Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

PENDIDIKAN PANCASILA

AMELIA HAPSARI
12512189

Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


“Kedaulatan adalah ditangan rakyat, dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis
Permusyawaratan Rakyat” merupakan bunyi pasal 1 ayat (2) Undang-Undang dasar negara
Republik Indonesia tahun 1945. Makna kedaulatan sama dengan makna kekuasaan tertinggi,
yaitu kekuasaan yang dalam taraf terakhir dan tertinggi wewenang membuat keputusan.
Tidak ada satu pasalpun yang menentukan bahwa negara Republik Indonesia adalah suatu
negara demokrasi. Namun, karena implementasi kedaulatan rakyat itu tidak lain adalah
demokrasi, maka secara implesit dapatlah dikatakan bahwa negara Republik Indonesia adalah
negara demokrasi.
Demokrasi sendiri adalah bentuk pemerintahan yang semua warga negaranya
memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka.
Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi, baik secara langsung atau melalui
perwakilan dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum. Hal yang demikian
wujudnya adalah, manakala negara atau pemerintah menghadapi masalah besar, yang
bersifat nasional, baik di bidang kenegaraan, hukum, politik, ekonomi, sosial-budaya
ekonomi, agama “semua orang warga negara diundang untuk berkumpul disuatu tempat
guna membicarakan, merembuk, serta membuat suatu keputusan” ini adalah prinsipnya.
Salah satu bentuk dari hal tersebut ialah semua warga terlibat aktif dalam pelaksanaan
pemilihan umum (PEMILU).
Di kebanyakan negara demokrasi, pemilihan umum dianggap lambang, sekaligus tolak
ukur dari demokrasi itu. Hasil pemilihan umum yang diselenggarakan dalam suasana
keterbukaan dengan kebebasan berpendapat dan kebebasan berserikat, dianggap
mencerminkan walaupun tidak begitu akurat, partisipasi dan kebebasan masyarakat.
Pemilihan umum juga menunjukkan seberapa besar partisipasi politik masyarakat, terutama
di negara berkembang.
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang dan juga sebagai negara demokrasi
yang sedang berusaha mencapai stabilitas nasional dan memantapkan kehidupan politik juga
mengalami gejolak-gejolak sosial dan politik dalam proses pemilihan umum. Permasalahan
utama terletak pada partisipasi warga negaranya. Sebagai warga negara yang baik, setiap
individu sudah seharusnya turut berpartisipasi dalam pemilihan umum. Namun yang terjadi
adalah minimnya kesadaran warga negara untuk memenuhi haknya sebagai seorang pemilih.
Permasalahan selanjutnya adalah kurangnya fasilitas yang disediakan bagi pemilih yang
sedang tidak berdomisili di daerah asalnya. Contohnya yakni banyaknya mahasiswa yang
merantau dan tidak dapat menggunakan hak pilihnya hanya karena prosedur yang dirasa
mempersulit. Oleh karena itu makalah ini akan membahas bagaimana jalannya pesta
demokrasi yang dirasakan oleh mahasiswa rantauan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana idealnya pelaksanaan pemilu terhadap pengguna hak pilih yang sedang
tidak berdomisili di daerah asalnya?
2. Bagaimana kondisi riil pelaksanaan pemilu tersebut?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana idealnya pelaksanaan pemilu terhadap pengguna
hak pilih yang sedang tidak berdomisili di daerah asalnya
2. Untuk mengetahui bagaimana kondisi riil pelaksanaan pemilu tersebut
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Pemilu


Menurut teori demokrasi klasik pemilu merupakan suatu Transmission of
Belt sehingga kekuasaan yang berasal dari rakyat dapat beralih menjadi kekuasaan negara
yang kemudian menjelma dalam bentuk wewenang pemerintah untuk memerintah dan
mengatur rakyat.
Berikut beberapa pernyataan beberapa para ahli mengenai pemilu:
Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim: pemilihan umum tidak lain adalah suatu cara untuk
memilih wakil-wakil rakyat. Dan karenanya bagi suatu negara yang menyebut dirinya sebagai
negara demokrasi, pemilihan umum itu harus dilaksanakan dalam wakru-waktu tertentu.
Bagir Manan: Pemilhan umum yang diadakan dalam siklus lima (5) tahun sekali merupakan
saat atau momentum memperlihatkan secara nyata dan langsung pemerintahan oleh rakyat.
Pada saat pemilihan umum itulah semua calon yang diingin duduk sebagai penyelenggara
negara dan pemerintahan bergantung sepenuhnya pada keinginan atau kehendak rakyat.

