Anda di halaman 1dari 83

SIKAP MASYARAKAT TERHADAP

PROGRAM PENGEMBANGAN DESA PESISIR


TANGGUH DI KECAMATAN TELUK NAGA KABUPATEN
TANGERANG PROVINSI BANTEN

NINI KUSRINI

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Sikap Masyarakat


terhadap Program Pengembangan Desa Pesisir Tangguh di Kecamatan Teluk
Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten adalah benar karya saya dengan
arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada
perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya
yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam
teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada
Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Februari 2014

Nini Kusrini
NIM I351110041
RINGKASAN
NINI KUSRINI. 2014. Sikap Masyarakat terhadap Program Pengembangan Desa
Pesisir Tangguh di Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi
Banten. Dibimbing oleh: SITI AMANAH dan ANNA FATCHIYA

Wilayah pesisir Indonesia dihadapkan pada empat persoalan pokok, yakni:


(1) tingginya tingkat kemiskinan masyarakat, (2) tingginya kerusakan sumberdaya
pesisir, (3) rendahnya kemandirian organisasi sosial desa dan lunturnya nilai-nilai
budaya lokal, serta (4) rendahnya infrastruktur desa dan kesehatan lingkungan
pemukiman. Hal tersebut berpengaruh pada tingginya kerentanan terhadap
bencana alam dan perubahan iklim pada desa-desa pesisir.
Kondisi tersebut juga dialami oleh masyarakat pesisir yang berada di
Kecamatan Teluk Naga, Tangerang, Banten. Sebagai respon terhadap situasi
tersebut pemerintah melaksanakan program Pengembangan Desa Pesisir Tangguh
pada tahun 2012. Program PDPT merupakan salah satu langkah dalam penguatan
kondisi pesisir, melalui pelaksanaan lima kegiatan program yakni bina manusia,
bina usaha, bina sumberdaya, bina infrastruktur dan lingkungan, serta bina siaga
bencana. Dalam implementasi kegiatan program membutuhkan keterlibatan
masyarakat dalam mensukseskan tujuan program.
Penelitian ini menganalisis sikap masyarakat terhadap program PDPT dan
faktor yang berhubungan dengan sikap masyarakat terhadap Program PDPT.
Penelitian didesain dengan menggunakan metode survai. Lokasi penelitian adalah
Desa Tanjung Pasir dan Desa Muara, di Kecamatan Teluk Naga Kabupaten
Tangerang. Penentuan desa dilakukan dengan mempertimbangkan bahwa desa-
desa tersebut merupakan desa yang sedang melaksanakan program. Sampel
penelitian adalah 60 responden, dipilih dengan menggunakan stratified random
sampling diambil secara proporsional berdasarkan sebaran kegiatan kelompok
peserta program PDPT. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Juni hingga
Agustus 2013. Data primer dikumpulkan melalui pengamatan langsung dan
wawancara terstruktur menggunakan kuesioner untuk memperoleh informasi
terkait karakteristik personal responden, karakteristik sosial, tingkat pengelolaan
program, serta gambaran sikap masyarakat pemanfaat program di desa penelitian.
Data sekunder diperoleh dari berbagai instansi terkait. Pengolahan dan analisis
data menggunakan statistik deskriptif, dan statistik inferensial (Rank Spearman)
dengan menggunakan software SPSS 20.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya masyarakat
memiliki sikap positif terhadap program, hanya saja belum memperlihatkan aksi
nyata dalam peneliharaan lingkungan secara berkelanjutan. Tingkat penerimaan
dan respon masyarakat berada pada kategori tinggi yakni 55.0 % dan 48.3%.
Namun pada sikap menghargai dan pembentukan nilai berada pada kategori
sedang yakni 48.3 % dan 73.3 %, hal ini menunjukkan bahwa masyarakat belum
mampu membentuk karakter dalam menjaga kondisi lingkungan, infrastruktur,
ekonomi, serta kesiapsiagaan terhadap bencana. Analisis Rank Spearman
menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan sikap masyarakat terhadap
program PDPT, adalah karakteristik lingkungan sosial dan tingkat pengelolaan
program.

Kata kunci: masyarakat pesisir, program pemberdayaan, desa pesisir


SUMMARY
NINI KUSRINI. 2014. Public Attitudes towards The Program of Resilient
Coastal Village Development in Teluk Naga Sub District Tangerang District
Banten Province. Supervised by SITI AMANAH and ANNA FATCHIYA.

Indonesian coastal areas faces four main issues, namely: (1) high levels of
poverty, (2) high damage of coastal resources, 3) low independence of the village
social organization and fading local culture, and (4) low infrastructure in the
village and residential environmental health. Those factors are likely to increase
vulnerability of the community to natural disasters and climate risks.
The above condition is also experienced by coastal community living in
Teluk Naga Sub District, Tangerang, Banten. Has also experiencing the above
condition, in response to the situation the government launced Resilient Coastal
Village Development program in 2012. This program is one of the steps in
strengthening the coastal conditions by implementing five main things (the
coaching of people, effort, resources, infrastructure, environment, and disaster
awareness as well). In implementing the program, it requires the community
involvement, therefore, the program could be successful.
This study analyzes the attitude of people towards the program and factors
associated with the attitudes towards program. The study was designed by using
survey method. The location of this research was in the village of Tanjung Pasir
and Muara, in Teluk Naga District, Tangerang Regency. The determination of the
village was done by considering that the village was still implementing the
program. The sample was 60 respondents, selected by using stratified random
sampling, taken proportionally, based on the group activity distribution of the
participants of program. Data collection was conducted in June to August 2013.
Primary data were collected through direct observation and structured interviews
used questionnaire to obtain the information related to the characteristic of
respondents, social, the level of program management, and the attitude description
of people using the program in the village.The secondary data were obtained
from various related institutions. The data management and analysis used
descriptive statistics, and inferential statistics (Rank Spearman) by using SPSS 20
software.
The results showed the coastal community had attitude positive respon but
attitudes not showing the real action in the maintenance of sustainable
environment. The level of acceptance and community response were at high
category, i.e. 55.0% and 48.3%, but in the attitude of respecting and value
establishment were in the middle category, i.e. 48.3% and 73.3%. This indicated
that the community had not been able to develop character that could maintain the
environmental conditions, infrastructure, economy, and disaster awareness.
Spearman rank analysis showed that the factors associated with people’s attitudes
towards program were the characteristic of social environment and program
management level.

Keywords: coastal communities, empowerment program, coastal development.


© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2014
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
IPB

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
SIKAP MASYARAKAT TERHADAP
PROGRAM PENGEMBANGAN DESA PESISIR TANGGUH DI
KECAMATAN TELUK NAGA KABUPATEN TANGERANG
PROVINSI BANTEN

NINI KUSRINI

Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains
pada
Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Prof (Ris) Dr Ign Djoko Susanto, SKM

Penguji Program Studi : Prof Dr Ir Sumardjo, MS


PRAKATA
Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas karunia dan berkah-Nya,
penelitian ini dapat diselesaikan. Penelitian tentang Sikap Masyarakat terhadap
Program Pengembangan Desa Pesisir Tangguh sangat diperlukan untuk
mendalami pandangan dan respon masyarakat terhadap upaya pembenahan
kondisi pesisir baik dari segi lingkungan, sosial, maupun ekonomi.
Tesis yang berjudul “Sikap Masyarakat terhadap Program Pengembangan
Desa Pesisir Tanggguh di Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang,
Provinsi Banten” disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains pada Program Magister Ilmu Penyuluhan Pembangunan Institut
Pertanian Bogor. Penelitian disusun atas bimbingan Dr Ir Siti Amanah, MSc
sebagai Ketua Komisi dan Dr Ir Anna Fatchiya, MSi sebagai Anggota Komisi.
Penulis mengucapkan terima kasih atas bimbingan Ibu-ibu Komisi Pembimbing.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan sejawat PPN
2011(Hafni Zahara, Krisnawati, Ibu Irma Febrianis, Pak Suherdi, Pak Zainuddin,
Pak Multi Sukrapi, Rikhlata, Rafnel Azhari, Pak Iwan Setiawan, Pak Darojat
Prawiranegara, dan Pak Akrab) atas dukungan yang diberikan. Terima kasih juga
disampaikan kepada Direktorat Pendidikan Tinggi selaku pemberi dana beasiswa
studi (BPPS) bagi penulis. Tidak lupa pula kepada pemerintah Desa Tanjung Pasir
dan Desa Muara sebagai lokasi penelitian. Kepada seluruh responden dan
enumerator yang telah membantu sehingga seluruh data yang dibutuhkan dapat
dikumpulkan, diucapkan terima kasih. Ucapan terima kasih yang sedalam-
dalamnya juga penulis sampaikan kepada seluruh keluarga, kakak-kakakku
tercinta, atas kasih sayang, dukungan dan segala doa yang diberikan selama ini.
Penulis terbuka atas masukan, koreksi, dan saran terhadap karya ilmiah ini.
Atas perhatian yang diberikan, diucapkan terima kasih. Harapan penulis semoga
karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Februari 2014

Nini Kusrini
DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL xii


DAFTAR GAMBAR xiii
DAFTAR LAMPIRAN xiii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 3
Tujuan Penelitian 4
Manfaat Penelitian 4
TINJAUAN PUSTAKA 5
Program Pengembangan Desa Pesisir Tangguh 5
Karakteristik Masyarakat Pesisir 6
Pengembangan Masyarakat 7
Konsep Sikap 9
Faktor yang Mempengaruhi Sikap 10
Karakteristik Personal 11
Karakteristik Lingkungan Sosial 15
Pengelolaan Program 18
KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS 19
Kerangka Berpikir 19
Hipotesis 21
METODE PENELITIAN 22
Rancangan Penelitian 22
Lokasi dan Waktu Penelitian 22
Populasi dan Sampel 22
Data dan Teknik Pengumpulan Data 24
Validitas dan Reliabilitas Instrumen 25
Konseptualisasi dan Definisi Operasional 26
Analisis Data 30
HASIL DAN PEMBAHASAN 30
Gambaran Umum dan Pelaksanaan Program Pengembangan
Desa Pesisir Tangguh 30
Karakteriristik Personal 36
Karakteristik Lingkungan Sosial 41
Tingkat Pengelolaan Program 44
Sikap Masyarakat terhadap Komponen Program Pengembangan
Desa Pesisir Tangguh. 48
Sikap Masyarakat terhadap Program Pengembangan Desa Pesisir
Tangguh 50
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Sikap Masyarakat Pesisir
terhadap Program PDPT. 51
SIMPULAN DAN SARAN 57
Simpulan 57
Saran 57
DAFTAR PUSTAKA 58
LAMPIRAN 61

DAFTAR TABEL
1. Sebaran populasi berdasarkan kegiatan program 23
2. Gambaran umum dua desa penelitian, 2013 31
3. Perkembangan kegiatan PDPT di Desa Tanjung Pasir 34
4. Perkembangan kegiatan PDPT di Desa Muara 35
5. Umur peserta program PDPT di dua desa penelitian, 2013. 36
6. Tingkat pendidikan formal peserta program PDPT di dua desa
penelitian, 2013. 37
7. Tingkat pendidikan non formal peserta program PDPT di dua desa
penelitian, 2013. 38
8. Jumlah tanggungan keluarga peserta program PDPT di dua desa
penelitian, 2013. 38
9. Tingkat kekosmopolitan peserta program PDPT di dua desa penelitian,
2013. 39
10. Tingkat pengetahuan peserta, tentang program PDPT di dua desa
penelitian, 2013. 40
11. Tingkat dukungan tokoh masyarakat terhadap peserta program PDPT di
dua desa penelitian, 2013. 41
12. Pendapat peserta program PDPT terhadap peran kelompok di dua desa
penelitian, 2013. 42
13. Pendapat peserta program tentang intensitas kegiatan kelompok PDPT
di dua desa penelitian, 2013. 43
14. Pendapat peserta program PDPT terhadap kejelasan program (konteks)
di dua desa penelitian, 2013. 44
15. Pendapat peserta program PDPT terhadap pengelolaan sumberdaya
(input) di dua desa penelitian, 2013. 45
16. Pendapat peserta program PDPT terhadap proses kegiatan program, di
dua desa penelitian, 2013. 46
17. Pendapat peserta program PDPT terhadap tingkat pencapaian program,
di dua desa penelitian, 2013. 47
18. Tingkat penerimaan masyarakat pesisir terhadap program PDPT di dua
desa penelitian, 2013. 48
19. Tingkat menanggapi masyarakat pesisir terhadap program PDPT di dua
desa penelitian, 2013. 49
20. Tingkat penghargaan masyarakat pesisir terhadap program PDPT di dua
desa penelitian, 2013. 49
21. Tingkat pembentukan nilai peserta program PDPT di dua desa
penelitian, 2013. 50
22. Sikap masyarakat terhadap program PDPT di dua desa penelitian, 2013. 51
23. Hubungan karakteristik lingkungan sosial dengan sikap masyarakat
terhadap program PDPT di dua desa penelitian, 2013. 52
24. Hubungan tingkat pengelolaan program dengan sikap masyarakat
terhadap program PDPT di dua desa penelitian, 2013. 54
25. Hubungan karakteristik personal dengan sikap masyarakat terhadap
program PDPT di dua desa penelitian, 2013. 56

DAFTAR GAMBAR
1. Kerangka berpikir operasional 21
2. Bagan penarikan sampel 24

DAFTAR LAMPIRAN
1. Peta Kecamatan Teluk Naga 63
2. Foto-foto Penelitian 64
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pembangunan nasional merupakan upaya untuk mewujudkan kehidupan


masyarakat, bangsa dan negara yang sejahtera, adil dan beradab. Pembangunan
nasional Indonesia bertujuan untuk membangun kehidupan masyarakat secara
berkesinambungan yang mencakup aspek politik, ekonomi, sosial budaya, dan
pertahanan keamanan secara berencana, menyeluruh, terarah, terpadu, bertahap
dan berkelanjutan, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan dan
kemakmuran rakyat Indonesia. Namun hingga saat ini, pembangunan nasional
belum mampu mewujudkan tujuan pembangunan tersebut. Hal ini dapat kita lihat
pada kondisi yang ada di wilayah desa pesisir Indonesia.
Fakta yang dikemukakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP
2011) menyatakan bahwa saat ini desa-desa pesisir di Indonesia dihadapkan pada
empat persoalan pokok, yakni: (1) tingginya tingkat kemiskinan masyarakat, di
mana tercatat sebanyak 7 juta jiwa di 10.639 desa pesisir, (2) tingginya kerusakan
sumberdaya pesisir, (3) rendahnya kemandirian organisasi sosial desa dan
lunturnya nilai-nilai budaya lokal, serta (4) rendahnya infrastruktur desa dan
kesehatan lingkungan pemukiman. Keempat persoalan pokok ini memberikan
andil terhadap tingginya kerentanan terhadap bencana alam dan perubahan iklim
pada desa-desa pesisir.
Upaya yang selama ini dilakukan pemerintah sebagai pengambil kebijakan
dalam membangun masyarakat pesisir belum memberikan hasil yang maksimal.
Hasil penelitian Razali (2004) menemukan bahwa tingkat kesejahteraan pelaku
perikanan masih berada di bawah sektor-sektor lain. Sejalan dengan hal tersebut
Setiawan (2009) juga menemukan bahwa kondisi sosial ekonomi masyarakat
pesisir belum mampu membentuk masyarakat menjadi mandiri, sehingga strategi,
kolaborasi dan rencana aksi sangat diperlukan untuk membangun masyarakat dan
desa pesisir. Sebagai upaya membangun masyarakat dan desa pesisir, pemerintah
mengembangkan dan melaksanakan beberapa program, meliputi Program
Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Kelautan dan Perikanan (PNPM-
KP), Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP), dan program yang
dilaksanakan pada tahun 2011 yakni Pengembangan Desa Pesisir Tangguh
(PDPT).
Pelaksanaan Program PDPT merupakan salah satu langkah dalam menata
dan meningkatkan kualitas lingkungan pesisir, sebagaimana dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Periode 2010-2014 untuk
meningkatkan manfaat sumberdaya alam dan peningkatan kualitas lingkungan
hidup (RPJMN 2010). Program ini diharapkan mampu menjadi inovasi kegiatan
dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi termasuk masalah yang diakibatkan
oleh terjadinya perubahan iklim melalui (1) penataan desa pesisir dan peningkatan
kesejahteraan masyarakat, (2) memberikan manfaat riil bagi masyaralat pesisir,
dengan permasalahan dan prioritas kebutuhan masyarakat, (3) pembelajaran cara
pemecahan masalah secara mandiri, dan (4) mendorong masyarakat pesisir
sebagai agen pembangunan. Oleh karena itu, program PDPT diharapkan mampu
membantu dalam menyelesaikan setiap masalah yang ada di wilayah pesisir serta
2

memanfaatkan potensi sumberdaya pesisir melalui pelaksanaan lima hal pokok


yakni bina manusia, bina usaha, bina sumberdaya, bina infrastruktur dan
lingkungan, serta bina siaga bencana.
Kecamatan Teluk Naga memiliki kawasan pesisir yang padat dengan
aktivitas sosial ekonomi masyarakat. Tingginya aktivitas sosial ekonomi di
kawasan membuat daerah pesisir ini sangat rentan terhadap bencana, baik yang
disebabkan oleh ulah manusia maupun yang disebabkan oleh terjadinya perubahan
iklim. Dari hasil observasi yang dilakukan, ditemukan beberapa kondisi
lingkungan pesisir di Desa Tanjung Pasir dan Desa Muara yang kurang baik,
diantaranya abrasi pantai yang terjadi di wilayah pesisir Tangerang, rusaknya
hutan mangrove, kemiskinan serta lingkungan yang tidak tertata.
Data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia (2002)
menunjukkan bahwa abrasi telah terjadi di Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk
Naga, yang disebabkan oleh pembabatan hutan mangrove (bakau) secara
berlebihan untuk dijadikan tambak. KLH juga menemukan terjadinya abrasi
pantai sepanjang satu kilometer, dan ombak besar telah menelan 20-100 meter
pantai di Kampung Garapan, sehingga banyak rumah penduduk yang akhirnya
harus dipindahkan. Selain berakibat pada abrasi, penggundulan hutan mangrove
juga mengakibatkan intrusi air laut, akibatnya, air tanah di Kampung Garapan
sudah tidak ada lagi yang tawar. Amanah (2011) juga mengemukakan bahwa
nelayan di Desa Muara dihadapkan pada kondisi sumberdaya pesisir dan laut yang
semakin menurun kualitasnya, meliputi pencemaran air laut oleh limbah pabrik,
sedimentasi semakin tinggi, dan kelembagaan nelayan yang perlu berkembang
menjadi lebih kuat dan terorganisir.
PDPT merupakan program yang berfokus pada masyarakat pesisir.
Pengembangan program ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan
masyarakat pesisir, menata sarana dan prasarana, sehingga diharapkan pada saat
terjadi bencana risiko yang dirasakan kecil. Keberhasilan dan kesuksesan suatu
program sangat erat kaitannya dengan sikap masyarakat terhadap program,
bagaimana pengetahuan atau pandangan masyarakat secara umum terhadap
program, persepsi, partisipasi dan tindakan masyarakat dalam mendukung
kegiatan program.
Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang merupakan salah satu
wilayah pesisir yang sedang melaksanakan program PDPT sejak tahun 2012.
Kegiatan PDPT di kecamatan ini mencakup Bina Sumberdaya, Infrastruktur dan
Lingkungan, Bina Usaha dan Bina Siaga Bencana. Namun secara umum program
ini belum mampu memperbaiki kondisi desa tersebut dengan baik hal ini karena
masyarakat cenderung belum mampu mengelola program dengan baik. informasi
yang diperoleh menunjukkan bahwa baru sekitar 40% masyarakat Kecamatan
Teluk Naga yang berpatisipasi aktif dalam pelaksanaan kegiatan program PDPT,
hal tersebut tentunya belum cukup mendukung pencapaian tujuan program.
Sikap mempengaruhi perilaku lewat suatu proses pengambilan keputusan.
Pandangan individu dan masyarakat terhadap suatu program sangat dipengaruhi
oleh berbagai hal, sebagaimana yang dikemukakan oleh Suharyat (2009) bahwa
setiap orang mempunyai sikap yang berbeda-beda terhadap sesuatu obyek. Hal
tersebut disebabkan oleh berbagai faktor yang ada pada individu masing-masing
seperti adanya perbedaan dalam bakat, minat, pengalaman, pengetahuan,
intensitas perasaan dan juga situasi lingkungan.
3

Sikap memainkan peran penting dalam mempengaruhi perilaku masyarakat


yang menunjukkan respon masyarakat terhadap program demi terwujudnya tujuan
yang diharapkan. Oleh karena itu pengembangan sikap masyarakat diharapkan
akan membentuk perilaku positif masyarakat dalam medukung pengembangan
desa pesisir yang tangguh. Terkait dengan kondisi di atas, maka dirasa perlu
melakukan penelitian untuk melihat bagaimana sikap masyarakat pesisir terhadap
program pengembangan masyarakat, khususnya pada Program Pengembangan
Desa Pesisir Tangguh.

Perumusan Masalah

Pengembangan masyarakat merupakan usaha bersama dan terencana untuk


meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Pengembangan masyarakat dan desa
pesisir dikembangkan untuk memandirikan masyarakat serta mengembangkan
potensi-potensi dan kapasitas yang dimiliki oleh masyarakat serta meningkatkan
kehidupan desa pesisir. Berbagai macam kegiatan telah dikembangkan dan
dilaksanakan di wilayah pesisir, namun dalam mencapai tujuan program
diperlukan dukungan masyarakat, baik sikap positif, maupun partisipasi aktif
masyarakat dalam pelaksanaan program, serta kemampuan semua pihak yang
terlibat dalam proses pengembangan masyarakat.
Berbagai hasil penelitian mengkaji implementasi program-program
pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat, seperti yang
dikemukakan oleh Muktazam (2012) memperlihatkan bahwa ketidakberhasilan
program disebabkan persepsi negatif dari masyarakat, pendekatan yang tidak
mengkoordinir partisipasi masyarakat sasaran, pendekatan yang bersifat “top
down”, serta tidak terkoordinasi dengan baik. Penelitian Hamdan (2005) tentang
program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP) di Kabupaten
Jepara, menemukan bahwa kurangnya keinginan masyarakat mengembalikan
pinjaman, persepsi masyarakat yang menganggap bantuan tersebut sebagai hibah
yang tidak perlu untuk dikembalikan, serta kurangnya kemampuan masyarakat
untuk memanfaatkan bantuan untuk mengembangkan usaha mereka menyebabkan
tidak berlanjutnya program oleh masyarakat.
Program PDPT dirancang untuk menata dan meningkatkan kehidupan
masyarakat dan desa-desa pesisir nelayan yang tangguh terhadap bencana serta
berbasiskan pada kegiatan sosial ekonomi masyarakat pesisir. Dengan demikian
muara dari model PDPT adalah terjadinya pengentasan kemiskinan, keberlanjutan
kelembagaan masyarakat, kelestarian lingkungan, kemandirian keuangan desa dan
kesiapsiagaan terhadap bencana dan perubahan iklim. Sehingga diharapkan
mampu mewujudkan kondisi lingkungan pesisir yang lebih baik. Namun demikian
sikap masyarakat terhadap program akan menjadi faktor yang sangat menentukan
terhadap keberhasilan kegiatan program pengembangan. Pentingnya sikap positif
dalam menentukan keberhasilan suatu program juga kemukakan oleh Ayunita
(2006) di mana sikap masyarakat cenderung positif terhadap program PEMP,
mereka mampu memanfaatkan kegiatan program dengan sehingga berpengaruh
pada peningkatan pendapatan bakul dan pengolah ikan.
Pelaksanaan program PDPT di Kecamatan Teluk Naga kurang mendapat
perhatian penuh dari masyarakat. hal ini dibuktikan oleh rendahnya partisipasi
aktif dari masyarakat dalam mendukung pelaksanaan kegiatan. Hal ini
4

menujukkan kurangnya sikap postif masyarakat dalam mewujudkan pencapaian


tujuan program. Di lain pihak penurunan kualitas lingkungan yang saat ini
dihadapi oleh masyarakat pesisir tidak lepas dari tekanan aktivitas kehidupan yang
dilakukan masyarakat. Tekanan berupa pencemaran air yang disebabkan oleh
kegiatan industri, pengelolaan tambak, penebangan tanaman mangrove serta
tekanan arus laut yang telah menyebabkan terjadinya abrasi. Melihat masalah
yang terdapat di wilayah pesisir pelaksanaan Program Pengembangan Desa Pesisir
Tanggguh diharapkan mampu berperan sebagai alternatif strategi pengembangan
desa pesisir secaara berkelanjutan.
Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini berfokus pada telaah tentang
sikap masyarakat terhadap program PDPT. Dimana sikap masyarakat yang
menolak atau pun mendukung program sangat berpengaruh terhadap kesuksesan
dan pencapaian tujuan program..

Tujuan Penelitian

Berdasarkan masalah yang dirumuskan, tujuan penelitian adalah sebagai


berikut:
1. Menjelaskan pelaksanaan program PDPT di desa penelitian.
2. Menganalisis sikap masyarakat terhadap program PDPT.
3. Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap masyarakat
terhadap program PDPT.

Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :


1. Manfaat Teoritis.
Secara teoritis diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan
kajian tentang pengembangan masyarakat pesisir pada khususnya, maupun
bagi masyarakat luas pada umumnya. Di samping itu dapat mendorong peneliti
lain untuk melakukan penelitian lebih lanjut.
2. Manfaat Praktis.
Sebagai tambahan informasi kepada para pengambil kebijakan dalam
pengembangan sikap masyarakat untuk mendukung keberhasilan
pengembangan program yang berbasis masyarakat, serta memberikan masukan
kepada pengelola program agar usaha penataan kondisi masyarakat pesisir
lebih baik.
5

TINJAUAN PUSTAKA

Program Pengembangan Desa Pesisir Tangguh

Program merupakan rencana kegiatan yang tersusun secara sistematis dan


dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu untuk mencapai tujuan. Program
didefinisikan sebagai unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan realisasi atau
implementasi dari kebijakan, berlangsung dalam proses yang berkesinambungan
dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan sekelompok orang.
KKP (2013) mengemukakan bahwa program Pengembangan Desa Pesisir
Tangguh merupakan upaya pemerintah dalam penguatan ekonomi masyarakat
pesisir dan ketahanan desa terhadap bencana alam dan dampak perubahan iklim
yang diharapkan mampu memberikan daya dorong bagi kemajuan desa-desa
pesisir di Indonesia. Kegiatan PDPT merupakan salah satu bagian dari Program
Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Kelautan dan Perikanan yang
terintegrasi dengan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri di
bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.
Pengembangan Desa Pesisir Tangguh merupakan implementasi kebijakan
Presiden terkait peningkatan dan perluasan program pro-rakyat dan merupakan
wujud dari intervensi Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam menata desa
pesisir dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Menghasilkan
keluaran yang dapat memberikan manfaat riil bagi masyarakat pesisir, sesuai skala
prioritas kebutuhan masyarakat, pembelajaran bagi masyarakat pesisir untuk
menemukan cara pemecahan masalah secara mandiri, dan mendorong masyarakat
pesisir sebagai agen pembangunan. Program PDPT bertujuan untuk meningkatkan
kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana dan perubahan iklim, meningkatkan
kualitas lingkunagn hidup, meningkatkan kapasitas kelembagaan masyarakat,
memfasilitasi kegiatan pembangunan dan/atau pengembangan sarana dan/atau
prasarana sosial ekonomi di desa-desa pesisir dan pulau-pulau kecil.
Fokus pengembangan kegiatan yakni: (1) Bina Manusia, yaitu kegiatan
yang mencakup peningkatan kualitas sumberdaya manusia dalam rangka
mendorong peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dan meningkatkan
kapasitas kelembagaan masyarakat baik formal maupun informal, memperluas
dan meningkatkan kerjasama, memperbaiki budaya kerja, gotongroyong,
tanggung jawab, disiplin dan hemat serta menghilangkan sifat negatif boros dan
konsumtif, (2) Bina Usaha, yaitu kegiatan yang mencakup peningkatan
keterampilan usaha, perluasan mata pencaharian alternatif, pengelolaan bisnis
skala kecil dan penguasaan teknologi, (3) Bina Sumberdaya, yakni kegiatan yang
menitikberatkan pada upaya memperkuat kerifan lokal dalam pengelolaan
sumberdaya, revitalisasi hal ulayat dan hak masyarakat lokal, penerapan
monitoring, controlling dan surveillance dengan prinsip partisipasi masyarakat
lokal, penerapan teknologi ramah lingkungan, mendorong pengembangan
teknologi asli, merehabilitasi habitat, konservasi dan memperkaya sumberdaya,
(4) Bina lingkungan dan infrastruktur, yaitu kegiatan yang mencakup
pembangunan infrastruktur, rehabilitasi vegetasi pantai dan pengendalian
pencemaran melalui pendekatan perencanaan dan pembangunan secara spasial
dalam rangka mendorong peningkatan peran masyarakat pesisir dalam penataan
6

dan pengelolaan lingkungan sekitarnya, (5) Bina Siaga Bencana dan Perubahan
iklim, yaitu kegiatan yang mencakup usaha-usaha pengurangan risiko bencana
dan dampak perubahan iklim, rencana aksi desa dalam pengurangan risiko
bencana, penyadaran masyarakat, pembangunan sarana dan prasarana
penanggulan bencana (antara lain jalur evakuasi, shelter, struktur pelindung
terhadap bencana, fasilitas kesehatan, dan cadangan strategis) yang menekankan
pada partisipasi dan keswadayaan dari kelompok-kelompok sosial yang terdapat
pada masyarakat atau komunitas pesisir.

Karakteristik Masyarakat Pesisir

Wilayah pesisir merupakan sumberdaya potensial bagi bangsa Indonesia


yang terbentang sepanjang 81.000 km. Sumberdaya ini menyimpan kekayaan
alam yang besar dan beragam, seperti perikanan, hutan mangrove, rumput laut
dan terumbu karang memainkan peran penting bagi kehidupan penduduk sekitar,
dan ekonomi bangsa (Dahuri et al., 2008). Secara ilmiah Dahuri et al., (2008)
mendefinisikan pesisir sebagai daerah pertemuan antara darat dan laut. Ke arah
darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih
dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air
asin, sedangkan ke arah laut meliputi bagian laut yang masih dipengaruhi oleh
proses-proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar,
maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan
hutan dan pencemaran.
Wilayah pesisir memiliki karakteristik spesifik yang berbeda dengan
wilayah daratan. Pengelolaan ekosistem pesisir lebih menantang dibandingkan
dengan pengelolaan ekosistem di darat maupun di laut lepas. Hal ini dikarenakan
adanya sistem lingkungan alam yang kompleks, pemanfaatan yang sangat
beragam, dan kepemilikan. Di wilayah pesisir dan laut terdapat berbagai kegiatan
seperti konservasi, jasa wisata, pelayaran, dan transportasi, perikanan, industri
pertambangan, dan pencemaran lingkungan, sehingga dilihat dari berbagai macam
peruntukannya, wilayah pesisir merupakan wilayah yang sangat produktif
(Supriharyono 2000).
Masyarakat pesisir merupakan sekumpulan masyarakat yang hidup dan
mendiami wilayah pesisir membentuk dan memiliki kebudayaan yang khas dan
bergantung pada pemanfaatan sumberdaya pesisir (Satria, 2002). Dalam kerangka
sosiologi, masyarakat pesisir memiliki karakterisik yang berbeda dengan
masyarakat agraris atau petani, perbedaan ini sebagian besar disebabkan karena
karakteristik sumberdaya yang menjadi input utama bagi kehidupan sosial
ekonomi mereka. Pola panen yang terkontrol memberikan petani pendapatan yang
dapat dikontrol. Sehingga hasil pangan atau ternak yang mereka miliki dapat
ditentukan untuk mencapai hasil pendapatan yang mereka inginkan, sehingga
relatif lebih mudah untuk diprediksi terkait dengan ekspetasi sosial ekonomi
masyarakat. Berbeda halnya dengan masyarakat pesisir yang mata pencahariannya
didominasi oleh nelayan, pendapatan yang mereka inginkan tidak bisa dikontrol.
Nelayan juga menghadapi sumberdaya yang bersifat open acces dan beresiko
tinggi. Hal tersebut menyebabkan masyarakat pesisir sepeti nelayan memiliki
karakter yang tegas, keras, dan terbuka.
7

Dahuri, (2003) mengemukakan bahwa pada umumnya masyarakat pesisir


merupakan kelompok masyarakat yang relatif tertinggal secara ekonomi, sosial
dan budaya dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Amanah (2010)
juga menyatakan bahwa masyarakat pesisir terutama nelayan kecil, masih terbelit
oleh persoalan kemiskinan dan keterbelakangan. Sejalan dengan pernyataan
tersebut, Astono (2010) mengemukakan bahwa masyarakat nelayan di wilayah
Pekalongan, secara sosial ekonomi masih kesulitan dalam memenuhi kebutuhan
hidup sehari-hari, di mana satu-satunya sumberdaya sosial ekonomi yang dapat
diandalkan adalah ketidakpastian mendapatkan penghasilan dari kegiatan melaut.
Ekosistem wilayah pesisir dan lautan dipandang dari dimensi ekologis
memiliki empat fungsi bagi kehidupan umat manusia yaitu (1) sebagai penyedia
sumberdaya alam, (2) penerima limbah, 3) penyedia jasa-jasa pendukung
kehidupan manusia (life support services), (4) penyedia jasa-jasa kenyamanan
(amenity services) (Bengen, 2001). Mengingat peran penting wilayah pesisir bagi
kehidupan, program PDPT hadir untuk memperhatikan dan memanfaatkan potensi
sumberdaya alam dan lingkungan pesisir melalui beberapa kegiatan program.
Diperkirakan wilayah yang dihuni oleh masyarakat dengan karakteristik keluarga
yang khas ini, merupakan tumpuan bagi masa depan masyarakat pesisir.
Sumberdaya pesisir merupakan lokasi bagi beberapa kegiatan
pembangunan antara lain: (1) budidaya maupun tangkapan; (2) pariwisata (3)
industri; (4) pertambangan; (5) perhubungan dan (6) kegiatan konservasi seperti
mangrove, terumbu karang, dan biota laut lainnya. Pemanfaatan sumber daya
pesisir secara optimal dan terkendali dapat mendorong pertumbuhan ekonomi
lokal dan memberikan kesejahteraan masyarakat pesisir. Beberapa penelitian
mengungkapkan bahwa dalam mengelola sumberdaya pesisir masyarakat
cenderung tidak memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutannya,
sebagaimana yang dikemukakan oleh Masydzulhak (2005), bahwa masih terjadi
eksploirasi dan eksploitasi terhadap pemanfatan sumberdaya pesisir yang
mengancam kapasitas keberlanjutan sumberdaya perikanan, selain itu berbagai
kasus pencemaran menunjukkan bahwa pengelolaan sumberdaya pesisir belum
dilakukan secara optimal dan berkelanjutan.

Pengembangan Masyarakat

Pengembangan masyarakat saat ini menjadi cara popular bagi pemerintah,


pihak-pihak swasta maupun lembaga kemasyarakatan dalam mendorong
terjadinya perubahan sosial. Tujuan program pengembangan masyarakat yakni
untuk mengentaskan kemiskinan, mencari solusi persoalan social, serta mengatasi
konflik dalam masyarakat.
Rothman et., al (2001), mengembangkan tiga model pengembangan
masyarakat yakni:
a. Model pengembangan masyarakat lokal (Locality development approach)
Locality development approach (pengembangan masyarakat lokal)
beranggapan bahwa perubahan komunitas bisa terjadi optimal melalui partisipasi
luas dari berbagai spektrum masyarakat di tingkat lokal dalam menetapkan tujuan
dan aksi. Pengembangan Masyarakat Lokal pada dasarnya merupakan proses
interaksi antara anggota masyarakat setempat yang difasilitasi oleh pekerja sosial.
Model ini yang diharapkan mampu menciptakan kondisi sosial ekonomi yang
8

lebih baik dan kemajuan sosial bagi seluruh masyarakat melalui partisipasi aktif
serta inisiatif anggota masyarakat itu sendiri. Perubahan dalam masyarakat
melalui Pengembangan Masyarakat Lokal dapat dilakukan secara optimal apabila
melibatkan partisipasi aktif dari semua masyarakat di mana setiap anggota
masyarakat bertanggung jawab untuk menentukan tujuan dan memilih strategi
yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut melalui penggunaan prosedur
demokrasi dan kerjasama atas dasar kesukarelaan, keswadayaan, pengembangan
kepemimpinan lokal, peningkatan strategi kemandirian, peningkatan informasi,
komunikasi, relasi dan keterlibatan anggota masyarakat.
b. Model perencanaan sosial (Social Planning)
Model perencanaan sosial merupakan proses pemecahan masalah secara
teknis untuk menentukan keputusan dan menetapkan tindakan terhadap masalah
sosial tertentu, seperti: kemiskinan, pengangguran, kenakalan remaja, kebodohan
dll. Selain itu, model Perencanaan Sosial ini mengungkap pentingnya
menggunakan cara perencanaan yang matang dan perubahan yang terkendali
yakni untuk mencapai tujuan akhir secara sadar dan rasional dan dalam
pelaksanaannya dilakukan pengawasan-pengawasan yang ketat untuk melihat
perubahan-perubahan yang terjadi.
Strategi dasar yang digunakan untuk memecahkan permasalahan adalah
dengan mengumpulkan atau menungkapkan fakta dan data mengenai suatu
permasalahan. Kemudian, mengambil tindakan yang rasional dan mempunyai
kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilaksanakan. Berbeda dengan
Pengembangan Masyarakat Lokal, Perencanaan Sosial lebih berorientasi pada
“tujuan tugas”. Sistem klien Pengembangan Masyarakat Lokal umumnya
kelompok-kelompok yang kurang beruntung (disadvantaged groups) atau
kelompok rawan sosial ekonomi, seperti para lanjut usia, orang cacat, janda, yatim
piatu, wanita atau pria tunasosial, dst.
c. Model aksi sosial (Social Action)
Model aksi sosial ini menekankan betapa gentingnya penanganan secara
terorganisasi, terarah, dan sistematis terhadap kelompok yang tidak beruntung,
juga meningkatkan kebutuhan yang memadai bagi masyarakat yang lebih luas
dalam rangka meningkatkan sumber atau perlakuan yang lebih sesuai dengan
keadilan sosial dan nilai-nilai demokratisasi. Suharto (1997) mengemukakan
bahwa aksi sosial merupakan model pengembangan masyarakat yang bertujuan
untuk melakukan perubahan-perubahan yang mendasar dalam kelembagaan dan
struktur masyarakat melalui proses pendistribusian kekuasaan (distrition of
power), sumber (distribution of resources) dan pengambilan keputusan
(distribution of decision making). Model aksi sosial didasari oleh suatu pandangan
bahwa masyarakat merupakan korban dari adanya ketidak adilan struktur. Dengan
kata lain bahwa masyarakat menjadi tidak berdaya karena disengaja oleh struktur
yang berlaku. Mereka miskin karena dimiskinkan, mereka lemah karena
dilemahkan, dan tidak berdaya karena tidak diperdayakan oleh kelompok elit
masyarakat yang menguasai sumber-sumber ekonomi, politik, dan
kemasyarakatan. Aksi sosial berorientasi pada tujuan proses dan tujuan hasil.
Masyarakat diorganisir melalui proses penyadaran pemberdayaan dan tindakan-
tindakan aktual untuk mengubah struktur kekuasaan agar lebih memenuhi prinsip
demokratis, kemerataan (equality) dan keadilan (equity).
9

Konsep Sikap

Sikap (attitude) mempengaruhi manusia dalam berperilaku serta erat


kaitannya dengan efek dan perannya dalam pembentukan karakter dan sistem
hubungan antar kelompok. Sikap belum merupakan suatu tindakan, tetapi sikap
merupakan suatu faktor pendorong individu untuk melakukan tindakan.Fenomena
sikap yang timbul tidak saja ditentukan oleh keadaan obyek yang sedang dihadapi
tetapi juga dengan kaitannya dengan pengalaman-pengalaman masa lalu, oleh
situasi di saat sekarang, dan oleh harapan-harapan untuk masa yang akan datang
(Suharyat, 2009).
Spencer dan Spencer (1993) mengartikan sikap (attitude) sebagai “status
mental seseorang” atau "kesiapan untuk merespon suatu situasi tertentu. Sikap
berisikan komponen berupa cognitive (pengalaman, pengetahuan, pandangan, dan
lain-lain), affective (emosi, senang, benci, cinta, dendam, marah, masa bodoh, dan
lain-lain) dan behavioral/overt actions (perilaku, kecenderungan bertindak).
Suharyat (2009) mengemukakan bahwa setiap orang mempunyai sikap yang
berbeda-beda terhadap sesuatu obyek yang disebabkan oleh adanya perbedaan
dalam bakat, minat, pengalaman, pengetahuan, intensitas perasaan dan situasi
lingkungan.
Azwar (2009) menggolongkan definisi sikap dalam tiga kerangka
pemikiran. Pertama, kerangka pemikiran yang diwakili oleh para ahli psikologi
seperti Thurstone, Likert dan Osgood. Menurut mereka sikap adalah suatu bentuk
evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu obyek adalah
perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak
mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada obyek tersebut. Kedua,
kerangka pemikiran ini diwakili oleh ahli seperti Chave, Bogardus, LaPierre,
Mead dan Gordon Allport. Menurut kelompok pemikiran ini sikap merupakan
semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu obyek dengan caracara tertentu.
Kesiapan yang dimaksud merupakan kecenderungan yang potensial untuk
bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus
yang menghendaki adanya respon. Ketiga, kelompok pemikiran ini adalah
kelompok yang berorientasi pada skema triadik (triadic schema). Menurut
pemikiran ini suatu sikap merupakan konstelasi komponen kognitif, afektif dan
konatif yang saling berinteraksi didalam memahami, merasakan dan berperilaku
terhadap suatu obyek.
Berdasarkan beberapa literatur di atas dapat disimpulkan bahwa sikap pada
dasarnya adalah kecenderungan individu menanggapi secara positif atau negatif
atas suatu program. Program pengembangan desa pesisir yang ditinjau dari
dimensi kognisi, afeksi dan konasi yang merupakan hasil dari proses sosialisasi
dan interaksi seseorang dengan lingkungannya, yang merupakan perwujudan dari
pikiran, perasaan seseorang serta penilaian terhadap obyek, yang didasarkan pada
pengetahuan, pemahaman, pendapat dan keyakinan dan gagasan-gagasan terhadap
suatu obyek sehingga menghasilkan suatu kecenderungan untuk bertindak pada
suatu obyek.
Walgito (2003) mengemukakan ciri sikap diantaranya (1) sikap tidak
dibawa sejak lahir, sehingga sikap individu dibentuk dan terbentuk, serta dapat
dipelajari. (2) sikap selalu berhubungan dengan obyek sikap, di mana terbentuk
atau dipelajari dalam hubungannya dengan obyek tertentu, yakni melalui proses
10

persepsi terhadap obyek tersebut. (3) sikap dapat tertuju pada satu atau
sekumpulan obyek, yakni apabila seseorang mempunyai sikap negatif pada orang
lain maka kecenderungan untuk menunjukkan sikap yang sama pada di mana
orang tersebut bergabung. (4) sikap dapat berlangsung lama atau sebentar. Artinya
apabila sikap telah terbentuk dan merupakan nilai dalam kehidupan maka sikap
tersebut akan bertahan lama, sebaliknya, sikap yang belum mendalam dalam diri
seseorang relatif akan mudah untuk di ubah. (5) sikap mengandung faktor
perasaan dan motivasi, motivasi juga memiliki peran dalam mendorong individu
untuk berperilaku terhadap obyek yang dihadapinya.
Kemampuan afektif berkaitan dengan minat dan sikap seseorang. Jika
kemampuan afektif tidak muncul atau tumbuh maka efek yang dimunculkan
adalah individu tidak dapat menyenangi atau mereson dengan baik obyek yang
disekitarnya. Bloom Krathwohl, et., al (Wicaksono 2011) membagi kemampuan
afektif ke dalam lima jenjang Taksonomi yaitu: (1) penerimaan (receiving), yakni
kepekaan seseorang dalam menerima stimulus dari luar yang datang kepada
dirinya. Atau dengan kata lain kemauan seseorang menerima keberadaan
fenomena di sekitarnya. (2) menanggapi (responding), mengandung arti “adanya
partisipasi aktif” dengan kata lain respon merupakan kemampuan yang dimiliki
seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu
dalam membuat reaksi terhadapnya. (3) Menilai atau Menghargai (valuing),
merupakan tingkatan sikap yang lebih tinggi dari receiving dan responding.
Valuing artinya memberikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu
obyek atau kegiata, tidak hanya mampu menerima atau merespon fenomena tetapi
mampu untuk menilai baik atau buruk fenomena tersebut. (4) mengorganisasikan
(organization), yakni mempertemukan perbedaan nilai baru yang membawa pada
perbaikan umum. Mengatur atau mengorganisasikan merupakan pengembangan
dari nilai kedalam satu sistem organisasi, termasuk didalamnya hubungan satu
nilai dengan nilai yang lain. Sehingga organisasi dapat juga didefenisikan sebagai
pembentukan nilai. Tingkatan yang terakhir yakni (5) Karakterisasi berdasarkan
nilai (Characterization by Value) yakni keterpaduan semua sistem nilai yang telah
dimiliki oleh seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah
lakunya. Proses internalisasi nilai atau karakterisasi merupakan hirarki tertinggi
dalam ranah afektif Bloom, di mana nilai tersebut telah tertanam dalam diri
individu, mempengaruhi emosi, dan menjad sebuah kebiasaan dalam diri
seseorang.
Faktor yang Mempengaruhi Sikap

Sikap dapat diubah dengan berbagai cara, informasi yang diterima


seseorang akan mampu mengubah komponen pengetahuan dari sikap seseorang.
Sikap individu dipengaruhi oleh dua hal, yakni oleh lingkungan, dan unsur yang
datang dari dalam diri sendiri, sebagaimana yang dikemukakan oleh Suranto
(1999), yang menyatakan bahwa sikap dipengaruhi oleh (a) faktor fisiologis,
mencakup umur (b) faktor pengalaman, di mana pengalaman buruk pada suatu
obyek akan memberikan sikap negatif pada obyek tersebut. (c) faktor komunikasi
sosial yang berbentuk informasi atau pengetahuan terhadap obyek.
Azwar (2009) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
sikap terhadap obyek antara lain; (a) Pengalaman pribadi, di mana pengalaman
akan meninggalkan kesan pada seseorang. Terjadinya hal yang kurang
11

menyenangkan mengakibatkan persepsi yang kurang positif, sehingga keterlibatan


yang ada sering merupakan partisipasi semu. Keadaan yang demikian apabila
sering terjadi akan berakibat pada sulitnya pencapaian tujuan program secara utuh
dan mantap. (b) Pengaruh orang lain yang dianggap penting. (c) Kebudayaan, di
mana kita hidup mempunyai pengaruh yang besar terhadap pembentukan sikap.
sikap cenderung diwarnai kebudayaan yang ada di daerahnya. Saifuddin (2000)
menyatakan bahwa kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap kita
terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota
masyarakatnya, karena kebudayaanlah yang memberi corak pengalaman individu-
individu masyarakat asuhannya. (d) Media Massa, media masa elektronik maupun
media cetak sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan opini dan
kepercayaan seseorang. Pemberian informasi melalui media masa mengenai
sesuatu hal akan memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap.
Media massa memberikan pesan-pesan yang sugestif yang mengarahkan opini
seseorang, serta memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap
terhadap hal tersebut. Penelitian Rini (2011) juga menemukan bahwa peran
media sebagai pemberi informasi berkaitan dengan adanya perubahan sikap
masyarakat. Media dapat menciptakan perubahan sikap yang diinginkan dari
penyebarluasan informasi. Media menghasilkan opini masyarakat yang terimbas
melalui sikap masyarakat itu sendiri. Perubahan sikap yang lebih baik atau lebih
tidak baik ditentukan oleh media sendiri. Mednick, Higgins dan Kirschenbaum
(Dayakisni dan Hudaniah 2003) menyebutkan bahwa pembentukan sikap
dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu (a) Pengaruh sosial, seperti norma dan
kebudayaan, (b) Karakter kepribadian individu, (c) Informasi yang selama ini
diterima individu.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa sikap individu
dipengaruhi oleh faktor internal yang berasal dari dalam individu sendiri dan
faktor eksternal yang berasal dari luar individu. Sikap merupakan reaksi atau
respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek.
Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap
stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang
bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Sikap belum merupakan suatu
tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu
perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi
terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Sikap merupakan kesiapan bereaksi
terhadap obyek di lingkungan.

Karakteristik Personal

Setiap individu dalam masyarakat pesisir memiliki karakteristik tersendiri


yang dapat dilihat dari sikap dan perilaku yang nampak dalam menjalankan
kegiatannya. Karakteristik individu atau personal merupakan bagian dari pribadi
yang melekat pada diri seseorang. karakteristik tersebut mendasari tingkah laku
seseorang dalam situasi kerja maupun situasi lainnya (Rogers dan Shoemaker,
1981). Mardikanto (1993) mengemukakan bahwa karakteristik individu adalah
sifat-sifat yang melekat pada diri seseorang dan berhubungan dengan aspek
kehidupan, seperti umur, jenis kelamin, posisi, jabatan, status sosial dan agama.
Selain itu Madrie 1986 juga mengemukakan bahwa beberapa indikator yang
12

menentukan karakteristik pribadi seseorang di antaranya tingkat pendidikan


formal, pengelaman, kekosmopolitan, serta nilai-nilai budaya.
Secara konseptual karakteristik personal adalah segala hal yang menjadi
ciri yang melekat pada seseorang yang dapat membedakan dengan individu
lainnya. Dalam penelitian ini karakteristik personal meliputi; umur, tingkat
pendidikan formal, pendidikan non formal, jumlah tanggungan, kekosmopolitan,
serta pengetahuan tentang program.

