Anda di halaman 1dari 17

NAMA : RIZAL FAUZI

KELAS : IX.4
MATA PELAJARAN : Bahasa Indonesia
TEMA : “Kisah Hidup si Udin”

“Ayah disekolah tadi pak guru bercerita,” kata udin sambil meletakkan rantang berisi
nasi serta lauk pauknya dan sebuah kendi berisi air ke pematang sawah.
“cerita apa udin?” Tanya pak kerta.
“cerita tentang sebuah mesin untuk membajak tanah.”
“bagaimana ceritanya?”
“di desa lain kata pak guru, sudah banyak orang yang mempunyai traktor untuk
membajak sawah.”
Udin dan ayahnya duduk di pematang. Pak karta mulai makan, sedangkan udin hanya
menunggu saja karena sudah makan dirumah tadi. Udin melanjutkan ceritanya
“ada traktor besar, menarik sebuah piring besar yang terbuat dari besi. Piring itu dapat
berputar menggali dan membalik tanah. Bekerja seperti bajak, tetapi lebih cepat dan
lebih ringan kerjanya daripada bajak yang ditarik lembu.”
“ya”, sambung pak karta. “itu kan milik perusahaan-perusahaan besar”.
“ada juga traktor yang kecil, ayar, namanya hand traktor.”
“apa artinya hand traktor?”
“hand artinya tangan. Jadi hand traktor berarti sebuah traktor yang dikemudikan
dnegan tangan seperti orang naik sepeda motor. Cara mengemudinya seperti
membajak sawah dengan menggunkan lembu. Orangnya jalan kaki di belakang
traktor kecil itu”.
“bagaimana bentuknya?”
“bentuknya seperti traktor besar, tetapi rodanya kecil-kecil. Hand traktor bisa
diangkat oleh dua orang jika ingin naik ke tebing yang agak curam”
“bagaimana cara kerjanya?”
“cara kerjanya traktor kecil itu berjalan pelan-pelan sebagai lembunya, dan orang
yang membajak mengikuti dari belakang dengan berjalan mengatur bajak yang ditarik
traktor itu, ayah.”
Pak karta mengunyah makanan sambil memandang jauh ke depan, lalu
berkata,”wah .. bagus betul, aku belum pernah melihatnya. Jika panen tahun ini
berhasil, ayah ingin membelinya.”
Pak karta terus saja makan dengan lahapnya. Udin diam sejenak. Ia ingin
menceritakan cerita pak guru di sekolah pagi tadi. Di ingat-ingatnya cerita pak guru
itu. Kemudian ia berkata”ayah, pernahkah ayah melihat pesawat udara yang
digunakan untuk menyemprot hama di sawah?”
“he? Apa ada?” Tanya pak karta keheranan.
“ada, ayah, pak guru tadi bercerita. Sekarang sudah ada pesawat udara berbentuk
kecil yang digunakan untuk menyemprot hama di sawah. Di suatu daerah, dekat
pegunungan telah di bangun lapangan yang cukup luas untuk pesawat-pesawat udara
itu.”
“berapa besar pesawat udara itu?”
“tidak seberapa,”kata pak guru”. Kira-kira sebesar colt tetapi agak panjang. Hanya
dapat memuat sepuluh orang, biasanya berisi dua atau tiga orang saja.”
“dimana ada?” Tanya pak karta.
“pokoknya ada, ayah, pak guru tadi bercerita dalam liburan yang akan datang anak-
anak kelas tiga akan diajak bertamsya ke sana. Kalau tidak salah di desa kendeng
lembu.”
“udin, bolehkah ayah ikut melihat kesana?”
“entah ayah, kemungkinan boleh. Dalam liburan saya minta sangu yang banyak, ya
ayah buat membayar ongkos naik pesawat itu.”
“nak? Naik pesawat udara apa boleh?”
“boleh ayah asalkan membayar lima ratus ribu rupiah boleh ikut terbang ke angkasa,
berkeliling selama satu jam.”
“apakah ayah boleh juga ikut naik pesawat terbang itu?”
“mungkin boleh ayah.”
“tidak dimarahi gurumu jika ayah ikut naik pesawat terbang itu?”
“mungkin boleh ayah.”
“tidak dimarahi gurumu jika ayah ikut kesana?”
“akan ku tanyakan dulu kepada pak guru. Mungkin boleh, pak guru berkata bahwa
kita boleh ikut menikmati keindahan pemandangan alam dari angkasa. Dan kita boleh
ikut menikmati bahwa kita mempunyai pesawat udara.”
Pak karta telah selesai makan. Diraihnya kendi kemudian di teguknya berkali-kali air
segar yang ada dalam kendi itu sampai puas. Keringatnya mengalir seperti jalur-jalur
keringat dari dahi sampai ke pipi.
