Anda di halaman 1dari 25

ALAT DAN BAHAN DALAM PELAKSANAAN

PERAWATAN JENAZAH AGAMA HINDU

OLEH
KELOMPOK 4
D IV KEPERAWATAN, Tk. 1

1. I WAYAN YOGA ADI PURNAMA (P07120214025)


2. KADEK PONI MARJAYANTI (P07120214026)
3. AYU INDAH AGUSTINI (P07120214027)
4. PUTU JANA YANTI PUTRI (P07120214028)
5. NI NYOMAN DIAH VITRI P. (P07120214029)
6. LUH AGUSTINA RAHAYU (P07120214030)
7. I GUSTI AYU INDAH JULIARI (P07120214031)
8. AYU PUTU EKA TUSNIATI (P07120214032)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
TAHUN AKADEMIK 2014/2015
BAB

A. PENDAHULUAN

1. KONSEP-KONSEP KUNCI
2. PETUNJUK
3. TUJUAN PEMBELAJARAN
a. Tujuan Pembelajaran Umum
b. Tujuan Pembelajaran Khusus

B. PENYAJIAN MATERI

C. TUGAS DAN LATIHAN

D. PENUTUP

1. RANGKUMAN

2. TES AKHIR BAB


Soal

Kunci Jawaban

E. DAFTAR PUSTAKA

BAB I
A. PENDAHULUAN

Kehilangan adalah peristiwa dari pengalaman manusia yang penting secara


individual. Hidup adalah serangkaian kehilangan dan pencapaian. Pada hakikatnya
menjelma sebagai manusia merupakan suatu keuntungan yang sangat besar, karena
manusia dapat dan mampu menolong dirinya dari cengkeraman kesengsaraan serta
lahir sebagai manusia dapat menimbun perbuatan yang baik sehingga dapat mencapai
swarga.
Kepercayaan yang ada pada agama memberitahukan konsep-konsep yang
benar dan yang salah, dan perilaku yang diharapkan untuk menjadi seseorang yang
baik, penuh tenggang rasa terhadap oranglain serta mempunyai rasa cinta kasih
terhadap sesama, baik dalam perkataan maupun perbuatannya. Menurut agama
Hindu, kematian itu merupakan saat yang sangat penting, bahkan saat menentukan
arti kehidupan seseorang. Kematian akan memberikan arti pada segala usaha dan
kemeriahan yang kita dapatkan selama kita hidup. Oleh karena itulah dianjurkan agar
orang segera mengingat Tuhan Yang Maha Esa pada saat meninggal.
Agama Hindu mempunyai keyakinan bahwa dengan mengingat Tuhan disaat
meninggalkan badan kasar adalah sangat menentukan tempat yang akan dituju di
alam sana .Setiap orang Hindu mengharapkan agar mati di dekat sungai Gangga
supaya tulang-tulang dan abu mereka dapat tenggelam di dalam air.Sehingga mereka
dapat mengakhiri lingkaran kehidupan kembali.
Dalam kehidupan setiap individu hanya ada satu hal yang pasti, yaitu individu
tersebut akan meninggal dunia . Kematian merupakan suatu hal yang alami. Saat
terjadinya kematian merupakan saat-saat yang tidak diketahui waktunya.Dengan
memahami bahwa kematian merupakan suatu yang alami dari proses kehidupan akan
membantu perawat dalam memberikan respon terhadap kebutuhan pasien dengan
lebih murah hati. Sebagai perawat, kita harus memahami prosedur perawatan jenazah
dengan baik dan benar agar saat penanganan jenazah tidak menambah risiko
penularan penyakit.

1. KONSEP-KONSEP KUNCI
a. Definisi kematian
b. Konsep kematian menurut agama Hindu
c. Alat dan bahan yang dipergunakan
d. Tata cara perawatan dan upacara kematian menurut agama Hindu
e. Pengertian perawatan jenazah
f. Implementasi keperawatan

2. PETUNJUK
a. Penelusuran IT mengenai alat dan bahan perawatan jenazah menurut agama
Hindu.

b. Mempelajari buku-buku yang berkaitan dengan alat dan bahan perawatan


jenazah menurut agama Hindu.

c. Menyajikan setiap bab meliputi: judul bab dan konsep-konsep kunci,


petunjuk, kerangka isian, tujuan pembelajaran umum, tujuan pembelajaran
khusus, paparan materi, tugas dan latihan, rangkuman, dan soal-soal akhir
bab yang disertai dengan kunci jawaban.

d. Dalam uraian materi terdapat test sambil jalan. Test ini dapat menjadi
tuntunan pembaca dalam memahami uraian bahan ajar bagian demi
bagian.

e. Mengerjakan soal-soal latihan dan soal akhir bab dengan tekun dan disiplin.

f. Membaca sumber-sumber pendukung untuk memperdalam pengetahuan dan


wawasan.

g. Mengikuti turutan penyajian setiap bab tahap demi tahap.


