25

Gambar 3.1 Alur desain ADDIE Model modifikasi Suwansumrit, dkk (2011)
1. Analisis
Pada tahap ini ada empat aktifitas yang akan dilakukan, yaitu sebagai
berikut.
1.1 Menganalisis kebutuhan siswa. Kebutuhan siswa yang akan dianalisis
adalah kebutuhan siswa kelas X SMA dalam pembelajaran system
persamaan linear dan kebutuhan siswa dalam menyelesaikan
permasalahan soal sistem persamaan linear dua variabel.
1.2 Menganalisis karakteristik siswa. Karakteristik siswa yang akan
dianalisis adalah karakterisitik siswa kelas X SMA.
1.3 Menganalisis sumber belajar. Analisis sumber belajar pada
pembelajaran materi sistem persamaan linear dua variabel di sekolah.
1.4 Menganalisis kurikulum. Analisis kurikulum yang digunakan di
sekolah.
26

2. Desain
Pada tahap ini ada tiga aktifitas yang akan dilakukan, yaitu sebagai
berikut.
2.1 Mendesain tujuan pembelajaran. Pada tahap ini akan di desain tujuan
pembelajaran menggunakan LKS yang akan dikembangkan
2.2 Mendesain masalah. Pada tahap ini akan didesain masalah nyata yang
sesuai dengan pengetahuan siswa SMA kelas X.

3. Pengembangan
Pada tahap ini ada dua aktifitas yang akan dilakukan, yaitu sebagai berikut.
3.1 Mengembangkan soal. Masalah kehidupan nyata yang telah
didesaian, selajutnya dikembangkan dalam bentuk soal cerita yang
sesuai dengan karakterisitik pendekatan pemodelan matematika.
3.2 Mengembangkan bentuk kegiatan pemodelan matematika. Langkah-
langkah pendekatan pembelajaran matematika dikembangkan menjadi
langkah-langkah penyelesaian soal yang akan membimbing siswa
menyelesaikan soal.

4. Implementation dan Evaluation


Pada tahap ini ada dua aktifitas yang akan dilakukan, yaitu sebagai berikut.
4.1 Menyusun soal dan bentuk kegiatan yang telah dikembangkan dalam
bentuk LKS pemodelan matematika. Soal dan bentuk kegiatan yang
telah dikembangkan, diimplementasikan dalam bentuk LKS yang
sesuai dengan format yang ada.
4.2 Evaluasi formatif. LKS yang telah kembangkan, selanjutnya akanakan
dievaluasi. Evaluasi dilakukan dalam bentuk yaitu evaluasi formatif.
Revisi dibuat sesuai dengan hasil evaluasi atau kebutuhan yang belum
dapat dipenuhi oleh media/metode tersebut. Evaluasi formatif terdiri
dari expert review, one-to-one, small group, dan field test.
27

Expert Review

Revise Small Revise Field


wee
Revise Group test

One-to-one

Gambar 3.2 Bagan Formative Evaluation (Tessmer, 16 : 1993)


a. Expert Review
Pada tahap ini, LKS yang telah dikembangkan oleh peneliti diberikan pada
3 orang pakar, yang terdiri dari 2 orang dosen dan satu orang guru senior mata
pelajaran matematika yang akan menjadi validator untuk memvalidasi LKS.
Validitas yang dilakukan meliputi validasi konten, validasi konstruk, dan validasi
bahasa.Validasi isi untuk mendapatkan gambaran tentang kesesuaian materi dalam
LKS dengan tujuan pembelajaran. Validitas konstruk untuk mengetahui tentang
ketepatan LKS yang dikembangkan untuk pembelajaran matematika. Validitas
bahasa untuk mendapatkan gambaran tentang ketepatan bahasa yang digunakan.
b. One-to-One
Pada tahap ini peneliti melakukan uji coba kepada dua orang siswa kelas X
SMA. Tahap ini dilakukan untuk melihat sejauh mana LKS yang dikembangkan
dapat dipahami dan dimengerti oleh siswa, pada tahap ini peneliti merekam saat
siswa mengerjakan LKS dan memberi lembar komentar kepada siswa setelah
menyelesaikan LKS untuk kemudian digunakan sebagai bahan merevisi LKS
tersebut. Hasil revisi dari expert review dan one-to-one didapatlah LKS yang
valid.
28

c. Small Group
Pada tahap ini peneliti menguji cobakan prototype kedua yaitu hasil revisi
dari komentar dan saran pada tahap expert review dan one to one di tahap small
group. Pada tahap ini peneliti memberikan LKS kepada sekelompok siswa SMA
yang bukan subjek penelitian untuk melihat kepraktisan LKS yang telah
dikembangkan. Pada tahap ini, peneliti merekam saat siswa mengerjakan LKS
dan memberikan lembar komentar untuk siswa mengomentari LKS yang telah
dikembangkan. Hasil rekaman dan jawaban siswa pada tahap ini digunakan untuk
melihat apakah LKS yang digunakan masuk dalam kategori praktis, dan hasil
komentar siswa digunakan untuk merevisi LKS .
d. Field Test
Pada tahap ini peneliti menguji cobakan prototype ketiga ke lingkup yang
lebih luas yaitu siswa kelas X SMA Negeri 18 Palembang . Pada tahap ini peneliti
ingin melihat efek potensial dari pengembangan LKS berbasis pemodelan yang
telah dilakukan. Efek potensial ini dilihat dari observasi selama pembelajaran
menggunakan LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika,serta wawancara
dan angket yang dilakukan setelah diberikan LKS berbasis pendekatan
pemodelan matematika.

3.5 Teknik Pengumpulan Data


3.5.1 Walkthrough
Menurut Nieveen (1999) Walkthrough adalah suatu cara untuk
mengevaluasi atau memvalidasi suatu prototype atau rancangan yang dilakukan
oleh ahli pada bidangnya secara langsung sehingga terbentuk interaksi yang
memandu pada perbaikan rancangan, atau diskusi. Bila yang divalidasi adalah
bahan ajar maka dilakukan lembar perlembar. Bila yang divalidasi adalah
software atau web maka validasi silakukan slide per slide.
Di langkah ini akan dilakukan validasi instrumen. Pada tahap ini hasil desain
prototipe pertama dikonsultasikan kepada para pembimbing atau pakar (Expert)
yang terdiri dari dosen pendidikan matematika dan guru untuk divalidasi.
Validitas yang dilakukan difokuskan pada validitas isi, validitas konstruk dan
29

validitas bahasa. Adapun komentar, saran dan masukan dari Validator untuk
pengembangan LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika ini disajikan
pada tabel 3.1.

Tabel 3.1 Saran dan keputusan Revisi dari Pakar

Saran Keputusan Revisi

Hasil dari evaluasi para ahli berupa saran dan komentar ini dijadikan bahan
untuk revisi LKS yang telah dikembangkan dengan berdiskusi bersama dosen
pembimbing.

3.5.2 Observasi

Pada penelitian ini,observasi dilakukan untuk mengetahui kebutuhan dan


karakteristik siswa pada tahap analisis, pada tahap evaluasi observasi juga
dilakukan untuk mengetahui gambaran tentang kepraktisan dari LKS berbasis
pendekatan pemodelan matematika yang dikembangkan peneliti pada tahap small
group. Observasi juga dilakukan pada tahap field test untuk melihat potensi
produk yang telah dikembangkan. Lembar observasi yang digunakan pada tahap
fieldtest dapat dilihat pada lampiran.

3.5.3 Angket
Angket atau kuesioner merupakan suatu teknik atau cara pengumpulan data
secara tidak langsung ( peneliti tidak langsungbertanya jawab dengan responden ).
Instrumen atau alat pengumpulan datanya juga disebut angket yang berisi
sejumlah pertanyaan-pertanyaan atau pernyataan yang harus dijawab atau
direspon oleh responden. Lembar angket yang peneliti buat sesuai dengan skala
likert. Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi
30

seseorang ( Sugiyono, 2013 : 93). Lembar angket pada penelitian ini dapat dilihat
pada lampiran.

3.5.4 Wawancara

Wawancara atau interviu (interview) merupakan salah satu bentuk teknik


pengumpulan data yang dilakukan secara lisan dalam pertemuan tatap muka
secara individual. Wawancara ditujukan untuk memperoleh data dari individu
dilaksanakan secara individual. Bentuk pertanyaan atau pernyataan yang
digunakan bersifat terbuka, sehingga respoden mempunyai kelekuasaan untuk
memberikan jawaban atau penjelasan. Pedoman wawancara untuk penelitian ini
dapat dilihat pada lampiran.

3.6 Teknik Analisis Data


3.6.1 Analisis Data Kevalidan
Pada tahap validasi LKS, langkah dalam menganalisis data yaitu dengan
merinci saran dan komentar yang telah diberikan dosen dan guru matematika
pada tahap expert review serta dua orang siswa pada tahap one-to-one.
Selanjutnya peneliti melakukan perbaikan terhadap LKS yang telah didesain
sebelumnya, berdasarkan saran dan komentar yang telah diberikan hingga
didapatkan hasil revisi yang telah dinyatakan valid.

3.6.2 Analisis Data Observasi


Pada tahap observasi, penilaian dilakukan dengan menghitung jumlah skor
pada lembar observasi. Lembar penilaian yang diisi oleh rekan mahasiswa sebagai
observer yang mengamati selama proses small group berlangsung. Jumlah skor
dihitung berdasarkan banyaknya tanda check yang diberikan untuk indikator yang
diamati dari setiap siswa. Pada tahap small group, ada empat indikator yang akan
diamati yaitu sebagai berikut.

1. Kemudahan dalam memahami alur cerita dalam soal dan permintaan


dalam soal
2. Kemudahan dalam memahami tahapan penyelesaian
3. Kejelasan teks dan gambar
31

4. Kualitas teks dan gambar

Nilai dari satu indikator yang terpenuhi adalah 1, sehingga skor maksimum
yang diberikan adalah 4. Adapun langkah-langkah menganalisis data observasi
adalah sebagai berikut.

