Anda di halaman 1dari 6

Tari Buchaechum / Tari Kipas, Korea.

Penari kipas dari Korea menggunakan kipas yang besar dalam berbagai warna. Lalu mereka
menyatukan kipas mereka dan menggerakkannya secara teratur mengayun ke atas dan ke
bawah.
Sejak demam Korea melanda Indonesia, semua hal berbau Korea pun ikut diikuti. Kita bisa
melihat dari menjamurnya produk-produk fashion Korea yang laris manis di Indonesia,
belum lagi meningkatnya jumlah kursus-kursus bahasa korea yang pesertanya juga bak
kacang goreng. Budaya-budaya korea pun banyak menjadi fokus perhatian orang. Saya
sebagai salah satu penggemar Korea (namun tidak terlalu freak) menilai, Korea Selatan
sangat bagus mempromosikan budaya mereka ke dunia, khususnya lewat entertainment.
Lewat K-Pop, fashion dan film-film, Korea Selatan dengan pintar mengemas juga budaya-
budaya mereka, sehingga masyarakat dunia pun ‘sadar’ dengan kebudayaan mereka. Satu
langkah yang patut dicontoh Indonesia.

Salah satu bukti bahwa kebudayaan Korea sudah mulai di’sadari’ oleh masyarakat dunia
adalah dengan dikenalnya salah satu tarian tradisional masyarakat Korea. Mereka suka
menyebut ‘Tari Kipas Korea’ atau bahasa Koreanya Buchaechum.

Buchaechum merupakan tarian tradisional Korea dimana sekelompok wanita menari


menggunakan kipas yang berhiaskan bunga Peony dan menggunakan Hanbok (tarian
tradisional Korea) yang berwarna mencolok.

Pengertian Seni Tari


Seni tari merupakan seni yang dihasilkan mimik, gerak dan tingkah laku seseorang.
Dengan gerak yang teratur diiringi musik, tarian akan menjadi indah. Tari dapat di artikan
juga sebagai gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu untuk
keperluan pergaulan, mengungkapkan perasaan, maksud, dan pikiran. Seni tari terbagi
menjadi beberapa macam, diantaranya:
1) Tari tunggal ( Solo ) : Tari tunggal nusantara adalah jenis tari dari Nusantara yang
diperagakan oleh seorang penari.Pada dasarnya,istilah tunggal hanya menunjukkan jumlah
penari saja. Sementara jenis tarian dapat dimainkan oleh seorang atau lebih penari. Misalnya ,
Tari Merak bisa menjadi tari tunggal, bisa pula menjadi tari berpasangan atau kelompok.Sifat
tari tunggal menuju ke arah psikologis yang akan menjadikan seseorang sebagai subjek atau
objek dalam suatu kegiatan. Sifat tari tunggal terdiri atas : Lirik , yaitu tarian yang
memusatkan pada subjek atau keadaan diri pribadi, seperti bahagia,atau haru,atau senang.
Epik, yaitu sifat tari yang mengarah pada nilai luar diri, seperti kagum atau manja.
Contohnya: Tari gambir anom (Jawa Tengah)
2) Tari berkelompok (Group choreography): Tari yang dibawakan oleh banyak orang atau lebih
dari 2.
3) Tari berpasangan (duet/pas de duex): Tari yang dilakukan oleh 2 orang (berpasangan)
seperti:
Laki-laki dengan laki-laki
Perempuan dengan perempuan
Laki-laki dengan perempuan
Contohnya: Tari damarwulan, tari roro mendut, tari perang sugriwo subali.
Mengapa kita menikmati lagu dan tarian negara-negara asing? Walaupun kita tidak
mengerti bahasanya. Mengapa hanya menikmati keindahan iramanya saja, kita bisa
menikmati keindahan kesenian tersebut? Karena keindahan memiliki sifat yang universal.
Fungsi tari mancanegara
1) Tari sebagai media pergaulan, artinya kegiatan ini sebagai interaksi antar pencinta seni
2) Tari sebagai hiburan
3) Tari sebagai pertunjukan theatrical dance, tari jenis ini adalah tari yang disusun sengaja
untuk dipertontonkan, maka dalam penyajiannya mengutamakan segi segi artistiknya,
penggarapan koreografi yang baik serta tema dan tujuan yang jelas.

