Anda di halaman 1dari 10

PENGARUH TERPAAN TAYANGAN KOREAN WAVE (DEMAM

KOREA) TERHADAP GAYA HIDUP MAHASISWI FAKULTAS ILMU


SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
(Studi Korelasional Pengaruh Terpaan Tayangan Korean Wave (Demam Korea)
Terhadap Gaya Hidup Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara)

Ananda Ramadhan
100904115

ABSTRAK
Penelitian ini berjudul Pengaruh Terpaan Tayangan Korean Wave (Demam
Korea) Terhadap Gaya Hidup Mahasiswi FISIP USU. Penelitian ini bertujuan
untuk melihat pengaruh terpaan tayangan Korean Wave terhadap gaya hidup
Mahasiswi FISIP USU, yang secara mengejutkan penggemar tayangan Korean
Wave nya banyak. Teori yang digunakan adalah teori Uses and Gratification,
Komunikasi massa, Terpaan media, Gaya hidup dan Teori Kultivasi. Metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional yaitu
metode yang berusaha menjelaskan suatu permasalahan atau gejala yang lebih
khusus dalam menjelaskan antara dua objek. Penelitian ini dilakukan pada bulan
Mei 2015. Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswi FISIP USU Strata I
angkatan 2010-2014 yang keseluruhannya berjumlah 1954 orang. Penentuan
sampel menggunakan rumus Taro Yamane, dari populasi keseluruhan diperoleh
92 responden. Teknik penarikan sampel menggunakan proportional stratified
sampling, Accidental sampling dan purposive sampling. Teknik pengumpulan
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui penelitian kepustakaan
dan teknik observasi serta penelitian lapangannya yaitu melalui kuesioner. analisis
tabel tunggal, analisis tabel silang, dan uji hipotesis digunakan dalam
menganalisis data penelitian ini. Dari hasil penelitian ini diperoleh r sebesar 0,458
menunjukkan bahwa adanya hubungan cukup berarti antara terpaan tayangan
Korean Wave dengan gaya hidup mahasiswi FISIP USU menurut skala Guilford
Kata kunci : Korean Wave, terpaan tayangan, gaya hidup, globalisasi, mahasiswi

PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Penyebaran Korean Wave (Hallyu) sangat luar biasa, seluruh dunia telah
merasakan dampak dari penyebaran budaya dari Korea Selatan ini. Penyebaran itu
juga sampai di Indonesia. Korean Wave pertama kali booming di Indonesia
berawal pada tahun 2002. Beberapa statsiun televisi swasta yang menayangkan
drama serial Korea (K-Drama).
Drama-drama Korea yang ditayangkan waktu itu antara lain Endless Love,
Winter Sonata, Stairway to Heaven, Memories in Bali dan Sorry I Love You yang

1
merupakan serial drama melankolis. Kemudian disusul penayangan serial drama
komedi romantis, antara lain Full House, Sassy Girl Chun Hyang, Lovers in Paris,
Princess Hours dan Coffee Prince. Pada tahun 2008-2009, drama Korea yang
banyak sekali mendapatkan perhatian dari penonton Indonesia adalah Boys Before
Flowers (https://id.wikipedia.org/wiki/Hallyu).

