Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Roseola infantum merupakan penyakit yang sering diderita pada bayi.

Penyakit ini disebabkan oleh human herpesvirus 6 (HHV-6). Virus ini telah

diisolasi pada tahun 1986. Insiden roseola infantum di Amerika Serikat

menunjukkan sekitar 12-30% anak mempunyai manifestasi klinik Roseola. Pada

usia 1 tahun diketahui 96% anak didapatkan antibodi terhadap HHV-6 sedangkan

pada usia 4 tahun sebagian besar anak adalah seropositif terhadap HHV-6 (1).

Kebanyakan (70-95%) bayi baru lahir adalah seropositif untuk HHV-6,

menggambarkan antibodi transplasenta. Frekuensi seropositif turun antara umur 4

dan 6 bulan (5-50%). Pada umur 1-2 tahun, lebih dari 90% bayi adalah seropositif.

Hampir semua orang dewasa adalah seropositif, walaupun titer HHV-6 mungkin

lebih rendah daripada pada anak. Pada masa dewasa akhir, prevalensi antibodi

terhadap HHV-6 menurun sampai sekitar 60%.

Infeksi yang terjadi sama pada kedua jenis kelamin dan terjadi di seluruh

musim dalam setahun dengan insiden agak lebih tinggi pada akhir musim semi

dan awal musim panas. Wabah kecil Roseola diperantarai HHV-6 terdokumentasi

pada populasi yang padat, seperti panti asuhan. Masa inkubasi yang tercatat dari

wabah kecil dan infeksi eksperimental adalah 5-15 hari (2).

Belum ada profilaksis dan pengobatan bagi penderita yang terkena infeksi

HHV-6 (3).

1
1
1.2 Batasan Permasalahan

Gejala klinis Roseola infantum menyerupai gejala dari beberapa penyakit

lain yang sulit dibedakan sehingga penanganannya masih susah ditentukan

sebelum diagnosis ditegakkan.

1.3 Tujuan Penulisan

Mengetahui definisi, etiologi, epidemiologi, patofisiologi, gejala klinis,

diagnosis banding, diagnosis, komplikasi, terapi, prognosa dan pencegahan

roseola infantum.

2
2
BAB II

LAPORAN KASUS

No RM / Reg : 00914711 / 10004511


Nama penderita : An. E.J
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 8 bulan
Masuk melalui : IGDPG
Diagnosa masuk : Obs DHF
Tanggal dirawat : 9 Maret 2010
Tanggal diperiksa : 9 Maret 2010

Ayah : Nama : Tn. D


Umur : 38 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Karyawan swasta
Penghasilan : tidak bersedia menyebutkan
Alamat : Kopo gg. H Yusuf RT: 10 RW:1 Kel. Babakan Asih Kec.
Bojongloa Kaler. Kota Bandung

Ibu : Nama : Ny. K. H


Umur : 37 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Penghasilan : -
Alamat : Kopo gg. H Yusuf RT: 10 RW:1 Kel. Babakan Asih Kec.
Bojongloa Kaler. Kota Bandung

3
3
II. ANAMNESIS
Heteroanamnesis diberikan oleh ibu pasien (9 Maret 2010)
2.1. Keluhan Utama : Panas badan
2.2. Riwayat Perjalanan Penyakit :
Sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit Immanuel pasien panas badan,
timbul mendadak tinggi, terus-menerus dirasakan sepanjang hari, disertai
menggigil, panas tidak pernah turun. Ibu pasien tidak mengukur suhunya dengan
termometer. Kadang-kadang disertai adanya batuk, tidak berdahak. Disangkal
adanya pilek, mimisan, kemerahan pada kulit, kejang, mengigau, penurunan
kesadaran. Disangkal menggunakan obat lain selain obat penurun panas dari
dokter. Sejak sakit, nafsu makan pasien menurun.
BAK : Warna, jumlah dan frekuensi dalam batas normal.
BAB : Konsistensi lembek. Warna, jumlah, dan frekuensi dalam batas normal
RPD : Tidak ada
RPK : Tidak ada
RPL : Tidak ada
UB : Dua hari sebelum masuk rumah sakit Immanuel pasien berobat dan
diberi obat penurun panas tapi tidak ada perbaikan gejala.

