Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN

KANKER CERVIKS

Disusun Oleh :

ADITIYA KURNIAWAN
NIM : SN171003

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2017
LAPORAN PENDAHULUAN
KANKER CERVIKS

A. Definisi
Kanker Cerviks yaitu keganasan pada leher rahim yang merupakan
keganasan pada bagian terendah rahim yang menonjol ke liang sanggama /
vagina (Depkes RI, 2008)
Kanker Cerviks merupakan pertumbuhan dari Human Papilloma Virus
(Kline, 2007).
Kanker serviks adalah penyakit kanker yang terjadi pada daerah leher
rahim, yaitu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu
masuk kearah rahim, letaknya antara rahim (uterus) dengan liang senggama
wanita (vagina) (Wijaya, 2010).
Kanker leher rahim / serviks adalah kanker kedua terganas yang
menyebabkan kematian pada perempuan. (Prof. Dr. Samsurizal Djauzi,
SpPD. 2008).
Kanker leher rahim / serviks adalah tumor ganas yang tumbuh di leher
rahim /serviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak
vagina ). (Ratna Dewi Pudiastuti, Pentingnya Menjaga Organ Kewanitaan,
2010 ).
B. Tanda dan Gejala
Menurut Sukaca (2009), gejala penderita kanker serviks diklasifikasikan
menjadi dua yaitu gejala pra kanker serviks dan gejala kanker serviks.
Gejala pra kanker serviks ditandai dengan gejala :
a. Keluar cairan encer dari vagina(keputihan)
b. Pendarahan setelah sanggama yang kemudian dapat berlanjut menjadi
pendarahan yang abnormal.
c. Pada fase invasive dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan,
berbau dan dapat bercampur dengan darah.
d. Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi pendarahan kronis
e. Timbul nyeri panggul(pelvis) atau diperut bagian bawah bila ada radang
panggul.
Bila sel-sel tidak normal ini berkembang menjadi kanker serviks, maka
muncul gejala-gejala sebagai berikut :
a. Pendarahan pada vagina yang tidak normal.
Ditandai dengan pendarahan diantara periode menstruasi yang regular,
periode menstruasi yang lebih lama dan lebih banyak dari biasanya,
pendarahan setelah hubungan seksual.
b. Rasa sakit saat berhubungan seksual.
c. Bila kanker telah berkembang makin lanjut maka dapat timbul gejala-
gejala seperti penurunan berat badan, nyeri panggul, kelelehan,
berkurangnya nafsu makan, keluar tinja dari vagina, dll.
C. Patofisiologi dan Pathway
Menurut Price SA, Wilson LM. (2012) Kanker serviks mempunyai dua
jenis sel epitel yang melapisi nektoserviks dan endoserviks, yaitu sel epitel
kolumner dan sel epitel squamosa yang disatukan oleh Sambungan
Squamosa Kolumner (SSK).Proses metaplasia adalah proses pergantian
epitel kolumner dan squamosa. Epitel kolumner akan digantikan oleh
squamosa baru sehingga SSK akan berubah menjadi Sambunga
SquamosaSquamosa (SSS)/ squamosa berlapis.
Pada awalnya metaplasia berlangsung fisiologis Namun dengan adanya
mutagen dari agen yang ditularkan melalui hubungan seksual seperti
sperma, virus herpes simplek tipe II, maka yang semula fisiologis berubah
menjadi displasia. Displasia merupakan karakteristik konstitusional sel
seperti potensi untuk menjadi ganas.
Hampir semua ca. serviks didahului dengan derajat pertumbuhan
prakanker yaitu displasia dan karsinoma insitu. Proses perubahan yang
terjadi dimulai di daerah SquamosaColumner Junction (SCJ) atau SSK dari
selaput lendir portio. Pada awal perkembangannya, ca. serviks tidak
memberikan tanda-tanda dan keluhan. Pada pemeriksaan speculum, tampak
sebagai portio yang erosive (metaplasia squamosa) yang fisiologik atau
patologik. (Price Sylvia A, Wilson Lorraine M. 2012).
Tumor dapat tumbuh sebagai berikut:
i. Eksofitik, mulai dari SCJ kearah lumen vagina sebagai masa proliferasi
yang mengalami infeksi sekunder dan nekrosis.
ii. Endofitik, mulai dari SCJ tumbuh ke dalam stroma serviks dan
cenderung untuk mengadakan infiltrasi menjadi ulkus.
iii. Ulseratif, mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan
serviks dan melibatkan awal fornises vagina untuk menjadi ulkus yang
luas.
Displasia pada serviks disebut Neoplasia Servikal Intraepitelial (CIN). CIN
ada tiga tingkatan yaitu:
1. CIN I : Displasia ringan, terjadi di epitel basal lapisan ketiga,
perubahan sitoplasmik terjadi di atas sel epitel kedua dan ketiga.
2. CIN II : Displasia sedang, perubahan ditemukan pada epitel yang lebih
rendah dan pertengahan, perubahan sitoplasmik terjadi di atas sel epitel
ketiga.
3. CIN III : Displasia berat, terjadi perubahan nucleus, termasuk pada
semua lapis sel epitel, diferensiasi sel minimal dan karsinoma insitu.
Pathway

