Anda di halaman 1dari 12

Tugas Hak atas Kekayaan Intelektual

Merek Kolektif

Disusun oleh :

Adzamayah S. B. E0012011
Alfian Nanung P. E0012024
Amak Ariel S. E0012029
Jati Panuntun W.P. E0012204
Rendy Setyawan E0012320
Reynaldi S.A. E0012323
Sasangka B.N. E0012353
Sepdiananta A.D. E0012361
Tri Aziz Komar S. E0012381

Fakultas Hukum
Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta
2014
BAB I

A. Latar Belakang

Setiap perusahaan pasti menginginkan produk yang ditawarkan laku di


pasaran. Berbagai carapun dilakukan agar produk tersebut dapat menarik
perhatian konsumen. Salah satu caranya adalah membuat logo dan kemasan
semenarik mungkin. Selain itu, mereknya pun harus mudah diingat oleh
konsumennya. Namun, permasalahannya adalah bahwa setiap perusahaan belum
tentu mampu untuk mewujudkan hal itu. Sehingga banyak cara yang tidak sesuai
dengan prosedur dan undang-undang pun tetap dilakukan. Merek adalah suatu
nama, simbol, tanda, desain atau gabungan di antaranya untuk dipakai sebagai
identitas suatu perorangan, organisasi atau perusahaan pada barang dan jasa yang
dimiliki untuk membedakan dengan produk jasa lainnya. Merek yang kuat
ditandai dengan dikenalnya suatu merek dalam masyarakat, asosiasi merek yang
tinggi pada suatu produk, persepsi positif dari pasar dan kesetiaan konsumen
terhadap merek yang tinggi. Dengan adanya merek yang membuat produk yang
satu beda dengan yang lain diharapkan akan memudahkan konsumen dalam
menentukan produk yang akan dikonsumsinya berdasarkan berbagai
pertimbangan serta menimbulkan kesetiaan terhadap suatu merek (brand loyalty).
Kesetiaan konsumen terhadap suatu merek atau brand yaitu dari pengenalan,
pilihan dan kepatuhan pada suatu merek.

Dalam makalah tentang merek ini, yang diangkat adalah kasus tentang
sengketa merek makanan agar-agar “Swallow Globe” dengan merek “Bola
Dunia”, yang dimana merek Bola Dunia memasarkan merek dan logo yang
berbeda dari yang didaftarkan, namun merek dan logo yang dipasarkan justru
serupa dengan merek Swallow Globe. Merek Swallow Globe didaftarkan oleh
Effendy di Ditjen Merek HaKI Departemen Kehakiman dan HAM RI, No. 361196
tanggal 31 Mei 1996 untuk melindungi barang kelas 29, tepung (powder) agar-
agar. Kemudian, merek Bola Dunia yang didaftarkan oleh Soewardjono, bahwa
produknya berupa “tepung agar-agar” dengan daftar No. 395619 tertanggal 2
Oktober 1997 dan dengan gambar burung walet (SWALLOW) daftar No. 487928
tanggal 31 Agustus 2001. Namun pada kenyataannya merek yang didaftarkan
Soewardjono berbeda dengan yang dipasarkan, yang dimana merek yang
dipasarkan serupa dengan milik Effendy, yang tentu saja membawa dampak
negative yang besar terhadap merek Swallow Globe.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana proses penyelesaian sengketa merek Swallow Globe Brand dan


