Anda di halaman 1dari 29

HECTING PERINEUM

I. ANATOMI DAN PERSARAFAN PERINEUM


Perineum merupakan bagian permukaan dari pintu bawah panggul, terletak antara
vulva dan anus. Perineum terdiri dari otot dan fascia urogenitalis serta diafragma pelvis.
Diafragma urogenitalis terletak menyilang arkus pubis diatas fascia superfisialis perinei dan
terdiri dari otot-otot transversus perinealis profunda. Diafragma pelvis dibenuk oleh otot- otot
koksigis dan levator ani yang terdiri dari otot penting, yaitu : m.puborektalis, m.pubokoksigis
dan m.iliokoksigis. Susunan otot tersebut merupakan penyangga dari struktur pelvis,
diantaranya lewat urethra, vagina dan rektum.(1)
Perineum berbatas sebagai berikut :
1. Ligamentum arkuata dibagian depan tengah
2. Arkus iskiopubik dan tuber iskii dibagian lateral depan
3. Ligamentum sakrotuberosum dibagian lateral belakang
4. Tulang koksigis dibagian belakang tengah

Daerah perineum terdiri dari 2 bagian, yaitu :1


1. Regio anal disebelah belakang. Disini terdapat m.sfingter ani eksterna yang melingkari anus.
2. Regio urogenitalis. Disini terdapat m.bulbokavernosus, m.transversus perinealis superfisialis
dan m.iskiokavernosus.
Perineal body merupakan struktur perineum yang terdiri dari tendon dan sebagai
tempat bertemunya serabut-serabut otot tersebut diatas. Persarafan perineum berasal dari
segmen sakral 2,3,4 dari sumsum tulang belakang (spinal cord) yang bergabung membentuk
nervus pudendus.
Syarat ini meninggalkan pelvis melalui foramen sciatic mayor dan melalui
lateral ligamentum sakrospinosum, kembali memasuki pelvis melalui foramen sciatic
minor dan kemudian lewat sepanjang dinding sampai fossa iliorektal dalam suatu ruang
fasial yang disebut kanalis Alcock. Begitu memasuki kanalis Alcock, n.pudendus terbagi
menjadi 3bagian/cabang utama, yaitu n.hemorrhoidalis inferior di regio anal, n.perinealis
yang juga membagi diri menjadi n.labialis posterior dan n.perinealis profunda ke bagian
anterior dari dasar pelvis dan diafragma urogenital; dan cabang ketiga adalah n.dorsalis
klitoris.(1)
Perdarahan ke perineum sama dengan perjalanan saraf yaitu berasal dari
arteri pudenda interna yang juga melalui kanalis Alcock dan terbagi menjadi
a.hemorrhoidalis inferior, a.perinealis dan a.dorsalis klitoris.(1)
II. RUPTUR PERINEUM

A. DEFINISI
Ruptur adalah robekan atau koyaknya jaringan secara paksa (Dorland, 1994).
Perineum adalah bagian yang terletak antara vulva dan anus panjangnya rata-rata 4 cm
(Wiknjosastro, 1999).
Klasifikasi ruptur perineum ada 2, yaitu :
1. Ruptur perineum spontan Yaitu luka pada perineum yang terjadi karena sebab-sebab tertentu
tanpa dilakukan tindakan perobekan atau disengaja. Luka ini terjadi pada saat persalinan dan
biasanya tidak teratur.(2)
Robekan perineum ada 2, yaitu :2
a) Anterior : labia, vagina anterior, uretra atau klitoris
b) Posterior : dinding posterior vagina, otot perineum, spincter ani, mukosa rektum.
2. Ruptur perineum yang disengaja (Episiotomi) Yaitu luka perineum yang terjadi karena
dilakukan pengguntingan atau perobekan pada perineum.(2)
Episiotomi ialah suatu tindakan insisi pada perineum yang menyebabkan terpotongnya
selaput lendir vagina, cincin selaput dara, jaringan pada septum rektovaginal, otot-otot dan
fasia perineum dan kulit sebelah depan perineum.3

A. RUPTUR PERINEUM SPONTAN


Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang
juga pada persalinan berikutnya. Robekan ini dapat dihindarkan atau dikurangi dengan
menjaga jangan sampai dasar panggul dilalui oleh kepala janin dengan cepat. Sebaliknya
kepala janin yang akan lahir jangan ditahan terlampau kuat dan lama, karena akan
menyebabkan asfiksia dan perdarahan dalam tengkorak janin, dan melemahkan otot_otot dan
fasia pada dasar panggul karena diregangkan terlalu lama.(4)

Robekan perineum umumnya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas apabila
kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil daripada biasa sehingga
kepala janin terpaksa lahir lebih ke belakang daripada biasa, kepala janin melewati pintu
bawah panggul dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkumferensia suboksipito-
bregmatika, atau anak dilahirkan dengan pembedahan vaginal.(4)
Faktor-faktor yang menyebabkan ruptur perineum (Harry Oxorn) :5
Faktor maternal, mencakup :
1. Partus presipitatus yang tidak dikendalikan dan tidak ditolong (sebab paling sering)
2. Pasien tidak mampu berhenti mengejan.
3. Partus diselesaikan secara tergesa-gesa dengan dorongan fundus yang berlebihan.
4. Edema dan kerapuhan pada perineum.
5. Varikositas Vulva yang melemahkan jaringan-jaringan perineum.
6. Arcus pubis sempit dengan pintu bawah panggul yang sempit pulasehingga menekan kepala
bayi ke arah posterior.
7. Perluasan episitomi.
Faktor janin mencakup :
1. Bayi yang besar
2. Posisi kepala yang abnormal, ex : presentasi muka
3. Kelahiran bokong
4. Ekstraksi forceps yang sukar
5. Dystocia bahu
6. Anomali kongenital, seperti hidrocephalus
Tingkat robekan perineum dapat dibagi atas 4 tingkatan (2) :
1. Tingkat I : robekan hanya terjadi pada selaput lendir vagina dengan atau tanpa mengenai
kulit perineum sedikit.
2. Tingkat II : Robekan yang terjadi lebih dalam yaitu selain mengenai selaput lendir vagina
juga mengenai muskulus perinei transversalis, tapi tidak mengenai sfingter ani
3. Tingkat III : Robekan yang terjadi mengenai seluruh perineum sampai mengenai otot-otot
sfingter ani.
4. Tingkat IV : Robekan mengenai perineum sampai otot sfingter ani dan mukosa rectum
B. RUPTUR PERINEUM DISENGAJA ( EPISIOTOMI)
Penyembuhan luka perineum akan lebih sempurna bila pinggirnya lurus dan otot-
otot mudah dijahit. Pada persalinan spontan sering terjadi robekan perineum yang merupakan
luka dengan pinggir yang tidak teratur. Hal ini akan menghambat penyembuhan
penyembuhan per primam sesudah luka dijahit. Oleh karena itu, dan juga untuk melancarkan
jalannya persalinan, dapat dilakukan insisi pada perineum pada saat kepala janin tampak dari
luar dan mulai meregangkan perineum.4
Dengan cara episiotomi, maka robekan perineum, regangan otot-otot dan fasia pada
dasar panggul, prolapsus uteri, stress incontinence, serta perdarahan dalam tengkorak janin
dapat dihindarkan. Luka episiotomi lebih mudah dijahit daripada robekan.4