D. Etiologi
Menurut Wijaya (2010), ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan
peluang seorang wanita untuk terkena kanker serviks. Faktor-faktor tersebut
adalah :
a. Infeksi Virus Human Papilloma (HVP)
Faktor resiko dari infeksi HPV adalah factor yang terpenting dalam
timbulnya penyakit kanker serviks ini. Human Papilloma Virus adalah
sekelompok lebih dari 100 virus yang berhubungan yang dapat
menginfeksi sel-sel pada permukaan kulit, ditularkan melalui kontak
kulit seperti vaginal, anal, atau oral seks. Virus ini berasal dari familia
Papovaridaedan genus Papilloma virus. Hubungan seks yang tidak aman
terutama pada usia muda atau melakukan hubungan seks dengan banyak
pasangan, memungkinkan terjadinya infeksi HPV. Organ reproduksi
wanita pada usia remaja (12-20 tahun) sedang aktif berkembang. Bila
terjadi rangsangan oleh penis/sperma dapat memicu perubahan sifat sel
menjadi tidak normal, apalagi bila terjadi luka saat berhubungan seksual
dan kemudian terjadi infeksi virus HPV.
b. Pasangan Seksual yang Berganti-ganti
Dari berbagai penelitian yang dilakukan timbulnya penyakit kanker
serviks berkaitan erat dengan perilaku seksual seperti mitra seks yang
berganti-ganti. Resiko kanker serviks lebih dari 10 kali bila berhubungan
dengan 6 atau lebih mitra seks.
c. Usia Pertama Melakukan Hubungan Seks
Wanita yang melakukan hubungan seks pertama sekali pada umur
dibawah 17 tahun hampir selalu 3x ;lebih mungkin terkena kanker
serviks di usia tuanya. Semakin muda seorang wanita melakukan
hubungan seks maka semakin besar resiko terkena kanker serviks. Hal
ini disebabkan karena alat reproduksi wanita pada usia ini belum matang
dan sangat sensitif.
d. Merokok
Tembakau atau rokok mengandung bahan-bahan karsinogenik baik yang
dikunyah atau dihisap sebagai rokok atau sigaret. Penelitian
menunjukkan lendir serviks pada wanita perokok mengandung nikotin
dan zat-zat lainnya terdapat di dalam rokok. Produk sampingan rokok
seringkali ditemukan pada mukosa serviks dari wanita perokok.
e. Jumlah Anak
Wanita yang sering melahirkan mempunyai resiko 3-5 x lebih besar
terkena kanker leher rahim. Terjadinya trauma pada bagian leher rahim
yang tipis dapat merupakan penyebab timbulnya suatu peradangan dan
selanjutnya berubah menjadi kanker. Menurut berapa pakar, jumlah
kelahiran yang lebih dari 3 akan meningkatkan resiko wanita terkena
kanker serviks.
f. Kontrasepsi
Pil KB yang dipakai dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan
resiko terkena kanker serviks.Dari beberapa penelitian menemukan
bahwa resiko kanker serviks meningkat berkaitan dengan semakin lama
wanita tersebut menggunakan pil KB, dan cenderung akan menurun pada
saat pil tersebut dihentikan. Beberapa penelitian juga menunjukkan
bahwa pemakaian pil KB akan menyebabkan wanita lebih sensitif
terhadap HPV sehingga makin meningkatkan resiko terkena kanker
serviks.
g. Riwayat Keluarga
Sama seperti jenis kanker lainnya, maka pada kanker leher rahim juga
akan meningkatkan resiko lebih besar terkena pada wanita yang
mempunyai keluarga (ibu atau kakak perempuan) terkena kanker leher
rahim.
h. Kekebalan Tubuh
Seseorang yang melakukan diet ketat, diet rendah sayuran dan buah-
buahan, rendahnya konsumsi vitamin A,C, dan E setiap hari dapat
menyebabkan kurangnya daya tahan tubuh, sehingga oang tersebut
gampang terinfeksi oleh berbagai kuman, termasuk HPV. Penurunan
kekebalan tubuh dapat juga mempercepat pertumbuhan sel kanker dari
noninvasive menjadi invasif.
E. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Medis:
Terapi karsinoma serviks dilakukan bila mana diagnosis telah dipastikan
secara histologik dan sesudah dikerjakan perencanaan yang matang oleh tim
yang sanggup melakukan rehabilitasi dan pengamatan la njutan (tim kanker
/ tim onkologi). Pemilihan pengobatan kanker leher rahim tergantung pada
lokasi dan ukuran tumor, stadium penyakit, usia, keadaan umum penderita,
dan rencana penderita untuk hamil lagi. Lesi tingkat rendah biasanya tidak
memerlukan pengobatan lebih lanjut, terutama jika daerah yang abnormal
seluruhnya telah diangkat pada waktu pemeriksaan biopsi. Pengobatan pada
lesi prekanker bisa berupa kriosurgeri (pembekuan), kauterisasi
(pembakaran, juga disebut diatermi), pembedahan laser untuk
menghancurkan sel-sel yang abnormal tanpa melukai jaringan yang sehat di
sekitarnya dan LEEP (loop electrosurgical excision procedure) atau
konisasi (Elizabeth J. Corwin. 2009).
a. Pembedahan
Pada karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks
paling luar), seluruh kanker sering kali dapat diangkat dengan bantuan
pisau bedah ataupun melalui LEEP (loop electrosurgical excision
procedure) atau konisasi. Dengan pengobatan tersebut, penderita masih
bisa memiliki anak. Karena kanker bisa kembali kambuh, dianjurkan
untuk menjalani pemeriksaan ulang dan Pap smear setiap 3 bulan selama