2.3. Riwayat Kehamilan dan Persalinan


Anak 3 dari 3 anak. Lahir hidup : 3 Lahir mati : 0 Abortus : 0
Lahir aterm, spontan langsung menangis, ditolong oleh dokter.
Berat badan lahir : 3000 gram.Panjang badan lahir : 52 cm.

2.4. Riwayat Tumbuh Kembang


Berbalik : 2 bln Berbicara 1 kata :-
Duduk dengan bantuan : 6 bln Berbicara1kalimat :-
Duduk tanpa bantuan : 7 bln Membaca :-
Berjalan dengan 1 tangan dipegang :- Menulis :-
Berjalan tanpa dipegang :- Sekolah :-

4
4
2.5. Gigi Geligi
Pertama : 6 bulan
2.6. Susunan Keluarga
No. Nama Umur L/P Keterangan
1 Tn. D 38 tahun L Ayah (sehat)
2 Ny. K.H 37 tahun P Ibu (sehat)
3 D. J. 8 tahun L Anak pertama
4 K.J 5 tahun P Anak kedua
5 E.J 8 bulan L Pasien

2.7. Imunisasi
No Nama Dasar Ulangan No Nama
1 BCG 2 bulan (scar +) - 6 HiB -
2 DPT 2 bulan 4 bulan - - 7 MMR -
3 Polio 0 bulan 2 bulan - - 8 Hep.A -
4 Hep. B 0 bulan 1 bulan - - 9 Cacar air -
5 Campak - -

2.8. Makanan
 0-3 bulan : ASI eksklusif on demand
 3 bulan- sekarang : ASI + susu botol.

2.9. Penyakit Dahulu


Batuk – pilek :+ Difteri :- Campak :-
Diare :- Tetanus :- Ginjal :-
Tifus perut :- Hepatitis :- Asma / sesak :-
Pneumonia :- TBC :- Alergi :-
Batuk rejan :- Cacar air :- Lainnya :-

2.10. Penyakit Keluarga


Asma :- Penyakit keganasan :-
TBC :- Kencing Manis :-
Ginjal :- Lainnya :-
Penyakit darah :-

5
5
III. PEMERIKSAAN FISIK
3.1. Keadaan umum
Kesadaran penderita : compos mentis
Keadaan sakit penderita : kesan sakit sedang
Posisi : tidak ada letak paksa
Penampilan umum : Mental : normal
Fisik : lemah
3.2. Tanda Vital
9 Maret 2010
Nadi : 120 x / menit / regular / ekual / isi cukup
Respirasi : 30 x / menit , tipe : abdominothorakal
Suhu : 36,4C ( aksiler )

3.3. Pengukuran
Umur : 8 bulan
Berat Badan : 8,6 kg
Panjang Badan : 74 cm
Status gizi : baik
(97,73% menurut standar NCHS BB/U)
(104% menurut standar NCHS TB/U)
(90,53% menurut standar NCHS BB/TB)
Lingkar kepala : 45 cm
Lingkar dada : 41 cm
Lingkar perut : 40 cm
Lingkar lengan atas : 14 cm
3.4. Pemeriksaan Sistematik
Kulit : petekie (-), pucat (-), sianosis (-), ikterus (-), turgor kembali cepat
Rambut : hitam, lebat, distribusi merata, tidak mudah dicabut
Kuku : sianosis (-), capillary refill time < 2 detik
Kepala : bentuk dan ukuran simetris, tidak ada kelainan
Mata : konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil isokor
6
6
Telinga : sekret -/-
Hidung : pernafasan cuping hidung (-), sekret -/-
Tenggorokan : mukosa hiperemis (+), T1 – T1
Mulut : mukosa basah, bibir lembab, coated tongue (-)
Leher : kaku kuduk (-), tortikolis (-)
Dada
Dinding dada / paru
Inspeksi : Bentuk dan pergerakan simetris, kanan = kiri,
retraksi (-)
Palpasi : Bentuk dan pergerakan simetris, kanan = kiri,
vokal fremitus tidak diperiksa, ICS tidak melebar
Perkusi : sonor, kiri = kanan
Auskultasi : BBS +/+, Rh -/-, Wh -/-
Jantung
Inspeksi : iktus kordis tidak tampak
Palpasi : iktus kordis teraba
Perkusi : batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : bunyi jantung I & II reguler, murmur (-)
Perut
Inspeksi : datar
Auskultasi : bising usus (+) normal
Palpasi : soepel, hepar dan limpa tidak teraba membesar,
nyeri tekan (-), turgor kembali cepat
Perkusi : timpani
Genital : laki-laki, tidak ada kelainan
Anus dan rektum : tidak ada kelainan
Anggota gerak dan tulang : akral hangat, capillary refill time <2”
Neurologis : Reflex fisiologis +/+
Reflex patologis -/-

