Anda di halaman 1dari 39

VIII.

Perawatan Luka bersih


Perawatan Luka bersih

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

Hari / tanggal : Senin, 15 / 10 /2017


Waktu : Pukul 13.00 WIB
Tempat : Bangsal Bedah RSUD Kepahing
Sumber Data : Klien, keluarga klien, catatan medis dan keperawatan
Metode : Wawancara, observasi dan studi dokumen

1. Identitas
a. Klien
Nama : Ny. “P”
Umur : 82 tahun
Tempat Tanggal Lahir: Klaten, 13 Desember 1931
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pendidikan : Tak Sekolah
Pekerjaan : Buruh harian
Alamat : Kaba Wetan
No. CM : 82.97.98
Tanggal Masuk RS : 14 / 10 / 2017
b. Penanggung jawab
Nama : Ny. “N”
Umur : 41 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Kabawetan
Hubungan dengan klien : Anak Kandung
c. Diagnosis Medis : Fraktur tertutup radius ulna sinistra

2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama
Pasien mengatakan nyeri di bagian tangan kirinya. Nyeri saat
digerakkan. Pasien mengatakan sulit untuk tidur.
b. Alasan masuk rumah sakit
Keluarga pasien mengatakan pasien jatuh terpeleset di teras rumah.
Pasien jatuh dengan posisi tangan menumpu berat tubuh yang jatuh
terpeleset, sehingga terjadi luka ± 1cm di pergelangan tangan,
perdarahan disertai dengan keluhan nyeri. Keluarga kemudian
mengantarkan pasien ke UGD RSUD Kepahing pada tanggal 14
/10 / 2017 untuk mendapatkan pengobatan dan perawatan lebih
lanjut. Setelah dilakukan tindakan rontgen thorax AP+wrist+joint
sebelah kiri dengan hasil rontgen positif fraktur, maka pasien harus
menjalani rawat jalan dan menunggu untuk jadwal operasi di
bangsal Bedah
c. Riwayat kesehatan sekarang
Pasien mengatakan nyeri di bagian tangan kirinya. Nyeri saat
digerakkan. Nyeri seperti ditusuk-tusuk. Nyeri di sekitar
pergelangan tangan. VAS 7 dari 0-10. Nyeri hilang timbul. Pasien
menyatakan sulit tidur karena tidak mendengarkan radio yang
biasanya pasien dengarkan sebelum memulai tidur.
d. Upaya pengobatan
Keluarga pasien mengatakan sebelumnya belum pernah membawa
pasien ke klinik pengobatan atau perawatan yang lain.
e. Riwayat kesehatan lalu
Keluarga pasien mengatakan pasien belum pernah dirawat di rumah
sakit. Pasien baru pertama kali mengalami fraktur. Keluarga pasien
juga mengatakan pasien tidak mempunyai riwayat penyakit
menurun maupun menular. Selama ini, apabila pasien merasakan
sakit, pasien hanya membeli obat di warung dan langsung sembuh.
f. Kesehatan keluarga
Keluarga pasien mengatakan tidak ada riwayat penyakit menular
maupun menurun dalam keluarganya.

3. Pola kebiasaan pasien


a. Aspek fisik-biologis
1) Pola nutrisi
Sebelum sakit
Keluarga pasien mengatakan pasien selalu makan 3x
sehari dan habis setengah centong bubur setiap kali makan
dan minum 3-4 gelas perhari (±1000 cc/hari) Pasien tidak
mengkonsumsi kopi, hanya mengkonsumsi teh dan air
putih.
Selama sakit
Pasien selalu makan 3x sehari, setiap porsi yang disajikan
rumah sakit selalu tidak habis. Keluarga pasien
mengatakan pasien hanya makan 3 sendok setiap kali
makan. Pasien mengatakan sudah kenyang. Pasien
mendapatkan diet bubur. Pasien terpasang infus NaCl
0,9% 20 tpm di tangan kanannya sejak 14 /10 / 2017
dengan kondisi tidak ada kemerahan tidak ada tanda-tanda
infeksi dan tidak ada lesi. Keluarga pasien mengatakan
selama di rumah sakit pasien minum 2-3 gelas perhari
(±750 cc/hari)
2) Pola eliminasi
Sebelum sakit
Pasien mengaku BAB 2 hari sekali dengan konsistensi
lunak dan berwarna coklat dan tidak merasakan sakit.
Pasien mengaku tidak pernah mengkonsumsi obat
pencahar. Pasien manyatakan BAK ± 4-5 kali sehari.
Selama sakit
Terakhir BAB sebelum masuk rumah sakit. Semenjak
masuk rumah sakit (13/10/2017), pasien menyatakan
belum BAB. Pasien mengatakan perut tidak terasa sakit.
Keluarga pasien mengatakan selama di RS pasien BAK
±3-4 kali sehari. Pasien BAK dengan menggunakan pispot
di atas tempat tidur.
3) Pola aktivitas istirahat tidur
Sebelum sakit
Pasien mengatakan tidur selama ±8 jam, dari pukul 21.00
WIB sampai pukul 05.00 WIB. Pasien mengaku kadang-
kadang tidur siang. Sebelum sakit pasien aktifitasnya
dilakukan secara mandiri.
Selama sakit
Pasien mengatakan susah untuk tidur karena tidak
mendengarkan radio, aktivitas yang sering dilakukan
pasien menjelang tidur. Keluarga pasien mengatakan
pasien tidak bisa tidur nyenyak, sebentar tidur sebentar
bangun.. Selama sakit pasien melakukan aktivitasnya
dengan dibantu keluarganya. Keluarga pasien mengatakan
pasien melakukan seluruh aktivitasnya di atas tempat
tidur. Pasien mengatakan dalam melakukan aktivitas,
selalu dibantu orang lain. Pasien mengatakan nyeri saat
tangan kanannya digerakkan. Pasien terbaring di tempat
tidur. Pasien terlihat meringis menahan sakit. Pasien
bergerak dengan pelan-pelan. Pasien mengatakan susah
untuk mengubah posisi karena nyeri. Pasien mengatakan
tidak bisa tidur kembali setelah terbangun. Wajah pasien
terlihat sayu. Pasien menunjukkan perilaku gelisah.
4) Pola kebersihan diri
Sebelum sakit
Setiap hari, pasien selalu mandi 2x sehari. Pasien
menyatakan selalu mencuci rambutnya 2 hari sekali
dengan menggunakan shampo secara rutin.
Selama sakit
Setiap pagi dan sore, pasien selalu mandi dengan dibantu
keluarga di tempat tidur dengan di lap. Keluarga pasien
manyatakan belum mencuci rambutnya semenjak masuk
rumah sakit.
b. Aspek mental – intelektual – sosial – spiritual
1) Konsep diri
a) Identitas diri
Pasien adalah seorang janda dengan pekerjaan yaitu buruh
harian.
b) Gambaran diri
Pasien terbuka dengan orang yang baru dikenal.
c) Peran diri
Pasien sebagai orang tua tunggal mempunyai 8 orang anak.
d) Ideal diri
Pasien berharap cepat sembuh dan tidak merasakan sakit
lagi.
2) Intelektual
Pasien mengatakan hanya mengetahui bahwa tulang di tangan
kirinya patah dan terasa sakit.
3) Hubungan interpersonal
Pasien mengatakan hubungan dengan keluarga dan sekitar
baik-baik saja. Saat dilakukan pengkajian terlihat banyak
tetangga dan keluarga yang berkunjung untuk mengetahui
kondisi pasien.
4) Mekanisme Koping
Pasien menerima dengan ikhlas dan berharap diberi
kesembuhan oleh Allah SWT.
5) Support Sistem
Keluarga sangat mendukung untuk kesembuhan pasien.
6) Aspek Mental/ Emosional
Pasien tidak gampang emosional. Pasien tidak nampak gelisah
dan tegang saat perawat datang. Saat dilakukan pengkajian
pasien dan keluarga terlihat kooperatif dan menjaga kontak
mata dengan perawat.
7) Aspek Spiritual
Agama pasien adalah Islam. Pasien menyatakan setiap hari
selalu melaksanakan ibadah shalat wajib 5 waktu walaupun
pasien sedang terbaring sakit. Keluarga pasien mengatakan
selalu mengingatkan dan membantu pasien untuk shalat.
4. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Kesadaran : Composmentis
Tanda tanda vital
TD : 130/80 mmHg
S : 36,5° C
HR : 88 x/menit
RR : 18 x/menit
VAS : 7 (0-10)
b. Pemeriksaan secara sistematik (Cepalo Kaudal)
1) Kepala : Rambut beruban, tidak ada lesi, tidak ada
ketombe.
2) Mata : Simetris, sklera putih, konjungtiva tidak
pucat, terlihat kantung mata
3) Hidung : Tidak ada lesi, tidak ada sekret yang
keluar, tidak ada pernapasan cuping hidung
4) Telinga : Simetris, masih bisa mendengar dengan
jelas, tidak ada cairan yang keluar
5) Mulut : Pasien kadang berbicara tidak jelas,
mukosa mulut lembab, tidak ada sariawan.
6) Gigi : Pasien sudah tidak mempunyai gigi
lengkap, pasien tidak menggunakan gigi
palsu
7) Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak
ada lesi, tidak ada nyeri tekan.
8) Dada
a) Inspeksi : Warna putih pucat, simetris, tidak ada lesi
b) Palpasi : Pergerakan diding dada simetris, tidak ada
nyeri tekan
c) Perkusi :
Interkosta 1-3 paru kiri terdengan suara resonan
Interkosta 4-6 paru kiri terdengar suara redup
Interkosta 1-6 paru kanan terdengar sara resonan
Interkosta 6 paru kanan terdengar suara redup
d) Auskultasi : Pada trakhea terdengar suara trakheal,
bronkus terdengar suara bronkheal dan
bronkeolus terdengar suara bronkovesikuler.
Suara jantung tidak dikaji.
9) Abdomen
a) Inspeksi : Warna coklat, tidak terlihat lesi dan
benjolan
b) Auskultasi: Tidak terkaji
c) Palpasi : Tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan
d) Perkusi : Timpani, redup pada kuadran kiri bawah
10) Genetalia : Tidak terkaji
11) Ekstremitas
a) Atas : Capillary refill time (CRT) 3 detik, tidak
ada
edema, pada tangan kanan terpasang infus
NaCl 0,9% 16 tpm sejak 14 /10 / 2017
dengan kondisi tidak ada kemerahan tidak
ada tanda-tanda infeksi dan tidak ada lesi.
Balutan infus terlihat bersih tidak ada
rembesan. Di pergelangan tangan kiri pasien
terlihat luka ± 1cm. Tangan kiri terlihat
dibalut dengan spalk sepanjang antebrachii,
balutan terlihat bersih.
b) Bawah : Simetris, kaki masih lengkap, dapat
digerakkan, tidak ada cacat tidak ada lesi,
tidak ada edema, tidak ada nyeri tekan.
5. Terapi yang didapatkan
a. Ranitidin 2x50mg per IV
b. Cefotaxim 2x1gram per IV
c. Ketorolac 3x500mg per IV
d. Kalnex 3x500mg per IV
e. Metronidazole 3x500mg per IV drip
f. IVFD NaCl 0,9% 20 tpm di tangan sebelah kanan sejak tanggal
14 /10 /2017
6. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan GDS (Gula Darah Sewaktu), tanggal pemeriksaan
14 /10 /2017 GDS : 166 (Pre Diabetes)

