Anda di halaman 1dari 7

BAB I

KERANGKA ACUAN KERJA


DED PENGERUKAN KOLAM PELABUHAN PENYEBERANGAN ULEE LHEUE

A. UMUM

1. Latar Belakang

Aktifitas transportasi di Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue Banda Aceh semakin


hari semakin meningkat. Perkembangan transportasi penyeberangan di Provinsi Aceh
khususnya Kota Banda Aceh, terutama dalam mengantisipasi pertumbuhan arus
barang, kendaraan dan penumpang kapal penyeberangan/laut antar kota dan
kabupaten, antar provinsi bahkan antar negara, dilakukan melalui Pelabuhan Ulee
Lheue yang merupakan salah satu pintu gerbang Aceh di pantai Barat Sumatera. Saat
ini Pelabuhan Ulee Lheue merupakan pelabuhan penyeberangan lintas
Kabupaten/Kota yang menjadi penghubung Kota Banda Aceh dengan Kota Sabang di
pulau Weh, dan Lamteng di Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar.

Salah satu hasil kajian Rencana Induk Pelabuhan (RIP) Penyeberangan Ulee Lheue
yang telah ditetapkan melalui Peraturan Gubernur Aceh Nomor 69 Tahun 2016
tentang Rencana Induk Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue Kota Banda Aceh,
menyatakan bahwa Analisis sedimentasi menunjukkan, dalam rentang waktu 3 (tiga)
tahun telah mulai terjadi pengendapan di mulut alur pelabuhan Ulee Lheue. Sehingga
pengerukan alur masuk ke pelabuhan perlu dilakukan secara rutin minimal 3 (tiga)
tahun sekali agar keamanan kapal melalui alur pelayaran pada saat surut terendah
terjamin. Pengerukan terakhir yang pernah dilaksanakan pada kolam pelabuhan
adalah pada tahun 2013. Tahun 2107 sudah memasuki tahun keempat dari
berakhirnya pekerjaan pengerukan sebelumnya.

Jenis angkutan yang beroperasi di pelabuhan adalah unit kapal cepat serta kapal
penyeberangan. Aktivitas kedua jenis kapal tersebut cukup tinggi dan mampu
melayani kebutuhan utama bagi pengguna jasa, khususnya bagi masyarakat Kota
Banda Aceh dan Kota Sabang. Kebutuhan transportasi untuk mengangkut barang-
barang berupa kebutuhan pokok masyarakat Sabang rutin dilakukan melalui
angkutan penyeberangan, sedangkan kebutuhan mobilitas penumpang lintasan Ulee
Lheue – Balohan pada umumnya diangkut oleh kapal cepat yang beroperasi sejumlah
3 (tiga) unit kapal.

1
Rencana pengerukan di yang akan dilaksanakan di Pelabuhan Penyeberngan Ulee
Lheue merupakan kegiatan pengerukan berkala pada alur kolam dan di pintu masuk
kolam. Pengerukan dilakukan dengan memindahkan tanah dasar laut pada alur
sampai mencapai kedalaman yang direncanakan. Kedalaman tersebut sesuai dengan
jenis kapal rencana yang akan melintasi alur tersebut. Alur pelayaran maupun kolam
pelabuhan merupakan bagian dari fasilitas pelabuhan menunjang keamanan dan
keselamatan pelayaran, maka fasilitas tersebut harus bebas dari rintangan baik
kerangka kapal ataupun gugusan karang sehingga kapal – kapal yang keluar/masuk
pelabuhan terhindar dari bahaya/kecelakaan. Untuk keperluan diatas, maka perlu
dilakukan DED Pengerukan di kolam Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheu.