Tidak hanya drama Korea, Acara musik pop Korea (K-Pop) juga
ditayangkan di Indonesia. Acara seperti MuBank (Music Bank) dan SMTOWN
yang menampilkan artis-artis boyband dan girlband. Konser SMTOWN sendiri
pernah diselenggarakan di Indonesia pada 22 September 2012 dengan total
penonton 50.000. Hal ini menunjukkan bahwasannya Indonesia mulai
diperhitungkan dalam pangsa pasar penyebaran budaya Korea, seperti Korean
Wave (www.smtown.com).
Era Globalisasi yang bersinergi dengan media massa sebagai
penyampainya berperan besar dalam hal ini. Globalisasi sendiri adalah proses
integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk,
pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. Dalam aspek Korean Wave
contohnya musik K-Pop dan kumpulan fans club nya, menjamurnya restoran
bernuansa Korea yang bisa kita temui di Mall dan Plaza di Indonesia dan masih
banyak lagi. Globalisasi juga lah yang menyebabkan seseorang mengubah gaya
hidup sesuai keinginannya.
Penelitian yang akan dikaji ini adalah gaya hidup seseorang yang
terpengaruh penyebaran budaya Korea atau Korean Wave. Contoh kecil yang kita
ambil seperti cara berpakaian atau fashion minded nya, apakah mereka membeli
pakaian atau aksesoris yang mirip dikenakan artis Korea favoritnya. Seseorang
yang terkena Korean Wave, dengan kata lain menggemari budaya pop Korea,
Seperti misalnya menonton drama Korea atau acara musik panggung Korea yang
ditayangkan di televisi ataupun mereka akses sendiri di situs kanal Youtube.
Selain pengaruh media, tutur bahasa dalam berucap dan ekspresi seseorang juga
mempengaruhi gaya hidup yang diterpanya.
Penggemar atau Khalayak yang menggandrungi Korean Wave biasanya
didominasi oleh kaum perempuan, baik dari remaja hingga dewasa. Ada juga
beberapa laki-laki yang menggemari Korean Wave namun ini tidaklah sebanyak
perempuan. Alasan perempuan terkena Korean Wave karena mengidolakan
seseorang yang berparas tampan atau mengagumi kecantikan aktris atau public
figure Korea, dan memiliki kepribadian yang baik hati dan ramah. Demikianlah
identitas para Korean Lovers terbentuk dan secara disadari atau pun tidak, mereka
telah menciptakan sebuah life style atau gaya hidup baru melalui kesukaan mereka
terhadap sesuatu.
Gaya hidup berhaluan Korean Wave ini tidak mengenal strata ekonomi
dikarenakan Korean Wave dapat dinikmati tanpa merasa dikotak-kotakkan. Mulai
dari kelas ekonomi menengah ke bawah sampai kelas ekonomi menengah ke atas
dapat menikmati semua hal yang berbau Korean Wave. ini juga sejalan dengan

2
visi globalisasi budaya modern dimana sebuah budaya mampu mempengaruhi
semua lapisan masyarakat dan bisa mengubah gaya hidup seseorang.
Penelitian ini dilakukan pada Mei 2015. Peneliti terlebih dahulu
melakukan pra-survey dan observasi di sekitar kampus FISIP USU. Peneliti
melihat banyak mahasiswi FISIP USU menonton tayangan seperti drama Korea,
musik K-Pop hingga reality show. Entah itu menonton sendiri atau menonton
bareng bersama teman kuliahnya.
Peneliti akhirnya memilih mahasiswi FISIP USU untuk dijadikan sampel
populasi karena banyak juga yang menggemari tayangan-tayangan Korea. Disini
peneliti melakukan survey dua tahap, yaitu kepada mahasiswi kelas menengah ke
atas dan menengah ke bawah. Beberapa mahasiswa FISIP USU mungkin tahu
tayangan Korea yang sedang marak Indonesia namun jumlah mahasiswa yang
menggemari tidak mencapai pada tahap suatu populasi. Hanya segelintir
mahasiswa FISIP USU saja yang menggemari dan mengidolakan artis Korea
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka peneliti
tertarik untuk meneliti mengenai pengaruh terpaan tayangan Korean Wave
(Demam Korea) terhadap gaya hidup mahasiswi fakultas ilmu sosial dan ilmu
politik Universitas Sumatera Utara

Perumusan Masalah
Rumusan masalah adalah suatu usaha untuk menyatakan secara tersurat
pertanyaan-pertanyaan penelitian apa saja yang spesifik dan perlu dijawab.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai
berikut : “Apakah terpaan tayangan Korean Wave (Demam Korea)
mempengaruhi gaya hidup mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
(FISIP) USU?”

Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan mahasiswi
FISIP USU gemar menonton tayangan Korean Wave seperti drama
Korea, acara K-Pop, reality show dan sebagainya
2. Untuk mengetahui pengaruh apa saja dari tayangan Korean Wave
seperti drama Korea, acara K-Pop, reality show dan sebagainya
terhadap gaya hidup mahasiswi FISIP USU

3
URAIAN TEORITIS
Komunikasi Massa

Komunikasi Massa dapat didefinisikan sebagai komunikasi yang


menggunakan media massa. Komunikasi massa merupakan bentuk komunikasi
yang menggunakan saluran (media) dalam menghubungkan komunikator dan
komunikasi secara massal, berjumlah banyak, bertempat tinggal yang jauh, sangat
heterogen dan menimbulkan efek. Komunikasi massa barangkali akan logis bila
didefenisikan menurut bentuknya yakni televisi, radio, film, surat kabar, dan buku
(Ardianto, 2007 :11)

Uses and Gratification


Elihu Katz-lah yang pertama sekali memperkenalkan pendekatan Uses &
Gratification. Dia menyebutkan bahwasanya khalayak menggunakan media demi
keuntungan mereka. Teori ini melihat bahwa khalayak adalah kelompok aktif
yang mampu dengan jeli melihat jenis media mana yang dapat dianggap tepat dan
isi media tersebut dapat memenuhi kebutuhan dalam mencapai kepuasan pribadi.

Gaya Hidup
Menurut Chaplin (2005:186) gaya hidup adalah cara seorang individu
menanggapi lingkungan jenis kebutuhan atau inspirasinya yang individual dan
karakteristik sifatnya. Konsep tersebut mencakup keseluruhan motivasi dan pola
tingkah laku individu sepanjang hidupnya atau satu aspek individu dari gaya
hidup. Misalnya adalah cara mengatasi perasaan inferiornya. Gaya hidup dapat
juga diartikan sebagai pengekspresian diri dalam bentuk tampilan.
Melalui konsep gaya hidup, Adler (Hall, Calvin S:1995) menjelaskan
keunikan manusia. Setiap manusia memiliki tujuan, perasaan inferior, berjuang
menjadi superior dan dapat mewarnai atau tidak mewarnai usaha mencapai
superioritasnya itu dengan minat sosial. Akan tetapi, setiap manusia
melakukannya dengan cara yang berbeda. Gaya hidup merupakan cara unik dari
setiap orang dalam mencapai tujuan khusus yang telah ditentukan dalam
lingkungan hidup tertentu, di tempat orang tersebut berada.

Terpaan Media (Media Exposure)


Terpaan media diartikan sebagai suatu kondisi dimana orang diterpa oleh
isi media atau bagaimana isi media menerpa audiens. Terpaan media adalah
perilaku seseorang atau audiens dalam menggunakan media massa. Perilaku ini
menurut Blumler dalam Littlejohn (Rahayu, 2009: 28) dipengaruhi oleh beberapa
faktor seperti:
1. Surveillance, yaitu kebutuhan individu untuk mengetahui lingkungannya.
2. Curiosity, yaitu kebutuhan individu untuk mengetahui peristiwa-peristiwa

4
menonjol di lingkungannya.
3. Diversion, yaitu kebutuhan individu untuk lari dari perasaan tertekan,
tidak aman, atau untuk melepaskan ketegangan jiwa.
4. Personal identity, yaitu kebutuhan individu untuk mengenal dirinya dan
mengetahui posisi keberadaannya di masyarakat.

Teori Kultivasi
Menurut teori ini, media khususnya televisi merupakan sarana utama
untuk mempelajari tentang masyarakat dan kulturnya. Teori kultivasi berpendapat
bahwa pecandu berat televisi membentuk suatu citra realitas yang tidak konsisten
dengan kenyataan.