1. Menghitung skor yang diperoleh setiap siswa untuk masing-masing


indicator dan menjumlahkannya. Untuk mengetahui apakah LKS yang
dikembangkan peneliti dapat dikatan praktis atau mudah untuk digunakan
dalam pembelajaran, digunakanlah tabel berikut ini terhadap skor
maksimal yang diperoleh siswa.

Tabel 3.4 Kategori Skor Observasi Small Group

Skor Observasi Kategori


4 Sangat Praktis
3 Praktis
2 Cukup praktis
1 Kurang Praktis
0 Tidak Praktis
(Modifikasi Arikunto, 2002 :245 )
2. Menentukan persentase skor
Jika didapatkan jumlah siswa yang termasuk ke dalam kategori
praktis adalah 60% atau lebih, maka LKS berbasis pendekatan pemodelan
matematika yang dikembangkan dapat dikatakan telah memenuhi kriteria
praktis.

Sedangkan pada tahap field test lembar observasi yang digunakan


adalah lembar pengamatan kurikulum 2013. Pada tahap field test, ada
enam indikator yang akan diamati yaitu keaktifan, interaksi,kesungguhan,
kerjasama, menghargai dalam kelompok, menghargai kelompok lain. Data
hasil observasi dalam field test ini selanjutnya dianalisis secara deskriptif.
32

3.6.3 Analisis Angket


Pada angket, analisis dilakukan dengan menghitung jumlah skor pada
angket yang menggunakan skala likert. Model likert menggunakan skala
deskriptif (SS, S,R,TS,STS).Skor untuk masing pernyataan ini adalah sebagai
berikut .
Tabel 3.5 Skor Skala Likert
Kategori Jawaban SS S R TS STS
Skor 5 4 3 2 1
(Sugiyono, 2013:94)
Keterangan :
SS : Sangat Setuju
S : Setuju
R : Ragu-ragu
TS : Tidak Setuju
STS : Sangat Tidak Setuju

Setelah skor diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif. Sebelumnya hasil


dari skor yang telah diperoleh dikategorikan dengan melihat tabel di bawah ini :

Tabel 3.6 Kategori Hasil Angket


Skor Kategori
0-96 Sangat Tidak Setuju
97-192 Tidak Setuju
193-288 Ragu-Ragu
289-384 Setuju
385-480 Sangat Setuju
(Modifikasi Sugiyono, 2013:95)
33

Bab IV

Hasil dan Pembahasan


4.1 Hasil Penelitian

Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap yaitu, analisis, desain,


pengembangan, implementasi dan evaluasi. Penelitian dilaksanakan dari tanggal
11 Januari 2015 sampai dengan 25 Maret 2015.

4.1.1 Deskripsi Tahap Analisis

Dalam penelitian ini, tahap pertama adalah analisis. Pada tahap analisis,
peneliti melakukan analisis, yaitu analisis kebutuhan siswa dan karakteristik
siswa kelas X, analisis kurikulum, analisi materi.

Pada tahap analisis karakterisitk dan kebutuhan siswa, peneliti melakukan


observasi di SMAN 18 Palembang. Karakteristik siswa yang yang dianalisis
adalah karakteristik siswa kelas X SMA. Berdasarkan diskusi dengan guru
matematika dan siswa serta pengamatan yang telah dilakukan, karakteristik siswa
SMA adalah sebagai berikut : (1) siswa lebih senang berdiskusi dengan temannya
pada saat pembelajaran, (2) rasa ingin tahu siswa SMA cenderung mencoba dan
menemukan hal-hal yang baru, (3) siswa tidak biasa mengerjakan soal cerita
secara sistematis sehingga bingung dalam menyelesaikan soal yang berbentuk
cerita, (4) siswa juga tidak pernah diberikan soal cerita yang berkaitan dengan
kehidupan sehari-hari, (5) siswa kesulitan dalam membuat pemodelan matematika
dalam menyelesaikan soal cerita.
Berdasarkan karakteristik siswa, maka dibutuhkan suatu alat bantu
pembelajaran yang dapat membangkitkan minat siswa dan membantu siswa
memahami soal cerita matematika serta keaktifan siswa dalam belajar
matematika. Oleh karena itu peneliti mengembangkan LKS berbasis pendekatan
pemodelan matematika.

Pada tahap analisis kurikulum, peneliti melakukan analisis terhadap


matematika SMA pada kurikulum 2013. Matematika SMA pada kurikulum 2013
34

dibagi menjadi matematika wajib dan peminatan, dalam kelompok peminatan


matematika terdiri dari tiga bidang ilmu, yaitu aljabar, geometri, dan trigonometri.
Tujuan pembelajaran pada matematika wajib dan matematika peminatan pada
dasarnya berbeda, perbedaan ini terlihat dari Kompetensi Dasar (KD) yang ada
karena KD merupakan konten atau kompetensi yang terdiri atas sikap,
pengetahuan, dan keterampilan yang bersumber pada kompetensi inti yang harus
dikuasai oleh peserta didik.

Pada tahap analisis materi, peneliti memilih materi yang dirasakan sangat
dibutuhkan siswa. Oleh karenanya peneliti memilih materi sistem persamaan
linear dua variabel. Sistem persamaan linear dua variabel. Sistem persamaan
linear dua variabel masuk ke dalam bidang aljabar dalam matematika. Kompetensi
dasar yang berhubungan dengan materi sistem persamaan linear adalah sebagai
berikut.
2.1 Menunjukkan sikap senang, percaya diri, motivasi internal, sikap kritis,
bekerjasama, jujur dan percaya diri dalam menyelesaikan berbagai
permasalahan nyata
2.2 Memiliki sikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan
kreatif
3.3 Mendeskripsikan konsep system persamaan linier dua dan tiga variabel serta
pertidaksamaan linear dua variabel dan mampu menerapkan berbagai strategi
yang efektif dalam menentukan himpunan penyelesaiannya serta memeriksa
kebenaran jawabannya dalam pemecahan masalah matematika
4.4 Menggunakan SPLDV, SPLTV dan system pertidaksamaan linear dua
variabel (SPLtLDV) untuk menyajikan masalah konstektual dan menjelaskan
makna tiap besaran lisan maupun tulisan.
4.5 Membuat model matematika berupa SPLDV, SPLTV, dan SPtLDV dari
situasi nyata dan matematika, serta menentukan jawaban dan menganalisis
model sekaligus jawabannya.
35

4.1.2 Deskripsi Tahap Desain


Tahap kedua dalam penelitian ini adalah desain. Tahap desain meliputi
merumuskan tujuan pembelajaran, memilih dan merumuskan masalah yang akan
digunakan dalam soal, dan mendesain langkah-langkah pengerjaan LKS.
Pada tahap desain tujuan pembelajaran peneliti merumuskan tujuan
pembelajaran menggunakan LKS. Adapun tujuan pembelajaran LKS ini adalah
siswa dapat memahami alur soal cerita dan dapat membuat prediksi penyelesaian
soal cerita yang berkaitan dengan sistem persamaan linear dua variabel.
Pada tahap memilih dan merumuskan soal, peneliti mendesain soal-soal
yang akan digunakan dalam LKS. Soal yang digunakan adalah soal cerita sistem
persamaan linear dua variabel yang berhubungan dengan dunia nyata dan sesuai
dengan kemampuan siswa SMA.
Pada tahap desain langkah-langkah pengerjaan LKS, peneliti mendesain
langkah-langkah pengerjaan LKS yang disesuaikan dengan langkah-langkah
pendekatan pemodelan matematika. Adapun langkah-langkah dalam LKS ini
adalah sebagai berikut : (1) memahami masalah, (2) membuat dugaan atau asumsi,
(3) membuat persamaan, (4) menyelesaikan persamaan, (5) menginterpretasikan
penyelesaian, (6) mengecek jawaban.

4.1.3 Deskripsi Tahap Pengembangan


Tahap pengembangan dalam penelitian ini meliputi mengembangkan soal
yang telah di desain pada tahap sebelumnya, kemudian disesuaikan dengan
karakterisitik pemodelan matematika dan. Pada tahap ini peneliti mengembangkan
12 soal dengan langkah pengerjaannya yang dikonsultasikan dengan pembimbing.

4.1.4 Deskripsi Tahap Implementasi dan Evaluasi


Tahap implementasi dalam penelitian ini adalah menerapkan soal dan
langkah-langkah pengerjaan yang telah dikembangkan dalam bentuk LKS. Pada
tahap ini soal pemodelan matematika berserta langkah-langkahnya dijadikan
dalam bentuk LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika. LKS ini
36

disesuaikan dengan karakteristik LKS yang diterapkan di sekolah. Pada tahap ini
diperoleh 5 LKS.

Selanjutnya, peneliti melakukan evaluasi formatif terhadap 5 LKS yang


terdiri dari expert review, one-to-one, small group dan field test. Adapun uraian
dari tahap evaluasi adalah seabgai berikut.
1. Expert Review
Pada tahap ini peneliti memberikan LKS berbasis pendekatan pemodelan
matematika kepada 4 orang pakar.
Tabel 4.2 Validator Expert Review
No. Nama Validator LKS yang divalidasi
1. Dr. Yusuf Hartono, LKS 1, LKS 2 , LKS 3
Dosen Pendidikan Matematika FKIP Unsri
2. Budi Mulyono M.Sc, LKS 1, LKS 2 , LKS 3, LKS 4
Dosen Pendidikan Matematika FKIP Unsri
3. Meryansumayeka, S.Pd. M.Sc, LKS 4
Dosen Pendidikan Matematika FKIP Unsri
4. Dra. Dalimah,Guru matematika di SMAN18 PLG LKS 1, LKS 4

Lembar validasi yang digunakan mencerminkan kevalidan untuk LKS


yang dibuat dari konten, konstruk dan bahasa. Secara rinci hasil lembar validasi
oleh ahli untuk masing-masing indikator ada pada lampiran. Sedangkan komentar
dan saran yang diperoleh dari ahli pada tahap expert review untuk LKS berbasis
pendekatan pemodelan matematika yang telah dikembangkan secara umum adalah
sebagai berikut.