2. Maksud dan Tujuan


Maksud dari pekerjaan DED Pengerukan Kolam Pelabuhan Penyeberangan Ulee
Lheue ini adalah untuk memperoleh suatu pedoman perencanaan Pengerukan Kolam
Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue sehingga pelaksanaan kegiatan pengerukan
dapat dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Tujuan kegiatan ini adalah untuk mendapatkan pedoman teknis dalam pelaksanaan
fisik dan pengawasan pekerjaan pengerukan di kolam pelabuhan penyeberangan
Ulee Lheue.

3. Lokasi Kegiatan
Lokasi pekerjaan DED Pengerukan Kolam Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue Kota
Banda Aceh.

4. Sumber Dana
Sumber Dana untuk pelaksanaan Pekerjaan DED Pengerukan Kolam Pelabuhan
Penyeberangan Ulee Lheue adalah pada APBA-P Tahun 2017 Dinas Perhubungan
Aceh.

5. Nama dan Organisasi Penyelenggara Kegiatan


Kegiatan DED Pengerukan Kolam Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue dilaksanakan
melalui Program Perencanaan Pembangunan Prasarana dan Fasilitas Perhubungan
pada Dinas Perhubungan Aceh.

6. Referensi Hukum
Referensi Hukum yang berlaku untuk pekerjaan DED Pengerukan Kolam Pelabuhan
Penyeberangan Ulee Lheue, adalah :
- UU Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh;
- UU Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran;
- PP Nomor 20 tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan;
- PP Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan;

2
- Permenhub No. 25 Tahun 2011 tentang Sarana Bantu Navigasi Pelayaran;
- Permenhub No. 52 Tahun 2011 tentang Pengerukan dan Reklamasi
sebagaimana telah diubah pada Permenhub No. 136 Tahun 2016;
- Permenhub No. 71 Tahun 2011 tentang Salvage dan/atau Pekerjaan Bawah Air;
- Permenhub No. KM. 31 Tahun 2006 tentang Pedoman Proses Perencanaan di
Lingkungan Departemen Perhubungan.
- Peraturan Dirjen Perhubungan Laut No. HK. 103/I/8/DJPL-17 tentang Pedoman
Teknis Pengerukan Alur Pelayaran dan/atau Kolam Pelabuhan.

7. Lingkup Pekerjaan dan Hasil Yang Diharapkan


Lingkup pekerjaan DED Pengerukan Kolam Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue
minimal sebagai berikut:
1. Pekerjaan Survei Bathimetri;
2. Pekerjaan Survei Oseanografi;
3. Pekerjaan Kajian Sedimentasi;
4. Pekerjaan Kajian Jenis Peralatan yang Digunakan
5. Pekerjaan Dokumen Detail Engineering Design (DED Pengerukan Kolam
Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue terdiri dari Rencana Kerja dan Syarat-
syarat, Rencana Anggaran Biaya (Engineer Estimate) dan Gambar Design.

8. Keluaran
Terciptanya Detail Enginering Desain yang memenuhi standar-standar teknis
perencanaan, meliputi:
 Dokumen rencana kerja dan syarat
 Dokumen rencana anggaran biaya dan analisa rinci
 Dokumen rencana kerja dan syarat
 Perhitungan engineering.

9. Peralatan, Material, Personil dan Fasilitas dari Pengguna Anggaran


a. Laporan dan Data
Kumpulan laporan dan data sebagai hasil studi terdahulu serta fotografi (bila
ada) dapat dipakai sebagai referensi oleh penyedia jasa
b. Fasilitas yang disediakan oleh KPA yang dapat digunakan oleh penyedia jasa :
- Dukungan administrasi dan surat menyurat.
- Dalam hal konsultasi rutin dengan pihak-pihak terkait atau direksi pekerjaan,
penyedia jasa dapat menggunakan ruangrapat yang ada pada Bidang
Pengembangan Sistem dan Multimoda Dinas Perhubungan Aceh, apabila
ruang rapat tersebut sedang tidak dipergunakan.

