Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Sejak zaman portugis di Indonesia telah mulai dilakukan
penyelaman mutiara oleh penyelam-penyelam alam. Kemudian pada
zaman perang kemerdekaan sebelum perang dunia II, telah dilakukan
kegiatan penyelaman, kapal selam dan lain-lain di Indonesia. Selanjutnya
pada zaman kemerdekaan setelah penyerahan kedaulatan, Kesehatan
Bawah Air mulai maju pesat.
Dalam upaya bangsa Indonesia mewujudukan tujuan nasional yang
meliputi aspek keamanan dan aspek kesejahteraan, telah dilaksanakan
rangkaian pembangunan nasional yang terencana, bertahap, dan terpadu.
Pelaksanaan pembangunan nasional bagi suatu negara kepulauan terdiri
atas 13.677 pulau besar dan kecil, dimana 2/3 wilayahnya adalah laut
mengharuskan pula tersedianya tenaga kerja matra laut.
Tenaga kerja matra laut di masa kini dan mendatang harus dapat
mengawaki lapangan pekerjaan di laut yang makin bertambah luas dan
besar. Apalagi telah diumumkan berlakunya ketentuan zona ekonomi
eksklusif 200 mil oleh pemerintah dimana bangsa Indonesia berdaulat atas
sumber-sumber kekayaan alam yang terdapat di wilayah tersebut.
Di lain pihak, kepentingan bangsa Indonesia di laut nusantara adalah
pemanfaatan laut nusantara sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan
keamanan bangsa Indonesia. Pemanfaatan ini telah terlihat dengan laju
pembangunan ekonomi dewasa ini yang memungkinkan berkembangnya
dengan pesat kegiatan eksplorasi kekayaan laut, termasuk penambangan
kekayaan alam di dasar laut dan pemanfaatan teknologi bawah air.
Teknologi bawah air atau kemampuan kerja di bawah air yang
merupakan salah satu teknologi matra laut, belum banyak berkembang.
Kalau hal ini dikaitkan dengan penambangan atau pemasangan pipa dan
kabel di lepas pantai di dasar laut dalam lebih lagi di landas kontinen atau
di laut ZEE dengan kedalaman lebih dari 100 meter, maka diperlukan
adalah teknologi penyelaman dalam.
Saat ini dukungan teknologi bawah air dan teknologi laut dalam
masih didominasi pihak asing, karena penguasaan pengetahuan dan
ketrampilan bangsa Indonesia dalam bidang ini masih kurang. Mengingat
laut sangat vital bagi kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia,
maka teknologi laut dalam ini perlu dikembangkan bangsa Indonesia.
Pengembangan teknologi laut dalam harus diikuti dengan
pengembangan ilmu kesehatan bawah air. Pengembangan ilmu ini
mencakup bagaimana penyiapan tenaga kerja matra laut yang mengawaki
lapangan pekerjaan di laut dan fasilitas yang akan digunakan untuk bekerja
di bawah permukaan air. Selanjutnya harus dikembangkan fasilitas untuk
penanggulangan keadaan darurat yang sewaktu-waktu dapat menimpa
tenaga kerja matra laut.
Pengembangan ilmu kesehatan bawah air atau kesehatan udara
bertekanan tinggi sangat erat hubungannya dengan tenaga kerja matra laut,
khususnya dengan pekerja-pekerja bawah air baik para penyelam maupun
awak kapal selam. Dengan kata lain, kesehatan udara bertekanan tinggi
digunakan pada pengobatan penyakit akibat bekerja di bawah air atau
tekanan tinggi. Tenaga kerja matra laut yang mengawaki lapangan
pekerjaan di laut sangat berkepentingan dengan teknologi bawah air atau
teknologi laut dalam. Semuanya adalah demi pemanfaatan laut nusantara
baik untuk aspek kesejahteraan maupun keamanan dalam rangka
mewujudkan tujuan nasional bangsa Indonesia.
Depkes RI dan TNI AL mengadakan kesepakatan untuk penataran
dan pelatihan serta penanggulangan kecelakaan akibat tenggelam dan
penyelaman yang sasaran subjeknya adalah tenaga medis dan paramedis
puskesmas di wilayah pesisir. Kerjasama ini telah memberikan bekal
ketrampilan kepada tenaga medis dan paramedis untuk dapat menangani
korban akibat tenggelam dan penyelaman sedini mungkin secara cermat
dan tepat, dimana untuk pusat rujukan terakhir penderita dengan kondisi
paska kecelakaan penyelaman adalah rumah sakit yang mempunyai
fasilitas RUBT.
TNI AL sendiri telah mengirimkan perwira kesehatannya untuk
menempuh studi ilmu kesehatan hiperbarik pada jenjang paska sarjana
bahkan doktoral dalam rangka mengantisipasi perkembangan ilmu
kesehatan hiperbarik ke depan dengan mempersiapkan sumber daya
manusia yang berkualitas. TNI AL juga mempunyai sarana RUBT di
beberapa fasilitas kesehatan yang berguna untuk megobati penderita, baik
akibat kecelakaan penyelaman maupun penyakit klinis lain yang bisa
dibantu penyembuhannya dengan RUBT

Teknologi dalam bidang ilmu kedokteran semakin dituntut


kemajuannya. Karena kesehatan adalah “harta” terbesar bagi setiap
individu.Untuk itu berbagai macam penelitian lebih lanjut dilakukan guna
memajukan tingkat kesehatan makhluk hidup, khususnya manusia.Selain
obat-obatan kimia, perkembangan pada peralatan medis juga diperlukan
untuk kemajuan pada ilmu kedokteran.Bidang engineering juga mengambil
bagian penting dalam upaya pengembangan peralatan medis untuk
menyembuhkan penyakit.Salah satu peralatan medis yang dapat
dikembangkan dari sisi engineeringnya adalah ruang udara bertekanan
tinggi atau yang sering disebut ruangan hiperbarik (Hyperbaric
Chamber).Ruangan hiperbarik digunakan untuk tempat dilakukannya terapi
oksigen hiperbarik atau disebut Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT).Terapi
oksigen hiperbarik ini merupakan penggunaan oksigen pada tingkat
tekanan yang lebih tinggi.Rata-rata tekanan terapi oksigen hiperbarik
dilakukan mencapai tekanan 3 ATA.
Terapi oksigen hiperbarik bisa menjadi terapi perawatan utama
maupun perawatan alternatif untuk menyembukan berbagai macam
penyakit, baik penyakit yang bersifat serius maupun pernyakit ringan yang
dapat disembuhkan dengan lebih cepat.Penggunaan terapi ini sangat
bervariasi pada tekanannya.Hingga saat ini telah banyak penelitian yang
dilakukan terhadap metode perawatan ini dalam bidang medis.
Terapi oksigen hiperbarik bertujuan untuk meningkatkan jumlah
molekul oksigen yang masuk ke dalam tubuh melaui pernafasan maupun
pori-pori atau jaringan luar tubuh.Dengan meningkatnya oksigen yang
dihirup, maka jumlah oksigen yang terlarut di dalam darah semakin
meningkat.Oksigen diangkut oleh darah ke seluruh sel-sel dan jaringan-
jaringan tubuh. Banyak fungsi-fungsi sel dan jaringan tubuh yang
bergantung pada oksigen, sehingga meningkatkan kemampuan sel-sel dan
jaringan-jaringan tubuh untuk membelah atau beregenerasi, membunuh
kuman penyakit, dan masih banyak lagi..Indikasi-indikasi pada terapi
oksigen hiperbarik dibahas pada landasan teori.
Ruangan hiperbarik adalah ruangan tempat dimana dilakutan terapi
oksigen hiperbarik.Ruangan ini dibangun untuk menahan kenaikan tekanan
internal ketika udara ataupun oksigen dikompresikan langsung ke dalam
ruangan hiperbarik hingga mencapai tekanan tertentu di atas tekanan
atmosfir normal pada durasi waktu tertentu.Biasanya ruangan hiperbarik
berbentuk silindris, bulat, ataupun persegi panjang.Di dalam ruangan ini,
pasien menghirup oksigen murni (O2 100%) yang bertekanan selama
menjalani terapi. Biasanya terapi oksigen hiperbarik diberikan pada 2,4
hingga 2,8 ATA dalam durasi 60 hingga 90 menit. Ada dua tipe utama
ruangan hiperbarik: ruangan hiperbarik monoplace dan ruangan hiperbarik
multiplace. Ruangan hiperbarik monoplace adalah ruangan terapi hanya
untuk satu orang, sedangkan ruangan hiperbarik multiplace adalah ruangan
terapi untuk dua orang atau lebih.Namun sebenarnya banyak sekali jenis
terapi hiperbarik yang disebabkan karena variasi penggunaannya sangat
banyak.