Tabel 4.3 Komentar Tahap Expert Review


Nama Ahli Saran dan Komentar Keputusan Revisi
Dr. Yusuf Hartono Kegiatan belum membantu Kegiatan pada tahap dugaan
siswa membuat model dibuat membantu siswa
disarankan menggunakan untuk membuat model
dugaan yang membantu siswa
37

memodelkan masalah

Soal tidak dibagi menurut LKS dibagi berdasarkan


metode penyelesaian tingkat kesulitan
Budi Mulyono, M.Sc Beri nomor pada nama Nama anggota diberi nomor
anggota
Beri jarak pada setiap Setiap kompetensi dasar
kompentensi dasar diberi jarak
Asumsi lain sebaiknya Dipertimbangkan menunggu
dipingahkan diakhir, namun tahap one-to-one
cobakan dulu pada tahap one-
to-one
Perhatikan tanda titik Tanda titk dalam soal
Kolom pada LKS disejajarkan diperbaiki
Beri nama pada setiap gambar
atau grafik
Setiap asumsi menghasilkan Dipertimbangkan setelah uji
satu persamaan coba ke siswa
Cerita dalam soal masih Cerita dalam soal diperbaiki
rancuh sesuai saran validator
Meryansumayeka, S.Pd, Alokasi waktu terlalu sedikit Satu LKS hanya dua soal
M.Sc bagi siswa untuk
menyelsaikan tiga soal
Perbaiki kalimat pada Keterangan pada asumsi
keterangan pada asumsi nomor dua diganti
nomor dua
Kolom jawaban siswa Kolom jawaban siswa
diperbesar diperbesar
Dra. Dalimah Kata kita sebaiknya diganti Kata kita diganti dengan
dengan kata kalian atau anda kata anda
38

Berdasarkan saran dan masukkan dari para ahli peneliti melakukan revisi
yang akan menjadi prototipe pertama. Hasil revisi LKS pada tahap expert review
terlampir.

Tabel 4.4 Hasil Revisi Expert Review

LKS sebelum divalidasi LKS setelah divalidasi


39

2. One-to –one

LKS yang sudah direvisi dari tahap expert review selanjutnya diujicobakan
kepada enam orang siswa kelas X yaitu Siti Rahmelia Martha, Muhammad
Sabilillah, Fathurrahman, Muhammad Rizki dan Anggun Oktaviani masing-
masing siswa mengerjakan empat sampai lima soal. Uji coba ini dilakukan untuk
melihat kesulitan-kesulitan siswa terhadap LKS yang telah dikembangkan. Uji
coba tahap one-to-one dilakukan selama dua minggu yaitu tanggal 18 Februari
sampai dengan 3 Maret 2015.
Pada saat pelaksanaan uji coba, peneliti bertindak sebagai fasilitator yang
mengawasi dan membantu siswa pada saat mengalami kesulitan dalam
mengerjakan LKS. Kesulitan dan kekurangan yang terjadi selama proses one-to-
one dan komentar siswa setelah menggunakan LKS digunakan untuk melakukan
merevisi LKS . Berikut adalah hasil observasi dan keputusan revisi dalam tahap
one-to-one.

Tabel 4.5 Komentar Tahap One-to-One


Hasil Observasi Keputusan Revisi
Siswa tidak mengerti dengan langkah kedua Kata dugaan diganti dengan kata
membuat dugaan landasan berpikir
Pada tahap dugaan dan membuat persamaan Peneliti membagi dugaan menjadi
siswa merasa terlalu ribet karena harus bolak- beberapa dugaan, dimana setiap dugaan
balik ke dugaan sebelumnya menghasilkan satu persamaan sesuai
dengan syarat expert sebelumnya
Pada soal yang berhubungan dengan materi Informasi rumus diberikan pada setiap
lain seperti hubungan jarak, kecepatan dan dugaan yang memerlukan rumus
waktu siswa masih tidak mengetahui tersebut
rumusnya
Siswa tidak memahami cara mengisi tabel Tabel diperjelas dengan istilah suku ke-
barisan aritmatika (n), banyak penjualan 𝑈𝑛 , dan suku
pertama
Siswa tidak bisa mengkonversi soal ke dalam Tidak menggunakan skala 100
40

skala 100
Beberapa kalimat dalam dugaan tidak Kalimat diganti sesuai dengan yang
dipahami oleh siswa dipahami oleh siswa
Soal mengenai penjualan dalam bazaar HUT Soal mengenai penjualan pempek tidak
kota Palembang, siswa kesulitan dalam dilanjutkan ke tahap berikutnya
menentukan persamaan, karena siswa tidak
mengerti persamaan umum untuk garis lurus
LKS mengenai keuntungan perusahaan LKS mengenai keuntungan perusahaan
memiliki jalan yang sama persis dengan LKS tidak dilanjtukan, sedangkan LKS
grafik pekerja dan penjualan minuman, pada penjualan minuman dan grafik pekerja
ketiga soal ini peneliti kesulitan dalam direvisi untuk ke tahap small group
membantu siswa dalam mengisi dugaan
LKS mengenai pekerja kantor kabupaten Peneliti mengubah soal sehingga siswa
Ogan Ilir , menurut siswa terlalu ribet, karena tidak bingung dan lebih mudah untuk
banyak yang harus mereka temukan sebelum menemukan persamaan
memperoleh jawaban, apalagi LKS ini
memakai jalan dimana mreka tidak dizinkan
untuk menebak tanpa menemukan persamaan
LKS mengejar Budi siswa bingung dalam Peneliti merevisi dugaan agar siswa
menentuka waktu tempuh Budi untuk memahami maksud soal
menyusul Iwan

Komentar siswa dan hasil revisi pada tahap one-to-one dapat dilihat pada
lampiran. Dari komentar siswa yang mengerjakan LKS berbasis pendekatan
pemodelan matematika di tahap one-to-one terlihat bahwa siswa masih memiliki
kesulitan dalam mengerjakannya, kesulitan yang dihadapi siswa saat
mengerjakannya, dikarenakan siswa tidak pernah menyelesaikan jenis soal seperti
ini sebelumnya dan kalimat pada LKS yang masih membigungkan siswa. Respon
beberapa siswa mengatakan merasa sangat terbantu dengan adanya langkah-
langkah dalam LKS ini. Dengan melihat waktu siswa mengerjakan soal-soal LKS
akhirnya peneliti memutuskan untuk memuat dua permasalahan dalam satu LKS
untuk satu kali pembelajaran.
41

Dari hasil komentar dan saran siswa LKS direvisi dan hasil revisi ini disebut
prototipe kedua. Dari hasil pengerjaan siswa ada dua soal yang tidak valid,
sehingga ada 10 permasalahan yang termasuk kategori valid. Prototipe kedua
berupa lima LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika dapat dilihat pada
lampiran.

Tabel 4.6 Hasil Revisi Tahap One-to-one


Sebelum revisi Setelah Revisi
42

3. Small group
LKS hasil revisi one-to-one disebut prototipe 2. Pada tahap ini peneliti
melakukan ujicoba LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika prototipe
kedua kepada lima orang siswa SMA kelas X. Uji coba small group dilakukan
selama 3 hari yaitu tanggal 7 Maret 2015 small group LKS 1 ,tanggal 8 Maret
2015 small group, LKS 2, LKS 3 dan LKS 4, serta tanggal 9 Maret 2015 small
group LKS 5. Selama kegiatan small group dilakukan observasi terhadap lima
orang siswa. Tahap ini bertujuan untuk melihat kepraktisan dari LKS yang telah
dibuat.
Pada saat pelaksanaan uji coba small group peneliti bertindak sebagai
fasilitator yang mengawasi dan membantu siswa pada saat mengalami kesulitan.
Kesulitan dan kekurangan yang terjadi selama proses small group dijadikan
sebagai masukkan untuk merevisi LKS.
Pada saat siswa mengerjakan LKS mereka, peneliti mengobservasi sekaligus
mendokumentasikan kegiatan siswa untuk mengetahui bagaimana proses
pengerjaan yang dilakukan oleh siswa apakah ada kesulitan yang dialami oleh
siswa. Hasil observasi pada tahap small group dilihat pada tabel 4.7.
43

Tabel 4.7 Komentar Tahap Small Group


Hasil Observasi Keputusan Revisi
Siswa merasa bingung menentukan Penjelasan mengenai satu persamaan
persamaan berdasarkan dugaan- yang diperoleh dari satu dugaan
dugaan yang telah diperoleh ditambahkan pada setiap persamaan
Pada soal yang berhubungan dengan Penjelasan rumus diberikan pada setiap
materi lain seperti hubungan jarak, dugaan yang memerlukan rumus tersebut
kecepatan dan waktu siswa masih
bingung walaupun sudah diberikan
rumus
Tabel untuk menemukan rumus suku Tabel untuk menemukan barisan artimatika
barisan terlalu panjang hanya dibuat 3 baris
Pada tahap memahami masalah jumlah Pada tahap memahami masalah jumlah baris
baris tidak sesuai dengan jumlah disesuaikan dengan jumlah informasi dan
informasi dan jumlah pertanyaan pada jumlah pertanyaan pada soal
soal sehingga membuat siswa bingung

Dari observasi yang peneliti lakukan saat siswa mengerjakan LKS di tahap
ini siswa bisa mengerjakan soal yang ada di LKS, walaupun ada beberapa soal
dimana siswa memerlukan waktu lebih untuk mengerjakannya.
Untuk LKS yang pertama, dan kelima didapatlah hasil 4 orang siswa
termasuk kategori praktis dan satu orang siswa ke dalam kategori cukup praktis.
Artinya, 80 % siswa mengikuti kegiatan small group termasuk kategori praktis.
Untuk LKS kedua dan ketiga didapatlah hasil 3 orang termasuk kategori
praktis dan satu orang termasuk kategori praktis, dan satu orang termasuk kategori
kurang praktis. Artinya 60 % siswa yang mengikuti small group termausk
kategori praktis Sedangkah LKS yang keempat, hanya satu permasalahan yang
termasuk kategori praktis sedangkan soal kedua termasuk dalam kategori tidak
praktis.
Setelah melalui tahap small group, prototipe kedua direvisi menghasilkan
prototipe ketiga LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika yang valid dan
44

praktis, selengkapnya dapat dilihat pada lampiran. Dari hasil small group
diperoleh 9 permasalahanLKS berbasis pendekatan pemodelan matematika yang
valid dan praktis. Kemudian 9 permasalahan LKS yang dibagi menjadi lima LKS
berbasis pendekatan pemodelan matematika. Prototipe ketiga berupa lima LKS
berbasis pendekatan pemodelan matematika dapat dilihat pada lampiran.
Tabel 4.8 Hasil Revisi Tahap Small Group
Sebelum Revisi Setelah Revisi
45