2.2 Sistem Pemilu


Sistem Pemilihan Umum adalah metode yang mengatur dan memungkin warga
negara memilih para wakil rakyat diantara mereka sendiri. Metode berhubungan dengan
prosedur dan aturan merubah ( mentransformasi ) suara ke kursi dilembaga perwakilan.
Mereka sendiri maksudnya yang memilih maupun yang hendak dipilih merupakan bagian dari
satu entitas yang sama.
Terdapat komponen-komponen atau bagian-bagian yang merupakan sistem tersendiri
dalam melaksanakan pemilihan umum, antara lain:
Ø Sistem pemilihan.
Ø Sistem pembagian daerah pemilihan.
Ø Sistem hak pilih.
Ø Sistem pencalonan.
Dalam ilmu politik dikenal bermacam-macam sistem pemilihan umum,dengan berbagai
variasinya. Akan tetapi, umumnya berkisar pada dua prinsip pokok, yaitu:
Sistem Pemilihan Mekanis
Dalam sistem ini, rakyat dipandang sebagai suatu massa individu-individu yang sama.
Individu-individu inilah sebagai pengendali hak pilih dalam masing-masing mengeluarkan satu
suara dalam tiap pemilihan umum untuk satu lembaga perwakilan.
Sistem pemilihan Organis
Dalam sistem organis, rakyat dipandang sebagai sejumlah individu yang hidup
bersama-sama dalam beraneka warna persekutuan hidup. Jadi persekuuan-persekutuan
itulah yang diutamakan sebagai pengendali hak pilih.
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Ideal Pelaksanaan Pemilu di Indonesia


Pemilu di Indonesia merupakan bentuk upaya perwujudan isi UUD yang berisikan
tentang kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanaakan menurut Undang-undang
Dasar.

Pemilu Indonesia mungkin adalah kegiatan kepemiluan paling kompleks di dunia:


Empat juta petugas di 550.000 TPS, yang tersebar di berbagai penjuru sebuah negara yang
terdiri atas 17.000 pulau, bertugas mengelola 700 juta surat suara dengan 2.450 desain yang
berbeda untuk memfasilitasi pemilihan 19.700 kandidat dalam satu Pemilu presiden dan 532
dewan perwakilan di tingkat nasional dan daerah. (www.rumahpemilu.org)

Pelaksanaan Pemilu merupakan sarana bagi masyarakat untuk mengekspresikan hak


politiknya dalam rangka menyelenggarakan: 1) perubahan secara damai dalam masyarakat
yang sedang berubah dan 2) pergantian pimpinan secara teratur. Oleh karena pelaksanaan
Pemilu sangat penting artinya dalam suatu negara demokrasi seperti Indonesia, maka
partisipasi politik masyarakat juga sangat diharapkan untuk menggunakan hak pilihnya / hak
suaranya. Dengan perkataan lain, masyarakat sebagai pemilih (pemegang / pengguna hak
pilih) melaksanakan partisipasinya dalam bentuk kehadiran dan pemberian suara di Tempat
Pemungutan Suara (TPS). Dengan catatan setiap masyarakat sudah tercantum sebagai daftar
pemilih tetap (DPT) di daerah asalnya.