Di samping sebagai pengobatan utama untuk penyakit akibat
penyelaman, saat ini hiperbarik juga telah digunakan di Indonesia sebagai
pengoabtan tambahan dan pengobatan pilihan lain dalam terapi untuk
membantu penyembuhan berbagai penyakit klinis seperti penyembuhan
luka infeksi, luka bakar, membantu penyembuhan komplikasi diabetes
melitus, serta untuk kesehatan dan kebugaran, terutama untuk pasien lanjut
usia.
Kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang bermutu dan
terjangkau sudah tidak dapat ditunda lagi dan masyarakat Indonesia yang
dinamis dan semakin kritis menuntut pelayanan profesional yang mutakhir
dan manusiawi. Tugas Departemen Kesehatan adalah mewujudkannya
seoptimal mungkin, hingga masyarakat semakin percaya akan pelayanan
tersebut dan kepercayaan masyarakat ini menjadi andalan untuk
memperoleh peluang pasar dalam persaingan global.
Departemen Kesehatan memiliki kebijakan pelayanan kesehatan
yang berlandaskan pada visi masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat
dan memiliki misi untuk membuat rakyat sehat. Dengan nilai-nilai inti
keberpihakan kepada rakyat, dengan pelaksanaan kebijakan yang cepat
dan tepat serta dilaksanakan secara transparan dan akuntabel oleh
pelaksana yang memiliki integritas dan mampu bekerjasama secara tim
yang baik.
Sejalan dengan hal tersebut, salah satu strategi Departemen
Kesehatan dalam melaksanakan kebijakan pelayanan kesehatan dalah
dengan menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat
serta meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang
berkualitas.
Pengobatan oksigenasi hiperbarik sudah sejak abad ke 16
digunakan sebagai salah satu metode untuk menyembuhkan penyakit dan
pengobatan. Tepatnya di Inggris tahun 1662 oleh Henshaw, Ruang Udara
Bertekanan Tinggi digunakan untuk mengobati beberapa penyakit kulit dan
rickets. Dan di Perancis tahun 1834 dr.Junot menyatakan adanya
penyembuhan bermakna pada pasien dengan penyakit kardiopulmoner
yang diobati dengan hiperbarik. Sedangkan pada awal tahun 1900 di Inggris
dr.John Haldane, berhasil menemukan tabel rekompresi dan penyelaman,
sampai sekarang tabel rekompresi ini masih dipakai dalam pelayanan
pengobatan.
Pengobatan hiperbarik semakin berkembang pesat. Pada tahun
1956 dr.I. Boereina dari Belanda, melaporkan keberhasilan suatu tindakan
pembedahan jantung paru yang dilakukan dalam Ruang Udara Bertekanan
Tinggi diikuti laporan dr.W.Brummelkamp 1961 bahwa terapi oksigen
hiperbarik dapat digunakan sebagai cara lain terapi gangren dengan
menghambat infeksi anaerob pada kaki pasiennya. Sejak itu pengobatan
hiperbarik ini tersebar luas dan telah digunakan di berbagai negara.
Indonesia telah lama ikut berperan dalam penggunaan pengoatan
hiperbarik. Tahun 1960, pengobatan hiperbarik mulai digunakan oleh TNI
AL yang selanjutnya dikembangkan di Tanjung Pinang, Jakarta, Ambon,
dan Lakesla Surabaya, yang digunakan untuk menangani kasus cedera
penyelaman seperti keracunan gas pernapasan dan penyakit dekompresi.
Selanjutnya penggunaan pengobatan hiperbarik berkembang untuk
kepentingan pariwisata / wisata bahari dan kepentingan offshore drilling.
Di samping sebagai pengobatan utama untuk penyaki akibat
penyelaman, saat ini hiperbarik juga telah digunakan di Indonesia sebagai
pengobatan tambahan dan pengobatan pilihan lain dalam terapi untuk
membantu penyembuhan berbagai penyakit klinis, seperti penyembuhan
luka infeksi, luka bakar, membantu penyembuhan komplikasi diabetes
melitus, serta untuk kesehatan dan kebugaram, terutama untuk pasien
lanjut usia.
Dalam perkembangannya di Indonesia, saat ini telah terdapat
berbagai organisasi progesi berupa perhimpunan dokter spesialis dan
perhimpunan seminat dalam bidang hiperbarik, yaitu perhimpunan
kedokteran kelautan dan perhimpunan kesehatan hiperbarik indonesia.
Organisasi tersebut bekerja sama secara erat dengan rumah sakit angkatan
laut dan lembaga kesehatan angkatan laut untuk melaksanakan pelayanan,
pendidikan, dan penelitian pembinaan serta pengembangan hiperbarik
sebagai pengobatan utama dan pengobatan tambahan dalam
penyelenggaraan pelayanan medik di sarana pelayanan kesehatan di
Indonesia.
Dalam upaya meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan
kesehatan yang berkualitas dan sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan kedokteran, Departeman Kesehatan mendukung
penggunaan hiperbarik sebagai salah satu jenis pengobatan dalam
penyelenggaraan pelayanan medik di sarana pelayanan kesehatan.
Untuk mendukung penggunaan hiperbarik sebagai bagian dari
pelayanan medik yang aman, bermanfaat, dan terjangkau, maka diperlukan
adanya suatu standar yang dapat dijadikan acuan dalam pelayanan medik
hiperbarik. Adanya standar pelayanan medik hiperbarik ini diharapkan
dapat meningkatkan kualitas dan keamanan pelayanan, serta melindungi
masyarakat penerima pelayanan dan pelaksana pelayanan dari segi
hukum.
Pada tanggal 14 Maret 2016 terjadi kecelakaan kebakaran pada
ruang udara bertekanan tinggi di RSAL Mintoharjo Jakarta. Peristiwa
tersebut terjadi pada saat terapi oksigen hiperbarik sedang berlangsung
sehingga 4 orang yang sedang berada di dalamnya pun meninggal
dunia. Akibat kejadian tersebut, berbagai pihak mendesak Kementerian
Kesehatan dan pemerintah untuk melakukan investigasi terhadap kejadian
tersebut. Disamping itu juga perlu melakukan pembenahan dan
menegakkan ketentuan dalam Undang-undang nomor 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan dan KUHP, serta merevisi Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor 120 Tahun 2008 tentang standar pelayanan medik
hiperbarik.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa sajah perundang-undangan tentang kesehatan hiperbarik?
2. Apa sajakah penyakit akibat kerja karena pajanan hiperbarik dan
penyakit lain akibat penyelaman?
3. Bagaimana talaksana penyakit akibat kerja karena pajanan
hiperbarik dan penyakit lain akibat penyelaman?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perundang-undangan Tentang Kesehatan Hiperbarik


 Keputusan Menteri Kesehatan No 120/Menkes/SK/II/208 Tentang
Standar Pelayanan Medik Hiperbarik
 Undang-undang No 36 Tahun 2014 Tentang Kesehatan
 Undang-undang No 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran
 Permenkes No 61 Tahun 2013 Tentang Kesehatan Matra
 Permenkes No 2052/Menkes/Per/X/2011 Tentang Izin Praktik dan
Pelaksanaan Praktik Kedokteran
 Permenkes No 1109/Menkes/Per/IX/2007 Tentang Penyelenggaran
Pengobatan Komplementer Alternatif di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan
2.4. Perundang-undangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Perundang-undangan K3 ialah salah satu alat kerja yang penting
bagi para Ahli K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) guna menerapkan
K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di tempat kerja. Kumpulan
perundang-undangan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) Republik
Indonesia tersebut antara lain :
2.4.1. Undang-Undang yang Mengatur Tentang Keselamatan dan
Kesehatan Kerja
Undang-undang adalah ketentuan dan peraturan negara yang dibuat
pemerintah (menteri, badan eksekutif, dan sebagainya), disahkan oleh
parlemen (dewan perwakilan rakyat, badan legislatif, dan sebagainya),
ditandatanganin oleh kepala negara (presiden, pemerintah, raja) dan
mempunyai kekuatan mengikat. Undang-undang yang mengatur tentang
keselamatan dan kesehatan kerja di negara Indonesia adalah sebagai
berikut :
1. Undang-undang uap tahun 1930 (stoom ordonantie).
2. Undang-undang no 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja.
3. Undang-undang republik Indonesia no 13 tahun 2003 tentang
ketenagakerjaan.