Umur
Umur seseorang berkaitan dengan tingkat kematangan fisik, sikap dan
mental. Hawkins 1986, mengemukakan bahwa umur, jenis kelamin, dan
pendidikan mempengaruhi perilaku seseorang. Umur menggambarkan
pengalaman dalam diri seseorang, umur merupakan suatu indikator umum tentang
kapan suatu perubahan akan terjadi sehingga terdapat keragaman tindakan
berdasarkan usia yang dimiliki. Berdasarkan taraf perkembangan individu
dikelompokkan pada usia balita, anak-anak, remaja, usia desawa, dan dewasa
lanjut. Havighurst 1972, mengemukakan pengelompokkan umur yakni, dewasa
awal pada usia 18-29 tahun, usia pertengahan pada usia 30-50 tahun, dan masa tua
yakni pada usia di atas 50 tahun.
Sehubungan dengan proses adopsi inovasi berdasarkan pada beberapa
penelitian, Soekartawi 1998, mengemukakan bahwa proses difusi inovasi paling
tinggi adalah pada petani yang berumur paruh baya. Petani yang berumur lanjut
memiliki kebiasaan kurang respon terhadap berbagai kegiatan perubahan atau
inovasi, petani yang lebih muda memiliki semangat lebih dalam menjalankan
kegiatan usahatani dan mencari pengalaman. Abdullah dan Jahi (2006) dalam
penelitiannya menemukan bahwa umur petani sayuran di Kota Kendari
berhubungan dengan tingkat pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan
usahatani sayuran. Sejalan dengan hal tersebut Batoa et.,al (2008) juga
menemukan bahwa umur memiliki hubungan dengan kompetensi petani rumput
laut di kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Tingkat Pendidikan Formal


Pendidikan menunjukkan tingkat inteligensi yang berhubungan dengan
daya pikir seseorang. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa:
“pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperoleh dirinya, masyarakat,
bangsa dan negara.”
Pendidikan menunjukkan tingkat intelegensi yang berhubungan dengan
daya pikir seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin luas
pengetahuannya. Pendidikan merupakan suatu faktor yang menentukan dalam
mendapatkan pengetahuan. Nasution (1987) yang dikutip oleh Garnadi (2004)
mengemukakan bahwa pendidikan adalah proses pengembangan diri kepribadian
seseorang yang dilaksanakan secara sadar dan penuh tanggung jawab untuk
meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap, serta nilai-nilai sehingga
mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sejalan dengan hal tersebut,
13

Amanah dkk (2005) juga mengemukakan bahwa semakin tinggi pendidikan,


semakin baik pula sikap seseorang dalam menanggapi sesuatu.
Pendidikan merupakan suatu faktor yang menentukan dalam mendapatkan
pengetahuan. Slamet (2003) menyatakan bahwa pendidikan adalah suatu usaha
untuk menghasilkan perubahan-perubahan pada perilaku manusia. Perubahan
perilaku yang ditimbulkan oleh proses pendidikan dapat dilihat melalui (1)
perubahan dalam hal pengetahuan, (2) perubahan dalam keterampilan atau
kebiasaan dalam melakukan seseuatu, dan (3) perubahan dalam sikap mental
terhadap segala sesuatu yang dirasakan. Pendidikan formal menurut Winkel
(Yunita 2011), adalah pendidikan sekolah yang dalam penyelenggaraannya
menempuh serangkaian kegiatan terencana dan terorganisir. Sedangkan,
pendidikan non formal lebih dikenal sebagai bentuk pendidikan luar sekolah.
Secara umum dapat dikatakan bahwa pendidikan akan meningkatkan
kemampuan kapasitas rasional dari masyarakat. Masyarakat yang rasional
sebelum memutuskan untuk berpartisipasi dalam pembangunan, didahului oleh
masa belajar dan menilai manakala partisipasi itu mendatangkan manfaat bagi
dirinya. Jika bermanfaat, akan berpartisipasi, dan jika tidak, masyarakat tidak
tergerak untuk berpartisipasi. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Suciati (2008)
menemukan bahwa partisipasi masyarakat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan.

Keikutsertaan dalam Pelatihan (Pendidikan Non Formal)


Pendidikan non formal menjadi salah satu faktor yang membentuk sikap
masyarakat. Nasution (Pahlupi dkk 2012) mengemukakan bahwa penyuluhan
sebagai kegiatan mendidik masyarakat memberi pengetahuan, informasi dan
kemampuan-kemampuan baru agar mereka dapat membentuk sikap dan perilaku
hidup menurut apa yang seharusnya. Hasil penelitian Pahlupi 2012 menemukan
bahwa penyuluh atau komunikator dalam program keluarga Berencana di
Kecamatan Bayongbong memiliki hubungan yang nyata dengan perubahan sikap
peserta program.
Pendidikan non formal bertujuan merubah perilaku masyarakat yang
dapat dilakukan melalui penyuluhan, pelatihan dan lain sebagainya dengan
tujuan untuk meningkatkan kecerdasan dan ketrampilan peserta didik. Sasarannya
mencakup semua kelompok umur dan semua sektor kehidupan masyarakat.
Tarigan (2009) mengemukakan konsep pendidikan non formal yakni (1)
pendidikan luar sekolah yang di dalamnya terdapat life skill merupakan usaha
sadar untuk menyiapkan, meningkatkan, dan mengembangkan sumberdaya
manusia agar memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap, dan daya saiang; (2)
bertugas untuk menyiapkan sumberdaya manusia yang siap menghadapi
perubahan sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
berkembang pesat; (3) memiliki ciri yang berkaitan dengan misi yang dibutuhkan
segera dan praktis, tempatnya di luar kelas, merupakan aktivitas sampingan, lebih
murah, serta persyaratan penerimaan lebih mudah; (4) bertujuan menjadikkan
peserta didik memiliki berbagai kemampuan yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Sasaran pendidikan non formal mencakup semua kelompok umur dan semua
sektor masyarakat.
14

Jumlah Tanggungan Keluarga


Tanggungan keluarga adalah jumlah anggota keluarga yang biaya
hidupnya ditanggung oleh kepala keluarga yang terdapat istri, anak, dan
tanggungan lainnya yang tinggal seatap dan sedapur. Soekartawi (1998)
mengemukakan bahwa jumlah keluarga sering menjadi pertimbangan dalam
pengambilan keputusan untuk menerima inovasi. Hal ini karena konsekuensi
penerimaan inovasi akan berpengaruh pada sistem keluarga baik pada anak, istri
maupun pada anggota keluarga lainnya. Sejalan dengan hal tersebut Soekartawi
(1999) juga mengemukakan bahwa semakin banyak anggota keluarga akan
semakin besar pula beban hidup yang akan ditanggung atau harus dipenuhi.
Jumlah anggota keluarga akan mempengaruhi keputusan petani dalam
berusahatani.
Menurut Hasyim (2006), jumlah tanggungan keluarga adalah salah satu
faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan pendapatan dalam memenuhi
kebutuhannya. Banyaknya jumlah tanggungan keluarga akan mendorong petani
untuk melakukan banyak aktivitas terutama dalam mencari dan menambah
pendapatan keluarganya.

Tingkat Kekosmopolitan
Kekosmopolitan merupakan keterbukaan seseorang terhadap berbagai
sumber informasi sehingga memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas.
Mardikanto (1993) mengemukakan bahwa kekosmopolitan adalah tingkat
hubungan seseorang dengan dunia luar di luar sistem sosialnya sendiri.
Kekosmopolitan seseorang dapat dicirikan oleh frekuensi dan jarak perjalanan
yang dilakukan, serta pemanfaatan media massa. Hanafi 1986, mengemukakan
bahwa kekosmopolitan individu dicirikan oleh sejumlah atribut yang
membedakan mereka dengan orang lain di dalam komunitasnya, yakni; (1)
individu tersebut memiliki status sosial, (2) partisipasi sosial lebih tinggi, (3) lebih
banyak berhubungan dengan dunia luar, (4) lebih banyak menggunakan media
massa, dan (5) memiliki hubungan yang lebih banyak dengan orang lain maupun
lembaga yang berada diluar komunitasnya.
Informasi dan pengalaman yag diperoleh masyarakat melalui proses
kekosmopolitan seperti melakukan kunjungan ke desa yang telah sukses
melaksanakan program pemberdayaan akan membentuk sikap positif terhadap
program yang dilaksanakan. Ruben (Prihandoko et., al 2011) mengemukakan
bahwa dalam persfektif theory planned behaviorteori dan communication and
human behavior perilaku merupakan suatu tindakan manusia yang diawali oleh
adanya proses input berupa informasi yang masuk dari tiap individu yang
bergantung pada penting atau tidaknya nilai informasi yang masuk dan
diinterpretasi oleh individu tersebut. Bila dirasakan penting, informasi akan
disimpan oleh individu dalam longterm memory. Sebaliknya bila dirasakan tidak
penting maka informasi akan disimpan dalam shortterm memory dengan
kemungkinan besar individu akan melupakan informasi tersebut. Adanya
informasi atau pengalaman yang diperoleh memungkinkan individu membentuk
sikap sebelum akhirnya bertindk atau berperilaku.
15

Tingkat Pengetahuan tentang Program


Soekanto (2003) menyatakan pengetahuan adalah kesan yang didapatkan
dari hasil pengolahan pancainderanya. Pengetahuan tersebut diperoleh melalui
kenyataan (fakta), penglihatan, pendengaran, serta keterlibatan langsung dalam
suatu aktivitas. Pengetahuan juga didapatkan dari hasil komunikasi dengan orang
lain seperti teman dekat dan relasi kerja. Pengetahuan yang tersimpan dalam
ingatan ini digali saat dibutuhkan melalui bentuk ingatan mengingat (recall) atau
mengenal kembali (recognition). Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa
pengetahuan adalah hasil “tahu” yang terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan ini terjadi melalui
pancaindera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan
raba yang sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan
telinga. Menurut Nasution (1999) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003) faktor-
faktor yang berpengaruh dalam tingkatan pengetahuan seseorang antara lain (1)
tingkat pendidikan, (2) informasi, (3) budaya, (4) pengalaman (5) sosial ekonomi,
(6) pengukuran tingkat pengetahuan.
Walgito (2003) mendefinisikan pengetahuan adalah mengenal suatu obyek
baru yang selanjutnya menjadi sikap terhadap obyek tersebut apabila pengetahuan
itu disertai oleh kesiapan untuk bertindak sesuai dengan pengetahuan tentang
obyek itu. Bila seseorang mempunyai sikap tertentu terhadap suatu obyek, itu
berarti orang tersebut telah mengetahui tentang obyek tersebut.

Karakteristik Lingkungan Sosial

Lingkungan merupakan segala hal yang ada di sekitar manusia yang dapat
dibedakan menjadi benda-benda mati atau benda-benda hidup, dengan kata lain
terdapat lingkungan yang bersifat kealaman atau fisik, dan terdapat pula
lingkungan yang mengandung kehidupan atau sosial (Walgito, 2003). Kedua jenis
lingkungan tersebut akan mempengaruhi perilaku individu.
Rakhmat, (2001) mengemukakan bahwa terdapat faktor situasional yang
dapat mempengaruhi perilaku individu, di antaranya adalah lingkungan sosial
masyarakat yang di dalamnya terdapat interaksi antar individu. Dapat disimpulkan
bahwa lingkungan sosial adalah hubungan interaksi antara masyarakat dengan
lingkungan.Sikap masyarakat terhadap lingkungan sosial dipengaruhi oleh nilai
sosial, itulah hubungannya. Jika nilai sosial tentang lingkungan lantas
berubah/terjadi pergeseran, maka sikap masyarakat terhadap lingkungan juga
berubah/bergeser. Itulah sebabnya masyarakat dan nilai sosial selalu terlihat
dinamis, terlepas dari baik dan buruknya lingkungan sosial. Lingkungan yang baik
biasanya menggambarkan masyarakat yang baik, begitupun sebaliknya.
Faktor kunci untuk keberhasilan dan keberlanjutan suatu program adalah
membangun rasa memiliki di antara masyarakat dan para pemangku kepentingan,
serta membangun sikap positif dan partisipatif. UU No. 17 tahun 2010 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP) tahun 2005-2025
memiliki tujuan salah satunya adalah menjamin tercapainya penggunaan sumber
daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan, serta mengoptimalkan
masyarakat. Oleh karena itu pengembangan program diharapkan mampu untuk
mengembangan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
16

Pembangunan masyarakat diartikan sebagai aktivitas yang dilakukan oleh


masyarakat, di mana mereka mampu mengindentifikasikan kebutuhan dan
masalah secara bersama (Raharjo 2006). Ada pula yang mengartikan bahwa
pembangunan masyarakat adala kegiatan yang terencana untuk menciptakan
kondisi-kondisi bagi kemajuan sosial ekonomi masyarakat dengan meningkatkan
partisipasi masyarakat. Zamhariri (2008) mengemukakan bahwa dalam
Community Development (pembangunan masyarakat) mengandung upaya untuk
meningkatkan partisipasi dan rasa memiliki (participating and belonging
together) terhadap program yang dilaksanakan, dan harus mengandung unsur
pemberdayaan masyarakat. Sikap dan partisipasi masyarakat tidak akan terlepas
oleh dukungan dari lingkungan sosialnya. Oleh karena itu karakteristik sosial
dalam penelitian ini dibatasi pada bagaimana peran tokoh masyarakat, peran
kelompok dan intensitas kegiatan program.

Tingkat Dukungan Tokoh Masyarakat


Studi kepemimpinan dikenal adanya pemimpin formal dan
informal. Tokoh masyarakat adalah orang-orang yang memiliki pengaruh pada
masyarakat, tokoh masyarakat ada yang bersifat formal dan informal. Tokoh
masyarakat yang bersifat formal adalah orang-orang yang diangkat dan dipilih
oleh lembaga Negara dan bersifat struktural, Sedangkan tokoh masyarakat yang
bersifat informal adalah orang-orang yang diakui oleh masyarakat karenah
dipandang pantas menjadi pemimpin yang disegani dan berperan besar dalam
memimpin dan mengayomi masyarakat.
Pembangunan desa akan berhasil baik apabila didukung oleh partisipasi
seluruh warga masarakat. Dan optimalisasi pembangunan sangat dipengaruhi oleh
bagaimana fungsi yang dijalankan oleh pihak pemerintah sebagai pihak
koordinator pelaksanaan pembangunan. Dalam hal ini pemerintahan harus mampu
mengkoordinasikan berbagai unit dalam pemerintahan agar dapat
mendayagunakan fungsi mereka dengan baik dan memberikan kontribusi yang
nyata bagi proses pembangunan. Rogers dan Shoemaker 1971, menguraikan
ciri-ciri yang harus dimiliki seorang pemimpin informal (opinion leaders)
yang dapat mempengaruhi warga desa dalam adopsi inovasi yaitu yang
memiliki ciri-ciri antara lain : (1) banyak berhubungan dengan media massa, (2)
kosmopolit, (3) sering berhubungan dengan agen pembaharu, (4) partisipasi
sosialnya besar, (5) status sosial ekonominya tinggi, dan (6) lebih inovatif
dibanding dengan pengikutnya.
Azwar (2009) mengemukakan bahwa salah satu hal yang mempengaruhi
sikap masyarakat adalah adanya pengaruh orang lain yang dianggap penting,
masyarakat cenderung akan mengikuti apa yang diberikan oleh tokoh masyarakat.
Peran tokoh masyarakat baik formal maupun non-formal sangat penting terutama
dalam mempengaruhi, memberi contoh, dan menggerakkan keterlibatan seluruh
warga masyarakat di lingkungannya guna mendukung keberhasilan program. Pada
masyarakat pedesaan, peran tersebut menjadi faktor determinan karena kedudukan
para tokoh masyarakat masih berpengaruh. Sejalan dengan hal tersebut Febriana
(2012) juga mengemukakan bahwa pemimpin formal dan tokoh masyarakat
mampu membantu masyarakat dalam pengambilan keputusan.
17

Peran Kelompok
Peran adalah tugas atau kewajiban yang harus dijalankan oleh seseorang
oleh seseorang tersebut harus dilaksanakan dengan baik dan penuh dengan rasa
tanggungjawab. Dalam pengembangan kegiatan program pendekatan kelompok
juga merupakan suatu keharusan, karena secara sendiri-sendiri warga masyarakat
sulit untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya, selain itu
organisasi/kelompok adalah suatu power yang penting. Selain itu dengan
pendekatan kelompok juga paling efektif, dan di lihat dari penggunaan
sumberdaya juga lebih efisien (Karsidi, 2001). Jamasy (2004) mengemukakan
bahwa, salah satu pola pendekatan pemberdayaan yang dianggap mampu
mengangkat derajat ketidak-berdayaan masyarakat pesisir adalah dengan
pendekatan kelompok. Melalui media kelompok, kreativitas masing-masing
anggota kelompok akan mewarnai kehidupan kelompoknya masing-masing
sekaligus menjadi media tukar menukar informasi, pengetahuan dan sikap. Hal
ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Tampubolon et al., (2006)
bahwa tingkat keberhasilan pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan
kelompok dipengaruhi oleh keefektifan dan kekeompakan kelompok.
Setiawan (2009) menemukan bahwa pemberdayaan masyarakat pesisir
tidak dapat dilakukan secara sendiri, akan tetapi perlu adanya kerjasama yang
simultan dan lintas sektoral, dengan cara pendekatan partisipatif yakni melibatkan
masyarakat dan pemerintah setempat daam bentuk pengelolaan bersama, di mana
masyarakat berpartisipasi aktif baik dalam perencanaan sampai pada pelaksanaan.
Pada hakekatnya, kegiatan pengembangan masyarakat adalah sebuah
pembangunan yang menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi kemajuan
kehidupan di berbagai bidang, baik ekonomi, sosial budaya maupun aspek
kehidupan lain sehingga tercapai kesejahteraan, Dalam pengembangan
masyarakat kita telah mengetahui prinsip-prinsip pengembangan masyarakat,
namun dari sekian puluh prinsip yang ada, pokok intinya adalah partisipasi,
kemandirian dan keswadayaan. Partisipasi diartikan bahwa setiap program
melibatkan masyarakat, baik fisik, ide, dan materi. Keterlibatan disini memiliki
makna keikutsertaan masyarakat secara fisikal dan mentalitas. Program selalu
berasal dan untuk pemenuhan masyarakat, sehingga yang merencanakan adalah
agen bersama masyarakat

Intensitas Kegiatan Program


Pengertian intensitas dalam kehidupan sehari-hari dapat dipahami sebagai
ukuran atau tingkat. Intensitas juga dipahami sebagai suatu kekuatan yang
mendukung suatu pendapat atau suatu sikap (Chaplin, 2006). Azwar mengartikan
intensitas sebagai kekuatan atau kedalaman sikap terhadap sesuatu. Intensitas
dapat diukur berdasarkan sejauhmana kedalaman informasi yang dapat dipahami
oleh responden.
Salah satu unsur keberhasilan program terkait erat dengan intensitas
pendampingan masyarakat yang efektif dalam melaksanakan perannya sebagai
ujung tombak pemberdayaan masyarakat. Cahyani (2008) mengemukakan bahwa
perkembangan masyarakat untuk mencapai tingkat kematangan perlu dipercepat
dengan kehadiran pendamping. Pendamping sebagai agen pembaharuan berperan
sebagai juru penerang (pemberi informasi), guru, penasihat, pembimbing,
konsultan dan pengarah. (Asngari, 2001). Penelitian yang dilakukan oleh Daud
18

(2011) menemukan bahwa peran pendamping berhubungan nyata dengan sikap


kelompok pemanfaat program untuk berpartisipasi. Hal tersebut sejalan dengan
Zamzami (2012) mengemukakan bahwa pendamping dalam program Mitra Mina
membantu masyarakat agar lebih mudah untuk mengakses program dan
membantu dalam mengelola modal yang diperoeh secara efisien.
Karsidi (2001) juga mengungkapkan bahwa dalam pemberdayaan, seorang
pendamping harus mampu belajar dari masyarakat. Pendamping adalah fasilitator,
bukan guru dan tidak menggurui, saling belajar, saling berbagi pengalaman.
Leilani dan Jahi (2006), mengemukakan bahwa kinerja seorang pendamping dapat
dilihat dari kinerja yang merupakan fungsi dari karakteristik individu, dan
merupakan peubah penting yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. sejalan
hal tersebut, Budiyanto (2011) mengemukakan bahwa peran pendamping sebagai
Tenaga Ahli Perencanaan Partisipatif (TAPP) dalam tahap perencanaan bukan
untuk mengambil alih pengambilan keputusan melainkan untuk menunjukkan
konsekuensi dari tiap keputusan yang diambil masyarakat, dengan kata lain
menjadi fasilitator dalam proses pengambilan keputusan sehingga keputusan yang
diambil akan rasional.

Pengelolaan Program

Keberhasilan suatu program tidak lepas dari bentuk pengelolaan yang


dilakukan, di mana pengelolaan merupakan suatu bentuk aktivitas kerja yang
melibatkan koordinasi dan pengawasan terhadap pekerjaan orang lain, sehingga
pekerjaan tersebut dapat diselesaikan secara efisien dan efektif. Model CIPP
(Conteks, Input, Proses, dan Produk) merupakan model yang dikembangkan oleh
Daniel L. Stufflebeam dkk yang terkait pada perangkat pengambilan keputusan
yang menyangkut perencanaan dan operasi sebuah program.
Stufflebeam (Zhang et.,al 2011) membagi evaluasi menjadi empat
komponen yaitu: Pertama Konteks (kejelasan program), yakni mencakup analisis
masalah yang berkaitan dengan lingkungan program atau kondisi obyektif yang
akan dilaksanakan. Berisi tentang analisis kekuatan dan kelemahan obyek tertentu
(Widoyoko 2010). Hal tersebut sejalan dengan pemikiran Stufflebeam yang
menyatakan bahwa tahap konteks sebagai fokus institusi dengan mengidentifikasi
peluang dan menilai kebutuhan. Tahap konteks memberikan informasi bagi
pengambil keputusan dalam perencanaan suatu program yang akan berjalan.
Kedua Input (pengelolaan sumberdaya), pelaksanaan kegiatan
pengembangan masyarakat sendiri memerlukan keterlibatan berbagai pihak
sebagai lingkungan soaial program, yakni masyarakat pelaksana program dan
pemerintah daerah beserta perangkat kerjanya. Sebagimana yang dikemukakan
oleh Widoyoko (2010) bahwa analisis pengelolaan sumberdaya (masukan)
membantu mengatur keputusan menentukan sumber-sumber yang ada, alternative
apa yang diambil, apa rencana dan strategi untuk mencapai tujuan, dan bagaimana
prosedur kerja untuk mencapainya meliputi analisis personal yang berhubungan
dengan bagaimana penggunaan sumber-sumber yang tersedia, alternative-
alternatif strategi yang harus mencapai suatu program. Komponen masukan
meliputi: 1) sumberdaya manusia, 2) sarana dan peralatan pendukung, 3) dana
atau anggaran, dan 4) berbagai prosedur dan aturan yang diperlukan.
19

Ketiga yakni proses, merupakan evaluasi yang dirancang dan diaplikasikan


dalam praktik implementasi kegiatan. Evaluasi proses digunakan untuk
menditeksi atau memprediksi rancangan prosedur atau rancangan implementasi
selama tahap implementasi, menyediakan informasi untuk keputusan program dan
sebagai rekaman atau arsip prosedur yang telah terjadi. Setiap aktivitas dimonitor
perubahan-perubahan yang erjadi secara jujur dan cermat. Evaluasi proses
meliputi koleksi data penilaian yang telah ditentukan dan diterapkan dalam
praktik pelaksanaan program. Pada dasarnya evaluasi proses untuk mengetahui
sampai sejauh mana rencana telah diterapkan dan komponen apa yang perlu
diperbaiki. Keempat yakni Hasil (tingkat pencapaian produk) evaluasi hasil
merupakan kumpulan deskripsi dan idquo: judgement outcomes & rdquo; dalam
hubungan dengan konteks, input, dan proses, kemudian diinterprestasikan harga
dan jasa yang diberikan.
Evaluasi hasil adalah evaluasi mengukur keberhasilan pencapaian tujuan.
Evaluasi ini merupakan catatan pencapaian hasil dan keputusan-keputusan untuk
perbaikan dan aktualisasi. Evaluasi hasil merupakan penilaian yang dilakukan
guna untuk melihat ketercapaian/ keberhasilan suatu program dalam mencapai
tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Aktivitas evaluasi produk adalah
mengukur dan menafsirkan hasil yang telah dicapai. Pengukuran dikembangkan
dan diadministrasikan secara cermat dan teliti. Keakuratan analisis akan menjadi
bahan penarikan kesimpulan dan pengajuan saran sesuai standar kelayakan.
Secara garis besar, kegiatan evaluasi produk meliputi kegiatan penetapan tujuan
operasional program, kriteria-kriteria pengukuran yang telah dicapai,
membandingkan antara kenyataan lapangan dengan rumusan tujuan, dan
menyusun penafsiran secara rasional.

KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

Kerangka Berpikir

Masyarakat pesisir sangat rentan dengan berbagai perubahan, baik pada


kondisi lingkungan maupun pada kondisi sosial ekonomi. Kondisi lingkungan
pemukiman masyarakat pesisir, khususnya nelayan masih belum tertata dengan
baik dan terkesan kumuh dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang relatif
berada dalam tingkat kesejahteraan rendah, maka dalam jangka panjang tekanan
terhadap sumberdaya pesisir akan semakin besar guna pemenuhan kebutuhan
masyarakat.
Desa Tanjung Pasir merupakan desa yang mayoritas penduduknya
merupakan nelayan tradisional. Desa Tanjung Pasir dan Desa Muara memiliki
perbedaan baik dari segi akses maupun dari segi pendapatan. Merujuk pada hasil
penelitian yang dilakukan Amanah dan Farmayanti (2011), pendapatan nelayan di
20

Desa Tanjung Pasir 35 persen lebih tinggi daripada nelayan di Desa Muara. Hal
ini berkaitan dengan akses kepada sarana dan prasarana perikanan yang jauh lebih
mudah dan tersedia di Desa Tanjung Pasir. Fasilitas yang tersedia di desa tersebut
meliputi Tempat Pelelangan Ikan, kios sarana produksi perikanan, ketersediaan
Bahan Bakar Minyak, dan infra struktur jalan raya yang jauh lebih baik daripada
di Desa Muara.
Program pengembangan desa pesisir merupakan program yang ditujukan
untuk meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat dan membangun kawasan
pesisir yang berkualitas, program pengembangan diharapkan mampu membantu
menyelesaiakan masalah yang dihadapi masyarakat. Namun beragam program
yang dilaksanakan oleh pemerintah dalam mengembangkan desa pesisir akan sulit
mencapai tujuan apabila belum melibatkan masyarakat, sehingga dalam posisi ini
peran aktif masyarakat sangat penting bagi kelancaran dan keberhasilan
pencapaian tujuan program.
Sikap masyarakat menjadi hal yang sangat penting dalam pelaksanaan
program. Sikap positif terhadap program PDPT menjadi modal yang sangat
penting dalam mendukung keberhasilan dan keberlanjutan program karena
merupakan dasar utama bagi timbulnya kesediaan untuk ikut terlibat dan berperan
aktif dalam setiap kegiatan program tersebut. Indikator keberhasilan program
PDPT dapat dilihat dengan adanya perubahan kehidupan masyarakat baik dalam
hal perbaikan infrastruktur desa maupun dalam hal peningkatan sosial ekonomi
masyarakat. Oleh karena itu dukungan sikap positif berupa kesadaran dan
kesediaan masyarakat serta partisipasi aktif untuk terlibat dalam kegiatan program
baik pada setiap pertemuan, sosialisasi, dan pada pelaksanaan menjadi kunci
kesuksesan dan keberlanjutan PDPT.
Sikap erat hubungannya dengan emosi masyarakat pemanfaat. Jika
kemampuan afektif pada masyarakat muncul, maka efek secara langsung adalah
masyarakat tidak akan menyenangi dan merespon dengan baik kegiatan program,
sehingga hal ini sangat perlu untuk diperhatikan. sikap masyarakat terhadap
komponen program PDPT (Y1) diukur dari tingkatan sikap masyarakat dalam
Menerima (Receiving), Menanggapi (Responding), Menghargai (Valuing), dan
Pembentukan Nilai (Organization), diduga dipengaruhi oleh karakteristik personal
(X1) meliputi variabel: umur, tingkat pendidikan formal, kesertaan dalam
pelatihan, jumlah tanggungan, tingkat kekosmopolitan, dan tingkat pengetahuan
tentang program. Karakteristik lingkungan sosial (X2) meliputi peubah: tingkat
dukungan tokoh masyarakat, peran kelompok, dan intensitas kegiatan program,
serta tingkat pengelolaan program (X3) meliputi variabel: kejelasan program
(konteks), ketepatan pengelolaan sumberdaya (input), kesesuaian pelaksanaan
kegiatan program (proses), serta tingkat pencapaian program (produk),
sebagaimana yang terlihat pada Gambar 1.
21

Karakteristik Personal (X1)

(X1.1) Umur
(X1.2) Tingkat pendidikan formal
(X1.3) Pendidikan non formal
(Kesertaan dalam
pelatihan)
(X1.4) Jumlah tanggungan
Keluarga
(X1.5) Tingkat kekosmopolitan
(X1.6) Tingkat pengetahuan Sikap Masyarakat Terhadap
tentang program Komponen Program
(Y)
Karakteristik Lingkungan
Sosial (X2) (Y1.1) Tingkat Penerimaan
Masyarakat (Receiving) Keberlanjutan
(X2.1) Tingkat dukungan tokoh (Y1.2) Menanggapi Program
masyarakat (Responding)
(X2.2) Peran kelompok (Y1.3) Menghargai (Valuing)
(X2.3) Intensitas Kegiatan (Y1.4) Pembentukan nilai
Program (Organization)

Tingkat Pengelolaan Program


(X3)

(X3.1) Kejelasan Program


(Contex)
(X3.2) Ketepatan pengelolaan
Sumberdaya (Input)
(X3.3) Kesesuaian pelaksanaan
kegiatan program
(proces)
(X3.4) Tingkat Pencapaian
Program (Product)

Gambar 1 Kerangka berpikir operasional

Hipotesis

Hipotesis umum pada penelitian ini adalah diduga karakteristik personal,


karakteristik lingkungan sosial dan pengelolaan program memiliki hubungan
nyata dengan sikap masyarakat pesisir terhadap Program Pengembangan Desa
Pesisir Tangguh. Sedangkan hipotesis khusus yakni:
1. Terdapat hubungan nyata positif antara karakteristik personal, karakteristik
lingkungan sosial, dan tingkat pengelolaan program dengan tingkat
penerimaan masyarakat terhadap program PDPT
2. Terdapat hubungan nyata positif antara karakteristik personal, karakteristik
lingkungan sosial, dan tingkat pengelolaan program dengan tingkat respon
masyarakat terhadap program PDPT.
22

3. Terdapat hubungan nyata positif antara karakteristik personal, karakteristik


lingkungan sosial, dan tingkat pengelolaan program dengan tingkat
penghargaan masyarakat terhadap PDPT.
4. Terdapat hubungan nyata positif antara karakteristik personal, karakteristik
lingkungan sosial, dan tingkat pengelolaan program dengan pembentukan
nilai-nilai masyarakat terhadap PDPT.

METODE PENELITIAN

Rancangan Penelitian

Penelitian dilakukan dengan metode survei, yakni dengan mengamati pada


sejumlah bagian dari populasi yang dianggap mampu merepresentasikan dari
keseluruhan populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data
yang pokok. Singarimbun dan Effendi, (1995) mengemukakan bahwa metode
survai umumnya digunakan dengan tujuan untuk menerangkan suatu fenomena
sosial atau suatu peristiwa (event) sosial dan memberikan gambaran yang lebih
mendalam tentang gejala-gejala sosial tertentu atau aspek kehidupan tertentu pada
masyarakat yang diteliti dan dapat mengungkapkan secara jelas kaitan antar
berbagai gejala sosial.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di dua desa pesisir di Kecamatan Teluk Naga


yakni Desa Tanjung Pasir dan Desa Muara, Kabupaten Tangerang, Provinsi
Banten. Penentuan desa dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan bahwa
dua desa tersebut merupakan pelaksana program Pengembangan Desa Pesisir
Tangguh. Pengambilan data lapangan dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2013.

Populasi dan Sampel

Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi adalah jumlah keseluruhan dari unit analisis yang memiliki
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari. Populasi pada
penelitian ini adalah masyarakat di dua desa pesisir yakni Desa Tanjung Pasir dan
Desa Muara yang menggantungkan hidupnya pada sumberdaya pesisir dan non
pesisir dan menjadi peserta pada Program Pengembangan Desa Pesisir Tangguh.
Jumlah populasi pada penelitian ini adalah 200 orang, yang terdiri dari 100 orang
peserta program PDPT Desa Tanjung Pasir dan 100 orang peserta program PDPT
Desa Muara (Tabel 1).
23

Tabel 1 Sebaran populasi berdasarkan kegiatan program

Nama Nama Kegiatan Jumlah


Desa Populasi Sampel
(30% dari
populasi)
Tanjung 1. Bina Sumberdaya
Pasir a. Penanaman mangrove 10 3
2. Bina infrastruktur dan Lingkungan
a. Pembangunan MCK dan Sarana Air 30 9
Bersih
b. Pembangunan Sarana Air Bersih
c. Pembangunan saluran air limbah
3. Bina usaha
a. Pelatihan dan pengadaan sarana untuk 40 12
kerajinan
b. Pelatihan dan pengadaan sarana
pengelolaan limbah untuk kerajinan
c. Pengadaan perahu wisata
d. Pengadaan sarana pengelolaan sampah
4. Bina siaga Bencana
a. Pembangunan turap sungai garapan 20 6
b. Pembangunan turap sungai garapan
Muara 1. Bina Sumberdaya
a. Penanaman Mangrove dan Pembuatan 10 3
Papan reklame
2. Bina Infrastruktur dan lingkungan
a. Pembangunan saluran pembuangan air 70 21
limbah (SPAL)
b. Pembangunan saluran pembuangan air
limbah (SPAL)
c. Pembangunan Sarana Air Bersih,
MCK dan pembuatan MCK Musholla
d. Rehab sarana ibadah dan pembuatan
MCK
e. Pembangunan jalan Papin Block
f. Pembangunan sarana air bersih
g. Pembangunan sarana air bersih
3. Bina usaha
a. Pengadaan perahu wisata dan pondok 20 6
wisata
b. Pengadaan mesin Papin Block
Jumlah N = 200 n = 60

Teknik Pengambilan Sampel


Unit analisis penelitian merupakan individu pemanfaat program. Sampel
penelitian dipilih dengan menggunakan stratified random sampling yang diambil
secara proporsional berdasarkan sebaran kegiatan kelompok peserta program
PDPT. Berdasarkan pertimbangan waktu, tenaga, serta biaya maka dari populasi
yang ada dilakukan pengambilan sampel sebesar 30 persen dari total populasi,
sehingga jumlah sampel yakni sebanyak 60 orang (Gambar 2) .
24

Kecamatan Teluk Naga

Desa Tanjung Pasir Desa Muara


(10 Kelompok) (10 Kelompok)

Bina Bina Bina Bina Siaga Bina Bina Bina


Sumber Infrastruktur Usaha Bencana Sumber Infrastruktur Usaha
Daya & (40) (20) Daya & (20)
(10) Lingkungan (10) Lingkungan
(30) (70)

n=3 n=9 n=12 n=6 n=3 n=21 n=6

Gambar 2 Bagan penarikan sampel

Data dan Teknik Pengumpulan Data

Data
Jenis data dalam penelitian ini terdapat data primer dan data sekunder.
Data primer diperoleh secara langsung dari sumber pertama, dan merupakan data
yang belum diolah, yakni dari responden, tokoh masyarakat dan pengelola
program. Data dari responden didapat melalui wawancara dan pengamatan
langsung di lapangan. Data primer yang dikumpulkan meliputi karakteristik
personal, karakteristik lingkungan soaial, tingkat pengelolaan program, serta sikap
masyarakat terhadap komponen progrm. Data sekunder sebagai data pendukung
diperoleh dari sumber kedua dan telah diolah, berupa data masyarakat pemanfaat
program PDPT, serta data monografi penduduk di Desa Tanjung Pasir dan Desa
Muara, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang.

Pengumpulan Data
Pada penelitian ini, data dikumpulkan melalui:
1. Pengamatan langsung, yaitu pengumpulan data dengan observasi langsung
pada lokasi penelitian, yakni di Desa Tanjung Pasir dan Muara. Pengamatan
dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi masyarakat, kondisi
lingkungan, dan pelaksanaan kegiatan PDPT.
2. Wawancara, sebagai pengumpulan data dengan melakukan tatap muka dengan
menggunakan pedoman wawancara terstruktur dalam bentuk kuesioner
dilakukan untuk memperoleh informasi secara sistematis tentang sikap
masyarakat terhadap program sehingga diperoleh data yang lebih lengkap dan
akurat. Selain itu pengumpulan data juga dilakukan dengan melakukan
25

wawancara semi terstruktur dengan informan yaitu: tokoh masyarakat, yakni


lurah di dua desa penelitian, pelaksana program yakni tim pemberdaya
masyarakat, ketua kelompok, serta masyarakat yang bukan peserta program
untuk memperoleh informasi yang lebih mendalam dan mengklarifikasi
informasi yang diperoleh sebelumnya.

Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Validitas instrumen
Validitas instrumen menunjukkan sejauh mana alat ukur tersebut
mengukur apa yang ingin diukur (Singarimbun dan Efendi, 1995). Kerlinger
(2003) menyatakan bahwa suatu alat ukur dikatakan sahih apabila alat ukur
tersebut dapat digunakan untuk mengukur secara tepat konsep yang sebenarnya
ingin diukur. Pada penelitian ini, uji validitas instrumen dilakukan dengan
menggunakan uji validitas isi (validitas butir) dengan cara menyusun indikator
pengukuran operasional berdasarkan kerangka teori dari konsep yang akan diukur.
Validitas isi dari sebuah instrumen ditentukan dengan jalan mengkorelasikan
antara skor masing-masing item dengan total skor masing-masing item. Validitas
eksternal terhadap instrumen juga dinilai berdasarkan aspek bahasa.
Kriteria validitas instrumen jika r-hitung lebih besar dari r-tabel pada taraf
kepercayaan (signifikansi) tertentu, berarti instrumen tersebut valid. Sebaliknya,
jika angka korelasi yang diperoleh (r-hitung) lebih kecil dari r-tabel (berkorelasi
negatif), berarti pertanyaan tersebut bertentangan dengan pertanyaan lainnya atau
instrumen tersebut tidak valid.
Instrumen yang telah disusun, kemudian diujicobakan terhadap 10 orang
peserta program PDPT di Kecamatan Teluk Naga. Hasil uji validitas
memperlihatkan nilai koefisien untuk n=10 dengan ά = 0,05 diperoleh nilai
korelasi (r hitung) yakni 0.560 sampai dengan 0.941, sedangkan nilai r tabel=
0,55. Dengan demikian hasil pengujian uji validitas memperlihatkan bahwa dari
83 item pertanyaan yang diuji, diperoleh 66 item pertanyaan yang valid.

Reliabilitas instrumen
Reliabilitas instrumen adalah indeks yang menunjukkan ketepatan alat
tersebut untuk mengukur sesuatu yang diukurnya. Kerlinger (2003) reliabilitas
adalah keandalan, kemantapan, konsistensi, prediktibilitas atau keteramalan,
kejituan, ketepatan atau akurasi.
Uji validitas dan reliabilitas instrumen dilakukan melalui ujicoba terhadap
kuesioner yang digunakan terhadap sejumlah responden di tempat yang berbeda
dan waktu yang berbeda, yang memiliki karakteristik sama dengan responden
sesungguhnya. Pada penelitian ini, uji reliabilitas yang digunakan adalah metode
Cronbach Alpha atau Cr. Alpha berdasarkan skala Cr. Alpha 0 sampai dengan 1.
Apabila nilai hasil perhitungan (α) dikelompokkan ke dalam lima kelas dengan
skala yang sama (0 sampai 1), maka ukuran kemantapan alpha dapat
diinterprestasikan sebagai berikut :
(1) Nilai koefisien Alpha berkisar 0,00 – 0,20, berarti kurang reliabel
(2) Nilai koefisien Alpha berkisar 0,21 – 0,40, berarti agak reliabel
(3) Nilai koefisien Alpha berkisar 0,41 – 0,60 berarti cukup reliabel
(4) Nilai koefisien Alpha berkisar 0,61 – 0,80, berarti reliabel
26

(5) Nilai koefisien Alpha berkisar 0,81 – 1,00, berarti sangat reliabel
Instrumen yang telah disusun, kemudian diujicobakan terhadap 10 orang
peserta program PDPT di Kecamatan Teluk Naga. Hasil pengujian reliabilitas
memperlihatkan instrumen penelitian yang digunakan reliabel, karena nilai koefisien
Alpha berkisar antara 0.871 hingga 0.954.

Konseptualisasi dan Definisi Operasional

Menurut Sevilla, et al., (1993) konseptualisasi dilakukan untuk


memudahkan dalam memahami peubah digunakan serta untuk memberikan
makna yang sesuai dengan tujuan penelitian, tidak terjadi perbedaan pemahaman
(ambigu) serta agar konsep tersebut dapat diukur. Dalam pengukuran, perlu
memperhatikan kesamaan yang dekat antara realitas sosial yang diteliti dengan
nilai yang diperoleh dari pengukuran. Oleh sebab itu, suatu instrumen pengukur
dipandang baik apabila hasilnya dapat merefleksikan secara tepat realitas dari
fenomena yang hendak diukur (Singarimbun dan Effendi, 1995).
Pemberian skor berdasarkan masing-masing peubah dilakukan dengan
menjumlahkan nilai skor tersebut dan dikategorikan dengan menggunakan
interval kelas untuk melihat kesimpulan hasil penelitian dengan menganalisis
antar peubah. Interval kelas dapat dihitung dengan cara:

Interval Kelas (IK) = Skor maksimum-Skor minimum


jumlah kategori

Peubah karakteristik personal (X1), karakteristik lingkungan sosial (X2),


pengelolaan program (X3), dan sikap masyarakat terhadap komponen program
(Y1), didefenisikan sebagai berikut:
1. Karakteristik Personal (X1) adalah ciri-ciri pribadi yang melekat pada diri
seseorang yang mungkin berbeda dengan orang lain. Dalam penelitian ini
variabel karakteristik personal meliputi:
a. Umur adalah lama hidup seseorang yang dihitung dari tahun kelahiran
hingga penelitian ini dilaksanakan. Untuk keperluan analisis data
deskriptif, umur dikelompokkan menjadi tiga kelompok berdasarkan
sebaran responden.
1. Muda (18-29)
2. Dewasa (30-50)
3. Tua (≥ 50)
b. Tingkat pendidikan formal adalah jenjang sekolah tertinggi yang pernah
diikuti, diukur dalam tahun sukses sekolah. Untuk keperluan statistik
deskriptif, tingkat pendidikan formal responden dibedakan menjadi tiga
kelompok berdasarkan sebaran responden:
1. Rendah (0-9)
2. Menengah (10-13)
3. Tinggi (≥ 14)
c. Pendidikan non formal adalah frekuensi atau jumlah keikutsertaan
responden dalam kursus atau pelatihan dalam 1 tahun terakhir.
27

Berdasarkan sebaran responden, pendidikan non formal digolongkan


dalam tiga kategori berikut:
1. Rendah (0-1)
2. Sedang (2-3)
3. Tinggi (≥ 4)
d. Jumlah tanggungan adalah banyaknya individu yang tinggal bersama dan
menjadi beban kepala keluarga. Berdasarkan sebaran responden, jumlah
tanggungan digolongkan menjadi tiga kategori yakni:
1. Sedikit (0-1)
2. Sedang (2-3)
3. Besar (≥ 4)
e. Tingkat kekosmopolitan adalah tingkat keterbukaan responden terhadap
lingkungan, terutama dalam berinteraksi dengan pihak luar desa, tingkat
kemudahan dalam mengkondisikan perbedaan pendapat, ide-ide, dan
gagasan baru. Terdapat 5 pertanyaan, dengan skor tertinggi adalah 20 dan
skor terendah adalah 5. Diukur dari intensitas keluar desa, mengikuti
kegiatan sosial, berinteraksi dengan masyarakat luar desa, mencari
informasi, sumber informa siserta kemampuan berkomunikasi,
dikategorikan menjadi tiga yakni:
1. Rendah = skor 5-9
2. Sedang = skor 10-14
3. Tinggi = skor ≥ 15
f. Tingkat pengetahuan tentang program adalah banyaknya informasi yang
diketahui responden tentang upaya meningkatkan ketangguhan masyarakat
pesisir, terdapat 5 pertanyaan, dengan skor terendah 5 dan skor tertinggi
20, yang diukur dari pengetahuan responden tentng tujuan program,
sumber informasi serta banyaknya sumber informasi (media) digunakan
dalam mengakses informasi,
1. Rendah = skor 5-9
2. Sedang = skor 10-14
3. Tinggi = skor ≥ 15
2. Karakteristik Lingkungan Sosial (X2) adalah ciri atau nilai-nilai sosial
kemasyarakatan yang dianut dan dipatuhi oleh masyarakat yang diduga dapat
mempengaruhi sikap masyarakat pesisir yang meliputi:
a. Dukungan tokoh masyarakat adalah keikutsertaan figur pemimpin dalam
mengembangkan sikap masyarakat. Diukur dari kemampuan tokoh
masyarakat dalam menjalin hubungan baik dengan masyarakat,
berpartisipasi dalam program, keterlibatan dalam tahapan program, peran
dalam menyelesaiakan masalah, peran dalam meningkatkan kedisiplinan,
serta peran dalam meningkatkan kerjasama masyarakat dalam kegiatan
program. Terdapat 6 pertanyaan, dengan skor terendah 6 dan skor tertinggi
24.
1. Rendah = 6-10
2. Sedang = 11-15
3. Tinggi = ≥ 16
b. Peran kelompok adalah fungsi yang dapat dimainkan oleh pemanfaat
program dalam mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan
anggota. Terdapat 5 pertanyaan, dengan skor terendah 5 dan skor tertinggi
28

20 dilihat dari banyaknya pertemuan yang dilakukan, pengelolaan


kegiatan, kerjasama dan jaringan kerjasama yang telah berhasil dilakukan.
1. Rendah = skor 5-9
2. Sedang = skor 10-14
3. Tinggi = skor ≥ 15
c. Intensitas kegiatan program, jumlah atau frekuensi pelaksanaan kegiatan
yang dilakukan dalam sebulan. Terdapat 5 pertanyaan, dengan skor
terendah 5 dan skor tertinggi 20, yakni kunjungan pengelola program,
kegiatan pendampingan, keaktifan dalam mengikuti kegiatan, materi serta
metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan program.
1. Rendah = skor 5-9
2. Sedang = skor 10-14
3. Tinggi = skor ≥ 15
3. Tingkat pengelolaan program (X3) adalah kemampuan pelaksana kegiatan
PDPT dalam melaksanakan fungsi pengelolaan dalam perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan program. Variabel tingkat
pengelolaan program meliputi:
a. Kejelasan program (konteks) adalah kemampuan pengelola dalam
penentuan tujuan program, kejelasan tujuan program, jenis kegiatan, serta
waktu pelaksanaan kegiatan program. Terdapat 5 pertanyaan, dengan skor
terendah 5 dan skor tertinggi 20.
1. Rendah = skor 5-9
2. Sedang = skor 10-14
3. Tinggi = skor ≥ 15
b. Ketepatan pengelolaan sumberdaya adalah kemampuan pelaksana program
dalam menggunakan input yang ada dalam mencapai tujuan program,
terdapat 5 pertanyaan, dengan skor terendah adalah 5 dan skor tertinggi
dalah 20, yang diukur dari siapa saja pihak yang terlibat, media penunjang
kegiatan, serta perkembangan usaha, lingkungan, dan infrastruktur desa.
1. Rendah = skor 5-9
2. Sedang = skor 10-14
3. Tinggi = skor ≥ 15
c. Kesesuaian pelaksanaan kegiatan program adalah prosedur yang
digunakan dalam melaksanakan kegiatan program. Terdapat 5 pertanyaan,
dengan skor terendah adalah 5 dan skor tertinggi dalah 20. Diukur dari
kempetensi fasilitator, kegiatan diskusi kegiatan, pemberian informasi
serta metode yang digunakan,
1. Rendah = skor 5-9
2. Sedang = skor 10-14
3. Tinggi = skor ≥ 15
d. Tingkat pencapaian program (produk) adalah hasil yang diperoleh dari
adanya pelaksanaan kegiatan PDPT. Terdapat 5 pertanyaan, dengan skor
terendah 5 dan skor tertinggi 20. Diukur dari luaran yang dihasilkan oleh
kegiatan program terhadap perubahan kondisi lingkungan, infrastruktur,
usaha, serta manfaat yang dirasakan oleh responden.
1. Rendah = skor 5-9
2. Sedang = skor 10-14
3. Tinggi = skor ≥ 15
29

4. Sikap Masyarakat terhadap Komponen Program (Y1) adalah tingkatan


sikap yang ditunjukkan responden terhadap kegiatan program Pengembangan
Desa Pesisir Tangguh yang membentuk kesiapan masyarakat untuk bertindak
terhadap kegiatan program yakni bina lingkungan, bina infrastruktur, bina
usaha, serta bina siaga bencana. Peubah tingkatan sikap meliputi:
a. Tingkat penerimaan masyarakat (receiving) adalah tingkat kepekaan dan
perhatian responden terhadap adanya kegiatan program. Terdapat 5
pertanyaan, dengan skor terendah adalah 5 dan skor tertinggi dalah 20,
yang diukur dari kesediaan atau kemauan responden untuk mencari tahu
tentang program PDPT, berminat, perduli, memperhatikan bekerjasama,
dan membantu dalam kegiatan program.
1. Rendah = skor 5-9
2. Sedang = skor 10-14
3. Tinggi = skor ≥ 15
b. Menanggapi (responding) adalah kesediaan responden untuk terlibat
secara aktif dalam program. Terdapat 5 pertanyaan, dengan skor terendah
adalah 5 dan skor tertinggi dalah 20, yang diukur berdasarkan reaksi
responden terhadap kegiatan program, yakni mendukung, menyetujui,
bersedia mengikuti kegiatan, mematuhi, serta mengikuti aturan yang ada
dalam kegiatan program.
1. Rendah = skor 5-9
2. Sedang = skor 10-14
3. Tinggi = skor ≥ 15
c. Menilai (Valuing), adalah penghargaan ataupun nilai yang diberikan
seseorang kepada obyek yakni terhadap program PDPT. Tingkat ini
terdapat 5 pertanyaan, dengan skor terendah adalah 5 dan skor tertinggi
dalah 20, yang diukur berdasarkan perbedaan yang dirasakan oleh
responden, kemampuan program dalam memperbaiki kondisi desa,
kesediaan mengikuti dan mendukung program, kesediaan memberi ide
atau masukan, dukungan, serta memberi informasi terkait kegiatan
program.
1. Rendah = skor 5-9
2. Sedang = skor 10-14
3. Tinggi = skor ≥ 15
d. Pembentukan nilai (Organization), adalah tingkat sikap responden yang
berkenaan dengan mengorganisasi suatu nilai, menghubungkan
nilai/norma yang dianut, serta mengintegrasikan nilai atau norma ke dalam
kebiasaan sehari-hari. Terdapat 5 pertanyaan, dengan skor terendah adalah
5 dan skor tertinggi dalah 20. Organisasi diukur dari keterlibatan
responden dalam merumuskan rencana kegiatan, kesediaan memberikan
usulan, kesadaran tentang pentingnya kegiatan program, dan
bertanggungjawab.
1. Rendah = skor 5-9
2. Sedang = skor 10-14
3. Tinggi = skor ≥ 15
30

Analisis Data

Analisis data dilakukan secara kuantitatif dengan statistik deskriptif dan


inferensial. Data hasil penelitian dianalisis untuk mengetahui hubungan berbagai
variabel yang diteliti, dan memberikan penjelasan secara kualitatif sebagai
pendukung. Data yang diperoleh dari kuesioner dikelompokkan dengan
menggunakan skoring dan pengkategorian. Analisis yang dilakukan adalah: (1)
memberikan skor pada setiap data dan kemudian ditabulasi; (2) menggolongkan,
menghitung jawaban dan memprosentasekan berdasarkan kategori jawaban,
kemudian data diolah dengan menggunakan tabulasi distribusi frekuensi dan nilai
tengah yang kemudian dianalisis. Untuk menganalisis tingkat keeratan hubungan
antara peubah bebas digunakan uji korelasi Rank Spearman pada taraf
kepercayaan 0.05% dengan rumus (Riduwan 2010).

