Anda di halaman 1dari 17

KAJIAN PEMILIHAN METODE PENGERUKAN UNTUK KAWASAN

PELABUHAN LABUHAN LOMBOK

PROPOSAL THESIS

Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dari
Institut Teknologi Bandung

Oleh

Mikhael Mangopo
25516007

Program Magister Teknik Kelautan


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung
2017
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN............................................................................................................ 1
BAB 2 STUDI LITERATUR ....................................................................................................... 5
BAB 3 METODOLOGI ............................................................................................................... 9
BAB 4 HASIL YANG DIHARAPKAN .................................................................................... 12
BAB 5 TIMELINE DAN RENCANA PUBLIKASI .................................................................. 13
BAB 6 PUSTAKA ..................................................................................................................... 14

ii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Trailing Suction Hopper Dredger ................................................................................. 2


Gambar 2. Bucket Wheel Dredger .................................................................................................. 2
Gambar 3 Cutter Suction Dredger .................................................................................................. 3
Gambar 4. Water Injection Dredger................................................................................................ 3
Gambar 5 Lokasi Pelabuhan Labuhan Lombok.............................................................................. 9
Gambar 6 Diagram alir penelitian................................................................................................. 11

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Tabel Jenis Kapal Keruk dan Jenis Tanah Yang Mampu Dikeruk ................................... 5
Tabel 2 Timeline Penelitian .......................................................................................................... 13

iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Dalam kegiatan pembangunan dan perawatan infrastruktur wilayah pesisir. Pekerjaan pengerukan
merupakan salah satu kegiatan yang sangat menunjang kegiatan pembangunan maupun perawatan
infrastruktur kawasan pesisir. pengerukan menurut Asosiasi Internasional Perusahaan Pengerukan
adalah mengambil tanah atau material dari lokasi di dasar air, biasanya perairan dangkal seperti
danau, sungai, muara ataupun laut dangkal, dan memindahkan atau membuangnya ke lokasi lain.
Dari pengertian tersebut maka diperlukan sebuah media atau sistem peralatan yang digunakan
untuk mendukung kegiatan tersebut. Untuk melakukan pengerukan biasanya digunakan kapal
keruk yang memiliki alat-alat khusus sesuai dengan kondisi di areal yang akan dikeruk.
Pengerukan utamanya terdiri dari 3 tahap

1. Memisahkan dan mengambil material dari dasar air dengan menggunakan


 Pengikisan (erosion)
 Memancarkan air tekanan tinggi (jetting)
 Memotong (cutting)
 Menghisap (suction)
 Memecah (breaking)
 Mengambil dengan menggunakan bucket (grabbing)
2. Mengangkut material dengan menggunakan
 Tongkang (barges)
 Tongkang atau kapal yang didesain secara khusus memiliki wadah penampung
(hoppers)
 pipa terapung / floating pipeline
 conveyor-belt
 Truk
3. Pembuangan material tersebut dengan menggunakan:
 Pembuangan pipa (pipeline discharge)
 Alat angkat seperti crane
 Membuka pintu di bawah pada beberapa kapal atau tongkang yang didesain secara
khusus (hopper barges)

Berikut adalah beberapa jenis metode atau teknik pengerukan yang akan dikaji dalam penelitian
ini

1. Trailing Suction Hopper Dredger (TSHD)


TSHD Beroperasi dengan menghisap material melalui pipa panjang seperti vacuum
cleaner. Kapal menyeret pipa penghisap ketika bekerja, dan mengisi material yang diisap
tersebut ke satu atau beberapa penampung (hopper) di dalam kapal. Ketika penampung
sudah penuh, TSHD akan berlayar ke lokasi pembuangan dan membuang material tersebut
melalui pintu yang ada di bawah kapal atau dapat pula memompa material tersebut ke luar
kapal.

1
Gambar 1. Trailing Suction Hopper Dredger

2. Bucket Dredger
Bucket dredger sudah termasuk tua dari kapal keruk dan dilengkapi dengan beberapa alat
seperti timba atau bucket yang bergerak secara simultan untuk mengangkat sedimen dari
dasar air. Varian dari Bucket dredger ini adalah Bucket Wheel Dredger (BWD).