Selesae minum dihapusnya keringat itu. Lalu dikibas-kibaskannya kaos yang di
badannya untuk menghapus keringat. Sementara itu udin melanjutkan ceritanya.
“ayah kalau saya berada di kapal udara, pak guru menyuruh melihat kebawah.
Katanya rumah-rumah akan Nampak kecil sebesar korek api. Sungai-sungai akan
kelihatan seperti ular hijau. Alangkah indahnya ya ayah?”
“kapan liburan?” sela pak karta
“kurang dua minggu lagi ayah.”
“kira-kira kau bisa naik kelas?”
“pasti naik ayah! nilaiku bagus-bagus!”
“tidak pernah dapat empat?”
“tidak, bahkan dalam beberapa hari ini nilai matematika ku selalu sepuluh.”
“bagus-bagus, tapi ku dengar dari orang bahwa anak sekolah zaman sekarang tidak
pandai seperti zaman ayah dulu.”
“apa betul ayah?” tukas udin.
“betul! Dahulu ketika ayah dikelas dua saja sudah hafal perkalian sampai sepuluh.
Kalau disuruh menghafalkannya di depan kelas harus dengan lancar.”
“hafal perkalian?” kata udin. Tetapi sebelum ia melanjutkan pertanyaannya, telah
dipotong oleh ayahnya.
“hafal! Kelas dua saja sudah hafal. Lain dengan anak sekarang! Coba, sekarang kau
ku Tanya. Berapa tujuh dikali delapan?”
Udin berfikir-fikir sebentar, menghitung perkalian tujuh dengan delapan. Belum lagi
udin menjawab, ayahnya sendiri mencela …!
“huh ! lama betul kamu berfikir! Kalau guru zaman dulu melihat anak terlalu lama
berfikir, segera saya di cambuk!”
“lima puluh enam ayah!”
“terlalu lama jawabmu! Masak kelas tiga belum hafal perkalian tujuh!”
Udin diam sejenak. Ayahnya mengibas-ngibaskan topinya untuk menghalau udara
panas. Tak lama kemudian udin berkata” oh ya ayah, saya ingat kata-kata pak guru.”
“ya? Ingat apa?”
“pak guru pernah berkata bahwa anak-anak sekarang tidak boleh belajar dengan cara
menghafal perkalian.”
“he kenapa? Kan bodoh semua nantinya?”
“tidak ayah, yang penting memahami bagaimana cara menghitungnya. Anak-anak
tidak boleh menghafal bahwa tujuh kali delapan sama dengan lima puluh enam,
tetapibagaimana cara menghitung perkalian itu dan mengapa bisa mendapatkan hasil
dari lima puluh enam.”
“ya, jadi bagaimana cara menghitungnya?”
“cara menghitungnya bermacam-macam ayah, ada yang menggunakan penjumlahan
berulang, yaitu mencari jumlah dari 7+7+7+7 sampai sebanyak 8 suku. Ada juga yang
menggunakan penyilangan himpunan, dan bisa dengan cara menggabungkan 7 buah
himpunan yang masing-masing terdiri dari 8 anggota, atau boleh juga dengan
menggunakan cara stempel.”
“apa, dengan cara stempel? Bagaimana cara itu?” Tanya pak karta heran.
Udin pun segera menjawab dengan bersemangat. “caranya kita ambil delapan batang
ruji dari bamboo, lalu celupkan semua ujung ruji ke dalam tinta, lalu kita stempelkan
ke buku tujuh kali. Maka tergambarlah titi-titik pada buku, kemudian kita hitung
banyaknya titik-titik itu.”
“ah lama betul cara semacam itu. Tapi, kamu harus rajin menghafal perkalian. Kalau
tidak hafal, kau akan terlalu lama mengerjakan matematika.”
“ya ayah, pak guru pun berkata begitu. Tetapi soal hafal kata pak guru lama-lama
akan dapat hafal sendiri. Yang penting, otak ini harus berfikir bagaimana hasil
perkalian itu di dapat. Sehingga kita tahu dari mana asal 56 yang diperoleh sebagai
hasil kali dari tujuh dengan delapan itu. Jadi, tidak hanya menghafal saja ayah, tetapi
cara menghitungnya.”
Pak karta terdiam mendengar jawaban anaknya. Rupanya masuk akal juga, jadi
bukan hanya menghafal saja tetapi tahu cara mngerjakan soalnya. Mengerti dari mana
hasil perkalian itu di dapat.
Menjelang sore udin baru pulang kerumah. Ayahnya tidak pulang bersamanya
karena masih harus mengusahakan air untuk ladangnya yang terlampau kering akibat
kemarau panjang.
