Anda di halaman 1dari 13

LOKAKARYA PENGEMBANGAN JURNAL ILMIAH KONSORSIUM KEILMUAN

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 20 – 21 Agustus 2007

Sumbangan Pemikiran Penggarisan Kebijakan


Pengembangan Berkala Ilmiah Indonesia
Mien A. Rifai
Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia
Gedung Graha Widya Bhakti, PUSPIPTEK Serpong, Tangerang
(alamat korespondensi: “Tang Lebun” RT 03/RW 15 Kotabatu, Bogor)

LATAR BELAKANG SEJARAH

Di tahun-tahun awal pelaksanaan REPELITA ada Badan Litbang Departemen yang


tanpa perasaan malu menyatakan dalam laporan tahunannya bahwa untuk kurun waktu yang
diliputnya tidak ada publikasi ilmiah yang dihasilkannya. Padahal pada bagian lain laporan
itu terungkap bahwa puluhan tenaga penelitinya berhasil naik pangkat dan jabatan, sedangkan
jutaan rupiah biaya penelitian teralokasikan dan penambahan fasilitas penelitian terjadi berkat
adanya kucuran anggaran dana pembangunan nasional.
Pada waktu hampir bersamaan, di kalangan perguruan tinggi diberlakukan ketentuan
bahwa kenaikan pangkat dan jabatan tenaga pengajarnya diukur berdasarkan keberhasilan
mengumpulkan angka kredit kumulatif yang sekitar sepertiganya berasal dari karya ilmiah
bersumberkan kegiatan penelitian. Tak lama kemudian ketentuan serupa diberlakukan pula
untuk para tenaga peneliti yang bekerja di LIPI dan LPND lainnya, serta juga di Badan-badan
Litbang Departemen. Sebagai akibat kebijakan-kebijakan baru tersebut, berjangkitlah suatu
demam penelitian yang dahsyat (Rifai, Sastrapradja & Adisoemarto 1973). Penyakit ini
menghasilkan ribuan laporan penelitian sebagai bukti keberhasilan dan keberjayaan para
penelitinya dalam melaksanakan dan menyelesaikan projek penelitian (padahal yang diukur
umumnya hanya kerapian kuitansi-kuitansi berangkap tujuh untuk menandakan bahwa uang
rakyat telah dipergunakan sebagaimana mestinya sesuai dengan aturan tertib administrasi
yang berlaku).
Mula-mula laporan-laporan penelitian yang banyak itu umumnya dibacakan dalam
rapat kerja, seminar, simposium, sidang teknis, kongres, dan pertemuan ilmiah lain
sejenisnya, dan hanya sebagian kecil saja yang kemudian diterbitkan. Penerbitannya pun
dilakukan secara “asal-asalan” untuk memenuhi syarat keharusan menerbitkan karya ilmiah
demi pengumpulan angka kredit untuk keperluan promosi. Bermunculanlah puluhan berkala
yang tujuan penerbitannya semata-mata hanyalah untuk menampung karya ilmiah tadi.
Dapatlah dimengerti jika substansi terbitan ilmiah dadakan seperti itu pada umumnya sangat
rendah mutunya sehingga tidak memiliki akibatan dan dampak yang berarti untuk
memajukan ilmu dan teknologi yang diperlukan guna mendukung pelbagai kegiatan
pembangunan nasional.

1
Suatu pengajian yang dilakukan sebuah Tim Studi DIKTI di awal tahun 1990-an
menyimpulkan bahwa berkala-berkala ilmiah yang diterbitkan di Indonesia memang belum
diproduksi secara wajar. Hampir semua penerbitan berkala ilmiah tersebut memunyai
kelemahan mendasar yang sama, yaitu tidak dilakukannya pengelolaan yang memadai dalam
memeroduksinya, terutama karena tidak berfungsinya kegiatan penyuntingan. Segera
terungkap bahwa penyunting merupakan komoditas yang sangat langka, sehingga peran dan
fungsi relung mereka dalam kancah publikasi ilmiah tidaklah dipahami sama sekali. Sebagai
akibatnya produksi berkala ilmiah tidak dilakukan secara profesional, karena cakupan
pekerjaan, hak, kewajiban, dan tanggung jawab penyunting tidak dipahami, tidak dimengerti,
tidak dipedulikan, disepelekan, tidak dianggap penting, dan sama sekali tidak dihargai. Saat
itu sudah bukan rahasia lagi bahwa seseorang yang bersedia ditunjuk menjadi penyunting,
berarti ia harus mau berpontang-panting mencari, menemukan, memburu, meminta, dan
mengemis naskah kiri kanan. Kemudian ia harus pula bekerja keras mengolah naskah yang
berhasil diperolehnya––yang bahasa, pola penyajian, dan substansi isinya biasanya tidak
tersusun dengan baik––sampai menjadi artikel yang layak terbit. Untuk itu ia harus siap
dicaci maki para penyumbang naskah bersangkutan karena perubahan penyuntingan yang
disarankannya mungkin dianggap mengubah total format penyajiannya sehingga dianggap
memberatkan penulis (dengan kemungkinan naskah tadi tidak pernah dikembalikan lagi oleh
penulisnya sehingga berkala terus menderita kekurangan naskah yang menyebabkan
diundurkannya penerbitannya). Selanjutnya sang penyunting masih harus mencari dana
penerbitan, menghubungi pencetak, mengupayakan tersedianya gaji bagi tenaga administrasi
yang membantunya, memikirkan pemasaran, dan mengerjakan bermacam kegiatan lain yang
tidak ada hubungannya dengan tugas pokok dan fungsi utamanya sebagai penghubung antara
penulis dan pembaca. Kesibukan-kesibukan ini menyebabkan penyunting tidak sempat
menyimak berkala sejenis yang sudah mapan diterbitkan orang di dunia internasional untuk
dijadikan contoh panutan dalam memeroduksi berkala ilmiah yang dikelolanya. Sebagai
akibatnya banyaklah kejanggalan yang terlihat pada berkala, misalnya dicantumkannya
pejabat tertinggi satuan kerja sebagai anggota dewan penyunting, bersama sederetan daftar
panjang pakar yang ditokohkan karena bergelar dan berjabatan berangkap-rangkap, sekalipun
sudah diketahui secara luas bahwa mereka semua tidak pernah bisa berfungsi apa-apa sama
sekali dalam soal sunting-menyunting.
Karena kekurangpedulian yang meluas pada peran, tugas pokok, dan fungsi serta juga
kode etik penyunting tadi tidaklah mengejutkan jika keadaan penampilan fisik, ketaatasasan
perincian produksi, keberkalaan pemunculan, dan tiras berkala ilmiah Indonesia secara umum
sangat memerihatinkan. Oplah yang rendah tidak dibantu dengan kiat-kiat seperti penyebaran
cetak lepas (reprint, offprint) yang berlaku di dunia ilmiah internasional, karena sampai
sekarang saling bertukar bukti hasil cetak terbitan perorangan tersebut belum membudaya di
kalangan ilmuwan Indonesia. Ketidakmampuan menjaga ketepatan waktu terbit tidak
ditolong oleh budaya lekat diri bangsa Indonesia yang tidak mengenal pepatah time is money
karena sudah terbiasa bekerja dengan berpedoman pada jam karet. Tetapi bukan hanya hal-hal
yang berkaitan dengan masalah yang bersifat administratif produksi berkala ilmiah saja yang
menghantui kemajuan pengembangan dunia ilmu Indonesia (yang pengatasannya
sebenarnya––dan kemudian memang terbukti––mudah dilakukan melalui beberapa kegiatan
remedial), sebab kurangnya pengawasan mutu juga telah menyebabkan hasil penelitian
ilmiah sebagai satu-satunya sumber naskah menjadi tidak memiliki makna yang
membanggakan.
Oleh karena itu tidaklah mengherankan benar jika juga ditemukan bahwa untuk waktu
lama terbitan dalam berkala ilmiah Indonesia belum menjadi sumber inspirasi peneliti
berikutnya dalam mengidentifikasi masalah penelitian yang layak dilaksanakan, dengan