6 di 2
rs  1 

n n2 1 
Keterangan :

di2 = ( Xi - Yi )2
rs = koefisien korelasi rank Spearman
di = selisih ranking Xi dan Yi
Yi = ranking variabel Yi
Xi = ranking variabel Xi

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum dan Pelaksanaan PDPT

Gambaran Umum Wilayah Penelitian


Kecamatan Teluk Naga terletak di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten
dan memiliki lokasi terdekat dengan Bandara Soekarno Hatta. Kecamatan ini
terdiri atas tiga belas desa yaitu Desa Bojong Renged, Desa Teluk Naga, Desa
Kebon Cau, Desa Babakan Asem, Desa Kp Melayu Barat,Desa Kp Melayu Timur,
Desa Kp Besar, Desa Lemo, Desa Muara, Desa Tegal Angus, Desa Tanjung Pasir,
Desa Tanjung Burung dan Desa Pangkalan. Batas Wilayah Kecamatan Teluk
Naga adalah Laut Jawa di sebelah utara, Neglasari dan Benda di sebelah selatan,
Pakuhaji di sebelah barat, dan Kosambi di sebelah timur. Adapun gambaran
umum dua desa penelitian sebagai berikut:
31

Tabel 2 Gambaran umum dua desa penelitian, 2013

No Kondisi Umum Desa Tanjung Pasir Desa Muara

1 Letak astronomis 106 o20’-106 o43’ BT dan 6 106°20’-106°43’ BT


o
00’-6o00-6o20’ LS dan 6°00’-6°20 LS

2 Batas wilayah Utara : Laut Jawa Utara : Laut Jawa


Selatan : Desa Tegalangus Selatan : Desa Lemo
Barat : Desa Tanjung Barat : Desa Tanjung
Burung Pasir
Timur : Desa Muara Timur : Laut Jawa/
Desa Lemo

3 Luas wilayah 570 Ha 505 Ha

4 Jarak dengan ibu 6.9 km 10 km


kota kecamatan

5 Jumlah 10.225 jiwa 3.780 jiwa


penduduk Laki-laki : 4.115 jiwa Laki-laki :1.845
Perempuan : 6.110 jiwa Perempuan : 1.935

Desa Tanjung Pasir dan Desa Muara merupakan daerah dataran rendah
dengan ketinggian masing-masing 1 meter dan 40 meter di atas permukaan laut
(dpl). Secara administrasi, desa-desa tersebut terbagi ke dalam 6 (enam) wilayah
kemandoran atau kampung. Desa Tanjung Pasir terbagi atas Kampung Tanjung
Pasir, Sukamanah Barat (empang), Garapan, Gagah Sukamanah, Sukamulya I dan
Kampung Sukamulya II, sedangkan Desa Muara atas kampung Muara, Cipete,
Tanjungan, Kedung Bolang, Petopang, dan Garapan.
Desa Tanjung Pasir merupakan pemekaran dari Desa Tegalangus
berdasarkan Peraturan Daerah Kab. Tangerang No. 7 tahun 2007 tentang
Pembentukan Pemeritahan Desa. Nama Tanjung Pasir sendiri berasal dari kata
Tanjung yang berarti daratan yang menonjol di permukaan laut Jawa, dan kata
Pasir karena permukaan tanahnya yang berpasir.
Secara umum lingkungan Desa Tanjung Pasir dan Muara masih
memprihatinkan dan terlihat kumuh, masih banyak rumah warga yang tidak layak
huni. Akses utama masyarakat masih ada yang rusak, tergenang air dan sebagian
masih berupa tanah keras, saluran air limbah rumah tangga tidak memadai, serta
penumpukan sampah yang disebabkan belum adanya tempat pembuangan sampah
dan pengelolaan kebersihan masih minim.
Kampung Garapan Desa Tanjung Pasir dan Desa Muara tergolong wilayah
yang memiliki risiko tinggi terhadap dampak perubahan iklim. Hal ini ditandai
dengan seringnya banjir (rob) di pemukiman warga yang berdampak pada
meluasnya lahan produktif yang hilang, banyaknya pemukiman penduduk yang
tergenang dan bahkan ada pemukiman yang tenggelam, sehingga mempengaruhi
kehidupan masyarakat. Masalah lainnya adalah abrasi pantai yang terjadi pada
32

sekitar 1 km di wilayah pantai Tanjung Pasir, dan melanda 3 km pantai Desa


Muara. Abrasi yang terjadi di dua desa pesisir ini selain disebabkan oleh proses-
proses alami (seperti angin, arus, dan gelombang), juga disebabkan oleh aktivitas
manusia, seperti pembukaan hutan pesisir, reklamasi pantai (untuk kepentingan
pemukiman, industri, dan pembangunan infrastruktur), dan aktivitas pengambilan
pasir di perairan pantai.

Tingkat Pendidikan Masyarakat


Berdasarkan data Monografi Desa, pendidikan masyarakat di wilayah ini
masih tergolong rendah. Di Desa Tanjung pasir sebanyak 2.1 % masyarakatnya
tidak mengenyam pendidikan, 3.5 % tidak taman Sekolah Dasar (SD), 55.5 %
memiliki tingkat pendidikan SD, 24.4 % SMP, 13.9 % SMA, 0.6 % S1/D3/D1.
Begitu pula dengan masyarakat Desa Muara sebanyak 52.1 % penduduk tidak
pernah sekolah, 12.5 % tidak tamat dan tamat Sekolah Dasar (SD), 4.5 % SMP,
2.7 % SMA, 0.7 % Sarjana, dan 14.9 % belum sekolah. Hal ini mengindikasikan
bahwa masyarakat di Desa Tanjung Pasir dan Desa Muara belum memiliki
kesadaran akan pentingnya pendidikan. Penduduk sebagai sumberdaya yang dapat
digunakan dalam membangun desa, namun pendidikan masyarakat memiliki
pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan daerah.

Mata Pencaharian Masyarakat


Mata pencaharian utama masyarakat Desa Tanjung Pasir adalah nelayan.
Sebanyak 2.331 warga bekerja sebagai nelayan dan mengandalkan hasil laut
sebagai penopang kehidupan keluarganya. 65 orang yang bekerja sebagai buruh,
15 Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan warga lain bermata pencaharian sebagai
petani, pedagang, peternak dan lain sebagainya. Letak dan karakteristik desa yang
berada di wilayah pesisir menjadi faktor penyebab dominannya penduduk yang
bekerja sebagai nelayan. Sedangkan di Desa Muara perekonomian mayoritas
masyarakat di topang dengan bekerja sebagai buruh tani, nelayan, kebun, dan
berdagang. Kondisi usaha pertanian masyarakat sangat dipengaruhi oleh musim,
pada musim kemarau petani kesulitan mendapat air untuk mengairi sawahnya,
sehingga kegiatan disawah hanya dilakukan satu kali dalam setahun.

Potensi Desa
Desa Tanjung Pasir memiliki lahan pertanian sekitar 83 ha, yakni sawah
yang hanya diusahakan untuk tanaman padi pada saat musim hujan (tadah hujan).
Oleh karena itu, pada saat musim kemarau, petani beralih kepada tanaman buah-
buahan semusim (seperti semangka dan timun). Selain sektor perikanan dan
pertanian, potensi ekonomi yang memungkinkan dikembangkan masyarakat Desa
Tanjung Pasir adalah kerajinan dan pariwisata. Salah satu kerajinan yang
berkembanga adalah handycraft dari pasir. Kerajinan tersebut dimotori oleh para
pemuda yang tergabung dalam komunitas Sekar Tavas atau Seni Kreasi Tanjung
Pasir yang juga merupakan kelompok dalam Program Pengembangan Desa Pesisir
Tangguh. Pariwisata di Desa Tanjung Pasir cukup banyak, hanya saja belum
terkelola dengan optimal. Adapun obyek wisata yang ada di Desa Tanjung Pasir
yakni: (1) Tanjung Pasir Resort, yang mengangkat perekonomian desa; (2)
Restoran dan rumah makan di sepanjang jalan menuju Desa Tanjung Pasir; (3)
Pantai Desa Tanjung Pasir yang sebagian dikuasai oleh Angkatan Laut sebagai
33

lokasi latihan dan SIKIB (Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu); (4)
Kawasan Mangrove; (5) Penangkaran Buaya; dan (6) Dermaga dan TPI (Tempat
Pelelangan Ikan).
Desa Muara juga memiliki potensi untuk dikembangkan, yakni potensi
perikanan, pertanian, dan pariwisata. Desa ini dapat dikembangkan menjadi
daerah pariwisata, terutama wisata pemancingan ikan di tambak, wisata kuliner
ikan. Kegiatan pengembangan usaha perikanan sesuai dengan potensi yang
dimiliki yakni kegiatan budidaya ikan (bandeng, udang dll). Pengolahan ikan
mempunyai nilai jual yang cukup tinggi sehingga Desa Muara juga bisa dijadikan
daerah pemasaran produk ikan dari tambak, sentra olahan hasil perikanan, areal
pemancingan, resort, penyewaan perahu wisata dan sebagainya. Hanya saja
potensi pariwisata pesisir belum dikembangkan dan digarap secara optimal. Masih
banyak yang perlu dibenahi terutama kesadaran masyarakat dalam pemeliharaan
lingkungan, perlu diupayakan penanganan secara intensif agar Desa Muara bisa
menjadi daerah wisata yang asri, bersih, indah dan bersemi.

Pelaksanaan Program PDPT di Desa Penelitian


Program PDPT sebagai upaya meminimalisir dampak perubahan iklim
dilaksanakan di dua desa penelitian sejak tahun 2012. Sebagai daerah yang rentan
akan perubahan iklim, kegiatan PDPT di Desa Tanjung Pasir di fokuskan pada
empat bina yakni bina yakni Bina sumberdaya, bina infrastruktur dan lingkungan,
bina usaha, serta bina siaga bencana. Sedangkan di Desa Muara, di fokuskan pada
tiga bina, yaitu bina sumberdaya, bina infrastruktur dan lingkungan, serta bina
usaha.
Pelaksanaan kegiatan program melibatkan masyarakat, yang dibagi dalam
sepuluh kelompok pemanfaat program, dan didampingi oleh satu pendamping
program di setiap desa. Dalam pelaksanaanya, program belum mampu melibatkan
masyarakat secara keseluruhan. Partisipasi masyarakat masih rendah, selain
disebabkan kurangnya interaksi antar anggota kelompok, rendahnya pengetahuan
masyarakat tentang program, pekerjaan masyarakat sebagai nelayan, serta
kurangnya peran stakeholders dalam mengajak masyarakat berpartisipasi juga
menjadi salah satu penyebab rendahnya keikutsertaan mereka.
Intensitas pendampingan yang dilakukan masih sangat rendah, sehingga
belum mampu mebentuk kemandirian masyarakat. Pengetahuan yang dimiliki
masyarakat terhadap program PDPT juga masih tergolong rendah. Kondisi
tersebut terjadi karena kurangnya upaya sosialisasi dan pendampingan yang
dilakukan oleh pelaksana program. Pada kenyataannya, sosialisasi yang dilakukan
hanya melibatkan ketua, sekertaris, dan bendahara kelompok. Akibatnya, sebagian
besar anggota kelompok kurang mendapatkan informasi terkait program PDPT.
Secara teknis, para pengelola program belum memanfaatkan poster atau pun radio
dalam kegiatan sosialisasi program kepada masyarakat.
Pencapaian pelaksanaan program cukup memberikan manfaat kepada
masyarakat terutama dalam pembangunan infratruktur dan lingkungan
masyarakat. Beberapa kegiatan yang bersifat pengembangan usaha belum mampu
meningkatkan ketangguhan ekonomi masyarakat. Beberapa penyebab kurang
suksesnya pencapaian ketangguhan masyarakat adalah kurangnya keterlibatan
masyarakat dan stakeholders serta kurangnya kemandirian masyarakat dalam
mengembangakan dan mengelola program.
34

Tabel 3 Perkembangan kegiatan PDPT Desa Tanjung Pasir


Nama Desa Nama Kegiatan Jumlah Perkembangan PDPT*
Tanjung 1. Bina Sumberdaya
Pasir a. Penanaman 10.000 Tidak dilakukan pemeliharaan pada
Mangrove pohon Mangrove yang telah ditanam, sehingga
banyak tanaman yang mati dan ditanami
kembali.
2. Bina Infrastruktur
dan Lingkungan
a. Pembangunan 1 unit Manfaat pembangunan MCK dan Sarana
MCK dan Air Bersih, mampu dirasakan oleh
Sarana Air masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Bersih

b. Pembangunan 2 unit Membantu masyarakat untuk


sarana air mendapatkan air bersih dalam memenuhi
bersih kebutuhan sehari-hari, masyarakat yang
menggunakan sarana tersebut hanya
dibebankan uang iuran untuk membayar
pemakaian listrik pompa air.

c. Pembangunan P. 90 m Pembangunan SPAL digunakan sebagai


SPAL L.0.4m saluran pembuangan limbah warga, hanya
saja masyrakat tidak melakukan
pemeliharaan sehingga saat ini SPAL
menjadi sangat kotor dan tersumbat.
3. Bina Usaha
a. Pelatihan dan 1 paket Masyarakat tidak memiliki tempat untuk
pengadaan (laptop, memasarkan Hasil kerajinan Handycraft
sarana untuk print, cat dll) yang dihasilkan, sehingga saat ini
kerajinanan kelompok jarang untuk membuat
kerajinan lagi

b. Pelatihan dan 1 paket Kualitas hasil kerajinan kelompok masih


Pengadaan (2 mesin rendah sehingga tidak laku di pasaran
sarana jahit, 1
Pengelolaan mesin brush)
limbah untuk 1 komputer
kerajinan dan 1 print

c. Pengadaan 1 paket Manfaat pengadaan perahu wisata belum


Perahu Wisata mampu dirasakan oleh seluruh anggota
kelompok, karena hasil yang diperoleh
digunakan untuk perawatan perahu.

d. Pengadaan 1 paket Mesin pengolah sampah dalam keadaan


sarana rusak dan tidak diperhatiakan oleh
pengelolaan masyarakat, selain itu mesin tersebut juga
sampah tidak mampu di manfaatkan dengan baik
oleh masyarakat.
4. Bina Siaga
Bencana
a. Pembangunan P. 120m Pembangunan Turap Sungai mampu
Turap Sungai T. 1.5m mngurangi dampak banjir rob yang
Garapan biasanya menggenangi rumah warga,
sehingga manfaatnya mampu di rasakan
Keterangan* : Saat pelaksanaan penelitian
35

Tabel 4 Perkembangan kegiatan PDPT Desa Muara


Nama Desa Nama Kegiatan Jumlah Perkembangan PDPT*
Muara 1. Bina Sumberdaya
a. Penanaman 7.150 pohon Penaman mangrove sangat
Mangrove dan mangrove dan 5 bermanfaat dalam menjaga dan
Pembuatan unit papan memperbaiki ekosistem pesisir
Papan Reklame informasi desa Muara.

2. Bina Infrastruktur
dan lingkungan
a. Pembangunan Panjang 90 m, SPAL mampu mengalirkan
SPAL Lebar 40 cm limbah waga ke laut sehingga
Realisasi P. limbah yang biasanya mengalir
120m, L. 20cm ke pekarangan rumah warga
tidak lagi terjadi.
b. Pembangunan 2 unit sarana air Manfaatnya mampu dirasakan
sarana air bersih dan 1 oleh masyarakat dalam
bersih, MCK, unit MCK memenuhi kebutuhan MCK
dan Pembuatan dan air bersih.
MCK
Mushollah

c. Rehab Sarana 1 MCK, Jendela Bangunan sarana ibadah belum


ibadah dan 12, Pintu 2, bisa digunakan oleh
pembuatan Rehab atap dan masyarakat, karena dana yang
MCK pengecetan belum cukup sehingga
pembangunan sarana ibadah
terhenti.
d. Pembangunan Panjang 155 m, Manfaat pembangunan jalan
jalan Paping Lebar 1.20 M Paping Block sangat dirasakan
Block oleh masyarakat. Jalanan yang
biasanya tidak dapat dilewati
karena becek sekarang mampu
digunakan oleh masyarakat.

e. Pembangunan 1 Unit Sangat bermanfaat dalam


Sarana air pembangunan pemenuhan kebutuhan air
bersih sarana air bersih bersih masyarakat

3. Bina Usaha
a. Pengadaan 1 unit perahu Pengadaan perahu dan pondok
Perahu dan wisata, 2 unit wisata belum mampu dikelola
Pondok Wisata pondok wisata dengan baik oleh masyarakat,
sehingga belum mampu
meningkatkan ketangguhan
ekonomi mereka
b. Pengadaan 1 paket Mesin yang telah dibeli tidak
Mesin Papin dimanfaatkan dan dioperasikan
Block oleh masyarakat. Selain karena
tidak memiliki lahan,
masyarakat juga tidak memiliki
dana untuk membeli bahan
dasar pembuatan papin block,
sehingga saat ini mesin tersebut
hanya di smpan di rumah
warga.
Keterangan* : Saat pelaksanaan penelitian
36

Karakteristik Personal Peserta PDPT

Karakteristik personal merupakan ciri khas yang melekat pada individu


yang berhubungan dengan berbagai aspek kehidupan dan lingkungan individu
tersebut. Karakteristik individu dapat menjadi pembeda yang khas antara individu
dengan individu lainnya. Karakteristik personal yang diamanti sebagaimana yang
tercantum dalam kerangka berfikir meliputi umur, pendidikan formal, pendidikan
non formal, jumlah tanggungan, tingkat kekosmopolitan, serta tingkat
pengetahuan tentang program.

Umur
Umur responden berkisar antara 19-60 tahun (Tabel 5). Jika mengacu pada
batasan usia produktif menurut Rusli 1995, bahwa usia produktif seseorang
berkisar antara 15-65 tahun, maka 90 persen responden tergolong produktif.
Salkind 1985, menegaskan bahwa umur berkaitan dengan tingkat kematangan
biologis dan psikologis seseorang dalam melakukan aktivitas. Seseorang yang
dalam usia produktif cenderung memiliki kondisi fisik dan psikis yang optimal
dalam bekerja. Artinya, pembangunan desa yang bertujuan untuk meningkatkan
taraf hidup masyarakat akan sangat membutuhkan partisipasi masyarakat yang
berada pada kelompok produktif.
Responden yang berada pada umur produktif akan lebih mudah menerima
perubahan, ide-ide dan inovasi, sehingga diharapkan dapat meningkatkan
produksi dan pendapatan. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Pakpahan
(2006) yang menyatakan bahwa pada usia produktif nelayan memiliki kondisi
fisik yang baik dan membuat nelayan mampu melakukan kegiatan secara optimal
dan mampu mengembangkan diri dengan baik. Oleh karena itu jika dilihat dari
faktor umur, maka responden di dua desa penelitian merupakan aset sumberdaya
manusia (SDM) yang perlu diperhatikan untuk dikembangkan.

Tabel 5 Umur peserta program PDPT di dua desa penelitian, 2013.


Desa Tanjung Desa Muara Total
Kategori
Umur Pasir
(Tahun)
n % n % n %
 Muda 18-29 14 46.7 5 16.7 18 30.0
 Dewasa 30-50 15 50.0 22 73.3 38 63.3
 Tua ≥ 50 1 3.3 3 10.0 4 6.7
Jumlah 30 100 30 100 60 100
Rata-rata 33.4 38.3 35.8

Partisipasi pemuda (18-29 tahun) dalam program PDPT tergolong cukup


tinggi. Menurut Soehardjo dan Patong (1998), pemuda mempunyai keberanian
dan motivasi yang lebih tinggi (termasuk dalam pengambilan keputusan)
dibandingkan yang berumur lebih tua. Ada kecenderungan, masyarakat peserta
program PDPT Tanjung Pasir dan Muara yang berusia tidak produktif hanya
mengikuti keputusan dari anggota kelompok yang berada pada usia produktif.
37

Tingkat Pendidikan Formal


Pendidikan merupakan indikator utama pembangunan dan kualitas
sumberdaya manusia. Secara umum, tingkat pendidikan masyarakat pedesaan di
Indonesia lebih rendah daripada masyarakat di perkotaan dan pinggiran kota
(Chozin et., al 2010). Hal yang sama juga berlaku di Desa Tanjung Pasir dan Desa
Muara. Pada Tabel 6 terlihat bahwa sebagai besar peserta program PDPT
berpendidikan rendah (dasar). Adapun peserta yang berpendidikan menengah
(sekitar 3 %) adalah beberapa dari mereka yang berusia muda dan pengurus
kelompok.

Tabel 6 Tingkat pendidikan formal peserta program PDPT di dua desa penelitian,
2013.
Tingkat Kategori Desa Tanjung Desa Muara Total
Pendidikan (Tahun Pasir
Formal sukses) n % n % n %
 Rendah 0-9 30 100 28 93.3 58 96.7
 Sedang 10-13 0 0 2 6.7 2 3.3
 Tinggi ≥ 14 0 0 0 0 0 0
Jumlah 30 100 30 100 60 100
Rata-rata 5.8 5.9 5.9

Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta


meningkatkan mutu kehidupan manusia untuk melaksanakan perannya dalam
kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial. Namun jika dikaitkan dengan
program wajib belajar sembilan tahun, maka sebanyak 96.67% masyarakat yang
ikut dalam program PDPT memiliki tingkat pendidikan formal yang rendah. Hal
ini menunjukkan masih kurangnya akses masyarakat terhadap pendidikan.
Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat di Desa Tanjung Pasir dan
Muara, menyebabkan kemampuan mengelola dan membangun desa menjadi
kurang maksimal. Tarigan (2006) menemukan bahwa pendidikan diyakini
berpengaruh terhadap kecakapan, tingkah laku dan sikap seseorang, orang yang
memiliki pendidikan yang lebih tinggi juga bermanfaat karena mampu membagi
pengetahuan ketika bergaul dengan masyarakat, serta memberikan peluang kepada
seseorang untuk memperoleh tingkat pendapatan yang lebih tinggi. Olehnya itu
pendidikan merupakan hal yang mendasar untuk meningkatkan kualitas
kehidupan manusia dan menjamin kemajuan sosial dan ekonomi.

Pendidikan Non Formal


Pendidikan nonformal merupakan kegiatan belajar yang sengaja dilakukan
oleh warga untuk meningkatkan pengetahuan. Pendidikan non formal masyarakat
Teluk Naga secara umum termasuk dalam kategori rendah, yakni sekitar 91.67%
masyarakat di dua desa penelitian hanya mengikuti satu kali pelatihan bahkan
banyak diantara mereka yang belum pernah mengikuti pelatihan. Tidak terdapat
perbedaan yang nyata antara tingkat pendidikan non formal masyarakat pemanfaat
program di Desa Tanjung Pasir dan Desa Muara, hal ini menunjukkan bahwa
masyarakat di dua desa tersebut memiliki frekuensi pendidikan non formal yang
sama.
38

Tabel 7 Tingkat pendidikan non formal peserta program PDPT di dua desa
penelitian, 2013.
Tingkat Desa Tanjung
Kategori Desa Muara Total
Pendidikan Pasir
(Jumlah/tahun)
Non Formal n % n % n %
 Rendah 0-1 26 86.7 29 96.7 55 91.7
 Sedang 2-3 4 13.3 1 3.3 5 8.3
 Tinggi ≥4 0 0 0 0 0 0
Jumlah 30 100 30 100 60 100
Rata-rata 0.7 0.2 0.5

Rendahnya pendidikan non formal masyarakat dipengaruhi oleh rendahnya


intensitas pelaksanaan pendampingan atau penyuluhan yang dilakukan, serta
kecenderungan masyarakat yang mengikuti pelatihan hanya ketua kelompok saja.
Merujuk kepada Amanah (2003) yang menyatakan bahwa sebagai faktor
pendukung, maka penyuluhan memegang peran penting yang berperan membantu
terjadinya perubahan yang positif dalam hal pengetahuan, keterampilan teknis,
sikap, motivasi serta perbaikan kemampuan berbisnis dan bermasyarakat.

Jumlah Tanggungan Keluarga


Tanggungan keluarga merupakan salah satu sumberdaya manusia
pertanian yang dimiliki petani, terutama yang beusia produktif. Namun
tanggungan keluarga juga bisa menjadi beban hidup keluarga apabila tidak
membantu dalam usahataninya (Syafruddin 2003). Tabel 8 memperlihatkan
bahwa sebagian besar rumah tangga responden di Kecamatan Teluk Naga
mempunyai jumlah tanggungan keluarga yang pada kategori sedang, yaitu antara
dua sampai tiga jumlah tanggungan.

Tabel 8 Jumlah tanggungan keluarga peserta program PDPT di dua desa


penelitian, 2013.
Kategori Desa Tanjung
Jumlah Desa Muara Total
(jumlah Pasir
tanggungan
jiwa) n % n % n %
 Rendah 0-1 8 26.7 2 6.7 10 16.7
 Sedang 2-3 21 70.0 18 60.0 39 65.0
 Tinggi ≥4 1 3.3 10 33.3 11 18.3
Jumlah 30 100 30 100 60 100
Rata-rata 1.9 2.9 2.4

Sebanyak 65% responden responden memiliki jumlah tanggungan pada


tingkat sedang. Hal ini disebabkan beberapa responden menikahkan anaknya pada
usia yang relatif muda, sehingga pada usia produktif (30-50 tahun), jumlah
tanggungan mereka berada berkisar antara 2-3 jiwa. Jumlah tanggungan menjadi
salah satu penyebab kurangnya keterlibatan masyarakat dalam kegiatan program.
Kesibukan dalam bekerja dan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan
keluarga mengurangi kesempatan masyarakat untuk terlibat dan berpartisipasi
dalam program.
39

Tingkat Kekosmopolitan
Tingkat kekosmopolitan adalah ketebukaan anggota kelompok PDPT di
Desa Tanjung Pasir dan Desa Muara terhadap informasi, melalui hubungan
mereka dengan berbagai sumber informasi yang ada. Mardikanto (1993)
mengemukakan bahwa masyarakat yang relatif lebih kosmopolit memiliki tingkat
adopsi inovasi lebih cepat dibandingkan dengan masyarakat yang lokalit.