2.4.2. Peraturan menteri terkait tentang keselamatan dan kesehatan
kerja adalah sebagai berikut :
1. Permenakertrans RI no 1 tahun 1976 tentang kewajiban latihan
hiperkes bagi dokter perusahaan.
2. Permenakertrans RI no 3 tahun 1978 tentang penunjukan dan
wewenang serta kewajiban pegawai pengawas keselamatan dan
kesehatan kerja dan ahli dalam keselematan kerja.
3. Permenakertrans RI no 2 tahun 1980 tentang pemeriksaan
kesehatan tenaga kerja dalam penyelenggaraan keselamatan kerja.
4. Permenakertrans RI no 4 tahun 1980 tentang sarat-sarat
pemasangan dan pemeliharaan alat-alat pemadam api ringan.
5. Permenakertrans RI no 1 tahun 1981 tentang kewajiban melapor
penyakit akibat kerja.
6. Permenakertrans RI no 2 tahun 1982 tentang kualifikasi juru las.
7. Permenakertrans RI no 3 tahun 1982 tentang pelayanan kesehatan
tenaga kerja.
8. Permenakertrans RI no 2 tahun 1983 tentang intalasi alarm
kebakaran otomatis kebakaran otomatis.
9. Permenakertrans RI no 4 tahun 1987 tentang panitia pembina
keselamatan dan kesehatan kerja serta tata cara penunjukan ahli
keselamatan kerja.
10. Permenakertrans RI no 2 tahun 1989 tentang instalasi-instalasi
penyalur petir.
11. Permenakertrans RI no 2 tahun 1992 tentang tata cara penunjukan,
kewajiban dan wewenang ahli keselamatan dan kesehatan kerja.
12. Permenakertrans RI no 4 tahun 1995 tentang jasa keselamatan dan
kesehatan kerja.
13. Permenakertrans RI no 1996 tentang sistem manajemen
keselamatan dan kesehatan kerja.
14. Permenakertrans RI no 1 tahun 1998 tentang penyelenggaraan
pemeliharaan kesehatan bagi tenaga kerja dan manfaat lebih dari
paket jaminan pemeliharan dasar jaminan sosial tenaga kerja.
15. Permenakertrans RI no 3 tahun 1998 tentang tata cara pelapor dan
pemeriksaan kecelakaan.
16. Permenakertrans RI no 4 tahun 1998 tentang pengangkatan ,
pemberhentian dan tata kerja dokter penasehat.
2.4.3. Keputusan Menteri Terkait Keselamatan dan Kesehatan
1. Kepmenaker RI no 155 tahun 1984 tentang penyempurnaan
keputusan menteri tenaga kerja dan transmigrasi no kep
125/MEN/82 tentang pembentukan, susunan dan tata kerja dewan
keselamatan dan kesehatan kerja nasional. Dewan keselamatan dan
kesehetan wilayah dan panitia pembina keselamatan dan kesehatan
kerja.
2. Keputusan bersama menteri tenaga kerja dan menteri pekerjaan
umum RI no 174 tahu 1986 no 104/KPTS/1986 tentang keselamatan
dan kesehatan kerja pada tempat kerja kegiatan kontruksi.
3. Kepmenaker RI no 1135 tahun 1987 tentang bendera keselamatan
dan kesehatan kerja.
4. Kepmenaker RI no 333 tahun 1989 tentang diagnosis dan pelapor
penyakit akibat kerja.
5. Kepmenaker RI no 245 tahun 1990 tentang hari keselamatan dan
kesehatan kerja nasional.
6. Kepmenaker RI no 51 tahun 1999 tentang nilai ambang batas faktor
fisika di tempat kerja.
7. Kepmenaker RI no 186 tahun 1999 tentang unit penanggulangan
kebakaran di tempat kerja.
8. Kepmenaker RI no 75 tahun 2002 tentang pemberlakuan standar
nasional indonesia (SNI) no SNI-04-0225-2000 mengenai
persaratan umum instalasi listrik 2000(puil 2000)ditempat kerja.
9. Kepmenaker RI no 235 tahun 2003 tentang jenis-jenis pekerjaan
yang membahayakan keselamatan, kesehatan atau moral anak.
2.4.4. Surat edaran keputusan Dirjen pembinaan hubungan industrial
dan pengawasan ketenaga kerjaan terkait keselamatan dan kesehatan
kerja
1. Surat keputusan Dirjen pembinaan hubungan industrial dan
pengawasan ketenaga kerjaan departemen tenaga kerja RI no 84
tahun 1998 tentang cara pengisian formulir laporan dan analisis
statistik kecelakaan.
2. Surat keputusan Dirjen pembinaan hubungan industrial dan
pengawasan ketenaga kerjaan no 311 tahun 2002 tentang sertifikasi
kompetensi keselamatan dan kesehatan kerja teknisi listrik.
2.6. Kelainan dan Penyakit pada Penyelaman
2.6.1. Barotrauma
Bagian tubuh yang akan mendapat pengaruh langsung dari tekanan
adalah rongga-rongga udara fisiologis dalam tubuh dan bagian tubuh yang
membentuk rongga udara artifisial dengan peralatan selam yang dipakai.
Rongga-rongga udara fiologis dalam tubuh, misalnya paru, ruang
telinga tengah, dan sinus paranasal, umumnya memiliki ventilasi atau
saluran penghubung yang memungkinkan ekualisasi tekanan antara udara
dalam rongga dengan tekanan sekeliling.Barotrauma timbul bila terjadi
sumbatan pada saluran penghubung sehingga terjadi kegagalan ekualisasi
dan mengakibatkan kerusakan jaringan akibat tekanan yang tidak
seimbang.
Secara umum dikatakan bahwa barotrauma adalah kerusakan
jaringan dan sekuelnya akibat ketidakseimbangan antara tekanan udara
rongga fisiologis dalam tubuh dengan tekanan lingkungan di sekitarnya.
Contohnya : barotrauma telinga, barotrauma gigi, barotrauma wajah,
barotrauma sinus paranasal, barotrauma kulit, barotrauma kepala dan
badan, barotrauma intestinal, barotrauma paru.
2.6.1.1. Barotrauma Telinga
Barotrauma telinga merupakan barotrauma yang paling sering terjadi
dalam kegiatan penyelaman. Dikenal 2 bentuk barotrauma telinga, yaitu :
1. Barotrauma telinga waktu turun
2. Barotrauma telinga waktu naik
Barotrauma telinga waktu turun dibagi lagi menurut anatomi telinga
yang dikenal sebagai :
1. Barotrauma telinga luar
2. Barotrauma telinga tengah
3. Barotrauma telinga dalam
Untuk barotrauma telinga luar pengobatan harus mengusahakan
agar canalis akustikus eksternus tetap kering. Canalis akustikus eksternus
boleh dibersihkan dengan larutan H2O2. Selanjutnya penderita dilarang
menyelam sampai epitel permukaan canalis akustikus eksternus pulih.
Untuk barotrauma telinga tengah pengobatan yang dianjurkan
adalah
1. Istirahat, dilarang menyelan atau melakukan manuver valsava
2. Penggunaan dekongestan atau antihistamin peroral lewat hidung
3. Pemberian antibiotika pada kasus-kasus terjadi perdarahan atau
perforasi membran timpani.
Untuk barotrauma telinga dalam pengobatannya adalah
1. Operasi rekonstruksi mikroskopos membrana foramen rotundum
yang ruptur\
2. Dilarang menyelam termasuk melakukan manuver valsava
3. Simptomatik
Sedangkan pada barotrauma telinga waktu naik dilakukan
pengobatan sebagai berikut :
1. Dilarang menyelam lagi sampai pendengaran atau fungsi vestibuler
normal kembali
2. Dekongestan
3. Antibiotika bila diperlukan
2.6.1.2. Barotrauma Sinus Paranasal
Dalam tulang tengkorak terdapat rongga-rongga fisiologis, yaitu
sinus paranasal, yang pada dasarnya merupakan rongga tulang yang
dilapisi mukosa dan berhubungan dengan cavum nasi lewat ostium atau
saluran.