2
akibat terbitan termaksud tidak pernah diacu orang untuk dijadikan sumber rujukan. Ternyata
pula oleh para dosen terbitan-terbitan dalam berkala ilmiah Indonesia belum dijadikan
sumber bahan kuliah dan tempat mencari masukan untuk kegiatan pembelajaran lainnya
(sehingga juga tidak menjadi komoditas mahasiswa dalam belajar menuntut ilmu guna
menguasai teknologi dan mengembangkan rekayasa serta berkarya mencipta seni). Dapatlah
dimengerti jika dalam suatu survai yang dilakukan oleh berkala Scientific American pada
tahun 1994 diungkapkan bahwa kontribusi ilmuwan Indonesia pada khasanah pengembangan
ilmu dunia setiap tahunnya hanyalah sekitar 0,012%, yang jauh berada di bawah Singapura
yang berjumlah 0,179%, dan menjadi sama sekali tak ada artinya kalau dibandingkan dengan
sumbangan para peneliti Amerika Serikat yang besarnya lebih dari 20%.
Oleh beberapa pengamat barat, hasil jerih payah upaya ilmuwan Indonesia untuk ikut
berkontribusi terhadap perkembangan khasanah ilmiah dunia diungkapkan dengan pernyataan
lost science in the third world. Pernyataan bernada sumbang ini terutama disebabkan karena
hasil yang disumbangkan mereka tidak pernah sampai ke hadapan mitra bebestari sesama
ilmuwannya yang sebidang di dunia internasional karena ditulis dalam berkala yang
berjangkauan terbatas. Seperti sudah disinggung di atas, keterbatasannya disebabkan karena
rendahnya tiras berkala yang dikeluarkan setiap kali terbit sehingga sirkulasi persebaran
publikasi ilmiah tadi sangat sempit karena tidak dilanggannya mereka oleh perpustakaan
utama pusat kegiatan ilmiah internasional. Oleh karena itu judul tulisan karya ilmuwan
Indonesia pun hampir tidak tertampilkan dalam layanan cepat bibliografi melalui komputer
dan kata kuncinya juga tak terambil oleh penyedia pindaian internet internasional. Abstrak
artikel dalam berkala Indonesai juga tidak dipungut oleh berkala penyari (abtracting
journals) semata-mata karena hanya dilakukan dalam bahasa Indonesia. Dapatlah dimengerti
jika banyak orang yang sudah mencap ilmuwan Indonesia hanya merupakan jago kandang
belaka.

HASIL PEMBINAAN AWAL YANG BELUM MEMUASKAN

Melihat kelemahan-kelemahan yang dihadapi pengembangan berkala ilmiah, Tim


Studi DIKTI yang mengajinya menyimpulkan diperlukannya berbagai upaya penyehatan
khusus melalui beberapa jalan pintas. Salah satu di antaranya, kegiatan penataran perumusan
usulan penelitian dan penguasaan metodologi penelitian yang sudah beberapa tahun
dilaksanakan supaya lebih diintensifkan, untuk memungkinkan dicapainya hasil penelitian
yang lebih berbobot maknanya. Selanjutnya, dianggap perlu untuk melakukan pelatihan
penulisan karya ilmiah yang secara khusus ditujukan untuk diterbitkan dalam berkala ilmiah,
karena setakat itu para pengendali projek pembangunan hanya menuntut dihasilkannya
‘laporan’ penelitian yang tidak diharuskan penerbitannya. Penataran penyunting dianggap
mutlak harus dilakukan untuk mengatasi masalah gawat yang dihadapi. Selain itu disarankan
pula agar dijajaki kemungkinan diadakannya akreditasi berkala ilmiah secara melembaga
untuk merangsang peningkatan mutu berkala secara nyata dalam menunaikan fungsinya
sebagai wadah perekam kemajuan dan sarana komunikasi ilmiah. Rekomendasi-rekomendasi
tadi ternyata diterima sepenuhnya oleh pejabat terkait sehingga DIKTI lalu merancang dan
melaksanakan pelbagai macam kegiatan kursus pelatihan, penataran, lokakarya, dan
sejenisnya baik secara nasional maupun lokal. Untuk itu DIKTI juga memerakarsai
penyusunan dan penerbitan pelbagai bahan pembelajaran, buku pegangan, serta istrumen
evaluasi, antara lain Bunga Rampai Metodologi Penelitian (Rifai & Sakri 1992), Pegangan
Gaya Penulisan, Penyuntingan, dan Penerbitan Karya Ilmiah Indonesia (Rifai 1995), dan
Instrumen Evaluasi untuk Akreditasi Berkala Ilmiah (Anonim 1997).