George Gerbner (McQuail, 1987:94) menyatakan bahwa sebuah tayangan


yang ditampilkan di televisi dapat mempengaruhi khalayak yang menontonnya.
Pengaruh yang disebabkan oleh televisi ini ternyata bukan hanya pada tahap
kognitif atau afektif, tetapi juga sampai pada efek konatif (behavioral).
Maksudnya bukan hanya telah mempengaruhi aspek psikologis penonton bahkan
dapat membuat penonton untuk cenderung meniru adegan yang ditayangkan di
TV. Secara sistematis, tahapan-tahapan untuk sampai ke tahap behavioral
(perilaku) dapat digambarkan sebagai berikut:

Skema Tahapan Behavioral Teori Kultivasi

TV Viewing Incident Information Holding Social Reality Behavior

Constructing

Learning:
1. attention
2. capacity
3. focusing strategy
4. involvement
Sumber : (Mcquail, 1987:94)

5
Ketika sebuah tayangan ditayangkan di televisi (TV Viewing), terjadi
proses belajar (Learning) di dalam benak khalayak yang menontonnya. Proses
Learning yang diajukan Gerbner ini hampir sama dengan teori Social Learning
yang dikemukakan oleh Albert Bandura (McQuail, 1987). Kita belajar bukan
hanya dari pengalaman langsung, tetapi juga dari peniruan atau peneladanan
(modelling).

Model Teoritis
Variabel-variabel yang telah dikelompokkan dalam kerangka konsep akan
dibentuk menjadi suatu model teoritis sebagai berikut :

Variabel Bebas (X) Variabel Terikat (Y)

Terpaan Tayangan K-Pop dan Gaya Hidup


Drama Korea Mahasiswi FISIP USU

Populasi dan Sampel


Sugiyono (2002:55) menyebut populasi sebagai wilayah generalisasi yang
terdiri dari objek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu
yang ditetapkan oleh periset untuk dipelajari. Kemudian ditarik suatu kesimpulan.
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswi FISIP USU yang masih aktif
kuliah yang berasal dari semua departemen, yang tidak termasuk program S-II
yang berjumlah 2055 mahasiswi. Mahasisiwi yang menjadi sampel adalah
mahasiswi dari angkatan 2010 hingga 2014.

Teknik Pengumpulan Data


Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah :

Penelitian Kepustakaan (Library Research)


Penelitian ini dilakukan dengan cara mempelajari dan mengumpulkan data
melalui literatur dan sumber bacaan yang relevan dan mendukung
peneltian.

Teknik Observasi
Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang mempunyai cirri
yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain yaitu wawancara
dan kuesioner. Karena observasi tidak selalu dengan obyek manusia tetapi
juga obyek-obyek alam yang lain.

6
Teknik Analisis Data
Pengumpulan data dengan melakukan survey ke lokasi penelitian melalui
kuesioner, yaitu pengumpulan data dengan menyerahkan atau
mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden.
a. Analisis Tabel Tunggal
Tabel tunggal merupakan langkah awal dalam menganalisis data yang
terdiri dari dua kolom yaitu sejumlah frekuensi dan kolom presentase
untuk setiap kategori (Singarimbun, 2008:273)
b. Analisis Tabel Silang
Teknik yang digunakan untuk menganalisis dan mengetahui variabel yang
satu memiliki hubungan dengan variabel yang lainnya, sehingga dapat
diketahui apakah variabel tersebut positif atau ngeatif (Singarimbun,
2008:273)
c. Uji Hipotesis
Uji hipotesis adalah pengajian data statistik untuk mengetahui apakah data
hipotesis yang diajukan dapat diterima atau ditolak.

