Anda di halaman 1dari 26

I.

Definisi

Menurut AFA (American Fertility Association) infertilitas berarti kegagalan seorang

istri menjadi hamil dan melahirkan anak yang hidup dari suami setelah 1 tahun melakukan

hubungan seksual secara frekuen dan tanpa kontrasepsi. Sedangkan menurut WHO diagnosis

infertilitas ditegakkan setelah 6 bulan melakukan hubungan seksual secara frekuen dan tanpa
(1,4)
kontrasepsi. Walaupun pasangan suami-istri dianggap infertil, bukan tidak mungkin

kondisi infertil sesungguhnya hanya dialami oleh sang suami atau sang istri saja. Hal tersebut

dapat dipahami karena proses pembuahan yang berujung pada kehamilan dan lahirnya

seorang manusia baru merupakan kerjasama antara suami dan istri. Kerjasama tersebut

mengandung arti bahwa dua faktor yang harus dipenuhi adalah suami memiliki fungsi

reproduksi yang sehat sehingga mampu menghasilkan dan menyalurkan sel kelami pria

(spermatozoa) ke dalam organ reproduksi istri dan istri memiliki fungsi reproduksi yang sehat

sehingga mampu menghasilkan sel kelamin wanita (sel telur atau ovum) yang dapat dibuahi

oleh spermatozoa dan memiliki rahim yang dapat menjadi tempat perkembangan janin,

embrio, hingga bayi berusia cukup bulan dan dilahirkan. Apabila salah satu dari dua faktor

yang telah disebutkan tersebut tidak dimiliki oleh pasangan suami-istri, pasangan tersebut

tidak akan mampu memiliki anak. (1)

Infertilitas diklasifikasikan menjadi infertilitas primer dan sekunder. Infertilitas primer

bila istri belum pernah hamil walaupun bersenggama dan dihadapkan kepada kemungkinan

kehamilan selama 12 bulan. Infertilitas sekunder bila istri pernah hamil, akan tetapi kemudian

tidak terjadi kehamilan lagi walaupun pasangan bersenggama dan dihadapkan kepada

kemungkinan kehamilan selama 12 bulan(1)

1
II. Insidens

Sekitar 10 hingga 15 persen pasangan suami-istri mengalami kesulitan memperoleh

keturunan sehingga memerlukan bantuan medis untuk mendapatkan keturunan. 70% kasus

infertilitas terjadi karena faktor suami atau istri saja, 20% karena pengaruh gabungan suami

dan istri sedangkan 10% belum diketahui penyebabnya. (1)

III. Fisiologi Reproduksi

Setiap bayi perempuan lahir dengan rata-rata 400 ribu sel telur imatur pada

ovariumnya. Saat menarche, ketika haid, wanita akan kehilangan 1 sel telurnya. Siklus

menstruasi dimulai dengan pelepasan gonadotropin releasing hormon (GnRH), FSH, dan LH.

Hormon –hormon ini akan mempersiapkan ovarium untuk melepaskan sel telur dan memberi

sinyal untuk uterus agar endometrium mempersiapkan diri untuk sebuah implantasi.

Peningkatan hormon akan membuat pelepasan sel telur oleh ovarium, hal ini disebut ovulasi.

Sel telur itu kemudian ditangkap oleh fimbrae dan berjalan melalui tuba fallopi menuju

uterus. Apabila sel telur ini bertemu dengan sel sperma, maka sel telur dan sel sperma akan

bertemu dan terjadi fertilisasi di tuba falopi pars ampularis. Sel telur yang telah difertilisasi

ini akan menjadi zigot, terus berjalan ke arah uterus, dan akhirnya akan terjadi implantasi

pada endometrium uterus di daerah fundus atau corpus dalam bentuk blastula. Apabila sel

telur ini tidak dibuahi endometrium meluruhkan lapisan-lapisan yang tadinya dipersiapkan

untuk implantasi bayi. Hal inilah yang disebut dengan menstruasi, dan siklus ini akan

berlanjut sampai masa menopause. (5)

2
Gambar 1. Reproduksi Wanita

Bayi laki-laki lahir dengan 2 testis. Setiap testis mempunyai kemampuan untuk

membuat dan menyimpan sperma secara berkelanjutan. Hal ini dimulai ketika masa pubertas,

sperma yang baru akan dibuat setiap 72 jam, akibat respon terhadap hormon testosteron,

GnRH, LH, dan FSH. Saluran epididimis merupakan tempat untuk pematangan sperma yang

kemudian akan berjalan melalui vas deferens dan duktus ejakulatorius. Selama dalam

perjalanan ini, sperma akan bercampur dengan sekret dari epididimis, vas deferens, vesikula

seminalis, dan prostat untuk membentuk semen. Ketika sudah diejakulasikan, sperma harus

berenang melalui serviks untuk bertemu dengan sel telur.

3
Gambar 2. Reproduksi Pria

IV. Etiologi

1. Etiologi Infertilitas Pria

Penyebab terjadinya infertilitas pada pria dapat dibagi menjadi beberapa golongan penyebab,

yaitu:

a. Abnormalitas fungsi dan produksi sperma

Hal ini dapat terjadi oleh karena kelainan seperti undescend testis, defek genetik, kelainan

endokrin (DM), infeksi. Pembesaran vena di testis akan mempengaruhi jumlah dan bentuk

sperma. Kelainan ini disebut varikokel. Varikokel merupakan suatu keadaan dimana

adanya dilatasi vena. Aliran darah yang terlalu banyak akan menyebabkan pembuluh darah

disekitar testis membesar sehingga akan meningkatkan suhu testis dan pada akhirnya akan

berpengaruh pada produksi sperma. Sperma pada laki-laki melalui beberapa saluran dari

4
testis sampai ke uretra, dan apabila terjadi kerusakan pada saluran-saluran ini maka akan

dapat menghambat pengeluaran sperma dan bisa berakhir pada infertilitas. Pada Analisis

semen ditemukan penurunan jumlah spermatozoa (oligozoospermia), penurunan motilitas

(asthenozoospermia) dan banyak bentuk morfologi yang abnormal (teratozoospermia).