3
Karena sangat dirasakan kebutuhannya, penataran para pengelola penerbitan berkala
ilmiah didahulukan dan diutamakan, terutama karena temuan Tim Studi DIKTI tentang
kelangkaan penyunting handal didukung pula oleh pendapat dan simpulan para pakar
internasional yang dilibatkan dalam projek University Research for Graduate Education
(URGE) yang didanai oleh World Bank. Pembinaan berkala memang dipumpunkan pada
penyunting, sehingga dalam instrumen akreditasi bobot untuk kepenyuntingan mengambil
porsi terbesar (30%) sedangkan substansi menduduki posisi kedua (25%). Sejalan dengan itu
konsep pelibatan mitra bebestari sebagai penelaah anonim dalam memilah dan menyeleksi
naskah berbobot yang layak terbit mulai diperkenalkan, sedangkan budaya pertukaran cetak
lepas diharapkan tumbuh dengan mencantumkannya sebagai salah satu butir yang dinilai.
Dalam jangka panjang kiat yang terakhir ini diharapkan membantu meningkatkan jumlah
keteraksesan berkala oleh pembaca yang lebih luas lagi.
Kegiatan-kegiatan ini ternyata mendapat dukungan tidak langsung dari Pemerintah
(cq MENPAN), karena mulai tahun 1995 dipersyaratkan ketentuan bahwa publikasi ilmiah
dosen yang dapat diperhitungkan secara maksimum untuk keperluan pengumpulan angka
kredit guna dijadikan bukti promosi hanyalah karya yang diterbitkan dalam berkala yang
diakreditasi oleh DIKTI. Sekalipun dalam instrumen yang disepakati dalam Rapat Koordinasi
Riset dan Teknologi Nasional (RAKORNAS RISTEK) 1996––yang melibatkan lembaga-
lembaga seperti PDII-LIPI, Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Ikatan Penyunting
Indonesia (IKAPINDO), DP3M-DIKTI, dan wakil-wakil LPND serta LPD––telah ditentukan
bahwa suatu berkala menjadi terakreditasi jika sedikitdikitnya memeroleh nilai baik (atau
mendapat angka > 76), dalam kebijakannya Dirjen DIKTI waktu itu memutuskan untuk
menganggap suatu berkala terakreditasi jika mencapai nilai cukup (atau berhasil
mengumpulkan angka > 60). Kebijakan ini diambil karena ditakutkan bahwa penerapan ketat
kesepakatan semula akan menyebabkan banyaknya dosen yang mengalami keterlambatan
dalam mendapatkan kenaikan pangkat dan jabatannya.
Bahwa kegiatan pengakreditasian (yang berarti pengakuan legal formal yang
diberikan sebagai jaminan mutu terhadap kesesuaian dengan suatu bentuk pembakuan)
berkala ilmiah telah membuahkan hasil, terutama tersaksikan pada pelbagai kemajuan dan
peningkatan yang dialami dan dicapai oleh berkala yang sudah terbit sebelum tahun 1990-an.
Penampilan fisik membaik secara nyata, karena sejak itu tidak ada lagi berkala ilmiah yang
perbanyakannya dilakukan dengan mesin stensil atau hanya difotokopi. Berkala ilmiah––
terutama yang terakreditasi baik––memang terlihat memiliki kompetensi baku sehingga
mampu memilih naskah yang dianggap layak untuk diterbitkan, efisien memeroses
penerbitan sesuai dengan gaya selingkung yang dianutnya, dan dapat menjaga teknis
keilmiahan keluarannya. Ketaatasasan perincian produksi, kerapian gaya penulisan,
keteraturan keberkalaan penerbitan, serta suasana kecendekiaan yang diakibatkan
kehadirannya mulai menimbulkan kesan kemapanan yang diinginkan. Berkala ilmiah yang
isinya bersifat bunga rampai telah semakin berkurang jumlahnya, sedangkan yang masih
bertahan pasti tidak akan dapat sintas (survive) dalam dunia kecendekiaan yang corak
kesuperspesialisannya semakin hari semakin menyempit.
Amatlah membesarkan hati bahwa kesadaran akan pentingnya peran penyunting yang
menguasai seluk-beluk teknik penyuntingan telah semakin tertanam dan mengakar serta
membudaya secara mapan. Keterbatasan tempat dan kesempatan untuk membina diri melalui
kegiatan pembinaan penyunting yang disediakan oleh DIKTI telah diimbangi oleh kegiatan
pelatihan yang secara teratur diselenggarakan setiap tahun oleh satuan-satuan teknis di
Universitas Negeri Malang, Universitas Diponegoro, dan Institut Pertanian Bogor, serta
secara sporadis di tempat-tempat lainnya lagi. Pada saatnya nanti diharapkan para alumni

4
penataran yang kemudian telah berfungsi sebagai penyunting handal di berbagai berkala
ilmiah ini akan menggalang dirinya dalam sebuah organisasi profesi ilmiah.
Pada pihak lain, beberapa kejadian dan perkembangan keadaan yang tak terkait
langsung ternyata telah berdampak negatif pada pengembangan berkala ilmiah Indonesia.
Budaya dan pembawaan bangsa yang cepat menjadi arrivé serta enggan bersaing dengan
jalan meningkatkan prestasi diri ternyata tidak menolong untuk mendongkrak mutu berkala
ilmiah. Sebagai akibatnya timbul dugaan kuat bahwa banyak pengelola berkala yang terkesan
telah puas dengan peringkat predikat akreditasi yang berhasil diraihnya setakat ini. Tidak
terlihat adanya upaya bersungguh-sungguh yang dilakukan mereka untuk meningkatkan
peringkat peran berkalanya (khususnya melalui peningkatan mutu substansi isi artikel yang
diloloskannya). Malahan sebaliknya yang terjadi, karena sering tersaksikan adanya
penurunan mutu sehingga tak sedikit berkala ilmiah yang kehilangan status terakreditasinya.
Krisis moneter berkepanjangan yang secara luas melanda beberapa negara Asia pada
tahun 1997 telah menyulitkan peneliti Indonesia untuk dapat mengikuti laju pesat
perkembangan ilmu dan teknologi (terutama dalam bidang teknologi informasi dan
komunikasi serta bidang biologi molekul) yang terjadi di negara maju. Dana yang disediakan
pelbagai hibah penelitian yang dikompetisikan umumnya tidak meningkat jumlahnya,
padahal daya beli rupiah telah merosot sangat tajamnya dalam sepuluh tahun terkhir. Sebagai
akibatnya pelbagai kegiatan penelitian yang dilakukan tidak dapat mencapai sasaran mutu
tinggi yang didambakan, terutama karena tidak mungkin lagi mengimpor dari luar negeri
bahan dan peralatan penelitian yang diperlukan. Kenyataan ini memersulit berkala untuk
mendapatkan sumbangan naskah bermutu dalam jumlah yang memadai sehingga ambang
batas penyeleksian sering terpaksa diturunkan untuk mengejar tenggat waktu terbit guna
memertahankan keberkalaan.
Sebenarnya peningkatan mutu substansi hasil penelitian tidak selamanya terkait pada
ketersediaan dana besar. Akan tetapi dalam kaitan ini memang perlu disadari banyaknya
hambatan budaya lekat diri dalam pola pikir, formulasi perencanaan penelitian, pendekatan
pengolahan simpulan, dan motivasi penerbitan hasilnya yang telah dilakukan peneliti
Indonesia, antara lain:
 keterbatasan aspirasi dalam segala kegiatan kecendekiaannya yang sering sangat
melokal dan tidak menasional apalagi mengglobal
 kesempitan sudut pandang dan pembatasan cakupan oleh judul kegiatan atau projek
penelitian (yang sayangnya sering dibawa dan dijadikan juga judul karya ilmiahnya) yang
sangat mengungkung
 kekurangberanian untuk menganalisis secara mendalam data dan informasi yang
terkumpul selama penelitian
 ketiadaan sintesis melebar terhadap hasil yang diperoleh, antara lain karena tidak
dilakukannya perbandingan meluas dengan jalan ‘mencakup’ atau ‘memasukkan’ hasil
penelitian orang lain, memanfaatkan disiplin lain, meminjam dari waktu lain, menyadap
dari budaya lain, ataupun mengacu pada pengalaman orang lain yang sudah ada dalam
khasanah pustaka mutakhir
 ketakutan dalam menyusun simpulan berakibatan dan berdampak jauh
 kekerdilan buat melontarkan perampatan revolusioner yang memungkinkan
tersusunnya suatu grand theory.
Kenyataan ini sering mengusik pikiran para pengamat yang terkadang
memertanyakan kesungguhan peneliti Indonesia dalam memikirkan dan memertimbangkan
apakah kegiatan penelitian yang sudah diselesaikannya telah diyakininya secara pasti
menghasilkan simpulan berupa keluaran (output) yang memiliki keunikan tinggi yang
diminati orang banyak di pentas lokal, nasional, ataupun internasional karena sangat orisinal,

