Anda di halaman 1dari 7

Metode Penelitian

KL5098

Irsan Soemantri B., Ph.D

Tugas 1
Literature Review

Mikhael Mangopo
25516007

Program Magister Teknik Kelautan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung
2017
KAJIAN PEMILIHAN METODE PENGERUKAN UNTUK KAWASAN PELABUHAN LABUHAN
LOMBOK
Literatur
Paper A : Trailing Suction Hopper Dredger
Paper B : Kajian Awal Bucket Wheel Dredger
Paper C : Cutter Suction Dredger dan Jenis Material (Pada Pekerjaan Capital Dredging
Pembangunan Pelabuhan Teluk Lamongan)
Paper D : Water Injection Dredging in U.S. Waterways, History and Expectations
Dalam pekerjaan pengerukan metode atau sistem peralatan yang digunakan menjadi hal sangat
penting karena metode pengerukan akan menentukan efektifitas dan efisiensi saat pelaksanaan
pengerukan. Pemilihan metode sangat bergantung pada beberapa faktor utama yaitu tipe soil
(sedimentasi), kedalaman areal pengerukan (dredging depth), kondisi fisis dan geografis lokasi,
volume pekerjaan, serta kebutuhan lingkungan hidup.
Tipe Material (Sedimentasi)
Pada paper A, Bray menyatakan bahwa TSHD dapat digunakan pada berbagai macam material
atau tipe soil seperti pasir, batu, lanau, dan jenis lainnya. Metode BWD direkomendasikan oleh
Nurasikin untuk diaplikasikan di area studi yang dikajinya yaitu di lingkungan PT Timah dimana
karakteristik materialnya adalah lumpur berpasir dan pasir berlumpur. Pembahasan yang
dilakukan oleh Juris lebih spesifik ke sector jenis material. Disebutkan bahwa pada kondisi
tanah dengan nilai SPT tertentu cocok digunakan metode CSD sesuai dengan tabel berikut
Tabel 1. Tabel Jenis Kapal Keruk dan Jenis Tanah Yang Mampu Dikeruk