Tabel 9 Tingkat kekosmopolitan peserta program PDPT di dua desa penelitian,


2013.
Desa Tanjung
Tingkat Kategori Desa Muara Total
Pasir
Kekosmopolitan (Skor)
n % n % n %
 Rendah 5-9 23 76.7 21 70.0 44 73.3
 Sedang 10-14 5 16.7 7 23.3 12 20.0
 Tinggi ≥ 15 2 6.7 2 6.7 4 6.7
Jumlah 30 100 30 100 60 100
Rata-rata 8.7 8.3 8.8

Tingkat kekosmopolitan anggota kelompok pemanfaat PDPT di Desa


Tanjung Pasir dan Muara sebagian besar (73.33%) masih berada pada kategori
rendah. Hal ini disebabkan karena pekerjaan mayoritas responden adalah nelayan.
Mereka cenderung mencurahkan sebagian besar waktunya untuk melaut dan
mencari ikan. Mereka lebih fokus pada pekerjaan sebagai nelayan, dibanding
dengan kegiatan-kegiatan lain. Ketika responden pulang dari laut, mereka
menggunakan waktu untuk beristahat dirumah. Keterbatasan inilah yang
menyebabkan akses masyarakat terhadap dunia luar sedikit. Baba et al., (2011)
menemukan bahwa kekosmopolitan berkaitan erat dengan keterbukaan dalam
menerima informasi yang pada akhirnya akan meningkatkan pengetahuan. Sejalan
dengan hal tersebut Herawati dan Ismail (2006) juga menemukan bahwa
kekosmopolitan kontaktani di Sukabumi dilakukan melalui pengalaman
berkunjung ke daerah lain dan melihat kemajuan yang sudah dicapai oleh petani
lain maupun dengan kunjungan yang bersifat pribadi dapat menambah
perbendaharaan pengetahuan dan keterampilan tentang usahatani, merangsang diri
dan kelompok agar lebih dinamis, dan menimbulkan semangat kerja untuk
meningkatkan produktifitas. Kunjungan dan interaksi dapat mempengaruhi sikap
dan mental kontaktani yang biasanya akan lebih cepat menyambut dan
berpartisipasi pada setiap usaha yang bertujuan memperbaiki atau membangun
usaha pertanian masyarakat.

Tingkat Pengetahuan tentang Program


Pengetahuan merupakan faktor penting yang mempengaruhi sikap dan
perilaku sesorang, rendahnya pengetahuan dapat berpengaruh pada tindakan yang
dilakukan. Oleh karena itu untuk mendidik masyarakat agar mempunyai perilaku
yang baik, warga perlu diberikan pengetahuan (Sungkar 2010). Sebagian besar
masyarakat (56.7 %) pemanfaat program di dua desa pesisir memiliki tingkat
pengetahuan yang rendah terhadap program PDPT.
40

Tabel 10 Tingkat pengetahuan peserta, tentang program PDPT di dua desa


penelitian, 2013.
Tingkat Desa Tanjung
Desa Muara Total
Pengetahuan Kategori Pasir
tentang (Skor)
n % n % n %
Program
 Rendah 5-9 16 53.3 18 60.0 34 56.7
 Sedang 10-14 11 36.7 9 30.0 20 33.3
 Tinggi ≥ 15 3 10.0 3 10.0 6 10.0
Jumlah 30 100 30 100 60 100
Rata-rata 9.9 9.9 9.9

Tabel 10 menunjukkan bahwa rendahnya pengetahuan responden terhadap


program PDPT disebabkan kurangnya sosialisasi dan pendampingan yang
dilakukan oleh pelaksana program. Sosialisasi yang dilakukan oleh pelaksana
program hanya melibatkan ketua, sekertaris, dan bendahara kelompok, sehingga
anggota kelompok kurang mendapatkan informasi terkait program PDPT. Hal
tersebut akan mempengaruhi perilaku masyarakat, sebagaimana yang
dikemukakan oleh Blackstock et al., (Baba 2011) bahwa dari aspek perilaku
seseorang akan berpartisipasi jika mereka mendapatkan pengetahuan tentang
program yang dikembankan dengan efektif dan benar.
Pembahasan terkait karakteristik masing-masing responden juga
memberikan gambaran terhadap sikap yang terbentuk serta kualitas sumberdaya
manusianya. Umur responden yang relatif berada pada usia produktif sangat
berpeluang dalam membangun desa. Persoalannya, usia produktif tidak sejalan
dengan tingkat pendidikan formalnya yang sebagian besar (96.7%) tergolong
rendah (0-9 tahun). Pendidikan formal yang rendah juga tidak didukung dengan
pendidikan non formal. Sebagian besar (91.7%) masyarakat pemanfaat program di
kedua desa penelitian berada pada kategori rendah (0-1). Pendampingan ada,
tetapi karena intensitasnya rendah, maka masyarakat pun menjadi kurang akses
terhadap pelatihan-pelatihan. Di sisi lain, masyarakat sendiri lebih sibuk mencari
penghidupan untuk memenuhi kebutuan keluarga yang menjadi tanggungannya
yang 65% berjumlah 2-3 orang. Pada umumnya, mata pencaharian masyarakat
adalah nelayan, sehingga sebagian besar waktu mereka tercurah untuk melaut dan
mencari ikan. Karena kondisi dan kesempatan masyarakat serba terbatas, maka
wajar jika tingkat kekosmopolitan sebagian besar (73.3%) dari mereka rendah.
Sama halnya dengan tingkat kekosmopolitan, tingkat pengetahuan yang
dimiliki masyarakat terhadap program PDPT juga masih tergolong rendah yakni
sebesar 56.7%. Kondisi tersebut juga terjadi karena kurangnya upaya sosialisasi
dan pendampingan yang dilakukan oleh pelaksana program. Pada kenyataannya,
sosialisasi yang dilakukan hanya melibatkan ketua, sekretaris, dan bendahara
kelompok. Akibatnya, sebagian besar anggota kelompok kurang mendapatkan
informasi terkait program PDPT. Secara teknis, para pengelola program belum
memanfaatkan poster atau pun radio dalam kegiatan sosialisasi program kepada
masyarakat.
41

Karakteristik Lingkungan Sosial Peserta PDPT

Perubahan masyarakat dapat terjadi karena beberapa unsur yang saling


berinteraksi satu sama lain. Dalam pengambilan keputusan, masyarakat tidak
selalu dapat dengan bebas dilakukannya sendiri, tetapi sangat ditentukan oleh
kekuatan-kekuatan di sekelilingnya. Mulyandari (2011) juga mengemukakan
bahwa masyarakat sebagai individu-individu yang bersifat unik mampu
mengembangkan hubungan, interaksi, dan transaksi sosial sehingga terwujud
struktur sosial. Hal ini sejalan dengan pengertian dan unsur modal sosial yang
dikemukakan oleh Putnam et al., (Mulyandari 2011) yang menyatakan bahwa
unsur organisasi sosial seperti kepercayaan, norma, dan jaringan (hubungan
masyarakat) dapat meningkatkan efisiensi masyarakat melalui kemudahan bekerja
sama.

Tingkat Dukungan Tokoh Masyarakat


Dukungan tokoh masyarakat sebagai lingkungan sosial baik berupa
nasehat, informasi, ataupun dukungan secara psikologi akan sangat berpengaruh
terhadap sikap masyarakat terhadap suatu hal. Desa yang memiliki tokoh
masyarakat yang selalu memberikan perhatian dan motivasi dalam pelaksanaan
kegiatan, akan mendapatkan hasil dan kinerja yang lebih baik dibandingkan
dengan desa yang tidak diperhatikan oleh tokoh masyarakatnya.
Masyarakat pemanfaat program di dua desa pesisir memiliki tingkat
dukungan tokoh masyarakat yang sedang cenderung tinggi. Dalam pelaksanaan
program PDPT, pelaksana program (Dinas Kelautan dan Perikanan) membentuk
Tim Pemberdaya yang berasal dari tokoh masyarakat. Tim Pemberdaya yang
dibentuk bertugas sebagai motivator dalam meningkatkan keterlibatan anggota
kelompok dalam pelaksanaan kegiatan. Dalam pelaksananaan program, interaksi
yang terjalin antara tokoh masyarakat dan masyarakat berjalan baik, hanya saja
dalam pelaksanaan tugas sebagai tim pemberdaya, tokoh masyarakat cenderung
hanya terlibat dalam mendampingi kelompok dalam menyusun rencana kegiatan,
selain itu tokoh masyarakat juga mendampingi pada tahap pelaksanaan, namun
kurang melakukan pengawasan secara bertahap terhadap pelaksanaan dan evaluasi
kegiatan program.

Tabel 11 Tingkat dukungan tokoh masyarakat terhadap peserta program PDPT di


dua desa penelitian, 2013.
Tingkat Desa Tanjung
Desa Muara Total
Dukungan Kategori Pasir
Tokoh (Skor)
n % n % n %
Masyarakat
 Rendah 6.3-10.3 9 30.0 4 13.3 13 21.7
 Sedang 11.3-15.3 12 40.0 12 40.0 24 40.0
 Tinggi ≥ 16.3 9 30.0 14 46.7 23 38.3
Jumlah 30 100 30 100 60 100
Rata-rata 13.7 15.9 14.8
42

Terkait pelaksanaan program tokoh masyarakat juga dirasa kurang dalam


memberikan informasi serta dalam meningkatkan kegotongroyongan anggota
kelompok. Hal tersebut menyebabkan hanya segelintir anggota kelompok yang
terlibat dalam kegiatan program. Febriana (2012) mengemukakan bahwa tokoh
masyarakat mempunyai tugas menggerakkan swadaya gotong royong dan partisipasi
masyarakat di wilayahnya dan membantu kelancaran tugas-tugas pokok lembaga
masyarakat dalam bidang pembangunan di desa dan kelurahan, serta menggerakkan
swadaya gotong royong dan partisipasi masyarakat di wilayahnya. Sejalan dengan hal
tersebut Wee (2010) mengemukakan bahwa perlu adanya suatu komunikasi antara
masyarakat dengan lingkungan sosial dalam hal pertukaran informasi berkaitan
dengan program.

Peran Kelompok
Kelompok memiliki peran penting dalam menyukseskan tujuan program,
Stocbridge et al., (2003) mengemukakan bahwa peran dipengaruhi oleh keadaan
sosial. Dalam suatu kelompok masing-masing anggota tentu tidak melakukan hal
yang sama dalam mencapai tujuan. Ketua kelompok dan setiap anggota memiliki
tugas dan fungsi yang berbeda dan peran yang berbeda.

Tabel 12 Pendapat peserta program PDPT terhadap peran kelompok di dua desa
penelitian, 2013.
Tingkat Desa Tanjung
Kategori Desa Muara Total
Peran Pasir
(Skor)
Kelompok n % n % n %
 Rendah 5-9 9 30.0 9 30.0 18 30.0
 Sedang 10-14 10 33.3 12 40.0 22 36.7
 Tinggi ≥ 15 11 36.7 9 30.0 20 33.3
Jumlah 30 100 30 100 60 100
Rata-rata 12.0 12.2 12.1

Tabel 12 menunjukkan bahwa secara keseluruhan peran kelompok di dua


desa pesisir berada pada kategori sedang. Hal ini disebabkan kurangnya kegiatan
pertemuan kelompok untuk membahas perkembangan kegiatan program, sehingga
sebagian besar kelompok tidak mengetahui perkembangan dari kegiatan program
yang telah dilakukan. Selain itu anggota kelompok hanya aktif berinteraksi
dengan sesama anggota kelompok yang aktif. Rukka et al., (2008) mengemukakan
bahwa keberadaan kelompok merupakan salah satu potensi yang mempunyai
peranan penting dalam membentuk perubahan perilaku anggotanya dan menjalin
kemampuan kerjasama anggota kelompoknya. Proses pelaksanaan kegiatan
melibatkan anggota kelompok dalam berbagai kegiatan bersama, akan mampu
mengubah atau membentuk wawasan, pengertian, pemikiran minat, tekad dan
kemampuan perilaku.
Ketua kelompok yang diharapkan menjadi sumber informasi bagi para
anggota juga tidak mampu memberikan informasi kepada semua anggota
kelompok. Informasi hanya sampai pada beberapa anggota kelompok saja.
Pentingnya peran sebuah kelompok dalam pelaksanaan kegiatan program sejalan
dengan hasil penelitian Ridwan (2012) yang mengemukan bahwa keberadaan
kelompok mempunyai peranan yang sangat strategis pada efektivitas penerapan
43

program, sehingga semakin baik fungsi dari keberadaan kelompok pemanfaat,


maka realisasi program akan semakin sukses. Sejalan dengan hal tersebut
Nuryanti dan Swastika (2011) juga mengemukakan bahwa kinerja setiap
kelompok dalam menjalankan perannya sangat dipengaruhi oleh sumberdaya
manusia, yaitu anggota kelompok. Antusias dan keterampilan anggota kelompok
dalam merespon dan mengelola program pemerintah sangat menentukan
keberhasilan pelaksanaan program.

Intensitas Kegiatan Program


Intensitas Kegiatan program dalam penelitian ini dimaksudkan sebagai
frekuensi pelaksana melakukan kegiatan terkait program dan pelaksanaan
program, serta akses informasi yang masyarakat dapatkan tentang kegiatan-
kegiatan Program PDPT.

Tabel 13 Pendapat peserta program tentang intensitas kegiatan kelompok PDPT di


dua desa penelitian, 2013.
Intensitas Desa Tanjung
Kategori Desa Muara Total
Kegiatan Pasir
(Skor)
Kelompok n % n % n %
 Rendah 5-9 13 43.3 13 43.3 26 43.3
 Sedang 10-14 13 43.3 14 46.7 27 45.0
 Tinggi ≥ 15 4 13.3 3 10.0 7 11.7
Jumlah 30 100 30 100 60 100
Rata-rata 10.3 10 10

Intensitas kegiatan program berada pada kategori sedang namun


cenderung rendah (Tabel 13). Rendahnya intensitas kegiatan program disebabkan
kurangnya pendampingan dan sosialisasi yang dilakukan oleh pelaksana program
kepada kelompok pemanfaat program. Kegiatan sosialisasi hanya dilakukan di
wilayah Tangerang, dan hanya melibatkan ketua, sekretaris, dan bendahara
kelompok, sehingga anggota kelompok yang lain tidak mendapat informasi yang
cukup terkait program. Masyarakat di dua desa pesisir juga menganggap bahwa
kegiatan pendampingan yang dilakukan baik intensitas maupun materi
pendampingan masih kurang. Sejalan dengan hal tersebut, Sumitro (1991)
menyatakan bahwa kemampuan pelaksana program dan pendamping dalam
menginterprestasikan dan menyampaikan secara jelas, tentang kebutuhan dan
harapan masyarakat dalam usaha meningkatkan tingkat kehidupan sosial ekonomi,
sangat menentukan keberhasilan usaha-usaha pemerintah maupun swadaya
masyarakat dalam proses pembangunan masyarakat desa. Proses pendampingan
akan berhasil, apabila materi sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakat.
Pembahasan tentang karakteristik lingkungan sosial masyarakat
menunjukkan bahwa manusia sebagai mahluk sosial, sehingga apa yang terjadi
pada personal masyarakat berhubungan dengan lingkungan sosialnya. Hasil
penelitian menunjukkan tingkat dukungan tokoh masyarakat berada pada kategori
sedang, sehingga masih diperlukan peningkatan dalam hal dukungan tokoh
masyarakat. Secara lembagaan, peran kelompok dalam memberdayakan
masyarakat di dua desa pesisir berada pada kategori sedang, olehnya itu interaksi
di dalam kelompok diharapkan dapat lebih baik dan menjadi sumber informasi
44

bagi para anggotanya. Intensitas kegiatan program berada pada kategori rendah
baik terkait program maupun pelaksanaan program.

Tingkat Pengelolaan Program

Pelaksanaan program PDPT diarahkan untuk membantu masyarakat dalam


meningkatkan ketangguhan desa pesisir. Olehnya itu pengelola program dengan
baik merupakan hal penting dalam pencapaian tujuan. Dalam hal ini program
PDPT menjadi tanggung jawab semua pihak baik oleh pelaksanan program
(pemerintah), maupun masyarakat sebagai kelompok pemanfaat program.
Komitmen dan tanggung jawab tersebut dimulai dari awal, pada saat identifikasi
kebutuhan masyarakat, tindak lanjut pelaksanaan program, sampai dengan hasil
yang dicapai.
Secara umum tingkat pengelolaan program PDPT di dua desa penelitian
masih rendah. Rendahnya tingkat pengelolaan program disebabkan rendahnya
keterlibatan masyarakat peserta program pada setiap tahap pelaksanaan kegiatan.
Sebagian besar masyarakat peserta program mengaku bahwa mereka jarang dan
bahkan tidak pernah dilibatkan mulai dari tahap perencanaan, sosialisasi, hingga
pada tahap evaluasi program, hanya ketua, sekretaris dan bendahara yang terlibat
aktif dalam setiap tahap pelaksanaan kegiatan program. Sejalan dengan hal
tersebut, Neliyanti dan Heriyanto (2013) mengemukakan bahwa efisiensi dalam
pengelolaan program merupakan hal yang penting guna mencapai hasil yang
diinginkan. Berikut hasil penelitian terhadap empat hal pokok dalam pengelolaan
program PDPT di dua Desa Pesisir di Kecamatan Teluk Naga.

Kejelasan Program (Konteks)


Arikunto dan Safrudin (2009) menjelaskan, bahwa evaluasi konteks
merupakan upaya untuk menggambarkan dan merinci lingkungan kebutuhan yang
tidak terpenuhi, populasi dan sampel yang dilayani, dan tujuan program.

Tabel 14 Pendapat peserta program PDPT terhadap kejelasan program (konteks)


di dua desa penelitian, 2013.
Desa Tanjung
Kejelasan Kategori Desa Muara Total
Pasir
Program (Skor)
n % n % n %
 Rendah 5-9 11 36.7 16 53.3 27 45.0
 Sedang 10-14 14 46.7 7 23.3 21 35.0
 Tinggi ≥ 15 5 16.7 7 23.3 12 20.0
Jumlah 30 100 30 100 60 100
Rata-rata 11.6 11.6 11.6

Kejelasan program PDPT (konteks) secara umum di dua desa pesisir


masih berada pada kategori rendah (45.0%). Hal ini karena masyarakat cenderung
belum mendapatkan informasi yang lengkap dan jelas terkait program PDPT.
Sosialisasi yang dilakukan oleh pelaksana program dimaksudkan untuk
menyosialisasikan rencana kegiatan kepada seluruh pemangku kepentingan hanya
melibatkan pemda, DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan), SKPD (Satuan Kerja
Perangkat Daerah), Tim Teknis, Camat, Perangkat Desa, serta pemangku
45

kepentingan lainnya yakni ketua, sekertaris dan bendahara, namun tidak


melibatkan semua anggota kelompok. Informasi yang diperoleh dari kegiatan
sosialisasi juga tidak mampu untuk disebarluaskan kepada semua anggota
kelompok. Kegiatan sosialisasi menjadi hal yang penting untuk dilakukan kepada
anggota kelompok sebagai pemanfaat program. Dengan adanya sosialisasi akan
memberikan pemahaman tentang program kepada masyarakat serta diharapkan
mampu menjadi motivasi untuk berperan serta.
Kurangnya kegiatan sosialisasi juga berakibat pada tidak adanya
musyawarah dengan masyarakat terkait waktu pelaksanaan kegiatan program.
Sehingga waktu pelaksanaan kegiatan ditentukan langsung oleh pelaksana
program. Selain itu beberapa responden beranggapan bahwa kegiatan program
PDPT tidak sesuai dengan kebutuhan mereka, masyarakat lebih membutuhkan
kegiatan yang dapat menghasilkan materi (uang) secara langsung untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya.

Pengelolaan Sumberdaya (Input)


Input adalah semua jenis barang, jasa, dana, tenaga manusia, teknologi dan
sumberdaya lainnya, yang perlu tersedia untuk terlaksananya suatu kegiatan
dalam rangka menghasilkan output dan tujuan suatu proyek atau program.
Sehingga pengelolaan sumberdaya (input) menjadi sangat penting untuk
dilakukan. Neliyanti dan Heriyanto (2013) mengemukakan bahwa efisiensi akan
terjadi jika penggunaan sumber daya diberdayakan secara optimum sehingga
suatu tujuan akan tercapai.

Tabel 15 Pendapat peserta program PDPT terhadap pengelolaan sumberdaya


(input) di dua desa penelitian, 2013.
Desa Tanjung
Pengelolaan Kategori Desa Muara Total
Pasir
Sumberdaya (Skor)
n % n % n %
 Rendah 5-9 11 36.7 7 23.3 18 30.0
 Sedang 10-14 17 56.7 19 63.3 36 60.0
 Tinggi ≥ 15 2 6.7 4 13.3 6 10.0
Jumlah 30 100 30 100 60 100
Rata-rata 10.9 11.3 11.1

Pengelolaan sumberdaya dalam pelaksanaan program PDPT berada pada


kategori sedang cenderung rendah yakni sebesar 60.0 %. Hal tersebut
menunjukkan keterlibatan stakeholder baik masyarakat, tokoh masyarakat, serta
pendamping masih rendah. Perlunya peningkatan keterlibatan pelaksana program
dan tim pemberdaya desa dalam pemberian informasi sampai pada tahap
pengawasan. Selain itu perlu peningkatan intensitas pendampingan serta
penggunaan media yang mudah diakses oleh masyarakat agar mampu melibatkan
semua masyarakat.
Peran pendamping dalam pelaksanaan program belum cukup dirasakan
masyarakat. Kegiatan pendampingan yang dilakukan belum mampu
meningkatkan kapasitas seluruh anggota kelompok. Merujuk dari hasil penelitian
Amanah (2006) menyatakan bahwa peran fasilitator sangat diperlukan untuk
meningkatkan kemampuan nelayan. Hal tersebut menunjukkan bahwa peran
46

pendamping sebagai salah satu sumberdaya dalam pengelolaan perogram menjadi


sangat penting dalam membangun sikap masyarakat.

Proses Kegiatan Program


Menganalisis proses kegiatan program PDPT diarahkan pada seberapa
jauh kegiatan yang dilaksanakan di dalam program sudah terlaksana sesuai
dengan rencana, dengan melihat efektivitas semua data-data yang menyangkut
pelaksanaan program.

Tabel 16 Pendapat peserta program PDPT terhadap proses kegiatan program, di


dua desa penelitian, 2013.
Kegiatan Desa Tanjung
Kategori Desa Muara Total
Pelaksanaan Pasir
(Skor)
Program n % n % n %
 Rendah 5-9 15 50.0 14 46.7 29 48.3
 Sedang 10-14 12 40.0 9 30.0 21 35.0
 Tinggi ≥ 15 3 10.0 7 23.3 10 16.7
Jumlah 30 100 30 100 60 100
Rata-rata 9.8 11 10

Proses pelaksanaan kegiatan program PDPT di dua desa penelitian


berada pada kategori rendah (48.0%). Hal ini menunjukkan bahwa prosedur atau
kegiatan dalam proses pelaksanaan program belum sepenuhnya melibatkan
masyarakat. Responden mengemukakan bahwa mekanisme proses pelaksanaan
program pemberdayaan belum baik. Hal ini karena dalamproses pelaksanaan
program informasi tidak menyebar luas kepada masyarakat, sehingga banyak
masyarakat pemanfaat yang tidak mengetahui dengan jelas proses pelaksanaan
kegiatan program. Selain itu kurangnya intensitas pendampingan dan kemampuan
pendamping dalam membantu masyarakat menjadi perhatian khusus dalam
pelaksanaan program. Seorang anggota kelompok pemanfaat program menuurkan
bahwa: “pendampingnya jarang datang neng, biasanya sih cuma datang foto-foto
dari mulai belum dikerjakan (0%), 60% dan 100 % pengerjaan”.
Penentuan jenis kegiatan yang dilakukan juga tidak melibatkan seluruh
anggota kelompok. Beberapa responden yang merupakan anggota kelompok
menyatakan bahwa mereka tidak terlibat pada diskusi penentuan jenis kegiatan
dan hanya ikut pada kegiatan yang telah ditetapkan oleh sebagian orang dalam
kelompok tersebut, bahkan ada anggota kelompok yang tidak mengetahui
keanggotaannya dalam kegiatan program PDPT.