3
10. Peralatan dan Material dari Penyedia Jasa Konsultansi

Fasilitas berikut harus disediakan oleh penyedia jasa untuk kebutuhan pelaksanaan
pekerjaan di lapangan :
- Kebutuhan operasional kantor (ATK)
- Sewa Boat
- Sewa Peralatan Survei lapangan

11. Lingkup Kewenangan Penyedia Jasa

a. Sebelum melaksanakan kegiatan, konsultan diharuskan membuat suatu kriteria


perencanaan. Kriteria tersebut dipresentasikan dalam bentuk draft pada
pengguna jasa untuk mendapatkan persetujuan. Persetujuan atas kriteria desain
tersebut tidak serta merta menghilangkan tanggung jawab konsultan perencana
terhadap kecukupan persyaratan teknis perencanaan.

Kriteria desain memuat hal-hal berikut :


- Hasil-hasil dari kegiatan perencanaan.
- Metoda survey dan pengumpulan data yang dilakukan;
- Kriteria-kriteria lainnya yang diperlukan.

b. Untuk melaksanakan tugasnya Konsultan Perencana harus mencari informasi


yang dibutuhkan selain dari informasi yang diberikan oleh Pemberi Tugas
termasuk melalui Kerangka Acuan Kerja ini.
c. Konsultan Perencana harus memeriksa kebenaran informasi yang digunakan
dalam pelaksanaan tugasnya, baik yang berasal dari Pemberi Tugas, maupun
yang dicari sendiri. Kesalahan/ kelalaian pekerjaan perencanaan sebagai akibat
dari kesalahan informasi manjadi tanggung jawab Konsultan Perencana.

12. Tugas Tim Kajian


a. Tim bertanggung jawab secara profesional atas pengkajian yang dilakukan
sesuai ketentuan peraturan dan perundang undangan serta harus sesuai
dengan kode etik (tata laku) profesi yang berlaku.
b. Secara umum tanggung jawab tim harus mencakup hal-hal sebagai berikut:
- Hasil DED yang dihasilkan harus telah mengakomodasi batasan-batasan yang
telah diberikan oleh Pengguna Anggaran termasuk melalui KAK ini seperti dari
segi pembiayaan, waktu penyelesaian pekerjaan dan batasan pekerjaan.
- Hasil kajian teknis yang dihasilkan harus berpedoman pada peraturan dan
ketentuan yang berlaku, sehingga kelak pelaksanaan pengerukan pelabuhan
penyeberangan Ulee Lheue mencapai manfaat yang dapat dirasakan oleh user
dan memenuhi persyaratan teknis.

4
13. Jangka Waktu Penyelesaian Pekerjaan
Jangka waktu penyelesaian pekerjaan konsultan adalah 45 (empat puluh lima hari)
kalender.
14. Personil
Jumlah
Posisi Kualifikasi
Orang Bulan
Tenaga Ahli:
1. Team Leader S1/S2/S3 Teknik Sipil 1 orang 1,5 bulan
(Ahli Perencanaan
Pelabuhan) Ketua Tim
Pengalaman :
S1 = 6 Tahun
S2/S3 = 3 Tahun
Memiliki SKA minimal:
Teknik Sumber Daya Air
Madya
2. Tenaga Ahli Sumber S1 Teknik Sipil 1 orang 1,5 bulan
Daya Air (Hidrologi)
Memiliki keahlian
dibidang perencanaan
sedimentasi (alur
pelayaran)
Pengalaman :
S1 = 4 Tahun
Memiliki SKA minimal:
Teknik Sumber Daya Air
Muda
Tenaga Sub Profesional:
1. Surveyor Minimal SMK 3 orang 0,5 bulan
Teknik/SMA
Pengalaman:
SMK Teknik = 3 Tahun
SMA = 5 tahun
2. Juru Gambar Minimal D3 Teknik 1 orang 1 bulan
Sipil/SMK

Pengalaman:
D3 Teknik Sipil = 3
Tahun
SMK Teknik = 4 Tahun
3. Tenaga Administrasi Minimal D3 Ekonomi/ 1 orang 1,5 bulan
Kesekretariatan