a. Jenis Episiotomi:
Sayatan episiotomi umumnya menggunakan gunting khusus, tetapi dapat juga sayatan
dilakukan dengan pisau. Berdasarkan lokasi sayatan maka dikenal 4 jenis episiotomi yaitu:
1) Episiotomi medialis
Sayatan dimulai pada garis tengah komissura posterior lurus ke bawah tetapi tidak
sampai mengenai serabut sfingter ani. Keuntungan dari episiotomi medialis ini adalah :
perdarahan yang timbul dari luka episiotomi lebih sedikit oleh karena merupakan daerah yang
relatif sedikit mengandung pembuluh darah. sayatan bersifat simetris dan anatomis sehingga
penjahitan kembali lebih mudah dan penyembuhan lebih memuaskan. Kerugiannya adalah
dapat terjadi ruptur perinei tingkat III inkomplet (laserasi m.sfingter ani) atau komplet
(laserasi dinding rektum).
2) Episiotomi mediolateralis
Sayatan disini dimulai dari bagian belakang introitus vagina menuju ke arah belakang
dan samping. Arah sayatan dapat dilakukan ke arah kanan ataupun kiri, tergantung pada
kebiasaan orang yang melakukannya. Panjang sayatan kira2 4 cm.
Sayatan disini sengaja dilakukan menjauhi otot sfingter ani untuk mencegah ruptura
perinei tingkat III. Perdarahan luka lebih banyak oleh karena melibatkan daerah yang banyak
pembuluh darahnya. Otot-otot perineum terpotong sehingga penjahitan luka lebih sukar.
Penjahitan dilakukan sedemikian rupa sehingga setelah penjahitan selesai hasilnya harus
simetris.

3) Episiotomi lateralis
Sayatan disini dilakukan ke arah lateral mulai dari kira-kira jam 3 atau 9 menurut arah
jarum jam. Jenis episiotomi ini sekarang tidak dilakukan lagi, oleh karena banyak menimbulkan
komplikasi. Luka sayatan dapat melebar ke arah dimana terdapat pembuluh darah pudendal
interna, sehingga dapat menimbulkan perdarahan yang banyak. Selain itu parut yang terjadi
dapat menimbulkan rasa nyeri yang mengganggu penderita.
4) Insisi Schuchardt
Jenis ini merupakan variasi dari episiotomi mediolateralis, tetapi sayatannya
melengkung ke arah bawah lateral, melingkari rektum, serta sayatannya lebih lebar.

C. Indikasi episiotomy.
Indikasi episiotomi dapat berasal dari faktor ibu maupun faktor janin. Indikasi ibu antara lain
adalah:
1) Primigravida umumnya
2) Perineum kaku dan riwayat robekan perineum pada persalinan yang lalu
3) Apabila terjadi peregangan perineum yang berlebihan misalnya pada persalinan sungsang,
persalinan dengan cunam, ekstraksi vakum dan anak besar
4) Arkus pubis yang sempit
Indikasi janin antara lain adalah:
1) Sewaktu melahirkan janin prematur. Tujuannya untuk mencegah terjadinya trauma yang
berlebihan pada kepala janin.
2) Sewaktu melahirkan janin letak sungsang, letak defleksi, janin besar.
3) Pada keadaan dimana ada indikasi untuk mempersingkat kala II seperti pada gawat janin, tali
pusat menumbung.

D. Kontra indikasi.
Kontra indikasi episiotomi antara lain adalah :
a. Bila persalinan tidak berlangsung pervaginam
b. Bila terdapat kondisi untuk terjadinya perdarahan yang banyak seperti penyakit kelainan
darah maupun terdapadatnya varises yang luas pada vulva dan vagina.

E. TEKNIK PENJAHITAN

a. Teknik Episiotomi Medialis


Pada teknik ini insisi dimulai dari ujung terbawah introitus vagina sampai batas atas
otot-otot sfingter ani.
Cara anestesi yang dipakai adalah cara anestesi iniltrasi antara lain dengan larutan
procaine 1%-2%; atau larutan lidonest 1%-2%; atau larutan xylocaine 1%-2%. Setelah
pemberian anestesi, dilakukan insisi dengan mempergunakan gunting yang tajam dimulai dari
bagian terbawah introitus vagina menuju anus, tetapi tidak sampai memotong pinggir atas
sfingter ani, hingga kepala dapat dilahirkan. Bila kurang lebardisambung ke lateral
(episiotomi mediolateralis).
Untuk menjahit luka episiotomi medialis mula-mula otot perineum kiri dan kanan
dirapatkan beberapa jahitan. Kemudian fasia dijahit dengan beberapa jahitan. Lalu selaput
lendir vagina dijahit pula dengan beberapa jahitan. Terakhir kulit perineum dijahit dengan
empat atau lima jahitan. Jahitan dapat dilakukan secara terputus-putus (interrupted suture)
atau secara jelujur (continous suture). Benang yangdipakai untuk menjahit otot, fasia dan
selaput lendir adalah catgut khromik, sedangkan untuk kulit perineum dipakai benang sutera.
Keterangan :
1) Otot perineum kiri dan kanan dijahit dan dirapatkan
2) Pinggir fasia kiri dan kanan dijahit dan dirapatkan
3) Selaput lendir vagina dijahit
4) Kulit perineum dijahit dengan benang sutera

b. Teknik Episiotomi Mediolateralis


Pada teknik ini insisi dimulai dari bagian belakang introitus vagina menuju ke arah
belakang dan samping. Arah insisi ini dapat dilakukan ke arah kanan ataupun kiri, tergantung
pada kebiasaan orang yang melakukannya. Panjang insisi kira-kira 4 cm.
Teknik menjahit luka pada episiotomi mediolateralis hampir sama dengan teknik
menjahit episiotomi medialis. Penjahitan dilakukan sedemkian rupa sehingga setelah
penjahitan selesai hasilnya harus simetris.
1) Menjahit jaringan otot-otot dengan jahitan terputus-putus
2) Benang jahitan pada otot-otot ditarik
3) Selaput lendir vagina dijahit
4) Jahitan otot-otot diikatka
5) Fasia dijahit
6) Penutupan fasia selesai
7) Kulit dijahit

c. Teknik Episiotomi Lateralis3


Pada teknik ini insisi dilakukan ke arah lateral mulai dari kira-kira pada jam 3
atau jam 9 menurut arah jarum jam.
Teknik ini sekarang tidak dilakukan lagi oleh karena banyak memimbulkan
komplikasi. Luka insisi ini dapat melebar ke arah dimana terdapat pembuluh darah pundendal
interna, sehingga dapat menimbulkan perdarahan yang banyak. Selain itu parut yang terjadi
dapat menimbulkan rasa nyeri yang mengganggu penderita.