Selain dari kriteria material berdasarkan SPT/N-Value diatas masih ada beberapa parameter
material lain yang mempengaruhi rekomendasi penggunaan metode CSD yang disimpulkan
diantaranya adalah; CSD dapat mengerukberbagai jenis material tanah (kecuali tanah SPT>60),
sesuai dengan kemampuan pompa keruk dan Cutter Head-nya. Semakin besar diameter
material, maka akan semakin berat material tersebut didorong oleh air sehingga produktifitas
CSD menurun. Material dengan nilai plastisitas yang tinggi akan mengakibatkan produktifitas
CSD menurun. Dinyatakan pada paper yang ditulis oleh Wilson bahwa metode WID sangat
efektif digunakan pada lokasi dengan kondisi material yang lebih lunak dan tidak cocok untuk
material yang lebih keras seperti batu karang atau area pengerukan yang baru pertama kali
akan dikeruk sehingga metode WID cocok diterapkan pada pengerukan yang bersifat
maintenance dimana material keruknya merupakan hasil sedimentasi yang terjadi setelah suatu
area dikeruk.
Berdasarkan survei yang telah dilakukan sebelumnya kondisi jenis material keruk di kawasan
Pelabuhan Labuhan Lombok adalah pasir dan lanau. Ada areal yang terbentuk dari karang dan
batu keras namun karena telah beberapa kali dilakukan pengerukan maka sifat pengerukan
yang diperlukan adalah maintenance dimana target material keruk adalah hasil sedimentasi
yang terjadi pada kawasan tersebut berupa pasir dan lanau. Pada kriteria ini, keempat jenis
metode pengerukan yang ditinjau masih sesuai dan perlu dilakukan penyelidikan lebih lanjut
mengenai material keruk pada target kedalaman yang diinginkan.
Kedalaman areal pengerukan
Kedalaman areal pengerukan meliputi kedalaman eksisting suatu perairan dan target
kedalaman pengerukan yang diinginkan. Menurut paper yang ditulis oleh Bray, pada ukuran
TSHD terkecil nilai draft nya adalah 5m dengan maksimal kedalaman pengerukan adalah 26,5
meter sesuai dengan kemampuan pipa penghisap yang digunakan yaitu pipa dengan diameter
800mm. Sementara itu untuk TSHD dengan ukuran besar besar draftnya adalah sekitar 15.55m
dengan target kedalaman pengerukan mencapai 155m dengan pipa penghisap yang digunakan
berdiameter 1300mm. Disampaikan oleh Nurasikin dalam paper B bahwa kedalaman maksimal
yang dapat dicapai dengan menggunakan BWD adalah 70m dibawah permukaan dasar laut.
Area studi yang menjadi kajian Juris dalam paparannya mengenai CSD memiliki target
kedalaman pengerukan sebesar 10,5 meter dan tidak disebutkan secara mendetail mengenai
nilai draft dari CSD. Pada paper D yang ditulis oleh Wilson disebutkan bahwa keunggulan
metode WID adalah dapat digunakan pada perairan yang dangkal dan ukuran areal terbatas.
Kedalaman eksisting kawasan target pengerukan di Pelabuhan Labuhan Lombok adalah 3-15
meter dengan target pengerukan sebesar 5 meter. Sesuai kriteria tersebut maka penggunaan
TSHD ukuran terkecil belum sesuai dengan kondisi kedalaman yang ada. Berdasarkan target
kedalaman, keempat metode yang ditinjau cukup sesuai namun perlu dilakukan peninjauan
terlebih dahulu mengenai draft dari kapal terkecil yang digunakan pada metode BWD, CSD, dan
WID untuk dapat memutuskan metode mana yang cocok untuk diterapkan.
Kondisi Fisis dan Geografis Areal Pengerukan
Bray mengemukakan bahwa TSHD dapat dioperasikan pada air tenang maupun keadaan air
dengan turbulensi besar seperti pada mulut kanal ataupun jauh dari pesisir dimana gangguan
gelombang dan cuaca cukup besar. TSHD juga dapat dioperasikan pada kawasan pelabuhan
yang lalu lintas pelayarannya padat dikarenakan tidak memiliki jangkar atau kabel dimana alat
ini dapat bergerak bebas dengan penggeraknya sendiri. Dalam tulisannya di publikasi
International Association of Dredging Companies (IADC) dijelaskan bahwa ada beberapa
pertimbangan lingkungan dalam pengoperasian TSHD diantaranya adalah penentuan posisi dan
monitoring terhadap kedudukan pipa penghisap terhadap kedudukan objek di dasar perairan.
TSHD dikatakan juga efektif dan efisien untuk lokasi pengerukan dengan lokasi pembuangan
yang cukup jauh karena material dapat diangkut dan dipindahkan tanpa membutuhkan
peralatan pendukung lain. Karena fleksibilitas dalam pergerakannya tersebut juga maka kondisi
lalu lintas yang padat bukan menjadi masalah pada metode pengerukan TSHD.
Dalam kajiannya yang berjudul “kajian awal desain bucket wheel dredger” oleh Nurasikin
disebutkan bahwa Bucket Wheel Dredger (BWD) sering digunakan pada kawasan perairan
dengan kondisi konstan seperti pertambangan laut dan cocok untuk pengerukan dengan skala
besar, tahan terhadap angin, gelombang dan arus pasang surut. Dalam paper Juris tidak
disebutkan secara mendetail mengenai kondisi fisis dan geografis yang cocok untuk digunakan