5
serta memunyai akibatan (outcome), dan dampak (impact) luas dalam memajukan frontir
ilmu dan teknologi. Mutu substansi isi artikel yang diterbitkan dalam berkala-berkala ilmiah
Indonesia setakat ini memang sering menimbulkan keraguan apakah kebermaknaan hasil dan
simpulan suatu kegiatan penelitian untuk menjadi pioner penjelajahan terra incognita ilmu
dan teknologi yang mampu bersaing sudah ditiliki semasakmasaknya atau belum. Untuk
menghilangkan keraguan para penelaah yang menilai corak keberjayaan kontribusi ilmiah
yang sudah dihasilkan dan dituangkan dalam naskah yang diajukan untuk dipertimbangkan
penerbitannya, setiap peneliti hendaklah selalu mencermati apakah butir-butir berikut sudah
terperhatikan:
 terjagakah kemutakhiran peta state-of-the-art permasalahan yang ditangani?
 unikkah perumusan masalahnya sehingga kegiatan penelitiannya menghasilkan
simpulan yang pasti bakal diminati mitra bebestari dan ilmuwan terkait lainnya?
 terjaminkah keorisinalan sudut pandang yang sudah dilakukan?
 cukup menukikkah kedalaman pendekatan yang sudah dipakai?
 sudah maksimumkah pengerahan sarana dan infrasarana pendukung penelitiannya
sehingga ketuntasan penggarapannya sudah betul-betul optimum?
 terpemenuhikah persyaratan minimum untuk mencapai ketepatan, kecanggihan, dan
kemutakhiran metodologi yang dipakai ?
 terverifikasikah informan, terterakah peralatan, tersediakah laporan perkembangan
ilmiah mutakhir sehingga kesahihan data dan informasi yang sudah terhimpun tidak
menimbulkan keraguan atau kontroversi?
 sudah terkuasaikah makna hasil dan simpulan penelitian-penelitian lain yang terkait
sehingga kelebaran perampatan teori yang tercetus menjadi maksimum?
Perkembangan kurang menguntungkan lain yang juga berdampak terhadap upaya
peningkatan mutu berkala ilmiah telah terjadi karena adanya salah persepsi. Jumlah publikasi
dalam berkala ilmiah terakreditasi yang dihasilkan suatu satuan sebagai tolok ukur
keberhasilan perguruan tinggi terkait, rupanya telah salah diartikan dan diejawantahkannya
oleh petugas lapangan Badan Akreditasi Nasional. Oleh karena itu, penilaiannya oleh mereka
lalu didasarkan pada adanya berkala ilmiah yang diterbitkan satuan yang dievaluasi dan
bukan pada jumlah artikel ilmiah yang berhasil diterbitkan. Kenyataan ini telah menyebabkan
terjadinya ‘demam’ baru yang tersaksikan dalam beberapa tahun terakhir, yang membuat
setiap satuan lalu berambisi dan berlomba-lomba untuk menerbitkan berkala ilmiahnya
sendiri. Sebagai akibatnya, sampai akhir tahun 2005 lebih dari 700 berkala telah pernah
mendapat akreditasi DIKTI karena memenuhi nilai minimum yang dipersyaratkan (di
samping sekitar 500 berkala lagi yang tidak berhasil lolos saringan yang disediakan
instrumen akreditasi). Keminimuman yang dikejar berkala antara lain terlihat dalam jumlah
tiras yang hanya 300 eksemplar sehingga berkalanya tidak pernah dikenal di luar lingkungan
sempitnya sendiri (karena memang ada berkala yang tidak diketahui keberadaannya oleh
semua warga terkait di kampusnya!). Selain tiras yang rendah, keadaan keminimumannya
menjadi meningkat karena banyak berkala yang terbit hanya dua kali setahun dengan
ketebalan volume atau jilid yang tidak sampai 200 halaman seperti dipersyaratkan. Secara
absolut jumlah tersebut memang mungkin belum mencukupi kebutuhan semua dosen
perguruan tinggi yang konon berjumlah 180.000 orang. Akan tetapi kalau dilihat dari segi
substansi isinya keadaannya tidak akan meningkatkan jumlah kontribusi ilmiah Indonesia
bagi dunia pengembangan dan pemajuan ilmu internasional. Jumlah besar berkala tetapi
bertiras sedikit itu tidak akan memungkinkan masing-masing mereka dilanggan oleh
perpustakaan pusat lembaga ilmiah dunia untuk ikut diperhitungkan dalam setiap kancah
kegiatan pemajuan, pengembangan, dan penguasaan ilmu dan teknologi.