III. TEKNIK MENJAHIT ROBEKAN PERINEUM


III.1. PERALATAN MENJAHIT PERINEUM

a. Gorden dan sarung tangan steril


b. Solusi irigasi
c. Needle holder
d. Metzenbaum gunting
e. Jahitan gunting
f. Gunting tang dengan gigi
g. Klem Allis
h. Gelpi atau deaver retractor ( untuk digunakan dalam memvisualisasikan derajat ketiga
i. atau keempat robekan perineum, atau dalam robekan vagina)
j. 10 ml suntik dengan 22 gauge
k. 1% lidokain ( xylocaine )
l. 3-0 jahitan polyglactin 910 ( vicryl ) jahitan di CT-1 jarum ( untuk jahitan mukosa
m. vagina )
n. 3-0 jahitan pada polyglactin 910 CT-1 jarum ( untuk jahitan otot perineum )
o. 4-0 polyglactin SH 910 pada jarum jahit ( untuk jahitan kulit )
p. 2-0 polydioxanone sulfat (PDS) jahitan di CT-1 jarum ( untuk jahitan eksternal
q. sfingter anal )

III.2. TEKNIK MENJAHIT ROBEKAN PERINEUM


1. Tingkat I :
Penjahitan robekan perineum tingkat I dapat dilakukan hanya dengan memakai catgut
yang dijahitkan secara jelujur (continous suture) atau dengan cara angka delapan (figure of
eight).
2. Tingkat II :
Pada robekan perineum tingkat II, setelah diberi anestesi lokal otot-otot diafragma
urogenitalis dihubungkan di garis tengah dengan jahitan dan kemudian luka pada vagina dan
kulit perineum ditutup dengan mengikutsertakan jaringan-jaringan dibawahnya.
Jahitan mukosa vagina : jahit mukosa vagina secara jelujur dengan catgut kromik 2-0.
Dimulai dari sekitar 1 cm di atas puncak luka di dalam vagina sampai pada batas vagina.
Jahitan otot perineum : lanjutkan jahitan pada daerah otot perineum sampai ujung luka
pada perineum secara jelujur dengan catgut kromik 2-0. Lihat ke dalam luka untuk
mengetahui letak ototnya. Penting sekali untuk menjahit otot ke otot agar tidak ada rongga
diantaranya.
Jahitan kulit : carilah lapisan subkutikuler persis di bawah lapisan kulit. Lanjutkan
dengan jahitan subkutikuler kembali ke arah batas vagina, akhiri dengan simpul mati pada
bagian dalam vagina.
3. Tingkat III :
Sebelum dilakukan penjahitan pada robekan perineum tingkat II maupun tingkat III,
jika dijumpai pinggir robekan yang tidak rata atau bergerigi, maka pinggir yang bergerigi
tersebut harus diratakan terlebih dahulu. Pinggir robekan sebelah kiri dan kanan masing-
masing diklem terlebih dahulu, kemudian digunting. Setelah pinggir robekan rata, baru
dilakukan penjahitan luka robekan.
Jahitan sfingter ani : jepit otot sfingter dengan klem Allis atau pinset. Tautkan ujung
otot sfingter ani dengan 2-3 jahitan benang kromik 2-0 angka 8 secara interuptus. Larutan
antiseptik pada daerah robekan. Reparasi mukosa vagina, otot perineum dan kulit.
4. Tingkat IV :
Mula-mula dinding depan rektum yang robek dijahit. Kemudian fasia perirektal dan
fasia septum rektovaginal dijahit dengan catgut kromik, sehingga bertemu kembali. Ujung-
ujung otot sfingter ani yang terpisah oleh karena robekan diklem dengan Pean lurus,
kemudian dijahit dengan 2-3 jahitan catgut kromik sehingga bertemu kembali. Selanjutnya
robekan dijahit lapis demi lapis seperti menjahit robekan perineum tingkat II.3,4

III.3. PERAWATAN PASCA TINDAKAN


a. Apabila terjadi robekan tingkat IV (robekan sampai mukosa rektum), berikan antibiotic
profilaksis dosis tunggal. Ampisilin 500 mg peroral danMetronidazol 500 mg
peroral. Observasi tanda-tanda infeksi. Jangan lakukan pemeriksaan rektal atau enema
selama 2 minggu.
b. Penggunaan sitz mandi dan analgesik seperti ibuprofen. Jika rasa sakit yang berlebihan pada
hari-hari setelah pasca tindakan harus segera diperiksa, sebab rasa sakit merupakan tanda-
tanda infeksi didaerah perineum.
c. Penderita diberi makanan yang tidak mengandung selulosa mulai dari hari kedua diberi
parafinum liquidum sesendok makan 2 kali sehari dan jika perlu pada hari ke 6 diberi klisma
minyak.

III.4. KOMPLIKASI JIKA ROBEKAN PERINEUM DIBIARKAN


Jika robekan tingkat III tidak diperbaiki dengan baik, pasien dapat menderita
gangguan defekasi dan flatus. Jika robekan rektum tidak diperbaiki, dapat terjadi infeksi dan
fistula rektovaginal.

III.5. PENANGANAN KOMPLIKASI


Jika terdapat hematoma, darah dikeluarkan. Jika tidak ada tanda infeksi dan
perdarahan sudah berhenti, lakukan penjahitan. Jika terdapat infeksi, buka dan drain luka.
Berikan Ampisilin 500 mg peroral tiga kali sehari selama 5 hari danMetronidazol 400 mg
peroral tiga kali sehari selama 5 hari. Jika infeksi mencapai otot dan terdapat nekrosis,
lakukan debridemen dan berikan antibiotika secara kombinasi sampai pasien bebas demam
48 jam. Penisilin G 2 juta unit setiap 6 jam IV. Ditambah Gentamisin 5 mg/kgBB setiap 24
jam IV.DitambahMetronidazol 500 mg peroral setiap 8 jam IV
Sesudah pasien bebas demam selama 48 jam berikan : Ampisilin 500 mg peroral
empat kali sehari selama 5 hari. DitambahMetronidazol 400 mg peroral tiga kali sehari selam
5 hari. Luka dapat dijahit bila telah tenang, 2-4 minggu kemudian. Fistula rektovaginal perlu
dilakukan bedah rekonstruksi 3 bulan atau lebih pasca Persalinan
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Robekan jalan lahir selalu memberikan perdarahan dalam jumlah yang bervariasi banyaknya.
Perdarahan yang berasal dari jalan lahir selalu harus dievaluasi, yaitu sumber dan jumlah perdarahan
sehingga dapat diatasi. Sumber perdarahan dapat berasal dari perineum vagina, servik dan robekan
uterus. Perdarahan dapat dalam bentuk hematoma dan robekan jalan lahir dengan perdarahan yang
bersifat arteril atau pecahnya pembuluh darah vena. Untuk dapat menetapkan sumber perdarahan
dapat dilakukan dengan pemeriksaan dalam atau spekulum.

Perdarahan karena robekan jalan lahir banyak dijumpai pada pertolongan persalinan. Jika
perlukaan hanya mengenai bagian luar (superfisial) saja atau jika perlukaan tersebut tidak
mengeluarkan darah, biasanya tidak perlu dijahit. Hanya perlukaan yang lebih dalam dimana
jaringannya tidak bisa didekatkan dengan baik atau perlukaan yang aktif mengeluarkan darah
memerlukan suatu penjahitan. Hecting digunakan untuk mendekatkan tepi luka dengan benang
sampai sembuh dan cukup untuk menahan beban fisiologis.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut.