Kelainan ini dapat terjadi bersama-sama dan dapat dikatakan sebagai sindrom

oligoastheno teratozoospermia. (2)

b. Gangguan pengiriman sperma

Kelainan ini dapat disebabkan oleh ejakulasi dini, ejakulasi retrogard, penyakit genetik

seperti fibrosis kistik, kelainan struktural, atau kerusakan pada saluran reproduksi akibat

trauma. Sperma pada laki-laki melalui beberapa saluran dari testis sampai ke uretra, dan

apabila terjadi kerusakan pada saluran-saluran ini maka akan dapat menghambat

pengeluaran sperma dan bisa berakhir pada infertilitas. Kerusakan saluran ini dapat berupa

kelainan genetik, namun yang paling sering adalah akibat adanya infeksi dan vasektomi. (3)

c. Paparan faktor lingkungan seperti bahan kimia, radiasi, marijuana, serta paparan panas

yang berlebihan dapat meningkatkan temperatur tubuh dan mengganggu produksi sperma.

Kemoterapi dan radioterapi pada pengobatan kanker juga dapat mengganggu produksi

sperma.(1)

d. Bentuk unexplained infertility pada pria dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti

stres kronis, gangguan kelenjar endokrin akibat polusi lingkungan, dan kelainan genetik.(3)

2. Etiologi Infertilitas Wanita

Penyebab terjadinya infertilitas pada wanita dapat dibagi menjadi beberapa golongan

penyebab, yaitu:

1. Kegagalan Ovulasi

5
Gangguan ovulasi merupakan salah satu penyebab yang paling sering kenapa wanita tidak

bisa memiliki anak, yaitu sekitar 30% dari seluruh wanita infertil. Penyebab terjadinya

gangguan ovulasi dapat diklasifikasikan menjadi:

a. Gangguan Hormonal

Gangguan ini merupakan penyebab paling sering terjadinya gangguan ovulasi. Proses

dari suatu ovulasi tergantung dari keseimbangan yang kompleks dari interaksi hormon-

hormon.

b. Disfungsi Hipotalamus-Hipofisis

Hormon FSH dan LH diproduksi kelenjar hipofisis pada siklus menstruasi. Stress fisik

atau emosi yang berlebih, berat badan yang kurang atau erlebih dapat mempengaruhi

ovulasi. Tanda dari kelainan ini adalah periode absen atau ireguler dari menstruasi

tanpa gangguan ovarium

c. Scar pada ovarium

Kerusakan fisik pada ovarium dapat berakibat gagalnya ovulasi. Adanya operasi ekstensif

dan invasi yang dilakukan beruang-ulang pada kista ovarium dapat menyebabkan kapsul

ovarium menjadi rusak, sehingga folikel tidak dapat menjadi matur dan ovulasi tidak

terjadi. Selain itu infeksi juga dapat berakibat seperti ini.

d. Menopause prematur

Hal ini jarang terjadi dan belum dapat dijelaskan bagaimana hal ni mempengaruhi ovulasi.

Hal ini diduga karena adanya autoimun yang menyerang jaringan ovarium atau karena

adanya pengaruh genetik. Hal ini menyebabkan gangguan produksi sel telur dari ovarium

serta penurunan estrogen sebelum mencapai usia 40 tahun.

e. Polycistic Ovarium syndrome (PCOS)

6
Pada penyakit ini, tubuh memproduksi hormon androgen yang terlalu banyak, sehingga

dapat mempengaruhi ovulasi. PCOS berhubungan dengan resistensi insulin dan obesitas.(4)

2. Fungsi Tuba Fallopi yang Menurun

Penyakit tuba terjadi pada sekitar 25% pasangan yang infertil, dan sangat bervariasi, mulai

dariadesi ringan sampai penutupan total tuba fallopi. Ketika Tuba mengalami kerusakan

atau penyumbatan, akan terjadi penutupan sehingga sperma tidak dapat bertemu dengan

sel telur, atau dapat mengganggu sel telur yang telah dibuahi menuju uterus. Penyebab

utama kelainan tuba ini antara lain:

a. Infeksi

Infeksi bisa disebabkan baik oleh bakteri maupun virus yang biasanya ditularkan

melalui hubungan seksual, infeksi ini akan menyebabkan inflamasi pada tuba sehingga

terjadi scar dan kerusakan pada tuba. Organism yang menyebabkan infeksi tersebut

antara lain chlamydia, gonorrhea, atau infeksi menular seksual lainnya.

b. Penyakit Abdominal

Penyakit abdominal yang paling sering menyebabkan infertilitas adalah apendisitis.

Appendisitis dapat menimbulkan inflamasi pada cavum abdominal yang dapat

mempengaruhi tuba fallopi yang dapat berakibat timbulnya jaringan ikat dan penutupan

saluran tuba.

c. Riwayat Operasi

Riwayat operasi merupakan salah satu penyebab penting pada terjadinya kerusakan

tuba. Operasi pada abdomen dan pelvis dapat menyebabkanb terjadinya adhesi yang

dapat mempengaruhi tuba sehingga sel telur tidak dapat melewatinya.

d. Kehamilan ektopik

7
Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang terjadi di saluran tuba, sehingga dapat

terjadi kerusakan tuba.(4)

3. Endometriosis

Endometriosis merupakan penyakit kronik yang ditandai dengan adanya pertumbuhan

jaringan endometrium pada daerah lain selain cavum uteri. Diagnosis pasti dari penyakit

ini hanya bisa ditegakkan dengan laparoskopi untuk melihat uterus, tuba fallopi, ovarium,

secara langsung. Gejala pada endometriosis antara lain adanya menstruasi yang lama,

banyak dan nyeri, bercak premenstrual, perdarahan rektal, dan inkontinensia urin tipe

urgensi.(4)

4. Kelainan pada mukus serviks

Mukus serviks berperan sebagai sarana transportasi sperma yang masuk ke dalam vagina.