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


7
7
9 Maret 2010
Pemeriksaan darah :
 Hb 12,1 g/dL
 Ht 38 %
 Leukosit 6.000 / mm3
 Trombosit 229.000 / mm3

V. RESUME
Seorang anak laki-laki berusia 8 bulan dengan berat badan 8,6 kg dan
panjang badan 74cm, status gizi baik (90,53% menurut standar NCHS BB/TB),
datang dengan keluhan utama panas badan sejak 4 hari SMRSI, timbul mendadak
tinggi, continua, disertai menggigil, panas tidak pernah turun. Ibu pasien tidak
mengukur suhunya dengan termometer. Kadang-kadang disertai adanya batuk,
tidak berdahak . Disangkal adanya pilek, mimisan, kemerahan pada kulit, kejang,
mengigau, penurunan kesadaran. Disangkal menggunakan obat lain selain obat
penurun panas dari dokter. Sejak sakit, nafsu makan pasien menurun.
BAK : Warna, jumlah dan frekuensi dalam batas normal.
BAB : Konsistensi agak lembek. Warna, jumlah, dan frekuensi dalam batas
normal
RPD : Tidak ada
RPK : Tidak ada.
RPL : Tidak ada
UB : Dua hari sebelum masuk rumah sakit Immanuel pasien berobat dan
diberi obat penurun panas tapi tidak ada perbaikan gejala.
Riwayat imunisasi : tidak lengkap (DPT 3, Hep.B 3, Campak belum)

Pada pemeriksaan fisik, didapatkan :


Kesadaran : compos mentis
Kesan sakit : sedang
Posisi : tidak terdapat letak paksa

8
8
Nadi : 120 x / menit / regular / isi cukup / ekual
Respirasi : 30 x / menit , tipe : thorakoabdominal
Suhu : 36,4C ( aksiler )
Rambut : hitam, lebat, merata
Kuku : sianosis (-), capillary refill time < 2 detik
Kulit : petekie (-), pucat (-), sianosis (-), ikterus (-),
turgor kembali cepat
Kepala : bentuk dan ukuran simetris, tidak ada kelainan
Mata : konj. anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil isokor
Telinga : sekret -/-
Hidung : pernafasan cuping hidung (-), sekret -/-
Tenggorokan : mukosa hiperemis (+), T1 – T1
Mulut : mukosa basah, bibir lembab, coated tongue (-)
Leher : kaku kuduk (-), tortikolis (-)
Dada : bentuk dan pergerakan simetris, retraksi (-)
Paru : sonor, kiri = kanan BBS +/+, Rh -/-, Wh -/-
Jantung : bunyi jantung I & II reguler, murmur (-)
Perut : datar, bising usus (+) normal, soepel, hepar dan
limpa tidak teraba membesar, nyeri tekan (-)
Genital : laki-laki, tidak ada kelainan
Anus dan rektum : tidak ada kelainan
Extremitas : akral hangat, capillary refill time < 2”
Neurologis : Reflex fisiologis +/+
Reflex patologis -/-