6
PELAJARAN TERPETIK DARI KEGIATAN AKREDITASI

Kegiatan pengakreditasian berkala ilmiah yang dilakukan DIKTI dalam lima belas
tahun terakhir menyebabkan terkumpulnya sejemput pengalaman yang dianggap perlu
dijadikan pelajaran berharga yang dapat digunakan sebagai pemandu kegiatan pengembangan
selanjutnya. Pengamatan tersebut terutama bermanfaat untuk dipertimbangkan dalam
mendidik mahasiswa sebagai generasi kader peneliti berikutnya, yang karya ilmiahnya nanti
akan mengisi halaman-halaman berkala yang ada.
Penguasaan bahasa para dosen perguruan tinggi (dan juga para peneliti badan-badan
litbang) yang menjadi peserta pelbagai kegiatan kursus pelatihan, penataran, atau lokakarya
yang diselenggarakan DIKTI boleh dikatakan jauh dari memadai. Kemahiran mereka
berbahasa sebenarnya memang belum cukup untuk langsung dapat dijadikan modal dan bekal
guna bisa mulai menulis secara efektif dan efisien. Kenyataan ini sangat aneh dan
merisaukan, apalagi jika diingat bahwa mereka rata-rata telah belajar bahasa (Inggris ataupun
Indonesia) lebih dari 9 tahun lamanya. Pasti terdapat suatu kesalahan mendasar dalam
metode, teknik, atau pendekatan pembelajaran bahasa yang diberikan pada para peserta didik
Indonesia baik di bangku sekolah maupun di ruang kuliah.
Sebagaimana diketahui para ilmuwan (baik dosen maupun peneliti) yang karyanya
berhasil ‘terseleksi’ untuk diterbitkan dalam berkala ilmiah yang ada merupakan produk
perguruan tinggi. Hampir dapat dipastikan bahwa ketika masih menjadi mahasiswa mereka
telah pernah dilatih, diajar, diberi kuliah, dan mendapatkan bimbingan atau instruksi tentang
teknik penulisan karya ilmiah. Jadi mereka telah dibekali pengetahuan yang dapat
dijadikanya modal untuk menulis skripsinya sebagai salah satu persyaratan guna meraih gelar
sarjananya. Rupanya telah terjadi pula kesalahan asasi dalam metode pendidikan untuk
menguasai seluk-beluk penyiapan dan penulisan karya ilmiah ini, sebab pengetahuan yang
diberikan dan pengalaman yang diperoleh selama menulis tugas akhir kesarjanaannya
tersebut sia-sia belaka karena tidak berbekas lagi setelah mereka memasuki lapangan kerja.
Mereka yang memilih terjun ke lembaga penelitian, misalnya, hampir tidak ada kecualinya
merasa tidak mampu menyiapkan naskah artikel hasil penelitian sehingga minta ditatar secara
khusus mengenai tata cara penulisan ilmiah. Adapun peserta penataran penulisan artikel
ilmiah yang diselenggarakan DIKTI juga merupakan sarjana yang kemudian bekerja di
lingkungan perguruan tinggi sebagai dosen tenaga pengajar! Di mana kira-kira letak
kesalahannya? Penelaahan terhadap secuplikan petunjuk penulisan skripsi sarjana, tesis
magister, atau disertasi doktor yang dikeluarkan pelbagai perguruan tinggi terkesan lebih
ditujukan pada juru ketik alih-alih untuk dijadikan pedoman mahasiswa calon ilmuwan.
Mungkin sudah tiba saatnya bagi perguruan tinggi untuk menggunakan petunjuk penulisan
artikel dalam berkala ilmiah sebagai pedoman penulisan skripsi sarjana, tesis magister, dan
disertasi doktor, dengan pengertian bahwa tugas-tugas penulisan itu tidak perlu tebal-tebal
tetapi siap cetak sesuai dengan tuntutan lapangan kerja saat para mehasiswa itu terjun ke
kancah lingkungan kecendekiaannya.
Memang merupakan keanehan yang sulit dimengerti juga melihat kenyataan bahwa
penulis naskah yang dikirimkan untuk diterbitkan dalam suatu berkala ilmiah seringkali
belum, kurang, atau bahkan tidak memerhatikan sehingga tidak mengikuti secara ketat
petunjuk pada calon pengarang yang disediakan oleh berkalanya. Lebih menyedihkan lagi
keadaannya adalah kenyataan sering ditemuinya keengganan atau ketidakpedulian para
penyunting (terutama penyunting pelaksana) untuk mematuhi pedoman penulisan sesuai
dengan gaya selingkung yang telah dibuatnya sendiri! Simak saja daftar-daftar pustaka acuan
dalam sebuah terbitan yang hampir selalu mengandung banyak kesalahan karena dipenuhi

7
penyimpangan dan ketidaktaatasasan yang tidak sesuai dengan petunjuk yang sudah
disediakan.
Banyak berkala yang merasa memuat editorial, tetapi isinya sama sekali bukan
editorial dalam pengertian yang sebenarnya. Apa yang disebut editorial sering berupa
permintaan maaf karena berkalanya terlambat terbit, atau mengatakan si anu menulis ini dan
si badu menulis itu, yang tidak ada maknanya sama sekali kecuali memboroskan halaman
yang harus dibayar pelanggan. Pemborosan serupa juga sering terlihat pada pencantuman
daftar isi lebih dari satu kali.
Judul artikel dalam berkala ilmiah Indonesia banyak yang panjang-panjang (lebih dari
batas ideal 12 kata seperti dipersyaratkan), mencantumkan hierarki lokasi dari lokal setempat
sampai kawasan luas, dan sering pula bersifat umum sehingga tidak sesuai dengan isi
keseluruhan naskah. Sebagai akibatnya judul tersebut sama sekali tidak memikat pembaca
untuk menjadi tertarik buat terus mendalaminya. Baris kepemilikan masih sering dijadikan
ajang pameran gelar akademis, pangkat dan jabatan penulisnya, tetapi jarang memuat alamat
pos untuk korespondensi.
Beberapa berkala masih membiarkan artikel yang disumbangkan penulisnya dengan
format seperti karya tulis mahasiswa, sehingga disajikan uraian tentang rumusan masalah
(atau pertanyaan penelitian) yang diikuti dengan hipotesis (atau pendekatan) dan ditutup
dengan tujuan penelitian yang isinya sangat altruistic, karena kalau masalahnya ini,
pendekatan begini, dan tujuannya dengan sendirinya adalah seperti ini pula. Untuk lebih
memerpanjang daftar kesalahan, terkadang masih ditambahkan manfaat penelitian yang
diuraikan dengan sekali lagi memerinci isi rumusan-pendekatan-tujuan tersebut. Begitu pula
masih ada berkala yang meloloskan artikel mengandung bab bertajuk ‘tinjauan pustaka’ yang
sudah lama tidak diberi tempat dalam berkala-berkala mapan internasional. Pembahasan yang
dilakukan artikel dalam beberapa berkala sering tanpa diperbandingkan dengan khasanah
pengetahuan dan kemajuan ilmu yang ada sehingga tidak ada pengacuan pada pustaka terkait!
Dipakainya buku teks (yang sebenarnya merupakan buku ajar buat mahasiswa belajar
sehingga tidak layak diacu untuk keperluan penelitian) mencerminkan keterbelakangan
mengikuti frontir mutakhir kemajuan ilmu. Bab saran selalu muncul dalam berkala sekalipun
isinya sering mengada-ada, tetapi hampir tidak pernah ada persantunan karena rupanya
budaya berterima kasih untuk bantuan yang diberikan guna melancarkan penelitian belum
tertanam secara merata.
Penelaahan terhadap rekaman jejak track record pengalaman kepakaran penulis
Indonesia menimbulkan kesan bahwa teraihnya gelar doktor merupakan tujuan akhir serta
puncak tertinggi pencapaian derajat kecendekiaan mereka. Dengan demikian gelar tadi tidak
dipakai sebagai kunci emas pembuka jalan buat berkegiatan penelitian lanjutan untuk
mengukirkan keberjayaan meneliti yang lebih hebat lagi sebagai pakar yang
bersuperspesialisasi. Karena kegiatan penelitiannya yang berkaitan dan lebih bermakna
terhenti maka kontribusi ilmiahnya memencar ke segala arah sehingga dirinya lalu dicap
sebagai ilmuwan yang bersifat bajing luncat.
Tidak dipahaminya etika pengacuan bahwa seseorang hanya diperkenankan merujuk
pada apa yang dilihatnya dengan matanya sendiri telah membuat penyunting membiarkan
merajalelanya kebiasaan salah yang berbentuk “ . . . menurut si Badu (2004) dalam si Dadap
(2005) . . ..” Agaknya tidak pernah terpikir oleh penulis bahwa pendapat si Badu mungkin
telah salah dikutip oleh si Dadap sehingga ia telah berdosa karena ikut menyebarluaskan
kesalahan bertumpuk.
Seni bertanya ternyata belum berkembang baik di kalangan peneliti Indonesia
sehingga banyak data dan informasi yang terkumpul dalam suatu penelitian yang belum
tuntas dimanfaatkan dengan mengorelasikan sesamanya melalui pelbagai kemungkinan

8
kombinasi. Pangkalan data yang mulai terkumpul di beberapa pusat penelitian juga sering
belum optimum dimanfaatkannya, karena kekurangmampuan peneliti untuk memajukan
pertanyaan beruntun yang bersistem dan bermakna guna menumpangtindihkan, mengaitkan,
menghubungkan, memertentangkan, dan mencari makna tersembunyi dari kesemuanya.