Hasil Penelitian & Pembahasan


Berdasarkan hasil uji hipotesa yang didapatkan ternyata terpaan tayangan
Korean Wave mempengaruhi gaya hidup mahasiswi FISIP USU, dimana
hubungan tersebut memiliki nilai yang cukup berarti.
Dengan demikian terpaan tayangan Korean Wave yang mereka gemari
dapat mengubah gaya hidup, walaupun tidak mengubah gaya hidup mereka secara
drastis.
Data-data diatas juga memperlihatkan bahwa mahasiswi FISIP USU juga
menggemari gaya berpakaian artis Korea dan antusias dengan tutur bahasa yang
diucapkan dan ekspresi artis Korea. Hal ini berbeda dalam konteks aksesoris.
ketika berbicara konteks aksesoris di tayangan Korean Wave, responden
kebanyakan melihat referensi dari musisi K-Pop. Untuk masalah potongan
rambut, responden menjawab gaya potongan rambut para public figure Korean
Wave termasuk menarik dan responden pun menyukai gaya potongan rambut
mereka, walaupun sebagian responden mengatakan tidak menarik dan tidak cocok
untuk ditiru, khususnya orang Indonesia.
Berdasarkan hipotesa yang didapatkan tayangan Korean Wave ini
mempengaruhi gaya hidup Mahasiswi FISIP USU. Hubungan yang didapatkan
cukup kuat atau cukup berarti. Ini maksudnya responden hanya sesekali
terpengaruh gaya hidupnya, dengan sesekali mencoba gaya berpakaian para artis
Korean Wave atau sedikit meniru gaya berbicara mereka.

7
Kesimpulan
Berdasarkan dari keseluruhan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh
peneliti, maka dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswi FISIP USU gemar
menonton tayangan Korean Wave karena memiliki daya tarik
tersendiri seperti kegantengan dan kecantikan paras wajah para
artis Korea dan sering menampilkan cerita-cerita romantis dan alur
cerita yang tak mudah ditebak (konteks drama Korea) serta
kesukaan mereka terhadap fashion outfit (busana, potongan
rambut, aksesoris) yang selalu Up to date
2. Hasil pengaruh terpaan tayangan Korean Wave kepada mahasiswi
FISIP USU, menunjukkan tertarik dalam hal Korean Wave hanya
sampai konteks menonton tayangannya saja.
3. Hasil pengaruh terpaan tayangan Korean Wave juga berpengaruh
pada pembahasan tutur bahasa.

Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan selama melakukan
penelitian, maka peneliti menyimpulkan saran sebagai berikut :
1. Peneliti berharap agar sebagai mahasiswi FISIP USU yang
merupakan tonggak penerus pembangunan bangsa, tetap menjaga
jati diri dan menjadi diri sendiri dan tidak begitu saja meniru gaya
hidup yang kemungkinan tidak cocok dengan kepribadian kita
2. Peneliti juga berharap agar bagi setiap media massa, khususnya
televisi dalam negeri dapat memberikan hiburan dan acara yang
bagus serta sepadan seperti apa yang dilakukan acara-acara Korean
Wave.
3. Bagi responden mahasiswi FISIP USU yang meniru gaya
berpakaian, potongan rambut, tutur bahasa dan aksesoris yang
dikenakan para artis Korean Wave, yang jumlahnya terhitung tidak
sedikit, Peneliti berharap trend fashion yang ditiru masih sesuai
dalam norma dan budaya orang-orang Indonesia.

Daftar Referensi
Sumber Buku
Andersen., Kenneth E., (1972), Introduction to Communication Theory and
Practice Philippines: Cumming Public Company
Ardianto, Elvinaro. (2007). Komunikasi Massa : Suatu Pengantar. Bandung