Spematozoa memerlukan cairan mukus untuk membantunya bergerak masuk kedalam

uterus. Jika ada kelainan pada mukus ini dapat menghambat pergerakan sperma sehingga

tidak bisa sampai ke sel telur. Pada beberapa kasus, mukus serviks juga dapat mengandung

antibodi antisperma, yang juga dapat mengganggu sperma.(4)

5. Kelainan Uterus

Kelainan uterus seperti adesi dan polips dapat menyebabkan infertilitas. Selain itu variasi

posisi uterus, sumbatan kanalis servikalis juga dapat menyebabkan infertilitas.(4)

V. Pemeriksaan

Syarat pemeriksaan infertil adalah sebagai berikut:

 Istri yang berumur antara 20-30 yang telah berusaha untuk mendapat anak selama

12 bulan. Pemeriksaan dapat dilakukan lebih dini apabila:

 Pernah mengalami keguguran berulang

 Diketahui mengidap kelainan endokrin

 Pernah mengalami peradangan rongga panggul atau rongga perut

8
 Pernah mengalami bedah ginekologik

Berbagai pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis infertilitas adalah

sebagai berikut(7)

1. Anamnesis

Pada anamnesis dapat diketahui jenis infertilitas apakah primer atau sekunder.

Tanyakan riwayat menstruasi pada isteri. pada suami tanyakan riwayat trauma

sebelumnya.

Pada pasangan tanyakan juga riwayat merokok, alkohol, riwayat IMS, frekuensi

hubungan seksual atau disfungsi seksual serta riwayat infeksi.

2. Pemeriksaan Fisik

Tujuan dari pemeriksaan fisik adalah untuk menemukan bukti kelainan yang dapat

menyebabkan menyebabkan infertilitas. Pada pemeriksaan fisik dapat diperhatikan tanda

kelebihan androgen, yaitu hirsutisme. Ukuran dan mobilitas organ reproduksi dan adanya

nodul endometriosis dapat dinilai selama pemeriksaan bimanual. Jika ada kecurigaan infeksi

PMS, spesimen serviks dapat diperiksa untuk dikultur. Pada pemeriksaan terhadap pasangan

laki-laki, defisiensi androgen harus dicari, seperti rambut tubuh berkurang, dan ginekomastia.

Pada pemeriksaan genital, yang harus dinilai adalah OUE untuk menyingkirkan adanya

epispadia atau hipospadia, yang dapat mengganggu deposisi sperma di vagina. Evaluasi

ukuran testis dengan orchidometer Prader dapat memberikan penilaian global mengenai

fungsi testis. Pemeriksaan pada skrotum untuk menyingkirkan varikokel harus dilakukan

dengan posisi pasien berdiri dan kemudian dilakukan manuver Valsava. Tanda peradangan

epididimis seperti penebalan nyeri tekan dapat ditemukan pada palpasi skrotum.(7)

3. Pemeriksaan infertilitas

9
Pemeriksaan fisik dari pasangan subur dapat mengidentifikasi penyebab yang

berpotensi dapat menyebabkan infertilitas yang kemudian dapat dilakukan pemeriksaan lebih

lanjut dengan tes laboratorium khusus atau studi pencitraan. Pada pasangan infertil,

pendekatan diagnosa secara sistematis diperlukan untuk evaluasi diagnostik infertilitas.

Pemeriksaan Infertilitas Pria

a. Analisis Semen

Hal yang diperhatikan dalam analisis sperma adalah konsentrasi, motilitas, morfologi, dan

viabilitas. Menurut WHO parameter analisa sperma adalah sebagai berikut:

Kriteria Jumlah

Volume 2 ml atau lebih


PH 7,2-7,8
Jumlah sperma/ml 20 juta sperma/ml atau lebih
Jumlah sperma 40 juta sperma/ejakulat atau lebih

total/ejakulat
Motilitas 50% atau lebih bergerak maju atau 25% lebih bergerak

maju dengan cepat dalam waktu 60 menit setelah ditampung

Morfologi 50% atau lebih bermorfologi normal


Viabilitas 50% atau lebih hidup, yaitu tidak terwarna dengan

pewarnaan supravital
Sel leukosit Kurang dari 1 juta/ml
Seng (total) 2,4 mikromol atau lebih setiap ejakulat
Asam sitrat (total) 52 mikromol (10 mg) atau lebih setiap ejakulat