3. TUJUAN
a. Tujuan Umum Pembelajaran
Mahasiswa mampu memahami prosedur perawatan jenazah serta alat dan
bahan dalam perawatan jenazah menurut agama Hindu.
b. Tujuan Khusus Pembelajaran
1. Menjelaskan definisi kematian
2. Menjelaskan konsep kematian menurut agama Hindu
3. Memaparkan alat dan bahan yang dipergunakan
4. Menjelaskan tentang tata cara dan upacara kematian menurut agama
Hindu
5. Menjelaskan pengertian perawatan jenazah
6. Menjelaskan implementasi keperawatan
B. PENYAJIAN MATERI
a. Definisi Kematian
Kematian suatu keadaan alamiah yang setiap individu pasti akan
mengalaminya. Secara umum, setiap manusia berkembang dari bayi, anak-anak,
remaja, dewasa, lansia dan akhirnya mati.
Kematian (death) merupakan kondisi terhentinya pernapasan, nadi, dan
tekanan darah, serta hilangnya respon terhadap stimulus eksternal, ditandai
dengan terhentinya aktivitas listrik otak, atau dapat juga dikatakan terhentinya
fungsi jantung dan paru secara menetap atau terhentinya kerja otak secara
menetap. Terdapat beberapa perubahan tubuh setelah kematian, diantaranya :
1. Algor mortis (Penurunan suhu jenazah)
Algor mortis merupakan salah satu tanda kematian yaitu terhentinya
produksi panas, sedangkan pengeluaran berlangsung terus menerus, akibat
adanya perbedaan panas antara mayat dan lingkungan.Faktor yang
mempengaruhi Algor mortis yaitu :

a. Faktor lingkungan
b. Suhu tubuh saat kematian ( suhu meningkat, a.m.makin lama)
c. Keadaan fisik tubuh serta pakaian yang menutupinya
d. Aliran udara, kelembaban udara
e. Aktivitas sebelum meninggal, konstitusi tubuh
f. Sebab kematian, posisi tubuh
2. Livor mortis (Lebam mayat)
Livor mortis (lebam mayat) terjadi akibat peredaran darah terhenti
mengakibatkan stagnasi maka darah menempati daerah terbawah sehingga
tampak bintik merah kebiruan.
3. Rigor mortis (Kaku mayat)
Rigor mortis adalah kekakuan pada otot tanpa atau disertai pemendekan
serabut otot.Tahapan tahapan rigor mortis:
a. 0-2 sampai 4 jam : kaku belum terbentuk
b. 6 jam : Kaku lengkap
c. 12 jam : kaku menyeluruh
d. 36 jam : relaksasi sekunder
4. Dekomposisi ( Pembusukan)
Hal ini merupakan suatu keadaan dimana bahan-bahan organik tubuh
mengalami dekomposisi baik yang disebabkan karena adanya aktifitas bakteri,
maupun karena autolisis. Skala waktu terjadinya pembusukan Mulai terjadi
setelah kematian seluler. Lebih dari 24 jam mulai tampak warna kehijauan di
perut kanan bawah (caecum).
Mekanisme: Degradasi jaringan oleh bakteri → H2S, HCN, asam lemak
H2S + Hb → HbS (hijau kehitaman).
Faktor yang mempengaruhi pembusukan:
a. Mikroorganisme
b. Suhu optimal (21 – 370C)
c. Kelembaban tinggi→cepat
d. Sifat mediumnya udara=air=tanah=(1:2:8)
e. Umur bayi, anak, ortu → lambat
f. Kostitusi tubuh : gemuk (cepat)
g. Keadaan waktu mati kematian :edema(cepat), dehidrasi(lambat)
h. Sebab kematian : radang (cepat)
Berikut ini terdapat beberapa definisi mengenai kematian sebagai berikut :
1. Mati klinis adalah henti nafas (tidak ada gerak nafas spontan) ditambah henti
sirkulasi (jantung) total dengan semua aktivitas otak terhenti, tetapi tidak
ireversibel. Pada masa dini kematian inilah, pemulaian resusitasi dapat diikuti
dengan pemulihan semua fungsi sistem organ vital termasuk fungsi otak
normal, asalkan diberi terapi optimal.
2. Mati biologis (kematian semua organ) selalu mengikuti mati klinis bila tidak
dilakukan resusitasi jantung paru (RJP) atau bila upaya resusitasi dihentikan.
Mati biologis merupakan proses nekrotisasi semua jaringan, dimulai dengan
neuron otak yang menjadi nekrotik setelah kira-kira 1 jam tanpa sirkulasi,
diikuti oaleh jantung, ginjal, paru dan hati yang menjadi nekrotik selama
beberapa jam atau hari.