Dengan berjalan diatas pematang, udin setengah lari ke rumah. Angin bertiup
menghalau udara panas kea rah utara, dan menggantikannya dengan udara sejuk
menjelang petang. Sejenak pak karta menoleh ke arah udin yang telah sayup-sayup
dan samar ditelan kabut petang nampak dari kejauhan, kemudian ia melanjutkan
pekerjaannya.
Suatu malam …
Lampu-lampu minyak menyala menerangi rumah-rumah di pedesaan. Suara puji-
pujian kepada Tuhan dari anak-anak yang berada di langgar telah ada. Suasana jadi
hening, tinggalah suara koor dari para makmum yang sedang mengaji bacaan al-
fatihah dari pak kyai.
Turun dari langgar udin berlari pulang. Sesampainya dirumah ia segera belajar,
dikerjakannya PR dari sekolah pagi itu. Setelah selesae mengerjakan PR ia segera
melihat rooster atau jadwal pelajaran yang akan diberikan oleh pak guru pada hari
berikutnya.
IPS, matematika dan kesenian. Kemudian ia ingat pesan pak guru, bahwa
pelajaran IPS yang akan diterangkan pada hari berikutnya perlu dibaca terlebih
dahulu oleh anak-anak dirumah, agar dengan mudah dapat dimengerti apa-apa yang
akan diterangkan nanti. Maka dengan suara keras terdengar udin mulai membaca.
Nampak seorang bercampur bangga pak karta mendengar suara udin sudah
pandai membaca. Ia Nampak duduk dengan tenang di beranda rumah sambil merdidi
dan sebentar-sebentar menengguk secangkir kopi di dekatnya.
Setelah selesai udin membaca, pak karta diam-diam mendekatinya. Udin
menoleh kemudian terdengar ayahnya berkata,” kau kelas tiga, ilmu bumi sampai
mana?”
“ilmu bumi?” kata udin. Lalu ia teringat bahwa pak guru penah menerangkan bahwa
pelajaran IPS yang baru dibaca itu adalah gabungan dari ilmu bumi, sejarah dan
pengetahuan-pengetahuan lain. Maka ia segera menjawab “sekarang ilmu bumi tidak
ada ayah.”
“tidak ada? Mengapa tidak ada?” Tanya pak karta keheranan.
“sekarang yang ada pelajaran IPS.”
“apa? Ips? Apa itu ips?”
“ips ialah ilmu pengetahuan social.”
“apa isinya?”
“macam-macam ayah, ada sejarah dan ilmu bumi dan pengetahuan lain yang
penting.”
Pak karta belum puas dengan jawaban udin itu. Kemudian ia berkata, “dulu
sewaktu ayah sekolah, untuk pelajaran ilmu bumi sudah hafal tentang seluruh
Indonesia. Indonesia diapit oleh dua benua besar yaitu benua asia dan benua
Australia. Tetapi anak-anak sekarang kudengar dari orang itu semua tidak tahu.”
“O ya ayah, ku ingat pak guru pernah menerangkan bahwa pada pokoknya anak
sekolah sekarang tidak perlu menghafal nama-nama yang kurang berguna untuk
kebutuhann hidup. Apa gunanya dihafal? Hanya menghabiskan tenaga dan fikiran
saja. Yangn penting, bagaimana cara manusia memanfaatkan kekayaan alam yang ada
di sekitarnya. Tentang nama-nama kota, misalnya tidak perlu dihafal, cukup diketahui
saja. Perkara dihafal apabila ada hubungannya dengan hidup akan hafal sendiri nanti.
Dan yang penting lagi, IPS mempelajari bagaimana caranya agar manusia dapat
hidup senang dan bahagia.”
Sekali lagi pak karta terdiam mendengar jawaban dan keterangan anaknya itu.
Dalam hatinya ia menyadari bahwa apa perlunya ia dulu mempelajari benua-benua
luar negeri? Sedangkan dalam kehidupan nyata yang harus dihadapinya sekarang, ia
harus bergulat dengan tanah. Setiap hari hanyalah memikirkan bagaimana cara
mengelola tanah tersebut.
Ia teringat pula pada anaknya yang sulung, si amat yang sekarang sudah duduk
dikelas enam. Si amat pernah membaca bukunya dengan keras tentang panca usaha
tani. Ia tertarik akan bacaan itu, maka dengan diam-diam ia ikut mempelajari buku si
amat. Sehingga ia tahu bahwa apa yang dimaksut dengan panca usaha tani adalah :
1. Pegolahan tanah harus dilakukan dengan sebaik-baiknya
2. Pemilihan bibit unggulan akan menghasilkan panen yang lebih baik
3. Pengairan sawah harus diatur dengan tertib karena masalah air cukup gawat
4. Pemupukan harus dilakukan secara tepat menurut petunjuk dinas pertanian
5. Pemberantasan hama harus dilakukan secara maksimal dan tepat waktunya,
agar tidak memberi kesempatan bagi hama untuk berkembang biak.