5
Setiap Tenaga Ahli yang ditugaskan dalam pekerjaan ini harus memenuhi
persyaratan/dan memiliki :
a. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
b. Tanda bukti penyelesaian wajib pajak (SPT Tahunan) Tahun 2016/2017;
c. Lulusan PT. Negeri atau Swasta yang telah diakreditasi (minimum B) oleh yang
berwenang atau Lulus Ujian Negara, atau perguruan tinggi luar negeri yang
ijazahnya telah disahkan/diakui oleh Instansi Pemerintah yang berwenang di
bidang pendidikan tinggi, Sertifikat Keahlian/keterampilan (SKA/SKT) dan
berpengalaman di bidangnya masing-masing.

15. Program Kerja

1. Konsultan Perencana harus menyusun program kerja minimal meliputi:


a. Jadwal kegiatan secara terperinci.
b. Alokasi tenaga yang lengkap dengan tingakat keahliannya maupun jumlah tenaga
yang diusulkan Konsultan Perencana untuk malaksanakan tugas perencanaan,
serta harus mandapat persetujuan dari Pemberi Tugas.
c. Konsep penanganan pekerjaan perencanaan.

2. Program kerja secara keseluruhan harus mendapatkan persetujuan dari Pemberi


Tugas, setelah sebelumnya dipresentasikan oleh Konsultan Perencana dan
mendapatkan pandangan/ pertimbangan teknis dari Pemberi Tugas.

16. Pelaporan
Laporan yang harus diserahkan kepada pengguna jasa, secara prinsip adalah sebagai
berikut:
a. Laporan Survei

Laporan Survei berisikan data-data hasil pengukuran lapangan yang terdiri dari:
- Data Survei Bathimetri
- Data Survei Oseanografi
- Data pengukuran Sedimentasi
Laporan ini dikumpulkan paling telat 1 (satu) minggu sebeslum berakhir kontrak

b. Laporan Akhir:
Laporan Akhir merupakan penyempurnaan laporan dari semi rampung (draft final
report survey) dan dilengkapi dengan laporan ringkasan yang meliputi antara lain :
- Hasil pekerjaan survey lapangan yang menyajikan parameter-parameter
penting dengan ringkas dan jelas.
- Rekomendasi serta hasil perhitungan daya dukung
- Spesifikasi teknis (RKS)

6
- Rencana Anggaran Biaya (RAB)
- Laporan spesifikasi teknis dan Gambar Design Perencanaan yang mengacu
kepada ketentuan-ketentuan teknis perencanaan yang ada.

Laporan Akhir ini dibuat sebanyak 3 (tiga) rangkap disertai dengan Dokumen Teknis
Perencanaan, yang berisikan Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS), Rencana
Anggaran Biaya (RAB), Bill Of Quantity (BOQ), Gambar Teknis diserahkan pada akhir
masa pelaksanaan pekerjaan.
Keseluruhan Laporan serta produk yang dihasilkan dalam bentuk laporan harus
disimpan ke dalam flash disc.

17. Penutup
Konsultan Perencana setelah manerima pengarahan penugasan dan semua bahan
masukan, hendaknya memeriksa dan memproses semua bahan yang ada serta
mencari bahan masukan lain yang dibutuhkan untuk pekerjaan perencanaan ini.
Untuk kesempurnaan pekerjaan perencanaan tersebut diatas Konsultan Perencana
diminta mempelajari segala informasi dan ketentuan-ketentuan yang berhubungan
dengan pekerjaan perencanaan dimaksud.

Demikian Kerangka Acuan Kerja/Term Of Refference ini dibuat untuk dapat


dipergunakan sebagai acuan pelaksanaan pekerjaan.

Banda Aceh, November 2017


KUASA PENGGUNA ANGGARAN

T. FAISAL, ST, MT
NIP. 197501 199703 1 004