4. Field test
Tahap ini merupakan tahap terakhir dalam evaluasi formatif pengembangan
LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika. Field test adalah uji coba tiga
LKS yang merupakan hasi revisi tahap small group. Pada tahap field test, peneliti
mengujicobakan prototipe ketiga LKS berbasis pendekatan pemodelan
matematika ke subjek penelitian yaitu siswa kelas X SMAN 18 Palembang.
Sebelum melakukan field test peneliti melakukan pengenalan (orientasi) LKS
berbasis pendekatan pemodelan matematika terlebih dahulu sebelum melakukan
field test di masing-masing kelas.
a. LKS 1
Field test LKS 1 pada hari Kamis, 12 Maret 2014 di kelas X.2 jam ketujuh
dan jam kedelapan, pada pertemuan ini yang mengajar adalah guru. Ada dua
rekan peneliti yang bertindak sebagai observer yaitu Anggun Primadona dan Dwi
Kurnia Liztari. Pada awal pertemuan guru mengajak siswa untuk mengingat
kembali apa itu persamaan linier dua variabel, kemudian guru menyebutkan
tujuan pembelajaran dan motivasi tentang pentingnya belajar sistem persamaan
linear. Kemudian guru mengajukan satu soal cerita yang berhubungan dengan
sistem persamaan linear dua variabel. Selanjutnya guru mengajak siswa untuk
duduk dalam kelompok, pada pertemuan kali ini ada enam kelompok yang
terbentuk, kemudian memberikan LKS 1. Peneliti menjelaskan kepada siswa
tentang petunjuk pengerjaan LKS, dan meminta siswa untuk menuliskan nama
kelompok dan nama anggotanya.

Gambar 4.1 Guru Memulai Pembelajaran


46

Saat mengerjakan LKS dalam kelompok siswa berdiskusi aktif, antusias


siswa dalam mengerjakan LKS juga terlihat dari banyaknya pendapat dari masing-
masing anggota kelompok yang disampaikan dalam diskusi kelompok. Perbedaan
jawaban siswa dalam kelompok juga terlihat pada pertemuan ini, sehingga siswa
bertanya kepada peneliti untuk mengetahui jawaban siapa yang lebih tepat.
Namun, ada juga kelompok yang tidak aktif dalam pembelajaran, hanya satu atau
dua anggota dalam kelompok tersebut yang mengerjakan LKS.

Gambar 4.2 Siswa X.2 Berdiskusi Dalam Kelompok

Hampir semua siswa mampu mengerjakan LKS dengan baik. Waktu


pengerjaan siswa dalam mengerjakan LKS adalah 30 menit. Pembelajaran
dilanjutkan dengan persentasi perwakilan kelompok siswa di depan kelas.

Gambar 4.3 Perwakilan Kelompok Siswa Melakukan Persentasi

Semua soal berhasil dipersentasikan pada pertemuan ini, tidak ada


perbedaan jawaban siswa untuk persentasi LKS pertama ini jawaban siswa adalah
sama dengan kelompok yang melakukan persentasi. Hanya saja ada beberapa
perbedaan dalam cara siswa dalam mengecek kembali jawaban. Selanjutnya
setelah persentasi guru mengajak siswa menyimpulkan pembelajaran tentang
sistem persamaan linear dua variabel.
47

b. LKS 2
Field test LKS 2 pada hari Jum’at, 13 Maret 2014 di kelas X.3 jam kedua dan
jam ketiga, pada pertemuan ini yang mengajar adalah guru. Ada dua rekan peneliti
yang bertindak sebagai observer yaitu Siti Marfuah dan Dwi Kurnia Liztari. Pada
awal pertemuan guru mengajak siswa untuk mengingat kembali apa itu persamaan
linier dua variabel, kemudian guru menyebutkan tujuan pembelajaran dan
motivasi tentang pentingnya belajar sistem persamaan linear. Kemudian peneliti
mengajukan satu soal cerita yang berhubungan dengan sistem persamaan linear
dua variabel. Selanjutnya guru mengajak siswa untuk duduk dalam kelompok,
pada pertemuan kali ini ada enam kelompok yang terbentuk, kemudian peneliti
membagikan LKS 2. Peneliti menjelaskan kepada siswa tentang petunjuk
pengerjaan LKS, dan meminta siswa untuk menuliskan nama kelompok dan nama
anggotanya.

Waktu pengerjaan siswa dalam mengerjakan LKS adalah 35 menit, padahal


waktu yang tercantum dalam LKS adalah 30 menit. Pada pertemuan ini, siswa
juga terlihat aktif berdiskusi dan antusias dalam mengerjakan LKS. Pada soal
yang pertama siswa sudah mampu menjawab sendiri soal dengan mengisi secara
berurutan langkah yang diberikan dengan baik tanpa ada kesulitan. Di kelas ini
kebingungan siswa mulai terlihat pada saat mengerjakan soal yang kedua. Soal
yang kedua ini merupakan soal yang berhubungan dengan kecepatan. Siswa
mengatakan bahwa mereka tidak pernah mendapat soal-soal seperti ini
sebelumnya, sehingga mereka merasa bingung dan mereka memerlukan waktu
yang lebih lama dalam pengerjaan soal kedua.

Selain itu, pada saat soal yang kedua ini semangat siswa mulai turun dan
siswa juga kurang fokus pada pertanyaan dalam soal. Hal ini terlihat dari jawaban
siswa yang tidak sesuai dengan pertanyaan yang diberikan. Siswa mengatakan
bahwa ada beberapa kata-kata dalam langkah-langkah penyelesaian soal kedua
yang masih membingungkan
48

Gambar 4.4 Siswa Kelas X.3 Melakukan Diskusi dengan Anggota Kelompok

Pada saat selesai pengerjaan LKS perwakilan siswa mempersentasikan


jawaban mereka di depan kelas. Pada saat persentasi soal yang pertama, tidak ada
perbedaan jawaban siswa semua siswa menjawab sama untuk soal yang
dipersentasikan. Sayangnya pada pertemuan ini hanya satu soal yang berhasil
dipersentasikan, karena waktu pembelajaran telah usai. Sehingga pembelajaran
tidak sampai pada tahap penutupan dan hanya sampai persentasi soal yang
pertama saja.

Gambar 4.5 Siswa Melakukan Persentasi

Kekurangan dalam pelaksanaan field test dijadikan masukan oleh peneliti


untuk melaksanakan field test berikutnya.

c. LKS 3
Field test LKS 3 pada hari Jum’at, 13 Maret 2014 di kelas X.1 jam kelima
dan jam keenam, pada pertemuan ini yang mengajar adalah peneliti. Ada dua
49

rekan peneliti yang bertindak sebagai observer yaitu Siti Marfuah dan Dwi Kurnia
Liztari. Pada awal pertemuan guru mengajak siswa untuk mengingat kembali apa
itu persamaan linier dua variabel, kemudian guru menyebutkan tujuan
pembelajaran dan motivasi tentang pentingnya belajar sistem persamaan linear.
Kemudian peneliti mengajukan satu soal cerita yang berhubungan dengan sistem
persamaan linear dua variabel. Selanjutnya guru mengajak siswa untuk duduk
dalam kelompok, pada pertemuan kali ini ada enam kelompok yang terbentuk,
kemudian memberikan LKS 3. Peneliti menjelaskan kepada siswa tentang
petunjuk pengerjaan LKS, dan meminta siswa untuk menuliskan nama kelompok
dan nama anggotanya.
Waktu pengerjaan siswa dalam mengerjakan LKS adalah 30 menit. Saat
mengerjakan LKS dalam kelompok siswa berdiskusi aktif, antusias siswa dalam
mengerjakan LKS juga terlihat dari banyaknya pendapat dari masing-masing
anggota kelompok yang disampaikan dalam diskusi kelompok. Perbedaan
jawaban siswa dalam kelompok juga terlihat pada pertemuan ini, sehingga siswa
bertanya kepada peneliti untuk mengetahui jawaban siapa yang lebih tepat.
Namun, ada juga kelompok yang tidak aktif dalam pembelajaran, hanya satu atau
dua anggota dalam kelompok tersebut yang mengerjakan LKS.
Pada saat pengerjaan LKS kebingungan siswa terletak pada mengisi dugaan,
ada beberapa kelompok yang merasa kesulitan dalam mengisi langkah ini untuk
soal yang pertama, namun untuk soal yang kedua siswa sudah mampu menjawab
LKS dengan baik. Selanjutnya siswa juga kesulitan dalam mengecek kembali
jawaban, kebanyakan kelompok siswa memilih untuk tidak mengisi langkah ini.
Pada saat selesai pengerjaan LKS perwakilan siswa mempersentasikan
jawaban mereka di depan kelas. Persentasi soal yang pertama dilakukan oleh
kelompok lima, saat persentasi soal yang pertama, kelompok dua mengajukan
pertanyaan tetang perbedaan jawaban mereka. Ternyata, ada kekeliruan cara
menjawab dari kelompok dua pada langkah membuat landasan berpikir, kelompok
lima yang melakukan persentasi berhasil menjelaskan kepada kelompok dua
tentang kekeliruan jawaban mereka.
50

Selanjutnya, pada saat persentasi soal yang kedua yang melakukan persentasi
adalah kelompok dua. Kelompok ini memiliki jawaban yang berbeda dari
kelompok lainnya. Kelompok tujuh hanya mengisi LKS sampai pada langkah
kedua saja, karena menurut mereka soal tersebut bisa dijawab tanpa menggunakan
sistem persamaan linear dua variabel. Pada saat mempersentasikan jawaban,
terlihat beberapa kebingungan siswa untuk jawaban kelompok dua ini, namun
setelah dijelaskan oleh perwakilan kelompok dua, kelompok yang lainnya pun
akhirnya bisa menerima jawaban kreatif dari kelompok dua ini.
Setelah persentasi peneliti pun mengajak siswa untuk menyimpulkan proses
pembelajaran tentang sistem persamaan linear dua variabel.

