Anda di halaman 1dari 22

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)

2.1.1 Definisi

Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit demam akut

dengan ciri-ciri demam manifestasi perdarahan, dan bertendensi

mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian (Mansjoer,

Suprohaita, Wardhani, & Setiowulan, 2000).

Dengue adalah infeksi arbovirus (arthropod-borne virus) akut, yang

ditularkan oleh nyamuk spesies Aedes (Latief, Napitulu , Pudjiadi, Ghazali, &

Putra, 1985).

2.1.2 Epidemiologi

Infeksi virus dengue pada manusi mengakibatkan suatu spectrum

manifestasi klinik yang bervariasi antara penyakit paling ringan (mild

undifferentiated febrile illness), dengue fever, dengue haemorrhagic fever

(DHF), dan dengue shock syndrome (DSS); yang terakhir dengan mortalitas

tinggi yang disebabkan renjatan dan perdarahan hebat. Gambaran manifestasi

klinik yang bervariasi ini dapat disamakan dengan sebuah gunung es. DHF

dan DSS sebagai kasus-kasus yang di rawat di rumah sakit merupakan puncak

gunung es yang kelihatan diatas permukaan laut, sedangkan kasus-kasus

dengue ringan (demam dengue dan silent dengue infection)merupakan dasar

gunung es. Di perkirakan untuk setiap kasus renjatan yang dijumpai di rumah

1
sakit, telah terjadi 150-200 kasus silent dengue infection (Latief, Napitulu ,

Pudjiadi, Ghazali, & Putra, 1985).

2.1.3 Etiologi

Virus dengue termasuk dalam kelompok arbovirus B. Dikenal 4

serotipe virus dengue yang saling tidak mempunyai imunitas silang (Latief,

Napitulu , Pudjiadi, Ghazali, & Putra, 1985).

2.1.4 Patofisiologi

Patofisiologi primer DBD dan DSS adalah peningkatan akut

permeabilitas vaskuler yang mengarah ke kebocoran plasma ke dalam ruang

ekstravaskuler, sehingga menimbulkan hemokonsentrasi dan penurunan

tekanan darah. Volume plasma menurun lebih dari 20% pada kasus-kasus

berat, hal ini didukung penemuan post-mortem meliputi efusi serosa, efusi

pleura, hemokonsentrasi dan hipoproteinemi.

Tidak terjadi lesi destruktif nyata pada vaskuler, menunjukkan bahwa

perubahan sementara fungsi vaskuler diakibatkan suatu mediator kerja

singkat. Jika penderita sudah stabil dan mulai sembuh, cairanekstravasasi

diabsorpsi dengan cepat, menimbulkan penurunan hematocrit. Perubahan

hemostasis pada DBD dan DSS mwlibatkan 3 faktor yaitu perubahan

vaskuler, trombositopenia, dan kelainan koagulasi. Hamper semua penderita

DBD mengalami fragilitas vaskuler dan trombositopenia, dan banyak di

antaranya penderita menunjukkan koagulogram yang abnormal (Soegijanto ,

2006).

2
2.1.5 Patogenesis

Virus dengue masuk ke dalam tubuh manusia lewat gigitan nyamuk

aedes aegypti atau aedes albopictus. Organ sasarandari virus adalah organ

hepar, nodus limpaticus, sumsum tulang serta paru-paru. Data dari berbaga

penelitian menunjukkan bahwa sel-sel monosit dan makrofag mempunyai

peranan besar pada infeksi ini. Dalam peredaran darah, virus tersebut akan

difagosit oleh sel monosit perifer.

Virus DEN mampu bertahan hidup dan mengadakan multifikasi di

dalam sel tersebut. Infeksi virus dengue dimulai dengan menempelnya virus

genomnya masuk ke dalam sel dengan bantuan organel-organel sel, genom

virus membentuk komponen-komponennya, baik komponen antara maupun

komponen structural virus. Setelah komponen structural dirakit, virus

dilepaskan dari dalam sel. Proses perkembangbiakan virus DEN terjadi di

sitoplasma sel.