b. Konsep Kematian Menurut Agama Hindu


Manusia pada umumnya selalu takut datangnya kematian, manusia dengan
segala cara selalu menjaga kesehatannya dengan harapan proses kematian jangan
terlalu cepat sehingga dapat lama menikmati kehidupan ini. Rasa takut manusia
menghadapi kematian adalah suatu pertanda bahwa sudah banyak penderitaan yang
lain pada saat matinya dalam kehidupan yang sebelumnya. Agama Hindu mengatakan
setelah mati tubuh hancur, kembali menjadi panca maha buta. Sedangkan jiwa
mungkin mencapai moksha atau lahir kembali ke dunia ini.
Salah satu kitab dalam yang disakralkan oleh umat Hindu adalah kitab
Upanishad. Kitab Upanishad mengajarkan bahwa di luar dunia ini,
"brahmanatman"lah (sesuatu seperti Allah) satu-satunya yang benar-benar ada dan
berarti. Apa yang manusia lihat, dunia ruang, dan waktu adalah maya. Maya sifatnya
hanya sementara dan tidak memiliki makna yang nyata. Namun, semua yang hidup
dan bernapas memiliki "atman" atau jiwa yang merupakan bagian dari "paramatman"
atau dunia arwah. Setiap "atman", saat berada dalam dunia maya, mencoba untuk
kembali ke "paramatman".
Kitab Upanishad menyatakan bahwa jalan satu-satunya bagi "atman" untuk
kembali ke asalnya adalah melalui "punar-janman" atau reinkarnasi. "Atman" (jiwa)
seseorang mungkin berawal dari cacing, kemudian melalui kematian dan kelahiran
kembali, jiwa itu menjadi sesuatu yang lebih tinggi derajatnya sampai menjadi
manusia. Saat "atman" menjadi manusia, "atman" itu harus tumbuh dengan mencapai
kelas sosial yang lebih tinggi. Manusia mencapai kelas sosial yang lebih tinggi
dengan mengikuti darmanya -- tugasnya untuk melakukan sesuatu hal tertentu sesuai
dengan kelasnya. Tugas tersebut meliputi tugas moral, sosial, dan agama -- ketiganya
sangat penting dalam agama Hindu.
Cara lain untuk membebaskan jiwa adalah melalui yoga. Kedisiplinan yang
menahan hasrat jasmani di bawah penguasaan diri sehingga "atman" dapat lolos dari
lingkaran kematian dan kelahiran kembali untuk kemudian bergabung ke
"paramatman" (dunia arwah). Sekalinya "atman" dapat masuk ke "paramatman"
(kenyataan yang sebenarnya), maka "atman" tersebut telah diterima di nirwana.
Kemudian yang ada hanyalah hidup yang lebih tinggi. Ia berhasil masuk ke dalam
keabadian.
Orang Hindu meyakini bahwa dunia ini tidak bermakna karena dunia ini
hanya sementara dan satu-satunya realitas adalah sesuatu yang dapat ia lihat sekilas
melalui disiplin dan meditasi yang intensif. Mereka percaya bahwa jiwa mereka telah
melalui lingkaran kelahiran, kematian, kelahiran kembali yang panjang dan akan
terus begitu sampai menemukan kelepasan di nirwana (keabadian). Orang Hindu
percaya bahwa Upanishad memberi mereka hikmat yang mereka perlukan untuk
menolak dunia agar jiwanya dapat mencapai "paramatman" yang kekal.
Hinduisme ini mengajarkan bahwa keselamatan dapat diperoleh melalui salah
satu dari tiga cara, yakni dengan menjalankan darma atau tugas; pengetahuan yang
diajarkan Upanishad; dan pengabdian kepada salah satu dewa, misalnya Wisnu atau
Siwa. Cara yang terakhir adalah cara yang paling banyak digunakan orang-orang dari
kelas bawah (mayoritas orang India) karena cara itu menawarkan kemudahan bagi
jiwa mereka untuk mencapai kelas yang lebih tinggi, dan akhirnya nirwana.Menurut
agama Hindu, setelah mengalami tahap-tahap kehidupan yang sempurna dan
melewati reinkarnasi, mereka akan bertemu dengan Dewa Brahma (Pencipta).