Contoh Tari Mancanegara (Tari Buchaechum “KOREA”)


Sejak demam Korea melanda Indonesia, semua hal berbau Korea pun ikut diikuti.
Kita bisa melihat dari menjamurnya produk-produk fashion Korea yang laris manis di
Indonesia, belum lagi meningkatnya jumlah kursus-kursus bahasa korea yang pesertanya juga
bak kacang goreng. Budaya-budaya korea pun banyak menjadi fokus perhatian orang. Saya
sebagai salah satu penggemar Korea (namun tidak terlalu freak) menilai, Korea Selatan
sangat bagus mempromosikan budaya mereka ke dunia, khususnya lewat entertainment.
Lewat K-Pop, fashion dan film-film, Korea Selatan dengan pintar mengemas juga budaya-
budaya mereka, sehingga masyarakat dunia pun ‘sadar’ dengan kebudayaan mereka. Satu
langkah yang patut dicontoh Indonesia.
Salah satu bukti bahwa kebudayaan Korea sudah mulai di’sadari’ oleh masyarakat
dunia adalah dengan dikenalnya salah satu tarian tradisional masyarakat Korea. Mereka suka
menyebut ‘Tari Kipas Korea’ atau bahasa Koreanya Buchaechum.
Buchaechum merupakan tarian tradisional Korea dimana sekelompok wanita menari
menggunakan kipas yang berhiaskan bunga Peony dan menggunakan Hanbok (tarian
tradisional Korea) yang berwarna mencolok. (Wikipedia.com)
Di Indonesia sendiri, Buchaechum sering ditampilkan saat acara-acara yang berbau
Korea dan kebudayaannya. Contohnya saja, saat saya sengaja pergi ke salah satu event, yaitu
Korea-Indonesia Week yang diadakan oleh Pusat Kebudayaan Korea di salah satu Mall di
Jakarta baru-baru ini, tarian tersebut ditampilkan.
Buchaechum atau tari buchae (tari kipas) adalah tari kelompok yang merupakan salah
satu tarian tradisional Korea yang paling terkenal di mancanegara. Tarian ini dipertunjukkan
oleh sekelompok penari wanita yang memegang kipas berwarna-warni. Inti tarian ini adalah
variasi gerakan membuka, menutup, dan membentuk diterpa angin.
Tari ini terkenal karena mempersentasikan keindahan dan keangunan wanita Korea.
Para penarinya membentuk formasi dari kejadian-kejadian di alam seperti deburan ombak,
rumpun bunga, dan kupu-kupu yang berterbangan diterpa angin.
Awalnya, tari ini merupakan bagian dari ritual kuno individual. Ketika ritual itu sudah
tidak ada lagi, lahir tarian rakyat yang penuh kegembiraan, keanggunan, dan kejutan.
Penonton akan merasa seakan mereka berada ditaman bunga karena penarinya memakai
beraneka ragam warna dengan gerakan-gerakan yang beritme dan formasi kipas yang indah.
Kostum tari kipas biasanya jeogori (jaket panjang dengan kemeja yang diikat),
mahkota bunga tradisional, dan kipas yang biasanya berbulu di pinggirnya dan digambari
bunga peoni. Kipas tersebut selalu dibuka dan ditutup sebagai bagian dari tarian.
Buchaechum (Tari Kipas Korea)
Buchaechum merupakan tarian tradisional Korea dimana sekelompok wanita
menari menggunakan kipas yang berhiaskan bunga Peony dan menggunakan Hanbok (tarian
tradisional Korea) yang berwarna mencolok. Di Indonesia sendiri, Buchaechum sering
ditampilkan saat acara-acara yang berbau Korea dan kebudayaannya.