Semua flavivirus memiliki kelompok epitope pada selubung protein

yang menimblkan cross reaction reaksi silang pada uji serologis, hal ini

menyebabkan diagnosis pasti dengan uji serologis sulit ditegakkan. Kesulitan

ini dapat terjadi di antara keempat serotype virus DEN. Infeksi oleh satu

serotype DEN menimbulkan imunitas protektif terhadap serotype virus

tersebut, tetapi tidak ada cross protective terhadap serotype virus yang lain

(Soegijanto , 2006).

2.1.6 Derajat

Pembagian derajat DHF menurut WHO (1986)

3
1. Derajat I : demam dan uji tourniquet positif

2. Derajat II : demam dan perdarahan spontan, pada umumnya di kulit dan

perdarahan lainnya.

3. Derajat III : demam, perdarahan spontan, disertai atau tidak disertai

hepatomegaly dan ditemukan gejala-gejala kegagalan sirkulasi meliputi

nadi yang cepat dan lemah, tekanan nadi menurun (<20 mmHg) atau

hipotensi disertai ekstremitas dingin, dan anak gelisah.

4. Demam, perdarahan spontan, disertai atau tidak disertai hepatomegaly dan

ditemukan gejala renjatan hebat (nadi tak teraba dan tekanan darah tak

terukur)

2.1.7 Manifestasi klinik

Masa tunas berkisar 3-15 hari, pada umumnya 5-8 hari. Permulaan

penyakit biasanya mendadak. Gejala prodroms meliputi nyeri kepala, nyeri

berbagai bagian tubuh, anoreksia, menggigil dan malaise. Pada umumnya di

temukan sindrom trias, yaitu demam tinggi, nyeri pada anggota badan dan

timbulnya ruam. Ruam biasanya timbul 5-12 jam sebelum naikya suhu

pertama kali, yaitu pada hari ke 3-4 hari. Ruam bersifat makulopapular yang

menghilang pada tekanan. Ruam mula-mula dilihat di dada, tubuh sekitar

abdomen, dan menyebar ke anggota gerak dan muka. Pada lebih dari separuh

penderita gejala klinis timbul dengan mendadak,disertai kenaikan suhu, nyeri

kepala hebat, nyeri di belakang bola mata, punggung, otot, dan sendi disertai

rasa menggigil (Latief, Napitulu , Pudjiadi, Ghazali, & Putra, 1985).

Patokan WHO (1975) untuk manifestasi klinik DHF sebagai berikut :

4
1. Demam tinggi dengan mendadak terus-menerus selama 2-7 hari

2. Manifestasi perdarahan, termasuk setidak-tidaknya uji tourniquet positif

dan salah satu bentuk lai (ptekia, purpura, ekimosis, epistaksis dan

perdrarahan gusi), hematemesis dan atau melena.

3. Pembesaran hati

4. Renjatan ditandai oleh nadi lemah, cepat disertai tekanan nadi menurun

(mencapai 20 mmHg atau kurang), tekanan darah menurun (tekanan

systole menurun sampai 80 mmHg atau kurang) disertai kulit yang teraba

dingin dan lembab teruama pada ujung hidung, jari dan kaki, penderita

menjadi gelisa, timbul sianosis di sekitar mulut (Latief, Napitulu ,

Pudjiadi, Ghazali, & Putra, 1985).

2.1.8 Penatalaksanaan dan pengobatan

Pada dasarnya pengobatan penderita DHF/DSS bersifat asimtomatik dan

suportif.