c. Alat dan bahan yang dipergunakan


Adapun peralatan atau perlengkapan yang harus disiapkan antara lain :
1. Kain Putih atau Kafan
Kain putih ( kafan ) diperlukan kira-kira 20 meter, dipotong-potong dengan
ukuran sebagai berikut : untuk destar 1 meter, untuk kampuh ( saput ) 1,5
meter, untuk kainnya 2,5 meter; kemudian untuk pembungkus jenazah sekitar
5 meter, untuk melapisi peti jenazah ( keranda ) secukupnya, untuk “laluhur”
1 meter, masing-masing seperempat meter sebagai penutup mata, kemaluan
dan payudara (jika wanita), bantal kecil dan bantal guling, dan sisanya
sebagai: “pedapa” (penutup peti jenazah yang ujungnya cukup panjang).
2. Peti (keranda)
Peti itu bisa dibuatkan atau bisa dibelikan yang sudah selesai.Bila perlu, peti
itu dilapisi dengan kain putih lagi.Dan sebelum peti jenazah itu dipakai,
terlebih dahulu dibersihkan (plaspasin).
3. Balai Tempat Memandikan (Pepaga)
Di Bali tempat untuk memandikan jenazah khusus dan sengaja dibuat dengan
bambu disebut “pepaga”, yang sekaligus dapat dipergunakan untuk
mengusung jenazah atau peti jenazah ke kuburan. Karena biasanya letak
kuburan itu tidak begitu jauh (setiap desa mempunyai kuburan minimal satu),
maka jenazah cukup diusung dengan usungan (pepaga) itu dan para
pelayatnya mengiringi di belakang usungan itu dengan berjalan kaki
juga.Tetapi di kota-kota besar, diperlukan kereta jenazah atau ambulance
untuk membawa jenazah itu dari rumah menuju ke kuburan.Karena itu perlu
disediakan tempat untuk memandikan jenasah itu ditutup atau didindingi
dengan kain atau lainnya agar jenasah tidak tampak terbuka.Terutama kalau
jenasah seorang wanita.
4. Lubang Lahat
Lubang lahat atau lubang kuburan, harus sudah sebelum jenasah
diberangkatkan dari rumah menuju ke kuburan.Adapun ukuran lubang lahat
itu disesuaikan dengan ukuran peti jenasah dengan catatan dilebihi lagi sekitar
dua jengkal baik panjang maupun lebarnya.Sedangkan dalamnya minimal dua
meter.Pinggir atau tepi lubang lahat itu seupaya dirapikan dan dibersihkan.
5. Peralatan Mandi
Adapun peralatan untuk memandikan jenazah, hampir sama dengan peralatan
mandi orang masih hidup antara lain: air bersih secukupnya, air kembang
(kumkuman), sabun wangi, handuk, sikat gigi, pasta gigi ( tapal gigi ), minyak
rambut, yang secara tradisionaldipakai minyak kelapa, santan untuk
berkeramas, dan sisig dibuat dari arang nasi (sebagai sikat gigi dengan pasta
giginya). Di samping alat permandian itu juga alat untuk berhias a.l : sisir,
minyak rambut, minyak wangi, bedak, cermin, pisau untuk membersihakan
kukunya dsbnya. Kalau kebetulan jenazah itu ada luka-lukanya, perlu
disiapkan obat luka berikut kapas, khas dan perbannya.
6. Sajen Tarpana
Sajen atau banten yang diperlukan untuk upacara kematian (antyesti) antara
lain : 1. Kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasiNya sebagi
Sang Hyang Prajapati diperlukan sajen sebagai berikut : a. Peras, b. Ajuman
dan c. Daksina, masing-masing sebuah (satu tanding); begitu juga kehadapan
Sang Hyang Ibu Pertiwi. 2. Diatas dada jenazah diisi dengan : a. beras catur
warna (putih-timur, merah-selatan, kuning-barat, hitam-utara), b. uang 225, c.
pada kepalanya diletakkan satu tanding daksina dan d. ditengah-tengah antara
dada dengan hulu hati diletakkan bubur pirata.
Disamping itu juga dimohonkan berbagai tirtha (air suci, toyam, odakam)
yaitu : a. tirtha pengentas (dari seorang sulinggih/pandita), b. tirtha dari
merajan/ kawitan, c. tirtha dari pura-pura tempat yang bersangkutan sering/
biasa bersembahyang waktu masa hidupnya. Mengenai bahan-bahan sajen,
utamakan dari api(dupa), air(tirtha) dan bunga yang segar dan harum.