b. Pemeriksaan protein total, tanggal pemeriksaan 14 /10 / 2017


Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai
Normal
Protein total 8,04 gr% 6,5-8,5
Albumin 3,9 gr% 3,7-5,2
Globulin 4,1 gr%

c. Pemeriksaan serum, tanggal pemeriksaan 14 /10 / 2017


Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal
BUN 10,6 mg/dl 7-18
Creatinin 0,72 mg/dl 0,6-1,3
AST 13,7 IU/L 7-24
ALT 8,9 IU/L 7-32

d. Pemeriksaan darah, tanggal pemeriksaan 14 /10 / 2017


Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal
WBC 14,1 10 /μL
3 4,5-10,3
RBC 4 10 /μL
3
4-5,2
HGB 11,1 g/dL 11,5-15,5
HCT 34,6 % 34-40
MCV 36,5 fL 80-99
MCH 27,8 fL 27-31
MCHC 32,1 pg 33-37
PLT 253 10 /μL
3
150-450
RDW 46,5 fL 35-45
PDW 9,9 fL 9-13
MPV 8,2 fL 7,2-11,1
P-LCR 12,9 % 15-25
DIFFERENTIAL
LYM% 4,7 % 19-48
MXD% 6,1 % 0-12
NEUT% 39,2 % 40-74
LYM# 0,7 10 /μL
3 1-3,7
MXD# 0,9 10 /μL
3
0-1,2
NEUT# 12,5 10 /μL
3 1,5-7
e. Pemeriksaan thorax AP, wrist dan joint sinistra, tanggal
pemeriksaan 14 / 10 /2017

f. Pemeriksaan GDS (Gula Darah Sewaktu), tanggal pemeriksaan


15 /10 /2017 GDS : 104 (Normal)

g. Pemeriksaan radiologi wrist joint, tanggal pemeriksaan 15 / 10


/2017 post operasi ORIF k wire
Foto wrist joint sinistra, hasil :
- Garis fraktur os radius et ulna pars tertia distalis, masing-
masing dalam fiksasi interna 2 screw dan 1 screw, aposisi dan
alignment kurang
- Tak tampak gambaran osteomyelitis

B. ANALISIS DATA

DATA MASALAH PENYEBAB

DS : Resiko Pertahanan tubuh


1. Keluarga pasien mengatakan pasien Infeksi sekunder tidak
mengalami luka ± 1cm di adekuat
pergelangan tangan kiri yang disertai
dengan perdarahan
DO :
1. Pada tangan kanan terpasang infus
NaCl 0,9% 16 tpm sejak 14 / 10
/2017 dengan kondisi tidak ada
kemerahan tidak ada tanda-tanda
infeksi dan tidak ada lesi.
2. Balutan infus terlihat bersih tidak
ada rembesan.
3. Di pergelangan tangan kiri pasien
terlihat luka ± 1cm
4. Tangan kiri terlihat dibalut dengan
spalk sepanjang antebrachii, balutan
terlihat bersih.
5. Pemeriksaan darah
HGB : 11,1 g/dL
WBC : 14,1 103/μL
LYM% : 4,7 %
NEUT% : 39,2 %
LYM# : 0,7 103/μL
NEUT# : 12,5 103/μL
DS : Nyeri Akut Kerusakan jaringan
1. Pasien mengatakan nyeri di bagian muskuloskeletal
tangan kirinya, nyeri saat
digerakkan.
2. Pasien mengatakan susah tidur
karena merasakan kesakitan yang
luar biasa.
DO :
1. Pasien terlihat meringis menahan
sakit
2. Tanda tanda vital
TD : 130/80 mmHg
HR : 88 x/menit
RR : 18 x/menit
VAS : 7 (0-10)
3. P : Saat digerakkan
Q : Ditusuk-tusuk
R : Pergelangan tangan
S : VAS : 7 (0-10)
T : Hilang timbul
DS : Gangguan Ketidaknyamanan
pola tidur fisik : nyeri
1. Pasien menyatakan sulit tidur karena
tidak mendengarkan radio yang
biasanya pasien dengarkan sebelum
memulai tidur.Keluarga pasien
mengatakan pasien tidak bisa tidur
nyenyak, sebentar tidur sebentar
bangun.
2. Pasien mengatakan tidak bisa tidur
kembali setelah terbangun
DO :
1. Wajah pasien terlihat sayu
2. Terlihat kantung mata
3. Pasien menunjukkan perilaku
gelisah
DS : Hambatan Nyeri dan terapi
Mobilitas pembatasan
1. Pasien mengatakan susah untuk Fisik aktifitas
mengubah posisi karena nyeri
2. Keluarga pasien mengatakan pasien
melakukan seluruh aktivitasnya di
atas tempat tidur.
3. Pasien mengatakan dalam
melakukan aktivitas, selalu dibantu
orang lain.
DO :