1. DHF tanpa renjatan

Rasa haus dan dehidrasi timbul akibat demam tinggi, anoreksia, dan

muntah. Penderita perlu diberi minum banyak, 1,5 – 2 liter dalam 24 jam,

berupa air the dengan gula, sirup, atau susu. Pada beberapa penderita

diberikan gastroenteritis oral solution (oralit). Minuman diberikan

peroral, bila perlu satu sendok makan setiap 3-5 menit. Para orang tua

penderita diikutsertakan dalam kegiatan ini. Pemberian minum secara

gastronasal tidak dilakukan. Hiperpireksia (suhu 40ºC atau lebih) diatasi

dengan antipiretik dan bila perlu surface cooling dengan memberikan

5
kompres es dan alkohol 70%. Kejang yang mungkin timbul diberantas

dengan antikonvulsan. Anak berumur lebih dari 1 tahun diberikan

luminal 75 mg dan dibawah 1 tahun 50 mg secara intra muskulus. Bila

dalam waktu 15 menit kejang tidak berhenti pemberian luminal diulangi

dengan dosis 3mg/kgBB. Anak diatas 1 tahun diberikan 50 mg dan

dibawah1 tahun 30 mg dengan memperhatikan adanya depresi fungsi

vital (pernapasa, jantung). Pemberian intravenous drip (IVFD) pada

penderita DHF tanpa renjatan dilaksanakan apabila penderita terus-

menerus muntah sehingga tidak mungkin diberikan makanan peroral

(muntah-muntah mengancam terjadinya dehidrasi dan asidosis) dan

apabila didapatkan nilai hematokrit yang cenderung terus meningkat.

2. DHF dengan renjatan (DSS)

a. Penggantian volume

Sebagai terapi awal cairan yang diperlukan adalah laktat ringer.

Dalam keadaan renjatan berat, cairan harus diberikan secara diguyur,

artinya secepat-cepatnya dengan penjepit infuse dibuka.

b. Evaluasi pengobatan renjatan

Untuk memudahkan mengikuti perjalanan klinis penderita dengan

renjatan, dibuat data klinis yang mencantumkan tanggal dan jam

pemeriksaan dan memuat hasil pemeriksaan nilai hemoglobin,nilai

hematokrit, nilai trombosit, tekanan darah, nadi, pernafasan, suhu,

pengeluaran urine, jenis, dan kecepatan cairan yang diberikan dan

apabila ada jenis dan jumlah perdarahan gastrointestinal. Penderita

6
dengan renjatan berulang, renjatan yang tidak memberikan respon

terhadap pemberian cairan dan yang memperlihatkan perdarah

gastrointestinal hebat bersamaan dengan renjatan atau setelah renjatan

diatasi diusahakan untuk dirawat di Unit perawatan khusus (Latief,

Napitulu , Pudjiadi, Ghazali, & Putra, 1985).

2.1.9 Pengendalian

Sebagaimana telah diketahui Ae. Aegypti merupakan vektor utama

penyakit DBD. Untuk mengatasi penyakit DBD sampai saat ini masih belum

ada cara yang efektif, karena sampai saat ini masih belum ditemukan obat anti

virus dengue yang efektif maupun vaksin yang dapat melindungi diri terhadap

infeksi virus dengue. Oleh karena itu perlu dipikirkan cara penanggulangan

penyakit DBD dengan melalui pengendalian terhadap nyamuk Ae. Aegypti.

Tujuan pengendalian vector utama adalah upaya untuk menurunkan

kepadatan populasi nyamuk Ae. Aegypti samapi serendah mungkin sehingga

kemampuan sebagai vector menghilang.

Secara garis besar ada 5 cara pengendalian vector yaitu dengan cara :

1) Kimiawi

Dengan menggunakan insektisida yang dapat ditujukan terhadap

nyamuk dewasa atau larva. Insektisida yang dapat digunakan terhadap

nyamuk dewasa Ae. Aegypti antara lain golongan organochlorine,

organophospor, carbamate, dan pyrethroid.

Bahan-bahan insektisida tersebut dapat diaplikasikan dalam bentuk

penyemprotan (spray) terhadap rumah-rumah penduduk. Insektisida yang

7
dapat digunakan terhadap larva Ae. Aegypti yaitu dari golongan

organophospor (temephos) dalam bentuk sand granules yang dilarutkan

dalam air di tempat perindukannya (abatisasi).

2) Biologis

Pengendalian biologis dilakukan dengan menggunakan kelompok

hidup, baik dari golongan mikroorganisme, hewan intervebrata atau

hewan vertebrata. Sebagai pengendalian biologis, dapat berperan sebagai

patogen, parasite atau pemasangan. Beberapa jenis ikan, seperti ikan

kepala timah (panchaxpanchax), ikan gabus (gambusia affinis) adalah

pemangsa yang cocok untuk larva nyamuk. Sebagai pathogen, seperti dari

golongan virus, bakteri, fungi atau protozoa dapat dikembangkan sebagai

pengendalian biologis larva nyamuk di tempat perindukannya.