d. Tata Cara Menurut Upacara Agama Hindu


A. Tata Cara Perawatan Jenazah Menurut Agama Hindu
Terlebih dahulu jenazah harus dimandikan dengan air tawar yang bersih
dan sedapatmungkin dicampur dengan wangi- wangian.Setelah itu diberi
secarik kain putih untuk menutupi bagian muka wajah dan bagian alat
kelaminnya.Kemudian barulah diberi pesalin dengan kain atau baju yang baru
(bersih), rambutnya dirapikan (perempuan : rambutnya digulung sesuai
dengan arah jarum jam), posisi tangan dengan sikap "menyembah" ke bawah.
Setelah itu dibungkus dengan kain putih.
Pada saat membungkus jenazah tersebut supaya diperhatikan hal-hal
sebagai berikut: bila jenazah itu laki- laki maka lipatan kainnya: yang kanan
menutupi yang kiri, dan bila perempuan maka lipatan kainnya: yang kiri
menutupi yang kanan. Setelah terbungkus rapi ikatlah bagian ujung (kepala
dan kaki) serta bagian tengah jenazah yang bersangkutan dengan benang atau
sobekan kain pembungkus tadi.Setelah selesai perawatan di atas, barulah
jenazah tersebut disemayamkan di tempat yang telah ditetapkan.
B. Tata Cara Pelaksanaan Upacara
Tata cara upacara yang mungkin dapat dilaksanakan adalah upacara
darurat yang dalam hal ini harus dipimpin oleh seseorang yang beragama
Hindu yang ada dalam kapal/ tempat tersebut yaitu :
Paling tidak ada sebuah "punjung" atau hidangan yang materinya terdiri
dari: sepiring nasi dilengkapi, dengan.lauk pauk seadanya, air minum, air
wijikan, rokok dan lain- lain sebagaimana santapan biasa.
Pimpinan upacara menyuguhkan mendiang untuk menikmati punjung/
hidangan tersebut disertai dengan ucapan bahasa sehari-hariCatatan: Punjung/
hidangan disuguhkan di sebelah kanan jenazah yakni di antara leher dan
pusarnya.Selanjutnya pimpinan upacara mohon persaksian (sembahyang)
yang kalau situasi memungkinkan agar memakai sarana dupa (api) ke hadapan
Bhatara Surya (Sang Hyang Widhi/ Tuhan) dan ke hadapan Bhatara Baruna.
Akhirnya jenazah tersebut supaya dititipkan ke hadapan ibu Pertiwi.Bila nanti
oleh keluarga yang bersangkutan berniat untuk mengabenkannya, cukup
ngendag dari setra (kuburan) dan pengulapandimarga tiga (simpang tiga).
Kemudian tibalah saatnya menurunkan jenazah ke tengah laut yang
disertai dengan pesan seperlunya.Posisi jenazah pada saat diturunkan ke
tengah laut kepalanya supaya mengarah pada matahari terbit.Pada saat ini
diikuti dengan penghormatan terakhir oleh segenap hadirin, kalau mungkin
disertai dengan taburan bunga.
e. Perawatan Jenasah Menurut Konsep Keperawatan
A. Pengertian
Perawatan jenasah adalah perawatan pasien setelah meninggal,
perawatan termasuk menyiapkan jenasah untuk diperlihatkan pada keluarga,
transportasi ke kamar jenasah dan melakukan disposisi (penyerahan) barang-
barang milik klien.Perawatan jenazah adalah suatu tindakan medis
melakukan pemberian bahan kimia tertentu pada jenazah untuk menghambat
pembusukan serta menjaga penampilan luar jenazah supaya tetap mirip
dengan kondisi sewaktu hidup.Perawatan jenazah dapat dilakukan langsung
pada kematian wajar, akan tetapi kematian pada tidak wajar pengawetan
jenasah baru boleh dilakukan setelah pemeriksaan jenasah atau otopsi
dilakukan.Perawatan jenasah dilakukan karena ditundanya
penguburan/kremasi, misalnya untuk menunggu kerabat yang tinggal jauh
diluar kota/diluar negeri.Pada kematian yang terjadi jauh dari tempat asalnya
terkadang perlu dilakukan pengangkutan atau perpindahan jenasah dari suatu
tempat ketempat lainnya.Pada keadaan ini, diperlukan pengawetan jenasah
untuk mencegah pembusukan dan penyebaran kuman dari jenasah
kelingkungannya.Jenasah yang meninggal akibat penyakit menular akan
cepat membusuk dan potensial menular petugas kamar jenasah. Keluarga
serta orang-orang disekitarnya. Pada kasus semacam ini, kalau pun
penguburan atau kremasinya akan segera dilakukan tetap dilakukan
perawatan jenasah untuk mencegah penularan kuman atau bibit penyakit
disekitarnya.
B. Indikasi
Perawatan jenasah dimulai setelah dokter menyatakan kematian
pasien.Jika pasien meninggal karena kekerasan atau dicurigai akibat
kriminalitas, perawatan jenasah dilakukan setelah pemeriksaan medis
lengkap melalui autopsy.
C. Tujuan
Adapun tujuan dari perawatan jenasah yaitu :
1. Untuk mencegah terjadinya pembusukan pada jenasah
2. Dengan menyuntikan zat-zat tertentu untuk membunuh kuman seperti
pemberian intjeksi formalin murni, agar tidak meningalkan luka dan
membuat tubuh menjadi kaku. Dalam injeksi formalin dapat dimasukan
kemulut hidung dan pantat jenasah.
D. Tindakan di Luar Kamar Jenasah
Adapun tindakan yang dilakukan diluar kamar jenasah yaitu :
1. Mencuci tangan sebelum memakai sarung tangan
2. Memakai pelindung wajah dan jubah