Itu hanya sebagian saja diantara pelajaran lain yang sangat banyak menfaatnya.
Sungguh besar manfaatnya. Sehingga apabila si amat sudah tidak belajar ia pasti
sudah dapat membantu mengerjakan sawah dengan terampil dan baik. Tiba-tiba
lamunan pak karta terhenti karena mendengar udin berkata,”ayah kak amat sebentar
lagi akan tamat belajar. Kemarin ia berkata kepadaku, bahwa ia akan melanjutkan
sekolah ke kota.”
“O ya, ke SMP?” Tanya pak karta.
“ya ke SMP ayah, dan saya juga kelak ingin ke SMP.”
“boleh.” Jawab pak karta.
Udin mengatur buku yang akan dibawa ke sekolah ke esokan harinya. Setelah ia
mengajak ayahnya pergi tidur. Seperti biasanya, sebelum tidur udin selalu bercerita
tentang macam-macam pengalamannya di siang hari.
Diluar rumah terdengar suara angin bertiup kencang menerjang pohon-pohon
hingga gemertak suaranya. Sementara itu udin bercerita tentang pelajaran yang
menarik dari pak guru.
“ayah, kata pak guru di desa kita akan menjadi kota jika saya atau anak-anak lainnya
dapat menemukan sesuatu yang baru.”
“ha?” pak karta tertegun heran. “menemukan sesuatu yang baru? Menemukan apa
itu? Desa ini akan menjadi kota? Kapan?”
Udin segera bercerita dengan fantasi …
“desa ini akan menjadi kota jika saya menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang
baru itu adalah PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK yang baru, yang sekarang belum
ada.”
“bagaimana pembangkit tenaga listrik itu? ayah belum mengerti.”
“pembangkit tenaga listrik itu dibuat orang dari roda yang berputar. Ada mesinnya.
Mesin itu dapat menimbulkan aliran listrik, jika roda tadi berputar. Agar roda dapat
berputar perlu tenaga yaitu tenaga yang dapat menggerakkan roda.
Pembangkit listrik yang sudah ada sekarang ialah PLTA artinya = pembangkit
listrik tenaga air. Jadi tenaga air terjun yang dapat menggerakkan roda pembangkit
listrik. Ada pula PLTU, yaitu pembangkit listrik tenaga uap. Ada lagi PLTD yaitu
pembangkit listrik tenaga disel. PLTB yaitu pembangkit listrik tenaga batu bara.
PLTG yaitu pembangkit listrik tenaga gelombang laut. Pembangkit listrik yang lain
yang setiap hari dapat kita lihat ialah accu dan baterai. Dan yang paling modern
sekarang adalah PLTN yaitu pembangkit listrik tenaga nuklir.”
Badan udin diguncang-guncangkan ayahnya karena ayahnya sangat bahagia
mendengar cerita udin yang menunjukkan kecerdasan itu. Kemudian pak karta
bertanya,
“kau masih kelas tiga. Apakah sudah diberi pelajaran itu?”
“belum ayah, tetapi tadi pagi pak guru hanya bercerita. Aku mencatat dengan diam-
diam apa yang ditulis di papan tulis. Kata pak guru, hal itu tadi akan ku pelajari nanti
dikelas yang lebih tinggi.”
“tidak begitu ayah. Besok jika saya menemukan pembangkit listrik yang baru saya
akan mendapat hadiah yang besar. Pak guru bercerita, bukan hanya penemuan
pembangkit listrik saja, tetapi segala hal yang baru yang sekarang belum ada. Jika
saya menemukan sesuatu yang baru, entah menemukan apa itu, lebih-lebih jika
penemuan saya yang baru itu berguna untuk kesejahteraan hidup orang banyak. Maka
disamping saya mendapat hadiah besar, desa kita akan dibangun oleh pemerintah
menjadi sebuah kota yang indah.”
Pak karta berusaha membayangkan bagaimana cerita anaknya itu dalam
kenyataan. Namun tak sempat bayangan abstrak itu nampak menjadi kenyataan
karena udin terus bercerita dan pak karta ingin mendengarkannya.
“pak guru tadi pagi mengatakan, betapa susahnya menjadi guru di desa ini karena
pada musim hujan, untuk mencapai sekolah harus bergulat dengan lumpur dijalan.
Lumpur dijalan cukup licin. Payah sekali katanya waktu musim kemarau sangat
kering dan debu selalu berhamburan terbawa angin.