3) Radiasi

Dengan cara nyamuk dewasa jantan diradiasi dengan bahan radioaktif

dengan dosis tertentu sehingga menjadi mandul. Kemudian nyamuk jantan

yang telah diradiasi ini di lepas ke alam bebas. Meskipun nanti akan

berkopulasi dengan nyamuk betina tidak akan dapat menghasilkan telur

yang fertile.

4) Mekanik/ pengelolaan lingkungan

Ada beberapa cara pada pengendalian dengan cara mekanik ini, antara

lain dengan mencegah nyamuk kontak dengan manusia yaitu memasang

kawat kasa pada lubang ventilasi rumah, jendela, dan pintu. Dan sekarang

yang digelakkan oleh pemerintah yaitu gerakan 3M yaitu : 1) menguras

8
tempat-tempat penampungan air dengan menyikat dinding bagian dalam

dan dibilas paling sedikit seminggu sekali, 2) menutup rapat tempat

penampungan air sedemikian rupa sehingga tidak dapat diterobos oleh

nyamuk dewasa, 3) menanam/menimbun dalam tanah barang-barang

bekas atau sampah yang dapat menampung air hujan.

5) Pengendalian genetic

Pengendalian genetic telah banyak dilakukan dalam percobaan tetapi

belum pernah ditetapkan di lapangan. Salah satu cara pengendalian

genetic adalah dengan teknik jantan mandul, yaitu melepas sejumlah besar

nyamuk-nyamuk jantan yang sudah dimandulkan. Nyamuk-nyamuk betina

hanya kawin satu kali, seumur hdup, sehingga nyamuk betina dikawinkan

dengan nyamuk jantan mandul tadi, maka tidak akan menghasilkan

keturunan.

Dari cara-cara pengendalian vector DBD tersebut di atas ternyata tidak

satupun cara yang 100% memuaskan. Karena itu konsep pengendalian terpadu

dengan melibatkan semua cara dapat diterapkan sesuai dengan situasi dan

kondisi biologis, bonomis, ekologis vektornya, serta memertimbangkan

keuntungan dan kerugian baik dar segi biaya dan pengaruhnya terhadap

kualitas lingkungan hidup.

9
2.2 Konsep Status Gizi

2.2.1 Definisi

Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang

dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi,

penyimpanan, metabolism dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan

untuk mempertahankan kehidupan, proses pertumbuhan, dan fungsi normal

dariorgan-organ, serta menghasilkan energi (Supariasa , I Dewa Nyoman;

Bakri , Bachtiar; Fajar , Ibnu;, 2002 ).

Konsep gizi merupakan keadaan akibat dari keseimbangan antara

konsumsi dan penyerapan zat gizi dan penggunaan zat-zat gizi tersebut, atau

keadaan fisiologi akibat dari tersedianya zat gizi dalam seluler tubuh

(Supariasa , I Dewa Nyoman; Bakri , Bachtiar; Fajar , Ibnu;, 2002 )

Status gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam

bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel

tertentu (Supariasa , I Dewa Nyoman; Bakri , Bachtiar; Fajar , Ibnu;, 2002 ).

2.2.2 Pengukuran status gizi

Penilaian gizi dapat dilakukan dengan pengukuran langsung maupun tidak

langsung.

A. Pengukuran langsung

Pengukuran status gizi langsung dapat dilakukan dengan cara :

1. Antropometri gizi

10
Sering dilakukan dengan mengukur tubuh manusia : tinggi

badan, lingkar dada, lingkar kepala, berat badan, lingkar lengan atas,

lingkar perut, dan lain-lain.

2. Test biokimia

Pemeriksaan secara biokimia terhadap jaringan dan cairan

tubuh seperti darah, urine, tinja dan jaringan seperti hati, otak dan lain-

lain.

3. Pemeriksaan klinis

Pemeriksaan terhadap gejala dan tanda pada tubuh akibat

gangguan metabolisme zat gizi.