3. Luruskan tubuh jenasah dan letakan dalam posisi terllentang dengan
tangan disisi atau terlipat didada.
4. Tutup kelopak mata atau ditutup dengan kapas atau kasa, begitu pula
multu dan telinga.
5. Beri alas kepala dengan kain handuk untuk menampung bila ada
rembesan darah atau cairan tubuh lainnya.
6. Tutup anus dengan kasa dan plester kedap air.
7. Lepaskan semua alat kesehatan dan letakan alat bekas tersebut dalam
wadah yang aman sesuai dengan kaidah kewaspadaan unifersal.
8. Tutup setiap luka yang ada dengan plester kedap air.
9. Bersihkan tubuh jenasah tutup dengan kain bersih untuk disaksikan
olehkeluarga
10. Pasang label identitas pada laki-laki
11. Beritahu petugas kamar jenasah bahwa jenasah adalah penderita
penyakit menular
12. Cuci tangan setelah melepas rarung tangan.
E. Tindakan di Kamar Jenasah
Adapun tidakan dikamar jenasah yaitu :
1. Lakukan prosedur baku kewaspadaan universal yaitu cuci tangan
sebelum mamakai sarung tangan.
2. Petugas memakai alat pelindung :
a. Sarung tangan karet yang panjang (sampai kesiku)
b. Sebaiknya memakai sepatu boot sampai lutut
c. Pelindung wajah (masker dan kaca mata)
d. Jubah atau celemek sebaiknya yang kedap air.
e. Jenasah dimadikan oleh petugas kamar jenasah yang telah
memahami cara membersihkan atau memandikan jenasah
penderita penyakit menular
f. Bungkus jenasah dengan kain kafan atau kain pembungkus lain
sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianut.
g. Cuci tangan dengan sabun sebelum memakai sarung tangan dan
sesudah melepas sarung tangan
h. Jenasah yang telah dibungkus tidak boleh dibuka lagi.
i. Jenasah tidak boleh dibalsem atau disuntik atau pengawetan
kecauli oleh petugas khusus yang telah mahir dalam hal tersebut.
j. Jenasah tidak boleh diotopsi, dalam hal tertentu, otosi dapat
dilakukan setelah mendapat persetujuan dari pimpinan rumah sakit
dan dilaksanakanoleh petugas rumah sakait yang telah mahir
dalam hal tersebut.
F. Hal-Hal yang Diperhatikan dalam Proses Keperawatan
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses keperawatan yaitu :
1. Segera mencuci kulit dan permukaan lain dengan air mengalir bila
tekenah darah atau cairan tubuh lain.
2. Dilarang memanipulasi alat suntik atau menyarungkan jarum suntik ke
tutupnya. Buang semua alat atau bendah tajam dalam wadahyang tahan
tusukan
3. Semua permukaan yang terkena percikan atau tumpuahan darah atau
cairan tubuh lainnya segera dibersihkan dengancairan klorin 0,5 %
4. Semua peralatan yang akan digunakan kembali harus diproses dengan
urutan : dekontaminasi, pembersihan, desinfeksi, atau sterilisai
5. Sampah dan bahan terkontaminasi lainnya ditempatkan dalam kantong
plastic
6. Pembuangan sampah dan bahan yang tercemar sesua pengolah sampah
medis.
G. Implementasi Keperawatan
Perawatan jenazah penderita penyakit menular dilaksanakan dengan
selalu menerapkan kewaspadaan universal tanpa mengakibatkan tradisi
budaya dan agama yang dianut keluarganya.Setiap petugas kesehatan
terutama perawat harus dapat menasehati keluarga jenazah dan mengambil
tindakan yang sesuai agar penanganan jenazah tidak menambah risiko
penularan penyakit seperti halnya hepatitis-B, AIDS, kolera dsb.Tradisi yang
berkaitan dengan perlakuan terhadap jenazah tersebut dapat diizinkan dengan
memperhatikan hal yang telah disebut diatas, seperti msalnya mencium
jenazah sebagai bagian dari upacara penguburan. Perlu diingat bahwa virus
HIV hanya dapat hidup, maka beberapa waktu setelah penderita infeksi-HIV
meninggal, virus pun akan mati.
1. Alat dan Bahan:
a. Tempat mandi f. Sisir
b.Ember berisi air g.Cotton bud
c. Gayung h.Washlap
d.Air sabun i. Handuk
e. Sampo j. Kain panjang 2 potong
2. Prosedur Memandikan:
a. Angkat jenazah ke tempat mandi
b. Lepaskan pakain yang melekat pada badan
c. Siramlah badan bagian kanan, basuhlah anggota badan ketika
berwudhu
d. Siramlah badan yang kiri
e. Siramlah seluruh badan
f. Gosok-gosok dengan sabun, siram 3-5 kali
g. Miringkan mayat gosok-gosok dengan sabun dan siram 3-5 kali
h. Jangan memaksakan mengeluarkan kotoran dari perut mayat
i. Siram dengan kapur barus yan dicairkan
j. Keringkan dengan handuk
k. Tutup denan kain
3. Prosedur Mengkafani :
a. Kain kafan yang sudah disiapkan di gelar
b. Angkat jenazah, letakkan diatas kain kafan
c. Sisir rambutnya
d. Untai 3 untaian untuk perempuan
e. Siapkan rok gamis kerudung untuk perempuan
f. Aurat ditutup dengan kapas
g. Angkat kain penutup
h. Oleskan bubuk kapur barus dan parfum
i. Lipat kain kafan lapis atas, seterusnya sampai yang ketiga
j. Ikat dengan simpul ikatan yang kiri
k. Gulung dengan tikar dan lipat
l. Masukkan dalam keranda, jenazah siap diantarkan kepada
keluarganya.
C. TUGAS DAN LATIHAN