Tingkat Pencapaian Program (Produk)


Output adalah produk atau jasa tertentu yang diharapkan dapat dihasilkan
oleh suatu kegiatan dari input yang tersedia, untuk mencapai tujuan proyek atau
program. Evaluasi output merupakan penilaian terhadap output-output yang
dihasilkan oleh program. Sejalan dengan hal tersebut Soekartawi (1995)
mengemukakan bahwa dalam menilai keefektifan suatu program atau proyek
maka harus melihat pencapaian hasil kegiatan program atau proyek yang sesuai
dengan tujuan yang ditetapkan.
47

Tabel 17 Pendapat peserta program PDPT terhadap tingkat pencapaian program,


di dua desa penelitian, 2013.
Tingkat Desa Tanjung
Kategori Desa Muara Total
Pencapaian Pasir
(Skor)
Program n % n % n %
 Rendah 5-9 2 6.7 1 3.3 3 5.0
 Sedang 10-14 10 33.3 9 30.0 19 31.7
 Tinggi ≥ 15 18 60.0 20 66.7 38 63.3
Jumlah 30 100 30 100 60 100
Rata-rata 13.9 15.4 14.5

Tingkat pencapaian program di dua desa pesisir Teluk Naga berada pada
kategori tinggi (Tabel 17). Hal ini karena pelaksanaan kegiatan program yang
mencakup: Bina Sumberdaya (Penanaman Mangrove, Bina Lingkungan dan
Infrastruktur (pembangunan Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL), dan
Pengadaan Sarana Pengelolaan Sampah, pembangunan MCK dan Sarana Air
Bersih, Pembangunan Sarana Air Bersih, Rehab Sarana Ibadah dan Pembuatan
MCK, dan Pembangunan Jalan Paping Block), serta Bina Siaga Bencana
(Pembangunan Turap Sungai) manfaatnya mampu dirasakan oleh masyarakat.
Seperti penuturan masyarakat yang mengemukakan bahwa “untung ada
pembangunan turap sungai neng, dulu waktu belum dibangun kalau hujan atau
pasang kita mah tdk bisa lewat di jalan ini, banjir dan masuk ke rumah warga”
Bina Usaha (Pelatihan dan Pengadaan Sarana untuk Kerajinan, Pelatihan
dan Pengadaan Sarana Pengelolaan Limbah untuk Kerajinan, Pengadaan Perahu
Wisata, serta Pengadaan Mesin Paping Block), tidak mampu dimanfaatkan dengan
baik oleh masyarakat pemanfaat program. Hal ini dikarenakan dana yang
diberikan oleh pemerintah sebagai pelasana program habis digunakan untuk
pengadaan mesin, sehingga kelompok tidak lagi memiliki dana untuk biaya
operasional untuk menjalankan usaha.
Pembahasan terkait pelaksanaan program menunjukkan bahwa
pengelolaan program (dalam hal ini program PDPT) dengan baik merupakan hal
penting yang menjadi tanggung jawab semua pihak, baik oleh pelaksanan program
(pemerintah), maupun masyarakat sebagai kelompok pemanfaat program.
Komitmen dan tanggung jawab tersebut dimulai dari awal, pada saat identifikasi
kebutuhan masyarakat, tindak lanjut pelaksanaan program, sampai dengan hasil
yang dicapai. Tingkat pengelolaan program di dua desa penelitian
memperlihatkan bahwa, kejelasan program PDPT (konteks) secara umum di dua
desa pesisir masih berada pada kategori rendah. Hal ini terjadi karena masyarakat
tidak mendapatkan informasi yang lengkap dan jelas terkait program PDPT,
sedangkan pengelolaan sumberdaya (input) program PDPT berada pada kategori
sedang. Perlunya peningkatan keterlibatan pelaksana program baik dalam
pemberian informasi sampai pada pengawasan, pendamping serta media yang
digunakan dalam proses pendampingan akan meningkatkan penggelolaan input
program.
Proses pelaksanaan kegiatan program berada pada kategori rendah, hal ini
menunjukkan rendahnya keterlibatan masyarakat pemanfaat program dalam
proses pelaksanaan kegiatan program PDPT. Masyarakat menilai bahwa
48

mekanisme proses pelaksanaan program pemberdayaan belum baik. Namun


demikian, tingkat pencapaian program di dua desa penelitian berada pada kategori
tinggi karena pelaksanaan kegiatan program manfaatnya mampu dirasakan oleh
masyarakat. Hanya saja Bina Usaha yang tidak mampu dimanfaatkan dengan baik
oleh masyarakat

Sikap Masyarakat Terhadap Komponen Program Pengembangan Desa


Pesisir Tangguh.

Sikap merupakan kecenderungan atau kesediaan seseorang untuk bertingkah


laku tertentu serta merespon secara positif atau negatif terhadap program. Sikap
masyarakat terhadap pelaksanaan program PDPT adalah suatu keadaan yang
memungkinkan timbulnya suatu perbuatan atau tingkah laku dari masyarakat dan
cenderung untuk bertindak dan bereaksi terhadap program. Dilihat dari segala
sesuatunya dikerjakan dengan penuh kesungguhan, ketekunan, dan ketelitian atau
tidak. Sikap masyarakat tehadap pelaksanaan program diukur melalui penerimaan,
respon, penilaian atau penghargaan serta pembentukan nilai masyrakat. Berikut hasil
penelitian terkait sikap masyarakat terhadap komponen program.

Tingkat Penerimaan (Receiving)


Receiving (penerimaan) adalah kesediaan atau kepekaan masyarakat untuk
menerima adanya suatu fenomena di lingkungannya. Tingkat penerimaan
masyarakat pesisir terhadap program PDPT di dua desa penelitian berada pada
kategori tinggi yakni sebesar 55.0% (Tabel 18). Hal ini menunjukkan bahwa
masyarakat memiliki keinginan yang besar untuk melihat desa mereka lebih baik.
Tingginya tingkat penerimaan masyarakat merupakan modal yang sangat baik
dalam melaksanakan kegiatan program. Hal ini akan menjadi awal dalam
membentuk sikap positif masyarakat sebagai obyek pembangunan.

Tabel 18 Tingkat penerimaan masyarakat pesisir terhadap program PDPT di dua


desa penelitian, 2013.
Desa
Tingkat Kategori Tanjung Desa Muara Total
Penerimaan (Skor) Pasir
n % n % n %
 Rendah 5-9 4 13.3 5 16.7 9 15.0
 Sedang 10-14 10 33.3 8 26.7 18 30.0
 Tinggi ≥ 15 16 53.3 17 56.7 33 55.0
Jumlah 30 100 30 100 60 100
Rata-rata 13.3 13.6 13.4

Masyarakat pada umumnya menyadari akan pentingnya pelaksanaan


program PDPT, serta senang dengan usaha perbaikan di desa mereka. Hanya saja
adanya proses kegiatan program yang tidak sepenuhnya melibatkan anggota
kelompok menyebabkan mereka kurang mengetahui perkembangan kegiatan di
desa mereka. Kegiatan program yang mencakup pada beberapa aspek kehidupan
masyarakat memberikan harapan dalam mewujudkan wajah baru desa pesisir
sehingga masyarakat menerima dengan baik kegiatan program di desanya.
49

Tingkat Menanggapi (responding)


Tingkat menanggapi (respon) masyarakat pemanfaat program PDPT
dilihat dari kepekaan dan keinginannya dalam melibatkan dirinya dan
memberikan reaksi terhadap kegiatan yang ada di lingkungannya dan sejauh mana
masyarakat ingin terlibat dalam kegiatan program. Respon masyarakat terhadap
program PDPT berada pada kategori tinggi, dengan persentase sebanyak 48.33%
(Tabel 19).
Tingkat respon masyarakat di Desa Tanjung Pasir dan Muara sama-sama
berada pada kategori tinggi. Masyarakat sebagai pemafaat program memiliki
keinginan untuk terlibat dalam pelaksanaan program, baik untuk hadir dalam
pertemuan maupun dalam memberikan bantuan tenaga. Pada kenyataannya
walaupun banyak di antara anggota kelompok yang tidak dilibatkan secara
langsung oleh kelompok dalam pelaksaan kegiatan program serta tidak mendapat
informasi yang jelas terkait kegiatan program, namun secara pribadi mereka
memiliki keinginan untuk terlibat aktif dalam pelaksanaan kegiatan program.

Tabel 19 Tingkat menanggapi masyarakat pesisir terhadap program PDPT di dua


desa penelitian, 2013.
Desa Tanjung
Tingkat Kategori Desa Muara Total
Pasir
Respon (Skor)
n % n % n %
 Rendah 5-9 4 13.3 6 20.0 10 16.7
 Sedang 10-14 12 40.0 9 30.0 21 35.0
 Tinggi ≥ 15 14 46.7 15 50.0 29 48.3
Jumlah 30 100 30 100 60 100
Rata-rata 14.3 13 14

Tingkat Menilai/ Menghargai (valuing)


Tingkat menilai/penghargaan (valuing) diukur berdasarkan penilaian
masyarakat terhadap program, baik atau tidaknya program yang sedang
dilaksanakan. Tingkat menghargai masyarakat terhadap program berada pada
kategori sedang cenderung tinggi yakni sebesar 48.3% (Tabel 20).

Tabel 20 Tingkat penghargaan masyarakat pesisir terhadap program PDPT di dua


desa penelitian, 2013.
Desa Tanjung
Tingkat Kategori Desa Muara Total
Pasir
Menghargai (Skor)
n % n % n %
 Rendah 5-9 2 6.7 2 6.7 4 6.7
 Sedang 10-14 16 53.3 13 43.3 29 48.3
 Tinggi ≥ 15 12 40.0 15 50.0 27 45.0
Jumlah 30 100 30 100 60 100
Rata-rata 13.7 14.6 14.2

Tingkat menghargai masyarakat di Desa Muara menunjukkan tingkat yang


lebih baik, yakni berada pada kategori tinggi (50.0%) dibandingkan dengan
masyarakat di Desa Tanjung Pasir yang hanya berada pada kategori sedang
50

(53.3%). Hal ini disebabkan tokoh masyarakat di desa Muara cenderung lebih
aktif terlibat kemasyarakat untuk sekedar bertanya atau pun berbincang seputar
program PDPT.
Pengalaman masyarakat terkait program-program sebelumnya yang tidak
sesuai dengan apa yang mereka harapkan juga menjadi penyebab kurangnya
penghargaan terhadap program PDPT. Sejalan dengan hal tersebut, Sutopo (1996)
mengemukakan bahwa berbagai hal yang terjadi dan menjadi pengalaman yang
kurang menyenangkan sering mengakibatkan warga masyarakat kurang mampu
bersikap terbuka untuk secara jujur menyatakan persepsi dan pandangannya
tentang suatu program yang diselenggarakan pemerintah. Karena sering dilandasi
oleh persepsi yang kurang positif maka keterlibatan yang ada sering merupakan
partisipasi semu, dimana anggota kelompok nampak berpartisipasi, tapi
kenyataannnya tidak, artinya para anggota kelompok ikut berpartisipasi, tetapi
tidak diberi wewenang dalam menyusun perencanaan, kegiatan yang akan
dilaksanakan dan waktu pelaksanaanya. Keadaan yang demikian itu bila sering
terjadi maka akan berakibat kurang lancarnya kegiatan sesuai dengan rencana
sehingga, menyulitkan usaha pencapaian tujuan program secara utuh.

Tingkat Pembentukan Nilai (Organization)


Pembentukan nilai (organization) berkaitan dengan memadukan nilai-nilai
yang berbeda, menyelesaikan konflik, dan membentuk suatu sistem nilai yang
konsisten. Indikator tingkat organisasi masyarakat dilihat dari kesediaan
responden dalam menyelesaiakn masalah yang muncul dan mencari solusi
bersama.
Tingkat pembentukan nilai masyarakat terhadap program PDPT masih
berada pada kategori sedang, yakni sebesar 73.0%. Hal ini menunjukkan bahwa
usaha dalam memperbaiki kondisi lingkungan, infrastruktur, sumberdaya, usaha
maupun kesiapsiagaan terhadap bencana belum mampu menjadi karakter dalam
diri masyarakat. Program belum mampu membentuk masyarakat menjadi mandiri
sebaliknya masyarakat cenderung untuk bergantung pada pemerintah.

Tabel 21 Tingkat pembentukan nilai peserta program PDPT di dua desa


penelitian, 2013.
Tingkat Desa Tanjung
Kategori Desa Muara Total
Pembentukan Pasir
(Skor)
Nilai n % n % n %
 Rendah 5-9 1 3.3 3 10.0 4 6.7
 Sedang 10-14 22 73.3 22 73.3 44 73.3
 Tinggi ≥ 15 7 23.3 5 16.7 12 20.0
Jumlah 30 100 30 100 60 100
Rata-rata 13.4 13.1 13.3

Sikap Masyarakat Terhadap Program Pengembangan Desa Pesisir Tangguh

Secara umum sikap masyarakat di dua desa pesisir Teluk Naga terhadap
program PDPT berada pada kategori sedang (Tabel 22). Sikap menunjukkan
penilaian (positif dan negatif) masyarakat terhadap obyek yang ada di sekitarnya
51

dalam hal ini adalah program PDPT. Secara umum sikap mempengaruhi tingkah
laku seseorang, masyarakat yang senang dengan program PDPT akan memberikan
dukungan nyata dalam pelaksanaannya. Hasil penelitian menempatkan sikap
masyarakat di dua desa penelitian berada pada kategori sedang, hal ini
menunjukkan bahwa masih banyak hal yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan dan
diperbaiki, terutama pada beberapa hal yang sangat berhubungan dengan
pembentukan sikap positif masyarakat.

Tabel 22 Sikap masyarakat terhadap program PDPT di dua desa penelitian, 2013.
Sikap Masyarakat
Tingkatan Sikap Rendah Sedang Tinggi Total (%)
(%) (%) (%)
 Tingkat penerimaan 15.0 30.0 55.0 100
 Tingkat respon 16.7 35.0 48.3 100
 Tingkat menghargai 6.7 48.3 45.0 100
 Pembentukan nilai 6.7 73.3 20.0 100

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Sikap Masyarakat Pesisir


Terhadap Program PDPT.

Sikap hanya dapat ditunjukan oleh perilaku yang nampak, diikuti dengan
kecenderungan untuk melakukan tindakan sesuai dengan obyek, baik berupa
dukungan maupun perasaan tidak mendukung. Hal tersebut sejalan dengan,
Winkel 2006, mengemukakan bahwa sikap sebagai kecenderungan untuk
menerima atau menolak obyek berdasarkan penilaian atas obyek tersebut. Jika
obyek tersebut dinilai berguna maka seseorang akan berkecenderungan menerima
secara positif, sebaliknya bila dianggap tidak berguna akan diberi reaktif negatif.
Untuk mewujudkannya menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor
pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan. Pembahasan faktor-faktor
yang berhubungan dengan sikap masyarakat terhadap program PDPT merujuk
pada temuan penelitian yang disajikan pada Tabel 23,24, dan 25, diperjelas
dengan informasi yang didapatkan dari lokasi penelitian serta didukung oleh teori
dan hasil penelitian yang relevan.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap masyarakat terhadap
program PDPT di Desa Tanjung Pasir dan Desa Muara dianalisis dengan
menggunakan Rank Spearman. Hasil analisis (Tabel 23, 24, dan 25) menunjukkan
faktor yang berhubungan dengan sikap masyarakat terhadap program PDPT, yaitu
tingkat kekosmopolitan, tingkat pengetahuan tentang program, tingkat dukungan
tokoh masyarakat, peran kelompok, intensitas kegiatan program, konteks
program, pengelolaan sumber daya (input), proses kegiatan program, serta
pencapaian program (produk).
Hipotesis penelitian adalah sebagai berikut terdapat hubungan nyata positif
antara karakteristik personal (X1), karakteristik lingkungan sosial (X2), dan
tingkat pengelolaan program (X3), terhadap tingkat penerimaan, respon,
penilaian, dan penilaian masyarakat terhadap program PDPT. Pengujian hipotesis
dilakukan dengan analisis korelasi Rank Spearman. Jika nilai signifikansinya (p-
value) <0,01 dan 0,05, maka terdapat hubungan yang nyata antara peubah
52

terhadap sikap masyarakat (Y). Hasil analisis korelasi Rank Spearman


menunjukkan bahwa secara umum peubah karakteristik personal tidak memiliki
hubungan yang nyata dengan sikap masyarakat (penerimaan, respon, menilai, dan
organisasi), sedangkan karakteristik lingkungan sosial, dan tingkat pengelolaan
program menunjukkan adanya hubungan yang nyata dengan sikap masyarakat
(penerimaan, respon, menilai, organisasi) pada taraf nyata 0.01 dan 0.05.

Karakteristik Lingkungan Sosial


Karakteristik lingkungan sosial merupakan faktor utama yang
berhubungan dengan sikap masyarakat terhadap program PDPT, yang dijabarkan
oleh peubah teramati: (1) dukungan tokoh masyarakat, (2) peran kelompok, (3)
dan intensitas kegiatan program. Hal ini berarti bahwa karakteristik lingkungan
sosial akan mengembangkan sikap positif masyarakat untuk ikutserta dalam
kegiatan program.
Intensitas kegiatan program merupakan pembentuk yang paling kuat
terhadap pengembangan sikap penerimaan (0.711), respon (0.581) dan
pembentukan nilai (0.636) masyarakat terhadap program PDPT. Dukungan tokoh
masyarakat menjadi peubah yang paling kuat dalam membentuk sikap
penilaian/penghargaan (0.774) masyarakat terhadap programPDPT. Peran
kelompok juga memiliki peran yang cukup besar dalam pembentukan sikap
masyarakat. Di mana dalam membentuk sikap penerimaan, peran kelompok
memiliki nilai hubungan sebesar 0.680, merespon (0.542), menilai (0.585), dan
pembentukan nilai (0.582). Dengan demikian, intensitas kegiatan program,
dukungan tokoh masyarakat serta peran kelompok perlu dikembangkan lebih baik
karena berpotensi paling besar dalam meningkatkan sikap masyarakat pemanfaat
program untuk bersama-sama mencapai ketangguhan desa.

Tabel 23 Hubungan karakteristik lingkungan sosial dengan sikap masyarakat


terhadap program PDPT di dua desa penelitian, 2013.

Peubah Penerimaan Respon Menghargai Pembentukan


Nilai
1. Dukungan Tokoh 0.710** 0.556** 0.774** 0.566**
Masyarakat
2. Peran Kelompok 0.680** 0.542** 0.585** 0.582**
3. Intensitas 0.711** 0.581** 0.612** 0.636**
Kegiatan Program

Lembaga yang terdapat dalam masyarakat pedesaan adalah kelompok tani


(nelayan/padi), masyarakat (nelayan) biasanya menjadi bagian dari sebuah
kelompok, sehingga kelompok memiliki peran yang cukup penting dalam
kehidupan sosial masyarakat pedesaan. Sesuai dengan pendapat Santosa 2002,
yang menyatakan bahwa kelompok mempunyai pengaruh terhadap perilaku-
perilaku anggotanya, yang meliputi pengaruh terhadap persepsi, sikap, dan
tindakan individu. Dengan demikian, nilai, norma, interaksi dalam kelompok,
kepemimpinan, dan dinamika kelompok memberikan kontribusi tersendiri
terhadap bentuk pola interaksi anggotanya ketika berinteraksi dengan lingkungan
53

di luar kelompok. Menurut Beebe dan Masterson 1989, kelompok memegang


peranan penting bagi perkembangan kepribadian dan perilaku seseorang.
Sebagian anggota kelompok ternyata tidak terlibat aktif dan tidak
mengetahui dengan jelas informasi-informasi tentang program PDPT.
Pembentukan kelompok dilakukan oleh ketua kelompok yang dipilih oleh
lurah/kepala desa. Terdapat beberapa anggota masyarakat yang tidak tahu kalau
mereka termasuk dalam kelompok PDPT, akibatnya tidak ada rasa tanggung
jawab anggota untuk terlibat penuh. Kelompok yang dibentuk lebih disebabkan
adanya proyek atau bantuan. Kelompok seperti ini cenderung tidak bertahan lama,
biasanya setelah proyek dihentikan biasanya kelompok ini akan bubar.
Pengembangan kelompok secara baik menjadi sangat penting karena
banyak masalah masyarakat (nelayan) yang dapat dipecahkan oleh suatu
kelompok. Berbagai program pemberdayaan nelayan seperti pemberian kredit,
pengelolaan lingkungan dan sebagainya biasanya diberikan dan dikelola melalui
kelompok. Oganisasi-organisasi tersebut berperan sebagai perantara antara
masyarakat dengan lembaga-lembaga pemerintah, yaitu sebagai saluran
komunikasi atau untuk kepentingan-kepentingan lain.
Selain peran kelompok, peran tokoh masyarakat dan intensitas kegiatan
program juga merupakan peubah teramati yang berhubungan dalam karakteristik
lingkungan sosia. Hasil wawancara dan analis data yang menunjukkan bahwa
keaktifan tokoh masyarakat dalam memberi motivasi, informasi dan terlibat
secara langsung kepada masyarakat membantu pembentukan sikap masyarakat.
Sama halnya dengan intensitas kegiatan yang dilakukan pelaksana program,
intensitas kunjungan pelaksana program, kegiatan pendampingan, metode
pendampingan dan sebagainya juga membentuk sikap masyarakat terhadap
program.
Perlu dilakukan upaya perbaikan pada kondisi lingkungan sosial
masyarakat tersebut agar dapat meningkatkan sifat positif masyarakat terhadap
pelaksanaan program PDPT. Beberapa hal yang perlu diupayakan perbaikannya
antara lain proses pembentukan kelompok yang perlu disesuaikan dengan
kebutuhan dan keinginan petani, pengelolaan kelompok yang dapat melibatkan
seluruh anggota, kesertaan tokoh masyarakat dalam mendukung pelaksanaan
program, serta dukungan dari pelaksana program sendiri demi mewujudkan tujuan
program.

Pengelolaan Program
Faktor kedua yang berhubungan dengan sikap masyarakat terhadap
program PDPT adalah tingkat pengelolaan program, yang menggambarkan
realisasi program, kejelasan program (konteks), pengelolaan sumberdaya (input),
proses kegiatan program dan tingkat pencapaian program. Dalam realisasi
pelaksanaan program, masyarakat dibantu untuk mengkaji kebutuhan, masalah
dan peluang yang ada dalam lingkungan mereka sendiri. Tenaga pendamping
(pelaksana program) dalam membantu masyarakat seharusnya dapat dilakukan
melalui pelibatan masyarakat mulai dari perencanaan sampai evaluasi program.
Hubungan tingkat pengelolan program dengan sikap masyarakat terhadap
program PDPT dijabarkan dalam empat peubah teramati, yaitu: (1) kejelasan
program (konteks), (2) ketepatan pengelolaan sumberdaya (input), (3) kesesuaian
pelaksanaan kegiatan program (proses), dan (4) tingkat pencapaian program.
54

Kejelasan program (konteks) menunjukkan hubungan yang paling kuat dalam


membentuk sikap masyarakat terhadap program PDPT, yakni: sikap menerima
(0.601), merespon (0.643), menilai (0.714), dan organisasi (0.684).

Tabel 24 Hubungan tingkat pengelolaan program dengan sikap masyarakat


terhadap program PDPT di dua desa penelitian, 2013.

Peubah Penerimaan Respon Menghargai Pembentukan


Nilai
1. Kejelasan 0.601** 0.643** 0.714** 0.684**
program
2. Ketepatan 0.536** 0.512** 0.687** 0.622**
pengelolaan
sumberdaya
3. Kesesuaian 0.653** 0.540** 0.674** 0.599**
pelaksanaan
kegiatan program
4. Pencapaian 0.481** 0.500** 0.702** 0.528**
program

Dikaitkan dengan model perubahan sosial menurut Less dan Smith 1975
maka, program pengembangan yang direalisasikan di lokasi penelitian, masih
menerapkan model konsensus karena masih direncanakan dan dirancang pada
tingkat nasional. Hal ini terlihat dari kurangnya keterlibatan masyarakat dalam
proses perencanaan. Asumsi yang dikemukakan Rothman (Adi 2003) untuk
paradigma local development, yaitu komunitas diintegrasikan dan dikembangkan
kapasitasnya dalam upaya memecahkan masalah secara kooperatif, serta
membangkitkan rasa percaya diri akan kemampuan masing-masing anggota
masyarakat belum sepenuhnya diterapkan.
Program yang dilaksanakan hendaknya mampu memanfaatkan potensi
kelembagaan yang berakar kuat dalam struktur masyarakat lokal mau dan mampu
mengelola potensi sosial ekonomi yang dimiliki. Dalam menjalankan kegiatan
usaha, masyarakat memerlukan modal, pengetahuan, dan keterampilan yang
relevan, namun tidak selalu tersedia ataupun tidak terpenuhi di tingkat lokal.
Karena itu penyuluh pertanian/tenaga pendamping bertugas mengelola sistem
yang dapat memperlancar upaya masyarakat memperoleh kebutuhan tersebut baik
secara individu maupun kelompok (Sajogyo 1999).
Hasil pengamatan di lapangan juga memperlihatkan bahwa kondisi dua
desa pesisir yang tidak memperlihatkan banyak perubahan. Perubahan yang
terjadi lebih banyak pada hal infrastruktur dan siaga bencana, sedangkan kondisi
lingkungan masih saja terlihat tidak terawat. Sama halnya dengan kegiatan bina
usaha yang diberikan kepada kelompok pemanfaat, hal tersebut ternyata belum
mampu untuk memperbaiki kondisi perekonomian masyarakat. Pengembangan
usaha tidak mampu dikelola oleh masyarakat dengan baik, bantuan dana yang
diberikan hanya digunakan untuk membeli peralatan dan mesin-mesin (mesin
pengolahan sampah dan mesin pembuatan paping block) untuk usaha, namun
kemudian perlengkapan tersebut tidak digunakan untuk menjalankan usaha,
melainkan hanya menjadi hiasan di dua desa pesisir tersebut.
55

Program PDPT adalah kegiatan pemberdayaan masyarakat di desa pesisir


yang rentan bencana akibat perubahan iklim, untuk mewujudkan ketangguhan
masyarakat melalui pengembangan sumberdaya manusia, usaha, infrastruktur,
lingkungan, dan siaga bencana. Kegiatan difokuskan di daerah rawan bencana
dengan mengimplementasikan berbagai pemberdayaan masyarakat dalam
mewujudkan ketangguhan dengan melibatkan seluruh partisipasi masyarakat.
Program ini memberikan bantuan dana dalam jumlah tertentu. Pemanfaatannya
bertujuan untuk melatih penggunaan dana tersebut sebagai stimulan
pengembangan pemberdayaan lebih lanjut. Dana yang ada digunakan untuk
pembiayaan beberapa pembangunan infrastruktur, lingkungan dan investasi
ekonomi untuk menciptakan produktivitas yang membantu masyarakat
meningkatan kesejahteraannya.
Pelaksanaan program PDPT dimulai dari tahap persiapan, di mana
masyarakat dilibatkan untuk memasukkan usulan pembangunan (proposal) yang
mencakup bina infrasruktur, bina lingkungan, bina usaha, dan siaga bencana,
hanya saja masyarakat (anggota kelompok) merasa kurang dilibatkan, karena
disuusn oleh ketua kelompok bersama tokoh masyarakat. Menurut para anggota
kelompok, sosialisasi dari pemerintah tentang program tersebut sangat kurang.
Kegiatan sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah sebagai pelaksana program
hanya melibatkan ketua, sekretaris, dan bendahara kelompok. Kegiatannya pun
dilakukan di hotel di ibu kota Kabupaten Tangerang dan di Tigaraksa, sehingga
anggota kelompok tidak dilibatkan dalam kegiatan sosialisasi.
Penentukan jenis kegiatan yang dilaksanakan tiap kelompok, dilakukan
oleh tokoh masyarakat, ketua dan anggota kelompok, walaupun terdapat juga
beberapa anggota kelompok yang merasa tidak dilibatkan dalam penentuan jenis
kegiatan kelompok. Kegiatan yang dilakukan antara lain, penanaman mangrove,
pembangunan saluran air limbah, pengadaan sarana pengelolaan sampah,
pembangunan MCK dan sarana air bersih, rehab sarana ibadah, pembangunan
jalan paving block, pembangunan turap sungai, pengadaan perahu wisata, dan
pengadaan mesih pavin block. Permasalahan yang dihadapi saat ini yakni pada
bina usaha belum adanya kerjasama dengan lembaga pemasaran, ataupun
lembaga-lembaga terkait terutama untuk usaha kerajinan tangan, sehingga mereka
hanya menjualnya di sekitar pantai, sehingga penjualan tidak begitu banyak.
Sedangkan pada pengelolaan sampah dan mesin papin blok tidak mampu dikelola
dengan baik oleh kelompok, sehingga mesin yang dibeli dengan menggunakan
bantuan yang diberikan melalui program PDPT hanya disimpan dan tidak
dioperasikan.
Soetomo 2011, mengemukakan bahwa, masih banyak dijumpai kegagalan
dari peran eksternal yang berlabelkan pemberdayaan masyarakat untuk
meningkatkan kondisi kehidupannya, tetapi hanya bertahan selama program masih
berjalan. Pada saat program dihentikan, intensitasnya secara perlahan berkurang
dan akhirnya berhenti. Hal itu disebabkan program pemberdayaan tersebut tidak
berhasil mewujudkan proses institusionalisasi. Umumnya kelemahan program
pemberdayaan yang tidak berhasil menumbuhkan kemandirian dan keberlanjutan
aktivitas lokal masyarakat terletak pada pendekatan yang digunakan dalam
penyampaian input program. Program pemberdayaan seharusnya menggunakan
pendekatan yang mengutamakan proses belajar bukan hanya material.
56

Karakteristik Personal
Karakteristik personal merupakan faktor terakhir yang diamati untuk
melihat hubungannya dengan sikap masyarakat terhadap program: (1) umur, (2)
tingkat pendidikan formal, (3) pendidikan nonformal, (4) jumlah tanggungan, (5)
tingkat kekosmopolitan, (6) tingkat pengetahuan.