4. Pemeriksaan biofisik

Pemeriksaan gangguan fisik dan fungsi dari jaringan tubuh

karena gangguan metabolisme zat gizi, seperti dengan cara

Radiograpic examination, test fungsi (Test of physical function) dan

cytological test karena gangguan zat gizi.

B. Pengukuran tidak langsung

Pengukuran secara tidak langsung, dapat dilakukan dengan cara :

1. Menelaah statiistik vital, angka penyakit dan epidemiologi

Dengan menganalisa angka statisktik vital (angka kelahiran

kematian) angka penyakit dan epidemiologi serta kependudukan dan

keluarga berencana (Soegianto , Wijono, & Jawawi , 2007).

2. Menelaah factor ekologi dan lingkungan dalam arti luas

11
Masalah gizi merupakan masalah multi dimensi dan multi

sektoral yang menyangkut berbagai disiplin : social ekonomi, budaya,

lingkungan fisik biologik dan ekologi (Soegianto , Wijono, & Jawawi ,

2007).

3. Survei konsumsi gizi

Dengan mengukur jumlah dan jenis bahan makanan / zat gizi

yang dikonsumsi serta pola konsumsinya (Soegianto , Wijono, &

Jawawi , 2007).

2.2.3 Penilaian status gizi

Penilaian status gizi didefinisikan sebagai interpretasi dari informasi yang

diperoleh dari studi diet, biokimia, antropometri dan klinis (The Interpretation

Of Information Obtained From Dietary, Biochemical, Anthropometric And

Clinical Studies). Informasi tersebut digunakan untk menetapkan status gizi

individu atau kelompok populasi yang dipengaruhi asupan dan penggunaan

zat gizi. Sistem penilaian status gizi dapat berupa 3 bentuk, yaitu :

1. Survey gizi (Nutrition Survey)

Status gizi dari kelompok populasi tertentu dapat dinilai dengan cara

cross sectional survey. Survey ini dapat menyediakan data dasar gizi dan

juga menetapkan status gizi masyarakat. Dengan ini juga dapat untuk

mengidentifikasi atau menjelaskan kelompok populasi yang berbeda

dalam risiko terutama terhadap malnutrisi kronis dan akut serta

menyediakan informasi tentang kemungkinan adanya malnutrisi. Dengan

12
demikian berdasarkan survey ini dapat dipersiapkam dukungan sumber

daya yang dibutuhkan dan pembuatan kebijakan yang diperlukan.

2. Surveilans gizi (Nutrition Surveylance)

Ciri gambaran surveilans adalah monitoring terus menerus dari status

gizi suatu kelompok populasi. Berbeda dari survey gizi, pada surveilans

gizi data dikumpulkan, dianalisis, dan digunakan untuk suatu periode

waktu yang luas. Surveilans gizi menjelaskan kemungkinan penyebab

malnutrisi dan dapat digunakan untuk membuat formulasi dan intervensi

awalpada kelompok populasi sehubungan dengan prediksi dan

kecenderungan yang terjadi serta evaluasi efektivitas program gizi.

3. Penapisan gizi (Nutrition Screening)

Identifikasi kekurangan gizi secara individual bagi yang memerlukan

atau tidak memerlukan intervensi gizi dapat dilakukan dengan cara

skrining gizi. Hal ini termasuk perbandingan pengukuran seseorang

dengan menetapkan tingkata resiko atau penetapan ambang batas.

Skrining dapat dilakukan pada tingkatan individu atau pada populasi

spesifik yang menanggung risiko seperti pada program pemberian

makanan tambahan pada anak balita. Pada umumnya program skrining

tidak dilakukan secara menyeluruh. Hal ini berbeda dengan survei atau

penyelidikan surveilans yang lebih luas dan menyeluruh.

2.2.4 Faktor yang Perlu Dipertimbangkan dalam Memilih Metode Penilaian

Status Gizi

13
Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih dan

menggunakan metode adalah sebagai berikut :

1. Tujuan

Tujuan pengukuran sangat perlu diperhatikan dalam memilih metode,

seperti tujuan ingin melihat fisik seseorang, maka metode yang digunakan

adalah antropometri. Apabila ingin melihat status vitamin dan mineral

dalam tubuh sebaiknya menggunakan metode biokimia.