1. Apakah pengertian dari hecting dan hecting perineum?

2. Sebutkan macam-macam hecting?

3. Sebutkan benang untuk hecting perineum?

4. Apakah komplikasi hecting tersebut?

5. Bagaimana perawatan luka hecting perineum?

6. Bagaimana suatu Asuhan Keperawatan Hecting perineum tersebut?


1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui pengertian hecting dan hecting perineum

2. Menyebutkan macam-macam hecting.

3. Menyebutkan benang untuk hecting perineum.

4. Mengetahui komplikasi dari proses hecting.

5. Mengetahui cara perawatan luka dari hecting perineum.

6. Mengetahui pembuatan suatu Asuhan Keperawatan Hecting perineum.

1.4 Manfaat Penulisan


Manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.

1. Untuk memberikan gambaran tentang proses dan mekanisme hecting

2. Sebagai bahan masukan untuk memperluas dan memperdalam pemahaman tentangproses proses
dan mekanisme hecting.

1.5 Metode Penulisan

Metode penulisan makalah yang digunakan oleh penulis adalah sebagai berikut :

1. BAB I adalah pendahuluan, terdiri atas latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, mamfaat
penulisan dan metode penulisan.

2. BAB II adalah tinjauan pustaka terdiri dari pengertian rupture perineum dan episiotomi, jenis-jenis
robekan perineum dan episiotomy, hecting perineum, macam-macam hecting, benang
untuk hecting perineum, komplikasi hecting, perawatan luka hecting perineum.

3. BAB III adalah Asuhan Keperawatan Hecting perineum terdiri dari anatomi sistem reproduksi wanita,
fisiologi sistem reproduksi wanita, etiologi hectingperineum, pengkajian pada pasien dan diagnosa
keperawatan, intervensi dan rasional.

4. BAB V adalah kesimpulan dan saran.

5. DAFTAR PUSTAKA
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Rupture Perineum Dan Episiotomi

Ruptur perineum adalah robekan yang terjadi pada saat bayi lahir baik secara spontan maupun
dengan alat atau tindakan. Robekan perineum umumnya terjadi pada garis tengah dan bisa menjadi
luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat. Robekan terjadi pada hampir
semua primipara (Wiknjosastro, 2005, hlm 665).

Pengertian ruptur sesuai dengan kamus kedokteran adalah robeknya atau koyaknya jaringan
(Dorland,1998). Perineum merupakan ruang berbentuk jajaran genjang yang terletak di bawah dasar
panggul. Batas superior yaitu dasar panggul yang terdiri dari musculus levator ani dan musculus
coccygeus. Batas lateral tulang dan ligamentum yang membentuk pintu bawah panggul, yaitu depan
ke belakang angulus pubicus, ramus ischiopubicus, tuber ischiadicum, ligamentum sacrotuberosum,
dan oscoccyges. Batas inferior yaitu kulit dan vagina (Oxorn, 2003). Ruptur perineum adalah robekan
yang terjadi pada perineum sewaktu persalinan (Mohtar, 1998).

Episiotomi adalah perobekan yang dibuat di perineum antara lubang vagina dan anus untuk
mempermudah keluarnya bayi. Perobekan ini dilakukan dengan gunting bius lokal ketika kepala bayi
tampak. Jika dilakukan terlalu dini sebelum kelangkang menipis, otot-otot, kulit dan pembuluh-
pembuluh darah akan rusak dan perdarahan bisa lebih banyak.

Episiotomi adalah inisiasi pada perineum yang menyebabkan terpotongnya selaput lendir
vagina, cincin himen, jaringan septum rektovaginal, otot-otot dan fasia perineum, serta kulit sebelah
depan perineum untuk melebarkan jalan lahir sehingga mempermudah kelahiran (Mansjoer, et all,
2001).

Episiotomi yaitu tindakan bedah ringan berupa irisan di daerah perineum antara lubang
kemaluan dan lubang anus (Indiarti, 2009).

2.2 Jenis-Jenis Robekan Perineum Dan Jenis-Jenis Episiotomi

a. Jenis-Jenis Robekan Perineum Di Bagi Menjadi 4 Tingkat :

 Tingkat 1: robekan hanya terjadi pada selaput lendir vagina dengan atau tanpa mengenai kulit
perineum
 Tingkat 2: robekan mengenai selaput lender vagina dan otot perineum transfersalis, tetapi tidak
mengenai otot sphingter ani.

 Tingkat 3: robekan mengenai perineum sampai dengan otot sphingter ani

 Tingkat 4: robekan mengenai perineum sampai dengan otot sphingter ani dan mukosa rectum.

b. Jenis-Jenis Episiotomi Yaitu:

 Episiotomi Mediolateralis dari garis tengah ke samping menjauhi anus.

 Episiotomi Lateralis 1-2 cm diatas commisuro posterior ke samping.

 Episiotomi Sekunder adalah ruptur perinii yang spontan atau episiotomi medialis yang melebar
sehingga dimungkinkan menjadi ruptura perinii totalis maka digunting ke samping.

2.3 Hecting Perinium

Hecting adalah suatu tindakan untuk mendekatkan tepi luka dengan benang sampai sembuh
dan cukup untuk menahan beban fisiologis.

Hecting perineum adalah suatu cara untuk menyatukan kembali jaringan tubuh (dalam hal
perineum) dan mencegah kehilangan darah yang tidak perlu dan mempertahankan integritas dasar
panggul ibu.

2.4 Macam – Macam Hecting

1. Jahitan Kulit;

 Jahitan interrupted :

Jahitan simple interrupted (Jahitan satu demi satu)


Merupakan jenis jahitan yang paling dikenal dan paling banyak digunakan. Jarak antara jahitan
sebanyak 5-7 mm dan batas jahitan dari tepi luka sebaiknya 1-2 mm. Semakin dekat jarak antara tiap
jahitan, semakin baik bekas luka setelah penyembuhan.

 Jahitan Matras

a. Jahitan matras Vertikal

Jahitan jenis ini digunakan jika tepi luka tidak bisa dicapai hanya dengan mengunakan jahitan
satu demi satu. Misalnya di daerah yang tipis lemak subkutisnya dan tepi luka cenderung masuk
kedalam.

b. Jahitan matras horizontal


Jahitan ini digunakan untuk menautkan fassia dan aponeurosis. Jahitan ini tidak boleh
digunakan untuk menjahit lemak subkutis karena membuat kulit diatansa terliat lebih
bergelombang.

