Anda di halaman 1dari 11

Co-Asistensi Bidang Reproduksi

PROLAPS UTERI

Rabu, 22 November 2017

ELPHAN AUGUSTA
C034 17 1026

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2017
1. PENDAHULUAN

Definisi

Prolapsus uteri adalah keadaan dimana uterus keluar melewati vagina dan
menggantung di vulva (Manan, 2002). Prolapsus uteri terjadi pada stadium ketiga
setelah pengeluaran fetus dan setelah kotiledon fetus terpisah dari karankula
induk. Pada ruminansia, uterus dapat mengalami prolaps secara keseluruhan
bagiannya. Prolapsus uteri lebih sering terjadi pada indukan dari pada sapi dara.
Predisposisi dari gangguan ini disebabkan oleh faktor genetik, manajemen pada
sapi yang kurang baik, adanya peningkatan tekanan intra abdomen, kesulitan pada
saat melahirkan atau distokia, kandang dikandangkan terus menerus serta posisi
kandang yang miring (Peter,2015).
Prolapsus uteri merupakan pembalikan uterus, vagina dan servik,
menggantung keluar melalui vulva. Penyebabnya adalah hewan selalu
dikandangkan, tingginya estrogeen, tekanan intra abdominal saat berbaring
maupun genetik. Pada keadaan, organ masuk ke saluran reproduksi seperti semula
saat berdiri namun bila terjadi secara total maka organ akan tetap menggantung
keluar meskipun dalam keadaan berdiri (Ratnawati 2007).
Sebuah studi selama 1 tahun dari perusahaan susu terbesar di California
memperlihatkan adanya prevalensi kurang dari 0,1% (200 dari 220 sapi), dan
kelangsungan hidup selama 2 minggu sebesar 72,4%. Survivabilitas sekitar 80%
dengan mortalitas 20% yang dihasilkan dari shock (evisceration); kehilangan
darah; sindrom sapi downer refrakter; dan euthanasia. Jubb dan rekannya
menyarankan 73,5% (50 dari 68) tingkat kelangsungan hidup dengan hanya satu
ekor sapi yang memiliki riwayat prolaps uteri sebelumnya, dan 84% (36 dari 43)
tingkat konsepsi pascaprolapse. Itu harus dicatat bahwa 43 dari 50 sapi tersedia
untuk data konsepsi. Studi selanjutnya pada sapi potong memperlihatkan terjadi
penurunan tingkat kebuntingan masing-masing 33,3% dan 66,7% setelah prolaps
uteri. Sebuah interval melahirkan lebih lama bervariasi antara studi, termasuk
tambahan 10 hari sampai 50 hari . Prognosis untuk kehidupan diperkirakan positif
dengan penanganan tepat waktu, dan pengakuan dan pengobatan untuk mencegah
infeksi sekunder (Matt dan David, 2008).
Gambar 1. Prolaps uteri (Senthil dan Yashota ,2015).

2. DESKRIPSI KASUS

Sinyalemen

Nama Pemilik : Yasin


Alamat : Desa Tungka, Kec. Enrekang
Nama Hewan :-
Spesies : Sapi
Breed : Sapi Bali
Warna bulu/rambut : Coklat
Jenis kelamin : Betina
Umur : 8 tahun
Berat badan : 350 kg
Anamnesis
Sapi belum pernah divaksin, Sapi sudah melahirkan sebanyak dua kali,
masing masing anak sapi merupakan hasil IB (Inseminasi Buatan), anak yang
dihasilkan merupakan crossbreeding dari sapi bali dan limosin.

Gejala klinis
Uterus keluar dan menggantung di sekitar vulva, mukosa uterus terbuka,
sapi kadang berbaring, lemah, adanya pendarahan dan gumpalan darah di sekitar
di uterus, uterus membesar (mengalami pembengkakan)
Diagnosis
Berdasarkan gejala klinis dan anamnesa sapi tesebut didiagnosa Prolapsus
Uteri

Pengobatan/Penanganan prolapsus uteri


Membersihkan kotoran yang melekat pada organ yang prolaps dengan
menggunakan antiseptik ringan, selanjutnya melakukan reposisi, dilakukan
penjahitan, kemudian injeksi antibiotik vet oxy LA sebanyak 20 ml dan vitamin
B-Complex sebanyak 10 ml