Daftar Pemilih Tetap (DPT) adalah data kependudukan milik pemerintah dan
pemerintah daerah yang telah dimutakhirkan oleh KPU untuk keperluan pemilu. DPT
ditetapkan oleh KPU kabupaten/kota. Data kependudukan sendiri terdiri dari data penduduk
dan data penduduk potensial Pemilih Pemilu (DP4). Jadi, dalam menetapkan DPT KPU
menggunakan data kependudukan yang diberikan pemerintah dan pemerintah daerah
melalui Dinas Kependudukan. (www.hukumonline.com)

Kemudian ada pula Daftar Pemilih Tambahan (DPTb) dan Daftar Pemilih Khusus (DPK).
DPTb adalah pemilih yang karena keadaan tertentu tidak dapat menggunakan hak pilih di TPS
asal dan menggunakan hak pilih di TPS lain. Keadaan tertentu tersebut meliputi menjalankan
tugas di tempat lain, tugas belajar, menjalani rawat inap di rumah sakit, pindah domisili,
menjadi tahanan baik di lapas maupun rumah tahanan maupun tertimpa bencana alam.
Sedangkan DPK Pemilih Khusus merupakan pemilih yang tidak terdaftar dalam DPT dan DPTb
dan harus melapor ke PPS paling lambat 14 hari sebelum pemungutan suara. Pemilih
tersebut akan memberikan suara di TPS yang berada diwilayah RT/RW sesuai alamat yang
tertera di KTP, paspor atau identitas lain.

Adapun prosedur untuk menggunakan hak pilih di TPS lain bagi mereka yang masuk
kategori pemilih tambahan dapat ditempuh dengan dua cara. Pertama, mengurus surat
pindah memilih (formulir Model A5-KPU) dari Panitia Pemungutan Suara (PPS) asal dimana
pemilih terdaftar dan melapor kepada PPS tempat dia akan memberikan suara paling lambat
tiga hari sebelum pemungutan suara.

Kedua, bagi pemilih yang menjalankan tugas belajar, tugas dinas atau pindah domisili
dan tidak memungkinkan mendapat Model A.5-KPU dari PPS asal, pemilih bisa datang ke KPU
Kabupaten/Kota di mana pemilih tinggal saat ini untuk mengurus Model A.5-KPU. KPU
Kabupaten/Kota akan memberikan Model A.5-KPU paling lambat 10 hari sebelum
pemungutan suara. Syaratnya, pemilih harus datang sendiri/tidak boleh diwakilkan dan
pengurusannya tidak bisa dilakukan secara kolektif, membawa KTP dan menyerahkan
fotokopinya dan menandatangani surat pernyataan tinggal di DIY.

Jadi dengan menngikuti syarat—syarat yang telah ditentukan oleh KPU, idealnya semua
lapisan masyarakat utama mahasiswa yang sedang merantau (tidak berdomisili di daerah
asalnya) tetap dapat ikut menggunakan hak pilihnya.

3.2 Kondisi Riil Pelaksanaan Pemilu


Pada kenyataannya, terjadi banyak permasalahan selama pelaksanaan pemilu di
Indonesia. Yang pertama dan yang paling utama adalah menurunnya animo dan partisipasi
masyarakat dalam Pemilu. Pesta demokrasi ini tidak cukup banyak diminati oleh masyarakat
(rakyat) Indonesia yang tidak bersedia / tidak mau berpartisipasi untuk menggunakan hak
pilihnya pada setiap Pemilu yang diselenggarakan di Indonesia. Pada umumnya secara
sosiologis kemasyarakatan dapat diidentifikasi beberapa alasan sikap warga negara Indonesia
yang tidak bersedia menggunakan hak pilihnya, antara lain:
1. Adanya sikap pesimisme dari keyakinan masyarakat bahwa memilih atau tidak memilih
tidak mempengaruhi kehidupan mereka secara signifikan kedepannya.
2. Para calon yang memperebutkan kursi tidak memiliki kapasitas untuk mewujudkan
harapan mereka.
3. Sebagian masyarakat beranggapan bahwa kebutuhan ekonomi lebih penting daripada
penyaluran hak politik mereka untuk berpartisipasi dalam Pemilu dengan tidak
dirasakannya feed back dari calon yang memenangkan pemilu di kesempatan
sebelumnya.
4. Menurunnya kepercayaan (trust) masyarakat terhadap para calon berangkat dari
pengalaman di pemilu-pemilu sebelumnya.
5. Masyarakat menganggap bahwa sikap dan budaya politik peserta pemilu (partai politik,
pasangan calon maupun calon independen) dalam berkampanye sering melakukan
prilaku – prilaku yang tidak bermoral seperti penghinaan, permusuhan dan kecurangan
dan menunjukkan kesombongan masing-masing.
6. Masyarakat trauma dengan propaganda – propaganda politik selama kampanye yang
ternyata tidak terbukti pasca pemilu.