1. Selama sakit pasien melakukan


aktivitasnya dengan dibantu
keluarganya.
2. Pasien terbaring di tempat tidur.
3. Pasien bergerak dengan pelan-pelan

C. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh sekunder tidak
adekuat ditandai dengan :
DS :
a. Keluarga pasien mengatakan pasien mengalami luka ± 1cm di
pergelangan tangan kiri yang disertai dengan perdarahan
DO :
a. Pada tangan kanan terpasang infus NaCl 0,9% 14 / 10 /2017
dengan kondisi tidak ada kemerahan tidak ada tanda-tanda infeksi
dan tidak ada lesi.
b. Balutan infus terlihat bersih tidak ada rembesan.
c. Di pergelangan tangan kiri pasien terlihat luka ± 1cm
d. Tangan kiri terlihat dibalut dengan spalk sepanjang antebrachii,
balutan terlihat bersih.
e. Pemeriksaan darah
HGB : 11,1 g/dL
WBC : 14,1 103/μL
LYM% : 4,7 %
NEUT% : 39,2 %
LYM# : 0,7 103/μL
NEUT# : 12,5 103/μL
2. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan jaringan muskuloskeletal
ditandai dengan :
DS :
a. Pasien mengatakan nyeri di bagian tangan kirinya, nyeri saat
digerakkan.
b. Pasien mengatakan susah tidur karena merasakan kesakitan yang
luar biasa.
DO :
a. Pasien terlihat meringis menahan sakit
b. Tanda tanda vital
TD : 130/80 mmHg
HR : 88 x/menit
RR : 18 x/menit
VAS : 7 (0-10)
c. P : Saat digerakkan
Q : Ditusuk-tusuk
R : Pergelangan tangan
S : VAS : 7 (0-10)
T : Hilang timbul
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik : nyeri
ditandai dengan :
DS :
a. Pasien menyatakan sulit tidur karena tidak mendengarkan radio
yang biasanya pasien dengarkan sebelum memulai tidur.
b. Keluarga pasien mengatakan pasien tidak bisa tidur nyenyak,
sebentar tidur sebentar bangun.
c. Pasien mengatakan tidak bisa tidur kembali setelah terbangun
DO :
a. Wajah pasien terlihat sayu
b. Terlihat kantung mata
c. Pasien menunjukkan perilaku gelisah
4. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri dan terapi
pembatasan aktifitas ditandai dengan :
DS :
a. Pasien mengatakan susah untuk mengubah posisi karena nyeri
b. Keluarga pasien mengatakan pasien melakukan seluruh
aktivitasnya di atas tempat tidur.
c. Pasien mengatakan dalam melakukan aktivitas, selalu dibantu
orang lain.
DO :
a. Selama sakit pasien melakukan aktivitasnya dengan dibantu
keluarganya.
b. Pasien terbaring di tempat tidur
c. Pasien bergerak dengan pelan-pelan
D. INTERVENSI KEPERAWATAN

PERENCANAAN
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN INTERVENSI RASIONAL

1. Resiko infeksi berhubungan dengan 15 / 10 / 2017 15 / 10 / 2017 15 / 10 / 2017


pertahanan tubuh sekunder tidak 13.30 WIB 13.30 WIB 13.30 WIB
adekuat ditandai dengan : Setelah dilakukan asuhan
keperawatan selama 4x24 1. Observasi tanda- 1. Mengidentifikasi
DS : jam diharapkan pasien tidak tanda vital pasien : kondisi vital pasien
terkena infeksi, dengan TD, N, S, RR 2. Mengidentifikasi
a. Keluarga pasien mengatakan pasien 2. Observasi keadaan adanya infeksi
mengalami luka ± 1cm di kriteria hasil :
luka maupun tidak
pergelangan tangan kiri yang disertai 1. Suhu pasien normal (36- 3. Mengendalikan
dengan perdarahan 36,9oC)
2. Tidak terlihat tanda dan 3. Lakukan perawatan penyebaran
DO : gejala infeksi luka dengan teknik mikroorganisme
3. Nilai pemeriksaan darah aseptik pathogen.
a. Pada tangan kanan terpasang infus 4. Lakukan perawatan 4. Untuk mengurangi
normal
NaCl 0,9% 16 tpm sejak 14 / 10 terhadap prosedur resiko infeksi
HGB : 11,5-15,5 g/dL
/2017 dengan kondisi tidak ada invasif seperti nosokomial
kemerahan tidak ada tanda-tanda WBC : 4,5-10,3 103/μL infuse 5. Mencegah
infeksi dan tidak ada lesi. 5. Batasi pengunjung kontaminasi silang
b. Balutan infus terlihat bersih tidak ada LYM% :19-48 % 6. Keluarga dapat
rembesan. NEUT% : 40-74 % 6. Ajarkan kepada menjadi pemberi
c. Di pergelangan tangan kiri pasien pasien dan keluarga informasi utama pada
terlihat luka ± 1cm LYM# : 1-3,7 103/μL mengenai perawat mengenai
d. Tangan kiri terlihat dibalut dengan pencegahan, tanda keadaan pasien
spalk sepanjang antebrachii, balutan NEUT# : 1,5-7 103/μL dan gejala infeksi 7. Antibiotik dapat
terlihat bersih. 4. Pasien dan keluarga membunuh
e. Pemeriksaan darah mampu menjelaskan 7. Kelola pemberian mikroorganisme
HGB : 11,1 g/dL tentang pencegahan, cefotaxim 2x1 penyebab infeksi
WBC : 14,1 103/μL tanda dan gejala infeksi gram dan drip 8. Penurunan Hb dan
LYM% : 4,7 % metronidazole peningkatan jumlah
NEUT% : 39,2 % 3x500 mg leukosit dari normal
LYM# : 0,7 103/μL 8. Jika di temukan bisa terjadi akibat
NEUT# : 12,5 103/μL tanda infeksi terjadinya proses
kolaborasi untuk infeksi
pemeriksaan darah,
seperti Hb dan
leukosit.

2. Nyeri akut berhubungan dengan 15 / 10 / 2017 15 / 10 / 2017 15 / 10 / 2017


kerusakan jaringan muskuloskeletal 13.30 WIB
ditandai dengan : Selama dilakukan tindakan 13.30 WIB 13.30 WIB
keperawatan diharapkan 1. Lakukan 1. Mengetahui tingkat
DS : pasien mampu beradaptasi pengkajian nyeri nyeri untuk
menentukan
a. Pasien mengatakan nyeri di bagian dengan nyeri, dengan intervensi selanjutnya
tangan kirinya, nyeri saat digerakkan. kriteria hasil : 2. Ajarkan teknik non 2. Mengurangi nyeri
b. Pasien mengatakan susah tidur 1. Tanda-tanda vital
karena merasakan kesakitan yang TD : 130-150/80-90 farmakologi : pasien
luar biasa. mmHg distraksi relaksasi,
HR : 60-100 x/menit nafas dalam 3. Analgetik dapat
DO : RR : 16-20 x/menit 3. Kelola pemberian mengurangi rasa nyeri
a. Pasien terlihat meringis menahan 2. Pasien mampu mengontrol ketorolac 3x30 mg
sakit nyeri
b. Tanda tanda vital 3. Pasien menyatakan nyeri
TD : 130/80 mmHg berkurang
HR : 88 x/menit
RR : 18 x/menit
c. P : Saat digerakkan
Q : Ditusuk-tusuk
R : Pergelangan tangan
S : VAS : 7 (0-10)
T : Hilang timbul
3. Gangguan pola tidur berhubungan 15 / 10 / 2017 15 / 10 / 2017 15 / 10 / 2017
dengan ketidaknyamanan fisik : nyeri 13.30 WIB 13.30 WIB 13.30 WIB
ditandai dengan : Setelah dilakukan tindakan a. Lakukan a. Mengetahui pola tidur
keperawatan selama 3x24 pengkajian untuk merencanakan
DS : jam diharapkan pasien kecukupan tidur intervensi selanjutnya
a. Pasien menyatakan sulit tidur karena dapat istirahat tidur dengan b. Menurunkan
tidak mendengarkan radio yang optimal, dengan kriteria kemungkinan
biasanya pasien dengarkan sebelum hasil : b. Ciptakan suasana pengganggu tidur
memulai tidur. 1. Melaporkan istirahat nyaman, kurangi pasien
b. Keluarga pasien mengatakan pasien tidur malam yang atau hilangkan
tidak bisa tidur nyenyak, sebentar optimal. distraksi c. Membantu pasien
tidur sebentar bangun. 2. Tidak menunjukan lingkungan dan untuk beristirahat
c. Pasien mengatakan tidak bisa tidur perilaku gelisah. gangguan tidur tidur dengan tenang
kembali setelah terbangun 3. Wajah pasien tidak c. Batasi pengunjung d. Membantu pasien
terlihat sayu dan tidak selama periode memulai tidur yang
DO : terlihat kantung mata istirahat yang adekuat sesuai
a. Wajah pasien terlihat sayu optimal kebiasaa di rumah
b. Terlihat kantung mata e. Membantu pasien
c. Pasien menunjukkan perilaku gelisah d. Gunakan alat bantu untuk tidur
tidur
(mendengarkan
radio atau musik)
untuk memulai
pola tidur