4.1.6 Analisis Data Observasi

Observasi dilakukan selama proses field test dan orientasi berlangsung yang
dilakukan oleh peneliti dan observer. Orientasi adalah pengenalan LKS berbasis
pendekatan pemodelan matematika, dimana siswa diminta untuk mengerjakan
LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika secara berkelompok.
Data hasil observasi dianalisis dengan cara menghitung tanda check list pada
setiap aspek pada lembar penilaian berkelompok dan penilaian individu. Lembar
hasil observasi pada field test dan orientasi secara lengkap dapat dilihat pada
lampiran. Hasil observasi siswa pada field test dan orientasi dapat dilihat pada
tabel berikut.
51

Tabel 4.9 Hasil Penilaian Pengamatan Sikap Dalam Proses


Pembelajaran (Kerja Kelompok)

No Aspek yang Jumlah siswa


diamati X.1 X.2 X.3
Field test LKS 1 Field test LKS 2 Field test LKS 3
1. Keaktifan 26 25 18
2. Interaksi 24 23 14
3. Kerjasama 21 23 15
4. Kesungguhan 21 25 20
5. Menghargai 28 23 14
dalam kelompok
6. Menghargai 19 20 15
kelompok lain

Berdasarkan tabel, dapat dilihat bahwa pembelajaran menggunakan LKS


berbasis pendekatan pemodelan matematika membuat siswa menjadi aktif,
keaktifan ini terlihat dari sikap siswa yang aktif berdiskusi dalam kelompok, serta
aktif selama proses pembelajaran berlangsung. LKS ini juga memunculkan sikap
interaksi dan kerjasama antara sesama siswa, siswa menjadi lebih percaya diri
untuk mengemukakan pendapatnya dan berusaha bersama dengan teman-teman
satu kelompoknya untuk menemukan jawaban terbaik serta siswa juga mampu
untuk menghargai pendapat teman-teman satu kelompoknya. Selama pengerjaan
LKS, siswa juga bersungguh-sungguh dalam mengerjakan LKS, ini terlihat dari
tidak ada siswa yang menjawab LKS dengan asal-asalan saja. Semua siswa
mengerjakan LKS dengan mengikuti langkah-langkah yang ada.

Berdasarkan observasi yang telah dilakukan diketahui bahwa LKS berbasis


pendekatan pemodelan matematika yang peneliti kembangkan membuat siswa
menjadi lebih aktif dalam pembelajaran, aktif dalam menyelesaikan
permasalahan, aktif dalam diskusi kelompok, dan siswa menjadi lebih percaya diri
52

dengan jawabannya untuk menjawab permasalahan yang ada di dalam LKS. Hal
ini menunjukkan bahwa siswa mulai terbiasa dan mulai tertarik belajar
menggunakan LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika dan melalui LKS
berbasis pendekatan pemodelan matematika dapat memunculkan aspek-aspek
penilaian sikap yang diharapkan pada kurikulum 2013.

4.1.7 Analisis Data Angket

Angket yang berisi 10 soal yang mewakili tiga indikator yang ingin dilihat
yaitu ketertarikan siswa, pemahaman soal cerita melalui LKS dan membuat model
matematika yang sudah diisi oleh siswa selanjutnya di hitung dengan
menggunakan skala likert. Hasil perhitungan angket per soal dapat dilihat di
lampiran. Kategori dari masing-masing soal angket dari tiga kelas yang masing-
masing mendapat dua pertemuan field test adalah sebagai berikut.

Tabel 4.10 Hasil Analisis Angket Siswa

No Pernyataan Kategori Persentase

1 Saya menjadi lebih aktif dalam belajar matematika dengan Sangat 83,75 %
menggunakan LKS berbasis pendekatan pemodelan Setuju
matematika
2 Saya menjadi lebih fokus dalam menyelesaikan soal dengan Sangat 81,04 %
menggunakan LKS berbasis pendekatan pemodelan Setuju
matematika
3 Saya terlatih menjawab soal secara sistematis dengan Sangat 80,62 %
menggunakan LKS berbasis pendekatan pemodelan Setuju
matematika
4 Saya menjadi lebih bisa memahami soal cerita matematika Sangat 81,88 %
setelah menggunakan LKS berbasis pendekatan pemodelan setuju
matematika
5 Saya menjadi terlatih dalam menentukan variabel soal cerita Setuju 76,87 %
setelah menggunakan LKS berbasis pendekatan pemodelan
matematika
6 Saya menjadi lebih terlatih dalam membuat model Setuju 76,04 %
matematika setelah menggunakan LKS berbasis pendekatan
pemodelan matematika
7 Saya merasa tidak ada kesulitan dalam mengerjakan LKS Setuju 75 %
berbasis pendekatan pemodelan matematika
53

8 Saya menjadi bisa menjawab permasalahan lebih baik Ragu-ragu 68 %


setelah menggunakan LKS berbasis pendekatan pemodelan
matematika
9 Saya merasa tertarik untuk belajar LKS berbasis pendekatan Setuju 78,95 %
pemodelan matematika untuk materi lainnya
10 Saya menjadi lebih suka belajar matematika setelah Setuju 75 %
menggunakan LKS berbasis pendekatan pemodelan
matematika

Dari hasil angket diketahui bahwa pendapat siswa sangat setuju jika LKS
berbasis pendekatan pemodelan matematika membuat mereka menjadi lebih aktif
dalam belajar matematika, membuat mereka menjadi lebih fokus dalam
menyelesaikan soal, membuat mereka menjawab soal menjadi lebih sistematis,
membuat mereka memahami soal cerita matematika. Pendapat siswa juga setuju
jika LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika membantu mereka
menemukan variabel, melatih mereka dalam membuat model matematika suatu
permasalahan. Siswa juga setuju bahwa LKS berbasis pendekatan pemodelan
matematika membuat mereka mengerjakan matematika tanpa ada kesulitan yang
berarti. Siswa juga setuju bahwa mereka tertarik untuk belajar materi lainnya
menggunakan LKS. Siswa juga setuju bahwa mereka menjadi lebih suka belajar
matematika setelah menggunakan LKS. Berdasarkan hasil angket diketahui bahwa
LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika membuat sisa menjadi lebih
aktif dan percaya diri, serta membantu siswa dalam memahami variabel dan alur
soal cerita.

4.1.8 Analisis Wawancara

Data pendukung lainnya dalam penelitian ini adalah wawancara. Secara


keseluruhan ada lima pertanyaan terbuka dalam wawancara ini, yaitu pendapat
siswa setelah mengerjakan LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika,
kegunaan LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika dalam memahami
soal cerita, kesulitan siswa dalam mengerjakan LKS berbasis pendekatan
pemodelan matematika, ketertarikan siswa pada LKS berbasis pendekatan
54

pemodelan matematika, dan kemandirian mereka dalam menggunakan LKS


berbasis pendekatan pemodelan matematika.
Untuk pertanyaan pertama mengenai pendapat mereka tentang LKS yang
diberikan siswa menjawab bahwa LKS yang memiliki pertanyaan yang menarik
dan mengasah kemampuan mereka, karena dapat membantu mereka dalam
memahami soal cerita. Berikut adalah beberapa kutipan wawancara peneliti
dengan siswa.
Peneliti : “Bagaimana menurut adek mengenai LKS sistem persamaan
linear ?”
Siswa :“Petanyaannya sangat menarik dan bisa mengasah otak, kareno
jugo ngerjoke ini dari LKS ini jugo sudah mulai mengerti variabel
itu, kareno ado langkah-langkahnyo”
Menurut siswa LKS ini juga melatih logika dan penalaran mereka, namun
mereka juga masih membutuhkan bantuan guru untuk menjawab beberapa
langkah dalam LKS ini. Artinya seiswa menjadi aktif dalam pembelajaran serta
siswa bersungguh-sunguh dalam mengerjakan LKS. Siswa juga tertarik untuk
belajar menggunakan LKS berbasis pemodelan matematika pada materi lainnya.
Berikut adalah petikan hasil wawancara peneliti dengan siswa.

Peneliti : “Masih perlu pernjelasan guru dak untuk LKS ini ?”


Siswa : “Masih kareno beberapo yang kito belom mengerti langkah-
langkahnyo”
Peneliti : “bagian yang dak ngerti tu pas dibagian ado fisikanyo atau yang
mano ?”
Siswa : “yang ado fisikanyo”
Peneliti : “kalo misalnyo belajar menggunakan LKS ini tertarik dak ?”
Siswa : “tertarik mbak, kareno ado langkah-langkahnyo itu memudahkan
kita untuk mengerjakannya “

Siswa merasa sulit karena soal-soal yang ada pada LKS ini belum pernah
mereka temukan sebelumnya. Siswa juga mengatakan bahwa masih ada
pernyataan-pernyataan dalam LKS yang tidak mereka pahami, terutama ketika
mengerjakan soal yang berhubungan dengan ilmu lain seperti ilmu fisika.
Berdasarkan hasil wawancara juga diketahui bahwa LKS ini membuat siswa
menjadi lebih aktif dalam belajar matematika , menjadi lebih percaya diri , serta
merasa menjadi lebih fokus dalam mengerjakan dan menangkap maksud
55

pertanyaan dalam LKS. Siswa juga mengaku tertarik untuk belajar menggunakan
LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika. Namun, semua siswa mengaku
bahwa mereka masih memerlukan bantuan guru dalam menggunakan LKS ini,
karena masih ada beberapa hal yang membingungkan di dalam LKS.