 Jahitan Continous

a. Jahitan jelujur : lebih cepat dibuat, lebih kuat dan pembagian tekanannya lebih rata bila
dibandingkan dengan jahitan terputus. Kelemahannya jika benang putus / simpul terurai seluruh tepi
luka akan terbuka.

a. Jahitan interlocking, feston

b. Jahitan kantung tembakau (tabl sac)

b. Jahitan Subkutis

a. Jahitan continous : jahitan terusan subkutikuler atau intrademal. Digunakan jika ingin dihasilkan
hasil yang baik setelah luka sembuh. Juga untuk menurunkan tengan pad aluka yang lebar sebelum
dilakukan penjahitan satu demi satu.

b. Jahitan interrupted dermal stitch

c. Jahitan Dalam

Pada luka infeksi misalnya insisi abses, dipasang dren. Dren dapat dibuat dari guntingan sarunga
tangan fungsi dren adalah mengelirkan cairan keluar berupa darah atau serum.

2.5 Benang Untuk Hecting Perineum

1. Seide (Silk/Sutra)

Bersifat tidak licin seperti sutera biasa karena sudah dikombinasi dengan perekat, tidak diserap
oleh tubuh. Pada penggunaan disebelah luar, maka benang harus dibuka kembali. Berguna untuk
menjahit kulit, mengikat pembuluh arteri besar. Ukuran yang sering digunakan adalah nomor 2 nol 3
nol, 1 nol dan nomor 1.

2. Plain Catgut

Bersifat dapat diserap tubuh, penyerapan berlangsung dalam waktu 7–10 hari dan warnanya
putih kekuningan. Berguna untuk mengikat sumber pendarahan kecil, menjahit subcutis dan dapat
pula digunakan untuk bergerak dan luas lukanya kecil. Benang ini harus dilakukan penyimpulan 3 kali
karena dalam tubuh akan mengembang. Bila penyimpulan dilakukan hanya 2 kali akan terbuka
kembali.

3. Chromic CatguT
Bersifat dapat diserap oleh tubuh, penyerapannya lebih lama yaitu sampai 20 hari. Chromic
Catgut biasanya menyebabkan reaksi inflamasi yang lebih besar dibandingkan dengan plain catgut.
Berguna untuk penjahitan luka yang dianggap belum merapat dalam waktu 10 hari dan bila mobilitas
harus segera dilakukan.

Catgut kromik adalah benang catgut yang telah dikombinasi dengan garam-garaman krom.
Fungsi garam-garaman krom adalah menunda proses proteolisis yang menyebabkan catgut dapat
direabsorpsi,sehingga memperpanjang waktu agar benang dapat dipertahankan dalam jaringan
bersama-sama selama proses penyembuhan.

Jenis dan ukuran benang untuk penajhitan luka perineum:

 Catgut kromik 4-0

a. Perbaikan dining anterior rektum pada laserasi derajat empat

b. Perbaikan laserasi klitoris

c. Perbaikan ditempat lain apabila memerlukan benang yang sangat halus

 Catgut kromik 3-0

a. Perbaikan mukosa vagina

b. Jahitan subkutan

c. Jahitan subkutikula

d. Perbaikan laserasi periuretra

 Catgut kromik 2-0

a. Perbaikan sfingter ani ekstra

b. Perbaikan laserasi serviks

c. Perbaikan laserasi dinding vagina lateral

d. Jahitan dalam terputus-putuspada otot pelvis

2.6 Komplikasi Hecting

 Overlapping: Terjadi sebagai akibat tidak dilakukan adaptasi luka sehingga luka menjadi tumpang
tindih dan luka mengalami penyembuhan yang lambat dan apabila sembuh maka hasilnya akan
buruk.

 Nekrosis: Jahitan yang terlalu tegang dapat menyebabkan avaskularisasi sehingga menyebabkan
kematian jaringan.
 Infeksi: Infeksi dapat terjadi karena tehnik penjahitan yang tidak steril, luka yang telah
terkontaminasi, dan adanya benda asing yang masih tertinggal.

 Perdarahan: Terapi antikoagulan atau pada pasien dengan hipertensi.

 Hematoma: Terjadi pada pasien dengan pembuluh darah arteri terpotong dan tidak dilakukan
ligasi/pengikatan sehingga perdarahan terus berlangsung dan menyebabkan bengkak.

 Dead space (ruang/rongga mati): Yaitu adanya rongga pada luka yang terjadi karena penjahitan
yang tidak lapis demi lapis.

 Sinus: Bila luka infeksi sembuh dengan meninggalkan saluran sinus, biasanya ada jahitan
multifilament yaitu benang pada dasar sinus yang bertindak sebagai benda asing.

 Dehisensi: Adalah luka yang membuka sebelum waktunya disebabkan karena jahitan yang terlalu
kuat atau penggunaan bahan benang yang buruk.

 Abses: Infeksi hebat yang telah menghasilkan produk pus/nanah

2.7 Perawatan Luka Hecting Perinium

1. Penanganan Komplikasi

 Jika terdapat hematoma, darah dikeluarkan. Jika tidak ada tanda infeksi dan perdarahan sudah
berhenti, lakukan penjahitan.

 Jika terdapat infeksi, buka dan drain luka. Lalu berikan terapi ampisilin 500 mg per oral 4 x sehari
selama 5 hari dan metronidazol 400 mg per oral 3 x sehari selama 5 hari.

2. Perawatan Pasca Tindakan

 Apabila terjadi robekan tingkat IV (Robekan sampai mukosa rektum), berikan anti biotik profilaksis
dosis tunggal Ampisilin 500 mg per oral dan metronidazol 500 mg per oral.

 Observasi tanda-tanda infeksi

 Jangan lakukan pemeriksaan rektal selama 2 minggu

 Berikan pelembut feses selama seminggu per oral


BAB III

ASKEP HECTING PERINIUM

3.1 Anatomi Sistem Reproduksi Wanita

 Genitalia Interna

 Uterus

Suatu organ muskular berbentuk seperti buah pir, dilapisi peritoneum (serosa). Selama
kehamilan berfungsi sebagai tempat implatansi, retensi dan nutrisi konseptus. Pada saat persalinan
dengan adanya kontraksi dinding uterus dan pembukaan serviks uterus, isi konsepsi dikeluarkan.
Terdiri dari corpus, fundus, cornu, isthmus dan serviks uteri. Bentuk dan ukuran bervariasi serta
dipengaruhi usia dan paritas seorang wanita. Sebelum pubertas panjangnya bervariasi antara
2,5−3,5 cm. Uterus wanita nulipara dewasa panjangnya antara 6−8 cm sedang pada wanita
multipara 9-10 cm. Berat uterus wanita yang pernah melahirkan antara 50-70 gram, sedangkan pada
wanita yang belum pernah melahirkan 80 gram atau lebih.

 Ligamenta penyangga uterus

Ligamentum latum uteri, ligamentum rotundum uteri, ligamentum cardinale, ligamentum ovarii,
ligamentum sacrouterina propium, ligamentum infundibulopelvicum, ligamentum vesicouterina,
ligamentum rectouterina.

 Salping / Tuba Falopii

Embriologik uterus dan tuba berasal dari ductus Mulleri. Sepasang tuba kiri-kanan, panjang 8-14
cm, berfungsi sebagai jalan transportasi ovum dari ovarium sampai cavum uteri. Dinding tuba terdiri
tiga lapisan : serosa, muskular (longitudinal dan sirkular) serta mukosa dengan epitel bersilia. Terdiri
dari pars interstitialis, pars isthmica, pars ampularis, serta pars infundibulum dengan fimbria, dengan
karakteristik silia dan ketebalan dinding yang berbeda-beda pada setiap bagiannya.