Maka jika dintara anak-anak ada yang behasil menemukan sesuatu yang baru,
desa ini akan dibangun, jalan-jalan desa akan diaspal sehingga dimusim hujan tidak
akan ada lumpur. Jika malam lampu-lampu akan terang benderang dari rumah-rumah
akan dipasangi listrik semua. Anak-anak akan lebih giat belajar di waktu malam
karena sudah tidak menggunkan lampu minyak lagi.”
“ya ayah juga sangat senang.” Sela pak karta.
“ayah akan dapat membeli hand traktor dan dapat mengerjakan sawah dengan baik.
Menimba air sudah tidak susah lagi karena ayah akan membeli pompa air. Hasil
panen akan diangkut dengan truk sehingga ayah tidak usah memikul pulang balik dari
sawah ke rumah. Tetapi … apakah itu semua tidak hanya mimpi saja?”
“tidak ayah, kata pak guru asalkan anak-anak sekolah terus kelak akan pandai
dan dapat membangun desanya menjadi kota. Karena itu ayah setelah saya tamat SD
saya akan ke SMP. Kemudian ke SMA, lalu ke yang lebih tinggi lagi kemudian ke
paling yang lebih tinggi …”
“kalau begitu setiap hari kau harus terus lebih belajar nak.” Kata pak karta untuk
mengakhiri cerita anaknya karena malam sudah semakin larut bagi umur anak-anak.
Udin berusaha memutar-mutar daya ingatnya untuk menceritakan lagi cerita-
cerita dari pak guru. Ia ingin lebih banyak bercerita tentang kemajuan zaman
sekarang yang belum dirasakan di desanya. Namun tiba-tiba ayahnya
berkata,”sekarang sudah malam udin, lekaslah kau tidur agar tidak kesiangan bangun
besok pagi.”
Beberapa menit kemudian udin tenggelam dalam pelukan ayahnya dan terdengar
nafasnya mulai teratur, suatu tanta sudah tidur dengan puasnya.
Pak karta bangkit berdiri, kemudian duduk kembali di beranda rumah.
Termenung untuk membiarkan lamunannya ke masa depan. Setelah jalan fikirannya
menghitung-hitung biaya sawah dan lading maka kembali ingatannya memikirkan
anak-anaknya yang ingin melanjutkan sekolah.
Berapa biaya sekolah di kota? Dapatkah ia membiayai si amat anaknya yang
sulung ke SMP? Apa hasil panennya nanti mencukupi? Dan masih banyak lagi
pertanyaan dalam benaknya yang berjubel seperti tembakau dalam slepinya,
lamunannya berjalan terus.
Dicabutnya tembakau dalam slepi itu. Digulungnya dengan selembar klobot
pembungkus jagung muda yang manis. Kemudian di sulutnya, di hisap lalu tampak
asap menghambur dari hidungnya , lamunannya berjalan terus.
Menurut perhitungan tahun lalu, hasil panennya hanya cukup untuk dimakan.
Seaindainya terpaksa tahun ini tak dapat melanjutkan sekolah anaknya ke SMP apa
yang harus ia katakana kepada si amat? Apakah si amat dapat menerima alasan
dengan keikhlasan hati? Pak karta termenung sampai larut malam.
Dipagi harinya dengan menumpang bus, pak karta istrinya dan ketiga anaknya
sampai dikota. Turun dari bus, mereka disambut oleh tukang-tukang beca yang ingin
menghantarkan mereka ke tempat tujuan. Namun pak karta menolak tawaran tukang
becak itu. Ia bermaksut untuk istirahat dulu sambil makan-makan disebuah depot. Ia
ingin mengajak istri dan anak-anaknya makan dan minum disana.
Istrinya menolak karena telah mendengar dari cerita orang bahwa makanan dan
minuman yang dijual di depot sangat mahal harganya. Namun pak karta berkeras hati
demi menyenangkan anak-anaknya. Akhirnya istrinya pun menurut dari pada
berdebat didengar orang.
Anaknya yang bungsu, perempuan namanya darni. Agak nakal juga kiranya. Di
atas pangkuan ibunya ia minta ini dan itu. Pak karta hanya menuruti saja apa yang
diminta oleh darni.
Udin memperhatikan sekeliling terminal bus. Ramai sekali suasananya, banyak
orang berjualan sedang sibuk menawarkan dagangannya kepada para penumpang bus.
Ada yang berlari-lari mengejar bus yang baru datang. Ada pula yang hanya berjualan
dengan memaparkan dagangannya di trotoar. Pedagang buah-buahan berjualan di
lantai bawah.
“apakah setiap hari seramai ini kak?” Tanya udin kepada si amat.
“ya, jawab si amat.”setiap hari memang ramai seperti ini. Banyak orang yang datang
dan pergi dari satu kota ke kota lain.
“pergi kemana sajakah mereka itu? Mana mungkin setiap hari ada orang yang pergi?”