PEMBENAHAN LANJUTAN DAN ARAS MUTU YANG DIDAMBAKAN

Dengan sendirinya kelemahan-kelemahan yang teridentikasi di atas perlu segera


diatasi, karena UUD 1945 memang menginginkan agar bangsa Indonesia dapat duduk sama
rendah dan tegak sama tinggi dalam segala hal dengan bangsa-bangsa maju di dunia. Salah
satu cara untuk mencapai visi tersebut adalah dengan jalan meningkatkan jumlah publikasi
bermutu. Sekarang semakin banyak kajian yang hasilnya menunjukkan terdapatnya korelasi
positif antara jumlah publikasi teracu yang dihasilkan sesuatu bangsa dengan kesejahteran
umum masyarakatnya, seperti diperlihatkan dalam tabel 1.

Tabel 1. Keterkaitan Produktivitas Pelbagai Bangsa


dengan Jumlah Publikasi dan Sitasi (1997–2001)

Negara Jumlah Publikasi Jumlah Sitasi GDP per kapita

India 77.201 188.481 487


Cina 115.339 341.519 989
Jerman 318.286 2.199.617 24.051
Jepang 336.858 1.852.271 31.407
USA 1.265.808 10.850.549 36.006

Keinginan meningkatkan jumlah publikasi bermutu yang tujuannya secara langsung


sejalan dengan Visi Indonesia 2030 ini merupakan salah satu faktor yang mendorong
dikeluarkannya kebijakan baru untuk mengetatkan pemberian akreditasi pada berkala ilmiah,
yang mulai diberlakukan DIKTI pada tahun 2006. Pengetatan itu dilakukan antara lain
dengan jalan memberikan bobot lebih besar pada substansi dibandingkan sebelumnya (dari
25 menjadi 36%, yang masih ditambah dengan porsi dari gaya penulisan yang nilainya
sebesar 11%), dan menggalakkan peran individu melalui organisasi profesi ilmiah sebagai
pemilik dan penerbit berkala ilmiah. Selanjutnya dilakukan pencermatan pada butir-butir
yang dievaluasi seperti keefektifan judul artikel, penggunaan istilah baku dan bahasa yang
baik dan benar, dan ketepatan isi abstrak yang harus berbahasa Inggris. Sekalipun porsi
nilainya tidak lagi terbesar seperti sebelumnya, keterlibatan aktif mitra bebestari dalam
menjaga mutu isi berkala serta dampak kinerja penyunting pelaksana terhadap mutu
penampilan berkala tetap sangat diutamakan. Kebijakan umum yang mungkin dianggap
sangat drastis adalah ditingkatkannya batas syarat minimum nilai pelolosan dari 60 menjadi
70, sehingga hanya berkala yang berhasil mendapatkan predikat baik (B) dan sangat baik (A)
saja yang dianggap layak diakreditasi.
Pembobotan besar pada substansi isi sekarang memang sangat ditekankan, karena
dianggap sudah waktunya ilmuwan bangsa Indonesia untuk mencatatkan hak paten yang
banyak sebagai akibatan hasil bermakna kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu dan
teknologi yang bermutu tinggi. Oleh karena itu diharapkan agar nanti akan banyak berkala
ilmiah yang menyempitkan cakupan keilmuannya sehingga lebih bersifat spesialis atau

9
bahkan superspesialis. Diharapkan pula bahwa lambat laun semua berkala ilmiah Indonesia––
baik yang lokal ataupun nasional––akan memiliki aspirasi untuk meningkatkan mutu
substansi isi artikel yang dimuatnya sampai bertaraf internasional. Secara umum kaum cerdik
cendekiawan Indonesia memang harus sepakat bahwa sudah saatnya ilmuwan Indonesia
bertekad agar publikasi ilmiahnya akan selalu beraspirasi internasional, sehingga akan
diterbitkan dalam berkala yang:
 Hanya memuat artikel yang berisi sumbangan sangat nyata bagi kemajuan ilmu dan
teknologi yang sedang diminati ilmuwan sedunia.
 Penerbitannya dikelola secara terbuka sehingga melibatkan dewan penyunting dari
berbagai penjuru dunia, atau paling tidak setiap artikelnya diolah oleh pakar-pakar
internasional melalui sistem penelaahan oleh mitra bebestari dunia secara anonim.
 Penyumbang artikelnya berasal dari pelbagai negara yang lembaga-lembaganya
memiliki pakar yang berspesialisasi dalam bidang kekhususan berkala.
 Sejalan dengan itu persebaran berkalanya juga mendunia karena dilanggan oleh
pebagai lembaga dan pakar dari berbagai negara yang berminat pada disiplin ilmu
termaksud.
 Dengan demikian artikelnya ditulis dalam salah satu bahasa PBB sehingga akan
memiliki cakupan pembaca yang luas.
Untuk itu memang dituntut agar ilmuwan Indonesia akan banyak menghasilkan
pengungkapan dan temuan baru (discoveries, novelties, new to science) atau mencanggihkan
sudut pandang pendekatan serba pioner yang akan memungkinkan dicetuskannya teori hebat
serta perampatan meluas sebagai bahan pengisi berkala Indonesia. Dengan demikian setiap
berkala yang menerbitkannya akan bisa mengaku memunyai saham dan sumbangan
bermakna bagi kemajuan ilmu dan teknologi, karena kenyataan itu terukur langsung dari
derajat keorisinalan dan makna temuan/gagasan/hasil pemikiran dalam artikel yang
diterbitkannya. Karena ketinggian frekuensi sitasi atau pengacuan terhadap tulisan ilmiah
karya ilmuwan Indonesia ikut menjadi faktor penentu dalam membuat laku tidaknya produk
made in Indonesia, maka dampak ilmiah berkala dalam memacu kegiatan penelitian,
kemampuan ‘membesarkan’ nama ilmuwan (scientists) dan pandit (scholars) yang ditampung
karyanya, serta pengaruhnya terhadap lingkungan ilmiah dan pendidikan oleh luasnya
sirkulasinya perlu pula dievaluasi. Untuk itu diharapkan ilmuwan Indonesia akan tajam,
mendalam, dan meluas saat melakukan analisis dan sintesis hasil-hasilnya sehingga penarikan
simpulan dan perampatan ataupun pencetusan teorinya akan menjadi sangat bermakna.
Dampak yang akan segera muncul dari kebijakan pengetatan yang diambil DIKTI
pada tahun 2006 ini adalah berkurangnya secara nyata jumlah berkala ilmiah yang
terakreditasi. Melalui persaingan terbuka yang sehat akan terjadi seleksi alam yang nantinya
diharapkan bakal mengedepankan berkala bermutu yang dapat memenuhi persyaratan
minimum yang semakin meninggi itu. Dalam kaitan ini perlu ditambahkan bahwa pada
saatnya kelak mungkin hanya berkala yang berpredikat sangat baik (A) dengan nilai
minimum 85 saja yang akan dapat dianggap layak diakreditasi, sehingga pantas dilanggan,
mendapat perhatian luas, menerima bantuan pengembangan, dan memeroleh pelbagai
kemudahan lainnya.
Pertanyaan timbul, akan dapatkah berkala yang sedikit jumlahnya itu menampung
naskah yang selama ini diwadahi berkala yang berjumlah jauh lebih banyak? Masalah ini
sebenarnya mudah dipecahkannya, antara lain dengan jalan meningkatkan frekuensi
penerbitan dan menambah jumlah halaman setiap terbitnya, tentunya dengan pembiayaan
yang ditanggung bersama secara gotong royong. (Secara tidak langsung kegiatannya
merupakan penggabungan atau merger ‘semu’ beberapa berkala sejenis yang diterbitkan
berbagai pihak di beberapa lembaga dan tempat terpisah). Karena mutu substansi isi berkala