2. Unit sampel yang akan diukur

Berbagai jenis unit sampel yang akan diukur sangat mempengaruhi

penggunaan metode penilaian status gizi. Jenis unit sampel yang akan

diukur meliputi individu rumah tangga/keluarga dan kelompok rawan gizi.

Apabila unit sampel yang akan diukur adalah kelompok atau masyarakat

yang rawan gizi secara keseluruhan maka sebaiknya meggunakan metode

antropometri, karena metode ini murah dan dari segi ilmiah bias

dipertanggungjawabkan.

3. Jenis informasi yang dibutuhkan

Pemilihan metode penilaian status gizi sangat tergantung pula dari

jenis informasi yang diberikan. Jenis informasi itu antara lain : asupan

makanan, berat dan tinggi badan, tingkat hemoglobin, dan situasi social

ekonomi. Apabila menginginkan informasi tentang asupan makanan,

maka metode yang digunakan adalah survey konsumsi. Apabila

14
membutuhkan informasi berat dan tinggi badan maka metode yang

digunakan adalah antropometri.

4. Tingkat reliabilitas dan akurasi yang dibutuhkan

Masing-masing metode penilaian status gizi mempunyai tingkat

reliabilitas dan akurasi yang berbeda-beda. Contoh penggunaan metode

klinis dalam menilai tingkat pembesaran kelenjar gondok adalah sangat

subjektif sekali yang membutuhkan reliabilitas dan akurasi yang sangat

tinggi.

5. Tersedianya fasilitas dan peralatan

Berbagai jenis fasilitas dan peralatan yang dibutuhkan dalam penilaian

status gizi. Fasilias tersebutada yang mudah didapat da nada pula yang

sangat sulit diperoleh. Pada umumnya fasilitas dan peralatan yang

dibutuhkan dalam penilaian status gizi secara antropometri lebih mudah

didapat dibanding dengan peralatan penilaian status gizi secara biokimia.

6. Tenaga

Ketersediaan tenaga, baik jumlah maupun mutunya sangat

mempengaruhi penggunaan meode penilaian status gizi. Jenis tenaga yang

digunakan dalam pengumpulan data status gizi antara lain : ahli gizi,

dokter, ahli kimia, dan tenaga lain.

Penilaian status gizi secara biokimia memerlukan tenaga ahli kimia

atau analisis kimia, berbeda dengan penilaian status gizi secara

15
antropometri yang bisa dilakukan oleh tenaga terlatih, dan juga penilaian

status gizi lainnya.

7. Waktu

Ketersediaan waktu dalam pengukuran status gizi sangat

mempengaruhi metode yang akan digunakan. Waktu yang ada bias dalam

mingguan, bulanan dan tahunan. Apabila kita ingin menilai status gizi di

suatu masyarakat dan waktu yang tersedia relative singkat, sebaiknya

dengan menggunakan metode antropometri. (Supariasa , I Dewa Nyoman;

Bakri , Bachtiar; Fajar , Ibnu;, 2002 ).

2.2.5 Klasifikasi dalam Penilaian Status Gizi

2.2.5.1 Klasifikasi Gomez

Didasarkan atas berat badan individu dibandingkan dengan berat

badan yang diharapkan pada anak sehat seumur. Sebagai baku patokan

dipakai persentil 50 baku Harvard, dengan klasifikasi sebagai berikut :

Beberapa kategori dan cutoff point status gizi cara gomes

% expected weight Classification Category of nutritional


for age status
>90% Normal Normal
76-90 % Mild malnutrition 1st degree malnutrition
61-75% Moderate malnutrition 2 nd degree malnutrition
<60% Severe malnutrition 3rd degree malnutrition
Sumber : The Gomez Classification (1956) Rosalind S. Gibson (1990)

16
Cara ini mudah dilakukan dan telah digunakan secara luas.

Kelemahannya ialah tidak memperhatikan panjang badan, dan umur harus

diketahui secara tepat.