Fruktosa (total) 13 mikromol atau lebih setiap ejakulat


Uji MAR Perlekatan pada kurang dari 10% sperma

Uji butir imun Perlekatan butir imun pada kurang dari 10% sperma

10
Sebelum dilakukan analisis sperma, dilakukan tahap pra analisis yang dapat
mempengaruhi hasil analisis sperma, yaitu sebagai berikut
a. Sediaan diambil setelah abstinensia sedikitnya 48 jam dan tidak lebih dari 7
hari
b. Oleh karena variasi yang besar dalam produksi semen dapat terjadi pada
seseorang, sebaiknya dilakukan pemeriksaan dua sediaan. Waktu antara kedua
pemeriksaan tersebut tidak boleh kurang dari 7 hari atau kurang dari 3 bulan
c. Sebaiknya sediaan dikeluarkan dalam kamar yang tenang dekat laboratorium.
Jika tidak, maka sediaan harus diantar ke laboratorium dalam waktu satu jam
setelah dikeluarkan dan jika motilitas sperma sangat rendah (< 25% bergerak
maju terus), sediaan kedua harus diperiksa secepatnya.
d. Sediaan sebaiknya diperoleh dengan cara masturbasi dan ditampung dalam
botol kaca atau plastik bermulut lebar.
e. Gunakan kondom dengan bahan plastik khusus (Mylex) atau penyimpan
cairan khusus (HDC corporation, Mountian view, calif). Kondom biasa
sebaiknya tidak digunakan untuk menampung semen karena mengandung
spermatisid.
f. Coitus interuptus tidak dapat dipakai untuk mendapatkan siapan karena ada
kemungkinan bagian pertama ejakulat yang mengandung sperma paling
banyak akan hilang. Selain itu juga akan terjadi kontaminasi seluler dan
bakteri pada siapan serta dapat terjadi pula pengaruh kurang baik terhadap
motilitas sperma sebagai akibat PH cairan vagina yang asam.
g. Siapan yang tidak lengkap sebaiknya tidak diperiksa, terutama jika bagian
pertama ejakulat hilang.
h. Siapan harus dilindungi terhadap suhu yang ekstrim selama pengangkutan ke
laboratorium (suhu antara 20-400 C)
i. Botol harus diberi label dengan nama penderita, tanggal pengumpulan, dan
lamanya abstinensia
Analisis sperma meliputi pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis
a. Pemeriksaan Makroskopis
1) Warna
Warna normal adalah putih/agak keruh. Kadang-kadang ditemukan
juga warna kekuningan atau merah. Warna kekuningan mungkin
disebabkan karena radang saluran kencing atau abstinensia terlalu lama.
Warna merah biasanya oleh karena tercemar sel eritrosit ( hemospermi)
2) Volume
Cairan semen yang ditampung diukur dengan gelas ukur, dan
dikatakan normospermi bila volumeya normal, yaitu 2-6 ml, dengan rata-

11
rata 2-3,5 ml. Aspermi bila tidak keluar sperma pada waktu ejakulasi.
Hiperspermi bila volume lebih dari 6 ml. Hipospermi bila volume kurang
dari 1 ml, hal ini dapat disebabkan oleh:
a) Tercecer pada waktu memasukkan semen ke dalam botol
b) Keadaan patologis, antara lain penyumbatan kedua duktus
ejakulatorius dan kelainan kongenital misalnya agenesis vesikula
seminalis. Hiperspermi biasanya diikuti oleh konsentrasi sperma yang
rendah dan hiperseprmi dapat disebabkan oleh abstinensia yang lama
dan produksi kelenjar asesoris yang berlebihan.
3) Bau
Spermatozoa mempunyai bau khas yang mungkin disebabkan oleh
proses oksidasi dari spermia yang diproduksi oleh prostat. Semen dapat
berbau busuk atau amis bila terjadi infeksi.
4) PH
Cara untuk mengetahui keasaman semen digunakan kertas PH atau
lakmus, biasanya sifatnya sedikit alkalis. Semen yang terlalu lama akan
berubah PHnya. Pada infeksi akut kelenjar prostat, Phnya berubah menjadi
di atas 8 atau menjadi 7,2 misalnya pada infeksi kronis organ-organ tadi.
WHO memakai kriteria yang normal yang lazim, yaitu7,2-7,8.
5) Viskositas
Viskositas semen diukur setelah mengalami likuefaksi betul (15-20
menit setelah ejakulasi). Pengukuran dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:
a) Dengan pipet pastur: Semen diisap ke dalam pipet tersebut, pada waktu
pipet diangkat maka akan tertinggal semen berbentuk benang pada
ujung pipet. Panjang benang diukur, normal panjangnya 3-5 cm.
b) Menggunakan pipet yang sudah mengalami standarisasi (Elliaon).
Pipet dalam posisi tegak, lalu diukur waktu yang diperlukan setetes
semen untuk lepas dari ujung pipet tadi. Angka normal adalah 1-2
detik.
6) Likuefaksi
Semen normal pada suhu ruangan akan mengalami likuefaksi dalam
waktu 60 menit, walau pada umumnya sudah terjadi dalam 15 menit. Pada
beberapa kasus, likuefaksi lengkap tidak terjadi dalam 60 menit. Hal ini
bisa terjadi bila mengandung granula seperti jelly (badan gelatin yang
tidak mencair), tetapi tidak memiliki makna secara klinis. Bila hal ini