1 tahun pertama dan selanjutnya setiap 6 bulan. Jika penderita tidak
memiliki rencana untuk hamil lagi, dianjurkan untuk menjalani
histerektomi.
Pembedahan merupakan salah satu terapi yang bersifat kuratif
maupun paliatif. Kuratif adalah tindakan yang langsung menghilangkan
penyebabnya sehingga manifestasi klinik yang ditimbulkan dapat
dihilangkan. Sedangkan tindakan paliatif adalah tindakan yang berarti
memperbaiki keadaan penderita. Histerektomi adalah suatu tindakan
pembedahan yang bertujuan untuk mengangkat uterus dan serviks
(total) ataupun salah satunya (subtotal). Biasanya dilakukan pada
stadium klinik IA sampai IIA (klasifikasi FIGO). Umur pasien
sebaiknya sebelum menopause, atau bila keadaan umum baik, dapat
juga pada pasien yang berumur kurang dari 65 tahun. Pasien juga harus
bebas dari penyakit umum (resiko tinggi) seperti penyakit jantung,
ginjal dan hepar.
b. Terapi penyinaran (radioterapi)
Terapi radiasi bertujuan untuk merusak sel tumor pada serviks serta
mematikan parametrial dan nodus limpa pada pelvik. Kanker serviks
stadium II B, III, IV sebaiknya diobati dengan radiasi. Metoda
radioterapi disesuaikan dengan tujuannya yaitu tujuan pengobatan
kuratif atau paliatif. Pengobatan kuratif ialah mematikan sel kanker serta
sel yang telah menjalar ke sekitarnya atau bermetastasis ke kelenjar
getah bening panggul, dengan tetap mempertahankan sebanyak
mungkin kebutuhan jaringan sehat di sekitar seperti rektum, vesika
urinaria, usus halus, ureter.
Radioterapi dengan dosis kuratif hanya akan diberikan pada stadium
I sampai III B. Apabila sel kanker sudah keluar ke rongga panggul, maka
radioterapi hanya bersifat paliatif yang diberikan secara selektif pada
stadium IV A. Terapi penyinaran efektif untuk mengobati kanker invasif
yang masih terbatas pada daerah panggul. Pada radioterapi digunakan
sinar berenergi tinggi untuk merusak sel-sel kanker dan menghentikan
pertumbuhannya.
Radioterapi dengan dosis kuratif hanya akan diberikan pada stadium I
sampai III B. Apabila sel kanker sudah keluar ke rongga panggul, maka
radioterapi hanya bersifat paliatif yang diberikan secara selektif pada
stadium IV A. Terapi penyinaran efektif untuk mengobati kanker invasif
yang masih terbatas pada daerah panggul. Pada radioterapi digunakan sinar
berenergi tinggi untuk merusak sel-sel kanker dan menghentikan
pertumbuhannya (Elizabeth J. Corwin. 2009).
c. Kemoterapi
Kemoterapi adalah penatalaksanaan kanker dengan pemberian obat
melalui infus, tablet, atau intramuskuler. Obat kemoterapi digunakan
utamanya untuk membunuh sel kanker dan menghambat
perkembangannya. Tujuan pengobatan kemoterapi tegantung pada jenis
kanker dan fasenya saat didiag nosis. Beberapa kanker mempunyai
penyembuhan yang dapat diperkirakan atau dapat sembuh dengan
pengobatan kemoterapi. Dalam hal lain, pengobatan mungkin hanya
diberikan untuk mencegah kanker yang kambuh, ini disebut pengobatan
adjuvant.
Dalam beberapa kasus, kemoterapi diberikan untuk mengontrol penyakit
dalam periode waktu yang lama walaupun tidak mungkin sembuh. Jika
kanker menyebar luas dan dalam fase akhir, kemoterapi digunakan sebagai
paliatif untuk memberikan kualitas hidup yang lebih baik. Kemoterapi
secara kombinasi telah digunakan untuk penyakit metastase karena terapi
dengan agen-agen dosis tunggal belum memberikan keuntungan yang
memuaskan. Contoh obat yang digunakan pada kasus kanker serviks antara
lain CAP (Cyclophopamide Adrem ycin Platamin), PVB (Platamin Veble
Bleomycin) dan lain –lain, (Elizabeth J. Corwin. 2009).
F. Komplikasi
1. Komplikasi yang terjadi karena radiasi
Waktu fase akut terapi radiasi pelvik, jaringan-jaringan sekitarnya
juga terlibat seperti intestines, kandung kemih, perineum dan kulit. Efek
samping gastrointestinal secara akut termasuk diare, kejang abdominal,
rasa tidak enak pada rektal dan perdarahan pada GI. Diare biasanya
dikontrol oleh loperamide atau atropin sulfate. Sistouretritis bisa terjadi
dan menyebabkan disuria, nokturia dan frekuensi. Antispasmodik bisa
mengurangi gejala ini. Pemeriksaan urin harus dilakukan untuk
mencegah infeksi saluran kemih. Bila infeksi saluran kemih didiagnosa,
terapi harus dilakukan segera. Kebersihan kulit harus dijaga dan kulit
harus diberi salep dengan pelembap bila terjadi eritema dan desquamasi.
Squele jangka panjang (1 – 4 tahun setelah terapi) seperti : stenosis pada
rektal dan vaginal, obstruksi usus kecil, malabsorpsi dan sistitis kronis,
(Elizabeth J. Corwin. 2009).
2. Komplikasi akibat tindakan bedah
Komplikasi yang paling sering akibat bedah histerektomi secara
radikal adalah disfungsi urin akibat denervasi partial otot detrusor.
Komplikasi yang lain seperti vagina dipendekkan, fistula
ureterovaginal, pendarahan, infeksi, obstruksi usus, striktur dan fibrosis
intestinal atau kolon rektosigmoid, serta fistula kandung kemih dan
rektovaginal.