 Ovarium
Organ endokrin berbentuk oval, terletak di dalam rongga peritoneum, sepasang kiri-kanan.
Dilapisi mesovarium, sebagai jaringan ikat dan jalan pembuluh darah dan saraf. Terdiri dari korteks
dan medula.

Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan pematangan folikel menjadi ovum (dari sel epitel
germinal primordial di lapisan terluar epital ovarium di korteks), ovulasi (pengeluaran ovum), sintesis
dan sekresi hormon-hormon steroid (estrogen oleh teka interna folikel, progesteron oleh korpus
luteum pascaovulasi). Berhubungan dengan pars infundibulum tuba Falopii melalui perlekatan
fimbriae. Fimbriae “menangkap” ovum yang dilepaskan pada saat ovulasi.

Ovarium terfiksasi oleh ligamentum ovarii proprium, ligamentum infundibulopelvicum dan


jaringan ikat mesovarium. Vaskularisasi dari cabang aorta abdominalis inferior terhadap arteri
renalis.

 Genitalia Eksterna

 Vulva
Tampak dari luar (mulai dari mons pubis sampai tepi perineum), terdiri dari mons pubis, labia
mayora, labia minora, clitoris, hymen, vestibulum, orificium urethrae externum, kelenjar-kelenjar
pada dinding vagina.

 Mons pubis / mons veneris

Lapisan lemak di bagian anterior symphisis os pubis. Pada masa pubertas daerah ini mulai
ditumbuhi rambut pubis.

 Labia mayora

Lapisan lemak lanjutan mons pubis ke arah bawah dan belakang, banyak mengandung pleksus
vena. Homolog embriologik dengan skrotum pada pria. Ligamentum rotundum uteri berakhir pada
batas atas labia mayora. Di bagian bawah perineum, labia mayora menyatu (pada commisura
posterior).

 Labia minora

Lipatan jaringan tipis di balik labia mayora, tidak mempunyai folikel rambut. Banyak terdapat
pembuluh darah, otot polos dan ujung serabut saraf.

 Clitoris

Terdiri dari caput/glans clitoridis yang terletak di bagian superior vulva, dan corpus clitoridis yang
tertanam di dalam dinding anterior vagina. Homolog embriologik dengan penis pada pria.Terdapat
juga reseptor androgen pada clitoris. Banyak pembuluh darah dan ujung serabut saraf, sangat
sensitif.

 Vestibulum

Daerah dengan batas atas clitoris, batas bawah fourchet, batas lateral labia minora. Berasal dari
sinus urogenital. Terdapat 6 lubang/orificium, yaitu orificium urethrae externum, introitus vaginae,
ductus glandulae Bartholinii kanan-kiri dan duktus Skene kanan-kiri. Antara fourchet dan vagina
terdapat fossa navicularis.
 Introitus / orificium vagina

Terletak di bagian bawah vestibulum. Pada gadis (virgo) tertutup lapisan tipis bermukosa yaitu
selaput dara / hymen, utuh tanpa robekan. Hymen normal terdapat lubang kecil untuk aliran darah
menstruasi, dapat berbentuk bulan sabit, bulat, oval, cribiformis, septum atau fimbriae. Akibat
coitus atau trauma lain, hymen dapat robek dan bentuk lubang menjadi tidak beraturan dengan
robekan (misalnya berbentuk fimbriae). Bentuk himen postpartum disebut parous. Corrunculae
myrtiformis adalah sisa2 selaput dara yang robek yang tampak pada wanita pernah melahirkan /
para. Hymen yang abnormal, misalnya primer tidak berlubang (hymen imperforata) menutup total
lubang vagina, dapat menyebabkan darah menstruasi terkumpul di rongga genitalia interna.

 Vagina

Rongga muskulomembranosa berbentuk tabung mulai dari tepi cervix uteri di bagian kranial
dorsal sampai ke vulva di bagian kaudal ventral. Daerah di sekitar cervix disebut fornix, dibagi dalam
4 kuadran : fornix anterior, fornix posterior, dan fornix lateral kanan dan kiri. Vagina memiliki dinding
ventral dan dinding dorsal yang elastis. Dilapisi epitel skuamosa berlapis, berubah mengikuti siklus
haid.

Fungsi vagina untuk mengeluarkan ekskresi uterus pada haid, untuk jalan lahir dan untuk kopulasi
(persetubuhan). Bagian atas vagina terbentuk dari duktus Mulleri, bawah dari sinus urogenitalis.
Batas dalam secara klinis yaitu fornices anterior, posterior dan lateralis di sekitar cervix uteri. Titik
Grayenbergh (G-spot), merupakan titik daerah sensorik di sekitar 1/3 anterior dinding vagina, sangat
sensitif terhadap stimulasi orgasmus vaginal.

 Perineum

Daerah antara tepi bawah vulva dengan tepi depan anus. Batas otot-otot diafragma pelvis
(m.levator ani, m.coccygeus) dan diafragma urogenitalis (m.perinealis transversus profunda,
m.constrictor urethra). Perineal body adalah raphe median m.levator ani, antara anus dan vagina.
Perineum meregang pada persalinan, kadang perlu dipotong (episiotomi) untuk memperbesar jalan
lahir dan mencegah ruptur.

3.2 Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita

Sistem reproduksi dan adaptasi fisiologis pada post partum :

1) Proses Involusi
Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan disebut involusi. Proses
dimulai setelah plasenta keluar akibat konstraksi otot-otot polos uterus. Pada akhir persalinan tahap
III, uterus berada digaris tengah, kira-kira 2 cm dibawah umbilikus dengan fundus bersandar pada
promontorium sakralis. Ukuran uterus saat kehamilan enam minggu beratnya kira15 kira 1000 gr.
Dalam waktu 12 jam, tinggi fundus kurang lebih 1 cm

diatas umbilikus. Fundus turun kira-kira 1-2 cm setiap 24 jam. Pada hari keenam fundus normal
berada dipertengahan antara umbilikus dan simfisis fubis. Seminggu setelah melahirkan uterus
berada didalam panggul sejati lagi, beratnya kira-kira 500 gr, dua minggu beratnya 350 gr, enam
minggu berikutnya mencapai 60 gr.

2) Konstraksi Uterus

Intensitas kontraksi uterus meningkat segera setelah bayi lahir, diduga adanya penurunan volume
intrauterin yang sangat besar. Hemostatis pascapartum dicapai akibat kompresi pembuluh darah
intramiometrium, bukan oleh agregasi trombosit dan pembentukan pembekuan. Hormon desigen
dilepas dari kelenjar

hipofisis untuk memperkuat dan mengatur konstraksi. Selama 1-2 jam I pascapartumintensitas
konstraksi uterus bisa berkurang dan menjadi tidak teratur, karena untuk mempertahankan
kontraksi uterus biasanya disuntikkan aksitosan secara intravena atau intramuscular diberikan
setelah plasenta lahir.