12
ditemukan akan sangat mengganggu dalam analisis semen, sehingga perlu
dibantu dengan pencampuran enzimatis.
b. Pemeriksaan mikroskopis
Pemeriksaan mikroskopis meliputi:
1) Jumlah spermatozoa per ml
Konsentrasi sperma ialah jumlah spermatozoa per ml sperma. Jumlah
spermatozoa total ialah jumlah seluruh spermatozoa dalam ejakulat.
Berikut ini adalah klasifikasinya:
a) Normal: jumlah spermatozoa di atas 60 juta/ml
b) Subfertil: 20-60 juta /ml
c) Steril: 20 juta atau kurang/ml
Namun, WHO menganggap jumlah sperma 20 juta/ml atau lebih masih
dianggap normal.
2) Jumlah spermatozoa motil per ml/persentase spermatozoa motil
Motilitas sperma dipengaruhi oleh adanya perubahan PH, infeksi,
morfologi, pematangan, dan gangguan hormonal. Namun, secara garis
besar WHO dan beberapa ahli berpendapat motilitas dianggap normal bila
50% atau lebih bergerak maju atau 25% atau lebih bergerak maju dengan
cepat dalam waktu 60 menit setelah ditampung.
Motilitas sperma juga dapat dilihat dari gerakan maju spermatozoa
dengan ketentuan sebagai berikut:
a) Grade 0 (none) bila tidak ada spermatozoa yang bergerak
b) Grade 1 (poor) bila terlihat gerakan maju spermatozoa yang lemah
c) Grade 2 (good) bila terlihat gerak maju yang cukup baik dari
spermatozoa, termasuk yang bergerak zig zag dan berputar-putar
d) Grade 3 (excellent) bila ada gerakan maju dari spermatozoa yang
seperti roket.
3) Kecepatan
Semen yang tidak diencerkan diteteskan ke dalam titik hitung, tentukan
waktu yang dibutuhkan satu spermatozoa untuk menempuh jarak 1/20 mm,
pada keadaan normal dibutuhkan 1-1,4 detik, ini disebut normokinetik.
4) Morfologi
Morfologi spermatozoa yang normal ditentukan oleh bentuk kepala,
leher, tanpa adanya sitoplasmik “droplets” dan bentuk ekor. Semen yang
normal mengandung setidaknya 48%-50% spermatozoa normal.
5) Komponen seluler lain dari semen (leukosit dan eritrosit)
13
Leukosit sangat sering dijumpai dalam spesimen semen, sebagian
besar adalah neutrofil. Jumlah leukosit yang tinggi ( lebih dari 10 6/ml)
pria, menandakan leukospermia. Leukospermia bisa disebabkan oleh
infeksi pada sistem duktus ekskretorius pria, terutama di kelenjar
asesorius, yang harus diselidiki dengan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan
analisis bakteriologis semen dan cairan prostat setelah tindakan masase
prostat dan USG. Pada cairan prostat yang didapat dengan masase prostat,
jumlah leukosit tak sampai melebihi 15 per LP dengan pembesaran tinggi
(LBP). Jumlah sel 15-40/LBP disebut zona perbatasan dan bila jumlahnya
lebih dari 40 maka kemungkinan besar terdapat inflamasi prostat.
Jenis sel bulat lain yang kadang ditemukan adalah sel-sel imatur dari
segi spermatogenesis dan sel epitel dari uretra dan vesica urinaria,
sedangkan untuk eritrosit dalam keadaan normal tidak ditemukan pada
pemeriksaan semen
1. Klasifikasi analisis semen
Di Indonesia, penggolongan tingkat fertilitas pria menganut kriteria Farris
(1949), berdasarkan jumlah spermatozoa motil per ejakulat adalah sebagai berikut:
a. Golongan sangat fertil: lebih dari 185x106 spermatozoa per ejakulat
b. Golongan relatif fertil: 80x106-185x106 spermatozoa motil per ejakulat
c. Golongan subfertil: 1-80x106 spermatozoa motil per ejakulat (8).

Pemeriksaan Infertilitas Wanita

a. Faktor Ovulasi

Untuk melihat bagaimana fungsi ovulasi seorang wanita, riwayat menstruasi

merupakan tanda yang akurat. Wanita dengan siklus reguler antara 25-35 hari dan ada gejala

premenstrual ternyata lebih dari 95% bersifat ovulatoar. Untuk mengetahui terjadinya ovulasi

ada beberapa tes sederhana yang dapat dilakukan, seperti pengukuran serum progesteron dan

pembuatan grafik suhu basal tubuh.

Tes serum progesteron merupakan tes yang murah dan banyak digunakan. Tes ini

melihat kenaikan progesteron setelah terjadi ovulasi. Spesimen darah diambil di hari ke 21

pada siklus menstruasi reguler 28 hari. Adanya serum progesteron lebih dari 3 ng/ml

14
menunjukkan telah teradi ovulasi. Namun tes ini sering terjadi negative palsu karena perlu

pengambilan spesimen darah pada waktu yang kurang tepat.

Pengukuran suhu basal tubuh digunakan untuk mengukur secara tidak langsung

kenaikan level hormon progesteron yang mempunyai efek termogenik. Peningkatan hormon

progesteron setelah terjadi ovulasi akan meningkatkan suhu basal tubuh 0,3 o-0,6o C yang

biasanya berlangsung selama 11-14 hari setelah ovulasi. Pengukuran suhu basal tubuh ini

dilakukan pada pagi hari setelah bangun tidur. Pengukuran pertama dilakukan pada hari

pertama menstruasi. Pemeriksaan ini akurat untuk memastikan adanya ovulasi namun kurang

akurat untuk memastikan waktu terjadinya ovulasi.

Selain kedua tes diatas juga ada tes dengan menggunakan ovulation predictor kit. Alat

ini menggunakan enzim immunoassay untuk mendeteksi adanya peningkatan LH yang

diketahui merupakan pemacu terjadinya ovulasi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan

menggunakan urin pasien untuk mendeteksi adanya LH, yang akan menghasilkan perubahan

warna pada indikator alat. Pemeriksaan dilakukan pertama kali pada hari ke sepuluh setelah

awal menstruasi dan diperiksa pada hari keberapa terjadi perubahan warna indikator pada

alat.

Fungsi ovarium dianggap normal jika kadar FSH kurang dari 10mIU/mL dan estradiol

kurang dari 65 pg/mL. Pada wanita berusia lebih dari 35 tahun dapat dilakukan Clomiphene

Citrate Chalenge Test (CCCT). Diberikan kkolomifen sitrat 100 mg peroral pada hari ke 5-9

siklus dan serum FSH diperiksa pada hari ke 10. Jika FSH lebih dari 10 berhubungan dengan

infertilitas dan kemungkinan hamil kecil.

b. Faktor Cervical

Untuk mengetahui faktor cervical dapat dilakukan postcoital test (PCT) atau Sims

Huhner Test. PCT dilakukan sekitar 2-3 hari sebelum ovulasi diprediksikan terjadi, kemudian

15
pasangan yang dilakukan tes diminta untuk melakukan hubungan seksual antara 2-12 jam

sebelum tes. Setelah itu wanita kemudian datang ke petugas medis, yang akan mengambil

mukus serviksnya. Lendir kemudian ditempatkan pada kaca slide lalu dinilai. Jumlah sperma

yang motil juga dihitung per bidang high power mikroskopis. Namun PCT ini tidak tidak

rutin dilakukan karena tidak terlalu bersifat prediktif dan ketepatan diagnostik kurang.