8
Burhan Bungin, (2009). Metodologi Penelitian Kuantitatif; Jakarta : Kencana.
____________. (2006). Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Kencana.
Hall, Calvin S. (1995). Freud. Jakarta: Delaprastasa.
Chaplin, James P, (2005). Kamus Lengkap Psikologi, Jakarta: Rajawali Press
Dominick, Joseph R. (2002). The Dynamic Mass Communiaction: Media In The
Digital Age 7th Edition. New York: The McGraw-Hill Companies.
Djarwanto PS dan Pangestu Subagyo, (1994). Statistik Induktif. BPFE Jogyakarta.
Jogyakarta
Effendy, Uchjana Onong. (2003-2004). Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
J.Severin, Werner dan James W. Tankard. (2009). Teori Komunikasi. Jakarta :
Kencana Media Group
Kriyantono, Rachmat. (2006). Teknik Praktik Riset Komunikasi: Disertai Contoh
Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising, Komunikasi Organisasi
KomunikasiPemasaran, Jakarta: Kencana
Koentjaraningrat. (1976). Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: UI Press.
Kotler, Philip. (2002). Manajemen Pemasaran; Edisi Milenium, Jilid 1. Jakarta:
Prenhallindo.
Mulyana, Deddy. (2005). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung : Remaja
Rosdakarya
Mowen, John C. dan Michael Minor. (2002). Consumer Behavior, atau Perilaku
Konsumen, terj. Lina Salim, Jakarta: Erlangga.
Nawawi, Hadari. (1995). Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press
Nuruddin. (2004). Komunikasi Massa. Malang: Cespur.
Rahayu, Nuryani Tri. (2009). Tayangan Hiburan TV dan Penerimaan Budaya
Pop. Dalam Jurnal Ilmiah Scriptura Vol.3 No.1 – Januari/2009.
Surabaya
Rakhmat, Jalaluddin. (2007). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
_______________ . (2004). Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT.
RemajaRosdakarya.

9
Ruslan, Rosady. (2003). Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi.
Jakarta: Raja Grafindo Persada
Stanley J. Baran & Dennis K. Davis, 2000, Mass Communication Theory:
Foundation, Ferment, and Future ed. 2nd, USA: Wadsworth.
Silalahi, Ulber. (2009). Metode Penelitian Sosial. Bandung : PT Refika Anditama
Singarimbun, Masri. (2008). Metode Penelitian Survey, Jakarta: LP3ES
_______________. (1982). Metode Penelitian Survey (cetakan pertama), Jakarta:
LP3ES
Shore, Larry. (1985). Mass Media for Development a rexamination of
acces exprosure and impact
Sumarwan, Ujang. (2003). Perilaku Konsumen.Ghalia Indonesia.Jakarta.
Sugiono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif. R & D. Alfabeta. Bandung
_______. (2002). Metode Penelitian Administrasi. Bandung : CV Alfabeta.
Vivian, John. (1991). The Media of Mass Communication. Eight Edition

Sumber Internet

“Passport to Korean Culture”. Korean Culture and Information Service -


Ministry of Culture, Sports and Tourism , Seoul, Republic of Korea. 2010
(diakses 17 September, 11.30 WIB)
"South Korea: The King, The Clown and The Quota". Artikel di Majalah The
Economist. 2006. (diakses 17 September, 12.00 WIB)
“The South Korean Film Renaissance: Local Hitmakers, Global Provocateurs”.
Choi, Jinhee. 2010 (diakses 17 September, 14.00 WIB)
“Waxing the Korean Wave” dalam bentuk PDF. Doobo, Shim 2010. (diakses 18
September 2015, 10.00 WIB)
"South Korea adds culture to its export power". Artikel di Majalah The New York
Times. Onishi, Norimitsu. 2005 (diakses 19 September 2015, 20.44 WIB)
“ "Serious Turn for 'Hallyu 3.0'". Artikel di Majalah The Korea Times. Jim-
myung, Kim. 2013 (diakses 20 September 2015, 20.56 WIB)
"K-pop: how South Korea turned round its music scene". Artikel di Majalah The
Guardian. Lindvall, Helienne. 2011 (diakses 21 September 2015, 14.00 WIB)
www.smtown.com (Diakses 25 September 2015, 22.08 WIB)

10