e. Kolaborasi dengan
dokter pemberian
obat tidur

4. Hambatan mobilitas fisik berhubungan 15 / 10 / 2017 15 / 10 / 2017 15 / 10 / 2017


dengan nyeri dan terapi pembatasan 13.30 WIB 13.30 WIB 13.30 WIB
aktifitas ditandai dengan : Selama dilakukan tindakan 1. Kaji kemampuan 1. Mengidentifikasi
DS : keperawatan diharapkan pasien dalam kemampuan
mobilitas pasien tidak mobilisasi mobilisasi pasien
a. Pasien mengatakan susah untuk terganggu, dengan kriteria 2. Meningkatkan
mengubah posisi karena nyeri hasil : 2. Latih pasien dalam motivasi pasien untuk
b. Keluarga pasien mengatakan pasien 1. Pasien meningkat dalam pemenuhan mobilisasi secara
melakukan seluruh aktivitasnya di aktivitas fisik kebutuhan ADL mandiri
atas tempat tidur. 2. Pasien dan keluarga secara mandiri 3. Mencegah terjadinya
c. Pasien mengatakan dalam melakukan mengerti cara dan tujuan sesuai kemampuan cedera
aktivitas, selalu dibantu orang lain. dari peningkatan mobilitas 4. Mencegah pasien
DO : fisik 3. Bantu pasien saat mengalami cedera
mobilisasi
a. Selama sakit pasien melakukan 4. Ajarkan pasien dan
aktivitasnya dengan dibantu keluarga cara
keluarganya. mengubah posisi
b. Pasien terbaring di tempat tidur. yang benar dan
c. Pasien bergerak dengan pelan-pelan berikan bantuan
jika diperlukan
E. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

Dx
Kegiatan Evaluasi
Kep.
Resi PAGI Senin, 15 / 10 / 2017
ko Senin, 15 / 10 / Jam 08.40 WIB
infe 2017 S : Pasien mengeluhkan tangan kiri terasa
ksi Jam 08.30 sakit
WIB O : Tanda-tanda vital
TD : 130/80 mmHg
S : 36,5° C
HR : 88 x/menit
RR : 18 x/menit
VAS : 7 (0-10)
A : Masalah resiko infeksi sebagian
teratasi
P : Monitor tanda-tanda vital

Nye Senin, 15 / 10 Senin, 15 / 10 / 2017


ri / 2017 Jam 08.45 WIB
akut Jam 08.45 S : Pasien menyatakan bisa nafas dalam
WIB : Pasien menyatakan nyeri berkurang
O : Pasien terlihat mempraktikkan nafas
dalam dengan benar : Pasien nampak
meringis menahan sakit
A : Masalah nyeri akut sebagian teratasi
P : Kelola pemberian ketorolac 30 mg

Resi Senin, 15 / 10 / Senin, 15 / 10 / 2017


ko 2017 Jam 09.00 WIB
Infe Jam 08.50 S : Pasien mengatakan tangan kiri terasa
ksi WIB sangat sakit
Mengobservas O : Terlihat luka ± 1cm di pergelangan
i keadaan tangan kiri pasien, tidak terlihat nanah
luka dan dan perdarahan
merawat luka : Pasien terlihat meringis menahan
sakit
: Pemeriksaan darah
HGB : 11,1 g/dL
WBC : 14,1 103/μL
LYM% : 4,7 %
NEUT% : 39,2 %
LYM# : 0,7 103/μL
NEUT# : 12,5 103/μL
A : Masalah resiko infeksi sebagian
teratasi
P : Lakukan perawatan luka 2 hari sekali

Nye Selasa, 16 / 10 Selasa, 16 / 10 / 2017


ri / 2017 Jam 10.10 WIB
Aku Jam 10.00 S : Pasien mengatakan nyeri di daerah
t WIB tangan sebelah kiri
Injeksi obat O : Ketorolac 30 mg + aquades 2cc
ketorolac masuk rute IV
: Pasien terlihat meringis menahan
nyeri
A : Masalah nyeri akut sebagian teratasi
P : Kelola pemberian ketorolac 30 mg

Resi Senin, 15 / 10 / Senin, 15 / 10 / 2017


ko 2017 Jam 10.15 WIB
infe Jam 10.10 S:-
ksi WIB O : Injeksi cefotaxim 1 gram dan drip
Injeksi metronidazole 500 mg masuk rute IV
cefotaxim dan A : Masalah resiko infeksi sebagian
drip teratasi
metronidazole P : Kelola pemberian cefotaxim 2x1 gram
dan drip metronidazole 3x500 mg

Resi PAGI Selasa, 16 / 10 / 2017


ko Selasa, 16/ 10 /
infe 2017 Jam 08.40 WIB
ksi Jam 08.30 S : Pasien mengatakan kepala terasa
WIB sedikit pusing
Memonitor O : Tanda-tanda vital
tanda-tanda TD : 130/90 mmHg
vital N : 80 x/menit
RR : 18 x/menit
S : 36,5° C
A : Masalah resiko infeksi sebagian
teratasi
P : Monitor tanda-tanda vital
: Batasi pengunjung

Nye Selasa, 16 / 10 Selasa, 16 / 10 / 2017


ri / 2017 Jam 10.20 WIB
Aku Jam 10.15 S : Pasien mengatakan nyeri di daerah
t WIB tangan sebelah kiri
Injeksi obat O : Ketorolac 30 mg + aquades 2cc
ketorolac masuk rute IV
: Pasien terlihat meringis menahan
nyeri
A : Masalah nyeri akut sebagian teratasi
P : Kelola pemberian ketorolac 30 mg

Resi Selasa, 16 / 10 Selasa, 16/ 10 / 2017


ko / 2017 Jam 10.30 WIB
infe Jam 10.20 S:-
ksi WIB O : Injeksi cefotaxim 1 gram dan drip
Injeksi metronidazole 500 mg masuk rute IV
cefotaxim dan A : Masalah resiko infeksi sebagian
drip teratasi
metronidazole P : Kelola pemberian cefotaxim 2x1 gram
dan drip metronidazole 3x500 mg

Resi Selasa, 16 / 10 Selasa, 16 / 10 / 2017


ko / 2017 Jam 11.15 WIB
Infe Jam 11.10 S : Pasien dan keluarga menyebutkan
ksi WIB pencegahan, tanda dan gejala infeksi
Mengajarkan O : Pasien dan keluarga terlihat
kepada pasien mengangguk mengerti
dan keluarga : Pasien dan keluarga mampu
mengenai menyebutkan semua tanda infeksi
pencegahan, beserta pencegahannya
tanda dan A : Masalah resiko infeksi sebagian
gejala infeksi teratasi
(rubor, kalor, P : Monitor tanda-tanda vital pasien
dolor, tumor,
fungsio laesa)