Follow up Harian
9 Maret 2010 10 Maret 2010 11 Maret 2010
S Panas badan , nafsu makan Panas badan -, nafsu makan Panas badan -, Nafsu makan
masih sedikit, muntah-, lebih baik, Batuk ±, BAB meningkat. Batuk -
Batuk ±, BAB agak lembek, sudah tidak lembek, BAK
warna dan jumlah normal. kurang karena kurang minum

9
9
masih lemas
O Tanda vital N: 120x/menit N: 120x/menit
N: 120x/menit R: 28x/menit R: 28x/menit
R: 30x/menit S: 36,8°C S: 36°C
S: 36,4°C
Kulit: Ruam makula eritem ukuran 2- Ruam masih ada, tapi sudah
Pucat-,sianosis-,ikterik-,pete 3mm, lokasi di leher, berkurang.
chiae –, Ruam kulit (-) punggung, kedua lengan atas,
Mata:
kedua tungkai bawah, hilang
Konjungtiva anemis -/-
dgn penekanan.
Sklera ikterik -/-
THT:
PCH -/-, sekret -/-
Mulut:
Mukosa basah, bibir sedikit
kering, lidah kotor -
Leher :
KGB t.t. m.
Dada:
B/Psimetris, retraksi-
P/ BBS+/+,Rh-/-, Wh-/-
C/ BJ I&II reguler, murmur-
Abdomen:
Datar, soepel, BU+ normal
Hepar Lien tidak teraba
Nyeri tekan -
Ekstremitas:
Tonus otot baik, akral
hangat, CRT<2 detik
Neurologis:
RF +/+, RP -/-
A Observasi Febris Roseola Infantum
P Ottopan (Parasetamol) syrup Ottopan (Parasetamol) syrup Ottopan (Parasetamol) syrup
3x 0,8 cc p.r.n 3x 0,8 cc p.r.n 3x 0,8 cc p.r.n

10
10
Starmuno kid: 2 x 0,5 cth Starmuno kid: 2 x 0,5 cth Starmuno kid: 2 x 0,5 cth
Caladin lotion dioles di badan Caladin lotion dioles di
badan

Pemeriksaan Laboratorium :
9 Maret 2010
Pemeriksaan darah :
 Hb 12,1 g/dL
 Ht 38 %
 Leukosit 6.000 / mm3
 Trombosit 229.000 / mm3

VI. DIAGNOSIS
Differential diagnosis : Roseola infantum
Morbili
Diagnosa kerja : Roseola Infantum
Diagnosa tambahan : -
Status gizi : baik

VII. USUL PEMERIKSAAN


Isolasi Virus dari sekret hidung : untuk memastikan HHV-6

VIII. PENATALAKSANAAN
Non medikamentosa :
 Suportif
 Berikan anak banyak makan dan minum untuk meningkatkan daya
tahan tubuh.

Medikamentosa :
 Parasetamol sirup 3 x 0,8cc , bila demam

11
11
 Peningkat daya tahan tubuh: Polinacea, zinc picolinate, vitamin C
2 x 0,5 cth
 Caladin lotion dioles di badan.

IX. PROGNOSIS
Quo ad vitam ad bonam
Quo ad functionam ad bonam

X. PENCEGAHAN
Pencegahan terjadinya komplikasi kejang:
Penjelasan kepada orang tua di rumah bila anak panas tinggi, waspada terjadi
kejang, dijelaskan mengenai penatalaksanaan bila terjadi kejang.

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Exanthem subitum mempunyai nama lain Roseola infantum, Sixth disease

dan Campak bayi merupakan suatu penyakit jinak pada anak-anak yang biasanya

terjadi pada usia kurang dari 2 tahun, yang menyebabkan ruam yang diikuti

dengan demam selama 3 hari (4).

Roseola adalah penyakit yang menyerang bayi usia 9-12 bulan yang

ditandai dengan demam tinggi selama 3 hari yang diikuti munculnya ruam

makulopapuler(3).

Roseola infantum adalah suatu penyakit virus menular pada bayi atau anak-

12
12
anak yang sangat muda, yang menyebabkan ruam dan demam tinggi (5).