4.2 Pembahasan
Penelitian ini menggunakan penelitian pengembangan model ADDIE
(Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation). Pada tahap
analisis diketahui karakteristik siswa SMA kelas X masih berkesulitan dalam
membuat pemodelan matematika pada soal cerita sistem persamaan linear dua
variabel. Kemudian peneliti mendesain suatu wadah berupa LKS agar siswa
dapat membuat pemodelan matematika untuk menyelesaikan soal cerita yang
berkaitan dengan sistem persamaan linear dua variabel, maka peneliti mendesain
soal-soal pemodelan matematika yang sesuai untuk siswa kelas X, dan
mendesaian langkah-langkah pengerjaan yang sesuai dengan pemodelan
matematika. Selanjutnya soal-soal yang telah di desain dikembangkan dan
diseleksi oleh pembimbing. Soal-soal yang telah dikembangkan
diimplementasikan ke dalam format LKS dengan langkah-langkah pemodelan
matematika. Tahap berikutnya yaitu tahap evaluasi, evaluasi yang digunakan
adalah evaluasi formatif yang terdiri dari empat tahap yaitu expert review, one-to-
one, small group, dan field test. Proses revisi dilakukan pada setiap tahap
sehingga diperoleh LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika yang valid
dan praktis.

Tahap expert review dan one-to-one bertujuan untuk mendapatkan LKS yang
valid. Kevalidan LKS berdasarkan isi, kontruk, dan bahasa. Dari segi isi, LKS
berbasis pendekatan pemodelan matematika yang peneliti kembangkan sudah
sesuai dengan kurikulum 2013. Dari segi konstruk, LKS yang dikembangkan
sudah tersusun dengan baik sesuai dengan teori pendekatan pemodelan
matematika dan sesuai dengan teori LKS. Sedangkan dari segi bahasa, LKS yang
dikembangkan telah menggunakan bahasa yang baik dan benar dimana siswa
tidak ada yang salah pengertian terhadap informasi maupun pertanyaan di dalam
56

soal serta informasi LKS yang dipahami oleh siswa. Berdasarkan komentar dan
saran pakar yaitu tiga orang dosen dan seorang guru SMAN 18 Palembang serta
komentar siswa dan kekurangan yang terjadi pada tahap one-to-one dijadikan
bahan utnuk melakukan merevisi LKS sehingga menghasilkan LKS yang valid.

Dari segi kepraktisan, berdasarkan expert review diketahui bahwa menurut


para ahli LKS yang peneliti kembangkan sudah dpat diterapkan dalam
pembelajaran, dan dari tahap one-to-one dan tahap small group LKS yang telah
dikembangkan juga memenuhi kriteria praktis. Lima LKS berbasis pendekatan
pemodelan matematika yang masing-masing terdiri dari dua soal yang telah
dilihat kepraktisannya pada tahap small group. Hasil dari tahap small group lima
permasalahan termasuk kategori praktis, empat permasalahan termasuk kategori
cukup praktis dan satu soal termasuk dalam kategori tidak praktis. Dari hasil
observasi juga terlihat bahwa siswa dapat menggunakan LKS tersebut walaupun
masih ada siswa yang merasa kebingungan dan sering bertanya karena mereka
belum terbiasa menggunakan LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika
mengenai beberapa bagian di LKS, karena siswa tidak pernah belajar
menggunakan LKS sebelumnya serta soal yang diberikan juga belum pernah
dipelajari oleh siswa sebelumnya. Namun, tidak ada kendala yang berarti dalam
penggunaan LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika pada materi sistem
persamaan linear dua variabel.

Setelah dilakukan tahap small group didapatlah hasil empat LKS yang berisi
9 permasalahn yang termasuk dalam kategori valid dan praktis Selanjutnya
dilakukan ujicoba dilakukan untuk melihat efek potensial LKS yang telah
dikembangkan. Sebelum masuk ke tahap field test, peneliti melakukan pengenalan
atau orientasi ke tiga kelas dengan melakukan ujicoba LKS berbasis pendekatan
pemodelan matematika, hal ini dilakukan agar pada saat field test siswa dapat
fokus dalam pengerjaan soal dan waktu pembelajaran pada saat field test akan
lebih efisien. Setelah melakukan orientasi, selanjutnya peneliti melakukan field
test. Proses field test dimulai dengan penyampaian tujuan pembelajaran dan
mengingatkan siswa kembali tentang sistem persamaan linear dua variabel. Pada
57

saat field test, siswa memulai dengan membaca soal dan tidak tergesa-gesa untuk
menjawab setiap langkah, siswa mulai terlihat fokus dalam menjawab LKS.

Pada saat field test, beberapa kelompok siswa sudah bisa mengerjakan sendiri
tanpa bertanya kepada peneliti dan guru. Siswa juga terlihat aktif dan fokus
selama pengerjaan LKS, serta percaya diri. Hampir semua aspek sikap dalam
kurikulum 2013 muncul, siswa aktif dan mampu berinteraksi dengan anggota
kelompok serta berdiskusi sebelum menentukan jawaban pada setiap dugaan,
siswa bersungguh-sungguh dalam mengerjakan soal pada LKS, kerjasama siswa
dalam pengerjaan LKS juga tampak jelas selama berlangsungnya tahap field test.
Hasil observasi ini sesuai dengan keuntungan pembelajaran pemodelan
matematika yaitu siswa menjadi lebih tertarik di dalam aktivitas pemodelan
matematika memlalui pembelajaran menggunakan konteks (Doosti,2002).

Dari hasil observasi juga diketahui melalui LKS ini siswa sudah mampu
membuat koneksi ke dalam situasi lain, yaitu ke dalam konteks penjualan, fisika
dan lain-lain. LKS ini juga sudah mampu mengajak siswa untuk menemukan
variabel dan menemukan model terbaik untuk permasalahan dunia nyata. Hal ini
terlihat dari jawaban siswa pada langkah kedua.Gamabr 4.6 adalah jawaban siswa
dalam menemukan variabel dan model matematika.
58

Gambar 4.6 Siswa Menemukan Variabel dan Persamaan

Melalui LKS ini pula, siswa sudah mampu membuat dugaan untuk masalah
yang diberikan. Hal ini terlihat dari beberapa siswa yang sudah mampu
memperkirakan jawaban pada bagian membuat landasan berpikir. Gambar 4.7
adalah contoh jawaban siswa yang sudah mampu memperkirakan jawaban pada
langkah kedua.
59

Gambar 4.7 Perkiraan Jawaban Siswa

Dari wawancara ke beberapa siswa juga diperoleh bahwa LKS ini membuat
siswa tertarik untuk belajar, dan melatih logika mereka, serta mengajak mereka
untuk lebih fokus ke dalam soal ketika menjawab pertanyaan, bukan hanya asal
menjawab saja. Menurut siswa LKS ini juga melatih logika dan penalaran mereka,
namun mereka juga masih membutuhkan bantuan guru untuk menjawab beberapa
langkah dalam LKS ini. Siswa juga tertarik untuk belajar menggunakan LKS
berbasis pendekatan pemodelan matematika pada materi lainnya. Dari hasil
wawancara ini diketahui bahwa LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika
memiliki efek potensial berupa ketertarikan siswa terhadap LKS berbasis
pendekatan pemodelan matematika.
60

Dari hasil angket yang peneliti berikan kepada siswa yang sudah dianalisis
dengan menggunakan skala likert, diketahui bahwa LKS yang diberikan membuat
siswa tertarik untuk belajar menggunakan LKS, membuat siswa menjadi lebih
aktif, lebih mampu memahami masalah, lebih mengenal variabel dan siswa
menjadi terlatih dalam menentukan variabel, terlatih dalam membuat model
matematika dalam permasalahan kehidupan sehari-hari, dan siswa tertarik untuk
belajar matematika dengan menggunakan LKS berbasis pendekatan pemodelan
matematika. Dari hasil angket ini diketahui bahwa LKS berbasis pendekatan
pemodelan matematika memiliki efek potensial berupa ketertarikan siswa
terhadap LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika pada materi lainnya.

Ketertarikan siswa dalam mengerjakan LKS merupakan efek potensial


terhadap hasil belajar siswa. Hal ini terlihat dari jawaban siswa dalam LKS pada
gambar 4.8
61
62
63

Gambar 4.8 Jawaban Siswa Pada Saat Field Test

Dari hasil pengembangan LKS berbasis pendekatan pemodelan


matematika yang peneliti kembangkan diketahui karakterisitik dari LKS yang
berhasil dikembangkan adalah sebagai berikut: 1). LKS berbasis pemodelan
matematika yang peneliti kembangkan membantu siswa dalam memahami
variabel dan model matematika masalah kehidupan sehari-hari materi sistem
64

persamaan linear. (2) LKS yang peneliti kembangkan membantu siswa dalam
mngerjakan soal cerita sistem persamaan linear dua variabel secara sistematis.

Dari enam langkah pemodelan matematika yang ada pada LKS, kesalahan
dan kebingungan siswa paling sering terjadi terletak pada langkah kedua, yaitu
membuat dugaan atau landasan berpikir, sehingga peneliti memberikan beberapa
bantuan kepada siswa untuk memahami langkah kedua pada beberapa
permasalahan. Langkah kedua ini merupakan langkah yang paling penting dan
paling berarti dalam proses pemodelan matematika (Ang, 2001). Kesalahan pada
langkah ini akan membuat kesalahan pada langkah ketiga dan seterusnya. Gambar
4.6 menunjukkan salah satu contoh kesalahan siswa pada langkah kedua.

Kesalahan siswa
dalam
mensubtitusikan nilai
𝑡 yang ada pada
langkah sebelumnya

Kesalahan siswa dalam


menjumlahkan variabel

Gambar 4.9 Kesalahan Siswa Pada Langkah Kedua


65

Dari gambar 4.9 diketahui bahwa kesalahan siswa pada langkah kedua
terjadi karena kurangnya pemahaman siswa terhadap operasi dan posisi variabel
dalam persamaan linear.

Hasil dari penelitian ini terdapat beberapa kekurangan. Kekurangan


penelitian waktu pengerjaan siswa yang cukup lama, meskipun waktu pengerjaan
waktu pengerjaan siswa pada field test ini yang lebih cepat dari pada saat
orientasi. Namun, waktu tersebut terlalu lama jika hanya mengerjakan LKS saja.
Dari sini terlihat bahwa dalam pembelajaran pemodelan matematika sebaiknya
hanya diberikan satu soal saja per pertemuan. Menurut Doosti (2002) pendekatan
pemodelan matematika memang memerlukan waktu pembelajaran yang lebih
lama seperti halnya pembelajaran aktif lainnya.