metode CSD dalam paper yang disusun oleh Juris, tetapi kondisi cuaca akan mempengaruhi
produktifitas dari CSD dan pada umumnya di Indonesia CSD sering diaplikasikan pada
pengerukan di daerah sungai dan pelabuhan.
Metode WID cocok untuk digunakan pada perairan dengan kondisi siklus arus dasar laut yang
sesuai, dimana pergerakan material sedimen hasil pengerukan terjadi secara alami dan siklus
arus adalah factor utama dalam pergerakan material hasil keruk tersebut. Wilson juga
memaparkan bahwa karena instalasinya yang sederhana dan ukuran yang kecil maka metode
WID sangat cocok digunakan pada area yang sempit dan sulit terjangkau. Pada perairan dengan
lalu lintas perairan yang padat, disebutkan juga bahwa metode ini cocok untuk diterapkan pada
lokasi dengan kondisi tersebut.
Secara fisis kondisi perairan yang direncakana untuk dikeruk di Pelabuhan Labuhan Lombok
tidak begitu terpengaruh oleh angin dan gelombang laut. Hal ini disebabkan karena lokasi yang
berada di dalam teluk dan terlindung oleh sand spit yang terbentuk di sekitar area tersebut.
Area rencana pembuangan terletak pada jarak sekitar 12 mil laut dari lokasi pengerukan. Dari
kriteria kondisi fisis dan geografis keempat metode yang dikaji bisa untuk diaplikasikan di lokasi
ini dan terkait dengan volume pekerjaan dan jarak lokasi dumping maka perlu dilakukan
perhitungan lebih lanjut metode mana yang memiliki efisiensi paling besar. Kondisi lalu lintas
pelayaran lokasi rencana pengerukan cukup padat karena merupakan alur aktif dari pelayaran
antar pulau maka metode TSHD dan WID mempunyai kelebihan tersendiri karena fleksibilitas
manuvernya.
Volume pekerjaan
Menurut paper yang dibahas dalam studi literatur ini, TSHD, BWD, dan CSD dapat digunakan
untuk volume pekerjaan yang besar namun jika ditinjau dari segi efisiensi, Bray memaparkan
bahwa TSHD memiliki tingkat efisiensi yang tinggi dibandingkan dengan metode lainya karena
TSHD memiliki tenaga penggerak sendiri maka metode ini cocok digunakan pada proyek
reklamasi skala besar dimana jumlah material yang akan dikeruk besar dan jarak antara lokasi
pengerukan dengan lokasi pembuangan yang cukup jauh karena material dapat diangkut dan
dipindahkan tanpa membutuhkan peralatan pendukung lain.
Dalam penjelasan oleh Wilson dalam papernya yang membahas mengenai metode WID,
disebutkan bahwa metode WID memberikan nilai ekonomis yang baik pada pengerukan Alur
Navigasi di pelabuhan dan alur yang ada di U.S. pada kondisi yang sesuai. Metode WID terbukti
sesuai untuk digunakan pada proyek pengerukan skala kecil.
Perlu dikalkulasi volume rencana pengerukan yang akan dilakukan di areal Pelabuhan Labuhan
Lombok untuk dapat mengetahui metode yang efisien jika ditinjau dari volume pekerjaan.
Kebutuhan Lingkungan Hidup
Menurut paper Bray, TSHD menghasilkan sedimen layang dalam jumlah yang sedikit
dibandingkan dengan Cutter Suction Dredger (CSD) tetapi peningkatan jumlah sedimen layang
yang mengakibatkan turbiditas juga meningkat dapat dipicu oleh aliran keluar dari air yang
mengandung sedimen halus ke perairan. Meningkatnya turbiditas menyebabkan intensitas
cahaya matahari yang menembus perairan berkurang dan berdampak negative pada ekosistem
kehidupan diperairan tersebut.
Tidak dikaji secara jelas mengenai pengaruh pada faktor lingkungan hidup dari masing masing
metode BWD dan CSD. Dalam jurnal Wilson dikemukakan bahwa selain aspek efisiensi
ekonomis, metode WID juga menghasilkan sangat sedikit jumlah sedimen yang tersuspensi di
dalam air dimana hal ini berdampak baik untuk keberlangsungan lingkungan di kawasan
perairan yang dikeruk.
Perairan di kawasan Pelabuhan Labuhan Lombok merupakan tempat mata pencaharian sumber
daya laut bagi masyarakat setempat yang mayoritas adalah nelayan. Terkait hal tersebut
kondisi keberlangsungan kondisi lingkungan yang setimbang harus dijaga agar sumber daya
alam yang menjadi tangkapan nelayan tetap berlangsung kehidupannya. Perlu dilakukan studi
lanjut mengenai kriteria kondisi lingkungan dan batasan yang dapat menjadi standar dalam
mempertimbangkan pengaruh dari pekerjaan pengerukan sesuai metode yang akan dipilih
dalam pekerjaan pengerukan tersebut nantinya.
DAFTAR PUSTAKA

Bray, RN (International Association of Dredging Company), 2014, Trailing Suction Hopper


Dredger. FACTS ABOUT An Information Update from the IADC, The Netherlands

D.A Wilson, Water Injection Dredging in U.S. Waterways, History and Expectations., Papers and
Presentation.

Juris Mahendra, Cutter Suction Dredger dan Jenis Material (Pada Pekerjaan Capital Dredging
Pembangunan Pelabuhan Teluk Lamongan), jurishendra@gmail.com

Nurasikin. Kajian Awal Bucket Wheel Dredger. Jurnal Teknik Perkapalan, Fakultas Teknologi
Kelautan - ITS