Pengobatan yang dianjurkan untuk barotrauma sinus waktu descent
adalah
1. Pengobatan faktor predisposisi
2. Dekongestan nasal untuk mengurangi oedema mukosa di daerah
ostium nasi
3. Antibiotika bila diperlukan
4. Kadang diperlukan drainage
Sedangkan untuk barotrauma sinus waktu ascent umumnya tidak
membutuhkan pengobatan khusus
2.6.1.3. Barotrauma Gigi
Barotrauma gigi biasanya terjadi pada akar gigi terinfeksi atau di
sekeliling tambalan gigi yang berlubang, rongga dalam gigi akibat adanya
karies dengan lapisan semen tipis,setelah oral surgery,pencabutan gigi.
Pengobatan dengan analgetik dan reparasi gigi. Selain itu bila terjadi
nyeri pada gigi premolar sampai molar perlu dipikirkan kemungkinan nyeri
akibat barotrauma sinus maksilaris.
2.6.1.4. Barotrauma Wajah
Kegunaan masker adalah sebagai alat peolong penglihatan saat
menyelam, tetapi dengan memakai masker akan terbentuk ruangan berisi
udara di dalam wajah penyelam. Bila tidak dapat menyamakan tekanan
waktu menyelam lewat udara dari hidung maka wajah akan tertarik ke
dalam rongga tersebut.
Pengobatan yang bisa dilakukan adalah
1. Simtomatik dan dilarang menyelam sementara
2. Kompres dingin pada bagian yang oedema atau mengalami
perdarahan.
2.6.1.5. Barotrauma Kulit
Terjadi karena memakai dry suit atau wet suit yang tidak cocok
sehingga terjadi rongga udara antara kulit dan pakaian, lalu akan timbul
tekanan negatif pada saat turun sehingga kulit terhisap ke arah rongga
udara tersebut. Barotrauma ini dapat sembuh dalam beberapa hari.
2.6.1.6. Barotrauma Intestinal
Pada waktu ascent terjadi pengembangan gas yang mengakibatkan
kembung, flatus, serta timbul kolik. Pengobatannya dilakukan dengan
mengurangi kecepatan waktu ascent atau dilakukan rekompresi, selain itu
juga dengan melepaskan ikat pinggang atau pakaian yang rusak
2.6.1.7. Barotrauma Kepala dan Badan
Penggunaan alat selam klasik dimana udara dalam helmet tidak
bertambah maka akan menimbulkan kecelakaan serius dan menimbulkan
kematian
Alat selam klasik juga pada saat ascent gas yang ada dalam pakaian
harus dapat keluar karena jika tidak udara dalam pakaian akan
menggembung dan menyebabkan naik dengan cepat tanpa kontrol dan
menimbulkan barotrauma ascent, penyakit dekompresi atau trauma fisik.
Selain itu bila pakaian sudah tidak bisa menahan maka akan robek dan
penyelam akan tenggelam dengan cepat.
2.6.1.8. Barotrauma Paru
Barotrauma paru termasuk barotrauma yang paling serius diantara
lainnya. Pada barotrauma paru waktu turun dapat diobati dengan
pemberian O2 100% dan intermittent possitive pressure inspiratory therapy,
pencegahan infeksi, perawatan umum terhadap gejala lain yang mungkin
timbul, bronkodilator dan gravitational drainage bila ada perdarahan atau
eksudasi yang berat.
Sedangkan pada barotrauma pada waku naik ada empat
kemungkinan yang dapat terjadi yaitu kerusakan jaringan paru, emfisema
surgikalis, pneumothoraks, emboli udara.
Terapi untuk kerusakan jaringan paru akibat barotrauma dengan
mengusahakan pernafasan yang adekuat dengan inhalasi oksigen 100%
agar tercapai kadar gas-gas yang memadai dalam sistem arteri. Hindari
penggunaan metode tekanan positif karena hal itu dapat memperbesar
kerusakan jaringan paru. Metode tersebut hanya boleh dipakai bila mutlak
diperlukan. Harus pula diperhatikan pengobatan suportif terhadap
gangguan kardiovaskular dan keseimbangan cairan dan elektrolit dalam
tubuh.
Terapi untuk emfisema surgikalis akibat barotrauma harus dipikirkan
dulu apakah ada emboli udara atau pneumothoraks karena bila ada maka
harus didahulukan penanganannya. Terapi terhadap emfisema
mediastinalis ringan adalah simtomatis. Pada kasus yang lebih berat dapat
diberikan inhalasi oksigen 100% untuk membantu resolusi udara yang
terperangkap. Bila emfisema mediastinalis berat, dapat diberikan terapi
rekompresi. Sedangkan untuk emfisema subkutan yang berat dapat diberi
terapi inhalasi oksigen 100% untuk mempercepat absorpsinya.
Terapi untuk pneumothoraks ringan hanya butuh oksigen secara
intermiten tanpa tekanan positif lalu diberikan analgetik, tirah baring, dan
fisioterapi. Apabila sudah terjadi kolaps paru lebih dari 20% dapat dipasang
kanul interkosta dan suction drainage.
Terapi untuk emboli udara akibat barotrauma adalah urgen dan
harus segera dilaksanakan mendahului pengobatan barotrauma lainnya
dan yang paling efektif adalah rekompresi. Akan tetapi bila terjadi
bersamaan dengan pneumothoraks maka sebelum dilakukan rekompresi
harus dilakukan thorakosentesis terlebih dulu. Tindakan yang penting
antara lain resusitasi kardiopulmonal sebelum dan selama rekompresi,
oksigen 100% dengan masker, letakkan miring ke kiri untuk pertahankan
kardiak output dan datar horisontal untuk menghindari memburuknya
oedema cerebral, rekompresi segera sampai 6 ATA
2.6.2. Penyakit Dekompresi
Pada kasus dekompresi yang berat timbul gelembung gas dalam
pembuluh darah dan jaringan ekstravaskular akibat supersaturasi gas
dalam darah atau jaringan tubuh pada waktu proses penurunan tekanan di
sekitar tubuh. Berat ringannya penyakit dekompresi berhubungan dengan
jumlah gelembung gas. Gelembung ekstravaskular menimbulkan distorsi
jaringan dan kerusakan sel-sel di sekitarnya. Gelembung gas intravaskular
akan menimbulkan 2 akibat, yaitu :
1. Akibat langsung, akibat mekanis sumbatan menimbulkan iskemik
atau kerusakan jaringan sampai infark jaringan.
2. Akibat tidak langsung, akibat sekunder adanya gelembung gas
dalam darah menimbulkan fenomena hipoksia
Tujuan pengobatan penyakit dekompresi adalah melawan efek
hipoksia pada jaringan. Terdiri dari 3 tindakan yang saling melengkapi :
1. Oksigenasi (hiperbarik atau nomobarik)
2. Rekompresi
3. Medikamentosa (cairan dan elektrolit, anti platelet agregasi, steroid,
gliserol, anti konvulsi)
2.6.3. Dysbaric Osteonecrosis
Merupakan manifestasi lambat dari penyakit dekompresi, ada
beberapa teori mengenai hubungan sebab akibatnya, antara lain teori
pelepasan gas inert, teori emboli arterial, teori oksigen toksisitas, teori
pengaruh osmose. Dysbaric osteonecrosis terjadi akibat infark pada
jaringan tulang yang akan diikuti kematian dari osteosit dan autolisis
sumsum tulang.
Prinsip terapi pada sendi yang akan rusak adalah dengan
mengurangi beban semaksimal mungin dengan tirah baring pada sendi
yang menanggung beban berat. Sedangkan terhadap lesi juxta articular
yang lebih berat adalah dengan tindakan chirurrgis.
2.7. Hiperbarik
2.7.1. Definisi
Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT) adalah suatu cara pengobatan
dimana pasien masuk ke dalam suatu ruangan tertutup (chamber) yang
disebut RUBT (Ruang Udara Bertekanan Tinggi ) kemudian diberi tekanan
yang lebih besar dari tekanan udara normal yaitu lebih dari 1 atm (atmosfer)
dan bernafas dengan oksigen murni (100%). Terapi ini dapat merupakan
terapi utama atau terapi penunjang untuk berbagai pengobatan penyakit
dan dapat dikombinasikan dengan terapi medis konvensional.