Selain itu, pada saat field test di kelas X.3 siswa merasa semangat pada soal
pertama saja. Namun, pada saat soal kedua ini, semangat siswa mulai menurun
pada saat mengerjakan soal yang kedua dan beberapa siswa juga mulai terlihat
bosan.Hal ini terjadi karena soal tersebut tidak membuat siswa tertarik untuk
mengerjakannya. Dari hasil wawancara setelah menggunakan LKS ini diketahui
bahwa siswa merasa kesulitan dan merasa bingung ketika ada masalah yang
berkaitan dengan fisika di soal matematika yang mereka kerjakan. Dari sini
terlihat bahwa dalam pembelajaran pemodelan matematika, peneliti sebaiknya
memperhatikan pemilihan soal agar siswa merasa semangat dalam pengerjaannya.
Menurut Doosti (2002) salah satu kekurangan pendekatan pemodelan matematika
adalah siswa tidak suka mencoba pendekatan pembelajaran baru, sehingga
pemilihan soal yang baik sangat diperlukan.
66

Bab V

Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik


kesimpulan sebagai berikut.

1. LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika termasuk dalam kategori


valid dan praktis. Kevalidan LKS berdasarkan isi, kontruk, dan bahasa. Dari
segi isi, LKS berbasis pendekatan pemodelan matematika yang peneliti
kembangkan sudah sesuai dengan KI dan KD dalam kurikulum 2013. Dari
segi konstruk, LKS yang dikembangkan sudah tersusun dengan baik sesuai
dengan teori pendekatan pendekatan pemodelan matematika dan sesuai
dengan teori LKS serta memiliki ciri khas tersendiri. Sedangkan dari segi
bahasa, LKS yang dikembangkan telah menggunakan bahasa yang baik dan
benar dimana siswa tidak ada yang salah pengertian terhadap informasi
maupun pertanyaan di dalam soal serta informasi LKS. Praktis tergambar dari
hasil ujicoba small group dimana hampir semua siswa sudah mampu
mengerjakan LKS.
2. Karakteristik dari LKS yang peneliti kembangkan adalah (1). LKS berbasis
pemodelan matematika yang peneliti kembangkan membantu siswa dalam
memahami variabel dan model matematika masalah kehidupan sehari-hari
materi sistem persamaan linear. (2) LKS yang peneliti kembangkan membantu
siswa dalam mngerjakan soal cerita sistem persamaan linear dua variabel
secara sistematis.
3. LKS berbasis pemodelan matemaika terbukti memiliki efek potensial yang
baik, berdasarkan hasil observasi, wawancara dan angket yang diberikan,
yaitu siswa menjadi lebih aktif dan percaya diri dalam belajar matematika dan
tertarik untuk belajar matematika dengan menggunakan LKS berbasis
pendekatan pendekatan pemodelan matematika.
67

5.2 Saran

Adapun beberapa saran dari peneliti dari hasil penelitian ini yaitu :

1. Bagi guru disarankan untuk mengatur alokasi waktu pengerjaan LKS


berbasis pendekatan pemodelan matematika dalam pembelajaran
sedemikian sehingga waktu pembelajaran tidak hanya tersita untuk
pengerjaan LKS
2. Bagi siswa diharapkan untuk mengerjakan semua tahapan dalam LKS
berbasis pendekatan pemodelan matematika termasuk mengecek kembali
jawaban.
3. Bagi peneliti selanjutnya,disarankan untuk dapat mengembangkan LKS
berbasis pendekatan pemodelan matematika pada materi lainnya dengan
mempertimbangkan efisiensi waktu, pemilihan konteks soal, dan tingkat
kesulitan soal yang digunakan dalam pembelajaran agar siswa tidak
merasa jenuh ketika mengerjakan LKS .
68

Daftar Pustaka
Abdurrahman, Mulyono.2012. Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta
Akker,J.v.d.1999. Principle and Method of Development Research. Dalam J.v.d
Akker (Ed) Design Approches and Tools in Eduacation and Training.
Dordrecht: Kluwer academic Publisher
Amalia.2011. Efektivitas Penggunaan LKS Pada pembelajaran Matemtatika
Materi Keliling dan Luas Lingkaran Ditinjau dari Prestasi Belajar Siswa
KElas VIII SMPN 3 Yogyakarta’.Skripsi. Yogyakarta: Universitas Negeri
Yogyakarta.
Ang,Keng Cheng. 2001. Teaching Mathematical Modelling in Singapore School.
http://math.nie.edu.sg/kcang/TME_paper/teachmod.html. Diakses tanggal
14 Maret 2014
Arikunto, Suharismi.2002. Dasar-dasar evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara.
Arya, Aris Wijaya ; Masriyah . 2012 . Analisis Kesalahan Siswa dalam
Meyelesaikan Materi Sistem Persamaan Linear dua Variabel
Aryani, Farida. Pengembangan LKS Untuk Metode Penemuan Terbimbing Pada
Pembelajaran Matematika Kelas VIII di SMP Negeri 18 Palembang. Tesis.
Palembang : PPs Universitas Sriwijaya.
http://ejournal.unsri.ac.id/index.php/jpm/article/viewFile/578/170 diakses
pada tanggal 20 Maret 2014
Blum, W, Miss M (1991). Applied mathematical problem solving, modeling,
applications, and links to the other subjects – state, trends in mathematics
instruction. Educational in Mathematics, 22(1),37-68
Bracke Martin ; Geiger Andreas . Mathematical Apllications and modeling in the
teaching and learning of mathematics. In Morten Blomhoj (Ed) : Real-
World Modelling in Regular Lessons : A long term Experiment. Protugal :
Roskilde University
Doosti, Aslan dan Alireza M. Astiani. 2005.Mathematical Modelling : a new
approach for mathematics teaching in different levels.
69

http://www.enrede.ufscar.br/participantes_arquivos/E4_Ashtiani_TC.pdf
diakses pada tanggal 13 Januari 2015
Depdiknas.2008. Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta : Dirjen, Didasmen,
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama.
Hadrotul , Nurneyla Ula , Sa’dijah , Cholis. 2012. Pengembangan LKS
MAtematika Menggunajan Strategi Pemecahan Masalah Polya Materi
Keliling dan Luas Lingkaran Kelas VIII Semester II SMP. http://jurnal-
online.um.ac.id/data/artikel/artikel363DC52250BEE63158BEF660CA774
4B1.pdf diakses pada tanggal 9Mei 2014
Helena Denise:Lombardo Ferreira: Roberto Otavio Jacoboni.2007. Mathematical
Modelling : From Classroom to The Real World. In Trends in Teaching
and Learning Mathematical Modelling . Tersedia pada
Indrianto,Lis.1998. Pemanfaatan Lembar Kerja Siswa dalam Pengajaran
Matematika Sebagai Upaya Peningkatan Belajar Matematika.Skripsi.
Semarang : IKIP Semarang
Kemendikbud.2013. Dokumen Kurikulum 2013. Tersedia pada
https://docs.google.com/document/d/124_nWyo4qa5n38YQUlKX0LXgW
Qj1ZnG-Ye5P_ghnOJY/edit
Kemendikbud. 2014. Buku Cetak Siswa Kelas X Edisi Revisi. Kemendikbud.
Jakarta
Komariah, Nurjannah.2014. Pengembangan LKS Pemecahan Masalah
Matematika di SMA. Skripsi. Palembang: FKIP Universitas Siriwijaya.
Kompas.2014. Un 2014 Terintegrasi Perguruan Tinggi
.http://edukasi.kompas.com/read/2014/04/13/1735371/UN.2014.Terintegra
si.dengan.Perguruan.Tinggi
Lailiyatul, Moer Firia . 2013. Pengembangan LKS Materi Permutasi dan
Kombinasi Menggunakan Masalah Konstektual
Lee, J.K (2006). The method of improving ability by the application of teaching-
learning based on mathematical modeling – Focusing on the first year of
high school students. Dongkuk Unversity Education Research Center, 18
(1) , Korea. Tersedia pada
70

http://www.icme12.org/upload/submission/1930_f.pdf diakses pada


tanggal 20 Maret 2014
Maribe, Robert Branch. 2009. Instructional Design : The ADDIE Approach. New
York :Springer .
https://books.google.co.id/books?id=mHSwJPE099EC&printsec=frontcov
er&dq=ADDIE+models&hl=en&sa=X&ei=m4RDVcOiEJGSuATyqYDY
Cw&ved=0CEoQ6AEwCA#v=onepage&q=ADDIE%20models&f=false .
Diakses pada tanggal 20 Januari 2015
NCTM.(2000).Principles and standards for school mathematics. Reton,VA :
NCTM
Novita, R., Zulkardi, & Hartono, Y. 2012. Exploring Primary Student’s Problem-
Solving Ability by Doing Tasks Like PISA’s Question . IndoMS. J.M.E ,
133-150.