Tabel 25 Hubungan karakteristik personal dengan sikap masyarakat terhadap


program PDPT di dua desa penelitian, 2013.

Peubah Penerimaan Respon Menghargai Pembentukan


Nilai
1. Umur -0.086 -0.108 -0.057 -0.166
2. Pendidikan Formal 0.103 -0.015 -0.104 0.026
3. Pendidikan 0.178 0.166 0.085 0.224
Nonformal
4. Jumlah -0.052 -0.021 0.046 -0.065
Tanggungan
Keluarga
5. Tingkat 0.596** 0.495** 0.372** 0.474**
Kekosmopolitan
6. Pengetahuan 0.668** 0.457** 0.332* 0.437**
tentang Program

Hasil analisis rank spearman menunjukkan bahwa umur, memiliki


hubungan negatif dengan sikap. Hal ini berarti bahwa semakin tua umur
responden maka sikap terhadap obyek di sekitarnya akan semakin rendah. Sama
halnya dengan umur, jumlah tanggungan dan tingkat pendidikan juga memiliki
hubungan yang negatif dengan sikap masyarakat terhadap program PDPT. Jumlah
tanggungan masyarakat yang berada pada kategori sedang yakni 2-3 jiwa
menyebabkan masyarakat kurang peduli dengan program. Hal tersebut karena
jumlah tanggungan keluarga berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan
keluarga Jika tanggungan keluarga banyak maka pemenuhan kebutuhanpun akan
lebih banyak banyak, begitu pun sebaliknya di mana jika tangungan keluarga
sedikit maka pemenuhan kebutuhan juga sedikit. Hal tersebut menjadikan
masyarakat memiliki keinginan untuk berpartisipasi yang berbeda .
Masyarakat yang memiliki tanggungan keluarga banyak akan memilih untuk
mencari nafkah dibandingkan ikut dalam kegiatan program. Sejalan dengan hal
tersebut Erawati (2013) menemukan bahwa semakin besar beban jumlah keluarga
menyebabkan waktu untuk berpartisipasi dalam kegiatan akan berkuarang karena
sebagian besar waktunya digunakan untuk mencari nafkah demi memenuhi
kebutuhan keluarga. Sedangkan nilai korelasi negatif antara pendidikan formal
disebabkan mayoritas pendidikan responden berada pada kategori rendah, dan
sifat yang ditunjukkan oleh responden cenderung dipengaruhi oleh tingkat
pengetahuan yang dimiliki. Tingkat pengetahuan terhadap program, dipengaruhi
oleh banyaknya informasi yang diperoleh baik dari pengelola program maupun
dari tokoh masyarakat.
Pendidikan nonformal masyarakat memiliki korelasi yang sangat rendah
terhadap sikap masyarakat terhadap program yakni: penerimaan (0.308), respon
57

(0.079), penilaian (0.074), dan organisasi (0.248). Hal ini menunjukkan masih
rendahnya (sedikit) kegiatan pendampingan yang dilakukan oleh pelaksana
program kepada masyarakat. Peubah dalam karakteristik personal yang memiliki
hubungan yang cukup kuat terhadap sikap masyarakat terhadap program PDPT
yadalah tingkat kekosmopolitan: penerimaan (0.517), respon (0.376), penilaian
(0.335), dan organisasi (0.462) serta tingkat pengetahuan tentang program:
penerimaan (0.626), respon (0.423), penilaian (0.315), dan organisasi (0.484). Hal
ini menunjukkan pentingnya keterbukaan responden dengan dunia luar, terkait
informasi yang dapat meningkatkan pengetahuan terhadap kegiatan
pemberdayaan.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:


1. Kegiatan program PDPT yang telah berjalan sejak tahun 2012 di dua desa
penelitian mulai menunjukkan perubahan pada kondisi infrastruktur dan
lingkungan desa, sumberdaya, serta kesiapsiagaan terhadap bencana. Namun
masih diperlukan pembenahan dalam pengelolaan dan pendampingan, agar
pencapaian tujuan program dapat lebih maksimal.
2. Masyarakat di dua desa penelitian menunjukkan sikap cenderung positif
terhadap program PDPT, yang ditunjukkan melalui dukungan yang diberikan,
hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat memiliki keinginan untuk melihat
lingkungannya lebih baik, hanya saja partisipasi masyarakat masih perlu
ditingkatkan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
3. Karakteristik lingkungan sosial (dukungan tokoh masyarakat, peran
kelompok, serta tingginya intensitas kegiatan program) dan tingkat
pengelolaan program (kejelasan program, pengelolaan sumberdaya,
pelaksanaan program, tingkat pencapaian program) menunjukkan adanya
hubungan dengan pembentukan sikap positif masyarakat terhadap Program
PDPT.

Saran

1. Pelaksanaan program PDPT membutuhkan komitmen dan dukungan dari


berbagai pihak, oleh karena itu pemerintah daerah dalam hal ini Dinas
Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tangerang perlu lebih meningkatkan
keterlibatan representatif masyarakat dalam keseluruhan tahapan program
2. Masyarakat pesisir dengan potensi yang dimiliki perlu menindaklanjuti
kegiatan program PDPT, dengan membangun kerjasama dengan lembaga
pemerintah maupun lembaga non pemerintah.
58

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah S, Jahi A. 2006. Hubungan Sejumlah Karakteristik Petani Sayuran


dengan Pengetahuan Mereka tentang Pengelolaan Usahatani Sayuran di
Kota Kendari Sulawesi Tenggara. Jurnal Penyuluhan. 2 (4).
Adi IR. 2003. Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan Intervensi
Komunitas (Pengantar pada Pemikiran dan Pendekatan Praktis).
Jakarta:LPFE UI
Amanah S. 2010. Peran Komunikasi Pembangunan dalam Pemberdayaan
Masyarakat Pesisir. Jurnal Komunikasi Pembangunan. 8 (1).
Amanah S, Farmayanti N. 2011. Strategi Pemberdayaan Nelayan Berbasis
Keunikanagroekosistem Dan Kelembagaan Lokal. Jurnal Penelitian dan
Pengembangan Kesejahteraan Sosial (Sosiokonsepsia). 16 (3).
Amanah S, Hartati T, Sobari P. 2005. Perilaku Petambak dalam Konservasi Hutan
Mangrove di Desa Jayamukti, Kabupaten Subang, Propinsi Jawa Barat.
Buletin ekonomi Perikanan. VI (1).
Amanah S. 2003 Perencanaan Program Penyuluhan Perikanan di Desa Anturan,
Buleleng, Bali. Buletin Ekonomi Perikanan. V (1).
Arikunto S., Cepi Safrudin, 2009. Evaluasi Program Pendidikan : Pedoman
Teoritis Praktis Bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan, cetakan ketiga,
Jakarta : Bumi Aksara
Asngari PS. 2001. Peranan Agen Pembaruan/Penyuluh dalam Usaha
Memberdayakan (Empowerment) Sumberdaya Manusia Pengelola
Agribisnis. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Ilmu Sosial Ekonomi. Fakultas
Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Astono W. 2010. Problem Sanitasi, Karakteristik Sosial Ekonomi, dan Upaya
Pemberdayaan Masyarakat Nelayan di Wilayah Pesisir Pekalongan. Jurnal
Ekosains. 2 (2).
Ayunita NND. Mudzakir AK. 2006. Analisis Pendapatan Bakul dan Pengolah
Ikan Penerima Dana PEMP di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Buletin
Ekonomi Perikanan. VI (2).
Azwar S. 2009. Sikap Manusia ”Teori dan Pengukurannya”. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Baba S, Isbandi, Mardikanto T, Waridin. 2011. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Tingkat Partisipasi Peternak Sapi Perah dalam Penyuluhan di Kabupaten
Enrekang. JITP . 1 (3).
Batoa H, Jahi A, Susanto D. 2008. Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan
Kompetensi Petani Rumput Laut di Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi
Tenggara. Jurnal Penyuluhan. 4 (1).
Beebe SA. Masterson JT. 1989. Communicating In Small Groups: Principles and
Practices. Glenview, Illinois: Harper Collins Publishers.
Bengen, DG. 2001. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem
Mangrove. Bogor: Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan–Institut
Pertanian Bogor.
Budiyanto H. 2011. Pendampingan dalam Proses Perencanaan Partisipatif
Program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas
(PLPBK). Local Wisdom. III (I).
59

Cahyani D .2008. Revitalisasi Kawasan Lembah Tamansari Melalui


Pemberdayaan Organisasi Masyarakat. Jurnal Teras. 8 (1).
Chaplin J.P. 2006. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta. Raja Grafindo Persada.
Chozin M.A, Sumardjo, Poerwanto R, Purbayanto A, Khomsan A et al. 2010.
Pembangunan Perdesaan dalam Rangka Peningkatan Kesejahteraan
Masyarakat. Bogor: IPB Press.
Daud HIA. 2011. Peran Pendamping Program Pemberdayaan Ekonomi
Masyarakat Pesisir dalam Pemberdayaan Kelompok Nelayan Di Provinsi
Maluku Utara. [Tesis]. Bogor: Program Pasca Sarjana Institut Pertanian
Bogor.
Dahuri R. 2003. Keanekaragaman Hayati Laut, Aset Pembangunan Indonesia.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Dahuri R et.,al. 2008. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan
Secara Terpadu. Jakarta: Pradnya Paramita.
Dayakisni T., Hudaniah. (2003). Psikologi sosial. Malang. Universitas
Muhammadiyah.
Erawati I., Massadun. 2013. Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Sumber
Daya Lingkungan Mangrove di Desa Bedono Kecamatan Sayung. Jurnal
Ruang (Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota). 1 (1).
Febriana I. 2012. Peran Tokoh Masyarakat Dalam Pengambilan Keputusan
Pembangunan Di Desa Banjurpasar Kecamatan Buluspesantren Kebumen.
Unnes Civic Education Journal. 1 (2).
Garnadi D. 2004. Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Masyarakat Sekitar Hutan
terhadap Hutan. [Tesis]. Bogor. Institut Pertanian Bogor.
Hamdan. 2005. Evaluasi Program Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (PEMP
2001) dalam Upaya Peningkatan Pendapatan Masyarakat Pesisir. [Tesis].
Semarang: Universitas Diponogoro.
Hanafi A. 1986. Memasyarakatkan Ide-Ide Baru. Surabaya: Usaha Nasional.
Hasyim H. 2006. Analisis Hubungan Karakteristik Petani Kopi Terhadap
Pendapatan (Studi Kasus: Desa Dolok Seribu Kecamatan Paguran
Kabupaten Tapanuli Utara). Jurnal Komunikasi Penelitian. 18 (1).
Havighrust RJ. 1972. Development Task and Education. New York: David Mc.
Kay Company Inc.
Hawkins D. Best I. Rogers J. Coney KA. 1986. Consumer Behavior: Implications
for Marketing Strategy. New York: Mc Graw Hill Co.
Herawati, Ismail P. 2006. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Partisipasi
Kontaktani dalam Perencanaan Program Penyuluhan Pertanian. Jurnal
Penyuluhan. 2 (2).
Jamasy O. 2004. Keadilan, Pemebrdayaan, dan Penanggulangan Kemiskinan.
Bandung: Belantika.
Karsidi R. 2001. “Paradigma Baru Pendampinganan Pembangunan dalam
Pemberdayaan Masyarakat.” Dalam Pambudy dan A.K.Adhy (ed.):
Pemberdayaan Sumber daya Manusia Menuju Terwujudnya Masyarakat
Madani, Bogor: Pustaka Wirausaha Muda.
[KKP] Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2011. Pedoman Umum
Penyususnan Rencana Pengembangan Desa Pesisir. Jakarta: Direktorat
Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kementerian Kelautan
dan Perikanan.
60

[KKP] Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2013. Pedoman Teknis


Pengembangan Desa Pesisir Tangguh. Jakarta: Direktorat Jenderal
Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kementerian Kelautan dan
Perikanan.
Kerlinger N. Fred. 2003. Asas-asas Penelitian Behavioral. Yogyakarta:
Gadjamadah University Press.
[KLH] Kementrian Lingkungan Hidup. 2002. Abasi Terus Gerogoti Pesisir
Tangerang.http://www.menlh.go.id/abrasi-terus-gerogoti-pesisir-
tangerang/. [diakses tanggal 19 Januari 2013].
Leilani A., Jahi A. 2006. Kinerja Penyuluh Pertanian di Beberapa Kabupaten
Provinsi Jawa Barat. Jurnal Penyuluhan. 2 (2).
Less R. Smith G. 1975. Action Research in Community Development. London:
Routledge and Kegan Paul Ltd.
Madrie. 1986. Beberapa Faktor Penentu Partisipasi Anggota Masyarakat dalam
Pembangunan Pedesaan. [Disertasi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Mardikanto T. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Surakarta: Sebelas
Maret University Press.
Masydzulhak. 2005. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir di Kota Bengkulu. Jurnal
Penelitian UNIB. XI (1).
Muktasam. 2012. Kajian Kritis Atas Fenomena Dan Program Pengentasan
Kemiskinan Pada Masyarakat Sekitar Hutan Di Pulau Lombok.
Agroteksos. 22 (1).
Mulyandari SHR. 2011. Perilaku Petani Sayuran dalam Memanfaatkan Teknologi
Informasi. Jurnal Perpustaan Pertanian. 20 (1).
Neliyanti, Heriyanto M. 2013. Evaluasi Program Pemberdayaan Ekonomi
Masyarakat Pesisir. Jurnal Kebijakan Publik. 4 (1).
Notoatmodjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta.
Nuryanti S., Swastika KSD. 2011. Peran Kelompok Tani dalam Penerapan
Teknologi Pertanian. Forum Peneliti Agro Ekonomi. 29 (2).
Pahlupi R, Suryana A, Setiaman A. 2012. Hubungan antara Kegiatan Penyuluhan
Program Keluarga Berancana (KB) dengan Perubahan Sikap Penduduk
Kabupaten Garut. eJurnal Mahasiswa Universitas Padjajaran. 1 (1).
Pakpahan HT., Lumintang RWE., Susanto D. 2006. Hubungan Motivasi Kerja
dengan Perilaku Nelayan pada Usaha Perikanan Tangkap. Jurnal
Penyuluhan. 2 (1).
Prihandoko, Jahi A, Gani D, Purnaba IGP, Adrianto L, Tjitradjaja I. 2011.
Faktor-Faktor yang Mmempengaruhi Perilaku Nelayan Artisanal dalam
Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan di Pantai Utara Provinsi Jawa Barat.
Makara, Sosial Humaniora. 15 (2).
Raharjo A. 2006, Pembangunan Pedesaan dan Perkotaan, Yokyakarta: Graha
Ilmu.
Rakhmat, J. 2001. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Razali I. 2004. Strategi Pemberdayaan Masyarakat Pesisir dan Laut. Jurnal
Pemberdayaan Komunitas. 3 (2).
Rini. 2011. Peran Media Massa dalam Mendorong Perubahan Sosial Masyarakat.
Jurna Ilmiah Orasi Bisnis. VI.
Ridwan M. 2012. Penguatan Ekonomi Masyarakat Berbasis Kelompok. Jurnal
Ekonomi Pembangunan. 13 (2).
61

Riduwan. 2010. Metode dan Teknik Menyusun Tesis. Bandung: Alfabeta


Rogers EM. Schoemaker. 1971. Communication of Innovation: A Cross Cultural
Approach. New York: The Free Press. A division of Me Milland Co.
Rothman J, John L. Erlich, JE. Tropman. 2011. Strategies of Community
Intervention. 6 th. Manhattan: F.E. Peacock Publishers.
[RPJMN] Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. 2010. Kementerian
Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional.
Rukka H. Buhaerah, Kadir S. 2008. Peran Kelompok Tani dalam Pemenuhan
Kebutuhan Usahatani,Kasus Petani Padi Sawah di Kelurahan Tamarunang,
Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Jurnal Agrisistem. 4 (2).
Rusli S. 1995. Pengantar Kependudukan. Jakarta. Universitas Indonesia Press.
Salkind NJ. 1985. Teories of Human Development. New York: John Willey and
Sons.
Sajogyo. 1999. Memacu Perekonomian Rakyat. Jakarta: Aditya Media.
Santosa. 2002. Dinamika Kelompok. Jakarta: Bumi Aksara.
Satria A. 2002. Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir. Jakarta: Cidesindo.
Saifuddin A. 2000. Reliabilitas dan Validitas:Seri Pengukuran Psikologi.
Yogyakarta. Sigma Alpha
Setiawan J. 2009. Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Pantai Carita. Prospek. 2 (1).
Sevilla CG; JA Ochave; TG Punsalan; GG Uriarte. 1993. Pengantar Metode
Penelitian. Penerjemah Alimuddin Tuwu. Jakarta. Universitas Indonesia
Press.
Silverius S. 1991. Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik. Grasindo. Jakarta
Singarimbun ME, Efendi S. 1995. Metode Penelitian Survei.Jakarta: Lembaga
Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES).
Slamet M. 2003. Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. IPB. Press.
Bogor.
Soehardjo. Patong. 1992. Sendi-Sendi Pokok Ilmu Usaha Tani. Departemen Ilmu-
Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian
Bogor. Bogor
Soekanto S. 2003. Sosiologi suatu Pengantar. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.
Soekartawi, 1995. Monitoring dan evaluasi, proyek pendidikan. Jakarta : Pustaka
Jaya.
Soekartawi. 1998. Pembangunan Pertanian. Jakarta. Raja Grafindo Persada.
Soekartawi. 1999. Agribisnis Teori dan Aplikasinya. Jakarta Raja Grafindo
Persada.
Soetomo. 2011. Pemberdayaan Masyarakat. Mungkinkah Muncul Antitesisnya?
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Spencer LM., Spencer SM. 1993. Competence at Work: Model For Superior
Performance. New York: John Wiley and Sonc Inc.
Stocbridge, M., Andrew D., Jonathan K., Jamie M., and Nigel Poole. 2003.
Farmer Organization for Market Access: An International Riiew.
Suciati LP. 2008. Strategi Multikriteria Pengelolaan Sumberdaya Hutan
Berkelanjutan di Kawasan Argopuro. J-Sep. 2 (2).
Suharto E. 1997. Pembangunan, Kebijakan Sosial dan Pekerjaan Sosial:
Spektrum Pemikiran. Bandung: Lembaga Studi Pembangunan STKS
(LSP-STKS).
Suharyat Y. 2009. Hubungan Antara Sikap, Minat, dan Perilaku Manusia. Region.
1 (2).
62

Sumitro M. (1991). PenyuluhanPembangunan Indonesia Menyonsong Abad XXI.


PT. Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara, Jakarta.
Supriharyono. 2000. Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang, Jakarta: Pn.
Djambatan.
Sutopo HB. 1996. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: Jurusan Seni Rupa
Fakultas Sastra UNS.
Sungkar S. 2010. Pengaruh Penyuluhan Terhadap Tingkat Pengetahuan
Masyarakat Dan Kepadatan Aedes Aegypti Di Kecamatan Bayah, Provinsi
Banten. Makara, Kesehatan, 14 (2).
Suranto A. 1999. Sikap Anggota Kelompok Masyarakat IDT terhadap Peranan
dan karakteristik Pendamping. [Tesis]. Bogor. Program Pascasarjana.
Institut Pertanian Bogor.
Syafruddin. 2003. Pengaruh Media cetak Brosur dalam proses Adopsi dan difusi
Inovasi Beternak ayam Broiler di Kota Kediri. UGM.
Tampubolon J. Sugihen BG. Slamet M. Susanto D. Sumardjo. 2006.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pendekatan Kelompok (Kasus
Pemberdayaan Masyarakat Miskin Melalui Pendekatan Kelompok Usaha
Bersama (KUBE)). Jurnal Penyuluhan. 2 (2).
Tarigan RV. 2009. Peranan Pendidikan Nonformal Memberdayakan
Ekolem.http://skbtenggarong.worlpress.co./2009/01/23/peranan-
pendidikan-nonformal-memberdayakan ekolem. Diakses tanggal 19
Januari 2013.
Tarigan R. 2006. Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Tingkat Pendapatan
Perbandingan Antara Empat Hasil Penelitian. Jurnal Wawasan. 11 (3).
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Walgito B. 2003. Psikologi Sosial : Suatu Pengantar. Yogyakarta: Andi Opset.
Wee ST, Radzuan ISM. (2010). Sikap Masyarakat terhadap Program Kitar
Semula: Kajian Kes di Daerah Batu Pahat, Johor. Journal of Techno-
Social. (2)1.
Wicaksono SR. 2011. Strategi Penerapan Domain Afektif di Lingkup Perguruan
Tinggi. Jurnal Pendidikan. 12 (2).
Widoyoko EP. 2010. Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta. Pustaka
Pelajar.
Winkel I. 2000. Psikologi Pengajaran. Edisi Revisi. Jakarta: Gramedia Widiasrana
Indonesia.
Yunita. 2011. Strategi Peningkatan Kapasitas Petani Padi Sawah Lebak Menuju
Ketahanan Pangan Rumah Tangga di Kabupaten Ogan Ilir dan Ogan
Komering Ilir Provinsi Sumatera Selatan. [Disertasi]. Bogor. Institut
Pertanian Bogor.
Zamhariri. 2008. Pengembangan Masyarakat: Perspektif Pemberdayaan dan
pembangunan. Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam. 4 (1).
Zamzami L. 2012. Peranan Lembaga Pengembangan Pesisir Mikro “Mitra Mina”
dalam Upaya Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir di
Sumatera Barat. Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan. 1 (2).
Zhang G, Zeller N, Griffith R, Metcalf D, Williams J, Shea C, dan KMisulis K.
2011. Using the Context, Input, Process, and Product Evaluation Model
(CIPP) as a Comprehensive Framework to Guide the Planning,
Implementation, and Assessment of Service-learning Programs. Journal of
Higher Education Outreach and Engagement. 15 (4).
63

LAMPIRAN

Lampiran 1 Peta Kecamatan Teluk Naga

Keterangan:
Desa Tanjung Pasir
Desa Muara
64

Lampiran 2 Foto-foto Penelitian

Papan Nama
Kelompok PDPT

Kondisi Lingkungan
Desa Pesisir

Pembangunan Turap
Sungai
65

Mesin Pengolah
Sampah

Hasil kerajinan
Pengolahan sampah

Pembangunan SPAL
66

Penanaman Mangrove

Wawancara
responden

Wawancara
responden
67

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan pada
tanggal 1 November 1987. Merupakan anak bungsu dari sepuluh bersaudara, dari
Ayah (alm) H. Sulo Lipu dan Ibu (almh) Hj. Mastiha. Pendidikan sarjana
ditempuh penulis pada tahun 2006 melalui jalur Seleksi Masuk Perguruan Tinggi
Negeri (SMPTN) Universitas Hasanuddin, dengan memilih Program Studi Sosial
Ekonomi Pertanian, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian
Universitas Hasanuddin Makassar. Saat menempuh Program Sarjana, penulis aktif
dalam kepengurusan Mahasiswa Peminat Sosial Ekonomi Pertanian (MISEKTA
UNHAS). Penulis menyelesaikan studi pada tahun 2010 dengan predikat cum
laude dan menyusun Skripsi dengan judul “Dampak Berdirinya Perkebunan
Kelapa Sawit terhadap Perkembangan Mata Pencaharian Masyarakat Sekitar
(Studi Kasus pada PTPN XIV (Persero) Unit Keere, Desa Ciromanie, Kecamatan
Keera, Kabupaten Wajo).
Sejak tahun 2010, penulis tercatat sebagai staf pengajar pada Sekolah
Tinggi Ilmu Ekonomi Pelita Buana Makassar (STIE-PB). Pada tahun 2011 penulis
mendapatkan kesempatan melanjutkan Program Magister pada Mayor Ilmu
Penyuluhan Pembangunan Sekolah Pascasarjana IPB, dengan Beasiswa BPPS
Kementerian Pendidikan Nasional.
Artikel ilmiah dengan judul “Sikap Masyarakat terhadap Program
Pengembangan Desa Pesisir Tangguh di Kecamatan Teluk Naga, Tangerang,
Banten” bagian dari penelitian tesis ini akan dimuat dalam Jurnal Sosiokonsepsia,
Kementerian Sosial.