2.2 Etiologi

HHV-6 adalah agen etiologi pada sekurang-kurangnya 80-92% kasus

Exanthema subitum. HHV-6 merupakan salah satu dari tujuh virus herpes

manusia. Diameter virus ini besar (185-200 nm), berselubung, merupakan virus

DNA helai ganda sekitar 170 kilobasa. Pada mulanya diisolasi dari sel darah

perifer manusia, bereplikasi pada sel T manusia baik sel CD4 maupun CD8,

monosit, megakariosit, sel pembunuh alamiah, sel glia, dan sel epitel serta sel

salivarius. HHV-6 ini mempunyai 2 varian, yaitu human herpesvirus varian A

yang tidak menyebabkan suatu penyakit, dan human herpes virus varian B yang

paling banyak menyebabkan infeksi HHV-6 primer. Virus ini menyebar melalui

air ludah (droplet) dan sekret genital (2).

2.3 Epidemiologi

Infeksi HHV-6 paling banyak ditemukan pada 2 tahun pertama kehidupan.

Diperkirakan Roseola menyerang 30 persen dari semua anak-anak. HHV-6 ini

mempunyai distribusi global, dengan gejala kadang asimtomatik. Morbiditas

penyakit ini rendah pada bayi dengan imunokompenten karena menyebabkan

gejala yang ringan, akan tetapi mortalitas tinggi pada orang dewasa yang

menderita imunodefisiensi karena dapat menimbulkan beberapa gejala seperti

depresi saluran pernapasan, kejang dan gangguan multiorgan sehingga dapat

menyebabkan kematian.

13
13
Insidens Roseola infantum tidak dipengaruhi oleh ras dan jenis kelamin (3).

2.4 Patofisiologi

HHV-6 sering terdeteksi dalam saliva manusia dan kadang pada sekret

genital. Infeksi primer dapat disertai dengan gejala-gejala atau dapat tidak

bergejala. Viremia dapat dideteksi pada 4-5 hari pertama Roseola klinis dengan

rata-rata sel terinfeksi 103 per 106 sel mononuklear. Jumlah virus dalam darah

dihubungkan secara langsung dengan keparahan penyakit.

Terdapat respon imun kompleks yang tersusun dari induksi berbagai

sitokin (interferon alfa dan gamma, interleukin beta, faktor nekrosis tumor alfa),

respon antibodi, dan reaktivitas sel-T. Hilangnya viremia primer, demam, dan

munculnya ruam biasanya dihubungkan dengan munculnya antibodi anti-HHV-6

neutralisasi serum dan mungkin menaikkan aktivitas sel pembunuh alami.

Antibodi transplasenta melindungi bayi muda dari infeksi. Infeksi sel sumsum

tulang in vitro menekan diferensiasi sel pendahulu dari semua deretan sel. Infeksi

HHV-6 in vitro menghambat respon limfoproliferatif sel mononuklear darah

perifer manusia.

Kadar antibodi yang tinggi pada orang dewasa, seiring dengan pelepasan

virus dalam ludah, dan deteksi asam nukleat virus dalam kelenjar ludah dan sel

mononuklear darah perifer pada anak yang seropositif dan orang dewasa

mendukung keadaan latensi HHV-6 yang hidup lama. Sifat reaktivasi penyakit

dapat terjadi pada anak yang lebih tua dan orang dewasa, terutama pada mereka

yang mempunyai defek pada imunitas seluler, seperti pada penderita transplan

14
14
atau AIDS (2).

2.5 Gejala Klinis

Infeksi HHV-6 mulai dengan gejala mendadak, demam setinggi 39,4-

41,20C, fontanella anterior mencembung sehingga dapat timbul kejang. Kejang

dapat terjadi pada stadium pra-eruptif Roseola. Mukosa faring mungkin sedikit

meradang dan sedikit koryza, biasanya anak tampak relatif baik walaupun demam.