Gambar 2. Bucket Wheel Dredger


3. Cutter Suction Dredger
Jenis Kapal keruk ini bisa memotong materialnya dan menghisap material untuk dibuang.
Kapal
ini dapat mengeruk berbagai macam material dan pada kedalaman yang bervariasi. Cutter-
suction dredger atau CSD, merupakan tabung untuk menghisap yang memiliki kepala
pemotong di pintu masuk penghisap. Pemotong ini digunakan untuk material yang keras
seperti kerikil dan batu. Adapun Material yang dikeruk dengan cara diisap oleh pompa
pengisap sentrifugal dan dikeluarkan melalui pipa/tongkang. CSD ini memiliki pemotong
yang lebih kuat dan digunakan untuk memotong batu. CSD ini mempunyai 2 buah spud
can di bagian belakang dan 2 jangkar di bagian depan kiri dan kanan. Spud can berfungsi
sebagai poros penggerak CSD dan dua jangkar untuk menarik ke kiri dan kanan.

2
Gambar 3 Cutter Suction Dredger
4. Water Injection Dredger
Water injection dredger menembakkan air di dalam sebuah jet kecil bertekanan rendah
(tekanan rendah karena material seharusnya tidak bertebaran ke mana pun, karena harus
secara hati-hati agar material dapat dipindah) ke sedimen di dasar air agar air dapat
mengikat sedimen sehingga melayang di air, selanjutnya didorong oleh arus dan gaya berat
keluar dari lokasi pengerukan. Biasanya digunakan untuk maintenance dredging di
pelabuhan. Beberapa pihak menyatakan bahwa WID adalah bukan pengerukan sementara
pihak lain menyatakan sebaliknya.

Gambar 4. Water Injection Dredger


1. 2 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk:
 Membandingkan empat metode pengerukan yaitu TSHD, BD, CSD, dan WID
berdasarkan studi literatur

3
 Menganalisis metode pengerukan yang akan digunakan di lokasi Pelabuhan Labuhan
Lombok berdasarkan data primer dan sekunder yang diperoleh mengenaik kondisi
perairan Labuhan Lombok
1. 3 Ruang Lingkup
 Melakukan pengumpulan data primer dan sekunder mengenai kondisi perairan pelabuhan
Labuhan Lombok yaitu material keruk, kedalaman perairan, kondisi geografis, volume
rencana pengerukan, dan aspek lingkungan hidup di lokasi.
 Melakukan pengolahan dan analisis data terhadap data primer dan sekunder yang
didapatkan
 Mengkaji ketersediaan peralatan berdasarkan metode pengerukan dipilih
 Melakukan perhitungan anggaran biaya pengerukan untuk masing-masing metode yang
memungkinkan

4
BAB 2 STUDI LITERATUR

Dalam pekerjaan pengerukan metode atau sistem peralatan yang digunakan menjadi hal sangat
penting karena metode pengerukan akan menentukan efektifitas dan efisiensi saat pelaksanaan
pengerukan. Pemilihan metode sangat bergantung pada beberapa faktor utama yaitu tipe soil
(sedimentasi), kedalaman areal pengerukan (dredging depth), kondisi fisis dan geografis lokasi,
volume pekerjaan, serta kebutuhan lingkungan hidup.
2. 1 Jenis Material (Sedimentasi)
Bray menyatakan bahwa TSHD dapat digunakan pada berbagai macam material atau tipe soil
seperti pasir, batu, lanau, dan jenis lainnya. Metode BWD direkomendasikan oleh Nurasikin untuk
diaplikasikan di area studi yang dikajinya yaitu di lingkungan PT Timah dimana karakteristik
materialnya adalah lumpur berpasir dan pasir berlumpur. Pembahasan yang dilakukan oleh Juris
lebih spesifik ke sector jenis material. Disebutkan bahwa pada kondisi tanah dengan nilai SPT
tertentu cocok digunakan metode CSD sesuai dengan tabel berikut
Tabel 1. Tabel Jenis Kapal Keruk dan Jenis Tanah Yang Mampu Dikeruk