Gambar 2.1. Animal Chamber

Gambar 2.1. Multiplace Chamber

Gambar 2.2. Monoplace Chamber


Di dalam RUBT ini diberikan oksigen 100%, dan diberikan tekanan
1,5-2,4 ATA. Total waktu terapi 60-120 menit. Waktu interval antara
penghirupan oksigen bergantung kondisi pasien (biasanya 5 menit).
Bentuk dan jenis RUBT antara lain
1. Large multi compartment chamber
 Dipakai dalam pengobatan
 Mampu diisi tekanan lebih dari 5 ATA
 Mampu menampung beberapa orang
2. Large multi compartment for treatmen
 Dipakai dalam pengobatan
 Mampu diisi tekanan 2-4 ATA
 Mampu menampung beberapa orang
3. Portable high pressure multi-man chamber
 Dapat dipindahkan
 Dipakai untuk pengobatan penyelaman
 Mampu menampung lebih dari 1 orang
4. Portable high or llow pressure one-man chamber
 Dapat dipindahkan
 Untuk peengobatan penyelaman
 Mampu menampung 1 orang
2.7.2. Persyaratan sebelum TOHB
1. Medik
• Thorax foto
• Tidak sedang flu dan demam
• Pemeriksaan laboratorium bila ada penyakit tertentu (missal Diabetes
Mellitus)
2. Sarapan pagi
3. Berpakaian berbahan katun dan disarankan agar bercelana panjang
4. Tidak membawa barang elektronika, barang yang mengandung alcohol,
telepon genggam, remote control , minyak angin dan minyak wangi
5. Tidak menggunakan jam tangan, perhiasan lainnya, gigi palsu, lensa
kontak .hearing aids
6. Melakukan Equalisasi, yaitu upaya untuk menyamakan tekanan telinga
bagian tengah dan bagian luar. Hal ini perlu dilakukan pada saat anda
masuk dalam hyperbaric Chamber.
2.7.3 Efek Oksigen Hiperbarik
Efek terapi oksigen hiperbarik terhadap mikroorganisme adalah
merusak jasad renik tanpa merugikan host. Oleh karena itu prinsipnya untuk
mencapai tingkat tekanan parsial oksigen dalam jaringan yang dapat
merusak jasad renik, bukan malah membantu pertumbuhannya, tanpa
adanya efek negatif terhadap tuan rumah. Sebagai zat antimikroba, oksigen
tidak bersifat selektif, nampaknya oksigen menghambat bakteri gram positif
maupun gram negatif dengan kekuatan yang sama. Jadi dengan demikian
oksigen dapat dianggap obat antimikroba yang berspektrum luas.Terhadap
kuman anaerob oksigen hiperbarik bersifat bakterisid sedangkan terhadap
kuman aerob bersifat bakteriostatik.Infeksi anaerob seperti clostridium
penyebab gas gangrene, clostridium tetani, non-spore forming anaerobes,
flora usus, dan flora mulut.Sedangkan untuk infeksi aerob seperti
mycobacterium leprae, mycobacterium tuberculosis, mycobacterium
ulserans, pneumococcus, dan staphylococcus.
Tujuan dari terapi oksigen hiperbarik terhadap sel jaringan tubuh
adalah mempunyai efek yang baik terhadap aliran darah dan kelangsungan
hidup jaringan yang iskemik.Penggunaan oksigen hiperbarik dalam klinik
meningkat dengan cepat dimana perbaikan jaringan yang hipoksia dan
pengurangan pembengkakan merupakan faktor utama dalam
mekanismenya.Namun sampai saat ini pembenaran pemakaian oksigen
hiperbarik untuk memperbaiki kelangsungan hidup jaringan didasarkan
pada pengamatan klinis belaka, meskipun begitu diadakan
penyempurnaan-penyempurnaan dalam metode penelitian untuk dapat
menentukan dengan tepat pengaruh oksigen hiperbarik terhadap
kelangsungan hidup jaringan.
Dasar-dasar terapi oksigen hiperbarik secara umum adalah sebagai
berikut:
• pemakaian tekanan akan memperkecil volume gelembung gas dan
penggunaan oksigen hiperbarik juga akan mempercepat resolusi
gelembung gas
• daerah-daerah yang iskemik atau hipoksik akan menerima oksigen
secara maksimal
• di daerah yang iskemik, oksigen hiperbarik mendorong atau
merangasang pembentukan pembuluh darah kapiler baru
• penekanan pertumbuhan kuman-kuman baik gram positif maupun
gram negatif dengan pemberian oksigen hiperbarik
• oksigen hiperbarik mendorong pembentukan fibroblas dan
meningkatkan efek fagositosis dari leukosit.
2.7.4. Efek Tekanan
Seiring dengan peningkatan tekanan pada chamber, volume udara
diberbagai ruang kosong didalam tubuh menjadi tertekan.Rongga udara
yang besar dalam tubuh, termasuk paru, teling tengah dan dalam, GIT, dan
sinus.Sebagian besar tubuh pasien dapat menyesuaikan terhadap
perubahan tekanan ini, tetapi ada beberapa yang membutuhkan bantuan
penyesuaian.Paru-paru dapat menyesuaikan perubahan tekanan ini
dengan nafas biasa.Satu hal yang harus diingat adalah, jangan pernah
menahan nafas selama didalam RUBT. Selama perubahan tekanan juga
dapat berpengaruh pada ruang yang ada ditelinga, pasien akan merasa ada
rasa penuh pada telinga (rasa ini seperti saat di dalam elevator, atau di
dalam pesawat), keadaan ini dapat diatasi dengan penyesuaian sederhana.
Pasien akan diajarkan bagaimana melakukan penyesuaian ini sebelum
masuk RUBT.
Perubahan tekanan, berpengaruh juga pada
temperatur.Peningkatan tekanan diikuti juga dengan peningkatan
temperatur.Penurunan tekanan diikuti juga dengan penurunan temperatur
dan ada kabut dipengaruhi oleh kelembapan dalam RUBT.
2.8.Kelainan dan Penyakit Akibat Gas
2.8.1. Narkosis Nitrogen
Pencegahan paling sederhana adalah menghindari paparan
terhadap tekanan parsial gas inert yang diketahui menyebabkan
keracunan. Dalam praktek penyelaman yang aman dengan menggunakan
udara bertekanan memerlukan kesadaran terhadap kondisi dan efek pada
penampilan dan pengambilan keputusan pada kedalaman lebih dari 30 m.
Batas kedalaman maksimal 50-60 m, tergantung pada pengalaman
penyelam dan tugas yang dilakukannya. Penyelam yang aman pada
kedalaman yang lebih dalam memerlukan substitusi zat yang kurang
narkotik untuk melarutkan oksigen. Helium telah umum digunakan untuk
maksud ini tetapi hidrogen dan neon juga telah diajukan dan dicoba dalam
tingkatan tertentu
Saturasi pada kedalaman 30-50m memberikan perkembangan
toleransi. Penyelam profesional yang menyelam lebih dalam dalam dapat
lebih aman dan menunjukkan penampilan yang lebih baik. Penyelam
pekerja konvensional sampai 100m tak layak bila menggunakan udara
sebagai media pernafasan.
Dimasa mendatang, percobaan Kulstra dengan media pernafasan
cair mungkin dapat menyelesaikan problem narkosis dengan mengurangi
kebutuhan pelarut oksigen untuk pernafasan. Sebagai alternatif, lebih
diperhatikan pemakaian obat yang dapat mencegah atau melindungi dari
narkosis, antara lain dengan metil fenidat dan azasiklonal hidroklorida. Saat
ini belum dilakukan penggunaan obat untuk tujuan ini. Belum ditemukan
pengobatan yang spesifik, selain kembali ke permukaan atau mengurangi
tekanan.
2.8.2. Keracunan Oksigen
2.8.2.1. Keracunan Oksigen Pulmoner
Faktor yang mempengaruhi tingkat keracunan oksigen paru adalah
tekanan parsial oksigen, lama paparan dan variasi suseptibilitas
perorangan. Dalam suatu penelitin paparan oksigen 2ATA, beberapa
subjek timbul gejala setelah 3 jam, sedangkan 1 subjek lainnya bebas
gejala selama 8 jam paparan.