10
tidak boleh diturunkan, maka menjadi tugas para penyunting yang selama ini berkiprah di
berbagai berkala di beberapa tempat untuk meningkatkan mutu naskah yang dipersiapkan
oleh lingkungannya sehingga dapat lolos saringan ketat yang pasti akan terus diterapkan
secara bertaat asas. Di sinilah peran nyata organisai profesi ilmiah sangat diharapkan, karena
anggotanya yang banyak dapat diminta/diwajibkan menjadi pelanggan otomatis berkala
(misalnya dengan jalan membayar iuran tahunan ‘mahal’ yang diimbali dengan menerima
berkala secara teratur dengan cuma-cuma).
Pada pihak lain, masih harus dipikirkan akan mampukah sejemput berkala ilmiah
yang berhasil mengatasi pengetatan akreditasi tadi untuk mewakili dan mewadahi semua
disiplin ilmu yang diminati para ilmuwan Indonesia? Bagaimana pula dengan penyediaan
wadah untuk menampung naskah disiplin ilmu berpeminat banyak yang sekarang mungkin
belum memiliki berkala ilmiah yang sesuai untuknya? Dengan sendirinya akan diperlukan
suatu kajian khusus untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Masalah yang dihadapi
di sini sebenarnya tidak berbeda jauh dengan pertanyaan yang sudah lama dipersoalkan para
pengamat pengembangan ilmu dan pengambil kebijakan terkait dengannya: berapa idealnya
jumlah berkala ilmiah bermutu yang diperlukan untuk menampung hasil kegiatan ilmuwan
yang berminat pada masalah terkait Indonesia? Disiplin apa saja yang mutlak harus ada
berkalanya, dan disiplin mana yang masih bisa menggantungkan diri pada berkala mapan
internasional? Apa saja berkala yang dapat memenuhi keinginan-keinginan tersebut?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut akan diperlukan sejumlah data dan
informasi yang agaknya masih harus dikumpulkan melalui serangkaian kegiatan penelitian
terpadu. Bergantung kepada siapa yang melakukan penelitiannya, pendekatannya dapat
dimulai secara khusus dari bawah (misalnya, dengan langsung menanyakan: Berapa besar
jumlah populasi ahli jamur Indonesia?) Pertanyaan tersebut perlu diikuti dengan pertanyaan
beruntun, dengan selangan alternatif untuk memungkinkan pengembangan dari sudut berbeda
untuk mengatasi jalan buntu yang mungkin dihadapi (Berapa jumlah penelitinya yang aktif?
Berapa jumlah potensi naskah ilmiah bermutu yang mereka hasilkan setiap tahunnya? Di
berkala apa dan di mana naskah tersebut dipublikasikan? Bervariasikah topik naskah-naskah
tersebut dalam kesusperspesialisan lebih lanjut <jamur pangan, jamur parasit tanaman, jamur
patogen manusia, jamur industri>, sehingga masing-masing memerlukan berkala sendiri-
sendiri? Berapa besar populasi pengguna/pembaca naskah yang yang mereka hasilkan?
Adakah organisasi profesi ilmiah yang menggalang persatuan mereka? Berapa jumlah
anggotanya? Disiplin ilmu terkait apa yang dicakupnya, serta berapa jumlah pakarnya yang
terdaftar dalam keanggotaannya? Mampukah organisasi profesi ilmiah tersebut menerbitkan
berkala yang diperlukan anggotanya? Lembaga penelitian mana yang memiliki konsentrasi
tertinggi ahli-ahli jamur tersebut? Dapatkah lembaga termaksud menjadi pemilik/penerbit
berkala yang diperlukan? Apa kemungkinan penggalangan kerja sama antara organisasi
profesi ilmiah dan lembaga penelitian terkait untuk menjadi pemilik/penerbit berkala
bersama? Bagaimana peran berkala tersebut di Asia Tenggara? Pertanyaan-pertanyaan lain
pasti harus terus diajukan dan dikembangkan lebih lanjut).
Jika penelitiannya dilaksanakan oleh lembaga yang besar organisasinya, dengan
sendirinya pendekatan lain mungkin perlu dilakukan dengan menyusun pertanyaan secara
umum mulai dari atas untuk memecahkan persoalan yang dihadapi menjadi bagian-bagian
yang lebih kecil yang lebih gampang ditangani (Bagaimana pola pengelompokan kepakaran
sumber daya manusia pelaku iptek Indonesia menurut disiplin ilmunya, <dan berapa besar
kekuatan masing-masing disiplin>? Bagaimana keadaannya khusus di lingkungan perguruan
tinggi? Di lembaga penelitian non departemen? Di badan litbang departemen? Di lingkungan
PTAI?). Pertanyaan-pertanyaan berikutnya dapat difokuskan menurut pengelompokan yang
dihasilkannya, yang dapat dilakukan berdasarkan konsorsium keilmuan, fakultas, jurusan,