Selain dari kriteria material berdasarkan SPT/N-Value diatas masih ada beberapa parameter
material lain yang mempengaruhi rekomendasi penggunaan metode CSD yang disimpulkan
diantaranya adalah; CSD dapat mengerukberbagai jenis material tanah (kecuali tanah SPT>60),
sesuai dengan kemampuan pompa keruk dan Cutter Head-nya. Semakin besar diameter material,
maka akan semakin berat material tersebut didorong oleh air sehingga produktifitas CSD menurun.
Material dengan nilai plastisitas yang tinggi akan mengakibatkan produktifitas CSD menurun.
Dinyatakan pada paper yang ditulis oleh Wilson bahwa metode WID sangat efektif digunakan
pada lokasi dengan kondisi material yang lebih lunak dan tidak cocok untuk material yang lebih

5
keras seperti batu karang atau area pengerukan yang baru pertama kali akan dikeruk sehingga
metode WID cocok diterapkan pada pengerukan yang bersifat maintenance dimana material
keruknya merupakan hasil sedimentasi yang terjadi setelah suatu area dikeruk.
Berdasarkan survei yang telah dilakukan sebelumnya kondisi jenis material keruk di kawasan
Pelabuhan Labuhan Lombok adalah pasir dan lanau. Ada areal yang terbentuk dari karang dan
batu keras namun karena telah beberapa kali dilakukan pengerukan maka sifat pengerukan yang
diperlukan adalah maintenance dimana target material keruk adalah hasil sedimentasi yang terjadi
pada kawasan tersebut berupa pasir dan lanau. Pada kriteria ini, keempat jenis metode pengerukan
yang ditinjau masih sesuai dan perlu dilakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai material keruk
pada target kedalaman yang diinginkan.
2. 2 Kedalaman areal pengerukan
Kedalaman areal pengerukan meliputi kedalaman eksisting suatu perairan dan target kedalaman
pengerukan yang diinginkan. Menurut paper yang ditulis oleh Bray, pada ukuran TSHD terkecil
nilai draft nya adalah 5m dengan maksimal kedalaman pengerukan adalah 26,5 meter sesuai
dengan kemampuan pipa penghisap yang digunakan yaitu pipa dengan diameter 800mm.
Sementara itu untuk TSHD dengan ukuran besar besar draftnya adalah sekitar 15.55m dengan
target kedalaman pengerukan mencapai 155m dengan pipa penghisap yang digunakan berdiameter
1300mm. Disampaikan oleh Nurasikin dalam paper B bahwa kedalaman maksimal yang dapat
dicapai dengan menggunakan BWD adalah 70m dibawah permukaan dasar laut. Area studi yang
menjadi kajian Juris dalam paparannya mengenai CSD memiliki target kedalaman pengerukan
sebesar 10,5 meter dan tidak disebutkan secara mendetail mengenai nilai draft dari CSD. Pada
paper D yang ditulis oleh Wilson disebutkan bahwa keunggulan metode WID adalah dapat
digunakan pada perairan yang dangkal dan ukuran areal terbatas.
Kedalaman eksisting kawasan target pengerukan di Pelabuhan Labuhan Lombok adalah 3-15
meter dengan target pengerukan sebesar 5 meter. Sesuai kriteria tersebut maka penggunaan TSHD
ukuran terkecil belum sesuai dengan kondisi kedalaman yang ada. Berdasarkan target kedalaman,
keempat metode yang ditinjau cukup sesuai namun perlu dilakukan peninjauan terlebih dahulu
mengenai draft dari kapal terkecil yang digunakan pada metode BWD, CSD, dan WID untuk dapat
memutuskan metode mana yang cocok untuk diterapkan.
2. 3 Kondisi Fisis dan Geografis Areal Pengerukan
Bray mengemukakan bahwa TSHD dapat dioperasikan pada air tenang maupun keadaan air
dengan turbulensi besar seperti pada mulut kanal ataupun jauh dari pesisir dimana gangguan
gelombang dan cuaca cukup besar. TSHD juga dapat dioperasikan pada kawasan pelabuhan yang
lalu lintas pelayarannya padat dikarenakan tidak memiliki jangkar atau kabel dimana alat ini dapat
bergerak bebas dengan penggeraknya sendiri. Dalam tulisannya di publikasi International
Association of Dredging Companies (IADC) dijelaskan bahwa ada beberapa pertimbangan
lingkungan dalam pengoperasian TSHD diantaranya adalah penentuan posisi dan monitoring
terhadap kedudukan pipa penghisap terhadap kedudukan objek di dasar perairan. TSHD dikatakan
juga efektif dan efisien untuk lokasi pengerukan dengan lokasi pembuangan yang cukup jauh
karena material dapat diangkut dan dipindahkan tanpa membutuhkan peralatan pendukung lain.