Gejala permulaan biasanya iritasi ringan pada trakea, sesuai dengan
trakeitis pada infeksi saluran nafas atas. Iritasi diperberat oleh inspirasi
dalam yang kemudian menyebabkan batuk. Rasa nyeri substernal yang
timbul diperberat pernafasan yang dalam dan batuk. Batuk secara progresif
bertambah berat sampai tidak dapat dikendalikan. Rasa sakit pada inspirasi
menunjukkan adanya kelainan pada trakeobronkial. Dispneu yang
kemudian timbul akan cepat memburuk bila paparan dilanjutkan.
Tanda-tanda fisik seperti ronki, hiperemi membran mukosa hidung
dan demam, hanya akan didapatkan sesudah paparan yang lama pada
subjek normal.
Perubahan pada foto thorak bukan merupakan hal yang
patognomonik dari keracunan oksigen. Densitas pulmoner bilateral yang
difus pernah dilaporkan pada keracunan oksigen. Pada paparan lebih lanjut
didapatkan infiltrat dengan batas ireguler yang meluas dan kemudan
menyatu.
Pengukuran kapasitas bital merupakan suatu cara monitor yang
sensitif pada saat terjadinya keracunan dan perkembangan selanjutnya.
Penurunan ini berlanjut untuk beberapa jam sesudah paparan dihentukan
dan kadang memerlukan waktu sampai 12 jam untuk kembali normal.
Karena pengukuran kapasitas vital butuh pasien yang kooperatif, maka
penggunaanya dalam situasi terapeutik sangat terbatas.
Tidak ada terapi spesifik yang dapat menunda atau memperbaiki
kerusakan paru yang disebabkan oleh hiperoksia. Paparan yang intermiten
dapat menunda terjadinya keracunan. Bila tanda keracunan oksigen mulai
tampak, tekanan parsial oksigen harus diturunkan. Oleh karenanya sangat
perlu untuk mengetahui tanda dini dari sindroma ini. Monitoring kapasitas
vital paru merupakan indikator yang bermanfaat untuk mendeteksi
timbulnya dan mengetahui perkembangan keracunan oksigen. Sampai
dengan penurunan 20% masih dapat ditoleransi pada pengobatan penyakit
dekompresi yang berat, penurunan 10% sudah memerlukan perhatian pada
kondisi penyelaman operasional.
Tingkat keracunan oksigen yag ekuivalen dengan penurunan
kapasitas vital 2% dapat membaik sempurna, asimtomatik dan sangat sulit
untuk mengetahuinya dalam situasi yang normal. Dengan peningkatan
tekanan oksigen yang digunakan pada pengobatan penyakit serius,
misalnya penyakit dekompresi yang berat atau gas gangren, cukup
beralasan untuk menerima resiko keracunan oksigen pada paru yang lebih
besar saat mengobati pasien tersebut. Tingkat keracunan paru yang
menyebabkan penurunan kapasitas vital sebesar 10% dapat dihubungkan
dengan terjadinya gejala yang moderat, yakni batuk dan rasa sakit dada
saat inspirasi dalam. Pada tingkat ini, secara eksperimen, akan kembali
membaik dalam beberapa hari. Dinyatakan bahwa penurunan kapasitas
vital sebesar 10% merupakan batas yang dapat diterima untuk prosedur
terapi oksigen hiperbarik.
Hiperinflasi paru secara periodik dianjurkan dalam mencegah
atelektasis. Juga ketaatan terhadap batas tekanan dan lama paparan yang
telah ditentukan untuk mencegah keracunan oksigen paru.
2.8.2.2. Keracunan Oksigen – Neurologik
Manifestasi klinik secara subjektif dan objektif dapat timbul sendiri
atau bersamaan, antara lain nausesa, muntah, kepala terasa ringan,
pusing, tinitus, vertigo, rasa segera terjadi kolaps, muka pucat, berkeringat,
bradikardia, penyempitan lapangan pandang, silau, bibir gemetar, otot
seluruh badan gemetar, cegukan, parestesi,dispneu, amnesia
retrogade,ilusi, gangguran rasa yang khusus, halusinasi, dan kekacauan.
Wajah gemetar adalah tanda objektif yang umum nampak dalam
RUBT dengan tekanan lebih dari 2ATA dan merupakan tanda awal
konvulsi.
Pengobatan terutama ditujukan untuk mencegah trauma fisik karena
konvulsinya. Di dalam RUBT diperlukan penekan lidah untuk mencegah
lidah tergigit. Di dalam air penyelam harus diangkat ke permukaan sesudah
fase tonik konvulsi menghilang. Hal ini juga sama bila di dalam RUBT, tetapi
harus memperhatikan tabel dekompresi. Dilakukan pengurangan oksigen
pada media pernafasannya. Dekonvulsan diberikan pada keadaan tertentu.
2.8.2.3. Keracunan Oksigen pada Organ Lain
Keracunan oksigen juga dapat terjadi pada eritrosit, mata, telinga,
dan tulang.
2.8.3. Hipoksia
Hipoksia dapat terjadi pada penyelaman dengan peralatan,
penyelaman tahan nafas, dan penyelaman dalam.
Pada beberapa kasus diagnosis hipoksia tidak mudah oleh karena
gejala dari beberapa penyakit seperti oksigen narkosis, keracunan oksigen,
kelebihan CO2, emboli udara serebral atau penyakit dekompresi mirip
seperti gejala hipoksia.
Bila teradapat keraguan, penderita diterapi seperti penderita
hipoksia dan diobservasi sampai dapat ditentukan diagnosisnya.
Kenyataannya pada penyakit seperti disebutkan di atas, hipoksia
merupakan problem yang umum terjadi dan pertolongan terhadap hipoksia
akan sangat membantu. Pengobatan dari berbagai bentuk hipoksia
mencakup koreksi dari penyebab hipoksia. Pada kebanyakan kasus yang
terjadi pada penyelam biasanya diperlukan tindakan pertolongan yang
lazim seperti :
1. Jalan nafas (bersihkan mulut dan sebagainya)
2. Pernafasan (mulut ke mulut)
3. Sirkulasi (bila perlu lakukan pijat jantung)
Pada kasus hipoksia-hipoksik harus diberkan oksigen 100%
diperlukan untuk menjamin kadar oksigen arteri yang cukup. Bila
pertolongan telah berhasil maka tekanan dan prosentase oksigen dapat
diturunkan secara bertahap sambil diikuti monitor gas-gas dalam arteri.
Tujuan terapi hipoksia stagnansi adalah menaikkan perfusi pada
daerah yang terkena. Hal ini memerlukan perbaikan dari volume sirkulasi
total anemik dengan penambahan eritrosit secara hati-hati serta
memperhatikan faktor lain yang mendasarinya. Pada kasus keracunan
karbon monoksida pemberian oksigenasi hiperbarik dapat menyelamatkan
jiwa saat fase awal yang kritis.
Keadaan hipoksia histotoksik diatasi dengan menghilangkan bahan
toksik dan diberikan hiperoksigenasi. Tindakan definitif lebih lanjut
dibicarakan pada kasus tenggelam, penyakit dekompresi dan barotrauma
paru.
Sindroma yang dikenal sebagai oksigen paradoks harus diwaspadai
oleh mereka yang mengerjakan resusitasi. Pada penderita hipoksia tingkat
sedang, pada saat pertama kali diberi oksigen konsentrasi tinggi, mungkin
akan memburuk sementara dengan ditandai adanya bradikardia, hipotensi,
depresi pernafasan, dan kemungkinan kehilangan kesadaran. Mekanisme
terjadinya belum jelas, diduga akibat dari berkurangnya aliran darah otak.
2.8.4. Keracunan Karbondioksida
Membiasakan para penyelam mengenal sindroma yang dapat
dikendalikan dengan aman, sehingga tindakan yang tepat dapat segera
diambil pada saat timbul gejala pertama kali. Di dalam air mungkin tidak ada
gejala peningkatan CO2, sehingga metode ini kurang dapat berhasil.
Pencegahan ideal adalah dengan memonitor kadar CO2 yang
membahayakan. Saat ini telah tersedia di RUBT, kapal selan dan lainnya
tetapi belum ada pada alat penyelam sistem tertutup. Bila kadar CO2 tidak
termonitor harus diperhatikan faktor-faktor seperti ventilasi yang memadai
di RUBT, menghindarkan kerja fisik yang berat, memelihara batas yang
aman pada sistem absorben dan lainnya.