OECD. 2013. PISA 2012Result Volume I :What Student can do? . Paris: OECD
Publishing.http://www.wsid.info/pluginfile.php/1753/mod_folder/content/
0/pisa-2012-results-volume-I.pdf?forcedownload=1 diakses pada tanggal
20 Maret 2014
Papageorgiou,Georgia 2009. The effect of mathematical modelling on student’s
Affect.Universiteit van Amsterdam. Amsterdam. Tersedia pada
http://www.science.uva.nl/onderwijs/thesis/centraal/files/f1357360726.pdf
Silvia Evy, Y.2011. Pengembangan Soal Matematika Model PISA Konten
Uncertainty Untuk Mengukur Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa
Sekolah Menengah Pertama. Prosiding Seminar Nasional `Pendidikan
2011 . Palembang :Unsri
Stacey, K. (2011). The PISA View of Mathematical Literacy in Indonesia. Journal
on Mathematics Education (IndoMS-JME) Juli 2011, volume 2. 95 – 126
Stillman, Gloria and Galbraith Peter . Evolution of Applications and Modelling in
a Senior Secondary Curiculum
Sugiyono, 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
71

Tessmer. Martin. 1993. Planning and Conducting Formative Evaluations. London:


Kogsn Page
Turmudi .2010. Mengurangi rasa cemas belajar matematika dengan menampilkan
matematika eksploratif untuk merangsang siswa belajar. Tersedia pada
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._MATEMATIKA/1961
01121987031-TURMUDI/F10-Unisba.pdf
Wardhani,Sri.2005. Pembelajaran dan Penilaian Aspek Pemahaman Konsep
Penalaran dan komunikasi,Pemecahan Masalah, Yogyakarta;Materi
Pembinaan Matematika SMP di daerah (PPPG Matematika). Tersedia
pada
http://p4tkmatematika.org/file/PRODUK/PAKET%20FASILITASI/SMP/
Standar%20Penilaian%20Pendidikan.pdf
Wayan.2002. Hubungan Antara Sikap dan Kemampuan Siswa dalam
Pembelajaran Sistem Persamaan Linier dengan Pendekatan Realistik
Melalui Soal-Soal Kontektual di Kelas II SLTP N 16 Palembang .
Palembang : Sriwijaya
White,Alan .2001.Mathematical Modelling and the General Mathematic Syllabus.
http://www.curriculumsupport.education.nsw.gov.au/secondary/mathemati
cs/assets/pdf/s6_teach_ideas/cs_articles_s6/cs_model_s6.pdf
Zulkardi.2006. Formatif Evaluation : What,Why,When, and
How.(online).Tersedia pada http://www.reocities.com/zulkardi/books.html.
Diakses pada 23 April 2014
72
73
74
75
76
77
78
79

Lembar Komentar Expert Review

Lembar Komentar Siswa Tahap One-to-One


80
81

Lembar Komentar Siswa Tahap Small Group


82

Transkrip Wawancara

Transkrip Wawancara

Siswa 1 : Belle (Bukan Nama Sebenanya)


Peneliti : Setelah mengerjakan LKS , bagaimana pendapat Belle tentang LKS
persamaan linear dua variabel ini ?
Belle : LKS ini lumayan ribet mbak, karena pertanyaannya membingungkan ,
kareno jugo ngerjoke ini dari LKS ini Belle jugo sudah mulai mengerti
variabel itu, kareno ado langkah-langkahnyo

Peneliti : Jadi, langkah2 nyo sangat membantu tapi soalnyo lumayan


membingungkan . Sebelomnyo sudah pernah belom lihat soal-soal
seperti ini ?
Belle : Belom pernah
Peneliti : jadi, langkah-langkah itu mempermudah Belle dak untuk menjawab
soal soal?

Belle : langkah-langkahnya mempermudah mbak, kareno disitu kito d kasih


tau caro-caronyo
Peneliti : Kalo kesulitan mengenai SPLDV ni ado dak ?
Belle : nentui persamaan dan variabelnyo itu nah mbak
Peneliti : bagian yang dak ngerti tu pas dibagian ado fisikanyo atau yang mano ?

Belle : yang ado fisikanyo


Peneliti : kalo missal ny belajar menggunakan LKS ini tertarik dak ?
Belle : tertarik mbak, kareno ado langkah-langkahnyo itu memudahkan kita
untuk mengerjakannya

Peneliti : Masih perlu pernjelasan guru dak untuk LKS ini ?


Belle : Masih kareno beberapo yang kito belom mengerti langkah-langkahnyo
Peneliti : setelah menggunakan LKS ini cak mano Belle apo lebih konsentrasi ,
Belle : Lebih focus mbak

Siswa 2 : Anna (Bukan Nama Sebenanya)


Peneliti : Menurut Anna , bagaimana LKS spldv yang telah dikerjakan kemarin?
83

Anna : Menurut saya LKS spldv ini sangatlah efektif , biasanya kalo LKS di
sekolah itu hanya di kasih rumusnya saja, tapi kalo di LKS ini kita bisa
tau permasalahannya apa, hipotesisnya apa dan sebagainya.

Peneliti : Jadi, kalo menurut Anna, LKS ini memudahkan Anna tidak untuk
mempelajari sistem persamaan linear dua variabel ?
Anna : ya, sangat memudahkan . Itu bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-
hari. Misalnya kita pergi belanja ke warung, kita menggunakan rumus
sitem persamaan linear du variabel
Peneliti : Soal cerita yang di LKS bagaimana menurut Anna ?

Anna : Sangat menarik


Peneliti : Jadi, langkah-langkah yang kemarin itu, membantu Anna nggak dalam
menjawab soal sistem persamaan linear dua variabel ?
Anna : ya, sangat membantu, soalnya itu pun terjadi dalam kehidupan saya
sehari-hari

Siswa 3 : Hans (Bukan Nama Sebenanya)


Peneliti : Hans, kan sudah 2 kali kita belajar menggunakan LKS sistem
persamaan linear du variabel, apakah LKS ini memudahkan Hans untuk
belajar ?
Hans : Menurut Hans sih cukup memudhkan , karena melalui LKS ini Hans
lebih mengetahui isi dari soal tersebut ,
Peneliti : Jadi lebih konsentrasinya di dalam soal ?
Hans : iya, karena kejadian baru gitu, kayak dugaan-duggan, kesimpulan,
selama ini kan biasanyakan hanya menulis, yang diketahui , ditanya dan
dijawab saja
Peneliti : Terus, apakah Hans jadi lebih tau alur soal cerita ?
Hans : Iya sih, menurut Hans lebih mengerti alur soal cerita
Peneliti : sebelumnya sudah pernah melihat soal-soal seperti ini ?
Hans : sebelumnya sih belum
Peneliti : jadi, ada kesulitan dak dari LKS ini ?
Cukup ada kesulitan,tapi proseslah belajar, baru mengetahui aja jadi
pengalaman
Peneliti : apakah Hans tertarik untuk belajar LKS ini ?
84

Hans : Tertarik , sangat tertarik

Peneliti : Kenapa tertarik Hans ?


Hans : Supaya Hans lebih mengerti, bukan asal-asal jawab. Kalo biasa nya
hanya ditanya dijawab, kalo di LKS ini lebih paham.

Siswa 4 : Maria (Bukan Nama Sebenanya)


Peneliti : Bagaimana menurut Maria mengenai LKS sistem persamaan Linear
dua variabel?
Maria : Petanyaannya sangat menarik dan bisa mengasah otak, mudah
nangkepnyo dalam mengerjakan soal cerita. kareno jugo ngerjoke ini
dari LKS ini jugo sudah mulai mengerti variabel itu, kareno ado
langkah-langkahnyo”
Peneliti : bagaimana kalo LKS ini ada disetiap materi ?
Maria : Pening jugo mbak, kalo setiap materi harus ngerjoke soal-soal cerito ck
itu mbak, terus, susah mbak
Peneliti : Kalo menurut Maria apakah LKS itu membantu Maria dalam
memahami soal-soal cerita
Maria : iyo jugo sih mbak, tapi jgan sering-sering mbak LKS cak itu

Peneliti : Tertarik dak belajar dengan LKS itu ?


Maria : Tertarik, kareno biso menambah kemampuan belajar seseorang
Peneliti : Ketika menggunakan LKS itu kemampuan apo yg masih kurang dari
Maria

Maria : Penangkepan, soal itu, soal cerita


Peneliti : Jadi, pas gunake LKS itu sudah mulai biso?
Maria : Insya allah biso
Peneliti : Ok, terima kasih Maria

Siswa 5 : Amanda
Peneliti : Apakah LKS ini membantu Amanda dalam belajar ?

Amanda : LKS tersebut cukup membantu untuk memhami sistem persmaan linear
dua variabel. Namun, memang sedikit ada kesulitan untuk memahami
soal cerita , karena mungkin pemahaman nya itu kurang di soal cerita
tersebut, tapi di dalam LKS tersebut ada langkah-langkah yang bisa
membantu dalam mnegerjakan LKS tersebut.
85

Peneliti : Jadi langkah-langkah itu sangat membantu ?

Amanda : Ya, sangat membantu


Peneliti : Sebelumnya sudah pernah melihat soal-soal seperti itu ?
Amanda : Sebelumnya sih sudah pernah, tapi tidak sekompleks dalam LKS
tersebut

Peneliti : Jadi, soalnya itu menurut Amanda susah ?


Amanda : Ya, cukup susah
Peneliti : Jadi kesulitannya di soalnya atau di langkah-langkah penyelesaiaanya?
Amanda : Kesulitannya itu pada saat memahami soalnya .
Peneliti :Tapi dengan langkah-langkah itu membantu Amanda dalam memahami
soal tersebut ?
Amanda : Ya, membantu
Peneliti : Tertarik tidak belajar dengan LKS seperti itu ?
Amanda : Ya, Tertarik
Peneliti : Kenapa tertarik ?

Amanda : Soalnya, bisa lebih teratur dalam menegerjakan dan menajwab soal-
soal tersebut biasanya Cuma ditulis Cuma dari alngkah-langkah
diketahui terus masuk ke penyelesaianya. Tapi kalo dari langkah-
langkah itu sudah ada urutannya dan membaut Amanda cepat mengerti
Peneliti : Kan selama ini belajarnya manual, apakah belajar dengan LKS ini
berbeda dari belajar biasanya ?
Amanda : Pastinya ada berbeda, terutama pada saat pertama kali liat soalnya itu,
pasti sudah buat penalaran dan logika nya itu bermain, kalo soal biasa itu
cuma langkah-langkahnya itu baku.kalo itu bisa kerjasama, ada
komunikasi, pada saat mengerjakanya itu jadi kayak games kayak itu.
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
141
142
143
144
145
146
147
148
149
150
151
152
153
154
155
156
157
158
159
160
161
162
163
164
165
166
167
168
169
170
171
172
173
174
175
176
177
178
179
180
181
182
183
184
185
186
187
188
189
190
191
192
193
194
195
196
197
198
199
200
201
202
203
204
205
206
207
208
209
210
211
212
213
214
215
216
217
218
219
220
221
222
223
224
225
226
227
228
229
230
231
232
233
234