1. Di bawah ini yang bukan termasuk faktor yang memengaruhi Algor


Mortis…….
a. Konstitusi tubuh
b. Aliran udara
c. Posisi tubuh
d. Aliran darah
e. Faktor lingkungan
2. Kekakuan pada otot tanpa atau disertai pemendekan serabut otot disebut…
a. Rigor Mortis
b. Livor mortis
c. Algor Mortis
d. Dekomposisi
e. Caecum
3. Berikut mekanisme dekomposisi yaitu…..
a. degradasi jaringan oleh bakteri H2SO4, HCN, asam lemak
H2S + Hb HbS (hijau kehitaman)
b. degradasi jaringan oleh bakteri H2S, HCN, asam lemak
H2S + Hb HbS (hijau kehitaman)
c. degradasi jaringan oleh bakteri H2S, HCN, asam lemak
H2S + Hb HbS (hijau kebiruan)
d. degradasi jaringan oleh bakteri H2S, HbS, asam lemak
H2S + Hb HbS (hijau kebiruan)
e. degradasi jaringan oleh bakteri H2S, HCN, asam klorida
H2S + Hb HbS (hijau kebiruan)

4. Akibat dari stagnasi pada peredaran darah yaitu…..


a. Algor Mortis
b. Caecum
c. Livor Mortis
d. Rigor Motris
e. Dekompisisi

5. Bagaimana aturan lipatan kain bagi jenazah yang berkelamin laki-laki dan
perempuan……
a. Yang kanan menutupi yang kiri dan yang kiri menutupi yang kanan
b. Yang kiri menutupi yang kiri dan yang kanan menutupi yang kanan
c. Yang kanan menutupi yang kiri dan yang kiri menutupi yang kiri
d. Yang kanan menutupi yang kanan dan yang kiri menutupi yang kanan
e. Yang kiri menutupi yang kanan dan yang kanan menutupi yang kiri

6. Semua peralatan yang akan digunakan kembali harus diproses dengan


urutan……
a. Pembersihan, dekontaminasi, desinfeksi,dan sterilisasi
b. Desinfeksi, pembersihan, dekontaminasi, ,dan sterilisasi
c. Sterilisasi, pembersihan, dekontaminasi, dan desinfeksi
d. Pembersihan, dekontaminasi, sterilisasi dan desinfeksi
e. Dekontaminasi, pembersihan, desinfeksi,dan sterilisasi

7. Bagaimana aturan rambut jenazah yang berkelamin wanita, menurut


agama Hindu…
a. Rambutnya digulung sesuai dengan arah jarum jam
b. Rambutnya digulung berlawanan dengan arah jarum jam
c. Rambutnya dibiarkan terurai
d. Rambutnya dipotong
e. Rambutnya diikat biasa
8. Dimana hidangan yang materinya terdiri dari sepiring nasi dilengkapi,
dengan. lauk pauk seadanya, air minum, air wijikan, rokok (punjung)
diletakkan ….
a. Di sebelah kiri jenazah yakni di antara leher dan pusarnya
b. Di sebelah kanan jenazah yakni di antara paha dan kakinya
c. Di sebelah kanan jenazah yakni di antara leher dan pusarnya
d. Di sebelah kiri jenazah yakni di antara paha dan kakinya
e. Di atas kepala jenazah

9. Salah satu tanda kematian yaitu terhentinya produksi panas, sedangkan


pengeluaran berlangsung terus menerus, akibat adanya perbedaan panas
antara mayat dan lingkungan disebut….
a. Livor mortis
b. Rigor mortis
c. Dekomposisi
d. Algor mortis
e. Degradasi

10. Di bagian mana injeksi formalin dapat dimasukkan ke tubuh jenazah….


a. Mulut, hidung dan anus jenasah
b. Mulut, hidung dan telinga jenazah
c. Anus dan lengan atas
d. Mulut, hidung dan lengan atas
e. Hidung, anus dan lengan atas
D. PENUTUP

1. Rangkuman
Kematian suatu keadaan alamiah yang setiap individu pasti akan
mengalaminya. Kematian (death) merupakan kondisi terhentinya pernapasan,
nadi, dan tekanan darah, serta hilangnya respon terhadap stimulus eksternal,
ditandai dengan terhentinya aktivitas listrik otak, atau dapat juga dikatakan
terhentinya fungsi jantung dan paru secara menetap atau terhentinya kerja
otak secara menetap. Setelah kematian tentu saja tubuh akan mengalami
beberapa perubahan seperti Algor mortis (Penurunan suhu jenazah), Livor
mortis (Lebam mayat), Rigor mortis (Kaku mayat), dan Dekomposisi (
Pembusukan). Dengan memahami bahwa kematian merupakan suatu yang
alami dari proses kehidupan akan membantu perawat dalam memberikan
respon terhadap kebutuhan pasien dengan lebih murah hati. Sebagai perawat,
kita harus memahami prosedur perawatan jenazah dengan baik dan benar agar
saat penanganan jenazah tidak menambah risiko penularan penyakit.
Dalam upaya perawatan jenazah, tentulah diperlukan sarana berupa
alat dan bahan di antaranya kain putih, peti, balai tempat memandikan, lubang
lahat, peralatan mandi dan sajen tarpana.Perawatan jenazah menurut Hindu
melalui beberapa tahap dan upacara pelaksanaan.Dalam keperawatan terdiri
atas beberapa tindakan baik di dalam maupun di luar kamar jenazah serta
beberapa prosedur mulai dari memandikan hingga mengkafani jenazah