Bola Dunia?
BAB II

A. Analisis Kasus

1. Kasus posisi

Effendy pengusaha di Jakarta adalah pemilik dan pemegang merek dagang


“SWALLOW GLOBE BRAND”. Dengan gambar lukisan bola dunia serta gambar
burung walet (SWALLOW) terdaftar pada Ditjen Merek – HaKI Dep. Kehakiman
dan HAM RI, No. 361196 tanggal 31 Mei 1996 untuk melindungi barang klas 29:
tepung (powder) ager-ager; Selanjutnya dipasarkan, terdapat “merek dagang”:
Bola Dunia, melindungi barang klas 29 berupa tepung ager-ager Daftar No.
395619 tertanggal 2 Oktober 1997; Bola Dunia (GLOBE) dengan gambar burung
walet (SWALLOW) Daftar No. 487928 tanggal 31 Agustus 2001 melindungi
barang klas 29 berupa tepung ager-ager; Kedua merek tersebut No. 395619 dan
No. 487928 pemegang merek tersebut tercatat atas nama Soewardjono pengusaha
di Jakarta. Ternyata merek yang dipegang dan dimiliki Soewardjono terdapat
perbedaan antara merek yang didaftarkan No. 395619 dan No. 487928 dengan
merek yang dipakai dan diedarkan di masyarakat (mirip dengan mereknya
Efendy); Dari adanya pemakaian merek yang tidak sesuai dengan merek yang
didaftarkan, adalah merupakan salah satu alasan penghapusan Pendaftaran Merek
yang diatur dalam Pasal 61 ayat 2 huruf b UU No. 15 Tahun 2001; Adanya
kenyataan tersebut, maka Effendy selaku pemegang merek No. 361196 merasa
dirugikan oleh Merek No. 395619 dan No. 487298 milik Soewardjono yang telah
beritikad buruk dengan berusaha meniru dan membonceng merek milik Effendy;
Akhirnya Effendy (Penggugat) melalui Kuasa Hukumnya mengajukan gugatan
gugatan kepada Soewardjono (Tergugat) di PNiaga Jakarta Pusat; Tuntutan yang
disebutkan gugatan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Menyatakan Penghapusan Pendaftaran Merek Daftar No. 395619 dan Daftar


No. 487928 a.n. Tergugat dari “Daftar Umum Merek” pada Direktorat
Jenderal HaKI dengan segala akibat hukumnya;
b. Menghukum Tergugat untuk membayar segala biaya perkara.

Majelis Hakim setelah memeriksa perkara gugatan ini, dalam putusannya


memberikan pertimbangan hukum yang pada pokoknya sebagai berikut:

a. Penggugat berhak mengajukan gugatan penghapusan pendaftaran merek


Tergugat tersebut, berdasarkan alasan dalam Pasal 61 ayat 2 huruf b UU No.
15 Tahun 2001 tentang Merek;

b. Pasal 61 ayat 2 huruf b UU No. 15 Tahun 2001 pada pokoknya menyatakan


bahwa penghapusan pendaftaran merek dapat dilakukan apabila … dst …,
termasuk pemakaian merek yang tidak sesuai dengan merek yang didaftarkan;

c. Ketidaksesuaian dalam penggunaan, meliputi ketidaksesuaian dalam bentuk


penulisan kata atau huruf atau ketidak sesuaian dalam penggunaan warna
yang berbeda;

d. Tergugat pemilik merek No. 395619 tanggal 5 Agustus 1998 dengan “kata
BOLA DUNIA” dengan gambar/lukisan Bola Dunia, dengan warna etiket
warna etiket “hitam putih” untuk barang ager-ager klas 29. Dan pemilik
merek No. 487928 berupa merek kata Cap BOLA DUNIA, dengan gambar
Bola Dunia (Globe) dan buruh walet, dan burung walet (Swallow) dan
susunan warna “biru tua, biru muda, hijau, hitam dan putih untuk mellindungi
barang : ager-ager klas 29;

e. Tergugat telah menggunakan merek tersebut diatas tidak sesuai merek yang
telah didaftarkan;

f. Bilamana dibandingkan “merek yang dipakai oleh Tergugat Bukti P-3-P4 –


T10) dengan merek yang dipakai oleh Tergugat Bukti P5 dan T 17) maka
Hakim berpendapat : terdapat ketidaksesuaian dalam bentuk gambar/lukisan;
dalam bentuk penulisan kata atau huruf ketidaksesuaian dalam penggunaan
warna yang berbeda;
g. Majelis Hakim berpendapat, apa yang ditentukan oleh Pasal 61 ayat 2 huruf b
UU No. 15 Tahun 2001 tentang Merek, berikut penjelasannya, telah terpenuhi
dan gugatan Penggugat adalah beralasan hukum dan dapat dikabulkan.

Dengan pertimbangan yang pada pokoknya disebutkan diatas, maka Majelis


Hakim memberi Putusan:

a. Mengabulkan gugatan penggugat untuk seluruhnya;

b. Menyatakan penghapusan pendaftaran merek daftar no. 395619 dan no.


497928 a.n. Tergugat dari “Daftar Umum” pada Direktorat Jenderal HaKI
Dep. Kehakiman & HAM, karena pemakaian merek-merek tersebut tidak
sesuai dengan merek yang didaftar, dengan segala akibat hukumnya;

c. Menghukum Tergugat membayar biaya perkara

2. Mahkamah Agung RI (Kasasi)

Tergugat menolak putusan Pengadilan Niaga tersebut diatas dan mengajukan


pemeriksaan kasasi dengan mengemukakan beberapa keberatan dalam memori
kasasi; Majelis MA yang mengadili dalam putusannya menilai bahwa Judex
FACTI salah dalam menerapkan hukum, sehingga putusannya harus dibatalkan
dan selanjutnya MA akan mengadili sendiri perkara ini pertimbangan yang
intisarinya sebagai berikut:

a. Dasar gugatan “Penggugat Asal adalah Pasal 61 ayat 2 huruf b UU No. 15


Tahun 2001, yaitu pemakaian merek yang tidak sesuai dengan merek yang
didaftarkan;

b. Dalam kasus ini merek yang digunakan oleh Tergugat Asal berupa : etiket
merek Cap Bola Dunia dengan warna dasar kuning serta bertuliskan huruf
kanzi, tulisan “Ager-Ager Powder” dan gambar piring berisi “Ager-Ager”
warna-warni. Hal ini tidak sesuai dengan merek yang didaftarkan oleh
Tergugat Asal;

c. Sesuai dengan Pasal 5 huruf d UU No. 15 Tahun 2001, dinyatakan bahwa :


unsur yang merupakan keterangan atau berkaitan dengan barang atau jasa,
tidak dapat digunakan sebagai merek, karenanya tulisan Ager-Ager Powder
dan gambar piring berisi Ager-Ager warna-warni” serta tulisan huruf kanzi,
berarti “Tepung Ager-Ager” adalah bukan merek;

d. Begitu juga dengan warna-warni kuning, yang digunakan oleh banyak merek
yang memproduksi, “ager-ager”, bukanlah merupakan unsur merek, seperti
yang dimaksudkan Pasal 1 angka 1 UU No. 15 Tahun 2001.

Atas dasar pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas, maka Majelis MA


memberi putusan sebagai berikut:

a. Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon;

b. Membatalkan putusan PNiaga pada PN Jakarta Pusat tanggal 23 April 2002


No. 03/MEREK/2002/PN.NIAGA.Jkt.Pst. MENGADILI SENDIRI:

c. Menolak gugatan Penggugat untuk seluruhnya.

3. Mahkamah Agung RI (Peninjauan Kembali)

Penggugat Asal, mengajukan pemeriksaan “Peninjauan Kembali (PK) “ ke MA


dengan mengemukakan alasan yang pada pokoknya : Majelis Hakim Kasasi
dalam Putusannya No. 08 K/N/KaKI/2002, ternyata:

a. Tidak mempertimbangkan adanya ketidaksesuaian dalam penulisan kata atau


huruf atau ketidaksesuaian dalam penggunaan warna atau susunan warna
yang berbeda antara merek yang dipakai dengan merek yang didaftarkan;

b. Tidak memperhatikan adanya itikad buruk dari Tergugat dalam pemakaian


mereknya (P-5) yang telah meniru dan menjiplak susunan warna milik
Penggugat, yang menurut hukum harus dilindungi dan berhak memperoleh
perlindungan hukum;

c. Kesemuanya itu, merupakan adanya kekhilafan hakim atau suatu kekeliruan


yang nyata.
Keberatan yang diajukan Pemohon PK diatas tidak dapat diterima oleh
Majelis MA dengan alasan yuridis sebagai berikut:

o Apa yang dikemukakan oleh Pemohon PK sebagai kekhilafan hakim atau


kekeliruan, ternyata adalah merupakan perbedaan pendapat antara
pertimbangan hukum Hakim Kasasi dengan Keberatan Pemohon PK;

o Perbedaan Pendapat tersebut mengenai penilaian bukti P-1 s.d. P-5 oleh
Hakim Kasasi yang berbeda dengan pendapat Pemohon PK, sehingga
masing-masing pada kesimpulan yang berbeda;

o Perbedaan pendapat tidak dapat diartikan dan dikategorikan dalam pengertian


“Kekhilafan atau kekeliruan yang nyata”, ex Pasal 67 huruf f UU No. 14
Tahun 1985;

Berdasar atas pertimbangan diatas, maka Majelis MA dalam PK memberi


putusan:

- Menolak permohonan PK dari Pemohon;

- Menghukum Pemohon PK membayar biaya perkara.