Selasa, 16 / 10
/ 2017
Jam 11.30
WIB
Mengantar
pasien ke
kamar
operasi untuk
dilakukan
operasi ORIF
Nye Selasa, 16 / 10 Selasa, 16 / 10 / 2017
ri / 2017 Jam 13.05 WIB
akut Jam 13.00 S:-
WIB O : Pasien terlihat lemah
Mengukur : Tekanan darah post operasi ORIF :
tekanan 120/80 mmHg
darah post : Tangan kiri pasien terpasang back
operasi ORIF slab, dibalut dengan kassa dan perban
Vindaa elastis
A : Masalah nyeri akut sebagian teratasi
P : Monitor tanda-tanda vital
Vindaa
Resi PAGI Rabu, 17 / 10 / 2017
ko Rabu, 17 / 10 / Jam 08.40 WIB
infe 2017 S : Pasien mengatakan nyeri di tangan
ksi Jam 08.30 sebelah kiri
WIB O : Tanda-tanda vital
Memonitor TD : 110/60 mmHg
tanda-tanda S : 36° C
vital N : 84 x/menit
Vindaa RR : 20 x/menit
A : Masalah resiko infeksi sebagian
teratasi
P : Monitor tanda-tanda vital
Vindaa
Nye Rabu, 17 / 10 / Rabu, 17 / 10 / 2017
ri 2017 Jam 08.44 WIB
akut Jam 08.40 S : Pasien mengatakan nyeri di daerah
WIB tangan kiri
Injeksi obat O : Ketorolac 30 mg + aquades 2cc
ketorolac masuk rute IV
: Pasien terlihat meringis menahan
nyeri
A : Masalah nyeri akut sebagian teratasi
P : Kelola pemberian ketorolac 30 mg

Resi Rabu, 17 / 10 / Rabu, 17/ 10 / 2017


ko 2017 Jam 10.10 WIB
infe Jam 10.00 S:-
ksi WIB O : Injeksi cefotaxim 1 gram dan drip
Injeksi metronidazole 500 mg masuk rute IV
cefotaxim dan A : Masalah resiko infeksi sebagian
drip teratasi
metronidazole P : Kelola pemberian cefotaxim 2x1 gram
dan drip metronidazole 3x500 mg

Resi MALAM Rabu, 17 / 10 / 2017


ko Rabu, 17 / 10 /
Infe 2017 Jam 22.05 WIB
ksi Jam 22.00 S:-
WIB O : Injeksi cefotaxim 1 gram dan drip
Injeksi metronidazole 500 mg masuk rute IV
cefotaxim dan A : Masalah resiko infeksi sebagian
drip teratasi
metronidazole P : Kelola pemberian cefotaxim 2x1 gram
dan drip metronidazole 3x500 mg

Nye Rabu, 17 / 10 / Rabu, 17 / 10 / 2017


ri 2017 Jam 22.10 WIB
akut Jam 22.05 S : Pasien mengatakan nyeri di daerah
WIB tangan kiri berkurang
Injeksi obat O : Ketorolac 30 mg + aquades 2cc
ketorolac masuk rute IV
A : Masalah nyeri akut sebagian teratasi
P : Kelola pemberian ketorolac 30 mg

Resi Kamis, 18/ 10 / Kamis, 18/ 10 / 2017


ko 2017 Jam 05.40 WIB
infe Jam 05.30 S : Pasien mengatakan nyeri di tangan
ksi WIB kiri sudah berkurang
Memonitor O : Tanda-tanda vital
tanda-tanda TD : 120/70 mmHg
vital N : 80 x/menit
S : 36,5° C
RR : 20 x/menit
A : Masalah resiko infeksi sebagian
teratasi
P : Monitor tanda-tanda vital

Resi PAGI Jum’at, 19/ 10 / 2017


ko Jum’at, 19/ 10 Jam 08.40 WIB
Infe / 2017 S : Pasien mengatakan nyeri di tangan
ksi Jam 08.30 kiri berkurang banyak
WIB O : Tanda-tanda vital
Memonitor TD : 150/80 mmHg
tanda-tanda S : 36,2° C
vital RR : 20x/menit
N : 80 x/menit
A : Masalah resiko infeksi sebagian
teratasi
P : Monitor tanda-tanda vital
: Batasi pengunjung

Resi Jum’at, 19/ 10 Jum’at, 19/ 10 / 2017


ko / 2017 Jam 10.05 WIB
Infe Jam 10.00 S : Pasien mengatakan nyeri di tangan
ksi WIB kiri sudah berkurang
Melakukan O : Injeksi cefotaxim 1 gram dan drip
injeksi metronidazole 500 mg masuk rute IV
cefotaxim dan A : Masalah resiko infeksi sebagian
drip teratasi
metronidazole P : Kelola pemberian cefotaxim 2x1 gram
dan drip metronidazole 3x500 mg

Nye Jum’at, 19/ 10 Jum’at, 19/ 10 / 2017


ri / 2017 Jam 10.10 WIB
akut Jam 10.05 S : Pasien mengatakan nyeri di daerah
WIB tangan kiri berkurang
Injeksi obat O : Ketorolac 30 mg + aquades 2cc
ketorolac masuk rute IV
A : Masalah nyeri akut sebagian teratasi
P : Kelola pemberian ketorolac 30 mg

Nye Jum’at, 19 / 10 Jum’at, 19/ 10 / 2017


ri / 2017 Jam 13.10 WIB
Aku Jam 13.00 S : Pasien mengatakan nyeri di tangan
t WIB kiri sudah berkurang
Melakukan O : Pasien terlihat tenang
pengkajian : VAS : 2
nyeri A : Masalah nyeri akut sebagian teratasi
9 P : Kelola pemberian ketorolac 30 mg

Resi Jum’at, 19 / 10 Jum’at, 19 / 10 / 2017


ko / 2017 Jam 09.10 WIB
Infe Jam 09.00 S : Pasien mengatakan tangan kirinya
ksi WIB terasa nyeri
Mengobservas O : Balutan terlihat kering dan bersih
i dan : Luka jahitan terlihat lembab, tidak
melakukan terlihat perdarahan dan nanah
perawatan : Terlihat 2 daerah jahitan, masing-
luka post masing ± 1cm
ORIF k wire : Jari-jari tangan kiri pasien terlihat
edem derajat 1
A : Masalah resiko infeksi sebagian
teratasi
P : Pasien BLPL

Resi PAGI Sabtu, 20/ 10 / 2017


ko Sabtu, 20/ 10 / Jam 08.40 WIB
Infe 2017 S : Pasien mengeluhkan nyeri di tangan
ksi Jam 08.30 kiri berkurang
WIB O : Tanda-tanda vital
Memonitor TD : 160/80 mmHg
tanda-tanda S : 36,4° C
vital RR : 21 x/menit
N : 84 x/menit
A : Masalah resiko infeksi sebagian
teratasi
P : Monitor tanda-tanda vital
: Batasi pengunjung

Gan Sabtu, 20 / 10 / Sabtu, 20 / 10 / 2017


ggu 2017 Jam 08.45 WIB
an Jam 08.40 S : Keluarga pasien mengatakan semalam
pola WIB pasien bisa tidur dengan nyenyak ±
tidu Melakukan selama 5 jam
r pengkajian : Pasien mengatakan semalam bisa
kecukupan tidur karena nyeri berkurang
tidur O : Pasien tampak semangat
A : Masalah gangguan pola tidur teratasi
P : Pasien BLPL
: Ciptakan suasana nyaman, kurangi
atau hilangkan distraksi lingkungan dan
gangguan tidur
: Batasi pengunjung selama periode
istirahat yang optimal

Nye Sabtu, 20 / 10 / Sabtu. 20 / 10 / 2017


ri 2017 Jam 10.10 WIB
akut Jam 10.00 S : Pasien mengatakan nyeri di daerah
WIB tangan kiri berkurang
Injeksi obat O : Ketorolac 30mg+aquades 2cc masuk
ketorolac per IV
A : Masalah nyeri akut sebagian teratasi
P : Pasien pulang
: Ajarkan pasien dan keluarga cara
mengurangi odem, cara menggunakan
tripod dan merawat luka post operasi