2. Tes Akhir Bab

1. Di bawah ini yang bukan termasuk faktor yang memengaruhi Algor


Mortis…….
a. Konstitusi tubuh
b. Aliran udara
c. Posisi tubuh
d. Aliran darah
e. Faktor lingkungan
2. Kekakuan pada otot tanpa atau disertai pemendekan serabut otot disebut…
a. Rigor Mortis
b. Livor mortis
c. Algor Mortis
d. Dekomposisi
e. Caecum

3. Berikut mekanisme dekomposisi yaitu…..


a. degradasi jaringan oleh bakteri H2SO4, HCN, asam lemak
H2S + Hb HbS (hijau kehitaman)
b. degradasi jaringan oleh bakteri H2S, HCN, asam lemak
H2S + Hb HbS (hijau kehitaman)
c. degradasi jaringan oleh bakteri H2S, HCN, asam lemak
H2S + Hb HbS (hijau kebiruan)
d. degradasi jaringan oleh bakteri H2S, HbS, asam lemak
H2S + Hb HbS (hijau kebiruan)
e. degradasi jaringan oleh bakteri H2S, HCN, asam klorida
H2S + Hb HbS (hijau kebiruan)

4. Akibat dari stagnasi pada peredaran darah yaitu…..


a. Algor Mortis
b. Caecum
c. Livor Mortis
d. Rigor Motris
e. Dekompisisi
5. Bagaimana aturan lipatan kain bagi jenazah yang berkelamin laki-laki dan
perempuan……
a. Yang kanan menutupi yang kiri dan yang kiri menutupi yang
kanan
b. Yang kiri menutupi yang kiri dan yang kanan menutupi yang kanan
c. Yang kanan menutupi yang kiri dan yang kiri menutupi yang kiri
d. Yang kanan menutupi yang kanan dan yang kiri menutupi yang kanan
e. Yang kiri menutupi yang kanan dan yang kanan menutupi yang kiri

6. Semua peralatan yang akan digunakan kembali harus diproses dengan


urutan……
a. Pembersihan, dekontaminasi, desinfeksi,dan sterilisasi
b. Desinfeksi, pembersihan, dekontaminasi, ,dan sterilisasi
c. Sterilisasi, pembersihan, dekontaminasi, dan desinfeksi
d. Pembersihan, dekontaminasi, sterilisasi dan desinfeksi
e. Dekontaminasi, pembersihan, desinfeksi,dan sterilisasi
7. Bagaimana aturan rambut jenazah yang berkelamin wanita, menurut agama
Hindu…
a. Rambutnya digulung sesuai dengan arah jarum jam
b. Rambutnya digulung berlawanan dengan arah jarum jam
c. Rambutnya dibiarkan terurai
d. Rambutnya dipotong
e. Rambutnya diikat biasa

8. Dimana hidangan yang materinya terdiri dari sepiring nasi dilengkapi,


dengan lauk pauk seadanya, air minum, air wijikan, rokok (punjung)
diletakkan ….
a. Di sebelah kiri jenazah yakni di antara leher dan pusarnya
b. Di sebelah kanan jenazah yakni di antara paha dan kakinya
c. Di sebelah kanan jenazah yakni di antara leher dan pusarnya
d. Di sebelah kiri jenazah yakni di antara paha dan kakinya
e. Di atas kepala jenazah

9. Salah satu tanda kematian yaitu terhentinya produksi panas, sedangkan


pengeluaran berlangsung terus menerus, akibat adanya perbedaan panas
antara mayat dan lingkungan disebut….
a. Livor mortis
b. Rigor mortis
c. Dekomposisi
d. Algor mortis
e. Degradasi

10. Di bagian mana injeksi formalin dapat dimasukkan ke tubuh jenazah….


a. Mulut, hidung dan anus jenasah
b. Mulut,hidung dan telinga jenazah
c. Anus dan lengan atas
d. Mulut, hidung dan lengan atas
e. Hidung, anus dan lengan atas
E. DAFTAR PUSTAKA

http://sakinahnuranisa.blogspot.com/2012/04/perawatan-jenazah-agama-hindu-
dan-islam.html
Diakses tanggal 11 September 2014 pukul 16.30 WITA

http://www.babadbali.com/canangsari/hkt-meninggal-dilaut.htmperawatan
jenazah agama hindu dan islam
Diakses tanggal 11 September 2014 pukul 17.00 WITA

N.Natih,I Ketut.1978.Antyesti Samskara.Jakarta: Proyek penerbangan bimbingan


dan dakwah/kutbah agama dan budha
`