3) Tempat Plasenta

Setelah plasenta dan ketuban dikeluarkan, kontriksi vaskuler dan trombosis menurunkan tempat
plasenta ke suatu area yang meninggi dan bernodul tidak teratur. Pertumbuhan endometrium
menyebabkan pelepasan jaringan nekrotik dan 10 hari setelah bayi lahir, warna cairan ini menjadi
kuning sampai putih (lochea alba). Lochea alba mengandung leukosit, desidua,sel epitel, mucus,
serum dan bakteri. Lochea alba bertahan selama 2-6 minggu setelah bayi lahir.

4) Serviks

Serviks menjadi lunak setelah ibu malahirkan. 18 jam pascapartum, serviks memendek dan
konsistensinya lebih padat.

5) Vagina dan Perinium

Estrogen pascapartum yang menurun berperan dalam penipisan mucosa vagina dan hilangnya
rugae. Vagina yang semula sangat teregang akan kembali secara bertahap keukuran sebelum hamil,
6-8 minggu setelah bayi lahir . Rugae akan kembali terlihat pada sekitar minggu keempat.

6) Payudara

Konsentrasi hormon yang menstimulasi perkembangan payudara selama wanita hamil (estrogen,
progesteron, human chrorionic gonadotropin, prolaktin, dan insulin) menurun dengan cepat setelah
bayi lahir. Hari ketiga atau keempat pascapartum terjadi pembengkakan (engorgement). Payudara
bengkak, keras, nyeri bila ditekan, dan hangat jika diraba (kongesti pembuluh darah menimbulkan
rasa hangat). Pembengkakan dapat hilang dengan sendirinya dan rasa tidak nyaman berkurang
dalam 24 jam sampai 36 jam. Apabila bayi belum menghisap (atau dihentikan), laktasi berhenti
dalam beberapa hari sampai satu minggu.

7) Laktasi

Sejak kehamilan muda, sudah terdapat persiapan-persiapan pada kelenjar-kelanjar untuk


menghadapi masa laktasi. Proses ini timbul setelah ari-ari atau plasenta lepas. Ari-ari mengandung
hormon penghambat prolaktin (hormon placenta) yang menghambat pembentukan ASI. Setelah ari-
ari lepas ,hormon

placenta tak ada lagi sehingga terjadi produksi ASI. Sempurnanya ASI keluar 2-3 hari setelah
melahirkan. Namun sebelumnya di payudara sudah terbentuk kolostrum yang bagus sekali untuk
bayi, karena mengandung zat kaya Gizi dan antibodi pembunuh kuman

8) Sistem Endokrin

Selama postpartum terjadi penurunan hormon human placenta latogen(HPL), estrogen dan kortisol
serta placental enzime insulinase membalik efek diabetogenik kehamilan, sehingga kadar gula darah
menurun pada masa puerperium. Pada wanita yang tidak menyusui, kadar estrogen meningkat pada

19 minggu kedua setelah melahirkan dan lebih tinggi dari wanita yang menyusui pascapartum hari
ke-17 (Bobak, 2004: 496).

9) Sistem Urinarius

Perubahan hormonal pada masa hamil (kadar steroid yang tinggi) turut menyebabkan peningkatan
fungís ginjal, sedangkan penurunan kadar steroid setelah wanita melahirkan akan mengalami
penurunan fungsi ginjal selama masa pascapartum. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu 1
bulan setelah wanita melahirkan. Trauma terjadi pada uretra dan kandung kemih selama proses
melahirkan, yakni sewaktu bayi melewati hiperemis dan edema. Kontraksi kandung kemih biasanya
akan pulih dalam 5-7 hari setelah bayi lahir (Bobak, 2004:497-498).

10) Sistem Cerna

Ibu biasanya lapar setelah melahirkan sehingga ia boleh mengkonsumsi makanan ringan. Penurunan
tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Buang
air besar secara spontan bisa tertunda selama tiga hari setelah ibu melahirkan yang disebabkan
karena tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan pada awal masa pascapartum. Nyeri
saat defekasi karena nyeri diperinium akibat episiotomi, laserasi, atau hemoroid (Bobak, 2004: 498)

3.3 Etiologi
Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada
persalinan berikutnya. Robekan ini dapat dihindarkan atau dikurangi dengan menjaga jangan sampai
dasar panggul dilalui oleh kepala janin dengan cepat. Sebaliknya kepala janin yang akan lahir jangan
di tahan terlampau kuat dan lama, karena akan menyebabkan asfiksia dan perdarahan dalam
tengkorak janin, dan melemahkan otot-otot dan fasia pada dasar panggul karena direnggangkan
terlalu lama.

Robekan perineum umumnya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin
lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil dari pada biasa sehinga kepala janin terpaksa lahir
lebih kebelakang dari pada biasa, kepala janin melewati pintu bawah panggul dengan ukuran yang
lebih besar dari pada sirkumferensia suboksipito bregmatika, atau anak dilahirkan dengan
pembedahan vagina. (Sarwono Prawirohardjo)

Persalinan dengan episiotomi disebabkan adanya persalinan yang lama: gawat janin (janin
prematur, letak sungsang, janin besar), tindakan operatif dan gawat ibu (perineum kaku, riwayat
robekan perineum lalu, arkus pubis sempit). Persalinan dengan episiotomi mengakibatkan
terputusnya jaringan yang dapat menyebabkan menekan pembuluh syaraf sehingga timbul rasa
nyeri dimana ibu akan merasa cemas sehingga takut BAB dan ini menyebabkan Resti konstipasi.
Terputusnya jaringan juga merusak pembuluh darah dan menyebabkan resiko defisit volume
cairan.Terputusnya jaringan menyebabkan resti infeksi apabila tidak dirawat dengan baik kuman
mudah berkembang karena semakin besar mikroorganisme masuk ke dalam tubuh semakin besar
resiko terjadi infeksi.

3.4 Pengkajian Pada Pasien

Pengkajian yang dilakukan pada pasien adalah dengan cara mengumpulkan data yaitu identitas
klien/biodata, anamnesa dan pemeriksaan fisik (data objektif). Data kajian yang harus diperhatikan
adalah sebagai berikut :

1. Tekanan darah

Tekanan darah sedikit meningkat karena upaya persalinan dan keletihan, keadaan ini akan normal
kembali dalam waktu 1 jam.

2. Nadi

Nadi kembali ke frekuensi normal dalam waktu 1 jam dan mungkin terjadi sedikit bradikardi (50
sampai 70 kali permenit).

3. Suhu tubuh

Suhu tubuh mungkin meningkat bila terjadi dehidrasi.


4. Payudara

Produksi kolostrom 48 jam pertama, berlanjut pada susu matur biasanya pada hari ke-3, mungkin
lebih dini tergantung kapan menyusui dimulai.

5. Fundus uteri

Fundus harus berada dalam midline, keras dan 2 cm dibawah umbilicus. Bila uterus lembek , lakukan
masase sampai keras. Bila fundus bergeser kearah kanan midline , periksa adanya distensi kandung
kemih.