Tari Buchaechum, Tari Tradisional Korea


Buchaechum atau Tari Buchae (tari kipas) adalah tari kelompok yang merupakan
salah satu tarian tradisional Korea yang paling terkenal di mancanegara. Tarian ini
dipertunjukkan oleh sekelompok penari wanita yang memegang kipas berwarna-warni. Inti
tarian ini adalah variasi gerakan membuka, menutup dan membentuk formasi dari kipas.
Tarian ini dikenal karena mereprensentasikan keindahan dan keagungan wanita korea.
Para penarinya membentuk formasi dari kejadian-kejadian di alam, seperti deburan ombak,
rumpun bunga dan kupu-kupu yang berterbangan diterpa angin.
Awalnya tari ini merupakan bagian dari ritual kuno individual. Ketika ritual itu sudah
tidak ada lagi, lahir tarian rakyat yang penuh kegembiraan, keanggunan dan kejutan.
Penonton akan merasa seakan mereka berada di taman bunga karena penarinya memakai
pakaian beraneka warna dengan gerakan-gerakan yang beritme dan formasi kipas yang indah.
Kostum tari kipas biasanya jeogori (jaket panjang dengan kemeja yang diikat),
mahkota bunga tradisional, dan kipas yang biasanya berbulu di bagian pinggirnya dan
digambari bunga peoni. Kipas tersebut selalu dibuka dan ditutup sebagai bagian dari tarian.
Sejarah Tarian Tradisional Korea
Jaman Kerajaan Goguryeo (37 SM-668 M)
Tarian yang kita bisa ketahui pada zaman kerajaan Goguryeo adalah ditemukan lewat
lukisan dinding bernama Muyongchong (Makam Penari) dari abad ke-5 sampai 6 Masehi.
Lukisan dinding Muyongchong memperlihatkan 5 orang penari mengenakan kostum dengan
selendang tangan yang panjang sambil berbaris dan mengangkat tangan. Tujuh orang
penyanyi laki-laki dan perempuan digambarkan berada di bagian bawah lukisan. Li Bai,
seorang penyair Cina yang terkenal menuliskan puisi tentang tarian Goguryeo pada saat
dipentaskan di istana Dinasti Tang, yang berbunyi:
Mengenakan mahkota emas, sang penari,
Seperti kuda putih, berputar dengan gemulai
Selendang putihnya berkibar melawan angin,
Seperti burung, dari Laut Timur
Zaman Kerajaan Baekje
Kerajaan Baekje memberikan warisan tarian tradisional kepada korea berupa tarian Takmu,
yaitu tarian untuk musim tanam yang ditampilkan pada bulan mei sampai oktober, tarian ini
merupakan asal mula tarian kesenian Nongak atau musik petani, Tarian Takmu adalah tarian
yang dilakukan secara berkelompok dan diikut oleh semua warga desa yang menggunakan
alat musik. Disamping itu ada seniman Baekje yang bernama Mimaji berkunjung kejepang
dan memperkenalkan kesenian Giak ke jepang dan sampai sekarang kesenian tersebut masih
di pentaskan di Korea dan Jepang dalam bentuk Tarian Topeng.
Zaman Kerajaan Silla
Warisan budaya tari yang bisa di berikan oleh kerajaan silla kepada korea antara lain
Geommu (tari pedang) dan Cheoyongmu (tari Cheoyong). Keduanya berasal dari tari rakyat
namun diperkenalkan ke istana sehingga memikat banyak orang dari kedua kelas. Jenis tarian
lain yang masih hidup saat ini antara lain Muaemu (tari biksu Wonhyo), Saseonmu (tari
empat dewa), dan Seonyurak (tari pesta perahu). Geommu, Cheoyongmu, dan Muaemu