BAB III

Pembahasan

Soewardjono digugat oleh Effendy, karena merek yang didaftarkan tidak sesuai
dengan yang dipasarkan. Hal ini tercantum dalam Pasal 61 ayat 2 huruf b UU No.
15 Tahun 2001. Isi pasal tersebut adalah “Merek digunakan untuk jenis barang
dan/atau jasa yang tidak sesuai dengan jenis barang atau jasa yang dimohonkan
pendaftaran, termasuk pemakaian Merek yang tidak sesuai dengan Merek yang
didaftar.” Selain, itu pada pertimbangan Mahkamah Agung sempat dinyatakan
bahwa unsur yang merupakan keterangan atau berkaitan dengan barang atau jasa,
tidak dapat digunakan sebagai merek. Hal ini sesuai dengan pasal 5 UU No. 15
Tahun 2001. Isi pasal tersebut adalah “Merek tidak dapat didaftar apabila merek
tersebut mengandung salah satu unsur di bawah ini :

a. bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, moralitas


agama, kesusilaan, atau ketertiban umum

b. tidak memiliki daya pembeda

c. telah menjadi milik umum atau

d. merupakan keterangan atau berkaitan dengan barang atau jasa yang


dimohonkan pendaftarannya”

Berdasarkan pasal ini pula, Mahkamah Agung mengabulkan permohonan


Kasasi dari Pemohon dan membatalkan keputusan yang telah dijatuhkan
sebelumnya. Pada pasal 1 angka 1 UU No. 15 Tahun 2001 yang berbunyi :
“Merek adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka,
susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya
pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa.” Dalam
merek tergugat terdapat gambar-gambar piring berisi agar-agar warna-warni” serta
tulisan huruf kanzi, berarti “Tepung Agar-Agar” adalah bukan merek. Begitu juga
dengan warna-warni kuning, yang digunakan oleh banyak merek yang
memproduksi, “agar-agar”, bukanlah merupakan unsur merek. Penggugat juga
mengajukan Peninjauan Kembali, yang pada akhirnya ditolak. Salah satu isi dari
permohonan pengajuannya adalah, keputusan hakim dianggap kekhilafan dan
kekeliruan yang nyata akibat dari perbedaan pendapat namun berdasarkan Pasal
67 huruf f UU No. 14 Tahun 1985, yang berbunyi “Permohonan peninjauan
kembali putusan perkara perdata yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap
dapat diajukan hanya berdasarkan alasan apabila dalam suatu putusan terdapat
suatu kekhilafan Hakim atau suatu kekeliruan yang nyata” Dalam pasal perbedaan
pendapat tidak dapat diartikan dan dikategorikan dalam pengertian “Kekhilafan
atau kekeliruan yang nyata”, sehingga peninjauan kembali yang diajukan pihak
penggugat tidak diterima.
Lampiran (Gambar)

Perbedaan yang mencolok:

Pada Cap Bola Dunia warna agar-agarnya hijau bukan kuning seperti yang
terdapat pada Cap Swallow Globe
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dalam dunia permerekan sering terjadi pembajakan/ penggunaan merek yang


bukan haknya dengan berbagai alasan. Terjadinya pembajakan merek oleh pihak
lain biasanya terjadi karena sifat dasar manusia memang meniru termasuk dalam
menciptakan merek. Alasan lain adalah karena membuat merek sendiri
memerlukan biaya besar dan prosedur pendaftaran yeng cukup rumit. Salah satu
fungsi dari merek adalah untuk mempermudah pengiklanan produk kepada
masyarakat sehingga masyarakat tertarik untuk menggunakan/ membeli produk
tersebut. Karena fungsi tersebut pihak yang ingin produknya mudah dikenal lalu
meniru merek yang sudah terkenal tersebut. Ingin memperoleh keuntungan
sebesar merek yag ditiru juga merupakan salah satu alasan meniru merek.

Begitu pula dengan kasus sengketa merek dagang yang terjadi pada merek
“Cap Swallow Globe Brand” dengan “Cap Bola Dunia”. Pada dasarnya kedua
produk agar-agar ini berbeda dalam pengucapan nama, namun dalam bentuk
gambar hampir sama. Hal tersebutlah yang menimbulkan tuntutan oleh penggugat
yaitu Effendy dari “Cap Swallow Globe Brand” kepada Soewardjono dari “Cap
Bola Dunia”.

B. Saran

Apabila membuat dan mendaftarkan merek, akan lebih aman dan lebih
baik apabila gambar atau logo bukanlah merupakan bentuk yang umum
namun akan lebih aman apabila bentuk dari gambarnya merupakan buatan
sendiri dan memiliki ciri khas tanpa memasukkan unsur –unsur yang diketahui
oleh masyarakat umum agar terhindar dari adanya merek – merek produk lain
yang berniat untuk meniru.
Daftar Pustaka

Damian, Eddy, Tim Lindsey, dkk. 2005. Hak Kekayaan Intelektual Suatu
Pengantar. Bandung: Alumni.

http://dinatropika.wordpress.com/2011/10/22/sengketa-merek-makanan-ager-ager-
swallow-globe-brand-%E2%80%93-bola-dunia/