3. PEMBAHASAN

Ketepatan Diagnosis

Ketepatan diagnosa dapat dilihat dari gejala klinisnya. Prolapsus


uteri sering terjadi segera sesudah partus dan jarang terjadi beberapa jam setelah
itu. Predisposisi terhadap prolapsus uteri adalah pertautan mesometrial yang
panjang, uterus yang lemas, atonik, dan mengendur, retensio secundinarum
terutama pada apeks uterus bunting, dan relaksasi pelvis dan daerah peritoneal
secara berlebihan. Pada sapi perah prolapsus uteri sering terjadi pada hewan yang
selalu dikandangkan dan melahirkan di kandang dengan bagian belakang lebih
rendah daripada bagian depan. Penarikan paksa memakai tenaga berlebihan
menyebabkan ketegangan sesudah pertolongan distokia (Peter,2015).
Satu atau kedua cornua dapat terlihat, permukaan mukosa uterus dengan
kotiledonnya terlihat dan bagian khorioalantois mungkin masih melekat. Sapi
biasanya masih tetap berdiri dan tampak tidak peduli atau sapi tampak berbaring.
Uterus akan terkotaminasi dengan alas dan kotoran. Uterus juga dapat mengalami
laserasi, membesar dan odima. Untuk kasus prolaps yang baru saja terjadi uterus
biasanya terasa hangat saat disentuh. Kadang pula ditemukan sapi sudah mati
disebabkan terjadinya pendarahan dari arteri- arteri ovarium yang pacah akibat
dari tekanan yang berlebihan (Jackson,2013).

Ketepatan Pengobatan/Penanganan

Dalam tindakan penangan prolapsus uteri terdapat beberapa metode


dimulai dari posisi sapi sebelum melakukan reposisi, menurut jakson (2008) sapi
sebaiknya dibaringkan secara sternal dengan kedua kaki belakang ditarik keluar,
sedangkan menurut (Peter,2103) sapi hanya diletakkan dengan posisi kepala lebih
rendah dibandingkan bagian belakang. Kedua cara tersebut bisa diterapkan
dengan cara melihat kondisi sapi yang telah mengalami prolaps apakah dia
berbaring atau berdiri. Kemudian penanganan sebelum memasukkan kembali
uterus ke posisi semula ialah dengan membersihkan organ prolaps dengan
menggunakan air hangat, Menurut Toelihere (1985) uterus harus dicuci bersih
dengan larutan NaCl fisiologis hangat, atau air dengan antiseptik, selain itu vagina
dan vulva mestinya dibersihkan dengan antiseptik juga. Selanjutnya memberikan
gula pasir dipermukaan uterus menurut Jakson (2008) hal ini bertujuan untuk
mengurangi odema yang terjadi pada uterus, pemberian oksitoksin sebelum
memasukkan tidak dianjurkan. Uterus yang berkontraksi dengan kuat dapat
menyulitkan untuk dimasukkan. Selanjutnya setelah seluruh organ prolaps telah
masuk kembali segera dilakukan penyuntikan antibiotik dengan menggunakan vet
oxy La, berdasarkan (indeks obat Hewan) antibiotik tersebut merupakan
antibiotika spectrum luas yang efektif terhadap sejumlah besar bakteri Gram-
positif dan Gram-negatif.
Adapun urutan penanganan untuk kasus prolapsus uteri ialah
(Jakson,2008; Peter,2013):

a. Melihat kondisi umum sapi, jika sapi hampir mati atau mengalami syok
berat maka penanganan menjadi tidak ekonomis
b. Memperbaiki posisi sapi dimana kepala lebih rendah dari bagian belakang,
tindakan ini bertujuan untuk mempermudah saat melakukan reposisi.
c. Pemberian anestesi epidural
d. Sapi sebaiknya direbahkan secara sternal dengan kedua kaki belakang
ditarik keluar.
e. Membersihkan kotoran dari organ prolapsus dengan membilasnya dengan
salin/ antiseptik ringan.
f. Melepas plasenta atau sisa- sisa kotiledon yang mudah terlepas.
g. Bila terdapat luka sobek sebaiknya dijahit
h. Pemberian salep chlorhexidine diseluruh permukaan uterus.
i. Merepulsi uterus dimulai dari korpus diikiti oleh kornu
j. Kemudian sapi dipacu untuk berdiri, selanjutnya mendorong kornu secara
keseluruhan dengan menggunakan botol bersih.
k. Setelah seluruh organ telah masuk, dilanjutkan dengan memberikan
oksitoksin (20-30 U) secara intramuskuler dengan tujuan mencegah
terjadinya prolapse kembali.
l. Melakukan penjahitan dibibir vulva dengan pola purestring
m. Jahitan dibuka setelah 10 hari
Gambar 2. Teknik penjahitan menggunakan horizontal mattes suture (Peter,2015)