6
Karena fleksibilitas dalam pergerakannya tersebut juga maka kondisi lalu lintas yang padat bukan
menjadi masalah pada metode pengerukan TSHD.
Dalam kajiannya yang berjudul “kajian awal desain bucket wheel dredger” oleh Nurasikin
disebutkan bahwa Bucket Wheel Dredger (BWD) sering digunakan pada kawasan perairan dengan
kondisi konstan seperti pertambangan laut dan cocok untuk pengerukan dengan skala besar, tahan
terhadap angin, gelombang dan arus pasang surut. Dalam paper Juris tidak disebutkan secara
mendetail mengenai kondisi fisis dan geografis yang cocok untuk digunakan metode CSD dalam
paper yang disusun oleh Juris, tetapi kondisi cuaca akan mempengaruhi produktifitas dari CSD
dan pada umumnya di Indonesia CSD sering diaplikasikan pada pengerukan di daerah sungai dan
pelabuhan.
Metode WID cocok untuk digunakan pada perairan dengan kondisi siklus arus dasar laut yang
sesuai, dimana pergerakan material sedimen hasil pengerukan terjadi secara alami dan siklus arus
adalah factor utama dalam pergerakan material hasil keruk tersebut. Wilson juga memaparkan
bahwa karena instalasinya yang sederhana dan ukuran yang kecil maka metode WID sangat cocok
digunakan pada area yang sempit dan sulit terjangkau. Pada perairan dengan lalu lintas perairan
yang padat, disebutkan juga bahwa metode ini cocok untuk diterapkan pada lokasi dengan kondisi
tersebut.
Secara fisis kondisi perairan yang direncakana untuk dikeruk di Pelabuhan Labuhan Lombok tidak
begitu terpengaruh oleh angin dan gelombang laut. Hal ini disebabkan karena lokasi yang berada
di dalam teluk dan terlindung oleh sand spit yang terbentuk di sekitar area tersebut. Area rencana
pembuangan terletak pada jarak sekitar 12 mil laut dari lokasi pengerukan. Dari kriteria kondisi
fisis dan geografis keempat metode yang dikaji bisa untuk diaplikasikan di lokasi ini dan terkait
dengan volume pekerjaan dan jarak lokasi dumping maka perlu dilakukan perhitungan lebih lanjut
metode mana yang memiliki efisiensi paling besar. Kondisi lalu lintas pelayaran lokasi rencana
pengerukan cukup padat karena merupakan alur aktif dari pelayaran antar pulau maka metode
TSHD dan WID mempunyai kelebihan tersendiri karena fleksibilitas manuvernya.
2. 4 Volume pekerjaan
Menurut paper yang dibahas dalam studi literatur ini, TSHD, BWD, dan CSD dapat digunakan
untuk volume pekerjaan yang besar namun jika ditinjau dari segi efisiensi, Bray memaparkan
bahwa TSHD memiliki tingkat efisiensi yang tinggi dibandingkan dengan metode lainya karena
TSHD memiliki tenaga penggerak sendiri maka metode ini cocok digunakan pada proyek
reklamasi skala besar dimana jumlah material yang akan dikeruk besar dan jarak antara lokasi
pengerukan dengan lokasi pembuangan yang cukup jauh karena material dapat diangkut dan
dipindahkan tanpa membutuhkan peralatan pendukung lain.
Dalam penjelasan oleh Wilson dalam papernya yang membahas mengenai metode WID,
disebutkan bahwa metode WID memberikan nilai ekonomis yang baik pada pengerukan Alur
Navigasi di pelabuhan dan alur yang ada di U.S. pada kondisi yang sesuai. Metode WID terbukti
sesuai untuk digunakan pada proyek pengerukan skala kecil.
Perlu dikalkulasi volume rencana pengerukan yang akan dilakukan di areal Pelabuhan Labuhan
Lombok untuk dapat mengetahui metode yang efisien jika ditinjau dari volume pekerjaan.