Harus diingat bahwa prosentase CO2 dalam media pernafasan
menjadi meningkat sesuai dengan kenaikan tekanan. Walaupun CO2 3%
di udara pada permukaan air laut hanya memberikan efek yang ringan,
tetapi pada tekanan 4 ATA atau kedalam 30 meter menjadi ekuivalen
dengan kadar CO2 12% di permukaan air laut dan hal ini sangat berbahaya.
Pada kedalaman yang sangat besar prosentase minimal CO2 dapat
menjadi sangat berbahaya.
Penyelam yang menggunakan alat pernafasan tertutup harus benar-
benar terlatih dalam mengambil tindakan segera bila diduga terjadi
keracunan CO2. Penyelam harus berhenti dan istirahat sehingga aktivitas
otot menurun, pada saat yang sama harus memberi tanda pada
pasangannya untuk segera dibantu dan tidak terjadi kehilangan kesadaran.
Penyelam atau pasangannya dapat pula menghisap media pernafasan
yang bersih sebanyak-banyaknya, melepas pemberat, dan naik ke
permukaan sesuai dengan peraturan. Pada penyelaman dalam mungkin
perlu untuk masuk kembali ke dalam RUBT. Bila telah sampai di permukaan
air atau di RUBT, penyelam harus segera bernafas dengan udara atmosfer.
Pertolongan pertama adalah mengangkat dari lingkungan yang toksik,
memelihara pernafasan, dan sirkulasi untuk beberapa waktu. PCO2 dan PH
arterial akan kembali normal bila ventilasi alveolar memadai dan sirkulasi
membaik.
2.8.5. Keracunan Karbon Monoksida
Pengobatan meliputi proteksi saluran pernafasan, memberikan
ventilasi cukup, pemberian oksigen hiperbarik, pemberian steroid untuk
melawan oedema serebral dan pemberian alkali bila terjadi asidosis yang
dapat mengancam kehidupan. Valium dapat diberikan untuk mengatasi
kejang.
2.8.6. Sindroma Neurologi Akibat Tekanan Tinggi
Sindroma biasanya timbul pada kedalaman lebih dari 150 meter dan
menggunakan campuran helium-oksigen dan lebih sedikit pada pemakai
campuran hidrogen-oksigen. Gejala-gejala berasal dari kelainan sistem
saraf pusat dan dimulai dengan kelainan neuromuskuler yaitu tremor,
fasikulasi, dan inkoordinasi sebagai tanda dini. Manifestasi lanjut dimana
tekanan semakin besar, meliuti gangguan fungsi serebral luhur, yaitu
disorientasi , kebingungan, somnolensi, rasa mengantuk, dan permulaan
konvulsi, koma dan mati.
2.9. Kelainan dan Penyakit Akibat Lingkungan Air
2.9.1. Tenggelam
Tenggelam adalah kesulitan bernafas sewaktu terbenam di dalam air
tawar atau laut. Nyaris tenggelam adalah keadaan nyaris terganggunya
pernafasan selagi tenggelam yang berhasil diselamatkan nyawanya
dengan resusitasi dan tindakan medis lain. Korban nyaris tenggelam dapat
berakhir dengan kematian akibat perubahan sekunder sewaktu episode
akut.
Nyaris tenggelam tanpa aspirasi secara faal serupa dengan
terhentinya pernafasan. Pengobatannya dengan memperbaiki
laringospasme dan pernafasan. Segera dilakukan pernafasan buatan dari
mulut kemulut, pemberian O2 bertekanan positif dengan masker atau
intubasi endotrakeal, memperbaiki asidosis, pijat jantung tertutup, dan
tindakan lain yang diperlukan. Nyaris tenggelam tanpa aspirasi dapat pulih
kembali bila terjadinya asfiksia hanya sebentar. Bila agak lama akan
didapatkan kerusakan jaringan yang lebih banyak terutama kerusakan sel
saraf. Hal ini yang menentukan ada tidaknya sekuele, karena pengaruh
kerusakan jatingan, misalnya oedema otak, gejalanya baru timbul
belakangan. Sebaiknya korban nyaris tenggelam dirawat di rumah sakit
untuk pengobatan selanjutnya.
Organ yang merupakan sasaran utama pada nyaris tenggelam yang
disertai aspirasi cairan adalah paru dengan gangguan utama berupa
hipoksia dan asidosis metabolik. Kelainan sekunder termasuk gangguan
keseimbangan carian, elektrolit, dan hemolisis intravaskuler.
Pengobatannya harus segera diberikan, terdiri dari perbaikan udara
pernafasan dan hipoksia serta asidosis. Tindakan resusitasi lain termasuk
penggantian volume plasma yang diperlukan. Pengobatan jangka panjang
yaitu pemberian oksigen bertekanan positif dengan tambahan oksigen,
pemberian aerosol bronkodilator, terapi bronkoskopi bila foto rontgen dada
menunjukkan pneumonia dan diperlukan analisis gas darah serial.
Pemberian antibiotika dan steroid untuk mengatasi aspirasi pneumonia dan
atau oedema otak serta mengawasi plasma hemoglobin, hemoglobinuria,
BUN, dan produksi urin. Tidak perlu cairan hipertonik untuk memperbaiki
gangguan keseimbangan elektrolit. Semua korban dirawat di rumah sakit.
2.9.2. Hipotermi
Hipotermi terjadi apabila hilangnya panas dari tubuh lebih besar dari
panas yang dihasilkan. Meresusitasi korban hipotermi yang berat kadang
sulit oleh karena penderita dingin, apneu, nadi tak teraba, reflek hilang, pupil
melebar. Selalu usahakan resusitasi, rekam ECG, ukur suhu rektal, foto
thoraks, laboratorium darah, urin, elektrolit, osmolaritas, hematokrit,
glukosa, BUN, kreatinin, fungsi pembekuan, dan analisis gas darah.
Tangani penderita dengan hati-hati karena dapat terjadi ventrikel fibrilasi
terutama waktu dipanaskan kembali. Perbaiki asidosis dengan bikarbonat.
Aritmia ventrikel dapat diberikan lidocaine, dosisnya dikurangi.
Memasukkan penderita hipotermi ke dalam bak air panas dan minuman
beralkohol merupakan kontraindikasi. Beri pakaian kering, selimut, dan
minuman hangat.
2.9.3. Penyakit Infeksi Pada Penyelaman
2.9.3.1. Infeksi Spesifik Dekat Permukaan Air
1. Schistosoma dermatitis
Memakai pakaian pelindung, membersihkan kulit setelah
tercelup air, memakai obat-obatan repelen, pembersihan
siput air di payau-payau maupun rumput liar.