Resi Sabtu, 20 / 10 / Sabtu, 20 / 10 / 2017 Jam 10.05 WIB


ko 2017 Jam S : Pasien mengatakan nyeri di tangan
Infe 10.00 WIB kiri sudah berkurang
ksi Melakukan O : Injeksi cefotaxim 1 gram masuk rute
injeksi IV
cefotaxim dan A : Masalah resiko infeksi sebagian
aff infus teratasi
P : Pasien pulang

Ha Sabtu, 20 / 10 / Sabtu, 20 / 10 / 2017 Jam 13.20 WIB


mba 2017 Jam S : Keluarga pasien mengatakan akan
tan 13.00 WIB memastikan pasien tidak akan
mob Mengajarkan mengangkat beban berat dan
ilita pasien dan menggerakkan pergelangan tangan kiri
s keluarga cara O : Keluarga pasien terlihat mengangguk
fisik mengurangi mengerti
odem, cara : Pasien terlihat mobilisasi duduk,
menggunakan berdiri dan kemudian berjalan
tripod dan dengan menggunakan tripod
merawat luka A : Masalah hambatan mobilitas fisik
post operasi teratasi
(hindari dari P : Pasien pulang
air,
mengubah
posisi tangan
kiri, melarang
angkat berat,
melarang
menggerakka
n pergelangan
tangan kiri)

KESIMPULAN

Masalah keperawatan yang muncul pada pasien dengan Ny. P


dengan diagnosa medis fraktur tertutup radius ulna sinistra pre dan
post operasi orif k wire yang sudah dirawat di RSUD Kepahiang
selama 7 hari di Bangsal Bedah adalah :
1. Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh sekunder
tidak adekuat sebagian teratasi
2. Nyeri akut dengan kerusakan jaringan muskuloskeletal sebagian
teratasi
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik
: nyeri teratasi
4. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri dan terapi
pembatasan aktivitas teratasi
IX. Prosudur perawatan pada tindakan kolaboratif

A. Latar belakang

Dalam memberikan pengobatan kita sebagai perawat harus


mengingat dan memahami prin
sip enam benar (dulu lima benar) agar kita dapat terhindar dari
kesalahan dalam memberikan obat, prinsip enam benar tersebut akan
kita bahas dalam postingan kali ini, namun ada baiknya juga kita
mengetahui peran masing-masing profesi yang terkait dengan upaya
pengobatan tersebut.
Peran Dokter dalam Pengobatan Dokter bertanggung jawab
terhadap diagnosis dan terapi.
Apoteker bekerja sebagai konsultan spesialis untuk profesi
kedokteran, dan dapat memberi nasehat kepada staf keperawatan dan
profesi kesehatan lain mengenai semua aspek penggunaan obat, dan
memberi konsultasi kepada pasien tentang obatnya bila diminta.
Peran Perawat dalam Pemberian Obat Karena obat dapat
menyembuhkan atau merugikan pasien, maka pemberian obat menjadi
salah satu tugas perawat yang paling penting.
Rencana Keperawatan harus mencangkup rencana pemberian
obat, bergantung pada hasil pengkajian, pengetahuan tentang kerja dan
interaksi obat, efek samping, lama kerja, dan program dokter.

B. Rumusan masalah
1. Apa saja prinsip pemberian obat
2. Apa saja persiapan alat
3. Bagaimana persiapan pasien
4. Bagaimana prosedur pemberian obat

C. Tujuan
1. Memahami prinsip pemberian obat
2. Memahami apa saja persiapan alat
3. Memahami bagaimana persiapan pasien
4. Memahami prosedur pemberian obat

D. Prinsip pemberian obat


Pemberian obat yang aman dan akurat adalah tanggung jawab
penting bagi seorang perawat. pemberian obat oleh perawat sering
menggunakan konsep enam benar.
1. Benar Pasien
Sebelum obat diberikan, identitas pasien harus diperiksa
(papan identitas di tempat tidur, gelang identitas) atau
ditanyakan langsung kepada pasien atau keluarganya.
2. Benar Obat
Obat memiliki nama dagang dan nama generik.
3. Benar Dosis
Sebelum memberi obat, perawat harus memeriksa
dosisnya
4. Benar Cara/Rute
Obat dapat diberikan melalui sejumlah rute yang berbeda.
5. Benar Waktu
Ini sangat penting, khususnya bagi obat yang
efektivitasnya tergantung untuk mencapai atau mempertahankan
kadar darah yang memadai.
E. Persiapan Alat :
 Obat diletakkan dalam tempatnya- kereta dorong obat (botol,
tempat mangkuk khusus tempat obat)
 Air putih dalam gelas
 Tissue kering
 Kartu rencana pengobatan

G. Persiapan Klien :
o Fisik :
 Klien tidak dalam kondisi muntah-muntah dan atau tidak
sadar
 Klien dipersilakan duduk pada kursi yang telah disediakan
 Kaji kemampuan klien (kemampuan menelan)
o Psikologis :
 Klien diberitahu akan mendapat obat minum per oral
 Klien disiapkan agar tenang dan tidak perlu takut dan cemas

H. Prosedur Pemberian Obat

1. Pemberian Obat Melalui Oral


Pemberian obat melalui mulut dilakukan dengan tujuan
mencegah, mengobati, dan mengurangi rasa sakit sesuai dengan
efek terapi dari jenis obat.
a. Persiapan Alat dan Bahan :
 Daftar buku obat / catatan, jadwal pemberian obat.
 Obat dan tempatnya.
 Air minum dalam tempatnya.
b. Prosedur Kerja :
 Cuci tangan.
 Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan
dilakukan.
 Baca obat, dengan berprinsip tepat obat, tepat pasien, tepat
dosis, tepat waktu, dan tepat tempat.
 Bantu untuk meminumkannya dengan cara:
o Apabila memberikan obat berbentuk tablet atau kapsul dari botol,
maka tuangkan jumlah yang dibutuhkan ke dalam tutup botol dan
pindahkan ke tempat obat. Jangan sentuh obat dengan tangan.
Untuk obat berupa kapsul jangan dilepaskan pembungkusnya.
o Kaji kesulitan menelan. Bila ada, jadian tablet dalam bentuk bubuk
dan campur dengan minuman.
o Kaji denyut nadi dan tekanan darah sebelum pemberian obat yang
membutuhkan pengkajian.
o Catat perubahan dan reaksi terhadap pemberian. Evaluasi respons
terhadap obat dengan mencatat hasil pemberian obat.
o Cuci tangan.

2. Pemberian Obat Melalui Sublingual


Pemberian obat melalui sublingual merupakan rute
pemberian obat yang absorpsinya baik melalui jaringan, kapiler di
bawah lidah. Obat-obat ini mudah diberikan sendiri. Karena tidak
melalui lambung, sifat kelabilan dalam asam dan permeabilitas
usus tidak perlu dipikirkan.
a. Persiapan Alat dan Bahan :
 Daftar buku obat / catatan, jadwal pemberian obat.
 Obat yang sudah ditentukan dalam tempatnya.
b. Prosedur Kerja :
 Cuci tangan.
 Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
 Memberikan obat kepada pasien.
 Memberitahu pasien agar meletakkan obat pada bagian
bawah lidah, hingga terlarut seluruhnya.
 Menganjurkan pasien agar tetap menutup mulut, tidak minum
dan berbicara selama obat belum terlarut seluruhnya.
 Catat perubahan dan reaksi terhadap pemberian. Evaluasi
respons terhadap obat dengan mencatat hasil pemberian obat.
 Cuci tangan.