7
2. 5 Kebutuhan Lingkungan Hidup
Menurut paper Bray, TSHD menghasilkan sedimen layang dalam jumlah yang sedikit
dibandingkan dengan Cutter Suction Dredger (CSD) tetapi peningkatan jumlah sedimen layang
yang mengakibatkan turbiditas juga meningkat dapat dipicu oleh aliran keluar dari air yang
mengandung sedimen halus ke perairan. Meningkatnya turbiditas menyebabkan intensitas cahaya
matahari yang menembus perairan berkurang dan berdampak negative pada ekosistem kehidupan
diperairan tersebut.
Tidak dikaji secara jelas mengenai pengaruh pada faktor lingkungan hidup dari masing masing
metode BWD dan CSD. Dalam jurnal Wilson dikemukakan bahwa selain aspek efisiensi
ekonomis, metode WID juga menghasilkan sangat sedikit jumlah sedimen yang tersuspensi di
dalam air dimana hal ini berdampak baik untuk keberlangsungan lingkungan di kawasan perairan
yang dikeruk.
Perairan di kawasan Pelabuhan Labuhan Lombok merupakan tempat mata pencaharian sumber
daya laut bagi masyarakat setempat yang mayoritas adalah nelayan. Terkait hal tersebut kondisi
keberlangsungan kondisi lingkungan yang setimbang harus dijaga agar sumber daya alam yang
menjadi tangkapan nelayan tetap berlangsung kehidupannya. Perlu dilakukan studi lanjut
mengenai kriteria kondisi lingkungan dan batasan yang dapat menjadi standar dalam
mempertimbangkan pengaruh dari pekerjaan pengerukan sesuai metode yang akan dipilih dalam
pekerjaan pengerukan tersebut nantinya.

8
BAB 3 METODOLOGI

Metodologi yang akan digunakan dalam kajian ini adalah dengan melakukan tinjauan pada
parameter yang digunakan sebagai kriteria dalam penentuan metode pengerukan sesuai yaitu jenis
material keruk, kedalaman areal pengerukan, kondisi fisis dan geografis lokasi, volume
pengerukan, serta kebutuhan lingkungan hidup di Pelabuhan Labuhan Lombok.
3.1 Lokasi Studi
Lokasi studi pada kasus yang akan diteliti terletak di Pelabuhan Labuhan Lombok, Kabupaten
Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat

Gambar 5 Lokasi Pelabuhan Labuhan Lombok


3.2 Penyelidikan Tanah
Dalam penyelidikan tanah, terdapat 2 (dua) jenis penyelidikan yaitu pengujian langsung di
lapangan dan pengujian laboratorium. Pengujian langsung di lapangan yaitu dengan pemboran inti
(log bor), serta pengujian standar penetrasi (SPT). Pengujian laboratorium dilakukan terhadap
contoh tanah tak terganggu (Undisturbed) dan contoh tanah terganggu (Disturbed).
Dalam setiap jenis aplikasi tanah harus diselidiki. Jenis material tanah, yaitu :
- Kohesif: tanah liat, lumpur
- Granular: pasir lepas, kerikil
- Sedimen atau padat