G. Asuhan Keperawatan
A. Pengkajian
1. Keluhan utama
Pasien biasanya datang dengan keluhan intra servikal dan disertai
keputihan menyuprai air
2. Riwayat penyakit sekarang
Pasien mengeluh nyeri pada intra servikal, merasa lelah, letih, ada
anemia, pasien seorang perokok & meminum alcohol, ada
perubahan pola defekasi ( konstipasi ) serta nyeri saat berkemih,
nyeri pada saat senggama dan terjadi pendarahan saat senggama,
keputihan yang cair dan banyak serta bau yang khas, ada rasa kurang
nafsu makan, penurunan berat badan, nyeri panggul.
3. Riwayat penyakit dahulu
Apakah pasien pernah mengalami kelainan menstruasi, lama,
jumlah dan warna darah, adakah hubungan perdarahan dengan
aktifitas, apakah darah keluar setelah koitus ( bersenggama ), apakah
pekerjaan yang dilakukan pasien
4. Riwayat penyakit keluarga
Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang mungkin
ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang, yaitu riwayat
keluarga dengan kanker serviks / leher rahim.
5. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pada klien dengan kanker serviks / leher rahim
meliputi pemeriksaan fisik umum per system dari observasi keadaan
umum, pemeriksaan tanda-tanda vital, B1 (breathing), B2 (Blood),
B3 (Brain), B4 (Bladder), B5 (Bowel), dan B6 (Bone).
a. Pernafasan B1 (breath)
Pada kasus kanker serviks stadium lanjut atau ketika sel
abnormal sudah mulai menyebar ke organ-organ lain ( tahap
stadium 4 ), dapat menimbulkan sesak nafas.
b. Kardiovaskuler B2 (blood)
Adanya nyeri dada (pada stadium lanjut ), bradikardi, dan
tekanan darah rendah dikarenakan pendarahan pada daerah
intra-servikal
c. Persyarafan B3 (brain)
Penglihatan (mata) : Penurunan penglihatan,
penglihatan menurun dikarenakan hemoglobin yang menurun,
karna anemia, konjungtiva anemis.
Penciuman (hidung) : tidak ada gangguan
penciuman
d. Perkemihan B4(bladder)
Biasanya pasien mengeluh nyeri saat buang air kecil, adanya
pendarahan.
e. Pencernaan B5 (bowel)
Biasanya nafsu makan menurun, porsi makan kurang, berat
badan menurun, adanya konstipasi sehingga terjadi perubahan
pola defekasi pada pasien.
f. Muskulokeletal / integument B6 (bone)
Biasanya ada nyeri pada bagian panggul sehingga sulit dalam
bergerak dan beraktivitas.
B. PENGKELOMPOKAN DATA
a. Data Subjektif
- Biasanya pasien mengeluh nyeri pada daerah kewanitaan (
vagina – intra servikal )
- Biasanya pasien mengeluh kurang nafsu makan, dan berat badan
menurun
- Biasanya pasien mengeluh terjadi pendarahan setelah ataupun
tanpa melakukan senggama
- Biasanya pasien mengeluh ada keputihan yang berlebih dan cair
serta berbau
- Biasanya pasien mengeluh susah BAB ( konstipasi )
- Biasanya pasien mengeluh nyeri pada saat BAK
- Biasanya pasien mengeluh nyeri panggul
- Biasanya pasien mengeluh cepat lelah
- Biasanya pasien mengeluh merasa cemas, khawatir dengan
penyakit yang dialaminya
- Biasanya pasien sering bertanya mengenai penyakitnya
- Biasanya pasien mengungkapkan ada perubahan tubuh dan gaya
hidupnya
b. Data Objektif
- Biasanya terlihat konjungtiva anemis dan pucat
- Biasanya terlihat pasien menahan sakit
- Biasanya terlihat pasien lemas, letih
- Biasanya terlihat pasien meringis karena nyeri panggul
- Biasanya terlihat wajah pasien ekspresi cemas dan khawatir
- Biasanya pasien tidak menghabiskan porsi makan yang di
sediakan
- Biasanya terjadi pendarahan pada vagina – intra servikal
- Biasanya pasien terlihat gelisah
- Biasanya pasien terlihat kurang percaya diri
- Biasanya berat badan pasien menurun
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri b.d penekanan sel kanker pada syaraf pada tekanan
intrapelvik dan tekanan inta abdomen
2. Ketidakseimbangan nutrisi b.d mual muntah karena proses ekstrenal
radiologi
3. Resiko infeksi. d.b pengeluaran pervaginam (darah, keputihan)
4. Ansietas b.d berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang
prosedur pengobatan
5. Gangguan integritas kulit b.d efek dari prosedur pengobatan
6. Resiko jatuh b.d kelemahan dan kelelahan
7. Gangguan pola seksual b.d perubahan fungsi tubuh akibat terkena
penyakit kanker serviks
8. Resiko tinggi terjadinya syok hipovolemik b.d perdarahan
pervaginam
9. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum
10. Resiko kekurangan volume cairan b.d kehilangan volume cairan
aktif
11. Gangguan citra tubuh b.d tahapan perkembangan penyakit dan terapi
penyakit

D. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


Diagnosa Tujuan Dan Kriteria
No Intervensi
Keperwatan Hasil
1. Nyeri b.d penekenan Setelah dilakukan Pain management
sel kanker pada tindakan asuhan 1. Kaji riwayat nyeri, lokasi, frekuensi, durasi,
syaraf pada tekanan keperawatan selama intensitas, dan skala nyeri
intrapelvik dan 3x24 jam diharapkan 2. Observasi reaksi non verbal dari
tekanan nyeri klien hilang atau ketidaknyamanan
intraabdomen berkurang. 3. Gunakan teknik komunikasi terapiutik
NOC: untuk menegetahui pengalaman nyeri
Pain control pasien
Comfort level 4. Kontrol lingkungan yang dapat
Kritera hasil: mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
a. Klien mengatakan pencahayaan dan kebisingan
nyeri hilang atau 5. Pilih dan lakukan penanganan
berkurang nyeri(farmakologi, non farmakologi dan
b. Ekspresi wajah interpersonal)
rileks 6. Berikan tindakan kenyamanan dasar yaitu
relaksasi, distraksi, imajinasi, message.
c. Pasien tampak 7. Awasi dan pantau TTV
tenang tidak gelisah 8. Berikan posisi yang nyaman
d. Tanda-tanda vital 9. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
dalam batas normal 10. Kolaborasi pemberian analgetik
Nadi(60-100x/mnt),
pernapasan
normal(16-
24x/mnt), TD( 100-
140 mmHg/60-90
mmHg), suhu
normal(36,5-37,50c)
e. Pasien dapat
melakukan teknik
relaksasi dan
distraksi dengan
tepat sesuai dengan
indikasiuntuk
mengontrol nyeri
2 Ketidakseimbangan Setelah dilakukan Nutrition Management
nutrisi b.d mual tindakan asuhan 1. Kaji adanya alergi dan status nutrisi klien
muntah karena keperawatan selama 2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
proses ekstrenal 3x24 jam diharapkan menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
radiologi status nutrisi klien dapat diutuhkan pasien
dipertahankan untuk 3. Ukur badan setiap hari atau sesuai indikasi
memenuhi kebutuhan 4. Beritahu klien untuk makan makanan tinggi
tubuh. kalori, kaya protein dan tetap sesuai
NOC: diet(rendah garam)
Nutritional status: 5. Pantau masukan makanan setiap hari
food and fluid intake 6. Anjurkan pasien makan sedikit tapi sering
Nutritional status: Nutrition Monitoring
nutrient intake 1. Monitoring lingkungan selama makan
Weight control 2. Monitor mual dan muntah
Kriteria hasil: 3. Monitor kalori dan intake nutrisi
a. Pasien
menghabiskan 1
porsi makanan yang
disedikan
b. Berat badan klien
normal
c. Hasil Hb dalam batas
normal
d. Pasien menunjukan
peningkatan nafsu
makan
e. Tidak terjadi mual
atau muntah
f. Pasien tidak tampak
pucat atau lemas
g. Tidak ada tanda
tanda mal nutrisi
3 Risiko infeksi. b.d Setelah dilakukan Infection Control
pengeluaran tindakan asuhan 1. Kaji adanya infeksi disekitar area serviks
pervaginam(darah, keperawatan selama 2. Tekankan pada pentingnya personal hygene
keputihan) 3x24 jam diharapkan 3. Pantau tanda tanda vital terutama suhu
klien tidak mengalami 4. Berikan perawatan dengan prinsip aseptic
penyebaran infeksi dan dan antiseptic
dapat menjaga diri dari 5. Tempatkan klien pada lingkungan yang
infeksi. terhindar dari infeksi