2.2.5.2 Klasifikasi Harvard Standart

Kategori dan cutoff point status gizi cara Harvard standart

Indicator Gizi baik Gizi kurang Gizi buruk


1. BB/U >80% >60%-80% <60%
2. TB/U >85% >70%-85% <70%
3. BB/TB >90% >80%-90% <80%
4. LLA/U >85% >70%-85% <70%
5. LLA/TB >85% >75%-85% <75%
Sumber : DEPKES RI, Deswari et all (1990)

Keuntugan dari cara tersebut ialah mudah dilakukan. Bila umur tidak

diketahui dengan pasti, digunakan ukuran BB atau LLA menurut TB.

Kelemahannya ialah tidak membedakan jenis kelamin sampai umur 5 tahun,

sedangkan pertumbuhan anak laki-laki berbeda dengan anak perempuan.

2.2.5.3 Klasifikasi Waterlow

Indikator yang dipakai BB/TB dan TB/U dalam kombinasi, dengan

menggunakan standart Harvard dan klasifikasi sebagai berikut :

Gangguan Stunting Wasting


derajat (tinggi badan menurut (berat badan terhadap tinggi
umur ) badan)
0 = normal >95% >90%
1 = ringan 90-95% 80-90%
2 = sedang 85-89% 70-80%
3 = berat <85% <70%
Sumber : solihin pudjiadi (2005)

2.2.5.4 Klasifikasi Wellcome Trust

Beberapa klasifikasi kualitatif KEP menurut Wellcome Trust

17
Berat badan % dari Edema
baku Tidak ada Ada
>60% Gizi kurang Kwashiorkor
<60% Marasmus Marasmic kwashiorkor
Baku = persentil 50 standart Harvard
Sumber = solihin pudjiadi (2005)

2.2.5.5 Klasifikasi WHO

Pada dasarnya cara penggolongan indicator sama seperti cara

waterlow. Indicator yang digunakan meliputi BB/TB dan TB/U. Standar yang

digunakan adalah baku antropometri US-NCHS (National Center for Health

Statistics, USA), dengan klasifikasi sebagai berikut :

Klasifikasi Status Gizi Berdasarkan WHO-NCHS

BB/TB BB/U TB/U Status gizi


Normal Rendah Rendah Baik, pernah kurang
Normal Normal Normal Baik
Normal Tinggi Tinggi Jangkung, masih baik
Rendah Rendah Tinggi Buruk
Rendah Rendah Normal Buruk, kurang
Rendah Normal Tinggi Kurang
Tinggi Tinggi Rendah Lebih, obese
Tinggi Normal Rendah Lebih, pernah kurang
Tinggi Tinggi Normal Lebih, tidak obese
Sumber : DEPKES RI (1990), Epidemiologi I, proyek pengembangan tenaga
gizi pusat DEPKES RI

2.2.5.6 Klasifikasi Menurut Buku Pedoman Pemantauan Status Gizi

Indeks dan baku rujukan yang digunakan dalam pengolahan data ialah

indeks BB menurut umur dengan menggunakan baku rujukan antropometri

WHO-NCHS, dengan menentukan 4 kategori sebagai berikut :

18
2.2.5.7 Pengolahan Data Antropometri Berdasarkan Z-Score (Simpangan Baku)

Klasifikasi status gizi berdasarkan Z-Score

No. Indicator BB/U Kategori


1. Z-Score <-3,0 Gizi buruk
2. Z-Score >=-3,0 s/d Z-Score <-2,0 Gizi kurang
3. Z-Score >=-2,0 s/d Z-Score <=2,0 Gizi baik
4. Z-Score >2,0 Gizi lebih
Sumber : WHO (2005)

2.2.5.8 Klasifikasi dengan Indeks Massa Tubuh (IMT)

Status gizi orang dewasa dapat diketahui dengan mengetahui berat

badan seseorang, gemuk, kurus, atau normal. Untuk itu dapat digunakan IMT

sebagai alat pantau untuk menilai berat badan orang dewasa, bukan pada

remaja atau anak-anak. Menghitung IMT dengan rumus :

IMT = berat badan (kg)/(tinggi badan (cm)/100)2

Status gizi berdasarkan IMT pada dewasa

IMT Status gizi Kategori


<17,0 Gizi kurang Sangat kurus
17,0-18,5 Gizi kurang Kurus
18,5-25,0 Gizi baik Normal
25,0-27,0 Gizi lebih Gemuk
>27,0 Gizi lebih Sangat gemuk
Sumber : DEPKES RI (2003)

2.2.7 Masalah umum status gizi

Keadaan kesehatan gizi masyarakat tergantung padatingkat konsumsi.