“selalu ada, entah pergi kemana yang jelas tak ada sepinya. Bahkan pada hari-hari
tetentu penumpang bus itu berjejal-jejal. Lebih-lebih pada hari lebaran. Meskipun
jumlah bus dan kereta api ditambah namun masih tak mampu memuat seluruh
penumpang.”
“mungkin orang-orang itu bekerja dikota lain kak?”
“memang. Dan macam-macamlah keperluan mereka itu ada yang bekerja di kota lain,
ada yang mengunjungi sanak keluarga dan sebagainya.”
“bagus-bagus sekali ya kak bus-bus itu. Siapakah pemiliknya?”
“pemiliknya ya orang. Ada yang milik Negara ada juga yang milik swasta, artinya
milik peorangan atau milik perusahaan yang belum milik Negara.”
“orang yang punya bus tentu kaya ya kak, karena setiap hari tentu mendapat banyak
uang.”
“tentu saja, bahkan bisa membayar banyak pekerja pada perusahaannya termasuk
sopir-sopir, kondektur dan sebagainya.”
“dimana tempat sekolahmu yang baru mat?” Tanya pak karta tiba-tiba, memotong
pembicaraan yang asyik antara udin dan si amat.
“masih jauh ayah … nanti kita naik becak saja.”
“apa cukup satu becak? Kita berlima!”
“cukup ayah, berdesakan tidak mengapa daripada berjalan, kasihan ibu yang
menggendong darni.”
“STTB dan perlengkapannya yang lain tidak ketinggalan?”
“tidak ayah, tapi nanti harus ayah yang menghantarkan saya mendaftarkan nama di
sekolah.”
Makanan dan minuman di depo ternyata sangat mahal. Istrinya agak cemberut
waktu membayarnya. Tetapi dengan senyum pak karta berkata kepada istrinya
“sekali-kali” katanya.
Selesai makan dan minum mereka naik becak berdesakan menuju ke gedung SMPN !.
Disepanjang jalan udin selalu melihat ke kanan dan ke kiri. Ia tidak
memperhatikan pembicaraan ayahnya dengann si amat. Ia mengagumi jalan-jalan
kota yang halus dan rata, rumah-rumah yang bagus dan gedung-gedung yang besar
dengan taman-taman bunga yang indah. Setiap ada papan nama kantor ini dan kantor
itu ia tak bosan-bosan membacanya. Banyak sekali yang ia lihat.
Kendaraan dikota simpang siur tak ada hentinya. Yang mengendarai mobil-
mobil nampak gagah, berpakaian rapi sekali. Ia ingin hidup dikota. Tetapi kemudian
ia teringat akan cerita pak guru tentang urbanisasi.
Urbanisasi ialah perpindahan penduduk dari desa yang mengalir ke kota. Pada
mulanya mereka memang mendapat tempat dan pekerjaan yang layak. Tetapi karena
makin lama jumlahnya makin meningkat maka sulit juga untuk mendapatkan tempat
dan pekerjaan di kota.
Kenyataan yang pahit banyak menimpa para tetangganya juga. Sawah, ladang
atau pekarangan dan rumahnya sudah terlanjur dijual untuk pindah ke kota,
sesampainya dikota menjadi pengangguran. Akan pulang ke desa sudah tiada harta.
Akibatnya mereka banyak yang jadi orang gelandangan.
Perjalanan becak yang memuat pak karta sekeluarga melalui sebuah sekolah,
udin membaca nama sekolah itu. SDN mangundikaran 3. Waktu itu anak-anak
sedang istirahat sehingga ramai sekali suaranya. Ada yang berlari-lari, berteriak-
teriak, bermain-main dan sebagainya.
Perhatian udin tertuju kepada seragam pakaian anak-anak sekolah di SD itu.
Atas putih bawah merah hati lengkap dengan desi dan topinya. Semuanya memakai
sepatu lengkap dengan kaus kaki yang bagus dan bersih.
Anak-anak kelas dua yang masuk siang nampak baru datang. Mereka memasuki
halaman berjalan dengan gagahnya, berselempangkan tali penggantung tas dari
pundak sampai di pinggang. Udin agak iri melihatnya mengapa anak-anak di
sekolahnya tidak seperti itu.
Tetapi udin teringat lagi akan cerita pak guru. Jika ia menemukan sesuatu yang
baru, dan kemudian desanya dibangun menjadi kota, kawan-kawan sekolahnya tentu
akan seperti anak-anak sekolah yang dilihatnya dikota itu. Pakaiannya disetrika licin
dan bersih-bersih serta rapi lengkap dengan desi dan topi bersepatu dan berkaus kaki,
berjalan dengan membawa tas … tampan sekali.