NOC: 6. Kolaborasi pemberian obat antibiotic
Imunne Status 7. Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien
Knowledge: 8. Batasi pengunjung bila perlu
Infection control
Risk control 9. Instruksikan pada pengunjung untuk
Kriteria hasil: mencucui tangan saat berkunjung dan setelah
a. Tidak ada tanda- selesei berkunjung
tanda infeksi pada 10. Cuci tangan setiap sebelum dan sesuadah
area sekitar serviks( melakukan tindakan keperawatan
kalor, rubor, dolor, 11. Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat
tumor, fungsio pelindung
laesia) 12. Gunakan kateter intermiten untuk
b. Tanda-tanda vital menurunkn infeksi kandung kencing
dalam batas normal 13. Monitor tanda dan gejala sistemik lokal
Nadi(60-100x/mnt), 14. Monitor perhitungan granulosit, leukosit
pernapasan 15. Laporkan kultur positif
normal(16-
24x/mnt), TD( 100-
140 mmHg/60-90
mmHg), suhu
normal(36,5-37,50c)
c. Nilai WBC (sel
darah putih) dalam
batas normal yaitu 4-
9 103/uL
d. Menunjukan
perilaku hidup sehat
4 Ansietas b.d Setelah dilakukan Anxiety Reduction
berhubungan dengan tindakan asuhan 1. Bantu klien untuk mengungkapkan pikiran
kurang pengetahuan keperawatan selama dan perasaannya
tentang prosedur 3x24 jam diharapkan 2. Berikan lingkungan terbuka dimana klien
pengobatan kecemasan klien hilang merasa aman untuk mendiskusikan perasaan
atau berkurang. atau menolak untuk bicara
NOC: 3. Pertahankan bentuk sering bicara dengan
Anxiety self-control klien.
Anxiety level 4. Bantu klien atau orang terdekat dalam
Coping mengenali dan mengklarifikasi rasa takut.
Criteria hasil: 5. Berikan informasi yang akurat, konsisten
a. Klien mengatakan mengenai prognosis, pengobatan serta
perasaan cemasnya dukungan orang terdekat
hilang atau
berkurang
b. Terciptanya
lingkungan yang
aman dan nyaman
bagi klien
c. Klien tampak rileks
dan senang karena
mendapat perhatian
d. Keluarga atau orang
terdekat dapat
mengenali dan
mengklarifikasi rasa
takut yang timbul
dari klien
e. Klien mendapat
informasi yang
akurat ,pengobatan
dan pasien mendapat
dukungan dari orang
terdekat
5 Gangguan integritas Setelah dilakukan 1. Kaji integritas kulit
kulit b.d efek dari tindakan asuhan 2. Inspeksi kulit yang diradiasi
prosedur pengobatan keperawatan selama 3. Bersihkan daerah yang terbuka dengan air.
3x24 jam diharapkan Pengeringan dengan udara atau ditepuk
klien tidak menglami
kerusakan integritas 4. Instruksikan pasien untuk tidak mencukur
kulit. kulit yang iritasi
NOC : 5. Bantu klien untuk menghindari menggaruk
Integritas Jaringan : kulit
Kulit dan Membran 6. Mandikan dengan air hangat dan sabun
Mukosa ringan
Criteria hasil: 7. Bantu klien untuk menghindari menggaruk
a. Elastisitas tidak kulit
terganggu 8. Tinjau protocol perawatan kulit untuk klien
b. Hidrasi tidak yang mendapat terapi radiasi
terganggu 9. Anjurkan memakai pakaian yang lembut dan
c. Tidak berkeringat longgar, biarkan klien tidak menggunakan
d. Tekstur tidak bra bila menimbulkan tekanan
terganggu
e. Integritas kulit tidak
terganggu
f. Lesi pada kulit tidak
ada
g. Pengelupasan kulit
tidak ada