c. Faktor uterus dan tuba

Kelainan uterus dapat menyebabkan infertilitas walaupun jarang terjadi. Penyakit

yang paling sering pada kelainan tuba adalah pelvic inflammatory disease (PID) karena

infeksi penyakit menular seksual yang disebabkan bakteri Chlamydia trachomatis atau

Neisseria gonorrhoeae. Penyakit yang melibatkan uterus dan tuba dapat dilihat dengan

menggunakan histerosalfingogram (HSG). HSG merupakan pencitraan yang menggunakan

pewarna radioopak untuk melihat uterus dan tuba fallopi melalui fluoroskopi. Prosedur

pemeriksaan harus dilakukan kira-kira 2-3 hari setelah menstruasi berhenti.

Risiko yang paling diperhatikan pada pemakaian HSG adalah adanya infeksi pelvis

iatrogenik, terutama pada wanita yang mempunyai riwayat PID. Sebelum dilakukan

pemeriksaan HSG harus diperiksa laju endap darah (LED) terlebih dahulu. Jika ada

peningkatan maka pemeriksaan dengan HSG harus ditunda terlebih dahulu. Dan bila LED

normal, pemeriksaan HSG bisa dilakukan dengan memberikan antibiotik profilaksis terlebih

dahulu dengan doksisiklin selama 5 hari dengan dosis 2x100 mg/hari.

Cara lain untuk memeriksa patensi tuba yaitu dengan pertubasi. Pertubasia atau uji

Rubin, bertujuan memeriksa patensi tuba dengan jalan meniupkan gas CO 2 melalui kanula

atau kateter Foley yang dipasang pada kanalis servikalis. Apabila kanalis servikouteri dan

salah satu atau kedua tubanya paten, maka gas akan mengalir bebas ke dalam kavum

peritoneum. Patensi tuba akan dinilai dari catatan tekanan aliran gas sewaktu dilakukan

peniupan. Jika tekanan gasnya naik dan bertahan sampai 200 mmHg, maka ada sumbatan

16
tuba, jika 80-100, salah satu atau kedua tubanya dianggap paten. Tanda lain yang menyokong

patensi tuba adalah terdengarnya pada auskultasi suprasimfisis tiupan gas masuk ke dalam

kavum peritonei seperti “bunyi jet” setelah pasien dipersilahkan duduk sehabis pemeriksaan,

akibat terjadinya pengumpulan gas di bawah difragma.

d. Faktor peritoneum

Penyakit peritoneum seperti endometriosis dan adhesi dapat ikut meberikan kontribusi

terhadap terjadinya infertilitas. Dalam hal ini, laparoskopi bisa dilakukan untuk mendeteksi

penyebab infertilitas bila alat diagnostik lain gagal.(9)

VI. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan infertilitas dilakukan sesuai dengan penyebabnya.

1. Penatalaksanaan Infertilitas Pada Wanita

A. Pengobatan

Induksi ovulasi adalah pemberian berbagai jenis obat untuk mempengaruhi


keadaan hormonal sehingga dapat menyebabkan keadaan hiperstimulasi ovarium
yang terkontrol untuk memacu kesinambungan perkembangan folikel dari
sekumpulan folikel primordial sehingga bisa mencapai ovulasi (10)
Macam obat induksi ovulasi adalah:
a. Obat yang dapat meningkatkan FSH endogen.
Macamnya yaitu CC (Clomiphen citrate) dan Aromatase inhibitor.
CC merupakan turunan dari triphenylethylene golongan nonsteroid dengan
efek agonis dan antagonis estrogen.CC diberikan secara oral dimulai pada
hari ke-3 siklus haid selama 5 hari. Dosis dimulai dengan pemberian awal
50 mg per hari selama 5 hari dan dapat ditingkatkan 50 mg setiap siklus
sampai tercapai ovulasi. Dosis maksimal 150–200 mg, Monitoring setelah
pemberian adalah suhu basal badan dan kadar LH urin. Kadar lonjakan LH
biasanya terjadi setelah 5–12 hari setelah pemberian terapi terakhir.
Dengan pemeriksaan USG transvaginal secara serial dapat diukur jumlah
dan besar folikel, sehingga dapat diperkirakan apakah terjadi ovulasi.

17
Aromatase adalah anggota keluarga besar kompleks enzym yang
mengandung hemoprotein cytochrom P450. Ia mempercepat proses akhir
pembentukan estrogen (E), yaitu proses hidroksilasi androstenedion (A)
menjadi estron dan testosteron (T) menjadi estradiol. Salah satu obat dari
aromatase inhibitor yang sering digunakan adalah letrozole. Dosis
pemberian adalah 2,5 mg perhari mulai hari ke-3 siklus haid selama 5 hari.
b. Hormon GnRH yang menyebabkan perangsangan sentral untuk sekresi
FSH dan LH dari pituitari.
c. Hormon FSH dan LH eksogen yang merangsang ovarium secara langsung
Indikasi lain pemberian obat induksi ovulasi adalah infertilitas yang tak
terjelaskan (unexplained infertility). Hal ini merupakan terapi empirik, dan bila
tidak berhasil dilanjutkan dengan inseminasi atau invitro fertilisation (IVF) (10).

B. Terapi Bedah

Kadang-kadang penyebab infertilitas dapat ditangani dengan pembedahan. Sebagai

contoh, operasi merupakan pilihan terapi untuk beberapa kelainan tuba, PCOS, adhesi,

endometriosis, dan kelainan uterus. Terapi bedah untuk infertilitas antara lain:

1. Ovarian Drilling

Wanita infertil dengan PCOS mempunyai kesulitan dalam ovulasi. Ovulasi dapat diinduksi

secara pembedahan dengan prosedur yang disebut ovarian drilling atau ovarian diathermy.