9
Kriteria yang bisa diperoleh dari hasil uji tersebut adalah nilai sebaran N-SPT dari bor log ,
klasifikasi tanah berdasarkan ukuran butir, dan tegangan geser dari hasil uji laboratorium.
3.3 Kedalaman Perairan
Peninjauan kedalaman areal pengerukan dapat dilakukan dengan mengumpulkan data bathimetri
perairan Pelabuhan Labuhan Lombok. Data bathimetri dapat diperoleh dari data sekunder yang
disediakan oleh instansi yang reliable seperti Badan Informasi Geospasial dan Dinas Hidrografi
dan Oseanografi TNI-AL. Selain data sekunder jika diperlukan maka dapat dilakukan survei
bathimetri menggunakan perangkat echosounder dan DGPS secara independen dimana data yang
diperoleh akan lebih actual dan terkini. Disamping peninjauan kedalaman areal pengerukan
terhadap draft kapal yang akan digunakan, perlu juga ditinjau target kedalaman pengerukan yang
diinginkan untuk memilih jenis metode dan kapal yang sesuai untuk digunakan dalam proses
pengerukan.
Rencana volume pengerukan diperoleh dengan melakukan perhitungan berdasarkan data
bathimetri eksisting. Terkait hal tersebut maka perlu dilakukan desain alur dan geometri rencana
pengerukan yang akan dilakukan. Perhitungan volume dilakukan dengan membuat cross section
sepanjang area rencana pengerukan kemudian dengan perangkat lunak AutoCAD Land Desktop
dapat secara otomatis dilakukan kalkulasi sesuai target desain rencana pengerukan yang diberikan.
Perhitungan volume disesuaikan dengan kapasitas produktivitas yang dapat dicapai dari masing-
masing metode pengerukan.
3.4 Pemodelan Hidrodinamika dan Peninjauan Geografis
Kegiatan pemodelan dilakukan pada keadaan ekstrim keadaan meteorologi dan oseanografi yang
menggambarkan simulasi hidrodinamika saluran. Kriteria yang bisa diperoleh antara lain jenis
pasang surut dan parameternya, pola sirkulasi arus, pola sedimentasi, dan tinggi gelombang di
lokasi rencana pengerukan. Kondisi geografis perlu ditinjau meliputi akses untuk menuju lokasi
pengerukan, lebar area, dan jarak lokasi damping area terhadap lokasi pengerukan. Kepadatan lalu
lintas pelayaran juga perlu ditinjau dan data ini dapat diperoleh dari dinas navigasi perairan
setempat.
3.5 Aspek Lingkungan
Parameter kebutuhan lingkungan hidup diperoleh dengan meninjau regulasi yang berlaku terkait
AMDAL untuk pelaksanaan pekerjaan pengerukan sesuai dengan lokasi dimana akan dilakukan
pekerjaan tersebut. Selain meninjau regulasi dari pemerintah yang berlaku perlu juga dilakukan
survei sosial ekonomi dengan contoh pengambilan pendapat penduduk setempat yang akan terkena
dampak dari terganggunya keberlangsungan lingkungan hidup di lokasi rencana pengerukan
melalui kuisioner dan wawancara.
Berikut beberapa regulasi yang mengatur mengenai keberlangsungan lingkungan hidup terkait
dengan pelaksanaan pekerjaan pengerukan;
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.19/1999, pencemaran laut diartikan dengan masuknya atau
dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan laut oleh
kegiatan manusia sehingga kualitasnyaturun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan
lingkungan laut tidak sesuai lagi dengan baku mutu dan/atau fungsinya (Pramudianto, 1999).