11
program studi, klasifikasi disiplin ilmu (Rifai 2003), atau satuan lainnya lagi. Selanjutnya
untuk setiap satuan ditaksir jumlah peneliti aktif, potensi naskah yang dihasilkan setiap tahun,
pola penerbitan bank naskah yang tersedia setakat ini, berkala spesialis yang sudah ada (di
lembaga mana – status akreditasi – profil – potensi pengembangan – kekuatan dukungan
<sdm, dana, fasilitas> lembaga – kemungkinan penggabungan – populasi pemanfaat), berkala
serumpun yang ikut memberikan tempat penampungan, posisi dan peran serta profil
organisasi profesi ilmiah terkait, pemakai terbitan yang ada, serta setumpukan data dan
informasi sejenis terkait lainnya yang mungkin diperlukan juga.
Pendekatannya dapat pula langsung dimulai dari berkalanya sendiri, dengan
menentukan relung yang diisi berkala termaksud secara lokal dan nasional (serta mungkin
global), profil dan status akreditasinya, peluang peningkatan peran dan fungsinya dalam
kancah pemajuan ilmu dan teknologi di pelbagai tingkat dari lokal sampai internasional,
berkala (-berkala) sejenis yang menjadi pesaing dalam mendapatkan naskah dan pelanggan,
kekuatan (dan kelemahan) lembaga pemilik/pendukung penerbitannya, kemungkinan bekerja
sama dengan organisasi profesi terkait, kemungkinan penciutan cakupan agar menjadi lebih
berspesialisasi, atau sebaliknya melakukan penggabungan dengan jurnal sejenis.
Jika penelitian dilakukan oleh gabungan kelompok sejenis (misalnya konsorsium atau
perguruan tinggi disuatu provinsi) maka kesepakatan pembagian kapling atau penugasan
berspesialisasi dalam mengelola dan menerbitkan berkala sesuai dengan kekuatan satuan
akan dapat disepakati dan kemungkinan penggabungan berkala yang ada bisa dinegosiasikan.
Untuk itu diperlukan kelapangan dada semua pihak untuk memahami sepenuhnya pepatah
‘bersatu kita teguh, bercerai kita jatuh’ demi dihasilkannya berkala bermutu tinggi sampai
bertaraf internasional, dalam jumlah yang sesuai dengan keperluan pemajuan ilmu, yang
proses produksinya dapat dikelola dengan baik secara nasional karena adanya kerja sama dan
dukungan bersama secara luas.
Pertanyaan-pertanyaan ini diharapkan menghasilkan sekumpulan jawaban berupa data
dan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menarik simpulan tentang jumlah
dan jenis serta identifikasi berkala maupun corak kedalaman spesialisasi per bidang yang
memerlukan berkala terpisah. Secara umum simpulan yang diperoleh dipastikan akan dapat
dijadikan salah satu bahan pertimbangan untuk merumuskan penggarisan kebijakan dan
pengambilan keputusan dalam merencanakan kegiatan pengembangan berkala ilmiah
Indonesia selanjutnya.
Harus diakui bahwa sampai saat ini kebijakan nasional pengembangan penerbitan
berkala ilmiah belum ada yang menggariskannya. Besar kemungkinan bahwa
pengembangannya memang tidak perlu diatur secara kaku dengan secarik kertas berisi surat
keputusan, karena kodrat dan corak permasalahan yang dihadapi akan lebih baik jika laju
pacu geraknya dibiarkan pada kecondongan perkembangan keadaan di lapangan. Penerbitan
artikel ilmiah merupakan salah satu produk puncak kegiatan kecendekiaan ilmuwan dalam
mengejawantahkan keindependenan kiprah mereka untuk memajukan, mengembangkan, dan
menguasai ilmu, teknologi, rekayasa, dan seni yang konon bebas nilai yang dikerjakan tanpa
pamrih. Penggarisan kebijakan untuk mengendalikannya mungkin dapat dianggap
mengungkung kretivitas mereka untuk berinovasi serba orisinil yang dapat bersifat fatal,
seperti terlihat dalam beberapa dasawarsa terakhir di Indonesia. Besarnya jumlah berkala
ilmiah secara kuantitas tidak menjamin kualitas kandungan substansi isinya, yang akibatan
negatifnya telah tersaksikan pada nasib publikasi ilmuwan Indonesia yang tidak dilirik
ilmuwan sejagat sehingga kontribusi ilmiah bangsa Indonesia tidak pernah diperhitungkan
orang. (Pertanyaan menakutkan: Akan tetap banyakkah berkala ilmiah diterbitkan orang di
Indonesia kalau keharusan menerbitkan karya tulis ilmiah dihapus sebagai persyaratan
kenaikan pangkat dan jabatan dosen tenaga pengajar dan peneliti?)

12
Sekalipun demikian memang sangat bijaksana untuk memikirkan dan menyepakati
seperangkat asas pemandu yang berlaku umum untuk pelbagai keperluan, yang diduga akan
dapat dijadikan penunjuk arah gerak langkah kita selanjutnya dalam mengembangkan berkala
ilmiah di Indonesia. Misalnya, peningkatan kualitas harus didahulukan dibandingkan dengan
peningkatan kuantitas, yang selama ini dirasakan telah mendominasi corak kehidupan kita
dalam berbangsa dan bernegara. Jumlah sedikit yang pas sesuai dengan keperluan jauh lebih
menguntungkan daripada jumlah banyak secara berlebihan, karena peningkatan mutu pada
yang kecil akan dapat mudah dilaksanakan secara efektif. Cinta sejati pada disiplin ilmu lebih
baik daripada cinta buta pada almamater karena bakal membuka peluang untuk lebih
meluaskan jangkauan yang teraih oleh kontribusi yang mungkin diberikan betapa pun
kecilnya. Dalam jangka panjang, jago kandang pasti kalah pamor dibandingkan dengan sosok
ilmuwan yang berkiprah jauh di luar batas pagarnya, karena kontribusi yang terakhir
memiliki kelanggengan makna yang lebih bermanfaat luas bagi pelbagai pihak. Ilmuwan
Indonesia sebaiknya memilih untuk berkiblat pada pemeo publish and be damned ditimbang
pada publish or perished. Konsep pemerataan dijamin tidak akan meningkatkan mutu karena
penerapannya akan menghambat kesempatan untuk terus melesat memacu diri sesuai dengan
capaian kemampuan. Sejalan dengan semangat pepatah ‘bersatu kita teguh, bercerai kita
jatuh’ maka bersama kita pasti bisa.

PUSTAKA ACUAN

Anonim 1997. Instrumen Evaluasi untuk Akreditasi Berkala Ilmiah. DP3M DIKTI, LIPI,
IKAPINDO & KMNRT, Jakarta. vi + 16 pp.
Rifai MA 1995. Pegangan Gaya Penulisan, Penyuntingan dan Penerbitan Karya
Ilmiah Indonesia. UGM Univ. Press, Yogyakarta. xvi + 180 pp.
Rifai MA 2003. Sebuah sistem pembidangan ilmu untuk Indonesia. Makalah dalam Seminar
Reformulasi Pembidangan Ilmu di PTAI. Depag & IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
5 – 6 November 2003
Rifai MA & Sakri A (penyunting) 1992. Bunga Rampai Metodologi Penelitian.
DITBINLITABMAS Depdikbud, Jakarta. vii + 176 pp
Rifai MA, Sastrapradja S & Adisoemarto S 1973. Demam penelitian. Berita LIPI 17(1): 3-9

13