Prosedur ini berguna untuk wanita dengan PCOS yang resisten terhadap pengobatan

dengan klomifen sitrat. Ovarian drilling dilakukan secara laparoskopi melalui lubang insisi

kecil, kemudian beberapa insisi kecil dilakukan pada ovarium dengan menggunakan panas

atau laser. Proses ini akan memacu terjadinya ovulasi.

18
Gambar 3. Ovarian Drilling

2. Pembedahan pada tuba fallopi

Penutupan atau kerusakan pada tuba fallopi dapat diatasi dengan berbagai macam jenis

prosedur operasi tergantung dari lokasi penutupan dan jenis kerusakannnya.

a. Salpingolisis merupakan salah satu prosedur operasi dengan laparotomi yang diiringi

dengan penggunaan microscope untuk memperluas area. Salpingolisis dilakukan

dengan membebaskan tuba fallopi dari adhesi dengan memotong perlengketan tersebut,

biasanya menggunakan electrosurgery dengan memakai elektrokauter.

b. Salfingotomi biasanya dilakukan untuk membentuk sebuah lubang baru pada tuba.

Prosedur ini dapat dilakukan secara laparotomy ataupun laparoskopi. Salfingostomi

dapat dilakukan pada pengobatan kehamilan ektopik dan infeksi pada tuba fallopi.

c. Tubal anastomosis merupakan prosedur pembedahan dengan mengambil jaringan tuba

yang tertutup dan kemudian menyambung lagi ujung-ujung tuba yang terpotong

tersebut.

d. Tubal kanalisasi, prosedur ini dilakukan ketika penutupan tuba relatif terbatas.

Prosedur ini dilakukan dengan mendorong kawat atau kateter melalui penutupan

tersebut sehingga terbuka. Prosedur ini dilakukan dengan dipandu fluoroskopi.

2. Penatalaksanaan Infertilitas Pada Pria

a. Sperma abnormal

19
Terapi medikamentosa yaitu :

Klomifen sitrat dengan dosis 1 x 50 mg selama 90 hari atau 1 x 50 mg 3 x 25 hari
dengan interval antara terapi 5 hari.

Tamoxifen, dapat diberikan dengan dosis 2 x 1 tablet selama 60 hari.

Kombinasi HMG dan hCG; HMG (Pergonal®) diberikan dengan dosis 150 IU 3
x/minggu dan hCG (Profasi®) dengan dosis 2000 IU 2 x/minggu selama 12-16
minggu.

Kombinasi FSH (Metrodin®) dan hCG; dosis FSH 75IU 3 x/minggu dan dosis hCG
2000 IU 2 x/minggu selama 12-16 minggu. Selain medikamentosa, terapi dapat
dilakukan dengan AIH(IBS) dengan atau tanpa treated sperm.
b. Varikokel

Pada pria dengan varikokel, motilitas sperma terjadi penurunan. Penurunan

motilitas sperma itu terjadi pada 90% pria dengan varikokel, sekalipun hormon-

hormonnya normal. Varikokelektomi hampir selalu dianjurkan untuk semua varikokel

dengan penurunan motolitas spermatozoa. Kira-kira 2/3 pria dengan varikokel yang

dioperasiakan mengalami perbaikan dalam motilitas spermatozoanya.(11)

c. Infeksi

Infeksi kelenjar asesoris yang dapat mempengaruhi kualitas semen adalah infeksi
prostat, vesika seminalis dan epididimis. Kelainan dapat berupa gangguan proses
pencairan semen, volume yang terlalu sedikit atau banyak dan morfologi dan motilitas
yang abnormal. Terapi berupa pemberian antibiotika, dalam hal ini yang dapat diberikan
adalah golongan amoksisilin, doksisiklin dan erithromisin yang dapat ditambah dengan
vitamin E, vitamin C dan vitamin B kompleks.(11)
d. Endokrinopati
Ketidakseimbangan pengaturan hormonal pada sistem reproduksi pria akan
menyebabkan terjadinya gangguan proses spermatogenesis dan/atau spermaogenesis.
Pengobatan hormonal yang tepat dapat mengembalikan proses spermatogenesis/
spermiogenesis yang normal. Untuk itu, selain pemeriksaan fisis andrologis diperlukan
pemeriksaan kadar hormon (FSH, LH, prolaktin dan testosteron) dalam darah.
Jika ditemukan kadar FSH dan LH yang tinggi dengan kadar testosteron darah
yang subnormal, biasanya pengobatan hormonal tidak diperlukan karena keadaan ini

20
menunjukkan adanya gagal testis primer, misalnya Klinefeltersyndrome; terapi hormon
hanya berupa substitusi androgen untuk masalah potensi seksnya.
Jika kadar FSH tinggi, tapi kadar LH dan testosteron darah masih dalam batas
normal, keadaan ini biasanya menunjukkan adanya kekurang-pekaan sel-sel
germinativum (isolated germinal cell failure); jumlah spermatozoa dapat berkisar dari
azoospermia- oligozoospermia.
Jika kadar FSH, LH dan Testosteron ketiga-tiganya rendah disertai volume testis
yang abnormal dan konsistensi yang agak kurang padat, keadaan seperti ini disebut
sebagai hipogonadisme atau gagal testis sekunder. Jika tidak ada hiperprolaktinemia,
terapi gonadotropin (HCB dan HMG) atau testosteron dapat memberikan harapan baik (11).