6 Risiko jatuh b.d Setelah dilakukan Fall Prevention


kelemahan dan tindakan asuhan 1. Instruksikan dan bantu dalam mobilitas
kelelahan keperawatan selama secara tepat
3x24 jam diharapkan 2. Anjurkan untuk berpegangan tangan atau
klien tidak mengalami minta bantuan pada keluarga dalam
cedera atau injuri. melakukan suatu kegiatan
NOC : 3. Pertahankan posisi tubuh tepat dengan
Risk Injury For dukungan alat bantuan
Criteria hasil:
a. Klien dapat
meningkatkan
keamanan ambulansi
b. Klien mampu
menjaga
keseimbangan tubuh
ketika akan
melakukan aktivitas
c. Klien mampu
meningkatkan fungsi
fungsional pada
ekstremitas
7 Gangguan pola Setelah dilakukan 1. Citakan hubungan terapeutik atas dasar
seksual b.d tindakan asuhan saling percaya, saling memahami dan berikan
perubahan fungsi keperawatan selama kepecayaan diri kepada klien
tubuh akibat terkena 3x24 jam diharapkan 2. Dengerkan pernyataan klien atau orang
penyakit kanker klien mampu terdekat
serviks mempertahankan 3. Informasikan kepada klien tentang efek dari
aktivitas seksual pasien proses penyakit kanker serviks yang
tetap adekuat pada dialaminya terhadap fungsi seksualnya
tingkat yang sesui termasuk didalamnya efek samping dari
dengan kondisi pengobatan kanker yang akan dijalani
fisiologis tubuhnya. 4. Diskusikan alternative ekspresi seksual yang
Sexual control dapat diberikan kepada klien sesuai dengan
Criteria hasil: kebutuhan
a. Klien mampu 5. Dorong klien untuk berbagi pikiran dengan
memahami tentang orang terdekat
arti seksualitas 6. Libatkan pasangan dalam diskusi
b. Klien mampu
mengungkapkan
pemahamannya
tentang efek kanker
serviks yang
dialaminya terhadap
fungsi seksualnya
c. Klien mampu
mendiskusikan
masalah tentang
gambaran diri,
perubahan fungsi
seksual dan hasrat
seksual dengan
orang terdekat yang
dialaminya
8 Resiko tinggi Setelah dilakukan Shock Prevention:
terjadinya syok tindakan asuhan 1. Kaji tanda terjadnya syok
hipovolemik b.d keperawatan selama 2. Observasi KU
perdarahan 3x24 jam diharapkan 3. Observasi TTV
pervaginam syok klien berkurang 4. Monitor tanda pendarahan
atau tidak terjadi syok. 5. Cek Hb dan hematocrit
NOC:
Shock Severity
Criteria hasil:
a. Klien tidak
mengalami
penurunan kesadaran
b. Klien tidak
mengalami anemia
c. Tanda-tanda vital
dalam batas normal
d. Klien tidak tampak
pucat
9 Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan 1. Monitor respon fisik , emosi , sosial dan
b.d kelemahan umum asuhan keperawatan spiritual
selama 1 x 24 jam 2. Bantu klien ntuk membuat jadwal latihan
dengan diwaktu luang
mempertahankan ADL 3. Bantu untuk mengidentifikasi aktifitas yang
pasien disukai
NOC: 4. Bantu klien untuk
Activity therapy mengidentifikasi aktivitas yang mampu
Endurance dilakukan
Psychomotor Energy 5. Bantú pasien untuk mengembangkan
Dengan Kriteria hasil : motivasi diri dan penguatan
1. Mampu melakukan
6. Bantu pasien untuk memilih aktivitas
aktivitas sehari - hari
konsisten yang sesuai dengan kemampuan
(ADLs) secara
7. Kolaborasikan dengan tenaga .rehabilitasi
mandiri
medik / fisioterapi dalam merencanakan
2. Berpartisipasi dalam
program terapi yang tepat.
aktivitas fisik tanpa
disertai peningkatan
tekanan darah , nadi
dan Respirasi
3. Memulihkan energy
saat istirahat
4. Mempertahankan
daya tahan otot
ektremitas atas
5. Menunjukkan
tingkat energy yang
stabil
10 Resiko kekurangan Setelah dilakukan 1. Monitor status cairan
volume cairan b.d asuhan keperawatan 2. Pertahankan catatan intake dan output yang
kehilangan volume selama 1 x 24 jam akurat
cairan aktif dengan 3. Monitor status hidrasi (kelembaban membran
mempertahankan mukosa, nadi adekuat, tekanan darah
kebutuhan cairan pasien ortostatik )
dan pasien tidak 4. Monitor vital sign
dehidrasi 5. Monitor masukan makanan / cairan dan
NOC: hitung intake kalori harian
Fluid balance 6. Monitor status nutrisi
Hydration 7. Dorong keluarga untuk membantu pasien
Nutrional Status : Food makan
and fluid intake 8. Persiapkan untuk transfusi
Dengan criteria hasil : 9. Kolaborasikan dalam pemberian cairan IV
1. Mempertahankan
urine output sesuai
dengan usia dan BB,
BJ urine normal , HT
normal