3. Secara intravena (IV)


Pemberian obat intravena adalah pemberian obat dengan
cara memasukkan obat kedalam pembuluh darah vena
menggunakan spuit.
Tujuan dan manfaat
1. Pemberian obat dengan cara intravena bertujuan untuk :
 Mendapat reaksi yang lebih cepat, sehingga sering
digunakan pada pasien yang sedaang gawat darurat .
 Menghindari kerusakan jaringan .
 Memasukkan obat dalam volume yang lebih besar
Tempat injeksi intravena :
 pada lengan (vena basilika dan vena sefalika).
 pada tungkai (vena safena)
 pada leher (vena jugularis)
 pada kepala (vena frontalis atau vena temporalis)

Persiapan peralatan untuk pemberian obat intravena


 Buku catatan pemberian obat
 Kapas alkohol
 Sarung tangan sekali pakai
 Obat yang sesuai
 Spuit 2-5ml dengan ukuran 21-25, panjang jarum 1,2
inci
 Bak spuit
 Baki obat
 Plester
 Kasa steril
 Bengkok
 Perlak pengalas
 Pembendung vena (torniket)
 Kasa steril
 Betadin

Prosedur Kerja:
 Cuci tangan.
 Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
 Bebaskan daerah yang disuntik dengan cara
membebaskan daerah yang akan dilakukan
 Penyuntikan dari pakaian dan apabila tertutup buka
atau ke ataskan.
 Ambil obat dalam tempatnya dengan spuit sesuai
dengan dosis yang akan diberikan.
 Apabilaobat berada dalam bentuk sediaan bubuk,
maka larutkan dengan pelarut (aquades steril).
 Pasang perlak atau pengalas di bawah vena yang akan
dilakukan penyuntikan.
Kemudian tempatkan obat yang telah diambil pada
bak injeksi.
 Desinfeksi dengan kapas alkohol.
 Lakukan pengikatan dengan karet pembendung
(torniquet) pada bagian atas daerah yang akan
dilakukan pemberian obat atau tegangkan dengan
tangan/minta bantuan atau membendung di atas vena
yang akan dilakukan penyuntikan.
 Ambil spuit yang berisi obat.
 Lakukan penusukkan dengan lubang menghadap ke
atas dengan memasukkan ke pembuluh darah dengan
sudut penyuntikan 150 - 300
 Lakukan aspirasi bila sudah ada darah lepaskan karet
pembendung dan langsung semprotkan obat hingga
habis.
 Setelah selesai ambil spuit dengan menarik dan
lakukan penekanan pada daerah penusukkan dengan
kapas alkohol, dan spuit yang telah digunakan
letakkan ke dalam bengkok.
 Cuci tangan dan catat hasil pemberian obat/ test obat,
tanggal waktu dan jenis obat serta reaksinya setelah
penyuntikan (jika ada).
4. Secara intracutan (IC)
Intrakutan Merupakan cara memberikan atau memasukkan
obat ke dalam jaringan kulit. Intra kutan biasanya di gunakan
untuk mengetahui sensivitas tubuh terhadap obat yang
disuntikkan. Hal tersebut bertujuan untuk melakukan skintest
atau tes terhadap reaksi alergi jenis obat yang akan digunakan.
Pemberian obat melalui jaringan intra kutan ini dilakukan di
bawah dermis atau epidermis, secara umum dilakukan pada
daerah lengan tangan bagian ventral. Hal tersebut bisa
dilkakukan pada pasien yang tidak sadar, tidak mau bekerja
sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara
oral, tidak alergi.

Letak pemberian intrakutan yaitu:


1. Dilengan atas, yaitu tiga jari di bawah sendi bahu tepat di
tengah daerah muskulus deltoideus.
2. Dilengan bawah, yaitu bagian depan lengan bawah 1/3 dari
lekukan siku atau 2/3 dari pergelangan tangan pada kulit
yang sehat, jauh dari peredaran darah.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemberikan obat
melalui jaringan intrakutan yaitu:
 Tempat injeksi
 Jenis spuit dan jarum yang digunakan
 Infeksi yang mungkin terjadi selama infeksi
 Kondisi atau penyakit klien
 Pasien yang benar
 Obat yang benar
 Dosis yang benar
 Cara atau rute pemberian obat yang benar
 Waktu yang benar

Alat dan Bahan Dalam Pemberian Obat melalui Jaringan


Intrakutan
a) Daftar buku obat/catatan, jadwal pemberian obat.
b) Obat dalam tempatnya
c) Spuit 1 cc/spuit insulin
d) Cairan pelarut
e) Bak steril dilapisi kas steril (tempat spuit)
f) Bengkok
g) Perlak dan alasnya.
Prinsip Dalam Pemberian Obat Melalui Jaringan Intrakutan
a) Sebelum memberikan obat perawat harus mengetahui
diagnosa medis pasien, indikasi pemberian obat, dan efek
samping obat, dengan prinsip 10 benar yaitu benar pasien,
benar obat, benar dosis, benar waktu pemberian, benar
cara pemberian, benar pemberian keterangan tentang obat
pasien, benar tentang riwayat pemakaian obat oleh pasien,
benar tentang riwayat alergi obat pada pasien,
benar tentang reaksi pemberian beberapa obat yang
berlainan bila diberikan bersama-sama, dan benar
dokumentasi pemakaian obat.
b) Untuk mantoux tes (pemberian PPD) diberikan 0,1 cc
dibaca setelah 2-3 kali 24 jam dari saat penyuntikan obat.
c) Setelah dilakukan penyuntikan tidak dilakukan
desinfektan.
d) Perawat harus memastikan bahwa pasien mendapatkan
obatnya, bila ada penolakan pada suatu jenis obat, maka
perawat dapat mengkaji penyebab penolakan, dan dapat
mengkolaborasi- kannya dengan dokter yang menangani
pasien, bila pasien atau keluarga tetap menolak
pengobatan setelah pemberian inform consent, maka
pasien maupun keluarga yang bertanggung jawab
menandatangani surat penolakan untuk pembuktian
penolakan therapi.
e) Injeksi intrakutan yang dilakukan untuk melakukan tes
pada jenis antibiotik, dilakukan dengan cara melarutkan
antibiotik sesuai ketentuannya, lalu mengambil 0,1 cc
dalam spuit dan menambahkan aquabidest 0,9cc dalam
spuit, yang disuntikkan pada pasien hanya 0,1cc.
f) Injeksi yang dilakukan untuk melakukan test mantoux,
PPD diambil 0,1 cc dalam spuit, untuk langsung
disuntikan pada pasien
Prosedur Kerja Dalam Pemberian Obat Melalui Jaringan
Intrakutan
a) Cuci tangan
b) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan pada pasien
c) Bebaskan daerah yang akan disuntik, bila menggunakan
baju
lengan panjang terbuka dan keatasan
d) Pasang perlak/pengalas di bawah bagian yang akan
disuntik
e) Ambil obat untuk tes alergi kemudian larutkan/encerkan
dengan
aquades. Kemudian ambil 0,5 cc dan encerkan lagi
sampai
kurang lebih 1 cc dan siapkan pada bak injeksi atau steril.
f) Desinfeksi dengan kapas alcohol pada daerah yang akan
dilakukan suntikan.
g) Tegangkan dengan tangan kiri daerah yang akan disuntik.
h) Lakukan penusukan dengan lubang jarum suntik
menghadap ke
atas dengan sudut 15-20 derajat di permukaan kulit.
i) Suntikkkan sampai terjadi gelembung.
j) Tarik spuit dan tidak boleh dilakukan masase.
k) Cuci tangan dan catat hasil pemberian obat/tes obat,
waktu,
tanggal dan jenis obat.

5. Secara Intra Muskular (IM)

Pengertian Pemberian Obat Secara Intramuskular.


Pemberian obat secara intra muskuler adalah Pemberian
obat / cairan dengan cara dimasukkan langsung ke dalam otot
(muskulus). Indikasi pemberian obat secara intramuscular biasa
dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja
sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara
oral,bebas dari infeksi,lesi kulit,jaringan parut,tonjolan
tulang,otot atau saraf besar dibawahnya.
Daerah Penyuntikan Dalam Pemberian Obat Intramuskular.
1) Pada daerah paha (vastus lateralis) dengan cara anjurkan
pasien untuk berbaring telentang dengan lutut sedikit fieksi.
2) Pada ventrogluteal dengan cara anjurkan pasien untuk
miring, tengkurap atau telentang dengan lutut dan pinggul
pada sisi yang akan dilakukan penyuntikan dalam keadaan
fieksi.
3) Pada daerah dorsogluteal dengan cara anjurkan pasien untuk
tengkurap dengan lutut di putar ke arah dalam atau miring
dengan lutut bagian atas dan pinggul fieksi dan diletakkan
di depan tiungkai bawah.
4) Pada daerah deltoid (lengan atas) dengan cara anjurkan
pasien untuk duduk atau bcrbaring mendatar lengan atas
fieksi.