Assisted Reproductive Technology

1. Intrauterine Insemination (IUI)

IUI merupakan sebuah proses memasukkan sperma melalui serviks kedalam uterus. Hal

ini dilakukan dengan menggunakan sebuah tabung plastik yang melewati serviks menuju

uterus. Prosedur ini dilakukan bersamaan dengan waktu terjadinya ovulasi pada sang

wanita. Untuk melakukan teknik ini, sang wanita harus mempunyai uterus dan tuba fallopi

yang normal. IUI ini digunakan pada wanita yang mempunyai kelainan mukos serviks,

endometriosis, atau ada faktor infertilitas pada laki-laki.(12)

21
Gambar 4. Intrauterine Insemination

2. In Vitro Fertilisation (IVF)

IVF berarti fertilisasi yang dilakukan diluar tubuh. Dalam proses IVF, pasien juga

termasuk mendapat pengobatan untuk menstimulasi ovarium untuk memproduksi lebih

banyak sel telur. Ketika sel telur sudah terbentuk, sel telur tersebut akan diambil melalui

operasi kecil. Sel telur kemudian akan dicampur dengan sperma dilaboratorium dan

diinkubasikan selama 2-3 hari. Tujuannya agar sperma dapat membuahi sel telur dan

membentuk embrio. Embrio tersebut kemudian akan diletakkan didalam uterus wanita

menggunakan sebuah tabung plastik melalui vagina dan serviks. Kemudian setelah embrio

dimasukkan diperlukan beberapa tambahan hormon untuk membantu implantasi embrio,

dalam hal ini progesteron dan hCG. IVF merupakan terapi yang sangat berguna bagi

wanita dengan kerusakan tuba, infertilitas yang tak diketahui, endometriosis, dan

infertilitas pada laki-laki.(12)

22
Gambar 5. In Vitro Fertilization

3. Gamete Intrafallopian Transfer (GIFT) dan Zygote Intrafallopian Transfer (ZIFT)

Teknik pengambilan sel telur dan sperma pada GIFT dilakukan dengan cara yang sama

seperti pada IVF. Sel telur dan sperma kemudian dicampur dan langsung dipindah

tempatkan ke tuba fallopi. Hal ini dilakukan secara laparoskopi melalui insisi kecil pada

abdomen, atau dengan menggunakan kateter kecil melalui serviks. Dengan sperma secara

natural membuahi sel telur di tuba fallopi. Untuk itu tuba fallopi sang wanita haruslah

sehat. Tidak berbeda jauh dengan GIFT, ZIFT dilakukan dengan cara yang sama, tetapi

pada ZIFT yang dipindah ke tuba fallopi adalah dalam bentuk zigot bukan sel telur dan

sperma seperti pada GIFT. Kedua teknik ini sekarang sudah tergantikan dengan IVF

sehingga jarang dillakukan. Dengan teknik ini persentase terjadinya kehamilan lebih tinggi

sedikit daripada dengan teknik IVF, namun prosedur pelaksanaannya lebih rumit dan tidak

nyaman bagi pasien.(12)

23
Gambar 6. GIFT

Gambar 7. ZIFT

4. Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI)

Substansi didalam sel telur disebut sitoplasma, dan ICSI merupakan suatu tekknik

reproduksi buatan dengan memasukkan sebuah sperma secara langsung ke sitoplasma dari

sel telur. Prosedur ini dilakukan dengan menggunakan jarum mikro. Sel telur yang sudah

dimasuki sperma ini kemudian ditempatkan di dalam uterus sama seperti IVF. Teknik ICSI

ini berguna untuk pasangan yang tidak berhasil dengan IVF, atau bila kualitas sperma yang

baik terlalu sedikit untuk dilakukan IVF. ICSI mempunyai angka fertilisasi yang tinggi

namun angka terjadinya kehamilan hampir sama dengan teknik IVF.(12)

24
Gambar 8. ICSI

VIII. Prognosis

Prognosis terjadinya kehamilan tergantung pada umur suami, umur istri, dan lamanya

dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan (frekuensi hubungan seksual dan lamanya

perkawinan). Fertilitas maksimal wanita dicapai pada umur 24 tahun, kemudian menurun

perlahan-lahan sampai umur 30 tahun, dan setelah itu menurun dengan cepat. (2)

DAFTAR PUSTAKA

1. Puscheck, Elizabeth E. Infertility.Emedicine.2013. Available from URL: http://www


emedicine/274143-overview.htm.
2. Prawirohardjo, Sarwono. Infertilitas in Ilmu kandungan. Edisi ketiga. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka. 2014 . 496-531
3. Male Infertility.Mayoclinic.2013. Available from URL: http://www male
infertility/con-20033113.htm.
4. Female Infertility.Mayoclinic.2013. Available from URL: http://www female
infertility/con-20033618_2.htm.

25
5. Infertility.Mayoclinic.2013. Available from URL: http://www mayo clinic/con-
20034770.htm..
6. Infertility.Pubmed.2013. Available from URL: http://www pubmed Health/Infertility -
National Library of Medicine - PubMed Health.htm..
7. Emre, Selli. Infertility. New York: John Wiley & Sons. 2011. 4-27
8. Kuswondo, Gunawan. 2002. Analisis Semen pada Pasangan Infertil. Thesis.
Semarang: Bagian/SMF Obstetri Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro RSUP Dr. Kariadi.
9. Adiyono, W., Praptohardjo U., Moerjon, S. 2005. Laparoskopi dan Histeroskopi.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Pp. 231-234.
10. Sugono,. 2008. Perbedaan Pengaruh Pemberian Clomiphene Citrate dan Letrozole
terhadap Perkembangan Folikel serta Profil Hormonal pada Wanita dengan
Unexplained Infertility. Thesis. Semarang: Bagian/SMF Obstetri Ginekologi Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro RSUP Dr. Kariadi.
11. Hestiantoro, Andon. 2009. Tatalaksana Pemeriksaan Dalam Infertilitas. Jurnal
Cermin Dunia Kedokteran 170/ vol.36.
12. Speroff, Fritz A.M.2005. Clinical Gynecology Endocrinology and Infertility. 7th
Edition. Baltimore Maryland: Williams and Wilkins.pp 2013-56.

26