2. Tekanan darah , nadi


, suhu tubuh dalam
batas normal

3. Tidak ada tanda


tanda dehidrasi,
elastisitas turgor
baik,

4. Membrane mukosa
lembab, tidak ada
rasa haus yang
berlebihan

11 Gangguan citra tubuh Setelah dilakukan 1. Kaji secara verbal dan non verbal terhadap
b.d tahapan asuhan keperawatan tubuhnya
perkembangan selama 1 x 24 jam 2. Jelaskan tentang pengobatan , perawatan ,
penyakit dan terapi dengan meningkatkan kemajuan dan prognosis penyakit
penyakit citra tubuh pasien 3. Dorong klien
NOC: untuk Mengungkapkan
Body image perasaanyan
Self esteem 4. Fasilitasi kontak antara pasien dengan
Dengan criteria hasil: keluarga
1. Body image positif

2. Mampu
mengidentifikasi
kekuatan personal

3. Mempertahankan
interaksi social
DAFTAR PUSTAKA

Abuseir S., Khune, M., Schnieder, T., Klein, G., Epe, C., 2007. Evaluation of A.
Serological Method for The Detection of Taenia saginata Cysticercosis.
Using Serum and Meat Juice Samples. Parasitol Res 101: 131-137.

Arief Mansjoer (2010), Kapita Selekta Kedokteran, edisi 4, Jakarta : Media.


Aesculapius.

Brunner, Suddarth. (2014). Keperawatan Medikal Bedah Edisi 12. Jakarta : ECG.

Depkes RI. (2008). Deteksi Dini Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara.

Diagnosis Keperawatan NANDA Internasional: Definisi dan Klasifikasi


2012-2014. Jakarta: EGC.

Doenges, Marilyn E. (2009). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk


Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih Bahasa: I
Made Kariasa, Ni Made Sumarwati. Edisi 3. Jakarta: EGC.

Elizabeth J. Corwin. (2009). Buku Saku Patofisiologi Corwin. Jakarta: Aditya


Media.

Emilia, Ova, dkk, 2010. Bebas Ancaman Kanker Serviks. Yogyakarta: MedPress.

H. Syaifuddin. 2011.Anatomi Fisiologi: Kurikulum Berbasis Kompetensi Untuk


Keperawatan dan Kebidanan, Edisi ke-4. Jakarta:EGC.

Hamilton, Persis Mary. (2014). Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas Edisi 6.


Jakarta: EGC.

Mansjoer, Arif. 2007. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid II. Jakarta: Media
Aesculapius.

Manuaba, I. B. G. (2009). Memahami kesehatan reproduksi wanita (2 ed.). Jakarta:


EGC.

Nanda Internasional. 2015. Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2015-


2017 Edisi 10. Jakarta : EGC
NIC. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC) Edisi Keenam. Yogyakarta:
Moco Media

NOC. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC) Edisi Kelima. Yogyakarta:


Moco Media

Nurwijaya, Hartati, dkk. 2010. Cegah dan Deteksi Kanker Serviks. Jakarta: Elex
Media Komputindo Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.
Alih Bahasa: I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati. Edisi 3. Jakarta: EGC.

Price SA, Wilson LM. 2012. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit,
edisi ke-6. Jakarta: EGC.

Price Sylvia A, Wilson Lorraine M. 2012. Patofisiologi: Konsep Klinis. Proses-


Proses Penyakit. Jakarta: EGC

Santosa, Budi. (2007). Panduan diagnosa keperawatan NANDA 2005-


2006. Jakarta : Prima Medika.

Smeltzer,Suzane C., and Bare, Brenda G., (2008). Buku Ajar Kesehatan Medical.
Bedah, Volume 2, Edisi 8. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.