Demam turun dengan cepat pada hari ke 3-4, ketika suhu kembali normal,

erupsi berbentuk makulopapular tampak diseluruh tubuh, mulai pada badan,

menyebar ke lengan dan leher, dan melibatkan muka dan kaki. Ruam menghilang

dalam 3 hari. Deskuamasi jarang dan tidak ada pigmentasi. Limfonodi dapat

membesar terutama di daerah servikal tetapi tidak meluas seperti pada ruam

rubella. Berikut uraian gejala klinis roseola terkait HHV-6 (2):

Demam

Tingkat maksimum : 39-400C (kisaran 37,5-41,20C)

Lamanya : 3-4 hari (kisaran 1-7 hari)

Ruam

Hari kemunculan : 3-5 hari sesudah mulai demam

Lamanya : 3-4 hari (kisaran 1-6 hari)

Tandanya : Makular, menyatu (seperti campak), 40%;

Papular (seperti rubella), 55%.

Tempat : leher, perut, badan, punggung, tungkai

Tanda dan gejala terkait

15
15
Adenopati oksipital atau servikal 30-35%

Tanda atau gejala pernafasan 50-55%

Diare ringan 55-70%

Kejang 5-35%

Edema palpebra 0-30%

Pencembungan fontanella anterior 26-30%

Faringitis papuler 65%

Gambar.1. Ruam pada exanthema subitum.

16
16
Gambar.2. Ruam pada exanthema subitum.

2.6 Diagnosis Banding

Beberapa diagnosis banding dari roseola infantum:

1. Rubella.

Pada rubella didapatkan adanya pembesaran kelenjar limfonodi di

daerah suboksipital, servikal bagian posterior dan belakang telinga. Ruam

pada penyakit ini muncul ketika masih terjadi demam. Dan saat ruam

menghilang dapat terjadi deskuamasi.

2. Rubeola.

Penyakit ini ditandai dengan adanya bercak koplik, koryza, batuk

dan konjungtivitis. Ruam makulopapuler terjadi disertai naiknya suhu

badan. Hilangnya ruam disertai adanya hiperpigmentasi.

17
17
3. Demam dengue.

Ruam makulopapular biasanya timbul 5-12 jam sebelum naiknya

suhu pertama kali, yaitu pada hari ketiga sampai hari kelima dan biasanya

berlangsung selama 3-4 hari. Ruam ini menghilang pada tekanan (6).

4. Demam skarlet.

Pada penyakit ini ruam makulopapuler menyatu dengan tekstur

seperti kulit angsa yang secara jelas terdapat pada abdomen. Saat ruam

menghilang diikuti adanya deskuamasi.

2.7 Diagnosis

Penegakan diagnosis dibuat dari gambaran klinis berupa adanya demam

tinggi selama 3-4 hari dan setelah demam turun akan muncul ruam makulopapuler

di seluruh tubuh, mulai dari badan, menyebar ke lengan dan leher, dan melibatkan

muka dan kaki. Ruam ini tidak menimbulkan rasa gatal dan akan menghilang

dalam waktu 2-3 hari tanpa adanya hiperpigmentasi. Dapat terjadi pembengkakan

limfonodi servikal, retroaurikular dan oksipital. Limpa juga agak membesar (2).

Pemeriksaan laboratorium menunjukkan leukopenia dan leukositosis relatif.

Adanya HHV-6 dapat ditemukan dengan kultur darah, tes serologi atau PCR (7).

2.8 Komplikasi

Beberapa komplikasi dari roseola infantum (1):

1. Kejang demam.

Suhu tubuh anak dapat dengan cepat meningkat sehingga

18
18
menyebabkan kejang (8) .

2. Encephalitis.

Apabila infeksi sampai menuju otak dapat menyebabkan ensefalitis


(8)
.

3. Meningitis.

Menurut Yoshikawa dan Asano, meningitis dapat terjadi pada 3

dari 8 anak dengan kejang demam dan 3 dari 3 anak dengan ensefalitis

karena adanya HHV-6 pada cairan serebrospinal (1).

2.9 Prognosis

Prognosis Roseola adalah dubia (tidak dapat diramalkan) karena pada anak

dengan keadaan umum baik dan imunokompeten dapat bertahan tanpa adanya

komplikasi, akan tetapi pada anak dengan keadaan imunosupresed maka infeksi

dapat menjadi kronis dan timbul komplikasi yang dapat menyebabkan kematian.