2. Erisipeloid
Pencegahan luka segera diobati secara lokal dan sistemik
3. Granuloma
Terapi anti tuberkulosa, trimetoprim sulfamethoxazole,
kompres hangat, pakaian pelindung
4. Tinea pedis
Rendam kalium permanganat, anti jamur lokal
5. Tinea versikolor
Menjaga kebersihan tubuh
2.9.3.2. Infeksi Non Spesifik
1. Otitis eksterna
Pengobatan analgesik, antiseptik lokal dan antibiotik
lokal/sistemik
2. Otitis media
Pengobatan dengan antibiotik dan pencegahan dengan
menghilangkan/mengurangi faktor resiko
3. Sinusitis
Pengobatan/pencegahan sesuai terapi THT
4. Luka oleh karena karang
Pengobatan antiseptik, pengambilan benda asing, antibiotik /
antiseptik lokal / sistemik, anti tetanus serum
5. Infeksi sekunder akibat luka lecet lain
2.9.3.3. Infeksi Sistemik Spesifik
1. Meningoensefalitis karena amuba
Pengobatan dengan antibiotik dan pencegahan dengan
higiene lingkungan air
2. Leptospirosis
Pengobatan antibiotik dan pencegahan kontrol lingkungan
3. Faringokonjungtival fever
Pengobatan simtomatis dan pencegahan klorinasi aktif pada
kolam renang
4. Infeksi lain
Pengobatan simptomatis pencegahan klorinasi aktif pada
kolam renang
2.9.3.4. Infeksi Sistemik Non Spesifik
1. Penyakit Key West karena scuba
2. Sindroma tertelan air asin
Pengobatan dalam keadaan akut berikan O2 100%
3. Nyaris tenggelam dengan komplikasi infeksi sekunder
Terapi antibiotika
2.9.4. Binatang Laut Berbahaya
2.9.4.1. Binatang yang Berbahaya karena Gigitannya
1. Ikan hiu
Pertolongan pertama penderita dikeluarkan dari air secepat
mungkin, lakukan pertolongan secepatnya di pantai, jangan
langsung dikirim ke rumah sakit, tekan luka untuk mengurangi
perdarahan, tenangkan penderita, tidurkan di tempat datar
dengan posisi kepala lebih rendah dan diberi selimut, siapkan
untuk dikirim ke rumah sakit dengan ambulans, jangan
berikan sesuatu lewat mulut, penderita sebaiknya tetap
tinggal paling sedikit 30 menit, baik diberikan
pengobatan/tidak
Pengobatan di tempat siapkan perlengkapan transfusi untuk
penderita, berikan analgesik / sedatif, buat catatan status
penderita dengan lengkap, setelah syok diatasi penderita
dikirim dengan ambulans kalau perlu dengan resusitasi
Perawatan di rumah sakit langsung ke ruang bedah untuk
operasi, kultur bakteriologis
2. Barracuda
Pertolongan pertama tekan luka untuk menghentikan
perdarahan, penderita dibaringkan jangan dipindah-pindah,
usahakan pengobatan setempat, tenangkan penderita,
jangan beri sesuatu lewat mulut. Pengobatan kalau perlu
berikan hemostasis, tunggu sampai kondisi stabil dan tenang,
terapi cairan/transfusi darah bila diperlukan, berikan sedatif,
antibiotika, kirim ke rumah sakit.
3. Moray Eels
Pertolongan pertama tekan luka untuk menghentikan
perdarahan, tidurkan penderita, jangan digerakkan,
tenangkan penderita, jangan berikan sesuatu lewat mulut.
Pengobatan seperti pada luka gigitan baracuda
4. Groper
Pertolongan pertama seperti pada gigitan baracuda.
Pengobatan seperti pada gigitan baracuda.
2.9.4.2. Binatang yang Berbahaya karena Racunnya
1. Ikan pari
Pengobatan atasi perdarahan, anestesi lokal tanpa adrenalin,
analgesik, foto rontgen, monitor tanda vital dan elektrolit,
antibiotika, debridemen, terapi simtomatik
2. Ular laut
Insisi dan pengobatan luka, anti bisa ular, kalau perlu
pernafasan endotrakeal tube, koreksi elektrolit, kontrol fungsi
ginjal, kontrol terhadap syok kardiovaskular, sedatif kalau
perlu
3. Ikan kalajengking
Pegobatan umum stonefish antivene 1 ml menetralkan 10 mg
racun (racun 1 duri), tetanus profilaksis, antibiotik sistemik,
debrimen luka, resusitasi, pengontrolan gejala klinik, tensi,
nadi, fungsi paru, awasi komplikasi paralisis bulbar
4. Ikan sembilang, lele
Pengobatan anestesi lokal tanpa adrenalin, pemanasan
lampu infra merah, analgesik, antibiotik lokal/sistemik
5. Ubur-ubur
Pengobatan anestesi lokal, analgetik kalau perlu
morphin/pethidine, hidrokortison, menolong pernafasan
dengan resusitasi O2, Largactil, noradrenalin, monitoring EKG
dan tekanan darah, sea wasp anti toksin, salep yang
mengandung kortikosteroid
6. Cone shell
Pengobatan pernafasan buatan pada paralisis respirasi, pada
paralisis umum jangan berikan makanan/minuman lewat
mulut, pijat jantung, anestesi lokal, jangan berikan obat yang
menekan pernafasan
7. Sea urchin
Pengobatan lokal dengan pengambilan semua duri, antibiotik
lokal, antibiotik spektrum luas. Pengobatan umum pernafasan
buatan, pada paralisis bulbar jangan beri makan/minum lewat
ulut, perawatan mata, adrenalin/anti histamin, steroid
sistemik, infus
BAB III
PEMBAHASAN

Belum adanya peraturan perundang-undangan yang secara khusus


mengatur tentang kegiatan penyelaman. Salah satu peraturan yang
berhubungan dengan kesehatan kelautan dan bawah air adalah
Permenkes RI No 61 Tahun 2013 Tentang Kesehatan Matra. Kesehatan
Kelautan dan Bawah Air adalah kesehatan matra yang berhubungan
dengan pekerjaan atau kegiatan di laut dan berhubungan dengan keadaan
lingkungan yang bertekanan tinggi (hiperbarik). Kesehatan penyelaman
merupakan Kesehatan Matra yang dilakukan terhadap masyarakat yang
melakukan aktivitas di lingkungan bertekanan lebih dari satu atmosfer
absolut. Penyelenggaran kesehatan matra dilakukan dengan memenuhi
standar dan persyaratan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan dimana terdiri dari persiapan sebelum
kegiatan dilaksanakan, kegiatan operasional penyelaman, dan setelah
kegiatan operasional sampai dengan 24 jam.
Selain itu Undang-undang No 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan
Kerja, undang-undang tersebut berlaku di tempat kerja dimana dilakukan
penyelaman, pengambilan benda dan pekerjaan lain di dalam air. Terdapat
beberapa aspek kesehatan pada penyelaman yang harus dipenuhi guna
meminimalisir akibat-akibat yang tidak diinginkan akibat penyelaman
seperti barotrauma, penyakit dekompresi, dan dysbaric osteonecrosis.
Penyakit dekompresi selain membutuhkan terapi medikamentosa juga
memerlukan oksigenasi dan rekompresi melalui terapi hiperbarik oksigen.
Terapi hiperbarik oksigen bukan tanpa resiko, terdapat banyak
aspek yang harus dipenuhi sebelumnya baik sarana prasarana maupun
sumber daya manusianya. Meskipun tidak ada peraturan perundang-
undangan yang khusus mengenai kesehatan hiperbarik, tetapi telah
terdapat standar pelayanan medik hiperbarik melalui keputusan menteri
kesehatan No 120/Menkes/SK/II/2008.
Standar pelayanan medik hiperbarik merupakan acuan dalam upaya
untuk menyelenggarakan pelayanan medik hiperbarik sebagai bagian dari
pelayanan medik di sarana pelayanan kesehatan yang terjamin keamannya
dan berkualitas, serta bermanfaat dan dapat dijangkau masyarakat luas.
Hal tersebut sesuai dengan situasi saat ini dimana hiperbarik telah
berkembang pesat di seluruh dunia, termasuk Indonesia, dan telah
digunakan tidak hanya sebagai pengobatan utama pada kasus kelautan
dan penyelaman, tetapi juga sebagai pengobatan tambahan dan
pengobatan pilihan lain yang telah dipilih dan dirasakan manfaatnya oleh
masyarakat secara luas dalam hal pencegahan penyakit, peningkatan
kesehatan, penyembuhan penyakit, dan pemeliharaan kualitas hidup.
Standar pelayanan medik hiperbarik disusun oleh departemen
kesehatan bekerja sama dengan para pakar, organisasi profeis, dan
lembaga lintas sektor terkait, sehingga diharapkan dapat meningkatkan
kualitas dan keamanan penyelenggaraan pelayanan medik hiperbarik yang
telah berjalan selama ini di Indonesia agar dapat melindungi masyarakat
sebagai pengguna jasa pelayanan maupun pelaksana pelayanan tersebut.
Diharapkan dengan menjalankan standar pelayanan medik
hiperbarik dapat dihindari terjadinya penyakit akibat pajanan hiperbarik
seperti narkosis nitrogen, keracunan oksigen pulmoner dan neurologik,
keracunan organ lain seperti eritrosit, mata, telinga, dan tulang, hipoksia,
keracunan karbon dioksida, keracunan karbon monoksida, sindrom
neurologi akibat tekanan tinggi.
Sesuai dengan standar pelayanan medik hiperbarik maka sumber
daya manusia yang bekerja dalam pelayanan hiperbarik harus memiliki
kompetensi dalam pelayanan medik hiperbarik. Hal tersebut juga ditujukan
agar apabila terjadi penyakit akibat pajanan hiperbarik dapat segera
dikenali melalui tanda dan gejalanya serta dapat segera dilakukan
tatalaksana yang baik.