Tingkat konsumsi ditentukan oleh kualitas serta kuantitas hidangan. Kualita

hidangan menunjukkan adanya semua zat gizi yang diperlukan di dalam

susunan hidangan dan perbandingannya yang satu terhadap yang lain.

Kuantitas menunjukkan kuantum masing-masing zat gizi terhadap kebutuhan

19
tubuh. Kalau susunan hidangan memenuhi kebutuhan tubuh,baik dari sudut

kualitas maupun kuantitasnya, maka tubuh akan mendapat kondisi kesehatan

gizi yang sebaik-baiknya. Konsumsi yang menghasilkan kesehatan gizi yang

sebaik-baiknya disebut konsumsi adekuat. (Santoso, Soegeng; Ranti, Lien

Anne;, 2009)

Jika susunan hidangan memenuhi kebutuhan tubuh, baik dari sudut

kualitasnya dan dalam jumlah melebihi kebutuhan tubuh, maka dinamakan

konsumsi berlebih dan akan menjadikan keadaan gizi berlebih. Sebaliknya,

jika konsumsi kurang baik kualitasnya maupun kuantitasnya akan

memberikan kondisi kesehatan gizi kurang atau kondisi defisiensi. Tingkat

kesehatan gizi terbaik adalah kesehatan optimum, tubuh terbebas dari

penyakit dan memounyai daya kerja dan efisiensi yang sebaik-baiknya.

(Santoso, Soegeng; Ranti, Lien Anne;, 2009)

Menurut Achmad Djaeni Sediatoetama (1987), ada beberapa penyakit

yang berhubungan dengan gizi, yaitu :

1) Penyakit gizi lebih (obesitas)

2) Penyakit gizi kurang (malnutrition, undernutrition)

3) Penyakit metabolic bawaan (inborn erros of metabolism)

4) Penyakit keracunan makanan (food intoxication)

Masalah gizi semula dianggap sebagai masalah kesehatan yang hanya

dapat ditanggulangi dengan pengobatan medis atau kedokteran. Namun,

kemudian disadari bahwa gejala klinis gizi kurang yang banyak ditemukan

dokter ternyata adalah tingkatan akhir yang sudah kritis dari serangkaian

20
proses lain yang mendahuluinya. Sekarang telah diketahui bahwa gejala

klinis gizi kurang akibat ketidakseimbangan yang lama antara manusia dan

lingkungan hidupnya. Lingkungan hidup ini mencakup lingkungan alam,

biologis, sosial budaya, maupun ekonomi. Masing-masing faktor tersebut

mempunyai peran yang kompleks dan berperan penting dalam penyakit gizi

kurang.

Secara nasional ada empat masalah gizi utama di Indonesia, yaitu : 1)

kurang kalori dan protein (KKP) 2) kekurangan vitamin A 3) kekurangan

garam besi dan anemia gizi, dan 4) gondok endemic (gangguan akibat

kekurangan yodium). Pembagian kelompok tersebut di atasberdasarkan

tujuan diagnostic, yaitu identifikasi gejala klinis penyakit sebagai dasar usaha

penyembuhan (terapi), walaupunmasalah tersebut dinyatakan menurut

penyebab (causal name).

2.2.6 Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi

Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi status gizi antara lain :

1. Keadaan kependudukan (demografi)

2. Strata social ekonomi

3. Statistic vital (kesehatan : morbidity dan mortality)

4. Sumber daya kesehatan

5. Kesehatan gizi

6. Faktor budaya

7. Organisasi politik dan kemasyarakatan

8. Perumahan

21
9. Penyediaan pangan

10. Program gizi anak sekolah

11. Program kesejahteraan social

12. Transportasi

13. Pendidikan

14. Pekerjaan

15. Geografi dan lingkungan (Soegianto , Wijono, & Jawawi , 2007).

22