Permasalahan yang kedua terletak pada adanya minat dan partisipasi masyarakat
utamanya mahasiswa yang mau menyalurkan hak politiknya namun dipersulit oleh prosedur
pemilu itu sendiri. Contoh misalnya sistem yang diterapkan UII. LEM (Lembaga Eksekutif
Mahasiswa) UII mensyaratkan mahasiwa yang berasal dari luar kota Jogja yang ingin
menggunakan hak pilihnya untuk dapat mendaftarkan diri dengan persyaratan yang harus
dilengkapi.

Namun dari penuturan salah satu warga/mahasiswa Jurusan Teknik Sipil FTSP UII yang
berhasil kami wawancarai mengatakan bahwa ia pun ditolak oleh pihak LEM ketika proses
pengurusan prosedur tersebut. Ia menuturkan bahwa persyaratan yang diminta sudah
dilengkapi namun ketika akan diajukan ia ditolak.

Oleh karena animo sang mahasiswa tadi masih tinggi untuk tetap ikut berpartisipasi, ia
lalu mengurus prosedur tersebut di KPU Kabupaten/kota yang ada di Jalan Magelang. Dan
setelah sekelumit proses yang ia hadapi, lalu akhirnya didapatkanlah Model A.5-KPU yang
akan digunakan sebagai modal untuk dapat mencoblos pada hari pemilu. “Walaupun tidak
mengenal calon-calon yang terpampang nama dan fotonya dikertas suara, saya tetap senang
mengikuti pemilu kali ini karena ini kali pertama saya mencoblos” tuturnya.

Kemudian contoh kasus yang kedua yang dialami oleh teman saya juga adalah
penolakan oleh pihak TPS yang didatangi. Padahal ia sudah membawa syarat Model A.5-KPU
yang diminta. Hal tersebut tidak terjadi sekali, namun penolakan yang ia dapatkan terjadi di
dua TPS yang berbeda. Alhasil teman saya pun sangat kecewa dengan panitia TPS yang dirasa
tidak cukup memahami prosedur yang seharusnya dijalankan.

Dan contoh yang ketiga adalah dari hasil wawancara kepada sebagian besar teman-
teman di lingkungan saya pun juga menuturkan keinginan mereka untuk dapat berpartisipasi
dalam pemilu kali ini. Namun sayangnya, kembali lagi pada topik yang sudah kita bicarakan
tadi prosedur yang dirasa mempersulit. Saya rasa dengan adanya LEM di Universitas
seharusnya dapat meminimalisir angka golput dikalangan mahasiswa sendiri, bukan malah
mempersulit mahasiswa yang sudah semangat untuk berpartisipasi. Contoh seperti di salah
satu Universitas di Jogja juga, mereka menyediakan spot-spot tempat pendaftaran yang
tersebar di beberapa titik di beberapa gedung fakultasnya untuk dapat memudahkan
mahasiswa yang ingin menggunakan hak pilihnya.

Berangkat dari beberapa kasus yang saya paparkan diatas, terlihat bahwa kurangnya
pemahaman oleh warga dan panitia TPS akan prosedur pelaksanaan pemilu sendiri. Jika
sebelumnya memang sudah disosialisasikan, seharusnya kasus-kasus diatas sudah tidak perlu
terjadi lagi.
Lampiran dokumentasi:
*Survey ini kami lakukan di 2 TPS yang berbeda, yakni TPS Umbulmartani (Kimpulan) dan TPS
Lodadi.

Gambar 1. TPS 1, Desa Umbulmartani, Gambar 2. Tata cara pemungutan suara


Ngemplak, Sleman

Gambar 3. Contoh model A5-KPU untuk Daftar Pemilih Tambahan


Gambar 4. Suasana di TPS Lodadi

Gambar 5. Surat suara

Gambar 6. Panitia KPPS di TPS Lodadi


Gambar 7. Kotak suara

Gambar 8. Suasana pencoblosan di bilik suara

Gambar 9. Suasana wawancara