adalah tarian yang bernuansa patriotisme dan semangat, sementara Saseonmu dan Seonyurak
lebih bertema harapan akan perdamaian.
Dinasti Goryeo (918-1392)
Pada dinasti ini kesenian termasuk tarian masih mengikut pada masa kerajaan Silla, itu
terlihat banyak tarian seperti Palgwanhoe dan Yeondeunghoe di gunakan secara meriah pada
masa ini dan menjadikan perayaan yang penting bagi masyarakat korea, walaupun antara
dikorea menganut agama budha tetapi banyak yang menganut ajaran shamanisme, tetapi
tarian yang dibawakan seperti Palgwanhoe merupakan perpaduan unsur dua agama tersebut.
Musik yang dimainkan dalam ritual agama Buddha dinamakan Beompae dan tariannya
dinamakan Jakbeop, terutama dipentaskan untuk mendoakan arwah orang mati. Tarian
Jakbeop (Jakbeop-mu) sebagian besar ditampilkan dalam bagian shikdang-jakbeop pada
Yeongsanjae, upacara agama Buddha Korea yang paling besar. Jakbeopmu mencerminkan
ritual Shamanisme yang dilakukan untuk menentramkan jiwa orang mati dan
mengirimkannya ke surga.
Dinasti Joseon
Pada masa Dinasti Joseon masyarakat korea menganut paham Konfusianisme dan kehidupan
masyarakat berubah dari aristokratik menjadi birokratik. Karena paham Konfusianisme dalam
pemerintahan Joseon mencakup aspek ritual (ye) dan musik (ak), maka raja ikut mendukung
bidang seni dan kebudayaan. Hasilnya adalah berkembang pesatnya tari-tarian istana dengan
jumlah yang diciptakan mencapai 36 jenis sehingga totalnya jika digabungkan dengan tarian
dari masa sebelumnya hingga akhir dinasti, mencapai 53 jenis. Perkembangan pesat dalam
seni tari dan musik dimaksudkan untuk memperkuat fondasi dinasti dan sebagai harapan akan
kesejahteraan bangsa dan negara. Di awal periode ini, Raja Sejong mulai bertanggung jawab
mengelola bidang seni musik dan tari Joseon. Banyak karya musik dan tari diciptakan dan
pada masa pemerintahannya tidak hanya repertoar musik menjadi semakin bervariasi, namun
untuk pertama kalinya beberapa tarian dikombinasikan menjadi pertunjukkan drama. Selain
itu, langkah besar diambil dalam bidang musik dan tari dengan mempraktikkan ”Yin Yang
dan Lima Negara” menjadi tarian baru, contohnya adalah Obang Cheoyongmu dan
Jeongdaeeop.

Tarian Rakyat Korea


Asal mula tarian ini berawal dari ritual upacara keagamaan dengan pemujaan kepada dewa
dewa ( shamanisme ) dan juga tarian perayaan rakyat ketika musim panen, dengan terus di
pelihara warisan budaya ini maka tarian ini selalu menyatu kesetiap aktivitas yang dilakukan
masyarakat korea untuk hiburan dan kesenian bahkan acara religius

Kostum tari kipas biasanya jeogori (jaket panjang dengan kemeja yang diikat), mahkota
bunga tradisional, dan kipas yang biasanya berbulu di bagian pinggirnya dan digambari
bunga peoni. Kipas tersebut selalu dibuka dan ditutup sebagai bagian dari tarian.
Buchaechum atau Tari Kipas adalah salah satu tarian tradisional dari Korea yang paling
terkenal, biasanya dipentaskan oleh sekelompok wanita. Tarian ini adalah kreasi baru, yang
diciptakan oleh penari Kim Baek-Bong pada tahun 1954. Para penari menari menggunakan
kipas yang berhiaskan bunga peony dan mengenakan hanbok yang berwarna mencolok.