10
Sedangkan Konvensi Hukum Laut III (United Nations Convention on the Law of the Sea =
UNCLOS III) memberikan pengertian bahwa pencemaran laut adalah erubahan dalam lingkungan
laut termasuk muara sungai (estuaries) yang menimbulkan akibat yang buruk sehingga dapat
merugikan terhadap sumber daya laut hayati (marine living resources), bahaya terhadap kesehatan
manusia, gangguan terhadap kegiatan di laut termasuk perikanan dan penggunaan laut secara
wajar, memerosotkan kualitas air laut dan menurunkan mutu kegunaan dan manfaatnya (Siahaan,
1989a).
Pencemaran laut (perairan pesisir) didefinisikan sebagai “dampak negatif” (pengaruh yang
membahayakan) terhadap kehidupan biota, sumberdaya dan kenyamanan (amenities) ekosoistem
laut serta kesehatan manusia dan nilai guna lainnya dari ekosistem laut yang disebabkan secara
langsung maupun tidak langsung oleh pembuangan bahan-bahan atau limbah (termasuk energi) ke
dalam laut yang berasal dari kegiatan manusia (GESAMP,1986).
Menurut Soegiarto (1978), pencemaran laut adalah perubahan laut yang tidak menguntungkan
(merugikan) yang diakibatkan oleh benda-benda asing sebagai akibat perbuatan manusia berupa
sisa-sisa industri, sampah kota, minyak bumi, sisa-sisa biosida, air panas dan sebagainya.
3.6 Diagram Alir

Mulai

Studi
Literatur

Penyusunan
Kriteria

Tinjauan Lingkungan Penyelidikan Kedalaman Pemodelan


dan Kebijakan Tanah Perairan Hidrodinamika

Bor Log Uji Lab Eksisting Rencana Arus Pasang Angin &
Surut Gelombang

Kriteria dan
Volume Pengerukan Pola Arus dan Sedimentasi
Karakteristik Tanah

Pemilihan Metode

Kesimpulan

Gambar 6 Diagram alir penelitian 11


BAB 4 HASIL YANG DIHARAPKAN

Dari penelitian yang dilakukan diharapkan didapatnya metode pengerukan yang paling sesuai
untuk melakukan pengerukan di pelabuhan Labuhan Lombok dengan gambaran hasil pelengkap
sebagai berikut
 Rancangan Anggaran Biaya Pengerukan
 Rencana Lokasi Dumping Area

12
BAB 5 TIMELINE DAN RENCANA PUBLIKASI
5.1 Timeline

Tabel 2 Timeline Penelitian

Bulan ke-
Kegiatan 1 2 3 4 5 6 7
Studi Literatur
Penyusunan Proposal Penelitian
Pengumpulan Data
Pemodelan Hidrodinamika
Seminar II Progres Penelitian
Pengolahan Data
Simulasi Metode Pengerukan
Analisis
Sidang Hasil Penelitian
5.2 Rencana Publikasi
Penelitian ini merupakan syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Program Magister
Teknik Kelautan, ITB. Hasil penelitian akan disusun dalam bentuk artikel ilmiah yang akan
diajukan untuk dipublikasi di jurnal terakreditasi DIKTI, antara lain:
 ITB Journal of Engineering Science oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian
kepada Masyarakat, ITB
 Jurnal Teknik Sipil oleh Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, ITB

13
BAB 6 PUSTAKA

Bray, RN (International Association of Dredging Company), 2014, Trailing Suction Hopper


Dredger. FACTS ABOUT An Information Update from the IADC, The Netherlands

D.A Wilson, Water Injection Dredging in U.S. Waterways, History and Expectations., Papers and
Presentation.

Juris Mahendra, Cutter Suction Dredger dan Jenis Material (Pada Pekerjaan Capital Dredging
Pembangunan Pelabuhan Teluk Lamongan), jurishendra@gmail.com

Juris Mahendra, Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Pengerukan, jurishendra@gmail.com

Nurasikin. Kajian Awal Bucket Wheel Dredger. Jurnal Teknik Perkapalan, Fakultas Teknologi
Kelautan - ITS

Oktoberty, Dredging Perairan Dangkal. Staf Pengajar Akademi Teknik Perkapalan (ATP) Veteran
Semarang

14