Gambar 3. Teknik penjahitan menggunakan bootlace (Peter,2015)

Setelah semua tahap selesai, dilakukan penjahitan pada vulva untuk


mencegah uterus keluar kembali. Penjahitan luka yang dilakukan di lapangan
adalah dengan pola purestring. Pola ini menurut Dean (2007) digunakan untuk
menutup anal dan vulva yang terbuka setelah reduksi dari prolapsus rektum,
prolapsus vagina dan prolapsus uterus.

Kejadian kasus yang dapat terjadi apabila tidak ditangani dengan benar
Terjadinya infeksi sekunder pada uterus, uterus mengalami nekrosis dan sulit
untuk kembali.
3. PENUTUP

Kesimpulan
Prolapsus uteri terjadi karena efek dari post partus atau
pengeluaran fetus, distokia, crossbreeding, dikandangkan terus menerus,
tingginya estrogen, faktor turunan atau genetik.
Penanganan prolapsus uteri adalah membersihakan uterus dengan
cairan antiseptik, mereposisi, penyuntikan hormon oksitoksin serta antibiotik
vet oxy LA, serta melakukan penjahitan dengan menggunakan teknik pure
string, bootlace, horizontal matter suture.
DAFTAR PUSTAKA

Bhattacharyya, Hiranya K. Mujeeb R. Fazili, Bashir A. Buchoo, and Afzal H.


Akand, 2012, Genital prolapse in crossbred cows: prevalence, clinical
picture and enital prolapse in crossbred cows: prevalence, clinical
picture and management by a modi anagement by a modified Bühner’s
technique using infusion (drip) ed Bühner’s technique using infusion
(drip) set tubing as suture material et tubing as suture material,
veterinarski arhiv 82 (1), 11-24

Gardner IA, Reynolds JP, Risco CA, Hird DW (1990): Patterns of uterine
prolapse in dairy cows and prognosis after treatment. Journal of the
American Veterinary Medical Association, 197, 1021–1024.
Hafez, B. 2000. Reproduction in Farm Animals.7ed.. Philadelphia : Lippincott
Williams & Wilkins
Hendrickson , Dean A, 2007, Techniques in large Animal Surgery. Collage of
veterinary Medicine, West Lafayette, Indiana.
Jakson, Peter,GG, 2008, Handbook Obstetri Veteriner edisi kedua, Universitas
Gajah Mada.
Manan, Djema At. 2002. Ilmu kebidanan Pada Ternak. Departemen Pendidikan
Nasional, Universitas Syiah Kuala Darussalam: Banda Aceh.
Miesner, M. D., D. E. Anderson, 2008, Management of uterine and vaginal
prolapse in the bovine. Vet. Clin. Food Anim. 24, 409-419.

Murphy AM, Dobson H (2002): Predisposition, subsequent fertility, and mortality


of cows with uterine prolapse. Veterinary Record, 151, 733–735.
Peter, Augustine T, 2015, Vaginal, Cervical, and Uterine Prolapse, Veterinary
Clinical Sciences, College of Veterinary Medicine, Purdue University,
West Lafayette, Indiana, USA
Ratnawati, D. dkk. 2007. Petunjuk Teknis Penanganan Gangguan Reproduksi
pada Sapi Potong. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.

Senthil, A Yasotha 2015, Correction and menagement of total uterine prolapse in


a crossbred cow. Department Of Livestock Production Management,
Madras Veterinary College, Chennai-600 007

Tyagi, R. P. S and Singh, J., (2002), A Text Book of Ruminant Surgery, 1st Edit
LAMPIRAN