6. Kandung kemih

Diuresis diantara hari ke-2 dan ke-5, kandung kemih ibu cepat terisi karena diuresis post partum dan
cairan intra vena.

7. Lochea

Lochea rubra berlanjut sampai hari ke-23, menjadi lochea serosa dengan aliran sedang. Bila darah
mengalir dengan cepat, dicurigai terjadinya robekan servik.

8. Perineum

Episiotomi dan perineum harus bersih, tidak berwarna, dan tidak edema dan jahitan harus utuh.

9. Nyeri/ Ketidaknyamanan

Nyeri tekan payudara/ pembesaran dapat terjadi diantara hari ke-3 dampai ke-5 post partum.
Periksa adanya nyeri yang berlebihan pada perineum dan adanya kematian dibawah episiotomi.

10. Makanan / Cairan

Kehilangan nafsu makan dikeluhkan kira-kira hari ke-3.

11. Interaksi anak-orang tua

Perlu diperhatikan ekspresi wajah orang tua ketika melihat pada bayinya, apa yang mereka dan apa
yang mereka lakukan. Responrespon negatif yang terlihat jelas menandakan adanya masalah.

12. Integritas ego

Peka rangsang, takut / menangis (”post partum Blues”) sering terlihat kira-kira 3 hari setelah
melahirkan.

3.5 Diagnosa keperawatan, Intervensi Dan Rasional

 Gangguan nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan sekunder terhadap luka episiotomy dan
rupture perineum.
1. Tujuan :

Mencegah atau meminimalkan rasa nyeri.

2. Kriteria

a) Nyeri berkurang atau hilang.

b) Ekspresi wajah rileks.

c) Pasien mampu melakukan tindakan dan mengungkapkan intervensi untuk mengatasi nyeri dengan
cepat.

d) Tanda-tanda vital normal (tekanan darah 120/ 80 mm Hg. Nadi 80-88 x/ menit)

3. Intervensi

a) Tentukan lokasi dan sifat nyeri.

Rasional : mengidentifikasikan kebutuhan-kebutuhan khusus dan intervensi yang tepat

b) Inspeksi perbaikan perineum dan episiotomy

Rasional : dapat menunjukkan trauma berlebihan pada jaringan perineal dan atau terjadinya
komplikasi yang memerlukan evaluasi atau intervensi lebih lanjut.

c) Anjurkan klien untuk duduk dengan mengkontraksikan otot gluteal.

Rasional : penggunaan pengencangan gluteal saat duduk menurunkan strees dan tekanan langsung
pada perineum.

d) Berikan informasi tentang berbagai startegi untuk menurunkan nyeri, misalnya teknik relaksasi dan
distraksi.

Rasional : membantu menurunkan/ memberikan rasa nyaman.

e) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik

Rasional : memberikan kenyamanan sehinggan klien dapat memfokuskan pada perawatan sendiri
dan bayinya.

 Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan dan atau kerusakan kulit.

1. Tujuan :

Infeksi tidak terjadi.

2. Kriteria :
a. Luka episiotomi sembuh dengan sempurna dan tidak ada tanda-tanda infeksi (color, tumor, dolor,
dan fungsio laesa)

b. Pasien mampu mendemontrasikan teknik-teknik untuk meningkatkan penyembuhan.

c. Tanda-tanda vital dalam batas normal (36-37º C)

d. Nutrisi terpenuhi (adekuat)

3. Intervensi :

a) Kaji adanya perubahan suhu.

Rasional : Peningkatan suhu sampai 38,3º C pada 2-10 hari setelah melahirkan sangat menandakan
infeksi.

b) Observasi kondisi episiotomi seperti adanya kemerahan, nyeri tekan yang berlebihan dan eksudat
yang berlebihan.

Rasional : Dapat menunjukkan trauma berlebihan pada jaringan parenial dan atau terjadinya
komplikasi yang memerlukan evaluasi intervensi lebih lanjut.

c) Anjurkan pada pasien untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh genital.

Rasional : membantu mencegah penyebaran infeksi.

d) Catat jumlah dan bau lochea atau perubahan yang abnormal.

Rasional : Lochea normal mempunyai bau amis, lochea yang purulen dan bau busuk menunjukkan
adanya infeksi.

e) Anjurkan pada pasien untuk mencuci perineum dengan menggunakan sabun dari depan kebelakang
dan untuk mengganti pembalut sedikitnya setiap 4 jam atau jika pembalut basah.

Rasional : Membantu mencegah kontaminasi rektal memasuki vagina atau uretra

f) Ajarkan pada klien tentang cara perawatan luka perineum.

Rasional : Meningkatkan pengetahuan klien tentang perawatan vulva/ perineum.

g) Kolaborasi untuk pemberian anti biotic

Rasional : Mencegah infeksi dan penyebaran kejaringan sekitar.

 Resiko tinggi konstipasi berhubungan dengan kurangnya aktivitas fisik nyeri saat defekasi.

1. Tujuan :

Konstipasi tidak terjadi


2. Kriteria :

Pasien mampu melakukan kembali kebiasaan defekasi seperti biasanya dengan ketidaknyamanan
minimal.

3. Intervensi :

a) Auskultasi adanya bising usus.

Rasional : mengevaluasi fungsi usus

b) Kaji terhadap adanya hemoroid dan berikan informasi tentang memasukkan heromoid kembali ke
dalam rektal dengan jari yang dilumasi.

Rasional : Menurunkan ukuran hemoroid, menghilangkan gatal dan ketidaknyamanan dan


meningkatkan vaso konstriksi lokal.

c) Anjurkan klien minum secara adekuat ± 1500-2000ml/ hari.

Rasional :Peningkatan cairan akan merangsang eliminasi.

d) Anjurkan klien untuk mengkonsumsi bahan makanan yang berserat tinggi seperti : sayuran dan
buah-buahan.

Rasional :Melancarkan pencernaan

e) Anjurkan klien untuk rendam duduk dengan air hangat sebelum relaksasi.

Rasional : Meningkatkan kenyamanan dan mengurangi rasa nyeri.

f) Anjurkan pasien untuk ambulasi sesuai toleransi

Rasional : Membantu maningkatkan peristaltik gastrointestinal.

g) Berikan pelunak feses atau laksatif jika diindikasikan.

Rasional : Untuk meningkatkan kembali kebiasaan defekasi normal dan mencegah menjelang atau
strees perineal selama defekasi.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Setelah membahas makalah ini maka penulis dapat memberikan kesimpulan yaitu:

1. Perlukaan pada jalan lahir sebagai akibat persalinan normal terutama pada seorang primipara, baik
itu berupa robekan perinium, robekan serviks atau rupture uteri sangat perlu dilakukan heacting
perinium agar jaringan tubuh (perinium) dapat menyatu kembali.

2. Robekan jalan lahir selalu memberikan perdarahan dalam jumlah yang bervariasi banyaknya.
Perdarahan yang berasal dari jalan lahir selalu harus dievaluasi, yaitu sumber dan jumlah perdarahan
sehingga dapat diatasi. Peranan perawat dan bidan atau disebut penolong harus segera melakukan
tindakan penjahitan luka/hecting agar segera menghentikan pendarahan.