Persiapan Alat dan Bahan Dalam Pemberian Obat Secara


Intramuskular.
1) Daftar buku obat/catatan dan jadwal pemberian obat.
2) Obat yang dibutuhkan (obat dalam tempatnya).
3) Spuit dan jarum suntik sesuai dengan ukuran.Untuk orang
dewasa
panjangnya 2,5-3 cm,untuk anak-anak panjangnya 1,25-2,5
cm.
4) Kapas alcohol dalam tempatnya.
5) Cairan pelarut/aquadest steril.
6) Bak instrument/bak injeksi.
7) Gergaji ampul.
8) Bengkok.
9) Handscoon 1 pasang.

Prosedur Kerja Pemberian Obat Secara Intramuscular Secara


Umum.
1) Mencuci tangan.
2) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3) Ambil obat dan masukkan kedalam spuit sesuai dengan
dosisnya.Setelah itu letakkan dalam bak injeksi.
4) Periksa tempat yang akan dilakukan penyuntikan
(perhatikan lokasi penyuntikan).
5) Desinfeksi dengan kapas alcohol pada tempat yang akan
dilakukan injeksi.
6) Lakukan penyuntikan :
 Pada daerah paha (vastus lateralis) dengan
cara,anjurkan pasien untuk berbaring terlentang
dengan lutut sedikit fleksi.
 Pada ventrogluteal engan cara,anjurkan pasien untuk
miring,tengkurap atau terlentang dengan lutut dan
pinggul pada sisi yang akan dilakukan penyuntikan
dalam keadaan fleksi.
 Pada daerah dorsogluteal dengan cara anjurkan pasien
untuk tengkurap dengan lutut di putar kearah dalam
atau miring dengan lutut bagian atas dan pinggul
fleksi dan diltakkan didepan tungkai bawah.
 Pada daerah deltoid (lengan atas) dengan cara
anjurkan pasien untuk duduk atau berbaring mendatar
lengan atas fleksi.
7) Lakukan penusukan dengan posisi jarum tegak lurus.
8) Setelah jarum masuk,lakukan aspirasi spuit,bila tidak ada
darah yang tertarik dalam spuit,maka tekanlah spuit
hingga obat masuk secara perlahan-lahan hingga habis.
9) Setelah selesai,tarik spuit dan tekan sambil di masase
penyuntikan dengan kapas alcohol,kemudian spuit yang
telah digunakan letakkan dalam bengkok.
10) Catat reaksi pemberian,jumlah dosis,dan waktu
pemberian.
11) Cuci tangan.

6. Secara subcutan (SC)


Pemberian obat dengan cara subcutan adalah memasukkan
obat kedalam bagian bawah kulit.Tempat yang dianjurkan untuk
suntikan ini adalah lengan bagian atas,kaki bagian atas,dan
daerah disekitar pusar.
Tujuan
Pemberian obat subcutan bertujuan untuk memasukkan
sejumlah toksin atau obat pada jaringan subcuta di bawah kulit
untuk di absorbsi .
Persiapan peralatan pemberian obat subcutan
- Buku catatan pemberian obat
- Kapas alkohol
- Sarung tangan sekali pakai
- Obat yang sesuai
- Spuit 2 ml dengan ukuran 25, panjang jarum 5/8 sampai ½
inci
- Bak spuit
- Baki obat
- Plester
- Kasa steril
- Bengkok

7. Pemberian Obat Pada Kulit


Memberikan obat pada kulit merupakan pemberian obat dengan
mengoleskannya dikulit yang bertujuan mempertahankan
hidrasi, melindungi permukaan kulit, mengurangi iritasi kulit
atau mengatasi infeksi. Jenis obat kulit yang diberikan dapat
bermacam-macam seperti krim, losion, aerosol dan spray.
Persiapan alat dan bahan:
a) Obat dalam tempatnya (seperti krim, losion, aerosol dan
sray).
b) Pinset anatomis.
c) Kain kasa.
d) Kertas tisu.
e) Balutan.
f) Pengalas.
g) Air sabun, air hangat.
h) Sarung tangan.

8. Pemberian obat melalui rectum/anus


Memberikan obat melalui rectum merupakan pemberian obat
dengan memasukan obat melalui anus dan kemudian raktum,
dengan tujuan memberikan efek local dan sistemik. Tindakan
pengobatan ini disebut pemberian obat Supositotia yang
bertujuan untuk mendapatkan efek terapi obat, menjadikan
lunak pada daerah fases, dan merangsang buang air besar.
Pemberian obat yang memiliki efek lokal, seperti Dulcolac
Supositoria, berfungsi untuk meningkatkan defekasi secara
lokal. Pemberian obat dengan efek sistemik, seperti obat
Aminofilin Supositoria, berfungsi mendilatasi Bronkhus.
Pemberian obat Supositoria ini diberikan tepat pada dinding
Rektal yang melewati sphincter ani interna. Konta indikasi pada
pasien yang mengalami pembedahan rectal.
Persiapan alat dan bahan:
1) Obat Supositoria dalam tempatnya.
2) Sarung tangan.
3) Kain kasa.
4) Vaseline/pelican/pelumas.
5) Kertas tisu.
Prosedur kerja:
1) Cuci tangan.
2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan
dilakukan.
3) Gunakan satung tangan.
4) Buka pembungkus obat dan pegang dengan kain kasa.
5) Oleskan pelicin pada ujung oabat Supositoria.
6) Regangkan glutea dengan tangan kiri. Kemudian masukan
Supositiria secara berlahan melalui anus, Sphincher ana
interna, serta mengenai dinding rectal ± 10 cm pada orang
dewasa, 5 cm pada bayi atau anak.
7) Setelah selesai, tarik jari tangan dan bersihkan daerah
sekitar anal dengan tisu.
8) Anjurkan pasien untuk tetap berbaring telentang atau miring
selama ± 45 menit.
9) Setelah selesai, lepaskan sarung tangan kedalam bengkok
10) Cuci tangan.
11) Catat obat, jumblah dosis, dan cara pemberian.

9. Pemberian Secara Sublingual


Obat dapat diberikan pada pasien secara sublingual yaitu dengan
cara meletakkan obat di bawah lidah.
Obat yang sering diberikan dengan cara ini adalah nitrogliserin
yaitu obat vasodilator yang mempunyai efek vasodilatasi
pembuluh darah. Obat ini banyak diberikan pada pada pasien
yang mengalami nyeri dada akibat angina pectoris. Dengan cara
sublingual, obat bereaksi dalam satu menit dan pasien dapat
merasakan efeknya dalam waktu tiga menit (Rodman dan Smith,
1979).

Kesimpulan
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, jelaslah bahwa pemberian obat
pada klien merupakan fungsi dasar keperawatan yang membutuhkan
keterampilan teknik dan pertimbangan terhadap perkembangan klien.
Perawat yang memberikan obat-obatan pada klien diharapkan mempunyai
pengetahuan dasar mengenai obat dan prinsip-prinsip dalam pemberian
obat. Selain itu juga, perawat juga harus mengetahui enam hal yang benar
dalam pemberian obat kepada pasien. Karena hal itu berperan penting
dalam kesuksesan perawat dalam pemberian obat.
Mengetahui reaksi dan kerja obat dalam tubuh juga penting, selain
sebagai pelaksana perawat juga mampu mempertimbangkan resep dan
dosis yang diberikan oleh dokter kepada pasien. Perawat sebagai pelaksana
dalam pemberian obat juga ditungtut memiliki keterampilan-keterampilan
khusus dibidang hal tersebut.
Saran
Setelah mengikuti matakuliah ini diharapkan para mahasiswa
mampu mengetahui atau memprediksi kemampuan dasar yang harus dia
miliki ketika praktek dilapangan. Dengan demikian setiap mahasiswa
mampu berusaha untuk memahami dan mampu menguasai materi tersebut
baik teori maupun prakteknya.