2.10 Pengobatan

Tidak ada terapi antivirus yang tersedia untuk infeksi HHV-6. Akan tetapi

pada tahun 2002 Rapaport et al, melaporkan bahwa terapi profilaksis

menggunakan Gansiklovir dapat digunakan untuk mencegah reaktivasi HHV-6

pada pasien yang mendapat transplantasi sumsum tulang (3).

Terapi yang direkomendasikan adalah terapi suportif. Antipiretik dapat

membantu dalam mengurangi demam. Dapat menggunakan asetaminofen atau

ibuprofen. Pada bayi dan anak muda yang cenderung untuk konvulsi, pemberian

19
19
sedatif ketika mulai muncul demam mungkin efektif sebagai profilaksis terhadap

kejang (2).

Setelah demam turun, sebaiknya anak dikompres dengan menggunakan

handuk atau lap yang telah dibasahi dengan air hangat (suam-suam kuku) guna

menjaga tidak terjadinya demam kembali. Jangan menggunakan es batu, air

dingin, alkohol maupun kipas angin (5).

Untuk pencegahan terjadinya dehidrasi akibat demam, anjurkan anak untuk

minum banyak air putih dengan potongan es gula, larutan elektrolit, air jahe

dengan soda, air jeruk limun atau air kaldu (9).

2.11 Pencegahan

Tidak ada metode khusus yang diketahui untuk pemendekan perjalanan

infeksi Roseola atau untuk profilaksis. Untuk mencegah terjadinya penyakit ini,

dapat dilakukan dengan menjaga daya tahan tubuh karena penyakit ini disebabkan

oleh virus sehingga apabila daya tahan tubuh kita lemah maka virus akan dengan

mudah menyerang. Selain itu hendaknya menghindari kontak dengan penderita

karena penularan penyakit ini melalui droplet dan dahak yang keluar saat mereka
(9)
bicara, tertawa, bersin atau batuk sehingga dapat terhirup oleh kita . Untuk

mencegah penularan Roseola infantum pada lingkungan, anak yang sakit diberi

izin tidak masuk sekolah selama ± 10 hari.

20
20
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

1. Roseola infantum adalah suatu penyakit virus menular pada bayi

atau anak-anak yang sangat muda, yang menyebabkan ruam dan demam

tinggi.

2. Menurut etiologinya Roseola infantum disebabkan oleh HHV-6.

3. Gejala klinis dari Roseola infantum adalah adanya demam tinggi

pada hari ke 3-4 kemudian munculnya ruam makulopapuler di seluruh

tubuh ketika demam turun.

4. Diagnosis ditegakkan dari gejala dan pemeriksaan fisik.

21
21
5. Komplikasi dari Roseola infantum dapat berupa Kejang demam,

Ensefalitis, dan Meningitis.

6. Prognosis Roseola adalah dubia (tidak dapat diramalkan).

7. Pengobatan Roseola infantum dengan pemberian antipiretik,

kompres hangat, asupan cairan yang manis, cairan elektrolit dan obat

antivirus.

8. Pencegahan penyakit ini adalah dengan menjaga daya tahan tubuh

dan menghindari kontak dengan penderita.

9. Penderita diisolasi ± 10 hari agar tidak menularkan pada

lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Lewis, L.S. 2007. Roseola Infantum. http://www.emedicine.com/

emerg/TOPIC 400.HTM

2. Kohl, S., 2002. Ilmu Kesehatan Anak. Jilid 2. Jakarta : EGC.

3. White, S.W. 2007. Roseola Infantum.

http://www.emedicine.com/derm/ TOPIC378.HTM

4. Anonim, 2006. Roseola Infantum. http://en.wikipedia.org/roseola

5. Anonim. 2004. Roseola Infantum. http://www.medicastore.com

6. Hassan, et all. 1985. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Infomedika.

7. Schwartz, R.A. 2007. Human Herpesvirus 6. http://emedicine.com.

22
22
8. Anonim, 2007. Roseola Infantum.

http://www.betterhealth.vic.gov.au

9. Klein, J. 2006. Roseola. http://www.kidshealth.org.

23
23