Kapan itu terjadi? Mungkinkah dalam waktu yang dekat ini? Hati udin
membantah sendiri. Tentulah sesudah waktu yang cukup lama. Lalu dengan sedih
udin memikirkan keadaan desanya. Rumah-rumah yang buruk dan kotor, pekarangan
yang penuh ternak, cara berpakaian orang desa yang kurang mendapat pendidikan,
terutama anak-anak muda yang putus sekolah. Banyak diantara mereka yang suka
berbicara kurang baik. Dan tak mempunyai rasa saling menghargai antar sesame
teman. Namun itu tidak semua.
Tetapi udin membantah lagi …! Nanti jika aku sudah besar! Jika aku sudah
menggantikan orang-orang tua yang kurang maju! Aku akan membangun desa.
Begitulah kata hati udin sepanjang jalan. Ia teringat lagi bahwa pak guru pernah
berkata,” anak-anaklah yang akan menggantikan orang tua dan anak-anaklah yang
kelak harus merubah kebudayaan lama untuk diganti dengan kebudayaan baru.
Karena itu sejak sekarang anak-anak harus rajin belajar supaya pandai.
Nanti kalau sudah menjadi orang, anak-anak harus dapat mengubah keadaan
desa menjadi kota. Pekerjaan disawah dikerjakan dengan serba mesin. Tempat-tempat
ternak harus lebih bagus dan bersih. Dengan pekerjaan yang serba modern maka hasil
pertanian pun akan meningkat. Kehidupan akan lebih baik dan rumah-rumah di desa
akan bagus-bagus seperti dikota.
Sekarang pun sudah banyak orang desa yang kaya dan maju. Rumahnya bagus-
bagus kandang ternaknya bersih-bersih, mobilnya ada, pekerjaan disawah dikerjakan
dengan mesin.
Becak berhenti tepat di pintu masuk gedung SMP Negeri 1. Pak karta
sekeluarga turun, kemudian masuk ke ruang tunggu yang telah disediakan. Beberapa
waktu lamanya pak karta sibuk mendaftarkan si amat kepada panitia penerimaan
siswa baru. Sementara itu udin mondar-mandir melihat sekeliling gedung sekolah.
Kadang-kadang ia melihat ke dalam ruang-ruang kelas melalui kaca jendela. Setelah
mendapatkan keterangan yang cukup pak karta sekeluarga pergi ke taman kota.
Ditengah tama nada tugu “monument” katanya. Udin bertanya tentang arti
monument. Pak karta menerangkan bahwa monument berarti tugu peringatan.
Monument dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan.
Pada monument itu terdapat gambar-gambar dan patung-patung yang terbuat
dari pasir semen seperti batu nampaknya. Udin membaca tulisan yang ditatahkan
pada monument, sehingga ia tahu nama pahlawan-pahlawan yang perlu dikenang,
pahlawan kemerdekaan.
Didepan monument ada kolam air yang diberi air mancur. Didalam kolam itu
dipasang lampu berwarna-warni. Udin membayangkan betapa indahnya
pemandangan taman itu diwaktu malam jika lampu yang berwarna-warni itu menyala.
Pak karta bercerita, “dulu ketika ayah masih kecil kakek mu ikut berjuang merebut
kemerdekaan. Dengan senjata bamboo runcing kakek mu melawan belanda.”
Udin pun teringat akan cerita pak guru. Pak guru pernah bercerita tentang perjuangan
tahun 1945. Dengan bersenjata bamboo runcing seluruh rakyat Indonesia merebut dan
mempertahankan kemerdekaan.
“sekarang Negara kita 37 tahun merdeka,” pak karta bercerita terus. Masa yang 37
tahun itu terbagi dalam dua zaman, yaitu zaman orde lama dan zaman orde baru.”
Si amat menghubungkan cerita ayahnya dengan pelajaran yang telah diperoleh
dari sekolah. Namun ia tidak berkata apa-apa karena ingin mendengarkan kelanjutan
cerita ayahnya. Dalam masa dua puluh tahun setelah merdeka, bangsa Indonesia diuji
kekuatannya dengan menghadapi musuh dari luar dan dalam negeri. Karena itu
selama 20tahun bangsa Indonesia tidak sempat membangun negerinya.
Puncak dari ujian itu adalah timbulnya penghianatan G30S PKI. Untungnya
segera muncul pimpinan-pimpinan baru untuk dengan cepat mengambil tindakan dan
langkah-langkah yang mantab dan pasti.
Pengalaman pahit dari tahun 1945 sampai tahun 1965 dibawah pemerintahan orde
lama menjadi cambuk pelajaran bagi bangsa Indonesia. Maka munculnya pimpinan-
pimpinan baru melahirkan orde baru sejak tahun 1966 sampai sekarang.
Sekarang Negara kita maju. Bangsa Indonesia mulai membangun. Sebenarnya
Negara kita ini kaya raya. Subur makmur sejak dahulu kala. Berhubung Negara kita
disukai oleh kaum penjajah selama tiga setengah abad atau selama 350 tahun. Maka
bangsa tak dapat menikmati kekayaan dan kemakmuran negerinya. Kekayaan kita
yang berlimpah-limpah diangkut oleh kaum penjajah untuk membangun negeri
mereka.
Si amat mengangguk-anggukkan kepala, karena apa yang di dengarnya itu
persis sama dengann pelajaran disekolah. Bangsa Indonesia waktu itu memang
diperbodoh oleh kaum penjajah. Tidak boleh masuk sekolah, sehingga tidak tahu dan
tidak mengerti bagaimana cara menggali kekayaan alam di negerinya sendiri.
“setelah kita merdeka terutama dalam zaman orde baru ini, kita gali kekayaan alam
negeri kita sendiri dengan kepandaian yang kita miliki. Hasilnya kita manfaatkan
untuk kemakmuran kita bersama.
Tiba-tiba udin bertanya,”ayah kalau begitu kakek dulu ikut berperang. Lalu, apakah
ayah juga ikut berperang melawan penjajah?”
“ya. Kakekmu memang ikut maju berperang. Tetapi kalau ayah waktu itu ayah masih
kecil, masih sebesar kamu. Jadi, ayah belum boleh maju perang. Ayah ikut mengungsi
bersama nenekmu dan pamanmu.
Ketika matahari mulai condong ke barat, istri pak karta mengajaknya pulang.
Terhentilah cerita pak karta sampai disitu. Kemudian mereka berkemas-kemas untuk
segera pulang.
Pak karta sekeluarga naik becak lagi. Melewati jalur lain sebab arus lalu lintas
telah diatur sedemikian rupa untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
Karena melewati jalan lain. Udinlah yang merasa senang karena dapat melihat-llihat
pemandangan kota dibagian lainnya. Kantor bank rakyat, kantor pos dam giro, kantor
telepon dan telegrap, masjid besar, kantor perhutanis, lembaga pemasyarakatan.
Pegadaian dan sebagainya tidak lepas dari pengamatan udin.
Sebelum sampai diterminal udin menyaksikan sebuah proyek pembangunan
gedung baru yang sudah hampi selesae. Indah dan megah benar gedung baru itu.
Dibacanya tulisan yang ada di papan nama gedung itu.
“dewan perwakilan rakyat daerah tingkat II kabupaten nganjuk.”
“apa arti dewan perwakilan rakyat udin?” Tanya si amat menguji adiknya.
“dewan … apa arti dewan kak? Kalau perwakilan rakyat artinya kan wakil-wakil
rakyat. Yaitu orang-orang yang mewakili suara atau kehendak rakyat.”
“dewan berarti kumpulan, udin. Kumpulan yang membentuk organisasi berdasarkan
hokum atau tata keorganisasian.”
“organisasi itu apa kak?”
“organisasi berasal dari kata organ yang berarti alat atau dapat juga berarti hidup,
kehidupan. Jadi organisasi ialah suatu alat untuk melaksanakan suatu tujuan dengan
cara membentuk himpunan berdasarkan persatuan.”
“fikiranku masih bingung, tidak mengerti. Kak besok saja jika aku sudah besar seperti
kakak tentu akan dapat mengerti semua itu tadi.”
Namun si amat ingin berusaha supaya adiknya mengerti. Maka sambutnya
bersemangat,”kau pernah melihat dib alai desa sering ada pertemuan?”
“O ya! Itu pertemuan pamong-pamong desa.”
“ya tetapi bukan hanya pamong desa saja yang rapat. Diantara mereka ada juga yang
merupakan wakil rakyat. Terutama dalam rembug desa anggota-anggotanya terdiri
dari wakil-wakil rakyat. Nah semacam rembug desa itu kan merupakan perkumpulan!
Perkumpulan semacam itu merupakan contoh yang tepat tentang gambaran
organisasi.”
Udin terdiam berusaha menghayati kekurangan kakeknya. Namun ia masih
nampak bingung. Kemudian terdengar suara ayahnya memotong pembicaraan
mereka.
“mat jangan sampai lupa hari dan tanggal masuk SMP.”
“tidak ayah, saya tidak lupa sudah kucatat semuanya.”
Menjelang petang hari, dengan naik bus mereka sampai di desanya. Dari jalan raya
menuju ke rumahnya mereka masih harus naik doker, karena rumah mereka terletak
jauh di pedukuhan sekitar 3km. Dari jalan raya nganjuk Surabaya setelah beberapa
menit kemudian mereka sampai dirumah dengan selamat.